Education Development Project 2008-2018 Tim Penulis: Afiani Astuti Aji Jehan Fellani Amalia Rahisa Dewi Anis Widiyanti Atin Supartini Cicin Kuraesin Corry Caromawati Dadan Dewi Supardini Erna Hamidah Hendra Sanjaya Iin Karyati Kartika Arum Mardiya Kamilah Mini Sumiarti Muhamad Umar Harahan Rani Nurhayati R.R. Purnomowulan Sulistiyani Dyah Purwaningsih Sunarti Tintin Sri Suprihatin Titin Rostika Winy Mustikasari Wiwin Winarti © Penerbit Kelas Kreatif Press Editor: Grandis Putri Ogustina Jasmine Azizah Mar’atushshalihah Nurjani Khamal Desainer Sampul: Dikri Fadilah Diterbitkan pertama kali oleh penerbit Kelas Kreatif Press, Bandung, 2018. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari pemegang hak cipta/penerbit. Kelas Kreatif Press, Bandung Isi diluar tanggung jawab penerbit
Note from EDP Coordinator With the understanding that individual teacher work significantly affects student achievement, we started the Education Development Project in 2008. Six workshops with various themes were delivered to teachers of local schools, providing new perspectives on interactive teaching and learning. One objective of the project is that teachers will apply what they have learnt in their own classrooms - the way in which they deliver lessons will become more interactive and this will in turn increase student motivation and achievement. We also expect the teachers to become the change agent and to be able to inspire other teachers in their institution. The success of EDP 1 in 2008 was indicated by the enthusiasm of the participants. Their positive feedback has encouraged us to continue the project. In 2011, we conducted EDP 2. We developed more activities to facilitate teachers’ learning. We had 6 workshops, a book drive for 3 local schools (SMPN 36 Bandung, SMPN 1 Padalarang and SMPN 3 Margahayu), and the opportunity for participants to participate in classroom visits to Bandung International School. The participants of EDP 2 not only came from the Bandung region but also from Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Administratif Cimahi, Kabupaten Sumedang, and Kabupaten Purwakarta. EDP 3 is our program to continue our dream to make a contribution to the development of education in Indonesia, especially in West Java. Our vision is to develop and enhance the professionalism and teaching skills of Indonesian teachers and build a concept of high-quality education. Some of the ways to reach this vision are through delivering programs that will generate awareness of the needs of high-quality education, promote professional development systems that recognize the increasing demands for creativity and innovation, and prepare teachers to develop skillsets needed for innovative models and strategies for interactive teaching and learning. At the end of EDP 3, the participants have opportunity to write an article about creative and interactive teaching that they have done in their classes. We collect those articles and put into a book entitled Kelas Kreatif. We aim to inspire other teachers to explore creative and interactive teaching practices- and applied the strategies in their classrooms and within the existing curriculum. Dadan www.kelaskreatif.org
Note from FoBIS Friends of Bandung Independent School (FoBIS) offers parents opportunity to become involved in the school life.Through parents’ active participation, we are developing a real sense of engaged community between parents, teachers and students. Active participation by parents in fundraising in all the roles helps financing the school community events and special purpose funds which support students' project. FoBIS would like to express our good wishes in supporting the local community in all ways, especially knowledge and skills. FoBIS (2016-2017) Mathana, Sally, Jermaine
DAFTAR ISI 36-39 PENGGUNAAN MEDIA VIDEO UNTUK 01-08 PENERAPAN GALLERY MENINGKATKAN WALK UNTUK MEWADAHI MOTIVASI BELAJAR PEER-ASSESSMENT DALAM PEMAHAMAN DALAM EXPLANATION UNGKAPAN TEXT BAGI SISWA KELAS “COMPLIMENTING” [DEWI X [AFIANI ASTUTI] SUPARDINI] 09-11 TOTAL PHYSICAL 40-42 REVIEWING A LESSON RESPONSE (TPR) UNTUK CAN BE FUN [ERNA PEMBELAJARAN HAMIDAH] ADJECTIVE [AJI JEHAN FELLANI] 43-46 UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN 12-14 PENGGUNAAN MATCHING BERBICARA SISWA CARDS UNTUK DALAM MEMPELAJARI MENINGKATKAN TEKS DESKRIPTIF KEMAMPUAN SISWA MELALUI TEKNIK MENULIS KALIMAT PAST PERMAINAN ESTAFET TENSE [AMALIA RAHISA STICK DI KELAS VIII E DEWI] SMP NEGERI 4 LEMBANG [HENDRA 15-18 RAISING AWARENESS OF SANJAYA] BULLYING THROUGH 47-50 PENINGKATAN GAME “CRUMPLING IJAH” KOMPETENSI BERBICARA SISWA [ANIS WIDIYANTI] MELALUI DIALOG BERPASANGAN 19-24 PENERAPAN MODIFIKASI BERBANTUAN MEDIA METODE “RUNNING BONEKA PADA MATERI DICTATION” UNTUK PEMBELAJARAN GREETING [IIN KARYATI] KETERAMPILAN WRITING 51-55 GOOD CHARACTERS IN DALAM PEMBELAJARAN WARM UP ACTIVITY [KARTIKA ARUM] TEKS NARATIF DI KELAS XII SMA NEGERI 2 MAJALAYA [ATIN SUPARTINI] 25-28 FEEL GOOD EXERCISE, 56-59 PEMBELAJARAN UPAYA PENINGKATAN KOSAKATA TENTANG KUALITAS KARAKTER DAY AND NIGHT SISWA MELALUI ACTIVITIES MELALUI PERSONAL BRANDING PERMAINAN BINGO [CICIN KURAESIN] [MARDIYA KAMILAH] 29-32 PEMANFAATAN PEMANFAATAN “POWTOON” UNTUK PENGAJARAN 60-62 FLASHCARD SEBAGAI STRATEGI COMPARISON [CORRY PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS [MINI CAROMAWATI] SUMIARTI] 33-35 TINGKATKAN MOTIVASI SISWA MELALUI GAME DAY [DADAN]
63-69 PENERAPAN EDMODO PROSEDUR PESERTA DALAM PENILAIAN DIDIK KELAS IX C SMP PEMAHAMAN TATA NEGERI 1 LEMBANG BAHASA DASAR [TITIN ROSTIKA] [MUHAMAD UMAR HARAHAP] 88-91 KARTU ADJEKTIVA SEBAGAI ALAT BANTU 70-73 MENINGKATKAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KEMAMPUAN PESERTA BERBICARA BAHASA DIDIK DALAM INGGRIS SISWA MENYUSUN TEKS MELALUI MUSIKALISASI DESKRIPTIF DI KELAS TEKS NARATIF SECARA VII B SMP NEGERI 1 BERKELOMPOK [RANI LEMBANG [TITIN NURHAYATI] ROSTIKA] 74-76 INDONESIA-ENGLISH 92-95 UPAYA MENINGKATKAN COMPABILITY IN MINAT SISWA DALAM WRITING DESCRIPTIVE MEMAHAMI GENERIK TEXT FOR EARLY STRUKTUR TEKS GRADE (R.R. NARATIF MELALUI PURNOMOWULAN) PERMAINAN MEMBURU HARTA KARUN 77-79 PETA KONSEP DALAM (PERMAINAN YANG MERANGSANG FUNGSI DIADOPSI DARI OTAK ANAK “POKEMON GO” GAME) [SULISTIYANI DYAH [WINY MUSTIKASARI] PURWANINGSIH] 96-99 EFEKTIVITAS 80-81 MENINGKATKAN PEMBELAJARAN KEMAMPUAN BAHASA INGGRIS BERBICARA SISWA MELALUI POSTER KELAS 7 DENGAN [WIWIN WINARTI] MENGGUNAKAN TEKNIK CHORAL DRILLING [SUNARTI] MENINGKATKAN 82-84 KEMAMPUAN MENULIS TEKS NARATIF MELALUI MEDIA FILM ANIMASI PENDEK BERJUDUL “THE BIG BUCK BUNNY” [TINTIN SRI SUPRIHATIN] 85-87 PENGGUNAAN WORDS WALLS DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI TEKS 8
Penerapan Gallery Walk untuk Mewadahi Peer-Assessment dalam Explanation Text bagi Siswa Kelas X Afiani Astuti Al-Irsyad Satya Islamic School Pendahuluan Peer-assessment dalam pembelajaran writing belum banyak dilakukan di tingkat sekolah menengah, misalnya di tingkat perguruan tinggi yang pembelajarnya dianggap sudah bertanggungjawab dan memiliki learners autonomy. Namun demikian, peer-assessment di tingkat sekolah bisa saja diupayakan karena dapat memperdalam pemahaman siswa dengan cara mengevaluasi hasil tulisan teman dan diri siswa itu sendiri, mengubah pembelajaran pasif menjadi aktif, melibatkan siswa untuk membuat refleksi kritis dari tulisannya, serta dapat membuat kerja kelompok antarsiswa lebih berhasil (Hanrahan & Isaacs, 2016). Peer-assessment ini dilakukan sebagai salah satu kegiatan evaluasi atau penilaian sekaligus sebagai metode mengajar dalam upaya peningkatan kemampuan siswa pada keterampilan menulis, khususnya dalam menulis teks eksplanasi (explanation text). Dengan menggunakan peer-assessment diharapkan siswa dapat memenuhi standar kriteria yang diharapkan berdasarkan kurikulum yang digunakan di sekolah tempatnya berada. Alasan lain adalah karena tuntutan kurikulum, yakni Kurikulum Cambridge bagi siswa kelas 11 di sekolah swasta di Kabupaten Bandung Barat. Peer-assessment ini dapat dijadikan salah satu kegiatan yang mendukung siswa memahami kriteria penulisan teks untuk mempersiapkan ujian Cambridge IGCSE English yang didalamnya terdapat dua tugas menulis. Menulis untuk tes ini merujuk kepada rubrik atau standar kriteria khusus yang diberikan oleh Cambridge. Siswa yang terlibat berjumlah 12 orang yang merupakan siswa pilihan dari 24 siswa. Keduabelas siswa ini dipilih berdasarkan kriteria sekolah sebagai kelas “high achievers”. Tujuan tulisan ini adalah melihat refleksi dari kegiatan gallery walk activity dalam menerapkan peer-assessment. Keberhasilan peer-assessment untuk pembelajar bahasa cukup menjanjikan namun bergantung pada sikap siswa, level kemampuan berbahasa, pengetahuan tentang rubrik dan kriteria, serta keterampilan yang sedang diasah dan jenis keterampilan yang berbeda (Sebba, et. al. 2008). Yang terpenting dari semuanya adalah seberapa dalam pengetahuan siswa terhadap rubrik. Memperkenalkan rubrik dan kriteria sangat penting untuk peer- assessment, terlebih untuk rubrik standar ujian IGCSE seperti isi tulisan, gaya penulisan, dan teknik penulisan. Dalam tulisan ini rubrik yang diterapkan diunduh dari laman https://www.teachervision.com/. Rubrik dalam 1
ujian internasional harus dikuasai siswa sehingga siswa memahami apa yang diharapkan oleh pemeriksa ujian yang notabenenya adalah native speaker of English. Ujian tersebut adalah ujian internasional bagi para pembelajar ESL (English as a second language) di seluruh dunia sehingga kemampuan menulis siswa diharapkan setara dengan negara-negara yang mengikuti tes ini, misalnya seperti Singapura, Malaysia dan berbagai negara lainnya. Rubrik yang disediakan oleh Cambridge memuat acuan-acuan khusus yang harus dipenuhi siswa. Untuk mempraktikkan acuan-acuan ini, peer- assessment dengan menggunakan gallery walk activity dapat membantu siswa melihat poin-poin apa saja yang memenuhi kriteria. Gallery walk activity biasanya digunakan untuk melihat hasil karya seni/tulisan siswa seperti poster/esai yang dinilai oleh teman-temannya, misalnya teman-teman sekelas akan memberi komentar tentang apa yang mereka lihat berdasarkan kriteria T.A.G (T= tell the writer what you like, A= ask the writer a question dan G= give a writer a positive suggestion). Menurut Centre of Teaching and Learning dari Brigham Young University, gallery walk adalah sarana untuk melihat kemampuan “metakognisi” (berpikir mengenai cara berpikir) secara transparan. Maksudnya adalah secara umum, siswa yang menggunakan strategi metakognisi (seperti menyusun rencana belajar atau merancang strategi bagaimana memahami sebuah konsep dan tahu bagaimana cara mengetahui konsep tersebut) cenderung memiliki tingkat kemampuan belajar lebih tinggi (Ertmer & Newby, 1996; Lovett, 2008; Nett, Goetz, Hall, & Frenzel, 2012). Jadi salah satu keuntungan gallery walk activity adalah melihat bagaimana siswa menilai kekurangan diri sendiri dan temannya serta dapat mengetahui apa yang akan dilakukan untuk menutupi kekurangan tersebut. Kemudian, beberapa keuntungan lain dalam menerapkan gallery walk activity, yaitu: (1) sebagai cognitive awareness untuk menyadarkan para siswa bagaimana mereka belajar, (2) sebagai self-regulation ketika mereka memantau cara belajarnya sendiri dan mengevaluasi seberapa berhasil strategi yang dijalankannya, dan (3) untuk menyesuaikan strategi belajar sesuai dengan kebutuhan mereka (Flavell, 1979). Implementasi di Kelas Hal yang paling penting dan utama yang dilakukan dalam implementasi peer-assessment dan gallery walk activity di kelas adalah menjelaskan prosedur dan mengingatkan pentingnya kemampuan siswa untuk bekerja sama. Biasanya kegiatan ini menggunakan sistem rotasi atau berputar misalnya akan ada minimal tiga kali putaran dan bisa ditambah putaran bila diperlukan. Kegiatan peer-assessment dan gallery walk activity ini berlangsung dalam satu minggu atau 6 jam pelajaran (2 jam hari Senin, 2 jam hari Selasa dan 2 jam hari Jum’at). Empat jam pertama adalah untuk membahas kriteria dan cara kerja peer-assessment dan gallery walk activity. 2
Berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa menjadi petunjuk penerapan di dalam kelas: Langkah 1 – Pembagian kelompok Keduabelas siswa yang dibagi menjadi 6 kelompok, satu kelompok terdiri dari 2 orang (berpasangan). Kemudian mereka diberi tugas untuk membuat teks eksplanasi (text explanation). Setelah mereka menulis teks, kemudian teks diprint dan difotokopi dengan menggunakan kertas A3 agar lebih jelas terlihat pada saat melakukan gallery walk. Dari keenam kelompok ini, siswa memilih topik tulisannya sendiri yaitu tentang tornado, flooding, chernobyl, the green house effects, human respiration system dan tsunami. Proses penulisan teks eksplanasi ini dilakukan sebelum melakukan kegiatan peer-assessment dan gallery walk. Kemudian, setiap kelompok diberikan lembar tugas yang akan dibawa oleh siswa ketika melakukan kegiatan gallery walk. Kriteria yang akan diperhatikan siswa untuk setiap teks teman-temannya antara lain: organization, elements of process, grammar, mechanic and spelling (rubrik terlampir), serta komentar mengenai kelebihan dan kekurangan tulisan teman-temannya. Langkah 2 – Memasang hasil karya dan menjelaskan prosedur Siswa diminta menempelkan hasil tulisannya pada dinding dengan gaya penyuguhan seperti di galeri seni. Hal ini dilakukan agar siswa nantinya dapat mengeksplor seluruh sudut ruangan untuk melihat semua tulisan teman-temannya, misalnya dengan formasi seperti ini dibawah ini. Hal yang paling penting adalah menghindari kepadatan satu teks dikerumini banyak siswa. Lihat gambar 1 yang menunjukan beberapa stand/station gallery yang masing-masing stationnya diperlukan sekitar 5 sampai 10 menit untuk diamati. Langkah 3 – membagikan rubrik dan menjelaskan cara mengisinya Siswa diberikan rubrik dan kriteria untuk diisi oleh siswa sebagai lembar kerja ketika melakukan gallery walk dan peer-assessment. 3
Langkah 4 – Memulai kegiatan Setiap kelompok akan memilih hasil tulisan kelompok lain yang ditempel pada dinding. Kemudian, mereka diminta untuk mengamati serta menilai tulisan tersebut dengan waktu 5 sampai 10 menit. Langkah 5 – putaran pertama Di putaran pertama, siswa hanya diminta untuk menilai tulisan dan belum diperbolehkan untuk bertanya kepada penulis. Jika siswa belum berkeliling dan melihat tulisan kelompok lain, guru sebaiknya mengingatkan siswa untuk berkeliling. Langkah 6 – putaran kedua Pada putaran kedua, siswa diperbolehkan melakukan TAG, seperti disebutkan pada bagian pendahuluan. Siswa memberitahukan apa yang mereka suka dari tulisan temannya (T), bertanya tentang apa yang kurang jelas dari tulisan temannya (A), dan siswa memberi saran atas apa yang seharusnya mereka lakukan dengan tulisannya (G). Langkah 7 – Memonitor kegiatan siswa Setelah selesai mengelilingi galeri, siswa mulai menjawab pertanyaan- pertanyaan dari teman-temannya mengernai tulisan mereka. Setiap kelompok diperkenankan untuk berdiskusi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kegiatan ini merupakan kegiatan penting sebagai bahan refleksi bagi siswa. Pada langkah ini, pastikan semua siswa selesai mengisi lembar kerja berdasarkan rubrik. Langkah 8 – Refleksi Setelah semua kegiatan gallery walk selesai, siswa kembali ke tempat semula untuk mendiskusikan dan merefleksikan apa yang mereka dapatkan dari kegiatan tersebut, membuat kesimpulan, dan membandingkan tulisan sendiri dengan temannya. 4
Variasi Kegiatan Kegiatan gallery walk pada tulisan ini merupakan kegiatan yang memerlukan persiapan dan usaha yang lebih karena kegiatan ini merupakan kombinasi dari peer-assessment dan gallery walk. Namun, apabila kegiatan gallery walk tidak dikombinasikan dengan peer-assessment, kegiatannya dapat dibuat menjadi sederhana seperti varasi-variasi berikut ini: Variasi 1 Langkah-langkah variasi 1: 1. Tulis Tulislah 6 pertanyaan atau teks, gambar, kutipan (quotation) yang berkenaan dengan topik yang akan dibahas pada kertas besar dengan ukuran tulisan yang besar. Kemudian tempel tulisan tersebut pada tempat berbeda di sekeliling kelas. 2. Kelompokkan Buatlah 6 kelompok sekitar 3 sampai 5 orang per kelompok (bergantung pada jumlah siswa). Setiap kelompok memulai dari station yang berbeda sebelum mengelilingi galeri (teknik rotasi). Setiap kelompok membawa spidol yang berbeda warna untuk membedakan pendapat atau komentar yang berbeda dari yang lainnya. 3. Mulai Setelah station pertama, kelompok siswa membacakan apa yang mereka tulis di kertas yang dipasang pada dinding. Kemudian ada siswa yang bertugas mencatat untuk memberikan tanggapan dan komentar untuk setiap kelompok. Catatan ditulis di lembar yang ditempel pada setiap station. Sebaiknya siswa pada masing-masing kelompok juga menulis apa yang mereka komentari dan diskusikan. 5
4. Rotasi Setelah diberikan waktu 3 sampai 5 menit untuk mengamati setiap station, guru memberi instruksi untuk pindah dari ke station berikutnya. Siswa membaca tulisan atau gambar dan juga membaca tanggapan yang telah diberikan oleh teman-temannya pada tulisan tersebut. Ulangi sampai semua kelompok mendatangi setiap station. Siswa sebaiknya mencatat setiap tanggapan dan komentar pada setiap station. 5. Monitor Memonitor siswa sangat penting dilakukan dalam kegiatan ini karena siswa bergerak dari satu station ke station lainnya berdasarkan instruksi guru. Guru juga bisa membantu dan memberi petunjuk jika siswa kurang mengerti tentang apa yang harus ditanggapi. 6
6. Refleksi Siswa kembali ke tempat duduk semula. Kemudian siswa membahas apa yang mereka pelajari dari kegiatan tadi. Garis bawahi apa yang menjadi tujuan pembelajaran dari kegiatan tersebut. Variasi 2 Gallery Run Gallery run merupakan gallery walk versi yang lebih cepat. Tulisan atau poster yang dipasang pada galeri biasanya lebih sederhana karena siswa harus berpikir cepat dan bergerak cepat untuk mengumpulkan informasi yang akan ditulis pada station khusus. Variasi 3 Computer Tour Computer Tour hampir serupa dengan gallery walk tetapi yang dilihat bukan kertas yang dipasang seperti di galeri, melainkan laptop atau komputer yang di simpan di sekeliling kelas. Biasanya yang disajikan dalam komputer dapat berupa permainan interaktif atau video yang merangsang daya analisis siswa. Untuk siswa yang sudah mahir dalam menggunakan IT dapat membuat komentar seperti pada variasi 3 dengan posting di media yang sudah disiapkan seperti twitter. Variasi ini akan lebih efektif bila jumlah siswa tidak terlalu banyak. Daftar Pustaka Cullingford, C. (1995). The effective teacher. New York: Cassell. Azarnoosh, Maryam. (2013). Language testing in Asia. Diunduh pada tanggal 2 Oktober 2016. [Online]. https://languagetestingasia.springeropen.com/articles/10.1186/2229-0443-3- 11 Heyman, James and Sailors, John. (2010). Peer assessment of class participation: applying peer nomination to overcome rating inflation. Diunduh pada tanggal 12 Oktober 2016. [Online]. https://sydney.edu.au/education_social_work/groupwork/docs/SelfPeerAsses sment.pdf Ertmer, P.A. & Newby, T.J., (1996). The Expert Learner: strategic, self- regulated, and reflective. Instructional Science, 24, 1–24. Flavell, J. H. (1979). Metacognition and Cognitive Monitoring: a new area of cognitive-developmental inquiry. American Psychologist, 34, 906-911. Lovett, M.C. (2008). Teaching Metacognition. Paper presented at the annual EDUCAUSE meeting, Orlando, FL. Nett, U. E., Goetz, T., Hall, N. C., & Frenzel, A. C. (2012). Metacognition and Test Performance: an experience sampling analysis of students' learning behavior. Education Research International, 1-16. Brigham Young University. The ‘Gallery Walk’ as a means to making metacognition transparent. [Online]. http://ctl.byu.edu/tip/%E2%80%98gallery-walk%E2%80%99-means-making- 7
metacognition-transparent. [Online]. Tersedia https://www.teachervision.com/tv/printables/07AAAM22.pdf (rubriks). Hanrahan, Stephanie J. & Isaacs, Geoff. (2001). Assessing Self- and Peer- assessment: the students' views. Higher Education Research & Development. Vol. 20 , Iss. 1. Sebba J, Crick RD, Yu, G, Lawson H, Harlen W, Durant K. (2008). Systematic Review of Research Evidence of the Impact on Students in Secondary Schools of Self and Peer Assessment. Technical report in: Research Evidence in Education Library. London: EPPI-Centre, Social Science Research Unit, Institute of Education, University of London. Diunduh pada tanggal 2 Oktober 2016. [Online]. http://serc.carleton.edu/introgeo/gallerywalk/student_instructions.html Biodata Penulis Afiani Astuti adalah seorang guru bahasa, baik bahasa Inggris (EFL) maupun bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA). Saat ini penulis mengajar bahasa Indonesia di Bandung Independent School dan mengajar bahasa Inggris di UPT Bahasa ITB. Hasil penelitiannya dimuat dalam beberapa prosiding dan dalam beberapa presentasi konferensi seperti Asia TEFL, Conaplin, Symposium SFL (System Functional Linguistics) dan Pertemuan Ilmiah BIPA. Tempat kegiatan mengajar dalam tulisan ini adalah Al-Irsyad Satya Islamic School, tempat penulis mengajar sebelumnya. Hobi penulis adalah travelling. Email: [email protected] 8
Total Physical Response (TPR) untuk Pembelajaran Adjective Aji Jehan Fellani SMP Negeri 1 Saguling Pendahuluan TPR atau Total Physical Response adalah metode yang memiliki prinsip menggerakan anggota tubuh. TPR seringkali digunakan untuk mengajarkan kata kerja (verb). Siswa diminta mendengarkan beberapa kalimat perintah yang kemudian diikuti dengan respon fisik. Pada kesempatan ini, penulis mencoba menggunakan TPR untuk mengajarkan kata sifat (adjective). Tujuannya adalah agar siswa mampu menguasai kata sifat, misalnya agar dapat ‘mendeskripsikan hewan’ dengan cara yang tidak membosankan. Selain itu, diharapkan dengan metode TPR ini, siswa mampu menyimpan kosakata yang berbentuk kata sifat lebih lama dalam ingatan mereka, karena dengan metode ini mereka akan mendapatkan pengalaman berbeda untuk mempelajari kosakata. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas 8A, 8B, dan 8C di SMP Negeri 1 Saguling Kabupaten Bandung Barat. Implementasi di Kelas Pada pertemuan pertama, guru membawa gambar seekor kucing. Kemudian, guru memperlihatkan gambar kucing tersebut pada siswa. “look at the picture! This is a cat. It has soft fur. It has small eyes. It has sharp claws. It has a long tail”. Setelah itu, guru memperlihatkan gambar lainnya dan mendeskripsikan gambar tersebut seperti yang dilakukan pada gambar kucing. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 7-8 siswa. Mereka diminta untuk mencari dua jenis hewan yang berbeda dari ensiklopedia yang tersedia di perpustakaan. Setiap kelompok harus memilih jenis hewan yang berbeda dengan hewan yang sudah dideskripsikan pada pertemuan sebelumnya. Apabila ada kelompok yang memilih jenis hewan yang sama, maka ketua kelompok harus mengundinya dengan koin. Yang kalah harus mencari jenis hewan yang lain. Setelah mereka memilih jenis hewan dari ensiklopedia, mereka diminta membuat deskripsi dari hewan tersebut. Mereka lalu mendeskripsikan hewan yang mereka pilih dengan gerakan tubuh. Sebelum mereka menampilkan deskripsi mereka, guru terlebih dahulu mengoreksi tulisan siswa dan mengajarkan pengucapan/pelafalan yang akan mereka sampaikan pada setiap kelompok. Saat menampilkan hasil deskripsi, para siswa memperlihatkan gambar hewan yang akan dideskripsikan disertai dengan gerakan. Misalnya: “an eagle has broad wings”. Maka siswa yang mengucapkan itu haruslah memperagakan seperti apa broad wings tersebut. 9
Siswa saat memperagakan Siswa saat memperagakan “an eagle has broad wings”. “an arowana has small fins”. Siswa saat memperagakan Siswa saat memperagakan “a buffalo has long horns”. “a buffalo has big eyes”. Siswa saat memperagakan “a cenderawasih has a beautiful tail”. 10
Variasi Kegiatan 1. Dalam kegiatan ini guru berperan sebagai “sutradara” dan para siswa menjadi “aktor dan aktris”. 2. Para siswa menuliskan apa yang mereka deskripsikan di bawah gambar hewan yang mereka deskripsikan. Setelah itu ditempelkan pada setiap sudut ruangan. Para siswa lalu berkeliling melihat gambar serta deksripsi hewan tersebut. Salah satu anggota kelompok (secara bergantian) menjelaskan isi dari gambar dan deskripsi tersebut. Saat menjelaskan, misalnya tentang kalimat “It has broad wings” maka menjelaskannya harus dengan gerakan tubuh. 3. Setelah selesai kegiatan tersebut, guru dapat memberikan lembar kerja (LK) yang berisi gambar-gambar hewan yang telah dideskripsikan oleh para siswa. Daftar Pustaka Brown, H. Douglas. (2001). Teaching by Principles: an interactive approach to language pedagogy. New York : Longman. Rima Putri. (2014). Metode pembelajaran TPR. Diunduh pada 12 Oktober 2016. [Online]. di http://rima-putri13.blogspot.com/2014/10/metode- pembelajaran-bing-tpr-total.html Biodata Penulis Aji Jehan Fellani adalah seorang guru bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Saguling. Penulis mendapatkan gelar sarjana pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2005. Penulis pernah menjadi juara pertama dalam Youth Community Service Competition yang diselenggarakan oleh UNESCO pada tahun 2009. Diklat terakhir yang diikuti penulis adalah pembekalan Instruktur Nasional Guru Pembelajar yang diselenggarakan oleh P4TK Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan Agustus 2016. Alamat surel penulis: [email protected] 11
Penggunaan Matching Cards untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Menulis Kalimat Past Tense Amalia Rahisa Dewi SMP Negeri 45 Bandung Pendahuluan Kemampuan menulis adalah keterampilan yang paling sulit diantara ketiga keterampilan berbahasa lainnya. Kemampuan menulis erat kaitannya dengan penggunaan tata bahasa (grammar). Siswa tidak akan mampu menulis dengan baik bila siswa tidak menguasai tata bahasa dengan benar. Menurut Hornby (dalam Uswatun, 2012), “grammar is the rules in a language for changing the form of words and combining them into sentences”. Lebih lanjut menurut Bright (dalam Uswatun, 2012) menjelaskan, “grammar is about form and one way to teach form is to give students rules; however, grammar is about much more than form, and its teaching is ill served if students are simply given rules”. Pada umumnya pembelajaran grammar kurang diminati siswa karena dalam pembelajarannya guru lebih sering menggunakan metode ceramah (teacher centered), guru memberikan rumus pola kalimat past tense, diberikan daftar perubahan kata kerja, siswa menyimak menulis dan setelah itu mengerjakan latihan yang guru berikan. Metode seperti ini membuat siswa bosan, karena siswa hanya menghafal aturan-aturan dalam menulis kalimat past tense. Berdasarkan hal di atas, maka perlu bagi guru memberikan metode yang lebih menarik kepada siswa dalam pembelajaran grammar, yang mampu membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaranya. Biasanya yang menarik untuk siswa pembelajaran melalui permainan (game), karena game dapat membuat mereka bergerak, berkompetisi dalam suasana santai dan menyenangkan. Seperti diungkapkan Anggra ( dalam Harahap, 2015) “game atau permainan adalah sesuatu yang dapat dimainkan dengan aturan tertentu sehingga ada yang menang dan ada yang kalah, biasanya dalam konteks tidak serius dengan tujuan refreshing”. Sedangkan menurut Salen & Zimmerman (dalam Prasetyo, 2012), “game merupakan suatu sistem yang memiliki aturan-aturan tertentu dimana pemain akan terlibat di dalam suatu permasalahan sehingga dapat menghasilkan suatu hasil yang dapat diukur yaitu menang atau kalah”. Pada umumnya permainan menggunakan media, berupa flashcard, game board, puppet, dan lain-lain, walaupun ada beberapa yang tidak mengunakannya. Ibrahim dan Syaodih (dalam Hector, 2012) mendefinisikan media pengajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk 12
menyalurkan pesan atau isi pelajaran, merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan siswa, sehingga dapat mendorong proses belajar mengajar. Sementara itu Briggs (Arif S. Sadiman, 2003: 6) dalam Hector berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Berdasarkan hal-hal di atas maka pengajaran grammar melalui permainan perlu untuk diterapkan sebagai upaya agar siswa tertarik mempelajarinya karena disajikan dalam suasana yang menyenangkan. Dalam pengajaran grammar penulis menggunakan metode “matching cards”. Penulis menggunakan metode ini dalam pengajaran past tense, dengan menggunakan 2 set flashcards kata kerja bergambar; kata kerja I dan II baik kata kerja beraturan ataupun tidak beratuan. Penelitian ini dilakukan dikelas VIII-D SMPN 45 Kota Bandung dalam waktu 2 x 40 menit. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat menambah wawasan untuk guru dalam membuat pembelajaran grammar menjadi lebih menarik dan berbagi pengalaman dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis kalimat past tense. Implementasi di Kelas Permainan ini dimainkan dengan cara siswa mencari pasangan kata kerja I dengan kata kerja II. Siswa yang paling cepat menemukan pasangan mereka dengan benar berhak mendapat poin terbesar. Melalui metode ini siswa mempelajari perubahan kata kerja dari kata kerja I menjadi kata kerja II yang digunakan didalam menulis kalimat past tense. Terlebih dahulu siapkan dua set flashcards yang terdiri dari kata kerja I dan II, dilanjutkan langkah-langkah selanjutnya antara lain : 1. Langkah pertama, siswa dan guru melakukan tanya jawab tentang kegiatan yang dilakukan kemarin. 2. Langkah kedua, guru menyiapkan dua kolom pada papan tulis untuk kegiatan yang setiap hari dilakukan dan kegiatan yang kemarin telah dilakukan. 3. Langkah ketiga, guru memberikan contoh kalimat tentang kegiatan yang setiap hari dilakukan dan kegiatan yang kemarin telah dilakukan 4. Langkah keempat, guru memberikan penjelasan apa yang harus dilakukan dengan flashcard yang mereka miliki, sampai mereka benar- benar paham sebelum kemudian guru membagikannya. 5. Langkah kelima, flashcards dibagikan secara acak, masing-masing siswa mendapat satu flashcard. Kemudian guru memberi aba-aba dengan menghitung 1…2…3…go. Gunakan penghitung waktu (stopwatch) untuk menghitung waktu tercepat bagi siswa yg berhasil menemukan pasangannya dengan benar. Setelah selesai semua mendapat pasangan, kemudian siswa diberi waktu 5 menit untuk menuliskan kalimat dengan menggunakan kata kerja yang mereka 13
miliki dan menuliskannya pada kolom yang telah disediakan. Pasangan yang berhasil membuat kalimat dengan benar dalam waktu 5 menit atau kurang dari 5 menit, mendapat tambahan poin. Jika waktu yang disediakan telah berakhir maka siswa tidak diperkenankan lagi untuk menuliskan kalimatnya, dan mereka kehilangan poin tambahan. 6. Langkah terakhir, setelah semua kelompok selesai, guru mengumumkan pasangan mana yang selesai tercepat dan juga yang selesai paling akhir. Setelah itu, guru mengumumkan pasangan mana yang berhasil mendapatkan poin terbanyak dan berhasil membuat kalimat dengan benar, (jumlah poin dilihat dari tingkat kebenaran kalimatnya). Guru memberikan penghargaan (reward) kepada pasangan yang tercepat dan yang paling banyak memperoleh poin. Variasi Kegiatan Permainan matching cards ini tidak hanya bisa digunakan dalam pengajaran grammar saja, tetapi bisa juga digunakan untuk reading comprehension, speaking (teks transaksional dan interpersonal), dan writing (descriptive, narrative and recount text). Daftar Pustaka Sumber dari internet: Diunduh pada 13 Agustus 2016 eprints.uny.ac.id/8205/3/BAB%20207203244042.pdf Diunduh pada 13 Agustus 2016. [Online]. di http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34493/3/Chapter%20II.pdf Diunduh pada 20 Agustus 2016 repository.usu.ac.id/bitstream/.../4/Chapter%20II.pdf Diunduh pada tanggal 20 Agustus 2016 eprints.uny.ac.id/.../COVER%20-%2005208244044.p... Biodata Penulis Amalia Rahisa Dewi adalah seorang guru bahasa Inggris di SMP Negeri 45 Bandung. Pendidikan S1 jurusan bahasa Inggris. Hobi menyayi dan membaca novel. Surel: [email protected] 14
Raising Awareness of Bullying Through Game “Crumpling Ijah” Anis Widjiyanti SMK Negeri 1 Kota Sukabumi Introduction One day when I entered a class, I found a student sit under a table rocking back and forth. His face was all but cheerful. When I asked what had happened, he said that he did not want to sit on table because his classmates would call him names and bully him. The reality hit me. Bullying was real and troubling my students. In SMK, where most students come from underprivileged families, long hour learning and repeated practices, resembling working situation in factories and production houses, bear stress to the students. Therefore, according to some students, teasing their friends is an easy way to release stress. But, what the students are not aware of is the impact of the teasing to their friend’s feeling and emotion. Many people believe that teasing, calling names, putdowns and cruel criticisms are parts of growing up. Those verbal humiliation, as well as physical assault, are allegedly said to build strong personal quality. Nevertheless, researches steadily reports that negative impact of bullying last longer than school time. The hatred, anger and desperation are hidden by the victims only to be exploded on another day. According to Cambridge Online Dictionary, bullying is an act “to hurt or frighten someone who is smaller or less powerful than you, often forcing that person to do something they do not want to do”. The person who conduct bullying is called “a bully”. US Departement of Health and Human Services defines bullying as an aggressive behavior implying imbalance of power of a perpetrator to a victim or victims. The behavior is repeated or potentially repeated. Bullying is not just another agressive behavior. Besides being agressive, bullying is charaterized by the use of power, be it physical, information or popularity power, in an effort to control or harm others. To be called a bullying, an action must be repeated or having potential to repeat. Bullying takes form in several types, physical, verbal and social. Bullying takes place in many places. However, schools have been the breeding ground of bullying for long time. It is understandable because most students spend significant amount of their time at schools. It is at schools that most teenagers sosialize with their peers. Some students direct their frutrasion of their life at home or class by bullying other weaker students at school. The lack of attention from school, teachers and parents let some agressive students behave badly in order to gain power and popularity. SMK students in particular are more prone to bullying caused by life adversity they experience. Astiyanti (2016) on her research shows that many students enroling to SMK came from underprivileged families. They face some adversity such as poverty, abuse, child working, disfunctional family 15
and losing family members. Long hour trainings add stress to the students. Some students try to reduce the effect of the stress by joining extra curricullar activities. Many others use teasing each other as an outlet to relese the stress. Some use it over the limit and bully other students. Teenagers tease each other. But there are times when teasing turns in to the dangerous bullying. Bisbing (2012) elaborates that to be called a bullying, an imbalance of power must exist in an action. The victims have the hard time defending themselves. The power can be physical, social status or popularity. The intention of the harsh behavior is to put down and humiliate the victims. The action is also done again and again. Mutual conflict and single act aggressiveness are not classified as bullying. This article will elaborate a strategy which has been applied in SMK N 1 Kota Sukabumi Grade 12 Surveying Program. The students of this class are mostly from low income families and average to low academic achievement. Classroom Implementation Meri Wallace (2012) suggests several steps schools and teachers can do to prevent bullying, even before it happens. One of them is conducting classroom discussion and activities designed to sensitize and promote self- awareness to the students of the damage of bullying. This education aims at helping students make better, more responsible and positive choices. The game “crumpling Ijah” is a game to show how damaging bullying can be. It shows bullying effect is irreversible. The expected result is students acknowledge bullying as a dangerous behavior. Acknowledging the harm of bullying is the first step to eradicate bullying altogether. This technique has been repeated several times and consistently gives significant impact to the students. It raise awareness of how their actions, as mere as calling names, has tremendous irreversible damage. After having English lesson with this technique, students expressed their acknowledgement of bullying and some even apologized to their friends. The classroom activities are as follow: 1. Students in groups are given pictures of a girl/a boy. Teacher puts the same picture on the board. 2. The class give names to the picture. Teacher give the picture name 16
“Ijah”; an acronym of “Ih Jahat”. The groups then bully the picture by writing cruel words to bully the character. 3. After bullying the pictures to their heart content, the pictures are then crumpled to make a small paper ball. The students do the crumpling by pouring all anger and hatred they feel towards the charact er on the picture. 4. Then, teacher asks the group to refine the crumpled paper. They can even bring it home to iron it or whatever method to make it as it is before the crumpling. 5. Students reflect the game relating it to what could happen to a bully victim. The expected outcome is that the students relies that bullying has permanent, irreversible effects on the victim. 6. The groups then elicit one word to describe bullying. Teacher guide students to express their opinion dealing with bullying. Variation This activity can be followed by making anti bullying posters, writing poem, investigating bullying and other activities. Instead of Ijah, teachers can also change the name of the picture. References Astiyanti, Nurjanni. 2016. Compensatory model of resilience process among poor adolescents in vocational high schools of Kota Sukabumi. Thesis. Padjajaran University Bauman, Sheri & Yoon, Jina . 2014. Editorial:This Issue: Theories of Bullying and Cyberbullying. Theory into Practice, vol 53, 2014. the College of Education and Human Ecology, Ohio State University Kenzi Bisbing, Teasing, Fighting, Bullying….What’s the difference? Accessed on October 10, 2016 at 10.13 in www.mediation-omc.org/YouthTraining.aspx. Butkus, Michael . 2012. Understanding The Consequences Of Bullying. Accessed on October 10 2016 at 10.34 in http://www.howtolearn.com/2012/07/understanding-the-consequences-of- bullying/. 17
http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/bully Accessed on October 10, 2016, at 10.10 http://eschooltoday.com/bullying/Why-do-people-bully.html Accessed on October 10, 2016, at 10.45 http://preventingbullying.promoteprevent.org/4-bullies-victims-and-bystanders Accessed on October 10, 2016, at 10.55 https://www.stopbullying.gov/what-is-bullying/definition/index.html#types Accessed on October 10, 2016, at 10.30 Rudolph, Karen D. Abaied, Jamie L. Flynn, Megan, Sugimura, Niwako and Agoston, Anna Monica. 2011. Developing Relationships, Being Cool, and Not Looking Like a Loser: Social Goal Orientation Predicts Children’s Responses to Peer Aggression. Child Development, 29 AUG 2011 Wallace, Meri. 2012. 7 Ways School can Prevent Bullying. Accessed on October 10, 2016, at 23.00 in www.psychologytoday.com. Biodata Penulis Anis Widjiyanti is a teacher in SMK Negeri 1 Sukabumi. She graduated from Universitas Pendidikan Indonesia in 2002 and have been teaching since her 3rd semester of her teacher training. She is interested in developing teaching methodology which connect English to real issues in teenage life. She can be contacted through email [email protected] 18
Penerapan Modifikasi Metode “Running Dictation” untuk Keterampilan Writing dalam Pembelajaran Teks Naratif di Kelas XII SMA Negeri 2 Majalaya Atin Supartini SMA Negeri 2 Majalaya Pendahuluan Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah Indonesia, sebagai bahasa asing, kesulitan dalam menerapkan pembelajarannya terkait berbagai hambatan, diantaranya yaitu kosakata, srtuktur kalimat, grammar dan lainnya. Bahasa Inggris juga termasuk dalam enam mata pelajaran yang diujikan secara nasional pada tingkat SMA. Pembelajaran Bahasa Inggris dalam Kurikulum KTSP 2006, mengharuskan siswa untuk menguasai 4 keterampilan, yaitu keterampilan listening, speaking, reading, dan writing. Penulis berpendapat bahwa banyak metode yang bisa diterapkan dalam pembelajaran bahasa Inggris ini. Penerapan model pembelajaran juga didasarkan pada kreatifitas guru, dan kondisi lingkungan. Atas dasar hal tersebut, penulis tertarik untuk menerapkan metode ”running dictation” dengan sedikit modifikasi. Pelaksanaan pembelajaran yang merupakan modifikasi dari metode running dictation ini diselenggarakan di SMAN 2 Majalaya kelas XII di tempat penulis mengajar pada anak tingkat tersebut. Populasinya adalah siswa-siswi kelas XII IPA sebanyak 5 kelas, yaitu sejumlah 202 orang siswa. Metode ini diterapkan karena pada kurikulum KTSP 2006, narrative text diajarkan dalam tiga tingkatan yaitu kelas X, XI dan untuk kelas XII diselenggarakan dalam dua semester, hal ini bisa mengakibatkan siswa merasa jenuh dengan model pembelajaran yang didapatkan di kelas sebelumnya. Selain itu, pengajar pun akan merasa jenuh. Berdasarkan hal tersebut, penulis mencoba untuk menerapkan modifikasi metode running dictation di kelas penulis sendiri. Menulis Keterampilan menulis merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Banyak ahli telah mengemukakan pengertian menulis, diantaranya menurut pendapat Saleh Abbas (2006: 125), “keterampilan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui bahasa tulis. Ketepatan pengungkapan gagasan harus didukung dengan ketepatan bahasa yang digunakan, kosakata dan gramatikal dan penggunaan ejaan”. 19
Running Dictation Running dictation adalah sebuah model dimana guru memilih sebuah teks atau dialog pendek dan membuat sejumlah salinan yang kemudian diletakkan pada dinding kelas. Siswa baik secara berpasangan maupun dalam kelompok kecil berjalan (atau berlari) untuk membaca teks yang tertempel pada dinding. Mereka mengingat sejumlah teks kemudian kembali ke kelompok masing-masing. Secara perlahan mereka mendiktekan apa yang mereka ingat kepada rekan di kelompoknya, rekannya tersebut menuliskan apa yang mereka dengar. Kemudian mereka bertukar peran. Setelah beberapa kali bertukar peran, mereka diminta membangun seluruh teks yang sesuai dengan yang ditempel pada dinding. Artinya bahwa mereka harus mengulangi tahap tersebut berkali-kali (bolak-balik) karena siswa hanya bisa mengingat 3 atau 4 kata yang mereka baca. Narrative Text Definisi teks narasi adalah cerita imajinatif yang bertujuan untuk menghibur pembaca. Generic Structure Orientation : bagian pembuka yang berisi pengenalan tokoh, tempat, dan waktu terjadinya cerita (siapa atau apa, kapan dan dimana) Complication : permasalahan muncul/mulai terjadi dan berkembang Resolution : masalah selesai (secara baik \"happy ending\" ataupun buruk \"bad ending”) Coda : Tidak semua teks naratif memiliki coda. Coda adalah bagian terakhir yang berisi perubahan yang terjadi pada tokoh dan pelajaran yang dapat dipetik dari cerita tersebut. Grammar Grammar atau tata bahasa yang sering muncul dalam teks naratif adalah bentuk kalimat lampau (past), baik simple, past perfect, past continuous, past perfect continuous, atau past future continuous. Selain itu sering juga ditemukan action verb dalam bentuk past tense. Jenis-jenis Tipe Belajar Individu Sejalan dengan hal tersebut, DePetter dan Hearchi (2003), mendeskripsikan ciri-ciri tipe belajar seseorang sebagai berikut: 1. Tipe Visual: orang visual akan lebih memahami melalui apa yang mereka lihat. Warna, hubungan ruang, potret mental dan gambar menonjol dalam modalitas ini. 2. Tipe Auditori: orang dengan tipe ini akan lebih memahami sesuatu melalui apa yang mereka dengar. Modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata. Musik, irama, dialog internal dan suara. 3. Tipe Kinestetik: orang dengan tipe kinestetik belajar malalui gerak, emosi dan sentuhan. Modalitas ini mengakses pada gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik. 20
Implementasi di kelas Sebuah metode dari cara belajar bahasa Inggris yang menyenangkan yaitu melalui running dictation. Selain kognitif, psikomotor siswa juga terlatih melalui kegiatan ini. Kegiatan ini bertujuan selain untuk membuat siswa fun, juga bertujuan antara lain untuk: 1. Melatih siswa mengingat kosakata maupun kalimat; 2. Menuliskan kembali kosakata maupun kalimat tersebut dengan benar; 3. Menyusun kata/kalimat acak menjadi kalimat/paragraf yang padu. Tahap implementasi running dictation yang penulis laksanakan yaitu sebagai berikut: 1. Penulis menyiapkan delapan teks naratif yang berbeda (tidak masalah jika panjang teks berbeda). Toleransi diberikan pada masing-masing kelompok nantinya. Kegiatan ini bisa dilaksanakan untuk 2 jam pelajaran dengan durasi 1x45 menit per jam pelajaran. 2. Penulis membagi siswa (disesuaikan dengan jumlah siswa). Penulis membagi siswa dengan berhitung, yang pertama berhitung adalah siswa satu sampai delapan, sehubungan ada 40 siswa di kelas yang penulis ajar. Selanjutnya siswa bergabung dengan kelompoknya sesuai dengan hitungan. Dan diperoleh delapan kelompok, kemudian kita persilahkan tiap kelompok untuk duduk sesuai dengan keinginan mereka. Lalu tempelkan teks dengan memperhatikan jarak kelompok dengan teks yang ditempel. Hindari penempelan yang terlalu dekat. 3. Penulis meminta setiap kelompok untuk menyediakan selembar kertas yang bertuliskan nama kelompok dan anggotanya, selanjutnya membacakan aturan bermain sebagai berikut: Siswa secara bergantian menuju teks yang ditempel di dinding dan menuliskan apa yang diingatnya ke dalam selembar kertas yang telah disediakan. Siswa tidak mencatat atau membawa kertas mendekat ke teks. 21
Hanya satu orang siswa yang berada di depan teks, dan bisa diganti secara bergiliran sampai seluruh teks selesai dicatat oleh masing-masing siswa. Siswa di persilahkan untuk bolak-balik baik secara bergantian dengan berjalan ataupun berlari. 4. Selanjutnya siswa langsung melakukan kegiatan saat penulis mengucap kata “mulai”. Beberapa dokumentasi kegiatan pelaksanaan running dictation: 22
5. Kelompok yang telah selesai, teks kemudian dicabut oleh penulis dan memberikannya kepada kelompok yang sudah selesai tersebut. Kemudian, secara bersama-sama dalam kelompok tersebut memeriksa sejumlah kata yang terlewat ataupun yang salah dalam penulisan. Setiap kesalahan ditandai dengan memberi tanda bulat pada kata tersebut. 6. Siswa dalam kelompok menghitung jumlah kesalahannya. 7. Selanjutnya siswa menganalisis teks yang diperolehnya, mulai dari generik structure sampai dengan ciri kebahasaan teks. Demikian kegiatan pelaksanaan running dictation yang penulis modifikasi, untuk memberikan pembelajaran yang menyenangkan. Kesimpulan Meskipun para pengajar kelas XII dituntut untuk menjadikan siswanya mendapat nilai 5,5 dari rata-rata Ujian Nasional, namun tidak ada salahnya bagi guru kelas XII untuk memberikan pembelajaran yang menyenangkan yang bisa dikenang oleh para siswa sebagai pengalaman yang tak terlupakan. Melalui kreatifitas, masing-masing pengajar dapat memodifikasi model-model yang sudah ada menjadi model yang nyaman baik itu untuk pengajar itu sendiri maupun bagi para siswa. Maka dari itu, penerapan modifikasi model running dictation perlu untuk diterapkan di kelas-kelas pembelajaran bahasa Inggris, dan jangan pernah ragu untuk mencobanya. 23
Daftar Pustaka Alimudin, Yulia. (2009). Pembelajaran Menulis. Diunduh pada 28 Agustus 2016. [Online]. http://pembelajaranmenulis.blogspot.com/. K, Indra. (tanpa tahun). Running Dictation Strategy. Diunduh pada 28 Agustus 2016. [Online]. http://www.proenglishteacher.com/2015/04/strategi- running-dictation-untuk.html. Solikhah, Ani. (2013). Keterampilan Menulis. Diunduh pada 28 Agustus 2016. [Online]. http://anisolikhah.blogspot.co.id/2013/11/keterampilan-menulis.html. Sunarti & Anggraini, D. (2009). Keterampilan Berbahasa Indonesia: Bahan Ajar Mata Kuliah Bahasa Indonesia 3. Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta. Diunduh pada 28 Agustus 2016. Syandres. (2013). Mengenal Tipe Belajarmu; Visual, Auditori atau Kinestetik. Diunduh pada 28 Agustus 2016.[Online]. https://sandurezu.wordpress.com/2013/02/05/mengenal-tipe-belajarmu- visual-auditori-atau-kinestetik/. Tanpa nama. (2010). Pembelajaran Menulis Bab II. Diunduh pada 28 Agustus2016. [Online]. http://senandungpena.blogspot.com/2010/07/pembelajaran-menulis-part- ii.html#.UsKCsoXMfIU. Tanpa nama. (2018). Narrative Text - Full Materi & Contoh 2018. Diunduh pada 28 Agustus 2016. [Online] http://www.englishindo.com/2015/09/narrative-text-materi-contoh- terlengkap.html#ixzz4IQSi9Wa1 Biodata Penulis Penulis merupakan pengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di SMA Negeri 2 Majalaya. Pengalaman yang mengesankan yang pernah penulis alami adalah saat bergabung dalam Teacher Development Program yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung bekerja sama dengan KEA (Knowledge Exchange Australia) yaitu study banding pendidikan di Adelaide ibu kota South Australia selama 3 minggu. Membaca merupakan hal yang menjadi prioritas penulis. Alamat korespondensi penulis bisa dilakukan melalui [email protected] 24
Feel Good Exercise, Upaya Peningkatan Kualitas Karakter Siswa melalui Personal Branding. Cicin Kuraesin SMAN Tanjungsari, Sumedang Pendahuluan Mampu menghadapi segala kemungkinan, terbuka akan perubahan, mampu bekerja sama, jujur, bertanggung jawab, dan saling menghormati adalah karakter-karakter yang diharapkan dapat dimiliki siswa melalui penerapan Kurikulum Nasional. Hal ini tercantum dalam kompetensi inti dan kompetensi dasar tingkat SMA yang tidak hanya menitikberatkan pada penguasaan kognitif yang ditandai dengan ketuntasan belajar, tetapi juga adanya penilaian karakter selama proses pembelajaran sehingga ungkapan proses tidak akan mengkhianati hasil adalah sebuah kemutlakan. Maka, seorang siswa tidak serta-merta mendapatkan hasil penilaian di akhir yang baik tanpa disertai hasil evaluasi dan refleksi selama proses pembelajaran yang baik pula. Penilaian proses dan kinerja akan memberikan sketsa sederhana terkait dengan kegiatan yang dilakukan, tidak hanya kepada siswa, guru, dan pihak sekolah yang terlibat saat proses pembelajaran berlangsung, tetapi juga kepada orang tua sebagai bagian dari pemamngku kepentingan yang secara tidak langsung bersinggungan dengan kegiatan pembelajaran dan mengharapkan hasil yang terbaik. Orang tua tentunya menginginkan gambaran yang jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam keseharian anaknya selama proses pembelajaran berlangsung. Metode dan teknik pembelajaran sebagai gambaran spesifik atas cara yang akan dilakukan selama proses pembelajaran di kelas perlu dipilih secara selektif agar siswa, guru, sekolah, orang tua, keluarga, masyarakat, dan bangsa secara luas dapat merasakan dampak positif yang dihasilkan. Salah satu metode yang cukup berhasil diterapkan di sekolah kami adalah metode Feels Good Exercise yang merupakan penyederhanaan dari konsep personal branding yang diterapkan di dunia pemasaran untuk meningkatkan kinerja dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Hal ini dapat terjadi karena setiap individu merasa dirinya istimewa dan dihargai oleh sesama yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa percaya diri pada individu yang bersangkutan, serta rasa hormat dan jujur dari rekan kerja, dalam hal ini adalah antara siswa dan temannya. Implementasi di Kelas 1. Positive Personal Branding Personal Branding yang dimaksudkan di pembelajaran ini adalah positive personal branding, jadi siswa tidak diperbolehkan mencela atau menghina tampilan fisik, sikap, prestasi, dan barang yang dimiliki temannya. 25
2. Skema Feels Good Exercise Metode ini disebut feels good exercise karena siswa yang bersangkutan dan teman-teman di sekitarnya dapat mendapatkan efek feel better about themselves and also others around them. Dengan peralatan yang sangat sederhana, yakni pulpen, selotip, dan kertas, siswa dapat mengenali kelebihan temannya, baik secara fisik, sikap, emosional, maupun dari segi kepemilikan barang yang mereka miliki. Penulis menerapkan metode ini pada pembelajaran complimenting and congratulating di kelas X semester I tahun ajaran 2017/2018 yang berjumlah 35 orang siswa dan dilakukan dalam satu siklus. Sebelum melakukan aktivitas yang dimaksud, siswa terlebih dahulu diberi penjelasan singkat tentang fungsi ungkapan complimenting and congratulating, yaitu untuk memuji physical apprearance, behavior, achievement, dan things, serta struktur ungkapan yang lazim digunakan, seperti a. What a great haircut! b. You are so kind and helpful. c. I heard you’ve won the story telling competition, congratulations! d. I like your watch. It looks cool on you. Hal yang ditekankan pada kegiatan ini, selain akurasi ungkapan, adalah kejujuran, di mana siswa dianjurkan untuk memuji atau memberi selamat terkait hal yang mereka rasakan terhadap temannya. Sebagai ilustrasi, jika ia tidak menyukai tampilan fisik temannya, ia masih bisa memuji temannya dari sikap, prestasi, atau benda dan barang yang dimiliki temannya. 3. Langkah-langkah Kegiatan a. Setiap siswa ditempeli kertas yang berisi nama di punggungnya. b. Siswa diminta untuk menuliskan pujian atau ucapan selamat kepada 10 teman menggunakan pulpen selama 15 s.d. 20 menit. c. Guru berperan sebagai fasilitator untuk membantu siswa yang merasa kesulitan menemukan kata yang dimaksud untuk memuji atau memberi selamat. d. Di akhir pembelajaran, satu per satu siswa membacakan salah satu pujian yang sangat ia sukai dan berterima kasih kepada teman- temannya atas pujian yang ia terima. e. Kertas pujian yang telah diterima siswa boleh dibawa pulang oleh siswa, tetapi siswa harus memfotokopinya untuk guru sehingga siswa dapat menyimpan dokumen asli dan guru mendapatkan duplikatnya. Sebagai catatan, siswa tidak diperbolehkan meminta pujian dari temannya agar pujian diberikan secara jujur dan sukarela. Siswa yang 26
mendapat pujian pada kertas di punggungnya tidak diperbolehkan melihat siapa yang memuji dan isi pujian yang diberikan temannya sampai aktivitas tersebut selesai dilaksanakan. Guru harus jeli melihat siswa sehingga jika ada siswa yang belum mendapatkan pujian, guru harus bertindak dengan cara mengingatkan temannya untuk memberikan pujian secara jujur dan objektif. Hasil kegiatan menunjukkan 40,2% siswa memuji tampilan fisik temannya, 39,4% memuji sikap temannya, 15,4% memuji prestasi yang diraih temannya, dan 5% memuji barang yang dimiliki temannya. Kemudian, terkait pujian yang dipilih siswa untuk dibacakan, 40% siswa membaca pujian tampilan fisik, 34% siswa membaca pujian sikap, dan 26% siswa membaca pujian prestasi yang diraih. Dari segi jumlah pujian, 1 siswa mendapatkan 3 pujian, 1 siswa mendapatkan 4 pujian, 6 siswa mendapatkan 5 pujian, 3 siswa mendapatkan 6 pujian, 11 siswa mendapatkan 7 pujian, 9 siswa mendapatkan 8 pujian, 3 siswa mendapatkan 9 pujian, dan 1 siswa mendapatkan 10 pujian. Dari data tersebut, kita dapat menarik simpulan bahwa siswa di kelas X umumnya lebih nyaman memuji dan dipuji tampilan fisik, serta rata- rata siswa mendapatkan 7 pujian. Kemudian, untuk memastikan apakah target pembentukan positive personal branding pada siswa tercapai atau tidak, guru bertanya kepada siswa secara umum tentang kualitas peningkatan citra yang mereka miliki terhadap diri sendiri dibandingkan dengan sebelum aktivitas dilakukan. Hasilnya, 34 siswa atau sekitar 97% mengatakan lebih meningkat citra dirinya dan 1 siswa atau 3% mengatakan biasa saja. Sebagai penutup pembelajaran, guru menekankan pentingnya keistimewaan yang dimiliki oleh setiap siswa yang menjadikan mereka sehingga mereka patut percaya diri dengan segala kekurangan dan kelebihannya, because everybody is special. Begitupun teman-temannya yang diharapkan selalu mampu memfokuskan interaksi positif dengan cara saling menghargai. Berdasarkan kesaksian siswa, mereka bangga menyimpan kertas pujiannya di bukunya, bahkan ada yang memajangnya di kamar sebagai penyemangat setiap kali mereka bangun di pagi hari atau ketika sedang mengalami bad mood. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini telah memberikan kontribusi positif kepada siswa dalam mengenali dan membentuk personal branding yang mereka miliki. Secara umum kegiatan ini tidak hanya berdampak pada pencapaian siswa, tetapi juga memberikan bukti fisik perihal kinerja siswa di kelas kepada pihak luar (orang tua dan anggota keluarga yang lain) yang tidak terlibat secara langsung saat proses pembelajaran berlangsung. Variasi Kegiatan Kegiatan ini dapat divariasikan terkait jumlah teman yang diberikan pujian, alat tulis yang dipakai, misalnya memakai spidol, atau jumlah pujian yang akan dibacakan. 27
Daftar Pustaka DeMers, J. (2014). 5 Steps to Building a Personal Branding (and Why You Need One). [Online]. Diakses dari https://www.inc.com/jayson- demers/5-steps-to-building-a-personal-brand-and-why-you-need- one.html Peace Corps. (2013). Feels Good Exercise. Biodata Penulis Cicin Kuraesin adalah seorang ibu dari 2 orang putra dan 2 putri. Ia juga seorang guru bahasa Inggris di SMAN Tanjungsari, Sumedang (2009-sekarang). Sebelumnya pernah mengajar di SDN Lembang VII, Al- Azhar Parahyangan Satya International School, SMA Nusantara Bandung, UIN Sunan Gunung Djati, STMIK PKN LPKIA, serta beberapa lembaga kursus bahasa Inggris di Bandung dan sekitarnya. Selama bertugas sebagai Peace Corps USA Volunteer CounterPart Teacher, ia pernah menyelenggarakan beberapa kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan guru-guru bahasa Inggris di daerah sekitar, seperti mengadakan workshop bahasa Inggris dan English Camp IGlow untuk siswa-siswa SMA di Sumedang. Travelling adalah hobi penulis. Penulis dapat dihubungi melalui surel [email protected] 28
Pemanfaatan “Powtoon” untuk Pengajaran Comparison Corry Caromawati Institut Teknologi Nasional Pendahuluan Tata bahasa atau grammar selalu menjadi momok bagi mahasiswa yang mengambil kelas bahasa Inggris. Akan tetapi, tidak dapat dimungkiri bahwa pengajaran grammar sangat penting disamping kosakata (vocabulary), karena apabila vocabulary diibaratkan batu bata, maka grammar adalah semen yang merekatkannya (Chapelle &Jamieson, 2008). Sayangnya, pengajaran grammar sering kali ditekankan pada struktur- nya saja sehingga mahasiswa tidak dapat melihat pentingnya fitur-fitur grammar tersebut bagi mereka. Alhasil, pengajaran grammar hanya identik dengan peningkatan explicit knowledge mahasiswa, bukan implicit knowledge (Hulstijn & Graaff, 1994). Oleh karena itu, pengajaran grammar perlu dilakukan secara terintegrasi dengan keterampilan bahasa (skills) yang salah satunya adalah aspek berbicara (speaking). Selain pentingnya integrasi grammar dan skills, konten adalah hal penting lain yang sering dilupakan dosen bahasa Inggris. Padahal, konten berfungsi untuk membantu pengajaran grammar menjadi lebih meaning-focus (Batstone & Ellis, 2009). Karena tidak terkaitnya form dan meaning ini, maka pengajaran bahasa Inggris seolah-olah jauh dari sasaran Language Use Domain (TLU) mahasiswa. Mengaitkan language feature, dalam hal ini grammar, dengan konten yang familiar bagi mahasiswa akan membuat level authenticity pembelajaran bahasa Inggris tinggi sehingga mereka akan mampu mempersonalkan (personalize) grammar point yang kita ajarkan. Dengan demikian, kita sebagai pengajar akan membuat situasi dimana anak didik kita memiliki instrumental motivation, yakni motivasi belajar bahasa Inggris untuk kebutuhan profesional mereka kelak. Seperti yang kita ketahui, motivasi adalah salah satu faktor pendukung language acquisition (Ellis, 2008). Project ini dilakukan di jurusan arsitektur di Institut Teknologi Nasional, Bandung. Di kampus kami, mahasiswa yang mengambil kelas bahasa Inggris 1 adalah mereka yang berada di level pemula. Itulah sebabnya, pengajaran grammar dirasa perlu, namun pada saat bersamaan, mereka juga perlu meningkatkan language skills mereka. Kelas yang saya pillih ini dihadiri oleh 45 mahasiswa. Melihat jumlah mahasiswa yang ada, masalah yang kami hadapi selanjutnya adalah kesulitan untuk meminta mereka melatih speaking mereka, menilainya, kemudian memberikan constructive feedback, sangat sulit dilakukan. Itulah sebabnya, pemanfaatan teknologi (ICT) perlu dilakukan demi meningkatkan practicality (Chapelle, 2001). Pemilihan Powtoon berdasar pada akses yang tidak berbayar dan fitur yang memungkinkan mahasiswa untuk berkreasi dengan menggunakan 29
animasi-animasi yang tersedia di Powtoon, merekam suara mereka, kemudian mengunggahnya ke media sosial lain seperti Facebook dan Youtube. Akan tetapi, di project ini, Youtube dipilih karena dosen dan mahasiswa lain dapat mengakses dengan mudah dan meninggalkan komen sebagai masukan pada karya yang diunggah tersebut. Di project ini, Grammar point yang sedang dibahas adalah comparative dan superlative. Kemampuan membandingkan dan mengkontraskan dua hal atau lebih merupakan salah satu kemampuan penting yang perlu dimiliki mahasiswa sesuai dengan knowledge framework (Mohan, 2007). Implementasi di Kelas Dosen menjelaskan mengenai form dan function dari comparative dan superlative form untuk membandingkan (comparing) and membedakan (contrasting). Contoh: She is taller than her sister. The yellow bag is more expensive than the red one. The food in this restaurant is better than that of in that restaurant. She is the tallest person in class. That is the most expensive bag I have ever known. The food in this restaurant is the best in town. Mahasiswa diminta untuk membuat kalimat sederhana kontennya membandingkan dan membedakan dua hal atau lebih. Beberapa dari mahasiswa diminta untuk menuliskan kalimat yang mereka buat di papan tulis untuk selanjutnya dibahas keakuratannya. Mahasiswa dibagi dalam kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang. Tiap kelompok diminta untuk menentukan satu topik yang berhubungan dengan bidang arsitektur termasuk bangunan, bahan bangunan, atau desain interior. Di topik yang mereka pilih, mereka harus membicarakan tiga hal atau lebih untuk dibandingkan. Informasikan kepada mahasiswa bahwa di dalam Powtoon mereka nanti harus terdiri dari susunan sisi sebagai berikut: - Memperkenalkan diri dan memperkenalkan topik. - Mendeskripsikan hal-hal yang mereka pilih dengan didukung fakta- fakta. - Membandingkan dan membedakan hal-hal yang mereka pilih. Selain itu, dosen juga menyampaikan bahwa hasil karya mereka akan dinilai dengan beberapa kriteria, yaitu keakuratan grammar (terutama comparative dan superlative), susunan penyampaian konten (sesuai yang dijelaskan di atas), dan cara pengucapan mereka. Dosen membagikan tautan untuk mengakses file pada Google sheet guna diisi mahasiswa mengenai topik yang mereka pilih (lihat gambar 1). 30
Gambar 1.penampilan file pada Google Sheet Dosen meminta mahasiswa untuk menjelaskan konten dari topik yang mereka pilih untuk memastikan adanya pembandingan dan pembedaan pada Powtoon yang akan mereka sampaikan nantinya. Setelah semua topik sudah dianggap on-track, dosen memberikan waktu tiga hari untuk mengumpulkan fakta yang akan digunakan pada Powtoon mereka. Setelah mereka melaporkan hasil riset mereka menyangkut fakta-fakta tersebut, dosen memberikan waktu empat hari untuk mahasiswa menyelesaikan proyek Powtoon mereka. (note: Dalam kurun waktu ini, dosen senantiasa dapat dihubungi untuk mengonsultasikan masalah-masalah yang mahasiswa hadapi). Setelah mahasiswa menyelesaikan proyek mereka, mereka menyertakan tautan proyek mereka di Google sheet yang berisikan topik mereka. Dosen memainkan Powtoon hasil karya mahasiswa di kelas sambil menilai apa yang dijelaskan pada butir 4. Gambar 2 Contoh Powtoon hasil karya mahasiswa Arsitektur https://www.youtube.com/watch?v=jIrsHiV6R1Y&feature=youtu.be Sebagai contoh (lihat Gambar 2), dua mahasiswa memilih topik “the biggest stadium”. Di dalam Powtoon mereka, mereka memperkenalkan tiga stadium, memberikan informasi kapasitas setiap stadium, kemudian membandingkan dan membedakannya. 31
Setelah penilaian, dosen memberikan feedback pada mahasiswa mengenai performa mereka yang meliputi apa yang disebutkan pada butir 4. Contoh, penggunaan the bigger stadium yang seharusnya the biggest stadium, etc. Variasi Kegiatan - Topik dapat diganti disesuaikan bidang mahasiswa. - Penggunaan Powtoon dapat diganti dengan Movie Maker atau Voice Thread. - Feedback dapat digunakan untuk merevisi Powtoon mereka. Daftar Pustaka Batstone, R., & Ellis, R. (2009). Principled grammar teaching. System,37(2), 194-204. Chapelle, C. (2001). Computer applications in second language acquisition. Cambridge University Press. Chapelle, C. A., & Jamieson, J. (2008). Tips for teaching with CALL. White Plains, NY: Pearson Education. Ellis, R. (2008). The study of second language acquisition. Oxford University. Hulstijn, J. H., & Graaff, R. D. (1994). Under what conditions does explicit knowledge of a second language facilitate the acquisition of implicit knowledge? A research proposal. Aila Review, 11, 97-112. Mohan, B. A. (2007). Knowledge structures in social practices. In International handbook of English language teaching (pp. 303-315). Springer US. Biodata Penulis Corry Caromawati adalah seorang dosen bahasa Inggris di Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung. Selain sebagai dosen, saat ini penulis juga menduduki posisi sebagai kepala bagian Kantor Urusan International (KUI). Penulis meraih gelar master of arts di bidang applied linguistics dengan spesialisasi Computer-Assisted Language Learning (CALL) di Iowa State University, Iowa, USA. Beberapa tulisan ilmiah yang diterbitkan berjudul “An Online Teacher Development in CALL Material Evaluation (Teachers’ Knowledge and Attitudes towards Technology)”; Vowel Contrast Production of Indonesian Learners of English, Corpus of Misunderstandings from the Asian Corpus of English (Website Review). Beberapa CALL projects yang telah dihasilkan adalah New Media Teaching Plans, Speaking Test for Architecture Students, dan CALL Projects for Architecture Students. Penulis dapat dihubungi melalui email : [email protected] 32
Tingkatkan Motivasi Siswa Melalui Game Day Dadan Bandung Independent School Pendahuluan Kata motivasi dalam KBBI daring didefinisikan sebagai 1. dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu; 2. usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Motivasi merupakan sebuah hal yang penting dalam pembelajaran bahasa, karena bagi sebagian siswa, belajar bahasa asing memberikan tantangan tersendiri sehingga dibutuhkan kreativitas dari guru untuk menumbuhkan motivasi di dalam diri mereka. Selain membutuhkan kreativitas dari guru, beberapa kondisi yang ditemukan di dalam kelas bahasa asing pun ikut berperan terhadap rendahnya motivasi siswa. Seperti kita ketahui, pembelajaran bahasa asing kebanyakan masih terbatas pada bagaimana bahasa digunakan dalam konteks kelas dan tidak dihubungkan dengan kehidupan atau kebutuhan siswa. Penekanan kegiatan pembelajaran pun hanya mencakup memahami bacaan dan menjawab pertanyaan atau tata bahasa saja. Hal tersebutlah yang kemudian menyebabkan adanya persepsi bahwa bahasa asing adalah mata pelajaran yang sukar dipelajari dan lain-lain. Language learning is hard work ... Effort is required at every moment and must be maintained over a long period of time. Games help and encourage many learners to sustain their interest and work.' (Wright, Betteridge and Buckby: 1984). Senada dengan yang diungkapkan oleh Wringt dkk, permainan menjadi salah satu media yang dapat digunakan oleh guru dalam meningkatkan motivasi siswa mempelajari bahasa asing. Permainan tidak hanya memberikan nuansa fun, interaktif, dan kompetitif tetapi juga mengandung unsur pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berbahasa yaitu berbicara, menulis, membaca, dan menyimak. Dapat dikatakan bahwa permainan bisa dijadikan sebagai media yang merangsang motivasi siswa dalam belajar bahasa. Berikut adalah keuntungan penggunaan metode permainan dalam kelas bahasa yang dirangkum dari berbagai sumber, yaitu: menarik perhatian siswa, belajar tetapi dengan cara yang menyenangkan, melibatkan siswa secara aktif, dapat digunakan untuk mengulang pelajaran sebelumnya, meningkatkan jumlah kosakata siswa, kegiatan yang menantang sekaligus menyenangkan, permainan menjadi sarana ‘istirahat’ dari kegiatan rutin pembelajaran bahasa, implementasi penggunaan bahasa yang meliputi berbicara, menulis, menyimak dan membaca; adanya kesempatan siswa berinteraksi dengan siswa lainnya, semua siswa bisa ikut terlibat bahkan termasuk siswa yang 33
pemalu, melibatkan partisipasi yang setara antara siswa yang cepat dan lambat belajar bahasa asing. Berdasarkan latar belakang di atas penulis akan mencoba untuk berbagi pengalaman tentang penggunaan permainan di kelas Bahasa Indonesia di tempat penulis mengajar. Di kelas Bahasa Indonesia Bandung Independent School, Game Day merupakan hal yang dinantikan oleh siswa setiap minggunya. Hari Jumat didedikasikan sebagai Game Day (untuk siswa kelas 9/10), sedangkan untuk siswa kelas 11/12, dilakukan setiap hari Senin. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut dibutuhkan usaha dari guru dalam menyajikan permainan yang menarik sehingga sesi permainan menjadi saat yang ditunggu oleh siswa setiap minggunya. Hal tersebut memberikan tantangan tersendiri bagi guru untuk selalu mencari permainan yang diharapkan dapat menjaga motivasi siswa dalam belajar bahasa, interaktif dan sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Oleh karena itu, dengan semakin banyaknya variasi permainan, diharapkan mampu mengakomodasi kemampuan dan kebutuhan siswa yang beragam. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai penerapan permainan di kelas Bahasa Indonesia Bandung Independent School. Implementasi di Kelas 1. Pemilihan permainan Dalam memilih permainan, diperlukan beberapa pertimbangan yang mencakup jumlah siswa yang ada di kelas, tingkat keragaman kemampuan siswa, waktu yang tersedia, materi dan peralatan yang diperlukan, dan lain- lain. Perlu dicatat bahwa permainan tidak hanya sekadar kegiatan yang menyenangkan, tetapi juga merupakan sebuah kompetisi. Permainan yang dipilih harus bisa melibatkan seluruh siswa secara aktif, tidak hanya siswa yang sudah mahir berbahasa, tetapi juga siswa yang berada di tingkat pemula. Sebagai contoh: Permainan menebak kata berdasarkan gambar tidak memerlukan persiapan yang lama. Semua siswa bisa mengikuti permainan ini. Guru hanya perlu menyusun daftar kosakata yang dipelajari sebelumnya, membagi siswa secara berpasangan atau berkelompok, papan tulis kecil, board marker dan penghapus (bisa menggunakan tisu). 2. Durasi Durasi Game Day biasanya berkisar antara 10-15 menit, namun tergantung pula pada jenis permainan yang dipilih. 3.’Hukuman’ Sebagai hukuman bagi siswa atau kelompok siswa yang kalah mereka harus membawa makanan yang nominalnya dibatasi maksimal Rp10.000,00. Makanan tersebut harus dibawa pada hari Jumat berikutnya dan dinikmati bersama oleh seluruh siswa di kelas. 4. Individu/ kelompok Permainan bisa dilakukan secara individu atau kelompok tergantung pada jenis permainan dan keragaman kemampuan siswa. Contoh permainan yang dilakukan secara individu adalah First Letter- Last Letter (permainan kata: siswa menyebutkan kata dari huruf terakhir- kata yang disebutkan sebelumnya. Misal: Ikan - Nanas - Sepatu - Uang dan selanjutnya. (http://www.eslcafe.com/idea/index.cgi?display:913501734-8336.txt). Contoh 34
permainan yang bisa dilakukan secara berkelompok adalah Charades. Satu siswa dari satu kelompok akan memperagakan kata yang diberikan oleh guru. (https://www.thegamegal.com/2011/10/19/charades-word-list/). 5. Ide Permainan Materi untuk permainan bisa didapatkan secara mudah di internet. Namun, guru perlu menyesuaikannya dengan materi yang sedang dipelajari siswa. Salah satu situs yang banyak menyajikan permainan bagi kelas bahasa adalah http://www.eslcafe.com. Beragam ide permainan disajikan secara berkelompok sesuai target keahlian contohnya berbicara, menulis, menyimak dan membaca. Guru diharapkan memiliki media yang digunakan untuk permainan seperti koin, dadu, kartu bergambar, dan lain-lain. Media tersebut nantinya dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan uraian di atas menggunakan permainan di dalam kegiatan pembelajaran bahasa tidaklah sesulit seperti yang dibayangkan. Apalagi di era digital seperti saat ini, ide, metode, dan lain-lain, semuanya dapat diakses dengan mudah. Selamat mencoba! Daftar Pustaka Wright, Betteridge and Buckby (1984). From 'Games for Language Learning'. Diunduh pada tanggal 12 Agustus 2017. [Daring]. di http://www.teflgames.com/why.html https://kbbi.web.id/motivasi Biodata Penulis Dadan adalah seorang pengajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). Beberapa kali membawakan workshop yang berkaitan dengan metode mengajar di Education Development Project Bandung, Tidal Waves project (Banda Aceh), Dunia Conference Jakarta, Konferensi BIPA Bali dan lain-lain. Penulis dapat dihubungi melalui alamat surel [email protected]. 35
Penggunaan Media Video untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dalam Pemahaman Ungkapan “Complimenting” Dewi Supardini SMA Negeri 7 Bandung Pendahuluan Pembelajaran bahasa Inggris di tingkat SMA berdasarkan silabus Kurikulum 2013 (2016:1) masih berfokus pada peningkatan kompetensi peserta didik untuk mampu menggunakan bahasa tersebut untuk mencapai tujuan komunikasi dalam berbagai konteks, baik lisan maupun tulis dengan pendekatan berbasis teks. Sehingga pembelajarannya mengacu pada fungsi bahasa dan penggunaannya, yang merupakan satu kesatuan makna baik lisan maupun tulis. Teks yang digunakan adalah interpersonal dan teks transacsional, short functional text dan text type(genre). Teks interpersonal adalah ungkapan-ungkapan yang digunakan untuk kenyamanan psikologis (misalnya ungkapan terimakasih, meminta dan memberi maaf, meminta dan memberi persetujuan, memuji dan memberi selamat dll.), teks transacsional adalah ungkapan yang digunakan agar tujuan/hal yang diinginkan dapat terlaksana (misalnya ungkapan meminta dan memberi pendapat, menyatakan suka dan tidak suka, dll.). Terkait dengan teks interpersonal dan transacsional, dalam proses pembelajarannya siswa biasanya hanya membaca contoh ungkapan dan penggunaannya dari daftar ungkapan dan transkrip dialog di buku sumber sehingga konteks atau situasi yang terdapat di dalam dialog tidak mudah dipahami karena berbentuk tulisan narasi. Kemudian siswa mencoba melafalkan ungkapan-ungkapannya sesuai yang dicontohkan guru, dan menyimak penjelasan guru (metode ceramah) tentang fungsi, struktur dan unsur kebahasaan dari ungkapan tersebut. Proses pembelajaran seperti ini membuat siswa bosan dan motivasi untuk mempelajarinya menjadi rendah, akibatnya pemahaman terhadap teks pun menjadi rendah. Berdasarkan hal tersebut, penting kiranya untuk menggunakan metode dan media pembelajaran yang lain yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu teks interpersonal atau transacsional dengan motivasi belajar yang lebih baik. Karena peneliti pun menjumpai masalah yang sama ketika mengajarkan teks interpersonal atau transacsional seperti yang dijelaskan sebelumnya, maka peneliti mencoba menggunakan metode diskusi dan media video ketika mengajarkan ungkapan “complimenting” (ungkapan memuji), yang merupakan salah satu materi pembelajaran yang terdapat di dalam silabus pembelajaran kelas X. Dengan digunakannya metode diskusi dan media video, maka pembelajaran ini menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL). 36
Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) adalah suatu pembelajaran yang berhubungan dengan konteks (suasana) tertentu. Dengan model pembelajaran ini, seperti yang dinyatakan oleh John Dewey (1916), siswa akan belajar dengan baik karena apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Pembelajaran CTL juga meningkatkan ketertarikan siswa untuk belajar dan partisipasi aktif mereka secara keseluruhan. Pembelajaran CTL melibatkan tujuh komponen utama dari pembelajaran produktif (Depdiknas, 2003:5) yaitu: 1. Konstruktivisme (constructivism): setiap individu dapat membuat struktur kognitif/mental berdasarkan pengalaman mereka, maka setiap individu dapat membentuk konsep/ide baru (Ateec, 2000), dalam hal ini guru berfungsi membantu membentuk konsep tersebut melalui metode penemuan (self-discovery), inquiry dsb, sehingga siswa berpartisipasi aktif dalam membentuk ide baru. 2. Bertanya (questioning): suatu strategi untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. 3. Menemukan (inquiry): adalah proses berpikir yang sistematis (Merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis dan membuat kesimpulan) sehingga siswa memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis untuk pembentukan kreativitas siswa. 4. Masyarakat belajar (learning community): hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain (antar siswa/ antar kelompok) (Depdiknas, 2003). 5. Pemodelan (modelling): sebuah keterampilan atau pengetahuan tertentu dengan menggunakan model yang bisa ditiru. Menurut Bandura dan Walters model yang bisa ditiru : Kehidupan yang nyata (real life) misalnya orang tua, guru atau orang lain; simbolik (symbolic) misalnya model yang dipresentasikan secara lisan, tertulis atau lisan; representasi (representation) adalah model yang dipresentasikan dengan menggunakan alat-alat audiovisual (video, tv, radio, dll) 6. Refleksi (reflection) 7. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessmen). Ketujuh komponen utama pembelajaran produktif tersebut dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran ungkapan “complimenting”’ (memuji) di kelas X IPS 2 di SMA Negeri 7 Bandung dalam dua kali pertemuan (4 jam pelajaran) dengan tujuan untuk mengetahui apakah metode diskusi (learning community) dan media video (modelling) dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap penggunaan ungkapan “complimenting” dalam kehidupan sehari-hari dan juga dapat meningkat motivasi siswa untuk mempelajari ungkapan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1. Dalam kegiatan mengamati ketika digunakan media video (video dengan terjemahan/subtitle yang berisi ungkapan “complimenting”) siswa dapat mengidentifikasi ungkapan-ungkapan “complimenting” dan responnya di dalam video tersebut dan menuliskannya di dalam sebuah tabel daftar ungkapan dan respon dengan baik (kerja 37
kelompok). Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang ungkapan tersebut meningkat karena melalui media video siswa dapat mengamati dialog dengan konteks/situasi tertentu, mengamati ekspresi/gesture dari pelaku dialog/aktor dalam video tersebut dengan lebih mudah dibandingkan dengan yang terdapat dalam transkrip dialog. Kemudian melalui metode diskusi siswa dapat memahami fungsi, struktur dan unsur kabahasaan dari ungkapan-ungkapan “complimenting” dan responnya tersebut. 2. Dengan menggunakan media video, siswa merasa lebih termotivasi untuk mempelajari ungkapan “complimenting” karena melalui video mereka dapat meniru, mengikuti, mencontoh dan memahami urutan kejadian atau tindakan, yang akan memudahkan mereka dalam bermain peran (role play) ketika mempraktikkan ungkapan tersebut dalam percakapan. Selain itu media video juga lebih disukai karena terdapat unsur hiburan didalamnya (Canning-Wilson, 2000) dan perbedaan kebudayaan penutur asli bahasa Inggris juga dapat dipelajari dalam video tersebut. Implementasi di Kelas Media video digunakan dalam kegiatan inti pembelajaran pada saat siswa (in pair/in group) mengamati (observasi): 1. Sebuah video yang berisi ungkapan-ungkapan “complimenting” dan responnya. Kemudian siswa meniru pelafalan/pengucapan ungkapan- ungkapan tersebut. Setelah itu siswa mengidentifikasi ungkapan- ungkapan tersebut dan responnya serta menuliskannya di dalam sebuah tabel daftar ungkapan dan respon dengan baik. Setelah itu siswa mendiskusikan hasil pengamatannya dan diberi kesempatan untuk melakukan tanya jawab kemudian mencari informasi lebih lanjut tentang penggunaan ungkapan tersebut dari buku sumber atau yang lainnya. 3. Sebuah video percakapan (conversation) yang berisi ungkapan- ungkapan “complimenting” dan responnya. Siswa mengidentifikasi ungkapan-ungkapan “complimenting” dan responnya yang telah dipelajari sebelumnya pada video pertama. Setelah itu siswa menuliskannya di dalam sebuah tabel daftar ungkapan dan respon dengan baik. Kegiatan tersebut dikerjakan berkelompok (in pair) agar 38
siswa dapat mengidentifikasi ungkapan tersebut dengan lebih mudah. Kemudian siswa mendiskusikan hasil pengamatannya dan diberi kesempatan untuk melakukan tanya jawab dan mencari informasi lebih lanjut tentang penggunaan/fungsi, struktur dan unsur kebahasaan dari ungkapan-ungkapan tersebut dari buku sumber atau yang lainnya. Selanjutnya siswa menyusun teks percakapan (conversation) yang berisi ungkapan “complimenting” dan responnya untuk dipraktikkan dalam role play. Daftar Pustaka Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2016). Silabus mata pelajaran Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/MA/SMK/MAK) mata pelajaran Bahasa Inggris. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Herdian. (2010). Model pembelajaran contextual learning. Diunduh 23 Oktober 2016. [Online]. di http://herdy07.wordpress.com. Biodata Penulis Dewi Supardini adalah seorang guru bahasa Inggris di SMA Negeri 7 Bandung. Pendidikan terakhir S1 Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Bandung. Alamat korespondensi (surel): [email protected] 39
Reviewing A Lesson Can Be Fun Erna Hamidah SMP Negeri 51 Bandung Introduction Szafir and Mutlu (2013) describe reviewing material or lesson as an effective teaching strategy that can augment learning. Pesce (n.d.) mention that review lessons are very important and often a wonderful opportunity to consolidate everything your students have learned. But as a matter of fact, we often find that they are usually very monotonous and teacher dominated whereas good review are not teacher dominated. Rather, they allow students to demonstrate what they learned and what they remember (Henrichsen, Smith, & Baker, 1997). Hence, a review lesson should be students dominated where every students get opportunity to show their learning. I assume that in most Indonesian typical English classroom, including my own seventh grade classroom, we often saw there were only a small number of students who were willing to engage themselves during English learning and even sometimes teacher had to force or even begged them to do our planned activity while the rest of students pulled themselves from the crowd. Seventh grader student whose age are 11 to 12 years old which can be categorized as preadolescence or early adolescence tend to have passionate commitment to things which interest them (Harmer, 2007) and the writer believes that game is one of thing that may become their interest. The game that the writer intended is not a time filler or fun game but it is a game which aimed on learning. Based on that notion, the writer decide to make an attempt to use game based reviewing lesson strategy for class VII-2 of SMPN 51 on asking and giving information material to find out whether it can enhance students' participation and motivation on English learning. Because the desired game on that particular topic is not available, then the writer decide to create it by adapting or modifying it from other game. Implementation Reviewing lesson may take place as starter or closure of the lesson. Here, the writer apply it as the starter. Therefore, it means that students have learned the material on previous meeting and going to be reviewed on the following meeting. The sequences are as follow: 1. State the objective of the activity clearly. Tell students that they are going to have a lesson review on asking and giving information in two term 40
2. Explain the rule of the game (how it will be done). Students play individually, each of them will get a card containing asking for information and giving information. A student who get \"start\" card will begin the game (S1). S1 read the questions then student who get answer template relate to the question (S2) should answer it then S2 pass next question to S3. S3 answer then pass question to S4 continue by S5, S6, S7 until Sn and it will end when the \"end\" word card is found. 3. The tension may increase for student try to figure out \"whose turn is it?\" and how to give complete answer. 4. Reflect on the activity. 5. Ask them whether the activity work well for them and they do like it. Whenever students want to restart the activity, let them do it with a condition the card should be shuffled so on following round each student get another different card. Next round usually come with better time. Variation The activity may begin with this activity as warm up before reviewing lesson activity. Divide the classroom into two division, boys and girls. Boys choose their two representatives and girls do similar activity to choose their representatives. Teacher explains the rule of the game, check rule comprehension and then set the time. For example in 2 minutes each team should collect and match asking for information card with its answer on giving information card, each matched cards earn one point. 41
References Harmer, J. (2007). How to teach English. England: Pearson Education Henrichsen, L., Smith, M.T., & Baker, D.S. (1997). Planning effective lessons for language teaching and learning. Retrieved at October 2016. [Online] from http://linguistics.byu.edu/faculty/henrichsenl/lessonplanning/lp_11 Pesce, C. (n.d.). 8 Top Tips for Giving Your ESL Class a Review Lesson They'll Love. Retrieved at October 2016. [Online] from https://busyteacher.org/14406-how-to-teach-review-lesson-esl-class-8-top- tips.html Szafir, D., & Mutlu, B. (2013). “ARTful: Adaptive Review Technology for Flipped Classroom”. Proceedings of the SIGCHI Conference on Human Factors in Computing Systems (pp. 1001-1010). New York: ACM. Personal Data of Writer Erna Hamidah is an English teacher at SMP Negeri 51 Bandung. She graduated from IAIN Sunan Gunung Djati Bandung in 2002. 42
Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa dalam Mempelajari Teks Deskriptif melalui Teknik Permainan Estafet Stick di Kelas VIII E SMP Negeri 4 Lembang Hendra Sanjaya SMP Negeri 4 Lembang Pendahuluan Saat ini, mata pelajaran bahasa Inggris diarahkan pada pencapaian kompetensi yang tecermin dalam kemampuan siswa untuk melakukan langkah-langkah komunikasi, baik secara lisan maupun tertulis. Salah satu contohnya, pembelajaran berbicara sebaiknya diarahkan pada keterampilan dalam melakukan tindak tutur, fungsi tuturan, dan fungsi bahasa. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu membuka percakapan, mempertahankan percakapan, menutup percakapan, dan sebagainya, yang tentunya didukung oleh struktur dan pola kalimat yang baik. Kita ketahui bersama bahwa dalam pembelajaran bahasa Inggris yang produktif, khususnya pembelajaran berbicara, siswa sulit untuk mengungkapkan dan berekspresi. Kedua hal ini sering menjadi kendala dan membuat siswa menjadi lebih pasif saat berbicara menggunakan bahasa Inggris. Kasus seperti itu pun terjadi pada siswa-siswa kelas VIII E SMP Negeri 4 Lembang yang sebagian besar memilih untuk diam ketika pembelajaran berlangsung. Alasan-alasan yang umum ditemukan di antaranya adalah siswa merasa 1) takut untuk berbicara karena penguasaan kosakata yang kurang, 2) malu apabila berbuat kesalahan, dan 3) tegang karena suasana kelas yang menyebabkan ia tidak mampu mengeluarkan pendapat. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu teknik yang bisa membangkitkan keberanian siswa untuk berbicara, bertanya, dan mengungkapkan idenya sehingga mereka mampu melakukan komunikasi yang benar dan tepat. Estafet Stick merupakan suatu teknik yang dapat digunakan dalam pembelajaran berbicara. Teknik ini memerlukan sebuah stick atau tongkat sebagai media untuk meminta seorang siswa berbicara, menjawab, atau mengeluarkan pendapat. Saat seorang siswa memegang tongkat, guru menunjuk gambar dan memberikan pertanyaan seputar gambar tersebut. Setelah siswa tersebut selesai mendeskripsikan atau menjawab, tongkat akan diberikan kepada siswa lain agar semua siswa mendapatkan giliran berbicara. Van Els (1984) berpendapat bahwa penggunaan media dalam proses pembelajaran umumnya memiliki dua fungsi, yaitu sebagai alat untuk membuat pembelajaran bahasa asing lebih hidup dan sebagai bagian integral 43
dalam proses belajar mengajar. Brown (1983) mengungkapkan bahwa media berfungsi untuk menghemat waktu, menstimulasi minat, mendorong partisipasi siswa, menjadi sarana untuk mengulas, menolong siswa untuk belajar mengomunikasikan idenya, serta membuat kelas menjadi dinamis, relevan, dan menarik. Berdasarkan teori-teori di atas, Estafet Stick dapat membantu mengatasi permasalahan yang sering terjadi di kelas selama proses pembelajaran. Oleh karena ini, teknik ini memungkinkan untuk diterapkan pada pembelajaran berbicara yang menggunakan bahasa Inggris dan membantu siswa untuk bisa berbicara karena pada intinya, siswa dipaksa untuk berbicara. Implementasi di Kelas Persiapan: 1. Siswa diminta untuk membawa tongkat atau benda yang dapat berfungsi menjadi tongkat sebagai media pembelajaran dan kertas warna sebagai kartu. 2. Siswa berdiskusi untuk menentukan nama kelompok sesuai dengan tema deskripsi. 3. Perwakilan dari setiap kelompok maju ke depan kelas untuk mengambil nomor urut dan menuliskan nomor urut tersebut di papan tulis. 44
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105