Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore KELAS KREATIF

KELAS KREATIF

Published by Hero Rojaul Khoir, S.S, 2021-02-14 08:50:15

Description: KELAS KREATIF

Search

Read the Text Version

4. Siswa memperhatikan instruksi dan contoh yang diperagakan terlebih dahulu oleh guru. 5. Siswa mulai mencobanya. 6. Siswa diberikan catatan waktu yang telah ditempuh untuk menjawab pertanyaan dari anggota kelompoknya yang kemudian ditulis di papan tulis. 7. Pemegang rekor tercepat akan diberikan hadiah berupa penghargaan dalam bentuk apapun. Namun, yang tidak menang pun akan tetap diberikan apresiasi. Variasi Kegiatan Estafet Stick merupakan sebuah permainan yang menggunakan sebuah tongkat (stick) dan kartu yang pertanyaannya akan diacak. Saat kegiatan pembelajaran berlangsung, ada dua variasi kegiatan yang dapat dilakukan terkait tongkat sebagai medianya, yaitu: 1. Tongkat dapat digunakan secara estafet. 2. Tongkat dapat dilempar sehingga siswa yang menerimanya harus mendeskripsikan ciri-ciri benda yang ditampilkan atau ditulis di papan tulis atau kartu permainan. 45

Daftar Pustaka Bima, B.M, & Kurniawati, C. (2005). Let’s talk. Bandung: Pakar Raya Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi. Jakarta: Depdiknas Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Permendiknas nomor 23 tentang standar kompetensi lulusan. Jakarta: Depdiknas Freeman, L.D. (1986). Techniques and principles in language teaching. England: Oxford University Press Hadfield, J. (1995). Intermediate communication games. London: Nelson ELT Isaeni, N. (2009). Penelitian tindakan kelas bagi guru: Tentang talking stick. Kristono, Andayani, E.T., & Ismukoco. et al. (2004). The bridge english competence for SMP grade VIII. Bandung: Yudhistira Purwanto. (1992). Prinsip dan evaluasi pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Richards, J., & Rodgers, T. (1986). Approaches and methods in language teaching. London: Cambridge University Press. Van Els, T., Bongaerts, T., & Extra, G. at al. (1984). Applied lingustics and the learning and teaching of foreign languages. New York: Chapman and Hall Inc. Biodata Penulis Hendra Sanjaya adalah seorang guru Bahasa Inggris di SMPN 4 Lembang. Beliau bersekolah di STBA Akademi Bahasa Asing Bandung. Karya yang pernah diterbitkan adalah Climate Change yang diterbitkan oleh QITEP dan ASN. Hobi penulis adalah travelling, games, dan menonton bersama keluarga. Surel: [email protected]. 46

Peningkatan Kompetensi Berbicara Siswa melalui Dialog Berpasangan Berbantuan Media Boneka pada Materi Pembelajaran Greeting Iin Karyati SMP Negeri 31 Bandung Pendahuluan Pada materi greeting dalam mata pelajaran Bahasa Inggris, siswa diharuskan responsif. Namun, pada kenyataannya, tidak semua siswa memiliki inisiatif untuk memulai komunikasi secara lisan dengan berbagai alasan, di antaranya ialah tidak percaya diri atau takut ditertawakan karena belum benar-benar menguasai tata bahasa. Oleh karena itu, pelaku komunikasi dalam pembelajaran bahasa Inggris di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) cenderung mengambil “jalan aman”, yakni bersikap pasif untuk menghindari risiko. Hal ini tentunya memiliki berbagai dampak, salah satunya adalah terhambat atau terhentinya komunikasi karena mitra tutur saat latihan tidak memiliki tingkat kemampuan berbahasa yang seimbang atau memilih bersikap pasif. Tentu idealnya masing-masing bersikap aktif sehingga komunikasi berjalan secara seimbang dan lancar. Namun, sering kali hal ini menyebabkan munculnya beberapa pasangan yang sama-sama bersikap pasif sehingga pembelajaran tidak berlangsung secara kondusif dan tidak sesuai dengan rencana pembelajaran. Fenomena tersebut akan mengakibatkan tidak tercapainya kompetensi inti dan kompetensi dasar. Oleh karena itu, dirasa perlu adanya suatu tindakan untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya adalah dengan menerapkan dialog berpasangan dengan menggunakan media boneka pada pembelajaran greeting. Dialog dilakukan dengan metode monolog, yakni siswa mengungkapkan maksud dengan cara mengawali percakapan dari dirinya sendiri dan menuntut penyelesaian oleh dirinya sendiri, yang disesuaikan dengan tema yang ditentukan oleh dirinya sendiri. Dialog berpasangan ini memanfaatkan ekspresi retorika tubuh siswa, warna suara, dan kegiatan aksi-reaksi. Idealnya, siswa kelas 7 sudah harus merealisasikan komunikasinya, tetapi karena kepercayaan diri dan keberanian untuk memulai pembicaraan tidak dimiliki oleh semua siswa, guru mengalihkan subjek komunikasi pada media boneka atau gerakan tangan yang pada tahap awal bisa menggunakan sarung tangan atau kaus kaki berwarna yang diberi mata, hidung, dan mulut. 47

Implementasi di Kelas A. Siklus I Siswa duduk di kursinya masing masing dan memfokuskan perhatian pada kedua tangannya. Kemudian, siswa diminta mengangkat tangan kirinya ke atas dahi dan menggerakkan kelima jarinya menyerupai pergerakkan mulut yang sedang berbicara. Siswa yang bersangkutan berperan sebagai pengisi suaranya dan membuka obrolan dengan sapaan. Siswa diberi arahan untuk menggerakkan tangan kanannya sebagai reaksi atas sapaan yang diberikan oleh tangan kiri sebelumnya. Arahannya tersebut kira-kira seperti ini, “Masa tangan kanan diam? Tangan kanan harus bagaimana? Kira-kira sambil mengisi suara apa?” sehingga siswa otomatis mengisi suara tangan kanan dengan balasan sapaan. Berikut ini adalah percakapan yang muncul: Tangan Kiri: “Hello, good morning!” Tangan Kanan: “Hello, good morning!” Tangan Kiri: Ïs it a seven grade?” Tangan Kanan: “Yes, it is.” Tangan Kiri: “Can I sit beside you?” Tangan Kanan: “Yes certainly!” Tangan Kiri: “Thank you very much.” Tangan Kanan: “You are welcome!” Setelah itu, siswa diminta untuk menukar peran antara tangan kanan dan tangan kiri. Jadi, tangan kanan yang berbicara terlebih dahulu (aksi) dan tangan kiri merespons (reaksi). Selanjutnya, siswa diminta untuk memainkan salah satu perannya saja, yaitu tangan kiri yang berperan sebagai aksi kepada teman sebangkunya yang merespons menggunakan tangan kanannya sebagai reaksi. 48

B. Siklus II Siswa diminta mengulang kegiatan sebelumnya, tetapi dengan beberapa perubahan, yaitu kata hello diganti dengan hi dan good morning diganti dengan good day, lalu melanjutkan percakapan tersebut. Siswa pun diarahkan untuk mengeksplorasi situasi, misalnya dengan memperkenalkan diri atau mengajukan permintaan sehingga tangan kiri pun beraksi, “Are you a new student here?”. Kemudian, guru memancing reaksi siswa dengan bertanya, “Kalau ada pertanyaan seperti itu, kira-kira perlu jawaban apa tidak? Apa kira-kira jawaban tangan kanan?” sehingga siswa merespons dengan mengiyakan bahwa si tangan kanan adalah siswa baru. Karena mayoritas siswa bereaksi dengan menggunakan bahasa Indonesia, guru meluruskannya dengan ungkapan bahasa Inggris, yaitu “Yes, I am” dan meminta siswa melanjutkan pembicaraan setelah ungkapan tersebut dengan berkata, “Mungkin ada yang mau melanjutkan obrolan?”. Setelah itu, ada siswa yang berteriak, “Nama!”, lalu guru menyahut, “Yes, you right! Telling or asking each name”. Lima siswa menggerakkan tangan kiri dan menanyakan nama tangan kanan, sedangkan enam orang lainnya langsung memperkenalkan diri. Di antara keenam orang itu, ada yang menyebutkan namanya sendiri dan ada yang menyebutkan nama yang dianggap jelek sambil tertawa sebagai candaan. Kegiatan pun berlangsung hingga sesi tanya jawab, seperti “Where do you come from?”, “How old are you?”, “Do you have telephone number?”, dan “Hobby and the aim of my life”. Dampaknya, suasana kelas menjadi agak gaduh. Namun, tidak ada siswa yang tidak terlibat dalam kegiatan aksi-reaksi tersebut. Dengan kata lain, semua siswa menjadi aktif dan yang terpenting adalah para siswa tidak merasa asing dengan dialog berbahasa Inggris. C. Siklus III Siswa diminta untuk menggunakan sepasang kaus kaki berwarna yang telah dibawa dari rumah pada kedua tangganya. Kaus kaki tersebut diberi gambar mata, hidung, dan bibir dengan menggunakan spidol. Pada siklus ketiga ini, volume suara siswa semakin keras sebagai pertanda bahwa rasa percaya dirinya mulai tumbuh dan tingkat keakrabannya meningkat dengan mengomunikasikan masing-masing tangannya kepada temannya. Buku paket pun digunakan sebagai sumber untuk mengembangkan pengetahuan kosakata terkait aksi-reaksi menyapa dalam bahasa Inggris. Siswa-siswa yang sudah mulai terbiasa, diminta memainkan dialog berpasangan dengan empat peran komunikatif dan tematik. Kegiatan ini bermanfaat untuk menghindari kekakuan berkomunikasi karena dengan cara memerankan lebih dari dua peran, siswa dituntut untuk semakin kreatif dalam membuka obrolan dan semakin tertantang untuk bereaksi dalam kurun waktu yang cepat. 49

Daftar Pustaka (Tidak ada daftar pustaka) Biodata Penulis Iin Karyati adalah seorang guru Kesenian sejak tahun 1981. Dia menyelesaikan pendidikan Bachelor of Arts-nya di ASTI Bandung pada tahun 1987. Pada tahun 1996, dia menjadi guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 31 Bandung karena saat itu sekolah kekurangan guru mata pelajaran bahasa Inggris. Ia pun menyelesaikan studinya di STKIP Siliwangi dengan indeks prestasi kelulusan cukup pada tahun 1999. Karena tetap merasa dirinya adalah guru Kesenian, dia melanjutkan studi pasca sarjana ke Prodi Seni dan lulus menjadi seorang Magister Pendidikan pada tahun 2009. Namun, ia tetap tidak diperbolehkan mengampu mata pelajaran Kesenian oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung karena menjadi dua orang guru yang lulus dari puluhan guru yang diuji sebagai guru professional Bahasa Inggris pada tahun 2007. Iin Karyati aktif di MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Bahasa Inggris Kota Bandung sebagai Humas, menjabat sebagai bendahara untuk wilayah Bandung Tenggara, dan ketua MGMP di tingkat sekolah, serta membantu Kepala Sekolah dalam bidang kehumasan di sekolah. 50

Good Characters in Warm Up Activity Kartika Arum SMP Negeri 1 Padalarang Pendahuluan Berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 65 Tahun 2013, pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), yang meliputi kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Kegiatan pendahuluan (warm up activity) bertujuan untuk menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik, serta memberi motivasi belajar kepada peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik, sebab perhatian dan motivasi peserta didik merupakan dua hal penentu keberhasilan pembelajaran. Namun, pada kenyataannya, masih banyak guru yang kurang menaruh perhatian pada kegiatan pendahuluan ini. Mereka biasanya terlalu menaruh fokus pada persiapan materi dan latihan. Pernyataan ini didasarkan pada hasil pengamatan penulis selama mengikuti kegiatan Lesson Study di Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bahasa Inggris Gugus Dua Kabupaten Bandung Barat. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengajukan suatu model kegiatan pendahuluan yang membuat peserta didik dapat menaruh perhatian dan memiliki motivasi selama proses pembelajaran. Dalam penelitian ini, penulis melibatkan SMP Negeri 1 Padalarang sebagai lokasi pengambilan data dengan beberapa pertimbangan, yakni 1) penulis adalah guru Bahasa Inggris yang sudah mengajar di sekolah ini selama 13 tahun sehingga upaya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah ini adalah bagian dari tanggung jawab penulis dan 2) SMP Negeri 1 Padalarang adalah salah satu dari empat sekolah percontohan di Kabupaten Bandung Barat yang mengimplementasikan Kurikulum Nasional, yakni kurikulum terbaru yang mengembangkan tiga aspek dalam penilaian, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan, sejak tahun 2013. Selaras dengan hal-hal yang sudah disebutkan sebelumnya, penulis memilih kegiatan pendahuluan yang berkaitan dengan sikap. Hal ini bertujuan agar peserta didik dapat menyebutkan beberapa karakter baik dan menyimpannya dalam ingatan mereka sehingga pada akhirnya bisa menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kegiatan pendahuluan adalah suatu upaya untuk mencapai suasana atau kondisi siap belajar sebelum memasuki tahap kegiatan inti pembelajaran. Kegiatan ini termasuk ke dalam kategori persiapan awal (pra- intructional) menuju pada kegiatan inti. Eragamreddy (2013) menyatakan bahwa “using warm up activities can be one way to bring variation in class activity and to make the students curious, focus their attention, provide them purpose and motivation”. Dari kutipan tersebut, kita dapat menarik simpulan bahwa kegiatan pendahuluan dapat menarik perhatian peserta didik sekaligus memotivasi mereka. DePorter mengklasifikasikan langkah pembelajaran ke dalam enam aspek yaitu: 1) tumbuhkan, 2) alami, 3) namai, 4) demonstrasikan, 5) ulangi, 51

dan 6) rayakan. Dari keenam aspek tersebut, aspek tumbuhkan yang bermakna “tumbuhkan minat, perhatian, dan motivasi peserta didik ketika memulai pembelajaran” merupakan aspek yang berkaitan erat dengan kegiatan pembukaan. Adapun jenis-jenis kegiatan yang harus dilakukan untuk menciptakan kondisi siap pada diri peserta didik selama pembelajaran adalah sebagai berikut: 1. Mengondisikan pembelajaran (conditioning) a. Menumbuhkan perhatian dan motivasi. b. Menciptakan peserta didik. c. Menciptakan kesiapan belajar peserta didik. d. Menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis. 2. Melaksanakan kegiatan apersepsi a. Mengecek kehadiran peserta didik. b. Mengecek pemahaman peserta didik terhadap materi yang lalu dan mengaitkannya dengan materi yang akan dipelajari. c. Menyampaikan tujuan/kompetensi yang harus dicapai dari materi yang akan dipelajari. d. Menjelaskan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan oleh peserta didik pada saat pembelajaran berlangsung. e. Menjelaskan manfaat apa yang akan didapat setelah peserta didik mempelajari materi atau bahan ajar yang akan disampaikan. Kemudian, terkait sumber data, dari enam kelas yang menjadi tanggung jawab penulis sebagai guru, dengan rata-rata berjumlah antara 40 sampai dengan 44 peserta didik di tiap kelasnya, penulis mengambil kelas VII D semester 1 tahun ajaran 2016/2017 sebagai sumber data. Kelas ini terdiri atas 20 peserta didik laki-laki dan 20 peserta didik perempuan. Tidak ada alasan khusus saat pemilihan sumber data karena kelima kelas lainnya pun melaksanakan kegiatan ini. Implementasi di Kelas Tahun ajaran 2016/2017 merupakan tahun keempat penulis melakukan kegiatan ini. Dalam kurun waktu tiga tahun yang sudah berjalan, terdapat beberapa perubahan yang dilakukan. Di awal tahun implementasi Kurikulum Nasional, di mana aspek sikap menjadi aspek pertama yang dinilai, menjadi inspirasi bagi penulis untuk melakukan kegiatan pendahuluan yang berkaitan dengan sikap. Pada tahun 2013, penulis tertarik untuk mengolaborasikannya dengan kegiatan “call the role” atau mengecek kehadiran peserta didik. Penulis menyiapkan kartu nama dan nomor urut untuk setiap peserta didik, lalu ada peserta didik yang menjadi “petugas” untuk mengecek kehadiran dari kartu nama yang disusun secara acak di setiap pertemuan secara bergiliran. Sebanyak delapan karakter baik seperti jujur (honest), rendah hati (humble), berani (brave), menghargai (respect), penyayang (loving), peduli (caring), disiplin (discipline), dan kooperatif (cooperative), harus disebutkan salah satunya setiap nama peserta didik disebutkan. Contohnya, peserta didik yang menjadi petugas menyebutkan salah satu nama temannya dengan lantang, maka peserta didik yang disebut namanya harus merespons dengan mengatakan, “I am honest”. 52

Pada kegiatan pendahuluan ini, peserta didik terlihat antusias, terutama apabila ada yang menyebutkan “I am loving, kegembiraan pun terjadi di kelas. Bahkan ada satu peristiwa yang menyentuh hati penulis, yakni ketika seorang peserta didik tidak mau melakukan kecurangan dengan mengatakan, “Kan saya honest!”. Pada tahun ketiga, yaitu tahun ajaran 2015/2016 ada perubahan format karena penulis menginginkan adanya kebersamaan dan keriangan. Penyebutan karakter tidak lagi dikolaborasikan dengan pengecekan kehadiran peserta didik, tetapi ada pemimpin (leader) secara bergiliran di setiap pertemuan yang memandu dengan mengatakan, “say our personalities!”, lalu seluruh peserta didik merespons dengan mengatakan, “we are honest”. Kemudian, secara bergantian, setiap baris mengatakan salah satu karakter, yakni baris 1 “respect”, baris 2 “loving”, baris 3 “caring”, baris 4 “discipline”, baris 1 ”confident”, baris 2 “responsible”, baris 3 “team work”, baris 4 “communicative”, dan terakhir seluruh peserta didik mengatakan “we are peace”. Tidak perlu waktu lama untuk melihat keriangan para peserta didik karena tanpa dikomando pun mereka membuat variasi dalam kegiatan ini. Salah satunya adalah mereka membuat perjanjian terkait volume suara, misalnya baris 1 lantang, baris 2 agak pelan, dan baris 3 kembali lantang. Tentu saja keriangan di awal pembelajaran ini berdampak positif pada motivasi mereka ketika proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, karena kegiatan tersebut dilakukan bersama-sama tanpa beban dan diulang-ulang, muncullah dampak positif pada kepercayaan diri mereka ketika berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris sehingga aspek keterampilan ikut tercapai padahal pada awalnya hanya penanaman nilai-nilai terkait aspek sikap yang menjadi tujuan utama. Selanjutnya, pada tahun keempat, formatnya tidak berubah banyak, hanya penambahan karakter rendah hati (humble), gerakan jari tangan membentuk huruf “V” saat peserta didik mengatakan “peace”, dan pergiliran urutan baris sehingga langkah-langkahnya antara lain sebagai berikut. 1. Peserta didik mendengarkan penjelasan tentang sikap. 2. Peserta didik menulis “expressing personalities”. 3. Peserta didik mencari dan mendiskusikan makna dari semua karakter. 4. Peserta didik menirukan ucapan guru. 5. Peserta didik melakukan simulasi. Pada tahap awal yang menjadi pemimpin adalah guru, tetapi pada simulasi berikutnya adalah peserta didik, yakni ketua murid. Kegiatan ini menjadi rutinitas dan otomatis dilakukan di setiap pertemuan karena merupakan rangkaian yang urutannya yaitu 1) greeting (salam), 2) express grateful (ungkapan rasa syukur), 3) express personality (ungkapan kepribadian), 4) express the rule (ungkapan peraturan), dan 5) English cheers (yel-yel bahasa Inggris). Kegiatan ini memerlukan waktu kurang lebih 1 x 2 jam pelajaran untuk mengenalkan, melatih, dan mengadakan simulasi untuk kegiatan ini, tetapi untuk pertemuan selanjutnya hanya memerlukan waktu kurang lebih 2 menit. 53

Sumber gambar: http://youtube.com Variasi Kegiatan Format kegiatan pendahuluan (warm up activity) ini bisa juga disebut call and response activity (CnR) karena ada pemimpin yang memanggil (call) dan peserta didik yang menanggapi (response). Kegiatan tersebut pun bisa divariasikan dalam materi pembelajaran atau bahkan untuk meminta perhatian peserta didik, misalnya: 4. CnR tentang Pronoun a. Guru (calling) : pronoun b. Peserta didik (response) : i-me-my-mine you-you-your-yours he-him-his-his she-her-her-hers we-us-our-ours they-them-their-theirs 5. CnR tentang simple present a. Guru (calling) : simple present b. Peserta didik (response) : subject-verb1 subject-do/does-not-verb1 do/does-subject-verb1-? 6. CnR untuk meminta perhatian a. Guru (calling) : VII C ( untuk kelas C) b. Peserta didik (response) : clever-cheerful-curious 54

Daftar Pustaka Akther, A. (2014). Role of warm-up activity in language classroom: A tertiary scenario. Thesis. Bangladesh: BRAC University ArifRif. (2014). Fungsi dan tujuan serta langkah kegiatan awal pembelajaran. Diunduh pada 25 Juli 2016. [Online]. http://www.madrasahmedia.web.id/2014/10/fungsi-tujuan-dan-langkah- kegiatan-awal-pembelajaran.html Cotter, C. (n.d). Warming-up-students. Diunduh pada 25 Juli 2016. [Online]. di http://www.headsupenglish.com/index.php/esl-articles/esl-lesson-structure Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2016). Permendikbud nomor 22 tahun 2016 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah. Jakarta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2014). Permendikbud nomor 103 Tahun 2014 tentang pembelajaran pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Jakarta Kementerian Pendidikan Nasional. (2013). Peraturan menteri nomor 65 tahun 2013 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah. Jakarta Biodata Penulis Kartika Arum adalah seorang guru bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Padalarang. Pendidikannya S1 Bahasa Inggris STKIP Pasundan. Pernah menjadi presenter pada Konferensi Bahasa CONAPLIN 8 2015. Temui dia di surel [email protected] 55

Pembelajaran Kosakata tentang Day and Night Activities melalui Permainan Bingo Mardiya Kamilah Pendahuluan Penguasan kosakata sangatlah penting dalam kegiatan pembelajaran bahasa Inggris, sebab tanpa memiliki kosakata yang cukup, siswa tidak akan mampu mengerti apa yang diungkapkan oleh orang lain maupun mengekspresikan pendapatnya sendiri. Wilkins (1972) mengungkapkan bahwa tanpa penguasaan struktur bahasa (grammar), sangat sedikit sekali yang dapat disampaikan; tanpa penguasaan kosakata bahasa, tidak ada yang dapat diungkapkan. Pengajar tentu harus kreatif membuat materi pelajaran menjadi lebih berkesan untuk menarik perhatian siswa, serta memicu motivasi dan semangat belajar siswa. Di samping kemampuan intelektual siswa, saat pembelajaran berlangsung, pengajar sebaiknya melibatkan kemampuan emosional siswanya seperti yang diungkapkan Jensen (2005) bahwa sisi emosional seseorang dapat memancing atensi yang menjadikan sesuatu menjadi lebih bermakna dan berkesan. Agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik dan berkesan, saat ini telah banyak metode dengan media pembelajaran instruksional menarik yang dapat digunakan, salah satunya adalah permainan (games). Pada dasarnya, sebagian besar orang senang bermain. Tidak hanya anak kecil, orang dewasa pun senang bermain games. Dengan metode ini, pembelajaran akan berlangsung lebih santai dan riang sehingga otak siswa dapat menyerap lebih banyak hal dibandingkan dengan pembelajaran yang serius dan kaku. Krashen (1982) menyatakan pendapat bahwa siswa akan belajar lebih baik dan lebih banyak berpartisipasi dalam situasi pembelajaran yang nyaman dengan tingkat stres yang rendah. Lebih lanjut lagi, ia mengatakan bahwa motivasi belajar dan kepercayaan diri siswa dapat membantu mengurangi kebingungan. Salah satu media permainan adalah BINGO game yang merupakan permainan interaktif yang menarik bagi siswa dan mudah diterapkan oleh pengajar. Permainan ini sangat fleksibel dan improvisable sehingga dapat digunakan pada berbagai materi pelajaran 56

Implementasi di Kelas Berikut ini adalah proses pengaplikasian BINGO game di kelas. 1. Tentukan materi pembelajaran terlebih dahulu. 2. Buat papan permainan (game board) yang berisi beberapa kosakata inti sebagai indikator kosakata yang wajib diketahui siswa, misalnya sleep, breakfast, jogging, watching TV, dinner, go to school, morning, night, afternoon, etc. Papan permainan ini bisa dibuat sendiri dan disesuaikan dengan kebutuhan materi pembelajaran. Untuk menambah tingkat kesulitan, kita dapat menginstruksikan siswa untuk membuat kosakata sendiri dengan meminta mereka menuliskan kegiatan yang mereka lakukan di pagi, siang, dan malam hari, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. 3. Membuat flashcards yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Kita bisa menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran dengan cara menginstruksikan siswa untuk menggambar kosakata yang telah mereka buat sendiri sebelumnya di selembar kertas kecil untuk dijadikan flashcards. 4. Membuat beberapa quiz board yang berisi beberapa kosakata pilihan dari kosakata inti yang tersedia. Quiz board ini disesuaikan dengan kebutuhan materi ajar (minimal 2 buah). 5. Membuat kertas undian yang berisi semua kosakata yang diperlukan dan penanda (marker) untuk kata yang telah disebutkan. 57

6. Setelah persiapan selesai, pengajar membagikan quiz board kepada seluruh siswa, satu siswa mendapat satu quiz board atau satu kelompok mendapat satu quiz board. Kemudian, kita taruh kertas undian pada satu wadah. 7. Siswa secara bergiliran mengambil satu kertas yang berisi kosakata tertentu secara acak, lalu menyebutkannya dengan lantang sehingga teman-temannya dapat mendengar dengan jelas. Apabila terdapat kesalahan pelafalan (pronounciation), pengajar dapat langsung mengoreksi. Siswa atau kelompok yang memiliki kosakata yang disebutkan tadi dapat menandai kata yang ada di quiz board dengan penanda. 8. Siswa atau kelompok yang paling cepat menandai semua kosakatanya adalah pemenang. Apabila siswa atau kelompok tersebut telah mendapatkan semua kosakata dalam quiz board-nya, dia atau mereka berteriak “BINGO!” dengan lantang. Variasi Kegiatan Permainan BINGO ini sangat mudah untuk diadaptasi dan diterapkan pada beragam materi pembelajaran. Pengajar pun bisa melakukan berbagai improvisasi dan mengembangkan ide pribadi ke dalamnya. Selain untuk kosakata, permainan ini dapat diterapkan pada materi: 1. Angka (Learning Number) 2. Kelas kata (Classify words class), seperti noun, adjective, dan verb, dan sebagainya. 58

Daftar Pustaka Alqahtani, M. (2015). The importance of vocabulary in language learning and how to be taught. International Journal of Teaching and Education, 3 (3), 21- 34 Cremin, T., Reedy, D., & Bearne, E. et al. (2009). Teaching English creatively. New York: Routledge Hiebert, E.F., & Kamil , M.L. (2005). Teaching and learning vocabulary: Bringing research to practice. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Vocabulary and its importance in language learning. (n.d). [Online]. di http://www.tesol.org/docs/books/bk_ELTD_Vocabulary_974 Biodata Penulis Mardiya Kamilah adalah sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Pernah mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Yayasan Pasundan, mengajar siswa usia dini di dua preschool di Bandung, dan sekarang menjadi seorang asisstant teacher di Bandung Independent School (BIS). 59

Pemanfaatan Flashcard sebagai Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris Mini Sumiarti SMP Negeri 26 Bandung Pendahuluan Mengajarkan bahasa Inggris di kelas terkadang menjadi tantangan tersendiri untuk para guru. Dalam prosesnya, diperlukan waktu pemahaman yang relatif lebih lama karena bahasa yang diajarkan adalah bahasa asing yang tidak digunakan dalam keseharian siswa. Kemudian, terkadang para guru dihadapkan pada situasi rendahnya kepercayaan diri dalam berbahasa Inggris, baik monolog, dialog, maupun yang lainnya. Banyak siswa yang cenderung sungkan dan malu-malu, meski sebenarnya seperti yang kita sadari, kepercayaan diri mungkin merupakan modal utama bagi kita untuk bisa fasih berbahasa asing. Oleh karena itu, diperlukan suatu suasana yang mendukung pembelajaran di kelas, terutama upaya agar pembelajaran menjadi lebih menarik, tidak monoton, tidak membosankan, dan tidak mengenangkan bagi para siswa. Suasana yang menyenangkan dan bersahabat, tanpa mengurangi kedisiplinan dan rasa saling menghormati, sangatlah berpengaruh bagi kejiwaan seseorang yang pada kelanjutannya berpengaruh pada seberapa cepat seorang individu dapat menangkap apa yang diajarkan kepadanya. Salah satu cara pengajaran yang dapat dilakukan adalah dengan mengaplikasikan penggunaan flashcard, yakni media sederhana dalam bentuk kartu yang berguna, terutama dalam proses pengenalan kosakata. Flashcard dapat dengan mudah dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan khusus maupun daur ulang yang berbentuk kartu. Guru dapat membuat flaschcard sederhana hanya pada saat dibutuhkan dengan cepat, atau bisa juga membuatnya lebih awet lagi dengan cara melaminating dan disimpan di tempat yang kering untuk keperluan kelas di masa berikutnya. Implementasi di Kelas Pemanfaatan media flashcard dapat membuat suasana pembelajaran di kelas menjadi menyenangkan. Media ini memungkinkan para guru untuk mencoba beragam kombinasi strategi pembelajaran, misalnya mengombinasikannya dengan permainan atau media lain seperti musik. Suasana yang santai tersebut diharapkan akan membuat siswa tidak merasa terbebani sehingga kepercayaan diri siswa akan terangsang karena perasaan terbuka terhadap pelajaran yang dihadapinya. Media flashcard yang hanya memuat beberapa kata saja di setiap kartunya dan dapat dilihat berulang kali juga sangat memudahkan para siswa untuk mengingat kosakata. Ada beberapa anjuran yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan flashcard, antara lain sebagai berikut. 60

1. Flashcard sebaiknya disusun dan dikelompokkan berdasarkan subjek yang sama. 2. Flashcard yang bergambar harus memuat gambar yang berukuran cukup besar dan jelas. 3. Flashcard gambar hanya berisi 1 gambar untuk setiap kartu, tanpa latar belakang apapun. Sebagai contoh kegiatan yang sudah pernah dilakukan, dengan menggunakan metode permainan, guru dapat membuat beberapa kartu dalam 2 jenis flashcard, yakni jenis pertama berisi gambar-gambar binatang, sedangkan jenis yang kedua berisi nama-nama binatang tersebut dalam bahasa Inggris. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, lalu membagikan flashcard yang sudah dibuat tadi secara acak dan merata kepada setiap kelompok. Secara bergiliran, para siswa diminta mendatangi kelompok lain untuk saling mencari kartu yang sesuai antara gambar binatang dan namanya. Semua komunikasi antarkelompok diharuskan berbahasa Inggris karena jika tidak, mereka tidak akan diperkenankan melihat kartu dari kelompok lain. Kombinasi antara gambar dan kata-kata membuat siswa lebih mudah mencerna kosakata karena disajikan dalam kata-kata sederhana yang memiliki rujukannya secara visual dalam rupa gambar-gambar. Para siswa diminta untuk mencocokkan gambar-gambar tersebut dengan namanya dalam bahasa Inggris, yang sudah disebar sebelumnya ke masing-masing kelompok yang berbeda. Hal tersebut dimaksudkan agar para siswa dapat lebih aktif dan tentu saja sebagai “paksaan” agar mereka berlatih berbicara dalam bahasa Inggris. 61

Variasi Kegiatan Banyak hal yang dapat diterapkan dalam pemanfaatan flashcard. Karena media ini dimaksudkan menjadi penunjang strategi pembelajaran, kreativitas guru memang sangat diperlukan. Beberapa contoh variasinya, yakni 1) membuat karpet huruf, 2) mencari missing letter, dan 3) merangkai kalimat-kalimat. Daftar Pustaka Media pembelajaran bahasa inggris SD menggunakan flash card dan cara mengajarnya.(2014)[Online]. http://www.belajarbahasainggrisku.com/2014/12/media-pembelajaran- bahasa-inggris-sd-menggunakan-flash-card-dan-cara-mengajarnya.html Supono, I., & Cahya, W. (2007). Panduan menguasai 16 tenses dilengkapi dengan daftar kata kerja beraturan & tak beraturan. Ciganjur: Jakarta Selatan. Biodata Penulis Mini Sumiarti adalah seorang guru bahasa Inggris di SMP Negeri 26 Bandung sejak tahun 2013. Pada tahun ajaran 2016/2017, dia mengajar kelas 7. Temui dia di surel [email protected] 62

Penerapan Edmodo dalam Penilaian Pemahaman Tata Bahasa Dasar Muhamad Umar Harahap SMA Negeri 1 Wanayasa Pendahuluan Teknologi telah semakin maju dan berkembang sehingga membuat dunia kita menjadi seperti tak terbatas, ruangan menjadi tak berdinding, serta produk-produk teknologi ada di sekitar kehidupan kita dan digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Kemudian, apa yang terjadi pada teknologi di dunia pendidikan kini telah berada di jalur yang sama dengan perkembangan pendidikan di seluruh dunia. Sementara itu, untuk sistem pendidikan kita di Indonesia, penggunaan teknologi pun telah berkembang, setidaknya selama sepuluh tahun terakhir. Di sisi lain, perkembangan bahasa memang tidak secepat perkembangan teknologi. Namun, pengajaran bahasa telah berkembang pesat, ditandai dengan beragamnya penggunaan dan perkembangan media pembelajaran berbasis teknologi, salah satunya adalah Edmodo yang dikembangkan oleh Nicolas Borg dan Jeff O’Hara. Edmodo merupakan situs pembelajaran dalam jaringan (daring) yang memungkinkan pengajar, peserta didik, dan orang tua untuk berkomunikasi, berbagi konten pendidikan, serta mendistribusikan proyek, tugas, dan ulangan. Edmodo dapat membantu pengajar membangun sebuah kelas virtual sesuai dengan kondisi pembelajaran di dalam kelas, berdasarkan pembagian kelas nyata di sekolah. Pada kelas tersebut, terdapat penugasan, pelaksanaan kuis atau ulangan, dan pemberian nilai secara otomatis maupun manual pada setiap akhir pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran daring semacam ini akan mendukung terjadinya proses pembelajaran yang semakin efektif dan efisien, serta memberikan pengalaman dan pelayanan yang lebih memuaskan kepada peserta didik. Oleh karena itu, penulis mencoba menerapkan penilaian (assessment) menggunakan Edmodo di tiga kelas XI SMA Negeri 1 Wanayasa, dengan total kurang lebih 120 peserta didik, selama bulan Agustus sampai dengan Oktober 2016, yang bertujuan untuk memudahkan pengajar memetakan pengetahuan dasar peserta didik, khususnya dalam tata bahasa dasar di kalangan sekolah menengah atas, di mana pengajar tidak perlu memeriksa hasil jawaban secara manual karena skor akan muncul secara otomatis, sesuai dengan pengaturan yang telah dibuat sehingga pengajar dapat menentukan panduan langkah selanjutnya dalam mengajarkan bahasa, terutama bahasa Inggris, dikaitkan dengan pemahaman tata bahasa dasar peserta didik. Hal ini berlandaskan pada Brown (2003) yang berpendapat bahwa penilaian adalah metode yang digunakan untuk untuk mengukur kemampuan seseorang. 63

Implementasi di Kelas Gambar 1 merupakan laman situs Gambar 1 Edmodo. Apabila pengguna Setelah akun selesai dibuat, klik belum memiliki akun, akun dapat masuk (login) sehingga akan muncul tampilan seperti pada dibuat dengan mengeklik kategori gambar 2. Kemudian, isi nama pengguna dan kata sandi. Kita yang sesuai dengan juga dapat masuk menggunakan akun Microsoft Office atau akun penggunanya, yaitu peserta didik, Google yang kita miliki. guru, atau orang tua. Kemudian, pengguna diminta untuk memasukkan nama, nama pengguna (username), surel (email), dan kata sandi (password). Gambar 2 Gambar 3 Apabila tidak ada kendala saat memasukkan nama pengguna dan kata sandi, kita akan diarahkan pada beranda seperti pada gambar 3. Gambar 4 Untuk membuat penilaian, kita dapat mengeklik kuis atau ulangan (quiz), lalu klik create quiz seperti pada gambar 4. 64

Gambar 5 Selanjutnya, kita dapat mulai membuat soal. Pada bagian ini, kita pun dapat menuliskan tujuan kuis, mengatur durasi pengisian soal dan nama berkas (file), memilih bentuk soal, menentukan jumlah soal dan opsi jawaban, dan sebagainya. Apabila kita telah selesai membuat soal, klik pratinjau (preview) untuk menguji soal yang telah dibuat, lalu klik selesai (done). Gambar 6 Kemudian, kita dapat menentukan batas waktu pengisian kuis dan pilihan untuk dimasukkan ke buku nilai. Soal ulangan pun siap untuk dikirimkan ke satu kelas atau seluruh kelas untuk selanjutnya dikerjakan oleh peserta didik. Variasi Kegiatan Gambar 7 Pertemuan 1 Menyiapkan keadaan psikis dan fisik peserta didik serta pemberian motivasi, tujuan, dan apersepsi perlunya pembelajaran tata bahasa. Gambar 8 Peserta didik mempelajari bahan yang telah diberikan dan mengerjakan latihan, yakni menuliskan kalimat-kalimat yang berkaitan dengan tata bahasa yang sudah ditentukan. Buku paket, kamus, dan sumber pendukung lainnya disediakan apabila diperlukan. 65

Pertemuan 2 Gambar 9 Peserta didik menyediakan laptop, baik milik pribadi maupun pinjaman. Jika hanya tersedia satu laptop, masing- masing peserta didik diberi waktu 2 menit dengan asumsi satu kelas berjumlah 40 orang dengan jam pelajaran efektif 80 menit. Oleh karena itu, diusahakan minimal lima laptop yang tersedia sehingga peserta didik memiliki waktu sekitar 10 menit untuk mengerjakan soal. Gambar 10 Setelah peserta didik berhasil mengakses laman situs Edmodo, peserta didik mengeklik take quiz, lalu start quiz untuk mulai mengerjakan soal. Gambar 11 Setelah mengeklik start quiz, muncul soal yang berjumlah lebih dari 10 dengan tiga opsi jawaban pilihan ganda, yaitu A, B, dan C yang dapat dikerjakan dengan mengeklik salah satu opsi jawaban yang dianggap paling tepat. Gambar 12 Pertemuan 3 Setelah seluruh peserta didik selesai mengerjakan soal, pada beranda, pengajar dapat mengeklik result untuk melihat hasilnya. Kemudian, peserta didik yang mendapatkan skor terbesar akan muncul. 66

Gambar 13 Pengajar dapat melihat analisis otomatis jawaban peserta didik. Pada tahap ini, pengajar dapat memetakan jawaban peserta didik untuk dijadikan acuan dan bahan penilaian, serta evaluasi pemahaman peserta didik terhadap tata bahasa dasar. Pada bagian kiri layar, pengajar dapat melihat daftar nama peserta didik, sedangkan pada bagian tengah layar pengajar dapat melihat sejumlah grafik lingkaran yang mewakili masing-masing soal. Arsiran yang berwarna merah menandakan persentase peserta didik yang menjawab salah, sedangkan arsiran yang berwarna hijau adalah persentase peserta didik yang menjawab benar. Pengajar dapat mengeklik masing-masing lingkaran grafik untuk melihat detail peserta didik yang mana yang menjawab salah atau benar. Kemudian, peserta didik diminta untuk membuka kembali hasil jawabannya dan mendiskusikan temuan tersebut bersama temannya. Setelah itu, pengajar menjelaskan kembali materi-materi yang dianggap sulit dan membingungkan peserta didik. Gambar 14 Pertemuan 4 Peserta didik kembali menyiapkan laptop dan mengerjakan soal lainnya. Pertemuan 5 Gambar 15 Peserta didik yang telah mendapat nilai lebih baik diminta untuk mendiskusikan dan membahas soal bersama dengan teman-temannya (peer teaching) yang memiliki skor yang beragam. 67

Gambar 16 Masing-masing peserta didik diharapkan menyalin atau Pertemuan 6 memfotokopi materi yang Peserta didik yang masih diberikan dan menggunakan mendapatkan skor rendah sumber bahan ajar yang dapat atau di bawah harapan diminta membantu pemahaman tata untuk mengerjakan soal bahasa bahasa Inggris. kembali sebagai latihan. Gambar 17 Gambar 18 Pertemuan 7 Peserta didik diminta untuk berdiskusi dan membahas kembali hasil pengerjaan soal. Daftar Pustaka Brown, H.D. (2003). Language assessment: Principles and classroom activities. San Fransisco: Longman Ilahiyyah, H.R. (2016). Langkah-langkah membuat Edmodo. Diunduh pada 17 September 2016. [Online]. http://hibbijewels.blogspot.co.id/2013/11/langkah-langkah-membuat- edmodo.html No name. (2016). Edmodo: the Edmodo teacher’s guide. Diunduh pada 10 Agustus 2016. [Online]. http://susd.edmodo.com 68

Biodata Penulis Muhamad Umar Harahap adalah seorang pengajar Bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Wanayasa, Purwakarta sejak ditempatkan dan diangkat menjadi pengajar sejak tahun 2009. Dia menamatkan pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2008. Pernah berkesempatan tinggal Adelaide, South Australia pada bulan Agustus tahun 2014 selama 21 hari. Pernah menjabat sebagai Kepala Perpustakaan SMA Negeri 1 Wanayasa tahun 2013-2014, IN Kurikulum 2013 pada tahun 2015, dan ketua MGMP Bahasa Inggris SMA/MA Kab. Purwakarta periode 2013-2015. Dia dapat dihubungi melalui surel [email protected]. 69

Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris Siswa melalui Musikalisasi Teks Naratif secara Berkelompok Rani Nurhayati SMA Negeri 2 Majalaya Pendahuluan Bahasa Inggris adalah bahasa asing bagi siswa di Indonesia seperti yang diungkapkan oleh Lauder (2008); Musthafa (2002), “the Indonesian government has long decided that English is learned and taught as a foreign language”. Walaupun siswa sudah mempelajari bahasa Inggris bertahun- tahun dari SD, tetapi kemampuan mereka untuk berbicara bahasa Inggris masih sangat kurang, padahal berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa, sehingga siswa dapat merespons perkataan guru atau teman-temannya yang menggunakan bahasa Inggris dengan bahasa yang sama. Hal tersebut pun terjadi pada siswa kelas XII IPS di SMAN 2 Majalaya di mana kemampuan mereka masih kurang bagus dalam aspek berbicara menggunakan bahasa Inggris. Mereka kelihatan masih bingung dan sungkan ketika guru menugaskan mereka untuk berbicara, terutama ketika guru memberikan latihan, praktik, dan ujian lisan. Terkadang guru sampai harus “memaksa” mereka untuk berbicara, tetapi suasana atau keadaan pembelajaran menjadi membosankan. Guru tidak hanya menekankan pada apa yang dapat siswa ketahui atau pahami mengenai suatu bahasa, tetapi juga apa yang mereka bisa lakukan dengan bahasa itu. Dengan kata lain, kebutuhan untuk menunjukkan atau mendemonstrasikan kemampuan bahasa Inggris sangat diperlukan. Siswa harus diberikan keleluasaan untuk mengekspresikan kemampuan mereka dalam berbicara bahasa Inggris. Selaras dengan hal tersebut, Mattarima & Hamdan (2011) mengungkapkan bahwa This curriculum changes its emphasis from what the students can know or understand about language to what they can do with it or can use it (p. 288). In other words, looking at the demand of this curriculum for English subject, Indonesian English learners are required to demonstrate some functional level of English usage. Agar siswa tidak sungkan untuk berbicara, metode pembelajaran secara berkelompok (cooperative learning) menjadi alternatif pilihan yang patut untuk dicoba. Roger & Johnson (dalam Wirza, 2004, hlm. 13-14) mengatakan bahwa “in a cooperative learning situation, interaction is characterized by positive goal interdependence which requires acceptance by a group that they ‘sink or swim together’”. Dalam hal ini, guru akan lebih memfokuskan proses pembelajaran siswa secara berkelompok saat mempresentasikan sebuah teks naratif. Guru memperbolehkan siswa untuk menggabungkan penampilan mereka dengan musik dan tarian sebagai upaya untuk menarik 70

perhatian dan minat siswa. Gunara (dalam Yuliandra, 2011) mengungkapkan bahwa musik sebagai media pembelajaran dapat 1) membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan tidak membosankan, 2) menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan emosional sehingga memberikan hasil yang baik bagi siswa, dan 3) membuat pikiran selalu siap dan mampu untuk lebih berkonsentrasi untuk menerima pelajaran. Kemudian, pembentukan kelompok dapat disesuaikan dengan pilihan siswa. Jumlah anggota setiap kelompok bisa berbeda-beda, tergantung jumlah karakter atau tokoh dalam teks naratif yang akan dipresentasikan siswa. Setelah rata-rata 6 kelompok terbentuk di kelas XII IPS, siswa harus segera menentukan teks naratif yang akan mereka presentasikan. Dari hasil pemantauan, mayoritas siswa memilih cerita legenda atau cerita terkenal seperti “Snow White”, “Cinderella”, “Lutung Kasarung”, “Rapunzel”, “Bawang Merah Bawang Putih”, “Timun Mas”, “Golden Snail”, dan lain-lain. Setiap kelompok diberi durasi waktu sekitar 20 menit. Mereka pun diberikan waktu sekitar dua minggu untuk mempersiapkan presentasi mereka. Siswa dapat melakukan empat atau lima kali latihan sebelum mereka tampil, hal ini tidak termasuk proses menghafal (memorizing) yang biasanya mereka lakukan di rumah masing-masing. Selama proses persiapan, saya memantau persiapan siswa dengan memberikan bimbingan dan konsultasi bagi kelompok atau siswa yang menghadapi suatu kesulitan, seperti pelafalan kata atau ungkapan yang siswa temukan dalam teks naratifnya, penggunaan musik, kostum serta properti seperti apa yang sesuai, dan sebagainya. Dalam hal pemilihan musik, siswa bisa mulai memilih musik atau lagu favorit mereka terlebih dahulu. Mereka dihimbau untuk menyusun musik yang akan mereka pilih dalam presentasi nanti, sesuai dengan adegan yang mereka lakukan agar presentasi mereka menjadi menarik dan bagus untuk dinikmati. Implementasi di Kelas Untuk menciptakan suasana yang dapat meningkatkan ketertarikan siswa agar mau mengungkapkan ragam ungkapan dalam teks naratif secara lancar dan berterima, saya memperbolehkan siswa untuk menggabungkan presentasi dengan iringan musik atau lagu favorit mereka. Pemanfaatan musik sebagai media pembelajaran ini diharapkan dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Musik juga dapat menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan emosional sehingga akan memberikan hasil yang baik bagi siswa. Pemilihan musik harus disesuaikan dengan cerita dan adegan yang akan dilakukan oleh siswa, misalnya pengucapan kalimat “will you marry me?” diiringi dengan musik atau lagu yang romantis. Lirik lagunya juga harus sesuai dengan ungkapan dalam cerita. Begitu pun dengan adegan menyeramkan, misalnya adegan beberapa hantu berjalan diiringi dengan musik yang agak sedikit menegangkan. Pemilihan musik yang sesuai akan mendukung suasana yang ingin ditampilkan dalam sebuah presentasi. Karena siswa diberi kebebasan untuk memilih kelompoknya dan teks naratif sendiri, menyusun musik dan lagu, serta merancang adegan dan tariannya, penampilan presentasi mereka di depan kelas sangat bagus. 71

Siswa tidak terlihat sungkan untuk mengekspresikan kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris. Mereka terlihat lebih santai, tidak begitu tegang. Mereka tidak merasa seperti sedang dinilai oleh guru. Siswa bisa tertawa lepas ketika ada kesalahan pengucapan (mispronounciation) yang dilakukan oleh dirinya sendiri atau yang dilakukan oleh temannya yang sedang tampil di depan kelas. Variasi Kegiatan 1. Siswa bisa melakukan musikalisasi teks naratif dengan menggunakan boneka (puppets). 2. Musik tidak harus direkam dan disusun terlebih dulu. Siswa bisa melakukan iringan musik secara langsung. 3. Kegiatan musikalisasi teks naratif ini dapat digabung dengan reciting poem yang terintegrasi dengan teks naratif yang ditampilkan. 72

Daftar Pustaka Mattarima, K., & Hamdan, A.R. (2011). The teaching constraints of English as a foreign language in Indonesia: The context of school based curriculum. Sosiohumanika, 4 (2), 287-300. Musthafa, B. (2001). Communicative language teaching in Indonesia: Issues of theoretical assumptions and challenges in the classroom practice. Teflin Journal, 12 (2), 184-193 Wikipedia. Cooperative learning. [Online]. https://en.wikipedia.org/wiki/Cooperative_learning Wirza, Y. (2004) Social interaction in EFL classrooms: A case study at three senior high schools in Bandung. Thesis. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Yuliandra, I. (2011). Fungsi musik untuk pendidikan. [Online]. Di http://itto- yuliandra.blogspot.com/2011/08/fungsi-musik-untuk-pendidikan.html Biodata Penulis Rani Nurhayati adalah seorang guru Bahasa Inggris di SMAN 2 Majalaya. Dia menyelesaikan pendidikan sebagai sarjana di Pendidikan Bahasa Inggris UPI pada tahun 2000. Saat ini, selain sebagai guru, dia juga menjadi instruktur Kurikulum Nasional tingkat kabupaten dan instruktur nasional untuk Program Guru Pembelajar. Dia pernah menyusun modul pembelajaran untuk digunakan sendiri secara lokal di tempat ia mengajar, yakni English-zone-for- x.com for Class X, Let’s Have a Fun English! For Class XI, dan Compact English for Class XII. Hobinya adalah hiking dan travelling bersama keluarga tercinta, yaitu Yanyan, S.T. (suami) dan ketiga anaknya, Naufal Makin Tawakkal, Kafa Billahi Syahida, dan Archimedes Insan Langit. Temui dia di surel [email protected] 73

Indonesia-English Compability in Writing Descriptive Text for Early Grade R.R. Purnomowulan SMP Negeri 19 Bandung Introduction Early grade in studying English as a foreign language is basically a foundation to achieve good learners. In Indonesia, some primary schools have provided their curricula with English as one of their target language. How far English lesson provided by primary school influence the next grade i.e. Junior High School is the main topic to be discussed here. Furthermore, this essay accommodates how students with their early acquisition support their capability in writing descriptive text. Descriptive text is a text which describes people, animals, things, or places. The language features applied in this text are specific and detailed noun or noun phrase; simple present tense; describing, numbering and classifying adjective; employing verbs as relational process; and using figurative language such as simile and metaphors (Thai, 2009; Droga & Humphrey, 2011; and Humphrey et al, 2012). Some of the above features have correlation with junior high school student acquisition. Most students in grade VII of SMPN 19 Bandung with three categories of achievement (poor, fair, and good) in English acquisition have been excellent in introducing themselves; reminding family’s member, identifying explicit labels, list, matches, and names, jobs; recalling numbers, dates, months, etc. Bloom as cited in Clark (2013) remarked that this domain of knowledge stated above is ”recalling data or information”. It is prominent fundamentals for teaching preparation. Let’s see that English as a foreign language in Indonesia is supposed to be a communicative competence after students mastering their mother tongue (local language) and Bahasa Indonesia as their national language. Thus, these all languages aforementioned are able to be applied in appropriate conditions. Emilia (2012) supports that Indonesian students when learning English as a foreign language can be provided with Indonesian- English interchangeably. Based on the theories and the considerations above, the writer attempted to write the topic “Indonesian-English compatibility in writing descriptive text for Grade VII of SMPN 19 Bandung. Classroom Implementation How Indonesian-English can be compatible in writing descriptive text for junior high school students in grade VII? Curriculum 2013 applies the scientific process. The objective of scientific approach, in line with Aclufi, et al (2005) is to help students understand the basic aspects of scientific inquiry, to provide students with an opportunity to practice and refine their critical- thinking skills, and to convey to students the purpose of scientific research. This scientific process triggers students to participate in investingation that 74

gives them experience with the major aspects of scientific inquiry, to think about the relationships among knowledge, choice, behavior, and human health and to encourage students to think in terms of these relationships now and as they grow older. The processes of this scientific approach in writing descriptive text are: 1. Observing and asking question. 2. Collecting information 3. Associating, and 4. Reflecting All of the processes are explained below 1. Observing and asking question (When English Rings a Bell,2014;141) First of all, students listen carefully to their teachers read some text both Indonesian and English. Teacher can read the text differently both Indonesian and English or the similar text by translating the text compatibly. Second, students can work in group and study the example carefully as soon as they receive a copy of descriptive text. After that, they are supposed to discuss the text and develop the questions which have correlation with this descriptive text. Here students can receive the right translation from their teacher. Here the role of teacher is very important In the correlation with how the right choice of translation be. . For example: we use “Mr. White as Pak White in Indonesia not “Pak Putih” 2. Collecting information Students work in group. Each of them decides the ten objects to be described (room or the things surrounding the classroom). After that, students handwrite the sentences on a piece of paper, as provided by example, and read their result before the class. Here the students are allowed to use dictionary, asked the teachers, and received the correction from their teachers. 75

3. Associating Associating in this process has a close relationship with stimulus and response. Here after students mastering the previous steps and learning materials, they are supposed to arranged their own descriptive text. Indonesian-English compatibility in writing descriptive text is very crucial matter here. Most students of junior high school in Indonesia have difficulties in impromptu writing descriptive text. At least, the text in Indonesian is allowed to be written before undertaking descriptive text in English. 4. Reflecting This is the final process in writing descriptive text. After students gaining all the process, material, and their own texts, they are supposed to reflect what they have undertaken before: the teacher’s guidance of the previous learning on how the descriptive text is presented, and the summary of the students‘ discussion. Refference Aclufi, A., et al. (2005). Doing science: the process of scientific inquiry. Colorado Springs: BSCS Clark, D. (2013). A big dog, little dog and knowledge jump. Retrieved June19, 2014:4.40 am from http://www.nwlink.com/~donclark/hrd/bloom.html. Droga, L., & Humphrey, S. (2011). Grammar and meaning: An introduction for primary teachers. Australia: Target Text. Emilia, E. (2012). Pendekatan Genre Based dalam Pengajaran Bahasa Inggris: Petunjuk untuk Guru. Bandung: Rizqi Press. Humphrey, S., Droga, L., & Feez, S. (2012). Grammar and meaning. NSW: PETAA Thai, M.D. (2009). Text based language teaching. New South Wales: Mazmania Press. Wachidah, S., et al. (201). : When English Rings a Bell. Jakarta: Kemendikbud About Writer The writer is an English teacher in SMPN 19 Bandung, has been graduated from UPI Bandung (Magister in English Education) and magister of University of Indonesia (UI) in communication Science. Her recently writing “ The content analysis of the English textbooks for young learners: “My First Vocabeelary” has been published by Atma Jaya Catholic University of Indonesia 2013 in the tenth International Conference on English Studies (CONEST 10). Her hobbies are reading, and travelling. E-mail: [email protected] 76

Peta Konsep dalam Merangsang Fungsi Otak Anak Sulistiyani Dyah Purwaningsih Pendahuluan Seorang gadis kecil duduk termenung di sudut ruang perpustakaan. Matanya menatap buku yang ada di tangannya, tapi pikirannya tidak tertuju pada apa yang ada dalam buku tersebut. Siswa kelas empat ini gelisah, bingung bagaimana mengerjakan tugas yang esok hari harus dikumpulkan. Tugas menulis tentang ayah dan ibu tercinta. \"Pilih salah satu !\", dia melanjutkan ceritanya pada sang guru. Selanjutnya, guru yang duduk dihadapan siswa itu mengambil sebuah kertas. Digambarnya seorang ibu di tengah-tengah kertas tersebut. Meski hanya kepalanya saja, yang penting menggambarkan sosok ibu. Dari tengah gambar itulah, sang guru menarik garis ke atas. Lalu ditulisnya, siapa nama ibu, nama suaminya, nama anak-anaknya. Kemudian, dari gambar ibu tadi, ditarik kembali garis yang lain, merujuk pada alamat tempat tinggal, dan sedikit mendeskripsikan keadaan rumah. Pada tarikan garis berikutnya, dituliskan secara singkat poin-poin yang akan dijabarkan tentang gambaran fisik ibunya seperti tinggi badan, warna kulit, hidung, mata dan bibir. Tarikan garis berikutnya memberikan poin-poin tentang kegiatan sang ibu. Apakah bekerja di luar, atau sebagai ibu professional yang berjuang di rumah. Apa yang dilakukan ibunya setiap hari di rumah. Apakah ada yang membantu?. Selanjutnya, garis keluar yang lain menunjukkan bagaimana perasaan/pendapat siswa tersebut pada ibunya. Seperti sayang, rindu, suka membantu dan sebagainya. Dari penjelasan sang guru, siswa tadi tersenyum gembira. \"Sekarang saya sudah tahu bagaimana cara mengerjakan tugas ini Bu\" Ungkapnya sambil tersenyum. \"Bolehkah saya membawa gambar ini pulang Bu?\" lanjutnya riang. Peta konsep yang juga dikenal sebagai mind mapping sebenarnya bukanlah ilmu baru. Konsep ini bisa diaplikasikan di berbagai bidang termasuk dalam dunia pendidikan. Peta konsep dapat digunakan untuk menghubungkan bagian-bagian informasi yang masih terpisah, meningkatkan konsentrasi, serta memfokuskan penyelesaian masalah dengan cara menghubungkan informasi/pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah itu sendiri. Keuntungan dari menuliskan poin-poin penting ini, siswa akan lebih mudah menyimpan informasi tersebut ke dalam otaknya, siswa juga akan lebih mudah dalam mengakses kembali ingatannya, serta memperjelas hubungkan antara informasi-informasi yang terpisah ke dalam satu titik pembahasan yang pada ilustrasi tadi digambarkan di tengah, yaitu \"Ibu\". 77

Implementasi di Kelas Pengenalan peta konsep pada siswa sebaiknya menggunakan teknik khusus sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima secara lugas juga sarat makna. Awali bagian tengah dengan gambar yang mencolok dan mudah diingat, karena ini merupakan pusat kajian yang membebaskan siswa untuk mengeksplorasi pikiran mereka dengan poin awal tersebut. Pemakaian gambar yang menarik ternyata menyimpan banyak kata yang bisa diungkapkan. Di sisi lain, gambar juga bermanfaat untuk mendongkrak imajinasi siswa. Hal yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah pemakaian warna yang berbeda. Secara visual, warna berfungsi untuk menghidupkan semangat, menambah energi untuk berfikir kreatif, dan membuat informasi yang didapat mudah untuk diingat. Sebaiknya pemilihan warna dilakukan sendiri oleh siswa. Cabang-cabang (Branches) pada peta konsep merupakan bagian penjabaran dari poin pusat. Gunakan garis lengkung atau berkelok yang alami, bukan garis lurus. Hal tersebut dilakukan untuk membuat peta konsep menarik dan tidak membosankan.. Masing- masing cabang selanjutnya dikembangkan lagi menjadi sub-cabang. Lantas mengapa penggunaan cabang dikatakan sangat membantu dalam proses pembelajaran?. Berdasarkan berbagai hasil penelitian, ternyata cara kerja otak untuk perpikir saling berhubungan (association). Otak mengakses dan menghubungkan berbagai informasi, pengalaman, dan ide terpisah untuk dikaitkan satu sama lain sebagai unit yang saling berhubungan. Pastikan menulis kata inti saja dalam setiap cabang agar mudah diingat. Masing-masing cabang dapat juga diberikan tanda penghubung khusus yang mengidentifikasikan adanya hubungan khusus. Teori ini dipopulerkan oleh Tony Buzan. Teori ini tentu tidak langsung mencetak hasil secara cepat. Dengan banyak melatih pikiran untuk mengoordinasikan bagian-bagian kecil informasi/pengetahuan, lama kelamaan otak akan terlatih untuk membuat akar tambahan mengenai informasi/pengetahuan yang masih berhubungan dengan pokok pembahasan. 78

Daftar Pustakan Davis, G., & Scott, J. 1971. Traiming Creative Thinking. New York: Holt Rinehart, and Winston. Nuttall, Cristine. 1996. Teaching Reading Skills: in a Foreign Language. Great Britain: The Bath Press. Smith, M and G.1990. A Study Skills Handbook. Melbourne: OUP. Wallace, C. 1986. Learning to Read in a Multicultural Society. Oxford: Pergamon. Wright, A. and Haleem, S. 1991. Visuals for the Language Classroom. Harlow: Longman Buzan, Tony. 2002. How to Mind Map. Harper Collins. Biodata Penulis Sulistiyani Dyah Purwaningsih dilahirkan di Kendal, Jawa Tengah pada 12 Desember 1978. Berhasil menyelesaikan program Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris pada tahun 2010 di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Penulis memiliki pengalaman mengajar di beberapa SD Negeri Colomadu, Karanganyar, dan Surakarta pada tahun 2001-2010. Penulis juga sempat mengajar di SD Muhammadiyah Program Unggulan Colomadu (2005-2010), mengajar di beberapa lembaga kursus bahasa Inggris di Colomadu, Surakarta, dan di Universitas Yayasan Pendidikan Islam (YAPIS) Papua tahun 2010-2013. Pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Yayasan PAUD dan TK Kartika di Makassar tahun 2015-2017, dan menekuni dunia penerjemah freelance pada tahun 2014- sekarang. 79

Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa Kelas 7 dengan Menggunakan Teknik Choral Drilling Sunarti SMP Negeri 35 Bandung Pendahuluan Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa asing yang ada di Indonesia. Pada tingkat SMP, bahasa Inggris merupakan mata pelajaran wajib. Siswa diajarkan empat keterampilan dalam berbahasa Inggris, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dari keempat keahlian tersebut, kemampuan berbicara secara aktif diperlukan sebagai salah satu cara berkomunikasi dengan orang lain. Berbicara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berkata, bercakap, berbahasa atau melahirkan pendapat (dengan perkataan, tulisan dan sebagainya) atau berunding. Mengajarkan kemampuan berbicara di kelas dengan jumlah siswa mencapai 40 orang terkadang menjadi kendala. Siswa menjadi kurang mampu berkomunikasi secara aktif, karena kurangnya waktu untuk berlatih, dan belum adanya teknik yang tepat dalam pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Speaking is an interactive process of constructing meaning that involves producing and receiving and processing information (Brown, 1994, Burns & Joyce, 1997). Untuk dapat berbicara dengan baik tentunya dibutuhkan proses berupa latihan terus menerus supaya siswa mampu meningkatkan kemampuan berbicaranya. Salah satu teknik latihan yang dapat diterapkan di kelas dengan jumlah siswa yang banyak adalah teknik “choral drilling” Drill berarti latihan yang berulang-ulang, baik bersifat “trial and error” ataupun melalui prosedur rutin tertentu (Sardiman, 2006:23). Sementara itu, menurut Richards and Platt (1993: 117) teknik drilling biasa digunakan dalam pembelajaran bahasa untuk melatih bunyi bahasa (sound) atau pola-pola kalimat dalam bahasa yang berdasarkan latihan dan pengulangan yang dipandu. Atas dasar tersebut, penulis menggunakan teknik choral drilling. Latihan yang melibatkan semua siswa di kelas, dalam pembelajaran berbicara siswa kelas 7 SMPN 35 Bandung, selama satu kali pertemuan. Implementasi di Kelas Choral drilling merupakan latihan yang melibatkan semua siswa di kelas. Drilling merupakan langkah yang penting ketika mempelajari materi baru. Guru bertugas untuk membuat latihan ini lebih bisa dinikmati dan bias mendorong semangat siswa untuk lebih berpartisipasi. Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam menerapkan teknik choral drilling di kelas : 80

 Perkenalkan materi yang akan dilatih bersama (misalnya, ungkapan meminta tolong dan responnya). Guru sebagai model harus benar- benar memperhatikan intonasi, ekspresi, dan pelafalan. (Memutar rekaman suara atau gambar penutur asli bisa dijadikan alternatif.)  Latih setiap ungkapan dan responnya secara bergantian dengan siswa sebanyak dua kali. (guru : “can you help me open the door?” Siswa : “sure/ of course / no problem”)  Bagi siswa menjadi dua kelompok besar, A dan B.  Kelompok A meminta tolong, kelompok B merespon dan sebaliknya. Lakukan sebanyak 2 kali.  Bagi siswa menjadi kelompok kecil beranggotakan 2 atau 4 orang. Berikan waktu untuk berlatih. Untuk menghindarkan kejenuhan, dorong siswa untuk berani berekspresi (guru bisa memberi contoh). Guru berkeliling sambil menyimak latihan siswa. Berikan dukungan atau pujian karena mereka telah melakukan kemajuan dalam berbicara.  Minta beberapa siswa untuk tampil ke depan. (Guru bisa memilih ketika semua siswa ingin ke depan kelas.) Variasi Kegiatan Drilling with flashcards. Pada kesempatan pertama guru memperlihatkan sebuah kosakata baru bahasa Inggris supaya siswa bisa berlatih membaca dan melafalkannya dengan benar, latih dua kali. Kemudian tunjukkan gambar untuk mengecek pemahaman tentang materi yang diajarkan. Latih sebanyak dua kali dan berikan tantangan dengan membalik kartu-kartu tersebut dengan lebih cepat. Drilling in pairs. Guru memberikan daftar kosakata yang telah diajarkan kepada siswa (A) membaca terjemahan dari tiap kata secara acak sementara siswa lainnya (B) mengucapkan kata tersebut dalam bahasa Inggris. Siswa A menulis tanda (v) di samping kata yang benar, dan mereka bisa bertukar posisi. Daftar Pustaka Cullingford, C. (1995). The Effective Teacher. New York: Cassell. (Brown, 1994, Burns & Joyce, 1997) https://www.teachingenglish.org.uk/article/drill (source : British Council) http://busyteacher.org/3812-how-to-drill-drilling-activities-for-your-english.html http://semumf.tripod.com/ http://iteslj.org/Techniques/Mumford-Drilling.html Biodata Penulis Penulis adalah guru Bahasa Inggris di SMPN 35 Bandung. Pendidikan terakhir IKIP Bandung. Alamat email: [email protected]. 81

Meningkatkan Kemampuan Menulis Teks Naratif melalui Media Film Animasi Pendek Berjudul “The Big Buck Bunny” Tintin Sri Suprihatin SMP Negeri 9 Bandung Pendahuluan Bagi seorang guru bahasa Inggris, bukanlah hal yang mudah untuk mengajarkan Bahasa Inggris pada siswa SMP. Setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda, mereka cenderung memiliki tingkat konsentrasi yang pendek serta membutuhkan lebih banyak latihan dan gerakan tubuh untuk memahami kosakata bahasa Inggris yang diajarkan (learning by accompanying actions) sehingga diperlukan adanya media dan metode pembelajaran yang memungkinkan mereka untuk aktif dalam kelas (Scott dan Ytreberg, 1996:22). Untuk itu media pembelajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa manfaat media pembelajaran yaitu, (1) memperjelas konsep pengetahuan siswa, (2) menambah ketertarikan siswa terhadap pembelajaran, dan (3) bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami oleh para siswa. Media film, dalam tulisan ini film yang digunakan adalah film animasi pendek yang dapat mengomunikasikan informasi-informasi lewat lambang, visual dan gerak. Informasi yang dikomunikasikan dengan cara itu akan lebih konkret sehingga lebih mudah terserap oleh penerima informasi. Sebagai media pembelajaran bahasa, media film sangat sesuai untuk melatih keterampilan menulis. Dalam silabus pembelajaran bahasa Inggris kelas 8 semester genap, tercantum bahwa siswa mampu mengungkapkan makna dan langkah retorika dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar, dan berterima untuk berintekasi dengan lingkungan sekitar berbentuk recount dan narrative (Standar Kompetensi Menulis, Kompetensi Dasar 12.2). Namun, siswa masih menemukan kesulitan saat diberikan tugas untuk meningkatkan kompetensi menulis. Penulis menggunakan film animasi pendek berjudul “The Big Buck Bunny\" dalam pelaksanaan pembelajaran menulis teks naratif. Film animasi pendek tersebut dapat di akses pada laman https://youtu.be/YE7VzlLtp-4. Pemilihan film animasi pendek “The Big Buck Bunny\" memperhatikan beberapa hal seperti, (1) komunikasi yang dilakukan karakter tidak verbal melainkan secara gerak, sehingga cerita mudah dipahami siswa, (2) alur cerita jelas dan sederhana, (3) isi cerita menarik, dan (4) mempunyai pesan moral yang baik. 82

Implementasi di Kelas Gambar 1. Siswa menonton film pendek Pada awal kegiatan, siswa diberi penjelasan mengenai teks naratif seperti fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan. Selanjutnya siswa diminta untuk melihat film animasi pendek berjudul “Big Buck Bunny” selama kurang lebih tujuh menit. Film diputar kembali, dan guru memandu siswa untuk menganalisa film tersebut. Pada akhir kegiatan siswa diminta untuk menceritakan kembali film animasi pendek yang dilihatnya. Kriteria penilaian akan meliputi; ide/konten, skema/struktur, unsur-unsur kebahasaan, dan fungsi tatabahasanya. Kegitan ini bisa dilakukan dalam kelompok kecil seperti berdiskusi dengan teman sebangku. Kegiatan ketika menganalisa film animasi pendek Dari film animasi pendek yang ditampilkan, siswa dipandu guru untuk membagi alur cerita kedalam struktur teks orientasi, komplikasi, dan resolusi. Gambar 2. Siswa selesai saling mengkritisi tulisan teman Untuk evaluasi, siswa bisa saling memeriksa antar kelompok, yang kemudian merangsang siswa untuk berdiskusi sehingga siswa dapat menggali potensi masing-masing dengan mengritisi hasil tulisan temannya yang berbeda kelompok. Setelah revisi, guru bisa menilai hasil tulisan siswa dengan rubrik penilaian untuk teks naratif. 83

Contoh rubrik penilaian: No. Nama Idea/ Aspek penilaian Punctuation Jumlah Siswa Content and Nilai Schematic Linguistic Structure Features Grammar 1. 2. 3. 4. 5. Tabel 1. Rubrik Penilaian Kriteria penilaian: 10 = kurang bagus 15 = cukup 20 = bagus 25 = sangat bagus Variasi Kegiatan Menulis teks bisa juga menggunakan teks rumpang agar siswa lebih mudah belajar, kemudian guru memberikan film pendek lainnya untuk diceritakan kembali oleh siswa. Sehingga minimal guru harus menyiapkan dua buah film pendek. Tidak hanya teks naratif yang bisa menggunakan media film seperti ini. Teks-teks dengan genre lain juga bisa di eksplorasi menggunakan media film. Bila film pendek yang dicontohkan di artikel ini dirasa kurang sesuai untuk diimplementasikan di kelas, guru bisa mencari film pendek lain sebagai bahan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa di kelas masing-masing. Film-film tersebut bisa diakses dengan mudah lewat laman Youtube. Daftar Pustaka Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta. Gerlach, V.S., & Ely, D.P. 1998. Teaching and Media: A System Approach. New Jersey: Prentice Hall.Inc. Scott, A Wendy., & Lisbeth, H.Y. 1993. Teaching English to Children. New York: Longman. Biodata Penulis Tintin Sri Suprihatin (Tina), adalah guru Bahasa Inggris di SMPN 9 Bandung. Sebelumnya pernah menjadi guru di SMP Al Azhar Cilegon dan SMPN 51 Bandung. Memperoleh gelar sarjana pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2004. Saat ini berperan sebagai ‘instruktur nasional guru pembelajar’ dan diberi tugas tambahan sebagai mentor kota Bandung. Hobi membaca, melancong dan wisata kuliner. ([email protected]) 84

Penggunaan Words Walls dalam Meningkatkan Kemampuan Memahami Teks Prosedur Peserta Didik Kelas IX C SMP Negeri 1 Lembang Titin Rostika SMP Negeri 1 Lembang Pendahuluan Dalam pembelajaran bahasa Inggris, khususnya di sekolah menengah lanjutan pertama, permasalahan yang sering terjadi adalah rendahnya pemahaman siswa dalam membaca. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kosakata yang dikuasai oleh siswa. Oleh karena itu, penulis berusaha mencari solusi untuk mengatasinya. Salah satu alternatif solusi yang dipakai dalam penelitian ini adalah penggunaan alat peraga “Words Wall”’. Words wall adalah kumpulan kata-kata yang dipajang di dinding dalam ukuran yang besar sehingga mudah dibaca. Tulisan atau kata-kata tersebut bisa juga dipajang di papan buletin dan di tempat pajangan lainnya di ruang kelas. Kata-kata diatur sedemikian rupa agar bisa menjadi suatu alat peraga interaktif bagi para peserta didik. Words Wall biasa digunakan selama pembelajaran, pada waktu menulis atau membaca. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan apakah kesulitan siswa dalam memahami teks prosedur akan terbantu dengan penggunaan Words Walls. Penelitian ini dilaksanakan di kelas IX C SMP Negeri 1 Lembang selama dua minggu. Implementasi di Kelas Sumber gambar: http://www.readingrockets.org/strategies/word_walls Implementasi Kurikulum 2013 harus diikuti dengan sikap profesional para pendidik. Salah satunya adalah dengan mengupayakan berbagai solusi ketika menemukan kesulitan di kelas. 85

Masalah terasa ketika penulis harus mengajarkan siswa pada materi teks prosedur pada buku “Think Globally Act Locally” chapter V dengan tema “This is How You Do It“. Pada bab tersebut, terdapat teks prosedur sebagai berikut: NOVEL APPLE PUDDING Ingredients Method 4 green apples, peeled, cored and thickly sliced ¼ cup/45g self-rising flour, sifted 60g butter or margarine, cubed ½ cup/100g caster sugar 1¼ cups/300ml water 1. Place apple in a heat-proof dish. Place flour in a bowl. Rub in margarine using fingertips. 2. Stir in sugar and water (mixture should be lumpy). Pour over apples. 3. Bake at 180oC for 1 hour or until syrupy and golden. Serve warm with cream or ice cream. Serves 6 Preparation time 15 minutes Cooking time 60 to 70 minutes Pengalaman kelas IX tahun sebelumnya, kesulitan peserta didik dalam memahami teks tersebut dikarenakan mereka belum menguasai beberapa kosakata, diantaranya: cored apple, peeled apple, thickly sliced, self-raising flour, sifted flour, heat proof dish, fingertips, dll. Variasi Kegiatan 1. Kegiatan yang dilakukan oleh guru sebelum membaca teks adalah menempelkan kosakata yang sudah dibuat dalam kertas karton ke dinding, seperti gambar di bawah ini. Penggunaan Word Wall yang disertai gambar biasanya lebih disukai oleh peserta didik. 86

Word Wall ditempelkan pada dinding kelas beberapa hari sebelum pembelajaran. Dengan demikian peserta didik akan mengenal kosakata tersebut sebelum pembelajaran dimulai. 2. Selanjutnya ketika pembelajaran dimulai, sebagai waktu rehat, guru mengecek pengucapan dan pengertian kosakata yang ada pada dinding. 3. Peserta didik berlatih membuat kalimat dengan menggunakan kosakata tersebut. 4. Setelah itu, kegiatan inti dilakukan. Peserta didik dengan arahan guru membaca teks prosedur tentang resep ‘Novel Apple Pudding’. Guru tidak langsung mencontohkan cara membaca teks tersebut, tetapi memberi kesempatan kepada salah seorang peserta didik yang sudah mampu membaca untuk membaca terlebih dahulu. Setelah itu guru beserta seluruh peserta didik melakukan kegiatanan membaca nyaring (reading aloud). Guru memastikan mereka untuk membaca teks dengan menggunakan pengucapan dan intonasi yang baik. 5. Setelah kegiatan membaca nyaring/reading aloud, peserta didik diminta menjawab pertanyaan terkait isi teks, untuk memastikan bahwa mereka sudah cukup memahami teks tersebut dengan baik. Daftar Pustaka Cullingford, C. (1995). The effective teacher. New York: Cassell. Morris, D. (1981). Concept of word: A developmental phenomenon in the beginning reading and writing process. Language Arts, 58, 659-668. WORD WALLS IN MIDDLE SCHOOL. Diunduh pada tanggal 15 April 2015 di http://www.educationworld.com/a_curr/profdev/profdev086.shtml. Biodata Penulis Titin Rostika adalah guru bahasa Inggris di SMP NEGERI 1 Lembang. Menyelesaikan program Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris di IKIP Bandung. Posisi yang dipegang adalah sebagai Ketua MGMP Kabupaten Bandung Barat. Prestasi yang pernah diraih adalah sebagai ‘The Best Teacher’ dalam lomba Digital Storytelling Contest pada tahun 2015. Karya yang pernah diterbitkan adalah buku Simple English. Alamat e-mail: [email protected] 87

Kartu Adjektiva sebagai Alat Bantu untuk Meningkatkan Kemampuan Peserta Didik dalam Menyusun Teks Deskriptif di Kelas VII B SMP Negeri 1 Lembang Titin Rostika SMP Negeri 1 Lembang Pendahuluan Seperti yang kita ketahui, ada beberapa masalah yang sering kita hadapi dalam pembelajaran bahasa Inggris. Oleh karena itu, penulis ingin mengajak rekan guru bahasa Inggris, khususnya di sekolah menengah lanjutan pertama untuk mencoba mengatasi masalah tersebut. Salah satu masalah yang sering kita hadapi adalah rendahnya kemampuan peserta didik untuk mendeskripsikan seseorang, baik secara lisan maupun tulisan juga terkendala oleh kurangnya penguasaan kosakata. Salah satu solusi alternatif yang dipakai dalam penelitian ini adalah penggunaan alat peraga kartu adjektif atau adjective cards. Kartu adjektif adalah kumpulan kartu yang dibuat sendiri, ukuran kartu seperti kartu permainan UNO atau semacamnya. Kartu dibuat dengan menggunakan bahan–bahan limbah, seperti kartu yang sudah tidak dipakai dan kumpulan gambar tentang orang beserta kata sifatnya. Kartu dibuat secara berpasangan dan merupakan lawan katanya. Misalnya, gambar orang yang tinggi diberi tulisan tinggi. Kartu adjektif bisa menjadi suatu alat peraga interaktif bagi para peserta didik. Kartu adjektif ini bisa digunakan selama pembelajaran, dalam tahap pembekalan atau BKoF (Building Knowledge of the Text). Cara pembuatan kartu bisa beragam, salah satunya adalah: - siapkan gambar-gambar yang menunjukkan kata sifat dan lawan katanya; - tuliskan penjelasan dari masing –masing gambar tersebut, misalnya tinggi, pendek, tua, muda, cantik, jelek, dll; - gunting gambar dan penjelasannya, kemudian tempelkan di kartu bekas. (g.1) (g.2) Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa kesulitan siswa dalam penyusunan teks deskriptif akan terbantu dengan penggunaan kartu 88

adjektif. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII B SMP Negeri 1 Lembang selama dua minggu. Implementasi di Kelas Implementasi Kurikulum 2013 menuntut sikap profesional disertai dengan kreativitas para pendidik. Salah satunya adalah dengan mengupayakan berbagai alat peraga atau teaching aids sebagai solusi untuk menghadapi kesulitan dalam pembelajaran. Pada silabus Kurikulum 2013 kelas VII terdapat KD tentang teks deskripsi sebagai berikut; 4.7.2 Menyusun teks deskriptif lisan dan tulis, sangat pendek dan sederhana, terkait orang, binatang, dan benda, dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan, secara benar dan sesuai konteks. Kesulitan yang ditemukan ketika menuntun para peserta didik dalam penyusunan teks deskriptif pada KD tersebut adalah tata bahasa dan kurangnya perbendaharaan kosakata tentang kata sifat. Oleh karena itu penulis berupaya mengatasinya dengan kartu adjektif seperti pada gambar diatas. Alat peraga tersebut digunakan ketika penulis harus mengajarkan siswa materi teks deskripsi pada buku “When English Rings a Bell” chapter VII dengan tema “I’m Proud of Indonesia!“ Khususnya pada kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik pada bagian “mendeskripsikan tokoh”. Variasi Kegiatan Kegiatan yang dilakukan pertama kali sebelum menyusun teks adalah membentuk kelompok peserta didik yang terdiri dari 3 atau 4 orang. Kemudian masing-masing kelompok menerima sebuah amplop berisi kartu tentang kata sifat yang sudah dibuat dalam kartu bekas atau kertas karton seperti pada gambar (g.1 dan g.2). Peserta didik berusaha untuk memasangkan kartu dengan lawan katanya masing-masing, misalnya tua dengan muda, tinggi dengan pendek, dan seterusnya. Kemudian, guru berkeliling mengecek pekerjaan semua kelompok. Guru membaca masing-masing kata, lalu siswa diminta mengucap ulang kata-kata tersebut dengan pengucapan dan penekanan kata yang benar. Setelah itu, mereka berlatih dalam kelompoknya untuk menebak lawan kata dari kartu yang mereka miliki. Seorang memegang semua kartu kemudian membuka kartu satu persatu, dan anggota kelompok yang lainnya berusaha menebak lawan katanya. Kegiatan selanjutnya adalah mengisi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sebagai berikut: 89

Task 1 Please answer the questions based on the picture! 1. Who is she? 2. Is she your teacher? 3. Is she your idol teacher? 4. What does she teach? 5. Does she has brown eyes? 6. Is she young or old? 7. Is she beautiful? 8. Does she always help the students? Task 2 Please describe your idol teacher! My Idol Teacher ………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………… ……………………………………………… 90

(Sumber gambar: pribadi) Daftar Pustaka Johnson., & Elaine, B. 2002. Contextual Teaching & Learning: What is it and why it’s here to stay. California: Corwin Press. Emilia, E. 2011. Pendekatan Genre-Based dalam Pengajaran Bahasa Inggris: Petunjuk untuk Guru. Bandung: Rizki Press. Biodata Penulis Titin Rostika adalah seorang guru Bahasa Inggris di SMP NEGERI 1 Lembang. Menyelesaikan program Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris di IKIP Bandung. Menjabat sebagai Ketua MGMP Kabupaten Bandung Barat. Prestasi yang pernah diraih adalah ‘The Best Teacher’ dalam lomba Digital Storytelling Contest pada tahun 2015. Karya yang pernah diterbitkan adalah buku Simple English. Alamat e- mail: [email protected] 91

Upaya Meningkatkan Minat Siswa dalam Memahami Struktur Generik Teks Naratif melalui Permainan Memburu Harta Karun (Permainan yang Diadopsi dari “Pokemon Go” Game) Winy Mustikasari SMA Negeri 1 Parongpong Pendahuluan Teks naratif (narrative text) adalah materi yang sering dibahas dalam proses pembelajaran bahasa Inggris. Siswa mulai mendapatkan topik mengenai naratif teks dari tingkat SMP hingga SMA kelas 3. Oleh karena itu, banyak siswa yang merasa jenuh dengan materi tersebut, hal ini menyebabkan kurangnya antusias siswa dalam proses belajar di kelas yang berpengaruh terhadap hasil belajar. Minat merupakan salah satu faktor pokok untuk meraih sukses dalam studi. Penelitian penelitian di Amerika Serikat mengenai salah satu sebab utama dari kegagalan studi para pelajar menunjukan bahwa penyebabnya adalah kekurangan minat.” (Gie, 1998). Untuk meningkatkan minat dan antusiasme siswa dalam mempelajari materi teks naratif, guru harus menciptakan metode pembelajaran yang kreatif, salah satunya dengan menggunakan metode permainan. “the emotions arouse when playing games ad variety to the sometimes dry, serious process of language instruction “ (Bransford, Brown, & Cocking, 2000), Ersoz, 2000 ; Lee, 1995). Selain untuk meningkatkan minat dan antusiasme siswa, permainan juga harus dibuat sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam bahasa Inggris khususnya, permainan harus mencakup kompetensi bahasa. “games can involve all the basic language skills, i.e. listening, speaking, reading and writing, and a number of skills are often involved in the same game” (Lee, 1995) Berdasarkan teori tersebut, penulis mencoba untuk menerapkan permainan Pemburu Harta Karun (Treasure Hunter) yang diadaptasi dari permainan “Pokemon Go” untuk meningkatkan minat siswa dalam memahami generik struktur teks naratif. Memahami generik struktur di sini bukan hanya siswa dapat menyebutkan generik struktur dari teks naratif, tetapi juga mampu menempatkan setiap paragraf dari teks naratif sesuai dengan generik strukturnya. Siswa mampu memahami paragraf mana yang termasuk kedalam orientai, komplikasi ataupun resolusi dari teks yang diberikan. Alasan kenapa penulis mengadaptasi permainan “Pokemon Go”, dikarenakan permainan tersebut sedang populer dan banyak dimainkan oleh remaja Indonesia sehingga akan sangat menarik jika digunakan dalam proses pembelajaran bahasa Inggris. Diharapkan dengan menggunakan 92

permainan ini, proses belajar mengajar menjadi menyenangkan, siswa aktif berperan serta dalam tercapainya tujuan pembelajaran. Implementasi di kelas Persiapan : - Guru mempersiapkan sebuah teks naratif yang tidak terlalu panjang, maksimal terdiri dari 4 paragraf yang kemudian digunting perparagraf. - Guru mempersiapkan petunjuk tempat di mana setiap paragraf tadi akan ditempelkan. Misalnya di perpustakaan, di kantin sekolah, atau di tempat tempat strategis sekolah yang tidak terlalu jauh dengan kelas yang akan dipakai untuk pelaksanaan kegiatan ini. Kertas petunjuk ditempelkan berurutan di papan tulis. - Guru menempelkan kertas paragraf tadi di tempat yang telah ditentukan . - Guru mempersiapkan kertas memo, selotip dan kertas HVS. Pelaksanaan : 1. Siswa membentuk kelompok yang terdiri dari 4 siswa per kelompok. Tiap siswa mempunyai tugas masing-masing, dua orang menjadi pemburu, satu orang adalah penulis dan satu orang lagi berperan sebagai pengatur. 2. Siswa yang bertugas sebagai pemburu harus memegang kamera. 3. Setelah semuanya siap, guru memberikan petunjuk cara bermain “Pemburu Harta Karun”. Pemburu pertama membaca petunjuk tempat dimana kertas paragraf berada setalh itu mencarinya di tempat yang sesuai dengan petunjuk. Setelah menemukan kertas paragraf 93

tersebut, pemburu harus memotret kertas paragraf yang dia temukan dan secepatnya kembali ke kelas. 4. Setelah kembali ke kelas, pemburu pertama memberikan hasil potretnya kepada siswa yang bertugas sebagai penulis. Kemudian penulis menulis kembali paragraf di kertas memo sesuai dengan yang ada di foto. 5. Setelah pemburu pertama memberikan hasil fotonya ke penulis, pemburu kedua membaca petunjuk selanjutnya dan mencari paragraf yang telah ditentukan di petunjuk tersebut. Pemburu kedua melakukan hal yang sama seperti hunter pertama. Para pemburu bergiliran mencari kertas paragraf sesuai dengan petunjuk sampai semua kertas paragraf ditemukan. 6. Kelompok yang sudah menemukan semua paragraf kemudian melakukan diskusi untuk menyusun paragraf acak tersebut menjadi sebuah teks naratif yang benar sesuai dengan generik strukturnya. 7. Setelah selesai berdiskusi, siswa yang bertugas sebagai pengatur, menyusun kertas memo yang berisi paragraf di atas kertas HVS dan menempelkan di dinding kelas yang ditentukan oleh guru. 8. Semua hasil kelompok ditempelkan di dinding kelas untuk mempermudah guru menilai hasil kerja kelompok. 9. Guru memeriksa hasil kerja kelompok. 94


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook