["kabar Bu Tanti? Apakah beliau baik-baik saja? Apakah aku mampir dulu ke sekolah mengingat waktu masih siang?\u201d Aku pesan transportasi online untuk menuju ke SMA-ku. \u201cSMAK Santa Maria!\u201d Sekolah penuh kenangan, kenyamanan, melebihi rumahku sendiri. Kusapa Bapak Ibu karyawan dengan antusias, dan seperti biasa, mereka membalasnya dengan ramah. Di pintu ruang guru aku bertemu Pak Aldi, guru baik hati yang seringkali menemaniku di siang hari sepulang sekolah, bahkan beliau menyukai game yang sama denganku, yaitu Street Fighter II. Ingin rasanya sehari ini aku mengenang setiap sudut sekolah beserta kenangannya. Di sudut koridor Laboratorium Komputer, aku melihat sosok yang kurindukan yang tidak lain adalah Bu Tanti. Masih seperti dahulu, beliau masih bersahaja dan simpatik terhadap siswanya, tak terkecuali saya yang sudah berstatus alumni. \u201cSelamat Siang Bu Tanti.\u201d Aku menyapa beliau dengan ramah. \u201cHalo Johny!! Wah, keren sekali kamu sekarang? Ngomong-ngomong, angin apa yang membawa kamu ke sini?\u201d \u201cAh, Bu Tanti memang tidak berubah, kelihatan betul guru Bahasa Indonesia-nya! Bagaimana kabarnya bu?\u201d \u201cSeperti biasa Johny, kabar baik dan tetap bersemangat! Oiya, ini ke Malang karena kangen sekolah, ataukah ada urusan lain juga?\u201d cetus Bu Tanti dengan ramah. \u201cIni bu, ayah minta saya pulang sore ini dan ingin berbicara serius dengan saya. Tapi entahlah, sejak saya mengambil jurusan guru, hubungan kami agak renggang karena ayah inginnya saya melanjutkan kuliah di bisnis, guna melanjutkan usaha beliau di bidang konveksi dan sepatu.\u201d \u201cBegini Johny, apapun pekerjaanmu, restu dari orang tua sangatlah penting, karena dari situlah jalan masuk berkat dari Tuhan. Firman Tuhan juga menyatakan, hormatilah kedua orang tuamu agar lanjut umurmu. Lanjut umur ini 90 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","tidak hanya menyangkut usia, namun berkat dan rahmat pekerjaan yang kamu geluti. Maka, restu orang tua sangatlah penting.\u201d Petuah Bu Tanti tidak pernah berubah, seperti embun yang menyejukkan kehampaan hatiku dengan kasih dan kebijaksanaan. Kulihat jam tangan menunjukkan pukul 14.30, dan aku harus segera kembali ke rumah. Siang ini aku tidak ingin memesan transportasi online, namun ingin naik kendaraan khas Malang yang disebut Mikrolet. Nampak dari kejauhan sebuah kendaraan berwarna biru bertuliskan jalur LG. \u201cNah, ini dia mikroletku sudah tiba!\u201d Di dalam angkot, aku membayangkan kejadian-kejadian konyol saat aku dan teman-teman pulang ke rumah dahulu. Terkadang aku suka duduk menghadap ke arah luar tepat di kursi kenek. Sering juga kubohongi tukang angkotnya dengan membayar tidak sebanyak anggota yang naik. Ah, sungguh kebodohan dan kenakalan remaja yang menggelikan. Saat tiba di depan rumah, aku melihat pria tua membaca Koran. Kira-kira separuh halaman, ditemani secangkir kopi hangat yang dihidangkan di cangkir aluminium klasik dan sepotong baju putih yan tak lagi berwarna putih bertuliskan \u201cArgo Konveksi.\u201d \u201cHalo Ayah,\u201d aku mencoba memberikan senyum ramah kepada ayahku. \u201cKamu mandi dan istirahat dulu, lalu ayah tunggu di ruang makan. Ada hal yang tidak bisa ayah tunda untuk menyampaikan pada kamu.\u201d Cetus ayah dengan nada tegas. Aku menuju ke kamar, dengan terlebih dahulu memeluk ibuku yang sedang menyiapkan makanan dan juga aku bawakan buah durian kesukaan ibu. Beberapa saat kemudian, dengan penuh tanya dalam hati, aku menemui ayah di ruang makan. \u201cJohny, mungkin kamu sudah menduga, apa yang akan ayah katakan padamu.\u201d Ucap ayah. Dalam hati kecil, aku memprediksi ayah akan menyampaikan perihal aku melanjutkan usaha konveksi dan pembuatan sepatu yang telah dirintis ayah sejak muda dulu. Namun, untuk menenangkan perasaan, akupun berpura-pura tidak tahu. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 91","\u201cMaaf yah, tapi Johny benar-benar tidak tahu apa yang akan ayah sampaikan.\u201d tandasku dengan cemas. \u201cAyah, ingin kamu melanjutkan usaha selepas kamu selesai kuliah. Lagipula kamu tinggal skripsi saja, jadi perhatianmu bisa dicurahkan untuk mengurus usaha keluarga.\u201d Ucap Ayah dengan sedikit memaksa. \u201cTapi ayah!!\u201d \u201cApa? Masih ingin jadi guru? Guru apa? Honorer? Mau kamu kasih makan apa cucuku nanti? Tidak malu apa kamu dengan keluarga besar kita? Dengan calon istri kamu?\u201d Bentak ayah penuh luapan emosi. \u201cTapi menjadi guru adalah cita-citaku yah!!! Saat aku sekolah dulu, aku merasa tidak pernah punya orang tua, itu karena ayah sibuk kerja, kerja, dan kerja saja!!\u201d \u201cDiam kamu, anak tidak tahu di untung! Ayah kerja ini juga untuk kamu! Camkan itu! Dasar anak gak berguna!\u201d \u201cAku tidak ingin mati-matian kerja siang-malam, tapi anakku tidak diperhatikan!\u201d Balasku dengan nada tinggi. \u201cYa sudah kalau itu mau kamu, kamu biayai sendiri kuliahmu mulai hari ini!\u201d Ucap ayah dengan emosi. \u201cBaik yah, akan kubuktikan kalau aku bisa sukses!\u201d Aku pun pamit dan pulang kembali ke Surabaya untuk melanjutkan studi. Di perjalanan, ayahku menelepon dan mencoba meminta maaf dengan kejadian tersebut. \u201cJohny, maafkan ayah kalau selama ini tidak ada waktu untuk kamu, ayah lakukan ini untuk masa depanmu agar berkecukupan.\u201d Ucap ayah dengan penuh penyesalan. \u201cMaafkan Johny juga yah, tidak seharusnya Johny berkata kasar dan membentak ayah. Kata guru Johny dulu, restu orang tua sangat penting untuk masa depan. Kini Johny minta ayah merestui usaha Johny untuk menjadi guru terbaik bagi banyak orang.\u201d \u201cDoa ayah selalu menyertaimu, nak.\u201d Ucap ayah dengan penuh haru. Dalam perjalanan waktu, aku mulai berkenalan dengan Rindy, putri dari Bu Tanti, guru idolaku. Kami dipertemukan dalam sebuah reuni SMA, kebetulan 92 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","dia adalah adik kelasku, dan arena profesinya sebagai desainer dan juga memiliki hobi di bidang fotografi, dia terlihat sibuk dalam acara reuni tersebut. Tidak berselang lama, aku pun menikah dengan Rindy. Selepas lulus kuliah aku berkonsentrasi memajukan usaha konveksi baju dan sepatu yang telah dirintis ayah, tentu dengan bantuan dari istriku tercinta dalam membuat desain terbaru dan juga mempublikasikannya menggunakan beberapa media online shop. Kini usahaku semakin maju dengan pesat, karyawan ayah yang awalnya hanya berjumlah 10 orang, kini menjadi 150 orang dan telah membuka cabang di beberapa kota. Ayah melihat hasil kerjaku dengan penuh kebanggaan. Anak yang dia banggakan berhasil memajukan usaha rintisan keluarga, namun tidak hanya itu, kini aku telah menjadi guru bagi 150 karyawanku, keluargaku, dan juga pembaca-pembaca buku melalui buku-buku hasil karyaku. Semua ini tidak lepas dari restu ayah, ibu dan kasih sayang yang diberikan Bu Tanti ketika menjadi guruku. Tamat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 93","Terima Kasih, Guruku! Karya: Rebecca Agustina Karunia Sutanto, S.Pd. Awan mendung berarak perlahan menantikan kandungan penuh untuk dicurahkan. Kandungan yang dilahirkan itu bakal menyegarkan tumbuhan dan menggembirakan binatang- binatang yang sudah lama menanti hujan. Di bawah sepohon pokok kelihatan seorang anak perempuan, 10 tahun yang ralik sekali memungut buah getah. Suka sekali dia memungut dan membawanya pulang untuk dibuat main-main. \u201cKau bodoh! Memang bodoh! Macam mana mama papa mendidikmu!\u201d \u201cKurang ajar! Anak sial!\u201d Perkataan ini menjadi makanan harian diri Alexandria di sekolah. \u201cBetulkah diriku bodoh? Kurang ajar? Pemalas? Seperti itukah aku?\u201d Dia bertanya. Kelas yang berisi 35 orang murid itu sering menjadikan Alexandria sebagai Indra semasa ujian. Indra bernomor 35. Nomor yang paling besar. Dan sebagai gantinya, Alexandria secara otomatis duduk di lantai kelas. Hal ini dikarenakan hanya 34 kursi dan meja yang disediakan. Murid dengan nomor 1 hingga 34 saja yang diberi duduk di atas kursi. Begitu hebat sekali sistem pelajaran yang di sekolah itu. Murid yang mendapat nombor 31 hingga 34 sering bertukar tempat. Pintar juga empat siswa ini merasakan belajar dengan menggunakan meja dan kursi apabila murid yang mendapat nomor belasan hingga nomor 30 mengganti tempat mereka yang sebelum ini. Tapi sangat disayangkan, nomor ke-35 secara terus menerus ditempati oleh Alexandria. Setiap kali ujian. Kini, guru yang selalu membully Alexandria sudah pindah ke sekolah lain. Tak ada lagi ejekan yang dia terima. Tapi, dia tidak bergembira dengan situasi ini. Sama sekali dia tidak membenci guru itu. Guruku! \u201cTerima kasih\u201d karena mau mendidik diriku ini. \u201cPak Hendro, guru baruku.\u201d \\\"Ganteng dan hangat orangnya.\\\" \u201cBeliaulah guru yang berjasa mengubah minderku.\u201d 94 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201cJuga guru yang telah membuka pintu bebalku.\u201d Suatu hari. Semasa di dalam kelas. Ketika diriku asyik memandang sekeliling kelas dan tidak menghiraukan sama sekali guruku di hadapanku. \u201cDiriku kan bodoh?\u201d \u201cJadi, buat apa aku belajar!\u201d \u201cPerkataan bodoh ini selalu ada di benakku. Melekat kukuh kerana hari- hari diriku menerima didikan perkataan ini.\u201d \u201cAlexandria! Kemari.\u201d Lembut sekali guruku itu memanggilku ke depan untuk menghampiri mejanya. \\\"Aku pun bangkit dan melangkah mendekati guruku.\\\" \\\"Kamu suka main?\\\" Lembut sekali guruku bertanya. \u201cSuka guru! Saya sangat suka bermain.\u201d \u201cBaik. Bagus!\u201d \u201cBoleh minta tolong keluar?\u201d \u201cDan ambil batu di luar kelas. Ambil 20 buah ya?\u201d \u201cBoleh, Pak! Sekarangkah, pak?\u201d \u201cIya sekarang.\u201d \u201cPergilah. Hati-hati ya Alexandria.\u201d Tanpa berlengah, aku lekas melaksanakan perintah Pak Hendro. Aku bangga sekali karena hanya aku yang dapat keluar kelas. Siswa yang lain masih sibuk dengan pekerjaan masing- masing. Hebat sekali nih, aku!! \u201cPak Hendro baik banget.\u201d Pikirku sambil memungut batu-batu. Beberapa saat kemudian, aku masuk membawa batu. \u201cEnak banget memungut batu-batu ini, seperti memungut getah di sebelah rumah.\u201d Kataku. \u201cPak Hendro! Pak Hendro! Lihatlah, batu-batu yang saya bawa ini.\u201d Alexandria meletakkan batu-batu yang dibawanya ke atas meja guru. \u201cYa, bagus murid Pak Hendro ini! Tapi mengapa Alexandria mengambilnya sangat banyak? Pak Hendro kan tadi pesannya hanya ambil 20 buah saja.\u201d Pak Hendro menegur penuh hikmah. \\\"Dan mengapa Alexandria menggunakan rok seragam sebagai alas untuk batunya? Kan kotor itu?\\\" Tegur Pak Hendro lagi. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 95","\u201cOh iyakah? Saya tidak tahu 20 buah batu itu seperti apa, Pak. Maaf, Pak!\u201d Alexandria menundukkan kepalanya. \\\"Dan tangan saya kecil, Pak, tidak muat untuk batu yang banyak ini, sehingga saya pakai rok saya.\\\" Alexandria mengadu. \\\"Astaga!! Mungkin bapak yang salah memberi arahan.\\\" Pak Hendro sadar, anak ini perlu darahkan dengan bahasa ayah. \\\"Ambil batu kecil 20 buah menggunakan tangan. Benarkah perintah ini? Baru tak kotor baju anak kecil ini.\\\" Pak Hendro menyusun perintah itu. \\\"Baik, tak apa. Pak Hendro tidak marah. Alexandria! Kemari, duduklah di atas kursi bapak\\\" Pak Hendro berdiri di sebelah kursinya untuk memberi tempat kepada Alexandria.\u201d \u201cEh, Pak Hendro?\u201d Tanya Alexandria. Ini adalah pertama kalinya dia duduk di atas kursi guru. Sebelum ini dia tidak pernah duduk di situ seperti murid-murid lain yang sering bermain di kursi itu, apalagi waktu istirahat. \\\"Kursi itu hanya untuk guru.\\\" Pikirnya. \u201cSilakan.\u201d Jawab Pak Hendro mesra. \u201cPak? Batu ini mau diapakan?\u201d Alexandria bertanya heran. \u201cOh. Boleh Alexandria pindahkan batu-batu ini?. Di sebelah sini lima buah?\u201d Pak Hendro menunjuk ke arah kanan Alexandria. Dan di sebelah sini lima buah? Jari telunjuk Pak Hendro menunjuk ke arah kiri Alexandria. Untuk seketika, Pak Hendro meninggalkan Alexandria sendirian. Dalam hatinya. \u201cSebagai seorang guru, aku tidak akan memaki muridku dengan perkataan yang kasar.\u201d \u201cBantulah hamba-Mu ini ya Allah. Tanamkanlah sifat sabar dan ikhlas dalam diriku ini.\u201d Pak Hendro berdoa. Dia kembali mendidik pelajar lain. Berjalan melihat tugas yang telah diberikan. \u201cBagaimana, anak-anak?\u201d \\\"Sudah siap latihan yang tadi?\\\" \u201cBelum sebentar lagi pak!!\u201d Hampir semua murid menjawab. \u201cBaik. Kalian lanjutkan dulu.\u201d 96 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","Guru yang tinggi itu kembali pada Alexandria. \\\"Pak! Benarkah susunan saya ini?\\\" \u201cIya, yang sebelah kanan sudah benar lima buah, tapi kenapa yang sebelah kiri Alexandria itu ada tujuh buah.\u201d \u201cMaaf, Pak!\u201d \u201cBaik! Tidak apa. Alexandria betulkan dulu ya.\\\" \u201cAlexandria lalu membuang dua buah batu di sebelah kirinya.\u201d \u201cNah..lihat\u2026 sudah benar semua. Lima buah di sebelah kanan dan lima buah di sebelah kiri.\u201d Pandai ya muridnya Pak Hendro ini? \u201cAlexandria sangat gembira karena inilah pertama kalinya dia mendapat pujian dari seorang guru.\u201d \u201cIyakah, Pak? Saya ini pandai?\u201d \u201cTentu .\u201d Jawab Pak Hendro ikhlas. Muncul senyum di bibir Alexandria dan juga Pak Hendro. Alexandria? Lima tambah dua berapa ya? Boleh beri tahu guru. Sabar sekali guru muda itu bertanya pada murid yang sebenarnya pemarah itu. Alexandria membuka jari-jarinya. \u201cYahh. Jangan pakai jari. Kalau pakai jari, batunya untuk apa?\u201d Pak Hendro membuat muka merajuk. \u201cMaaf pak, saya lupa! Hehe. \u201cAlexandria tersenyum. \u201cBaik. Pak Hendro maafkan.\u201d Lalu Alexandria mengira anak batu di hadapannya. \u201cTujuh, pak! Benar?\u201d \u201cIya tujuh!\u201deh, oh iya, tujuh, pak . Alexandria masih ragu-ragu. \u201cBetul, Pak?\u201d Dengan semangat Alexandria bertanya pada gurunya. \\\"Iya betul. Pandai kan, murid bapak\\\". Pak Hendro memberi jempolnya. \u201cAlexandria! Buat seperti tadi juga ya. Tapi kali ini 10 buah untuk kedua tempat itu?\u201d naik lima buah. Arah Pak Hendro. Baik, pak!! Segera Alexandria menyusun anak batu 20 buah. Masing- masing 10 buah di sebelah kanan dan kiri. Seminggu penuh diriku bermain permainan ini dengan berbagai gaya di samping Pak Hendro di dalam kelas. Awalnya aku tidak tahu apa maksud dari UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 97","permainan anak batu ini. Kini, baru aku tahu bahwa guruku itu mengajarku Matematika. Sungguh menakjubkan. Kreatif sekali. Guruku \u201cTerima Kasih.\u201d \u201cSungguh baik guruku. Bagaimana aku membalas jasa- jasamu?\u201d Semenjak dari itu, diriku tidak lagi menghuni tempat ke-35 bila ujian. Selalu nomor pertama yang kudapat. Perubahan yang mendadak. \u201cSyukur kepada- Mu ya Allah.\u201d \u201cAku tidak lagi duduk di lantai. Semangat diriku terus menggebu-nggebu.\u201d \u201cPak Hendro!! Guruku.\u201d Kenang Alexandria. Pada suatu senja, Pak Hendro datang ke rumahku untuk mendidikku sambil bertemu mamaku. \\\"Anak Ibu 'Alexandria Cahyadi' sebenarnya pandai. Sangat pandai dan cerdas. Tapi kepandaiannya tidak didapat dengan pendidikan yang baik. Kepandaiannya telah dihentam dengan kata-kata yang membawa putus asa kepada Alexandria. Insya Allah masih ada harapan untuk berubah. Percayalah, anak ibu ini akan mampu mengubah kedudukan ibu nanti.\\\" Inilah kata-kata yang sempat didengar Alexandria. Kata-kata guru kepada ibu, merangkap ibu tunggal, juga seorang penoreh getah. Aku lulus dari Sekolah Dasar. Kemudian melanjutkan di Sekolah Menengah Atas yang ternama. Setelah itu, melanjutkan di Universitas Negeri Malang untuk melanjutkan sosok Pak Hendro menjadi seorang guru yang baik. Luar biasa aku dapat sampai ke tahap ini. Begitu banyak ilmu dan pengalaman yang aku dapatkan. Macam-macam pengalaman dapat kuambil. Kini Pak Hendro telah berpulang ke rumah abadiNya. Banyak pengalaman hidup, nasihat, dan canda tawa yang telah diberikan padaku. \u201cBeristirahatlah dalam damai Tuhan, Pak!\u201d Doa yang selalu dikumandangkan oleh Alexandria penuh haru. \u201cTerima kasih Allah, Penciptaku.\\\" \u201cTerima kasih, Guruku!\u201d Tamat 98 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","Kasih yang Murah Hati Karya: Maria Evelyn, S.S. Di pagi yang sunyi ini, aku melihat jalan yang masih sepi. Hanya sesekali kulihat sekelompok ibu-ibu yang siap berjualan di pasar. Mereka terlihat riang padahal langit masih gelap. Matahari masih enggan untuk bangun dari tidurnya. Dengan langkah yang berat, aku mulai bergegas untuk mandi. Kurasakan air yang dingin menyentuh kakiku\u2026brrrrr rasanya masih ingin tidur merasakan hangatnya selimut. Tapi apalah daya, rumahku jauh dari sekolah. Tiap hari aku harus berangkat pagi supaya tidak ketinggalan angkot. Batu ke Malang jaraknya 1 jam untuk naik angkot. Itu pun jika lancar. Air dingin ini seketika membuat kantukku lenyap. Segera kuraih seragam dan tasku. Kuraih roti isi telur yang sudah disiapkan oleh Ibu. Terkadang karena harus bangun pagi, aku tidak sempat makan nasi bersama-sama dengan orangtuaku. Ayahku juga pagi-pagi harus sudah keluar dari rumah karena Ayah seorang karyawan di TK dekat rumahku. Ayahku adalah karyawan yang membersihkan lingkungan TK Mulia Hati. Sebuah TK kecil di dekat rumahku. Kami adalah keluarga kecil. Aku tidak punya saudara. Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah seorang Ibu rumah tangga yang sangat sabar dan penuh kasih. Sehari-hari Ibu membantu Ayah berjualan kue di depan rumah. Ibu sangat pintar memasak dan membuat kue. Karena itu dagangan Ibu selalu laris manis terjual setiap harinya. Dari situlah Ibu membantu Ayah untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil kami. Puji Tuhan kami semua hidup berkecukupan. Karen itu aku sangat ingin suatu saat nanti bisa membantu perekonomian dari keluargaku. Aku ingin bisa membahagiakan keluargaku suatu hari nanti dengan prestasi yang aku raih di sekolah. Ketika kurasa semua sudah lengkap, aku berpamitan kepada Ibu dan meminta berkatnya di dahiku agar hari yang kulalui senantiasa dalam lindunganNya. Aku berdiri di tepi jalan besar dan menunggu angkot. Sesekali aku maju dan menengok ke kanan, namun belum kelihatan juga angkotnya. 5 menit sudah berlalu\u2026sesekali aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Naaahh! Itu dia yang ditunggu baru muncul! Cepat-cepat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 99","kulambaikan tangan kananku untuk menyetop angkot tersebut. Sepertinya saya penumpang pertama di angkot ini. Seperti biasa aku suka membawa bekalku dan memakannya di dalam angkot sambil menikmati perjalanan ke sekolah. Angkot mulai berjalan perlahan, saya membuka bekal roti isi telur yang tadi sudah disiapkan oleh Ibu dan memakannya sambil melihat pemandangan sepanjang jalan menuju sekolah. Ya memang aku harus pulang pergi naik angkot dengan waktu yang cukup lama. Terkadang waktu pulang aku sampai ketiduran di angkot karena lelah. Tapi ya mau bagaimana lagi. Memang keadaan inilah yang harus saya jalani. Puji Tuhan saya bisa mendapatkan prestasi yang baik di sekolah. Sehingga saya dapat membantu meringankan beban orang tua saya. Saya sering mendapatkan potongan spp karena saya selalu menjadi juara paralel di sekolah. Kira-kira pukul 06.00, saya sudah sampai di sekolah. Kulihat sekolah masih sepi. Hanya ada Pak Joni, satpam sekolah yang setiap harinya biasa menyambut saya. \u201cSelamat pagi Pak!\u201d salamku kepadanya. \u201cPagi!\u201d Pak Joni menjawab salamku dengan ramah. Pak Joni ini satpam yang baik dan ramah. Dia selalu tersenyum dan suka membantu orang lain. Hampir setiap pagi saya dan Pak Joni adalah orang yang datang pertama di sekolah. Saya tidak mau terlambat. Saya sadar bahwa rumah saya jauh, maka saya harus datang awal agar tidak terlambat. Seperti biasa, saya tidak langsung masuk kelas. Saya suka duduk di depan dekat pos satpam sambil menunggu teman saya datang. Satu dua orang mulai berdatangan, tapi bukan dari teman dari kelas saya. Tak berapa lama kemudian datang Bu Yuli. Bu Yuli ini adalah seorang pegawai perpustakaan. Bu Yuli mendekati Pak Joni dan memberikan nasi bungkus kepada beliau. \u201cAda rejeki Pak. Tadi pagi saya masak dan porsinya banyak sekali. Jadi saya bawakan buat panjenengan.\u201d Pak Joni terlihat malu-malu menerima nasi bungkus yang diberikan oleh Bu Yuli kepada beliau. Matanya terlihat bahagia. 100 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201cPuji Tuhan, dapat rejeki di pagi hari. Terimakasih, Bu!\u201d sahut Pak Joni. Saya menyapa Bu Yuli dan kembali memperhatikan Pak Joni\u2026 Tampak Pak Joni masuk dan menyimpan bungkusan nasi bungkus di pos satpam. Kemudian dia keluar kembali dan bertugas untuk menyambut anak-anak dan para guru. Tiba-tiba muncul seorang seorang lelaki tua yang sedang menarik gerobak sampah lewat depan sekolah. Seketika itu Pak Joni memanggil lelaki tersebut, dan bergegas masuk ke pos satpam mengambil bungkusan yang diberikan oleh Bu Yuli kepadanya. Pak Joni memberikan nasi bungkus itu kepada lelaki tua yang sedang mengais-ngais sampah di depan sekolah. \u201cBuat sampeyan Pak!\u201d kata Pak Joni kepada lelaki tua itu. Lelaki tua itu tampak matanya berkaca-kaca menerima nasi bungkus tersebut. \u201cTerimakasih Pak! Semoga sampeyan selalu diberikan rejeki yang berlimpah.\u201d \u201cNggih Pak, sami-sami!\u201d kata Pak Joni. \u201cDeg\u201d rasanya hatiku melihat apa yang dilakukan Pak Joni. Dia tidak segan-segan berbagi pada orang lain. Nampak bapak tua itu pergi dengan penuh kebahagiaan. Segera saya menghampiri Pak Joni. \u201cPak, kenapa sampeyan kasih nasi bungkus dari Bu Yuli ke bapak tua tadi?\u201d rasa penasaran menghampiriku. Pak Joni tersenyum melihatku sambil berkata, \u201cSaya masih bisa mencari untuk diri saya sendiri, tapi belum tentu dengan bapak tadi. Saya sering melihat dia jalan jauh sambil menarik gerobak sampah panas-panas di siang hari. Kadang- kadang kehujanan. Tapi dia tetap menarik gerobak sampah yang berat itu dengan senang hati. Tidak tega saya. Tidak ada yang bantu dia ,\u201c kata Pak Joni. Ya Tuhan, baik sekali hati Pak Joni ini. Saya saja tidak pernah membantu orang sebelumnya. Rasanya malu sekali saya di hadapan Pak Joni. Tak berapa lama teman saya, Clara sudah datang, dia menyapaku dan mengajakku untuk masuk ke kelas bersama- sama. Di dalam kelas tak henti- hentinya aku mengingat kejadian yang tadi terjadi. Sungguh hati Pak Joni ini sangat mulia. Terkadang kita terlalu meremehkan orang yang kecil. Bukanlah UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 101","sebuah pekerjaan yang bisa meninggikan derajat kita, tetapi kebaikan hati seseorang yang mampu meninggikan derajat orang tesebut. Ada banyak cara Tuhan menyapa kita. Lewat orang-orang yang ada di sekitar kita. Lewat orang tua, sanak saudara, teman, Pak Satpam, tukang becak, dan lain-lain. \u201cMampukah hati kita tergerak untuk membantu mereka?\u201d Meskipun dengan perbuatan yang mungkin bagi orang lain tidak ada artinya, tapi bagi orang yang kita bantu sangat berarti untuk mereka. Dan itu merupakan ibadah kita yang sejati kepada Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama. Tamat 102 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","Milik Kita Bersama Karya: Angela Dianti, S.Pd. Suara alarm pagi berbunyi, menandakan waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Namun alarm pagi dari handphone tidak sekeras dari suara ibu yang selalu membangunkan dari mimpi. \u201cClaribel, Claribel. Alarm sudah berbunyi, ayo bangun, lekas siap-siap untuk sekolah\u201d. \u201cBaik ibu, Claribel sudah bangun.