PEMBELAJARAN SEMIOTIKA Teori dan Penerapannya dalam Penelitian Sastra (Kajian Semiotika Charles Sander Pierce)
UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4 Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi. Pembatasan Pelindungan Pasal 26 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap: i. penggunaan kutipan singkat ciptaan dan/atau produk hak terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual; ii. penggandaan ciptaan dan/atau produk hak terkait hanya untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan; iii. penggandaan ciptaan dan/atau produk hak terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan fonogram yang telah dilakukan pengumuman sebagai bahan ajar; dan iv. penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu ciptaan dan/atau produk hak terkait dapat digunakan tanpa izin pelaku pertunjukan, produser fonogram, atau lembaga penyiaran. Sanksi Pelanggaran Pasal 113 1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah). 2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
PEMBELAJARAN SEMIOTIKA Teori dan Penerapannya dalam Penelitian Sastra (Kajian Semiotika Charles Sander Pierce) B. Syukroni Baso
Analisis Perubahan Mekanisme Tuntunan Manasik Haji di Masa Pandemi Latiffa Curnia Sari Editor: Yola Audina Saputri Desainer: Siska Wulandari Sumber Gambar Cover: www.freepik.com Penata Letak: Yola Audina Saputri Proofreader: Tim ICM Ukuran: viii, 195 hlm., 14,8 cm x 21 cm ISBN: Cetakan Pertama: Mei 2023 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. Anggota IKAPI: 020/SBA/20 PENERBIT PT INSAN CENDEKIA MANDIRI GROUP Perumahan Gardena Maisa 2, Blok A12, Koto Baru, Kec. Kubung, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. 27361 HP/WA: 0813-7272-5118 Website: www.insancendekiamandiri.com E-mail: [email protected]
DAFTAR ISI PRAKATA ......................................................................................................... vii PENDAHULUAN.............................................................................................. 1 A. Identitas Materi Ajar......................................................1 B. Capaian Pembelajaran ...................................................1 C. Deskripsi Materi Ajar.....................................................1 D. Petunjuk Penggunaan Materi Ajar ................................2 BAB I SEMIOTIKA A. Pengertian Semiotika.....................................................4 B. Gagasan Semiotika dari Tokoh Ferdinande Saussure..7 C. Gagasan Semiotika dari tokoh Cahrles Sander Pierce .8 D. Cabang Ilmu Semiotika ................................................10 E. Kesimpulan...................................................................12 F. Latihan..........................................................................13 BAB II TANDA A. Pengertian Tanda.........................................................16 B. Cara kerja Tanda menurut Pierce ...............................17 C. Sistem Tanda berdasarkan Charles Sander Pierce....20 D. Pengertian Makna Tanda.............................................26 E. Paralinguistik ...............................................................32 F. Kesimpulan...................................................................37 G. Latihan..........................................................................37 v
BAB III ANALISIS SASTRA MENGGUNAKAN TEORI CHARLES SANDER PIERCE A. Penerapan kajian semiotika Charles Sander Pierce dalam novel Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Ceroz Batozar karya Tere Liye...............................................40 B. Latihan ........................................................................185 DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 191 GLOSARIUM ................................................................................................ 193 PROFIL PENULIS ...................................................................................... 195 vi Pembelajaran Semiotika
PRAKATA Semiotika merupakan salah satu kajian sastra yang membahas makna tanda. Pada pemahaman kajian sastra semiotika, semua karya sastra memiliki makna tanda sebagai pembangun karya, dan tanda dipahami melalui kajian semiotika. Dengan demikian pembaca dan penikmat sastra mampu menemukan makna yang diungkapkan pengarang. Serangkaian kajian sastra berfungsi dalam mengembangkan ilmu sastra dan karya sastra melalui ragam kajian, salah satunya semiotika yang dapat pula berfungsi sebagai acuan dalam proses penelitian karya ilmiah berupa buku panduan. Oleh karena itu, disajikan buku panduan yang khusus menuntun pembaca dalam memahami karya sastra melalui pemahaman makna tanda. Fungsi buku materi ini guna membantu para pemerhati dan peneliti sastra, para pengajar sastra, khususnya pada bidang kajian semiotika. Perihal yang disajikan dalam buku ini teori semiotika memfokuskan pada landasan teori semiotika Charles Sander Pierce dengan pandangan serta konsep dasar yang dimiliki sebagai karakteristik pemahaman makna tanda dalam karya sastra. Di samping teori, disajikan pula aplikasi teori-teori tersebut pada novel. Akhir kata diucapkan terima kasih kepada semua pihak. Sehubungan dengan keterbatasan yang ada pada buku vii
ini, segala bentuk kritik dan saran yang datang dan bersifat membantu serta positif akan kami pertimbangkan demi kemajuan dan perkembangan ilmu sastra untuk mencapai kesempurnaan, khususnya bidang semiotika. Penulis viii Pembelajaran Semiotika
PENDAHULUAN A. Identitas Materi Ajar Mata Kuliah : Prosa Fiksi (Pendekatan Semiotika Alokasi Waktu : 2 x 45 Menit Judul Materi Ajar: Pembelajaran Semiotika Teori dan Penerapannya dalam Penelitian Sastra (Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce B. Capaian Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian semiotika berdasarkan pendapa para ahli semiotika 2. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang tanda, cara kerja tanda, dan jenis-jenisnya 3. Mahasiswa mampu menganalisis sastra dengan menggunakan model Charles Sander Pierce dalam menganalisis karya sastra C. Deskripsi Materi Ajar Materi ajar ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran Sastra, tentang pendekatan semiotika. Topik yang dibahas dalam materi ajar adalah; 1. Pengertian Semiotika a. Gagasan semiotika dari tokoh Ferdinande Saussure 1
b. Gagasan Semiotika dari tokoh Charles Sander Pierce c. Cabang Ilmu Semiotika 2. Pengertian Tanda a. Cara kerja tanda b. Jenis-jenis tanda 3. Penerapan kajian semiotika Charles Sander Pierce dalam novel Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Ceroz Batozar karya Tere Liye D. Petunjuk Penggunaan Materi Ajar Materi ajar dapat dipelajari secara mandiri atau kelompok 2 Pembelajaran Semiotika
I. PENGERTIAN SEMIOTIKA Tujuan Pembelajaran; Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian semiotika dan tokoh pencetus semiotika Indikator; A. Pengertian Semiotika B. Gagasan semiotika dari tokoh Ferdinande Saussure C. Gagasan Semiotika dari tokoh Cahrles Sander Pierce D. Cabang Ilmu Semiotika E. Cabang-cabang ilmu semiotika Semiotika 3
A. Pengertian Semiotika Istilah semiotika berasal dari bahasa Yunani “semeion” yang berarti “tanda” atau “seme” yang berarti penafsiran tanda. Semiotika mempelajari tentang bagaimana perkembangan pola pikir manusia. Semiotika merupakan sebuah bentuk perkembangan yang mendasari terbentuknya suatu pemahaman yang merujuk pada terbentuknya sebuah makna. Semiotika menjadi salah satu kajian yang bahkan menjadi tradisi dalam teori komunikasi. Tradisi semiotika terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda mempresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan dan kondisi itu sendiri. (Littlejohn, 2009:53). Semiotika bertujuan untuk mengetahui makna- makna yang terkandung dalam sebuah tanda atau menafsirkan makna tersebut sehingga diketahui bagaimana komunikator mengonstruksi pesan. Konsep pemaknaan ini tidak terlepas dari perspektif atau nilai- nilai ideologis tertentu serta konsep kultural yang menjadi ranah pemikiran masyarakat di mana simbol tersebut diciptakan. Kode kultural yang menjadi salah satu faktor konstruksi makna dalam sebuah simbol menjadi aspek yang penting untuk mengetahui konstruksi pesan dalam tanda tersebut. Konstruksi makna yang terbentuk inilah yang menjadi sebuah ideologi dalam sebuah tanda. Sebagai salah satu kajian pemikiran dalam cultural studies, semiotika tentunya melihat bagaimana budaya menjadi landasan pemikiran dari pembentukan makna dalam sebuah tanda. Semiotika mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi- konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. 4 Pembelajaran Semiotika
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Semiotika pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) melihat hal-hal (things) untuk memaknai (to signify) dalam hal ini tidak dicampur-adukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). (Alex Sobur, 2006:15) Bagi Pierce tanda dan pemaknaannya bukan struktur melainkan proses kognitif yang disebut semiosis. Semiosis adalah proses pemaknaan dan penafsiran tanda yang melalui tiga tahapan, tahap pertama adalah penyerapan. Aspek representamen tanda (pertama melalui pancaindra), tahap kedua mengaitkan secara spontan representamen dengan pengalaman kognisi manusia yang memaknai objek, dan ketiga menafsirkan objek sesuai dengan keinginannya. Tahap ketiga ini disebut interpretan t. (Benny H. Hoed, 2014:8). Rangkaian pemahaman akan berkembang terus seiring dengan rangkaian semiosis yang tidak kunjung berakhir. Selanjutnya terjadi tingkatan rangkaian semiosis. Interpretan pada rangkaian semiosis lapisan pertama, akan menjadi dasar untuk mengacu pada objek baru, di taraf ini terjadi rangkaian semiosis lapisan kedua. Jadi apa yang berstatus sebagai tanda pada lapisan pertama berfungsi sebagai penanda pada lapisan kedua, dan demikian seterusnya. (Indiwan Seto Wahyu Wibowo, 2011:40) Bagi Pierce, prinsip mendasar sifat tanda adalah sifat representatif dan interpretatif. Sifat representatif tanda berarti tanda merupakan “sesuatu yang lain,” sedangkan sifat interpretatif adalah tanda yang memberikan peluang bagi interpretasi, bergantung pada Semiotika 5
pemakai dan penerimanya. Pada umumnya tanda mengandung dua bentuk. Pertama, tanda dapat menjelaskan (baik secara langsung maupun tidak) tentang sesuatu dengan makna tertentu. Kedua, tanda mengkomunikasikan maksud suatu makna. Jadi setiap tanda berhubungan langsung dengan objeknya, apalagi semua orang memberikan makna yang sama atas benda tersebut sebagai hasil konvensi. Tanda, langsung mewakili realitas. (Alo Liliweri, 2003:178) Teori Pierce bagi para ahli dianggap sebagai grand theory dalam semiotika, dengan asumsi gagasannya bersifat menyeluruh, yakni deskripsi struktural dari semua sistem penandaan. (Alex Sobur, 2001:97). Pierce dalam kutipan Fiske (2012) menerangkan bahwa; “Sebuah tanda adalah sesuatu yang bagi seorang mewakili sesuatu di dalam beberapa hal atau kapasitas tertentu. Tanda menuju pada seseorang, artinya menciptakan di dalam benak orang tersebut tanda yang sepadan, atau mungkin juga tanda yang lebih sempurna. Tanda yang tercipta tersebut saya namakan interpretan t (hasil interpretasi) dari tanda yang pertama. Tanda mewakili sesuatu objeknya.” Pierce adalah ahli filsafat dan logika, baginya penalaran manusia selalu dilakukan lewat tanda. Yang dalam hal ini berarti manusia hanya dapat berpikir melalui tanda-tanda. Dalam pikirannya, logika sama dengan semiotika dan semiotika dapat diterapkan pada segala macam tanda. Charles Sanders Pierce terkenal karena teori tandanya di ruang lingkup semiotika. Pierce dikenal dengan model triadic-bersisi tiga. Tiga komponen itu adalah Representamen, object, dan Interpretan t. Sesuatu dapat disebut representamen jika memenuhi dua 6 Pembelajaran Semiotika
syarat; pertama bisa dipersepsi (baik dengan pancaindra maupun pikiran atau perasaan) dan kedua berfungsi sebagai tanda; artinya mewakili sesuatu yang lain. Komponen lainnya adalah objek. Menurut Pierce objek adalah komponen yang diwakili tanda; bisa dikatakan sebagai “sesuatu yang lain.” Bisa berupa materi yang tertangkap pancaindra, bisa juga bersifat mental atau imajiner. Dan komponen ketiga adalah interpretan , Pierce menjelaskan bahwa interpretan adalah arti atau tafsiran. Pierce juga menggunakan istilah lain untuk interpretan yaitu; “signifance”, “signification”, dan “interpretation.” Menurut Pierce interpretan juga merupakan tanda pemahaman akan struktur semiosis menjadi dasar yang tidak bisa ditiadakan bagi penafsir dalam upaya mengembangkan kajian semiotika. Seorang penafsir berkedudukan sebagai peneliti, pengamat, dan pengkaji objek yang dipahaminya. Dalam mengkaji objek yang dipahaminya, seorang penafsir harus jeli dan cermat, karena segala sesuatunya dilihat dari jalur logika. B. Gagasan Semiotika dari Tokoh Ferdinande Saussure Latar belakang keilmuan Saussure adalah linguistik, sedangkan Pierce filsafat. Saussure menyebut ilmu yang dikembangkan semiologi. Semiologi menurut Saussure, didasarkan pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda, harus ada di belakangnya sistem perbedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu. Di mana ada tanda di situ ada sistem (Hidayat, 1988: 26 dalam Nawiroh). Dalam kajian semiotikanya menyusun pendekatan bahasa atau linguistik dalam studinya, Semiotika 7
karena Saussure memiliki latar belakang linguistik. Sasussure lahir pada tahun 1857 dan mulai menyukai bidang bahasa dan kesastraan sejak kecil, bahkan pada usia 15 tahun Saussure menulis tulisan yang berjudul essai sure les langue. Semiotika menurut Saussure adalah kajian mengenai tanda dalam kehidupan sosial, mencakup apa saja tanda tersebut dan hukum apa yang mengatur terbentuknya tanda. Saussure (1966), hanya benar-benar menaruh perhatian pada simbol karena kata-kata adalah simbol. Namun para pengikutnya mengakui bahwa bentuk fisik dari tanda oleh Saussure dinamakan penanda (signifier), konsep mental yang terkait dengannya petanda (signified) dapat dikaitkan dengan cara ikonik atau atbitrer. Saussure sangat tertarik pada relasi signifier dengan signified dan satu tanda dengan tanda-tanda yang lain. Minat Saussure pada relasi signifier dengan signified telah berkembang menjadi perhatian utama di dalam tradisi semiotika Eropa. C. Gagasan Semiotika dari tokoh Charles Sander Pierce Pierce adalah ahli filsafat dan ahli logika. Pierce mengusulkan kata semiotika sebagai sinonim kata logika. Menurutnya, logika harus mengajarkan bagaimana orang bernalar. Penalaran itu, menurut hipotesis Pierce dilakukan melalui tanda-tanda. (Zoest, 1993: 2). Pierce menyebut ilmu yang dibangunnya semiotika (semiotics). Bagi Pierce yang ahli filsafat dan logika, penalaran manusia senantiasa dilakukan lewat tanda. Artinya, manusia hanya dapat bernalar lewat tanda. Dalam pikirannya, logika sama dengan semiotika dan semiotika dapat ditetapkan pada segala macam tanda (Berger, 2000: 4) 8 Pembelajaran Semiotika
Pierce (dalam Hoed, 2011: 20) salah satu tokoh utama dalam sejarah semiotika dan sebagai penemu teori modern tentang tanda. Model Triadic Pierce (Representamen atau Graund + object + interpretan t = tanda). Model semiosis yang mewakili tiga tahap yaitu representamen/graund “sesuatu” objek “sesuatu di dalam kognisi manusia” interpretan t “proses penafsiran”. Pierce mengemukakan bahwa proses semiosis pada dasarnya tidak terbatas. Jadi interpretan t dapat berubah menjadi representamen baru yang kemudian berproses mengikuti semiosis, secara tak terbatas. Dalam proses itu, representamen berada di dalam kognisi, sedangkan kadar penafsiran makin lama menjadi makin tinggi. Pierce dikenal dengan model triadic atau konsep trikotomi. Representament/Graund adalah bentuk yang diterima oleh tanda atau berfungsi sebagai tanda Saussure menamakannya (signifier). Representamen/ Graund, bentuk yang diterima oleh tanda atau berfungsi sebagai tanda (Saussure menamakannya signifier). Representamen/Graund kadang diistilahkan juga menjadi sign. Interpretan t, bukan penafsir tanda tetapi lebih merujuk pada sesuatu yang lain berdasarkan kapasitasnya. Sesuatu yang dimaksud adalah representamen/Graund mengacu objek berdasarkan kapasitasnya adalah interpretan t (interpretasi) berdasarkan cara memaknai suatu objek (sesuatu). Sesuatu dapat disebut representamen/Graund (tanda) jika memenuhi dua syarat, yakni; dapat dipersepsi, baik dengan panca indra maupun dengan pikiran/perasaan; dan berfungsi sebagai tanda (mewakili sesuatu yang lain). Objek adalah sesuatu yang dirujuk tanda. Dapat Semiotika 9
berupa materi yang tertangkap panca indra, bisa juga bersifat mental atau imajiner. Interpretan t adalah tanda yang ada dalam benak seseorang, maka muncullah makna tentang sesuatu yang di wakili oleh tanda tersebut, proses inilah yang disebut proses semiosis. Menurut Hoed (2011: 21), proses semiosis adalah proses pemaknaan dan penafsiran atas benda atau perilaku berdasarkan pengalaman budaya seseorang. D. Cabang Ilmu Semiotika Tanda ialah bagian ilmu semiotika yang menandai sesuatu hal atau juga keadaan untuk menerangkan atau memberitahukan objek pada subjek. Tanda ini selalu menunjukkan pada sesuatu hal yang nyata seperti tulisan, kejadian, benda, bahasa, peristiwa, tindakan dan bentuk tanda lain sebagainya. Semiotika pada dasarnya dapat dibedakan dari tiga cabang penyelidikan, yaitu sintaksis, semantik dan pragmatik. Pembagian semiotik menurut Budiman (2004) dapat dikemukakan sebagai berikut; 1. Sintaksis Cabang ilmu semiotika yang mempelajari bagaimana tanda-tanda digabungkan dan diatur dalam kalimat atau pesan. Sintaksis menganalisis bagaimana tanda- tanda dikombinasikan untuk menyusun kalimat yang berarti. 2. Semantik Suatu cabang penyelidikan tentang makna ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda dengan designate atau objek-objek yang diacunya. cabang ilmu semiotika yang mempelajari arti dari tanda- tanda. Ini termasuk studi tentang bagaimana tanda- 10 Pembelajaran Semiotika
tanda memiliki arti dan bagaimana arti tersebut dikomunikasikan kepada penerima 3. Pragmatik Cabang ilmu semiotika yang mempelajari cara tanda- tanda digunakan dalam konteks praktis. Pragmatik menganalisis bagaimana tanda-tanda digunakan dalam situasi nyata dan bagaimana tanda-tanda tersebut digunakan untuk mencapai tujuan komunikasi. Suatu cabang penyelidikan semiotik yang mempelajari hubungan di antara tanda-tanda dengan interpreter-interpreter atau para pengguna atau penggunaan tanda-tanda. Pragmatik secara khusus berurusan dengan aspek-aspek komunikasi, khususnya fungsi-fungsi situasional yang melatarbelakangi tuturan. Menurut (Nadar, 2009:2) pragmatik adalah cabang ilmu semiotika yang mempelajari cara tanda- tanda digunakan dalam konteks praktis dan tujuan komunikasi yang ingin dicapai. Dalam pragmatik, tanda diartikan sebagai alat untuk mengkomunikasikan suatu makna dalam situasi nyata. Tanda dalam pragmatik didefinisikan sebagai \"satu atau beberapa elemen yang digunakan untuk mencapai tujuan komunikasi\" atau \"sesuatu yang digunakan untuk mengirimkan pesan yang sesuai dengan konteksnya.\" Pragmatik menekankan pada aspek komunikatif dari tanda, yaitu bagaimana tanda digunakan dalam situasi komunikasi nyata. Pragmatik mempelajari aspek-aspek seperti implikatur, konotasi, dan ekspresi dari tanda. Implikatur adalah arti yang tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Semiotika 11
pesan, konotasi adalah arti yang ditimbulkan oleh tanda yang digunakan dalam konteks tertentu, sedangkan ekspresi adalah cara tanda digunakan untuk mengungkapkan perasaan atau emosi. Semantik, sintaksis, dan pragmatik merupakan tiga aspek penting dalam semiotika yang saling terkait dan digunakan dalam analisis tanda- tanda dalam komunikasi. Semantik mempelajari arti dari tanda-tanda, sintaksis mempelajari bagaimana tanda-tanda digabungkan dan diatur dalam kalimat atau pesan, sementara pragmatik mempelajari bagaimana tanda-tanda digunakan dalam konteks praktis. E. Kesimpulan Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda dan cara tanda mempresentasikan makna. Semiotika memfokuskan pada bagaimana manusia membuat dan memahami makna melalui tanda. Semiotika mempelajari sistem, aturan, dan konvensi yang memungkinkan tanda memiliki arti. Semiotika dipahami sebagai proses pemaknaan dan penafsiran tanda melalui tiga tahapan, yaitu penyerapan, pengaritan secara spontan representamen dengan pengalaman kognisi, dan tahap terakhir adalah penafsiran. Prinsip dasar tanda menurut Pierce adalah sifat representatif dan interpretatif. Tanda dapat memiliki dua bentuk, yaitu tanda dengan unsur benda (simbol) dan tanda dengan unsur suara (icon). Semiotika merupakan kajian dalam kultural studi dan melihat budaya sebagai landasan pemikiran dalam pembentukan makna dalam tanda 12 Pembelajaran Semiotika
F. Latihan 1. Jelaskan secara singkat pengertian semiotik! 2. Jelaskan secara singkat gagasan Semiotika dari Tokoh Ferdinande Saussure! 3. Jelaskan secara singkat Gagasan Semiotika dari Tokoh Ferdinande Saussure 4. Jelaskan secara singkat tiga cabang ilmu semiotik! 5. Jelaskan mengapa semantik, sintaksis, dan pragmatik merupakan tiga aspek penting dalam semiotika? Semiotika 13
14 Pembelajaran Semiotika
II. Pengertian Tanda Tujuan Pembelajaran: Mahasiswa mampu menjelaskan tentang tanda, cara kerja tanda, dan jenis-jenisnya Indikator: A. Pengertian Tanda B. Cara kerja tanda C. Jenis-jenis tanda D. Pengertian makna tanda 15
A. Pengertian Tanda Menurut Pierce (1867 ) Semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang tanda. Semiotika berasal dari kata Yunani ‘semeion’ yang artinya tanda. Tanda adalah sesuatu yang dapat dilihat atau diamati yang di mana di dalamnya terdapat makna sebagai bentuk interpretasi pesan yang dimaksud. Menurut Charles Sanders Pierce “Alam semesta dipenuhi dengan tanda atau secara eksklusif tersusun oleh tanda”, ia juga menjelaskan bahwa tanda adalah unsur bahasa atau citra yang tersusun dari hubungan antar tanda itu sendiri, referen (objek yang diacu oleh tanda), dasar representasi (sifat hubungan terhadap referen), dan interpretan t (hubungan eksperiensial antara penafsir dan makna), interpretan t adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan memberikan makna terhadap objek yang dirujuk sebuah tanda. Segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramat dapat disebut dengan tanda. Makna tanda merupakan sesuatu hal yang memiliki makna/arti/maksud tertentu yang sifatnya informatif artinya tanda itu sendiri baik dalam bentuk apa pun tujuannya memberikan informasi dari tanda- tanda yang ada. Contohnya seperti sebuah tanda yang diberikan melalui bunyi klakson, seorang pengendara A membunyikan klakson kepada pengendara B yang tepat berada di depannya, pengendara B yang mendengarnya akan langsung berpindah posisi ke sebelah kiri/kanan untuk memberikan jalan kepada pengendara A, tanda melalui bunyi klakson baik di mana pun tidak hanya dimaknai sebagai pemberitahuan untuk minggir, tetapi 16 Pembelajaran Semiotika
dapat juga dimaknai sebagai ucapan terima kasih, sapaan, dan lain sebagainya tergantung situasi dan tempat. Tanda-tanda adalah basis dari seluruh komunikasi, melalui perantaraan tanda tersebut, manusia dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya, karena dalam kehidupannya, manusia satu dengan yang lainnya harus melakukan proses komunikasi dalam berinteraksi dan beraktivitas. Manusia memiliki kemampuan yang lebih bila dibandingkan dengan makhluk lainnya dalam hal berkomunikasi, yaitu kemampuan menciptakan bahasa simbolik. Terdapat banyak macam tanda yang ada di dunia ini yang memiliki sebuah arti yang dapat dikomunikasikan dan di informasikan. Dalam hal tersebut terdapat studi yang secara khusus mempelajari tentang tanda-tanda, yaitu semiotik. B. Cara kerja Tanda menurut Pierce Semiotika merupakan ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Menurut Sobur tanda adalah alat yang digunakan dalam upaya untuk mencari jalan di tengah- tengah kehidupan manusia (Sobur, 2013: 15). Menurut pendapat John Fiske (2010: 60) ilmu semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang tanda dan mempelajari tata cara tanda tersebut dalam bekerja. Analisis Semiotik Pierce terdiri dari 3 aspek penting sehingga sering disebut dengan segitiga makna atau triangle of meaning (LittleJohn, 1998) aspek tersebut yaitu; 1. Tanda adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indra manusia dan merupakan Tanda 17
sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. 2. Objek/Acuan Tanda adalah konteks sosial yang dalam implementasinya dijadikan sebagai aspek pemaknaan atau yang dirujuk oleh tanda tersebut. 3. Interpretan t/Penggunaan Tanda: konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda. Untuk lebih jelasnya segitiga makna atau triangle of meaning terdapat pada gambar berikut; Penjelasan; Sebuah tanda (representamen) adalah sesuatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu yang lain beberapa hal atau kapasitas. Sesuatu yang lain itu dinamakan Interpretan dari tanda yang pertama dan kemudian mengacu pada objek. Sebuah tanda (representamen) 18 Pembelajaran Semiotika
memiliki relasi tradisi langsung dengan interpretan dan objeknya. Proses ini disebut signifikasi. Ketiga unsur tersebut berhubungan dengan tanda karena ada kemiripan dan kedekatan eksistensi dan terbentuk secara konvensional, jadi proses ini disebut semiosis. Semiosis adalah suatu proses di mana suatu tanda berfungsi sebagai perwakilan dari apa yang ditandainya. Hal yang menjadi fokus dalam kajian semiotik ini adalah proses semiotika itu sendiri. Seperti pada contoh berikut; Penjelasan; Dari gambar di atas menjelaskan X= representamen/ graund, Y= objek dan X=Y adalah interpretan t. Ketika seseorang memikirkan konsep pohon gersang (masih diawang-awang atau baru berupa konsep saja), lalu melihat foto tanpa daun (objek). Maka di pikirannya memunculkan makna “pohon itu adalah pohon yang gersang”. Inilah yang dimaksud semiosisnya Pierce. Semiosis ini juga bisa berantai seperti pada contoh berikut; Tanda 19
Penjelasan; Konsep pohon kemudian melihat foto pohon gersang, maka di benak seseorang “itu adalah pohon gersang”. Kemudian konsep pohon gersang (representamen) kemudian melihat foto hutan kering, maka di benak seseorang “itu adalah kemarau”. Konsep kemarau kemudian melihat foto hutan tandus, maka di benak seseorang “cuaca ekstrem”. Konsep cuaca ekstrem, kemudian melihat foto kutub selatan, maka di benak seseorang (kesimpulan) global warming dst. Semiosis tersebut bisa berlanjut terus tergantung pemikiran seseorang. C. Sistem Tanda berdasarkan Charles Sander Pierce Menurut Pierce, tanda merupakan sesuatu yang berfungsi untuk mewakili sesuatu yang lain dengan mempresentasikan sesuatu yang diwakilinya. Pierce membagi sistem tanda (semiotik) menjadi tiga unsur yang telah dimuat dalam teori segitiga yaitu Graund (tanda), acuan tanda (object), dan penggunaan tanda (interpretan t). 1. Ground 20 Pembelajaran Semiotika
Untuk mempelajari lebih jauh lagi mengenai sign atau tanda, dapat dilihat pada ground-nya. “Ground adalah latar belakang tanda. Ground ini dapat berupa bahasa atau konteks sosial” (Ratmanto, 2004:32). Ground adalah dasar atau fondasi dari tanda yang memungkinkan tanda tersebut untuk digunakan sebagai tanda. Ground merujuk pada relasi antara tanda, objek, dan interpretasi yang memungkinkan tanda tersebut untuk berfungsi. Ground adalah komponen penting dalam proses interpretasi tanda karena ia menyediakan konteks yang diperlukan untuk mengerti makna dari tanda tersebut. Tanpa ground, tanda tidak akan memiliki arti yang dapat diinterpretasikan. Yakni berkaitan dengan sesuatu yang membuat suatu tanda dapat berfungsi. Dalam hal ini Pierce mengklasifikasikan ground ke dalam tiga hal yakni; a. Qualisign Qualisign adalah sesuatu yang mempunyai kualitas untuk menjadi tanda. Ia tidak dapat berfungsi sebagai tanda sampai ia terbentuk sebagai tanda (Zaimar, 2008:5). Hal tersebut berarti sesuatu yang mungkin menjadi tanda maka bisa disebut Qualisign. Pierce (dalam Zoest 1993:19) mengatakan bahwa Qualisign dapat menjadi tanda bila Qualisign memperoleh bentuk (embodied). Misalkan warna merah itu memiliki kemungkinan untuk menjadi tanda sebagai cinta dan sesuatu yang bahaya, sehingga warna tersebut dapat dijadikan sebagai Qualisign. Namun warna merah tersebut baru bisa menjadi tanda manakala dia mendapatkan bentuk mawar sebagai tanda Tanda 21
cinta dan bentuk segitiga merah sebagai tanda bahaya. Qualisign yang ada pada tanda bisa berupa kata-kata kasar, keras, lemah lembut, merdu. Suara keras (bisa jadi) menandakan orang itu sedang marah atau ada sesuatu yang diinginkan. b. Sinsign Sinsign adalah sesuatu yang sudah terbentuk dan dapat dianggap sebagai representamen, tetapi belum berfungsi sebagai tanda (Zaimar,2008:5). Contohnya dapat diambilkan pada bunga mawar merah yang belum diberikan kepada istrinya merupakan sebuah Sinsign. Karena walaupun sudah menjadi representamen namun hal tersebut belum berfungsi menjadi sebuah tanda. Sinsign merupakan tanda berdasarkan bentuk atau rupa dalam kenyataan. Contoh: suatu jeritan, bisa berarti heran, senang, atau kesakitan c. Legisign Legisign yaitu sesuatu yang sudah menjadi representamen dan berfungsi sebagai tanda. Setiap tanda yang sudah menjadi konvensi adalah Legisign (Zaimar,2008:5). Sehingga tanda bahasa merupakan Legisign, karena bahasa merupakan kode yang disepakati oleh masyarakat (konvensi). Legisign adalah norma yang terkandung dalam suatu tanda. Hal ini berkaitan dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Misalkan tanda dilarang merokok menunjukkan bahwa dilarang merokok pada lingkungan di mana tanda itu berada. Yang lebih umum lagi tentu saja adalah rambu lalu lintas, yang menunjukkan hal-hal yang boleh dan tidak boleh lakukan saat berkendara. 22 Pembelajaran Semiotika
Legisign merupakan tanda berdasarkan suatu peraturan yang berlaku umum, suatu konvensi, atau suatu kode. Contohnya rambu-rambu lalu lintas. 2. Objek Istilah denotatum dalam dunia semiotika Pierce terkait dengan tanda sebagai istilah yang dipergunakan untuk menandakan unsur kenyataan yang ditunjuk oleh tanda. Oleh Pierce digunakan dengan istilah objek dan membedakannya menjadi tiga macam a. Ikon Menurut Indriani (2008) Ikon adalah suatu gambaran dalam bentuk linguistik ataupun bentuk citra atau image. Ikon ini merupakan tanda yang mengandung kemiripan rupa (resemblance) yang dengan demikian dapat dikenali oleh pemakainya. Di dalam ikon, hubungan antara representamen dan objeknya terwujud kesamaan dalam beberapa kualitas. Jadi, yang termasuk dalam ikon bisa berupa tanda linguistik ataupun tanda berupa gambar. Misalnya suatu peta atau lukisan memiliki hubungan ikonik dengan objeknya sejauh adanya keserupaan di antara keduanya. Icon (ikon) yaitu tanda yang menyerupai yang diwakilinya atau suatu tanda yang menggunakan kesamaan atau ciri-ciri yang sama dengan apa yang dimaksudkan. Sebuah tanda dirancang untuk mempresentasikan sumber acuan melalui simulasi atau persamaan (Danesi, 2004: 38- 39). Contohnya; Tanda toilet perempuan dan laki-laki di pintu masuk toilet. Tanda 23
b. Indeks Indeks adalah tanda yang memiliki keterkaitan fenomenal atau eksistensi di antara graund dan objeknya. Di dalam indeks hubungan tanda dan objeknya bersifat konkret, aktual, dan biasanya melalui suatu cara yang sekuensial atau kausal. Misalnya, jejak telapak kaki di atas permukaan tanah, merupakan indeks dari seseorang yang telah lewat (Zoest,1993). c. Simbol Simbol adalah sesuatu yang dapat menyimbolkan dan mewakili ide, pikiran, benda, namun acuan pada objeknya bukan karena kemiripan ataupun hubungan sebab-akibat tapi merupakan kesepakatan sosial. Dalam hal hubungan ini tidak hubungan secara alamiah antar tanda dengan yang disimbolkan. Dengan demikian simbol dapat mewakili sesuatu baik secara batiniah (perasaan, pikiran ataupun ide), ataupun secara lahiriah (benda dan tindakan). Sebagai contoh, jika melihat ada bendera kuning atau putih dipasang di sudut jalan, dapat mengerti bahwa ada orang yang meninggal. Hubungan langsung antara bendera kuning (yang menyimbolkan ) dengan ada orang meninggal (yang menyimbolkan) tidak perlu ada). Bendera yang dipasang di sudut jalan dan warna dari bendera harus berwarna kuning ini merupakan hasil konvensi yang arbitrer (Wibowo, 2001:3-4). Simbol yaitu suatu tanda yang ditentukan oleh suatu peraturan yang berlaku umum atau ditentukan oleh suatu kesepakatan bersama. 24 Pembelajaran Semiotika
Simbol merupakan jenis tanda yang bersifat arbitrer dan konvensional. (Budiman, 2004: 32). Contohnya; bunga mawar yang dilambangkan sebagai simbol cinta. 3. Interpretan t Tanda dan intepretant-nya oleh Pierce disebut sebagai hal muncul pada diri intepretantry di dalam menafsirkan, maka tanda melalui proses representasi dan interpretasi, sehingga menyebabkan perkembangan suatu tanda lain. Oleh Pierce membedakan tiga macam interpretasi, antara lain; a. Rheme Rheme adalah tanda yang tidak benar atau tidak salah, seperti hampir semua kata tunggal kecuali ya atau tidak. Rheme merupakan tanda pengganti atau sederhana. Ia merupakan tanda kemungkinan kualitatif yang menggambarkan semacam kemungkinan objek (Noth2006:45). Rheme adalah tanda yang memungkinkan ditafsirkan dalam pemaknaan yang berbeda-beda. Misalnya saja orang yang matanya merah, maka bisa jadi dia sedang mengantuk, atau mungkin sakit mata, iritasi, bisa pula ia baru bangun tidur atau bahkan bisa jadi dia sedang mabuk. b. Discent Dalam Zaimar (2008:5) dijelaskan bahwa tanda yang mempunyai eksistensi yang aktual. Sebuah proposisi, misalnya merupakan Discent. Proposisi memberi informasi, tetapi tidak menjelaskan. Discent bisa benar dan juga bisa salah, tetapi tidak memberikan alasannya kenapa hal tersebut bisa terjadi. Tanda 25
Discent sign atau dicisign adalah tanda yang sesuai dengan fakta dan kenyataannya. Misalnya, saja di suatu jalan kampung banyak terdapat anak- anak maka di jalan tersebut dipasang rambu lalu lintas hati-hati banyak anak-anak. Contoh lain misalnya jalan yang rawan kecelakaan, maka dipasang rambu hati-hati rawan kecelakaan. c. Argument Argument adalah tanda yang berisi alasan tentang sesuatu hal. bilamana suatu tanda dan interpretan -nya mempunyai sifat yang berlaku umum (merupakan thirdness). Argument, yakni tanda yang merupakan iferens seseorang terhadap sesuatu berdasarkan alasan tertentu. Seseorang berkata “Gelap.” Orang itu berkata gelap sebab ia menilai ruang itu cocok dikatakan gelap. Dengan demikian argumen merupakan tanda yang berisi penilaian atau alasan, mengapa seseorang berkata begitu. Tentu saja penilaian tersebut mengandung kebenaran. Contoh lainnya yaitu tanda larangan merokok di SPBU, hal tersebut dikarenakan SPBU merupakan tempat yang mudah terbakar. D. Pengertian Makna Tanda Menurut Ferdinand (1988) Makna tanda adalah konsep yang memperjelas hubungan antara suatu tanda dan objek atau konsep yang ditunjukkan oleh tanda tersebut. Konsep ini merupakan salah satu dasar dalam semiotika, yaitu ilmu yang mempelajari tanda, simbol, dan bahasa. Makna tanda merupakan sesuatu hal yang memiliki makna/arti/maksud tertentu yang sifatnya informatif artinya tanda itu sendiri baik dalam bentuk apa pun 26 Pembelajaran Semiotika
tujuannya memberikan informasi dari tanda-tanda yang ada. Salah satu definisi paling luas diungkapkan Eco (2009) bahwa semiotika berkaitan dengan segala sesuatu yang dapat dianggap sebagai tanda. Semiotik sendiri tidak hanya membahas tentang apa yang biasa sebut sebagai tanda dalam percakapan sehari-hari, tetapi dari apa pun yang singkatan sesuatu yang lain. Dalam arti semiotik, tanda-tanda mengambil bentuk kata, gambar, suara, gerak tubuh dan objek. Kaum semiotika kontemporer mempelajari tanda-tanda yang tidak terisolasi tetapi sebagai bagian dari tanda-sistem semiotik (seperti media atau genre). Mereka mempelajari bagaimana makna dibuat dan bagaimana realitas direpresentasikan. Eco (l972) pada saat membahas pertanyaan mengenai objek penelitian semiotika mengusulkan sebuah ranah semiotika. Di dalam ranah semiotika tersebut ia melihat objek penelitian atau disiplin semiotika berikut tanda-tanda nonverbal yang dihasilkan oleh hewan (semiotika binatang), sinyal penciuman, komunikasi melalui sentuhan langsung, sinyal indra rasa, tujuan, dan jenis suara (paralinguistik), diagnostik medis, mimik dan gerakan tubuh (kinesik dan progsemik), musik, bahasa yang diformalkan, bahasa tertulis, abjad yang tak dikenal, kode rahasia, bahasa alamiah. Komunikasi nonverbal kadang tidak diperhatikan, namun sebenarnya memegang peranan yang penting. Komunikasi nonverbal muncul dalam tatap muka secara langsung. Komunikasi nonverbal, misalnya gerakan tubuh membuat pembicaraan menjadi tidak Tanda 27
membosankan. 1. Perilaku kinetik Perilaku kinetik berkaitan dengan bahasa tubuh. Misalnya, gerakan badan, gerakan anggota tubuh, ekspresi wajah, gerak mata, dan sebagainya. a. Tampilan mata Sorot mata, bentuk mata, bisa menjadi alat mengungkapkan suatu pesan, misalnya; b. Sorot mata yang terlalu tajam dapat mengungkapkan adanya rasa ingin tahu yang besar, menyelidik atau ketidaksukaan; c. Menghindari kontak mata langsung menunjukkan tidak adanya perhatian atau tidak adanya keinginan untuk melakukan percakapan; d. Pandangan mata ke bawah menunjukkan rasa malu, bingung, atau berpikir sejenak; e. Pandangan mata mengarah ke suatu benda atau menatap kosong, menunjukkan sedang tidak konsentrasi, dan lain sebagainya. 2. Tampilan mulut Bentuk mulut seseorang juga bisa mengomunikasikan suatu pesan tertentu, misalnya; mulut yang menampilkan senyuman menunjukkan perasaan yang sedang senang, sedang baik, atau menyetujui sesuatu yang sedang dibicarakan. 3. Ekspresi wajah atau mimik Ekspresi wajah merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal, dan dapat menyampaikan keadaan emosi seseorang kepada yang mengamatinya. Manusia dapat mengalami ekspresi wajah tertentu secara sengaja, tetapi umumnya ekspresi wajah dialami secara tidak sengaja akibat 28 Pembelajaran Semiotika
perasaan atau emosi manusia tersebut. Biasanya amat sulit untuk menyembunyikan perasaan atau emosi tertentu dari wajah, walaupun banyak orang yang mencoba menyembunyikan perasaan bencinya terhadap seseorang, pada saat tertentu tanpa sengaja akan menunjukkan perasaannya tersebut di wajahnya, walaupun ia berusaha menunjukkan ekspresi netral. Hubungan perasaan dan ekspresi wajah juga dapat berjalan sebaliknya, pengamatan menunjukkan bahwa melakukan ekspresi wajah tertentu dengan senang (misalnya tersenyum) dapat mempengaruhi atau menyebabkan perasaan terkait benar-benar terjadi. Sebagian ekspresi wajah dapat diketahui maksudnya dengan mudah, misalnya kemarahan dan kepuasan. Wajah seseorang juga bisa mengomunikasikan suatu pesan tertentu, misalnya; a. Wajah menebar senyum dengan mata berbinar menunjukkan perasaan senang, bangga, atau bahagia. b. Wajah dengan dahi berkerut dan mata menyipit menunjukkan kebingungan, atau sedang berpikir keras. c. Wajah dengan mata melotot/beringas disertai mulut tertutup rapat dan pipi/geraham mengencang keadaan sedang marah. d. Wajah agak pucat dengan sorot mata sayu menunjukkan kesedihan, kekecewaan, gundah atau sakit. e. Wajah dengan sorot mata kaku disertai mulut yang mengatup menunjukkan kebingungan, kecemasan, atau perasaan takut. Tanda 29
4. Tampilan kepala Tampilan kepala, gerakan kepala juga bisa mengonsumsikan pesan tertentu, misalnya; a. Kepala tegak bisa menunjukkan keadaan orang dalam kondisi, baik, waspada, dan kesiapan untuk berinteraksi; b. Kepala mengangguk-angguk pada umumnya menunjukkan persetujuan atau penguatan; c. Kepala menggeleng-geleng pada umumnya menunjukkan penolakan, atau tidak setuju; d. Kepala agak menekuk dan kaki agak mengentak- entak menunjukkan kecemasan, kekesalan, atau kemarahan; e. Kepala menunduk ke bawah menunjukkan kesedihan, penolakan, atau bimbang, dan lain sebagainya. 5. Tampilan bahu Tampilan bahu atau gerakan bahu juga bisa mengungkapkan pesan-pesan tertentu, misalnya; a. Tampilan bahu mendatar dengan dada agak dibusungkan ke depan, menunjukkan keadaan baik, siap berinteraksi, atau sedang bersuka cita. b. Tampilan bahu yang lemas, agak bungkuk, atau agak melengkung menunjukkan kondisi yang kurang baik, sedih, sakit, atau tidak siap berinteraksi. c. Gerakan mengangkat bahu biasanya menunjukkan ketidakpastian, tidak tahu yang harus dilakukan, teka-teki, tanda menyerah, atau frustrasi. 6. Tampilan tangan Tampilan tangan atau gerakan tangan bisa mengungkapkan pesan-pesan tertentu, misalnya; 30 Pembelajaran Semiotika
a. Tangan dengan jari-jari dikepalkan menunjukkan rasa gemas, kesal, atau marah. b. Tangan diangkat dengan jari-jari dikepalkan menunjukkan keberhasilan c. Tangan dengan kedua belah telapak bersatu dengan jari meremas menunjukkan kegelisahan atau kekesalan, dan sebagainya. d. Tangan dengan kedua belah telapaknya di satukan menunjukkan berharap atau mencoba 7. Tampilan kaki Gerakan kaki atau posisi kaki bisa mengungkapkan pesan-pesan tertentu, misalnya; a. Pada saat duduk, kaki selonjor bebas, atau salah satu ditumpangkan menunjukkan keadaan sangat santai b. Dalam keadaan duduk, kaki pada posisi tegak menunjukkan kesiapan c. Pada saat duduk, menggoyang-goyangkan sebelah kakinya atau kedua kaki, menunjukkan keadaan bahwa yang bersangkutan sedang berupaya untuk santai, cemas atau gemas. d. Dalam keadaan berdiri, kaki tegak menunjukkan keadaan siap e. Dalam keadaan berdiri, kaki bergetar, menunjukkan rasa takut, malu, atau rasa tidak biasa. 8. Gerakan tubuh Gerakan tubuh (kinesik) bisa juga mengungkapkan pesan-pesan tertentu, biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frase, misalnya mengangguk untuk mengatakan ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; Tanda 31
menunjukkan perasaan, misalnya memukul meja untuk menunjukkan kemarahan; untuk mengatur atau mengendalikan jalannya percakapan; untuk melepaskan ketegangan misalnya; a. Keseluruhan tubuh sering bergerak atau berubah secara cepat. b. (tubuh sulit diam) menunjukkan kegelisahan, ketegangan perasaan, kecemasan, atau kekhawatiran. c. Tampilan keseluruhan tubuh kelihatan tenang dan gerakannya wajar menunjukkan ketenangan diri dan penuh percaya diri. E. Paralinguistik Paralinguistik adalah jenis komunikasi yang berkaitan dengan cara bagaimana seseorang mengucapkan atau menyampaikan pesan. Paralinguistik dapat menunjukkan bagaimana suatu pembicaraan disampaikan sekaligus menunjukkan tentang keadaan emosi dan sikapnya. Di sini ada beberapa isyarat vokal yang dapat disimak oleh pendengarnya, antara lain meliputi tingkat suara atau intonasi suara dan lancar tidaknya berbicara. Contoh Paralinguistik 1. Volume suara Volume suara yang harus diperhatikan adalah: a. Suara yang berbisik dan lemah akan sulit didengar. Hal ini menunjukkan pribadi orang yang sulit membuka diri, susah mengutarakan perasaan, atau pemalu. b. Suara yang selalu berubah-ubah volumenya menunjukkan kesulitan, keraguan, atau merasa kurang mampu dalam membicarakan suatu topik 32 Pembelajaran Semiotika
yang sedang dibahas. 2. Kelancaran berbicara Kelancaran berbicara yang harus diperhatikan adalah; 1) Kelancaran dalam berbicara menunjukkan kesiapan dan penguasaan materi yang sedang dibicarakan. 2) Sering gagap dan ragu menunjukkan ketidaktenangan, atau peka terhadap materi pembicaraan. 3) Apabila berbicara disertai keluhan atau tersendat dan memandang orang yang disegani menunjukkan adanya tekanan emosional atau ketergantungan kepada pihak lain. 4) Sering diam pada saat berbicara menunjukkan kesulitan dalam merangkai atau menyampaikan kata-kata yang tepat, atau mungkin sedang enggan berbicara. Ada beberapa kemiripan dalam menyikapi pesan yang ditawarkan oleh Jurgen Habermas dengan konsep pemaknaan bahasa tubuh menjadi tindakan bagi penerima pesan. Relasi yang muncul dalam komunikasi menjadikan pemaknaan terhadap kode- kode tubuh memiliki sistem penafsiran secara sosial lebih terarah untuk menjadi pesan. Pesan ini dapat dimaknai dengan secara tidak sadar karena alam bawah sadar dalam tempo Seperti kesantunan, Kesantunan adalah etiket atau tata cara atau adat dan atau kebiasaan yang memang berkembang dalam lingkungan masyarakat. Kesantunan menjadi kesepakatan bagi lingkungan masyarakat tertentu Tanda 33
dengan nilai-nilai yang diamalkan berbeda dengan lingkungan masyarakat yang laun. Kesantunan sangat penting bagi struktur kehidupan masyarakat karena merupakan suatu ekspresi sosial. Kesantunan sendiri dapat dilihat dari berbagai segi dalam pergaulan sehari-hari. Masa lampau telah menyepakati adanya kode secara sosial, seperti bersalam-salaman, membungkukkan badan, bersalam-salam, berdiri ketika seseorang datang, tindakan tersebut merupakan bentuk penghormatan yang ada di masyarakat. Untuk perwujudan komunikasi dengan bahasa tubuh yang memunculkan efek-efek tersendiri ini memang sangat pragmatis. Hal ini karena biasanya bahasa tubuh dalam praktiknya tidak hanya digunakan untuk menyampaikan informasi saja, melainkan digunakan untuk memberikan “kesan lebih” dalam berkomunikasi. Pada akhirnya, yang muncul adalah bentuk-bentuk imaji yang bergerak di dalam pikiran. Imajinasi tersebut dapat ditafsirkan dengan berbagai macam perspektif, tergantung dengan sudut pandang masing-masing orang. Selain itu, posisi psikis juga menjadi faktor penting karena dapat mempengaruhi munculnya tindakan. Tidak heran jika gerakan tubuh Michael Jackson (dengan gerakan yang menyerupai pantomim) dalam menyanyi banyak menginspirasikan banyak orang. Selain bahasa tubuh pemaknaan juga muncul dalam bentuk emosi. Ada dua cara dalam mengungkapkan emosi. Cara pertama ya itu emosi diungkapkan secara verbal dengan penuh kesadaran. 34 Pembelajaran Semiotika
Untuk ke arah ini bahasa yang digunakan harus sama, termasuk pengartian akan kata-kata yang digunakannya. Apabila bahasa yang digunakan sama tetapi kata-kata yang digunakan diartikan lain maka komunikasi juga akan terganggu. Cara kedua yang sangat sering dilakukan orang yakni emosi tidak dikatakan tetapi diungkapkan secara nonverbal seperti Emosi marah, sedih, senang, takut, dan emosi lainnya sering diungkapkan melalui ekspresi wajah, gerak tangan, tubuh, ataupun nada suara, menepuk dahi, mengangguk, wajah yang merah padam, wajah yang pucat, menguap lebar, mata yang berair, dll. Ada berbagai fungsi perilaku nonverbal dalam interaksi sosial. Menurut Patterson (1990) fungsi- fungsi tersebut antara lain adalah menyediakan informasi mengarahkan interaksi, mengungkapkan keintiman, kontrol sosial. Ekspresi wajah misalnya banyak memberikan informasi tentang keadaan emosi individu. Ekman dan Friesen (1984) menyebutkan bahwa orang dapat mempelajari emosi melalui tanda-tanda yang terlihat di wajah. Ekspresi wajah tersebut dapat menunjukkan rasa gembira, jijik, marah, sedih, takut, dan terkejut. Emosi-emosi ini dapat terlihat melalui gerakan-gerakan di dahi, sekitar mala, hidung, dan mulut. Senyum, misalnya, dapat dibedakan apakah senyum tersebut betul-betul mengungkapkan rasa senang atau menutupi rasa negatif. Senyum yang menunjukkan rasa senang dapat terlihat dari gerakan-gerakan di sekitar mata di samping bibir yang bergerak ke samping atas. Senyum untuk menutupi rasa negatif dapat terlihat dari bibir yang tersenyum tetapi gerakan otot di Tanda 35
sekitar hidung, dahi, dan mala menunjukkan emosi lainnya. Emosi menurut (Syamsu Yusuf: 2008, 117) dapat dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu emosi sensoris dan emosi kejiwaan (psikis). a. Emosi sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar. b. Emosi psikis, yaitu emosi yang mempunyai alasan- alasan kejiwaan, diantarnya; 1) Perasaan Intelektual, yaitu emosi yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran. Perasaan ini diwujudkan dalam bentuk; a) Rasa yakin dan tidak yakin terhadap suatu hal karya ilmiah, b) Rasa gembira karena mendapat suatu kebenaran, c) Rasa puas karena dapat menyelesaikan persoalan-persoalan ilmiah yang harus dipecahkan. 2) Perasaan Sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perseorangan maupun kelompok. Wujud perasaan ini, seperti a) rasa solidaritas, b) persaudaraan, c) simpati, d) kasih sayang dan sebagainya. 3) Perasaan Susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral). Contohnya; a) rasa tanggung jawab, b) rasa bersalah apabila melanggar norma, c) rasa tenteram dalam menaati norma, 36 Pembelajaran Semiotika
d) Penghormatan, e) penghargaan. 4) Perasaan Keindahan (estetis), yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian. 5) Perasaan Ketuhanan, Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, dianugerahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal Tuhannya. Dengan Kata lain, manusia dianugerahi insting religius (naluri beragama). Karena memiliki fitrah ini, kemudian manusia dijuluki sebagai homo divinans dan homo religius, yaitu sebagai makhluk yang berketuhanan atau makhluk beragama F. Kesimpulan Menurut Pierce, tanda adalah sesuatu yang memiliki makna sebagai bentuk interpretasi pesan. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda dan cara kerjanya. Menurut Pierce, cara kerja tanda terdiri dari 3 aspek penting, yaitu tanda, objek/acuan tanda, dan interpretan . Tanda adalah fenomena yang dapat ditangkap oleh indra manusia dan merujuk pada sesuatu di luar dirinya. Objek/acuan tanda adalah konteks sosial yang mempengaruhi pemaknaan tanda. Interpretan adalah proses pemikiran yang menghubungkan tanda dan objek/acuan tanda untuk membentuk makna. G. Latihan 1. Apa yang dimaksud dengan sistem tanda menurut Carles Sanders Pierce? 2. Apa perbedaan antara Qualisign, singsign, Legisign dalam sistem tanda Pierce? Tanda 37
3. Apa perbedaan antara tanda ikon, indeks, simbol dalam sistem tanda Pierce? 4. Apa perbedaan antara tanda Rheme, dicent, Argument dalam sistem Pierce 38 Pembelajaran Semiotika
III. ANALISIS SASTRA MENGGUNAKAN TEORI CHARLES SANDER PIERCE Tujuan Pembelajaran; Mahasiswa mampu menganalisis sastra dengan menggunakan model Charles Sander Pierce Indikator; Menganisis sastra (novel) dengan menggunakan teori Charles Sander Pierce 39
A. Penerapan kajian semiotika Charles Sander Pierce dalam novel Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Ceroz Batozar karya Tere Liye Penerapan analis Charles Sander Pierce dapat dilihat dalam Bumi Bulan, Matahari, Bintang, Ceroz Batozar karya Tere Liye. Pada analisis tersebut Charles Sander Pierce melakukan pemenggalan teks ke dalam tiga makna tanda yaitu graund, objek, dan interpretan t. Teks dalam bentuk tanda, kemudian dikelompokkan ke dalam tiga jenis tanda yaitu 1) graund terdiri atas Qualisign, singsign, Legisign, 2) objek terdiri atas ikon, indeks, simbol, 3) interpretan t terdari atas Rheme, dicent, Argument 1. Makna Tanda Graund dalam novel Karya Tere Liye Graund adalah bentuk yang diterima oleh tanda atau berfungsi sebagai tanda. Bentuk tanda graund dibedakan atas Qualisign adalah merupakan suatu tanda yang ditandai berdasarkan sifat yang ada dalam tanda. Singsign adalah suatu tanda yang menampilkan kenyataan pada tampilannya. Legisign merupakan tanda karena adanya kesepakatan (konvensi) bisa jadi kode/peraturan. Bentuk tanda tersebut terdapat pada novel “Bumi, Bulan, Matahari, Bintang dan Ceroz dan Batozar”. Kelima novel bercerita tentang petualangan tiga orang anak yang bernama Seli, Ali, dan Raib. Makna tanda yang terdapat pada kelima novel tersebut akan terurai sebagai berikut; a. Qualisign Dalam novel “Bumi, Bulan, Matahari, Bintang dan Ceroz dan Batozar” karya Tere Liye, ditemukan 40 Pembelajaran Semiotika
beberapa tanda yang berupa Qualisign. Qualisign merupakan suatu tanda yang ditandai berdasarkan sifat yang ada dalam tanda. Tanda ini dapat dinilai berdasarkan kualitasnya. Jadi bisa dilihat sifat tanda yang melekat pada tanda tersebut. Tipe tanda tidak dapat berfungsi sebagai tanda sampai ia dibentuk sebagai tanda. Misalkan kata-kata keras (intonasi keras), lemah lembut dan merdu. Penyampaian yang memiliki intonasi yang datar menunjukkan bahwa ucapan yang disampaikan bernada sopan, akan tetapi ketika kata diucapkan dengan intonasi yang keras, maka akan diinterpretasikan bahwa orang tersebut sedang marah. Dalam novel Tere Liye ada beberapa jenis kata yang diucapkan dengan nada/intonasi yang berbeda. Setiap intonasi yang berbeda memiliki makna sifat yang berbeda pula. Misalnya kata-kata keras yang ditandai bahwa orang tersebut sedang marah, kata-kata lemah lembut memiliki sifat yang ramah atau penuh perhatian. Selain kata-kata yang keras, lemah lembut, Qualisign merupakan kualitas suatu tanda yang bisa berupa hewan. Seperti harimau menunjukkan sifat kejam dan liar. Semiotik yang khusus memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan. Hewan biasanya menghasilkan tanda untuk berkomunikasi antara sesamanya, tetapi juga sering menghasilkan tanda yang dapat ditafsirkan oleh manusia. Penggambaran mengenai tanda tersebut dapat dilihat pada data berikut; Analisis Sastra Menggunakan Teori Charles Sander Pierce 41
1) Marah “Dasar guru sok galak. Tidak tahu apa, tambah keriting saja rambutnya setiap kali dia marahmarah.” (1, BM, 2014 : . 22) Pada data (1) “dasar” kata tersebut merupakan tanda Qualisign karena pada saat mengucapkan kata “dasar…” memiliki sifat bahwa pada saat itu Ali sedang “marah”. Marah merupakan sifat dasar manusia. Ali yang tidak senang dengan tingkah Miss Selena kemudian mengeluarkan kalimat “dasar guru sok galak” kalimat tersebut merupakan ungkapan luapan kemarahan Ali terhadap Miss Selena. Pada dasarnya Qualisign dapat menjadi tanda bila Qualisign memperoleh bentuk. Seperti pada kata “dasar….” kata tersebut baru bisa dikatakan Qualisign jika berada dalam konteks kalimat. Kata “dasar…” baru dapat memiliki sifat (marah) jika kata tersebut dikaitkan dengan kalimat “dasar guru sok galak”. Sifat atau karakteristik negatif terhadap guru yang digambarkan sebagai sosok yang sok galak atau berpura-pura menjadi galak. Sifat ini dapat dianggap sebagai bentuk stereotip atau prasangka terhadap seorang guru, yang mana sifat tersebut tidak selalu benar adanya dan dapat menimbulkan ketidakadilan dalam penilaian terhadap seorang guru. Stereotip merupakan suatu generalisasi atau kesan umum yang disematkan pada suatu kelompok atau individu tertentu, sehingga 42 Pembelajaran Semiotika
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184
- 185
- 186
- 187
- 188
- 189
- 190
- 191
- 192
- 193
- 194
- 195
- 196
- 197
- 198
- 199
- 200
- 201
- 202
- 203