Siang itu semua pihak pada akhirnya mencapai kesepakatan. Kelompok guru muda yang dipimpin Marina menyampaikan sebuah program pembelajaran yang dinamakan \"Program Belajar Among Karya\" yang memberi kesempatan pada siswa mengembangkan kepribadiannya, bakat, kemampuan, dan cita- citanyanya di mana pun mereka berada. Guru akan menjaga, meluruskan, menfasilitasi, mendorong, memotivasi, dan menjadi tempat konsultasi. Konsep ini diusung karena pada dasarnya, di mana pun adalah sekolah, kapan pun adalah waktu belajar, dan siapa pun adalah guru. Dengan demikian anak yang bekerja di waktu tertentu bisa bergabung bersama untuk belajar dengan bapak- ibu guru yang bertugas hari itu di waktu tertentu yang dijadwalkan. Satu bulan telah berlalu, Marina begitu menikmati pekerjaanya. Di pagi hari dia mengajar murid-muridnya dalam ruangan. Di hari tertentu entah siang atau sore dia akan bersama anak-anak yang tidak bisa hadir di sekolah. Meskipun kadang-kadang jalanan tidak mendukung untuk bertemu mereka, itu tidaklah sesulit memaksa seseorang untuk sekolah. Di akhir pekan Marina akan dengan senang hati bersama Sikerei berbelanja kebutuhan bulanan di Siberut dengan pong- pong di tengah alunan omak dan angin laut Mentawai. Akhirnya senyuman boleh menghiasi anak-anak dan Dusun Tiop dari pagi hingga petang. Salam UKB Tamat 40 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Hidup Bahagia dan Itu Cukup Karya: Maria Widyaningsih, S.Pd. Langkahku terhenti di depan gerbang sekolah. Tiba-tiba keraguan menyusup dalam ragaku dan membuatku terpaku. Kuhembuskan napasku kuat- kuat untuk mengusir rasa itu. “Hah..!!!” “Lho, kok berhenti di situ, Dik?! Ayo cepetan masuk! Sudah mau dipresensi lho!” Kupaksakan senyum sambil mengangguk kepala dan berlari masuk ke salah satu barisan. “Dik, ini kelas X MIPA 1! Kamu kelas berapa?” “E… e… Belum tahu, Kak…” “Namamu siapa?” “Antonius Raka, Kak.” “Ok. Sebentar ya…. Antonius Raka kelas X IPS 2. Kamu segera gabung dengan teman-temanmu. Itu barisanya di sana.” “Baik, Kak. Terima kasih,” sahutku sambil segera bergabung dengan teman-teman sekelasku yang sudah berbaris dengan rapi. Seorang kakak berdiri di depan depan barisan kelasku. Dia mengangkat kedua tangannya. Telapak tangan kirinya diposisikan mendatar dan telapak tangan kanan diposisikan tegak tepat di tengah telapak tangan kiri. Huruf T, seketika itu juga suara kami kelas X berangsur tenang. Ternyata semua kakak melakukan gerakan yang sama. Dan hebat!!! Gerakan yang efektif. Kami semua diam dan fokus menatap ke depan, ke arah kakak yang memegang microphone. “SELAMAT PAGI, ADIK-ADIK!” “Selamat pagi, Kak….” “Lho, kok ragu-ragu menjawabnya. Kurang keras. Kurang tegas!” “SELAMAT PAGI, ADIK-ADIK!” “SELAMAT PAGI, KAK!” “Nah, gitu! Itu baru namanya kompak dan semangat!” UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 41
“Selamat datang, Adik-adik! Selamat datang di SMAK Santa Maria Malang. Terima kasih sudah hadir tepat waktu. Perkenalkan, nama saya, Gracia Florantika. Saya biasa dipanggil Gracia. Saya akan menjadi pemandu acara orientasi siswa pada hari ini. Kegiatan pertama kita adalah acara pembukaan MOS. Kegiatan ini akan dilaksanakan di lapangan olah raga. Tapi sebelumnya, saya minta setiap kakak melakukan presensi di kelas masing-masing. Setelah selesai presensi, silakan mengajak adik-adik menuju lapangan!” “Adik-adik, nanti saat masuk kalian akan bertemu dengan Suster, Ibu- Bapak guru dan Ibu-Bapak karyawan. Jangan lupa untuk memberikan salam kepada beliau semua.” “Silakan para kakak pendamping untuk melakukan presensi!” Presensi berlangsung dengan lancar dan cepat. Setiap kakak pendamping mengacung jempol untuk menginformasikan bahwa presensi kelasnya sudah selesai. “Silakan kakak pendamping mengajak adik-adik menuju lapangan, dimulai dari kelas X MIPA.” Kembali aku merasa cemas. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam dan mulai melangkah bersama kelasku. Ternyata kami disambut oleh barisan bapak-ibu guru. Beliau menyapa kami dengan ramah. Setiap siswa memberi salim. Saat giliranku, aku sudah siap menerima tatapan mata terkejut dari beliau. “Selamat pagi. Selamat datang,” sapa bapak pertama sambil menepuk bahuku. Dengan terkejut aku angkat kepalaku. Dan ternyata tidak ada ekspresi terkejut atau heran. Yang ada hanya keramahan dan kehangatan. Sapaan dan ekspresi itu terus kudapatkan sampai guru terakhir. Aku merasa sangat lega. Ya, beginilah kondisi fisikku. Aku terlahir tanpa tangan. Sejak kecil, aku selalu menerima tatapan mata terkejut – heran – kasihan. Tatapan mata yang terakhir selalu paling aku benci. Tapi ternyata di sini aku tidak menerima itu! **** 42 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Sekarang aku sudah resmi menjadi siswa kelas X IPS 2. Pelajaran sudah berlangsung seperti biasa. Aku menikmati hari- hariku di SMAK Santa Maria Malang. Yang paling membuatku betah adalah perlakuan yang aku terima. Aku tidak menerima tatapan aneh lagi. Bahkan aku mendapat kepercayaan dari teman- teman dan wali kelasku untuk menjadi ketua kelas. “Raka, tolong bilang ke teman-teman, PH saya lakukan jam 10 tepat. Sekarang istirahat dulu, nanti jam 9.35 kalian masuk kelas dan lanjut belajar mandiri,” instruksi Bu Monica, guru sejarah sekaligus wali kelasku. “Baik, Bu,” sahutku. “Terima kasih, Raka. Tolong ingatkan temana-teman agar tidak terlambat saat kembali ke kelas.” “Siap, Bu!” Setiba di kelas, “Rek, perhatian sebentar! Pesan dari Bu Mon. Sekarang istirahat dulu, masuk lagi jam 9.35. Lanjut belajar mandiri. Nti jam 10 baru ulangan.” “Hore!!” “Sip! Sip! Bisa makan dulu! Sudah lapar!” Beberapa teman langsung berlari ke arah kantin. Hmmmm…. seperti mereka sudah sangat lapar. Aku sendiri siap untuk keluar kelas. Tapi kulihat ada sekitar empat orang teman asyik menunduk di meja mereka. Penasaran, aku datangi mereka. Hmm, keempat-empatnya sedang asyik main hp. Melihat aku mendekati mereka, mereka langsung mengubah posisi. Saat aku berada di dekat mereka, hp sudah tidak ada lagi. “Kalian ga istirahat?” tanyaku “Nggak. Kami ingin di kelas saja. Mau belajar!” sahut Gondo. “Mmmmmpppprrt……. Gayamu, nDo. Belajar…. hahahahaha….” ketiga yang lain menahan tawa sambil mengejek Gondo. “Iya! Belajar! Ini bukunya sedang aku baca,” tukas Gondo. “Raka! Ayo! Ke Kantin cepat! Aku sudah lapar!” teriak Santi memanggilku dari arah pintu kelas. “Iya… iya… Sebentar, San,” jawabku, “Aku keluar dulu, Rek. Selamat belajar.” UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 43
“Hahahaha…!!!” Mereka berempat langsung tertawa keras. Sambil berjalan ke arah kanti, Santi bertanya kepadaku, “Kamu kenapa, Ka? Kok kelihatan mikir sesuatu?” “Ga pa-pa, San. Cuma merasa aneh saja melihat kelakukan Gondo dan teman-temannya. Biasanya mereka yang keluar pertama saat istirahat.” “Ya paling hari ini mereka sedang ga pengen keluar kelas. Biarin saja.” “Iya sih. Lagian mereka mau istirahat di mana, juga hak mereka.” timpalku. Kami pun bergegas ke kantin karena waktu istirahat tinggal lima belas menit. Kurang satu menit sebelum 09.35, aku sudah duduk Kembali di bangkuku. Kulihat teman sekelasku juga sudah kembali. Aku mengambil buku paket sejarah dan mulai belajar, mengulang kembali yang sudah kupelajari. Selama ini nilai- nilaiku di atas rata-rata. Ya, aku harus menjaga nilaiku karena targetku diterima di UGM (Universitas Gajah Mada) Fakultas Psikologi melaluijalur SNPTN. Untuk itu aku harus mendapatkan nilai tinggi dan stabil. “Ka…! Sstt… Ka! Bu Monica sudah datang,” bisik Cathi mengingatkanku. “Iya. Trims,” sahutku “Bersiap!” ucapku dengan suara keras, “Beri salam!” “Selamat pagi, Bu!” ujar kami serentak. “Selamat pagi. Silakan duduk,” sahut Bu Monica. “Bagaimana? Sudah istirahat kemudian lanjut belajar mandiri, ‘kan?” “Sudah, Bu….!” “Waktu belajarnya ditambah 15 menit, Bu..!” Terdengar beberapa suara menjawab. “Boleh nambah waktu belajar. Tapi kalau 15 menit terlalu lama. Saya tambah 5 menit saja. Jam 10.05 PH saya mulai.” “Waduh, Bu…. Kurang…” “Sudah! Ayo manfaatkan saja waktu lima menit tambahan untuk belajar. Jangan dipakai untuk negosiasi lagi!” Kelas kembali tenang. Kami kembali belajar. “Raka. Apakah kalian duduk sesuai dengan denah?” 44 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Aku menatap ke seluruh kelas. “Sepertinya sesuai dengan denah, Bu.” “Terima kasih, Raka.” “Anak-anak, waktu lima menit sudah habis. Silakan simpan buku paket dan catatan kalian. Keluarkan kertas ulangan. Saya akan membagikan soal.” Kelas senyap. Kami sibuk mengerjakan soal sejarah. Tapi tiba-tiba diujung mataku, aku menangkap Gerakan yang tidak bisa. Kupalingkan wajahku, kulihat Gondo mengeluarkan hp dan jarinya bergerak lincah di layar hp. Kuangkat wajahku dan kulihat Bu Monica. Bu Monica sedang menunduk, fokus mengerjakan sesuatu di meja guru. Kutatap Gondo lekat-lekat. Dia merasakan tatapanku dan membalasnya. “Apa?!” Dia gerakkan mulutnya tanpa suara. “Raka! Ada apa? Kamu sudah selesai?” Tiba-tiba suara Bu Monica menegurku. Mukaku memerah, “Belum, Bu…” “Ayo fokus! Lanjutkan pekerjaanmu!” “Baik, Bu,” jawabku pelan. Sebelum kembali ke kertas ulanganku, aku melirik Gondo. Dia tersenyum mengejekku. Sangat menjengkelkan! Satu minggu kemudian hasil ulangan dibagikan. Aku mendapatkan nilai 100. Sama dengan nilai yang diperoleh Gondo. “Gondo dan Raka ke sini sebentar,” panggil Bu Monica. Kami maju menghampiri Bu Monica di meja guru. “Kalian tidak ingin menceritakan sesuatu berkaitan dengan nilai ulanganmu ini?” “Maksud, Ibu?” “Mungkin kalian mau bercerita tentang kegiatan googling saat mengerjakan soal-soal ini minggu lalu?” Muka kami langsung pucat. Kepala tertunduk dalam- dalam. “Apakah kamu lupa bahwa lap top saya terhubung dengan CCTV kelas? Semua aktivitas kalian selama PH bisa saya lihat.” “Bu, saya hanya gooling di satu soal saja,” kataku membela diri. Sedangkan Gondo tidak mengucapkan sepatah kata pun. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 45
“Raka, yang kamu lakukan itu kecurangan. Tidak peduli satu soal atau semua soal, tetap adalah curang!” tukas Bu Monica. “Nilai kalian, saya ubah menjadi Nol! Itu hukuman bagi kalian!” “Tapi, Bu, kami masih boleh remidi ‘kan?” tanya Gondo. “Kalian tidak boleh remidi! Remidi adalah hak untuk siswa yang nilainya tidak tuntas. Tidak berlaku bagi kalian yang dinolkan karena curang.” Mukaku semakin pucat. Nilai nol akan sangat berpengaruh pada keseluruhan nilai mapel sejarahku. “Saya berharap kejadian ini tidak terulang lagi! Kecurangan sekecil apa pun adalah benih-benih korupsi. Kita sama-sama tahu bahwa itu adalah mental yang sangat buruk! Dan ini bukan perilaku dan mental yang perlu diasah! Ini perlu dihilangkan!” tegas Bu Monica. Kami berdua hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepala. “Maaf, Bu,” ucap kami pelan, hamper bersamaan. Selesai pelajaran sejarah, Bu Monica memanggilku ke luar kelas. Beliau mengajakku ke ruang BK. “Raka, mengapa kamu melakukan kecurangan?” tembak beliau langsung. “Kepepet, Bu…” sahutku pelan. “Kepepet? Maksudmu?” “Saya harus menjaga rata-rata nilai saya, Bu.” “Iya, saya paham tentang hal itu. Tetapi bukan dengan cara curang! Apakah di mapel lain kamu juga curang?” “Tidak, Bu! Ini pertama kalinya saya melakukannya!” tegasku. “Benar…? Pertama kalinya?” tanya Bu Monica meragukan jawabanku. “Benar, Bu…. Ini pertama kali dan terakhir kalinya… Saya kapok, Bu…” sahutku dengan suara sedikit bergetar. Aku sangat malu. “Raka, saya harus jujur kepadamu. Peristiwa ini saya meragukanmu. Seluruh pemahaman saya tentang dirimu selama ini, langsung hancur. Saya merasa ditipu habis-habisan,” tukas Bu Monica. “Tapi saya tetap memberi kesempatan kepadamu untuk membuktikan perkataanmu. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Dan saya memberikan itu kepadamu. Ingat ya, orang itu harus bisa dipercaya! Saya benar- 46 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
benar berharap bahwa kamu tidak akan melakukan kecurangan lagi. Jangan pernah mengorbankan integritasmu dengan alasan apa pun!” nasihat Bu Monica. Aku tertunduk semakin dalam dan hanya bisa mengangguk. **** Langkahku terhenti di depan gerbang sekolah. Bukan keraguan yang menyusup dalam ragaku dan membuatku terpaku. Aku tidak lagi merasa ragu. Kali ini perasaanku berbeda dengan saat pertama menjadi siswa kelas X. Aku merasakan kerinduan dan sedikit haru. Sudah 12 tahun aku meninggalkan sekolah ini. Dan sekarang aku kembali lagi dengan segala kerinduan yang kurasakan. Aku yang sekarang, datang sebagai alumni yang menyandang gelar master di bidang Psikologi Perkembangan. Aku juga seorang motivator sekaligus mulai merambah dunia youtube. Ya, aku menjadi youtuber sejak awal masa pandemi. “Selamat siang, Pak Slamet. Masih ingat saya?” sapaku kepada Pak Slamet, satpam yang sama dengan saat aku kelas X. “Selamat siang. Raka ya? Apa kabar? Wah! Sekarang jadi gagah begini!” balas Pak Slamet. “Pak Slamet juga tetap gagah kayak dulu. Saya baik-baik saja, Pak. Saya mau main-main ke sekolah. Saya boleh masuk ‘kan?” “Tentu saja boleh! Mari silakan, langsung masuk saja!” sahut Pak Slamet dengan ramah. Aku mengayukan langkahku, masuk ke koridor depan, lanjut ke TU. “Selamat siang, Bu Putri. Apa kabar? Saya Raka, Bu,” sapaku “Selamat siang. Tentu saya ingat kamu, Raka. Ya ampun!! Pangling saya! Kamu jadi gagah sekali sekarang,” balas Bu Putri, “Mau ketemu siapa ini?” “Mau ketemu dengan semua guru, Bu. Boleh ‘kan?” “Tentu saja boleh. Sekarang pas jam istirahat. Yuk, saya antar ke ruang guru.” “Terima kasih, Bu.” Kami berjalan beriringan menuju ruang guru sambil ngobrol. “Yuk, masuk Raka,” ajak Bu Putri, “Bapak-Ibu, ini Raka alumni 12 tahun yang lalu. Ingin bertemu dan menyapa, Bapak- Ibu.” UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 47
Para bapak-ibu langsung heboh melihatku. Aku langsung berkeliling menyapa mereka. Dan sama seperti saat pertama aku bergabung di SMAK Santa Maria waktu itu, mereka sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut – heran – kasihan. Para bapak menepuk bahuku, sama seperti dulu. Para ibu menatapku dengan rasa sayang. Dan aku sampai di depan Bu Monica. “Bu… ,” sapaku “Wah! Wah! Apa kabar, Raka?” balas Bu Monica dengan kehangatan yang sama dengan dulu. “Saya mengikuti chanel youtube-mu. Kontenmu menarik dan edukatif banget!” “Terima kasih, Bu. Saya senang karena Ibu menyukai konten saya,” jawabku. “Ayo Raka, kapan kamu punya waktu untuk sharing ke adik kelas?” “Sharing apa, Bu? Saya bukan siapa-siapa kok.” “Jangan merendah begitu. Subscibers-mu sudah lebih dari 1juta. Dan untuk sampai ke tahap itu, bukan hal yang mudah. Saya yakin kamu butuh selalu menggali informasi dan kreativitas agar dapat membuat konten yang berkualitas. Ayo, sudah saatnya kamu berbagi ke adik kelas,” desak Bu Monica. Ya, Bu Monica benar. Sudah saatnya aku terlibat dengan almamaterku, rumah keduaku. Tempat di mana aku diterima apa adanya. Saat di mana aku tidak perlu cemas dengan apa pun, cukup dengan menjalani hidupku dengan bahagia. “Baik, Bu Mon. Saya bersedia!” Tamat 48 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Impuls (Rangsangan) Karya: Paulina Sukmawati,S.Pd. Seperti pagi-pagi yang telah lewat, pagi ini 06.30 kami bersama menyiapkan diri mengawali pagi dengan ucapan syukur pada alam dan pemiliknya. Ya, doa pagi selanjutnya diteruskan dengan pengumuman atau info dari pimpinan. Terkait perkembangan saat ini di mana organisme kecil tak kasat mata tetapi berdampak lebih dalam keseharian kami, menimbulkan banyak gangguan dan perubahan di alam. Mau apa…..? Organisme unik itu virus dan menganggu. Sudah banyak perubahan yang terjadi tetapi tuntutan waspada, tak diizinkan untuk kendor. Tetap memakai masker dan jaga jarak, hal ini yang membuat tatap muka dengan siswa terbatas. Boleh melalui zoom saja untuk sementara waktu. “Oke, siswa-siswi selamat pagi.” Aku mulai menyiapkan diri untuk PBM dengan menyapa anak murid melalui zoom. “Pagi, Bu.” “Pagi, Bu.” “Pagi, Bu.” Beberapa siswa membalas sapaanku dengan semangat. “Yang lain, bagaimana? Haloooo….?” “Baik, Bu,” terdengar satu sapaan balasan. “Ayo tetep semangat ya! Yang lain Ibu harapkan tetap dalam kondisi sehat. Meski masih enggan menjawab pertanyaan Ibu.” Setelah doa dan lagu Kebangsaan, PMB dimulai. Aku mengawali dengan ajakan tetap jaga kondisi fisik dan pikiran positif, sebab yang positif tentu memupuk rasa tenang dan pencetus semangat dalam berkolaborasi meksipun terhubung secara daring. Saat ini yang perlu guna membentengi raga dari sentuhan dengan yang kecil tak kasat mata tapi terasa dampaknya. “Siswa-siswi, sebelum kita melanjutkan sesi minggu lalu terkait neuron dan kendaraan pembawa impuls, ibu akan mengajak kalian menyimak bersama. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 49
Menyimak termasuk aplikatif dalam penerapan peran Neuron dalam kehidupan sehari-hari yang bisa terekam melalui sinyal suara dan kalimat- kalimat yang akan kalian dengar.” “Pada suatu masa…,” aku mengawali cerita, Pada suatu masa, hiduplah seorang raja yang bijaksana dan rakyatnya hidup tenang sesuai laporan para hulubalang raja. Tetapi kondisi itu menggelitik raja untuk mengetahui kondisi riil rakyatnya dengan cara menyamar dan berjalan- jalan sendiri guna mengenathui kondisi rakyatnya. Ia memerintahkan pengawal untuk mengangkat batu dan dibawa dengan gerobak. Selanjutnya raja memerintahkan untuk meletakkan batu tersebut di tengah jalan. Selanjutnya raja bersembunyi di balik semak-semak guna melihat bagaimana reaksi orang-orang yang melewatinya. Pertama, lewatlah dua orang pedagang dan ia melihat batu tersebut kemudian berkata, “Waduh-waduh. Bagaimana ini? Batu kok diletakkan di tengah jalan? “ “Ini pasti dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan sengaja mengganggu perjalanan orang-orang yang melewati jalan ini,” sahut pedagang satu lagi. Selanjutnya kedua pedagang itu memutar jalan dan mencari jalan alternatif lain guna menghindari batu. Selang beberapa saat lewatlah tiga wanita muda dengan membawa keranjang dagangan sayur. Mereka melihat batu dan bertanya-tanya, “Kenapa ada batu di tengah jalan, ya ?” “Aneh? Kemarin kan tidak ada?” “Atau batu ini jatuh dari langit ya?” sahut teman yang lain. Mereka berunding untuk sedikit menggeser batu penghalang tersebut. “Satu, dua, tiga!” Mereka menghitung dan mulai menggeser batu, tetapi batu tidak bergeser. Dicoba sekali lagi, “Satu, dua, tiga!” Kembali hal yang sama terjadi. Batu tidak bergeser sedikit pun. Dengan putus asa, akhirnya perempuan-perempuan muda tersebut sepakat meninggalkan tempat tersebut. 50 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Ketiga, lewatlah seorang lelaki petani membawa kerbau dan sepertinya hendak membajak ladang. Karena kesulitan untuk melewati, petani tersebut berpikir sejenak sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Aneh, ya? Kenapa ada batu besar di tengah jalan?” Timbul ide, “Bagaimana kalau kucoba menggeser sedikit agar batu tidak menghalangi jalan,” pikir petani itu dalam hati. Selang beberapa saat, petani itu mengikat tali pada batu lalu menarik kerbau untuk melaju. Batu itu mulai bergeser pelan-pelan. Sedikit demi sedikit tapi pasti batu itu bergeser hingga akhirnya perpindah posisi di tepi jalan. “Hmm, cukuplah,” gumam petani tersebut. Selanjutnya ia melepas tali pada batu dan kembali menarik kerbau untuk melanjutkan perjalanan. Kemudian petani tersebut mengemasi karung rumput, sabit, dan hendak melanjutkan perjalanan. Saat karung rumput dibuka ia terkejut sebab ada hadiah di dalamnya. Sepertinya itu dari raja yang bersembunyi di balik semak. “Nah, siswa-siswi, menurut kalian, bagaimana ketiga pejalan kaki dari cerita tadi? Ada yang mau berpendapat?” “Saya, Bu, Antoni. Saya mau mencoba berpendapat. Kalau untuk pedagang yang awal, mereka termasuk tipe orang yang mudah menggerutu dan berkomentar saja dan curiga pada orang lain. Tetapi mereka tidak melakukan apa-apa guna menyelesaikan masalah batu.” “Oke. Jempol untuk Antoni!” “Bagaimana yang lain?” “Saya, Bu, Tania. Saya akan mencoba menyampaikan terkait ketiga perempuan muda yang membawa sayur. Untuk mereka sudah lumayan bagus memiliki ide untuk menggeser batu, dan sudah bekerjasama. Tapi mungkin karena batu yang besar dan keterbatasan tenaga, sehingga mereka kesulitan dalam menggeser batu.” “Oke. Dapat jempol juga untuk Tania. Bagus Tan!” “Berikutnya siapa lagi yang mau perpendapat?” “Saya, Bu, Crisdian.” UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 51
“Oke. Silakan, Cris.” “Yang ketiba, B, petani pemilik kerbau. Beliau memiliki kemauan untuk menggeser batu. Tetapi karena ukuran batu yang besar lalu punya ide cerdas dengan mengikat batu dan menghela kerbau supaya menarik batu. Batu bergeser sedikit demi sedikit. Petani ini termasuk juga orang yang peduli jika ada sesuatu hal yang tidak semestinya ditemui.” “Bagus! Jempol untuk Cris.” Selanjutnya guru bertanya sekali lagi kepada siswa yang lain, “Apakah masih ada yang akan berpendapat?” Beberapa saat suasana hening dan diam. Terdengar suara lagi, “Saya, Bu, Billy.” “Oke. Silakan, Bil.” “Rajanya, Bu.” “Oke. Raja kenapa?” Billy mencoba menjelaskan, “Anu Bu…. eehhhh…. maksud saya, Raja dalam cerita tadi kreatif dan tidak mudah percaya pada kata-kata hulubalang dan membuktikan sendiri kebenarannya. Raja juga memiliki kepribadian yang unik dan unggul, sehingga memiliki ide-ide kreatif sendiri dalam menilai rakyatnya.” “Baik. Jempol lagi untuk Billy.” “Siswa-siswi,” guru mulai melanjutkan kalimatnya, “hal yang tadi kalian dengar, itu seperti kondisi kita saat ini. Batu diibaratkan kondisi kita saat pandemi. Ada masalah yang sedang dihadapi. Dan apa yang akan kamu lakukan jika menemui masalah seperti itu? Apakah hanya mengeluh dan menggerutu? Menyalahkan keadaan? Atau tetap membentuk diri menjadi pribadi tetap unggul? Unggul dalam hal tetap sehat. Artinya unggul dari penyakit dan tetap sehat.” “Atau mencoba bersama-sama menggeser batu. Artinya mencari solusi dari pandemi saat ini? Atau bersama-sama tetap berkolaborasi dengan memperhatikan keselamatan bersama, tetapi juga jaga kesehatan diri.” “Karena dengan kondisi diri yang unggul dari penyakit atau kondisi badan sehat, akan berfikir lebih kreatif dan memperoleh keunggulan dalam menemukan ide dan karya yang positif.” 52 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
“Hadir saat PBM dengan unggul dalam waktu, hadir zoom tepat waktu, mengikuti lomba baik yang ada di sekolah, misalnya memperingati hari Valentine atau memperingati Hari mendidikan. Itu juga bentuk proses diri menjadi pribadi unggul. Kembali pada kalian semua, mau membekali diri dengan kepandaian atau santai-santai saja ‘kan pandemi?” “Oke, mari siswa-siswi kita lanjut untuk Materi impuls dan neuron. Semoga cerita yang barusan lebih mengimpuls (merangsang) kalian dalam membentuk diri menjadi organisme-organisme Unggul.” Tamat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 53
Kasih Ibu Sepanjang Jalan, Kasih Anak Sepanjang Galah Karya: Dwi Helly Putranto, S.Kom. “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.” Ungkapan di atas adalah sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya bukan hanya sekedar ungkapan kosong belaka. Semua manusia pasti punya orang tua di mana mereka adalah sosok pribadi yang sangat dekat dan berpengaruh pada kehidupan anak-anaknya. Beruntunglah jika pernah mendapatkan panutan hidup atau dibesarkan orang tua sampai kita dewasa dan dididik sampai menjadi orang yang berguna baik untuk agama, negara, dan bangsa. Terutama sosok pribadi seorang ibu di dalam keluarga. Beliau sangat luar biasa kasih sayangnya terhadap anak- anaknya. Kalau kita hitung berapa besar nilai kasih sayangnya, mari kita cermati, apa saja ibu kita selama ini yang sudah mencurahkan kasih sayangnya. Mulai kita di dalam kandungan perut ibu selama sembilan bulan lebih. Terus melahirkan kita, di mana proses itu ada pendapat saat melahirkan itu taruhannya nyawa artinya saat kita dilahirkan, kalau seorang ibu kondisinya lemah dan tidak siap, maka nyawa ibu bisa terancam. Selanjutnya ibu merawat, menyusui dengan ASI, menjaga kita dari sakit, bahaya, ataupun ancaman. Ibu juga memelihara kita mulai dari kesehatan kita, makanan kita, pendidikan kita, sampai kita dapat hidup belajar sendiri, mandi, makan, dan belajar hidup secara mandiri. Kasih ibu yang tidak terbatas dan tak pernah berharap untuk kembali, seperti panas dan terang matahari menyinari bumi tanpa pernah mengenal lelah dan tidak pernah mengharap kembali, namun hal ini tidak pernah disadari oleh Dery seorang. Dery adalah seorang remaja yang bandel setengah mati, dia selalu bandel kepada orang tuanya dan tidak memerhatikan nasihat gurunya. Hal ini disebabkan karena orang tuanya terlalu memanjakannya. Hingga pada suatu kali dia diberikan 54 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
hukuman oleh guru Bahasa Indonesia untuk mebaca sebuah buku dongeng yang sarat akan nilai kehidupan. Demikianlah kira-kira cerita tersebut. Konon pada zaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya. Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini. “Bu, kita sudah sampai,” kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya. Si ibu, dengan tatapan penuh kasih berkata, “Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang. Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting- ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan”. Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang dan merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia. Mungkin cerita di atas hanya dongeng. Tapi di zaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita di atas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis, dll. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja. Cerita itu begitu mengharukan dan memilukan. Memang kisah tersebut untungnya terjadi di belahan bumi yang lain tetapi mampu jadi pelajaran berharga bagi Dery. Dalam permenungannya, Dery teringat kisahnya bahwa kesehariannya hanyalah bermalas-malasan, main game, serta menghamburkan uang orang tuanya untuk berfoya-foya. Memang kedua orang tuanya sangat sukses dibidang pekerjaannya masing-masing. Ayahnya adalah seorang anggota DPRD yang lebih UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 55
sering rapat dan kunjungan kerja ke luar negeri dan ibunya adalah seorang dokter spesialis kandungan yang sangat terkenal di kota Malang. Secara materi Dery tidaklah kekurangan, namun secara perhatian dia sangat kurang. Perhatian yang ia dapat hanyalah dari pengasuhnya yaitu Bik Ira. Hal inilah yang membuatnya menjadi anak yang sulit dikontrol, walaupun orang tuanya bekerja membanting tulang salah satunya adalah agar Dery mendapatkan penghidupan yang baik. Namun, dia tidak pernah menyadarinya. Malah di sekolah, dia melampiaskan kekecewaannya dengan berulah kepada guru dan teman sebayanya. Sehingga tidak jarang orang tuanya harus mendapatkan panggilan ke sekolah untuk mendapatkan pembinaan. Namun, dalam hati kecil Dery, hal ini sangat memuaskannya karena dengan dipanggilnya orang tua ke sekolah, dia ingin memberi pesan bahwa dia ada dan butuh diperhatikan. Hingga sekali waktu dalam pelajaran Pak Yosef, dia tidak mengerjakan tugas sama sekali. Pak Yosef agak berbeda dengan guru pada umumnya, dia tersebyum kepada Dery dan malah membelikan segelas kopi sepulang sekolah kepada Gery sambil menyerahkan sebuah buku dongeng. “Derry, saya tahu kamu adalah siswa yang potensial dan cerdas, hanya saja kamu belum menemukan jalannya. Nah, ini kopi buat kamu dan sebuah bacaan, silakan dibaca dan direnungkan.” Cetus Pak Yosef. “Te.. terima kasih Pak Yosef, tapi mengapa Bapak begitu baik kepada saya? Bukankah saya sudah kurang ajar di pelajaran Bapak?” Ucap Dery yang kali ini menjadi lirih. “Dery, saya tahu kamu seperti ini karena kecewa dengan orang tuamu karena tidak ada waktu mengurusmu. Benar tidak?” kata Pak Yosef. “Be.. benar Pak. Bagaimana Bapak tahu?” Dery bertanya dengan antusias. “Nak, Bapak ini sejak kecil sudah ditinggal orang tua yang transmigrasi ke NTT. Dalam hati Bapak kecewa sekali dengan orang tua, hingga sempat menjadi biang masalah di sekolah dan lingkungan. Hingga pada suatu ketika, saya dikeroyok oleh pemuda kampong karena pernah mabuk dan membuat onar di kampung.” 56 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
“Lalu Pak, apa yang terjadi?” “Untung saya diselamatkan oleh seorang pastur bernama Pastur Greg. Bersama beliau saya diajarkan makna hidup dan menjadi lebih berguna bagi orang lain. Dan beliau juga memberikan buku ini kepada saya, sehingga saya tersadar betapa pun menjengkelkan orang tua, mereka berbuat yang terbaik untuk saya. Dan ternyata benar, mereka mempersiapkan tabungan di NTT untuk masa depan saya menyelesaikan Sarjana hingga sekarang bisa mengajar kamu.” Dery tidak mampu membendung air matanya ketika mengetahui bahwa dia lebih beruntung dari Pak Yosef. “Baik Pak, saya janji akan membaca buku ini dan berubah menjadi orang yang lebih baik. Saya tidak ingin menerima hal- hal yang mungkin mencelakakan saya terlebih dahulu sebelum saya bertobat.” Ucap Dery dengan berlinang air mata. Sebelum Dery beranjak pulang, Pak Yosef memberikan wejangan tentang anak yang tahu bagaimana memperlakukan orang tua, biarpun orang tua mungkin kondisi tidak seperti yang diharapkan, selalu sehat, sakit-sakitan, pikun, selalu dibantu baik untuk mandi, makan, atau beraktivitas lain, atau bisa dikatakan menjadi beban hidup. Orang tua mungkin tidak lagi seperti saat kita masih anak- anak, saat itu mereka masih kuat. Kalau bisa jangan sampai ada pada benak kita kejadian seperti itu. Dari cerita di atas Dery diingatkan untuk senantiasa menghormati, mengasihi dan merawat orang tua/ibu sebagai bentuk balas jasa selama ini. Jangan sampai ada pepatah “air susu dibalas dengan air tuba” atau mempunyai predikat “anak durhaka”. Memang kalau dihitung-hitung kasih sayang orang tua yang sudah dicurahkan kepada anak-anaknya sungguh tidak dapat dibalas dengan harta sebesar apa pun. Cerita di atas sungguh mengingatkan Dery untuk lebih menyayangi dan bertanggung jawab terhadap orangtua yang sudah mati-matian berjuang menghidupi kebutuhan anaknya. Sebaliknya begitu sesudah dewasa dan dapat hidup mandiri sudah waktunya membalas jasa-jasa mereka dan membahagiakan mereka dengan cara memberi perhatian dan lebih menyayangi mereka sampai pada waktunya. Jangan sampai menyesal setelah ditinggalkan mereka. Sebelum UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 57
terlambat, mari kita, para anak yang sudah dilahirkannya, selalu mengingat tentang hal ini. Tamat 58 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
KASIH UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 59
Tara Karya: Sri Pangestuningtiyas, S.Pd. Tara adalah gadis belia kelas dua SMA Katolik Santa Maria. “Tara, bisakah kamu bantu Mama setrika?” “Bisa, Ma!” jawab Tara Meski tugas sekolah demikian banyak, belum lagi agenda Tara untuk latihan koor di gereja karena dia tergabung pada paduan suara remaja . Tidak menyurutkan keinginannya untuk selalu membantu mama tercinta. Jarak rumah Tara dengan sekolah cukup jauh. Kadang mama mengantarnya naik motor untuk ke sekolah. Namun tidak jarang Tara harus naik angkutan umum. Untuk sampai ke pangkalan mikroklet MM Tara harus berjalan kaki lebih dulu kurang lebih 1,5 km. Beruntung, mikrolet yang ditumpangi untuk sampai ke Jalan Raya Langsep 41 tempat SMA Katolik berada cukup 1 kali. Dan ini sangat menghemat biaya transportasi. “Siapa yang bisa menjelaskan sifat-sifat gelombang?” tanya Bu Sirin di awal pembelajaran fisika “Saya Bu!” jawab Tara dengan penuh semangat Sifat gelombang, yang pertama refleksi (dapat dipantulkan), kedua refraksi (dapat dibiaskan, ketiga difraksi (dapat dilenturkan), keempat interferensi (mengalami penggabungan), kelima dispersi (mengalami penguraian) dan keenam polarisasi (mengalami penyerapan sebagian). “Bagus sekali Tara,” puji ibu Sirin bangga. Di sekolah selain dikenal ramah, Tara termasuk siswa yang mempunyai banyak prestasi, khususnya di bidang menyanyi dan fashion. Banyak kejuaraan yang sudah dimenangkan baik atas nama sekolah maupun atas nama pribadi. Kemenangan yang diraih bukan hanya tingkat kota melainkan tingkat Provinsi bahkan Nasional. Atas prestasi ini SMA Katolik Santa Maria sangat mengapresiasi dengan memberi gelar Queen of Saint Marry. Pemberian gelar ini tidak membuatnya menjadi sombong tetapi Tara tetap di kenal sebagai gadis yang rendah hati. Kerendahan hatinya tercermin lewat tutur kata yang santun dan kepeduliaannya kepada teman-teman yang membutuhkan. 60 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Saat SMA Katolik Santa Maria mengadakan live in di Desa Kali Pare. Tara tinggal bersama dengan keluarga Bapak Bagio yang pekerjaannya sebagai petani. Bapak Bagio mempunyai dua anak yang masih SD. Anak sulung bernama Panji dan si bungsu bernama Barito. Panji kelas 5 SD sedangkan Barito kelas 3 SD. Setiap pagi Tara bangun langsung membantu ibu Bagio masak di dapur. Sekitar jam setengah tujuh Tara mengantar Panji dan Barito sekolah. “Ibu mau ke sawah ya?” tanya Tara pada Bu Bagio yang siap-siap mau pergi. “Iya Nak Tara.” “Boleh aku ikut Bu ke sawah..?”pinta Tara “Jangan Nak… nanti kamu kepanasan dan kulitmu bisa rusak kena sinar matahari.” jawab bu Bagio “Gak papa, Bu. Kan tidak tiap hari.” pinta Tara memohon. Akhirnya dengan berat hati bu Bagio mengizinkan Tara ikut ke sawah. Pak Bagio kaget waktu melihat Tara datang. “Buk ne…kok nak Tara diajak ke sawah? Nanti kulitnya terbakar matahari dan jadi kusam!” kata pak Bagio agak kesal pada istrinya. “Nak Tara yang memaksa Pak ne.” jawab bu Bagio ketus. “Sudah aku bilang jangan ikut. tapi memaksa.” lanjut Bu Bagio. Melihat pertengkaran Bapak dan Ibu Bagio. Tara melerai dengan mengatakan, “Bapak …Ibu …mumpung di desa saya ingin merasakan bagaimana pekerjaan di sawah.” “Baiklah,” kata pak Bagio “Tolong ambil cangkul itu. Bapak mau membuat saluran air supaya air lancar mengalir” Sementara Pak Bagio membuat saluran air, Tara dan Ibu Bagio menyiangi rumput yang ada di sawah. Sekitar jam 11 mereka pulang ke rumah. Sampai dirumah Tara istirahat sebentar. Dan sekitar jam 12 kurang Tara menjemput Panji dan Barito dari sekolah. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 61
Sampai rumah, makan siang sudah siap di meja. Ada nasi putih, sayur lodeh, urap-urap, pindang, dadar jagung, dan tahu goreng. Ada rempeyek dan buah pepaya. “Ini pasti enak ya Bu.” kata Tara “Ah…hanya masakan desa. Semoga Nak Tara mau ya.“ “Mau dong Bu! Ini gizinya tinggi, empat sehat terpenuhi.” Bu Bagio tersenyum simpul mendengar jawaban Tara. Apalagi melihat Tara makan dengan lahap. Hati bu Bagio bahagia. Selesai makan siang Pak Bagio melihat raut muka Panji terlihat murung. “Panji, hari ini kamu ulangan IPA ‘kan? Bagaimana hasilnya?” tanya Pak Bagio menginterogasi. “Dapat 60, Pak,” jawab Panji sambil menundukkan kepala. Dia tahu Bapaknya bakalan ngomel. “Masak setiap ulangan IPA selalu saja tidak tuntas! Mana otakmu?!” kata Pak Bagio dengan suara tinggi. Tara yang sedang membantu Bu Bagio mencuci piring di dapur sampai kaget mendengar bentakan Pak Bagio kepada Panji. “Bodoh kam! Masak kalah dengan Tio anak Pak Setyo. Bapak malu punya anak seperti kamu Panji!” lanjut Pak Bagio sambil membanting pintu. Panji hanya tertunduk menangis di ruang tamu. Kemudian Bu Bagio menenangkan hati Panji. “Sabar ya … nanti belajar lebih giat lagi. Sekarang kamu mandi dulu sudah sore.” Sore itu hati Tara sangat sedih melihat dan mendengar kemarahan Pak Bagio pada Panji. Setelah makan malam, Tara menemani Barito belajar membaca. Sesekali Tara melirik Panji yang sedang mengerjakan PR. “Panji, adakah yang bisa kakak bantu?” tanya Tara pelan sekali kuatir Panji masih terluka hatinya karena dimarahi bapaknya. “Iya, Kak. Aku selalu gagal belajar IPA. Banyak yang aku tidak paham.” 62 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Dengan penuh kasih Tara menjelaskan materi IPA yang tidak dipahami Panji. Setelah dijelaskan Tara dengan penuh kasih, hati Panji merasa tenang dan nyaman. Sehingga timbul rasa percaya diri. “Kak, bagaimana cara membuat magnet, ya?” tanya Panji ke Tara “Cara membuat magnet ada tiga yaitu digosok, dialiri arus listrik, dan diinduksi.” Jawab Tara berusaha menjelaskan. “Ah, aku jadi penasaran, Kak.” “Gimana kalo kita coba membuat magnet sendiri?” tanya Tara. “Kak Tara tahu caranya?” “Tahu dong! Nah, ayo kita siapkan peralatannya,” jawab Tara. Tara kemudian menyiapkan beberapa peralatan untuk membuat magnet, di antaranya ada paku besar, paku kecil, baterai besar, kawat, dan magnet. “Jadi, kita mau pake cara yang mana dulu nih, Kak?” tanya Panji. “Kita coba dengan cara induksi dulu, yuk. Untuk cara ini, kita hanya membutuhkan magnet, paku besar, dan paku-paku kecil,” ujar Tara. Panji pun menyiapkan peralatan yang disebutkan oleh Tara. “Cara induksi itu gampang banget. Tinggal deketin magnet ke paku besar selama beberapa menit. Dengan begitu, daya magnet akan mengalir ke paku besar, membuat paku besar mempunyai sifat magnet juga,” jelas Tara Setelah beberapa menit, Tara pun mendekatkan magnet dan paku besar itu ke kumpulan paku-paku kecil. “Wiih, keangkat tuh paku-paku kecilnya!” Panji teriak kegirangan. “Aku mau coba dong, pakai cara yang digosok-gosok,” ujar Panji Panji mengambil paku besar dan magnet, lalu mulai menggosok-gosokkan magnet ke paku besar tersebut. “Gini ‘kan ya caranya, ya Kak?” “Iya betul, menggosoknya harus searah dan teratur, ya. Jangan terburu- buru. Semakin lama kamu menggosoknya, daya magnet yang diterima oleh paku besar akan semakin kuat,” Tara menjelaskan. “Siap, Kak!” UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 63
Dengan penuh semangat, Panji menggosok magnet pada paku besar berulang kali. Selang beberapa menit, Panji mencoba mendekatkan paku besar tersebut ke kumpulan paku-paku kecil. “Woooww! Bisa nih, Kak! Lihaat! Lihat! Waaahhhhh! Keren! Keren!!! Paku-paku kecilnya terangkat!!” Berbinar wajah Panji karena berhasil membuat magnet. “Okee, kita lanjut ke cara yang terakhir yaa, yaitu dialiri arus listrik atau disebut dengan cara elektromagnetik. Jadi, kita akan mengaliri benda logamnya dengan arus listrik searah,” ucap Tara. “Kak, aku takut. Nanti kalo kita kesetrum gimana?” ujar Panji. “Tenang aja,” kata Tara, “Nah, caranya, pertgama kita lilitkan dulu seutas kawat pada paku yang besar. Dililitnya harus yang rapat. Terus, ujung kawat bagian atas ditempelkan pada kutub baterai positif, sedangkan ujung kawat bagian bawah ditempelkan pada kutub baterai negative.” Tara lanjut menjelaskan. “Kayak gini, Kak?” tanya Panji dengan Pe-De-nya. “Betul,” sahut Tara. “Setelah itu, kita tinggal dekatkan paku besar ini ke paku- paku kecil ya Kak?” tanya Panji. “Yup! Dari aliran listrik ini, paku besar memiliki sifat kemagnetan. Kalau kita dekatkan pada kumpulan paku kecil, pasti nanti akan menempel.” jawab Tara. Panji kemudian mendekatkan paku besar yang sudah dialiri listrik ke arah paku-paku kecil. Paku-paku kecil tersebut pun menempel pada ujung bawah paku besar. “Horeeee…horeee …Berhasil!!!” Teriak Panji kegirangan. “Wooowww….Kamu hebat Panji…!!” Puji Tara. Singkat cerita tiga tahun kemudian tanpa sengaja Tara membaca harian nasional. Di halaman depan terpampang foto Panji memegang piala dan medali emas dengan tulisan Juara 1 Olimpiade Sains Nasional. Dalam hati Tara berbisik, “Tidak ada manusia yang bodoh, ternyata dengan kasih yang tulus bisa membuat potensi diri seseorang berkembang dengan baik.” Tamat 64 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Pouch Bag Hitam Karya: Jacky Ricard Joseph, S.Pd. “Papi…” “Jangan tinggalkan Dina, Papi…” “Gimana Dina ngurus adik2, Papi…” “Papi nggak sayang Dina…” “Hhhuuuaaa…” Meledak tangisku sejadi-jadinya di atas pusara Papi yang baru saja dimakamkan. Aku tidak menghiraukan para pelayat, karena sesak rasanya dada ini. Sesak yang aku pendam beberapa hari selama berkabung, seperti meledak bagaikan bom waktu yang meluluh-lantakkan semua sendi kehidupanku. Takut rasanya menatap hari esok, karena aku hidup dengan 2 adikku yang masih duduk di SD kelas VI dan SMP kelas IX. Tidak ada sanak saudara yang dapat kami jadikan tempat belindung. Aku merasa sebatang kara, mananggung beban berat yang belum waktunya kupikul. Papi meninggal setelah sakit selama 1 tahun karena ditinggal Mami yang mendahului Papi. Mungkin Papi sakit karena terus memikirkan Mami. Walau demikian, kami masih bisa bertahan hidup karena mengandalkan uang asuransi kematian Mami. Setelah ibadah penghiburan, dan semua orang sudah meninggalkan rumah kami, barulah terasa sepi, sunyi, dan sedih menyerang. Hanya suara isak tangis adik-adik ku yang terdengar. Aku sendiri tidak dapat berbuat apa-apa, selain mendekap mereka, berharap dapat memberi sedikit kekuatan. “Ayok… kita tidur di kamar Mami,” ajakku sambil membantu Rina dan Tina, kedua adikku, masuk kamar tidur Mami. Rina masih duduk di bangku SMP kelas IX, sementara Tina di bangku SD kelas VI. “Aku harus segera bangun,” tekadku keesokan harinya. Aku harus segera bangun dan membuatkan adikku sarapan pagi. Kepala memang masih pening memikirkan bagaimana harus menjalani hidup ini. Dada juga masih sesak. Tapi aku seperti mendapat kekuatan entah dari mana. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 65
“Kamu pasi bisa Dina,” bisikku pada diriku sendiri. “Kak Dina nggak sarapan?” tanya Rina “Sudah koq, kalian makan aja. Habisin semuanya, ya,” jawabku mencoba tersenyum. Aku memang sudah makan, tapi hanya sedikit sekali, karena takut adik- adikku masih lapar. Setelah sarapan, aku mencoba memutar otak untuk mencari penghasilan sampingan karena aku masih harus menuntaskan sekolah. Aku saat ini duduk di bangku SMA kelas XII SMAK St. Maria Malang. Rasa sayangku pada Rina dan Tina mengalahkan rasa sesak dan peningku. Setelah menimbang dari beberapa pilihan, aku memilih untuk berjualan kerupuk dan dititipkan di warung-warung atau toko-toko kelontong. Ketika Mami masih hidup, aku sering membantu Mami menggoreng kerupuk dan selalu mendapat pujian dari Mami. Mami adalah panutan hidup kami, karena memang kami bertiga lebih dekat dengan Mami. Mami selalu berpesan, “Sekalipun kita miskin, tapi jangan sekali-kali mencuri.” Pesan itu begitu tertancap di hati kami. Karena pandemi, maka kami semua bersekolah daring dari rumah. Hal ini cukup menguntungkan aku karena aku memiliki waktu yang cukup untuk mengantarkan kerupuk ke warung dan toko kelontong di sela-sela pembelajaran. Walau awalnya aku selalu ditolak, tapi lama-lama ada juga warung dan toko yang mau menerima titipan kerupuk kami. Kami sangat mengandalkan hasil dari penjualan kerupuk-kerupuk itu. Sore-malam hari, sambil menjaga adik2 untuk belajar serta membantu jika ada pertanyaan, aku menggoreng kerupuk lalu membungkusnya. Keesokan harinya aku titipkan ke warung dan toko. Hasilnya memang tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk bertahan hidup. Tentunya aku kerjakan semuanya sambil belajar, karena aku berada di tingkat terakhir. Aku tidak ingin predikat “The Best Student of the Year” yang selama 2 tahun ini kusandang, dimiliki orang lain. Untuk itulah aku harus bisa multitasking: menjadi siswa terbaik, sekaligus menjadi ibu bagi adik-adikku serta kepala keluarga yang menopang ekonomi keluarga. 66 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Kami menjalani rutinitas hidup seperti ini selama dua bulan, sampai pada suatu saat kami kedatangan tamu. “Maafkan saya mbak Dina,” Pak Dony membuka pembicaraan. Pak Dony adalah pemilik rumah yang kami tempati. “Saya tahu, mbak Dina masih dalam suasana duka,” lanjutnya, “Tapi setelah saya timbang-timbang dan setelah melihat kondisi Mbak Dina, saya memberanikan diri untuk berterus-terang,” Kata Pak Dony sambil terbata-bata dan berkaca-kaca. Mungkin Pak Dony tidak tega melihat kondisi kami, tapi beliau juga sangat membutuhkan uang. “Sebenarnya kontrakan rumah sudah habis lima bulan lalu,” sambung Pak Dony, terdengar suaranya tercekat. “Saya membatalkan untuk menagih, karena saat itu almarhum Papi Mbak Dina sedang sakit keras,” lanjut Pak Dony. “Baik Pak Dony,” aku memberanikan diri menjawab. “Kami akan usahakan secepatnya,” lanjutku. “Gimana ini Kak Dina?” tanya Rina dengan nada kebingungan setelah Pak Dony meninggalkan rumah kami. “Iya Kak… aku di sekolah juga sudah ditagih uang buku dan SPP,” timpal Tina yang membuatku semakin pening jadinya. Untuk SPP memang kami bertiga mendapatkan keringanan berupa pembebasan selama 2 bulan. Bulan depan, waktunya kami harus membayar SPP dan tagihan kontrakan. “Kak Dina akan pikirkan jalan keluarnya. Ok?!” sahutku untuk menenangkan mereka berdua. Aku berusaha tegar di depan adik-adikku. Aku tidak ingin mereka terbebani dan mengganggu konsentrasi belajar mereka. Biarkan aku sendiri yang berpikir keras. Keesokan harinya ketika mengantarkan kerupuk ke warung dan toko, pandanganku tertuju pada sebuah pouch bag hitam yang tergeletak di tengah jalan. Aku segera menghampirinya. “Wah ini sepertinya punya orang kaya,” kataku mengagumi pouch bag di tanganku. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 67
Mataku terbelalak ketika membuka dan melihat isinya. “Ini uang semua?” tanyaku heran pada diriku sendiri. Terlihat beberapa gepok/ikat uang ratusan ribu rupiah. Aku melihat sekeliling, tidak ada satu orangpun yang lewat. Aku gemetar karena rasa senang dan bingung bercampur jadi satu. Senang karena memang aku sedang membutuhkan banyak uang. Tapi sekaligus merasa bingung karena di sisi lain aku merasa ini bukan milikku. Aku mencoba menyingkirkan pikiran jahat yang berdalih, “tidak apa-apa jika aku mengambilnya untuk keperluanku, toh tidak ada orang yang melihat.” Mungkin aku merasa senang karena mendapatkan rejeki nomplok, tapi bagaimana dengan orang yang kehilangan? Tentunya dia akan merasa sedih atas bencana ini. Aku jadi teringat guru agama, alm. Pak Hendra yang pernah berkata, “Hukum ke-10 dari 10 perintah Allah adalah, “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.” “Ini milik orang lain,” gumamku, “Aku harus mengembalikannya, sebelum pikiran jahat menguasaiku.” Aku segera mencari identitas dalam pouch bag itu dan senang sekali karena aku dapat menemukannya. Ada sebuah kartu nama di dalam pouch bag itu. Aku segera menelpon nomor yang tertera di dalam kartu nama itu. “Apakah saya berbicara dengan Bu Michelle?” tanyaku setelah terdengar ada yang mengangkat teleponku. “Iya benar, ini siapa?” tanyanya dari ujung telepon. “Apakah Ibu kehilangan sesuatu?” tanyaku agak gemetaran. “Apakah anda menemukan pouch bag hitam, saya?” terdengar jawaban dengan suara haru karena bahagia disertai rasa tidak percaya. Rupanya beliau pasrah karena sepertinya mustahil sebuah tas dengan beberapa gepok uang di dalamnya akan kembali. “Iya,” jawabku dengan haru mendengar suara kebahagiaan. 68 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Aku merasa bahagia mengetahui orang lain bahagia, meskipun aku memiliki masalah yang belum terselesaikan. “Saya akan datang ke alamat Ibu,” jawabku. “Baik, saya tunggu, terima kasih sebelumnya ya,” terdengar suara bahagia dari ujung telpon. Sesampainya di rumahnya yang tidak terlalu besar, aku langsung menyerahkan pouch bag hitam itu. “Waduh terima kasih banyak,” jawab Bu Michelle setelah menerima pouch bag hitamnya yang hilang. Ekspresinya bagaikan seorang gembala yang menemukan kembali dombanya yang hilang yang sudah dicari kemana-mana tidak ketemu. Dari pertemuan itu aku tahu bahwa uang itu adalah uang yang baru diambilnya dari Bank untuk biaya operasi anaknya. Aku menolak untuk menerima imbalan karena sudah menemukan uang itu dan segera bergegas pergi. Aku menolak karena Bu Michelle juga membutuhkan uang itu. Aku tidak ingin menguranginya. Ketika berada di halte bus, karena rumah Bu Michelle ternyata cukup jauh, aku mengutuki diriku sendiri. Mengapa aku tidak ambil saja uang itu. Atau paling tidak, aku seharusnya tidak menolak uang pemberian dari Bu Michelle. Dengan tangis tertahan aku menyesalinya karena terbayang kebutuhanku untuk uang kontrakan dan SPP serta uang buku Tina masih harus di bayarkan. Rupanya sedari tadi ada seorang ibu yang memperhatikanku di halte itu. Dia menunggu dijemput oleh suaminya. Perlahan dia menghampiriku, memeluk dan menenangkanku. Aku menangis sejadi-jadinya, karena aku merasa sedang dipeluk oleh Mamiku yang ikut merasakan kesedihan dan beban beratku. Setelah beberapa saat, aku tersadar yang memelukku adalah orang lain. “It’s OK,” kata ibu itu dengan suara lembut yang menenangkan, “silahkan menangis, jika itu memang yang kau butuhkan.” Aku kembali menangis, karena merasa ada yang membela aku. Setelah tenang, ibu yang akhirnya kutahu bernama Bu Rachel berkata, “Ada yang bisa saya bantu, anak manis?” UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 69
Kata-katanya yang penuh kasih sayang itu membuatku tak kuasa untuk menahan untuk tidak menceritakan semuanya, termasuk perihal pouch bag hitam. Lalu dia pun menceritakan bahwa anaknya jika masih hidup saat ini seusia denganku. Dia merasa seperti sedang berhadapan dengan anaknya. Dia menyesal karena selama anaknya masih hidup, dia belum terlalu membuatnya bahagia. Karena itu dia bertekad ingin membantuku dan memintaku untuk tidak menolaknya. Dia ingin membantu semua kebutuhanku baik kontrakan, SPP dan semuanya. Terima kasih Tuhan, Kau sudah mengutus malaikatmu!!! Tamat 70 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Ada Kasih di Sekolah Karya: Wigie Agestya Novianto, M.Pd. Aurellia Kasih Karisma Putri adalah gadis yang akan beranjak 17 tahun di bulan ini, gadis yang memiliki paras yang cantik, anggun dan manis tidak hanya parasnya yang luar biasa, hatinya pun sangat memancarkan aura kasih ketika sesorang melihatnya. Sehingga tidak salah setiap anak laki-laki ketika melihatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya terhadap gadis yang satu ini. Kasih adalah anak dari pasangan Bapak Pramono Gianjar Arum dan Ibu Pratiwi Sulistya, Pak Pramono yang akrab dipanggil Pak Pram adalah seorang pengusaha sukses di kota Malang sedangkan Bu Pratiwi adalah wanita yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi, saat ini Bu Pratiwi memiliki tempat panti sosial khusus untuk orang tua atau jompo di Kota Malang. Meskipun kedua orang tua Kasih adalah orang yang sangat berada tetapi Kasih tidak memanfaatkan ketenaran nama kedua orang tuanya. Kasih lebih suka menjadi pribadi yang santun dan tidak sombong, disekolah banyak temannya yang tidak tahu bahwa kasih adalah anak seorang yang sangat terkenal di kotanya, kecuali sahabat Kasih. Sifat sosial yang tinggi dimiliki oleh Kasih di dapat dari Ibunya dan sifat dermawannya di dapat dari Bapaknya, disekolah Kasih memiliki beberapa sahabat yang selalu mendukung apa yang dicita-citakan Kasih. Budi dan Tika adalah sahabat Kasih yang paling mengerti apa yang diinginkan Kasih, Kasih memiliki lahan yang didapat dari Bapaknya, lahan ini memang hadiah dari Pak Pram, bapaknya Kasih saat itu ada sesorang yang menjual lahan sekitar 1,5 Ha disebuah desa yang terletak di Kabupaten Malang, lahan ini jauh dari penduduk dan dekat dengan air terjun, lahan ini dijual karena sang pemilik terjerat hutang dari rentenir, satu-satunya harta yang dimiliki adalah lahan ini, lahan yang tidak pernah terawat serta kalau menuju lokasi harus melewati jalan setapak, karena rasa kasihan tersebut lahan ini dibeli oleh Pak Pram untuk menyelamatkan nasib oarang tersebut supaya keluar dari jeratan hutang. Kasih dapat hadiah lahan dari Bapaknya karena pada waktu itu, kasih pernah bercerita pada Bapaknya dia ingin bercita-cita untuk mengumpulkan UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 71
orang-orang yang kurang mampu yang tinggal dibawah kolong jembatan yang ada di Kota Malang dan anak-anak jalanan yang tidak memiliki keluarga, Kasih berkeinginan untuk mendapatkan lahan yang jauh dari keramaian dan menjadikan tempat edukasi, yang didalamnya dikelola oleh orang-orang yang kurang mampu dan anak-anak jalanan yang tidak memiliki keluarga, Kasih akan mendatangkan orang-orang memiliki keterampilan yang lebih untuk mengajari orang-orang tersebut supaya bisa hidup secara mandiri dan bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Rencana Kasih ini didukung oleh kedua orang tuanya dan para sahabatnya, sehingga diwaktu sepulang sekolah Kasih dan sahabatnya dengan semangat untuk menyempatkan berkunjung ke wilayah Slum Area yang ada di Kota Malang untuk mencari keluarga-keluarga yang kurang mampu dan anak-anak jalanan yang tidak memiliki keluarga, tidak mudah usaha yang dilakukan Kasih ini, tidak sedikit keluarga-keluarga yang kurang mampu ini menolak ajakan Kasih, karena mereka tidak yakin dengan apa yang dilihat, yang dilihat adalah anak-anak yang masih duduk dibangku sekolahan, mereka berpikir dari mana pembiayaannya jika mau ikut mereka, karena Kasih tidak mau membuka identitasnya kalau Kasih adalah anak pengusaha terkenal yang ada di Kota Malang. Tidak sampai disini usaha Kasih dan teman-temanya untuk mewujudkan impiannya, setiap hari dia lakukan sampai mendapatkan orang-orang yang dia harapkan, dengan kesabaran dan kelembutan hati yang dimiliki, Kasih dan teman- temanya tanpa sengaja berjumpa dengan keluarga yang kurang mampu tetapi harmonis, namanya Pak Suhartono dan Bu Tienem serta anaknya Babam pada waktu itu keluarga ini beristirahat dibawah pohon dekat hutan kota, mereka beristirahat setelah mengambil rongsokan yang ada didepan rumah-rumah di sepanjang jalan yang mereka lewati, Kasih dan sahabatnya melihat keakraban yang dibangun keluarga ini ketika duduk-duduk dibawah pohon, mereka terharu apa yang dilakukan keluarga ini, meskipun kurang mampu tapi penuh bahagia dan saling menyayangi. Tanpa banyak pikir, Kasih dan sahabatnya menghampiri keluarga tersebut. “Selamat siang, maaf Bapak, Ibu dan adek. Perkenalkan saya Kasih dan ini teman saya Budi dan Tika, saya dari tadi memperhatikan Bapak, Ibu dan Adek, saya dan 72 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
teman saya ikut senang ketika Bapak, Ibu dan adek saling bercanda, bolehkah kami bergabung?” Bu Tien nama panggilan Bu Tienem mempersilahkan Kasih dan teman-temanya untuk duduk. “Ada yang bisa saya bantu dek. Kasih dan teman- temannya saling lempar pandang,” Cetus Bu Tien. ”Begini Bapak, Ibu dan adek, kalua boleh tahu Ibu dan keluarga bertempat tinggal dimana?” Bu Tien dan Keluarga sedikit menundukkan wajahnya. “Kami tinggal dibawah kolom jembatan di daerah Muharto, Dek.” Dengan kata-kata sedikit terbata-bata. Pak Suhar panggilan dari Pak Suhartono berujar, “Kami keluarga korban bencana dek merapi di Yogjakarta, dan kami merantau ke Malang ikut tetangga yang katanya kami dijanjikan pekerjaan yang bisa menghidupi keluarga kami, malah kami ditipu sama mereka uang ganti rugi bencana yang dipeberikan pemerintah daerah kami, dibawa lari sama tetangga saya, untuk memenuhi kehidupan kami sehari- hari kami mencari barang bekas dan tidur dibawah kolong jembatan yang ada di daerah Muharto dek.” Mendengar penjelasan Pak Suhar tadi mata Kasih berkaca-kaca. “Pak, Bu dan adek maukah, kalian ikut kami untuk membangun tempat, dimana ditempat itu akan kami bangun beberapa rumah untuk tempat tinggal keluarga Bapak, dan beberapa orang yang mau ikut dengan program saya.” Kasih menjelaskan bahwa memiliki cita-cita untuk membangun sebuah perkampungan yang didalamnya menghasilkan karya- karya dari orang-orang yang mau diajak Kasih dan teman- temannya, kasih menjelaskan detail lokasi dan rencana programnya. Tanpa berbasa-basi Pak Suhar, Bu Tien dan Babam terlihat tersenyum dan menganggukan kepalanya tanda mereka sepakat dengan penawaran yang diberikan oleh Kasih dan teman-temannya. Akhirnya Kasih menawarkan beberapa hari keluarga Pak Suhar untuk menempati Pavilun di rumah Kasih, sebelum menuju lokasi desa yang akan dijadikan program Kasih. Dengan dana yang dimiliki Kasih hasil usaha Online-nya serta bantuan dana dari Bapak dan Ibu Kasih, akhirnya tempat yang dijadikan Program Kasih dibangun, untuk mengawali Kasih membangun rumah layak huni di lahan miliknya sekitar 8 unit. Tidak hanya keluarga Pak Suhar saja yang mau mengembangkan lahan tersebut, ternyata ada keluarga lain yang hampir senasib dengan keluarga Pak Suhar, sehingga di lahan yang luasnya 1,5 Ha itu tidak hanya UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 73
dihuni oleh keluarga Pak Suhar. Kebetulan hari akan ditempati lahan tersebut oleh beberapa keluarga yang ikut program Kasih adalah hari dimana Kasih berulang tahun yang ke-17, sehingga kebetulan sekali penempatan pemukiman tersebut sekaligus dibuat acara syukurannya Kasih dan keluarga yang tidak mampu tersebut, diacara tersebut sangat sederhana sekali Kasih tidak mau diacarakan yang mewah meskipun diusia yang cukup sangat ditunggu-tunggu yaitu 17 tahun, Kasih lebih memilih acara sederhana bersama orang tua, teman dan keluarga yang ikut program Kasih. 6 bulan kemudian, di kampung mau belajar, dimana nama tersebut diberikan oleh Kasih untuk tempat yang dijadikan program Kasih, Kampung mau belajar berkembang dengan cukup cepat dalam waktu 6 bulan banyak pembangunan yang berjalan yang dilakukan oleh keluarga yang dalam program tersebut, semua pembangunannya bahan yang didapat dari hasil lahan tersebut, sehingga memperlihatkan tempat yang masih asri dan masih alami, tempat ini memang akan dijadikan tempat edukasi, dimana nantinya tempat ini dibuka untuk umum yang memberikan tempat belajar bagi semua elemen masyarakat yang mau belajar hasil dari karya- karya masyarakat yang ada di kampung mau belajar ini. Sehingga perekonomian di kampung mau belajar ini akan bisa didapat mandiri dari keluarga-keluarga yang tinggal disini, sehingga bisa meningkatkan taraf hidup bagi keluarga disini dan bisa memberikan pengetahuan bagi masyarakat luar. Keberhasilan Kasih membina Kampung mau belajar ini, tidak semulus keberhasilannya ketika Kasih di dalam lingkungan tempat kasih untuk belajar secara akademik, bukannya Kasih anak yang bodoh, untuk masalah pendidikan bisa dikatakan kasih nomor satu disekolahannya, kasih anak yang rajin dan selalu menjadi juara pararel disekolahannya, tetapi yang menjadi masalah didalam lingkungan sekolahannya adalah teman-teman Kasih yang tidak suka dengan Kasih. Kasih adalah anak yang sangat disukai oleh para guru karena kesantunannya dan sikapnya yang lembut. Tidak hanya guru- guru saja tetapi teman laki-laki kasih banyak yang suka dengan Kasih, sehingga membuat teman- teman yang perempuan 74 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
membuat iri terhadap Kasih, bahkan ada yang cemburu karena banyak teman laki-laki yang tampan untuk mendekati Kasih dan ingin mendapatkan hati Kasih, tetapi kasih disini menanggapi biasa-biasa saja terhadap teman laki-laki yang mendekatinya. Kasih punya cita-cita yang bagus, prinsip Kasih tidak mau pacaran sebelum dia berhasil memberikan gelar akademik Doktor kepada Bapak dan Ibunya, menurut Kasih pacaran akan merusak cita-citanya saja karena semua pasti akan diatur-atur oleh pasangannya, sehingga disini Kasih masih mengabaikan persaannya dengan teman laki-lakinya, kasih percaya bahwa jodoh sudah ada yang mengaturnya. Tidak sedikit teman perempuan yang cemburu pada Kasih, sehingga ketika kasih berjalan kemanapun pasti ada bisikan-bisikan yang membicarakan tentang Kasih. Jam istirahat belum dimulai karena hari masih pagi, waktu menunjukkan pukul 09.00, dimana 30 menit lagi menunjukkan jam istirahat, di kelas Kasih menerima pembelajaran Biologi, kebetulan kasih ingin buang air kecil, sehingga Kasih meminta izin guru pengajar utuk perge ke toilet, kebetulan Titin teman kasih satu kelas, Titin adalah anak yang paling benci kepada Kasih dan selalu Iri terhadap keberhasilan kasih selama ini, waktu itu Titin membuka HP dan mengirim chat ke beberapa temannya yang kebetulan beda kelas sama Titin, Titin memiliki geng yang dimana gengnya ini terdiri dari perempuan-perempuan yang sok cantik. Di dalam chat-nya tersebut Titin merencanakan hal yang buruk terhadap Kasih, sehingga Titin juga izin ke toilet dengan alasan perutnya sakit dan tidak bisa ditahan, padahal guru pengajar tidak mengizinkan karena siswa yang izin ke toilet harus bergantian, karena alasan Titin yang membuat guru mengizinkan Titin untuk ke toilet. Sesampai di toilet, Titin dan teman-temanya melakukan aksinya sesuai dengan rencana yang sudah dibahas dalam chat- nya. Titin dan geng-nya menunggu Kasih di depan pintu toilet, Kasih keluar dari kamar mandi terkejut dengan keberadaan Titin dan geng-nya, Kasih dihardik dan diancam macam- macam, Kasih dibilang perempuan yang sering tebar pesona kesiapa pun. Kasih anak yang lembut mendengar kecaman dan bentakan, Kasih tanpa disadari air matanya jatuh, sebetulnya Kasih tidak takut dengan ancaman temannya tetapi UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 75
Kasih merasa apa yang dibuat selama ini bisa melukai hati teman- teman perempuannya. Kasih merupakan perempuan yang memiliki ilmu bela diri tetapi tidak pernah kemampuan itu ditunjuk-tunjukkan keteman-temannya, Kasih tidak mau di cap sebagai anak jagoan. Tanpa sengaja Tika berjalan dan menuju toilet, tampak dari kejahuan Tika melihat ada keributan, Tika sedikit berlari untuk melihat kejadian apa di dalam toilet sekolahnya tersebut. Tika terkejut karena didalam toilet perempuan ada Kasih yang sedang dikeroyok oleh geng-nya Titin, kebetulan Tika juga memiliki ilmu bela diri seperti Kasih, Tika dan Kasih adalah satu perguruan dalam mempelajari ilmu bela diri. Tika berteriak ke Titin dan gengnya, “Hey… Lepaskan teman saya.” Kasih kaget, ternyata ada Tika di dalam toilet. “Kamu jangan ikut campur dengan urusaku sama Kasih.” Cetus Tika. “Urusan Kasih juga urusanku.” Jawab Tika. Mendengar kata-kata Tika, Titin cukup amarah, tanpa sengaja Titin mendorong tubuh Kasih, Kasih yang tidak siap dengan dorongan Titin, yang terjadi Kasih terdorong dan jatuh serta leher Kasih terbentur wastafel yang ada di dalam toilet, yang terjadi Kasih pingsan. Melihat Kasih jatuh dan tidak sadarkan diri, Titin dan gengnya berlari takut dengan kejadian tersebut, yang awalnya hanya mengancam saja tanpa ada kekerasan fisik yang terjadi tanpa sengaja ada kekerasan fisik yang reflek diberikan Titin ke Kasih. Tika berlari mendekati Kasih dan mencoba menyadarkan Kasih, tapi Kasih tidak bangun, Tika berteriak dan teriakan Tika didengar oleh petugas kebersihan sekolah, dibawa Kasih ke UKS. Di UKS ada dokter yang kebetulan terjadwal jaga. Dokter memeriksa kondisi Kasih, dengan cepat dokter menyarankan pihak sekolah untuk membawa Kasih ke Rumah Sakit Umum, karena butuh penangan medis lanjutan, karena ditakutkan terjadi sesuatu akibat benturan tadi. Dengan cepat pihak sekolah membawa Kasih ke Rumah Sakit terdekat. Beberapa jam kemudian Kasih tersadarkan diri dan membuka mata, disana sudah ada Bapak dan Ibu Kasih serta Tika dan Budi. Kasih membuka matanya dan bisa berbicara, Kasih menggerakkan tangannya, akan tetapi Kasih tidak bisa mengangkat atau menggeser kedua kakinya, Kasih bertanya kepada dokter yang ada disebelah. “Dokter, kenapa kaki saya tidak bisa bergerak dan ketika saya sentuh dengan tangan tidak terasa?” 76 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Sebetulnya Bapak dan Ibu kasih sudah tahu kondisi Kasih ketika hasil pemeriksaan saraf, dokter sudah mengatakan ke orangtua Kasih, kalua kaki Kasih akan menjadi lumpuh karena ada sumbatan darah di leher tempat saraf dan otak kecil Kasih, akan tetapi sumbatan ini masih bisa disembuhkan asalkan Kasih mengikuti program terapi. Dokter menjelaskan kondisi Kasih, dan Kasih tersenyum, tidak ada rasa kecewa dalam diri Kasih, Kasih merasa ada peringatan dari Tuhan ke Kasih. Tanpa disadari airmata orangvtua dan teman Kasih membasahi pipi. Kasus pengeroyokan ini ditangani oleh sekolah, Budi dan Tika geram melihat kelakuan Titin. Budi menyarankan kasus ini dibawah ke ranah hukum saja, kedua orang tua Kasih sepakat dengan usulan Budi, tetapi Kasih dengan suara lembutnya mengatakan jangan dibawa masalah ini kedalam ranah hukum, Kasih kasihan jika nanti sampai Titin dan geng-nya harus berurusan dengan pengadilan. Kondisi Kasih yang tersakiti ini masih memikirkan keadaan Titin yang benar-benar menyebabkan Kasih menjadi lumpuh. Titin dengan geng-nya dan didampingi orangtuanya masing-masing, serta kepala sekolah dan guru BK mengunjungi kerumah Kasih. Sedikit ada rasa canggung ketika dalam kunjungan ini, tetapi Kepala Sekolah mencoba memberikan pemahaman kepada Orang tua Kasih, ditambah Kasih memaafkan kelakuan Titin dan geng-nya. Titin dan geng- nya menagis dan menyesali akan perbuatannya, sedikitpun Kasih tidak marah kasih yang ada dalam diri Kasih memang sangat luar biasa. Kepala Sekolah dan para guru mengakuinya, Kasih penuh dengan kasih dalam hatinya, sehingga membuat pancaran tersendiri dalam diri Kasih. Akhirnya Orang tua Kasih memaafkan juga kelakuan Titin dan teman-temannya. Harapan Kasih dengan kejadian ini bisa membawa perubahan yang lebih baik kepada Titin dan teman-temannya. Kasih meminta izin kepada Kepala Sekolah untuk tidak mengikuti proses belajar terlebih dahulu, Kasih meminta izin untuk fokus dalam penyembuhan kakinya terlebih dahulu. Kepala Sekolah memberikan izin tersebut. Bagi Kepala Sekolah kesehatan Kasih paling utama didahulukan. Kepulangan Titin dan teman- temannya tidak membawa dendam lagi. Kasih meminta izin ke orangtuanya jika Kasih mau berobat dan terapi di kampung mau belajar yang dibangun Kasih. Awalnya kedua orang tua Kasih tidak UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 77
mengizinkan, tetapi melihat kondisi Kasih dan keinginan putrinya tersebut akhirnya diizinkan Kasih untuk tinggal di kampung mau belajar, meskipun berat untuk melapaskan Kasih disana. Kasih diantar kekampung mau belajar bersama kedua orangtua dan teman-temannya. Sesampai disana keluarga besar kampong mau belajar kaget dengan kondisi yang dialami oleh Kasih. Lebih-lebih Bu Tien dan Pak Suhar, akhirnya Kasih dibuatkan semacam pendopo di kampung mau belajar untuk tempat istirahatnya Kasih. Bu Tien dengan cekatan pergi ke ladang dan beberapa kebun sekitar untuk mengambil tanaman obat-obatan, kebetulan Bu Tien paham dengan tanaman obat-obatan, dibuatkan lah ramuan balur dari tanaman sekitar. Setiap hari kaki Kasih dibalur sama ramuan yang diubuat sendiri sama Bu Tien, dan paginya Babam diberi tugas Ibunya untuk mendampingi Kak Kasihnya, untuk terapi sinar matahari, sambil melihat panorama alam di kampung mau belajar. Usaha Bu Tien dan warga kampong mau belajar ini tidak sia-sia, keajaiban alam memberikan kesembuhan pada kaki Kasih. Sedikit demi sedikit, kaki Kasih sudah mulai bisa digerakkan meskipun belum sempurna, tetapi Kasih sangat bersyukur sekali dengan kemajuan kakinya. Hingga akhirnya kaki Kasih bisa berjalan normal lagi. Kasih memberi kabar baik ini ke Orangtuanya dan sahabatnya Budi dan Tika, mereka cukup senang sekali dengan kondisi Kasih. Rasa syukur dan terimakasih selalu dipanjatkan kepada Tuhan dan Kasih memberi hormat kepada Bu Tien dan warga kampung mau belajar karena mereka Kasih bisa berjalan kembali. Kasih dijemput oleh keluarganya untuk diajak periksa kondisi kakinya, sesampai rumah sakit, dokter yang menangani Kasih terkejut dengan perkembangan Kasih. Tidak sampai satu bulan, Kasih sudah bisa berjalan lagi seperti sedia kala. Dokter menghentikan tindakan lanjutan hanya memberikan beberapa resep untuk antisipasi pengobatan saja. Keesokan harinya Kasih masuk kembali ke sekolah, Kepala Sekolah, guru serta teman- teman Kasih sangat senang dengan kondisi Kasih, terutama Titin dan teman-temannya mereka merasa bersalah dengan kejadian tersebut. Kejadiian tersebut membuat tersadar akan perbuatan-perbuatannya. Hidup menjadi indah jika saling menyanyangi dan mengasihi seruan salah satu guru, sekolah ini akan belajar dari Kasih yang selalu 78 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
memberikan kasihnya kepada siapapun. (Kasih dalam hati tumbuh dengan sendirinya bukan paksaan, Kasih muncul karena kepedulian). Tamat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 79
Tinta Harapan dan Balon Rindu Untuk Caramel Karya : Iin Setyawati, S.Pd. Siang itu masih seperti siang pada umumnya, terik dan tak berawan. Saat itu aku sedang duduk di tepi kolam, memandang ikan yang sedang mangarungi aliran air dengan iringan suara burung berkicau yang berterbangan di atas pemandangan sekitar tempat dudukku. Hari ini cukup menjadi hari yang melelahkan bagiku, tugas sekolah, panitia event, bantu pekerjaan rumah. Ya mau gimana lagi,namanya juga kehidupan pasti ada kalanya senang juga susah. Kolam ini jadi tempat di mana aku selalu mencurahkan segala keluh kesah, perasaan senang, sedih bahkan perahu harapan sering aku layarkan di kolam ini. \"Oke All, hari ini emang cukup melelahkan tapi jangan patah semangat ya kamu pasti bisa!\" bisik lirih Alleta pada batinnya. \"Andai Ibu masih ada disini, setidakya sedikit lelahku bisa kucurahkan dalam dekapnya,\" gumam Alleta dengan rasa sedih. Tak lama, ada seekor anjing pudel lucu dengan bulu coklat lebat lari menghampiriku. Awalnya aku cukup terkejut dengan kedatangan anjing itu, dia terus memutariku seolah olah ia tahu perasaanku dan mencoba mengajakku bermain. Tiba-tiba dia berhenti dan duduk di hadapanku seiring menatap penuh rasa perhatian. \"Hai, kamu anjing yang lucu,\" ucap Alleta kepada anjing pudel itu dengan mengusap kepalanya. \"Huk...huk..huk...huk!\" suara kecil dari anjing mungil. Suara sapaan anjing kecil itu seolah mengajakku untuk bercerita padanya tentang keluh kesahku. Sekali lagi ia menatapku dengan mata berkaca-kaca. \"Haha.. tidak apa aku baik-baik saja. Terima kasih ya sudah menghampiri dan menemaniku.\" \"Huk..huk...huk!\" suara kecil si anjing lucu. Anjing itu menjawab seluruh ucapan yang kusampaikan padanya, seolah- olah dia paham apa yang aku bicarakan. Tak lama dari kejahuan terlihat seorang 80 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
perempuan seumuranku membawa mainan berbentuk tulang dan tali anjing yang sepertinya terlepas. \"Aiko...aiko!\" teriak perempuan itu. \"Aiko...di mana kamu?\" teriaknya sekali lagi. \"Huk..huk..huk!\" jawab Aiko seolah menyaut teriakan itu. Si perempuan itu langsung berlari dengan girang ke arahku dan anjing kecil di sebelahku. Dia menghampiri dan si anjing kecil ini juga berlari ke arah si perempuan itu. Ia memeluk Aiko nama dari anjing kecil yang sempat kudengar tadi. Aiko tiba- tiba melompat dari pelukan perempuan pemiliknya itu dan berjalan setengah berlari ke arahku seolah mengajak si pemiliknya untuk mengenal teman barunya yaitu aku. \"Aiko... pelan-pelan.\" ucap perempuan itu dengan nada senang, gemas, dan khawatir. \"Huk...huk...huk\" sahut Aiko. Aiko berhenti di depanku dan si perempuan itu mengejarnya. Aiko memutari kaki si perempuan itu dan menggiiringnya untuk lebih dekat kearahku. Aku pun menyapa si perempuan itu, kuulurkan tanganku dan mengajaknya berkenalan. Ternyata namanya adalah Caramel, nama yang cantik dan manis sama seperti parasnya. Caramel pun ikut duduk disampingku menikmati pemandangan kolam bersama Aiko, kami memang baru saja bertemu dan berkenalan tapi rasanya ngobrol sama Cara itu se-frekuensi banget. Sejuknya angin dan cahaya senjalah yag menemani percakapan kami, disini Caramel mendengarkan ceritaku tentang Ibu. Mataku memang tidak bisa berbohong jika aku sedang sedih karena tidak ada lagi yang bisa mendengarkan dan memahamiku. Caramel coba memelukku dengan senyuman dan pelukannya. \"Sudah tenang kan sekarang kamu punya aku sama Aiko buat teman cerita,\" ucap Caramel sambil memelukku. \"Aku senang sekarang ada yang bisa menampung segala ceritaku, makasi ya Aiko... kamu kasih aku teman yang pengertian kayak Caramel,\" ucapku dengan rasa bahagia. \"Terima kasih juga Tuhan sudah pertemukan Caramel sama orang seseru Alleta,\" ucap Caramel dengan rasa syukur dan lega.. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 81
Kami pun bertukar nomor whatsapp hingga sosmed, ya begitulah aku senang karena sekarang ada Caramel yag bisa mendengarku. Sejak saat itu kami intens bertukar kabar bahkan hingga sering bertemu. Sejak ada Caramel, rasanya satu pun dari hari-hariku tidak ada kesedihan. Tingkah Caramel seolah tak pernah habis untuk membuatku terseyum, sampai suatu hari aku mendapat pesan dari Caramel yang isinya, \"Alleta, aku pamit sebentar ya. Aku mau keluar kota dulu All, jangan kangen loh ya aku tau kamu paling ga bisa jauh dari aku, mangkannya aku bakal titipin Aiko di rumah kamu buat nemenin kamu selama gak ada aku ya All. Aku gak tau bakal pergi dan disana sampai kapan tapi yang jelas aku bakal inget kamu terus, cerita kita, bahkan gimana cara kita ketemu dulu. Aku emang baru kenal kamu All, tapi entah kenapa Caramel yang keras kepala, terkesan jutek di mata orang ini bisa cocok dan ngerasa nyaman banget sama kamu. Aku titip Aiko ya All, nanti dia bakal diantar sama sopir aku ke rumah kamu. Bye bye All see you ya, semoga aku bisa ketemu kamu lagi walaupun aku gatau itu kapan. Ohh iya, kita pernah janji mau ngelepas balon waktu valentine di kolam ‘kan ,oke! Aku bakal pulang nanti tunggu aku di kolam ya.\" Pesan yang Caramel tuliskan untukku seolah-olah berbicara jika aku dan dia tidak akan bertemu lagi. Perasaanku risau pada saat itu karena Caramel ga bisa aku hubungi. Besoknya, sopir Cara datang kerumahku bawa Aiko, Aku ngga sempat ngobrol banyak dengan sopir Cara buat nanya soal kabar bahkan berapa lama Caramel pergi. Yang aku dapat dari sopirnya,Caramel akan cukup lama untuk pergi, dan beliaupun langsung berpamitan karena ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Sudah cukup lama aku dan Aiko menunggu Caramel, akupun tidak tahu harus menghubungi Caramel lewat apa. Karena jujur saat aku menyempatkan untuk ke rumah Cara aku bahkan tidak pernah melihat siapapun dirumahnya. Hingga H-2 Valentine Caramel tak kujung mengabari atau menghampiriku, akhirnya aku memutuskan untuk ke kolam dengan pikiran siapa tahu ada Caramel disana. Aku dan Aiko pun bergegas ke kolam, kami sudah bahagia dan penuh harap jika bisa bertemu Caramel disana. Ternyata setibanya di sana, Caramel tidak ada sampai kita coba buat memutari sekeliling juga tidak bertemu Caramel. Aku 82 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
menemui titik lelahku kembali, hanya saja bedanya sekarang ada Aiko yang menemaniku. Aku memutuskan untuk menulis pesan di perahu yang nantinya akan aku layarkan dikolam ini dengan berharap lunturan dari tinta pena yang ku gunakan untuk menulis bisa sampai dalam mimpi atau batin Caramel. \"Caramelll!!! Kapan kamu pulang hhhh! Aku sama Aiko udah nunggu kamu lama lho. Kita kangen Car sama kamu, di sini aku lagi banyak cerita. Kalau ga ada kamu, aku ga tahu harus certa sama siapa Car. Aku sama Aiko kangen banget dan sayang banget sama kamu, pulang yuk Car apa kamu gak kangen Aiko dan aku juga. Sekarang ini kalau gak ada kamu, aku jadi sering banget nemuin titik lelahku sama kayak yang aku rasain dulu, cuma aja aku bersyukur meskipun sekarang gak ada kamu tapi ada Aiko disampingku. Cepet pulang ya Car, aku sama Aiko udah kangen banget bye bye Caraa.\" Tulis pesanku berbaur dengan beberapa tetesan air mata yang jatuh pada kertas pesanku. Kubentuk kertas itu menjadi perahu dan kulayarkan Bersama-sama dengan Aiko. Setelah itu kami memutuskan untuk pulang karena aku juga sudah melihat Aiko cukup lelah. Kami tetap menunggu Caramel hingga hari valentin tiba. Meskipun tidak ada kabar dari Caramel tapi Aku dan Aiko percaya bahwa Cara sudah menunggu kami di kolam. Sesampainya di kolam, Cara masih belum ada dan kami tetap menunggunya sampai dimana ada suara panggilan namaku dari belakang. \"Alletaaa...Aiko...\" Ternyata saat kutoleh itu bukan suara Caramel, melainkan suara mama Caramel yang langsung menghampiriku dan memberikan suatu kabar. Menurutku ini adalah kabar terburuk karena harus kehilangan orang yang paling aku sayang saat ini. Iya, dia Caramel, ternyata Cara punya penyakit pembengkakan pada hati, sehingga membuatnya tak bisa tertolong saat menjalani operasi. Berita ini sangat membuat aku terpukul, dan lebih sedihnya Caramel menitipkan pesan pada mamanya untuk mengadopsi aku sebagai penggatinya karena Caramel tahu aku mempunyai beberapa hal yang mirip dengannya. Ia juga menitipkan permintaan maaf karena tidak bisa menepati janjinya. Setelah kejadian itu aku berusaha menahan tangis agar Caramel tidak sedih melihatku dari tempat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 83
di mana sudah menjadi titik tertingginya, aku melayarkan perahuku dan menerbangkan balon sesuai dengan perjanjianku dan Caramel. Aku berharap semoga tinta harapanku dan balon rinduku bisa sampai dan dilihat Caramel dengan senyuman yang indah. Bye Cara, aku janji akan menjaga semua yang kau titipkan padaku. Terima kasih sudah menjadi salah satu part terbaik dalam hidupku, see you Caramel i love you and i will miss you. Inilah cerita penuh bahagiaku dengan Aiko, Caramel, dan keluarga baruku. Tamat 84 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Saat-Saat Terakhir… Karya: Dwi Anugrah Adi, S.Si. Namaku Rakka aku seorang siswa kelas 3 di SMAN 2 Purwokerto. Aku berasal dari Blora, Jawa Tengah. Orang tuaku dulu sempat dinas di kota Purwokerto, tapi karena harus pindah tugas ke Semarang, maka aku memutuskan untuk tetap ada di sini dan menyewa tempat kos selama aku SMA. Malam ini adalah hari pelepasan masa sekolah untuk siswa SMA di sekolahku. Akan diadakan acara malam perpisahan dan penganugerahan prestasi untuk lulusan siswa terbaik di sekolahku. Aku datang bersama dua orang temanku, Saiful dan Amri. Kebetulan kami kos di tempat yang sama. “Pul, nanti namamu akan disebut di panggung ya… Kamu kan masuk seleksi UI (Universitas Indonesia) jurusan Hukum Internasional kan?” tanyaku kepada Saiful. “Iya nih kayaknya. Kemarin kata Bu Septi, akan diumumin siapa aja yang masuk PTN dengan jalur PSB. Amri juga kan jadi masuk ke UNDIP (Universitas Diponegoro) jurusan Teknik Mesin. Nanti juga ikut disebutin dan naik panggung tuh…” ujar Saiful Semasa SMA di tahun 2000, kami mengikuti seleksi PTN (Perguruan Tinggi Negeri) jalur PSB (Penjaringan Siswa Berprestasi) yaitu seleksi siswa berdasarkan prestasi nilai akademik dan nilai rapor semasa sekolah. Saat itu adalah sangat berharga sekali jika seorang siswa SMA bisa masuk ke PTN dengan seleksi ini. Aku memang tidak sehebat Saiful dan Amri yang selalu rangking atas atau juara di kelasnya. Kebetulan kita bertiga di kelas yang berbeda. “Kalau kamu Rakka? Apakah sudah ada pengumuman hasil PSB dari Universitas Brawijaya Malang? Sepertinya tadi siang belum ada pengumuman di ruang BK.” Tanya Amri kepadaku. “Iya Amri, tadi siang aku habis dari ruang BK di sekolah dan tanya ke Bu Septi. Memang belum ada pengumuman dari pihak sana. Ndak tahu nih aku bisa masuk atau nggak? Nilai- nilai raporku kan nggak sebagus kalian…” Ujarku kepada mereka UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 85
“Yah… berdoa aja deh. Semoga kita semua bisa masuk PTN semua ya…. Nanti kalua kita semua diterima di PTN, kita makan bareng di alun-alun lagi jam 12 malam. Aku yang bayarin deh… Hahaha…” gurau Saiful Kita bertiga memang sering belajar bareng di kos sampai tengah malam buat menghadapi ujian akhir sekolah. Dan kadang keluar tengah malam bersama untuk melepas lelah dan menghilangkan kejenuhan setelah belajar malam. Sampailah kita di Gedung tempat acara malam perpisahan sekolah. Semua siswa sudah hadir dan acara pun dimulai. Diawali dengan parade, nyanyian lagu kebangsaan Indonesia Raya, sambutan Kepsek dan penampilan-penampilan pengisi acara yang sudah disetting oleh panitia OSIS Sekolah. Acara saat itu sangat membuat kita sangat senang dan membanggakan bisa sekolah disini. Tibalah saatnya acara pengumuman siswa berprestasi yang diterima di PTN melalui seleksi PSB. Masuklah di panggung Ibu Septi guru BK kami yang selalu men-support kami untuk bisa masuk ke PTN. “Tuh… tuh… lihat… Bu Septi sudah ada di stage… Bentar lagi kamu dipanggil Pul… Amri kamu juga persiapan...” kataku ke mereka dengan bersemangat. “Oke Bro… Doain ya.”ujar Saiful kepadaku “Makasih Rakka… Good luck ya…” ujar Amri juga kepadaku Saiful dan Amri pun bergegas merapikan baju dan penampilannya. Karena akan naik ke panggung. Karena akan diberikan penghargaan dan ucapan selamat dari Kepsek dan Bapak Ibu Guru. Nama Saiful dipanggil yang pertama kali oleh Bu Septi. Bahwa dia satu- satunya yang berhasil masuk ke Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional. Sontak seisi aula Gedung bersorak dan bertepuk tangan. Saiful pun naik menuju panggung dengan langkah yang tegap dan mantap. Keren sekali deh… Lalu selanjutnya Bu Septi mengumumkan siswa yang masuk ke Universitas Diponegoro. Diumumkan ada 8 siswa yang lolos seleksi, termasuk salah satunya adalah Amri. Lalu naiklah mereka ke atas panggung. Seisi aula gedung bertepuk tangan dan bergemuruh menyambut siswa-siswi yang berhasil lolos seleksi. 86 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Aku berpikir bahwa Universitas Brawijaya pilihanku tidak akan diumumkan malam ini, karena siang tadi belum ada pengumuman apapun di ruang BK. Jadi aku harus bersabar dan menunggu waktu saat diumumkan di hari lain. Kemudian Bu Septi juga mengumumkan juga siswa yang lolos seleksi yang masuk ke PTN lain, diantaranya Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM), Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Siswa yang terpanggil pun lalu naik ke panggung. Menurut perhitunganku semua PTN sudah semua diumumkan oleh Bu Septi. Aku pun ikut senang untuk teman- temanku yang lolos seleksi tersebut. Lalu Bu Septi menghela napas sesaat di panggung, kemudian dengan nada diperlambat dia menyebutkan dan akan menyampaikan hasil seleksi dari Universitas Brawijaya. “Dan yang terakhir untuk pengumuman seleksi kali ini adalah dari Universitas Brawijaya. Ucap Bu Septi… Sontak langsung aku tercengang dan berdebar-debar. Adrenalinku langsung naik dan mendidih, begitu Bu Septi menyebutkan kata Universitas Brawijaya. Hatiku bergejolak dan merinding siapa yang akan lolos? Padahal siang tadi belum ada pengumuman hasilnya. Ada 12 siswa yang ikut seleksi masuk ke Universitas Brawijaya. Beberapa teman yang tahu aku ikut seleksi dan di sekitarku pun mendekatiku dan menyemangatiku. “Pengumumuan dan informasi ini baru kami terima pada sore hari ini. Yang berhasil lolos seleksi dan masuk ke Universitas Brawijaya hanya ada satu orang. Adalah… atas nama : Rakka Adiyaputra” ucap Bu Septi dengan semangat dan mengakhiri pengumumannya. “Iyesss…. Aku masuk…” teriakku sambal meloncat kegirangan. Teman-teman di sekitarku pun ikut bersorak kegirangan, lalu menarik dan mengantarkanku naik ke atas panggung. Seolah momen seperti ini adalah sangat surprise dan membanggakan. Saiful dan Amri pun ikut menyambutku di panggung dan kita bersorak bahagia di atas panggung. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 87
Kemudian Kepsek dan para guru memberikan selamat kepada kami semua yang berhasil lolos seleksi. Sungguh ini adalah momen yang sangat membanggakan bagiku. Setelah acara selesai, kami bertiga pun kembali ke kos. Dan tengah malam itu kami bertiga, menghabiskan waktu bersama di alun-alun kota untuk mengenang kejadian ini. Kami semua merasa sangat berbahagia malam itu. Dan kami tidak akan melupakan kasih dan persahabatan selama ini. Kita sengaja menghabiskan waktu bersama sampai larut pagi, sebelum kita akan berpisah. Dalam hati, kami yakin bahwa setiap kami akan menghidupi nilai-nilai yang telah melekat dalam hati kami sehingga mampu menjadi pribadi unggul dalam meraih cita-cita kami. Dan kami juga berjanji menjaga persahabatan ini hingga selama- lamanya. Serta berkomitmen untuk berbagi ilmu demi kemajuan sekolah kami tercinta dan juga untuk dunia pendidikan, agar generasi penerus bangsa memiliki komitmen tentang menjadi pribadi yang unggul dan penuh dengan kasih bagi sesama. Tamat 88 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Guru Karya: Fani Yohan Daryono, S.Pd. kring… kring.. kring!! “Halo Johny, bisakah kamu pulang sore ini?” Lamunanku dikagetkan oleh dering panggilan telepon ayah yang memintaku untuk pulang. Namun, kali ini nada ayah begitu serius, seakan tidak ada lagi hari esok. Namun, ayah tetaplah ayah. Segala apa yang dia inginkan pasti harus dituruti, tanpa boleh disanggah. “Baik, yah. Tapi apakah harus sore ini?” Ucapku bingung. “Iya, jika masih menganggapku ayah, kamu harus pulang sore ini juga!” Sepanjang perjalanan pulang pikiranku berkecamuk, entah apa yang akan disampaikan ayah? Memang semenjak lulus SMA, aku bersikeras untuk melanjutkan pendidikan keguruan. Hal ini tidak lain karena pengaruh Bu Tanti… ya.. Wali kelasku semasa SMA yang tidak hanya mengajari, namun juga menjadi ibu disaat kedua orang tuaku sibuk dengan bisnisnya yang kata orang sukses dan bergelimang harta, namun bagiku itu hanya fatamorgana. Kedua orang tuaku memang sangat keras dan disiplin, mereka bekerja siang dan malam untuk mencari rezeki, kasih sayang orang tua seakan hal yang asing bagiku. Namun, cinta kasih dari Bu Tanti kurasakan dalam keseharian. Dari menemaniku saat tidak ada teman, hingga membantu dalam hal bimbingan mata pelajaran. “Ah, senangnya andai aku memiliki ibu seperti Bu Tanti. Betapa bahagianya, unek-unekku yang terpendam selama ini bisa kucurahkan dengan penuh kasih dan tentu akan mendapatkan perhatian seperti layaknya teman- temanku yang mendapat kasih dari kedua orang tuanya.” Gumamku dalam hati. Trett.. Trett.. Trett.. Suara klakson kereta api menyadarkan lamunanku. “Ah, tiba-tiba saja sudah sampai Stasiun Kota Baru.” Kesejukan kota ini, wajah-wajah masyarakat yang ramah, dan aroma bakso dimana-mana, membuatku rindu. Namun, hati kecil bertanya, “Bagaimana UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 89
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184