KUMPULAN CERPEN CORE VALUES GURU SMAK SANTA MARIA MALANG UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
KUMPULAN CERPEN CORE VALUES GURU SMAK SANTA MARIA MALANG ©2022 Penulis: GURU SMAK Santa Maria Malang Kurator: Maria Widyaningsih, S.Pd Fani Yohan Daryono, S.Pd Maria Dani Ringksi, S.Pd ii | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Sambutan Kepala SMAK SANTA MARIA MALANG Yang terkasih warga SMA Katolik Santa Maria Malang dan warga sekolah- sekolah se-Perkumpulan Dharmaputri; Yang terhormat Para Suster Pengurus Perkumpulan Dharmaputri dan Pegawai Kantor Perkumpulan Dharmaputri beserta Panitia Yubileum; Yang berbahagia Para Suster SPM; Yang saya hormati siapa pun yang berkenan membaca buku ini Salam sehat dan sejahtera, salam jumpa via saseksabu! Tahun ini yubileum 200 tahun Kongregasi Para Suster Santa Perawan Maria atau sering disingkat menjadi Kongregasi SPM. Syukur atas kasih setia Tuhan selama 200 tahun menyertaiKongregasi SPM hadir dan berkarya mewatarkan kebaikan Allah yang Mahabaik. Selama 200 tahun, Kongregasi SPM berkarya di bidang pembinaan dan Pendidikan. Dalam bidang Pendidikan, karya Kongregasi SPM memiliki 54 sekolah: 22 TK, 20 SD, 8 SMP, 4 SMA yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Dharmaputri. Dalam rangka yubileum, Perkumpulan Dharmaputri mengajak seluruh warganya merayakan syukur dengan novena, rekoleksi, lomba, dan misa syukur. Lomba yang diadakan juga untuk semua warga: peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan. Untuk pendidik ada lomba video praktik mengajar dan menulis cerpen yang dituangkan dalam satu buku, saseksabu; satu sekolah satu buku. Jadi semua pendidikmenulis cerpen kemudian dicetak dalam satu buku. Adapun tujuan kegiatan loma-lomba tersebut: 1. Menyalurkan dan mengembangkan potensi baik akademik maupun non- akademik. 2. Meningkatkan kompetensi profesional dan pedagogik guru dalam pemebelajan. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | iii
3. Menginternalisasikan nilai inti UKB ke seluruh warga Perkumpulan Dharmaputri. 4. Membangun semangat untuk berkompetisi warga Perkumpulan Dhamaputri. Tentu saja, SMA Katolik Santa Maria sebagai sekolah yang bernaung di bawah Perkumpulan Dharmaputri mendukung semua gerak langkah Perkumpulan Dharmaputri, termasuk mengikuti kegiatan dalam rangka merayakan jubelium 200 tahun Kongregasi SPM dari misa pembukaan, novena, rekoleksi, lomba, dan misa syukur puncak perayaan jubelium. Semua kegiatan diikuti termasuk saseksabu bertemakan UKB. UKB di SMA Katolik Santa Maria diartikulasikan dalam nilai inti Kasih, Kompeten, Kreatif-Inovatif, dan Harmoni. Unggul diartikulasikan dalam nilai Kompeten, Kreatif-Inovatif, Kasih diartikulasikan sama persis dalam nilai Kasih, dan Bermartabat diartikulasikan dalam nilai inti harmoni. Sejauh mana pemahaman dan penanaman nilai UKB yang dilakukan para pendidik di SMA Katolik Santa Maria secara implisit terbaca dari cerpen yang dikarangnya. Lepas dari menang atau kalah dalam lomba saseksabu, saya sampaikan salut, profesiat, dan terimakasih kepada semua Bapak dan Ibu Pendidik SMA Katolik Santa Maria yang telah berusaha keras dan berhasil mengarang cerpen bertemakan Unggul, Kasih, dan Bermartabat (UKB). Terimakasih kepada Bapak Fani, Bu Maria, dan Bu Dani yang telah mengoordinasi teman-temannya mewujudkan saseksabu SMA Katolik Santa Maria karya Para Pendidik. Terimakasih kepada Panitia Yubileum dan Pengurus Perkumpulan Dharmaputri yang telah memprakarsai dan mengadakan lomba ini sehingga membangkitkan kesadaran semua pendidik bahwa saya mampu menulis. Semoga ini mendorong mereka untuk menulis terutama berbagi pengalaman keberhasilan dalam pembelajaran yang secara tidak langsung saling menolong dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Terimakasih pula kepada siapa pun yang berkenan membaca dan mengapresiasi saseksabu hasil karya Para Pendidik SMA Katolik Santa Maria. Apresiasi pembaca tentunya mendorong semangat para pendidik untuk berbagi pengalaman secara tertulis. iv | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Sekali lagi, terima kasih Bapak dan Ibu Pendidik SMA Katolik Santa Maria, bangga dan syukur menjadi pendidik, bangga Santa Maria. Tuhan memberkati. Sr. M. Margreeth Widiyastuti, SPM UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | v
vi | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | vii
viii | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Daftar Isi Sambutan Kepala SMAK SANTA MARIA MALANG .................................... iii Daftar Isi ............................................................................................................ ix UNGGUL ........................................................................................................... 1 1. Inspirasi Sang Calon Juara ....................................................................... 2 2. Mimpi Sang Chika .................................................................................... 6 3. GIL ............................................................................................................ 10 4. Kesaksian Alumni ..................................................................................... 21 5. Menggapai Harapan .................................................................................. 27 6. Menuju Tak Terbatas dan Melampauinya ................................................ 32 7. Senyum di Dusun Tiop ............................................................................. 37 8. Hidup Bahagia dan itu Cukup .................................................................. 41 9. Impuls (Rangsangan) ................................................................................ 49 10. Kasih Ibu Sepanjang Jalan, Kasih Anak Sepanjang Galah ...................... 54 KASIH ............................................................................................................... 59 1. Tara ........................................................................................................... 60 2. Pouch Bag Hitam ...................................................................................... 65 3. Ada Kasih di Sekolah ............................................................................... 71 4. Tinta Harapan dan Balon Rindu untuk Caramel ....................................... 80 5. Saat-Saat Terakhir .................................................................................... 85 6. Guru .......................................................................................................... 89 7. Terima Kasih Guruku! .............................................................................. 94 8. Kasih yang Murah Hati ............................................................................. 99 9. Milik Kita Bersama .................................................................................. 103 10. Kepedulian Menghantarkan Kesuksesan .................................................. 107 BERMARTABAT ............................................................................................. 115 1. Meleburkan Perbedaan ............................................................................. 116 2. “Anakku” .................................................................................................. 120 UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | ix
3. Fly with The Dream! ................................................................................ 125 4. Keluarga Baru .......................................................................................... 134 5. Ku Kira Kau Rumah ................................................................................ 141 6. Hati-Hati Gunakan Mulutmu!! ................................................................. 145 7. Pilu diujung Tahun ................................................................................... 150 8. Zona Nyaman atau Masa Depan? ............................................................ 158 9. Semua tentang Martabat ........................................................................... 164 x | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
UNGGUL UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 1
Inspirasi Sang Calon Juara Karya: Tri Wahyuni, Dra. Putra sedang termenung di kamarnya, melihat poster Ronaldo yang tertempel di dinding yang digunting dari majalah bola favoritnya. “Suatu saat aku akan sepertimu,” gumam Putra. Putra adalah seorang anak laki laki yang berusia 15 tahun dan sedang duduk di bangku kelas IX Sekolah Menengah Pertama. Putra lahir dari keluarga yang sederhana. Ibunya membuka kedai bakso di depan rumah sedangkan ayahnya adalah seorang guru SD. Putra adalah seorang anak tunggal. Meskipun ia adalah anak satu satunya, namun Putra tidak pernah meminta banyak kepada kedua orangtuanya. Ia sudah menjadi bagian dari tim sepak bola di sekolahnya sejak ia masuk ke bangku SMP. Putra sudah gemar bermain bola sejak SD, walaupun permainannya hanya sekedar di lapangan dekat rumahnya bersama anak anak tetangga. Ibunya pun membelikannya sepasang sepatu bola yang masih Putra pakai hingga saat ini, sehingga sepatu itupun tampak sudah sedikit lusuh. Hari Selasa dan Jumat adalah hari yang selalu dinantikan Putra karena setelah jam pulang sekolah adalah jadwal berlatih sepak bola. “Sebaiknya kalian mempersiapkan diri karena Bapak akan memilih satu dari kalian untuk seleksi masuk ke timnas usia 15,” ucap Pak Indra, pelatih tim sepakbola sekaligus guru olahraga di sekolah. “Asyik!!” teriak Putra mengingat impiannya menjadi seorang pemain bola seperti Ronaldo selangkah lebih dekat. “Yang pasti bukan Putra ‘kan, Pak? Pakai sepatu yang bagus saja tendangannya sering meleset apalagi sepatu yang solnya sudah mau lepas!!” celetuk Imam, yang menjadi kapten tim bola, disambut dengan tertawaan teman teman yang lain. Putra sering kali diremehkan teman-temannya karena tubuhnya yang kecil, sehingga membuat Putra terlihat lemah setiap kali terlibat dalam pertandingan bola dengan teman- temannya. Namun hal itu tidak membuat tekad Putra menciut untuk terpilih seleksi pemain timnas. Ia selalu bersyukur dengan apa yang 2 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
diberikan Tuhan padanya. Justru hal ini menantang Putra untuk berlatih lebih giat. Tentunya Imam sangat percaya diri akan dirinya, karena Imam adalah anak kesayangan Pak Indra dalam tim, sehingga ia pun menjadi kapten di tim bola sekolah. “Put, kamu sepulang sekolah mau ke mana? Ayo ikut aku dan yang lain, kita mau nonton balapan motor!!” “Aku sudah ada janji main bola sama anak anak deket rumah, Mam.” “Ahh, kamu jangan terlalu banyak berlatih, Put. Toh kamu tidak bisa mengalahkan permainanku dalam sepakbola!” Putra pun mengabaikan kata-kata Imam. Ia tetap pergi ke lapangan dekat rumahnya seperti biasanya. Sesampainya Putra di lapangan dekat rumahnya, ia melihat sesosok pria sedang bermain dengan teman temannya. Pria itu terlihat seperti umur 25 tahun, memakai baju jersey bola berwarna biru. Mata Putra langsung tertuju pada Pria itu, terlebih karena permainan bolanya yang membuat Putra terpukau. “Hai, kak! Aku boleh ikut bermain?” tanpa ragu Putra langsung menawarkan diri untuk ikut dalam permainan. Pria itu pun tersenyum sambal mengiyakan Putra untuk masuk ke lapangan. Selesai permainan, Putra langsung menghampiri pria tersebut. “Hai, Kak. Nama Kakak siapa?” tanya Putra. “Aku Reza, rumahku di gang seberang dan kebetulan aku lewat sini melihat anak anak bermain bola.. Rasanya seperti nostalgia masa kecilku di kampung ini” “Nama saya Putra, Kak. Saya kagum sekali melihat permainan bola Kakak yang barusan” “Ahh..biasa aja,” ujar Reza merendah diri, “kalau kamu gigih berlatih kamu juga pasti bisa lebih hebat dariku!” “Kalau begitu, jika Kak Reza ada waktu, maukah membantuku berlatih bermain bola disini?” “Hmm.. boleh!” UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 3
Sejak itu, Reza mengajarkan Putra dalam bermain bola yang baik dan benar serta memanfaatkan tubuhnya yang kecil dapat menjadi lebih lincah sehingga Putra menjadi lebih gesit daripada teman-temannya. Putra pun rutin berlatih bersama Reza, bahkan saat teman-teman satu timnya lebih memilih bermain game sepulang sekolah, Putra gigih berlatih dan sering mendapat Teknik-teknik bermain bola yang baru dari Reza. “Buu.. Putranya ada?” Teman-teman satu tim sepak bola Putra yang datang kerumahnya untuk mengajak bermain. “Putra sedang di lapangan tempat biasa!” jawab ibu Putra. “Payah si Putra. Kebanyakan berlatih padahal sudah jelas yang akan mengikuti seleksi timnas nanti pasti Imam! Selain permainannya yang jago, dia ‘kan murid kesayangan Pak Indra” Akhirnya teman-temannya pergi bermain game di warnet yang letaknya beberapa meter dari rumah Putra, tanpa Putra. Padahal di hari biasa Putra tidak pernah absen main game kesukaannya di warnet tersebut. Namun belakangan ini, Putra mengabaikan hal-hal lain yang menurutnya tidak penting selain fokus untuk pemilihan seleksi pemain timnas saat ini. Sebulan sudah berlalu dan kemampuan Putra meningkat pesat sejak dia rajin berlatih setiap pulang sekolah. Sampai tibalah pertandingan bola terakhir di sekolah sebelum pemilihan untuk seleksi timnas junior. Pertandingan berlangsung sangat sengit. Putra beserta anak-anak yang lain melawan tim Imam. Selama pertandingan, Imam terkejut melihat kemampuan Putra yang selama ini diremehkannya. Karena jarang berlatih, Imam jadi kalah gesit dibandingkan Putra, serta teknik-teknik lihai yang dipakai Putra dapat mengelabui lawannya sehingga Putra pun mencetak beberapa gol. Pertandingan pun berakhir dengan skor 3-1 dan tentunya dimenangkan oleh Putra beserta timnya. Saat pertandingan, Pak Indra juga memperhatikan kemampuan Putra yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Karena sering berlatih, Putra menjadi tambah lincah dan menghasilkan dua gol yang mulus. Pak Indra pun tidak ragu lagi. Diam-diam Pak Indra mengetahui kegigihan Putra dan usahanya yang besar 4 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
dalam mencapai apa yang diinginkannya, dan Pak Indra melihat hasil yang memuaskan dari perjuangan Putra. Sehingga Putra pun terpilih untuk mengikuti seleksi timnas junior. “Putra, Selamat ya, maafkan aku sudah meremehkanmu. Namun kegigihanmu tidak diragukan lagi! Seharusnya aku juga lebih sering berlatih sepertimu agar masuk seleksi timnas. Sekali lagi aku ucapkan selamat!” ujar Imam yang langsung mendekati Putra usai pertandingan. “Terimakasih, Mam! Aku harap kamu juga tidak pernah menyerah dalam mencapai cita – citamu!” Tamat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 5
Mimpi Sang Chika Karya: Rootje Sekarningsih, Dra. Hujan terdengar bergemuruh, suasana yang tenang dan dingin menyelimuti kamar Chika. Kini hanya terdengar suara petir dan suara air yang menjatuhkan diri ke permukaan bumi. Chika saat ini berada meja belajarnya yang ada di sudut kamarnya untuk menyelesaikan beberapa tugas yang harus ia kumpulkan besok. Ya, besok merupakan hari Senin yang sibuk. Entah mengapa suasana pada hari Senin membuat Chika sakit kepala dan membuatnya sangat tidak menyukai hari tersebut tanpa diketahui alasannya dan masih sebuah teka-teki baginya. Mungkin tidak hanya Chika saja yang merasakan hal itu. Jam menunjukkan pukul 06.15 WIB yang di mana bel masuk sekolah pukul 06.45 WIB, Chika lagi-lagi lupa untuk memasang alarm di hari sekolah. Ia menggerutu menyalahkan dirinya sendiri. Ia berbegas mandi dan siap-siap untuk pergi sekolah. Chika bersekolah di SMAK Santa Maria di mana jarak rumah ke sekolah menempuh waktu kurang lebih 30 menit jika tidak macet di jalan. Benar saja, sesampainya di sekolah, Chika dihukum untuk berdiri di depan lapangan karena telat dan lagi- lagi artibut sekolahnya tidak lengkap. Setelah upacara yang cukup menguras energi Chika di pagi hari, seluruh siswa kini diarahkan untuk kembali ke kelas masing-masing untuk mendapatkan pelajaran pertama. Teman sebangku Chika yakni Ayu mengejeknya karena Chika selalu telat dengan alasan yang sama dan tentunya selalu saja dibalas dengan senyum manis nan polos khas Chika. Setelah melewati banyaknya jam mata pelajaran bel istirahat pun berbunyi. Semua murid kelas dengan lantang mengucapkan salam, sebagian siswa bergegas untuk keluar dan sebagian lainnya memutuskan untuk di kelas memakan bekalnya yang dibawa dari rumah. Chika dan Ayu memutuskan untuk pergi ke perpustakaan terlebih dahulu untuk meminjam beberapa buku dan melanjutkan untuk makan siang di taman, belum sampai di tempat tujuan yaitu perpustakaan, tiba-tiba mata Ayu tertuju pada satu poster yang terpampang pada mading depan perpustakaan. 6 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
“Chik, lihat deh ada perlombaan menulis dan membaca puisi antarprovinsi!” dengan wajah berseri-seri menunjukan posternya. Chika melirik mengikuti tunjukan tangan Ayu, dalam hatinya ia sangat ingin mengikuti lomba tersebut namun pikiran tersebut ia tepis keras-keras. Dan ia hanya membalas ucapan Ayu dengan kata, “oh. Yuk, Yu kita masuk ke perpustakaan, katanya tadi mau pinjem beberapa buku buat refrensi tugas matematika.”. Ayu menaikan alisnya memandang sahabatnya itu dengan heran dan penuh tanya apa yang ada di dalam otak sahabatnya itu. Karena ia tahu betul Chika benar-benar tertarik dengan menulis dan mebaca puisi. Setelah dari perpustakaan, Ayu memutuskan untuk bertanya ke Chika apa alasannya hanya menjawab “Oh” dan mengalihkan topik. “Chik serius? Aku tadi bilang loh ada poster lomba menulis dan membaca puisi antarprovinsi dan kamu cuman menjawabku dengan ‘oh’? Aku tahu betul kok kalau kamu tertarik, setidaknya coba dulu ya? Karya-karya puisi kamu tuh bagus-bagus. Apalagi kemarin nilai tugas bahasa Indonesia tentang membuat puisi kamu dipuji sama Pak Samsul dan mendapat nilai terbaik satu angkatan.” Chika mencoba menghindar kontak mata dari sahabatnya yang memiliki aura mengintimidasinya secara terang-terangan. “Chika…, dengerin aku. Kita ini masih muda dan perjalanan kita masih panjang jadi jangan takut untuk mencoba hal-hal baru hanya takut untuk gagal dan salah, setidaknya kesalahan dan kegaglan tersebut kamu jadiin pelajaran dan kamu bisa perbaiki pelan-pelan,” lanjut Ayu dengan bijak dan lembut. Chika adalah seorang anak yang memiliki sedikit masalah pada kepercayaan dirinya, ia sebenarnya anak yang berbakat namun ia juga kesulitan untuk mengekspresikan dirinya kepada yang lain. Setelah banyak berbicara dengan Ayu, Chika akhirnya menyetujui dan sepulang sekolah ia menemui Pak Samsul untuk mendaftarkan diri mengikuti lomba dengan kepasrahan dan desakan dari sahabatnya. Dan tentu Pak Samsul sangat mendukung Chika mengikuti lomba itu, karena ia tahu Chika pasti bisa. Gelap malam menyelimuti langit, cahaya rembulan kini telah menemaninya sejak 5 jam lalu, jam dinding menunjukkan sebentar lagi akan UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 7
memasuki tengah malam. Ia tetap berada di sudut kamarnya. Kini ia hanya diterangi oleh lampu belajar, kertas-kertas berserakan di mana-mana. Chika memikirkan ide untuk sebuah puisi yang akan ia tampilkan untuk lomba pekan depan, tetesan air mata membasahi kertas-kertas kumpulan ide. Ia sangat ingin menyerah padahal ia sama sekali belum memulai. Ide-ide tersebut hanya satu permulaan untuk semuanya. “Bukannya seharusnya aku tidak mengiyakan ajakan tersebut dan tidak mendaftarkan diri ke Pak Samsul?!” decakan Chika sambil beranjak dari mejanya menuju jendela kamar. Tiupan angin malam seolah menyapa perasaan hambar yang sedang ia rasakan. Langit malam itu sangat cantik dihiasi dengan bintang gemerlap yang memanjakan matanya, benar- benar sangat indah. Bulan yang bulat itu seolah-olah tahu apa yang ia rasakan seorang gadis yang dipenuhi dengan pertanyaan pada batinnya. Gadis itu menyukai malam. Itu adalah alasan kuat dan pertanyaan mengapa ia sering telat. Setelah lamunan ringan yang ia habiskan kurang lebih 15 menit, ia bertekad untuk mencobanya terlebih dahulu sebagaimana kata sahabatnya. Hari demi hari ia jalani. Chika melakukan aktivitas seperti biasa, mulai dari sekolah dan berlatih membaca puisi didampingi oleh Pak Samsul. Hari perlombaan sudah semakin dekat, memang awalnya ia ingin menyerah namun pada akhirnya sahabatnya dan para guru selalu mendukungnya sampai pada titik di mana naskahnya sudah jadi. Hari ini merupakan hari perlombaan puisi yang diselenggarakan di gedung balai kota yang diikuti oleh seluruh siswa se-provinsi Jawa Timur. Chika tak menyangka akan seramai ini. Sekolahnya diwakili Chika dan dua temannya. Detak jantung Chika berdegup kencang rasanya ia sangat ingin kabur pada saat itu juga. Namun ia juga berpikir jika ia kabur sekarang, usaha-usaha yang ia lakukan dari membulatkan tekad untuk mendaftar, membuat ide, dan latihan yang ia lakukan akan sia-sia. Chika meyakinkan dirinya sendiri untuk mencoba melawan rasa takutnya. Terdengar kericuhan dari para penonton saat setiap nama- nama peserta dipanggil oleh MC. Dan tiba saatnya nomor urut ke-10, peserta itu adalah Chika. 8 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Chika menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan lalu berjalan menuju panggung dan menampilkan hasil dari kerja kerasnya selama ini. Orang tua Chika, Ayu, dan Pak Samsul duduk di kursi paling depan untuk mendukung Chika. Chika mengawali dengan ucapan salam dan perkenalan lalu dilanjutkan dengan puisi yang ia buat. Kegugupan menyelimuti, namun Chika bisa menanganinya dengan membayangkan semua penonton hanya rekayasa sesuai dengan saran Pak Samsul. Tidak disangka itu membuatnya lebih nyaman dan bisa berbicara lebih leluasa. Ia berhasil menyelesaikan sampai akhir kalimat diiringi dengan tepuk tangan dari para penonton. Ia sadar bahwa semuanya tidak sesulit yang ia bayangkan. Ia merasa bahwa kepercayaan dirinya seharusnya tidak diletakkan pada sesuatu yang ia tidak bisa lawan. Chika tidak memperdulikan ia akan menang atau tidak. Seperti yang dikatakan Ayu setidaknya ia sudah mencoba terlebih dahulu dan berusaha semaksimal mungkin. Tidak terasa bahwa kini sudah berada di penghujung acara yang tidak lain adalah pengumuman pemenang. Tidak disangka Chika menjadi juara I dan 1satu temannya menjadi juara III untuk lomba menulis dan membaca puisi se-provinsi. Chika sangat berterima kasih kepada sahabatnya Ayu dan Pak Samsul karena selalu mendukung dan membantu Chika dalam keterperukannya dan keraguan yang ia alami dari awal higga akhir proses pembuatan naskah. Dan lagi-lagi SMAK Santa Maria Malang melahirkan siswa yang unggul dalam prestasi dan tingkah laku. Terkadang sesuatu yang dianggap biasa saja bagi sebagian orang sangat sulit. Kepercayaan diri seseorang tergantung bagaimana seseorang yakin atas kemampuan dirinya. Dan hal yang terpenting adalah jangan takut untuk mencoba hal-hal yang baru karena semuanya tidak semenyeramkan yang ada di dalam pikiran kita. Tamat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 9
GIL…. Karya: Herman Purnomo, S.Pd. “Gil…! Ragil…! Bangun…!” suara Makku terdengar keras sekali, membangunkan tidurku yang enak-enaknya terlelap. ”Iya, Mak…!” sahutku sambil bergegas bangun diiringi suara adzan subuh dan menuju ke sumur hanya sekedar cuci muka. Cepat-cepat aku ganti baju, tak lupa caping dan sabit siap di tangan. “Jangan lupa bawa minum, ya!” suara Mak mengingatkanku. “Iya, Mak,” sahutku. Pagi ini memang aku aku harus ke sawah untuk memanen padi, satu- satunya warisan dari mbok (nenekku). Walau hanya sepetak, itu sudah cukup untuk buat makan sehari-hari. Aku berlari kecil menuju sawah. Di tengah perjalan aku berpapasan dengan Lilis tetanggaku sekaligus teman kelas V di SDN SUKA I. “Pagi-pagi mau ke mana, Gi?” tanya Lilis, dengan wajah berseri-seri sambil menenteng sajadah bersama kedua orang tuanya, yang akan pergi sholat subuh. Sambil garuk-garuk kepala meski tidak gatal, aku berkata agak parau, “Ke sawah, Lis,” jawabku dan menganggukkan kepalaku ke arah orang tuanya. Setiba di sawah, aku segera mengayunkan sabit, memotong batang-batang padi dan kutumpuk di sisiku. Setiap tumpukan sudah kuperkirakan bahwa aku kuat mengangkatnya. Kupercepat lagi ayunan sabit itu berbarengan dengan tetesan peluh dan butiran embun yang menerpa wajahku menambah energiku. Hampir satu setengah jam aku bergulat dengan batang-batang padi, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara Emak yang sudah datang, “Sudah, Gil! Kamu istirahat dulu! Katanya kamu mau ke sekolah.” “Iya, Mak!” sahutku. Memang hari ini aku harus ke sekolah karena ada mata pelajaran olah raga yang diberikan pada pagi hari. Di SDN SUKA I, siswa-siswi kelas V dan VI masuk pukul 12.30-17.00. Tapi khusus pelajaran olah raga, pagi hari pukul 07.00- 08.00 Wib. 10 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
“Ayo berhenti, nanti kamu terlambat, lho!” kata Makku lagi. “Iya, Mak!” sahutku untuk kedua kalinya. Aku menyudahi pekerjaanku dan menuju tempat Mak, yang sudah menyodorkan bungkusan daun pisang ke arahku, “Ini cepat dimakan untuk sarapan!” “Mak, panen kali ini sangat bagus” kataku sambal menerima bukusan daun pisang dan duduk di sebelah Mak. “Kita bersyukur, Gil. Panennya bagus dan hasil panen bisa kita sisihkan untuk sekolahmu.” “Memang Bapak gak pernah kasih uang ke Emak?” tanyaku sambil mengunyah mendol kesukaanku. “Eee..…Ah, sudahlah, Gil. Gak usah dibahas. Yang penting kamu yang rajin untuk nggarap sawah biar bisa untuk hidup kita.” Kulirik mata Emak berkaca-kaca. *** Seiring perjalanan waktu, aku masuk di SMP. Entah apa yang terjadi dalam diriku, aku memilih sekolah Katolik, meski jarak dari desaku cukup jauh, sekitar 5 kilo. Pulang pergi ke sekolah hanya dengan jalan kaki. Pergaulanku dengan teman-teman sekolah dan pandangan dari guru-guru, telah membuka cakrawala baru hidupku, mulai dari iman Katolik sampai dengan kehidupanan anak-anak kota. Sebagian besar teman-temanku dari kalangan orang berada. Suatu ketika saat kelas VIII, Eko teman akrabku dipanggil wali kelas, karena sering membolos dan terlibat obat- obatan terlarang. Selang beberapa jam kemudian saya juga dipanggil juga. “Gil, saya tahu kamu akrab dengan Eko,” kata Pak Edy wali kelasku membuka pertanyaan. “Iya, Pak,” sahutku dengan kepala menunduk karena takut. “Kasihan Eko…,” wali kelasku mulai bercerita tentang kehidupan Eko, tentang orang tuanya terlalu sibuk bekerja dan tidak ada waktu memperhatikannya. Eko yang kurang perhatian dan lari ke obat-obatan sebagai UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 11
pelampisannya. Aku hanya manggut-manggut saja dan sesekali memandang wajah Pak Edy, yang raut mukanya juga merasakan kesedihan tanda simpati. “Tolong ya, Gil,” kata Pak Edy sambil menghela nafas yang dalam, “tolong temani Eko.” “Iya, Pak,” kataku, berbarengan dengan tanda bel sekolah telah berakhir. ”Sekali lagi Bapak minta bantuanmu ya, Gil,”kata Pak Edy Dalam perjalanan pulang, aku terus berpikir. Mengapa Eko yang kurang kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya perlu dikasihani? Dan mengapa pula Eko yang mencari pelampiasan dengan obat-obat terlarang itu dimaklumi? Dan Pak Edy kok menyalahkan orang tuanya Eko? Lantas, mengapa aku tidak ada yang mengasihani? Padahal penderitaan Eko, tidak ada artinya bila dibandingankan dengan penderitaanku! Tiba-tiba saat aku melompat parit, terlintas dalam pikiranku kata-kata Emak, ”Lakonono uripmu kanthi nerimo!” (Jalani hidupmu dengan menerima) Setiba di rumah, aku cepat-cepat membantu Emak memasukkan gabah hasil panen yang telah dijemur ke dalam karung-karung goni, ”Untung kamu cepat pulang, Gil,” kata Emak. “Ini adalah panen kita yang terakhir, Gil,” lanjut Emak. “Lho, kok bisa?!” kataku. “Sudah! Cepat kamu masukkan ke dalam rumah! Nanti selesai kamu makan Emak akan cerita.” “Duuuh…! Apa lagi ini?!” keluhku. Selesai makan aku dipanggil Emak. “Gil, tadi pagi Pak Likmu ke sini dan Bapakmu juga ada,” kata Emak mulai bercerita. “Pak Likmu bilang, kalau sawah kita terpaksa harus dijual sekarang karena sawah Pak Dul sebelah kiri dan sebelah kanan sawah Pak Soleh sudah pada dijual, dan depan dan belangkang sawah kita juga sudah pada dijual kepada pengembang karena akan dibangun perumahan.” “Bapak juga setuju, Mak?” tanyaku. “Bapakmu terserah Emak karena sawah itu warisan dari Mbok ne Emak,” jawab Emak. “Mas-mas dan Mbak-mbak sudah pada setuju semua, Mak?” tanyaku lagi. 12 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
“Iya, mereka setuju. Bahkan mereka menginginkan hasil penjualan sawah itu supaya dibagi.” “Ha!!!????” sahutku keheranan. ”Apakah mereka gak berpikir bahwa hasil sawah itu untuk hidup kita sehari-hari Mak?!” tanyaku agak emosi. ”Sudahlah. Kamu sing sabar,” kata Emak. Kutinggalkan Emak yang masih duduk termenung mungkin merasakan kekecewaanku. Aku menuju kamar dengan persaan berkecamuk: sedih, marah, kok tega-teganya mereka. Aku menangis, sesunggukan, sampai tertidur. “Gil, tolong ambilkan daun pisang!” suara Emak minta tolong, tatkala melihatku menuju kamar mandi. “Buat apa, Mak? Pagi-pagi kok butuh daun pisang?” sahutk sambil menuju ke pekarangan rumah yang ditumbuhi pohon pisang. “Buat jenang abang. Genternya di dekat kandang ayam, Gil” terdengar sautan Emak. Kupasang sabit di ujung genter dan kuikat dengan tali. “Ambil berapa daun, Mak?” teriakku. “Tiga saja!” sahut Emak. Kupotong 3 daun sesuai permintaan Emak, kemudian kupisahkan daun dan pelepahnya. Tiba-tiba emak muncul hendak mengambil daun pandan. “Gil, kalau memisahkan daun dari pelepahnya kamu tidak boleh berdiri nanti akan robek semua. Kamu harus membungkuk atau ndodok. Daunnya kamu letakkan di tanah, baru kamu pisahkan dari pangkal menuju unjung daun,” sambil Emak memberi contoh. “Gil, untuk meraih apa yang kamu inginkan, sama halnya saat kamu ambil daun pisang. Kamu butuh genter, butuh sabit, butuh tali. Tidak berhenti di situ saja, untuk mendapatkan daunnya yang baik kamu harus membungkuk atau duduk terlebih dulu. Begitu juga kelak kamu harus membungkuk dan duduk di bawah dulu, supaya bisa berdiri dan membawa daun yang lebar sesuai yang kamu inginkan. “Iya, Mak,” sahutku. “Genter itu sekolahmu, sabit itu keahlianmu, dan tali itu teman-temanmu,” kata Emak meneruskan petuahnya. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 13
“Memang jenang abang mau dibuat apa to, Mak?” tanyaku. “Hari ini adalah wetonmu, hari lahirmu makanya Emak buatkan jenang abang biar kamu selamat meraih impianmu,” kata emak sambil menciumku. ”Amin! Terimakasih ya, Mak,” kataku sambil memeluk Emak. Hari-hari selanjutnya aku jadi agak linglung, yang biasanya habis sekolah aku pergi ke sawah tetapi sekarang tidak. Aku malu meminta uang jajan pada Emak, yang sudah tidak ada penghasilan lagi. Kubuka jendela kamar yang dekat pinggir jalan, karena udara terlalu panas. Kulihat di seberang jalan tampak banyak orang bekerja buat pot bunga. Di desaku memang banyak orang buat usaha kerajinan pot bunga dari bahan semen dan traso. Mengapa aku tidak mencoba kerja buat pot ya? Terima kasih, Tuhan. Aku segera lari menuju pemilik usaha pot depan rumahku. “Pak Karyo,” sapaku mengagetkan beliau yang sedang meminum secangkir kopi. ”Hai, Gil,” sahut Pak Karyo dengan tangannya yang masih memegang cangkir, ”sini masuk!” “Iya, Pak,” timpalku. “Kok tumben kamu ke sini? Apa tidak ke sawah kamu?” tanya Pak Karyo. “Ya sudah tidak bisa ke sawah lagi, Pak,” kataku. “Lho, kenapa?” sahutnya. ”Sudah dijual, Pak,” jawabku. Pak Karyo manggut- manggut seperti memahami kondisi keluargaku. “Pak.. ee.. Pak.., apa boleh saya kerja di sini ya, Pak?” suaraku agak terputus-putus. “Ha! Apa aku gak salah dengar, Gil?” kata Pak Karyo. “Eh, nggak, Pak!” sahutku dengan cepat. “Ya, Pak?! Boleh ya saya kerja di sini?!” aku memohon pada pak karyo.” “Ya boleh banget, Gil. Malah Bapak senang sekali,” suara Pak karyo dengan mimik senang. ”Gil, dulu semasa mudanya Bapak, aku ikut kerja dengan bapakmu,” Pak karyo mulai ceritanya. “Bapakmu dulu punya usaha kerajinan mainan dari kayu. Usahanya sangat maju dan di kirim ke luar kota juga. Bapakmu itu orang yang 14 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
terampil dan serba bisa. Mungkin karena kekayaan itu banyak wanita tertarik dengan dia dan akhirnya menikah lagi,” tutur Pak Karyo. “Lho, Bapak kok ngelantur ke mana-mana” lanjutnya. ”Pak, terima kasih ya, Pak. Namun saya kerjanya setelah pulang sekolah ya, Pak,” aku memintanya lagi. “Baik! Ga masalah,” sahutnya. Betapa senangnya aku karena aku bisa mencari uang untuk jajan dan kebutuhanku dan tentunya bisa membantu Emak. *** Seiring perjalanan waktu, aku lulus SMP dan melanjutkan sekolah ke SMA Katolik. Aku memilih sekolah Katolik lagi supaya iman yang kuterima saat SMP bisa kuperdalam lagi. Di SMA aku tertarik dengan organisasi keagamaan, yaitu Legio Maria yang menuntut aku untuk selalu berdoa dan berkunjung ke setiap orang sakit, panti asuhan dan oma-opa yang kesepian. Dari sinilah aku mengenal seorang bernama Joko teman beda kelasku. Suatu saat aku berkujung ke rumah Joko. Kehadiranku disambut oleh kedua orang tua Joko dengan ramah. Saya memperkenal diri, ”Saya Ragil, Bu, Pak,” sapaku sambil mengulurkan tangan memberi salam. “Oh, ini toh yang namanya Ragil,”kata ibunya Joko. Saat berjabat tangan dengan dengan bapaknya Joko, aku langsung dipeluknya sambil berbisik, “Saya bapaknya Joko.” Hatiku berdebar kencang menerima pelukan dari dari bapaknya Joko. Aku tidak pernah merasahkan pelukan dari seorang ayah selama ini. Jangankan dipeluk, ditegur saja jarang sekali. Paling pol ya dimintai tolong. “Besuk bantu, Bapak ya!” itu saja. Dan lagi bapakku jarang sekali datang ke rumah. Beliau hari- harinya di rumah istri keduanya. ”Terima kasih lho, Gil. Joko kamu ajak ikut anggota Legio Maria,” kata bapak membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum saja karena aku masih merasakan debaran hati yang belum bisa kukuasai. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 15
”Joko sekarang sudah rajin ke gereja dan juga rajin berdoa,” tuturnya. “Iya, Gil. Sejak SMP dia jarang sekali ke gereja. Padahal Ibu dan Bapak selalu berusaha mengajaknya ke gereja, tapi dia selalu menolaknya. Kalau dipaksa malah kami bertengkar,” timpal ibu. “Joko! Ini ada Ragil temanmu!” suara bapaknya Joko memanggil Joko agak keras karena kamar Joko dan saudaranya berada di lantai dua. Joko turun bersama sauadra-saudaranya. ”Hai, Gil,” sapa Joko sambil memperkenal kakak- kakaknya dan adiknya. ”Karena sudah kumpul semua, mari kita makan,” kata ibunya Joko. ”Maaf, Bu, Ragil tadi sudah makan,” sahutku, meski sebenarnya perutku sudah keroncongan. Aku malu karna belum pernah dalam hidupku makan di rumah orang lain. ”Sudahlah, Gil. Ayo kita makan Bersama,” ajak kakak Joko sambil menggandeng tanganku menuju meja makan. ”Jok, kamu yang pimpin doa,” pinta bapak Joko. Selesai berdoa kami makan Bersama dan saling melayani dan diselingi candaan. Suasana makan bersama itu sangat mengesan dalam diriku. Kehidupan keluarga Joko membuatku merasa betah tinggal di rumah Joko. Hari demi hari, minggu demi minggu, dan hampir dua bulan aku tidak pernah pulang ke rumahku. Aku merasa nyaman tinggal di rumah Joko. Kedua orang tua Joko dan saudaranya juga merasa senang dengan kehadiranku. Karena aku juga selalu menyapu dan mengepel lantai rumah, merawat taman yang kusam menjadi bersih dan tanaman terawat dengan baik dan asri. Tatkala aku pulang ke rumahku untuk mengambil baju, Emak menghampiri ke kamarku. ”Gil, Emak lihat pakaianmu dan buku-buku di almari kok sudah tidak ada lagi?” tanya Emak. “Aku sudah ga betah hidup di rumah ini, Mak,” sahutku. “Mengapa?” tanya Emak. “Emak coba bayangkan, dari kecil aku tak pernah dapat kasih sayang dari Bapak. Tiap hari yang kulihat hanya Emak, mbak-mbak, dan mas-mas juga ga pernah memperhatikan diriku. Aku sekolah di mana juga mereka tidak tahu. 16 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Bahkan kita sudah makan atau tidak, mereka juga tidak tahu. Aku benci! Benci, Mak!” kataku dengan penuh emosi. “Di rumah Joko mulai dari orang tuanya dan kakaknya sangat perhatian dan aku sudah dianggap seperti keluarga sendiri,” lanjutku. Emak hanya diam tertunduk lesu sambil menenteskan air mata. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Emak. Hanya air mata yang semakin deras. ”Sudahlah, Mak. Aku pamit ke rumah Joko,” kataku. “Gil, ini rumahmu…” suara Emak terdengar lirih sambil terus meneteskan air matanya. Sejak peristiwa itu aku, ada perasaan tidak enak dalam diriku dan terbaca oleh bapaknya Joko. Tengah malam aku bangun dan keluar dari kamar menuju taman di depan rumah. Aku duduk termenung sambil melihat langit yang tak pernah ditinggalkan bintang. Aku teringat dua tahun lalu, saat aku diminta wali kelas SMP untuk mendampingi Eko sahabatku. Apakah ini akan menimpaku??? Apa bedanya Eko dan Aku??? Pikiranku berkecamuk antara aku yang tidak pernah merasakan kasih sayang bapak dan saudaraku, serta Emak yang penuh pengertian. Realita sekarang aku begitu diterima di keluarga Joko dengan penuh kasih saying. ”Gil,” sapa bapak sambil menepuk pundakku dan duduk di sampingku. “Beberapa hari ini saya perhatikan, tiap malam kamu selalu duduk di taman. Ada apa, Gil?” lanjut bapak. “Tidak ada apa-apa kok, Pak” jawabku. “Pak, mulai besok saya akan pulang ke rumah saja, Pak. Sudah lama saya berada di rumah Bapak. Kasihan Emak, Pak,” kataku meminta pamit. “Gil, setiap keluarga mempunyai permasalahaan sendiri- sendiri, yang harus diselesaikan sendiri-sendiri pula, entah dengan meminta bantuan orang lain atau menyelesaikan lewat permenungan. Contohnya keluarga Bapak ini, punya permasalah menghantar Joko supaya mau beribadat dengan baik. Bapak dan Ibu sudah berupaya tetapi selalu mentok. Hingga Tuhan mengutus kamu untuk menyadarkan Joko supaya rajin beribadat,” wejangan ayahnya Joko. “Saya dan keluarga mengucapkan terimakasih kamu sudah hadir dalam keluarga Bapak. Anak-anak Bapak sekarang tambah rajin baik beribadat maupun UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 17
mengerjakan pekerjaan rumah tanpa harus disuruh. Itu berkat kamu lho, Gil, yang memberi contoh,” lanjut bapak. “Saya hanya melakukan yang seharusnya saya lakukan, Pak. Di mana saya berada agar tidak menjadi beban orang lain,” kataku. “Tepat sekali, Gil. Kamu rajin sekali. Setiap orang pasti suka dengan orang yang rajin dan ringan tangan. Dan lagi kamu suka bekerja, tidak pernah diam. Semoga nantinya kamu jadi orang hebat, Gil,” kata bapak memujiku. “Amin,” sahutku. Keesokan harinya sambil berangkat sekolah, aku berpamitan dengan seluruh anggota keluarga Joko. “Bapak, Ibu, kakak-kakak, dan adik, terima kasih karena saya boleh tinggal di sini dan banyak merepotkan dan mengurangi jatah makan kakak-kakak dan adik semua,” kataku. “Tidak……!” serempak seperti suara koor jawab mereka. ”Rumah ini selalu terbuka untukmu, Gil,” kata bapak melepas keberangakatku bersama Joko. **** Tak terasa sekolah SMA aku lalui dengan baik, dan saatnya daftar di Perguruan Tinggi dan tentunya butuh biaya kuliah. “Mak, aku kan sudah lulus SMA, aku pingin kuliah,” kataku kepada Emak suatu sore. “Apa harus kuliah to, Gil?” tanya Emak. “Iya, Mak! Aku pingin jadi Sarjana Pertanian dan bisa membangun desa dengan pertanian yang modern, Mak,” sahutku. “Kan itu butuh biaya banyak, Gil. Emak gak punya uang,” kata Emak memberi pengertian diriku. “Emak kan masih punya simpanan hasil jual sawah setelah dibagi-bagi dengan Mas dan Mbak to?” kataku mengingatkan Emak. 18 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
”Sudah habis, Gil. Untuk biaya perawatan bapakmu saat di rumah sakit hingga meninggal itu,”kata Emak dengan perasaan bersalah karena jatahku turut serta habis untuk biaya pengobatan bapak. ”Ooh…,” jawabku dengan nada menerima keputusan Emak, “tapi aku pingin sekali kuliah, Mak,” lanjutku. Tangan Emak kulihat seperti membetulkan sesuatu dibelakang lehernya, “Gil, hanya ini yang sisa. Kalung Emak mungkin bisa buat biaya kuliahmu,”kata Emak dengan air mata berlinang sambil menyodorkan kalungnya kepadaku. ”Maaf ya, Gil.” Aku menerima dengan gemetar dan berlinang air mata, ”Terima kasih, Mak,” kataku sambil memeluk tubuh Emak yang semakin rentah. ”Emak doakan semoga cita-citamu berhasil, Gil,” kata Emak “Amin…,” sahutku sambil menangis. Dalam hatiku, aku berjanji, aku akan kembalikan dua kali lipat kelak Mak! Aku berusaha keras bagaimana aku harus kuliah dan bekerja untuk menghidupi kami berdua. Untuk kehidupan Emak sehari-hari, ruang rumah bagian depan kusekat-sekat menjadi 3 kamar dan kusewakan sebagai kos-kosan. Sedang biaya kuliah dari hasil aku bekerja di kerajinan pot bunga. Rejeki mengalir terus, dari keterampilan menulis yang kumiliki, buat letter batu nisan, buat spanduk, menulis ijazah, dan lain- lain sehingga aku bisa menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu. Hari yang kutunggu telah tiba, wisuda sarjana! Tentunya kesempatan ini aku akan buat Emak bahagia karena anak satu- satu yang berhasil menjadi Sarjana Pertanian. “Sudah siap, Mak?” tanyaku kepada Emak. ”Sudah,” jawab Emak keluar dari kamar. “Duh.. duh.. cantik sekali Emak…!” kataku memuji Emak dengan kebaya dan jarit yang kubelikan kemarin. ”Nanti siapa yang nemani Emak? Aku takut, Gil!” ujar Emak. “Tenang, Mak,” jawabku. “Pasti Lilis, ya?” sahut Emak sambil menggodaku. “Iya, Mak,” jawabku. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 19
Tiba pengumuman wisudawan terbaik, “Ragil Sejati sebagai Wisudawan terbaik dengan IPK 4,35” Aku berdiri dan mencium Emak di sebelahku. Kemudian aku menuju podium untuk memberi kata sambutan. “Puji Tuhan, saya bisa berdiri di sini sebagai Wisudawan Terbaik. Ini semua tidak lepas dari peran Emak saya yang sangat besar. Mohon izin Yang Mulia Pimpinan sidang, boleh Emak saya naik di panggung terhormat ini?” Semua wisudawan pada, “Geerrrrr….” “Iya, diizinkan!” jawab Bapak Rektor. Emak maju dituntun Lilis pujaan hatiku sejak SD. “Emak, saat aku minta izin untuk kuliah, Emak bilang tak punya biaya. Dan dengan linangan air mata, Emak menyodorkan kalung satu-satunya kepunyaan Emak untuk biaya kuliahku. Sekarang, anakmu sudah menyandang Sarjana, Mak.” Kukeluarkan benda dari sakuku dan kupakaikan kalung yang lebih besar ke leher Emakku sambil kupeluk dan kucium, sambil berbisik “Terima kasih, Emak…” Dan tumpahlah air mata kebahagiaan kami. “Emaklah yang telah mengajariku kerja keras dan tanpa mengeluh, selalu berbuat baik, tidak menyerah pada keadaan!” Tamat 20 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Kesaksian Alumni Karya: Kanisius Hamis, Drs. “Selamat siang, Pak …,” sapa seorang alumni. Dengan agak bengong…saya menyahut, “Selamat siang….??” Mungkin si alumni merasa bahwa jawaban saya kurang bersahabat, lalu dia mengatakan, “Pak Kan, lupa sama saya?” Lalu dengan basa basi saya mengatakan, “Iya, maaf. Kalau wajah…, samar-samar sepertinya saya pernah lihat. Tetapi nama saya lupa….,” begitulah basa basi seorang diplomat hahaha….. Mendengar jawaban saya seperti itu lalu lalu si alumni meperkenalkan namanya, “Pak, Saya Tony. Saya murid Bapak, lulus beberapa tahun lalu….” Setelah mengetahui namanya, saya baru ingat karena memang sewaktu masih sekolah di SMA dia termasuk siswa yang rajin, disiplin, dan aktif selama kegiatan belajar mengajar. Selanjutnya, saya mengajak Tony duduk di teras depan ruang guru. Ketika itu, saya seolah-olah reporter televisi. Melakukan wawancara. Dialog diawali dengan menanyakan apakah masih kuliah atau sudah bekerja ? Tony mengatakan, “Masih kuliah, Pak. S2.” Saya menyahut, “Oh begitu…. Kuliahnya di mana?” tanyaku lagi. Tony menjawab, “Di Amerika Serikat, Pak.” Mendengar itu, saya semakin penasaran. Dagaimana ceritanya Tony bisa kuliah di Amerika Serikat. Sementara berbincang-bincang itu, ada beberapa guru yang juga sempat bertemu, ikut bergabung mendengar percakapan kami. Ada bapak dan ibu guru, yang merasa kagum melihat penampilannya sekarang yang jauh berbeda ketika sewaktu masih SMA. Tony menimpal, “Saya masih seperti yang dulu, Pak. Hahaha…..” UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 21
Ada guru lain juga bertanya, “Tony sudah punya pacar apa belum?” Tony dengan segera menjawab, “Belum, Pak. Belum berani pacaran.” Teman guru menimpali, “Mengapa gak berani? ‘Kan sudah dewasa?! Temanmu waktu SMA itu ada yang sudah menikah lho!” Tony agak terheran-heran mendengar itu, lalu bertanya, benar pak ? saya, tidak mendapat informasi kalau dia sudah menikah pak, sahut Tony. Lalu, guru lain menimpali dengan penuh humor, mengapa Tony tidak berani mendekati cewek ? Sambil tertawa, Tony menyahut, bukan tidak berani pak, hahaha…hanya saya masih fokus untuk menyelesaikan kuliah dulu. Setelah itu, bapak dan ibu guru, meninggalkan kami di teras itu, karena bel masuk pelajaran sudah berbunyi. Saya kebetulan mengajar dua jam terakhir, sehingga masih ada waktu untuk melanjutkan tugas saya sebagai reporter, hehehe…… Mendengar Tony studi di Amerika Serikat, rasa penasaran saya semakin ingin menggali lebih dalam soal, bagaimana menyesuaikan diri dengan situasi lingkungan yang asing, serta bagaimana berkomunikasi dengan teman kuliah yang semuanya adalah orang asing, jauh berbeda ketika waktu SMA dahulu ? Saya juga menanyakan, bagaimana perubahan yang dirasakan Tony, “Ketika di SMA masih tinggal bersama orangtua, mungkin semua kebutuhan sehari-hari ada yang menyiapkan mulai sarapan pagi, cuci, dan setrika pakaian, bahkan membangunkan di waktu pagi ketika kamu terlambat bangun.” Tony, dengan penuh semangat menceritakan. “Betul, Pak! Apa yang dikatakan Bapak, betul sekali! Awal waktu sampai di Amerika Serikat itu, saya merasa seperti, Tarsan masuk kota gitu, Pak,” kata Tony sambil tertawa. Lalu saya mengatakan, “Mengapa seperti Tarsan Kota?” “Itulah Pak, sehari-hari biasa menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dalam percapakan dengan teman dan keluarga, sekarang menggunakan bahasa Inggris.” 22 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
“Waktu SMA bahasa Inggrisku tidak seberapa, Pak. Hanya setelah selesai ujian akhir sekolah, sambil menunggu pengumuman kelulusan, saya ikut kursus bahasa Inggris.” Mendengar itu, saya lalu bertanya, “Apakah memang waktu itu sudah ada rencana melanjutkan kuliah ke luar negeri?” Tony menyahut, “Iya, Pak. Sudah. Sudah ada pembicaraan dengan orang tua ketika masih di kelas XI SMA. Hanya itu, saya masih kebingungan soal komunikasinya.” Selanjutnya, saya menanyakan apakah yang membuat Tony, bisa menyesuaikan diri di lingkungan yang asing itu dan selesai studi tepat waktu, bahkan sekarang melanjutkan studi ke jenjang S2? Tony dengan senang hati menceritakan. ”Pak, saya bersyukur saya masuk SMAK Santa Maria ini.” Lalu saya bertanya, “Mengapa begitu?” Tony melanjutkan ceritanya, “Saya bisa menyesuaikan diri dan mengikuti apa yang ada di lingkungan asing itu, karena saya sudah terbiasa dengan kedisiplinan, dan ketauladanan bapak dan ibu guru di SMA Santa Maria ini. Bapak bisa bayangkan, sewaktu SMA saya mulai bangun pagi sampai semua kebutuhan sudah ada yang menyiapkan. Sekarang, semua dilakukan sendiri. Nah berbekal kedisiplinan, rasa tanggung jawab dan kemandirian itulah sehingga saya bisa menyelesaikan kuliah saya dan bisa beradaptasi dengan lingkungan baru dengan baik.” Saya semakin penasaran saja. “Tony,” kata saya, “bukankah sewaktu sekolah di SMAK Santa Maria ini, kamu merasa hidup ini seperti terkekang, kehilangan kebebasan, apalagi sebagai seorang remaja?” Lalu dia menyahut, “Iya sih, Pak. Sebagai anak yang masih remaja memang aturan seperti seragam harus rapi, pakai sabuk, rambut tidak boleh panjang, bahkan warna sepatu juga harus hitam. Pak, saya masih ingat ketika itu, saya pakai sepatu hitam UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 23
tetapi ada garis putih-putihnya. Bagian kesiswaan melihatnya, saya dipanggil ke depan ruang tata usaha, lalu sudah petugas yang menyiapkan spidol hitam, untuk menghitamkan sepatu yang ada garis putih-putihnya.” “Saya juga pernah terlambat sekali. Padahal waktu bel masuk , saya sedang memarkirkan motor di tempat parkir. Begitu masuk ke pelataran sekolah, sudah ada guru yang menunggu menyuruh saya berhenti untuk mengikuti doa. Setelah selesai berdoa, saya disuruh ke ruang tatib. Dicatat sebagai terlambat. Karena saya baru terlambat sekali, hanya diberi peringatan tidak boleh terlambat lagi, lalu diizinkan masuk kelas.” Lalu Tony melanjutkan ceritanya, “Pengalaman seperti itulah yang ternyata membuat saya bisa sukses hidup dan studi di Amerika, Pak. Kemandirian, tanggung jawab dan kedispilinan itulah menjadi kunci suskses hidup di lingkungan asing. Teman-teman kuliah saya, banyak juga orang asing yang berasal dari negara-negara lain, yang pengalaman seperti saya. Mereka juga sewaktu SMA diperhatikan dan dilayani semua keperluan sekolah maupun keperluan pribadi, tetapi sekarang semua diurus sendiri.” “Saya merasa sangat berterima kasih kepada SMAK Santa Maria ini, telah memberikan contoh yang baik dalam kehidupan. Tidak saja mengajar ilmu tetapi memberikan pengalaman hidup yang baik menjadi hal yang tidak kalah pentingnya.” “Memang sewaktu masih di SMA rasanya seperti serba diatur, tetapi setelah lulus SMA sampai sekarang, baru dipahami apa yang dikatakan bapak dan ibu guru waktu SMA itu ternyata benar.” Lalu Tony, bertanya kepada saya, “Pak bagaimana siswa sekarang apakah semakin disiplin? Apakah berbeda dengan waktu saya?” Dengan meniru gaya diplomat, saya mengatakan, “Yah…. sebenarnya tidak ada yang beda. Yang berbeda itu, mungkin soal jenis, dan kualitasnya.” Karena penasaran, Tony ingin mengetahui, apa yang sudah saya katakan, dengan menanyakan maksudnya, 24 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
“Bagaimana, Pak?” Dalam hati hati saya berpikir, “Ah, ini mencari masalah.” Sekarang, giliran saya harus bercerita. Tetapi baiklah, anggap saja sebagai sharing pengalaman. Mulailah saya menjelaskan, “Jenisnya berbeda antara sekarang dan dahulu, Tony. Karena sekarang anak-anak zaman teknologi, pelanggaran yang banyak adalah menggunakan HP ketika guru masih mengajar. Padahal, sudah ada tata tertib, tidak boleh menggunakan hp ketika sedang belajar. Ada saja siswa, yang coba-coba. Kebetulan saya, sering mendapatkan.” Tony heran, “Bagaimana bisa mengetahuinya, Pak?” Saya mengatakan, “Sangat mudah, Ton. Anak yang menggunakan hp secara sembunyi- sembunyi, bisa dilihat dari gerak tubuhnya.” Begitulah penjelasan saya, bagaikan polisi yang sedang bertugas melakukan penyidikan kepada seorang tersangkanya. Karena ingin tahu lebih dalam lagi, Tony melanjutkan, “Bagaimana gerak tubuhnya itu, Pak?” Saya mengatakan, “Perhatiannya tidak tertuju kepada apa yang sedang kita bahas, dia menunduk. Ketika dia menuduk, secara diam-diam, saya mendekati, lalu saya minta hpnya. Dia terkejut…..” “Biasa.siswa kalau sudah tertangkap mulailah rayuan gombal sampai dengan alasan tingkat dewanya keluar. Ada yang mengatakan saya terpaksa menggunakan hp karena orangtua saya WA saya menanyakan sesuatu. Sebagai orangtua yang baik, maka saya minta dia menunjukkan WA yang dimaksud. Karena tidak ingin ketahuan bohongnya, dia mengatakan sudah saya hapus pak. Tentu saja, saya tahu ia berbohong, lalu alasan lainnya. Saya mengatakan, “tidak terima alasan” lagi!” “Saya minta dia menulis disecarik kertas, nama, kelas, dan merek Hp, lalu diserahkan kepada tim tatib. Ketika itu, brankas penuh hp. Sekolah kebingungan UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 25
lagi, karena menyimpan hp siswa yang banyak itu. Dalam rapat dewan guru, di antaranya membahas bagaimana caranya agar tidak menyimpan banyak hp akhibat pelanggaran siswa.” “Dalam rapat itu memutuskan supaya disediakan loker untuk menyimpan hp, kuncinya dipegang oleh guru yang sedang mengajar. Jika dibutuhkan, maka bisa digunakan.” Begitulah penjelasan saya. Lalu Tony, mengangguk-anggukan kepala menandakan bahwa ia setuju dengan kebijakan di SMAK Santa Maria dalam upaya menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab pada diri setiap para siswa. Karena, giliran jam mengajar saya sudah tiba, maka saya pamit kepada Tony. “Tony, terima kasih atas sharing pengalamannya. Saya akan menyampaikan pengalaman ini kepada para siswa di kelas, agar mereka juga dapat menjadikannya sebagai bekal setelah lulus SMA.” Kami bersalaman, seraya mengucapkan sampai jumpa di lain waktu. Tamat 26 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Menggapai Harapan Karya: YB Mispan, S.Pd. Cita-cita adalah pelangiku, sesuatu yang membuatku tahu bahwa aku lahir ke bumi ini sekedar numpang lewat. Titik kecil ini menandakan eksistensiku sebagai manusia, Aku bukan orang yang percaya bahwa cita-cita harus diletakkan di depan wajah supaya kelihatan jelas, Aku juga bukan orang yang percaya cita- cita di letakan setinggi langit. Langit terlalu jauh dan impian tidak bisa bersinar seperti bintang. Cita-citaku hanya perlu aku cetak di atas kertas, lalu kutempelkan kertas tersebut di tembok kamarku, agar aku bisa melihat sebelum aku tidur dan saat baru bangun tidur. Dengan begitu aku takkan pernah malas untuk meraihnya hari demi hariku, Sekarang telah tiba saatnya, aku meminta izin untuk berangkat menggapai cita-citaku. Aku tahu, meninggalkan lingkungan keluarga bukan hal yang mudah, Melepaskan keterikatan dengan orang-orang yang menyayangiku bukan perkara gampang. Aku memberanikan diri berangkat merantau ke Malang untuk mengenyam pendidikan lebih lanjut, dan masuk salah satu perguruan tinggi negeri terkenal waktu itu yaitu IKIP Malang (Universitas Negeri Malang, ed.) “Bapak, Ibu, aku mohon doa restunya yaa..?” kataku pada kedua orang tuaku saat berpamitan. Bapakku terlihat tegar, sementara ibuku terlihat agak khawatir melepas kepergianku. “Hati-hati ya, Nak. Jaga diri baik-baik di mana pun kamu berada. Dan jangan lupa untuk selalu berdoa!” demikian pesan ibuku. Di Malang aku tinggal di Jalan Ambarawa, dekat dengan kampus. Suatu hari aku mendengar Mas Pandu berkata kepada teman-teman di kos, “Siapa bisa bantu aku penelitian ya?” “Bantu apa, Mas?\" tanyaku. “Mencangkul!” katanya. “Aku lagi butuh orang untuk mencangkul lahan percobaanku.” “Aku bisa! Asal upahnya sesuai,” kataku. “Ini serius, Han? Aku benar benar butuh secepatnya,” kejar Mas Pandu serius. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 27
“Lho, iya! Aku bisa!” kataku menegaskan. “Jangan guyon ya!? Ini aku serius banget. Aku butuh secepatnya supaya proses penelitianku cepat selesai,” kata Mas Pandu dengan mimik serius. “Iya, Mas! Kalau cuma mencangkul tanah saja, aku bisa!” jawabku meyakinkan Mas Pandu. “Ok! Kalau begitu besok ikut aku ya! Ke tempat penelitianku!” “Ok, siap!” kataku. Pagi-pagi kami berangkat menuju tempat penelitian Mas Pandu, Yang letaknya sekitar 15 km dari kos kami. Ternyata di situ banyak pekerja yang akan mencangkul di lahan teman- teman Mas Pandu juga. Kelihatan mereka orang yang sudah pengalaman di bidang pertanian, khususnya mencangkul tanah. Ketika teman-teman Mas Pandu melihatku, mereka tersenyum mengejek Mas Pandu. “Pandu, kamu bawa siapa? Anak selembut ini mau mencangkul? Mana kuat? Kapan akan selesai?” Begitu kata-kata terlontar dari bibir mereka, seolah menghinaku. Rasanya aku mau marah tapi kutahan. “Mas, mana cangkulnya? Biar kumulai!” kataku pada Mas Pandu. Aku mulai mencangkul lahan yang ada. Melihat caraku mencangkul, pekerja yang lain heran. Dan aku mencangkul lahan lebih cepat dari mereka. Aku tidak asal mencangkul tapi lahan itu kugemburkan dulu. Di desa, aku sudah terbiasa mencangkul di sawah, jadi bukan sesuatu yang sulit untukku. Teman- teman Mas Pandu terheran-heran melihat cara kerjaku. “Waaah, ternyata kami keliru, Pandu. Anak yang kamu bawa ini luar biasa.” Demikian mereka memujiku. “Makanya kalau lihat orang jangan meremehkan dulu. Itu karakter yang kurang baik. Keunggulan orang itu dilihat dari cara dia bekerja dan hasilnya,” kata Mas Pandu ke teman- temannya. Dan itu membuatku bersemangat. Singkat cerita dengan semangat dan optimis, aku terus belajar dengan tekun untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Selama empat tahun bergulat dengan buku sambil bekerja, akhirnya aku selesai kuliah. Dan setelah lulus aku melamar di sekolah yang cukup di kenal di Kota Malang, yaitu SMAK Santa Maria Malang. Dan aku diterima sebagai pengajar di sekolah tersebut. Karena 28 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
masih baru lulus aku berusaha terus belajar menyesuikan dengan keadaan dan kondisi di sekolah tersebut. Sebagai guru baru aku pernah mengalami yang namanya konflik dengan rekan kerja karena perbedaan pendapat. Tapi semua bisa teratasi karena adanya kasih yang mempersatukan. Itu keunggulan karakter yang ada di SMAK Santa Maria Malang. Seiring berjalannya waktu aku terus belajar dan belajar serta berusaha menyesuaikan diri di tempat kerja. Bagiku ada sesuatu yang baru yang perlu aku teladani lebih dalam yaitu kebiasaan dan penanaman karakter pada anak didik. Dan pembiasaan itu selalu aku lihat dan rasakan dengan hati dan akal. Aku percaya Tuhan menciptakan akal dan hati supaya terjadi kolaborasi dengan baik. Tapi sayang aku terlalu sering mengabaikan hatiku sendiri. Aku terlalu sering mengalahkannya dengan rasio-rasio. Aku senang tinggal dalam zona nyaman hingga tidak mau menjelajah ruang-ruang di luar garis batas. Aku lupa, ada campur tangan Tuhan dalam perjuanganku, dalam setiap gagal dan berhasilku. Maka aku terus belajar dari kebiasaan yang telah diajarkan oleh sekolah secara tidak langsung. Contoh pada suatu hari aku lupa laptopku tertinggal di sekolah. Pagi-pagi aku datang ke sekolah untuk mencari laptopku namun tidak ada. Aku sudah gelisah. “Jangan-jangan ada yang ambil,” pikirku. ”Bapak cari apa?” tanya Pak Sarkam membuyarkan lamunanku. “Laptop saya, Pak, kemarin tertinggal.” jawabku. “O.. laptopnya warna merah yaa?” lanjut Pak Sarkam. “Betul, Pak,” jawabku, “Bapak tahukah?” “Iya, kemarin saya menemukan di teras depan kelas X IPA1,” jawab Pak Sarkam, “Sebentar saya ambilkan ya, Pak.” “Inikah laptop Bapak?” kata Pak Sarkam sambil menunjukkan barangnya. “Iya, betul, Pak,” jawabku, “Terima kasih banyak ya, Pak, karena sudah menyimpannya.” Kemudian barang itu aku terima kembali. Dalam hati aku sangat salut dengan kejujuran Pak Sarkam. Dan ternyata kejujuran itu sudah menjadi salah UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 29
satu karakter bapak-bapak karyawan yang sudah tertanam di SMAK Santa Maria Malang. Dan dalam perjalanan karirku, aku merasa nyaman dan tersapa dengan baik oleh keluarga besar SMAK Santa Maria Malang. Aku berjuang terus- menerus bersama-sama dengan seluruh warga sekolah untuk berusaha menanamkan pembiasaan dan karakter kejujuran dan kedisiplinan kepada anak didikku melalui keteladan dari seluruh warga SMAK Santa Maria Malang. Walaupun kadang tidak mudah, karena perbedaan pendapat, karena kepentingan pribadi, kadang terjadi konflik. Tapi itu semua sebuah proses yang harus aku jalani. Aku menganggap semua itu ibarat kerikil-kerikil yang menghalangi dan sebagai suatu tantangan untuk membentuk karakter menjadi lebih baik asal kita dengan rendah hati mau berubah. Hari demi hari aku lalui dan tanpa kusadari waktu berlalu begitu cepat ternyata aku sudah bekerja hampir dua puluh tahun. Namun perjuanganku masih jauh dan panjang. Lewat semua proses kehidupan yang aku alami. Aku sering berpesan pada para siswa, “Anak-anak, dalam kehidupan ini bukan hanya kepandaian yang bisa membuat orang sukses. Melainkan kejujuran, kedisiplinan, dan kerendahan hati. Itu modal utama dalam kalian bekerja. Apalah artinya kalian pandai tapi tidak disiplin dan tidak jujur. Pasti kalian akan dikucilkan. Untuk bisa disiplin dan jujur perlu Latihan, perlu dibiasakan,” begitu pesanku di setiap kesempatan dalam pembelajaran. “Banyak orang pinter tetapi tidak disiplin. Karena itu kalian harus melatih diri. Caranya dengan mengerjakan semua tugas dan menyelesaikan tepat waktu. Ketika ulangan, jujurlah pada diri sendiri, tidak perlu mencontek. Karena orang mencontek itu artinya tidak menghargai diri sendiri dan tidak percaya pada Tuhan. Karena itu maksimalkan semua talenta yang Tuhan beri dengan baik.” “Berdoalah, mohon hikmat Tuhan dalam segala hal yang engkau kerjakan. Tunjukkan saja warna-warnimu yang sesungguhnya. Bahkan lukisan terbaik sedunia pun mempunyai pembenci dan pengkritik. Karena itu jangan pernah takut untuk terus jujur dan disiplin dalam segala hal.” 30 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Jujur dan disiplin, itulah keunggulan karakter yang ada di SMAK Santa Maria Malang. Tamat UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 31
Menuju Tak Terbatas dan Melampauinya Karya: Agatha Tyas Nurani Kristiani, S.Pd. Terik matahari menembus kaca jendela kamarku dan mulai menyapa mataku yang masih terpejam. Mataku mulai terbuka perlahan dengan sambutan kilaunya matahari. Jarum pendek dan jarum panjang hampir berimpit di angka 6. Hal itu berarti bahwa “Oh, tidak! Sudah 6.30! Aku akan terlambat lagi!” teriakku sambil bergegas ke kamar mandi. Selepas mandi, aku bersiap-siap berangkat ke sekolah. Jarak dari rumahku ke sekolah bisa dibilang lumayan jauh. Membutuhkan waktu 30 menit untuk bisa sampai ke sekolah jika jalanan tidak macet. Namun, di kota besar seperti ini apa mungkin jalanan tidak macet di pagi hari, Aku rasa itu mustahil. Jam telah menunjukkan 07.05, Aku pun terlambat lagi ke sekolah. Para guru tatib (tata tertib) sudah menyapaku untuk siap menerima hukuman. Di sinilah kisahku dimulai, dari aku dan kehidupanku yang kacau, tapi aku berharap suatu hari akan ada hal-hal hebat yang aku lalui disini. Sesuai dengan pesan ‘Buzz Lightyear’ dalam film favorit masa kecilku, ‘Toy Story’ ia mengatakan “to infinity and beyond” yang artinya “menuju tak terbatas dan melampauinya”. Aku Ling-Ling, seorang siswi kelas X di Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Santa Maria Malang. Hobiku adalah menyanyi dan menonton film. Aku juga menjabat sebagai wakil I OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) di SMA- ku. Aku juga aktif mengikuti ekstrakurikuler band sebagai vokalis di sekolahku. Ayahku adalah seorang businessman dan ibuku adalah seorang dosen. Keluargaku memiliki harapan yang besar padaku. Sebagai anak sulung, aku harus menjadi anak yang kuat, mandiri, dan berhasil. Aku harus membanggakan kedua orang tuaku. Namun, apakah cita-cita itu sudah mulai terealisasikan? Aku rasa aku belum melihat tanda- tanda kesuksesan dalam kehidupanku. Pagi ini, kelas kami, X MIPA 2 disambut dengan mata pelajaran Biologi selama 3 jam pembelajaran. Bu Ella, guru biologiku mengumumkan hasil tes formatif Plantae yang diadakan minggu lalu. 32 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
“Selamat anak-anak hasil tes formatif kalian rata-rata sangat bagus, Ibu sangat bangga pada kalian. Rata-rata kelas ini adalah 82. Oh iya, lima anak yang nilainya di bawah KKM, tolong temui saya minggu depan untuk remidi,” kata Bu Ella. “Ling-ling, maju! Ini hasilmu,” Aku pun maju dengan perasaan takut dan gelisah. Sudah kuduga, pelajaran ini sangat tidak bersahabat bagiku, dan nilaiku menunjukkan angka 65, jauh di bawah KKM. Aku hanya bisa berpasrah dan bersedih. Aku kurang pandai dalam pelajaran sistematis dan banyak hafalan detail seperti ini. Rasanya seperti aku ingin tidur beralaskan bantal buku Biologiku yang super tebal, lalu otakku akan menyerap semua ilmu buku itu dalam semalam. “Ling-ling, ini ada surat dispensasi di jam ke-2 dan ke-3, apa kamu mau izin kelas saya hari ini? Di sini tertulis rapat OSIS untuk persiapan acara Aksi Natal,” tanya guruku. “Sebenarnya saya bimbang,” jawabku. “Pergilah,” pinta Bu Ella. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu, Aku pun tidak tahu apakah guruku benar- benar mengizinkan, atau kesal dengan Aku yang tidak pernah mendapat nilai bagus di pelajaran, tapi masih mengemban tugas di OSIS. Rasanya seperti aku tidak bisa mengukur batas kemampuanku. Aku merasa tidak mampu. Tapi saat ini, anak OSIS sangat membutuhkan kepemimpinanku. Garry, ketua OSIS, sedang sakit sehingga aku harus memimpin rapat. Hari-hari terus berlanjut dengan berbagai kesibukan dan kekacauan yang terus terjadi. Niliai-nilaiku menurun, bahkan tidak hanya Biologi. Juga terjadi pada mata pelajaran Matematika dan Fisika, pelajaran yang sangat kusukai pun menurun nilainya. Bukan karena tidak bisa, tapi karena aku sangat-sangat kelelahan dan tidak teliti saat menghitung, sehingga berdampak ke nilaiku. Aku merasa gagal. Aku tidak mampu mengemban semua tanggung jawabku. Aku lelah hidup seperti ini. Aku hanya ingin menjadi manusia unggul untuk menjadi orang sukses nantinya, yang bisa menjalankan banyak hal dalam satu waktu. Aku juga ingin memiliki banyak kecakapan akademik dan non-akademik, termasuk skill bersosialisasi, leadership dalam organisasi, yang tentunya akan sangat menunjangku dalam dunia kerja. Tapi aku tidak mampu, yang ada hanyalah cita- UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 33
citaku yang terlalu tinggi yang malah menghancurkan semuanya, termasuk hal yang sangat dasar, yaitu akademik. Aku berjalan sambil menunduk meratapi kehidupanku di koridor sekolag, dan tiba-tiba… “Ling-ling, kenapa kamu kemarin tidak datang latihan band kemarin? Kamu tahu kan dalam lomba minggu depan harus membawakan dua lagu, yaitu satu lagu wajib dan satu lagu pilihan, bahkan kamu belum membuat improvisasi vokalnya. Bagaimana?” tanya Pak Rudi, coachku yang juga berprofesi sebagai guru seni di sekolah ini. “Mohon maaf, Pak. Saya benar-benar mohon maaf.” pintaku. Beliau pun berjalan pergi meninggalkanku dengan raut muka yang marah. Aku sudah tidak tahan lagi, mungkin ini saatnya aku mengetahui di mana batas kemampuanku. Aku tidak mungkin mengkhianati kepercayaan orang tuaku. Teringat beberapa bulan lalu, saat mereka berkata, “Carilah sebanyak-banyaknya pengalaman. Asah skill kamu, asalkan semuanya seimbang, akademik, non-akademik dan organisasi. Mama dan Papa tidak ingin akademikmu berantakan. Jika kamu bisa berjanji, Mama dan Papa akan mengizinkanmu mengikuti kegiatan apa pun di sekolahmu.” Aku termenung dan memikirkannya. Aku menangis di bangku sepanjang koridor kelas. Aku benar-benar mengacaukan semuanya. Saat itu keputusanku sudah bulat, untuk mengundurkan diri sebagai wakil OSIS dan mundur dari perwakilan lomba band, mungkin itu yang seharusnya kulakukan. Tiba-tiba.. “Hai, Ling-ling, kamu sakit? Mengapa kamu menangis? Mari Ibu bantu ke UKS.” Aku perlahan menengadahkan kepalaku. Ya benar, beliau adalah Bu Jeni, Beliau datang menyapa dan menghampiriku. Beliau adalah guru BK di sekolahku. “Tidak, Bu saya sedang sedih,” jawabku. “Mari ikut Ibu ke ruang BK. Kamu bisa bercerita dan berkeluh kesah tentang apa pun di sana. Kamu bisa mempercayai, Ibu, Nak. Tidak apa-apa.” Aku pun pergi berdua dengan beliau ke ruang BK. Aku menceritakan semuanya, tentang cita-citaku menjadi manusia yang unggul, juga menceritakan 34 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
bahwa rasanya aku sudah gagal untuk mencapainya, aku tidak sanggup mengembannya. “Ling-ling, merasa jenuh itu wajar kok. Semua orang pernah mengalaminya. Ibu coba berikan saran ya buat Ling- Ling. Terkait pelajaran Biologi, jika kamu kesulitan dalam menghafal, temukan cara belajarmu, cara yang mudah bagimu untuk menghafal. Kamu boleh bertanya ke Bu Ella sekaligus menemui Beliau untuk remidi. Terkait turunnya nilai Fisika dan Matematika, kamu tidak teliti menghitung. Itu karena kamu lelah. Buatlah skala prioritas, atur waktu istirahat kamu. Coba bagi waktu dengan baik. Kapan kamu belajar, kapan kamu berlatih band, dan kapan kamu mengurus OSIS. Lakukanlah dengan rutin dan tertib. Jangan menyerah, Ibu yakin kamu pasti bisa. Kamu terpilih, berarti kamu bisa.” kata Bu Jeni. “Terima kasih banyak, Bu.” Sesampainya di rumah, aku mencoba meyakinkan diriku seperti kata Bu Jeni, ‘aku terpilih, aku pasti bisa’. Aku mencoba membuat skala prioritas dan mengatur waktu dengan baik. Aku kembali berlatih band pukul 16.00-18.00. Selepas itu, makan malam dan belajar hingga pukul 20.30. Sebelum tidur, aku mencoba memikirkan solusi terbaik bagi kendala-kendala Aksi Natal OSIS, dan mengatur jadwal rapat, serta jadwal koordinasi dengan pihak luar, hingga pukul 22.00. Aku pun sudah mengantuk dan lanjut tidur. Aku merasa lebih tenang hari ini. Keesokan harinya, aku menemui Bu Ella untuk remidi Biologi dan menanyakan trik belajar untuk bab berikutnya, yaitu animalia. “Ibu punya trik menghafal dengan jembatan keledai, misalnya ‘Tante- Mira-Sport-Renang-Selagi-Melihat Langit- Cerah’. Itu mudah dihafal untuk mewakili siklus hidup cacing pita, yaitu Tante=telur, Mira=mirasidium, Sport=sporokis, Renang=redia, Selagi=serkaria, Melihat langit=metaserkaria, Cerah=Cacing dewasa. Mudah ‘kan? Saya yakin kamu pasti bisa, Ling-ling!” Aku pun terdiam. Aku menyadari bahwa itu tidak terlalu sulit. Terbesit ide di kepalaku, UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 35
“Bagaimana kalau mulai saat ini aku membuat jembatan keledai versiku sendiri untuk belajar biologi? Aku harap itu bisa membantuku. Kenapa tidak dari dulu aku terpikir? Ahhh…!” gumamku dalam hati. “Terima kasih banyak, Bu Ella.” Hari-hari terus berjalan dengan kondisi yang jauh lebih baik. Nilai-nilaiku kembali stabil dan meningkat. Aku tidak lagi salah menghitung saat tes karena istirahatku yang cukup. Sore itu sekolahku juga memenangkan lomba band sebagai Juara II dan aku menjadi best vocalist. Persiapan Aksi Natal sudah sangat dipersiapkan dengan baik. Tinggal menghitung hari saja untuk menyambut hari Natal penuh suka cita. Natal tahun ini benar- benar berarti dalam hidupku. Aku bisa melalui semuanya. Aku bisa menyeimbangkan akademik, non-akademik, dan organisasi untuk menjadi siswa yang unggul, supaya menjadi manusia yang sukses di kemudian hari. Malam Natal kali itu, orang tuaku memberi sebuah kado Robot Buzz Lightyear. Aku tersenyum melihatnya dan teringat pesan ‘Buzz Lightyear’ dalam film favorit masa kecilku, ‘Toy Story’ ia mengatakan “to infinity and beyond” yang artinya “menuju tak terbatas dan melampauinya.” Ya, aku telah berhasil!!! Tamat 36 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
Senyum di Dusun Tiop Karya: Marsilina Atik Woroastuti, S.Pd. Hentakan kaki di tengah hujan dan tanah becek terdengar cukup keras. Sesekali petir menyambar disertai gemuruh guntur. Sepatu tidak tampak seperti sepatu, lebih terlihat sebagai onggokan tanah pembungkus kaki. Tepat hari ini Marina ditugaskan oleh lembaga pendidikannya di sebuah desa terpencil, daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Dusun Tiop, Sumatera Barat. Perjalanan udara di tempuh cukup lama, ditambah perjalanan darat yang penuh guncangan. Dan untuk sampai di desa kepulauan tersebut, masih harus ditempuh menggunakan pong-pong (perahu mesin kecil), menyebarangi lautan dengan ombak yang cukup tenang. Kabut akibat hujan deras membuat pemandangan yang indah tersia-siakan, dan Marina menyesalinya. Hari itu masih terlalu pagi, bahkan matahari belum menampakkan diri, karena matahari baru bersinar pukul 6 di daerah tersebut, ditambahkan guyuran hujan semakin menambah istimewa perjalan Marina. Akhirnya sampai juga di rumah yang akan ditinggalinya. Rumah yang tidak cukup besar, tapi terasa nyaman dan hangat. Seorang Sikerei (orang pintar/dukun yang dipercaya menyambut tamu) setengah baya menyambutnya dengan senyum paling ramah dan tulus yang pernah ia lihat. \"Annaileuita, selamat pagi, selamat datang, Bu Marina.\" \"Annaita, selamat pagi. Terima kasih sudah banyak membantu saya, sepertinya saya akan menyita banyak waktu Anda, Sikerei?” \"Tidak masalah, Bu, asal kami bisa\" \"Terima kasih\" **** Ruangan belajar siswa terbuka dan besar, bangku sekolah berjajar rapi, tetapi sayang tidak ada satu pun penghuni di sana. Marina menghela napas panjang dan duduk di bangku guru, menunggu murid datang, sekitar dua jam UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 37
kemudian muncul sekitar 10 anak usia 14 tahunan dengan pakaian seragam sekolah. Marina tersenyum menyapa murid tersebut, \"Annaileuita, selamat pagi, siapa nama kalian?\" “Annaita. Saya Sania, Bu dan ini teman saya Suton,” jawab salah satu anak perempuan yang berjalan bersama temannya Marina bertanya kepada mereka, “Mana teman-teman yang lain? Apakah mereka tidak sekolah hari ini?” Suton menjawab kalau teman-temannya yang lain sudah tidak mau sekolah karena sekolah sudah lama tutup akibat pandemi. Apa lagi saat ini musim hujan. Jalanan yang harus ditempuh sangat sulit, licin, dan membahayakan, sehingga mereka tidak dapat ikut belajar. “Ah, baiklah. Jadi apa yang biasanya mereka lakukan di rumah jika tidak ke sekolah?” tanya Marina sambil meminta murid-muridnyanya untuk duduk. Dia menghela napas, seharusnya ada 20 murid untuk kelas VIII, berdasarkan daftar nama yang dia dapat dari petugas Tata Usaha. Sania menjawab, \"Kebanyakan dari kami akan ikut pergi ke laut bu, untuk menjaring ikan.\" Marina mengangguk dengan banyak pemikiran di kepalanya, lantas berucap, “Baiklah. Beberapa jam ini kita akan belajar IPA bersama ya!?” Begitulah hari itu marina mengajar 10 orang siswa yang ia kenal untuk pertama kalinya dengan suasana khas Dusun Tiop yang sangat tenang bagi anak- anak tersebut untuk belajar. Saat perjalanan ke rumah Marina tak berhenti memikirkan ide, bagaimana cara membelajarkan anak-anak yang tidak bisa hadir di sekolah karena berbagai kesulitannya. Memaksa mereka untuk sekolah juga bukan hal yang mudah. Marina menggelengkan kepalanya dan berguman, ”Tak ada ide…,” sambil menghela napas panjang. Menurut informasi dari beberapa guru lain di sekolah tersebut memang banyak anak yang putus sekolah. Sekolah sebenarnya sudah memgupayakan yang terbaik untuk memberikan layanan pendidikan. Hanya memang sangat minim fasilitas apalagi tidak ada listrik. Dan hal ini sebenarnya sudah menjadi prioritas 38 | UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT
pimpinan sekolah untuk tahun ajaran ini. Semua staff akan di kumpulkan untuk membahas masalah tersebut. Sesampai di rumah Marina melepas sepatunya, kemudian dia bergegas ke meja kerja dan melihat peta wilayah daerah Tiop. Daerah ini adalah dusun tertua hanya ada 1 SD dan 1 SMP yang bisa melayani pendidikan. Itu pun tidak maksimal karena tidak ada fasilitas. Listrik hanya ada di jam 6- 12 malam. Itu pun menggunakan genset dari salah satu rumah ibadah di daerah tersebut. Beberapa orang tua yang mampu akan memilih mengirim anaknya untuk sekolah di Kecamatan Siberut yang ditempuh sekitar 1 jam dari Dusun Tiop dengan menggunakan pong-pong. Biasanya mereka berangkat bersama orang tuanya untuk sekaligus berbelanja di Siberut. Marina mengetuk meja beberapa kali sambil terus memikirkan cara bagaimana menarik kembali anak-anak yang putus sekolah tersebut. Sangat disayangkan jika mereka tidak melanjutkan sekolah. Keesokan harinya, kepala sekolah dan seluruh guru mengadakan rapat terkait dengan banyaknya anak yang putus sekolah di daerah Tiop. Rapat hari itu sungguh menyita banyak pemikiran dan memunculkan beberapa pendapat dan perdebatan antara guru senior dan junior, sampai pada akhirnya semua hening karena tidak mendapatkan kesepakatan. Tiba-tiba bapak kepala sekolah berbicara dan kesunyian terpecahkan. Semua pandangan mata tertuju kepada beliau, \"Bapak dan Ibu, barangkali forum rapat ini bisa kita bagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 adalah Bapak dan Ibu guru dengan masa mengajar 10 tahun ke atas, sedang kelompok ke 2 adalah Bapak dan Ibu guru yang baru bergabung dengan kami. Mari kita pikirkan solusi dari masing-masing pihak. Kita cari kelebihan dan kekurangannya. Setelah itu kita diskusikan kembali bersama- sama. Siapa tahu kekurangan di satu pihak bisa diatasi oleh kelebihan pihak yang lain.\" Pernyataan kepala sekolah memang ada benarnya. Semua anggota rapat mengangguk sebagai bentuk persetujuan. Akhirnya diskusi berlangsung sampai sore dan akan dilanjut bersama esok hari. Tapi masing-masing dari kelompok akhirnya memiliki kesepakatan sendiri untuk besuk disampaikan dalam forum bersama. UNGGUL-KASIH-BERMARTABAT | 39
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184