ASUHAN KEPERAWATAN PADA Nn. I DENGAN WAHAM KEBESARAN DALAM TINJAUAN TEORI INTERPERSONAL PEPLAU DIRUANGAN RUSUNAWA RSUD KABUPATEN BANGGAI KARYA ILMIAH AKHIR NERS (KIA-N) Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan program Studi Pendidikan Profesi Ners Pada Politeknik Kesehatan Kemenkes Palu Jurusan Keperawatan DISUSUN OLEH : NURLAELA M. NAWIR PO7120422130 POLTEKKES KEMENTERIAN KESEHATAN PALU JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS TAHUN 2022-2023
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING Karya Ilmiah Akhir Ners telah diperiksa dan disetujui untuk diuji oleh Tim Penguji Program Studi Profesi Ners Politeknik Kesehatan Kemenkes Palu. Nama: Nurlaela M. Nawir Nim : PO7120422130 Palu, 2023 Pembimbing I, Helena Pangaribuan,S.Kep.,Ns,M.Kep NIP. 19720520199603 2002 Palu, 2023 Pembimbing II, Supirno S.Kep, Ns.,M.Kep NIP.19671004198603 1001 Mengetahui Ketua Program Studi Keperawatan Palu Dr. Irsanty Collein, M.Kep,Ns,SP.Kep.MB NIP. 197910112000122003 ii
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI Karya Ilmiah Akhir Ners telah diperiksa dan disetujui untuk diuji oleh Tim Penguji Program Studi Profesi Ners Politeknik Kesehatan Kemenkes Palu. Nama: Nurlaela M. Nawir Nim : PO7120422130 Tim Penguji, Aminuddin, S.Kep.Ns.M.Kes Penguji 1 NIP. 196305101983031005 Dr. Sri Musriniawati Hasan, S.Kep.,Ns.,M.Med.Ed Penguji 2 NIP. 197201121994032003 Eli Saripah, S.Kep,Ns.,M.Kep,SP.Kep,J Penguji 3 NIP. 198505202008012003 Mengetahui, Menyetujui, Direktur Poltekkes Kemenkes Palu Ketua Jurusan Keperawatan Tengku Iskandar Faisal, S.Kp.,M.Kes Dr. Andi Fatmawati Syamsu, S.Kep,Ners,M.Kep,Sp,Kep.An NIP. 197007081993031005 NIP. 197506272002122001 iii
KATA PENGANTAR ِِب ْســــــــــــــــــ ِِم ال ِِل ال َّر ْح َم ِِن ال َّر ِح ْي ِم Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah Subhanallahu Wata’ala yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulisan laporan karya ilmiah akhir ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Laporan Karya Ilmiah ini dilakukan untuk menyelesaikan pendidikan Profesi Ners. Penulis menyadari bahwa laporan karya ilmiah akhir ini dapat diselesaikan berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Peneliti berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan konstribusi dalam penyelesaian laporan karya ilmiah akhir ini dan secara khusus pada kesempatan ini peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada bapak/ibu : 1. Bapak Tengku Iskandar Faisal, S.Kp.,M.Kes, Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Palu 2. Ibu Dr. Andi Fatmawati Syamsu, S.Kep,Ners,M.Kep,Sp,Kep.An, Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Palu 3. Ibu Dr. Irsanty Collein, M.Kep,Ns,SP.Kep.MB, Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Ners Politeknik Kesehatan Kemenkes Palu 4. Ibu Helena Panggaribuan.S.Kep.Ns.M.Kep, Pembimbing utama yang telah meluangkan banyak waktu untuk memberikan arahan, saran dan masukan yang membangun dan memotivasi sehingga peneliti dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir ini. iv
5. Bapak Supirno.S.Kep.Ns.M.Kep, Pembimbing pendamping yang telah meluangkan banyak waktu untuk memberikan arahan, saran dan masukan yang membangun dan memotivasi sehingga peneliti dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. 6. Bapak Aminuddin, S.Kep.Ns.M.Kes, Penguji utama yang dengan cermat memberikan arahan, masukan dan memberikan koreksi untuk penyempurnaan karya ilmiah ini. 7. Ibu Dr. Sri Musriniawati Hasan, S.Kep.,Ns.,M.Med.Ed, Penguji kedua yang dengan cermat memberikan arahan, masukan dan memberikan koreksi untuk penyempurnaan karya ilmiah akhir ini. 8. Ibu Eli Saripah, S.Kep,Ns.,M.Kep,SP.Kep,J, Penguji tiga yang dengan cermat memberikan arahan, masukan Dan memberikan koreksi untuk penyempurnaan karya ilmiah ini. 9. Seluruh dosen dan staff Politeknik Kesehatan Kemenkes Palu Jurusan Keperawatan, yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan, memotivasi dan memberikan arahan serta pengalaman belajar yang sangat berkesan bagi peneliti di Politeknik Kesehatan Kemenkes Palu. 10. Kedua orang tua peneliti yang telah mendoakan, memberikan dukungan material dan psikis, memberikan semangat kepada peneliti, dengan berbagai banyak pengorbanan dan perjuangan yang tidak ada duanya agar peneliti dapat menyelesaikan studi di Politeknik Kesehatan Kemenkes Palu. 11. Karya ilmiah akhir ini merupakan persembahan istimewa untuk orang yang Spesial (Mas Ary). v
Akhir kata, peneliti berharap Allah subhanahu wa ta’ala berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga tugas akhir ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Palu, 19 Juli 2023 Nurlaela M. Nawir vi
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALU PROGRAM STUDI PROFESI PENDIDIKAN NERS KEPERAWATAN Nurlaela M. Nawir, 2022. Asuhan Keperawatan Pada Nn. I Dengan Waham Kebesaran Dalam Tinjauan Teori Interpersonal Peplau Diruangan Rusunawa RSUD Kabupaten Banggai, Karya Ilmiah Akhir Ners Prodi Profesi Ners Jurusan Keperawatan Poltekes Kemenkes Palu. Pembimbing (1) Helena Pangaribuan (2) Supirno ABSTRAK (i-vi + 78 halaman + 12 tabel+ 5 lampiran) Latar Belakang : Setiap perubahan situasi kehidupan, baik itu positif ataupun negatif, dapat memicu reaksi fisik, mental, dan sosial yang berbeda. Perkembangan teknologi juga berdampak pada perubahan situasi kehidupan yang seringkali bersifat stresor, yang dapat meningkatkan risiko terhadap gangguan jiwa. Hal ini lebih berpengaruh pada individu yang rentan terhadap stres, sehingga membuat risiko gangguan jiwa semakin tinggi. Tujuan : Menghilangkan suatu perilaku positif atau pun negatif yang dapat memicu reaksi fisik, mental, dan social yang berbeda. Yang juga berdampak pada perubahan situasi kehidupan yang sering sekali bersifat stresor, yang dapat meningkatkan risiko terhadap gangguan jiwa Metode : Penulis menggunakan metode deskriptif, ada pun samplenya adalah Nn. I sedangkan proses pengumpulan datanya dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik yang bertujuan untuk membantu dalam penegakan diagnosisi dan perencanaan keperawatan. Hasil penelitian : Pengkajian yang didapatkan dilaksanakan dalam implementasi keperawatan dan melakukan evaluasi pada klien Nn. I dengan diagnosa keperawatan waham kebesaran selama 3 hari diruangan rusunawa RSUD Kabupaten Banggai. Data disajikan kemudian data dibahas dan dibandingkan dengan konsep asuhan keperawatan secara teori. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan metode induksi. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penulisan tersebut maka penulis menyimpulkan saat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan proses pikir waham Kebesaran perlu dilakukan pendekatan secara terus menerus. Kata Kunci : Teori Interpersonal Peplau : Asuhan Keperawatan; Kesehatan Jiwa; Waham Kebesaran. Daftar Pustaka: 32 referensi (2014-2023). vii
POLYTECHNIC OF HEALTH MINISTRY OF HEALTH PALU NERS NURSING PROFESSIONAL STUDY PROGRAM Nurlaela M. Nawir, 2022. Upbringing Nursing At Ms. I With delusion Greatness In Overview Peplau's Interpersonal Theory in the Room Rusunawa District Hospital Proud, Karya Final Scientific Nurse Profession Study Program Nurse Major Nursing Poltekkes Kemenkes Palu. Advisor (1) Helena Pangaribuan (2) Supirno ABSTRACT ( i-viii + 78 pages + 12 tables + 5 appendices ) Background rear : Every change situation life, fine That positive or negative, yes trigger reaction physical, mental and social differences. Development Technology also has an impact on change situation life often characteristic stressor, which can increase risk to disturbance soul. This more effect on susceptible individuals to stress, so make risk disturbance soul the more high. Purpose : Remove something behavior positive or even negative trigger reaction different physical, mental and social. Which also has an impact on change situation frequent lifevery characteristic stressor, which can increase risk to disturbance soul. Method : Writer use method descriptive, there are samples is Ms. I while the collection process the data with method interview, observation and examination physical aim For help in enforcement diagnosis and planning nursing. Research results : The studies that were obtained held in implementation nursing and doing evaluation on the client Ms. I with diagnosis nursing delusion greatness for 3 days in the room Rusunawa District Hospital proud. Data presented Then the data is discussed and compared with draft care nursing in a manner theory. Withdrawal conclusion done with method induction. Conclusion : Based on results writing the so writer conclude moment give care nursing to patients with thought process disorder delusion Greatness need done approach in a manner Keep going continuously. Keywords : Peplau's Interpersonal Theory : Upbringing Nursing; Mental Health; delusion greatness. Bibliography: 32 references (2014-2023). viii
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..................................................................................................... i LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................................... ii LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI ................................................................. iii KATA PENGANTAR................................................................................................... iv ABSTRAK..................................................................................................................... vii ABSTRCT ..................................................................................................................... viii DAFTAR ISI ................................................................................................................. ix DAFTAR GAMBAR..................................................................................................... xii DAFTAR TABEL ......................................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................. xiv BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1 1.1 Latar Belakang......................................................................................................... 1 1.2 Perumusan Masalah................................................................................................. 4 1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 4 1.3.1 Tujuan Umum ............................................................................................... 4 1.3.2 Tujuan Khusus .............................................................................................. 4 1.4 Manfaat Penulisan............................................................................................ 6 1.4.1 Bagi Tempat Penelitian................................................................................. 6 1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan .............................................................................. 6 1.4.3 Bagi Peneliti.................................................................................................. 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 7 2.1 Konsep Teori Keperawatan ..................................................................................... 7 2.2 Konsep Penyakit Terkait.......................................................................................... 11 2.3 Konsep Asuhan Keperawatan Terkait ..................................................................... 26 BAB III LAPORAN KASUS KELOLAAN .............................................................. 34 3.1 Metodologi Penelitian.............................................................................................. 34 3.1.2 Rancangan Penelitian.................................................................................... 34 3.1.3 Lokasi Dan Waktu Penelitian ....................................................................... 35 3.1.4 Subyek Penelitian.......................................................................................... 35 3.1.5 Variabel Dan Definisi Operasional............................................................... 35 3.1.6 Teknik Pengumpulan Data............................................................................ 36 3.1.7 Uji Keabsahan Data ...................................................................................... 37 ix
3.1.8 Analisis Data................................................................................................. 37 3.2 Laporan Kasus Kelolaan.......................................................................................... 39 3.2.1 Pengkajian..................................................................................................... 39 3.2.2 Diagnosa Keperawatan ................................................................................. 49 3.2.3 Perencanaan Keperawatan ............................................................................ 51 3.2.4 Implementasi Dan Evaluasi Keperawatan .................................................... 53 3.2.5 Catatan Perkembangan.................................................................................. 57 BAB IV ANALISIS...................................................................................................... 65 4.1 Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep Kasus Terkait .............................. 65 4.2 Analisis Intervensi Utama Dengan Konsep Dan Penelitian .................................... 67 4.3 Alternatif Pemecahan Yang Dapat Dilakukan......................................................... 68 BAB V PENUTUP ....................................................................................................... 72 5.1 Kesimpulan.............................................................................................................. 72 5.2 Saran ........................................................................................................................ 73 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 75 DAFTAR LAMPIRAN x
DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Perencanaan Keperawatan .................................................................... 28 Tabel 2.2 Strategi Pelaksanaan ............................................................................. 37 Tabel 3.1 Mekanisme Koping ............................................................................... 54 Tabel 3.2 Masalah Psikososial dan Lingkungan ................................................... 54 Tabel 3.3 Analisa Data.......................................................................................... 57 Tabel 3.4 Strategi Pelaksanaan ............................................................................. 58 Tabel 3.5 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan ............................................. 60 Tabel 3.6 Evaluasi................................................................................................. 63 Tabel 3.7 Catatan Perkembangan hari pertama..................................................... 64 Tabel 3.8 Evaluasi Catatan Perkembangan hari pertama...................................... 66 Tabel 3.9 Evaluasi Catatan Perkembangan hari kedua ......................................... 67 Tabel 3.10 Evaluasi Catatan Perkembangan hari ketiga....................................... 70 xi
DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Rentan Respon .................................................................................. 23 Gambar 2.2 Pathway ............................................................................................. 24 Gambar 3.1 Genogram .......................................................................................... 49 Gambar 3.2 Pohon Masalah .................................................................................. 56 xii
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup Lampiran 2 Surat Pernyataan Keaslian Penelitian Lampiran 3 Lembar Konsultasi Lampiran 4 LP Askep Lampiran 5 Askep xiii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap perubahan situasi kehidupan, baik itu positif ataupun negatif, dapat memicu reaksi fisik, mental, dan sosial yang berbeda. Perkembangan teknologi juga berdampak pada perubahan situasi kehidupan yang seringkali bersifat stresor, yang dapat meningkatkan risiko terhadap gangguan jiwa. Hal ini lebih berpengaruh pada individu yang rentan terhadap stres, sehingga membuat risiko gangguan jiwa semakin tinggi. kesehatan jiwa adalah keadaan kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial yang melibatkan kemampuan seseorang untuk mengatasi stres, berinteraksi dengan orang lain, dan menjalani kehidupan secara seimbang. Kesehatan jiwa merujuk pada keadaan di mana seseorang dapat mengalami perkembangan yang seimbang secara fisik, mental, spiritual, dan social. Dalam kondisi ini, individu memiliki kesadaran akan kemampuan diri, mampu mengatasi tekanan, bekerja secara produktif, dan memberikan kontribusi bagi komunitasnya. kondisi perkembangan yang tidak sesuai dapat menyebabkan gangguan jiwa (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014). Menurut (Syahfitri et al., 2022). gangguan proses pikir waham adalah suatu kondisi di mana seseorang memegang keyakinan yang sangat tidak mungkin dan tidak masuk akal, meskipun tidak ada bukti yang jelas untuk mendukung keyakinan tersebut. Individu yang mengalami gangguan proses pikir waham akan tetap teguh memegang keyakinan mereka, bahkan ketika keyakinan tersebut bertentangan dengan pandangan orang lain atau tidak diterima secara umum. 1
2 Menurut (Manurung and Pardede 2022). Prevelensi Amerika Serikat askizofrenia telah mengalami gangguan jiwa saat ini dan 30% penduduk diperkirakan akan mengalami gangguan jiwa pada usia tertentu selama hidupnya.. hasil Riset Kesehatan Dasar menunjukkan bahwa sekitar 6,7 rumah tangga dari setiap 1.000 rumah tangga di Indonesia memiliki anggota keluarga yang mengidap skizofrenia atau psikosis. Prevalensi ini memberikan gambaran tentang tingkat keberadaan gangguan tersebut dalam populasi rumah tangga di Indonesia. Informasi ini penting dalam memahami dampak dan kebutuhan perawatan untuk individu dengan skizofrenia atau psikosis. Data ini memberikan gambaran mengenai sejauh mana gangguan tersebut mempengaruhi populasi di Indonesia. Namun, perlu diingat bahwa prevalensi ini didasarkan pada studi Riskesdas 2018 dan dapat berbeda dari penelitian lainnya atau mengalami perubahan seiring waktu (Kemenkes RI 2018). Di sebuah komunitas orang tua di San Francisco, dilaporkan bahwa sejumlah individu mengalami gejala kecurigaan sebanyak 17% dan gangguan proses pikir waham sebanyak 13% (Syahfitri et al. 2022). Prevalensi gangguan proses pikir waham dalam populasi umum sekitar 0,18, sedangkan pada rawat inap psikiatri prevalensinya berkisar antara 1% hingga 4%. Sebagai tenaga profesional, perawat memiliki kewajiban untuk memberikan bantuan dan perawatan kepada klien yang mengalami kondisi gangguan proses pikir waham dan juga kepada keluarga mereka. Melalui peran dan tanggung jawab ini, perawat dapat memberikan dukungan dan perawatan yang holistik kepada klien dan keluarga yang mengalami
3 gangguan proses pikir waham, membantu mereka dalam pemulihan, dan meningkatkan kualitas hidup mereka (American Nurses Association 2014).. Dalam praktek keperawatan, perawat harus selalu berupaya untuk hadir secara utuh baik fisik maupun psikologis dalam setiap interaksi dengan klien. Ini penting untuk memastikan kualitas perawatan yang optimal, meningkatkan kepercayaan klien, dan membangun hubungan terapeutik yang baik (Berman, A., Snyder, S., & Frandsen, G. (2016). Memberikan asuhan keperawatan yang terarah dan efektif, teori keperawatan memiliki peran penting sebagai landasan dalam melakukan tindakan. Teori keperawatan memberikan kerangka konseptual yang membantu perawat memahami dan menjelaskan fenomena kesehatan, memprediksi hasil yang diharapkan, serta mengarahkan intervensi yang tepat (Melanie McEwen 2019). Banyak teori keperawatan digunakan untuk menjalankan tugas keperawatan. Salah satunya adalah Hilda Model Konsep Keperawatan. Menurut teori Peplau, keperawatan adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri dan orang lain dengan menggunakan dasar hubungan antar manusia, yang terdiri dari empat elemen utama: klien, perawat, dan masalah kecemasan. Yang disebabkan oleh sakit (sumber kesulitan), dan proses interpersonal. Melalui pengembangan paradigma hubungan interpersonal ini, perawat dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang apa yang terjadi selama hubungan perawat-klien dan apa yang dapat perawat pelajari dari tanggapan klien terhadap pengalaman yang berkaitan dengan kesehatan dan penyakitnya (Carlos António Laranjeira, Ana Isabel Fernandes Querido 2021).
4 Perawat yang memberikan Asuhan keperawatan kepada pasien di rumah sakit masih kurang dalam melakukan hubungan interpesonal kepada pasien jadi perlu meningkatkan hubungan interpersonal yaitu pendekatan menggunakan komunikasi terapeutik kepada pasien agar terciptanya hubungan saling percaya antara perawat dengan pasien dan bisa tercapai tujuan asuhan keperawatan. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik membahas tentang “Asuhan Keperawatan Pada Nn. I Dengan Waham Kebesaran Dalam Tinjauan Teori Interpersonal Peplau Diruangan Rusunawa RSUD Kabupaten Banggai” 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian dan latar belakang di atas penulis tertarik maka yang akan menjadi rumasan masalah yaitu “Asuhan Keperawatan Pada Nn. I Dengan Waham Kebesaran Dalam Tinjauan Teori Interpersonal Peplau Diruangan Rusunawa RSUD Kabupaten Banggai\" 1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum Mahasiswa mampu menerapkan \"Asuhan Keperawatan Pada Nn. I Dengan Waham Kebesaran Dalam Tinjauan Teori Interpersonal Peplau Diruangan Rusunawa RSUD Kabupaten Banggai\" 1.3.2 Tujuan Khusus Setelah melakukan pengkajian Asuhan Keperawatan Pada Nn. I Dengan Waham Kebesaran Dalam Tinjauan Teori Interpersonal Peplau Diruangan Rusunawa RSUD Kabupaten Banggai, Mahasiswa/i diharapkan mampu :
5 a. Mahasiswa mampu mengetahui definisi, penyebab, tanda dan gejala, rentang respon dan penatalaksanaan pada klien Waham Kebesaran. b. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian, Analisa data, Diagnosa, Perencanaan, Implementasi ,Evaluasi, pada Nn. I Dengan Waham Kebesaran Dalam Tinjauan Teori Interpersonal Peplau Diruangan Rusunawa RSUD Kabupaten Banggai. c. Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan Keperawatan Pada Nn. I Dengan Waham Kebesaran Dalam Tinjauan Teori Interpersonal Peplau Diruangan Rusunawa RSUD Kabupaten Banggai. d. Mahasiswa mampu menetapkan intervensi keperawatan pada Nn.I Dengan waham Kebesaran dalam tinjauan teori interpersonal Peplau Diruangan Rusunawa RSUD Kabupaten Banggai e. Mahasiswa mampu melakukan implementasi Keperawatan Pada Nn. I Dengan Waham Kebesaran Dalam Tinjauan Teori Interpersonal Peplau Diruangan Rusunawa RSUD Kabupaten Banggai. f. Mahasiswa mampu mengevaluasi hasil Asuhan Keperawatan Pada Nn. I Dengan Waham Kebesaran Dalam Tinjauan Teori Interpersonal Peplau Diruangan Rusunawa RSUD Kabupaten Banggai.
6 1.4 Manfaat Penulisan 1.4.1 Bagi Tempat Penelitian Diharapkan dapat menjadi acuan dalam menangani atau dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dengan Waham Kebesaran dirusunawa RSUD Kabupaten Banggai. 1.4.2 Bagi institusi Pendidikan Manfaat praktisi bagi instansi akademik yaitu dapat digunakan sebagai referensi bagi institusi pendidikan untuk mengembangkan ilmu tentang Asuhan Keperawatan Pada Nn. I Dengan Waham Kebesaran Dalam Tinjauan Teori Interpersonal Peplau 1.4.3 Bagi Peneliti Dapat menambah pengetahuan bagi peneliti tentang pelayanan Kesehatan jiwa kepada pasien dengan Waham Kebesaran di rusunawa RSUD Kabupaten Banggai.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Teori Keperawatan Menurut Vogelsang (2022) Teori Hubungan Interpersonal Peplau didasarkan Dalam pandangan Hildegard E. Peplau, keperawatan dipandang sebagai suatu hubungan antara perawat dan pasien yang melibatkan pemenuhan kebutuhan emosional, sosial, dan fisik pasien selama perawatan. Peplau mengakui bahwa pasien tidak hanya memiliki kebutuhan fisik yang harus terpenuhi, tetapi juga kebutuhan emosional dan sosial yang mempengaruhi kesejahteraan mereka. Peplau menekankan bahwa perawat memiliki peran aktif dalam membantu pasien mencapai kesehatan dan pemulihan. Perawat tidak hanya berperan sebagai penyedia perawatan fisik, tetapi juga sebagai pendamping, penasihat, dan pendukung emosional bagi pasien. Perawat berfungsi sebagai sumber informasi, pendidik, dan fasilitator dalam membangun hubungan terapeutik yang saling mempengaruhi dengan pasien. a. Sejarah Hildegard E Peplau Hildegard E. Peplau lahir di Reading, Pennsylvania pada tahun 1909 (Amerika Serikat). Dikenal sebagai pelopor keperawatan jiwa dengan karir lebih dari 7 dekade. Latar belakang pekerjaannya adalah sebagai psikiater. Peplau meninggal pada 17 Maret 1999 di Oaks, California. Pada tahun 1931, Hildegard E. Peplau mendapatkan gelar D3 keperawatan di Pottstown, Pennsylvania. Pada tahun 1943, Peplau 7
8 menyelesaikan sarjana di Bennington dengan jurusan psikologi interpersonal. Pada tahun 1947, dia mendapatkan gelar profesor dari Universitas Columbia, New York, dan menyelesaikan keperawatan psikiatri. Teorinya disebut sebagai \"ibu menyusui jiwa\". Lingkup pekerjaannya sebagai perawat psikiatri juga memengaruhi kontribusinya dalam keperawatan sebagai ahli keperawatan psikiatri, pendidik, penulis, dan ahli teori. Sejarahnya sebagai perintis keperawatan psikiatrik modern ditandai dengan publikasinya pada tahun 1952 berjudul “Interpersonal Relations in Nursing”. Paradigma keperawatan dikeluarkan sehubungan dengan publikasinya di bidang ini. Keperawatan adalah kegiatan memberikan perawatan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat, baik dalam keadaan sakit maupun sehat (Kemenkes, 2019). b. Konsep utama teori Peplau Hildegard Peplau, seorang perawat psikiatri, memperkenalkan konsep interpersonalnya pada tahun 1952. Inti dari teori Peplau adalah penggunaan hubungan terapeutik antara perawat dan klien. Teori dan konsep limitasi menurut Peplau tertuang dalam bukunya yang berjudul “Interpersonal Relations in Nursing”. Buku ini awalnya diterbitkan pada tahun 1952. Model konseptual dan teori keterlibatan Peplau menjelaskan kemampuan untuk memahami diri sendiri dan orang lain dengan menggunakan dasar hubungan manusia yang meliputi proses interpersonal, perawat-klien, dan masalah kecemasan yang terjadi akibat
9 penyakit. Dalam istilah \"teori keperawatan\", maksudnya adalah upaya untuk menggambarkan dan menjelaskan berbagai aspek keperawatan (Mathematics, 2016) c. Teori keperawatan peplau dan komponen utama keperawatan Peplau menjelaskan teori dan model keperawatan sebagai kemampuan untuk memahami diri sendiri dan orang lain dengan menggunakan dasar hubungan manusia, yang terdiri dari 4 elemen utama: 1) Pasien Sistem yang berkembang memiliki sifat biokimia, fisiologis, interpersonal, dan kebutuhan. Mereka selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dan mengintegrasikan belajar dari pengalaman. Proses interpersonal langsung mempengaruhi pasien. 2) Perawat Perawat bertanggung jawab untuk mengatur tujuan dan proses interaksi interpersonal dengan pasien yang berpartisipasi, sedangkan pasien mengendalikan isi tujuan. 3) Masalah Kecemasan yang terjadi akibat sakit / Sumber Kesulitan Ansietas berat terjadi ketika komunikasi dengan orang lain mengancam keamanan psikologis dan biologi seseorang dan menyebabkan kesulitan mengintegrasikan pengalaman masa lalu dengan pengalaman saat ini.
10 4) Proses Interpersonal interaksi interpersonal yang dimaksudkan antara perawat dan pasien, yang terdiri dari 4 tahap di mana perawat melakukan transpormasi energi atau ansietas pasien (Ashori n.d.). Di setiap fase diperlukan peran yang berbeda sesuaidengan kebutuhan klien. fase antara lain: a) Fase Orientasi Pada fase ini, perawat dan klien bertindak sebagai dua orang yang belum saling mengenal. Klien memerlukan bantuan profesional selama fase orientasi, dan perawat membantu klien mengidentifikasi dan memahami masalahnya serta menentukan kebutuhan klien saat ini. b) Fase Identifikasi Pada tahap ini, klien harus menemukan jawaban atau mengidentifikasi masalahnya dengan orang yang dianggap memahami masalahnya. Respon yang diberikan kepada setiap klien berbeda satu sama lain. Di sini, perawat melakukan eksplorasi perasaan dan membantu klien menghadapi penyakitnya sebagai sebuah pengalaman yang mengorientasikan ulang perasaannya, menguatkan kekuatan positif pada pribadi klien, dan memberikan kepuasan yang diperlukan.
11 c) Fase Eksploitasi Pada tahap ini, perawat memberikan layanan keperawatan sesuai dengan kebutuhan pasien. Ini adalah tempat di mana setiap orang mulai merasa penting untuk berpartisipasi dalam proses interpersonal. Selama fase eksploitasi, klien mengambil secara penuh nilai yang ditawarkan kepadanya melalui hubungan. Selama fase eksploitasi ini, perawat membantu kalien memberikan gambaran yang lebih baik tentang kondisi klien. Pada tahap ini, perawat juga harus menguasai keterampilan komunikasi terapeutik. 2.2 Konsep penyakit yang terkait Skizofrenia 1. Pengertian Penyakit Skizofrenia Skizofrenia ialah penyakit yang mempengaruhi bagian dari otak dan menyebabkan timbulnya pemikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku yang terganggu. Skizofrenia tidak bisa diartikan sebagai penyakit tunggal, karena merupakan suatu proses penyakit yang mencakup banyak macam dan berbagai gejala (Hutama and 2022 n.d.). Sebagian besar pasien skizofrenia memiliki gejala positif, seperti halusinasi dan delusi, dan gejala negatif, seperti penarikan diri dari lingkungan sosial, pengabaian diri, penurunan motivasi dan inisiatif, serta emosi yang tumpul (Sari 2019).
12 1. Jenis-jenis skizofrenia Skizorfenia terbagi menjadi lima jenis yaitu Skizofrenia Paranoid, Skizofrenia Simpleks, Skizofrenia Katatonik, Skizofrenia Hebrefenik, dan Skizofrenia Residual (Windarsyah, Husnul Khatimi, and Ryan Maulana 2017). Skizorfenia terdiri dari lima kategori, yaitu : a) Skizofrenia Paranoid Skizofrenia paranoid adalah jenis skizofrenia yang paling umum terjadi, dengan gejala utama delusi dan halusinasi terhadap ketakutan tertentu. Penderita penyakit ini sering kali sangat curiga pada orang disekitarnya, yang membuat sulit untuk mengendalikan emosi atau keinginan mereka. b) Skizofrenia Simpleks Skizofrenia simpleks adalah jenis skizofrenia yang tidak lazim yang berkembang secara bertahap dengan gejala negatif skizofrenia, seperti penurunan kinerja dan ketidakmampuan untuk memenuhi tuntutan masyarakat. c) Skizofrenia Katatonik Skizofrenia katatonik adalah kondisi yang paling langka, biasanya ditandai dengan gerakan yang terbatas, tiba-tiba, dan tidak biasa. Penderitanya dapat dengan cepat beralih dari sangat aktif ke diam atau sebaliknya. Selain itu,
13 mereka tidak banyak berbicara, tetapi mereka sering meniru gerakan atau ucapan orang lain. d) Skizofrenia Hebrefenik Skizofrenia hebrefrenik adalah gangguan mental yang ditandai dengan perilaku, pembicaraan, dan pikiran yang cenderung kacau dan tidak logis seperti orang biasa disertai dengan halusinasi. Ini adalah jenis skizofrenia yang paling parah karena pasien sulit untuk beraktivitas dan berkegiatan secara baik. e) Skizofrenia Residual Skizofrenia residual adalah jenis skizofrenia yang berlangsung lama, dengan riwayat sedikitnya satu episode psikotik yang jelas dan gejala negatif yang lebih menonjol, Penderita akan bersikap eksentrik (aneh atau tidak wajar) dan menghindari lingkungan sosial. 2. Konsep Dasar Waham 1. Pengertian Waham Waham adalah sebuah keyakinan atau presepsi yang tidak benar yang tidak dapat diubah meskipun ada bukti yang membantahnya. Seseorang yang mengalami satu atau lebih khayalan yang tidak biasa selama setidaknya satu bulan dikenal sebagai gangguan proses pikir waham ini. Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang
14 dipertahankan dengan kuat atau terus menerus tetapi tidak sesuai dengan kenyataan (Fitrianingsih 2022). Waham adalah keyakinan pasien yang tidak sesuai dengan kenyataan dan tidak dapat diubah oleh orang lain karena pemikiran mereka sudah kehilangan kontrol (Fauziah and Kesumawati 2021). Waham, juga dikenal sebagai gangguan orientasi realita, adalah gangguan yang mengubah proses kognitif dan dapat ditangani secara medis atau keperawatan. Rencana tindakan keperawatan dapat digunakan untuk menyusun asuhan keperawatan untuk kasus waham. Membantu orientasi realitas, membahas kebutuhan yang belum terpenuhi, membantu pasien memenuhi kebutuhannya, membahas dan melatih kemampuan yang dimiliki, dan memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur adalah beberapa rencana tindakan yang telah dibuat. Rencana kegiatan yang telah dibuat kemudian digunakan untuk membuat rencana tindakan keperawatan (Fitria & Sofian 2017 waham - Google Search n.d.). Dari definisi diatas disimpulkan Waham adalah keyakinan yang kuat dan terus menerus yang didasarkan pada kesimpulan yang salah tentang dunia nyata. Sebanyak 60% penderita skizofrenia mengalami waham yang menetap dan intesitas yang berat. Untuk setiap 100.000 orang, ada sekitar 24 hingga 30 kasus gangguan waham. Waham juga diartikan sebagai keyakinan yang salah yang dipertahankan tetapi tidak benar (Azizah 2023). Waham dikategorikan berdasarkan temanya; ini
15 berguna karena ada beberapa korelasi antara tema dan bentuk utama penyakit jiwa (Vita Camelia 2016) yaitu : a. Waham Kejar Sebuah waham di mana pasien diganggu, diganggu, ditipu, disiksa, atau dilawan oleh kelompok. b. Waham Referensi Keyakinan bahwa sesuatu, peristiwa, atau individu memiliki makna unik bagi pasien Dalam kebanyakan kasus, bentuk negatifnya berasal dari konsep referensi, di mana seseorang secara salah mengira ia sedang dibicarakan oleh orang lain. c. Waham Kebesaran Menunjukkan ketertarikan, kekuatan, kemampuan, pengetahuan, atau identitas yang berlebihan atau hubungan yang signifikan dengan dewa atau orang terkenal. d. Waham rasa bersalah dan Ketidakberhargaan Lebih sering disebut sebagai depresi dan terkadang disebut sebagai waham depresi. Kesalahan hukum yang kecil akan ditemukan dan membuat pasien malu, atau keluarganya akan dihukum karena kesalahannya. e. Waham Nihilistik Merupakan keyakinan bahwa beberapa orang atau sesuatu tidak ada. Namun, pemahaman ini berkembang hingga mencakup gagasan pesimis bahwa karir pasien akan berakhir,
16 bahwa pasien akan meninggal, bahwa mereka tidak memiliki uang, atau bahwa dunia adalah malapetaka. Waham nihilistik dikaitkan dengan depresi yang ekstrem. f. Waham Somatik Percaya yang salah tentang fungsi tubuh pasien. Ini terjadi ketika pasien memiliki cacat fisik atau kondisi medis umum. g. Waham Agama Waham yang berisi nilai agama, yang lebih sering terjadi pada abad ke-19 daripada di masa sekarang, mungkin merupakan bagian terbesar dari agama yang dijalankan dalam kehidupan orang biasa di masa lalu. Jika Anda memiliki keyakinan agama yang tidak biasa dan dipegang dengan kuat di antara anggota kelompok agama minoritas, Anda mungkin ingin berbicara tentangnya dengan orang lain sebelum membuat keputusan apakah keyakinan tersebut tidak biasa atau tidak. h. Waham Cemburu Percaya palsu yang berasal dari kecemburuan patologis bahwa kekasih pasien tidak jujur. i. Waham Seksual atau Cinta (Erotomania) Keduanya tidak sering terjadi, tetapi mereka lebih sering terjadi pada wanita. Halusinasi somatik yang dirasakan pada genital seringkali merupakan akibat sekunder dari waham
17 seksual. Seorang wanita dengan waham cinta percaya bahwa ia dicintai oleh pria dari golongan sosial yang lebih tinggi, kepada siapa dia belum pernah bicara, dan yang biasanya tidak dapat digapai. j. Waham Pengendalian Percaya bahwa perasaan, tindakan, dan kemauan benar-benar berasal dan dipengaruhi atau diatur oleh orang atau kekuatan dari luar. 3. Etiologi faktor penyebab terjadinya gangguan waham digolongkan menjadi beberapa faktor, Menurut (Hapsari 2022) faktor penyebab waham yaitu : 1) Faktor predisposisi (Predisposing factor) Faktor predisposisi terdiri dari tiga faktor, yaitu faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor sosial budaya. 2) Faktor biologis Waham diyakini hasil dari atrofi otak, pembesaran otak ventrikel, atau perubahan sel kortikal dan lemas. Kelainan otak yang menyebabkan respons gangguan neurologis maladaptif yang baru mulai dipahami. Masalah ini termasuk hal-hal berikut : a) Keterlibatan luas otak dan perkembangan skizofrenia telah muncul dalam penelitian pencitraan otak. Lesi pada area frontal, temporal, dan limbik adalah yang paling berhubungan dengan perilaku psikotik.
18 b) Beberapa bahan kimia yang ada di otak berhubungan dengan skizofrenia. Hasil penelitian menunjukkan hal-hal berikut: kadar dopamin neurotransmitter yang berlebihan; ketidakseimbangan antara dopamin dan neurotransmitter lain; dan masalah dengan sistem respons dopamine. Misalnya, dibandingkan dengan pasangan saudara kandung yang tidak didiagnosis, kembar identik yang dibesarkan secara terpisah mengalami tingkat kejadian skizofrenia yang lebih tinggi. 3) Faktor psikologis Studi belum mendukung tori psikodinamika yang mempelajari reaksi neurobiologi yang tidak sesuai. Teori psikologi lama menyalahkan keluarga karena gangguan ini, menyebabkan keluarga tidak percaya pada tenaga kesehatan jiwa profesional. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan waham ini adalah perbedaan perlakuan dalam keluarga. Misalnya, sosok ibu cemas, sedangkan sosok ayah tidak peduli. 4) Faktor sosial budaya Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai konsep atau tingkah laku baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Kebudayaan seseorang juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya, misalnya melalui aturan kebiasaan yang ada di dalamnya.
19 5) Faktor biologis Waham dapat disebabkan oleh berbagai zat dan kondisi medis non- psikiatrik. Ini menunjukkan bahwa faktor biologis yang jelas dapat menyebabkan waham. Namun, tidak semua orang yang menderita tumor mengalami waham. Klien yang mengalami waham karena penyakit neurologis dan tidak menunjukkan gangguan intelektual cenderung mengalami waham kompleks yang serupa dengan penderita gangguan intelektual. Sebaliknya, penderita gangguan neurologis dengan gangguan intelektual sering mengalami waham sederhana. Jenis waham sederhana ini berbeda dari waham yang dialami oleh klien yang mengalami gangguan waham. 6) Faktor psikodinamik Banyak klien dengan gangguan waham hidup dalam kondisi sosial yang terisolasi dan pencapaian kehidupan mereka tidak sesuai dengan harapan. Anggapan tentang orang yang hipersensitif dan mekanisme ego tertentu, pembentukan reaksi, proyeksi, dan penyangkalan adalah bagian dari teori psikodinamik khusus yang berkaitan dengan penyebab dan perkembangan gejala waham. 7) Mekanisme defense Klien dengan gangguan waham menggunakan mekanisme defensi seperti proyeksi, penyangkalan, dan pembentukan reaksi untuk melindungi diri dari agresi, kebutuhan untuk bergantung, dan perasaan afeksi. Mereka juga menggunakan pembentukan reaksi
20 untuk mengubah kebutuhan untuk bergantung menjadi ketidaktergantungan yang berkelanjutan. 4. Tanda dan Gejala Menurut (Hapsari 2022) Beberapa kategori gejala gangguan waham adalah kognitif, afektif, perilaku, dan hubungan sosial, serta gejala fisik. a. Gejala kognitif waham : 1) Tidak mampu membedakan realita dan fantasi 2) Keyakinan yang kuat terhadap keyakinan palsunya 3) Mengalami kesulitan dalam berpikir realita 4) Tidak mampu dalam mengambil keputusan b. Gejala afektif waham : 1) Situasi yang tidak sesuai dengan kenyataan 2) Afek tumpul (blunted affect) c. Gejala perilaku dan hubungan social : 1) Hipersensitifitas 2) Depresi 3) Ragu-ragu 4) Hubungan interpersonal dengan orang lain bersifat dangkal 5) Mengancam secara verbal 6) Aktivitas tidak tepat 7) Impulsive 8) Curiga 9) Pola pikir stereotip
21 d. Gejala fisik : 1) Kebersihan diri kurang 2) Muka pucat 3) Sering menguap 4) Turunnya berat badan dan nafsu makan 5) Sulit tidur 5. Fase – Fase Waham Menurut (Hapsari 2022) proses terjadinya waham melibatkan fase-fase berikut ini : 1) Fase kurangnya kebutuhan manusia (Lack of human need) Waham dimulai dengan terbatasnya kebutuhan fisik maupun psikis klien. Secara fisik, klien dengan gangguan waham memiliki keterbatasan status sosial dan ekonomi. Keinginan klien yang biasanya sangat miskin dan menderita untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mendorong untuk melakukan kompensasi (pencarian kepuasan dalam suatu bidang tertentu) yang salah 2) Fase kurangnya kepercayaan diri (Lack of self esteem) Ketiadaan pengakuan dari lingkungan, tingginya kesenjangan antara ideal diri dan realita, dan kebutuhan yang tak terpenuhi sesuai dengan standar lingkungan membuat seseorang merasa menderita, malu, dan merasa tidak berharga.
22 3) Fase kendali internal dan eksternal (Control internal and external) Bagi klien dengan gangguan waham, menghadapi kenyataan adalah suatau hal yang sulit. Klien mencoba berfikir secara logis bahwa apa yang diyakini dan apa yang dikatakannya adalah suatu kebohongan yang dilakukan untuk menutupi kekurangan. Kekurangan itu seperti ketidakcukupan materi, kebutuhan akan pengakuan dan penerimaan, merupakan suatu yang belum terpenuhi secara optimal sejak kecil. 4) Fase dukungan lingkungan (Environment support) Kepercayaan beberapa orang dalam lingkungan terhadap klien membuat klien merasa didukung. Lama kelamaan, perkataan yang terus menerus diulang oleh orang di lingkungannya tersebut membuat klien kehilangan kendali diri dan mengakibatkan tidak berfungsinya norma (super ego) yang ditandai dengan ketiadaan perasaan berdosa saat berbohong. 5) Fase kenyamanan (Comforting) Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya. Ia juga menganggap bahwa semua orang sama, yaitu mereka akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan ini sering disertai dengan halusinasi dan terjadi ketika klien menyendiri dari lingkungannya. Pada tahap selanjutnya, klien lebih sering meyendiri dan menghidari interaksi sosial (isolasi sosial).
23 6) Fase peningkatan (Improving) Ketiadaan konfrontasi dan upaya-upaya koreksi dapat meningkatkan keyakinan yang salah pada klien. Tema waham yang sering muncul adalah tema seputar pengalaman traumatik masa lalu atau kebutuhan- kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang). 6. Rentan Respon Sumber : (Utami 2015) . 7. Akibat yang sering muncul Klien mungkin mengalami gangguan komunikasi verbal yang nyata dengan pikiran yang tidak realistis, pelarian ide, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang buruk Konsekuensi lainnya adalah risiko melukai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
24 8. Pathway Sumber : (Knowles 2011) Gambar 2.2 Pathway 9. Penatalaksanaan Menurut Waluyo (2023) Untuk memberi kesempatan lebih kepada pasien dan keluarga mereka secara pribadi, terapi obat (psikofarmaka) yang berkelanjutan pada pasien Shizofrenia juga dianggap penting, jenis obat psikofarmaka adalah :
25 1) Chlorpromazine Indikasi untuk mensupresi gejala psikosa: agitasi, ansietas, ketegangan, kebingungan, insomnia, halusinasi, waham, dan gejala lain yang biasa terjadi pada penderita skizofrenia, mania depresif, gangguan personalitas, psikosa involution, dan psikosa masa kecil. 2) Haloperidol Ini menunjukkan gejala gangguan psikotik, sindroma gilles de la toureette, dan gangguan perilaku berat pada anak-anak. Dosis oral untuk orang dewasa berkisar antara 1-6 mg per hari, dibagi menjadi 6-15 mg dalam keadaan berat. Mereka dapat menunjukkan depresi sistem saraf pusat, koma, penyakit parkinson, atau hipersensitif terhadap haloperidol. Salah satu efek samping yang paling umum adalah mengantuk, kaku, lesu, letih, dan gelisah. 3) Antikolinergik Indikasi dan kontraindikasi obat antikolinergik adalah obat yang mempengaruhi fungsi persarafan. Di dalam tubuh manusia terdiri dari beribu-ribu sel saraf. Sel saraf satu dengan yang lainnya berkomunikasi melalui zat yang disebut sebagai neurotransmitter. Terdapat berbagai jenis neurotransmitter tergantung pada jenis sel sarafnya. Salah satu neurotransmitter utama di tubuh kita adalah asetilkolin.
26 4) ECT (Electroconvulsive Therapy) ECT melakukan kejang grandmal secara tidak alami dengan melewatkan aliran listrik melalui elektrode yang dipasang di salah satu atau dua temples. Untuk skizofrenia yang tidak mempan dengan terapi neuroleptika oral atau injeksi, terapi kejang listrik diberikan dengan dosis 4-5 joule/detik. 2.3 Konsep Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian Keperawatan Pengkajian adalah tahap awal proses keperawatan dan merupakan proses pengumpulan data yang sistematis dari berbagai sumber untuk menilai status kesehatan klien (Rizal 2019). Klien dengan gangguan orientasi realitas dibawa ke rumah sakit karena sering mengucapkan kata-kata yang mengancam dan mengatakan bahwa mereka membenci seseorang. Klien juga sering membentak dan menyerang orang yang dianggapnya mengganggu ketika ia kesal. Klien juga sering merusak barang dan kehilangan kendali. Klien juga sering mengungkapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan, pelarian ide, pengulangan kata-kata yang diucapkan. Selain itu, klien sering mengungkapkan keyakinan mereka, termasuk tentang agama, kehebatan, kecurigaan, dan keadaan, secara berlebihan tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Biasanya klien tampak tidak memiliki orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang,
27 lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak mampu menilai lingkungan dan kenyataan, ekspresi wajah tegang, dan mudah tersinggung. 3.3 Diagnosa Keperawatan Diagnosis keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya, baik yang aktual maupun potensial (Sabrina 2018). a. Waham b. Resiko mencederai diri sendiri dan lingkungan c. Harga diri rendah d. Kerusakan komunikasi verbal
4.3 Perencanaan Keperawatan Tabel 2.1 Perencanaan Keperawatan Diagnosa Tujuan Gangguan 1. Oreintasi L. 09090 Setelah proses pikir : a. Verbalisasi waham a. M waham D.0105 menurun dis b. Perilaku waham menurun b. M c. Perilaku sesuai realita pe membaik c. Ti d. Isi pikir sesuai realita d. M membaik e. Pembicaraan membaik
28 Perencanaan Kriteria Evaluasi Intervensi h interaksi klien : Manajemen Waham (I.09295) Mau menerima kehadiran perawat Observasi sampingnya a. Monitor waham yang isinya Mengatakan mau menerima bantuan membahayakan diri sendiri, erawat orang lain, dan lingkungan b. Monitor efek terapeutik dan idak menunjukkan tanda-tanda curiga efek samping obat Mengijinkan duduk disamping Terapeutik a. Bina hubungan interpersonal saling percaya b. Tunjukkan sikap tidak menghakimi secara konsisten c. Diskusikan waham dengan berfokus pada perasaan yang mendasari waham (“Anda terlihat seperti sedang merasa ketakutan”) d. Hindari perdebatan tentang keyakinan yang keliru,
29 nyatakan keraguan sesuai fakta e. Hindari memperkuat gagasan waham f. Sediakan lingkungan aman dan nyaman g. Berikan aktivitas rekreasi dan pengalihan sesuai kebutuhan h. Lakukan intervensi pengontrolan perilaku waham (Mis: limit setting, pembatasan wilayah, pengekangan fisik, atau seklusi) Edukasi a. Anjurkan mengungkapkan dan memvalidasi waham (uji realitas) dengan orang yang dipercaya (pemberi asuhan/keluarga) b. Anjurkan melakukan rutinitas harian secara konsisten c. Latih manajemen stres d. Jelaskan tentang waham serta penyakit terkait (mis: delirium, skizofrenia, atau depresi), cara mengatasi dan obat yang diberikan
Sumber (Jaya 2016). Tabel 2.2 Strategi Pelaksanaan Masalah Tindakan Keperawatan Keperawatan Waham SP I p 1. Membantu orientasi realita 2. Mendiskusikan kebutuhan yang 3. Membantu pasien memenuhi ke
30 Kolaborasi a. Kolaborasi pemberian obat, sesuai indikasi n Untuk Pasien Tindakan Keperawatan Untuk Keluarga g tidak terpenuhi SP I k ebutuhannya 1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien 2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala waham, dan jenis waham yang dialami pasien beserta proses terjadinya
4. Menganjurkan pasien memasuk kegiatan harian SP II p 1. Mengevaluasi jadwal kegiatan 2. Berdiskusi tentang kemampuan 3. Melatih kemampuan yang dimi SP III p 1. Mengevaluasi jadwal kegiatan 2. Memberikan pendidikan keseha penggunaan obat secara teratur 3. Menganjurkan pasien memasuk kegiatan harian
31 kkan dalam jadwal 3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien waham harian pasien SP II k n yang dimiliki 1. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien iliki dengan waham 2. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien waham harian pasien SP III k atan tentang 1. Membantu keluarga membuat jadwal aktifitas di rumah termasuk minum obat kkan dalam jadwal 2. Mendiskusikan sumber rujukan yang bisa dijangkau keluarga.
32 5.3 Implementasi Implementasi keperawatan adalah tindakan langsung dan implementasi dari rencana, yang juga mencakup pengumpulan data. Implementasi keperawatan sesuai dengan rencana keperawatan sebelumnya (Purba 2016). 6.3 Evaluasi Langkah terakhir dalam proses keperawatan adalah evaluasi, yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tujuan rencana keperawatan tercapai. Dilakukan dengan membandingkan hasil akhir yang diamati dengan tujuan dan kriteria hasil yang ditetapkan dalam rencana keperawatan. Sebagai bagian dari siklus proses keperawatan, evaluasi ini akan menentukan apakah perawatan yang diberikan kepada pasien berhasil mengatasi masalahnya atau apakah perawatan yang diberikan terus berlanjut sampai masalah pasien benar-benar diselesaikan (Ns.Nunung Ernawati 2019). Berikut tipe-tipe evaluasi yang dilakukan dalam proses keperawatan : 1. Evaluasi tujuan Fokus pada hasil tujuan keperawatan (mana tujuan yang tercapai), dan tingkat kepuasan klien terhadap asuhan keperawatan yang diberikan. 2. Evaluasi proses Fokus pada bagaimana proses asuhan keperawatan diberikan. Apakah pengkajian dengan baik, apakah intervensi dilakukan secara konsisten, dan apakah tujuan telah dicapai.
33 3. Evaluasi Struktur Fokus pada persiapan lingkungan dimana asuhan keperawatan diberikan (peralatan, lingkungan, pola staf, dan komunikasi).
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113