RESUME ANALISIS KEGAGALAN TUBE AIR PREHEATER BOILER BB-1 TA 2020 FOTO Masalah : Erosi dan korosi pada tube Air Preheater Deposit OD korosi Tube korosi akibat acid dewpoint corrosion Tube erosi karena semburan sootblower DATA TEKNIS ANALISIS Tube Erosi : Tube Korosi i. Mekanisme kerja sootblower tidak bekerja / i. Terdapat kandungan sulfur yang cukup tinggi di flue stuck pada satu posisi. gas. ii. Semburan sootblower terfokus pada satu area ii. Semakin tinggi kandungan sulfur semakin tinggi saja. temperature dewpoint-nya. iii. Area yang terkena semburan sootblower terus iii. Temperature tube pada tubesheet inlet dibawah menerus akan mengalami erosi / penipisan. temperature dewpoint sulfur. iv. Terjadi pada beberapa tube yang berada di iv. Kondensasi moisture pada permukaan tube area lintasan sootblower serta dinding shell yang tubesheet inlet. searah. v. Semakin banyak moisture yang terbentuk meningkatkan laju korosi pada permukaan tube.o v. Penipisan terjadi terus menerus akan vi. Korosi terjadi terus menerus mengakibatkan tube menyebabkan tube bocor. bocor. KESIMPULAN REKOMENDASI 1. Adanya kandungan unsur sulfur yang cukup tinggi 1. Lakukan simulasi combustion process untuk pada flue gas / fly ash. mengetahui temperature dewpoint flue gas pada air 2. Hasil pengujian menunjukkan sifat mekanik dan preheater oleh Dept. PPE sifat metalurgi tube masih normal. 2. Evaluasi untuk menentukan strategi maintenance 3. Terdapat 2 (dua) modus kegagalan yang terjadi pada sootblower seperti Preventive, Predictive, pada tube Air Preheater, yaitu Condition-Based Monitoring maupun Corrective i. Tube korosi di area dekat tubesheet akibat Acid Maintenance untuk menjaga kinerja tetap optimal. Dewpoint Corrosion. 3. Tambahkan sampling point di area Air Preheater ii. Tube bcor akibat erosi yang berasal dari untuk mengecek kandungan sulfur terlarut pada semburan steam sootblower. aliran Flue Gas di sisi shell. 4. Lakukan RCA mengenai penyebab kegagalan yang terjadi pada tube.
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 1 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater ANALISIS KEBOCORAN TUBE AIR PREHEATER BOILER BB-1 TA 2020 1. PENDAHULUAN Pada saat Turn Around (TA) Boiler Batu bara-1 (BB-1) Pabrik-6 bulan April 2020 ditemukan tube Air Preheater bocor. Dari hasil pemeriksaan diketahui terdapat dua modus kegagalan pada tube, yaitu modus kegegalan pertama adalah korosi pada area dekat tubesheet sedangkan modus kegagalan kedua adalah erosi pada jarak 1 meter dari tubesheet inlet. 2. DATA TEKNIS Data teknis & operasional seperti pada Tabel 1, berikut Tabel 1. Data Teknis Primary Air Preheater Air Preheater Tube Side Shell Side Fluid Udara Flue Gas Temperature [0C] In : 25 In : 268.6 Out : 185 Out : 138.0 Mechanical Data Material Tube 09CrNiCuP (1st bundle 1st Air Preheater) Q235-A (1st bundle 2nd Air Preheater) Tube Dimension OD 51 x Thk 2 x 4048 mm Tube Qty 2484 (1st bundle 1st Air Preheater) 1626 (1st bundle 2nd Air Preheater)
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 2 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater Gambar 1. General Arrangement Air Preheater 3. HASIL PEMERIKSAAN Pemeriksaan yang dilakukan terhadap sample tube yang bocor adalah 1. Pemeriksaan visual 2. Uji komposisi kimia menggunakan XRF Positive Material Identification 3. Uji metalografi menggunakan mikroskop metalurgi 4. Uji kekerasan menggunakan microvickers 0.3 kgf (HV 0.3) 3.1. Pemeriksaan Visual 3.1.1. Pemeriksaan Kondisi Internal Air Preheater 3.1.1.1. Pemeriksaan Ujung Tube Pada saat pemeriksaan internal channel sisi outlet tube, ditemukan bekas aliran fly ash batu bara di permukaan tubesheet serta dinding belakang channel, dimana ini merupakan indikasi tube mengalami kebocoran. Setelah dilakukan pemeriksaan pada tube, ditemukan bahwa terdapat lubang pada tube berjarak sekitar 20 hingga 150 mm dari bibir tubesheet. Dari hasil pemeriksaan ini, maka diputuskan
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 3 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater untuk melakukan pemeriksaan untuk semua tube bundle baik Inlet dan Outlet pada Primary & Secondary Air Preheater. Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut Tabel 2. Data Jumlah Tube Bocor dekat Tubesheet Lokasi Primary Air Preheater Secondary Air Preheater Tubesheet Inlet Tubesheet Outlet Tubesheet Inlet Tubesheet Outlet 1st Bundle 34 9 793 0 2 nd Bundle (tidak ada tube bocor) 3 rd Bundle 0 0 0 (tidak ada tube bocor) (tidak ada tube bocor) (tidak ada tube bocor) 0 (tidak ada tube bocor) 0 0 0 (tidak ada tube bocor) (tidak ada tube bocor) (tidak ada tube bocor) 0 (tidak ada tube bocor) Dari data diatas diketahui bahwa kegagalan semua terjadi pada 1st bundle, baik pada Primary maupun Secondary Air Preheater, dimana kedua bundle tersebut merupakan area paling bawah dari susunan konfigurasi equipment. a) b) Gambar 2. Adanya bekas aliran fly ash pada a) dinding channel; b) permukaan tubesheet outlet a) b)
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 4 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater c) Gambar 3. Lubang bocoran tube dengan orientasi acak [a&b] pada jarak 20 mm dari ujung tubesheet [c]. 3.1.1.2. Pemeriksaan Tengah Tube Setelah diketahui adanya bocoran di area dekat tubesheet, selanjutnya dilakukan pemeriksaan internal tube menggunakan borescope. Dari hasil borescope ditemukan juga lubang bocoran di dalam tube dengan jarak sekitar 1 meter dari tubesheet inlet. Bocoran ditengah tube tersebut tidak hanya terjadi pada tube yang bocor dekat tubesheet, namun juga pada tube lainnya. Total tube yang bocor ditengah sesuai dengan Tabel 3 berikut Tabel 3. Data Jumlah data tube bocor ditengah tube Lokasi Primary Air Preheater Secondary Air Preheater 1st Bundle 83 20 2 nd Bundle 0 0 3 rd Bundle 0 0 a) b)
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 5 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater c) Gambar 4. Lubang bocoran pada tengah tube (a & b); deposit fly ash di internal tube dari lubang bocoran (c) 3.1.1.3. Pemeriksaan Sisi Shell Pemeriksaan internal juga dilakukan di sisi shell, dan ditemukan tumpukan deposit yang sangat tebal. Bahkan terdapat gundukan besar deposit fly ash pada sisi dekat inlet tubesheet. Sesuai jarak lubang bocoran ditengah tube, di ketahui bahwa area tersebut merupakan area lintasan sootblower. a) b) Gambar 5. Kondisi internal shell side a) Partisi Inlet tubesheet; b) Partisi Outlet Tubesheet
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 6 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater a) b) Gambar 6. Tumpukan deposit fly ash pada tube Gambar 7. Lokasi bocoran tube tepat disekitar area lintasan sootblower Gambar 8. Penipisan selain di tube juga terjadi di a) guide support sootblower; b) dinding shell
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 7 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater 3.1.2. Pemeriksaan Visual Sample Tube Bocor Setelah diketahui terdapat 2 jenis bocoran pada tube air preheater, maka diputuskan untuk mencabut 2 tube, yang masing-masing mewakili pola kegagalan yang berbeda. Untuk tube yang bocor pada area dekat tubesheet kegagalan yang terjadi memiliki ciri akibat dari adanya proses korosi. Korosi berasal dari permukaan luar (OD) tube. Ini terlihat bahwa sisi dalam tube masih relative aman tidak terjadi korosi seperti pada sisi luar. Sedangkan untuk tube yang bocor pada tengah tube, terlihat bekas penipisan pada permukaan luar (OD) tube. Penipisan yang terjadi hanya local pada area tersebut saja, tidak sepanjang tube. Gambar 9. Sample Tube yang bocor di area dekat tubesheet yang mengindikasikan ciri kegagalan korosi Gambar 10. Sample tube yang mengalami penipisan pada jarak 1 meter dari tubesheet inlet 3.2. Uji Metalografi Uji metalografi dilakukan pada 3 sample tube, dengan identifikasi sebagai berikut : i. Sample A tube yang bocor didekat tubesheet ii. Sample B tube yang bocor di tengah tube iii. Sample C merupakan area tube normal.
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 8 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater Gambar 11. Area pengambilan sample Pengujian metalografi dilakukan menggunakan larutan etsa Nital 3% dengan perbesaran mikroskop 100x. Sample yang dilakukan pengamatan merupakan sample dengan potongan melintang seperti ilustrasi pada Gambar 12 berikut. Arah Potongan a. Arah potongan sample b. Sample tube Gambar 12. Sample yang diuji 3.2.1. Sample Tube A Sisi OD lebih banyak lubang pada permukaan yang sudah tertutup dengan deposit produk korosi jika dibanding dengan sisi ID tube. Butir terdiri fase pearlite (gelap) dan fase ferrite (terang) dengan ukuran butir pada sisi OD, mid & ID tube tidak terdapat perbedaan dan relative masih normal, bahkan pada area ujung patahan tertipis tube. Hal ini berarti tidak adanya perlakuan panas atau beban overload pada tube. OD OD OD Deposit korosi ID
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 9 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater Deposit OD korosi ID Gambar 12. Hasil metalografi sample A 3.2.2. Sample Tube B Dari hasil uji metalografi, baik sisi OD maupun sisi ID tube terdapat beberapa pitting korosi. Namun produk korosi yang terbentuk pada sample B lebih sedikit jika dibanding dengan sample A. Hal ini dapat diakibatkan karena proses erosi yang terjadi sehingga mengikis lapisan pasif pada permukaan metal. Selain itu, dari permukaan sisi OD tampak bahwa butir terkikis dengan arah yang sama akibat aliran erosi. Sedangkan fasa dan butiran masih relative normal, tidak ada indikasi adanya perlakuan panas yang berlebihan atau overload beban. OD ID Gambar 13. Hasil metalografi sample B 3.2.3. Sample Tube C Sample C merupakan area dimana tube masih dalam keadaan normal, tidak terdapat kegagalan. Hal ini dilakukan bertujuan sebagai pembanding dengan sample A & B dimana terdapat kegagalan diarea tersebut. Dari hasil uji metalo, diketahui bahwa secara umum sudah terdapat beberapa pitting korosi pada permukaan luar tube, dengan fasa yang tersusun dari ferrite (terang) dan pearlite (gelap) serta ukuran butir yang relative masih seragam/normal.
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 10 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater OD ID Gambar 14. Hasil Uji Metalografi sample C 3.3.Uji Kekerasan Mikro Uji kekerasan dilakukan menggunakan microvicker beban 0.3 kg dengan selama 10 detik dengan titik pengujian sebanyak 3 lokasi pada tiap sisi. Tabel 4. Hasil Uji Kekerasan Sample Tube Sample Lokasi 1 Nilai kekerasan (HV 0.3) Indentasi 2 3 Rata-rata OD 201.19 205.63 201.1 202.64 A MID 211.48 229.95 209.76 217.06 ID 193.79 217.08 204.44 205.10 OD 187.61 215.39 211.58 204.86 B MID 183.56 201.19 200.74 195.16 ID 184.47 192.31 189.96 188.91 OD 202.68 213.51 221.5 212.56 C MID 203.97 201.64 213.32 206.31 ID 198.66 197.89 201.64 199.40 Berdasarkan hasil kekerasan material, baik pada sample area tube normal dengan sample tube yang mengalami kegagalan tidak terdapat perbedaan yang signifikan, dimana rata-rata nilai kekerasan 203HV.
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 11 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater 3.4.Uji Komposisi Uji komposisi dilakukan pada tube yang gagal serta pada deposit kerak produk korosi pada permukaan tube. Dari hasil uji komposisi material tube diketahui bahwa material tube masih sesuai dengan standar, namun pada deposit tube ditemukan unsur Sulfur. Tabel 5. Komposisi Tube Komposisi Standard Hasil Uji Carbon 0.12 max N/A Mn 0.2 – 0.5 0.43 Si 0.25 – 0.75 0.21 S 0.035 max 0.033 Cr 0.5 – 1.25 0.83 Fe remain 97.27 Ni Max 0.65 0.14 Cu 0.25 – 0.55 0.34 Tabel 6A. Hasil Uji Portable XRF deposit fly ash Tabel 6B. Hasil Uji Laboratorium deposit fly ash Komposisi % wt Si 2.11 S 6.09 Cr 0.68 Mn 0.34 Fe 86.86 Cu 0.32 Terdapat perbedaan hasil antara kedua pengujian diatas dikarenakan metode pengujian yang dilakukan oleh Laboratorium (Tabel 6B) menggunakan alat uji spektrofotometer sesuai dengan SNI 02-1760-2005, dimana ini merupakan standar uji pupuk ammonium sulfat. Sedangkan table 6A menggunakan alat uji Positive Material Identification XRF portable yang umum dilakukan untuk melakukan uji komposisi material.
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 12 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater 4. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN 4.1.Tube Korosi dekat tubesheet Dari hasil pemeriksaan visual yang didukung dengan hasil uji metalografi menunjukkan bahwa korosi berawal dari dinding luar tube yang dibuktikan adanya deposit produk korosi yang lebih tebal di sisi luar tube dibanding sisi dalam tube yang masih relative lebih bersih. Masih normalnya fasa serta ukuran butir tube menunjukkan tidak adanya proses perlakuan panas maupun beban mekanis yang berlebihan saat operasional yang terjadi pada tube. Namun hasil pengujian komposisi pada deposit fly ash serta produk korosi pada tube ditemukan adanya unsur Sulfur yang cukup signifikan, yaitu sekitar 0.3 – 6 %, berdasarkan hasil uji laboratorium serta Portable XRF. Adanya sulfur pada fly ash ini mengindikasikan bahwa telah terjadi kondensasi senyawa sulfur yang berasal dari flue gas. Umumnya flue gas yang digunakan pada proses combustion mengandung gas asam yang dominan terdiri dari Sulfur Oxides, seperti SO2 dan SO3. Sulfur oxide tersebut jika terkondensasi dalam jumlah yang banyak akan dapat mengakibatkan Low Temperature Corrosion pada tube[1] atau dalam kasus ini biasa disebut dengan Acid Dewpoint Corrosion (ADC). Tipikal permukaan logam yang mengalami ADC umumnya memiliki ciri general metal loss disertai dengan beberapa area yang sudah terkelupas yang berwarna lebih gelap. Gambar 15. Korosi seragam yang terjadi pada tube ADC terjadi ketika flue gas mengenai permukaan tube yang temperature nya dibawah dewpoint sehingga terbentuk moisture. Moisture tersebut jika dikombinasikan dengan sulfur akan dapat membentuk low pH electrolyte yang dapat meningkatkan laju korosi pada metal[2] . Hal ini dibuktikan, tube yang mengalami kebocoran mayoritas terjadi di ujung dekat tubesheet inlet pada 1st bundle saja dimana temperature tube di area tersebut masih rendah, sehingga kemungkinan korosi diarea tersebut lebih tinggi, seperti data pada Tabel 2.
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 13 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater Gambar 16. Area terjadinya Acid Dewpoint Corrosion Selain itu, hal ini didukung juga dengan jumlah kandungan unsur sulfur yang ada. Semakin tinggi persentase sulfur yang ada pada flue gas, maka akan semakin tinggi temperature acid dewpoint, yang mengakibatkan semakin mudah terbentuknya moisture pada permukaan tube. Melihat lokasi lubang bocoran yang mayoritas terjadi pada sisi samping dan bawah tube, mengindikasikan bahwa kondensasi telah terjadi cukup lama hingga mengakibatkan moisture asam sulfur mengalir kebawah. Adanya tumpukan deposit pada sisi atas tube mengakibatkan kondensasi sulfur pada flue gas tidak dapat terjadi karena tidak terjadi kontak dengan dinding tube. Oleh karena itu, kondisi ini menjadikan sisi atas tube “relative lebih aman” untuk terjadinya korosi. Namun kondensasi tetap terjadi pada sisi samping dan bawah tube yang mengakibatkan korosi pada area tersebut hingga akhirnya menipis dan bocor.
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 14 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater Gambar 17. Grafik hubungan kandungan Sulfur dengan temperature dewpoint Gambar 18. Lokasi bocoran pada dinding tube 4.2.Tube Erosi Dilihat dari hasil uji metalografi tidak ditemukan adanya perbedaan strukturmikro dengan tube normal. Ini mengindikasikan bahwa tidak ada proses heat treatment yang berlebihan pada tube, dan ini juga didukung dengan nilai kekerasan yang masih relative normal. Sesuai hasil pengamatan visual terlihat bahwa tube bocor karena adanya penipisan akibat proses erosi. Tampak bahwa adanya semacam local groove akibat erosi yang terjadi terus menerus. Lokasi bocoran tube berada tepat di area lintasan sootblower (Gambar 7), sehingga kemungkinan besar erosi yang terjadi pada tube akibat dari semburan steam dari sootblower, dimana area lain tidak terjadi erosi/penipisan yang serupa. Local Bekas adanya groove aliran erosi Gambar 19. Adanya local groove pada tube
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 15 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater Semburan dari sootblower seharusnya terjadi merata pada semua area sepanjang tube dan tidak terfokus pada satu titik. Hal ini mengindikasikan adanya kemungkinan mekanisme putaran atau gerakan sootblower tidak bekerja / macet, sehingga semburan hanya terjadi pada satu titik terus menerus hingga menyebabkan penipisan pada dinding tube terus menerus dan bocor. Penipisan akibat semburan sootblower juga terjadi pada plate support serta dinding shell (Gambar 8). Selain itu, kemungkinan macet/rusaknya sootblower didukung dengan adanya tumpukan fly ash di banyak lokasi di atas tube yang mengindikasikan bahwa mekanisme sootblower yang berfungsi untuk menghilangkan deposit tersebut tidak terjadi. 5. KESIMPULAN & SARAN 5.1.Kesimpulan Dari data serta analisa beberapa hasil pengujian dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : a. Adanya kandungan unsur sulfur yang cukup tinggi pada flue gas / fly ash. b. Hasil pengujian menunjukkan sifat mekanik dan sifat metalurgi tube masih normal. c. Terdapat 2 (dua) modus kegagalan yang terjadi pada tube Air Preheater, yaitu : i. Tube korosi di area dekat tubesheet akibat Acid Dewpoint Corrosion. ii. Tube bocor akibat erosi yang berasal dari semburan steam sootblower. 5.2.Saran a. Lakukan simulasi combustion process untuk mengetahui temperature dewpoint flue gas pada air preheater oleh Dept. PPE. b. Evaluasi untuk menentukan strategi maintenance pada sootblower seperti Preventive, Predictive, Condition-Based Monitoring maupun Corrective Maintenance untuk menjaga kinerja tetap optimal. c. Tambahkan sampling point di area Air Preheater untuk mengecek kandungan sulfur terlarut pada aliran Flue Gas di sisi shell. d. Lakukan RCA mengenai penyebab kegagalan yang terjadi pada tube. Reported by Approved by Acknowledge by Ridwan S. Yudhistira P. P. Wildan Hamdani Superintendent Inspeksi Metalurgi Manager Inspeksi Teknik-2 Metallurgical & Inspection Engineer
FAILURE ANALYSIS No. : /MTF/D23400/VIII.20 DEPARTEMEN INSPEKSI TEKNIK-2 Area : Boiler BB-1 Pabrik-6 Date : 25 Agustus 2020 Item : 2-E-204 & 2-E-205 Page : 16 of 16 Item Name : Primary & Secondary Air Preheater DAFTAR PUSTAKA [1] Port,D.Robert & Herro,M. Harvey.1991.The Nalco Guide To Boiler Failure Analysis.Nalco Chemical Company [2] Carson,B & Coleman,K.2009.Field Guide: Boiler Tube Failure.EPRI [3] Zuo,Wujun. et.al.2019.Review of Flue Gas Acid Dew-point and related low temperature corrosion.ELSEVIER:Journal of The Energy Institute [4] Jones,A.Denny.1996.Principles and Prevention of Corrosion-2 nd Ed. Prentice-Hall,Inc: USA
Search
Read the Text Version
- 1 - 17
Pages: