tujuan program Bimbingan dan Konseling yang komprehensif dan memastikan orientasi mereka pada konseli yang akan mereka layani. Peran pemimpin program Bimbingan dan Konseling dan administrator harus digariskan dengan hati – hati, dan sistem manajemen kinerja yang efisien dan efektif harus dirancang. Peran pemimpin program Bimbingan dan Konseling harus mencerminkan keberhasilan dan mendukung program di seluruh sistem dan upaya peningkatan kinerja staf konselor. Peran utama pemimpin sistem adalah untuk melatih dan mengawasi pemimpin staf. Pemimpin program BK memiliki peran sangat penting untuk memastikan kompetensi konselor sekolah. Seorang pemimpin program Bimbingan dan Konseling yang berhasil harus mempertahankan visi yang diperlukan untuk membantu program berhasil dalam misinya, harus menjunjung tinggi prinsip - prinsip dasar profesi secara luas, harus tetap berhubungan dengan staf dan mereka yang dilayani program, harus mampu mengelola perubahan, dan harus memilih orang-orang yang kompeten sebagai bawahan, mempercayai mereka untuk menjalankan peran mereka dengan tepat. Pemimpin program harus mengembangkan indikator kinerja yang tepat dan memadai sehingga ketika terdapat masalah pada pelaksanaan program dapat diatasi secara tepat waktu dan peluang untuk perbaikan dapat segera dilakukan. Selanjutnya, dengan adanya program dan standar kinerja, seorang pemimpin program siap mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling dan staf konseling sekolah. 101
BAB V EVALUASI A. Tujuan Pembelajaran Terdapat beberapa tujuan pembelajaran yang memberikan manfaat kepada Mahasiswa setelah mempelajari materi pada ini, yaitu: 1. Mahasiswa mampu mengerti dan memahami terkait indikator yang diperlukan dalam melakukan evaluasi kinerja konselor 2. Mahasiswa mampu mengerti dan memahami cara mengevaluasi program bimbingan dan konseling komprehensif 3. Mahasiswa mampu mengerti dan memahami pentingnya evaluasi hasil dalam program bimbingan dan konseling komprehensif 4. Mahasiswa mampu mengerti dan memahami poin-poin penting dalam mengembangkan rencana evaluasi intervensi bimbingan dan konseling 102
B. Peta Konsep 103
C. Deskripsi Materi a. Mengevaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif : Program, Personal, dan Hasil 1) Evaluasi Kinerja Konselor Sekolah Menurut KBBI evaluasi berarti penilaian. Pengertian evaluasi menurut Wrightstone, dkk ( 1956 ) adalah penaksiran atau perkiraan terhadap pertumbuhan serta kemajuan ke arah tujuan atau nilai – nilai yang sudah ditetapkan. Jadi, evaluasi dapat diartikan bahwa suatu proses memberikan penilaian terhadap sesuatu yang telah terjadi atau yang telah dilakukan, dengan acuan tertentu yang telah ditentukan. Evaluasi kinerja konselor sekolah sangat penting untuk dilakukan, karena evaluasi ini dapat memberikan informasi tentang kinerja seorang konselor dan mengetahui kekurangan konselor tersebut, dengan begitu konselor dapat meningkatkan kemampuan dan profesionalitasnya dengan memperbaiki kekurangan konselor. Evaluasi ini sebaiknya dilakukan setiap tahun, karena setiap tahun seorang konselor akan menghadapi konseli yang berbeda beda. Dengan adanya evaluasi maka konselor dapat terus memperbaiki layanan yang diberikan. Selain itu, kinerja konselor juga harus terus dilatih, karena seorang konselor harus memberikan layanan yang terbaik untuk melayani konseli dan tentunya harus sesuai dengan yang dibutuhkan oleh konseli. Evaluasi kinerja konselor sekolah ini juga bertujuan untuk meningkatkan dampak program yang diberlakukan kepada konseli yang dilayani. Menurut Kemendikbud (2012) adapun yang menjadi indikator penilaian kinerja guru bimbingan dan konseling sebagai berikut: ● Landasan keilmuan dan esensi layanan BK pada jalur, jenis, dan jenjang pendidikan dalam perencanaan layanan BK. ● Menyusun dan memilih instrumen, menganalisis data, mengaplikasikan dan mengadministrasikan, serta menggunakan hasil asesmen. ● Merancang program BK. ● Mengaplikasikan teori dan praksis pelayanan BK dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL). ● Mengimplementasikan RPL dalam pelayanan BK. ● Mengimplementasikan prinsip pendidikan dan dimensi pembelajaran dalam pelayanan BK. ● Mengaplikasikan tujuan,prinsip,azas, dan fungsi pelayanan BK ● Memfasilitasi pengembangan kehidupan pribadi, sosial, kemampuan belajar dan perencanaan karir. ● Memfasilitasi perolehan pelayanan BK sesuai pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologis. ● Memfasilitasi pengembangan sikap, perilaku dan kebiasaan belajar. ● Menerapkan pendekatan/model konseling dalam pelayanan BK. ● Melaksanakan pendekatan kolaboratif dengan pihak terkait dalam pelayanan BK. 104
● Mengelola sarana dan biaya pelaksanaan pelayanan BK. ● Melakukan penilaian proses dan hasil pelayanan BK. ● Mengevaluasi program BK. ● Menyusun laporan pelaksanaan program (Lapelprog) berdasarkan hasil evaluasi program BK. ● Menentukan arah profesi (peran dan fungsi guru BK/ Konselor). ● Merancang, melaksanakan dan memanfaatkan hasil penelitian dalam BK. Tiga aspek komponen evaluasi kinerja seorang konselor adalah evaluasi diri, evaluasi administrasi, dan penilaian pencapaian tujuan (Northside Independent School District, 1997). ➔ Evaluasi diri dan Evaluasi Administrasi Seorang konselor harus bisa mengevaluasi dirinya sendiri agar bisa memperbaiki diri dan menjadi lebih baik. Dalam pelaksanaan evaluasi ini terdapat enam proses evaluasi diri dan kinerja konselor. ● Pengumpulan data Proses evaluasi yang dilakukan memerlukan data yang mendukung penilaian terhadap konselor. Data dikumpulkan sesuai dengan standar pelaksanaan program, standar profesi, hubungan interpersonal, kepuasan kerja, komitmen konselor terhadap pekerjaan dan profesi serta keprofesionalan konselor dalam melayani. Data ini disimpan sebagai catatan tentang pengawasan terhadap konselor dan data penting lainnya yang disimpan oleh staf program BK dan para pemimpin sekolah. ● Analisis data Proses analisis ini dilakukan oleh konselor sekolah dan evaluator administrasi dengan membandingkan data yang ada dengan ketentuan yang berlaku. Biasanya dimana dan bagaimana data ini dikumpulkan ditetapkan pada awal konferensi penentuan pekerjaan. ● Pengisian draft formulir evaluasi. Pengisian data ini dilakukan oleh konselor sebagai evaluasi diri dan evaluator. Pada pendahuluan formulir evaluator membuat penilaian awal mengenai kualitas konselor. Formulir ini juga sebagai arsip administrasi. ● Konferensi evaluasi Proses ini adalah proses mendiskusikan isi dari formulir evaluasi dan data tentang konselor yang sudah ada. Pada proses ini didiskusikan tentang kelebihan dan kekurangan konselor agar dapat membantu konselor untuk memperbaiki kekurangannya dan meningkatkan kinerjanya guna menjalankan program dan menjadi lebih profesional. 105
● Analisis konferensi pasca evaluasi Evaluator mempertimbangkan hasil dengan menganalisis hasil konferensi evaluasi. Hasil disesuaikan data yang ada, dan jika diperlukan bisa menggunakan data tambahan yang relevan ataupun meminta saran dari pihak yang berwenang. ● Pengisian formulir evaluasi Hasil akhir dari evaluasi dituangkan dalam formulir yang telah disetujui oleh evaluator dan pihak yang bersangkutan. Pada formulir ini bisa melampirkan pertanyaan tambahan yang telah disetujui kedua belah pihak. ➔ Penilaian Pencapaian Tujuan Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan konselor. Penilaian ini juga berguna untuk mengetahui apakah program yang dilakukan sudah berjalan dengan baik atau belum dan mengetahui kesesuaian program dengan apa yang dibutuhkan. Dengan adanya penilaian ini konselor dapat memperbaiki diri serta memperbaiki programnya apabila masih belum berjalan dengan baik ataupun masih belum sesuai dengan yang dibutuhkan. 2) Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Komponen evaluasi bimbingan konseling yang akan kita bahas selanjutnya adalah evaluasi program. Setelah konselor merencanakan dan melaksanakan layanan, maka harus ditinjau ulang bagaimana program tersebut Ketika telah dijalankan. Apakah program tersebut telah berjalan dengan baik, apakah program tersebut dapat memenuhi kebutuhan konseli, apakah program berjalan dengan efektif, apa yang harus diubah atau ditingkatkan, dan lain-lain. Setelah program yang dijalankan ditelusuri ulang, maka dapat dilihat program tersebut berhasil atau tidak, hal-hal yang perlu diubah, aspek yang harus dikembangkan sesuai realitas, dan lainnya. Hasil dari evaluasi program dapat menjadi dasar pedoman perencanaan program berikutnya. Karena itulah evaluasi program adalah komponen penting dalam evaluasi bimbingan konseling. Evaluasi program adalah rangkaian kegiatan yang sengaja dilakukan untuk melihat tingkat keberhasilan suatu program (Suharsimi, Arikunto 2004). Evaluasi dilakukan secara sistematis, terencana, dan menggunakan prosedur yang telah teruji. Tidak hanya mengevaluasi program yang terencana, namun evaluasi program juga meliputi kegiatan yang bersifat spontan. Ketika bimbingan konseling mulai muncul di sekitar tahun 1900- an, tidak mudah bagi para konselor untuk memutuskan apakah suatu program dan layanan yang telah dilakukan dapat dikatakan sebagai program yang berhasil. Hingga saat ini penetapan kriteria relevan sebagai patokan dalam evaluasi program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan persoalan yang belum terpecahkan secara tuntas. Walaupun kebanyakan aspek penilaian masih bersifat subjektif, terdapat ciri-ciri dari program BK yang dapat dijadikan patokan untuk mengevaluasi. 106
➔ Ciri Eksternal ● Rasio jumlah konselor dengan klien yang memungkinkan konselor melaksanakan layanan dengan efektif. ● SDM bimbingan konseling yang kompeten dan profesional ● Sarana dan prasarana yang mendukung jalannya program ● Pelayanan yang merata,tidak hanya kepada kalangan siswa tertentu saja ● Memiliki rencana layanan yang tertulis ➔ Ciri Internal ● Program BK disusun sesuai dengan kebutuhan dan tugas perkembangan siswa ● Sifat program yang lebih menonjol ke preventif atau pencegahan ● Program yang dilaksanakan teratur dan seimbang ● Terdapat fleksibililitas Ketika terjadi perubahan yang tidak direncanakan ● Staf BK memiliki semangat dan etos yang tinggi ● Koordinator BK dapat mengkoordinir personel BK dengan baik ➔ Metode Evaluasi Program Untuk mengevaluasi program, dibutuhkan metode yang tepat. Terdapat 4 jenis metode evaluasi program yaitu survei, studi kasus, observasi, dan eksperimental. Setiap metode memiliki alat yang diperlukan. Survei dapat dilakukan dengan lisan atau angket tertulis. Observasi membutuhkan daftar observasi. Metode studi kasus memerlukan format yang memuat aspek-aspek yang akan dipelajari tentang seorang atau sejumlah siswa, dan metode eksperimental membutuhkan daftar data yang memungkinkan perbandingan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Penggunaan 4 metode tersebut haruslah sesuai dengan objek yang akan dievaluasi. ➔ Prosedur Evaluasi Program ● Self-study Review Self study review adalah evaluasi program yang dilakukan oleh pihak konselor sendiri. Keuntungan dari self study review adalah memberikan konselor kesempatan untuk melihat apakah program berjalan dengan baik atau tidak. Hasil dari evaluasi program dapat menunjukkan sampai mana program berjalan atau dimana ditemukan hambatan dalam program. Self study review dapat dilakukan setahun sekali atau kapanpun tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. ● External Review Evaluasi program yang melibatkan pihak luar sekolah disebut external review. Pihak yang mengevaluasi biasanya akan melakukan wawancara dan survei kepada 107
konselor, bagian administrasi sekolah, siswa, orang tua siswa, dan pimpinan sekolah. Agar program BK komprehensif dapat dikatakan berhasil, maka berbagai kriteria dalam layanan harus tercapai dengan optimal. Data yang Digunakan Dalam Evaluasi Program Data yang digunakan dalam evaluasi program adalah data yang dihasilkan dari instrumen evaluasi. Data dapat berupa skala angka untuk setiap standar kriteria. Salah satu data yang sering digunakan lainnya adalah data proses. Data proses menunjukkan aktivitas BK dan untuk siapa aktivitas tersebut. Contohnya 300 siswa kelas XII yang mengikuti sosialisasi karir dan masa depan. Data lainnya yang digunakan adalah data persepsi. Data ini memperlihatkan apa yang siswa, orang tua, guru, dan administrator pikirkan mengenai bimbingan konseling. Biasanya data ini didapat dari wawancara dan survey. Ketika 3 data ini dikombinasikan dengan tepat, maka akan terlihat keseluruhan program BK dari segala pandangan dan perspektif. 3) Evaluasi Hasil ➔ Evolusi Evaluasi Hasil di Sekolah Konselor sekolah, yang bekerja dalam program bimbingan dan konseling komprehensif, diminta untuk menunjukkan bahwa pekerjaan mereka berkontribusi pada keberhasilan siswa, khususnya dalam lingkup prestasi akademik, dan juga diminta untuk menunjukkan apa yang mereka lakukan untuk membuat perbedaan dalam kehidupan siswa. Dimmitt (2010) menyatakan pentingnya evaluasi hasil yaitu “Konseling memperoleh nilai dan legitimasi ketika kami mengevaluasi program dan intervensi kami, menemukan bagaimana pekerjaan kami bermanfaat bagi siswa, mencari efektivitas dan efisiensi yang lebih besar, dan membagikan hasilnya dengan rekan kerja dan komunitas kami”. Perlunya evaluasi hasil, sudah dibicarakan sejak awal adanya bimbingan dan konseling di sekolah pada awal 1900-an. Pada tahun 1930, hasil yang diinginkan dari program bimbingan dan konseling telah diidentifikasi. Misalnya, Christy, Stewart, dan Rosecrance (1930), Hinderman (1930), dan Rosecrance (1930) mengidentifikasi hasil siswa berikut: ● Lebih sedikit murid yang putus sekolah ● Peningkatan standar beasiswa ● Adanya peningkatan moral yang lebih baik pada siswa ● Kehidupan sekolah serba lebih baik ● Lebih sedikit kegagalan siswa dan penarikan subjek ● Para pemuda atau siswa mendapat informasi yang lebih baik tentang masa depan ● Penyesuaian lulusan yang memuaskan dengan kehidupan dan panggilan masyarakat dan ke perguruan tinggi atau universitas ● Lebih sedikit kasus disipliner ● Lebih sedikit ketidakhadiran ● Pilihan mata pelajaran yang lebih cerdas 108
● Kebiasaan belajar yang lebih baik Pada saat yang sama saat hasil siswa sedang diidentifikasi, diskusi juga berlangsung tentang masalah desain. Dalam dokumen penting tentang evaluasi yang muncul pada tahun 1940-an, Froehlich (1949) meninjau dan mengklasifikasikan 173 studi menurut desain evaluasi berikut: ● Kriteria eksternal, metode apakah yang akan diterapkan? ● Tindak lanjut, metode apa yang terjadi kemudian? ● Pendapat klien, apa yang Anda pikirkan? Metode. ● Pendapat ahli, metode “Mohon Informasi”. ● Teknik khusus, metode kecil-kecilan. ● Perubahan dalam kelompok, metode sebelum dan sesudah. ● Perubahan antar kelompok, apa bedanya? Metode. Diskusi tentang perlunya menggunakan desain penelitian berbasis ilmiah untuk evaluasi hasil (Froehlich, 1949; Neidt, 1965; Travers, 1949) telah muncul dalam literatur selama bertahun-tahun. Diskusi semacam itu tidak hanya terjadi, tetapi sejumlah penelitian juga benar-benar dilakukan tentang dampak program bimbingan dan konseling terhadap perkembangan siswa dengan menggunakan metodologi kelompok eksperimen dan kontrol. ➔ Hasil Apa Yang Kita Miliki Sejauh Ini? Sejak tahun 1930-an, Kefauver dan Hand (1941), Rothney dan Roens (1950), Rothney (1958), dan Wellman dan Moore (1975) menggambarkan studi kelompok kontrol eksperimental yang menunjukkan bahwa program bimbingan dan konseling secara positif mempengaruhi akademik, karir, dan perkembangan pribadi-sosial anak- anak dan remaja. Pada dekade pertama abad ke-21, prestasi akademik siswa menjadi perhatian utama di sekolah dengan disahkannya Undang-Undang No Child Left Behind tahun 2001. Lapan, Gysbers, dan Petroski (2001) menemukan bahwa ketika guru kelas menilai program bimbingan yang sudah dilaksanakan di sekolah membuat 22.601 siswa kelas tujuh melaporkan bahwa mereka mendapatkan nilai yang lebih tinggi, sekolah lebih relevan bagi mereka, memiliki hubungan positif dengan guru, lebih puas dengan pendidikan mereka, dan mereka merasa lebih aman ketika berada di sekolah. Studi di seluruh negara bagian tentang dampak program bimbingan dan konseling yang komprehensif terus dilakukan, utamanya ada di 3 wilayah yaitu di Missouri, Utah, Washington. Lapan, Gysbers, dan Kayson (2006) menemukan bahwa ketika konselor sekolah di Missouri bekerja di sekolah-sekolah yang mempunyai program lebih lengkap, mereka bisa berkontribusi lebih baik untuk mendukung keberhasilan siswa terutama pada bidang akademik. Siswa bisa mendapatkan nilai yang lebih tinggi, tingkat kedisiplinan meningkat, dan berkurangnya siswa yang menerima skorsing di luar sekolah. 109
Nelson, Fox, Haslam, dan Gardner (2007) memiliki empat temuan utama ketika melakukan studi besar program bimbingan dan konseling komprehensif di Utah yaitu : ● Bimbingan konseling yang komprehensif mendorong pemilihan kursus yang lebih mendalam. ● Terarah bagi siswa dan menghasilkan lebih banyak siswa mengambil kursus bahasa Inggris, sains, matematika, dan teknologi tingkat yang lebih tinggi. ● Persentase siswa yang menggambarkan program studi mereka sendiri sebagai “umum” telah turun drastis dalam sembilan tahun antara evaluasi. ● Siswa di sekolah bimbingan dan konseling komprehensif mencapai tingkat prestasi akademik yang lebih tinggi dan membuat keputusan yang lebih baik tentang pendidikan dan perencanaan karir. ● Program bimbingan dan konseling yang komprehensif lebih efektif dilaksanakan Dengan rasio konselor-siswa yang memadai di sekolah-sekolah Utah, baik perkotaan, pinggiran kota atau pedesaan. Sebuah penelitian singkat yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Evaluasi Hasil Konseling Sekolah mengenai dampak konseling sekolah pada hasil pendidikan siswa di sekolah menengah di Nebraska dan Utah (Carey & Harrington, 2010a, 2010b), menyoroti temuan berikut: ● Konseling sekolah di sekolah menengah berkontribusi pada hasil akademik yang penting termasuk peningkatan tingkat kemahiran matematika, peningkatan tingkat kemahiran membaca, tingkat penangguhan dan disiplin yang lebih rendah, tingkat kehadiran yang meningkat, dan tingkat kelulusan yang lebih tinggi. ● Menyelenggarakan program bimbingan konseling sekolah menurut Model Nasional ASCA berdampak positif terhadap hasil belajar siswa. ● Di Nebraska, rasio konselor-siswa yang lebih baik terkait dengan peningkatan tingkat kehadiran. Di Utah, rasio yang lebih menguntungkan terkait dengan peningkatan tingkat kehadiran dan penurunan tingkat insiden disiplin. ● Baik hasil Nebraska dan Utah menunjukkan bahwa hasil yang berfokus pada pengembangan karir sangat penting dalam menghasilkan hasil akademik yang positif. Berdasarkan studi ini, Carey dan Harrington (2010a, 2010b) menyimpulkan bahwa jika sekolah menengah ingin meningkatkan hasil pendidikannya, pemimpin sekolah harus mempekerjakan konselor yang cukup untuk memenuhi kebutuhan siswa dan orang tua, mendukung konselor saat mereka membangun program yang terorganisir dengan baik yang melayani semua siswa, dan fokus pada penerapan intervensi yang lebih efektif dan penghentian intervensi yang tidak efektif. Hasil dari efektivitas program bimbingan dan konseling yang komprehensif dan pekerjaan konselor sekolah menunjukkan bahwa memiliki program bimbingan dan konseling komprehensif yang dilaksanakan sepenuhnya memberikan kontribusi yang kuat bagi prestasi akademik siswa serta pengembangan pribadi-sosial dan karir mereka. 110
4) Evaluasi Intervensi Bimbingan dan Konseling Poin-poin penting yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan rencana evaluasi intervensi. ➔ Mengembangkan rencana evaluasi intervensi Intervensi Bimbingan dan Konseling memberikan hasil yang terukur tetapi bukan berarti tidak diperlukan evaluasi lebih lanjut karena sudah ada dalam literatur. Gerler (1992) menyatakan “Meskipun bukti kumulatifnya jelas, pengawas sekolah dan kepala sekolah [dan dewan pendidikan] mungkin akan lebih diyakinkan oleh data lokal daripada bukti yang dikumpulkan di tempat lain. ” (hal. 500). Mengikuti nasihat Gerler, tugas kami (guru bimbingan dan konseling) adalah membuat rencana untuk melakukan evaluasi intervensi di tingkat lokal. Tugas - tugas yang terlibat dalam mengembangkan dan melaksanakan rencana evaluasi adalah sebagai berikut : ● Identifikasi Hasil Siswa Rencana peningkatan sekolah yang komprehensif, akan membantu Anda mengidentifikasi hasil siswa yang menjadi prioritas sekolah di daerah tersebut. Sebagai ilustrasi, dokumen-dokumen ini sering berfokus pada tujuan seperti meningkatkan prestasi akademik siswa, menciptakan lingkungan bangunan yang aman bebas dari perilaku yang mengganggu, dan memastikan bahwa siswa siap untuk pergi bekerja atau melanjutkan ke pendidikan lebih lanjut setelah lulus. Karena intervensi bimbingan dan konseling yang komprehensif memiliki kontribusi besar untuk mencapai tujuan seperti ini, hasil siswa tertentu dalam tujuan ini dapat diidentifikasi yang diyakini hasil dari partisipasi siswa dalam intervensi bimbingan dan konseling. Mereka menjadi hasil yang akan difokuskan dalam membuat rencana evaluasi. ● Pertimbangkan Penggunaan Berbagai Jenis Data Tiga jenis data perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan rencana evaluasi, yaitu: data proses, data persepsi, dan data hasil (ASCA, 2005). a) Data Proses Data proses digunakan dalam evaluasi program secara keseluruhan tetapi juga dapat digunakan dalam evaluasi intervensi. Data proses menggambarkan intervensi bimbingan dan konseling apa yang dilakukan dan untuk siapa. b) Data Persepsi Data persepsi dapat digunakan dalam evaluasi program. Data persepsi memberitahu kita apa yang siswa, orang tua, guru, administrator, atau orang 111
lain pikirkan atau rasakan tentang intervensi bimbingan dan konseling dan pekerjaan konselor sekolah. c) Data Hasil Data hasil terdiri dari skor tes pengetahuan atau peningkatan pada variabel seperti tingkat kehadiran, tingkat rujukan disiplin, rata-rata nilai, dan nilai tes prestasi. Sesuatu telah berubah dalam hasil seperti ini sebagai akibat dari partisipasi siswa dalam intervensi bimbingan dan konseling. Data tersebut sudah dikumpulkan di sekolah dan tersedia untuk digunakan sebagai ukuran hasil untuk menetapkan efektivitas intervensi bimbingan dan konseling. ● Memilih Cara Melakukan Evaluasi Intervensi Ada dua contoh cara melakukan evaluasi hasil intervensi bimbingan dan konseling. Contoh pertama disebut IDEAS! Ini dikembangkan oleh Lapan (2005) dan dijelaskan dalam Gysbers dan Lapan (2009). Proses evaluasi ini terungkap dengan terlebih dahulu mengidentifikasi (I) suatu masalah. Kemudian masalah tersebut dideskripsikan (D) dan data sekolah yang ada (E) digunakan untuk memberikan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh masalah tersebut. Data dianalisis (A) menggunakan statistik dasar, keterampilan analisis data kualitatif, dan berbagai paket perangkat lunak. Kemudian data diringkas (S), dan hasilnya digunakan untuk meningkatkan kerja sama dengan siswa dan menginformasikan berbagai pemangku kepentingan tentang dampak dan pentingnya intervensi bimbingan dan konseling yang komprehensif. Langkah pertama dalam IDEAS! Menurut Lapan (2005), adalah mengidentifikasi masalah kritis. Anda mengetahui tentang masalah khusus yang dihadapi siswa atau kelompok siswa secara individu dan masalah siswa yang dihadapi guru di kelas. Langkah kedua yang direkomendasikan Lapan (2005) adalah mendeskripsikan masalah secara menyeluruh. Ia menyarankan bahwa masalah perlu digambarkan dalam empat hal, yaitu siswa, intervensi, pengukuran, dan pengaturan. Siapa siswa yang terlibat dalam masalah yang akan diselidiki? Apakah intervensi yang kita evaluasi terkait langsung dengan konstruksi yang kita terapkan? Apakah pengukuran terhubung langsung ke konstruksi Ini?Apa pengaturan di mana intervensi berlangsung? Langkah terakhir yang direkomendasikan oleh Lapan (2005) adalah menggunakan data hasil untuk membantu siswa dengan melakukan advokasi dengan pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan untuk mendukung pekerjaan konselor sekolah yang bekerja dalam kerangka bimbingan dan program konseling. Tujuannya adalah untuk membuat presentasi kepada pemangku kepentingan dan 112
kelompok pembuat kebijakan kapan dan dimanapun yang memungkinkan untuk dilaksanakan. Contoh kedua adalah MEASURE, yang dikembangkan oleh Stone dan Dahir (2007). MEASURE adalah akronim yang dibentuk dari huruf awal dari enam langkahnya: misi (mission), elemen (element), analisis (analyze), pemangku kepentingan bersatu (stakeholder-unite), hasil (result), dan mendidik (educate). Langkah pertama dalam MEASURE adalah misi. Tujuannya adalah untuk menghubungkan program bimbingan dan konseling komprehensif dengan misi sekolah dan hasil yang ditentukan dalam rencana peningkatan sekolah komprehensif sekolah. Langkah kedua, elemen, melibatkan identifikasi dan pemeriksaan data penting untuk rencana perbaikan sekolah yang komprehensif. Langkah selanjutnya dalam MEASURE adalah menganalisa. Langkah ini melibatkan penentuan hambatan yang mungkin berdampak pada prestasi siswa berdasarkan faktor-faktor seperti jenis kelamin, ras, etnis, status sosial ekonomi, dan tugas guru atau konselor. Langkah 3 dan 4 disebut pemangku kepentingan-bersatu. Tujuan dari langkah- langkah ini adalah untuk melibatkan individu dari dalam dan luar sekolah dalam intervensi yang akan mengatasi hambatan yang mempengaruhi prestasi siswa. Langkah kelima disebut hasil. “Apakah hasil dari upaya semua orang menunjukkan bahwa intervensi dan strategi berhasil memindahkan elemen data penting ke arah yang positif?” (Stone & Dahir, 2007, hlm. 27). Jika tidak, maka tugasnya adalah menentukan mengapa intervensi yang dipilih tidak mencapai hasil yang diinginkan. Mendidik adalah Langkah 6. Inilah saatnya untuk mempublikasikan hasil intervensi yang dibuat. Stone dan Dahir (2007) merekomendasikan pengembangan rapor untuk menunjukkan bagaimana apa yang telah dilakukan berhubungan dengan misi sekolah, dengan rencana perbaikan sekolah yang komprehensif, dan keberhasilan siswa. ● Poin Penting untuk Dipertimbangkan “Konselor sekolah tidak harus ahli statistik untuk menganalisis data secara bermakna” (ASCA, 2005, hlm. 51). Pernyataan ini benar, tetapi konselor sekolah perlu menguasai beberapa konsep statistik dasar agar berhasil menganalisis dan menginterpretasikan data hasil. Selain itu, konselor sekolah perlu mengetahui bagaimana memisahkan data dengan tepat, memasukkan data pada spreadsheet seperti Excel, melakukan analisis yang tepat, dan mengembangkan grafik dan bagan yang menampilkan data dengan cara yang dapat dimengerti. 113
➔ Statistik Dasar Lapan (2005) merekomendasikan bahwa konselor sekolah menguasai setidaknya lima konsep dasar statistik, rata-rata, standar deviasi, persentase, korelasi, dan uji t. ➔ Pisahkan Data Pemilahan data merupakan langkah penting dalam analisis data karena memungkinkan seseorang untuk melihat apakah ada siswa yang tidak melakukan sebaik yang lain. ➔ Menggunakan Spreadsheet Alat penting untuk analisis data hasil adalah perangkat lunak spreadsheet seperti Excel. Spreadsheet memungkinkan seseorang untuk memasukkan data hasil dan melakukan berbagai prosedur statistik yang sesuai. ➔ Presentasi PowerPoint Presentasi PowerPoint efektif dalam menyajikan data bahasa yang lugas tentang apa yang terjadi pada siswa yang berpartisipasi dalam intervensi bimbingan dan konseling tertentu. ➔ Kartu Laporan Ini adalah dokumen satu halaman (depan dan belakang) yang menyediakan ruang untuk enam kategori informasi: pesan kepala sekolah, tim personel pendukung siswa, iklim dan keamanan sekolah, hasil siswa, kemitraan dan sumber daya masyarakat, dan konten. Sebagaimana dinyatakan di situs Web Kartu Laporan Akuntabilitas Personil Pendukung kartu laporan dapat dianggap sebagai resume program, memberikan kesempatan untuk menunjukkan data kasus-relevan ke berbagai berbagai audiens, semua dalam satu halaman. ➔ Kemungkinan Efek Samping yang Tidak Terantisipasi Terkadang intervensi bimbingan dan konseling akan menciptakan efek yang tidak terduga saat pertama kali dilakukan. Proses evaluasi hasil yang digunakan harus cukup peka untuk menangkap efek-efek tersebut sehingga dapat segera ditangani atau dapat dijelaskan ketika muncul dalam hasil evaluasi selanjutnya. Hasil yang tidak terduga mungkin positif atau negatif. 114
BAB VI PENGEMBANGAN A. Tujuan Pembelajaran Terdapat beberapa tujuan pembelajaran yang memberikan manfaat kepada Mahasiswa setelah mempelajari materi ini, yaitu : 1. Mahasiswa mampu mengerti dan memahami cara mengembangkan dan mendesain ulang program bimbingan dan konseling komprehensif. 2. Mahasiswa mampu mengerti dan memahami proses penghimpunan data dalam mendesain ulang program bimbingan dan konseling komprehensif. 3. Mahasiswa mampu mengerti pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam mendesain ulang program bimbingan dan konseling komprehensif. 4. Mahasiswa mampu mengerti dan memahami cara membuat keputusan penerapan desain ulang program berdasarkan data evaluasi dan informasi baru. 115
B. Peta Konsep 116
C. Deskripsi Materi a. Mengembangkan Program Bimbingan dan Konseling Berbasis Data Kebutuhan dan Hasil Evaluasi 1) Mengembangkan dan Mendesain Ulang Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif ● Berkomitmen dalam proses mendesain ulang ● Mulailah proses mendesain ulang berdasarkan kebutuhan dan data evaluasi ● Buatlah keputusan dalam mendesain ulang berdasarkan kebutuhan dan data evaluasi ● Implementasi desain baru ● Memahami bahwa revitalisasi mengikuti hasil desain ulang Pada BAB 2, jadwal sample tugas menunjukkan bahwa dari program, personil, dan evaluasi data yang telah dikumpulkan selama beberapa tahun, program yang ada perlu ditinjau ulang dan dikembangkan kembali. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mempertimbangkan kembali atau mendesain ulang untuk menggabungkan beberapa revisi kecil yang telah dibuat secara teratur dari waktu ke waktu. Selain itu, mungkin saat mengumpulkan data dari siswa, sekolah, dan masyarakat, data yang digunakan merupakan data yang sudah lama. Oleh karena itu, data yang digunakan sebagai dasar perancangan program tentang kebutuhan siswa dan sekolah dan keadaan masyarakat yang mungkin sudah berubah. Kami menyebut ini sebagai proses mendesain ulang pengembangan program. Mendesain ulang tidak hanya didasarkan pada data evaluasi program yang sedang berlangsung tetapi juga pada hasil observasi dari siswa, orang tua serta administrator tentang seberapa baik program dapat berfungsi dari waktu ke waktu. Selain itu, didasarkan juga pada beberapa realitas baru yang saat ini ada di daerah atau wilayah masing-masing. Mendesain ulang program secara berkala adalah bagaimana memastikan relevansi program bagi siswa dan sekolah dan masyarakat. Mendesain ulang dapat menimbulkan adanya prioritas baru atau pergeseran dalam hal konten, siswa, dan intervensi program. Hal ini juga dapat menimbulkan adanya prioritas baru atau pergeseran dalam penggunaan waktu konselor sekolah. Penting untuk diingat, bahwa proses desain ulang tidak mengubah kerangka dasar program yang dijelaskan pada BAB 3. Bahasa yang digunakan untuk menggambarkan kerangka dasar tetap sama. Apa yang dapat berubah pada kerangka program yaitu : isi (standar siswa), deskripsi, dan asumsi, intervensi, dan penggunaan waktu konselor sekolah dan bakat. Program dan personil mungkin juga akan berubah. 117
Pada bab ini, yang pertama kali harus kita soroti yaitu tentang perlunya kebutuhan untuk proses mendesain ulang. Kami membahas tentang seberapa sering program harus dirancang ulang, siapa yang harus terlibat, dan langkah apa yang harus diambil. Selanjutnya personel program BK fokus pada apa yang terlibat dalam memulai proses mendesain ulang. Kemudian, personel program BK fokus untuk mengumpulkan data yang digunakan dalam proses mendesain ulang. Setelah itu personel program BK membuat keputusan tentang desain ulang yang didasarkan pada data-data yang telah dikumpulkan. Akhirnya, personel program BK dapat mendeskripsikan apa saja yang terlibat dalam menerapkan desain baru dan menekankan fakta bahwa program dan revitalisasi personil mengikuti proses desain ulang. Yang dapat dicatat adalah bahwa dalam proses mendesain ulang sama dengan saat merancang program bimbingan dan konseling komprehensif. Contoh desain ulang dari distrik sekolah Northside Independent School District di San Antonio, Texas, digunakan di seluruh bab untuk menggambarkan apa yang terjadi ketika distrik sekolah menjalani proses peningkatan desain ulang. 2) Berkomitmen Untuk Proses Mendesain Ulang Program Dalam mendesain ulang Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif, terdapat tiga hal yang penting untuk diketahui, yaitu : ➔ Seberapa Sering Program Harus Didesain Ulang ? Dalam program BK Komprehensif, didesain dengan jadwal 10 tahun yang dimulai dengan perencanaan, dan diakhiri dengan peningkatan pada tahun 9 dan 10. Pada tahun ke-4 sampai 8 lebih difokuskan pada personel, program, dan evaluasi hasil sehingga pada saat program sudah aktif dan berjalan, evaluasi juga sedang berlangsung. Digunakan istilah periodik untuk menentukan interval waktu yang cukup lama untuk proses evaluasi yang sedang berlangsung (personel, program, dan hasil) untuk mulai menunjukkan bahwa perubahan besar dibutuhkan. Perubahan harus selalu dilakukan secara berkelanjutan seperti yang diperlukan, tetapi fase desain ulang program (peningkatan) harus dimulai saat data evaluasi yang cukup telah terkumpul untuk menjamin perubahan besar, yang mana dapat 9 sampai 10 tahun atau lebih pendek bergantung pada jadwal program. ➔ Siapa yang Harus Terlibat? Seperti dalam membuat desain awal untuk Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif, terdapat tiga kelompok yang terlibat dalam proses desain ulang, yaitu : ● Komite pengarah Komite pengarah terdiri dari personel – personel yang mendukung dan melaksanakan program. Yang termasuk di dalamnya, antara lain yaitu : konselor 118
sekolah, kepala sekolah, dan guru. Panitia pengarah memandu proses dan pembuatan rekomendasi mengenai program, strukturnya, dan prioritasnya. ● Komite penasihat sekolah – komunitas Terdiri dari siswa, orang tua, guru, dan anggota komunitas. Anggota komite ini dapat merupakan perwakilan dari siswa, asosiasi orang tua – guru, komunitas kesehatan mental, komunitas bisnis, dan semacamnya. Mereka memberikan saran dari sudut pandang kelompok mereka, mewakili mengenai alasan program, kemungkinan prioritas yang akan diambil dalam program, dan arah pandangan ● Kelompok kerja Kelompok ini melibatkan sebanyak mungkin konselor sekolah. Kelompok ini membantu dalam menganalisis data evaluasi yang menggambarkan status program saat ini (berlangsung), menunjukkan hasil program, dan menunjukkan tren dalam konteks sekolah dan masyarakat yang lebih luas. Mereka mengidentifikasi kebutuhan baru dan berkelanjutan dari kelompok siswa. Mereka melakukan banyak kerja keras dalam menyajikan data dan informasi ke komite pengarah. ➔ Langkah Apa yang Harus Dilakukan ? Proses desain ulang untuk menyempurnakan program merupakan pekerjaan besar, dan langkah – langkahnya seperti yang digunakan dalam pengembangan awal program, yaitu mengatur, merencanakan, merancang, merencanakan transisi, dan menerapkan desain program baru. ● Mengatur / Mengorganisir a) Meninjau sumber – sumber eksternal mengenai status bimbingan dan konseling, pada lingkungan sekitar atau pada personel sekolah, hasil dan data evaluasi program b) Komitmen terjamin untuk merancang ulang c) Mengadakan tim kepemimpinan bimbingan dan konseling d) Mengidentifikasi kebutuhan untuk mendesain ulang e) Mengembangkan rencana desain ulang f) Membentuk panitia pengarah Bimbingan dan Konseling, komite pembina komunitas sekolah g) Mengembangkan strategi penilaian kebutuhan siswa h) Mengumpulkan masukan kebutuhan perbaikan ulang ● Merencanakan a) Meninjau sejarah terkini dari pengembangan dan implementasi program b) Menegaskan kembali komitmen terhadap model program c) Menilai kebutuhan siswa dan klien lainnya d) Mendiskusikan informasi kontekstual baru 119
e) Merevisi komponen struktural : rasional, asumsi, definisi f) Menganalisis data evaluasi sebagai penilaian status saat ini ● Merancang atau mendesain ulang a) Merevisi desain kualitatif : prioritas untuk hasil siswa, keseimbangan untuk layanan klien, standar operasional untuk komponen (program delivery), prioritas penggunaan kompetensi konselor b) Merevisi desain kuantitatif : keseimbangan program, rasio ● Merencanakan transisi a) Mengumpulkan masukan untuk draft akhir dari program yang didesain ulang b) Mengumpulkan data tambahan tentang dimensi program yang didesain ulang c) Menulis ulang kerangka program Bimbingan dan Konseling Komprehensif d) Membuat daftar rekomendasi akhir untuk perbaikan program e) Merekomendasikan proses pengembangan program wilayah atau kampus ● Menerapkan desain program baru a) Kembali ke perancangan – merencanakan transisi dan menerapkan – membuat rangkaian tugas transisi dan tugas selanjutnya di instalasi awal 3) Memulai Proses Desain Ulang dengan Mengumpulkan Data dari Berbagai Sumber ➔ Data Internal dan Eksternal Saat ini komitmen telah dibuat untuk mendesain ulang program bimbingan dan konseling komprehensif yang berlangsung, dan selanjutnya personel PBK harus tahu siapa yang harus terlibat dan langkah-langkah yang diperlukan untuk diambil. Lalu tugas selanjutnya adalah memulai proses mendesain ulang. Salah satu tugas dalam proses ini adalah mengumpulkan dan menganalisis data internal dan eksternal, termasuk data kebutuhan para siswa, tujuan sekolah, data konteks komunitas, dan tren konseling sekolah profesional. Tugas lainnya adalah mengumpulkan dan menganalisis data intervensi personel, program, dan program data intervensi. Personel program juga perlu mengumpulkan dan menganalisis data desain kualitatif mengenai kinerja konselor sekolah, klien yang dilayani, standar komponen program, pengetahuan dan keterampilan baru yang dibutuhkan siswa. Terakhir, personel program perlu mengumpulkan dan menganalisis desain kuantitatif yang membutuhkan informasi mengenai keseimbangan program, rasio konselor–siswa, dan jumlah siswa yang dilayani. ● Data Kebutuhan Siswa Sebagai bantuan dari program bimbingan dan konseling yang komprehensif penilaian kembali kebutuhan siswa dilakukan secara berkala untuk mengidentifikasi kebutuhan baru dan menyarankan prioritas baru di antara kebutuhan yang telah diidentifikasi sebelumnya. Di beberapa sekolah, menilai kembali kebutuhan siswa harus menyertakan adanya multikulturalisme di dalamnya. Pada daerah lain ditemukan bahwa siswa lebih banyak membutuhkan bantuan dalam mengatasi kekerasan di sekitar mereka, mengembangkan keterampilan dalam mengelola amarah dan manajemen konflik yang lebih baik. 120
Kebutuhan siswa lain yang telah diidentifikasi yaitu mencakup peningkatan jumlah siswa yang merasa terasingkan dari sekolah dan staf sekolah, serta peningkatan jumlah siswa yang membutuhkan bantuan dalam membuat rencana pengembangan pendidikan dan karier mereka. Ada juga, siswa di beberapa daerah membutuhkan bantuan dalam menetapkan tujuan yang ingin dicapai bagi diri mereka sendiri. ● Tujuan Sekolah Sebagai dewan sekolah, pengawas, kepala sekolah, dan administrator senior lainnya di sekolah, filosofi dan kebijakan juga dapat berubah. Prioritas untuk pendidikan juga dapat berubah ketika komunitas dan siswa di sekolah berubah. Bahkan misi daerah sekolah pun dapat diubah oleh kecenderungan politik masyarakat. Negara berupaya untuk menyamakan pendanaan dengan memberi lebih banyak uang ke beberapa sekolah. Namun dana yang tidak mencukupi dapat mengganggu daerah sekolah lain. Tujuan dan inisiatif pendidikan daerah bervariasi berubah dari tahun ke tahunnya sebagai upaya untuk mengidentifikasi perbaikan pendidik. Proses di mana keputusan dibuat di sekolah berubah, tidak hanya mengubah keadaan sekolah, tetapi juga prioritas mereka. Pengambilan keputusan berdasarkan situs, di mana lebih banyak orang memiliki masukan ke dalam pilihan apa yang paling penting bagi sekolah dan komunitas mereka. Kabupaten dan negara bagian juga semakin menuntut agar keputusan lokal didasarkan pada data yang menghadirkan kebutuhan dan solusi yang didukung oleh penelitian. Data yang sama ini dapat mendukung prioritas yang ditetapkan untuk program bimbingan dan konseling karena mereka menyertakan hal-hal seperti kejelasan tentang apa yang siswa ketahui, pelajari, dan perlu pelajari. Sekolah dimintai pertanggungjawaban atas tingkat retensi dan promosi mereka. Kepatuhan siswa terhadap kode etik tercermin dalam laporan disiplin dan absensi. Tingkat partisipasi dalam kegiatan sekolah menunjukkan seberapa berafiliasi atau seberapa terasingnya siswa dari sekolah. Penataan kembali kurikulum telah menyertai pengembangan dan implementasi standar. Cara untuk membantu individu yang berhasil secara akademis sedang dicari. Fokus pada individu menunjukkan bahwa mereka perlu menjadi lebih bertanggung jawab atas pembelajaran mereka, yang kemudian menekankan program dan proses yang mendukung penetapan tujuan siswa, evaluasi diri, dan self tracking melalui strategi seperti portofolio. Selain itu, sekolah juga mengusahakan masyarakat menjadi lebih pluralistik, memanajemen konflik, pengembangan karakter, dan mandiri tanggung jawab. Tren lain yang saat ini terlihat adalah meningkatnya keterlibatan orang tua dan pelaku usaha di sekolah- sekolah tersebut. Diharapkan bahwa keterlibatan mereka dapat membantu siswa dalam mempelajari konten yang mereka butuhkan untuk berhasil dalam kehidupan dewasa mereka dan di saat yang sama membawa lebih banyak dukungan bagi perusahaan pendidikan. 121
● Data Konteks Komunitas Komunitas mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Semua perubahan itu mungkin akan berdampak pada daerah sekolah yang melayani komunitas itu. Program bimbingan dan konseling melayani semua siswa di daerah sekolah dan memberikan layanan khusus kepada banyak siswa dengan kebutuhan pribadi, sosial, pendidikan, dan karir. Di saat mendesain ulang program bimbingan dan konseling daerah, personel program perlu mensurvei semua variabel komunitas terkait untuk mengidentifikasi perubahan yang signifikan dalam demografi, sosial ekonomi, tingkat mobilitas, tingkat rata-rata pendidikan orang tua, konfigurasi keluarga, pola imigrasi, dan sebagainya. Pertumbuhan dan penurunan populasi siswa, perubahan usia, dan pembukaan dan penutupan sekolah juga merupakan peristiwa lingkungan yang memiliki implikasi untuk program bimbingan dan konseling. Setelah itu data yang dipelajari, selanjutnya akan digunakan untuk mendukung kesimpulan tentang apa artinya perubahan ini untuk program saat ini dan dalam waktu dekat (yaitu, selama 10 tahun, jika desain asli dapat tetap valid selama itu). ● Tren Konseling Sekolah Profesional Tren dalam konseling sekolah profesional saat ini mencakup pemahaman yang lebih baik mengenai kelompok klien tambahan atau klien baru, konten serta teknik yang berbeda dalam menangani kebutuhan siswa dan masyarakat, cara mengatur dan mengelola program bimbingan dan konseling untuk melayani siswa dengan lebih baik, dan metode untuk membantu sekolah pengembangan profesional konselor. Meskipun konselor sekolah selalu menyediakan jembatan bagi orang tua untuk menjadi bagian dari sekolah, kebijakan hak-hak orang tua baru-baru ini telah membuka kesempatan sekolah lebih luas lagi. Seperti yang telah digambarkan dalam American School Counselor Association (ASCA, 2005) National Model, bimbingan baru dan konten konseling akan membantu siswa mengembangkan dan mempertahankan harapan tinggi untuk prestasi akademik mereka. Adanya minat baru dalam memfasilitasi pengembangan karir siswa. Masyarakat kita yang beragam telah membawa kita untuk memahami lebih lengkap apa yang diperlukan bagi efektivitas lintas budaya. Membantu siswa menetapkan tujuan, mengembangkan rencana untuk mencapainya, dan memantau kemajuan menuju pencapaian tujuan membutuhkan pendekatan responsif budaya serta sistem untuk memberikan bantuan tersebut. Program bimbingan dan konseling yang terorganisir mewakili keberhasilan bagi profesi konseling sekolah, meskipun banyak sekolah yang masih berusaha untuk menerapkan program bimbingan dan konseling yang komprehensif. Model Nasional ASCA (2005) menawarkan konsensus profesional bahwa program bimbingan dan konseling yang komprehensif adalah cara yang paling efektif untuk mengatur pekerjaan konselor sekolah dan membantu siswa untuk mencapai hasil pengembangan pribadi- sosial, pendidikan, dan karier. Penekanan di sekolah dalam membantu siswa atau individu mencapai kesuksesan membutuhkan layanan 122
bimbingan dan konseling yang lebih individual. Saat ini sistem yang ditetapkan untuk bimbingan sekolah dan pendekatan konseling melibatkan guru dan anggota komunitas sukarelawan. Dalam bidang bimbingan dan konseling, pengawasan profesional terus berkembang seiring dengan semakin jelasnya standar profesionalisme. Kepemimpinan untuk pengembangan profesional konselor sekolah muncul sebagai spesialisasi tersendiri, seperti halnya spesialisasi dalam konseling sekolah (Henderson, 2009). Kemungkinan desain ulang juga disarankan oleh berbagai sumber eksternal. Sumber-sumber ini menggambarkan tren di dalam dan di luar pendidikan yang mungkin berdampak pada proses mendesain ulang. ➔ Data Personil, Program, dan Intervensi Selain mengumpulkan data kebutuhan dan mengidentifikasi tren lokal, provinsi, dan nasional, penting juga untuk mengumpulkan data personel, program, dan intervensi. Bersama dengan data kebutuhan dan informasi tren, jenis data ini dapat menambahkan informasi penting mengenai arah proses mendesain ulang program yang harus dilaksanakan. ● Data Personil Kekuatan dan kelemahan dari bimbingan sekolah dan staf konseling secara keseluruhan dapat dipelajari dengan menggabungkan kekuatan dan kelemahan relatif dari masing-masing konselor sekolah sebagaimana yang tercermin dalam evaluasi kinerja mereka. Semakin selaras bentuk evaluasi kinerja konselor sekolah dengan program, maka semakin relevan kesimpulannya. Analisis data evaluasi kinerja dari formulir yang mencatat evaluasi sesuai dengan komponen program, dapat memberi tahu para personel program apakah konselor sekolah tampil secara kompeten pada kegiatan yang disediakan dalam kurikulum bimbingan, perencanaan siswa individu, layanan responsif, dan dukungan sistem. Ini dapat memberi tahu personel program di komponen mana kinerja konselor sekolah paling kuat atau lemah. Misalnya, konselor sekolah mungkin paling kompeten dalam memberikan pelayanan yang responsif dan paling tidak kompeten dalam memberikan kurikulum bimbingan. Ini memberi tahu para personel dan keputusan program yang berlangsung bahwa kinerja mereka paling baik ketika mereka menyediakan layanan konseling dan konsultasi tetapi tidak efektif ketika mereka memberikan instruksi bimbingan. ● Data Program Terdapat beberapa cara untuk mengevaluasi sampai tingkat apa program bimbingan dan konseling komprehensif yang telah diimplementasikan dapat memenuhi standar yang ditetapkan dalam desain kualitatif untuk setiap komponen program. Standar desain untuk setiap komponen menyatakan prioritas untuk konten panduan yang diatasi melalui intervensi program, peran yang dilakukan oleh konselor sekolah dalam intervensi komponen, dan bagaimana intervensi dilakukan. Konselor sekolah harus mengevaluasi seluruh program mereka terhadap serangkaian standar 123
secara teratur. Agregasi data ini menginformasikan proses desain ulang. Studi tahunan meminta konselor sekolah untuk membandingkan dan membedakan rencana tahunan mereka untuk menyadari kebutuhan yang muncul dan tren baru. Penilaian pencapaian sasaran peningkatan program memberikan dua set informasi yang dipertimbangkan oleh komite pengarah dan kelompok lain yang membantu dalam proses desain ulang. Pertama, pilihan untuk perbaikan diri, ketika dikelompokkan, menyarankan kebutuhan perbaikan di seluruh tingkat sekolah atau di dalam gedung sekolah. Kedua, tingkat pencapaian dapat menyarankan kelayakan untuk menambahkan, menyederhanakan, atau menggusur intervensi di seluruh daerah. ● Data Intervensi Program Menjaga kualitas program membutuhkan evaluasi intervensi program dan hasil yang berkelanjutan. Setiap intervensi program bimbingan dan konseling diakhiri dengan efektivitasnya dalam membantu siswa belajar atau menerapkan konten bimbingan dan konseling yang menjadi fokus intervensi. Selain itu, setelah bimbingan dan konseling pelajaran atau unit kurikulum, setiap sesi bimbingan dan konseling bertujuan membantu perencanaan individu siswa, dan setiap sesi konseling atau konsultasi yang diadakan sebagai jawaban terhadap kebutuhan siswa atau kekhawatiran orang tua, konselor sekolah perlu mengevaluasi dampak intervensi pada siswa dan orang tua serta kualitas dan efisiensi intervensi itu sendiri. Dengan kata lain, setiap intervensi dievaluasi saat dilaksanakan, seperti yang dijelaskan dalam Bab 10. Evaluasi intervensi program secara berkelanjutan memungkinkan pemantauan dan penyesuaian intervensi yang berkelanjutan saat program sedang dilaksanakan. Jika intervensi bimbingan dan konseling tidak efektif seperti yang diharapkan, maka intervensi tambahan mungkin diperlukan untuk memastikan prestasi siswa seperti hasil yang diinginkan. Jika, selama sesi bimbingan dan konseling, misalnya, siswa tidak dapat menyelesaikan rencana tindakan yang terkait dengan tujuan pribadi mereka, waktu tambahan dan bantuan mungkin perlu diberikan (yaitu, intervensi lain dalam waktu dekat). Banyak bimbingan dan intervensi program konseling sebagai acara tahunan yang dilakukan setahun sekali. Dengan demikian, jika implementasi suatu intervensi tidak selancar atau sejernih mungkin, menentukan bagaimana itu bisa dilakukan lebih efisien tahun depan sebaiknya dilakukan segera setelah kesimpulan tahun ini. (Banyak detail yang dilupakan lebih dari setahun) ➔ Data Kebutuhan Ditinjau Dari Desain Kualitatif Data kualitatif dibutuhkan dalam program bimbingan dan konseling komprehensif sebagai analisis data yang terkait kualitas cara kerja konselor sekolah, mengidentifikasi kebutuhan yang dibutuhkan klien, menguji standar komponen program, dan mengidentifikasi pengetahuan dan kemampuan baru yang dibutuhkan siswa. 124
● Cara Kinerja Konselor Sekolah Di beberapa daerah, konselor sekolah merasa kesulitan dengan banyaknya siswa yang membutuhkan bantuan mereka, dan disisi lain mereka juga memiliki tugas lain selain membimbing. Untuk menangani siswa yang membutuhkan bantuan konselor, maka terdapat 3 jenis pilihan untuk konselor sekolah yang berhubungan dengan perubahan ulang program sekolah untuk pengembangan pendampingan pelayanan secara profesional : a) Bidang yang berkaitan dengan harapan yang berkelanjutan untuk kinerja mereka, seperti yang ditunjukkan oleh evaluasi kinerja mereka. b) Bidang dimana salah satu staf sekolah mampu atau memiliki keahlian dalam memberi layanan. c) Dimensi baru dari desain program bimbingan dan konseling komprehensif. d) Konselor sekolah menengah membutuhkan pelatihan penggunaan teknologi modern, seperti strategi pembelajaran yang kooperatif dalam pendidikan. ● Klien Yang Akan Dilayani Pendidik dan anggota yang terlibat semakin mengakui kebutuhan khusus mayoritas para siswa. Siswa-siswa ini tidak memberikan bukti bahwa mereka membutuhkan layanan pendidikan khusus atau perawatan kesehatan mental yang diintensifkan, tetapi mereka mungkin merasa tidak layak, tidak terhubung ke sekolah, atau tidak layak mendapat perawatan di sekolah, dan mereka mungkin tidak mendapatkan bantuan pada saat menghadapi adanya tantangan mengenai pertumbuhan. Mereka mungkin kurang perhatian di kelas atau memiliki masalah yang membuat mereka tidak dapat berkonsentrasi pada pembelajaran akademik. Banyak yang stres, dan beberapa dari mereka salah jalan. Siswa-siswa ini ingin memiliki kesempatan untuk mendiskusikan masalah mereka yang harus ditangani dengan serius. Pada saat yang sama, sekolah secara resmi mengidentifikasi lebih banyak siswa berkebutuhan khusus, termasuk mereka yang berisiko, berperilaku buruk, tunawisma, atau terlibat dalam geng. Guru mencari bantuan lebih lanjut dengan masalah kelas tertentu. Mereka ingin lebih banyak lagi konsultasi mengenai siswa individu yang mengalami masalah. Mereka ingin lebih banyak konsultasi untuk diri mereka sendiri tentang masalah siswa, sekolah, dan pribadi. Mereka menginginkan pemahaman yang lebih lengkap tentang program bimbingan dan konseling praktik, operasi, dan standar etikanya. Mereka menginginkan lebih banyak bantuan dengan memahami pengujian standar dan penggunaannya yang sesuai. Di saat yang sama, orang tua tampaknya membutuhkan dan menginginkan lebih banyak keterampilan dalam mengasuh anak, tetapi cara-cara baru untuk memberi mereka keterampilan ini perlu dikembangkan. Kurangnya keterlibatan mereka di sekolah mungkin menunjukkan 125
mereka sibuk atau kurang nyaman dengan sekolah. Yang terakhir memberitahu kita bahwa kita perlu menemukan cara yang lebih efektif untuk menjangkau mereka. ● Standar Komponen Program Salah satu manfaat dengan program bimbingan dan konseling yang komprehensif adalah konselor sekolah tidak hanya dapat mendidik siswa, guru, dan orang tua mengenai bagaimana mereka menyampaikan program, tetapi mereka juga memiliki bahasa yang sama untuk menjelaskan program ini. Keempat komponen program cukup sedikit dan cukup berbeda dalam tujuan dan praktik untuk dipahami dengan mudah. Dengan demikian, menanyakan pendapat mereka tentang nilai kegiatan di setiap komponen dapat memberikan informasi yang berguna untuk menambah upaya desain ulang. Mengetahui nilai relatif yang ditetapkan untuk setiap aktivitas dapat membantu Anda dalam menetapkan prioritas di antara komponen. Misalnya, jika konsumen program menghargai bantuan layanan responsif secara signifikan lebih dari nilai panduan kelas, mereka dapat mendukung peningkatan signifikan dalam prioritas layanan responsif atas kurikulum panduan, atau sebaliknya. Jika kegiatan perencanaan siswa individu dianggap lebih berharga daripada layanan responsif, maka itu dapat berkontribusi dalam pengaturan prioritas. Klien program bimbingan dan konseling secara konsisten menginginkan lebih banyak konseling yang disediakan untuk siswa, baik individu maupun kelompok. Para orang tua menginginkan lebih banyak kesempatan konsultasi yang dapat membantu mereka dengan masa sulit yang dihadapi anaknya. Semakin banyak, intervensi krisis dipanggil untuk sekolah. Maka memikirkan kembali prioritas untuk komponen layanan responsif dan menjelaskannya kepada siswa, orang tua, guru, dan lainnya menjadi sangat penting. Menemukan cara untuk memperluas layanan responsif melalui rujukan, hubungan kolaboratif antara penyedia layanan, dan strategi yang lebih efisien dan efektif oleh konselor sekolah yang dipanggil. ● Pengetahuan dan Keterampilan Baru Data penilaian kebutuhan siswa memberikan informasi penting mengenai kebutuhan baru atau berbeda yang dimiliki oleh siswa yang harus diperhatikan oleh komite pengarah saat mendekati desain ulang program. Seperti halnya desain program awal, mengidentifikasi apa yang paling dibutuhkan siswa dapat dicapai dengan bertanya kepada siswa itu sendiri serta konselor sekolah, guru, orang tua, dan yang lainnya. Kebutuhan pengembangan keterampilan siswa yang telah diidentifikasi di sekolah swasta bagian utara antara lain : a) Kemampuan manajemen diri b) Kemampuan dalam pekerjaan c) Kemampuan dalam kehidupan d) Kemampuan perencanaan masa depan 126
e) Peningkatan kepercayaan diri f) Belajar menghargai diri sendiri g) Memecahkan masalah, dan h) Memandang pendidikan sebagai investasi masa depan Selain itu, para guru, orang tua, dan administrator sekolah mengakui bahwa siswa di sekolah membutuhkan sumber daya untuk membantu mereka dalam menghadapi tantangan. Kebutuhan tersebut yaitu : a) Rasa kebersatuan atau koneksi b) Rasa ingin menjadi bagian di komunitas sekolah c) Seseorang yang mendengarkan mereka d) Sistem pendukung atau support e) Keadilan ➔ Data Kebutuhan Ditinjau Dari Desain Kuantitatif Masing-masing data kebutuhan dari tiga dimensi desain kuantitatif yaitu keseimbangan program, rasio konselor-siswa, dan jumlah siswa yang membutuhkan dan menerima layanan. Tiga set data yang diperlukan dalam menyelesaikan pengumpulan data untuk mendesain ulang program yaitu : keseimbangan program yang sebenarnya, rasio konselor- siswa yang sebenarnya, dan jumlah siswa serta klien lain yang dilayani melalui program. Seberapa dekat penyusunan program yang sesuai dengan desain yang awalnya ditetapkan dapat ditentukan secara terpisah. Jika kesesuaian cukup dekat, beberapa kesimpulan dapat ditarik tentang dampak keseluruhan dari keseimbangan intervensi dan rasio pada jumlah klien yang dilayani dengan keterkaitan data. ● Keseimbangan Program Data ini digunakan untuk membandingkan dan mengkontraskan kualitas implementasi program bersilangan dengan berbagai pembangunan yang ada dalam daerah ini. ● Rasio Konselor-Siswa Untuk mengevaluasi kecukupan konselor-siswa dari efek pendesainan ulang program, Anda mungkin akan melakukan studi perbandingan sebagai hasil dan level dari pelayanan yang memiliki perbedaan rasio yang signifikan. ● Jumlah Siswa Yang Membutuhkan Bantuan 127
Keputusan dasar untuk bertarung dengan proses pendesainan ulang adalah pilihan antara pengembangan program bimbingan dan konseling dan program pemberian saran bagi masalah yang dihadapi siswa. 4) Membuat Keputusan Mendesain Ulang Berdasarkan Kebutuhan Dan Evaluasi Data Pada titik ini dalam proses mendesain ulang (peningkatan program), data evaluasi telah dikumpulkan dan data kebutuhan yang diperbarui juga telah tersedia. Tugas personel program sekarang adalah membuat sebuah keputusan dalam mendesain ulang serta menentukan hal-hal yang diperlukan dan yang mengarah pada program yang akan dirancang ulang dan ditingkatkan. Seperti yang telah disampaikan dalam Pendahuluan, proses peningkatan program mengikuti evaluasi dan menghubungkan kembali pada tahap awal ketika mendesain ulang program dibuka, tetapi pada tingkat yang lebih tinggi. Jadi, prosesnya spiral, bukan melingkar. Setiap kali proses mendesain ulang dibuka, akan terbentuk program bimbingan dan konseling yang baru dan lebih efektif . Agar proses mendesain ulang program bergerak maju, guru BK dan personel program perlu mempertimbangkan kesimpulan yang diambil dari data evaluasi tentang apa dan seberapa baik program itu dilakukan dan menggabungkannya dengan informasi tentang kebutuhan dan tren baru. Dengan menggabungkan keduanya, personel program dan guru BK dapat membuat keputusan tentang desain program saat ini (sebanding dengan yang dijelaskan dalam Bab 5). Personel program dapat memutuskan apakah program akan bekerja seperti yang telah dirancang sebelumnya, apakah program itu masih penting, dan apakah masih harus dipertahankan. Personel program juga dapat memutuskan desain mana yang sudah tidak berfungsi; apakah prioritasnya masih sama dan oleh karena itu, harus ditargetkan untuk perbaikan; atau apakah prioritas harus diganti oleh sesuatu yang lebih dibutuhkan atau layak. Keputusan ini mengarah pada standar baru untuk program bimbingan dan konseling yang akan dirancang ulang. Setiap elemen program bimbingan dan konseling yang komprehensif (sebagaimana diuraikan dalam Bab 3) dipertimbangkan dalam tugas ini. Keputusan baru dibuat atau keputusan sebelumnya ditegaskan mengenai standar dan kompetensi siswa yang dikembangkan melalui program, komponen struktural (rasional, asumsi, definisi, kebijakan), komponen pengiriman program (desain kualitatif), dan alokasi sumber daya (desain kuantitatif). ➔ Keputusan Mendesain Ulang Standar dan Kompetensi Siswa Cara-cara baru yang digunakan untuk mendefinisikan konten dasar dari program bimbingan dan konseling komprehensif mungkin telah muncul sejak awal dibentuknya program. Dengan demikian, yang perlu diperhatikan untuk merancang ulang program yaitu harus menegaskan kembali atau menyesuaikan kembali standar belajar siswa sebagai dasar program tersebut. Perubahan dapat dilakukan di tingkat domain dan kompetensi. 128
➔ Keputusan Mendesain Ulang Komponen Struktural Setelah mendesain ulang konten program dasar (standar pembelajaran siswa), langkah selanjutnya melibatkan revisi komponen struktural program: pernyataan rasional untuk program, asumsi yang mendasari program, dan definisi program juga sebagai kebijakan distrik sekolah untuk bimbingan dan konseling. ➔ Alasan Data dari evaluasi dan dari informasi kebutuhan yang telah diperbarui dapat memberi anda ide atau gagasan tentang cara merevisi dan alasan untuk program. Di satu sisi informasi baru dapat mengungkapkan jumlah siswa yang tampaknya lebih besar yang diasingkan dari sekolah: Peningkatan kekerasan siswa dan penyalahgunaan narkoba yang terus meluas, keragaman konfigurasi keluarga, dan ekonomi yang tidak stabil mengakibatkan siswa datang ke sekolah dengan situasi yang mempersulit mereka untuk mengerjakan tugas sekolah mereka. Di sisi lain, informasi baru juga dapat memperjelas bahwa di abad ke-21, sekolah akan terus ditantang untuk memiliki standar akademik dan harapan siswa yang semakin tinggi. Sekolah dikenakan biaya untuk membantu setiap siswa, terlepas dari keadaan, untuk berhasil di sekolah. Tujuan yang agak bertentangan ini untuk sekolah menggarisbawahi nilai bimbingan dan konseling untuk membantu siswa mengelola nasib mereka sendiri dan menyelesaikan masalah mereka. Informasi baru dapat menunjukkan bahwa guru, dapat menghadapi karakteristik siswa yang semakin beragam, memerlukan konsultasi yang bermakna untuk meningkatkan pekerjaan mereka dengan orang tua. Gerakan hak-hak orang tua telah membawa semakin banyak orang tua ke sekolah dalam upaya membantu atau mengintervensi pendidikan anak- anak mereka. Karena adanya pergeseran dalam pengambilan keputusan pendidikan sehingga membutuhkan konselor sekolah yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai profesional untuk mengelola program yang sesuai dengan daerah setempat, dengan kepemimpinan yang cukup tersedia untuk memelihara pertumbuhan profesional. Mengenali kebutuhan masyarakat, sekolah, dan siswa seperti itu sangat penting dalam mendesain ulang program Anda secara umum dan dalam meninjau dan merevisi alasan untuk program tersebut pada khususnya. ➔ Asumsi Guru BK mungkin akan menemukan bahwa personel program lebih sadar akan asumsi-asumsi yang mendasari operasi program dari pada sebelumnya selama merancang program asli. Seperti yang disebutkan sebelumnya, karena sifatnya, asumsi agak sulit dikenali sampai mereka tertantang. Mereka juga membantu anggota staf mengingat nilai- nilai dasar program. Misalnya, pekerjaan pendesainan ulang Northside Independent School District termasuk menegaskan kembali asumsi berikut: Siswa adalah klien utama dari program ini. 129
● Semua konselor memiliki standar etika profesi. ● Tidak peduli masalah apa atau masalah yang muncul, masing-masing siswa berhak atas penerimaan dan bantuan yang tidak menghakimi. ● Program terbaik adalah program di mana sumber daya dialokasikan secara sadar ke prioritas program yang telah ditetapkan. ● Anggota staf yang memiliki kredensial berbeda digunakan dalam penugasan pekerjaan yang menerapkan pelatihan dan kompetensi mereka dengan tepat. ● Sedapat mungkin, konselor sekolah meminta orang tua sebagai mitra dalam membantu pengembangan pribadi, sosial, pendidikan, dan karier siswa. ➔ Definisi Karena pada saat ini guru BK telah memiliki pengalaman yang luas dengan implementasi program bimbingan dan konseling, Gur BK mungkin lebih bersedia untuk berdebat dan memutuskan misi penting dari program ini dari pada ketika semuanya masih baru. Anggota komite penasehat dan pengarah sekolah-masyarakat memiliki pendapat berdasarkan pengalaman mereka tentang siapa yang memenuhi peran terstruktur dalam program, selain siswa adalah klien dari program tersebut secara sah, dan makna sebenarnya dari struktur organisasi program bimbingan dan konseling yang komprehensif. Lebih jauh lagi, karena sifat akuntabel dari program bimbingan dan konseling yang komprehensif, Anda mungkin akan cukup jelas mengenai apa yang akan didukung oleh sumber daya program. Jika seluruh siswa di sekolah menerima lebih banyak bimbingan mendalam dan bantuan konseling, maka lebih banyak anggota staf yang harus dilibatkan. Jika diinginkan adanya pemberian bantuan individual tambahan, maka lebih banyak penasihat individu harus disediakan. Jika seluruh siswa yang bermasalah ingin memenuhi kebutuhan khusus mereka, penyedia layanan tambahan harus diidentifikasi. Dengan perubahan-perubahan seperti yang dibayangkan, staf pelaksana program dapat meluas hingga mencakup semua guru yang menyediakan kurikulum bimbingan, semua staf profesional yang memberikan bantuan sistem perencanaan siswa secara individu, dan profesional kesehatan mental berbasis masyarakat dan profesional terkait sekolah yang menyediakan layanan responsif. Akibatnya, definisi program perlu direvisi. ➔ Keputusan Mendesain Ulang Kualitatif Keputusan mendesain ulang kualitatif adalah keputusan yang menyangkut prioritas untuk penggunaan kompetensi konselor sekolah, agar klien dapat dilayani, agar intervensi program dapat disampaikan, dan agar hasil siswa dapat tercapai. Gysbers menyarankan kepada personel program untuk menyampaikan pertanyaan desain kualitatif terlebih dahulu. Penting bagi personel program untuk mengetahui apa yang personel program inginkan sebelum nantinya berurusan dengan kenyataan berapa banyak sumber daya yang dapat dimiliki, mengingat sumber daya yang tersedia. Terakhir rekomendasi hampir selalu menyertakan saran untuk sumber daya tambahan. 130
➔ Kompetensi Konselor Sekolah Atas dasar pengalaman bekerja dalam suatu program selama beberapa tahun, sekolah- komite penasehat dan pengarah masyarakat perlu membentuk setidaknya dua jenis prioritas mengenai keterampilan konselor sekolah. Prioritas ini adalah keterampilan yang akan digunakan dalam program dan untuk keterampilan yang perlu diperkuat melalui profesional pengembangan. Di Northside Independent School District, sudah jelas jika anggota komite menginginkan konselor sekolah untuk mengelola program mereka sendiri. Mereka juga menghargai keahlian konseling kelompok kecil dan individu yang dimiliki sekolah konselor dibawa ke gedung mereka. Berkonsultasi dengan orang dewasa lain atas nama mereka siswa adalah prioritas keempat. Prioritas ini sesuai dengan apa yang dimiliki penasihat sekolah diharapkan sebagai peran yang sesuai. Kebutuhan pengembangan profesional diidentifikasi melalui analisis perbedaan prioritas dan data evaluasi. Bidang sasaran adalah kompetensi atau komitmen prioritas tinggi itu konselor sekolah tidak berkinerja baik. Beberapa konselor sekolah mungkin perlu lebih jauh penyempurnaan keterampilan manajemen program mereka (termasuk waktu). Beberapa mungkin perlu hadir untuk keterampilan konseling kelompok kecil mereka, dan sebagainya. Dengan diskusi yang berfokus pada aplikasi kompetensi konselor sekolah, tentang cara untuk membantu konselor sekolah meningkatkan kinerja mereka juga muncul. Untuk contoh, alat untuk mengevaluasi kualitas kinerja konselor sekolah (formulir evaluasi kinerja) mungkin perlu penyesuaian untuk memberikan umpan balik yang lebih baik untuk individu. Aktivitas yang membahas fokus dan peningkatan pekerjaan (deskripsi pekerjaan,pengawasan profesional) mungkin perlu klarifikasi, penguatan, atau lebih banyak sumber daya. Dalam berbagai kepemimpinan profesional untuk konselor sekolah tidak jelas atau disediakan oleh individu tanpa keahlian konseling sekolah, seperti kepala sekolah. Karena itu, sekolah yang sistem dipimpin konselor perlu perbaikan besar secara nasional (Henderson & Gysbers, 1998). ➔ Klien Yang Dilayani Data evaluasi memberikan wawasan tentang siapa yang sebenarnya dilayani, dalam program konseling saat ini dengan mengungkapkan keseimbangan antara layanan yang diberikan kepada siswa, layanan yang diberikan kepada orang dewasa, dan tugas-tugas dukungan sistem. Persentase siswa yang dilayani di setiap tingkat kelas dan persentase siswa yang dilayani melalui pengembangan, pencegahan, atau intervensi perbaikan serta data mengenai layanan yang diberikan kepada berbagai sub kelompok siswa, seperti mereka yang mengalami perceraian atau kesedihan, juga tersedia. Informasi baru mengenai 131
kebutuhan siswa dan kebutuhan yang disarankan oleh masalah yang terlihat di komunitas sekolah dapat menyarankan prioritas yang berbeda bagi klien agar dilayani. Tujuan sekolah dan kabupaten yang diubah atau difokuskan kembali dapat menyarankan prioritas yang berbeda. Dalam desain ulang Northside Independent School District, keseimbangan yang diinginkan antara penyajian siswa sekolah dasar dan yang melayani orang dewasa tetap sama: 65% dari waktu konselor dihabiskan dengan siswa, 35% dengan orang dewasa. Namun, perbedaan terlihat dalam rekomendasi untuk rincian kali dalam kategori besar ini. Waktu yang disarankan untuk dihabiskan dalam memberikan bantuan perkembangan siswa berkurang sekitar 10%, dengan waktu itu dialokasikan kembali kepada siswa dengan kebutuhan untuk pencegahan atau perbaikan. Rekomendasi ini adalah salah satu dari beberapa yang menunjukkan peningkatan pemahaman dan menghormati keterampilan khusus konselor sekolah dalam bekerja dengan siswa yang menghadapi masalah dan masalah. ➔ Intervensi Program yang Akan Disampaikan Pusat dari redesign kualitatif adalah standar minimum dan operasional definisi untuk setiap komponen program. Bahasa yang digunakan dalam mendefinisikan program komponen tidak berubah. Apa yang bisa berubah adalah intervensi dan prioritas untuk intervensi ini dalam setiap komponen. Misalnya, Anda mungkin perlu mengatur ulang prioritas untuk masing-masing alur kurikulum karena peningkatan pembelajaran tentang apa yang paling dibutuhkan dan sesuai di setiap tingkat kelas atau karena perubahan kebutuhan populasi yang dilayani oleh sekolah. Semakin banyak, penekanan pada karir pengembangan sebagai tujuan perencanaan pendidikan dapat menyebabkan penyempurnaan intervensi dalam sistem perencanaan siswa secara individu. Identifikasi kebutuhan baru dalam layanan konseling harus ditanggapi. Spesifikasi peran konselor sekolah dalam hubungan dengan standar akademik mungkin diperlukan untuk meningkatkan dukungan konselor sekolah untuk total sistem pendidikan. Tambahan yang diperlukan untuk deskripsi program bimbingan dan konseling adalah klarifikasi peran orang tua di setiap komponen program (lihat Bab 3). Alasan untuk ini adalah meningkatkan pengakuan hak orang tua sehubungan dengan sekolah anak-anak mereka dan perlu keterlibatan mereka untuk memungkinkan keberhasilan anak-anak mereka di sekolah. Mengeja tanggung jawab orang tua dan peluang dalam kurikulum bimbingan dan siswa secara individu intervensi perencanaan menyebabkan sekolah dan konselor sekolah untuk lebih memastikan bahwa orang tua memiliki informasi yang mereka butuhkan untuk menjadi peserta aktif dalam bimbingan pengembangan anak-anak mereka. Memperjelas bagaimana izin orang tua untuk konseling terjadi dalam layanan responsif dan bagaimana orang tua dapat mengakses layanan atas nama siswa mereka penting, terutama mengingat orang tua yang tidak ingin anak-anak mereka mendapat manfaat dari layanan ini di sekolah. Memperluas keterlibatan orang tua dalam dukungan 132
sistem komponen, seperti dalam kegiatan advokasi dan peran orang tua, memberikan orang tua sebagai perantara untuk input dalam pengembangan dan pengiriman program. Perubahan yang memiliki dampak luas di Northside Independent School District Program adalah definisi peran guru yang diperluas dalam penyampaian perkembangan intervensi bimbingan dan konseling. Definisi yang diperluas didasarkan pada pengakuan bahwa jika kita benar-benar akan membantu semua siswa memperoleh semua dasar kompetensi dalam keterampilan hidup utama yang diwakili oleh kurikulum bimbingan, setiap pendidik diperlukan untuk berkontribusi pada tujuan ini. Jika kami benar-benar akan membantu setiap siswa menetapkan tujuan dan rencana pendidikan dan karier, serta menyediakan sarana untuk pemantauan kemajuan mereka, setiap pendidik harus membantu dalam memberikan informasi yang akurat dan tidak biasa dan saran yang berarti bagi siswa dalam komponen perencanaan siswa secara individu. ➔ Hasil Siswa Dalam menilai kebutuhan siswa, prioritas baru dapat muncul untuk konten (standar siswa) program bimbingan dan konseling. Data evaluasi dapat menjelaskan apa yang menurut siswa dan orang lain bermanfaat bagi program bimbingan dan konseling untuk ditangani. Oleh karena itu, untaian baru, seperti efektivitas lintas budaya, dapat ditambahkan ke konten program dan proses penetapan prioritas. Data evaluasi tentang keefektifan informasi tempat konten juga dapat meningkatkan atau menurunkan kepentingan untaian. Misalnya, perkembangan harga diri pada anak-anak akan semakin diakui tidak cukup sebagai akhir dari siswa itu melainkan dapat dilihat sebagai bagian dari perasaan kompetensi siswa di dimensi lain, seperti berteman, bertindak bertanggung jawab, dan mampu mengekspresikan diri sendiri sehingga orang lain memahami pikiran dan perasaan mereka. ➔ Keputusan Mendesain Ulang Kuantitatif Atas dasar keputusan ulang desain kualitatif, alokasi sumber daya program perlu disesuaikan agar memiliki kesesuaian dengan revisi tersebut. Desain kualitatif sangat dipengaruhi oleh alokasi sumber daya dari empat komponen program, yaitu pedoman tentang bagaimana konselor sekolah menghabiskan waktu mereka. Seperti dijelaskan dalam bab 8, rasio konselor mempengaruhi berapa banyak siswa yang dapat diberikan layanan dengan program yang seimbang ➔ Keseimbangan Program Data hasil dari evaluasi yang berkaitan dengan implementasi program awal dapat memberikan hasil yang nyata. Prioritas baru dalam desain kualitatif memiliki kontribusi pada pertimbangan mengenai keseimbangan program. Dalam proses pendesainan ulang 133
Northside / Independent School District, keterampilan khusus konselor sekolah lebih diapresiasi daripada sebelum adanya pendesainan ulang program. Oleh karena itu, penggunaan keterampilan ini secara efektif menjadi prioritas utama dalam pembuatan keputusan desain ulang. Sebagai contoh, dalam membandingkan desain ulang dengan desain Northside Independent School District yang asli, perubahan prioritas lebih mudah dilihat. Jumlah waktu yang diperlukan konselor sekolah untuk melaksanakan kurikulum bimbingan menurun dalam tiga tingkatan, yang paling signifikan di tingkat SMA (15% - 20%) dan setengahnya (dari 30% sampai 15% - 20%) untuk SMP. Jumlah waktu yang diperlukan konselor sekolah untuk kegiatan perencanaan siswa menurun secara signifikan di tingkat SD (dari 25% menjadi 5% - 10%) sedikit menurun di tingkat SMP, dan tetap sama di tingkat SMA. Waktu layanan responsif meningkat di tiga tingkat (dari 25% menjadi 40% - 45%).Waktu dukungan sistem tetap konsisten. Selain itu, dalam desain ulang program, panitia acara mengungkapkan dengan jelas bahwa waktu konselor sekolah tidak boleh dihabiskan untuk kegiatan yang bukan merupakan kegiatan bimbingan. Mereka melakukan ini dengan mengalokasikan waktu yang tepat untuk manajemen sekolah dan tugas-tugas administrasi. ➔ Rasio Konselor – Siswa Sejak desain awal program Bimbingan dan Konseling Komprehensif, rasio konselor- siswa di Northside Independent School District telah berkurang secara signifikan, dari 1 : 550 menjadi rata-rata 1 : 400. Hasil positif dari studi evaluasi memperkuat nilai rasio yang lebih rendah, dan rasio yang rendah membawa perubahan untuk keseimbangan program.Distrik masih menginginkan (dan memiliki) program bimbingan dan konseling yang dikembangkan secara mendasar, namun dengan konselor sekolah bertanggung jawab atas lebih sedikit siswa, semua konselor sekolah dapat melayani dalam waktu yang lebih singkat. Di Northside, komite menggunakan satu konselor untuk 350 siswa (1:350). Rasio yang disarankan diubah untuk konselor sekolah spesialis sebagai berikut: ● Kepala departemen bimbingan: 1:250 di SMP dan SMA ● Kepala konselor SMA: tidak ada penetapan beban kasus siswa, mempertimbangkan peran kepemimpinan (Henderson & Gysbers, 1998) ● Konselor penyalahgunaan narkoba: 1:100 kasus aktif ● Konselor pendidikan khusus: 1:250 ➔ Jumlah Siswa yang Dilayani Dengan keseimbangan program baru dan dengan beban kasus yang lebih rendah, ditambah dengan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang dimasukkan dalam setiap komponen, potensi jumlah siswa yang perlu dilayani di Northside Independent School 134
District dalam berbagai komponen dapat diperhitungkan. Perhitungan ini memungkinkan komite untuk menetapkan standar minimum kegiatan siswa. Seperti komite di Northside menetapkan kelayakan, dengan seimbang dan beban kasus, siswa SD mendapatkan 12 pelajaran bimbingan oleh konselor per semester, untuk siswa SMP mendapat 8 pelajaran bimbingan per tahun, dan untuk siswa SMA mendapat 6 pelajaran bimbingan oleh konselor per tahun. Harapan resmi adalah bahwa pada waktu tertentu, sekitar 25% dari siswa dalam beban kasus konselor sekolah akan mendapat manfaat dari layanan responsif. 5) Menerapkan Desain Baru Menerapkan program yang didesain ulang memerlukan penentuan arah baru untuk mendesain ulang program, dan merencanakan, serta membuat perbaikan. Program yang baru didesain ulang harus disetujui oleh pembuat kebijakan, administrator senior, dan dewan sekolah. Buku pegangan program baru harus ditulis dan dapat dibagikan kepada konselor sekolah, kepala sekolah, administrator, dan lainnya. Dalam menerapkan desain baru, memungkinkan perlunya pelatihan yang ditargetkan dan pengembangan profesional lainnya yang dibutuhkan oleh konselor agar dapat membantu mereka melaksanakan peran. 6) Memahami Bahwa Pembaruan atau Revitalisasi Mengikuti Pendesainan Ulang Berbekal dengan data dari tiga jenis evaluasi yang dijelaskan dalam Bab 10 dan dengan informasi baru yang telah kumpulkan mengenai perubahan siswa, di sekolah dan di masyarakat, personel program memiliki bahan untuk membuat desain ulang program. Mendesain ulang menghasilkan standar baru untuk program, prioritas baru, dan parameter baru. Memo yang merangkum perubahan yang dilakukan dalam program Northside Independent School District disediakan dalam Lampiran P. Seperti yang dapat dilihat, perubahan dilakukan dalam setiap elemen program: konten, penggunaan keterampilan konselor, definisi penyedia program, bentuk dan kegiatan program, dan standar untuk akuntabilitas. Selain itu, seluruh sistem membantu konselor sekolah untuk melakukan yang terbaik telah diubah dan dijelaskan secara rinci dalam Staf Program Bimbingan Sekolah Memimpin dan Mengelola (Henderson & Gysbers, 1998). Manfaat langsung tambahan di Northside Independent School District adalah bahwa evaluasi dan desain ulang memicu revitalisasi program. Pemikiran ulang, perencanaan ulang, dan persiapan ulang untuk implementasi menyebabkan konselor sekolah berkomitmen ulang dengan diri mereka sendiri saat mereka mengejar pertumbuhan yang dibutuhkan. Setiap bangunan di daerah mengambil kesempatan untuk mengatasi implikasi desain baru bagi program mereka. Di tingkat kabupaten, beberapa inisiatif diberlakukan untuk memperluas tanggung jawab program bimbingan di lebih banyak anggota staf untuk memberikan lebih banyak bantuan untuk pengembangan siswa. Komponen kurikulum bimbingan diperluas dengan penambahan program pengembangan karakter di seluruh sekolah. Komponen perencanaan siswa individu diperluas dengan menerapkan program penasihat siswa yang berfokus membantu siswa dalam menetapkan dan mencapai tujuan pendidikan dan karier. Komponen layanan responsif diperluas dengan lebih sistematis 135
mengkoordinasikan sumber daya yang digunakan untuk membuat sekolah aman dan bebas narkoba dengan program bimbingan dan dengan membuat protokol untuk mengklarifikasi peran staf dalam mengelola krisis di seluruh sekolah. Dalam mendesain ulang program setelah menerapkannya selama beberapa waktu, distrik beberapa sekolah lain telah meningkatkan program mereka dengan cara lain. Di Distrik Sekolah St. Joseph di St. Joseph, Missouri, mereka menemukan sejumlah “cara untuk memperpanjang hari sekolah melalui strategi kolaboratif” (Fuston & Hargens, 2002, hlm. 211) yang memungkinkan konselor sekolah untuk melakukan pekerjaannya. Mereka menggunakan pensiunan konselor untuk menggantikan konselor yang tidak hadir agar pekerjaan tidak hilang atau menumpuk. Mereka juga telah meningkatkan cara-cara komputer dalam membantu mengimplementasikan program bimbingan. Pendidikan karir dilakukan dengan bekerja sama antara guru dan anggota komunitas. Daerah ini mempekerjakan pekerja sosial untuk menanggapi kebutuhan jenis pekerjaan siswa dan keluarga dan bekerja sama dengan lembaga masyarakat yang menyediakan kelompok konseling. Di Distrik Sekolah Davis di Farmington, Utah, hubungan antara misi program bimbingan dan hubungan sekolah dipastikan berhasil. Keberhasilan implementasi program bimbingan dan konseling komprehensif di tingkat sekunder menyebabkan inisiasi satu di tingkat dasar dan perekrutan konselor dasar (Davis, 2002). Singkatnya, mendesain ulang program bimbingan dan konseling komprehensif setelah bertahun-tahun pengimplementasiannya mengarah pada peningkatan program yang berkelanjutan dan revitalisasi program, staf konseling sekolah, dan staf sekolah secara keseluruhan. Hasil komitmen yang telah direvitalisasi tersebut dapat diperluas untuk menghasilkan layanan kepada siswa. 136
GLOSARIUM Abstrak : tidak berwujud; tidak berbentuk Advokasi : pembelaan Agregasi : pengumpulan sejumlah benda yang terpisah-pisah menjadi satu Akreditasi : pengakuan terhadap lembaga pendidikan yang diberikan oleh badan yang berwenang setelah dinilai bahwa lembaga itu memenuhi syarat kebakuan Akronim atau kriteria tertentu Akuntabel : kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau unsur lainnya Akuntabilitas : suatu prinsip bisnis yang mengajarkan mengenai transparansi kinerja serta Alokasi pertanggungjawaban seseorang atas tugas maupun kewajibannya : pertanggungjawaban atau keadaan yang dapat dimintai Altruistik pertanggungjawaban Asosiasi : penentuan penggunaan sumber daya secara matematis (misalnya tentang tenaga kerja, mesin, dan perlengkapan) demi pencapaian hasil yang Defisit optimal Demografi : bersifat mendahulukan kepentingan orang lain Diagnostik : perkumpulan orang yg mempunyai kepentingan bersama berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban berwenang setelah dinilai bahwa lembaga itu memenuhi syarat kebakuan atau dan sebagainya) yang dicapai melalui kebulatan suara : kekurangan (dalam anggaran belanja) : ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia dengan golongan lain dalam suatu masyarakat : ilmu untuk menentukan jenis penyakit berdasarkan gejala yang ada 137
Distrik : bagian kota atau negara yang dibagi untuk tujuan tertentu Domain : wilayah; daerah; ranah Efektif : dapat membawa hasil Efisiensi : ketepatan cara (usaha, kerja) dalam menjalankan sesuatu Filosofi : pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya Fiskal : segala urusan yang berkenaan dengan pajak atau pendapatan negara Ilustrasi : tambahan berupa contoh, bandingan, dan sebagainya untuk lebih memperjelas paparan (tulisan dan sebagainya) Indikator : sesuatu yang dapat memberikan (menjadi) pe-tunjuk atau keterangan Inklusif : termasuk; terhitung Inkremental : berkembang sedikit demi sedikit secara teratur Integral : mengenai keseluruhannya; meliputi seluruh bagian yang perlu untuk menjadikan lengkap; utuh; bulat; sempurna Interpretasi : pemberian kesan, pendapat, atau pandangan teoretis terhadap sesuatu; tafsiran Intervensi : campur tangan dalam perselisihan antara dua pihak (orang, golongan, negara, item data kelaziman) Klasikal : secara bersama-sama di dalam kelas Klinis : bersangkutan atau berdasarkan pengamatan klinik Kolaboratif : bersifat kerja sama Komite : sejumlah orang yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas tertentu Komprehensif : mampu menciptakan pengetahuan sedalam-dalamnya Komunitas : kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling 138
berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuba Konferensi : rapat atau pertemuan untuk berunding atau bertukar pendapat mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama; permusyawaratan; Konfigurasi : bentuk; wujud Konkret : nyata; benar-benar ada Konsensus : kesepakatan kata atau permufakatan bersama (mengenai pendapat, Pendirian, dan sebagainya) yang dicapai melalui kebulatan suara Konseptualisasi : pengonsepan Konvensional : berdasarkan konvensi (kesepakatan) umum (seperti adat, kebiasaan, kelaziman) Kredibel : dapat dipercaya Kumulatif : bersifat menambah Lateral : di sebelah sisi; di sisi; ke sisi; ke pinggir Legitimasi : pernyataan sah atau pengesahan Manajemen : kegiatan atau penelaahan yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian Minoritas : golongan sosial yang jumlah warganya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan golongan lain dalam suatu masyarakat Multidimensional : mempunyai berbagai dimensi (kemungkinan, segi, dan sebagainya Multikulturalisme : gejala pada seseorang atau suatu masyarakat yang ditandai oleh kebiasaan Orde : sistem Orientasi : pandangan yang mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan paparan (tulisan dan sebagainya) Parameter : ukuran seluruh populasi dalam penelitian yang harus diperkirakan dari 139
Pedagogis yang terdapat di dalam percontoh Persepsi : bersifat mendidik : tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu pertanggungjawaban Premis seseorang atas tugas maupun kewajibannya. Preventif : apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan Profilaksis : bersifat mencegah (supaya jangan terjadi apa-apa) Redesign : pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit Relevan : mendesain ulang Responsif : kait-mengait; bersangkut-paut; berguna secara langsung Retensi : bersifat menanggapi Sistematis : penyimpanan; penahanan Subkultur : teratur menurut sistem; memakai sistem; dengan cara yang diatur baik-baik Transisi : bagian dari suatu kultur Tunawisma : peralihan dari satu keadaan atau tindakan, ke keadaan atau tindakan yang lain Variabel : tidak mempunyai tempat tinggal (rumah); gelandangan : setiap karakteristik, jumlah, atau kuantitas yang dapat diukur atau dihitung; yang ditulis serta dilafalkan seperti kata wajar lainnya. 140
DAFTAR PUSTAKA Gysbers, N. C. & Henderson, P. (2006). Developing & Managing Your School Guidance and Counseling Program. Alexandria: American Counseling Association Wibowo, M.E. (2018). Profesi Konseling Abad 21. Semarang: UNNESS PRESS 141
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141