KKN-IK IAIN Kudus 2021 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 1 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
WONDERLAND BUNGO Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib Oleh: Ahmad Burhanuddin Akbar Ahmad Faiz Yahya Amalia Muthoharoh Amira Khoirina Aulia Rahmawati Azkal Muna Dewi Ismayawati Eka Syafira Millinia Eva Syafaatul Usna Faizatus Sholekhah Liya Faliha Min Amrina Rosyada Miya Wijiyanti Moh Ihan Hari Yanto Rikiana Zakky Fuad Copyright©2021
Penulis : Ahmad Burhanuddin Akbar Ahmad Faiz Yahya Amalia Muthoharoh Amira Khoirina Aulia Rahmawati Azkal Muna Dewi Ismayawati Eka Syafira Millinia Eva Syafaatul Usna Faizatus Sholekhah Liya Faliha Min Amrina Rosyada Miya Wijiyanti Moh Ihan Hari Yanto Rikiana Zakky Fuad Editor : Hasan Bastomi, M.Pd.I. Desain Sampul : Ahmad Faiz Yahya Desain Isi : Azkal Muna ISBN : Cetakan I : Ukuran : 15 cm x 20 cm 168 Halaman
KKN-IK IAIN Kudus 2021 PRAKATA PENULIS Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kami haturkan ke- hadirat Allah SWT, dengan karunia-Nya naskah buku hasil peng- abdian kepada masyarakat ini bisa terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Buku ini ditulis sebagai refleksi atas pengabdian yang telah dilaksanakan oleh penulis Mahasiswa IAIN Kudus dan Dosen Pembimbing Lapangan di Desa Bungo Kecamatan Wedung Ka- bupaten Demak selama satu bulan, mulai tanggal 06 September sampai dengan 06 Oktober 2021. Selama melaksanakan pengabdian, penulis banyak berinter- aksi dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan rutin yang ada di masyarakat Desa Bungo. Kegiatan ekonomi, sosial keagaman hingga bedah potensi desa wisata menjadi bagian kegiatan yang sempat terabadikan oleh penulis sehingga terwujudlah buku ini. Semoga buku ini bermanfaat baik bagi penulis, masyarakat Desa Bungo maupun pembaca secara umum. Tentunya masih banyak kekurangan dan mungkin kekeliruan dalam penyusunan buku ini, oleh karena itu kritik dan saran dari para pembaca san- gat bermanfaat untuk perbaikan penulisan berikutnya. Terimaksih tak terhingga kami ucapkan kepada Kepala Desa Bungo beserta seluruh perangkatnya, kyai, tokoh, dan masyarakat Desa Bungo. Terimakasih juga kami sampaikan kepada dosen pembimbing kegiatan kuliah kerja nyata ini atas bimbingan dan arahannya. Dan yang paling spesial teman-teman seperjuangan dalam kegiatan pengabdian di Desa Bungo menjadi keluarga baru dan pelajaran baru dalam hidup bersama di masyarakat. Penulis 4 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 KATA PENGANTAR Rasa syukur selalu tercurahkan kepada Allah SWT yang sen- antiasa melimpahkan rahmat, hidayah serta kesehatan, sehing- ga kami dapat menyelesaikan sebuah buku pengabdian yang kami tulis dari data yang kami dapat selama masa pengabdian yaitu bermaksud memberikan pengalaman secara langsung baik fisik maupun mental kepada calon sarjana dengan terjun langsung ke- pada masyarakat dengan menerapkan ilmu jurusan masing-mas- ing. Pengabdian kami berlokasi di Desa Bungo, Kecamatan We- dung, Kabupaten Demak. Dalam topik utama garapan kegiatan ini adalah Potensi Desa Wisata yang ada di Desa Bungo, Work- shop Jurnalisme Warga dan Sosialisasi Nilai-nilai Moderasi Be- ragama yang merupakan gerakan dari Kementrian Agama RI. Dalam proses pengerjaannya berlangsung mulai tanggal 06 Sep- tember sampai dengan 06 Oktober 2021. Tak lupa kami berterima kasih kepada pihak-pihak yang terkait dalam penyelenggaraan pengabdian ini. Ucapan terima kasih kepada: 1. Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya. 2. Orang Tua yang selalu memberikan semangat dan dukungan. 3. Bapak Dr. H. Mundakir, M.Ag., Selaku Rektor IAIN Kudus 4. Bapak H. Mohammad Dzofir, M.Ag., Selaku Ketua LPPM IAIN Kudus 5. Bapak Hasan Bastomi, M.Pd.I., Selaku Dosen Pembimbing Lapangan 6. Bapak Slamet, S.Sos.I., Selaku Kepala Desa Bungo 7. Bapak Afif Rusman, Selaku pengarah kegiatan di Desa Bungo. Selamat membaca... Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 5 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 WONDERLAND BUNGO Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 7 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 DAFTAR ISI PRAKATA PENULIS.........................................................................4 KATA PENGANTAR ......................................................................... 5 DAFTAR ISI ........................................................................................ 9 DAFTAR GAMBAR ........................................................................ 11 BAGIAN I SEJARAH DESA BUNGO .............................................................13 Arti Nama Bungo ........................................................................15 Sejarah Geologi Desa Bungo .....................................................19 Pembagian Wilayah Desa Bungo ..............................................21 Hubungan Demak dengan Kediri .............................................25 Leluhur Yang Diagungkan ........................................................27 Sejarah Bungo Abad Ke-20 ........................................................29 BAGIAN II PARA WALI DAN ULAMA’ BUNGO........................................... 35 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 9 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 SangCikalBakal ..........................................................................37 Datangnya Para Murid Sunan Kalijaga dan Pencarian Soko Mas- jidAgungDemak .........................................................................41 Pengembaraan Mbah Citro Moyo Dan Wafatnya Mbah Panji Kusumo ........................................................................................45 Kepahlawanan Mbah Citro Moyo ............................................49 Simbah Sabdo Dadi ....................................................................63 Simbah Bagus Santri ..................................................................65 Simbah K. Nawawi Al Hafidz .....................................................69 Syekh Nur Salim Al Hafidz ........................................................73 BAGIAN III WONDERLAND BUNGO ..............................................................75 BungoNanReligius .....................................................................77 Mutiara Al-Quran Dibalik Subuh .............................................85 Pondok Tahfidz Al-Quran Di Pelosok Demak ........................91 Gemuruhnya Lantunan Juz 30 Di Bungo .................................95 Akhlak Baik Terukir Jiwa Yang Baik ..........................................99 Syawalan Yang Melegenda ...................................................... ..105 Bungo Is Beautiful .....................................................................109 Permata Tersembunyi Di Utara Demak ................................113 Tonggak Perekonomian Warga Bungo ...................................121 Kekayaan Biota Laut Bungo Nan Indah ..................................125 Tanah Bungo Nan Luas .............................................................129 BIODATA PENULIS ......................................................................133 10 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Makam Eyang Panji Kusumo Cikal Bakal ...................39 Gambar 2 Makam Mbah Citro Moyo ..............................................47 Gambar 3 Makam Simbah Sabdo Dadi/Mbah Cirebon ..............64 Gambar 4 Makam/Petilasan Simbah Bagus Santri .......................67 Gambar 5 Makam Simbah Kyai Nawawi AH .................................72 Gambar 6 Makam Syekh Nur Salim AH .......................................74 Gambar 7 Kegiatan Sedekah Bumi dan Do’a Bersama ..................82 Gambar 8 Kegiatan Mengaji Sehabis Subuh di Masjid Jami’ Baitur Rosyidin .............................................................................................88 Gambar 9 Penguatan Literasi Agama Kepada Anak-anak .........103 Gambar 10 Kegiatan Kirab Budaya Syawalan Desa Bungo .........107 Gambar 11 Wisata Hutan Jati Desa Bungo ..................................110 Gambar 12 Kerajinan Limbah Kulit Kerang .................................119 Gambar 13 Hasil Laut Desa Bungo ................................................127 DAFTAR TABEL Table 1 Kegiatan Rutin Ponpes ROYYANUL QUR’AN .................92 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 11 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 BAGIAN 1 Sejarah Desa Bungo Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 13 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 arti nama bungo Menurut kepercayaan masyarakat, istilah “Bungo” berasal dari kata “mambu lengo” (berbau minyak), minyak yang dimaksud adalah minyak Jayeng Katon. Ada juga yang mengatakan dari kata “Bungaho” (bergembiralah). Sebab cikal bakal Desa Bungo itu seorang putra dari Ratu Kediri. Adapun makam-makam agung yang berada di Desa Bungo antara lain: 1. Makam Mbah panji Kusumo dan istrinya “Dewi Kubro” (Kebro’). 2. Makam Mbah Citro Moyo dan istrinya “Dewi Karsi” (Sukesi). 3. Makam Mbah Nur Salim Al- Hafidl dari keluarga kesultanan kasunanan Cirebon. 4. Makam Mbah Cirebon (Sabdodadi/ Syekh Abdul Karim) putra Syekkh Abdul Jalil Mantingan. Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 15 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 5. Makam/ petilasan Mbah Bagus Santri (Sunan Ngadilangu ) Putra Sunan Muria. 6. Makam Mbah Singo Broto pengawal Mbah Panji Kusumo (belum ditemukan) 7. Makam Mbah Tembayat pengawal Mbah Panji Kusuma (belum ditemukan) 8. Makam Mbah Wira Yuda adik kandung Mbah Citro Moyo (belum ditemukan) 9. Makam Syekh Hasyim yang berada dperbatasan sawah Sepat (belum ditemukan) 10. Makam Mbah K.H. Nawawi Al-Hafidz Para pembesar itulah yang dahulu ikut membangun keberadaan Desa Bungo, semoga jasa dan perjuangannya mendapat ridlo Allah menjadi amal sholih dan bisa memberi manfaat kepada anak cucu di kemudian hari. Diberikan sehat wal afiyat, selamat sentosa, dilimpahkan rizki yang banyak dan barokah desanya gemah, ripah loh jinawi, toto titis, tentrem raharjo Rakyatnya semangat subur tanahnya bergotong royong, bekerja keras mendapat rizqi yang berkah bisa digunakan untuk bekal ibadah sampai berhaji di Mekah dan ziarah di Madinah dan makam Rasulullah SAW. Bab riwayat singkat Desa Bungo diambil dari silsilah orang- orang tua dan golongan ta’yinya (keturunan) Mbah Panji Kusumo, diantaranya Mbah Marwi, Mbah Sukardi, Mbah Suwardi (juru kunci), Ki Anwar, Mbah Banjar. Adapun orang-orang yang menemukan makam-makam agung di Desa Bungo adalah sebagai berikut: 16 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 1. Mbah K.H Adnan dari Mejobo - menemukan makam Ki Citro Moyo 2. Mbah K.H. Syamsudin dari Bandungsari Purwodadi - menemukan makam K. Nur Salim Al-Hafidz (Penghafal AlQur’an) 3. Mbah K.H. Fauzi dari Desa Jung Pasir Wedung Demak menemukan makam K. Nawawi Al-Hafidz (Penghafal Al-Qur’an). Riwayat ini juga diambil dari bukti sejarah adanya nama- nama sawah, kali, rawa dan petilasan seperti gerumbul gong, wadung tempak, kali gejug. kali teken (tongkat), peninggalan seperti Karang bang, batu bengker, batu ketegan, tugu lampit dll. Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 17 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 18 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 SEJARAH GEOLOGI DESA BUNGO Sejarah Desa Bungo yang dimulai sejak akhir abad ke-16 sampai zaman modern sekarang ini memiliki keterkaitan dengan desa-desa di kecamatan Wedung karena dahulu dipercaya bahwa Bungo merupakan pusat kesultanan Wedung dan juga mendapat pengaruh besar dari kesultanan Demak (1478-1546). Sejarah Desa Bungo dimulai akhir abad ke-16 yaitu ketika terjadi pendangkalan selat Muria, sebuah laut dangkal yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Muria. Sekitar tahun 1600 laut dangkal itu berubah menjadi rawa-rawa dan sebagian sudah menjadi daratan yang digunakan untuk tempat tinggal dan lahan pertanian. Abad ke-20 bagi penduduk Desa Bungo adalah masa perbaikan kehidupan secara berarti. Karena pada abad sebelumnya mereka mengalami penderitaan berat akibat sistem tanam paksa dan kerja paksa yang dijalankan oleh pemerintah kolonial Belanda. Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 19 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 Tanah di desa Bungo seperti tanah di Kabupaten Demak lainnya merupakan tanah aluvial. Tanah yang memiliki warna coklat hingga kelabu tersebut terbentuk melalui proses sedimentasi atau pengendapan lumpur pada selat Muria atau laut yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Muria selama ribuan tahun. Tanah ini biasanya ditemukan di bagian hilir karena terbawa dari hulu dan dikenal kesuburannya karena mengandung air yang tinggi. Lumpur itu mengalir dari pegunungan Muria di sisi utara, pegunungan Kapur di sisi timur dan Gunung Ungaran di sisi selatan. Setelah melalui proses sedimentasi selama ribuan tahun maka pada abad ke-17 selat Muria itu akhirnya berubah menjadi dataran rendah kabupaten Demak. Fosil kerang dan remis dapat dijumpai di mana saja di Kabupaten Demak yang mempunyai wilayah seluas 1.000 km2 itu. 20 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 PEMBAGIAN WILAYAH DESA BUNGO Desa Bungo dahulu dibagi menjadi 7 wilayah yaitu: 1. Bungo Asli (Lama): Lingkungan Kali Gejug dan Kali Teken/ Kali Seret, sebelah timur Kali tengah (Kali tengah yang melewati Masjid Baitur Rohim). 2. Bungo Kauman: Sebelah Barat kali tengah”, sebelah selatan kali lanang 3. Bungo Telaga Tumpang Sebelah utara Kali Teken/ Kali Seret, sebelah timur kali Masjid Baitur Rohim. 4. Bungo Telagasari: Rumah Yi Awet / Bpk. Sudanun ke Utara. 5. Bungo Karangsari Kali Darus Salam ke timur. 6. Bungo Pekojan Kali Tengah ke barat sampai kali barat depan Balai Desa Bungo. 7. Bungo Karang Panas: Kali Barat depan Balai Desa Bungo ke barat. Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 21 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 Keterangan: 1. Bungo Asli (Lama): Sebab di tempat itu Mbah Panji Kusumo dan keluarganya mulai membuat rumah yang ditempati dan membuat masjid kecil yang disebut Masjid “Gersik” dari kata “pinggir kisik”. 2. Bungo kauman: Sebab sejak dahulunya sesudah Masjid Gersik dibangun tempat berdirinya masjid dipindah ditempat tersebut sampai sekarang. 3. Bungo Telaga Tumpang: Sebab di tempat itu ada telaga yang airnya jernih ibarat seperti kaca, bisa digunakan untuk kebutuhan orang se Desa Bungo dan sumbernya tidak pernah habis meskipun di musim kamarau panjang sebab ikut kali teken/seret yang sumber mata airnya dari kali gejug. 4. Bungo Telaga Sari: Sebab pemekaran dari Telaga Tumpang karena banyaknya orang yang menempati di Telaga tersebut. Karena itu di mekarkan ke utara sampai batas rumah Yi Awet ke utara. 5. Bungo Karang Sari: Sebab ditempat itu dahulunya berupa pekarangan yang indah tampak asri karena dikelilingi kali yang airnya mengalir melingkari tempat pekarangan tersebut. 6. Bungo Pekojan Sebab di tempat itu ketika Mbah Panji Kusumo babat alas menemui gangguan demit, jin, periprayangan yang berat hingga pikirannya bingung kemudian menenangkan hati dan pikiran untuk memuja memuji Allah mohon petunjuk- Nya. 7. Bungo Karang Panas: Sebab di tempat itu ketika Mbah Panji Kusuma babat alas sangat alot, susah dan sukar selanjutnya di bakar. 22 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 Adapun wilayah Bungo Utara mulanya berupa rawa jam- jaman. Sebab besar kecilnya air mengikuti pasang surut air laut. Dan Kaliwulan mulanya hanya sampai Kali Alang yang melintang ke utara bermuara di Kali Lubang. Ketika zaman Belanda Kali Alang (Kali Alang) diarahkan ke selatan dan diluruskan ke barat sampai bedah Desa Bungo. Orang yang rumahnya terdmpak bangunan kali diberi ganti rugi, kemudian sebagian ada yang kembali berkumpul ke selatan, dan ada juga yang mulai membangun rumah (dukuh) baru di pinggir rawa jam-jaman. Kemudian Belanda membuat jembatan yang dahulu di sebelah timur dan membuat kracakan/bendungan yang sekarang masih ada bekasnya dibawah jembatan sekarang. Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 23 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 24 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 HUBUNGAN DEMAK DENGAN KEDIRI Pada tahun 1475 Raden Patah putra Prabu Brawijaya V dari Majapahit mendirikan sebuah kadipaten pada sebuah wilayah yang sekarang menjadi kabupaten Demak. Kerajaan Majapahit yang sudah lemah itu kemudian mendapat serangan dari Kediri dan memaksa Prabu Brawijaya V melarikan diri dengan nasib yang tak menentu. Kerajaan Jawa yang besar dan menguasai Nusantara selama dua abad akhirnya runtuh. Walaupun ibukota Majapahit telah dipindah ke Daha, Kediri oleh Girindrawardhana (Brawijaya VI) pada tahun 1488 namun mereka masih menggunakan nama kerajaan Majapahit. Kadipaten Demak dengan dukungan wali Songo atau wali sembilan kemudian meningkatkan statusnya menjadi Kesultanan Demak yang merdeka pada tahun 1478. Prabu Girindrawardhana atau Brawijaya VI penguasa Majapahit di Kediri adalah menantu Brawijaya V dan juga saudara Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 25 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 ipar Sultan Fatah penguasa Demak. Hubungan kekerabatan antara Kediri dan Demak ini berkaitan erat dalam kronologi sejarah desa Bungo. Mbah Panji Kusumo kemungkinan besar adalah prajurit atau utusan Majapahit di Kediri yang menyertai kepindahan bangsawan Kediri ke Demak. Teori kedatangan Mbah Panji Kusumo dari Kediri ke Demak dalam kajian ini adalah hal yang paling rasional dan paling memungkinkan. Kedatangan Mbah Panji Kusumo dari Kediri ke Demak karena hubungan dagang tidak mungkin terjadi karena hubungan dagang antara Kediri dan Demak tak pernah ada dalam sejarah ekonomi Nusantara. Kedatangan Mbah Panji Kusumo ke Demak tak mungkin dikarenakan faktor perkawinan karena sistem transportasi dan mobilitas rakyat biasa di waktu itu sangat terbatas. Nama lahirnya adalah Sarjan. Dalam masarakat Jawa, nama seperti itu bukanlah termasuk kelas bangsawan. Setelah menjadi sesepuh desa Bungo maka dia memilih nama Panji Kusumo untuk menambah kewibawaan. Panji berarti bendera dan Kusumo berarti bunga-bunga maksudnya adalah bendera yang berkibar dengan motif bunga-bunga menebar harum wewangian atau menebar kebaikan. 26 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 LELUHUR YANG DIAGUNGKAN Mbah Panji Kusumo dikenal akan perannya dalam membuka hutan untuk pemukiman baru. Sebagian orang percaya beliau memiliki kekuatan supranatural dalam merobohkan pohon- pohon besar. Setelah lelah dalam membuka hutan kemudian dia menyalakan api untuk membakar ikan atau sekedar berdiang menghangatkan badan. Kisah kepahlawanan itu tersimpan kuat dalam memori orang-orang tua sepuh. Pada masa sekarang ini, beberapa sespuh Desa Bungo mengakui bahwa Mbah Panji Kusumo adalah seorang waliyullah. Pengakuan ini sesungguhnya adalah bentuk rasa cinta dan penghormatan kepada leluhurnya dan juga dimaksudkan untuk menarik minat masyarakat Bungo dan sekitarnya untuk berziarah ke makamnya. Mbah Panji Kusumo merupakan seorang muslim, karena Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 27 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 pada abad ke-16 Islam sudah menjadi agama mayoritas di Jawa dan Sumatera. Jasadnya yang dikuburkan di sisi timur desa itu menjadi bukti bahwa dia adalah benar-benar muslim. Sedangkan seorang Hindu-Budha jika meninggal maka jasadnya dibakar kemudian abunya disimpan atau disebar ke sungai atau laut. Menurut tradisi Islam jasad yang dikuburkan itu harus menghadap kiblat atau Ka’bah di Makkah. Di Asia Timur dan Asia Tenggara muslim yang dikubur kebanyakan menghadap ke barat dengan bagian kepala di sisi utara dan bagian kaki di sisi selatan. Posisi arah batu nisan Mbah Panji Kusumo yang membujur dari barat ke timur itu tidak sesuai dengan tradisi tersebut. Prosesi penguburan jenazah seperti itu menjadi bukti bahwa pada masa itu di desa Bungo belum ada orang yang mempunyai ilmu agama yang mendalam. Penulisan sejarah seperti dimaksudkan untuk menyatukan beberapa pendapat tentang asal mula Desa Bungo Dalam penelitiannya, penulis menemukan beberapa cerita yang memang berbeda antar satu dengan lainnya, dan akhirnya penelitian hanya sampai di sejarah perkembangannya saja, mengenai masa berdirinya tentunya membutuhkan peneliti dengan metode spiritual yang mana hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. 28 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 SEJARAH DESA BUNGO ABAD KE-20 Latar belakang Penjajah Belanda hampir mengalami kebangkrutan ekonomi setelah menghadapi kerasnya Perang Paderi (1803- 1938), Perang Diponegoro (1825-1930), dan Pemberontakan Belgia (1930-1931). Untuk mengatasi masalah itu maka Gubernur Jenderal van den Bosch menerapkan kerja paksa dan tanam paksa di tanah jajahan, terutama pulau Jawa. Kedua program itu berhasil memulihkan keuangan kerajaan Belanda, namun hal itu mengakibatkan kehidupan kaum pribumi semakin berat yang berakhir pada kelaparan dan kematian. Beberapa saksi sejarah menceritakan bahwa sekitar 20% lahan persawahan di desa Bungo itu digunakan untuk perkebunan tebu untuk kepentingan ekspor gula penjajah Belanda. Beberapa tokoh di negeri Belanda, seperti Eduard Deuwes Dekker dan Conrad van Deventer, - mereka menceritakan penderitaan kaum pribumi Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 29 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 Jawa dan meminta kerajaan Belanda agar memberikan balas budi kepada tanah jajahan, terutama Jawa. Masa Penjajahan Belanda Era Politik Etis (1901-1942) Pada tahun 1901; Ratu Wilhelmina atau “Helmina”mengumumkan bahwa Kerajaan Belanda bersedia memberikan balas budi atas hasil yang diterima dari tanah jajahan. Beberapa program politik etis antara lain: pembangunan jalan dan jembatan, pembangunan saluran irigasi, pendirian sekolah untuk pribumi dan migrasi (sekarang: transmigrasi). Jalan-jalan yang dibangun di sekitar desa Bungo antara lain: jalan raya Wedung - Bungo dan jalan raya Bungo - Mutih. Permukaan jalan masih berupa tanah keras dan belum diaspal. Untuk mencegah banjir meluap di kota Kudus maka pemerintah kolonial Belanda membangun saluran baru selain kali Serang. Hal ini karena kota Kudus yang sudah menjadi pusat perdagangan regional sejak era Majapahit. Kali Bungo yang dahulu hanyalah kali kecil terbentuk secara alami kemudian dilebarkan dan digunakan untuk saluran pembuangan air banjir dari kota Kudus. Kali yang membelah desa Bungo itu dipandang lebih pendek, lebih rendah dan lebih cepat membuang air ke laut daripada Kali Serang. Kali banjirkanal itu juga diberi tanggul pada kanan dan kirinya, dan kali itu menjadi saluran perpanjangan dari hulu, yaitu Kali Wulan. Pembangunan Jembatan Bungo Pertama Pada perang kemerdekaan, jembatan itu dibom oleh tentara 30 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 Indonesia sendiri (BKR) untuk kepentingan pertahanan. Sampai tahun 2008 fundamen jembatan Bungo pertama masih tampak bisa dilihat namun kemudian terkubur oleh jembatan Bungo seri keempat. Pemetakan sawah-sawah dan penggalian saluran irigasi kecil juga dibangun pada masa Hindia Belanda. Sekolah rakyat (sekarang SD Bungo 1) sudah berdiri sejak era penjajahan Belanda, sekolah itu menerima beberapa siswa dari luar desa Bungo tetapi anak-anak dari Bungo sendiri enggan masuk ke sekolah tersebut. Pembangunan desa Bungo pada masa politik etis berhenti total karena pemerintah kolonial juga terpengaruh oleh depresi ekonomi dunia pada tahun 1930an. Masa Penjajahan Jepang (1942-1945) Perang di Laut Jawa pada tahun 1942, pasukan Jepang berhasil mengalahkan pasukan Sekutu.Dan dengan kemenangan itu maka Jepang akhirnya berhasil menduduki Indonesia. Penjajah baru itu ternyata lebih kejam daripada penjajah sebelumnya, mereka tidak hanya menyedot ekonomi saja tetapi juga berusaha merusak kehidupan beragama penduduk pribumi. Saksi sejarah menceritakan bahwa beberapa orang penduduk desa Bungo dipilih oleh Jepang untuk ikut kerja paksa, dan kemungkinan dikirim ke Burma atau negara Indochina lainnya. Masa Perang kemerdekaan (1945-1949) Sesudah penyerahan Jepang, maka Belanda hendak merebut kembali koloninya yang direbut Jepang. Dalam agresi militer Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 31 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 Belanda, wilayah desa Bungo juga dijadikan medan perang antara tentara Belanda dan BKR. Beberapa jenazah pejuang yang wafat dikumpulkan di perempatan desa Bungo untuk keperluan evakuasi. Perang kemerdekaan berhenti pada tahun 1949 setelah konferensi meja bundar 27 Desember 1949. Masa Orde Lama (1949-1967) Pada masa ini pemerintahan baru tersebut ternyata tidak stabil dan hampir tak ada pembangunan yang berarti. Pada tahun 1959 presiden Soekarno membuat peraturan presiden bahwa pedagang etnis Tionghoa harus keluar dari desa-desa dan memindahkan usahanya di kota. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi pedagang pribumi yang kalah bersaing dengan mereka. Beberapa pedagang etnis Tionghoa yang berdagang di jalan raya Bungo lama (sekarang Jalan Kiyai Nawawi) meninggalkan desa ini dan tak pernah kembali. Saksi sejarah menceritakan bahwa di desa Bungo dulu juga ada kuburan Tionghoa di kawasan barat perkampungan Bungo Kidul, namun sekarang sudah rata dengan tanah. Komplek pertokoan di tepi timur jalan raya Bungo; di atas saluran irigasi dahulu merupakan dermaga perahu nelayan. Industri petasan sudah berkembang sejak era ini dan produk- produknya telah dikirim ke beberapa kota seperti Semarang dan Surabaya. Masa Orde Baru (1967-1998) 32 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 Datangnya pemerintahan yang baru ditandai dengan pemindahan jalan raya Bungo dari jalan Kauman ke jalan raya di tepi barat seperti sekarang. Pemindahan jalan utama ini diikuti hilangnya pasar sore dari jalan raya lama. Nelayan yang mencari ikan di laut Jawa sudah mulai menggunakan perahu mesin sejak tahun 1970-an. Mereka mencari udang lezat dan besar untuk dijual kepada pengepul dan kemudian diekspor. Pendirian sekolah-sekolah yang baru banyak diadakan pada era 1980an. Dari TK Budi Santoso, SD Negeri Bungo 3, SMP Negeri Wedung sampai SMA Islam Robin. Banjir di perkampungan akibat meluapnya Kali Wulan yang terjadi sampai tahun 1980-an diantisipasi dengan pembangunan infrastruktur besar-besaran yang meliputi Pengerukan Kali Wulan yang sudah mulai dangkal, peninggian tanggul Kali Wulan di kanan dan kirinya, pembangunan jembatan Bungo yang kedua kalinya dan pembangunan jaringan irigasi tersier dari waduk Kedungombo dilakukan pada tahun 1986-1990. Proyek pavingisasi jalan gang-gang kampung di desa Bungo dilakukan secara massif sejak awal tahun 1990-an. Jalan gang- gang kampung yang dulunya berbahan material karang dari dasar laut itu digantikan material beton. Dan pavingisasi itu mengambil dana dari kas desa. Jalan raya Bungo-Mutih dilapisi aspal untuk pertama kali pada tahun 1990, sedangkan jalan raya Bungo- Jetak, Jalan raya Bungo-Tempel dan jalan raya Bungo- Menco yang statusnya adalah jalan inspeksi Kali Wulan juga diaspal untuk transportasi publik. Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 33 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 Masa Reformasi (1998-2000) Pada akhir 1999 terjadi unjuk rasa petani Bungo Lor karena banjir besar di lahan pertanian tak kunjung surut. Banjir itu diakibatkan proyek alih fungsi lahan sawah bondo desa Bungo menjadi pertambakan minapadi yang berasal dari prakarsa beberapa petani Jawa Timur. Mereka menuntut kepala desa dan beberapa anggota LKMD untuk mengundurkan diri. Protes itu juga disertai aksi perusakan rumah para pejabat yang bertanggungjawab atas proyek itu. Sejarah desa Bungo relatif hampir sama dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Desa ini tidak luput dari pengaruh pemerintahan pusat sejak era kolonial Belanda sampai pemerintahan republik sekarang ini. Daftar kepala desa Bungo: - Wongso - Sarjan - H. Baidlowi (1942-1945) - Delimo - Mas’ud - Soeyitno (1973-1989) 2 periode - Abdul Rosyid (1989-1998) - Maskomar (1999-2000) - (Plt) Suratin (2000-2002) - Khoirul Anam (2002-2009) - Imam Wahyudi (2009-2016) - (Plt.) Nugroho (2017) - Selamet (2017-sekarang). 34 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 BAGIAN 2 Para Wali dan Ulama' Desa Bungo Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 35 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 SANG CIKAL BAKAL Cikal bakal Desa Bungo bernama Panji Kusumo. putra Ratu Kediri Jawa Timur, Sebagian riwayat menyebutkan bahwa beliau adalah putra dari istri selir. Ketika kerajaan Kediri diserang pasukan Gelang-Gelang. beliau diperintahkan supaya pergi dari keraton mencari tanah di tengah selat Muria dengan “LAKU LELONO” hingga sampai di Desa Bungo, yang ketika itu masih berupa pulau kecil yang berada di tengah Selat Muria. Diceritakan bahwa Mbah Panji Kusumo adalah orang yang pertama memulai babat Desa Bungo. Karena tampak gawat, beliau melakukan TIRAKAT/ TAPA BRATA lebih dahulu yang tingkah lakunya menyamar seperti orang mencari ikan di kali dengan membawa alat seperti CUNDRIK, tetapi ujungnya dipotong sehingga ikan yang masuk bisa keluar lagi. Hal itu dilakukan hanya sebagai sarana “LAKU TAPA BRATA”. Siang Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 37 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 malam KUYAS-KUYUS KRUBYAK-KRUBYUK di kali, tidak makan tidak minum juga tidak tidur. Bila badannya terasa dingin kemudian mencari kayu dan dedaunan kering agar dapat dibakar untuk menghangatkan badannya. Bila sudah terasa hangat, kemudian turun lagi ke sungai hingga berualang kali. Karena sering manggang (memanasi) badannya maka disebut KYAI PANGGANG. Singkat cerita ketika dalam pertengahan babat alas, Mbah Panji Kusumo kedatangan seorang dari Cirebon, beliau biasa disebut Syekh Nur Salim, seorang Hafidz Qur’an. Tetapi tidak berselang lama, dalam membantu perjuangan Mbah Panji Kusumo, beliau sakit hingga wafat dan dikuburkan di sebelah makam Mbah Panji Kusumo sekarang ini. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Syekh Nur Salim masih keturunan Kesultanan Kasunanan Cirebon. Diceritakan, setelah selesai babat alas, Mbah Panji Kusumo kemudian membuat rumah untuk keluarganya. Adapun istrinya bernama Dewi Kubro (Dewi Kebrok) yang mempunyai sebutan Dewi Nawang Wulan dan mempunyai putri satu yang bernama Dewi Karsi (Dewi Sukesi ) yang mempunyai sebutan Nawangsih. Sebagian riwayat menyebutkan Dewi Karsi adalah Putri Mupu/Anak Angkat. 38 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 Gambar 1 Makam Eyang Panji Kusumo Cikal Bakal Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 39 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 40 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 DATANGNYA PARA MURID SUNAN KALIJAGA DAN PENCARIAN SOKO MASJID AGUNG DEMAK Dikisahkan bahwa saat proses pembangunan Masjid Agung Demak tiang penyangganya kurang satu, sehingga semua murid Sunan Kalijaga dikerahkan mencari kayu jati untuk soko Masjid. Ada yang ke barat (Purwodadi/Blora), ada yang ke selatan (Ungaran) juga ada yang ke utara (Muria/Jepara). Namun semuanya gagal. Yang menuju ke arah timur hanya sampai Jati Srono/Jatisono (Gajah Demak), sedangkan yang ke selatan hanya sampai Jati Ngaleh/ Bukit Kreo (Semarang) begitu juga yang ke utara hanya sampai di Jatiman (Wedung -Demak). Singkat cerita bahwa Masjid Demak berdiri dengan 4 tiang (soko guru), yang satu menggunakan tatal sebab utusan Sunan Kalijaga gagal. Adapun utusan Sunan Kalijaga yang diutus mencari jati di wilayah wukir muria yaitu : 1. Mbah Bagus Santri/Sunan Ngadilangu putra Sunan Muria, cucu dari Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 41 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 Sunan Kalijaga yang punya sebutan R. Sulaiman. 2. Mbah Sabdo Dadi/ Syekh Abdul Karim putra Syekh Abdul Jalil Mantingan, cucu dari Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Cirebon. Ketika beranjak pulang mencari kayu Jati di wilayah Wukir Muria, sesampainya di tepi Desa Bungo, kayu tersebut tidak dapat berjalan karena kencangnya angin. Tetapi karena semangat yang membara kayu jati tersebut diseser-seserkan (ditarik-tarik disodok-sodok) di tengah malam supaya sampai di Demak. Maka tempat itu disebut serman. Saat 3 orang yang dipimpin R. Sulaiman belum lama berjalan tiba-tiba datang lagi angin kencang dan mendung tebal yang menyelimuti (bergantungan) seakan- akan hendak turun hujan, maka tempat itu dinamakan “angin- angin dan mandung”. Namun mereka bertiga tidak putus asa, hingga terus diketapake (dikerahkan) segala kekuatan dan kadigdayaannya, konon tempat itu disebut “Ketapang”, tetapi jati tersebut tidak bisa maju sebab anginnya bertambah kencang. Ketika anginnya melemah tiba-tiba dari arah barat ada pedukuhan kecil yang bernama Sadon dan yang bahu rekso (menjaga) bernama Ki Sandung Riwut. Dia mengetahui bahwa ada utusan dari Demak yang membawa kayu jati. Agar tidak bisa sampai Demak, dia membuat gara-gara mendatangkan angin besar dan mendung juga mengutus orang-orang Sadon supaya ngantek /batik dan buduti alat untuk mencari ikan kemudian ayam dan jago bersahutan berkokok menunjukkan waktu sudah menjelang pagi. Akibatnya tubuh mereka bertiga lemah dan ngelumpuruk (tak berdaya) maka disebut “buruk”. 42 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 Kemudian mereka bertiga istirahat dan bermusyawarah sambil menunggu waktu yang rejo (baik), maka disebut “Sambi Rejo”. Selanjutnya kayu jati tersebut diikat di tempat tersebut, maka dinamakan “Jatiman” dari kata “ R. Sulaiman”, ada yang menyebut dari kata “jati siji dieman-eman”. Tidak lama kemudian mereka bertiga memutuskan tidak akan kembali ke Demak dan akan bersembunyi, akhirnya mereka berjalan menuju ke Desa Bungo dan mengabdi kepada Mbah Panji Kusumo. Tetapi mereka bertiga was-was apabila dicari prajurit atau utusan dari Demak, karena itu minta ijin kepada Mbah Panji Kusumo ikut bersembunyi. Singkat cerita utusan dari Demak datang ke rumah Mbah Panji Kusumo. Disebutkan dari sebuah riwayat bahwa yang datang adalah Sunan Kalijaga. Setelah dicari ternyata tidak ada, kemudian Sunan Kalijaga berkata, “sudahlah apabila ini keinginanmu, aku ijinkan tetapi kalian semua harus pulang ke Demak lebih dulu”. Tetapi mereka bertiga tetap tidak mau pulang sebab malu saat menjalankan tugas tidak berhasil atau khawatir bila diberi hukuman pidana. Kemudian Sunan Kalijaga gejug (menapakkan kakinya dengan keras pada tanah), sehingga mereka bertiga kaget dan keluar dari persembunyiannya dan menyerah di hadapan Sunan Kalijaga dengan meminta ampun. Saat itu tanah yang digejug mengeluarkan air, maka disebut “sumur gejug” atau “Kali Gejug”. Untuk melancarkan air dari sumur tersebut selanjutnya Sunan Kalijaga menyeretkan tongkatnya, maka tempat itu disebut Kali Teken / Kali Seret”. Karena mereka bertiga memilih tetap di Desa Bungo, kemudian Mbah Panji Kusumo memberikan tanah perdikan; 1. Mbah Bagus Santri mendapat tanah 1 petak yaitu mulai dari makamnya ke selatan sampai batas Kali Gaplok. Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 43 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 2. Mbah Sabdo Dadi atau Mbah Cirebon mendapat tanah 1 petak yang terletak di selatan kuburan yang disebut Sawah Cirebon. 3. Mbah Citro Moyo diangkat menjadi menantunya dan dinikahkan dengan Dewi Karsi putrid Mbah Panji Kusumo. Beliau diberi tanah 1 petak dan bertempat di rumah Mbah Panji Kusumo yang sekarang ini menjadi kediaman Mbah Kusnan. Dan zaman dahulu juga menjadi kediaman Mbah Nawawi. 44 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 PENGEMBARAAN MBAH CITRO MOYO DAN WAFATNYA MBAH PANJI KUSUMO Ketika rumah kediaman Mbah Panji Kusumo telah dibangun, tidak lama kemudian datanglah sosok seorang laki-laki tampan, sopan, santun dan setia yang sedang melakukan pengembaraan yang bernama Citro Moyo, ada juga yang menyebut Sastro Moyo. Beliau adalah santri Surabaya yang masih keturunan Raja Majapahit Brawijaya IV/ Prabu Kerta Wijaya. Setelah menghadap Mbah Panji Kusumo, beliau menyampaikan maksud dan tujuannya untuk berkhidmah (berbakti) di hadapan Mbah Panji Kusumo. Singkat cerita keinginan untuk berkhidmah diterima dan akhirnya dijadikan menantu, dinikahkan dengan Dewi Karsih. Tidak lama kemudian Mbah Panji Kusumo sakit hingga wafat. Desa Bungo seperti diselimuti awan kesedihan sehubungan dengan wafatnya Mbah Panji Kusumo. Ketika jasad Mbah Panji Kusumo dimakamkan di Maqbaroh Brangwetan, tidak lama Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 45 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 kemudian ada kejadian aneh yang luar biasa yaitu keluarnya aroma harum seperti aroma minyak Jayeng Katon. Semakin hari orang yang berziarah bertambah banyak, tidak hanya orang Bungo saja. Bahkan orang dari luar desa pun banyak yang berziarah. Mereka menyekar dan mundi-mundi (memulyakan) karena itu disebut “Punden”. Karena menjadi “Pepunden” orang yang ingin nyekar, kemudian dibentuklah juru rumat/juru kunci. Adapun yang pertama menjadi juru kunci adalah Mbah Citro Moyo sebagai Sesepuh pengganti Mbah Panji Kusumo. Singkat cerita Desa Bungo semakin ramai dan bertambah padat penduduknya, sepeninggal Mbah Panji Kusumo Desa Bungo bagaikan “hutan yang tidak ada harimaunya” sehingga Desa Bungo kurang wibawa, Para berandal, rampok, pencuri berani masuk Desa Bungo. Tidak hanya itu, desa-desa di sekitar Bungo banyak yang iri ingin merebut tanah leluhur, seperti Desa Kramat yang berada di sebelah utara Desa Bungo. Setiap hari tidak henti-hentinya memusuhi, tidak ada yang melerai dalam perang lidah sehingga menyebabkan perkelahian yang berkepanjangan. Semakin hari bertambah keberaniannya dalam memusuhi orang Bungo. Hal ini mengakibatkan keresahan orang Bungo. Sebab hidupnya tidak bisa aman dan damai. Singkat cerita, tiba- tiba orang Bungo mendengar kabar bahwa orang Desa Kramat yang mencari JAGO (Pendekar) dari Desa Cendana Kudus yang bernama KI KEMBU, ada yang menyebut KI LEMBU SURO. 46 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 Gambar 2 Makam Mbah Citro Moyo Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 47 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 48 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 KEPAHLAWANAN MBAH CITRO MOYO Kebimbangan Mbah Citro Moyo Menurut cerita, dahulu ada seseorang bernama Ki Lembu Suro orangnya gagah, kuning kulitnya, bila berjalan diiringi gamelan dan sepasang joget. Karenanya orang Bungo takut dan khawatir yang nantinya untuk menyerang dan melawan Desa Bungo. Akhirnya orang Bungo berkumpul bermusyawarah dan menghadap di rumah Mbah Citro Moyo. Dalam musyawarah itu tak ada satupun yang berani menghadapi perang tanding dengan Jago Desa Keramat. Kemudian merekapun bubar tidak menghasilkan kesepakatan apa-apa, begitu seterusnya. Akhirnya pada suatu hari dimalam yang terang benderang, tetapi menjadi terasa gelap gulita, ibarat tertutup mendung keprihatinan dan kesusahan, Dewi Karsi istri Mbah Citro Moyo mengeluh dengan linangan air mata yang menetes pada kedua Wonderland Bungo; Kisah Sebuah 49 Pengabdian di Desa Nan Ajaib
KKN-IK IAIN Kudus 2021 pipinya sambil berkata: Duh Gusti || Rama, seandainya aku ini seorang laki-laki pasti aku menjadi Satria Duta Bangsa dan maju dalam area peperangan menjadi Senopati perang dan akan mengalahkan serta mengusir para musuh yang menjadi penghalang negara, yang akan merampas kewibawaan tanah leluhur ini. Rama........ tetapi aku ini hanya seorang wanita, apa aku pantas maju menjadi SRIKANDI dalam peperangan, karena sudah tidak ada seorang laki-laki yang sanggup dan berani memimpin, menjadi Pendekar Negara menghadapi musuh yang memiliki kesaktian luar biasa. Tak disangka keluh kesah Dewi Karsi terdengar Mbah Citro Moyo seketika itu Beliau merasa hilang kewibawaannya, sebagai seorang laki- laki yang menjadi sesepuh tidak bisa menyelesaikan keruwetan yang mengganggu ketentraman desa. sejenak semangatnya bangkit dan keluarlah watak satrianya, kemudian mendekat berdampingan dengan Dewi Karsi dan berkata: “Wahai istriku engkau janganlah bersedih hati memikirkan hal ini. Aku berjanji demi Dzat Yang Menciptakan jagad, dengan disaksikan malam yang dihiasi bintang-bintang dan rembulan, besarkanlah hatimu istriku. Jangan khawatir, sudahlah! Aku sendiri yang akan menjadi Senopati dalam peperangan ini, dan sebagai pendekarnya orang Bungo. Oleh sebab itu, besok aku mohon ijin akan pergi ke Kedung Waru untuk minta doa restu Ayahku dan meminjam pusaka Bulus Putih peninggalannya. Ada yang menyebutkan Mustika Bulus Putih itu pemberian Dewi Karsi, peninggalan Mbah Panji Kusuma, namun ada juga yang menyebutkan bahwa pusaka itu adalah hasil tirakat Mbah Citro Moyo. 50 Wonderland Bungo; Kisah Sebuah Pengabdian di Desa Nan Ajaib
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168