Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore PENTIGRAF KELAS XII TEDUHAN TAK KASAT MATA

PENTIGRAF KELAS XII TEDUHAN TAK KASAT MATA

Published by Fani Yohan, 2023-08-04 02:26:20

Description: PENTIGRAF KELAS XII TEDUHAN TAK KASAT MATA

Search

Read the Text Version

TEDUHAN TAK KASAT MATA Catatan: Logo Unika WK dan SMAK St. Maria tercantum di halaman sampul

TEDUHAN TAK KASAT MATA Kitab Cerpen Tiga Paragraf Penulis Siswa SMAK Santa Maria Malang Kurator dan Editor Agustinus Indradi dan Fani Yohan Daryono

TEDUHAN TAK KASAT MATA Kitab Cerpen Tiga Paragraf Penulis Siswa SMAK St. Maria Malang Kurator dan Editor Agustinus Indradi & Fani Yohan Daryono Desain Sampul dan tata letak …. Penerbit Bekerja sama dengan Universitas Katolik Widya Karya Malang & SMAK Santa Maria Malang ISBN: Cetakan pertama: Januari 2021

KATA PENGANTAR Shalom… Segala Puji Syukur hanya bagi Tuhan, karena berkat pertolongan Tuhan saja buku Kumpulan Pentigraf ini dapat terselesaikan dengan baik. Suatu kebanggaan yang luar biasa, saya selaku guru kelas XII angkatan 2018 diberikan kesempatan untuk membimbing para siswa yang sangat luar biasa. Saya ucapkan terima kasih untuk kerja keras, pemikiran, dan pengaplikasian materi pentigraf yang telah disampaikan sehingga buku ini dapat diterbitkan. Juga saya sampaikan limpahan terima kasih kepada para orang tua siswa yang mendukung baik dalam doa, masukan-masukan positif, dan juga materi. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada Suster Kepala SMAK Santa Maria Malang, Sr. M. Margreeth Widiyastuti, SPM, M.Pd karena telah memberikan restu terhadap projek penulisan ini. Juga limpah terima kasih saya sampaikan kepada tim kurikulum dalam hal ini Ibu Atik Woroastuti, S.Pd dan juga Bapak Petrus Apriliyanto, S.T yang telah memberikan arahan, sehingga pelatihan ini dapat bermanfaat bagi KD 3.10 dan 4.10 dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pada kesempatan ini, saya juga menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Dr. Agustinus Indradi, M.Pd selaku dosen Universitas Katolik Widya Karya Malang yang berkenan menjadi fasilitator, partner dan sekaligus memperkenalkan karya tulis Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) kepada para siswa angkatan 2018. Semoga ilmu yang telah dibagikan mampu membawa dampak positif bagi para siswa dan juga para pembaca pada umumnya. Akhirnya, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu untuk dukungan dan masukan yang diberikan. Semoga buku ini bermanfaat bagi para pembaca dan meningkatkan kecintaan siswa terhadap bidang literasi sastra. Tuhan memberkati kita semua. Malang, Desember 2020 Fani Yohan Daryono, S.Pd Guru Pembina Mapel Bahasa Indonesia XII

KATA PENGANTAR Alangkah baiknya Tuhan yang Mahabaik! Berkat kasih dan penyertaan-Nya, buku kumpulan Pentigraf Kelas XII telah berhasil diselesaikan. Proficiat untuk Siswa-siswi Kelas XII! Kiranya karya Kalian menjadi embrio penulisan yang baik bagi masa depan kalian. Kami berharap, hal ini akan memunculkan para penulis yang menginspirasikan hal-hal positif bagi bidang ilmu kebahasaan pada umumnya, dan kesusastraan pada khususnya. Kami menyadari bahwa tanpa arahan dari guru pembimbing serta masukan-masukan dari berbagai pihak, buku ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Terima kasih kepada Bp. Fani Yohan Daryono, S.Pd. selaku guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia Kelas XII, yang telah setia membimbing para siswa sampai kepada pencetakan buku ini. Tidak lupa, kami juga berterima kasih kepada Bapak Dr. Agustinus Indradi, M.Pd., wakil dari Universitas Katolik Widya Karya, selaku partner, curator, dan fasilitator yang bersedia memfasilitasi SMAK Santa Maria dalam pengembangan kompetensi menulis para siswa. Semoga sinergitas dan kerjasama yang kolaboratif ini terus terjalin erat, sehingga projek-projek serupa tidak berhenti pada Kelas XII angkatan 2018, tetapi berkelanjutan pada Angkatan-angkatan berikutnya.. Sekali lagi proficiat untuk kita semua, tetap sehat, tetap produktif dalam berkarya. Berkah Dalem Malang, Desember 2020 Sr. M. Margreeth Widiyastuti, SPM, M.Pd. Kepala SMAK Santa Maria Malang

DAFTAR ISI KELAS IPS 1 KESIGAPAN SEORANG AYAH Adeline Tandunegara DIRIKU DENGAN PERASAAN Alexander Bertram Christian D. PERTEMUAN DI TAMAN Anatasia Vanessa P. DIA Ayub Prastywan LORONG MIMPI Blasius Leonardo W. MASA SMA Christina Bigtha R. NAMA SAYA INEM Cicelly Chiesa K. SAHABAT Clarissa Divinanda LANGKAH KAKI YANG TAK DAPAT KUHENTIKAN Fernando Richard S KAMIS HARI SPESIALKU Fransiska Enda MAMA MASIH BELUM MENJAWAB Gian Tripatra T. SATU LANGKAH MENUJU PIALA DUNIA Jeremia Alvin Siemawijaya TUJUH HARI Jessica Andrea

AKU DAN KALIAN Leonia Vanessa W. PENGAKUAN Marie Angelina H.J. PICASSO Marvella Avelia CERITA MALAM HARI Melanie Maria Wijayanto BEBASAN Monica Aprilia B. KESEMPATAN KEDUA Nathaneal Felix Poedjiono RUMPUN BAMBU TEPI SUNGAI Sean Richard R.D. SELAMAT TIDUR Sekar Respathi DATANG UNTUK PERGI Tantrifosa Cendana PENGORBANAN ATAS NAMA “CINTA” Tessalonica Vannesia Nathania C. PSIKOPAT Tirza Asarela Surinta SUDAH NASIB KAMI Veronika E.D. DISKUSI YANG BERKESAN Veronika E.D. TEMAN KHAYALAN Yohanes Philipus Bagas Arda S.

TANGISAN MALAM Zefanya Christabel Wibowo KELAS IPS 2 JANJI PERSAHABATAN Angelina Agarima KEMAH TERAKHIR Audrey Jane Caroline TULUS Bill Agustinus R.T. STASIUN Charles Daniel Isnan TAK BERGUNA Cristiyanto DAFTAR KEMATIAN Elkana Dave BAHAGIA Ferdian Adriano Ananta AKU MENYESAL Geby Hava C. BEKAL Ivana Angie E. HANNAH Jessica Hartono HANYA SEPERTI HALTE Joas Nathanael MAFIA Jocelyn Thalia Hendrijanto

KEJUTAN UNTUK RARA Kezia Tabitha H.S. DOKTER MISTERIUS Kezia Tabitha LOTENG TENGAH MALAM Marcellenus Bisma Y.P.W. KAMERA PENGAWAS Melyana Handoko PERKENALANKU Nesyer Hifli BUKU TERAKHIR Ronaldinho Herry M. ERI MERAIH KESUKSESAN The Wechen Abraham KASIH SAYANG Yohanes Sindu PENGAGUM RAHASIA Yulianti Alicia GADIS FATAMORGANA Zheren Lourencia KELAS MIPA 1 JUMAT YANG AAARRRGGGHHHH Aloysius Krisnata Wardono TERLALU CEPAT Angela Dewi A. MALAIKAT KECILKU Angelica Gloria Tunarsono

KERINDUAN IBU Aracely Evina SAHABATKU YANG PERGI Chrisantus Herunda Lagur MALAM YANG TAK KUNJUNG USAI Farel Aprilio TERIMALAH KENYATAAN Farel Aprilio MENGGAPAI MIMPI Gil Mone MATI RASA Ida Pratista SI CANTIK OLIVIA Jocelyn Song KOTA YANG ANEH Josephine Valentina H. ASAP Mariella Salvalent SAHABAT SELAMANYA Mikhael Rendy MIMPI YANG INDAH Mosses Ferro Putra BAJU HITAM Puspita Maharani Wongso SINGGAH UNTUK SEMENTARA Rachel Sandra Maria KERAMAT Rachel Sandra Maria

MENUJU SENJA Stacia Agatha HABIS MANIS SEPAH DIBUANG Stefanus Christian LANGKAH KAKI Vanessa Cheria Mardova TAKDIR Wijiastutik Rianita KELAS MIPA 2 SEORANG PENJAGA SUNSET Agustin Maria P.F. KUTUB MAGNETIK Aleen Yustio DUNIA VIRTUAL Angelica Belinda S. SUDAH WAKTUNYA Angeline Chrysalea Yuarta PANDEMI Carolina Novena Rosalia Soliwoa HARAPAN YANG SIRNA Christofer Oka W. PANEH Clarissa Debora SECANGKIR ANGGUR Dova Fedora BONEKA PUTIH Faustina Yulita

KEKASIH SEMENTARA Gabrielle Ezra H-1 SEBELUM HARI H Jennita Halim KASIH SAYANG SEORANG FOTOGRAFER Keshia Jean Darma RINTIHAN APARTEMEN TUA Keshia Jean Darma M ALU Kevin Wong PELANGI Laura Julianne W. DINGIN Mellensia Zefanya Angwar KERINDUAN Octaryo Lucas M.S. KELUARGAKU TERCINTA Rebecca Darmawan TERTIDUR Timothy Elrico TERAKHIR Valencia Bulan JUARA Valery Hendra MISTERI PEMBUNUHAN Yonathan Dian

KELAS MIPA 3 PEMULIHAN PASTI TERJADI Albert Jefferson Halim KEJUTAN Alexander C.N. ANDAI Alexander C. N. LORONG SUNYI Alyssa Belva IA YANG TERDENGAR Angelica Gabriella Leoni Kusumadewi TAMU TAK DIUNDANG Angelica Gabriella Leoni Kusumadewi TEDUHAN TAK KASAT MATA Angelica Gabriella Leoni Kusumadewi ANAK KECIL Bernadeta Cantika Vine W. MUKJIZAT ITU NYATA Caesar Hermawan MOMEN YANG DIIMPIKAN Catalina Cathleen Sunur MISTERI Clarissa Aricela Sulianto APUNG Clarissa Aricela Sulianto PENANTIAN YANG TAK KUNJUNG USAI David Samuel KENYATAAN PAHIT Dennis Arvyanto

AYAH Erfan Dwidias A. SI KECIL YANG MEMATIKAN Fiandry Mesakh H. GADIS BAJU MERAH Haryu Kusumo Mardi LIBURAN Jerry Ang PAHLAWAN DI LAPANGAN Jerry Ang PRIA BERJUBAH HITAM Kerubim Adi RINDU YANG TERLANJUR MENGGEBU Kezia Rantealo AKHIR KISAH Marble Ganriella HARI TERAKHIR Mely Angellina W PERPISAHAN TAK TERDUGA Michelle Patricia T. PERBUATAN TAK TERDUGA Nathania Jayanti Saputra KEBAHAGIAAN SESAAT Nathania Jayanti Saputra PAYUNG YANG TERLALU RENDAH Olivia Simonsam PAMAN DEPAN RUMAH Pricillia Yohana D.

BOKAP NYOKAP Raphael Airlangga A.D.P. BERTEMU SEORANG DEWI Sebastianus Dimas Anjangasmara KOSTUM Steven Hariyadi TAK PERNAH TAHU Vanessa Audrey S.

Kelas IPS 1

KESIGAPAN SEORANG AYAH Adeline Tandunegara Aku pulang sekolah bersama teman-temanku Nira dan Nala. Saat kami sedang dalam perjalanan, kami melihat ada anak kecil yang sedang bermain-main dengan teman-temanya, tetapi mereka tidak diawasi oleh orang dewasa atau orang tua mereka. Tidak lama kemudian salah satu anak berlari ke seberang jalan tanpa melihat situasi jalan. Dari arah berlawanan ada mobil dengan kencang. Lalu ada seorang lelaki tua yang lari segera menyelamatkan anak tersebut sebelum mobil menabraknya. Lelaki tua itu memeluk anak itu sambil menangis. Ternyata laki-laki tua tadi adalah ayahnya yang telah lalai dalam memperhatikan anaknya yang bermain di dekat jalan raya. Mereka segera pulang dengan raut wajah yang sedih, dan kami juga segera melanjutkan perjalanan pulang kami agar tidak terlambat. Setelah sampai ayah kami menayakan kenapa kami sedikit lama dari biasanya. Lalu kami menceritakan apa yang kami lihat di dalam perjalanan. Kemudian ayah kami memberitahu kami bahwa itulah arti kasih sayang seorang ayah kepada anaknya.

DIRIKU DENGAN PERASAAN Alexander Bertram Christian D. Aku sungguh tak tahu harus bagaimana agar bisa menghasilkan sebuah titik terang dalam menghapus perasaan ini. Aku bingung mengapa aku hilang kendali terhadap diriku sendiri. Mencari sebuah titik terang memang terasa sangat sulit. Ingin ku bertanya kepada teman, namun tidak menghasilkan jawaban dan tidak terdengar suaraku di telinga mereka. Seolah suaraku hanya mengalir dan mengambang di depan mereka. Jadi kupilih untuk tetap berdiam dan mencari sendiri perasaan apa yang sesungguhnya itu. Suatu malam aku mencari udara segar dengan berjalan-jalan menggunakan motorku. Melihat indahnya kota Malang di malam hari dan indahnya bangunan dengan gemerlap lampu yang memiliki warna cerah. Hingga waktu menunjukan pukul 10 malam, aku masih belum ingin pulang karena apa yang kurasakan ini semakin menggebu-gebu dalam diriku. Aku bertanya pada Tuhan “Rasa apa yang kau berikan padaku sehingga diriku tidak menemukan jawabannya?” Saat ku menengok kanan dan melihat sebuah tempat yang sunyi dan indah untuk dipandang akhirnya aku berusaha untuk menyingkir dari jalanan dan berhenti di tempat tersebut untuk berpikir lebih dalam lagi. Tapi entah mengapa aku semakin benci terhadap diriku sendiri karena rasa ini membuat semuanya terasa hambar, baik kepada keluarga, teman dan masyarakat sekitar seakan diriku tidak memiliki hati nurani. Tak kusangka tempat itu ternyata semakin lama aku berdiam semakin ramai pengunjung dan aku terdiam saat melihat sebuah perempuan yang memiliki paras cantik lewat di depan ku. Ternyata ku mengingat perasaan ini. Perasaan yang pernah hilang dan itu adalah kamu.

PERTEMUAN DI TAMAN Anatasia Vanessa P. Musim gugur telah tiba. Terlihat banyak sekali bunga tulip yang mulai bermekaran. Aku berjalan selangkah demi selangkah menelusuri taman bunga sambil menikmati pemandangan dan aku sedang menunggu seseorang. Tak lama kumendengar suara laki laki “Alexaa!”. Ku menoleh dan mendapati seorang pria menghampiriku. Pria itu langsung berlari dan memelukku dengan erat. Aku pun mengelus punggung pria tersebut. “Dari mana saja kamu? Aku sudah menunggumu…” Bisikku dengan pelan. “Aku datang ke sini untuk menjemputmu, sayang…” Jawabnya sambil mengelus rambutku. Aku telah meninggal 2 bulan sebelum hari ini, dan pria yang kupeluk ini adalah suamiku yang baru saja meninggal. Kami mengalami kecelakaan mobil 2 bulan yang lalu. Aku ditemukan telah meninggal sedangkan suamiku sedang mengalami masa kritis dan koma hingga 2 bulan. Ketika ia siuman, ia mendengar percakapan antara anak kami dengan temannya bahwa aku telah meninggal dunia setelah kecelakaan tersebut. Semenjak itu, kondisi dia semakin memburuk dan hingga akhirnya meninggal dunia. Kami bertemu di taman. Ia melepaskan pelukannya. Air mata berjatuhan tak terkendali ketika ia memandangku. “Mengapa kau meninggalkanku?” Tanya dia sambil menghapus air matanya. “Aku tidak ingin kamu menyusulku, begitu cepat!” Jawabku dengan pelan sambil menahan air mata. “Kenapa?!!” Tanyanya denga suara yang lantang. “Karena aku mencintaimu dan tidak mau kamu meninggalkan anak kita!” Jawabku dengan tegas. Namun, aku sudah tak kuasa menahan air mata in. “Ini karena, aku sangat mencintaimu sayang….” Aku mulai menghapus air mataku dan seketika ia menarikku dan memelukku dengan hangat.

DIA Ayub Prastywan Pagi yang cerah dengan diiringi lagu yang membawa kesejukan dan kedamaian di hari itu. Kunikmati setiap alunan nada yang keluar dari petikan gitar dan suara burung yang bersenandung ria membuat diriku bersemangat untuk menjalani pagi yang indah. Kuberi senyuman termanis kepada setiap orang yang melihatku dan dibalas dengan senyuman yang tidak kalah manisnya dari orang-orang sebagai tanda bersyukur karena masih bisa melihat pagi yang indah. Pagi itu secara tidak sengaja, aku bertemu dengan perempuan yang memberiku senyuman manis selayaknya bidadari yang datang ke bumi. Aku tidak bisa berpaling dari senyuman manis itu, hingga aku tidak bisa melupakan senyumannya. Hatiku berkata “Apakah ini yang dinamakan cinta?” sambil masih kubayangkan senyuman indahnya saat kita bertemu untuk pertama kalinya. Hingga terbawa lamunan dan berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan dia lagi. Aku hanya bisa membayangkan senyuman dia yang telah merubah pagiku menjadi sangat istimewa, berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Sampai-sampai bayanganku dirusak oleh adikku sendiri yang membuat aku kaget dan berbicara “Kakak sudah gila ya? Kok senyum-senyum sendiri”. Semakin kaget dibuatnya setelah adikku berbicara seperti itu. Malam itu, aku memutuskan untuk cepat-cepat tidur dan berharap keesokan harinya aku dapat melihat senyuman yang telah merubah diriku dan merubah hariku menjadi hari yang indah karena dia. Hari telah berganti dari malam ke pagi lagi, aku terbangun dari kasur dan bergegas ke kamar mandi dan menyiapkan penampilanku untuk bertemu dengan dia lagi. Setelah semua persiapan sudah dilakukan, aku bergegas keluar rumah untuk menghirup udara pagi yang segar dan ingin berjalan melihat taman di dekat perumahan. Sesampai di taman, aku duduk di kursi dan beristirahat sambil melihat bunga-bunga yang indah. Kembali lagi aku dikejutkan oleh dia yang secara tiba-tiba duduk di depanku, melihat diriku, dan memberi sapaan dengan senyumnya.

Waktu terasa berhenti detik itu juga karena senyumannya, aku terpaku diam karena kaget akan kehadiran dirinya secara tiba-tiba dan hanya bisa melihati dirinya. Menurutku dia adalah bidadari yang pernah muncul di dalam hidupku, matanya yang lebar, rambutnya yang terurai, dan senyuman manisnya membuat hidupku menjadi berwarna. Keluarlah sebuah kata halus dari mulutnya menegurku “Hallo, namaku Melody”, aku terkaget dan secara tidak sengaja membalas perkataannya dengan berbicara “Kamu Cantik, Melody!”. Muka dia berubah menjadi warna merah dan menjadi malu-malu, aku pun tersadar dan berkata “Maaf-maaf aku tidak bermaksud seperti itu. Maksudku, Hallo namaku Melo”, dia pun tertawa kecil dan memberiku senyuman manisnya. Pertemuan itu adalah sebuah awal dari perjalanan hidupku untuk mencintainya dan berharap setiap pagi bisa bertemu dia lagi di taman itu.

LORONG MIMPI Blasius Leonardo W. Kuterbagun di suatu ruangan kosong, siapa aku? Di mana ini? Kepalaku terngiang rasa sakit. Lantai dan dinding tempat ini terasa dingin dan yang ada di depanku hanyalah sebuah pintu kayu. Kuberusaha bangun, dan memasuki pintu itu “Aku harus mencari tahu siapa dan dimana aku” batinku berbisik. Ruangan di balik pintu ini terlihat seperti lorong koridor komplek rumah biasa yang berjendela. Aku mencoba melihat ke luar jendela, tapi hanya kegelapan di luar sana. Kumelihat foto dan koran yang bertulis 12 Agustus 1984. Tiba-tiba suara orang bercakap terdengar di belakangku. “Siapa itu !” kuberteriak. Ternyata hanya sebuah radio, karena aku tidak menemukan apa pun aku memasuki ruangan lainnya yang saat kubuka memiliki tangga kebawah seakan-akan memasuki sebuah basement. Aku menuruni lorong tangga itu dan memasuki ruangan baru, “Bukannya ini?” Kagetku ini adalah ruangan yang sama. Terus menerus kuberjalan tapi mengapa aku selalu kembali ke lorong ini? Tidak ada yang berubah hanya saja semakin lama aku merasa tertekan. Seperti ada yang mengawasiku. Untuk kelima kalinya aku memutari lorong-lorong ini, kali ini ada yang berbeda. Dia berdiri di sana. Seorang wanita pucat yang terus menerus menggertakan giginya. “Apa kau tak apa?” Kutanya, dia hanya terdiam, saat kulihat wajahnya dia menangiskan merah darah, dan berteriak. Tanpa kusadari ternyata aku hanya bermimpi dan terbangun di kamarku, aku bangun dan bersyukur itu hanya mimpi. Selagi setengah ngantuk kuberjalan keluar dan membuka pintu kamarku “Mengapa lorong koridor ini terasa tidak asing?”.

MASA SMA Christina Bigtha R. Masa SMA adalah masa-masa yang menyenangkan. Begitu juga dengan apa yang dirasakan Andin. Tetapi tidak untuk persahabatannya. Dia mempunyai empat orang berharga yang telah dia anggap sebagai sahabatnya. Mungkin sudah 2 tahun mereka bersama. Sekarang dia duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat dia menginjak umur 17 tahun, dia mengetahui betapa salahnya dia telah menganggap mereka sebagai orang sahabat. Cerita ini dimulai saat temannya bernama Al menunjukkan semuanya kepada Andin. Al adalah teman laki-laki dari Andin dan mereka cukup dekat, tidak hanya dengan Al namun dengan teman laki- laki yang lain. Pada suatu hari, Al dan teman-teman Andin yang lain sedang nongkrong di rumah Al. Mereka bercerita dan bermain seperti biasa. Lalu pada saat mereka pulang, tidak sengaja HP salah satu teman Al tertinggal di meja. Karena Al dan temannya sudah cukup dekat, Al tidak segan untuk membuka HP temannya itu. Lalu Al membuka Whatsapp dan Al menemukan satu grup yang berisikan sahabat- sahabat Al dan Andin, tapi didalam grup itu tidak ada Al dan Andin. Mendengar hal itu pastilah Andin merasa sedih dan tidak menyangka bahwa hal itu akan terjadi di dalam hidupnya. Padahal mereka pernah sepakat bahwa mereka akan selalu terbuka dan mendukung satu sama lainnya. Sepanjang hari Andin hanya bisa melamun dan memikirkan semua itu. Ia berpikir apakah itu semua terjadi dalam hidupnya? Apakah ini hanya sebuah mimpi belaka yang mengingatkan dia bahwa tidak semua teman bisa dipercaya dengan begitu saja? Di dalam pikirannya hanya terlintas topik yang sama. Tidak lama kemudian, dia disadarkan oleh Al, dan dia berkata kepada Andin bahwa ia akan mengatakan sesuatu kepadanya. Lalu Al menceritakan semuanya kepada Andin, dia merasa aneh dan merasa seperti pernah mendengar cerita itu, ternyata dia baru menyadari selama 17 tahun dia hidup, bahwa dia bisa membaca

situasi dan pikiran orang lain sebelum orang tersebut berbicara kepadanya.

NAMA SAYA INEM Cicelly Chiesa K. Pagi ini saya bangun seperti biasa, menyiapkan makan suami, membersihkan kebun hingga menyapu dan mengepel. Setelah saya berbicara kepada suami, saya memukulinya. Tak lama berselang suami saya melaporkannya kepada Pak RT. Sebenarnya saya tidak apa-apa, hanya saja tadi pagi ia membuat saya emosi. Talk lama kemudian Pak RT datang menemui saya. Dia mengira saya sakit jiwa. Ia hanya terdiam melihat saya dengan suami saya. Dalam hati saya berkata “Kenapa pakRTsampai kesini, toh saya memukuli suami juga tidak parah banget”. Selanjutnya Pak RT bertanya kepada saya, mengapa saya memukuli suami saya. Saya bercerita “Tadi pagi suami saya bertanya, Ratih, sekarang jam berapa?” lalu Pak RT terbingung sendiri lalu ia bertanya titik salahnya di mana. Dengan santai saya menjawab “Nama saya Inem”.

SAHABAT Clarissa Divinanda Suasana inilah yang selalu kutunggu. Hening, sepi, dan tenang. Terdengar lantunan suara musik yang sengaja kuputar untuk sekadar menemaniku menikmati waktu bersantai di malam hari. Hari ini genap satu bulan sejak kepindahanku ke area yang lebih dekat dengan lokasi kampusku. Aku juga bahagia karena rumah sahabatku letaknya tidak terlalu jauh dengan area apartemenku. Dengan terpaksa aku segera mematikan musik yang kunikmati dan bergegas menuju pintu apartemenku begitu aku mendengar suara ketukan dari sana. Tampak sahabatku yang sedang berdiri dengan wajah yang muram dan sedih. Aku pun segera mempersilahkannya masuk dan membuatkannya secangkir teh untuk menghangatkan tubuhnya. Segera setelah meminum tehnya, ia menuju kamar tamu yang biasa ia tempati saat menginap di sini tanpa mengatakan sepatah kata apapun. “Mungkin ia sedang patah hati.”, begitu pikirku yang kemudian juga bergegas untuk tidur. Pagi-pagi buta aku sudah bangun untuk mempersiapkan diri menuju kampusku dengan mendapati kamar tamu yang sudah kosong. Sesampainya di kampus aku langsung menceritakan kejadian semalam kepada teman satu jurusanku, barangkali ia tahu permasalahan apa yang sedang dihadapi sahabatku. Ia menatapku dengan tatapan yang kaget, seolah tidak percaya dengan ceritaku. Lalu dengan suara lirih ia berkata, “Dia kan sudah meninggal seminggu lalu dan kamu tidak sempat datang ke pemakamannya.”

LANGKAH KAKI YANG TAK DAPAT KUHENTIKAN Fernando Richard S Di suatu malam yang sangat gelap, dengan tidak adanya sedikitpun cahaya yang menerangi langkah kakiku, Kuberanikan berjalan memasuki sebuah hutan yang ada di belakang rumahku. Tidak tahu apa yang terlintas dipikiranku untuk memasuki hutan tersebut. Langkah demi langkah kakiku yang terus saja berjalan tanpa henti. Aku seperti tidak dapat mengendalikan kakiku sendiri. Tidak terasa 5 menit lamanya aku melangkahkan kakiku untuk menulusuri hutan belakang rumahku ini. Aku mendengar seperti ada seseorang yang mengikuti aku dari belakang. Semua bulu tanganku pun berdiri ketakutan. Hawa dingin dari hutan pun menusuk semua pori-pori kulitku. Tetapi aku pun tetap melanjutkan untuk menulusuri hutan itu dengan dikendalikan oleh kedua kakiku, walaupun di dalam hatiku mengatakan untuk berhenti. Tak lama berselang, ada suara yang cukup asing di telingaku. Suara yang memanggil namaku. Tetapi kakiku tetap saja berjalan tanpa menghiraukan suara panggilan itu. Suara dan langkah kaki asing itu pun mendekat ke arahku. Aku merasakan bahu kiriku seperti digenggam oleh seseorang. Langkah kakiku pun terhenti dengan seketika, dan mataku tiba-tiba terbuka lebar. Dengan terkejutnya saat aku melihat ke belakang dan melihat ayahku yang sedang memegang bahuku. Ayahku pun menjelaskan bahwa aku sedang mengigau.

KAMIS HARI SPESIALKU Fransiska Enda Dengan hati yang gembira, kubuka jendela kamar sesaat setelah aku bangun tidur. Entah kenapa perasaanku pagi itu begitu gembira seperti ada hal istimewa yang akan menghampiriku. Aku baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku sudah tidak sabar ingin mendapatkan kado dan kejutan dari mama, papa, dan teman-temanku nanti. Pasti sangat seru dan menakjubkan. Lalu aku coba keluar dari kamar dan aku pergi ke ruang tengah untuk menemui mama dan papa. Tetapi mereka tidak ada disana. “Lalu aku berpikir apa mungkin mereka sedang pergi keluar untuk membeli kado untukku.” Kemudian aku pun pergi ke taman untuk duduk di sana dengan mendengarkan musik kesukaanku. Termenung sejenak, aku memikir apakah teman-temanku mengingat hari ulang tahunku ini. Dengan spontan akupun langsung mengingat sahabatku Reni, “Apakah dia juga tidak ingat dengan hari ulang tahunku ini?” Tetapi aku mencoba untuk tetap berpikir positif bahwa mereka tidak lupa dengan hari ulang tahunku ini mungkin saja mereka lagi sibuk dan juga nanti pasti mereka akan mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Aku pun kembali ke kamar untuk rebahan. Tidak lama HP-ku bergetar begitu keras dan ternyata banyak pesan masuk dari teman-temanku untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Mulai dari sini aku merasa senang ternyata mereka tidak lupa dengan hari spesialku ini termasuk sahabatku Reni. Setelah sekian lama aku menunggu kedatangan teman-temanku akhirnya mereka pun datang untuk memberikan kejutan untukku. Ternyata mereka sengaja untuk tidak mengucapkan selamat kepadaku karena mereka ingin memberikan kejutan yang begitu spesial. Lalu salah satu temanku berbicara, “Maaf ya kalau kita membuat kamu merasa sedih karena kita telat ucapin selamat ulang tahun untukmu.” Aku menjawab,”Iya tidak apa-apa kok, yang penting sekarang kan kalian sudah ada di sini untuk merayakan hari ulang tahunku.

Kemudian tidak lama mama dan papa pun datang dan mereka membawa kado yaitu boneka yang sangat besar dan sepatu yang begitu indah. Aku pun langsung memeluk mereka dan mengucapkan terimakasih karena aku sangat suka dengan kadonya. Tetapi aku merasa ada sesuatu yang aneh ternyata di rumahku pada hari spesialku ini tidak hanya ada teman-teman dan orangtuaku tetapi ada banyak orang lain termasuk tetangga-tetanggaku. Di sini aku melihat yang awalnya mereka tersenyum dan bahagia berubah menjadi tangisan dan aku melihat mereka semua memelukku sangat erat seakan-akan tidak ingin melepaskanku. Ternyata baru kusadari bahwa aku telah meninggal di hari spesialku dan meninggalkan mereka semua untuk selamanya. Mungkin ini rencana Tuhan yang terbaik untukku Ia memanggilku untuk kembali kepangkuannya di hari spesialku ini.

MAMA MASIH BELUM MENJAWAB Gian Tripatra T. Brig mengangkat kedua tangannya dengan lemah. Meraba-raba benda di atas kepalanya yang lelah terbaring. Jemari kecilnya menyentuh lingkaran korona keemasan hadiah untuk ulang tahunnya yang keenam tahun dua hari lalu. Pesta itu telah berlalu dan menyisakan hadiah tambahan tak terduga, virus Corona di dalam tubuh kecilnya. “Princess pasti kuat!” Tulisan itu tertempel di dinding bangsal rumah sakit sejauh juluran tangannya. Ada foto dirinya, Mama, dan almarhum Papa di kertas putih itu. Mama yang menuliskannya. “Apakah Brigitta tahun depan masih bisa berulang tahun, Ma?” tanya Briggita ketika Mamanya didesak oleh perawat untuk segera meninggalkan bangsal itu. Mama belum menjawabnya sampai sekarang

SATU LANGKAH MENUJU PIALA DUNIA Jeremia Alvin Siemawijaya Pada waktu itu terdapat sebuah pagelaran sepak bola usia 16 antar negara Asia yang bisa menuju ke ajang kejuaraan Piala Dunia. Indonesia di sana yang tidak terdengar suaranya dan tidak ada nama yang pernah muncul di ajang kompetisi Indonesia membuat Indonesia tidak dijagokan dalam ajang ini. Semua pemain dalam skuat Indonesia usia 16 ini merupakan pemain debutan dan belum merajakan ajang internasional. Para pecinta sepakbola di Indonesia pun tidak ada yang pernah mendengar nama-nama pemain dari Timnas Indonesia usia 16 tersebut.Tapi itu bukan halangan bagi mereka untuk berprestasi. Setelah berlatih cukup lama dan intens,pemain kita berangkat menuju Malaysia untuk mengikuti kejuaraan tersebut. Dimulai dari babak penyisihan grup,Indonesia tampil mengejutkan dengan serangan yang tertata rapi dan pertahanan yang begitu kokoh. Timnas Indonesia pun melewati 3 tim yaitu India,Iran dan Vietnam dengan sangat mengejutkan. Timnas Indonesia pun keluar sebagai juara grup dan berhasil lolos ke babak 16 besar. Timnas Indonesia pun sudah ditunggu oleh Australia yang menempati posisi kedua di grup lain sebagai lawan Indonesia di babak 16 besar. Pada saat itu pun membuat masyarakat pecinta sepakbola di Indonesia menjadi sangat tertarik melihat permainan Indonesia usia 16. Jika mereka berhasil mengalahkan Australia, mereka akan lolos untuk ajang kejuaraan piala dunia. Pertandingan dimulai, Indonesia berhasil membuka keunggulan, maka segera disambut dengan riuh suporter Indonesia yang hadir di lapangan.Tetapi selang beberapa menit Australia berhasil membalikkan kedudukan yang membuat mereka unggul, Indonesia sempat nengejarnya tapi waktu sudah bertanda akhir pertandingan. Timnas Indonesia pun gagal menuju ke piala dunia.

TUJUH HARI Jessica Andrea Tiba-tiba handphone-ku bergetar. Saat aku membukanya aku mendapatkan sebuah pesan. “Tujuh hari lagi akan datang,” katanya. Aku tidak mengenali orang tersebut. Tetapi entah bagaimana, perasaanku sangat senang. Rasa ingin tahuku meningkat dan bercampur aduk dengan perasaanku yang tidak sabar. Tetapi tujuh hari bukan waktu yang lama, jadi aku akan menunggu sampai hari itu tiba. Hari-hari selanjutnya aku tetap melanjutkan aktivitasku seperti biasanya. Aku belajar, memasak, hingga membaca buku. Namun, disela-sela kegiatanku aku selalu teringat akan hal itu. Hatiku sudah sangat tidak sabar akan menyambut kehadirannya. Masih ada beberapa hari yang tersisa, aku mulai gelisah dan mulai berpikir yang tidak-tidak. Aku berpikir bagaimana jika terjadi sesuatu padanya dalam perjalanan? Tetapi aku tetap percaya pasti ia akan baik-baik saja. Pada akhirnya sudah hari yang ke tujuh. Aku sudah menantikannya sejak pagi hari. Namun, ia tak kunjung datang. Tetapi aku pantang menyerah. Aku akan menunggu sampai hari ini berakhir. Tidak terasa hari sudah menjelang siang. Aku yang dari tadi menunggu sudah mulai mengantuk dan akhirnya tertidur. Tak lama kemudian terdapat suara motor berhenti tepat di depan rumahku. “Paket!” sahut orang tersebut dari luar. Aku segera bangun dengan perasaan sangat tidak sabar dan menghampirinya. Akhirnya, saat yang paling kutunggu telah tiba. Terima kasih kurir.

AKU DAN KALIAN Leonia Vanessa W. Awal aku mengenal kehidupan, aku sangat bahagia. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang aku sayang. Namaku Yena, aku lahir di Bandung dan tinggal bersama kedua orang tuaku. Hari-hari ku lewati bersama mereka. Namun setelah papa berubah, aku merasa hampa dan kesepian. Ingin rasanya ku pergi dari orang-orangku. Semenjak mereka memutuskan untuk berpisah karena papaku yang suka judi, minum miras, dan tidak bekerja, aku menjadi anak yang pendiam. Aku seperti merasa lelah dengan semua keadaan yang ada. Setelah dari kejadian tersebut, aku merasa tidak percaya diri. Karena aku merasa trauma dengan papaku. Itu semua terjadi saat aku masih TK. Saat aku duduk di bangku SD, aku menjadi orang yang cuek. Aku sering dibully teman-teman. Aku berdoa kepada Tuhan agar aku seperti mereka yang memiliki teman banyak, orang tua yang selalu ada bersama mereka, selalu membelikan apa yang mereka mau tanpa harus memikirkan perekonomian keluarga mereka. Dan akhirnya doaku terkabul ketika aku sekolah SMA di Malang dan tinggal di rumah nenekku. Aku betul-betul memiliki banyak terman dan aku menikmati masa-masa SMA-ku.Terima kasih Tuhan ….

PENGAKUAN Marie Angelina H.J. Hari ini aku memberanikan diri untuk memberi tahu sahabatku bahwa aku adalah perempuan yang menyukai sesama jenis. Aku takut sahabatku tidak dapat menerimanya, namun aku merasa sahabatku perlu tahu mengenai ini. “Hans, ada hal yang ingin kukatakan padamu” Hans bertanya, “Ada apa?”. Dengan hati-hati aku menjawab, “Sebenarnya aku adalah seorang penyuka sesama perempuan.” Respon Hans jauh di luar dugaanku “Terima kasih telah jujur, aku tahu pasti sangat sulit mengumpulkan keberanian untuk membicarakannya padaku. Aku akan selalu menghargai pilihanmu, walaupun seluruh dunia membalikkan badan terhadapmu. Menurutku tidak ada salahnya mencintai , walaupun dengan sesama jenis”. “Aku sangat bersyukur memiliki sahabat sepertimu… Ah, ada satu hal lagi yang harus kukatakan” Hans bertanya lagi “Ada apa lagi?”. “Hans, aku tahu kita telah bersahabat sekian tahun lamanya, tapi kamu harus melepaskan aku. Sudah waktunya aku kembali ke alam di atas sana”.

PICASSO Marvella Avelia Panas matahari mulai terasa di tubuhku. Aku segera bergegas pergi ke rumah temanku, Sonia. Rumahnya seperti rumah impian, sangat megah dan besar. Ia menyambutku dengan senyuman manisnya. Aku mulai memasuki rumahnya, seluruh interior rumah ini terlihat mahal dan elegan, terlebih kamar Sonia. Aku menghabiskan waktuku untuk mengangumi seisi ruang tidur ini, sebelum Sonia mengajakku bermain. Terdengar suara teriakan yang mengagetkan kami berdua. Suaranya begitu nyaring yang bersumber dari bawah. Secara reflek kami berdua saling bertatapan. Aku langsung keluar dari kamar Sonia dan melihat dari atas apa yang terjadi di bawah sana. Suara teriakan tersebut merupakan suara Ibu Sonia. Anggota keluarga Sonia satu per satu mulai menghampiri ibunya, termasuk Sonia yang sudah berada di bawah. Aku pun segera menghampiri Sonia. Sekilas terdengar bahwa mereka membicarakan Picasso yang sudah tiada. Tak lama kemudian, Ibu Sonia menangis dan semua anggota keluarga hanya terdiam. Mendadak suasana menjadi sunyi. Aku mengerutkan kening dan kebingungan siapa sebenarnya Picasso. Setelah kami kembali ke kamar, aku bertanya kepada Sonia siapa itu Picasso? Apakah itu saudaramu? Sonia menatapku dan mengatakan bahwa Picasso adalah ikan kesayangan ibunya yang dianggap sebagai keberuntungan bagi keluarganya.

CERITA MALAM HARI Melanie Maria Wijayanto Mimi merupakan gadis SMA yang ceria dan tinggal di asrama. Dia memiliki banyak teman dan termasuk pribadi yang mudah bergaul. Ia juga pribadi yang selalu mengandalkan Tuhan. Suatu malam, Mimi sedang begadang di kamar asrama bersama temannya Maria sampai pukul 23.00. Akhirnya Mimi memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Kebiasaan Mimi sebelum tidur yaitu pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Nah…, waktu dia sudah selesai buang air kecil, tiba-tiba ia terdengar langkah kaki seseorang memasuki daerah kamar mandi… “Tap tap tap tap”. Mimi tidak menghiraukan karena Mimi berpikir bahwa itu adalah Maria, temannya. Namun setelah selesai buang air kecil, Mimi tak melihat siapa pun ada di sana. Saat Mimi menyelusuri lorong kamar mandi, tidak ada satu pun orang di situ dan semua kamar mandi terbuka lebar dan hanya terdengar tetesan air kran dari kamar mandi. Mimi berusaha untuk melupakan apa yang terjadi pada malam hari itu dan mungkin ia hanya terlalu lelah saja. Dua minggu pun berlalu dan ia menjalankan aktivitas seperti biasanya. Hingga di suatu siang, ketika ia sedang les bersama guru matematikanya. Posisi dia pada waktu itu sedang menulis di teras asrama. Tepat di kanan Mimi adalah taman asrama yang terdapat pohon besar. Saa itu, ia melihat seperti bapak-bapak sedang berada di atas pohon tersebut melalui ekor matanya. Saat ia menoleh ke arah pohon tersebut, ternyata tidak ada siapa-siapa di sana. Sejak saat itu, ia jadi penasaran dengan suara langkah kaki yang pernah didengarnya.

BEBASAN Monica Aprilia B. Cinderella dengan sepatu kacanya, apakah dongeng itu ada di dalam dunia nyata? Aku berpikir tentang apa yang tidak mungkin terjadi, tak ada gunanya bagiku untuk membayangkannya. Berharap saja merupakan menyakiti diri sendiri yang paling disengaja. Kini semua ini tentang usaha sendiri aku harus sekolah, dan bekerja demi membiayai diriku sendiri. Tidak ada yang melarang aku berbuat sesuatu, apalah ini kebebasan? Tapi aku justru merasa sedih. Jika orang seperti diriku saja tidak merasa bebas, maka kebebasan itu apa? Bagaimana orang dapat mendapatkan kebebasan. Aku berpikir sendiri dan termenung di dekat jendela. Saat perjalanan pulang setelah sekolah tiba-tiba aku melihat keluarga kecil yang manis di pinggir jalan. Mereka tampak sedang berbagi satu kue dan tertawa bersama-sama. Aku berpikir sejenak , bagaimana bisa dengan kue sekecil itu mereka terlihat bahagia? Lalu aku melanjutkan perjalananku yang sepi ini. Aku melihat bapak tua yang tidak memiliki kaki bekerja menjual koran di lampu merah, sungguh hebat kelihatannya. Sesampainya di rumah aku menyalakan televisiku, melihat berita yang mengatakan bahwa ada seorang yang dituduh membunuh dan dipenjara selama 7 tahun. Dia diketahui tetap ramah dan baik serta ceria walaupun berada di dalam penjara tersebut. Hari ini aku sangat tersentuh melihat apa yang ada di depanku. Bahkan yang di dalam penjara pun dapat tersenyum bahagia. Sekarang aku mengerti kebebasan adalah tidak mengharapkan sesuatu, tetapi selalu bersyukur dan menjalani semuanya dengan hati yang terbuka.

KESEMPATAN KEDUA Nathaneal Felix Poedjiono Suara burung yang menyapa pagi layaknya alunan melodi di sebuah teater musik. Aku dan bis kesayanganku pun telah siap untuk menjemput penumpang dari berbagai sudut kota. Bergegas aku segera pergi ke sebuah halte bis pemberhentian pertamaku. Dan tidak kusangka ternyata kondisi kala itu sangatlah ramai bahkan beberapa dari antara mereka rela untuk mengantri dan menungguku selama berjam-jam. Di sanalah aku berjumpa dengan semua penumpangku. Dengan perasaan gembira layaknya memenangkan sebuah lotre, aku menyetir dengan sangat bersemangat. Mulanya tidak ada yang aneh dari pejalanan kami. Tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna putih mengambil jalurku dan mengerem secara mendadak. Tanpa pikir panjang aku langsung membantingkan setirku ke arah kiri sisi jalan tol. Sempat aku berusaha untuk mengendalikan kemudi yang ada di depanku, namun semua itu percuma. Bergegas aku melompat keluar untuk menyelamatkan diri. Pembatas jalan yang tak mampu menahan benturan tersebut membuat bis yang kalanya aku kemudikan harus terhempas ke dalam jurang yang cukup dalam. Aku benar-benar tidak bisa menyadari bahwa pertemuan tersebut adalah pertemuan terakhirku dengan semua penumpangku. Aku sangat teramat menyesal hingga tidur ku pun tak pernah sepulas biasanya. Burung-burung di kala pagi yang mulanya berkicau layaknya alunan melodi di sebuah teater musik kini telah berubah menjadi alunan kesedihan yang tak pernah mampu aku dengarkan. Sungguh aku tak mampu berbuat apa-apa. Andai saja ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahanku tersebut. Dan untuk sekarang yang bisa ku lakukan hanyalah berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan jiwa-jiwa mereka.

RUMPUN BAMBU TEPI SUNGAI Sean Richard R.D. Pak Kamdi terdiam menatap buldoser yang dengan pasti dan dingin merobohkan rumpun bambu di tepi sungai itu. Rumpun bambu itu telah puluhan tahun hidup di situ. Kabar burung mengatakan akan dibangun sebuah apartemen di tempat itu. Apartemen yang akan menjulang 30 lantai. Penduduk di bantaran sungai itu sangat akrab dengan rumpun bambu itu. Dinding, tiang rumah, pintu, jendela, bahkan ranjang mereka terbuat dari bambu yang dipotong dari rumpun yang teduh. Bahkan, mereka sangat dekat dengan musik alam yang disebabkan oleh desir angin yang menyentuh daun-daun, yang membuat tubuh bambu saling bergesekan. Alam di sekitar bantaran sungai menjadi ruang yang sangat damai. Pak Kamdi menarik napas panjang. Dia tidak akan bisa lagi berjalan keliling desa demi desa sambil membawa tangga bambu di pundaknya. Pak Tukijan, tetangganya, tidak akan terlihat lagi memikul kursi dan meja bambu lalu menawarkan kepada mereka yang membutuhkan. Rumpun bambu yang dirobohkan, ikut merobohkan masa depan ekonomi mereka. Sampai nanti.

SELAMAT TIDUR Sekar Respathi Istriku punya kebiasaan yang unik. Setiap malam ketika kami sudah bersebelahan di ranjang, ia selalu menutup mataku dengan kedua tangannya, mencium keningku perlahan, lalu mengucapkan selamat tidur. Malam itu berbeda dari biasanya. Sekeliling kami gelap dan terasa sepi, sampai-sampai aku bisa mendengar suara napasku dengannya. Kuelus wajahnya yang terasa kasar dan penuh dempul setiap kali ia mengeluh kesakitan. Saking sakitnya sampai menangis. Walaupun begitu, ia tetap menepati kebiasaannya; menutup mataku dengan kedua tangannya, mencium keningku perlahan, lalu mengucapkan selamat tidur. Ketika aku bangun, kulihat istriku itu memeluk laki-laki lain sambil menangis. Mukanya mirip sekali denganku, namun separuh badannya tertimpa reruntuhan rumah kami.

DATANG UNTUK PERGI Tantrifosa Cendana Namaku Indah, namun kisah hidupku tak seindah dengan kisah kehidupanku. Aku pernah mempunyai mimpi yang aku gantung setinggi mungkin diatas langit namun seketika lenyap oleh pergaulan yang salah. Aku sempat putus asa dan kehilangan arah oleh keadaanku saat ini. Aku jatuh bangun dalam proses kehidupanku hingga saat ini. Hingga aku bertemu sesosok orang yang bisa membantuku memutar proses kehidupanku hingga sejauh ini. Satria namanya. Sesosok pria berambut ikal yang selalu terlihat bahagia datang dalam kehidupanku. Ia selalu mengajari aku apa artinya bersyukur dalam kehidupan dan juga kembali mengenal Tuhan. Satria selalu memberi dampak positif bagiku. Ia selalu memberi aku semangat dalam keadaan apapun untuk selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Karenanya aku sekarang menjadi bangkit lagi. Pergaulanku yang selama ini salah, perlahan dibantunya mulai dari datang kepada Sang Pencipta dan menjadi pribadi yang lahir baru. Dalam perjalananku lahir baru aku melihat banyak orang di sekitarku yang memiliki nasib tak sebanding denganku. Mulai dari terjebak dari pergaulan yang salah hingga terjebak tidak bisa keluar, karena pergaulan yang salah sehingga harapannya hilang. Perubahan yang aku alami saat ini merupakan suatu mujizat yang sungguh luar biasa sampai aku dibuat takjub dengan yang terjadi dalam kehidupanku. Tapi aku tetap bersedih, saat orang yang telah berjanji padaku tidak akan meninggalkan aku, ternyata pergi juga. Satria telah kembali ke rumah Bapa. Sosok Satria yang selalu terlihat bahagia ini ternyata menderita penyakit jantung koroner yang dideritanya berpuluh-puluh tahun lamanya. Dari sahabatnya yang lain saya akhirnya mengetahui bahwa dia memang sosok yang kuat dan selalu ingin terlihat bahagia. Dia selalu menutupinya dengan sukacita dan ingin berdampak bagi orang sekitar nya dengan mengajak ke jalan yang benar.

PENGORBANAN ATAS NAMA “CINTA” Tessalonica Vannesia Nathania C. Sore itu kala hujan turun membasahi kota, aku duduk di sofa menghadap jendela. Aku melihat betapa kejamnya dunia yang membuat perasaanku selalu gundah. Sudah hampir empat tahun berlalu, namun rasa sakit itu masih tetap ada. Luka dalam yang pernah aku rasakan di saat hati ini mencintai seseorang yang pada akhirnya bukan menjadi takdir. Aku sadar bahwa nasib bisa diubah, namun takdir tak bisa diubah. Merasakan hawa dingin hanya membuatku teringat akan masa lalu, rasanya sangat sakit seperti tersayat belati tajam. Aku selalu menunggu dia kembali, namun nyatanya dia mengingkari janji yang telah kami buat, yaitu janji sehidup semati untuk selalu tetap bersama sampai maut memisahkan. Dia adalah Kevin Ia seorang yang telah merebut hatiku. Aku telah jatuh cinta pada pemuda yang murah seyum dan penyayang pada saat itu. Aku selalu mengucap syukur kepada Tuhan, karena telah memberikan seorang pemuda yang bisa menjagaku, menyayangiku dengan sepenuh hatinya. Perjalanan cinta kami berjalan dengan baik selama satu tahun lamanya, hingga pada suatu hari Kevin harus pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya. Jujur di dalam lubuk hatiku aku tidak bisa jauh darinya. Aku akan sangat merindukannya, aku tidak bisa berhubungan jauh dengannya. Tapi Kevin berpesan kepadaku “Aku janji akan kembali, kau harus percaya padaku”. Setelah dia mengatakan itu, aku dengan berat hati merelakan dia pergi untuk melanjutkan pendidikan. Dia masih mengirimku pesan yang membuatku tersenyum setiap hari, walaupun dari jarak jauh. Hari demi hari aku lalui tanpa ada kabar darinya selama dua tahun aku menunggu kabarnya. Aku selalu mencoba menghubungi Kevin, tapi nyatanya tidak aktif. Perasaanku semakin tidak karuan. Tiba-tiba ibunya memberikan pesan padaku bahwa Kevin sebenarnya sudah tiada. Lalu aku bertanya siapa yang selama ini menemaniku? Ternyata dia adalah saudara kembar Kevin, namanya Kevan. Jadi selama ini dialah yang

menemaniku. Aku telah jatuh hati pada Kevan bukan Kevin. Namun nyatanya Kevan telah menikah dan menetap di luar negeri. Yah inilah sebuah pengorbanan atas nama cinta. Aku merelakan cintaku pergi bersama orang lain.

PSIKOPAT Tirza Asarela Surinta Hari ini aku pindah kesekolah baru. Ssekolah yang lebih besar dibanding sekolahku yang dulu. Sekolah ini terlihat sangat mewah karena di isi dengan anak-anak dari orang kaya. Hari ke hari banyak sekali kejadian seram yang terus ada. Dari siswi yang mati bunuh diri ataupun siswa dan siswi yang mati dengan cara tidak layak. Banyak orang heran dengan kejadian tersebut. Aku hanya bisa diam dengan kejadian-kejadian yang terus terjadi. Aku sangat menikmati hasil kerja kerasku.

SUDAH NASIB KAMI Veronika E.D. Malam yang cantik dengan alunan musik romantis dan hidangan-hidangan mewah, sepasang pengantin duduk di pelaminan dengan saling pandang. Perempuan di pelaminan itu, ya, itu aku. Lelaki yang dulu hanya bisa menanyakan “Sudah tidur belum?” sekarang menjadi teman hidupku dan akan tidur bersama-sama denganku. Sumingrah di wajah kami meluap tanpa sopan dan tak mau pergi. Bukan hanya kami, keluarga kami pun sama. Aku dan mas Galih duduk di pelaminan itu menunggu tamu-tamu berdatangan. Orang tua kami ingin pesta ini terasa intim. Maka dari itu, kami hanya mengundang keluarga dan teman-teman kami. Jumlah keluarga kami tak sebanyak pemain sepak bola. Saat waktu menunjukkan pukul 22.00 semua keluarga kami sudah lengkap dan pestanya akan berakhir tengah malam. Namun hidangan tidak berkurang banyak. Kami terus menunggu sampai pestanya akan berakhir. Tengah malam kurang beberapa menit lagi, ibu menghampiriku dan mas Galih lalu berbisik “Sebentar lagi pestanya harus sudah berakhir, mengapa yang ibu lihat cuma keluarga kita? Mana teman-teman kalian?” Kami seketika merunduk dan semarak di wajah kami perlahan pudar. Dalam hatiku pun berkata, memang itu kenyataannya, mau bagaimana lagi?

DISKUSI YANG BERKESAN Veronika E.D. Suatu ketika aku berada dalam suatu ruangan di mana ada banyak orang dengan berbagai macam kostum. Ada yang berkerudung, ada yang berkalung salib, ada yang hanya menggunakan kain diselempangkan di bahu, dan ada yang menggunakan jubah. Mereka membentuk satu lingkaran persekutuan dan mulai berdiskusi. Aku yang berada di pojok ruangan itu tertarik akan pembicaraan mereka, akhirnya aku mendengarkan diskusi mereka. Aku memang tidak ikut dalam lingkaran yang mereka buat tetapi aku terperangah mendengarkan diskusi mereka. Ternyata yang mereka bicarakan bukanlah hal yang sederhana. Mereka berdiskusi tentang bagaimana mereka melakukan relasi dengan Tuhannya masing-masing dan bagaimana seandainya mereka saling bertukar tata cara kebiasaan tersebut. Lalu mereka menertawakan imajinasi mereka tersebut. “Coba saat kamu bersujud, kamu bilang puji Tuhan. Apakah Tuhan-mu akan tertukar? Ahahaha….” begitu kata salah satu dari mereka. Kemudian mereka melihat keberadaanku dan memanggilku untuk turut serta berdiskusi. Mereka menanyakan namaku dengan suara yang sangat lembut. Belum sampai bergabung dengan diskusi mereka, aku mendengar suara yang bertentangan dengan suara mereka. Suara itu melengking dan kasar sambil terus-menerus berkata “Woi bangun woi.. Sekolah!”

TEMAN KHAYALAN Yohanes Philipus Bagas Arda S. Namaku Dani anak kecil berumur 5 tahun. Aku adalah anak kecil yang kesepian. Orang tua ku selalu tidak ada waktu untukku. Suatu hari aku bertemu dengan anak kecil di halaman rumahku. Setiap hari aku menunggunya di depan rumah. Hari demi hari kami lalui bersama kita sering bermain dan bercerita. Suatu hari aku mengajak dia masuk ke rumahku. Aku mengajaknya bermain bersama di kamarku. Saat itu ibu masuk ke kamarku tetapi seakan ibuku tidak melihat temaku. Aku heran mengapa temanku tidak pernah di anggap oleh kedua orang tua ku. Suatu hari aku berencana mengenalkan temanku ke orang tua ku. Seperti biasa aku menunggunya di depan rumah. Aku menunggu lama sekali, tapi ia tak kunjung datang. Saat sore hari tiba ia datang menemuiku. Aku mengajaknya menemui orang tuaku, tapi orang tua ku tidak melihatnya aku sangat bingung. Hari esok nya ia tidak pernah lagi menemuiku. Aku bertanya kepada ibuku dan ibuku berkata bahwa anak itu adalah teman khayalanku.

TANGISAN MALAM Zefanya Christabel Wibowo Seorang gadis kecil cantik berambut hitam pekat dengan bola mata cokelat, terlihat bahagia bermain di salah satu sudut halaman rumah. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman manis, dengan keceriaan yang selalu menghinggapinya, membawa tubuhnya untuk selalu berlari dan melompat tinggi. Ya, itu adikku, Mira namanya. Kesayangan semua orang. Termasuk kedua orang tuaku. Bahkan sekarang aku seperti orang asing, yang hanya menumpang di rumah ini saja. “Cemburu? Wajar kan aku cemburu?” kataku dalam hati. Rasa cemburu ini sudah aku pendam sejak Mira lahir, sekitar empat tahun lalu. Tapi aku bisa apa? Aku masih sekolah, tidak memungkinkan jika aku pergi dari rumah. Rasa sesak menahan rasa sakit hati selalu bertambah setiap hari, tapi aku terus memendam dan belajar untuk bersabar. Malam itu, suara gemuruh hujan yang sangat deras terdengar menghantam atap rumahku. Dinginnya hawa menembus ke dalam selimutku disertai suara bising dari rengekan dan tangisan suara Mira. Ini membuatku tidak bisa tidur nyenyak, suaranya selalu membangunkanku, sedangkan orang tuaku tidak sedang di rumah. Segera aku bangkit berdiri, lalu pergi ke kamar Mira. Aku masuk, melangkahkan kaki mendekati ranjangnya, berniat untuk menenangkannya. Dengan hati-hati aku segera membungkam mulutnya dengan tanganku lalu menyanyikan lagu hingga ia berhenti menangis. “Akhirnya,” ucap mulutku tak sadar sambil tersenyum puas. Mira tampak tertidur pulas. Entah kenapa paginya, semakin banyak terdengar suara tangisan padahal saat itu tidak turun hujan. Namun aku bahagia, karena aku tidak mendengar suara tangisan Mira. Bahkan dari malam itu, aku juga tidak pernah mendengar suaranya lagi.

Kelas IPS 2

JANJI PERSAHABATAN Angelina Agarima Sari merupakan salah satu anak yang dikenal sangat ramah, populer, dan sangat pintar di sekolahnya. Dia memiliki banyak prestasi dan tidak pernah canggung terhadap siapapun sehingga dia mudah untuk ikut serta dalam berbagai organisasi di sekolahnya. Tetapi dari semua itu dia hanya memiliki satu sahabat yang dianggap paling berarti dan sangat disayangi olehnya yaitu bernama nina. Nina dianggap oleh banyak teman temannya sebagai anak yang lugu dan pendiam. Dari sifatnya yang lugu dan pendiam ternyata dia memiliki sifat yang sangat baik dan memperoleh banyak prestasi. Sejak mereka bertemu nina akhirnya lebih terbuka terhadap siapapun sehingga membuat dia lebih nyaman untuk bersekolah disana. Tak hanya itu mereka telah menjalin persahabatan yang cukup lama dan membuat suatu komitmen atau perjanjian untuk tidak saling melupakan meskipun berpisah. Di suatu ketika, mereka saatnya untuk berpisah dan melanjutkan masa depannya masing-masing. Pada suatu saat sari menganggap Nina berubah sehingga timbullah konflik yang membuat mereka saling salah paham. Setelah beberapa hari kemudian, Sari memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini dengan bertemu di tempat yang mereka sering kunjungi atau tempat favorit mereka saat masa-masa SMA. Sebelum mereka ingin bertemu, mereka saling berdebat di telepon yang membuat nina pada saat itu sedang mengendarai mobil di jalan tidak fokus dan hilang kendali yang mengakibatkan nina mengalami kecelakaan, sehingga harus dibawa ke rumah sakit terkedat. Di sisi lain sari sudah datang dan menunggu nina di tempat tersebut, namun nina tak kunjung datang. Sari mencoba menghubungi nina berulang-ulang kali tetapi tetap tidak ada kabar. Akhirnya Sari memutuskan untuk mengunjugi rumah Nina yang tak jauh dari tempat yang mereka sering temui bersama. Sesampainya di sana, keadaan rumah Nina sangat ramai dikunjungi banyak orang mulai dari kerabat, saudara, hingga


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook