MODUL AJAR PROYEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA TEMA : KEARIFAN LOKAL TOPIK PROJEK : LESTARI BUDAYAKU MENULUSUR WARISAN ZAMAN DULU 1. INFORMASI UMUM A. Identitas Penulis Nama : Anisya Zulfa S.Pd NIP : 198811112022212008 Guru mapel : Prakarya Nama : Ziana Walida S.Pd NIP : 199204182022212010 Guru mapel : Prakarya Nama : Ulufi Puji Astuti S.Pd NUPTK : 494776666130152 Guru mapel : Bahasa Jawa Nama : Siswi Susilowati S.Pd NUPTK : 5047771672130043 Guru mapel : Seni Budaya B. Sarana dan Prasarana Kerajinan Seni rupa NO. Seni Pertunjukan Pengolahan (wardrobe) 1. Alat dan Bahan: Alat dan Bahan: Alat dan Bahan: Alat dan Bahan: - Sound - Wajan - Busa hati - Kain mori system - Panci - Lem - Mordan - Sampur - Kompor gas - Pilok warna - Zat Pewarna - Musik - Tabung gas gold - Bak/Ember - Kostum - Baskom - Gunting - Malam - Naskah/teks - Pisau - Cutter - Canting - talenan - bola plastik - Alat Cap - Susuk - Caping - Wajan - Serok - Kain - Kompor - Cetakan - Renda - Saringan - Tepung kanji - Wakul - Gawangan - Buah untuk rujak - Cat - Cabai - Kertas 1|Modul P5 Kearifan Lokal
- Beras marmer - Benang - Tahu - Balon - Tempe - Gula garam - Kelapa - Sayuran - Singkong - Bumbu dan rempah- rempah C. Target Peserta Didik Peserta Didik Mampu 1. Membuat karya seni pertunjukan, pengolahan, kerajinan dan produk rupa sesuai topik 2. Membuat karya seni pertunjukan, pengolahan, kerajinan dan produk rupa sesuai dengan tradisi maupun budaya setempat. 3. Menampilkan hasil proyek dalam sebuah pergelaran maupun pameran 4. Membuat laporan hasil kerja proyek dalam bentuk tulisan. D. Relevasi Tema dan Topik Projek • Tema : Kearifan Lokal • Topik projek : Lestari budayaku menelusuri Warisan Zaman Dahulu • Relevasi Tema dan Topik Projek : Kearifan lokal dapat bertahan walaupun ditengah tengah perubahan sosial karena kearifan lokal sudah menjadi sebuah kebiasaan yang dipegang teguh oleh masyarakat dan masih dilaksanakan hingga saat ini. Kearifan lokal tersebut sangat berkaitan erat dengan budaya setempat karena menjadi tradisi di setiap daerah yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. 2. KOMPONEN INTI A. Deskripsi Singkat Proyek 1. Setiap kelas dibagi menjadi 6 kelompok yang masing masing teridiri dari 6 siswa 2. Pembagian kelompok didasarkan pada minat siswa untuk memilih bidang proyek yang akan di praktekan. 3. Setiap 2 kelas di koordinatori oleh 1 guru. 4. Guru mapel kelas X membimbing sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan 5. Membuat desain sesuai dengan bidang proyek yang telah dipilih 6. Pembuatan dan presentasi laporan B. Dimensi dan Sub Elemen dari Profil Pelajar Pancasila 2|Modul P5 Kearifan Lokal
Dimensi : 1. Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia. Elemen : Berakhlak Mulia terhadap Warisan Budaya Sub elemen : Peserta didik mampu melestarikan budaya daerah Dimensi : 2. Berkebinekaan global Elemen : Mengenal dan menghargai budaya Sub Elemen :Peserta didik mampu mengkomunikasikan pengalaman kebinekaan dan budaya terhadap sesama Dimensi :3. Bergotongroyong Elemen :Kolaborasi Sub elemen : Peserta didik mampu bekerjasama dalam melakukan kegiatan Dimensi :4. Mandiri Elemen :Kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi Sub elemen :Peserta didik Bertanggungjawab atas proses dan hasil belajarnya Dimensi : 5. Bernalar kritis Elemen : Memperoleh dan memproses informasi serta gagasan Sub elemen : Peserta didik mampu memproses mengananlisis dan mengevaluasi informasi secara obyektif Dimensi : 6. Kreatif Elemen : Menghasilkan karya dan tindakan yang orisinil Sub Elemen : Peserta didik mampu menghasilkan karya inovatif dengan tetap memperhatikan kebudayaan daerah. C. Target Pencapaian Diakhir Fase Setelah mengikuti kegiatan projek P4 ( Penguatan Profil Pelajar Pancasila) peserta didik mampu menghasilkan karya inovatif yang tetap mengaitkan tradisi dan budaya sehingga tetap melestarikan warisan yang diberikan oleh leluhur kita secara turun temurun. D. Alur Kegiatan Projek 1. Pengenalan: Guru mata pelajaran yang berkolaborasi : • Menyosialisasikan materi Projek P4( pengertian,tujuan dan manfaat kegiatan projek P4) • Memperkenalkan tema projek • Memperkenalkan elemen dan sub elemen projek 2. Kontektualisasi : Peserta didik : • Menggali informasi terkait budaya setempat • Melakukan pengamatan yang lebih spesifik terhadap tradisi yang akan dikembangan • Membuat desain produk yang akan dibuat 3|Modul P5 Kearifan Lokal
3. Aksi: • Peserta didik dibawah bimbingan pendidik menyusun proposal/rencana kegiatan projek • Peserta didik mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan • Mengerjakan projek di bawah bimbingan pendidik ( di tempat yang sudah disepakati) • Projek di kerjakan sesuai jadwal yang sudah ditentukan • Merancang tempat yang akan digunakan untuk memamerkan hasil projek dan melakukan gladi bersih sebelum pementasan • Merencanakan pameran dan pergelaran hasil projek 4. Refleksi: Pendidik dan peserta didik melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil projek 5. Tindak lanjut Berdasarkan hasil refleksi,pendidik dan peserta didik merencanakan tindak lanjut terhadap projek yang sudah dilaksanakan E. Asesmen (Terlampir) 4|Modul P5 Kearifan Lokal
BAB I PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah mengembangkan kurikulum prototipe yang disebut sebagai Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini menjadi upaya untuk memulihkan proses pembelajaran yang selama ini mengalami krisis. Kemendikbud bertekad untuk mewujudkan perubahan yang sistemik. Dalam proses ini, guru membutuhkan medium yang mudah diakses sebagai alat untuk membantu meningkatkan dan mengembangkan potensi. Mengutip laman Kemendikbud, Kurikulum Merdeka ini hadir untuk membantu guru menjalankan perannya secara maksimal. Salah satu pembahasan dalam Kurikulum Merdeka adalah P5, yaitu Projek Penguatan Profil Pemuda Pancasila. Materi P5 dalam Kurikulum Merdeka Materi P5 termasuk dalam kegiatan kokurikuler berbasis projek yang dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter siswa. Ilustrasi kurikulum merdeka. Foto: pixabay. P5 disesuaikan dengan profil pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan. Dalam praktiknya, pelaksanaan P5 dilakukan secara fleksibel dari segi muatan, kegiatan, dan waktu pelaksanaan. Mengutip Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pancasila susunan Rizky Satria, dkk., (2022) P5 dirancang secara terpisah dari intrakurikuler. Ini karena tujuan, muatan, dan kegiatan pembelajaran projeknya tidak berkaitan dengan tujuan dan materi pelajaran intrakurikuler. Satuan pendidikan dapat melibatkan masyarakat atau dunia kerja untuk merancang dan menyelenggarakan P5. Panduan pengembangan P5 ini memuat penyiapan ekosistem sekolah, desain, pengelolaan, serta pengolahan asesmen. Selama projek berlangsung, satuan pendidikan bertugas melaporkan hasil, mengevaluasi, serta menindaklanjuti pelaksanaan P5 dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam praktiknya, terdapat panduan yang berisi prinsip-prinsip pengembangan P5. Panduan ini dibuat untuk mendampingi dokumen lain yang mempunyai peran saling melengkapi. Untuk mendapatkan pemahaman secara menyeluruh, panduan ini perlu dipakai bersamaan dengan dokumen profil pelajar. Materi pembahasannya memuat matriks perkembangan untuk setiap sub-elemen dari fase PAUD hingga SMA/SMK. Sementara modul P5 berisi contoh perencanaan kegiatan yang disusun sesuai dengan tema dan fase tertentu. P5 dilaksanakan dengan melatih peserta didik untuk menggali isu nyata di lingkungan sekitar dan berkolaborasi untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh karena itu, alokasi waktu tersendiri sangat dibutuhkan guna memastikan P5 berjalan dengan baik. Terdapat perubahan aturan pelajaran inti dan muatan lokal dalam Kurikulum Merdeka. Khusus jenjang SMP, mata pelajaran Informatika menjadi mata pelajaran wajib, sedangkan mata pelajaran Prakarya menjadi salah satu pilihan bersama mata pelajaran Seni lainnya (Seni Musik, Seni Tari, Seni Rupa, Seni Teater). Ini karena mata pelajaran Informatika berisikan kompetensi untuk menunjang keterampilan berpikir kritis dan sistematis guna menyelesaikan beragam permasalahan umum. Informatika dapat menjadi pelajaran yang menunjang kesuksesan karier siswa di masa depan. Sementara kurikulum merdeka menerapkan penilaian berdasarkan fase, yaitu : 1. Fase A umumnya setara dengan kelas I dan II SD 2. Fase B umumnya setara dengan kelas III dan IV SD, dan 3. Fase C umumnya setara dengan kelas V dan VI SD 4. Fase D umunya setara dengan kelas VIII dan kelas IX SMP 5. Fase E umunya setara dengan kelas X SMA 6. Fase F umunya setara dengan kelas XI dan kelas XII SMA Profil Pelajar Pancasila 5|Modul P5 Kearifan Lokal
Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang berkompeten berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila. Profil Pelajar Pancasila dirancang untuk menjawab satu pertanyaan besar, yakni peserta didik dengan profil kompetensi seperti apa yang dihasilkan oleh sisitem Pendidikan Indonesia. Dalam konteks tersebut, Profil Pelajar Pancasila memiliki rumusan kompetensi yang melengkapi focus di dalam pencapaian Standar Kompetensi Lulusan di setiap jenjang satuan Pendidikan dalam hal menanamkan karakter ssuai nilai-nilai Pancasila. Kompetensi Profil Pelajar Pancasila memperhatikan faktor internal yang berkaitan dengan jati diri, ideologi dan cita-cita bangsa Indonesia, serta faktor eksternal yang berkaiatan dengan konteks kehidupan dan tantangan bangsa Indonesia di abad ke 21 yang sedang menghadapi masa rovolusi industry 4.0. Ringkasan Bab Profil Pelajar Pancasila diantaranya: 1. Perlunya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila 2. Gambaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila 3. Prinsip-prinsip Kunci Projek Pelajar Pancasila 4. Manfaat Profil Pelajar Pancasila Pelajar Indonesia diharapkan dapat berpartisipasi dalam membangun global yang berkelanjutan serta Tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan, diantaranya: 1. Beriman bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia 2. Berkebinakaan Global 3. Bergotong-royong 4. Mandiri 5. Bernalar kritis 6. Kreatif Dimensi-dimensi tersebut menunjukkan bahwa profil Pelajar Pancasila tidak hanya focus pada kemampuan kognitif, tetapi juga sikap dan perilaku sesuai jati diri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia. Visi Pendidikan Indonesia mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar sepanjang hayatyang kompeten, berkarakter, dan berperilkau sesuai nilai-nilai Pancasila. 1. Perlunya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila “….perlunya anak anak Taman Siswa kita dekatkan hidupnya kepada perikehidupan rakyat, agar supaya mereka tidak hanya memiliki “pengetahuan” saja tentang hidup rakyatnya, akan tetapi dapat “mengalaminya sendiri”, dan kemudian tidak hidup berpisahan dengan rakyatnya.” Ki Hajar Dewantara sejak dekade terakhir, pendidik dan praktisi Pendidikan di seluruh dunia mulai menyadari bahwa mempeljari hal-hal di luar kelas dapat dapat membantu peserta didik memahami bahwa belajar di satuan Pendidikan memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan Projek Profil ini, peserta didik memiliki kesempatan untuk mempelajari tema-tema atau isu penting seperti perubahan iklim, anti radikalisme, kesehatan mental, budaya, wirausaha, teknologi, dan kehidupan berdemokrasi, sehingga peserta didik dapat melakukan aksi nyata dalam menjawab isu-isu tersebut sesuai dengan tahapan belajar dan kebutuhannya. Projek penguatan profil pelajar Pancasila diharapkan dapat menginspirasi peserta didik untuk berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya. Bagi pekerja di dunia modern , keberhasilan menjalankan projek akan menjadi prestasi. Dalam skema kurikulum, pelaksanaan projek Penguatan Pelajar Pancasila tedapat di dalam rumusan Kepmendikbudristek No. 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan. Penguatan Projek Profil Pelajar Pancasila diharapkan dapat diharapkan dapat menjadi sarana yang optimal dalam mendorong perserta didik menjadi pelajar sepanjang hayat yang kompenten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila 2. Gambaran Pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Projek penguatan profil pelajar Pancasila adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu dalam mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitar untuk menguatkan 6|Modul P5 Kearifan Lokal
berbagai kompetensi dalam Profil Pelajar Pancasila. Berdasarkan Kemendikbudristek No.56/M/2022, projek penguatan profil pelajar Pancasila merupakan kegiatan kokurikuler berbasis projek yang dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan. Pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila dilakukan secara fleksibel dari segi muatan, kegiatan, dan waktu pelaksanaan. Projek penguatan profil pelajar Pancasila dirancang terpisah dari intrakurikuler. Tujuan, muatan, dan kegiatan pembelajaran projek tidak harus dikaitkan dengan tujuan dan materi pelajaran intrakurikuler. Satuan pendidikan dapat melibatkan masyarakat dan/atau dunia kerja untuk merancang dan menyelenggarakan projek penguatan profil pelajar Pancasila. Projek adalah serangkaian kegiatan untuk mencapai sebuah tujuan tertentu dengan cara menelaah suatu tema menantang. Projek didesain agar peserta didik dapat melakukan investigasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Peserta didik bekerja dalam periode waktu yang telah dijadwalkan untuk menghasilkan produk dan/atau aksi. Pendidik dapat tetap melaksanakan pembelajaran berbasis projek di kegiatan mata pelajaran (intrakurikuler). Pembelajaran berbasis projek di intrakurikuler bertujuan mencapai Capaian Pembelajaran (CP), sementara projek penguatan profil pelajar Pancasila bertujuan mencapai kompetensi profil pelajar Pancasila. Dirancang terpisah dari intrakurikuler. (Tujuan, muatan, dan kegiatan pembelajaran projek profil tidak harus dikaitkan dengan tujuan dan materi pelajaran intrakurikuler.) 3. Prinsip-Prinsip Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila a. Holistik Holistik bermakna memandang sesuatu secara utuh dan menyeluruh, tidak parsial atau terpisah- pisah. Dalam konteks perancangan Projek Penguatan profil pelajar Pancasila, kerangka berpikir holistik mendorong kita untuk menelaah sebuah tema secara utuh dan melihat keterhubungan dari berbagai hal untuk memahami sebuah isu secara mendalam. Oleh karenanya, setiap tema projek profil yang dijalankan bukan merupakan sebuah wadah tematik yang menghimpun beragam mata pelajaran, namun lebih kepada wadah untuk meleburkan beragam perspektif dan konten pengetahuan secara terpadu. Di samping itu, cara pandang holistik juga mendorong kita untuk dapat melihat koneksi yang bermakn antar komponen dalam pelaksanaan projek profil, seperti peserta didik, pendidik, satuan pendidikan, masyarakat, dan realitas kehidupan sehari-hari. b. Kontekstual Prinsip kontekstual berkaitan dengan upaya mendasarkan kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian. Prinsip ini mendorong pendidik dan peserta didik untuk dapat menjadikan lingkungan sekitar dan realitas kehidupan sehari-hari sebagai bahan utama pembelajaran. Oleh karenanya, satuan pendidikan sebagai penyelenggara kegiatan projek profil harus membuka ruang dan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat mengeksplorasi berbagai hal di luar lingkup satuan pendidikan. Tema-tema projek profil yang disajikan sebisa mungkin dapat menyentuh dan menjawab persoalan lokal yang terjadi di daerah masing-masing. Dengan mendasarkan projek profil pada pengalaman dan pemecahan masalah nyata yang dihadapi dalam keseharian sebagai bagian dari solusi, diharapkan peserta didik dapat mengalami pembelajaran yang bermakna untuk secara aktif meningkatkan pemahaman dan kemampuannya. c. Berpusat Pada Peserta Didik Prinsip berpusat pada peserta didik berkaitan dengan skema pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk menjadi subjek pembelajaran yang aktif mengelola proses belajarnya secara mandiri, termasuk memiliki kesempatan memilih dan mengusulkan topik projek profil sesuai minatnya. 7|Modul P5 Kearifan Lokal
Pendidik diharapkan dapat mengurangi peran sebagai aktor utama kegiatan belajar mengajar yang menjelaskan banyak materi dan memberikan banyak instruksi. Sebaliknya, pendidik sebaiknya menjadi fasilitator pembelajaran yang memberikan banyak kesempatan bagi peserta didik untuk mengeksplorasi berbagai hal atas dorongannya sendiri sesuai dengan kondisi dan kemampuannya. Harapannya, setiap kegiatan pembelajaran dapat mengasah kemampuan peserta didik dalam memunculkan inisiatif serta meningkatkan daya untuk menentukan pilihan dan memecahkan masalah yang dihadapinya. d. Eksploratif Prinsip eksploratif berkaitan dengan semangat untuk membuka ruang yang lebar bagi proses pengembangan diri dan inkuiri, baik terstruktur maupun bebas. Projek penguatan profil pelajar Pancasila tidak berada dalam struktur intrakurikuler yang terkait dengan berbagai skema formal pengaturan mata peserta didikan. Oleh karenanya projek profil ini memiliki area eksplorasi yang luas dari segi jangkauan materi peserta didikan, alokasi waktu, dan penyesuaian dengan tujuan pembelajaran. Namun demikian, diharapkan pada perencanaan dan pelaksanaannya, pendidik tetap dapat merancang kegiatan projek profil secara sistematis dan terstruktur agar dapat memudahkan pelaksanaannya. Prinsip eksploratif juga diharapkan dapat mendorong peran projek penguatan profil pelajar Pancasila untuk menggenapkan dan menguatkan kemampuan yang sudah peserta didik dapatkan dalam peserta didikan intrakurikuler. 4. Manfaat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila memberikan ruang bagi semua anggota komunitas satuan pendidikan untuk dapat mempraktikkan dan mengamalkan profil pelajar Pancasila. Untuk Satuan Pendidikan a) Menjadikan satuan pendidikan sebagai sebuah ekosistem yang terbuka untuk partisipasi dan keterlibatan masyarakat. b) Menjadikan satuan pendidikan sebagai organisasi pembelajaran yang berkontribusi kepada lingkungan dan komunitas di sekitarnya. c) Untuk Pendidik d) Memberi ruang dan waktu untuk peserta didik mengembangkan kompetensi dan memperkuat karakter dan profil pelajar Pancasila. e) Merencanakan proses pembelajaran projek profil dengan tujuan akhir yang jelas. f) Mengembangkan kompetensi sebagai pendidik yang terbuka untuk berkolaborasi dengan pendidik dari mata pelajaran lain untuk memperkaya hasil pembelajaran. g) Untuk Peserta Didik h) Memberi ruang dan waktu untuk peserta didik mengembangkan kompetensi dan memperkuat karakter dan profil pelajar Pancasila. i) Merencanakan proses pembelajaran projek profil dengan tujuan akhir yang jelas. j) Mengembangkan kompetensi sebagai pendidik yang terbuka untuk berkolaborasi dengan pendidik dari mata pelajaran lain untuk memperkaya hasil pembelajaran. 8|Modul P5 Kearifan Lokal
BAB II BUDAYA SEKOLAH Dalam rangka mewujudkan profil pelajar Pancasila pada satuan pendidikan maka diperlukan ekosistem satuan pendidikan yang ideal. Ekosistem satuan pendidikan perlu memperhatikan budaya satuan pendidikan berkaitan dengan iklim satuan pendidikan, kebijakan, pola interaksi dan komunikasi, serta norma yang berlaku di satuan pendidikan. Budaya satuan pendidikan inilah yang kemudian harus menjadi pendukung dalam pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila. Untuk itu semua komponen satuan pendidikan mesti mengambil perannya masing-masing guna mengoptimalkan proses belajar. Pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila akan tercapai dengan adanya budaya satuan pendidikan, seperti Berpikiran Kritis, Senang Mempelajari Hal baru, dan Kolaboratif. Sementara peran peserta didik, pendidik, dan lingkungan satuan pendidikan dalam pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila dalam mengoptimalkan proses pembelajaran perlu diperhatikan. Peserta didik berperan sebagai subjek pembelajaran yang diharapkan mampu terlibat aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Adapun peran pendidik adalah sebagai fasilitator pembelajaran yang diharapkan dapat membantu peserta didik menemukan karakter diri dan mengoptimalkan proses belajarnya. Selain peserta didik dan pendidik, satuan pendidikan juga harus mengambil peran sebagai pendukung terselenggaranya kegiatan yang diharapkan menjadi sponsor penyedia fasilitas dan lingkungan belajar yang kondusif. Adapun pemangku kepentingan seperti kepala Satuan Pendidikan, Pendidik, Peserta Didik, Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten/Kota, Pengawas, Komitmen Satuan Pendidikan, dan Masyarakat (orang tua, mitra) memiliki peran penting dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis projek. Keberhasilan sebuah projek sangat bergantung pada penguatan kapasitas dan intensitas keterlibatan dan tim projek baik pendidikan maupun tenaga kependidikan dalam proses pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila. Untuk itu, satuan pendidikan perlu memberikan pelatihan dan pengembangan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan terhadap tim projek guna meningkatkan pemahaman terhadap pembelajaran berbasis projek. Pelatihan dan pengembangan dapat dilakukan secara mandiri oleh satuan pendidikan bekerja sama dengan mitra yang ada atau dengan menggunakan narasumber yang berkompeten. Pelatihan dan pengembangan kapasitas tim projek yang dapat diberikan yaitu pelatihan dasar dan lanjutan. Pelatihan dasar berkaitan dengan pengertian pembelejaran berbasis projek, strategi asesmen dan penilaian, strategi refleksi, strategi, bertanya, dan strategi pendampingan. Sedangkan pelatihan lanjutan berupa manajemen kelas dan satuan pendidikan dalam pembelajaran berbasis projek, Team Teaching atau mengajar kolaboratif, proses desain projek, proses pelibatan masyarakat atau lingkungan satuan pendidikan, budaya belajar positif, perayaan belajar, dan diferensiasi belajar. 9|Modul P5 Kearifan Lokal
LIMA BUDAYA SEKOLAH PEMBENTUK KARAKTER Pemerintah melalui prepres nomor 87 tahun 2017 mengeluarkan peraturan tentang penguatan pendidikan karakter. Peratura ini dibuat dengan pertimbangan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya merupakan Negara yang menjunjung tinggi akhlak mulia, nilai-nilai luruhur, kearifan dan budi pekerti. Dikeluarkannya perpres tersebut tentunya membawa angin segar bagi terciptanya kesejukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Khususnya dalam konteks terbentuknya anak bangsa yang memilki nilai-nilai luhur atau berkarakter. Ada delapan belas karakter yang ingin dicapai dalam program ini. Yaitu religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri , demokratis, rasa ingin tahu, semangat dan kebangsaaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan bertanggung jawab. Kedelapan belas nilai karakter ini nantinya akan dikristalisasi menjadi lima nilai utama, yaitu religious, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas. Karakter, menurut Soemarno Soedarsono merupakan sebuah nilai yang sudah terpatri di dalam diri seseorang melalui pengalaman, pendidikan, pengorbanan, percobaan, serta pengaruh lingkungan yang kemudian di padukan dengan nilai-nilai yang ada di dalam diri seseorang dan menjadi niali intrinsic yang terwujud di dalam system daya juang yang kemudian mendasari sikap, prilaku, dan pemikiran seseorang. Sedangkan menurut kemdikbud, karakter merupakan bentuk cara berfikir serta serta berprilaku seseorang yang nantinya akan menjadi ciri khasnya. Dari dua pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa karakter adalah nilai yang sudah tertanam dan membentuk identitas. Oleh karena itu, Karakter tidak bisa terbentuk dengan tiba-tiba. Ia membutuhkan proses yang lama. Proses pembentukan karakter di awali dengan pembiasaan. Proses pembiasaan inilah yang kita kenal dengan budaya atau pembudayaan. Maka, dalam rangka membentuk karakter yang ditujju, perlu di bangun budaya positif dilingkungan sekolah. Budaya sekolah dimaknai dengan tradisi sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilai-nilai yang dianut di sekolah. Artinya, budaya sekolah ini berisi kebiasaan-kebiasan yang disepakati bersama untuk dijalankan dalam waktu yang lama. Jika kebiasan positif ini sudah membudaya, maka nilai-nilai karakter yang diharapkan akan terbntuk. Ada lima budaya sekolah yang bisa dikembangkan dalam satuan pendidikan. Antara lain : Pertama, gerakan literasi sekolah. Gerakan ini bertujuan menumbuhembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam gerakan leiterasi sekolah atau GLS, agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Program ini tentunya selaras dengan peraturan yang telah dikeluarkan sebelumnya yaitu permendikbud nomor 23 tahun 2015 tetang penumbuhan budi pekerti. Salah satu program yang dicangkan adalah kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu pelajaran dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengatahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti beriupa kearifan lokal, nasioanl, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Program ini seharunya mendapat perhatian lebih dari pihak sekolah agar proses penanaman karakter bisa berjalan lebih cepat. Sekolah harus menyediaan pojok baca untuk dimanfaatkan oleh peserta didik. Dengan begitu, peserta didik bisa memanfaatkannya baik pada waktu yang telah ditentukan maupun pada waktu-waktu yang lain. Tentu akan sulit bagi anak untuk memiliki kesempatan membaca buku non pelajaran di luar sekolah, karena 10 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
mereka sudah di sibukkan dengan pekerjaan rumah maupun interaksi sosial dengan masyarakat. Kedua, kegiatan Ekstra kulikuluer. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengembangkan minat dan bakat pesera didik. Sekolah perlu memfasilitasi terselenggaranya proses penumbuhkembangan minat dan bakat itu. Dengan kegiatan tersebut, seorang peserta didik akan terbiasa dengan berbagai macam kegiatan positif. Baik menyangkut kemampuan fisik mauapun mental. Ada banyak ekstrakulikuler yang bisa dikembangkan, seperti pramuka, kerohanian, olah raga, seni dan karya ilmiah. Dengan tempaan mental dan fisik yang kontinyu dilingkungan organasi ekstra kulikulernya, kelak seorang anak akan terbiasa dengan aktivitas yang memerlukan pemikiran dan tenaga lebih. Mereka tidak akan manja, bermalas-malasan dan anarkis. Tetapi mereka akan terbiasa aktif, kretaif dan bertanggung jawab. Ketiga , menetapkan kegiatan pembiasaan pada awal dan akhir KBM Kegiatan ini bertujuan membentuk kebiasana harian yang berdifat rutin. Bentuknya tidak terlalu berat hanya memerlukan konsistensi. Karena rutin, biasanya cenderung disepelelkan. Oleh sebab itu, guru selaku penangung jawab kegiatan ini memegang peranan penting dalam menjaga keterlaksanaan program ini. Kegiatan yang bisa dilakukan antara lain, mengikuti upacara bendera, apel, menyanyikan lagu Indonesia raya, Lagu Nasional, dan berdoa bersama. Diakhir pelajaran, kegiatan serupa juga perlu dilakukan. Antara lain refleksi, menyanyikan lagu Daerah dan berdoa bersama. Tentu bukan hanya di dalam kelas, kegiatan lain di luar kelas bisa juga dilakukan. Seperti menyambut kedatangan anak di gerbang sekolah sembari menjabat tangannya. Dengan terlaksananya kebiasaan rutin tersebut, peserta didik akan memperoleh banyak manfaat. Mulai dari kemampuan menyanyikan lagu nasional dan daerah, sikap mental yang baik dalam bentuk refleksi dan doa serta kedekatan emosional melalui kegiatan berjabat tangan. Keempat, Membiasakan prilaku baik yang bersifat spontan Kalau poin-poin sebelumnya menjelaskan tentang perilaku yang berisifat rutin, maka pada poin ini menjelaskan tentang perilaku yang bersifat spontan. Hal ini penting, mengingat, karakter itu akan teihat pada spontanitas prilakuknya. Belumlah menjadi karakter yang sesungguhnya jika prilaku yang tampak-secara spontan-adalah perilaku yang buruk. Sopontanitas akan menjadi ukuran, bahwa seseorang itu telah memilki karakter yang baik atau belum. Perilaku ini mencakup perkataan maupun perbuatan. Penilaiaian ini bisa dilakukan terhadap seseorang yang mengalami hal yang tidak diingankan, misalnya terjatuh, merugi, bersalah dan sebagainya, coba lihat dan dengar apa yang diperbuat dan diucpkannya. Jika positif, maka karakter telah terbentuk. Jika negative, berarti karakkter belum senuhnya tertanam. Namun, semua itu tidak bisa berlangsung denga tiba-tiba. Perlu ada keteladanan dari semua pihak, terutama pendidik dan tenaga kependidikan yang ada. Disinilah ketauladan pendidik diperlukan. Jangan sampai ada perilaku buruk yang ditampilkan di depan peserta didik seperti merokok, berdebat dan berkelahi. Kelima, Menetapkan tata tertib sekolah Tata tertib menjadi benteng pembatas antara yang boleh dan tidak boleh, antara yang baik dan tidak baik. Tidak mungkin organisasi tidak memilki tata tertib. Termasuk sekolah. Sekolah perlu membuat tata tertib yang disepakti dan dijalankan bersama. Dengan begitu, situasi disekolah akan berjalan dengan tertib dalam waktu yang lama karena program sekolah berjalan sesuai dengan aturan main. Tidak cukup roda organisasi hanya dijalankan dengan anjuran demi anjuran. Karena sikap seseorang mudah berubah, apalagi yang menyangkut kebiasaan. Dengan adanya aturan, 11 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
seseorang akan terikat. Dengan begitu, kebiasaan positif itu akan terus berkembang hingga menjadi karakter. Dari semua budaya sekolah tersebut perlu adanya I’tikad yang kuat dari pemangku kepentingan untuk mejalankannya. Tanpa itu semua, kebiasaan positif akan berlangsung sesaat dan aturan hanya tinggal aturan. Tidak akan sampai kepada tujuan yang diharapkan yaitu pembentukan karakter. Selain itu, perlu adanya komunikasi yang baik antar unsur pendidikian, yaitu pihak sekolah, masayarakat dan pemerintah. Budaya adalah produk yang dibentuk dalam waktu yang lama. Sebab itu, perlu ada konsistensi dalam menjaganya. Semua pihak harus konsisten menjalankan budaya yang telah dibangun sejak awal. Salah satu dua kali mungkin masih dimaklumi, tetapi berkali kali lalai atau salah, karakter yang dihrapkan bakal urung terwujud. Oleh karena itu, mari ciptakan budaya positif dilingkungan sekolah agar terbentuk dan tertanam nilai-nailai karakter sebagaimana yang diharapkan oleh semua pihak. 12 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
PERAN PENDIDIK, PESERTA DIDIK DAN LINGKUNGAN A. Peran Pendidik Peran guru adalah seluruh perilaku atau tindakan seorang guru untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan wawasannya pada orang lain, yakni peserta didik. Jika membahas peran, akan ada dua hal yang melekat, yaitu hak dan kewajiban. Keduanya akan berjalan secara beriringan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. 1. Peran Guru dalam Pembelajaran Tugas guru selalu identik dengan pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar. Lebih dari itu, peran guru dalam pembelajaran sangat komprehensif. Berikut ini peran guru dalam pembelajaran. a. Guru sebagai pendidik Sebagai tenaga pendidik guru harus bisa dijadikan panutan bagi peserta didik dan lingkungan sekitarnya. Untuk itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi yang unggul, misalnya berwibawa, tanggung jawab, disiplin, suka membantu, dan sebagainya. b. Guru sebagai pengajar Guru sebagai pengajar memiliki makna guru menjadi jembatan bagi para peserta didik untuk berkembang, mempelajari segala sesuatu yang belum diketahuinya, dan membentuk kompetensi peserta didik. c. Guru sebagai pembimbing Guru sebagai pembimbing, artinya guru berperan untuk memberikan bimbingan berdasarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya pada peserta didik. Bimbingan itu bisa berupa bimbingan akademis dan nonakademis (emosional dan mental). d. Guru sebagai pelatih Untuk memahami segala sesuatu, seseorang harus rajin berlatih begitu juga dengan peserta didik. Dalam hal ini, guru berperan untuk melatih para peserta didik dalam mengasah kemampuan. e. Guru sebagai penasihat Guru berperan sebagai penasihat berarti guru harus mampu memberikan masukan dan nasihat pada para peserta didik, baik secara intelektual maupun emosional. f. Guru sebagai pembaharu Maksud pembaharu adalah guru bisa memberikan makna baru ke dalam kehidupan para peserta didik melalui pengalaman yang dimiliki. g. Guru sebagai model dan teladan Pepatah bahasa Jawa mengatakan “Guru iku digugu lan ditiru”. Maksud pepatah itu adalah guru itu menjadi panutan dan teladan. Setiap tindakan guru akan menjadi cerminan tindakan peserta didiknya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya guru menjadi model dan teladan yang baik bagi peserta didik. h. Guru sebagai peneliti Guru sebagai peneliti memberikan arti bahwa guru harus selalu mencari titik kelemahan dirinya sebagai seorang pendidik. Tidak hanya itu, setiap kendala yang ditemukan selama menjadi pendidik harus dicari solusinya, salah satunya melalui penelitian. i. Guru sebagai pendorong kreativitas Kreativitas peserta didik akan semakin terasah jika mereka berada di lingkungan yang sesuai. Salah satu lingkungan yang sesuai untuk mengasah kreativitas peserta didik adalah sekolah. Saat di sekolah, guru harus bisa memberikan contoh bagaimana menjadi insan yang kreatif itu. Nantinya, hal itu bisa menjadi pendorong kreativitas peserta didik. j. Guru sebagai emansipator Sebagai emansipator, guru harus bisa memahami potensi peserta didiknya dan menyadari akan pentingnya selaras dengan kebudayaan. 13 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
k. Guru sebagai evaluator Untuk melihat perkembangan peserta didik, salah satu upaya yang bisa dilakukan guru adalah mengadakan evaluasi. Evaluasi bisa berupa kegiatan penilaian rutin, baik dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. 2. Peran Guru dalam Pendidikan Peran guru tidak sebatas pada pembelajaran, melainkan juga pada pendidikan. Peran guru dalam pendidikan adalah sebagai berikut. a. Guru sebagai instruktur Sebagai instruktur, guru bertanggungjawab terhadap berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini, guru harus membuat kondisi belajar mengajar selalu kondusif. b. Guru sebagai manajer Sebagai manajer, guru harus bisa mengatur seluruh kegiatan pembelajaran dan kegiatan di luar kelas. Guru dituntut untuk bisa merencanakan, mengorganisir, melaksanakan, dan mengawasi jalannya pendidikan, baik pendidikan di dalam maupun di luar kelas. c. Guru sebagai anggota organisasi profesi Organisasi profesi diharapkan bisa mengarahkan tugas dan tanggung jawab guru. Keberadaan organisasi ini bisa membantu guru menyelesaikan berbagai kendala, baik di dalam maupun di luar kelas. d. Guru sebagai spesialis hubungan masyarakat Selain mengajar, guru juga harus bisa menjadi penghubung antara pihak sekolah dan juga orang tua peserta didik. Baik buruknya citra sekolah di pandangan masyarakat bergantung dari bagaimana output yang dihasilkan oleh sekolah. Untuk itulah, perlu adanya komunikasi antara pihak sekolah yang diwakili oleh guru dan pihak orang tua peserta didik. 3. Peran Guru dalam Pengembangan Kurikulum Pada pembahasan sebelumnya, sudah dijelaskan peran guru dalam pembelajaran dan pendidikan. Nah, saat ini Bapak/Ibu akan diajak untuk memahami peran guru dalam pengembangan kurikulum. Seperti Bapak/Ibu ketahui bahwa kurikulum merupakan kerangka acuan pembelajaran yang harus diikuti oleh seluruh warga sekolah. Adapun peran guru dalam pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut. a. Guru sebagai implementer Sebagai implementer, guru harus mampu menerapkan kurikulum dalam pembelajaran yang diampunya. Guru menjadi eksekutor dari kurikulum yang sudah dirumuskan. b. Guru sebagai adapter Guru tidak hanya berperan sebagai pelaksana kurikulum, melainkan juga penyelaras kurikulum. Keselarasan kurikulum harus disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Dalam hal ini, guru diberi keleluasaan untuk menyesuaikan dengan karakteristik sekolah dan kebutuhan lokal. c. Guru sebagai peneliti kurikulum Arti dari guru sebagai peneliti kurikulum adalah guru bertanggungjawab untuk meneliti kelayakan efektivitas program, model pembelajaran, mencari data untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik, dan sebagainya. d. Guru sebagai desainer pembelajaran Menarik tidaknya suatu pembelajaran bergantung dari pembawaan guru. Jika guru bisa mendesain pembelajaran semenarik mungkin, maka pembelajaran tersebut lebih mudah diterima oleh peserta didik. e. Guru sebagai seniman pembelajaran 14 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
Sentuhan seni yang diberikan guru saat pembelajaran, ternyata bisa meningkatkan kesenangan peserta didik pada pembelajaran tersebut. f. Guru sebagai motivator pembelajaran Sebagai motivator, guru harus bisa membangkitkan semangat belajar peserta didik, sehingga tujuan pelaksanaan kurikulum bisa tercapai. Perumusan kurikulum tidak hanya berlaku untuk guru, melainkan untuk peserta didik pula. Agar tujuan kurikulum melalui pembelajaran bisa tercapai, dibutuhkan kerja sama antara guru dan peserta didik. g. Guru sebagai mediator pembelajaran Mediator pembelajaran artinya guru menjadi perantara antara sumber belajar dan peserta didik. Jika peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami sumber belajar, guru harus bisa membantu memecahkan kesulitan tersebut. h. Guru sebagai inspirator pembelajaran kurikulum Saat berada di sekolah, sumber inspirasi bagi peserta didik itu adalah guru. Kecakapan guru dalam memberikan materi bisa menginspirasi peserta didik untuk belajar lebih giat. Dengan demikian, pelaksanaan kurikulum bisa berjalan sesuai rumusan yang telah dibuat. 4. Peran Guru di Era Digital Abad 21 Di era digital abad 21 seperti sekarang ini, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tidak bisa dielakkan lagi. Setiap individu seolah dituntut untuk menguasai keduanya agar tidak tertinggal dengan kemajuan zaman. Jika ditinjau dari dunia pendidikan, kemajuan teknologi ini membawa dampak positif yang cukup signifikan. Oleh sebab itu, guru dituntut untuk menguasai teknologi sebagaimana perkembangan yang ada. Hal itu membuat peran guru di era digital abad 21 menjadi semakin kompleks. Adapun peran guru di era digital abad 21 adalah sebagai berikut. a. Guru harus bisa membangun komunikasi yang efektif antara peserta didik dan komunitas sekolah dengan memanfaatkan teknologi. b. Guru menjadi pembelajar dan agen perubahan di sekolah melalui sinergi antara kompetensi dan teknologi. c. Guru menciptakan pembelajaran interaktif menggunakan media digital, misalnya mengundang pemateri seorang novelis melalui video konferensi. d. Guru sebagai pengarah, artinya mengarahkan perangkat digital yang dimiliki peserta didik untuk menunjang pembelajaran, misalnya memanfaatkan e-learning yang diinstal dari smartphone masing-masing peserta didik. 5. Peran Guru Sebagai Pembentukan Karakter Peserta Didik Pendidikan di lingkungan sekolah tidak hanya berorientasi pada nilai akademik saja. Lebih dari itu, sekolah harus bisa menempa peserta didiknya untuk menjadi insan berkarakter. Pembentukan karakter tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, melainkan juga orang tua dan lingkungan. Jika dilihat dari aspek pendidik, tentu gurulah yang bertanggung jawab untuk itu. Adapun peran guru dalam pembentukan karakter peserta didik adalah sebagai berikut. a. Guru sebagai teladan dan panutan Segala tindakan dan perilaku guru akan selalu diamati oleh peserta didiknya. Oleh sebab itu, guru harus bisa memberikan teladan dan menjadi panutan yang baik bagi peserta didiknya agar mereka bisa berperilaku sesuai dengan gurunya. b. Guru sebagai komunikator Sebagai komunikator, guru harus bisa memberikan pesan yang jelas dan mudah dipahami bagi para peserta didik. Dalam pembentukan karakter, kemampuan komunikasi ini sangat dibutuhkan agar peserta didik bisa dengan mudah memahami dan mengimplementasikan pesan guru dalam kehidupan sehari-hari. c. Guru sebagai pengarah Jika ada peserta didik yang melakukan kesalahan, guru harus bisa mengarahkan agar peserta didik tersebut kembali pada perilaku yang benar. 15 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
B. Peranan Peserta Didik dalam pendidikan Dalam dunia pendidikan peserta didik berperan sebagai organisme yang rumit yang mempunyai kemampuan luar biasa untuk tumbuh. Peranan peserta didik adalah belajar bukan untuk mengatur pelajaran. Peserta didik dituntut aktif belajar dalam rangka mengkontruksi pengetahuannya, dan karena itu peserta didik sendirilah yang harus bertanggung jawab atas hasil belajarnya. (Wahyudin, 2002). Implikasi dari konsep perkembangan individu terhadap pendidikan antara lain: 1. Sebab perkembangan individu semenjak lahir tidak mengalir ibarat aliran air melainkan berlangsung secara bertahap, yang mana setiap tahap perkembangan mempunyai sifatnya sendiri, memunculkan masalah atau krisis-krisis tertentu yang berbeda dari tahapan sebelumnya, setiap tahap mengandung tugas-tugas perkembangan tertentu yang harus diselesaikannya, yang mana jika tugas-tugas perkembangan pada tahapannya tidak diselesaikan dengan baik maka akan berakibat negatif terhadap perkembangan selanjutnya maka individu memerlukan pendidikan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sesuai tahap perkembangannya, dan sebab itu pula individu akan dapat didik. 2. Dalam konteks ini maka pendidikan merupakan upaya membantu peserta didik untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sesuai dengan tahap perkembangannya 3. Tahap perkembangan peserta didik mengandung tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya, serta mengimplikasikan kemampuan dan kesiapan belajarnya. Karena itu, keberhasilan pendidik dalam melaksanakan peranannya akan dipengaruhi oleh pemahamannya tentang perkembangan peserta didik serta emampuan mengaplikasikannya dalam praktik pendidikan. 4. Karena keberhasilan peserta didik menyelesaika tugas-tugas perkembangan pada tahapannya akan mempengaruhi keberhasilan penyelesaian tugas-tugas perkembangan pada tahap perkembangan selanjutnya maka pendidikan yang dilaksanakan menyimpang dari tahapan dan tugas-tugas perkembangan individu peserta didik. (Wahyudin, 2002) C. Peranan Lingkungan dalam Pendidikan Lingkungan pertama yang punya peran mendidik anak adalah lingkungan keluarga, disinilah anak dilahirkan, di rawat dan dibesarkan. Disinilah proses pendidikan berawal, orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak. Orang tua adalah guru agama, bahasa dan sosial pertama bagi anak. Orang tua adalah orang yang pertama kali mengajarkan anak berbahasa dengan mengajari anak mengucapkan kata-kata dan mengajarkan anak bersosial dengan lingkungan sekitarnya. Namun tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan. Oleh karena itu dikirimlah anak ke sekolah. Dengan demikian, sebenarnya pendidikan di sekolah adalah bagian dari pendidikan dalam keluarga yang sekaligus merupakan lanjutan dari pendidikan keluarga. Dengan masuknya anak ke sekolah, maka terbentuklah hubungan antara rumah dan sekolah karena antara kedua lingkungan itu terdapat objek dan tujuan yang sama, yakni mendidik anak-anak. Kompleksitas permasalahan seputar karakter atau moralitas telah menjadi pemikiran sekaligus keprihatinan bersama. Krisis karakter atau moralitas ditandai oleh meningkatnya kejahatan tindak kekerasan, penyalahgunaan obat terlarang (narkoba), pornografi dan pornoaksi serta pergaulan bebas yang sudah menjadi patologi dalam masyarakat. 1. Jenis Lingkungan Pendidikan a. Lingkungan Keluarga Keluarga sebagai lingkungan pertama untuk anak, di lingkungan pertama, anak memperolah dampak sadar. Karenanya keluarga memperoleh kelompok primer yang terbagi dalam beberapa keluarga kecil sebab jalinan sedarah yang memiliki sifat informal dan kodrati dan menjadi instansi Pendidikan paling tua. Anak dalam menjalani lingkungan keluarganya umumnya mempunyai 2 tahapan: a). Anak kurang memperoleh perhatian dan kasih saying orang tua 16 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
b). Sosok orang tua yang tidak sanggup memberi teladan untuk anak b. Lingkungan Sekolah Pendidikan disekolah meliputi Pendidikan umum dalam menyiapakn peserta didik menguasai kemampuan dasar untuk melanjutkan Pendidikan atau masuk lapangan pekerjaan. Disamping itu sekolah sebagai pendidik Lembaga formal menerima peranan Pendidikan berdasarkan azas tanggung jawab c. Lingkungan Masyarakat Pendidikan dalam lingkungan masyarakat nampaknya sudah semakin maju disbanding dengan Pendidikan keluarga dan sekolah karena masyarakat adalah lingkungan Pendidikan yang besar pengaruhnya terhadap individu 17 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
BAB III KEBUDAYAAN LOKAL DAN INTERLOKAL Kebudayaan suatu negara atau wilayah tidak terbentuk secara murni. Artinya, kebudayaan bukan hanya merupakan hasil interaksi dalam masyarakat, namun juga telah terpengaruh dan bercampur dengan unsur kebudayaan dari luar. Pengaruh budaya asing terjadi pertama kali saat suatu bangsa berinteraksi dengan bangsa lain. Misalnya, melalui perdagangan dan penjajahan. Dalam proses interaksi tersebut terjadi saling memengaruhi unsur budaya antarbangsa. Menurut Koentjaraningrat, perubahan kebudayaan dipengaruhi oleh proses evolusi kebudayaan, proses belajar kebudayaan dalam suatu masyarakat, dan adanya proses penyebaran kebudayaan yang melibatkan adanya proses interaksi atau hubungan antar budaya. Berbagai inovasi menurut Koentjaraningrat menyebabkan masyarakat menyadari bahwa kebudayaan mereka sendiri selalu memiliki kekurangan sehingga untuk menutupi kebutuhannya manusia selalu mengadakan inovasi. 1. Budaya Lokal Budaya lokal biasanya didefinisikan sebagai budaya asli dari suatu kelompok masyarakat tertentu. Menurut J.W. Ajawaila, budaya lokal adalah ciri khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Akan tetapi, tidak mudah untuk merumuskan atau mendefinisikan konsep budaya lokal. Menurut Irwan Abdullah, definisi kebudayaan hampir selalu terikat pada batas-batas fisik dan geografis yang jelas. Misalnya, budaya Jawa yang merujuk pada suatu tradisi yangberkembang di Pulau Jawa. Oleh karena itu, batas geografis telah dijadikan landasan untuk merumuskan definisi suatu kebudayaan lokal. Namun, dalam proses perubahan sosial budaya telah muncul kecenderungan mencairnya batas-batas fisik suatu kebudayaan. Ciri-ciri budaya lokal dapat dikenali dalam bentuk kelembagaan sosial yang dimiliki oleh suatu suku bangsa. Kelembagaan sosial merupakan ikatan sosial bersama di antara anggota masyarakat yang mengoordinasikan tindakan sosial bersama antara anggota masyarakat. Lembaga sosial memiliki orientasi perilaku sosial ke dalam yang sangat kuat. Hal itu ditunjukkan dengan orientasi untuk memenuhi kebutuhan anggota lembaga sosial tersebut. Budaya lokal adalah nilai-nilai lokal hasil budi daya masyarakat suatu daerah yang terbentuk secara alami dan diperoleh melalui proses belajar dari waktu ke waktu. Adat pernikahan secara tradisional adalah salah satu bentuk budaya lokal pula. Oleh karena itu, jika ada sepasang pengantin yang berasal dari daerah yang berlainan, seringkali mengenakan busana tradisional pernikahan bergantian sesuai dengan busana daerah masing-masing mempelai. Demikian pula acara tradisi upacara pernikahan diadakan dua kali, disesuaikan dengan upacara adat masing- masing mempelai. Budaya nasional adalah budaya yang dihasilkan oleh masyarakat bangsa tersebut sejak zaman dahulu hingga kini sebagai suatu karya yang dibanggakan yang memiliki kekhasan bangsa tersebut dan memberi identitas warga, serta menciptakan suatu jati diri bangsa yang kuat. Sifat khas yang dimaksudkan di dalam kebudayaan nasional hanya dapat dimanifestasikan pada unsur budaya bahasa, kesenian, pakaian, dan upacara ritual. Unsur kebudayaan lain bersifat universal sehingga tidak dapat memunculkan sifat khas, seperti teknologi, ekonomi, sistem kemasyarakatan, dan agama. Kebudayaan nasional sesungguhnya dapat berupa sumbangan dari kebudayaan lokal. Jadi, sumbangan beberapa kebudayaan lokal tergabung menjadi satu ciri khas yang kemudian menjadi kebudayaan nasional. Salah satu contoh budaya nasional adalah pakaian batik. Batik adalah hasil dari budaya lokal. Beberapa daerah di Indonesia dapat menciptakan batik dengan corak khas yang berbeda- beda. Batik kemudian diangkat menjadi salah satu pakaian nasional. Dengan demikian budaya lokal menjadi budaya nasional. 18 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
2. Budaya Interlokal (Budaya Asing) Budaya asing tidak harus selalu diartikan budaya yang berasal dari luar negeri, seperti budaya barat. Namun, tidak bisa disangkal bahwa budaya barat berupa makanan, mode, seni, dan iptek memang telah banyak memengaruhi budaya masyarakat di Indonesia. Pada abad ke-20 dan ke-21, pengaruh budaya asing di Indonesia dapat terlihat melalui terjadinya gejala globalisasi. Dalam proses globalisasi terjadi penyebaran unsur-unsur budaya asing dengan cepat melalui sarana teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi. Globalisasi terjadi di semua bidang kehidupan. Kebudayaan asing akan semakin mudah memengaruhi budaya lokal. Namun demikian, tidak seluruh budaya asing membawa pengaruh buruk bagi budaya lokal. Kebudayaan asing adalah kebudayaan yang berada di luar wilayah kebudayaan diri. Keberadaan kebudayaan asing dapat menimbulkan beberapa hal yang beragam. Kebudayaan asing menjadi baik bagi kebudayaan nasional ketika kebudayaan asing mampu memberi masukan kebudayaan yang sesuai dengan kepribadian kebudayaan nasional, contohnya adalah agama. Banyak agama yang masuk ke Indonesia sesuai dengan kepribadian bangsa, sehingga hampir seluruh agama yang masuk ke Indonesia dapat berkembang dengan baik. Keburukan bagi kebudayaan nasional dapat berupa kerusakan moral, kehancuran moral, keterlambatan berpikir, dan lain sebagainya. Salah satu contoh kebudayaan asing yang member pengaruh buruk bagi kebudayaan nasional adalah media televisi. Melalui televisi, banyak orang yang terpengaruh cerita yang ada di dalam sinetron sehingga ia terinspirasi untuk melakukan hal yang sama dengan cerita di layar kaca tersebut. Hubungan antar Budaya di Era Globalisasi Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, Indonesia telah memasuki era globalisasi. Kemajuan teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi telah menyebabkan masuknya pengaruh budaya dari seluruh penjuru dunia dengan cepat ke Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, globalisasi adalah proses terbentuknya sistem organisasi dan sistem komunikasi antar-masyarakat di seluruh dunia. Tujuannya adalah untuk mengikuti sistem serta kaidah-kaidah yang sama. Pada era globalisasi, peristiwa yang terjadi di suatu negara dapat diketahui dengan cepat oleh negara lain melalui media massa, seperti televisi, radio, surat kabar atau internet. Proses saling memengaruhi budaya dapat terjadi melalui proses sebagai berikut: a. Akulturasi Kebudayaan Salah satu unsur perubahan budaya adalah adanya hubungan antar budaya, yaitu hubungan budaya lokal dengan budaya asing. Hubungan antar budaya berisi konsep akulturasi kebudayaan. Menurut Koentjaraningrat istilah akulturasi atau acculturationatau culture contact yang digunakan oleh sarjana antropologi di Inggris mempunyai berbagai arti di antara para sarjana antropologi. Menurut Koentjaraningrat akulturasi adalah proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kebudayaan lokal itu sendiri. Di dalam proses akulturasi terjadi proses seleksi terhadap unsur- unsur budaya asing oleh penduduk setempat. Contoh proses seleksi unsur-unsur budaya asing dan dikembangkan menjadi bentuk budaya baru tersebut terjadi pada masa penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia sejak abad ke-1. Masuknya agama dan kebudayaan Hindu–Buddha dari India ke Indonesia berpengaruh besar terhadap perkembangan kebudayaan Indonesia. Unsur-unsur kebudayaan Hindu–Buddha dari India tersebut tidak ditiru sebagaimana adanya, tetapi sudah dipadukan dengan unsur kebudayaan asli Indonesia sehingga terbentuklah unsur kebudayaan baru yang jauh lebih sempurna. Hasil akulturasi kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan Hindu–Buddha adalah dalam bentuk seni bangunan, seni rupa, aksara, dan sastra, sistem pemerintahan, sistem kalender, serta sistem kepercayaan dan filsafat. Namun, meskipun menyerap berbagai unsur budaya Hindu– Buddha, konsep kasta yang diterapkan di India tidak diterapkan di Indonesia. b. Asimilasi Kebudayaan 19 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
Konsep lain dalam hubungan antarbudaya adalah adanya asimilasi (assimilation) yang terjadi antara komunitas-komunitas yang tersebar di berbagai daerah. Koentjaraningrat menyatakan bahwa asimilasi adalah proses sosial yang timbul apabila adanya golongan-golongan manusia dengan latar kebudayaan yang berbeda-beda yang saling bergaul secara intensif untuk waktu yang lama sehingga kebudayaan-kebudayaan tersebut berubah sifatnya dan wujudnya yang khas menjadi unsur-unsur budaya campuran. Menurut Richard Thomson, asimilasi adalah suatu proses di mana individu dari kebudayaan asing atau minoritas memasuki suatu keadaan yang di dalamnya terdapat kebudayaan dominan. Selanjutnya, dalam proses asimilasi tersebut terjadi perubahan perilaku individu untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaan dominan. 20 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
BAB IV KONSEP NILAI BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL A. Konsep Nilai Budaya Yang Ada Di Indonesia Kebudayaan suatu negara atau wilayah tidak terbentuk secara murni. Artinya, kebudayaan bukan hanya merupakan hasil interaksi dalam masyarakat, namun juga telah terpengaruh dan bercampur dengan unsur kebudayaan dari luar. Pengaruh budaya asing terjadi pertama kali saat suatu bangsa berinteraksi dengan bangsa lain. Misalnya, melalui perdagangan dan penjajahan. Dalam proses interaksi tersebut terjadi saling memengaruhi unsur budaya antarbangsa. Menurut Koentjaraningrat, perubahan kebudayaan dipengaruhi oleh proses evolusi kebudayaan, proses belajar kebudayaan dalam suatu masyarakat, dan adanya proses penyebaran kebudayaan yang melibatkan adanya proses interaksi atau hubungan antar budaya. Berbagai inovasi menurut Koentjaraningrat menyebabkan masyarakat menyadari bahwa kebudayaan mereka sendiri selalu memiliki kekurangan sehingga untuk menutupi kebutuhannya manusia selalu mengadakan inovasi. Budaya atau kultur (culture) dapat didefinisikan dalam berbagai sudut, yaitu: 1. secara deskriptif budaya merupakan totalitas komprehensif yang menyusun keseluruhan hidup manusia; 2. secara historis budaya merupakan warisan yang turun-temurun; 3. secara normatif budaya merupakan aturan hidup dan gugus nilai; 4. secara psikologis budaya merupakan piranti pemacahan masalah yang membuat orang bisa hidup dan berinteraksi; 5. secara struktural budaya merupakan abstraksi yang berbeda dari perilaku konkret; B udaya lahir dari interaksi antar manusia dan terwariskan kepada generasi berikutnya (Sutrisno, 2005:9).Budaya adalah sistem nilai yang dihayati. Nilai adalah sesuatu yang “diyakini baik” dan menjadi standar perilaku dan segala sesuatu yang mencirikan budaya Budaya tradisi dapat dikelompokan menjadi budaya non benda dan artefak atau objek budaya. Budaya non benda diantaranya pantun, cerita rakyat, tarian dan upacara adat. sedangkan artefak / objek budaya diantaranya pakaian daerah, wadah tradisioanal, senjata dan rumah adat Karakter Budaya (Indonesia) Budaya adalah fakta sosial bukan fakta individual. Budaya sebagai sistem nilai adalah diciptakan, memanfaatkan potensi creating values manusia, dan kemudian diikuti sebagai pedoman berinteraksi dengan Tuhan, sesama manusia dan dengan alam lingkungan. Interaksi memerlukan adaptasi-adaptasi sesuai dengan tantangan kontekstual. Oleh karena itu tantangan tersebut menjadi pembeda satu kelompok sosial dengan kelompok sosial yang lain dilihat dari (agraris, maritim, perdagangan, dan lainnya) maka budaya menjadi jati diri sekaligus faktor pembeda diri dengan “yang lain”, dan itu seyogianya menjadi pondasi bagi multikulturalisme. Bila membicarakan Budaya Indonesia berarti kita harus membicarakan sistem nilai yang dihayati (oleh bangsa Indonesia sebagai kolektif-komunal) dan sesuatu yang diyakini baik dan menjadi standar perilaku dalam kehidupan berbangsa. Sehingga dapat dikatakan representasi budaya indonesia adalah pancasila yang dirumuskan oleh kolektif-komunal—bukan personal— sebagai sistem nilai yang dihayati oleh Bangsa Indonesia. Realitas Deskriptif Budaya Indonesia Realitas deskriptif Indonesia adalah kebinekaan, sebagai representasi dari karakter subbudaya atau etnik yang berbeda-beda. Dari karakter tersebutlah Indonesia wujud sebagai satuan negara-bangsa yang plural atau majemuk, terdiri dari sekitar 1340 suku bangsa; 546 21 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
bahasa; 6 pemeluak agama, dan ratusan sistem religi. Interaksi pluralitas Indonesia itu diidentifikasi Ardika sebagai akar multikulturalisme yang secara arkeologis telah dimiliki sejak 2000-2500 tahun yang lalu melalui temuan artefaktual, pada periode itu telah terjadi kontak antara masyarakat Nusantara dengan koleganya dari India (Asia Selatan), Vietnam, dan China. Demikian pula melalui perdagangan rempah-rempah, dari abad kesatu sampai abad ke-17, Nusantara telah mendapat pengaruh kebudayaan asing dari India (Hindu Budha), Arab (Islam), dan Eropa (Kristen Katolik dan Protestan). Adaptasi kebudayaan-kebudayaan asing tersebut ke dalam kebudayaan asli terus berlangsung dan memperkaya kemultikulturan Indonesia (Ardika, 2004: 3-11). Realitas kemajemukan mendahului kehendak untuk bersatu dalam sebuah NKRI, bhinneka mendahului tunggal ika, tidak sebaliknya (Gonggong, 2002a: 164-165). Hanya saja, menejemen kebangsaan selama ini belum berhasil menempatkan kebhinnekaan sebagai kekayaan, tapi justru pernah memperlakukannya sebagai ancaman (SARA). Menurut Anhar Gonggong, corak manajemen kebangsaan itu diwarnai feodalistik, otoriter, sentralistik dan diskriminatif, baik sebagai warisan dari kerajaan-kerajaan tradisional di Nusantara maupun warisan kolonialis Belanda. Corak seperti itu mengalahkan tatanan masyarakat merdeka yang hendak diwujudkan, yaitu tatanan masyarakat yang berorientasi ke masa depan, ke kehidupan bersama yang egaliter, sejahtera, dan demokratis (Gonggong, 2002b:158-159 Persoalan budaya bangsa hingga hari ini adalah persoalan realitas dan perlakuan yang salah atasnya. Kemajemukan dan kearifan multikultural telah berakar cukup lama tetapi terciderai; kesalahan perlakuan mengakibatkan kebinekaan bukan menjadi pemerkaya budaya bangsa melainkan sebaliknya menjadi faktor pemicu konflik dan pemecah belah. Jadi, persoalan aktual kebangsaan sejak kemerdekaan NKRI adalah prihal “mengelola perbedaan”. Perbedaan adalah fitratullah, karenanya kita menjadi plural. Dalam dinamika pluralitas, sesungguhnya konflik adalah lumrah bahkan niscaya. Peran kearifan manajemen perbedaan dan konflik justru disini. Jejaring konflik mesti dipandang sebagai pendorong perkembangan masyarakat. Oleh karena itu konflik perlu dimenej sedemikian rupa agar senantiasa berada dalam harmoni atau keseimbangan yang dinamis, dan diarahkan bagi berlangsungnya perkembangan masyarakat dalam mekanisme dialektik Kebudayaan nasional Indonesia mesti dipahami sebagai keseluruhan sistem perilaku dan karyacipta segenap warganya, yang multikultural, yang merefleksikan sistem nilai yang beragam sesuai akar budaya masyarakat lokal yang beragam itu. Sistem perilaku dan karyacipta yang terputus dari akar kultural lokal tentulah bukan budaya Indonesia. Pengakuan dan perlakuan yang memadai atas kepemilikan budaya yang multikultural itu oleh bangsa ini jelas adalah kewajiban negara dan segenap warganya. Apabila kewajiban tersebut telah ditunaikan, tentu bangsa Indonesia tidak lagi kecolongan dengan klaim kepemilikan negara lain atas unsur dari subbudaya kita. Jadi, ada tiga basis budaya Indonesia, yakni (1) budaya lokal dan (2) budaya nasional, dan (3) budaya global. Budaya lokal adalah akar tunggang budaya Indonesia, budaya nasional adalah sistem nilai yang melekat aneka budaya lokal dalam tatanan kesetimbangan dinamik- dialektik, dan budaya global menjadi bagian kontekstual yang niscaya diakomodasi dan diasimilasi secara cerdas, strategis, dan bijak. Kaidah yang mesti dipegang teguh adalah pemertahanan keberagaman bukan penyeragaman. Semua budaya lokal (daerah) wajib dijaga dan dipelihara keberlangsungan hidupnya, dan budaya nasional dikreasi untuk menjaga harmoni dinamik (berkemajuan) tatanan lintas subbudaya, dan budaya global dijadikan orientasi untuk mampu setara secara transnasional. 22 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
Nilai-nilai budaya lokal khususnya budaya Jawa Budaya lokal biasanya didefinisikan sebagai budaya asli dari suatu kelompok masyarakat tertentu. Menurut J.W. Ajawaila, budaya lokal adalah ciri khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Akan tetapi, tidak mudah untuk merumuskan atau mendefinisikankonsep budaya lokal. Menurut Irwan Abdullah, definisi kebudayaan hampir selalu terikat pada batas-batas fisik dan geografis yang jelas. Misalnya, budaya Jawa yang merujuk pada suatu tradisi yangberkembang di Pulau Jawa. Oleh karena itu, batas geografis telah dijadikan landasan untuk merumuskan definisi suatu kebudayaan lokal. Namun, dalam proses perubahan sosial budaya telah muncul kecenderungan mencairnya batas-batas fisik suatu kebudayaan Nilai budaya lokal merupakan suatu nilai yang terkandung didalam sebuah daerah yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat sekitar. Dapat mencangkup nilai sosial, nilai agama, nilai moral, ataupun nilai budaya Menurut Koentjaraningrat 1981 dalam Sedyawati, 2003 masyarakat Jawa memiliki sistem nilai budaya yang terdiri dari lima hakekat pokok, yaitu: 1. Hakekat hidup Orang Jawa memandang hakekat hidup sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan konsep religiusitas yang bernuansa mistis. Mereka sangat menghormati budaya, agama Hindu dan Islam, dan kondisi geografis. Pada dasarnya masyarakat Jawa menerima yang telah diberikan Tuhan secara apa adanya, harus tabah dan pasrah dengan takdir serta ikhlas menerima segala hal yang diperolehnya. 2. Hakekat kerja Bagi masyarakat Jawa kelas bawah yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan cenderung beranggapan bahwa mereka harus terus berikhtiar dan bekerja. Bagi mereka, bekerja merupakan suatu keharusan untuk mempertahankan hidup. Sebaliknya bagi masyarakat kelas menengah dan atas telah memiliki tujuan dari hakekat kerja, sehingga usaha yang dijalankannya selalu dihubungkan dengan hasil yang diharapkan. Bagi mereka bekerja adalah segala sesuatu yang dicita-citakan dan harus disertai dengan usaha yang sungguh- sungguh, artinya untuk mewujudkan cita-cita diperlukan biaya dan pengorbanan. 3. Hakekat waktu Banyak orang berpendapat bahwa orang Jawa itu kurang menghargai waktu. Hal ini disebabkan karena ada pemahaman mereka bahwa melakukan segala sesuatu tidak usah terburu-buru, yang penting selesai. Melakukan sesuatu pekerjaan dengan perlahan-lahan memang sudah merupakan sifat orang Jawa. Universitas Sumatera Utara 4. Hakekat hubungan manusia dengan sesamanya Masyarakat Jawa menghendaki hidup yang selaras dan serasi dengan pola pergaulan saling menghormati. Hidup yang saling menghormati akan menumbuhkan kerukunan, baik di lingkungan rumah tangga maupun di masyarakat. Dua prinsip yang paling menentukan dalam pola pergaulan masyarakat Jawa adalah rukun dan hormat. Dengan memegang teguh prinsip rukun dalam berhubungan dengan sesama, maka tidak akan terjadi konfik. 5. Hakekat hubungan manusia dengan alam sekitarnya Pandangan hidup masyarakat Jawa adalah mengharuskan manusia mengusahakan keselamatan dunia beserta segala isinya agar tetap terpelihara dan harmonis. Artinya mereka berkewajiban untuk memelihara dan melestarikan alam, karena alam telah memberikan kehidupan bagi manusia. Budaya Jawa tidak dapat dilepaskan dari permasalahan budi pekerti Jawa yang menurut Tim Pengengbangan Budi Pekerti Provinsi Yogyakarta meliputi 12 unsur yaitu (supriyoko 2000 : 4) : 1. Pengabdian 2. Kejujuran 3. Sopan santun 4. Toleransi 5. Kedisiplina 6. Keikhlasan 23 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
7. Tanggung jawab 8. Guyub rukun 9. Tepa slira 10. Empan papan 11. Tata krama 12. Gotong royong Dari keduabelas unsur tersebut diatas banyak diwujudkan dalam bentuk kearifan lokal yang dituangkan kedalam ajaran-ajaran penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, antara lain yang pada intinya adalah bagaimana melakukan hubungan dengan Tuhan, Hubungan dengan manusia dan hubungan dengan alam. Alam mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan masyarakat, Pulau Jawa yang dikelilingi lautan, terdiri atas pegunungan dan daratan, sehingga mata pencaharian masyarakat jawa juga terfokus pada masalah pertanian, perikanan dan industri kecil. Oleh karenanya tidak menherankan apabila masyarakat tani lebih dekat dengan filsafat tani, laut dan gunung, serta kasekten yang kesemuanya diwujudkan dengan lambang-lambang dalam bentuk sesajen. Hal ini bukan berarti bertentangan dengan pandangan mereka bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, sebagai sangkan paraning dumadi atau asal dan tujuan segala yang ada. Banyak yang dapat dicontohkan bagaimana budaya Jawa yang erat kaitannya dengan alam, misalnya sekaten atau gerebeg mulud, upacara langse, upacara labuhan, nyadran dan lain sebagainya Pada kultur masyarakat Jawa pernah mendengar nilai kearifan budaya Jawa seperti; becik ketitik ala ketara, jer basuki mawa bea, mikul dhuwur mendem jero, dsb. Itu adalah beberapa contoh nilai kearifan masyarakat Jawa yang ditanamkan sejak dini dan harus dipahami makna dan implementasinya. Ajining Dhiri Ana Lathi, Ajining Raga Ana Busana Masyarakat Jawa sangat menekankan pentingnya etika atau sopan santun dalam pergaulan. Baik penampilan perilaku berupa kata-kata atau ucapan (lathi), dan tampilan fisik berupa pakaian yang dikenakannya Adigang, Adigung, Adiguna Ungkapan ini berisi nasihat agar seseorang tidak berwatak angkuh atau sombong seperti watak binatang yang tersirat dalam ungkapan ini. \"Adigang\" adalah gambaran watak kijang yang menyombongkan kecepatan larinya. \"Adigung\" merupakan watak kesombongan binatang gajah yang karena besar tubuhnya selalu merasa menang dibanding hewan lainnya. Dan, \"Adiguna\" sebagai gambaran watak ular yang menyombongkan dirinya karena memiliki bisa/racun yang ganas dan mematikan Padahal masyarakat Jawa sangat mementingkan watak \"andhap asor\" atau \"lemah manah\" (rendah hati), maka orang yang baik seharusnya mampu mengukur dirinya sendiri tanpa menyombongkan kelebihannya. Apalagi merendahkan kekurangan lainnya. Ungkapan ini pun merupakan pesan kepada siapapun yang memiliki kelebihan (kekuatan, kedudukan, kekuasaan) agar tidak sewenang-wenang terhadap orang kecil. Ana Catur Mungkur Arti lugasnya adalah \"ada pembicaraan membelakangi\". Secara kiasan ungkapan tersebut dimaksudkan agar seseorang menghindarkan diri dari pembicaraan yang menyangkut keburukan atau kelemahan pihak lain. \"Catur\", artinya \"ngrasani eleking liyan\" (membicarakan keburukan orang lain) dengan tujuan menjatuhkan atau menghina orang tersebut. Ana catur mungkur, \"mungkur\" berarti menghindarkan diri. Secara utuh berarti kita perlu menghindarkan diri dari pembicaraan yang hanya membicarakan keburukan orang lain dan mempermasalahkan kelemahan orang lain. Sebab pembicaraan tersebut lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Dalam media sosial diharapkan komentar yang baik, kritik yang membangun dan didasari dasar yang kuat.. 24 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
Bagi keluarga jawa anak mempunyai kedudukan tersendiri dalam hati mereka (Sunoto,1989). Ada ucapan jawa mengatakan bahwa anak iku geganti laning ati, atau anak itu tempat bergantungnya hati.Ucapan ini bermaksud bahwa anak adalah pengikat dalam hubungan berkeluarga. Dalam adat jawa jika ada suatu pertemuan yang ditanyakan adalah yang berkaitan dengan anak mulai dari berapaan anaknya, laki-laki atau perempuan, dimana sekolahnya.Oleh karena itu orang tua mendambakan seorang anak yang shaleh dan bias membahagiakan orang tuanya. Falsafah orang jawa mikul dhuwur mendhem jero, anak polah bapa kepradhah, yang berarti memikul yang tinggi dan menimbun yang dalam, anak yang berbuat orang tua ikut bertanggungjawab.Dalam falsafah hidup orang jawa harus mendidik anak supaya anak mempunyai kepribadian yang baik seperti: 1. Sikap saling menghormati, ini terlihat pada Bahasa keseharian orang jawa dimana di dalamnya ada undha-usuk basa (tingkatan bahasa) yang dilakukan antara orang muda dengan orang yang lebih tua. Dalam falsafah orang jawa serring dikenal dengan among saha miturut, sedulur tuwa iku dadi geganti ning wong tuwa. 2. Sikap dan watak jujur, para orang tua mengajarkan kepadaan anaknya untuk berperilaku jujur baik dalam ucapan maupun tindakan. 3. Sikap adil, anak-anak harus mengetahui hak dan kewajiban masing-masing dan tahu bagai mana memperlakukan saudaranya dalam segala hal. Tidak boleh berbuat serakah, murka, ora nrima ing pandum atau loba, tamak. 4. Rukun agawe santosa, sikaps aling tolong menolong, gotong royong, dan tanggung jawab harus ditanamkan oleh orang tua kepada anaknya sejak dini supaya anak dalam menghadapi kehidupanya tidak berlomba-lomba untuk mencari kebahagiaan pribadi saja akan tetapi juga membawa kebahagiaan bagi lingkungan sekitarnaya. Seperti dalam falsafah jawa rukun agawe santosa lancrah agawe bubrah. B. KEARIFAN LOKAL 1. Pengertian Kearifan Lokal Nenek moyang Indonesia telah memberikan banyak warisan baik berupa nilai kehidupan yang menyatu dalam kebudayaan, adat istiadat, hingga nilai-nilai religi. Perkembangan masyarakat yang terjadi, membuat masyarakat terus beradaptasi dengan lingkungannya. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengembangkan kearifan yang diwariskan oleh nenek moyang tersebut ke dalam wujud pengetahuan, norma adat, nilai budaya, hingga usaha pengelolaan lingkungan, sehingga menjadi suatu kearifan lokal. Dari penjelasan tersebut, kearifan lokal diketahui mempunyai fungsi dan bentuk yang bermacam-macam. Disamping itu, tidak semua warisan nenek moyang juga bisa disebutkan sebagai kearifan lokal, dikarenakan kearifan lokal juga memiliki ciri-ciri tertentu. Untuk mengetahui lebih lanjut terkait apa itu kearifan lokal, ciri-ciri, fungsi, bentuk, hingga 2. Ciri-Ciri Kearifan Lokal Untuk lebih memperdalam pemahaman tentang kearifan lokal, mengenal ciri-ciri dari kearifan lokal juga dinilai sangat penting supaya dapat diketahui dengan jelas mana bagian dari kearifan lokal dan mana yang bukan. Umumnya, terdapat 2 ciri utama dari kearifan lokal yaitu berfokus pada nilai kebaikan dan tersembunyi atau lekat dengan tradisi kehidupan sehari-hari. Kedua ciri tersebut akan diulas lebih lanjut dalam penjelasan berikut. a. Berfokus Pada Nilai Kebaikan Sesuai dengan namanya, kearifan lokal merupakan hal-hal yang mempunyai hubungan dengan kebijaksanaan dan nilai-nilai kebaikan. Oleh karenanya, salah satu ciri dari kearifan lokal tidak lain adalah hal-hal yang berhubungan dengan nilai kebaikan dan menjadi pedoman kehidupan bagi masyarakat tersebut secara turun temurun. Dalam prosesnya, kearifan lokal juga bukanlah hal yang bersifat sebentar, melainkan dibentuk dari rangkaian peristiwa dalam masyarakat yang lama kelamaan menjadi cermin buaya bagi masyarakat tersebut. 25 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
b. Tersembunyi Dalam Tradisi Hidup Sehari-Hari Sebagai bagian dari suatu masyarakat, ciri kearifan lokal dapat ditemukan dalam tradisi di kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal dapat ditemukan dalam bentuk sastra yang indah, mitologi, ritual penghormatan, upacara adata, kesenian, bahasa, maupun dalam tata kehidupan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Disamping itu, kearifan lokal juga dapat ditemukan dalam filsafat hidup yang diyakini dan hidup dalam masyarakat. Sehingga, tidak jarang, kearifan lokal juga berhubungan dengan relasi manusia dengan Tuhan, dengan alam, dan dengan sesama manusia. 3. Fungsi Kearifan Lokal Adanya kearifan lokal telah memberikan banyak manfaat dalam kehidupan manusia atau dalam kata lain, kearifan lokal juga memiliki fungsi yang sangat penting di seluruh aspek kehidupan. Untuk selengkapnya mengetahui apa saja fungsi dari kearifan lokal, simak penjelasannya berikut ini. a. Untuk Pelestarian Sumber Daya Alam Fungsi pertama dari kearifan lokal tidak lain berhubungan dengan pelestarian sumber daya alam. Sesuai dengan pengertian dari kearifan lokal yang bersumber pada etika serta nilai-nilai kehidupan bermasyarakat, tidak sedikit bentuk kearifan lokal yang masih terus dipegang teguh oleh masyarakat sebagai acuan untuk pengelolaan sumber daya alam. Maksud dari fungsi ini, kearifan lokal digunakan untuk menjadi pedoman dalam memenuhi kebutuhan dari alam, namun dengan cara yang bijak dan tidak merusak alam tersebut. Beberapa contoh kearifan lokal yang berhubungan dengan pelestarian sumber daya alam diantaranya adalah subak atau sistem irigasi kuno untuk mengairi sawah yang ada di Bali. b. Untuk Mengarahkan Perkembangan Budaya Fungsi berikutnya dari kearifan lokal adalah dapat menjadi arahan bagi perkembangan budaya. Dari fungsi ini, kearifan lokal dapat menjadi pemberi arahan bagi masyarakat setempat untuk berperilaku atau bertindak sesuai dengan budaya dan kondisi sosial yang ada di masyarakat. Sehingga, secara tidak langsung, masyarakat setempat diharapkan bisa menerapkan nilai dan cara hidup yang sesuai dengan kebudayaan yang ada sebagai bentuk untuk mengembangkan dan melestarikan budaya tersebut. c. Sebagai Bentuk Petuah, Pantangan, dan Kepercayaan Adanya kearifan lokal juga dapat berfungsi sebagai petuah, pantangan, dan kepercayaan tertentu bagi masyarakat lokal. Dalam kata lain kearifan lokal juga berhubungan dengan hal-hal yang berupa nasihat untuk pedoman hidup masyarakat, larangan untuk melakukan hal-hal yang menyalahi budaya atau norma budaya, maupun sebagai bentuk kepercayaan berkaitan dengan tradisi tertentu. Tanpa adanya kearifan lokal, masyarakat tentu akan kehilangan identitas dalam diri mereka, mengingat kearifan lokal sangat erat akitannya dengan nilai-nilai yang begitu dipegang teguh oleh masyarakat. 4. Bentuk Kearifan Lokal Secara bentuknya, kearifan lokal dapat dikelompokkan menjadi 2 bentuk yaitu kearifan lokal yang berwujud dan tidak berwujud. Kearifan lokal yang berwujud diantaranya berupa : • Sistem nilai yang dituangkan dalam primbon maupun dalam buku adat, • Arsitektur bangunan, • Benda-benda tradisional seperti senjata tradisional. Kemudian, untuk kearifan lokal yang tidak berwujud diantaranya berupa kata-kata yang disampaikan lewat verbal seperti lagu tradisional dan dongeng. Selain itu, kearifan lokal yang tak berwujud juga bisa berupa nilai-nilai sosial yang diturunkan secara lisan, contohnya perilaku untuk bersikap sopan santun. Beberapa fungsi dari kearifan lokal antaralain : • Sebagai sarana bentuk konservasi dan pelesterian sumber daya alam yang ada pada lingkungan sekitar agar tidak rusak. 26 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
• Untuk pengembangan sumber daya manusia, seperti yang berkaitan dengan upacara daur hidup dan konsep kanda pat rate • Untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, contohnya pada benerala upacara adat. • Sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan. • Bermakna sosial seperti aneka upacara adat yang salah satu tujuannya mempererat sistem sosial. • Bermakna tentang etika dan moral. Kearifan lokal dapat bertahan walaupun ditengah tengah perubahan sosial karena kearifan lokal sudah menjadi sebuah kebiasaan yang dipegang teguh oleh masyarakat dan masih dilaksanakan hingga saat ini dari berbagai generasi karena masih dipercayai dan dipertahankan oleh tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, ataupun tokoh pemimpin daerah setempat. Kearifan lokal mengandung banyak nilai nilai positif didalamnya antaralain kebijaksanaan, toleransi, kerukunan. Kearifan lokal juga bersifat universal karena dapat menyesuaikan dengan zaman, kearifan lokal memang terlihat tradisional namun bukan berarti terbelakang yang tidak menghambat inovasi dan kemajuan zaman. Banyak nilai-nilai kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan untuk membentengi masyarakat dari pengaruh negatif modernisasi globalisasi sekaligus untuk membentuk karakter. Setiap wilayah tentu memiliki budayanya sendiri dengan berbagai kearifan di dalamnya.Kearifan lokal merupakan buah kecerdasan kreatif masyarakat yang mengandung limpahan nilai, dan pada praktiknya menjadi acuan normatif dalam bertingkahlaku di dalam masyarakat. Untuk itu penguatan pada generasi muda agar mengenal dan mempertahankan kearifan lokal sangatlah penting. Dengan rutin melaksanakan kearifan lokal maka secara tidak langsung hal itu menjadi sebuah contoh dan pembelajaran pada generasi muda agar diwaktu yang akan datang dapat mewarisinya. a. Kearifan Lokal Indonesia Contoh kearifan lokal yang ada di Indonesia barangkali jumlahnya sangat banyak yang tak dapat dituliskan satu persatu. Bahkan, di setiap daerah, jumlah kearifan lokalnya pun bisa dibilang tak terhitung. Nah, berikut ini sudah ada 4 contoh kearifan lokal yang cukup populer di daerah-daerah di Indonesia. 1. Pranoto Mongso Pranoto mongso adalah salah satu contoh kearifan lokal yang dapat ditemukan di masyarakat Jawa.Pada Pranoto mongso ini dapat diartikan sebagai aturan musim yang dipakai untuk mengolah lahan pertanian oleh para petani di pedesaan. Aturan waktu musim ini dibuat berdasarkan naluri dari para leluhur sebelumnya. Selama ini, adanya pranoto mongso telah membantu para petani untuk melakukan cocok tanam dengan mengikuti tanda-tanda alam. Sehingga, para petani pun tidak menggunakan lahan tanpa memperhatikan lingkungan dan kebaikan bagi kehidupan masyarakat sekitar. Tanpa adanya pranoto mongso, alam pun tidak dapat menjaga keseimbangannya, sehingga upaya untuk tetap menerapkan pranoto mongso juga menjadi cara bagi para petani untuk ikut menjaga alam dari kerusakan. 2. Nyabuk Gunung Contoh kearifan lokal berikutnya juga masih berhubungan dengan kegiatan bercocok tanam. Kegiatan ini dikenal dengan nyabuk gunung yang mana berupa aktivitas pembuatan teras sawah yang dibentuk sesuai garis kontur. Umumnya, nyabuk gunung kerap diterapkan di wilayah Bukit Sumbing dan Sindoro. Cara bercocok tanam ini diketahui mempunyai kelebihan tersendiri karena dibuat menurut garis kontur sehingga akan menghambat terjadinya longsor. Hal ini berbeda dengan kegiatan bercocok tanam yang dilakukan dengan membuat teras yang diketahui bisa mempermudah terjadinya longsor. 27 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
3. Pikukuh Karuhun Masyarakat Baduy mempunyai kepercayaan tersendiri yang berpedoma jika gerak-gerik dan tingkah laku harus berdasarkan dengan pikukuh karuhun. Setiap masyarakat Baduy tidak diperbolehkan untuk melanggar dan tatanan kehidupan yang sudah ada, apalagi sudah diijalankan secara turun temurun. Tidak hanya berlaku bagi masyarakat Baduy, masyarakat luar Baduy yang datang ke wilayah Baduy juga harus menaati adanya pikukur karuhun. Ketentuan-ketentuan dalam pikukuh karuhun ini diantaranya: • Tidak diperbolehkan masuk hutan larangan untuk menebang pohon, membuka lahan, dan mengambil hasil dari hutan. • Tidak diperbolehkan menebang tanaman tertentu. • Dilarang menggunakan teknologi berbasis kimia, seperti pupuk, obat untuk meracuni ikan, dan obat memberantas hama. • Setiap aktivitas berladang harus dilakukan sesuai dengan ketentuan adat yang ada. • Pikukuh karuhun harus diucapkan dalam bahasa Sunda kolot yang mana berupa ujaran yang disampaikan saat upacara adat. Ujaran tersebut dianggap sebagai bagian dari prinsip masyarakat Baduy. 4. Narekko Engka Pugauki Ripasalai Satu lagi contoh kearifan lokal yang masih terus dilestarikan adalah narekko engka pugauki ripasalai. Kearifan lokal ini ada dalam bentuk sanksi yang mana masyarakat dalam wilayah tersebut tidak diperbolehkan melakukan hal-hal terlarang, dan apabila melanggar aturan akan dikutuk atau dikenakan sanksi sesuai adat yang berlaku. Lebih tepatnya, narekko engka pugauki ripasalai ini adalah bentuk ungkapan yang ada di masyarakat adat Karampuang, Sulawesi. Aturan tersebut berlaku bagi seluruh masyarakat di wilayah tersebut dan akan dikenai sanksi bagi yang melanggar aturan. Namun, untuk besar kecilnya sanksi bisa bervariasi bergantung pada sejauh apa pelanggaran yang dibuat. Jadi, demikian seluruh penjelasan untuk pengertian, ciri, fungsi, bentuk, serta contoh kearifan lokal. Penjelasan di atas menunjukkan jika kearifan lokal memang memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan alam, lingkungan, dan tata kehidupan masyarakat. Produk keunggulan kearifan lokal tercantum dalam program ini. Kearifan lokal dijelaskan dalam berbagai aspek seperti sumber daya alam, sumber daya manusia, sejarah, geografi dan budaya yang berbeda. Keuntungan lain dari mempelajari kearifan lokal adalah dapat berpartisipasi dalam pembentukan karakter bangsa. Alasannya karena kearifan lokal berkaitan erat dengan sifat kebudayaan khas sehingga melekat pada satu wilayah tertentu. Disisi lainnya, kearifan lokal ini menjadi potensi keunggulan yang bisa menjadi karakteristik sebuah daerah. Dengan pengertian tersebut maka yang termasuk sebagai penjabaran kearifan lokal adalah berbagai pola tindakan dan hasil budaya materialnya. Menurut Nasiwan dkk (2012:159), Kearifan lokal adalah kebijaksanaan atau nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan-kekayaan budaya lokal seperti tradisi, petatah-petitih dan semboyan hidup. b. Kearifan Lokal Jawa Tengah 1. Jumat Kliwonan Menurut jurnal Sabda berjudul Tradisi Jumat Kliwonan sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Nelayan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah milik Bagus Wiranto (2018), Jumat Kliwonan merupakan hari istimewa yang ada pada sistem penanggalan Jawa. Dalam tradisi Jawa. Jumat Kliwonan dikenal dengan konsep lukat dengan arti dihapuskan, dibatalkan, dilepaskan, dibersihkan, disucikan dari segala marabahaya sehingga memperoleh keselamatan. Masyarakat nelayan Kabupaten Cilacap merupakan contoh kelompok masyarakat pesisir yang masih memegang teguh tradisi leluhur yang diwariskan, dan masih diwariskan hingga saat ini. Dalam 28 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
tradisi Jumat Kliwonan ini juga terdapat beberapa ritual dan larangan yang harus dipatuhi oleh seluruh nelayan Kabupaten Cilacap. Aturan-aturan yang terbentuk secara bersamaan, dengan kesadaran yang tinggi ternyata berdampak terhadap kehidupan dan pola hidup nelayan Kabupaten Cilacap. Hari Jumat Kliwon tidak diartikan sebagai hari untuk berhenti dari segala kegiatan secara keseluruhan, tetapi mengganti kegiatan utama dengan kegiatan tambahan yang bernialai sosial dan religi yang pada dasarnya tidak bisa dinilai dengan materi semata. Dari tradisi Jumat Kliwonan ini masyarakat nelayan pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya didorong untuk dapat lebih mengingat Sang Maha Pencipta yang mengatur seluruh alam, dan isinya dan dapat mengambil hikmah bahwa tidak selamanya manusia mengejar duniawi semata. Tetapi, juga harus memperhatikan kehidupan setelahnya. 2. Tradisi Sadranan Dilansir dari laman resmi Institut Agama Islam Negeri Surakarta, masyarakat Jawa Tengah juga menyebut tradisi sadranan sebagai ruwuhan. Tradisi ini dilakukan pada bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban dirayakan tiap menjelang Ramadhan. Masyarakat akan mengirim doa kepada para leluhur yang telah meninggal agar dosa-dosanya diampuni, diterima amal baiknya, dan mendapat di sisi- Nya. Dengan begitu, tradisi sadranan merupakan simbol hubungan dengan para leluhur, sesama, dan sang Maha Kuasa. Dalam tradisi sadranan, terdapat percampuran dari budaya lokal dan nilai-nilai Islam. Sadranan merupakan tradisi Hindu-Budha yang tumbuh dan berkembang semenjak sekitar abad 15. Kemudian, dalam perjalanannya sadranan mengalami akulturasi dengan budaya Islam. Perubahan tersebut terlihat dari tradisi sadranan yang dahulu identik dengan dengan pemujaan roh, lalu diluruskan penataan tujuannya menjadi kepada yang Maha Esa oleh para ulama wali songo. Tradisi sadranan dimulai dengan ritual membersihkan makam-makam leluhur, selamatan (kenduri), membuat kue apem, kolak, dan ketan. Kemudian, ketiga makanan tersebut dijadikan adonan. Lalu, adonan itu dimasukkan ke dalam takir. Takir adalah tempat makanan yang terbuat dari daun pisang, di sebelah kanan dan kirinya akan ditusuki lidi. Kue-kue tersebut akan dibagikan kepada sanak saudara, dan menjadi ubarampe atau pelengkap kenduri. Kenduri diawali dengan melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Dialnjurkan dengan, shalawat. Setelah itu, masyarakat secara bersama-sama akan membaca tahlil untuk para leluhur, dan ahli kubur. Pembacaan tahlil biasanya dipimpin oleh ulama desa. Pada kearifan lokal tradisi sadranan, terdapat nilai-nilai social yang diwariskan. Nilai-nilai tersebut yakni, gotong-royong, guyub, pengorbanan, dan ekonomi. 3. Upacara Tingkeban Menurut bacaan dari laman resmi Perpustakaan Provinsi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, upacara tingkeban disebut juga dengan mitoni. Mitoni berasal dari kata pitu yang artinya tujuh. Maka itu, upacara mitoni diselenggarakan setiap kandungan seorang ibu sudah berusia tujuh bulan. Upacara ini memiliki makna bahwa pendidikan seorang anak tidak hanya dimulai saat anak sudah beranjak dewasa, tapi juga saat anak masih ada di dalam kandungan ibu pada usia ke-7 bulan. Pendidikan tersebut yaitu, agar seorang ibu dapat menjaga kandungannya dengan melakukan hal-hal baik, dan menjauhi hal-hal buruk. Upacara ini dijalankan dengan, memandikan air kembang kepada sang ibu disertai dengan doa-doa sakral. Doa tersebut bertujuan agar bayi yang ada di dalam kandungan sang ibu dapat lahir dengan selamat. Biasanya siraman dilakukan oleh para sesepuh atau orang yang dituakan. Jumlah sesepuhnya ada tujuh orang. 4. Upacara Tedak Siten Upacara Tedak Siten, juga dikenal dengan upacara turun tanah. Upacara ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dari orang tua terhadap kelahiran anaknya. Upacara ini diselenggarakan saat anak berusia 7 x 35 hari. Upacar ini ingin memperkenalkan anak untuk pertama kalinya turun 29 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
ke bumi. Biasanya upacara Tedak Siten dilangsungkan pada pagi hari, sesuai hari dan tanggal kelahiran anak. Beberapa perlengkapan selama berjalannya upacara ini adalah, nasi tumpeng lengkap dengan sayur mayurnya, jenang boro-boro, dan beras kuning. Tidak hanya makanan, dalam upacara tersebut juga dilengkapi dengan barang-barang yang bermanfaat. Barang-barang tersebut seperti, buku, alat tulis, dan sebagainya. 5. Mubeng Benteng Tradisi Malam Satu Suro masih dilestarikan di pulau Jawa. Salah satu bentuk pelestariannya adalah dengan tradisi mubeng benteng. Tradisi mubeng benteng (mengelilingi benteng) alias keraton di Yogyakarta merupakan simbol dari refleksi dan introspeksi diri. Ketika mengelilingi keraton, para peserta tidak boleh mengeluarkan suara. Selain itu, peserta juga tidak boleh makan dan minum. Kegiatan mubeng benteng ini terbuka untuk umum, jadi siapa saja bisa ikut. ➢ Topik dalam kearifan lokal • Bidang prakarya : - Pengolahan - Kerajinan • Bidang seni : - Seni pertunjukan - Seni Rupa 30 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
BAB V SUB TEMA SENI PERTUNJUKAN SENDRATARI A. Pengertian sendratari Sendratari adalah kombinasi atau gabungan antara seni drama dan seni tari. Para pemain sendratari terdiri dari penari-penari yang berbakat. Rangkaian peristiwa dalam cerita diwujudkan dalam bentuk tari yang diiringi musik. B. Jenis – jenis Tema dalam sendratari Menurut Shipley, tema dapat dibedakan menjadi lima jenis tema, yaitu : 1. Tema Jasmaniah Tema jasmaniah merupakan tema yang berhubungan atau pun terfokus pada permasalahan kondisi fisik manusia. Model tema ini biasanya menyangkut beberapa hal yang ada di dalam tubuh manusia seperti molekul, jasad, perasaan, tubuh, dan zat. Beberapa contoh tema yang jasmaniah adalah mengenai perasaan cinta. 2. Tema Sosial Tema sosial merupakan tema yang berkaitan erat dengan berbagai macam hal yang berbau urusan sosial. Dalam tema ini, pengarang cerita biasanya menjelaskan berbagai macam hal yang berkaitan dengan urusan kehidupan masyarakat, interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya, permasalahan sosial, dan berbagai macam tema lainnya. 3. Tema Ketuhanan Tema Ketuhanan merupakan tema yang berkaitan erat dengan kekuasaan Tuhan yang tampak dalam setiap aktivitas manusia. Model tema ini biasanya dijabarkan oleh pengarang cerita dengan menunjukkan berbagai macam hal – hal magis yang berada di luar akal manusia seperti kejadian kiamat, keajaiban penyembuhan penyakit, dan berbagai macam tema lainnya. 4. Tema Organik Tema organik merupakan tema yang mencakup berbagai macam hal yang berhubungan erat dengan moral dasar manusia seperti hubungan antar pria dan wanita, nasihat, dan berbagai macam tema lainnya. 5. Tema Egoik Tema egoik merupakan tema yang berkaitan erat dengan sifat ego manusia. dalam tema ini, pengarang cerita biasanya menonjolkan tema dengan berbagai macam bentuk cerita seperti keserakahan atau pun ketamakan manusia. C. Langkah Langkah Menyusun sendratari Langkah Langkah Menyusun Sebuah Karya Seni Tari bukanlah pekerjaan yang sulit. Namun, dalam penyusunan karya tari diperlukan kreativitas dan keuletan. Perhatikan lLangkah Langkah Menyusun Sebuah Karya Seni Tari berikut ini: a. Menentukan tema Tema merupakan sumber pembuatan Langkah Langkah Menyusun Sebuah Karya Seni Tari. Pada uraian subbab A, kamu telah banyak mempelajari tema tari. Hal terpenting dalam pemilihan sebuah tema, yaitu tema itu harus dapat ditarikan. b. Eksplorasi gerak tari Langkah selanjutnya adalah mengeksplorasi berbagai gerak tari. Pada kegiatan ini, penata tari atau penyusun tari mencari gerak-gerak untuk dibuat menjadi gerak-gerak tari yang sesuai dengan tema tarinya. Jika karya tari yang dibuat memerlukan alat untuk melakukan gerak tari, pada saat bereksplorasi juga perlu menggunakan alat. Gerak merupakan unsur utama dalam karya tari. Jika 31 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
gerak-gerak tari hasil eksplorasi telah disusun menjadi sebuah karya tari, sebaiknya segera berlatih untuk memperagakan. Dalam berlatih memperagakan gerak tari harus memerhatikan beberapa hal berikut: 1. Sikap badan dalam melakukan gerak tari. 2. Kesesuaian gerak dengan iringan tari. 3. Penghayatan terhadap gerak yang dilakukan. D. Menyiapkan iringan tari Iringan tari merupakan unsur pendukung dalam karya tari. Namun, tari tanpa iringan bagaikan sayur tanpa garam. Oleh karena itu, iringan harus dipersiapkan sungguh-sungguh. Untuk membuat iringan tari, biasanya dibantu oleh penata iringan. Penata iringan bertugas membuat iringan tari sesuai dengan kehendak penata tari. Iringan tari harus sesuai dengan tema tari dan gerak-gerak tarinya. Berikut ini langkah-langkah membuat iringan tari: 1. Penata tari memberitahukan kepada penata iringan tentang tema tari dan gerak-gerak tari yang telah dibuatnya. 2. Penata iringan menentukan alat musik yang akan digunakan untuk mengiringi karya tari. 3. Penata iringan membuat pola iringan untuk membunyikan alat-alat musik sesuai dengan tema tari. 4. Para pemain musik untuk iringan tari berlatih membunyikan alat-alat musik. 5. Para penari dan pemain musik menggabungkan antara gerak dan iringan sampai sesuai. d. Menyiapkan pendukung-pendukung lainnya Unsur pendukung karya tari ada banyak macamnya, sebagaimana yang sudah kita bicarakan di depan. Dalam penyusunan sebuah karya tari, semua unsur pendukung tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Semuanya harus dipersiapkan secara matang sesuai dengan tema tarinya. 32 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
BAB VI SUB TEMA KERAJINAN A. PENGERTIAN GUNUNGAN WAYANGAN Pagelaran wayang baik wayang golek maupun wayang kulit selalu ditampilkan gunungan. Gambar pohon dalam kayon melambangkan pohon surga, pohon hidup, pohon hidup, pohon budi (pengetahuaan), kalpataru, (pohon penghargaan) dan merupakan bagian utama dari kekayon,yang diartikan sebagai sumber pengetahuan atau pohon pengayom. Disebut gunungan karena bentuknya seperti gunung yang berisi mitos sangkang paraning dumadi, yaitu asal mulanya kehidupan ini dan disebut juga kayon. Gunungan dalam bahasa Kawi disebut dengan meru atau mahameru artinya gunung besar Mahameru, sebagai gambaran gunung Himalaya dengan segala penghuninya. Mahameru dianggap sebagai gunung surga, kadang-kadang gunung dunia, kedua-duanya bersifat kudus. Sehubungan dengan anggapan tersebut maka mahameru mengandung berbagai unsur hidup dan unsur mati. Oleh karena itu, pada lazimnya mahameru dijadikan pusat pemujaan. Wayang gunungan merupakan lambang pusat kehidupan dan bermakna sebagai lambang pusat kehidupan dan bermakna sebagai lambang ketuhanan adapula yang menyebutkan lambang alam bagi wayang dan mempunyai makna bahwa hidup yang melalui mati atau hidup di alam fana. Gunungan (kayon) dalam wayang sadat merupakan salah satu pokok falsafah bagi wayang itu sendiri, dan merupakan baku wayang (dalam cerita wayang) atau merupakan inti dari falsafah (wayang sadat) kesenian Islam, yang mempunyai tujuan kesempurnaan hidup untuk mencapai kebahagiaan dunia-akhirat. Internalisasi nilai jiwa dan Islam dalam aspek wayang merupakan salah satu bagian yang khas dari proses perkembangan budaya di Jawa. Wayang yang merupakan suatu produk budaya manusia yang terkandung di dalamnya seni estetis. Wayang yang sahulu mempunyai fungsi sebagai tontonan kini juga berfungsi sebagai tuntunan kehidupan bagi manusia. Wayang gunungan mempunyai makna lebih jauh dan mendalam karena mengungkapkan gambaran hidup semesta (wewayang urip). Wayang dapat memberikan gambaran lakon kehidupan umat manusia dengan segala masalahnya. Dalam dunia pewayangan tersimpan nilai-nilai pandangan hidup jiwa dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan dan kesulitan hidup. Fungsi kayon (gunungan) dalam pertunjukan wayang adalah sangat penting; tanpa kayon pertunjukkan wayang tidak dapat berjalan. Kayon itu mengandung unsur keislaman yang sangat mendalam, justru di dalamnya mengandung ajaran keimanan terhadap kekuasaan Allah dalam menghidupkan segala zat hidup yang ada di langit dan bumi beserta isinya. Gunungan wayang sadat mempunyai fungsi sebagai pembuka dan penutup dalam pementasan atau berfungsi sebagai batas singget. Dalam pertunjukkan wayang sadat, wayang maupun gunungan tidak diajarkan ke kanan dan ke kiri (seperti wayang purwo, tetapi cukup 33 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
ditumpuk dalam kotak). Gunungan wayang sadat ditengahnya tergambar sebuah masjid Demak dan bertuliskan kalimat syahadat. Ciri khas dari gunungan wayang sadat yang menjadikan gunungan ini berbeda dengan gunungan wayang kulit yang lain, diantaranya Puncak dari gunungan wayang sadat yang bertulis Allah menjadi tujuan utama dari cerminan gunungan yaitu mencapai kesempurnaan hidup bahagia dunia-akhirat. Nilai yang terkandung dalam gunungan wayang sadat adalah ajaran Islam atau falsafah kehidupan Islam tentang ketauhidan dan syariat Gunungan wayang sadat memuat seni Islam yang mencerminkan falsafah kehidupan Islam yang tentang ketauhidan dan syariat dengan bentuk yang indah dan berisi ajaran yang luhur Setiap gambar mempunyai makna yang dalam terlihat dalam gunungan wayang sadat, dan masing-masing gambar mempunyai makna yang sangat dalam. Dalam Gunungan wayang sadat, terdapat gambar masjid Demak dan tulisan kalimat syahadat, yang berfungsi sebagai pembuka dan penutup pagelaran dalam pertunjukan wayang Gunungan masjid, dalam gunungan ini terdapat gambar masjid dan gambar dua gunung (tugu monas dan tugu pahlawan), mempunyai fungsi sebagai singgetan atau pembatas. Sedangkan dalam Gunungan simbul wayang, terdapat gambar flora dan fauna yang menggambarkan kehidupan manusia dan gambar bunga dengan fungsi sebagai pembatas adegan dan tiga gunungan lainnya memiliki corak lukisan yang sama dengan wayang gunungan dalam wayang kulit purwo dan mempunyai fungsi yang sama pula yaitu sebagai singgetan. Figur wayang gunungan jika dibandingkan dengan wayang yang lain adalah termasuk jenis wayang yang paling rumit, penuh sunggingan, tatahan (patahan) serta penuh dengan makna. Gagasan budaya jiwa yang tercermin dalam figur wayang gunungan adalah konsep keseimbangan. Konsep keseimbangan ini bagi masyarakat Jawa adalah sangat penting dan tercermin aktivitas kebudayaan. Dan semua lukisan itu sebagai cerminan gagasan keseimbangan hidup. Inti falsafah gunungan dalam wayang sadat ini adalah kesenian Islam dengan ciri khas yang berbeda, salah satunya lama pertunjukan (pementasan), corak lukisan pada gunungan dan lain sebagainya. Gelarnya gunungan wayang sadat ini adalah seni Islam yang indah, isinya berupa ajaran luhur dan bertujuan untuk mencapai kesempurnaan hidup. Referensi Makalah® Kepustakaan: Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jiwa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000). Effendi Zarkasi, Unsur-unsur Islam dalam Pewayangan, (Solo: Mardikunto, 1977). Suwaji Bastomi, Gelis Kenal Wayang, (Semarang: IKIP Semarang Press, 1992). B. SEJARAH GUNUNGAN DALAM WAYANG KULIT Melansir laman jbbudaya.jogjabelajar.org, Gunungan merupakan perangkat dalam kesenian wayang kulit yang berwujud menyerupai gunung. Baca juga: Mengenal Wayang Golek, dari Sejarah hingga Dalang Asep Sunandar Sunarya Gunungan dikenal juga dengan istilah kayon yang berasal dari mata kayu karena menggambarkan pohon hayat (pohon kehidupan) beserta hewan penghuni hutan. Hal serupa dilakukan dalang setelah pergelaran wayang berakhir di mana gunungan akan ditancapkan lagi tegak lurus di debog atas tepat di tengah kelir. Hal ini kemudian dikenal dengan istilah tancep kayon yang menandai berakhirnya pertunjukan wayang tersebut. 34 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
C. FILOSOFI BENTUK DAN ORNAMEN GUNUNGAN Melansir laman kebumenkab.go.id, filosofi gunungan ada pada bentuk dan ornamennya. Bentuk kerucut lancip ke atas pada gunungan melambangkan kehidupan manusia yang makin tua harus semakin dekat kepada pencipta. Ornamen gapura dan dua penjaga (Cingkoro Bolo dan Bolo Upoto) melambangkan baik-buruknya hati manusia. Sementara tameng dan godho yang dipegang oleh kedua sosok penjaga tersebut melambangkan penjaga alam dan terang. Ornamen pohon yang tumbuh menjalar dari bawah hingga puncak gunungan melambangkan sifat manusia yang tumbuh dan bergerak maju (dinamis) sehingga bermanfaat bagi alam semesta. Pohon juga melambangkan adanya perlindungan dari Tuhan kepada manusia. Rumah joglo (gapuran) melambangkan sebuah negara yang didalamnya memiliki kehidupan aman, tentram, dan bahagia. Selain itu terdapat ornamen binatang seperti burung, banteng, kera dan harimau yang juga memiliki filosofi tersendiri. Burung yang melambangkan keindahan, banteng yang melambangkan kekuatan dan keuletan, kera sebagai lambang memilih baik dan buruk dan harimau sebagai labang sosok pemimpin. D. DUA JENIS GUNUNGAN DAN FUNGSINYA Gunungan dibedakan menjadi dua jenis berdasar ornamennya, yaitu kayon blumbangan dan kayon gapuran. Kayon blumbangan adalah gunungan yang memiliki ornamen blumbang atau kolam lengkap dengan air dan ikan serta beberapa wujud hewan lainnya. Kayon gapuran adalah gunungan dengan ornamen gapura yang dijaga oleh dua sosok raksasa di kanan dan kiri gapura. Ornamen gunungan umumnya disungging atau digambar dengan dua sisi berbeda. Salah satu sisi akan disungging mengikuti tatahannya, sementara sisi lain akan diberi gambar sosok banaspati. Gunungan sendiri memiliki beberapa fungsi antara lain untuk tanda mulai dan selesainya pagelaran, pembuka dan penutup adegan, menggambarkan hal yang tidak ada bentuk wayangnya, dan lain sebagainya. E. MAKNA GUNUNGAN WAYANGAN Menukil laman budaya.jogjabelajar.org, Gunungan Wayang adalah perangkat dalam kesenian wayang kulit yang berwujud menyerupai gunung. Gunungan dikenal dengan istilah kayon yang berasal dari mata kayu karena menggambarkan pohon kehidupan (pohon hayat) beserta hewan penghuni hutan. Gunungan Wayang ini pertama kali diciptakan pada tahun 1443 Caka, yaitu tahun dengan sengkalan berbunyi Geni Dadi Sucining Jagad. Di masa lalu, pertunjukan wayang hanya menggunakan satu Gunungan dan hingga kini masih dilestarikan Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat hingga kini. Gunungan akan menjadi pembuka dan penutup pertunjukan wayang. Gunungan akan ditancapkan tegak lurus sebelum dimulai dan ketika pertunjukan selesai. Hal ini dikenal dengan istilah tancep kayon. Wayang Gunungan bukan sekadar pelengkap, namun sangat sarat makna. Gunungan biasanya dilengkapi dengan beberapa gambar yang mewakili alam semesta. 1. Rumah atau balai dengan lantai bertingkat tiga dan pada bagian daun pintu rumah dihiasi lukisan Kamajaya berhadapan dengan Dewi Ratih. 2. Dua raksasa berhadapan dengan membawa senjata pedang atau gada lengkap dengan tamengnya. 3. Dua naga bersayap. 4. Hutan belantara dengan satwa-satwa. 35 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
5. Harimau berhadapan dengan banteng. 6. Pohon besar di tengah hutan yang dililit seekor ular. 7. Kepala makara di tengah pohon. 8. Dua ekor kera dan lutung di atas ranting. 9. Dua ekor ayam alas bertengger di atas cabang pohon. Gunungan pada wayang kulit berbentuk kerucut atau lancip ke atas yang melambangkan kehidupan manusia. Semakin tinggi ilmu dan semakin tua usia, manusia harus semakin mengerucut (golong gilig) manunggaling Jiwa, Rasa, Cipta, Karsa, dan Karya dalam kehidupan kita (semakin dekat dengan Sang Pencipta). Sementara gapura dan dua penjaga pada Gunungan Wayang Kulit (Cingkoro Bolo dan Bolo Upoto) melambangkan hati manusia baik dan buruk. Tameng dan godho yang dipegang oleh raksasa tersebut diterjemahkan sebagai penjaga alam dan terang. Pohon besar yang tumbuh menjalar ke seluruh badan dan puncak gunungan melambangkan segala budidaya dan perilaku manusia harus tumbuh dan bergerak maju alias dinamis, sehingga bermanfaat dan mewarnai dunia dan alam semesta. Pohon besar yang ada pada gunungan juga melambangkan Tuhan memberi pengayoman dan perlindungan bagi manusia yang hidup di dunia ini. Sementara burung melambangkan manusia harus membuat dunia serta alam semesta menjadi indah dalam spiritual dan material. Banteng pada gunungan melambangkan manusia harus kuat, lincah, ulet, dan tangguh. Sedangkan kera melambangkan sifat manusia harus seperti kera mampu memilih dan memilah baik-buruk, manis-pahit, karena kera mampu memilih buah yang baik, matang dan manis. Harapannya, manusia dapat memilih perbuatan baik dan buruk. Harimau di alam liar digambarkan sebagai raja hutan. Tetapi pada gunungan harimau dilambangkan manusia harus menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, harus mampu bertindak bijaksana, dan mampu mengendalikan nafsu serta hati nurani. Tujuannya agar menjadi manusia yang lebih baik, yang pada akhirnya bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Sementara rumah joglo atau gapuran melambangkan suatu rumah atau Negara yang didalamnya memiliki kehidupan aman, tenteram, dan bahagia. Bentuk gunungan menggambarkan bahwa semakin tinggi ilmu dan semakin tua usia, manusia harus semakin mengerucut atau semakin mendekat ke Sang Pencipta.Motif surjan pada label halal juga mengandung makna filosofis. Bagian leher surjan memiliki kancing tiga pasang atau enam biji, yang menggambarkan rukun iman, dan motif lurik sejajar satu sama lain mengandung makna sebagai pemberi batas yang jelas. Warna utama dan sekunderlabel halal Indonesia pun punya makna. \"Warna (utama) ungu merepresentasikan makna keimanan, kesatuan lahir batin, dan daya imajinasi. Sedangkan warna sekundernya adalah hijau toska, yang mewakili makna kebijaksanaan, stabilitas, dan ketenangan,\" tutur Aqil. KOSTUM BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH Termasuk Aksesori: Kepala maskot, tubuh maskot, SEPATU atau penutup sepatu, sarung tangan, (ekor), dll. Bahan Material: Head: EPE (bukan karton). Penglihatan sempurna, ringan, berpori & dapat dicuci di dalam Kain luar: Beludru rambut pendek Bahan Lapisan: Poliester TAFFETA 36 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
Mengisi bahan dalam tubuh kostum maskot: Katun Polipropilena Berat badan: Berat Total Kostum (termasuk kepala) biasanya hanya 4-6 lbs Paket: Masukkan ke dalam kotak tebal, ukuran: 55x55x55CM 8O x 60x50 Petunjuk pembersihan: Bersihkan dengan lap basah. Untuk pembersihan lengkap setelah kostum telah dipakai beberapa kali, kami sarankan untuk membawa kostum ke drycleaner 1. Kostum bulu cuci tangan atau menggunakan mesin komersial pemuatan depan besar. Gunakan air dingin dan deterjen ringan. Gantungkan dalam kondisi kering; Jangan gunakan panas untuk mengeringkan! 2. Kostum busa cuci tangan atau kering-bersih saja. Hang dry only 3. Kepala menggunakan Pembersih Busa semprot jok atau deterjen ringan dan spons basah. Jangan rendam atau rendam dalam air Karakteristik: 1. Bahan kepala: bahan kepala adalah EPE; Itu berbeda dari bahan karton yang sekarang sebagian besar kepala kostum dibuat dengan. . Cahaya: bahan kepala adalah EPE, sehingga membuat kepala lebih ringan dari bahan karton, dan pengguna dapat memakainya untuk waktu yang lama, dan tidak merasa sangat lelah, dan tidak menambah tekanan bahu 3. Bahan kepala: Kami menggunakan mesin canggih untuk memproduksi kepala EPE, lebih kuat dan cukup sulit untuk menghindari patah ketika bertemu pemogokan secara tidak sengaja, kepala pengguna dapat dilindungi dengan sangat baik, tetapi kepala kertas karton diproduksi oleh potongan kertas karton, mereka biasanya diglutinasi oleh gluewater yang buruk, Kepala jenis ini tidak terlalu kuat, dan sangat mudah berubah menjadi fragmen, pada saat yang sama, gluewater membahayakan pengguna, itu membuat pengguna sakit kepala atau merasa tidak bahagia. 4. Nafas dan penglihatan: pengguna dapat bernapas dengan sangat baik ketika dia memakainya, ada lubang mata dan mulut dan area leher, mereka memiliki cukup ventilasi untuk pengguna, pengguna memiliki visi yang baik dari kepala mata atau mulut. 5. Mata bersih: Ada plastik bersih pada mata kostum, mereka dapat mencegah debu atau orang lain ke mata pengguna. 6. Tahan air: Bahan EPE dapat tahan air 7. Kostum kain: Kami memilih kain berkualitas tinggi . Bahan katun polypropylene di tengah kain luar dan dalam, itu membuat kostum lembut dan verisimilitude. 37 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
BAKUL HIAS Keranjang atau bakul (Bahasa Indonesia)/boboko (Sunda), adalah sebuah wadah yang biasanya dibuat dari serat-serat tanaman yang dianyam. Pada bagian atasnya bisa terbuka atau bisa ditutup dengan sebuah penutup. FUNGSI BAKUL Kegunaan : bakul digunakan untuk tempat nasi, menyimpan beras, dan wadah sayur-sayuran sebagai perabotan rumah tangga.Bakul disini berfungsi untuk tempat bawang merah dan bawang putih. CAPING HIAS Caping adalah sejenis topi berbentuk kerucut yang umumnya terbuat dari anyaman bambu. Caping ada juga yang terbuat dari daun pandan, atau sejenis rumputan,ataupun daun kelapa. Sebuah caping umumya dilengkapi dengan tali dagu yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan caping. Selain bentuknya yang khas caping juga mempunyai kelebihan dibanding topi yaitu dapat menahan panas terik matahari saat cuaca panas (kepala dan leher) dan dapat menghalau air hujan saat cuaca hujan. Caping biasanya dipakai oleh para petani ketika sedang bekerja di sawah, meskipun ada juga dari golongan bukan petani yang menggunakannya, bahkan ada juga yang menggunakannya sebagai lampion / cup lampu. Caping sudah masuk menjadi bagian kebudayaan masyarakat jawa, caping dibuat menjadi nama sebuah lagu jawa berjudul Caping gunung. Caping ternyata tidak hanya digunakan di Indonesia tetapi juga digunakan di Asia Tenggara serta Asia Timur terutama di Tiongkok, Korea, Vietnam, Jepang dan sebagainya. Alat dan Bahan Projek Kerajinan a. Seni Kerajinan (Wayangan) Berikut ini adalah beberapa bahan dan peralatan yang biasa digunakan dalam pembuatan Wayang 1. Bahan dasar / Busa hati Spon Eva memiliki berbagai nama yang dikenal seperti Spon Ati, Busa Ati atau Eva Mat. Walaupun dipanggil berbeda-beda, produk Spon Eva tetap sama dan memiliki berbagai macam kegunaan. Spon Eva memiliki berbagai macam warna yang menarik seperti merah, pink, kuning, dll. Ada 3 warna standart hitam, putih dan cream, dan 5 warna lainnya merah, biru, kuning, orange, hijau dan biru. Warna warna ini sangat popular untuk diolah menjadi 38 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
bahan lain seperti sendal, karpet, mainan dll. Salah satunya adalah pembuatan dasar gunungan atau wayangan. 2. Pylox (water based/oil based) Pylox adalah cat semprot legendaris berkualitas tinggi terbuat dari bahan modifikasi akrilik. Memiliki keunggulan cepat kering, hasil yang keras, daya lekat sangat kuat dan daya kilap tinggi. Tersedia ratusan pilihan warna untuk berbagai macam hasil akhir, anti-pudar serta tahan lama. Pada pembuatan gunungan atau wayangan untuk memadupadankan warna warna lain. 3. Gunting Gunting kain adalah peralatan penting yang diperlukan untuk menjahit atau membuat pakaian. Sesuai dengan namanya, gunting kain hanya boleh digunakan untuk menggunting kain agar ketajamannya bertahan lama. 3. Pensil Pensil atau potlot adalah suatu alat tulis dan lukis yang awalnya terbuat dari grafit murni. Penulisan dilakukan dengan menggoreskan grafit tersebut ke atas media. Namun, grafit murni cenderung mudah patah, terlalu lembut, memberikan efek kotor saat media bergesekan dengan tangan, dan mengotori tangan saat dipegang. Pensil berfungsi untuk membuat pola dalam pembuatan gunungan atau wayangan. 4. Bambu Bambu adalah tumbuhan berumpun yang memiliki akar serabut, memiliki batang bulat berongga, keras, tinggi, dan beruas yang biasanya digunakan sebagai bahan bangunan dan beberapa perabotan rumah tangga seperti kursi, mebel, dan sebagainya. Disini bamboo berfungsi untuk penyangga di bahan dasar busa hati dalam pembutan gunungan atau wayangan. b. Kerajinan ( Batik) Alat dan Bahan Kerajinan/properti ▪ Wakul untuk wadah bawang merah dan bawang putih ▪ Bola besar plastik sebagai bawang merah ▪ Bola kecil plastik sebagai bawang putih ▪ Kertas pilus warna merah ▪ Kertas pilus warna putih ▪ Lem kayu atau lem kertas ▪ Kain ▪ Sampur ▪ Pacul ▪ Arit ▪ Gunting ▪ Pisau atau kater 39 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
BAB VII SUB TEMA PENGOLAHAN BAHAN MAKANAN A. MEMBUAT GARNISH Kata garnish berasal dari Bahasa Perancis yang artinya hiasan hidangan. Garnish pada suatu hidangan adalah untuk memberi daya tarik serta keindahan pada suatu hidangan tersebut. Pengertian Garnish Garnish adalah hiasan yang digunakan untuk makanan maupun minuman yang umumnya bisa dimakan dan dibuat sedemikian rupa sehingga menunjang penampilan suatu hidangan, sekaligus menggugah selera makan seseorang. Syarat-syarat : 1. Bahan yang dipakai harus bahan yang segar, dapat dimakan. Tidak berulat dan bersih. 2. Harus mengetahui jenis makanan yang akan dihias, sehingga bahan yang akan dipakai sesuai bahan yang akan dimasak. 3. Penggunaan warna yang mencolok dan menarik 4. Alat-alat yang digunakan sesuai dengan kebutuhan agar hasilnya bagus dan rapi, indah, dan mempesona 5. 5. Besar hiasan dan hidangan yang akan dihias harus seimbang dengan besar ruangan dan tahu persis dimana hiasan itu akan diletakkan. 6. Makanan harus kelihatan menarik dan tekstur lebih baik 7. Memberi variasi makanan yang memang, mempunyai warna yang kurang menarik agar lebih terlihat menarik Fungsi – Fungsi Garnish 1. Agar makanan terlihat menarik Hal ini adalah fungsi garnish yang utama, karena jika makanan tidak menarik akan menimbulkan rasa malas untuk memakan. 2. Membangkitkan selera makan seseorang yang memakan. 3. Menambah Rasa & Aroma yang Lezat. Jenis- jenis Garnish 1. Simple Garnish, adalah garnish yang terdiri dari satu bahan atau lebih, biasanya terbuat dari sayur- sayuran, cereal atau makanan-makanan yang sudah jadi, seperti crouton, bread, tart, dan sebagainya. 2. Composite Garnish, adalah garnish yang terdiri dari bermacam-macam bahan sebagai hiasan yang sesuai dengan makanan dasar. Bahan-bahan tersebut harus mempunyai perpaduan rasa dan aroma dengan makanan pokok atau bahan satu dengan yang lainnya. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat garnish 1. Bahan Pangan a. Buah-buahan : tomat, apel, alpukat, anggur, jeruk, strawberry, ketimun, begkuang, labu, cherry, cabai merah, cabai hijau, b. Sayuran : wortel, selada, sawi putih, lobak, bawang bombay, kol c. Daun-daun : parsley, seledri, kemang, daun mint 40 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
2. Bahan Pangan tidak dapat dimakan Elmen in i termasuk dalam bahan pangan, tetapi tidak sewajarnya jika dkonsumsi, Biasanya elmen ini merupakan bahan pemberi rasa, aroma atau warna seperti daun pandan, batang kayu manis, sere/seraii, kayu secang dll 3. Bagian dari bahan pangan tidak dapat dimakan Elemen yang dimaksud adalah bagian pangan seperti daun nanas, daun pisang, kulit pepaya, kulit semangka, dll Sebelum membuat garnish, sangat penting memperhatikan dan mengetaui pemilihan bahan dan alat yang tepat Dalam memilih bahan seharusnya : 1. Piihlah bahan yang masih segar 2. Tidak busuk/layu 3. Tidak terlalu tua 4. Memiliki warna yang cerah dan tidak pucat 5. Pada dasarnya memiliki benttuk yang mudah dibentuk 6. Tidak berbau menyengat dan memiliki bau yang kurang sedap dll Peralatan yang digunakan : 1. Pisau atau gunting tidak berkarat Bahan: Sayuran segar Buah-buahan segar Daun-daunan yang segar dan tidak layu Memiliki warna yang cerah Memiliki tekstur padat (keras dan tidak lembek) Serta tidak memiliki bau yang menyengat Perhatikan : semua bahan yang akan digunakan harus selalu dalam kedaan segar, bersih, dan masih baru Alat Pemotong : Pisau tajam Pisau ukir Gunting Alat perekat/penyanggah : Jarum pentul, untuk menancapkan dan melekatkan hiasan satu dengan hiasan lainnya Tooth pick, sama dengan jarum Alat penunjang : Taplak plastik/koran, untuk mengalasi meja agar tidak kotor atau basah 41 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
Semprotan, untuk menyemprot hiasan yang berukuran besar dengan air dingin apabila hiasan itu tidak bisa direndam dalam baskom Cutting board/telenan Tempat sampah Kesiapan kerja: Celemek / epron Alat dan bahan Tertib kerja Kerapihan Ketelitian Kehati-hatian Memilih bentuk, warna dan tekstur garnish harus disesuaikan dengan jenis hidangan yang akan digarnish, agar tidak meruak penampilan serta rasa yang diberikan “garnish” tersebut. Sebelum membuat garnish, kita harus memilih dn memakai bahan yang segar dan dala keadaan yang baik, agar kita dpat mengolahnya denganmudah dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama. Setelah membuat grnish yang beraal dari sayuran sebaiknya direndam beberapa saat dalam air es, yakni bertujuan agar uiran yang telah kita buat/bentuk akan merekah dan mekar, serta daat membuat warna hiasan itu menjadi lebih segar dan tampak hidup. Macam – macam garnish serta cara membuatnya : 1. Bunga mawar dari tomat a. Ambil sebuah tomat ukuran sedang dan kupas kulitnya tipis-tipis secara melingkar menggunakan pisau tajam. Kupaslah sampai panjang atau habis, jangan sampai putus b. Gulung potongan kulit tomat sambil dibentuk 42 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
2. Teratai d. Buang kulit tomat bagian atas, lalu a. Siapkan tomat merah segar, buat ulangi langkah kedua untuk helaian sayatan-sayatan berbentuk segitiga, mahkota bunga yang lain kira-kira setinggi 2/3 dari tinggi tomat e. Rapikan bentuknya hingga tampak seperti bunga teratai, lalu rendam dalam air dingin hingga mekar b. Buka salah satu sayatan agar nantinya mahkota bunga tampak mekar c. Buat sayatan pada helaian mahkota f. Penerapan dapat digunakan sebagai bunga itu, sejajar dengan sisi-sisi hiasan pada hidangan lau samping segitiga 43 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
3. Ceplok piring dari wortel b. Runcingkan bagian ujungnya a. Kupas wortel hingga bersih c. Buat serutan tipi melingkar dari bagian pucuk, d . Gulung serutan tersebut hingga membentuk kelopak bunga putaran sepanjang mungkin, kurang lebih 3-4 kali e.Tata pada media yang telah disediakan 4. Mawar dari sawi sendok b. Dimulai dari bagian luar a. Ambil sawi, potong dan sisakan kelopak bunga bentuklah sepanjang 4 cm dari pangkalnya 44 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
c. Potong melengkung tiap helainya menyerupai d. Jika bagian tengah terlalu banyak himpitan bisa dikurangi dengan bunga mawar memotongnya e. Rapikan dan garnish siap digunakan 5. Mawar dari timun a. Potong timun, buang pangkal yang keras. Gunakan pisau tajam untuk memotong timun. Irisan harus tipis, cukup tipis sehingga bisa digulung. b. Setelah tumpukan sampai ujung talenan, kemudian digulung mulai dari potongan pertama. Terus gulung sampai terbentuk gulunga kecil. Kaau timun pecah saat menggulung artinya potongan kurang tipis. 45 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
c. Setelah semua tergulung, ambil pisau untuk memotong gulungan timun tepat ditengah. 6. Kipas dari timun b. Potong menyerong salah a. Cuci mentimun hingga bersih, lalu belah ujungnya satu memanjang menjadi dua bagian c. Sayat tipis-tipis menyerong, namun jangan d. Lipat ke arah dalam lembaran sampai mentimun kedua, keempat, keenam irisan terputus. Setelah diperoleh ukuran lebar kipas yang diinginkan, sayat hingga putus e. Tata dua kipas supaya menjadi kipas kembar dan padukan engan hiasan lain yang sesuai. 46 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
7. Timun herbera b. Dengan sendirinya mentimun akan a. Buat sayatan dengan gerakan zigzag terpisah menjadi dua. Ambil potongan Melingkari mentimun. Tusukan pisau agak bagian bawah c. Sayat – sayat tipis kearah bawah setiap segitiga d. Buat sayatan segitiga pada kulitnya, yang terbentuk. Ini adalah helaian mahkota bunga lalu dorong kearah dalam.Dengan demikian, bagian terluar ini tampak mekar e. Tata herbera sebagai hiasan, padukan dengan hiasan lain yang sesuai 47 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
8. Dari cabai a. Pilih cabe merah yang besar dan panjang b. Biarkan tangkainya c. Potong menjadi dua bagian yaitu dengan memotong 1/3 bagian dan menyisakn ¾ bagian d. Belah kulit cabe ari bawah sampai keatas jangan sampai putus dengan menggunakan pisau ataupun gunting Hati-hati dalam membelah maupun menggunting. Pastikan jangan sampai menyenggol atau memotong biji cbe e. Ulangi dalam membelah seperti cara diatas sampai membentuk bunga dan biji cabe dibiarkan utuh 9. Honje dari cabai a. Ambil sebuah cabai merah teropong. Dengan menggunakan fillet knife, buat keratan- keratan ke arah bawah hingga terbentuk lingkungan melingkari cabai 48 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
b. Buat lagi keratan-keratan di atas keratan pertama. c. Ulangi langkah pertama dan kedua Lakukan sedemikian hingga posisi lengkungan hingga mencapai ujung cabai Kedua ini berada di antara lengkungan pertama d. Rendam dengan air dingin sekitar 20 menit e. Angkat, kemudian gunakan sebagai hiasan hingga mekar dan menyerupai bunga honje 10. Kuas dari daun bawang a. Potong daun bawang sepanjang 6 cm, kemudian iris-iris ¾ bagiannya saja b. Rendam dalam air es dan daun bawang akan mekar dengan sendirinya 49 | M o d u l P 5 K e a r i f a n L o k a l
Search