Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore bissmillah Skripsi Full Jamilah Solihah

bissmillah Skripsi Full Jamilah Solihah

Published by jamilahsolihah00, 2023-08-12 07:16:25

Description: bissmillah Skripsi Full Jamilah Solihah

Search

Read the Text Version

level argumentasi siswa maka bertambah lengkap pola argumentasi yang diutarakannya (Rahayu, Suhendar, & Ratnasari, 2020). a. Level 1 Argumentasi pada level 1 menunjukkan bahwa klaim vs klaim tandingan atau klaim vs klaim. Level 1 jawaban argumentasi siswa hanya terdapat klaim saja, tidak terdapat bukti, pendukung, penjamin, penguat ataupun sanggahan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Wardani (2018: 1365) yang menjelaskan kualitas argumentasi pada level 1 hanya terdapat satu buah klaim saja, siswa tidak menguraikan alasan yang kuat untuk mendukung claim yang dibuatnya dengan data, warrant, ataupun backing. Jawaban seperti itu dapat dikatakan siswa menjawab dengan kualitas argumen yang masih rendah. b. Level 2 Pada level ini siswa dapat membuat claim disertai data, warrant, atau backing namun tidak mengandung rebuttal. Siswa telah mampu membuat jawaban yang mengandung elemen argumen lain untuk mendukung sebuah claim, tetapi siswa tidak dapat menyempurnakan argumennya dengan rebuttal. Pada instrumen argumentasi secara tertulis ditambahkan aspek qualifier untuk menunjukkan kuatnya argumen (Wardani, Yuliati, & Taufiq, 2018). c. Level 3 Tingkatan level 3 argumentasi, telah terdapat suatu susunan klaim, data, warrant atau backing serta rebuttal yang lemah. Keterampilan argumetasi siswa pada tingkatan 3 ini menunjukkan bahwa argumentasi yang dibuat dapat dikatakan cukup melainkan masih perlu ditingkatkan kembali (Rahayu, Suhendar, & Ratnasari, 2020: 325). d. Level 4 Argumentasi yang termasuk ke dalam level 4 adalah argumentasi yang terdiri dari argumen berupa claim dengan sanggahan yang dapat diidentifikasi jelas dan tepat, sesuatu argumen dapat mengandung beberapa claim atau counter-claim. 35


e. Level 5 Pada level 5 terdapat argumentasi yang sempurna serta mengandung lebih dari satu sanggahan dan penguatan. Argumentasi yang terdiri dari argumen-argumen yang luas (extended, namun tetap terkait dengan materi pembelajaran) dengan lebih dari satu sanggahan yang jelas dan tepat. F. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Lembar Observasi Lembar observasi merupakan pedoman yang digunakan saat melakukan pengamatan. Di dalam lembar observasi berisi sejumlah daftar kegiatan yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Lembar observasi akan diisi oleh observer yang mengamati proses pembelajaran. Lembar observasi yang dipakai akan digunakan untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran Think Talk Write berupa aktivitas guru dan aktivitas siswa. 2. Soal Pretest dan Posttest Tes dilakukan kepada siswa melalui pretest dan posttest dengan menggunakan 6 indikator keterampilan argumentasi yaitu : Pernyataan posisi (Claim), data atau fakta (Ground), pembenaran (Warrants), syarat (Qualifer), dukungan (Backing), dan sanggahan (Rebuttal). Tes yang dilakukan untuk mengukur indikator tersebut yaitu berupa tes tulis atau soal essay. Pretest bertujuan untuk mengukur keterampilan argumentasi siswa sebelum diterapkan model pembelajaran. Sedangkan posttest bertujuan untuk mengukur keterampilan argumentasi siswa setelah diterapkan model pembelajaran. Untuk mengetahui kesesuaian instrumen tersebut, maka soal dianalisis dengan di uji cobakan terlebih dahulu sebanyak 18 soal dengan rincian pada tabel 3.2 sebagai berikut : 36


Tabel 3.3 kisi-kisi Uji Coba Soal Jenjang Kognitif Jumlah C4 C5 C6 9 soal 7 soal 2 soal 18 soal (sumber : Lampiran B.1) Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan didapatkan sebanyak 10 soal yang bisa digunakan. 10 soal tersebut telah mewakili masing-masing indikator soal dengan rincian pada tabel 3.3 berikut. Tabel 2.4 Kisi-kisi Soal Penelitian Jenjang Kognitif Jumlah C4 C5 C6 6 soal 3 soal 1 soal 10 soal (sumber : Lampiran C.1) 3. Angket iAngket iditujukan ikepada isiswa dengan cara memberi seperangkat pernyataan untuk diisi oleh siswa mengenai respon keterlaksanaan penerapan model pembelajaran Think Talk Write. Angket ini bertujuan untuk memperoleh data mengenai respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran Think Talk Write. G. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yakni jenis data kuantitatif dan kualitatif sebagai berikut. 1. Data Kualitatif Jenis data kualitatif adalah berupa data yang berbentuk kalimat, data kualitatif pada penelitian penerapan model pembelajaran Think Talk Write ini diperoleh dari data observasi dan data angket oleh seorang ahli. 37


2. Data Kuantitatif Data kuantitatif pada penelitian penerapan model pembelajaran Think Talk Write ini diperoleh dari tes hasil belajar yang berupa Pretest dan Posttest. H. Teknik Pengumpulan Data Tabel 3.5 Daftar Intrumen beserta Teknik Pengumpulan Data Instrumen Teknik Target Subjek Waktu Lembar Observasi Siswa dan Observasi Keterlaksanaan Saat Tes proses guru pelaksanaan Soal pretest pembelajaran dan posttest Kuesioner penerapan Siswa model iSebelum Angket Siswa ipelaksanaan pembelajaran ipembelajaran Think Talk Write i(pretest) dan isetelah Hasil ipelaksanaan keterampilan ipembelajaran argumentasi i(posttest) siswa Setelah penelitian Respon siswa terhadap selesai penerapan model pembelajaran Think Talk Write I. Analisis Instrumen Penentuan nilai validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda dalam uji coba soal dapat dicari dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : 38


1. Validitas Analisis validitas digunakan untuk mengetahui dukungan suatu butir soal terhadap skor total. Pengujian validitas dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut : ������������������ = ������ ∑ ������������ − (∑ ������)(∑ ������) √((������ ∑������ 2 − (∑ ������)2)(������ ∑������ 2 − (∑ ������)2) (Arikunto S. 2010: 72) iKeterangan : i������������������ = ikoefisien korelasi antara variabel X dan Y, dua variabel yang dikolerasikan i������ = iJumlah Subjek yang iditeliti i∑xy = iJumlah perkalian x idengan y i∑x = iJumlah seluruh iskor x i∑y = iJumlah seluruh iskor y i∑x2 = iJumlah dari x yang idikuadratkan i∑y2 = iJumlah dari y iyang dikuadratkan i(∑x)2 = iJumlah x kemudian idikuadratkan i(∑y)2 = iJumlah y kemudian dikuadratkan Harga rxy yang telah diperoleh kemudian dibandingkan dengan nilai rtabel Product imoment idengan itaraf iα = 5%, ijika inilai i rxy > rtabel imaka isoal dikatakan ivalid idan isoal iyang itidak ivalid ijika rxy < rtabel. Adapun hasil akhir validitas dapat diinterpretasikan dengan melihat kategori pada tabel 3, berikut : 39


Tabel 3.6 Kategori Validitas Besarnya Validitas Kategori 0,00 - 0,20 Sangat rendah 0,21 - 0,40 Rendah 0,41 - 0,60 Sedang 0,61 - 0,80 Tinggi 0,81 - 1,00 Sangat tinggi (Arikunto S. 2010: 75) 2. Reliabilitas Uji reliabilitas diperlukan untuk melengkapi syarat valid sebuah instrumen evaluasi. Pengujian reliabilitas menggunakan rumus K-R 20 berikut: ������ ������2 − ∑ ������������ ������11 = (������ − 1) ( ������2 ) (Arikunto S. , 2015: 101) Keterangan : ������11 = Reliabilitas tes secara keseluruhan p = Proposi subjek yang menjawab item dengan benar q = Proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q = 1 – p) ∑ pq = Jumlah hasil perkalian antara p dengan q n = Banyaknya item N = Banyaknya subjek yang mengikuti tes S = Standar deviasi dari tes (standar diviasi adalah akar varians), dengan rumus : ������2 = ∑ ������2 − (∑ ������������)2 ������ 40


Adapun hasil akhir reliabilitas dapat diterjemahkan kedalam kategori pada tabel 3.7, dibawah ini : Tabel 3.7 Klasifikasi Indeks Reliabilitas Soal Besarnya Reliabilitas Kategori 0,00 - 0,20 Sangat rendah 0,21 - 0,40 Rendah 0,41 - 0,60 Sedang 0,61 - 0,80 Tinggi 0,81 - 1,00 Sangat tinggi (Arikunto S. 2015: 103) 3. Tingkat Kesukaran Indeks kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal, sehingga tes tersebut mempunyai kemampuan dalam menjaring banyaknya subjek atau siswa yang dapat menjawab dengan benar maka nilai indeks kesukaran tes tersebut tinggi. Sebaliknya jika hanya sedikit dari siswa yang menjawab dengan benar maka nilai taraf kesukaran tes tersebut dinyatakan sulit. Tingkat kesukaran dapat dihitung menggunakan rumus : (Arikunto S. 2015: 223) Keterangan : P : Tingkat kesukaran B : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar Js : Jumlah seluruh siswa peserta tes Adapun kriteria acuan untuk tingkat kesukaran dapat dilihat pada tabel 3, berikut : 41


Tabel 3.8 Kriteria indeks kesukaran Besar P Interpretasi 0,00 - 0,30 Soal sulit 0,31 - 0,70 Soal sedang 0,71 – 1,00 Soal mudah (Arikunto S. , 2015: 223) 4. Daya Pembeda Agar kita dapat menentukan daya pembeda (D) maka hal yang terlebih dahulu dilakukan yaitu mengurutkan skor dari peserta tes tertinggi sampai skor terendah. Kemudian setelah itu diambil 27 % skor teratas sebagai kelompok atas dan 27% skor terbawah sebagai kelompok bawah. Teknik yang tepat untuk digunakan dalam menghitung daya pembeda instrument pada soal bentuk uraian adalah menghitung perbedaan dari dua rata-rata (mean), yaitu antara rata-rata dari kelompok atas dengan rata-rata dari kelompok bawah untuk tiap soalnya. Daya pembeda tiap butir soal dapat dihitung menggunakan rumus berikut: ������ = ������������ − ������������ ������������ ������������ i(Arikunto S. , 2015: 228) Keterangan : iD = Daya pembeda ������������������ = Banyaknya peserta kelompok atas ������������������ = Banyaknya Peserta kelompok bawah ������������������ = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar ������������������ = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar 42


Interpretasi nilai daya pembeda dapat dilihat berdasarkan tabel berikut : Table 3.9 Klasifikasi Daya Pembeda Daya Pembeda Klasifikasi Soal 0,00 Sangat Rendah 0,00 - 0,20 Rendah 0,21 - 0,40 Cukup 0,41 - 0,70 Tinggi 0,71 - 1,00 Sangat Tinggi (Arikunto S. 2015: 229) J. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Data Kualitatif Data kualitatif merupakan data yang berupa kalimat. Data tersebut diperoleh dari : a. Lembar Observasi Keterlaksanaan proses model pembelajaran Think Talk Write pada materi ekosistem diukur menggunakan lembar observasi. Pengisian lembar observasi diisi dengan daftar ceklis (✓) pada kolom “Ya” atau “Tidak” pada setiap tahapan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Think Talk Write. Berikut Langkah-langkahnya: 1) Menghitung jumlah skor kegiatan siswa dan guru 2) Mengubah jumlah skor yang diperoleh menjadi bentuk presentase menggunakan rumus: % (Purwanto. 2014: 140) I 43


Keterangan : iNP = Nilai persen aktivitas siswa yang dicari atau diharapkan iR = Jumlah skor yang diperoleh iSM = Skor maksimum ideal Presentase yang didapat kemudian dicocokan dengan kriteria yang terdapat pada tabel 3.10 berikut: Tabel 3.10 Kriteria Keterlaksanaan Pembelajaran Nilai Kriteria 86% - 100% Sangat baik 76% - 85% 60% - 75% Baik 55% - 59% Sedang Kurang ≤ 54% Sangat Kurang (Purwanto. 2014: 140) Dalam penghitungan kriteria yang penilaian lembar observasi siswa berbeda dengan kriteria diatas, untuk kriteria penilaian lembar observasi siswa sebagai berikut: 1 = Sangat Tidak Baik (STB), apabila tidak ada siswa yang melakikan aktivitas 2 = Tidak Baik (TB), apabila hanya sebagian kecil siswa yang melakukan aktivitas 3 = Kurang Baik (KB), apabila setengah dari keseluruhan siswa melakukan aktivitas 4 = Baik (B), apabila sebagian besar siswa melakukan aktivitas 5 = Sangat Baik (SB), apabila seluruh siswa melakukan aktivitas 44


b. Angket Angket bertujuan untuk menampung respon siswa terhadap model pembelajaran Think Talk Write terhadap keterampilan argumentasi siswa. Angket yang digunakan adalah angket dengan skala Likert, dapat berupa pernyataan isangat Setuju (SS) ibernilai 4, iSetuju i(S) ibernilai 3, TidakiSetuju i(TS) bernilai 2, iSangat Tidak iSetuju i(STS) ibernilai i1 (Purwanto, 2014 : 144). Angket analisis responden dihitung dengan rumus sebagai berikut: ������ ������ = ������ ������ 100% Keterangan : P = persentase penilaian (%) n = jumlah skor yang diperoleh N = jumlah skor maksimum Tabel 3.11 Presentase Respon Siswa Pada Angket Presentase (%) Kategori 0% - 20% Sangat lemah 21% - 40% Lemah 41% - 60% Cukup 61% - 80% Baik 81% - 100% Sangat Baik (Purwanto. 2014: 103) 45


2. Data Kuantitatif a. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data tersebut normal atau tidak maka diadakan uji normalitas menggunakan Lilliefors (Sudjana. 2005: 46). Langkah-langkah yang dilakukan untuk menguji normalitas yaitu : 1) Memilih nilai signifikasi alpha 2) Mengurutkan data dari yang kecil sampai yang besar 3) Menentukan rata-rata dan standar deviasi dari data yang akan ditentukan normalisasinya. Standar deviasi ditentukan dengan persamaan sebagai berikut : ������ = √∑((���������������−��� −1)������̅ Keterangan : S = Standar deviasi xi = Skor peserta didik ke i ������̅ = Rata-rata ������ = Jumlah seluruh peserta tes 4) Menentukan nilai baku Z enggunakan persamaan : ������������ − ������̅ ������ = ������ 5) Menentukan peluang dari F(Zi) = P(Zi) 6) Menghitung proposi yang lebih kecil atau sama dengan Zi yaitu S(Zi). 7) Menentukan nilai Lhitung dengan menghitung selisih mutlak dari poin 5 dan 6 yaitu | (������������) − S(������������)|. 8) Membandungkan nilai Lilliefors hitung maksimum dengan Lilliefors tabel, jika Lhitung ≤ Ltabel, maka data berdistribusi normal dan Lhitung > Ltabel, maka data berdistribusi tidak normal. 46


Apabila data berdistribusi normal, maka akan dilanjutkan dengan uji homogenitas varians. Apabila data tidak berdistribusi normal, maka uji perbedaan dua rerata menggunakan statistik non-parametik dengan Uji Wilcoxon. b. Uji Homogenitas Setelah mendapatkan hasil pretest dan posttes yang berdistribusi normal, maka dilakukan uji homogenitas yang dihitung dengan menggunakan uji F (Uji Fisher) dengan rumus sebagai berikut : 1) Menentukan Fhitung dengan rumus: Fhitung = ������ ������������������������������������������������ ������ ������������������������������������������������ 2) Menentukan derajat kebebasan(db0 : (1) Ditentukan : α = 5% = 0,05 (2) Ftabel = Fα(dk) 3) Menentukan F dari daftar F = F(α)(db1/db2) F = F(1-α)(db) 4) Penentuan Homogenitas Jika nilai Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak, artinya data tidak homogen Jika nilai Fhitung < Ftabel maka H0 diterima, artinya data homogen. c. Uji Hipotesis Uji hipotesis bertujuan untuk menguji kebenaran pernyataan secara statistik menarik kesimpulan apakah menerima atau menolak hipotesis yang telah dibuat. Pengujian hipotesis pada digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rata-rata dua sampel yang sama dalam arti lain keduanya saling berhubungan (Sugiyono, 2013 : 140). 1) Menentukan simpangan baku dengan rumus : ������ ∑ ������������2 − (∑ ������������)2 ������������ = √ ������(������ − 1) Keterangan : SB = Simpangan baku dari beda 47


B = Beda N = Banyaknya data 2) Perhitungan nilai thitung diuji dengan rumus: Menentukan nilai statistik uji ������ ������ = ������������/√������ Keterangan : ������ = Rata-rata dari beda SD = Simpangan baku dari beda n = banyaknya data 3) Menghitung nilai ttabel ������������������������������������ = ������(1−21������)(������������) ������������������������������������ = ������(1−21������)(������−1) 4) Pengujian Hipotesis Jika thitung > ttabel maka, Ha diterima dan H0 ditolak artinya hipotesis Ha diterima dan jika thitung < ttabel maka, Ha ditolak dan H0 diterima artinya hipotesis H0 diterima. d. Uji Nilai N-Gain Setelah data hasil pretest dan posttest diperoeh dari hasil penskoran, maka akan dihitung rata-rata peningkatan pengetahuan prosedural siswa dengan perhitungan N-Gain dengan rumus perhitungan sebagai berikut : ������������������������ ������������������������������������������������ − ������������������������ ������������������������������������������ ������ − ������������������������ = ������������������������ ������������������������ − ������������������������ ������������������������������������������ (Noor, 2013: 70) Tabel 3.12 Kriteria N-Gain N-Gain Kriteria N-Gain ≥ 0,7 Tinggi 0,3 ≤ N-Gain ≤ 0,7 Sedang N-Gain ≤ 0,3 Rendah (Noor, 2013: 72) 48


BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Keterlaksanaan Model Pembelajaran Think Talk Write pada Materi Ekosistem Keterlaksanaan model pembelajaran Think Talk Write pada materi ekosistem ini menggunakan alat ukur berupa lembar observasi dari aktivitas yang dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran berlangsung. Adapun presentasi keterlaksanaan hasil observasi sebagai berikut : a. Lembar Observasi Keterlaksanaan Guru Tabel 4.1 Aktivitas Guru dengan Menggunakan Model Pembelajaran Think Talk Write Observasi Keterlaksanaan Aktivitas Guru Keterangan Pertemuan 1 Pertemuan 2 Presentase 100% 100% Terlaksana Kategori dengan sangat Rata-rata Sangat Baik Sangat Baik baik 100% (Sumber : Lampiran C.3) Berdasarkan hasil observasi keterlaksanaan aktivitas guru pada menggunakan model pembelajaran Think Talk Write pada Tabel 4.1 menunjukkan bawa dengan rata-rata persentase 100%. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses kegiatan pembelajaran dapat terlaksana dengan sangat baik. Dari kedua pertemuan tersebut guru sudah melakukan aktivitas dengan baik. 49


b. Lembar Observasi Keterlaksanaan Siswa Tabel 4.2 Aktivias Siswa dengan Menggunakan Model Pembelajaran Think Talk Write Observasi Keterlaksanaan Aktivitas Siswa Keterangan Pertemuan 1 Pertemuan 2 Penilaian 94,6% 98,8% Terlaksana Kategori dengan sangat Rata-rata Sangat Baik Sangat Baik baik 96,7% (Sumber : Lampiran C.3) Berdasarkan Tabel 4.2 didapatkan hasil persentasi aktivitas siswa dengan model pembelajaran Think Talk Write dengan jumlah dua pertemuan. Pada pertemuan pertama yaitu 94,6% dan pada pertemuan kedua 98,8% dengan rata- rata 96,7% sehingga termasuk kedalam kategori sangat baik. Persentase tersebut dapat menunjukkan bahwa proses aktivitas yang telah dilakukan oleh siswa sudah baik, meskipun ada beberapa yang nilainya masih kurang maksimal. 2. Peningkatan Keterampilan Berargumentasi Siswa dengan Model Pembelajaran Think Talk Write pada Materi Ekosistem Keterampilan argumentasi siswa dianalisis menggunakan nilai yang dihasilkan dari pretest dan posttest. Soal penelitian yang berjumlah 10 soal essay yang meliputi indikator keterampilan argumentasi siswa sesuai dengan silabus dan kompetensi dasar serta kompetensi inti dari materi ekosistem kelas X. Adapun peningkatan yang dapat diamati serta rata-rata yang dihasilkan dari setiap indikator keterampilan argumentasi dapat dihitung menggunakan nilai N- Gain. Berikut merupakan hasil peningkatan terdapat pada Tabel. 4.3 Tabel 4.3 Nilai Keterampilan Argumentasi Siswa dengan Menggunakan Model Pembelajaran Think Talk Write Keterangan Nilai Nilai Rata-rata Kriteria Minimal Maksimal Pretest 35 72,5 53,75 Kurang Posttest 60 92,5 76,25 Baik (Sumber : Lampiran C.4) 50


Dari Tabel 4.3 diperoleh rata-rata pretest sebesar 57,75 dengan nilai minimal yang diperoleh 35 dan nilai maksimal yang diperoleh 72,5. Sedangkan rata-rata nilai posttest 76,25 dengan nilai minimal 60 dan nilai maksimal 92,5. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang cukup signifikan dari hasil penilaian pretest dan juga posttest. Ketercapaian indikator keterampilan argumentasi sebelum pembelajaran yaitu pada saat pretest memperoleh jumlah dengan nilai rata-rata 48,41 sedangkan ketercapaian indikator keterampilan beragumentasi setelah mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Think Talk Write yaitu pada saat posttest yang memperoleh nilai rata-rata sebesar 75,34. Dilakukan uji N-Gain berdasarkan nilai rata-rata keseluruhan dari setiap indikator argumentasi pada pretest dan posttest diperoleh hasil 0,52 dengan kategori sedang (sumber : lampiran C.4) Berdasarkan tabel pada lampiran (C.4) bahwa nilai rata-rata N-Gain dari setiap siswa yaitu 0,55 dengan kategori sedang. Hal ini dapat terjadi karena nilai rata-rata pada siswa sebelum penerapan model pembelajaran yaitu 51,25 dan nilai rata-rata siswa setelah penerapan model pembelajaran meningkat menjadi 78,125. Maka terlihat adanya peningkatan keterampilan argumentasi pada setiap siswa. Setelah dilakukannya uji N-Gain pada setiap indikator agar peneliti dapat melihat peningkatan keterampilan argumentasi siswa dari hasil tes siswa, baik dari pretest maupun posttest menggunakan uji normalitas, homogenitas, dan uji t berpasangan. Pada uji t ini hanya dapat dilakukan apabila data yang telah di uji berdistribusi normal dan memiliki varians data yang homogen. a. Uji Normalitas Uji normalitas adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mengetahui apakah data berasar dari populasi yang terdistribusi normal atau tidak normal. Distribusi normal dalam uji normalitas dimaksudkan yaitu distribusi simetris dengan modus, mean dan median yang berada dipusat. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam analisis normalitas data yaitu Liliefors, kolmogorof- smirnov, chi square, dan sebagainya (Nuryadi. 2017 : 79). 51


Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah Liliefors. Uji Liliefors merupakan salah satu uji yang digunakan agar peneliti dapat mengetahui penyebab dari suatu data yang berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak (Swarjana. 2012: 139). Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 4.4 Data Uji Normalitas Pretest dan Posttest Menggunakan Model Pembelajaran Think Talk Write a. Lilliefors Significance Correction Analisis Data Pretest Posttest Asymp Sig. 0,062 0,200 Sig. 5% 0,05 0, 05 Asymp Sig. > Sig. 0,05 Asymp Sig. > Sig. 0,05 Kesimpulan Data berdistribusi Data berdistribusi normal normal (Sumber : Lampiran C.4) Pada tabel 4.4 bagian pretest diatas menunjukkan bahwa Asymp Sig. > Sig. 0,05 pada kelas eksperimen maka H0 diterima. Hal tersebut dapat diartikan bahwa tingkat signifikansi (α sebesar 5%) berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Sedangkan pada bagian posttest menunjukkan bahwa Asymp Sig. 0,05 pada kelas eksperimen H0 diterima. Artinya dengan tingkat signifikansi (α) sebesar 5% yang berasal dari populasi datanya berdistribusi normal. b. Uji Homogenitas Uji homogenitas ialah uji yang digunakan untuk memastikan bahwa kelompok yang dibandingkan merupakan kelompok yang memiliki varians homogen. Menurut Sugiyono (2010: 218) uji pada homogenitas varians untuk dua kelompok data pretest dan posttest dapat dilakukan dengan menggunakan uji fisher. Hasil dari uji normalitas yang telah dilakukan pada tabel 4.4 diatas didapatkan bahwa data berdistribusi normal. Berdasarkan data tersebut dapat dilakukan uji homogenitas agar mengetahui data keduanya memiliki varians 52


yang homogen atau tidak. Hasil dari uji homogenitas ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 4.5 Hasil Uji Homogenitas Data Pretest dan Posttest Analisis Data Pretest Asymp Sig. 0,074 Sig. 5% 0,05 Kesimpulan Asymp Sig. > Sig. 0,05 Data berdistribusi homogen (Sumber : Lampiran C.4) Berdasarkan tabel 4.5 diatas, menunjukkan bahwa data keduanya memiliki varians yang homogen. Karena data pretest dan posttest memiliki Asymp Sig. > Sig. 0,05 yaitu 0,074 > 0,05 maka dari itu H0 diterima. c. Uji Hipotesis Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji parsial atau lebih sering disebut sebagai uji t. Menurut Kuncoro (2009: 218) Uji t pada dasarnya digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh antara variabel satu dengan variabel lainnya. Hal tersebut juga disesuaikan dengan pendapat Sugiyono (2010:223) Uji t merupakan jawaban sementara dari rumusan masalah dalam penelitian yang dilakukan yaitu menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Pengujian pada setiap hipotesis ini digunakan untuk mengetahui kolerasi atau hubungan dari kedua variabel yang diteliti. Setelah melakukan pengujian pada data pretest dan posttest yang telah diuji normaitas dan homogenitasnya dengan hasil dari uji normalitas yang berdistribusi normal serta memiliki varians yang homogen dari uji homogenitas. Sehingga dapat dilakukan uji statistik parametik selanjutnya yaitu uji t berpasangan (paired t-test). Hasil dari uji hipotesis dapat dilihat pada tabel 4.6 dibawah ini : 53


Tabel 4.6 Hasil Uji Hipotesis Pretest dan Posttest Analisis Data Pretest Asymp Sig. 0,001 Sig. 5% 0,05 Kesimpulan Asymp Sig. > Sig. 0,05 Data memiliki perbedaan yang signifikan (Sumber : Lampiran C.4) Berdasarkan tabel 4.6 diatas bahwa hasil dari uji hipotesis pada data pretest dan posttest menunjukkan hasil Sdymp Sig. < Sig.0,05 yaitu 0,001 < 0,005, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya dengan taraf signifikasi 5% pada data pretest dan posttest memiliki perbedaan yang signifikan. Sehingga terdapat perbedaan keterampilan argumentasi sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran Think Talk Write pada materi Ekosistem. d. Analisis Kualitas Argumentasi Siswa Analisis kualitas keterampilan argumentasi siswa setelah diterapkannya model pembelajaran Think Talk Write dapat dilihat berdasarkan indikator keterampilan argumentasi dengan menggunakan N-Gain untuk melihat peningkatan dari setiap indikator argumentasi. Indikator keterampilan argumentasi yang digunakan dalam penilitian ini menggunakan indikator keterampilan argumentasi menurut Toulmin yaitu claim, data, warrant, backing, qualifer, dan rebuttal. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan tabel 4.7 dibawah ini. 54


Tabel 4.7 Kualitas Argumentasi Siswa Berdasarkan Indikator Argumentasi No. Indikator Keterampilan Nilai Kriteria Argumentasi N-Gain 1 Claim 0,44 Sedang 2 Data 0,43 Sedang 3 Warrant 0,37 Sedang 4 Backing 0,39 Sedang 5 Qualiffer 0,67 Sedang 6 Rebuttal 0,59 Sedang Rata-rata 0,52 Sedang (Sumber : Lampiran C.4) Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa semua keseluruhan indikator keterampilan argumentasi mendapatkan kriteria sedang, namun dengan nilai N-Gain yang berbeda-beda dari setiap indikator keterampilan argumentasinya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa keterampilan argumentasi dalam penerapan model pembelajaran Think Talk Write yang diterapkan dalam kelas dapat efektif. Hal tersebut didukung dengan penelitian dari Fatmawati (2018: 257-258) kemampuan argumentasi setalah diberikan tindakan pemberian model pembelajaran mengalami peningkatan yang positif. Terdapat beberapa kendala atau sebab yang dapat memberikan dampak kualitas argumentasi pada siswa masih dalam kriteria sedang salah satunya yaitu pola argumentasi siswa belum bisa memahami dengan baik elemen argumentasi ilmiah, hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa untuk berargumen model tertulis ataupun berdebat langsung didalam kelas (Wardani & Yuliati, 2018: 1368). Pengetahuan materi dan pemahaman konsep yang dimiliki oleh siswa akan mempengaruhi argumentasi yang dibuat oleh siswa, apabila siswa memiliki pengetahuan materi dan pemahaman konsep yang memadai dapat menyusun argumen yang lebih berkualitas sehingga argumen yang dikemukakan oleh siswa akan semakin 55


lengkap dan utuh (Wardani & Yuliati, 2018: 1369). Pemahaman konsep dan penalaran siswa dapat terlihat dari bentuk argumentasinya secara tertulis maupun lisan. Tabel 4.8 Kualitas Argumentasi Siswa Sebelum dan Sesudah Penerapan Model Pembelajaran Think Talk Write berdasarkan Level Argumentasi No. Level Argumentasi Pretest Posttest 1 Level 1 8 - 2 Level 2 16 - 3 Level 3 7 2 4 Level 4 1 15 5 Level 5 - 15 Jumlah 32 32 (Sumber : Laampiran C.4) Keterampilan argumentasi dapat diukur dengan cara menentukan kualitas argumentasi siswa berdasarkan klasifikasi level kualitas argumentasi. Level argumentasi terbagi menjadi Level 1 – Level 5. Berdasarkan tabel 4.8 pada saat pretest siswa lebih banyak berada pada level 2 dengan jumlah siswa 16 dari 32 artinya siswa telah mampu membuat jawaban yang mengandung elemen argumen lain untuk mendukung sebuah claim, tetapi siswa tidak dapat menyempurnakan argumennya dengan rebuttal. Sedangkan pada saat posttest siswa lebih banyak pada level 4 dan 5 dengan jumlah siswa 15 artinya argumentasi pada siswa sudah sempurna serta mengandung lebih dari satu sanggahan dan penguatan. Argumentasi yang terdiri dari argumen-argumen yang luas (extended, namun tetap terkait dengan materi pembelajaran) dengan lebih dari satu sanggahan yang jelas dan tepat. 56


3. Respon Siswa Terhadap Penggunaan Model Pembelajaran Think Talk Write untuk Meningkatkan Keterampilan Argumentasi Siswa Pada Materi Ekosistem Pada penelitian yang telah dilakukan di MA Al-Huda dalam mengukur respon siswa terhadap penggunaan model pembelajaran Think Talk Write dapat diukur menggunakan angket. Respon adalah kesan atau tanggapan sesorang setelah melalui aktifitas penginderaan sehingga terbentuklah sikap yang positif maupun sikap yang negatif (Khairiyah, 2018: 198). Dengan kata lain respon merupakan suatu tanggapan siswa setelah mengikuti pembelajaran. Repon siswa yang dimaksud dalam penelitian ini berbeda dengan evaluasi hasil belajar siswa, tetapi tanggapan siswa terhadap bahan ajar atau model pembelajaran yang telah digunakan dan respon siswa dinilai melalui angket yang disediakan oleh peneliti (Susilana & Riyana, 2009: 57). Angket yang diberikan kepada siswa telah diberikan indikator atau kisi-kisi dalam setiap pertanyaan, jawaban dari siswa tersebut akan dianalisis kemudian diolah dan diinterpretasikan dalam skala likert. Menurut skala likert digunakan untuk mengukur pendapat, persepsi dan sikap seseorang ataupun sekelompok orang terhadap perlakuan tertentu. Pada angket dalam skala likert memiliki bentuk pertanyaan yang positif dan negatif dengan menggunakan pilihan Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS) (Sugiyono, 2010). Respon siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Think Talk Write pada setiap indikator dapat dilihat sebagai berikut : 57


Tabel 4.9 Pesentase Hasil Angket Respon Siswa No. Indikator Persentase Kriteria Respon terhadap pembelajaran 68% Baik 1 biologi Respon terhadap materi 74% Baik 2 ekosistem Respon terhadap model 71% Baik 3 pembelajaran Think Talk Write Rata-rata 71% Baik (Sumber : Lampiran C.5) Hasil persentase dari ketiga indikator angket respon siswa diperoleh hasil rata-rata sebesar 83% dengan kriteria baik. Respon terhadap pembelajaran biologi memiliki persentase sebesar 68% dengan kriteria baik, hal ini menunjukkan bahwa mata pelajaran biologi masih banyak diminati oleh siswa. Hasil persentase respon terhadap materi ekosistem memiliki persentase sebesar 74%, persentase yang didapat merupakan yang tertinggi sehingga dapat diartikan bahwa banyak siswa yang menyukai materi ekosistem. Sedangkan respon terhadap model pembelajaran Think Talk Write mendapatkan persentase sebesar 71%, hal ini menunjukkan kriteria yang baik serta memberikan dampak yang positif terhadap model pembelajaran yang telah diterapkan didalam kelas. B. Pembahasan Hasil Penelitian Penelitian yang telah dilakukan memiliki tujuan agar dapat mengetahui peningkatan keterampilan argumentasi siswa pada materi ekosistem dengan model pembelajaran yang diterapkan yaitu Think Talk Write. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh serta dianalisis, maka pembahasan pada penelitian ini sebagai berikut : 1. Keterlaksanaan Proses Pembelajaran dengan Menggunakan Model Pembelajaran Think Talk Write pada Materi Ekosistem Keterlakasanaan merupakan proses dari penerapan langkah-langkah yang telah disusun dan direncanakan sebelumnya dalam bentuk RPP. Hasil analisis data keterlaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan model 58


pembelajaran Think Talk Write yang diperoleh melalui lembar observasi keterlaksanaan aktivitas guru dan siswa di dalam kelas pada materi ekosistem secara keseluruhan dinilai sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari presentase keterlaksanaan proses pembelajaran yang terus meningkat pada setiap pertemuannya. Keterlaksanaan proses pembelajaran yang dimaksud yaitu proses pembelajaran yang mengikuti sintak model Think Talk Write terdiri dari pendahuluan berupa salam pembuka, apersepsi, penyampaian indikator dan tujuan pembelajaran. Pada tahap ini guru akan memberikan apersepsi dimana guru membangkitkan kemampuan siswa dengan cara menghubungkan suatu fenomena yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari dengan materi yang akan dipelajari di dalam kelas. Kemudian guru akan menjelaskan tujuan pembelajaran, pada tahap ini siswa diharapkan untuk menyimak tujuan pembelajaran yang disampaikan oleh guru mengenai materi yang akan dipelajari. Kegiatan inti memiliki tujuan agar meyampaikan materi pokok yang akan melibatkan berbagai aktivitas siswa di dalam kelas saat menggunakan model pembelajaran Think Talk Write. Pada tahap inti juga siswa dibagi kedalam beberapa kelompok agar memudahkan siswa dalam berdiskusi. Guru akan memberikan lembar soal ke setiap kelompok, lalu dari setiap kelompok menuliskan hal-hal yang tidak dimengerti dan mendiskusikannya. Hasil diskusi yang dipeoleh kemudian dipresentasikan. Pada kegiatan penutup, siswa dan guru melakukan evaluasi. Pada tahap ini guru meluruskan setiap kekeliruan yang dialami oleh siswa, dan ditutup dengan menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dipelajari. Serta menyampaikan materi pembelajaran yang akan dibahas pada petemuan selanjutnya. Keterlaksanaan aktivitas guru selama proses pembelajaran dalam kelas berlangsung menggunakan lembar observasi dengan jumlah 2 pertemuan pada materi ekosistem. Pada pertemuan pertama keterlaksanaan akivitas guru dalam proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Think Talk Write 59


sudah sepenuhnya terlaksana dengan persentase sebesar 100%. Pada pertemuan kedua keterlaksanaan aktivitas guru tidak mengalami penurunan yaitu sebesar 100%. Pada pertemuan pertama dan kedua guru mampu mengelola waktu pembelajaran dan mengkondisikan siswa sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan cukup baik. Oleh karena itu dapat disimpulkan secara keseluruhan dari pertemuan pertama dan kedua keterlaksanaan aktivitas guru berjalan sangat baik dengan perolehan rata-rata sebesar 100%. Adapun keterlaksanaan aktivitas siswa secara keseluruhan memperoleh hasil yang baik. Pada pertemuan pertama keterlaksanaan aktivitas siswa memperoleh persentase sebesar 85% dengan kategori baik. Hal ini terjadi karena sebagian siswa belum memasuki ruangan kelas sepenuhnya sehingga hanya sebagian siswa yang berdo’a dan menjawab absensi dari guru serta siswa masih baru mengenal model pembelajaran Think Talk Write sehingga masih terdapat siswa yang nampak kebingungan ketika mengikuti sintak yang ada pada strategi pembelajaran Think Talk Write. Pada pertemuan kedua persentasi keterlaksanaan aktivias siswa mengalami peningkatan yaitu sebesar 95%. Hal ini dikarenakan siswa mulai mengerti dengan siktak pembelajaran Think Talk Write serta siswa terlibat aktif pada saat berdiskusi yang merupakan salah satu sintak dari model pembelajaran Think Talk Write yaitu Talk. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Trianto (2012: 124) diskusi dapat menumbuhkan keterlibatan dan partisipasi siswa serta meningkatkan cara berpikir siswa dengan jalan membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman isi pelajaran, selain itu diskusi juga membantu siswa dalam keterampilan argumentasi dan proses berpikir. Berdasarkan persentase yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa partisipasi siswa dalam proses pembelajaran berlangsung dengan baik. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Sudjana (2010: 39) bahwa dalam proses belajar, partisipasi peserta didik akan memberikan konstribusi pada kemampuan melakukan transfer of knowledge. Artinya tujuan pembelajaran dapat tercapat dengan baik. Oleh karena itu dapat 60


disimpulkan bahwa model pembelajaran Think Talk Write mamapu meningkatkan minat siswa dalam proses pembelajaran secara aktif. 2. Peningkatan Keterampilan Argumentasi Siswa dengan Menggunakan Model Pembelajaran Think Talk Write pada Materi Ekosistem Keterampilan argumentasi siswa diperoleh melalui tes uraian yang memuat indikator keterampilan argumentasi berjumlah 10 soal. Tes yang diberikan kepada siswa sebanyak dua kali, yaitu pretest dan posttest. Data yang telah diperoleh kemudian di analisis untuk mengukur keterampilan argumentasi pada si swa. Dari hasil analisis data diperoleh rata-rata nilai hasil dari pretest sebesar 53,75 dengan kategori kurang dan posttest sebesar 76,25 dengan kategori baik. Berdasarkan data tersebut terlihat adanya peningkatan pada siswa sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran Think Talk Write. Model pembelajaran Think Talk Write dapat meningkatkan keterampilan siswa karena model pembelajaran ini memberikan siswa kesempatan dalam mengutarakan pemikirannya dalam suatu tulisan dengan menggunakan bahasanya sendiri, sehingga mampu mengasah keterampilan argumentasi yang dimiliki oleh siswa. Hal tersebut sesuai dengan yang di utarakan oleh Renwarin (2020: 106) bahwa model pembelajaran Think Talk Write memperkenankan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri sehingga pemahaman konsep yang dimiliki siswa menjadi lebih baik, serta siswa bisa mengkomunikasikan atau mendiskusikan pemikirannya dan saling bertukar pikiran, dan juga melatih siswa untuk mengutarakan pendapatnya kedalam sebuah tulisan secara sistematis sehingga siswa akan lebih memahami materi. Ketercapaian dari setiap indikator dalam keterampilan argumentasi dapat diukur melalui rata-rata setiap indikator keterampilan argumentasi. Rata-rata nilai setiap indikator yang diperoleh sebelum pembelajaran sebesar 48,41 dengan kategori kurang. Hal tersebut dapat terjadi karena siswa belum mendapatkan pembelajaran sehingga siswa menjawab sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Indikator keterampilan argumentasi yang 61


paling tinggi sebelum pembelajaran yaitu rebuttal dengan nilai rata-rata 55.46 hal ini dikarenakan indikator rebuttal merupakan salah satu indikator yang dinilai cukup mudah, namun dalam hal ini siswa hanya mampu menyanggah saja tanpa adanya data dan dukungan atau sanggahan lemah. Sedangkan indikator keterampilan argumentasi yang paling rendah terdapat pada indikator backing dengan perolehan nilai rata-rata sebesar 39.84, karena indikator backing siswa cukup kesulitan untuk membuat pernyataan yang berbentuk dukungan atau bukti-bukti yang dapat digunakan dalam mendukung claim yang telah dibuat. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Erduran dalam jurnal Rahayu (2020: 316) yang menyatakan bahwa argumen memiliki suatu rangkaian klaim, data, penjamin atau pendukung serta sanggahan yang lemah. Sanggahan yang lemah merupakan sanggahan yang digunakan tanpa adanya bukti atau data yang dapat mendukung sanggahan tersebut. Setelah dilaksanakannya penerapan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) nilai rata-rata per-indikator mengalami peningkatan yaitu sebesar 75,34 dengan kategori baik. Rata-rata nilai paling tinggi yaitu sebesar 83,20 terdapat pada indikator Qualifer, dalam hal ini siswa mampu memberikan pembenaran atas gagasan atau pernyataan claim dengan baik sesuai dengan permasalahan yang telah disajikan dalam soal. Sementara indikator yang memiliki nilai paling rendah dengan perolehan nilai rata-rata 63,28 yaitu terdapat pada indikator backing. Hal ini dapat terjadi karena siswa cukup mengalami kesulitan dalam mengumpulkan bukti-bukti atau dukungan yang dapat mendukung claim yang telah mereka buat. Pernyataan tersebut sesuai dalam penelitian yang telah dilakukan oleh Zairina (2022: 41) yang menyatakan bahwa masih banyak siswa yang kesulitan untuk memberikan backing dengan tepat untuk mendukung gagasan dan data agar dapat diterima, kebanyakan jawaban siswa masih mengulang dari pernyataan yang terdapat dalam soal. Selain analisis ketercapaian dari setiap indikator, keterampilan argumentasi juga diukur dengan menentukan kualitas argumentasi berdasarkan klasifikasi level argumentasi. Level argumentasi siswa sebelum pembelajaran 62


paling banyak berada pada level 2 yaitu argumentasi yang memuat claim dengan data, warrant atau backing namun tanpa rebuttal dengan jumlah siswa 16 siswa. Level argumentasi paling rendah dengan jumlah siswa sebanyak 8 orang terdapat pada level 1 yaitu argumentasi yang terdiri dari argumen- argumen berupa claim sederhana dengan claim berlawanan (counter claim), sedangkan level argumentasi paling tinggi dengan jumlah siswa sebanyak 1 orang pada level 4 yaitu argumentasi terdiri dari argumen – argumen dengan claim, satu sanggahan yang dapat di identifikasi jelas dan tepat, satu argumen dapat mengandung beberapa claim atau counter claim. Setelah dilakukannya pembelajaran di dalam kelas kualitas keterampilan argumentasi mengalami peningkatan yaitu paling banyak pada level 4 dengan jumlah siswa 15 orang dan level 5 yaitu argumentasi yang lebih kompleks dan panjang dengan lebih dari satu rebuttal sebanyak 15 orang, sedangkan sisanya 2 orang berada di level 3 yaitu argumentasi dengan rangkaian claim atau counter-claim dengan data, warrant atau backing disertai rebuttal yang lemah. Sejalan dengan pernyataan Djamaluddin (2019: 95) bahwa bahan ajar yang kurang jelas dan rumit serta metode atau model pembelajaran yang tidak dapat memberikan stimulus yang baik pada siswa maka akan menghambat dalam proses pembelajaran berlangsung dan mempengaruhi hasil belajar siswa. Berdasarkan paparan diatas dapat diketahui bahwa model pembelajaran Think Talk Write memiliki pengaruh yang positif terhadap keterampilan argumentasi siswa pada materi ekosistem. Hal tersebut seasuai dengan pernyataan Suyatno (2009: 52) kelebihan dari model pembelajaran Think Talk Write yaitu : a. Pada tahap think dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam membedakan dan menpersatukan ide yang disajikan dalam teks bacaan melalui aktivitas membaca. b. Tahap write dapat meningkatkan keterampilan menulis dan berpikir pada siswa. c. Tahap talk dapat terjadi proses pembentukan ide. 63


d. Pemahaman ekosistem dapat dibangun melalui interaksi dan konversasi (percakapan) yang terjadi antara sesama individu. e. Dengan cara talking juga dapat membantu guru dalam mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam memahami isi materi ekosistem. 3. Pengaruh Model Pembelajaran Think Talk Write terhadap Keterampilan Argumentasi Siswa pada Materi Ekosistem Respon siswa telah diperoleh melalui angket yang dibagikan setelah pembelajaran pada pertemuan terakhir. Tujuan dari pemberian angket ialah agar dapat mengetahui tanggapan siswa mengenai model pembelajaran Think Talk Write terhadap keterampilan argumentasi siswa. Pada penelitian ini telah diberikan indikator keterampilan argumentasi pada angket yang akan diisi oleh siswa, diantaranya respon siswa terhadap pembelajaran biologi, respon siswa terhadap materi ekosistem, dan respon siswa terhadap model pembelajaran Think Talk Write. Selain diukur dengan menggunakan angket, respon siswa juga dapat diukur dengan proses pembelajaran siswa pada saat kegiatan belajar sedang berlangsung, atau dapat juga diperoleh dari nilai yang diperoleh siswa dari kegiatan pembelajaran. Siswa yang memiliki minat dan motivasi yang tinggi akan mempunyai nilai yang bagus serta hasil respon angket yang baik. Hal tersebut dapat menunjukkan ketertarikan siswa pada model pembelajaran Think Talk Write yang diberikan di dalam kelas (Putri, 2020: 72). Hasil data angket yang diperoleh dari indikator respon terhadap pembelajaran biologi memiliki hasil persentase sebesar 68% dengan kategori baik, respon siswa pada pembelajaran ekosistem memiliki hasil persentase 74% dengan kategori baik, dan respon terhadap model pembelajaran Think Talk Write memperoleh persentase sebesar 71% dengan kategori baik. Hasil persentase angket siswa menunjukkan bahwa respon terhadap pembelajaran biologi dalam kelas memiliki interpretasi yang cukup baik. Tetapi masih terdapat 32% siswa kurang menunjukkan minat terhadap pembelajaran biologi. Hal tersebut menjadi bahan evaluasi guru terhadap penyampaian materi dengan konsep yang baru kepada siswa agar 64


menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar terhadap materi biologi serta dengan mempelajari biologi dapat diimplementasikan pada kehidupan sehari-hari. Respon siswa terhadap pembelajaran pada materi ekosistem dengan hasil persentase 74%, menunjukkan bahwa siswa lebih banyak memberikan respon yang positif. Akan tetapi masih terdapat 26% siswa yang kurang memberikan respon positif pada pembelajaran materi ekosistem yang dilakukan baik secara tatap muka ataupun luring. Kurangnya minat siswa dapat memperlihatkan bahwa respon yang kurang baik terhadap materi pembelajaran ekosistem. Dalam proses pembelajaran sebagian siswa kurang memiliki motivasi belajar sehingga dapat mempengaruhi minat siswa untuk mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas. Respon siswa terhadap model pembelajaran Think Talk Write menunjukkan hasil presentase sebesar 71% yang memperlihatkan bahwa siswa memberikan respon yang baik terhadap model pembelajaran tersebut serta terdapat 29% siswa memberikan respon negatif terhadap model pembelajaran Think Talk Write. Hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh kurangnya motivasi atau minat siswa terhadap model pembelajaran Think Talk Write pada materi ekosistem. Dengan adanya kekurangan tersebut guru harus lebih mempersiapkan serta memberikan inovasi yang baru dalam proses pembelajaran secara matang dengan strategi atau konsep yang dapat memberikan ketertarikan siswa sehingga dapat mengurangi respon negatif dari siswa terhadap model pembelajaran Think Talk Write. Minat belajar siswa didalam kelas dengan menggunakan model pembelajaran Think Talk Write secara keseluruhan menunjukkan bahwa siswa memberikan respon yang positif serta berminat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran model Think Talk Write pada materi ekosistem. Dengan hal tersebut dapat mendukung proses pembelajaran yang dilaukan secara tatap muka ataupun luring, mengingat kurangnya kondusif siswa pada saat pembelajaran berlangsung sehingga dapat menjadi kendala bagi siswa dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Sehingga guru dianjurkan 65


untuk mengelola kelas dengan baik agar terjadi proses pembelajaran yang kondusif serta dapat menciptakan lingkuan pembajaran sebaik mungkin. Model pembelajaran Think Talk Wtire pada materi ekosistem memperoleh hasil respon dengan rata-rata 71% dengan kategori baik. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran Think Talk Write dapat meberikan dampak yang positif terhadap respon siswa di dalam kelas. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Putri (2020: 78) bahwa keberhasilan dalam proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh pernyataan serta respon yang disampaikan sebagai salah satu tanda bahwa siswa tersebut menyukai suatu hal. Dari respon yang diberikan juga dapat diketahui bahwa siswa berminat dengan yang disampaikan oleh guru. Maka respon yang baik dapat disimpulkan bahwa siswa memiliki rasa ingin tahu yang lebih atau ketertarikan terhadap model pembelajaran Think Talk Write pada materi ekosistem. 66


BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tentang “Penerapan Model Pembelajaran Think Talk Write untuk Meningkatkan Keterampilan Argumentasi pada Materi Ekosistem” diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Keterlaksanaan model pembelajaran Think Talk Write terhadap keterampilan argumentasi siswa pada materi ekosistem di kelas X MIPA 1, berdasarkan hasil perhitungan lembar observasi aktivitas guru diperoleh rata-rata sebesar 100% terlaksana dengan sangat baik. Sedangkan lembar observasi siswa diperoleh rata-rata sebesar 96,7% terlaksana dengan baik. 2. Pembelajaran materi ekosistem di kelas X MIPA 1 dengan menggunakan model Think Talk Write dapat membantu meningkatkan keterampilan argumentasi secara signifikan. Hal ini dapat dillihat dari peningkatan keterampilan argumentasi pada materi ekosistem sebesar N-Gain sama dengan 0,55 dengan kategori sedang. 3. Respon siswa terhadap proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Think Talk Write pada materi ekosistem rata-rata sebesar 71% dalam kategori baik. B. SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh dan telah dikemukakan peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut : 1. Model pembelajaran Think Talk Write diharapkan dapat menjadi alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam matab pelajaran IPA atau mata pelajaran biologi untuk meningkatkan keterampilan yang dimiliki siswa seperti keterampilan argumentasi siswa. 2. Keterampilan argumentasi diharapkan dapat dilibatkan dalam pembelajaran sains, khususnya mata pelajaran IPA atau biologi. Sebab keterampilan argumentasi pada hakikatnya dapat dibutuhkan dalam proses pembelajaran 67


sains untuk memngembangkan pengetahuan siswa lebih jauh serta dapat mengembangkan keberanian siswa dalam mengungkapkan argumennya. 3. Bagi peneliti yang akan melakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran Think Talk Write lebih diperhatikan kembali dalam waktu diskusi, serta kesiapan peneliti dalam menyampaikan materi dengan sebaik mungkin agar tidak mengganggu terhadap pembelajaran yang lainnya, sehingga model pembelajaran Think Talk Write diharapkan dapat terlaksana secara baik dan sesuai dengan harapan guru agar mendapatkan hasil yang lebih baik. 68


DAFTAR PUSTAKA Anshori, M., & Martono, D. (2009). Biologi. Jakarta: Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional. Arikunto, S. (2009). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian, edisi revisi. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, S. (2015). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, edisi 2. Jakarta: Bumi Aksara. Azizatul, K., Joko, S., & Ari, W. (2017). penerapan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbantu media CD interaktif pada mata pelajaran IPA terhadap hasil belajar siswa. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan. Vol 10 No.2, 136-18. Campbell, N. A., & Reece, J. B. (2010). Biologi, Edisi Kedelapan Jilid 3. Jakarta: Penerbit Erlangga. Desimyari, M., Putra, A., & Manuaba, S. (2018). Pengaruh Model Think Talk Write Berbantuan Media Audio Visual terhadap Keterampilan Menulis Siswa. Internasional Jurnal of Elementary Education, 2(3), 281-289. Djamaluddin, A., & Wardana. (2019). Belajar dan Pembelajaran 4 pilar peningkatan kompetensi pedagogis. Yogyakarta: CV. Kaaffah Learning Center. Farida, L., Rosidin, U., Herlina, K., & Hasnunidah, N. (2018). Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Argument-Driven Inquiry (ADI) Terhadap Keterampilan Argumentasi Siswa SMP Berdasarkan Perbedaan Jenis Kelamin. Biosiana, 3(1), 12-24. Fatmawati, D. R. (2018, Oktober). Meningkatkan kemampuan argumentasi siswa melalui action research dengan fokus tindakan Think Pair Share. Proceeding Biology Education Conference, 15(1), 253-259. Florida, C. R., Heppy, L. L., & Elsa, L. (2020). Peningkatan kemampuan menulis karangan argumentasi dengan menggunakan model Think Talk Write (TTW) siswa kelas X IPA SMA Pertiwi Ambon. Jurnal Mirlam, Vol. 1. No. 2, 101-118. 69


Halik, A., & Tahir, M. A. (2022). Pengaruh Model Pembelajaran Think Talk Write Terhadap Menulis Karangan Deskripsi Siswa Sekolah Dasar. JIKAP PGSD : Jurnal Ilmiah Ilmu Kependidikan, 6(2), 238-244. Hastutik, W. (2022, Maret). Penerapan Model Pembelajaran TTW (Think Talk Write) untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa Menulis Teks Deskriptif. Jurnal Pengabdian Pendidikan Masyarakat (JPPM), 3(1), 62-68. Diambil kembali dari http://ejournal.stkip-mmb.ac.id/index.php/JPM Huda, K. (2020). Biologi. Lamongan: Kemendikbud. Huda, M. (2013). Model-model Pengajaran dan Pembelajaran Isu-Isu Metodis dan Paradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Inch, E. W., & Enders, D. (2006). Fifth edition critical thingking and communication the uses of reason in argument. Boston: Pearson Education inc. Irnaningtyas. (2016). Biologi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Penerbit Erlangga. Istiana, R., & Herawatia, D. (2019). Student Argumentation Skill Analysis of Socioscientific Issues in Solving Environmental Problems. hss (Journal of Humanities and Social Studies), 3(1), 22-26. doi:10.33751 Karmana, O. (2014). Biologi. Bandung: PT. Grafindo. Khairiyah, U. (2018). Respon siswa terhadap media dakon matikan materi KPK dan FPB pada siswa kelas IV di SD/MI Lamongan. Al-Murabbi : Jurnal studi kependidikan dan keislaman, 5(2), 197-204. Khoerunnisa, P., & Aqwa, S. M. (2020, Maret). Analisis Model-Model Pembelajaran. Fondatia : Jurnal Pendidikan Dasar, 4(1), 1-27. Diambil kembali dari https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/fondatia Kuncoro, M. (2009). metode riset untuk bisnis & ekonomi. Jakarta: Erlangga. Kusniana, N. E. (2017). Pengaruh Pembelajaran Model Think Talk Write Materi Ekosistem Terhadap Hasil Belajar Siswa. Lembaran Ilmu Kependidikan, Vol. 46, No. 2, 35-40. Meilyna, R., Kurniati, T., & Yusup, I. R. (2018). Keterampilan Argumentasi pasa Pembelajaran Materi Sistem Respirasi Manusia Melalui Penerapan Model Pembelajaran Think Talk Write. Jurnal Bio Education, Vol. 3. No. 2, 50-58. Mutiah, H. (2022). EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI MELALUI MODEL ARGUMENT DRIVEN INQUIRYTERHADAP 70


KETERAMPILAN BERARGUMENTASI DAN HASIL BELAJAR SISWA . Jurnal Binomia, 5(1), 69-80. Noor, J. (2013). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Mureka. Nuryadi, Astuti, T. D., & Endang Sri Utami, M. B. (2017). DAsar-Dasar Statistika Penelitian. Yogyakarta: Sibuku Media. Otang, K., Titik, Y., & Mansur. (2018). Investigating Think Talk Write (TTW) Learning Model to Enhance Primary Students’ Writing Skill. Journal of Teaching and Learning in Elementary Education, Vol. 1 No. 1, 52-59. Purwanto, N. (2014). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosda Karya. Putri, I. M. (2020, Maret). Pengaruh Model Pembelajaran TTW (Think Talk Write) Terhadap Keterampilan Menulis Karangan Pendek Bertema Yoku Soji O Shimasu Siswa Kelas XI IPA SMAN Model Terpadu Bojonegoro. Paramasastra, 7(1), 70-90. Rahayu, Y., Suhendar, & Ratnasari, J. (2020). Keterampilan argumentasi siswa pada materi sistem gerak SMA Negeri Kabupaten Sukabumi-Indonesia. BIODIK : Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi, 6(3), 321-318. doi:https://doi.org/10.22437/bio.v6i3.9802 Rahman, D. F. (2018). Analisis Argumentasi dalam Isu Sosiosaintifik Siswa SMP. Thabiea : Journal of Natural Science Teaching, 1(1), 9-13. doi:10.2104 Renwarin, F. C., Heppy Leunard Lelapary, & Elsa Latupeirissa. (2020). Peningkatan kemampuan menulis karangan argumentasi dengan menggunakan model Think Talk Write (TTW) siswa kelas X IPA SMA Pertiwi Ambon. MIRLAM, 1(2), 101-118. doi:https//doi.org/10.30598/mirlamvol1no2hlm101-118 Rokhimawan, M. A., Badawi, J. A., & Aisyah, S. (2022). Model-Model Pembelajaran Kurikulum 2013 pada Tingkat SD/MI. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 4(2), 2077-2086. Sani, R. A. (2013). Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Simon, E. J. (2016). Essential Biology. Jakarta: Penerbit Erlangga. 71


Slameto. (2010). Belajar dan Faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Subhana. (2000). Statistik Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia. Sudjana. (2005). Metoda Statistika. Bandung : Penerbit Tarsito. Sudjana, N. (2009). Penliaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Sudjana, N. (2010). Dasar-Dasar Proses Belajar. Bandung: Sinar Baru. Sufairoh, S. (2017). Pendekatan Saintifik dan Model Pembelajaran K-13. Jurnal Pendidikan Profesional, 5(3), 1-28. Sugiyono. (2010). metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kealitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2013). Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta. Susilana, R., & Riyana, C. (2009). media pembelajaran hakikat pengembangan, pemanfaatan, dan penilaian. jakarta: CV Wacana Prima. Susilawati, W. (2012). belajar dan pembelajaran matematika. Bandung: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Suyatno. (2009). Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Masmedia Buana Pustaka. Swarjana, I. K. (2012). Metode Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: CV. Andi Offset. Toulmin, S. (2003). The Uses of Argument. New York: Cambridge University Press. Toulmin, S. (2003). The uses of argumentation. Combridge: Combridge university press. Trianto. (2011). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik . Jakarta: Prestasi Pustaka. Trianto. (2012). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Walvi, M., & Samaya, D. (2022, Januari). Penagaruh Model Pembelajaran Think Talk Write terhadap Kemampuan Menulis Tekas Negosiasi. Jurnal Didactique Bahasa Indonesia, 3(1), 45-54. 72


Wardani, A., & Yuliati, L. (2018). Kualitas Argumentasi Ilmiah Siswa pada Materi Hukum Newton. Jurnal Pendidikan : Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 3(20), 1364-1372. Diambil kembali dari http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/ Wardani, A., Yuliati, L., & Taufiq, A. (2018). Kualitas ilmiah siswa pada materi hukum newton. jurnal pendidikan :teori, penelitian dan pengembangan, 3(10), 1264-1372. Diambil kembali dari http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/ Yulianti, Y., Ikhsan, M. H., & Kurniasari, R. (2022, February). Penerapan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbantu media gambaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi menulis makna yang terkandung dalam sebuah puisi. Sebelas April Elementary Education (SAEE), 1(1), 48-54. Diambil kembali dari https://ejournal.unsap.ac.id/index.php/saee Zairina, S., & Hidayati, S. N. (2022). ANALISIS KETERAMPILAN ARGUMENTASI SISWA SMP BERBANTUAN SOCIO-SCIENTIFIC ISSUEPEMANASAN GLOBAL. PENSA E-JURNAL : PENDIDIKAN SAINS, 10(1), 37-43. Diambil kembali dari https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/pensa Zairina, S., & Hidayati, S. N. (2022). Analisis keterampilan argumentasi siswa SMP berbanuan Socio-scientific issue pemanasan global. Pensa E-Jurnal : Pendidikan Sains, 10(1), 37-43. 73


LAMPIRAN A PERANGKAT PEMBELAJARAN A.1 Silabus A.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran A.3 Lembar Kerja Peserta Didik A.4 Lembar Observasi A.5 Angket 74


SILABUS KEGIATAN Sekolah : MA Al-Huda Kelas :X Mata Pelajaran : Biologi Semester : II (Genap) Kompetensi Inti : 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, ko pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan waw penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahua dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metoda sesuai Kompetensi Materi Kegiatan Pembelajara Dasar Pembelajaran 3.10 1. Komponen Mengamati ▪ Mengamati penjela Menganalisis Ekosistem komponen- 2. Interaksi guru mengenai ma komponen Antar Ekosistem ekosistem dan Komponen Menanya ▪ Melakukan tanya jaw interaksi antar Ekosistem komponen 3. Aliran Energi mengenai ma tersebut 4. Aliran Ekosistem Biogeokimia Mengumpulkan D (Eksperimen) ▪ Mengidentifikasi komponen Ekosist aliran energi, dan d biogeokimia 7


N PEMBELAJARAN onseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu wasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait an prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat h abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di i kaidah keilmuan. an Indikator Penilaian Alokasi Sumber Waktu asan 3.10.1 Teknik : 2 minggu Nurhayati, ateri Tes tulis x 1 jam Nunung, Mengorganisasikan pelajaran Mukhlis dan wab Bentuk @40 Agus Jaya. ateri pengertian dan soal : menit (2014). Data Uraian BIOLOGI. komponen-komponen Bandung: tem, Penerbit daur penyusun ekosistem. Yrama Widya. 3.10.2 Menganalisis interaksi antar komponen penyusun ekosistem. 3.10.3 Menghubungkan pengertian rantai makanan dengan jaring-jaring makanan. 75


Mengasosiasi ▪ Mengolah data h identifikasi kedal lembar kerja siswa Mengkomunikasi ▪ Mempresetasikan h diskusi di depan kelas ▪ Menginformasikan le lanjut tentang ma Ekosistem 4.10 Menyajikan karya yang menunjukkan interaksi antar komponen ekosistem. 7


3.10.4 Menerangkan daur biogeokimia. hasil 3.10.5 Menganalisis lam jika terjadi ketidakseimbangan hubungan antar hasil komponen ekosistem. ebih ateri 4.10.1 Membuat gambar daur biogeokimia 76


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) MATA PELAJARAN :BIOLOGI KELAS/SEMESTER : X/GENAP PERTEMUAN : 1 (SATU) PENYUSUN : JAMILAH SOLIHAH MA AL-HUDA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA BARAT 2022 77


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Sekolah : MA AL-HUDA Mata Pelajaran : Biologi Kelas/Semester : X/2 Kompetensi Dasar : 3.5. Menganalisis komponen-komponen ekosistem dan interaksi Materi Pokok antar komponen tersebut. Alokasi Waktu : Komponen dan Interaksi Ekosistem : 2 x 45 Menit A. Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti proses pembelajaran, siswa dapat : 1. Menguraikan penyusun komponen ekosistem dengan benar. 2. Mendeskripsikan hubungan antara komponen biotik dan abiotic dengan tepat. 3. Menganalisis interaksi yang terjadi antar komponen ekosistem berdasarkan video pembelajaran yang telah ditonton dengan benar. 4. Menganalisis ketidak seimbangan hubungan antar komponen ekosistem yang disebabkan oleh faktor alami dan perbuatan manusia. B. Alat/Bahan , Media Pembelajaran, dan Sumber Belajar 1. Model : Think Talk Write 2. Alat/Bahan : HP android, Laptop 3. Media : Google meet 4. Sumber Belajar : Buku pegangan siswa Biologi Kelas X karangan Nurhayati, Nunung, Mukhlis dan Agus Jaya. (2014). BIOLOGI. Bandung: Penerbit Yrama Widya, Youtube, Google, video-audio, pdf C. Langkah-Langkah Pembelajaran a. Pertemuan 1 Kegiatan Pendahuluan a. Melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan berdoa untuk memulai pembelajaran b. Memeriksa kehadiran siswa sebagai sikap disiplin c. Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman siswa dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya serta mengajukan pertanyaan untuk mengingat dan menghubungkan dengan materi selanjutnya dengan meminta siswa membuka file materi modul yang sudah diberikan. d. Guru membangun apersepsi dengan menanyakan materi sebelumnya yang terkait dengan materi yang akan dibahas sekarang (misalnya menanyakan : Apa saja jenis-jenis keanekaragaman ekosistem yang terdapat di Indonesia?) e. Menjelaskan hal-hal yang akan dipelajari, kompetensi yang akan dicapai, serta dan tujuan pembelajaran. f. Guru memotivasi siswa dengan memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari materi ekosistem dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menghadapi dampak dari perubahan lingkungan. Kegiatan Inti Think • Guru memberikan stimulus kepada siswa dengan menujukkan sebuah video terkait komponen dan interaksi ekosistem. 78


• Melalui video tersebut guru mengajukan beberapa pertanyaan untuk membimbing siswa dalam menganalisis berupa komponen-komponen ekosistem dan interaki ekosistem dalam video tersebut, melalui pertanyaan : 1. Komponen-komponen apa yang kalian temukan dalam video tersebut? 2. Adakah interaki antar komponen-komponen tersebut? 3. Bagaimana interaksi tersebut bisa terjadi? • Siswa menuliskan hal-hal yang didapat berdasarkan analisisnya dalam video yang telah diberikan. Talk • Siswa dibagi menjadi 6 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 6 siswa. • Guru memberikan lembar soal kepada setiap kelompok untuk didiskusikan. • Siswa juga mendiskusikan hasil analisis video dari masing- masing siswa dengan teman sekelompoknya. • Setiap kelompok mendemonstrasikan dan menjelaskan hasil diskusi dengan kelompoknya. • Guru memberikan klarifikasi mengenai hasil diskusi setiap kelompoknya. Write • Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan materi yang telah di diskusikan. • Guru memberikan tugas kepada siswa untuk menuliskan kembali jawaban-jawaban yang telah di demonstrasikan oleh kelompok lainnya. Kegiatan Penutup • Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila ada materi yang belum dipahami. • Guru meberikan instruksi kepada siswa agar dapat menyimpulkan materi pembelajaran komponen dan aliran ekosistem. • Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya • Megakhiri pembelajaran dengan membaca Hamdallah bersama-sama dan menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam. D. Penilaian Hasil Pembelajaran a. Penilaian Pengetahuan : Berupa Soal Essay b. Penilaian Keterampilan : Berupa Kinerja dan Diskusi Mengetahui Bandung, 20 Mei 2022 Observer Peneliti Nenden Rojawiah, S.Pd Jamilah Solihah 79 NIM. 1182060053


LEMBAR INSTRUMEN PENILAIAN A. Lembar Instrument Penilaian Kognitif Skor Rubik Penilaian Uraian : 10 No. Uraian 10 1 Jika terjawab dengan benar dan lengkap 10 2 Jika terjawab dengan benar dan lengkap 30 3 Jika terjawab dengan benar dan lengkap 15 4 Jika terjawab dengan benar dan lengkap 15 5 Jika terjawab dengan benar dan lengkap 10 6 Jika terjawab dengan benar dan lengkap 100 7 Jika terjawab dengan benar dan lengkap Total B. Lembar Penilaian Sikap Sikap Ilmiah 1) Pengamatan Perilaku Ilmiah No. Aspek yang Dinilai 3 21 Keterangan 1 Rasa ingin tahu 2 Jujur dalam memasukkan data hasil pengamatan 3 Ketelitian dalam melakukan pengamatan 4 Tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas (individu maupun kelompok) 5 Keterampilan berkomunikasi pada saat belajar 2) Rubrik Penilaian sikap No. Aspek yang Dinilai Rubrik 1 Menunjukkan rasa ingin 3 : Menunjukkan rasa ingin tahu yang tahu besar, antusias, aktif, dalam kegiatan kelompok 2 : Menujukkan rasa ingin tahu, namun tidak terlalu antusias, dan baru terlibat aktif dalam kegiatan kelompok ketika disuruh 1 : Tidak menunjukkan antusias dalam pengamatan, sulit terlibat aktid dalam kelompok walaupun telah didorong untuk terlibat 2. Jujur dalam memasukan 3 : Memasukan data hasil pengamatan data hasil pengamatan sesuai dengan hasil pengamatan 80


2 : Memasukan data hasil pengamatan kurang sesuai dengan hasil pengamatan 1 : Memasukan data tidak sesuai dengan hasil pengamatan 3 Ketelitian dan 3 : Melakukan pengamatan dengan melakukan pengamatan teliti dan tekun sesuai dengan prosedur dan teliti dalam memasukan datanya 2 : Melakukan pengamatan dengan kurang teliti dan kurang tekun tetapi sesuai dengan prosedur dan teliti dalam memasukan datanya 1 : Tidak menunjukan ketelitian ketekunan dalam melakukan pengamatan 4 Tanggung jawab dalam 3 : Menyelesaikan semua tugas menyelesaikan tugas individu maupun kelompok sesuai (individy maupun dengan waktu yang telah ditentukan kelompok) 2 : Menyelesaikan sebagian tugas individu maupun kelompok sesuai dengan waktu yang telah ditentukan 1 : Menyelesaikan sebagian tugas individu maupun kelompok tidk sesuai dengan waktu yang telah ditentukan 5 Berkomunikasi 3 : Aktif dalam tanya jawab, dapat mengemukakan gagasan atau ide, menghargai pendapat siswa lain 2 : Aktif dalam tanya jawab, tidak ikut mengemukakan gagasan atau ide, menghargai pendapat siswa lain. 1 : Kurang aktif dalam tanya jawa, tidak ikut mengemukakan gagasan atau ide, kurang menghargai pendapat siswa lain C. Penilaian Keterampilam 1) Penilaian Unjuk Kerja Penliaian unjuk kerja dapat dilihat pada insrumen penilaian ujian keterampilan berbicara siswa ketika mengemukakan pendapat sebagai berikut: No. Aspek yang Dinilai Sangat Baik Kurang Tidak Baik Baik Baik 1 Kesesuaian respon dengan pertanyaan 2 Keserasian pemilihan kata 3 Kesesuaian penggunaan tata bahasa 4 Pelafalan 81


Keterangan : Skor penilaian unjuk kerja : Sangat Baik = 100 Baik = 75 Kurang Baik = 50 Tidak Baik = 25 Rumus penilaian unjuk kerja : ������������������������������ℎ ������������������������ ������������������������ ������������������������������������������������ℎ ������������������������������ ������ = ������������������������������ℎ ������������������������ ������������������������������������������������ ������ ������������������������ ������������������������������ (100) 2) Penilaian Diskusi No. Aspek yang Dinilai Sangat Baik Kurang Tidak Baik Baik Baik 1 Penguasaan materi diskusi 2 Kemampuan menjawab pertanyaan 3 Kemampuan mengolah kata 4 Kemampuan menyelesaikan masalah Keterangan : = 100 Sangat Baik = 75 Baik = 50 Kurang Baik = 25 Tidak Baik 82


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook