Daftar Isi SAJIAN UTAMA 8 Model Spasial Dinamis Untuk Melihat Proyeksi Pengembangan Wilayah Kawasan Perbatasan 20 Peran Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas dalam Mendukung Tata Ruang Kawasan Perbatasan Negara ARTIKEL 30 Neraca Spasial Sumberdaya Alam Terintegrasi Wilayah Sungai Serayu Bogowonto 38 Pemetaan Wilayah Perbatasan dari Aspek Sosial Ekonomi 42 Pemetaan Neraca Spasial Sumberdaya Alam Kabupaten Brebes 48 Pemetaan Dinamika Sumberdaya KEK Tanjung Lesung GEOTEKNOLOGI 59 E-ATLAS NASIONAL INDONESIA “Jendela Informasi Geografi Nusantara” 65 Dukungan Layanan Asistensi dan Supervisi Pemetaan Tata Ruang BEDAH WILAYAH 70 Overview Bentanglahan Kalimantan 79 Perencanaan Alokasi Ruang Kabupaten Blitar Berbasis Kemampuan Lahan SOROT NAWACITA Membangun Desa Melalui Peta:Sebuah Pendekatan Spasial dalam Pembangunan 88 Kawasan Perdesaan “Integrasi Pemetaan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi 94 Dengan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil” GGEEOOtatannggkkaassVVool.l.34--22001178 11
Catatan Tangkas Siapa yang menguasai informasi akan pegang kendali, tetapi siapa yang pegang data maka akan menguasai informasi. Ada sebuah kisah menarik yang tidak terlupakan semasa kami menyelesaikan studi doktoral di Tokyo University sekitar tahun 2001-2004. Seperti biasa bagi mahasiswa asing, mencari arbaito (part time) adalah sebuah kesempatan emas yang tidak disia-siakan disela kesibukan kuliah. Pemasukan dari arbaito terkadang bisa memenuhi kebutuhan hidup keseharian dari mahasiswa itu sendiri. Itupula yang saya rasakan, saat saya memutuskan menerima tawaran arbaito di lembaga riset di kota Tsukuba (sekitar 60 km dari Tokyo) menggantikan senpai (kakak kelas) dari Malaysia yang akan lulus. Posisi saya asisten penginderaan jauh dengan tugas menyiapkan data satelit dan data GIS untuk siap dianalisis secara multi temporal. Awalnya, saya ragu dan kurang percaya diri, karena tim riset terdiri dari beberapa peneliti asing post- doctoral dari berbagai negara (China, Argentina, Eropa timur dan Amerika). Setelah mempelajari rincian pekerjaan, saya mulai bekerja semampu saya, seperti filtering data, cloud removing, mosaicking, koreksi geometrik dan radiometrik, klasifikasi unsupervised, difusi data, change detection dan berbagai teknik dasar dan analisis yang sebenarnya menurut saya sederhana dan biasa saya lakukan sebagai staf peneliti di Pusat Penginderaan Jauh Sumberdaya Alam, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Hasilnya saya rutin laporkan dalam log book berikut nama file dan folder tersusun dalam metadata yang rapi, karena tunjangan kinerja (upah) saya ditentukan oleh produk yang dihasilkan dan tercatat. Apa yang menurut saya sederhana, ternyata berbeda dalam pandangan rekan tim lain dan beberapa profesor. Pekerjaan saya dinilai luar biasa karena menyimpan hampir seluruh data satelit yang ada pada kawan kerja mereka (Landsat MSS, TM/ETM, Spot, Spot vegetasi, NOOA/AVHRR, MOSS, JERS-1, Radarsat, sentinel) sejak 1972-2003 termasuk data GIS dari beberapa negara. Ternyata hampir semua peneliti membutuhkan data yang saya kerjakan. Padahal saya yakin mereka punya dan pasti bisa bila mereka mau mengerjakan. Entah karena apa, seolah mereka melihat semua sudah tersedia dari apa yang saya kerjakan. Sejak itu selama beberapa tahun saya dilibatkan dalam kegiatan tersebut bahkan setelah kelulusan saya masih dilibatkan dalam berbagai proyek penelitian, bahkan sebagian data tersebut akhirnya saya gunakan untuk tugas akhir saya dan publikasi internasioanl sebagai syarat kelulusan. Terinspirasi oleh pengalaman tersebut, saya lihat sebenarnya banyak data dan temuan yang sangat penting yang sudah dilakukan oleh pusat-pusat di Badan Informasi Geospasial (BIG), khususnya di Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas (PPTRA). Seperti temuan integrasi peta rencana tata ruang darat dan laut di 8 (delapan) provinsi, kajian spasial dinamis pada Kawasan KEK Tanjung Lesung yang menunjukkan tidak terdapat perubahan signifikan pada pemanfaatan lahan dengan adanya KEK tersebut selama 5 tahun terakhir. Demikian pula pemetaan tematik satuan kemampuan lahan kawasan perbatasan sebenarnya dapat digunakan sebagai dasar penarikan delineasi pola ruang berbasis kemampuan lahan dan sebagainya. Oleh karena itu edisi bulletin Geotangkas awal tahun 2018 kali ini mencoba merangkum laporan dan temuan semua kegiatan yang dilakukan selama tahun 2017. Semua hasil kegiatan 2017 adalah data berharga bagi pemerintah, pemerintah daerah dan siapapun yang memerlukannya. Amat disayangkan bila hasil tersebut hanya tersimpan sebagai laporan proyek kegiatan 2017 di ruang penyimpanan BIG. Menurut kami bila data tersebut tidak terpublikasi atau tidak diberbagipakaikan,maka ada yang salah dalam penyusunan kegiatan tersebut. Keinginan tersebut disambut baik tim redaksi bulletin Geotangkas dan Alhamdulillah mereka dapat menyelesaikan rangkuman eksekutif atas berbagai kegiatan selama 2017 yang tersaji kepada pembaca pada awal tahun 2018 ini. Akhirul kalam, selamat membaca dan semoga keinginan kami seperti gayung bersambut dengan keinginan pembaca. Kepala Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas, BIG Dr. Ir. Mulyanto Darmawan, M.Sc. 2 GEGOEtOantagnkgaksaVsoVl.o4l.-32-02108172
Curug Omas, Maribaya Sumber: PPTRA-BIGGeoliterasiMaribayasalah satu hulu S. CitarumMaribaya, sebuah wilayah berhawa sejuk nan hijau di patahan LembangBandung bagian utara. Di salah satu sudut bagian lembahnya, terdengargemericik air jernih mengalir di atas batuan lava basalt, cukup derastak mengenal musim. Curug Omas, sebuah nama lokal toponim airterjun berketinggian sekitar 30 meter ini, siap memanjakan mata parawisatawan. Air mengalir sampai jauh ke Sungai Cikapundung menuju keWaduk Saguling dan berujung di Sungai Citarum. GGEEOOtatnagnkgaksasVoVlo.l3. 4- 2- 0210718 33
Foto Jembatan Barito di ambil dari droneSumber: PPTRA-BIG44 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. l4. 3- 2-0210817
Konektivitas antar ruangJembatan BaritoJembatan Barito menjadi saksi bisu hubungan antar ruang/wilayahKalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Terentang sepanjang 1.100meter, melintasi Sungai Barito yang membelah Kabupaten Barito Kuala.Cukup unik karena kaki tengah jembatan berpijak di Pulau Bakut, pulaudelta sungai tempat kawasan konservasi bekantan. Bagian tengah jembatancukup tinggi sehingga kapal tongkang pengangkut sumberdaya alam dapatlewat bawah jembatan menuju ke hilir. GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. 3- 2-0210817 5 5
Foto Danau Bangkau di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalsel di ambil dari drone Sumber: PPTRA-BIG DANAU BANGKAU Sebagian dataran rendah Kalimantan merupakan tempat hidup gambut dan vegetasi khas rawa/danau alami. Bak karpet hijau yang luas, vegetasi rawa tumbuh subur menjadi tempat perkembangbiakan fauna dibawahnya. Di bagian tepinya, berderet permukiman memanjang sepanjang alur sungai, sangat serasi dengan alam sekitar. Sebuah perpaduan lingkungan alam dan buatan yang perlu terjaga keberlanjutannya.6 6 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. -32-0210817
GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 77
Sajian UtamaModel Spasial Dinamis Untuk MelihatProyeksi Pengembangan WilayahKawasan PerbatasanOleh: Habib Subagio dan Marhensa Aditya HadiKawasan Perbatasan Menjadi Agenda Prioritas Nasional Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2007 3. Pendekatan lingkungan (environmenttentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang sustainability).Nasional (RPJPN) 2005-2025 mengamanatkanpengembangan kawasan perbatasan sebagai Dalam upaya percepatan pengembanganberikut: kawasan perbatasan, pemerintah telah menyusun1. Wilayah-wilayah perbatasan dikembangkan skema perencanaan makro yang menegaskan Kawasan Perbatasan ditetapkan sebagai Pusat dengan mengubah arah kebijakan Kegiatan Strategis Nasiona (PKSN). Pembangunan pembangunan yang cenderung berorientasi PKSN dan Lokasi Prioritas (Lokpri) menjadi salah inward looking menjadi outward looking satu strategi pembangunan kawasan perbatasan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pintu yang diharapkan mampu menjadi wadah untuk gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan mensinergikan berbagai pembangunan yang dengan negara tetangga. dibutuhkan di Kawasan Perbatasan. Lokasi2. Pembangunan wilayah perbatasan tidak prioritas dikembangkan sebagai bagian yang tidak hanya menggunakan pendekatan yang terpisahkan dengan PKSN. Lokpri diharapkan dapat bersifat keamanan tetapi juga pendekatan berperan sebagai hinterland bagi pengembangan kesejahteraan. PKSN.3. Pengembangan pulau-pulau kecil di perbatasan perlu mendapat perhatian khusus. Demikian juga halnya dengan rencana tataSejalan dengan hal tersebut, RPJMN 2015-2019, ruang terkait pembangunan kawasan perbatasankawasan perbatasan dikelompokkan dalam klaster dari RTRWN hingga turunannya pada RTR Kawasankawasan tertinggal yang ditetapkan sebagai satu Perbatasan yang tertuang dalam Perpres RTRdari sembilan agenda prioritas pembangunan Kawasan Perbatasan Nomor 179 tahun 2014 dandalam Nawacita. Kita semua tentu sudah Nomor 31-34 tahun 2015 yang telah disusunmengetahui agenda Nawacita tersebut yang pemerintah untuk mendukung pembangunanberbunyi membangun Indonesia dari pinggiran kawasan perbatasan.dengan memperkuat daerah-daerah dan desadalam kerangka negara kesatuan. Hal ini diperkuat Pentingnya Membangun Kawasanmelalui Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 Perbatasantentang RPJMN Tahun 2015-2019, pengembangankawasan perbatasan negara ditujukan untuk Tanpa kita sadari pemahaman dimensi arahmewujudkan kawasan perbatasan sebagai halaman (spasial) pembangunan Indonesia hanya dijelaskandepan negara yang berdaulat, berdaya saing, dan dalam dua sisi yaitu Barat-Timur, bahkan banyakaman. Pendekatan dalam pembangunan Kawasan sekali secara eksplisit ditulis maupun disampaikanPerbatasan Negara mencakup: Sabang-Merauke sebagai pengakuan yuridis wilayah1. Pendekatan keamanan (security approach); Indonesia yang sangat luas ini.2. Pendekatan kesejahteraan masyarakat (prosperity approach); dan8 8 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. 3- 2-0210817
Sajian UtamaBelum lama pemerintah mulai mengubah • Ancaman terhadap pengaruh negara asingparadigma arah (spasial) pembangunan yang tidak akibat rendahnya aksesibilitas menuju kawasanhanya Sabang-Merauke tetapi ditambahkan menjadi perbatasanSabang-Merauke (Barat-Timur) Miangas-Rote(Utara-Selatan). Sepertinya ini lebih tepat, selain • Potensi tinggi terjadinya illegal loging, fishing,mengekspresikan dimensi yang lebih luas mengenai human traffickingbesarnya wilayah NKRI, tetapi juga mengingatkanbahwa ada segmen-segmen wilayah Indonesia yang • Belum terkelolanya SDA secara optimalberada pada zona perbatasan darat dengan negaratetangga. Segmen-segmen seperti ini berada di 3 • Rendahnya kualitas SDMpulau yaitu Kalimantan berbatasan dengan Malaysia,Papua berbatasan dengan Papua New Guinea Dari beberapa permasalahan tersebut, maka(PNG), dan Pulau Timor yang berbatasan dengan peningkatan pertahanan dan keamanan di wilayahnegara Timor Leste (RDTL). Metode pembangunan perbatasan menjadi suatu prasyarat. Selain itudan pengembangan wilayah seperti ini memiliki pendekatan kesejahteraan bagi masyarakatvariabel yang lebih kompleks dibandingkan dengan perbatasan juga harus direncanakan dengan baik.wilayah lain yang bukan berada pada segmen Pengembangan ekonomi wilayah masyarakatperbatasan negara. Bahkan kawasan ini sudah perbatasan tidak lepas dari potensi dan unggulanditetapkan menjadi ‘beranda depan’ sebagai upaya wilayahnya, dimana unggulan wilayahnya dapatuntuk selalu mengingatkan arah pembangunan agar dikelompokkan :selalu fokus (tidak melupakan) kawasan perbatasan. • Pertanian (termasuk perikanan) • Pertambangan • Pengolahan hasil pertanian, kerajinan, dan hasil lainnya. Seperti daerah lain di Indonesia, wilayah Hasil analisis singkat kontribusi ekonomiperbatasan darat juga mengandung potensi wilayah kabupaten/kota terhadap provinsisumberdaya alam dan sumberdaya manusia menunjukkan bahwa kabupaten yang berada padayang melimpah. Namun faktanya kondisi wilayah perbatasan menunjukkan kontribusi yangwilayah perbatasan masih memprihatinkan. tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomiSecara umum penduduknya masih miskin dan provinsi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwaterbelakang. Pengembangan daerah perbatasan konsentrasi pembangunan yang memberikan efektelah diidentifikasi berdasarkan lokasi prioritas. pertumbuhan ekonomi masih terkonsentrasi padaPermasalahan pengembangan kawasan perbatasan ibu kota provinsi yang bisa diasumsikan sebagaiantar negara terutama adalah : wilayah kota. Berikut disajikan infografis dari analisis• Minimnya infrastruktur, sarana dan prasarana kontribusi ekonomi kabupaten/kota terhadap provinsi di Provinsi Kalimantan Barat dan Nusa wilayah Tenggara Timur.• Jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi Kab. Sambas Kab. Bengkayang 10% 4% Kab. Sanggau 9%Kab. Kapuas Hulu Kab. Sintang 5% 7%Gambar 1. Peranan 5 Kabupaten di Perbatasan dalam Perekonomian Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2015 (hasil analisis, 2017) GGEEOOttaannggkkaassVVool.l.34--22001178 99
Sajian UtamaKabupaten Sambas, Bengkayang, Sanggau, Sintang, dan Kapuas Hulu berkontribusi sebesar 35 persen dalamperekonomian Provinsi Kalimantan Barat tahun 2015. Besarnya kontribusi ini tidak berbeda signifikan jikadibandingkan dengan kontribusi pada tahun 2010. Sedangkan kabupaten kota yang memberikan kontribusitertinggi dalam perekonomian Kalimantan Barat adalah Kota Pontianak sebesar 19 persen. Kota Kupang Kab Timor Tengah Utara 4% 22% Kab Belu 4% Gambar 2. Peranan Kabupaten Kota dalam Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015 (hasil analisis, 2017)KabupatenBeludanTimorTengahUtaraberkontribusi • Infrastruktur kawasan perbatasan umumnyasebesar 8 persen dalam perekonomian Provinsi Nusa masih minim, dimana hal ini akibat pendudukTenggara Timur tahun 2015. Besarnya kontribusi ini yang masih sedikit dan tinggal berjauhan.tidak berbeda signifikan jika dibandingkan dengan Infrastruktur yang dibutuhkan adalahkontribusi pada tahun 2010. Sedangkan kabupaten aksesibilitas (jalan), energi dan air bersih.kota yang memberikan kontribusi tertinggi dalam • Pusat perdagangan, jasa, hotel, restoran padaperekonomian Nusa Tenggara Timur adalah Kota beberapa pos lintas batas, memiliki potesiKupang yang merupakan ibukota provinsi sebesar dikembangkan menjadi pusat bisnis dan22 persen. perdagangan jasa yang dilengkapi dengan hotel Salah satu upaya percepatan pertumbuhan dan restoran sesuai kebutuhan.ekonomi wilayah adalah dengan menumbuhkan • Sentra pergudangan/logistik untuk jalur lintasdaya saing wilayah berbasis potensi unggulan batas yang banyak dilalui produk-produkdaerah tersebut. Analisis Tipologi Klassen dapat komoditas, perlu dikembangkan sentradigunakan untuk membantu menemukenali peta pergudangan yang dilengkapi dengan fasilitaspengembangan potensi sosial ekonomi suatu bea cukai.wilayah, dengan cara menunjukkan posisi relatif • Fasilitas perumahan yang mengelompokrata-rata pertumbuhan pangsa sektor, subsektor, diperlukan untuk mengefisienkan layananusaha, atau komoditi suatu daerah dibandingkan pendidikan dan kesehatan.dengan wilayah yang lebih tinggi sebagai acuan Diperlukan langkah yang cerdas danuntuk kemudian dihubungkan dengan predikat strategis untuk memposisikan wilayahleading sector ekonomi yang dimiliki suatu daerah. perbatasan menjadi “beranda depan” dengan Wilayah perbatasan umumnya memiliki melakukan percepatan pembangunan dengantipologi pedesaan, hanya dibeberapa pintu lintas kata kunci membuka (akses invetasi dan arusbatas (PLB, PPLB) terdapat aktivitas perdagangan barang), mengembangkan (nilai produk SDAkarena dimanfaatkan sebagai lokasi transit. Tipologi dan SDM), mempercepat (target pembangunanini dapat dicirikan sebagai berikut: infrastruktur), menyerasikan (program dan• Penduduk umumnya penduduknya sedikit dan kegiatan nasional-provinsi-kab/kota), dan masih terpencar-pencar. menciptakan daya tarik. 10 GEGOEtOantagnkgaksaVsoVl.o4l. -32-021081710
Sajian UtamaModel Spasial Dinamis Untuk Melihat lain yaitu ekonomi, penduduk, dan lingkungannya.Proyeksi Pengembangan Wilayah Model yang dibangun merupakan salah satuPerbatasan instrumen yang dapat digunakan untuk mendukung implementasi UU Nomor 25 Tahun 2004 tentangBadan Informasi Geospasial (BIG) bersama Bappenas Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.melaksanakan kajian untuk evaluasi program-program yang tertuang dalam RPJMN terkait dampak Untuk menjamin ketercapaian sasaran danimlementasi pembangunan dan pengembangan tujuan pembangunan kawasan perbatasan, perluwilayah. Terkait dengan kajian kawasan perbatasan, disusun strategi percepatan implementasi programfokus kajian adalah menyusun strategi implementasi pembangunan kawasan perbatasan terutama padaprogram pembangunan kawasan perbatasan melalui periode 2017-2025 yang berbasis pada data danpemanfatan IGT (Informasi Geospasial Tematik). informasi secara terintegrasi. Pemanfaatan IGTSalah satu tujuan kajian adalah melakukan review secara terintegrasi merupakan kegiatan strategissinergi antara dokumen perencanaan yang terdiri yang dapat menghasilkan strategi percepatandari data statistik dan informasi spasial. Tujuannya implementasi kawasan perbatasan yang sistematis,untuk memproyeksikan dampak pengembangan terukur dan lebih berorientasi lokasi-lokasi prioritaswilayah yang direpresentasikan dalam perubahan secara lebih akurat. Kegiatan ini diharapkan dapatpenggunaan lahan kedepan atau sering disebut menjembatani rencana program yang sudah adasebagai proyeksi perubahan penggunaan lahan dengan kegiatan pembangunan (implementasidengan mengintegrasikan variabel pembangunan program) secara terpadu dalam kerangka pencapaian tujuan pembangunan kawasan perbatasan secara holistik. Feedback: Kebutuhan Alokasi Lahan(Ruang) FeedbackDrivers Dinamika Perubahan Alokasi Dampak Perubahan nilai-nilaiSkenario kapital (lahan, finansial, tenaga sosial dan ekonomi serta pada kerja, infrastruktur) oleh para jasa Lingkungan aktor Gambar 3. Model Generik Model Dinamika SpasialSkema model diatas diatas digunakan untuk untuk menghitung beberapa indikator pentingmensimulasikan perubahan lahan berdasarkan seperti target tenaga kerja, trend kemiskinan, sertafaktor-faktor penyebab (drivers)/driving factor, potensi peluang kerja pada seluruh kawasan yangyang konstelasinya diformulasikan dalam beberapa dikaji. Variabel lingkungan menggunakan dinamikaskenario, dan menduga dampak perubahan lahan perubahan tata guna lahan secara historis yangtersebut, baik pada indikator-indikator sosial- kemudian digunakan sebagai basis perhitunganekonomi maupun lingkungan. dinamika tata guna lahan kedepan berdasarkan kecenderungan (trend) perubahan serta kebutuhan Kajian ini menggunakan beberapa variabel (demand) lahan untuk mengakomodir target-targetdan indikator. Variabel ekonomi digunakan pembangunan di kawasan perbatasan.untuk mengetahui komponen PDRB pada setiapkabupaten/kota wilayah kajian. Selain itu juga untuk Secara umum, kajian yang dilakukan adalahmenghitung potensi investasi secara agregat yang sistem yang mengintegrasikan 2 sistem yaitu sistemmasuk pada setiap kawasan yang bersumber dari dinamis dan spasial dinamis yang kemudian disebutdata program K/L/Pemda yang memiliki dimensi Sistem Spasial Dinamis.spasial. Variabel sosial/penduduk digunakan GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 11 11
Sajian UtamaSistem dinamis merupakan sistem yang digunakan kompleks data-data yang bersifat non spasial.untuk analisis data kompleks, non linier, dan ada Sementara spasial dinamis digunakan untuk analisisfeed back antar sub sistem yang dibangun. Jadi dan proyeksi spasial (besar dan arah) dari demandsistem dinamis disini digunakan untuk analisis lahan yang dihasilkan dari sistem dinamis.GEOSPASIAL Data DATABASE Non-SpasialDATA SPASIAL Model Dinamika Spasial Sebagai STOK/ Sistem Pendukung KAPASITAS SUMBERDAYA Kebijakan INTEGRASI SYSTEM DYNAMICS DAN SPATIAL DINAMICS MODEL POLA SKENARIO RINCI DISTRIBUSI PENGEMBANGAN WILAYAH SUMBERDAYA • TUJUAN EKONOMI • TUJUAN INVESTASI STRATEGIS • TUJUAN SOSIAL • TUJUAN LINGKUNGAN • EVALUASI TATA RUANGModel Dinamika Spasial :• Linear - Non Linear• Parsial - Sistematik• Non Spatial - Spatial Gambar 4. Skema Sistem Spasial Dinamis yang merupakan integrasi dari Sistem Dinamis dan Spasial DinamisGambar diatas menunjukkan lebih detail hubungan evaluasi tata ruangnya. Dalam hal ini, skenarioantara data spasial dan data non spasial (statistik) yang dihasilkan juga dapat dilaksanakan denganyang digunakan untuk menyusun strategi menggunakan instrumen tata ruang sebagai faktorpembangunan wilayah dengan menghasilkan pembatas (constraint), dimana rencana tata ruangskenario (alternatif pilihan) yang melibatkan wilayah menjadi bagian tak terpisahkan denganvariabel kompleks seperti ekonomi, investasi, sosial- rencana kerja pemerintah sesuai hierarkinya.penduduk, lingkungan (misalnya emisi permukaandan cadangan karbon permukaan) sekaligus1212 GGEEOOtatnangkgaksasVVool.l4. 3- -22001187
Sajian UtamaAlur Pikir Keterkaitan Model Dinamika model ekonomi dan sub model sosial menggunakanSistem Dengan Dinamika Spasial variabel dari data dan analisis statistik. Sementara itu, sub model lahan menggunakan analisis stockSeperti telah disampaikan sebelumnya bahwa and flow hasil masukan dari kebutuhan lahan yangmodel yang dibangun dalam kajian ini adalah dihasilkan oleh sub model ekonomi dan sosialmenerapkan prinsip kinerja sistem yang dibangun (demand) dan alokasi ruang untuk kebutuhandari 2 model yaitu model sistem dinamis dan model lahan dihasilkan dari model spasial dinamis yangspasial dinamis. Model sistem dinamis terdiri dari menghasilkan alokasi lahan yang tersedia. Skema3 sub model yaitu ekonomi, sosial, dan lahan. Sub metodologi kajian disajikan seperti gambar dibawah.SPASIAL DINAMIS SISTEM DINAMIS Data Vector Luas StokLahan RTRW Model Lahan Model Ekonomi Model Sosial Data Raster Lahan TerpakaiDriving Factor (Landuse) elasitas Penduduk GDP PENGGUNA PENGGUNA LAHAN lAMA LAHAN TERBARUDistribusi Normal Indeks Similaritas Land Demand Setiap Driving (A) FactorPenentu Manfaat (m) Penentu Biaya (n) Pembobotan (w)Kemenarikan Lahan berbasis Perbedaan Tingkat Kemenarikan Kebutuhan Ekspansi Lahan Piksel Lahan di Suatu Wilayah untuk pembangunan permukiman, pembangunan permukiman, infrastruktur, perkebunan, infrastruktur, perkebunan, pertanian, dan lain-lain. pertanian, dan lain-lain. Distribusi Spasial Proyeksi Penutup Lahan PETA PEMODELAN SPASIAL DINAMIKA Gambar 5. Alur Pikir Model Spasial Dinamis. GGEEOOtatnanggkkasasVVool.l3. 4- -22001178 1133
Sajian Utama Kegiatan ini terdiri dari dua model, yaitu pada tahun tertentu yang dimodelkan, kemudianmodel Sistem Dinamis yang menggambarkan nilai- nilai tersebut digunakan oleh model Spasial Dinamisnilai statistik dan besaran-besaran angka, dan untuk menggambarkan dimana dan seberapa besarjuga model Spasial Dinamis yang menggambarkan suatu perubahan terjadi pada kurun waktu tertentu.perkembangan suatu wilayah dari sudut pandangkeruangan. Kedua model ini saling berkaitan satu Penjelasan mengenai keterkaitan antarasama lain. Model Sistem Dinamis menghasilkan nilai model Sistem Dinamis dan Spasial Dinamis dapatbesaran ekonomi dan juga luasan yang dibutuhkan digambarkan sebagai berikut :STEP-1 Pertumbuhan Ketersediaan Dilakukan simulasi Ekonomi Lahan dinamika sistem secara Pertumbuhan terpisah dengan data awal Penduduk berupa lahan terpakai, stok lahan Kebutuhan Alih Fungsi Stok Lahan Dihitung sisa stok lahan Lahan YA / TIDAK (Cadangan) cadangan yang ada Batasan RTRW BERDASARKAN MODEL DINAMIKA SISTEM SEMATA Lahan Terpakai Model Dinamika Sistem Dialokasikan Informasi lahan awal (t=0) Sesuai rule yang Untuk Lahan Terpakai Awal dan Stok Lahan ditetapkan Cadangan Awal HASIL SIMULASI TIME SERIESSTEP-2 Dilakukan simulasi dinamika spasial secara terpisah dengan data demand lahan berupa lahan terpakai secara time series yang diperoleh dari hasil stimulasi Dinamika Sistem Model Dinamika Spasial Gambar 6. Skema Keterkaitan Model Sistem Dinamis dan Spasial Dinamis Simulasi dan Proyeksi Pengembangan Kawasan Perbatasan Kegiatan ini mengkaji kawasan perbatasan yang meliputi 7 wilayah PKSN, 5 diantaranya berada di Provinsi Kalimantan Barat dan 2 PKSN di Provinsi NTT. Penjelasan hasil simulasi dan proyeksi akan dijelaskan dengan mengambil contoh Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat.1414 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. 3- 2-0210817
Sajian UtamaSub Model EkonomiEkonomi perbatasan dipicu oleh pertumbuhan permintaan dari pelintas batas, investasi sektor unggulan (pertanian,pertumbuhan permintaan lokal, pengolahan, jasa, dan pariwisata).pertumbuhan permintaan eksternaldomestik, pertumbuhan permintaan ekspor, Kawasan perbatasan merupakan lokasi transit atau menetap sementara untuk mencari kerja di negara tetangga atau sebaliknya. Pertumbuhan penduduk dari migrasi cukup dominan. GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 1155
Sajian Utama Investasi unggulan di perbatasan akan menciptakan peluang kerja baru bagi masyarakat lokal dan transit akan meningkatkan kesejahteraan dan mencegah human trafficking. Kondisi ini memiliki potensi konflik sosial dan dampak lingkungan.Perubahan guna lahan terjadi dengan Absolute Percentage Error). MAPE dihitungmeningkatnya lahan terpakai untuk mengisi dengan menggunakan kesalahan absolut padastok lahan yang masih kosong sesuai RTRW, tiap periode dibagi dengan nilai observasiatau pemanfaaannya saat ini tidak sesuai yang riil/nyata untuk periode tersebut. MAPERTRW. Alih fungsi lahan terjadi jika stok digunakan untuk proses validasi simulasicadangan lahan sudah habis dan diijinkan statistik (sistem dinamis), sementara validasiuntuk menambah alokasi dari lahan lain simulasi spasial untuk mengetahui proyeksidengan konsekuensi harus melakukan revisi perubahan penggunaan lahan menggunakanRTRW. indikator Kappa Coefficient dengan menggunakan data penggunaan lahan runtutValidasi dan Simulasi Model waktu sebagai referensinya. Berikut disajikan hasil validasi model Kabupten Sambas sebagaiValidasi digunakan sebagai indikator valid salah satu kabupaten yang dikaji.(andal) tidaknya sebuah model sebelumdigunakan untuk proses penyusunan simulasi(proyeksi) kedepan. Hasil validasi dari modelyang dibangun dalam kajian ini dihitungdengan menggunakan rumus MAPE (Mean1616 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. 3- 2-0210817
Validasi Sistem Dinamis Sajian Utama Contoh hasil validasi data historis dengan data simulasi untuk beberapa variabel mewakili sub model ekonomi, sub model sosial, dan sub model lahan dengan menggunakan rumus MAPE seperti dibawah ini: Keterangan; Nilai MAPE < 10% dinyatakan sangat valid Nilai MAPE < 20% dinyatakan valid Hasil validasi sebagai berikut: 1. GDP Growth = 11,96% 2. Kemiskinan = 2,35% 3. Jumlah Penduduk = 0,19% 4. Luas Lahan Pemukiman = 4,02% Gambar 7. Validasi visual (grafik) dan statistik (MAPE) Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan 1177 Barat (Analisis, 2017) GGEEOOttaannggkkaassVVool.l.34--22001178
Sajian UtamaSimulasi Sistem Dinamis Proses ini dilakukan setelah proses validasi dinyatakan valid (diterima) dengan ambang batasTahap simulasi sering disebut sebagai hasil dari (threshold) yang ditentukan. Sebagai informasi,pemodelan, yaitu proses mensimulasikan proyeksi ambang batas valisasi data statistik dalam kajiandari indikator-indikator yang dipilih dalam kajian. ini ditetapkan > 90%. Gambar 8.Simulasi sistem dinamis untuk beberapa indikator sub model di Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat (Analisis, 2017)Proyeksi Penggunaan Lahan Kawasan dengan memasukkan driving factor sampaiPerbatasan dengan menentukan kemenarikan lahan dengan menggunakan metode yang disampaikan oleh Proyeksi penggunaan lahan yang dimaksud Constanza menggunakan instrumen GIS.adalah proses mensimulasikan dampakperubahan penggunaan lahan kawasan yang Dari sudut pandang dinamika spasial,diasumsikan secara logis karena beberapa variabel pertanyaan krusial dalam pemodelan spasialpengubah. Sebagai contoh, varibel ekonomi yang penggunaan lahan adalah bagaimanamenggunakan indikator pertumbuhan ekonomi 9 memprediksi penggunaan lahan sesuai alokasisektor selalu berkaitan dengan kebutuhan lahan yang dibutuhkan? apakah yang menjadi dasaruntuk menggerakan nilai ekonomi setiap sektor. perubahan penggunaan lahan? dimana perubahanDemikian juga halnya dengan investasi yang hampir penggunaan lahan terjadi?seluruh investasi yang terjadi selalu membutuhkanlahan (economic landbased). Variabel penduduk Kajian ini mencoba menjawab pertanyaan-dengan indikator pertambahan penduduk yang pertanyaan diatas, baik dari sisi sistem dinamiskemudian diasumsikan dengan kebutuhan untuk menentukan kebutuhan lahan yangpermukiman, juga membutuhkan lahan untuk diinginkan dari berbagi variabel serta dari sisimenempatkan alokasi permukimannya. spasial dinamis untuk menjawab dimana alokasi perubahan penggunaan lahan yang akan terjadi. Seperti telah dijelaskan dalam Gambar 5.bahwa mekanisme alokasi lahan yang digunakan Hasil simulasi perubahan penggunaan lahandalam memproyeksikan penggunaan lahan sesuai dalam kajian ini seperti dicontohkan pada gambardengan kebutuhan lahan pada setiap indikator dibawah untuk melihat proyeksi perubahanmenggunakan metode pemodelan spasial dinamis penggunaan lahan Kabupaten Sambas periode 2014 (baseline) sampai dengan tahun 2030 dengan selisih perhitungan per 2 tahun.1818 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. 3- 2-0210817
Sajian UtamaGambar 9. Proyeksi perubahan penggunaan lahan Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat 2014-2030Kesimpulan dan Rekomendasi Program peningkatan infrastruktur yang diharapkan mampu mendorong investasi, ternyata belumBerdasarkan hasil simulasi dari running model yang menunjukkkan efek pada pertumbuhan ekonomidilakukan dengan beberapa simulasi menunjukkan Kawasan Perbatasan karena realisasi pembangunanbahwa sebagian besar program yang tertuang yang ada masih bersifat pada pengembangan,dalam RTR Kawasan Perbatasan lebih banyak misalnya peningkatan infrastruktur PLBN danpada pengembangan bukan pembangunan (baru). pembangunan gedung layanan terpadu perbatasan.Kondisi ini mengindikasikan perubahan penggunaan Dalam konteks tersebut diperlukan strategi cerdaslahan, baik dari data historis maupun hasil simulasi untuk menjadikan kawasan ini menjadi pusatkurang menunjukkan perubahan signifikansi. Hal ini pertumbuhan ekonomi baru, misalnya dengandisebabkan karena realisasi dari rencana program pelaksanaan acara festival budaya perbatasan yangKawasan Perbatasan yang masih sangat rendah. dilaksanakan secara kontinyu dengan melibatkanDiperlukan langkah konkret untuk sinkronisasi negara tetangga. Harapan ke depan, melaluiprogram dan kegiatan antara pemerintah pusat pelaksanaan strategi seperti ini akan memberikandan daerah untuk mendapatkan Readiness multiplier efek baik pada hubungan kerjasamaLevel (kematangan) rencana program yang siap ekonomi maupun budaya bagi kedua negara.diimplementasi untuk percepatan pembangunanKawasan Perbatasan secara terpadu. Penulis 1 adalah Kepala Bidang Dinamika SDA, BIG Penulis 2 adalah Surveyor Pemetaan Pertama, BIG GGEEOOttaannggkkaassVVool.l.34--22001178 1199
Sajian UtamaPeran Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlasdalam Mendukung Tata Ruang KawasanPerbatasan NegaraOleh : Rakyan Paksi NagaraGambar 1. PLBN Wini NTT (Sumber:BIG) Lahirnya Republik Demokratik Timor Leste (RDTRL) Timor Leste. tak lepas dari sejarah panjang wilayah bagian timur Salah satu kisah lain dari korban pengungsi Pulau Timor tersebut. Berbeda dengan Timor Barat yang dijajah oleh Belanda, Timor Timur merupakan yang masuk ke wilayah RI adalah kehilangan harta wilayah jajahan Portugal hingga tahun 1975. Setelah benda berupa rumah, lahan, dan pekerjaan yang itu Timor Timur menjadi salah satu provinsi yang berada di wilayah RDTL sehingga mereka harus ada wilayah di Republik Indonesia (RI). Namun pasca memulai hidup baru. Kisah lain adalah berpisahnya masuk dalam RI, muncul konflik berkepanjangan yang kewarganegaraan sanak saudara dan kerabat dekat. terjadi di wilayah Timor Timur. Hingga puncaknya Kondisi ini menyebabkan permasalahan tersendiri pada tahun 1999, saat pemerintahan Presiden B. J. apabila mereka ingin berkunjung ke keluarga dan Habibie dilakukan referendum yang menghasilkan kerabat karena dipisahkan oleh batas negara dimana kemerdekaan untuk Timor Timur, serta menjadi pos perlintasan hanya dibuka pada pagi hingga sore negara (RDTL) pada tahun 2002. hari. Berpisahnya RDTL dari RI menimbulkan suka Berkembangnya aktivitas masyarakat sekitar maupun duka bagi masyarakat Timor Timur dan perbatasan turut memicu pertumbuhan ekonomi. sekitarnya. Bagi masyarakat yang pro kemerdekaan Aktivitas perdagangan cukup mendominasi kegiatan tentunya menyambut dengan suka cita karena ekonomi, seperti ekspor-impor kendaraan bermotor, keinginan untuk lepas dari wilayah RI terwujud. minyak kelapa sawit, barang elektronik, bahan Namun nasib lain yang dirasakan oleh korban dari pangan, kopi, bijih besi, hingga hewan ternak. Namun konflik sosial dan pasca lahirnya Republik Demokratik seringkali wilayah perbatasan masih dianggap sebagai “halaman belakang” negara.2020 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. 3- 2-0210817
Sajian Utama Minimnya pembangunan infrastruktur perbatasan.membuat kegiatan ekonomi tidak dapat Sebagai produk hukum yang berlaku dalamberkembang dengan cepat. Kebutuhan infrastrukturserta fasilitas pelayanan umum sangat diperlukan jangka waktu yang panjang, maka rencana tataguna menunjang kegiatan masyarakat di kawasan ruang dapat dilakukan peninjauan kembali.perbatasan. Untuk itu diperlukan aturan hukum Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahunyang dapat digunakan sebagai acuan pembangunan 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang,wilayah yang operasional, mengikat, dan disepakati rencana tata ruang dapat ditinjau kembali satu kalioleh berbagai sektor terkait. dalam lima tahun, namun dapat pula dilakukan peninjauan kembali lebih dari satu kali dalam Lahirnya Undang-Undang Nomor 27 Tahun lima tahun apabila terjadi bencana skala besar,2007 tentang Penataan Ruang, menjadi salah satu perubahan batas teritorial negara, dan perubahantitik balik pembangunan RI. Peran sentral tata batas wilayah daerah yang semuanya ditetapkanruang sebagai “blue print” pembangunan yang melalui peraturan perundang-undangan. Dalamterintegrasi antara program pembangunan dengan pelaksanaannya, peninjauan kembali dilakukanlokasi yang tercermin melalui Informasi Geospasial. dengan melakukan pengkajian, evaluasi, sertaHal ini menjadikan Rencana Tata Ruang sejajar penilaian terhadap rencana tata ruang dandengan Rencana Pembangunan yang harus disusun penerapannya. Peninjauan kembali menghasilkandisetiap level pemerintahan. dua rekomendasi, yang pertama tidak perlu dilakukan revisi, yang kedua perlu dilakukan revisi. Pada tahun 2008, Rencana Tata RuangWilayah Nasional (RTRWN) yang disahkan dalam Pada tahun 2017, RTRWN dilakukan revisibentuk Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008. melalui Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 2017RTRWN mengatur arahan kebijakan nasional dan tentang Revisi RTRWN. Pertimbangan dilakukannyastrategi pemanfaatan ruang nasional sebagai acuan revisi karena terjadi perubahan kebijakan nasionalperencanaan jangka panjang. Salah satu produk yang mempengaruhi penataan ruang wilayahRTRWN adalah penetapan sistem perkotaan nasional serta terdapat dinamika pembangunandan pusat kegiatan berdasarkan hierarki skala pembangunan wilayah nasional yang menuntutpelayanannya, salah satunya adalah Pusat Kegiatan perlunya revisi. Salah satu perubahan dari revisiStrategis Nasional (PKSN). PKSN merupakan RTRWN yang terjadi adalah penetapan jumlahkawasan perkotaan yang ditetapkan untuk PKSN. Terjadi peningkatan jumlah kota yangmendorong pengembangan kawasan perbatasan ditetapkan menjadi PKSN yang semula sejumlahnegara. Pengembangan PKSN bertujuan untuk 26 kota menjadi 38 kota yang tersebar diseluruhmenyediakan pelayanan yang dibutuhkan untuk wilayah perbatasan.mendukung kegiatan masyarakat di wilayah Gambar 2. Peta Sebaran PKSN di Seluruh Indonesia 2211(Sumber: Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 2017 tentang Revisi RTRWN) GGEEOOttaannggkkaassVVool.l.34--22001178
Sajian Utama Di era pemerintahan Presiden RI Joko Widodo, dimulai sejak tahun 2015. Namun kendala yangpemerataan pembangunan di berbagai sektor gencar dihadapi karena kurangnya sumber daya manusiadilaksanakan. Hal ini tertuang jelas dalam Rencana di bidang pemetaan, maka penyusunan RDTR lebihPembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) fokus pada substansi perencanaan secara teknis.Tahun 2015-2019 dimana kawasan perbatasan Padahal peta RDTR di skala 1:5.000 memiliki akurasimenjadi prioritas pembangunan. Letak geografis, geometris yang tinggi, dimana pergeseran maksimalkondisi sosial dan ekonomi menjadikan wilayah yang diperbolehkan berdasarkan peraturan yangperbatasan negara memiliki permasalahan yang berlaku sebesar 2,5 meter. Konsekuensinya adalahcukup kompleks terkait konflik sosial dan budaya, perbedaan ukuran panjang dan luas sebenarnyakesenjangan ekonomi, keterbatasan layanan fasilitas yang tentunya akan berpengaruh terhadap analisisumum, hingga isu pertahanan dan keamanan. keruangan yang dilakukan dalam penyusunan substansi perencanaan. Perlunya upaya penyelesaian permasalahanyang didukung oleh program multi sektor, maka Dalam upaya mensukseskan pembangunankecamatan terluar yang berbatasan dengan negara wilayah perbatasan, maka Pusat Pemetaan Tatalain ditetapkan menjadi Lokasi Prioritas (Lokpri). Ruang dan Atlas (PPTRA) Badan Informasi GeospasialDalam RPJMN Tahun 2015-2019, percepatan (BIG) berkontribusi dalam membantu penyusunanpembangunan kawasan perbatasan dilakukan pada penyiapan peta RDTR yang dikemas dalam kegiatan26 PKSN di mana terdapat 187 Lokpri yang tersebar Penyusunan Peta RDTR Lokpri PKSN Perbatasan didi 41 Kabupaten/Kota. Jumlah tersebut masih Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini bertujuanmengacu pada RTRWN sebelum dilakukan revisi. untuk menyediakan IG Tata Ruang yang berkualitasTerdapat 46 kecamatan yang berada di 7 kabupaten melalui pembuatan IG dasar dan IG tematik sesuaidi Provinsi Nusa Tenggara Timur. kebutuhan pada skala 1:5.000. Lokasi kegiatan merupakan sekitar Pos Lintas Batas (PLB) di Provinsi Atas dasar penetapan PKSN dan Lokpri, maka Nusa Tenggara Timur yang memiliki karakteristikpenataan ruang kawasan perbatasan menjadi sebagai PKSN maupun Lokpri, yaitu PLBN Wini,urusan Pemerintah Pusat. Kementerian/Lembaga PLBN Motaain, PLBN Motamasin, PLB Haumeniana,(K/L) yang menangani tata ruang wilayah perbatasan PLB Napan, dan PLB Turiskain. Pada keenam wilayahadalah Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/ PLB tersebut ada yang telah mencirikan wilayahBadan Pertanahan Nasional (BPN) dan Badan perkotaan maupun yang direncanakan menjadiNasional Pengelola Perbatasan (BNPP). Agenda wilayah perkotaan.penyusunan RDTR di wilayah perbatasan telah2222 Gambar 3. Peta Sebaran Penyusunan Peta RDTR PLBN di Provinsi Nusa Tenggara Timur (Sumber: BIG) GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. 3- 2-0210817
Sajian Utama Kegiatan ini merupakan penggabungan geometris oleh BIG. Pembuatan peta dasar berupaantara metodologi pembuatan peta dasar dengan layer batas wilayah, jaringan transportasi, perairan,spesifikasi peta dasar RDTR skala 1:5000 yang bangunan, kontur, penutup lahan, dan toponimdisederhanakan dari RBI skala 1:5000. Spesifikasi dibuat sesuai standar pemetaan skala 1:5.000peta dasar ini didesain khusus untuk memenuhi untuk RDTR. Ketelitian geometris maksimal sebesarkebutuhan penyusunan rencana detail tata ruang. 2,5 meter, sedangkan dimensi objek terkecil yangInput yang digunakan adalah Citra Satelit Resolusi digambar sebagai poligon adalah 2,5 x 2,5 meter.Tinggi (CSRT), sedangkan output penting dari Khusus pada klasifikasi peta penutup lahan dilakukansebagian unsur dasar ini adalah penggunaan lahan penyesuaian agar mudah diterjemahkan menjadidengan klasifikasi untuk penyusunan RDTR. Untuk peta pola ruang nantinya.itu diperlukan survei lapangan untuk pendetilantutupan lahan yang diperoleh dari citra satelit, Data batas yang digunakan adalah batas negarakelengkapan lapangan lain berupa lokasi fasilitas RI-RDTL yang bersumber dari dokumen perjanjiansosial dan fasilitas umum, serta toponim. batas negara terbaru. Sedangkan data batas desa bersumber dari hasil pemetaan batas desa Pulau Peta sebagian unsur dasar ini digunakan sebagai Timor oleh BIG. Jaringan transportasi berupakerangka penggambaran peta tematik maupun peta jaringan jalan diperoleh dari hasil interpretasirencana nantinya. Jumlah dan jenis peta tematik CSRT. Informasi berupa kelas jalan dan namadibuat berdasarkan kebutuhan penyusunan RDTR jalan diperoleh dari beberapa instansi terkait danperbatasan. Untuk itu diperlukan review terhadap survei kelengkapan lapangan. Perairan berupamasing-masing substansi RDTR tersebut terkait jaringan sungai, air permukaan, dan garis pantaikebutuhan data spasial. Pedoman umum yang menggunakan data sesaat dari hasil interpretasidigunakan adalah Permen PU No. 20 tahun 2011 CSRT. Informasi kelas sungai, nama sungai, nama airtentang Pedoman Penyusunan RDTR dan Peraturan permukaan diperoleh dari beberapa instansi terkaitZonasi (PZ), sedangkan untuk perpetaan tata ruang dan survei kelengkapan lapangan.mengacu pada PP No. 8 tahun 2013 tentang KetelitianPeta Rencana Tata Ruang. Pedoman lain untuk peta Data bangunan diperoleh dari hasil interpretasirencana tata ruang adalah Norma Standar Prosedur CSRT. Informasi jenis bangunan dan nama bangunanKriteria (NSPK) dan Rancangan Standar Nasional diperoleh dari survei kelengkapan lapangan. DataIndonesia (RSNI) yang disusun oleh PPTRA. kontur bersumber dari DEM TerrasarX, sehingga interval kontur yang dihasilkan adalah 10 meter. Data Sesuai dengan tahapan penyusunan peta penutup lahan diperoleh dari hasil interpretasi CSRT.rencana tata ruang, output penyusunan peta RDTR Klasifikasi yang digunakan berdasarkan kebutuhanyang dilakukan oleh BIG mulai dari penyiapan penutup lahan skala 1:5.000 untuk RDTR. Validasisumber data, pembuatan peta dasar, penyusunan penutup lahan dilakukan bersamaan dengan surveipeta tematik, dan penyusunan album peta. kelengkapan lapangan. Data toponim berupa unsurSebagai rencana rinci dan operasional, peta RDTR alam, fasilitas umum, dan administrasi diperolehdibuat pada skala 1:5.000, maka sumber data dari survei kelengkapan lapangan.yang digunakan adalah CSRT yang telah terkoreksiGambar 4. Peta Dasar RDTR PLBN Motamasin (Sumber: BIG) GGEEOOttaannggkkaassVVool.l.34--22001178 2233
Sajian Utama Setelah dibuat peta dasar, maka disusun peta skala 1:5.000. Hal ini tentunya akan berpengaruhpeta tematik. Sesuai Permen PU No. 20 Tahun pada ketepatan informasi peta secara geometris.2011 tentang Pedoman Penyusunan Peta RDTRdan Peraturan Zonasi (PZ), kelengkapan peta Peta satuan kemampuan lahan (SKL) dantematik berupa peta penutup lahan eksisting, peta kesesuaian lahan merupakan peta tematik analisisjaringan infrastruktur eksisting (pergerakan, energi, yang dibuat. Peta satuan kemampuan lahan dantelekomunikasi, air minum, drainase, air limbah, kesesuaian lahan dibuat untuk menilai suatu lahanpersampahan), peta sebaran fasilitas umum dan untuk menghasilkan rekomendasi terhadap petasosial, peta kependudukan (kepadatan), peta status pola ruang yang akan disusun. Peta analisis inilahan (kawasan hutan, LP2B, izin pemanfaatan dapat dibuat dengan berbagai metode, namun padalahan), peta sumber daya air (air tanah dan air kegiatan ini mengadopsi metode dari Permen PUpermukaan), peta sumber daya tanah (jenis tanah), No. 20 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknik Analisispeta topografi dan kelerengan, peta geologi dan Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi serta Sosialpertambangan, peta klimatologi (curah hujan), peta Budaya dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang.rawan kebencanaan, peta analisis keruangan (satuan Metode SKL dan kesesuaian lahan yang diacukemapuan lahan dan kesesuaian lahan). Peta tematik memperhitungkan karakteristik fisik apa adanyadasar dipastikan menggunakan sumber yang valid, tanpa memperhitungkan faktor non fisik. Peta hasilberasal dari instansi/lembaga pengelola data. Hal analisis tersebut akan digunakan sebagai bahanyang masih menjadi kelemahan dalam penyusunan analisis dan kritisi terhadap peta rencana pola ruangpeta RDTR khususnya pada tematik sebagai bahan yang disusun Kementerian ATR/BPN untuk wilayahanalisis adalah belum tersedianya semua data pada PLBN Wini, PLBN Motaain, dan PLBN Motamasin. SKL Morfologi Analisis Arahan Tata AnalisisSKL Kemudahan Kemampuan Ruang Pertanian Kesesuaian Dikerjakan Lahan Arahan Rasio Lahan Tutupan Rekomendasi SKL Kestabilan Arahan Lereng Ketinggian SKL Kestabilan Bangunan Pondasi SKL Arahan Pemanfaatan Air Ketersediaan Air Baku Perkiraan Daya SKL Untuk Tampung Lahan Drainase Persyaratan SKL Terhadap dan Pembatas Erosi Pengembangan SKL Evaluasi Pembuangan Pemanfaatan Lahan Limbah terhadap Kesesuaian SKL Bencana Lahan Alam Gambar 5. Skema Analisis Kemampuan Lahan dan Kesesuaian Lahan (Sumber: Permen PU No. 20 Tahun 2007)2424 GEGOEtOantagnkgaksaVsoVl.o4l.-32-0210817
Sajian Utama Dalam analisis kemampuan lahan, seluruhnya air, SKL untuk drainase, dan SKL bencana alamdilakukan secara kuantitatif melalui skoring dan diberi bobot 5 karena paling berpengaruh. Hasilpembobotan. Setiap satuan kemampuan lahan penjumlahan memiliki nilai 32 sampai 160 yangmemiliki skor 1 sampai 5. Hasil akhir dilakukan terbagi menjadi 5 kelas kemampuan lahan dari kelaspenjumlahan namun sebelumnya dilakukan a (kemampuan lahan sangat rendah) sampai kelas epembobotan terlebih dahulu. SKL pembuangan (kemampuan lahan sangat tinggi). Semakin rendahlimbah diberi bobot 0 karena dianggap tidak berlaku kelas kemampuan lahan maka arahan pemanfaatanpada semua wilayah. SKL kemudahan dikerjakan lahan untuk zona lindung, dan semakin tinggi kelasdiberi bobot 1 karena tidak terlalu perpengaruh. kemampuan lahan maka arahan pemanfaatan lahanSKL kestabilan pondasi dan SKL terhadap erosi untuk zona budidaya. Pengaturan kelas kemampuandiberi bobot 3 karena cukup berpengaruh. SKL lahan berbeda-beda untuk tiap wilayah.morfologi, SKL kestabilan lereng, SKL ketersediaanGambar 6. Peta Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan (Sumber: BIG) Dari hasil satuan kemampuan lahan di Motamasin, 40% atau 216 hektar kawasan memilikiwilayah RDTR Motaain terbagi menjadi 5 kelas kelas kemampuan lahan sedang, sedangkan yangkemampuan lahan. Kelas kemampuan lahan paling kecil berupa 2% atau 10 hektar berupa lahanyang paling mendominasi adalah kemampuan dengan kemampuan lahan sangat tinggi. PLBN Winilahan pengembangan agak tinggi sebesar 40% merupakan wilayah PLBN yang paling baik untukatau 745 hektar dari luas wilayah perencanaan. dikembangkan menjadi kawasan perkotaan karenaSedangkan kelas kemampuan lahan paling sedikit didominasi oleh kelas kemampuan pengembanganadalah kemampuan lahan pengembangan sangat lahan sangat tinggi yaitu 54% atau 436 hektar.tinggi sebesar 4% atau 76 hektar. Pada RDTR PLBN GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 25
Sajian Utama Gambar 7. Peta Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan dengan Pola Ruang (Sumber: BIG) Setelah dilakukan overlay antara peta hasil lahan adalah sekitar 531 hektar atau 97,31% darianalisis satuan kemampuan lahan dengan peta pola total BWP secara keseluruhan, sedangkan sisanyaruang yang telah disusun, rencana pola ruang yang dinyatakan belum sesuai dengan hasil kemampuandinyatakan sesuai dengan hasil kemampuan lahan lahan pada PLBN Motamasin. Untuk RDTR PLBNpada RDTR PLBN Motaain yaitu sekitar 1.637 hektar Wini diperoleh hasil bahwa rencana pola ruangatau sekitar 85,87% dari luas kawasan, sedangkan yang dinyatakan sesuai dengan hasil kemampuansisanya dinyatakan belum sesuai dengan hasil lahan pada PLBN Wini yaitu sekitar 720 hektar ataukemampuan lahan pada PLBN Motaain. Sementara 88,61%, sedangkan sisanya dinyatakan belum sesuaiitu, pada RDTR PLBN Motamasin, rencana pola ruang dengan hasil kemampuan lahan pada PLBN Wini.yang dinyatakan sesuai dengan hasil kemampuan IndonesiaTimor Leste PLBN Batas Negara Gambar 8. PLBN Wini2626 GEGOEtOantagnkgaksaVsoVl.o4l.-32-0210817
Sajian UtamaTabel 1. Matriks Kesesuaian Kemampuan Lahan dan Rencana Pola Ruang di RDTR PLBN MotamasinNo Rencana Pola Ruang Kelas Kemampuan LahanKawasan Lindung Sangat Rendah Rendah Sedang Agak Tinggi Sangat Tinggi1 Sempadan Pantai sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai2 Sempadan Sungai sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai3 Hutan Kota sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai4 Taman Kota sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai5 Jalur Hijau/Pulau Jalan/Median sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai Jalan sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai6 Sabuk Hijau7 Pemakaman sesuai sesuai sesuai sesuai sesuaiKawasan Budidaya1 Industri Kecil belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai sesuai2 Pariwisata belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai3 Perdagangan dan Jasa Deret belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai4 Perdagangan dan Jasa Tunggal belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai5 Perkantoran Pemerintah belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai6 Perkantoran Swasta belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai7 Pertahanan dan Keamanan sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai8 Pertanian sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai9 Perumahan dan Perdagangan/Jasa belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai sesuai10 PLBN belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai sesuai11 Rumah Kepadatan Rendah belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai sesuai12 Rumah Kepadatan Sangat Rendah belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai sesuai sesuai13 Rumah Kepadatan Sedang belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai14 Sarana Pelayanan Umum Kesehatan belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai15 Sarana Pelayanan Umum Olah Raga belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai16 Sarana Pelayanan Umum belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai Pendidikan17 Sarana Pelayanan Umum belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai Peribadatan18 Sarana Pelayanan Umum Sosial belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai Budaya19 Sarana Pelayanan Umum Transport belum sesuai belum sesuai sesuai sesuai20 TPST belum sesuai belum sesuai sesuai sesuaiSumber: BIG Ketidaksesuaian hasil overlay antara peta hasil Berdasarkan aturan, pada kelas kemampuan lahananalisis satuan kemampuan lahan dengan peta pola sangat rendah disarankan untuk kegiatan budidayaruang terjadi zona permukiman, sarana pelayanan khususnya non bangunan.umum, rencana perdagangan, dan beberapakawasan budidaya lainnya yang terdapat padakelas kemampuan lahan sangat rendah dan rendah. GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 2277
Sajian UtamaHal ini dapat menjadi pertimbangan bagi pengambil penduduk, peta tematik lainnya), peta RDTRkebijakan untuk menentukan alternatif apa yang (peta rencana pola ruang, peta rencana strukturdilakukan, apakah mengalihkan lokasi rencana ruang/jaringan infrastruktur, dan peta Sub BWPbudidaya bangunan yang berada di kelas penggunaan prioritas penanganan). Sedangkan penyajian petalahan sangat rendah ke kelas penggunaan lahan mengacu pada Permen PU No. 20 Tahun 2011 untuksedang keatas yang berada disekitarnya atau dengan pewarnaan peta pola ruang, serta RSNI Penyajiantetap mempertahankan lokasi yang ada namun Peta RDTR untuk layout dan tata letak, format mukadiberi peraturan khusus dengan syarat tertentu atau peta, format indeks tepi peta, dan pewarnaan petapembatasan bangunan. rencana jaringan infrastruktur. Tahap akhir adalah pembuatan album peta.Sistematika peta sesuai dengan Permen PU No. 20Tahun 2011 berupa: peta profil wilayah perencanaan(peta orientasi, peta batas administrasi, petapenutup lahan, peta rawan bencana, peta sebaran Gambar 9. Pola Ruang RDTR PLBN Wini (Sumber: Kementerian ATR/BPN dan BIG) Hasil dari pekerjaan Penyusunan Peta spasial dengan skala 1:5.000 dengan adanyaRDTR Lokpri PKSN Perbatasan di Provinsi peta dasar, dan analisis peruntukan peta polaNusa Tenggara Timur dapat dimanfaatan oleh ruang yang tepat dan aktual melalui petaintansi penyusun rencana tata ruang di tingkat satuan kemampuan lahan dan peta kesesuaiannasional. Penyusunan rencana tata ruang di lahan. Selanjutnya RDTR tersebut akan disahkanwilayah PKSN dan Lokpri menjadi prioritas menjadi peraturan hukum yang berlaku. Dengankewenangan Pemerintah Pusat. Saat ini instansi adanya RDTR diharapkan kawasan perbatasanpusat penyusunan rencana tata ruang adalah tidak lagi menjadi “halaman belakang” namunKementerian ATR/BPN dan BNPP. Kementerian menjelma menjadi “halaman depan” yang dapatATR/BPN dan BNPP dapat merumuskan materi mendukung berbagai aktivitas masyarakat yangteknis dan terintegrasi dengan tepat secara mandiri dan tercipta kedaulatan NKRI.2828 GEGOEtOantagnkgaksaVsoVl.o4l.-32-0210817
Sajian Utama Gambar 10. Tugu Batas Kecamatan Bikomi Niulat (Sumber: BIG) Penulis adalah Surveyor Pemetaan Pertama, BIGDaftar Pustaka Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial. Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 2017 tentang Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Peta Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Peta Rencana Tata Ruang. GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 2299
ArtikelNERACA SPASIAL SUMBERDAYA ALAMTERINTEGRASI WILAYAH SUNGAISERAYU BOGOWONTOOleh: I Made Dipta SudanaLatar Belakang dukungnya yaitu DAS Ciliwung, Citarum, Cisadane, Kapuas, Siak, Serayu, Bengawan Solo, Brantas, Bencana alam seperti banjir, tanah longsor, Toba Asahan, Musi, Way Sekampung, Way Seputih,dan kekeringan yang kerap kali terjadi di Indonesia Moyo, Jeneberang, dan DAS Saddang.merupakan indikasi terjadinya kerusakan lingkunganhidup. Rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS) di bagian Pemulihan DAS dimulai dari pengelolaanhulu yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air sumberdaya alam disekitarnya. Dalam mendukungdan bagian hilir merupakan salah satu penyebab terlaksananya pengelolaan secara baik, diperlukanutama terjadinya bencana alam tersebut. Kerusakan alat yang dapat memantau serta memberikanlingkungan itu dipercepat oleh peningkatan informasi tentang kondisi sumberdaya alam yangpemanfaatan sumberdaya alam sebagai akibat dari berada di daerah aliran sungai. Informasi tersebutpertambahan penduduk, perkembangan daerah digunakan untuk pengelolaan sumberdaya alamperkotaan, dan konflik kepentingan, dan kurangnya pada DAS, sehingga dapat dilakukan upayakoordinasi dalam pengelolaan lingkungan. pemulihan yang terintegrasi. Salah satu alat tersebut yaitu ketersediaan informasi geospasial Batas DAS merupakan batas alami terhadap tematik sumberdaya alam.berbagai aspek sumberdaya alam didalamnyaseperti air, hutan, lahan, dan mineral. Batas alami Informasi geospasial sumberdaya alamitu seharusnya menjadi satuan batas pengelolaan yang terintegrasi antara hulu-tengah-hilir DASlingkungan hidup. Namun yang terjadi seringkali dalam rentang waktu tertentu dapat digunakanaspek batas DAS justru terlupakan ketika sebagai parameter untuk mengevaluasi kualitasperencanaan dan pelaksanaan pembangunan pengelolaan yang telah dilakukan. Informasi yangterbatas pada batas administrasi wilayah saja. bersifat keruangan ini juga dapat digunakan sebagai alat evaluasi penataan ruang. Bentuk informasi Seiring dengan pertambahan penduduk dan tersebut berupa neraca spasial sumberdaya alamkemajuan ekonomi di Indonesia berdampak pada air terintegrasi.permukaan dan air tanah. Daerah-daerah sumberair sungai dan jaringan air tanah mengalami kondisi Neraca sumberdaya alam terintegrasikritis akibat pesatnya pertumbuhan industri dan menerapkan konsep analisis dari perubahan fungsiurbanisasi. Kompetisi penggunaan sumber-sumber ruang selama rentang waktu tertentu. Hasilnyaair membawa dampak kritis bagi ketersediaan air dapat mengetahui laju konversi lahan dari setiapdan menurunnya permukaan air tanah di beberapa fungsi/peruntukannya baik secara kualitatiftempat, terutama DAS. Dilihat dari kondisi daya maupun kuantitatif. Perubahan fungsi ruang, yangdukungnya, terdapat DAS yang diklasifikasikan biasanya hanya mencakup satu sumberdaya alamdalam kondisi kritis sehingga memerlukan tindakan seperti perubahan kawasan hutan atau perubahancepat untuk segera dilakukan pemulihan. lahan saja, tidak dapat memberikan implikasi pada pengelolaan DAS secara terintegrasi. Perlu dilakukan Melihat pentingnya pengelolaan dan suatu penilaian terpadu terhadap perubahanpemulihan DAS, maka pemerintah mengeluarkan seluruh komponen sumberdaya alam DAS secarabeberapa kebijakan antara lain Undang-undang terintegrasi. Kontinuitas kegiatan seperti ini akanNomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang memberikan dampak positif bagi pengelolaan DASdan PP nomor 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan dan bagi seluruh pemangku kepentingan.Daerah Aliran Sungai, sedangkan rencanapengelolaannya tercantum dalam Rencana Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagaiPembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) institusi yang memiliki tugas pokok di bidangtahun 2015-2019. Dalam RPJMN tersebut terdapat penyiapan informasi geospasial berperan dalam15 DAS prioritas yang harus segera dipulihkan daya kegiatan pemetaan neraca spasial sumberdaya alam terintegrasi.3030 GEGOEtOantagnkgaksaVsoVl.o4l.-32-0210817
ArtikelPemetaan yang dilakukan tidak hanya pemetaan (26,88%), kebun campuran (22,9%) dan bangunaneksisting tetapi juga melakukan perhitungan secara permukiman desa (21,55%). Penutup lahan pasivakuantitatif dan kualitatif kondisi sumberdaya yang masih di dominasi oleh lahan sawah berupa padiada di wilayah berdasarkan data dalam rentang terus menerus (26,70%), kebun campuran (22,76%)waktu tertentu secara terintegrasi. Kegiatan ini dan bangunan permukiman desa (21,62%).merupakan peran nyata BIG dalam menyediakaninformasi geospasial tematik sumberdaya alam untuk Kedua data tersebut diolah denganmendukung kebijakan pengelolaan lingkungan hidup menggunakan teknik tumpang susun (overlay) dandi wilayah sungai dan tata ruang yang terpadu dan menghasilkan kelas perubahan penutup lahan diberkelanjutan. tahun aktiva ke tahun pasiva. Analisis perhitungan dapat dilakukan ke dalam satuan luasan (Ha) ataupunTujuan persentase (%). Hasil neraca sumberdaya lahan dapatSecara umum kegiatan ini bertujuan untuk dilihat pada Tabel 1 berikut ini.memperoleh informasi geospasial atau pemetaanneraca spasial sumberdaya alam terintegrasi kawasan Tabel 1. Neraca Sumberdaya Lahan WS SerayuWilayah Sungai (WS) Serayu Bogowonto dalam kurun Bogowontowaktu 5 tahun terakhir mulai tahun (2009/2010 -2014/2015). Pemetaan neraca sumberdaya alam No Penutup Lahan Sumberdaya Lahan Luas (Ha) %terintegrasi yang dimaksud adalah memandang 1 Danau/Telaga Alami 22.95 0.00elemen sumberdaya alam berupa hutan, lahan, air,dan mineral sebagai satu kesatuan atau terintegrasi 2 Rawa Pesisir Bervegetasi 83.40 0.01satu dengan yang lain. 3 Rawa Pesisir Tak Bervegetasi 3.41 0.00Lingkup WilayahPemetaan yang dilakukan mencakup seluruh WS 4 Sungai 4,743.65 0.77Serayu Bogowonto yang terbagi dalam 15 buah DASyaitu Serayu, Tipar, Ijo, Donan, Telomoyo, Luk Ulo, 5 Tubuh Air Lain 3.55 0.00Wawar, Cokroyasan, Bogowonto, Majingklak, WatuGumulung, DAS Jemenar, Jintung, Mangli, dan Suwuk. 6 Hamparan Pasir Pantai Non-Volkanik 770.82 0.13WS Serayu Bogowonto memiliki luas 7.370 km2 danberada di wilayah Kabupaten Wonosobo, Purworejo, 7 Rataan Lumpur 154.02 0.03Kebumen, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas,Cilacap di Provinsi Jawa Tengah dan sebagian wilayah 8 Lahan Terbuka Lain 785.13 0.13Kabupaten Kulon Progo di Provinsi D.I. Yogyakarta. 9 Waduk Multiguna 727.16 0.12Analisis dan Hasil Neraca SpasialSumberdaya Alam 10 Tambak Ikan/Udang 731.21 0.12Sumberdaya Lahan 11 Kolam Ikan Air Tawar 134.10 0.02 Neraca sumberdaya alam untuk lahan merupakan 12 Embung 12.99 0.00informasi tentang perubahan (imbangan) potensisumberdaya lahan pada periode waktu tertentu yang 13 Tampungan Air Lain 1.23 0.00dinyatakan dalam aktiva dan pasiva. Neraca diperolehdengan membandingkan antara aktiva dan pasiva 14 Saluran Air 676.43 0.11penutup lahan yang berada di luar kawasan hutan atauArea Penggunaan Lain (APL). Luas dari APL yang ada 15 Jaringan Rel Kereta 107.04 0.02di WS Serayu Bogowonto adalah 615.010,48 Ha yangterbagi ke dalam 46 klasifikasi penutup lahan. Aktiva 16 Jaringan Jalan Aspal/Beton/Tanah 1,538.28 0.25dan pasiva lahan diperoleh dari aktivitas interpretasicitra Quickbird tahun 2010 untuk aktiva dan SPOT 6 17 Bangunan Permukiman Kota 19,919.65 3.24tahun 2015 untuk pasiva. Perbedaan jenis citra yangdigunakan karena mengikuti ketersediaan data yang 18 Bangunan Permukiman Desa 132,826.36 21.62ada. Penutup lahan pada aktiva didominasi lahansawah berupa padi terus menerus/sepanjang tahun 19 Bangunan Industri, Perdagangan dan Perkantoran 755.08 0.12 20 Stasiun 5.08 0.00 21 Landasan Pacu (Runway) dan Taxiway 34.95 0.01 22 Terminal Bandara 9.42 0.00 23 Stadion dan Sarana Olah Raga 30.19 0.00 24 Pelabuhan 39.13 0.01 25 Bangunan Non-Permukiman Lain 300.77 0.05 26 Hutan Lahan Tinggi Sekunder Kerapatan Tinggi 1,693.73 0.28 27 Hutan Lahan Tinggi Sekunder Kerapatan Sedang 5,513.94 0.90 28 Hutan Lahan Tinggi Sekunder Kerapatan Rendah 1,302.58 0.21 29 Hutan Lahan Rendah Sekunder Kerapatan Tinggi 3,120.04 0.51 30 Hutan Lahan Rendah Sekunder Kerapatan Sedang 9,689.71 1.58 31 Hutan Lahan Rendah Sekunder Kerapatan Rendah 2,344.18 0.38 32 Semak 21,879.26 3.56 33 Padang Rumput 775.76 0.13 34 Liputan Vegetasi Alami/Semi Alami Lain 1,667.51 0.27 35 Hutan Pinus 1,281.76 0.21 36 Perkebunan Teh 421.17 0.07 37 Kebun Buah 624.34 0.10 38 Kebun Campuran 139,826.77 22.76 39 Ladang/Tegalan Dengan Palawija 52,536.18 8.55 40 Ladang/Tegalan Hortikultura 39,500.68 6.43 GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 3311
ArtikelNo Penutup Lahan Sumberdaya Lahan Luas (Ha) % I.1.1.2. Rawa - I.1.1.2. Perubahan -41 Tanaman Semusim Lahan Kering Lain 9.90 0.00 I.1.1.3. Kering - penutupan lahan -42 Sawah Dengan Padi Terus Menerus 164,018.20 26.70 -43 Sawah Dengan Padi Diselingi Tanaman 1,684.00 0.27 Jumlah I.1.1. 62,079.75 Jumlah I.1.1. - I.1.2. - Lain/Bera 608.32 0.10 I.1.2. Hutan bekas Hutan bekas -2,385.0444 Tanaman Semusim Lahan Basah Lain 2,034.39 0.33 tebangan I.1.2.1. tebangan -2,385.0445 Pekarangan 62.08 0.0146 Padang Golf 615,010.48 100 I.1.2.1. Mangrove Perubahan -18.04Jumlah kawasan hutan -18.04 -2,403.08 I.1.2.2. Rawa I.1.2.2. Perubahan I.1.2.3. Kering penutupan lahan -2,534.23 -2,534.23Sumberdaya Hutan Jumlah I.1.2. 62,079.75 Jumlah I.1.2. -4,937.31 Neraca Sumberdaya hutan menurut SNI I.1.3. Hutan tanaman I.1.3.1. Mangrove I.1.3. Hutan tanaman -6728.2:2015 tentang Penyusunan Neraca Spasial -Sumberdaya Hutan, terbagi menjadi dua jenis yaitu I.1.3.1. Perubahanneraca fungsi kawasan hutan dan neraca penutup kawasan hutan 60,825.07lahan kawasan hutan. Neraca fungsi kawasan hutan 60,825.07merupakan hasil analisis overlay antara peta aktiva I.1.3.2. Rawa - I.1.3.2. Perubahanfungsi kawasan hutan dengan peta pasiva fungsi I.1.3.3. Kering 782.09 penutupan lahan 770.07kawasan hutan yang berada dalam kawasan hutan. 770.07Neraca penutup lahan kawasan hutan merupakan Jumlah I.1.3. 782.09 Jumlah I.1.3. 61,595.14hasil analisis overlay antara peta penutup lahan aktiva 62,861.84dan pasiva yang berada dalam kawasan hutan saja. Jumlah I.1. Jumlah I.1. 4,318.63Kawasan hutan di WS Serayu Bogowonto memiliki luas 56,130.59area 62.079 Ha. I.2. Areal tidak I.2. Areal tidak 60,449.22 berhutan berhutan 122,044.36 Aktiva dan Pasiva pada neraca fungsi kawasan 122,044.36hutan berupa data spasial fungsi kawasan pada tahun I.2.1. Mangrove I.2.1. Perubahanawal (aktiva) dan data spasial fungsi kawasan hutan kawasan hutanpada tahun akhir analisis (pasiva). Perolehan data aktivadan pasiva pada neraca penutup lahan dalam kawasan I.2.2. Rawa 4,301.27 I.2.2. Perubahanhutan dilakukan melalui cara yang sama dengan neraca I.2.3. Kering 54,881.25 penutupan lahansumberdaya lahan. Perbedaan yang ada terbatas pada Jumlah I.2.batas kawasan analisis. Analisis neraca hutan berada Jumlah I.2. 59,182.52 Jumlah I. Persediaan akhirdi dalam kawasan hutan, sedangkan analisis neraca Jumlah I. 122,044.36 II. (saldo akhir)sumberdaya lahan berada di luar kawasan hutan atau II. Penambahan Areal berhutanAPL. II.1. Hutan primer II.1. Areal berhutan II.1.1. Mangrove Neraca fungsi kawasan hutan di WS Serayu II.1.1. Hutan primer II.1.1.1. RawaBogowonto periode tahun 2010-2015 tidak mengalami II.1.1.1. Perubahan kawasan hutan II.1.1.2.perubahan karena data yang diperoleh terkait fungsikawasan hutan yang terakhir berupa SK Menteri Perubahan II.1.1.3. KeringKehutanan No. 359 tertanggal pada 1 Oktober 2004. II.1.1.2. penutupan lahanNeraca penutup lahan di dalam kawasan hutanmemperlihatkan perubahan yang terjadi pada area Jumlah II.1.1. - Jumlah II.1.1.hutan sekunder cukup besar yaitu pengurangan luaslahan untuk hutan bekas tebangan seluas 1.245,68 Ha II.1.2. Hutan bekas II.1.2. Hutan bekasdan hutan tanaman berkurang 12,02 Ha. tebangan tebangan II.1.2.1. Perubahan kawasan hutan II.1.2.1. Mangrove II.1.2.2. Rawa Perubahan 1,130.36 II.1.2.3. Kering II.1.2.2. penutupan lahan 1,130.36 Jumlah II.1.2. Jumlah II.1.2. II.1.3. Hutan tanaman II.1.3. Hutan tanaman II.1.3.1. Mangrove Perubahan II.1.3.1. kawasan hutan Perubahan 6.02 II.1.3.2. Rawa II.1.3.2. penutupan lahan II.1.3.3. Kering 6.02 Jumlah II.1.3. 1,136.38 Jumlah II.1.3. Jumlah II.1. Jumlah II.1.Tabel 2. Neraca Penutup Lahan Dalam Kawasan Hutan WS Serayu II.2. Areal tidak II.2. Areal tidakBogowonto berhutan berhutan Aktiva Pasiva II.2.1. Perubahan II.2.1. MangroveNo. Data kawasan hutan No. Data Luas (Ha) Luas (Ha) II.2.2. Rawa II.2.3. Kering1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 II.2.2. Perubahan 3,800.93 penutupan lahan 3,800.93I. Persediaan awal I. Pengurangan (saldo awal) Jumlah II.2 Jumlah II.2 Jumlah II.I.1. Areal berhutan I.1. Areal berhutan Jumlah II. 4,937.31 Jumlah Total PasivaI.1.1. Hutan primer I.1.1. Hutan primer Jumlah Total Aktiva 122,044.36I.1.1.1. Mangrove I.1.1.1. Perubahan kawasan hutan32 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 32 GEOtangkas Vol. 3 - 2017
ArtikelSumberdaya Air tangga, perkotaan, dan industri (RKI), kebutuhan perikanan, peternakan, irigasi, dan aliran Neraca Sumberdaya Air dihitung dari pemeliharaan. Perhitungan neraca air ini sesuaiselisih antara ketersedian air dengan kebutuhan dengan SNI 6278.1:2015 yang hanya menghitungair. Ketersediaan air diperoleh dari besarnya debit air permukaan saja.andalan 80% dari masing-masing DAS yang ada diWS Serayu Bogowonto. Debit andalan 80 % dihitung Neraca Sumberdaya Air di WS Serayudari pengolahan data debit pada masing-masing Bogowonto memperlihatkan nilai debit surplus,pos duga air yang ada di WS Serayu Bogowonto. yaitu sebesar 138,14 m3/detik atau 4.356,28Kebutuhan air diperoleh dari hitungan kebutuhan m3/tahun. Debit perbulannya dapat dilihat padamanusia terhadap air yaitu kebutuhan rumah gambar berikut.Gambar 1. Neraca Bulanan WS Serayu Bogowonto Neraca sumberdaya air juga dihitung pada titik terendahnya pada 111,41 m3/detik. Kondisitiap DAS yang ada di WS Serayu Bogowonto. DAS kebutuhan air terbesar dapat mencapai 379,05 m3/Serayu merupakan DAS yang terbesar debitnya detik seperti pada gambar 2.dengan nilai mencapai 509,34 m3/detik danGambar 2. Neraca Bulanan DAS Serayu 33 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 33 GEOtangkas Vol. 3 - 2017
Artikel Neraca sumberdaya air di masing-masing DAS berbeda nilainya. Hal tersebut dapat dilihatpada peta neraca sumberdaya air WS Serayu Bogowonto berikut ini. Gambar 3. Peta Neraca Sumberdaya Air WS Serayu Bogowonto Selain neraca, nilai sumberdaya air juga dihitung Indeks Pemakaian Air (IPA) yangmerupakan perbandingan antara kebutuhan air dengan ketersediaan air. Nilai IPA seluruh DAS diWS Serayu Bogowonto termasuk klasifikasi I dengan nilai lebih dari 0,40 dan disimbolkan warnamerah seperti pada gambar berikut.34 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 Gambar 4. Peta IPA WS Serayu Bogowonto 34 GEOtangkas Vol. 3 - 2017
ArtikelSumberdaya Mineral Neraca sumberdaya mineral batubara merupakan perbandingan antara produksi dengancadangan mineral batubara di tiap komoditasnya. Neraca sumberdaya mineral ini bersifat tahunan,aktivanya berupa cadangan yang ada dan nilai produksinya menjadi pasiva. Nilai neraca sumberdayamineral dapat menjadi nilai aktiva di tahun berikutnya. Peta neraca yang dihasilkan berupa sebaranlokasi cadangan mineral dan dilengkapi tabel neraca produksi seperti pada gambar 5. Gambar 5. Peta Neraca Sumberdaya Mineral WS Serayu BogowontoBahan galian utama di WS Serayu pengelolaan sumberdaya alam dan lingkunganBogowonto termasuk golongan C berupa hidup. Integrasi ini dapat menunjukkan kondisipenambangan pasir. Dibanding WS Progo yang semua komponen sumberdaya alam, sehinggaberada di timur WS Serayu Bogowonto, volume dapat terlihat daerah yang perlu penangananpenambangan galian C tersebut tidak sampai 5%- pengelolaan secara cepat dan tepat. Integrasinya. Hal ini menunjukkan kecilnya kebutuhan dan neraca sumberdaya alam dilakukan dengansuplai bahan galian golongan C di lokasi yang jauh menggunakan metode perhitungan kuantitatifdari daerah perkotaan. WS Serayu Bogowonto melalui metode skor dan pembobotan.juga banyak terdapat penambangan batuan alam Penentuan skor dan pembobotan dilakukansebagai bahan utama pembuatan batu akik. dengan menggunakan faktor pengaruh danSalah satunya adalah DAS Luk Ulo merupakan ketergantungan. Faktor tersebut didasarkan darisumber batuan bahan akik terbesar di WS Serayu analisis prospektif dan mempunyai nilai koreksi.Bogowonto. Nilai faktor koreksi merupakan nilai berdasarkan besarnya komponen sumberdaya alam yangIntegrasi Neraca Spasial Sumberdaya mempengaruhi perubahan sumberdaya lainnyaAlam dan lingkungannya.Integrasi neraca sumberdaya alam dapatmembantu dalam merumuskan kebijakan GEOtangkas Vol. 3 - 2017 35 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 35
Artikel Terdapat tiga buah variabel dalam waktu. Penilaian sumberdaya hutan dilakukan duapembobotan pengaruh dan ketergantungan yaitu kali perhitungan berdasarkan perubahan penutupvariabel penentu, penghubung, dan terikat. Neraca lahan dalam kawasan hutan dan berdasarkansumberdaya lahan dan mineral merupakan variabel perubahan yang terjadi pada fungsi kawasan hutan.penentu yang memiliki pengaruh kuat terhadap Sumberdaya mineral batubara dijadikan kontrolkondisi neraca sumberdaya alam yang lain dan dalam hasil perhitungan integrasi.lingkungan sekitarnya. Neraca sumberdaya hutansebagai variabel penghubung memiliki pengaruh Hasil dari perhitungan penilaian dankuat dan ketergantungan antar komponen pembobotan pada masing-masing komponensumberdayanya juga kuat. dikalikan dengan faktor koreksi. Nilai hasil perhitungan kemudian diklasifikasikan dengan Neraca sumberdaya air merupakan variabel menggunakan grafik distribusi normal sehinggaterikat yang memiliki ketergantungan kuat terhadap dihasilkan klasifikasi Sangat Baik, Baik, Cukup Baik,sumberdaya alam yang lain dan lingkungan di Kurang Baik, dan Tidak Baik. Hasil analisis integrasisekitarnya. diperoleh kelas sangat baik mendominasi WS Serayu Bogowonto sebesar 609.611,3 Ha, disusul kelas Cara penilaian dilakukan berbeda pada cukup baik seluas 119.767,21 Ha dan hanya sebagiantiap komponen sumberdaya alam. Sumberdaya kecil yang memiliki kelas tidak baik seluas 36,83 Ha.air menggunakan nilai IPA sebagai klasifikasi Hasil spasial tersaji pada Gambar 4 berikut ini.penilaiannya. Nilai sumberdaya lahan dilihat dariperubahan penutup lahan yang terjadi antar periode Gambar 6. Peta Integrasi Neraca Sumberdaya Alam WS Serayu Bogowonto Laju Konversi Lahan Laju konversi lahan merupakan laju perubahan yang terjadi pada penutup lahan. Neraca sumberdaya lahan sangat terkait dengan laju konversi lahan. Laju perubahan yang terjadi dihitung dalam persentase per tahun. Laju konversi lahan di WS Serayu Bogowonto yang paling tinggi adalah laju kebun buah yaitu 28,35% dan tambak ikan/udang sebesar 25,72%.36 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 36 GEOtangkas Vol. 3 - 2017
ArtikelKesesuaian dengan tata ruangAnalisis overlay hasil interpretasi pasiva pada neraca sumberdaya lahan tahun 2015 dengan tata ruangKabupaten diperoleh kesesuaian tata ruang wilayah yang masuk ke dalam WS Serayu Bogowonto. Hasilanalisis menggambarkan sebesar 69,6% wilayah yang masuk ke dalam WS Serayu Bogowonto sesuaidengan pola ruang yang ada. Adanya ketidaksesuaian dengan tata ruang sebesar 30,4% umumnya beradadi wilayah perbukitan yang terkonversi menjadi area permukiman serta pertambangan. Padahal areatersebut dialokasikan/pola ruangnya diperuntukan sebagai kawasan konservasi.Gambar 7. Peta Kesesuaian Pola Ruang dan Penutup Lahan Di WS Serayu BogowontoKesimpulan mempengaruhi yaitu perubahan penutup lahan di perbukitan yang diubah menjadi area permukimanIntegrasi neraca sumberdaya alam menghasilkan dan ladang untuk bercocok tanam. Pada perbukitanfakta sebagian besar lingkungan WS Serayu terjadi banyak pembukaan lahan hutan sekunderBogowonto masuk dalam kelas sangat baik. Hal menjadi area bercocok tanam seperti kebun buah.tersebut didukung data yang menyatakan nilai Walaupun hal ini dapat mendukung perekonomianneraca sumberdaya air bernilai suprlus. Namun, masyarakat di WS Serayu Bogowonto, namunyang perlu mendapat perhatian adalah meskipun seharusnya tetap memperhatikan lingkungan dannilai neraca sumberdaya air di WS Serayu Bogowonto pola ruang yang ada. Kawasan yang memiliki kelassurplus, tetapi nilai IPA-nya masuk ke dalam kelas kurang baik memiliki luasan yang tidak terbatastinggi. Hal ini dapat menjadi pertimbangan dalam pada wilayah administrasi tertentu. Untuk itumerumuskan kebijakan pengelolaan air secara baik diperlukan koordinasi dan kerjasama yang intensifsehingga dikemudian hari nilai neraca sumberdaya antar pemerintah daerah dalam mengelola kawasanair tidak defisit atau mengalami kekeringan. ini.Pada kelas yang kurang baik terdapat faktor yang Penulis adalah Surveyor Pemetaan Pertama, BIGGEOtangkas Vol. 3 - 2017 37 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 37
ArtikelPemetaan Wilayah Perbatasandari Aspek Sosial EkonomiOleh: Erna KusumawatiSecara geografis Indonesia berbatasan darat Isu-su tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya kualitas sumber daya manusia yangdengan tiga negara, yaitu Malaysia, Papua Nugini, masih rendah, sarana dan prasarana ekonomi masih kurang, sarana dan kualitas pendidikan rendah,dan Timor Leste. Kondisi topografi dan geografis tingginya eksploitasi sumberdaya alam, jangkauan telekomunikasi yang jauh, penegakan hukum masihwilayah perbatasan darat tersebut berbeda-beda. lemah, dan pembagian kewenangan yang kurang optimal antara pemerintah pusat dan daerah. Isu-Salah satu wilayah Indonesia yang berbatasan isu tersebut perlu untuk disikapi dengan kebijakan yang sesuai. Pemetaan penyebab-penyebab tersebutdengan negara lain adalah Kalimantan. Perbatasan dalam suatu basis data spasial dan tampilan peta akan memudahkan pengambil kebijakan dalamKalimantan dengan negara Malaysia memiliki kondisi memberikan solusi kebijakan yang sesuai di wilayah perbatasan.topografi yang beragam berupa sungai, perbukitan, Secara spesifik beberapa aspek yangdan pegunungan. Kondisi topografi yang relatif sulit menghambat kemajuan perkembangan kawasan perbatasan antara lain:terjangkau, terutama masa lalu, sering menimbulkan 1. Aspek Sosialdampak ketimpangan antar negara. Dalam hal ini, Masalah sosial yang mendasar di wilayah perbatasan meliputi kemiskinan yang tinggi,kondisi negara tetangga lebih baik dibanding wilayah terbatasnya aksesibilitas dan kualitas pendidikan, terbatasnya aksesibilitas dan kualitas kesehatan,Indonesia. dan rendahnya kesadaran pengelolaan lingkungan. Dalam indeks desa tertinggal jugaKetimpangan pengelolaan wilayah menyatakan bahwa sebagian besar wilayah perbatasan menjadi wilayah desa tertinggal,perbatasan dibandingkan dengan negara tetangga dimana berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) 2015, sebanyak 644 Desa (45%) adalahperlu dikaji terutama dalam pemenuhan kebutuhan “Desa Tertinggal” dan 635 Desa (44%) “Sangat Tertinggal”.sosial dasar, kesehatan, dan ekonomi. Kebutuhantersebut merupakan hal yang mendasar bagiwarga perbatasan. Kajian ini perlu dilakukansejalan dengan Program Nawacita karena wilayahperbatasan merupakan halaman depan negara yangberkontribusi dalam menjaga kedaulatan NKRI.Wilayah perbatasan didorong agar tidak menjadiwilayah yang tertinggal dan terbelakang.Isu-isu nasional wilayah perbatasan antaralain pertumbuhan ekonomi lamban, pelayanansosial dasar terbatas, ketersediaan energi terbatas,terisolasi dan keterbatasan infrastruktur desa,akses telekomunikasi rendah, pengembangan PKSNmasih belum efektif, tingginya aktivitas ilegal, danpengelolaan wilayah perbatasan masih sektoral.38 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 Gambar 1. Kondisi Infrastruktur di Wilayah Perbatasan 38 GEOtangkas Vol. 3 - 2017
Artikel2. Aspek Ekonomi. mengurangi ketergantungan dengan negara tetangga. Sendi-sendi ekonomi yang mendukung Prioritas pembangunan sosial ekonomi yang akan berkembangnya ekonomi di wilayah perbatasan dilakukan di wilayah perbatasan mengacu pada empat adalah sarana dan prasarana yang memadai. aspek tersebut dengan tujuan akhir pada peningkatan Faktanya jumlah sarana dan prasarana masih kesejahteraan. Prioritas pembangunan tersebut perlu terbatas dan sulit dijangkau dari beberapa didukung oleh regulasi lintas batas dan penegakan wilayah karena faktor infrastruktur. Kemampuan hukumnya. Regulasi dan penegakan hukum ini pengelolaaan sumber daya lokal terbatas karena menjadi ruh dari penegakan kedaulatan negara, hasil alam apa adanya (asli), bukan dalam bentuk sehingga sangat strategis dalam pembangunan olahan dan akses pasar yang belum optimal. Hal ini wilayah perbatasan. menyebabkan hasil produksi wilayah perbatasan hanya bisa dinikmati warga lokal, tidak dapat Dukungan Informasi Geospasial menjangkau wilayah pemasaran yang lebih luas. Ketersediaan informasi geospasial (IG) untuk3. Aspek Infrastruktur. mendukung pembangunan kawasan perbatasan, Infrastruktur pendukung ekonomi, pendidikan, dan pulau terluar, serta daerah tertinggal merupakan kesehatan terbangun di wilayah perbatasan masih salah satu bagian penting dalam rangka mendorong terbatas. Infrastruktur dasar yang diperlukan peningkatan pembangunan wilayah. Agenda prioritas berupa akses jalan yang menghubungkan satu pengembangankawasanperbatasan2015-2019adalah daerah ke daerah lain masih minim. Mengingat mempercepat pembangunan kawasan perbatasan pentingnya sektor ini, pemerintah sudah mulai di berbagai bidang, terutama perkembangan atau memprioritaskan pembangunan infrastruktur di pertumbuhan ekonomi, peningkatan pelayanan dasar, wilayah perbatasan. peningkatan penyediaan infrastruktur, peningkatan pertahanan dan keamanan, serta menempatkan4. Aspek Kelembagaan kawasan perbatasan sebagai pintu gerbang aktivitas Kewenangan pemerintah dalam mengurusi ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga wilayah perbatasan sering terjadi tumpang tindih secara terintegrasi dan berwawasan lingkungan. antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Hal tersebut menghambat pelayanan Pemetaan aspek sosial dan ekonomi cukup yang maksimal kepada masyarakat penting sebagai bagian untuk meningkatkan kemajuan pembangunan wilayah perbatasan. BadanKeempat aspek tersebut menggambarkan bahwa lnformasi Geospasial (BIG) sebagai badan yangkondisi wilayah perbatasan masih serba terbatas bergerak di sektor IG mendukung pembangunandan jauh tertinggal dari negara tetangga. Wilayah perbatasan melalui kegiatan “Pembuatan Datasetperbatasan bisa menjadi pintu strategis untuk Atlas dan Pemetaan Sosial Kewilayahan”. Pembuatanpengembangan ekonomi negara atau justru basisdata IG berbasis sosial ekonomi kewilayahansebaliknya menjadi wilayah rawan karena banyaknya untuk memastikan tersedianya data keruanganketerbatasan sehingga memunculkan berbagai kasus dalam rangka mendukung pengembangan kawasanlintas batas ilegal. perbatasan. Selain itu dapat sebagai data dasar untuk membantu menangani masalah sosial. Semangat Nawacita untuk membangun daripinggiran segera dilakukan supaya kesejahteraan Pembuatan Dataset Atlas dan Pemetaan Sosialmasyarakat perbatasan meningkat dan mengurangi Kewilayahan ini menggunakan Informasi Geospasialketergantungan dengan negara tetangga. Prioritas Dasar (IGD) skala 1:50.000 dengan level wilayahpembangunan sosial ekonomi yang akan dilakukan terkecil yang dipetakan adalah wilayah perbatasandi wilayah perbatasan mengacu pada empat aspek Kalimantan. Penggunaan skala data tersebuttersebut dengan tujuan akhir pada peningkatan mengikuti ketersediaan IGD. Wilayah perbatasankesejahteraan. Prioritas pembangunan tersebut perlu yang dipetakan adalah seluruh kecamatan yangdidukung oleh regulasi lintas batas dan penegakan berbatasan langsung baik darat maupun laut dihukumnya. Regulasi dan penegakan hukum ini Kalimantan. Jumlah kecamatan yang dipetakan danmenjadi ruh dari penegakan kedaulatan negara, dibuat geodatabase-nya sebanyak 31 kecamatansehingga sangat strategis dalam pembangunan di 8 kabupaten. Wilayah Kecamatan Sajingan Besarwilayah perbatasan. Semangat Nawacita untuk di Kabupaten Sambas menjadi contoh pembuatanmembangun dari pinggiran segera dilakukan supaya geodatabase skala besar menggunakan data darikesejahteraan masyarakat perbatasan meningkat dan Citra Satelit Tegak Resolusi Tinggi.GEOtangkas Vol. 3 - 2017 39 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 39
ArtikelTahapan Umum Pemetaan Sosial Ekonomi kemudian disimpan sebagai bagian dari basis data yang siap diintegrasikan dengan data spasialPenyusunan dataset atlas dan pemetaan sosial baru yang akan dibangun dan siap dimanfaatkankewilayahan berupa geodatabase yang mengikuti untuk berbagai keperluan yang mendukungkaidah KUGI. Tahap penyusunan geodatabase antara berbagai aplikasi.lain:• merancang inventarisasi data, baik yang bersifat Secara umum, penyusunan geodatabase dengan unit satuan wilayah administrasi mengikuti spasial maupun nonspasial. poligon wilayah administrasi, tidak perlu membuat• membuat model konseptual dan pengolahan featureclass/shapefile baru, cukup menambahkan atribut. Untuk feature dataset yang belum terdapat data. Data diintegrasikan ke dalam suatu basis di KUGI dapat membuat konseptual baru disesuaikan data untuk membentuk Feature Datasets. dengan tipenya. Dataset sosial ekonomi kewilayahan• identifikasi Data Existing untuk membuat yang dibuat masih terbatas pada aspek yang disajikan metadata. pada tabel 1, karena data yang tersedia masih• kompilasi dan seleksi data untuk menjamin terbatas. tingkat ketelitian dan kekonsistenan data.• Menyimpan data spasial yang telah didigitalisasi, Tabel 1. Ringkasan Rancangan Geodatabase ASPEK DATASET TIPE SUMBER DATALingkunganDemografi Tutupan/penggunaan Poligon Kemenhut dan Monografi Kec./DesaPendidikan lahanKesehatan Fungsi kawasan hutan Poligon Kemenhut dan Monografi Kec./DesaInfrastruktur Sarana komunikasi Poligon Monografi Kec./DesaEkonomi Struktur dan komposisi Poligon Monografi Kec./Desa, Kab/ Kec. dalam angkaEnergi penduduk Sarana Pendidikan Poligon Monografi Kec./Desa, Kab/ Kec. dalam angka Data Pokok Pendidikan Titik Kemendiknas Layanan kesehatan Poligon Monografi Kec./Desa, Kab/ Kec. dalam angka Data dasar puskesmas Titik Kemenkes Sarana & prasarana Poligon Monografi Kec./Desa, Kab/ Kec. dalam angka angkutan Kelistrikan dan air Garis Monografi Kec./Desa Jalan Poligan & Garis Monografi Kec./Desa dan Bina Marga, Kab/ Kec. dalam angka Jembatan Titik Monografi Kec./Desa dan Bina Marga Telepon seluler Titik Provider telp seluler Produksi tanaman Poligon Monografi Kecamatan/Desa, Kab/ Kec. dalam angka pertanian & perdagangan Perusahaan/usaha Poligon Monografi Kec./Desa, Kab/ Kec. dalam angka Sarana perkenomian Poligon Monografi Kec./Desa, Kab/ Kec. dalam angka Peternakan & perikanan Poligon Monografi Kec./Desa, Kab/ Kec. dalam angka BBM Poligon Monografi Kec./DesaContoh penggunaan IG untuk analisis buffer terhadap jangkauan layanan pendidikan SDketerjangkauan Sekolah Dasar (SD) sejauh 3 (tiga) km dengan asumsi keterjangkauan dari pemukiman. Analisis heatmap digunakanKecamatan Sajingan Besar menjadi contoh IG untuk untuk menggambarkan sebaran kepadatankeperluan analisis IG. Metodenya menggunakan penduduk berdasarkan luasan pemukiman dananalisis buffer, heatmap, dan intersection. Analisis direpresentasikan dalam gradasi warna.40 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 40 GEOtangkas Vol. 3 - 2017
Analisis intersection untuk mendapatkan Artikelkesimpulan akhir tingkat keterjangkauan SDterhadap pemukiman dengan menggabungkan Analisis Bufferhasil analisis buffer dengan analisis heatmap.Hasil yang didapatkan adalah tingkatketerjangkauan SD di Kecamatan SajinganBesar adalah 58%.Analisis HeatmapPembuatan dataset sosial ekonomi Analisis Intersectionkewilayahan diharapkan dapat digunakanuntuk menyajikan data sosial ekonomi Gambar 2.Hasil Analisaperbatasan dalam suatu peta. Keuntunganpenyajian data sosial ekonomi secara spasial Penyusunan dataset sosialdapat memudahkan interpretasi pembaca ekonomi kewilayahan masih memilikidengan membandingkan kondisi suatu banyak kekurangan. Data masukanwilayah dengan wilayah lain. Lebih efektif hanya terbatas pada tingkat wilayahdaripada penyajian beberapa wilayah dalam administrasi kecamatan, karena batassatu tabel. administrasi desa belum tersedia untuk wilayah perbatasan. Kekosongan Gambar 3. Peta Infrastruktur Ekonomi Kecamatan Perbatasan Negara data untuk beberapa kecamatan di Kab. Sambas masih muncul karena hanya dilakukan pengumpulan data sekunder. Isi dataset juga belum dapat mencakup seluruh permasalahan di perbatasan. Pengembangan dataset sosial ekonomi ke depan perlu melibatkan sektor terkait yang menangani wilayah perbatasan agar dataset yang dibuat lebih komprehensif dan multisektor/utuh. Data yang lengkap akan memudahkan pemerintah mengambil kebijakan yang sesuai.Penulis adalah Surveyor Pemetaan Pertama, BIG GEOtangkas Vol. 4 - 2018 41 GEOtangkas Vol. 3 - 2017 41
ArtikelPemetaan Neraca Spasial Sumberdaya Alam Kabupaten BrebesOleh : Gunawan Gambar 1. Panorama perkebunan teh di Kab. Brebes (Sumber: BIG)Pendahuluan dilakukan melalui proses tumpang susun antara peta penutup lahan aktiva dan pasiva yang berada Neraca sumberdaya alam merupakan didalam kawasan hutan.instrumen untuk memberikan informasi yangmenggambarkan sumberdaya yang sudah digunakan Di samping neraca sumberdaya hutan, neracadan cadangan sumber daya yang tersisa (saldo) sumberdaya lahan juga menjadi bagian pentingdalam kurun waktu tertentu. Informasi mengenai dalam penilaian sumberdaya alam. Neraca inipotensi sumberdaya alam sebuah wilayah dapat memberikan informasi tentang perubahan imbanganditinjau dari dua hal yaitu neraca sumberdaya hutan potensi sumberdaya lahan pada periode waktudan lahan. tertentu yang dinyatakan dalam aktiva dan pasiva. (SNI 6728.3-2015) Neraca sumberdaya hutan memberikaninformasi yang menggambarkan cadangan Selayang Pandang Kabupaten Brebessumberdaya hutan, kehilangan dan penggunaansumberdaya hutan sehingga pada waktu tertentu Kabupaten Brebes terletak di pantai utaradapat diketahui kecenderungannya, apakah surplus Laut Jawa, memanjang ke selatan berbatasan denganatau defisit jika dibandingkan dengan waktu wilayah Kabupaten Cilacap dan Banyumas, sebelahsebelumnya (SNI 6728.2-2015). Secara spasial, neraca timur berbatasan dengan Kabupaten Tegal dan Kotasumberdaya hutan tersebut dapat tergambarkan Tegal, sebelah barat berbatasan dengan wilayahmelalui peta neraca fungsi kawasan hutan dan peta Kabupaten Cirebon dan Kuningan. Secara geografisneraca penutup lahan kawasan hutan. Peta neraca terletak diantara garis 6°44’–7°21’ LS dan 108°41’-fungsi kawasan hutan merupakan hasil tumpang 109°11’ BT. Kabupaten Brebes merupakan salah satususun antara peta fungsi kawasan hutan aktiva dan kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasanpeta fungsi kawasan hutan pasiva. Penyusunan dengan Provinsi Jawa Barat. Berada di jalur strategispeta neraca penutup lahan di dalam kawasan hutan konektivitas jalan susur pantai utara Jawa.42 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 42 GEOtangkas Vol. 3 - 2017
Artikel Luas wilayah Kabupaten Brebes berdasarkan Aktiva dan Pasiva Penutup Lahan Kawasandata RBI-BIG adalah 176.037,95 ha. Kabupaten Brebes Hutanterbagi atas 17 kecamatan, 292 desa, 5 kelurahan danterbagi menjadi 1.177 dusun, 1.573 rukun warga, Aktiva hutan menggambarkan kondisi8.153 rukun tetangga. Keberadaan kecamatan hingga sumberdaya hutan pada keadaan awal (t0) padadesa bervariasi, mulai dari pantai hingga pegunungan tahun 2010. Menurut hasil analisis, jenis hutan yangdi ujung selatan. Kecamatan terluas adalah Kecamatan paling luas di Kabupaten Brebes adalah hutan pinusBantarkawung yaitu 20.953,93 ha, sedangkan wilayah seluas 18.116,37 ha. Berdasarkan data yang ada, diterkecil adalah Kecamatan Kersana yaitu 2671.51 ha. kabupaten ini tidak terdapat klasifikasi hutan primer. Pasiva hutan menggambarkan kondisi sumber daya Kabupaten Brebes memiliki kondisi bentang hutan pada keadaan akhir (t1) pada tahun 2015.alam yang beragam, mulai dari dataran rendah di Menurut hasil perhitungan, jenis hutan yang palingwilayah utara dan dataran tinggi di wilayah selatan. luas di Kabupaten Brebes adalah hutan Pinus yaituWilayah paling tinggi di Kabupaten Brebres adalah seluas 17.832,37 ha.Kecamatan Sirampog dengan ketinggian berkisarantara 500 hingga 2.000 mdpl. Kecamatan ini berada Neraca Spasial Penutup Lahan Kawasandi sebelah tenggara Kabupaten Brebes berbatasan Hutanlangsung dengan Kabupaten Banyumas. KabupatenBrebes dilintasi 22 sungai dan 2 waduk, yaitu Waduk Pada kajian ini, dilakukan perhitungan untukMalahayu seluas 925 hektar dan Waduk Penjalin neraca penutup lahan kawasan hutan di Kabupatenseluas 125 Hektar. Sungai terbesar yang melintasi Brebes. Hasil analisis aktiva dan pasiva menghasilkanKabupaten Brebes adalah Sungai Pemali yang yang rekapitulasi inventarisasi sumber daya hutan besertaberhulu di wilayah Kecamatan Salem dan Sirampog, neraca penutup lahan kawasan hutan. Tabel 1 tersajimelalui wilayah Bumiayu, Bantarkawung, Larangan, neraca penutup lahan kawasan hutan KabupatenJatibarang, Songgom, dan Brebes. Sungai yang Brebes.cukup besar lain adalah Cisanggarung di perbatasanKabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah danKabupaten Cirebon di Provinsi Jawa Barat.Gambar 2. Berbagai Kondisi Alam di Kab. Brebes (Sumber: BIG) GEOtangkas Vol. 4 - 2018 43 GEOtangkas Vol. 3 - 2017 43
ArtikelTabel 1. Neraca Penutup Lahan Kabupaten BrebesNo Aktiva Data Luas (ha) No Pasiva Data Luas (Ha) 2. Penambahan 2. Persediaan Akhir 2.1. (Saldo Akhir)1. Persediaan Awal Pengurangan 2.1.1. Areal Berhutan 2.1. (Saldo Awal) 2.1.1.1. Hutan Primer 2.1.1. Areal Berhutan Perubahan Kawasan 2.1.1.1. Hutan Primer1.1. Areal Berhutan 1.1. Areal Berhutan 2.1.1.2. Hutan Mangrove1.1.1. Hutan Primer 1.1.1. Hutan Primer 2.1.2. 2.1.2.1.1.1.1.1. Mangrove 1.1.1.1. Perubahan Kawasan Hutan 2.1.2.2. 2.1.1.2. Rawa1.1.1.2. Rawa 2.1.3. Perubahan 2.1.1.3. Kering 2.1.3.1. Penutupan Lahan1.1.1.3. Kering 1.1.1.2. Perubahan Penutupan Lahan 2.1.3.2. Jumlah 2.1.1. - Jumlah 2.1.1. - 2.2. Hutan Bekas Hutan Bekas Tebangan Jumlah 1.1.1. - Jumlah 1.1.1 - 2.2.1. Tebangan 2.1.2.1.1.2. Hutan Bekas 1.1.2. Hutan Bekas Tebangan 2.2.2. Perubahan Kawasan 2.1.2.1. Mangrove1.1.2.1. Tebangan Hutan Mangrove 1.1.2.1. Perubahan Kawasan 2.1.2.2. Rawa - Hutan 2.1.2.3. Kering 11.741,451.1.2.2. Rawa - 1.1.2.2. Perubahan Penutupan 6,74 Perubahan -6,74 Jumlah 2.1.2. 11.741,451.1.2.3. Kering 11.748,19 Lahan 6,74 Penutupan Lahan -6,74 Hutan Tanaman Mangrove Jumlah 1.1.2. 11.748,19 Jumlah 1.1.2. Jumlah 2.1.2. 2.1.3. Hutan Tanaman 2.1.3.1.1.1.3. Mangrove 1.1.3. Hutan Tanaman Hutan Tanaman1.1.3.1. 1.1.3.1. Perubahan Kawasan Perubahan Kawasan Hutan Hutan1.1.3.2. Rawa Perubahan -284,00 2.1.3.2. Rawa 26.799,351.1.3.3. Kering Penutupan Lahan 2.1.3.3. Kering -284,00 27.083,34 1.1.3.2. Perubahan Penutupan 284,00 Jumlah 2.1.3. -290,74 Jumlah 2.1.3. 26.799,35 Lahan Jumlah 1.1.3. 27.083,34 284,00 Jumlah 2.1. Jumlah 2.1. 38.540,80 38.831,54 Jumlah 1.1.3. 290,74 Jumlah 1.1. Areal Tidak 2.2. Areal Tidak Berhutan Jumlah 1.1. Berhutan1.2 Areal Tidak 1.2. 2.2.1. Mangrove1.2.1. Berhutan Areal Tidak Berhutan Perubahan Kawasan Hutan Mangrove 1.2.1. Perubahan Kawasan 2.2.2. Rawa Hutan 2.2.3. Kering1.2.2. Rawa Perubahan 290,74 12.388,951.2.3. Kering Penutupan Lahan 12.098,21 1.2.2. Perubahan Penutupan -290,74 290,74 Jumlah 2.2. Lahan Jumlah 2.2. 0,00 Jumlah 1.2. 12.098,21 -290,74 50.929,75 Jumlah 2. 50.929,75 Jumlah 1. 50.929,75 Jumlah 1.2. 0,00 Jumlah 2.No Aktiva Data Luas (ha) Luas (Ha) Jumlah Total Pasiva 50.929,75 Jumlah 1. Jumlah Total Aktiva No Pasiva Data Sumber: Hasil analisis, 2017 Gambar 3. Peta Neraca Penutup Lahan Kawasan Hutan Spasial Kabupaten Brebes44 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 44 GEOtangkas Vol. 3 - 2017
ArtikelAktiva dan Pasiva Sumberdaya Lahan Neraca Spasial Sumberdaya Lahan Aktiva sumberdaya lahan menggunakan Hasil analisis neraca spasial sumberdaya lahan dipenutup lahan dalam kawasan areal penggunaan lain Kabupaten Brebes menghasilkan keluaran penutup(non hutan) pada tahun awal (t0) yaitu tahun 2010. lahan di luar kawasan hutan (areal penggunaan lain)Hasil interpretasi citra menghasilkan luas setiap yang mengalami penambahan dan penguranganpenutup lahan dalam satuan hektar dengan luasan berdasarkan luasan per penutup lahan. Penutupterbesar adalah sawah dengan padi terus menerus lahan yang mengalami penambahan paling luassebesar 69.162,42 ha dan yang terendah adalah area adalah bangunan permukiman desa seluas 274,40terminal bus seluas 0,54 ha. ha. Sedangkan penutup lahan yang mengalami pengurangan paling luas adalah sawah dengan Pasiva sumberdaya lahan juga menggunakan padi terus menerus seluas 360,25 ha. Data lengkappenutup lahan di luar kawasan hutan (areal tentang neraca sumber daya lahan disajikan dalampenggunaan lain) pada tahun akhir (t1) yaitu tahun tabel 2 di bawah ini.2015. Hasil interpretasi citra menghasilkan luassetiap penutup lahan dalam satuan hektar denganluasan terbesar yaitu sawah dengan padi terusmenerus seluas 68.802,16 ha. Untuk luasan terkeciladalah area terminal bus dengan luasan 0,54 ha.Tabel 2. Neraca sumber daya lahan Kabupaten BrebesKlasifikasi Penutup Lahan Luas Penutup Luas Penutup Lahan Neraca Sumber Klasifikasi Penutup Lahan Luas Penutup Luas Penutup Lahan Neraca Sumber Lahan t0 (Aktiva) t1 (Pasiva) 2015 (ha) Daya Lahan (+) Lahan t0 (Aktiva) t1 (Pasiva) 2015 (ha) Daya Lahan (+) 2010 (ha) 589,08 (-) (ha) 2010 (ha) (-) (ha) 95,60 1.140,72 -0,65Bangunan industri, perdagangan 493,48 126,13 Ladang/tegalan dengan palawija 1.141,37 776,61 -15,27dan perkantoran 14.872,68 6,00 45,30 -2,35 935,64 274,40 18,20 4,33 0,64 3,40 Ladang/tegalan hortikultura 791,88 20,20 6,58 27,07 -Bangunan non-permukiman lain 120,13 5,11 9,45 5,67 522,06 4,81 - Lahan terbuka lain 47,65 - -Bangunan permukiman desa 14.598,29 339,99 Lapangan diperkeras 13,87 256,04 -6,88 -30,81Bangunan permukiman kota 932,24 6.232,52 3,75 0,23 64,72 444,46 Liputan vegetasi alami/semi- 13,61 -4,70 - alami lain -360,25Embung 0,64 12,61 - -57,12Hamparan pasir pantai non- 21,96 - Penambangan terbuka bukan 3,77 -volkanik -2,23 sirtu 11,44 10,36 -243,87Hutan jati 522,06 - Penggalian pasir, tanah dan 76,60 76,60 12,41 3.812,73 batu (sirtu) -Hutan kota, jalur hijau dan 4,81 62,13 -19,53 931,79 1.187,83 -taman kota 482,96 - Perairan laut dangkal 3.288,17 3.257,36 - 117,76 - 3,75 -Hutan lahan rendah sekunder 346,87 144,44 Perkebunan lainkerapatan rendah 2,09 -0,04 5.255,26 - Permukaan diperkeras lainHutan lahan rendah sekunder 6.232,76 -123,29kerapatan sedang Rawa pesisir bervegetasi 58,41 123,13Hutan lahan rendah sekunder 444,46 Rawa pesisir tak bervegetasi 59,92 55,22kerapatan tinggi Sawah dengan padi terus 69.162,42 68.802,16 menerusHutan lahan tinggi sekunder 12,61 Semak belukar 2.327,74 2.270,62kerapatan rendah Stasiun 0,95 0,95 Sungai 1.584,92 1.596,36Hutan lahan tinggi sekunder 2,23 Tambak ikan/udang 11.221,21 10.977,35kerapatan sedang Tampungan air lain 28,14 40,55 Tanaman budidaya lain 13,47 13,47Hutan lahan tinggi sekunder 10,36 Terminal bus 0,54 0,54kerapatan tinggi Tubuh air lain 12,48 12,48 Waduk multiguna 801,69 801,69Hutan pinus 3.832,26 Luas Total 125.108,21 125.108,21Hutan tanaman (industri) lain 62,13Jaringan jalan aspal/beton/ 365,20tanahJaringan rel kereta 144,49Kebun buah 2,09Kebun campuran 5.378,56 GEOtangkas Vol. 3 - 2017 45 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 45
Artikel Gambar 4. Peta Neraca Sumber Daya Lahan Spasial Tahun 2010-2015 Kabupaten BrebesLaju Konversi Sumberdaya Hutan dan Lahan Alih fungsi lahan atau konversi lahan setiap waktunya. Hal ini akan mendorongmerupakan perubahan penggunaan atau fungsi terjadinya alih fungsi lahan. Konversi lahan padasebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya sektor pertanian merupakan masalah yang cukupsemula menjadi fungsi lain, baik yang membawa rumit karena di satu sisi dapat berdampak positifdampak negatif terhadap lingkungan dan potensi terhadap sektor lain, namun juga memberi dampaklahan sendiri maupun yang memberikan dampak buruk terhadap keberlanjutan sektor pertanianpositif. Alih fungsi lahan dapat bersifat permanen pangan berkelanjutan. Perubahan luas penggunaandan juga dapat bersifat sementara. Sebagai contoh, lahan untuk rumah, bangunan dan industri sertajika lahan sawah beririgasi teknis berubah menjadi untuk pertanian di wilayah kajian ini pada tahunkawasan perumahan atau industri, maka alih fungsi 2010-2015 mengindikasikan telah terjadinya alihlahan tersebut bersifat permanen. Akan tetapi, jika fungsi lahan. Laju konversi lahan di Kabupatensawah tersebut berubah menjadi perkebunan tebu, Brebes, disajikan secara detail pada tabel 3 dimaka alih fungsi lahan tersebut bersifat sementara, bawah ini.karena pada tahun-tahun berikutnya menjadikansawah kembali. Umumnya perkebunan tebumemakai sistem sewa area sawah dalam jangkawaktu tertentu. Alih fungsi lahan merupakan salah satubentuk dampak nyata serta konsekuensi akibatkebutuhan manusia yang terus meningkat.Peningkatan jumlah penduduk dan tuntutanpertumbuhan ekonomi menyebabkan permintaanterhadap sumber daya lahan terus bertambah46 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 46 GEOtangkas Vol. 3 - 2017
Artikel Tabel 3. Laju Konversi Sumber Daya Hutan dan Lahan Kabupaten BrebesNo. Klasifikasi Penutup Luas Penutup Luas Penutup Lahan Laju No. Klasifikasi Penutup Luas Penutup Luas Penutup Lahan Laju Lahan Lahan t0 (Aktiva) t1 (Pasiva) 2015 (ha) Konversi Lahan Lahan t0 (Aktiva) t1 (Pasiva) 2015 (ha) Konversi 2010 (ha) 590,59 (%) 2010 (ha) 1.281,21 (%) 19,68 -0,051 Bangunan industri, 493,48 151,39 21 Ladang/tegalan 1.281,86 2.137,54 perdagangan dan 14.959,90 4,49 dengan palawija -0,69 perkantoran 935,64 1,89 45,30 0,64 0,36 22 Ladang/tegalan 2.152,38 18,20 -4,93 27,07 0,00 hortikultura 20,20 31,222 Bangunan non- 144,89 9.489,04 23,27 48,42 permukiman lain 4,81 0,00 10,76 440,11 0,00 23 Lahan terbuka lain 47,65 111,39 -1,54 77,043 Bangunan 14.682,81 14.244,49 24 Lapangan diperkeras 13,87 0,00 permukiman desa 0,00 1.187,83 1.897,52 6.928,72 27,484 Bangunan 932,24 0,00 25 Liputan vegetasi 13,61 717,61 -0,45 permukiman kota 355,32 4,23 0,00 0,00 alami/semi-alami lain 781,25 40,12 123,135 Embung 0,64 -18,27 26 Penambangan terbuka 5,09 110,80 1.803,81 bukan sirtu 55,22 0,00 -7,846 Hamparan pasir 21,96 21.645,10 27 Penggalian pasir, 77,04 71.633,99 62,13 -1,38 -0,03 pantai non-volkanik 484,38 0,00 tanah dan batu (sirtu) 3.417,48 144,50 32,12 0,95 -1,687 Hutan jati 9.489,04 11,12 -0,03 28 Perairan laut dangkal 931,79 1.752,02 0,00 7.427,14 56,84 10.977,35 0,668 Hutan kota, jalur hijau 4,81 -2,40 29 Perkebunan lain 6.959,78 40,55 -2,17 dan taman kota 13,47 44,10 0,009 Hutan lahan rendah 446,99 30 Perkebunan teh 717,61 0,54 sekunder kerapatan 12,48 0,00 rendah 31 Permukaan diperkeras 0,48 34,53 0,00 lain 20,40 0,00 812,41 0,0010 Hutan lahan rendah 14.244,73 32 Rawa pesisir 58,41 176.037,95 0,00 sekunder kerapatan bervegetasi sedang11 Hutan lahan rendah 1.897,52 33 Rawa pesisir tak 59,92 sekunder kerapatan bervegetasi tinggi 34 Sawah dengan padi 71.652,26 terus menerus12 Hutan lahan tinggi 355,32 sekunder kerapatan rendah 35 Semak belukar 3.475,7113 Hutan lahan tinggi 49,09 36 Stasiun 0,95 sekunder kerapatan sedang 37 Sungai 1.740,5914 Hutan lahan tinggi 1.803,81 38 Tambak ikan/udang 11.221,21 sekunder kerapatan tinggi 39 Tampungan air lain 28,1415 Hutan pinus 21.948,63 40 Tanaman budidaya 13,47 lain16 Hutan tanaman 62,13 41 Terminal bus 0,54 (industri) lain17 Jaringan jalan aspal/ 366,62 42 Tubuh air lain 12,48 beton/tanah 43 Vegetasi herba lain 34,5318 Jaringan rel kereta 144,54 44 Waduk irigasi 20,4019 Kebun buah 7,09 45 Waduk multiguna 812,4120 Kebun campuran 7.609,45 Luas Total 176.037,95 Sumber: Hasil Analisis, 2017 Dari tabel 3 tersebut dapat disimpulkan peningkatan kebutuhan lahan untuk perumahanbahwa secara persentase perubahan laju konversi penduduk yang cukup signifikan. Bertambahnyaterbesar (penambahan) pada permukaan diperkeras perairan laut dangkal mengindikasikan telah terjadilain sebesar 780% dan penambangan terbuka bukan abrasi laut pesisir utara Brebes yang dapat menjadisirtu sebesar 111%, sedangkan yang mengalami perhatian pemangku kepentingan setempat. Areapengurangan terbesar adalah hutan lahan tinggi penambahan ruas jalan karena akibat pembebasansekunder kerapatan sedang sebesar 18%. Tetapi lahan untuk pembangunan jalan tol. Penurunanbesarnya persentase penambahan tersebut karena luasan terbesar terjadi pada hutan pinus seluasarea luasan yang kecil sehingga menghasilkan 303,53 ha, tambak berkurang seluas 243,87 ha,persentase yang besar. Area yang bertambah dan kebun campuran seluas 182,31 ha.signifikan adalah bangunan permukiman desasebesar 277,09 ha, perairan laut dangkal seluas Penulis adalah Analis Pemetaan, BIG256,04 ha dan jaringan jalan seluas 117,76 ha. Darihasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi GEOtangkas Vol. 3 - 2017 47 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 47
Pemetaan Dinamika SumberdayaKEK TanjunglesungOleh: Roswidyatmoko Dwihatmojo Gambar 1. Salah Satu Panorama KEK Tanjunglesung Sumber : BIGPendahuluan implementasi pemanfaatan data antar sektor yang sejalan dengan pendekatan pembangunan Arah kebijakan dan sasaran secara Tematik, Holistik, Integratif, dan Spasialpengembangan wilayah sesuai amanat RPJMN (THIS) dalam upaya meningkatkan efektivitas dan2015-2019 adalah pengurangan kesenjangan efisiensi agenda prioritas nasional. Pendekatanantar wilayah dan pengembangan pusat THIS mengedepankan penanganan secarapertumbuan berbasis keunggulan wilayah. Salah menyeluruh dan terfokus pada kegiatan yangsatu pendekatan kewilayahan yang digunakan relevan dengan pencapaian tujuan programadalah pengembangan kawasan cepat tumbuh prioritas.melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK),Kawasan Industri (KI) dan Free Trade Zone (FTZ).Pendekatan kewilayahan tersebut merupakan48 48 GEGOEtOantagnkgaksaVsoVl.o4l.-32-0210817
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106