Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore MODUL seni tari dan drama_JADI

MODUL seni tari dan drama_JADI

Published by wahyu tiyas, 2023-07-09 09:48:44

Description: MODUL seni tari dan drama_JADI

Keywords: pendidikan,seni tari,drama,dramatari

Search

Read the Text Version

ii MODUL PENDIDIKAN SENI TARI DAN DRAMA

iii HALAMAN PENGESAHAN Pada hari senin tanggal 19 Juni 2023, Modul Pendidikan Seni Tari dan Drama Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa telah diverifikasi oleh Ketua Jurusan di Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan. Ketua Jurusan Serang, 19 Juni 2023 Penulis Alis Triena Permanasari, S.Sn., M.Pd Wahyuning Tiyas, M.Pd NIP. 198205302006042001 NIP. 199506022022032005

iv KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Modul Seni Tari dan Drama. Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam pembelajaran mata kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pembahasan dalam modul ini dimulai dari penjelasan tujuan yang akan dicapai dan setiap pembahasan disertai dengan tugas sebagai bahan evaluasi mengukur tingkat ketercapaian dan ketuntasan. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan modul masih banyak kekurangan, untuk itu penulis sangat membuka kritik dan saran yang bersifat membangun. Mudah-mudahan modul ini memberikan manfaat. Serang, 19 Juni 2023 Penulis

v DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL............................................................................................. ii iii HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................. iv v KATA PENGANTAR.............................................................................................. vii DAFTAR ISI ............................................................................................................ 1 2 DAFTAR GAMBAR................................................................................................ 2 3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ............................................................................................... 4 B. Deskripsi Singkat ........................................................................................... 5 C. Tujuan Pembelajaran ..................................................................................... 7 D. Petunjuk Penggunaan Modul ......................................................................... 8 12 BAB II WAWASAN SENI TARI 15 A. Pengetahuan Dasar Seni Tari ......................................................................... 20 B. Perkembangan Seni Tari di Indonesia ........................................................... C. Pengertian Seni Tari....................................................................................... D. Jenis-jenis Seni Tari....................................................................................... E. Unsur-unsur Utama Seni Tari ........................................................................ F. Unsur-unsur Pendukung Seni Tari................................................................. BAB III WAWASAN SENI DRAMA A. Pengetahuan Dasar Seni Drama.....................................................................

vi B. Pengertian Seni Drama .................................................................................. 21 C. Jenis-jenis Seni Drama................................................................................... 23 23 a) Berdasarkan Bentuk Dramatisnya............................................................ 25 b) Berdasarkan Bentuk Sastra ...................................................................... 26 c) Berdasarkan Jumlah Pelakunya ............................................................... 26 d) Berdasarkan Media Pementasanya .......................................................... 27 e) Berdasarkan Penonjolan Unsur Seninya.................................................. 28 f) Berdasarkan Orisinalitasnya .................................................................... 28 g) Berdasarkan Kuantitas Waktu Pementasan ............................................. 29 h) Berdasarkan Naskahnya........................................................................... 30 i) Berdasarkan Aliran Drama ...................................................................... 31 j) Berdasarkan Kekhususan dari Aspek Tertentu ........................................ 32 D. Karakter dalam Seni Drama........................................................................... 36 BAB IV PROSES GARAPAN TARI DAN DRAMA 40 40 A. Karakteristik Tari Anak Sekolah Dasar ......................................................... 41 B. Proses Garapan Tari dan Drama .................................................................... 42 a) Eksplorasi Gerak...................................................................................... 45 b) Improvisasi Gerak.................................................................................... c) Komposisi ................................................................................................ DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................

vii DA DAFTAR TABEL Gambar 1. Ilustrasi tari piring Sumatera Barat ......................................................... 9 Gambar 2. Tari Manasai Kalimantan Tengah............................................................ 10 Gambar 3. Ramayana Ballet Purawisata.................................................................... 11 Gambar 4. Tari Kipas Aceh ....................................................................................... 11 Gambar 5. Tari Kontemporer..................................................................................... 12

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seni hakikatnya tidak lepas dari aktivitas manusia sehari-hari. Seni tari dengan geraknya, seni music dengan suara dan bunyinya, seni teater dengan peranya, dan seni rupa dengan visualnya. Bentuk seni sangat beragam bisa dalam bentuk ekspresi maupun simbol. Termasuk pendidikan seni tari dan drama dalam modul ini memiliki tujuan mengembangkan kemampuan anak di bidang ekspresi dan imajinasi melalui gerak dan peran. Sebagai calon guru utamanya calon guru Sekolah Dasar dituntut menguasai berbagai bidang salah satunya adalah bidang seni. Seorang guru harus paham baik secara teoritis maupun praktik. Untuk dapat menguasai berbagai bidang, maka modul ini adalah salah satu bahan acuan belajar secara teoritik dan dapat dikembangkan dengan praktik juga. Optimalisasi dalam pembelajaran salah satunya adalah dengan tercapainya kompetensi yang diharapkan didukung dengan hal-hal dalam pembelajaran. Materi Pendidikan seni tari dan drama dalam modul ini diharapkan dapat menjadi referensi belajar mahasiswa sebagai pendukung belajar. Dengan kegiatan mengkaji teori dan praktik tentang seni tari dan drama dapat memberikan pengalaman belajar bagi mahasiswa. Seni tari drama untuk anak dapat dikembangkan oleh mahasiswa sebagai bentuk mengasah kreatifitas mahasiswa dalam berkesenian. Selain itu, mahasiswa dapat mengerjakan latihan soal untuk menilai sendiri sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap Pendidikan seni tari dan drama.

2 Mata kuliah Pendidikan seni tari dan drama merupakan mata kuliah teori dan praktik yang memberikan hasil perkuliahan berupa karya seni pertunjukan dalam bentuk dramatari. Mahasiswa dapat mengeksplore secara bebas dengan dasar pembentukan karya yang sudah diberikan guna mendukung ide mahasiswa. Dengan pengetahuan dasar seni tari dan drama dan menyusun pola gerak dapat menjadi dasar pijakan mahasiswa dalam membuat sebuah karya untuk anak sekolah dasar. B. Deskripsi Singkat Modul Pendidikan seni tari dan drama disusun untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa terhadap wawasan seni tari dan drama guna mendukung kreativitas mahasiswa dalam membuat karya seni pertunjukan di Sekolah Dasar. Sebagai calon guru Sekolah Dasar, mahasiswa dituntut menguasai berbagai bidang salah satunya bidang seni. C. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul Pendidikan seni tari dan drama, mahasiswa diharapkan mampu untuk : 1. Menjelaskan tentang pengetahuan seni tari dan drama 2. Menjelaskan unsur pendukung seni tari dan drama 3. Menjelaskan proses garapan seni tari dan drama

3 D. Petunjuk Penggunaan Modul Perhatikan dan pahami daftar isi sebagai petunjuk sebaran materi Pendidikan seni tari dan drama. Modul dapat dibaca secara keseluruhan dari awal sampai akhir tetapi juga bisa dibaca sesuai dengan pokok bahasan yang ada dalam modul ini. Modul dipelajari sesuai dengan proses dan langkah pembelajaran yang ada di kelas. Bacalah dengan baik dan teliti materi tulis dan gambar yang ada di dalamnya. Tandai bagian yang dianggap penting dalam pembelajaran dengan menyelipkan pembatas buku.

4 BAB II WAWASAN SENI TARI A. Pengetahuan Dasar Seni Tari Perjalanan dan bentuk seni tari di Indonesia berterkaitan dengan perkembangan kehidupan masyarakat, baik ditinjau dari struktur etnik maupun dalam lingkup negara kesatuan. Jika ditinjau sekilas tentang perkembangan Indonesia sebagai negara kesatuan, maka perkembangan tersebut tidak terlepas dari latar belakang keadaan masyarakat di Indonesia. Pada saat itu, Amerika Serikat dan Eropa secara politis dan ekonomi menguasai seluruh Asia Tenggara, kecuali Thailand. Menurut Soedarsono (1977), salah seorang budayawan dan peneliti seni pertunjukan Indonesia, menjelaskan bahwa, “secara garis besar perkembangan seni pertunjukan Indonesia tradisional sangat dipengaruhi oleh adanya kontak dengan budaya besar dari luar (asing)”. Berdasarkan pendapat Soedarsono tersebut, maka perkembangan seni pertunjukan tradisional Indonesia secara garis besar terbagi atas periode masa pra pengaruh asing dan masa pengaruh asing. Namun apabila ditinjau dari perkembangan masyarakat Indonesia hingga saat ini, maka masyarakat sekarang merupakan masyarakat Indonesia dalam lingkup negara kesatuan. Tentu saja masing-masing periode telah menampilkan budaya yang berbeda bagi seni pertunjukan, karena kehidupankesenian sangat tergantung pada masyarakat pendukungnya. Tarian daerah Indonesia dengan beraneka ragam jenis tarian indonesia seni tari

5 membuat Indonesia kaya akan adat, budaya dan seni. Tari di Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. Terdapat lebih dari 700 suku bangsa di Indonesia. Akar budaya bangsa Austronesia dan Melanesia, dipengaruhi oleh berbagai budaya dari negeri tetangga di Asia bahkan pengaruh barat yang diserap melalui kolonialisasi. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai tarian khasnya sendiri. Indonesia memiliki lebih dari 3000 tari asli. Tradisi kuno, tarian dan drama dilestarikan di berbagai sanggar dan sekolah seni di bawah kementerian Pendidikan. B. Perkembangan Seni Tari di Indonesia Soedarsono dalam Rosala (1999:29) tari di Indonesia dilihat dari perkembangannya terdiri dari tiga zaman, diantaranya : a) Zaman Masyarakat Primitif Zaman masyarakat primitif terbagi menjadi 3: zaman batu, zaman perunggu, dan zaman besi. Pada zaman ini ditemukan beberapa alat instrument musik dari logam seperti nekara atau semacam gendering. Tari-tarian pada zaman primitif ditandai dengan upacara-upacara yang dianggap sakral selalu mempergunakan gerak-gerak tari, gerak-gerak yang tertuang pada upacara tersebut pada dasarnya merupakan gerakan spontanitas. Beberapa ciri kehidupan bermasyarakat pada zaman primitif : 1) Hidup cara berkelompok, 2) Sosial dan teknologi sangat sederhana,

6 3) Tidak mengenal pimpinan secara formal, dan 4) Menganut animisme, dinamisme dan totenisme. b) Zaman Masyarakat Feodal (Kerajaan) Pada zaman masyarakat feodal terbagi menjadi empat bagian, yaitu : 1) Zaman Indonesia hindu 2) Zaman Indonesia islam 3) Zaman inovasi bangsa barat 4) Zaman pergerakan nasional Pada zaman masyarakat feodal (feodalisme) mulai lahirnya kerajaan- kerajaan. Seperti zaman sebelumnya corak kehidupan masyarakat dari berbagai zaman sangat beragam. Hal tersebut sudah barang tentu menambah khazanah budaya bangsa. Pada zaman ini, perkembangan tari dapat dikatakan lebih maju terutama daerah yang menjadi pusat kerajaan seperti, jawa, bali, dan Sumatra. Di jawa barat, Cirebon dan pesisirnya pada zaman ini ditandai dengan adanya kesenian topeng dan wayang. Tari topeng kini tumbuh dan berkembang di kalangan rakyat perdesaan seperti Losari, Kreo, Kalianyar, Slangit, dan lain sebagainya. Zaman feodal kesenian yang cukup berkembang di lingkungan bangsawan, yaitu sebuah tari pergaulan dikalangan para menengah atas yang sangat digemari, yaitu dari tayub (tayuban) yang dilakukan di ruangan tertutup dan tidak dipertunjukkan untuk umum. Tari tayub ini dikhususkan bagi

7 penari-penari pria yang disertai dengan ronggeng atau penari bayaran. Gerak tari tayub sangat bebas, artinya tidak mempunyai aturan yang dibakukan (Rosala,1999:34). c) Zaman Kemerdekaan Pada zaman kemerdekaan, cara berpikir bangsa Indonesia mulai berkembang. Termasuk ilmu dibidang seni khususnya bidang seni tari. Di zaman ini bermunculan koreografer-koreografer, khususnya di jawa barat, jawa tengah, dan bali. Sekitar tahun 70-an munculah tari yang Bernama kreasi baru yang diciptakan oleh Gugum Gumbira yaitu tari jaipongan dengan motif gerak yang hampir sama dengan asalnya. Tari jaipong adalah salah satu bentuk tari kreasi baru yang berakar pada tari rakyat (khususnya ketuk tilu), topeng dan pencak silat. C. Pengertian Seni Tari Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran tertentu. Bunyi-bunyian yang disebut musik pengiring tari mengatur gerakan penari dan memperkuat maksud dan tujuan yang ingin disampaikan. Gerakan tari berbeda dari gerakan sehari-hari seperti berlari, berjalan, atau bersenam. Menurut jenisnya, tari digolongkan menjadi tari rakyat, tari klasik, dan tari kreasi baru.. Berikut adalah beberapa pengertian tari menurut para ahli : a. Aristoteles Tari merupakan gerakan ritmis yang tujuannya untuk memberikangambaran karakter

8 dan kehidupan manusia sebagaimana mereka berperilaku ataupun menderita. b. Bagong Sudito Menurut Bagong, seni tari merupakan gerak ritmis yang sesuai dengan irama dan bertujuan mengekspresikan perasaan. c. Cooric Harting Seni tari menurut Cooric merupakan serangkaian gerakan ritmis disertai iramayang dilakukan dalam satu waktu dan ruang. d. Soedarsono Seni tari merupakan ekspresi jiwa manusia yang diwujudkan dalam bentuk gerakan tubuh yang indah dan ritmis. e. Yulianti Parani Tari merupakan gerak ritmis seluruh atau sebagiannya dari tubuh yangbaik secara individu ataupun berkelompok yang disertai ekspresi tertentu. Berdasarkan pendapat para ahli mengenai seni tari, dapat ditarik kesimpulan bahwa seni tari bukan hanya tentang menggerakkan tubuh mengikuti irama, namun juga sejalan dengan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan kepada penikmat tari. D. Jenis-jenis seni tari Indonesia memiliki lebih dari 700 suku bangsa dari berbagai daerah. Berikut merupakan jenis-jenis tari yang ada di Indonesia :

9 1) Tari Tradisional Seluruh tari yang mengalami perjalanan sejarah yang cukup lama serta senantiasa bertumpu pada pola tradisi yang telah ada. Tari tradisional umumnya memiliki nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai filosofis, dan lain-lain. Contoh, tari Jaipong dari Jawa Barat, tari Piring dari Sumatera Barat, tari Tor-tor dari Sumatera Utara, dan masih banyak lagi tari tradisional berbagai daerah di Indonesia. Gambar 1. Ilustrasi tari piring Sumatera Barat 2) Tari Rakyat Tarian ini berorientasi pada koreografi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Tarian rakyat dapat dilihat di lingkungan masyarakat pendukung yang bersangkutan. Konsep koreografi sederhana, berpola pada tradisi yang telah lama diakui sebagai bagian kehidupan masyarakat sekitar,menjadi milik masyarakat sebagai warisan budaya yang sudah ada.

