Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey dulu yang melanjutkan sekolah sampai jenjang SMA. Aku memang lebih beruntung dari teman-temanku. Danu yang anak pintar saja belum tentu bisa sekolah sampai SMA di Sumatra. Aku hanya bisa berdoa untuknya. Semoga dia bernasib baik di sana dan menjadi kebanggaan orang tua. Hingga kisah ini aku tulis, aku belum pernah mendengar kabar beritanya. Tapi benar kata pepatah bahwa manusia bisanya hanya merencanakan dan Tuhanlah yang menentukan. Dan rencanaku dengn rencana Tuhan ternyata berbeda. Karena pada suatu sore di musim kemarau itu, Tuhan mengirimkan seseorang yang mampu menghipnotisku untuk berubah pikiran dalam sekejap. Hari itu adalah hari di mana sebuah keputusan gila dibuat. Entah angin apa yang membawa dia datang ke rumah dan menghembuskan cerita menarik penuh dengan bisikan harapan yang mampu membiusku ke dalam mimpi indah. Pakde banyak bercerita mengenai majikan Mba Kus, anaknya pakde yang bekerja sebagai PRT di Tangerag. “Ya pokonya begitu Sur. Majikan si Kus itu sering menolong orang. Banyak yang sudah ditolong dan sekarang sukses. Kalau tidak salah ibunya itu pejabat penting di Dinas apa itu, P dan K kalau tak salah. Coba saja kalau kamu mau ke sana nanti Pakde coba tanyakan si Kus. Aku yakin pasti dia mau bantu kamu. Apalagi kamu sudah punya ijazah SMP. Pasti kamu bisa dibantu kerja sama majikan si Kus.” Begitu cerita Pakde yang sungguh meyakinkan. Aku begitu lemah dan tak punya sandaran kuat untuk terus melanjutkan SMA. Ada dua pilihan, menerima bantuan kakakku atau ikut coba-coba saran Pakde mencari peruntungan di kota besar dengan mengharap kebaikan majikan mba Kus. Aku begitu rapuh dan lemah saat itu. Aku tak tahu harus berbuat apa. Hingga sesuatu yang di luar nalar otak warasku tiba-tiba mencuat dan menciptakan sebuah KEPUTUSAN GILA! Cerita indah Pakdeku telah memprovokasi pikiranku. Aku lebih tergiur dengan cerita manis tentang kehebatan Jakarta. Bukan sekolah. Gila memang! Otakku yang masih 51
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey sangat labil sangat mudah terpengaruh dengan cerita pakde. Kakak-kakakku yang tadinya bersemangat tidak bisa berbuat apa-apa akan keputusanku. Satu yang ada di pikiranku, aku ingin membahagiakan orang tuaku dengan aku bekerja. Di usiaku yang baru 15 tahun aku harus pergi merantau dan meninggalkan kampung halaman dengan segala keramah-tamahannya. Membiarkan beberapa kambing piaraan bapakku. Meninggalkan saudara-saudaraku dan teman-temanku. Meninggalkan segala keinginan dan harapan untuk melanjutkan sekolah. Meninggalkan hayalanku untuk memakai seragam putih dan celana abu-bau satu tiang penuh. Tepat di hari pertama aku harus masuk sekolah, aku bertolak ke Jakarta, kota impianku. Aku seperti bermimpi lagi dan setelah aku sadar ternyata impianku untuk melanjutkan sekolah berakhir hingga di sini saja. Semacam ada sesal yang menyelinap di dadaku dan berniat untuk mengurungkan keputusan ini namun itu sullit sekali aku lakukan. Mungkin ini sudah menjadi jalan hidupku. Aku yang seolah terhipnotis oleh kejayaan Jakarta telah mampu melupakan tujuan terpentingku, sekolah. Aku berangkat dengan separuh hati. Separuh hatiku yakin aku akan berhasil di kota besar dan membuat nama harum keluarga. Separuh hatiku yang lain tetap berada di desa dan menimba ilmu di SMA dan terus menuntut ilmu seperti yang disarankan Pak Rusdi sang kepala sekolah yang mengharpkan aku terus belajar. Mataku menatap kosong ke belakang melihat desaku semakin jauh tak terlihat. Batinku menjerit dan belahan hatiku mentertawakan kekonyolan keputusanku. Tak sadar mataku meneteskan air mata ke dadaku hingga mampu membasahi dan merendam semua angan-anganku. Antara iya dan tidak. Tetapi tekadku sudah mengalahkan segala kegundahanku. Aku harus merelakan keberatan hatiku meninggalkan kampung halaman dengan berjuta mimpi dan harapan. Jakarta, ku kan datang. Keberangkatanku diiringi oleh serombongan keluarga pakde dan juga bapak ibuku yang akan menikahkan putranya di Cikampek Jawa Barat. Sebelum sampai ke Jakarta aku harus menginap 2 malam di Cikampek ikut merayakan pesta pernikahan sepupuku. 52
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Saat yang paling memilukan pun tiba. Pesta pernikahan sepupuku usai. Rombongan keluarga dan orang tuaku harus berpamitan meninggalkanku seorang diri di kota yang belum aku kenal. Rencananya besok aku akan di bawa ke Tangerang, kota tempat di mana sepupuku, Mba Kus bekerja menjadi pembantu di sana. Untuk sementara aku akan menetap di rumah majikan mba Kus, sebelum aku mendapatkan pekerjaan. Aku seperti kerbau dungu yang hanya mengikuti cambukan sang majikan hingga kemanapun tanpa tahu apa yang akan aku lakukan. Seorang anak lima belas tahun yang seharusnya hari ini bergembira dengan teman barunya di SMA. Semua seakan terasa manis. Bayangan kesuksesan terus mengikutiku. Angan-anganku untuk melanjutkan sekolah perlahan-lahan menghilang. Seiring dengungan musik pop Sunda yang mengalunkan nada-nada sendu yang mulai mengusik di pagi hari pertama aku terjaga. Suara riuh para ibu-ibu penjaja kue terpaksa membangunkan tidurku di pagi setengah buta. Ternyata rumah di mana aku bermalam adalah sebuah home industri kueh jajanan. Akupun mulai terbiasa dengan bahasa Sunda yang cukup mengoyak telinga. Apa yang akan terjadi selanjutnya aku pun tak tahu. Hanya Tuhan yang tahu aku akan dibawa ke mana. Aku begitu lelah dan pasrah. 53
9 Langit Merah Di Kota Tangerang Sepangjang perjalanan, aku melihat Jakarta begitu luar biasa megah dengan gedung-gedung tinggi seperti yang pernah aku lihat di TV. Anganku pun mulai melambung dan berkhayal; inikah negeri impianku? Kota tujuan urbanisasi terbesar di Indonesia. Semua orang pergi ke Jakarta dan sekitarnya untuk tujuan yang hampir sama_ingin meningkatkan taraf hidup. Katanya Jakarta mampu mengubah nasib buruk menjadi baik. Jakarta mampu mengubah kemelaratan menjadi kemakmuran. Jakarta juga bisa menampung tenaga kerja yang banyak baik yang berpendidikan rendah sampai tinggi seperti sepupuku yang hanya lulusan SD dan aku yang hanya lulusan SMP. Itu yang termasuk dikatakan pakdeku sebelum berangkat. Udara Jakarta sangat panas cukup membakar kulitku yang semakin hitam. Wajah penuh harap ini akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Sebuah rumah ukuran sedang 54
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey di sebuah perumahan di kawasan Cipondoh Indah Tangerang, kota tetangga Ibukota. Tempat yang sangat asing bagi seorang pemuda desa belasan tahun yang baru merambah kota besar. Kakiku serasa berat untuk menapak masuk ke rumah yang tidak terlalu besar itu. Aku harus tinggal di rumah ini. Otakku terus bekerja dan anganku melayang menerawang menembus batas-batas langit Tangerang yang cukup pekat dengan awan hitam. Kecemasan mulai menghantuiku. Aku ragu. Akankah aku merasa nyaman tinggal di sini? Apakah orang-orang di dalamnya akan menerimaku? Apakah aku bisa beradaptasi dengan mereka? Semua ada di otakku dan terus berkecamuk membayangkan sesuatu yang buruk bakal terjadi. ‘Aku harus siap!’ batinku. Semua sudah menjadi bagian dari resiko keputusanku. Di rumah itu, aku diperkenalkan pada seorang ibu pemilik rumah yang tidak lain adalah majikan Mba Kus. Ibu itu biasa dipanggil Ibu Yayah. Sesosok wanita tangguh dengan power super sebagai ibu maupun pejabat. Menurut cerita mba Kus dia adalah seorang pejabat dinas P dan K di kota Tangerang. Aku tak tahu persis jabatannya di kantor dinas tersebut tapi tampaknya orang ini cukup berpengaruh sehingga banyak tamu datang ke rumahnya. Itulah mengapa pakdeku mengajakku sampai ke sana dengan harapan aku bisa bekerja dengan bantuan bu Yayah. Seorang majikan yang katanya sangat baik terhadap mba Kus sepupuku yang jadi pembantunya cukup lama. Aku pun menaruh harapan di sana. Setelah beberapa saat di rumah itu, aku mulai mengenal seisi keluarga bu Yayah yang ternyata merupakan keluarga besar. Keluarga Bu Yayah memiliki 4 orang anak. Dari yang paling besar masih SD kelas 6, Romi, disusul Deri, Icha, dan Anti. Selain anak- anaknya yang masih kecil-kecil, ada juga seorang keponakan yang sering dipanggil Teteh. Anganku pun mulai berperang lagi. Bagaimana aku bisa tinggal di rumah seramai ini? Aku pun tidak yakin anak-anaknya serta keponakannya akan bisa menerimaku. Aku membayangkan anak-anaknya nakal dan jahil. Belum si Teteh kelihatan sangat sadis dan cerewet. Bu Yayah yang aku baru kenal juga kelihatan angkuh dan kurang bersahabat. Aku begitu canggung untuk tinggal di sini. Aku mencoba tenang dan siap 55
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey menghadapi apapun yang akan terjadi. Setelah beberapa lama hingga sore hari, aku belum melihat bapak kepala keluarga rumah ini. Ternyata setelah jam 7 malam terdengar suara becak berhenti di depan rumah. Rupanya Bapak telah pulang. Semua anak-anak berlarian menjemputnya. Seorang setengah baya sekitar limapuluhan berbadan tinggi besar dan berkumis agak tebal keluar dari becak. Aku merasa canggung, bingung dan salah tingkah. Tetapi dengan segera bu Yayah mengenalkan aku kepada sang bapak. Setelah berkenalan ternyata bapak orang yang sangat ramah dan hangat. Pikiran burukku terhadap keluarga itu ternyata salah. Mereka memperlakukan aku dengan sangat baik. Anak-anaknya yang aku pikir sebelumnya nakal-nakal, ternyata mereka sangat baik dan lucu-lucu. Teteh yang tadinya kelihatan serem dan cerewet juga tak kalah baiknya. Sungguh keluarga yang sangat baik dan terdidik. Anak- anak begitu menghormati yang lebih tua termasuk aku yang bukan apa-apanya dan berstatus menumpang. Aku sangat menikmati tinggal di keluarga pak Ramli dan bu Yayah walaupun aku harus tidur beralas tikar di ruang tamu, karena memang tidak ada ruangan tersisa dan rumah itu. Walalupun aku harus bangun sangat pagi bersamaan dengan Mba Kus untuk bersih-bersih rumah, aku merasa senang bisa melakukan hal itu. Aku berusaha bekerja sebisaku. Aku harus sadar diri bahwa aku menumpang untuk sementara waktu dan aku berharap akan ada pekerjaan yang cocok untukku di kemudian hari. Setelah menggulung tikar dan membereskan tempat tidurku di lantai, aku segera mengambil sapu lidi untuk membersihkan karpet. Kemudian menyapu dari ruang tengah sampai ruang tamu hingga beranda. Rumah itu tidak punya halaman yang cukup sehingga aku tidak perlu repot menyapunya. Setelah selesai akupun mulai mengambil alat pel dan mengepelnya. Di bagian depan rumah terdapat banyak pot bunga yang harus aku siram di pagi hari dan kadang sore hari. Itulah rutinitasku sehari-hari di rumah ini. Aku melakukan semua ini dengan senang hati sebagai balasan kebaikan mereka. 56
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Namun, hari demi hari rutinitas itu berubah menjadi sebuah kebosanan yang semakin memaksaku untuk ingin cepat-cepat keluar dari situ. Untuk mengusir kebosanan aku berkeliling perumahan dan menghentikan langkahku di tepi rawa di pinggir perumahan. Rumput-rumput air rawa menjadi pemandangan indah buatku. Hampir setiap sore aku sengaja mengunjungi tempat ini. Mereka begitu tenang walaupun sedikit mendapatkan terpaan angin. Tidak seperti aku yang gelisah. Pekerjaan yang aku dambaan belum ada kejelasan. Masjid besar di perbatasan perumahan dan kampung menjadi tempat yang sangat akrab buatku untuk mencurahkan segala rasa yang aku punya kepada Sang Pencipta. Di tempat ini pula aku pasrahkan semuanya. Aku sering menangis dan memohon jalan keluar dari kegundahan dan kebosananku. Aku sudah melewatkan masa sekolahku dengan tujuan yang belum jelas. Aku merasa sangat bodoh dan nista sekarang. Aku menyesal telah ambil keputusan keliru ini. Seperti biasanya aku berhenti sejenak sebelum masuk ke masjid. Mataku menerawang jauh ke ufuk barat. Di sana aku tampak melihat awan merah kekuningan hasil pantulan sinar mentari yang sebentar lagi tenggelam. Langit kemerahan itu sama persis dengan langit di desaku yang sering aku lihat di ufuk barat menjelang senja. Tak sadar aku menitikkan air mataku di sini. ‘Bapak, Ibu, aku ingin pulang. Aku rindu kalian. Kakak, maafkan adikmu ini. Aku tidak bisa menunjukan apa-apa padamu’. Sudah setengah bulan lebih aku tinggal di keluarga ini. Hari demi hari kulalui dengan sangat pelan dan membosankan. Setiap kali aku melihat anak-anak berpakaian putih abu-abu yang melintas di depan rumah, batinku merasa semakin teriris dan tercabik- cabik. Aku menahan marah pada diriku sendiri. Aku protes! Aku hanya manusia bodoh yang terdampar di pulau terasing yang siap menelan impianku. Suatu malam, aku mencoba keluar rumah untuk mencari hiburan. Kebetulan tetangga kampung perumahan ada yang hajatan dan menyajikan hiburan layar tancap semalam suntuk. Aku pun berangkat ditemani Mba Kus dan pembantu tetangga sebelah. Kami rombongan para pembantu berangkat nonton layar tancap dengan semangat. 57
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Lumayan bisa mengobati kegalauanku. Film pertama selesai di putar, masih berlanjut film kedua. Mba Kus dan temannya mengajakku pulang tapi aku memilih untuk melihat film kedua sampai selesai. Usai menonton film aku pun pulang sendiri dengan orang-orang kampung tetangga perumahan yang lain. Sampai di rumah, pintu sudah terkunci dan aku tidak berani membunyikan bel karena sudah terlalu malam. Aku takut keluarga pak Ramli terbangun. Akhirnya aku pun melompat pagar dan tidur di lorong emper rumah. Begitu adzan shubuh tiba aku langsung bertolak ke masjid. Habis shubuh aku pulang dan Mba Kus mulai menginterogasiku. Dia sangat menyesal aku tidak bisa masuk ke rumah dan harus tidur bersama nyamuk-nyamuk di lorong. . Setelah sekitar satu bulan aku berada di tengah-tengah keluarga Bu Yayah aku merasa aku harus cepat-cepat mengambil sikap. Aku juga merasa sangat merepotkan mereka. Kebaikan mereka semakin menjadi beban perasaanku sebagai seorang yang berstatus menumpang. Pekerjaan yang aku impikan belum sempat aku peroleh walaupun beberapa lamaran sudah aku layangkan ke beberapa pabrik di Tangerang. Rupanya kesabaranku tidak lolos uji untuk menunggu jawaban yang belum tahu batas waktunya. Mungkin aku masih terlalu kecil dan cengeng hingga aku menulis surat ke bapakku di desa untuk menjemputku. Ibu dan kakakku di rumah pun rupanya sangat menghawatirkan keberadaanku sehingga mereka sangat mendesak bapak untuk segera menjemputku pulang. Aku pun pulang dengan membawa sebongkah rasa malu. Malu pada Bapak Ibuku, Kakak-kakakku, tetanggaku dan semua orang desa. Maafkan aku Pa, Ma! Aku terlalu egois. Aku belum bisa jadi anak kebanggaanmu. 58
10 Surat Sakti Kuhirup kembali hembusan angin yang masih menerbangkan debu dan daun kering di akhir musim kemarau di desa. Tak ada yang berubah. Kegersangan dan bau panas bumi masih terasa menusuk. Ibuku begitu mengerti kalau kegersangan juga tampak di raut mukaku. Dia melihatku seperti anak gembala yang kehilangan hewan ternaknya. Rapuh dan tak tahu harus berbuat apa. Tak banyak yang bisa dilakukan di desa selain membantu orang tua mengurus kebun dan kambing. “Sudahlah Suryo, kamu harus sabar. Kamu memang masih terlalu kecil dan belum saatnya merantau,” ujar ibuku menghibur. “Katanya kamu pengin sekolah?” lanjutnya. “Aku ga tahu Ma, apakah aku masih ingin sekolah atau tidak,” jawabku masih menyembunyikan keinginanku. Sejujurnya hati kecilku terus meneriakkan bahwa aku tidak pernah berhenti bermimpi untuk sekolah. Sekolah setinggi-tingginya memang sudah menjadi impianku yang tak pernah padam. Aku tidak mau seperti kakak- kakakku. Aku ingin lebih baik dari mereka. Aku ingin merubah image orang kalau di 59
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey desaku juga ada yang sekolah lebih dari sekedar lulus SD. Aku ingin berbeda dengan anak-anak lain di desa. “Lho kok nyerah. Kamu ini bagaimana? Kan masih ada kesempatan tahun depan,” desak ibuku tetap menyemangatiku walaupun aku yakin kalau dia sendiri tak begitu yakin. Di tengah ketidakpastianku, seorang family datang menawarkanku untuk bekerja di Jakarta kembali. Dia sepupuku. Kali ini aku sudah semakin dewasa. Keinginan sekolah saat itu sudah tidak aku pikirkan terlalu serius. Aku hanya punya keyakinan di hatiku yang paling dalam bahwa di mana pun dan kapan pun kalau sudah saatnya, kesempatan itu pasti akan datang. Entah kapan. Aku tak tahu. Akhirnya aku putuskan kembali untuk ikut saudaraku bekerja di Jakarta. Kali ini aku benar-benar bekerja di Jakarta. Tanpa harus repot membuat surat lamaran maupun wawancara, aku pun langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan tepatnya pabrik yang memproduksi sabun, shampoo, dan sejenisnya. Yang aku tahu beberapa produknya diekspor ke luar negeri. Aku bekerja dan tinggal di gedung berlantai empat. Ada sekitar kurang lebih dua puluh pekerja baik laki-laki maupun perempuan. Diantara mereka rata-rata berijazah SD bahkan ada yang tidak lulus SD. Dan aku satu-satunya pekerja yang berpendidikan paling tinggi, SMP. Rupanya tingkat pendidikan tidak begitu berarti untuk bisa bekerja di sana. Bahkan mas Ana, yang juga hanya lulusan SD sudah menjadi orang kepercayaan pemilik usaha tersebut. Kami semua bekerja, makan, dan tinggal di gedung itu. Setiap hari kami bangun sangat pagi untuk bersiap-siap dan mulai aktivitas kerja jam 07.00 pagi. Jam kerja kami cukup panjang. Dari jam 07.00 kemudian berhenti istirahat jam 12.00. Jam 13.00 kami sudah harus berada di tempat kerja lagi hingga jam 17.00. Habis magrib jam 19.00 kami harus sudah siap di tempat kerja lagi hingga jam 21.00. Setelah itu kami baru bisa merasakan yang namaya istirahat. Melelahkan memang. Sebelas jam setiap hari aku bekerja dengan gaji Rp. 30.000 per bulan waktu itu. 60
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Hari Minggu merupakan hari yang dinanti-nanti. Karena satu-satunya hari libur yang kami miliki. Namun di hari minggu ini kami tidak bisa melakukan aktivitas liburan menikmati jalan-jalan kota Jakarta. Kami harus tetap berada di dalam gedung. Kami seperti ikan-ikan yang berada di aquarium atau burung piaraan yang tetap di dalam sangkar. Hanya ada satu cara untuk bisa keluar menghirup udara Jakarta. Kami harus bergiliran keluar gedung maksimal dua orang setiap kali keluar. Hal ini cukup membuat aku penasaran. Setelah aku tahu ternyata pabrik di mana aku bekerja masih berstatus illegal atau belum berijin usaha. Gila memang! Orang begitu mudahnya memiliki usaha yang produknya sudah diekspor ke luar negeri tetapi ijin usahanya belum ada. Tetapi apalah dayaku, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain harus bekerja dan bekerja. Aku tidak mau gagal yang kedua kalinya. Aku tidak boleh cengeng lagi seperti dulu. Aku harus bisa menunjukan bahwa aku bisa berhasil di Jakarta. Aku tetap bertahan. Seperti hari-hari biasanya, jam tujuh tepat kami sudah berada di ruang kerja. Ruang kerja kami berada di lantai tiga. Dimana di situ ada beberapa meja panjang dan kursi - kursi tempat duduk kami untuk beraktifitas layaknya sebuah tempat makan perasmanan di bedeng tentara yang sedang latihan perang. Di depan tempat duduk kami sudah tersedia tumpukan kertas label shampoo dan botol kertas yang dilapisi aluminium voil yang siap di tempel dengan label kertas secara manual. Tugasku adalah menempel label-label tadi di botol berbentuk tabung lurus yang masih polos dan sudah berisi shampoo. Aku harus mengerjakan dengan sangat hati-hati karena kalau menceng sedikit artinya kerjaku akan dinilai kurang teliti. Kerja kami tidak luput daripengawasan Koh Achin yang berwajah garang dan pelit senyum. Walaupun tidak memakai kekerasan fisik kadang kata-katanya sering membuat kami sakit hati dan mengumpat di waktu istirahat. Kerja kami dibagi menjadi dua bagian. Di bagian lain di lantai dua, beberapa temanku ada yang siap membungkus sabun-sabun dengan kertas label sabun yang tersedia. Sabun yang kami kemas dengan label itu bentuknya bulat pipih seperti gula merah dan katanya harganya sangat mahal. Kami juga tidak tahu di mana sabun-sabun itu 61
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey diproduksi. Saat yang paling melelahkan dan menyebalkan di mana kami harus membuat shampoo. Pekerjaan ini sering dilakukan di tengah malam hari di mana kami sedang mengantuk setelah lelah bekerja seharian hingga malam. Walaupun pekerjaan ini dikerjakan beberapa malam sekali tetapi ini sangat menyiksa. Kami harus bergelut dengan beberapa bahan shampaoo dan zat kimia yang harus diaduk menjadi satu di sebuah drum besar. Tugas kami adalah mengaduk dengan kayu besar hingga rata sesuai aturan yang tepat. Karena kelelahan di malam hari, pekerjaan mengelem dan menempel sering terjadi kesalahan. Mata lelah kami tidak bisa menahan kantuk. Di situlah kami menjadi bahan kemarahan Koh Achin. Saat yang paling menyebalkan. Kalau saja badanku cukup besar ingin rasanya kutonjok dia hingga terkapar. Hingga pada suatu sore, saudara sepupuku yang baru pulang dari kampung membawakan sepucuk surat dari Bapak di desa. Aku segera membuka amplop karena rasa kangen yang sudah tak tertahankan. Aku pun senyum-senyum sendiri membaca surat itu. Namun ada sebuah kalimat yang cukup membuatku merinding. ‘Suryo, kamu harus segera pulang, Bapak sudah daftarkan kamu di SMA, kamu harus sekolah lagi, Suryo.” Aku melanjutkan kata-kata bapak yang sangat membuatku tak percaya dan tak sadar menitikkan air mata. Belakangan aku tahu bapakku telah di semprot habis- habisan oleh salah seorang saudara di desa karena telah membiarkan anak laki-laki satu-satunya bekerja di Jakarta hanya menjadi buruh pabrik. “Anakmu itu anak pinter, Mar. Kamu kok tega membiarkan anak laki-lakimu kerja di pabrik. Anakmu harus sekolah. Mau jadi apa kalau cuma kerja di pabrik seperti itu. Sekolah dulu baru nanti bisa bersaing di dunia kerja yang lebih baik. Kamu harus mewarisi anakmu pendidikan yang baik. Lihat saja anak-anak desa sini yang lain kan pada ga sekolah ya pekerjaan mereka itu-itu saja. Mestinya kamu berfikir beda, Mar. Suryo itu beda dengan anak desa yang lain. Dia itu tak cocok bekerja pakai otot. Dia itu pemikir. Dia itu suka belajar. Masa Bapaknya nggak bisa mengerti anaknya sendiri.” Begitulah kata-kata saudara bapak yang lebih tua menasehati bapakku. Bapakku tertunduk dan berfikir. Segera setelah itu bapak pun menuliskan surat sakti 62
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey yang sedang aku baca saat ini. “Udahlah Sur. Pulanglah segera! Memang tempat kamu bukan di sini. Kamu harus sekolah lagi. Raihlah mimpimu. Cepatlah kamu kemas pakaianmu dan segera pamitan bos. Aku yakin bos akan maklum karena kamu akan lanjut sekolah,” kata Atmo teman terbaikku. Dia begitu senang dan terharu ketika aku memberikan surat bapak kepadanya. Dia pun membaca suratnya dan mengerti. “Kamu beruntung, Sur, bisa sekolah tinggi. Kamu pasti akan jadi orang sukses. Cukup kita saja yang seperti ini.” Mas Ana menambahkan doa terbaiknya. Membuat air mataku kian jatuh tak tertahankan. Mereka memang teman-teman seperjuanganku yang sangat baik. Aku hanya berfikir semoga mereka mendapatkan kesuksesan walaupun tanpa harus bersekolah tinggi. Mereka orang-orang rajin yang akan mendapatkan balasan dari keuletannya bekerja. Aku pun pulang dan melanjutkan sekolah. Sekolah SMA. Putih abu-abu akhirnya bisa kupakai juga. Danu, apakah kau di sana juga sekolah SMA? 63
11 Menyambut Gembira Senyum gembira tampak di raut wajah kakak-kakakku begitu melihatku telah kembali menjadi seorang yang berstatus pelajar SMA. Mba Harti dan Mba Ratni begitu antusias melihatku berpakaian putih abu-abu. Senyum tulusnya selalu mengembang ketika melihatku berkutat dengan buku-buku pelajaran. Terlebih ketika melihatku melantunkan lagu berbahasa Inggris. Terpancar begitu bening dari tatapan matanya kalau mereka sangat bangga terhadap adiknya. Sementara Mba Sofi yang sedang berada di perantauan pun segera berkirim surat begitu mendengar kabar adik lelakinya telah bersekolah di SMA. Akhirnya semua angan-angan dan cita-citanya untuk bisa menyaksikanku bersekolah hingga SMA terwujud. Dia sudah cukup puas mendengar berita adiknya dapat bersekolah lanjut. Rupanya tak hanya ketiga kakakku yang menyaksikan keceriaan alam semesta ini. Setiap kali aku bertemu teman-teman seangkatan SD ku juga selalu menyampaikan doa-doa terbaiknya. 64
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey “Senang ya Sur, kamu bisa sekolah. Sukses ya.” Begitulah doa mereka. Tulus. “Kalau sudah sukses jangan lupakan aku ya Sur!” Begitulah harapan mereka. “Suryo, aku iri lho. Seandainya saja orang tuaku sebaik orang tuamu,” Begitulah hayalan mereka. Semua berdoa. Semua berharap. Semua berandai-andai. Itu adalah konsekwensi dari pemahaman masyarakat sana di kala itu. Pendidikan menjadikan sesuatu yang luar biasa ketika seseorang dapat meraihnya. Sebagian besar hambatannya sebenarnya bukan pada faktor perekenomian masyarakat saja tetapi lebih kepada pemahaman masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Tak hanya pada kalangan manusia saja aku berbagi kegembiraan. Aku pun menyempatkan diri untuk menengok kambing-kambingku di belakang rumah sebelum aku sempat mengganti pakaian putih abu-abuku. Tak ada maksud untuk pamer pada mereka tetapi mereka pun paham akan kegembiraanku bisa bersekolah lagi. Dengan spontan, 3 ekor kambing yang tersisa di kandang langsung menyambutku dengan teriakan-terikakan kegembiraan. Seandainya saja mereka bisa bicara pasti kalimatnya akan seperti ini, “Wah, kamu sekarang hebat ya Sur! Sudah jadi pelajar. Jangan lupakan aku ya Sur! Jangan mentang-mentang sudah jadi pelajar SMA nanti tidak mau lagi kunjungi kita-kita di sini. Mbeee...!” Aku senyum-senyum sendiri membayangkan mereka berkata begitu. Akupun semakin mendekati mereka dan mereka mengeraskan volume suaranya. Wah, mereka semakin bersemangat menyambutku sebagai pelajar SMA. Hingga aku sedikit ketakutan karena suara kambing-kambing itu bertambah rame dan tak dapat dihentikan. “Sur! Suryo! Kamu apain kambing-kambing itu?” Sebuah teriakan yang tak asing adalah teriakan bapakku. Aku gelagapan. “Engga Pa. Suryo nggak ngapa-ngapain, kok.” Aku balas teriak. “Kamu ini gimana sih, masih pakai seragam sekolah, ke kandang kambing. Ya pantesan kambing-kambing itu berisik. Mereka kan lagi kelaparan. Kalau ada orang datang 65
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey pastilah ngembee terus. Cepetan balik ke rumah ganti baju trus, cari pakan kambing! Cepetan ya! Nanti keburu gelap!” Aku sudah salah sangka. Aku pikir kambing- kambing itu sedang menyambut gembira karena aku pakai seragam SMA, ternyata mereka sedang kelaparan. Betapa kegembiraan ini tak terkendali sehingga siapapun yang melihatku tampak gembira dan menyambutku. Aku sedang di luar batas luapan kebahagiaan saat itu. Aku sungguh bersyukur ini bisa terjadi padaku. Sekolah dan sekolah lagi. Hari demi hari aktifitas sekolahku berjalan lancar. Jarak dari rumah tak jadi masalah buatku untuk tetap semangat menempuh kiloan meter dengan berjalan kaki menuju SMA tercintaku. Hinga akhirnya sesuatupun harus terjadi. Pagi itu aku terciduk oleh mba Ratni kakak keduaku karena aku ketahuan membolos sekolah. Bukan pemandangan biasa bagi kakakku menyaksikan aku tidak berangkat sekolah. Dia begitu khawatir melihatku yang masih duduk terdiam membisu di bibir tempat tidur. “Suryo, kok kamu masih di rumah. Kamu sakit? Kenapa tidak berangkat sekolah?” Sapanya penuh keheranan. “Engga Mba. Suryo ga papa. Baik-baik saja,” jawabku datar saja. “Terus kenapa ga berangkat sekolah?” Dia keheranan. “Gapapa Mba, lagi males saja,” jawabku sekenanya. Antara bingung dan takut mengecewakan kakakku. Karena dialah yang sering mensupport biaya pendidikanku, termasuk uang jajan dan uang sekolah. “Tapi kamu biasanya ga begini. Biasanya kamu rajin berangkat sekolah.” Kakakku masih tidak percaya. Kakakku semakin mendesakku dan aku pun tak kuasa berbuat apa-apa selain mengatakan yang sejujurnya. Aku bangkit dari tempat di mana aku duduk kemudian mengambil sepatuku. Mba Ratni terkejut melihat sepatuku yang sudah menganga 66
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey seperti mulut buaya. “Oh, ini to, penyebabnya! Kenapa kamu ga bilang sama Bapak atau Mama. Kamu ngga boleh diam saja. Apapun kebutuhan kamu, kamu harus bilang. Bapak pasti akan mengusahakan.” tambah kakakku kecewa melihat sikapku. Ada sedikit penyesalan dari semua kegembiraanku di awal masuk SMA. Aku baru sadar bahwa selama perjalanan berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki, aku sering bermain tendang batu di jalan dengan teman-temanku. Karena lelahnya dan untuk mengusir kebosanan selama berjalan kaki, kami pulang sambil berkelakar dan bermain sepak bola batu yang keluar dan mencuat dari jalan aspal yang sudah mulai berlubang di sana-sini. Alhasil, sepatu ‘Dragonfly’ KW 3 itu mengelupas semua lemnya. Aku jadi malu sama kakakku karena aku tak bilang jujur mengenai penyebab rusaknya sepatu itu. Tak terpikirkan olehku, besok paginya aku sudah berangkat sekolah dengan gagahnya memakai sepatu baru. Sepatu pemberian kakakku. Dia kakak superheroku. Kakak pejuang pendidikan untuk adiknya.’ Sampai kapanpun aku tak akan melupakan jasamu, Kak!’ Maafkan aku telah mengecewakan kamu. 67
12 SMA 24 Awal Agustus 1990 aku kembali datang di sebuah SMA ternama yang dulu pernah aku daftar. Satu-satunya SMA di kota kecamatanku. Namanya SMA 24. Mengapa orang-orang bahkan siswanya sendiri menyebutnya SMA 24. Nama itu kedengarannya cukup menggelikan karena mirip nama sekolahan di Jakarta sana. SMA 24 yang dimaksud karena sekolah tersebut pembelajarannya dimulai dari jam 2 dan berakhir pada jam 4. Pembelajarann dilaksanakan sore hari. Sebenarnya jam belajar dimulai jam 1 dan selesai jam 5. Tetapi karena kondisi guru-gurunya yang sebagian besar adalah guru SMP dan guru SD sekitar sehingga mereka harus menyelesaikan tugas-tugas di sekolahnya masing-masing dahulu lalu baru melaksanakan tugas berikutnya di SMA 24. Pembelajaran saat itu sering molor dan tidak jarang pembelajaran dimulai sekitar jam dua. Kami juga sering membubarkan sekolah sebelum waktunya karena alasan 68
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey tertentu misalnya guru terpaksa tidak datang atau cuaca buruk seperti hujan lebat. Alasan lain juga memungkinkan sekolah untuk dipulangkan lebih awal karena kami tidak cukup penerangan, sehingga jika sudah mendekati jam 5 apalagi kalau hari hujan dan mendung hingga ruangan tak lagi dapat berfungsi untuk belajar. Sudah pantas kalau orang sekitar dan bahkan siswanya sendiri menyebutnya SMA 24. Akan tetapi juga karena sebagian mereka memandang sebelah mata terhadap keberadaan sekolah tersebut. Aku tak peduli dengan istilah apapun dengan sekolah tercintaku karena untuk sampai di SMA ini saja sudah merupakan perjuangan dan kebanggaan tiada tara. Siang itu aku dipertemukan dengan pak Joni untuk urusan administrasi. Dia adalah guru seni musik di sekolah itu. Setelah urusan dengan pak Joni selesai, aku disuruh menghadap seorang yang berbadan cukup besar, berkumis tebal, dan tampak berwibawa. Dia adalah kepala sekolah SMA tersebut. Dia mengucapkan selamat datang dan selamat belajajar di SMA ini. Lalu aku diantar ke sebuah gedung di mana di bagian depan ada papan tertulis SD Negeri 3 Gumelar. Dengan mengenakan seragam kebanggaanku, abu-abu putih yang aku impikan semenjak dulu dan pernah aku tangisi sewaktu di Jakarta, aku harus melangkah menuju sebuah ruangan di gedung SD ini. Langkahku tetap tegap dan mantap karena niatku sudah bulat penuh untuk sekolah. SMA tercintaku hanya memiliki dua gedung dan terdiri dari 3 ruang. Yang satu gedung berukuran sekitar 6 x 9 m2 yang disekat-sekat menjadi ruang guru sekaligus ruang tamu dan ruang TU, ruang keapala sekolah, dan perpustakaan. Gedung kedua lebih besar terdiri dari 2 ruang kelas. Karena minimnya jumlah ruang kelas, terpaksa kami harus belajar di ruang kelas SD dan SMP yang ada di kompleks sekolah tersebut. Tidak ada sarana pendukung yang memadai layaknya sekolah sekolah SMA jaman now. Kami juga tidak pernah melakukan praktek biologi maupun kimia. Karena memang kami tidak memiliki laboratorium selayaknya sekolah yang memiliki standar sarana dan prasarana. Kami juga jarang praktek olah raga walaupun ada lapangan yang cukup lebar di dekat sekolah, tepatnya sebelah pasar, tetapi waktu untuk kegiatan olah raga 69
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey pun hampir tidak ada. Kami juga tidak pernah ada kegiatan ekstra seperti sekolah- sekolah lain. Tapi semangatku untuk belajar tak pernah surut walaupun dengan kondisi sekolah kami seperti itu. Hari pertama aku masuk SMA proses pembelajaran sudah berlangsung selama 16 hari. Jumlah siswa di kelas satu berjumlah 32 orang. Setelah berkenalan dengan teman di kelasku, aku cukup kaget, karena dua diantara siswa kelas satu ada dua teman SMP ku yang ternyata baru masuk SMA juga. Memang SMA ku itu banyak menampung anak- anak yang tidak sempat masuk SMA begitu lulus dari SMP seperti aku. Proses pembelajaran di kelas satu secara umum berjalan lancar dan tidak ada masalah buatku. Di semester pertama aku sempat mendapatkan peringkat yang lumayan. Perasaan bangga dan senang aku rasakan. Tetapi aku merasa belum menemukan sesuatu yang dapat membangkitkan motivasiku untuk belajar pelajaran favoritku, bahasa Inggris. Perpustakaan pun kurang memenuhi kebutuhan siswa untuk membaca apalagi buku-bukunya yang hanya terbatas dengan buku-buku paket dan buku pelajaran. Membosankan! Guru bahasa Inggrisku, terus terang kurang dapat memberiku motivasi. Akhirnya aku pun belajar apa adanya tanpa semangat yang membara. Di semester dua, aku baru mereasakan adanya persaingan belajar. Di mana Bahasa Inggris menjadi pelajaran favoritku. Tetapi aku belum menemukan sesuatu yang membangkitkanku kecuali seorang temanku. Dia, teman sekelasku. Namanya mengingatkanku pada Kepala Sekolah SD-ku dulu, Rusdi. Rusdi yang berbadan agak gempal dan tidak terlalu tinggi ini terkenal cerdas dan tentunya jago dalam semua mata pelajaran termasuk Bahsa Inggris. Aku tak peduli dengan nilai matematikanya tetapi dalam berbahasa Inggris aku harus lebih hebat dari dia. Itu sudah menjadi komitmenku. Tetapi fakta membuktikan bahwa dia memang lebih hebat dari aku. Suatu hari aku pernah dibuatnya malu mungkin karena aku yang sok pinter di depannya. Entah kenapa aku tiba-tiba ingin menunjukan bahwa aku juga bisa berbahasa Inggris. Itulah jeleknya aku. Waktu itu di jam istirahat aku, Rusdi, dan teman-teman lain sedang 70
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey santai dan kongkow di emperan sekolah. Tiba-tiba saja aku menyahuti pembicaraan mereka dengan berlagak pakai bahasa Inggris. Namun naas aku saat itu mengucapkan bahasa Inggris yang salah dan fatal. ”You is my friend.” kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulutku. Gubrag! Aku pun tak tahu dan tak menyangka kalau bahasa Inggrisku salah. Teman lain tak ada yang menghiraukan bahasa Inggrisku kecuali Rusdi seorang. ‘You are my friend’. Spontan Rusdi yang pandai dalam pelajaran bahasa Inggris langsung merespon. Rusdi meralatnya dengan tulus. Tapi aku merasa malu dengan ketulusannya. Aku seperti ditelanjangi di muka umum. Ternyata tidak mudah menerima kritikan dari orang lain. Aku saja yang baper. Maksud hati ingin sedikit pamer, tapi apa daya belum banyak bekal. Aku belum cukup ilmu untuk bisa menandingi Rusdi. Aku yang belum siap untuk show up. yang maksimal. ‘Makanya Suryo, Jangan belagu! Kalau belum tahu jangan nggaya dulu,’ kataku dalam hati saja. Setelah menahan malu yang tak tertahankan, hatiku terasa terbakar. Keinginan dan kesukaanku terhadap bahasa Inggris mulai membara. Api di dadaku berkobar-kobar hingga mampu menghanguskan semua buku-buku yang ada di perpustakaan. Keesokan harinya aku lari ke perpustakaan dan langsung aku meminjam tiga buku bahasa Inggris sekaligus. Aku lahap semua isi buku grammar bahasa Inggris. Aku catat semua kosa kata baru yang ada di buku bacaan yang aku pinjam. Siang malam aku hafalkan hingga semua hafal di luar kepala. Maksudnya tak satu katapun yang aku ingat. Perjuanganku tidak berhenti sampai di situ. Buku-buku bahasa Inggris SMP ku juga menjadi sasaran emosiku. Setelah kutemukan beberapa yang tersisa, semua aku lahap dengan penuh nafsu. Kliping yang pernah kubuat dari hasil sobek sana sobek sini berhasil aku temukan dan menjadi mahakaryaku yang sangat membantu menelorkan aku menjadi siswa yang dikenal dengan bahasa Inggrisnya. Di kelas dua, aku benar-benar menjadi the best of English. Apalagi di kelas ini aku telah menemukan seorang guru bahasa Inggris yang benar-benar menjadi idolaku. Dia adalah Mr. Iskandar. Pertama kali aku tahu, ketika itu masih di kelas satu. Pada saat 71
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey pelajaran bahasa Inggris di kelas sebelah (kelas dua), aku diam-diam memperhatikan guru itu sedang berbicara bahasa Inggris dari ruang sebelah. Aku begitu terkesima dan tak percaya. Bahasa Inggrisnya benar-benar cool dengan intonasi dan accent British yang kental. Aku suka sekali bahasa Inggrisnya. Sayangnya aku tidak diajar dia waktu kelas satu. Di kelas dua ini aku benar-benar mendapatkan motivatorku untuk belajar bahasa inggris. Mr. Iskandar, you’re the man I am looking for. Banyak hal yang berubah setelah bertemu Mr. Iskandar. Semangat belajarku menggila. Hampir semua guru mengenalku karena aku cukup mampu berbahasa Inggris. Pak Dito yang guru Biologi, sempat membawaku ke rumahnya untuk menjadi tentor bahasa Inggris anak-anak SMP tetangganya. Sungguh merupakan penghargaan tak terhingga buatku. Aku dipercaya guruku untuk memberikan les bahasa Inggris. Sekolahku begitu sederhana dan nyata. Tidak banyak peraturan dan tata tertib dibuat oleh sekolah itu. Tak banyak tuntutan dari orang tua untuk mendapatkan pendidikan yang lebih dari guru di sekolah itu. Tak ada ancaman maupun kekerasan. Walaupun masih serba kekurangan, kami terus berjalan diantara semangat dan kebersamaan. Semua orang tua percaya apapun yang diberikan para guru adalah hal baik untuk putra-putrinya. Sama pula dengan orang tuaku. Mereka tidak pernah menuntut macam-macam dari sekolah. Mereka hanya berfikir anakku sedang belajar dan menuntut ilmu di SMA yang diidam-idamkan semua orang desa. Dengan begitupun keberadaan sekolahku, ketika aku pulang ke rumah aku sudah dianggap intelktual oleh teman-teman, para tetangga dan juga saudaraku. Mereka banyak memberikan big applause buatku. Satu hal lagi yang tak dapat aku lupakan dari momen di SMA 24. Di akhir sekolah, aku dipercaya oleh guru idolaku, Mr. Iskandar untuk berpidato dalam bahasa Inggris. Aku tak percaya mendapat tantangan untuk berpidato di depan guru, orang tua, dan siswa saat acara perpisahan SMA. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Aku berpidato dengan lantang di depan mereka. Aku melihat semua yang ada di depanku saat itu diam dan semua mata menatapku. Aku pun melihat wajah ibuku berkaca-kaca 72
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey menyaksikan anaknya yang hampir putus sekolah mampu berpidato dalam bahasa Inggris dengan lancar. Awalnya aku kikuk namun aku mampu menguasai diri dan tampil memukau dan mendapat tepuk tangan riuh ketika aku selesai pidato. Sebenarnya aku tak yakin kalau mereka mengerti apa yang aku sampaikan dalam pidato itu dan itu tak penting. Mereka hanya melihat dari sisi keberanian dan kemampuanku itu sudah menjadikan kebanggaan buat mereka. 73
13 Berpulangnya Pahlawan Pendidikan Keluargaku Aku sungguh merasakan bahwa hidupku begitu berarti. Ketiga kakakku cukup mengenyam pendidikan dasar 6 tahun saja. Mereka sudah cukup bahagia dengan melihatku bisa bersekolah hingga SMA. Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi keluargaku bahwa salah seorang anaknya ada yang bersekolah tinggi. Sekolah SMA merupakan kebanggaan bagi siapa saja di desaku saat itu. Aku bangga pada orang tuaku dan kakak-kakakku. Mereka begitu mendukungku untuk terus sekolah dan maju. Aku merasa akulah sang pangeran di keluargaku yang selalu mendapatkan keistimewaan. Keistimewaan untuk mendapatkan pendidikan yang cukup. 74
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Adalah kakak keduaku yang mendukung biaya pendidikanku. Karena secara materi dialah yang paling mampu saat itu. Hampir semua kebutuhan belajarku dipenuhi oleh kakak keduaku hingga aku mencapai kelas tiga SMA. Perhatian tentang pendidikan dia curahkan sepenuhnya pada adik lelaki satu-satunya ini. Sedangkan kakak pertamaku saat itu, sedang mengalami krisis ekonomi yang lumayan. Bisnis suaminya banyak kegagalan hingga menyisakan hutang di mana-mana. Akhirnya kakak memutuskan untuk mencoba peruntungan untuk menjadi TKW di Singapura. Saat itu kakak sedang dalam proses pendidikan di penampungan Jakarta dan dipersiapkan untuk menjadi TKW sambil menunggu proses pemberangkatan. Kakak ketigaku, Mba Sofi, yang dulu pernah aku bantu dalam menuliskan surat-surat penolakan pada para lelaki yang menginginkan jadi teman baiknya, ternyata tidak memilih salah satupun lelaki dari desa sendiri. Selama perjalanan di kota, dia terpaut hatinya dengan pemuda Medan yang katanya keturunan tiga suku yaitu Batak, Jawa, dan Tionghoa dan berakhir pada pernikahan yang awalnya tidak disetujui bapak. Tapi apa boleh buat. Mba Sofi memegang teguh pendirian akan pilihannya sendiri. Cukup dengan kekecewaan sekali saja yaitu tidak bisa lanjut sekolah, sedangkan urusan jodoh dia mau menentukan sendiri. Aku salut sama mba Sofi. Kembali ke kakak keduaku, mba Ratni. Dia juga sesosok wanita kuat. Usaha warung kelontongnya begitu sukses. Jiwanya yang optimis dan rajin dalam beribadah membuatnya selalu dalam kebahagiaan. Mba Ratni banyak membantu orang lain yang kesusahan. Soal pendidikan dia sangat peduli. Apalagi sama adik laki-laki satu-satunya. Kebahagiaan selalu terpancar dari matanya setiap kali aku bercerita tentang hal-hal baru yang aku dapatkan dari sekolah. Dia terlihat begitu senang ketika mendengar aku bisa menyanyikan sebuah lagu dalam bahasa Inggris. Dia selalu menyimaknya dan berusaha mengikuti nada-nadanya walaupun suaranya tetap saja fals. Karena faktanya, di keluarga kami, dialah yang paling tidak bisa menyanyi dan dia cukup menyadarinya. Dia juga sangat mengagumiku ketika aku melukis walaupun lukisanku tergolong ala kadarnya. Dia juga suka minta dibacakan cerpen-cerpenku di sela-sela 75
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey kesibukannya. Apapun yang aku lakukan yang berhubungan dengan pendidikan dan hobi, dia selalu berada di belakangku untuk memberiku semangat. ‘One Moment in Time’ suatu sore berkumandang di layar TVRI. Aku begitu terkesima mendengar lagu itu dan aku pun berusaha untuk mengikuti nyanyian lagu yang pertama kali aku dengar itu. Suara Withney Houston memang mampu menggelorakan perasaan siapapun yang mendengarnya. Kakakku pun merasa begitu gembira melihatku ikut bernyanyi lagu bahasa Inggris tersebut walaupun dia sama sekali tidak mengerti arti nyanyian berbahasa Inggris. Jangankan mengerti arti lagu bahasa Inggris, mendengarkan saja dia jarang. Seperti biasa, aku melakukan beberapa aktivitas pagi sebelum berangkat sekolah. Dan pagi itu begitu memukau dengan sinar kemerahan mentari pagi yang menghangatkan desaku yang berbukit-bukit. Aku cukup banyak waktu untuk melakukan ini itu demi sedikit membantu orang tuaku sebelum beranjak ke Sekolah. Sekolahku masuk jam 13.00 WIB, walaupun kadang sering telat. Kalau tidak ada kegiatan khusus di kebun, aku kadang hanya melingkar di kamar menghabiskan cat air atau menulis cerpen. Tapi pagi itu bapak berencana akan memanen singkong di kebun dekat perbatasan hutan pinus. Aku pun ikut mempersiapkan diri membantu bapak semampuku. Jarak dari rumah ke kebun lumayan jauh sekitar empat kilometer dan kami biasa menempuhnya dengan berjalan kaki. Kami berdua tidak pergi bersamaan, karena Bapak mesti ada keperluan lain hingga harus berangkat lebih awal dan aku menyusul kemudian. Baru sekitar limaratus meter aku beranjak dari rumah menuju kebun, aku dikagetkan oleh seseorang yang memanggil namaku dari atas ojek motor. Aku menoleh dan ternyata kakak keduaku melintas menaiki ojek melambaikan tangan dan tersenyum padaku dengan riangnya. Keceriaannya menambah kesan membahagiakan dan mendamaikan. Seperti biasa, setiap dua minggu sekali kakakku pergi belanja di pasar Ajibarang untuk membeli barang-barang keperluan jualan di warungnya. Di kebun, aku dan Bapak berjibaku dengan singkong-singkong yang cukup alot untuk dicabut. Kami pun berbagi tugas. Dengan sekuat tenaga bapak berusaha mencabut 76
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey singkong dari tanah yang kering dan keras, sedangkan aku diberi tugas mengupas singkong-singkong yang sudah menyembul keluar dari tanah oleh kekuatan otot-otot bapak yang masih perkasa waktu itu. Pagi ini benar-benar melelahkan tapi mengasyikan. Kami berdua begitu sibuk dan asyik mengurus singkong. Bapak pun tampak begitu lega dan puas melihat singkongnya cukup besar-besar dan banyak. Walaupun harganya tak seberapa, kami tak menyerah untuk bisa mendapatkan target hari itu yaitu membawa sebanyak-banyaknya singkong ke pengepul agar kami bisa mendapatkan uang hasil jerih payah kami. Sebenarnya aku sering tak tega melihat bapakku bekerja mati-matian di kebun. Berlumuran keringat di bawah teriknya matahari, dari pagi hingga sore hari. Bapak dan petani lainnya begitu setia menunggu panen yang tidak sebentar. Mereka membutuhkan waktu minimalnya tujuh bulan untuk bisa mendapatkan singkong yang berkualitas. Begitupun, kadang harga singkong sering tak masuk akal. Tapi herannya bapakku tetap saja menanam dan menanam tak kenal menyerah. Karena memang hanya itulah yang bisa mereka lakukan. Matahari sudah hampir mencapai ubun-ubun. Bapak sudah mengisyaratkanku untuk menghentikan aktifitasku mengupas singkong. Waktu sudah menunjukan sekitar pukul sebelas siang. Aku sudah tak punya waktu lagi untuk menemani bapak memanen singkong karena aku harus bersiap-siap pergi ke sekolah. Perjalanan dari kebun ke rumah dibutuhkan waktu sekitar tigapuluh menit. Jam 11.30 aku harus sudah bertolak menuju sekolah. Dibutuhkan sekitar satu jam untuk berjalan kaki menuju sekolah. Aku melangkahkan kakiku menuju rumah dan meninggalkan bapakku seorang diri di kebun. Baru sekitar setengah perjalanan, seseorang berlari dan mendekat seraya hendak merengkuh pisau yang aku genggam bekas mengupas singkong tadi di kebun. Bapak itu meminta pisauku dengan setengah memaksa dan dengan alasan yang kurang begitu jelas. Aku benar-benar dibuatnya bingung karena aku tak mengerti maksudnya. Dia hanya bilang aku suruh segera sampai ke rumah. Aku sungguh tak mengerti drama apa yang sedang dia mainkan untukku. Aku hanya berfikir orang desa ini telah 77
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey melakukan hal yang aneh dan tak biasanya. Aku semakin penasaran dan memaksanya untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Tapi dia tetap diam dan menyuruhku agar segera sampai ke rumah. Aku kalah dan meneruskan perjalanan dengan setengah berlari di jalan yang cukup menanjak. Jalanan sepi tak banyak orang di sana. Tiga ratus meter kemudian, tepatnya di sebuah persimpangan jalan, banyak orang berkerumun dan tampak membicarakan sesuatu yang cukup serius. Wajah mereka terlihat tegang dan beberapa saling berbisik dan menggumam begitu aku lewat di depan mereka. Mereka tampak menyembunyikan sesuatu dariku. Semakin dekat dengan rumah, semakin banyak orang berkerumun di pinggir jalan. Banyak juga yang berjalan cepat searah denganku. Aku masih belum mengerti dan terlihat semacam ada bencana sedang melanda desa ini. Aku terus berlari dan menjumpai semakin banyak orang di jalan. Kakiku terasa semakin lemas dan badanku seperti limbung begitu aku melihat di depan rumah kakakku telah berkerumun banyak orang memadati halaman hingga dalam rumah. Aku sempat menangkap perbincangan mereka yang samar-samar aku dengar sambil aku berjalan. Dan ‘Innalillaahiwainailaihi rojiuun’ Mereka ternyata sedang menunggu jenazah kakakku yang meninggal kecelakaan tertabrak bis di Ajibarang. Aku terduduk lunglai tak percaya. Ini pasti kabar burung. Tak mungkin ini terjadi pada kakakku. Pasti mereka telah menerima informasi yang salah. Itu tak mungkin. Tapi, kenapa rumah kakakku begitu penuh sesak dengan orang seperti mau melayat. Sementara aku juga melihat beberapa orang sedang mempersiapkan pemandian jenazah di samping rumah. Raungan tangis dari orang-orang tercintaku, terdengar pecah di rumah itu. Dan ini memang benar. Bukan kabar burung. Sekitar 10 menit dari kedatanganku, terdengar suara mobil jenazah merapat ke depan rumah kakakku. Warga semakin berkerumun dan suara tangis pecah di mana-mana. Kerabat dan handai taulan tampak begitu shock. Sementara aku hanya terdiam tak percaya. Aku pun berusaha tegar melihat kenyataan ini walaupun hatiku hancur berkeping-keping. Aku membayangkan tubuh kakakku hancur dan berlumuran darah di mana-mana. Dan ternyata itu tidak terjadi. Aku menyaksikan tubuh kakakku tampak utuh dan hanya beberapa memar 78
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey di bagian kepala. Dia seperti tidur dan tersenyum padaku. Aku pun tak kuasa lagi membendung air mataku dan pecahlah tangisku. Ibuku memelukku dengan isakan tangisnya. Walaupun hanya terisak aku dapat menangkap betapa hancur hati ibuku dan keluargaku. Bencana ini sungguh luar biasa kami rasakan dan ini benar-benar terjadi dan menimpa kakakku. Kakak terbaikku telah dipanggil Allah hari itu. Kakak yang sangat memperhatikan dan membanggakanku ternyata harus mendahului menghadap sang Khalik tanpa bisa menyaksikanku hingga aku lulus SMA. Tapi itulah rencana Tuhan yang tidak bisa diprediksi oleh manusia. Semua begitu tiba-tiba. Semua begitu mendadak tanpa bisa dikompromi. Aku berjanji aku harus bisa membuktikan padanya kalau aku bisa menjadi orang sukses walaupun tanpa disaksikan secara langsung oleh kakakku. Aku percaya kakakku akan selalu bisa melihat dari surganya akan setiap perjalananku nantinya. Aku harus menjadi anak kebanggaan keluarga seperti yang dicita-citakan kakakku. Aku tidak akan mengecewakan kakakku. Aku harus bisa menjadi orang yang berhasil seperti yang dibanggakan kakakku. Kakakku, aku nobatkan engkau menjadi mascot pengobar semangatku untuk terus belajar sampai kapanpun. Dan One Moment in Time akan terus menjadi lagu wajibku yang akan terus aku nyanyikan dalam hatiku kapanpun aku ingin mengenangmu. Engkau adalah pahlawan pendidikan keluargaku! 79
14 Tak Bisa Jadi Guru Langit desaku di penghujung kemarau di tahun 1993 itu begitu bening. Nyaris tak ada awan bergerombol yang biasanya menutupi hamparan jemuran padi di pinggir jalan. Para petani begitu leluasa menjemur padi mereka tanpa perasaan was-was. Tak ada mendung. Tak ada tanda-tanda mau turun hujan. Angin pun seperti tak ada yang melintas untuk menghalau awan putih untuk membentuk gumpalan hitam. Beningnya langit itu pun aku rasakan hingga membentuk cahaya yang memantul bening ke dalam hatiku yang barusan mendapat dukungan bertubi- tubi atas keinginanku untuk melanjutkan studiku di sebuah lembaga pendidikan non formal di kotaku. Walaupun aku masih melihat ada sesuatu yang tampak dipaksakan namun itu adalah sebuah dukungan yang dilandasi keikhlasan dan harapan. Masa SMA berakhir dengan segenap peluh dan perjuangan. Orang tuaku yang dulu tidak begitu mengerti tentang arti pentingnya sebuah pendidikan formal, saat itu telah berubah. Semenjak berpulangnya kakak keduaku, Bapak begitu memperhatikan segala keperluan terutama biaya pendidikan. Aku sendiri semakin optimis dan 80
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey semangat untuk ikut serta membantu bapakku yang mencoba untuk membuat sedikit bisnis tambahan. Bapak mencoba mengolah sendiri singkong yang dipanen dari kebun hingga menjadi tepung kanji. Dan dalam setiap prosesnya aku pun ikut terlibat di sana sebelum berangkat sekolah. Menggiling singkong, hingga menjemurnya sampai siap jual ke pasar. Aktifitas itu aku lakukan setiap hari hingga kulit tubuhku tampak semakin gelap. Namun aku senang bisa sedikit meringankan beban orang tua. Sayangnya, Mba Ratni tak bisa menyaksikan momen penting di mana aku bisa merayakan hari kelulusan di SMA. Dia pasti tersenyum melihatku bisa menggondol selembar ijazah SMA. Sejarah baru telah tercipta di keluargaku bahwa aku bisa menamatkan SMA. Tentu saja semua ini juga karena atas andilnya yang begitu besar terhadap pendidikanku semasa hidupnya. Selepas SMA, aku putuskan untuk berhijrah ke kota lagi. Jakarta bukan pilihanku saat ini. Kota Purwokerto, pusat kota kabupaten Banyumas yang cukup popular dengan kota kripik menjadi targetku untuk memenuhi keinginanku setelah mengantongi ijazah SMA. Selain tidak terlalu jauh dari kampung halamanku, kota ini juga tidak terlalu besar dan bukan tujuan urbanisasi seperti Jakarta yang penuh dengan segala keruwetannya. Purwokerto termasuk kota yang masih tergolong asri, bersih, nyaman, dan aman untuk ditinggali. Aku hanya membutuhkan sekitar 2 jam dari desaku untuk mencapai kota kecil yang terkenal dengan wisata alam pegunungan Baturraden itu. Kali ini aku berjalan lebih tegap dan mantap dibandingkan dulu. Karena kehadiranku di kota kecil ini akan menuntut ilmu. Dan sebentar lagi aku akan berjuang dan belajar untuk menjadi seorang yang terampil di bidang komputer, bahasa Inggris, Office Management, dan lain-lain seperti yang aku dengar promosinya di radio kebanggaan orang Banyumas, RRI Purwokerto sebelum berangkat ke kota. “Insyaallah, nanti aku lulus bisa kerja di kantor, Ma,” kataku meyakinkan. “Yang betul, Sur? Kamu bisa kerja di kantor? Jadi apa?” tanya ibuku penasaran. Begitulah orang desa, sangat memimpikan anaknya bisa bekerja di kantor, bukan menjadi buruh pabrik seperti yang pernah aku alami dulu. Kantor seperti apapun 81
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey mereka tidak begitu mengerti. Bekerja di kantor menjadi parameter keberhasilan seseorang. Pemikiran yang sangat sederhana dari orang desa. “Betul, Ma. Mungkin bisa jadi menejer atau direktur,” kataku mulai lebay (dulu belum ada istilah ini) untuk meyakinkan mereka. Tapi apa reaksi mereka? Semua diam tak mengerti. Menejer? Direktur? Mungkin mereka belum pernah mendengar kata itu sebelumnya. “Itu lho Ma, Pa, semacam pimpinan di kantor, boslah! Iya, kan Sur?” kata kakak pertamaku menjelaskan semampunya. “Ya, seperti itulah Mba. Mudah-mudahan,” kataku mengiyakan. Sebenarnya aku tidak tega melihat ekspresi wajah-wajah mereka yang kebingungan. Aku merasa telah menjadi orang yang rakus. Sudah diberi kesempatan sekolah sampai SMA masih juga menuntut tambahan kursus. Aku sungguh keterlaluan! Dari mana mereka bisa mendapatkan uang sebesar Rp. 800.000, untuk biaya kursus setahun di Purwokerto? Walaupun mereka tahu aku tidak memaksa tapi setidaknya usulanku itu menjadi pemikiran besar buat mereka. Ah, aku sungguh tak tahu diuntung. “Bukannya dulu kamu pernah bilang ingin jadi guru?” Ibu mengingatkan cerita waktu SD-ku. “Haha. Itu kan cita-citaku dulu waktu kelas VI SD Ma. Tapi ya, ingin juga sih jadi guru. Tapi kan aku harus sekolah lagi. Aku harus kuliah di IKIP Semarang. Mana mungkin aku bisa kuliah di Semarang. Tapi ya siapa tahu suatu saat nanti Tuhan mengijinkan aku untuk bisa kuliah jadi guru. Siapa tahu, ya Ma. Pokoknya yang terbaik buat akulah. Jadi apapun yang penting aku ingin Mama sama Bapa bangga sama aku.” Aku begitu optimis saat itu. “Apapun kalau menurut kamu itu bagus, nanti kita bisa carikan solusinya, Sur. Kamu tenang saja, sekarang kamu persiapkan segala sesuatunya.” Mas Wartomo, kakak iparku begitu yakin bisa mengusahakannya. Aku melihat seisi rumah itu berubah menjadi kebun bunga warna-warni seketika itu. Aku seolah menari dan berayun di 82
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey atas bunga-bunga itu. Sementara bapak dan ibuku hanya saling berpandangan tak mengerti maksud mas Wartomo tadi. Suatu malam, tanpa sengaja, aku mendengar perbincangan yang kedengaran cukup serius antara bapak dan kakak iparku. Diam-diam kakakku ini sangat memperjuangkan dan mendukungku untuk menempuh pendidikan setara D1 ini. Aku menjadi sangat terharu ketika lamat-lamat perbincangan mereka dari balik lobang dinding bambu tak sengaja aku dengar. “Kasihan Si Suryo, Pa. Siapa tahu ini akan menjadikan jalannya untuk jadi berhasil. Apa bapak tega dia harus kerja di sawah seperti anak-anak lain yang cuma lulusan SD. Kasihan kalau Si Suryo jadi buruh tani atau tukang ojeg di desa.” Kakakku terdengar merayu dengan tulus. “Bapak sih terserah kalian saja. Tapi bagimana caranya? Kamu tahu sendiri kan bapak gak punya uang sebanyak itu,” kata bapak kebingungan. Keesokan harinya bapak memanggilku untuk membicarakan tentang niatku itu. Dengan penuh ketegangan aku siap untuk mendengar apa keputusan bapak siang itu. Aku sudah pasrah dan seandainya keputusan itu tidak akan membawaku untuk kursus, aku tetap akan hijrah ke kota untuk mengadu nasib. “Suryo, insyaallah kamu bisa berangkat ke Purwokerto. Kapan kamu mau mendaftar? Alhamdulillah, bapak sudah mendapatkan dananya,” kata bapak mantap dan penuh harap. Aku seperti tidak percaya mendengar berita itu. “Dari mana bapak dapat uang sebesar itu?” tanyaku mendesak. Setahuku kemarin bapak bilang tidak punya uang sebanyak itu. “Ada yang meminjami bapak?” tanyaku penasaran. “Uang ini bukan pinjaman. Ini uang bapak. Sudah kamu ndak usah mikir asal uang ini dari mana. Yang penting kamu bisa kursus dan dapat kerjaan baik kalau sudah selesai nanti.” Bapak meyakinkan dan mendoakanku. Mataku mulai berkaca-kaca menahan air mata yang hendak tumpah. Aku pun tak bisa berbicara apa-apa kecuali 83
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey berterimakasih dan memeluknya. Dan beberapa saat setelah itu aku pun mencoba untuk mendapatkan informasi mengenai dana itu dari kakakku. Menurut kakakku bapak telah menggadaikan sebagian ladang keringnya di ujung desa kepada salah seorang pakdeku, kakak bapakku. Aku begitu kecewa mendengar itu. Tetapi kakakku terus membujukku agar aku bisa menerimanya dan itu sebagai wujud tanggung jawab orang tua. Aku menjadi semakin tak mengerti Bapak sudah banyak berubah. Mungkin bapak telah menyadari seiring bergesernya jaman dan tentunya dia telah banyak dapat wejangan sana sini tentang pentingnya pendidikan anak. “Masmu ini tahu kamu persis, Suryo. Kamu punya banyak bakat dan suka belajar. Tidak mungkin bisa kerja di sawah atau di kebun dengan kondisi lahan pertanian tak seberapa ini. Badan kamu juga tidak cukup kuat untuk memikul kayu bakar atau hasil panen. Kamu harus kerja di kantor seperti yang kamu inginkan.” Kakakku terus meyakinkanku. Begitulah mereka. Mereka selalu ingin membuat adiknya berhasil. Mereka sudah melakukan banyak hal untuk mempersiapkan masa depanku. Aku hanya bersyukur dan beruntung. Orang tuaku dan keluargaku sudah mulai terbuka pemikirannya bahwa mewarisi pendidikan lebih penting daripada mewarisi sebongkah lahan yang belum tentu bisa membawa seorang anak maju. Mba Ratni, Mba Sofi, apakah kau mendengar semua ini? Ternyata aku masih diberi kesempatan untuk lebih maju lagi untuk menggapai mimpi yang sudah mulai aku ciptakan. Tidak seperti dulu. Dulu ketika aku tak tahu tentang cita-cita. Menjadi apapun aku nantinya, aku harus bisa menjadi kebanggaan orang tuaku. Itu sudah menjadi tekadku. Maafkan aku Pak Kamud, mungkin aku tidak bisa menjadi guru seperti bapak, namun setidaknya aku bisa menjadi panutan buat teman-temanku yang tidak punya kesempatan untuk lanjut sekolah, dan juga buat adik-adikku di desa untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Janganlah kalian cepat puas dengan hal-hal yang sudah biasa. Jadikanlah diri kalian menjadi anak-anak luar biasa yang 84
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey bisa membangun desa kalian dengan ilmu yang baik. Jadilah kalian para sarjana yang mampu membuat desa yang membanggakan buat kalian tinggali. 85
15 Surat Lamaran Salah Alamat Ini bukan mimpi aku berada di kota ini. Aku mulai menghirup udara yang penuh dengan harapan-harapan baru. Harapan untuk jadi orang sukses. Derung kendaraan mulai membisikan kata semangat ke dalam dadaku. Deretan perkantoran dan pertokoan memberikan inspirasi ke dalam kepalaku yang masih berbau debu pedesaan. Sambil berjalan aku metatap tajam gedung-gedung di sepanjang jalan Jendral Sudirman. Orang-orang berseragam ada pula yang berdasi dan berpakaian rapi hilir mudik keluar masuk kantor pemerintahan maupun pertokoan yang aku lewati. Mereka tampak tersenyum dan bersemangat seolah kebahagiaan hanya milik mereka. Aku hanya bisa menggelorakan semangatku sendiri dengan melihat mereka. Aku harus bisa seperti mereka dan aku yakin aku harus bisa seperti mereka. 86
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Perjalanan dari tempat tinggal sementaraku di kota ini cukup jauh dari tempatku kursus. Aku harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sekitar satu kilometer jauhnya. Sementara aku tinggal di rumah di pinggiran kota yang cukup kumuh bersama teman sekelasku di SD dulu, Nakim. Nakim adalah salah seorang teman sekelasku yang sampai saat itu pun hanya lulus SD. Tapi dia seorang pejuang tangguh. Dia membantu kakaknya berjualan mie ayam di kota ini. Selain tangguh dia juga baik hati. Nakim dan kakaknya membantuku untuk tinggal bersma mereka sebelum aku mendapatkan tempat kos di kota ini. Untuk sementara aku tinggal bersama mereka, makan, tidur bersama di rumah itu. Tak jarang aku juga ikut menemani berjualan ke terminal bus hingga malam hari. Tak ada yang bisa kuungkapkan atas kebaikan mereka. Aku tak tahu harus dengan apa aku membalas kebaikan mereka. Aku yakin Tuhan yang akan segera membalas kebaikan mereka. *** Aku berpakaian lebih rapi pagi ini. Tidak seperti biasanya, kusut. Kemeja biru lengan panjang dan sepatu hitam menambah sedikit kepercayaan diriku. Sengaja aku belikan hairstyling agar rambut keringku terlihat basah. Kau tampak terlihat gagah pagi ini, Sur. Itu kata seekor induk cicak yang dari tadi memperhatikanku dengan sembunyi-sembunyi di balik kalender dinding kamar kosku. Kebetulan aku masuk shift sore di tempat kerjaku sekarang. Sebenarnya aku sudah bosan menjadi pramuniaga di Supermarket besar itu. Berdiri mematung menunggu konsumen datang yang akan mengobrak-abrik tumpukan kaos yang sudah aku rapikan lalu mereka akan mengantarkan pilihannya kalau cocok untuk ditulis nota, kalau tidak, hanya membiarkan onggokan kaos-kaos itu begitu saja. Aku tak boleh komplen karena mereka adalah raja. Tanpa mereka aku tidak akan dapat gaji bulanan yang aku terima sebesar Rp.65.000, per bulan itu. Alangkah membosankannya pekerjaan ini. Tapi tak apalah. Karena pikirku ini hanyalah sebagai batu loncatan sambil aku menunggu wisuda di tempat kursusku. Sudah tiga bulan berlalu aku menjadi mannequin di antara baju-baju yang ter-display rapi di lantai tiga department store itu. Beda dengan dulu sewaktu aku pertama kali berangkat ke kota ini. Aku sangat 87
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey kagum melihat orang berlalu lalang berpakaian seragam keluar masuk gedung tinggi dengan senyum lebar dan tampak bahagia. Aku ingin sekali seperti mereka bekerja di sana. Sekarang aku sudah merasakannya dan aku sudah mengerti apa artinya ‘bosan’. Mungkin aku dulu salah menilai orang bahwa tidak semua orang yang bekerja di gedung mewah dengan pakaian rapi akan merasa bahagia seperti kelihatannya. Dan tidak semua orang yang bekerja itu akan sesuai dengan keahliananya dan keinginannya. Seperti aku saat ini. Ternyata pekerjaan yang aku jalani itu bukan merupakan pekerjaan yang aku sukai. Aku bergegas menuju alamat yang tertera di amplop surat panggilan wawancara kerja. Tempat di mana aku dipanggil wawancara itu cukup ditempuh dengan berjalan kaki dari tempat kosku. Lima belas menit kemudian aku sudah sampai di halaman sebuah gedung yang tidak terlalu tinggi namun cukup luas memanjang ke belakang. Di depan kantor kecil di bagian belakang tampak beberapa orang sedang memarkirkan sepeda motor. Aku pun tidak tahu persis apa pekerjaan mereka. Kelihatannya mereka begitu sibuk keluar masuk kantor dengan membawa tas dan memakai jaket yang kebanyakan sudah kumal. Wajah-wajah mereka juga sebelas duabelas kumalnya. Apakah aku juga akan bekerja seperti mereka dan akan ikut-ikutan kumal? Kalau iya, lalu apakah artinya ijazah keterampilan yang sudah aku peroleh selama setahun? Ini adalah kali ketiga aku akan melakukan yang namanya wawancara. Kali ini aku sudah mengantongi ijazah keterampilan dari lembaga kursus yang aku dapatkan selama setahun. Aku pun tidak merasa begitu gugup seperti pertama kali dulu aku wawancara. Ketika itu aku mengikuti kursus dan banyak waktu terbuang tidak karuan hanya hang out dengan tiga teman kosku. Kalau tidak jalan-jalan ke alun-alun, paling nonton bioskop. Dengan begitu uang makan bulannanku sering tak cukup. Aku tidak enak untuk meminta terus sama orang tua. Aku hanya tahu diri. Kasihan orang tuaku setiap bulan harus mencari dana untuk aku makan dan bayar kos. Aku mulai berfikir untuk mendua. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu kosongku. 88
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Aku harus cari kerja part time. Iseng-iseng aku mencoba menulis surat lamaran ke sebuah Department Store. Matahari Toserba namanya. Toko ini cukup terkenal di Purwokerto waktu itu. Aku membayangkan aku bisa bekerja di sana sebagai pramuniaga di sela-sela waktu kursusku. Cita-citaku dulu untuk bisa bekerja dengan berpakaian rapi di gedung yang megah akan segera terlaksana kalau aku bisa menembus wawancara itu. Surat panggilan wawancarapun tiba. Panggilan wawancaraku yang pertama. Aku berjalan seperti penuh dengan raut muka kebahagiaan. Ada beberapa tips sukses wawancara agar diterima kerja yang pernah aku dapatkan dari tempat kursus. Lumayan, bisa buat bekal. Wawancara berjalan lancar. Aku berhasil menjawab setiap pertanyaan dengan meyakinkan. Tak lama setelah wawancara, sorenya langsung disuruh datang kembali untuk melihat pengumuman yang di tempel di dinding pengumuman di depan ruang kantor toserba tersebut. (waktu itu belum jamannya SMS apalagi Messenger dan semacamnya). Aku sangat kaget begitu melihat namaku terpampang di kertas pengumuman yang tertempel di papan. Ada 2 nama yang terpampang di sana. Namaku ada di sana dan satu nama orang lain. Aku harus memulai bekerja di tempat itu besok pagi. Tapi apa yang aku dapatkan ternyata juga tak sesuai dengan yang aku bayangkan sebelumnya karena aku di terima bekerja di situ bukan sebagai pramuniaga tetapi sebagai ‘pengawas’. Sejenak aku tercengang, lalu aku sadar dan paham. Aku diterima menjadi PA, sebuah inisial dari jabatan pekerjaanku yaitu ‘pengawas’ di toko itu. Pengawas yang dimaksud adalah pembantu security yang mengawasi gerak-gerik semua pengunjung toserba terutama yang datang tidak untuk berbelanja. Apakah ada? Ya, memang ada. Itulah mengapa perusahaan merekrut tenaga kerja sepertiku untuk dijadikan spy alias mata-mata bagi para pengutil. Jangan ditanya, kalau memang saat itu cukup marak pencurian barang supermarket oleh oknum-oknum pembeli 89
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey gadungan. Makanya perusahaan tak ambil pusing lagi setelah mendapatkan para ahli atau spy yang diharapkan mampu menggantikan peran CCTV kalau di jaman sekarang. Namun kelihatannya perusahaan sudah salah pilih ambil ahlinya karena mereka telah merekrut orang yang salah. Aku adalah orang yang salah masuk ke pekerjaan itu. Dan aku kecewa. Pekerjaanku ternyata tidak dibutuhkan memakai seragam yang rapi seperti pramuniaga yang lain. Aku harus berpakaian bebas seperti intel. Jobdes sebgai pengawas tidaklah mudah. Aku harus berpura-pura sebagai pembeli. Setiap hari harus berputar-putar mengelilingi lantai sambil membawa keranjang sambil pura- pura memilih barang sedangkan mata harus bekerja ekstra mengawasi pengunjung yang mencurigakan. Memang, tak sedikit dari pengunjung yang kedatangannya tidak untuk berbelanja melainkan mengutil. Buktinya teman seangkatan denganku sudah beberapa kali menangkap basah pengutil itu. Permsalahannya adalah, aku tidak bisa membedkan mana yang pembeli maupun pengutil itu. Ini sulit buatku. Aku termasuk orang tidak tega melihat penjahat tertangkap basah. Selain itu, aku juga takut salah tangkap dan akhirnya malah aku yang dituntut balik. Sungguh pekerjaan yang tidak bisa aku terima. Jelas ini bukan tipe pekerjaan yang aku bayangkan. Singkat cerita, selama 2 bulan pekerjaanku tidak membuahkan apa-apa. Setelah aku sadari memang kesalahan ada padaku saat wawancara aku menyatakan sanggup untuk di tempatkan menjadi apa saja. Aku merasa ceroboh dan yang adadi otakku hanyalah aku ingin bekerja untuk meringankan beban orang tua. Ternyata pekerjaan ini tidak cocok buatku. Aku hanya kuat 2 bulan saja bekerja di sana. Setelah menerima gajiku yang ke 2 aku langsung quit. Alasan lain juga karena waktu kursusku banyak tersita karena jadwal kursus yang tidak match dengan jadwal kerjaku. Kali ini aku lebih optimis dengan pekerjaan baruku yang belum saja aku lalui wawancaranya. Sudah terbayang di benakku kalau inilah pekerjaan yang cocok dengan kemampuanku. Walaupun sempat terjadi salah paham mengenai surat lamaranku. 90
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Suatu pagi di saat bangun tidur, aku sempat menguping radio kamar sebelah di tempat kosku. Waktu itu aku belum punya radio sendiri. Terdengar lamat-lamat sebuah pengumuman lowongan pekerjaan yang harus dialamatkan di radio tersebut. Aku tidak tahu persis jenis pekerjaan apa yang ditawarkan karena pada bagian itu kupingku belum terpasang betul. Yang aku tangkap dari siaran radio itu adalah tawaran lowongan pekerjaan sebagai tenaga administrasi dan dialamatkan ke radio itu. Tanpa menunggu lama, aku segera mencari kertas dan menyiapkan segala keperluan perlengkapan surat lamaran. Kelar dengan segala persyaratan dan kelengkapan langsung saja kulayangkan surat lamaran tersebut yang ditujukan kepada pimpinan radio tersebut. Setelah beberapa hari datanglah seorang utusan mencariku. Dia mengaku dari sebuah foto studio ternama di kota itu. Namanya Top Photo Studio and Video Shooting. “Permisi, Mas. Apa benar ini tempatnya Mas Suryo?” Seorang berwajah lelah menanyaiku dan aku tak mengenalnya. “Betul, Pak. Saya sendiri. Maaf ada apa ya Pak?” Aku penasaran. “Ini saya dititipi kantor.” Orang itu menunjukan surat dan memberikannya padaku. Aku mengamati surat itu. Kop suratnya tertulis Top Photo & Video Shooting. Sebuah perusahaan foto dan video shooting. Apa urusanku dengan foto studio. Sepertinya ini salah alamat. Mungkin Suryo yang lain yang akan melaksanakan pernikahan. “Kelihatannya surat panggilan kerja, lho Mas.” Dia menegaskan sebelum aku mengungkapkan kebingungannya. Aku melipat dahiku. Mataku dilebar-lebarkan. Tetap saja aku merasa tidak ada urusan dengan perusahaan foto itu. Apa surat lamaranku beberapa waktu yang lalu nyasar ke sana? Bisa jadi. Bisa juga tidak. Usut punya usut ternyata benar kalau aku salah. Aku memang mendapat panggilan kerja. Rupanya surat yang aku alamatkan ke pimpinan radio itu salah alamat. 91
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Harusnya aku alamatkan ke perusahaan foto ini dan radionya hanya sebagai sarana mengiklankan info lowongan kerja. Aku merasa sangat bodoh. Tapi itulah resiko nguping radio tetangga kamar. Apapun itu yang penting aku dapat kerjaan baru. Aku tak tahan untuk berlama-lama jadi mannequin di department store mewah dan bergedung tinggi itu. Dan aku juga tidak akan gegabah dengan melepaskan pekerjaan lamaku yang membosankan itu sebelum pekerjaan baruku nanti kupegang. Dan tahukah kalian hasil wawancaraku hari ini? Dari sinilah Babak Kedua kisahku dimuali. 92
16 Bertemu Panitia Seminar Pagi ini tampak begitu rusuh. Beberapa lelaki hilir mudik keluar masuk kantor seenaknya dengan membawa banyak barang. Mereka tampak akrab dengan beberapa orang yang duduk di barisan meja di dalam kantor ber AC itu. Aku berdiri mematung di depan kantor baruku. Kali ini aku tampak gagah. Aku benar- benar kerja kantoran. Tapi setelah aku lihat sekeliling kantor, tak tampak kalau ini sebuah kantor. Kantor ini Lebih mirip sebuah gudang. Ada 5 meja kerja berderet- deret di satu ruangan. Satu meja berada di pojok seberang. Di sebelahnya ruang ada sebuah ruangn bersekat kaca rayban. Rupanya itu kantor bos besar. Orang-orang kumal yang aku lihat saat wawancara beberapa hari yang lalu masih saja tetap kumal. Merekalah para pejuang garda depan perusahaan photo ini, para sales pengantar film dari toko-toko foto di daerah yang hendak mencetak foto di tempat 93
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey ini. Mereka begitu ramai dan berisik. Suara mereka sahut menyahut sambil bercerita pengalaman hari kemarin. Dalam waktu kurang lebih satu jam, akhirnya mereka pun bubar. Aku siap mendapatkan pelajaran-pelajaran berharga di hari pertamaku bekerja. Pekerjaan adalah rutinitas yang bisa dikerjakan dengan mudah. Yang tersulit buatku adalah bagaimana aku harus bisa menyesuaikan diri di tempat baru. Dan itu tak mudah buatku. Kepercayadirianku diuji di sini. *** Suasana kantor sudah mulai sepi. Tinggal aku, Pak Andika, dan mba Ning yang masih menyelesaikan beberapa pekerjaan. Beberapa teman sudah mendahului pulang karena gerimis sudah mulai melebat menjadi hujan. Hujan di musim ini sering menemaniku untuk berlama-lama hingga jam kantor usai. Dari arah ruangannya, terdengar Pak Andika memanggilku. “Suryo, tolong besok temani Aris memotret ya. Ada pemotretan seminar dengan International College di gedung Graha Bhakti Praja.” Pak Andika menyodorkan secarik kertas berisikan alamat gedung itu. Jalan Gatot Soebroto sebelah SMA Negeri 2 Purwokerto. Sepertinya aku paham alamat ini. Tidak terlalu sulit. Sekitar 80% peta kota Purwokerto sudah aku kuasai. “Baik Pak. Saya tahu tempat ini.” Aku mengangguk paham. “Jangan lupa bilang ke Pak Asto, dari Andika Top Photo ya.” “Oh, siap Pak! Pak Asto itu siapa ya Pak?” tanyaku polos. “Dia itu pemilik International College, yang menyelenggarkan seminar itu.” “Oh, Ok Pak,” aku terbengong sejenak. Tapi wajah girangku masih terlihat jelas. Sepertinya terlalu sulit untuk menyembunyikan senyumku. Yea! Besok aku akan DL (Dinas Luar) Besok adalah kali pertama aku terjun ke lapangan bersama fotografer selama aku 94
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey bekerja di Top Photo Studio & Video Shooting. Rutinitas kantor Photo Studio ini membuatku jenuh dan bosan. Kesempatan ini sudah lama aku tunggu-tunggu. Bisa menghirup udara luar dan bergaul dengan banyak orang. Sebenarnya, aku bukan tipe orang yang pintar bergaul dan banyak teman. Jenis pekerjaan yang aku geluti sesuai yang aku inginkan, yaitu kerja kantoran seperti keinginanku sewaktu masih sekolah di desa. Aku lebih suka bekerja di belakang layar atau belakang meja. Aku tak cukup banyak nyali untuk berkomunikasi di depan umum. Aku sadar betul dengan diriku yang pendiam, pemalu, dan minder. Mungkin itu titel yang tepat diberikan untukku. Aku sadar itu semua penghambat diriku untuk bisa maju. Tapi itulah adanya aku. Dan aku harus bisa merubahnya. Mudah-mudahan besok adalah awal yang baik bagiku untuk bisa belajar menjadi lebih baik walaupun itu tak mudah. Pagi pun tiba dengan segera sesuai keinginanku. Semua serba mendukungku. Malam pun membiusku dengan mimpi-mimpi yang indah sehingga tak sulit bagiku untuk bangun pagi dan bersyukur pada Tuhan. Bergegas aku menuju kantorku yang tak seberapa jauh dari tempat kosku, sekitar 400 meter saja. Aku berjalan kaki seperti biasanya. Udara pagi kota kripik di tahun 1994 ini begitu bersih dan segar setelah semalaman gerimis. Jumlah kendaraan masih terhitung minim sehingga pencemaran udara kota belum begitu terasa waktu itu. Sesampai di kantor suasana masih sepi. Segera saja aku siapkan perlengkapan memotret seperti Kodak ASA 200, batre, dan perlengkapan lainnya. Dari kejauhan kulihat Mas Aris menenteng tas kamera dan tripod. “Sudah siap Mas Aris?” “Ok, Mas. Berangkat yuk!” Aris bergegas menyiapkan sepeda motornya dan aku sibuk mengecek semua perlengkapan. Aris terlihat begitu semangat. Aku pun ikut semangat. Hari ini aku jadi asistennya. Tapi jadi apapun aku hari ini adalah merupakan hari yang menggairahkan buatku. Pekerjaan administrasi sering membuatku susah tersenyum dan terkesan angkuh. Dan ini bisa sangat gawat. Wajahku bisa terlihat tua 95
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey sebelum waktunya. Selama perjalanan menuju gedung seminar, pikiranku melesat entah kemana hingga akhirnya aku pun harus bertemu dengan kata seminar. Dan anehnya aku belum pernah tahu seperti apa seminar itu. Pikiranku menerawang menuju ke beberapa tahun yang silam ketika umurku baru sekitar lima tahun. Aku ikut ibuku penyuluhan KB di kantor kelurahan dimana para ibu duduk berderet-deret. Di depan sendiri seseorang berpakaian rapi mungkin pegawai negri dari kota yang sedang memberikan penyuluhan. Mungkin seminar tidak jauh dari itu. Kami tiba di gedung sebelum seminar itu dimulai bahkan sebelum para peserta datang. Mas Aris menyiapkan peralatan memotret dan aku membantu sebisanya. Beberapa orang panitia terlihat sibuk dan hilir mudik menyiapkan ini itu. Beberapa kelihatan tegang dan saling berbisik. Sedangkan mataku berusaha mengembara mencari seseorang yang bernama Pak Asto, si pemilik dan penyelenggara seminar seperti yang dikatakan pak Andika. Belum terbayang sosok Pak Asto di pikiranku. Pak Andika tidak menyebutkan ciri-cirinya dan memang sepertinya tidak harus sedetail itu. “Ini dari Top Photo, ya?” Seorang berbadan agak gemuk dan tidak terlalu tinggi, berkumis cukup tebal, berpakaian rapi dan berdasi, tiba-tiba menyapa kami dan cukup mengagetkan karena suaranya cukup lantang dan tegas. “Iya Pak. Kami dari Top Photo,” Mas Aris segera menyahut dan memperkenalkan diri. Aku hanya ikut mengangguk dan bersalaman. “Tolong nanti jangan ada yang sampai terlewat ya momen pentingnya.” Orang itu memberi perintah pada kami berdua dan Mas Aris mengiyakan. Aku hanya tersenyum hormat. Si Bapak pun berlalu. “Itu siapa sih Mas?” tanyaku menginterogasi. “Yang tadi itu Pak Asto. Pemilik International College,” Mas Aris menjelaskan. Aku bengong. 96
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey “Oh, itu Pak Asto?” Aku menggumam dan berpikir bagaimana Mas Aris bisa tahu kalau itu Pak Asto? Terbukti bahwa Mas Aris lebih gaul daripada aku. “Kita kan sudah sering bekerjasama dengan Pak Asto, Mas Sur.” Mas Aris menjelaskan tanpa aku minta. Aku merasa benar-benar seperti katak dalam akuarium. Ruang seminar sudah penuh sesak dengan para perserta seminar. Semua kursi hampir terisi kecuali deretan paling belakang pojok kanan yang masih tersisa beberapa kursi. Mungkin mereka terlambat datang. Aku masih belum mengerti mengapa orang-orang pada suka datang untuk seminar. Mungkin mereka memang gila belajar dan haus ilmu pengetahuan. Mungkin juga aku salah satunya. Tapi kenapa aku tidak pernah ikut seminar seperti mereka? Para peserta duduk rapi berderet-deret. Dan dugaanku benar bahwa seminar itu hampir sama dengan penyuluhan KB waktu di desa dulu. Ada juga orang berpakaian rapi di depan sendiri sambil menyampaikan materi tentang public speaking. Aku baru sadar kalau ternyata seminar itu bertema tentang public relation and mster of ceremony. Dan ini cocok sekali denganku. Aku banget, kata gaya bicara anak sekarang. Aku berpikir kekuatan Tuhan memang luar biasa. Tuhan benar-benar tahu yang aku butuhkan dan memberikannya saat ini. Tuhan tahu kalau aku pemalu, minder, dan tidak bisa banyak ngomong di depan umum sehingga membawaku ke seminar ini walaupun posisiku bukan sebagai peserta seminar. Setidaknya aku bisa ikut mendengarkan materi penting tanpa harus membayar mahal biaya seminar. Dari kejauhan aku menyaksikan Pak Asto begitu sibuk kesana kemari dari panitia satu ke panitia yang lain. Mungkin sedang berkoordinasi agar tidak terjadi kesalahan atau kekurangan pelayanan dalam penyelenggaraan acara tersebut. Tentunya kalau itu sampai terjadi akan menyangkut nama baik penyelenggara dan menentukan masa depan lembaga tersebut. Mas Aris juga terlihat begitu sibuk jepret sana jepret sini seperti tidak mau ketinggalan satu wajah pun untuk dipotret. Satu wajah menginterpretasikan rupiah dan keuntungan bagi studio kami untuk menjual setiap foto yang diambil Mas Aris. Selain itu, dia juga 97
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey pastinya masih ingat pesan Pak Asto tadi bahwa ‘Jangan sampai ada momen penting yang terlewatkan’. Karena ini juga bagian penting dari wujud kerjasama antar lembaga, Mas Aris memang fotografer yang loyal dan berdedikasi. Sementara aku masih duduk di deretan kursi di meja pendaftaran. Aku hanya duduk tenang dan hanya sesekali tersenyum atau bersalaman ketika ada yang mengajaknya. Mengajak tersenyum dan bersalaman. Aku memposisikan diri di deretan paling timur, paling pinggir. Selebihnya, aku hanya mengamati panitia yang masih melayani pendaftaran beberapa peerta yang hadir terlambat. Di sebelahku persis ada tiga panitia perempuan yang sedang asyik mengobrol macam- macam. Aku hanya menyimak obrolan mereka dan aku tak mengerti topik apa yang sedang mereka obrolkan. Dan itu tak penting buatku untuk mengerti. Kelihatannya sih mereka anak kuliahan. Sekali lagi aku hanya terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku mati gaya. Untuk mengisi kekosonganku aku ikut menyimak materi seminar karena cukup terdengar dari luar ruangan. Sementara Mas Aris terus bergerilya menyambangi peserta. Banyak hal menarik yang aku dengar dari pembicara public relation yang aku dengar dari luar ruang seminar. Pembicara yang attractive juga memberikan cara-cara berkomunikasi dengan gaya yang menarik dan elegan. Pembicara berhasil membius para peserta untuk tidak sempat membuka mulut mereka lebar-lebar hanya untuk menguap kantuk. Semua bergairah kadang disela dengan gelak tawa dan tepuk tangan riuh. Aku yakin acara ini sukses berat. Namun ada yang lebih menarik perhatianku selain gaya pembicara seminar yang attractive dan elegan itu. Dua orang panitia yang duduk di sebelah kananku satu cewek dan satu cowok itu ternyata mereka bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Inggris dengan cepat dan fasih. Aku terkesima mendengarkan obrolan mereka. Banyak hal yang mereka obrolkan. Aku tidak tahu persis mengapa mereka berdua memilih menggunakan bahasa Inggris ketika mengobrol. Prediksiku mengatakan bahwa; satu, agar aku tidak mengerti pembicaraan mereka. Dua, agar kelihatan 98
Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey internasional dan intelektual. Tiga, agar aku kagum padanya. Dan aku mengambil kesimpulan bahwa memang aku kagum padanya. Aku mengerti apa yang mereka bicarakan. Karena bahasa Inggris sudah menjadi pelajaran favoritku waktu sekolah dulu bahkan guru favoritku pun adalah guru bahasa Inggris. Namun sayang aku tidak punya nyali untuk ikut bergabung dalam obrolan mereka. Seandainya aku berani, ah, tidak. Aku belum siap untuk menerima kesalahanku sendiri dalam bertutur dengan bahasa Inggris. Kemampuanku masih sebatas menyimak dan memahami. Sesekali aku melirik ke arah kedua orang tersebut. Sungguh aku merasa seperti sedang belajar listening di Radio BBC London atau ABC Radio Australia yang dulu aku sering dengarkan di radio merk National milik nenekku di saluran SW sehabis shubuh. Tetapi yang ini benar-benar seperti live Talk Show di sebuah acara TV Swasta. Sekali lagi Tuhan memang luar biasa. Aku banyak mendapatkan banyak hal yang aku butuhkan. Hari ini memang luar biasa. Dalam kekagumanku, tiba-tiba Pak Asto datang dan memanggil si panitia cowok untuk beberapa urusan kepanitiaan. Aku terbengong kaku tak tahu apa yang harus aku obrolkan dengan orang di sebelahku. Pantaskah kalau saling diam? 99
17 Hari Kebodohan Pertama Tinggallah aku dan seorang di sebelahku yang tersisa di sana. Aku terpaksa dibuat kikuk dengan suasana ini. Semacam ada rasa ingin memuji kemampuan berbahasa Inggris dengan orang yang duduk di sebelahku ini. Tapi aku tak berani dan aku urungkan niatku. “Sudah lama kerja di Top Photo, Mas?” suara itu memecah lamunanku. “Oh, iya, belum. Baru empat bulan, Mba,” jawabku gugup. Aku menolehnya dan memberanikan diri untuk menatap matanya. Karena itu merupakan salah satu pelajaran yang baru saja aku dapatkan dari pembicara seminar tadi. Aku sempat menangkap bahwa kalau berbicara dengan atasan, klien, teman, atau siapa saja sebaiknya menatap mata lawan bicara kita. Itu kata narasumber tadi dan barusan aku langsung mempraktekannya. 100
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184
- 185
- 186
- 187
- 188
- 189
- 190
- 191
- 192
- 193
- 194
- 195
- 196
- 197
- 198
- 199
- 200
- 201
- 202
- 203
- 204
- 205
- 206
- 207
- 208
- 209
- 210
- 211
- 212
- 213
- 214
- 215
- 216
- 217
- 218
- 219
- 220
- 221
- 222
- 223
- 224
- 225
- 226
- 227
- 228
- 229
- 230
- 231
- 232
- 233
- 234
- 235
- 236
- 237
- 238
- 239
- 240
- 241
- 242
- 243
- 244
- 245
- 246
- 247
- 248
- 249
- 250
- 251
- 252