Menjemput Hidayah 1
Menjemput Hidayah 2
Menjemput Hidayah Wishnu Giar Menjemput Hidayah Antologi Cerita Pendek Kisah-Kisah Hijrah Dari Perilaku Dan Praktik Ekonomi Ribawi 3
Menjemput Hidayah Cerita ini di adaptasi dari kisah nyata, imajinasi dan perpaduan antara keduanya, nama-nama tokoh dan tempat didalamnya telah direka sedemikian rupa untuk menghindari aib dan cela, mohon maaf dihaturkan jika ada kesamaan alur kisah, kemiripan penamaan dan penyebutannya 4
Menjemput Hidayah Menjemput Hidayah Penulis: Wishnu Giar Editor: Abd. Abinayya Desain Sampul & Tata Letak: Yusuf Muhammad Iqbal Penerbit: Satria Indra Prasta - SIP Publishing (Anggota IKAPI) Jl. Curug Cipondok Km. 1 Kalisari, Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah Website: www.sippublishing.co.id Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh buku tanpa izin penerbit dan penulis. ISBN: 978-623-337-755-3 Cetakan Pertama, Oktober 2022 Isi diluar tanggung jawab percetakan 5
Menjemput Hidayah Prakata Assalamualaykum warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang maha pengasih dan maha penyayang, tempat kami berlindung dari bisikan syaiton yang terkutuk, dengan namaNya yang maha memberi hidayah dan segala kebaikan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya, salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabiyulloh Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam bersama keluarga dan para sahabatnya, semoga Allah merahmati dan selamanya dalam perlindunganNya. Ditengah hiruk pikuk perilaku manusia saat ini yang cenderung memilih keuntungan sebanyak-banyaknya untuk memenuhi keinginan melanjutkan hidup di dunia, karya ini muncul untuk memberikan inspirasi dan motivasi kepada pembaca agar menyadari betapa penting dan perlunya mempersiapkan bekal untuk kebutuhan di kehidupan kelak yang abadi selama-lamanya. Satu-satunya cara yang dapat membekali diri adalah dengan Menjemput Hidayah yang sesungguhnya sudah Allah berikan kepada umat manusia yaitu dengan mengikuti segala perintahNya serta menjauhi segala apa yang dilarangNya, dan praktik ekonomi Riba adalah satu dari beberapa perintah Allah yang perlu dijauhi bahkan perlu dimusnahkan dari kehidupan umat Islam. Hanya berharap kepada Allah agar meridhoi setiap langkah kita menuju kebaikan dan semoga karya kecil ini mampu menjadi pemantik perubahan bagi pembaca yang masih bergumul riang dengan ekonomi riba, menjadi pengingat agar tetap istiqomah berhijrah kepada mereka yang sudah meninggalkan praktik ekonomi riba dan menjadi semangat untuk tetap mendakwahkan kepahaman tentang ekonomi riba bagi saudara-saudaraku yang tengah bersama-sama berjuang menegakkan syariah Islam. Wassalamualaykum warahmatullah wabarakatuh, Membaca itu sehat menulis itu hebat, salam literasi, Penulis 6
Menjemput Hidayah Pengantar dari Asatidz Segala puji bagi Allah yang hanya kepada-Nya kami memohon pertolongan dan mohon ampunan. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan dan keburukan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan barang siapa yang tersesat dari jalan Allah maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, yang tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya. Kumpulan cerita pendek ini singkat, menarik dan mudah memahaminya, dalam konteks untuk memberikan pemahaman kepada yang membacanya dan untuk memahami masalah riba yang Allah telah syariatkan keharamannya. Dengan membaca kumpulan cerita pendek ini insyaa Allah akan menjadikan mauidhoh hasanah bagi kaum muslimin yang akan berhijrah meninggalkan riba untuk meraih hidayah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. (Muhammad Satibi – Pegiat Dakwah) Riba adalah salah satu perintah Allah yang pengharamannya sangat tegas di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Mengindarkan diri dari riba akan membuat hidup manusia menjadi lebih tenang, bahagia, dan penuh keberkahan. Namun demikian, saat ini riba sudah menjadi industri yang sangat menggurita dalam sektor ekonomi dan menyebabkan banyak kaum muslimin yang secara sadar maupun tidak sadar telah terjebak dalam pusaran praktek riba tersebut. Ketika kemudian seorang muslim mendapatkan hidayah dan muncul kesadaran untuk meninggalkan praktek riba, tantangan untuk meninggalkannya sangat besar. Sangat diperlukan mujahadah dan keistiqomahan untuk menjalani proses hijrah tersebut. (M. Husein Budiraharjo – Karyawan Perusahaan Migas Nasional). Sebuah karya dari suatu proses perubahan yang sangat mendalam terhadap pemikiran, perasaan dan aturan yang datang dari Islam, setelah sekian lama terbelenggu dengan pemikiran kufur yang semakin menjauhkan dari aturan yang datang dari Allah dan RosulNya. 7
Menjemput Hidayah Semoga Penulis dan karya Tulisannya bermanfaat bagi kaum Muslim yang ingin dan sedang berhijrah. (M. Taufik Hidajah – Praktisi Bisnis Syar’ie). Hidayah adalah petunjuk yang mampu dipahami dan rela dilakoni, ada berbagai macam situasi yang mendahului dan mengikuti ketika hidayah itu didapatkan, dalam hal ini khususnya adalah tentang Riba. Kumpulan cerita pendek ini mengisahkan tentang bagaimana hidayah itu didapatkan, baik karena musibah atau dari situasi yang nyaman saja, bahkan ketika pelaku menaati petunjuk Allah sekalipun, kesemuanya itu sejatinya merupakan ujian dari Yang Maha Kuasa untuk tetap sabar dan terus bersyukur. (Ali Arifin – Praktisi Pendidikan, Konsultan Konstruksi dan kontraktor) Sebagai seorang muslim, yang ingin menggapai sukses dunia dan akhirat, sesuai dengan tuntutan Al Qur’an dan hadist, sudah sepatutnya menjalani kehidupan ini sesuai dengan apa yang diridhoi Allah Subhanahu wa ta’ala. Dengan dipilihnya jalan dakwah yang menggunakan media tulisan dimana aspek ekonomi yang dijadikan fokus bahasannya, Insyaa Alloh sudah tepat. Adalah suatu kewajaran menerangkan bahwa masalah riba itu bukan hanya masalah kerugian besar di dunia akan tetapi juga kelak di akhirat. Fenomena saat ini di masyarakat yg lebih berpikir pragmatis mengatasi masalah-masalah kesulitan ekonomi melalui pinjaman riba sangat bertolak belakang dengan sistem Islam yang sangat mementingkan saling tolong menolong atau ta’awun, karenanya riba tidak bisa dianggap sebagai hal yang biasa saja karena sangat bertentangan dengan prinsip ideologi Islam. (Samsul Rizal Azis – Founder Komunitas Bebas Riba Bebas Utang Balikpapan) . 8
Menjemput Hidayah Karya ini kupersembahkan kepada Toto Sudharto bin Simun Gitotiyoso (Rahimahullah) Bapakku, yang mengajarkan bagaimana cara bersikap benar dan sesuai seperti apa yang dikatakan. 9
Menjemput Hidayah Daftar Isi Prakata 6 Pengantar Dari Asatidz 7 Daftar Isi 10 Menjemput Hidayah……………………………………………………….…………… 12 Pergilah……………………………………………………….…………………………… 20 Satpam Galau…………………………………………………………………………… 26 Satu Gram Logam Mulia……………………………………………………………… 33 Mulai Dari Nol…………………………………………………………………………… 39 Hum Sa’waun, Semua Sama Saja……………………………………..…………… 45 Bukan Perkara Untung dan Rugi…………………………………………………… 52 Harta dan Tahta, Hanya Cerita……………………………………………………… 58 Waktu Bersujud………………………………………………………………………… 65 Salat dan Sabar Menolongmu…………………………………………..…………… 71 Raihan, Abangku…………………………………………………………..…………… 77 10
Menjemput Hidayah Pulang……………………………………………………………………………………… 84 Malu Bertanya Sesat Kemudian………………………………………..…………… 91 Satu Jam Yang Mencerahkan…………………………………………..…………… 98 Salam Sepakat Merdeka Hingga Akhir Hayat………..……………..…………… 104 Panggilan Tak Terjawab…………………………………...……………..…………… 109 Simpang Jalan Dua Empat…………………………………………………………… 117 Terima Kasih…………………………………...…………………………..…………… 125 Referensi…………………………………...………………………………..…………… 126 Tentang Penulis…………………………………...……………………….…………… 127 11
Menjemput Hidayah Menjemput Hidayah Harsanto pusing kepalanya, ini sudah tanggal 7 Agustus sementara tanggal 10 sudah jatuh tempo pembayaran utangnya ke bank, tanggal 15 dan 22 ada lagi yang jatuh tempo, satu ke leasing mobil dan satunya jatuh tempo angsuran pembayaran rumah, KPR. Sudah tiga bulan ini Harsanto mulai kepayahan membayar utang, gali lubang hanya untuk bayar cicilan utang non produktif, padahal ia hanya seorang karyawan biasa, pekerjaannya sebagai penyelia di perusahaan penyalur tenaga kerja tidak bergaji terlalu tinggi. “Sebetulnya gaji saya diatas upah minimum dan saya rasa itu cukup, tapi kenapa ya, makin kesini koq rasanya kurang terus?” kata Mas Har kepada Hamid. “Kamu ada cicilan Har?” tanya Hamid, teman lama Mas Har yang baru bertemu lagi sejak lulus SMA, delapan tahun lalu. “Ada, emang kenapa? pengaruh ya?” “Iya lah, apalagi cicilan dengan Riba.” “Riba? Apa itu Mid?” Mas Har bertanya seraya mengerinyitkan dahi. “Masyaa Allah, kemana aja kamu Har?” wajah Hamid berubah seolah tak percaya jika temannya ini tak mengerti kata Riba. “Sepertinya kita harus ketemu Ustaz Hafidz, besok kita kesana setelah salat Ashar ya.” Mas Har mengangguk saja, Hamid sejak dulu memang terkenal sebagai anak yang alim di sekolah berbeda dengan Mas Har yang lebih sering berkumpul dengan anak band, kebetulan mereka pernah satu kelas di IPA-3 selama dua tahun. Hamid melanjutkan kuliah di Jakarta sedangkan Mas Har diterima kuliah di Surabaya, hampir lima tahun berpisah dan mereka bertemu lagi di Tangerang, kampung halaman mereka ketika masing-masing sudah bekerja dan berkeluarga. 12
Menjemput Hidayah “Alhamdulillah Mas Hamid, kami sehat sekeluarga, silakan loh, gimana kabar Bapak dan Ibu?” Ustaz Hafidz menjawab sembari mengajak Hamid dan Mas Har duduk di rumah kontrakan kecilnya di dekat mesjid Al Hikmah, mesjid di perumahan tempat tinggal Hamid. “Alhamdulillah Ustaz, sehat-sehat dan baik saja.” “Kenalkan ini teman saya Taz, Harsanto” kata Hamid mengenalkan Mas Har. “Oo, iya, Assalamualaykum, saya Hafidz mas” kata Ustaz Hafidz seraya menjulurkan tangannya memberi salam yang disambut Mas Har sambil menyebutkan namanya. “Jadi begini Ustaz, maksud kami datang kesini mau mohon nasihat dan pencerahannya tentang Riba sebab teman saya ini pengen tahu lebih jauh, begitu kan Har?” “Iya Pak Ustaz, saya baru ketemu Hamid lagi sejak beberapa tahun lalu, kemarin kami ngobrol soal penghasilan, koq rasanya makin hari makin ga cukup padahal tiap tahun ada kenaikan gaji di kantor, nah kata Hamid, itu Riba, saya jadi pengen tahu lebih banyak.” Imbuh Mas Har. Pak Ustaz Hafidz tersenyum, usianya yang sudah setengah abad memperlihatkan bahwa ia telah banyak berpengalaman dalam hidupnya, janggutnya yang sebagian sudah mulai memutih menunjukan bahwa ia sudah berumur dan cukup bijaksana untuk dimintai nasihat. “Loh, mas Hamid kan sudah sering ikut kajian mengenai Riba di mesjid, kan bisa juga menerangkan.” Ustaz Hafidz berkata sambil tersenyum. “Iya Taz, tapi Harsa ini kan orangnya agak-agak degil gitu, mana percaya dia sama perkataan saya, jadi saya ajak kesini aja.” Hamid melirik Mas Har yang senyum kecut karena temannya ini. “Baiklah, ga apa-apa tapi ini pembahasannya akan cukup panjang, kalau sampai nanti dekat Maghrib belum selesai, bisa kita sambung lagi ya.” 13
Menjemput Hidayah Hamid dan Mas Har mengangguk setuju dan merekapun langsung terlibat dengan percakapan dan diskusi mengenai riba di ruangan itu, ketiganya nampak serius dan saling melontarkan pertanyaan serta mendiskusikannya dengan cermat. Kurang dari dua jam pembicaraan mereka, namun banyak informasi yang didapatkan Mas Har, Hamid maupun Ustaz Hafidz, ketiganya sudah memliki pandangan masing-masing atas lawan bicaranya. Malam setelah pembicaraan itu Mas Har tak sanggup dengan cepat memejamkan matanya untuk beristirahat, keesokan harinya ia datangi lagi Ustaz Hafidz dan begitu seterusnya selama sepekan berturut-turut, terkadang diskusi dimulai setelah salat Isya bahkan pernah setelah salat Subuh. Mas Har benar-benar berusaha untuk memahami Riba yang dikiranya hanya hal biasa dan bukan hal yang dilakukannya saat ini, ia sama sekali tak menyangka bahwa apa yang dilakukannya adalah dosa besar yang bisa saja tak Allah ampuni, naudzubillahi min dzalik. “Gimana Har? Sudah sampai dimana? Maaf aku ga bisa terus menemani.” Kata Hamid ketika bertemu Mas Har lagi. “Wah, gila Mid, awalnya makin stres, tapi mau diapain, harus aku hadapi dan selesaikan ini.” Jawab Mas Har. “Koq malah stres?” tanya Hamid lagi. “Iya lah, semua utang-utangku ternyata mengandung riba, KPR, leasing mobil, KTA dan kartu kredit Mid.” “Waduh, sebanyak itu? Berapa titik?” tanya Hamid sedikit terkejut. “Ada 13 titik.” Jawab Mas Har tertunduk. “…aku ga bisa bayangkan berapa dosaku jika ini kulanjutkan, jika satu titik itu satu dirham saja, artinya aku sudah seperti berzinah berkali-kali, dan itu dengan ibuku sendiri.” Mas Har melanjutkan, matanya mulai berkaca-kaca. “Subhanallah, jadi hadist Ibnu Majah itu sudah Ustaz beri tahu juga ya?” tanya Hamid. 14
Menjemput Hidayah “Iya Mid, komplit, satu pekan aku terus memburu Ustaz.” “Aku sudah pikirkan dan aku harus meninggalkan semua, aku salah Mid, aku tobat, aku mau hijrah.” Sedikit air mata Mas Har terjatuh, matanya sudah memerah dan suaranya mulai agak tersendat. “Alhamdulillah, senang mendengarnya Har, apa yang bisa kubantu? Kau bicara lah ya.” Hamid bukan orang kaya dan mampu untuk membantu secara finansial tapi sikapnya sudah membuat Mas Har cukup senang dan bersemangat untuk menghadapi masalahnya di kemudian hari. *** Hasnah bukan perempuan biasa, ia seorang istri yang penurut dan mengerti apa yang diinginkan suaminya, sehingga memudahkan Mas Har untuk mewujudkan semua keinginannya, baik itu ketika di awal pernikahan mereka hingga kini setelah dikaruniai dua orang buah hati. Ketika Mas Har berterus terang atas kelalaiannya selama ini sehingga menyebabkan mereka terjerembab ke jurang riba dan berusaha bertobat keluar dari jeratan riba ini, Hasnah hanya terdiam dan berusaha untuk menguatkan mental suaminya yang menangis tersedu saat menceritakan hari-hari pertemuannya dengan Ustaz Hafidz. Tekad Mas Har sudah bulat, ia akan menjual semua aset yang dimilikinya untuk menutup utang-utangnya, selain itu ia juga mengajak istrinya untuk lebih giat beribadah dan bersedekah, belajar akan segala sesuatu hal yang belum diketahuinya, serta tentu saja berhenti membayar cicilan-cicilan yang selama ini dirasa memberatkan. “Terus, nanti kalau didatangi Debt Collector gimana yah?” tanya Hasnah khawatir. “Kalau ada Ayah di rumah, Ayah akan hadapi baik-baik, kalau Ayah ga ada, nanti ibu bilang aja kalau semua Ayah yang akan urus, jangan takut, hadapi baik- baik, mereka ga boleh kasar-kasar sama kita, ada undang-undangnya, kalau mulai kasar dan mengancam rekam aja, bisa kita laporkan itu.” Mas Har tegas menyampaikan pada Hasnah. 15
Menjemput Hidayah “Bismillah, niat kita baik, semoga Allah meridhoi kita Bu.” ujar Mas Har pada istrinya. “Aamiin.” Hasnah menyambut do’a suaminya. Mas Har mulai berhitung dengan cermat, tak seperti sebelumnya yang hanya menghitung jari dan mengambil keputusan-keputusan berdasarkan pada keinginan bukan kebutuhan, kini mobil harus dijualnya, kartu kredit harus ditutupnya bahkan rumah yang ditempati pun harus dilepaskannya untuk bisa menutup semua utang- utangnya. Pendapatan otomatis harus di tambah, pola hidup konsumtifnya harus dihentikan, gaya hidup hedonpun harus ditinggalkan, hobi berkumpul di Café sepulang kerja harus disudahinya, bahkan olah raga Bersepeda dan Golf yang selama ini dilakukanpun bertekad ia hentikan. “Pantas saja sedikit sekali keberkahan menyertaiku, uang yang kupegang dulu itu selalu terasa cepat habis.” Mas Har berkeluh pada Hamid seusai salat Maghrib di Mesjid Al Hikmah. “Anak-anak jarang sekali mau diajak jalan-jalan pake mobil, biasanya kan anak-anak dimanapun paling suka kalau diajak naik mobil yang adem, ada musik dan bisa nonton TV di dalamnya, tapi ini sama sekali ga mau, mungkin karena mobilnya belum lunas bro.” lanjut Mas Har pada Hamid. “Itu tanda Allah mengingatkan kamu Har, kitanya aja yang sering ga nyadar, ga paham.” Hamid pun menambahkan. “Anak-anak itu sering sakit loh Mid, kukira karena memang usianya anak- anak sering sakit ya, dikit-dikit ke dokter, flu-lah, pilek-lah, demam tinggi, kadang- kadang di rawat tapi ga ketahuan sakitnya apa, observasi terus.” “Ya itu, kita disentil, ibaratnya diselentik telinga, lama-lama kalau ga ngerti- ngerti atau malah pura-pura ga tahu, Allah pasti marah dan bisa-bisa diazabNya, naudzubillah.” Hamid meyakinkan dengan gestur tangannya. “Emang mesti begitu ya Mid? kan ada tuh orang-orang yang hidup dari praktek riba dan biasa-biasa aja gitu, makan dan dapat bonus dari uang riba tapi tetap aja hidup tenang dan nyaman.” 16
Menjemput Hidayah “Mereka itu dibutakan Mid, Istidraj namanya, artinya azab yang berwujud kenikmatan.” “Loh bukannya kenikmatan itu anugrah Mid?” Mas Har terlihat lebih serius. “Siapa bilang? Tidak semua nikmat itu anugrah, nikmat juga bisa jadi ujian karena nikmat itu harus jelas asalnya dari mana? dan bagaimana?” “Iya, ya, aku pernah dengar kalau sakit juga bisa jadi kenikmatan ya?” “Oo, iya Har, sakit itu kenikmatan yang Allah berikan pada manusia agar ia dapat menggugurkan dosa-dosanya asal ia mampu bersabar.” “Jadi ini tergantung kepada bagaimana kita meyikapinya ya?” Mas Har mencoba menyimpulkan percakapannya dengan Hamid. “Hhhm, sikap kita harus bergantung kepada Allah saja Har, kita harus tahu dan mempelajari apa yang Allah perintahkan, dengar dan taati, sami’na wa atho’na.” Mas Har mengangguk-angguk tanda setuju, ilmunya masih ketinggalan untuk memahami Hamid lebih jauh, tapi paling tidak, niat dan usahannya sudah sangat membantunya untuk memahami apa yang dimaksud Hamid kemudian. *** Dalam enam bulan Mas Har sudah banyak melakukan perubahan dalam hidupnya, setelah menjual mobilnya, iapun menutup beberapa pinjamannya. KTA dan kartu kredit dihabisinya dengan negosiasi membayar utang pokok tanpa bunga ke pihak kreditur, pembayaran kredit rumahnya dihentikan dan masih berusaha menjualnya agar bisa menutupi sisa utangnya. Kehidupan keluarganya menjadi lebih religius, salat tepat waktu ditambah dengan banyak bersedekah walaupun sekedar ikut membagi-bagikan nasi kotak di kegiatan Jum’at Berkah. Kesederhanaan mulai terlihat, Mas Har tak lagi bermobil, hanya motor tua saja dia gunakan kemana-mana, jika ada keperluan dengan mobil ia panggil taksi on line, Hasnah pun turut membantu suaminya dengan berjualan kue kering yang ia pasarkan ke tetangga dan teman-teman sekolahnya dulu. 17
Menjemput Hidayah “Alhamdulillah ya Mas, banyak berubah sekarang keluarga Mas Har” Kata Hanifah pada suaminya, Hamid. “Iya Bun, untungnya Harsa mau mengakui kesalahannya dan mau belajar, tak mencari pembenaran atas perilakunya.” “Istrinya juga kelihatan mendukung ya Mas?” tanya Hanifah lagi. “Alhamdulillah, pasangan yang kompak, jadi mudah bagi mereka untuk berhijrah, ga pake drama.” Jelas Hamid. Hamid dan Hanifah tersenyum lega, kali ini misi mereka mengajak orang kepada kebaikan membuahkan hasil walaupun hanya sekedar mengingatkan dan menunjukan jalan menuju kebaikan itu. Banyak orang yang terjebak dalam riba sulit untuk meninggalkan kenyamanan yang sudah didapatkannya, lalu mencari pembenaran atas apa yang sudah dilakukannya. Beruntunglah mereka yang masih diberi kesempatan untuk memahami dan mengerti bagaimana caranya untuk segera bertobat keluar dari jeratan riba seperti Mas Har, jika tidak peduli maka merugilah mereka di dunia dan akhirat kelak sebab Allah dan RasulNya akan memerangi dan menjamin kekal di neraka selama-lamanya, naudzubillahi min dzalik. 18
Menjemput Hidayah َﳝْ َﺤ ُﻖ اﻟٰﻠّﻪُ اﻟﱢﺮٰﺑﻮا َوﻳـُْﺮِﰉ اﻟ ﱠﺼ َﺪٰﻗ ِﺖ ۗ◌ َواﻟٰﻠّﻪُ َﻻ ُِﳛ ﱡﺐ ُﻛ ﱠﻞ َﻛﱠﻔﺎ ٍر اَﺛِﻴٍْﻢ “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.” (Q.S. Al-Baqarah 2:276) 19
Menjemput Hidayah Pergilah Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun baru ini terasa begitu hambar dan menyesakkan bagi Athar, seorang bapak dua anak yang sudah sepuluh tahun membangun rumah tangga bersama Firsa istrinya. Sudah sejak beberapa waktu lalu Athar mulai merasakan kegalauan dalam hatinya yang luar biasa mengganggunya dari hari ke hari. Sejak bertemu Bandi sahabatnya semasa SMA di Bogor awal tahun ini, Athar mulai banyak belajar lebih dalam mengenai keIslaman atas hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya, ia sering berdiskusi dengan Bandi yang banyak menerangkan hal-hal tentang baik dan buruknya bekerja di bidang perbankan. Seperti tersengat lebah, apa yang disampaikan Bandi sungguh menusuk hatinya, menghujam jantungnya dan mengiris tipis otak kanannya, namun seperti tak bosan Athar selalu berkomunikasi dan belajar kepada Bandi untuk lebih banyak mengetahui apa yang belum dipahaminya melalui chat whatsapp dan video call. Athar kemudian memantapkan hati untuk segera berhijrah meninggalkan segala hal yang sedang ditekuninya saat ini, sebab ia merasa bahwa apa yang dibangunnya adalah sebuah kesia-siaan, pelanggaran atas ketentuan-ketentuan Allah yang mestinya tak perlu dilakukannya. “Dalam hal ini ada tiga tipe manusia Mas, yang pertama adalah orang yang tidak tahu dan ia melanggar, yang kedua adalah orang yang tahu tapi ia melanggar dan yang ketiga orang yang tahu dan tidak melanggar, nah Mas Athar tipe yang mana?” demikian Ustaz Bagja pernah bertanya pada Athar di sela-sela pengajian rutin pekanan yang diikuti Athar setiap Kamis malam di Mesjid dekat rumahnya. Tentu saja jawabannya adalah tipe yang pertama sebab Athar memang belum tahu sebelumnya, ia bukan berasal dari keluarga yang agamis dan mengerti syariah secara menyeluruh, Ayah Athar seorang karyawan perusahaan biasa, yang bekerja lebih dari dua belas jam sehari, waktu untuk keluarga banyak habis disita untuk pekerjaan, Ibu Athar juga seorang karyawan toko ritel yang bekerja dengan sistem shift setiap harinya. Tak ada pendidikan agama Islam tambahan selain dua kali dalam dua jam saja sepekan di sekolah umum yang Athar jalani selama ini, kewajiban beribadah memang dilakukan tetapi hanya sekedar menunaikan kewajiban tanpa menuntut esensi dan ilmunya lebih jauh. 20
Menjemput Hidayah Dengan berat hati Athar pun kemudian bertutur pada Firsa tentang niatnya untuk segera hengkang dari tempat kerjanya dan menangislah Firsa sambil mengancam akan meninggalkan Athar jika niatnya itu dilaksanakan, Athar yang mengenal Firsa sejak masih sekolah di SMA tak menyangka bahwa Firsa tak mendukungnya, segala usaha untuk memberi pengertian rupanya belum bisa membuat Firsa yakin dan hilang kekhawatiran dalam menghadapi kehidupan selanjutnya. Athar kemudian berbicara dengan Mama Ifa, ibunya, mengutarakan segala keresahan dan kegalauan jiwanya yang hendak segera berlalu dari lembaga keuangan yang erat berhubungan dengan riba, hal yang Athar ketahui sangat dilarang Allah, apalagi setelah Athar tahu bahwa hukuman bagi mereka yang tak mengindahkan peringatan Allah untuk menjauhi riba adalah neraka jahanam, sayangnya Mama Ifa bukannya mendukung malah menganggap ini adalah keputusan Athar yang keliru. Materi telah membutakan Firsa dan Mama Ifa, kenyamanan dan kenikmatan dunia yang semu sedang mencengkeram erat keduanya, banyak pertimbangan ketakutan serta kekhawatiran yang disodorkan wanita-wanita yang paling Athar sayangi itu, Athar semakin galau karena baginya hanyalah kedua wanita itulah harapannya untuk bisa mendukungnya. Hari berlalu Athar belum sepenuhnya bisa melepaskan diri dari cengkeraman dunia riba, kehidupannya mulai kacau, dari sehari ke sehari kinerjanya semakin menurun, semangatnya melemah dan pertengkaran mulai sering terjadi di rumahnya, beruntung Athar rajin beribadah ke Mesjid di dekat rumahnya dan sering melakukan salat sunnah di rumah, bahkan di kantor Athar selalu menyempatkan diri mendatangi mushola untuk salat Duha. “Aku harus memutuskan, aku sudah tak tahan, harus aku putuskan.” Athar bergumam sambil menguatkan tekad untuk segera berhenti bekerja dan memulai kehidupannya yang baru. Rencana besarnya adalah dengan mengundurkan diri dari tempat kerjanya saat ini dengan menerima segala apapun resikonya baik yang berasal dari dalam diri maupun dari sekitarnya karena saat ini Athar hanya merasakan Allahlah yang mengawasinya dan hanya Allahlah yang perlu ia turuti kemauanNya. Surat permohonan pengunduran diri sudah Athar sampaikan kepada pimpinan, Pak Nuryasin yang sudah kenal Athar dengan baik sejak bekerja bersama- 21
Menjemput Hidayah sama di divisi ritel hanya geleng-geleng kepala dan meminta Athar memikirkannya kembali, tapi tekad Athar sudah bulat dan kuat, dua pekan kemudian Athar tetap pada pendiriannya untuk berhenti tanpa bisa dicegah, Pak Nuryasinpun dengan berat hati memerintahkan tim HR Department untuk memproses segala sesuatunya sehingga Athar bisa segera menghirup udara lain di luar dunia ribawi. Suara Azan sudah berkumandang, waktu Ashar tiba dan Athar segera menghentikan kendaraannya di mesjid yang sengaja ia akan singgahi sepulang dari kantor sore itu, resiko besar sudah diambilnya dan ia harus sampaikan kepada keluarganya. Athar berdoa dan memohon agar dimudahkan serta memohon perlindungan Allah atas hal-hal yang buruk yang akan menimpanya setelah ini. Selesai salat dan berdoa Athar kemudian teringat Ayahnya, sudah cukup lama tak mengunjungi Pak Sabur, begitu orang memanggil Ayah Athar yang tinggal di perbatasan kota, Atharpun lalu mengarahkan kendaraannya ke rumah Pak Sabur. “Kabar baik Yah, Firsa dan Ibu juga demikian, Bintang dan Ayu cucu-cucu Ayah juga sehat” Athar menjawab pertanyaan Pak Sabur ketika baru saja duduk di kursi ruang tamu. “Maafkan Athar baru kesini lagi, belakangan banyak waktu tersita pekerjaan Yah” Athar melanjutkan percakapannya dengan pak Sabur yang duduk di hadapannya menggunakan pakaian koko dan sarung Samarinda berwarna kombinasi biru dan abu-abu. “Mau Kopi Nak?” Pak Sabur tiba-tiba menyela Athar. “Tunggu sebentar ya.” Pak Sabur kemudian berdiri dan melangkah ke dapur, Athar hendak menolak untuk dibuatkan dan setengah beranjak dari tempat duduknya tapi ia ingat siapa Pak Sabur, Ayahnya yang tak pernah mau ditolak, yang selalu berusaha sendiri dan tak pernah mau minta pertolongan jika tak benar-benar membutuhkan. “Jadi, bagaimana rencanamu?” Pak Sabur tiba-tiba bertanya pada Athar sembari menyodorkan secangkir kopi Toraja tanpa gula kesukaan Athar, kedua pria yang berselisih usia dua puluh lima tahun itu kemudian terlibat percakapan dan diskusi yang hangat. Athar anak lelaki tunggal dari pasangan Ayah Sabur dan Mama Ifa, tujuh belas tahun sudah kedua orang tua Athar berpisah dan ia tak pernah tahu mengapa keduanya memutuskan untuk bercerai, Pak Sabur dan Mama Ifa saling tertutup pada 22
Menjemput Hidayah Athar tentang hubungan mereka yang terputus di tengah perjalanan, Athar kemudian dibesarkan Mama Ifa dan Ayah Sabur tak pernah luput membiayainya walaupun tak hidup dalam satu atap, Pak Sabur tak menikah lagi dan benar-benar hidup sendirian di rumah sederhana miliknya. “Athar sudah resign Yah.” Athar mengabari ayahnya dengan tenang. “Oo..ya? baguslah, mulai kapan?” Pak Sabur terlihat senang. “Senin, aku mau bisnis kaos aja.” Athar mengadukan rencana berikutnya. “Mama dan Firsa?” tanya Pak Sabur kelihatan khawatir. “Itu dia Yah, setali tiga uang, sama aja dua-duanya, agak sulit Athar ajak dialog, sepertinya selalu Athar yang salah.” “Jadi..?” “Kalau boleh, Athar bisa ikut Ayah disini kan?” “Bintang dan Ayu?” “Seperti Ayah dan Aku.” Athar menjawab perlahan sambil menunduk khawatir Ayahnya tersinggung. “Hhmm, pikirkan lagi Nak, jangan sampai terulang kesalahan yang sama, Ayah ga masalah kamu disini, masih ada tempat, bahkan untuk mengembangkan usahamu bisa pakai garasi.” Pak Sabur menasihati anaknya dengan dahi sedikit mengerenyit. “…Pikirkan anak-anakmu, Ayah melihat mereka justru lebih dekat padamu daripada Ibunya.” “Iya Yah, ini kan baru perkiraan Athar, tapi Athar tetap berusaha meyakinkan mereka bahwa ini akan berjalan baik dan tidak seperti dugaan mereka.” “Insyaa Allah Nak, Ayah doakan.” Pak Sabur tersenyum, dalam hatinya menduga tak sama dengan apa yang Athar pikir dan inginkan. Benar saja, sesampai di rumah Athar digempur dua wanita yang sangat dicintainya, Mama Ifa dan Firsa benar-benar emosi dengan apa yang sudah Athar lakukan, gegabah katanya dan banyak lagi kata-kata yang jauh dari kesan mendukung. Athar tak banyak bicara, diam seperti yang sering dicontohkan Ayahnya memungkinkan dia untuk lebih tenang dan mudah menyelesaikan masalah, diam seperti batu yang kokoh walaupun Firsa mulai menangis meratapi sesuatu yang belum tentu terjadi, takut miskin. 23
Menjemput Hidayah Selesai serangan awal, serangan berikutnya terjadi di kamar, Athar disuguhi hasil didikannya yang gagal sementara ini, istri yang tak mengindahkan nasihat dan keputusan-keputusan suaminya, keputusan penting yang sebetulnya sudah Athar sering singgung dan sampaikan sebelumnya. “Sekarang jawab aku Pah? Apa yang mau kamu kerjakan? Dari mana kamu mau dapat uang untuk beli ini itu, susu anak & kebutuhan lainnya?” cecar Firsa. “Sabar Ma, kita masih punya simpanan untuk modal kerja, aku akan usaha produksi kaos dan seragam.” Jawab Athar. “Usaha? Apa jaminannya? Berapa hasilnya? Mana mungkin cukup Pah.” “Jangan pesimis dulu, kita harus coba untuk berusaha Ma.” “Ga Pah, Mama ga mau main-main, kalau Papah ga sanggup, kita cerai saja.” Firsa naik darah tanpa bisa mengontrol emosinya. “Ga boleh gitu Ma, ga baik, sabar dong, ini kan belum kita jalani.” Athar menahan dirinya kuat-kuat. “Kan udah sejak lama aku bilang jangan keluar, aku ga pernah main-main ya.” “Istighfar Ma, perceraian itu dibenci Allah.” “Biar, tinggal saja kamu sama Ibu, aku bawa anak-anak besok ke rumah Bapak” keras Firsa bicara, amarahnya membutakan hatinya. “Astaghfirullah.” Athar hanya beristighfar sambil tertunduk memegangi kepalanya. *** Seusai salat subuh Athar seperti biasa duduk di ruang keluarga sambil membaca buku-buku yang ada dalam rak, kali ini tanpa kopi atau makanan ringan santap sarapan seperti biasanya, Firsa sibuk mengemasi pakaiannya dan pakaian anak-anak ke dalam kopor. Kedua orang ini saling membulatkan tekadnya masing-masing sehingga tak tercapai kata sepakat untuk tetap bersama walau dalam hati mereka saling berharap pasangannya akan iba dan merubah pikirannya, sayang sementara itu tak terjadi, Firsa tetap bersikukuh dengan pikiran sempitnya tentang materi dan keleluasaan, sedangkan Athar tetap pada pendiriannya untuk mengikuti apa yang telah Allah perintahkan untuk meninggalkan riba, ia lebih baik tak memiliki apa-apa daripada kelak di akhirat dimasukan ke dalam neraka jahanam dan kekal selamanya disana. 24
Menjemput Hidayah اَﺑﻟِﱠﺎَﻧِﺬـﱠﱢﻣﻳُْﻬْﻦَﻦْﻢﱠﻳَرﺑﻗﱢَﺄْﺎﻪﻟُُﻛْٖﻠﻮ◌ُْﻮٓﻓ◌ََاﺎنﻧْـاِاﺘَـﱠﻟﳕَٰﱢﻬﺎﺮﺑٰ اﻮﻰاﻟْﺒَـﻓََـْﻴﻠَﻻُﻊﻪﻳـَِٗﻣ◌ُﻘﺜْْﻮَﻣُُﻞﻣﺎْﻮاﻟَنﱢَﺳﺮﺑٰاﻠَاﻟِﻮﻨﱠﱠاﺎﻻَۘﻒِ◌رَﻛۗ◌َوَۚاﻤَ◌ﺎَوَاﺣَُﻳْﻫـَﻣﱠﻞُُﻘْﺮﻢﻩْاﻮٗﻟﻓُِمٰ◌ﻠّﻴْـﻪُآَ◌ﻬﻟﱠاﺎﻟاِْﺬِﺒَـَﻴْْٰﱃﺧيَﻠِﻊاﻳَـﻟُﺪٰﺘََﻠّْووِﻪََﺣَﺨنﺒﱠﱠﺮَۗم◌ﻄُاﻪَُﻟوﱢَﻣاﺮﺑٰﻟْﻦﻮاﱠﺸﻴْۗ◌َﻋﺎٰﻄﻓََدُﻦَﻤﻓَِْﺎﻦﻣُوَٰﻟۤﻦﯩَﺟاﺎۤﻟَْءَﻚَﻤﻩاَٗ◌ﱢﺲْﺻ َۗﻣ◌ْٰﺤﻮ ِٰذﻋﻟُِﺐﻈََﺔٌﻚ Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al Baqarah 2: 275) 25
Menjemput Hidayah Satpam Galau Suara mesin presensi agak lebih sering berbunyi jika waktu menunjukan jam 07.45 pagi, selalu begitu terjadi di kantor tempat bekerja Pak Darsono, karyawan datang terburu-buru saat waktu sudah mendekati jam 08.00, terkadang antrian mengular sampai ke pintu masuk. Pak Darsono sebagai bos HRD di kantor itu cukup ketat terhadap karyawannya, ia sering langsung menegur karyawan yang datang mendekati waktu jam masuk kerja, yang terlambat sudah pasti disuruh masuk ke ruangannya dan pasti kena ceramah sekitar sepuluh sampai lima belas menit. “Apa kalian ga persiapan dari rumah?” “Jam berapa kalian bangun pagi?” “Ga mungkin macet di kota ini.” “Bagaimana kalian bisa bekerja maksimal dimulai jam 8.00 kalau ga ada persiapan.” Begitu kata-kata yang sering terucap di ruangan jika ada karyawan yang gagal datang paling tidak lima belas menit sebelum jam 8.00 sebagai standar terendah bagi kedisiplinan ala Pak Darsono. “Zulham kemana Di?” Tanya Pak Darsono kepada Jumadi, Satpam jaga malam yang harusnya sejak jam 7.00 tadi sudah bertukar shift dengan Zulham. “Belum datang Pak, saya telepon tapi HP-nya ga aktif.” Jawab Jumadi. “Jam 8.30, kalau belum datang telepon komandanmu ya, suruh kirim personil pengganti, kamu perlu istirahat” begitu Pak Darsono memberi instruksi. “Siap Pak.” Pak Darsono dikenal sebagai orang yang disiplin dan tegas, ia juga orang yang cukup ramah untuk ukuran seorang manajer di kantor itu, banyak orang yang jika belum mengenal lebih dekat menganggapnya sebagai orang yang kaku dan menyebalkan, tapi jika sudah beberapa kali bertemu, ia akan dikenal sebagai orang yang bijak dan menyenangkan. Jika bertemu dan berdiskusi, pembicaraannya tak akan jauh dari soal-soal agama, banyak karyawan yang masih muda-muda jengah dengan nasehat dan 26
Menjemput Hidayah ceramahnya, mereka seperti menghindar jika Pak Darsono sudah mendekat dan bergabung dengan mereka. “Selamat pagi Pak.” Suara Zulham memecah hening di ruangan manajer HRD setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. “Pagi Mas, silakan duduk.” Pak Darsono lalu mempersilakan Zulham duduk. “Siap, mohon ijin pak.” “Gimana Mas? kenapa datang terlambat?” tanya Pak Darsono. “Siap, mohon maaf Pak, tadi saya kedatangan tamu waktu mau berangkat kerja.” “Loh, ngapain tamu datang pagi-pagi?” Tanya Pak Darsono keheranan. “Siap, debt collector Pak, sudah beberapa hari datang ke rumah tapi ga ketemu saya, makanya mereka cegat saya pagi-pagi sebelum berangkat kerja.” Zulham memberi penjelasan. “Subhanallah, Mas Zulham punya pinjaman ke Bank?” “Siap pak, ke leasing pak, ambil motor.” “Waduh, gimana ini? Mas Zulham tahu kan kalau itu dilarang agama, sudah, nanti jam istirahat ketemu saya lagi, sekarang hand over dulu sama Jumadi, kasihan dia sudah nunggu dari tadi.” Pak Darsono memberikan instruksi pada Zulham. “Siap Pak, mohon ijin.” Zulham kemudian berdiri dan berlalu meninggalkan ruangan. Sudah menjadi masalah yang umum di kantor itu ketika banyak dari karyawannya terlibat utang piutang antar teman dan juga kepada lembaga keuangan, jumlah karyawan muda lebih banyak dari karyawan yang mendekati masa pensiun terutama karyawan yang dewasa serta mampu berpikir jernih sehingga hampir delapan puluh persen karyawan terlibat utang yang mengandung riba, mereka kebanyakan memiliki utang kepemilikan rumah, pinjaman online, kredit kendaraan dan kredit konsumsi lainnya, utang-utang yang sebetulnya tak perlu dan masih bisa ditunda. Pak Darsono sangat peduli dengan masalah ini, perlahan-lahan ia menyampaikan dakwah tentang buruknya berpraktik ekonomi ribawi. Bukan tanpa sebab, ia juga pernah terjerat utang riba beberapa tahun lalu sebelum dipindah tugaskan ke kantor barunya ini, ya sama, utangnya hanya untuk kepemilikan rumah, mobil dan sebidang tanah. 27
Menjemput Hidayah “Sakit Mas Zulham, saya pernah mengalami juga, gelisah di malam hari dan merasa terhina di siang hari karena utang riba, apalagi debt collector leasing itu lebih nyebelin daripada debt collector Bank, iya kan?” tanya Pak Darsono pada Zulham ketika mereka bertemu lagi di jam istirahat. “Betul Pak, mana istri saya kan orangnya penakut, dibentak sekali aja bisa lama berhenti nangisnya.” Jelas Zulham. “Terus gimana tadi?” “Ya saya usir, mana berani lagi mereka.” “Maksud saya, utangnya? Kamu bayar?” “Ya belum Pak, saya punya uang dari mana, ini kan belum gajian.” “Loh, mestinya kan sudah dihitung tanggal jatuh temponya dengan kondisi keuangan toh?” kata Pak Darsono lagi. “Iya Pak, awalnya lancar tapi tambah kesini koq jadi repot, mana anak saya yang kecil sakit, baru aja yang sulung sembuh, wah stres saya Pak.” Zulham mulai curhat. “Nah itu, akibatnya kalau berutang riba Mas.” “Riba? Kan saya yang berutang, bukannya yang makan riba itu pihak leasingnya?” Zulham menolak agak keras, ia menggeser posisi duduknya sedikit lebih kedepan. “Jangankan yang memberi utang Mas, yang diberi utang bahkan yang mencatatkan serta saksinya, mereka semua sama mendapatkan dosa riba.” Pak Darsono memberikan penjelasan. “Astaghfirullah, begitu ya, waduh berarti saya…” “Ya, Mas Zulham juga kebagian dosa ribanya juga, satu dirham sama dengan 36 kali berzina, masih mau? Itu shahih hadistnya Mas.” “Waduh, gitu ya? trus gimana ini Pak? udah terlanjur gini.” Zulham kelihatan sangat menyesal, wajahnya mulai berubah pucat. “Ya stop Mas, berhenti dan jangan ulangi lagi, taubatan nasuha, taubat yang bersungguh-sungguh, Allah itu maha penerima taubat.” “Stop? ga usah bayar utangnya gitu Pak?” tanya Zulham bingung. “Ya ngga lah, utang tetap harus dibayar, tapi bunga dan dendanya tidak usah.” “Loh, ya pasti ngga mau mereka Pak.” Zulham berkilah. 28
Menjemput Hidayah “Ya harus diusahakan, Mas Zulham mau ikut perintah siapa? Mereka atau ngikut perintah Allah?” “Wah, malah ribet gini ya.” “Ga lah Mas, aturan itu dibuat manusia, ya pasti bisa fleksibel, kalau ga mau ya kasikan motornya aja beres, kamu bebas, ga punya utang lagi, ga ribet koq.” “Lha, trus saya naik apa Pak?” “Naik angkot kan bisa, ojek on line ada, prihatin dulu, tabung uangnya untuk beli motor second, jangan gengsi.” “Ambyar Pak, ga kuat ongkosnya, anak saya dua orang kan sekolah, lalu istri ke pasar untuk jualan, pake motor cukup bisa menghemat daripada naik kendaraan umum.” “Ya monggo, itu pilihannya koq, kalau Mas Zulham yakin pada Allah, semua permasalahan itu pasti akan teratasi, Allah itu sayang sama kita, Allah peringatkan Mas Zulham dengan didatangi debt collector, anak-anak dikasi nikmat sakit, ya toh?, bukannya itu peringatan Allah untuk kebaikan Mas Zulham?” Zulham lalu terdiam, pandangannya mulai jatuh ke lantai diantara kedua kakinya, Pak Darsono membiarkannya memikirkan apa yang baru saja ia katakan. “Mohon ijin bertanya Pak, sekiranya ada solusi yang lebih baik kah?” Zulham masih berusaha mencari celah. Pak Darsono tersenyum lalu mengambil sebuah buku dari meja disamping kirinya, buku berwarna merah tak begitu tebal lalu diberikannya pada Zulham. “Solusinya hanya stop melakukan transaksi riba, solusi lainnya akan datang dari Allah dan Mas Zulham sendiri, ini saya kasih buku buat di pelajari, isinya bagaimana cara menghadapi masalah seperti yang Mas Zulham alami sekarang ini, semua ada diterangkan disitu, baca dan amalkan ya.” Pak Darsono kemudian tersenyum menganggap Zulham sudah mengerti apa yang ia maksudkan. “Baik Pak, insyaa Allah, terima kasih banyak.” Zulham meraih buku yang diberikan Pak Darsono lalu segera berlalu dari ruangan. *** Waktu berlalu begitu cepatnya, sudah hampir tiga bulan dari sejak Pak Darsono memberikan buku “20 Kaidah Paham Riba” pada Zulham dan seperti biasa ia sudah tiba di kantor jam 7.30, tiba-tiba Zulham tergopoh-gopoh menghampiri Pak Darsono. 29
Menjemput Hidayah “Selamat pagi Pak, mohon ijin saya hari ini tidak masuk kerja, Ferry yang menggantikan, sebentar lagi dia datang.” Zulham nampak cemas. “Kenapa Mas?” Pak Darsono sedikit terkejut. “Anak saya kecelakaan Pak, tadi waktu mau berangkat sekolah, ditabrak mobil, sekarang di rumah sakit, saya mau langsung kesana.” Zulham kelihatan sedikit panik. “Sabar, jangan panik, kondisinya bagaimana?” “Belum jelas Pak, Istri saya tadi bilang masih di ruang ICU.” “Subhanallah, sabar Mas, biar nanti Sabran yang antar Mas Zulham ke rumah sakit.” pak Darsono langsung mencari Sabran sopirnya, ia tahu kalau Zulham tak lagi punya kendaraan, motornya ia relakan diambil kembali oleh leasing sejak ia tak sanggup lagi membayar angsurannya. Zulham bertaubat lalu melepaskan diri dari jeratan utang riba yang selama ini memberatkannya, yang mengikatnya hingga tak sanggup berpikir jernih, sering galau, melamun di tempat kerja dan banyak mendapatkan hal-hal yang tak diharapkannya hingga kecelakaan yang menimpa anak sulungnya, ini adalah yang kesekian kali harus dihadapi. *** Zulham tersenyum menyambut kedatangan Pak Darsono di Rumah Sakit, wajahnya layu penuh beban, namun rasa sedihnya tak berlebihan, ada raut keyakinan di wajahnya bahwa peristiwa ini akan segera berlalu. “Alhamdulillah, sudah sadar Pak, hanya pingsan karena kaget, tidak ada luka serius, hanya lecet-lecet di kaki dan tangannya.” jawab Zulham atas pertanyaan pak Darsono tentang kabar kondisi anaknya. “Sabar ya Mas, pasti ada hikmah dari peristiwa ini.” “Betul Pak, saya bersyukur jika tak Bapak ingatkan mungkin azab yang saya terima lebih dari ini pak.” kata Zulham pada Pak Darsono. “Loh belum tentu azab ini Mas, bertawakal saja pada Allah, berdoa terus dan selalu berbaik sangka atas apa yang telah diberikanNya.” Pak Darsono menyela. “Astaghfirullah, saya ini koq begini amat ya Pak.” Zulham memegangi kepalanya disambut senyuman Pak Darsono seraya menepuk bahu Securitynya itu. 30
Menjemput Hidayah “Insyaa Allah ini peringatan baik untuk Mas Zulham, tawakal saja, segala ketentuan Allah itu yang terbaik, seburuk apapun peristiwanya.” Lagi Pak Darsono memberikan wejangan dan penguatan. Zulham kini menjadi lebih tenang, ia masih berusaha untuk tetap di jalur taubat yang bersungguh-sungguh, dengan keyakinan penuh kepada Allah, tak ada pembenaran lagi atas keasyikannya berbuat kekeliruan dan tak ada pembelaan diri lagi atas keharaman yang sudah dilakukannya, ia sudah bertobat dengan segala resiko dan konsekwensinya, tak ada lagi pertanyaan jika dan kalau, tak ada lagi galau. 31
Menjemput Hidayah ◌ۗ َﻻ َﺧﻴْـَﺮ ِ ْﰲ َﻛﺜٍِْﲑ ﱢﻣ ْﻦ ﱠْﳒٰﻮﯨ ُﻬ ْﻢ اِﱠﻻ َﻣ ْﻦ اََﻣَﺮ ﺑِ َﺼ َﺪﻗٍَﺔ اَْو َﻣْﻌُﺮْو ٍف اَْو اِ ْﺻَﻼ ٍح ۢ◌ ﺑـَْ َﲔ اﻟﻨﱠﺎ ِس َوَﻣ ْﻦ ﻳﱠـْﻔَﻌ ْﻞ ٰذﻟِ َﻚ اﺑْﺘِﻐَﺎۤءَ َﻣْﺮ َﺿﺎ ِت اﻟٰﻠِّﻪ ﻓَ َﺴْﻮ َف ﻧـُْﺆﺗِﻴِْﻪ اَ ْﺟًﺮا َﻋ ِﻈْﻴ ًﻤﺎ “Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.” (Q.S An-Nisa 4:114) 32
Menjemput Hidayah Satu Gram Logam Mulia Aku bersiap untuk segera menuju venue acara gathering komunitas Bebas Riba, hari itu aku ditugaskan untuk menjadi host acara kopi darat rutin bulanan, kali ini komunitas kami mengundang pengusaha developer property syariah dari ibu kota untuk memberikan pencerahan bagi anggota dan juga masyarakat umum yang tentunya akan berada di seputar venue kegiatan. Kopi darat rutin bulanan komunitas kami ini sangat unik dan tak biasa terjadi di komunitas lain, selalu ada yang berbeda di tiap bulan dalam penyajian acaranya, terkadang kami mengundang motivator dari luar kota yang sudah terkenal dan mumpuni dalam keilmuannya, selain itu kami juga sering meminta anggota untuk menyampaikan testimoni yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk keluar dari jeratan riba, pengalaman-pengalaman ketika terjerat utang riba bahkan inspirasi- inspirasi yang menimbulkan motivasi untuk meninggalkan utang secara umum dan utang-utang riba khususnya. Bukan tanpa cela dan dosa, saat aku bergabung dengan komunitas ini empat tahun yang lalu, aku masih dalam masa-masa berusaha untuk mengentaskan sisa- sisa utang baik yang ada ribanya maupun tidak, sungguh, bahwa utang riba sudah sangat mengganggu, mengancam bahkan merusak sendi-sendi kehidupan keluargaku, bersyukur kepada Allah bahwa aku sudah meninggalkan semuanya, tinggal menyelesaikannya saja satu persatu. Dari berbagai diskusi dan pelajaran yang pernah kudapatkan, sedekah adalah salah satu jalan terbaik untuk bisa segera terlepas dari jeratan utang riba, dalam Al- Qur’an jelas disebutkan, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.” (Q.S. Al Baqarah 2:276) Sedekah yang dimaksud bukan hanya mengeluarkan uang untuk membantu meringankan beban mereka yang sedang membutuhkan tetapi juga membantu dengan tenaga, buah pikiran positif terhadap orang lain serta hal-hal lain yang sekiranya bisa membuat orang lain merasa terbantu dan diringankan sedikit masalah dalam kesehariannya, bahkan salam dan senyum kepada saudara muslim adalah juga merupakan sedekah. 33
Menjemput Hidayah “Assalamualaykum Kang.” Tiba-tiba aku dikejutkan suara sapaan orang yang sangat kukenal, Mas Isman biasa kami panggil, ia seorang pedagang keliling yang empat tahun lalu bersama-sama bergabung di komunitas ini. “Waalaykumussalam Mas, wah gimana kabarnya? Kelihatan segar sekali hari ini.” Aku langsung merespon salamnya. “Alhamdulillah, sehat dan bahagia Kang, gimana persiapan manggung lagi?” Mas Isman kemudian bertanya sekaligus memberiku semangat. “Siap Mas, Insyaa Allah, mudah-mudahan Mas Isman dapat door prize kali ini” Aku membocorkan sedikit rahasia yang kusimpan sejak semalam kepadanya. “Aamiin, loh ada door prizenya toh? koq tumben.” Mas Isman mengamini sekaligus tampak terkejut dengan kabar door prize yang kusampaikan. Memang setiap kegiatan kopi darat komunitas ini jarang-jarang ada door prize atau hadiah kejutan, ini rencana buatanku saja untuk kopi darat kali ini agar acara terlihat lebih seru dan ketika peserta mulai bosan akupun tak mati kutu sebagai pembawa acara, ide semalam ini terbetik ketika sedang mempersiapkan susunan acara yang dimulai pagi hari sekitar jam 08.30 sampai menjelang azan Zuhur dan materi door prize pun hanya seputaran kuis dan adaptasi peserta terhadap materi yang diberikan pembicara. Pernah suatu hari aku dan Mas Isman dikenalkan kepada seorang pedagang perhiasan emas dan logam mulia yang antusias menceritakan kepada kami tentang bisnisnya, liku-liku hidupnya serta keteguhannya untuk membebaskan diri dari jeratan utang riba, ia sempat berkisah bahwa utangnya ke Bank hampir menyentuh angka tiga milyar rupiah untuk membiayai permodalan toko perhiasan emas dan logam mulianya. Mas Isman yang hanya seorang pedagang kelontong kecil hanya bisa melongo saja mendengar kisah Pak Jendri pedagang emas yang sudah lama dikenal banyak orang, usai pertemuan itu ia sempat berseloroh bahwa seumur hidupnya yang hampir setengah abad itu ternyata Mas Isman belum pernah memegang yang namanya logam mulia atau emas batangan, teman-teman yang memperhatikanpun lalu tertawa mendengarnya sedangkan aku menganggap ini serius, Mas Isman orang yang lugu dan apa adanya. “Serius Mas? Belum pernah pegang emas batangan?” Tanyaku saat itu. 34
Menjemput Hidayah “Buat apa saya bohong sih, belum pernah Kang, biarpun cuma satu gram.” Logat Jawanya yang kental mengiringi kalimat penegasannya padaku. Ada tiga kaos krah berlogo komunitas yang tersisa dari hasil produksi dan penjualan beberapa bulan lalu serta dua helai voucher free makan gratis di restoran masakan hasil laut dan satu gram logam mulia milikku sendiri yang akan kujadikan door prize, betul satu gram logam mulia atau emas batangan terakhir milikku. Dulu sempat aku berusaha mengumpulkan logam mulia dari ukuran berat satu gram, dua gram, lima gram sampai sepuluh gram lalu satu persatu harus kurelakan dijual untuk menutup utang-utang yang jatuh tempo, ini tinggal tersisa sebatang logam mulia seberat satu gram yang tanpa kupikir panjang-panjang langsung kumasukan ke dalam tas untuk dijadikan door prize. Banyak cerita tersimpan tentang logam mulia atau emas batangan ini, waktu masih bekerja di kantor lama ada seorang teman rajin sekali berjualan logam mulia dari ukuran berat satu gram sampai lima puluh gram, setiap baru terima gaji bulanan ia sudah siap untuk menjajakan dagangan eksklusifnya itu ke teman-teman di kantor. Yang menariknya, temanku itu selalu memberi informasi tentang turun naiknya harga logam mulia dalam kurun waktu terdekat serta simulasi meraih keuntungan jika kita membeli logam mulianya, tentu saja dengan prediksi-prediksi kenaikan harga di masa yang akan datang dengan sangat fasih ia sampaikan hingga akupun akhirnya jadi rajin menyisihkan uang untuk membelinya walaupun di akhir-akhir harus ludes juga karena kejahatan utang riba yang lambat kusadari. Sisa satu gram logam mulia ini yang bertahan di laci lemari kamarku hampir dua tahun, sementara teman-temannya sudah pergi melanglangbuana entah kemana, yang sepuluh gram malah sempat dibiarkan dilelang Pegadaian karena saat itu sudah mengerti tentang riba dan tak lagi mau membayar bunganya. Seperti yang sudah direncanakan, si logam Mulia satu gram ini akan kusedekahkan pada Mas Isman dengan cara memberikannya melalui hadiah kuis atau sejenisnya di sesi door prize kopi darat komunitas, selain ingin membuatnya gembira untuk pertama kalinya memegang dan memiliki logam mulia walaupun hanya satu gram. “Baiklah, door prize terakhir di kesempatan ini adalah satu gram logam mulia jatuh kepada…” Aku berusaha berjalan berputar dari satu sudut panggung ke sudut 35
Menjemput Hidayah panggung lainnya mencoba memberikan kesan dramatis pada penyerahan satu gram logam mulia yang mungkin dinanti-nanti peserta. “…jatuh kepada Mas Isman Mugiyanto.” Agak sedikit berteriak aku memanggil nama tersebut walaupun suara pengeras suara cukup terdengar hingga radius lima puluh meter sementara yang dipanggil masih sibuk membagi-bagikan konsumsi kepada para peserta. Mas Isman pun akhirnya berada di atas panggung untuk menerima hadiah kejutan ini, awalnya ia merasa heran karena tak menjawab kuis dan aku menerangkan bahwa hadiah ini spesial dari donatur acara yang tak mau disebutkan namanya untuk orang yang paling aktif dalam setiap kegiatan komunitas. Bukan tanpa pengamatan bahwa memang Mas Isman orang yang paling aktif bergerak kemana-mana dalam setiap kegiatan komunitas terutama ketika diperlukan tenaga untuk membagikan konsumsi, menyebarkan flyer kegiatan, memasang banner, back drop atau bahkan menjemput tamu dan banyak hal lainnya. Ia nampak sangat senang dan terharu lalu mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang memberinya hadiah itu, doa-doa kebaikan dan keberkahan meluncur deras dari mulutnya dan segera kuaminkan dengan sangat bersemangat. *** Dua tahun berlalu dari peristiwa itu, aku hampir saja melupakannya ketika acara pisah sambut pejabat baru di kantor tempatku bekerja baru saja selesai, gara- gara acara itu aku jadi ingat lagi satu gram logam mulia untuk Mas Isman, aku yang sudah sepuluh tahun bekerja di perusahaan harus berpindah tugas ke kantor pusat untuk promosi sebagai manajer riset dan pengembangan. Di acara itu aku mendapatkan kenang-kenangan dari beberapa rekan kerja, ada yang memberiku jersey original tim nasional yang memang sangat kugemari, ada yang memberi satu set buku-buku bacaan tentang motivasi karena beberapa rekan kerja tahu kalau aku hobi membaca, ada ballpen mahal dan jam tangan serta yang terakhir kubuka adalah cinderamata dari kantor pusat berupa sepuluh gram logam mulia. Aku bahkan hampir melupakan logam mulia sejak terakhir melepas satu gram ke Mas Isman, bagiku berakhir sudah era koleksi dan investasi logam mulia, dalam pikiranku tak lagi ada barang-barang yang perlu disimpan seperti rumah, tanah dan mobil yang dulu ada dan sangat kubanggakan kini tak perlu lagi, selain semua sudah kujual untuk melunasi utang-utang, aku juga merasa lebih tenang tanpa barang- 36
Menjemput Hidayah barang yang tidak produktif, toh saat ini ada taksi dan ojek online yang sangat memudahkan kita untuk bepergian atau kalaupun harus menyewa mobil juga jauh lebih murah dibanding biaya perawatan ditambah biaya mengemudikan dan juga biaya-biaya tak terduga lainnya. Akan lebih melegakan jika hidup di dalam rumah tanpa utang apalagi utang riba, dalam hadist riwayat Muslim nomor 1598 menyebutkan “Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam melaknat pemakan riba, penyetor riba, penulis transaksi riba dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Aku kemudian menggenggam logam mulia sepuluh gram yang baru saja kuterima, ini sepuluh kali besarnya dari yang kusedekahkan kepada Mas Isman, belum lagi cinderamata lainnya yang memang aku sukai dan aku inginkan, sungguh Allah maha membalas segala kebaikan, entah bagaimana lagi aku harus mengatakan, bersaksi dan menyampaikan hal ini kepada semua orang terutama kepada teman- teman dan saudara-saudara muslim dimana saja berada, bahwa apa yang kualami ini bukan suatu kebetulan dan terjadi begitu saja, ini adalah hikmah besar dalam kehidupan yang kujalani atas ijin Allah Ta’ala, atas karunia dan kasih sayangNya kepada umat manusia, bukan karena banyaknya gramasi dan besarnya materi yang diperoleh tapi karena keikhlasan, ketulusan dan kesabaran yang sungguh hanya karena mengharap keridhoan Allah semata. *** Aku bersiap untuk menaiki pesawat udara yang akan membawaku bertugas di kantor pusat untuk dua atau tiga tahun kedepan, entah apa lagi yang akan berlaku dan terjadi di kehidupan yang akan datang, aku hanya menjalankan ikhtiar sebaik mungkin dengan terus berdoa dan berharap kebaikan serta ridho Allah semata, sepuluh gram logam mulia kubawa serta untuk siapa yang membutuhkan, entah ke depannya akan menjadi seratus gram atau mungkin akan kembali menjadi satu gram, yang bisa kupastikan adalah, aku tak akan pernah kembali berkubang dengan lumpur utang dan riba, satu gram logam mulia mungkin akan lebih baik dan berkah yang didapat dari ikhtiar terbaik kita walaupun hanya satu gram logam mulia. 37
Menjemput Hidayah ُﻛ ﱢﻞ ِ ْﰲ َوَاﺳﺒِْﺳَﻊٌﻊ َﺳَﻋﻨَﻠﺎِْﻴﺑٌِﻢَﻞ َُوَاﺳﻟﺒِٰﻠْﻴّﻪُِﻞﻳُاﻟٰٰﻠّﻀِﻪﻌِ َﻛُﻒَﻤﺜَﻟَِِﻞﻤ ْﻦَﺣﻳﺒﱠﱠٍﺔَﺸاﺎَۤءُْن ۢ◌ۗ◌ﺑَـَﺘَواﻟٰﻠّْﺖﻪ ِ ْﰲ اﻟﱠ ِﺬﻳُْﺳَﻦْﻦﻳـُۢﻨْ◌ِﺑﻔـُﻠَُﻘٍﺔْﻮَنﱢﻣﺎاﺋََْﻣﺔَُﻮاََﳍﺣُﺒﱠْﻢٍﺔ َﻣﺜَ ُﻞ ◌ۗ “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah 2:261) 38
Menjemput Hidayah Mulai Dari Nol Pernah suatu hari Fendi bercerita kepadaku tentang masa suramnya beberapa tahun yang lalu, masa suram dimana ia pernah hidup bermewah-mewah dengan harta dan bergaya hidup bak selebriti yang semuanya semu dan sementara, semu karena semua yang didapatkannya dari hasil utang dan sementara karena kemudian ia harus merelakan semua habis bahkan sebelum ia meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Fendi teman sekolahku di SMA yang kutahu baik dan penurut serta mudah bergaul, kami terakhir bertemu di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, ketika itu kami berjanji temu untuk menonton pertandingan sepakbola dan saat itu penampilannya sangat mengagumkanku, selain mengendarai mobil Mercedes-Benz seri C terbaru, ia juga membayar semua tiket VIP dan mentraktir kami makan malam seusai pertandingan. Wajar saja Fendi melakukan itu semua sebab sepengetahuan kami, Fendi sudah menjadi seorang pengusaha property yang sukses, lokasi usahanya ada di beberapa kota di Jawa dan Sumatra. Diantara tujuh sahabat sepermainan dulu, Fendilah yang kelihatan sangat sukses dan super sibuk, namun ketika klub sepakbola kesukaannya melawat ke Indonesia untuk melakukan pertandingan pra- musim di Jakarta dan Bandung, ia sempatkan waktu untuk bertemu, kami bertujuh bertemu menyaksikan bersama di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta dan Stadion Si Jalak Harupat Bandung. Lima tahun sejak pertemuan kami terakhir itu, tak pernah ada lagi komunikasi yang intensif diantara kami, sepertinya kami disibukkan dengan urusan kami masing-masing, walaupun satu kota rasanya sulit sekali mengatur pertemuan, untuk sekedar minum kopi bersama, pasti ada saja yang berhalangan hadir. Ada satu dua kabar yang mengharuskan kami akhirnya bisa saling mengunjungi seperti ketika Ayah Desmond wafat di Serang atau ketika istri sahabat kami lainnya Wilmar harus masuk rumah sakit karena kecelakaan di jalan tol dan Hanif yang harus ke ICU karena stroke, selebihnya kami hanya bisa berkirim kabar melalui gawai dan media sosial. Akupun bertemu lagi dengan Fendi tanpa disengaja di Mekkah, ketika itu aku sedang memimpin rombongan jemaah umroh dari travel agent tempat aku bekerja dan Fendi tengah menjalankan ibadah umroh bersama Ibu, istri dan dua 39
Menjemput Hidayah anaknya, Fendi menghubungiku setelah ia membaca postinganku di laman media sosial. Kamipun bertemu di food court Jabal Omar setelah salat Isya, aku agak terkejut ketika bertemu Fendi yang jauh lebih kurus dari sebelumnya, wajahnya lebih cerah dengan dua tanda hitam di dahinya yang meyakinkan aku bahwa Fendi kini menjadi lebih taat beribadah dibandingkan sebelumnya. “Aku koq baru ingat kalau kamu kerja di travel umroh loh Dung.” Kata Fendi sambil membaca kartu sertifikat kompetensi pramuwisata Indonesia yang kutunjukan padanya. Fendi seperti terkagum dengan kartu yang mencantumkan namaku Dadung Durachman, ia nampak sedikit menyesal dengan kealpaannya atas profesiku sebagai pekerja travel umroh dan pemandu wisata. “Mestinya aku dan keluarga ikut travelmu aja ya?” Lagi Fendi menegaskan penyesalannya sambil menyesap kopi yang dipesannya. Kemudian kamipun terlibat diskusi yang sangat mendalam, banyak cerita dramatis Fendi yang membuat aku geleng-geleng kepala, mulai dari kisah kejayaan usahanya di tujuh kota dengan omzet milyaran hingga kisah kebangkrutan, dikejar- kejar debt collector hingga kisah keluarga yang cukup mengiris hati. “Jika saja tak ada Ibu, mungkin ceritanya akan berbeda Dung, beruntung Ibu dan Nana istriku selalu mendukung, semangatku untuk berhijrah dengan sungguh- sungguh semakin besar karena mereka dan anak-anak.” Fendi selalu terbuka kepadaku sejak dulu, sayangnya kali ini aku terlambat mendapatkan informasi hingga tak bisa membantunya ketika kesulitan, pekerjaanku sebagai pemandu wisata cukup melenakanku atas pentingnya memperhatikan sahabat-sahabatku. “Kami sempat makan nasi, kecap dan kerupuk Dung, itu kami rasakan beberapa bulan, Nana sempat jualan gorengan dan es kelapa di depan rumah.” Aku terhenyak mendengar ini sebab yang kutahu Fendi dan Nana adalah pasangan favorit di SMA dulu, pasangan dari keluarga berada dan jauh dari kesan kesusahan dan kesulitan. “Apa ga ada yang tersisa sama sekali Fen? sampai sebegitunya.” Aku bertanya penasaran pada Fendi yang kurasa tak mungkin mengalami hal seperti ini. 40
Menjemput Hidayah “Habis…bis Dung, semua aset kujual untuk menutupi utang ribaku, tidak ada sisa, bahkan rumah di Gunung Putri, BSD dan Pamulang juga kujual, kami sempat tinggal sama Ibu hampir setahun.” Mata Fendi mulai berkaca-kaca. “…Lebih baik ga punya apa-apa daripada menanggung utang dan dosa Dung, kami akhirnya bisa menyelesaikannya dengan baik dan atas pertolongan Allah, perlahan-lahan selama hampir lima tahun semua jenis utang yang kumiliki telah tertutup semua.” Fendi lalu menceritakan pertemuannya dengan Syahril, seorang pengusaha property yang juga temannya semasa kuliah di Australia, Syahril mempercayakan pengelolaan perusahaannya kepada Fendi untuk wilayah Indonesia bagian timur, sedikit demi sedikit perekonomian keluarga Fendi kembali bangkit dan sebagai tanda syukurnya iapun mengajak Ibu, istri dan kedua anaknya untuk beribadah umroh di tahun kedua pemulihan perekonomiannya. “Banyak hikmah dan kemudahan yang kusadari setelah memutuskan hijrah Dung, ini bukan sekedar untung dan rugi tapi ini sudah soal keyakinan kepada Allah, surga dan neraka, aku tak ingin dibakar api neraka sementara untuk masuk surgapun rasanya aku belum layak, sedangkan kematian adalah kepastian yang akan datang kapan saja.” Fendi membuat aku menjadi khawatir sebab apa yang ia katakan mestinya sudah aku pikirkan jauh-jauh hari. “Fen, sorry aku mau tanya, koq cepat banget bisa ketemu Syahril dan dia percaya begitu saja sama kamu?” Aku bertanya dengan penuh rasa penasaran. “Tidak ada yang kebetulan Dung, aku perlu setahun lebih meminta dan berdoa pada Allah untuk diberikan jalan keluar yang terbaik untuk semua permasalahanku saat itu.” “…Syahril itu dulu pernah juga mengalami masalah yang sama, dan aku sempat membantu memberikan pinjaman dengan menjual Mercy-ku, ingat?” kata Fendi melanjutkan dan tak sulit bagiku mengingat mobil mewah yang pernah Fendi miliki sebab aku sempat menyetirnya sampai ke Bandung. “Waktu itu aku memang sudah mulai menjual aset dan ketika bertemu Syahril aku baru dapat duit penjualan rumah Pamulang, jadi sebagian kubayarkan utang sebagian lagi kubelikan mobil seken dan yang Mercy aku jual, uangnya kuberikan Syahril semua, Syahril ga cerita kalau dia lagi jatuh, hanya ia ajak aku kerja sama aja, rupanya Allah mencatat itu semua Dung, pinjaman yang kuberikan 41
Menjemput Hidayah pada Syahril itu digunakan untuk melanjutkan bisnis property syariahnya dan itu sukses, aku memberikan pinjaman ketika sedang susah juga, Alhamdulillah.” “Betul Fen, aku jadi ingat hadist riwayat Ahmad, bahwa Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti kepadamu dengan yang lebih baik.” Kataku pada Fendi yang terlihat manggut- manggut sambil tersenyum. “Aku ga nyadar sampai Syahril kembalikan pinjamannya itu hanya dalam waktu tiga bulan, pas aku lagi benar-benar perlu duit, disitulah Syahril tahu kalau aku sedang hijrah, dia senang dan sangat mendukung, karena ia juga sedang ingin melepaskan usaha property konvensionalnya dan beralih ke sistem syariah, akupun dimintanya untuk sama-sama membangun usahanya.” Fendi mengisahkan pengalamannya ini dengan sangat serius dan bersemangat. Hampir dua setengah jam kami berbincang hingga tak sempat aku menceritakan pengalaman hidupku yang datar-datar saja, Fendipun menikmati kisahnya sendiri untuk kujadikan pelajaran berharga, sama halnya ketika dulu ia bercerita tentang Nana padaku di Laboratorium Komputer SMA, kami seperti mengulang masa lalu di tempat yang jauh dari tanah air. Fendi menutup kisahnya dengan menanyakan hotel dimana aku tinggal selama di Mekkah dan sekaligus pamit karena besok ia akan berangkat ke Jeddah untuk kembali ke Indonesia, sikapnya yang baik, penurut dan mudah bergaul selalu melekat erat hingga di usianya yang hampir setengah abad, ia tak pernah menceritakan hal yang tak perlu, meminta dikasihani atau bahkan memohon bantuan meskipun dalam keadaan sulit. Ada peran Ibu, istri dan anak-anak menyertai Fendi, ada doa yang selalu dipanjatkan untuk bisa melewati masa-masa sulit keluar dari jebakan riba dan ada banyak kebahagiaan yang diperoleh ketika semua sudah terlewati. Aku melihat langkahnya yang kokoh saat ia meninggalkanku yang mungkin tak sekuat ketika ia melangkahkan kaki keluar dari rumah pribadinya yang terjual dan wajahnya yang mungkin tak seceria ini ketika harus berhadapan dengan para penagih utang atau bahkan mungkin degup jantungnya tak secepat ketika harus mulai dari nol lagi semua kehidupan mewah yang pernah dialaminya. 42
Menjemput Hidayah Bagiku ini adalah pelajaran berharga, kekuatan doa, keyakinan kuat pada Allah dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah adalah hal-hal yang perlu diasah, dilekatkan dalam hati dan dikembangkan dari sehari ke sehari. 43
Menjemput Hidayah Dalam hadits riwayat Imam Ahmad, diceritakan tentang seorang lelaki dari penduduk kampung (Arab Badui) yang berkata ﻓَ َﺠَﻌ َﻞ ﻳـَُﻌﻠﱢ ُﻤِﲏ ِﳑﱠﺎ َﻋﻠﱠ َﻤﻪُ اﷲُ َوﻗَﺎ َل إِﻧﱠ َﻚ ﻟَ ْﻦ،أَ َﺧ َﺬ ﺑِﻴَ ِﺪي َر ُﺳﻮُل ا ِﷲ َﺻﻠﱠﻰ اﷲُ َﻋﻠَﻴِْﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ◌ُ ﺗََﺪ َع َﺷْﻴﺌًﺎ اﺗﱢـَﻘﺎءَ اﷲِ إِﱠﻻ أَ ْﻋﻄَﺎ َك اﷲُ َﺧﻴْـًﺮا ِﻣﻨْﻪ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua tanganku. Beliau pun mulai mengajarkan aku dari ilmu yang Allah Ta’ala wahyukan kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sesungguhnya tidaklah Engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Ta’ala, kecuali Allah pasti akan memberikan sesuatu (sebagai pengganti, pen.) yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad no. 20739. Dinilai shahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth.) 44
Menjemput Hidayah Hum Sawa’un, Semua Sama Saja Pak Imran pasti akan marah lagi jika mendapati laporan Jaja sepekan terakhir ini, beberapa kali laporan Jaja tidak berhasil memuaskan Pak Imran, manajer perusahaan kami yang baru bekerja tiga bulan menggantikan Pak Zuhal yang dipindah tugaskan. Perbedaan mencolok antara Pak Zuhal dan Pak Imran sangat jelas terlihat, Pak Zuhal lebih fleksibel, tidak pernah marah dan mau juga turun sendiri ke lapangan untuk ikut menangani masalah-masalah yang sulit dalam pekerjaan sedangkan Pak Imran sungguh kebalikannya, selain mudah marah ia juga tak pernah ikut campur urusan pekerjaan, tahu beres dan yang sering berkata yang menyakiti hati teman-teman, Pak Imran ini tak pernah mau kompromi, lepas target berarti siap- siap diberhentikan dari pekerjaan. Jaja adalah karyawan yang sangat sopan dan berprestasi walaupun baru dua tahun bekerja, ia selalu menjadi yang terbaik diantara kami, sejak kehadiran Pak Imran nampaknya prestasi Jaja menurun drastis, entah karena tekanan berat yang tiba-tiba muncul atau memang karena ada hal lain yang membuat Jaja jadi sering menyendiri, melamun dan tak jarang kelihatan lebih sering nongkrong di warung makan di sebrang jalan tak jauh dari kantor. “Wah baru kita yang hadir nih Mang?” tanya Aji pada Mang Maman, penjaga warung makan langganan kami. “Iya Ji, tadi ada Jaja sih disini dari pagi, bentar katanya mau balik lagi.” Sahut Mang Maman. “Oh, ga jalan dia Mang?” “Ngga, sepagian tadi ngobrol aja sama saya disini, lagi galau dia.” Mang Maman menjawab sambil mengaduk kopi pesanan kami. Hampir setiap karyawan meninggalkan jejaknya di warung ini, Mang Maman dan Bi Isah selalu menjadi pendengar setia atas curhatan dan kegalauan yang mereka tumpahkan, sayangnya Mang Maman dan Bi Isah tak pernah mau menceritakan kembali apa yang mereka dengar, ujungnya pasti kita disuruh tanya sendiri kepada yang bersangkutan. “Bibi kemana Mang?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. “Ada di dalam, lagi masak buat tambahan ntar sore.” 45
Menjemput Hidayah Tak lama, Jaja datang memberi salam dan langsung duduk di bangku pojokan, wajahnya tak sesumringah biasanya, nampak kuyu dan lesu. “Waalaykumsalam Ja, dari mana lo?” Mang Maman menjawab salam Jaja. “Kopi Mang, saya baru dari rumah Pak Haji Arifin.” Jawab Jaja. “Haji Arifin yang rumahnya di belakang Mesjid Al Hijrah itu Ja?” Tanya Aji. “Iya Ji, rajin dia kesana sekarang, mau hijrah katanya.” Mang Maman cengengesan sembari meracik kopi pesanan Jaja. Wajah Jaja berubah mengkerut, ada mimik wajah kesal di rautnya, Mang Maman melanjutkan kerjanya mengaduk racikan kopi yang sudah ia seduh dengan air mendidih. “Wah, mau hijrah ga ngajak-ngajak nih.” Aji mencoba mencairkan suasana, nampak wajah Jaja berubah sedikit lebih baik dari sebelumnya, Mang Maman kemudian menyodorkan kopi yang sudah diseduhnya tadi. “Seriusan lo Ji? kalau mau ntar ba’da Ashar kita ke rumah Pak Haji lagi.” Kata Jaja memandang Aji dengan antusias. “Ntar dulu, hijrah apaan nih? Kan belum ngerti jalan ceritanya?” Tanyaku tak paham. “Loh mang Maman belum ngasi tau? Dodol nih emang, kirain udah pada ngobrol.” Jaja sedikit menyorongkan wajahnya ke Mang Maman, yang dipandangi hanya tertawa ringan sambil mengelak dengan beralasan kalau kami baru saja bertemu. Kamipun lalu terlibat dalam kisah hijrah yang dimaksud Jaja, hijrah meninggalkan semua yang berhubungan dengan utang dan riba, aku dan Aji hanya melongo saja mendengarkan kisah Jaja yang sangat antusias dan menggebu-gebu, Aji berulang kali berusaha mendebat Jaja dan terus bertanya, terkadang mencari pembenaran atas apa yang sedang ia kerjakan sejauh ini. Akupun makin penasaran dengan apa yang dipaparkan Jaja, ditambah lagi Mang Maman yang sesekali nyeletuk menimpali seperti menakuti, beberapa pertanyaan kulontarkan dan Jaja menjawab dengan lugas, nampaknya Jaja memang sudah banyak belajar dari Pak Haji Arifin. “Jadi, selama ini kita kerja ga ada artinya dong, berdosa semua?” Aji bertanya dengan polosnya. 46
Menjemput Hidayah “Ga gitu juga Ji, urusan dosa itu bukan wilayah kita, yang kita ketahui sekarang adalah kita wajib berhenti dari pekerjaan kita ini, pekerjaan yang menganalisa kemampuan kredit, dan menjadi saksi persetujuan kredit riba.” Jaja menjawab Aji perlahan. Aku hanya terdiam dan menjadi kaku, takut dan merasa sangat bersalah atas apa yang kukerjakan selama ini sambil mendengarkan Aji yang lagi-lagi melanjutkan pertanyaan-pertanyaan “Terus gimana?”, “Lalu solusinya gimana?” Jaja akhirnya mengajak kami ke rumah Pak Haji Arifin, aku setuju sementara Aji masih menimbang-nimbang, kamipun berjanji untuk bertemu kembali setelah salat Ashar untuk mengunjungi Pak Haji Arifin. Banyak hal yang kami dapat sepulang dari rumah Pak Haji Arifin, Jaja semakin bulat saja tekadnya untuk segera mengundurkan diri sementara aku jadi pusing tujuh keliling dibuatnya, ternyata selama hampir lima tahun ini aku berkubang dengan kekhilafan, sedih hati ini rasanya tak berpengetahuan, tak mencari yang benar sebelum berbuat, hanya menuruti keinginan dan keuntungan sementara saja. Pak Haji Arifin sangat baik dan santun menuturkan pencerahan pada kami, gaya bahasanya yang halus tak menghakimi dan mudah dimengerti, tak sedikitpun memojokkan kami yang awam, Pak Haji bahkan menasihati agar jangan terburu-buru mengambil keputusan keluar dari perusahaan sebelum mendapatkan pekerjaan baru atau paling tidak berpenghasilan agar kehidupan dapat terus berjalan dan tak terbengkalai. Aji mungkin akan banyak mengajukan pertanyaan jika ikut hadir, sayangnya ia tak datang, mungkin masih shock dengan apa yang disampaikan Jaja. “Gimana menurut pendapatmu tentang apa yang kita diskusikan tadi?” Jaja memecah lamunanku. “Keren, aku sangat beruntung Ja, mestinya paham dan harus segera move on.” “Terus…?” “Terus sekarang bingung nih, andai saja resign dalam waktu dekat, mau ngapain?” “Cari kerja yang lain dong…” “Ga semudah itu juga Ja? Emang kamu ada rencana apa?” “Aku sih mau budi daya tanaman Kurma.” 47
Menjemput Hidayah “Serius? Emang bisa tumbuh disini?” “Apa yang tak bisa dan tak mungkin bagi Allah, aku dengar di Pasuruan, Aceh dan di Kalimantan Timur sudah banyak yang berhasil membudi dayakan Kurma.” “Ah itu kan jangka panjang Ja, yang dekatnya ini loh, gimana? Bukannya kita harus tetap hidup dan cari makan?” “Rejeki milik Allah, sudah diatur bagian untuk kita masing-masing, masih ada keyakinanku untuk menjual jasa sesuai kemampuanku, ojek online atau kerja makelaran, insyaa Allah Din, asal kita yakin pada Allah.” Jaja sudah mahir menasihati seperti Pak Haji. “Iya kamu enak ga ada tanggungan, anakku loh masih balita.” Kataku menegaskan. “Subhanallah, ayo Din, kuatkan keyakinanmu, anak itu kan Allah yang titipkan pada kita sebagai kepala keluarga, sudah pasti ada rejekinya, kita ini kan hanya jembatan rejeki mereka saja, jadi jembatan harus kuat, kokoh dan tahan diinjak digilas.” Kata Jaja lagi. Aku berpikir keras, Jaja yang usianya lebih muda sudah memiliki pemahaman dan keyakinan yang lebih baik daripada aku, bagaimanapun ia menjadi inspirasi walaupun kami masih dalam usaha untuk menuju sesuatu yang lebih baik. “Jadi kapan kamu mau resign Ja?” Tanyaku pada Jaja. “Insyaa Allah awal bulan depan Din.” “Wah, tinggal sepekan dong.” “Lebih cepat lebih baik Din, aku tak tahan dibayangi dosa.” “Ga one month notice, ga dapat uang jasa loh Ja.” “Aku sudah ga peduli Din, yang penting segera keluar, dapat syukur, ngga dapat ya sudah, biar aja, ga apa-apa.” Kata Jaja lagi sambil tersenyum pahit. “Gila kamu Ja, bener-bener ya.” Kataku terheran. Benar saja, dalam sepekan semua orang sekantor dihebohkan dengan berita resignnya Jaja, Jaja yang digadang-gadang menggantikan Pak Nashif sebagai asisten manajer tak disangka meninggalkan karir dan kesempatan begitu saja, bagiku dan Aji ini bukan berita aneh, Aji mungkin salah satu orang yang gembira karena ia adalah orang nomor dua yang diincar manajemen untuk mengisi posisi asisten manajer. 48
Menjemput Hidayah “Din, ga abis pikir sama Jaja, nekat dia.” Kata Aji di sela-sela kasak kusuk orang-orang kantor membicarakan Jaja. “Ga nekat Ji, ia sudah pikirkan jauh-jauh hari, ini juga yang sedang aku pikirkan.” “Wah ketularan juga ya?” tanya Aji sambil mengerutkan keningnya menatap tajam padaku. “Kalau ketularan yang baik kayanya asik juga bro.” jawabku kalem, agaknya kata-kata Aji sedikit mengejek dan meningkatkan motivasiku untuk menjawab keras. Aji nampak mengendalikan sikap dan bahasanya padaku kemudian, kelihatan ada keinginannya untuk menggabungkan jalan pikirannya dengan apa yang dikatakan Jaja tempo hari, namun seperti masih menolak dan mencari pembenaran atas apa yang dikerjakan, dilakukan dan dimilikinya saat ini. Kami tak akan melihat Jaja lagi di kantor leasing ini mulai besok, tempatnya belum ada yang mengisi dan menggantikan, mungkin sampai akhir bulan depan, itupun jika dilakukan perekrutan karyawan baru dengan cepat. Pak Imran mungkin sudah punya strategi baru atas kehilangan satu orang supervisornya, ia tak mungkin menahan Jaja sebab iapun mulai banyak tak puas dengan kinerja Jaja beberapa pekan belakangan ini. Entahlah jika aku ikut resign juga atau Aji yang selama ini memiliki kontribusi yang baik terhadap perusahaan, mungkin Pak Imran akan sedikit kewalahan, bahkan ada kemungkinan ajuan pengunduran diri kami ditolak dengan penawaran kenaikan gaji atau pembaruan fasilitas kerja, penyesuaian target atau kenaikan insentif dan bonus, mungkin. Kalau saja ini terjadi, maka perulangan peristiwa tiga tahun lalu akan terjadi lagi, dua orang karyawan resign bersamaan, Pak Harry yang asisten manajer dan Pak Yordan, supervisor departemen finance, mereka lari karena di bajak perusahaan pembiayaan nasional lainnya yang tentu saja memiliki remunerasi lebih baik, pak Zuhal yang menjadi manajer saat itu tak bisa melakukan apa-apa lagi, proposal kenaikan gaji dan insentifnya tidak disetujui kantor pusat. Jaja bukan karyawan biasa, ketika direkrut Pak Zuhal untuk menggantikan Pak Yordan, ia sudah memiliki pengalaman yang luas dan jam terbang yang tinggi sebagai Sales Marketing produk insurance dan consumer goods dan ia adalah 49
Menjemput Hidayah karyawan yang sangat berpengaruh besar di departemennya, anak buahnya sangat mengidolakan Jaja, ia adalah role model ideal bagi lima orang anak buahnya. Namun sikap dan keputusan yang diambil Jaja kali ini sungguh sangat bertolak belakang dengan prinsip dasar perusahaan, peraturan perusahaanpun dilanggar walaupun tak banyak berpengaruh besar pada perusahaan secara umum, nampaknya Jaja sudah benar-benar memahami apa yang dipilihnya, apa yang ditentukannya, semua ia lakukan karena Allah semata. Dari sikap dan tekad Jaja, aku semakin tertantang dan terinspirasi, motivasi untuk mengikuti jejak Jaja semakin bertambah besar, hati seperti menciut, mengecil ketika mengingat apa yang disampaikan Pak Haji Arifin tentang pemberi, penerima, pencatat dan saksi transaksi riba. “Hum sawa’un, mereka semua sama saja dalam dosa.” 50
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128