Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Kucinta Negei Ini Kutulis Puisi

Kucinta Negei Ini Kutulis Puisi

Published by One Finger, 2022-08-26 06:35:22

Description: Kumpulan Seniman hebat berkarya dalam rangka 77 tahun Indonesia Merdeka. Kucinta Negei Ini Kutulis Puisi

Keywords: QR Art puisi

Search

Read the Text Version

81 / Kris Maryono Negeri Naik-Naik Puncak Gunung Negeriku terhampar ribuan gunung Puncak gunung potensi Obyek penuh pesona Dambaan insan pendaki Bak pendaki sembako terus naik Berbaris lurus dengan pajak Berencana menyusul BBM Dari pertalite beralih ke Pertamax Naik-naik ke puncak gunung Pendaki berupaya keras hingga puncak Meski penuh aneka kendala Seiring belum tuntasnya pendemi Covid Kegiatan kalangan masyarakat Kembali harus terbatas dan berjaga Naik -naik ke puncak gunung Gunungnya tinggi sekali Setinggi harga bahan pokok Yang melambung tak pernah turun Membuat pendaki meradang Berbaur kepuasan saat di puncak

82 / Melintas padas ilalang Ketika harus turun Darjo, Awal Agustus 2022

83 / ROK I M DAK A S Alumnus Akademi Wartawan Surabaya (AWS). Berprofesi sebagai wartawan. Aktivitas yang tercatat; rentang tahun 1975 - 2000: Aktor dan sutradara teater sanggar Bengkel Muda Surabaya. Pem- eran filem-filem pendek. Pada tahun yang sama juga aktif meng- geluti senirupa, event organizer serta mengajar ekstra kurikuler kesenian di SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi di Surabaya. Rentang tahun 1982 - 2020: Pernah bekerja di harian Radar Kota, majalah Liberty, harian Suara Indonesia, harian Surabaya Post, tab-

84 / loid Nyata, SKM Surabaya Minggu, harian Bhirawa, tabloid Cem- paka, KabarIndonesia.com, LensaIndonesia.com, tabloid Hobiku, tabloid Auto Repair, tabloid Kukilo, majalah Tren Hobi, tabloid BnR, majalah BnR, majalah Bende, majalah Alur, majalah Kirana, tabloid Deep Smile, tabloid Pasar, tabloid Koran Rungkut, tabloid Koran Bubutan, tabloid Indiependen, tabloid Jembatan Merah, Ini- lahmojokerto.com, Wefreeline.com. Berperan sebagai karikaturis, wartawan, redaktur, redaktur pelak- sana maupun pemimpin redaksi dan pemimpin umum. Sekarang bera­ lamat di Dusun Termas RT 01 RW 05, Jekek, Baron, Nganjuk. Sekaligus juga beralamat di Balongsari Madya 7F/5 Kel. Karang Poh, Tandes, Surabaya. Kontak Person : 081326513241. Asis- ten: 081217889845 (Kikin). Surat Elektronik: rokimdakas0756@ gmail.com. •

85 / Rokimdakas Kesaksian Kami tetap di sini Mencuci sepatu Menggelar kertas Menulis tentang republik Tentang pengorbanan, Pengkhianatan agama Bendera bertiang angin Pasar yang tak pernah tidur Dan jalanan berkeringat Dari dulu Kami selalu Menjaga batas Bersembunyi Menjaga mata Mengikat hati Menepis silau Bersama waktu Menurut perintah Menjaga marwah Agar tetap gagah Di pangkuan negara

86 / Kami penyaksi Pembawa mimpi Silih ganti berganti Di banyak tangan Banyak cerita Tak pernah selesai 2 Mei 2022

87 / Rokimdakas Cemburu orang orang membakar dupa hinggap di pucuk batu, kurma, berenang di lautan pasir menjumput cintamu di sini kunikmati kesendirian menimang sunyi mendendang nyanyian panjang tentang seraut wajah teduh izinkan aku cemburu menatap orang orang menari bertelanjang dada bergelang doa mengitari pertapaan agung mengharap cintamu di sini kugelar tikar dengan sepotong ranting kulukis tanah yang merekah di hamparan bara cinta nan tak pernah padam

88 / meski tak bersayap cintaku menggapai langit demi Dikau semata 08 Mei 2019

89 / Rokimdakas Pesta Sesaji Tolak Balak Wahai Tuhanku yang menyatu dalam diri hamba haram mengeluh atas bencana yang menggerus semuanya Hamba bersyukur Engkau beri hikmah hati dan pikiran menjadi tajam membaca bahwa ada rahasia besar yang akan mengubah seluruh kehidupan di bumi atas segala kerapuhan ilmu dan ajaran agama yang mengudar mimpi kosong Wahai Tuhanku Hamba bersaksi bahwa banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkan telah terjadi betapa orang-orang takut pada kematian Belum menjanjikan bahwa doa segala doa bisa menyelamatkan dari ancaman corona ada beribu keranda berjajar di tanah terbuka

90 / Wahai Tuhanku Tidak seperti bencana yang berlalu pemimpin membuka peti pandora pabila tak dibuka rakyat binasa bila dibuka perampok pesta pora beratus trilyun disiapkan sebagai sesaji menolak balak yang meraja lela Wahai Tuhanku Sebagaimana Engkau ajarkan bahwa kehendak baik tidak selalu selaras realita disiapkan tata cara menggelar ruwatan orang-orang berdasi mengambil posisi leluasa gunakan mahar sesaji tolak balak tanpa perlu takut terdorong ke pintu penjara Seperti tukang pande mengasah belati ini sarana yang disiapkan secara resmi yang berhati busuk akan menjadi maling ketika jutaan orang pontang panting mencari nasib yang tersesat di tengah belukar

91 / Wahai Tuhanku Selama Engkau menyatu dalam diri hamba tersenyum melihat semuanya orang yang tertawa dalam pesta sesaji kelak akan memetik balak sejahat balak Jagalah hamba di zaman gila sebagaimana terjaganya yang Kau cinta

92 / Rokimdakas Ibu Siapakah Ibu? Dia yg menahan lapar saat si buah hati kelaparan Dia berikan air susu setetes demi setetes kecintaan Siapakah Ibu? Dia yang mewarisi beratus sifat Tuhan Menjadikan Dia nyata, menyatu, hidup Siapakah Ibu? Dia Allah kita . 22 Desember 2019

93 / Rokimdakas Kita Pewaris Syah Indonesia Wahai putra putri pewaris negeri Ribuan tahun tanah yang kita pijak ini Para leluhur menyiapkan impian agung Memagari tanah, laut, angin dan angkasa Semuanya disiapkan bagi penerus cita-cita Hanya bagi penerus sejati, bukan yang lain Bukan orang yang menjajahkan agama Namun adab perilakunya menyimpang Yang meruntuhkan keagungan ajaran Yang merusak kerukunan bersuku-suku Yang mengancam pengusung keyakinan Mengoyak kebhinekaan Indonesia tercinta Kita adalah pewaris syah Indonesia Darah, nyawa air mata merabuk tanah suci ini Menjaga kibaran merah putih gula kelapa Menjaga gelora jiwa demi kebesaran berkibar Di tengah gelombang peradaban Kita melihat kaum bedebah beranak pinak

94 / Durhaka pada rahim pertiwi yang melahirkan Jubahnya menutupi kematian akal pikiran Penganut dogma sesat tanpa merasa sesat Menyeru asma Tuhan seraya menghunus pedang Kita bangsa sabar yang bisa berubah bar-bar Bila kaum bedebah terus gerilya merusak nilai Yang beribu tahun merabuk kesuburan tanah ini Maka, Kami pewaris syah Indonesia berseru Jangan sekali-kali kalian menjajah berkedok agama Kalian pasti akan menjadi pelengkap sejarah kelam Seperti musnahnya kaum dungu sebelum-sebelummu 21 Juni 2021 (Hadiah untuk Bung Karno & Presiden Joko Widodo)

95 / Sasetya Wil u tama Lahir di Surabaya, 31 Agustus 1963. Alumni Akademi Wartawan Surabaya (sekarang Stikosa AWS) ini sudah aktif menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa sejak di bangku kuliah, baik berupa cerpen, puisi, cerita anak dan jurnalistik. Karya cerpennya dalam bahasa Indonesia dimuat di Harian Kompas, Jawa Pos, Surabaya Post, Surya, Majalah sastra Horison, Gadis, Kartini, Famili, Liberty, dan sebagainya. Salah satu karya cerpennya dimuat dalam buku Antologi Cerpen “Limau Walikota” penerbit Surabaya Post,

96 / 1992. Namanya juga tercatat dalam “Buku Pintar Sastra Indonesia” (Pamusuk Eneste, Penerbit Kompas 2001). Karyanya dalam ba­ hasa Jawa berupa cerita cekak dan geguritan, dimuat di Majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat. Namanya juga tercatat dalam buku “Antologi Biografi Pengarang Sastra Jawa Modern” terbitan Balai Bahasa Yogyakarta, 2004. Selain menulis cerpen, juga me­ nu­lis skenario film/TV jenis dokumenter dan drama. Beberapa kary­ anya baik berupa sinetron serial dan lepas antara lain: Serial “Jejak-Jejak” (TVRI Surabaya), “Hati Yang Ungu” (sinetron 13 eps, SCTV), “Kepak Sang Merpati” (15 eps, Indosiar), Serial Komedi “Senggol Sana Sini” (6 eps, Global TV), Komedi stripping 100 eps “Kopi Darat FM 103” (SCTV) dan masih banyak lagi. Selain cukup produktif dalam dunia sastra, ia juga aktif dalam seni peran/ teater. Beberapa kali terlibat sebagai aktor utama, antara lain : Film “Soerabaia ‘45” (arahan sutradara Imam Tantowi), “Ketika Dia Pergi” (arahan Buce Malawau), sinetron “Pada Suatu Hari” (SCTV), “Jalan Hari Esok” (TVRI) dan sebagainya. Sasetya Wilutama mengawali karir sebagai wartawan/redaktur Majalah Penyebar Semangat di Surabaya selama 10 tahun, sambil menulis artikel berbahasa Indonesia. Tahun 1993 alih profesi sebagai Produser Creatif di SCTV selama 18 tahun. Pensiun dari

97 / SCTV, mengelola beberapa TV lokal, antara lain : Arek TV Surabaya, B-One TV Bojonegoro, Matrix TV Digital Jakarta. Kini ia pulang kampung dan bekerja di almamaternya, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS) sebagai tenaga pendidikan di Divisi Marketing & Public Relation. •

98 / Sasetya Wilutama Ajarkan Pada Kami Kepada bapak ibu di sana di atas langit yang tak terjangkau oleh kami yang sering kami lihat di siaran tipi Ajarkan pada kami cara mencintai negeri ajarkan pada kami adab dan santun berdoa tulus untuk pemimpin kami, di tengah himpitan ekonomi, harga harga melambung tinggi Jangan pameri kami dengan segala kenyamanan yang bapak dapatkan, sementara kami hanya bisa memandang bahkan untuk membayangkan pun kami takut Jangan pertontonkan kami cacian, kebencian, dan umpatan seperti yang kami baca di banyak media, jangan pamerkan kemewahan, permata berkilauan, makanan aneka menu yang tak pernah kami rasakan Yang terhormat bapak ibu di atas sana ajarkan pada kami menyanyikan lagu kebangsaan yang benar menghormat bendera penuh penghayatan

99 / menghormati pahlawan negeri yang korbankan darah dan nyawa meraih kemerdekaan Ajarkan pada kami Tolong

100 / Sasetya Wilutama Rumah Indonesia Rumahku adalah rumah kecil sederhana dibangun dengan keringat dan cinta rumahku hijau oleh rimbun tanaman sejuk dan damai tanpa polesan keluarga kami tiap hari saling menyapa saling bercanda melantun doa, untuk kejayaan negeri tercinta Saat kami lahir, kami sudah Indonesia Jika negeri kami rapuh, rapuhlah kami semua Jika negeri kami runtuh, runtuhlah kami semua Rumahku kecil dan sederhana Ibu mengajari kami sopan santun dan adab bicara saling gotong royong membersihkan rumah, mencuci piring dan gelas menjauhkan rasa dengki dan iri hati sesama saudara Bapak mengajari kami menjadi Indonesia dalam lingkungan keluarga mengajari kami mengaji, tepo sliro saling menghormati bersatu menjaga harmoni tetaplah jadi orang Indonesia nak dimanapun kamu berada

101 / demikian kata bapak di dalam rumahku yang kecil sederhana rumah Indonesia rumah yang kucinta

102 / Sasetya Wilutama Maafkan Aku Tak Lantang Di hari ulang kemerdekaan ini aku ingin melakukan hal sederhana Mengibar bendera di depan rumah, memandang suka cita Merah putih berkibar gagah di angkasa Maafkan aku tak ikut lantang bersuara atau menulis dengan gempita NKRI harga mati di medsos atau di sablonan kaos Seolah nasionalis sejati padahal tangannya sambil menghitung uang hasil korupsi jika ketangkap KPK senyam-senyum depan kamera televisi seolah tak merasa bersalah atau sekadar lalai lupa diri Atau menyebar fitnah sana sini, tak henti mencaci kelompok lain seolah dirinya dan kelompoknya patriot sejati Padahal cuma bikin gaduh negeri Di hari ulang kemerdekaan ini, aku hanya ingin melakukan hal sederhana Mendoakan para pemimpin kami, mendoakan negeri kami Mensukuri nikmat kemerdekaan buah pengorbanan para pahlawan kami

103 / Sasetya Wilutama Apa Kabar Indonesiaku Apa kabar Indonesiaku Semoga kau baik baik saja tetap berdiri tegak, kokoh berpijak teguh landasan negara dan falsafah luhur sesuai cita cita pendiri bangsa Semoga kau tak rebah di tengah gempuran peradaban baru saat orang tak lagi peduli makna lima sila, tak acuh dengan penghormatan bendera pusaka, dan lagu kebangsaan Indonesa Raya Lihatlah anak-anakmu mulai kehilangan etika media sosial jadi sarana, meledek para pemimpin negara bahkan para ulama dengan meme serta kalimat menghina, sekedar bisa viral seolah dirinya lebih pintar dan becus mengatur negara Lihatlah anak-anakmu yang jumawa hobi mengerahkan massa, seolah kelompoknya paling digdaya bikin macet jalan dan pekak telinga oleh sarangan knalpot motor yang dilepas sengaja

104 / Indonesia yang kucinta Aku hanya rakyat kecil biasa, hanya bisa berharap Seperti dalam syair lagu Garuda Pancasila

105 / Sasetya Wilutama Dongeng Cinta kami duduk di pinggir danau bebatuan hijau di kedalaman sana air menggenangi kaki kami, tumitnya cahaya kilau pelangi cintakah kau padaku, pendar matanya menyelinap di rusukku sedalam cintaku pada negeriku, jawabku lalu kami saling berdekap, mengembara di ketinggian Pura Besakih, berkelana di Raja Ampat, mandi telanjang di Jolotundo riang berkejaran di Mandalika O, betapa kasihku padamu jika aku ingkar, ingkar pula pada negeriku jika aku goyah, goyah pola kesetiaanku pada negeriku Demikianlah, bertahun tahun kami bersama meresapi alunan indah tembang Gambir Sawit derap kaki kuda perang Pasola rampak penari reog dan jaranan

106 / bersama, satu jiwa kami menikmati keelokan negeriku menikmati keindahan cinta kami tanpa sedetikpun lepas dekapan merasakan degup yang sama, degup negeri kami merasakan gelora yang sama, gelora negeri kami Indonesia, aku cinta Surabaya, Juli 2022

107 / To t o So n ata Lahir di Malang, 23 Juli 1952. Sejak masih remaja tertarik dunia literasi. Apa saja dibacanya: buku komik, koran dan majalah hing- ga buku-buku sastra. Mulai menulis puisi pada 1969.Pada tahun 1970-an menulis esai, cerpen, resensi buku dan artikel budaya di berbagai media cetak. Bersama sejumlah kawan mendirikan grup diskusi sastra dan teater 6 Januari 1973 Art. Menyosialisasikan pembacaan puisi di kampung-kampung hingga siaran sastra di Ra- dio TD 21 (kemudian berubah nama Radio Mercury) di Jl. Tambak

108 / Jati dan Jl. Kapas Krampung. Bersama Biro Sastra Bengkel Muda Surabaya (BMS) mengisi siaran sastra di Radio Gelora 10 Novem- ber Jl. Tambaksari Surabaya. Tiap tahun mengikuti Festival Puisi Surabaya yang diadakan Lembaga Indonesia Amerika (LIA, kini PPIA). Anggota Kelompok Sastra Surabaya, yang mengadakan pertemuan bergantian di rumah para sastrawan Surabaya. Karya puisinya dimuat dalam buku antalogi puisi Doa tangan-tangan, Kutulis Puisi Ini Lewat Komputer dan Namaku Hoaks. Kegiatan di dunia jurnalistik yang pernah dilakoni laki-laki ber­­ pendidikan formal Sekolah Teknologi Mesin ini antara lain Redak- tur Pelaksana Mingguan Mahasiswa (MM) kemudian berganti nam­­ a Mingguan Memorandum, Redaktur Harian Suara Indonesia (sel­anjutnya berubah nama Radar Surabaya), Redaktur Tabloid Nyata, Kontributor Tabloid Sapujagat, Pemimpin Redaksi Maja­ lah Kebudayaan Alur, yang diterbitkan Dewan Kesenian Suraba- ya (DKS), staf ahli redaksi majalah Ar Rahmah, yang diterbitkan Yayasan Pondok Pesantren Terpadu Daarul Muttaqien Surabaya, dan Penasehat Dewan Redaksi portal berita Lensa Indonesia. Com. Ia juga terlibat sebagai penulis dan editor (bersama Ali Salim dan M. Djupri) dalam penulisan buku Trimarjono di Antara Rakyat Jawa Timur (Cetakan I, Juli 2004). Buku ini dicetak PT Pabrik Kertas

109 / Tjiwi Kimia Tbk sebagai penghormatan Wagub Jatim Trimarjono. Kunjungannya selama lima kali ke Pulau Buru, Maluku, menulis buku “Surga di Tanah Raja, Kabupaten Buru dalam Pesona dan Potensi” (Cetakan I, 2005) Di buku ini ia sebagai penulis dan edi­ tor (bersama Arief Rahman). Buku ini diterbitkan Bappeda Ka­ bupaten Buru. Selain itu menulis buku Hakekat Humor HM Cheng Hoo Djadi Galajapo, Imam Besar Pelawak Indonesia “Meniti Jalan Tasawuf ” ( Cetakan I, 2021). •

110 / Toto Sonata Jalan Kemerdekaan Jalan kemerdekaan tak selalu lempang berliku-liku berbatu-batu Penuh onak dan duri menghadang ksatria sejati Tak ada langkah surut dan nyali jadi menciut Di ujung jalan kemerdekaan tampak cahaya benderang Para ksatria tetap melangkah sepenuh keyakinan Menerabas semua rintangan jiwa pun dikorbankan di jalan peperangan 6/7/2022

111 / Toto Sonata Semboyan Itu Merdeka atau mati Merdeka atau matl Merdeka atau mati....................... Semboyan di masa revolusi Tak mati-mati Bergaung sampai kini Bukan sekadar kata-kata Corat-coret di mana-mana Tenaga hidup kobarkan api semangat Tak pernah meredup Di masa damai Pekik “ Merdeka” tetap menggema Terus dikumandangkan Untuk apa dan siapa

112 / Kita tak tahu Yang kita tahu Zaman sudah merdeka Tapi masih ada: Yang--tak--merdeka 21/7/2022

113 / Toto Sonata Ode Para Pejuang Aku selalu terkenang Sosok para pejuang Mereka hibahkan hidupnya Demi melihat derita bangsanya Mereka teguh pendirian Berkeras maju ke garis depan Mengadakan perlawanan Habis-habisan Aku selalu terkenang Mereka tak meninggalkan gelanggang Hanya pikirkan diri sendiri Cari selamat memilih sembunyi Patriot tanah air sejati Layak kita kenang dan kagumi

114 / Toto Sonata Negeri Tercinta negeri tercinta habiskan kosa-kata demi untuk memujinya: untaian zamrud khatulistiwa hamparan tanah surga tanah air kita permata hati bertabur warna nilakandi membayang hingga kini 31/7/2022

115 / Toto Sonata : kata Cak Markeso ini bukan di sini tapi di sana di negeri wakanda penjaga ketertiban saling adu senjata akal sehat absen rakyat bingung penjelasan hanya dengung begini dan begitu 31/7/2022

116 / Wido d o B as u ki Lahir di Trenggalek, 18 Juli 1967. Lulusan jurusan Seni Rupa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya, dan Universitas Adhibuana. Lebih dikenal sebagai pengarang sastra Jawa juga seorang pelukis yang bekerja sebagai wartawan. Kini menjabat sebagai Pemimpin (Pamong) Redaksi Majalah Jaya Baya. Buku karya pribadinya lebih 15 judul buku, diantaranya: kumpulan geguritan Gurit Panantang (1993), Layang Saka Tlatah Wetan (1999), Layang Saka Paran (Media Gambar, 1999),

117 / Menak Sopal dan Buaya Putih (cerita anak, PT Citra Jaya Murti, 1997), Medhitasi Alang-Alang (geguritan, 2004), Crita Rakyat Saka Trenggalek (Grasindo, 2008) Bocah Cilik Diuber Srengenge (geguritan, CDS, 2011), Dredah ing Padhepokan Sukma Ilang (novel Jawa, Paramarta, 2013), Imaji Tentang Kota, Metropolitanitas, Budaya dan Sastra Jawa (kumpulan esai, Pagan Press, 2011) Dalan Sidhatan (crita cekak, Satu Kata Press, 2018), Belahan (Novel Jawa, Pagan Pres, 2019), Ajisaka Angejawa (geguritan, Tankali, 2020), 507 Haiku Jawa (geguritan 3 baris, Tankali, 2020). Dan lebih 30 buku dalam kumpulan bersama. Karya dalam bahasa Indonesia berupa puisi dan cerpen pernah dimuat di media lokal Jawa Timur, juga dalam kumpulan puisi bersama, diantaranya: Doa Tangan-Tangan (Bengkel Muda Surabaya), Dendang Kecil Jalan Sunyi (Forum Sastra Bersama), Malsasa (Dewan Kesenian Surabaya), Antologi Puisi 81 Penyair 10 Tahun Sastra Bulan Purnama (Rumah Budaya Tembi, 2021), dll. Beberapa penghargaan diantaranya: buku guritannya Layang Saka Paran, mendapat penghargaan Sastra Rancage tahun 2000, mendapat Penghargaan Seniman Jawa Timur 2004, Juara 2 Cerpen bernafaskan Panji (DKJT), Penghargaan Sastra Sutasoma sebagai sastrawan berdedikasi Balai Bahasa Jawa Timur, 2021. Tulisan

118 / jurnalistik pariwisata pernah 5 kali mendapat penghargaan Dinas Pariwisata Jawa Timur dan 1 kali penghargaan jurnalistik bidang koperasi. Sekarang beralamat: Jl. Raya Sukolegok, Gang Merak, RT 13 RW 05 Ds. Suko, Kec. Sukodono, Kab. Sidoarjo Jawa Timur. •

119 / Widodo Basuki Cerita Seorang Anak Pengibar Bendera Pada Ibunya seorang anak pulang sekolah dengan wajah gembira melapor pada ibunya - bu, aku tadi saat upacara di sekolah bertugas menjadi pengibar bendera sungguh luar biasa berdebar bu tapi aku mampu melaksanakannya si ibu penuh kasih mengelus rambut anaknya kau sungguh anak baik, anakku kau telah belajar mencintai negrimu ini dengan tulus ikhlas dengan kesanggupan melaksanakan tugas tanpa pamrih tanpa meminta balas - camkan itu di hatimu, patri di dadamu di sepanjang hidupmu! kalau sudah besar nanti, nak cinta negrimu itu akan teruji rongrongan silih berganti datang dari sana-sini menggenggam keserakahan dan ambisi menghujam darah dan nadi

120 / saat kau menjadi wakil rakyat atau pejabat benarkah kau mencintai negri ini sepenuh hati? jangan kau gadai cinta negri itu kibarkan benderamu dalam darahmu dalam nafas hidupmu, anakku! Sidoarjo, Juli 2022

121 / Widodo Basuki Ajari Aku ajari aku mencintai tanah air, sementara hutan bumi dan segala isinya telah tergadai ajari aku teriak merdeka! sementara kesenjangan masih ada di mana-mana, dan itu dibiarkan terus menganga di ruang terbuka ajari aku cinta negeri menancapkan kasih di relung hati berjabat erat antar sesama tiada saling curiga-mencurigai ajari aku berkata jujur mengakui di sini negeri makmur yang wajib dipertahankan, diperjuangkan dari segala rongrongan ambisi pribadi dan golongan

122 / ajari aku para calon pemimpin negriku ajari aku tiada bergelimang dalam kebohongan demi kebohongan Sidoarjo, 15 Juli 2022

123 / Widodo Basuki Balada Kakek Penjual Bendera setiap menjelang bulan agustus seorang penjual bendera memajang dagangannya di pojok perempatan jalan seperti tahun-tahun sebelumnya dia begitu percaya tetap ada yang membeli dagangannya, meski dagangan itu juga sisa-sisa tahun sebelumnya dibungkus dengan plastik berdebu berjualan dengan sebuah keyakinan, penuh rasa cinta satu dua bendera pasti ada yang membeli, seperti tahun-tahun sebelumnya dan jika masih tak terjual juga, bendera-bendera itu akan kembali dibungkus lagi dan dijajakan di pojok perempatan jalan itu tahun berikutnya umur semakin menua, masihkah aku tetap menjual bendera menjelang peringatan hari kemerdekaan? begitu pikir kakek itu

124 / kek, aku beli satu bendera yang terbesar, seorang anak kecil menghampiri kakek tua penjual bendera itu wajahnya begitu polos putih bersih seperti tanpa dosa ah, bukankah anak ini yang selalu beli bendera tahun-tahun sebelumnya? kau kan anak yang selalu membeli dagangannku tahun yang lalu? kakek tersenyum penuh haru iya kek, aku akan setia membeli dagangan bendera kakek meskipun terbungkus plastik berdebu masihkah bendera itu tetap bagus dan baru? ya nak, kakek tetap setia merawat bendera-bendera dagangan ini karena kakek tahu tetap akan datang anak-anak yang mencintai negri ini seperti dirimu: kakek percaya bendera merah putih ini akan tetap berkibar di dadamu! anak kecil itu memandangi kakek dengan hati semakin terharu dari pelupuk mata yang semakin menua, tampak air mata menetes satu-satu. Sukolegok, Juli 2022

125 / Widodo Basuki Belajar Mencintai Indonesia seorang bocah kecil dengan takzim diajari gurunya menanamkan cinta dan bangga pada tanah air Indonesia begitu menjunjung persatuan, juga fasih membaca dan mengamalkan nilai-nilai pancasila merekalah kelak menjadi generasi penerus yang akan membangun negara melalui karya-karya dan prestasi brilian untuk bangsanya seorang oknum wakil rakyat, pejabat dan politisi begitu fasih menperjuangkan citra partai, untuk kepentingan pribadi dan golongannya dan mereka terkenal karena masuk lubang korupsi, dengan melumat uang rakyat yang konon diwakilinya seorang anak kecil dan oknum wakil rakyat, pejabat dan politisi yang rakus korupsi sama-sama belajar mencintai negeri Indonesia Sidoarjo, Juli 2022

126 / Selamat dan Sukses Atas Terbitnya Buku Antologi Puisi Wartawan Usia Emas “Kucinta Negeri Kutulis Puisi” Machmud Suhermono Anggota Komite Komunikasi Digital Provinsi Jawa Timur Selamat dan sukses atas terbitnya Antologi Puisi Wartawan Usia Emas 77 Tahun Kemerdekaan In- donesia KUCINTA NEGERI KUTULIS PUISI. Buku Antologi Puisi Wartawan Usia Emas, ini selalu menunjukkan jati diri wartawan yang tak akan pernah berhenti menulis, juga bagian dari literasi, untuk mencerdaskan anak bangsa. Kiprah Wartawan Usia Emas ini dapat dilanjutkan dengan karya tulisan bidang lain, seperti esai, olahraga, cerpen, politik dan lain-lain. Dokter Rini Widya Astuti Suami Dokter Lutfi Ariesbianto, Cucu Mbah Jono wartawan Karya Darma (Era 80-90-an) Selamat dan sukses atas terbitnya Antologi Puisi Wartawan Usia Emas 77 Tahun Kemer­ de­k­ aan Indonesia Kucinta Negeri Kutulis Puisi. •

127 / Agus Talino Tokoh Media Nusa Tenggara Barat (NTB) Alumni Stikosa -AWS Surabaya Selamat dan sukses atas terbitnya Antologi Puisi Wartawan Usia Emas 77 Tahun Kemer­ dekaan Indonesia Kucinta Negeri Kutulis Puisi. “Semangat, te­ rus­lah ber­karya, tetaplah bersyukur kehadirat Allah Maha Pen- cipta dan se­moga selalu mendapatkan karunia dan hidayah-Nya, merdeka!” • Mataram Ntb, 5 Agustus 2022

128 / w w w. m e j a t a m u . n e t [email protected] | telp. 082121226464 Penerbit MejaTamu | penerbit_mejatamu Buku MejaTamu yang lain dapat dijumpai di: shopee.co.id/mejatamu453 | tokopedia.com/mejatamu


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook