Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Jurnal 2022

Jurnal 2022

Published by pub.lpmpjabar, 2022-11-16 08:30:52

Description: Jurnal 2022

Search

Read the Text Version

PENINGKATAN AKTIVITAS PESERTA DIDIK PADA MATERI TRANSFORMASI DATA GEOMETRI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING Yulianti Rosdian SMAN 7 Bogor Abstrak : Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya aktivitas pembelajaran peserta didik kelas XII, seperti kemampuan bekerjasama, bertanya dan menjawab pertanyaan pada materi transformasi geometri. Hasil belajarnya juga tidak sesuai dengan yang diharapkan. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan Model Snowball Throwing, dengan tujuan yaitu meningkatnya aktivitas dan kemampuan peserta didik mentransformasi data geometri. Model Snowball Throwing dipilih karena dianggap mampu meningkatkan aktivitas peserta didik di kelas sehingga pembelajaran lebih kondusif. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri dari dua pertemuan. Tahapan setiap siklus adalah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrument berupa tes, dan observasi. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Setelah pembelajaran dilaksanakan terdapat peningkatan aktivitas dan kemampuanpeserta didik mentransformasi data geometri. Hal ini terbukti dengan meningkatnya aktivitas peserta didik dari Siklus 1 ke Siklus 2, yaitu untuk kemampuan bekerjasama sebesar 77%, kemampuan bertanya sebesar 77%, dan kemampuan menjawab pertanyaan sebesar 85%. Kemampuan peserta didikmentransformasikan data geometri juga mengalami peningkatan, dari nilai rata-rata 80,77 pada siklus 1 menjadi 84,6 pada siklus 2. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat dinyatakan bahwa pembelajaran dengan Snowball Throwing dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan mentransformasikan data geometri peserta didik. .Oleh karena itu peneliti menyarankan agar penggunaan model pembelajaranSnowball Throwing disosialisasikan dan digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran matematika di sekolah-sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat Kata kunci : Peserta Didik, Transformasi Data Geometri, Snowball Throwing PENDAHULUAN dalam melaksanakan pengajaran mem-punyai pengaruh besar terhadap proses belajar Perkembangan dan pembangunan mengajar itu sendiri. Pendidik sepatutnya peka suatu bangsa sangat tergantung pada mutu terhadap berbagai situasi yang dihadapi, pendidikan bangsa itu sendiri. Sebab pendidikan sehingga dapat me-nyesuaikan pola tingkah merupakan pokok penting dalam lakunya dalam kegiatan bidang pendidikan pembangunan. Semakin tinggi mutu pendidikan seperti penelitian tindakan kelas, penelitian suatu bangsa maka makin tinggi pula potensi tindakan sekolah, tinjauan atau gagasan ilmiah bangsa itu untuk berkembang maju dengan maupun penelitian dalam bidang pendidikan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. lainnya. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa Salah satu kemampuan dasar yang pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumberbelajar pada harus dimiliki Pendidik adalah merencanakan suatu lingkungan belajar. Dalam pembelajaran, Pendidik harus memahami hakikat materi dan melaksanakan proses belajar mengajar. pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat Kemampuan ini membekali Pendidik dalam merangsang kemampuan peserta didik untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya matang oleh Pendidik. sebagai pengajar. Belajar dan mengajar terjadi Peran dan fungsi Pendidik sangat penting dalam proses belajar mengajar. Oleh pada saat berlangsungnya interaksi antara karenaitu, situasi yang dihadapi Pendidik Pendidik dengan Peserta Didik untuk mencapai tujuan pengajaran (Sardiman, 2010). Sampai saat ini masalah pendidikan di Indonesia belum terpecahkan terkait bagaimana 1 Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


memperbaiki mutu pendidikan. Kualitas penting secara klinis, bagi klinikus yang lebih pendidikan di Indonesia masih tertinggal dengan penting adalah menilai kemaknaan klinis. (3) bangsa- bangsa tetangga. Menurut laporan dari Jumlah individu yang bertambah banyak dalam HDI (Human Development Index) tahun 2003, model pembelajaran kooperatif memberi kualitas sumber daya manusia berada diurutan kesempatan untuk interpretasi data tentang 112. Indonesia berada jauh dari Filipina (85), keamanan ataupun bahaya dengan tingkat Thailand(74),Malaysia (58), Brunai Darussalam kepercayaan yang lebih besar.(4) Jumlah subyek (31), Korea Selatan (30), dan Singapura yang besar juga memungkinkan untuk dilakukan (28).Untuk mengejar ketinggalan tersebut, maka analisis terhadap sub-grup yang tidak dapat pendidik harus menyikapinya dengan benar. dilakukan pada penelitian aslinya, misalnya efek Pembelajaran di kelas harus dilaksanakan intervensi pada lelaki atau perempuan secara dengan baik sesuai dengan situasi, kondisi dan terpisah, atau pada kelompok usia tertentu. (5) kebutuhan peserta didik. Hasil riset model pembelajaran dapat memberi petunjuk yang mengindikasikan bahwa hasil Pembelajaran di kelas dapat belajar siswa dengan menggunakan metode berlangsung baik jika semua berada pada pembelajaran Snowball Throwing lebih baik dari kondisi ideal. Kondisi ideal ini belum tercapai pada hasil belajar siswa yang menggunakan karena masih banyak masalah dalam kelas. metode pembelajaran ceramah.(Syaiful Arif Masalah-masalah tersebut antara lain Jurnal, 2017) keterbatasan jumlah guru yang terampil, keterbatasan sarana dan prasarana serta Pembelajaran yang dilaksanakan sumber belajar yang masih minimum. Selama ini di kelas XII IPA SMAN 7 Bogor pada (Djamarah, 2006). Semua hal itu menyebabkan pelajaran matematika menunjukkan aktivitas proses pembelajaran yang dilakukan oleh yang masih rendah. Peserta Didik kurang aktif pendidik cenderung kurang memperhatikan bekerjasama, bertanya, dan menjawab aktivitas peserta didik dan lebih berorientasi pertanyaan. Peserta didik juga sedikit sekali yang pada pencapaian target materi kurikulum. memenuhi kriteria ketuntasan minimal khususnya Akibatnya pembelajaran lebih mementingkan pada mata pelajaran matematika, topik penghapalan konsep bukan pemahaman transformasi geometri. Nilai perolehan rata-rata konsep, dan hal ini dapat dilihat dari kegiatan siswa sebesar 69,04 sedangkan kriteria pembelajaran di dalam kelas yang selalu ketuntasan minimal yang ditetapkan 80. Hanya 11 didominasi oleh Pendidik. Dalam penyampaian Peserta Didik (37,9%) yang nilainya sama materi, biasanya pendidik menggunakan model ataupun di atas KKM, sisanya 15 Peserta Didik pembelajaran ceramah, dimana peserta didik (62,1%) masih di bawah KKM. hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikan dan sedikit peluang bagi Berdasarkan latar belakang dan peserta didik untuk bertanya. masalah yang ditemukan di sekolah, peneliti memilih model pembelajaran Snowball Throwing. Berdasarkan riset yang dilaksanakan Model ini dipilih karena dianggap sesuai untuk dalam model pembelajaran Snowball Throwing, meningkatkan aktivitas pembelajaran peserta Penggabungan data dari berbagai studi akan didik dalam bekerja sama, bertanya dan meningkatkan kemampuan generalisasi dan menjawab pertanyaan. Peningkatan aktivitas power statistika, sehingga dampak suatu siswa tersebut diasumsikan dapat meningkatkan prosedur dapat dinilai lebih lengkap. Namun harus diingat bahwa peningkatan power akan memperbaiki nilai sehingga perbedaan yang kecil sekali pun dapat menjadi bermakna secara statistika; padahal perbedaan tersebut belum 2 Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


kemampuan peserta didik mentransformasikan pertanyaan pertanyaan dari data geometri. Peneliti ingin menjadikan tentang materi materi yang sudah pelajaran matematika menjadi pelajaran yang yang sudah dijelaskan ketua menyenangkan bagi Peserta Didik. dijelaskan oleh kelompoknya. - ketua. - Peserta Siswa Proses penerapan model pem- didik mendapatkan belajaran Snowball Throwing diawali dengan mendengarkan lembar kertas dibentuknya kelompok. Masing- masing arahan dari guru untuk menuliskan kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk membuat pertanyaan sesuai menyampaikan kepada semua anggota pertanyaan dari dengan materi. kelompoknya untuk membuat pertanyaan yang materi yang sudah dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) yang dijelaskan ketua akan dilempar ke kelompok lain, dan anggota 24 - Guru kelompok lain harus menjawab pertanyaan memberikan tersebut dari bola yang diperoleh (Trianto, 2010). lemba r kertas kerja untuk menuliskan Tabel 1. Penerapan Model Pembelajaran Snowball pertanyaan Throwing menyangkut materi yang sudah Syntax Kegiatan Kegiatan dijelaskan oleh Snowball Pendidik peserta didik ketua kelompok. Throwing kelompoknya. - Penyajian kelas Guru Mendengarkan Siwa mendapatkan menjelaskan guru saat me- lembar kertas Belajar Kompetensi nyampaikan untuk menuliskan kelompok Dasar dan materi tujuan dan pertanyaan sesuai materi. dengan materi. Guru membagi Tanya jawab peserta didik Peserta didik menjadi bekerja secara Tanya jawab Guru memberi Peserta didik beberapa kelompok arahan kepada membuat bola dari kelompok secara sesuai aba - peserta didik untuk kertas yang berisi heterogen. Guru aba guru. – membuat bola dari pertanyaan yang membagi peserta Peserta didik kertas berisi telah dibuatnya. didik berdasarkan berkelompok pertanyaan . - - Peserta didik kelompok belajar sesuai dengan Setelah membuat setelah membuat yang sudah ada - kelompok bola, guru bola, bola Guru menunjuk belajar. - Salah menyuruh peserta dilemparkan pada salah satu peserta satu peserta didik melemparkan peserta didik yang Didik sebagai didik dipilih bola pada peserta lain agar dapat ketua kelompok - untuk menjadi didik yang lain menjawab Guru memberi ketua diluar pertanyaan instruksi pada kelompok. kelompoknya ketua kelompok Ketua kelompok untuk menjawab untuk memberi mendapat aba- pertanyaan penjelasan materi aba dari guru yang mengenai materi Kesimpulan Guru mem -berikan Peserta didik didapatkannya. dan menjelaskan dan evaluasi kesim -pulan membuat kembali kepada tentang kegiatan rangkuman dari anggotanya. pembelajaran. – hasil kegiatan Guru memberi pembelajaran. - Pembagian Guru memberi Peserta didik kesempatan Peserta didik tugas arahan kelompok mendengarkan kepada peserta melakukan tanya membuat arahan dari didik jika ada jawab pada guru guru jika ada materi untuk membuat Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Materi yang kurang yang kurang Model yang digunakan dalam penelitian ini jelas. - Guru jelas. - Peserta adalah model pembelajaran Snowball Throwing menjawab didik mencatat melalui Penelitan ini dilaksanakan di kelas XII IPA pertanyaan- Guru penjelasan 2 Semester 2 SMAN 7 bogor. Subyek penelitian memberikan guru. adalah peserta didik sejumlah 26 orang, yang penguatan kepada - Peserta didik terdiri dari laki-laki 12 orang dan perempuan 14 peserta didik dengan mengerjakan orang. Pelaksanaan PTK ini dijadwalkan 6 memberikan soal soal sebagai (enam) bulan yaitu bulan Januari sampai dengan penguatan Juni 2019. Untuk mendapatkan data yang diperlukan, peneliti menggunakan instrumen METODE pengum-pulan data sebagai berikut : Metode penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK) yang 1. Lembar Observasi dilaksanakan selama dua siklus dimana setiap Lembar observasi disusun untuk memperoleh siklus terdiri atas dua pertemuan. gambaran langsung tentang aktivitas Peserta Didik dalam pelaksanakan kegiatan belajar Tabel 2. Waktu Pelaksanaan Siklus 1 dan siklus 2 mengajar. Observasi tindakan dilakukan oleh Pendidik lain yang bertindak sebagai observer. Pertemuan1 Siklus1 Siklus2 Lembar observer disusun untuk mengamati Pertemuan2 peneliti dan Peserta Didik dalam melaksanakan 11Peb2019 18Peb2019 tindakan kelas, kondisi kelas dan aktivitas 13peb2019 20Peb2019 Peserta Didik dalam proses pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas, merupakan proses 2. Tes Uji Kompetensi untuk memperoleh dan mendapatkan informasi Tes uji kompetensi digunakan untuk memperoleh dengan melakukan observasi atau penyelidikan data mengenai kemampuan peserta didik untuk mencari jawaban atau memecahkan mentransformasikan data geometri yang masalah terhadap pertanyaan atau rumusan dilaksanakan setelah pembelajaran ber- masalah dengan meng-gunakan kemampuan langsung. Tes uji kompetensi ini diberikan berpikir kritis dan logis. PTK merupakan proses kepada peserta didik dalam bentuk 5 soal Essay pengkajian melalui sistem yang berdaur ulang dari berbagai kegiatan pembelajaran yang terdiri Pengolahan Data atas empat tahap yang saling terkait dan Langkah-langkah pengolahan data dalam bersinambungan. Tahap-tahap tersebut yaitu (1) penelitian ini adalah sebagai berikut: perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. dengan langkah – langkah 1. Pengumpulan data sebagai berikut. Data yang dikumpulkan berupa aktivitas Peserta Didik sewaktu proses pembelajaran Gambar 1. Bagan Rancangan Penelitian berlangsung, yang diperoleh dari lembar TindakanKelas Model Jhon Elliot (Rusman, 2020) observasi. Data berikutnya berupa nilai yang diperoleh dari hasil uji kompetensi (tes tertulis) dalam bentuk Essay. 2. Menyeleksi data Langkah ini dilakukan untuk mengetahui apakah data yang terkumpul dapat di olah atau tidak a).Mengklarifikasikan dan mentabulasikan data Langkah klarifikasi data dilakukan untuk mengelompokkan data sesuai dengan alternatif jawaban yang tertera dalam kuesioner, sedangkan langkah men- tabulasikan data dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai jumlah frekuensi dan kecenderungannnya dalam kuesioner Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


b).Menghitung Persentase Lembar Observasi Siswa dan Lembar penilaian Persentase digunakan untuk melihat besarnya Evaluasi (LKPD). RPP memuat secara rinci dan persentase dari setiap alternatif jawaban pada sistematis langkah – langkah pembelajaran setiap pertanyaan sehingga data yang dengan menerapkan model pembelajaran diperoleh dapat dianalisa Snowball Throwing pada materi mentrans- formasikan data geometri. RPP yang digunakan c).Mengumpulkan hasil penelitian setelah data untuk pembelajaran pada Siklus I adalah dianalisis mengenai transformasi data geometri. Lembar observasi dibuat untuk menilai kerjasama Teknik Analisis Data peserta didik angket aktivitas bertanya dan Untuk mengetahui keefektifan suatu metode menjawab peserta didik dalam kegiatan pem- dalam kegiatan pembelajaran, perlu dilakukan belajaran. LKPD untuk kegiatan pengambilan analisis data. Pada penelitian tindakan kelas ini, hasil test tertulis. digunakan analisis deskripsi kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat Pelaksanaan menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai Kegiatan pembelajaran pada siklus dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui aktivitas Peserta Didik selama pertama dilakukan selama dua kali pertemuan. kegiatan pembelajaran, dan mengetahui Pertemuan pertama di-laksanakan pada hari kemampuan peserta didik mentrans-formasikan Senin, 11 Pebruari 2019 di kelas XII IPA 2 pada data geometri. jam ke 3-4. Kegiatan pembelajaran pertama di- laksanakan berdasarkan RPP yang telah disusun Untuk analisis tingkat keberhasilan atau sebelumnya mengenai Transformasi Data persentase ketuntasan belajar Peserta Didik Geometri. Langkah–langkah pembelajaran setelah proses belajar mengajar berlangsung disesuaikan dengan sintak model pembelajaran pada tiap siklusnya, dilakukan dengan cara Snowball Throwing. memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir siklus. Analisis ini dihitung dengan Pertemuan kedua dilaksanakan pada menggunakan statistik sederhana berikut : hari Rabu, pada tanggal 13 Pebruari 2019 pada 1. Analisis aktivitas peserta didik dalam jam ke 5-6. Pada tindakan yang kedua melanjutkan kegiatan pembelajaran dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Snowball 2. Penilaian Evaluasi dalam bentuk LKPD Untuk Throwing, dan selama kegiatan pembelajaran berlangsung, observer mengamati seluruh menentukan nilai rata-rata Peserta Didik kegiatan yang dilaksanakan oleh peserta didik diperoleh dengan cara menjumlah nilai yang dan pendidik (peneliti). Pengamatan terhadap diperoleh Peserta Didik di kelas tersebut. peserta didik dilaksanakan berdasarkan lembar Rumus sederhana yang digunakan untuk pengamatan aktivitas peserta didik. merata-rata nilai yaitu : Tahapan pembelajaran pada per- HASIL DAN PEMBAHASAN temuan pertama adalah pemberian stimulus atau A. Hasil Penelitian rangsangan. Pemberian stimulus atau rangsangan diberikan melalui pemberian contoh SIKLUS 1 transformasi geometri dalam kehidupan sehari – Perencanaan Tindakan hari yang berkaitan dengan data geometri. Tahap Pada tahap perencanaan tindakan,hal – hal yang kedua yaitu identifikasi masalah. Pada tahapan perlu dipersiapkan antara lain menyusun ini, peserta didik melakukan pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), secara berkelompok. Masing – masing kelompok melakukan pembuatan soal transformasi data geometri yang dibuat dalam bola-bola kertas berdasarkan Lembar Kegiatan peserta didik. Setelah peserta didik melaksanakan kegiatanpembuatan soal pada bola kertas selanjutnya adalah melemparkan bola kertas berisi soal tersebut ke anggota kelompok lain, lalu penerima bola memberikan jawaban selanjutnya mengumpulkan data. Pada tahap pengumpulan data, peserta didik menuliskan data hasil jawaban yang diberikan anggota kelompok lain Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Tahap selanjutnya adalah pengolahan data. Persentase Aktivitas Peserta Didik Pada tahap ini perwakilan peserta didik secara Siklus 1 ber-kelompok mempresentasikan hasil jawaban soal yang dibuatnya di depan kelas. Kelompok 70 62 pembuat soal akan saling memberikan penilaian. % % Tahap selanjutnya adalah penarikan kesimpulan, 60 guru mengarahkan peserta didik untuk bersama % 54 – sama menyimpulkan materi melalui pertanyaan 50 % pengarah yang dibuat oleh guru. Untuk % pertemuan kedua di akhir siklus, seluruh peserta 38% B didik melaksanakan kegiatan evaluasi yaitu 40 35% C dalam bentuk tes tertulis % K 19% 27% 27 30 % % 19 % 20 %10 % 0% Kerjasama Aktif Aktif bertanya Menjawab Pengamatan Grafik 1. Persentase Aktivitas Peserta Didik dalam Pembelajaran Siklus 1 Frekuensi aktivitas peserta didik selama mengikuti kegiatan pembelajaran diamati Rekapitulasi Kemampuan peserta didik dalam berdasarkan 3 indikator yaitu kerjasama, mentransformasikan data geometri dapat dilihat aktivitas bertanya, dan aktivitas men-jawab, yang pada Tabel 4.dan Grafik 2, di bawah ini. berhasil dimunculkan pe-serta didik pada setiap tahapan pem-belajaran. Tabel 4. Data hasil Tes Kemampuan Peserta Didik dalam mentransformasikan data geometri pada Hasil observasi aktivitas peserta didik Siklus 1 dalam keterlaksanaan model pembelajaran kooperatif Snowball Throwing pada siklus 1 Jumlah Siswa adalah sebagai berikut. Data aktivitas kerjasama menunjukkan bahwa 16 Peserta Didik (61,5%) Rata-rata Nilai Tuntas Tidak masuk kategori baik, 5 Peserta Didik (19,2%) Tertinggi Tuntas masuk kategori cukup, dan 5 Peserta Didik (19,2%) masuk kategori kurang. Data mengenai 80,77 aktivitas bertanya menunjukkan bahwa 10 100 Peserta Didik (38%) masuk kategori baik, 7 Peserta Didik (27%) masuk kategori cukup dan 9 Terendah 70 Peserta Didik (35%) masuk kategori kurang. Persentase Selanjutnya, data mengenai aktivitas menjawab 81% 19% pertanyaan menunjukkan 14 peserta didik (54%) masuk kategori baik, 5 peserta didik (19%)masuk kategori Cukup, dan 7 peserta didik (27%) masuk kategori Kurang.Semua data hasil observasi dapat dilihat pada tabel 3 dan grafik 1 dibawah ini. Tabel 3. Persentase Aktivitas Peserta Didik dalam Persentase Kemampuan Peserta Pembelajaran Siklus 1 Didik Mentransformasikan data Aktivitas Aktivitas Aktivas 120 Geometri Pada Siklus 2 Kerjasama bertanya Menjawab % pertanyaan 96 % 100 B 62% 38% 54% % C 19% 27% 19% 80% Presentasi K 19% 35% 27% 60% 4% Tidak Keterangan: 40% Tuntas B :Baik C :Cukup 20% K :Kurang Grafik 4. Persentase Kemampuan Peserta Didik mentransformasikan data Geometri pada Siklus 2 Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Berdasarkan data pada tabel 6 dan grafik 4 Perbandingan Persentase Aktivitas terlihat bahwa rata-rata nilai Peserta Didik Pembelajaran Kategori Baik Siklus 1 dan Siklus sebesar 84,6 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 70. Peserta Didik yang mencapai 2 ketuntasan sebanyak 25 orang (96%) dan hanya 1 peserta didik (4%) yang belum tuntas. Hal ini 90 memberikan gambaran bahwa ada peningkatan % kemampuan peserta didik mentransformasikan data geometri dari siklus I ke siklus 2. 80 % Refleksi 70 Siklus Aktivitas peserta didik pada saat % 1 pembelajaran berlangsung pada siklus 2 60 Siklus menunjukkan peningkatan tinggi, data aktivitas %2 kerjasama yang termasuk kategori baik mencapai 77%, bertanya 77%, dan menjawab 50 Aktivitas Aktivitas Aktivitas pertanyaan 85%. Berdasarkan uraian pada hasil % Kerjasama Bertanya pengamatan, dapat dinyatakan bahwa hampir seluruh Peserta Didik menyukai Pembelajaran Menjawab dengan model pembe-lajaran Snowball 40 Throwing. Hal ini terbukti pada siklus 2, rata-rata nilai yang dicapai peserta didik sebesar 84,6. Grafik 5. Perbandingan Persentase Aktivitas Pembelajaran Peserta Didik kategori Baik siklus 1 Peserta didik yang sudah mencapai Ketuntasan dengan nilai di atas ataupun sama dan siklus 2 dengan KKM ada 25 orang (96%) sedangkan yang tidak tuntas dengan nilai di bawah KKM ada Hasil penelitian selama dua siklus telah me- 1 orang (4%). Nilai terendah adalah 70 dan nilai nunjukkan peningkatan kemampuan peserta tertinggi 100. Hampir seluruh Peserta Didik (26 didik pada aktivitas pembelajaran dan orang) dalam materi Transformasi Geometri kemampuan mentransformasikan data geometri. sudah tuntas. Hal ini dikarenakan Peserta Didik Pendidik mengelola kelas secara interaktif, merasa tertarik untuk aktif dalam pembelajaran membimbing Peserta Didik, dan memotivasi yang menggunakan model pembelajaran Peserta Didik untuk aktif bekerjasama, bertanya Snowball Throwing. Tafsiran dari data tersebut dan menjawab pertanyaan dalam kegiatan bahwa kegiatan pembelajaran melalui pembelajaran. Kemampuan peserta didik penerapan model Snowball Throwing dapat mentrans-formasikan data geometri meningkat meningkatkan aktivitas kerjasama, bertanya, dari 81 % pada siklus 1 menjadi 96% pada siklus dan men-jawab pertanyaan dengan mencapai ke 2. Berdasarkan hal tersebut, dapat kategori Baik, Cukup, Kurang dan hasil belajar disimpulkan bahwa telah ada peningkatan peserta didik dengan ketuntasan melebihi 95% kemampuan Peserta Didik dalam men- sehingga penelitian hanya menggunakan dua transformasikan data geometri. Hal ini dapat siklus. Hal ini dapat dilihat Tabel 7 dan Grafik 5 dilihat Tabel 8 dan Grafik 6 berikut. berikut. Tabel 8. Perbandingan Persentase Ketuntasan Peserta Tabel 7. Perbandingan Persentase Aktivitas Didik siklus 1 dan siklus 2 Pembelajaran Peserta Didik kategori Baik siklus 1 dan siklus 2 Aktivitas Siklus 1 Siklus 2 Tuntas Siklus 1 Siklus 2 Kerjasama Tidak Tuntas 81% 96% Aktivitas Bertanya 62% 77% 19% 4% 38% 77% Aktivitas Menjawab Pertanyaan 54% 85% Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Grafik 6. Perbandingan Presentasi Ketuntasan Didik pada materi tentang Transformasi Peserta Didik materi Transformasikan Data Geometri Geometri, terlihat pada pelaksanaan siklus pertama dan kedua telah menunjukkan pada Siklus 1dan Siklus 2 peningkatan pada aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran matematika. Pendidik B. Pembahasan mengarahkan dan menjelaskan bagaimana Berdasarkan hasil analisis data Peserta Didik belajar dengan baik. Saat proses pem-belajaran berlangsung, Pendidik mengelola diketahui adanya pengaruh penerapan model kelas secara interaktif, membimbing Peserta pembelajaran kooperatif dengan Snowball Didik, dan memotivasi Peserta Didik untuk aktif Throwing terhadap peningkatan aktivitas dalam berperan terutama dalam kerjasama kelompok. pembelajaran tranformasi geometri pada Terlihat pada kegiatan pembelajaran biasa peserta didik kelas XII IPA SMAN 7 Bogor. dilakukan sebelumnya hanya 27,9% Peserta Dengan adanya penerapan model pembelajaran Didik yang tuntas dalam mempelajari materi kooperatif dengan Snowball Throwing Transformasi Geometri, dan pada siklus pertama menunjukkan bahwa aktivitas dan hasil belajar dari pembelajaran dengan model pembelajaran peserta yang lebih baik dibandingkan dengan Snowball Throwing, meningkat menjadi 81% penggunaan model pembelajaran yang bahkan pada siklus ke II meningkat menjadi konvensional. 96%. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa telah ada peningkatan Penerapan model pembelajaran aktivitas Peserta Didik dalam pembelajaran Snowball Throwing dapat memberikan sebuah matematika. Hal ini dapat dilihat dari pe- jalan keluar untuk mengatasi masalah hasil ningkatan rata-rata nilai hasil belajar dari siklus I, belajar yang terjadi di sekolah. Di mana para dan siklus II. siswa kurang memiliki semangat untuk mempelajari pembelajaran matematika terutama Hasil ini relevan dengan program materi transformasi data geometri, karena pemerintah yang di implementasikan dalam pembelajaran yang lebih ditekankan pada Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 me- sebuah hafalan rumus yang menyebabkan siswa nyatakan bahwa : Pembelajaran merupakan cepat lupa dan juga sulit untuk memahami suatu proses pengembangan potensi dan materi. Sehingga hal ini mengakibatkan aktivitas pembangunan karakter setiap peserta didik belajar yang kurang maksimal. sebagai hasil dari sinergi antara pendidikan yang berlangsung di sekolah, keluarga, dan Sesuai dengan analisis data di atas, masyarakat. Sukertiasih, dalam Jurnal-nya juga dapat diperoleh kesimpulan bahwa pem- menjelaskan mengenai kelebihan dari model belajaran dengan menerapkan model pem- pembelajaran Snowball Throwing bahwa belajaran Snowball Throwing jauh lebih efektif dengan menerapkan model pembelajaran dibandingkan dengan menggunakan model Snowball Throwing dapat membuat suasana pembelajaran konvensional. Ber-dasarkan hasil menjadi lebih menyenangkan, siswa juga penelitian selama dua siklus yang bertujuan diberikan kesempatan untuk mengembangkan untuk meningkatkan aktivitas belajar Peserta kemampuan berfikir, dan pembelajaran menjadi lebih efektif. Hal ini juga terbukti ketika penelitian ber-langsung, dimana siswa menjadi lebih santai dan semangat selama proses belajar berlangsung. Siswa juga menjadi lebih kreatif dan aktivitas belajar siswa pun menjadi lebih baik. KESIMPULAN Data Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik mentransformasikan data geometri sesudah menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing sangat memuaskan. Dari uraian sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat peningkatan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran,dan peningkatan Kemampuan peserta didik mentransformasikan data geometri mata pelajaran matematika dikelas XII IPA 2 SMA Negeri 7 Bogor. Aktivitas Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


peserta didik selama mengikuti pembelajaran Rachmayani, Dwi. (2014). Penerapan memperlihatkan aktivitas yang tinggi. Hal ini terlihat dari persentase aktivitas peserta didik Pembelajaran Reciprocal Teaching baik pada pembelajaran siklus pertama ataupun pembelajaran siklus kedua, dimana pada akhir Untuk Meningkatkan Kemampuan siklus kedua aktivitas peserta didik mencapai kategori baik atau baik sekali sebesar 85%. Komunikasi Matematis dan Rata-rata perolehan hasil tes kompetensi yaitu dari 80,77 pada siklus I dan 84,6 pada siklus 2. Kemandirian Belajar Matematika Setelah melaksanakan penelitian ini Siswa. Jurnal PENDIDIKAN UNSIKA maka terdapat beberapa saran yang ingin disampaikan oleh peneliti bagi guru dan peneliti ISSN 2338-2996 Volume 2 Nomor 1 lain. Saran bagi guru adalah dapat menerapkan model pembelajaran Snowball Throwing dalam Rusman, A. (2020). Classroom Action kegiatan belajar mengajar matematika agar lebih menarik untuk peserta didik.Bagi peneliti lain Research Pengembangan dapat melakukan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran Snowball Kompetensi Guru. Banyumas: CV. Throwing atau sumber sumber belajar alternative yang lebih bervariasi atau pun dapat Pena Persada. merancang karya inovatif yang sederhana sebagai aplikasi sains.Semoga bermanfaat. Sardiman, A. (2010). Interaksi dan Motivasi DAFTAR PUSTAKA Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Djamarah, S. (2006). Pendidikan dan Anak Didik Pers. dalam Interaksi Edukatif Suatu pendekatan teoritis Psikologi. Jakarta: Sari, Ika. (2013). Peningkatan Kemampuan PT.Asdi Mahasatya. komunikasi matematis Siswa dengan Januwardana, I Gd Arta dkk. (2014). Pengaruh Metode Snowball Throwing Menggunakan Metode pembelajaran Berbantuan Media Sederhana Terhadap Hasil Belajar Matematika Snowball Throwing pada Materi Siwa Kelas V SD Gugus 1 Kuta Bandung. Jurnal Mimbar PGSD Statistika kelas X SMA Swasta Rizki Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun Ananda Medan. Skripsi Matematika 2014) UNIMED Marlina, Fitria. (2013). Peningkatan Kemampuan K o m u n i k a s i Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor Yang Matematika Melalui Strategi Pembelajaran Cooperative Script Pada Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Siswa Kelas Vii Semester Genap SMP Muhammadiyah 10 Surakarta Tahun Cipta. 2011/2012. Jurnal FKIP Matematika UMS Suherman, E. (2009). Model-model Nurdina, Tya. (2013). Kemampuan Komunikasi Pembelajaran. Jakarta: Deepublish. Siswa Dalam Matematika pada Materi Segitiga . Jurnal Pendidikan Sukertiasih. (2010). Implementasi Pembelajaran Matematika UNTAN vol.3 Kooperatif dengan Metode Snowball Throwing pada Pokok Bahasan Limit Fungsi untuk Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Peserta Didik Kelas XI IPA SMA Saraswati Mataram Tahun Ajaran 2007/2008. Jurnal Ganec Swara, 4(1), 69-78. Suprijono, A. (2010). Cooperative Learning:Teori dan Aplikasi Paikem. Yogjakarta: Pustaka Pelajar. Syaful, Arif (2017). Model Pembelajaran Kooperatif tipe Snowball Throwing Terhadap hasil belajar dan Minat Peserta didik. Jurnal Pendidikan Teknik Elektro Universitas Surabaya. Volume 06 Nomor 03. Trianto. (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif - Progresif. Jakarta : Kencana. Jakarta : Kencana. Undang-undang. (2003). Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas. Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


MENINGKATKAN INTERPERSONAL SKILL DALAM PEMBELAJARAN IPS KELAS VII SMPN 1 CIAWIGEBANG DENGAN MENERAPKAN MODEL KOOPERATIF TIPE STAD Udin Khaerudin SMPN 1 Ciawigebang - Kuningan Abstrak : Berdasarkan hasil kegiatan pembelajaran IPS sebelumnya di kelas VII E SMPN 1 Ciawigebang ditemukan permasalahan yaitu rendahnya Interpersonal Skill, yakni sebesar 75,91% hal ini jauh dari capaian pada tahun sebelumnya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan Interpersonal Skill dalam pembelajaran IPS melalui penerapan model kooperatif tipe STAD. Penelitian ini dilakukan melalui penelitian tindakan kelas (PTK) terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus meliputi dua pertemuan. Data Interpersonal Skill peserta didik diambil dengan menggunakan instrument lembar observasi Interpersonal Skill dan instrument tes untuk mencapai ketercapaian KKM. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas VII E SMPN 1 Ciawigebang sebanyak 39 orang, terdiri dari 13 laki-laki dan 26 perempuan. Selanjutnya data tersebut dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian tindakan ini menunjukkan bahwa rata-rata skor Interpersonal Skill siklus I sebesar 80,4 (Baik) dan siklus II sebesar 83 (Baik). Peserta didik yang mencapai KKM pada siklus I sebanyak 22 (56%) peserta didik sedangkan siklus II terdapat peningkatan sebanyak 33 (85%) peserta didik. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa penerapan model kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan Interpersonal Skill dalam pembelajaran IPS. Berdasarkan hasil penelitian ini direkomendasikan kepada guru lainnya untuk menerapkan model kooperatif tipe STAD sebagai salah satu alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan Interpersonal Skill peserta didik yang telah diuji dalam penelitian tindakan kelas ini. Kata Kunci: Soft skilI (Interpersonal), IPS, STAD PENDAHULUAN dan Pratiwi (2012: 5) mendefinisikan soft skill IPS merupakan salah satu mata sebagai kemampuan-kemampuan tak terlihat yang diperlukan untuk sukses, misalnya pelajaran yang memiliki kecenderungan pada kemampuan berkomunikasi, kejujuran/integritas ranah afektif. Karena mata pelajaran IPS tidak dan lain-lain. Sedangkan Rahayu (2013: 115) hanya mendidik peserta didik untuk mengetahui mendefinisikan soft skill sebagai keterampilan, tentang pengetahuan dalam bersosialisasi kemampuan dan sifat- sifat yang berhubungan tetapi juga harus bisa mengaplikasikan secara dengan kepribadian, sikap dan perilaku, daripada langsung dalam kehidupan masyarakat pengetahuan formal atau teknis. Dalam termasuk dalam lingkungan sekolah. Dalam perspektif sosiologi soft skill disebut sebagai bersosialisasi dengan lingkungan juga Emotional Intelligence Quotient. diperlukan keahlian dalam memanajemen diri dan Interpersonal Skill lainnya. Dalam penelitian ini penulis bermaksud untuk lebih melakukan spesifikasi terhadap soft Pembelajaran IPS cenderung mengu- skill yakni interpersonal skill. Interpersonal skill tamakan praktik dalam keseharian peserta didik merupakan cabang dari soft skill menjadi tema baik dalam bersosialisasi dengan lingkungan utama dalam penelitian penulis. Interpersonal atau mengendalikan diri sendiri. Jadi dapat skill pada dasarnya merupakan keterampilan diketahui bahwa mata pelajaran IPS memiliki dalam berkomunikasi dengan orang lain, keterkaitan dengan Soft skill peserta didik. misalnya sewaktu berkomunikasi dengan teman, rekan organisasi, rekan ekstrakurikuler, rekan Soft skill merupakan suatu kemampuan, komunitas, dan rekan kerja atau dalam berbagai bakat, atau keterampilan yang ada di dalam diri acara yang melibatkan orang dalam jumlah setiap manusia secara bawaan atau dari lahir. banyak. Semakin banyak orang yang terlibat Menurut Berthal dikutip oleh Muqowim (2012: 5), dengan interaksi sosial, maka semakin soft skill diartikan sebagai perilaku personal dan diperlukan kemampuan interpersonal skill yang interpersonal yang mengembangkan dan baik. Interpersonal skill yaitu keterampilan memaksimalkan kinerja manusia. Adapun Putra personal yang bersifat non-teknis, seperti Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


kemampuan sebagai pendengar baik, kinerja manusia seperti membangun tim, negosiator, atau pun berkomunikasi yang baik pembuatan keputusan, inisiatif, dan komunikasi”. dengan orang lain. Ilustrasi dari interpersonal skill adalah bagaimana seseorang ber-interaksi Mengingat pentingnya interpersonal skill dengan orang lain dalam suatu lingkup sosial. dalam upaya membentuk kepribadian peserta Menghormati orang lain, menjalin kerjasama didik sebagai alat untuk penanaman moralitas yang baik dengan orang lain, mengungkapkan pada diri peserta didik, maka model pemikiran, perasaan, atau pun harapan kepada pembelajaran yang bisa dikembangkan adalah orang lain dengan cara yang baik tanpa dengan mengoptimalkan interaksi antara merugikan orang lain, dapat menggambarkan pendidik dengan peserta didik, peserta didik seberapa baik interpersonal yang dimiliki dengan peserta didik, pendidik dengan peserta seseorang. didik dan lingkungan, serta interaksi banyak arah. Dengan begitu dapat tercapai dari segi Interpersonal skill pada umumnya membentuk kepribadian dan dalam penanaman dibentuk secara alamiah dalam lingkungan moralitasnya itu sendiri. orang tersebut bertumbuh, faktor keluarga berperan besar dan dan penting untuk Tujuan akhir dari pendidikan ialah untuk membentuk kemampuan tersebut. Lingkungan menghasilkan individu yang cerdas, inovatif, dan yang lebih luas pun membantu seseorang dalam memiliki nilai-nilai kompetitif di segala aspek. membentuk interpersonal skill, misalnya etika Penguasaan hard skills dan keterampilan dalam dan moral yang berlaku di masyarakat. (Sulianta, soft skills juga dituntut untuk berkembang. Guru 2018: 6) dalam bagian ini sebagai penyelenggara pendidikan perlu memastikan untuk Menurut studi yang pernah dilakukan mengupayakan terjadinya transform of Philip Humbret (1996), hampir pemimpin di dunia knowledge dan transform of value secara memiliki keahlian interpersonal skill yang bagus. seimbang. Namun, secara umum yang kita Buktinya ialah kemampuan mereka dalam ketahui pendidikan dalam implementasinya saat menjaga hubungan yang cukup lama dengan ini lebih menekankan pada pengetahuan orang-orang terdekatnya, rekan, mitra kerja, pengembangan teknis atau hard skills dan kenalan, dan lain-lain. kurang memberikan keterampilan sepadan yang ber-sifat interpersonal skill. Sangat penting bagi peserta didik harus memiliki kemampuan soft skill yang baik. Sebab Pepatah bijak menyatakan penyesalan kecerdasan intelektual (akademik) jika tidak datang terlambat terlihat linier dengan diimbangi dengan kecerdasan non-akademik kebanyakan kasus yang dihadapi peserta didik (soft skill), seorang peserta didik akan menjadi saat ini. Hal ini disebabkan minimnya tidak sempurna. Seorang peserta didik yang pengetahuan dan ilmu tentang pengembangan cerdas saja, jika perilakunya tidak bijaksana, interpersonal skill yang diajarkan ketika masa tidak toleran, tidak memotivasi, tetap saja akan sekolah. ditolak oleh lingkungannya. Oleh karena itu, seorang peserta didik dituntut untuk mampu Hal ini terbukti, dari data awal yang berkomunikasi dengan baik, mampu bekerja diperoleh saat pembelajaran IPS sebelumnya di sama, memiliki motivasi, mudah beradaptasi dan Kelas VII E SMP Negeri 1 Ciawigebang me- lain sebagainya. nunjukkan bahwa skor rata-rata interpersonal skill peserta didik termasuk kriteria cukup yaitu Muqowim (2012, hlm. 3) menjelaskan sebesar 75,91% hal ini jauh dari capaian pada dalam sebuah hasil penelitian dari Harvard tahun sebelumnya. Lebih lanjut hasil refleksi University Amerika Serikat yaitu “Dunia yang dilakukan oleh guru menunjukkan bahwa pendidikan nasional mengungkapkan bahwa permasalahan Interpersonal Skill disebabkan kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata- karena masih banyak peserta didik yang tidak mata oleh pengetahuan dan kete-rampilan teknis bersikap jujur (menyalin tugas temannya/ (hard skill), tapi oleh keterampilan mengelola diri mencontek) ketika diberikan tugas mandiri, dan orang lain (soft skill). Bahkan, penelitian ini Ketika diberikan tugas kelompok banyak peserta mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya didik yang melepas tanggung jawab kepada ditentukan sekitar 20% dengan hard skill dan teman satu kelompoknya, Banyak peserta didik sisanya 80% dengan soft skill”. Muqowim (2012, cenderung pasif di kelas hal ini disebabkan hlm. 5) mengemukakan “Soft skill adalah karena belum terbiasa untuk mengutarakan perilaku personal dan interpersonal yang pendapat ketika berdiskusi, Apabila mengembangkan dan memaksimalkan Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


dilaksanakan proses pembelajaran secara untuk saling memotivasi dan saling membantu berkelompok (acak), beberapa peserta didik dalam menguasai materi pelajaran guna merasa kesulitan dikaren peserta didik tersebut mencapai prestasi yang maksimal. tidak terbiasa dengan anggota kelompok yang bukan teman akrab/ dekatnya. Dan Adanya Berdasarkan uraian tersebut, penulis kecenderungan dalam me-ngelola proses melaksanakan penelitian tindakan kelas dengan pembelajaran kurang memperhatikan dimensi judul: “Meningkatkan Interpersonal Skill dalam Interpersonal Skill para peserta didik. Pembelajaran IPS Kelas VII SMPN 1 Ciawigebang dengan Menerapkan Model Berdasarkan studi literatur, Rumansyah Kooperatif Tipe STAD”. (2006) menyatakan salah satu model pembelajaran yang dapat membantu guru dalam Dari permasalahan yang telah mengatasi masalah pembelajaran yang dipaparkan maka rumusan masalahnya adalah : dihadapinya adalah model pembelajaran 1) Apakah penerapan model kooperatif tipe kooperatif tipe STAD (Student Team Avievement STAD dapat meningkatkan Interpersonal Skill Division) Model kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran IPS?, merupakan salah satu tipe dari model kooperatif 2) Bagaimanakah gambaran efektivitas pene- dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil rapan model kooperatif tipe STAD dalam dengan jumlah tiap kelompok 4-5 orang peserta pembelajaran IPS?. didik secara heterogen, Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, Adapun Tujuan dari penelitian tindakan ini adalah penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis 1) meningkatnya Interpersonal Skill dalam dan penghargaan kelompok. (Trianto, 2017) pembelajaran IPS melalui penerapan model kooperatif tipe STAD, Pada dasarnya model ini dirancang 2) Mengetahui gambaran efektivitas pene-rapan untuk memotivasi peserta didik agar saling model kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran membantu antar anggotanya dalam menguasai IPS?. pengetahuan dan mempunyai konsep pengelompokkan yang memberikan peserta Ketercapaian penelitian ini didasarkan didik peluang belajar secara santai dengan pada dua indikator keberhasilan penelitian. menumbuhkan rasa tanggung jawab, team work Pertama rata-rata Interpersonal Skill berada yang baik, persaingan sportif dan keterlibatan pada Kriteria baik (80 s.d. 89), kedua rata-rata belajar yang disampaikan oleh guru melalui hasil belajar peserta didik mencapai KKM (75) model pembelajaran cooperatif learning tipe dengan prosentase sebesar 85%. Jika kedua Student Team Achievement Division (STAD) indikator penelitian tercapai maka penelitian juga sangat membantu guru untuk memudahkan tindakan dihentikan. peserta didik belajar aktif dan dapat memahami materi pelajaran yang diberikan. Model . kooperatif tipe STAD merupakan salah satu METODE upaya meningkatkan antusias belajar peserta didik yang interaktif. Metode penelitian tindakan kelas yang digunakan adalah model Kemmis and Taggart Slavin (2015) menyebutkan langkah- (Wiriaatmaja, 2019) langkah STAD meliputi: 1) Pembentukkan kelompok belajar/ diskusi yang anggotanya Gambar 1. memiliki kemampuan heterogen; 2) Guru Siklus PTK Model Kemmis and Taggart menyajikan materi pelajaran; 3) Guru memberi tugas pada kelompok untuk dikerj oleh anggotanya. Anggota yang sudah mengerti menjelaskan pada anggota yang belum mengerti (tutor sebaya); dan 4) Guru memberikan kuis/ pertanyaan kepada seluruh peserta didik, pada saat menjawab tidak boleh saling membantu. Disamping itu, tipe STAD yang dikembangkan oleh Slavin ini merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi di antara peserta didik Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Gambar 1. memperlihatkan bahwa penelitian Pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD dilaksanakan sebanyak dua siklus, dengan dirancang dalam bentuk rencana pelaksanaan tahapan: pembelajaran atau RPP. Dokumen ini dibuat untuk dua kali tatap muka. Tindakan penelitian a. Perencanaan (plan) berorientasi pada proses dan hasil. Teknik b. Pelaksanaan (do) pengumpulan data yang digunakan adalah c. Pengamatan (see) pengamatan dan tes tulis dengan instrumen yang d. Refleksi digunakan berupa lembar pengamatan dan soal uraian. Penelitian tindakan dilakukan dengan Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VII E Adapun data yang diperoleh sebagai berjumlah 39 orang, terdiri dari 13 laki-laki dan 26 berikut. perempuan. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMPN 1 Ciawigebang, 1. Data Interpersonal Skill diperoleh dari Kuningan. hasil dengan melakukan pengamatan terhadap lima indikator yaitu; Kegiatan penelitian dimulai dari bulan (a) kemampuan kerjasama tim, September hingga Desember 2021. Terdiri dari (b) kemampuan menyelesaikan dua siklus, masing-masing siklus dua kali masalah, pertemuan. Setiap pertemuan terdiri dari (c) etika moral, kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan (d) kemampuan komunikasi, dan penutup. Perencanaan dimulai pada bulan (e) keterampilan kepemimpinan, September 2021, minggu ketiga. Pelaksanaan (Synergy dalam Goleman: 1999). siklus satu pada bulan Oktober minggu kesatu. Pelaksanaan siklus dua pada minggu 2. Data diperoleh dengan menghitung keempatnya. Penyusunan laporan penelitian jumlah peserta didik yang menunjukkan dilaksanakan pada bulan November 2021. indikator Interpersonal Skill tersebut pada masing-masing kelompok Kegiatan inti pada setiap siklus mengikuti sintak model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Tabel 2. Kisi-kisi lembar observasi Soft Skill Sintak tersebut sebagaimana dikemukakan oleh (interpersonality) Ibrahim, dkk (dalam Trianto, 2009), terdiri dari enam fase, lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel 1. Sebagai berikut. Tabel 1. Sintak Model Kooperatif Tipe STAD Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Tabel 3. Format Pengamatan Interpersonal Skill HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian tindakan kelas ini berlangsung 3. Data hasil belajar digunakan untuk melihat efektivitas penerapan model sebanyak dua siklus, dan setiap siklus terdiri dari kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran dua pertemuan. Pelaksanaan penelitian dan hasil IPS. kedua siklus sebagaimana diuraikan berikut ini. Teknik analisis data untuk kedua data 1. Siklus I tersebut adalah sebagai berikut. Pelaksanaan siklus satu merujuk pada 1. Data Interpersonal Skill dinyatakan dalam tabel 1 tentang sintak model kooperatif tipe STAD. Berikut disajikan perencanaan, persentasi per kelompok, menggunakan pelaksanaan, pengamatan dan refleksi dari rumus : siklus satu. a. Perencanaan Keterangan a = jumlah peserta didik yang Penelitian tindakan dilaksanakan menunjukkan indikator untuk mencapai satu kompetensi dasar Interpersonal Skill perkelompok. pengetahuan dan satu kompetensi dasar b = jumlah peserta didik per kelompok keterampilan. Kompetensi dasar Selanjutnya data tersebut dikualitatifkan ke pengetahuan pertama adalah peserta dalam kriteria seperti pada tabel 4. Sebagai didik dapat Menelaah perubahan berikut. keruangan dan interaksi antarruang di Indonesia dan negara-negara ASEAN Tabel 4. Kriteria Interpersonal Skill yang diakibatkan oleh faktor alam dan manusia (teknologi, ekonomi, Yang menjadi target capaian dalam pemanfaatan lahan, politik) dan pe- penelitian ini adalah peserta didik ngaruhnya terhadap keberlangsungan memperoleh nilai Interpersonal Skill kehidupan ekonomi, sosial, budaya, dan dengan kriteria baik. politik. Kompetensi dasar pengetahuan 2. Nilai Hasil belajar ditentukan dengan rumus Kompetensi dasar keterampilan yang . ingin dicapai yaitu peserta didik dapat Menyajikan hasil telaah tentang Nilai tersebut di bandingkan dengan KKM perubahan keruangan dan interaksi yang sudah ditentukan sebelumnya yakni antarruang di Indonesia dan negara- 75. Target capaian dari penelitian ini adalah negara ASEAN yang diakibatkan oleh minimal 85% peserta didik mencapai nilai faktor alam dan manusia (teknologi, KKM. ekonomi, pemanfaatan lahan, politik) dan pengaruhnya terhadap keber-langsungan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Kegiatan perencanaan siklus satu diawali dengan pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk dua pertemuan. Perencanaan tindakan pembelajaran di dasarkan pada hasil diskusi dengan observer. Selanjutnya pembuatan Lembar Kerja Kelompok, pembuatan format- format lembar observasi, dan merancang instrumen pembelajaran meliputi pembuatan soal. Model pembelajaran yang akan diterapkan adalah kooperatif tipe STAD terdiri dari enam fase yaitu menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik, menyajikan/menyam- paikan informasi, mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok-kelompok Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


pembelajaran, membimbing kelompok memberikan kuis berupa soal Post test. bekerja dan belajar, evaluasi, dan Pemantapan materi ini bertujuan untuk memberikan penghargaan. mengetahui sejauh mana peserta didik memahami materi yang telah b. Pelaksanaan disampaikan selama proses pem- Pembelajaran kooperatif tipe belajaran berlangsung dan untuk mengukur ketercapaian hasil belajar STAD dilaksanakan dalam dua kali peserta didik. pertemuan Pembelajaran siklus 1. Pertemuan pertama dan kedua terdiri dari Post test berjalan dengan baik, pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. selanjutnya guru menginstruksikan untuk mengumpulkan ke depan kelas yang Aktivitas pada pendahuluan yaitu kemudian dibagikan acak dan dikoreksi saat guru melakukan apersepsi ada dua bersama-sama. kelompok terlihat menjawab per-tanyaan. Kemudian saat guru menjelaskan Pada kegiatan penutup, guru tahapan, tujuan dan penilaian bersama peserta didik menyimpulkan pembelajaran ada tiga kelompok yang materi yang telah dipelajari dengan memperhatikan penjelasan guru. seksama. Guru memberikan reward kepada kelompok yang berprestasi pada Pada aktivitas inti ini, peserta didik pertemuan sebelumnya. Hal ini diarahkan untuk duduk bersama diharapkan dapat memotivasi peserta kelompoknya, setelah itu peneliti didik untuk lebih giat belajar. Tidak lupa menyampaikan materi kepada peserta peneliti juga menyampaikan pesan moral. didik. Langkah selanjutnya setelah materi Selanjutnya peneliti menutup pem- tersampaikan peneliti mem-bagikan belajaran dengan membaca hamdalah lembar kerja kelompok kepada peserta bersama-sama dan mengucapkan didik. guru memberikan tugas yang sama salam. pada masing-masing kelompok. Setelah itu peneliti mengintruksikan agar lembar Pengambilan data hasil belajar kerja kelompok tersebut dikerjakan peserta didik dilakukan untuk mengetahui bersama dengan kelompoknya masing- apakah kegiatan pembelajaran telah masing dengan cara diskusi. Apabila berjalan dan mencapai hasil se- salah satu anggota kelompok mengalami bagaimana yang ditetapkan dalam RPP. kesulitan dalam menyelesaikan tugas, di- Instrumen yang digunakan berupa tes persilahkan untuk bertanya dan minta tulis yaitu soal uraian. untuk diajari oleh teman satu ke- lompoknya yang sudah bisa. Dan apabila Adapun hasil belajar peserta didik dalam satu kelompok tidak ada yang bisa, pada siklus satu dapat terlihat pada tabel maka dipersilahkan untuk minta 5 berikut ini. penjelasan kepada guru. Peneliti juga memberi arahan agar anggota kelompok Tabel 5. Prosentasi Ketercapaian KKM Siklus I yang sudah paham dengan materinya membantu anggota kelompok yang No. K riteria F % belum paham. K e tu n tas an Ketika peserta didik berdiskusi, 1 Tuntas 22 56 guru berkeliling untuk mengamati kegiatan masing-masing peserta didik. 2 B elum Tuntas 17 44 Peneliti juga memberikan motivasi agar peserta didik aktif ketika berdiskusi. Jum lah 39 100 Kemudian setelah lembar kerja kelompok selesai dikerjakan peserta didik, peneliti Grafik 1. Tabulasi Data Siklus I mengintruksikan agar lembar kerja Berdasarkan hasil analisis data siklus I pada kelompok dikumpulkan dan dikoreksi tabel 4 di atas diketahui bersama-sama. Selanjutnya, guru mengadakan pemantapan materi dengan Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


bahwa efektivitas penerapan model telah disampaikan selama proses kooperatif tipe STAD dapat me- pembelajaran berlangsung dan untuk ningkatkan Soft skill (interpersinali) mengukur ketercapaian hasil belajar dalam pembelajaran IPS di Kelas VII E, peserta didik. selanjutnya hasil belajar peserta didik 2) Pertemuan Dua. menunjukkan peserta didik yang mencapai KKM pada siklus 1 sebesar Aktivitas kegiatan pendahuluan 56% (22 orang) dan sisanya sebanyak 17 pada saat guru meminta setiap (44%) peserta didik yang belum tuntas. kelompok mempersentasikan hasil diskusi kelompok ada empat c. Pengamatan kelompok yang mempersentasikan Pengamatan dilakukan oleh guru dengan baik. Aktivitas pada kegiatan inti di tahap penerapan saat guru dan pengamat atau rekan sejawat. memfasilitasi dan memonitor Pengamatan yang dilakukan guru kegiatan diskusi terlihat hanya dua difokuskan pada kegiatan pem-belajaran. kelompok saja yang mampu Kegiatan pengamatan oleh rekan sejawat mempresentasikan hasil diskusi difokuskan terhadap aktivitas peserta kelompoknya. Kekurangan dari didik. Pengamatan aktivitas siwa penting kelompok tersebut adalah tidak tepat untuk memastikan tindakan yang waktu dan mendapat bantuan guru dilakukan adalah pembelajaran untuk menyelesaikannya. kooperatif tipe STAD. Pengamatan aktivitas peserta didik bersamaan Aktivitas peserta didik diperoleh dengan pelaksanaan penelitian tindakan dari pengamatan oleh rekan sejawat. kelas. Ta b e l 3 m e m p e r l i h a t k a n h a s i l 1) Pertemuan Pertama pengamatan berupa nilai aktivitas peserta didik pada pembelajaran siklus Pengamatan siklus satu satu. pertemuan pertama dilakukan terhadap aktivitas peserta didik yang Tabel 6. Nilai dan Kriteria Aktivitas Peserta didik Siklus berlangsung selama tindakan. Satu Pengamatan ini dilaksanakan oleh rekan sejawat. Mencermati data dalam tabel 6 terlihat bahwa rata-rata aktivitas peserta didik siklus satu Aktivitas pada pendahuluan mencapai nilai 3,33 atau kriteria baik. Oleh yaitu saat guru melakukan apersepsi karena itu indikator penelitian untuk aktivitas ada dua kelompok terlihat menjawab pembelajaran telah tercapai. Meskipun aktivitas pertanyaan. Kemudian saat guru telah mencapai indikator penelitian, tetapi menjelaskan tahapan, tujuan dan penelitian tindakan tetap dilanjutkan ke siklus penilaian pembelajaran ada tiga dua dengan perbaikan aktivitas guru. Aktivitas kelompok yang memperhatikan yang masih bernilai 3 atau kriteria baik adalah penjelasan guru. fase memahami informasi, peserta didik terorganisir, kegiatan kelompok dan evaluasi. Pada tahap aktivitas inti ini, Perbaikan aktivitas pada keempat fase tersebut Ketika peserta didik berdiskusi, guru dirumuskan dalam kegiatan refleksi penelitian berkeliling untuk mengamati kegiatan tindakan kelas antara guru dengan pengamat. masing-masing peserta didik. Peneliti juga memberikan motivasi agar peserta didik aktif ketika berdiskusi. Kemudian setelah lembar kerja kelompok selesai dikerj peserta didik, peneliti mengintruksikan agar lembar kerja kelompok dikumpulkan dan dikoreksi bersama-sama. Selanjutnya, guru mengadakan pemantapan materi dengan memberikan kuis berupa soal Post test. Pemantapan materi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik memahami materi yang Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Hasil refleksi pada siklus satu menjadi Terbukti dengan adanya beberapa rujukan perbaikan pada pembuatan RPP peserta didik yang mencontek pekerjaan pada siklus dua. temannya dan ragu untuk mengumpulkan soal yang dikerjanya. Berikut hasil observasi terhadap 5. Pada hasil observasi menunjukkan Interpersonal Skill peserta didik pada bahwa berdasarkan taraf keberhasilan, siklus I: aktivitas peneliti ter-masuk pada kriteria cukup. Sedangkan pada aktivitas peserta Tabel 7. Hasil Observasi Terhadap Interpersonal Skill didik masuk dalam kriteria cukup. Hal ini pada Siklus I menunjukkan bahwa aktivitas guru dan aktifitas peserta didik masih belum Berdasarkan hasil observasi terlihat Rata-rata maksimal dalam proses pem- skor Interpersonal Skill pada siklus I sebesar belajarannya. 80,4 (kriteria “Baik”). Hasil pengamatan terhadap 6. Hasil belajar peserta didik berdasarkan soft skill (interpersonal) peserta didik hasil tes yang telah dilakukan pada siklus menunjukkan bahwa kegiatan peserta didik I, menunjukkan bahwa belum memenuhi khususnya kerjasama tim (kelompok) nampak ketuntasan hasil belajar. aktif dan pengelolaan waktu cukup sesuai serta peserta didik memiliki etika moral selama Dari hasil refleksi tersebut dapat mengikuti pembelajaran yang baik. Adapun disimpulkan bahwa perlunya tindakan lebih lanjut kelemahannya adalah peserta didik yang lebih yaitu siklus II untuk meningkatkan Interpersonal menonjol dari yang lainnya masih mendominasi Skill peserta didik. dalam kegiatan diskusi kelompok. a. Refleksi Adapun kendala-kendala yang terdapat dalam siklus I dan rencana perbaikan siklus II Hasil pengamatan dan diskusi peneliti yaitu sebagai berikut. dengan observer, ditemukan beberapa hal yang 1. Belum maksimalnya kerjasama yang baik perlu untuk diperbaiki, diantaranya : 1. Guru masih belum terbiasa menerapkan antar individu dalam kelompok 2. Aktivitas guru dan peserta didik dalam model kooperatif tipe STAD yang melibatkan kelompok yang heterogen, hal proses pembelajaran belum maksimal ini terbukti ketika beberapa peserta didik 3. Beberapa peserta didik belum mencapai yang masih sulit menerima teman satu kelompoknya untuk kerjasama KKM mengerjakan soal. 4. Peserta didik masih belum terbiasa 2. Belum maksimalnya kerjasama yang baik dalam kelompok. Masih ada peserta didik dengan diskusi dalam bentuk kerja yang mengerjakanakan soal kelompok kelompok secara individu, hal ini dikarenakan kebiasaan mereka mengerjakanakan soal Adapun rencana perbaikan yang individu dan jarang belajar secara dilakukan pada siklus II, sebagai berikut. berkelompok. 1. Guru memantau peserta didik agar 3. Adanya beberapa peserta didik yang gaduh saat peneliti menjelaskan materi di bekerjasama dengan cara berkeliling depan kelas. 2. Memotivasi peserta didik untuk lebih giat 4. Peserta didik belum sepenuhnya percaya diri dengan kemampuannya masing- belajar masing. 3. Guru harus menjelaskan kemudahan dan manfaat yang diperoleh ketika belajar dalam bentuk kerja kelompok 2. Siklus II Perencanaan penelitian tindakan kelas dalam pembelajaran IPS siklus II diawali dengan: Identifikasi masalah yang muncul pada siklus I dan belum teratasi dan penetapan alternatif pemecahan masalah, Menentukan indikator pen- capaian hasil belajar, Pengembangan program tindakan II, menyusun dan mempersiapkan Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


lembar observasi, menyiapkan materi yang tersebut dikerjakan bersama diajarkan. dengan kelompoknya masing-masing dengan cara diskusi. Apabila salah satu Siklus dua dilaksanakan sebanyak anggota kelompok mengalami kesulitan dua pertemuan. Setiap pertemuan terdiri dari dalam menyelesaikan tugas, pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. dipersilahkan untuk bertanya dan minta a. Perencanaan untuk diajari oleh teman satu kelompoknya yang sudah bisa. Dan Perencanaan siklus dua apabila dalam satu kelompok tidak ada didasarkan pada hasil refleksi siklus satu. yang bisa, maka dipersilahkan untuk Hasil refleksi siklus satu memperlihatkan minta penjelasan kepada guru. Guru juga bahwa ada tiga tahap kegiatan inti yang memberi arahan agar anggota kelompok harus diperbaiki yaitu; yang sudah paham dengan materinya 1) Guru memantau peserta didik agar membantu anggota kelompok yang belum paham. bekerjasama dengan cara berkeliling dan membimbing ke Ketika peserta didik berdiskusi, setiap kelompok guru berkeliling untuk mengamati 2) Memotivasi peserta didik untuk kegiatan masing-masing peserta didik. lebih giat belajar dan bekerjasama Peneliti juga memberikan motivasi agar dalam kegiatan diskusi kelompok peserta didik aktif ketika berdiskusi. 3) Guru menjelaskan kemudahan dan Kemudian setelah lembar kerja kelompok manfaat yang diperoleh ketika selesai dikerj oleh peserta didik, guru belajar dalam bentuk kerja mengintruksikan agar lembar kerja kelompok kelompok dikumpulkan dan dikoreksi bersama-sama. Setelah kerja kelompok b. Pelaksanaan selesai, peneliti mengintruksikan pada Pelaksanaan tindakan semua peserta didik untuk mem- persiapkan diri karena peneliti pembelajaran siklus dua pada pertemuan memberikan kuis dalam bentuk soal. Soal pertama dan kedua terdiri dari tersebut ditujukan untuk mengukur hasil pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. belajar peserta didik. Guru meng- instruksikan kepada peserta didik agar Pendahuluan dimulai dengan tidak berbuat curang seperti mencontek apersepsi. Memulai pelajaran dengan dan memberikan jawaban kepada teman. mengucapkan salam. Kemudian peneliti Guru berkeliling untuk mengawasi mengkondisikan peserta didik untuk siap peserta didik. Selanjutnya peneliti mengikuti pembelajaran, di-lanjutkan menginstruksikan untuk mengumpulkan dengan berdo'a bersama dan hasil jawaban post test dan mengoreksi mengabsensi peserta didik guna bersama-sama. mengetahui kelengkapan peserta didik. Selanjutnya guru memotivasi dan Pada kegiatan penutup, setelah menyampaikan tujuan pembelajaran tes berakhir, Guru bersama peserta didik kepada peserta didik. Setelah itu guru menyimpulkan materi yang telah menyampaikan apersepsi berupa tanya dipelajari dengan seksama. Guru juga jawab kepada peserta didik sebagai mengumumkan kelompok yang men- jembatan menuju materi yang dapatkan nilai tertinggi, kemudian disampaikan. memberikan reward. Tidak lupa guru juga menyampaikan pesan moral kepada Kegiatan Inti, guru mengulas peserta didik dan menutup pembelajaran kembali materi ajar dengan me-nekankan dengan do'a dilanjutkan salam penutup. materi yang belum difahami oleh sebagian peserta didik. Pada pertemuan Model pembelajaran kooperaitf siklus I beberapa peserta didik belum tipe STAD yang merupakan penekanan memahami materi. Dengan adanya pada proses belajar mengajar ini dapat penekanan materi diharapkan peserta terealisasikan meski belum sempurna. didik lebih memahami materi. Keaktifan peserta didik nampak sekali, pada dasarnya kegiatan pembelajaran Langkah selanjutnya, peneliti akhir dapat dilaksanakan dengan baik. memberikan lembar kerja kepada masing-masing kelompok untuk didiskusikan. Setelah itu guru meng- intruksikan agar lembar kerja kelompok Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Dari evaluasi atau Post test yang dilaksanakan diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 8. Prosentasi Ketuntasan Siklus II Grafik 2 Tabulasi Data Siklus II Mencermati data dalam tabel 9 terlihat bahwa rata-rata aktivitas peserta Berdasarkan hasil data siklus II pada tabel 2 didik siklus satu mencapai nilai 3,7 atau di atas diperoleh gambaran bahwa hasil kriteria Sangat baik. Oleh karena itu indikator belajar peserta didik Kelas VII E mengalami penelitian untuk aktivitas pembelajaran telah peningkatan yaitu peserta didik yang tercapai. Aktivitas telah mencapai indikator, mencapai KKM kelas dari siklus I yaitu 56% maka penelitian tindakan tidak dilanjutkan ke menjadi 85%. Jika dilihat dari nilai rata-rata siklus 3. Aktivitas yang masih bernilai 3 atau kelas pada siklus I hanya mencapai 78 kriteria baik adalah fase memahami sedangkan pada siklus II mengalami informasi, dan evaluasi. Perbaikan aktivitas peningkatan sebesar 81. pada kedua fase tersebut dirumuskan dalam c. Pengamatan kegiatan refleksi penelitian tindakan kelas antara guru dengan pengamat. Hasil pengamatan pada kegiatan pendahuluan pertemuan pertama siklus dua, Berikut hasil observasi terhadap ketika guru memberikan pertanyaan Interpersonal Skill peserta didik pada siklus apersepsi empat kelompok terlihat II: menjawab. Kemudian pada saat guru menjelaskan mengenai tahapan, tujuan dan Tabel 10. Hasil Observasi Terhadap Interpersonal Skill penilaian pembelajaran semua kelompok pada Siklus II terlihat memperhatikan. Berdasarkan hasil observasi terlihat Rata-rata Aktivitas peserta didik diperoleh dari skor Interpersonal Skill pada siklus II sebesar 83 pengamatan oleh rekan sejawat guru. Tabel 8 (kriteria “Baik”). Hasil observasi terhadap memperlihatkan hasil pengamatan berupa Interpersonal Skill peserta didik pada proses nilai aktivitas peserta didik pada pembelajaran, berupa kemampuan pembelajaran siklus dua. berkomunikasi, kemampuan menyelesaikan masalah, kerjasama tim, etika moral dan Tabel 9. Nilai dan Kriteria Aktivitas Peserta didik keterampilan kepemimpinan. diperoleh Siklus II gambaran bahwa Interpersonal Skill dalam pembelajaran IPS terdapat peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Pada siklus II hampir seluruhnya peserta didik mulai menunjukkan kemampuan komunikasi dalam diskusi, menunjukkan keaktifan dalam kejasama tim, serta meningkatnya keterampilan ke- pemimpinan peserta didik. Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


d. Refleksi bahan yang kurang memenuhi standar Hasil dari refleksi pada perbaikan pembuatan TAD. Saran perbaikannya adalah guru mengecek seluruh alat pembelajaran IPS siklus II, penulis bahan sebelum pelaksanaan. menemukan kekuatan dan kelemahan Penelitian ini bertujuan meningkatkan yang nampak. Sebagai kekuatan peserta Soft skill (internpersonal) dalam pembelajaran didik nampak cukup antusias dan IPS kelas VII SMPN 1 Ciawigebang dengan bersemangat mengikuti pembelajaran, menerapkan model kooperatif tipe Student Team melatih peserta didik dapat menjelaskan Achievement Division (STAD). hasil kerja peserta didik di depan kelas Pada siklus I pembelajaran dengan dan interaksi antar peserta didik sangat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe nampak. Berikut hasil refleksi siklus II, Student Team Achievement Division (STAD) yaitu: dapat dikatakan belum berhasil meskipun rerata 1) Peserta didik sudah mampu persentase Interpersonal Skill peserta didik sebesar 80,4% tetapi hasil belajar peserta didik menjawab pertanyaan dari guru belum mencapai prosentasi KKM yang terkait materi. diharapkan yaitu hanya sebanyak 20 (56%) 2) Peserta didik memperhatikan peserta didik yang dinyat tuntas. Dengan penjelasan dari peneliti dengan demikian perlu diad perbaikan pada siklus II. baik, terbukti dengan adanya imbal Pada siklus II, peneliti memperbaiki balik yang baik pada saat kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I, pembelajaran berlangsung. peneliti kembali menekankan model cooperative 3) Peserta didik sudah mulai bisa learning tipe STAD bahwa setiap peserta didik bekerjasama dalam satu kelompok memiliki tanggung jawabnya masingmasing bahkan hubungan komunikasi antar dalam pembelajaran, yang mana jika salah satu laki-laki dan perempuan terjalin peserta didik tidak menjalankan kewajibannya dengan baik. maka ini berdampak bagi teman-teman lain di 4) Peserta didik sudah mulai berani kelompoknya, peneliti lebih mendorong peserta untuk bertanya kepada teman satu didik agar mengeluarkan semua ide-ide maupun kelompoknya saat dia tidak bisa potensi positifnya masing-masing, agar ide-ide menjawab pertanyaan kelompok. segar tersebut dapat menjadi solusi 5) Dalam mengerjakanakan soal permasalahan yang telah diberikan guru, dan evaluasi, peserta didik sudah mulai peneliti harus lebih dekat dengan peserta didik, percaya diri untuk mengerjakan lebih akrab dengan peserta didik agar tidak ada sendiri. sekat di antara peserta didik dan guru sehingga interaksi dapat berjalan lebih baik. Setelah melihat hasil tes yang Hal tersebut diharapkan dapat termasuk kategori sangat baik dan meningkatkan Interpersonal Skill dan hasil pengamatan terhadap peserta didik belajar peserta didik pada siklus II. Soft skill secara keseluruhan, dapat diputuskan peserta didik pada siklus II meningkat dengan bahwa penelitian dihentikan pada siklus persentase 83% dan telah mencapai prosentase II, karena Interpersonal Skill sudah KKM yang diharapkan, yaitu sebanyak sebanyak sesuai dengan harapan bahkan melebihi 33 (85%) peserta didik. Dengan demikian dari yang ditargetkan. penelitian ini dapat dikatakan tuntas karena telah mencapai Indikator keberhasilan pada penelitian Berdasarkan analisis data hasil yaitu rerata persentase Soft skill (interpersonal) belajar peserta didik yaitu postest, sudah mencapai 82% dan prosentase ketercapaian mencapai target yaitu rerata KKM di atas 80%. Interpersonal Skill mencapai skor Untuk lebih jelasnya, peningkatan hasil sebesar 83, serta pada ketercapaian evaluasi dari tiap siklus dapat diamati pada tabel KKM sudah tercapai yaitu sebesar 85% 11 dan grafik 3 sebagai berikut: (33 orang). Kendala yang dihadapi pada tahap discovery yaitu masih ada dua kelompok yang belum mampu me- nganalisis proses penyaringan dengan baik. Saran perbaikannya adalah dengan melakukan pegecekan melalui diskusi kelas. Kendala lainnya pada tahap application adalah masih ada alat dan Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Tabel 11. Prosentasi Ketuntasan Siklus I Dalam pembahasan hasil penelitian di atas dapat dijelaskan bahwa pembelajaran pada Grafik 3. Perbandingan Presentase Ketercapaian penelitian ini adalah pembelajaran IPS untuk Siklus I dan II meningkatkan interpersonal skiil peserta didik kelas VII melalui penerapan model CTL di SMP Di bawah ini di tunjukkan pula perbandingan Negeri 1 Ciawigebang. terhadap Interpersonal Skill pada siklus I dan siklus II, sebagai berikut: Penelitian tindakan kelas ini merupakan Tabel 12. Perbandingan Interpersonal Skill pada penelitian empiris yang menggunakan konstruk Siklus I dan Siklus II aspek pendidikan soft skill (kemampuan komunikasi, kerjasama tim, menyelesaikan Berdasarkan hasil observasi terlihat adanya masalah, pengelolaan informasi dan peningkatan antara siklus I ke II. Rata-rata skor keterampilan kepemimpinan) yang diamati Interpersonal Skill peserta didik naik dari 80,4 selama proses pembelajaran dengan (kriteria “Baik”) pada siklus I menjadi 83 (kriteria menerapkan model CTL dimana dalam model “Baik”) pada siklus II. Hal ini karena peserta didik penelitian ini dapat meningkatkan interpersonal sudah mulai terbiasa dengan model kooperatif skill peserta didik. tipe STAD yang diterapkan. Jika dilihat secara spesifik tiap Indikatornya, untuk kemampuan Berdasarkan data hasil penelitian berkomunikasi, reratanya naik dari kriteria tindakan kelas diketahui bahwa Penerapan “cukup” menjadi “Baik”, sedangkan untuk model kooperatif tipe STAD efektif dapat Indikator keterampilan kepemimpinan, naik dari meningkatkan Interpersonal Skill peserta didik “baik” menjadi “sangat baik”. pada mata pelajaran IPS, diindikasikan oleh terlampuinya semua indikator penelitian Melalui penerapan kooperatif tipe tindakan kelas, serta Meningkatnya STAD tersebut, tampak bahwa proses Interpersonal Skill peserta didik. Hal ini terbukti pembelajaran berpusat pada peserta didik dengan pencapaian Rata-rata skor Interpersonal dengan interaksi multi arah mampu Skill peserta didik naik dari 80,4 (kriteria “Baik”) meningkatkan kemampuan mereka pada siklus pertama menjadi 83 (kriteria “Baik”) bekerjasama, kedisiplinan, kreatifitas serta dan peserta didik yang mencapai KKM pada kemampuan berkomunikasinya. siklus I sebesar 22 (56%) menjadi 33 (85%) pada siklus II. Pada prinsipnya yang diungkapkan di atas bukan merupakan kekurangan tetapi Kelebihan model CTL pada penelitian ini merupakan kendala yang dihadapi dalam adalah memberikan kesempatan kepada pembelajaran. Kendala tersebut ada yang bisa peserta didik untuk memecahkan masalah diatasi dan ada yang tidak bisa di atasi. menurut cara individu masing-masing, (Kuswadi, 2014). mengembangkan keterampilan belajar berkomunikasi dalam kelompok, dan meningkatkan interaksi peserta didik dengan pendidik, mengembangkan keterampilan berpikir kritis yaitu mengembangkan cara-cara menemukan, bertanya, mengungkapkan, mendeskripsikan, mempertimbangkan dan membuat keputusan untuk menyelesaikan dengan pengetahuan baru, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. Selaras dengan hasil penelitian Ahmad Zordan (2020) dengan judul penelitian pengembangan interpersonal skill siswa melalui Ekstrakurikuler Rohis di SMAN 1 Maospati menjelaskan bahwa dari hasil penelitian tersebut menunjukkan peran interpersonal skill sangat Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


dibutuhkan agar terwujudnya interaksi positif Putra, I. S. & Pratiwi A. (2012) Sukses dengan antar elemen sekolah. Interpersonal skill yang Soft Skills. Bandung: Direktorat terdapat pada diri siswa dikembangkan agar Pendidikan Institut Teknologi Bandung. siswa mampu berinteraksi dengan baik. Dapat diketahui bahwa hasil penelitian ini menjelaskan S. Rahayu, (2013). Soft Skills Atribute Analysis in pula adanya peningkatan interpersonal skill Accounting Degree for Banking pada peserta didik. ”International Journal of Business, Economics And Law, Vol 2, No 1. KESIMPULAN Berdasarkan data yang sudah diperoleh Slavin, R. (2015). Cooperative Learning. Bandung: Nusa Indah. dari hasil penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan: Penerapan model kooperatif tipe Suwarsih, M. (1994). Panduan Penelitian STAD efektif dapat meningkatkan Interpersonal Tindakan. Yogyakarta: Lembaga Skill peserta didik pada mata pelajaran IPS di Penelitian IKIP Yogyakarta. kelas VII E SMPN1 Ciawigebang Kabupaten Kuningan, diindikasikan oleh terlampuinya Trianto. (2017). Model-model Pembelajaran semua indikator penelitian tindakan kelas, serta Inovatif Berorientasi Konstruktif. Meningkatnya Interpersonal Skill dalam Jakarta: Prestasi Pustaka. pembelajaran IPS melalui penerapan model kooperatif tipe STAD di kelas VII E SMPN1 ----- ( 2 0 1 9 ) . M e n d e s a i n m o d e l Ciawigebang Kabupaten Kuningan. Hal ini pembelajaran inovatif-progresif. terbukti dengan pencapaian Rata-rata skor Jakarta: Kencana Prenada Media Interpersonal Skill peserta didik naik dari 80,4 Group (kriteria “Baik”) pada siklus pertama menjadi 83 (kriteria “Baik”) dan peserta didik yang mencapai Utari. (2020). Wapres: Modul Pendidikan KKM pada siklus I sebesar 22 (56%) menjadi 33 \"Interpersonal Skill\" Minim. Retrieved (85%) pada siklus II. April 25, 2020, Rekomendasi dari hasil penelitian ini antara lain sebaga berikut: 1) Model Kooperatif tipe STAD dapat diterapkan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran bagi guru IPS khususnya dan guru mata pelajaran lainnya; 2) Guru dapat memilih indikator Interpersonal Skill yang menjadi prioritas untuk ditingkatkan dalam setiap penelitian tindakan. DAFTAR PUSTAKA Ahmad Zordan Khalifi (2020). Pengembangan interpersonal skill siswa melalui Ekstrakurikuler Rohis di SMAN 1 Maospati. Skripsi. Yogyakarta: Prodi PAI UIN Sunan Kalijaga. Depdikbud. (1999). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdikbud. Feri Sulianta, (2018). Panduan Lengkap Pengembangan soft Skill Interpersonal dan Intrapersonal. Yogyakarta: Penerbit Andi. Goleman, Daniel. (1999). Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hopkins, D. (1993). A Teacher's Guide to Classroom Research. Philadelpia: Open University Press. Kuswadi. (2014). Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. Retrieved Oktober 22, 2021, Muqowim. (2012). Pengembangan Soft skill Guru. Yogyakarta: Pedagogia. Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI METODE INFORMATION GAP (IG) PADA MATERI GAKKOU NO SEIKATSU (PTK di Kelas X IPS 2 SMAN 1 Ciampea, Tahun Pelajaran 2019/2020) Trisnani Eka Sukma Peni SMA Negeri 1 Ciampea Bogor ABSTRAK : Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan berdasarkan data pada materi terdahulu, bahwa keterampilan berbicara siswa kelas X IPS 2 SMAN 1 Ciampea masih rendah,. Hal ini disebabkan antara lain karena metode yang diterapkan guru kurang tepat, Tujuan penelitian ini adalah meningkatnya keterampilan berbicara siswa melalui metode Information Gap (IG). Penelitian ini terdiri dari 2 siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Subyek penelitian adalah siswa kelas X IPS 2 SMAN 1 Ciampea Bogor Tahun Pelajaran 2019/2020, sebanyak 33 siswa. Materi ajar dalam penelitian ini adalah Gakkou no Seikatsu. Data penelitian diperoleh dari tes praktik berbicara, wawancara, dan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan jumlah siswa pada keterampilan berbicara, yaitu sebanyak 21 siswa (64%) terampil berbicara dalam Bahasa Jepang pada siklus 1 dan sebanyak 32 siswa (97%) terampil berbicara pada siklus 2. Terdapat peningkatan jumlah siswa yang terampil berbicara sebanyak 11 siswa atau sebesar 52%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode Information Gap (IG) dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa pada materi Gakkou no Seikatsu. Guru Bahasa Jepang dan Bahasa asing lain disarankan menggunakan metode Information Gap (IG) untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Kata kunci : Keterampilan Berbicara, Metode Information Gap (IG), Materi Gakkou no Seikatsu PENDAHULUAN Jadi Keterampilan berbicara sangat Berbicara merupakan fakor penting penting dimiliki dan dikuasai oleh seseorang, agar ide atau gagasan dapat diterima oleh dalam kehidupan sehari-hari, sebab melalui penyimak. penyampaian informasi secara lisan ini komunikasi baik akan terjalin, sehingga Pernyataan di atas sejalan dengan kehidupan bermasyarakat akan harmonis. Oleh kompetensi yang harus dicapai siswa pada KD karena itu, dalam kurikulum ditetapkan bahwa 4.3 Pelajaran Bahasa Jepang SMA.Untuk itu dalam pembelajaran Bahasa, termasuk Bahasa diperlukan metode yang tepat untuk memenuhi Jepang, siswa dituntut untuk memiliki tuntutan pada KD Keterampilan berbicara kompetensi berbicara dalam Bahasa Jepang. tersebut. Berbicara adalah aktivitas berbahasa Berdasarkan data yang dimiliki guru kedua yang dilakukan manusia setelah pada materi terdahulu, keterampilan berbicara mendengarkan. Berdasarkan bunyi-bunyi Bahasa Jepang siswa kelas X IPS 2 SMAN 1 (bahasa) yang didengarnya itulah kemudian Ciampea masih rendah, yaitu terlihat dari manusia belajar mengucapkan dan akhirnya banyaknya siswa yang belum dapat berbicara mampu untuk berbicara (Nurgiyantoro, Bahasa Jepang. Hal ini antara lain disebabkan 2017:441). metode mengajar guru yang kurang tepat. Karena metode yang diterapkan pada proses Susanti (2018:3) mengungkapkan pembelajaran memiliki peran penting dalam bahwa berbicara lebih dari sekedar pengucapan membentuk pengetahuan dan keterampilan bunyi-bunyi atau kata-kata, namun berbicara siswa. Jika proses pembelajaran menggunakan adalah alat untuk mengemas ide dan gagasan metode yang tepat dan menarik, maka siswa agar dapat diterima oleh penyimak. akan menjadi lebih paham terhadap materi yang Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


disampaikan guru, sehingga hasil belajar siswa siswa melakukan dialog sambil mengisi lembar akan meningkat. Hal senada juga terdapat dalam tugas. 8) Guru mengamati dan menilai dialog simpulan penelitian Mardiah dalam Jurnal Studia siswa. 9) Guru meminta siswa membandingkan Didaktika Vo. II, bahwa hasil belajar siswa dapat lembar kerja siswa A dan siswa B. 10) Guru ditingkatkan dengan penggunaan metode memberikan kesempatan kepada siswa untuk pembelajaran yang tepat dan baik oleh guru bertanya. 11) Guru memberi penguatan. dalam proses pembelajaran di sekolah (Mardiah, Jurnal Studia Didaktika, 2017) Selain metode Information Gap, media kartu juga menjadi salah satu faktor pendukung Salah satu metode yang tepat untuk keberhasilan dalam KBM. Penggunaan media meningkatkan kemampuan berbicara adalah kartu sebagai pendukung ini telah berhasil Metode Information Gap (IG). Harmer (Defrioka, dilakukan oleh Trisnani Eka untuk meningkatkan 2016) menjelaskan bahwa Information Gap keterampilan menulis wacana sederhana (Jurnal berarti celah antara dua orang dalam informasi LPMP Vol. 13, 2020) yang mereka miliki, dengan percakapan membantu celah tersebut terisi sehingga pada Berdasarkan latar belakang yang akhirnya kedua pembicara memiliki informasi diungkapkan maka rumusan masalah dalam yang sama. Untuk mendapatkan infomasi penelitian ini adalah Apakah metode Information tersebut siswa harus melakukan komunikasi. Gap (IG) dapat meningkatkan keterampilan Dan keterampilan yang dapat dikembangkan berbicara Bahasa Jepang siswa pada materi dengan kegiatan ini adalah keterampilan Gakkou no Seikatsu di kelas X IPS-2 SMAN 1 berbicara. Ciampea Bogor Tahun Ajaran 2019/ 2020? Information Gap (IG) menurut Tujuan penelitian ini adalah Hayriye Kayi (2006) adalah kegiatan meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa pembelajaran dimana siswa berkewajiban Jepang pada materi Gakkou no Seikatsu melalui bekerja secara berpasangan. Satu siswa metode Information Gap (IG) bagi siswa kelas X memiliki informasi sementara siswa yang lain IPS-2 SMAN 1 Ciampea-Bogor. Manfaat pe- tidak mempunyai informasi, mereka harus saling nelitian bagi siswa adalah dapat meningkatkan tukar informasinya. keterampilan berbicara Bahasa Jepang. Sedangkan manfaat bagi guru adalah dapat Penelitian tentang penerapan menjadi bekal pengetahuan yang baik untuk metode Information Gap (IG) ini pernah mencapai tujuan pembelajaran bahasa Jepang, dilakukan oleh Novi Fatrina, Mahdum, Desri dalam rangka meningkatkan profesionalisme (2016) dengan judul Penerapan Teknik guru. Serta agar guru Bahasa Jepang dapat Information Gap untuk meningkatkan menggunakan metode Information Gap (IG) kemampuan Berbicara Siswa Kelas Dua Di dalam pembelajaran Bahasa Jepang. SMAN 11 Pekan Baru. Dalam simpulannya dikatakan bahwa metode Information Gap (IG) METODE dapat meningkatkan kemampuan berbicara Penelitian ini dilaksanakan mengacu siswa. Siswa mendapatkan kenaikan rata-rata nilai, yaitu sebesar 68,10 pretes, nilai rata- rata pada model spiral dari Kemmis dan Taggart sebesar 73,48 pada siklus 1, dan rata-rata 82,10 (Ekawarna, 2010 : 16) dengan alur kegiatan pada siklus 2. sebagai berikut : Sintak pembelajaran teknik Gambar 1 : Model Action Research Kemmis & Information Gap (IG) menurut Ismukoco (2012) Taggart adalah sebagai berikut : 1) Guru membahas kosakata yang ada pada lembar tugas (task) Berdasarkan desain di atas, tahapan penelitian yang akan dibahas. 2) Guru melatih pengucapan dijabarkan menjadi : kosakata yang ada pada tugas (task). 3) Guru a) Perencanaan Tindakan, yaitu menyusun membahas Language Function yang akan instrumen penelitian berupa soal tes, panduan digunakan pada tugas (task). 4) Guru melatihkan wawancara, lembar observasi. Perangkat pengucapan Language Function yang dibahas. pembelajaran yang dipersiapkan adalah RPP. 5) Guru membagi siswa menjadi pasangan kerja. 6) Guru membagi lembar tugas (task) kerja kepada siswa A dan siswa B. 7) Guru meminta Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


b) Pelaksanaan Tindakan, yaitu berupa kolaborator, untuk memberi masukan dan pelaksanaan proses pembelajaran, tes, koreksi terhadap jalannya KBM pada siklus wawancara, dan pengumpulan lembar berikutnya. observasi. c) Observasi, Tahap ini dilakukan pengamatan Refleksi Hasil pengamatan aktivitas terhadap jalannya pembelajaran, baik yang belajar dan hasil belajar siswa berupa nilai dilakukan guru maupun siswa. merupakan bahan untuk didiskusikan oleh d) Refleksi, dilakukan sebagai dasar untuk peneliti dan kolaborator, kemudian digunakan perbaikan pada siklus berikutnya. Apabila dari sebagai dasar perbaikan pada siklus berikutnya. kesimpulan yang didapat, hasilnya belum menunjukkan indikator keberhasilan, maka Analisis Data dilakukan secara penelitian dilanjutkan ke siklus II, begitu deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh dari seterusnya. hasil observasi selama proses pembelajaran dan evaluasi pembelajaran setiap siklus. Rubrik Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan penilaian yang digunakan adalah sebagai sebanyak 2 siklus. Siklus 1 dilaksanakan pada 22 berikut: Januari 2020. Setiap siklus terdiri dari 2 kali tatap muka, dengan 4 tahapan pada setiap siklus, Tabel 1. Rubrik penilaian keterampilan berbicara yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, refleksi. Pada akhir siklus 1 dilakukan evaluasi Cara Penilaian Nilai Tes Berbicara : dengan menganalisis pelaksanaan pem- Jumlah skor perolehan x 100 belajaran siklus tersebut. Skor Maksimum Pelaksanaan tindakan pada kegiatan inti meliputi : 1) Guru membahas kosakata yang Ta b e l 1 m e n u n j u k k a n b a h w a ada pada lembar tugas (task), 2) Guru melatih keterampilan berbicara dapat dilihat dari pengucapan kosakata yang ada pada tugas beberapa indikator, yaitu : kelancaran dalam (task), 3) Guru membahas Language Function berbicara, kosakata yang digunakan, ketepatan yang akan digunakan pada tugas (task), 4) Guru intonasi atau hatsuon, dan kejelasan ujaran. melatihkan pengucapan Language Function Rentang score yang digunakan adalah 1 – 3. yang dibahas. 5) Guru membagi siswa menjadi Score maksimal yang diperoleh siswa adalah 12. pasangan kerja. Siswa dibagi kelompok yang Selanjutnya score diolah menjadi nilai dengan terdiri dari 4 orang siswa per kelompok, 6) Guru cara score maksimal yang diperoleh siswa membagi lembar tugas (task) kerja kepada siswa dikalikan 100, kemudian dibagi score maksimal. A dan siswa B. 7) Guru meminta siswa melakukan dialog sambil mengisi lembar tugas. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan 8) Guru mengamati dan menilai dialog siswa. 9) Desember 2019 sampai Maret 2020. Diawali Guru meminta siswa membandingkan lembar dengan perencanaan awal penelitian, kerja siswa A dan siswa B. 10) Guru memberikan penyusunan instrumen seperti RPP, rubrik kesempatan kepada siswa untuk bertanya. 11) penilaian, dll. Dilaksanakan di kelas X IPS-2 Guru memberi penguatan. Penerapan metode SMAN 1 Ciampea Bogor, yang terletak di Jl Raya Information Gap (IG) ini didukung dengan Cibadak Ciampea Bogor. Subyek dalam penggunaan media kartu. penelitian ini adalah siswa kelas X IPS-2 SMA Negeri 1 Ciampea Bogor tahun ajaran Kegiatan Inti di siklus 2 dilakukan pada 2019/2020. Banyaknya siswa adalah 33 orang tanggal 5 Februari 2020, yang dilakukan untuk memperbaiki kekurangan pelaksanaan siklus 1. Pembelajaran siklus 2 ini dilaksanakan sesuai dengan sintak pembelajaran dengan metode Information Gap (IG) Teknik dan alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah : tes (untuk mengukur keterampilan berbicara), observasi (dilakukan oleh guru kolaborator dan peneliti, bersamaan dengan tindakan), wawancara (dilakukan oleh peneliti, pertanyaan dilontarkan kepada beberapa siswa yang dipilih secara acak) dan diskusi yang dilakukan bersama guru Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 16 siswa Latihan kosakata ini dilakukan secara perempuan. Indikator keberhasilan dalam bertahap. Yang pertama adalah secara klasikal Penelitian Tindakan Kelas ini adalah jika 80% yaitu guru menunjukkan salah satu kartu siswa telah mampu/ terampil berbicara dalam kosakata kemudian seluruh siswa dalam kelas Bahasa Jepang. mengucap kosakata yang dimaksud. Kedua dilakukan secara kelompok, yaitu siswa yang HASIL DAN PEMBAHASAN menjawab dibagi dua kelompok besar, dua baris siswa yang duduk di sebelah kiri dan dua baris Guru mulai kegiatan pembelajaran siswa yang duduk di sebelah kanan. Kemudian siklus 1 pada 22 Januari 2020, memasuki ruang kelompok yang lebih kecil, dikelompokkan per kelas bersama dengan guru observer. KBM barisan tempat duduk, lalu dibagi dengan yang dilaksanakan sesuai dengan Rencana lebih kecil lagi, yaitu ditunjuk acak secara Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disusun, individu. Langkah terakhir ini diambil untuk yaitu dimulai dengan kegiatan awal yang terdiri memastikan seluruh siswa sudah paham. Akhir dari kegiatan mengabsen, memotivasi siswa tahap pengenalan kosakata ini adalah guru dengan cara bertanya tentang nama benda yang memberi kesempatan kepada siswa untuk ada di kelas, menyampaikan tujuan mencatat kosakata. pembelajaran yang akan dicapai, melakukan apersepsi, serta menyampaikan cakupan materi. Langkah selanjutnya yang merupakan Materi Pembelajaran pada siklus 1 adalah : sintak ke-5 adalah guru membagi kelompok yang Kosakata (Isu,Tsukue, Karenda, Gomibako, terdiri dari 4 orang siswa pada setiap kelompok. Shashin, Kabin, Kokuban, Kokuban keshi), posisi Siswa diminta untuk membuat kartu gambar ( ue, shita, naka), arimasu, arimasen. kosakata di kertas karton ukuran 5x5 cm. Potongan karton merupakan tugas terstruktur Guru kolaborator yang bertindak dari pertemuan sebelumnya. Setelah kartu sebagai rekan selama penelitian dan sebagai kosakata selesai dibuat oleh siswa, guru observer adalah guru Bahasa Jepang kelas XI di menjelaskan kegunaan kartu tersebut dalam Sekolah yang sama. Selama kegiatan kegiatan pembelajaran. Kegunaannya adalah pembelajaran berlangsung observer menempati sebagai salah satu alat dalam latihan tempat duduk yang ada di belakang, untuk percakapan menggunakan metode Information mengamati pelaksanaan PTK ini. Gap. Pada awal kegiatan inti, guru Memasuki tahap latihan percakapan menerapkan sintak ke-1 yaitu menunjukkan menggunakan metode Information Gap, siswa benda-benda yang ada di kelas, dan berkegiatan dalam kelompok yang sudah mengkonfirmasi dengan menyebutkan dalam dibentuk dengan cara berpasangan dua orang- Bahasa Indonesia. Kosakata yang dibahas, dua orang. Pada sintak ke-6 ini merupakan inti meliputi : isu, tsukue, karendā, gomibako, dari kegiatan information Gap, shashin, kabin, kokuban, kokuban keshi; Posisi : 1) Guru meminta siswa menyediakan kotak atau ue, naka, shita. Kemudian sintak ke- 2 Guru wadah kecil, 2) lalu dua orang siswa meletakkan mencontohkan pengucapan kosakata dengan kartu gambar secara acak di sebuah kotak, dua menunjuk langsung benda yang dimaksud. Guru orang siswa yang lain tidak boleh melihat kartu mencontohkan kembali pengucapan kosakata, tersebut. Siswa menyimpan kartu kemudian Langkah ke-3 adalah guru menjelaskan memberi pertanyaan tentang kartu gambar apa kosakata, cara pengucapan. kemudian siswa yang disimpan dalam kotak tersebut. 3) Dua mengulang pengucapan guru. Selanjutnya untuk orang siswa yang lain menjawab secara lisan dan latihan pengulangan, yang merupakan langkah menyimpan kartu kosakata di kotak atau tempat ke-4, guru menggunakan media kartu kosakata. yang sudah disiapkannya. Bagian dialog ini Kartu kosakata ditunjukkan kepada siswa dan merupakan sintak ke-7. Selama kegiatan siswa mengucap kosakata berdasarkan kartu berlangsung, guru mengamati aktifitas yang ditunjukkan guru. Latihan ini dilakukan percakapan siswa sambil berkeliling kelas, yang berulang sampai siswa paham. Latihan merupakan sintak ke-8. Sesekali guru pengulangan, penggantian (klasikal, kelompok, membetulkan kesalahan siswa. 4) Siswa individu). mengkonfirmasi jawaban temannya dengan cara membalik gambar yang ada dalam kotak, disamakan gambar antara grup penanya dengan grup penjawab. Kegiatan konfirmasi Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


jawaban ini merupakan sintak ke-9. Percakapan arimasu ( meja ada di dalam ruang kelas), kabin ini dilakukan sampai kartu habis. Kegiatan ini dilakukan bergantian dalam kelompok. Ada wa tsukue no ue ni arimasu (vas bunga ada di beberapa grup yang bertanya kepada grup pasangannya menggunakan Bahasa Indonesia. atas meja). Guru membimbing siswa untuk Siswa tersebut tenyata lupa, bahwa selama kegiatan percakapan Bahasa yang digunakan latihan penggantian, yaitu dengan cara adalah Bahasa Jepang. Setelah diingatkan oleh guru maka kemudian kembali menggunakan mengganti benda, mengganti posisi, dan Percakapan dalam Bahasa Jepang seperti yang sudah diajarkan. mengganti tempat. Setelah itu guru memberi Setelah kegiatan dalam kelompok kesempatan siswa untuk mencatat pola kalimat selesai dilaksanakan, guru meminta satu kelompok siswa untuk mendemontrsasikan dan contoh kalimat yang dibuat pada saat latihan percakapan di depan kelas. Guru meminta seluruh siswa untuk memperhatikan kelompok penggantian. yang sedang demonstrasi di depan, dan Menjelang berakhirnya waktu Kegiatan mengoreksi kesalahan jika ada. Guru memberikan umpan balik terhadap kegiatan Belajar, Siswa dan guru bersama- sama yang dilakukan siswa, dan meyakinkan kembali menyimpulkan materi pelajaran. Yaitu sudah bahwa seluruh siswa sudah memahami kosakata mengenal kosakata benda yang ada di sekolah yang akaan digunakan dalam pembelajaran. Ini seperti : tsukue, isu, kokuban, kokuban keshi, adalah menjadi langkah terakhir pada kegiatan kalender, gomibako, shashin, kabin, kokuban, Information Gap. kokuban keshi. Juga mengenal kosakata yang menyatakan posisi seperti ue, naka, shita. Kegiatan berikutnya adalah guru memperkenalkan pola kalimat untuk Sebelum mengakhiri pertemuan guru menyatakan keberadaan benda. Pola kalimat berpesan kembali untuk menggunakan pola yang yang dimaksud adalah : sudah diajarakan tersebut untuk menginformasikan tentang letak benda. Guru Gambar 2. Pola kalimat untuk menyatakan posisi juga memberikan tugas berupa latihan kalimat benda. yang ada di buku paket. Sedangkan materi lanjutan tema ini diselesaikan pada minggu Sebelum guru mencontohkan berikutnya juga disampaikan kepada siswa. membuat kalimat, terlebih dahulu guru memberi Terakhir, guru menutup kegiatan pembelajaran kesempatan kepada siswa untuk mengamati dengan doa dan memberi salam. pola kalimat tersebut dan mendorong siswa untuk berpikir, sehingga siswa dapat membuat Pada pertemuan ke-dua guru contoh kalimat sendiri. melakukan kegiatan pendahuluan yang meliputi mengabsen, memotivasi siswa, dan apersepsi Setelah guru menunggu respon berkaitan dengan macam-macam benda yang beberapa saat, muncullah pemikiran siswa yang ada di sekolah. Siswa ditanya tentang letak menyatakan kalimat sesuai dengan pola kalimat barang-barang yang ada di dalam kelas. yang ada. Pada awalnya muncul satu orang Selanjutnya guru menyampaikan tujuan siswa, tetapi kemudian disusul oleh suara siswa pembelajaran yang akan dicapai dalam KBM yang lain, dengan beragam jenis benda, dan tersebut. akhirnya hampir semua siswa menyuarakan pemikirannya dalam me-nerapkan kosakata Siswa diberikan contoh kalimat posiif dalam pola kalimat. Kemudian guru tentang keberadaan suatu benda, yang mencontohkan kalimat yang benar sesuai pola merupakan pengulangan materi pada pertemuan kalimat. sebelumnya. Kemudian guru menyambungkan ingatan siswa terhadap pola kalimat yang Guru melatih menginformasikan letak digunakan untuk menyatakan kalimat tersebut. benda menggunakan benda nyata. Meja dan Beberapa siswa langsung merespon pancingan ruang kelas digunakan sebagai kosakata tempat yang diberikan guru dengan menjawab pola yang mudah digunakan sebagai contoh kalimat. kalimat yang digunakan. Guru mengapresiasi Misalnya : tsukue wa kyoushitsu no naka ni jawaban siswa, dan menuliskannya di papan tulis. Pada kegiatan inti, guru melanjutkan menyampaikan materi dengan cara memberikan beberapa contoh kalimat positif dan beberapa kalimat negative. Ini merupakan sintak pertama pada metode information Gap. Guru memberikan stimulus dan mendorong siswa untuk dapat menemukan sendiri pola kalimat untuk Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


menyatakan kalimat negatif. Siswa berlatih melakukan penilaian keterampilan berbicara membuat kalimat yang menyatakan letak benda. siswa. Sebagian siswa sudah lancar dalam praktik bicara ini. Tetapi masih ada beberapa Selanjutnya pada sintak ke dua hingga siswa yang kebingungan ketika memulai ke empat guru mengarahkan pemikiran siswa percakapan. Ada pula yang lupa kosakata, juga untuk dapat menemukan cara menanyakan ada yang salah pengucapan. Bahkan ada siswa keberadaan benda. Pertanyaan pancingan yang mencari tau jawaban dengan membuka beberapa kali dilontarkan, dan kemudian ada kartu milik temannya. Pada saat membetulkan siswa yang menyebut kata tanya 'doko'. Guru kesalahan siswa, guru beberapa kali menyebut mengapresiasi pendapat siswa, dengan “neng”, hal ini pun menjadi bahasan dengan guru memberikan kata pujian 'bagus'. Pujian kecil ini kolaborator. ternyata membuat siswa senang, hal ini nampak dari raut muka yang berseri-seri ketika dipuji. Sebagai bentuk penguatan atau Kemudian guru mencontohkan kalimat cara Langkah terakhir dari metode Information Gap bertanya dan cara menjawab. Siswa mengikuti ini, guru memberikan umpan balik kepada siswa, ujaran guru. Aktifitas ini diulang beberapa kali, membenarkan beberapa kesalahan yang terjadi hingga siswa dapat ,menyimpulkan sendiri pola selama praktik berbicara. Hasil penilaian kalimat yang digunakan untuk bertanya tentang keterampilan berbicara dapat dilihat pada grafik keberadaan benda. Guru meminta salah satu berikut ini. siswa menuliskan pola kalimat tersebut di papan tulis. Lalu guru memberi kesempatan kepada Grafik 1. Data Hasil Belajar Siswa tentang semua siswa untuk menulis di buku catatan. Kemampuan Berbicara di Siklus 1 Kegiatan sintak ke lima, guru membagi Grafik 1 menunjukkan bahwa siswa berpasang-pasangan, karena jumlah keterampilan berbicara siswa dalam Bahasa siswa X IPS 2 ini ganjil, maka satu orang siswa Jepang pada siklus 1 masih kurang . Hal ini berpasangan dengan guru ketika praktik nampak dari jumlah siswa yang sudah terampil berbicara. Siswa yang sudah berpasang- berbicara baru 64% atau 21 orang. Dan pasangan ini kemudian berlatih percakapan. sebanyak 36% atau 12 siswa belum terampil berbicara dalam Bahasa Jepang. Nilai terendah Menginjak sintak ke enam dan tujuh, adalah 41,7 dan nilai tertinggi 100, hasil nilai rata- Guru menjelaskan cara melakukan kegiatan rata kelas sebesar 68,69. Nilai rata-rata kelas ini praktik berbicara dalam metode Information Gap masih berada di bawah Kriteria Minimum yang dan memberikan Batasan waktu. Langkah- ditentukan. Melihat masih banyaknya siswa yang langkah dalam kegiatan adalah : 1) Guru belum menguasai keterampilan berbicara dalam memberikan worksheet berupa 2 gambar meja Bahasa Jepang, maka harus dilakukan penelitian dan kursi (gambar teman dan gambar saya). 2) lanjutan, agar keterampilan berbicara siswa Siswa menambahkan barang-barang yang dapat ditingkatkan seperti yang diharapkan, diletakkan secara bebas di gambar saya. 3) sesuai dengan indikator keberhasilan pada Siswa tidak boleh saling memperlihatkan gambar penelitian ini. kepada teman, 4) Siswa menanyakan posisi benda kepada temannya, lalu menuliskannya Berikut ini disajikan grafik untuk pada gambar teman. 5) Siswa mengkonfirmasi menggambarkan keadaan kemampuan jawaban teman. Siswa melakukan kegiatan berbicara siswa pada siklus 1, sesuai dengan secara bergantian. Yang harus diperhatikan komponen yang terdapat dalam rubrik penilaian. adalah bahwa selama kegiatan praktik berbicara ini harus menggunakan Bahasa Jepang, tidak boleh menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda. Namun masih banyak siswa yang bebicara diselingi menggunakan Bahasa Indonesia ketika kesulitan atau lupa mengungkapkan dalam Bahasa Jepang. Guru mengamati kegiatan yang dilakukan siswa (sintak ke delapan) dan Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Grafik 2. Data Kemampuan berbicara Siswa dalam ketika latihan menggunakan metode Information kelancaran bicara, penguasaan kosakata, intonasi Gap. 3) Kemampuan berbicara dalam Bahasa Jepang siswa masih rendah. 4) Guru dan kejelasan ujaran pada Siklus 1 memberikan Latihan lebih pada intonasi dan kejelasan ujaran. Berdasarkan hal inilah maka Grafik 2 menunjukkan bahwa dilakukan Penelitian Tindakan siklus 2. komponen kelancaran ujaran siswa setelah menyelesaikan pembelajaran di siklus 1 adalah Deskripsi siklus 2 baik, rata-rata nilai siswa mencapai 80. Pada Kegiatan Belajar Mengajar Siklus 2 komponen penguasaan kosakata, nilai rata-rata siswa adalah 74 sedikit berada dibawah dilakukan pada 5 Februari 2020, yang kemampuan kelancaran ujaran. Selanjutnya merupakan perbaikan terhadap kekurangan pada intonasi dan kejelasan ujaran masih yang terdapat pada proses belajar mengajar menunjukkan kemampuan siswa rata-rata masih siklus 1. Dilaksanakan sesuai dengan hasil rendah. refleksi, sehingga perbaikan pada siklus 2 difokuskan pada proses belajar mengajar Refleksi Siklus 1 dengan metode Information Gap. Data Hasil pembelajaran pada siklus 1 Guru mengajar sesuai dengan menunjukkan bahwa terdapat 12 orang siswa Rencana Pembelajaran yang telah disusun , yang belum terampil berbicara. Sebanyak 64% yaitu dimulai dengan kegiatan awal yang terdiri siswa yang sudah terampil berbicara, sementara dari kegiatan mengabsen, memotivasi siswa. itu pembelajaran dianggap berhasil apabila Guru melakukan apersepsi dengan cara siswa yang terampil berbicara mencapai ≥ 80%. menanyakan posisi benda di dalam kelas. Kemudian guru menyampaikan tujuan Hasil wawancara dengan siswa dapat pembelajaran yang akan dicapai, serta disimpulkan bahwa metode Information Gap menyampaikan cakupan materi. Sedangkan mudah untuk dilakukan dan sangat membantu Materi pembelajaran pada siklus 2 adalah : dalam meningkatkan keberanian dan kelancaran Nama Ruangan di sekolah ( Kouchoushitsu, berbicara. Sebagian besar siswa menyatakan Shokuinshitsu, Hokenshitsu, Toshoshitsu, bahwa metode Information Gap ini menarik dan Jimushitsu, Kyoushitsu, Toire, Koutei), Kata menyenangkan. petunjuk posisi (Tonari, Mae, ushiro) dan Kata petunjuk tempat (koko, soko, asoko) Hasil pengamatan guru observer, didapat data bahwa secara umum pembelajaran Memasuki kegiatan inti dan merupakan menggunakan metode Information Gap ini sudah sintak pertama adalah guru menerangkan baik dan tepat untuk materi Gakkou no seikatsu, kosakata nama ruangan yang ada di sekolah. tetapi dalam pelaksanaan KBM masih ada Guru mengaitkan pengetahuan yang akan beberapa pasangan siswa yang kebingungan dibangun siswa dengan keadaan nyata berupa ketika akan memulai percakapan dengan denah ruangan di SMAN 1 Ciampea. Guru temannya, Ada pula siswa yang iseng membuka memberi pertanyaan dan pernyataan yang kartu kosakata milik temannya. Serta guru tidak mengarah pada pembentukan konsep denah hafal nama siswa. ruangan. Pada saat memberikan pertanyaan guru menyebut nama siswa, hal ini dimaksudkan Terdapat beberapa hal yang perlu untuk menjalin kedekatan emosional dengan diperbaiki pada siklus berikutnya, yaitu 1) guru siswa, selain itu juga dilakukan sebagai upaya berupaya hafal nama siswa dan menyebut nama perbaikan dari refleksi siklus 1. Guru juga siswa selama KBM secara lebih bervariasi. 2) menyampaikan kosakata penunjuk tempat yaitu guru menfasilitasi latihan percakapan secara koko. soko asoko, dan menyampaikan penunjuk klasikal dengan lebih baik, agar siswa lebih siap posisi suatu benda, yaitu tonari, mae, ushiro. Selanjutnya pada sintak ke dua hingga ke empat, guru mencontohkan pengucapan, dan siswa menirukan pengucapan guru. Pada proses latihan ini siswa diminta mengulang pengucapan kosakata. Latihan pengucapan kosakata ini meliputi juga kegiatan latihan penggantian, Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Tanya jawab, baik dilakukan secara Selanjutnya guru mengenalkan pola klasikal, kelompok atau perorangan. Latihan ini kalimat untuk menginformasikan tentang posisi dilakukan berulang kali hingga siswa paham, ruangan di sekolah. Siswa diantarkan pada sebagai bentuk perbaikan dari siklus 1. Sambil pengetahuan nyata posisi ruangan di SMAN 1 berlatih, guru juga menerangkan tentang Ciampea, agar memudahkan proses berpikir kegunaan Latihan kosa kata dan penerapannya ketika membuat kalimat dalam Bahasa Jepang dalam pola kalimat. Pada fase ini guru menggunakan pola kalimat yang ada. Pola memberikan Latihan lebih banyak kepada siswa, kalimat untuk menginformasikan posisi ruangan sebagai bentuk upaya perbaikan untuk adalah : komponen intonasi dan kejelasan ujaran. Agar siswa dapat lebih jelas dalam melafalkan ujaran Gambar 3. Pola kalimat untuk menyatakan posisi dengan intonasi yang tepat. ruangan. Guru selanjutnya membagi kelas dalam Contoh kalimat yang digunakan kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4 orang. merujuk kepada posisi ruangan yang ada di Bagian ini sesuai dengan sintak ke lima hingga SMAN 1 Ciampea. Contohnya adalah ke tujuh. Di dalam kelompok tersebut siswa 'kouchoushitsu wa jimushitsu no tonari ni berlatih pengulangan kosakata dalam bentuk arimasu.' Bahwa sesuai dengan kenyataan di percakapan dalam Bahasa Jepang. Teknis sekolah, Ruang Kepala Sekolah ada di samping latihan berbicaranya adalah dua orang siswa Ruang TU. Siswa latihan secara lisan dibimbing menyiapkan dua tempat untuk meletakkan kartu, guru, kemudian guru meminta beberapa siswa satu tempat untuk kartunya sendiri dan satu untuk menuliskan contoh kalimat di papan tulis, tempat yang lain untuk meletakkan kartu sebagai secara bergantian. Siswa yang berani maju ke jawaban dari temannya. Langkahnya meliputi : 1) depan untuk menulis di papan tulis mendapat dua orang siswa meletakkan kartu kosakata catatan khusus dari guru. Selanjutnya guru secara acak di sebuah kotak, dua orang siswa memberi kesempatan kepada siswa untuk yang lain tidak boleh melihat kartu tersebut. 2) mencatat contoh kalimat yang ditulis di papan siswa yang menyimpan kartu kemudian memberi tulis. pertanyaan tentang kartu gambar apa yang disimpan dalam kotak tersebut. 3) dua orang Menjelang akhir pembelajaran, guru siswa yang lain menjawab, dengan cara meminta siswa untuk menginformasikan posisi menyimpan kartu kosakata tentang nama ruangan menggunakan alat bantu denah yang ruangan di kotak atau tempat yang sudah ditayangkan melalui Power Point. Siswa disiapkannya. 4) percakapan ini dilakukan merespon instruksi guru dengan menyatakan sampai kartu habis. 5) siswa mengkonfirmasi informasi posisi ruangan secara bersama2. Guru jawaban temannya. 6) kegiatan ini dilakukan kemudian menunjuk beberapa siswa untuk bergantian dalam kelompok. Materi yang menginformasikan ruangan berdasarkan denah. menjadi bahan dalam latihan percakapan ini Guru juga menawarkan kepada siswa untuk adalah tentang nama ruangan. Pada kegiatan ini secara sukarela menginformasikan posisi relative tidak ada kendala, karena caranya sama ruangan berdasarkan denah yang ditayangkan. dengan di siklus 1 dan siswa sudah paham alur bermain. Pada kegiatan akhir, siswa dan guru bersama-sama menyimpulkan materi, guru Selama kegiatan ini guru memantau memotivasi siswa untuk dapat dan berani kegiatan siswa dan memastikan semua siswa berbicara untuk menginformasikan posisi aktif mengikuti latihan. Guru membenarkan ruangan ketika bertemu dengan orang Jepang kesalahan siswa, misalnya ketika ada siswa kapan pun dan di mana pun. Motivasi yang yang iseng membuka kartu milik lawan bicara diberikan ini sangat mudah diterima oleh siswa, untuk mengetahui jawaban. Siswa terlihat karena kebetulan pada saat pelaksanaan antusias dalam kegiatan latihan menggunakan penelitian, di SMAN 1 Ciampea sedang ada metode Information Gap ini. Setelah waktu yang Native Speaker dari Jepang untuk program 8 ditetapkan untuk latihan dalam kelompok habis, bulan. Selanjutnya guru menyampaikan rencana guru memberikan umpan balik kepada siswa, kegiatan pembelajaran berikutnya sebagai dengan mengkonfirmasi kembali pemahaman penutup dari pertemuan pertama siklus 2 ini. Lalu siswa terhadap kosakata nama ruangan di KBM ditutup dengan membaca doa bersama- sekolah. sama. Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Pertemuan kedua dibuka dengan salam diingatkan agar berani berbicara. dan guru mengkondisikan siswa untuk siap Guru mengamati dan memastikan belajar. Apersepsi yang diberikan adalah menyampaikan posisi ruangan di sekolah. Guru semua siswa aktif dalam kegiatan ini. Sesekali menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu agar guru mengingatkan agar gambar tidak boleh siswa dapat menginformasikan posisi ruangan. diperlihatkan kepada teman. Guru juga mengingatkan untuk tidak berkomunikasi dalam Diawali dengan guru menampilkan bahasa lain, selain Bahasa Jepang selama denah ruangan di papan tulis melalui media kegiatan latihan percakapan menggunakan Power Point, siswa diminta untuk mengamati metode Information Gap ini. Ada beberapa siswa denah tersebut lalu diminta untuk meng- yang memiliki sifat jahil khas anak-anak, antara informasikan salah satu ruangan yang ada dalam lain dengan marayu teman untuk menunjukkan denah tersebut. Siswa merespon dengan sangat gambar kepadanya. Setelah diingatkan guru baik, ditandai dengan banyak sekali siswa yang ketika berkeliling, maka siswa tersebut kembali secara spontan berbicara untuk meng- berkonsentrasi untuk berbicara dalam bahasa informasikan salah satu ruangan dalam denah. Jepang. Secara umum siswa sangat antusias Suasana kelas menjadi ramai dengan banyaknya mengikuti latihan berbicara dengan metode ini, siswa yang merespon stimulasi guru. Keadaan ini karena terdapat unsur bermain dalam bagus, karena menjadi indikasi bahwa siswa pelaksanaannya. memahami materi dan antusias dalam pembelajaran. Selanjutnya guru menfasilitasi Kegiatan menggunakan metode siswa untuk latihan dan memberi kesempatan Information Gap ini berakhir setelah waktu yang untuk mencatat jika ada hal baru yang ditemui. ditentukan guru sudah habis. Kemudian guru mengkonfirmasi kegiatan dengan cara meminta Siswa dibagi kelompok berpasangan, 3 orang siswa untuk maju ke depan kelas. Dua untuk memudahkan berlangsungnya kegiatan orang mendemonstrasikan percakapan yang dengan metode Information Gap, ini merupakan dilakukan. Satu orang mengnuliskan hasil sintak kedua dari metode Information Gap. jawaban untuk ditulis di papan tulis, untuk Pasangan siswa dikondisikan dengan siswa dikonfirmasi oleh semua siswa. yang posisi duduknya dekat. Guru memberikan masukan terkait Langkah ketiga dalam kegiatan melatih penerapan metode Information Gap tentang berbicara melalui metode Information Gap pada praktik berbicara yang sudah dilakukan. Guru siklus dua ini adalah guru membagi worksheet. juga memberi penekanan kepada siswa, yaitu Yaitu berupa dua paket gambar denah ruangan di yang pertama bahwa siswa harus hafal kosakata sekolah, setiap paket berisi satu gambar 'denah dan paham pola kalimat. Kedua, siswa harus teman dan satu lagi denah saya'. Berikutnya guru berani dalam berbicara dalam Bahasa Jepang, meminta siswa untuk mengisi nama ruangan di jangan takut salah. Ketiga, harus percaya diri. denah yang kosong pada worksheet 'denah Karena itu modal untuk dapat berbicara dalam saya'. Gambar 'denah saya' tidak boleh bahasa asing. diperlihatkan kepada teman atau orang lain. Langkah selanjutnya adalah siswa melakukan Pengukuran keberhasilan metode tanya jawab untuk menanyakan posisi ruangan. Information Gap adalah melalui tes praktik Jawaban yang diperoleh dari pasangan berbicara. Sebelum tes praktik dimulai, siswa dituliskan di gambar 'denah teman'. Siswa diminta unttuk mengamati dan mempelajari melakukan praktik berbicara ini sepenuhnya contoh dialog yang digunakan. Meskipun contoh menggunakan Bahasa Jepang. Hal ini dilakukan dialog sudah diberikan, siswa diberi keleluasaan secara bergantian. Selama percakapan siswa untuk menambah dialog sendiri, tetapi tidak boleh melihat/ mengintip gambar milik mengurangi contoh dialog tidak diperkenankan. teman. Kegiatan terakhir adalah siswa Guru memberi waktu untuk siswa mengkofirmasi jawaban dari pasangan. Pada mempersiapkan tes praktik selama kurang lebih kegiatan ini observer masih menemukan siswa 10 menit. Berikut ini adalah grafik hasil tes yang ragu-ragu bahkan malu saat berbicara keterampilan berbicara siswa. dalam Bahasa Jepang. Guru pun menemukan hal yang sama dengan observer, dan langsung Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Grafik 3. Data Nilai Siswa pada Tes Keterampilan Grafik 5. Perubahan Nilai Rata-rata Per Siklus Berbicara di Siklus 2 Grafik 5 menunjukkan bahwa rerata Grafik 3 menunjukkan bahwa pada nilai tes keterampilan berbicara dalam Bahasa siklus 2 terdapat 32 orang siswa atau sebanyak Jepang pada siklus 1 sebesar 68,69. Rata- rata 97% sudah menguasai keterampilan berbicara. nilai siklus 1 ini belum mencapai Kriteria Nilai Hanya terdapat 1 orang siswa atau 3% saja yang Minimal yang ditetapkan 70. Sehinggan perlu belum menguasai keterampilan berbicara. dilakukan perbaikan pada siklus 2, Kemudian rerata nilai pada siklus 2 sebesar 92,42. Terdapat Dibawah ini disajikan perbandingan kenaikan rerata sebesar 34,56%. Dari data ini data siswa yang sudah menguasai keterampilan dapat dinyatakan bahwa pembelajaran dengan berbicara antar siklus 1 dan siklus 2 metode Information Gap dapat meningkatkan keterampilan berbicara dalam Bahasa Jepang siswa kelas X IPS 2. Berikut ini dapat dilihat kenaikan kemampuan siswa dalam hal kelancaran, penguasaan kosakata, intonasi dan kejelasan ujaran sebagai dasar dalam penilaian keterampilan berbicara siswa. Grafik 4. Perbandingan Kemampuan berbicara Siswa Grafik 6. Data Kemampuan berbicara Siswa dalam antara Siklus 1 dan Siklus 2 kelancaran bicara, penguasaan kosakata, intonasi Grafik 4 ini menunjukkan bahwa pada dan kejelasan ujaran pada Siklus 2 siklus 1 hanya sebanyak 64% siswa yang menguasai keterampilan berbicara dalam Dalam grafik di atas dapat dilihat bahwa Bahasa Jepang, sedangkan di siklus 2 sebanyak kelancaran bicara dan penguasaan kosakata 97% siswa berhasil menguasai keterampilan siswa amat baik, rata-rata nilai mencapai 97. berbicara dalam Bahasa Jepang. Dengan Sedangkan intonasi sudah ada peningkatan perolehan nilai terendah 60 dan nilai tertinggi dibandingkan pada siklus 1, meskipun tidak 100. Nilai rata-rata kelas sebesar 97,57 setinggi pada kelancaran bicara dan Sehingga bisa dinyatakan terdapat perubahan penguasaan kosakata. Sama halnya dengan signifikan jumlah siswa yang menguasai kejelasan ujaran, juga mengalami peningkatan keterampilan berbicara dalam Bahasa Jepang, sebagai hasil dari pelaksanaan pembelajaran dengan metode Information Gap. Berikut grafik perubahan nilai rata-rata siklus. Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


rata-rata nilai menjadi 88 di siklus 2. Siklus kedua adalah merupakan upaya Dari hasil pengamatan dan diskusi perbaikan terhadap tindakan siklus satu. Pada siklus dua ini siswa sudah memahami pola dengan guru kolaborator, dapat disimpulkan belajar menggunakan metode Information Gap bahwa pada siklus 2 secara keseluruhan sehingga guru lebih mudah memberi arahan Aktifitas Belajar Mengajar sudah banyak me- dalam pembelajaran. Masalah siswa yang ngalami peningkatan.Pelaksanaan metode dijumpai selama proses belajar dapat diatasi Information Gap sudah maksimal, Refleksi dengan baik. Perhatian guru yang awalnya siklus 2 seolah- olah tertuju pada siswa yang dihafalnya saja, sudah diperbaiki dengan cara guru Dalam pelaksanaan siklus 2 ada mendekati dan menyapa siswa ketika kegiatan beberapa hal yang menjadi catatan, yaitu : a) latihan praktik percakapan dilakukan. Sikap Metode Information Gap dapat dilakukan 'curang' siswa juga bisa dikendalikan dengan dengan baik oleh siswa, b) Siswa aktif dalam cara guru memberi penekanan lebih dalam poin dalam kegiatan peningkatan keterampilan ini sebelum kegiatan dimulai, serta dimotivasi berbicara Bahasa Jepang dengan metode yang bahwa jika pada saat latihan tidak sungguh- diteliti. c) Terdapat kenaikan rata-rata kelas sungguh maka saat tes praktik berbicara tidak sebesar 34,56%. d) Terdapat kenaikan jumlah akan lancar dan nilainya kecil. Cara tersebut siswa yang menguasai keterampilan berbicara ternyata efektif untuk menyadarkan siswa. sebesar 53%. e)Terdapat 97% siswa yang Selama aktivitas pembelajaran berlangsung, menguasai keterampilan berbicara pada siklus siswa nampak gembira dan menikmati kegiatan 2, hal ini sudah sesuai Indikator keberhasilan percakapan dengan metode Information Gap. dalam penelitian, yaitu jika siswa yang mendapat nilai ≥70 sudah mencapai 80%. f) Metode Hasil tes keterampilan berbicara siswa Information Gap yang diterapkan dalam materi menunjukkan peningkatan yang signifikan, yaitu Gakkou no Seikatsu dianggap berhasil terdapat peningkatan sebanyak 34,56%. meningkatkan keterampilan berbicara dalam Sebanyak 32 siswa telah menguasai Bahasa Jepang siswa. keterampilan berbicara pada siklus 2, meningkat dari sebelumnya yaitu hanya ada 21 siswa yang Hasil pengamatan guru kolaborator menguasai keterampilan berbicara. Nilai menyatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran terendah pada siklus 1 adalah41,7 dan pada pada siklus 2 ini berjalan dengan lebih baik, siklus 2 adalah 58, 33 dengan rata-rata mencapai dibandingkan dengan siklus satu, baik dari sisi 92,42. Data ini menunjukkan bahwa metode guru pengajar maupun siswa. Siswa lebih Information Gap berhasil meningkatkan mudah diarahkan oleh guru. Hal ini disebabkan keterampilan berbicara siswa. karena guru maupun siswa sudah terbiasa dengan cara belajar menggunakan metode Peningkatan keterampilan berbicara ini Information Gap pada siklus 1. Latihan sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan percakapan juga sudah dilakukan lebih banyak oleh Yizreel dalam penelitian yang berjudul dan merata untuk semua siswa. Efektifitas Model Pembelajaran Information Gap Activity Normalism terhadap Keterampilan PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Berbicara Peserta Didik Kelas X SMA (Jurnal Pelaksanaan penelitian tindakan pada JoLLA 1 (3),2021, 356-368, Universitas Negeri Malang) dalam kesimpulannya dikatakan bahwa siklus 1 menunjukkan bahwa siswa tertarik Model Pembelajaran Information Gap efektif dengan metode pengajaran yang diterapkan diterapkan dalam keterampilan berbicara di kelas oleh guru, siswa terlihat antusias dalam kegiatan X SMAN 2 Malang. menebak benda yang disimpan pasangan dalam kegiatan percakapan. Meskipun masih ada Keterampilan berbicara siswa yang beberapa siswa yang menyimpang dari prinsip meliputi kelancaran berbicara, penguasaan metode Information Gap, dengan berusaha kosakata, intonasi dan kejelasan ujaran mencari tahu melalui cara curang, misalnya mengalami peningkatan signifikan pada siklus. mengintip kertas milik pasangan atau membuka Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan kartu milik pasangan. Hasil tes menunjukkan berbicara siswa meningkat setelah melewati bahwa terdapat beberapa siswa yang pembelajaran di siklus 2. penguasaan terhadap keterampilan berbicara dalam Bahasa Jepang masih rendah, dan belum mencapai Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan ini. Hal ini menggambarkan bahwa perlu adanya tindakan yang berikutnya untuk memperbaiki keterampilan berbicara siswa. Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Hasil wawancara kepada siswa tentang DAFTAR PUSTAKA penggunaan metode Information Gap untuk Defrioka, Andri. (2016). Pemanfaatan Kegiatan meningkatkan keterampilan berbicara, diperoleh tanggapan yang menggambarkanbahwa metode Information Gap dalam Pengajaran ini menarik, karena ada unsur permainan dan Berbicara. Jurnal Lingua Didaktia. Vol membuat siswa penasaran, sehingga 10 No. 2. mendorong siswa untuk berani berbicara demi Ekawarna. 2010. Penelitian Tindakan Kelas, mendapatkan informasi dari pasangannya. Jakarta : Gaung Persada Press. Eka, Trisnani. 2020. Peningkatan Keterampilan Tes tertulis diambil sebagai data Menulis Wacana Sederhana Pada pendukung pemahaman siswa terhadap materi Materi Shumi Melalui Metode Gakkou no seikatsu. Data hasil tes tertulis Scramble, Bandung : Jurnal LPMP menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai Pengembangan Profesi, Vol. 13 No siklus 1 ke siklus 2 sebesar 36%, yaitu dari 67,27 10.ISSN:1979-6218. pada siklus 1 meningkat menjadi 91,51 pada Fitriana, Novi, Mahdum, Desri. 2016 Penerapan siklus 2. Teknik Information Gap untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara KESIMPULAN Siswa Kelas Dua di SMA Negeri 11 Pembelajaran dengan metode Pekanbaru. Vol 3, No 1 (2016). ISSN : 2355-6897. Information Gap terbukti dapat meningkatkan https://doi.org/10.22202/jg.2016.v2i2.1 keterampilan berbicara Bahasa Jepang pada 2 00 materi Gakkou no Seikatsu. Hal ini dapat Haryadi dan Zamzami. (1996/1997). dibuktikan dengan adanya peningkatan jumlah Peningkatan Keterampilan Berbahasa siswa yang menguasai keterampilan berbicara Indonesia. Jakarta : Dirjen Dikti. secara signifikan setelah pembelajaran siklus 2. Ismukoco. (2012). Information Gap Activities untuk Meningkatkan Keterampilan Terdapat peningkatan jumlah siswa Berbicara Bahasa Inggris. Makalah pada keterampilan berbicara, yaitu sebanyak 21 Pembelajaran. Surabaya: Widyaiswara siswa (64%) terampil berbicara dalam Bahasa LPMP Jawa Timur. Jepang pada siklus 1 dan sebanyak 32 siswa Lembang, Ardiyani, Muyasaroh. 2021. Model (97%) terampil berbicara pada siklus 2. Terdapat Pembelajaran Information Gap Activity peningkatan jumlah siswa yang terampil Normalism (IG-AN) terhadap berbicara sebanyak 11 siswa atau sebesar 52%. Keterampilan Berbicara Peserta Didik Kenaikan juga terdapat pada nilai rata-rata kelas Kelas X SMA. Malang : JoLLA: Journal dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 34,56% atau of Language, Literature, and Arts, 1(3), 23,73 poin, yaitu dari siklus 1 sebesar 68,69 2021, 356–368, pISSN 2797-0736 menjadi 92,42 pada siklus 2. eISSN 2797-4480 Univ Negri Malang. DOI: 10.17977/um064v1i32021p356- Pembelajaran dengan metode 368 Information Gap sangat tepat untuk keterampilan Nation, Paul. 1996. The Four Strands of berbicara, dan akan mendapatkan hasil lebih Language Course. TESOL in context baik jika dikombinasikan dengan metode lain, volume 6 June 1996. misalnya penggunaan media kartu gambar atau Nurgiyantoro, Burhan. 2017. Penilaian kartu kosakata. Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi. Yogyakarta : BPFE Metode Information Gap ini dapat Yogyakarta. digunakan oleh guru Bahasa Jepang dan Bahasa Nurhadi, dkk. 2004. Pembelajaran Kontekstual Asing lain, untuk meningkatkan keterampilan (Contextual Teaching and berbicara. Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK, Malang : UM Press. Studia Didaktika: Jurnal Ilmiah Bidang Pendidikan Vol. 11, No. 1, 2017; ISSN 1978-8169 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN “SMH” Serang, Banten. Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR BRSL MENGGUNAKAN STRATEGI SENAM LIMBIK, VIDEO INTERAKTIF DAN EVALUASI (SELVIE) PTK pada Kelas IX B SMPN 3 Pacet Kabupaten Bandung Mimin Aminah SMPN 3 PACET Abstrak. Rendahnya motivasi belajar siswa kelas IX B SMPN 3 Pacet pada pembelajaran matematika melatarbelakangi penelitian ini. Siswa terlihat tidak bersemangat belajar dan hanya 30% yang mengerjakan tugas tepat pada waktunya. Dampak dari semua itu hasil belajar siswa masih jauh dari harapan. Ketuntasan belajar siswa hanya mencapai 22% yaitu dari 32 orang peserta tes hanya 7 orang yang tuntas belajar. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan motivasi belajar matematika siswa, melalui penerapan strategi pembelajaran SELVIE (senam limbik, video interaktif dan evaluasi dengan cara bermain) pada pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung. Kegiatan awal pembelajaran dimulai dengan melakukan gerakan senam limbik, penyajian materi pelajaran menggunakan video interaktif, dan evaluasi siswa baik secara individu maupun berkelompok diberikan dengan cara bermain. Penelitian dilakukan melalui tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi pembelajaran, lembar observasi motivasi siswa, dan lembar angket motivasi siswa. Data kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Kegiatan belajar mengajar mulai dari pendahuluan, kegiatan inti sampai penutup serta suasana kelas dan keantusiasan guru maupun siswa mengalami peningkatan yaitu pada siklus I 77,5% menjadi 92,75% pada siklus kedua, (2) analisis motivasi siswa pada angket diperoleh rata-rata dari semua butir pernyataan adalah 79,25% pada siklus I dan 90,17% pada siklus II, berada pada kategori tinggi yang berarti respons siswa semakin positif terhadap penerapan strategi pembelajaran SELVIE, (3) observasi motivasi belajar siswa mengalami peningkatan yaitu pada siklus I 67,65 % menjadi 79,25% pada siklus II. Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran SELVIE dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa. Kata Kunci: Motivasi, senam limbik, video interaktif PENDAHULUAN sekolah untuk kembali melaksanakan Pandemi Covid-19 telah membawa pembelajaran secara tatap muka walaupun masih terbatas. Ternyata motivasi belajar siswa pengaruh besar dalam segala aspek termasuk terlihat masih rendah dikarenakan sudah terlalu pada dunia pendidikan. Pendidikan di Indonesia lama dan terlena dengan metode pembelajaran berlangsung secara pembelajaran jarak jauh jarak jauh yang terkesan lebih longgar dan santai. baik melalui daring maupun luring. Ini sangat Pada hal motivasi belajar merupakan hal yang berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh baik peting dimiliki oleh siswa. Senada dengan pada mata pelajaran matematika khususnya pendapat Slavin (Fitriani, 2016) mengungkapkan maupun hasil pendidikan keseluruhan “motivation is one of the most critical components umumnya. of learning” yang berarti motivasi merupakan komponen yang paling kritis dalam belajar. Selain Proses pembelajaran yang di- itu, Dalyono (Dariyo, 2013) mengungkapkan laksanakan secara pembelajaran jarak jauh bahwa ada dua faktor utama yang mempengaruhi menyebabkan motivasi belajar pun semakin pencapaian prestasi belajar siswa yaitu faktor menurun. Sering kali guru merasa kesulitan internal yang meliputi kesehatan fisik, psikologis, untuk menuntaskan pembelajaran karena siswa motivasi, kondisi emosional, konsep diri dan seperti tidak tertarik untuk mengikuti sebagainya serta faktor eksternal yang berupa pembelajaran jarak jauh secara daring. Hanya lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. beberapa siswa saja yang aktif dalam Hal tersebut menegaskan bahwa pembelajaran dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan tepat waktu. Seiring berjalannya waktu dan keadaan membaik, Pemerintah memperbolehkan Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


motivasi siswa dalam belajar matematika Berdasarkan permasalahan yang telah berperan penting dalam pembelajaran dan dijabarkan sebelumnya, maka peneliti tertarik kesuksesan belajar matematika. Motivasi belajar untuk memaparkan peningkatan motivasi belajar matematika yang tinggi merupakan modal awal BRSL menggunakan stretegi senam limbik, siswa dalam belajar matematika Di sini guru video interaktif dan evaluasi dengan game dituntut untuk lebih kreatif dalam melaksanakan (SELVIE). pembelajaran di kelas baik dari segi strategi mengajar ataupun dari segi media pembelajaran METODE agar motivasi belajar siswa kembali meningkat. Penelitian yang dilakukan merupakan Bangun Ruang Sisi Lengkung adalah penelitian tindakan kelas model Kemmis dan salah satu pokok bahasan dalam pelajaran Taggart. Kegiatan yang diteliti yaitu motivasi Matematika yang sering dianggap lebih sulit dari belajar siswa pada materi bangun ruang sisi materi-materi lainnya. Ini terlihat dari selalu lengkung melalui penggunaan strategi rendahnya hasil belajar siswa pada materi ini. Hal pembelajaran senam limbik, video interaktif dan ini dikarenakan selain begitu banyaknya rumus pemberian evaluasi dengan cara bermain. yang harus dipahami, dalam mempelajari BRSL Subyek penelitian ini adalah peneliti yang juga juga diperlukan media pembelajaran yang bertindak sebagai guru, dan siswa kelas IX B kongkret. Guru terkadang agak malas untuk SMPN 3 Pacet yang berjumlah 32 orang, yang menyediakan media pembelajaran tersebut. terdiri dari 19 siswa laki-laki dan siswa Selain itu, penggunaan metode pembelajaran perempuan 13 orang. Penelitian ini dilaksanakan konvensional pun turut menambah deret faktor pada tanggal 7 Februari sampai dengan 18 Maret penyebab sulitnya anak memahami materi BRSL 2022 dan dibantu oleh rekan sejawat peneliti ini. yang juga merupakan guru mata pelajaran matematika di SMPN 3 Pacet. Senam limbik Sebagaimana yang dikemukakan oleh yang dilakukan di awal kegiatan pembelajaran, Dewi (2014) bahwa pembelajaran matematika bertujuan untuk membangun semangat siswa yang menyenangkan diawali dengan sejak mula sehingga siap untuk mendapatkan menciptakan suasana belajar yang nyaman, informasi dari guru. Selain itu, senam limbik juga kondusif dan juga pembelajaran yang bermakna. mempersiapkan siswa untuk berkonsentrasi dan Hal sama juga disampaikan oleh Rini (2013) memusatkan perhatian pada kegiatan bahwa salah satu faktor yang juga sangat pembelajaran. Selanjutnya, cara penyampaian mendukung keberhasilan dalam belajar materi yang dikemas menggunakan video matematika adalah terciptanya lingkungan atau interaktif diharapkan mampu memotivasi siswa suasana belajar yang nyaman agar siswa dalam belajar dan lebih mempertegas kesan mengalami kegembiraan belajar. Kegembiraan pembelajaran yang menyenangkan. yang berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, dan terciptanya makna, Video interaktif yang digunakan guru pemahaman dan nilai yang membahagiakan dapat berupa penggunaan aplikasi Microsoft pada diri siswa. Siswa tidak akan mengalami office (excel atau powerpoint) yang di- pengalaman belajar yang menjemukan, kombinasikan dengan aplikasi lain, seperti monoton, mengerutkan dahi dan pikiran serta ScreenOmatic, Camtasia Studio, Videoscribe, menyiutkan nyali karena merasa dipaksa flipbook, Focusky dan lain sebagainya. Dan yang mengikuti pelajaran matematika. Sebaliknya terakhir pemberian evaluasi juga dengan cara siswa mengalami kegembiraan melahirkan yang menyenangkan seperti bermain (game). sesuatu yang baru dalam proses belajar Tujuan pemberian evaluasi dengan cara bermain sehingga dapat diharapkan meningkatnya hasil adalah agar siswa tidak merasa terbebani dan belajar matematika. secara senang hati menyelesaikan soal yang diberikan dengan sungguh-sunggguh. Sebagai seorang guru peneliti berusaha untuk menyusun suatu strategi pembelajaran Strategi pembelajaran senam limbik, yang menarik mulai dari awal kegiatan video interaktif dan evaluasi dengan game pembelajaran hingga akhir. Penerapan strategi (SELVIE) ini dapat digunakan pada model SELVIE (senam limbik, video interaktif dan pembelajaran manapun, baik konvensional evaluasi dengan cara bermain) diharapkan maupun kooperatif, dll. Misalnya penerapan mampu untuk mengatasi masalah motivasi model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan belajar matematika siswa. Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


juga inquiry (penemuan terbimbing) yang - Observasi keterlaksanaan pembelajaran, digunakan pada penelitian ini. langkah-langkah yang diamati adalah Pelaksanaan Penelitian ini di- 1. KBM, yang terdiri dari pendahuluan, laksanakan dua siklus, dengan dua pertemuan kegiatan inti, dan penutup. Masing- setiap siklusnya. Di setiap siklusnya terdiri dari masing kegiatan pada setiap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan tahapannya adalah sebagai berikut: dan observasi serta refleksi tindakan. a. Pendahuluan, yang terdiri dari mempersiapkan dan memotivasi Perangkat Pembelajaran dan siswa, mempersiapkan siswa untuk Instrumen Penelitian, terdiri dari RPP, lembar belajar, memandu siswa melakukan observasi kegiatan pembelajaran, lembar gerakan senam limbik, serta Observasi motivasi siswa dan angket motivasi memotivasi siswa melalui belajar Siswa penyampaian manfaat pem- belajaran Teknik pengumpulan data yang b. Kegiatan Inti, yang terdiri dari digunakan yaitu teknik observasi langsung menyampaikan materi pem- dengan alat pengumpul data yang digunakan belajaran melalui tampilan video yaitu lembar observasi pembelajaran dan interaktif (Focusky, video, motivasi siswa serta lembar angket motivasi videoscibe, Powerpoint Sreen siswa. Omatic), mengorganisir siswa ke dalam beberapa kelompok yang Data yang diperoleh dianalisis secara heterogen, membagikan LK kepada deskriptif untuk mengetahui pelaksanaan dan setiap kelompok, meminta siswa hambatan-hambatan yang terjadi selama mengerjakan LK melalui diskusi pembelajaran. Tahapan-tahapan dalam proses bersama anggota kelompok analisis data adalah pengumpulan data, masing-masing, membimbing penyajian data dan penarikan kesimpulan. siswa/ kelompok yang mengalami kesulitan, meminta siswa mem- Analisis data pelaksanaan penelitian presentasikan hasil diskusi ke- lompok, memberikan penghargaan tindakan kelas ini adalah sebagai berikut: kepada kelompok super, meminta siswa mengerjakan kuis melalui I. Analisis data hasil observasi permainan c. P e n u t u p , y a n g t e r d i r i d a r i - Observasi motivasi siswa. Aspek-aspek merangkum kegiatan pem- yang diamati pada observasi ini dapat belajaran, merefleksi kegiatan dilihat pada tabel 1 di bawah ini : pembelajaran, menyampaikan ma- teri pelajaran untuk pertemuan Tabel 1. selanjutnya Aspek Pengamatan Observasi Motivasi Siswa 2. SUASANA KELAS Hal yang diamati adalah keantusiasan siswa, keantusiasan guru serta kesesuaian kegiatan dengan skenario dalam RPP. Skala yang digunakan dalam lembar observasi ini menggunakan skala Guttman, observer membubuhkan tanda cek (Ö) pada aspek yang terlaksana pada kolom “ya” dan “tidak”. Dan dari setiap aspek yang terlaksana (pada kolom “ya”) diberi skor 1, jika tidak terlaksana (pada kolom “tidak”) diberi skor 0. Kemudian dihitung persentase keterlaksanaannya, dengan rumus: Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Keterangan: Dari tabel di atas, hasil angket siswa dianalisis x % = Persentase keterlaksanaan dengan cara masing-masing indikator dihitung n = Jumlah skor keterlaksanaan jumlah skornya, kemudian di hitung persentase N = Jumlah skor maksimal dari jumlah skor semua siswa. Cara menghitung persentase skor aspek sebagai berikut: I. Analisis Angket Analisis angket peneliti adopsi dari Astuti Keterangan: (2017) dalam skripsinya. Analisis hasil P = Persentase motivasi dari pengisian angket motivasi belajar F = Jumlah skor perolehan siswa siswa dilakukan dengan memberi skor A = Jumlah skor maksimal pada masing-masing indikator pada lembar pengisian angket. Indikator yang Jumlah skor yang diperoleh kemudian ditanyakan pada angket tersebut bisa dikualifikasi untuk menentukan seberapa besar dilihat pada tabel 2 berikut ini : motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Berikut tabel kualifikasi hasil Tabel 2. persentase skor analisis: Indikator Angket Motivasi Belajar Siswa Tabel 4. Kualifikasi Hasil Persentase Skor Analisis Angket Motivasi Siswa Setiap jawaban diberi skor sebagai berikut: Indikator Keberhasilan Penelitian Indikator keberhasilan dalam penelitian ini Tabel 3. adalah : Pedoman Penskoran Angket Motivasi Belajar Siswa dengan Menggunakan Strategi SELVIE 1. Pelaksanaan pembelajaran matematika sesuai ketentuan dengan menggunakan strategi pembelajaran SELVIE, yaitu persentase rata-rata hasil observasi lebih dari 75%. 2. Persentase rata-rata hasil observasi motivasi siswa lebih 75% 3. Rata-rata persentase angket motivasi belajar matematika siswa secara keseluruhan berada pada kriteria tinggi. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Tindakan Siklus I 1. Perencanaan Pada tahap ini, peneliti membuat rancangan pelaksanaan tindakan. Adapun instrumen yang dipersiapkan adalah sebagai berikut : - Membuat Rencana Pelaksanaan Pem- belajaran dengan menggunakan strategi SELVIE. - Membuat Lembar Observasi Kegiatan Pembelajaran dan Lembar Observasi Motivasi Siswa Lembar Observasi keterlaksanaan pembelajaran digunakan Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


untuk mengetahui apakah proses memberikan penghargaan kepada pembelajaran sudah sesuai dengan kelompok super dan mengingatkan materi strategi SELVIE atau belum. Sedangkan yang akan dipelajari pada pertemuan Lembar Observasi Motivasi Siswa selanjutnya. Hal ini terjadi karena waktu digunakan untuk mengetahui keaktifan yang tidak cukup untuk memenuhi siswa dalam pembelajaran yang pelaksanaan seluruh rangkaian kegiatan mencerminkan adanya motivasi untuk yang telah direncanakan. Pada pertemuan belajar pada siswa. kedua terdapat beberapa siswa yang - Membuat Angket Motivasi Siswa yang terlambat masuk kelas, hal ini membuat disebarkan pada siswa setiap akhir siklus. sedikit kegaduhan. Namun kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik 1. Pelaksanaan setelah guru meminta siswa untuk memberikan perhatian terhadap kegiatan 1.1. Pertemuan Pertama pembelajaran. Dalam proses interaksi Pelaksanaan tindakan siklus I antara guru dengan siswa belum berjalan baik. Beberapa siswa terlihat enggan untuk dilaksanakan dengan menggunakan model bertanya bila ada hal yang kurang jelas. kooperatif STAD. Proses pelaksanaan Masih ada siswa yang merasa tidak Tindakan Siklus I mengacu pada RPP yang percaya diri untuk bertanya atau menjawab telah disusun sebelumnya. Dalam RPP pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dan terdapat 3 kegiatan yaitu pendahuluan, kebanyakan siswa yang lain berebut minta kegiatan inti dan penutup. penjelasan dari guru sehingga suasana kelas menjadi gaduh. Hal ini menyebabkan Pada kegiatan pendahuluan guru sebagian siswa menjadi kebingungan membimbing siswa melakukan senam dalam berdiskusi terutama materi-materi limbik. Suasana kelas saat melakukan yang memerlukan pemahaman secara gerakan senam limbik, siswa mengikuti khusus. Hal ini berpengaruh pada saat dengan antusias. Seluruh siswa terlihat diskusi siswa masih banyak bertanya pada senang melakukan gerakan senam ini. guru untuk menjelaskan materi yang belum dimengerti. Penayangan video interaktif di- laksanakan pada kegiatan inti. Pada saat Pada siklus I, saat dilaksanakan penayangan video interaktif, masih terdapat diskusi siswa terlihat belum begitu aktif dalam siswa yang kurang mendukung terciptanya kegiatan pembelajaran. Ada beberapa siswa proses pembelajaran yang baik secara yang sibuk bermain dan mengobrol dengan optimal. teman atau beraktivitas sendiri saat berdiskusi kelompok. Setelah didekati dan Di akhir kegiatan inti, guru memberikan dinasihati akhirnya siswa tersebut kembali evaluasi melalui permainan cerdas cermat. mengikuti diskusi yang sedang dilakukan. Ini dilakukan sebagai bagian dari strategi Tahap observasi dilakukan selama kegiatan SELVIE. Proses pembelajaran siklus I pembelajaran. Adapun hasil observasi pertemuan pertama ditutup dengan guru keterlaksanaan strategi pembelajaran membimbing siswa membuat refleksi SELVIE pada siklus I seperti pada tabel kegiatan pembelajaran. berikut: 2.2. Pertemuan Kedua Tabel 5. Kegiatan pembelajaran pertemuan Hasil Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran kedua dilaksanakan tidak jauh berbeda Menggunakan Strategi SELVIE dengan pertemuan pertama. Setiap kegiatan mengacu pada RPP yang telah disusun sebelumnya. Pada akhir pertemuan, siswa diberikan angket motivasi yang akan dianalisis oleh peneliti untuk kemudian direfleksikan sebagai dasar tindakan lanjutan pada siklus II. 3. Pengamatan Pada siklus I guru terlihat berusaha melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai rancangan pembelajaran yang sudah dibuat. Pada pertemuan pertama, guru melewatkan beberapa kegiatan yang harusnya dilakukan sesuai dengan RPP, diantaranya memotivasi siswa, Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa digunakan untuk memperkuat adanya keterlaksanaan pembelajaran matematika peningkatan motivasi belajar siswa, setelah menggunakan pada siklus I sebesar 77,5 %. penerapan pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran SELVIE. Tabel perolehan Hasil observasi terhadap aktivitas siswa juga skor motivasi belajar siswa adalah sebagai dapat dilihat dari sajian tabel berikut ini. berikut : Tabel 6. Tabel 7. Hasil Observasi Motivasi Belajar Siswa Pada Persentase Perolehan Skor Angket Motivasi Belajar Pembelajaran Menggunakan Strategi SELVIE Siklus I Siswa Menggunakan Strategi SELVIE Siklus I Berdasarkan tabel 6 di atas, terlihat bahwa motivasi belajar siswa pada siklus I mengalami peningkatan di pertemuan I dan pertemuan kedua, walaupun belum memenuhi kriteria keberhasilan yaitu mencapai 75%. Cerminan motivasi belajar siswa terlihat juga dari hasil angket yang diisi oleh siswa. Angket diberikan untuk melihat motivasi belajar siswa Angket diberikan pada setiap akhir pelaksanaan penelitian (siklus) Angket Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Berdasarkan hasil angket diperoleh 2. Pelaksanaan data jumlah perolehan rata-rata tingkat Pada setiap pertemuan di siklus II ini, motivasi siswa pada siklus I sebesar 79,25% dengan kategori tinggi. Hal ini menunjukkan siswa tampak lebih antusias dibandingkan bahwa siswa antusias belajar matematika siklus I. Gangguan yang ditimbulkan oleh dengan menggunakan strategi pembelajaran siswa lain sudah berkurang. Secara umum SELVIE siswa mulai tampak lebih serius mengikuti pembelajaran. 4. Evaluasi dan Refleksi Siklus I Setelah siklus I selesai, guru Dalam proses interaksi antara guru dengan siswa sudah berjalan baik. Siswa melakukan refleksi dengan cara diskusi sudah mulai aktif bertanya kepada guru bersama pengamat terhadap proses apabila ada materi yang kurang dimengerti. mengajar untuk menemukan kekurangan- Dalam penyampaian materi pelajaran, guru kekurangan yang terjadi pada kegiatan sudah mulai memberikan materi secara pembelajaran di pertemuan pertama dan mendetail dan pelayanan kepada siswa kedua, serta mencari solusinya. secara individu telah optimal. Hal ini menyebabkan pembelajaran dapat berjalan Dari hasil diskusi tersebut disepakati lebih baik agar guru lebih mempersiapkan rencana pembelajaran dengan matang. Dan 3. Pengamatan memperhatikan setiap langkah Secara umum aktivitas siswa dalam hal pembelajaran yang telah dibuat sesuai dengan rencana. Mulai dari memberikan fokus perhatian, keaktifan dan kerja sama motivasi pada kegiatan awal, mengorganisir cukup baik. Pada tahap diskusi siswa sudah siswa ke dalam kelompok yang heterogen, terlihat aktif, bersemangat dalam memberikan penghargaan kepada kelompok melaksanakan pembelajaran. Dan kegiatan super, serta mengingatkan siswa tentang pembelajaran terlihat menyenangkan. Tahap materi yang akan dipelajari pada pertemuan observasi dilakukan selama kegiatan selanjutnya. pembelajaran. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan startegi Beberapa hambatan selama kegiatan pembelajaran SELVIE pada proses belajar pembelajaran pada siklus I, diantaranya mengajar dengan cara melakukan observasi kurangnya persiapan materi pada siswa secara langsung. Adapun hasil observasi karena siswa tidak mempelajari terlebih keterlaksanaan kegiatan pembelajaran dahulu materi yang akan diajarkan, sehingga dengan menggunakan strategi SELVIE pada dalam memahami pelajaran masih kurang siklus II dapat dilihat pada tabel berikut optimal. Tabel 8. Beberapa perbaikan yang akan Hasil Observasi Keterlaksanaan dilakukan pada siklus II adalah sebagai Pembelajaran Menggunakan Strategi SELVIE Siklus II berikut : 1. Menyampaikan manfaat pembelajaran Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran terlebih dahulu sebagai bentuk motivasi matematika menggunakan strategi SELVIE rata- kepada siswa. rata pada siklus II sebesar 92,75%. 2. Menyampaikan materi yang akan diajarkan pada pertemuan berikutnya, Selain observasi keterlaksanaan agar siswa mempersiapkan diri dan pembelajaran, motivasi siswa juga diamati memahami penjelasan yang di- sampaikan oleh guru. 3. Agar siswa tertarik berperan aktif dalam pembelajaran, siswa akan diberikan reward berupa nilai tambahan sehingga siswa terdorong untuk lebih mem- perhatikan pembahasan di kelas. B. Hasil Tindakan Siklus II 1. Perencanaan Pada tahap ini, peneliti menyusun perencanaan tindakan berdasarkan evaluasi dan refleksi pada akhir siklus I. Jenis instrument yang dipersiapkan sama seperti pada awal siklus I Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


melalui observasi motivasi siswa selama Tabel perolehan skor motivasi belajar siswa pembelajaran menggunakan strategi SELVIE. adalah sebagai berikut: Hasil observasi pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 10. Persentase Perolehan Skor Angket Motivasi Belajar Tabel 9. Siswa Menggunakan Strategi SELVIE Siklus I Hasil Observasi Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran Menggunakan Strategi SELVIE Siklus II Dari tabel terlihat adanya peningkatan motivasi Berdasarkan hasil angket diperoleh data jumlah siswa tiap poinnya. Pada siklus II persentase perolehan rata-rata tingkat motivasi siswa pada motivasi siswa 79,25% dan ini sudah memenuhi siklus II sebesar 90,17% dengan kategori tinggi, kriteria keberhasilan penelitian Cerminan lebih tinggi daripada siklus I. Hal ini menunjukkan motivasi belajar siswa juga dapat terlihat dari bahwa siswa semakin antusias belajar hasil angket yang diisi oleh siswa. Angket matematika dengan menggunakan strategi diberikan untuk melihat motivasi belajar siswa. pembelajaran SELVIE. Angket diberikan pada setiap akhir pelaksanaan penelitian (siklus). Angket digunakan untuk memperkuat adanya tingkat motivasi belajar siswa, setelah penerapan pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran SELVIE. Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


2. Evaluasi dan Refleksi Siklus II beberapa langkah pembelajaran yang telah - Evaluasi terhadap proses pembelajaran ditetapkan, seperti mengorganisir siswa ke Hasil diskusi pengamat dan peneliti untuk dalam kelompok yang heterogen dan tidak siklus II, menyepakati bahwa kegiatan meminta siswa untuk mempresentasikan hasil pembelajaran telah berjalan dengan diskusi kelompoknya. optimal, meski sempat masih mengalami kendala pada saat mengorganisir Namun kendala-kendala pada siklus I kelompok pada pertemuan pertama, akhirnya dapat teratasi pada siklus II. Peneliti namun pada pertemuan kedua sudah mulai menyampaikan manfaat pembelajaran dan dapat teratasi. memberikan penghargaan kepada kelompok - Refleksi terhadap proses pembelajaran super. Peneliti juga mulai dapat mengatur waktu Pada pembelajaran matematika dengan dengan optimal sehingga tidak ada lagi langkah- menggunakan strategi pembelajaran langkah pembelajaran yang tidak sesuai dengan SELVIE dapat dikatakan berjalan secara RPP. optimal. Kenyataan ini terlihat dari aktivitas siswa yang cukup tinggi dibandingkan Peningkatan rata-rata hasil observasi siklus sebelumnya. keterlaksanaan pembelajaran pada siklus I dan - Pada siklus II pelaksanaan pembelajaran siklus II dapat terlihat pada tabel 11 sebagai matematika dengan menggunakan strategi berikut pembelajaran SELVIE sudah sesuai ketentuan dan persentase rata-rata hasil Tabel 11. observasi mencapai 92,75%. Serta rata- Rata-rata Hasil Observasi Keterlaksanaan rata persentase motivasi belajar Pembelajaran Menggunakan Strategi SELVIE pada matematika siswa berdasarkan angket Siklus I dan II berada pada kategori tinggi. Maka, tidak perlu adanya siklus selanjutnya. 2. Hasil observasi motivasi belajar matematika siswa C. Deskripsi Hasil Penelitian 1. Hasil observasi keterlaksanaan strategi Selama proses pembelajaran menggunakan SELVIE strategi pembelajaran SELVIE pada siklus I dan Selama proses pembelajaran menggunakan siklus II dilakukan pengambilan data motivasi siswa dengan cara observasi. Data hasil strategi pembelajaran SELVIE pada siklus I dan II observasi motivasi siswa ditunjukkan oleh tabel dilakukan pengambilan data keterlaksanaan 12. Terlihat pada tabel dari siklus I ke siklus II ada pembelajaran dengan cara observasi. peningkatan tiap poin yang diamatinya. Keterlaksanaan strategi pembelajaran SELVIE pada siklus I adalah 77,5% dan meningkat pada Untuk melakukan gerakan senam limbik, siklus II menjadi 92,75 %. Pada siklus I siswa sudah terlihat antusias mengikuti dari pelaksanaan pembelajaran tidak terlaksana pertemuan awal. Ini bisa kita asumsikan bahwa dengan baik sesuai rancangan pelaksanaan siswa memang membutuhkan ice breaking pembelajaran (RPP) yang sudah disusun selama proses pembelajaran agar mereka tidak sehingga pembelajaran yang dilakukan kurang merasa jenuh yang akhirnya dapat menurunkan efektif. motivasi belajar mereka. Langkah pembelajaran yang tidak Hal yang terlihat meningkat namun masih terlaksana pada siklus I adalah tidak belum optimal yaitu pada poin menjawab menyampaikan manfaat pembelajaran dan tidak pertanyaan guru, mempresentasikan hasil adanya pemberian penghargaan kepada diskusi kelompok, mencermati hasil diskusi kelompok super serta lupa menyampaikan kelompok lain saat dipresentasikan di depan materi yang akan dipelajari pada pertemuan kelas, menanggapi hasil diskusi kelompok lain selanjutnya. Hal ini menyebabkan siswa tidak yang telah dipresentasikan, baik berupa termotivasi untuk belajar. Selain itu, karena pertanyaan maupun tanggapan, dan keterbatasan waktu (penggunaan waktu yang menyelesaikan evaluasi mandiri yang diberikan tidak sesuai dengan rencana) mengakibatkan oleh guru. peneliti tidak melakukan Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Tabel 12. Tabel 13. Hasil Observasi Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran Menggunakan Strategi SELVIE pada Persentase Perolehan Skor Angket Motivasi Belajar Siklus I dan Siklus II Siswa Menggunakan Strategi SELVIE pada Siklus I dan Siklus II 3. Hasil angket motivasi belajar matematika Berdasarkan hasil angket diperoleh rata-rata siswa tingkat motivasi siswa pada siklus I sebesar 79,25% (tinggi) dan pada siklus II sebesar Motivasi siswa meningkat dari siklus I 90,17% (tinggi) sebesar 79,25 % dengan kategori tinggi, menjadi sebesar 90,17% dengan kategori tinggi pada Pembahasan siklus II. Hal ini menunjukkan tingkat antusias Pada penelitian ini, pelaksanaan pembelajaran siswa yang semakin besar dengan belajar matematika dengan menggunakan strategi matematika menggunakan strategi pem- SELVIE dipandang telah memberikan kontribusi belajaran SELVIE. Berdasarkan hasil angket diperoleh data mengenai tingkat motivasi belajar siswa pada pelajaran matematika. Adapun mengenai data tersebut disajikan pada tabel berikut : Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


terhadap peningkatan motivasi belajar siswa mendapatkan model bangun tabung, kerucut kelas IX B SMPN 3 Pacet Kabupaten Bandung. dan juga bola. Masing-masing kelompok diminta Siswa yang semula menunjukkan sikap tidak untuk berdiskusi menentukan unsur-unsur berminat dan kurang termotivasi pada pelajaran bangun yang diperoleh dan menggambarkan matematika seperti: masuk kelas terlambat, jaring-jaringnya. Untuk menyelesaikan LK, guru selalu gaduh, tidak memperhatikan guru, cepat menyampaikan agar siswa mencari informasi menyerah dalam menyelesaikan soal karena dari berbagai sumber, misalnya internet, buku guru tidak dapat membimbing siswa secara paket, Dan setelah kegiatan diskusi berakhir, individual. beberapa perwakilan kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka di Tahap awal pelaksanaan pembelajaran depan kelas, sedangkan kelompok yang lain matematika dengan menggunakan strategi menyimak dengan cermat, selanjutnya SELVIE yakni guru menyusun perencanaan memberikan tanggapan jika ada. Sebelum yang matang. Meliputi pembuatan rencana pemberian penghargaan kepada kelompok pelaksanaan pembelajaran (RPP), pemilihan super (terbaik), guru memberikan evaluasi metode, pemahaman materi dan isi dengan melalui permainan cerdas cermat. pembelajaran, penggunaan media pembelajaran dan juga evaluasi. Pada siklus II, guru menggunakan model pembelajaran inquiry, dimana setiap Pada tahap inti pembelajaran kelompok mengidentifikasi hal-hal yang dilaksanakan menggunakan strategi diperlukan untuk menemukan rumus-rumus luas pembelajaran senam limbik, video interaktif dan permukaan bangun ruang sisi lengkung, mulai evaluasi dengan cara bermain (SELVIE) yang dari tabung hingga bola. Pada pertemuan kedua dipadukan dengan beberapa model dan ketiga, guru memberikan treatment yang pembelajaran seperti, kooperatif tipe STAD dan sama, yaitu tiap kelompok yang terdiri dari 2 juga inquiry (penemuan terbimbing). orang (teman sebangku) diberikan LK dan model jaring-jaring tabung dan kerucut berukuran Setiap awal kegiatan pembelajaran, tertentu. Selanjutnya siswa diminta untuk guru selalu meminta siswa untuk melakukan berdiskusi menyelesaikan LK tersebut dengan gerakan senam limbik yang ditayangkan melalui mengumpulkan informasi dari berbagai sumber video dan dipandu oleh guru. Selanjutnya pada dan menuliskannya pada LK sesuai dengan kegiatan pembelajaran, guru menggunakan langkah-langkah yang telah diberikan. pendekatan Contextual Teaching and Learning Sedangkan pada pertemuan keempat, siswa (CTL) yang berperan untuk membantu guru menemukan rumus luas sisi bola melalui mengaitkan materi yang di ajarkan di kelas aktivitas praktik. Pada pertemuan sebelumnya dengan situasi siswa di kehidupan keseharian siswa diminta untuk mempersiapkan bahan dan mereka. Model pembelajaran yang digunakan alat yang akan digunakan, seperti 2 buah jeruk, ada 2 macam, yaitu Cooperative Laerning pensil, jangka, penghapus, gunting, karton dan (belajar bersama) tipe STAD (Student Team lain sebagainya. Setelah siswa menemukan Achievement Division) dan Inquiry Learning rumus dari bangun ruang tersebut, pada lembar (penemuan tebimbing). Dan strategi LK juga terdapat masalah-masalah yang harus pembelajaran yang diterapkan adalah strategi diselesaikan dengan menggunakan rumus tadi. SELVIE (senam limbik, video interaktif dan Setelah diskusi selesai, siswa diminta untuk evaluasi dengan cara bermain). mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, sedangkan siswa lain mencermati dan Pada pertemuan pertama di siklus I, memberikan tanggapan jika ada. Sebelum kegiatan pembelajaran mencerminkan memberikan penghargaan kepada kelompok komponen-komponen utama pembelajaran super, guru mengevaluasi siswa melalui kooperatif tipe STAD, dimana guru terlebih permainan, seperti roling game, lempar tangkap dahulu memberikan informasi terkait materi yang spidol, dan “boom”. akan didiskusikan melalui penayangan video interaktif fokusky, kemudian berdasarkan Aktivitas siswa selama kegiatan kemampuan siswa yang berbeda-beda mereka pembelajaran menggunakan stategi SELVIE dibagi ke dalam 6 kelompok, dimana tiap terlihat antusias. Terlebih lagi pada kegiatan awal kelompok terdiri dari 5 orang siswa. Masing- pembelajaran, mereka sangat senang masing kelompok diberikan LK dan juga sebuah melakukan senam limbik karena diiringi model bangun ruang sisi lengkung yang berbeda-beda tiap kelompok. Ada siswa yang Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


dengan musik dan video panduan gerakan. DAFTAR PUSTAKA Bahkan hingga saat ini, meski kegiatan penelitian telah selesai tetapi siswa masih ingin melakukan Astuti, Dewi. (2017). Upaya Meningkatkan senam sebelum belajar. Antusias siswa ini Motivasi Belajar Matematika Melalui terlihat dari hasil analisis angket motivasi belajar Penggunaan Strategi Pembelajaran siswa yang menunjukkan respons positif siswa Senam Otak, Video Interaktif dan sejak siklus I sebesar 79,25% dan semakin Evaluasi dengan Game pada meningkat pada siklus II sebesar 90,17%, Pembelajaran Matematika dapat dengan kategori tinggi di setiap siklusnya. Selain Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. itu antusias siswa terhadap senam limbik ini juga Skripsi tidak dipublikasikan. Makasar: terlihat pada hasil observasi motivasi siswa. Universitas Negeri Makasar Berdasarkan hasil observasi Dariyo, Agoes. (2013). Dasar-dasar Pedagogi keterlaksanaan pembelajaran, hasil observasi Modern. Cet.I; Jakarta: Indeks motivasi siswa dan lembar angket motivasi, peneliti menyimpulkan bahwa motivasi Dewi, Panca Erni. (2014). Pembelajaran pembelajaran matematika pokok bahasan Matematika yang Menyenangkan bangun ruang sisi lengkung dengan Program Studi Matematika. Yogyakarta: menggunakan strategi pembelajaran senam Universitas PGRI Yogyakarta. limbik, video interaktif dan evaluasi melalui www.academia.edu, diunduh 4 Oktober permainan (SELVIE) pada siswa kelas IX B 2017 (15:30) SMPN 3 Pacet Kabupaten Bandung mengalami peningkatan. Ini sejalan dengan penelitian sama Fitriani, Ratna. (2016). Meningkatkan Motivasi yang telah dilaksanakan sebelumnya oleh Astuti Belajar Matematika Siswa Dengan (2017). Dalam penelitian tersebut juga ditarik Menggunakan Metode Saintifik Pada kesimpulan bahwa motivasi pembelajaran Siswa Kelas VIII-C SMP Negeri 15 matematika dengan menggunakan strategi Yogyakarta. pembelajaran SELVIE mengalami peningkatan. https://www.researchgate.net/publication Dari hasil kedua penelitian yang relevan ini, /3 34535156 diunduh 5 Mei 2022. terbukti bahwa strategi pembelajaran SELVIE dapat meningkatkan motivasi belajar matematika Rini, Dyah Sinto. (2013). “Penggunaan siswa. Permainan Kartu Dominik dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Bilangan KESIMPULAN Berpangkat dan Bentuk Akar di Kelas IX Berdasarkan hasil penelitian dan UPTD SMPN 18 Tangerang”, dalam pembahasan tentang pelaksanaan Prosiding Seminar Nasional Pendidikan pembelajaran dengan menggunakan strategi Matematika. (2017) Yogyakarta: PPPPTK Senam Limbik, Video Interaktif dan Evaluasi Matematika Yogyakarta. dengan cara bermain (SELVIE) diperoleh informasi bahwa keterlaksanaan kegiatan Widoyoko, Eko Putro. (2017). Teknik pembelajaran berjalan dengan baik (optimal) dan Penyusunan Instrumen Penelitian. rata-rata siswa memberikan respon yang positif, Yogyakarta : Pustaka Pelajar sehingga kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan strategi pembelajaran Senam Limbik, Video Interaktif dan Evaluasi dengan cara bermain (SELVIE) untuk pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IX B SMP Negeri 3 Pacet Kabupaten Bandung Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS 12.2-IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CIRC (Penelitian Tindakan Kelas pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas 12.2-IPS SMA Negeri 1 Gunungsindur Tahun Pelajaran 2021/2022) Lina Muryani SMAN 1 Gunungsindur Kab. Bogor Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh proses belajar selama Pandemi Covid-19 yang mengharuskan siswa belajar dari rumah dan berdampak pada rendahnya aktivitas belajar siswa yang meliputi kemampuan membaca, daya kritis, daya nalar, dan berkomunikasi. Pada penilaian harian ke-4 hasil belajar siswa kelas 12.2-IPS di bawah standar KKM (KKM yang ditetapkan adalah 71). Dari 32 siswa hanya 9 siswa (28,12%) yang memperoleh nilai di atas KKM. Tujuan penelitian ini adalah meningkatnya aktivitas belajar siswa kelas 12.2-IPS SMAN 1 Gunungsindur pada materi sejarah kontemporer dunia menggunakan model pembelajaran CIRC. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Subjek penelitian ini adalah kelas 12.2 IPS SMAN 1 Gunungsindur sebanyak 32 orang siswa, terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi guru dan siswa serta tes hasil belajar. Penerapan model CIRC mengalami peningkatan 16,44%, yaitu sebanyak 79,76% di siklus 1 dan 96,20% di siklus 2. Aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 22,44%, yaitu sebanyak 65,69% di siklus 1 dan 88,13% di siklus 2. Jumlah siswa yang mencapai KKM mengalami peningkatan sebesar 38,89%, yaitu sebanyak 50% di siklus 1 dan 88,89% di siklus 2. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran Sejarah materi sejarah kontemporer dunia. Hasil penelitian ini direkomendasikan untuk guru sejarah pada materi yang sama. Kata kunci : Model pembelajaran CIRC, Aktivitas Belajar Siswa, Sejarah PENDAHULUAN Yugoslavia, siswa tidak mampu mengidentifikasi Pembelajaran merupakan kegiatan dan menginterpretasi informasi dengan tepat. Sebagian besar siswa belum mampu timbal balik antara guru dengan siswa. Guru menggunakan sumber/referensi yang diperlukan. harus membekali dirinya dengan sejumlah Siswa belum memahami konsep esensial materi penguasaan materi, mampu menerapkan runtuhnya Yugoslavia seperti: blok poros, perang pendekatan multidimensional dengan saudara, negara federasi, embargo senjata, penggunaan multimedia serta mampu kelompok separatis, otonomi dan lain-lain. Saat mengembangkan potensi siswa melalui kegiatan diskusi kelompok, terlihat belum ada pembelajaran aktif, menyenangkan dan upaya untuk memelihara kekompakan kelompok, bermakna. Pembelajaran aktif merupakan salah siswa belum mampu menyampaikan ide dengan satu strategi untuk mengoptimalkan jelas, belum mampu mengkomunikasikan ide pembelajaran dimana guru berperan sebagai dengan siswa lain dan interaksi selama fasilitator pembelajaran sedangkan siswa harus pembelajaran hanya didominasi oleh siswa- aktif. Dalam pembelajaran, terjadi dialog yang siswa tertentu. Berdasarkan hasil evaluasi interaktif antara siswa dengan siswa, siswa pembelajaran, hasil belajar siswa kelas 12.2-IPS dengan guru dan siswa dengan sumber belajar di bawah standar KKM (KKM yang ditetapkan sehingga dengan pembelajaran aktif, siswa adalah 71). Dari 32 siswa hanya 9 siswa (28,12%) dapat meng-optimalkan seluruh potensi yang yang memperoleh nilai di atas KKM. dimiliki dan mencapai hasil belajar yang memuaskan. Keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran baik secara fisik, mental maupun Namun dalam kenyataannya, aktivitas intelektual sangat diperlukan agar tujuan belajar siswa pada mata pelajaran sejarah di kompetensi yang telah ditetapkan dapat tercapai. Kelas 12.2-IPS SMA Negeri 1 Gunungsindur Menurut Marzano sebagaimana dikutip oleh masih rendah. Keinginan siswa untuk membaca (Gushendra, 2021), seorang siswa sudah melalui teks yang diberikan guru masih sangat rendah. proses belajar aktif jika mampu menunjukkan Ketika siswa diberikan teks tentang runtuhnya Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


keterampilan bekerjasama, memproses Data-data yang telah diperoleh, kemudian informasi, berpikir kompleks, berdaya nalar dilakukan analisis dan pembahasan pada bulan kreatif dan berkomunikasi secara efektif. Banyak Januari 2022. Tahapan akhir proses penelitian model pembelajaran yang bisa dipilih dan adalah analisis dan pelaporan hasil penelitian diterapkan oleh guru untuk menjadikan pelajaran pada bulan Februari 2022. sejarah lebih menarik, bermakna dan mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa, salah Teknik pengumpulan data pada satunya adalah model pembelajaran penelitian ini, yaitu: observasi dan tes. Indikator Cooperative Integrated Reading and observasi untuk mengukur keberhasilan proses Composition (CIRC). Model pembelajaran CIRC pembelajaran meng-gunakan model CIRC dan dikembangkan oleh Stevans, Madden, Slavin aktivitas belajar siswa dideskripsikan dalam tabel dan Farnish yang sintaksnya meliputi orientasi, 1 berikut ini: organisasi, pengenalan konsep, publikasi, penguatan dan refleksi (Shoimin, 2018). CIRC Tabel 1. Indikator observasi untuk mengukur merupakan pembelajaran yang komposisinya keberhasilan proses pembelajaran menggunakan terpadu berupa membaca dan menulis hal-hal model CIRC dan aktivitas belajar siswa yang penting secara kooperatif kelompok (Ngalimun, 2017). Berdasarkan permasalahan yang telah ditemukan tersebut, maka rumusan masalah dapat diuraikan sebagai berikut: Apakah model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran sejarah di kelas 12.2-IPS SMA Negeri 1 Gunungsindur Tahun Pelajaran 2021/2022? Tujuan penelitian ini adalah meningkatnya aktivitas belajar siswa melalui model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) pada mata pelajaran sejarah di kelas 12.2-IPS SMA Negeri 1 Gunungsindur Tahun Pelajaran 2021/2022. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (action research). Penelitian ini dilaksanakan mengacu pada model spiral dari Kemmis dan Taggart (Arikunto, 2015) dengan empat tahap, yaitu: perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting). Setting penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Gunungsindur yang terletak di Jl. Atma Asmawi Kec. Gunungsindur Kab. Bogor Prov. Jawa Barat. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 12.2-IPS yang berjumlah 32 orang siswa, terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Durasi penelitian dilaksanakan selama 4 (empat) bulan, yakni antara bulan November 2021 sampai dengan bulan Februari 2022. Tahapan penelitian diawali dengan penyusunan proposal, RPP dan instrumen pada bulan November sampai Desember 2021. Selanjutnya pada bulan Januari 2022 dilakukan pengumpulan data melalui tindakan pada siklus 1 dan siklus 2 Jurnal Pengembangan Profesi Volume 15 Tahun 2022


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook