Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Tuhan memang Maha Baik dan Maha Segalanya. Ternyata kegundahanku tentang posisi dia telah terkuak dengan sendirinya gara-gara kejadian semalam. Aku seperti mendapatkan penjelasannya dan ternyata kesempatan itu masih ada. Mba Dian ternyata dalam posisi netral. Aku harus segera mengambil langkah cepat. Hari itu, 15 Maret 1996, aku masih ingat betul tanggal itu karena tentunya hari itu sejarah telah mencatat bahwa seorang pemuda polos asal dari desa telah berani mengungkapkan perasaan cintanya kepada seorang perempuan yang terus mengoyak-oyak hatinya. Tidak seperti malam biasanya. Malam itu langit begitu cerah lengkap dengan berbagai rasi bintang yang membentuk lambang-lambang cinta di atas sana padahal biasanya langit mendung tertutup awan dan gerimis menyelimuti malam kota Purwokerto di bulan Maret. Kata demi kata berhasil aku luncurkan dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuhku saat itu. Dan sesuatu yang akan terjadi baik itu jawaban penerimaan atau penolakan akan segera mengakhiri kegundahan hatiku selama ini. Tapi aku percaya pada gugusan bintang yang membentuk lambang-lambang cinta yang bergelayut di langit malam itu. Itu pertanda bahwa kedua mataku sudah tidak bisa bekerja sebagaimana seharusnya karena mata hatiku lebih menguasai seluruh pandangan mataku. Dan benar pula apa yang dilihat mata hatiku bahwa tidak hanya gugusan bintang itu yang membentuk lambang-lambang cinta, akan tetapi semua benda yang ada di sekitarku berubah bentuk menjadi lambang-lambang cinta dan bunga Katheleya yang ditanam di pot-pot di serambi rumahnya yang tadinya kuncup tiba- tiba bermekaran ketika dia menjawabnya dengan lirih dan senyumnya yang tulus mengembang menghiasi pipinya yang kemerahan. Berakhirlah kegundahanku di malam itu. Sehingga sejak 15 Maret 1996 tercatat di semua buku sejarah kehidupanku bahwa kami sepakat untuk saling mencintai. 151
26 Kejadian Aneh Banyak hal aneh yang aku rasakan setelah ditetapkan hari jadi anatara aku dan dia. Keanehan yang pertama yaitu saat menjelang tidur. Semua tampak lain dan berbeda tidak seperti hari-hari sebelumnya. Sebelum tidur, bayangan dia selalu hinggap di mataku sehingga aku sering susah tidur. Kedua, di saat bangun tidur, aku sering tersenyum-senyum sendiri karena seperti ada yang aneh di dalam diriku. Aku pun sering bertanya-tanya sendiri mengapa seusiaku ini aku baru merasakan hal seperti ini. Teman-temanku dulu saat SMA sudah banyak yang punya teman spesial tapi aku melihat mereka seolah biasa-biasa saja. Tapi kenapa di usiaku yang sudah bukan remaja lagi baru merasakan hal ini dan ini sungguh aneh. Di saat bersamanya, banyak pula hal aneh yang kami lakukan yang menurutku sendiri terasa tidak wajar. Mungkin aku berlebihan dalam menyikapinya tapi ini nyata. Hal pertama yang aku lakukan setelah hari jadi, aku mencoba mengajaknya jalan. Sebenarnya aku juga tidak tahu harus berbuat apa agar hubungan ini tampak seperti orang pacaran pada umumnya. Tapi aku buta tentang hal itu. Yang pernah 152
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey aku dengar dari cerita-cerita di novel, atau film yang aku tonton, biasanya orang pacaran itu ngajak nonton, makan di restaurant, atau nongkrong di taman atau pergi ke tempat wisata. Aku pun menawarkan salah satunya dan alhasil, ditolak. Aku jadi gundah dan mati gaya. Akhirnya kencan pertama kami hanyalah berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kota menyaksikan hilir mudiknya para pejalan kaki dan pengendara motor dan mobil di jalan dan menyaksikan aktifitas malam di deretan pertokoan sambil membicarakan apa saja yang dilihat. Tidak ada gandeng tangan. Semua tampak formal dan serasa tak ada bedanya seperti dulu sebelum hari jadi. Sesekali aku mencoba meraih tangannya karena hendak menyeberang jalan raya, dia pun mentertawakanku karena aku tampak hendak menyeberangkan seorang nenek- nenek tua dan memegangi tangannya erat-erat. Aku pun ikut tertawa. Akhirnya yang kami lakukan malam itu adalah bercerita, tertawa, dan berjalan kaki berkilo-kilometer mengitari pusat kota purwokerto. Sehabis itu, malamnya aku tidur nyenyak karena kelelahan. Hal aneh yang lain yaitu urusan panggil memanggil. Yang dulu biasanya dia memanggilku Mas Suryo atau Pak Suryo, sekarang berubah menjadi Mas Yo, dia menirukan gaya pak Salim. Dia memilih panggilan itu karena katanya lebih nyaman dan lebih enak terdengar. Itu artinya namaku yang asli terdengar tidak begitu enak. Aku pun menerimanya tanpa syarat alias OK. Sedangkan aku pun memanggilnya dengan panggilan Dhe Dian yang sebelumnya aku memanggilnya Mba Dian. Panggilan Dhe Dian tidak berlangsung terlalu lama karena aku telah menemukan panggilan yaitu panggilan kesayangan seperti ‘honey’ yang sering aku dengar di film-film barat. Dan dia pun OK. Lepas dari urusan panggil-memanggil yang ternyata memang memerlukan perubahan dan dirasa cukup aneh saat awalnya tadi, ada urusan lain yang juga harus diperhatikan saat berhubungan spesial dengannya. Apa itu? Urusan traktir mentraktir saat makan. Apa ini penting? Aku sendiri tidak tahu hal ini penting atau tidak, tapi hal ini akan menjadikan hubungan kami bisa semakin renggang apabila kami tidak bisa menyikapinya atau sebaliknya hubungan menjadi semakin lengket apabila kami menyikapinya degan benar. Karena hal ini lebih menyangkut harga diri seseorang. 153
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Menurut sebagian pendapat, entah pendapatnya siapa, entah benar atau tidak, bahwa seorang perempuan akan merasa diperhatikan dan dihargai saat segala hal yang berkaitan dengan acara makan berdua itu yang nraktir harus yang laki- laki, atau seorang laki-laki lebih punya harga diri saat dianggap mampu menraktir perempuannya. Itu mungkin pendapat yang dibenarkan secara umum karena sebagai laki-laki aku pun ikut membenarkan. Tapi apa yang terjadi pada kami pada masa- masa ini sungguh terbalik. Kapan dan di mana pun ada acara makan berdua, baik di warteg, lesehan, maupun rumah makan, awalnya kami saling berebut membayar dan aku selalu kalah. Lama-kelamaan aku gak rebutan bayar lagi karena dialah yang selalu ingin membayari acara makan kami. Karena penasaran, aku pun beranikan diri menanyakan hal ini, katanya sudah menjadi prinsipnya bahwa dia tak mau di cap cewek matre! Alasan yang tak masuk akal, namun, aku harus bisa menghargainya sebagai prinsip hidupnya. Lalu bagaimana dengan harga diriku? Katanya aku suruh menyimpan itu harga diri sedalam-dalamnya ke lubuk hatiku karena masih banyak hal yang bisa aku lakukan untuk menunjukan harga diri atau sikap jentelmen seorang laki- laki dibandingkan hanya sekedar soal mentraktir makan perempuannya. Ok, aku pun menerimanya dengan lapang dada. Perkara lain yang terasa aneh dalam hubungan ini adalah suatu ketika di hari ulang tahunku, tiba-tiba dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Aku pun terhenyak kaget karena tidak biasa menerima ucapan selamat ulang tahun semasa hidupku. Ternyata diam-diam dia tahu hari ulang tahunku. Aku sendiri tak pernah memperdulikan tentang hari ulang tahun siapapun termasuk hari ulang tahunku sendiri. Di desa waktu itu mana ada orang saling mengucapkan ulang tahun. Tanggal kelahiran bukan merupakan hari yang penting untuk diucapkan selamat karena yang mereka ingat-ingat adalah hari pasaran seperti; Senin Pahing, Selasa Pon, Rebo Wage, Kemis Kliwon, Jemuah Manis, Setu Pahing, Ahad Pon, dan seterusnya. Karena hari- hari ini penting untuk kapan mereka pergi ke pasar, kapan mereka menanam padi, kapan mereka mengawinkan anaknya, atau kapan mereka menaruh sesaji, dan lain- lain. Aku pun sangat khatam dengan nama-nama hari pasaran ini. Hari ulang tahun? Hanya pernah dengar di film-film Indonesia tahun delapan puluhan. 154
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Tetapi semenjak peristiwa ucapan ulang tahun itu aku pun selalu berusaha mengingat hari ulang tahunnya dan tentunya mengucapkan selamat ulang tahun bahkan kalau bisa memberikan surprise seperti kebiasaan orang kota. Walaupun terasa aneh, semua aku lakukan untuknya. Hal aneh yang lain yang aku rasakan setelah bersamanya dalam hubungan spesial ini adalah ketika aku tergeletak tak berdaya di tempat kos, sakit. Hampir setiap hari dia hadir menengokku. Dan yang membuatku kaget adalah ketika Pakde dan Budenya datang menjengukku dan membawakanku banyak makanan bergizi. Maklum, sebagai anak kos tentunya aku sering mengkonsumsi makanan enak dengan gizi rendah seperti mie instan, makanan terpraktis bagi anak kos. Tapi sebenarnya bukan makanan yang mereka bawa sehingga aku merasa aneh. Aku hanya merasa hubunganku dengannya ternyata mendapat dukungan luar biasa dari orang tuanya walaupun bukan orang tua asli. Dan itu aku rasakan seperti sesuatu yang luar biasa hingga aku merasa aku bagaikan anak menantunya. Semenjak kunjungan itu, aku menjadi semakin yakin tentang hubungan kami untuk menapak ke tingkat yang lebih serius, yaitu, melamarnya dan memperistrinya. Semangat kerjaku saat itu meningkat tajam. Targetku saat itu adalah menikah! Teman- teman kerjaku sering membuliku. Katanya, ‘Witting trisna jalaran saka kulina.’ Yang artinya cinta bersemi karena terbiasa bertemu. Ah, aku pikir tidak semuanya benar karena cintaku padanya adalah cinta sejak pandangan pertama dan karena banyak faktor yang membuatku jatuh cinta daripada sekedar frekwensi pertemuan. Di mataku dia begitu istimewa dan cocok buatku. Mereka saja yang tak tahu sejarahnya. Tapi biarkan mereka bicara karena itu tanda perhatian sesama rekan kerja. Sebagai kompensasinya, aku pun mengambil inisiatif untuk mempersiapkan masa depan bersamanya. Prinsipku dalam bercinta adalah aku tak mau menyakiti dan disakiti. Untuk itu aku harus memperjuangkan chemistry yang sudah berjalan dengan baik ini. Dan aku pun mencoba menawarkan sesuatu sambil aku unjuk kebolehan dalam berbahsa Inggris. ‘Will you merry me?’ Itu pertanyaan bahasa Inggris termudah yang pernah aku lontarkan. Tapi ternyata dia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Aku 155
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey berpikir, dia jago bahasa Inggris, tetapi untuk menjawab pertanyaan Yes/No Question ini saja dia tak mampu menjawabnya. Entah kenapa. Dunia ini semakin aneh aku rasakan. 156
27 Hari Ke 100 Pernikahan Tak perlulah berlama-lama untuk MOP (Masa Orientasi Pasangan). Karakter kami masing-masing sudah ketebak semua. Tak ada lagi yang perlu disembunyikan. Begitu pula masa lalu kami masing-masing sudah diobrol dan diobral tak ada yang tak laku terjual. Semua laris manis tak tersisa. Kami menyukai kesederhanaan dan keterbukaan. Karakterku yang sedikit bicara dan minderan ketutup sama karakternya yang cakap berbicara dan percaya diri. Emosiku yang adem ayem ketutup sama emosinya yang terbuka blak-blakan. Aku introvert dia extrovert. Aku suka menyendiri dan tak banyak teman dia suka keramaian dan pandai bergaul. Ibarat wadah yang ketemu sama tutupnya. Kami saling melengkapi. Mungkin itu ungkapan kecocokan yang ada pada kami. Aku merasa telah menemukan seseorang yang bisa aku percaya mampu menjadi pendampingku dikala susah dan senang. Dari ramalan Mbah Suryo saat menggandeng tangannya ketika mau menyeberang jalan, bisa ditafsirkan bahwa dia adalah perempuan yang bisa dipertanggungjawabkan kesetiaannya. Aku begitu yakin tanpa 157
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey ada keraguan sebesar biji terongpun. Dalam perjalanannya, tanpa kami sadari kami menemukan keseimbangan dengan banyak belajar dari perbedaan masing-masing. Karena berbahagia itu tidak boleh ditunda-tunda, tak lebih dari satu setengah tahun MOP, sejarah hidupku pun mencatat pada tanggal 10 Oktober 1997 terjadi pertempuran seru antara aku dan dia. Kedua belah pihak keluarga sudah saling mendukung. Tak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Hari H untuk perhelatan akad nikah, sudah diketok palu oleh kedua belah pihak yang berseteru. Kami sah menikah pada tanggal itu. Tepatnya hari Jumat. Jumat yang bersejarah. Kami sudah sah secara agama dan hukum. Dunia tersenyum melihat kami berdua berbahagia. Semua mahluk hidup dan benda-benda yang menyaksikan pun turut berbahagia. Cicak di kamar kosku yang biasanya murung, sekarang tersenyum lebar dan bernafas lega mendengar berita pernikahanku. Aku mengalami kebahagiaan level tertinggi. Namun di dalam sebongkah kebahagiaan selalu ada setitik kesedihan menyapa. Kakak keduaku, Mba Ratni tak bisa menyaksikan kebahagiaan ini. Mudah-mudahan dia bisa menyaksikan ini dari surganya. Kami sungguh menikmati masa-masa indahnya berumah tangga. Semua proses pembelajaran yang tadinya dikerjakan secara individual, kali ini bisa dikerjakan secara berpasangan. Hal ini sangat berbeda kami rasakan tentunya. Karena semua kegiatan pembelajaran kehidupan dikerjakan bersama-sama. Keberhasilan terhadap pencapaian kompetensi sikap kami akan mengacu pada 11 poin sikap dalam berumah tangga diantaranya; kerjasama, tanggungjawab, gemar membaca, kesetiaan, saling menghargai perbedaan, saling mengerti, perhatian, keuletan, kerja keras, disiplin, dan dapat dipercaya. Dengan menjalankan 11 poin tersebut diharapkan mampu mencapai goal pembelajaran kehidupan rumah tangga. Begitu pula segala yang menyangkut kebahagiaan dan penderitaan kami rasakan berdua. Semua berjalan seperti semestinya dan seadanya. Kami dua-duanya bekerja dan sama-sama berpenghasilan walaupun mungkin belum bisa dikatakan mapan. Setidaknya kami sudah bisa mandiri. Sang istri masih dipercaya sebagai tenaga 158
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey pengajar di lembaga di mana dia mengawali karirnya sebagai tenaga pengajar di International College. Aku pun masih dipercaya sebagai tenaga administrasi di Top Photo. Semua berjalan stabil seolah tak akan ada sesuatu yang menjadi penghalang yang dapat meruntuhkan pondasi rumah tangga di masa mendatang. Tetapi kami hanyalah manusia biasa dan Tuhanlah pengendali alam semesta ini. Bahwa kebahagiaan berumah tangga setiap pasangan pun akan memiliki cerita dan kisah yang berbeda-beda. Dan Tuhanlah yang akan menentukan nasib setiap umatnya bahkan seluruh benda yang ada di semesta ini. Mungkin sudah dituliskan Tuhan pula bahwa keluarga kami pun akan mengalami lekuk likunya di kemudian hari. Keluarga baruku yang masih sangat belia dan kami baru merasakan yang namanya keindahan di seratus hari pernikahan. Kalau kamu tahu kisah ini pun terjadi di awal tahun 1998. Di awal tahun ini terjadi bencana nasional yang siap menghantam siapa saja dan bidang apa saja. Bidang ekonomi terutamanya. Ekonomi bangsa ini mulai tergoncang. Bangsa sebesar ini pun mampu tergoyahkan dengan hantaman badai krisis di awal tahun 1998. Bangsa ini mulai mengalami ujian nasional yang cukup berat. Krisis moneter menimpa perekonomian rumah tangga Negara Indonesia yang berimbas langsung pada rumah tangga kami yang baru saja menginjak hari kerja ke 100. Para pemilik rupaiah rame- rame membeli dolar. PHK besar-besaran terjadi di kota-kota besar hingga ke kota kecil Purwokerto tepatnya di tempat aku bekerja. Perusahaan di mana aku bekerja mengalami pailit hingga sangat terpaksa harus gulung tikar. Kami tak sanggup untuk menegakkan tiang penyangga perusahaan hingga berdiri kokoh lagi. Biaya pembelian barang-barang seperti kertas photo, film, dan cairan kimia pemroses cetak foto semua mengikuti harga dolar yang melambung karena harus impor. Para karyawan mulai gelisah dengan isu akan ditutupnya perusahaan. Bagaimana dengan mereka yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidup keluarganya di perusahaan tersebut? Bagaimana dengan istriku yang baru tiga bulan menerima gaji hasil keringat sang suami? Bagaimana aku menyampaikan berita buruk ini pada sang istri? Sungguh ini merupakan babak awal terberat pembelajaran rumah tangga kami yang terkena 159
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey efek bencana nasioanal. Sore itu langit tak secerah biasanya. Aku tak tega menatap wajah istriku yang sedang duduk di beranda rumah tinggal kami di sebuah perumahan di pinggir kota. Kami tinggal di rumah kecil mungil di sebuah perumahan hasil kredit BTN yang sebenarnya masih perlu dipermak sana sini dan sudah kami huni sejak awal pernikahan. Begitu pun kami sangat mensyukurinya karena tinggal di rumah sendiri. Hari ini istriku tidak ada kelas mengajar hingga dia hanya menunggu kedatanganku di rumah. “Bagaimana Mas, hasilnya? Apakah semua karyawan bisa dipertahankan?” Istriku melempar pertanyaan ini dilengkapi dengan senyum yang tampak dipaksakan karena tahu melihat ekspresi wajahku yang tak bisa menyembunyikan berita yang buruk yang hendak aku sampaikan. “Iya Dhe. Semua sudah berakhir,” jawabku lirih saja. “Berkahir bagaimana maksudnya?” Istriku mengerutkan dahinya tampak kecemasan hinggap di matanya. “Semua sudah berakhir. Perusahaan sudah positif akan menutup photo studio di semua wilayah Purwokerto dan sekitarnya.” Aku menggeser posisi dudukku dan merapatkan diri dengan istriku yang masih harap-harap cemas menunggu penjelasanku. “Lalu bagaimana dengan nasib karyawannya? Apakah mereka masih akan bisa dipekerjakan di tempat lain, atau ada solusi apa gitu Mas?” “Semua di PHK. Semua akan berhenti bekerja.” “Termasuk Mas Suryo?” Tanyanya dengan matanya lebih tajam memandang mataku. Aku tak berani menatap matanya. “Semua. Termasuk aku,” jawabku lirih. Kami diam sesaat. Lalu dia memelukku dengan senyuman tetap merekah di wajahnya. “Apa tidak ada solusi lain, Mas? Kok Pak Chandra tega sekali sih?” Dia menyalahkan 160
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Pak Chandra. “Keputusan ini bukan Pak Chandra saja yang buat. Tapi kebijakan pusat. Mungkin sudah dipertimbangkan secara matang, tapi hasilnya tetap saja perusahaan harus menutup photo studio di tiga kota ini, Purwokerto, Purbalingga, dan Bumiayu.” Aku menelan ludah dan berusaha menahan air mata istriku dengan mengusapkan jemari tanganku ke wajahnya. “Lalu bagaimana dengan nasib kami? Apakah perusahaan bertanggungjawab akan nasib karyawan yang kena PHK? Mereka kan sudah banyak yang bekerja puluhan tahun. Anak istrinya bagaimana?” Air mata istriku tumpah. Dia memikirkan nasib semua nasib karyawan yang naas itu. Semalaman kami membahas masalah PHK. Besok semua karyawan akan dikumpulkan untuk mendapatkan penjelasan dari pimpinan mengenai pesangon. Ya, pesangon. Kami akan diberikan pesangon dengan jumlah sesuai dengan jabatan, masa kerja dan ketentuan yang ada di Depnaker. Hanya itu yang bisa perusahaan berikan sebagai balasan kerja semua karyawan di saat krisis seperti ini. Pesangon adalah sekedar uang sangu yang mungkin hanya dapat sebagai penyambung nyawa yang tidak bisa diandalkan dalam masa pencarian pekerjaan baru bagi kami. Begitupun keadaan kami di awal membangun mahligai rumah tangga tetaplah menjadi kebahagiaan tersendiri buat kami yang memang sudah kami ikrarkan dalam perjanjian untuk tetap saling menyayangi dan setia dengan apapun yang akan terjadi. Kami memegang teguh janji itu. Kami anggap cobaan ini hanyalah kerikil-kerikil yang tak berarti dan kami tetap berbahagia dan tetap menikmati hidup sebisanya. Kami bertekad untuk tetap meraih segala kebahagiaan yang sudah kami proklamirkan bersama bahwa susah maupun senang kami tetap bersatu padu untuk menjaga rumah tangga ini tetap berdiri dan kokoh sampai nantinya kami beranak pinak. Kami meyakini bahwa jalan akan selalu ada untuk orang-orang yang mau berusaha. Dan kami sepakat untuk mengembangkan layar selebar-lebarnya untuk tetap bertahan dari badai yang saat itu menerpa. Karena badai itupun pasti akan berlalu. 161
28 Memilih Jadi Pengedar Semakin hari keadaan negara ini semakin tak jelas, runyam. Berita di TV tak henti-hentinya menyuguhkan kekacauan di sana-sini. Jakarta dan beberapa kota terjadi kerusuhan dan penjarahan besar-besaran. Mall-mall dan pusat perbelanjaan dibakar dan dijarah. Mayat-mayat gosong bergelimpangan. Nyawa manusia seperti tidak ada artinya lagi. Demo mahasiswa banyak ditunggangi kepentingan politik dan, anarkis. Banyak tuntutan diantaranya yang paling inti adalah menghendaki presiden sang penguasa negara yang sudah berkuasa selama 32 tahun lengser. Keadaan ini memperburuk keadaan rumah tanggaku. Penopang ekonomi keluarga, yaitu pekerjaanku sebagai kepala rumah tangga sudah di bawah nol alias minus. Tak ada yang bisa aku kerjakan lagi. Sekarang aku sudah berubah status jadi ‘pengedar’. Pengedar surat lamaran. Paket lengkap lamaran yang terdiri dari; ijazah SMA, sertifikat kursus, dan selembar surat pengalaman kerja dari Top Photo melayang ke berbagai tempat yang terindikasi tidak sedang dalam pengurangan karyawan. Surat- 162
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey surat lamaranku melayang ke berbagai instansi dan pertokoan. Semua tampak aman- aman saja dan diam-diam saja. Dari semua lamaran yang berangkat, tak ada satupun yang kembali. Itu artinya mereka hilang entah kemana rimbanya. Mungkin hanya teronggok di meja sang menejer personalia dan akhirnya menemui ajalnya di tong sampah di kolong meja HRD. Ternyata lamaran dan lampiran setebal itu pun tak ada gunanya saat itu. Yang dibutuhkan perusahaan adalah bagaimana cara mengurangi jumlah karyawan atau bagaimana perusahaan tidak menaikan gaji pegawai. Bukan membalasnya seperti harapanku dan beberapa temanku yang terkena dampak. Faktanya hampir semua kantor maupun pertokoan sedang mengencangkan ikat pinggang. Menambah karyawan adalah tindakan bunuh diri secara perlahan. Tak ada satupun perusahaan yang berminat untuk melirik surat lamaranku yang sudah kubuat rangkap banyak. Semua mengangkat lima jari sebagai lambang penolakan. Tak luput kantor Depnaker dan Kantor Pos yang biasanya menjadi pusat informasi lowongan pekerjaan pun sepi pengumuman lowongan kerja. Hampir setiap hari aku menyambanginya. Beruntung aku, istriku adalah seorang yang tak suka mengeluh dengan kondisi ini bahkan dia selalu memotivasiku untuk tetap bersemangat dan tak boleh menyerah. Uang pesangon yang diperolah dari PHK menjadi sandaran utama memenuhi kebutuhan sehari-hari di masa pasca PHK yang tentunya lama-kelamaan semakin menipis. Kami berdua terus berdoa dan berusaha untuk mendapatkan informasi lowongan pekerjaan apapun yang memungkinkan untuk aku masuki. Dari beberapa perusahaan yang bisa aku titipi surat lamaran, ada juga yang memanggilku untuk wawancara pada akhirnya. Mungkin ini merupakan buah kesabaran dan dorongan semangat seorang istri yang terus mengobarkan semangatku. “Alhamdulillaah Mas, akhirnya dipanggil juga. Mudah-mudahan wawancaranya lancar ya besok!” Istriku tulus berdoa. “Amiin, mudah-mudahan, Dhe.” 163
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Keesokan harinya aku bergegas ke ketempat wawancara sesuai alamat yang tertera. Aku siap dengan jawaban mantap penuh percaya diri ketika nanti aku ditanya dalam interview. Sampailah aku ke sebuah tempat yang layaknya tidak mirip sebuah kantor. Tampak sebuah rumah biasa agak besar. Di samping rumah terparkir beberapa sepeda roda tiga berpayung tampak sebuah sepeda yang biasa digunaka nuntuk menjajakan es krim. Aku sedikit merenung sejenak memikirkan tentang tempat apa ini. Namun aku tetap mantap dengan langkah tegap memasuki rumah yang cukup memusingkan saat aku cari hampir setengah hari. Seorang Bapak dengan usia sekitar 40 tahunan, keluar dari dalam ruangannya dan langsung menyambutku. Dia begitu ramah dan hormat terhadap tamunya. Aku dipersilahkan duduk dan aku pun langsung menyampaikan tujuan dan maksudnya, yaitu melamar pekerjaan tentunya. Sampai pada pertanyaan yang membawaku pada titik di mana aku tidak mengharapkannya. “Bapak pernah bekerja di photo studio, sebagai kepala administrasi?” tanyanya sambil membaca CV-ku. Aku mengiyakan dengan mantap. “Bapak punya sertifikat kursus bahasa Inggris, computer, dan akuntansi?” Dia seperti tidak percaya. “Benar, Pak. Bagaimana Pak?” tanyaku memberanikan diri. “Mh..berarti bapak bahasa Inggrisnya bagus, dong.” “Lumayanlah Pak, saya bisa mempraktekannya.” “Wah, saya itu suka sekali sama bahasa Inggris, tapi kok ya nggak bisa-bisa. Dulu saya sempat mau ambil kursus tapi gagal. Ya, jadinya ga bisa deh sampai sekarang,” jawab bapak itu malah balik curhat. “Nanti saya bisa bantu Bapak mengajari bahasa Inggris, Pak, kalau saya di terima di 164
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey perusahaan Bapak ini.” “Wah begini, Pak. Bapak sudah tahu perusahaan kami perusahaan apa?” “Belum, Pak.” Aku menuggu penjelasan. “Bapak tadi lihat di luar ada gerobak itu?” “Iya saya lihat Pak,” “Itulah produk yang kami jual. Kami membutuhkan karyawan untuk dijadikan penjual keliling eskrim kami. Tapi,..” “Tapi kenapa Pak?” “Tapi bapak tidak cocok untuk pekerjaan ini. Bapak ini pernah bekerja di kantor dan bisa berbahasa Inggris. Saya nggak mungkin mempekerjakan bapak di sini. Waduh, maaf sekali Pak. Kelihatannya tempat ini tak cocok buat Bapak.” Dia menolak dengan halus agar aku mundur dan membawa pulang berkas lamaran. Aku berusaha memaksa bahwa mengayuh gerobak eskrim akan lebih baik dari pada aku menganggur. Tetapi hasilnya bapak itu tetap menolaknya dan memberiku semacam motivasi untuk mendapatkan pekerjaan lain yang lebih sesuai. Mungkin menurutnya saat itu yang aku butuhkan cukup sebatas motivasi, bukan pengonthel sepeda roda tiga. Dia pun berjanji akan memanggilku ketika dia sudah siap untuk memulai kursus bahasa Inggrisnya. Mungkin itu sebagai pemanis dan penghalus dari bahasa penolakannya. Akhirnya aku pulang dengan membawa berita kegagalan hari itu. Aku ceritakan semua hasil wawancara hari ini. Istriku tetap tersenyum sambil mengelus dadaku. Aku cukup lega menyaksikan sikapnya padaku. Tapi aku tetap akan mencari-dan mencari lagi hingga aku mendapatkannya. 165
29 Gantung Dasi Krisis moneter datang tanpa menghiraukan pasangan muda yang sedang mengharap datangnya sang buah hati hasil cinta mereka. Akhirnya pasangan muda pun dapat merasakan penantian yang cukup mendebarkan akan datangnya si kecil buah cinta tanpa menghiraukan krisis nasional yang juga menimpa keluarga kecilnya. Benih cinta telah berkembang dan membuahkan sebuah ikatan yang akan semakin kuat dengan hadirnya si jabang bayi yang akan mewarnai keluarga muda ini. Namun krisis juga tetap berjalan sesuai kemauannya tanpa menghiraukan pula pasangan muda yang sedang menunggu lahirnya putra pertama. Kehadirannya sungguh dinantikan tidak hanya oleh kedua orang tuanya. Dunia pun sudah siap menyambutnya dengan berbagai perangainya. Termasuk krisis ini sudah memberikan salam hangat buat si kecil dengan harga-harga popok dan bedak yang harus dibeli dengan dolar. Maka lahir sajalah kau si mungil jangan pernah ragu. Tak usah kau hiraukan harga-harga yang menanjak. Biarkan dolar semakin naik dan menggilas rupiah yang semakin tak berharga. Biarlah Perusahaan-perusahaan itu 166
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey tetap mem-PHK dan memecat dengan tidak hormat karyawannya. Biarlah krisis ini tetap memaksa sang ayah jabang bayi tetap susah mencari tempat untuk melabuhkan dirinya demi memberikan segelas susu anaknya nanti. Karena semua situasi ini tak bisa dirubah dan dicegah, maka tetap saja aku kejar yang bisa kukejar. Biarkan bayi yang ada di rahim istriku itu tetap menyambutku dengan senyumnya ketika aku pulang dari menjajakan selembar ijazah SMA dan surat pengalaman kerja sebagai dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Adimnistrasi pada perusahaan photo dan video shooting yang takdirnya harus ditentukan oleh krisis yang kejam itu. Maka tak perlu engkau ragu dengan kebaikan Tuhan, Suryo. Karena tuhan maha melihat bagi orang-orang yang mau berusaha. Tuhan maha mendengar setiap doa istri yang tulus dan ikhlas mensupport suaminya dalam setiap usahanya. Pagi itu sinar mentari begitu hangatnya menyambut hari pertamaku untuk memulai lagi berkarya seperti pagi yang indah waktu itu. Waktu pertama kali aku melihat kantor baruku di photo studio dulu. Kali ini keberangkatanku ke tempat kerjaku yang baru ini tidak lagi disaksikan oleh Irwan teman kosku karena sejak menikah kami sama-sama sudah meninggalkan tempat kos bersejarah itu. Irwan pula yang lebih dulu meniti kehidupan baru dengan gadis pilihannya. Aku berjalan lebih gagah dengan dasi merah maroon melingkar di leherku. Sepeda motor Honda C-70 pun menemani keberangkatanku tanpa ragu. Dengan senyum lebar aku menyapa tetanggaku di perumahan yang belum begitu akrab. Aku datang lebih awal di kantor itu dengan menenteng tas hitam cangklong. Aku langsung menempatkan diri di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dengan kursi berderet dan siap mendapatkan briefing dan motivasi pagi dari atasan. Semua kumpul di ruang itu. Beberapa kursi masih kosong dan briefing pagipun harus dimulai tanpa menunggu karyawan yang belum datang. Budaya on time diterapkan di perusahaan itu. Karyawan telat harus mempersiapkan otot tangan dan perutnya untuk melakukan push up sebagai konsekwensinya. 167
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Motivasi dan briefing usai. Kami para karyawan baru harus siap dengan tantangan kerja paling pertama. Kami diangkut dalam sebuah kijang putih menuju sebuah perumahan cukup elit di kota itu. Kami di drop di pintu gerbang perumahan untuk bergerilya menggedor setiap pintu rumah yang memiliki prospek untuk bisa dikunjungi setelah deal dengan perjanjian kunjungan pada jam berikutnya untuk cek kebersihan rumah. Kami datang bukan sebagai petugas kebersihan dari dinas kesehatan, tapi kami mengetuk pintu rumah dengan modus/slogan bahwa kami datang untuk membantu memeriksa kebersihan rumah. Kedatangan kami disambut dengan berbagai perangai si tuan rumah. Bahkan beberapa pembantu rumah tangga tampak begitu arogan dan berkuasa sebagai wujud loyalitas pada majikannya. “Sales ya?” Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan yang menyakitkan. “Maaf Mas. Engga dulu ya.” Perempuan itu berlalu sambil menenteng sapunya. Masih bagus perempuan yang tampaknya pembantu rumah itu menolakku dengan kata ‘maaf’. Penolakan yang sangat manis. Beberapa langsung menutup korden jendelanya begitu melihat kehadiranku dengan baju putih berdasi. Aku dulu berfikir bahwa seseorang bekerja dengan memakai hem dan berdasi tampak terlihat elegan dan cool. Tapi kenapa profesi ini sungguh ditakuti oleh para penunggu rumah-rumah mewah di perumahan itu? Apa yang salah dengan dasiku? Apa yang aneh dengan pakaian rapi hitam putihku? Apakah seburuk itu profesi ini bagi para pembantu rumah tangga itu? Beberapa kali ditolak masuk rumah, semangat hari pertama kerjaku mulai melorot seperti dasiku yang juga mulai melorot. Tak sembarangan aku memilih rumah yang siap diketuk untuk membuat perjanjian bahwa aku akan datang lagi di siang atau sore hari. Berdasarkan pelajaran yang diperoleh saat motivasi pada briefing pagi, bahwa produk yang kita tawarkan adalah produk mahal, jadi kita harus jeli menilai calon konsumen. Maka, model rumah, bentuk garasi, merk dan tahun mobil, jumlah kendaraan, menjadi pertimbangan kami untuk melangkah dan mengetuk pintu. Setelah masuk ke rumah, kami tidak akan menarwarkan barang secara langsung. Tetapi kami akan terlebih dahulu meminta ijin untuk membantu bersih-bersih rumah. Sasaran 168
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey bersih-bersih rumah akan mengarah pada perabot rumah tangga yang berhubungan dengan busa, permadani, karpet, dan spring bed. Mengapa perabot rumah seperti itu yang jadi sasaran kami? Karena pekerjaan baruku ini adalah berjualan vacum cleaner. Di sinilah pekerjaanku harus berkutat dengan debu rumah tangga. Awalnya aku hanya melihat seniorku melakukan ini. Dia begitu piawai memainkan peran di dunia penjualan ini. Aku mempelajari dari setiap geraknya dalam permainan bisnis yang cukup halus. Tangannya begitu terampil membersihkan dengan menyedot semua bagian perabotan sambil mulutnya tak henti mengunggulkan produk yang sedang digunakan. Bahasanya yang lihai mampu memprovokasi si tuan rumah untuk mengarahkan pada sebuah transaksi pembelian. Dia sangat mahir mempengaruhi mindset calon konsumen untuk bisa berfikir sehat. Sehat untuk membebaskan anggota keluarga dari debu yang mengancam keselamatan anggota keluaraga. Hingga terciptanya sebuah closing. Closing adalah sebuah akhir dari kerja keras kami untuk menciptakan uang. Closing artinya Calon konsumen tertarik dengan produk kita karena mengerti betapa alat tersebut bermanfaat buat keluarga, lalu tanya- tanya harga, harga deal, dan terciptalah sebuah nota pembelian. Konsumen bayar, barang dikirim, komisi turun buat kami. Penghasilanku saat ini sangat bergantung pada butiran debu. Karena semakin banyak debu yang mampu disedot dengan alat itu, semakin konsumen ingin memilikinya. Hari pertama bekerja, keyakinanku untuk mendapatkan closing cukup kuat untuk dapat melakukan seperti seniorku yang hebat. Aku semakin optimis bahwa di sinilah aku akan dapat menyelamatkan istri dan anakku yang masih berada di rahim ibunya. Seminggu kemudian, dengan berbagai upaya dan daya aku berhasil membuat janji pertemuan untuk program bersih-bersih rumah itu. Janji bersih-bersih rumah sebagai sebuah modus untuk bisa menjual produk yang ditawarkan. Walaupun diantara mereka banyak juga yang sekedar memanfaatkan keberadaan kami untuk memang benar- benar membersihkan rumah tanpa ada basa-basi untuk menanyakan harga alatnya berapa. Karena memang di awal saat perjanjian, kita sudah mengatakan bahwa ‘kami tidak jualan’ sebagai kata kunci agar bisa masuk rumah. Maka begitu rumah mereka 169
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey dibersihkan mereka akan segera mengucapkan ‘Terimakasih, Mas. Tapi maaf, belinya lain kali saja ya.’ Aku tak boleh marah, dan tetap keluar rumah dengan senyuman ramah. Walaupun hati dan badan ini cukup lelah. Perumahan demi perumahan, hingga kota demi kota aku dan team tak mengenal yang namanya pantang menyerah untuk mendapatkan sebuah closing yang artinya mampu menjual barang dan komisi yang lumayan bisa masuk kantong. Waktu pun terus bergulir. Puluhan hingga ratusan rumah sudah diketuk dan beberapa puluh rumah sudah dapat menghirup ruangannya tanpa ada debu lagi. Lelah tak dapat disembunyikan dari kelopak mata ini yang selalu berangkat pagi hingga malam. Kelelahan istri yang sedang mengandung si jabang bayi pun begitu terlihat. Dia rela tak tidur sebelum melihat senyumku di ambang pintu ketika aku pulang kerja. Dia selalu merasa gusar untuk memastikan sang suami pulang dengan selamat dan harapan lain tentunya mampu menciptakan ‘closing’ demi sang bayi mungil di dalam perutnya. Dan catatan selama bekerja di tempat baru ini, hanya ada satu kali ‘closing’ yang mampu tercipta. Istriku tampak bersinar mendengar berita yang ditunggu- tunggu itu. Semangat kami kembali membuncah. Hari-hari berikutnya tampak lebih berwarna. Dorongan untuk bisa membahagiakan istri dan anak yang masih dalam kandungan begitu kuat. Namun bukan salah bunda mengandung kalau ternyata para calon konsumen mulai enggan dengan harga mahal. Upaya atau modus yang disampaikan bahwa alat itu bisa membuat seluruh keluarga terbebas dari virus atau bakteri yang disebabkan debu rumah tangga sudah mereka tangkap dengan baik bahwa itu hanyalah modus belaka. Kaburlah mereka dari sasaran kami. Tak kuat aku harus bertahan dengan tanpa adanya masukan dari proses penjualan. Empat bulan cukuplah bagiku untuk berpakaian rapi berdasi tanpa ada msukan yang setimpal. Semua harus kuakhiri setelah sesuatupun terjadi saat sepulang berkeliling di luar kota. Mobil yang kami tumpangi dengan empat bannya sudah tidak memiliki gerigi tergelincir menyeruak ke sawah. Kami semua bisa terselamatkan dengan sedikit memar dan lecet. Tapi trauma itu menambah ketakutan dan kecemasan istri yang 170
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey sedang hamil tua. Bukan hanya alasan itu aku harus resign dari perusahaan. Tiga bulan setelah closing yang pertama dan terakhir itu mendorong aku untuk secepatnya menggantungkan dasiku. Akhirnya aku pun gantung dasi. Aku lelah. Aku resign. 171
30 Perjuangan Masih Panjang “Bayi yang baru, seperti awal dari semua hal — keajaiban, harapan, impian dari berbagai kemungkinan.” Begitu menggugah kata-kata Eda J. Le Shan. Begitu pula kurasakan dengan kehadiran si kecil dalam keluarga baruku. Semua harapan, impian, dan kemungkinan terus tertanam di dadaku sebagai ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan. Tuhan tahu bahwa keadaan negara ini sedang kalut. Awal tahun 98 adalalah puncak dari segala kebangkrutan. Reformasi digemborkan untuk menggapai seutas harapan. Maka Tuhan mengirimkan seorang malaikat kecil agar keajaiban segera terjadi. Dan benar saja, semua berubah pada negara kecilku. Sang pangeran telah hadir untuk memberikan sebongkah semangat yang hampir pudar. Bayi laki-laki itupun kuberi nama Refo. Refo yang begitu lucu akan memprovokasi kebangkitan negara kecilku. Semua menyambut gembira dengan hadirnya Refoku. Dia begitu istimewa di mata keluargaku. Hampir semua perhatian 172
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey mereka tercurah pada Refo. Mereka sudah melupakan dolar yang sedang melambung. Mereka juga melupakan kerusuhan Mei 98 yang mampu menggulingkan singgasana sang Raja. Sampai-sampai lupa pula tentang statusku yang mengambang tanpa pegangan yang jelas. Aku menganggur saat si kecil terlahir. Tak banyak yang tahu posisiku saat ini kecuali keluargaku di desa. Mereka seperti tertusuk duri hatinya mendengar anak kebanggaannya saat ini sedang menganggur di saat yang seharusnya sangat membahagiakan. Tapi mereka tetaplah orang tua yang luar biasa karena mereka selalu men-support dan mendoakan agar aku tetap bangkit dan mendapatkan yang aku cari. Sungguh sangat sulit dalam kondisi ini untuk menawarkan ijazah yang aku miliki. Semua sedang menutup pintu untuk penambahan karyawan baru. Entah sampai kapan krisis negri ini akan pulih dan mampu memberikan lapangan kerja yang tersebar di mana-mana. Mungkin lima atau sepuluh tahun ke depan. Akan tetapi aku tak boleh lupa bahwa Tuhan memang Maha Melihat bagi umatnya yang sedang mengambang di atas daun kering. Hingga pada suatu titik yang entah di kordinat yang mana, Dia mengirimkan seseorang padaku. Dia adalah salah seorang alumni sales Top Photo yang dulu sama-sama berjuang dan sama-sama ter- PHK. Dialah seseorang yang dikirim Tuhan untuk menolongku. Aku harus bangkit dan mandiri walaupun harus dimulai dari nol. Saliman adalah seorang sales Top Photo yang luar biasa. Dia tidak mati di tempat setelah di PHK dari Top Photo. Pengalaman kerjanya sebagai sales rupanya bisa diterapkan di tempat kerjanya yang baru. Dia menjadi sales resmi Rajawalifood. Di sana dia menawarkan sesuatu yang tak terbayangkan olehku. Bukan jadi sales Rajawalifood, tapi dia memberikanku sebuah tantangan untuk berjualan produk dagangannya. Tanpa pikir panjang aku bilang ‘Yes!’ Tak ada yang lebih indah daripada menerima tantangan ini. Jiwa dagangku yang nol besar ini harus disemai di sini. Tanpa pamrih, Mas Saliman meminjamkan sepeda motornya untuk sementara aku berkeliling menjajakan produk dagangan ke toko-toko kecil untuk sekedar menumpangi 173
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey harga antara Rp. 1.000, atau Rp. 1.500, per pack. Kalau sehari aku mampu menjual 50- 100 pack, keuntungan sudah terlihat di tangan. Anak dan istriku terselamatkan. Sejak pertemuan dengan Mas Saliman, setiap pagi aku memulai hari-hariku dengan tumpukan kardus produk Rajawalifood di jok belakang sepeda motorku. Istri dan si kecil senantiasa mengantarku sampai ke depan pintu rumah dan mengucapkan ‘Sukses ya yah! Semoga laris hari ini! Semangaaat!’ Si kecil seolah-olah mengucap kata-kata doa itu. Aku hanya tersenyum dan menarik nafas dalam-dalam sambil mengayunkan kick-starter sepeda motorku. ‘Maafkan ayah, Nak, walaupun pekerjaan ini bukan merupakan cita-citaku, tapi setidaknya aku bisa melakukan sesuatu untukmu. Mudah-mudahan ini akan menjadi awal yang baik. Karena memang seperti inilah yang bisa aku lakukan saat ini. Mungkin Tuhan akan memberikan sesuatu yang lebih baik dengan harus melalui cara ini.’ Tak sadar aku pun menitikan butiran bening dari kelopak mataku yang tiba-tiba mengalir. Aku menarik nafas lagi dan kuganti dengan senyuman. Teriknya matahari tak menjadi halangan buatku. Warna kulit tubuhku yang kecoklatan sekarang semakin gelap karena sinar ultraviolet yang semakin akrab dengan tubuhku. Jalanan aspal yang memuai menjadi teman akrab sepanjang aku menjajakan produk itu. Saat ini aku lebih yakin karena barang yang aku jual sangatlah terjangkau dengan kocek masyarakat pada umumnnya. Produk snack yang memasyarakat dan semua orang tahu. Iklan TV pun membantu meningkatkan omset penjualan para sales. Tapi tentunya bukan sales omprengan sepertiku. Mungkin Mas Saliman iya karena dialah sales resmi perusahaan. Dengan pengalaman kerjaku dan ijazahku, untuk saat ini sangatlah sulit untuk bisa menjadi seperti Mas Saliman. Tak ada lowongan barang satu orang pun. Ternyata kepulanganku sangat dinanti oleh istriku di rumah. Dia selalu tersenyum setiap menyambutku pulang. Sudah menjadi tradisi, bahwa aku langsung menghitung hasil jualan hari ini. “Wah, lumayan, Mas jualan hari ini!” Dia memberiku semangat. 174
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey “Alhamdulillah, Hon. Hari ini dapat sisihan Rp. 55.000,“ Jumlah yang sangat fantastic. Sudah dikurangi uang bensin. Segitulah penghasilan bersihku hari ini. Hari-hari menelusuri jalan dan toko-toko seantero kota dan pinggir kota semakin membuatku mengerti arti perbisnisan di luar sana. Tapi bisnis skala kecil ini tak juga membuatku bekerja dengan sepenuh hati. Entah kenapa aku tetap saja tidak merasa begitu puas dengan yang sudah aku lakukan. Aku masih mengharap kerja yang menggunakan kemampuanku dalam bidang yang lebih aku sukai. Aku suka pekerjaan yang berhubungan dengan bahasa Inggris, atau hal-hal menantang yang lain yang menggunakan otakku, bukan berjualan seperti ini. Akan tetapi keadaan ini sudah memaksaku untuk bisa melewati apapun yang di depan mata. Aku tak mau berfikir terlalu jauh. Aku harus menikmati senikmat mungkin. Semua dukungan sudah diberikan sang istri dan si kecil bahwa pekerjaan apapun kalau dikerjakan dengan baik pasti akan barokah. Sudah, itu saja. Hari ini cuaca tak begitu mendukung. Cahaya langit tiba-tiba meredup dan menimbulkan gumpalan awan hitam hingga dentuman petirpun menggelegar menakutkan. Aku tak bisa kemana-mana. Padahal masih banyak tumpukan di atas sepeda motorku. “Hari ini mungkin Mas Suryo harus istirahat, Mas.” Begitu istriku menasihatiku. “Mungkin begitu, Hon. Tapi aku baru dapat keuntungan sekitar Rp. 15.000. Tadi masih banyak toko yang belum sempat aku kunjungi. Sudah hampir seminggu tidak aku tengok. Tapi ya sudahlah. Gimana lagi daripada barang-barangnya basah.” “Jangan pernah mengeluh, Mas. Tak usah ngoyo. Kan masih ada hari esok.” Istriku begitu bijak. Aku menghela nafas panjang. Hari berganti hari, hingga berganti minggu, dan bulan. Toko-toko mulai terisi sales resmi perusahaan. Mereka memberikan harga yang lebih murah. Sebagai sales tumpangan aku pun sadar diri dan mengalah. Jumlah toko yang biasa aku kunjungi mulai berkurang hingga toko-toko yang lebih kecil dengan jumlah pembelian party kecil. Ruang gerakku sebagai sales tidak resmi semakin terpepet. Omsetku menurun terus dari hari ke hari. Kadang hanya pas buat beli bensin. Aku semakin menggelepar. 175
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Demikian pun, istriku tetap mensuportku untuk terus berjualan. Namun secara bisnis, kondisi ini sudah tidak menguntungkan, bahkan bisa dikatakan rugi. Aku rugi banyak waktu, tenaga dan tentu pikiran. Aku harus ambil sikap dengan pekerjaan ini. ‘Maafkan suamimu ini, Hon! Aku belum bisa jadi suami yang kamu banggakan. Maafkan ayah nak, ayah masih harus berjuang lagi demi masa depanmu. Maafkan anakmu ini ibu, aku belum bisa membanggakan ibu, mungkin masih ada waktu untuk bisa menunjukan sesuatu padamu di sisa-sisa hidupku nanti. Aku terus menggelepar, tapi aku tetap harus bersabar. 176
31 Kabar Dari Desa Negri ini masih belum pulih dari sakitnya. Terlihat belum ada perubahan signifikan dengan bergulirnya kepemimpinan negara dengan presiden yang baru. Mungkin butuh proses pemulihan yang cukup lama. Mungkin juga butuh semangat menggelora dari para punggawa di pusat sana untuk bangkit dan berjalan lagi. Sementra aku terus berjalan di atas bumi yang aku rasakan semakin panas. Kemarau kali ini terasa lebih panas. Tak ada siraman air hujan yang mampu membasahi retakan-retakan yang diciptakan musim ini. Musim di mana aku masih berada di bawah standar garis kehidupan yang layak. Sementara si kecil Refo semakin menunjukan beberapa kebolehannya di usianya yang menginjak bulan ke 8. Untungnya dia tumbuh sehat dan normal walaupun dengan gizi seadanya. Dialah sang pengobar semangatku untuk terus menapak dan bangkit dari keterpurukan ekonomi negri kecilku ini. 177
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Aktifitasku sebagai salesman kelilingan rupanya tercium oleh keluargaku. Mereka tahu bahwa saat ini aku bukan lagi karyawan photo studio bagian administrasi, atau pun sales berdasi. Ibuku merasa terpukul mendengar berita bahwa aku menjadi sales kelilingan dengan sepeda motor yang setiap hari harus merelakan sengatan matahari di jalanan kota. Tapi sebagai seorang ibu yang bijak, dia selalu mengembangkan senyumnya yang manis mengisyaratkan bahwa, ‘teruslah berjalan anakku jangan sampai berhenti.’ Ibu sungguh mengerti keadaanku. Krisis negri ini tak hanya berdampak bagi krisis keluarga kecilku ini. Begitupun dialami serupa oleh keluarga Mba Sofi. Kakak keduaku itu sudah keluar dari pekerjaannya di Surabaya dan suaminya juga sudah tidak bekerja lagi sebagai pengelola pabrik produksi pernak-pernik kerang laut. Untuk sementara Mba Sofi tinggal bersama ibuku di desa. Suaminya, sedang mencari peruntungan dengan berbisnis kecil-kecilan di Medan. Kondisi seperti ini memang memaksa kita harus semakin bersabar. Tetapi berita dari desa dua hari yang lalu membuatku semakin tak bisa tidur. Kami dikabarkan bahwa Mba Sofi sakit. Nafasnya sesak dan kakinya bengkak. Aku shock mendengar berita ini. Tak ada kabar apapun sebelumnya. Aku merasa berdosa karena aku baru mengetahuinya. Aku menyuruh segera membawa Mba Sofi untuk berobat ke kota dan sementara tinggal di rumahku agar aku bisa mengurusnya ke dokter. Mereka mengikuti saranku dan keesokan harinya Mba Sofi dibawa ke rumahku agar lebih mudah untuk menjangkau rumah sakit. Aku sungguh tak habis pikir, kenapa kondisi kakaku begitu memprihatinkan. Selain nafasnya yang sesak, batuk yang terus menerus, juga badannya terlihat membengkak. Aku tak tahan melihat kondisinya seperti ini. Aku tak mau berfikir panjang hingga sore harinya kami mencoba untuk memeriksakan ke spesialis jantung sesuai dengan rujukan dokter puskesmas di desa. Selalu saja ada yang berbuat baik dalam keadaan seperti ini. Tetangga perumahan dengan tanpa basa-basi langsung mengantarkan kakakku dengan mobilnya. Sampailah sore itu ke klinik dokter spesialis jantung itu. 178
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey “Maaf Pak, Ibu Sofi harus di rawat di Rumah Sakit. Jantungnya bengkak. Harus ada pemeriksaan lanjutan yang lebih intensif agar dapat ditangani segera. Tapi kenapa baru dibawa sekarang ya Pak?” Dokter seperti menyalahkan kami. Kami hanya diam tak punya jawaban yang tepat kecuali bahwa kakakku jauh tinggal di desa. “Bagaimana kondisinya, Dokter? Apakah sudah parah?” tanyaku penasaran. “Belum tahu persis, Pak. Kita lihat nanti setelah ada observasi lanjutan di rumah sakit. Mudah-mudahan bisa tertangani.” Dokter tak mau menjelaskan kondisi sebenarnya. Mungkin belum saatnya. Kata-kata mudah-mudahan bisa tertangani menjadi pemikiranku. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kakakku? Dalam kecemasanku, aku terus berdoa dan menghibur kakakku, teman mainku di masa kecil. Aku masih ingat semua masa-masa bersama dia. Masa di mana dia menangis tersedu-sedu karena gagal masuk SMP. Masa di musim cengkeh tiba, masa ketika aku membantu menuliskan surat-surat cinta kakakku, masa di mana bermain mainan tradisional di desa, masa di mana dia memuji lukisan-lukisanku. Sekarang aku tak tahu harus berbuat apa melihat kondisinya yang menyedihkan. Malamnya Mba Sofi langsung dilarikan ke Rumah Sakit. Penanganan segera dilakukan tanpa ditunda sedetikpun. Namun apa yang terjadi pada kakakku sungguh tak bisa dimengerti olehku dan keluargaku. “Maaf Pak, Ibu Sofi ada masalah dengan ginjalnya.” Aku seperti ditampar tangan algojo mendengar bisikan dokter menyampaikan kabar ini. Aku shock dan tercekat. Separah inikah? Kami tak bisa berkata apa-apa lagi kecuali mengikuti saran dokter. Kakakku harus Cuci Darah. Apa itu cuci darah? Aku pernah mendengar kabar sebelumnya dari tetanggaku dulu di desa. Pak Kadir, tetangga rumah bapak, meninggal dunia setelah hanya beberapa kali cuci darah. Istilah cuci darah terdengar seperti malaikat maut mau menjemput. Aku terduduk lemah di lantai ruang rawat intensif kakakku. Aku tak berdaya membayangkan nasib kakakku kalau dia harus benar-benar cuci darah. Itu artinya, 179
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey pemikiran terburuk semakin menghantui kepalaku. Kami berusaha menawar apakah masih ada solusi lain selain cuci darah? “Maaf Pak, tak ada solusi lain selain HD,” Dokter menyebutnya HD (Hemodialisa). Istilah dalam dunia kedokteran. Apapun itu namnya cuci darah tetap bukan solusi menurut pemikiranku karena endingnya akan selalu harus menunggu keajaiban. Aku pasrah. Keluargaku pasrah dan hanya bisa berdoa dan mengikuti apa pun yang terbaik yang diperintahkan pihak rumah sakit pada akhirnya. Berapappun biayanya kami siap demi menolong kakakku. Apapun akan kami lakukan demi menyelamatkan nyawa kakakku. Kami harus berusaha dan pasrahkan usaha kami pada Tuhan. Itu yang bisa kami lakukan. Yang menjadi persoalan lain adalah saat ini suami Mba Sofi sedang berada di Medan. Bisnisnya yang juga belum seberapa terpaksa dia lakukan dan harus meninggalkan istri dan anak semata wayangnya yang masih di SD kelas 3. Kondisi sakit ini pun sang suami belum mengetahui, kami sungguh dibuat bingung bagaimana menyampaikan berita ini kepadanya. Sedangkan HD yang akan dilakukan juga harus seijin sang suami. Ya Allah, sungguh berat ujian kami saat ini. Dengan sangat berat penuh penyesalan Bang Arifin, kakak iparku akhirnya pasrah dan memberikan ijin Mba Sofi untuk cuci darah. Kami semua berharap dan berpikir positif, bahwa cuci darah inilah yang akan menyelamatkan kakakku dari kondisi ini. Sembilan hari di rumah sakit pasca cuci darah, Mba Sofi semakin memburuk. Nafas semakin sesak, dan beberapa pembuluh darah pecah hampir di seluruh tubuhnya. Kami tak tega melihat kondisi ini. Dokter sudah menyerahkan kakakku pada keluarga. Mereka masih berusaha merawat sampai sejauh kapanpun permintaan keluarga untuk merawat di rumah sakit. Di hari ke 9 ini, kemampuan berbicara Mba Sofi sudah tidak seperti biasanya. Kata-katanya sudah tidak bisa dikatakan sebagai kata-kata orang normal. Dia tampak seperti bukan orang yang sedang kesakitan. Dia tampak sehat bahkan banyak tersenyum dan bercerita. Dengan kondisi ini bukannya kami gembira, tapi justru kami semakin sedih. Rupanya kata-kata ini merupakan kata-kata yang 180
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey terakhir dari Mba Sofi. Aku lemas. Keluarga memutuskan untuk membawa kakaku pulang. Tak ada yang bisa diharapkan lagi. Dan benar juga. Beberapa jam sesampai di rumah di desa, Mba Sofi menghembuskan nafas yang terakhir. Innalillahi wa inailaihi rojiuun. Mba Sofi berpulang ke rahmatullah menyusul mba Ratni. Aku pasrah. Bapakku kolaps. Ibuku terisak namun tetap terlihat tegar sambil terus berdoa. Aku ikut berdoa di samping ibu sementara keluarga yang lain banyak yang tidak kuat menahan tangisnya pecah hingga rumah bapak penuh dengan tangisan. ‘Selamat jalan kakakku. Maafkan adikmu ini yang belum bisa membanggakanmu. Insyaallah suatu saat nanti aku bisa menunjukan sesuatu yang engkau cita-citakan. Aku berjanji akan menjadi adik kebanggaanmu walaupun Mba Sofi tidak bisa menyaksikan secara langsung. Inshaallah.” 181
32 Keputusan Gila 2 Seminggu setelah kepergian Mba Sofi, Hari-hariku masih terasa belum ada gairah untuk bekerja. Perginya kedua kakakku benar-benar membuatku banyak merenung. Mereka meninggalkan kami sama-sama di usia tigapuluhan dan sama-sama meninggalkan satu anak. Kami begitu terpukul melihat anak-anak mereka yang tidak sempat mendapatkan kasih sayang dan pendidikan ibunya hingga dewasa. Mereka berdua adalah inspirasi pendidikanku. Tanpa kedua kakakku mungkin aku tidak bisa mencapai pendidikan yang bisa aku peroleh sekarang. Merekalah wonder women-ku. Tetapi betapa kekuasaan Tuhan sungguh luar biasa. Tak ada yang mampu mengendalikan kalau Allah sudah berkehendak. Di sinilah kami harus instrospeksi diri bahwa hidup itu tidak akan selamanya. Semua akan ada masanya. Waktunya sudah ditentukan oleh sang pencipta. Kesedihan yang berkepanjangan tidak akan menyelesaikan masalah kehidupan yang semakin menantang di kemudian hari. The show must go on. Kami harus mampu bangkit. Aku pun harus bangkit dan membuka mata bahwa di luar sana masih banyak 182
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey yang harus aku selesaikan. Aku harus melanjutkan perjalanan hidupku dengan keluarga kecilku. Tumpukan produk snack Rajawalifood harus segera dijajakan ke toko-toko kecil. Aku harus mampu manuver untuk mencapai target harianku, membeli susu anakku. Namun usahaku tampak belum membuahkan hasil yang diharapkan. Pemilik toko atau warung kecil banyak yang menolak untuk membeli barang daganganku. Satu-persatu melambaikan tangan tanda menolak. Barang-barang yang aku pegang beberapa sudah mendekati kedaluarsa. Aku harus segera mengembalikan barang daganganku ke Mas Saliman. Aku banyak mengalami kerugian dibandingkan laba yang seharusnya bisa aku sisihkan untuk menukarkan dengan keperluan sehari-hari. Sebagai upaya lain, aku kadang bolak-balik ke desa untuk sekedar membawa barang- barang hasil tani seperti kelapa dan pisang. Aku tenteng setandan dua tandan pisang naik turun bis dari desa ke kota. Aku jual hasil tani tadi ke warung-warung yang membutuhkan. Hasilnya lumayan buat menambah uang dapur. Namun rupanya bisnis ini tidak efektif karena biaya transportasi tidak imbang dengan keuntungan. Sebenarnya bukan tidak untung sama sekali, tetapi keuntungan yang sedikit ini hanya habis untuk dikonsumsi dan tidak bisa untuk modal selanjutnya. Akhirnya aku menghentikan jualan hasil tani ini. Akhirnya, aku kembali ke jalan yang dulu ditempuh. Jualan snack kelilingan. Namun rupanya permasalahan belum mau hengkang dari kehidupanku. Tak hanya masalah pendapatan harianku yang menurun, tapi pertemuan dengan Mas Saliman kali ini benar-benar tak kuharapkan dan menambah tantangan lagi buatku. “Mas Sur, saya mau bicara sebentar.” Mas Saliman tampak hati-hati berbicara denganku. “Gimana Mas Salim? Kelihatannya serius banget. Ada apa nih?” Perasaanku sudah tak enak. Pasti ada sesuatu tentang bisnisku. “Em, gini Mas. Saya bener-bener minta maaf Mas Sur. Sebenarnya saya masih mau bantu mas Suryo. Tapi sekarang istriku butuh motor untu bolak-balik antar anak. Saya 183
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey bingung, Mas. Saya tahu Mas Suryo masih butuh, tapi, sekali lagi saya mohon maaf tidak bisa bantu.” Dia seperti tak berani menatap mataku. Aku terdiam sesaat. Aku berusaha menyembunyikan perasaan bingungku di hadapan Mas Salim. Aku takut dia merasa bersalah. “Iya Mas. Gapapa. Lagian saya juga sudah memakainya cukup lama. Nanti saya mau coba nyari motor lain. Tapi yang penting saya masih diberi kesempatan untuk jualan mas.” Aku sedikit memelas. Ada semacam penyesalan di wajahnya untuk menyampaikan ini. Aku yakin dia tahu persis kondisiku. Tapi apa daya dia sudah tidak bisa menolong lagi. Aku sebagai peminjam pun mesti sadar. Dia sudah banyak membantuku. Aku akui dia sudah luar biasa baiknya. “Silahkan saja Mas. Saya masih bisa stok barang di rumah. Silahkan jual sebanyak- banyaknya.” Mas Saliman sudah tampak lebih sumringah. Aku menghela nafas panjang sementara pikiranku menerawang ke arah genteng rumah Mas Saliman yang belum ada eternitnya. Aku berharap deretan genteng itu mampu memberikan gambaran di mana aku bisa menemukan solusi. Ah, ternyata tak ada apa-apa di sana. Tubuhku lunglai saat aku harus menyampaikan ini pada istriku. Lagi, istriku tetap memberikan senyuman termanisnya dikala aku sedang down. “Sabar Yah, ngga usah sedih. Pasti ada solusi.” Dia mendekat ke arahku dan memelukku dari belakang sambil mengelus-elus dadaku. Aku merasa tenang dan dapat berpikir lebih cemerlang. Ternyata pelukan istri di kala suami sedang down mampu membuat otak bekerja lebih baik. Tidak sampai sepuluh menit, tiba-tiba aku terpikir tentang salah satu saudara sepupuku yang sedang merantau jadi TKI di Taiwan. Aku mencoba peruntungan menanyakan sepeda motor saudara yang selama ini memang tidak terpakai. Alhamdulillaah dapat ide. Aku berpikir bahwa selama di Taiwan sepedamotor tidak ada yang menggunakan. Aku akan coba menanyakan perihal ini. Semoga saja sepupuku ini mengijinkan. 184
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Setidaknya akan ada sedikit sewa pinjam buat sepupuku tidaklah masalah. Keesokan harinya aku menyambangai rumah sepupuku di desa. Sungguh aku bersyukur lagi, urusan pinjam-meminjam sepeda motor lancar dan deal pun tercipta. Aku sudah tak sabar ingin mulai kembali berkeliling. Waktu berjalan terus dengan irama yang menentu. Tetapi bagiku kadang waktu berjalan tidak sesuai irama yang diharapkan. Kadang aku merasa waktu berjalan terlalu lamban, tetapi kadang terlalu cepat. Selain waktu, ada juga arah. Arah mata angin kadang tidak bisa aku tebak ke mana dia menunjuk dan kemana dia mampu membimbing langkahku untuk mencapai tujuan tertentu. Aku adalah sesosok manusia yang saat ini membutuhkan kestabilan waktu dan arah. Aku ingin hidup dan menghidupi keluargaku dengan sesuatu yang pasti. Tapi kali ini aku belum mampu. Banyak hal yang harus aku selesaikan. Dan sebagian besar masalah ada pada sumber penghasilan. Sedangkan saat ini penghasilanku dari hasil kelilingan sudah lumayan besar. Maksudnya besar pasak daripada tiang. Aku mulai memberanikan diri untuk meng-cover kebutuhan dengan cara berhutang. Ya, aku berhutang dan aku sudah salah jalan. Awalnya, dengan berhutang permasalahan terselesaikan. Tapi beberapa saat kemudian masalah baru muncul lebih berat lagi. Berhutang dalam kondisi penghasilan tidak menentu akan semakin memberatkan dan mencekik leher. Aku membutuhkan masukan lebih besar lagi untuk bisa menutup hutang yang lalu. Hutang ditutup dengan hutang. Begitu terus menerus dan kehidupan keluargaku menjadi tidak tenang dan was-was. Hari-hariku dipenuhi kecemasan. Tamu tak diundang datang ke rumah membuat hatiku berdebar. “Yah, ada tamu.” Istriku mengisyaratkan padaku untuk menemui tamu yang baru saja menghentikan sepeda motor di depan rumah. “Pak Pos, Yah.” Istriku begitu yakin setelah mengetahui sepeda motor warna oranye diparkirkan di depan rumah. “Iya, Hon. Benar. Kalau pos, pasti tagihan BTN,” kataku menduga. 185
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Aku bergegas menemui tukang pos dan aku segera meraih surat dengan kop resmi yang sudah sangat aku kenal. Dan tebakanku tidak meleset. Surat resmi dari BTN yang akhir-akhir ini selalu hinggap ke rumahku. Itu adalah wujud perhatian Bank kepada nasabahnya yang lama tidak bayar angsuran rumah. Sungguh luar biasa perhatian BTN padaku. Segera aku buka surat tersebut dan aku menangkap ada bahasa yang tidak mengenakkan pada surat tersebut. Bahkan kali ini isi suratnya lebih membuatku merinding. Apa BTN tidak tahu kondisi rakyat kecil seperti aku yang masih kesusahan cari pekerjaan dan bersusah payah berjualan kelilingan. Yah, mereka mana tahu dan mana mau tahu kesulitan rakyat. Mungkin mereka juga hanya sekedar menjalankan prosedur. Yah, prosedur untuk menekan rakyat yang tak disiplin membayar cicilan rumah. Rumah di mana saat ini ada seorang bayi yang perlu berlindung dan masih kekurangan asupan gizi. Ada nada ancaman bahwa dalam waktu dua minggu aku harus melunasi tunggakan BTN yang sudah empat bulan belum terbayarkan. Dan bahasa ancaman yang cukup membuatku berkeringat adalah bahwa rumah akan masuk ke daftar lelang. Kata-kata daftar lelang sungguh mengusikku dan membuat tak nyenyak tidurku. Bagaimana kalau pihak bank benar-benar akan melelang rumah ini? Tidak! Aku tak mau melepas rumah ini. Rumah ini adalah satu-satunya aset yang aku punya dan dialah saksi sejarah keluargaku. Aku harus bisa mempertahankan. Aku tak berani menunjukan kata-kata ‘daftar lelang’ itu pada sang istri. Aku hanya bilang; “Biasa hon, tagihan BTN.” “Terus gimana yah? Kita sudah berapa bulan menunggak?” Tanya istriku penasaran. “Empat. Empat bulan,” jawabku lirih. Berawal dari tagihan BTN, merambah ke BPR untuk menutup tagihan rumah. Dari BPR merambah ke beberapa orang yang dianggap bisa menolong dan memberikan solusi sesaat. Tetapi semakin banyak bantuan dalam bentuk pinjaman semakin menjerat 186
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey leherku. Aku tercekat dengan menumpuknya tagihan sana sini. Hingga permasalahan ini dibawa ke meja makan untuk mendapatkan solusi bersama. “Sekarang bukan saatnya kita meratapi kesulitan ini, Hon. Aku harus berani ambil resiko dan Ibu harus mendukungku.” Aku memulai pembicaraan. “Iya Yah, aku tahu. Memangnya Ayah mau kerja di mana?” Istriku penasaran. “Ayah dapat info bagus dari Depnaker. Ada lowongan pekerjaan. Gajinya lumayan. Tapi ibu harus support ayah.” “Sejak kapan sih ibu ga support ayah.” Istriku meraih tanganku. Meyakinkan bahwa dia tak pernah mengecilkan hati suami. “Lowongan keja di mana Yah?” Tanyanya mengharap jawaban cepat. “Malaysia Hon.” Aku menatap matanya. “Malaysia? Luar negri?” Hanya sampai di situ pertanyaan istriku. Lalu dia terdiam. Aku hanya mengangguk. Sungguh aku mengharap dukungan dari tatap matanya. Dia seperti ragu. Namun mataku mengisyaratkan kesungguhan itu. Setelah itu kita tak banyak bicara. “Mas Suryo serius? Mas Suryo serius mau meninggalkan aku dan Refo?” Dia menanyakan keseriusanku. “Apalagi yang bisa aku perbuat di sini? Bagaimana aku bisa menutup hutang-hutang kita? Semua perusahaan dan pertokoan sudah tak bisa menolongku lagi. Jualan sudah semakin susah. Mungkin itu jalan keluarnya. Ke luar negeri. Percayalah Hon. Kita harus bangkit. Tapi tentunya dengan pengorbanan.” Aku meyakinkan. Istriku diam lagi. Dia merenung. Aku berlalu sejenak menengok Refo yang sedang tertidur pulas di kamar. Mataku berkaca membayangkan aku harus berpisah dengannya di saat dia sedang lucu-lucunya. Di saat dia banyak berpolah. Pembicaraan berlanjut hingga larut. Seperti banyak kabut menyelimuti seluruh ruang 187
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey di rumah. Seakan pandangan kami dibatasi oleh kabut tadi. Pembicaraanpun berlanjut hingga keesokan harinya. Pada akhirnya keputusan gila pun dibuat. Aku positif akan memproses untuk bisa bekerja di Malaysia. Dukungan telah diberikan oleh kakak iparku. Dia tahu persis mengenai proses untuk bisa bekerja di luar negri karena selama beberapa waktu dia banyak membantu warga desanya yang hendak menjadi TKI di beberapa negara di luar negri seperti Taiwan, Arab, Hongkong, Singapura, dan Malaysia. Dukungan seluruh keluarga sudah aku dapatkan. Istriku dengan berat hatipun sudah memberikan lampu hijau. Semua demi masa depan keluarga. Tak ada lagi yang bisa mencegah. Aku berpikir tidak ada salahnya mencari rejeki hingga ke negeri seberang. Proses bekerja di luar negeri dimulai dari mengurus segala perlengkapan administrasi. Kakakku yang sudah mahir dalam hal ini membantuku mempercepat pengurusan surat-suratnya. Beberapa tahap harus aku lalui seperti cek medikal dan wawancara dengan PT yang akan membawaku. Aku harus ke Jakarta untuk wawancara setelah cek medikal selesai. Aku kembali ke Jakarta untuk urusan wawancara. Wawancara berjalan lancar. Pekerjaan yang ditawarkan adalah sebuah pekerjaan ringan di sebuah pabrik meubelair. Sudah terbayangkan olehku sebuah pekerjaan yang sama sekali tidak cocok dengan keahlianku. Namun kali ini aku tidak akan bicara keahlian maupun pengalaman kerja. Aku hanya butuh pekerjaan dan uang untuk menutup hutang. Pengumuman hasil wawancara tiba seminggu kemudian. Dan hasilnya, aku dinyatakan gagal. Aku gagal pergi bekerja ke Malaysia. Menurut informasi dari pihak PT, kegagalanku bukan karena hasil wawancaranya akan tetapi justru hasil cek medikalku yang menunjukan bahwa aku ada masalah dengan paru-paruku. Sebelumnya memang aku pernah berobat selama 6 bulan untuk paru-paruku yang terdeteksi kena flek. Dan ternyata flekku masih belum bersih sampai aku cek medikal ini. Aku sungguh shock. Ternyata niat baikku belum bisa terkabul. Tuhan masih menginginkan aku untuk tetap bersama-sama dengan keluarga kecilku. 188
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Entah solusi apa yang akan bisa membangkitkan perekonomian keluargaku. Aku tertunduk dan memohon kemurahan Tuhan. Tuhan sang Maha Pengatur segalanya. Tuhan sang Maha Pemberi segalanya. Aku yakin masih ada jalan. Tapi Tuhan belum beritahukan saat ini. Mungkin besok setelah matahari terbit. 189
33 Keputusan Paling Gila Pagi ini Matahari tak begitu terlihat jelas. Kabut begitu tebal mengelilingi bumi di mana aku tinggal. Tepatnya, di sekitar rumahku. Hawa dingin masih menyergap tubuh kurus ini. Aku mencoba menghangatkan diri dengan menggerak-gerakan tangan ke samping, ke belakang, dan ke atas. Lalu menarik nafas panjang dan mengeluarkan pelan-pelan lewat hidung. Aku lakukan ritual ini sebelum melakukan aktifitas fisik yang lain. Ada harapan-harapan pagi ini Tuhan akan memberitahukan kepadaku apa yang harus aku lakukan di saat kondisi ini. Hingga matahari terbit dan sepenggalah, aku belum mendapatkan cahayanya. Masih banyak awan yang menutupinya. Aku tak boleh berhenti mencari cahaya cerah itu. Cahaya yang mampu menerangi pikiranku dari segala kegelapan hidup. Cahaya itu rupanya jatuhnya di sana. Di daerah pegunungan perbatasan antara tiga kabupaten yang jauh dari kota ini. Tepatnya di desa tempatku dilahirkan. Hiruk-pikuk masyarakat yang mayoritas petani sudah tak semeriah dulu. Apalagi 190
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey kalau musim kemarau tiba. Sebagian masyarakat berpikir bahwa hasil pertanian sudah tidak seimbang dengan biaya hidup jaman sekarang. Seiring berkembangnya kesadaran masyarakat yang sudah menggeliat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Maka ketidakseimbangan ini menyebabkan masyarakat mulai menyukai pekerjaan resiko tingkat tinggi. Tapi justru pekerjaan ini banyak diminati oleh masyarakat karena memang sangat menjanjikan. Masyarakat bisa mewujudkan banyak hal termasuk cita-cita mereka untuk dapat meningkatkan taraf hidup lebih baik. Salah satunya menyekolahkan anak-anaknya. Bagaimana pekerjaan tersebut dikatakan beresiko tinggi? Pekerjaan ini dianggap beresiko karena harus dilakukan oleh para wanita, dan sebagian wanita itu adalah ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga ini harus rela mengorbankan dirinya demi keluarganya. Anak-anak bahkan bayi pun rela mereka tinggalkan. Suami-suami ditinggalkan untuk waktu yang lama, minimal dua tahun. Desa tercinta di mana mereka bercengkerama dan berkumpul dengan keluarga pun rela untuk ditinggalkan. Karena mereka harus pergi ke negeri seberang untuk menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita). Lalu apa resikonya? Banyak yang sudah terjadi. Seringnya terjadi penganiayaan terhadap pekerja wanita Indonesia. Itu terlihat mengerikan dan sering terjadi di negara tertentu. Lalu, anak-anak yang ditinggalkan di desa bagaimana? Siapa yang mengurusnya? Siapa yang mendidiknya? Mungkin neneknya atau ayahnya. Jelas ini bukan sebuah solusi dan ini beresiko bagi perkembangan psikologi anak. Lalu, bagaimana dengan para suami yang ditinggalkan? Bagaimana kalau para suami ini tidak mampu untuk setia? bukankah ini beresiko terjadi perpecahan atau perceraian? Dan rupanya resiko-resiko itu sudah mereka pikirkan. Bahkan sebagian beranggapan, hal itu tergantung pada niat dan tujuan. Sejauh niat mereka baik dan saling mempunyai komitmen yang baik pula, semua akan berjalan lancar dan dapat memenuhi harapan seperti yang dicita-citakan. Walaupun tidak sedikit yang mengalami kehancuran dari ketidakmampuan mengatasi segala tantangan yang terjadi. Ada diantara mereka, suami di kampung mencari kehangatan sendiri, begitu 191
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey pula sang istri yang di seberang juga melakukan hal yang sama. Keluarga mengetahui, dan perceraian terjadi sebelum si istri pulang kampung. Atau kejadian ini bisa salah satu pihak saja yang melakukan. Kejadian lain, sang ayah tak mampu mendidik anaknya sendiri, hingga segala kebutuhan materi dipenuhi. Anak manja, dan tidak mau sekolah. Itu hanya sepenggal cerita dan fakta yang terjadi dari resiko tinggi yang sering terjadi. Tetapi sebenarnya wanita-wanita ini sungguh mulia. Mereka mau mengorbankan perasaannya demi menggapai cita-cita keluarga yang tidak bisa dipenuhi para suaminya. Sebenarnya bukan karena mereka tidak menghormati suaminya, tetapi itu adalah pilihan terakhir dari tuntutan kehidupan yang tak bisa dipenuhi hanya tinggal di desa. Penghasilan petani yang segitu-gitu saja tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan mereka di jaman ini. Jaman telah berubah. Banyak tuntutan kebutuhan sekunder yang harus dipenuhi seperti rumah bagus, kendaraan, dan tentunya biaya pendidikan. Di pagi ini juga, aku mendapat bisikan dari sang istri. Dia sedikit bercerita mengenai orang-orang di desaku yang sukses menjadi TKW. Mereka bisa membangun rumah bagus. Mereka bisa membeli tanah. Mereka bisa punya kendaraan bagus. Mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya. Aku pun menanggapi cerita istriku dengan positif. Yah, kami ikut senang mendengar keberhasilan mereka. Padahal rata-rata dari mereka hanya berpendidikan SD. Mereka bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya. Lalu untuk apa aku bersekolah hingga SMA kalau aku tidak bisa berpenghasilan? Aku harusnya malu pada para TKW ini. Tapi masalahnya setinggi apapun lulusan para lelaki, kalau memang tak ada job untuknya ya sama saja tidak berguna. Sama seperti aku saat ini. Aku merasa tidak berguna. “Tetapi kenapa kebanyakan pekerjaan untuk perempuan ya?” tanyaku seperti bertanya pada diri sendiri sambil aku menegadah melihat langit yang mulai cerah. “Ya mungkin sesuai kebutuhan mereka, Yah. Mereka butuhnya untuk merawat bayi atau lansia, atau pekerjaan rumah, ya tentu yang dibutuhkan perempuan bukan laki- laki. Mungkin kalau dibuthkan untuk merawat kebun, atau kandang sapi, baru akan 192
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey dibutuhkan laki-laki,” jawab istriku yang tiba-tiba sudah berada di sampingku, dan ikut memandang langit. “Tapi kenapa harus kandang sapi?” tanyaku menoleh ke arah istri. “Engga, itu sih sekedar contoh saja. Mana ada sih di Taiwan atau Singapura ada orang melihara sapi di rumah? Ada-ada saja.” Istriku melemparkan senyuman. Kami berdua tertawa seolah lupa akan permasalahan keluarga yang sedang melanda. Pagi berikutnya, aku dikejutkan oleh candaan sang istri. “Yah, sini!” Istriku meraih tanganku. Saat itu aku sedang berdiri di ambang pintu hendak ke halaman rumah. Waktu itu rumahku masih ada halamannya. “Ada apa Hon?” Aku penasaran. “Yah, bagaimana kalau aku ke luar negeri saja? Aku kan lulusan SMA, pernah kuliah, dan bisa bahasa Inggris. Pasti akan lebih dibutuhkan di sana?” Aku masih diam tak menggubris. Ini mesti candaan konyol di pagi hari. “Yah, aku ngajak ngomong kok diam saja?” Istriku mulai kesal melihat aku hanya diam sambil melamun. “Eh, iya. Tadi ibu bilang apa?” Aku seperti baru sadar kalau aku diajak bicara istriku tentang kerja di luar negeri. Aku hanya berpikir kalau istriku sedang bercanda. “Aduh, ayah. Aku serius. Tolong ayah dengerin.” Dia mulai memaksaku. “Iya, iya. Tadi aku denger kok. Ibu, tadi bilang kalau ibu mau ke luar negri jadi TKW, bener kan?” “Iya, yah bener.” Istriku bersemangat. “Bener apanya?” Aku balik tanya. “Bener tadi ibu ngomong begitu.” Istriku terlihat menunggu responku selanjutnya. 193
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey “Udah, ah. Pagi-pagi kok sudah nggak jelas pembicaraannya. Sekarang yang harus dipikirkan itu bagaimana dengan masalah kita ini? Ayah harus cari kerja apa masih belum tahu.Yang jelas, untuk saat ini ayah belum bisa ndaftar lagi ke Luar negri. Ayah harus sehatkan dulu nanti kalau sudah pulih ayah akan coba mendaftar lagi.” “Udahlah yah. Ayah jangan ngotot mau ke luar negri lagi. Pengobatan paru-paru itu kan tidak sebentar. Lagian belum tentu juga ada lowongan lagi.” “Terus harus bagaimana untuk menutup hutang-hutang kita itu?” Aku dan istri hening sejenak. Otak sudah mulai panas lagi. Aku dan istri sama-sama sedang dalam pemikiran masing-masing. “Yah, tadi kan ibu sudah bilang. Bagaimana kalau ibu yang pergi ke luar negri?” “Ibu tadi serius ngomongin itu? Engga Hon. Tak mungkin.” “Yah, dengerin aku dulu. Ayah jangan emosi.” Aku mencoba berusaha tenang. “Yah, keadaan ini hanya ada satu cara yang bisa menolongnya. Aku harus ke luar negeri. Ayah harus berpikiran positif. Kalau tetangga kita di desa bisa, kenapa kita ngga bisa?” “Lalu, bagaimana dengan Refo kita? Siapa yang mau ngurus? Terus aku bagaimana?” Aku seperti kehilangan arah. “Kita bisa bicarakan dengan keluarga di desa. Pasti ada solusi. Kita tak perlu gengsi dalam keadaan seperti ini. Niat ibu baik, yah. Bukan ibu tidak menghargai ayah sebagai suami. Tapi ibu hanya ingin membantu. Siapa tahu niat baik ini di dengar Allah SWT bahwa memang inilah jalan terbaik. Percayalah Ayah. Ayah harus yakin ini akan menjadikan solusi buat kita.” Aku diam merenung. Aku pandangi wajah istriku. Aku tak tahan. Aku membayangkan kalau ini benar-benar terjadi. Sungguh sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya. 194
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Siangnya, kami bergegas ke Desa untuk menemui Bapak, Ibu dan Kakak iparku. Kami berkumpul untuk membahas niat istriku. Aku ingin melihat respon mereka seperti apa. Kakaku adalah orang bijak yang dipercaya oleh warganya sebagai pimpinan dusun di desanya. Sebagai orang desa yang sudah berpengalaman membantu dalam proses pengurusan warganya ke luar negeri mendengar hal seperti itu adalah hal biasa bagi kakak iparku. Tapi kali ini dia begitu bingung giliran dimintai pendapat adiknya sendiri. Tapi sebelum semua diputuskan, sebagai seorang kakak yang bijak, diapun menyakinkan hal ini dan berusaha meyakinkan. “Kalau memang niatmu sudah bulat, Masmu ini tinggal mendukung saja. Semua keputusan ada di kalian. Masmu tidak akan melarang tapi juga tidak menganjurkan. Karena segala apapun yang terjadi tentunya kalian yang akan menanggung. Pertanyaannya, apakah sudah dipikirkan matang-matang? Apakah ini hanya sekedar emosi sesaat? Kalian harus memikirkan akibat-akibatnya. Kalian bisa lihat sendiri banyak juga yang berhasil, tapi banyak juga yang jadi berantakan keluarganya. “Insyaallah, Mas. Aku sudah niat betul. Aku hanya ada satu niat. Ingin membantu suami, itu saja tidak lebih. Kalau hutang-hutang kami sudah beres, ya sudah. Aku pulang pun tak apa. Aku nggak ingin macam-macam Mas. Tinggal Mas Suryo saja. Kelihatannya masih berat.” Istriku merespon dengan penuh keyakinan. Sedangkan aku, masih ragu. “Aku masih mempertimbangkan banyak hal Mas.” jawabku masih belum bisa memutuskan. “Ya, udah. Kalian pulang saja dulu. Pikirkan lagi dan putuskan baik-baik berdua. Jangan memutuskan dalam keadaan emosi. Putuskanlah dalam keadaan tenang dan kesadaran yang baik. Insyaallah akan menemukan jawaban terbaik.” Kakaku menjawab dengan bijak. Dari tatapannya terlihat ada kesediah melihat nasib kami. Begitulah respon kakak iparku. Sementara Bapak dan Ibuku, hanya berpikir yang terbaik buat anak, menantu dan cucunya. Apapun yang dianggap kami baik, 195
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey lakukanlah. Selama itu memang bisa dilakukan. Genderang tinggal dipukul dan palu tinggal di ketuk. Namun kami tidak semudah itu memukul genderang dan mengetuk palu. Banyak hal yang harus dipertimbangkan termasuk bagaimana dengan anakku yang baru berumur 14 bulan. Dia masih membutuhkan ASI ibunya. Siapa yang akan mengurusnya? Bagaimana dengan pekerjaanku? Sementara yang masih bisa aku lakukan adalah berjualan kelilingan yang penghasilannya tak menentu. Bagaimana pula dengan biaya proses pemberangkatan yang tentunya tidak sedikit. Bagaimana dengan perasaan kami berdua? Itu yang paling sulit untuk dijawab. Kami masih terus berdiskusi dengan keluarga. Rupanya mereka semua sangat ingin membantu untuk memecahkan masalah kami. Biaya proses pemberangkatan akan dibantu oleh tetangga yang juga masih saudara. Ibuku bersedia membantu mengasuh si kecil Refo yang baru 14 bulan. Mereka semua mendukung niat baik istriku. Setelah semua permasalahan ter-cover, palu pun diketuk bahwa istriku akan mencoba mengikuti proses pemberangkatan ke Taiwan untuk menjadi TKW. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa. Karena proses ini pun tidaklah mudah. Tidak semua orang yang mendaftar bisa diberangkatkan. Sama seperti aku dulu. Karena faktor kesehatan, aku gagal ke Luar Negeri. Atau juga faktor lain. Aku tidak akan memaksa seandainya istriku pun gagal dalam syarat tertentu. Karena memang mungkin ini bukan menjadi jalan terbaiknya. Kita lihat saja nanti. 196
34 Perempuan Optimis Seorang pesimis adalah dia yang membuat kesulitan dalam kesempatan dan seorang optimis adalah dia yang membuat kesempatan dalam kesulitan (Harry Truman). Seperti yang pernah aku ceritakan sebelumya bahwa dia adalah sesosok wanita optimis yang pernah kukenal. Hingga menjadi pendamping hidupku saat ini, dia tetap menunjukan optimismenya dalam hal apa saja. Dan ini adalah hal luar biasa yang seharusnya tidak dia alami. Menjadi TKW tentu bukan cita-citanya. Wanita multi talent ini mestinya tidak pada posisi ini. Tetapi kehidupan telah membawanya ke jurang ini. Akan tetapi kami tetap punya harapan bahwa tidak selamanya jurang itu sebagai tempat penderitaan tapi tempat perubahan. Kami ingin berubah. Bayangan menjadi TKW terlalu mengerikan untuk didengar. Banyak pengalaman dan cerita miris menghantui kita. Namun dia tetap melangkah dengan seribu senyum demi harapan perubahan itu. 197
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Jakarta sebagai kota Ibukota Indonesia merupakan sebagai tempat awal untuk melabuhkan harapan. Karena semua proses pemberangkatan berawal dari sana. Kami memilih sebuah PT yang cukup ternama dan terpercaya untuk proses penyaluran ke luar negeri. Setidaknya kami harus yakin bahwa jasa penyalur tenaga kerja ini tidak main-main dalam berkiprah di bidang ketenaga kerjaan. Karena kami menjual tenaga kerja yang berbentuk ‘manusia’ maka mereka para penyalur tenaga kerja harus baik, memanusiakan, dan punya legalitas. Masa orientasi dan pembekalan dimulai di sebuah gedung yang menampung ratusan para Calon Tenaga kerja wanita yang rata rata sudah berkeluarga ini. Mereka bukan melupakan tanggung jawab sebagai ibu dan istri, tapi mereka lah para pejuang pembantu suami yang ikhlas demi menyelamatkan keluarga. Bagaimana tidak, masa satu bulan, dua bulan, tiga bulan, bahkan ada yang sampai 6 bulan dalam masa penantian yang tak menentu. Semua bergantung nasib masing-masing. Sempat terpikir untuk mengurungkan proses pendidikan di penampungan. Berita mengenai lamanya masa pendidikan di Jakarta membuat kami ciut nyali. Rasanya sia-sia saja. Buang banyak waktu. Bayangkan kalau 6 bulan habis untuk menunggu pemberangkatan dan terkatung-katung tanpa ada kejelasan nasib. Keluarga di rumah kian berdebar menunggu kapan pemberangkatan. Kapan masa penyiksaan ini berakhir dan berganti kebahagiaan. Tapi keoptimisan istriku berujung kemujuran. Keberuntungan pun tiba di kala hati mulai lelah. Penantian selama 3 bulan di tempat penampungan pun berakhir. Penderitaan tahap awal sudah bisa terlewati. Betapa tidak, masa-masa perjuangan di penpungan tidaklah mudah. Pembelajaran bahasa dan praktek kerja di tempa setiap hari di tempat itu. Makan dengan menu seadanya menuntut kesabaran. Berteman dengan para Ibu2 dari berbagai daerah dengan kultur budaya yang beragam membuat banyak pembelajaran. Berkumpul dengan mereka yang rata-rata lulusan sekolah dasar membuat karakter istriku menjadi semakin dewasa. Hari pengumuman pun tiba. Nama istriku masuk dalam daftar nama calon pekerja yang sudah dipilih oleh calon majikan. Artinya segera proses pemberangkatan ke 198
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey negeri kepulauan kecil di dekat samudera Pasifik, Taiwan akan terealisir. Kami yang di rumah gemetar mendengar kabar ini. “Yah, aku sudah dapat job. Alhamdulillaah. Kurang lebih 3 Hari lagi aku terbang. Inshallah.” Begitu suara istriku di telepon. Aku tak mampu berkata-kata. Apakah in kabar baik atau buruk. Dimulai tiga hari kedepan, aku butuh waktu 24 bulan lagi untuk bisa bertemu istriku. Waktu yang tidak sebentar. “Ya, Hon. Semoga proses lancar. Ayah hanya bisa menemani doa. Semoga semua ini akan menjadi awal yang baik.” Aku tak bisa ngomong lagi. Istriku menangis di telepon. Aku tak tahu persis apakah dia bahagia atau bersedih. Pasti lah bersedih. Waktu 2 tahun adalah waktu yang sangat lama. Meninggalkan aku dan si kecil Refo merupakan perjuangan luar biasa dari seorang ibu yang seharusnya menjadi tumpahan kasih sayang ànak pertamanya yang sangat menggemaskan. Tapi tekad itu sudah bulat. Walaupun perasaan tak akan bisa dibohongi. Apalagi perasaan seorang wanita. “Yah, titip Refo, ya Yah. Maafkan Ibu harus seperti ini. Mudah-mudahan semua akan baik-baik saja. Ibu yakin nasib kita akan berubah. Ayah harus optimis di rumah. Pasti akan ada sesuatu yang bisa ayah lakukan juga. Pasti akan ada masanya.” Istriku bagai obor pengobar semangat. Dia pandai motivasi dirinya juga orang lain termasuk aku. Aku pun harus yakin bahwa pintu Masa depan yang memberikan cahaya terang akan terkuak. 199
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau 35A True Story of A Life Journey Negeri Meteor Garden Langit pagi ini cerah berwarna perak. Burung raksasa itu mengangkasa meninggalkan gemuruh dan decit menembus gumpalan awan putih. Badannya yang besar panjang bersayap kokoh terus meninggi dan semakin tinggi hingga nampak satu butiran titik berwarna putih dan akhirnya menghilang dari pandangan mata. Meninggalkan Jakarta dan segala hiruk pikuknya. Meninggalkan kisah-kisah sedih para karyawan perusahaan yang terkena PHK. Meninggalkan puing-puing bekas kerusuhan dan tentunya melanjutkan kisah keluarga kecilku yang entah bagaimana endingnya. Berbagai rasa telah tercipta saat dia berada pertama kali di atas burung raksasa yang memuat ratusan orang di dalamnya itu. Mungkin mereka sudah terbiasa berada di dalam badan pesawat hingga tak nampak ada kecemasan. Begitu pun dia, seolah tak ada phobia, tak ada takut, bahkan dia terus tersenyum sepanjang perjalanan, sesekali mengingat wajah suami dan anak di rumah. Yang ada hanya semangat dan bangga mesti hanya seorang TKW. Setidaknya dia berada di dalam pesawat yang sama 200
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184
- 185
- 186
- 187
- 188
- 189
- 190
- 191
- 192
- 193
- 194
- 195
- 196
- 197
- 198
- 199
- 200
- 201
- 202
- 203
- 204
- 205
- 206
- 207
- 208
- 209
- 210
- 211
- 212
- 213
- 214
- 215
- 216
- 217
- 218
- 219
- 220
- 221
- 222
- 223
- 224
- 225
- 226
- 227
- 228
- 229
- 230
- 231
- 232
- 233
- 234
- 235
- 236
- 237
- 238
- 239
- 240
- 241
- 242
- 243
- 244
- 245
- 246
- 247
- 248
- 249
- 250
- 251
- 252