\u201d Rutinitas setiap pagi Claribel setelah bangun pagi adalah membersihkan tempat tidur, olahraga ringan, menyiram tanaman, kemudian mandi untuk bersiap ke sekolah. Setelah rapi dan bersih, Claribel menuju ruang makan. \u201cSelamat pagi Ayah, Ibu, Kakak, Adik\u201d \u201cSelamat pagi\u201d, sahut mereka bersama. Claribel adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak kecil, tiga bersaudara ini sudah terdidik secara disiplin oleh kudua orangtuanya, hal ini terbukti saat sarapan tepat pukul 05.30 mereka sudah di meja makan bersama. Pagi ini Claribel diantar oleh Kak Christian, kakak laki-lakinya. Sedangkan adik perempuannya, Callista diantar oleh Ayah dan Ibunya. Perjalanan Claribel ke Sekolah Menengah Atas ditempuh 30-40 menit dengan menggunakan mobil. Tidak lupa memakai masker, dan membawa handsanitizer, selain perlengkapan sekolah yang sudah dibawa dalam tas mereka masing-masing. Claribel sangat dekat dengan kakaknya, apapun yang terjadi di sekolah selalu diceritakan, begitu pula dengan kakaknya yang sudah duduk di bangku kuliah yang sering menceritakan pengalaman menjadi mahasiswa. \u201cKak Christian, kakak masih ingat ndak kegiatan sekolah yang diadakan oleh sekolahku kemarin?\u201d \u201cHmm, yang kamu bawa beberapa tanaman itu?\u201d \u201cEmang kenapa ada masalah?\u201d Jawab Kak Christian\u201d. \u201cYa kakak kan tau sendiri, aku sebagai pengurus kelas harus memberikan contoh yang baik untuk teman-temanku\u201d, \u201cAku bawa 3 tanaman karena itu mewakili kita 3 bersaudara, maksudku seperti itu\u201d, \u201cNamun, ada temanku yang lupa tidak membawa tanaman, akhirnya Ia memaksa aku untuk memberikan salah satu tanaman itu kepadanya\u201d. Jawab kakakku sambil tetap fokus menyetir, \u201cLalu kenapa kamu bersedih? Ya wajar sih memang anak remaja itu seperti itu\u201d. Jawabku, \u201cIya aku sedihnya karena teringat kata Pak Guru yang memang kebetulan wali kelasku UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 103","yang memberi perintah bahwa setiap tanaman yang kamu bawa ini merupakan bagian dari anggota keluargamu. Nah, aku memang sengaja membawa 3 tanaman karena di potnya nanti diberi nama kita masing-masing.\u201d \u201cKalau menurut kakak, ada 2 pilihan yang bisa kamu lakukan, yang pertama, jangan diiberikan tanaman itu kepada teman kamu, karena itu salah satu bentuk melatih tanggung jawab bersama sebagai siswa\/siswi, atau pilihan yang kedua, kamu berikan saja salah satu tanaman itu, dan kamu harus memberikan tanggung jawab agar menanam dan merawat dengan baik tanaman tersebut, Kakak hanya bisa memberikan 2 pilihan, tapi itu tergantung dari keputusan kamu sih, karena kamu sudah remaja menuju dewasa, jadi kamu punya pilihan untuk menentukan yang terbaik dalam hidupmu.\u201d \u201cBaik kak, terimakasih sarannya, aku juga melihat situasi nanti karena wali kelasku memberi waktu sampai hari ini bagi yang kemarin belum membawa, dan hari ini melakukan kegiatan menamam bersama.\u201d Kak Christian memang pendengar yang baik, tapi segala keputusan kembali lagi ke adik-adiknya, apalagi kedua adiknya perempuan, yang memang selalu mengandalkan perasaan disetiap permasalahannya. Tetapi semua pilihan ada dampak postif dan negatifnya. Kalau Claribel memilih pilihan pertama, maka dampak positifnya, dia memberikan contoh tanggung jawab yang baik kepada temannya, tetapi dampak negatifnya adalah nilai satu kelas akan berkurang, karena penilaian juga dilihat dari keterlibatan seluruh anggota kelas. Namun, kalau Claribel memilih pilihan yang kedua, maka dampak positifnya adalah selain nilai kelas tidak berkurang, ada yang membantu merawat tanamannya di sekolah, tetapi dampak negatifnya dia tidmemberikan contoh tanggung jawab yang baik kepada temannya. Begitulah kebimbangan hati Claribel saat pagi hari itu. Setelah menikmati perjalanan selama 30 menit, sampailah Claribel di sekolah. Terlihat sekolah yang tidak begitu ramai dikarenakan hari ini hanya siswa- siswi kelas XI saja yang luring dalam 1 minggu. Kemudian bergantian setiap minggunya kelas X dan XII. Hari ini hari Selasa, khas seragam siswa-siswi putih abu-abu yang kami pakai. Kakak mengantarku, tidak jauh dari gerbang sekolah, sambil berpamitan ke kakak, tidak lupa kami pun bersalaman, dan kakak selalu berpesan agar semangat dalam bersekolah. 104 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","Claribel berjalan dari gerbang sekolah menuju kelasnya, Ia melewati beberapa ruang diantaranya ruang tamu, ruang TU, ruang kepala sekolah, ruang guru, maupun ruang kelas yang lainnya. Setiap hari sekolah memang selalu sejuk, karena ada beberapa pohon yang rindang dan beberapa tanaman. Karena kelas Claribel dibagi menjadi 2 waktu, waktu sekolah pagi dan siang, maka tempat duduknya berjarak, Claribel menempati tempat duduk di samping jendela kelas sambil memandangi tanaman aglonema big roy, atau tanaman yang dibawanya dan diletakkan di serambi kelas. Tak lama kemudian, bel masuk sekolah berbunyi, terlihat dari jendela, wali kelas berjalan menuju ruang kelasku, tepatnya XI IPS 1. \u201cBerdiri siap, beri salam\u201d, komando ketua kelas XI IPS 1. \u201cSelamat pagi Pak\u201d, sahut kami semua. \u201cSelamat pagi anak-anak yang dapat jam pagi, kita awali kegiatan hari ini dengan berdoa, kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Sekolah secara bersama-sama\u201d, himbauan wali kelas kami. Setelah berdoa dan bernyanyi, kami duduk kembali, dan wali kelas presensi, \u201cSiapa yang tidak masuk hari ini?\u201d \u201cMasuk semua pak\u201d Jawab Claribel, karena sebagai sekretaris kelas. \u201cAnak-anak semua, jam pertama hari ini kita perwalian terlebih dahulu, kegiatan kita hari ini adalah selama 60 menit, kalian diberikan kebebasan bersama teman kelas untuk memindahkan tanaman yang kalian bawa untuk diletakkan di taman sekolah yang dekat dengan ruang kelas kalian\u201d. \u201cTujuan diadakan kegiatan ini adalah yang pertama adalah menjaga kerapian dan kebersihan lingkungan, jadi kalian dapat menata tanaman yang kalian bawa agar tetap rapi sesuai dengan jenisnya. Tujuan yang kedua adalah kalian menanam dan merawat tanaman, dimana tidak hanya membawa saja, tapi kalian bertanggung jawab untuk merawatnya dengan rajin menyiram setiap hari. Dan tujuan yang ketiga adalah kalian dapat menjaga keseimbangan ekologi di lingkup sekolah kalian dengan menghemat air, meskipun kalian dapat menyiram tanaman kalian sendiri, tapi tidak menggunakan air secara berlebihan\u201d. Demikian instruksi dari wali kelas kami. \u201cKarena ini merupakan penilaian kelas juga, maka setiap tanaman yang kalian bawa, kalian berikan nama di potnya masing-masing. Jadi nanti memudahkan bapak dalam menilai siapa yang tidak membawa. Sekali lagi bapak mengingatkan ya, ini merupakan penilaian kelas juga, konsekuensi juga ditanggung oleh kelas\u201d tambahan informasi dari wali kelas kami. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 105","Ketika sudah paham instruksi dari wali kelas, Claribel berjalan menuju serambi kelasnya. Dengan tetap jaga jarak, Ketrin pun memberi kode dengan menunjukkan telunjuknya yang menunjukkan angka 1 kepada Claribel. Tanpa berpikir Panjang, Claribel pun paham apa yang dimaksud Ketrin, karena dari kemarin Ketrin sudah meminta satu tanaman itu kepada Claribel. Karena Claribel sudah cerita ke kakaknya tadi pagi untuk menentukan keputusannya sendiri, dan Ia pun pun meminta Ketrin membaca WA yang sudah dikirimnya sejak pagi tadi. \u201cKetrin, tolong rawat tanaman ini ya, Jaga dan sayangi dia seperti anggota keluargamu sendiri, anggap saja ini sebagai Milik kita bersama\u201d. Isi dari WA Claribel. Secara cepat pula, ketrin membalasnya, \u201cTerimakasih Claribel, atas kasih persahabatan yang kamu berikan padaku lewat tanaman ini, aku janji akan merawatnya dan kalau sudah bertambah banyak daunnya, akan aku pisah dari induknya dengan pot yang berbeda, sehingga bisa aku kembalikan lagi padamu\u201d Jawab Ketrin melalui WA. Sambil tersenyum lega, Claribel memberikan salah satu tanamannya kepada Ketrin, dan bersama-sama menata dengan teman kelas yang lain, serta membagi kelompok untuk bertugas menyiram setiap harinya. Tamat 106 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","Kepedulian Mengantarkan Kesuksesan Karya: Francisca Currie Oktaviani, S.Pd. Haii aku Citra. Aku saat ini masih SMA kelas XI MIPA di SMAK Santa Maria Malang. Aku berasal dari keluarga yang sederhana, Bapak bekerja sebagai karyawan swasta biasa dan Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga dengan usaha sampingan membuat kue yang dititipkan di warung. Aku selalu membantu ibuku dalam membuat kue. Setiap malam setelah selesai belajar aku selalu menyempatkan diri untuk membantu ibuku dalam menyiapkan adonan kue. Aku menakar adonan sesuai dengan resep yang diajarkan oleh Ibuku. Saat itu aku melihat Ibuku yang sedang menata sarapan di meja makan, aku lantas menghampirinya. \u201cNak, coba panggilkan Bapak dan adikmu agar kita bisa segera untuk sarapan bersama.\u201d Kata Ibuku. \u201cBaik Bu akan Citra panggilkan Bapak dan Adik.\u201d Kataku Aku segera berjalan ke kamar Bapak dan Adikku untuk mengajak sarapan bersama. Tok tok tok\u2026\u2026 \u201cPak! Bapak! Ayo segera sarapan. Ibu sudah selesai menyiapkannya.\u201d Panggilku kepada Bapak \u201cIya Cit, Bapak akan segera sarapan, baru selesai siap- siap.\u201d Kata Bapakku. Kemudian aku segera berlalu, berjalan ke kamar adikku. \u201cDekkk\u2026. ayo sarapan sudah selesai disiapkan oleh ibu.\u201d Kataku kepada adik Cekklekk pintu kamar terbuka \u201cAyo Kak segera kita sarapan keburu siang.\u201d Ajak adikku Aku dan adikku berjalan menuju ruang makan ternyata Bapak dan Ibuku sudah menunggu. Kebiasaan keluarga kami adalah setiap pagi harus sarapan bersama dan makan malam bersama. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 107","\u201cGiliran siapa sekarang yang memimpin doa?\u201d Tanya Bapakku \u201cMarcel pak sekarang yang memimpin doa.\u201d Kata Adikku \u201cAllah Bapa yang Maha Pengasih terimakasih atas berkat yang boleh kami santap hari ini. Berkatilah makanan ini sehingga dapat menjadi berkat bagi tubuh kami. Berkatilah juga orang-orang diluar sana yang saat ini sedang kekurangan lancarkanlah rejeki mereka. Amin\u201d \u201cAmin\u201d \u201cAmin\u201d \u201cAmin\u201d Kami memulai menyantap makanan. Kami menikmati makanan yang dibuatkan oleh Ibu walaupun lauknya sederhana tapi dengan kebersamaan rasanya sangat enak. Sambil makan kami saling bercerita. Makan pun selesai. Aku berangkat ke sekolah dengan mengayuh sepeda. Perjalanan kurang lebih 15 menit untuk sampai sekolah. Ketika istirahat aku dipanggil oleh pihak administrasi keuangan dan diberikan laporan tentang kekurangan pembayaran SPP dan DPP. Pembelajaran pun berakhir aku langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku heran kenapa Bapak sudah ada di rumah dan duduk bersama Ibu di ruang tamu dengan wajah yang terlihat sedih. \u201cLho? Bapak sudah pulang?\u201d tanyaku sambal memberi salam \u201cIya, Nak, Bapak sudah pulang. Ganti seragam dan makanlah dulu setelah itu bergabung dengan Bapak dan Ibu.\u201d Kata Bapak Aku berjalan ke kamar untuk berganti baju dan setelah itu makan. Sambil berjalan aku bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Bapak. Setelah selesai makan aku bergabung dengan Bapak dan Ibu di ruang tamu. \u201cBapak ini tadi Citra mendapatkan surat dari sekolah tentang pelunasan pembayaran uang sekolah.\u201d Kataku kepada Bapak sambil menyerahkan surat. Aku melihat wajah Bapak dan Ibu langsung berubah menjadi sedih dan bingung. \u201cCitra\u2026.. tempat kerja Bapak saat ini sedang terjadi PHK besar-besaran. Banyak karyawan yang diberhentikan dari pekerjaannya, salah satunya adalah Bapak. Jadi sekarang Bapak tidak mempunyai pekerjaan, tapi Bapak akan mencoba mencari pekerjaan lain.\u201d Kata Bapak 108 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201cKenapa Pak terjadi PHK, apakah terjadi masalah Pak?\u201d Tanyaku \u201cTempat kerja Bapak mengalami kerugian yang sangat besar sehingga biaya operasional tidak mencukupi.\u201d Penjelasan Bapak \u201cTerus bagaimana Pak pembayaran uang sekolah?\u201d Tanyaku \u201cCitra untuk saat ini biaya hidup kita hasil dari keuntungan penjualan kue di warung yang tidak seberapa selama Bapak belum bekerja, kita harus lebih menghemat Nak. Untuk pembayaran kekurangan uang sekolah bisa ditunda terlebih dahulu.\u201d Kata Ibu Malam harinya setelah selesai menakar adonan kue aku ke kamar sambal berpikir, \u201cBagaimana jika Bapak dan Ibu tidak bisa membayar uang sekolah, belum lagi biaya adikku, biaya keseharian. Keuntungan dari jualan kue Ibu tidak mencukupinya. Padahal akau masih ingin menyelesaikan sekolahku. Coba besok aku konsultasi dengan Bu Niken wali kelasku.\u201d Jam 04.00 aku bangun ingin membantu Ibu untuk membuat kue. Selesai membuat kue aku segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Selam pembelajaran berlangsung aku tidak konsentrasi dalam memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan oleh Bapak dan Ibu Guru. Ketika pembelajaran berakhir aku segera menemui Bu Niken di ruang Guru. Tok\u2026tok..tok \u201cPermisi Bapak dan Ibu, mau bertemu dengan Bu Niken, apakah ada ya?\u201d Tanyaku kepada Bapak dan Ibu Guru. Aku melihat Bu Niken segera berjalan menemuiku. \u201cCitra,, ada apa mencari Ibu?\u201d Ada yang bisa di bantu?\u201d Tanya Bu Niken \u201cBu Niken,,,mohon maaf mengganggu waktunya sebentar, apakah Ibu sedang sibuk?\u201d Tanyaku \u201cOh tidak Citra, Ibu sedang tidak sibuk.\u201d Kata Bu Niken \u201cBu\u2026 Citra ingin konsultasi. Begini Kemarin Citra mendapatkan surat dari sekolah tentang pelunasan pembayaran uang sekolah SPP dan DPP. Tetapi kemarin Bapak Citra di PHK dari pihak kantornya jadi masih belum bisa membayar kekurangan SPP dan DPP. Citra takut Bu jika nanti masih belum bisa membayar kekurangan uang sekolah diminta untuk berhenti dari sekolah. Padahal Citra masih ingin menyelesaikan sekolah sampai akhir. Biaya hidup kami UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 109","sekarang hanya mengandalkan keuntungan dari jualan kue Ibu saya.\u201d Ceritaku kepada Bu Niken \u201cUntuk kekurangan biaya SPP dan DPP, orang tua Citra bisa langsung menemui Kepala Sekolah untuk konsultasi mengenai permasalahan kamu tadi. Siapa tahu nanti Kepala Sekolah mempunyai kebijakan tersendiri mengenai permasalah tadi. Mungkin Citra bisa berdiskusi dulu dengan orang tua untuk bisa bertemu dengan Kepala Sekolah.\u201d Kata Bu Niken \u201cJadi Bu, ini saya masih bisa mengkonsultasikan dulu ya Bu dengan Kepala Sekolah, soalnya Citra takut Bu jika belum bisa melunasi kekurangan biaya sekolah nanti saya di minta untuk berhenti dari sekolah.\u201d Kataku \u201cTidak perlu takut Citra yang penting permasalahan kamu itu dibicarakan dulu kepada Kepala Sekolah.\u201d Kata Bu Niken \u201cBaik Bu nanti akan saya bicarakan dengan orang tua terlebih dahulu.\u201d Kataku \u201cIbu kamu jualan kue apa?\u201d Tanya Bu Niken \u201cIbu jualan kue\/jajanan pasar Bu misalanya kue pukis, donat, risoles, pastel, martabak dll. Harganya terjangkau Rp 1.500\/bijinya.\u201d Kataku \u201cWahhh enak-enak pastinya ya, boleh tidak Ibu pesan Rp 30.000 untuk kuenya. Besok pagi bisa dibawakan ya.\u201d Kata Bu Niken \u201cBisa Bu, besok pagi akan saya bawakan. Terima kasih ya Bu atas sarannya. Saya akan berdiskusi terlebih dahulu dengan orang tua kapan mau menemui Kepala Sekolah.\u201d Kataku \u201cSecepatnya lebih bagus Citra supaya kamu tidak kepikiran terus. Nanti kabari Ibu ya kapan untuk menemui Kepala Sekolah, supaya Ibu bisa membuatkan janji dengan beliau.\u201d Kata Bu Niken \u201cBaik Bu, nanti saya akan menghubungi Ibu jika saya sudah bicara dengan orang tua saya. Terima kasih banyak ya Bu atas sarannya. Maaf mengganggu waktunya Ibu. Saya pamit pulang dulu ya Bu.\u201d Kataku \u201cIya Citra, hati-hati dijalan sampai bertemu besok tetap semangat.\u201d Kata Bu Niken Akhirnya aku lega bisa mencurahkan kepada Bu Niken sedikit berkurang kegelisahannku. Segera aku pacu sepedaku untuk segera sampai di rumah dan 110 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","akan aku sampaikan kepada Bapak dan Ibu. Tanpa sengaja aku mendengar kegelisahan orang tuaku, aku merasa kasihan dengan Bapak dan Ibu ingin rasanya aku membantu meringankan beban mereka. Segera aku sampaikan kepada Bapak dan Ibu hasil diskusi dengan Bu Niken semoga bisa mengurangi kegelisahan Bapak dan Ibu. Setelah berdiskusi akhirnya lusa Bapak dan Ibu akan ke sekolah untuk menemui Kepala Sekolah. Segera aku sampaikan kepada Bu Niken melalui WA. Waktu pun tiba Bapak dan Ibuku ke sekolah menemui Kepala Sekolah. Aku berharap sekolah memberikan keringanan kepadaku. Aku bisa bernafas lega setelah Bapak dan Ibu menceritakan bahwa sekolah memberikan keringanan untuk menunda pembayaran dan bisa di cicil untuk melunasi kekurangan pembayaran. Selang satu bulan Ibuku jatuh sakit dan hingga saat ini sering sakit-sakitan. Bapakku juga belum mendapatkan pekerjaan yang tetap. Akhirnya aku menggantikan Ibuku untuk membuat kue dan menjualnya. Tetapi aku merasa keuntungan dari hasil penjualan tidak mencukupi untuk makan dan biaya berobat Ibu ke rumah sakit. Akhirnya aku memutuskan mencari pekerjaan part time sepulang sekolah. Aku mendapatkan pekerjaan part time di sebuah restoran. Aku bisa bekerja pulang sekolah mulai jam 16.00-21.00 semoga dengan aku bekerja part time bisa membantu orang tuaku. Setelah pulang dari kerja aku membuat adonan untuk kue. Akhir-akhir ini aku sering ditegur oleh Bapak dan Ibu Guru karena terkadang tertidur di dalam kelas dan juga nilaiku menurun. Ketika sedang pembelajaran berlangsung aku mendengar ada yang mengetuk pintu kelasku dan ternyata itu adalah Bu Niken. Bu Niken ternyata menyuruhku untuk menemui beliau ketika istirahat. \u201cCitra bagaimana keadaan Bapak dan Ibumu apakah sehat?\u201d Tanya Bu Niken \u201cPuji Tuhan Bapak sehat Bu, tetapi akhir-akhir ini kesehatan Ibu menurun sering sakit-sakitan.\u201d Kataku sedih \u201cIbu sakit apa Citra, kalau boleh Ibu tahu?\u201d Tanya Bu Niken UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 111","\u201cIbu memiliki riwayat jantung lemah Bu sehingga tidak boleh kecapekan.\u201d Kataku \u201cSemoga Ibumu lekas pulih ya Citra. Oh iya Citra akhir-akhir ini Ibu memperhatikan dan mendapat laporan dari Bapak dan Ibu Guru jika kamu sering tertidur di dalam kelas dan nilainya menurun. Apakah sedang ada masalah?\u201d Kata Bu Niken Aku hanya bisa menundukkan kepala setelah mendengar perkataan Bu Niken. \u201cBu Niken selama ini aku bekerja part time di restoran. Mulai pulang sekolah jam 16.00-21.00 untuk bekerjanya Bu. Kemudian membuat adonan untuk membuat kue.\u201d Kataku \u201cKamu tidak capek Citra dengan kegiatan kamu itu pagi sekolah, sore kerja, terus pagi membuat kue? terus Bapak bagaimana?\u201d Tanya Bu Niken \u201cCapek pasti, tetapi mau bagaimana lagi untuk memenuhi kebutuhan. Bapak juga bekerja Bu sebagai ojol penghasilannya tidak mesti tergantung customer. Biaya kami semakin bertambah dengan cek up rutin Ibu ke rumah sakit dengan biaya yang tidak sedikit.\u201d Kataku \u201cApa yang kamu lakukan itu sungguh mulia Citra, tapi kamu juga harus memperhatikan kesehatan dan juga sekolahmu. Jangan sampai kamu bekerja sampai kelelahan mengganggu kesehatan dan sekolahmu. Jika kamu butuh bantuan cerita saja ke Ibu semoga saja bisa membantu kamu.\u201d Kata Bu Niken \u201cSaya merasa dilema Bu. Rasanya saya kepingin keluar dari sekolah dan bisa fokus bekerja membantu Bapak, tetapi saya juga pengen menyelesaikan sekolah dan mengejar cita- cita.\u201d Kataku \u201cHuusss jangan menyerah Citra, kamu pintar dan kuat pasti bisa menyelesaikan semua ini. Harus tetap semangat jangan loyo kelak kamu akan menjadi orang sukses yang dapat membanggakan orang tua. Cita-cita kamu apa Citra?\u201d Kata Bu Niken \u201cTerima kasih Bu. Saya pengen menjadi seorang penulis Bu. Terkadang saya membuat tulisan-tulisan atau karya tulis di BLOG. Saya sangat suka Bu dengan bermain dengan kata-kata.\u201d Kataku 112 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201cWah sangat bagus itu cita-cita kamu. Bisa kamu kembangkan itu tulisan- tulisan hasil karyamu. Hasil tulisan- tulisan kamu itu bisa menjadi ladang. Kamu konsultasikan saja hasil karya kamu itu ke Guru Bahasa Indonesia. Citra, kamu bisa Bahasa Inggris?\u201d Kata Bu Niken \u201cBisa Bu, kenapa ya Bu?\u201d Tanyaku \u201cIbu punya teman yang bekerja di bagian penerjemah bahasa asing khususnya Bahasa Inggris dan di bagian penerbit. Sepertinya teman Ibu membutuhkan seorang penerjemah, apa kamu mau bekerja sebagai penerjemah semacam freelance? Kerjanya tidak mengganggu sekolah kamu, ketika kamu tidak sibuk kamu bisa mengerjakannya dan juga kamu bisa tetap membuat kue sehingga sambil menjaga Ibu kamu. Jika kamu tertarik Ibu akan menghubunginya. Bagaimana Citra?\u201d Kata Bu Niken Dalam hati aku sangat tertarik dengan apa yang disampaikan oleh Bu Niken. Aku tetap bisa menghasilkan uang, menjaga Ibu dan tetap fokus dengan sekolah. Tapi yang paling penting aku bisa mengasah kemampuanku. \u201cSaya mau Bu jadi penerjemah. Saya akan mengundurkan diri dari restoran dan fokus pada penerjemahan, sekolah, menjaga Ibu dan membuat kue. Terima kasih Bu atas bantuannya.\u201d Kataku penuh haru \u201cBaik Ibu akan segera menghubunginya terlebih dahulu, nanti Ibu kabari kembali. Tetap semangat Citra, jadilah dirimu sendiri. Kerjakan semua pekerjaan dengan penuh suka cita, jangan mudah menyerah semua masalah pasti akan ada jalan keluar.\u201d Kata Bu Niken sambal menepuk bahuku Aku kembali ke dalam kelas dengan hati yang gembira setelah selesai mengobrol dengan Bu Niken. Dengan penuh semangat aku mengikuti pembelajaran hingga akhir. Keesokan harinya aku dihubungi oleh Bu Niken bahwa temannya mau menjadikan aku sebagai penerjemah. Aku diminta untuk mengirimkan surat lamaran dan CV secara online segera saja aku lakukan. Selama tiga bulan aku dalam masa percobaan terlebih dahulu kemudian apabila hasilku memuaskan bisa menjadi penerjemah tetap. Aku harus mengerjakan dengan baik tidak akan mengecewakan Bu Niken. Dalam tiga bulan ini aku mengerjakan dengan baik dan dipercaya oleh atasan, sehingga sekarang aku menjadi penerjemah tetap. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 113","Sampai lulus SMA aku masih tetap bekerja menjadi penerjemah. Aku diterima kuliah di PTN melalui jalur SNMPTN mengambil jurusan sastra sesuai dengan cita-citaku. Setelah sekian tahun aku menjadi penerjemah yang handal tidak hanya Bahasa Inggris tetapi Bahasa Mandarin aku pun bisa. Selain itu aku juga menjadi seorang penulis novel. Terima kasih Bu Niken atas nasehat dan sarannya. Tamat 114 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","BERMARTABAT UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 115","Meleburkan Perbedaan Karya : Silviana Danty Kusumaningtyas, S.Pd. Libur kenaikan sekolah pun akan berakhir dan tahun ini Dinda meninggalkan bangku SMP. Setelah berdiskusi dengan orang tuanya, Dinda memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke SMA Katolik Santa Maria, yang awalnya Dinda ingin melanjutkan ke sekolah negeri karena Dinda lulusan dari SMP negeri dan teman-temannya pun juga kebanyakan melanjutkan ke sekolah negeri. Namun Dinda menyukai proses pembelajarannya yang menarik ada di SMA Katolik Santa Maria yaitu dengan mengolaborasikan hampir semua mata pelajaran. Selain itu ia juga dapat mengembangkan potensi yang ia miliki yaitu menulis cerpen. \u201cTeman-teman di SMA kaya gimana ya? Apakah sebaik teman-temanku yang berada di sekolah yang dulu?\u201d Setiap saat Dinda selalu bertanya di dalam hati, mengkhawatirkan bagaimana teman-temannya saat berada di bangku SMA nanti. \u201cDinda, apa yang sedang kamu pikirkan? Dari tadi Mama lihat Dinda kok bengong terus,\u201d tanya mama Dinda, karena melihat anaknya sedang melamun di teras rumah. \u201cNggak kenapa-napa kok Ma, cuma ngebayangin aja gimana ya sekolah di SMA Katolik Santa Maria. Teman-teman Dinda baik-baik nggak ya Ma?\u201d Dinda mencoba mengutarakan isi hatinya ke mama. Dinda memang anak yang dekat dengan kedua orang tuanya, dan menganggap kedua orang tuanya sebagai sahabatnya. Namun ketika dia berhadapan dengan orang lain terlebih orang yang baru ia jumpai, ia memiliki sifat yang sulit untuk memulai pertemannya lebih dahulu. Maka ia cukup khawatir ketika ia memutuskan untuk bersekolah di SMA Santa Maria karena teman- temannya tidak ada yang melanjutkan ke sekolah tersebut. \u201cYa tentu baik-baik dong Din, pasti kamu di sana akan menemukan teman- teman yang menyenangkan.\u201d Mama Dinda mencoba untuk menenangkan anak semata wayangnya. 116 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201cTapi Ma, teman-teman Dinda kayanya nggak ada yang sekolah di sana deh?\u201d kata Dinda. \u201cNak, kita hidup di dunia ini pasti akan mengalami yang namanya bertemu, berkenalan dengan orang baru, ingat nggak waktu dulu kamu masuk SD? Kamu juga mengkhawatirkan hal yang sama \u2018kan? Tapi, kamu bisa menaklukkan kekhawatiranmu itu, saat masuk di SMP juga sama. Jadi Mama yakin Dinda bisa mengatasi ini semua dan pasti punya banyak teman!\u201d Mama menguatkan Dinda, agar Dinda memiliki rasa kepercayaan diri dan semangat untuk masuk ke sekolah yang ia ingikan. \u201cIya sih Ma, tapi Dinda sekarang \u2018kan badannya gendut dan banyak jerawatnya. Apa ada yang mau temenan sama Dinda yang seperti ini?\u201d ucap Dinda. \u201cYa pasti ada dong, Nak. Sampai saat ini Dinda \u2018kan juga masih punya sahabat-sahabat yang baik ke Dinda. Ada Rara, Angel, Tifani yang mau berteman sama Dinda dari SD sampai saat ini \u2018kan? Di SMP Dinda juga punya sahabat baru lagi Carol dan Thea. Mereka tidak melihat kekurangan Dinda dan Dinda juga tidak melihat kekurangan mereka \u2018kan? Itu namanya berteman dengan tulus Nak,\u201d ucap mama. \u201cBetul juga ya Ma. Semoga di SMA Dinda punya teman- teman yang baru, menyenangkan dan bisa menerima Dinda ya Ma. Terima kasih ya Ma. Dinda jadi sedikit lega, Ma,\u201d ucap Dinda. Jam menunjukkan pukul 06.45 WIB, Dinda sudah tiba di depan gerbang sekolah barunya. Hari pertama masuk sekolah Dinda diantar oleh papanya karena sekolah Dinda sejalur dengan arah ke kantor papanya. \u201cGleeek\u201d suara pintu mobil pun tertutup. Dinda melangkah memasuki gerbang sekolah dan melihat kondisi disekitarnya, dalam hatinya berkata siapa tahu ada salah satu orang yang sudah ia kenal sehingga ia tidak merasakan seperti orang asing disana. Namun ternyata Dinda tidak menemukan satu orang pun yang ia kenali. Hari pertama masuk sekolah diawali dengan masa orientasi siswa. Siswa-siswi baru diminta untuk berjejer rapi sesuai dengan kelompoknya, Dinda masuk ke kelompok 5. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 117","Dinda berkata dalam hatinya, \u201cSemoga hari ini menyenangkan, dan aku bisa memiliki teman.\u201d Rasa khawatir yang ia rasakan masih menyelimutinya. \u201cDinda\u2026.! Ssstt\u2026! Sssstt\u2026! Dinda\u2026!\u201d Seseorang memanggil Dinda dari belakang. Dinda pun menoleh ke belakang, \u201cYa ampun\u2026! Carooolllll\u2026!\u201d Dinda pun tercengang, tanpa disangka ternyata yang memanggilnya itu adalah Carol. Salah satu sahabatnya sejak ia berada di SD. Mereka pun saling bertegur sapa. Dalam kegiatan masa orientasi siswa tersebut terdapat sesi saling memperkenalkan diri di depan kelompoknya masing-masing. Dalam hal ini Dinda sudah memiliki rasa percaya diri karena dalam satu kelompok ada temannya yang secara tidak langsung memberikan sinyal keberanian pada diri Dinda. Setelah sesi perkenalan diri, Dinda dan teman-teman kelompoknya berkeliling sekolah untuk mengenalkan lingkungan sekitar sekolah. Kedua sahabat tersebut berjalan bersamaan, hingga akhirnya ada salah satu anak perempuan yang mengajak mereka berdua berkenalan. \u201cHallo\u2026 apa saya boleh berkenalan?\u201d sapa anak itu. \u201cTentu saja boleh,\u201d ucap Dinda \u201c Namaku Manuella. Aku dari Jayapura Papua,\u201d ucap Manuella \u201cAku Dinda dan ini Carol sahabatku dari aku SD,\u201d balas Dinda. Mereka bertiga saling berjabat tangan dan saling memperkenalan diri. Manuella pun bercerita jika dia tidak memiliki teman yang bersekolah di sini, sehingga ia mencoba mencari teman baru. Hari pertama masa orientasi siswa pun berlalu, dan Dinda sampai di depan rumah dengan raut wajah yang ceria. \u201cSelamat siang, Mama. Dinda pulang,\u201d sapa Dinda dengan wajah berseri penuh dengan senyuman. \u201cSelamat siang juga, Dinda. Ini anak Mama pulang dari sekolah wajahnya kok riang sekali\u2026 \u201c balas mama Dinda penuh antusias ingin mendengarkan cerita pengalaman pertama anaknya ke sekolah barunya yang selama ini ia khawatirkan. \u201cIya nih Ma. Aku senang banget hari pertama masuk sekolah ternyata aku satu kelompok dengan Carol teman SD ku dulu, Ma!\u201d ucap Dinda dengan riang. 118 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201cLho.. Carol sekolah sana juga?\u201d tanya mama memastikan lagi \u201c Iya, Ma! Carol memang dulunya ingin lanjut di sekolah negeri, Ma, tapi karena tahu informasi kalau di SMA Katolik Santa Maria menggunakan sistem Blended Based Learning dan Carol suka ngevlog Ma. Jadi menurutnya, dia bisa lebih mengembangkannya di sana karena salah satu produk dari BBL ada vlog juga, Ma,\u201d ucap dinda dengan penuh semangat. \u201cPantas aja anak Mama pulang dari sekolah mukanya ceria banget gitu,\u201d goda mama. \u201cHehehhe\u2026 Oh iya, Ma. Ada satu hal lagi yang membuat Dinda senang hari ini. Di hari pertama Dinda masuk sekolah Dinda sudah berkenalan dengan beberapa teman baru Dinda lho, Ma. Salah satunya namanya Manuella. Dia berasal dari Jayapura, Ma. Jauh banget, Ma! Dan dia nggak ada teman dari daerah asalnya, Ma. Kok berani ya, Ma, sekolah jauh-jauh di sini? Anaknya percaya diri banget deh, Ma, dan mau berteman dengan teman-teman yang lainnya tanpa melihat temannya dari daerah mana,\u201d tutur Dinda dengan hati senang. \u201cNahhh\u2026 kamu harus percaya diri juga gitu, Dinda. Nggak usah malu- malu untuk berkenalan dengan orang lain, dan Dinda harus bisa berteman dengan siapa saja. Dinda juga nggak perlu minder karena kekurangannya Dinda, karena setiap individu pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Jika berteman dengan tulus, segala perbedaan yang terlihat oleh mata pasti akan dihiraukan.\u201d Mama memberikan penguatan kepada Dinda agar Dinda lebih percaya diri lagi. \u201cIya, Ma, semoga saja di hari-hari ke depannya Dinda bisa berkenalan lagi dan Dinda ingin berteman dengan semua orang,\u201d ujar Dinda penuh semangat. Akhirnya Dinda merasa tidak ada rasa khawatir lagi untuk memulai pertemannya dengan teman-teman di sekolahnya. Dinda menjadi anak yang percaya diri dan dapat berteman dengan siapa saja tanpa memandang ras, suku, agama maupun perbedaan lainnya. Tamat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 119","\u201cAnakku\u201d Karya : Nelson Parlindungan, Drs. Hari masih sangat subuh, hujan sisa tadi malam pun masih menetes ketika aku melangkahkan kakiku. Aku mencium aroma hujan yang segar, dinginnya subuh serasa di kampung halamanku, desa Simanullang Toruan. Olahraga jalan pagi seperti ini adalah rutinitas yang sudah kujalani tiga tahun terakhir. Itu nasihat dokter. Terasa dingin di telapakku ketika menginjak trotoar basah berkerikil itu. Sengaja kutanggalkan sepatuku dan berjalan perlahan menyusuri jalan yang masih lengang itu. Syal berukuran sedang milik istriku melilit di leher menahan hembusan angin yang menerpa wajah tuaku. Usiaku sudah senja. Enam puluh tahun kurang sedikit. Pun kata orang, aku masih kelihatan sehat dan gesit, sejujurnya beberapa penyakit sedikit demi sedikit, menghinggapi tubuhku. Kata dokter itu karena faktor masa muda yang kurang disiplin menjaga kesehatan. Saban pagi, bila tidak hujan, lima kilometer ke depan kujalani sendirian. Kadang istriku menemani. Biasanya di gang ke tujuh dari sini, temanku Pak Johannes sudah menungguku. Kadang, kami bertiga, anak bungsunya Muis menemaninya. Aku iri melihatnya. Di hari tuanya kini, anaknya dengan setia menemani. \u201cSudah kewajiban\u201d kata Muis suatu ketika kala menanyakan soal ketekunannya menjaga Pak Johannes. Di ujung sana ada pasar pagi, yang setiap pagi ramai dikunjungi, membuat jalanan ini macet. Namanya juga pasar tumpah. Di sana ada Pak Jatmiko, sama seperti usiaku, sudah senja. Tapi fisiknya lebih kuat daripada ku. Aku tak percaya dia sudah tujuh puluh. Dilihat dari tubuhnya, mungkin masih empat lima. Seorang penjual nasi uduk yang tak pernah absen, kecuali lebaran. Ngobrol dan menikmati sarapan pagi nasi uduk buatanya terasa spesial. Sesekali anaknya yang selalu menemaninya berjualan menimpali obrolan kami. Mereka, sahabat-sahabatku ini selalu memanggilku dengan sebutan Oppung. \u201cItu sebutan yang sopan untuk seorang kakek-kakek, bukan?\u201d tanya Pak Dayan. Entah darimana dia tahu sebutan itu. 120 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","Seperlemparan batu dari tempatku berdiri ini, adalah bengkel tambal ban Las Marohanta. Kurasa, orang batak yang paling rajin di kota kecil ini adalah Amani Marsaulina. Jam empat subuh sudah buka dan tutupnya tak pernah di bawah jam dua belas. Tak habis pikir, berapa jam dia tidur? Mungkin karena masih muda. Aku teringat masa empat puluh tahun lalu, Perumnas Mandala hingga ke Pasar Sambu masih bisa kujalani. Tetangga Amani Marsaulina sudah hapal betul kebiasaanya itu. Salah satunya adalah menghidupkan musik, hingga tetangga yang berjarak setengah kilo bisa mendengarnya. Dangdut Sunda, Pop, Barat, Lagu Batak, apa saja. Kadang aku tersenyum ketika melewatinya kudengar lagu batak. \u201cSerasa di Perumnas Mandala,\u201d pikirku. Kadang, malam hari Amani Marsaulina mengunjungiku dengan papan caturnya. Dia seorang tetangga yang baik, dari umur, ia lebih cocok dipanggil anak. \u201cMangapian do iba diangka dongan na marama\u2013saya cemburu lihat orang yang punya bapak,\u201d ujarnya. Benar. Umur dua bulan, dia sudah menjadi anak yatim. Kegetiran hidup di Bonapasogitlah yang menghantarnya ke pelosok Jawa Barat ini. Tak terasa sudah di depan bengkelnya. Kulihat Amani Marsaulina mulai membereskan alat kerjanya. Seperti biasa, dia menyapaku, \u201cOppung, na olahraga do?\u2013Oppung, olahraga?\u201d ujarnya setengah berteriak. \u201cOlo\u201d jawabku singkat. Aku tertegun ketika mendengar lagu yang diputarnya. Jujur, belum pernah kudengar lagu ini. So marlapatan marende, margondang, marembas hamu, molo dung mate au. Uju dingolungkon ma nian, tupa baen na denggan. \u201cSo jo, ai songon na tabo lagum di manogot on,\u2013Sebentar, lagumu sungguh enak kudengar di pagi hari ini\u201d ujarku \u201cHona tu roham lagu i, Oppung?, Putri Silitonga itu, ima lagu Uju di Ngolungkon ma nian, \u2013lagunya mengena di hatimu, Oppung?, penyanyinya Putri Silitonga, judulnya Uju di Ngolungkon ma nian\u201d UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 121","\u201cAh, daong.\u2013Ah tidak\u2013\u201d jawabku pendek. \u201cKupinjam lah dulu, Amang, aku ingin mendengarnya di rumah\u201d imbuhku . \u201cGampanglah itu, nanti malam kuantar ke rumah,\u201d jawab Amani Marsaulina. Aku termenung dan syair lagu itu selalu terginang di kepalaku, saat itu juga aku teringat saat aku masih mengajar di SMAK Santa Maria Malang, teringat akan anak-anak yang selalu saja menunda tugas-tugas mereka membuatku berdesah. \u201dAmangoi tahe \u2013 ya ampun,\u201d pikirku. Memang masa SMA ya \u2026yang paling senang. Aku masih bisa membayangkan dengan jelas di mana letak lapangan bola basket dan lapangan bola volinya, ruang guru dan perputakaan serta rekan-rekan guruku yang baik hati yang selalu mau berbagi dan menolong jika ada teman yang kesusahan, ahhh \u2026SMA ku, SMAK Santa Maria. Jujurnya, aku masih terus mengenangnya. *** Hidup selalu ada dukanya. Itu tak bisa dipungkiri. Ibarat sisi kepingan uang logam, satu duka dan sisi sebelahnya adalah suka. Sangat tipis perbedaanya. Kematian istriku membuatku jatuh. Benar, jika penyanggah rumah adalah tiang- tiang kokoh, maka tiang kokoh itulah istri. Aku merasakan itu. Di hari tuaku, aku didahului istriku tercinta menghadap sang Khalik. Anak-anakku yang sudah dewasa, bahkan beberapa sudah berumah tangga memintaku untuk tidak memikirkan pernikahan lagi. \u201cToh, ada kami yang merawat Bapak, bila Bapak sakit\u201d kata Jonggi anak lelakiku paling besar. \u201cAmang, tak pernah terbersit dalam pikiranku untuk menduakan ibumu,\u201d ujarku. \u201cIya, Pa. Kami akan menjaga Bapak,\u201d ujar Manaor anak bontotku. Aku tak ingat persis. Bertahun aku hidup menduda. Kehidupan terasa hampa. Perlahan anak-anakku menjauh dariku. Mereka lebih mementingkan urusan masing-masing. Aku kesepian. Ingin rasanya segera menyusul istriku. 122 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","Menuntut kepada sang Khalik untuk mempertemukanku dalam kematian. Apa bedanya orang mati dan orang hidup bila perasaan tersiksa. Aku tak menuntut banyak dari anak-anakku. Tapi merekalah harapanku. Hidup matinya diriku ada pada mereka. Aku sadar, bahwa aku tak mungkin memaksa anak-anakku untuk merawatku. Biarlah orang lain melakukanya. Supaya anak-anakku bebas melakukan aktivitas mereka. Aku tak mau hidup di panti jompo, seperti yang pernah diutarakan Jonggi kepadaku. \u201cKelak, bila suda semakin menua, Bapak akan kami masukkan ke panti jompo,\u201d ujar Jonggi. Darahku naik, aku marah, sangat marah. \u201cWaktu kau lahir, aku dan ibumu tak ada niat untuk menitipkanmu ke penitipan bayi, ingat itu!\u201d ucapku dengan nada tinggi. Tuhan, kenapa jadi seperti ini? Masak sendiri, cuci baju, makan, dan lainya. Bahkan untuk berobat ke rumah sakit pun kulakukan sendiri. Semua anak- anakku terbuai dalam kegiatan masing-masing. Tak sekali dua kali aku mengingatkan, dan meminta mereka untuk memperhatikan kebutuhanku. \u201cAku sudah renta, Amang, Boruku, jangan terlalu sering meninggalkanku sendirian di rumah, sepi\u201d pintaku kala itu. Menikah bukan untuk kesenangan daging. Tak lebih adalah supaya aku tak hidup dalam kesunyian. Itulah pemahamanku kala itu, ketika kurasakan anak- anakku tak ada yang memberikan perhatiannya padaku. Anak-anakku tidak menerima keputusanku untuk aku menikah lagi. Aku tak menyangka, kalau pernikahan itu pula awal kehancuran keluarga besar kami. Apa susahnya menerima seseorang yang mampu dan mau mengurus orang tua sendiri?. Menikah bagi seorang duda bukanlah sebuah aib. Tidak dilarang agama, dan pernikahanku bertujuan baik, supaya ada yang merawatku. Kulangkahkan kakiku perlahan, ada keraguan untuk melanjutkan jalanku. Dadaku sesak, aku tahu, ini pertanda tekanan darahku naik. Mungkin aku harus segera pulang, tak ingin terjadi apa-apa pada diriku. \u201cKenapa balik, Oppung?, biasanya sampai ke pasar pagi sana?\u201d ujar Amani Marsaulina. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 123","\u201cSepertinya cuaca kurang baik, mungkin sebentar lagi akan hujan,\u201d kataku berbohong. Lagu tadi masih terginang di kepalaku, aku tak mampu mengusirnya.. Hamu anakkonhu, tampuk ni pusu-pusungki (Kalian anakku jantung hatiku) Pasabar ma amang, pasabar ma boru, lao pature-ture au (Bersabarlah anakku mengurusi aku) Nunga matua au, jala sitogu-toguon I (aku sudah tua dan harus dituntun) Sulangan mangan au, siparidion au, alani parsahitonki (kalau makan harus disuapi, mandi harus dimandikan aku karena sakit penyakitku) Somarlapatan marende, margondang, marembas hamu, molo dung mate au (Tidak ada gunanya lagi kalian buat pesta menggunakan alat musik tradisional batak jika setelah mati saya) Somarlapatan nauli, nadenggan, patupaon mu, molo dung mate au (Tidak ada gunanya yang indah yang baik kamu lakukan jika aku sudah mati) Uju di ngolungkon ma nian, tupa ma bahen angka na denggan (Saat di ujung hidupkulah kalian buat semuanya yang baik) Asa tarida sasude holong ni rohami, marnatua-tua i (Biar semua terlihat kebaikanmu , terhadap orang tua) Ah, itu hanya lagu. Kuingin menjalani sisa kehidupan ini dengan senyuman, bersama istri keduaku yang dengan setia dan penuh kasih merawatku. Toh, sebentar lagi malos ma bulung-bulung sian tanganku, (seperti daun daun yang layu dari tanganku) aku kembali ke dunia yang kekal, kematian. Di sana, aku pasti bertemu dengan ibu, ayah dan istriku Nai Jonggi yang sudah menantiku dengan senyum, dengan dekapannya yang hangat. Tamat 124 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","Fly with The Dream ! Karya: Petrus Apriliyanto, S.T. Gubrag\u2026. Terdengar bunyi tas-tas dihempaskan di tribun lapangan basket SMAK Santa Maria. Mereka bertiga, Patty, Julian, dan Michelle tampak lega dengan meletakkan punggungnya ke sisi tribun dan mereka terdiam sebentar sambil memejamkan mata menikmati sejuknya udara di bawah rindangnya pohon matoa siang hari itu. Ketiganya adalah pengurus OSIS SMAK Santa Maria. Dan mereka baru saja melaksanakan rapat pembuatan program kerja. Patty adalah Ketua OSIS seorang yang kurus dengan rambut lurus pendek cenderung klimis dan formal, sedangkan Julian adalah wakilnya dengan perawakan yang atletis, semangat, dan rambutnya potongan undercut sesuai model kekinian, lalu Michelle adalah sekretaris wajahnya cenderung mandarin dengan rambut poni yang simetris dan bola matanya yang senantiasa berbinar-binar menandakan sifat semangat pada dirinya. \u201cHei Jul\u2026.\u201d \u201cJuuulll\u2026..!\u201d Patty memanggil Julian yang masih terpejam matanya, tidak sabar reaksinya Julian\u2026 Patty pun menepuk pundak Julian. \u201cHaduhh\u2026..! Apaan sich \u2026.. ganggu kenyamanan aja,\u201d ujar Julian sambil memiringkan tubuhnya, tapi tetap terpejam matanya. \u201cHemmmm ni anak kok sulit ya responnya bawaannya molooor aja,\u201d sergah Patty. \u201cSudahlah\u2026..mungkin lagi capek anaknya bukankah kita baru saja rapat maraton untuk proker OSIS kita,\u201dujar si Michelle dengan senyumnya\u2026.sehingga membuat Patty tidak mendongkol lagi. \u201chemmm andaikan saat ini aku berteriak menyanyi berjoget dengan energik\u2026\u2026 bersama banyak teman\u2026..melompat dan merasakan dentuman irama band Dewa 19 \u2026..wow \u2026\u2026 gimana ya rasanya Chell ?\u201d gumam Patty dengan pandangan tatapan kosong ke depan. \u201chah\u2026!\u201d ujar Michelle \u201c kamu itu lagi ngimpi\u2026 apa kesambet yang empunya pohon Matoa itu ?\u201d ujar Michell sambil mengernyitkan dahi. Tiba tiba si Patty meski anak milenial ternyata fans berat Dewa 19, berdiri dan mengangkat kedua tangannya sambil mulai menyanyi dengan penuh energik UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 125","walaupun nadanya naik turun tidak jelas kayak jalan makadam \u201c \u2026. Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya Menahan rasa ingin jumpa Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang Melepas semua kerinduan yang terpendam\u2026\u2026\u201d \u201cHadewwwww\u2026.berisik amat\u2026\u2026menggnggu orang meditasi saja\u201d sergah Julian tiba tiba bangun dari ketidurannya. \u201cKenapa sih Patty itu Michell\u2026.. lagi kesambet ya di siang bolong ini ?\u201d \u201cGak tahu\u2026.tiba tiba melompat dan menyanyi dengan noraknya\u201d balas Michelle sambil tersenyum geli melihat tingkah laku sahabatnya itu. \u201chahahaha akhirnya bangun juga dirimu Jul\u2026 Meditasi apanya\u2026 coba lihat berapa liter air liurmu sudah netes hahahahahah\u201d sahut Patty. \u201clho iya kah \u2026.heheh maaf kecapekan boss..\u201d ujar Julian. \u201cBegini lho teman teman, aku kok membayangkan lapangan basket kita ini dipenuhi banyak orang, nonton band yang cukup terkenal. Semua larut dalam situasi yang energik, ada melownya, ada yang semangat, ada yang nangis wkwwkwkwk, tambah kemana-mana ya pikiranku \u2026.. gimana guys menurut kalian ?\u201d \u201cWah cocok itu \u2026bisa fenomenal \u2026..apalagi kayaknya sudah laamaaaa sekali SMA kita tidak ngadain acara yang heboh gitu. Terakhir kayaknya penutupan LC tahun 2015 ya kalo tidak salah\u2026. Itupun mendatangkan stand up tapi acaranya heboh juga saat itu. Itupun aku dengar dari koko ku yang saat itu jadi panitia acara malam penghargaan.\u201d Ujar Michelle menimpali ungkapan Patty itu. \u201cWah seru juga ya kayaknya kalo itu kita masukkan program prioritas dan unggulan sekolah kita\u2026 gak sabar rasanya juga ada DJ yang memainkan musik membuat kita fly dan larut dalam irama musik DJ\u2026hemmm pasti bisa\u2026.\u201d Timpal Julian juga mulai menerawang jauh ke depan, sambil tak sadar badan nya mulai melenggak lenggok, tangan di atas seakan akan mendengarkan irama DJ. \u201ctuh lihat bukan aku saja yang kesambet\u2026..si Jul kayaknya begitu juga .. hahahaha\u201d ujar Patty sambil melihat si Michell pun juga tersenyum melihat tingkah laku temannya itu. \u201cSo\u2026gaes gimana, sepakat kah ini akan kita jadikan program kerja unggulan OSIS kita tahun ini\u2026 Fly with The Dream.. temanya rek\u2026wes iso ga 126 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","iso kudu mlaku-wah ini harus berjalan\u2026..eh mumbul hahahahha\u201d ujar Julian dengan logat jawanya yang medok. \u201cOyiiiiii\u2026..\u201d Patty dan Michelle pun kompak menyambut sambil tanpa sadar ketiga tiganya mengepalkan tangan. Dan mereka pun pulang ke rumah masing masing karena senja sudah mulai datang. Keesokan harinya mereka berunding dan berusaha membuat paparan program kerja Fly with The Dream\u2026agar bisa disetujui oleh Pak Novi dan Bu Octa sebagai pembina OSIS, harapannya agar program tersebut disetujui Suster Elma yang menjadi Kepala Sekolah saat ini. Lalu setelah merancang paparan yang mengakomodasi segala tujuan dan maksud kegiatan Fly with The Dream. Merekapun meminta ijin guru mata pelajaran untuk menghadap suster didampingi Pak Novi dan Bu Octa, mereka berdua itu pembina OSIS yang baik, kreatif, dan selalu mendengarkan, dan mengarahkan anak anak OSIS. \u201cSelamat pagi Suster Elma, Bu Octa, dan anak-anak pengurus OSIS\u2026. Mohon izin Suster hari ini pengurus OSIS akan memaparkan program kerja mereka selama setahun. Silakan Patty dan teman teman bisa menyampaikan programnya\u201d. \u201cBaik..!\u201d ujar Suster Elma dengan singkat, beliau ini kepala sekolah yang tegas, menanamkan disiplin, dan selalu memperhatikan siswa-siswa khususnya mereka yang lemah dan kesulitan ekonomi. Sr Elma sosok yang pendiam, sehingga kadang sulit ditebak pemikirannya. \u201cSelamat pagi Suster Elma yang terhormat. Selamat pagi Pak Novi dan Bu Octa. Pada kesempatan ini izinkan kami menyampaikan program kerja OSIS periode tahun 2022-2023. Program kerja OSIS kami tidak lepas dari tema SMAK Santa Maria tahun ini yaitu kreatif inovatif. Meskipun saat ini pandemi belum berakhir, namun kami berusaha tetap aktif dan kreatif membuat program program meskipun lewat Daring. Program kerja OSIS inipun tetap tidak melepaskan unsur unsur UKB di mana kami saat ini memfokuskan pada nilai Bermartabat, di mana unsur-unsurnya yang menjadi referensi kami antara lain visioner, integritas, respek, beriman, dan percaya diri.\u201d UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 127","Michelle pun melanjutkan \u201cProgram-program kami tidak lepas dari program kakak-kakak OSIS yang terdahulu namun yang membedakan programnya adalah mulai ditanamkan nilai UKB dalam program kami, jadi seperti contoh Program memperingati IMLEK kami mengedepankan semangat visioner agar para siswa selalu kontekstual dalam kehidupan sehari-hari.\u201d Dan secara lugas Michelle pun memaparkan slide demi slide program bergantian dengan Julian. Dan terakhir slide mereka membuka dan tampilah slide Fly with The Dream. Tampak Suster Elma, Pak Novi, dan Bu Octa mengernyitkan dahi mereka penuh tanda tanya. \u201cDan kami paparkan penutup Program Kerja kami\u2026. melalui program Fly with The Dream..\u201d ujar Patty. \u201cFly with The Dream adalah program puncak kami, di mana kami mempunyai mimpi yang lama sekali terwujud di SMAK Santa Maria yang tercinta, yaitu live show pentas seni, di mana program ini secara strategis meningkatkan rasa tahu publik luar terhadap SMAK Santa Maria, kedua membina kami pengurus OSIS berupa tantangan yang memancing kreativitas, visioner, integritas, respek, dan percaya diri masing-masing anggota, membuat SMAK Santa Maria sejajar dengan SMA-SMA lain ketika mereka mampu membuat pentas seni di kalangan milenial.\u201d Patty menjelaskan dengan berapi-api. Suasana hening setelah Patty memaparkan rencana kerja mereka. \u201cBaik anak-anak terima kasih atas pemaparan program itu,\u201d ujar Pak Novi memecah keheningan. \u201cDipersilakan Bu Octa bisa memberikan tanggapan terlebih dulu,\u201d Ujar Pak Novi. Dengan gayanya yang lembut tapi tegas Bu Octa memberikan tanggapan atas semua program tersebut, yang pada intinya beliau setuju dengan program program tersebut dengan catatan pengurus OSIS satu visi dalam menjalankan program tersebut sehingga jika ada perbedaan pendapat semua demi kebaikan pelaksanaan program kerja tersebut. Demikian juga tanggapan Pak Novi senada dan mengajak para pemgurus OSIS konsisten pada program kerja mereka dan memberi arahan agar pengurus OSIS mengerahkan segala kreativitasnya untuk pelaksanaan program kerja 128 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","tersebut. Pada situasi ini memberi harapan yang positif pada Patty, Julian, dan Michelle. Mereka tampak berbinar-binar mendapat arahan tersebut. \u201cSekarang kita akan mendengarkan arahan dari Suster Elma\u2026. dipersilahkan Suster,\u201d ujar Pak Novi. \u201cBaik selamat pagi Pak Novi dan Bu Octa serta pengurus OSIS,\u201d ujar Suster Elma dengan pelan namun tersirat ketegasan beliau. \u201cSaya mengapresiasi program kerja kalian, semua sudah tertata dan runtut. Namun\u2026.\u201d Suara Suster Elma terdengar berhenti, situasi menjadi kaku formal dan sedikit mencekam. \u201cTugas kalian di sini adalah belajar. Itulah yang harus saya pertanggungjawabkan kepada orang tua kalian. Boleh berorganisasi di sekolah namun tidak boleh ketinggalan dalam pelajaran, maka program program yang sifatnya mengundang pihak lain di luar SMAK Santa Maria saya sarankan tidak dilaksanakan, karena akan menyita waktu dan biaya yang tidak sedikit, saya tidak mampu membayangkan kalian akan keluar masuk intansi sambil membawa proposal, PELAJARAN KALIAN PASTI TERHAMBAT BANYAK. Dan untuk hal tersebut SAYA TIDAK MAU BERESIKO. Maka pada kesempatan ini saya setuju untuk program program regular kalian namun untuk Program Fly with The Dream, dengan sangat menyesal SAYA MENOLAKnya\u2026.!\u201d Ujar Suster Elma dengan pelan, tegas, dan seakan-akan menjadi palu bagi mereka yang hadir di ruangan tersebut. Diam dan banyak pikiran yang melayang atas keputusan suster tersebut. \u201cBaik sudah cukup kegiatan kita siang ini, saya harus hadir dengan agenda lain dengan pengurus yayasan. Selamat Siang.\u201c tukas suster Elma seakan akan juga mengusir secara halus mereka yang hadir di ruangan tersebut. Dengan pelan-pelan dan muka yang banyak cemberut karena keputusan sepihak dari kepala sekolah, Patty dan teman temannya keluar dari ruangan kepala sekolah. Diikuti Pak Novi dan Bu Octa. Pak Novi menepuk punggung Patty dan berkata, \u201cSabar ya, Pat, next time better.\u201d Patty hanya diam dan menunduk tanpa menjawab sedikit pun. Perasaan sedih menghinggap mereka. Berbagai rasa memberontak menyala nyala dalam UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 129","hati mereka. Lalu mereka melanjutkan mengikuti pelajaran dengan lesu dan tanpa semangat, bahkan saat mereka digoda dan diajak guyon teman kelas mereka tidak semangat sama sekali Ketiganya kembali termenung di tribun lapangan basket, saat bel pulang berbunyi kebetulan pelajaran terakhir adalah olahraga sebenarnya mereka suka pelajaran olahraga karena sosok Bu Yuni yang semangat, disiplin, dan mampu membuat pelajaran olahraga apapun menjadi menarik. Beliau sosok senior yang disegani dan kelihatan wibawanya, memang beliau dulu adalah atlet pencak silat yang sudah pernah tampil di event SEA GAMES dan Kejuaraan Dunia. Tanpa disadari Bu Yuni memperhatikan sikap mereka, dan pelan-pelan menghampiri mereka. Beliau juga dekat dengan para siswa. Para siswa kadang curhat dengan nyaman. \u201cPatty, halooo\u201d sapa Bu Yuni. \u201c He \u2026! Anak muda kok cemberut semua? Mana semangatnya?!\u201d sapa Bu Yuni pada tiga orang tersebut. \u201cSelamat siang Bu Yuni,\u201d ucap Patty dengan datar. \u201cIya, Bu. Kami malas dan tidak semangat lagi untuk menjalankan program OSIS bu.\u201d \u201cLho kenapa?\u201d tanya balik Bu Yuni \u201cIya, Bu. Kenapa suster kok seakan akan tidak mau pentas seni ya?\u201d cerocos Julian, kelihatan masih emosi. \u201cSabar\u2026ini masalahnya apa\u2026 coba ceritakan !\u201d ujar Bu Yuni. \u201cBegini bu\u2026\u2026\u201d Michelle mulai menceritakan kronologis pertemuan mereka dengan suster. Dari ketiga pengurus OSIS ini si Michell yang paling tenang dalam mengontrol emosi. Dengan runtut dan apa adanya dijelaskan pada Bu Yuni. Bu Yuni kelihatan manggut manggut dan senyum-senyum sendiri. Tampak Patty semakin cemberut dalam hati menggerutu\u2026 \u201dBu Yuni kok malah senyum senyum\u2026 jangan jangan pro dengan suster ini duh\u2026repot dengan generasi konvensional ini \u201c Seakan bisa menebak pikiran Patty dengan pelan Bu Yuni berkata, \u201cApakah programmu ini serius?\u201d Patty kelihatan semakin dongkol, 130 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201dYa jelas, Bu! Kami komitmen! Kami sudah merencanakan semua termasuk penggalian dana, kami telah membuat link dengan alumni, link dengan ortu siswa, intinya mereka mendukung program kami! \u2026 Tapi suster menolak mentah mentah. Duh\u2026!\u201d Bu Yuni semakin tersenyum melihat ekspresi Patty. \u201cHe..! Anak muda kok gampang putus asa, mudah marah, hahahaha\u2026! Ayo yang semangat, segala sesuatu tetap harus ada jalan keluarnya. Bagaimana pun caranya harus ditempuh agar tercapai program kalian. Kalian harus tetap mengedepankan komunikasi dan dialog serta pendekatan pendekatan agar bisa melobby keputusan suster itu.\u201d Ujar Bu Yuni. Kata-kata terakhir dari Bu Yuni seakan-akan mengguyur pikiran mereka yang lelah\u2026. \u201cWah ini yang belum kucoba\u2026\u2026 Komunikasi, dialog, dan lobby. Siipppp\u2026\u201d sahut Patty sambil meraih tangan Bu Yuni dan ditempelkan di dahi. \u201cNah, teman-teman bagaimana kalo kita minta tolong Bu Yuni melobby kepala sekolah ?\u201d tanya Julian dengan pandangan mata berharap pada Bu Yuni. \u201cHemmmm\u2026.senjata makan tuan ini\u2026\u2026 Tapi demi perkembangan sekolah ini dan OSIS kalian saya akan maju bersama pembina OSIS kalian untuk melobby suster\u2026\u201d \u201cTerimakasih Bu Yuni!. Anda memang the best teacher, the best mother!\u201d sahut Micelle sambil memeluk Bu Yuni dan Patty serta Julian pun berjingkrak- jingkrak kayak anak kecil. Secercah harapan masih ada. Akhirnya Bu Yuni meninggalkan tribun lalu menuju ruang guru dan tak lama kemudian Patty dan kawan-kawan mengintip melihat Bu Yuni bertiga menuju ruangan suster. Hati pun berdebar-debar tidak karuan rasanya menerpa pikiran Patty, Michelle, dan Julian. Dan setelah menunggu hampir 40 menit lamanya, Pak Novi menghampiri Patty dan kawan-kawan lalu mengajak mereka menuju Ruang Kepala Sekolah. Berbagai perasaan bercampur aduk. Antara harapan dan kecemasan, antara berhasil dan ditolak. Mereka pun bergabung di dalam ruang Suster Elma yang cukup sempit. \u201cAnak-anak..,\u201d sapa Suster Elma tetap dengan lembut namun tegas. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 131","\u201cSetelah mendapat masukan dari pembina OSIS dan Bu Yuni dengan mempertimbangkan bahwa Sekolah kita ke depan membutuhkan gairah baru yang bisa menarik siswa dan bahwa SMAK Santa Maria perlu berbenah diri dan mencoba dengan berbagai cara baik bidang akademik maupun non-akademik agar tetap eksis sebagai sekolah swasta Katolik di Kota Malang\u2026\u201d kata Suster Elma terhenti sejenak. \u201cDan pertimbangan tersebut sejalan dengan Visi Misi PDp yang baru saja saya menghadiri pertemuan dengan kepala sekolah se-PDp, di mana intinya setiap unit sekolah perlu menampilkan kegiatan yang unik dan menarik yang bisa membuat orang tertarik untuk mempercayakan pendidikan SMA- nya di SMAK Santa Maria.\u201d Suster Elsa pun menghela nafas. \u201cMaka program OSIS Fly with The Dream layak diberikan apresiasi dan dinyatakan DISETUJUI DILAKSANAKAN!!!\u201d kata Suster Elma. Tanpa dikomando mereka yang ada di ruangan tersebut bertepuk tangan dan \u201cYESSS !\u201d Patty pun mengepalkan tangannya. \u201cTerima kasih, Suster Elma, we love you\u2026..\u201d Ungkap Michelle yang sampai menitikkan air matanya terharu. \u201cDengan catatan ! Semua pengurus OSIS harus kompak dan disiplin dan tetap jujur dalam mengelola keuangan dan akademis mereka. Maka saya tugaskan Pak Novi dan Bu Octa mengawal kegiatan ini. Harapan saya benar-benar dikelola secara profesional agar tidak kelihatan sembarangan saat hari H. harus rapi semua. Dan Bu Yuni saya harapkan juga memantau mental mereka agar jangan sampai pelajaran dan akademisi ketinggalan banyak.\u201d \u201cSiap Suster !\u201d secara kompak bapak ibu guru menjawab. \u201cBaiklah. Selamat bekerja, Tuhan Memberkati !\u201d ungkap Suster Elma menutup pertemuan. Dan berangsur bapak ibu guru dan siswa meninggalkan ruangan itu dengan bersukacita. \u201cTerimakasih ya Bu Yuni, Pak Novi, dan Bu Octa\u2026.. Atas dukungannya semoga ini membawa spirit baru bagi kami untuk komitmen melaksanakannya sampai hari H. Kami tidak membuang kepercayaan ini Bapak Ibu. Mohon dukungannya.\u201d ucap Patty sambil berlinang air mata karena terharu menyalami tiga guru tersebut dengan sedikit emosional karena bahagianya. 132 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201cSama sama ,\u201c ujar Pak Novi sambil senyum simpul melihat tingkah laku mereka. \u201cAyo, kawan-kawan! Kita sampaikan berita ini ke pengurus OSIS yang lain, kita kerjakan dengan kesungguhan hati, bahkan sampai titik keringat kita yang terakhir semangat !!!! KITA BISA Fly with The Dream !!\u201d Patty pun berapi api mengatakan itu\u2026. Terngiang ngiang seruan kejayaan dan kebanggaan SMAK Santa Maria. \u201cHeja Saint Mary Saint Mary Campione! Heja Saint Mary \u2026.Saint Mary Ole\u2026..\u201d Tamat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 133","Keluarga Baru Karya: Ni Made Ayu Fitriani, S.Pd. Mia merupakan anak tunggal dari keluarga yang berkecukupan, semua kebutuhannya selalu tersedia dan terpenuhi dengan baik. Ayahnya adalah seorang pengusaha di bidang pertambangan, sehingga tidak heran jika ayahnya memang sangat sibuk dan jarang mempunyai waktu dengan Mia. Meskipun ayahnya sibuk, Mia beruntung karena memiliki seorang ibu yang sangat perhatian dan selalu ada untuknya. Setiap kejadian yang dirasakan atau dialami Mia pasti akan selalu diceritakan kepada ibunya. Mia dengan ibunya sudah seperti kakak sendiri apalagi ibu Mia memang dahulu menikah muda sehingga jarak usia Mia dengan ibunya tidak terlalu jauh. Saat ini Mia sedang duduk di bangku SMA. Ia bersekolah di salah satu sekolah swasta di Kota Malang yaitu SMA Katolik Santa Maria. Ini merupakan sekolah yang dipilihkan oleh ibunya, sebelumnya ibunya juga merupakan alumnus di sekolah tersebut. Mengetahui ibunya yang dulu bersekolah di sekolah tersebut, Mia akhirnya setuju untuk melanjutkan sekolah SMA di sekolah itu. ibunya sering bercerita tentang masa-masa SMA selama di SMA Katolik Santa Maria, mendengar cerita dari ibunya membuat Mia menjadi bersemangat untuk memasuki masa SMA dan tidak sabar untuk bersekolah di sekolah tersebut. Inilah saatnya hari pertama masuk sekolah SMA. Seperti biasa Mia diantar ke sekolah oleh ibunya. Hari pertama ini dimulai dengan kegiatan MPLS yang merupakan kegiatan untuk mengenalkan lingkungan dan warga sekolah kepada para murid baru di SMA Katolik Santa Maria Malang. Sepanjang perjalanan menuju sekolah Mia terlihat bersemangat dan ceria karena akan bertemu dengan teman-teman dan lingkungan sekolah yang baru. \u201cAkhirnya kita sudah sampai, Sayang,\u201d kata ibu Mia. \u201cIya, Bu. Mia masuk dulu ya, udah mau bel juga. Doakan Mia hari ini ya Bu, agar semua berjalan lancar.\u201d \u201cIya, Sayang. Ibu pasti doakan supaya lancar MPLSnya dan kamu bisa segera menyesuaikan diri di sekolah ini, Sayang\u201d jawab Ibu Mia sambil merapikan dasi Mia yang kurang rapi. 134 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201cMia masuk ya Bu, nanti jangan lupa jemput Mia pulang sekolah jam dua siang sesuai jadwal. Mia sayang Ibu. Daaa Ibu\u2026\u201d Mia mulai keluar dari pintu mobil dan melambaikan tangan ke arah ibunya dan pergi masuk ke sekolah. Tidak terasa jam menunjukkan pukul dua siang. Di hari pertama MPLS ternyata Mia masih belum mampu menyesuaikan dirinya dengan baik di lingkungan sekolahnya. Mia masih merasa minder karena ia sedikit berbeda dengan teman-temannya. Hal ini yang membuat Mia merasa malu untuk berkomunikasi dengan teman-teman barunya. Mia merasa bahwa hanya dia yang berkulit lebih gelap dibandingkan teman-teman yang lain. Setelah bel berbunyi Mia segera menuju gerbang dan mencari mobil ibunya. Setelah mencari dan menunggu cukup lama mobil ibunya tak kunjung terlihat. Mia mencoba menghubungi ibunya tapi tidak ada jawaban, beberapa saat kemudian Mia melihat pak sopir yang biasa mengantar Ayahnya kerja. Akhirnya Mia masuk mobil tersebut dan mobil mulai bergerak meninggalkan sekolah. \u201cPak, kok tumben yang menjemput bukan ibu? Ibu ke mana? Aku hubungi juga tidak bisa dari tadi,\u201d tanya Mia kepada sopirnya. \u201cMaaf, Non. Tadi saya disuruh menjemput Non Mia, karena Ibu mengalami kecelakaan ketika akan menjemput Non Mia ke sekolah.\u201d \u201cTerus ibu bagaimana keadaannya, Pak? Ibu baik-baik aja kan? Ayo, Pak, kita segera ke rumah sakit!\u201d kata Mia panik sambil menangis. \u201cBaik, Non.\u201d Mia sangat terkejut dan kaget mendengar bahwa ibunya mengalami kecelakaan. Mia tidak ada hentinya terus menangis karena tidak percaya jika ibunya mengalami kecelakaan. Saat tiba di rumah sakit Mia melihat ayahnya yang menangis dan Mia segera menanyakan keadaan ibunya. Sayangnya karena kecelakaan yang cukup berat ibu Mia ternyata tidak dapat diselamatkan. Ini merupakan hari yang sangat berat bagi Mia karena harus kehilangan seorang ibu yang berarti baginya. Setelah tujuh hari kematian ibunya, Mia mulai masuk sekolah kembali. Mia ketika masuk sekolah menjadi anak yang pendiam dan murung, tidak ada lagi senyum muncul di wajahnya. Mia merasa sangat kesepian karena Ia tidak lagi punya teman untuk bercerita jika mengalami masalah. Di sekolah Mia lebih UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 135","memilih untuk menyendiri dan menjauhi teman-teman karena rasa mindernya dan Mia hanya berdiam saja tidak mau melakukan apapun. Tindakan Mia ini membuat beberapa guru merasa bingung dengan sikap Mia, karena dulu waktu SMP ia adalah murid yang terkenal pandai, ceria, dan memiliki banyak prestasi. Kekhawatiran para guru-guru inilah yang akhirnya membuat Bu Sinta sebagai guru BK menghampiri Mia saat sedang duduk sendiri di taman sekolah ketika jam istirahat. \u201cHalo Mia, kamu kenapa sendirian di sini?\u201d tanya Bu Sinta. \u201cTidak apa-apa, Bu. Saya lebih suka di sini daripada harus bergabung dengan yang lain.\u201d \u201cApa kamu ada masalah, Mia? Jika ada kamu bisa cerita ke Bu Sinta, mungkin Ibu bisa membantu kamu,\u201d tanya Bu Sinta sambil duduk di samping Mia. Tapi Mia hanya diam dan menggelengkan kepalanya. \u201cBu Sinta dengar, kamu ketika di SMP sangat dekat dengan Bu Yani. Beliau adalah teman kuliahnya Bu Sinta, Bu Yani juga pernah bercerita tentang kamu ke Ibu karena tahu kamu mau masuk sekolah ini.\u201d \u201cApa benar, Bu? Bu Yani cerita apa ke Bu Sinta?\u201d jawab Mia dengan wajah penuh tanya. \u201cBu Yani cerita tentang kamu yang suka ikut lomba dan sering menang lomba. Beliau juga bilang kamu anaknya periang dan ramah di sekolah. Tapi kenapa kok kamu sekarang sepertinya sedikit berbeda? Apakah kamu merasa tidak nyaman di sini? Beberapa guru banyak yang sedih melihat sikapmu yang berubah jika dibandingkan saat kamu masih SMP.\u201d \u201cHmmmm, semua sudah berubah Bu. Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, sudah tidak ada orang yang peduli dengan saya. Apalagi disini saya juga merasa minder dengan teman-teman, lebih baik saya menyendiri saja Bu.\u201d Jawab Mia sambil sedikit menangis. \u201cApakah ini juga ada hubungannya dengan meninggalnya ibumu? Bukankah kamu masih punya ayah, masih ada orang yang sayang dan peduli dengan Mia.\u201d kata Bu Sinta sambil memberikan tissue kepada Mia untuk menyeka air matanya. 136 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201cAyah adalah orang yang sibuk dengan pekerjaannya. Dari dulu Mia hanya dekat dengan ibu saja. Tapi ibu sekarang sudah meninggal, tidak ada orang yang peduli dengan Mia. Ayah hanya sibuk bekerja dan memberikan apa yang dibutuhkan oleh Mia. Di rumah hanya berjumpa dengan pembantu dan Ayah juga jarang pulang. Kenapa sih Tuhan jahat sama Mia? Kenapa Tuhan mengambil ibuku?\u201d jawab Mia dengan nada sedikit marah dan jengkel. \u201cMia tahu tidak, kalau kamu sebenarnya masih beruntung karena kamu masih memiliki seorang ayah yang mungkin memang belum bisa memberikan perhatian secara seutuhnya kepada Mia. Apa kamu pernah mencoba berbicara dengan ayahmu secara langsung tentang hal ini?\u201d \u201cMana ada waktu ayah untuk aku Bu! Dari dulu ayah memang seperti itu! \u201d. \u201cTapi tidak ada salahnya jika kamu coba untuk berbicara dengan ayahmu, mungkin saja nanti ayahmu akan berubah. Tadi kamu mengatakan bahwa kamu minder dengan teman- temanmu karena kamu berbeda, seharusnya kamu tidak perlu minder Mia. Setiap manusia terlahir memiliki perbedaan dan kelebihan masing-masing. Justru ketika kamu berbeda kamu harus bisa menunjukkan bahwa perbedaan yang kamu miliki ini menjadi kelebihan bukannya malah minder,\u201d kata Bu Sinta kepada Mia. \u201cTapi Bu, apakah mereka mau berteman dengan saya?\u201d \u201cYa mari dicoba, kamu akan menemukan jawabannya ketika kamu sudah mencobanya. Jangan menilai atau memutuskan sesuatu jika belum pernah mencoba. Bagaimana kalau kamu memulainya dengan ikut SSV di sekolah ini? Lewat SSV ini nanti kamu akan bisa menemukan jawaban dari semua permasalahmu.\u201d \u201cSSV itu apa, Bu? Apa Ibu yakin ini solusi tepat untuk masalah saya?\u201d tanya Mia sedikit ragu. \u201cTentu saja Mia, akan ada banyak hal yang kamu temui nanti di SSV. Coba kamu ikuti kegiatannya 1-2 kali pertemuan. Pasti nanti kamu akan nyaman dan semua masalahmu terjawab di SSV. Akan Ibu hubungi Stevan ketua dari SSV saat ini untuk mengajak kamu saat ada kegiatan SSV. Tunggu infonya dari Stevan ya,\u201d jawab Bu Sinta. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 137","Tak lama kemudian bel tanda berakhirnya jam istirahat berbunyi, Mia berpamitan dengan Bu Sinta dan segera menuju ke kelas. Mia masih terlihat diam di kelas dan masih sedikit bingung dengan SSV yang disampaikan oleh Bu Sinta. Sepulang sekolah ketika akan berjalan keluar kelas, Mia mendapat chat WA dari nomer yang tidak dikenal ternyata itu adalah chat dari Kak Stevan yang mengatakan bahwa sore nanti jam lima akan ada kegiatan SSV di salah satu panti asuhan. Kak Stevan mengirim alamat panti asuhan tersebut dan mengajak Mia untuk ikut datang bergabung. Sepanjang perjalanan pulang Mia masih memikirkan tawaran dari Stevan, hingga akhirnya Mia memberanikan diri untuk mencoba datang di acara SSV seperti yang disarankan oleh Bu Sinta. Tepat pukul lima sore Mia sudah datang di panti asuhan yang diberitahukan oleh Stevan, dan ternyata Mia datang mendahului yang lain. Ketika sampai di depan gerbang Mia sudah disambut oleh anak-anak kecil dan Suster yang menjaga di panti asuhan tersebut. Mia tampak kebingungan dan tidak mengerti apa yang akan dilakukan di sana. Sembari menunggu teman-teman SSV yang lain Mia banyak berbincang dengan Suster Ana mengenai anak-anak di panti asuhan. Mia sempat merasa kasihan dengan anak-anak yang ada di panti itu karena mereka ada yang ditinggal orang tuanya sejak lahir, ada yang memang sengaja dititipkan. Namun anak-anak kecil di situ sangat terlihat riang gembira, Mia menjadi merasa malu dengan dirinya sendiri. Mia teringat dengan kata-kata Bu Sinta bahwa dirinya masih beruntung karena masih memiliki seorang ayah yang sayang meski memang ayahnya tidak memiliki banyak waktu dan perhatian untuk dirinya. Tak lama akhirnya teman-teman SSV yang lain datang dan kegiatan segera dimulai. Ternyata pada hari itu kegiatannya adalah belajar bersama. Teman-teman SSV ini mengajari adik- adik di panti materi pelajaran yang dirasa sulit oleh adik-adik. \u201cAyo Mia, gabung disini kamu kan jago dalam matematika!\u201d kata Stevan. \u201cIya, Kak,\u201d jawab Mia dengan sedikit malu. Selesai mengajar Stevan mengatakan kepada teman- teman SSV yang lain untuk mulai membagikan snack kepada adik-adik panti, karena kebetulan ada sumbangan dari orang tua Stevan. Melihat kebahagiaan yang muncul dari adik- 138 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","adik panti Mia menjadi ikut bahagia dan berniat untuk memberikan makan malam untuk semua adik-adik di panti. Selesai belajar dan bermain bersama pesanan makan malam Mia untuk adik- adik panti sudah datang dan mereka makan bersama-sama. Mia sangat merasa nyaman dan memang benar apa yang dikatakan Bu Sinta, melalui kegiatan SSV terjawab semua permasalahan Mia. Ketika bersama-sama dengan adik-adik panti Mia merasa tidak kesepian, Mia mulai merasakan suatu kebersamaan, sikap saling peduli, dan kehangatan sama seperti yang dia rasakan ketika bersama Ibunya. Mia mulai merasakan dan menemukan keluarga baru yang bisa menemani kesendiriannya. Di hari pertama mengikuti kegiatan SSV ini Mia menjadi tertarik untuk bergabung dalam SSV dan berniat untuk sering-sering datang berkunjung dan memberikan sumbangan untuk panti asuhan tersebut. Rasa sedih, kesepian, dan minder yang dialami oleh Mia seakan mulai hilang berganti dengan rasa bahagia, dan senang. Tibalah saatnya untuk teman-teman SSV berpamitan pulang karena sudah malam, selesai berpamitan Mila sempat terhenti karena ada seseorang yang memanggil namanya. \u201cMia\u2026tunggu dulu\u201d kata Stevan sambil mendekati Mia sambil mengendarai sepeda motornya. \u201cAda apa, Kak?\u201d jawab Mia dengan sedikit bingung. \u201cMakasi ya kamu udah mau gabung SSV, mau pulang bareng aku? Kebetulan kita gak searah sih, tapi bisa kok dibuat biar searah jalannya hehehhe\u2026\u201d \u201cAhh, Kak Stevan ini bisa aja.\u201d Jawab Mia dengan sedikit tersipu malu. \u201cAku seneng liat kamu dari tadi senyum terus. Kamu cantik banget lo kalau senyum. Jadi jangan murung atau sedih lagi ya, aku harap kamu bisa kembali seperti saat kamu SMP. Ya udah, ayo pulang bareng aku aja jangan kawatir gak ada cewek yang marah kok. Paling yang marah ibuku aja karena sekarang anaknya sudah berani nganter cewek pulang hehehehe\u2026.\u201d Akhirnya Mia pulang dan diantar sampai rumah oleh Stevan, sejak saat itu Mia mulai kembali menjadi dirinya yang sebelumnya. Mia sudah mulai menjadi anak yang ceria, tidak minder, dan menurut Mia pilihan Ibunya untuk menyekolahkannya di SMAK Santa Maria memang pilihan yang tepat. Mia UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 139"]
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184