Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Manah Shanti Kedamaian Sejati Di Dalam Diri

Manah Shanti Kedamaian Sejati Di Dalam Diri

Published by sugiartha26, 2018-06-22 02:32:17

Description: Manah Shanti Kedamaian Sejati Di Dalam Diri

Search

Read the Text Version

mendapatkan dua kekayaan sekaligus, yaitu kekayaan material dankekayaan spiritual. Serta akan membuat kita mengalami sukses dua kali,yaitu sukses di dunia dan di alam kematian. Di rumah kita kerjakan tugas-tugas rumah tangga dengan baik. Kalauada piring kotor segeralah kita cuci bersih, kalau rumah kotor ambil sapudan pel lalu bersihkan. Kita lakukan dengan sikap penuh pelayanan, denganrasa suka-cita dan meneng [diam], tidak usah mengeluh siapa yangseharusnya punya tugas mencuci piring atau membersihkan rumah.Hormati dan bahagiakan orang tua. Sayangi, setia dan bahagiakanpasangan kita [suami atau istri]. Sayangi dan bahagiakan anak-anak.Sayangi dan bahagiakan saudara. Kalau kita seorang pelajar, belajarlah dengan rajin. Sehingga orangtua senang dan tenang, tidak rugi mengeluarkan biaya sekolah dan agarkelak di masa depan kita bisa berguna bagi orang lain. Jalan pelayanan [sewaka dharma] bertujuan untuk pemurnianmendasar bagi diri kita, untuk meredakan ahamkara [ego, ke-aku-an] dansifat egois mementingkan diri sendiri. Ini merupakan sadhana [upayaspiritual] yang bisa kita lakukan sambil kita melaksanakan kehidupanduniawi. Jalan pelayanan adalah jalan spiritual yang sederhana tapimendalam, yang dapat menyalakan cahaya kesadaran di dalam diri. Apalagimelaksanakan pelayanan yang dianggap remeh, rendah atau hina olehorang lain, itu akan lebih terang lagi menyalakan cahaya kesadaran didalam diri. Seringkali terjadi segala pelayanan apa yang sudah kita lakukan cepatsekali dilupakan, tetap yang terus diingat orang adalah apa yang merekaanggap sebagai kekurangan atau kesalahan kita. Suka tidak sukademikianlah ciri jaman ini. Yang dianggap sebagai berita adalah kejelekan-kejelekan orang lain. Analoginya jalan pelayanan kadang-kadang dapatmembuat kita bernasib seperti keset, sudah diinjak-injak orang kemudian

tahi dan kotorannya disisakan untuk kita. Tapi itulah jalan menuju diri yangbercahaya. Melaksanakan pelayanan tidak saja membuat kita menerangi dunia,tapi juga membuat kita menerangi kesadaran di dalam diri. Pertandanyakita mulai menemukan kebahagiaan dengan cara melayani orang lain.Ketika cengkeraman ego [ahamkara] melemah, lapisan tubuh yang agungmendekat. Ketika ego menghilang, cahaya kesadaran yang terangmenjelang. Bagi orang awam pelayanan adalah keterpaksaan. Bagi para sadhakayang kesadarannya mulai tumbuh kokoh, dia akan menemukankebahagiaan mendalam di jalan pelayanan. Terutama karena dengan jalanpelayanan kita akan terhubung dengan lapisan tubuh kita yang lebihagung, yang jauh lebih besar dari sekedar tubuh ke-aku-an [tubuh fisik dantubuh pikiran-perasaan] yang kecil dan sempit. Kemudian ketika kesadaransudah terang bercahaya, pelayanan akan dilaksanakan secara sangat alami.Kesempurnaan yang tersenyum dalam keheningan. Ketika pikiran kita diterangi oleh ketekunan melakukan pelayanan,maka disana muncul cahaya kejernihan dan kebersatuan. Yang akanmeredakan cengkeraman ahamkara [ego, ke-aku-an] dan sifat egoismementingkan diri sendiri dari kesadaran kita. Yang akan membuatkesadaran kita terhubung dengan lapisan tubuh keterhubungan dan tubuhkosmik, yang jauh lebih besar dan agung dibandingkan sekedar tubuh ke-aku-an [tubuh fisik dan tubuh pikiran-perasaan] yang kecil dan sempit. Kenyataan sejati setiap manusia adalah kesadaran Atma yang penuhkedamaian. Tubuh fisik dan tubuh pikiran-perasaan, hanyalah bungkus-bungkus luar dari kenyataan sejati manusia. Ini berarti sesungguhnyamanusia tidak perlu mencari kedamaian, kita hanya perlu membukalapisan-lapisan pembungkus luar Atma, yaitu tubuh fisik dan tubuh pikiran-perasaan.

Kesadaran kita mulai terhubung dengan lapisan tubuh kita yang jauhlebih besar dan agung, jika kita tekun melatih diri sendiri menjadi manusiayang bersikap penuh pelayanan kepada semua mahluk. Kesadaran yangsering-sering terhubung dengan lapisan tubuh keterhubungan dan tubuhkosmik inilah yang akan mengantar kita untuk bertemu intisari diri sejati,kesadaran Atma, yang penuh kedamaian.

4. SANTOSA [BERSYUKUR] Santosa secara literal dalam bahasa sansekerta memiliki arti bersyukuratau memiliki rasa syukur yang mendalam. Dalam ajaran dharma, santosaberarti sadhana melatih diri sendiri menjadi manusia dengan rasa syukuryang mendalam. Salah satu sebab penting mengapa kita mengalami konflikpertempuran dualitas pikiran dan mengapa pikiran-perasaan kita jauh darikedamaian, adalah karena adanya ketidakpuasan [lobha]. Kita tidak puasdengan kekayaan materi yang kita miliki, kita tidak puas dengan tubuh fisikkita, kita tidak puas dengan pasangan, kita tidak puas dengan anak-anak,kita tidak puas dengan pemerintah, dsb-nya. Kita tidak pernah merasa puas dan terus menerus mengejarkeinginan-keinginan kita. Penyebabnya adalah karena kita melakukanpenolakan terhadap kenyataan hidup yang kita terima sesuai garis karmakita masing-masing, serta karena kebiasaan kita untuk melakukanpembandingan-pembandingan. Selalu ada saja bagian-bagian kehidupan yang kita tolak. Ada yangmenolak keadaan ekonomi, ada yang menolak tubuh fisik, ada yangmenolak kekurangan pasangan, ada yang menolak mertua yang sentimen,ada yang menolak jatuh sakit, dsb-nya. Semakin keras kita melakukanpenolakan maka semakin sakitlah perasaan kita, semakin membuat kitamerasa tertekan, sekaligus membuat hubungan kita dengan orang lainmenjadi memanas. Kita selalu menyangka bahwa kebahagiaan bisa ditemukan denganmendapatkan apa-apa yang belum kita dapatkan. Artinya kebanyakanmanusia selalu menunggu sesuatu agar bisa bahagia. Ada yang menunggupunya HP baru, ada yang menunggu punya deposito berlimpah di bank,

ada yang menunggu punya jabatan tinggi, ada yang menunggu anak lulussekolah, dsb-nya. Sayangnya sebagian lebih manusia yang menunggu itutidak pernah bertemu dengan kebahagiaan yang ditunggu. Baik karenakeinginan kita terus meningkat, atau karena situasi keadaan yang selaluberubah, serta karena kebahagiaan jenis ini sifatnya sangat pendek dansementara. Selain itu, kita cenderung memiliki kebiasaan untuk selalu melakukanpembandingan-pembandingan. Kita sulit merasa bersyukur karena kitaselalu membandingkan berkah kehidupan kita, dengan yang lebih tinggiatau yang lebih baik. Bagi para sadhaka yang ingin menemukan kedamaian di dalam diri,renungkanlah untuk sering-sering melihat yang lebih rendah atau yanglebih buruk. Karena dengan melihat mereka, rasa syukur kita akan lebihmudah muncul. Ketika kita bersyukur, disaat itu juga kita menemukankedamaian di dalam diri. Kehidupan yang serba sempurna, aman, nyaman, serta bebas darimasalah itu tidak pernah ada. Semua manusia memiliki kekurangan-kekurangan dan masalah dalam hidupnya. Terlalu banyak mengeluh atauprotes tidak saja tidak akan menyelesaikan masalah, tapi justru malahmembuat perjalanan hidup kita menjadi semakin berat dan rumit, sertasekaligus membuat kesadaran kita menjadi gelap. Sesungguhnya kerumitan hidup yang kita alami saat ini merupakanhasil dari kerumitan diri kita sendiri di masa lalu. Sehingga sebelum satukerumitan terus berkembang-biak menjadi kerumitan-kerumitan yang lain,secepatnya kita belajar menyederhanakan kehidupan dengan cara banyakbersyukur. Cara agar kita dapat selalu bersyukur adalah dengan teruskonsentrasi melihat sisi-sisi berkah dari semua kejadian. Merasa bosan dan lelah menasihati anak kita yang nakal,bersyukurlah karena kita punya anak yang mewarnai hidup kita. Mendengar

isteri ngomel dengan cerewet di rumah, bersyukurlah karena kita punyaisteri. Mendengar suami tidur mendengkur keras di sebelah, bersyukurlahkarena kita punya suami. Merasa lelah setiap sore sepulang kerja, bersyukurlah karena kitapunya pekerjaan. Membersihkan halaman rumah dan mengepel lantai yangkotor, bersyukurlah karena kita punya tempat tinggal untuk berteduh daripanas dan hujan. Mencuci dan menyetrika tumpukan baju, bersyukurlahkarena kita memiliki pakaian. Melatih diri untuk bersyukur adalah sebuah jalan yang cepatmenghadirkan kekuatan kedamaian di dalam diri. Seperti apapunperjalanan hidup kita, seperti apapun bentuk tubuh fisik kita, sekurangapapun pasangan kita, sesederhana apapun kekayaan materi yang kitamiliki, seterbatas apapun pendidikan kita, dsb-nya, belajarlah untuk selalumelihat sisi-sisi berkahnya dan bersyukur. Sedikit yang menyadari bahwa ada berkah yang indah di balik setiapkekurangan dan masalah. Berkah kekurangan-kekurangan yang kita milikimerupakan pembimbing sepanjang perjalanan hidup agar kita jauh darikesombongan. Berkah pasangan hidup yang cerewet atau pemarah, diaterus mengajarkan kita untuk menjadi sabar. Berkah tubuh fisik yang tidakmenarik, godaan-godaan selingkuh tidak ada. Berkah ketika mengalamikesedihan adalah undangan untuk menggali semakin dalam dan semakindalam tentang tujuan hidup dan kenyataan diri kita yang sesungguhnya.Dengan kecerdasan dalam memandang, kita akan menjadi mudah untukbersyukur. Tanpa rasa syukur, tidak ada satupun jalan yang bisa membimbingkita menuju kedamaian mendalam. Kedamaian di dalam diri merupakanhasil dari ketekunan untuk selalu bersyukur. Siapa saja yang tekun melatihdiri sendiri untuk memiliki rasa syukur yang mendalam, suatu hariketakutan dan keraguan di dalam diri akan menurun, serta pada saat yangsama kesadaran di dalam diri mulai memancar terang cahayanya.

Bersyukur disini bukanlah bersyukur yang pasif [tidak melakukan apa-apa], karena itu namanya malas. Melainkan menjalani hidup dengan rasasyukur yang aktif. Artinya lakukanlah segala upaya untuk yang terbaikdalam hidup kita, tapi apapun hasilnya bersyukurlah pada setiap berkahkehidupan kita [pasangan hidup, anak-anak, pekerjaan, keadaan ekonomi,dsb-nya], pada saat yg sama selalu bersikap penuh belas kasih. Caranyadengan selalu menanyakan ke dalam diri, apa kesengsaraan orang-orang disekeliling kita. Setelah itu selalu sempatkan untuk menolong. Setidak-tidaknya minimal menolong dengan jalan mendoakan mereka. Apapun boleh terjadi dalam kehidupan kita, bahkan termasuk jikasegala apa yang terjadi jauh dari keinginan kita, tapi jangan pernahmengeluh, protes, atau melawan. Terutama karena dengan mengeluh,protes, atau melawan, kita tidak saja akan membuat kehidupan kita menjadilebih gelap dan rumit, tapi juga sekaligus membuat kesadaran kita semakinjauh dari pusat kedamaian di dalam diri. Tekunlah melatih diri sendiri menjadi manusia dengan rasa syukuryang mendalam. Bersyukur tidak saja menjernihkan kesadaran di dalam diri,tapi juga menyebarkan getaran energi kedamaian ke orang lain. Lebihdalam dari itu, apa saja yang kita pandang dengan mata bersyukur dia akanmemancarkan cahaya. Rumah yang sering kita pandang dengan rasasyukur, sebagai hasilnya rumah akan lebih bercahaya. Demikian jugadengan anak-anak, pasangan hidup, dsb-nya. Kenyataan sejati setiap manusia adalah kesadaran Atma yang penuhkedamaian. Tubuh fisik dan tubuh pikiran-perasaan, hanyalah bungkus-bungkus luar dari kenyataan sejati manusia. Ini berarti sesungguhnyamanusia tidak perlu mencari kedamaian, kita hanya perlu membukalapisan-lapisan pembungkus luar Atma, yaitu tubuh fisik dan tubuh pikiran-perasaan. Caranya dengan “istirahat” dari segala bentuk konflikpertempuran dualitas pikiran di dalam diri.

Pikiran mulai belajar untuk “istirahat” disaat kita tekun melatih diriuntuk selalu bersyukur. Pikiran yang sering-sering istirahat inilah yang akanmengantar kita untuk bertemu intisari diri sejati, kesadaran Atma, yangpenuh kedamaian.

5. LASCARYA [KEIKHLASAN] Lascarya secara literal dalam bahasa sansekerta memiliki artikeikhlasan. Dalam ajaran dharma, lascarya berarti sadhana melatih dirisendiri menjadi manusia yang memiliki keikhlasan mendalam. Sebuah jalan yang tersingkat dan terpendek untuk memurnikankesadaran, adalah melatih diri kita untuk dapat bersikap ikhlas dan penuhkerelaan di dalam menghadapi rasa sakit. Ketika kita disakiti orang lain atautersakiti oleh situasi keadaan, belajarlah untuk menerima dengan keikhlasansempurna. Kebanyakan manusia dalam perjalanan hidup hanya mau mengalamikebahagiaan saja, tidak mau mengalami rasa sakit dan kesedihan. Padahalmengalami kebahagiaan dan kesedihan laksana musim hujan dan musimkemarau, keduanya datang dan pergi sesuai dengan aliran waktu. Jika kitabersikeras hanya mau mengalami kebahagiaan saja, hal itu tidak saja akanmembuat kita terbenam dalam kesengsaraan, tapi juga akan membuatkesadaran menjadi gelap. Tidak pernah ada kehidupan yang sepenuhnya bebas dari mengalamirasa sakit dan kesedihan. Sehebat, sesukses, atau seterkenal apapunseseorang, pasti dalam hidupnya akan juga pernah mengalami rasa sakitdan kesedihan. Belajarlah untuk tidak protes dan mengeluh. Karena protes danmengeluh akan membuat kita semakin tenggelam dalam keadaan yangburuk. Belajarlah untuk tidak menyalahkan siapa-siapa. Karenamenyalahkan tidak saja tidak membawa jalan keluar, tapi malah akanmemperparah keadaan. Semuanya hanya karma-karma yang datang darimasa lalu. Melawan karma kita akan sengsara. Menerima karma kita akanbertemu dengan kedamaian.

Tidak selamanya kehidupan berjalan menuju arah yang kita inginkan.Kadang terjadi kehidupan justru malah berjalan ke arah yang berlawanan.Mau bahagia dapatnya sengsara, mau dipuji dapatnya dihina, dsb-nya.Dalam keadaan seperti ini kita sangat memerlukan keikhlasan. Disaatseperti itu untuk sejenak tariklah jarak dengan kehidupan duniawi. Artinyakembali ke tujuan asli kita terlahir ke marcapada ini, yaitu untukmenyempurnakan kesadaran Atma. Biarkan rasa sakit dan kesedihanmemurnikan kesadaran kita dengan cara menerimanya dengan penuhkeikhlasan dan kerelaan. Ketika dalam kehidupan ini kita mengalami kesialan, dicaci-maki, ataunasib buruk lainnya, coba ucapkan kata \"tidak apa-apa\" [sing kengken]berulang kali kepada diri sendiri, sebagai mantra sakral untuk meringankanbeban pikiran kita. Untuk menasehati diri kita sendiri agar kita merelakan[lascarya], sehingga kesadaran kita tidak dicengkeram oleh kegelapanpikiran. Kesadaran kita dicengkeram oleh kegelapan pikiran bukan karena kitamengalami kesialan, dicaci-maki, atau nasib buruk lainnya, melainkankarena kita menolak mengalami apa yang kita alami tersebut. Denganmerelakan [lascarya] maka kesadaran kita tidak dicengkeram olehkegelapan pikiran, dan kita juga sekaligus dapat menyelesaikan karma-karma masa lalu kita. Sedikit ada manusia yang menyadari bahwa ada berkah rahasiaspiritual yang indah di balik setiap rasa sakit yang datang dalam kehidupan.Rasa sakit bisa menjadi jalan singkat dan pendek untuk menemukankembali diri kita yang sejati, dengan syarat kita dapat menerimanya denganpenuh keikhlasan. Caranya, kapan saja kita merasa tersakiti atau terlukai,belajar untuk tidak lari ke hiburan, makanan, dsb-nya. Tapi terima rasa sakitdengan penuh keikhlasan dan kerelaan. Ijinkan rasa sakit memurnikankesadaran kita semakin dalam, semakin dalam dan semakin dalam lagi.Akan sangat membantu jika kita bisa pergi ke tengah-tengah alam terbuka

atau ke sebuah parahyangan suci yang ada sumber mata airnya. Begitu rasasakit dapat terus dilewati lagi, lagi dan lagi, kesadaran kita terus semakindimurnikan. Jauh lebih dalam lagi, kapan saja kita merasa tersakiti atau terlukai,belajar agar kesadaran kita tidak dicengkeram oleh rasa sakit, dengan caramelihat dan merasakan rasa sakit serta jejak-jejak kesengsaraan yangdialami oleh orang-orang yang menyakiti atau melukai kita. Mungkin masaremaja yang berisi putus cinta, orang tua yang bercerai, masa sekolah yangpenuh kesulitan, beban ekonomi yang berat, dsb-nya. Dengan cara sepertiini tidak saja kesadaran kita akan bebas dari cengkeraman rasa sakit, tapikita sekaligus juga dapat bersikap penuh pengertian dan belas kasihkepada orang yang menyakiti atau melukai. Gunakan semua pengalaman kehidupan menjadi sarwa dharma[semuanya dharma], semuanya adalah jalan untuk menemukan kembali dirikita yang sejati. Kesedihan dan kesengsaraan adalah kesempatan untukmembayar lunas hutang-hutang karma masa lalu kita, serta untukmerenungkan kembali tujuan asli kelahiran Atma ke dunia. Kebahagiaanadalah kesempatan untuk menikmati kehidupan sebentar. Hinaan orangadalah masukan untuk belajar rendah hati. Pujian orang adalah kesempatanuntuk memotivasi diri. Kegagalan adalah masukan agar kita segeraberubah. Kesuksesan adalah kesempatan untuk untuk menolong orang lain. Dengan cara demikian tidak saja hidup kita akan dibuat damai penuhkeikhlasan dan kerelaan dalam aliran waktu, tapi sekaligus juga membuatkesadaran kita menjadi terang bercahaya. Ketika dalam kehidupan ini kita mengalami rasa sakit dan kesedihan,itu bukanlah hukuman Tuhan. Ketika kita mengalami rasa sakit dankesedihan, sesungguhnya kita sedang diberi kesempatan spititual yangsangat berharga untuk memurnikan kesadaran. Tapi pemurnian kesadaranini hanya bisa terjadi kalau kita bisa menerima rasa sakit dengan penuhkeikhlasan dan kerelaan. Bukan menolak, mengeluh, apalagi marah

melawan dengan rasa sakit. Jika kita dapat menerima rasa sakit dengankeikhlasan dan kerelaan sempurna, hal itu tidak saja membuat kitamembayar lunas hutang-hutang karma masa lalu kita, tapi juga membuatkesadaran kita menjadi termurnikan sekaligus tersempurnakan. Dalam kehidupan manusia tidak pernah ada kehidupan yang selaluaman, nyaman dan bebas dari masalah. Jika kesulitan, kesialan ataumasalah sudah saatnya datang dalam kehidupan akibat akumulasi karmaburuk kita di masa lalu, hal itu akan datang dengan tidak bisa dibendung.Jika disaat-saat seperti itu kesadaran kita dicengkeram oleh perasaan sakithati, sentimen, marah, benci, dendam, tidak puas atau rasa sedih yangterlalu dalam, itu hanya merupakan sebuah masukan kalau kondisi pikirankita masih gelap dan sempit, serta kesadaran kita masih berada dalamtingkat dimensi kesadaran yang rendah. Keikhlasan dan kerelaan sempurna membuat kesadaran kita menjaditermurnikan sekaligus tersempurnakan. Praktek keikhlasan dan kerelaansempurna meredakan cengkeraman emosi-emosi gelap dalam kesadarankita. Hal ini umumnya merupakan sebuah proses yang membutuhkanwaktu. Terutama karena emosi-emosi gelap sudah pekat melekat dalamkesadaran kita dalam jangka waktu yang tidak terhingga panjangnya. Akanterjadi siklus naik-turun dalam kemajuan kita dan itu suatu hal yang sangatmanusiawi. Cara yang realistis untuk mengukur kemajuan kita adalahmelihat dalam rentang waktu setiap 1 [satu] atau 2 [dua] tahun. Jika kitasudah menjadi orang yang lebih ikhlas dan lebih mudah merelakan, ituberarti kita sudah mengalami kemajuan. Jika dalam jangka waktu bertahun-tahun yang panjang kita terusmelatih diri sendiri menjadi manusia yang memiliki keikhlasan mendalam,maka yang pertama kali merasakan hasilnya adalah diri kita sendiri. Secaraperlahan-lahan di dalam diri kita akan mengalami kondisi pikiran yangtenang-seimbang dan jernih. Kesadaran kita tidak mudah teracuni oleh rasasakit, kesedihan, kesulitan, kesialan atau masalah kehidupan.

Ini sekaligus berarti kesadaran kita sudah naik pada tingkat dimensikesadaran yang lebih tinggi. Pikiran kita lebih damai, tenang-seimbang danjernih. Kita tidak mengalami kesulitan untuk bersikap penuh keikhlasan,merelakan dan mengalah. Sehingga, tidak saja setiap karma-karma burukkita yang datang dapat mengalir tanpa hambatan [artinya kita dapatmenghadapinya dengan kerelaan, tabah dan tahan menderita], untukkemudian karma-karma buruk itu terselesaikan [terhapus]. Serta sekaligusjuga menghindarkan kita dari kemungkinan jalur kehidupan yang lebihkacau atau berbahaya, sehingga hidup kita sendiri juga cenderung menjadilebih tenang dan damai. Dimana hal ini sesungguhnya juga adalah untukmenolong diri kita sendiri. Kita hendaknya dapat menyadari hal ini danmenciptakan keberkahan bagi diri kita sendiri dan sekaligus menciptakankeberkahan bagi orang-orang lain disekitar kita. Kenyataan sejati setiap manusia adalah kesadaran Atma yang penuhkedamaian. Tubuh fisik dan tubuh pikiran-perasaan, hanyalah bungkus-bungkus luar dari kenyataan sejati manusia. Ini berarti sesungguhnyamanusia tidak perlu mencari kedamaian, kita hanya perlu membukalapisan-lapisan pembungkus luar Atma, yaitu tubuh fisik dan tubuh pikiran-perasaan. Caranya dengan “istirahat” dari segala bentuk konflikpertempuran dualitas pikiran di dalam diri. Pikiran mulai belajar untuk “istirahat” disaat kita tekun melatih dirisendiri untuk memiliki keikhlasan mendalam. Pikiran yang sering-seringistirahat inilah yang akan mengantar kita untuk bertemu intisari diri sejati,kesadaran Atma, yang penuh kedamaian.

6. KSAMA [MEMAAFKAN] Ksama secara literal dalam bahasa sansekerta memiliki artimemaafkan. Dalam ajaran dharma, ksama berarti sadhana melatih dirisendiri menjadi manusia yang sangat memaafkan. Dalam kehidupan ini kita semua berhadapan dengan berbagaipengalaman sulit, masalah dan kesengsaraan. Hal ini seringkalimenggoreskan luka-luka kehidupan, yang membuat kesadaran kita sangatmudah dicengkeram oleh kemarahan dan dendam, serta membuat kita sulituntuk memaafkan orang lain. Perjalanan spiritual yang sesungguhnya adalah perjalanan ke dalamdiri, untuk bertemu intisari diri yang sejati yang penuh kedamaian. Ketikakesadaran kita dicengkeram oleh kemarahan dan dendam, itu merupakantembok penghalang yang sangat tebal untuk bertemu kesadaran di dalamdiri, serta sekaligus akan mendatangkan masalah dan bahaya bagikehidupan kita. Karena jika dalam kemarahan dan dendam kita melangkah,maka kemungkinan perjalanan hidup kita diterjang musibah besar sekali. Sesungguhnya, penyebab utama dari ketidakmampuan kita untukmemaafkan adalah karena ketidakmampuan kita untuk memaafkan dirisendiri dan karena besarnya ego [ahamkara, ke-aku-an] di dalam diri kita. Ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain, berakar dariketidakmampuan kita untuk memaafkan diri kita sendiri. Kita tidak mampumemaafkan kekurangan diri dan kehidupan kita, kita tidak mampumemaafkan kegagalan kita dalam hidup dan kita tidak mampu memaafkankesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu. Kegagalan kita untukmemaafkan orang lain, tidak lain merupakan pertanda kalau kita masihmelakukan konflik pertempuran keras dengan diri kita sendiri.

Mereka yang tidak mampu memaafkan kekurangan dirinya sendiriatau kehidupannya, tidak akan mampu memaafkan orang lain. Mereka yangtidak mampu memaafkan kegagalan dirinya sendiri atau kesalahannya dimasa lalu, tidak akan mampu memaafkan orang lain. Sebelum kesadaran kita dibuat menjadi gelap dan sebelumkehidupan kita diterjang musibah, belajarlah menerima dan memaafkan dirikita sendiri seperti apa adanya. Terimalah dan maafkanlah segalakekurangan diri dan hidup kita, serta kegagalan dan kesalahan diri kitasendiri. Sehingga kita juga bisa dengan mudah memaafkan orang lain. Akar dari semua kemampuan untuk memaafkan adalah ketekunanuntuk memaafkan diri sendiri. Disaat kita berhasil memaafkan diri sendiri,disaat itu memaafkan orang lain akan menjadi lebih mudah. Pergunakanlah semua apa yang sudah terjadi dalam hidup kitasebagai sumber pembelajaran, kemudian gunakan pelajaran-pelajaran itusebagai bekal untuk melangkah ke depan secara lebih dewasa. Ingatlahbahwa jangankan orang biasa, bahkan orang-orang sucipun memerlukanpembelajaran hidup dalam bentuk melakukan kesalahan dan kegagalan dimasa lalunya. Salah satu sikap yang sangat membantu proses penjernihan diriadalah penerimaan. Terutama menerima keadaan diri dan perjalanan hiduplengkap dengan sisi terang dan sisi gelapnya. Jika orang awam penuhdengan penolakan [menolak keadaan dirinya, menolak hidupnya, menolakkeluarganya, menolak keadaan ekonominya, dsb-nya], di jalan dharma padasadhaka dilatih menjadi orang yang penuh penerimaan. Belajarlah melihatsisi-sisi indah dari kehidupan kita, serta belajarlah menerima kekurangan,kegagalan dan kesalahan diri kita yang paling buruk sekalipun. Karenadengan penuh penerimaan, kita sedang membebaskan diri kita sendiri darisegala konflik pertempuran dualitas pikiran di dalam diri. Jika kita tekunmelaksanakannya, suatu hari kejernihan di dalam diri akan muncul dengan

indahnya. Disana memaafkan akan menjadi hal yang mudah untukdilakukan. Ketika kita memaafkan tidak berarti bahwa kita salah dan lain orangbenar. Sama sekali tidak. Ketika kita memaafkan berarti kita sedangmembuang sampah-sampah kegelapan pikiran di dalam diri, sertasekaligus membuang beban sampah yang sama sekali tidak berguna bagiperjalanan Atma di dalam siklus samsara. Selain itu, ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain, berakardari ahamkara [ego, ke-aku-an] kita yang besar. Ketidakmampuan kitauntuk memaafkan orang lain tidak disebabkan oleh besarnya kesalahanorang lain tersebut, melainkan disebabkan oleh besarnya ego kita sendiri.Ada banyak penyebab besarnya ego, yaitu bisa berasal dari harga diri yangtinggi, dari ketidakpuasan, dari kepintaran, dari keterkenalan, dari jabatantinggi, dari kekayaan, dsb-nya. Sehingga belajarlah untuk memperkecil ego kita. Dengan cara dalamkehidupan sehari-hari kita tekun mengasah diri agar belajar rendah hati,belajar mengalah dan banyak bersyukur. Jika kita mau benar-benar bisa memaafkan, disaat ada orang yangmenyakiti kita, jangan bereaksi dengan perkataan maupun perbuatannya,serta kita jangan memfokuskan konsentrasi kita pada kesalahan orangtersebut, tapi fokuskan konsentrasi kita pada gerakan ego dan kegelapanpikiran dalam bentuk kemarahan di dalam diri kita sendiri. Lihat ego danrasa marah di dalam diri kita tanpa menilainya [menghakiminya] sebagaisalah-benar, baik-buruk, suci-kotor. Seperti awan-awan di langit yangmuncul sebentar kemudian lewat dan menghilang. Jika kita tekun dan tulusberlatih seperti itu, suatu hari ahamkara [ego, ke-aku-an] di dalam diri akanmengecil. Disanalah kemudian memaafkan jadi lebih mudah. Disakiti, dicaci-maki, dilecehkan, dirugikan, dsb-nya, memang terasasangat tidak enak dan sakit. Jika orang awam melawan balik dengan

kemarahan, di jalan dharma semua hal-hal yang menyakitkan itu digunakansebagai jalan untuk memurnikan diri dengan cara hening, sabar danmemaafkan. Seberat apapun luka-luka hati kita, jika kita tekun belajarmenghadapi rasa sakit dengan hening, sabar dan memaafkan, suatu harikesadaran kita akan dibuat menjadi indah bercahaya. Memaafkan memilikidaya memurnikan kesadaran yang sangat besar, sekaligus menghantarkankesadaran kita memasuki transformasi spiritual yang sangat terang. Ingatlah bahwa segala apa yang terjadi hanyalah karma-karma kitasendiri yang berputar. Jika kita melawan karma hanya akan mendatangkankesengsaraan. Terimalah karma-karma kita sendiri untuk kemudianterbebaskan. Seringkali memaafkan tidak mudah untuk dilakukan, bahkan sangatberat bagi orang yang ego-nya besar. Tapi untuk menemukan kesadaran didalam diri yang indah bercahaya, kita tidak punya pilihan lain selain belajarmemaafkan. Sekali lagi bahwa ketika kita memaafkan tidak berarti bahwa kitasalah dan lain orang benar. Sekali lagi tidak. Ketika kita memaafkan berartikita sedang membuang sampah-sampah kegelapan pikiran di dalam diri,serta sekaligus membuang beban sampah yang sama sekali tidak bergunabagi perjalanan Atma di dalam siklus samsara. Kenyataan sejati setiap manusia adalah kesadaran Atma yang penuhkedamaian. Tubuh fisik dan tubuh pikiran-perasaan, hanyalah bungkus-bungkus luar dari kenyataan sejati manusia. Ini berarti sesungguhnyamanusia tidak perlu mencari kedamaian, kita hanya perlu membukalapisan-lapisan pembungkus luar Atma, yaitu tubuh fisik dan tubuh pikiran-perasaan. Caranya dengan “istirahat” dari segala bentuk konflikpertempuran dualitas pikiran di dalam diri. Pikiran mulai belajar untuk “istirahat” disaat kita tekun melatih diriuntuk selalu dan selalu memaafkan. Pikiran yang sering-sering istirahat

inilah yang akan mengantar kita untuk bertemu intisari diri sejati, kesadaranAtma, yang penuh kedamaian.

7. AHIMSA [TIDAK MENYAKITI] Ahimsa secara literal dalam bahasa sansekerta memiliki arti tidakmenyakiti. Dalam ajaran dharma, ahimsa berarti sadhana melatih diri sendirimenjadi manusia yang tidak menyakiti mahluk lain hanya berdasarkanuntuk kesenangan diri sendiri, atau tanpa alasan yang kuat dan tepat.Dengan kata lain melatih diri sendiri menjadi manusia yang tidak berhatikejam [anresamsya]. Dalam kelahiran samsara ini, kita tidak mungkin dapat sepenuhnyaseratus persen tidak menyakiti mahluk lain. Ketika kita bernafas ribuanmikroba terbunuh. Ketika kita memasak air juga ribuan mikroba terbunuh.Sekalipun kita seorang vegetarian, tapi hal itu juga menyebabkan banyakmahluk hidup terbunuh. Petani harus membasmi banyak hama, seranggadan tikus agar tanaman mereka berhasil dan bisa dipanen. Tumbuh-tumbuhan juga adalah mahluk hidup. Hanya karena mereka tidak menjeritdan menangis sebagaimana binatang, bukan berarti tumbuh-tumbuhanbukan mahluk hidup yang tidak merasakan sakit. Demikianlah kenyataan kelahiran samsara ini, yaitu kita tidak mungkindapat sepenuhnya tidak menyakiti mahluk lain. Sehingga makna darisadhana ahimsa adalah kita belajar mendidik diri agar tidak berhati kejam[anresamsya] dan berusaha sebisa mungkin agar tidak terlalu banyakmenyakiti mahluk lain. Sekurang-kurangnya kita tidak menyakiti mahluklain hanya berdasarkan untuk kesenangan diri sendiri, atau tanpa alasanyang kuat dan tepat. Di dalam berbagai buku-buku suci Hindu, dipaparkan secara sangatjelas mengenai pentingnya menjaga diri dan menahan diri sendiri untuktidak menyakiti mahluk lain, terutama menyakiti mahluk lain hanyaberdasarkan untuk kesenangan diri sendiri, atau tanpa alasan yang kuatdan tepat. Karena hal itu tidak saja akan menghasilkan karma buruk, tidak

saja akan mendatangkan bahaya kehidupan, tapi sekaligus juga akanmemantul balik ke dalam kondisi kesadaran kita sendiri. Yang akanmengotori pikiran kita, serta menodai ketenangan dan kejernihan di dalampikiran kita sendiri. Serta akan mendatangkan kekeruhan, kegelapan dankesengsaraan di dalam pikiran kita sendiri. Berdasarkan sebab-sebab tersebut, ajaran dharma menuntun kitauntuk melaksanakan sadhana [upaya spiritual] ahimsa. Selalulah kita ingatdi setiap saat, di setiap tempat, di setiap keadaan, agar kita menjaga diridan menahan diri sendiri untuk tidak menyakiti mahluk lain. Sekurang-kurangnya kita tidak menyakiti mahluk lain hanya berdasarkan untukkesenangan diri sendiri, atau tanpa alasan yang kuat dan tepat. Jangan mengganggu orang lain, jangan merugikan orang lain, janganmemanfaatkan kesulitan-kesusahan orang lain untuk mengerukkeuntungan, jangan menipu orang lain, jangan memanfaatkan ataumengeksploitasi orang lain, dsb-nya. Ingatlah secara mendalam, bahwasetiap rasa sakit yang kita timpakan ke orang lain akan balik ke diri kitadalam bentuk rasa sakit, serta bahwa setiap rasa sakit yang kita timpakan keorang lain akan melemahkan kesadaran kita. Akan tetapi, karena ahamkara [ego, ke-aku-an], sifat kita yangmementingkan diri sendiri, sifat kita yang hanya ingin menyenangkan dirisendiri, seringkali kita tidak dapat menjaga diri dan menahan diri sendiriuntuk tidak menyakiti orang lain. Cobalah direnungkan, apakah kitaseringkali menjadikan orang lain bahan olok-olokan, menggosip,merendahkan orang lain, ngebut di jalan, ngebel-ngebel tidak sabar dijalan, buang sampah sembarangan, ada wanita lewat kita lecehkan denganmenyiuli cuit-cuitin, menyerobot antrean, melanggar lampu lalu-lintas,menghidupkan musik keras-keras, korupsi, tidak menepati janji, menghujat,tidak menghargai orang lain, dsb-nya. Mungkin saja ada banyak sekali, jikakita bersedia merenungkan dan memperhatikan baik-baik dalamkehidupan.

Cara terbaik untuk meredakan kebiasaan seperti ini adalah dengantekun menumbuhkan kepekaan atau kehalusan rasa. Belajar untuk tidakmementingkan diri sendiri atau menyenangkan diri sendiri saja. Belajarmelihat kehidupan tidak hanya memikirkan perasaan kita sendiri, tapi jugakita belajar melihat serta memikirkan perasaan dan rasa sakit mahluk lain.Dengan cara ini kita akan bisa menjaga diri dan menahan diri kita sendiriuntuk tidak terlalu banyak menyakiti mahluk lain. Sekurang-kurangnya kitatidak menyakiti mahluk lain hanya berdasarkan untuk kesenangan dirisendiri, atau tanpa alasan yang kuat dan tepat. Perbuatan atau perkataan kita yang menyakiti orang lain hanyamenghasilkan kesenangan yang semu, yang sifatnya sangat sementara,yang tidak ada apa-apanya dibandingkan kehidupan tenang dankedamaian di dalam diri yang akan kita dapatkan dengan tidak menyakiti.Dengan menjaga diri dan menahan diri sendiri untuk tidak menyakiti oranglain, kelak kita tidak akan tersakiti, serta sekaligus tidak akan mendatangkankegelapan ke dalam kesadaran kita. Menjaga diri dan menahan diri kita sendiri untuk tidak menyakiti,sepertinya hanya terkait dengan orang lain dan mahluk lain. Tapisesungguhnya diri kita sendirilah yang akan paling merasakan dampaknya.Dengan tidak menyakiti, kelak kita tidak akan tersakiti. Dengan tidakmenyakiti, hari demi hari kesadaran kita akan terjaga kemurniannya,sehingga memunculkan kejernihan pikiran, kesejukan perasaan dankedamaian di dalam diri. Bagaimana perilaku kita dalam keseharian sangat menentukanpertumbuhan kesadaran kita. Karena perilaku keseharian ibarat “makanan”yang kita masukkan ke dalam pikiran. Jika dalam keseharian kita tidakmenjaga diri dan menahan diri untuk tidak terlalu banyak menyakiti mahluklain, maka kebangkitan kesadaran kita pasti menjadi sangat berat. Kebiasaan untuk mementingkan diri sendiri, untuk menyenangkan dirisendiri, sehingga kita memiliki kebiasaan buruk dalam keseharian untuk

melakukan perbuatan atau perkataan yang menyakiti mahluk lain, hal itusangat melemahkan kesadaran. Kesadaran yang terus-menerus melemahitulah yang menjadi penyebab kesadaran kita meredup dalamkesengsaraan. Itu sebabnya ajaran dharma menyarankan kita untuk melaksanakansadhana ahimsa, yaitu melatih diri sendiri menjadi manusia yang tidakmenyakiti mahluk lain hanya berdasarkan untuk kesenangan diri sendiri,atau tanpa alasan yang kuat dan tepat. Dengan kata lain melatih diri sendirimenjadi manusia yang tidak berhati kejam [anresamsya]. Karena dengankebiasaan untuk menjaga diri dan menahan diri untuk tidak terlalu banyakmenyakiti mahluk lain, maka disana kebangkitan kesadaran kita pasti akanjauh lebih mudah dan terang.

8. MADHURYA [PERKATAAN YANG BAIK] Madhurya secara literal dalam bahasa sansekerta memiliki artiperkataan atau tutur kata yang manis [tidak keras, tidak kasar, halus danlembut]. Dalam ajaran dharma, madhurya berarti sadhana melatih dirisendiri menjadi manusia dengan perkataan yang indah [halus, tidak kasar,tidak menyinggung perasaan, rendah hati, tidak membicarakan keburukanatau kekurangan orang lain, dsb-nya]. Diantara indriya yang ada di tubuh fisik manusia, yang paling banyakmelakukan kesalahan adalah mulut. Terutama melalui kata-kata yang tidakterkendali. Lebih dari sebagian para sadhaka yang mengalami kejatuhankesadaran disebabkan karena kata-kata yang tidak terkendali. Sebagian orang pintar lidahnya tajam sekali. Jangankan saatberdebat, bahkan saat bertanya-pun juga disana ada getaran kekuatanyang melukai. Karena sebagian orang pintar pikirannya resah-gelisah akibatkepintarannya sendiri. Sehingga dia berusaha menyelesaikan berbagaimasalah dengan pikiran yang kritis, dengan cara mengkritik, memvonis[menghakimi], menyalahkan atau menghina. Semakin keras usahanyamenyelesaikan masalah dengan pikiran kritis, semakin resah-gelisahjiwanya. Tidak saja jiwanya sendiri gelisah tapi sekaligus juga menyebarkankegelisahannya kepada orang lain. Kehilangan kualitas kejernihan dankebijaksanaan di dalam diri sendiri, kemudian kemungkinan jugamencemari pikiran orang lain. Kepintaran jika digunakan untuk menghakimiorang lain akan memantul balik ke dalam diri kita dalam bentukkegelisahan. Sehingga gunakanlah kepintaran untuk menolong orang lain danbukan untuk menghakimi orang lain. Serta gunakanlah kepintaran untukcerdas dalam memilih perkataan, karena perkataan dapat mengubah

kebahagiaan menjadi kesengsaraan, atau sebaliknya dapat menghapuskesengsaraan menjadi senyum kebahagiaan. Sebagian orang menemukan semacam kepuasan kejiwaan dengancara membicarakan kejelekan, kekurangan, atau kesalahan orang lain.Hanya sedikit sekali orang yang menyadari bahwa disaat kitamembicarakan kejelekan, kekurangan, atau kesalahan orang lain, disaat itujuga kita sedang menyuburkan benih-benih kekerasan yang ada di dalamdiri. Semakin sering benih-benih kekerasan di dalam diri kita suburkan,semakin besar kemungkinan kita mengalami kejatuhan spiritual. Sehingga hati-hatilah disaat kita bertemu dengan orang-orang yangmendapatkan kepuasan kejiwaan dengan cara membicarakan kejelekan,kekurangan, atau kesalahan orang lain. Serta hati-hatilah disaat kita beradadi sekeliling orang-orang yang memancing kita mengeluarkan kata-katayang berbahaya. Belajarlah untuk menanggapi dengan sikap yang terangbercahaya. Yaitu tidak ikut membicarakan kejelekan, kekurangan, ataukesalahan orang lain. Tidak marah saat dikritik, dihina, atau dihujat. Padasaat yang sama kita diam sambil memancarkan kekuatan belas kasih danpenerimaan. Kalau kita belum mampu seperti itu, berusahalah menjauhsecara sopan. Di jaman ini cukup langka ada manusia yang bisa selalu hanyamelihat sisi-sisi kelebihan atau kebaikan dari orang lain. Kita bisa perhatikanberita di media-media, obrolan di keramaian, dsb-nya, lebih dari sebagianisinya membahas tentang kejelekan, kekurangan, atau kesalahan orang lain.Bahkan ketika seseorang melakukan 10 [sepuluh] kebaikan dan yang tidaksempurna hanya 1 [satu] saja, tapi yang dibahas atau diberitakan hanyayang satu itu saja terus menerus. Itu sebabnya di jaman ini di mana-manaterasa adanya aura panas ketidakpuasan, kemarahan dan kebencian. Sukatidak suka begitulah keadaan di jaman ini. Tapi kita jangan ikut terseretoleh arus perkembangan jaman.

Sedikit sekali orang yang menyadari bahwa disaat kita membicarakankejelekan, kekurangan, atau kesalahan orang lain, sesungguhnya kita tidaksaja sedang menebarkan aura panas kepada dunia, tapi juga sekaligus kitasedang meracuni kesadaran kita sendiri. Sebelum kesadaran kita ikutteracuni, hendaknya kita mulai belajar konsentrasi untuk selalu melihat sisi-sisi kelebihan atau kebaikan orang lain. Hal itu tidak saja akan mengurangikekerasan kita pada orang lain, tidak saja mengurangi aura panas dunia ini,tapi juga sekaligus akan memurnikan kesadaran kita. Jika kita konsentrasimelihat sisi-sisi kelebihan atau kebaikan orang lain, yang nanti kita akantemukan adalah cahaya indah di dalam pikiran kita. Menjadilah terampil untuk tidak memfitnah orang lain. Menjadilahterampil untuk tidak menghina orang lain. Menjadilah terampil untuk tidakmengeluarkan kata-kata sinis terhadap orang lain. Menjadilah terampiluntuk tidak menyalahkan atau memvonis orang lain. Menjadilah terampiluntuk tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak sebenarnya [berbohong].Menjadilah terampil untuk tidak membuat janji terhadap sesuatu yang tidakbisa kita penuhi. Berhati-hatilah dengan perkataan kita. Jangan memfitnah. Janganmengkritik orang lain atau menjadi sinis tentang mereka. Jangan menghinamereka yang bodoh, menekan atau meninggalkan mereka dengankeangkuhan. Jangan membicarakan keburukan, kekurangan dan kelemahanorang lain. Singkirkanlah setiap perasaan iri hati [sentimen], ketidakpuasan,atau rasa persaingan dalam diri kita. Lepaskanlah kebanggaan kita.Lepaskanlah merasa penting, merasa lebih baik, atau merasa lebih benar. Jangan pernah mengecilkan peran perkataan yang indah [halus, tidakkasar, tidak menyinggung perasaan, rendah hati, tidak membicarakankeburukan atau kekurangan orang lain, dsb-nya]. Berbicaralah kalau kitayakin mengeluarkan kata-kata yang indah. Dengan cara ini kita sedangmembuat kesadaran kita menjadi jernih, serta sekaligus kita juga sedangmembuat dunia lebih sejuk dan damai dari hari ke hari.

Salah satu ciri-ciri manusia yang tidak memiliki kepekaan ataukehalusan rasa adalah mereka suka berbicara se-enak hatinya, tanpamenyadari kalau mereka menimbulkan rasa kesal atau bahkan melukai hatiorang lain. Ini bisa terjadi karena seseorang pemahamannya dangkal, tidakdalam dan tidak luas. Setiap kali melihat kehidupan, selalu hanya dilihatdari sudut pandang mereka sendiri, tidak pernah memikirkan sudutpandang orang lain. Sehingga tidak saja orang lain akan menjauh danmembenci, tapi dia sendiri juga akan mengalami perasaan gelisah di dalamdirinya. Apapun yang kita lakukan di alam ini akan kembali ke diri kita. Kepekaan atau kehalusan rasa adalah hasil dari keterhubunganbersama alam dan semua mahluk. Dalam proses menuju keterhubungan inipenghalang utamanya adalah ahamkara [ego, ke-aku-an]. Sehinggapenting sekali dalam keseharian untuk kita belajar melihat setiappengalaman hidup dari sudut pandang orang lain. Coba kita perhatikan.Bagi tukang taman rumput liar itu sangat mengganggu sehingga harusdicabut dan dibuang, tapi bagi sapi dan kambing rumput liar itu makananenak. Bagi orang tua melihat remaja ngebut naik motor itu menakutkan,tapi bagi remaja itu cara untuk mengekspresikan diri. Bagi orang desa pergike kota itu mewah dan menyenangkan, tapi bagi orang yang jenuh di kotapergi ke desa itu tenang dan damai. Setiap pengalaman hidup selalu diwarnai oleh perbedaan sudutpandang seperti ini. Kita akan dapat bersikap lebih tenang dan sejuk jikakita selalu memiliki kepekaan atau kehalusan rasa terhadap sudut pandangorang lain. Ketika kita membicarakan kejelekan, kekurangan, atau kesalahanorang lain, sesungguhnya kita sedang mengungkap bahwa ada banyaksampah di dalam pikiran kita. Ketika kita menghormati orang lain, sertamembicarakan kelebihan atau kebaikan orang lain, kita sedangmengungkap bahwa ada banyak cahaya indah di dalam pikiran kita.

Bagaimana perilaku kita dalam keseharian sangat menentukanpertumbuhan kesadaran kita. Karena perilaku keseharian ibarat “makanan”yang kita masukkan ke dalam pikiran. Jika dalam keseharian kita memilikikebiasaan untuk sering mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak baik,tidak benar, apalagi sering mengucapkan kata-kata yang menyakiti, makapertumbuhan kesadaran kita akan menjadi berat. Kebiasaan untuk mengucapkan perkataan yang buruk dalamkeseharian sangat melemahkan kesadaran. Kesadaran yang terus-menerusmelemah itulah sumber kejatuhan spiritual. Itu sebabnya ajaran dharmamenyarankan kita untuk melaksanakan sadhana madhurya, yaitu melatihdiri sendiri menjadi manusia dengan perkataan yang indah [halus, tidakkasar, tidak menyinggung perasaan, rendah hati, tidak membicarakankeburukan atau kekurangan orang lain, dsb-nya]. Karena dengan kebiasaanhanya mengucapkan perkataan yang indah saja itulah cahaya kesadaranakan memancar terang. Sehingga pertumbuhan kesadaran kita akan jauhlebih mudah dan indah.

9. SUSILA [MORALITAS YANG BAIK] Susila dalam bahasa sansekerta berasal dari kata “su” yang berartibaik dan kata “sila” yang berarti moralitas. Jadi susila secara literal dalambahasa sansekerta memiliki arti moralitas yang baik. Dalam ajaran dharma,susila berarti sadhana melatih diri sendiri menjadi manusia denganmoralitas keseharian yang baik. Dalam arti tidak melakukan kejahatan dantidak melakukan pelanggaran dharma. Dalam kehidupan di jaman modern ini terdapat banyak sekaliterdapat godaan-godaan untuk melakukan kejahatan dan pelanggarandharma. Jika ingin perjalanan kita aman dan selamat, serta agar kita dapatmencapai kedamaian sejati di dalam diri, hendaknya kita berupayamenjalani hidup dengan moralitas keseharian yang baik. Jika di tempat kerja ada yang mengajak kita korupsi beranilahmengatakan tidak, jika dalam pergaulan ada yang mengajak kita selingkuhberanilah mengatakan tidak, atau jika ada yang mengajak kita melakukankejahatan apapun beranilah mengatakan tidak. Keberanian untukmengatakan tidak seperti ini sangat menyelamatkan diri kita. Mungkin kitaakan merasa sakit sebentar karena kita disisihkan, tapi sudah pasti kita akanselamat dari kesengsaraan dan rasa sakit yang jauh lebih besar. Karenamelakukan kejahatan dan pelanggaran dharma, tidak saja menghasilkankarma buruk, tapi sekaligus juga menjadi penyebab pengkondisiankesadaran kita menjadi gelap, resah dan gelisah. Sehingga belajarlahdisiplin menahan diri agar tidak melakukan kejahatan dan pelanggarandharma. Ajaran dharma bukanlah suatu paksaan bagi kita untukmelaksanakannya. Juga bukan tentang hukuman dan pahala. Tapi ajarandharma menyadarkan kita tentang adanya hukum besi yang berlaku mutlakdi alam semesta ini. Hukum semesta yang tidak bisa dibendung. Yaitu

apapun tindakan dan ucapan kita secara pasti akan memantul balik ke dirikita sendiri. Ini berarti, alasan kita menahan diri untuk tidak melakukankejahatan dan pelanggaran dharma semata-mata juga demi keselamatandan ketenangan diri kita sendiri. Semua pilihannya ada di tangan kitasendiri. Memiliki moralitas keseharian yang baik seringkali sulit untukdilakukan, terutama bagi mereka yang kegelapan pikirannya masih pekat.Untuk dapat memiliki moralitas keseharian yang baik, tidak ada cara lainselain dimulai dari proses latihan yang panjang, penuh semangat,kesadaran, kesabaran dan keuletan. Berlandaskan suatu kesadaran bahwadengan memiliki moralitas keseharian yang baik akan memberikan banyaksekali manfaat bagi diri kita sendiri dan juga orang lain. Salah satu penghalang besar untuk memiliki moralitas keseharianyang baik adalah karena kita tidak memiliki kecerdasan-budhi. Yaitukebiasaan kita hanya melihat kesalahan pada orang lain dan jarang sekalidapat melihat kesalahan diri sendiri [memeriksa pikiran kita sendiri]. Jika hal ini menjadi kebiasaan kita bisa menganggap bahwa sumberkesadaran itu datangnya dari luar, kemudian kita melupakan hal yangsangat penting, bahwa sesungguhnya kesadaran adanya “di dalam” diri danbukan “diluar” diri. Hal ini dapat berkembang menjadi kebiasaanmenyalahkan orang lain sebagai sumber masalah dan melupakanmemandang ke dalam diri, yang merupakan pokok yang sangat penting dijalan dharma. Sehingga pikiran kotor masih akan selalu muncul dalam dirikita. Selama pikiran kita masih kotor, maka kejahatan dan pelanggarandharma akan selalu terus kita lakukan. Moralitas yang baik tidak akan bisakita miliki. Ketika kita melakukan kejahatan dan pelanggaran dharma, hal itutidak dapat dipisahkan dari kesadaran kita yang masih dicengkeram olehsad ripu [enam kegelapan pikiran] dan ahamkara [ego atau ke-aku-an]. Halitu membuat kita mudah tergelincir untuk melakukan kejahatan dan

pelanggaran dharma. Semua ini terjadi karena kita masih sangat kurangdalam latihan kesadaran. Landasan dasar dari latihan kesadaran adalah,sebesar apapun godaan atau masalah yang datang dari luar, kita selaluberlatih untuk memandang ke dalam diri sendiri. Jika kita melihat kebaikan pada orang lain, jadikanlah teladan yangpantas ditiru. Jika kita melihat kesalahan pada orang lain, cepat-cepatlahmemeriksa pikiran kita sendiri. Inilah yang disebut sebagai melatihkecerdasan-budhi. Ketika kita melihat kesalahan pada orang lain, biasanya pikiran kitaakan cenderung untuk menjadi penuh penghakiman. Memandang diribenar dan menempatkan orang lain salah, hanya akan menyuburkan benih-benih kebencian dan kejahatan di dalam diri kita. Memandang diri lebihbaik dan menempatkan orang lain kurang baik, sesungguhnya hanyakesibukan ahamkara [ego, ke-aku-an] yang akan meracuni pertumbuhankesadaran kita. Semakin sering benih-benih kebencian, kejahatan danahamkara [ego, ke-aku-an] di dalam diri kita suburkan, semakin besarkemungkinan kita akan mengalami kejatuhan spiritual. Penghakiman kita terhadap orang lain sesungguhnya lebihmencerminkan kualitas diri kita sendiri dibandingkan kualitas orang yangkita hakimi. Karena hal itu memberikan cermin yang sangat jujur tentangbagaimana kegelapan kesadaran kita. Lebih jauh lagi, penghakiman kita terhadap orang lain tidak saja akanmenyuburkan benih-benih kekerasan dan kejahatan di dalam diri kitasendiri, tapi kita juga sedang menanam benih-benih kekerasan dankejahatan pada orang lain. Itu sebabnya ajaran dharma berkonsentrasi pada membangunkecerdasan-budhi. Yaitu upaya untuk tidak melihat kesalahan pada oranglain, tapi memelihara kebiasaan memeriksa pikiran kita sendiri, untukkemudian perlahan-lahan kita belajar melonggarkan cengkeraman pikiran

dalam kesadaran kita. Semakin longgar cengkeraman pikiran dalamkesadaran kita, maka sudah pasti kejahatan dan pelanggaran dharma akansemakin sedikit kita lakukan. Sehingga secara alami kita akan memilikimoralitas yang baik. Dengan kecerdasan-budhi, di dalam diri kita akan muncul pengertian,kebijaksanaan, belas kasih dan kebaikan. Serta sekaligus disaat itu jugakebencian, kemarahan, kesombongan, kejahatan dan ahamkara [ego, ke-aku-an] kehilangan cengkeramannya dalam kesadaran kita. Inilah jalanpemurnian kesadaran. Melatih diri untuk tidak memelihara kebiasaan menyalahkan oranglain sebagai sumber godaan atau masalah. Tapi sebaliknya, selalu berlatihuntuk memeriksa pikiran kita sendiri. Dengan tekun berlatih seperti ini akanmembuat kita memiliki kewaspadaan terhadap sad ripu [enam kegelapanpikiran] dan ahamkara [ego atau ke-aku-an] di dalam diri. Pedomansemacam ini hendaknya terus dimunculkan agar kita memiliki kecerdasan-budhi dan tidak kehilangan kewaspadaan terhadap kesadaran. Jikadilupakan maka kita akan sering tergelincir dalam kehidupan ini dankesalahan akan mudah untuk terus dilakukan. Kesadaran yang rapuh selalu disebabkan oleh kelengahan [ke-tidak-waspadaan] terhadap pikiran kita sendiri. Sehingga pikiran kotor, kejamatau mementingkan diri sendiri, bahkan bisa jadi tidak kita sadarikemunculannya dalam diri kita sendiri. Kelengahan [ke-tidak-waspadaan]seperti ini menimbulkan bahaya yang besar, karena menyebabkan kita terusmelakukan kejahatan dan pelanggaran dharma. Ini adalah cara untuk menumbuhkan kecerdasan-budhi. Jika ada halyang terlihat salah, aneh, atau menggoda, terlebih dahulu periksalah pikirankita sendiri. Langkah berikutnya belajar memandang semua mahluk denganmata lembut yang bebas dari penghakiman. Kemudian tumbuhkan pikiranyang penuh pengertian dan belas kasih kepada orang lain. Berusahalahmengerti orang lain.

Perilaku keseharian kita tidak saja ditentukan oleh latihan sadhanayang kita lakukan, tapi juga ditentukan oleh kualitas kebaikan hati dankecerdasan-budhi [kewaspadaan untuk selalu memandang atau memeriksake dalam diri] yang kita miliki. Jika kita mantap dalam hal ini, makakesadaran kita tidak akan rapuh. Perilaku keseharian kita dalam perkataandan perbuatan akan sangat terjaga untuk tidak melakukan kejahatan danpelanggaran dharma. Secara alami kita akan memiliki moralitas keseharianyang baik. Dalam kehidupan sehari-hari, selalu sempatkan diri untuk melakukankebaikan atau untuk menolong. Terutama karena saat melakukan kebaikanatau menolong, kita tidak saja sedang meringankan beban orang lain,tetapi juga sekaligus sedang meredakan cengkeraman sad ripu [enamkegelapan pikiran] dan ahamkara [ego atau ke-aku-an] di dalam diri. Jikacengkeraman sad ripu dan ahamkara di dalam diri sudah lemah, secaraalami kita akan memiliki moralitas yang baik. Bagaimana perilaku kita dalam keseharian sangat menentukanpertumbuhan kesadaran kita. Karena perilaku keseharian ibarat “makanan”yang kita masukkan ke dalam pikiran. Jika dalam keseharian kita memilikikebiasaan melakukan kejahatan atau melakukan pelanggaran dharma [tidakmemiliki moralitas yang baik], maka pertumbuhan kesadaran kita pastimenjadi sangat berat. Kebiasaan untuk melakukan kejahatan atau melakukan pelanggarandharma dalam keseharian sangat melemahkan kesadaran. Kesadaran yangterus-menerus melemah itulah sumber kejatuhan spiritual. Itu sebabnyaajaran dharma menyarankan kita untuk melaksanakan sadhana susila, yaitumelatih diri sendiri menjadi manusia dengan moralitas keseharian yangbaik. Karena dengan dengan moralitas keseharian yang baik itulah cahayakesadaran akan memancar terang. Sehingga pertumbuhan kesadaran kitaakan jauh lebih mudah dan indah.

10. SAT-SANGGA [PERGAULAN YANG BAIK] Sat-Sangga dalam bahasa sansekerta berasal dari kata “sat” yangberarti baik, luhur, atau mulia dan kata “sangga” yang berarti kelompok,pertemanan, atau persaudaraan. Jadi sat-sangga secara literal dalambahasa sansekerta memiliki kelompok pertemanan yang baik. Dalam ajarandharma, sat-sangga berarti sadhana membina diri sendiri agar menjadimanusia yang memiliki pergaulan pertemanan yang baik. Untuk mengembangkan kesadaran dan kedamaian di dalam diri,hendaknya kita tidak bergaul sembarangan. Pilihlah pergaulan hanyadengan orang-orang yang mendukung pertumbuhan kesadaran kita. Tidakuntuk memvonis [menghakimi] mereka sebagai negatif atau buruk, tapisemata untuk menjaga bibit kekuatan positif di dalam diri kita. Jagalah jarak dan berinteraksi seperlunya saja dengan orang-orangyang tidak berada di jalan dharma, seperti teman-teman yang suka dugem,narkoba, mabuk, kebut-kebutan di jalan, kekerasan, berkelahi, judi, seksbebas, selingkuh, bergossip, menjelekkan orang lain, hura-hura, konsumtif,dsb-nya. Jagalah jarak dan berinteraksi seperlunya saja dengan orang-orangyang fanatik atau kaku dalam ajaran agama, spiritual atau ideologi. Jagalah jarak dan berinteraksi seperlunya saja dengan orang-orangyang membawa kemerosotan pada wawasan dan kebijaksanaan kita.Misalnya orang-orang yang sering membawa pikiran-pikiran negatiftentang masa lalu atau masa depan, orang yang suka menghakimi[memvonis buruk] orang lain, dsb-nya. Tidak untuk memvonis [menghakimi] mereka sebagai negatif atauburuk, tapi semata untuk menjaga bibit kekuatan positif di dalam diri kita.

Karena lingkungan dan pergaulan sangat membentuk kesadaran kita.Pergaulan menentukan bagaimana diri kita nantinya. Teman-teman disekeliling kita akan memberi pengaruh besar pada pertumbuhan kesadarandi dalam diri kita. Kelilingilah diri kita dengan orang baik-baik [teman di jalan dharma],yang bisa melihat adanya kebaikan-kebaikan di dalam diri kita dan tidakmenyimpan pandangan buruk tentang kita. Cara ini tidak sajamenyembuhkan diri kita sendiri, tapi juga menyembuhkan lingkungan. Jangankan orang biasa seperti kita, bahkan orang-orang suci-punjuga mengelilingi dirinya dengan keluarga dharma [keluarga spiritual].Tanpa penghakiman bahwa orang-orang tidak di jalur dharma itu buruk,tapi semata dengan tujuan untuk menjaga bibit kekuatan positif di dalamdiri. Selain itu, berhati-hatilah memasukkan berbagai hal ke dalam pikirankita. Karena apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, serta apa yang kitarasakan, semuanya berpengaruh pada pertumbuhan kesadaran kita. Sehingga hati-hatilah dalam membaca berita, membaca koran,membaca buku, mendengarkan radio, menonton tv, dsb-nya. Pilihlahbacaan, tontonan, serta dengarkan, hanya yang baik, lembut danmenyejukkan saja. Hindari membaca buku yang berisi ajaran agama atauideologi yang fanatik. Hindari membaca berita yang berisi pertikaian ataukebencian. Hindari menonton sinetron atau berita tv yang berisi konflik,penipuan, perceraian, berita kriminal, korupsi atau gosip infotainment.Hindari mendengarkan lagu-lagu atau berita yang bertema perselingkuhanatau kebencian. Karena hal-hal semacam itu membawa energi dari jiwa-jiwa yanggelisah. Hindari segala bentuk hal-hal semacam itu, untuk menjaga bibitkekuatan positif di dalam diri kita. Bacaan, tontonan, serta apa yang kita

dengarkan menentukan energi apa yang kita masukkan ke dalam pikirankita. Sadar ataupun tidak sadar, semuanya berpengaruh pada diri kita. Pilihlah hanya bacaan, tontonan, serta apa yang kita dengarkan, yangbisa membimbing kita menuju pemikiran serta kesadaran yang terang danuniversal. Misalnya membaca buku-buku suci yang sejuk dan menjernihkankesadaran. Atau memilih apapun bacaan, tontonan, serta apa yang kitadengarkan, yang berkaitan dengan kehidupan antar sesama mahluk yangharmonis, saling tolong-menolong, rendah hati, kesadaran, belas kasih dankebaikan. Dengan siapa kita bergaul, serta apa bacaan, tontonan dan apa yangkita dengarkan dalam keseharian, sangat memberikan pengaruh padapertumbuhan kesadaran kita. Karena itu semua ibarat “makanan” yang kitamasukkan ke dalam pikiran. Sehingga belajarlah untuk selektif dalammemilih pergaulan, serta dalam memilih bacaan, tontonan dan apa yangkita dengarkan. Jika dalam keseharian kita memiliki pergaulan yang buruk [denganorang-orang yang sering melanggar dharma] dan kebiasaan membacakoran, membaca buku, mendengarkan radio, menonton tv, dsb-nya. Yangkeras dan panas, maka pertumbuhan kesadaran kita pasti menjadi berat,karena itu semua melemahkan kesadaran. Kesadaran yang terus-menerusmelemah itulah sumber kejatuhan spiritual. Itu sebabnya ajaran dharmamenyarankan kita untuk melaksanakan sadhana sat-sangga. Karena denganmemiliki pergaulan pertemanan yang baik, serta selektif dalam memilihbacaan, tontonan dan apa yang kita dengarkan, pertumbuhan kesadarankita akan jauh lebih mudah dan indah.

11. SNANA-WIDHI [MELUKAT] Snana-Widhi secara literal dalam bahasa sansekerta memiliki artiritual mandi penyucian diri yang dilakukan di sumber mata air suci. Dalamajaran dharma, snana-widhi berarti kewajiban suci seorang sadhaka untuktekun melakukan praktek sadhana melukat [mandi penyucian diri] disumber mata air suci [pura pathirtan, pura beji]. Ini terutama dilakukanpada saat-saat hari rahina suci seperti purnama, kajeng kliwon, tilem, banyupinaruh, sugihan bali, dsb-nya. Dalam ajaran dharma secara umum untuk masyarakat luas, kitamengetahui lapisan-lapisan pembungkus luar Atma, yaitu tubuh fisik[annamaya kosha] dan tubuh pikiran-perasaan [manomaya kosha], sebagaipenghalang untuk mencapai kesadaran Atma. Dalam ajaran dharma yang rahasia dan lebih mendalam, untuk sangatmembantu mempercepat proses penjernihan kesadaran dan pencapaiankesadaran Atma, ditambahkan lagi dengan sadhana pemurnian secaramenyeluruh dari lapisan tubuh fisik [annamaya kosha], lapisan tubuh energiprana [pranamaya kosha] dan lapisan tubuh pikiran-perasaan [manomayakosha]. Cara paling umum yang dapat dilaksanakan oleh semua masyarakatluas adalah dengan sadhana snana-widhi [melukat, mandi penyucian diri] disumber-sumber mata air suci [pura pathirtan, pura beji]. Di semua agama dan jalan spiritual di dunia, air selalu dilibatkansebagai sarana pemurnian dan pembersihan diri. Hal ini secara langsungmenunjukkan bahwa ada rahasia spiritual yang tersembunyi di balik air. Melukat sebagai sadhana [upaya spiritual] sudah dilaksanakan sejakjaman Veda ribuan tahun yang lalu. Di dalam buku suci Veda juga terdapatpembahasan tentang melukat dalam puluhan sloka.

Keseluruhan alam semesta ini adalah samudera energi [Prakriti] yangmaha luas. Dalam buku suci Rig Veda disebutkan, “Aditer dakso ajayata,daksad uaditih pari” [dari materi asalnya energi dan dari energi asalnyamateri]. Ini merupakan pemahaman yang benar-benar sama dengan teorifisika E=mc2 yang disampaikan oleh Albert Einstein. Pohon, batu, awan, gunung, dsb-nya, semuanya adalah rangkaianenergi yang berwujud materi. Termasuk lapisan tubuh fisik [annamayakosha] dan lapisan tubuh pikiran-perasaan [manomaya kosha] kita-punjuga sesungguhnya adalah rangkaian energi. Kita makan dan minum adalahmanifestasi sederhana dari mengubah materi [makanan dan minuman]menjadi energi. Dalam buku suci Veda disebutkan bahwa lapisan-lapisan tubuh yangmembungkus Atma atau yang disebut dengan Panca Maya Kosha adalahsebuah sistem [bhuwana alit], yang merupakan satu kesatuan denganmaha-sistem [alam semesta atau bhuwana agung]. Yang salingmempengaruhi satu sama lain, melalui getaran-getaran energi yang tidakbisa kita lihat dengan mata biasa. Jika kita merasa pikiran tidak tenang, gelisah, mudah marah, sakitkepala, mimpi-mimpi buruk, sakit-sakitan, merasa kacau, dsb-nya,sesungguhnya juga disebabkan karena secara energi di dalam diri kitamengalami ketidakseimbangan [kekacauan]. Melukat adalah upaya spiritual memohon [nunas] pemberkahan daripara Ista Dewata dan menerima energi pemurnian langsung dari alamsemesta. Medianya adalah air suci. Air [apah] merupakan salah satu dari lima unsur inti [panca mahabhuta] pembentuk alam semesta. Air merupakan penghantar energi dansekaligus sumber getaran energi suci alam semesta yang sangat baik.Secara sederhana, air sebagai penghantar energi yang sangat baik di alambisa kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika air dalam panci kita

panaskan dengan api, maka air akan menyimpan dan menghantarkanenergi panas. Jika air kita dinginkan di freezer, maka air akan menyimpandan menghantarkan energi dingin. Jika air kita alirkan dengan energi listrik,maka air akan menghantarkan energi listrik. Dengan melaksanakan sadhana [upaya spiritual] melukat, makaketidakseimbangan [kekacauan] secara energi di dalam diri kita akandiselaraskan melalui pemberkahan dari para Ista Dewata dan pemurnianlangsung dari alam semesta. Yang mengubah rangkaian energi di dalamdiri kita menjadi termurnikan dari keadaan tidak seimbang [kacau]. Agar melukat dapat memberikan hasil yang diharapkan, salah satuaspek yang sangat penting untuk diperhatikan adalah pilihan tempat suciuntuk melukat, baik secara sekala maupun niskala. Pilihan tempat suci untuk melukat yang terbaik adalah sumber mataair alami [kelebutan]. Mata air yang keluar menyembur dari dalam IbuPertiwi, yang disucikan dan dibuat menjadi tempat suci yang disebut purapathirtan atau pura beji. Air suci [thirta] dari sumber mata air alami tersebutkemudian disalurkan menuju pancoran-pancoran sebagai tempat untukmelukat. Semakin mengagumkan sejarah pendirian dan sejarah panjang daritempat suci tersebut semakin baik [misalnya di tempat suci tersebut jamandahulu ada orang suci mengalami moksha]. Semakin tua umur tempat sucitersebut semakin baik, artinya setidaknya sudah selama ratusan tahunmenjadi tempat suci dan terus diupacarai secara berkelanjutan. Semakintidak komersial [seperti misalnya tidak dijadikan obyek wisata untuk turis,atau airnya diperjualbelikan, dsb-nya] tempat suci tersebut semakin baik. Tata cara melukat yang paling baik adalah melukat dengan tata caraTantra. Karena melukat dengan tata cara Tantra tidak saja membuatketidakseimbangan [kekacauan] secara energi di dalam diri kita akandiselaraskan melalui pemberkahan dari para Ista Dewata dan pemurnian

langsung dari alam semesta, tapi juga sekaligus membangunketerhubungan dengan alam semesta. Disaat bhuwana alit [alam kecil ataudiri kita] terhubung dengan baik dengan bhuwana agung [alam besar ataualam semesta], kita terhubung dengan sumber energi berlimpah. Saatketerhubungan seperti ini adalah saat kesembuhan sekaligus kedamaian.Hanya saja, tidak boleh membuka tehnik rahasia Tantra kepada semuaorang. Untuk pengajaran kepada umum, ada 4 [empat] tahap rangkaian tatacara melukat. Tahap pertama, di tempat suci tersebut kita berkelilingmenghaturkan persembahan canang dan dupa di palinggih-palinggih yangada. Akan sangat bagus jika kita juga menghaturkan segehan. Jika kitamembawa pejati, haturkan pejati tersebut di palinggih utama ataupalinggih pesamuhan Ida Btara, dengan dupa sebanyak 11 [sebelas]batang. Tahap kedua, kita lakukan persembahyangan. Di tempat sucimanapun kita melukat, sebaiknya kita terlebih dahulu sembahyang sebelummelukat. Menghubungkan diri kita dengan para Ista Dewata yang berstanadi tempat suci tersebut, matur piuning [mohon ijin] untuk melukat, sertamohon karunia pemberkahan. Jika kita berkehendak melakukan puja ataupenjapaan mantra, lakukan puja atau penjapaan mantra di tahap kedua ini,untuk mengundang kehadiran para Ista Dewata. Tahap ketiga, kita lakukan sadhana mandi penyucian diri [melukat].Sangat penting dalam mandi penyucian diri ini, seluruh titik-titik simpulpusat energi, serta seluruh bagian dari tubuh kita, semuanya agarberinteraksi langsung dengan tirtha [air suci] yang mengalir dari pancorantanpa halangan. Seperti halnya alam semesta [bhuwana agung] yang terbagi menjadiTri Loka [tiga klasifikasi dimensi alam], badan kita [bhuwana alit] jugaterbagi menjadi Tri Loka. Bhur Loka pada badan kita adalah bagian pusar kebawah sampai ujung kaki. Bvah Loka pada badan kita adalah bagian leher

ke bawah sampai pusar. Svah Loka pada badan kita adalah bagian leherkeatas sampai ujung kepala. Di masing-masing bagian tersebut terdapattitik-titik simpul pusat energi, yang semuanya saling berhubungan erat satusama lain. Pada Svah Loka titik simpul pusat energi terletak pada titik di tengahdahi [chakra ajna], yang merupakan titik simpul pusat energi dari persepsipikiran atau kecenderungan pikiran. Pada Bvah Loka titik simpul pusatenergi terletak pada titik di tengah dada [chakra anahata], yang merupakantitik simpul pusat energi dari emosi dan perasaan, seperti misalnya rasasedih, rasa senang, rasa marah, rasa kecewa, dsb-nya. Pada Bhur Loka titiksimpul pusat energi terletak pada titik antara kemaluan dan dubur [chakramuladhara], yang merupakan titik simpul pusat energi dari kecenderunganbinatang kita, seperti misalnya sifat kejam, sifat mementingkan diri sendiri,keserakahan, ketidakpuasan, marah, dendam, benci, iri hati, dsb-nya. Selain itu juga terdapat dua titik simpul pusat energi yang berkaitanerat dengan kemajuan spiritual dan keterhubungan kita dengan alam-alamsuci, yang letaknya di ubun-ubun [bagian teratas dari kepala] dan ditengkuk [titik tengah antara bagian bawah leher dan bagian ataspunggung]. Selain membasuh, membersihkan, menyucikan dan memurnikan 5[lima] titik-titik simpul pusat energi tersebut, serta seluruh bagian daritubuh kita, lanjutkan dengan meminum tirtha [air suci] yang mengalir daripancoran sebanyak 3 [tiga] kali. Agar dapat memperoleh pemberkahan menyeluruh dan utuh,hendaknya kita melukat di seluruh [semua] pancoran-pancoran yang ada ditempat suci tersebut. Karena biasanya masing-masing pancoran memilikipemberkahannya sendiri dan juga memiliki Ista Dewata penjaganyamasing-masing. Terkecuali tentu saja, kita hendaknya tidak melukat dipancoran yang bukan difungsikan sebagai tempat untuk melukat [misalnyapancoran untuk Ida Btara-Btari, pancoran untuk nunas tirtha, dsb-nya].

Tahap ke-empat, kita kembali melakukan persembahyangan.Menghaturkan rasa terimakasih mendalam atas karunia pemberkahan paraIsta Dewata, serta mohon ijin untuk pamit pulang. Praktek sadhana snana-widhi [melukat, mandi penyucian diri] adalahupaya untuk menyelaraskan ketidakseimbangan [kekacauan] secara energidi dalam diri kita melalui pemberkahan dari para Ista Dewata danpemurnian langsung dari alam semesta. Yang mengubah rangkaian energidi dalam diri kita menjadi termurnikan dari keadaan tidak seimbang [kacau].Sehingga lapisan tubuh fisik [annamaya kosha], lapisan tubuh energi prana[pranamaya kosha] dan lapisan tubuh pikiran-perasaan [manomaya kosha]kita secara energi dibersihkan, disegarkan, disembuhkan dan dimurnikan.Hal ini sangat sangat membantu mempercepat proses penjernihankesadaran dan pencapaian kesadaran Atma, terutama jika kitamelakukannya secara tekun dan rutin.

Bagian 3 ISTIRAHAT DALAM KEDAMAIAN Tujuan utama setiap manusia terlahir ke alam marcapada ini adalahuntuk belajar, berjuang dan berproses untuk menyempurnakan kembalikesadaran Atma. Jika kita menjalani kehidupan, tanpa disertai dengan upaya belajar,berjuang dan berproses untuk menyempurnakan kembali kesadaran Atma,maka akibatnya hidup kita akan menjadi tanpa arah, kesadaran kita akanterus meredup dalam kesengsaraan, serta ada kemungkinan kita akanmengalami kejatuhan spiritual [setelah meninggal meluncur masuk kealam-alam bawah atau terlahir kembali menjadi binatang]. Lautan kesengsaraan siklus samsara tiada terduga tidak bertepi. Jikakita manusia menyadari bahwa hidup itu sangat singkat, penuh ancamanbahaya dan kesengsaraan, kemudian bersedia bertobat dan bertekad untukmelatih diri di jalan dharma, dengan cara tekun melaksanakan praktek 11[sebelas] Eka Dasa Sadhya-Sadhana, maka semua akan dapat mencapaikedamaian sejati dan kesempurnaan. Dalam perjalanan kehidupan ini, setiap hari kita berada dalamancaman cengkeraman pikiran dan perasaan yang menyengsarakan, sepertimarah, tidak-puas, gelisah, iri hati, benci, takut, malu, sedih, bingung, dsb-nya. Karena setekun apapun kita sembahyang, melukat dan meditasi,perjalanan kehidupan terus berputar, kebahagiaan dan kesengsaraan selaludatang silih berganti [sesuai garis karma kita masing-masing] tidak adayang bisa menghentikannya. Sehingga selayaknya kita menyiapkanpenangkalnya, dengan cara tekun terus-menerus melaksanakan praktek 11[sebelas] Eka Dasa Sadhya-Sadhana.

Perjalanan spiritual merupakan sebuah perjuangan yang panjang. Jikakita sudah terus-menerus tekun dalam jangka waktu panjang melaksanakanpraktek 11 [sebelas] Eka Dasa Sadhya-Sadhana, kemudian terdapat tanda-tanda mengenai sudah seberapa jauh tingkat kemajuan dan kemurniankesadaran kita. Dimana untuk memudahkan pengertian, secara garis besarkita dapat membaginya menjadi 3 [tiga] tingkatan. Pertanda “dalam” bahwa kemurnian kesadaran kita sudah mencapaitingkat pertama [1] adalah secara alami kita memiliki moralitas yang baik.Artinya, sekalipun pikiran-pikiran buruk kadang-kadang muncul, tapi secaraalami dari dalam diri kita tidak tertarik untuk melakukan pelanggaran moralseperti selingkuh, menipu, korupsi, mencuri, memakai narkoba, membunuh,dsb-nya, bahkan sekalipun muncul godaan yang besar. Disini bedakanmakna antara tidak tertarik dengan takut, karena berbeda. Takut itu karenatakut masuk neraka, takut kena karma buruk, takut ditangkap polisi, takutdikucilkan masyarakat, dsb-nya. Sedangkan tidak tertarik itu berarti secarasangat alami dari dalam diri kita memang tidak tertarik. Selain itu, pertanda “dalam” lainnya adalah kita semakin berkurangmelakukan penghakiman, baik kepada orang lain maupun kepada dirisendiri. Kita juga tidak lagi punya rasa iri hati atau sentimen, serta kitasemakin jarang marah dan tidak puas, kalaupun masih muncul jangkawaktunya tidak lama. Kita mudah memaafkan dan punya rasa pengertian. Pertanda “dalam” bahwa kemurnian kesadaran kita sudah mencapaitingkat kedua [2] adalah, selain kita memiliki pertanda dalam pada tingkatpertama [1], kita juga secara alami kita penuh belas kasih dan kebaikan. Kitatidak mementingkan diri sendiri dan lebih mementingkan orang lain. Setiapkali bertemu orang selalu memikirkan apa penderitaan orang ini dan apayang saya bisa lakukan untuk membantunya. Kita bahagia melihat oranglain bahagia. Serta kita memiliki kepekaan rasa dan keterhubungan. Artinyadalam perkataan dan perbuatan kita tidak hanya melihat dari sudutpandang diri kita sendiri saja, tapi kita juga memiliki pengertian dalammemahami sudut pandang orang lain.

Selain itu, pertanda “dalam” lainnya adalah kita memiliki pikiran yangmudah istirahat, kita dapat merasa tenang dan damai terhadap semuapikiran dan perasan yang muncul. Kita tidak hanya tenang dan damai ketikamuncul perasaan bahagia, tapi kita juga tenang dan damai [istirahat,disaksikan saja] ketika muncul perasaan sedih, galau atau bad mood. Kitatidak hanya tenang dan damai ketika muncul perasaan senang, tapi kitajuga tenang dan damai [istirahat, disaksikan saja] ketika muncul perasaanmarah dan tidak puas. Kita tidak hanya tenang dan damai ketika munculpikiran baik, tapi kita juga tenang dan damai [istirahat, disaksikan saja]ketika muncul pikiran buruk. Dst-nya. Kita dapat melampaui semua bentuk-bentuk pikiran dan perasaan [istirahat dalam keheningan]. Kemudian tingkat ketiga [3] tidak lain adalah pencapaian kembalisempurnanya kesadaran Atma. Akan tetapi hendaknya disadari, bahwa perjuangan membangunkankembali kesadaran Atma adalah perjalanan yang panjang. Walaupuncengkeraman perasaan marah, tidak-puas, gelisah, iri hati, benci, takut,malu, sedih, bingung, dsb-nya, saat ini sudah banyak diredakan olehketekunan kita melaksanakan praktek 11 [sebelas] Eka Dasa Sadhya-Sadhana, tapi suatu saat hal itu akan muncul lagi, muncul lagi dan lagi.Sehingga di jalan dharma yang terpenting bukanlah agar kita dapatsecepatnya mencapai puncak kesadaran Atma yang tertinggi, tapi yangterpenting adalah ketekunan kita untuk melaksanakan berbagai prakteksadhana sepanjang perjalanan kehidupan. Ketika kehidupan terasa penuh dengan riak-riak pikiran dan perasaan[marah, tidak-puas, gelisah, iri hati, benci, takut, malu, sedih, bingung, dsb-nya], sadarilah bahwa semua itu bukan kenyataan diri kita yang sejati. Ituhanyalah sebatas wahana [kendaraan] sementara yang kita pinjam selamakita ada di alam marcapada ini. Kemunculannya kita saksikan saja denganpenuh belas kasih dan tanpa penghakiman sama sekali. Kenyataan diri kitayang sejati adalah kesadaran Atma.

Dalam kitab suci ajaran Tantra Shiwa [Vijnana Bhairawa Tantra],kesadaran Atma disimbolikkan sebagai langit biru. Pikiran-perasaandisimbolikkan sebagai awan-awan yang lewat di langit biru. Pikiran danperasaan positif adalah awan putih yang lewat, sedangkan pikiran danperasaan negatif adalah awan hitam yang lewat. Baik awan putih maupunawan hitam selalu bergantian datang dan pergi, datang dan pergi. Hanyalewat saja. Tidak pernah kekal. Sedangkan kesadaran Atma laksana langitbiru sebagai saksi abadi yang tidak pernah berubah. Mencapai kesadaran Atma tidak berarti yang lewat di langit biruhanya awan-awan putih saja, karena hal itu tidak mungkin. Secara alamiyang lewat bergantian di langit biru pasti adalah awan putih dan awanhitam. Mencapai kesadaran Atma berarti kesadaran kita sudah menjadilangit biru. Di langit biru awan jenis apapun akan lewat, tapi langit birutetap sebagai saksi abadi yang tidak pernah berubah. Kesadaran yang sudah mencapai Manah Shanti, kesadaran yangsudah di depan gerbang Kesadaran Atma, itu sesungguhnya sangatsederhana. Yaitu pikiran yang \"istirahat\" disaat ini seperti apa adanya.Istirahat dari segala bentuk kontradiksi di dalam diri. Secara alami di dalam tubuh fisik, serta di dalam tubuh pikiran danperasaan kita terdapat banyak kontradiksi [dualitas]. Baik melawan buruk,benar melawan salah, suci melawan kotor, bahagia melawan sengsara,untung melawan rugi, berani melawan takut, rasa lepas melawan rasa malu,agama melawan ilmu pengetahuan, damai melawan kacau, ekspresi dirimelawan norma sosial, logika melawan rasa, menyenangkan melawanmenyakitkan, pendapat saya benar melawan pendapat orang lain salah,dsb-nya. Serta tentu saja masih banyak sekali ada kontradiksi-kontradiksilainnya di dalam diri kita. Semakin keras kesadaran kita dicengkeram oleh kontradiksi-kontradiksi ini, apalagi jika kita nilai dan hakimi sebagai buruk atau salah,

berdasarkan ajaran agama, norma sosial, atau pengetahuan, maka semakinramailah konflik pertempuran di dalam diri. Hampir semua kekacauan mental, kejiwaan dan kesadaran, berasaldari pertempuran kontradiksi di dalam diri. Setiap manusia yangmengidentikkan dirinya dengan lapisan-lapisan pembungkus luar Atmayaitu tubuh fisik, pikiran dan perasaan, semuanya akan mengalamiguncangan dan kekacauan di dalam dirinya. Lebih jauh dari itu, kebiasaan pikiran kita yang diguncang kontradiksi[dualitas] inilah yang menarik perjalanan Atma untuk kembali lagi dankembali lagi ke alam samsara yang penuh kesengsaraan ini. Selain itu jugabahwa, hukum karma bekerja lebih keras pada manusia yang kesadarannyadiguncang kontradiksi [dualitas]. Sekalipun kita sudah mencapai kesadaran Atma yang sempurna, kitasebagai manusia pasti masih akan tetap menyimpan banyak kontradiksi didalam diri. Baik melawan buruk, benar melawan salah, suci melawan kotor,bahagia melawan sengsara, untung melawan rugi, berani melawan takut,rasa lepas melawan rasa malu, agama melawan ilmu pengetahuan, damaimelawan kacau, ekspresi diri melawan norma sosial, logika melawan rasa,menyenangkan melawan menyakitkan, pendapat saya benar melawanpendapat orang lain salah, dsb-nya. Serta di dalam diri kita berbagai jenispikiran-perasaan apapun akan tetap muncul [damai, gelisah, marah, kacau,benar, salah, tenang, sedih, bahagia, takut, dsb-nya], sebagai bagian utuhdari diri kita. Semata-mata karena sifat alami tubuh fisik, pikiran danperasaan kita memang penuh kontradiksi. Jika kita tekun melaksanakan 11 [sebelas] Eka Dasa Sadhya-Sadhana,maka pikiran dualistik [pikiran tanpa penghakiman] dan emosi-emosinegatif [kemarahan, ketidakpuasan, dsb-nya] dapat hilang untuk sementarawaktu, tapi nanti hal itu akan muncul lagi, muncul lagi dan lagi. Pikirandualistik dan emosi-emosi negatif tidak akan pernah dapat hilang

sepenuhnya, disebabkan karena sifat alami tubuh fisik, pikiran dan perasaankita memang penuh kontradiksi. Bedanya pikiran tersadarkan tidak dicengkeram oleh berbagaikontradiksi yang muncul di dalam diri. Pikiran tersadarkan \"istirahat\" disaatini seperti apa adanya. Istirahat dari segala kontradiksi yang muncul didalam diri. Apapun bentuk kontradiksi yang muncul di dalam diri hanyadisaksikan saja dengan senyuman penuh belas kasih. Istirahat. Kesempurnaan kesadaran Atma bukanlah keadaan lenyapnyaketidaksempurnaan. Kesempurnaan kesadaran adalah kemampuan untuktersenyum penuh pengertian dan belas kasih yang sama, baik terhadapkesempurnaan maupun ketidaksempurnaan. Pikiran hanya pikiran bukan diri kita. Perasaan hanya perasaan bukandiri kita. Gagasan hanya gagasan bukan diri kita. Kemunculan pikiran,perasaan dan gagasan hanya disaksikan saja dengan senyuman penuhbelas kasih. Kemunculan segala kontradiksi-kontradiksi di dalam diri hanyadisaksikan saja dengan senyuman penuh belas kasih. Istirahat. Salah satu pertanda penting kesadaran yang sudah mencapai ManahShanti, kesadaran yang sudah di depan gerbang Kesadaran Atma, adalahkita merasa tenang dan damai terhadap semua kontradiksi-kontradiksiyang muncul di dalam diri. Kemunculannya hanya disaksikan saja dengansenyuman penuh belas kasih, tanpa penghakiman sama sekali. Pikiran yangIstirahat. Pertanda penting lainnya adalah secara alami kita memiliki hatiyang penuh belas kasih. Secara alami kita penuh pengertian kepada oranglain, kita suka melakukan kebaikan dan kita suka memberikan pertolongan.Serta secara alami kita tidak tertarik untuk melakukan kejahatan danpelanggaran dharma. Di dalam pencapaian seperti ini, tidak berarti kita tidak melakukanapapun lagi. Justru sebaliknya. Dalam tugas-tugas kehidupan [swadharma]kita sama sekali tidak ada yang berubah, yang berubah hanyalah kesadaran

di dalam diri. Artinya kita yang menjadi pekerja kantoran, tukang kebun,petani, dokter, guru sekolah, gubernur, receptionist hotel, membuka usaha,ibu rumah tangga, dsb-nya, tetap mengerjakan tugas-tugas kehidupan kitaseperti biasanya. Tidak ada yang berubah sama sekali. Yang berubah adalahkesadaran di dalam diri kita sendiri yang sudah terang bercahaya.

PUNARBHAWA TATTWATUJUAN KELAHIRAN SEBAGAI MANUSIA

Bagian 1 MEMAHAMI LANDASAN AJARAN DHARMA Sebagai sadhaka di jalan dharma, hendaknya kita dapat memahamidengan baik apa sebabnya ajaran dharma diturunkan oleh para Maharsidan para Satguru suci secara sekala, serta diturunkan secara niskala olehpara Ista Dewata. Serta apa sebabnya dalam hidup ini kita hendaknyamempelajari ajaran dharma dan kemudian berusaha melaksanakannyadengan sebaik-baiknya. Sejak jaman yang sangat kuno hingga sampai jaman modernsekarang ini, para Maharsi dan para Satguru suci dengan kesiddhiankekuatan spiritual beliau, secara langsung dapat melihat dan mengetahuitentang adanya fenomena samsara, yaitu siklus kelahiran, kehidupan dankematian yang terus terjadi berulang-ulang. Serta mengetahui tentangadanya fenomena hukum karma. Hukum besi yang berlaku mutlak di alamsemesta ini, hukum yang tidak bisa dibendung, yaitu apapun ucapan danperbuatan kita secara pasti akan direspon balik oleh alam semesta menjadiakibat. Para Maharsi, para Satguru suci dan para Ista Dewata menurunkanajaran dharma semata-mata sepenuhnya karena belas kasih dan kebaikanuntuk menolong kita semua. Karena dalam kurun waktu yang tidakterhingga panjangnya kita terus berputar-putar tanpa henti dalam siklussamsara, jatuh bangun dalam kesengsaraan, ketidaktahuan dankebingungan. Terlebih lagi karena kita tidak selalu terlahir sebagai manusia,di jaman yang sangat lampau kita pernah mengalami kejatuhan spiritual,terjerumus ke alam-alam bawah yang sengsara [menjadi bhuta cuil, wongsamar, memedi, gregek tunggek, dsb-nya], atau terlahir sebagai binatang.Sangat mungkin hal itu akan terjadi lagi, jika dalam kehidupan ini kita tidakmembina diri melalui ajaran dharma.


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook