Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore PKN-DATANG NYA PENDUDUK JEPANG KE INDONESIA-

PKN-DATANG NYA PENDUDUK JEPANG KE INDONESIA-

Published by Adinda Nailah Mufidah, 2023-06-20 02:17:49

Description: PKN-DATANG NYA PENDUDUK JEPANG KE INDONESIA-

Search

Read the Text Version

ADINDA NAILAH MUFIDAH XI IPS AWAL MASUKNYA JEPANG KE INDONESIA

Awal Kedatangan Jepang ke Indonesia, Mengapa Rakyat Sempat Menyambut Gembira? Awal kedatangan Jepang ke Indonesia berawal dari keinginan mereka untuk mendirikan Persemakmuran Asia Timur Raya. Keinginan ini ditunjukkan melalui serangan Jepang ke pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour, Kepulauan Hawaii pada 8 Desember 1941. Jepang bertujuan untuk menaklukkan Asia Pasifik. Dikutip dari Kemdikbud, pindah tangan penjajahan atas Indonesia dari Belanda kepada Jepang disepakati dalam perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan kekuasaan itu, Jepang dapat menarik hati rakyat Indonesia, bahkan disambut gembira. Apa penyebabnya? Alasan Jepang sempat disambut gembira Setelah menandatangani penyerahan kekuasaan, Jepang mulai menggunakan data-data intelijen untuk membuat propaganda yang bisa menarik simpati rakyat. Maka, di awal kedatangannya Jepang bisa dengan cepat mengerti budaya lokal dan menghubungkan segala peristiwa sebagai dampak dari hal-hal yang bersifat metafisis. Contohnya, Jepang menggunakan ramalan Jayabaya tentang datangnya bangsa kulit kuning yang akan mengusir bangsa kulit putih. Propaganda lainnya adalah, Jepang menyebut diri mereka sebagai saudara tua bagi Indonesia. Setelah itu lahir gerakan 3A, yaitu Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, dan Jepang Pemimpin Asia. Ditambahkan dari buku Sejarah SMP Kelas 2 tulisan Tugiyono dkk., Jepang memberikan pernyataan berikut ini di setiap kesempatan:

1. Indonesia-Nippon berada di kedudukan yang sederajat. 2. Jepang adalah saudara tua bangsa Indonesia. 3. Jepang akan memimpin Asia untuk membangun Asia Timur Raya. 4. Bendera Merah Putih boleh dikibarkan berdampingan dengan bendera Hinomaru. Selain itu, lagu Indonesia Raya boleh dinyanyikan bersama Kimigayo. Pihak Jepang juga menarik perhatian para pemuda di Indonesia dengan bergabung ke dalam pasukan pembela tanah air (PETA), yang dibentuk untuk melawan Sekutu selama Perang Dunia II. Itulah sederet alasan mengapa pada awal kedatangan Jepang ke Indonesia, rakyat sempat menyambut mereka dengan gembira. Akan tetapi, tipu muslihat kolonial Jepang juga segera diketahui bangsa Indonesia. Masa penjajahan kolonial di Hindia Belanda (Indonesia) berakhir ketika Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942. Kekalahan Belanda ini disebabkan karena keberhasilan Jepang menduduki sebagian besar daerah Hindia Belanda, termasuk Batavia. Dikutip dari tulisan \"Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang\" dalam Jurnal Sejarah dan Budaya oleh Muhammad Rijal Fadli dan Dyah Kumalasari, Jepang berhasil masuk ke Hindia Belanda dan merebut Tarakan, Kalimantan Timur pada 12 Januari 1942. Lalu, hanya dalam waktu singkat, Jepang berhasil merebut sebagian besar daerah lainnya, seperti Balikpapan, Pontianak, Banjarmasin, dan Palembang. Berlanjut pada 1 Maret 1942, dengan dipimpin Jenderal Hitoshi Imamura, Jepang dapat menguasai wilayah penting di Jawa, yaitu Teluk Banten, Eretan Wetan di Jawa Barat, dan Kragan di Jawa Tengah. Sampai akhirnya, Jepang berhasil menguasai Batavia pada 5 Maret 1942 dan memukul mundur pasukan Belanda ke Lembang, Jawa Barat. Merasa terdesak dengan kedudukan Jepang, akhirnya Belanda takluk tanpa syarat. Peristiwa Belanda menyerah kepada Jepang ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kalijati pada 8 Maret 1942. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan Komandan Angkatan Perang Belanda di Jawa Letnan Jenderal Heindrik Ter Poorten.

Secara garis besar, perjanjian ini berisi pernyataan bahwa Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang dan memberikan kekuasaannya atas Hindia Belanda pada Jepang. Lalu, bagaimana nasib Hindia Belanda sejak saat itu? Setelah Belanda menyerah kepada Jepang, negeri matahari terbit secara resmi menjajah Hindia Belanda dan dengan segera melakukan perubahan untuk menghapus dominasi Barat. Selain itu, Jepang juga mulai melakukan berbagai persiapan untuk menjalankan pemerintahan di bawah komando militer Jepang. Politik etis adalah kebijakan balas budi yang dibuat untuk mengganti kerugian masyarakat Hindia Belanda (Indonesia) atas eksploitasi yang dilakukan pemerintah Belanda. Secara garis besar, politik etis memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Hindia Belanda. Kebijakan politik etis ini tentu tidak dibuat secara tiba-tiba tanpa alasan. Untuk mengetahui sejarah latar belakang, tokoh pelopor, dan dampak untuk Hindia Belanda, detikers bisa baca penjelasannya di bawah ini, nih. Latar Belakang Politik Etis Selama masa kolonial, Belanda telah menerapkan berbagai kebijakan ekonomi berbasis sistem kapitalisme Barat. Salah satu kebijakan ekonomi yang mengakibatkan penderitaan terparah rakyat Hindia Belanda adalah cultuurstelsel atau sistem tanam paksa pada 1830. Kebijakan ini bahkan mendapat kritik berbagai kalangan, termasuk dari politikus dan intelektual Belanda sendiri, lho. Mereka adalah Pieter Brooshooft dan C. Th. Van Deventer. Kedua tokoh ini merasa semua kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah Belanda merupakan tindak eksploitasi dan menurunkan kesejahteraan rakyat. Dengan begitu, Pieter Brooshooft dan C. Th. Van Deventer merasa pemerintah Belanda memiliki hutang tanggung jawab moral untuk menyejahterakan rakyat Hindia Belanda. Bermula dari kritikan inilah, akhirnya pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan politik etis sebagai bentuk balas budi kepada masyarakat Hindia Belanda. Tokoh Pelopor Politik Etis Pieter Brooshooft dan C. Th. Van Deventer merupakan tokoh yang berada di balik kebijakan politik etis. Dikutip dari buku Sejarah Indonesia yang diterbitkan

Kemdikbud, sebagai bentuk kekecewaannya terhadap kebijakan pemerintah Belanda, Van Deventer memuat kritiknya dalam tulisan berjudul \"Een Eereschlud' (hutang kehormatan), yang dimuat di majalah De Gids (1899). Dalam tulisannya, Van Deventer mengatakan, pemerintah Belanda telah mengeksploitasi wilayah jajahannya untuk membangun negeri mereka sendiri dan memperoleh keuntungan yang besar. Ternyata banyak kalangan yang sependapat dengan kritikan Van Deventer tersebut. Mendengar banyak kritikan dan tuntutan yang masuk, Ratu Wihelmina akhirnya bertindak dengan mengeluarkan kebijakan baru yang disebut politik etis. Dampak Politik Etis Adanya kebijakan politik etis ternyata membawa dampak besar bagi Hindia Belanda, lho, detikers. Indonesia Mulai Dijajah Jepang pada Tahun Berapa? Saat perjanjian Kalijati Dikutip dari laman resmi Kemdikbud, penyerahan penjajahan Indonesia antara Jepang dan Belanda disepakati dalam perjanjian Kalijati. Pada 8-9 Maret 1942 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh, Panglima Perang Jenderal Ter Poorten dan Panglima Perang Jepang Jenderal Imamura bertemu di Kalijati Subang untuk menandatangani kapitulasi Belanda kepada Jepang. Penandatangan kapitulasi tersebut menandai perubahan pemerintahan jajahan dari Belanda ke Jepang. Sejak saat itu Indonesia mulai dijajah oleh Jepang. Pemerintah Jepang mulai memanfaatkan data-data intelijen untuk merancang propaganda yang dapat menarik simpati rakyat Indonesia. Dengan cepat, Jepang memahami budaya lokal Indonesia yang mengaitkan seluruh peristiwa sebagai akibat hal-hal yang berbau metafisis. Misalnya mengenai ramalan Jayabaya tentang datangnya bangsa berkulit kuning yang akan mengusir bangsa kulit putih.

Propaganda Jepang itu akhirnya menarik perhatian masyarakat Indonesia, sehingga kedatangannya disambut gembira oleh rakyat. Adapun propaganda lain yang disampaikan yaitu menyatakan bahwa Jepang sebagai saudara tua bangsa Indonesia memiliki keinginan untuk membuat kawasan persemakmuran di wilayah Asia Pasifik. Kemudian setelah itu lahirlah Gerakan 3A pada masa pendudukan Jepang, yaitu Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, dan Jepang Pemimpin Asia. Jepang juga menarik pemuda Indonesia dengan melibatkan menjadi pasukan pembela tanah air (PETA). PETA dibentuk untuk menghadapi Sekutu di medan tempur selama Perang Dunia II berlangsung. Pemerintah Belanda mulai memerhatikan pembangunan infrastruktur dengan membangun jalur kereta api Jawa-Madura. Sementara di Batavia, lambang kemajuan ditunjukkan dengan adanya trem listrik yang mulai beroperasi pada awal masa itu. Tak hanya itu, di bidang pertanian, pemerintah Belanda mulai membangun irigasi atau sistem pengairan sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan pangan. Selain itu, sebagai upaya meratakan kepadatan penduduk di Hindia Belanda, pemerintah melakukan emigrasi di perkebunan-perkebunan daerah di Sumatera. Kebijakan politik etis ini berakhir ketika Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942 dalam Perang Asia Timur Raya atau Perang Dunia Kedua. Itu dia sejarah singkat mengenai politik etis pada masa kolonial di Indonesia. Gimana detikers, sekarang jadi lebih mengenal tentang politik etis, kan? Indonesia Mulai Dijajah Jepang pada Tahun Berapa? Ini Sejarahnya Bangsa Indonesia telah melalui berbagai perjuangan melawan penjajah sebelum mencapai kemerdekaan, ketika oleh Jepang. Namun, Indonesia mulai dijajah Jepang pada tahun berapa? Kedatangan Jepang di Indonesia diawali dengan keinginannya untuk mendirikan Persemakmuran Asia Timur Raya. Keinginan tersebut ditunjukkan Jepang dengan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour, Kepulauan Hawaii pada 8 Desember 1941 untuk menaklukan wilayah Asia Pasifik.

Indonesia Mulai Dijajah Jepang pada Tahun Berapa? Ini Sejarahnya Adanya sistem tanam paksa Luasnya daerah pendudukan Jepang di Indonesia menyebabkan Jepang membutuhkan tenaga kerja untuk membangun sarana pertahanan, seperti lapangan udara, gudang bawah tanah, jalan raya dan jembatan. Akibatnya banyak rakyat Indonesia yang berasal dari desa-desa di Pulau Jawa dipekerjakan melalui sistem kerja paksa atau yang dikenal dengan Romusha. Romusha mulai dilaksanakan sejak 1942-1945, untuk bekerja di wilayah Indonesia serta Asia Tenggara seperti Birma, Muangthai, Vietnam, Malaysia, dan Sarawak. Awalnya Romusha dilakukan secara sukarela dengan tempat kerja tidak jauh dari tempat tinggal rakyat di desa. Namun, karena terdesak dalam perang Pasifik, akhirnya pengerahan tenaga kerja mulai disertai dengan paksaan. Setiap kepala keluarga diwajibkan menyerahkan seorang anak lelakinya untuk berangkat menjadi Romusha. Saat bekerja, rakyat Indonesia diperlakukan kasar dengan pekerjaan sangat berat, sementara kebutuhan makanan yang didapatkan tidak sebanding. Hal ini kemudian menjadikan banyak di antara Romusha Indonesia meninggal di tempat kerja karena sakit, kekurangan makan, kelelahan atau kecelakaan. Menyerah kepada sekutu Akhir tahun 1944, Jepang mulai terdesak dalam Perang Asia Timur Raya, bayang-bayang kekalahan Jepang mulai nampak karena seluruh garis pertahanan Jepang di Pasifik sudah hancur oleh serangan sekutu. Tepat pada 6 dan 9 Agustus 1945 pukul 8.15 waktu Jepang, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki dari ketinggian hampir 10 ribu meter. Ratusan ribu orang meninggal seketika, sisanya terluka seumur hidup, dan hanya sedikit yang sanggup untuk bertahan.

Pengeboman tersebut melumpuhkan kondisi politik dan ekonomi Jepang, karena itu pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Kemudian tiga hari setelah itu yakni pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan. Masa penjajahan negara Jepang di Indonesia tergolong singkat, yakni sejak tahun 1942 hingga 1945. Namun, selama menduduki wilayah Indonesia, sejumlah kebijakan Jepang punya dampak signifikan. Seperti diketahui, tepat pada 5 Maret 1942, Jepang berhasil menduduki kota Batavia yang kini dikenal dengan nama Jakarta. Kewalahan dalam menghadapi serbuan pasukan Jepang, pihak Belanda mundur menuju Subang, Jawa Barat. Hingga akhirnya Belanda menyerah tanpa syarat kepada pasukan Jepang. Hal ini menandakan bahwa penjajahan Belanda di Indonesia telah berakhir. Setelah itu, negara Indonesia diduduki oleh Jepang dengan tujuan menjadikan Indonesia sebagai tempat untuk mencari dan mengumpulkan bahan baku industri, seperti dijelaskan dalam buku IPS Terpadu (Geografi, Sejarah, Sosiologi, Ekonomi) untuk Kelas VIII SMP oleh Nana Supriatna dkk. Selama menduduki negara Indonesia, Jepang membuat berbagai macam kebijakan yang sewenang-wenang sehingga berdampak pada kehidupan rakyat Indonesia. Melansir buku bertajuk Sekilas Tentang Bahasa Indonesia (Edisi Revisi) karya Fahrurrozi dan Andri Wicaksono, kebijakan-kebijakan Jepang tersebut berdampak pada segala bidang, seperti bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, militer, kebudayaan, dan kebahasaan. Dampak Positif Kebijakan Jepang di Indonesia Namun nyatanya, tidak semua kebijakan Jepang merugikan rakyat Indonesia, beberapa di antaranya memberikan dampak positif. Walaupun demikian, dampak dari kebijakan Jepang didominasi oleh dampak negatif. Berikut segelintir dampak positif dari kebijakan yang diterapkan Jepang di Indonesia, sebagaimana disebutkan dalam buku Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 untuk SMA/MA Kelas XI oleh Dr. Abdurakhman dkk: Diperbolehkannya penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi. Bahasa Indonesia juga menjadi bahasa nasional serta bahasa pengantar di sekolah. Propaganda Jepang yang mendukung gerakan anti-Belanda, secara tidak langsung menumbuhkan semangat kebangsaan atau nasionalisme rakyat Indonesia. Guna mendapatkan simpati rakyat Indonesia, Jepang mendekati para tokoh nasional dan menjadikan mereka sebagai penggerak mobilisasi massa.

Agenda pelatihan militer dan semimiliter yang diadakan oleh Jepang menjadi bekal rakyat Indonesia guna mempersiapkan diri menghadapi peperangan suatu hari nanti. Dampak Negatif Kebijakan Jepang di Indonesia Adapun dampak negatif dari kebijakan Jepang yang sewenang-wenang bagi rakyat Indonesia sebagai berikut: Kebijakan romusha menyebabkan munculnya berbagai macam permasalahan sosial yang mengakibatkan trauma bagi masyarakat Indonesia Eksploitasi besar-besaran yang dilakukan Jepang mengakibatkan penderitaan dan kesengsaraan rakyat Indonesia Kehidupan yang menderita dan sengsara karena kemiskinan. Hal ini dikarenakan segala potensi ekonomi di Indonesia digunakan untuk mendukung Jepang dalam perang. Penyebaran intelijen dan polisi khusus menghadirkan rasa takut di kalangan rakyat. Penyebaran ini dilakukan guna mengawasi rakyat Indonesia yang dicurigai sebagai golongan anti-Jepang. Pembatasan aktivitas pers mengakibatkan tidak adanya pers nasional yang bebas dari pengaruh Jepang. Pers nasional pada saat itu harus tunduk pada pemerintah Jepang. Mengapa Jepang Menerapkan Kebijakan Ekonomi Perang? Ketika mendarat di Indonesia, Jepang mulai menerapkan berbagai macam kebijakan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan rakyat Indonesia. Di bidang ekonomi, Jepang menerapkan kebijakan ekonomi perang guna mendukung gerak maju Jepang dalam perang Pasifik. Kebijakan tersebut menuntut rakyat Indonesia untuk mengerahkan seluruh sumber daya ekonomi yang dimiliki. Melansir buku Sistem Ekonomi Indonesia karya Darwin Damanik dkk, demi menyokong kebutuhan perang, Jepang merombak struktur ekonomi rakyat Indonesia dan mengeksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran. Berikut beberapa kebijakan ekonomi perang guna mendukung pemerintah Jepang,yaitu: Mengawasi dan Memperbaiki Prasarana Ekonomi Dikarenakan Belanda menghancurkan sejumlah objek vital, termasuk prasarana ekonomi di Indonesia, Jepang memutuskan untuk menerapkan kebijakan pengawasan dan perbaikan. Jepang memperbaiki beberapa prasarana, seperti jembatan, alat transportasi, telekomunikasi, dan gedung-gedung.

Jepang juga mengawasi gerak-gerik praktik ekonomi rakyat Indonesia. Salah satu kebijakan pengawasan adalah menetapkan pengendalian harga kenaikan. Memperluas Wilayah Persawahan Mengutip buku Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 untuk SMA/MA kelas XI oleh Dr. Abdurakhman dkk, keadaan produksi beras di Indonesia pada saat itu sangat menurun, bahkan sekadar untuk memenuhi kebutuhan rakyat pun tidak cukup. Di samping itu, kebutuhan pangan Jepang untuk perang meningkat. Maka dari itu, pemerintah Jepang memperluas wilayah persawahan. Upaya ini dilakukan dengan harapan produksi beras dapat meningkat sehingga mampu memenuhi kebutuhan perang. Perluasan wilayah persawahan tidak hanya terjadi di pulau Jawa, tetapi juga di Sumatra Timur, Kalimantan, dan Sulawesi Penanaman Wajib Tanaman untuk Perang Eksploitasi yang dilakukan pemerintah Jepang adalah penanaman wajib atas tanaman-tanaman yang dibutuhkan ketika perang, yakni pohon kapas dan pohon jarak. Pohon kapas digunakan untuk bahan pakaian, sementara pohon jarak digunakan untuk bahan bakar pesawat dan pelumas senjata. Penanaman paksa ini ternyata memberikan dampak kerusakan pada tanah para petani Indonesia, sebagaimana tertulis dalam buku bertajuk Nippon Pengubah Sejarah karya Arisandi. Mengawasi Kegiatan Pertanian Kegiatan pertanian rakyat Indonesia diawasi oleh pemerintah Jepang secara ketat. Tujuannya adalah untuk mengendalikan harga hasil pertanian, terkhusus beras. Jepang juga mewajibkan penyerahan hasil pertanian sebesar 30% untuk pemerintah, 30% diserahkan ke lumbung desa, dan sisanya milik petani. Demikian penjelasan mengenai kebijakan-kebijakan ekonomi perang yang diterapkan Jepang di Indonesia.

SEKIAN MAKASIH:) AWAL MASUKNYA JEPANG KE INDONESIA ADINDA NAILAH MUFIDAH XI IPS PKN KLS XI


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook