["LANGKAH KAKI Vanessa Cheria Mardova Aku adalah seorang gadis biasa yang penakut. Setelah kemarin malam aku bermimpi buruk, malam ini aku memaksa kakakku untuk menemaniku tidur. Malam pun tiba, beberapa kali aku terbangun dari tidurku. Kira-kira jam 2 pagi aku bangun karena aku mendengar suara aneh dari luar kamarku. Aku membangunkan kakak dan bertanya padanya, \u201cKak, suara apa itu?\u201d sambil setengah sadar kakak menjawab, katanya dia tidak mendengar suara apa pun. Aku mencoba mendengar suara itu dengan jelas, dan benar itu adalah suara langkah kaki. Aku mendengarnya dengan jelas. Malam itu kusiapkan mental dan kukalahkan rasa takutku. Aku keluar kamar untuk mengecek suara itu. Ternyata benar suara itu berasal dari lemari di luar kamarku. Kukalahkan lagi rasa takutku dan kubuka pintu lemari. Aku terkejut karena dua tikus sedang berlari-lari sedangkan aku ketakukan memikirkannya.","TAKDIR Wijiastutik Rianita Dari bayi hingga menjadi seorang laki-laki dewasa yang mapan, aku selalu menasihati dan membimbingnya dengan baik sesuai caraku. Bagiku dia adalah laki-laki yang cerdas dan patut untuk dicontoh. Saat dia kesusahan dengan pacarnya aku menasihatinya sebagai teman. Saat dia binggung dengan pekerjaannya , aku membimbingnya sebagai rekannya. Saat ku sakit dia merawatku, saat aku binggung dia menolongku. Bagiku dia adalah segalanya. Hingga suatu saat kami jatuh bangkrut karena suamiku dililit hutang. Dia pun tetap semangat untuk bekerja dan membantu ayahnya untuk bangkit dari keterpurukan ini. Meskipun dia memiliki banyak masalah tetapi, dia tidak pernah lupa akan semangatnya itu. Hingga ibu jariku pun masih kurang untuk mengacungi semangatnya itu. Walau keuangan keluargaku terpuruk, aku masih kuat untuk menghadapi hari-hari yang panjang karena ku memiliki dia. Setelah beberapa bulan berlalu, aku pun kehilangan senyum di wajahku. Air mataku pun mengalir deras karena setelah sekian lama aku baru menyadari bahwa putraku terkena penyakit meningitis yang sudah parah dan tidak bisa diselamatkan lagi. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku menangis, binggung, marah dan kecewa terhadap diriku sendiri. Andai ku mengetahui hal ini dari awal, aku pasti bisa menyelamatkannya. Tapi aku percaya bahwa ini adalah takdir yang diberi oleh Sang Maha Kuasa dan aku harus mau menerimanya.","Kelas MIPA 2","SEORANG PENJAGA SUNSET Agustin Maria P.F. Semilir angin membawaku melangkahkan kaki menuju pantai setiap sore. Entah apa yang membuatku melangkahkan kaki ke sana. Sore itu kunikmati dengan bermain di pinggir pantai bersama dengan pasir-pasir halus dan terpaan air laut. Di sore itu juga menjadi pertemuan kita yang pertama kalinya. Tak sengaja kutatap mata indah berwarna coklat itu. Tatapannya yang teduh membuat siapapun yaang melihatnya menjadi tenang dan terpesona. Terutama senyuman manis itu yang membuat siapapun akan berdecak kagum. \\\"Hai, aku Karrel\\\" ucapnya dengan mengulurkan tangannya ke arahku. \\\"Ohh, hai aku Vio,\\\" ucapku sambil membalas uluran tangannya. Setelah kubalas uluran tangan itu, ia menarikku untuk duduk di pinggir pantai melihat indahnya matahari terbenam disertai dengan perpaduan warna langit yang sangat cantik. Tak kusangka sunset itu adalah sunset pertama dan terakhir kalinya yang bisa kulihat bersamanya. Karena, sesaat setelah kita melihatnya bersama engkau berpamitan pulang dan terdengar suara klakson mobil yang sangat kencang. Dengan perasaan yang tak enak, aku mencoba untuk melihat keributan apa yang terjadi. Tubuhku menegang dan tak lama \\\"Karrel,\\\" ucapku saat itu dengan suara lirih dan isak tangis yang tak lagi dapat kubendung.","KUTUB MAGNETIK Aleen Yustio Hari ini adalah hari pertamaku masuk jenjang SMA. Banyak orang beranggapan bahwa SMA adalah masa yang menyenangkan. Aku pun sangat menantikan masa-masa tersebut. Tak terasa waktu terus berjalan dan aku mulai menjalaninya, semuanya berjalan baik dan biasa saja. Hingga suatu saat aku bertemu dengan seseorang yang membuatku luluh saat menatapnya. Parasnya yang indah selalu terbayang dalam pikiranku. Aku pun mulai memberanikan diri tuk mendekatinya. Hari demi hari aku merasa bahwa senyumanmu selalu hinggap dalam pikiranku. Aku pun merasa bahwa kita memiliki hubungan yang spesial. Perhatian yang selalu kau berikan kepadaku memberikan isyarat bahwa engkau juga menantikan hadirku. Semakin hari relasi kita pun semakin dekat bagaikan kutub magnet yang saling melekat dan tak dapat dipisahkan. Hari demi hari kita lalui bersama, rasa pahit dan manisnya suatu hubungan sudah kita lalui. Senyummu selalu membuat hari-hariku selalu bermakna, serta kata-kata manismu bagaikan sebuah melodi lagu yang selalu teringat dalam benakku. Aku pun semakin susah tuk menjauh dari dirimu. Hingga hati kecilku ikut bertanya, apakah aku sudah terlanjur nyaman? Hingga pada akhirnya semua itu sirna. Kini hanya tersisa sebuah kenangan yang susah tuk dilupakan. Jarak diantara kita pun semakin terasa, aku pun semakin bimbang dan tak mengerti maksud dalam pikiranmu. Rasa bosan yang timbul dalam dirimu membuat hubungan spesial ini menjadi berakhir. Kini sebuah kutub magnet mulai saling tolak menolak dan semakin menjauh. Aku pun hanya bisa pasrah dan menerima kenyataan pahit ini. Aku pun mulai tersadar bahwa sudah seharusnya aku ikhlas tuk merelakan dirimu pergi agar engkau tetap bahagia.","DUNIA VIRTUAL Angelica Belinda S. Dunia virtual, dunia yang memiliki kemungkinan kecil untuk bisa jadi di dunia nyata. Dunia virtualku, berawal aku menjadi kpopers, army, kemudian menambah hal baru tentang itu. Pada saat aku menjadi army, banyak hal yang kudapatkan, motivasi, perkumpulan army online, dan masih banyak lagi. Semakin kesini, aku sadar aku telah menyanyangi biasku melewati batas sebagai penggemar. Aku telah menyayangimu secara nyata. Biasku, menurutku dia terlalu baik, sempurna sampai sampai aku menginginkanmu sebagai jodohku. Dan aku siap jika nantinya hatiku akan sakit saat mendengarkan berita tentang kabar dating. Tentang itu, Roleplayer, memerankan karakter. Dunia ini serasa seperti labirin. Bisa masuk dengan gampang, keluar dengan susah. Disini peraturan nya gak boleh sebar tentang kehidupan nyata. Disini juga aku menemukan hal baru yang tidak ada di kehidupan nyataku, seperti abang. Pada saat awal mula bermain roleplayer, aku mencari teman, keluarga di lapak promote roleplayer. Dan gak lama aku menemukan seseorang yang bisa menjadi abang buatku. Awalnya rasanya masih biasa saja, tapi lama kelamaan aku menyanyangi dia seperti abang dan akhirnya juga pikiran negatif selalu menyerangku. Lama kelamaan abang berubah, waktu awal mula chat, dia membalas nya dengan cepat tapi makin kesini dia membalas chatku dengan lambat. Sejak saat itu pikiran negatif menyerangku. Mempertahankan dengan pikiran negative yang terus menyerang susah, berat. Tapi jika aku keluar dari dunia ini, aku akan merasakan hal yang lebih menyakitkan. Lalu bagaimana dengan sekarang? Sekarang aku sedikit lega karena aku sempat cerita ke dia tentang pikiran negatif ku tentang nya. Dan ternyata jujur itu menyakitkan. Tapi dengan jujur aku tau alasan dia membalas chat ku dengan lama. Setelah cerita itu, dia mengenalkanku kepada seseorang yang menurutku baik sekali. Banyak hal yang aku syukuri disini, mulai dari aku menjadi kpopers hidupku lebih tertata dengan adanya motivasi kemudian","aku dipertemukan dengan abang dan seseorang itu. Meskipun ini dunia virtual, tapi perasaanku nyata tidak ada perasaan virtual. Rasa takut akan kehilanganmu pun muncul. Dan pada hari ini, seseorang itu meninggalkan kita selamanya.","SUDAH WAKTUNYA Angeline Chrysalea Yuarta Pada dinginnya malam bersalju, tampak seorang gadis berpakaian lusuh dan tipis. Gadis tersebut berjalan dengan keadaan menggigil dan kelaparan. Ia mencari dan terus mencari kedua orang tua nya tanpa henti dan tanpa menyerah. Karena sudah tak tahan lagi Ia akhirnya pun jatuh tersungkur di tanah yang penuh salju. Di depannya pun nampak seorang pria yang menyelamatkannya dan memeluknya dengan hangat. \u201cSiapakah tuan ?\u201d Tanya gadis kecil itu dengan setengah sadar. \u201cIkutlah aku.\u201d Jawab pria itu. \u201cAku tidak mau,aku harus mencari kedua orang tua ku.\u201d Jawab nya. Pria itu hanya terdiam dan memeluknya tanpa henti. Karena penasaran, gadis itu menatap wajah pria itu dengan matanya yang sayu. Lalu gadis kecil tersebut Kembali menitihkan air mata setelah mengetahui siapa pria tersebut. \u201cSudah waktunya, ikutlah aku..\u201d kata pria itu. Gadis itu hanya mengangguk mengiyakan apa kata pria itu. Kemudian gadis dan pria itu pergi bersama menuju sebuah tempat yang hangat dan penuh cahaya. \u201cTerima kasih banyak .., Tuhan.\u201d Lalu Tuhan mengusap air mata gadis kecil itu dan berkata \u201cSudah jangan menangis, berbahagialah.\u201d Dan akhirnya gadis kecil itu tersenyum dan berlari ke pelukan kedua orang tua nya.","PANDEMI Carolina Novena Rosalia Soliwoa Saat subuh beranjak pagi, jarum jam menunjukkan pukul 05.38. Mentari pun hadir memancarkan kelembutan cahayanya sembari memberikan kehangatan di Kota Bajawa yang masih terdiam. Ketika itu, Vena terbangun dengan tergesa-gesa lantaran masih terngiang dengan mimpi buruk yang baru saja dialami dalam lelapnya. Dalam mimpinya, Vena terjebak dalam kegelisahan oleh karena bumi sedang terserang bencana global yang sangat mematikan. Ketika sudah yakin bahwa ia memiliki kesadaran penuh, Vena beranjak dari kasur lalu membereskan tempat tidur kemudian segera keluar dari kamar. Ia hendak membantu ibunya untuk membereskan rumah. Saat melewati ruang tamu, ia mendengar kebisingan dari televisi. Ternyata ayahnya sedang menonton berita tentang banyaknya korban dari bencana global yang terjadi. Hal ini membuat ia semakin takut akan bayangan terhadap mimpinya tadi. Sembari mencuci perkakas di dapur, Vena terlihat melamun dan mukanya pucat. Tanpa disadari, secara tidak sengaja Vena menjatuhkan salah satu gelas yang kemudian pecah. Mendengar kegaduhan di belakang, ibunya segera pergi ke dapur untuk mengecek apa yang terjadi. Ketika melihat keadaan Vena, ibu menjadi sedikit panik dan segera bertanya kepada Vena, tentang apa yang ia pikirkan. Setelah mendengar cerita dari Vena, sontak ibu tertawa keras dan mencoba meyakini Vena bahwa itu hanyalah mimpi. \u201cBluk\u201d terdengar suara lemparan bola dari adik tepat mengenai kepala Vena. Vena terbangun dari mimpi di siang bolongnya dan tampaknya terlihat murung, karena sebenarnya dunia dan Indonesia sedang dilanda pandemic Covid-19.","HARAPAN YANG SIRNA Christofer Oka W. Pagi hari yang indah kubangun dengan penuh semangat, menatap matahari seakan menunjukan bahwa hari ini akan menjadi hari yang indah dari hari-hari sebelumnya. Kuawali kegiatanku dengan senyuman yang penuh suka cita dan semangat yang membara. Kuberharap hari ini akan menjadi hari yang lebih baik dari hari sebelumnya. Sesaat ku bersiap untuk berangkat ke sekolah, aku merasa ada sesuatu yang aneh, rumah terasa sepi dan hanya ada aku yang didalam rumah tersebut. Kupergi mengelilingi semua bagian rumah untukk mencari kedua orang tuaku dan adikku yang seharusnya sudah sampai rumah kemarin malam setelah pergi untuk menghadiri acara pernikahan teman ayahku. Aku mulai bingung mengapa mereka belum pulang sampai sekarang dan aku selalu bertanya tanya ke diriku \u201cKemana sebenarnya mereka pergi? Bukankah seharusnya mereka sudah pulang?\u201d Aku selalu memikirkannya sambil bersiap untuk pergi ke sekolah. Terdengar suara mobil yang semakin dekat menuju kerumah dan lalu terdengar suara bel rumah berbunyi, aku sangat senang karena mereka semua akhirnya sudah pulang. Tetapi saat aku membuka pintu rumah tersebut, orang yang ku liihat adalah 2 orang polisi bukan kedua orang tuaku dan adikku. Seketika aku langsung takut karena kedatangan polisi tersebut, lalu aku bertanya \u201cAda yang bisa saya bantu, Pak?\u201d, jawab polisi \u201c Maaf Dik, saya dan teman saya hanya ingin memberi informasi bahwa kedua orang tua dan adiknya habis mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat\u201d Seketika aku terkejut dan langsung menangis, tubuhku merasa lemas setelah mendengar ucapan Pak polisi tersebut. Semangat, keceriaan dan senyuman seketika hilang dan sirna menjadi tangisan yang tak bisa berhenti-henti, hidupku menjadi hancur setelah kejadian yang menerima keluargaku ini. Sekarang aku hanya bisa mendoakan mereka agar tenang di sana.","ANEH Clarissa Debora Hari-hariku sangat berwarna saat memasuki bangku SMA. Aku mempunyai 2 sahabat yaitu Raxel si cowok idaman sekolah dan Celine anak tercantik di sekolah. Kami sangat akrab. Raxel selalu menanyai keberadaanku saat aku bersama Celine. Ia bahkan rela mengantar pulang saat aku dan Celine tidak ada yang menjemput. Tapi, anehnya Raxel tidak pernah berperilaku baik saat aku sendirian. Ia tidak pernah mendengarkanku saat aku berbicara. Perilakunya berbeda saat aku bersama Celine. Tapi tidak masalah, yang penting aku bisa bersahabat dengan mereka.","SECANGKIR ANGGUR Dova Fedora Di suatu malam yang indah, dipenuhi bintang-bintang yang bertebaran, aku hancur, usaha ku yang selama ku bangun hilang begitu saja, rasanya ingin ku mengakhiri segalanya. Saat masih meratapi keputusasaanku tiba-tiba ada seorang perempuan yang melewatiku dengan senyumannya yang manis, rambut coklat yang panjang dan indah serta tatapan dari mata birunya yang seperti kaca. Seketika pikiran bodohku hilang begitu saja dan sontak menyapanya, ketika aku sadar aku sangat malu dengan kelakuanku yang tidak jelas itu. Tak ku sangka responya sangat baik terhadapku, sepanjang malam itu kamu mengobrol di taman, sampai tak sadar bahwa jam sudah menunjukkan tengah malam, kami pulang dan dia mengajak ku bertemu lagi ditempat dan jam yang sama. Keesokan harinya sesuai dengan janji kami, aku bertemu dengan dia di taman, namun dia mengajakku pergi kesuatu bar dekat sana, awalnya aku bingung, karena seingatku tidak ada bar dekat sana, tetapi dia bilang \u201cMungkin kau terlalu sibuk sehingga tidak mengetahui ada bar di sini\u201d katanya dengan nada mengejek. Sebelumnya aku tidak pernah pergi ke bar, sehingga aku tidak tahu ada minuman apa saja yang terdapat di sini, Akhirnya dia memesankan suatu minuman anggur padaku. Aku meminumnya dan merasa pusing yang sangat parah, lalu aku bertanya \u201cMinuman apa itu?\u201d dia tidak menjawab, setelah aku sudah ingin pingsan rasanya ia tersenyum manis padaku dan berkata \u201cAngel\u201d awalnya aku bingung dan akhirnya aku tersadar, aku belum mengetahui namanya, dan ternyata namanya adalah Angel. Pagi hari tiba, aku terbangun diatas kasurku dan banyak telfon masuk dari berbagai macam perusahaan yang mengajakku melakukan sebuah kerja sama. Awalnya aku senang, tetapi hatiku terasa sakit, seperti ada yang hilang. Seketika aku teringat kejadian malam tadi, dan aku berusaha mendatangi bar tersebut untuk mengetahui apa yang terjadi malam itu. Namun bar itu tidak ada di sana. Aku bertanya ke beberapa orang, tetapi mereka","bilang tidak ada bar di sekitar sana. Dan yang mengejutkan adalah jawaban dari seorang pak tua \u201cDulu ada bar di sini, tetapi sudah sangat lama, sekitar 7-8 tahun yang lalu. Bar itu kebakaran. Saya tidak tahu bagaimana lanjutan ceritanya, yang saya tahu ada beberapa korban.\u201d Seketika aku merasa seperti mimpi, seorang yang bernama \u201cAngel\u201d seorang malaikat yang memberikan secangkir anggur dan mengubah nasibku.","BONEKA PUTIH Faustina Yulita Di rumah ini hanya ada aku, ibu dan boneka putih pemberian ayah. Ayah telah lama pergi dan tak pernah kembali, walaupun begitu hidup dengan ibupun tetap menyenangkan. Ibu juga selalu bilang bahwa ayah itu orang yang baik. Sejak kecil aku tak diperbolehkan ibu untuk keluar rumah. Ibu selalu bilang bahwa tetangga kami itu jahat, mereka tidak pernah menganggap kami, dari sana aku percaya tetanggaku itu jahat. Ibu selalu menjaga dan menyayangiku. Aku selalu penasaran tentang dunia luar. Tapi apa boleh buat aku hanya bisa menuruti permintaan ibu. Hari itu aku bermain di halaman belakang dan aku tidak sengaja meninggalkan boneka putihku. Aku bergegas mengambilnya, tapi atensiku dialihkan oleh batu besar di halaman belakang, aku menatap lama batu itu. Kuangkat batu itu dan kulihat apa yang ada di balik batu itu, kugali dan kutemukan tubuhku yang telah membiru sambil memeluk boneka putihku.","KEKASIH SEMENTARA Gabrielle Ezra Sang surya mulai tenggelam di antara pohon-pohon di taman depan rumahku. Seperti biasa, aku duduk sendiri di taman ditemani dengan cahaya oranye yang bersinar dari barat dan juga ditemani alunan musik Indi. Aku berdiam diri, meratapi nasib yang telah terjadi waktu itu. Tiba-tiba air mataku terjatuh mengingat kejadian yang sangat menyedihkan. Cukup lama aku hidup sendiri tanpa kehadiran seorang wanita yang menjadikanku alasan untuk tetap semangat dalam menjalani hidup. Suatu ketika, ada seorang wanita berambut hitam legam sebahu. Ia mulai menghampiri ku, dan duduk tepat di sebelahku. Aku tidak tau namanya, dan dari mana dia berasal. Aku menolehkan wajah ke arah nya, dan memberanikan diri untuk berkata, \\\"hai, siapa namamu, dan kenapa kau menghampiri ku?\\\" Ia tidak menjawab dan hanya menatap mataku. Aku mengagumi matanya sangat indah saat ku pandang. Ia mengeluarkan setangkai bunga mawar dari tas yang dibawanya, dan berkata \\\"Maukah kamu menjadi teman hidup ku?\\\" Sontak aku terkejut dan dengan rasa gembira yang tidak bisa aku tutupi, aku pun menjawab iya dengan perasaan sangat senang. Lalu, wanita itu berdiri dan tersenyum kepadaku. Senyumannya sangat manis. Tak lama, wanita itu pergi begitu saja, meninggalkan ku di taman. Aku merasakan ada goncangan yang cukup kuat. Aku mulai tersadar. Ternyata itu adalah goncangan dari ibuku yang membangunkanku dari tidur dan mimpi indahku tadi.","H-1 SEBELUM HARI H Jennita Halim Di ujung lorong sekolah yang gelap, aku berdiri di depan ruang musik sambil menatap seorang pria berjubah hitam dengan pisau di tangan kirinya. Pria itu mulai menuju ke arahku. Langkah kakinya makin lama makin cepat. Keringat dingin mulai kurasakan di sekujur tubuhku. Jantungku berdegup kencang, tanganku mulai gemetar, perasaanku tak karuan. Yang ada dipikiranku hanya aku harus berlari sekencang mungkin. Aku terus berlari tanpa menoleh sedikit pun. Tanpa kusadari langkah ini membawaku sampai ke atap sekolah, kemudian aku langsung menggeret meja untuk menahan pintu sambil berharap pria itu tidak akan datang menghampiriku. Malam itu segelap suasana hatiku. Aku menangis sendirian di atap hanya ditemani semilir angin malam yang membuatku merinding. Saat aku menoleh ke arah pintu, kulihat pria itu. Aku hanya bisa berdiri ketakutan dengan mata yang terbuka lebar. Pria itu mendekatiku, derap langkahnya makin cepat. Aku melangkah mundur sambil menangis. Pria itu kemudian berjalan sangat cepat sambil menodongkan pisau itu ke mataku. Langkahku pun semakin cepat hingga ke ujung kemudian aku terpeleset dan tubuhku terlempar dari atap sekolah dan mendarat di atas mobil yang terparkir di depan sekolah. Keesokan harinya aku berangkat kesekolah dengan baju seragam berwarna biru putih dengan rambut terurai. Pagi itu aku merasa ada yang aneh, karena aku seperti sudah melalui hari itu, tapi aku mengabaikannya begitu saja. Hari itu aku harus berlatih piano hingga sore untuk persiapan lomba minggu depan. Sekitar jam 7 malam aku memutuskan untuk pulang. Saat hendak menutup pintu aku melihat seorang pria berjubah hitam menatapku dengan membawa pisau di tangan kirinya.","KASIH SAYANG SEORANG FOTOGRAFER Keshia Jean Darma Satu wajah yang tak pernah pupus dari benakku, fasad pucat yang terbujur kaku di peti mati. Karena sudah kuukir dalam-dalam dalam memoriku; bibir yang tak \u2018kan lagi tersenyum, mata yang takkan lagi berkedip, suara yang tak lagi memanggil. Yang tersisa hanya perihnya luka menganga dalam hati; di mana waktu merenggutnya dari kami. Memento terakhirnya terpajang jelas-jelas di dinding ruang keluarga yang dulunya kosong itu. Sosoknya ketika kehidupan masih mengakar kuat dalam tubuh yang kini terpendam di dinginnya tanah. Mengingatkan akan dia yang dahulu menghangatkan rumah ini. Ironisnya, kenangan itu bak palu yang menghantamkan pasak ke dalam hati kami. Dia sudah tiada. Siang itu aku hendak keluar rumah, seperti biasa berusaha mengabaikan bingkai foto yang fungsinya makin hari makin rancu itu. Fungsinya sebagai penghibur mulai pudar, hanya menyisakan pengingat bahwa beliau pernah berada di antara kami. Kakiku sudah setengah ke luar dari ruang keluarga, ketika suara itu memanggil dari hampa. \u201cHati-hati di jalan, Nak.\u201d","RINTIHAN APARTEMEN TUA Keshia Jean Darma Apartemen tua tempatku tinggal sudah berusia lebih dari usiaku sekarang. Untuk sebuah bangunan, 30 tahun bukan waktu yang pendek. Dalam kurun waktu 30 tahun tersebut, banyak hal\u2014dari yang paling aneh sampai yang paling mistis\u2014yang terjadi di apartemen ini. Tapi sesering apapun, aku tetap tak terbiasa dengan tangisan lirih dari tetanggaku, apartemen nomor 409. Sudah hampir seminggu ini, suara-suara itu selalu terdengar waktu malam, ketika aku melewati pintunya sepulang dari kantor. Dinding yang tebalnya pas-pasan pun tidak mendukung, sehingga ketika aku di dalam apartemenku sendiri, suara tersebut tetap mengalahkan sunyinya apartemenku. \u201cAbaikan saja,\u201d kata ibu pemilik apartemen ketika aku melaporkan kejadian itu padanya pagi hari sebelum ke kantor. Namun perkataan itu tidak membantu mengurangi khawatirku. Maka malam itu, pukul 10, ketika suara lirih itu terdengar lagi, kuputuskan untuk memeriksa tetanggaku. Perlahan kudekati pintu bertuliskan 409, dan rintihan itu makin pilu di telingaku. Tiba-tiba seorang laki-laki berlari dari ujung lorong dan menahan tanganku. \u201cDia mengganggu, ya? Maaf!\u201d ia segera membuka kunci pintu, dan tangisan berhenti. Seekor anak anjing, tidak lebih dari 40 senti berlari mengitari kakinya. \u201cIni anak anjing titipan kenalan, iya, ya, aku tahu kalau apartemen ini tidak mengizinkan hewan. Karena sudah 10 hari ini ibu pemilik tidak ada, dia menitipkannya padaku,\u201d jelasnya tergesa-gesa karena mengamati raut wajahku yang makin tertekuk. Tunggu. Sepuluh hari?","MALU Kevin Wong Zaman SMP adalah saat para remaja ingin menemukan jati diri. Sedangkan aku adalah orang yang suka menemukan kejadian horror. Hari yang bertepatan pada Kamis malam dan jam 12 saya sendirian ingin membelikan makanan untuk mengisi perut yaitu sate ayam. Sebungkusnya dihargakan 10 ribu rupiah, sedangkan penjualnya hanya berdiam sambil menatap kosong dengan bakarannya. Tiba-tiba angin malam bertiup. Angin malam yang membuat bulu kuduk merinding. Saya yang merasakan ketakutannya hanya pasrah dengan bermain handphone. Saya langsung mengalihkan dengan cara bertelpon dengan teman. Entah apa yang menghalang jaringan, sinyal sama sekali tidak ada. Seketika penjual sate memberikan tanda bahwa telah selesai. Sentak saya yang ketakutan langsung memberikan uang dengan harapan lekas pulang. Waktu yang lama saya menunggu untuk penjual mengembalikan uang kembalian, tetapi penjualnya hanya diam aja. Sontak saya mengeluarkan pertanyaan \u201dBang kembaliannya.\u201d Penjualnya malah melihatkan uang saya berikan tadi dan ternyata uangnya pas. Dan saya pergi dengan rasa malu.","PELANGI Laura Julianne W. Robert adalah sahabatku sejak kelas 1 SMP. Kita sudah sangat dekat sampai orang lain mengira bahwa kita pacaran. Rumahku sudah seperti rumah kedua bagi Robert, hampir setiap hari sepulang sekolah dia selalu mengantarku pulang dan bermain di rumahku. Sampai ibuku pernah bertanya, \u201cBella kok ibu merasa kalau Robert itu suka ya sama kamu?\u201d. Tetapi aku membantah karena aku dan Robert sudah bersahabat selama 5 tahun, jadi kami berjanji untuk tidak menyukai satu sama lain. Robert memang terlihat perhatian dan sayang padaku, bukan sebagai kekasih tetapi seperti adiknya. Namun akupun penasaran bagaimana perasaan Robert padaku. Sampai suatu saat aku memberanikan diri untuk bertanya padanya mengenai perasaannya kepadaku. Lalu Robert menjawab \u201cAku sebenarnya sudah lama mau bilang ini ke kamu, jadi sebenarnya dari 4 tahun yang lalu, karena aku sering kerumahmu, aku memperhatikan dan lama-lama aku memiliki perasaan pada kakakmu, Doni\u201d. Akupun hanya diam membisu.","DINGIN Mellensia Zefanya Angwar Jam tiga pagi aku terbangun dari tidurku. Dingin dan gelap, seisi kamarku sunyi tak bergeming. Aku menggapai gawai di atas meja kayu tua itu, menyernyit dan berjalan menuju pintu di sudut kamarku. Aku berjalan ke arah depan sambil tetap membungkus tubuhku dalam kehangatan kain bali. Aku membuka pintu teras, kemudian duduk di luar dan termenung. Menatap rumah-rumah di bawah bukit. Aneh, rasanya tadi ada yang bergoyang-goyang dan bergetar. \u201cAh.. mungkin hanya perasaanku saja.\u201d Lantunan lagu rohani di pagi hari begitu menyejukkan hatiku dan meramaikan suasana di pagi buta ini. Perlahan kututup mataku, kutarik napas dalam, menghembuskannya lalu akupun terlarut dalam ketenangan ini. Beberapa saat kemudian, aku merasa seperti sedang berada di dalam air, kurasakan aliran deras yang melewati sekujur tubuhku. Tambah dingin saja. Tiba-tiba, aku merasa ada yang menarikku lalu membaringkanku di atas papan keras. Namun anehnya, aku merasa sangat lemas dan tak bisa bangun. Aku membuka mataku di bawah langit-langit tua, berbaring di atas tikar plastik. Seorang wanita berseragam oranye berwajah lelah datang menghampiriku dan menyodorkan sebotol air serta sebuah roti. Di sini begitu ramai, penuh suara tangisan. Lalu kulihat tulisan dengan cat hitam, yang berada di spanduk kain lusuh yang bertuliskan di paling atas BPBD, lalu di bawah lagi dengan samar kulihat tulisan \u201cTsunami,\u201d Aku menangis.","KERINDUAN Octaryo Lucas M.S. Sore itu, langit yang biasanya berwarna merah cerah kini berubah menjadi gelap gulita. Aku melihat dengan tatapan mata yang berkaca kaca. Senja yang kunantikan dari awal semakin cepat untuk menghilang dari pandanganku. Akupun yang melihat hal tersebut merasa sedih dan segera beranjak kedalam rumah kecilku yang indah. Ketika aku baru saja masuk kedalam rumah, aku melihat kedua orang tuaku sedang bergurau dengan lepas seperti tanpa adanya beban dalam kehidupan mereka. Keesokan harinya, aku melihat ayah dan ibuku sedang berbincang di ruang makan. Akan tetapi ada hal yang janggal di wajah mereka. Wajah mereka yang kemarin ceria dan bersinar, sekarang berubah menjadi murung dengan wajah yang sangat pucat. Hatiku selalu ingin berkata bahwa aku harus menanyakan apa yang sedang terjadi. Namun keadaan berkata lain, aku tidak memiliki keberanian untuk menanyakan keadaan mereka. Karena pengalamanku yang sangat buruk akan keadaan tersebut. Akan tetapi setelah aku melihat foto yang berada di dekat meja makan tersebut, seketika semua orang yang berada di depanku mendadak menghilang dari hadapanku. Akupun sekarang mulai tersadar, ternyata semua hal yang aku lihat hanyalah suatu kerinduanku terhadap orang tuaku. Yang dimana pada hari ini, tepat pada tanggal 14 November, sudah sepuluh tahun lamanya orang tuaku berpulang ke rumah Bapa. Aku pun yang sudah sadar akan hal itu, bergegas menuju makam orang tuaku dan berdoa untuk kebahagiaan mereka.","KELUARGAKU TERCINTA Rebecca Darmawan Aku cinta keluargaku. Ibu selalu bermain bersamaku dan ayah selalu membelikan apa yang ku ingini. Namun, suatu ketika ayah dan ibu pergi. Sudah berminggu-minggu ayah dan ibu meninggalkan. Aku merasa kesepian. Kapan Ayah dan Ibu kembali aku tidak tahu. Aku menangis dan menangis. Tiba-tiba, ibu dan ayah kembali! Aku segera bertanya, \u201cKemana ayah dan ibu pergi?\u201d Namun, mereka hanya diam saja. Saat itu, aku melihat muka ibu dan ayah di televisi. Aku bertanya lagi, \u201cMengapa ada ibu dan ayah di televisi?\u201d Mereka sekali lagi diam saja. \u201cApakah pertanyaanku terlalu aneh?\u201d Terkadang, orang-orang memandang ke arahku aneh. Ada apa dengan aku? Apakah karena bercak merah di kepala ayah dan ibu? Terkadang juga mereka menanyakan jika aku hilang. Tentu saja aku bilang, ibu dan ayah ada di sebelahku. Aku harap ibu, ayah, dan aku dapat hidup bersama selama-lamanya.","TERTIDUR Timothy Elrico \u201cNak, bangun nak. Makan malam sudah siap,\u201d teriak ibuku dari luar kamar. Dengan penuh terpaksa aku membuka mataku, dan menjawabnya sehingga ibu cepat pergi. Cepat-cepat aku ber anjak dari kasurku dan turun untuk makan malam, karena ku tah u ibu akan kembali lagi memanggilku dengan nada bicaranya yan g serak dan tidak jelas itu. Dan hal itu sangat nengganggu telingaku. Makan malam kali ini sangat sunyi, hanya ada aku dan ibu ku. Entah mengapa hari ini dia tidak seperti biasanya, dimana dia akan mengomel jika makanku tidak habis atau aku tidak memakan sayurnya. Masakannya hari ini pun membuat ku sanga t mual, tetapi tetap ku makan hanya untuk menghargai apa yang sudah ia masak. Makan malam pun selesai, dan aku kembali kekamarku m elanjutkan tidurku tadi yang terjeda. Saat aku akan memejamkan mata, aku pun menyadari sesuatu dan tertawa seketika. Baru ku sadar sudah sebulan ibu tertidur dibawah kolong tempat tidurny a, dengan baunya yang sangat busuk. Aku sangat bingung deng an perlakuan ibu. Padahal sudah kubuat ia tertidur, tetapi meng apa ia tetap menggangu ku.","TERAKHIR Valencia Bulan Semilir angin sejuknya di malam hari merasuk hingga ke sendi-sendi tulang. Cahaya rembulan dan ribuan bintang-bintang yang menghiasi gelapnya langit. Terdapat seorang wanita yang terlihat lemah dan tak berdaya duduk di bangku taman. Matanya memancarkan kesedihan dan kekecewaan yang ia rasakan seolah ia ingin menangis sekuat-kuatnya namun, apa daya air matanya sudah habis sedari tadi. Wanita itu termenung sambil menatap sebuah kertas untuk menafsirkan apa yang sedang terjadi saat ini. Ingin sekali dia menceritakan masalah penyakit yang ia derita ini kepada orang lain. Saat ini yang ia butuh kan adalah dukungan dari keluarganya. Namun apa daya keluarganya sama sekali tidak peduli dengan kondisinya bahkan suaminya sendiri pun membenci dia karena, kesalahpahaman yang terjadi. Dia hanya bisa menanggung bebannya sendiri tidak ada pundak untuk dia bersandar. Besok harinya suaminya pun tahu apa yang sebenarnya terjadi. Suaminya pun menyesal karena dulu tidak pernah mau mendengarkan penjelasan dari istrinya dan di saat yang bersamaan suaminya mendapatkan kabar bahwa istrinya sedang berada di rumah sakit dalam keadaan kritis. Keluarga dan suaminya pun datang menjenguk dia. Suaminya melangkah dengan tatapan kosong yang ada di hati dan pikirannya hanya istrinya. Tak terasa suaminya sudah sampai di ruangan di mana istrinya dirawat. Istrinya terlihat lemah matanya tertutup dan tubuhnya penuh dengan alat-alat yang membantu dia sehingga dia dapat bertahan sampai saat ini. Suaminya menggenggam erat tangan istrinya seketika mata istrinya terbuka. \u201cMas... kamu di sini.\u201d Ucapnya lirih. \u201ciya sayang aku di sini, aku minta maaf karena dulu tidak pernah mau mendengarkan penjelasan darimu sekarang aku sudah tahu kebenarannya, aku minta maaf sayang...\u201d ucap suaminya dengan penuh penyesalan. \u201cDari dulu aku sudah memaafkanmu, terima kasih ya kamu sudah mau menjengukku.\u201d Ucapnya sambil tersenyum. \u201cPasti sayang... aku","janji, aku akan selalu ada di sampingmu menemanimu sampai kamu pulih....\u201d ucapnya sambil menggenggam erat jemari istrinya. Malam harinya kondisi istrinya semakin memburuk. Setelah diperiksa, dokter menyatakan ini waktu-waktu terakhir istrinya. Suaminya pun masuk ke kamar rawat istrinya dengan raut wajah yang putus asa. Suaminya duduk di sisi istrinya dan menggenggam jemari istrinya sambil berkata \u201ckamu harus bertahan sayang, aku janji akan bahagiakan kamu\u201d. Istrinya menjawab \u201cSayang mungkin ini sudah waktunya. Aku minta maaf karena aku belum menjadi istri yang terbaik untukmu.\u201d \u201cKamu tidak boleh berbicara seperti itu sayang... bagi aku, kamu istri terbaikku.\u201d Ucap suaminya sambil tersenyum getir. \u201cSayang aku pamit ya.. Semoga kamu mendapatkan pendamping yang lebih baik dari aku.\u201d Ucap istrinya dengan nafas yang tidak beraturan. Setelah itu istrinya menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya. Tak lama dari itu suara tangisan suaminya memecahkan sunyinya malam itu.","JUARA Valery Hendra Gemuruh sorak sorai penonton menggema. Meneriakkan nama jagoan-jagoan mereka. Satu jam lagi final kejuaraan renang antar kampus akan dilaksanakan. Aku berhasil masuk final. Begitu pula dengan Alex, rival yang selalu menggagalkan ambisiku untuk menjadi juara. Tidak hanya di kolam renang, dia juga berhasil mengalahkanku dalam merebut hati Felicia, primadona kampus. Kali ini aku sangat yakin bisa menjadi juara. Latihan keras telah aku jalani selama tiga bulan terakhir. Selain itu, aku berhasil membekap Alex dan membunuhnya di toilet.","MISTERI PEMBUNUHAN Yonathan Dian Aku menatap dinding-dinding di depanku yang nampak tak terurus yang seolah telah membuat semangatku sirna. Terus memikirkan jam berapa saat ini. Ya, tempat itu merupakan sebuah sel yang telah mengurungku cukup lama. Semua ini berawal dari diriku yang dituduh telah membunuh kekasihku sendiri. Sebenarnya aku tidak pernah melakukannya, namun karena aku yang kebetulan saat itu sedang berniat mengunjungi kekasihku itu dan menemukannya sudah tergeletak tak bernyawa sehingga saat itu polisi mengiraku telah membunuhnya. Lalu tiba-tiba terbukalah pintu selku yang menandakan seseorang akan masuk. Dan itu adalah kepala penjara yang datang untuk mengatakan bahwa besok adalah hari eksekusiku. Tentu saja, saat itu aku langsung dijatuhi hukuman mati walaupun aku telah berusaha untuk mengatakan bahwa bukan akulah pelakunya. Lalu kepala penjara tersebut menanyaiku apakah aku memiliki keinginan terakhir. Dan langsung kujawab tidak dengan nada yang agak lemas Setelah itu pintu selku kembali tertutup dan aku memutuskan untuk tidur sembari berdoa kepada Tuhan. Keesokan harinya, tiba saatnya waktu eksekusiku. Disini metode eksekusi yang digunakan yaitu suntik mati. Saat aku sudah dibaringkan dan sekujur tubuhku telah dimasuki oleh jarum suntik, masuklah dokter yang akan mengeksekusiku. Setelah itu dia mengatakan untuk berdoa terlebih dulu dan bahwa semoga Tuhan mengampuniku. Namun tiba-tiba dia berbisik, \u201cSelamat berjumpa dengan kekasihmu di akhirat.\u201d Dan menunjukkan kalung milik kekasihku. Aku berusaha untuk berteriak dan meronta-ronta. Namun, semua itu sia-sia karena cairan dari jarum suntik tersebut telah memasuki tubuhku dan perlahan-lahan kesadaranku pun mulai hilang.","Kelas MIPA 3","PEMULIHAN PASTI TERJADI Albert Jefferson Halim Kericuhan tak lekas berhenti. Pecahan piring di sana sini. Dua pihak tak dapat menahan diri, hingga buah hati menjadi sedih. Kapan semua ini berakhir? Kapan keluargaku hidup dalam kasih? Aku tak sanggup menerima ini, namun ku yakin Tuhan akan merestorasi. Tangisan itu deras mengalir, namun ada suara yang selalu bergema. \\\"Kamu kukasihi, semua akan direstorasi\\\". Namun kutak tahu kapan waktu itu terjadi. Setelah sekian tahun kujalani, tanpa kusadari, kasih mereka bersemi kembalii. Syukur pada Tuhan yang telah menjadikan semua ini. Kasih itu menghujani hati, hingga tak mampu dibendung lagi. Janji-Nya telah digenapi. Hanya di dalam-Nya pemulihan terjadi.","KEJUTAN Alexander C.N. Tak terasa 6 tahun berlalu, sudah saatnya aku kembali ke kampung halaman. Rencananya aku akan memberikan kejutan. Tak ada satupun yang tahu bahwa aku akan pulang. Baru satu jam perjalanan kerumah sudah terasa begitu lama dan membuatku berpikir apa yang akan terjadi saat aku pulang ke rumah. Apakah ada acara besar menyambut kepulanganku? Rasa penasaran itu terus mengusikku Hari menjelang malam, sampailah aku di kampung halamanku. Kampung yang aku rindukan selama 6 tahun lamanya saat jauh di kota orang\/ Rasa tak sabar membuat langkah kakiku semakin cepat untuk bergegas ke rumah bertemu adikku yang sekarang berumur 12 tahun dan ibuku yang semakin menua, Sesampainya di rumah dengan rasa senang aku membuka pintu, seketika aku diam menoleh kekiri dan kekanan, \u201crasanya tak ada orang dirumah\u201d pikirku, Kemudian aku bergegas keluar, keliling kampung halaman, mencari ibu dan adikku. Tak lama kemudian, aku melihat ibu dan adik sedang di makam ayah. Dengan cepat aku menghampiri ibuku, Tetapi sebelum aku hendak memeluk ibuku dari belakang, betapa terkejutnya aku. Aku melihat fotoku di sebelah makam ayah.","ANDAI Alexander C. N. Malam telah datang. Sepasang kekasih saling memadu asmara terlihat di taman kota Yogyakarta. Ditemani kopi pahit dan 2 tusuk sate usus aku melihat beberapa pasangan lain terlihat sangat romantis.. Ada yang menyuapi pacarnya, ada yang bersandar di bahu pasangannya, dan masih banyak lagi kegiatan kegiatan mereka yang cukup membuatku iri. \u201cSeandainya kau disini\u2026\u201d Ya, kata-kata tersebut selalu ada di pikiranku saat aku melihat mereka. Aku memang sudah tidak bersama dia yang dulunya selalu ada di saat aku membutuhkannya. Dia yang selalu mengucap kata selamat malam sebelum dia mengatakan selamat tinggal untuk terakhir kalinya. Ya, memang sudah takdirku untuk berjalan sendiri, tanpa ada bahu yang selalu siap di kala aku sedih, dan tidak ada lagi tangan yang membasuh air mataku saat terjatuh. Andai saat itu aku ada di sana, mungkin sekarang kita sudah bersama sama di sana. Dan dari sini aku sadar Tuhan lebih sayang padamu.","LORONG SUNYI Alyssa Belva Malam yang gelap dan sunyi itu adalah tempat aku berada sekarang. Aku tak tahu aku berada di mana. Yang aku lihat hanya lorong lorong kosong dan ruangan-ruangan terkunci. Aku sangat takut. Aku langsung teringat pada pria berambut putih, yaitu ayahku. Aku mencarinya ke semua lorong. Aku berharap bisa menemukannya, agar aku merasa tenang. Tiba tiba aku melihat sebuah ruangan dan ayahku berada di sana. Tanpa berpikir panjang, akupun langsung masuk ke ruangan tersebut. Ternyata yang kutemui adalah beberapa dokter yang sedang berusaha menyelamatkan tubuhku yang terbaring di ranjang UGD. Aku bisa melihat tubuhku sendiri yang berbaring di ranjang dan ayahku yang terus menangisiku.","IA YANG TERDENGAR Angelica Gabriella Leoni Kusumadewi Sepulangnya dari sekolah, aku langsung masuk ke kamar. Segera kurebahkan tubuhku di ranjang tanpa repot-repot mengganti seragamku. Aku sangat penat. Aku berbaring cukup lama, hingga menjelang senja. Tiba-tiba ayahku memanggil dan berkata, \\\"Nduk, makan dulu.\\\" Karena aku masih sangat lelah, aku menjawab \u201cNanti saja yah.\u201d Tidak lama lagi, kembali ayahku melakukan hal yang sama. Aku kesal karena terus-menerus dipanggil. Beberapa saat kemudian aku baru menyadari bahwa aku sendirian di rumah. Kedua orang tuaku sedang bepergian ke luar kota untuk urusan pekerjaan mereka.","TAMU TAK DIUNDANG Angelica Gabriella Leoni Kusumadewi Aku tinggal sendiri di sebuah rumah sederhana di pinggir kota. Seperti biasa aku mengerjakan semua pekerjaanku sendirian. Tetapi, hari itu berbeda karena terjadi badai yang sangat panjang. Aku merasa tidak sendirian dan selalu diawasi. Semua semakin mencekam ketika aku menyadari bahwa harI sudah menjelang malam dan badai belum juga berlalu. Karena merasa gelisah, aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Dan ketika aku membuka pintu kamarku ada seseorang sedang duduk di kasurku sambil berkata sambil menyeringai lebar \\\"maaf ya numpang sebentar sampai badainya berhenti\\\".","TEDUHAN TAK KASAT MATA Angelica Gabriella Leoni Kusumadewi Aku hanyalah seorang anak kecil yang tinggal di daerah pegunungan bersama bibiku. Selama ini tidak ada hal aneh yang terjadi, semuanya berjalan dengan tenang-tenang saja. Hari itu entah mengapa cuaca di sana sangat berangin dan tiba-tiba saja turun hujan lebat. Aku dan bibiku yang ketakutan pun memutuskan untuk segera tidur. Tetapi tidak berapa lama, ada suara ketukan di pintu rumah kami. Kami bingung, karena tidak mungkin ada tamu di malam hari dengan cuaca seperti ini di daerah pegunungan. Kami membuka pintu tetapi tidak ada siapa pun di depan. Tetapi saat menutup pintu kembali kami mendengar seseorang berkata \\\"Terima kasih telah membukakan pintu untuk kami. Kami hampir mati kedinginan di depan tadi\\\"","ANAK KECIL Bernadeta Cantika Vine W. Hari ini hari yang cerah. Aku berencana untuk pergi ke taman di tengah kota. Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk mengunjungi tempat ini. Hembusan angin dan rindangnya pepohonan membuatku semakin betah dan enggan untuk beranjak pulang. Perlahan langit berubah warna menjadi oranye. Tanpa kusangka, seorang anak kecil menghampiriku dan berkata bahwa ia terpisah dari orang tuanya. Karena merasa tak tega, aku berniat mengantarnya kepada petugas agar membantu menemukan orang tuanya. Namun, anak itu terlihat ketakutan dan menolak hal itu. Akhirnya kuurungkan niatku dan membawanya ke rumah. Sebenarnya aku ragu apakah harus membawanya, tetapi malam yang terburu-buru datang memaksaku melakukan hal itu. Sesampainya di rumah, anak itu kuberi makan dan segera kusuruh tidur agar besok pagi aku bisa mengantarnya pada orang tuanya. Dilanda bosan, aku pun menyalakan televisi dan menonton berita. Mendadak aku tercekat dan tak mampu berkutik dari posisiku. Bagaimana tidak, anak yang tidur rumahku muncul di berita. Dan yang lebih mengejutkan adalah anak itu diberitakan menjadi korban pembunuhan oleh seorang petugas di taman.","MUKJIZAT ITU NYATA Caesar Hermawan Aku hidup dengan keadaan ekonomi yang rendah setelah kepergian ayahku. Adik ku menderita sakit keras dan membutuhkan biaya besar. Setiap malam saat terdengar tangisan dari kamar, aku hanya bisa menenangkannya. \u201cBu, apakah ada obat yang dapat menyembuhkan Adik?\\\" tanyaku. Ibu pun menjawab, \u201cHanya mukjizat yang dapat menyembuhkan adikmu\\\". Keesokan harinya akupun ke apotik mau bertanya apa di sana menjual mukjizat dan berapa harganya. Saat aku sampai di apotik dan bertanya pada pelayan di sana, mereka malah -menertawakanku. Saat aku masih kebingungan, datanglah seorang laki-laki tua dan mendekatiku. Ia bertanya siapa yang sakit dan di mana rumahku. Setelah aku memberi alamat, aku disuruh pulang. Aku pun pulang dalam kebingungan. Beberapa saat setelah sampai di rumah, datanglah sebuah ambulan ke rumahku. Tentu saja aku dan ibuku kaget. Ternyata laki-laki tua yang bertemu aku di apotik tadi adalah seorang dokter pemilik apotik tersebut yang mau membantu perawatan adik kami. Dan\u2026, aku baru sadar bahwa mukjizat itu bukan nama obat.","MOMEN YANG DIIMPIKAN Catalina Cathleen Sunur Hari itu tepatnya pukul sepuluh pagi, keluarga Emma berencana untuk berlibur ke Bali. Mereka tiba di bandara satu jam sebelum masuk ke pesawat. Suasana di bandara sangat ramai akan hiruk-pikuk penumpang yang akan naik pesawat. Emma dan keluarganya segera antri di loket untuk check in, setelah itu mereka langsung menuju ke ruang tunggu pesawat. Mereka berencana untuk tinggal selama tiga hari dua malam di rumah neneknya. Saat mereka tiba di Bali, mereka dijemput tantenya dan langsung diajak pergi ke suatu beach club yang cukup terkenal di sana. Begitu turun dari mobil, mereka langsung disambut suasana pantai yang sangat indah. Terdengar suara ombak dan angin yang bertiup sangat kencang. Saat Emma berjalan di pesisir pantai untuk mencari siput dan kerang, dia melihat seorang bule yang berjalan melewatinya. Namun Emma terkejut karena tanpa disadari bule itu dompetnya jatuh dan segera Emma menghampiri untuk mengembalikan dompetnya. Saat bule itu berbalik ketika merasa ada yang memanggilnya, Emma langsung mengembalikan dompet itu dan seketika Emma terdiam seperti patung beberapa saat karena kaget dengan siapa yang ada di depannya saat ini. Seluruh tubuh Emma bergetar karena tidak percaya dengan apa yang terjadi, Emma bertemu dengan idolanya penyanyi ternama Harry Styles yang saat itu berlibur di Bali, langsung dengan cepat Emma meminta untuk berfoto dengan idolanya dan sempat mengajak ngobrol sebelum mereka berpisah.","MISTERI Clarissa Aricela Sulianto Hari pertama liburan setelah satu semester kuliah berlalu, aku putuskan untuk pulang kampung. Aku memilih naik bus saja karena selain harganya lebih murah juga bukan sebuah perjalanan yang sangat panjang. Aku segera memilih bus yang sesuai dengan rute perjalanan menuju ke kampung halamanku. Saat sudah mendapat bus yang sesuai, aku segera masuk dan mencari tempat duduk. Tetapi aku baru menyadari jika bus tersebut terlihat seperti bus jadul. Ah ya, aku tertidur hingga setengah perjalanan dan terbangun karena sebuah benda jatuh mengenai kepalaku. Aku melihat benda tersebut kemudian tertegun. Aku bertanya-tanya \\\"Inikan kemasan air mineral yang seharusnya sudah tidak di produksi lagi setelah 20 tahun yang lalu, kenapa ada di sini?\\\"","APUNG Clarissa Aricela Sulianto Sebagai gadis usia anak SMA. aku bukanlah termasuk siswa yang bodoh, walaupun juga tidak bisa digolongkan siswa yang pandai. Tapi aku punya kelenihan dalam satu hal, yaitu memancing. Besok adalah akhir tahun 2019 dan aku akan memancing di tepi danau dekat hutan. Ketika malam tiba aku langsung bergegas membawa peralatan pancing dan langsung bergegas menuju danau. Ketika aku sampai danau aku mulai mengeluarkan alat pancingku dan aku mengaitkan cacing sebagai umpan. Anehnya. malam itu tidak ada suara kembang api dan suasananya juga sunyi senyap dan aku hanya mendengar suara hembusan angin. Kemudian ada sesuatu yang berat yang mengait di pancingku. Aku tarik dengan sekuat tenaga, namun anehnya tidak ada apa-apa di kailku. Kemudian saat aku melihat ke atas, ada kota yang mengapung tepat di atas kepalaku. Karena aku penasaran akhirnya aku menaikinya. Sesampainya di sana aku melihat pemandangan yang begitu indah dan luas dan aku memutuskan untuk menginap di sana selama beberapa hari. Tiga hari berlalu, akupun memutuskan untuk pulang. Aku merasa aneh kenapa semuanya tampak berbeda. Lalu aku bertanya \u201cPemisi bu\u2026, sekarang bukannya awal tahun 2020 ya?\u201d Lalu ibu itu kebingungan dan menjawab \u201cApa maksudmu, Nak? Sekarang sudah awal tahun 2041.\u201d","PENANTIAN YANG TAK KUNJUNG USAI David Samuel Di malam yang sesunyi ini, di tempat kita berbincang tentang indahnya sebuah percintaan. Dimana kita selalu berharap agar kita selalu bersama. Dimana kita selalu berharap akan menua bersama hingga terpisahkan oleh maut. Di tempat ini, aku masih selalu memikirkan hal yang sama. Aku hanya ingin melihat senyumanmu kembali. Mengapa semua ini terjadi kepadaku. Hingga pada suatu titik, aku bertanya kepada Tuhan, apakah Engkau tidak mencintai aku. Aku disini, aku rindu padamu. Senyumanmu selalu membuatku gagal untuk tidak memikirkanmu. Entah aku yang terlalu bodoh atau memang kamu tidak dapat aku lupakan dalam benak pikiranku. Di tempat ini, kita melakukan semua hal. Kita tertawa, kita menangis, dan di sini tempat kita berdua. Mungkin kamu sudah melupakan aku. Mungkin waktu sudah berlalu, tapi cintaku tidak. Di sini, tepat di hari aku menulis ini, aku merindukanmu. Tepat di bulan enam yang lalu, semua hal yang kita harapkan, semua pikiran tentang kita, usai sampai di situ. Mungkin aku belum percaya hingga sekarang. Sebelum kamu pergi dari kota ini, surat kamu yang simpan di dalam dompet kecilku ini. Kamu berkata kalau kamu mencintaiku selamanya. Awalnya aku hanya berpikir jika kita dipisahkan hanya berberapa waktu untuk mengoreksi hubungan kita. Tetapi, Tuhan berkehendak lain. Tuhan memisahkan kita tanpa sisa. Jika kamu percaya, dan suatu saat kamu membaca ini, percayalah, pada Senin, 9 November tepatnya di saat sang bulan telah memancarkan cahayanya, aku di sini tetap menunggumu Aku tetap mencintaimu. Aku tetap menyayangimu sama di saat kita masih bersama. Jika kita masih bisa bertemu setelah semua hal yang menimpa negara ini, izinkan aku untuk memelukmu untuk terakhir kalinya. (kepada seseorang yang sangat kunanti)","KENYATAAN PAHIT Dennis Arvyanto Pagi yang cerah, segera kusiapkan setelan dan keperluanku. Hari ini adalah awal aku memulai karier. Kereta yang kunaiki cukup ramai meskipun saat ini masih pagi. Di pemberhentian selanjutnya terdapat seorang pria paruh baya, ia terlihat lelah karena mengejar kereta. Aku tak tega melihat orang tua sepertinya berdiri setelah lelah berlari. Aku pun menawarinya tempat duduk ku. Ia hanya membalasnya dengan senyuman Singkat cerita aku gagal total dalam interview pertamaku. Sungguh, ingin menangis rasanya. Aku pun menuju ke toilet untuk menenangkan diri. Saat hendak pulang aku mendengar suara seorang pria menanyaiku. Ia mengenakan baju biru cerah layaknya OB yang biasa dijumpai. Saat kulihat lebih teliti ternyata ia adalah pria yang kutolong tadi pagi. Dengan senyuman ia menanyakan bagaimana hasilnya. Aku hanya menggelengkan kepala. Ia berkata \u201cKamu orangnya baik, berjuanglah! Pasti kamu bisa!\u201d Aku tidak bisa berkata apa-apa selain membalasnya dengan senyuman dan berusaha tegar. Setelah menundukkan kepala, aku pun meninggalkannya. Baru saja aku berbalik badan, terdapat 3 pegawai di depanku dan berteriak. Mereka memanggil seseorang yang disebut manajer dan terkejut mengenai pakaian yang dikenakannya. Aku membeku dan perlahan membalikkan badan. Kudapati pria paruh baya itu. Dalam keheningan kusadari, terdapat seseorang di belakangnya dan para pegawai itu mencegatnya dan menyodorkan setelan jas. Pria paruh baya itu menoleh sebentar dan menatap ku kembali dengan canggung.","AYAH Erfan Dwidias A. Hari itu, aku merasa sangat lelah setelah mengikuti pembelajaran secara daring. Terlebih masih banyak tugas yang harus aku selesaikan. Aku berada di rumah seorang diri. Ayahku masih berada di kantornya dan biasanya baru pulang menjelang petang. Adapun ibu dan kakakku sedang berada di luar kota. Tak terasa langit senja telah menyelimuti, entah mengapa sore itu terasa lain. Suasananya tidak seperti biasanya. Setelah menyelesaikan tugas sekolahku, aku segera bergegas mandi. Setelah mandi, aku memutuskan untuk rebahan dikasur sambil menunggu ayah pulang. Tak disangka aku pun tertidur pulas. Kemudian akupun terbangun dan melihat jam yang sudah menunjukan pukul enam seperempat. Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki memasuki rumah. \u201cAyahhh..??\u201d tanyaku dari kamar, \u201cIya nak..\u201d sahut ayah. Dengan keadaan masih sedikit mengantuk, aku duduk dan melihat pesan masuk yang ada di hp ku. Tak lama akupun keluar kamar untuk menyambut ayah. Saat kubuka pintu kamarku, betapa terkejutnya diriku melihat pintu rumah yang dibuka bersamaan dengan teriakan \u201cAyah pulang, maaf agak terlambat. Tadi ayah sekalian beli makan.\u201d Akupun terdiam sejenak kemudian menyambut ayah dengan rasa takut.","SI KECIL YANG MEMATIKAN Fiandry Mesakh H. Di pagi yang cerah, setiap orang melakukan kegiatannya masing-masing tanpa adanya hambatan. Siang dan malam pun dilewati dengan baik, bulan per bulan pun berganti. Sampai tiba pada bulan Maret tahun 2020, ada berita yang mengejutkan Indonesia dan merubah total semua rencana dan kegiatan yang akan dilakukan maupun sudah dilakukan. Si kecil yang mematikan masuk ke negara Indonesia, yang mewajibkan semua orang untuk memakai masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan. Si kecil mematikan dinamakan virus COVID-19. Virus yang menggemparkan dunia ini tidak memandang umur, semua bisa terkena virus COVID-19. Dengan begitu, pemerintah menganjurkan sekolah menjadi online. Begitu pun juga sekolahku, yang sudah berjalan hampir 8 bulan. Sebenarnya ada perasaan ingin masuk sekolah karena sudah lama tidak bertemu teman dan guru. Selama belajar di rumah, sejujurnya sudah merasa bosan. Aku teringat dulu bagaimana ramainya aku tertawa bersama teman-temanku di sekolah, bercanda dan belajar bersama. Namun kukatakan pada diriku bahwa virus ini pasti akan segera berakhir dan hal ini tidak akan menyurutkan semangatku untuk berhenti belajar. Lagipula, aku masih bisa menyapa teman-temanku lewat video call. Dan aku selalu berdoa, semoga Tuhan segera mengangkat wabah penyakit ini dan senantiasa melindungi semua orang terutama orang terdekat.","GADIS BAJU MERAH Haryu Kusumo Mardi Setiap sabtu sore, aku pergi ke taman dekat kantor tempat aku bekerja. Cahaya langit ketika senja dan udara yang sejuk menenangkan pikiranku setelah bekerja seharian. Hari itu aku melihat seorang gadis kecil berbaju merah sedang duduk di samping seorang wanita yang tampak seperti ibunya. Baju yang ia kenakan tampak begitu lusuh. Gadis itu menatapku cukup lama lalu tersenyum sambil memiringkan kepalanya ke samping. Lalu ia pergi bersama dengan wanita itu pergi. Seminggu kemudian, aku kembali pergi ke taman tersebut sambil menikmati roti yang tidak sempat kumakan di kantor. Aku melihat gadis itu lagi dengan seorang wanita di sebelahnya. Gadis itu mengenakan baju merah lusuh seperti yang aku lihat minggu lalu. Kini ia menghampiriku dan menunjuk roti yang kupegang tanpa mengucap sepatah kata pun. Aku memberinya sepotong dan ia tersenyum sambil memberi aku setangkai bunga bakung. Ia pergi bersamaan dengan wanita itu pergi. Sabtu depannya, aku kembali pergi ke taman. Namun, aku tidak melihat gadis baju merah. Aku hanya melihat seorang wanita yang tampak seperti ibunya. Kutanyakan kepadanya keberadaan gadis kecil tersebut. Namun, ia menjawab \u201cAku sering pergi kesini sendirian ketika aku merindukan anakku yang mengalami kecelakaan dua bulan lalu\u201d.","LIBURAN Jerry Ang Tugas sekolah setiap harinya aku lewati dengan begitu penuh perjuangan. Maka ketika kami mendapat info ada libur dua hari karena guru-guru ada penataran, kami sangat senang. Kami pun segera membuat rencana berlibur. Kami pun berunding dan akhirnya bersepakat rekreasi ke pantai. Kami segera mempersiapkan perbekalan kami karena perjalanan menuju ke pantai yang kami rencanakan cukup jauh. Esoknya kami bersama-sama pergi ke pantai, walaupun dalam perjalanan nampaknya cuaca dihari itu sedikit mendung, namun kami tetap melanjutkan perjalanan tersebut. Singkat cerita kami pun sampai di pantai tersebut dan melihat keadaan disekitar pantai nampaknya air laut sedang surut dan langit dipenuhi awan tebal. Akan tetapi banyak pengunjung yang tetap menikmati liburannya dipantai. Kami pun juga menikmatinya. Saat kami bersenang-senang tersebut, tanpa disangka terlihat lapisan ombak yang besar perlahan-lahan menjadi lapisan besar mengarah kedaratan. Pengunjung lainnya mulai berteriak \u201cTsunami\u2026Tsunami\u2026\u201d. Ada juga yang berdoa dengan sangat keras. Serentak kami semua berceceran berlarian menjauhi pantai. Aku pun tidak mengetahui keberadaan teman-temanku. Aku dengan penuh kekhawatiran dan ketakutan terus berlari secepat dan sejauh mungkin dari pantai itu, namun karena derasnya arus tersebut, aku diseret dan dihempaskan arus. Disaat itu juga mataku terbuka lebar dengan jantung yang berdetuk kencang dan aku melihat atap rumahku yang sedikit bocor meneteskan air hujan tepat di wajahku.","PAHLAWAN DI LAPANGAN Jerry Ang Pertandingan sepak bola antara tim A dan B pada sore itu sungguh memukau dan membuat penonton tak bisa berhenti memberikan sorakan kepada tim andalannya. Fajar adalah kapten dari tim dari tim A. Penampilannya sangat memukau sehingga membawa timnya sampai ke final. Fajar mungkin menjadi perhatian penuh karena skillnya bisa dikatakan di atas rata-rata. Pertandingan terus berjalan dengan sengit. Fajar dengan keringat yang bercucuran membasahi tubuhnya, denyut nadi yang berdetak kencang, terus melakukan penyerangan namun lawan kali itu tidak kalah hebat dengan Timnya. Fajar dan teman-teman terus memberikan penampilan yang terbaiknya. Serangan dan pertahanan telah dilalui. Nampaknya pertandingan ini telah sampai pada detik-detik terakhir pertandingan. Fajar dan teman-teman telah mengeluarkan seluruh tenaga dan kemampuannya, namun masih saja belum bisa menghasilkan gol dari masing-masing tim. Suatu saat, Fajar mendapat peluang untuk mencetak gol, namun ia masih harus melewati dua orang pemain bertahan dan tenaganya sepertinya tidak mendukung. Namun karena semangat dan ambisinya yang besar, ia dengan kekuatan penuh melewati segala rintangan dan serentak seluruh penonton menyorakkan keberhasilan Fajar meraih poin kemenangan untuk timnya. Ia dengan spontan melakukan selebrasi memukau. Tetapi tak lama kemudian, ia pun kaget dengan penonton yang awalnya bersorak meriah, berubah menjadi hening kaget. Fajar menjadi heran dan tidak disangka ia melihat tubuhnya tergeletak tak berdaya di lapangan disertai tangisan yang tak terbendung oleh semua yang ada di lapangan. Nampaknya itu menjadi kemenangan terakhir Fajar.","PRIA BERJUBAH HITAM Kerubim Adi Semester baru telah dimulai, banyak yang membawa cerita dan pengalaman unik dalam kelas ini. Ada yang membawa cerita sedih, ada yang sedang berbahagia, dan juga ada yang melepas rindu karena tidak lama bertemu, termasuk aku. Saat itu, suasana kelas serasa menyenangkan, ramai serta banyak wajah-wajah baru, tetapi keramaian itu mulai mencekikku. Kedua tangan yang besar perlahan-lahan mencoba meraih leherku, tetapi aku menutupnya dengan kedua tanganku. Raka datang dan mengebrak mejaku \u201cWoyyy, diem-diem aja!\u201d, Aku membalasnya dengan senyum tipis dan berkata \u201cMasih ngantuk, Ka,\u201d Raka segera menyapa anak kelas lain, dan aku melanjutkan tidurku yang sempat terputus karenanya. Terdengar suara bising di telingaku. Ku pikir itu hanya suara anak kelas yang lagi bercanda, tapi suara ini mulai berbisik seperti berbicara, tapi tidak jelas terdengar. Tangan tersebut kembali mencoba meraih leherku. Aku pun berusaha sekuat tenaga menutupi leherku, tapi tidak bisa karena suara tersebut semakin berisik dan membuatku terganggu. Akhirnya tangan tersebut berhasil memegang leherku, dan mulai mencekik ku. Nafasku mulai tidak beraturan dan dada ku semakin sesak. Aku hanya berpikir \u201cAhh, kena lagi hari ini, ya sudahlah\u201d. Kelas pun dimulai, dengan kondisiku yang hampir sekarat dan terlihat ada seseorang pria dengan jubah hitam dan topi yang unik duduk di sebelahku. Lalu pria tersebut berkata \u201cBangun!\u201d, dengan cepat aku membuka mataku. Akhirnya semuanya kembali normal. Tidak terjadi apa-apa. Hanya saja, saat aku menoleh samping, pria tersebut masih ada.","RINDU YANG TERLANJUR MENGGEBU Kezia Rantealo Masa SMA adalah masa yang paling indah, kata orang-orang. Namun tidak bagi Lala. Lala, seorang gadis yang sekarang duduk dikelas 11. Setiap ke sekolah rasanya hampa. Tetapi, untung saja dia memiliki sahabat yang sangat baik kepadanya. Walau sahabatnya tidak mengetahui masalah yang ia alami, setidaknya ia tidak merasa kesepian jika berada didekat sahabatnya Suatu hari, Lala sedang berjalan kaki menuju sekolah. Ia terburu-buru karena sedikit lagi bel sekolah berbunyi. Lala hampir setiap hari seperti ini, dia tidak bangun kesiangan namun, ia sangat malas pergi ke sekolah. Lala melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 6.53 yang berarti 2 menit lagi gerbang sekolah akan tutup. Dari arah belakang, Lala mendengar suara motor yang berhenti, ternyata itu teman Lala yang bernama Riki. Langsung saja Lala menaiki motor Riki dan Riki pun langsung menancap gas menuju sekolah. Lala menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia sangat tidak bersemangat dan belum lagi ia sudah dua minggu tidak mendapat kabar dari pacarnya yang berada di kota yang berbeda. Ya, Lala memiliki pacar namun mereka menjalin hubungan jarak jauh (LDR). Lala sangat sedih karena pacarnya tiba-tiba hilang kabar. Sepulang sekolah, Lala berencana naik angkutan umum bersama sahabatnya karena baginya naik angkot sangatlah seru. Saat ia dan sahabat-sahabatnya menunggu angkot, tiba tiba ada seseorang yang memanggil Lala. \u201cLalaa!\u201d teriak laki-laki itu. Lala dan sahabat-sahabatnya melihat kearah suara tersebut dan terkejut. Lala seketika itu juga langsung pingsan, terkejut karena rindu yang terlanjur menggebu."]
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162