10 Gambar 2. Tari Manasai Kalimantan Tengah 3) Tari Klasik Tari yang sudah mencapai kristalisasi artistik yang tinggi dan menempuh perjalanan sejarah yang cukup panjang, sehingga tetap mempunyai nilai tradisional. Disisi lain terdapat bentuk-bentuk tari klasik dalam bentuk garapan bisa dikatagori dengan garapan tari dengan berdialog. Pada tarian jenis ini cenderung memanfaatkan unsur dialog prosa yang memberi corak dan bentuk yang sekaligus menjadi lebel jenis tarian ini. Secara lengkap jenis tarian ini disebut Wayang Orang (Wayang Wong). Wayang Wong merupakan drama tari dengan dialog prosa, yang mengambil cerita dari Ramayana dan Mahabarata. Ciri khas tari klasik adalah bentuk geraknya yang baku dan kostum tari yang mewah.

11 Gambar 3. Ramayana Ballet Purawisata Yogyakarta 4) Tari Kreasi Baru Tari kreasi baru adalah tari yang bisa dibilang mengikuti perkembangan zaman karena diciptakan oleh koreografer-koreografer muda. Beberapa tari kreasi baru merupakan perkembangan dari tradisional yang dikembangkan mengikuti perkembangan zaman, sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Misalnya, tari Rapai yang mana setiap gerakannya kombinasi antara tari daerah Aceh dengan Semenanjung Malaya. Gambar 4. Tari kipas Aceh

12 5) Tari kontemporer Tari kontemporer adalah tari dengan gerakan simbolik, memiliki keunikan, serta mengandung makna-makna tertentu didalamnya. Pada umumnya, gerakan yang ada pada tari modern lebih mengarah kepada jenis musik modern. Gambar 5. Tari kontemporer E. Unsur-unsur Utama Seni Tari Konsep dasar dalam tari secara universal adalah gerak, ruang, dan waktu. Tiga konsep dasar tersebut dihadirkan sebagai sebuah satu kesatuan yang utuh mewakili seni tari. Dalam sebuah tari, terdapat beberapa unsur-unsur yang perlu diperhatikan oleh penari. Unsur-unsur ini nantinya membantu para penari agar mampu menciptakan tari yang harmoni serta menampakan keindahan ketika menampilkan tari tersebut. Unsur- unsur utama dalam tari yaitu sebagai berikut: 1) Ruang Ruang adalah tempat untuk bergerak. Tempat untuk bergerak dalam pengertian

13 harfiah adalah panggung atau pentas tempat untuk menari, baik panggung tertutup maupun panggung terbuka. Namun, di dalam tari dikenal pula tempat untuk bergerak yang bersifat imajinatif. Ruang dalam tari terbagi menjadi2, yaitu : a. Ruang pribadi adalah jika penari melakukan gerak tanpa berpindah tempat, atau jangkauan yang dapat dicapai bagian tubuh penari ketika bergerak. b. Ruang umum adalah jika penari melakukan gerakan dengan berpindah tempat atau membentuk suatu pola yang biasa disebut pola lantai. 2) Waktu Pengertian waktu dalam tari adalah waktu yang diperlukan oleh penari dalam melakukan gerak. Waktu dalam tari sangat tergantung dari cepat lambatnya (tempo) penari dalam melakukan gerak, panjang pendeknya ketukan (ritme) dalam melakukan gerak, dan lamanya (durasi) penari dalam melakukan gerak. 3) Tenaga Gerak merupakan unsur utama tari. Gerak tari adalah komposisi dari gerakan indah yang dilakukan oleh anggota tubuh dan telah mengalami penggarapan atau pengerjaan dengan proses sedemikian rupa, sehingga gerakan-gerakan ini dapat dinikmati oleh orang lain. Gerak tari terjadi karena adanya suatu tenaga. Tenaga digunakan untuk mengatur cepat lambatnya gerak dan merupakan unsur utama dalam seni tari. Terdapat dua jenis gerak, yaitu gerak murni dan gerak maknawi. Gerak nyata/murni adalah gerak yang tidak memiliki arti, tetapi tetap mementingkan faktor keindahan. Sedangan gerak maknawi adalah gerak yang mengandung makna, biasanya gerak dasar dari gerak sehari – hari lalu diperhalus atau diubah sehingga terlihat tidak seperti gerak nyata.

14 Selain ketiga unsur di atas, dalam seni tari juga terdapat 4 unsur utama yang perlu diperhatikan. Keempat unsur ini digunakan sebagai suatu cara untuk mengevaluasi kualitas penari dan menjadi sistem pengkategorian yang lazim digunakan sebagai tolak ukur dalam seni tari. Keempat unsur tersebut sebagai berikut : a. Wiraga (Raga) Wiraga dalam tari adalah seorang penari harus menonjolkan gerak tubuh, baik ketika menari dalam keadaan duduk maupun berdiri. Wiraga juga memiliki makna tentang pentingnya daya ingat seorang penari dalam menghafal koreografi. Sehingga, dapat dipahami bahwa ketepatan gerakan, waktu, tempo, dan perubahan gerak penting untuk diperhatikan dalam menari. b. Wirama (Irama) Wirama adalah unsur dalam kesenian tari yang berupa alunan musik. Musik yang biasanya dimainkan oleh sekelompok orang menggunakan alat musik tradisional tidak sekadar hadir untuk meramaikan suasana. Sebab, irama musik dalam tarian ini juga sekaligus menjadi acuan penari dalam melakukan gerakan. Sehingga, penari harus menyatukan atau menyesuaikan gerakan tarinya dengan irama musik. Kesatuan antara tari dan iringan musik tersebut menciptakan harmonisasi yang membuat pertunjukan tari menjadi indah. Irama yang digunakan bisa berupa rekaman (biasa digunakan untuk kepentingan pendidikan) ataupun iringan langsung dari instrumen musik seperti gamelan atau alat musik tradisional lain.

15 c. Wirasa (Rasa) Wirasa berasal dari kata rasa, adapun unsur wirasa artinya bahwa dalam menampilkan tarian, seorang penari harus menggunakan perasaannya. Hal ini dimaksudkan agar penonton dapat ikut tersentuh perasaannya, terutama terkait dengan makna dari setiap gerakan tari yang ditampilkan. Wirasa dalam tari sendiri bisa ditunjukkan oleh penari melalui ekspresi wajah serta gerakan tari yang berirama. Unsur ini menguatkan suasana, karakter, dan estetika sebuah seni tari bila dikombinasikan dengan irama dan gerakan yang mendukung. d. Wirupa (Ekspresi) Unsur utama pada seni tari yang terakhir adalah wirupa atau ekspresi. Seorang penari harus mampu berekspresi melalui mimik wajah serta pendalaman karakter dari tokoh yang diperankan. Wirupa ini sama pentingnya dengan ketiga unsur utama lainnya, ekspresi dapat menyampaikan rasa dari para penari ketika mementaskan suatu tarian. Dengan ekspresi, maka penari dapat mengungkapkan pesan, cerita dan makna dari tari tersebut. F. Unsur-unsur Pendukung Seni Tari Dalam sebuah penyajian tari terdapat beberapa unsur pendukung di dalamnya. Unsur- unsur ini menjadi satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan. Selain unsur utama, unsur pendukung yang terdapat dalam penyajian tari juga menjadi salah satu bagian penting yang mampu memperkuat dalam upaya menyampaikan berbagai pesan dalam gerak yang dibawakan. Unsur-unsur yang dimaksud diantaranya adalah sebagai berikut:

16 1) Tata rias Pada saat menampilkan sebuah tari, penari membutuhkan tata rias untuk menambah nilai keindahan. Tata rias mampu membuat penari terlihat menarik dan juga dapat digunakan untuk membentuk sifat, karakter, mimik muka, serta memberi nilai tambah keindahan karya tari. 2) Pola Lantai Tari adalah gerakan ritmis yang memerlukan pola lantai untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pola lantai sebagai unsur pendamping yang membuat gerakan tari terlihat lebih indah dan teratur dengan membentuk pola tertentu sesuai jumlah penari. Selain itu, pola lantai juga berfungsi agar para penari tidak bertabrakan ketika berpindah posisi. 3) Properti Properti adalah semua peralatan yang digunakan untuk pementasan tari. Properti tari pada dasarnya dapat digunakan untuk memberikan keindahan bentuk harapan tari secara baik. 4) Tata busana Begitu juga dengan tari, busana dapat memberi warna tersendiri dalam pertunjukan tari. Adapun beberapa fungsi dari tata busana, yaitu sebagai berikut: a. Memperjelas tema tari, busana tari berfungsi untuk mendukung tema atau isi tari dan untuk memperjelas peranan dalam suatu sajian tari. b. Membantu menghidupkan karakter dan peran penari, Busana yang

17 dikenakan penari sudah menunjukkan siapa yang diperankan, umur, kebangsaan, status sosial, dan kepribadiannya. c. Membantu ekspresi penari dalam melakukan gerak tari, penari harus dapat membawakan tari tanpa terganggu oleh busananya. d. Memberikan nilai tambah pada segi estetika dan etika, Tari yang dibawakan dengan tata busana yang baik tentunya lebih indah dan menarik untuk disaksikan. 5) Tata suara Tata Suara adalah suatu kesatuan bunyi-bunyian beserta sarananya yang dipergunakan untuk kebutuhan dalam bertari. Tujuan tata suara adalah untuk melatar belakangi sebuah tari, serta sebagai sarana penambah daya imaginasi sehingga tari menjadi lebih hidup dan merangsang pengembangan ilusi. Dalam tata suara ini juga terbagi menjadi dua suara yaitu : a. Suara Internal Suara yang di hasilkan oleh tubuh penari itu sendiri dimana suara digunakana untuk memberikan penekanan makna ataupun menjadi suatu penanda atau patokan gerakan. b. Suara Eksternal Suara yang dihasilkan dari alat music yang dimainkan. Fungsi suara ini hampir sama untuk memberikan penekanan makna ataupun menjadi suatu penanda atau patokan gerakan.

18 6) Tata lampu Tata lampu dalam tarian disamping untuk menyinari serta menerangi tetapi juga membangun suasana tari yang dibawakan. 7) Panggung atau ruang pentas Tata pentas adalah penataan pentas untuk mendukung pergelaran tari. Tata pentas bukan hanya untuk kepentingan pencapaian efek artistik,namun juga berfungsi untuk membantu menciptakan suasana yang terkait dengan konsep tari. Jenis panggung terbagi menjadi dua jenis, yaitu: a. Panggung Tertutup Panggung tertutup atau disebut juga dengan prosenium. Ciri panggung ini yaitu para penari atau pemain hanya dapat dilihat dari satu arah pandang. Panggung tertutup berada dalam suatu ruangan yang disebut dengan auditorium. Gambar 6. Bentuk panggung Prosenium

19 b. Panggung Terbuka Panggung terbuka adalah panggung yang berada di tempat terbuka dan tidak beratap. Bentuknya bermacam-macam, yaitu berbentuk arena, pendopo, di halaman pura, di halaman rumah atau di lapangan. Ciri panggung terbuka adalah pemain atau penari dapat dilihat dari berbagai arah pandang. Gambar 7. Bentuk panggung terbuka

20 BAB III WAWASAN SENI DRAMA A. Pengetahuan Dasar Seni Drama Kata drama berasal dari bahasa Yunani Draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak. Jadi, drama bisa berarti perbuatan atau tindakan. Arti pertama dari drama adalah kualitas komunikasi, situasi, action (segala yang terlihat di panggung) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (acting), dan ketegangan pada para pendengar. Arti kedua, menurut Moulton drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action). Menurut Ferdinand Brunetierre, drama haruslah melahirkan kehendak dengan action. Drama memiliki beberapa pengertian. Pertama, drama diartikan sebagai komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (acting) atau dialog yang dipentaskan. Kedua, cerita atau kisah terutama yang melibatkan konflik atau emosi yang khusus disusun untuk pertunjukan teater. Ketiga, kejadian yang menyedihkan. Pentas disajikan berdasarkan naskah drama. Jenis dan unsurnya dalam pentas sendiri, pemeran yang memainkan karakter dalam drama menampilkan percakapan atau dialog, gerakan, dan ekspresi. Hal yang hanya ada dalam drama dan tidak ada dalam genre lain adalah panggung pementasan. Tata panggung menjadi unsur penting agar rekonstruksi latar

21 tempat dan latar suasana selaras dengan penampilan pemeran drama. Pada umumnya, drama mengangkat konflik yang terjadi dalam kehidupan manusia. Beberapa menyebutnya drama sebagai “seni konflik”. Meski begitu karakter, alur, latar, dan tema masing-masing drama berbeda- beda, tetapi konfilk menjadi unsur yang penting dalam drama. Tidak heran jika drama sendiri mengalami penyempitan makna. Kata drama kerap dipakai untuk menyindir orang yang suka membesar-besarkan masalah. Runtutan cerita dalam drama dibagi dalam babak dan adegan. Adegan ditandai dengan pemunculan tokoh atau pergantian suasana. Sementara babak berisi beberapa adegan. Penulis naskah drama biasa membedakan babak satu dengan babak lainnya berdasarkan susunan alur cerita dalam drama atau susunan waktu. Selain babak dan adegan, dialog juga bagian penting dalam drama. Dialog dapat membangun ekspresi, emosi, pemikiran, pembentukan karakter bahkan motivasi yang dilakukan oleh pemeran berupa dialog sendiri atau disebut sebagai monolog, Adanya dialog memberi penjelasan terkait jalannya cerita, biasanya juga disertai Bahasa tubuh atau mimik wajah. B. Pengertian Seni Drama Pada dasarnya karya sastra terbagi menjadi tiga genre yaitu prosa, puisi, dan drama. Ketiga genre sastra ini berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Namun perkembangan antara ketiga genre sastra ini tidak sama, ada yang berkembangdengan pesat dan ada pula yang berkembang tahap demi

22 tahap. Perkembangan drama di Indonesia tak sesemarak perkembangan puisi dan prosa. Jika puisi dan prosa mengenal puisi lama dan prosa lama, tidak demikian dengan drama. Genre sastra drama di Indonesia benar-benar baru sejalan dengan perkembangan pendidikan di Indonesia yang muncul pada tahun 1900-an. Drama adalah karya sastra yang ditulis untuk dipentaskan. Orang seringkali bingung membedakan antara drama yang berkaitan dengan teks tertulis atau naskah untuk pementasa. Banyak sekali karya sastra terkenal, berpengaruh besar, serta bergengsi, ditulis dalam bentuk drama. Mulai dari tragedi-tragedi Yunani tentang Aeschylus, Sopochles, dan Euripides dan berkembang terus hingga drama-drama besar karya William Shakespeare dari Inggris, Moliere dari Perancis, Johan Wolfgang von Goethe dari Jerman, Henrik Ibsen dari Norwegia, dan August Strindberg dari Swedia. Di Barat, penghargaan terhadap drama begitu tinggi. Dalam perkembangannya, drama semakin mendapat tempat karena naskah-naskah tidak lagi hanya dipentaskan dipanggung seperti Broadway, tetapi juga diangkat ke layar kaca atau layar lebar. Dengan semakin canggihnya perfilman, para penulis drama atau script film mendapat penghargaan yang tinggi pula karena sehebat apapun sebuah film,pada mulanya dia adalah sebuah screenplay atau script yang digarap sedemikian rupa oleh seorang sutradara beserta seluruh crew pembuat film (film maker). Jadi, sebuah film dibuat oleh banyak orang, mulai dari penulis naskah dramanya (script writer), produser, sutradara, kameraman, hingga

23 supir yang membantu team kemanapun. Di Indonesia sebelum abad ke-10 belum ada naskah dan pentas, yang ada hanya kisah-kisah yang disajikan secara lisan. Drama pada saat itu dilakukan di istana atau di lapangan. Pada awal abad 10 mulai ada pentas tetapi belum ada naskah. Naskah mulai timbul pada jaman Pujangga Baru. Grup amatir memakai naskah, sedangkan grup professional tidak memakai naskah. Sedangkan pada jaman Jepang, rombongan professional maupun amatir memakai naskah. Hal ini disebabkan oleh adanya sensor Jepang yang paling ketat. Perkembangan drama pada dewasa ini kelihatan makin maju. Rombongan profesional tidak memakai naskah, organisasi amatir masih memakai naskah tetapi mengabaikan pengarang, penyadur dan penyalin. Akhir-akhir ini tidak mengherankan bahwa timbul drama yang tidak memakai dialog kata tetapi dilakukan dengan gerak atau dengan bahasa tubuh. C. Jenis-jenis Seni Drama Drama adalah genre karya sastra mengenai konflik dalam kehidupan manusia. Konflik di dalam kehidupan manusia bermacam-macam, begitu pula dengan drama yang memiliki jenis beraneka ragam dilihat dari berbagai segi : a) Berdasarkan Bentuk Dramatisnya Jika dilihat berdasarkan bentuk dramatisnya, drama dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Ridwan dalam Maulana, 2019: 3-4) : 1. Tragedi Tragedi adalah jenis drama yang menyajikan cerita penuh kesedihan dan

24 kemalangan. Tokoh dalam drama tragedi biasa disebut sebagai “tragic hero” yang berarti seorang pahlawan yang mengalami nasib tragis, seperti ketidak beruntungan, kesialan, situasi gawat, dan lain sebagainya. Keadaan tersebut mengantarkan tokoh pada keputusasaan dan kehancuran. Drama tragedy biasanya berakhir dengan malapetaka atau kesedihan. Contoh drama tragedy yang paling terkenal yaitu kisah Romeo dan Juliet. 2. Komedi Drama komedi adalah jenis drama yang bersifat menghibur dengan unsur jenaka di dalamnya. Pada naskah drama komedi, terdapat dialog lucu yang menyindir dan biasanya memiliki ending yang bahagia. Tokoh dalam drama komedi juga biasanya memiliki karakter lucu, jenaka, tetapi juga bijaksana. Contoh drama komedi yang pernah dipentaskan adalah “Orang Kaya Baru”. 3. Tragekomedi Tragekomedi merupakan penggabungan antara jenis drama komedi dan tragedi. Ceritanya akan beralur layaknya drama tragedi yang dibawakan secara berlebihan dan terdapat beberapa selingan komedi, serta akhir cerita yang bahagia. 4. Melodrama Melodrama adalah jenis drama dengan cerita yang sangat sentimental. Cerita dan penokohan disuguhkan dalam suasana yang mengharukan dan mendebarkan. Drama jenis ini biasanya berupa kisah percintaan atau

25 kesedihan. Perbedaaan tokoh baik dan jahat dalam melodrama biasanya digambarkan secara drastis. Tokoh jahat digambarkan serba hitam, kelam, dan menyeramkan. Sebaliknya, tokoh baik akan digambarkan sempurna, tidak ada kejelekan sedikitpun. Sehingga terkadang menimbulkan beberapa stereotipe dikarenakan hanya satu sifat saja yang ditonjolkan dari setiap tokoh. Contoh naskah melodrama yang terkenal adalah Opera Primadona karya N. Riantiarno. 5. Farce Farce (dagelan) adalah jenis drama yang ringan dan lucu. Alur cerita disusun berdasarkan perkembangan situasi dari tokoh tersebut. Adegan dalam drama biasanya dibuat berlebihan dengan komedi yang melibatkan fisik. Perbedaan drama farce dengan drama komedi yaitu farce lebih ringan isinya serta dialognya kasar dan cenderung vulgar. Drama jenis ini terkadang dikenal dengan nama “komedi picisan”. Contoh dari drama ini adalah drama yang dibawakanoleh grup komedi Srimulat. b) Berdasarkan Bentuk Sastra Berdasarkan bentuk sastra cakapannya, drama dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut (Syamsuddin & Sari, 2021: 13): 1. Drama Puisi Drama puisi adalah drama yang sebagian besar percakapannya disusundalam bentuk puisi atau menggunakan unsur-unsur puisi.

26 2. Drama Prosa Drama Prosa adalah drama yang percakapannya disusun dalam bentuk prosa. c) Berdasarkan Jumlah Pelakunya 1. Drama Dialog Drama dialog adalah drama dengan percakapan yang dilakukan dua orang (dua tokoh) atau lebih dengan maksud tertentu untuk tujuan jalannya sebuah cerita. 2. Drama Monolog Drama monolog adalah drama yang percakapannya dilakukan seorang diri atau tokoh tunggal dengan dirinya sendiri. d) Berdasarkan Media Pementasannya Berdasarkan media pementasannya, drama diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Drama radio (audio) Sesuai dengan namanya, drama jenis ini adalah drama yang disampaikan melalui radio, biasanya penikmat drama akan mendengarkan cerita yang dibawakan para pemeran drama dalam media suara saja sehingga pendengar dapat membayangkan perilaku yang sedang diperankan. 2. Drama televisi (audio visual) Drama televisi adalah drama yang disiarkan melalui televisi, baik secara langsung (live), ataupun berupa rekaman ulang. 3. Drama pentas Drama pentas berarti drama yang secara langsung disaksikan oleh para

27 penonton di dalam aula besar (panggung) atau sanggar seni. Selain dari ketiga jenis drama di atas, ada pula yang menambahkan jenis lain, diantaranya: a. Drama film, yaitu drama yang hampir menyerupai drama televisi, hanya saja pembuatannya lebih spektakuler dibandingkan drama televisi dan ditampilkan di layar lebar seperti bioskop. Sebelum tampil di televisi, drama film akan diputar dibioskop terlebih dahulu. b. Drama wayang, yaitu drama dimana wayang menjadi para tokoh dari setiap adegan. c. Drama boneka, yaitu drama yang menggunakan boneka sebagai para tokoh dari setiap adegan. e) Berdasarkan Penonjolan Unsur Seninya 1. Sandiwara Sandiwara berasal dari dua kata bahasa jawa, yaitu sandi yang berarti rahasia dan warah yang berarti ajaran. Sandiwara berarti suatu pengajaran yang diberikan secara rahasia dalam bentuk tontonan. 2. Teater rakyat Teater rakyat adalah segala jenis tontonan yang dipertunjukan di depan orang banyak dan bersifat kerakyatan. Seperti ketoprak dari jawa, lundruk dari jawa timur. 3. Pantomim Pantomim adalah pertunjukan drama tanpa kata-kata yang hanya dimainkan dengan gerak dan ekspresi wajah biasanya diiringi musik.

28 4. Opera/operet Opera adalah sebuah drama yang percakapan atau dialognya dinyanyikan dengan iringan musik atau drama yang menonjolkan seni suara. Nyanyian digunakan sebagai dialog. Opera sering disebut juga drama musikal. Operet adalah opera yang ceritanya lebih pendek. 5. Sendratari Sendratari adalah jenis drama yang menggabungkan antara seni tari dan seni drama. Sendratari sebagian besar diangkat dari cerita-cerita klasik, seperti Ramayana dan Mahabarata. 6. Tablo Tablo adalah sebuah drama yang lebih mengutamakan gerak dimana para pelakon drama tidak mengucapkan dialognya, tetapi cukup dengan melakukan gerakan-gerakan (drama yang menonjolkan gerak-gerik tanpa suara). f) Berdasarkan Orisinalitasnya Menurut Nugroho (2010), berdasarkan orisinalitasnya, drama diklasifikasikan menjadi dua, yaitu drama asli dan drama adaptasi : 1. Drama asli, yaitu drama yang dipentaskan berdasarkan naskah yang dibuat secara asli oleh sang sustradara. 2. Drama terjemahan/adaptasi, yaitu drama yang dipentaskan berdasarkan naskahnya yang dibuat oleh orang lain dan diadaptasi untuk dipentaskan. g) Berdasarkan Kuantitas Waktu Pementasan Menurut Yusi Rosdiana (dalam Adzani, 2012), ditinjau dari aspek

29 kuantitas waktu pementasan, drama dapat dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut: 1. Drama pendek Drama pendek terdiri dari satu babak dalam kisah ceritanya dan jika dipentaskan hanya memerlukan waktu yang pendek (20 menit). Drama jenis ini menuntut pemusatan pada satu tema, jumlah kecil pemeran, dan peringkasan dalam gaya, latar, dan pengaluran. 2. Drama panjang Yaitu terdiri dari tiga atau lima babak, mempunyai karakter dan latar beragam, dan jika dipentaskan akan memerlukan waktu yang panjang (2 jam). h) Berdasarkan Naskahnya Berdasarkan naskahnya, drama diklasifikasikan sebagai berikut (Hannani, 2019): 1. Drama tradisonal Drama tradisional yaitu drama yang dipertunjukkan tanpa menggunakan naskah (berimprovisasi). Teknisnya, pemain akan diberikan gambaran cerita secara umum kemudian dipentaskan sesuai dengan kemampuan improvisasi lakon masing-masing. 2. Drama modern Drama modern adalah drama yang dipertunjukkan dengan menggunakan naskah. Teknisnya, para pemain akan bermain sesuai 6 dengan dialog di naskah drama. Meskipun begitu, para pemain juga dapat melakukan

30 improvisasi pada saat pertunjukan tetapi sangat sedikit dan hanya pada kejadian-kejadian tertentu saja i) Berdasarkan Aliran Drama Ada sembilan aliran yang ada di drama. Sembilan aliran tersebut tumbuh dan berkembang dari zaman klasik hingga modern. Setiap aliran mempunyai ciri khasnya masing-masing, yaitu sebagai berikut (Muhammad Ridwan, 2019): 1. Aliran Klasik, merupakan aliran yang tunduk pada aturan-aturan yang bersifat konvensional. Aliran ini bersumber pada Hukum Trilogi Aristoteles yang meliputi adanya kesatuan waktu, tempat, dan kejadian. Jadi, sebuah drama dikatakan beraliran klasik jika ketiga unsur tersebut terpenuhi dengan baik, bahkan mendominasi struktur yang lain. Contoh drama beraliran klasik, yaitu Mahabarata dan Ramayana. 2. Aliran Neo Klasik, merupakan aliran yang berkonsep sebab akibat. Kekuasaan Tuhan sangat dominan di dalam cerita drama beraliran neo klasik. Drama-drama aliran ini biasanya bertema religius. 3. Aliran Romantisme, yaitu ciri aliran romantisme, yaitu ceritanya bersifat fantastis. Selain itu, dalam drama beraliran romantik terdapat anggapan bahwa nasib seorang manusia ditentukan oleh diri sendiri dan takdirnya. 4. Aliran Realisme, aliran realisme menggambarkan cerita yang bersifat nyata. Cerita dalam drama beraliran ini terkesan lebih mudah ditangkap karena berhubungan dengan kejadian sehari-hari. Contoh drama beraliran realisme, yaitu “Paman Vanya” karya Anton Checkov, “Matinya Seorang Pedagang” karya Arthur Miller, dan “Musuh Masyarakat” karya Hendrik Ibsen.

31 5. Aliran Simbolisme, yaitu drama-drama beraliran simbolisme menyajikan cerita tentang adanya kenyataan lain dibalik kenyataan yang tampak. 6. Aliran Ekspresionisme, aliran ekspresionisme adalah aliran drama yang lebih menonjolkan faktor psikis atau kejiwaan para tokoh daripada penggambaran kejadiannya. 7. Aliran Naturalisme, aliran naturalisme merupakan perkembangan dari aliran realisme. Akan tetapi, drama beraliran ini lebih menekankan pada unsur fisik alam. Sebagai contoh, sebuah pementasan drama mengambil latar pedesaan, maka suasana panggung benar-benar dibuat mendekati aslinya. Drama beraliran naturalisme cenderung terkesan hidup dan tidak dibuat-buat. 8. Aliran Eksistensialisme, aliran eksistensialisme lebih menekankan pada penggambaran tokoh sebagai individu yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan memiliki kemauan dan kebebasan. 9. Aliran Absurd, aliran absurd berkisah tentang tidak adanya kebenaran mutlak dalam kehidupan ini. Manusia adalah “tuhan” bagi dirinya sendiri. Contoh drama beraliran absurd, misalnya “Kursi-Kursi” dan “Mata Pelajaran” karya lonesco. j) Berdasarkan Kekhususan dari Aspek Tertentu Berdasarkan kekhususan yang tidak termasuk dalam klasifikasi apapun, diantaranya (Kurniawan, 2019): 1. Drama absurd, yaitu drama yang sengaja mengabaikan atau melanggar konversi alur, penokohan, tematik. 2. Drama baca, naskah drama yang hanya cocok untuk dibaca, bukan

32 dipentaskan. 3. Drama borjuis, drama yang bertema tentang kehidupan kam bangsawan (muncul abad ke-18). 4. Drama domestik, drama yang menceritakan kehidupan rakyat biasa. 5. Drama duka, yaitu drama yang khusus menggambarkan kejahatan atau keruntuhan tokoh utama. 6. Drama liturgis, yaitu drama yang pementasannya digabungkan dengan upacara kebaktian gereja (di abad pertengahan). 7. Drama satu babak, yaitu lakon yang terdiri dari satu babak, berpusat pada satu tema dengan sejumlah kecil pemeran gaya, latar, serta pengaluran yang ringkas. 8. Drama rakyat, yaitu drama yang timbul dan berkembang sesuai dengan festival rakyat yang ada (terutama di pedesaan). 9. Kolosal, adalah drama yang biasanya mengisahkan kisah-kisah zaman dahulu, perang, atau kelahiran suatu zaman dimana terdapat banyak tokoh yang melakoninya (Hannani, 2019). D. Karakter dalam Drama Drama itu sendiri salah satu karya sastra tertua yang didalamnya berupa cerita dan tiruan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah karya sastra, drama juga memiliki berbagai macam karakter. Karakter itu sendiri menurut Han (2020: 16) adalah salah satu ilmu yang mengkaji watak dan perilaku manusia dalam tindakan seseorang lewat perilakunya. Karakter bisa dilihat dari raut wajah, nada bicara dan gerak- gerik para pemain. Karakter dalam drama pada

33 umumnya terdiri dari protagonis, antagonisdan tritagonis. a) Protagonis Tokoh protagonis menurut Setiawan, dkk (2019:124) adalah tokoh yang biasanya menampilkan hal-hal yang sesuai dengan harapan para pembaca yaitu menjadi tokoh baik yang terlibat dalam drama. Oleh karena perannya sebagai tokoh protagonist atau tokoh yang baik, tokoh yang berperan sebagai tokoh protagonis pertama-tama akan mengalami kesulitan-kesulitan dan masalah yang biasanya timbul karena tokoh antagonis. Tokoh protagonist sering digambarkan memiliki sifat yang rendah hati, tidaksombong, penyabar, jujur, setia, dan suka menolong. Tokoh protagonis biasanya mengakhiri kejahatan yang dilakukan oleh tokoh antagonis. Contohnya adalah bawang putih, timun mas, Cinderella, dan putri salju. b) Tokoh Antagonis Tokoh antagonis merupakan tokoh yang biasanya ditampilkan sebagai tokoh yang bertentangan atau berlawanan dengan tokoh protagonis, oleh karena itu mulai dari raut wajah dan gesture berbeda dengan tokoh protagonis. Menurut Mardhiah, dkk (2020:37) tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan suatu konflik dalam sebuah cerita. Biasanya tokoh antagonis berperan sebagai penghalang bagi tokoh protagonis dan seringkali digambarkan dengan seseorang yang memiliki sifat tercela, pendendam,pembohong, sombonng, tidak bersahabat, pembuat masalah, dan suka pamer. Contohnya adalah bawang merah, buto ijo, serigala, dan penyihir jahat.

34 c) Tokoh Tritagonis Tokoh tritagonis seringkali tidak dianggap penting dalam sebuah cerita, padahal tokoh tritagonis memiliki kaitan dalam sebuah cerita. Menurut Amalia (2018:158) tokoh tritagonis adalah tokoh yang bersifat sebagai penengah, pendamai atau dapat dipercaya oleh tokoh protagonis dan antagonis. Selain itu, sebagai tokoh yang mampu menjadi penengah harus mampu menjadi serius karena tindakannya memengaruhi dua tokoh sekaligus. Selain menjadi penengah, tokoh tritagonis juga bersifat perhatian, perhatian tersebut adalah suatu sikap yang memperhatikan seseorang atau benda, juga sebuah peringatan untuk melakukan sesuatu. Tokoh tritagonis memiliki karakter yang netral yang bisa berpihak kepada tokoh protagonis maupun antagonis, disaat tokoh protagonis dan antagonis terlibat dalam konflik, tokoh tritagonis akan bertindak sebagai pelerai dari keduanya. Contohnya adalah sang pemburu dalam kisah putri salju. Mengetahui watak tokoh dalam sebuah cerita dengan dua cara, yakni secara langsung dan tidak langsung. a. Secara langsung (analitik) Biasanya pengarang menampilkan watak tokoh secara langsung yang dijelaskan dalam teks cerita. b. Secara tidak langsung (dramatic) Pengarang biasanya menampilkan watak atau karakter tokoh secara tidak langsung. Penggambaran tokoh secara tidak langsung dapat ditemui melalui: 1. Dialog antar tokoh atau percakapan tokoh

35 2. Pikiran tokoh 3. Ekspresi atau tanggapan tokoh lain 4. Keadaan fisik tokoh

36 BAB IV PROSES GARAPAN TARI DAN DRAMA A. Karakteristik Tari Anak di Sekolah Dasar Tari pada anak memiliki sifat kegembiraan, kesenangan, dan gerakan yang dilakukan sesederhana mungkin, selain itu tari anak harus memiliki gerakan yang tidak sulit, iringan yang dipakai biasanya menyenangkan serta menggambarkan kesenangan dan kegembiraan. Terdapat beberapa yang harus diperhatikan dalam memberikan tari kepada anak karena harus sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya. Menurut Triyanto, mengemukakan bahwa pendidikan seni tari sebagai media untuk memenuhi kebutuhan anak yang mendasar serta berperan sangat efektif bagi anak, ditandai dengan terciptanya kondisi yang memberi peluang anak secara bebas terkendali, mengembangkan kepekaan, fantasi, imajinasi, dan kreasi pada anak. Maka dari itu seni tari di sekolah dasar penting diajarkan oleh guru. Sebelum memberikan peserta didik pembelajaran tari, harus terlebih memahami karakter peserta didik dalam pembelajaran di kelas agar memudahkan dalam pemberian materi tari. Karakteristik anak Sekolah Dasar menurut Sumantri antara lain : 1. Senang bermain, Karakteristik ini menuntun guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang memuat permainan. Bagian ini khusus untuk kelas rendah. 2. Senang bergerak, Orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak sekolah dasar dapat duduk dengan paling lamasekitar 30 menit. Oleh karena itu, guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan peserta didik

37 berpindah atau bergerak di dalam kegiatan pembelajaran. 3. Anak senang bekerja dalam kelompok, Anak usia sekolah dasar dalam pergaulannya dengan kelompok sebaya mereka belajar proses sosialisasi seperti : belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar menghargai, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar bertanggung jawab, dan belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif). Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. 4. Senang merasakan atau melakukan dan memperagakan sesuatu secara langsung. Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak sekolah dasar memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, anak akan belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Berdasar pengalaman ini, peserta didik membentuk kosep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi badan, moral, dan sebagainya. Bagi anak sekolah dasar penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri. Sama halnya dengan memberikan pembelajaran seni tari di sekolah dasar. Pembelajaran dilakukan dalam tari memperlihatkan karakteristik anak sesuai dengan usia dan sesuai dengan pendidikan sekolah dasar serta guru mencontohkan gerakan yang mudah. Karakteristik gerakan tari pendidikan anak usia dini menurut Mulyani, antara lain : 1. Tema atau judul tarian harus dekat dengan kehidupan anak, seperti apa yang ada

38 di lingkungan sekitar (menirukan gerak burung terbang, ayam mencari makan, kelinci melompat, dan sebagainya). 2. Bentuk gerak yang sederhana, artinya bentuk gerak sesuai dengan karakteristik anak dan gerak yang tidak sulit untuk ditirukan. 3. Diiringi dengan musik yang gembira dan disukai oleh anak. Berbeda dari Mulyani, Aryaprastya mengemukakan karakteristik tari anak usia dini adalah tarinya yang bertema dan memiliki unsur bermain, gerak tariannya bersifat meniru (gerak imitative ’’tumbuhan, hewan”), geraktarinya lebih variatif, dan bentuk penyajian tarinya biasanya kurang dari 5 menit. Secara umum, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk dapat memberikan tari yang sesuai dengan karakteristik anak yaitu antara lain : a. Tema Pada umumnya anak-anak selalu menyenangi apa yang pernah dia lihat. Dari apa yang dilihatnya secara tidak disadari, anak akan menirukan gerak-gerak yang sesuai dengan apa yang pernah dilihatnya. Dari gerak yang pernah dilihat dan diamati oleh anak maka dapat dijadikan suatu tema. Tema-tema yang pada umumnya disenangi oleh anak diantaranya adalah tingkah laku binatang seperti : kucing, anjing, burung, kupu-kupu, dan lainnya. b. Bentuk Gerak Bentuk gerak yang sesuai dengan karakteristik tari anak-anak, padaumumnya gerakan yang dilakukannya tidak terlalu sulit dan sangat sederhana. Mengingat pada dasarnya imajinasi anak sekolah dasar mempunyai daya kreativitas yang

39 tinggi pula. Bentuk-bentuk gerak yang biasa dilakukan adalah bentuk gerak yang lincah, cepat dan seakan menggambarkan kegembiraannya. Seperti : bentuk gerak jalan ditempat dengan tepuk tangan c. Bentuk Iringan Dilihat dari karakteristik anak yang senang bergerak dengan gembira, anak-anak biasanya menyenangi musik iringan yang menggambarkan kesenangan dan kegembiraan. Terutama lagu-lagu anak yang mudah diingat, Seperti : lagu kelinciku, kebunku, kupu-kupuku dan lainnya. d. Jenis Tari Apabila suatu karya cipta gerak tari sudah tersusun dan menjadisatu kesatuan tari anak, maka dibentuklah menjadi satu bentuk tari dan sebuah jenis tari yang sesuai dengan karakteristik dan sifat anak sekolah dasar yang memiliki sifat kegembiraan atau kesenangan, geraknya yang lincah dan sederhana, dan iringan musiknya pun mudah dipahami oleh anak. Seperti : tari gembira, tari kupu-kupu, dan tari kelinci. Sekolah Dasar dapat dijadikan tempat untuk memperkenalkan dan melestarikan kesenian sejak usia dini. Peserta didik perlu diajarkan pendidikan seni agar terbentuk pribadi yang menghargai nilai-nilai keindahan, berbudi pekerti yang luhur, serta berakhlak mulia. Proses garapan diartikan sebagai proses atau cara pembuatan sebuah tari oleh seorang koreografer. Proses garapan tari dilatar belakangi oleh sebuah tujuan, jadi dalam pembuatan sebuah tari seorang penata tari tidak bisa membuat gerakan tari dengan seenaknya saja, biasanya penata tari melakukan sebuah eksplorasi dengan cara

40 melihat seseorang menari, gambar, dan objek lain yang bergerak lalu Gerakan tersebut dikembangkan sesuai dengan tujuan tari tersebut dibuat. Dalam proses penataan tari, ada beberapa proses yang harus dilakukan diantaranya, yaitu proses eksplorasi, proses improvisasi gerak tari, dan komposisi tari. B. Proses Garapan Tari dan Drama a) Eksplorasi Gerak Sebelum membahas lebih jauh perlu diketahui arti kata eksplorasi. Eksplorasi merupakan penjelajahan mencari ilmu pengetahuan, jadi proses eksplorasi adalah pencarian ilmu pengetahuan. Dalam melakukan proses garap tari perlu dilakukan sebuah eksplorasi, biasanya eksplorasi didapatkan dari pancaindera. Dengan pancaindera kita mendapatkan sebuah rangsangan yang akan dikembangkan dalam bentuk yang lebih baik dan kreatif, serta dibuat sederhana. Adapun beberapa stimulus yang digunakan penata tari, yaitu: a. Auditif Auditif atau rangsangan dengar merupakan pengembangan gerak tari oleh suatu bunyi, contohnya instrumen musik seperti suara gendang, seruling, gamelan, selain itu bunyi juga bersumber dari alam seperti gemuruh ombak, angin,kicauan burung. b. Visual Rangsangan visual merupakan visual timbul dari pancaindera seperti melihat objek gambar, patung, dan melihat orang menari. Dari pancaindera seorang

41 penata penari dapat mengambil sebuah konsep gerakan sehingga menciptakan gerakan tari. Jadi gerakan itu dikembangkan kembali. Contohnya seperti, ketika penata tari ingin membuat sebuah tarian untuk pemujaan maka setiap gerakan tarian tersebut memuat arti atau makna yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, penata tari tersebut melihat seseorang sedang menari dengan bergandengan tangan maka gerakan tersebut bisa dikembangkan dan memiliki makna, gerakan bergandengan diartikan sebagai dalam kehidupan sehari-hari manusia harus senantiasa bergotong royong saling membantu satu sama lain. c. Kinestetik Kinestetik atau rangsangan Kinestetik merupakan gerakan yang dihasilkan memiliki sifat alami sehingga gerakan yang dihasilkan memiliki kesan yang berbeda, jadi gerakan tersebut dikembangkan lagi sehingga memiliki gaya yang khusus. Contohnya, seperti sebelumnya gerakan bergandeng tangan namun penata tari menggembangkan gerakan tersebut dengan menambahkan gerakan tekukan kaki dan memakai topeng untuk menandakan bahwa bergotong royong atau saling menolong itu tidak memandang kasta, gender, kulit, umur, dan lain sebagainya. d. Idesional Idesional atau rangsangan gagasan merupakan gerakan untuk menyampaikan gagasan dengan gerakan yang sesuai dengan penata tari. b) Improvisasi Gerak Improvisasi merupakan suatu pengalaman secara spontan atau mencoba- coba ragam gerak yang telah diperoleh saat improvisasi. Gerak improvisasi adalah

42 bentuk-bentuk gerak yang dilakukan oleh penari yang dapat dilakukan berbeda tetapi disesuaikan dengan maksud dari gerak itu sendiri. Pada saat mengapresiasi karya tari, pasti ditemukan beberapa gerak yang berbeda khususnya pada garapan tari kelompok. Perbedaan gerak itu dapat dikategorikan sebagai adegan gerak yang disengaja atau tidak disengaja. Adegan yang tidak disengaja oleh penari dapat dikategorikan sebagai gerak improvisasi. Akan tetapi, pada pelaksanaannya gerak improvisasi dapat dilakukan juga secara sengaja disesuaikan dengan kebutuhan konsep garap. c) Komposisi Dalam seni pertunjukan tari yang profesional mengenal elemen-elemen estetis Komposisi Tari, yaitu menata gerak tari sesuai dengan tingkatan estetis pandangan kemampuan penata dan penonton. Tarian yang baik adalah tarian yang dapat “memuaskan hati penontonnya” karena sebuah pertunjukan dihadapkan oleh semua lapisan masyarakat, sehingga persiapan yang matang sangat penting untuk mencapai tujuan yang optimal. Tari merupakan ekpresi atau ungkapan dari jiwa manusia ritmis dan indah, tercipta serta terbentuk sebuah karya seni khususnya seni Tari. Seni tari merupakan atas dasar ilmu pengetahuan elemen - elemen estetis komposisi tari.Elemen-elemen itu adalah elemen fundamental komposisi, yaitu susunan posisi letak suatu gerak yang dilakukan berdasarkan nilai estetis penata, yang dimaksud elemen-elemen estetis itu adalah: gerak, pola lantai, desain level, musik, komposisi kelompok, desain dramatik, dinamika, tema dan pemanggungan. Seperti apa yang dimaksud adalah sebagai berikut:

43 a. Gerak Gerak merupakan sarana berkomunikasi dengan penonton melalui gerak sehari- hari yang telah melalui proses keindahan sedemikian rupa sehingga terwujud gerak tari sesuai dengan tema yang diberikan. Dalam gerak tari tidak ada pengolahan berarti belum bisa disebut tari seperti gerak bayi baru lahir, Untuk itu media utama tari adalah gerak kemudian dukungan ruang dan waktu. Bertautan dengan bentuk tari dalam sebuah analisis gerak tari, yaitu: Bentuk adalah sebuah gabungan atau rangkaian dari bagian-bagian garapan itu, sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh, atau kata lainnya adalah rangkaian dari beberapa unsur yang menyatu, sehingga menjadi wujud atau bentuk (dalam pengertian scoop yang lebih kecil. b. Pola Lantai Pola Lantai yaitu suatu susunan lantai yang nampak terlukis di atas lantai, dimana prosesnya dapat dibagi dua, yaitu pola lantai berbentuk melengkung/bundar dan pola lantai yang berbentuk lurus. Kedua desain ini mempunyai filosofis mendalam. Desain lantai berbentuk melingkar mempunyai kesan lemah, dalam fungsi psikologi berfungsi untuk kesatuan dan pesatuan, sebagai ritual dijadikan pedoman dalam untuk batas-batas wewenang pelaksanaan ritual. Contohnya tari Kecak, tari Rejang Dewa dan lain sebagainya. Desain berbentuk lurus, yaitu mempunyai kesan kuat, tangkas, jantan dan sebagainya, mempunyai filosofis: dalam menentukan sikap yang kesatria harus menuju tujuan yang lusus. Salah satu contohnya adalah pada tari Baris Gede. Berikut ini beberapa contoh Pola Lantai Desain Lurus dan Lengkung pada tarian Tradisional Bali klasik. Desain


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook