Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore PERIKEHIDUPAN CHALCORANA LABIALIS

PERIKEHIDUPAN CHALCORANA LABIALIS

Published by chairani.az22, 2023-07-20 10:53:31

Description: Buku ini akan menjelajahi kehidupan katak endemik dari Malaysia (Chalcorana labialis)

Keywords: amphibi,Chalcorana,Chalcorana labialis,perikehidupan

Search

Read the Text Version

1

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya yang telah memberi kemudahan dan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan Handbook ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan bisa menyelesaikan Handbook Amphibia sebagai tugas dari mata kuliah Biosistematika Hewan dengan judul “Katak Berbibir Putih Chalcorana labialis” dengan baik. Saya sadar bahwa laporan ini dapat terselesaikan berkat bantuan, dorongan, serta masukan dari banyak pihak yang sangat berarti. Oleh karena itu, saya hendak mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Yayan Sanjaya, M. Si., Ph.D. selaku dosen pengampu mata kuliah Biosistematika Hewan. 2. Ibu Dr. Any Aryani, M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah Biosistematika Hewan 3. Ibu Dr. Hernawati, S.Pt., M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah Biosistematika Hewan. 4. Bapak Try Kurniawan Mutaqien., S.Si. selaku asisten dosen Departemen Pendidikan Biologi UPI Handbook Amphibia ini disusun berdasarkan sumber dan literatur yang sudah ada dan dapat dijadikan bacaan untuk Mahasiswa Biologi. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan Handbook ini masih terdapat kesalahan, maka dari itu kritik dan saran dari pembaca sangat kami butuhkan. Demikianlah pengantar yang dapat kami sampaikan. Saya berharap Handbook Amphibia ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak yang membaca. Bandung, 20 November 2022 Penulis 2

KATA PENGANTAR ....................................................................................... 2 DAFTAR ISI...................................................................................................... 3 BAB I .................................................................................................................... PENDAHULUAN ................................................................................................ 1.1 Latar Belakang................................................................................. 5 1.2 Kajian Pustaka................................................................................. 5 BAB II ................................................................................................................ 7 ISI ....................................................................................................................... 7 2.1 Amphibia ................................................................................................. 8 2.2 Chalcorana labialis .................................................................................. 8 2.2.1 Deskripsi Umum Chalcorana labialis ............................................. 9 2.2.2 Masa Berudu Chalcorana labialis ................................................ 10 2.2.3 Masa Dewasa Chalcorana labialis................................................ 10 2.3.4 Masa Kawin Chalcorana labialis.................................................. 10 2.3.5 Siklus Hidup Chalcorana labialis................................................. 11 2.3 Persebaran ............................................................................................. 13 2.4 Kepunahan ............................................................................................ 14 2.5 Kebermanfaatan ................................................................................... 15 BAB III ............................................................................................................. 16 PENUTUP ............................................................................................................ 3.1 Simpulan ................................................................................................ 17 3.2 Saran dan Rekomendasi ....................................................................... 17 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 18 3

4

1.1 Latar Belakang Amphibi merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem, baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, amphibi berperan sebagai pemangsa konsumen primer, seperti lalat, nyamuk, atau hewan invertebrate lainnya. Amfibi juga dapat digunakan sebagai bio indicator kondisi lingkungan. Secara ekonomis, amphibi dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani, hewan percobaan, hewan peliharaan, dan obat- obatan (Stebbins dan Cohen (1997). Penelitian mengenai amphibi di Indonesia masih sangat terbatas dan kurang perhatian. Sangat disayangkan karena Indonesia merupakan negara yang melimpah akan faunanya termasuk amphibi. Pasalnya, Indonesia memiliki banyak hutan tropis yang menjadi habitat tempat hidup amphibi. Hal ini antara lain karena kurang dikenalnya hewan ini di masyarakat umum maupun di kalangan peneliti (Iskandar, 2006). Chalcorana labialis merupakan katak endemik yang berada di Semenanjung Malaysia. Keunikan yang menjadi ciri khas katak ini adalah bibirnya yang berwarna putih dan ukurannya yang relative kecil. Namun sedikit penelitian yang mengungkapkan keberadaan katak ini di Indonesia. Dekatnya geografis antara Malaysia dengan provinsi Sumatera di Indonesia sangat memungkinkan tersebarnya Chalcorana labialis di Indonesia. Maka dari itu, buku peri kehidupan ini dibuat untuk mengetahui kehidupan dari Chalcorana labialis. 1.2 Kajian Pustaka Vertebrata adalah hewan yang memiliki tulang belakang atau tulang punggung internal. Istilah vertebrata berasal dari Bahasa Latin yaitu vertebratus yang artinya gabungan dari tulang belakang. Tulang tersebut didefinisikan sebagai notochord yang tersegmentasi elemen yang kaku dan dipisahkan oleh sendi. Vertebrata tersusun atas 3 lapisan jaringan, yaitu ectoderm, mesoderm, dan endoderm yang membatasi rongga usus. Lebih dari 85.000 spesies hewan yang hidup di alam iini adalah vertebrata seperti anggota Pisces, Amphibia, Reptil, Aves, dan Mammalia. Hewan darat yang paling besar ditemukan adalah vertebrata. Amphibia merupakan hewan yang hidup dalam dua bentuk kehidupan. Pada fase awal hidupnya, ia akan hidup di air sedangkan fase dewasa, ia menjelajahi daratan menggunakan alat pernapasan berupa paru-paru. Amphibia dewasa umumnya memiliki extermitates dengan digiti atau selaput renang dan memiliki columna vertebralis. Sedangkan kondisi kulitnya pada sebagian spesies sangat licin dan lembut, tidak bersisik, dan tidak berambut Terdapat 6.150 spesies amphibia yang klasifikasikan ke dalam 3 ordo, yaitu Urodela, Anura, dan Apoda. Anggota Urodela diwakili oleh salamander. Ciri khas ordo ini adalah sepanjang hidupnya masuh memiliki ekor dengan 2 pasang kaki yang relative tidak terspesialisasi 5

perkembangannya. Habitus salamander di hutan tropis atau di gua-gua karena temperatuenya konstan dan kelembabannya ideal bagi beberapa famili salamander. Mayoritas salamander melakukan fertilisasi secara internal. Telur-telur yang telah dibuahi, disimpan oleh salamander betina oada sebuah kanting khusus yang disebut spermateka. Telur akan menetas menjadi larva. Mereka memiliki insang eksternal, sirip ekor, gigi larva, dan lidah rudimental (belum sempurna) Anura merupakan ordo yang paling representative dalam mendeskripsikan amphibia. Morfologi dan anatomi Anura lebih terspesialisasi bergerak dan hidup di daratan dari pada urodela. Kaki belakang katak dewasa panjang dan kuat memungkinkannya untuk melompat-lompat di daratan. Lidah katak yang panjang dan lengket digunakan untuk menangkap serangga. Pada kulit katak terdapat kelenjar yang mensekresikan mucus dan pada beberapa spesies bersifat berbisa. Ordo Anura hidup di lingkungan tropis sedikit ditemukan di darah kering dan berpasir. Fase larva (berudu) Anura bertipikal akuatik dan herbivora. Ordo Apoda tidak berkaki dan hamper buta. Ketiadaan kaki membuat Apoda sekilas seperti cacing tanah dan merupakan adaptasi kedua saat ekornya tereduksi menuju katak yang berkaki. Fertilisasi pada Apoda dilakukan secara internal. Larvanya mengikis laoisan oviduk dengan gigi jarinya untuk makan. 6

7

Ambhibia merupakan vertebrata pertama yang menjelajahi daratan, tapi bersifat amphibious yaitu sebagian dari tahapan hidupnya hidup di perairan dan sebagian lagi hidup di darat (Rasti, 2013). Dalam bahasa Yunani, Amphi = dua; bios = kehidupan, artinya adalah hewan yang hidup di dua alam. Pada fase larvanya (berudu), amphibi bernapas menggunakan insang luar yang kemudian bermetamirfosis menjadi anak katak yang bernapas menggunakan paru-paru. Termasuk hewan ektoterm yaitu suhu tubuhnya bergantung pada suhu lingkungan. Pada dasarnya amphibia memiliki pentadaktil (lima ujung jari keil) meskipun jumlah jari kakinya dapat berkurang. Amphibia terbagi ke dalam 3 ordo, yaitu Urodela ‘berekor’, Apoda’tidak berkaki’, dan Anura ‘yang tidak berekor’. Ordo Urodela meliputi salamander dan kadal air, ordo apoda meliputi sesilia yaitu hewan sperti cacing dan tidak memiliki kaki. Ordo anura meliputi katak dan kodok. Amphibia memiliki beberapa karakteristik, yaitu kulitnya berperan dalam respirasi dan memiliki kelenjar mukosa untuk menjaga kelembaban kulit dan pelumas bagi tubuhnya. Selain itu, pada beberapa spesies amphibi memiliki kelenjar granular yang memproduksi zat obnoxious atau racun untuk melindungi dirinya. Selain itu, warna tubuh amphibi sangat beragam, hijau terang, emas, kuning, coklat, merah, dan biru. Perbedaan tersebut ditentukan oleh pigmen yang tergantung pada tubuh amphibia. Pada beberapa amphibi, tubuhnya tampak bercahaya Ketika ditempatkan di tempat gelap. Hal tersebut merupakan hasil dai simulasi kelenjar pineal. Selanjutnya amphibi memiliki appendages (alat gerak). 8

Gambar. Chalcorana labialis Sumber: thainationalpark.com Regnum : Animalia Phylum : Chordata Classis : Amphibia Ordo : Anura Familia : Ranidae Genus : Chalcorana Species : Chalcorana labialis (Boulenger, 1887) 2.2.1 Deskripsi Umum Chalcorana labialis Chalcorana labialis atau Hylarana labialis disebut juga katak bibir putih merupakan salah satu spesies dari familia Ranidae yang endemik dan hidup di Semenanjung Malaysia. Katak ini dapat ditemukan di aliran dangkal di hutan primer dataran rendah, hutan sekunder yang berdekatan, dan hutan rawa air tawar. Mereka berukuran cukup kecil, umumnya kurang dari 4 cm namun ada yang mencapai 7 cm. Suara mereka tidak biasa terdengar seperti air yang menetes. Warna kulit bervariasi mulai dari hijau, coklat, kuning dengan bintik- bintik pada dorsum dan kaki belakang. Ciri khas dari spesies ini yang memudahkannya untuk diidentifikasi yaitu gendang telinga besar, coklat, dan memiliki bibir berwarna putih. Moncongnya runcing dan terdapat garis gelap yang memanjang dari mata ke moncongnya. Tungkai belakang panjang dan ramping dengan jari tangan dan kaki memiliki bantalan bulat. 9

2.2.2 Masa Berudu Chalcorana labialis Berudu atau kecebong merupakan tahap pra dewasa dalam daur hidup amphibia. Tahap inilah yang membuat katak termasuk ke dalam kelas amphibia. Chalcorana labialis memiliki berudu khas yaitu kulitnya transparan sehingga dapat dilihat organ dalamnya. Berudu Chalcorana labialis dapat ditemukan hidup di kolam dangkal yang tenang dan berlumpur di sebelah aliran hutan Berudu C. labialis juga ditemukan di sungai dengan arus lambat. Berudu bernapas menggunakan insang dan memakan ganggang-ganggang kecil di sekitarnya (herbivora). Gambar. Berudu Chalcorana labialis (sumber: ecologyasia.com) 2.2.3 Masa Dewasa Chalcorana labialis Chalcorana labialis dewasa umumnya hinggap di cabang-cabang rendah tepi sugai atau puing pohon yang tumbang. Katak jantan dewasa memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan betinanya. Katak jantan berukuran 37 – 48 mm (1,5 – 1,9 in) sedangkan katak betina 44 – 71 mm (1,7 – 2,8 in) (Berry 1975). Pada jari-jari terdapat cakram yang berkembang namun pada jari-jari tungkai depan tidak ditemukan adanya selaput renang, sedangkan pada tungkai belakang terdapat selaput renang yang cukup lebar. Warna tubuh bagian dorsal sangat bervariasi dari kuning pucat hingga hijau tua dengan atau tanpa bitnik-bintik coklat di bagian belakang. Sedangkan pada permukaan ventral berwarna krem. Bibir atas berwarna kuning krem atau putih sehingga katak ini disebut white- lipped frog. 2.3.4 Masa Kawin Chalcorana labialis Chalcorana labialis melakukan perkawinan di kolam samping batu atau kolam kecil yang ditemukan dipinggiran sungai. Hal tersebut didasari oleh banyaknya telur Chalcorana labialis yang ditemukan di tempat-tempat tersebut. Rentang telur yang dihasilkan C. labialis mencapai 787 – 2100 butir dengan rata- 10

rata metamorphosis sebesar 4,15%. Pada musim kawin katak jantan biasanya mengeluarkan suara yang dihasilkan dari getaran kantung vocal untuk memberikan sinyal dan menarik perhatian betina. Selama perkawinan katak jantan akan menaiki punggung katak betina sembari mengeluarkan spermanya untuk membuahi terlur betina. 2.3.5 Siklus Hidup Chalcorana labialis Metamorfosis adalah proses perkembangbiakan makhluk hidup yang terjadi implikasi perubahan fisik dari lahir hingga dewasa. Pada katak, metamorfosis terjadi dari mulanya sebuah telur kemudian berubah dan berkembang sempurna secara morfologi, anatomi, dan fisiologis menjadi katak dewasa. Setiap makhluk hidup memiliki fase metamorfosis yang berbeda-beda dan umumnya mengalami 4 buah fase. Berikut merupakan metamorfosis dari Chalcorana labialis. Gambar. Telur Chalcorana labialis (sumber: ecologyasia.com) Tahap pertama adalah telur. Setelah masa perkawinan, Chalcorana labialis betina akan menaruh telurnya di kolam samping sungai yang tenang atau menyembunyikannya di samping batu. Hal tersebut bertujuan agar menghindari ancaman dari predator. Telur Chalcorana labialis tidak dierami dan tidak ditutupi oleh cangkang melainkan ditutupi oleh gelatin. Pada fase ini, embrio memakan kuning 11

telur sebagai sumber makananya yang digunakan untuk pertumbuhan menuju fase selanjutnya setelah menetas. Gambar. Berudu Chalcorana labialis (sumber: ecologyasia.com) Tahap kedua adalah berudu. Ciri morfologi berudu Chalcorana labialis adalah mata terletak di dorsal tubuhnya dengan ekor pipih transparan dan berselaput untuk memudahkannya bergerak di air, serta memiliki moncong yang terletak di anterior tubuhnya. Ciri khas dari berudu Chalcorana labialis adalah badannya yang berwarna transparan sehingga dapat terlihat jelas organ dalamnya. Pada tahap ini, berudu bernapas menggunakan paru-paru, hal tersebutlah yang membuat katak masuk ke dalam kelas Amphibia. Berudu terus berkembang dan mengalami perubahan pada tubuhnya menuju tahap selanjutnya. Gambar. Berudu Berkaki Chalcorana labialis (sumber: ecologyasia.com) Tahap ketiga adalah berudu berkaki. Pada tahap ini bagian-bagian morfologi katak sudah mulai terlihat. Dimulai dengan tumbuhnya satu pasang tungkai belakang, kemudian satu pasang tungkai depan, dan ekor yang perlahan- lahan tereduksi pada tahap akhir metamorfosis. Pada tahap ini, moncong katak sudah mulai terbentuk dan insangnya mulai menghilang. Tahap ini berakhir Ketika katak sudah menjelajahi daratan dan beralih ke tahap selanjutnya. 12

Gambar. Chalcorana labialis Muda (sumber: ecologyasia.com) Tahap keempat adalah katak muda. Pada tahap ini, ekor kecebong Chalcorana labialis sudah hilang sepenuhnya berganti menjadi struktur seperti tangkai yang disebut urostyle. Perubahan signifikan juga terjadi pada alat pernapasannya, yaitu insang hilang dan bernapas menggunakan paru-paru. Selain itu, mulutnya melebar dan mata menonjol. Chalcorana labialis muda banyak mengjabiskan waktunya di daratan dan sesekali ke perairan jika kulitnya terlalu kering atau cuaca panas dan biasa ditemukan hinggap di dedaunan dekat kolam atau sungai. Gambar. Chalcorana labialis Dewasa (sumber: ecologyasia.com) Tahap kelima adalah katak dewasa. Pada tahap ini Chalcorana labialis sudah sepenuhnya bernapas dengan paru-paru. Kakinya tumbuh kuat sehingga memungkinkannya melompat kesana kemari. Ukuran Chalcorana labialis terbilang kecil sekitar 37 – 70 mm. Selain itu, di sela-sela jari tungkai belakang tumbuh selaput kaki yang memudahkannya ketika berenang. Ketika musim kawin tiba, telur katak dewasa akan dibuahi yang nantinya akan berkembang dan bermetamorfosis. Demikian siklus hidup katak berulang. 2.3 Persebaran Katak bibir putih ini endemik di semenanjung Malaysia. Dapat dilihat pada gambar Chalcorana labialis terdapat di salah satu tempat di Provinsi Johor, 13

Selangor, Terengganu, empat tempat di Provinsi Kedah, dan 2 tempat di Provinsi Pahang, Meskipun begitu, ada beberapa Chalcorana labialis yang tersebar di Singapura. Beberapa hidup juga di Sumatra dan Kalimantan. Chalcorana labialis juga banyak dikonservasi untuk dijaga keberadaannya agar terhindar dari kepunahan. Salah satunya di Thailand, dapat dilihat pada gambar terdapat C. labialis yang ditemukan di beberapa National Park, yaitu Thale Ban National Park, San Kala Khiri National Park, Bang Lang National Park, dan Betong District, Yala. 2.4 Kepunahan Chalcorana labialis termasuk spesies yang melimpah. Sampai saat ini, C. labialis belum dinilai untuk IUCN Red List of Threatened Species. Meskipun begitu, kehawatiran terhadap penurunan populasi katak bibir putih perlu diperhatikan. Pemanasan global, hilangnya habitat alami seperti penggundulan hutan hujan tropis, mengancam keberadaan katak ini. Ancaman dari polusi perairan jelas berpengaruh pada penurunan populasi katak terutama jenis ini mengakibatkan kematian tingkat metamorfosa pada fase telur ke berudu. Sedangkan katak yang tahan terhadap hal itu umumnya mengalami cacat tngan atau kaki. Jari katak sangat berperan dalam proses proses perkawinan. Katang jantan akan mencekram kuat kuat tubuh betina dan kaki katak jantan menahan agar tetap di atas katak betina. Jika katak jantan banyak yang memiliki 14

kecacatan maka menghambat proses perkawinan dan perkembangbiakan sehingga dapat memicu kepunahan. 2.5 Kebermanfaatan Secara umum, katak sangat berperan penting dalam ekosistem (termasuk Chalcorana labialis). Katak ini merupakan hewan karnivora yang memakan serangga seperti nyamuk, lalat, dll sehingga mengurangi adanya peningkatan populasi nyamuk. Selain itu ukurannya yang kecil dan jumlahnya yang berlimpah, Chalcorana sering dijadikan umpan untuk memancing ikan besar. Matanya yang besar dengan bibirnya yang putih dan cantik, Chalcorana labialis bermanfaat dalam bidang ekonomis untuk dijadikan hewan peliharaan. 15

16

3.1 Simpulan Amphibia merupakan hewan yang hidup dalam dua bentuk kehidupan. Terdapat 6.150 spesies amphibia yang klasifikasikan ke dalam 3 ordo, yaitu Urodela, Anura, dan Apoda. Chalcorana labialis atau Hylarana labialis disebut juga katak bibir putih merupakan salah satu spesies dari familia Ranidae yang endemik dan hidup di Semenanjung Malaysia. Chalcorana labialis dewasa umumnya hinggap di cabang-cabang rendah tepi sugai atau puing pohon yang tumbang. Saat musim kawin, katak ini akan melakukan perkawinan di kolam samping batu atau kolam kecil yang ditemukan dipinggiran sungai. Terdapat 4 fase perkembang biakan katak ini, yaitu telur, berudu, katak muda, dan katak dewasa. Chalcorana labialis terdapat di salah satu tempat di Provinsi Johor, Selangor, Terengganu, empat tempat di Provinsi Kedah, dan 2 tempat di Provinsi Pahang, Meskipun begitu, ada beberapa Chalcorana labialis yang tersebar di Singapura. Beberapa hidup juga di Sumatra dan Kalimantan. katak ini termasuk spesies yang melimpah. Banyak manfaat yang dihasilkan dari katak ini, salah satunya adalah karena ukurannya yang kecil dan jumlahnya yang berlimpah, Chalcorana sering dijadikan umpan untuk memancing ikan besar. 3.2 Saran dan Rekomendasi Penelitian mengenai persebaran Chalcorana labialis di Indonesia sangat sedikit. Hal ini bisa menjadi sumber penelitian bagi para peneliti serta sebagai sarana untuk meningkatkan rasa ingin tahu masyarakat terkait keanekaragaman katak di Indonesia. 17

DAFTAR PUSTAKA Aulan, R. dkk. (2020). KEANEKARAGAMAN AMFIBI DI SIPIROK, TAPANULI SELATAN. Sekretariat Kelompok Kerja Pengelolaan Lansekap Batang Toru. Bosco, P. L., & Chan, V. W. (2019). Herpetofauna records of two visits to Pulau Bintan, Riau Archipelago, Indonesia in 2018. Dewi, B. S. (2014). Keanekaragaman jenis amfibi (ordo anura) pada beberapa tipe habitat di youth camp desa hurun Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran. Sylva Lestari, 2(1), 21-30. Ecology Asia (2022). Copper-cheeked frog. [Online]. Diakses pada 20/11/22 melalui www.ecologyasia.com/verts/amphibians/copper- cheeked_frog.htm Idrus, M. R. (2020). Diversitas Ordo Anura di kawasan Air Terjun Tancak Kembar Kabupaten Bondowoso (Doctoral dissertation, UIN Sunan Ampel Surabaya). LIPI (2008). Kepunahan Fauna : Kodok yang Serba Rentan. [Online]. Diakses pada 20/11/22 melalui http://lipi.go.id/berita/kepunahan-fauna-:- kodok-yang-serba-rentan/2074 SEPTINA, B. (2021). MODUL TAKSONOMI VERTEBRATA (Kelas Amphibia) (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung). Shahriza, S., Ibrahim, J., & ANUAR, M. S. (2016). Reproductive Parameters of Chalcorana labialis (Anura: Ranidae) from Peninsular Malaysia. Sains Malaysiana, 45(4), 535-539. WikiZero (2020). Chalcorana labialis. [Online]. Diakses pada 20/11/22 melalui: wikizero.com/index.php/en//Chalcorana_labialis 18


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook