Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Buku Kumpulan Cerpen Core Values_A4

Buku Kumpulan Cerpen Core Values_A4

Published by Fani Yohan, 2023-08-04 02:14:32

Description: Buku Kumpulan Cerpen Core Values_A4

Search

Read the Text Version

["benar-benar bisa menemukan keluarga baru yang membuatnya menjadi tidak kesepian lagi. Tamat 140 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","Kukira Kau Rumah Karya: Andreas Supriono, S.Ag. Ini tentang aku yang baru masuk di tempat yang baru, tempat di mana aku akan mengalami tempaan dan pengajaran, ya bukan hanya sebatas pengetahuan saja tetapi juga menyangkut tentang sikap moral dan spiritual. Aku sangat bersemangat untuk memulai hal baru yang pasti akan berbeda dengan yang aku alami sebelumnya. \u201cAh sudah tak sabar rasanya ingin merasakan bagaimana rasanya di tempat itu. Pasti akan lebih menarik dan menyenangkan\u201d gumamku Tempat itu dulunya sempat menjadi tempat yang cukup terkenal dan banyak orang ingin tinggal disana dan bertumbuh kembang disana. Banyak juga yang telah sukses dan menjadi orang sepeninggalnya dari tempat itu. Rasanya sudah tak sabar aku ingin merasakan tinggal disana. Hari yang aku tunggupun datang. Aku menginjakkan kaki untuk yang pertama di tempat itu. Rasa kwatir dan takut menyelimuti diri ini, dengan langkah kaki yang terbata-bata aku beranikan untuk masuk ke rumah itu. Pertama kali yang kulihat dan membuatku terpukau yaitu seseorang yang berdiri menatapku seakan dia menyapa dan menerima kahadiranku di rumah itu. Dia berselimutkan pakaian berwarna putih dan diselimuti kain berwarna biru, tatapannya penuh dengan kasih dan lembut. Dan kini baru aku tahu bahwa dia adalah seseorang yang menjadi pelindung tempat ini. Keteladanannya menjadi dasar pelayanan disini dengan semangat \u201cmemanusiakan manusia\u201d menerima setiap pribadi sesuai dengan citra Allah. Di tempat itu aku bertemu dengan teman-teman baru yang akupun tak tahu siapa mereka dan dari mana mereka. Aku merasa agak canggung ketika harus bertegur sapa dengan mereka. Aku bukanlah orang yang pandai bergaul dengan semua orang, aku lebih suka mengamati daripada harus berdiskusi. Aku lebih memilih berdiam diri mengolah dan meresapi daripada harus mengkritisi. Di sini aku tinggal bersama banyak teman yang datang dari berbagai daerah, mulai ujung timur sampai barat daya utara. Ketika aku bertemu mereka seperti biasa aku bercengkerama dan mencoba untuk mengenali mereka satu persatu. Ini adalah hal UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 141","yang menyebalkan, aku harus mengingat dan mengenal mereka semua satu persatu. \u201cApakah aku bisa menjadi teman yang baik untuk mereka semua? Apa aku bisa?\u201d Itu pertanyaan yang selalu muncul di benakku. Setiap hari aku mulai kebiasaanku yaitu mengamati setiap orang, setiap peristiwa yang ada, ini menjadi hal yang menyenangkan bagiku. Di sini aku menemukan banyak hal yang sungguh baru dan berbeda dengan diriku dan setiap peristiwa yang pernah aku temui. Terkadang aku merasa kecil karena mereka sungguh luar biasa mulai dari penampilan sampai kepandaian. Aku semakin menyadari perbedaanku dengan mereka. \u201cYa, aku memang berbeda dengan mereka.\u201d Awalnya aku takut dengan perbedaan ini, namun setelah aku tahu visi misi tempat ini perlahan ketakutanku mulai hilang meskipun aku tak paham betul akan visi misi itu. Yang aku tahu ya sejauh pemahamanku sendiri. Di sudut tempat ini tertulis dengan jelas visi misi tempat in yakni, \u201ckomunitas yang kasih, unggul dan bermartabat.\u201d Bukan hanya disudut tempat ini namun tulisan itu juga muncul dibuku yang selalu menjadi bayang-bayang kelam akan pahitnya pelanggaran dan kalkulasi angka yang tak tahu ujungnya. Yang aku tahu komunitas itu sama dengan rumah sama dengan keluarga. \u201cWah, pasti menyenangkan tinggal didalam keluarga, tinggal bersama orang-orang yang peduli dan mau saling mengasihi satu sama lain,\u201d pikirku dalam hati. Komunitas identik dengan kebersamaan dan di dalam kebersamaan tentunya ada rasa saling memahami satu dengan yang lain, rasa saling menerima satu dengan yang lain, meskipun kita tak sama, meskipun aku berbeda. Tentunya ada kasih yang hangat diantara penghuni yang tinggal dibawah naungannya. Apa lagi didukung dengan kata akhirnya yaitu \u201cbermartabat\u201d. Bermartabat menjadi hal yang menarik bagiku karena kata ini agak asing ditelingaku, akupun tak paham arti dan makna kata itu. Karena rasa penasaranku akhirnya aku bertanya pada mbah google dan aku temukan artinya yakni hak seseorang untuk mendapatkan dan dihargai dan dihormati dan diperlakukan secara etis. Dari pengertian tadi akhirnya aku menarik satu kesimpulan bahwa tempat ini menjadi wadah bagi setiap orang untuk mengembangkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki, 142 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","dimana seseorang tersebut diterima, dihargai, dihormati dan diperlakukan secara baik sesuai dengan kekhasan setiap pribadi. \u201cWah aku sungguh kagum dengan tempat ini,\u201d seruku dalam hati, begitu mulia dan menakjubkan tujuan dan harapan tempat ini. Sungguh tempat ini akan menjadi rumah yang nyaman bagi setiap penghuninya. Hari demi hari aku jalani ditempat ini bersama teman- temanku dengan kekhasan kami masing-masing. Hingga suatu hari di mana kami harus menerima dan menyelesaikan segala tantangan dan pencobaan dari setiap pendamping disini. Kami mulai diminta untuk mengerjakan segalanya mulai dari membaca, menulis, menghafal, menghitung, menerjemahkan dan menafsirkan sesuatu yang kadang kurang kami pahami. Satu persatu perlahan kami mencoba untuk selesaikan, meski tak sedikit dari kami yang kesulitan. Secara pribadi akupun juga merasa kesulitan dalam beberapa hal, apalagi bila aku harus menerjemahkan yang itu bukan bahasa yang setiap hari aku gunakan. \u201cMembacanya saja aku kesulitan apalagi harus menerjemahkan yang jelas- jelas berbeda antara tulisan dan cara bacanya,\u201d rasanya ingin tertawa sendiri karena ketidakcakapanku ini. Belum lagi aku harus menafsirkan suatu tulisan yang konteks masanya sudah sejak dulu kala. \u201cMenafsirkan apa yang terjadi sekarang saja sulit, apalagi peristiwa yang sudah berlalu ribuan tahun yang lalu\u201d, hufff \u2026... rasanya ingin menghela nafas yang panjang terus tidur, hehehehe Kini tibalah dimana kami akan menerima hasil dari apa yang telah kami selesaikan. Satu persatu pendamping menyampaikan hasilnya sesuai dengan bidang mereka masing- masing. Tidak semua menyenangkan, tidak semuanya memuaskan, ada beberapa yang sangat tidak menyenangkan. Semua pendamping merasa tidak puas karena pasti saja ada yang tidak sesuai dengan mereka harapkan, karena dari kami selalu ada yang tidak bisa dan tidak menguasai itu. Hampir semua pendamping \u201cmemaksa\u201d kami untuk mengerti dan memahami bidang yang mereka ampu. Seolah-olah kami dituntut untuk mengerti dan memahi semua bidang yang ada di tempat ini. \u201cYang benar saja, aku harus paham semua bidang, kayak robot saja yang otomatis bisa semua bidang yang sudah diprogramkan\u2019. Mereka enak, hanya UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 143","mengajarkan satu bidang saja, lha kami yang menerima harus mengerti dan memahami semuanya. Hmmmm, rasa tidak terima dalam diriku. Aku jadi ingat ada kalimat yang mengatakan \u201cjangan memaksakan ikan untuk berjalan ataupun terbang\u201d gerutuku sepanjang hari. Memang benar kami perlu belajar semua hal, tapi kalau kami harus pandai disemua hal kan ya sesuatu yang mustahil. Kami punya keterbatasan dan ketidaksamaan satu dengan yang lain. Kenapa kami yang tidak bisa pada satu dua bidang dianggap tidak lebih baik, bukankah kami juga ada yang baik dibeberapa bidang. Hufff......Apa yang telah aku bayangkan sebelumnya menjadi kacau karena hal ini. Aku kira Kau rumah, ternyata bukan. Tamat 144 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","Hati-hati Gunakan Mulutmu !! Karya: Yohana Inez P, S.Ag. Pada suatu pagi di SMA Ayem Tentrem, terdengar suara khas anak-anak yang baru datang di sekolah, ada yang sedang mengobrol di luar kelas, ada yang sibuk mengerjakan PR dadakan dan ada pula yang memilih duduk diam di kelas. Saat itu masih sangat pagi sekitar pukul 06.15 WIB, namun anak- anak sudah banyak yang berdatangan. Si Tejo yang baru datang di sekolah langsung menghampiri Nurlela sahabat karibnya sejak TK hingga saat ini, yang kebetulan Nurlela sudah sampai di sekolah terlebih dahulu dan berada di depan kelas. \u201cNur\u2026kamu sudah dengar berita belum? Kemarin waktu aku pulang sekolah, tanpa sengaja aku mendengar anak-anak kelas sedang membicarakan Si Ratna.\u201d Tanya Tejo. Nurlela pun menyahut, \u201cApa Jo yang mereka bicarakan?\u201d \u201cMereka itu bilang kalau Ratna sekarang jadi pendiam, seperti tidak mau berpendapat ketika sekolah sedang ada event apa-apa begitu, bahkan ketika rapat pengurus kelas kemarin Ratna justru tidak ikut, karena kalau ikut malah jadi bahan gibahan para pengurus kelas yang lainnya.\u201d Ucap Tejo bersemangat. \u201cLha kenapa itu, Jo? Sejauh Ratna jadi ketua kelas setahuku kelas jadi lebih tertib dan disiplin dalam segala hal terlebih jika sekolah sedang ada event, kelas kita pasti beres duluan, lomba-lomba pun kelas kita selalu masuk dalam kategori peraih juara. Karismanya Ratna sebagai pemimpin wanita itu dapet banget lho. Jeleknya Ratna di mana itu, Jo?\u201d Tanya Nurlaila penuh antusias. \u201cAku juga tidak tahu Nur, makanya kamu kutanya tadi, biasanya kan kamu mesti uptodate gosip-gosip begitu, tapi sering mblesetnya sih, hahahahaaa\u2026\u201d \u201cAh kamu ini Jo (dengan pasang muka masam tapi bercanda). Tapi kalau menurut pengamatan detektif Nurlelah iya juga sih Jo, akhir-akhir ini kulihat Ratna jadi agak pendiam, sering di kelas, jarang komunikasi, mungkin hanya seperlunya saja dia bicara. Padahal Ratna bibit bebet bobotnya bagus lho, kalau UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 145","terus begini potensi dan kemampuan Ratna jadi tidak berbuah. Wah rugi ini, rugi banget kita Jo\u2026\u201d \u201cHo-oh Nur, terus kalau untung nanti bagi dua ya, hahahaha\u2026\u201d \u201cApanya yang mau dibagi dua Tejoooo, wong aku ini ngomongin bakat dan kemampuannya Si Ratna, padahal nanti kalau kemampuan Ratna dalam mengelola kelas berbuah kita semua juga pasti menikmatinya kok.\u201d \u201cOwalahdalah, berarti gak jadi bagi dua ya Nur? Hehehe\u2026 bercanda aku Nur. Bener juga sih katamu Nur, kalau seperti ini kasihan Ratna, gara-gara omongan yang nggak jelas bisa membunuh mentalnya. O iya, Aku jadi inget wejangan Romo Sapto waktu pertemuan OMK Nur.\u201d \u201cRomo ngasih wejangan apa, Jo, sama anak-anak OMK?\u201d \u201cBeliau menyampaikan ke anak-anak OMK bahwa orang yang paling kejam di dunia ini adalah orang yang membunuh bukan dengan senjata melainkan dengan kata-kata. Kalau orang membunuh dengan senjata akan menghilangkan nyawa tapi orang yang membunuh dengan kata-kata itu menghilangkan martabat dan harga diri manusia. Ini namanya penyesatan. Ga ada bedanya mereka itu seperti setan yang membujuk Ibu Hawa supaya jatuh ke dalam pencobaan.\u201d \u201cBetul, Jo! Betul banget yang disampaikan Romo Sapto! Jahat banget ya orang yang melakukan hal itu. Sama saja kita tidak menghargai diri kita sebagai manusia yang bermartabat. Amit-amit, Jo. Semoga kita bisa menjaga tutur kata, sikap dan perbuatan kita terhadap sesama yaa\u2026\u201d. \u201cIya, Nur. Aku aja merasa tersentil ketika Romo Sapto berkata demikian, aku coba introspeksi diri sejenak apakah perkataanku selama ini juga sering menyakiti hati orang lain begitu.\u201d \u201cSering, Jo! Sering pakek buanget wes! Apalagi kalau sama aku kata- katamu sepedas Mie Gacoan level 10, Jo!\u201d Sembari berekspresi mata melotot dan senyum sinis khas Nurlela. \u201cWah, kamu kok gitu sih sama aku Nur? Padahal aku selalu baik sama kamu. Ya wes nanti pulang sekolah tak ajak makan Mie Gacoan ya, yang level 10 lho biar ngrasain kata-kata pedas tapi enak dan mengenyangkan, hehehehe. \u201d \u201cOkeelahh! Awas kalau kamu bohong, nanti kamu sama saja dengan teman-teman yang nyakiti hatinya Ratna. Eh Jo, aku punya ide gimana kalau kita 146 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","diskusikan masalah ini dengan Bu Asri sebagai wali kelas kita, beliau harus tahu lho, Jo. Menurutmu gimana?\u201d \u201cSaya berjanji akan menepati janji saya kepada Magdalena Nurlela Suwanto sepulang sekolah nanti akan nraktir Mie Gacoan\u201d Dengan gaya khas Tejo serius tapi mbanyol. \u201cIya, Nur. Aku setuju banget dengan idemu. Tumben cemerlang ya?! Ya wes ayo masuk kelas dulu udah jam 06.40, istirahat nanti kita temui Bu Asri ya?\u201d ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Jam Istirahat ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Sambil menghampiri bangku Tejo, \u201cSudah siap, Jo?\u201d cetus Lela. \u201cUdah. Yuk kita ke ruang guru!\u201d Nurlela dan Tejo berjalan ke ruang guru untuk bertemu dengan Bu Asri. Sesampainya di ruang guru mereka mengetuk pintu mohon izin untuk bertemu dengan Bu Asri. tok...tok..tok... \u201cPermisi, Pak, Bu. Saya mau bertemu dengan Bu Asri, apakah Bu Asri di ruangan?\u201d Pak Bambang menyahut, \u201cOh kamu, Nur, sebentar saya lihatkan dulu,\u201d sembari berjalan ke ruangan untuk mencari Bu Asri. \u201cBaik Pak,\u201d kata Nurlela. Bu Asri berjalan keluar dari ruang guru, \u201cAda apa Nur mencari saya?\u201d \u201cIya Bu, ini ada sesuatu yang mau saya diskusikan bersama dengan Tejo juga Bu\u201d \u201cBaiklah, kita ngobrol di taman situ ya.\u201d \u201cOke, apa yang mau kalian diskusikan dengan saya?\u201d Bu Asri bertanya dengan simpatik. \u201cBegini Bu, sebelumnya saya mendengar info ini dari Tejo karena Tejo mendengar sendiri percakapan teman-teman yang bersangkutan. Ini mengenai UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 147","kelas kami Bu dan ketua kelas yang saya rasakan agak sedikit ada perubahan begitu Bu. Apakah Bu Asri sudah mengetahuinya?\u201d Bu Asri lantas menjawab, \u201cHmmmmm\u2026 saya mau mendengar info dari Tejo dulu seperti apa ya?\u201d \u201cBaik Bu, saya bercerita awal mulanya ya. Pada saat pulang sekolah saya tidak sengaja mendengar anak-anak kelas kami serta beberapa pengurus kelas lain sedang membicarakan Ratna Bu, mereka ber-gibah tentang kehidupan Ratna. Bahkan saat ini Ratna menjadi anak yang pendiam, seakan tidak mau tahu urusan kelas padahal dia kan ketua kelas Bu. Jadi kurang lebih seperti itu Bu yang saya dengar dari percakapan anak- anak tentang Ratna.\u201d \u201cBaik, terimakasih Tejo untuk kesaksianmu. Langsung saja ya Bu Asri diskusikan dengan kalian karena sebentar lagi juga bel masuk kelas. Jadi Bu Asri sebagai wali kelas sudah tahu apa yang menjadi keresahan diri Ratna, kalian juga Nurlela dan Tejo dan mungkin teman-teman lain yang peduli dengan Ratna.\u201d Ucap Bu Asri. \u201cSyukurlah jika Bu Asri sudah tahu, kami khawatir Bu dengan kondisi Ratna, karena bibit bebet bobotnya Ratna sebagai seorang pemimpin wanita itu bagus sekali. Kelas kita seharusnya sangat bersyukur dapat ketua kelas seperti Ratna.\u201d \u201cKamu benar, Nur. Makanya kita punya mulut harus sungguh dijaga, seperti lagu sekolah minggu itu lho \u201c...hati-hati gunakan mulutmu, Allah Bapa disurga melihat kebawah hati-hati gunakan mulutmu...\u201d Penggalan lirik ini meskipun terkesan lagu anak-anak tapi maknanya itu yang perlu untuk kita terapkan sejak dini sampai tua nanti. Supaya mulut kita dalam berbicara itu berhati-hati, jangan sampai melukai harga diri martabat sesama, jika sesama kita direndahkan itu sama saja merendahkan diri sendiri karena kodratnya manusia itu adalah semartabat atau sama begitu.\u201d \u201cIya Bu, sependapat dengan nasihat Bu Asri, karena saya juga mendapat wejangan seperti itu dari Romo Sapto. Pokoknya kata-kata kita bisa membunuh martabat dan harga diri seseorang kalau ndak diatur dengan baik.\u201d \u201cMaka dari itu kalian para pemuda-pemudi jadilah pribadi yang bermartabat ya supaya selalu memberikan energi positif kepada sesama, 148 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","mumpung masih muda perbanyak beramal kebaikan. Untuk Ratna, kalian jangan khawatir saya selalu mengajaknya sharing. Hanya saja dia masih ada luka batin yang belum bisa mengembalikan pribadinya seperti semula.\u201d Bel berbunyi \u201cting...tong...ting...tong...\u201d \u201cNah itu bel sudah berbunyi tandanya untuk masuk kelas, kalau begitu saya tinggal dulu ya anak-anak. Ingat pesan Bu Asri tadi ya? Ya sudah kalian kembalilah ke kelas daripada nanti telat.\u201d \u201cIya, Bu Asri. Terima kasih banyak untuk diskusi yang sangat bermakna ini semoga Tuhan memberkati hidup dan karya kita.\u201d \u201cAmin. Ya wes ayo balik ke kelas itu Pak Bambang sudah jalan ke kelas kita, hawanya jadi deg-deg ser, bau-bau mau ada kuis matematika ini\u2026\u201d \u201cPermisi ya, Bu. Terima kasih banyak.\u201d sahut Tejo dan Lela bersamaan. \u201cIya, sama-sama.\u201d Tamat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 149","Pilu di Ujung Tahun Karya: Maria Dani Ringksi, S.Pd. \u201cBu, kami mohon maaf, sudah seharusnya kami menyampaikan ini kepada Ibu selaku orang tua Tasya. Akhir- akhir ini Tasya berperilaku aneh sekali Ketika di sekolah, ia sering kali pergi ke toilet, dalam 30 menit dia ke toilet hamppir 5 kali. Saat itu kami mengira dia sakit diare. Tetapi hal itu terjadi sekitar satu minggu. Entah apa yang terjadi kepada Tasya kami kurang tahu. Yang kami amati saat ini dia sering letih dan tidak bersemangat. Bahkan Bu, di saat jam olahraga ia sering kali izin untuk tidak ikut. Yang kami tahu Tasya adalah anak aktif berolahraga apalagi dia sering mengikuti perlombaan silat, kami sangat khawatir dengan keadaanya.\u201d Itulah kalimat yang mamaku ucapkan menirukan kepala sekolah ku. Ya, tadi siang mama datang ke sekolah menerima panggilan suster kepala sekolah. Aku sangat takut jika mereka berpikir buruk tentang aku. Tapi, apa yang dikatakan suster tadi benar adanya. \u201cTasya, kamu tahu kan kekhawatiran sekolah juga menjadi kekhawatiran Mama juga. Dua bulan lagi kamu akan ada ujian sekolah, tapi nilai kamu banyak yang kurang, terutama nilai pelajaran olahraga. Sebenarnya kamu ada apa sih, Nak? Coba cerita sini ke Mama\u201d \u201cTasya ga papa, Ma. Mungkin akhir-akhir ini banyak tugas sama kondisi cuaca yang kurang bagus jadi Tasya kurang enak badan dan sering capek\u201d \u201cApa kita periksa aja, Nak? Mama benar-benar khawatir\u201d Aku tiba-tiba berkeringat dingin, entah kenapa saat mama mengajakku ke rumah sakit aku sangat takut. Akhirnya aku meng-iya-kan ajakan mama. Mama mengajakku ke dokter umum. Tapi saat dalam perjalanan, tiba-tiba Mama mengajakku juga ke dokter kandungan. \u201cMa, kenapa kita harus ke dokter kandungan? Mama \u2018kan tahu selama ini Tasya baik-baik aja. Tasya nggak mungkin ma ngelakuin hal bodoh semacam itu\u201d \u201cTasya, bukannya mama berpikiran buruk dengan keadaanmu. Tapi Nak, Mama khawatir aja kalau ada apa-apa sama kamu. Udah itu aja\u201d 150 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","Lalu aku terdiam. Rasanya aku ingin menangis. Sebenarnya aku juga tidak tahu dengan kondisiku saat ini. Aku hanya terlamun dan membayangkan andai saja saat itu aku tidak melarang Roy pergi ke supermarket untuk membeli Fiesta rasa strawberry. Apakah ini karena malam itu? Aku mencoba tenang dan mengajak Mama untuk mengobrol lagi supaya dia juga tidak berpikir hal yang buruk. \u201cMama daftarin kamu dulu ya. Kamu tunggu di sini aja dulu!\u201d \u201cIya, Mama.Aku tunggu ya, Ma.\u201d Setelah menunggu beberapa menit mama kembali dan duduk di sampingku. \u201cMama nggak jadi daftarin kamu ke dokter umum. Kita langsung ke dokter kandungan ya. Hari ini dokter Amel yang sedang praktik.\u201d Aku terkaget. \u201cLho, kok Mama langsung ke dokter kandungan sih? Sebegitunya Mama berpikir kalau aku hamil?\u201d \u201cEnggak Tasya. Aama hanya ingin kamu nggak masuk ke lubang masalah ini. Biar Mama tenang. Selama ini Mama juga nggak tau kan kamu pacaran atau enggak. Mama hanya kepikiran itu saja\u201d Dengan nada yang sedikit tinggi Mama berkata demikain terhadap aku. Aku hanya terdiam. Tibalah saatnya aku masuk keruangan itu. Aku takut, aku pasrah. Setelah beberapa menit pemeriksaan dengan wajah tersenyum dokter itu berkata kepada mamaku \u201cBu, selamat ya. Usia kandungan anak Ibu menginjak satu bulan.\u201d \u201cTerima kasih, Dokter ,\u201c jawab mamaku dengan tenang. \u201cIni ada beberapa resep untuk kesehatan anak Ibu dan juga kandungannya. Semoga sehat-sehat selalu ya.\u201d Setelah itu aku dan mamaku pulang. Kami berdua hanya terdiam didalam taksi. Tak ada satu katapun terucap dari mulut mamaku. Begitu juga dengan aku. Akhirnya kami sampai dirumah, mama mulai bertanya tentang hal itu. Hal yang tak ingin terjadi dalam hidupku. Aku menceritakan semuanya, aku juga bercerita UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 151","kalau aku punya pacar, teman satu sekolah. Malam makin larut dan kami menutup hari itu dengan tangis. Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah seperti biasanya. Jam itu jam pertama, jam mata pelajaran olahraga. Materi saat itu adalah loncat tinggi. \u201cWah gawat! Aku harus izin ke Pak Lukas. Aku harus ingat kata mama, jaga bayinya, mama sayang sama kamu dan bayimu.\u201d batinku berulang-ulang \u201cHallo Tasya, gimana kabarnya hari ini? Bapak izinin kamu kok hari ini untuk tidak ikut loncat tinggi dulu.\u201d \u201cLho, kok Bapak tahu kalau saya mau izin?\u201d \u201cTasya, saya punya anak perempuan seorang dokter. Dia bercerita ke saya kemarin kalau dia menerima pasien, sepertinya dia murid SMAK Santa Maria. Dia bercerita banyak. Bapak tahu Nak yang terjadi dengan kamu sekarang\u201d Meneteslah air mataku, hancurlah kesempatanku untuk menerima ijazah dari almamater tercintaku. \u201cPak, saya ingin lulus dari sini. Saya ingin mempunyai ijazah dari sekolah ini. Banyak perjuangan yang orang tua saya lakukan supaya saya dapat masuk di SMAK Santa Maria\u201d \u201cBapak tahu maksud kamu Tasya. Setelah ini kamu juga akan lulus. Bapak juga tidak tega melihat kamu seperti ini. Kamu mempunyai kesempatan yang sama dengan teman-teman yang lain. Kamu akan tetap belajar disini sampai lulus. Bapak akan menjaga kamu selama di sekolah\u201d \u201cPak Lukas, terima kasih banyak. Saya tidak menyangka Bapak sebaik ini. Padahal Bapak sering memarahi teman-teman, sering memberi hukuman ke mereka juga,\u201d ucapku sambil meneteskan air mata \u201cTapi kamu harus berjanji satu hal dengan saya, kamu harus mendapatkan nilai yang baik juga seperti biasanya. Jangan sampai keadaanmu saat ini membuatmu semakin drop\u201d \u201cIya, Pak. Tasya akan usahakan itu.\u201d Setelah percakapan itu, aku sedikit tenang. Namun aku sering kali takut melewati ruang kepala sekolah. Takut jika suster tiba-tiba memanggilku dan menanyakan keadaanku. Tetapi benarlah pepatah, ucapan adalah doa. Siang itu, suster memanggilku untuk ke ruang kepala sekolah, 152 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201cBagaimana Tasya, apa kamu sudah baikan? Sudah bisa mengikuti pelajaran? Oh iya, mama kamu sudah cerita semua \u2018kan?\u201d \u201cIya, Suster, sudah. \u201c \u201cSudah periksa ke dokter?\u201d sahutnya \u201cKemarin saya dan Mama pergi ke dokter. Sudah kami periksa semua, dan semuanya baik-baik saja. Mungkin saat ini kondisi saya memang kurang fit karena banyak tugas dan persiapan ke universitas.\u201d Ya, aku berbohong! Aku dan mama sepakat unutk menutupi ini semua. \u201cOh, syukurlah jika demikian. Saya harap kamu juga baik- baik saja. Oh ya, sudah kalau begitu, kamu bisa kembali ke kelas ya. Jaga diri baik-baik kamu masih muda dan punya banyak kesempatan\u201d \u201cIya, Suster. Terima kasih banyak.\u201d Aku meninggalkan ruang itu dan terngiang-ngiang dengan ucapan beliau, kamu masih muda dan banyak kesempatan. Aku kembali ke kelas dan termenung. Aku mengamati teman-temanku dan mendengarkan cerita mereka yang ingin melanjutkan kuliah di Universitas Negeri maupun Swasta. Aku tak berharap banyak karena aku tahu setelah ini aku harus mengurus bayi di kandunganku. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Roy menghampiriku. Ya, Roy adalah teman sekolahku, kami satu Angkatan hanya berbeda Jurusan. Dia anak IPA yang dikenal dengan kapten basket sekolah. Dan aku anak IPS dikenal dengan anak yang selalu membawa nama harum sekolah karena aku selalu mengikuti lomba silat. Dan dia adalah kekasihku. Seketika itu juga aku mengajaknya ke Lorong kelas 10, memberitahu kepadanya apa yang sedang terjadi. \u201cNggak mungkin! Kan kamu tau kita aman-aman saja waktu itu? Iya \u2018kan?!\u201d Aku hanya menangis. Ingin rasanya aku berteriak pada saat itu. Tapi aku tahu aku masih disekolah. \u201cAku mau bertanggung jawab. Kamu tenang aja. Aku akan bertanggung jawab,\u201d imbuhnya dengan gemetar sambil menggandeng tanganku. \u201cSekarang kita pulang saja ya. Kamu nggak usah takut. Aku pasti bertanggung jawab kok, ya,\u201d ungkapnya dengan tenang. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 153","Aku sedikit tenang hari itu. Mengapa? Karena aku percaya semua yang dikatakan Roy. Beberapa hari setelah kejadian itu Roy dan orang tua nya datang ke rumahku dengan maksud yang baik. Merencanakan untuk ke depannya antara aku dan Roy. Kami semua menerima dengan baik dengan segala hal yang sudah terjadi. Kami berdua melewati hari-hari seperti biasanya namun ada sedikit beban di pundak kami. Dua bulan kemudian aku dan Roy menyelesaikan ujian sekolah dan beberapa ujian lainnya. Rasanya aku ingin menyudahi semua ini. Tetapi karena dukungan orang tua dan Pak Lukas, aku harus bertanggung jawab untuk semuanya. Pak Lukas menghampiriku di ruang kelas, dengan raup muka yang cukup ceria \u201cGimana Tasya? Setelah ini kamu akan Lulus \u2018kan dari SMA ini. Gimana perasaan kamu?\u201d \u201cUmmmm senang sih, Pak. Tapi saya sedih juga karena setelah lulus saya sepertinya tidak bisa langsung melanjutkan kuliah\u201d \u201cAda banyak cara dan jalan untuk menikmati hidup ini, yang penting kamu harus Bahagia. Kalau Bapak boleh tahu apa pasanganmu ada di sekolah ini?\u201d Jujur aku tidak berani menjawab. Aku takut Roy akan dicap menjadi siswa yang buruk. Tak disangka seolah-olah Pak Lukas mengetahui jalan pikiranku. \u201cTasya, asal kamu tahu, di sekolah ini tidak ada siswa yang buruk, semua baik\u201d \u201cIya, Pak,\u201d jawabku \u201cYa sudah kalau begitu. Kamu harus tetap semangat ya, satu bulan lagi kamu akan lulus, sedikit lagi!\u201d Sambil menepuk pundakku Pak Lukas meninggalkanku dan memberi senyuman seolah-olah semua akan baik-baik saja. Tak lama kemudian bel pulang sekolah berbunyi. Suster mengirimkan pesan melalui Whatsapp. Beliau memintaku untuk bertemu dengannya di ruang kepala sekolah. 154 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","Aku beranikan diri untuk datang. Aku memasuki ruangannya, hanya ada beliau dan Roy. Setelah aku masuk beliau menutup pintu. Rasanya seperti dalam persidangan, suasana sunyi. Sunyi itu pecah dengan suara, \u201cSaya tahu apa yang terjadi denganmu, Tasya. Apakah kamu ingat hari di mana kamu dan Roy duduk di depan kelas? Kalian berdua bercerita banyak hal. Pada saat itu saya berada di dalam ruang kelas itu. Kebetulan hari itu akan ada rapat di ruang tersebut, jadi dengan jelas saya mendengar pembicaraan kalian berdua. Mungkin pada saat itu kalian terlalu terburu-buru sehingga tidak sempat memperhatikan di sekitar kalian Ketika kalian membicarakan hal itu.\u201d Saat itu rasanya aku ingin lari dari ruangan itu, tapi nyatanya aku tetap duduk dan air mataku menetes dengan deras. Aku malu\u2026 Kacau! \u201cMaaf, Suster\u2026\u201d Hanya itu saja yang aku ucapkan pada saat itu. Aku tak mampu berkata kata lagi. Pikiranku campur aduk. \u201cTasya, saya sudah tahu kejadian ini sejak lama, sejak saat saya mendengar pembicaraan kalian berdua. Jika saya tidak memberi kesempatan kepada kalian berdua, mungkin setelah mendengar kejadian itu saya langsung mengeluarkan kalian atau memindahkan kalian ke sekolah lain. Tapi saya tahu bahwa kalian telah berproses di sekolah ini dan membawa nama sekolah. Saya juga tahu perjuangan kalian untuk masuk di sekolah ini. Tidak mudah bagi saya untuk mengambil keputusan begitu saja. Saya hanya menyayangkan mengapa kalian berdua sampai melakukan hal ini. Yang saya tahu kalian berdua adalah anak-anak yang baik dan aktif di sekolah. Oleh sebab itu, saya memberi kesempatan kepada kalian berdua.\u201d Setelah itu suasana makin hening, beliau melanjutkan lagi, \u201cBerarti dugaan saya diawal memang benar, Tasya. Tapi pada saat itu saya hanya berpikir positif saja\u201d Saat itu hening terjadi lagi, \u201cKami berdua minta maaf untuk kejadian ini, Suster. Kami sudah melakukan hal yang seharusnya tidak kami lakukan. Namun untuk kejadian ini, saya memang akan bertanggung jawab dan kedua keluarga kami sudah bertemu untuk rencana selanjutnya\u201d UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 155","\u201cSemua sudah terjadi, anak-anakku. saya juga sudah memberi kesempatan untuk kalian berdua. Saya akan menjaga rahasia ini. Ini bukanlah sesuatu hal yang harus disebarluaskan.\u201d \u201cTerimakasih Suster untuk kesempatan yang diberikan ke saya dan juga Roy. Entah apa yang akan terjadi jika kesempatan itu tidak ada,\u201d jawabku sambil terisak-isak. Setelah semua selesai aku dan Roy keluar ruangan. Tanganku bergetar tak henti. \u201cIni semua salah kamu! Kenapa waktu itu kasih tahu aku di sekolah?! \u2018Kan kita bisa ngomong di luar!\u201d bentak Roy. \u201cMaaf\u2026. Aku lalai,\u201d suara ku sambil menahan tangis. \u201cSemua sudah terlanjur. Gimana kalau satu sekolah tahu?! Aku malu!\u201d sahutnya kembali \u201cAku yakin semua akan baik-baik saja,\u201d aku memandangnya dan meneteslah air mataku Kami berdua pulang. Dia mengantarku sampai rumah dan bertemu mamaku. Kami berdua bercerita semua tetang hal yang terjadi hari ini. Mama memberi ketenangan untuk kami berdua. Aku menjalani hari-hari seperti biasanya, karena kelas 12 sudah selesai untuk ujian, kami pun diperbolehkan untuk tidak masuk sekolah dan bisa mempersiapkan ke universitas favorit. Tapi apalah dayaku. Aku diam di rumah membantu mama membuat kue pesanan dan kadang-kadang kontrol ke dokter. Hari-hari telah berlalu begitu cepat, hingga sampailah hari pengumuman kelulusan. Aku dan Roy lulus dari SMA, ya dari SMA kebanggaan kami berdua, SMAK Santa Maria. Kami berdua mampu untuk melewati ini semua, sedikit lega. Tak disangka selama ini Pak Lukas menjaga rahasiaku, begitu pula dengan suster. Alasanya? Ya mereka mengatakan aku adalah sama dengan teman-teman yang lain, mempunyai kewajiban dan hak yang sama. Bahkan mereka tidak ingin membuat \u2018gosip\u2019di lingkungan yang damai ini. Setelah lulus dari SMA aku tidak melanjutkan kuliah. Aku fokus pada kehamilanku yang semakin tua dan mendekati masa lahiran. Sedangkan Roy melanjutkan ke universitas yang jam kuliahnya sangat fleksibel, karena dia harus 156 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","bekerja bersamaku untuk membuka usaha. Kami berdua membuka usaha berbagai macam dessert dan kafe. Saat sekolah ada kegiatan kadang- kadang suster memesan makanan dari usahaku. Sering sekali sekolah memesan makanan dalam jumlah yang cukup banyak, bisa dibilang sekolah menjadi salah satu pelangganku. Aku sangat merasa dihargai oleh orang-orang terdekatku. Meskipun mereka mengetahui alur hidupku pada titik ini. Terutama untuk guru dan kepala sekolahku saat SMA, yang memberiku kesempatan untuk belajar saat kondisiku tidak memungkinkan. Aku berterimakasih dan siap melanjutkan ke puzzle hidupku yang selanjutnya. Tamat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 157","Zona Nyaman atau Masa Depan? Karya: Cornelia Anita Widyaningrum, S.Pd. Matahari mulai memancarkan sinarnya menyinari bumi, begitu cerahnya memberikan tanda padanya untuk memulai rutinitas kembali. Dinda pun mulai beranjak dari tempat tidur untuk bersiap memulai aktivitas yang kini berbeda. Ya, sekarang ini semua aktivitas telah berbeda semenjak pandemi melanda dunia. Tidak hanya Dinda, tetapi semua orang pun mengalami hal yang sama seperti ibu rumah tangga, petani, pekerja, dan juga pelajar sepertinya. Tetapi hal ini tidak membuatnya patah semangat. Dia, namanya Dinda yang masih belajar dibanggu SMA tetap semangat meskipun dengan adanya pandemi ini sekolah pun dilakukan di rumah, karena pembelajaran semua dilakukan jarak jauh secara online. Bukan hal yang menyedihkan, ternyata tak sedikit juga siswa yang senang dengan kegiatan pembelajaran online. Dinda pun begitu. \u201cSelamat pagi, Ma, Pa\u201d, sapa Dinda pada mama dan papanya yang hendak sarapan. \u201cPagi...,\u201d jawab orang tua Dinda serempak. \u201cTetap semangat ya sekolahnya, online \u2018kan pembelajarannya?\u201d Tanya mama Dinda. \u201cPasti dong, ma. Iya ma, masih online pembelajarannya,\u201d jawab Dinda dengan semangat. \u201cBagus, tetap semangat begitu. Bersyukur masih bisa sekolah meskipun dengan kondisi yang berbeda seperti ini. Banyak teman-teman di luar sana dengan adanya pandemi ini tidak bisa sekolah karena kurangnya fasilitas untuk bisa melakukan sekolah jarak jauh\u201d sahut Papa Dinda memberikan wejangan singkat. \u201cIya, pa. Siap!\u201d jawab Dinda sambil tersenyum. Setelah melakukan perbincangan singkat, Dinda dan orang tuanya melanjutkan untuk sarapan sebelum memulai aktivitas masing-masing. Selesai sarapan Dinda dan kedua orang tuanya melanjutkan aktivitas masing-masing. \u201cMa, Pa, aku sudah selesai. Aku mau lanjut sekolah dulu ya,\u201d ungkap Dinda. 158 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201cOke, Papa dan Mama juga lanjut kerja setelah ini,\u201d jawab papa Dinda. Dinda pun bergegas menuju ke kamar mempersiapkan perlengkapan untuk mengikuti pembelajaran online. Tak lama kemudian notifikasi kegiatan pembelajaran pun muncul. \u201cTing...\u201d Guru dan teman-teman pun mulai bergabung dalam meet. \u201cSelamat pagi, Anak-anak,\u201dguru memberikan salam dengan penuh hangat dan semangat. \u201cSelamat pagi, Bu,\u201d jawab siswa-siswi. Kami memulai pembelajaran dengan berdoa kemudian mulailah guru mempresensi dan dilanjutkan penjelasan materi pembelajaran. Guru menjelaskan materi secara detail, dan tak lupa memberikan kesempatan kepada siswa-siswi yang belum paham untuk bertanya jika belum jelas. \u201cApakah sudah jelas?\u201d Tanya guru. \u201cSudah jelas, Bu,\u201d jawab beberapa teman dengan nada sedikit rendah. Meski beberapa teman menjawab bahwa sudah jelas, tidak menutupi juga bahwa masih ada beberapa teman yang terdiam tak menjawab. Hal ini yang terkadang menjadi pertanyaan besar bahkan terkadang menjadi perdebatan apakah mereka yang terdiam itu \u2018terdiam karena jelas\u2019 atau \u2018terdiam karena tidak jelas. Tetapi guru pun tetap melanjutkan pembelajaran. \u201cOke, karena sudah jelas, untuk melihat pemahaman kalian, silakan bisa kerjakan beberapa permasalahan ini. Kalian bisa mengerjakan secara mandiri. Jika ada yang kurang jelas bisa ditanyakan ke saya,\u201d kata guru menjelaskan tugas. \u201cBaik, Bu,\u201d jawab para siswa. Meet pun berakhir dan peserta didik mulai melakukan kegiatan mandiri menyelesaikan tugas yang diberikan. Dinda juga mulai mengerjakan tugas yang diberikan. Kegiatan seperti ini ia lewati setiap hari dengan melakukan pembelajaran di depan layar. Awalnya ia sangat senang dan semangat untuk belajar jarak jauh karena dilakukan di rumah. Ya tentunya karena selain juga sekolah ia bisa melihat film favoritnya. Tetapi semakin ke sini, rasa itu semakin luntur. Materi pembelajaran hari demi hari pun tingkat kesulitannya juga berbeda. Tidak semua UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 159","materi dapat diterima dengan cara online. Kegundahan mulai menyelubungi dirinya. Kondisi ini juga membuat Dinda bosan dan kurang semangat dalam mengikuti pembelajaran, meski tetap mengikuti setiap hari tanpa skip. Sampai di suatu hari ketika situasi sudah lebih membaik, ada informasi bahwa sekolah akan mulai dibuka dan kegiatan pembelajaran akan dilakukan secara terbatas di sekolah. Dan ternyata beberapa hari berikutnya ada info dari sekolah Dinda, SMAK Santa Maria bahwa memang akan dilakukan pembelajaran tatap muka terbatas dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat. Mendapat informasi tersebut ia pun langsung menyampaikan ke orangtuanya. \u201cMa, Pa, sekolah mau dibuka lho. Tapi memang masih terbatas,\u201d Dinda menginfokan keorang tuanya. Mama Dinda menjawab, \u201cTetapi pelaksanaannya bagaimana itu? Aman tidak? Mama masih was- was.\u201d \u201cBesok ada sosialisasi dulu, Ma,\u201djawab Dinda. Setelah mendengar sosialisasi dari sekolah orang tua Dinda mengizinkannya untuk mengikuti pembelajaran di sekolah karena memang pembelajaran juga terbatas dan menerapkan protokol kesehatan. Ia senang sekali bisa mengikuti pembelajaran di sekolah. \u201cHhhh Akhirnya,\u201d gumam Dinda senang. Hari Senin adalah hari pertama ke sekolah. Dinda senang sekali mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah. Ia dengan semangat datang ke sekolah, bisa bertemu dengan guru dan teman-teman secara langsung dan bisa belajar bersama secara langsung juga. Sebelumnya hanya berkomunikasi melalui HP secara online sekarang bisa bertemu, meskipun belum bisa semua. Hari pertama PTMT sangatlah sepi, tidak banyak teman yang mengikuti. \u201cHalo. Aku Dinda,\u201d Dinda mengajak kenalan temannya. \u201cHai. Aku Ana,\u201d jawab Ana. Dinda menyapa teman-teman yang ada. Tak lama kemudian guru masuk ke kelas untuk memulai pembelajaran. Karena pembelajaran secara terbatas dan siswa yang datang bergilir, ada yang di sekolah ada yang di rumah, maka 160 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","pembelajan secara hybrid agar teman-teman yang ada di rumah juga bisa mengikuti pembelajaran sama seperti yang di sekolah. Setelah melakukan pembelajaran di sekolah, ternyata lebih mudah untuk memahami materi. Meskipun cara penyampaian guru ketika pembelajaran sama. Sebelum pembelajaran usai guru bertanya, \u201dBagaimana lebih enak pembelajaran luring atau daring?\u201d \u201cLuring, Bu,\u201d jawab Doni. \u201cO iya, kenapa begitu? \u2018Kan sama saja yang didapat baik di sekolah atau pun di rumah,\u201d tanya sang guru. \u201cIya, enak di sekolah bu. Kalau di sekolah bisa lihat langsung, bertanya langsung, lebih fokus tidak banyak godaan jadi materinya lebih paham hehehe,\u201d jawab Doni. \u201cOh begitu. Tapi ingat ya kalian sudah memilih maka diusahakan konsisten sesuai dengan pilihan kalian. Kalau sudah memilih luring ya jalani sesuai pilihan kalian,\u201d jawab guru sambil sambil menegaskan. \u201cIya, Bu,\u201d jawab siswa-siswi serempak. Siswa senang melakukan pembelajaran di sekolah, semakin hari makin bertambah siswa yang ke sekolah. Tetapi sepertinya rasa senang itu belum seutuhnya dirasakan oleh para siswa. Suatu ketika ulangan harian diadakan, Dinda terheran karena banyak teman-teman yang seharusnya luring tapi kenyataannya mereka memilih daring. Di hari itu ia mendapat giliran luring juga. Sayangnya ketika masuk ke kelas suasana sepi. \u201cKok masih sepi ya?\u201d Dinda bertanya. Tak lama kemudian Ana ternyata juga datang ke sekolah. \u201cHai Din, pagi banget kamu datengnya? Tapi kok sepi ya?\u201d Tanya Ana. \u201cIya dong, membiasakan untuk tepat waktu aja,\u201d sambil tersenyum. \u201cIya nih...tumben ya masih sepi,\u201d jawab Dinda. \u201cMungkin pada takut karena ada penilaian harian ya?\u201d Ana menebak. \u201cMasak sih?\u201d Tanya Dinda. \u201cYa \u2018kan kalau di sekolah kurang bebas, kalau daring \u2018kan bisa bebas,\u201d jawab Ana. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 161","\u201cPadahal \u2018kan sama ya. Kita harus melatih kemampuan kita dengan jujur biar kita juga bisa mengukur kemampuan kita sendiri ya \u2018kan?\u201d Dinda bertanya \u201cIya juga sih,\u201d jawab Ana. Guru yang mengajar pun masuk ke kelas. Guru tersebut juga terkejut melihat kelasnya. \u201cLoh, kok hanya kalian berdua? Teman yang lain mana?\u201d Tanya guru itu dengan nada sedikit shock . Dinda dan Ana saling memandang \u201cSepertinya mereka takut karena ada penilaian harian, Bu,\u201d jawab Dinda dan Ana bersama. \u201cLoh, memang kenapa? \u2018Kan sama saja di rumah atau pun di sekolah.\u201d Meskipun begitu pembelajaran di kelas tetap dimulai seperti biasa dan penilaian harian juga tetap dilaksanakan. Ketika di rumah, Dinda bercerita dengan mama dan papa tentang kejadian di sekolah. \u201cMa, Pa, aku mau cerita deh,\u201dkata Dinda. \u201cApa, nak?\u201d Jawab mama dan papa Dinda. \u201cTadi beberapa temen aku yang jadwalnya sama seperti aku tidak datang ke sekolah,\u201d kata Dinda. \u201cKenapa? Ada apa?\u201d tanya mama Dinda. \u201cIya...Sepertinya mereka takut karena hari ini ada penilaian harian,\u201d jawab Dinda. \u201cOh begitu,\u201d jawab mama Dinda. Papa Dinda pun menyahut, \u201cNak, ingat ya. Kamu sudah memilih untuk mengikuti pembelajaran luring, Papa dan Mama juga mengizinkan. Maka kamu harus belajar untuk konsisten dengan pilihan dan keputusan kamu ya. Ada kesempatan baik gunakan dengan baik juga, ingat dengan impian kamu. Kamu kan ingin melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Kamu masih punya impian yang sama \u2018kan?\u201d \u201cTentu, Pa,\u201d jawab Dinda. Mama Dinda pun berkata, 162 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201cIya Nak, betul yang disampaikan Papa. Kamu sudah memilih ya diusahakan untuk konsisten dengan itu. Mungkin pembelajaran daring lebih nyaman, lebih bebas. Nah, sekarang tinggal kamu mau bagaimana mau tetap di zona nyaman?\u201d Setelah mendengar perkataan mama dan papa Dinda pun termenung berpikir. Tak lama kemudian ia zjin untuk ke kamar. \u201cOke, Ma, Pa. Aku ke kamar dulu ya,\u201d kata Dinda. Sesampainya di kamar, Dinda menjadi merenungkan pembicaraan tadi bersama dengan orang tuanya. \u201cBetul juga ya yang dikatakan mama dan papa. Aku mengikuti pembelajaran secara daring memang juga bisa memahami tetapi dengan aku mengikuti pembelajaran luring aku bisa lebih paham. Kalau aku hanya di zona nyaman tetap bisa meraih impianku tapi apa maksimal?\u201d Dinda berpikir menanyakan pada diri sendiri. Keesokan harinya Dinda telah memutuskan bahwa dia akan kelua dari zona nyaman agar bisa meraih impiannya lebih maksimal. Ia tetap mengikuti pembelajaran sesuai jadwal, bahkan Dinda juga bertanya ke guru apakah boleh kalau ikut pembelajaran di sekolah setiap hari. Dan ternyata diperbolehkan asalkan kuota kelas masih mencukupi tidak melebihi batas sesuai protokol kesehatan. Ketika di sekolah ia juga memotivasi teman kelasnya. \u201cDinda, kamu luring setiap hari?\u201d Tanya Ana. \u201cIya, Na\u201d jawab Dinda. \u201cKamu tidak bosan?\u201d Tanya Ana lagi. \u201cTidak. Kan aku juga sudah memilih untuk luring jadi aku berusaha konsisten dengan pilihanku.\u201d \u201cWahh...Betul juga ya, Din. Aku menjadi termoivasi nih,\u201d jawab Ana. \u201cIya, Na. Demi masa depan kita juga,\u201d kata Dinda. Ana pun ikut termotivasi, meskipun Ana hanya sesuai jadwal. Tidak masalah itu sudah lebih baik. Pilihan setiap pribadi memang berbeda, jalani sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Itulah yang dilakukan Dinda dan Ana. Tamat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 163","Semua Tentang Martabat Karya: Angga Kristya W, S.Pd. Surabaya, 28 Januari 2022, 03.15 WIB Bagaimana mungkin semua barang mewah ini gagal menghilangkan penat yang bertumpuk di mata dan leher belakangku. Kadang ingin rasanya aku marah semarah-marahnya, meledak-ledak dengan pecahan tangis. Bukan karena apa, namun tantangan demi tantangan ini begitu melelahkan. Kucecap lagi es kopi ini walaupun kafein sebenarnya sudah tidak bisa memberikan cadangan kekuatan pada otakku yang panas. Gelap kupandang langit dini hari dari balik jendela kamar hotel yang kubiarkan gordennya terbuka selebar- lebarnya untuk mengurangi sesakku. Di luar sana, di bawah langit gelap itu, lautan lampu warna warni yang menghiasi kota. What am I doing? Bodoh, tidak ada waktu untuk semua keluh kesah ini. \u201cAyo Gito! Di bahumu ada ribuan kehidupan karyawan dan keluarganya. Jika terasa berat, tunduklah, minta pertolonganNya.\u201d Kujatuhkan tubuhku bertumpu pada kedua lututku. Dengan hirupan napas panjang kututup mataku yang kering setelah terjaga semalaman memikirkan dilema yang sebenarnya aku sudah tahu jawaban pastinya yang benar. Jadi bukan solusi yang akan kuminta, tapi kekuatan. \u201cKuatkan aku dalam kebenaran.\u201d Dan segaris sinar merah itupun muncul. Terbit menyingkap semua keindahan yang disembunyikan kegelapan. \u201cTerimakasih Tuhan. Aku tidak tersesat\u201d. Terang kubuka mata setelah alarm empat puluh lima menit ku berbunyi. Tidurku singkat tapi cukup. Cukup untuk kembali berjuang. Seperti biasanya barang bawaanku tidak perlu dibereskan karena mereka selalu terkemas rapih agar tidak membuang waktuku yang terus berkejaran. Mandi singkat dan kutata rambutku. Mata tidak bisa menyembunyikan kelelahannya, tapi aku siap dengan tangan yang kuat. Tujuh belas panggilan tak terjawab dan ribuan pesan whatsapp sudah menunggu untuk ku respon. Kuserahkan barang bawaanku kepada asistenku dan aku pun berjalan mantab dengan handphone yang segera terhubung, 164 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","\u201cBro, umak kok edan? (Bro, kamu kok gila?) anak bawang seperti kamu tahu apa??? Ga usah sombong, ini 5 Miliar. MI.LI.AR. Bro. Aku ngerti kamu lagi butuh untuk tim binaanmu. Bukan menghina ya, anggaplah kita saling tolong, semua orang juga begitu. Sudahlah terima saja. Toh barangku bagus, ga akan ada yang tau itu grade tiga.\u201d Sembur orang diseberang telpon begitu tersambung. \u201cKo, maaf banget. Keputusanku sudah bulat.\u201d Jawabku dengan yakin dan tenang. \u201cBulat yang seperti apa? Kamu harus jungkir balik supaya dapat sponsor untuk tim-mu. Ini lima miliar bonus pemulus aja To, jangan berlagak seperti manusia yang bermartabat begitu.\u201d \u201cKita ketemu enam jam lagi di Jakarta ya, Ko.\u201d Di pesawat aku siapin presentasi untuk benih tani yang Ko Doni tawarkan. Aku belum tahu apa yang harus kurencanakan untuk menenangkan Ko Doni. Tidak bisa kutolak mentah-mentah tawarannya karena kami bersahabat sejak lama. Bukan perkara nepotismenya, tapi ada hubungan baik yang harus dihargai dan dipelihara. Hidup tidak hanya tentang kurun waktu kita saja. Tapi ada masa depan di mana anak-anak kita juga akan berhubungan. Hubungan baik, kualitas produk, daya saing harga, keberlanjutan bisnis. Dulu rasanya jadi pebisnis begitu keren. Setelah benar-benar jadi pebisnis ya memang benar keren, tapi semua itu datang sepaket dengan beban pikiran yang luar biasa. Perkenalkan. Aku Gito Yusuf Umar Jefri. Seorang guru olahraga di sekolah swasta dari Malang, yang juga seorang pelatih baseball, softball, dan pencak silat, di mana rata-rata atletnya berasal dari kalangan menengah ke bawah bahkan bisa dibilang dari masyarakat kecil yang memang perlu dibantu agar masa depanya dapat meningkatkan tingkat kesejahteraanya. Selain itu aku juga menjalani bisnis di bidang pertanian padi dan palawija. Aku memilih bisnis ini karena tergila-gila dengan keindahan alam negeri tercintaku Indonesia ini. Indahnya tanaman padi ini bisa membingkai keagungan ciptaanNya. Setelah sekian lama akhirnya berdirilah C.V. Nirwani Tani, sebuah perusahaan penangkar benih padi dan palawija milikku. Dari perusahaan inilah aku mampu membiayai atlet-atletku sampai terbentuk sebuah wadah untuk menampung mereka yang kuberi nama Green Orca Baseball Softball Club UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 165","Malang dan Kampung Atlet Perisai Diri. Namun, sejak harga pupuk melambung tinggi, kuakui perusahaanku pun sedang goyah. Seperti perusahaan penangkar lainnya yang sama-sama diterpa badai tingginya harga pupuk. Aku sedang berjuang mempersiapkan tim untuk mengikuti kejuaraan mayor yang harus diikuti demi masa depan mereka. Minggu lalu aku memenangkan tender pengadaan gabah untuk daerah terpencil. Sebuah proyek yang besar dan tidak mungkin ditunda walaupun kondisi ekonomi sekarang ini sedang susah. Proyek ini bersangkutan dengan persiapan manajemen untuk memberangkatkan tim yang saya latih serta berhubungan dengan kualitas pangan masyarakat di sana. Pemerintah pusat dan daerah memutuskan untuk terus melanjutkan proyek ini meski dengan situasi ekonomi yang pelik seperti ini. Dengan separuh niat untuk mengabdi dan separuhnya lagi untuk menyambung hidup perusahaan kuberikan tawaran kerjasama yang paling menguntungkan kedua belah pihak. Tidak banyak untung, benar-benar hanya sekedar cukup. Butuh tiga bulan penuh kerja lembur semua tim kami untuk mempersiapkannya. Akhirnya kami menang dan ujian itu datang satu menit setelah pemenang tender diumumkan. Ratusan suplier benih menghubungi kami mencoba peruntungannya walaupun perusahaan dengan skala seperti kami biasanya sudah memiliki suplier benih tetap yaitu Tani Bahagia milik Yoga. Semakin ngotot dan semakin gila tawaran yang mereka berikan, bisa dimaklumi mengingat kondisi perekonomian sekarang ini. Perusahaan Yoga adalah partner tetap pengadaan benih kami. Akan tetapi, jika kuambil benih darinya, keuntungan yang akan kudapat tidak mampu menyelesaikan masalah tingginya harga pupuk dan belum mampu menutup semua biaya club dan padepokanku. Sedangkan tawaran produk baru dari Ko Doni dengan bonus pelicin menggiurkan mampu menyelesaikan permasalahanku saat ini. Tawaran yang langsung ditembakkan begitu tender ini kami menangkan. Lima miliar bonus yang akan kami dapatkan jika kami mau menggunakan benih dua grade di bawah kualitas yang kami janjikan dalam penawaran proyek kami. Produk benih baru yang belum banyak teruji sehingga wajar jika mereka mempunyai dana promosi 166 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","demikian besar untuk membuktikan diri. Kami bisa saja mengambil produk ini karena produk baru belum tentu buruk walaupun secara material dibuat dari bahan-bahan berkualitas lebih rendah, karena saat ini ilmu pengetahuan sangat maju. Bahan-bahan yang tadinya dipandang sebelah matapun dapat memberikan performa yang prima dengan racikan formula baru yang mantab. Hanya saja batas waktu pengerjaan proyek ini tidak memungkinkan adanya tambahan jadwal untuk pengujian bahan ini. Risiko paling kecilnya adalah tidak tumbuhnya benih yang kami tanam, namun risiko paling kecil ini pun akan bernilai milyaran jika benar-benar terjadi. Sebuah beban berat terutama untuk pemerintah daerah yang sedang berjuang untuk maju. Jika dibiarkan pun akan berisiko meningkatnya angka gizi buruk dan yang paling penting adalah hasil dari bisnis ini kugunakan untuk biaya atlet-atlet binaanku. Apa iya aku harus memberi mereka makan dari hasil usaha yang belum jelasa tingkat halalnya. Lima miliar dapat menyelesaikan permasalahan tingginya harga pupuk dan menjamin keberlangsungan perusahaanku, club dan padepokanku setidaknya untuk 5 tahun ke depan. Ko Doni tahu bahwa saat ini aku sangat membutuhkan uang, sehingga dia berani menawarkan kerja sama itu padauk. Tapi, nama baik yang sudah kurintis sejak memulai usaha akan dipertaruhkan. Bukan bahan ini yang kami janjikan. Tentunya kami bisa sisihkan seratus atau dua ratus juta untuk melobi perihal penggantian bahan, sehingga jika terjadi yang dikhawatirkan kami bisa lempar tanggung jawab. Tapi bukan itu intinya, kebarokahan hasilnya yang menjadi masalah utama pada hatiku. Para pejuang nafkah keluarga dan juga para generasi penerus bangsa dari kota Malang. Andai ada waktu untuk pengujian produk. Tapi tidak ada andai dalam dunia nyata. Haruskah aku ambil resiko yang belum tentu terjadi? Tapi dari list bahan pembuatannya rasanya ada yang mengganjal, laporan tim analisa bahanku pun turut menambah besar ganjalan itu. Tapi ini lima milyar. Kami bisa tenang mengejar proyek lain dengan jaminan hidup nyaman lima tahun ke depan. Tapi. Dan tapi tidak akan berujung jika nafsu dan kepengecutan ini aku biarkan. Kubuka laptopku dan kukerjakan apa yang kujanjikan. Biarlah sedikit apa yang kami dapatkan asalkan dapat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 167","menyematkan satu lagi kebanggaan bagi nama baik keluarga kami. Sambil kubayangkan wajah anak-anakku dan atlet binaanku yang tegap tanpa harus menanggung malu kesempatan lima milyar ini kukorbankan. Tiba-tiba aku teringat akan janji Allah kepada hambanya, \u201cBarang siapa yang bersandar kepada-Ku dengan tetap menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Ku, akan Kuberika kebahagiaan yang tidak terputus.\u201d Senyumku mengembang lebar. Aku menjadi lebih berani lagi menjalani jalanan sulit ini. Jakarta, 28 Januari 2022, 11.00 WIB Bismillahirrohmanirrohim. Ya Allah sesungguhnya kupasrah-kan seluruh hidupku dan matiku hanya di tangan-Mu. Sesungguhnya aku bersandar hanya kepada-Mu. Allahumma shalli alla sayyidina Muhammad, doa yang kupanjatkan kepada Rabbiku saat kulangkahkan kaki memasuki ruang presentasi di salah satu ruang hotel century Senayan, Jakarta. Kulihat tatapan penuh harap dari semua suplier yang ada di dalam ruang itu, kulihat Yoga suplier benih tetapku yang selalu mengutamakan kejujuran dan kutatap Ko Doni yang memberikan senyuman sambal mengepalkan tanganya kepadaku dengan maksud menyemangatiku. \u201cPak Gito, presentasi sudah siap dilaksanakan!\u201d Seru asistenku. \u201cOke! Terima kasih ya, Nin. Doakan lancar ya,\u201d bisikku kepada asistenku Dengan semangat ku mulai memaparkan programku, hingga tak terasa sudah 15 menit berlalu, sampailah pada saat aku menyampaikan dengan siapa aku berkerjasama perihal pengadaan benih padi yang kutanam. \u201cDalam proyek ini, saya akan berkejasama denga C.V Tani Bahagia untuk pengadaan benih padi yang akan ditanam nanti dengan grade benih label kuning sehingga mendapatkan hasil gabah yang berkualitas untuk ditanam lagi oleh petani setempat dan label ungu untuk dikonsumsi oleh masyarakat sekitar. Dengan program ini, petani juga akan diberi edukasi perihal cara bertani yang benar sehingga pemerintah daerah setempat dapat terus menghasilkan tanaman pangan yang bagus dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan 168 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","menurunkan tingkat gizi buruk di daerah tersebut. Sekian presentasi perusahaan kami untuk Indonesia lebih sehat.\u201d Setelah kuakhiri presentasiku, secara serempak para peserta berdiri dan memberikan ucapan selamat kepadaku termasuk Ko Doni dan dia membisikan sebuah kalimat di telingaku, \u201cKutunggu kau di lobi bawah,\u201d bisik Ko Doni. Kutemui dia di tempat yang telah ditunjuk, \u201cUmak pancen edan bro!( kamu memang gila bro!) Kenapa tidak kau pandang persahabatan kita? Lalu bagaimana nasib tim binaanmu jika kau sok suci seperti ini?!\u201d bentak Ko Doni kepadaku. \u201cKo, umak oleh ngamuk nang aku (Ko kamu boleh marah ke saya),tapi suatu saat nanti Koko akan mengerti maksud dari keputusanku ini!\u201d jawabku singkat sambil berjabat tangan denganya dan meninggalkanya. Malang, 7 Februari 2022 \u201cStar! Ayo Star jangan jongkok! Malah kram kamu nanti,\u201d aku mengingatkan muridku Star Nurani Howay yang berjongkok hanya lima meter dari gerbang sekolah yang juga menjadi garis finish pemanasan lari hari ini. Sepertinya karena takut benar-benar kram dia langsung melompat dan berjalan terengah-engah menyelesaikan tugas larinya. \u201cStar Nurani Howay 5 menit 23 detik,\u201d aku mengumumkan dan mencatat. \u201cPak Gito, korting 23 detik lah\u201d Kuayunkan bolpenku menyuruhnya masuk, tanda catatanku tidak bisa ditawar. Dia merengut, mengkhawatirkan nilai olahraganya. Dia hanya ingin rapornya sempurna. Tapi begitulah bibit-bibit istimewa ini. Mereka semua istimewa tapi dalam keahlian masing-masingnya. Star jelas lebih lemah fisiknya dibanding teman-teman lainnya. Tapi dia bintang Biologi yang jadi kebanggaan kami para guru SMAK Santa Maria. Aku berlalu menuju lapangan basket di mana murid- muridku menunggu. Kuperintahkan murid-muridku untuk melakukan cooling down, sebuah kegiatan pendinginan yang biasa dilakukan oleh manusia setelah melakukan aktivitas olahraga sehingga terhindar dari bahaya cedera. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 169","Setelah kegiatan mengajarku telah usai, aku berjalan menuju ruang guru, telepon genggamku berbunyi, \u201cSelamat pagi, Bapak Gito.\u201d Suara Wanita menyapaku di telepon. \u201cBapak, mohon informasi perihal alamat pengiriman pupuk sebagai bantuan proyek pangan dari pemerintah,\u201d lanjut suara wanita itu. \u201cMemangnya dapat bantuankah dari pemerintah, Mbak?\u201d tanyaku, \u201cKan tidak ada kesepakatan!\u201d \u201cIya, Bapak. Sebagai apresiasi terhadap program Bapak yang mengutamakan kesejahteraan masyarakat tani jangka panjang.\u201d \u201cALHAMDULILLAH!\u201d teriakku dalam hati tanda syukurku. Setelah kujelaskan apa yang perlu dijelaskan, lalu kututup teleponku. Tidak lama berselang, telepon genggamku kembali berbunyi dan kutahu itu dari Amar mantan muridku dulu di SMK Penerbangan Sidoarjo yang saat ini telah menjadi karyawan sukses di sebuah perusahaan penerbangan sipil di Hongkong. \u201cBapakGito, bagaimana kabarnya?\u201d tanya dia memulai percakapan. \u201cApik le, onok opo le? (Bagus nak, ada apa nak?)\u201d \u201cPak, krungu-krungu Bapak butuh sponsor gawe tim-e Bapak, ngge?\u201d (Pak, dengar-dengar bapak butuh sponsor untuk tim bapak?) \u201cIyo mar, tapi durung oleh sponsor Mar wong situasi pandemik ngene, Mar. Kabeh butuh duit, Mar.\u201d (Iya Mar, tapi belum dapat sponsor karena situasi Pandemi seperti ini, semua butuh uang Mar) \u201cAlhamdulillah, Pak. Ini ada donator, Pak. Direktur saya sendiri, Pak, mencari sebuah organisasi baik berupa induk organisasi, club, maupun sejenisnya senilai 7 Miliar tanpa syarat. Apakah Bapak mau?\u201d \u201cMAU!\u201d jawabku cepat \u201cSyukurku kepada-Mu Ya Rabbi,\u201d ucapku dalam hati. Malang, 17 Februari 2022 Ku ayunkan dengan gagah Langkah kakiku menuju lapangan Taman Gayam tempat latihan atlet binaanku. Dengan semangat kupersiapkan mereka menghadapi sebuah kejuaraan yang bisa mengubah nasib mereka. 170 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT","Tak sengaja ku menoleh kebelakangku dan kulihat ada Ko Doni di sana, kuhampiri dia dan dia pun berkata, \u201cBro, alasan apa engkau menolak tawaran kerjasamaku tempo hari, dan bagaimana engkau bisa melanjutkan tim binaanmu ini?\u201d Kujawab pertanyaan dengan tegas sambil menunjuk kearah atlet binaanku yang sedang berlatih, \u201cKO, SEGALANYA MEMANG BUTUH UANG, AKAN TETAPI UANG BUKAN SEGALANYA. JADILAH MANUSIA YANG BERMARTABAT, KARENA MARTABAT ITULAH ENGKAU AKAN MENEMUKAN KEBAHAGIAAN!\u201d \u201cLihatlah mereka, dengan sportivitas dan kepolosan yang mereka punya, mereka tidak peduli hasil dari kejuaraan nanti bagaimana, yang mereka tahu adalah berkerja keras dan jujur. Mereka yakin Tuhan akan memberikan mereka kebahagiaan selama manusia menjaga martabatnya meskipun dia ada dalam kesulitan.\u201d \u201cAKU DAN MEREKA TAK AKAN PERNAH MENJUAL MARTABAT KAMI HANYA DEMI UANG!\u201d Tamat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 171","172 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT",""]


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook