Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau 06 Dec

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau 06 Dec

Published by Ayo Sugiryo, 2022-02-20 02:34:48

Description: Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau 06 Dec

Keywords: Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau

Search

Read the Text Version

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey dengan mereka yang mungkin saja para pejabat, bisnismen, pelancong, artis, dan siapa tahu juga koruptor yang coba kabur ke luar negri. Setidaknya dia juga sempat berbicara dalam bahasa Inggris di atas pesawat, berbicara dengan pramugari dan dengan beberapa penumpang yang sedang bingung mencari tempat duduk. Mereka tampak takjub bertemu orang sefasih dia dan dia pun berkata dalam hatinya ‘Aku kan hanya seorang TKW’. Tak terasa pesawat pun landing dengan mulus. Mereka tiba, jalan terus, bergerombol di Bandara, sesuai arahan agen di tanah air sebelum berangkat. Lurus, ke kiri, lurus, ke kiri, lurus ke kiri, sampailah di gerbang. Langsung naik mobil, lalu di drop di masing masing Agen. Perjalanan dari bandara lumayan jauh, sampai harus menginap di sebuah night club yang sudah tutup hanya untuk menunggu matahari terbit. Lalu mereka digiring untuk check medikal yg terakhir sebelum sampai di rumah majikan masing-masing. Dewi fortuna masih berpihak padanya. Baru saja sampai di tempat, mereka langsung mendapat pengecekan kesehatan. Pengecekan cukup sederhana namun berakibat fatal bagi yang tidak memenuhi kriteria. Akibatnya dipulangakn ke tanah air hanya karena te i en je a nya terdapat cacing. Sungguh hal sepele namun begitulah orang Taiwan begitu takut sama cacing. Mungkin cacing Indonesia begitu berbahaya. Ada pula yang dipulangkan karena ambeyen. Istriku, lolos dan bisa melenggangkan kakinya di negri Meteor Garden itu. Selalu saja ada hal-hal yang dia rasakan aneh di sana. Saat bersama Agen yang mengantar langsung menuju rumah majikan, sepanjang jalan dia ngobrol dengan bahasa Inggris. Saat itu dia belum bisa bahasa Mandarin. Bisa pun nadanya masih berantakan. Di situlah dia disuruh berbohong. Agar jangan pernah bilang ke majikan bahwa dia seorang pengajar bahasa Inggris atau anak kuliahan. Sampai di rumah majikan, dia disuruh mandi, bersih-bersih, lalu dia diberi nasi kotak, suruh makan. Saat itu mulutnya terkunci, air mata keluar tak terbendung. Memasukan satu sendok berisi nasi dengan lauk komplit, seharusnya enak karena lapar. Tapi entah 201

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey kenapa, suami dan anak serasa ada di depannya. Tak ragu, dia bertanya pada Majikannya. “Sir, how much money I should give you to get the ticket?” Istriku bertanya tentang harga tiket pesawat dengan bahasa Inggris. Mereka tidak menjawab. Mungkin bingung. Bukan bingung karena tidak bisa bahasa Inggris, tapi apa maksud pertanyaan tidak jelas ini ‘Orang ini lagi minta pulang atau mau hutang duit buat beli tiket?’ Mungkin itu yang ada dipikran Majikannya. Pertanyaan yang sungguh lugu dan jujur. Dia ingin pulang. Malam itu juga mereka ajak dia naik mobil untuk dikenalkan pada keluarga nya, melewati jalan yang kebetulan ada kumpulan jompo sedang olah raga malam di luar rumah. Dan istriku seperti mendengar suatu keanehan di sana. Setelah didengarkan secara seksama ternyata musiknya adalah SKJ Indonesia. ‘Apakah ini cuma mimpi?’ pikirnya. Saat itu lah dia berpikir, ngapain mau pulang? Bagaimana dengan hutang-hutangnya? Lagian tuh mereka Indonesia banget. 202

36 Surat-surat dari Seberang Berbulan-bulan kulalui sudah tanpa keberadaan istriku di sisiku. Banyak rasa yang aku dapatkan selama tak ada dia. Aku sungguh tak mampu memendam rindu yang terlalu lama. Apalagi kalau melihat si kecil Refo yang semakin nyaman berada di pangkuan neneknya, Ibuku sendiri. Hatiku serasa hancur melihat suasana ini. Ibuku memperlakukan si kecil bagai anaknya. Dia menyusui si kecil dengan kehangatan dan sentuhan lembutnya. Aku menghawatirkan sesuatu. Aku takut anakku melupakan ibunya. Ternyata Ibuku cukup pintar, dia selalu mengingatkan si kecil dengan ibunya dengan menunjukan foto-foto ibunya. Ibuku juga mengajarkan banyak hal agar si kecil tumbuh sehat dan pintar. Aku seharusnya tidak meragukan Ibuku sendiri dalam mengasuh anakku untuk sementara waktu. Waktu yang tidak sebentar. Dua tahun adalah 365 hari dikali dua sama dengan 730 Hari. Dan itu bukan sebentar tapi sangat lama. Aku merasa bahwa ini adalah dosa terbesar yang pernah 203

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey aku lakukan. Aku sudah salah langkah hingga mengorbankan istri harus bekerja di luar negeri. Aku mengorbankan Ibuku sendiri bersusah payah mengasuh anakku. Aku juga mengorbankan anakku sendiri yang seharusnya berada di pangkuan ibunda dan mendapatkan perhatian dan pendidikan selayaknya dari seorang Ibu. Ya, Allah aku merasa dosa ini begitu besar aku lakukan. Ampunilah aku Ya Allah. Aku sungguh sangat down. Aku khilaf ya Allah. Aku sedih, aku tak berdaya. Berilah aku kekuatan. Semoga kamu semua tahu dan yakin mau mengerti bahwa semua ini aku lakukan dengan tujuan masa depan yang lebih baik. Aku tidak gila duniawi karena aku hanya ingin ada perubahan. Mudah-mudahan alasan ini bisa kamu mengerti. Hari berganti hari, hingga bulan dan bulan berikutnya pun datang. Tak perlu rasanya aku berlarut dengan perasaanku yang tak penting itu. Aku harus kuat dan bangkit. Aku membayangkan istriku sedang bekerja dan berjuang. Aku harus lebih bangkit dari dia. Sekecil apapun yang bisa kulakukan aku kerjakan. Jangan melihat hasil sekarang. Aku harus terus melangkah dan terbang. Untuk sementara waktu aku tinggal di desa dengan ibu karena masih mengawasi perkembangan si kecil. Tampaknya si kecil sudah semakin beradaptasi dengan lingkungan keluarga di desa. Aku pun memulai aktifitasku yang dulu sebelum istriku pergi. Aku jualan kelilingan lagi di kota. Walaupun keuntungan tidak banyak tapi lumayanlah untuk sekedar beli susu si kecil. Aku terus menunggu kabar dari istriku di seberang sana. Kekhawariranku membuncah tentang keberadaannya. Apakah dia baik-baik saja? “Kakak iparku meyakinkanku bahwa dia pasti baik-baik saja.” Saat yang aku tunggupun tiba. Aku mendapat Surat dari kantor pos. Hatiku berdebar membaca Surat istriku. Ibu dan kakakku ikut menunggu kabar apa yang ada dalam surat itu. Istriku berkisah dalam suratnya: 204

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey “Assalamualaikum Ayah, Mamas Refo Alhamdupillah Ibu di sini dalam keadaan baik dan sehat. Ibu juga mendapatkan keluarga yang sangat baik. Namanya Mr dan Mrs. Lee. Ibu senang sekali karena mereka bisa bahasa Inggris. Pekerjaan Ibu di rumah mereka adalah mengasuh anak usia 6 bulan. Bayi lucu, mungil. Aku seperti mengasuh anakku saja.” Aku tak mampu meneruskan baca surat itu. Aku lipat sementara aku menitikkan air mata dan menarik nafas panjang. Aku baca lagi setelah emosiku tenang. Dia berkisah: “Sementara aku mengasuh anak seusia anak sendiri di rumah yang sekarang diasuh oleh suami, yang dibantu ibunya. Ya mertuaku.” Dia berkisah lagi, katanya, “Aku tidak semata bekerja, tapi mata ini melihat, otak ini berputar dan rasa hati ini tak bisa bohong seperti rasa kecap nomer 1.” Dia melanjutkan, “Mereka, orang Taiwan sangat mendewakan Ibu, ya Ibu. Dan seorang istri, memperhatikan keluarga suami, dan sebaliknya. Tidak seperti di kampung halamanku, kami sibuk memikirkan keluarga masing-masing. Sungguh indah hidup mereka. Akupun meniru. Meski aku percaya tak semua orang sepaham denganku dan sekarang dan selamanya akan aku perhatikan keluarga suamiku. Karena memang benar adanya menurut agama bahwa surga istri berada pada suaminya. Semua itu aku peroleh dari seorang majikan di Taiwan yang langsung berbicara padaku, karena aku bertanya.” Aku bernafas lega. Rupanya istriku tidak sekedar bekerja tetapi dia banyak belajar tentang kehidupan berkeluarga. Aku sungguh takjub membaca kisahnya. “Banyak orang bertanya-tanya dan tidak percaya bahwa beliau adalah mertuaku. Taunya ya ibuku sendiri. Karena betapa kami saling menyayangi.” “Mengasuh si kecil hanya 6 bulan saja. Karena aku harus ikut dan tinggal di rumah 205

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey ibu mertua Mr. Lee atau Ibu dari Mrs. Lee. Dia sering menasihatiku dan selalu kuingat: kalau kau ingin disayang suamimu, sayangi keluarganya, kasihi dan cintai mereka, terimalah semua dengan segala kekurangannya” “Mereka keluarga terhormat. Pegawai PLN. Dan 3 orang anaknya, 2 laki2 satu dokter dan 1 bekerja di perusahaan telekomunikasi seperti Telkom gitu. Dan 1 cewe, ya Mrs. Lee yg anaknya aku asuh selama 6 bulan itu. Dia bekerja di perusahaan Asing.” “Selama aku tinggal di rumah Majikan baru alias orang tua Mrs. Lee, di sini aku lebih banyak ilmu lagi. Ilmu memasak, membersihkan rumah dengan cepat, tepat dan tidak cape. Padahal ya cape banget.” “Tugasku lebih banyak bersama Mrs. Wang. Usianya kurang lebih 50 tahun. Walaupun sudah tua, dia itu cantik, baik, sabar, bijaksana, suka berbagi ilmu, dan suka menyanyi kaya aku.” “Tugasku yang lain, antar beliau ke rumah sakit, mulai dari periksa, lalu keputusan harus operasi sampai pemulihan. Asyik juga jalan-jalan ke rumah sakit. Cuci mata. Makanya aku sering bertemu TKW yang lain. Tapi aku jaga jarak karena Oma, panggilan Ms. Wang. ga akan suka aku ngobrol dengan teman setanah air. Dan 1 hal yang bikin aku merinding adalah, Seorang perawat yang mendekati Oma dan berbicara. Dalam bahasa Taiwan, bukan Mandarin dan aku sangat mengerti artinya. ‘Ibu, beruntung sekali ibu ditemani anak ibu yang sabar dan sayang sama ibu.’ What?! Hello .... Aku ini jongosnya! Perawat itu tersenyum malu dan meminta maaf. Lalu, Oma jawab dengan senyuman dan berbisik, bukan, dia bukan anakku. Dia adalah dari Indonesia. Bla bla bla… Ama tidak marah, Ama tambah sayang sama aku. Hehehe. Sejak saat itu aku dilarang makan di dapur. Aku selalu berada di samping Ama saat masak. Aku yang potong-potong, cuci-cuci dan diakhiri dengan “ Yang ini buat kamu”. Aku ga pernah makan sisa mereka. Selalu diambilkan dulu.” “Ama itu yang mengajarkan aku sayang cinta perhatian harus pada keluarga suami. Dan biarkan suamimu yang perhatikan keluargamu. Dulu, sebelum ke Taiwan, aku merasa sombong pada keluarga suami. Setelah aku dapat apa yang Ama sampaikan 206

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey dan aku lakukan, terbukti, aku disayang banyak orang di lingkungan keluarga suami, meskipun tetangga, semuanya sayang. Aku merasa spesial.” Kurang lebih, inti dari beberapa surat istriku seperti itu. Banyak hal yang dia pelajari bukan hanya bekerja mencari Yuan, dollar, atau pun rupiah. Tidak sekedar itu. Itulah luar biasanya istriku. Aku sungguh beruntung memiliki istri yang selalu belajar dari apa saja yang dilihat, didengar, dan dialami. Baik dialami sendiri maupun orang lain. Belajar tak mengenal waktu, tempat, objek, semua bisa jadi guru kita. 207

37 Surat Setebal Buku Mungkin beginilah rasanya LDM (Long Distance Marriage). Siang memikirkan, malam gelisah dan susah tidur. Ingin rasanya berkumpul dan bercerita tentang kejadian sehari-hari. Ingin bercerita tentang perkembangan si kecil yang mulai banyak bisanya. Ingin bercerita tentang jualan kelilinganku. Banyak yang ingin aku ceritakan namun apa daya, biaya telpon mahal. Pernah aku menghubunginya via telpon wartel, waktu itu masih ngetren, aku habis ratusan ribu hanya untuk berbicara beberapa detik. Surat menyurat tetap masih paling efektif untuk menghapus rindu di antara kami. Yang sulit adalah bagaimana istriku bisa mendengar suara si kecil via wartel ini. Sementara waktu yang tepat untuk telpon adalah malam hari. Lagian di desa juga tidak ada wartel. Akhirnya kami menemukan cara. Rekaman. Ya, aku beli kaset kosong dan rekorder demi untuk merekam suaraku dan Refo yang sudah belajar ngomong dan sedikit menyanyi. Dia suka sekali lagu-lagu Tasya, Anak Gembala. Untuk surat-surat berikutnya kami selalu menyertakan kaset pita hasil rekaman masing-masing sehingga Refo terus 208

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey mengingat suara ibunya yang sedang di Negeri antah berantah di sebuah pulau kecil, Taiwan. Selain rekaman, aku juga mengirim kamus, kaset lagu-lagu Indonesia katanya istriku kangen lagu Indonesia. Aku pilihkan album terbaru dari Katon Bagaskara, dan katanya istriku sangat suka karena memang Katon Bagaskara merupakan artis favorit sepanjang masa kami berdua. Istriku juga sering mengirimkan sekedar buku dan mainan edukasi buat si kecil. Dan yang paling aku suka adalah saat dia mengirimkan kaset lagu barat oldies walaupun penyanyinya bukan asli, tapi penyanyi cover. Ya, negeri China memang terkenal membuat produk KW, apapun itu. Ada hal-hal menarik yang aku pelajari dari apa yang dialami istriku di sana. Banyak yang sudah dia tuliskan di surat-suratnya yang tidak cukup 2 atau 3 lembar. Bahkan dia pernah mengirimkan surat sampai satu buku. Sebagian diantaranya aku tulisakan di sini. Agar kamu tahu bahwa banyak hal yang bisa kita pelajari dari semua peristiwa yang dialaminya. Hal yang paling menyebalkan adalah ketika dia merasa bosan, tentunya dia akan menyanyi. Dia berkisah “Lagu favorit aku saat itu adalah... Menghitung hari “ by Krisdayanti. Meski ga hafal semua syairnya, tapi aku selalu bersenandung di bagian... “menghitung hari, detik demi detik…” Sudah itu saja.” “Pekerjaan yang mengasyikkan adalah mencoret tanggal di kalender. One by one. Mencuci mobil adalah sesuatu yang aneh karena mobil bisanya dibawa ke salon biar kinclong. Dan aku ingin sekali membersihkan debu di mobil baru, ya baru beli. Dan sebuah mobil butut yang sangat kotor. Di situ aku mulai berbohong, bawa ember dan lap. Pamit mau ke basement. Keesokan hari, anak majikan telpon dari basement, ‘Mah, mobilnya bersih!’ Aku kena marah. Aku pikir mereka say thank you. Eh malah apes. ‘Ngapain dibersihkan? Kamu di sini buka buat kerja kaya gitu.’ Bla bla bla… Aku jelaskan aku sedikit melawan. ‘Apa yang aku lakukan apakah merugikan kalian? Biarkan aku tetap melakukan,’ sambil memohon. Aku hanya ingin kill my time with my 209

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey style. Akhirnya, mereka mengijinkan, meskipun aku dipandang aneh oleh tetangga. Ah EGP.” “Saat bersih 2 mobil aku stel musik lagu2 Katon Bagaskara, sambil bayangin dia, ya siapa lagi, mantan pacarku yang pandai main gitar. Terkadang sambil menangis sesenggukan. Sumpah, aku sedih banget. Sedihnya saat itu. Aku kangen berat. Kangen dua jagoanku.” “Sholatku hanya 2x sehari, pagi banget dan malam sebelum tidur. Aku ga bisa puasa, dingiiiin, dan aku harus bekerja. Tapi aku sempat kan berada di depan altar, tempat doa orang Konghucu. Aku bilang sama Tuhan, Allah SWT, Ya Rabb, meski hanya 2x ku menghadap Mu, namun hati dan jiwa ini setiap saat mengingat Mu.” “Makanan yang ku makan, jujur saja tidak halal alias haram tentunya. Telur ayam dimasak bareng dengan daging babi cincang, meski aku hanya makan telur nya tapiiiiii...ya tetap saja. Namun harus bagaimana lagi? Apa aku menolak makan? Ah yang benar saja? Aku sering tak sengaja makan roti pemberian mereka tanpa bertanya langsung kumasukkan ke dalam mulut. Enak sumpah, enak banget. Lalu, entah kenapa aku tiba-tiba bertanya, dan jawabannya adalah ya itu itu. Ya buat mengingat saja. Jangan makan roti itu lagi. Biasanya Ama yang mengingatkan, Dian, itu babi, Ini babi.” “Pernah suatu malam, aku bertanya, itu minuman apa? Menantu Ama yang seorang perawat rumah sakit bilang: Itu syrup. Lalu diambilnya segelas buatku. Rasanya memang seperti syrup Mbah Maridjan, ABCHE dan sejenisnya, tapi ini sungguh enak sekali. Kami minum bersama, dengan paduan sea food. Mantap. Nikmatnya luar biasa. Dan pada suatu malam, 2 jam setelah itu terjadi, semua berada di kamar masing- masing. Perutku seperti terbakar. Panas. Panas sekali. Seperti ada api yang menyala. Dan makanan enak tadi habis bis bis aku muntahkan. Salah apa aku ini Ya Allah Ya Rasulullah. Apakah aku harus mati di Taiwan? Ah ada ada saja, pikiranku melayang, lemas, mual tak karuan rasaku. Semua orang panik melihatku. Mungkin dalam pikiran mereka aku hamil, perempuan jalang, genit. Alhamdulillaah tidak terjadi. Aku baru ingat bahwa minuman itulah yang membuat aku seperti preman mabok. Tapi 210

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey anehnya mereka tidak mabok. Ya iya lah, kan ini pertama kali dan terakhir buatku menengga minuman penghuni neraka. Mereka sudah terbiasa minum, mabok? Never!!! Ga kaya di kampung, udah miskin, pemabuk, ngerusak, ngamuk, ga level. Mereka minum seperti itu untuk having fun dan kadang untuk kesehatan. Sungguh pengalaman minum sampagne yg memalukan.” “Asal kalian tau, daging babi itu rasanya enak. Minuman beralkohol itu rasanya mantap. Tapiiiiii...” “Tinggal bersama Ama dan Akong serta keluarganya mengajarkan banyak hal. Yang akan aku terapkan dalam keluarga ku nanti saat aku pulang. Pengalaman adalah guru yang paling baik.” Begitulah dia bertutur dalam suratnya yang setebal buku. Banyak hal yang sudah dia tumpahkan ke dalam lembaran-lembaran kertas itu. Mungkin hanya dia satu satunya orang yang mengirim surat setebal buku. Tulisan seperti catatan harian pegawai negeri sipil yang setiap hari harus laporan. Dia juga menyertakan gambar-gambar rumah dan perabotannya. Katanya Itu masa masa di Rumah Mrs. Lee. Dan apa yang terjadi di rumah Ama Akong, dia lebih gila lagi. Dia meminjam alat rekam untuk merekam suara, bernyanyi lagu-lagu anak-anak bahasa Inggris, dan bercerita seperti layaknya guru PAUD yang sedang mengajari anak didiknya. Ya, berbuat gila demi anaknya. Lalu dikirim ke desa di mana anakku berada. Di desa yang sangat jauh dari kota dan susah air saat kemarau. 211

38 Passion Jarak boleh jauh. Biarkan ratusan pulau dan laut, ribuan gunung dan sungai, hamparan padang rumput dan lembah, bahkan berapa kali musim menghalangi. Namun komunikasi diantara kami adalah yang utama. Airmail-airmail itu, kaset- kaset rekaman itu, dan terkadang membuang ratusan ribu di wartel tak kami pikirkan. Kami menepis segala yang berbau materi, artinya kami tidak lagi berpikir terlalu jauh untuk menghabiskan berapa $NT atau Rp hanya untuk beli perangko, biaya paket, maupun wartel. Kami hanya butuh komunikasi. Kami adalah sang perindu. Sementara itu, aktifitasku di kota kecil ini sudah mulai berkurang. Salah seorang pemuda di desa yang baru saja kembali dari merantau di Taiwan menanyakan suatu hal yang aku tak pikirkan sebelumnya. Dia datang ke rumah dan meminta bantuanku untuk mengajarinya bahasa Inggris. Dia mengenalku sebagai seorang yang memiliki kemampuan bahasa Inggris. Dia hanya lulusan sekolah dasar. Tadinya aku tak percaya. Dia begitu menggebu untuk bisa belajar bahasa Inggris. Aku pun mencoba untuk bisa membantunya. Akhirnya kami buat jadwal pertemuan. Dalam beberapa 212

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey bulan aku sibuk melayani pemuda desa itu untuk belajar komunikasi dengan bahasa Inggris. Aku begitu takjub dengan semangatnya yang luar biasa. Keinginannya untuk pergi berlayar ke daratan Eropa benar-benar membuatnya sungguh-sungguh belajar. Dia tak berpikir apa lulusan dia. Dia hanya butuh bisa berbahasa Inggris. Akupun tak percaya diri apakah aku bisa membuatnya bisa berbahasa Inggris. Rupanya usahanya untuk belajar sangat luar biasa. Dengan waktu yang singkat dan rasa percaya diri yang tinggi membuat dia mampu berbahasa Inggris dengan baik. Aku juga heran kenapa dia bisa dan kenapa aku juga bisa. Aku dapat menyimpulkan bahwa belajar bahasa tidak harus dilandasi oleh tingkat pendidikan, tapi kemauan keras untuk belajar dan berani mempraktekan. Ya, keberanian merupakan modal penting dalam belajar bahasa. Aku sungguh kagum padamu, Sucipto. Satu anak berhasil membuktikan dirinya mampu berbahasa Inggris hingga merambat ke beberapa pemuda lain yang juga punya kemauan yang luar biasa. Sucipto menjadi pelopor teman lain. Aku menggarap mereka dengan sepenuh hati dan seolah aku telah menemukan passionku. Entah kenapa, aku telah menemukan yang aku inginkan. Walaupun belum bisa dikatakan aku mahir, justru banyak hal dan pengalaman belajar dari mengajari teman-teman desaku. Aku tidak berpikir materi apalagi memasang tarif buat mereka. Prinsipku, mereka bisa, aku puas. Tapi justru dari itulah banyak rejeki mengalir. Mereka memberiku sejumlah uang yang tidak sedikit setiap akhir bulan. Ada pula hasil panen sayur berdatangan ke rumah. Kejadian ini sungguh menggugah. Menggugahku untuk terus meng-update kemampuan bahasa Inggrisku. Aku banyak membaca buku-buku bahasa Inggris dan semakin sering mendengarkan lagu-lagu bahasa Inggris. Dengan gembira aku mengabarkan hal ini ke istri pada surat-suratku selanjutnya. Dia merespon sangat gembira. Dia memberiku banyak motivasi untuk meneruskan aktifitas yang meruakan bakat terpendamku. Lambat-laun kondisi keluargaku mulai berubah. Sejumlah hutang sudah mulai berkurang. Perjuangan istriku tak sia-sia. Dia berhasil menepis homesick yang dia alami sejak pertama kali menginjakan daratan Taiwan demi tujuan awal kepergiannya, 213

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey yaitu ingin melunasi hutang-hutang. Tapi aku yakin, komunikasi gila yang kami lakukan memiliki peran penting baginya untuk bertahan hingga hampir mencapai 2 tahun. Yah, aku menganggapnya hubungan kami ini cukup gila. Kegilaan kami dalam mengirim surat berlembar-lembar hingga seperti buku, membuat rekaman kaset dan saling mengirimnya, menghabiskan ratusan ribu di wartel ternyata mampu menciptakan jarak ribuan bahkan mungkin jutaan mil terasa dekat. Itu mungkin yang bisa membuat dia bisa bertahan. Dengan begitu, aku sudah terlihat punya aktifitas yang juga lebih membanggakan bagi Bapak dan Ibuku di desa. Mereka ikut menyambut gembira ketika aku akan berpamitan untuk memberikan les bahasa Inggris buat teman-temanku di desa. Mereka mungkin membayangkan bahwa aku adalah seorang guru yang mau berangkat mengajar di sekolah. Ah, mereka terlalu berharap. Mana bisa seorang lulusan SMA bisa menjadi guru. Mungkin mereka terlalu banyak bermimpi. Tapi, apapun itu, sudah menjadi hak mereka untuk merasa bangga denganku. Semenjak aku sibuk membantu teman-temanku di desa belajar bahasa Inggris, aku mulai berfikir sesuatu yang terlihat mustahil untuk bisa aku lakukan. Tapi, aku seperti memiliki keyakinan bahwa hal mustahil itu akan bisa menjadi sebuah kenyataan. Dorongan ini semakin kuat dan benar-benar tumbuh di dadaku. Aku berfikir ke depan. Apa yang terjadi jika hutang-hutangku lunas, istri pulang, dan aku pun belum punya usaha yang jelas, pastilah sisa uang yang ada akan habis lagi hanya buat makan. Ini tak boleh terjadi. Aku berfikir untuk mencari kerja lagi di kota sesuai passionku. Menjadi pengajar bahasa Inggris di kursusan. Aku cukup percaya diri untuk mengajarkan ‘percakapan’ dalam bahasa Inggris berbekal pengalaman mengajari teman-temanku di desa. Tapi, apakah pihak kursus akan bisa menerimaku hanya berbekal ijazah SMA dan pengalaman di desa? Aku mundur lagi. Dan aku berpikir lagi. Aku memikirkan masa depan keluarga terutama anakku. Bagaimana nantinya kalau aku masih berstatus seperti ini. Bukankah aku sama saja dengan teman-temanku di desa yang hanya lulus SD? Aku harus berbeda. Aku segera menceritakan hal ini pada istriku di surat-surat selanjutnya. Aku tuliskan 214

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey semua yang aku mungkin bisa lakukan demi masa depan keluarga. Istriku menyambut gembira atas keinginanku itu. “Iya, Mas. Aku setuju. Kapan Mas Suryo mendaftar? Sudahlah, jangan ditunda lagi. Ini kan demi masa depan keluarga. Mas Suryo harus kuliah. Demi anak-anak kita.” Itu kutipan surat istriku menanggapi suratku. Lampu hijau sudah dinyalakan. Aku tak menundanya untuk segera mendaftarkan diri di semester ini. Aku berpikir dengan statusku nanti yang mahasiswa, aku akan bisa percaya diri untuk masuk ke dalam dunia pendidikan non-formal menjadi tutor bahasa Inggris. Kisah pun mencatat bahwa sekarang statusku adalah mahasiswa. Aku menjadi mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di sebuah universitas swasta di kotaku. Dengan status ini, aku memberanikan diri untuk mencoba menjadi bagian dari pengajar bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus bahasa tersebut. Aku mendapat informasi lowongan pekerjaan dibutuhkan beberapa pengajar bahsa Inggris di sebuah lembaga pendidikan dari papan tempel di Kantor Pos. Dan surat lamaranku berbuah panggilan wawancara dan tes mengajar ‘micro teaching’. Aku tak menyangka saat tes dan micro teaching, aku bersamaan dengan salah seorang dosen muda yang ternyata dia salah seorang dosen di kampusku. Haruskah aku harus bersaing dengannya? Aku sungguh grogi awalnya. Tapi aku berusaha menepis rasa itu. Aku memikirkan anak dan istriku. Aku tak boleh gagal. Aku tak peduli dengan statusku yang baru mahasiswa semester 1. Aku harus bisa membuktikan bahwa aku punya kemampuan, dan status mahasiswa hanya sebagai modal kepercayadirian. Tes tulis dan micro teaching berjalan lancar. Aku bisa melewatinya. Selanjutnya, informasi diterima atau tidaknya akan disampaikan lewat telpon bagi yang punya nomor telpon rumah. Tapi saat itu aku suruh datang 2 hari setelah micro teaching. Seorang pegawai lembaga memasuki ruang kelas di mana aku suruh menunggu. Di sebelahku, sesosok wajah yang tidak asing lagi bagiku. Dia lah dosen muda yang waktu itu micro teaching bersama. Aku berdebar antara diterima atau tidak diterima. Aku 215

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey berusaha menyingkirkan kecemasanku di hadapannya. Aku harus tampil setenang mungkin. Aku harus siap menerima apapun keputusan dia. Wajar saja, kalau aku ditolak karena aku hanyalah mahasiswa semester 1, sedang orang di sebelahku adalah dosen. Ah, biarlah. Aku sudah siap. “Pak Suryo dan Pak Panji, kami sedang ada kerjasama dengan AKL di Baturraden. Bapak berdua kami tugaskan untuk mengajar semester ini di kampus AKL. Untuk jadwal dan silabusnya, nanti saya siapkan.” Aku hampir saja tidak bisa mengendalikan diri mendengarkan penjelasan karyawan lembaga ini. Apa aku salah dengar atau salah menginterpretasikan aku tak tahu. Nafasku sesak menerima kabar gembira itu. Aku tak percaya. Aku dipercaya mengajar Mahasiswa kesehatan sedangkan aku masih berstatus mahasiswa semester 1. Tapi memang aku tidak salah informasi. Dan, fix aku diterima mengajar di lembaga itu. Aku angkat dua jempol lembaga ini. Ternyata mereka merekrut guru berdasarkan kemampuan bukan hanya ijazah formalnya. Buktinya aku disejajarkan dengan bapak dosen di sebelahku ini. Keluar dari lembaga kursus, aku berjalan seperti melayang. Aku tak tahan ingin segera mengabarkan berita ini pada istriku lewat suratku yang ke sekian kali. Aku pun menceritakan kabar gembira ini pada Ibu Bapakku di desa. Mereka bingung dan bertanya, “Kamu jadi guru?” Begitulah pertanyaannya, simpel. Selalu memandang profesi guru itu istimewa. Aku pun hanya mengangguk. Dalam hatiku, aku ketawa. Tapi menjelaskan hal itu pada orang tua desa agak susah. Jadi, biarlah. ‘Aku bukan guru, Pa. Aku cuma jadi pengajar di kursusan. Mengajar bahasa Inggris.’ Aku menjawab dalam hatiku saja. Biarkan mereka bahagia. 216

39 Kabar Tak Terduga Tahun pertama semester pertama di kampus, banyak pengalaman menarik yang aku temui. Aku melihat wajah-wajah penuh semangat untuk belajar. Mereka para mahasiswa baru yang ambisius. Mungkin, inilah belajar yang sesungguhnya. Belajar sesuai minat dan keinginan masing-masing. Tidak seperti di sekolah dulu. Mau tidak mau, suka tidak suka mereka harus belajar semua mapel yang sudah ditentukan pemerintah. Nah, di sini, di univeritas sudah tidak ada lagi mahasiswa yang belajar bukan atas dasar minat dan keinginanya. Kecuali satu orang teman sekelasku yang asal Cirebon ini. “Gus, kenapa kamu sering ga masuk kelas?” Aku mencoba menyapa Agus, yang asli Cirebon ini. “Ngapain masuk kelas? Masuk atau tidak masuk kelas bagiku ngga ada pengaruhnya. Tetap saja aku ga bisa bahasa Inggris.” Jawabnya santai dengan logat Cirebon yang kental. 217

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey “Trus, kenapa kamu kuliah bahasa Inggris?” Aku sedikit meledek. ““Bapakku yang mau aku kuliah bahasa Inggris. Katanya, kuliah bahasa Inggris banyak peluang kerjanya,” jawabnya simpel.” “Terus kenapa juga kamu ambilnya pendidikan, bukan sastra? Emangnya kamu pingin jadi guru bahasa Inggris?” “Bapakku juga yang mau aku jadi guru bahasa Inggris.” “Lah kamu sendiri maunya jadi apa?” “Aku sih, nggak mau jadi apa-apa. Aku sendiri ngga tahu mau jadi apa. Terserah bapakku saja, lah.” “Mestinya Bapakmu yang kuliah Pendidikan bahasa Inggris, Gus,” Ari temanku ikut komentar sambil ketawa terkesan mengejek. Mungkin dia geli juga mendengarkan statemen Agus. Tapi Agus bukannya marah malah ikut ketawa. Mungkin dalam ketawanya dia memikirkan, biarkan saja Bapakku yang menanggung dosanya kalau aku ga bener kuliahnya. Itulah Agus. Kuliah demi Bapaknya. Dia sendiri tak jelas mau kemana tujuannya. Sungguh ironis memang. Dan ini cukup berbahaya kalau si Agus itu nantinya lulus dan menjadi guru bahasa Inggris di sekolah. Akan jadi apa nanti anak didiknya? Hal ini membuktikan bahwa peran orang tua masih sangat dominan buat anaknya untuk menentukan jurusan kuliahnya. Tapi aku berharap, nantinya Agus akan bisa menikmati dan berubah semangat belajarnya. Dan menjadi guru yang baik. Hal menarik yang lain, ketika aku lewat diantara gerombolan mahasiswa baru, banyak juga yang mengira aku dosen mereka. Hingga suatu hari ketika aku sudah akrab dengan mereka, mereka pun mengklarifikasinya. “Pak, Sur. Tahu, ngga? Dulu aku mengira, Pak Suryo itu dosen kita. Bener, Sumpah.” Sony mengklarifikasi dan tak lupa memukul pundakku. Aku oleng tapi masih tetap berdiri. 218

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Teman-temanku banyak yang memanggil aku Pak, karena tampangku memang sangat berbeda dengan yang lain. Selain umurku yang memang paling tua diantara mereka, aku sering memakai baju formal ketika kuliah, karena sebelum atau setelah kuliah banyak jadwal mengajarku di kursusan. Aku sudah banyak jam mengajar baik di dalam lembaga kursus itu sendiri atau di instansi yang bekerjasama dengan lembaga kursusku. “Oh, ya? Kenapa bisa begitu,” Aku tak percaya ungkapannya. “Soalnya, Pak Suryo tampangnya mirip-mirip dosen gitu,” tambahnya. Ya, gapapa dimiripin seperti dosen. Memang sih, kalau di tempatku mengajar di AKL, aku dipanggil pak dosen. “Mungkin bukan mirip dosen, tapi yang pasti tampangku kelihatan sudah tua, kan?” Jawabku sambil tertawa sendiri. Memang, delapan tahun selisih usia mereka denganku. Itu artinya selama delapan tahun lah masa break aku dari lulus SMA hingga kuliah. Dan itu tanpa disadari bahwa ternyata Tuhan telah mengirimku ke sebuah gedung yang bernama kampus ini. Tempat di mana para lulusan SMA berbondong-bondong dan berebut kursi untuk bisa melangkah untuk mencapai sebuah tujuan, menuntut ilmu. Tapi ada keuntungan sendiri buatku dengan masa vakum 8 tahun itu. Aku banyak akrab dengan para dosen yang ternyata banyak yang seusia denganku. Hal ini sangat mempermudah aku untuk sekedar minta ijin pindah kelas sebelah dalam mengikuti kuliah, karena aku cukup kesulitan mengatur jadwalku kuliah dan mengajar di kursusan. Sementara, aku sibuk dengan mengatur jadwal mengajar di lembaga kursusku dan jadwal kuliah. Tapi aku tak mau gagal kuliah. Aku harus selesaikan SKS-SKS itu secepatnya. Akut tak boleh berlama-lama di kampus. Aku kuliah, tapi aku bukan anak kuliahan. Semester 1 belum selesai, tiba-tiba aku mendapat kabar dari Jakrta, bahwa istriku 219

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey besok pagi sudah akan tiba di Jakarta. Aku terkejut bukan main. Tidak ada kabar kepulangan sebelumnya. Tapi berita itu benar. Rupanya istriku tidak menyelesaikan kontrak hingga 2 tahun. Ada beberapa alasan mendasar mengapa istriku harus pulang. Yang pertama jelas kerinduan yang tak tertahankan dengan kami. Kedua, beban hutang sudah terlunasi. Dan yang ketiga, aku sudah menemukan pekerjaan yang sesuai passionku dan aku sudah bisa merasakan dunia kampus yang tak terbayangkan sebelumnya. Sorenya kami sekeluarga beramai-ramai berangkat ke Bandara Soekarno Hatta. Kami menyewa mobil untuk menjemput sang Istri. Di sinilah kami mendapatkan sebuah pelajaran berharga. Paginya, kami sudah berada di bandara di pintu keluar. Burung-burung besar itu banyak berputar-putar di atas kepala kami dengan suara menggelegar memecahkan telinga. Sungguh pemandangan luar biasa, pertama kali pergi ke Bandara. Kami sekeluarga menunggu kedatangan istri sesuai tempat dan waktu yang dijadwalkan. Kami menunggu cukup lama dan dengan sabar dan kami meneliti setiap penumpang yang baru turun dari pesawat menuju pintu keluar. Tak satupun dari mereka kutemukan wajah istirku. Pesawat berikutnya landing dan memuntahkan isi perutnya. Kami mengamati lagi wajah-wajah dari dalam pesawat itu. Tak satupun dari mereka yang mengaku istri saya, karena memang mereka bukan istri saya. Aku semakin cemas. Ada banyak pertanyaan di benakku. Apakah aku salah terima informasi? Ataukah memang perjalanan ditunda, kami tidak mengerti. Kami terus mengamati setiap penumpan pesawat yang turun. Hingga tiba-tiba aku dikejutkan oleh teriakan seseorang yang suaranya aku sangat kenal. “Maaas! Mas Suryo!” Wajah istriku menyembul keluar dari sebuah sedan hitam. Aku tertegun dan diam sesaat. Dia berlari menuju kearahku dan langsung memelukku, sebentar. Ya, sebentar saja. Karena memang ada sebuah insiden yang terjadi dan harus segera diselesaikan. Ternyata sedan hitam itu bukan orang baik-baik seperti yang dia katakana bahwa katanya dia itu petugas dari agen. Dia ternyata penipu kelas kroco yang suka mondar-mandir di bandara. Kami sangat terkejut mendengarkan perdebatan keras antara istriku dan penipu tadi. 220

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Dia mengaku dari agen yang ada di Jakarta yang ditugaskan menjemput para TKW yang baru pulang. Bagaimana istriku tidak percaya, dia sangat meyakinkan katanya. Awalnya istriku tidak curiga, tapi setelah mobil itu terlihat mencurigakan, hanya berputar-putar mengelilingi bandara, dia mulai curiga dan minta balik ke bandara. Dan benar juga dia meminta bayaran travelnya dengan sangat mahal! Gila rupanya oknum ini ada main dengan petugas bandara hingga mengetahui ada target yang bisa untuk diperas. Dengan segala upaya istriku berdebat dan mengatakan bahwa dia pulang tidak bawa uang. Tetapi akhirnya kena juga beberapa ratus ribu untuk penipu tadi yang sudah membawa istriku berputar-putar. Biarlah, kami ikhlaskan saja. Yang penting istriku kembali ke pangkuanku dengan selamat. Itu hal yang paling membahagiakan. 221

40 Ada Cemburu Menyelinap Ada pepatah mengatakan, sejauh apapun pergi, keluarga adalah tempat pulang. Uang dan popularitas tak mampu membayar kebersamaan dengan keluarga. Sungguh kebahagiaan yang tak ternilai manakala berkumpul kembali bersatu membangun keluarga. Semua tak ada bandingannya. Perjalanan keluargaku sudah digariskan dengan berbagai likunya. Tuhan menghendaki keluargaku harus mengalami bagaimana rasanya perjuangan dan perperpisahan. Buah kerinduan yang mengkristal telah mencair kembali. Ternyata, dua tahun itu waktu yang singkat. Karena perjalanan ini masih panjang untuk dilalui bersama dengan berbagai ujian lain. Aktifitasku bekerja dan kuliah kadang membuatku tak bisa mengendalikan waktu. Banyak tugas-tugas kuliah yang harus aku selesaikan tidak sesuai jadwal kuliah. Sebagai kepala rumah tangga aku juga mesti pandai mengatur waktu agar semua 222

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey mendapatkan perhatianku semestinya. Sepulang dari Rantau, istri masih memfokuskan diri untuk mengasuh si kecil. Setelah lama ditinggal dia butuh penyesuaian dalam beberapa hal terutama kebiasaan- kebiasaan yang dianggap kurang sesuai hasil asuhan neneknya selama hampir dua tahun. Di sini, rupanya cukup menyita waktu dan pikiran untuk mengedukasi kembali si kecil. Tidak bisa dipungkiri bahwa mengurus anak bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak hal yang mesti dibenahi. Hingga kadang menguras emosi sang ibu. Karena kesibukan kami masing-masing, aku kuliah dan kerja, istri sibuk mengurus anak, bukan tidak mungkin kami sering mengalami cross and crash. Hal ini tak bisa dihindarkan lagi di dalam sebuah rumah tangga. Suatu hari aku banyak disibukan dengan tugas presentasi kelompok yang harus diselesaikan segera. Sementara jadwal kuliah hari itu lumayan padat. Di sela-sela jam kosongku kadang aku memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk urusan tugas. Kebetulan hari itu jadwal mengajar kosong. Aku berpikir bisa memanfaatkan sisa waktu selesai kuliah untuk menyelesaikan tugas itu. Aku pulang telat. Istriku diam tak mau diajak bicara. Aku paham. Aku salah. Tapi harus bagaimana lagi. Semua harus bisa diselesaikan. Istriku seperti tak percaya. Sebenarnya bukan tak percaya tapi mungkin dia kesal menunggu kepulanganku yang terlambat. Aku berusaha ramah dan mengajak bicara dan meminta maaf. Tapi tak semudah itu istriku memaafkanku. Lalu aku ambil sikap. Aku ikut diam. Semakin aku diam dia semakin marah. Ngajak bicara salah, diam pun salah. Aku tak tahu harus berbukt apa. Perlahan-lahan aku mulai mengerti betapa istriku butuh perhatianku. Mungkin semua wanita di dunia ini sama bahwa dia hanya butuh perhatian dari lelaki pasangannya. Di hari yang lain, saat itu si kecil tiba-tiba badannya panas. Dia demam. Tampaknya radang tenggorokan. Kami berdua segera melarikan si kecil ke klinik. Hari ini aku tidak bisa berangkat kuliah. Aku harus membantu istri mengurus si kecil yang sakit. Aku tak tega melihat istriku sendirian mengurus si kecil. Aku tahu hari ini ada tugas presentasi kelompok yang harus diselesaikan dengan teman-teman. Tapi biarlah, aku hari ini harus off dan fokus buat keluargaku. 223

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Tak kusangka, serombongan anak-anak muda menggeruduk rumahku ketika aku dan istri sedang mengurus si kecil. Mereka ternyata teman-teman kuliahku. Mereka datang untuk mengambil file presentasi. Ada satu cowok dan dua cewek. Istriku menyambut ramah kedatangan mereka. Mereka juga banyak mengobrol dengan kami. Mereka sangat menyesal kasihan anakku sakit. Setelah cukup lama mengobrol, mereka berpamitan. Tak lama setelah kepulangan mereka, istriku menarik tanganku dan mengajakku bicara. “Mas Suryo, harusnya kamu hari ini berangkat. Kasihan teman-teman mas Suryo sampai datang ke rumah. Kenapa Mas Suryo nggak bilang?” Istriku menatapku tajam. “Sudah nggak papa kok Hon. Biarkan saja mereka mengerjakan sendiri. Lagian aku juga sudah banyak menyiapkan materi untuk mereka.” Aku menenangkan. “Engga Mas. Pokoknya Mas Suryo harus berangkat. Temui mereka, Mas. Kasihan. Aku ngga mau Mas Suryo tinggal di rumah hanya gara-gara Refo sakit. Aku bisa mengurusnya sendiri. Biasanya aku juga sendiri. Pokoknya Mas Suryo harus pergi.” Dia berlalu menuju kamar dan menutup pintu dan menguncinya. Aku tak tahu apa yang dipikirakan istriku. Aku ragu dari kata-katanya. Aku dapat menangkap bahwa dia tidak benar-benar menyuruhku pergi. Aku tahu dia kecewa terhadap sesuatu atau dia hanyalah melampiaskan kekesalannya padaku. Sebelum kedatangan teman-temanku semua baik-baik saja. Tak ada hal yang perlu dimasalahkan. Kadang di sini, aku tak mengerti sebenarnya apa sih yang dipikirkan wanita. Apakah aku kurang peka? Apakah aku kurang perhatian? Pokoknya, aku tak mau menyakiti wanitaku ini. Aku tak mau membuat istriku resah dan gelisah karena ulahku. Setelah beberapa kejadian itu, aku mulai bertindak hati-hati, maksudnya jangan sampai aku melakukan hal sekecil apapun yang membuatnya tidak bahagia walaupun tanpa disengaja. Tapi rupanya posisiku saat ini sering membuatnya uring-uringan. Suatu pagi aku berpamitan hendak berangkat kuliah. Seperti biasa dia menyiapkan 224

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey segala sesuatunya dan mengantarku untuk berangkat. “Semangat ya, Mas. Habis kuliah ada ngajar ngga?” Ucapnya sambil menyalamiku. “Insyaallah semangat terus. Nanti jam dua ada kelas di kursusan, hon,” jawabku mantap. “Ya pastilah semangat. Kan mau ketemu teman-teman tuh, yang cantik-cantik, yang muda-muda. Aku kan sudah tua, mantan TKW lagi,” katanya sambil senyum menyindir. Aku tercekat dengan kata-katanya. Aku membalikan badan dan mengurungkan langkahku. “Aku nggak jadi semangat, hon. Aku ga berangkat sajalah.” Sekarang aku mengerti kenapa dia sering uring-uringan. Rupanya ada cemburu yang menyelinap di hatinya. “Lho, Mas. Kok gitu, sih. Udah ngga usah mikirin aku. Aku baik-baik saja. Memang kenyataannya aku mantan TKW, kan.” “Tapi kan aku mau kuliah, bukan mau melakukan yang engga-engga.” Aku sedikit membela. “Tapi, tetap mau ketemu teman-teman cantik itu, kan. Udah, berangkat sana!” Dia terus memaksa masih dengan kata-kata yang tak enak dirasa. “Males. Mendingan aku nggak usah kuliah saja lah.” Itu kalimat emosiku. Dalam beberapa kesempatan, kami sering mempermasalahkan hal kecil yang menyangkut perasaan. Sebenarnya tak ada sesuatupun yang terjadi dan menyimpang. Tapi kalau sudah urusan perasaan, ini menjadi hal penting buatku. Perdebatan berlanjut sering terjadi, hingga akhirnya aku pun terpaksa berangkat dengan hati yang tidak tenteram. Sepulang kuliah dan kerja, istriku sudah menyambutku dengan senyuman tercantiknya. Dia pun memelukku erat-erat atas kejadian tadi pagi. Dia merasa bersalah telah memperlakukan aku sedemikian sensinya. 225

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey “Mas, aku minta maaf ya, yang tadi pagi. Mas Suryo sudah tahu aku kan? Mas Suryo harus kuat menghadapi aku,” tuturnya lembut. “Emangnya ibu ini Power Ranger, hingga aku harus kuat menghadapi.” Jawabku asal. Kami pun tertawa ngakak dan berpelukan semakin erat pertanda sudah saling melebur dan memaafkan. Tapi aku harus paham bahwa perasaan wanita memang sedalam samudra yang kadang lelaki tidak mampu untuk menyelaminya. Aku hanya mengerti, ketika dia cemburu seperti itu, tandanya dia sayang padaku. Aku harus mulai belajar memahami itu. Kehidupan dan permasalahn rumah tangga ternyata tidaklah hanya masalah ekonomi dan uang saja. Banyak ini dan itu yang harus dipahami. Permasalahan hati kadang menjadi permasalahan inti. Komunikasi menjadikan jembatan yang mampu menghubungkan kerenggangan ataupun perbedaan pandangan terhadap suatu masalah. Saling memahami perbedaan dan kekurangan masing-masing itu perlu dipelajari. Hingga perbedaan hormone yang dimiliki pun harus dipahami. Keseimbangan biologis pun kadang menentukan keharmonisan rumah tangga. Pernah dengar ahli mengatakan bahwa perempuan perlu memiliki sedikitnya hormone testosterone agar memiliki sedikit kuat seperti laki-laki. Hal ini penting bahwa perempuan juga tidak terlalu lembut dan selalu ditindas lelaki yang tidak peduli sama perempuan. Dan Laki-laki perlu sedikit perlu memiliki hormone progesterone agar sedikit memiliki kelembutan agar wanita juga bisa diperlakukan lembut oleh suaminya. Tapi itu cukup sedikit saja. Tak boleh kebanyakan. Kalau kebanyakan, akibatnya laki-laki bisa jadi banci dan perempuan bisa jadi perempuan super power yang bisa sewaktu-waktu menindas lelaki. Permasalahan hati diantara kami menjadikan bahan pembelajaran kami setiap hari. Dia mengaku tidak mudah baginya untuk menghilangkan perasaan cemburu begitu saja terutama ketika aku berada diantara mereka. Ketika aku berada diantara teman- teman kuliahku yang katanya cantik-cantik dan muda-muda itu. Tapi aku anggap ini sebagai pemicu semangatku untuk segera menyelesaikan kuliahku. Aku harus 226

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey segera lulus. Aku tak boleh gagal hanya gara-gara permasalahan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik dan dengan segala kelembutan. Istriku hanya butuh perhatian tidak lebih. Rasa cemburu adalah wujud aplikasi perasaan sayang yang harus aku sikapi dengan bijak dan tenang. Saat istriku cemburu, aku harus pandai menahan diri dan tidak turut serta manaikan emosi. Pasti ada cara untuk meluluhkan hatinya, walaupun itu tak mudah. 227

41 Titik Syukur Hal yang paling menarik untuk diperbincangkan dalam keluargaku adalah belajar dan pendidikan. Belajar bagi kami tidak mengenal ruang dan waktu. Apapun bisa menjadi sarana dan sumber belajar yang baik. Sesuatu yang baik dari yang kita lihat, dengar, baca, adalah merupakan pelajaran buat kami. Termasuk pengalaman hidup kami yang sudah lalu dan penuh dengan liku juga merupakan kampus pembelajaran terbaik yang pernah kami miliki. Tak terpikirkan sebelumnya kalau aku akan menginjakan kaki ini ke dunia kampus yang sebenarnya. Dengan segala peluh dan sedikit ambisi untuk bisa cepat lulus, aku bisa melewati semua semester dengan lancar dan memperoleh nilai sangat baik. Pernah hampir tertunda satu semester karena aku terlambat membayar biaya semesteran. Seorang pejabat Pembantu Rektor III memberikan kebaikan diluar pemikiranku saat itu. Dia lah Pak Ibnu. Aku masih sangat mengingatnya. Waktu itu aku hendak mengajukan cuti satu semester karena alasan keuangan. Tapi waktu pengajuan sudah 228

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey mepet dan tidak bisa lagi untuk memproses cuti. Dengan bijaksana dia mengeluarkan sejumlah uang pribadi yang aku butuhkan untuk registrasi. Sungguh kebaikan yang luar biasa. Dia membantuku untuk lanjut kuliah semester berikutnya. Dia tahu kalau aku sudah berumah tangga dan sudah punya anak. Mungkin itu alasannya dia mau membantu. Tuhan telah mengirimkan aku seseorang yang sangat baik untuk menolongku. Semester depan terselamatkan. Terimakasih Pak Ibnu. Aku tak akan melupakan jasamu sampai kapanpun. Permasalahn pribadi yang menyangkut perasaan dan hati tidak aku anggap sebagai penghambat untuk terus bangkit dan segera lulus kuliah. Begitu pula dengan permasalahan keluarga lainnya. Hal ini justru sebagai pendongkrak semangat untuk terus maju. Kalau dicatat, sudah banyak perubahan positif yang terjadi setelah kembalinya istriku ke tanah air. Semangat juang kami menggelora. Kami bersatu padu membangun kembali keluarga yang hampir colaps karena faktor ekonomi. Banyak hal yang tak terduga terjadi setelah kami sama-sama berkumpul membangun negeri kecilku. Dan aku tak peduli dengan statusku saat ini. Apakah aku kuliah sambil kerja atau sebaliknya, bekerja sambil kuliah. Yang terpenting adalah aku harus pandai memanfaatkan semua kesempatan yang hadir menghampiriku. Termasuk pada suatu kesempatan yang tak terduga ini. Seorang ibu menghampiriku saat aku selesai keluar dari kelas aku mengajar. Rupanya dia mengamatiku saat aku berbicara bahasa Inggris dengan temanku di kursusan. “Maaf Pak, Bapak bisa bantu saya ga?” Tiba-tiba ibu itu menyergapku dengan kata- kata sedikit berbisik. “Silahkan, apa yang bisa saya bantu Bu?” Aku bertanya dengan ramah. “Begini Pak, saya dan teman-teman sebenarnya ingin belajar bahasa Inggris. Kami sedang mencari tutor untuk kami para dosen UT. Kalau Bapak bisa, nanti silahkan datang ke kantor kami, di UT. Nanti kita bisa bicarakan di sana.” Ibu itu memberikan kartu nama dan meninggalkanku. 229

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Kesempatan datang untukku. Sebagai guru freelance, aku bebas untuk ambil kesempatan apapun dan kapanpun. Dan benar saja. Ibu Margaretha seperti nama yang ada di kartu nama itu tidak main-main. Dia mengumpulkan sekitar 10 orang temannya untuk belajar bahasa Inggris di kantornya. 10 orang dosen dan yang sekaligus juga karyawan UT itu mendapat pelajaran rutin berbahasa Inggris. Aku tak habis pikir, orang-orang lansia ini memiliki semangat belajar tinggi, motivasinya hanya satu, ingin bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Ibu Margaretha seorang wanita luar biasa yang memiliki banyak kegiatan sosial. Dia juga aktifis organisasi, pebisnis, dan juga pegawai. Selain itu, dia juga menawarkan aku untuk mengelola sebuah lembaga bimbingan belajar dan play group. Aku tak mau mengecewakan dia yang begitu antusias dan optimis. Aku pun mengajak sang istri untuk turut serta membangun sebuah lembaga kursus dan Play group baru itu. Kami bersama-sama berjibaku membangun sebuah lembaga pendidikan non formal dari nol hingga puluhan siswa playgroup pun memenuhi kelas-kelas playgroup. Begitu pula beberapa kelas bahasa Mandarin dibuka. Istriku membantu mengajar untuk kelas bahasa Mandarin_ keterampilan baru yang merupakan oleh-oleh berharga selama hampir dua tahun di negeri Meteor Garden. Tuhan memang Maha Penyayang. Tawaran datang bertubi-tubi untuk kami berdua. Sepulang dari Taiwan, istri mendapat banyak tawaran untuk mengajar. Saat kami sedang sibuk membangun playgroup dan kursus, seseorang bapak yang mengaku sebagai kepala sekolah sebuah SMA Swasta baru, tertarik dengan kemampuan bahasa Inggris istriku dan menawarkan untuk mengajar di SMA yang baru dibangunnya. Sebagai part-timer di lembaga punya Bu Margaretha, dia masih bisa menerima tawaran itu. Tidak banyak basa basi, dia ambil kesempatan sebagai pengajar di SMA baru yang memiliki siswa tidak lebih dari 10 siswa. Cukup memprihatinkan namun perlu diapresiasi niat baiknya_turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Banyak hal yang harus dibenahi di SMA tersebut. Hingga akhirnya siswa satu persatu bubar dan sekolah gulung tikar sebelum menyelesaikan semester pertama. Namun sebelum bubar, istriku sudah mendapat tawaran mengajar lagi di SD Negeri dekat rumah. Dia berstatus sebagai guru pengajar bahasa Inggris di SD Negeri. 230

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Selama kurang lebih satu tahun dia menjadi guru bahasa Inggris di SD, datanglah tawaran berikutnya. SMA swasta dari sebuah yayasan Katolik menawarkan untuk mengajar di sana. SMA ini cukup besar dan ternama dengan jumlah siswa yang banyak dan memiliki sarana dan gedung yang memadai. Selama kurang lebih 2 tahun istri menjadi pengajar bahasa Inggris di SMA swasta tersebut. Aku sendiri, masih berkiprah di Lembaga kursusku di tempat Ibu Margaretha dan playgroup yang semakin berkembang hingga menjelang masa-masa akhir perkuliahanku. Saat itu jadwal kuliah sudah tidak sepadat dulu di semester awal. Sekarang aku cukup banyak waktu untuk kejar sana dan kejar sini. Aku dan istri memiliki kesibukan masing-masing. Hingga menjelang kelulusan aku mendapatkan tawaran untuk mengajar ekstrakurikuler di sebuah SMP Negri favorit di kotaku. Aku tidak hanya mengajar siswanya, tapi juga guru-gurunya. Karena sekolah tersebut sebagai sekolah pelopor dengan sebutan sekolah imersi. Di mana bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar untuk pembelajaran mapel tertentu. Dan ini merupakan pengalaman luar biasa yang aku dapatkan. Aku masih tak percaya, bahwa aku menjadi pengajar para guru di sekolah favorit tersebut, padahal aku belum punya ijazah guru. Begitu pula istriku, dia juga mendapat kesempatan yang sama untuk menjadi pengajar guru-guru SMP imersi itu. Kami berdua berjibaku di sekolah tersebut dengan segenap hati dan tetap menigkuti jadwal di lembaga yang sudah berjalan sebelumnya. Setahun sebelum aku lulus kuliah, seseorang datang ke rumah. Dia mengaku seorang guru dari sebuah SMA Negeri favorit di kota ini. ‘Ada tawaran apa lagi ini?’ batinku. Kami berdua sudah siap dengan jawaban, ‘yes!’ ketika tawaran itu memang buat kami berdua. Tenang saja, kami masih freelance dan bisa menentukan untuk mengajar di manapun. “Maaf Bu, Pak. Kami diutus dari sekolah kami. Rencana tahun pelajaran depan sekolah akan memberikan pelajaran bahasa Asing Mandarin. Saya mendapat refensi dari salah seorang guru kami, kalau Bu Dian bisa mengajar bahasa Mandarin. Kami benar-benar meminta bantuan ibu untuk bisa mengajar di sekolah kami.” Beliau menjelaskan dan memohon. Ternyata tawaran itu jatuh untuk istriku. 231

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey “Nuwunsewu, Pak. Apakah bapak yakin saya bisa. Saya bukan lulusan sarjana Bahasa Mandarin. Sementara saya juga masih mengajar di SMA swasta. Apakah memungkinkan?” Istriku memastikan. “Saya percaya ibu bisa. Background pendidikan tidaklah masalah Bu. Kalau tentang jadwal, nanti kita menyesuaikan. Ibu masih bisa tetap mengajar di sekolah itu.” Dia memastikan. Istriku menatapku, dan aku pun menganggukkan kepala tanda setuju. Kami selalu dipercaya untuk mengjar di sana-sini. Bahkan istriku sekalipun tidak pernah menulis surat lamaran kerja tapi pekerjaan selalu datang tanpa harus dilamar dulu. Aku hanya berpikir, Tuhan begitu Maha Pemurah sehingga memberikan banyak kelebihan pada istriku. Dua sekolah sekaligus harus ditempuh setiap minggunya. Jadwal diatur sedemikian rupa hingga dua-duanya terlayanai. Di SMA swasta dia mengajar bahsa Inggris, dan di SMA Negeri dia mengajar bahasa Mandarin. Semua dia nikmati dengan sepenuh hati. Bertemu dengan anak-anak untuk berbagi ilmu bahasa menjadi passion-nya. Semua dilakukan dengan ikhlas dan senang hati. Setahun kemudian, waktu kuliahku mencapai titik akhir. Dengan segala perjuangan aku bisa menyelesaikan kuliah seperti yang aku inginkan. April 2005 menjadi hari yang sangat bersejarah. Aku diwisuda menjadi sarjana. Aku seperti mimpi. Aku selalu ingat masa-laluku sebelum mencapai titik ini. Doa dan harapan kakak-kakaku, orang tuaku, guru-guruku, dan teman-temanku didengar oleh Tuhan Yang Maha Memberi. Aku sungguh mensyukuri nikmat ini. 232

42 Epilog Keindahan ini sungguh aku rasakan luar biasa. Setelah tersungkur-sungkur di ribuan kemarau yang panas dan gersang, akhirnya momen yang paling diharapkan pun tiba. Wisuda sarjana. Aku mungkin bermimpi tapi ini nyata. Dan aku harus mulai menciptakan mimpi yang baru. Aku tak berfikir untuk menunggu. Aku tak mau menunggu ada informasi kekosongan tenaga pedidik di sebuah sekolah tapi aku langsung menyebar ijazahku ke berbagai SMA Negeri dan swasta yang ada di kota ini. Di saat itu pula seorang teman dari SMP imersi tersebut menginfokan bahwa di sebuah SD Negri favorit, sedang membutuhkan seorang guru bahasa Inggris. Segera aku layangkan surat lamaran ke sana. Di hari yang sama, aku mendapatkan jawaban dari dua sekolah sekaligus. Paginya aku ditelpon dari SD Negri tersebut untuk datang menemui kepala sekolah. Wawancara saat itu juga dan aku fix diterima dan diminta mengajar di SD tersebut. Aku benar- benar akan menjadi guru di sebuah sekolahan. Aku tak mau memilih-milih sekolahan itu. Yang penting aku tidak ada waktu menganggur setelah kelulusanku. Sorenya, aku 233

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey kedatangan tamu yang ternyata warga satu perumahan. Aku tak begitu mengenalnya, walaupun tidak asing dengan wajahnya. Tapi aku tak paham dia itu profesinya apa sebelumnya. “Nuwunsewu Pak, Apa betul ini rumah Pak Suryo?” Aku seperti familiar dengan wajah bapak ini, tapi aku tak tahu namanya. “Betul Pak. Silahkan.” Aku mempersilahkan masuk. Tapi Bapak ini menolak. “Maaf saya hanya sebentar. Ini ada titipan dari sekolah saya. Kalau tidak salah bapak pernah melamar menjadi guru di SMA kami.” Dia meyakinkan. Dia memperlihatkan sebuah amplop berkepala surat; SMA Negeri Patikraja. Aku mengingatnya. “Oh, iya betul, Pak. Bagaimana ya Pak? Apa ini panggilan untuk mengajar buat saya Pak?” tanyaku antusias. “Kelihatannya sih begitu. Tapi yang penting besok Bapak bertemu dengan kepala sekolah dulu,” jawabnya kalem. “Baik Pak. Saya besok datang. Terimakasih sekali Pak.” Pak guru pun berlalu setelah memberikan surat panggilan ini. Aku tertegun dan merenung sambil memandang kepergian pak guru itu. Cobaan apa lagi ini? Mudah- mudahan yang terbaik nantinya buatku. Besoknya aku menghadap kelapa sekolah SMA tersebut. Wawancar berlangsung singkat dan aku dinyatakan diterima untuk menjadi guru honorer di sekolah tersebut. Aku dan istri menyambut gembira dengan semua peristiwa ini. Di tahun ajaran baru, aku telah resmi mengajar di dua sekolahan sekaligus. Bulan Juli 2005, aku menjadi guru honorer di sebuah SMA Negeri di pinggiran kota Purwokerto dan SD Negeri di kota ini pula. Namun di tahun 2009 aku harus memfokuskan di SMA saja dan SD aku tinggalkan karena banyak keterbatasan waktu dan jarak. 234

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Tak lama setelah aku bergabung di SMA aku dimasukan dalam pendataan masal oleh sekolah. Begitupula istriku masuk dalam pendataan itu di SMA Negeri favorit tersebut di kota. Awalnya kami tidak mengerti untuk apa pendataan itu. Tiba-tiba di pada tahun berikutnya muncul berita bahwa akan ada pengangkatan CPNS besar-besaran berdsarkan pendataan di tahun 2005 tersebut. Aku termasuk ke dalam kelompok yang tidak memenuhi syarat (TMS) karena masa kerjaku baru 6 bulan pada akhir tahun 2005, sedangkan istriku termasuk ke dalam kelompok memenuhi syarat (MS) karena istriku sudah mengajar satu tahun lebih dulu dibandingan aku. Kami sama-sama tidak begitu paham tentang isu pengangkatan ini. Kami hanya bekerja seperti biasa dan tidak menggantungkan harapan pada perekrutan ini. Bagi kami menjadi guru sudah merupakan kenikmatan tersendiri. Karena tujuan kami bukan ke sana. Kami menikmati dan semua mengalir begitu saja. Lalu berita mengejutkan pun datang di tahun 2007 bahwa istriku terseleksi menjadi CPNS dan harus melengkapi berkas yang dibutuhkan. Awalnya kami tidak yakin akan pengangkatan istriku karena secara ijazah tidak memenuhi syarat. Tapi menurut saran beberapa teman dan kepala sekolah, alangkah baiknya prosedur itu diikuti saja. Dan benar adanya, di tahun 2008, istriku mendapatkan SK PNS sebagai guru Bahasa Mandarin di SMA Negeri tersebut. Banyak peristiwa dan pengalaman yang diperoleh saat setelah menjadi PNS di SMA Negeri tersebut. Menjadi guru bukan hanya sekedar mentransfer ilmu saja buat para siswanya. Tapi banyak hal baik yang bisa dilakukan sebagai seorang guru. Mendidik dengan ikhlas sebagai tanggung jawab moral pendidik adalah yang nomor satu. Pamrih tidak perlu ditunggu karena Tuhan sudah memberikan yang terbaik bagi orang yang ikhlas. Apalagi ikhlas mendidik bagi para guru. Setahun dua tahun, bahkan sebelum dia menjadi seorang guru PNS di SMA Negeri favorit di kota, istriku banyak mendapatkan kesempatan belajar untuk meng- upgrade ilmu bahasa Mandarin yang awalnya hanya dia dapatkan dari negeri rantau saat menjadi TKW di Taiwan. Beberapa kali dia mendapatkan pelatihan di P4TK Bahasa Jakarta, dan harus meninggalkan kami keluarga demi menuntut ilmu. Hingga kesempatan tak terduga pun datang. Dia mengikuti seleksi untuk mendapatkan 235

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey pendidikan dan pelatihan di Jinan University di Kuag Zhou China. Sungguh kejadian yang tak terduga sehingga dia diberik kesempatan lagi untuk naik pesawat dan pergi ke luar negeri dengan tujuan lebih terhormat. Belajar di Universitas di luar negeri. Dahulu sepulang dari Taiwan, dia pernah bermimpi bahwa, kapan saya bisa ke luar negeri lagi, naik pesawat lagi. Tapi tentunya bukan sebagai TKW! Dan ternyata Tuhan memang Maha Mendengar, Pengasih dan Penyayang. Doa dan harapan itu benar- benar terkabul. Tidak hanya itu, kesempatan kedua pun datang lagi. Waktu itu di tahun 2014 dan dia sudah berstatus guru PNS. Sepucuk surat dari dinas propinsi datang ke sekolah, dan memerintahkan kepala sekolah untuk mengijinkan guru bahasa Mandarin, istriku, untuk menjadi pemandu Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah di Shenchen China dalam rangka upaya kerjasama antara sekolah SMK di Jawa Tengah dan SMK di China. Peristiwa ini sungguh merupakan pengalaman luar biasa yang pernah istriku alami. Dia yang bukan sarjana pendidikan seperti aku dipercaya oleh kepala Dinas Pendidikan Propinsi untuk menjadi juru bicara dalam momen penting Dinas Pendidikan. Kami semua bersyukur atas segala nikmat Tuhan ini. Istriku yang mantan TKW bisa menjadi guru di sebuah sekolah favorit, diangkat menjadi PNS, dan diberikan banyak kesempatan luar biasa hingga ke luar negeri. Hal ini merupakan anugerah terbesar buat keluarga kami. Aku yang dulu salesman bisa menjadi guru merupakan nikmat terbesar yang tak pernah aku impikan sebelumnya. Semua serba Indah. Aku tidak pernah mengeluh walaupun aku menjadi guru honorer, apalagi kalau sampai harus ikut-ikutan demo menuntut menjadi PNS. Oh, tidak! Kalau memang aku sudah bosan jadi guru honorer dan kesempatan menjadi PNS sudah tidak ada, aku harus berani out of the box. Kenapa aku tidak jadi guru swasta saja? Insyaallah aku akan lebih terhormat menjadi guru swasta dibandingkan jadi guru honorer di negeri tetapi kerjaannya menuntut pada pemerintah. Itu sudah menjadi prinsipku. Tahun 2014, ketika usiaku mendekati 40 tahun, atau orang sering menyebutnya sudah kepala empat, adalah merupakan hitungan ke – 9 tahun aku menjadi guru honorer di 236

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey SMA Negeri di pinggirah kota Purwokerto. Dan aku tetap merasa bangga bisa menjadi guru honorer di sana. Namun sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat bagiku untuk berkarir menjadi guru. Banyak hal yang menganggu pikiranku. Sebenarnya bukan permasalahan statusku menjadi guru honorernya. Tetapi lebih pada realita kebutuhan dan tuntutan kehidupan keluarga. Saat ini kami sudah beranak tiga. Refo sudah memasuki dunia SMA dan dua adiknya masih di SD. Tiga anakku sudah semakin besar dan tentunya biaya pendidikan yang besar tak dapat dielakan lagi. Aku pernah memikirkan pepatah ini. “Life begins at forty”. Kata-kata itu cukup menggelitik di telingaku dan tentunya sangat menghantuiku. Aku sadar sepenuhnya, menjadi guru honorer tentu bukan merupakan karir yang mapan. Tapi aku tidak menyalahkan pemerintah kenapa setelah mengabdi selama sembilan tahun aku tetap masih menjadi guru honorer. Aku tahu peraturan dan mengerti undang-undang yang berlaku dan sudah ditetapkan. Tetapi permasalahannya ada di aku pribadi. Apakah aku harus terus menunggu keajaiban yang belum tentu datang?Atau aku harus keluar dari kotak tadi. Ini yang menjadi PR-ku. Kegundahan ini semakin aku rasakan dan menyesakan dada. Aku pun tak sanggup memikirkan hal ini sendiri. Aku memulai curhat dengan teman istimewaku, istriku. “Kelihatannya serius sekali Mas. Ada masalah di sekolah?” tanya istriku penasaran melihat ekspresiku yang datar tanpa senyuman. “Ngga ada, Hon. Semua baik-baik saja.” Aku masih mengelak. Istriku merapatkan tempat duduknya ke arahku. Lalu dia pegang tanganku sambil menatap wajahku lekat-lekat. “Sebaiknya jangan kau pendam itu masalah, Mas. Cepat ceritakan. Ibu siap mendengarnya.” Istriku memaksa. “Menurut ibu, apakah aku akan tetap menjadi guru honorer sampai pension di sekolah negeri? Aku melempar pertanyaan. 237

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Istriku diam sesaat. Dia tampak memikirkan jawaban terbaiknya. “Sekarang ibu mau tanya. Apakah selama ini ibu pernah menuntut Mas Suryo menjadi PNS?” katanya balik bertanya. “Engga sih, setidaknya aku ingin memenuhi kebutuhan keluarga ini dengan baik. Kebutuhan anak-anak semakin banyak. Aku ini sarjana pendidikan, seharusnya bisa berpenghasilan lebih sesuai ijazahku dibandingkan penghsilan sebagai guru honorer saat ini.” Aku melihat istriku berkaca-kaca. Air matanya hampir tumpah. Istriku mengingatkanku dan membawanya ke masa-masa lalu dari pertama kali bertemu hingga aku harus jualan dan akhirnya kami berpisah selama dua tahun dan kembali merajut harapan bersama hingga saat ini, kami sama-sama menjadi guru. “Jadi, bagaimana Mas? Semua keputusan ada pada Mas Suryo. Sampai pensiun tetap menjadi guru honorer di sekolah negeri bagiku tidak lah masalah. Akan tetapi, kalau hal ini menjadi beban tersendiri buat Mas Suryo, silahkan ambil keputusan lain.” Pertanyaan dan jawaban istriku sungguh bijak hingga aku kembali merenung dan belum berani memutuskan apa-apa. Aku harus tetap menjalaninya sampai pada masanya tiba. Tak lama setelah obrolan itu, pemerintah kelihatannya mengeluarkan kebijakan mengenai Kurikulum 2013 yang harus secara serentak diberlakukan di semua sekolah. Dengan kebijakan itu, aku menjadi salah seorang yang harus siap kehilangan jam mengajar. Khusus untuk bahasa Inggris, jam mengajar berkurang yang tadinya 4 jam menjadi 2 jam per minggu. Yang artinya pengurangan jumlah jam tersebut sangat berpengaruh pada kewajiban jam mengajar bagi guru PNS. Aku harus siap-siap tidak mendapatkan jam mengajar dengan berkurangnya jam mengajar tersebut. Haruskah aku tetap bertahan berada di sekolah tersebut tanpa jam mengajar? Atau aku harus berani keluar dari sekolah negeri dan menjadi guru swasta? Hingga sampailah pada sebuah titik di mana aku harus memutuskan untuk resign dari SMA Negeri tersebut. Biarkan masa sembilan tahun itu menjadi masa pembelajaranku 238

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey untuk menjadi semakin dewasa dan mampu memaknai hidup dengan baik. Terlebih memaknai kehidupan menjadi guru. “Di luar sana masih banyak sekolahan yang membutuhkan sosok Mas Suryo.” Istriku meyakinkanku. Dan benar juga tak lama sebelum aku resign, surat lamaran yang pernah aku layangkan ke sebuah sekolah swasta nasioanl yang sedang berkembang itu memanggilku untuk tes tulis dan wawancara. Wawancara dan tes tulis berjalan lancar dan dilanjutkan dengan micro teaching. Semua berjalan tanpa ada halangan berarti dan aku dinyatakan diterima di sekolah tersebut. Sekolah swasta nasional dengan visi dan misi yang hebat. Aku berada di sebuah lingkungan pendidikan di bawah naungan sebuah yayasan yang peduli dengan pendidikan. Yayasan Putera Harapan Banyumas. Tahun pertama aku ditempatkan di SMP karena memang SMA baru akan dibuka di tahun berikutnya. Selama itu aku benar-benar mencium aroma perbedaan yang luar biasa kalau dibandingkan dengan sekolahku yang dulu. Semua diukur berdasarkan kinerja. Siapapun yang bekerja lebih baik akan mendapatkan reward yang sesuai. Di situlah aku merasa ada tantangan bekerja. Istri dan keluargaku sangat bangga aku berada di lingkungan pendidikan yang baru ini. Sebuah sekolah yang memberikan layanan pendidikan karakter sebagai pondasi utamanya dan bersifat multicultural dan agama ini benar-benar merupakan cerminan sebuah pendidikan secara nasional. Berbagai siswa dari barbagai daerah dengan perbedaan agama, suku, ras, dan tingkat sosial, berada di sebuah atap yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang sama dan sesuai agamanya masing-masing. Kebhinekaan tadi menjadikan anak didik kami memiliki toleransi yang tinggi baik antar suku maupun antar pemeluk agama yang berbeda-beda. Sungguh aku merasa berada pada puncak kebanggaan luar biasa sebagai seorang guru. Aku benar-benar menjadi seorang guru yang memiliki tantangan tinggi untuk terus memajukan pendidikan di negeri ini yang tergambarkan di sekolah ini. Tentunya prestasi yang baik dalam segala bidang untuk bisa ditunjukan ke dunia luar sebagai wujud keberhasilan pendidikan. 239

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey Sebagai seorang guru tentunya pengalaman dan kesempatan untuk mengupgrade ilmu sudah menjadi kebutuhan kami. Di sini, aku banyak mendapat suntikan berupa pembekalan-pembekalan yang bisa meningkatkan kualitas diri dan profesi. Begitu pula tanggung jawab yang diberikan padaku sungguh merupakan buah dari kematangan pribadiku dan kepercayaan yang diberikan dari pihak sekolah maupun yayasan. Di tahun ke dua, saat Yayasan ini membuka SMA, selain menjadi guru, aku diberi kepercayaan untuk menjadi wakil kepala sekolah bidang kurikulum sebagai wujud tanggung jawab yang harus aku kerjakan dengan baik. Peristiwa ini benar- benar aku alami sebagai sebuah pengalaman berharga yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Di tahun ke-empat, aku pun diberikan sebuah kesempatan luar biasa oleh kepala sekolah dan yayasan untuk menemani siswa ke luar negeri. Aku berkeliling 6 kota terkenal di sebuah provinsi di Tiongkok dalam rangka mendampingi siswa dalam acara Winter Camp yang diadakan pemerintah Tiongkok. Hal ini mengingatkanku pada harapan istriku yang pernah disampaikan di acara santai di rumah. “Ayah dan anak-anakku semua. Kalian harus yakin, suatu saat nanti kalian pasti akan pernah naik pesawat. Tidak cuma ibu saja. Ibu yakin itu. Makanya belajar dan bekerjalah yang baik. Pasti kalian akan mengalami seperti ibu.” Itulah pesan istriku yang masih teringat di benakku. Dan benar saja, kata-kata atau doa istrku dikabulkan Tuhan. Aku yang hanya seorang guru biasa, diberikan kesempatan untuk tidak hanya sekedar naik pesawat, tetapi menimba banyak ilmu di negeri tirai bambu selama 15 hari berada di Shandong dengan suhu – 7o (minus tujuh derajat) saat musim dingin. Bisa merasakan membeku di puncak Taishan sungguh merasakan syukur yang sangat mendalam atas ciptaan Tuhan yang luar biasa. Entah apa lagi yang sedang Tuhan rencanakan buat kami berdua. Kami bersama- sama menjadi guru setelah melewati berbagai peristiwa. Setelah melewati ribuan kemarau yang gersang dan kering. Hingga akar-akar rumput di halaman pun ikut mengering. Pada akhirnya kami mendapatkan setetes hujan dipenghujung musim untuk merapatkan lagi retakan yang tercipta saat kemarau. Kini ribuan kemarau telah kami lewati. Semua seperti sudah diatur di dalam buku sejarah kehidupanku dan keluargaku. Jawaban sebuah pertanyaan guruku di waktu SD-ku dulu ketika 240

Mimpi-Mimpi Kecil dan Seribu Kemarau A True Story of A Life Journey menanyakan cita-citaku. Dulu aku menjawab ‘menjadi guru’ tanpa aku sadari bahwa itu menjadi sebuah jalan yang harus aku dapatkan di masa sekarang ini. Menjadi guru mungkin bukan cita-citaku yang harus aku kejar dan aku impikan sepanjang masa. Tapi Tuhan selalu membimbingku ke arah sana. Mungkin doa Pak Kamud (alm) guru SD ku semasa hidupnya terus berkumandang dan menggema di antara langit dan bumi hingga terdengar oleh Yang Maha Memiliki bumi dan alam semseta ini. Mungkin doa Guru bahsa Inggris idolaku di SMA, Pak Iskandar (alm) yang selalu menginspirasiku juga menjadikan jalan inilah yang memang harus kulalui. Semua berjalan begitu lambat namun pasti. Demi melewati kemarau-kemarau yang membakar semangatku. Sekarang di sinilah aku berdiri. Berdiri di antara anak-anak manusia yang selalu menanti untuk mendapatkan bimbingan dan ilmuku. Dan kisah Pak Guru pun tidak berhenti hanya sampai di sini. Namun sebagian besar sudah terangkum dalam buku catatan sejarah ini. Catatan sejarah seorang guru yang selalu bangga bisa menjadi guru. 241



TENTANG PENULIS Ayo Sugiryo, lahir di Banyumas, 19 Juni 1973. Menempuh pendidikan Sarjana Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto lulus tahun 2005. Menjadi guru di SMA Negeri Patikraja dari tahun 2005 s.d. 2014, Guru Bahasa Inggris di SD N 4 Kranji Purwokerto 2005- 2009, dan Guru di SMA Nasional 3 Bahasa Putera Harapan Purwokerto dari tahun 2014 sampai sekarang. Selain menjadi guru, Ayo Sugiryo atau biasa juga dipanggil Mr. G, sudah menerbitkan buku pertamanya ‘From Home with Love’ tahun 2016. Menulis kisah-kisah keseharian baik di rumah maupun di lingkungan sekitar tempat tinggalnya sudah menjadi kegiatan setiap harinya. Momen-momen penting yang terjadi di keluarganya tak terlewatkan untuk menjadi bahan tulisan-tulisannya. Ayo Sugiryo tinggal bersama keluarganya di Jalan Pamujan Selatan III No. 411 Teluk Purwokerto Selatan, Purwokerto Kode Pos. 53145 dan bisa dihubungi via: HP/WA: 085329549009, FB: Ayo Sugiryo, IG: @ayosugiryo, E-mail: [email protected] 243



Brili Agung Dikenal sebagai Authormaker. Karena visi hidupnya “Di tahun 2060, 7 dari 10 penulis di Indonesia ketika ditanya siapa gurunya, mereka akan menjawab Brili Agung” Dia menjadi mentor menulis di Program Bikin Buku Club, Mentoring Menulis Private dan Mentoring Menulis Online. Sudah puluhan alumni terbit bukunya setelah dibimbing olehnya. Sudah melanglang buana ke seluruh pelosok Indonesia dan ASIA untuk memberikan trainingdi perusahaan multinasional. Dia juga mencetak puluhan penulis lewat Inspirator Academy. Di sana ia menjadi guru untuk semua yang ingin menginspirasi lewat tulisan. Brili agung juga sudah menulis 30 buku (Jangan Bodoh Mencari Jodoh, Mencintai Tak Bisa Menunggu, Reborn : JBMJ, Seni Memantaskan Diri, ME, Sebuah Novel berjudul PETAKA dan lainnya). Brili juga menjadi ghost dan co-writer puluhan trainer, pengusaha dan artis nasional. Jika Anda membutuhkan solusi agar buku Anda bisa segera terbit, Brili Agung bisa dikontak di Email : [email protected] Intagram :@ HP/WA : 087860751356 FB : https://facebook.com/BriliAgung/

Inspirator Academy adalah Kawah Candradimuka–nya para calon Inspirator Indonesia. Di akademi ini, para calon Inspirator akan dibekali kompetensi untuk menjadi Inspirator Juara. Inspirator Juara yang mampu menginspirasi melalui kompetensi lisan dan tulisan. Inspirator Academy memiliki kantor pusat di Inspirator Building, Pejaten, Jakarta Selatan. Dengan foundernya Brili Agung dan tim yang solid, saat ini Inspirator Academy sudah mulai merambah Bandung dan Jogjakarta. Visi Inspirator Academy adalah dapat mencetak 7 Juta Inspirator Juara Indonesia. Inspirator Academy memiliki dua kategori Fakultas yang terpisah. Faculty of Public Speaking dan Faculty of Writing. Faculty of Writing Ilmu layaknya binatang peliharaan, apabila tidak diikat, maka dia akan lepas. Apabila hewan peliharaan diikat dengan tali maka ilmu diikat dengan tulisan. Disinilah tempat yang tepat bagi Anda yang igin memiliki warisan berharga untuk anak cucu Anda berupa buku karya Anda. Paling tidak sebelum meninggal, Anda sudah mampu mewariskan harta paling berharga dalam bentuk buku. Di sini, para calon Inspirator tidak hanya dilatih untuk sekedar tahu ilmu menulis. Namun juga akan digembleng agar bisa menerbitkan buku karya nya sendiri. Metode yang unik selama 90 hari atau 30 Hari yang kami miliki adalah SATU-SATUnya metode yang MENGGARANSI naskah siap terbit. Ingin tau buktinya? Penulis buku ini adalah bukti sahih yang tak terbantahkan bagaimana alumni kami menelurkan karya terbaiknya. Alamat : TERTARIK UNTUK BELAJAR ? Inspirator Building, Komplek Warga Indah no. 12, Hubungi : 0811-297-115 Jalan Attahiriyah, Website : inspiratoracademy.com Pejaten Barat, Jakarta Selatan. IG & Twitter : @InspiratorAcd Email : [email protected]

Dimanapun Anda berada, siapapun Anda, dan bagaimanapun sibuknya Anda, selama Anda memiliki jaringan internet maka naskah buku Anda bisa selesai! Mentoring menulis online (MMO) adalah versi online dari BBC. Dengan waktu yang lebih singkat, investasi yang lebih terjangkau dan waktu yang lebih kilat. Hanya 30 hari. Semua serba ONLINE. Solusi bagi Anda yang berada jauh dari kota penyelenggara BBC. Apa saja yang Anda dapatkan dalam 30 hari ? 1. Mentoring tulisan harian selama 30 hari yang dipandu mentor profesional (penulis buku dan praktisi). 2. Pertemuan kelas online (Youtube dan Grup WhatsApp) 5 kali dalam 30 hari. 3. Garansi naskah selesai dalam 30 hari. 4. Workbook. 5. 3 e-book penulisan. 6. Sesi presentasi dan pertemuan dengan editor dari penerbit Elex Media Komputindo. 7. Konsultasi menulis gratis seumur hidup. 8. Gratis keanggotaan komunitas Simfoni Aksara.

Menyelesaikan Naskah Dalam 3 Hari 2 Malam ? Kini menjadi sangat masuk akal dengan program Bikin Buku Club. Bikin Buku Club akan membawa Anda menginap bersama di sebuah villa selama 3 hari 2 malam untuk menyelesaikan naskah buku Anda. Dengan sistem karantina seperti ini, akan jauh lebih efektif bagi Anda menyelesai- kan naskah buku Anda. Tinggalkan pekerjaan dan rutinitas Anda sejenak, dan selesaikan naskah buku Anda di sini. Apa yang akan Anda dapatkan? 1. Akomodasi berupa villa selama 3 hari 2 malam. 2. 1 mentor untuk 5 peserta. 3. Pertemuan online lanjutan selama 30 hari. 4. Garansi naskah selesai selama program berlangsung. 5. Workbook. 6. 3 e-book penulisan. 7. Sesi presentasi dan pertemuan dengan editor dari penerbit Elex Media Komputindo. 8. Konsultasi menulis gratis seumur hidup. 9. Gratis keanggotaan komunitas Simfoni Aksara. 10. Jasa editing gratis. 11. Desain cover naskah. 12. Layout naskah. 13. 10 buah buku cetak karya Anda selama program.

Apa sih 30DWC ? 30DWC adalah singkatan dari 30 Days Writing Challenge. Tantangan menulis selama 30 hari tanpa henti di platform online. Baik blog, Facebook, Instagram, Wattpad, Tumblr dan berbagai platform lain. Kenapa Anda harus mengikuti 30DWC ? • 30DWC menargetkan sasaran paling dasar dan penting bagi seorang penulis, yaitu MEMBANGUN KEBIASAAN. Karena banyak sekali penulis pemula yang beralasan tidak menulis karena tidak terbiasa • DILAKUKAN SECARA BERSAMA-BERSAMA. Sehingga akan ada teman seperjuangan lain yang menyemangati • Memiliki SISTEM YANG KETAT. Apabila tidak menulis, ya sudah DROP OUT. Bertujuan untuk memberikan punishment bagi Fighter • Kesempatan berkarya melalui BUKU KOLABORASI • Mempeluas JANGAKAUAN PERTEMANAN ke seluruh Indonesia bahkan dunia • MENINGKATKAN LEVEL kepenulisan. Sehingga sangat berkemungkinan lulus dari 30DWC bisa menulis buku pribadi • Mendapatkan banyak INSIGHT SEGAR KEPENULISAN dengan berbagai inovasi yang 30DWC berikan INFORMASI PENDAFTARAN HUBUNGI Sascia 0857 8225 6724

Program KECE dan KETIK adalah mentoring menulis online selama 14 hari bersama para mentor yang berpengalaman. Di program ini peserta akan diberikan materi. bimbingan, serta tugas agar di akhir program peserta mampu menembus media atau viral di social media. Di kelas KETIK nanti peserta akan Sedangkan di kelas KECE nanti mempelajari tentang: peserta akan mempelajari tentang: Teknik WWH 8 Unsur Intrinsik Unsur 3F1M Showing Hypnotic Story Telling dengan Self Editing SAH Selain itu kamu juga akan mendapatkan Benefit sebagai berikut: 1. Kesempatan membuat buku antologi 2. Setiap tulisan kamu akan diberi Feedback langsung oleh Mentor 3. Konsultasi di bidang kepenulisan seumur hidup 4. Kelas Online sebanyak 3x 5. Mendapat voucher pelatihan Mentoring Menulis Online (MMO) 100.000 6. Bergabung di komunitas WiFi (Writing Fighter)


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook