Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore MODUL AJAR BK_KELOMPOK 4

MODUL AJAR BK_KELOMPOK 4

Published by ersaauliaa13, 2022-07-04 05:15:26

Description: MODUL AJAR BK_KELOMPOK 4

Search

Read the Text Version

dimaksudkan kekuatan adalah kepemimpinan yang dapat mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuai dengan yang diinginkan. Menurut Raven (2004) mengidentifikasi enam dasar kekuatan yaitu: ahli, bereferensi, informatif, sah, penghargaan, dan koersif. Hersey, Blanchard, dan Johnson (2001) menambahkan menjadi tujuh yaitu: koneksi. Menurut Shillingford dan Lambie (2010) mengemukakan bahwa konselor sekolah yang menggunakan praktik kepemimpinan paling efektif untuk meningkatkan program bimbingan dan konseling sekolah melakukannya dengan : a. mengambil tanggung jawab untuk kemajuan program mereka; b. meningkatkan visibilitas mereka sendiri di sekolah mereka; c. mengkomunikasikan visi mereka tentang apa yang diwakili oleh program konseling sekolah yang efektif; d. kerjasama tim untuk meningkatkan pengembangan akademik, pribadi/sosial, dan karir siswa; e. memperjelas peran terprogram mereka sebagai profesional yang unik. (hal. 215) 1) Inisiasi Dalam hal ini ada 10 komponen penting untuk perubahan sistemik atau bertahap: konseptualisasi yang menarik, tujuan moral kolektif, struktur yang tepat untuk menyelesaikan pekerjaan, pengembangan kapasitas individu, pengembangan kapasitas lateral, pembelajaran berkelanjutan, konflik produktif, budaya yang menuntut, eksternal mitra, dan investasi keuangan terfokus. Menjadi tanggung jawab konselor untuk dapat membuat konsep proses penilaian program konseling. Sebagai pemimpin program bimbingan dan konseling, konselor tidak hanya perlu menanggapi kebutuhan konseli, namun konselor juga perlu memastikan bahwa keputusan perubahan program konseling adalah keputusan yang tepat. 2) Implementasi Konselor adalah pemimpin keseluruhan upaya pengumpulan data. Penting agar konselor memastikan kecukupan dalam pengembangan instrumen dan kemudian memastikan bahwa instrumen tersebut relevan dengan model program yang dipilih. Senge dan Kaeufer (2000) mengidentifikasi tiga tahap proses perubahan dan kekuatan di dalam masing-masing yang menghambat perubahan dan cara yang disarankan untuk menangani masing-masing. Mereka menggambarkan tantangan dalam memulai perubahan, tantangan dalam mempertahankan perubahan, dan tantangan dalam membangun desain baru. Beberapa contoh strategi yang ditawarkan Senge dan Kaeufer (2000) untuk mengatasi tantangan yang terkait dengan memulai perubahan — di mana kita berada pada titik ini dalam deskripsi kita tentang proses perubahan — untuk memungkinkan orang 51

mendapatkan kembali kendali atas waktu mereka, berinvestasi dalam bantuan, membuat informasi tersedia bagi anggota, membangun kredibilitas dengan demonstrasi, dan mengembangkan kesabaran di bawah tekanan. 3) Penutup Tanggung jawab terakhir konselor dalam mencapai penilaian program saat ini adalah untuk membantu kelompok kerja merangkum dan menyebarkan data yang telah mereka kumpulkan, Konselor memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa informasi yang diberikan tersampaikan dan dapat dipahami. Data yang digunakan perlu dianalisis oleh konselor, komite pengarah, dan baik bersama-sama atau sendiri-sendiri, oleh tim kepemimpinan konselor sekolah atau semua konselor sekolah jika mereka tidak semuanya menjadi bagian dari komite pengarah. Konselor harus memberikan keterangan data yang jelas, harus dapat menarik kesimpulan mengenai program yang sedang dilaksanakan dan apa yang perlu dicapai kedepannya. Kemudian konselor berada dalam posisi untuk menyatakan desain program konseling dan apa yang menjadi prioritas dalam pelaksanaan program. ➢ Daftar Cek Kemajuan Pada tahap ini, penilaian program bimbingan dan konseling telah selesai. Konselor telah melibatkan banyak anggota sekolah atau staf daerah dan belajar banyak tentang program yang dilaksanakan. Pembelajaran program saat ini konselor telah menentukan seberapa aman, tenaga, dan sumber daya politik yang tersedia; mengidentifikasi kegiatan yang menyusun program saat ini dan memilahnya oleh komponen program model; mengklarifikasi prioritas program untuk a) aplikasi kompetensi konselor sekolah, b) subkelompok klien yang mendapatkan keuntungan dari layanan program dan dalam proporsi apa, dan c) belajar siswa; ditentukan (a) bagaimana konselor sekolah menghabiskan waktu mereka , (b) jumlah klien dan sub kelompok klien yang bertugas program, dan (c) jumlah siswa yang mencapai hasil yang diantisipasi. 52

BAB III PERANCANGAN A. Tujuan Pembelajaran Terdapat beberapa tujuan pembelajaran yang memberikan manfaat kepada Mahasiswa setelah mempelajari materi pada ini, yaitu: 1. Mahasiswa mampu mengerti dan memahami bagaimana cara Mendesain Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif 2. Mahasiswa mampu mengerti dan memahami dalam Merencanakan Transisi Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif 53

B. Peta Konsep 54

C. Deskripsi Materi a. Mendesain Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif ➔ Merancang-Menyesuaikan Model Program Bimbingan dan Konseling Program Bimbingan Konseling Komprehensif ASCA (2012:vii) Program konseling sekolah yang komprehensif merupakan komponen integral dari misi akademik sekolah program konseling sekolah komprehensif, didorong oleh data siswa dan berdasarkan standar akademik, karir dan / pembangunan sosial personal, mempromosikan dan meningkatkan proses pembelajaran untuk semua peserta didik. Program konseling sekolah yang efektif merupakan upaya kolaboratif antara konselor sekolah, orang tua dan pendidik lainnya untuk menciptakan lingkungan yang mengembangkan prestasi belajar siswa. Lebih lanjut menurut Bowers & Hatch (Fathur Rahman, 2002:7) menyatakan bahwa program bimbingan dan konseling sekolah tidak hanya bersifat komprehensif dalam ruang lingkup, namun juga harus bersifat preventif dalam desain, dan bersifat pengembangan dalam tujuan (comprehensive in scope, preventive in design and developmental in nature). Setelah menentukan model Program Bimbingan Konseling yang komprehensif dan data telah terkumpul dan telah menggambarkan program bimbingan dan konseling yang berdasarkan model, tahap selanjutnya dari proses perbaikan adalah merancang program khusus yang sesuai dengan kebutuhan dari siswa, komunitas, sekolah. Visi dari program bimbingan dan konseling harus sesuai dengan realita. Untuk memastikan program bimbingan dan konseling yang tepat untuk siswa dan sekolah ada beberapa hal yang harus dilakukan: 1. Menetapkan prioritas untuk : (a) penggunaan kompetensi konselor sekolah profesional, (b) klien yang akan dilayani, (c) kompetensi bagi siswa untuk dikembangkan, dan (d) kegiatan di masing-masing dari empat komponen sistem penyampaian program. 2. Menetapkan parameter untuk : (a) alokasi waktu konselor sekolah profesional yang akan digunakan di masing-masing dari empat komponen sistem penyampaian program dan (b) alokasi waktu konselor sekolah profesional untuk digunakan melayani masing-masing dari berbagai kategori klien: siswa, orang dewasa, sistem. Perancangan program bimbingan dan konseling komprehensif akan dibantu dan diarahkan oleh komite penasihat sekolah atau masyarakat yang telah dibentuk. Mereka akan membantu dalam pengambilan keputusan sulit yang harus dihadapi. Ada enam tugas utama yang akan dibahas dalam membentuk desain program bimbingan konseling komprehensif antara lain: 55

1. Menentukan struktur dasar yang akan menjadi penyelenggara program, termasuk menyusun komponen struktural dan menentukan komponen program yang sesuai dengan sekolah atau program kabupaten. 2. Mengidentifikasi dan membuat daftar kompetensi siswa menurut bidang isi dan tingkat sekolah atau pengelompokan kelas. 3. Menegaskan kembali dukungan kebijakan untuk program bimbingan dan konseling yang sedang berkembang. 4. Menetapkan prioritas untuk penyampaian program, untuk melengkapi desain kualitatif. 5. menetapkan parameter untuk alokasi sumber daya program,untuk melengkapi desain kuantitatif. 6. Menempatkan semua keputusan secara tertulis dan mendistribusikan deskripsi program kepada semua konselor dan administrator. Tugas ini biasanya dilakukan oleh pimpinan program bimbingan dan konseling. ➔ Langkah Menentukan Program BK Komprehensif 1. Menentukan Struktur Dasar Program Program bimbingan dan konseling yang komprehensif terdiri dari empat elemen: isi; struktur organisasi; sumber daya; dan pengembangan, pengelolaan, dan akuntabilitas. Ini difokuskan pada siswa dan perkembangan mereka. Landasan teoritis dari program bimbingan dan konseling yang komprehensif terdiri dari klasifikasi area konten program dan komponen struktural—definisi, alasan, dan asumsi. Ini mirip dengan kerangka simbolik Bolman dan Deal (2002). Komponen program-kurikulum bimbingan, perencanaan siswa individu, layanan responsif, dan dukungan sistem-menyediakan kerangka organisasi untuk kegiatan program bimbingan dan konseling , taman kanak- kanak hingga kelas 12. Mereka terdiri dari sistem pengiriman dan mirip dengan kerangka struktural Bolman dan Deal. Bagian ini secara singkat merangkum apa yang perlu dilakukan untuk memperjelas struktur organisasi program. ● Area Konten Memilih area konten untuk program yang sesuai dengan dimensi perkembangan manusia yang nantinya akan dibahas dalam program bimbingan dan konseling. Ini adalah langkah pertama dalam menyesuaikan program untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan sekolah, komunitas, distrik, dan negara. 56

● Komponen struktural : a. Definisi Program mencakup pernyataan misi program dan sentralisasinya dalam program pendidikan total distrik sekolah. Untuk melengkapi, pernyataan definisi harus menjawab setidaknya empat pertanyaan: 1. Siapa yang menyelenggarakan program—konselor sekolah bersertifikat profesional, guru, pekerja sosial, psikolog, administrator dan staf lain, orang tua, anggota masyarakat lainnya? 2. Kompetensi apa yang akan dimiliki siswa atau orang lain sebagai hasil dari keterlibatan mereka dalam program? Akankah mereka menjadi warga negara yang bertanggung jawab, menggunakan keterampilan pemecahan masalah, dan berusaha mencapai keunggulan, berkomunikasi secara efektif (dari misi distrik) ? Akankah mereka menghormati orang lain dan diri mereka sendiri (dari misi sekolah) ? Akankah mereka mempertahankan harga diri atau berhubungan secara efektif lintas budaya? 3. Siapa klien dari program ini? Perkembangan siswa mana yang dibantu-semua siswa; siswa kelas 12, kelas delapan, kelas lima, atau taman kanak-kanak; mahasiswa terikat perguruan tinggi; siswa terikat kerja; siswa cacat; siswa minoritas; siswa miskin; siswa berisiko; siswa yang berduka; atau siswa yang menyalahgunakan narkoba? Lalu bagaimana dengan orang tua dan guru? 4. Bagaimana program tersebut diselenggarakan—melalui komponen kurikulum bimbingan dan konseling yang komprehensif, perencanaan individu siswa, layanan responsif, dan dukungan sistem? Atau melalui beberapa pengelompokan organisasi lainnya? b. Dasar pemikiran Dasar pemikirannya menyarankan bahwa program bimbingan dan konseling juga dirancang untuk membantu semua siswa mengembangkan potensi mereka melalui pemberian bantuan perkembangan dan bantuan khusus untuk individu dengan kebutuhan pribadi, sosial, karir, atau pendidikan. c. Asumsi Asumsi adalah premis yang membentuk dan memandu program dan desainnya.Banyak kali asumsi tidak diungkapkan; mereka adalah hal-hal yang diterima begitu saja oleh individu tetapi mungkin tidak dipikirkan atau disetujui oleh orang lain.Asumsi dibuat tentang siswa dan klien lain, program, dan staf program. 57

1. Asumsi Tentang Siswa dan Klien Lainnya. Beberapa asumsi tentang siswa dan klien lainnya meliputi: ➢ Semua anak dan remaja dapat dan ingin belajar . Program bimbingan dan konseling membantu siswa untuk mengembangkan individualitas mereka, berfungsi secara efektif dengan orang lain, dan mengatur nasib mereka sendiri (Borders & Drury, 1992). ➢ Semua siswa berhak mendapatkan bantuan dalam pengembangan pribadi, sosial, pendidikan, dan karir mereka. “Perbedaan budaya itu nyata dan tidak bisa diabaikan” (Lee, 2001, hlm. 259). ➢ Orang tua diundang untuk menjadi mitra penuh dengan pendidik dalam pendidikan anak-anak mereka 2. Asumsi Tentang Program. Beberapa asumsi tentang program tersebut antara lain: ➢ Program bimbingan dan konseling yang akuntabel memberikan keseimbangan yang tepat antara kegiatan dan layanan, merupakan bagian integral dan komponen independen dari total program pendidikan, dan direncanakan, dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis. 3. Asumsi tentang staf program meliputi: ➢ Konselor sekolah profesional sangat penting di sekolah umum saat ini. Konselor sekolah menghabiskan sebagian besar waktu mereka bekerja secara langsung dengan siswa. ● Komponen Program : a. Kurikulum Bimbingan Kurikulum bimbingan merupakan pusat dari bagian pengembangan program bimbingan dan konseling yang komprehensif. Melalui aktivitas komponen, siswa mempelajari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dijelaskan oleh tujuan instruksi bimbingan. Kurikulum disusun berdasarkan tingkat kelas; yaitu, ruang lingkup dan urutan pembelajaran untuk taman kanak-kanak sampai kelas 12. Ini dirancang untuk melayani semua siswa dan sering dilaksanakan melalui bimbingan kelas kecil, atau kelompok besar . Guru dan konselor berkolaborasi untuk memastikan penyampaian kurikulum bimbingan. b. Perencanaan Siswa Individu Kegiatan komponen perencanaan siswa individu juga bersifat pengembangan. Mereka disediakan untuk semua siswa dan dimaksudkan untuk membimbing siswa dalam pengembangan dan pelaksanaan rencana pribadi, sosial, pendidikan, dan karir mereka. 58

Mereka membantu siswa untuk memahami dan memantau pertumbuhan dan perkembangan mereka dan untuk mengambil tindakan pada langkah mereka selanjutnya secara pendidikan atau kejuruan. Kegiatan dalam komponen ini disampaikan baik secara kelompok maupun individu dengan siswa dan orang tua. Guru dan administrator sering terlibat sebagai penasihat. c. Layanan responsif Tujuan dari komponen ini adalah untuk memberikan bantuan khusus kepada siswa yang menghadapi masalah yang mengganggu perkembangan pribadi , sosial , karir, atau pendidikan mereka yang sehat. Komponen ini mencakup kegiatan seperti konseling individu dan kelompok kecil, konsultasi dengan staf dan orang tua, dan merujuk siswa dan keluarga ke spesialis atau program lain. d. Dukungan sistem Dukungan sistem menjadi dua bagian: (a) Pengelolaan program bimbingan dan konseling. (b) Layanan dukungan sekolah. Pengelolaan program bimbingan dan konseling mencakup kegiatan- kegiatan yang diperlukan untuk mendukung ketiga komponen program lainnya. Layanan dukungan sekolah mencakup kegiatan yang dilaksanakan oleh staf bimbingan yang mendukung seluruh sekolah atau program pendidikan khusus lainnya. Kegiatan tersebut meliputi konsultasi dengan guru dan kepala sekolah tentang siswa tertentu, prinsip manajemen perilaku, iklim sekolah, dan perencanaan perbaikan sekolah. 2. Mengidentifikasi dan membuat daftar kompetensi siswa menurut bidang isi dan tingkat sekolah atau pengelompokan kelas. Mengidentifikasi kompetensi yang berhubungan dengan dimensi perkembangan anak dan remaja yang telah dipilih. Pengetahuan apa yang akan diperoleh siswa, keterampilan apa yang akan dikembangkan siswa, dan sikap apa yang akan dibentuk siswa sebagai hasil keikutsertaannya dalam program bimbingan dan konseling. a. Pertama-tama identifikasi area luas pertumbuhan dan perkembangan manusia yang sudah ditetapkan sebagai ruang lingkup program bimbingan dan konseling (dalam Bab 3, kami menyebut domain ini). b. Kedua, menetapkan tujuan dan kompetensi untuk setiap domain dan untuk setiap pengelompokan kelas atau titik akhir suatu tingkat sekolah, seperti pada akhir kelas enam 59

untuk program bimbingan dan konseling SD, pada akhir kelas sembilan untuk menengah atau menengah pertama. program SMA, atau pada akhir kelas 12 untuk program SMA. c. Selanjutnya, saat merencanakan dan mengimplementasikan program. Setiap kegiatan program akan menargetkan tujuan yang membantu siswa membuat kemajuan menuju hasil yang diinginkan. Daftar kompetensi ini merupakan inti dari program bimbingan dan konseling yang komprehensif. Ingat, setiap kegiatan yang dilakukan di setiap komponen program harus mengarah pada penguasaan satu atau lebih kompetensi. 3. Menegaskan Kembali Dukungan Kebijakan Dalam merancang suatu program dibutuhkan dukungan dari beberapa pihak yang mempunyai andil dalam menentukan suatu program bimbingan konseling. Contohnya jika di sekolah ada Kepala sekolah dan anggota staf sekolah lainnya. dalam tahap ini diperlukan penegasan dukungan kebijakan karena orang orang yang memiliki andil atau yang memiliki kebijakan ini lah yang bisa memutuskan apakah program ini sesuai untuk para siswa atau tidak. 4. Menetapkan Prioritas Penyampaian Program (Desain Kualitatif) Prioritas ditetapkan untuk penggunaan kompetensi konselor dan orang lain, untuk klien yang akan dilayani, untuk kompetensi siswa yang akan ditargetkan, dan untuk kegiatan yang akan disediakan. ● Prioritas Kompetensi Konselor Sekolah Sertifikasi konselor menurut Dewan Akreditasi Konseling dan Program Pendidikan Terkait, 2009; Dewan Nasional untuk Konselor Bersertifikat, 2004; Dewan Nasional untuk Standar Pengajaran Profesional, 2002) mencakup pertumbuhan dan perkembangan manusia, dasar-dasar konseling sekolah , pengembangan kompetensi siswa, konteks sosial dan budaya dan kompetensi multikultural, teori dan teknik konseling, konsultasi dan kolaborasi dengan orang dewasa lain dalam kehidupan siswa, penilaian siswa, pengembangan program, orientasi profesional, advokasi untuk klien, kepemimpinan, penelitian dan evaluasi, sumber daya dan teknologi informasi, serta praktikum atau magang. Model Evaluasi Texas Untuk Konselor Sekolah Profesional (Texas Counseling Association, 2004) menggambarkan delapan domain yang menggambarkan tanggung jawab konselor sekolah: manajemen program, bimbingan, konseling, konsultasi, koordinasi, penilaian siswa, perilaku profesional, dan standar profesional. Setelah mendefinisikan dengan jelas apa yang harus dilakukan oleh konselor dan apa tanggung jawab generik mereka dalam program, prioritas untuk penggunaan kompetensi mereka sekarang dapat ditetapkan. Urutan peringkat berdasarkan peran adalah salah satu metode, 60

tetapi menetapkan prioritas berdasarkan kompetensi memberikan lebih banyak arahan. Prioritas tertinggi diberikan kepada keterampilan yang hanya dimiliki oleh konselor sekolah: mengelola program bimbingan dan konseling dan menyediakan layanan konseling individu dan kelompok. Seorang konselor/pendidik konselor menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Depdiknas, 2005a), dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Depdiknas, 2005b), memiliki empat kompetensi pendidik sebagai agen pembelajaran, yakni: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial (Prayitno, 2009:59). Sehubungan dengan hal itu, kompetensi yang harus menjadi pegangan oleh konselor adalah Standar Kompetensi Konselor Indonesia (SKKI) dalam konteks PP 19/2005. ● Prioritas untuk Staf Program Bimbingan dan Konseling Lainnya Pertimbangkan peran personil departemen bimbingan lainnya seperti pencatat, teknisi pusat karir, sekretaris konselor, pembantu kantor, dan fasilitator sebaya. Semua personil yang bekerja dalam program bimbingan dan konseling harus memiliki peran yang ditentukan, termasuk guru yang bertindak sebagai penasihat atau yang mengajar kelas bimbingan atau psikologi dan sukarelawan masyarakat yang menambah staf bimbingan dalam kegiatan bimbingan tertentu. ● Prioritas Orang Tua Standar Etika ASCA (2010) menyatakan bahwa konselor sekolah profesional “menghormati hak dan tanggung jawab orang tua/wali untuk anak - anak mereka dan berusaha untuk membangun hubungan kolaboratif yang sesuai dengan orang tua/wali untuk memfasilitasi perkembangan maksimal siswa” ● Prioritas Klien yang Akan Dilayani Secara global, konselor sekolah bekerja dengan dua populasi dasar: siswa dan orang dewasa yang berhubungan dengan siswa. Dalam populasi siswa, ada sub kelompok siswa, dengan kebutuhan untuk intervensi pencegahan, perbaikan, atau krisis perkembangan. Setiap tingkat kelas mewakili subpopulasi perkembangan dan juga termasuk siswa dengan kebutuhan untuk pencegahan, perbaikan, atau intervensi krisis. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, sub kelompok (misalnya, kelompok ras dan etnis) siswa dapat mencakup siswa dari beberapa tingkat kelas. Subkelompok siswa juga dapat jatuh di tempat yang berbeda pada kontinum kesehatan mental (penyakit mental). Dalam populasi orang dewasa, ada orang tua, orang dewasa terkait sekolah, dan orang dewasa berbasis komunitas yang bekerja dengan siswa. Populasi orang tua mencerminkan himpunan bagian siswa. Staf sekolah termasuk guru pendidikan reguler dan khusus, spesialis lain, konselor lain, dan administrator. 61

● Prioritas Kompetensi Siswa Bidang dan Keterampilan Penting agar konselor dan konsumen program bimbingan dan konseling menetapkan prioritas kompetensi yang akan diperoleh siswa sebagai hasil partisipasi mereka dalam program bimbingan dan konseling. Konselor menerima tanggung jawab untuk membantu siswa dengan kebutuhan tingkat perkembangan, pencegahan, perbaikan, dan tingkat krisis. Dengan demikian, prioritas kompetensi mana yang akan dimasukkan dalam program pada waktu tertentu perlu ditetapkan. Tujuan untuk pengembangan kompetensi siswa dapat dan harus diberi peringkat sesuai dengan kepentingannya secara keseluruhan untuk semua siswa. ● Prioritas Kegiatan Bimbingan untuk Setiap Komponen Komponen Program sekarang perlu didefinisikan secara lebih rinci dengan menjelaskan penekanan utama dan kegiatan utama yang tercakup dalam masing masing komponen. Setiap komponen program yang diinginkan harus dibuat daftar kegiatan yang dilakukan secara efektif dalam program saat ini dan mengidentifikasi dan membayangkan kegiatan baru yang dapat memenuhi tujuan program. 5. Menetapkan Parameter untuk Alokasi Sumber Daya (Desain Kuantitatif) Dua faktor yang mempengaruhi desain program kuantitatif adalah keseimbangan program dan rasio konselor-siswa. Dalam Pengaturan yang ideal, kebutuhan siswa dan masyarakat yang teridentifikasi akan membenarkan alokasi sumber daya yang cukup untuk menyediakan program yang lengkap dan komprehensif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, dalam situasi nyata, tidak diragukan lagi ada lebih banyak kebutuhan dan hasil yang diinginkan daripada yang dapat dipenuhi oleh sekolah atau kabupaten, dengan alokasi sumber daya yang layak. Dalam analisis terakhir, program bimbingan dan konseling harus dirancang untuk menggunakan sumber daya yang tersedia, atau kampus atau daerah harus menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan program seperti yang dirancang. Harus membuat rekomendasi berdasarkan alokasi sumber daya saat ini dengan beberapa proyeksi atau permintaan untuk sumber daya yang diperluas. Staf konseling sekolah pertama-tama harus mengarahkan kembali sumber daya mereka saat ini dan bersiap untuk menggunakan sumber daya tambahan dengan tepat. Pada titik ini,perlu membuat keputusan alokasi sumber daya berdasarkan prioritas dan realitas sekolah. 6. Tulis dan Bagikan Deskripsi Program 62

Dengan desain program yang diinginkan telah ditetapkan, langkah terakhir yang harus dilakukan adalah menuliskan semua keputusan yang dibuat. Seperti halnya publikasi tertulis lainnya, dokumen harus menggambarkan keseluruhan yang kohesif, memiliki urutan yang logis, dan ditulis dengan gaya yang konsisten dan ringkas. b. Merencanakan Transisi Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif ➔ Model Bimbingan dan Konseling Komprehensif di Indonesia Pengembangan dan implementasi dari bimbingan dan konseling komprehensif berkembang secara cepat di Amerika. Penelitian Martin, Carey, dan De Coster (Gysbers 2012:27) menemukan bahwa saat itu baru terdapat 17 negara bagian yang memiliki model program yang tetap, 24 negara bagian dalam proses implementasi, dam 10 negara bagian masih pada tahap awal pengembangan model. Meskipun model ini diadopsi dari model ASCA yang tujuan dikembangkan untuk mengatasi masalah yang dialami oleh bimbingan dan konseling di Amerika Serikat, namun model ini dapat diadaptasikan di Indonesia. Model bimbingan dan konseling komprehensif memberikan kesempatan bagi bimbingan dan konseling di Indonesia agar dapat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Adaptasi modeli ini memberi peluang bagi konselor agar mereka bisa menunjukkan kinerjanya, sehingga profesi bimbingan dan konseling bisa mendapat pengakuan dari masyarakat. Model bimbingan dan konseling komprehensif di Amerika yang telah diadopsi oleh Indonesia tercantum dalam Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Substansi dari permendikbud ini meliputi komponen program, bidang layanan, struktur program layanan, serta kegiatan dan alokasi waktu. ➔ Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Menurut ASCA, program bimbingan dan konseling sekolah yang komprehensif merupakan komponen integral dari misi akademik sekolah program bimbingan dan konseling sekolah komprehensif, didorong oleh data siswa dan berdasarkan standar akademik, karir dan pembangunan sosial personal, mempromosi dan meningkatkan proses pembelajaran untuk semua peserta didik. Menurut Sugiyo bimbingan dan konseling komprehensif diprogramkan untuk tujuan, yaitu pengenalan, akomodasi, dan tindakan. Semua peserta didik wajib memperoleh layanan bimbingan dan konseling, sehingga persepsi bahwa focus bimbingan dan konseling hanyalah siswa. Oleh karena itu dalam bimbingan dan konseling harus memperhatikan : 63

1. Ruang lingkup menyeluruh, 2. Dirancang untuk lebih berorientasi pada pencegahan, 3. Tujuannya untuk pengembangan potensi peserta didik. Dalam penyusunan program bimbingan dan konseling komprehensif, harus dapat memahami desain yang telah disepakati dan cara implementasikannya, ➔ Prosedur Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Menurut Schmidt (2008:90), prosedur dalam penyusunan program bimbingan dan konseling komprehensif adalah perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penerapan (implentating), dan evaluasi (evaluation). 1. Perencanaan (Planning) Proses perencanaan program bimbingan dan konseling di sekolah, seharusnya dilakukan secara terbuka, bukan hanya guru bimbingan dan konseling saja, namun harus melibatkan seluruh pihak yang memiliki peran penting dalam pengambilan kebijakan. Yang dilakukan dalam tahap perencanaan adalah berfokus pada prosedur kepemimpinan dan keputusan tentang schoolwide, mengadakan asesmen pada siswa, orang tua, dan guru, setelah itu merancang tujuan yang objektif. 2. Perancangan (Designing) Tahap perancangan memiliki peran sebagai arahan dalam penyusunan program bimbingan dan konseling komprehensif. Gysbers mengatakan ada enam tahap untuk bisa mewujudkan desain program BK, sebagai berikut : a. Menentukan struktur program dasar dari program yang akan disusun. b. Merancang kompetensi siswa berdasarkan isi wilayah dan tingkat sekolah, c. Menegaskan kembali dukungan kebijakan pengembangan program bimbingan dan konseling, d. Menetapkan prioritas pada program delivery, e. Menetapkan parameter untuk alokasi sumber daya program, f. Menempatkan semua keputusan secara tertulis dan mendistribusikam pendoman pelaksanaan program kepada semua konselor dan pengelola. 3. Penerapan (Implementation) Menurut Gysbers terdapat beberapa rekomendasi aktualisasi program untuk perubahan, pemimpin program bimbingan dan konseling perlu mempertimbangkan sumber daya personil, sumber daya keuangan, dan sumber daya politik program bimbingan dan konseling. ➢ Sumber daya Personil 64

1) Mengimplementasikan rasio jumlah siswa : konselor yang direkomendasikan. Untuk standar di Indonesia rasio konselor dengan siswa yaitu 1 : 150 siswa. 2) Mengembangkan deskripsi tugas konselor sekolah 3) Menetapkan tingkat peran dan tanggung jawab pemimpin program bimbingan dan konseling. 4) Mengembangkan deskripsi tugas untuk semua personil yang terlibat dalam program bimbingan dan konseling 5) Memperjelas hubungan dalam organisasi program bimbingan dan konseling. ➢ Sumber daya Keuangan Menetapkan anggaran pada setiap bagian bimbingan Mengeksplorasi penggunaan sumber daya luar sekolah Mengembangkan panduan sumber daya komponen program bimbingan dan konseling Menetapkan fasilitas standar bimbingan ➢ Sumber Daya Politik Memperbaharui kebijakan dan prosedur yang ada Memunculkan dukungan dari tingkatan konselor, pengelola, dan guru Bekerja dengan resisten terhadap staf pendukung Bekerja dengan unsur penting yaitu orang tua yang bersangkutan 4. Evaluasi (Evaluation) Setelah pada tahap perencanaan, perancangan, implementasi program selesai, maka selanjutnya melangkah ke tahap evaluasi. Gysbers mengartikan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan dan menganalisis tentang program atau intervensi dengan cara tertib untuk membuat keputusan Pengembangan program bimbingan dan konseling komprehensif perlu dirancang secara jelas. Maka dari itu perlu disusun petunjuk dalam penyusunan program bimbingan dan konseling komprehensif. Pendoman ini bersisi tentang bagaimana mengembangkan program bimbingan dan konseling komprehensif yang tepat, agar tujuan dapat dicapai. Pengembangan program bimbingan dan konseling komprehensif perlu dirancang secara jelas. Maka dari itu perlu disusun petunjuk dalam penyusunan program bimbingan dan konseling komprehensif. Pendoman ini bersisi tentang bagaimana mengembangkan program bimbingan dan konseling komprehensif yang tepat, agar tujuan dapat dicapai. ➔ Langkah - langkah Merencanakan Transisi Program BK Komprehensif 1. Tentukan Perubahan yang Diperlukan untuk Menerapkan Komprehensif A. Membandingkan dan Membedakan Program Saat Ini dengan Program yang Diinginkan. Setelah mempelajari program yang saat ini digunakan dan telah menetapkan desain untuk program yang diinginkan, pastinya sekarang sudah memiliki informasi yang dibutuhkan untuk bisa di bandingkan dan bedakan keduanya. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi tempat-tempat dimana program tersebut adanya tumpang-tindih, tapi 65

yang terpenting adalah ketika dimana terdapat celah-celah yang mungkin perlu diisi maupun di perbaiki. Tidak hanya itu kita juga akan mengidentifikasi beberapa tempat di mana desai program antara apa yang kita inginkan. Menurut Northside Independent School District untuk mempelajari perbedaan dalam setiap aspek desain program, data yang paling berguna untuk membandingkannya adalah data tentang alokasi waktu konselor sekolah untuk setiap komponen program yang terdiri dari kegiatan. Suatu aktivitas menggabungkan semua aspek desain seperti klien berpartisipasi dalam aktivitas; tujuannya untuk membuat siswa seperti yang diharapkan; dan kompetensi konselor sekolah digunakan. Kemudian kita mampu untuk mengidentifikasi secara kuantitatif maupun subjektif tempat-tempat di mana program yang saat ini digunakan dengan program yang kita inginkan. Lalu mengidentifikasi kesenjangan dalam desain program Anda saat ini dibandingkan dengan program yang diinginkan menunjukkan dua jenis perubahan yang mungkin perlu dilakukan. Kesenjangan berarti anda tidak cukup melakukan apa yang diinginkan atau anda tidak melakukannya sama sekali. B. Menetapkan Tujuan untuk Perubahan Setelah mengidentifikasi perbedaan dengan jelas antara program saat ini dengan program yang diinginkan, kita siap untuk bisa menarik kesimpulan. Dalam step ini kita mampu mempelajari setiap set data perbedaan dan mengidentifikasi kesenjangan. Kesimpulan dari studi Texas (Rylander, 2002) terdapat kontras desain program saat ini dan yang diinginkan : 1. Meningkatkan waktu yang dihabiskan oleh konselor dalam kurikulum bimbingan, 2. Meningkatkan waktu yang dihabiskan oleh konselor dalam layanan responsive, 3. Mengurangi waktu yang dihabiskan konselor dalam kegiatan non-bimbingan. Daftar ini perlu dipresentasikan kepada pihak-pihak sekolah dan masyarakat untuk memungkinkan mereka bisa mengetahui masalah yang spesifik yang perlu ditangani. Dari sinilah kita perlu merekomendasikan untuk segera mengambil perubahan. C. Mengidentifikasi Cara untuk Mempengaruhi Perubahan Setelah masalah telah diidentifikasi melalui analisis perbedaan dan rekomendasi untuk perubahan yang telah di buat, maka semua staf dan orang yang terlibat dalam upaya pengembangan program perlu mengidentifikasi cara untuk mencapai rekomendasi dan membuat perubahan. Adelman dan Taylor (2003) menyebutnya sebagai \"mengklarifikasi kelayakan\". Sebagian besar upaya perbaikan program memerlukan membuat tiga jenis perubahan dalam program bimbingan dan konseling sekolah : 1. Perubahan sistemik : Perubahan besar yang mengakibatkan program dapat berubah 2. Perubahan Inkremental (bertahap) : Langkah-langkah kecil dalam urutan perubahan. Ketika berhasil, masing-masing akan mengalami pergeseran program. Paling 66

sering, mereka ditetapkan dalam konteks tujuan perubahan sistemik. 3. Perubahan berkelanjutan : Perubahan ini paling berhasil ketika mereka menjadi bagian dari proses terstruktur tahunan. Perbaikan ini bisa mengubah program. Direkomendasikan bahwa siapapun yang terlibat dalam proses perubahan program ini dapat bertukar pikiran tentang cara-cara untuk bisa membuat perubahan dan mencapai tujuan dari perubahan tersebut. Dalam proses ini mereka bisa merasakan kelayakan perubahan dan menggerakan pemikiran mereka tentang bagaimana rekomendasi ini dapat dilakukan sesuai dengan keinginan. 2. Mengembangkan Rencana untuk Mencapai Program Pemerintah Peningkatan A. Mencantumkan Apa yang Perlu Dilakukan untuk Menerapkan Perubahan. Membuat daftar apa saja yang harus dilakukan namun harus berupa daftar yang berorientasi pada tindakan, bukan daftar keinginan yang tidak jelas, dan tindakan tersebut harus layak. Contoh rekomendasi tindakan yang akan diambil , dikutip dari evaluasi program bimbingan dan konseling : 1. Yayasan Program ⮚ Digunakan untuk menjadi dorongan dari Rencana Strategis yang bertujuan untuk bisa memajukan program bimbingan dan kinerja konselor yang profesional di suatu sekolah. ⮚ Di setiap sekolah perlu untuk mengidentifikasi emosional dan sosial siswa yang spesifik terkait dengan tujuan rencana strategis untuk bisa menentukkan tujuan dan hasil yang diinginkan untuk pemngembangan pribadi, sosial, pendidikan, karir siswa, dan isi program. ⮚ Mengembangkan visi dan misi program terpadu dalam misi wilayah dan dalam standar konseling sekolah hukum. Etika, dan profesional saat ini. 2. Konselor dan Anggota Staf Lain Melaksanakan Program Panduan ⮚ Tentukan dengan jelas peran, tanggung jawab, dan deskripsi pekerjaan yang sesuai untuk anggota staf yang terlibat dalam program ini. ⮚ Mendorong para profesional untuk menggunakan label yang sesuai dan terkini untuk identitas profesional mereka. ⮚ Memanfaatkan sepenuhnya pelatihan dan kompetensi konselor profesional di sekolah. 3. Konten yang Diberikan Kepada Siswa Dalam Program ⮚ Mengembangkan kurikulum bimbingan kelas Pra-K-12 yang menangani kebutuhan siswa yang diidentifikasi terkait Rencana Strategis (pendidikan karakter, peningkatan aset kesehatan/pembangunan, mengurangi perilaku berisiko, keterampilan belajar, 67

berorganisasi, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan memimpin). 4. Sistem Penghantaran ⮚ Memberikan pendidikan dan pelatihan in-service untuk konselor dalam model program bimbingan dan konseling perkembangan yang komprehensif. 5. Proses Pengembangan Program ⮚ Menerapkan proses sistematis untuk pengembangan, desain, peningkatan program Pre- K-12 yang mengarah pada misi program bimbingan dan konseling yang diartikulasikan dengan jelas sesuai dengan misi Kabupaten. Langkah pertama dalam proses ini memerlukan penyelarasan aktivitas program saat ini yang sesuai dengan template model. ⮚ Tunjuk kepemimpinan dan tanggung jawab untuk mengarahkan proses pengembangan program, memantau peningkatan program, dan mengawasi kualitas kinerja konselor. ⮚ Mendorong konselor sekolah dan administrator mereka untuk terus mencari cara-cara kreatif untuk mengurangi waktu konselor dalam tugas-tugas non bimbingan dan dengan klien prioritas kedua (misalnya, orang tua, guru, administrator), dan meningkatkan waktu dalam kurikulum bimbingan, konseling kelompok, dan bimbingan kelompok. 6. Evaluasi dan Akuntabilitas ⮚ Setelah kegiatan program didasarkan pada konten bimbingan yang menangani kebutuhan siswa yang teridentifikasi, ukuran pertumbuhan siswa di di bidang ini dapat diukur. ⮚ Gunakan formulir dan system yang relevan secara profesional untuk evaluasi kinerja konselor. ⮚ Memberikan pelatihan terkait pelatihan untuk evaluator konselor dan pekerja sosial B. Menguraikan Rencana Induk Anda untuk Pengembangan Sumber Daya. Rencana induk menentukan apa yang perlu dilakukan dalam urutan. Jika anda adalah pemimpin program bimbingan dan konseling, rencana induk bisa memberi arahan terkait pekerjaan anda untuk bisa melanjutkan proyek yang telah dikerjakan. 3. Memulai Upaya Peningkatan Program Tingkat Bangunan Pada hal ini, proyek peningkatan bimbingan dan konseling menjadi dua tingkat. Konselor dan administrator tingkat sekolah yang terlibat secara sukarela, kecuali untuk menanggapi kebutuhan pengumpulan data proyek. Ketika harapan minimum kabupaten 68

program bimbingan dan konseling diadopsi, maka tanggung jawab beralih ke sekolah lokal di kabupaten tersebut. Program diubah guna untuk memenuhi harapan tersebut. Untuk membuat perubahan yang tepat, konselor dan administrator sekolah pada setiap sekolah mendesain ulang program agar selaras dengan program kabupaten serta untuk memastikan untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan prioritas siswa dan masyarakat setempat. Perlu diingat bahwa konselor sekolah dan kepala sekolah harus memiliki kesamaan visi dalam program bimbingan. Misi program bimbingan sekolah adalah bagian dari visi sekolah, yang mana misi utamanya adalah untuk membantu siswa belajar. A. Membantu Staf Sekolah untuk Mempersiapkan Perubahan Seorang pemimpin program bimbingan dan konseling membantu staf konseling saat menghadapi tantangan dan memberdayakannya untuk membuat perubahan yang diperlukan. Hambatan yang sering muncul termasuk dalam kebutuhan konselor sekolah untuk mengubah filosofi mereka tentang apa yang dilakukan dan mengapa melakukannya, untuk mengatasi ketakutan akan kegagalan dalam memenuhi peran baru atau bahkan berbeda. Pemimpin program bimbingan dapat menjaga pemberdayaan profesional konselor sekolah dengan membangun suasana interpersonal yang saling menghormati, dengan memastikan tentang program yang diharapkan untuk kinerja di dalamnya, dengan mengembangkan dan mempertahankan pendekatan tim untuk pengembangan dan implementasi program, serta meminta pertanggung jawaban konselor sekolah untuk pekerjaan dalam program (Henderson & Gysbers, 1998). Konselor sekolah membutuhkan bantuan untuk menggabungkan pemahaman mereka tentang program bimbingan dan konseling komprehensif. Hal tersebut perlu merancang program untuk membangun berdasarkan wilayah yang diinginkan. Hal ini, pada kenyataannya justru sebaliknya. Setiap konselor sekolah juga perlu menjadi pemimpin dalam mengubah program bimbingan dan konseling dalam sekolahnya. Shillingford dan Lambie (2010) mengemukakan bahwa konselor sekolah yang menggunakan praktik cenderung menjadi pemimpin sekolah yang sukses: ● Mengambil tanggung jawab untuk kemajuan program, ● Meningkatkan visibilitas sendiri di sekolah, ● Mengkomunikasikan visi tentang apa yang diwakili oleh program konseling sekolah yang efektif, ● Kerjasama tim untuk meningkatkan pengembangan akademik, pribadi/sosial, dan karir siswa, ● Memperjelas program sebagai profesional yang unik dengan pengetahuan dan keterampilan. B. Memahami Desain dan Deskripsi Program yang Diinginkan di Seluruh Wilayah Pada saat ini konselor sekolah perlu memahami struktur program baru. Pada hal tersebut direkomendasikan setelah adanya presentasi formal dan distribusi deskripsi 69

program komprehensif tertulis. Diskusi kelompok kecil diadakan dengan konselor sekolah guna untuk mengklasifikasikan kesalah pahaman, memperbaiki informasi yang salah, dan memastikan bahwa semua telah memahaminya. Konselor sekolah diberi waktu dua minggu untuk membaca panduan, menulis tanggapan terhadap agenda diskusi, dan mendiskusikan dalam rapat staf sekolah. Setiap pemimpin penasihat menulis rangkuman pembahasan. Ringkasan informasi didiskusikan dengan semua pemimpin konselor di salah salah satu pertemuan. Pada akhir proses ini, para konselor sekolah diharapkan dapat mengetahui pedoman program bimbingan dan konseling komprehensif. Sebagai langkah terakhir konselor sekolah diminta untuk mengadakan pertemuan dengan administrator sekolah mereka untuk meringkas deskripsi program dan menyarankan program. C. Memahami Proses Pengembangan Program Dalam titik ini, disarankan agar konselor sekolah dididik tentang langkah langkah dalam proses yang ingin digunakan. Proses yang disarankan memerlukan penilaian program, menilai kebutuhan siswa dan masyarakat, merancang program yang diinginkan, menetapkan tujuan untuk perubahan, dan merencanakan bagaimana perubahan akan dilakukan. D. Memahami Status Program Tingkat Bangunan Saat ini Pada titik ini, kegiatan bimbingan yang dilakukan dalam program pembangunan saat ini perlu diatur sesuai dengan komponen program bimbingan dan konseling yang komprehensif, dan kompetensi yang mereka bantu untuk dicapai oleh siswa perlu ditentukan. Daftar klien yang dilayani oleh program pembangunan perlu dibuat, bukan berdasarkan nama individu tertentu tetapi berdasarkan kategori dan nomor. E. Merancang Tingkat Bangunan yang Diinginkan Dengan pengembangan desain untuk program yang diinginkan setiap bangunan, tahap perancangan upaya pengembangan program selesai. Anda siap untuk melakukan transisi ke implementasi program. Namun, sebelum kita beralih ke saran untuk melakukan transisi ke program baru, inilah saatnya untuk mempertimbangkan untuk memastikan perhatian Anda pada keragaman dan memperluas basis kepemimpinan untuk upaya implementasi program. 4. Perluas Basis Kepemimpinan Sampai saat ini, kepemimpinan telah diberikan oleh konselor sekolah pada komite pengarah dan komite penasihat sekolah-masyarakat. Selain itu, ada pemimpin lain yang ditunjuk dari konselor sekolah—pemimpin staf program bimbingan dan konseling sekolah (Henderson & Gysbers, 1998)—yang memiliki beberapa tanggung jawab untuk upaya peningkatan program dan yang akan memiliki lebih banyak tanggung jawab saat Anda 70

memasuki program. desain ulang dan implementasi di tingkat bangunan lokal. Pada saat ini, basisi kepemimpinan harus diperluas dengan dua cara : ● Meningkatkan jumlah konselor sekolah yang mengembangkan program kegiatan yang sesuai ● Meningkatkan peran kepemimpinan program bimbingan dan konseling sekolah dan pemimpin staf Dengan menetapkan dua kategori pemimpin yang berbeda, tersedia beberapa pilihan dalam memilih pemimpin untuk pengembangan program. Dengan demikian, pemimpin pengembangan program adalah mereka yang membantu pelaksanaan program baru di tingkat kabupaten dan mengembangkan kegiatan program baru ; Mereka adalah innovator program. Program Bimbingan dan Konseling sekolah dan pimpinan staf adalah pengelola program sebagaimana dilaksanakan di sekolah mereka adalah pengelola program. Mereka bertanggung jawab atas pelaksanaan program. Program bimbingan dan konseling tingkat kabupaten dan pemimpin staf perlu menyadari kekuatan dan kelemahan dari pemimpin konselor sekolah formal yang ditunjuk di sekolah dan perlu mengidentifikasi pemimpin sebaya pengembangan program yang berpotensi berhasil untuk membangun tim kepemimpinan yang kuat untuk implementasi program. Faktanya, salah satu isu penting untuk implementasi program bimbingan komprehensif yang efektif yang diidentifikasi dalam survei nasional pemimpin dan praktisi program bimbingan dan konseling sekolah adalah tentang pemberdayaan pemimpin bimbingan di sekolah dan wilayah (Henderson & Gysbers, 2002) Namun karena kurangnya pelatihan khusus untuk membangun program bimbingan dan konseling dan pemimpin staf dan kelangkaan literatur tentang masalah ini, program bimbingan dan konseling dan pemimpin staf mungkin memerlukan pendidikan dan pelatihan dalam jabatan tentang aspek kepemimpinan staf dari pekerjaan mereka, termasuk pengawasan, dan penggunaan kekuasaan secara efektif. Sebelas keterampilan kepemimpinan penting diidentifikasi dalam contoh pemimpin yang berhasil menyelesaikan masalah kritis (Henderson & Gysbers, 2002): A. Peka dan tanggap terhadap kebutuhan orang lain. B. Terima kenyataan. C. Terbuka dan menerima orang lain. D. Membangun hubungan dengan orang lain. E. Berkomunikasi dan berkolaborasi dengan orang lain. F. Pertahankan integritas sistem nilai/kepercayaan profesional. G. Terima tanggung jawab atas apa yang menjadi milik Anda. H. Terima konsekuensi dari tindakan Anda. I. Kembangkan dan memanfaatkan sistem pendukung dan sumber daya dengan baik. 71

J. Sadari bahwa kita semua sedang dalam proses. K. Tetapkan tujuan perbaikan dan rencanakan bagaimana cara untuk dapat mencapainya. 5. Peran dan Tanggung Jawab Pemimpin Program Bimbingan dan Konseling Fase proyek peningkatan program bimbingan dan konseling ini menghasilkan pergeseran kepemimpinan yang jelas dari komite pengarah dan komite penasehat menjadi pemimpin program bimbingan dan konseling. Seperti pada fase-fase sebelumnya, sebagai pemimpin bimbingan dan konseling harus terus menjadi penggerak utama. Sebagai pemimpin harus bertanggung jawab untuk membantu staf lain yang sedang merencanakan program bimbingan dan konseling yang lebih baik, juga memiliki tugas manajemen dan administrasi program serta tugas kepemimpinan dan pengawasan staf untuk bisa diselesaikan. Sebagai pemimpin juga harus mengetahui dengan jelas tentang seberapa banyak desain baru untuk dapat diimplementasikan dengan sumber daya yang tersedia saat ini. Harapan untuk perubahan harus segera realistis. 6. Memeriksa Kemajuan Program Pada titik ini, guru BK telah mengembangkan rencana dan mengambil langkah langkah untuk menerapkan program bimbingan dan konseling yang lebih baik, yaitu : A. Proses Pengembangan Program Berdasarkan model program bimbingan yang komprehensif. B. Guru BK telah melanjutkan proses pengembangan program dengan : ● Menentukan tujuan dan membuat rekomendasi untuk bergerak maju ke program yang diinginkan ● Menetapkan prioritas untuk membuat kebutuhan sistemik, tambahan, dan berkelanjutan perubahan dan perbaikan. ● Mengklarifikasi langkah-langkah tindakan untuk mencapai perubahan. ● Mengembangkan rencana induk untuk mengembangkan sumber daya yang dibutuhkan. C. Fokus yang Diperluas Guru BK telah memperluas basis kepemimpinan untuk terus memajukan program kabupaten melalui program inovatif perkembangan dan mengembangkan dan mengelola program bimbingan dan konseling sekolah dan anggota staf. Guru Bk mungkin akan merasa pada titik ini terus-menerus berenang ke hulu, menjelaskan alasan, dan mempertahankan rekomendasi, tetapi setiap perubahan konstruktif menghasilkan perubahan lain. Pada akhirnya, momentum untuk perubahan mengambil alih. Saat ini, Guru BK sedang memasuki tahap implementasi proyek peningkatan program. 72

BAB IV PELAKSANAAN A. Tujuan Pembelajaran Terdapat beberapa tujuan pembelajaran yang memberikan manfaat kepada Mahasiswa setelah mempelajari materi pada ini, yaitu: 1. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami lebih dalam mengenai transisi program program dalam Bimbingan dan Konseling komprehensif. 2. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami mengenai bagaimana mengelola program baru Bimbingan dan Konseling Komprehensif. 3. Mahasiswa mampu mengerti dan memahami lebih dalam mengenai kompetensi konselor. 73

74

B. Peta Konsep 75

C. Deskripsi Materi a. Transisi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif 1. Implementasi Rencana Awal Kegiatan Mengenai Transisi Setelah membuat perencanaan untuk perubahan, mengaplikasikan panduan dan model konseling yang komprehensif, melakukan penilaian program dan menetapkan rancangan program baru yang diinginkan, juga merencanakan transisi dari program sebelumnya ke program baru yang diharapkan menjadi lebih baik dan optimal. Selain itu juga diharuskan siap dalam mengembangkan mekanisme untuk memelihara program setelah program dirilis. Fase ini merupakan fase yang paling penting dari keseluruhan proses peningkatan program, sehingga perlu memperhatikan berbagai hal yaitu: 1) Tahapan proses transisi dari program sebelumnya ke program yang baru yang diharap memberikan efek maksimal pada hasil. 2) Sumber daya yang dibutuhkan agar program berjalan optimal. 3) Fasilitas baru yang ditawarkan untuk memberikan stimulus terhadap perubahan yang optimal. ● Rencana Kegiatan Dalam melakukan transisi program bimbingan dan konseling komprehensif perlu adanya pembuatan rencana kegiatan agar program baru tersebut dapat berjalan secara optimal. Rencana kegiatan adalah penjelasan dari program yang menggambarkan struktur isi program, baik kegiatan untuk memfasilitasi peserta didik/konseli agar mencapai kemandirian dalam kehidupannya. Disisi lain untuk pengembangan sumber daya, perlu adanya pimpinan program bimbingan dan konseling yang dibantu oleh pengarah bimbingan komite, mengidentifikasi tugas utama yang perlu dilakukan, mengembangkan dan memberi perintah untuk melakukan, dan mengidentifikasi orang-orang yang akan terlibat dalam mencapai hasil yang diinginkan. Maka dari itu sangat penting membuat rencana awal kegiatan untuk memfasilitasi efisiensi konselor yang bertanggung jawab untuk melaksanakan program. 76

● Syarat penyusunan rencana kegiatan Paling tidak memenuhi unsur 5W+1H (what, why, where, who, when, and how). a) Mengidentifikasi dan menyusun tugas yang harus dilakukan b) Menentukan orang yang melakukannya/bertugas c) Mempertimbangkan waktu untuk melaksanakan tugas yang diberikan d) Berapa lama waktu yang diperlukan untuk melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling dalam setiap komponen program perlu dirancang dengan cermat e) Pernyataan atau keterangan tentang hasil akhir dari tugas yang telah diberikan Setiap sekolah memiliki rencana kegiatan yang berbeda tergantung kebutuhan dan pengembangan sumber daya yang diperlukan. Jika program berfokus pada pengembangan staf, maka direkomendasikan untuk terdapat layanan pelatihan, pengembangan deskripsi pekerjaan atau pengawasan, dan peningkatan evaluasi kinerja agar dapat mencapai hasil akhir yang sudah ditentukan. Dalam perbaikan sumber daya yang sistematis dan terstruktur perlu adanya kolaborasi dari berbagai pihak dari pemerintah, konselor hingga keterlibatan guru mata pelajaran. Konselor harus bekerja sama dengan pengawas dan staf lainnya dan dengan kepala sekolah untuk melakukan perubahan/perbaikan yang diperlukan. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak tersebut tujuan layanan dan kompetensi akan terwujud. 2. Mengetahui Pengorganisasian Kegiatan Bimbingan dan Konseling Setelah rencana kegiatan tersusun berikutnya adalah melaksanakan kegiatan tersebut. Dalam kegiatan manajemen administratif terdapat pengorganisasian atau sistem kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditentukan. Pengorganisasian program bimbingan dan konseling adalah suatu bentuk kegiatan yang berupaya melibatkan orang-orang dalam organisasi bimbingan dan konseling beserta pembagian prosedur atau mekanisme cara kerjanya. 77

● Sumber Daya Penting untuk memperhatikan penggunaan segala sumber daya yang terdapat pada program bimbingan dan konseling. Penggunaan sumber daya yang perlu diimplementasikan dalam perubahan program bimbingan dan konseling adalah : ➔ Sumber daya personil a. Merekomendasikan dan menerapkan rasio konselor-siswa b. Mengembangkan deskripsi pekerjaan konselor sekolah, menetapkan peran dan tanggung jawab c. Mengembangkan deskripsi pekerjaan untuk anggota staf lain yang bekerja dalam program bimbingan dan konseling d. Memperjelas hubungan organisasi dalam program bimbingan dan konseling ➔ Sumber keuangan a. Menetapkan anggaran untuk bimbingan dan konseling b. Menelaah penggunaan sumber pendanaan non lokal c. Mengembangkan panduan sumber komponen program bimbingan dan konseling d. Menetapkan standar fasilitas bimbingan dan membuat rekomendasi untuk penerapannya ➔ Sumber daya politik a. Memperbarui kebijakan dan prosedur b. Menghasilkan dukungan dari berbagai pihak ● Tugas Personil Bimbingan dan Konseling Secara umum personil dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling dan tugas- tugasnya adalah sebagai berikut. ➔ Kepala sekolah Kepala sekolah memiliki peran sebagai koordinator seluruh kegiatan pengajaran, pembimbingan, pelatihan dan administrasi. Pada bimbingan dan konseling kepala sekolah bertanggung jawab: 78

a. Mengkoordinir seluruh kegiatan utama dan pendukung sehingga berjalan dengan optimal b. Menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan pada bimbingan dan konseling c. Melakukan pengawasan, penilaian dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling d. Menetapkan koordinator konselor yang dapat dipertanggungjawabkan atas pelaksanaan bimbingan dan konseling. ➔ Wakil kepala sekolah Bertanggung jawab dalam membantu kepala sekolah pada bidang-bidang khusus. ➔ Koordinator bimbingan dan konseling a. Mengkoordinir para konselor atau guru bimbingan dan konseling dalam: 1) Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling 2) Menyusun program 3) Melaksanakan program 4) Mengadministrasikan kegiatan bimbingan 5) Menganalisis penilaian program untuk mengadakan tindak lanjut. b. Melakukan usulan kepada kepala sekolah terkait dengan program bimbingan dan konseling. c. Bertanggung jawab pada pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. ➔ Konselor/guru bimbingan dan konseling a. Memasyarakatkan layanan kegiatan bimbingan dan konseling b. Merencanakan program bimbingan c. Melaksanakan layanan bimbingan kepada siswa dengan minimal 150 siswa d. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan e. Menganalisis hasil penilaian f. Menindak lanjuti hasil penilaian g. Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan kepada koordinator bimbingan dan konseling. 79

➔ Staf administrasi a. Membantu mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling b. Membantu mempersiapkan kegiatan bimbingan dan konseling dan sarana yang diperlukan. ➔ Guru mata pelajaran a. Membantu dalam memasyarakatkan layanan bimbingan konseling b. Bekerja sama untuk mengidentifikasi siswa yang memerlukan bantuan layanan bimbingan c. Mengalihtangankan siswa yang perlu bimbingan kepada guru bimbingan dan konseling d. Menindak lanjuti siswa dengan kebutuhan yang sesuai e. Memberikan kesempatan kepada seluruh siswa yang membutuhkan layanan bimbingan f. Berpartisipasi dalam program layanan bimbingan. ➔ Wali kelas a. Membantu guru bimbingan dan konseling untuk melaksanakan layanan yang menjadi tanggung jawabnya b. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa untuk mendapatkan pelayanan bimbingan dan konseling c. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan bantuan khusus d. Ikut aktif dalam konferensi kasus. Pola, cara kerja dan mekanisme kegiatan bimbingan dan konseling sesuai dengan ketersediaan personil, finansial, dan besar-kecilnya sekolah tersebut. Maka perlu pengorganisasian yang tepat agar terjalin hubungan jelas dan dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. 80

b. Mengelola Program Baru 1. Improvisasi Kegiatan Program Bimbingan dan Konseling Program bimbingan dan konseling yang komprehensif dilaksanakan berdasarkan data yang telah dikumpulkan untuk menggambarkan program bimbingan dan konseling berdasarkan model. Selanjutnya menuju pada proses perbaikan dengan merancang program khusus yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan tujuan dari sekolah masing-masing. ● Jenis Program BK (a) Program Tahunan yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun ajaran untuk masing-masing kelas rombongan belajar pada satuan pendidikan. (b) Program Semesteran yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. (c) Program Bulanan yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. (d) Program Mingguan yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. (e) Program Harian yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk Satuan Layanan atau Rencana Program Layanan dan/atau Satuan Kegiatan Pendukung atau Rencana Kegiatan Pendukung pelayanan bimbingan dan konseling. Untuk menjalankan program dengan optimal, konselor perlu untuk: - Menentukan struktur dasar yang akan penyelenggara program BK Komprehensif, termasuk menyusun komponen struktural dan menentukan komponen program yang sesuai dengan program sekolah. 81

- Mengidentifikasi dan membuat daftar kompetensi siswa menurut bidang isi dan tingkat sekolah atau pengelompokan kelas. - Menegaskan kembali dukungan kebijakan untuk program bimbingan dan konseling yang sedang berkembang. - Menetapkan prioritas untuk penyampaian program, untuk melengkapi desain kualitatif. - Menetapkan parameter untuk alokasi sumber daya program, untuk melengkapi desain kuantitatif. - Menempatkan semua keputusan secara tertulis dan mendistribusikan deskripsi program kepada semua konselor dan administrator. Tugas ini biasanya dilakukan oleh pimpinan program bimbingan dan konseling. ● Proses Menyusun Program BK di Sekolah Menurut Uman Suherman (2006: 59) terdapat 8 proses dalam menyusun program BK disekolah, hal tersebut sebagai berikut: 1) Mengkaji kebijakan dan produk hukum yang relevan. 2) Menganalisis harapan dan kondisi sekolah. 3) Menganalisis karakteristik dan kebutuhan siswa. 4) Menganalisis program, pelaksanaan, hasil, dukungan serta faktor-faktor penghambat program sebelumnya. 5) Merumuskan tujuan program baik umum maupun khusus. 6) Merumuskan alternatif komponen dan isi kegiatan 7) Menetapkan langkah-langkah kegiatan pelaksanaan program, dan 8) Merumuskan rencana evaluasi pelaksanaan dan keberhasilan program. 82

● Ciri-Ciri Program yang Baik Adapun ciri-ciri program yang baik menurut Miller (dalam Dewa Ketut Sukardi 2003:9) sebagai berikut: (a) Dikembangkan secara bertahap dengan melibatkan semua unsur atau staf sekolah dalam perencanaannya (guru, wali kelas, kepala sekolah/wakil kepala sekolah, dan staf sekolah lainnya). (b) Memiliki tujuan yang ideal, dan realitas dalam perencanaannya. (c) Mencerminkan komunikasi yang kontinu antara semua unsur atau staf yang bersangkutan. (d) Menyediakan atau memiliki fasilitas yang diperlukan. (e) Memberikan pelayanan kepada semua siswa. (f) Menunjukkan peranan yang signifikan dalam menghubungkan dan memadukan sekolah dengan masyarakat. (g) Memberikan kesempatan untuk melaksanakan penilaian terhadap diri sendiri. (h) Menjamin keseimbangan pelayanan bimbingan dan konseling dalam hal: (i) Pelayanan kelompok dan perorangan, (j) Pelayanan yang diberikan oleh berbagai jenis petugas bimbingan dan konseling, (k) Studi perorangan dan konseling perorangan, (l) Penggunaan instrumentasi atau teknik-teknik pengumpulan data yang objektif dan subyektif, (m) Pemberian jenis-jenis bimbingan, (n) Pemberian konseling kelompok dan konseling perorangan, (o) Pemberian bimbingan tentang berbagai program sekolah, (p) Penggunaan sumber-sumber di dalam maupun diluar sekolah yang bersangkutan, (q) Kebutuhan perorangan dan kebutuhan masyarakat luas, (r) Kesempatan untuk berfikir, merasakan dan berbuat. 83

● Syarat Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam penyusunan program bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut: 1) Berdasarkan kebutuhan bagi pengembangan peserta didik sesuai dengan kondisi pribadi, serta jenjang dan jenis Pendidikan peserta didik. 2) Lengkap dan menyeluruh, artinya memuat segenap fungsi bimbingan, kelengkapan program ini disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan. 3) Sistematik, dalam arti program disusun menurut urutan logis, tersinkronisasi dengan menghindari tumpang tindih yang tidak perlu, serta dibagi-bagi secara logis. 4) Terbuka dan luwes, artinya mudah menerima masukan untuk pengembangan dan penyempurnaan, tanpa harus merombak program itu secara menyeluruh. 5) Memungkinkan kerja sama dengan pihak yang terkait dalam rangka sebesar-besarnya memanfaatkan berbagai sumber dan kemudahan yang tersedia bagi kelancaran dan keberhasilan pelayanan BK. 6) Memungkinkan diselenggarakannya penilaian dan tindak lanjut untuk penyempurnaan program pada khususnya serta peningkatan keefektifan dan keefisienan penyelenggaraan program BK pada umumnya. ● Cara Improvisasi Program Bimbingan dan Konseling 1) Mengidentifikasi data peserta didik untuk menentukan program yang sesuai dengan kebutuhannya. 2) Melihat situasi dan kondisi yang ada di sekolah. Guru BK perlu mengenal, memahami, mengidentifikasi apakah kondisi peserta didik mampu mendapatkan program yang sesuai dikarenakan mengingat pembelajaran di tiap sekolah ada yang full daring/offline, ataupun hybrid. Dengan melakukan hal tersebut, guru BK diharapkan mampu menentukan model program BK dengan baik. Contoh: Apakah perlu menggunakan media digital dalam menjalankan program tersebut atau teknis penggunaan media digital yang seperti apa yang mampu menarik minat peserta didik dalam program BK. 84

3) Melakukan riset mengenai trend yang ada pada kalangan remaja atau anak muda. Dengan melakukan riset, guru BK mampu mengetahui dan diharapkan memahami bagaimana posisi peserta didik dalam dunia maya atau masyarakat untuk mampu menentukan model program yang menarik dan sesuai dengan peserta didik. 4) Memanfaatkan ruang terbuka untuk melakukan layanan BK Komprehensif sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan. 2. Peran Konselor Sekolah Profesional Konselor sekolah (guru pembimbing) sesuai dengan sebutan resmi untuk guru yang mempunyai tugas khusus dalam bimbingan dan konseling, dimana merupakan petugas profesional yang secara formal telah disiapkan oleh lembaga atau institusi pendidikan yang khusus. Konselor sekolah secara khusus untuk menyiapkan seperangkat yang diperlukan untuk pekerjaan bimbingan dan konseling. Menurut Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Nasional Nomor 25 Tahun 1993 menjelaskan bahwa konselor sekolah mempunyai peran dan tugas yang terkait dengan Pendidikan. ● Komponen yang Perlu Diperhatikan Untuk Menjalankan Tugas Bimbingan dan Konseling dengan Baik Brammer (1979:4) dalam temuan penelitiannya menunjukkan bahwa ada tiga komponen yang perlu diperhatikan untuk menjalankan tugas bimbingan dan konseling dengan baik. Ketiga komponen itu adalah : - Kepribadian petugas bimbingan (konselor); - Keterampilan teknis; dan - Kemampuan untuk menciptakan suasana kemudahan untuk berkembang pada diri konseli. ● Tugas Konselor Sekolah Tugas-tugas konselor sekolah tersebut antara lain : 85

1) Menemukan jawaban tentang keseluruhan layanan konseling di sekolah. 2) Menelan, menyusun, mengelola, serta mengatur data, yang kemudian dapat dipertanggungjawabkan oleh semua bimbingan staf di sekolah. 3) Memilih berbagai instrumen psikologis untuk memperoleh berbagai informasi mengenai bakat khusus, minat, kepribadian, dan kecerdasan untuk masingmasing siswa. 4) Melaksanakan bimbingan kelompok maupun bimbingan individu (wawancara konseling). 5) Merencanakan, menyusun dan mencari informasi tentang berbagai permasalahan pendidikan, pekerjaan, jabatan atau karir, yang dibutuhkan oleh guru studi dalam proses belajar mengajar. 6) Melayani orang tua wali ingin berkonsultasi tentang anak-anaknya (Dewa Ketut Sukardi, 2010). Konselor adalah seorang anggota staf sekolah dan bertanggung jawab penuh terhadap fungsi bimbingan dan keahlian khusus dalam bidang bimbingan yang tidak dapat dikerjakan oleh guru biasa. Konselor/guru pembimbing bertanggung jawab langsung kepada kepala sekolah dan hanya memiliki hubungan kerja sama dengan guru serta anggota staf lainnya. Dalam situasi penilaian, seorang konselor sekolah harus mampu melaksanakan tugas yang berbeda-beda dari situasi lainnya. Pada situasi tertentu kadang-kadang seorang konselor harus berperan sebagai seorang teman dan pada situasi berikutnya berperan sebagai pendengar yang baik atau sebagai pengobar/ pembangkit semangat, atau peran- peran lain yang disajikan oleh klien dalam proses konseling. Bidang garapan bimbingan dan konseling yang dapat ditelusuri sekurang-kurangnya ada empat aspek, yaitu : (1) pribadi; (2) sosial; (3) belajar; dan (4) karir. Di samping itu konselor sekolah juga bertanggung jawab dalam penyusunan, penilaian, dan pengembangan program bimbingan, pengumpulan dan pelaksanaan himpunan data, kunjungan rumah, konferensi kasus, alih tangan kasus, penelitian dan evaluasi, melakukan koordinasi tentang program bimbingan dan konseling, melaksanakan konsultasi, dan pengembangan profesi. 86

Winkel (2012) berpendapat tentang peran konselor di sekolah yaitu: Konselor sekolah memiliki peranan sebagai orang kepercayaan konseli/ siswa, sebagai teman bagi konseli/ siswa, bahkan konselor sekolah pun harus mampu berperan sebagai orang tua konseli/ siswa. Oleh karena itu untuk menjalankan tugas dan perannya, maka menurut Dewa Ketut Sukardi (2010) seorang konselor harus memenuhi persyaratan tertentu, termasuk pendidikan formal, kepribadian, latihan atau pengalaman khusus. Konselor memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan yang terletak pada bagaimana konselor membangun manusia yang seutuhnya dari berbagai aspek yang ada di setiap individu/peserta didik. Dengan kata lain peran konselor dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu untuk membantu setiap peserta didik agar berkembang secara optimal. ● Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Jenis-jenis layanan bimbingan konseling menurut Yusuf, 1995:98 yang dapat disediakan adalah : a) Layanan orientasi. b) Layanan pemberian informasi. c) Layanan penempatan dan penyaluran. d) Layanan bimbingan dan kelompok. e) Layanan pembelajaran. f) Layanan konseling individual. g) Layanan konseling kelompok. 3. Pengembangan Produk Perencanaan Program Pada dasarnya Program Konseling dan Bimbingan Komprehensif memiliki terdiri dari 4 komponen, yaitu kurikulum panduan, perencanaan individu, layanan responsif, dan dukungan sistem. 87

● Komponen Program BK Komprehensif 1) Kurikulum Panduan, menyediakan konten panduan dengan cara yang sistematis yang bertujuan dalam pengembangan keterampilan dan penerapan keterampilan yang dipelajari. 2) Perencanaan individu, membantu siswa dalam merencanakan, memantau, dan mengelola tujuan pendidikan pribadi/sosial, dan pengembangan karir peserta didik. 3) Layanan Responsif, mengatasi kekhawatiran langsung dari peserta didik. Tujuannya untuk tindakan preventif, intervensi, dan rujukan yang sesuai dengan kebutuhan. 4) Dukungan sistem, termasuk program, staf, dan kegiatan, dan layanan dukungan sekolah. Tujuannya untuk memberikan dukungan dan kepemimpinan dalam penyampaian program. Menurut Gysbers & Henderson (2006), Program BK bersifat pengembangan (based on developmental approach), yakni meskipun seorang konselor dimungkinkan untuk mengatasi problem dan kebutuhan psikologis yang bersifat krisis dan klinis, pada dasarnya fokus layanan BK lebih diarahkan pada usaha memfasilitasi pengalaman-pengalaman belajar tertentu yang membantu siswa untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi pribadi yang mandiri. Seorang konselor diwajibkan untuk sepenuhnya tahu dan sadar akan tujuan- tujuan yang akan ditetapkan dari pengembangan program BK sehingga konselor dapat menentukan bagaimana cara mencapai tujuan dari permasalahan yang ada beserta sarana yang diperlukan. Sistematika Penyusunan dan Pengembangan Program BK didasarkan pada 2 langkah besar, yaitu : ➔ Pemetaan Kebutuhan, Masalah, dan Konteks Layanan Kegiatan. Asesmen atau pengidentifikasian aspek-aspek yang akan dijadikan bahan masukan menjadi hal yang pertama dilakukan dalam penyusunan program BK di sekolah. Kegiatan asesmen mencakup : (a) Asesmen konteks lingkungan program, yang terkait dengan kegiatan mengidentifikasi harapan dan tujuan sekolah, orang tua, masyarakat, dan stakeholder pendidikan terlibat, sarana dan prasarana pendukung program 88

bimbingan, kondisi dan kualifikasi konselor, serta kebijakan pimpinan sekolah. (b) Asesmen kebutuhan dan masalah peserta didik yang menyangkut karakteristik peserta didik, seperti aspek fisik, kecerdasan, motivasi, sikap dan kebiasaan belajar, minat, masalah-masalah yang dihadapi, kepribadian, tugas perkembangan psikologis. Melalui pemetaan yang telah dilakukan harapannya program dan layanan BK yang dikembangkan oleh konselor benar-benar dibutuhkan oleh seluruh segmen yang terlibat dan sesuai dengan konteks lingkungan program. Dengan demikian program yang dibuat merupakan bentuk dari tanggung jawab yang harus dilakukan secara profesional. Langkah-langkah memetakan kebutuhan, masalah, dan konteks layanan : (1) Menyusun Instrumen dan Unit Analisis Penilaian Kebutuhan Eksplorasi peta kebutuhan, masalah, dan konteks membutuhkan instrumen asesmen yang berfungsi sebagai alat bantu. Konselor perlu merumuskan aspek dan indikator serta item pernyataan/pertanyaan yang akan diukur dan jenis metode yang akan digunakan untuk mengungkap aspek dimaksud. Metode yang dapat digunakan, seperti observasi, wawancara, dokumentasi, dan sebagainya. (2) Implementasi Penilaian Kebutuhan Pada tahap ini, konselor sesegera mungkin mengumpulkan data dengan menggunakan instrumen yang telah dibuat sebelumnya, dengan tujuan memperoleh gambaran kebutuhan dan konteks lingkungan yang akan dirumuskan ke dalam program lebih lanjut. (3) Analisis Hasil Penilaian Kebutuhan 89

Setelah data terkumpul, konselor mengolah, menganalisis, dan menginterpretasi hasil penilaian yang diungkap dengan tujuan kebutuhan, masalah, dan konteks program dapat teridentifikasi dengan tepat. (4) Pemetaan Kebutuhan/Permasalahan Setelah hasil analisis dan identifikasi masalah terungkap, petugas BK dan konselor membuat peta kebutuhan/masalah yang dilengkapi dengan analisis faktor-faktor penyebab yang memunculkan kebutuhan/permasalahan. ➔ Desain Program BK dan Rencana Aksi (Action Plan) 1) Identifikasi dan merumuskan berbagai kegiatan yang harus/perlu dilakukan 2) Mempertimbangkan porsi waktu yang diperlukan untuk melaksanakan setiap kegiatan. Perencanaan waktu didasarkan kepada isi program dan dukungan manajemen yang harus dilakukan oleh konselor. 3) Inventarisasi kebutuhan yang diperoleh dari needs assessment ke dalam tabel kebutuhan yang akan menjadi rencana kegiatan selama satu tahun (Program Tahunan atau Program Semester). 4) Program Bimbingan dan Konseling Sekolah/Madrasah yang telah dituangkan ke dalam rencana kegiatan perlu dijadwalkan ke dalam bentuk kalender kegiatan. Kalender kegiatan mencakup kalender tahunan, bulanan, dan mingguan. 5) Program Bimbingan dan Konseling perlu dilaksanakan dalam bentuk klasikal di kelas yang dialokasikan pada waktu terjadwal 2 jam pelajaran per-kelas per minggu. Selain itu, juga dapat dilakukan tanpa kontak langsung dengan peserta didik atau dapat dilaksanakan melalui tulisan (seperti WhatsApp, buku, brosur, atau makalah dinding), kunjungan rumah (home visit), konferensi kasus (case conference), dan alih tangan (referral). 90

4. Monitor Implementasi Pelaksanaan Program Pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling Komprehensif tidak akan jauh- jauh dengan adanya implementasi. Tentang bagaimana program harus terlaksana di dalam program kurikulum yang sedang berjalan. Setelah adanya pelaksanaan dan implementasi program BK Komprehensif ini, tentunya akan diadakan evaluasi program, mencari tahu apakah program tersebut baik dan akan terus berjalan atau harus merubah beberapa ketentuan yang menghambat atau bahkan tidak berjalan dengan baik. Pelaksanaan BK Komprehensif tidak dilakukan secara asal-asalan. Guru BK atau konselor sebelumnya menyusun kalender kegiatan yang berisikan peta konsep atau poin- poin kegiatan yang akan dilakukan dan disampaikan kepada siswa setiap minggunya. Guru BK atau Konselor harus menentukan waktu yang tepat untuk menyampaikan dan mengimplementasikan programnya. Dalam pelaksanaan program BK Komprehensif ini tentu akan ada kegiatan monitoring di dalamnya. Monitoring itu sendiri biasanya dilakukan oleh kepala sekolah yang dibantu oleh komite sekolah. Kepala sekolah akan memonitori efektivitas program untuk tujuan, sasaran, dan hasil yang diharapkan diidentifikasikan dalam program Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Kegiatan monitoring dilakukan agar terdapat komitmen dan konsistensi guru BK atau Konselor di dalam pelaksanaan program BK Komprehensif yang sedang berjalan. Dalam setiap bulannya kepala sekolah akan selalu memastikan agar rencana kegiatan yang terdapat di dalam kalender kegiatan terlaksana dengan baik. Jika terdapat suatu masalah pada jalannya program, maka guru BK atau Konselor akan dibantu oleh Kepala sekolah dan komite sekolah guna mengevaluasi program yang belum berjalan dengan baik. ● Fungsi Komite Sekolah untuk Program BK Komite sekolah juga berperan dalam ikut serta memonitor pelaksanaan program BK Komprehensif. Seperti yang kita ketahui bahwa adanya komite sekolah guna untuk memberikan komunikasi dua arah antara pihak sekolah dan masyarakat. Beberapa fungsi adanya Komite Sekolah untuk Program Bimbingan dan Konseling yaitu : a) Untuk mengkaji dan merekomendasikan perubahan pedoman yang akan digunakan. 91

b) Untuk memberikan saran tentang fasilitas dan peralatan instruksional. c) Membantu dalam penyusunan tujuan dan sasaran bimbingan dan konseling. d) Membantu mengevaluasi program bimbingan dan konseling. e) Menjadi instruktur, pembicara, atau narasumber bagi program bimbingan dan konseling. f) Memberikan arahan dan dukungan terhadap program bimbingan dan konseling. g) Membantu merencanakan acara tertentu yang menjadi bagian program bimbingan dan konseling. h) Untuk membantu menganalisis data penilaian kebutuhan. Kepala sekolah dan komite sekolah senantiasa melakukan monitoring setiap bulannya dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling yang berjalan dengan berdasarkan kalender kegiatan BK Komprehensif yang telah dibuat dan ditetapkan. Jika ada suatu kegiatan yang terkendala dalam pelaksanaannya maka secepat mungkin guru BK atau Konselor bersama komite sekolah merundingkan tentang jalan keluar yang akan diambil dengan tepat dan teliti serta tidak lupa mempertimbangkan satu dan lain hal yang menyangkut jalannya program BK Komprehensif. Selain kepala sekolah dan komite sekolah, proses monitoring program BK Komprehensif bisa juga dilakukan oleh pengawas BK. Jika pihak sekolah sangat memperhatikan adanya pelaksanaan program BK Komprehensif untuk siswanya. Peran pengawas di sini ditujukan untuk memantau atau monitoring yang artinya melakukan pengamatan serta pencatatan jalannya program layanan BK dan program pengembangan sekolah yang dikerjakan oleh guru BK serta membantu meningkatkan profesionalitas guru BK atau Konselor. Dalam hal ini, dengan adanya pengawas dapat diharapkan dapat memberikan masukan dan koreksi terhadap pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah. Beberapa tugas pengawas lainnya antara lain ada inspecting (mensupervisi), advising (memberi saran), monitoring (memantau), reporting (membuat laporan), coordinating (mengkoordinir), dan performing leadership (memimpin). Dalam pelaksanaannya, adanya pengawas BK diharapkan berasal dari rumpun bimbingan dan konseling atau yang memiliki pemahaman komprehensif mengenai bimbingan dan konseling agar pelaksanaan monitoring berjalan dengan baik, efektif, dan dapat 92

memberikan masukan yang sesuai dengan program bimbingan dan konseling serta dapat meningkatkan profesionalitas guru BK atau konselor. c. Memastikan Kompetensi Konselor 1. Pengertian Kompetensi konselor Kompetensi konselor merupakan kemampuan yang dimiliki oleh konselor yang mencakup kepribadian, sikap dan tingkah laku konselor yang ditunjukkan dalam setiap gerak – gerik sesuai dengan tuntutan profesi sebagai konselor. 2. Jenis-jenis Kompetensi Konselor Kompetensi konselor terdiri atas dua komponen yang berbeda namun terintegrasi dalam praksis sehingga tidak dapat dipisahkan yaitu kompetensi akademik dan kompetensi profesional: ➢ Kompetensi Akademik yaitu seorang konselor yang utuh yang memperoleh Program S-1 Pendidikan Profesi Konselor. ➢ Kompetensi Profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang diterapkan dalam standar nasional. Dalam permendiknas No 27 Tahun 2009 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor dinyatakan bahwa kompetensi yang harus dikuasai guru Bimbingan dan Konseling/konselor mencakup 4 ranah kompetensi yaitu : a) Kompetensi Paedagogik Kompetensi paedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai kompetensi yang dimilikinya. Dalam kompentensi pedagogik sub kompetensi dan indikatornya (SKKI) sebagai berikut : - Seorang konselor harus menguasai teori dan praktis Bimbingan dan Konseling 93

- Memahami landasan keilmuan pendidikan (filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi) - Memahami hubungan antar unsur – unsur pendidik (pendidik, peserta didik, tujuan pendidik, metode pendidik, dan lingkungan pendidik). b) Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Pada kompetensi kepribadian ini, sub kompetensi dan indikatornya (SKKI), adalah sebagai berikut: - Seorang konselor harus memilki keimanan dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa - Seorang konselor harus menghargai dan menjungjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan, individualis dan kebebasan memilih. - Seorang konselor harus menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat. - Menampilkan kinerja berkualitas tinggi. c) Kompetensi Sosial Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Pada kompetensi ini sub kompetensi dan indikatornya (SKKI) adalah sebagai berikut : - Memahami perbedaan budaya (usia, gender, ras, etnisitas, status sosial, dan ekonomi) dapat mempengaruhi individu dan kelompok. - Memahami dan menunjukkan sikap penerimaan terhadap perbedaan sudut pandang subjektif antara konselor dengan klien. - Peka, toleran dan responsif terhadap perbedaan budaya klien. 94

d) Kompetensi Profesional yang Diperoleh Melalui Pendidikan Profesi Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan pendidik membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan. - Menyelenggarakan layanan Bimbingan dan Konseling yang secara etik dapat dipertanggungjawabkan bagi semua klien. - Berperilaku objektif terhadap pandangan, nilai-nilai, dan reaksi emosional klien yang berbeda dengan konselor. - Memiliki inisiatif dan terlibat dalam pengembangan profesi dan pendidikan lanjut untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan profesional. 3. Empat kompetensi konselor yang harus dimiliki seorang konselor ➢ Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani a) Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individualitas, kebebasan memilih, dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum. b) Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseli. ➢ Menguasai landasan teoritik Bimbingan dan Konseling a) Menguasai teori dan praktis pendidikan. b) Menguasai esensi pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. c) Menguasai konsep dan praktis penelitian dalam Bimbingan dan Konseling. d) Menguasai kerangka teoritik dan praktis Bimbingan dan Konseling. ➢ Menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling yang memandirikan a) Merancang program Bimbingan dan Konseling. 95

b) Mengimplementasikan program Bimbingan dan Konseling yang komprehensif. c) Menilai proses dan hasil kegiatan Bimbingan dan Konseling. d) Menguasai konsep dan praktis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli. ➢ Mengembangkan pribadi dan profesionalitas secara berkelanjutan a) Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. b) Menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat. c) Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional. d) Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat kedua. e) Bekerjasama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja (seperti guru, orangtua, tenaga administrasi). f) Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi. 4. Standar Kompetensi Konselor ➢ Kerangka Pikir Dasar Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator, dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6). Demikian konselor memiliki keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja yang tidak persis sama dengan guru. Ini mengandung implikasi bahwa untuk masing – masing kualifikasi pendidik, termasuk konselor, perlu disusun standar kualifikasi akademik dan kompetensi berdasar kepada konteks tugas dan ekspektasi kinerja masing-masing. Dengan mempertimbangkan berbagai kenyataan serta pemikiran yang telah dikaji, bisa ditegaskan bahwa pelayanan ahli Bimbingan dan Konseling yang diampu oleh Konselor berada dalam konteks tugas “kawasan pelayanan yang bertujuan memandirikan individu dalam navigasi perjalanan hidupnya melalui pengambilan keputusan tentang pendidikan termasuk yang terkait dengan keperluan untuk memilih, meraih serta mempertahankan karir untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera, serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum melalui pendidikan. 96

Sedangkan ekspektasi kinerja konselor yang mengampu pelayanan Bimbingan dan Konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik dalam arti selalu menggunakan penyikapan yang empatik, menghormati keragaman, serta mengedepankan kemaslahatan pengguna pelayanannya, dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindak pelayanannya terhadap pengguna pelayanan, sehingga pengampu pelayanan profesional dinamakan “the reflective practitioner” ➢ Standar Kompetensi Konselor Kompetensi konselor mencakup kompetensi akademik dan profesional sebagai satu keutuhan. Kompetensi akademik merupakan landasan ilmiah (scientific basis) dari kiat (arts) pelaksanaan pelayanan profesional Bimbingan dan Konseling. Landasan ilmiah inilah yang merupakan khasanah pengetahuan (enabling competencies) yang digunakan oleh konselor untuk mengenal secara mendalam dari berbagai segi kepribadian konseli yang dilayani, seperti dengan sudut pandang psikologi, antropologi, sosiologi, filosofik, serta berbagai program, sarana dan prosedur yang diperlukan untuk menyelenggarakan pelayanan Bimbingan dan Konseling, baik yang berkembang dari hasil-hasil penelitian maupun dari pencermatan terhadap praksis di bidang Bimbingan dan Konseling sepanjang perjalanannya sebagai bidang pelayanan profesional. ➢ Standar Kualifikasi Akademik Kompetensi profesional konselor dibangun melalui pengalaman praktek menerapkan kompetensi akademik yang terefleksikan dari kualifikasi akademik. Dengan demikian, standar kualifikasi akademik konselor adalah tamatan program pendidikan Sarjana (S1) Bimbingan dan Konseling dimana kualifikasi akademik dan Pendidikan Profesi Konselor (PPK) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pendidikan profesional konselor. ➢ Rincian Kompetensi Konselor a) Memiliki sikap, nilai, dan disposisi kepribadian yang mendukung b) Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani c) Menguasai landasan dan kerangka teoritik Bimbingan dan Konseling d) Menyelenggarakan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang memandirikan 97

e) Mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan f) Kompetensi sosial Menurut referensi buku Norman C.Gysbers yang berjudul Developing and Managing Your School Guidance and Counseling Program Standar kompetensi konselor terdapat 4 yaitu standar kinerja , standar hukum, standar etika, standar profesional lainnya. Standar hukum harus dipatuhi. Standar etika adalah harapan yang menjadi hak klien, administrator, dan kolega konselor sekolah. Standar profesional lainnya memberi tahu konselor sekolah tentang pedoman yang harus diikuti dalam bekerja di bidang khusus praktik mereka. - Standar kinerja Dalam Model Nasional ASCA (2005), 13 standar kinerja untuk konselor sekolah digambarkan: Standar 1: Organisasi program Standar 2: Kurikulum bimbingan sekolah disampaikan kepada semua siswa Standar 3: Perencanaan siswa individual Standar 4: Layanan responsif Standar 5: Dukungan sistem Standar 6: Perjanjian konselor dan administrator sekolah Standar 7: Dewan penasihat Standar 8: Penggunaan data Standar 9: Pemantauan siswa Standar 10: Penggunaan waktu dan kalender Standar 11: Evaluasi hasil Standar 12: Audit program Standar 13: Menanamkan tema (yaitu, kepemimpinan, advokasi, kolaborasi dan kerja sama, perubahan sistemik) - Standar etika dikembangkan oleh asosiasi profesional dengan memberikan pernyataan nilai profesional dan menawarkan pedoman untuk tindakan profesional. Konselor sekolah mengikuti Standar Etika Konselor Sekolah yang diterbitkan oleh 98

ASCA (2010) dan Kode Etik ACA diterbitkan oleh American Counseling Association (ACA; 2005). Selain itu, National Education Association (nd) menerbitkan kode dari 431 Etika Profesi Pendidikan,yang menggambarkan standar untuk semua pendidik, termasuk konselor sekolah. Ponton dan Duba (2009) menjelaskan bahwa kode etik “mencerminkan pemahaman profesi konseling tentang tanggung jawab yang melekat dalam hubungan perjanjian dengan masyarakat” (hal. 119) dan bahwa perubahan dalam kode “mencerminkan pemahaman profesi tentang perubahan peran profesional atau perubahan dalam konselor masyarakat melayani ”(hal. 119). Selain kode itu sendiri, penekanan yang meningkat diberikan pada prinsip-prinsip dasar yang memandu praktisi ketika menghadapi dilema, dan direkomendasikan pentingnya menggunakan proses pengambilan keputusan etis yang baik. - Standar hukum dinyatakan dalam undang-undang yang disahkan oleh badan pemerintahan federal, negara bagian, dan lokal dengan yurisdiksi hukum dan peraturan terkait yang dikembangkan oleh badan administratif untuk menerapkan undang - undang tersebut. Contoh standar hukum yang relevan dengan konselor sekolah termasuk yang berkaitan dengan sertifikasi dan pembaruan sertifikasi konselor sekolah, peran dan tanggung jawab pekerjaan, hak orang tua, ketika anak di bawah umur dapat menyetujui konseling terlepas dari hak orang tua, pelecehan anak dan tanggapan penelantaran, rujukan ke komunitas berbasis layanan, aturan mengenai catatan dan catatan, dan pertimbangan khusus untuk populasi siswa khusus (misalnya, mereka yang terkena dampak penyalahgunaan zat, siswa pendidikan khusus, siswa dari keluarga migran, dan siswa berisiko). - Standar profesi lainnya adalah pernyataan yang diterbitkan oleh organisasi profesi; misalnya, asosiasi konseling yang terdiri dari spesialis menawarkan standar untuk orang lain yang berlatih dalam spesialisasi itu. Konselor sekolah perlu mengetahui dan menerapkan standar profesional yang diterbitkan oleh kelompok khusus yang relevan dengan tugas pekerjaan mereka. Beberapa standar yang sangat relevan adalah yang terkait dengan kerja kelompok, pengembangan karir, komunikasi online, dan penilaian. Juga penting di abad ke-21 adalah standar untuk bekerja lintas budaya. 99

Asosiasi untuk Penilaian dalam Konseling (1998) dan ASCA berkolaborasi dalam sebuah pernyataan tentang: Kompetensi Asesmen dan Evaluasi Konselor Sekolah. Ini menggambarkan sembilan kompetensi yang harus dimiliki oleh semua konselor sekolah. a) Terampil dalam memilih strategi penilaian; b) Dapat mengidentifikasi, mengakses, dan mengevaluasi instrumen penilaian yang paling umum digunakan; c) Terampil dalam teknik administrasi dan metode penilaian instrumen penilaian; d) Terampil menginterpretasikan dan melaporkan hasil penilaian; e) Terampil menggunakan hasil penilaian dalam pengambilan keputusan; f) Terampil dalam menghasilkan, menafsirkan, dan menyajikan informasi statistik tentang hasil penilaian; g) Terampil dalam melakukan dan menafsirkan evaluasi program konseling sekolah dan intervensi terkait konseling; h) Terampil dalam mengadaptasi dan menggunakan kuesioner, survei, dan penilaian lain untuk memenuhi kebutuhan layanan; i) Tahu bagaimana terlibat dalam penilaian dan praktik evaluasi yang responsif secara profesional. Kompetensi yang Pantas menjadi Leader PBK Memastikan kompetensi konselor sekolah merupakan tanggung jawab utama dari pimpinan staf program Bimbingan dan Konseling. Program terbaik yang dirancang tidak ada artinya jika di tangan staf yang tidak cukup kompeten. Pemimpin staf program Bimbingan dan Konseling yang efektif memainkan berbagai peran untuk memastikan hal ini. Pemimpin bekerja sama dengan staf lembaga pelatihan prajabatan sebagai pendidik konselor mengembangkan program mereka. Rekrutmen pelamar yang memenuhi syarat menyediakan kumpulan bakat yang tersedia untuk mengisi pekerjaan yang tersedia. Selain membantu memilih orang terbaik untuk pekerjaan itu, pemimpin program juga memiliki tanggung jawab untuk berusaha mencocokkan bakat konselor baru dengan posisi yang akan menggunakan kemampuan mereka untuk keuntungan maksimal siswa dan program. Setelah konselor sekolah dipilih, pemimpin mengarahkan mereka pada rancangan dan 100


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook