tor sih, tapi dia tetap membalas uluran tangan Alva. Dan begitu Alva menggenggam telapak tangannya untuk membantunya lebih seimbang, rasanya semua darah di badan Shera meluncur ke jantung, membuat jantungnya nyaris meledak. Kalau dia nggak bisa menahan diri, mungkin dia sudah melompat langsung ke pelukan Alva. T-shirt Alva yang basah agak sedikit menerawang, memamerkan dadanya yang bidang. Shera menelan ludah berkali-kali. Seandai- nya ini bulan madu sungguhan, Shera pasti akan minta digendong manja dengan alasan pasirnya panas. Alva sendiri terenyak ketika Shera menangkap uluran tangannya. Rasanya ada dinding yang mendadak retak di dada. Tekad yang sudah dia bulatkan untuk melakukan semua ini demi Keisha, seperti luntur sedikit demi sedikit. Pe- rasaan yang dipendam bertahun-tahun ternyata menyu- sahkan. Setengah mati dia berusaha menjaga supaya di- rinya dan Shera tetap sebagai teman lama dan profesional, bukan sebagai ”cinta yang terpendam”. Ah! Sial. Cinta yang nggak kesampaian betul-betul jauh lebih berbahaya daripada mantan. Alva yakin, jauh lebih mudah meng- abaikan mantan. Shera menarik napas. Kalau begini caranya, dia betul- betul harus setengah mati menahan diri. Shera melompat kecil dari atas perahu sambil berpegangan pada Alva. Ini bukan adegan yang biasa terjadi di novel-novel ro- mantis ketika si tokoh cewek terpeleset dan nggak sengaja 149 pustaka-indo.blogspot.com
jatuh ke pelukan si cowok, dilanjutkan dengan saling tatap dan berpelukan sesaat. Shera cuma melompat, dan dia merasa kurang seimbang kalau kedua tangannya berpegangan pada tangan Alva. Jadi, waktu mendarat, Shera memutuskan tangan kanan- nya harus berpegangan ke bahu kiri Alva, sementara tangan kirinya tetap bertahan di tangan kanan Alva—dan sukses! Yang Shera nggak tahu, posisi itu membuat darah Alva mengalir deras ke segala arah. Alva nggak yakin bisa menahan diri lebih lama. Entah berapa lama lagi, sebelum semuanya selesai. ”Thanks, Al.” Shera buru-buru melepas semua pegang- annya sebelum dia lepas kendali dan memaksa Alva ber- paling padanya. Shera terlalu buru-buru melangkah melewati Alva me- nuju tempat mereka menaruh sandal, sampai-sampai dia nggak sadar bahwa Alva terdiam kaku karena salah ting- kah. ”Shera....” gumam Alva pelan—sangat pelan karena hanya untuk dirinya sendiri. Shera bukan sekadar cinta terpendam di masa lalu. Alva yakin dirinya masih jatuh cinta pada wanita itu sampai sekarang. Selama ini perasaan itu bukannya meng- hilang, melainkan cuma bersembunyi karena Alva nggak pernah mengira mereka akan bertemu lagi. Tenggorokan Alva terasa kering. Apakah betul dia memakai jasa agen bulan madu Shera 150 pustaka-indo.blogspot.com
hanya karena dia yakin Shera bisa melakukan yang ter- baik untuk Keisha? Atau... itu karena alam bawah sadar- nya spontan berbicara... mencari alasan untuk bisa ber- temu Shera lagi? Mendadak semuanya menjadi buram. Bertahun-tahun Alva nggak pernah merasa sebimbang ini. Terakhir dia bingung begini adalah ketika dia memutuskan untuk melamar Keisha, satu setengah tahun yang lalu. 151 pustaka-indo.blogspot.com
Api Unggun, Api di Hatiku, Api di Hatimu. Tenda. Check. Api unggun. Check. Perahu rahasia. Check. Makanan. Check. Shera mengecek lagi sekeliling tempat kemping, memas- tikan persiapan untuk kemping bulan madu di pantai nggak ada yang kurang. Semua harus lengkap karena ini puncak perjalanan singkat Alva dan Keisha di Bali. Shera menghela napas, teringat kemungkinan Keisha belum tentu mau menerima semua ini. Kalau ditolak, lalu apa artinya Alva susah payah begini? Itu artinya, peker- jaan Shera juga sia-sia. Kalau secara materi sih mungkin nggak sia-sia. Tapi kepuasan Shera bukan cuma materi. 152 pustaka-indo.blogspot.com
Salah satu yang membuat Shera bahagia dan dia anggap sebagai prestasi adalah saat klien puas dengan hasil kerja- nya. ”Sher....” tahu-tahu Alva berdiri di samping Shera sam- bil menyodorkan segelas jus. ”Thanks. Gimana, ada yang kurang nggak nih kira-kira buat nanti malam? Kalau mau tambah sesuatu, bisa lang- sung aku siapin sekarang. Coba cek deh. Untuk kejutan- nya, nanti kamu liat langsung aja ya? Kalau diliat seka- rang, nanti kurang ah. Yang penting detail-detailnya ini lho, Al.” Alva menahan napas. Setelah kejadian di Tanjung Be- noa itu, Alva nggak bisa berhenti memikirkan Shera se- malaman. Dia memikirkan perasaannya sendiri juga. Kenapa di saat dia sedang melakukan semua ini untuk Keisha, dia malah gagal menahan perasaannya terhadap Shera. Semua ini sebetulnya bisa Alva siapkan sendiri tanpa perlu bantuan Honeymoon Express. Toh dari awal se- benarnya Alva berniat mengerjakan perjalanan ini cukup dengan ide dan kreativitasnya sendiri. Apalagi semua tempat dalam list Keisha, sudah pernah Alva datangi. Semua berubah begitu dia bertemu Shera di resepsi Raymen dan tahu bahwa Shera pemilik Honeymoon Express. Semua ini seperti releks, terjadi begitu saja. Dia yakin meminta Shera menangani semua ini merupakan hal yang tepat. Mengingat betapa berharganya semua ini untuk Keisha, 153 pustaka-indo.blogspot.com
jelas Alva memilih yang terbaik. Lagi pula, segala sesuatu yang dikerjakan sang ahli hasilnya pasti akan lebih baik. Alva menatap semua yang sudah Shera siapkan. Bah- kan sambil setengah melamun, Alva yakin semuanya pasti sudah sempurna. ”Al, gimana?” tanya Shera lagi. Wajahnya mulai agak cemas karena ekspresi Alva yang sulit dibaca. ”Sudah, Sher. Semua sudah oke.” Alva menjawab ce- pat. Shera mengangkat alisnya. ”Yakin?” ”Yakin.” Shera mengusapkan kedua telapak tangan sambil ter- senyum lega. ”Oke. Nanti makanannya kita keluarin kalau udah mau mulai. Eh tapi, Al, kalau nanti tahu-tahu kamu sadar ada yang kurang, langsung bilang ya? Aku udah minta orang yang sering bantu aku di sini untuk stand by. Kalau ada apa-apa aku tinggal kasih tahu dia.” ”Iya, Sher, iyaaa. Tenang aja. Aku percaya sama kamu kok. Kamu juga percaya deh sama aku, kerjaan kamu dan tim sudah oke.” Sebelah tangan Alva menepuk dan me- remas bahu Shera pelan, mencoba meyakinkannya. Detik itu juga darah Shera langsung mengalir deras, sebagian ke jantung, sebagian lagi ke muka. Perpaduan yang sangat kurang pas saat ini—bisa-bisa dia pingsan. Bahkan dengan intensitas deg-degan yang sangat sering akhir-akhir ini, Shera bersyukur dirinya masih hidup. Bisa-bisa dia mati sewaktu-waktu. 154 pustaka-indo.blogspot.com
Kalau sekarang dia pingsan, pasti bakal sangat memalu- kan. ”Eh....” Alva tiba-tiba menarik tangannya dari bahu Shera. Kalau memegang bahu Shera lebih lama lagi, bisa- bisa dia nekat menggandeng tangan wanita itu, menarik- nya ke pelukan, dan— Alva menelan ludah. Perasaannya semakin tak terkendali. Bisa-bisanya dia membayangkan hal-hal seperti itu! Dia melakukan ini buat Keisha, seharusnya dia bisa menahan diri. ”Al?” Alva menelan ludah lagi. Kali ini lebih susah karena dia harus menghapus ekspresi grogi dari wajahnya, segera. Kalau nggak, Shera bisa curiga. ”A-aku, aku bilang kerja tim kamu sudah oke.” Alis Shera berkerut. ”Iya, aku udah denger kok tadi.” Shit! Alva betul-betul grogi sampai mengulang kalimat- nya, padahal Shera nggak nanya. Bertahun-tahun sekampus dengan Shera, dia selalu membayangkan bisa seakrab dan sedekat ini. Dan perasa- an itu sekarang sangat sulit dibendung. Alva sudah ber- usaha mati-matian, tapi percuma saja. Perasaan itu malah semakin kuat. ”Cuma meyakinkan kamu aja. Soalnya muka kamu cemas banget dari tadi bolak-balik ngecek list.” Tak lama kemudian ponsel Shera berbunyi lagi. Ferdi. ”Sebentar ya, Al. Ferdi, ya halo? Iya… Apa? Kok bisa? 155 pustaka-indo.blogspot.com
Kenapa? Kamu nggak bisa bujuk lagi, Fer, biar nggak ba- tal? Oh, gitu?” Shera menghela napas kecewa. ”Ya sudah, Fer, nanti begitu saya pulang kita evaluasi. Sekarang fokus aja sama kerjaan yang lagi jalan. Saya juga selesai- kan yang di sini dulu. Oke, Fer. Thanks.” Shera lalu ter- tegun. ”Ada apa, Sher? Ferdi orang kantor kamu itu, kan? Ada masalah di kantor?” Shera menatap Alva lalu mengangguk lemas. ”Iya, ada masalah sedikit. Barusan Ferdi bilang ada dua klien yang tiba-tiba membatalkan kerja sama dengan Honeymoon Express.” Shera berusaha terdengar tenang, padahal dia sebenarnya gelisah. Tapi, sebisa mungkin dia meyakinkan Alva bahwa masalah apa pun yang terjadi di kantor tidak akan mengganggu performanya di sini. Kepala Shera mendadak pening. Baru pertama kali ini ada kasus klien sampai membatalkan kerja sama seperti ini—dua sekaligus. Apa yang salah dengan Honeymoon Express? Kepala Shera semakin berdenyut, mencoba me- mikirkan penyebabnya. Rasa-rasanya belum pernah ada data atau laporan soal masalah serius dengan klien. Pembatalan kerja sama nggak mungkin hanya karena hal sepele. Pasti ada alasan kuat atau masalah yang cukup besar. Tapi apa? Diam-diam Alva mengamati Shera. Dari ekspresi She- ra, Alva tahu perempuan itu betul-betul mencemaskan kondisi kantor. ”Sher, kamu yakin nggak apa-apa? Kalau kamu perlu balik ke Jakarta, aku nggak apa-apa di sini. Ada staf kamu yang bisa bantu, kan?” 15 pustaka-indo.blogspot.com
Shera mengernyit. Pulang ke Jakarta? Segala pertim- bangan berkecamuk di benaknya. Memangnya kalau dia pulang, klien itu pasti kembali? Buat apa dia pulang kalau meeting evaluasi masih bisa menunggu sampai urusannya di sini selesai. Lagi pula, hanya gara-gara kekacauan satu atau dua klien, Shera nggak bisa mengacaukan proyeknya bersama klien lain— Alva kan klien juga. Shera memejamkan mata sejenak, berusaha mengem- balikan fokusnya, lalu tersenyum setenang mungkin pada Alva. ”Nggak, Al.... Aku nggak perlu ke Jakarta sekarang, di sana kan ada Ferdi. Aku mau fokus di sini. Kamu kan klienku juga.” Alva tahu Shera hanya berlagak tenang. Biarpun Shera tersenyum selebar itu, Alva masih bisa melihat perempuan itu sedang berusaha menyembunyikan kecemasannya. ”Bener kamu nggak pa-pa?” Senyum Shera tetap mengembang. ”Iyaaa... bener. Udah ah, kita kan di sini untuk kamu. Lagian, sebagai klien, apa pun masalah yang terjadi di kantorku, kamu nggak perlu cemas. Kamu tetap bakal dapat servis terbaik.” Shera mengacungkan jempol. Keceriaan yang berlebihan. Jurus paling standar yang digunakan untuk menyembunyikan perasaan. Langit meredup. Tanda-tanda bakal segera sunset. Se- perti tersadar akan sesuatu, mata Shera membulat antu- sias. Secepat kilat dia menyambar pergelangan tangan Alva dan menarik pria itu sambil berlari kecil. 15 pustaka-indo.blogspot.com
”Sher... eh... kenapa? Mau ke mana?” Alva bingung tangannya ditarik tiba-tiba. ”Udah ikut aja!” Shera terus berlari kecil menyusuri pantai sambil tetap menggenggam pergelangan tangan Alva. Sesampainya mereka di depan sebuah tumpukan karang yang lumayan tinggi, langkah Shera melambat. Dengan sigap dia melepas lat shoes merah mudanya dan mulai memanjat karang itu sambil menenteng sepatu. Alva melotot panik. ”Sher!” ”Buruan ikut naik! Aku hampir lupa, seharusnya sambil nunggu sunset, kita naik ke sini.” Sambil berdiri di karang, Shera mengulurkan tangan memberi kode pada Alva supaya ikut naik. Dengan kebingungan, Alva menyusul Shera naik. ”Sher?” Melihat perempuan itu duduk bersila di pinggir karang, Alva ikutan bersila di sampingnya. Lima detik kemudian langit berubah oranye, matahari turun perlahan. ”Bocoran dari pegawai resort, ini spot pa- ling bagus untuk liat sunset di pantai ini.” Shera bergumam pelan sambil menatap lurus ke depan. Napasnya seolah tersekat. Pegawai resort itu benar. Pemandangan matahari terbenam di depan mereka menakjubkan. Di samping Shera, Alva menatap ke arah yang sama dengan napas tertahan. Hening. ”Aduh...” Alva bergumam tiba-tiba. 15 pustaka-indo.blogspot.com
”Kenapa, Al?” ”Nggak difoto. Bagus banget padahal. Keisha pasti suka. Sunset dari jendela gedung bertingkat aja bisa dia bilang bagus kok.” Alva tersenyum tipis. Shera meringis canggung. ”Yah, sori ya, Al. Tadi bener-bener kelupaan, tapi nanti kan kamu akan ke sini lagi sama dia. Kalau cerah, sunset-nya pasti sebagus tadi. Lebih bagus liat langsung juga, kan?” Shera melihat Alva tersenyum aneh, lalu mengangguk kikuk. Mungkin karena Alva nggak tahu apakah dia bakal ke sini lagi bareng Keisha atau nggak. Sepertinya dia masih harus menunggu keputusan tunangannya. Tanpa sadar Shera mendengus pelan. Pakai susuk apaan sih si Keisha itu sampai bisa bikin cowok kayak Alva bertekuk lutut habis-habisan begini? Bahkan, bisa dibilang ini sudah bukan sekadar bertekuk lutut, tapi tiarap! ”Jadi... habis sunset apalagi, Sher?” tanya Alva mem- buyarkan lamunan Shera. ”Oh... kita ke tenda aja yuk?” Shera meluruskan kakinya, siap-siap berdiri. ”Sini.” Alva releks mengulurkan tangan membantu Shera berdiri. Tiga detik tangannya mengambang di udara karena Shera tak langsung menyambutnya. Cewek itu malah terdiam menatap tangan Alva dengan ekspresi tak terbaca. Alva nyaris berpikir dirinya kelewat lancang dan berniat menarik kembali tangannya, tapi tiba-tiba ekspresi Shera berubah normal dan menyambut uluran tangannya. 159 pustaka-indo.blogspot.com
”Thanks, Al.” Shera tersenyum lebar setelah berhasil berdiri dengan bantuan Alva. Seandainya cowok itu tahu jantungnya nyaris meledak menahan perasaan waktu tangannya digenggam dan dibantu berdiri tadi. ”Turun yuk?” Alva mengangguk mengikuti Shera turun dari ka- rang. * ”Sudah dapet tempat bikin undangan atau suvenir?” Alva terbatuk pelan mendengar pertanyaan Shera. Tangan Alva berhenti membolak-balik ikan yang sedang dia bakar lalu menatap Shera yang duduk di sebelahnya asyik membakar cumi-cumi. Karena di pantai, tema barbeque-nya juga berganti menjadi seafood, bukan kambing guling lagi. ”Kok nanya kayak gitu?” Shera mengangkat bahu pelan. ”Hmm... ya nggak pa- pa. Siapa tahu aja kamu lagi cari-cari, aku tahu yang mu- rah tapi bagus.” Rasanya Shera pengin mengeplak mulut- nya sendiri karena nggak bisa menahan diri. Sepertinya kalimat itu otomatis meluncur dari mulutnya tanpa lewat saringan otak. Shera betul-betul penasaran tentang Alva dan Keisha, biarpun dalam hati dia masih yakin kesim- pulannya soal telepon Alva dan Darwin itu benar. ”Bener- an murah lho, Al. Hasilnya juga bagus. Mau model kayak apa aja bisa, kamu tinggal—” 10 pustaka-indo.blogspot.com
”Kayaknya belum sekarang,” potong Alva ”Ha?” ”Kayaknya belum sekarang,” ulang Alva dengan nada yang persis sama. ”Ooo....” Bibir Shera membulat, mendadak bingung mau ngomong apa lagi. Alva mau nggak mau tersenyum melihat tampang me- longo Shera. ”Tenang aja, kalau pas mau pesan aku pasti nanya kamu. Makasih infonya. Nanti... aku sampein ke Keisha juga,” Alva berdeham pelan, mengusir gugup. Ini gila, benar-benar gila. Seharusnya waktu ketemu di resepsi Raymen, Alva nggak perlu meminta Shera dan Honeymoon Express mengurus bulan madunya. Seharus- nya dia tahu, itu sama aja menggali lagi perasaan yang sudah lama dia pendam, dan akhirnya menjadi rumit begini. * Langit semakin gelap. Api unggun di depan tenda sudah menyala hangat. Puncak kejutan yang Shera dan tim siapkan akan Alva saksikan sebentar lagi. ”Kita nunggu apa nih, Sher?” Alva menoleh ke arah Shera yang duduk di sebelahnya. Shera nggak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke laut lepas. Tak lama kemudian senyum mengem- bang di bibirnya. ”Itu. Mudah-mudahan kamu suka. Eh, maksudnya, mudah-mudahan Keisha suka—kalian suka.” Telunjuk Shera menunjuk ke depan. 11 pustaka-indo.blogspot.com
Perlahan pandangan Alva mengikuti arah telunjuk Shera. Alva tercekat. ”Ini, ini... gitar, mana gitarnya? Lagunya, Al, lagunya! Itu... I can’t smile ithout you! Buruan!” Shera buru-buru menyodorkan gitar ke arah Alva dengan tangan kanan, sementara tangan kanan kirinya sibuk memegang kame- ra. ”Ha?” Alva melongo. Shera melotot sambil menekan tombol ON di kamera. ”Nyanyi... nyanyiii! Jangan foto melulu, sekali-sekali video. Ini bagus banget soalnya.” Sebelah tangan Shera bergerak-gerak memberi kode supaya Alva segera ber- nyanyi. Sedetik kemudian kebingungan Alva hilang. Tangannya memetik gitar dan mulai bernyanyi: ”You know I can’t smile without you… Can’t smile without you...” Alva tak bisa berhenti menatap takjub pada peman- dangan di depannya yang mengiringi dia bernyanyi. Perahu-perahu kecil tak bermotor yang tadi sepertinya hanya mengapung-ngapung di air tanpa tujuan, sekarang berubah menyala gemerlap dengan warna-warni lampu hias yang terangkai indah di sekeliling badan perahu. Laut yang gelap mendadak bersinar romantis. Cuma ada suara angin, debur ombak dan suara gitar yang mengiringi Alva menyanyi. Jemari Alva masih memetik gitar, sambil 12 pustaka-indo.blogspot.com
membayangkan seandainya Keisha bisa ada di tempat ini. Ini betul-betul indah. Cahaya lampu warna-warni yang berpendar dari badan perahu membuat mereka seperti berada di negeri dongeng, bukannya di salah satu pantai di Bali. Mereka seperti sedang berada di negeri antah berantah bersama para peri. Shera berdiri persis di belakang Alva. Merekam pria itu bernyanyi dari belakang. Shera ingin rekaman itu menangkap sosok Alva dari belakang agar Keisha bisa melihat apa yang Alva lihat sekarang. Video ini akan jadi sangat romantis. ”I cant laugh, and I can’t sing I’m inding it hard to anything...” Tiba-tiba langit bercahaya, lampion-lampion kertas bermunculan dari perahu dan beterbangan memenuhi langit seperti kunang-kunang raksasa. Dada Alva terasa sesak. Mendadak matanya panas, bulu kuduknya meremang karena kagum. Dia sampai terbatuk supaya suaranya nggak bergetar saat bernyanyi. Dia yakin, Keisha pasti akan menangis terharu kalau menyaksikan semua ini. Alva nggak menyangka Shera akan memikirkan se- detail ini. Dia memperhatikan saat Alva bercerita tentang Keisha yang tergila-gila dengan ilm animasi Disney Tangled. Bahwa Keisha begitu jatuh cinta dengan adegan 13 pustaka-indo.blogspot.com
lampion-lampion yang diterbangkan ke langit memenuhi angkasa setiap peringatan ulang tahun sang putri yang menghilang. ”Bagus banget ya?” Tiba-tiba Shera sudah kembali du- duk di samping Alva. Senyumnya mengembang, menatap takjub lampu-lampu di kapal dan lampion-lampion yang melayang di udara. ”Aku juga selalu suka ilm-ilm Prin- cess Disney. Kalau melihat ke situ aja....” Shera menunjuk ke arah lautan dan langit yang berpendar indah. ”Rasanya seperti ada di dunia Disney. Stres jadi hilang sejenak.” Shera terkekeh garing. Alva terdiam. ”Tahu nggak...,” lanjut Shera, masih menatap ke depan. ”Aku sering berkhayal kalau aku jadi salah satu princess di ilm Disney. Nyanyi-nyanyi, nggak usah mikirin kerja- an, dan yang pasti nggak pusing mikirin kapan kawin karena ada pangeran keren yang mau berkorban melaku- kan apa pun demi aku. Dansa romantis, menari-nari di padang rumput, boncengan naik kuda putih... terus live happily ever after.” Shera terkekeh lagi dengan khayalan- nya. Tiba-tiba Shera berbalik dan menepuk pundak Alva spontan. ”Eh, kamu tuh kayak pangeran di cerita Disney yang bikin kejutan romantis buat sang putri. Yah... biar- pun aku sih yang ngerjain, tapi kan idenya dari ka—” Kalimat Shera menggantung di udara. Tersadar bahwa sejak tadi Alva menatap ke arahnya dengan ekspresi tak terbaca. 14 pustaka-indo.blogspot.com
Alva terenyak, membayangkan betapa indah dunia di dalam kepala Shera sampai dia bisa menciptakan momen seindah ini. Dia mewujudkan sesuatu hanya dengan mendengar cerita singkat dari orang lain. Betapa Shera mengerjakan semua ini dengan sepenuh hati. Alva menelan ludah saat menatap manik mata Shera. Dia baru menyadari betapa bening mata perempuan itu yang berbinar tulus. Binar mata yang sama seperti yang Alva lihat setiap kali mereka mengobrol canggung di kampus dulu. Binar mata yang membuat Alva nggak per- caya diri dan takut untuk menyatakan cinta. Binar mata yang membuat Alva merasa kalau cewek seperti Shera lebih cocok sama cowok supel dan populer seperti Ray- men, bukan cowok pencinta alam yang kurang gaul se- perti dia. Binar mata itu yang membuat Alva kehilangan kendali dan tahu-tahu saja bibirnya mencium bibir Shera. Seolah benaknya terhipnotis, tanpa sadar Alva merubuhkan ben- teng pertahanannya sendiri. Membebaskan dirinya yang selama ini sengaja dia kurung rapat-rapat agar tidak ber- buat macam-macam dengan Shera. Binar mata perempuan itu terlalu menghipnotis. Bibir itu terlalu mengundang. Hati Alva menghianati akal sehatnya sendiri. Shera tak berdaya. Mata Alva yang menatap lembut langsung ke matanya begitu memikat. Dulu... hanya mem- bayangkan dipeluk Alva saja jantung Shera serasa mau meledak. Dan sekarang, bukan hanya tangan kokoh Alva yang memeluk pinggang Shera, tapi bibir hangat pria itu... 15 pustaka-indo.blogspot.com
mencium lembut bibir Shera. Rasanya ada yang salah dari semua ini. Tapi nggak secuil pun bagian diri Shera bereaksi untuk menolak. Ciuman Alva lembut. Tubuh Shera seperti melayang, mungkin karena kupu-kupu di perutnya sekarang be- terbangan ke segala arah. Shera suka wangi parfum Alva yang samar-samar ter- cium saat mereka begitu dekat. Shera suka cara Alva men- cium bibirnya. Nggak memaksa, nggak mengintimidasi. Ciuman Alva membuat Shera nyaman, tenang, dan... seolah dia jatuh cinta jutaan kali lipat daripada sebelumnya. Membuat Shera ingin Alva menciumnya terus. Ciuman Alva seperti ciuman yang sudah bertahun- tahun Shera tunggu. Mimpi yang jadi kenyataan. Belum pernah Shera merasa jantungnya berdegup sedahsyat ini. Shera merasakan pelukan Alva di pinggangnya semakin erat. Tanpa sadar tangannya mulai melingkari bahu Alva dan mengusap pelan tengkuk pria itu. Shera ingin memi- liki Alva. Dunianya sore ini seakan dicuri begitu saja oleh laki-laki itu. Biarpun Alva sudah jadi calon suami orang— Shera tersentak. Calon suami orang.… Calon-Suami-Orang. Kata-kata itu berkecamuk di benak Shera. Kesadarannya yang tadi sempat hilang seperti memanggil-manggilnya kembali ke dunia nyata. Dia ditampar oleh kenyataan. 1 pustaka-indo.blogspot.com
”Al—!” Seperti terkena sengatan listrik, Shera menarik diri dan mendorong tubuh Alva menjauh. Susah payah Shera terpaksa membuang semua perasaan memabukkan tadi. Terpaksa menelan lagi dengan pahit setiap detik debaran yang dia rasakan tadi. Seharusnya nggak kayak gini! Shera mengusap bibirnya kasar bermaksud memarahi diri sendiri. Ini salah!!! Shera mematung menatap pria itu. Alva juga mematung menatap Shera. Bibirnya terbuka tapi nggak ada suara yang keluar. Lampion-lampion makin tinggi beterbangan ke langit. Lampu-lampu masih menyala di perahu yang mengapung tenang. Sungguh bertolak belakang dengan gejolak hati Shera dan Alva. Mereka berdua sudah mengacaukan semuanya. Seharusnya ini kejutan romantis. Bukan untuk mereka berdua, melainkan untuk dinikmati masing-masing. Mere- ka seharusnya nggak— Kotor! Shera betul-betul merasa kotor. Bisa-bisanya dia hilang kendali dan melakukan hal menjijikkan seperti tadi. Berciuman dengan calon suami orang?! Tugasnya adalah menciptakan bulan madu romantis untuk Alva dan Keisha, bukannya jadi pengganggu hubungan mere- ka! Ini gila! Dia sudah melakukan tindakan yang paling dia benci! Ini kesalahan fatal sebagai seorang profesional dan seorang perempuan! 1 pustaka-indo.blogspot.com
”Tega banget kamu, Al...” Shera melangkah mundur. Menjauh dari Alva, jarak mereka terlalu dekat, Shera harus menjauh—lebih jauh lagi. ”Sher! Tunggu, Sher...” Dengan ekspresi yang tak kalah shock, Alva meraih tangan Shera. Berusaha menarik perempuan itu kembali. Dia harus meluruskan situasi ini. Wajah Shera basah oleh air mata. Dia cuma bisa mena- tap Alva dengan ngeri dan nggak percaya. Shera mengge- leng pelan. Berusaha melepaskan genggaman tangan Alva. ”Lepasin tangan aku, Al! Lepasin!” ”Sher, please. Jangan kayak gini. Kita bicara dulu.” Alva berusaha menatap mata Shera, menolak melepaskan genggaman tangannya. Dia nggak bisa melepaskan Shera tanpa menjelaskan apa-apa. Dia nggak bisa membiarkan Shera menganggap dirinya pria tukang selingkuh. ”Tega kamu, Al! Tega kamu bikin aku jadi perempuan pengganggu hubungan orang!” jerit Shera sebelum dia mendorong tubuh Alva kuat-kuat lalu berlari menjauh, mengabaikan pemandangan lampion-lampion berpencar karena tertiup angin. ”SHER! Tunggu, Sher!” Shera berbalik sekilas menatap Alva tajam. ”Kalau kamu berani kejar aku, aku nggak akan mau kenal kamu lagi!” ancam Shera sebelum kembali berlari pergi. * 1 pustaka-indo.blogspot.com
”Check out, Mbak?” Resepsionis itu mengangguk. ”Iya, Pak. Bu Shera tadi datang buru-buru, mengambil barang di kamar, dan langsung check out.” Alva mengacak-acak rambutnya sendiri. Kesal karena semua jadi kacau. Seharusnya dia bisa menahan diri. Sekarang jadi ada dua hal yang harus dia selesaikan. Bulan madu untuk Keisha dan membereskan semua kesalahpa- haman ini dengan Shera. ”Argh!!!” Alva meninju udara kosong dengan penuh emosi. Alva melihat sekeliling. Shera pasti belum jauh. Dan dia benar. Dari kaca pintu samping hotel Alva melihat Shera berdiri gelisah menung- gu taksi. Secepat kilat Alva berlari menghampiri sebelum perempuan itu pergi. ”Sher! Tunggu!” Alva meraih pegangan koper Shera supaya perempuan itu tidak lagi kabur. Sekilas Alva meli- hat koper Shera tidak tertutup sempurna, ujung sweter telihat menyembul dari bagian yang terbuka. Pasti dia membereskan barang-barangnya asal-asalan. Mata Shera terbelalak gusar melihat Alva berdiri menahan kopernya. ”Kamu belum tuli, kan? Tadi kamu dengar aku ngomong apa. Jangan kejar aku, atau aku nggak mau kenal kamu lagi.” ”Aku nggak peduli,” jawab Alva lantang. Dahi Shera mengernyit kaget. Ekspresinya semakin gusar. ”Kamu nggak peduli?” 19 pustaka-indo.blogspot.com
”Iya, aku nggak peduli kamu nggak mau kenal aku lagi, asal aku nggak kamu cap buruk seumur hidupmu.” Shera tersentak. ”Kita bicara di kamarku,” pinta Alva sambil menatap Shera lurus-lurus. ”Di kamar kamu? Maksud kamu apa? Ngapain kita harus ke kamar kamu, Al?! Kamu anggap aku ini apa sih? Cukup, Al. Aku mau pulang.” Jantung Shera berpacu kencang. Kurang ajar sekali Alva. Setelah kejadian tadi berani- beraninya dia mengajak Shera ke kamarnya! ”Kamu ngomong apa sih? Aku ngajak kamu ngobrol di kamarku supaya kita nggak ribut-ribut di tempat umum, Sher.” Shera menatap Alva tegang. ”Kamu boleh teriak minta tolong kalau aku nanti macam-macam sama kamu. Panggil sekuriti. Tapi aku mohon, kasih aku kesempatan bicara sama kamu.” Entah apa yang terkandung dalam tatapan mata Alva sampai akhirnya Shera mengangguk setuju dan mengikuti langkah pria itu yang menyeret koper Shera menuju kamarnya. * Aroma kamar Alva seperti wangi Alva yang Shera hirup waktu mereka berciuman di pantai tadi. Pasti karena Alva berkali-kali menyemprotkan parfumnya di dalam kamar ini. 10 pustaka-indo.blogspot.com
Darah Shera berdesir. Teringat ciuman hangat mereka tadi. ”Kamu mau minum?” Suara Alva membuyarkan la- munan Shera. Releks dia mengerjapkan mata lalu menggeleng cepat. ”Makasih. Langsung aja. Kamu mau ngomong apa, Al?” Dengan canggung Alva yang berdiri di hadapan Shera, maju selangkah lebih dekat. Alva mencoba menatap langsung mata Shera sambil menarik napas dalam-dalam sebelum bicara. ”Aku minta maaf, Sher.” Shera menahan napas. Membalas tatapan Alva. Minta maaf. Apa artinya Alva menyesal mencium Shera? Apa mencium Shera adalah kesalahan untuk Alva? Tanpa sadar Shera merasa tertohok kalau Alva meng- anggap ciuman tadi sebuah kesalahan. Ciuman kosong tanpa perasaan. Itu artinya Shera nggak ada artinya, kan? Mata Alva masih menatap Shera lurus-lurus. Entah karena terlalu dekat dengan Shera atau mungkin karena mata Shera yang bening, irama napas Alva tiba-tiba saja berubah lebih cepat. ”Shera, aku—” Entah energi apa yang sejak tadi melingkupi mereka. Atau mungkin Cupid si peri cinta sedang usil menembak- nembakkan panahnya sembarangan. Tanpa bisa dihenti- kan, tiba-tiba saja bibir Alva mencium bibir Shera lagi. Penuh perasaan, lebih kuat daripada sebelumnya. Shera merasa cowok itu sudah gila. Kesurupan. Atau 11 pustaka-indo.blogspot.com
entah apa. Setelah meminta maaf, lalu ini yang Alva lakukan? Menciumnya lagi?! Seharusnya Shera menampar atau menendang Alva karena berani melakukan ini. Tapi boro-boro menampar, Shera bahkan nggak bisa menahan diri untuk nggak membalas ciuman Alva. Dia kembali terhanyut. Terlena dalam ciuman Alva. Bibir Alva terasa hangat. Bulu kuduk Shera meremang ketika Alva membelai pipinya lembut. Jantungnya seoleh berhenti saat tangan Alva menekan punggungnya, mena- rik tubuh Shera hingga mereka melekat tak berjarak. Shera nyaris bisa mendengar detak jantung Alva. ”Sher...,” gumam Alva lembut di antara ciumannya. Jemarinya meremas rambut Shera pelan. Sekujur tubuh Shera seolah lemas kehilangan energi. Tatapan dan ciuman pria itu seperti menyedot energinya. Dia bahkan releks mundur saat Alva mendorongnya pelan ke arah tempat tidur. Apa yang bakal terjadi, terjadilah... Kalau mereka bisa menyimpan rahasia, nggak mungkin ada yang tahu. Yulia nggak akan tahu, Keisha nggak akan tahu.... Keisha.... Calon istri Alva. ”Al!” Shera buru-buru mencoba melepaskan diri dari pelukan Alva. ”Sher....” Setengah sadar dengan napas terengah Alva menatap Shera bingung. 12 pustaka-indo.blogspot.com
”Stop, Al! Stop!” Dengan keras Shera mendorong tubuh Alva. Matanya terbelalak marah bercampur panik menatap Alva. ”Kamu—! Dari awal memang ini kan niat kamu ngajak aku ke kamarmu?! Kamu brengsek!” ”Sher, tapi....” Alva mendadak linglung. Bukankah Shera merespons dia tadi? Bukankah Shera juga nggak menolak Alva? ”Aku pulang, Al!” ”Tunggu! Aku sama sekali nggak berniat jahat sama kamu. Semua itu....” Alva mengejar Shera dan berusaha mengadang langkahnya di depan pintu. Mata Shera menyipit marah. Kecewa, ”Kamu nggak mau ada keributan, kan? Sekarang minggir, Al. Atau aku akan ikuti saran kamu untuk manggil sekuriti,” ancam Shera tajam. ”Aku bilang minggir!” bentak Shera keras sampai Alva benar-benar menyingkir. Tanpa menoleh ke belakang lagi Shera berlari menyeret kopernya. Ini sudah keterlaluan. Air matanya meleleh tak terbendung. * Yulia mencopot irisan timun dari matanya karena suara bel yang bertubi-tubi. Sambil menahan supaya dahinya nggak berkerut marah dan membuat maskernya retak, Yulia berjalan tergesa-gesa ke pintu. Bel rumahnya seperti korslet, atau memang ada manu- 13 pustaka-indo.blogspot.com
sia barbar dari zaman purba yang kebetulan lewat lalu tergoda untuk mencoba memencet-mencet bel. ”SHERA?!” Prakkk! Masker Yulia retak tanpa ampun. ”Kenapa lo?” 14 pustaka-indo.blogspot.com
Apa yang Sudah Dimulai Sebaiknya Dituntaskan Shera menggosok bibirnya kuat-kuat dengan air shoer di kamar mandi Yulia yang mengucur deras ke wajahnya. Air matanya sudah nggak jelas bercampur dengan air mandi dan ingusnya sendiri. Mungkin terdengar lebay. Tapi satu hal yang paling ingin Shera lakukan begitu sampai ke tempat Yulia adalah mencuci muka sebersih mungkin. Shera begitu marah, begitu malu, karena ber- ciuman dengan Alva. Sampai-sampai dia merasa harus menggosok bibirnya sekuat mungkin sampai bersih. Berharap siapa tahu bisa sedikit menghapus rasa bersalah- nya. Dari luar Yulia menggedor pintu kamar mandi dengan cemas. ”Sheeer, lo kenapa sih? Lama banget di kamar 15 pustaka-indo.blogspot.com
mandi. Lo nggak kenapa-napa? Ayo, Sher, keluar dulu dong. Cerita dulu deh sama gue.” Shera terus menggosok bibir. Air matanya belum bisa berhenti. Sepanjang penerbangan menuju Jakarta, dia sudah setengah mati menahan air mata. Menahan jijik pada diri sendiri. TOK TOK TOK! Yulia menggedor pintu lebih kencang. ”Sheraaa... please dong keluar dulu. Gue khawatir nih. Keluar dulu keeek... lo udah bikin masker gue retak, masa masih mau bikin gue khawatir?” Shera berhenti menggosok bibir, lalu mematikan air shoer. Memang sebaiknya dia keluar dulu, dan curhat habis-habisan pada Yulia. Dia butuh bercerita. Dia harus membagi beban mengerikan ini. ”Sher?” Yulia menatap Shera cemas begitu pintu di- buka dan Shera berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan wajah sembap mengerikan sambil tertunduk. Sedetik... dua detik.. sepuluh detik... Shera cuma diam mematung menatap Yulia. ”Sher? Jangan diem dong. Ngomong, Sher, ada apa? Lo kenapa pulang tiba-tiba? Lo nangis? Ada apa sih?” Shera perlahan mendongak menatap Yulia dengan sendu. ”Yul....” suara Shera bergetar lemah. ”Iya, Sher?” Nggak satu kata pun lagi sanggup Shera katakan seka- rang. Sambil menangis kencang, Shera nyaris melompat memeluk Yulia. Menangis sesenggukan di bahu saha- batnya. Dia perlu menangis habis-habisan sebelum mulai 1 pustaka-indo.blogspot.com
dia menceritakan apa yang terjadi di Bali. Cerita yang pasti akan membuat Yulia shock dan ingin berteriak: ”GUE BILANG JUGA APA!” * ”Lo juga sih, Al! Gue nggak nyangka lo bisa juga nyosor cewek. Bener kan, dari awal gue udah feeling bakalan kayak gini kejadiannya. Kusut.” Alva cuma menghela napas. Sudah tiga hari Shera menolak menemuinya. Padahal dia perlu menemui Shera untuk meluruskan semuanya. Tapi, sampai detik ini usahanya belum berhasil. Alva juga sebetulnya bingung apa yang harus dia luruskan. Jujur saja, Alva sama sekali nggak menyesal mencium Shera. Baginya, mencium Shera bukanlah kesalahan, karena itu yang ingin dia lakukan sejak sekitar tujuh ta- hun lalu. Nggak ada yang perlu dia luruskan soal ciuman itu. Semua muncul dari hatinya. Perasaan yang sempat tertimbun muncul bagai harta karun yang terangkat ke permukaan. Kalau ada yang harus Alva luruskan adalah kesalahan bahwa hal itu terjadi saat ini, ketika seharusnya dia fokus pada Keisha. Ketika dia jelas-jelas meminta Shera menjadi orang yang menangani perjalanan bulan madunya. Dan, ketika mereka sudah mempunyai kehi- dupan masing-masing. Alva bisa mengerti kemarahan Shera. Siapa pun pasti 1 pustaka-indo.blogspot.com
akan mengira dia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Wajar Shera marah karena momen romantis yang dia ciptakan seakan-akan jadi tempat Alva mencuri- curi kesempatan. Shera perempuan baik-baik. Tentu dia menganggap Alva kurang ajar. ”Dia jadi nggak mau pulang ke apartemennya. Gue repot nih mendadak jadi ibu kos. Mana jadi mello banget. Sensitif, sering nangis, sering bengong. Ribet tahu nggak! Lo sih!” Tapi Yulia mendadak nggak tega melanjutkan omelannya karena melihat tampang memelas Alva. Laki- laki itu tampak sama frustrasinya dengan Shera. Alva menatap Yulia pasrah. Tiap hari dia datang, yang dia dapat cuma omelan Yulia, tapi sama sekali belum bisa bertemu Shera. Alva nggak peduli harus berkali-kali kena omel Yulia, asalkan dia bisa ketemu Shera. ”Dia belum mau ketemu gue,Yul?” Yulia mendengus pelan. ”Menurut lo?” Yulia meng- garuk-garuk kepala karena jadi pusing sendiri. ”Gue pusing sama kalian. Kenapa nggak dari dulu aja pas kuliah kalian pacaran? Dia suka sama lo, dan ternyata lo juga suka sama dia sekarang. Dulu kenapa lo nggak naksir dia sih? Pening kepala gue sekarang. Si Shera juga sih, udah gue wanti-wanti supaya jaga profesionalitas. Ini gara-gara dia nganggep enteng omongan gue. Sekarang jadi begini, kan? Amburadul!” Alva terbelalak kaget. ”Waktu kuliah Shera suka sama gue?” 1 pustaka-indo.blogspot.com
Gantian mata Yulia yang melebar. ”Jangan bilang lo nggak tahu?” Alva terdiam. Merasa nggak perlu menjawab pertanyaan Yulia. Toh mereka juga nggak bisa kembali ke zaman kuliah. Tapi Alva tetap nggak bisa menutupi rasa senang- nya mendengar omongan Yulia barusan. Ternyata cin- tanya nggak bertepuk sebelah tangan, cuma nyalinya aja yang melempem waktu itu. Mata Yulia menyipit menyelidiki Alva. ”Jangan-jangan waktu kuliah lo juga suka sama dia ya?” Nada suara Yulia yang rendah bernuansa interogasi. Alva membalas tatapan Yulia. ”Iya. Tapi gue nggak berani.” Yulia semakin heboh menggaruk-garuk. Dalam hati Yulia memekik: Jadi ini dua-duanya cinta nggak kesampaian?! Pantesan meledak! ”Sekarang kusut nih kalau sampe calon bini lo tahu. Bisa-bisa ada acara labrak-labrakan. Bakalan drama nih.” ”Nggak. Gue jamin nggak bakal ada kejadian begitu. Keisha nggak mungkin ngelakuin itu,” potong Alva cepat. Yulia mendelik. ”Yakin banget lo!” Alva terenyak sekilas. ”Iya, gue yakin. Gue tahu banget Keisha.” ”Al, Shera tuh kecewa banget karena dia anti sama cewek-cewek pengganggu hubungan orang. Dia paling nggak mau jadi perempuan kayak gitu. Pertunangan dia hancur gara-gara calon tunangannya kepincut cewek peng- 19 pustaka-indo.blogspot.com
ganggu. Dan setelah lo sama dia—” Yulia bikin gerakan seolah-olah tangan kiri dan tangan kanannya berciuman. ”—dia merasa dirinya nggak ada bedanya sama cewek pengganggu itu. Mana ada perempuan baik-baik yang nyosor calon laki orang?” tukas Yulia sinis. Alva menahan napas. ”Dan semua gara-gara lo nggak bisa menahan diri. Shera udah gue bawelin terus supaya jangan sampe kelepasan. Eh, malah lo yang kelepasan,” sambung Yulia esktracepat sebelum sempat Alva buka mulut. ”Maain gue, Yul. Gue nggak bisa nahan diri. Makanya gue juga harus minta maaf sama dia. Gue juga nggak nyangka, ternyata perasaan gue buat Shera selama ini nggak pernah hilang.” Yulia kesal setengah mati pada Alva karena pria ini jelas nggak setia. Masa lagi merencanakan bulan madu, malah nyosor cewek lain? Biarpun ini juga salah Shera. Yulia nggak bisa memungkiri tatapan Alva waktu bilang pengin minta maaf itu tulus. Kalau masalah ini nggak beres, Shera bakalan makin ngaco. Ogah kerja, ogah pulang juga ke apartemen sendiri. ”Gini deh, Al. Gue tahu lo sama Shera harus beresin masalah ini. Nanti gue coba lagi ngomong sama dia, tapi lo sabar dulu. Ngomongnya harus pelan-pelan. Nanti pasti gue kabarin lo.” Alva menghela napas lega. ”Makasih, Yul...” Yulia mengangguk. ”Ya udah, lo balik dulu deh seka- rang.” 10 pustaka-indo.blogspot.com
Seperti nggak rela pergi, Alva malah diam mematung. ”Al? Lo balik dulu sana!” ”Ah... iya... oke. Gue permisi.” Dalam hati Alva sebe- tulnya menolak pergi begitu saja. Pengin rasanya dia menerobos masuk sebelum Yulia menutup pintu. * ”Heh, calon manusia gua! Bangun, bangun!” Yulia meng- gebuk-gebuk Shera yang meringkuk di balik selimutnya dengan bantal menutupi kepala. Mata Shera sembap. Sejak pulang dari, entah sudah berapa kali Shera menangis sesenggukan setiap kali mem- bahas masalah Alva. Dia merasa dirinya begitu bodoh telah menerima job dari Alva, apalagi dia tergoda untuk bermain-main dengan debaran jantungnya, dan super- ekstra-duper idiot karena sempat membalas ciuman ro- mantis Alva waktu itu. Sekarang dia benar-benar jadi perempuan perusak hubungan orang. ”Alva udah pergi?” Yulia melompat ke kasur. ”Sudah, Nyah. Sesuai instruksi Nyonyah, dia saya suruh pergi.” Brettt! Dengan sekali sentak, Yulia menarik selimut dari tangan Shera waktu sahabatnya itu siap meringkuk lagi. ”Lo itu sedih apa demam sih? Kok bawaannya me- ringkuk terus di balik selimut. Di rumah orang lagi!” ”Gitu banget sih, Yul. Emang lo nggak ikhlas ya nam- pung gue di sini?” 11 pustaka-indo.blogspot.com
Ternyata betul, kalau lagi patah hati ceek suka jadi supersensitif. Apalagi kalau kasusnya sudah dicium tapi nggak bisa jadian kayak begini, rutuk Yulia dalam hati. Yulia geleng-geleng. ”Bukan gitu, Sher. Tapi ini udah tiga hari. Lo juga nggak ngantor. Lo jadi nggak punya kehidupan. Sampe kapan lo mau kayak orang nggak punya tujuan hidup begini?” ”Gue kan udah bilang ke orang kantor kalau gue sakit,” potong Shera. ”Pura-pura sakit,” ralat Yulia. ”Si Alva udah berapa juta kali neleponin lo dan bolak-balik ke sini. Gue rasa, bagaimanapun lo harus ketemu dia, Sher. Masalah ini harus kalian beresin. Kabur itu cuma menunda masalah, dan sama sekali nggak menyelesaikan masalah.” Shera menegakkan duduknya. ”Ini lagi gue beresin! Satu-satunya cara ya dengan nggak ketemu dia. Biar dia balik ke calon istrinya. Anggep aja nggak pernah ada kejadian apa-apa.” Alis Yulia bertaut sampai dahinya berkerut-kerut. ”Ya itu namanya kabur! Cuma pengecut yang kabur dan nggak berani menyelesaikan masalah. Emang kalian ber- dua udah pikun, bisa ngelupain kejadian kayak gitu? Lo itu dicium hhhooot... bukannya digigit nyamuk.” Shera merengut diam. ”Udahlah, Sher, ngaku aja. Lo sampe ngebales cium- annya karena lo juga ngarep, kan? Pasti selama tiga hari terakhir ini lo ngebayangin terus rasa ciumannya si Al- va—” 12 pustaka-indo.blogspot.com
BUKKK!!! ”Yulia! Nggak sopan deh!” Dengan muka merah padam Shera menggebuk Yulia pakai guling. Yulia nyengir. ”Ngambeeek... malu sendiriii, kan? Lo harus fair dong, Sher. Ini bukan salah Alva sendiri. Tapi salah lo jugaaa, Nenek! Kalau lo beneran nggak mau, sebelum bibirnya nyampe, lo tabok duluan. Lha ini? Dibales. Pake mau diajak ke kamar lagi.” Shera siap melempar guling yang dia pakai menggebuk Yulia tadi. ”Dia bilang dia jamin nggak bakal ngapa- ngapain gue karena cuma mau ngejelasin. Malah dia bilang gue boleh panggil sekuriti kalau gue butuh pertolongan. Lo nyimak nggak sih cerita gue?!” Yulia mencibir dengan tampang menyebalkan. ”Butuh pertolongan sekuriti? Pertolongan dari apa? Ciuman yang membara? Prettt!” ”Yulia!” Shera memekik kesal. Siap menggebuk Yulia lagi. ”Eeeh, tunggu dulu… gue punya berita besar buat lo yang pasti lo suka. Si Alva itu ternyata juga suka sama lo waktu kuliah. Jadiii... kalian berdua itu suka sama suka.” APA?! Shera seperti tersengat listrik ribuan watt. ”AAHHH! Auk ah, Yul! Gue binguuung!” Jerit Shera semakin mumet. Nggak perlu Yulia jelasin juga dia tahu kok dirinya punya andil dalam skandal ”ciuman tepi pantai yang 13 pustaka-indo.blogspot.com
dihiasi lampion” dan ”ciuman hot di kamar hotel yang hampir kejadian” itu. Gampang banget Yulia ngomong supaya mereka ketemu dan meluruskan masalah. Shera harus bersikap bagaimana kalau berhadapan dengan Alva? ”Si Alva itu juga kayaknya bukan tipe yang bakal menyerah begitu aja.” ”Maksud lo?” Shera menyipit penuh tanda tanya. Sejak kapan Yulia jadi ahli menganalisis sifat orang? Yulia mengedikkan bahu. ”Kayaknya dia bakalan terus nyariin lo sampe lo mau ketemu dia. Apalagi kasusnya cinta terpendam kayak gitu. Makanya, menurut gue, mendingan buruan lo tuntasin supaya kalian bisa move on.” ”Nggak tahu, nggak tahu, nggak tahuuu....” ”Menurut gue...,” lanjut Yulia, nggak peduli kepala Shera makin nyut-nyutan. ”Terima kenyataan aja bahwa kalian berdua udah memulai sesuatu. Pilihannya cuma dua: terusin atau tuntasin.” Perasaan Shera betul-betul kompleks. Sumpah mati dia girang mengetahui Alva juga memendam cinta sejak kuliah bahkan sampai sekarang. Tapi dia pusing setengah gila karena pria itu calon suami orang. Mereka nggak mungkin melanjutkan semua ini! Pikiran lain melintas di kepala Shera. Terus sekarang gimana urusan kontrak Alva dan Honeymoon Express? Apakah akan dibatalkan? Itu artinya Shera harus mengem- balikan sisa uang Alva. Itu artinya ada pelanggaran kon- trak dari pihak Shera. Bagaimana kalau Alva nggak te- 14 pustaka-indo.blogspot.com
rima? Bagaimana kalau dia mengumbar kegagalan Honey- moon Express menyelesaikan kontrak? Terus... terus— ”AAA!” Shera menutup kuping sambil menggeleng- geleng. ”Kalau kelamaan stres kayak gini, bisa-bisa lo jadi gila. Kalau lo gila, gue nggak mau nampung lho. Bakal langsung gue kirim ke RSJ!” ”Tauk ah! Gue mo pulang aja ke apartemen gue! Makin pusing gue diceramahin sama lo! Gue mo mikir dulu!” Yulia cuma mengangkat bahu. Sekarang memang lebih tenang kalau Shera merenung di apartemennya sendiri. Di atas kasurnya. Di balik seli- mutnya. Dia harus berpikir jernih, sendirian. Tanpa intervensi orang lain, apalagi opini reseknya Yulia. Cuma bikin tambah mumet! Pulang. Shera harus pulang! ”Sher…” Kaki Shera langsung membeku begitu membuka pintu depan rumah Yulia. Nggak mungkin. Kata Yulia, dia sudah pergi, tapi kenapa dia masih ada di sini? ”Alva—?” 15 pustaka-indo.blogspot.com
Keisha.... Belum sempat Shera berbalik masuk dan menutup pintu, tangannya keburu ditangkap Alva. ”Sher, tunggu!” Alva melonggarkan pegangannya tapi tidak melepaskan Shera. ”Aku mau masuk, Al,” kata Shera, berusaha menjaga dirinya tetap tenang. ”Kita harus bicara.” Suara Alva terdengar nggak sete- nang biasanya. Suaranya juga terdengar lelah dan agak parau. ”Nggak ada yang perlu dibicarain,” tukas Shera ta- jam. Mata Alva menyipit. Jelas-jelas Shera bohong. Kejadian di Bali itu bukan seperti menepuk nyamuk di pipi Shera. 1 pustaka-indo.blogspot.com
Mereka berciuman! Alva mencium Shera, dan Shera mem- balas ciumannya. Jelas ada yang harus dibahas. ”Kurang jelas kalimatnya? Nggak-ada-yang-perlu- dibahas,” ulang Shera sengit karena Alva masih meme- gang pergelangan tangannya sambil menatap Shera lurus- lurus. Bukannya Alva nggak mendengar penolakan Shera, tapi setelah tiga hari berjuang untuk bisa bertemu Shera, mana mungkin dia melepas Shera yang sudah di depannya begitu saja?! Bisa-bisa Shera makin sulit ditemui. Alva nggak mau mengambil risiko itu. ”Kita harus bicara.” Alva cuma bisa mengulang kalimat yang sama. Emosi Shera terlalu berlipat-lipat. Ibarat balon gas yang terlalu banyak diisi, sudah saatnya meledak. Setelah tiga hari kebingungan, panik, merasa bersalah, dan nggak berani menghadapi Alva, sepertinya yang paling tepat saat ini adalah... marah. ”Bicara? Jadi lo mau bicara? Ngomongin apa lagi sih, Al?! Masih ada yang kurang jelas?! Apa yang terjadi di Bali itu nggak bener! Lo bikin gue jadi cewek nggak be- ner—cewek pengganggu hubungan orang! Dan lo... gue benci cowok kayak lo! Udah punya calon istri, dan seben- tar lagi menikah, masih sempet-sempetnya lo curi-curi kesempatan di tengah merencanakan bulan madu lo sen- diri! Bulan madu yang gue arrange! Yang gue siapin buat lo dan calon istri lo dengan sepenuh hati. Lo bukan cuma mengkhianati dia, tapi juga gue, tau? Gue nggak nyangka 1 pustaka-indo.blogspot.com
sikap kalem lo itu cuma topeng. Lo cuma cowok nyebelin yang nggak setia!” Dengan berapi-api dan berderai air mata Shera mengamuk habis-habisan. Kenapa sih Alva harus menciumnya? Kenapa Alva bikin semua jadi kacau? Kenapa Alva menjebol pertahanan Shera dengan begitu gampang? Shera sudah cukup senang menikmati sensasi deg-degan menjadi organizer bulan madu Alva sambil harap-harap cemas apakah nantinya Alva akan menikahi Keisha atau nggak. Tapi Shera sama sekali nggak mau jadi orang ketiga! Mendingan dia jadi jomblo daripada jadi orang ketiga. Sebut Shera egois! Dia tahu persis kesalahan terbesarnya adalah saat dia membalas ciuman Alva. Tapi itu semua nggak akan pernah terjadi kalau Alva nggak memulai! Buat Shera, mewujudkan bulan madu yang indah dan romantis di Honeymoon Express seperti membagi mimpi- nya ke setiap orang yang menjadi kliennya. Dan kalau suatu saat menjalani bulan madu, Shera mau jadi pemeran utama, pengantin wanita protagonis! Bukannya jadi tokoh antagonis pengganggu yang dicium calon mempelai pria di acara bulan madu pasangan lain! Alva sudah merusak mimpi Shera. Semua keindahan yang Shera ciptakan sedemikian rupa di Bali, seharusnya dinikmati Keisha. Shera seharusnya menerima jabat erat Keisha dengan senyum lebar saat mengucapkan terima kasih. Bukannya— ”Ikut aku!” Tiba-tiba Alva kembali mempererat geng- gamannya di pergelangan tangan Shera 1 pustaka-indo.blogspot.com
Shera tersentak. ”Ke mana?!” ”Ikut aku! Kalau kamu nggak mau dengar penjelasanku, kamu harus ketemu Keisha! Kamu mau semuanya jelas, kan?” * Nggak ada tatapan cemburu. Nggak ada jerit histeris apa- lagi tamparan waktu Alva memperkenalkan Shera pada Keisha dan menceritakan apa yang terjadi di Bali. Alva bercerita blakblakan bahwa dia mencium Shera dan se- karang Shera marah besar. Dan Shera semakin marah setelah bertemu Keisha. Oh, tolong dicatat, ternyata Keisha nggak di Jakarta, tapi di Bandung! Gila! Alva tadi main seret begitu aja dan membawa Shera ke Bandung tanpa persiapan apa-apa. Dan yang ada di depan mereka saat ini, bisa dibilang bukan benar-benar Keisha. ”Kamu bener-bener jahat, Al! Kamu itu cowok paling jahat yang pernah aku kenal! Tega banget kamu sama... dia!” Shera menatap Keisha. Lebih tepatnya makam Keisha, dengan nisan tertanggal sekitar satu setengah bulan yang lalu. Apalagi yang lebih kejam daripada pria yang meng- khianati calon istrinya yang baru meninggal sebulan yang lalu dengan dalih menyiapkan bulan madu paling indah. Lalu, semua rencana bulan madu itu buat siapa kalau Keisha sudah meninggal? 19 pustaka-indo.blogspot.com
Kepala Shera berdenyut pusing. Semua yang dia kerja- kan akhir-akhir ini sebetulnya buat apa? Kemarahan Shera berlipat ganda saat tersadar kemung- kinan dia hanya dijadikan pelarian Alva! Atau, yang lebih jahat lagi. Jangan-jangan ini semua cuma modus! Shera menelan ludah getir. Tiba-tiba aja dia teringat peringatan Yulia soal ini. Soal jangan coba-coba main perasaan. Memang Alva yang mencium Shera lebih dulu. Tapi Alva jelas bukan tipe playboy maniak yang main sosor aja. Alva pasti berani melakukan itu karena Shera terlihat memberi kesempatan. Apalagi pria itu sekarang pasti sangat butuh pelarian. ”Sher...” Alva mengulurkan tangan, ingin menyentuh tangan Shera. ”Jangan! Kamu... bener-bener jahat...” ucap Shera lam- bat-lambat sambil menatap Alva dengan tajam. ”Aku permisi. Nanti akan aku suruh stafku urus tentang pemu- tusan kontrak kerja sama dengan Honeymoon Express. Jangan khawatir, aku yang akan bayar dendanya.” ”Shera, tunggu!” Shera berbalik menatap Alva. ”Jangan berani-berani kejar aku!” * TIIIINN!!! Sopir taksi yang akan mengantar Shera ke stasiun membunyikan klakson panjang bersamaan dengan bunyi rem yang berdecit karena diinjak tiba-tiba. 190 pustaka-indo.blogspot.com
Alva sudah gila! Memangnya dia mau mati? Ngapain dia melompat tiba-tiba ke tengah jalan dan mengadang taksi yang sedang berjalan? ”Sher, kita perlu bicara.” Masih berada di moncong taksi, kali ini Alva berdiri tegak dengan sebelah tangan memegang kap mesin taksi yang Shera tumpangi. Seolah- olah memberi tanda bahwa dia nggak akan menyingkir. ”Gimana nih, Neng?” Pak sopir melirik Shera lewat spion dengan kebingungan. ”Itu pacar ya, Neng?” Dasar sopir taksi kepo. ”Bukan. Pak, jalan aja nggak bisa?” ”Aduh, Neng, risiko ah. Kalau ketabrak kumaha?” Sementara di depan sana tatapan Alva seperti menem- bus kaca depan, tepat ke bola mata Shera. Lalu pria itu mengulang kalimat ”Kita perlu bicara” tanpa suara. Beberapa detik kemudian, Alva sudah berada di sam- ping jendela Shera. Mengetuk-ngetuk kaca, meminta Shera membuka jendela. ”Sher, tolong dong, buka dulu. Kita betul-betul harus bicara. Banyak yang harus aku jelasin.” Shera balas menatap Alva lurus-lurus dari balik jendela. Menimbang antara memerintahkan sopir taksi untuk maju atau membukakan jendela dan memberi kesempatan Alva bicara. ”Sher, aku ajak kamu ke sini untuk menjelaskan kesa- lahpahaman ini, kan? Gimana bisa selesai kalau kamu nggak biarin aku ngomong.” Suara Alva sayup-sayup. Alva memang benar, Shera butuh penjelasan. Biarpun 191 pustaka-indo.blogspot.com
kenyataan tentang Keisha sebetulnya sudah bikin kadar shock Shera di ujung batas. Dia nggak bisa membayangkan penjelasan apa lagi yang bisa Alva kasih sekarang. Setelah menarik dan membuang napas dua kali, Shera membuka jendela. Perempuan itu nggak mengatakan apa- apa. Cuma menatap Alva dengan tatapan kosong. Tiga detik Alva terdiam. ”Mau ngomong apa?” tanya Shera akhirnya, sudah nggak sabar. ”Buat aku, rasanya nggak ada lagi yang perlu diomongin. Dan jangan salahin aku kalau apa pun yang kamu omongin nggak akan mengubah keadaan.” Kalimat tajam Shera bukan cuma membuat Alva meng- hela napas, sekaligus membuat sopir taksi jadi salah ting- kah—merasa akan terjebak pertengkaran domestik. Alva berdeham pelan, lalu bicara dengan nada yang nggak setenang biasanya. ”Sher, aku minta maaf soal ciuman itu. Tapi aku minta maaf bukan karena aku me- nyesal mencium kamu. Aku minta maaf karena mencium kamu tiba-tiba di saat yang... mungkin nggak tepat. Aku harus jujur, aku sama sekali nggak menyesal mencium kamu.” Seperti tersengat listrik Shera memekik tertahan. Dia melongo. Sudah mencium orang sembarangan, tapi pria ini nggak menyesal? Yah, oke, Shera memang sempat membalas ciuman Alva. Tapi kan seharusnya nggak begini kejadiannya. Alva mengangkat telunjuk meminta Shera mendengar- kan penjelasannya lagi. ”Ciuman itu bukan karena aku 192 pustaka-indo.blogspot.com
mencuri-curi kesempatan.... Ciuman itu karena perasa- anku buat kamu, Sher. Sejak dulu, sejak masih di kampus, bahkan mungkin sebelum Raymen naksir kamu. Dan kemarin... aku gagal membendungnya.” Kepala Shera makin berdenyut hebat. ”Terus, bagaima- na dengan Keisha? Calon istri kamu itu baru meninggal sebulan yang lalu, masa kamu udah nyosor perempuan lain? Kamu serius sayang sama dia nggak sih? Dan satu lagi ya, Al, aku nggak mau jadi pelarian kamu.” ”Aku memang nggak akan menikah sama Keisha.” ”Maksud kamu apa sih? Bukannya kamu berkali-kali bilang, semua rencana honeymoon itu kamu siapkan demi Keisha—demi bulan madu yang sempurna sama Keisha? Tapi, ternyata Keisha juga sudah... nggak ada. Jangan- jangan ini akal-akalan kamu doang ya, Al? Supaya aku mau deket-deket sama kamu, simpati sama kamu, di saat kamu butuh pelampiasan? Gitu? Seharusnya kan kamu masih berduka! Dia baru sebulan lebih pergi, tapi kamu malah—” Alva menepuk punggung tangan Shera yang meng- genggam tepian jendela mobil, meminta Shera untuk te- nang. ”Boleh aku jelasin semuanya dulu?” Alva mau ngomong apa pun, situasinya sudah telanjur rumit dan ajaib. ”Keisha koma sekitar enam bulan, Sher. Dan dua bulan sebelum dia koma, kami sudah memutuskan pertunangan kami. Aku kenal Keisha mungkin sekitar dua setengah tahun lalu, waktu mamaku dirawat di sana sebelum 193 pustaka-indo.blogspot.com
akhirnya meninggal karena sakitnya. Aku ketemu Keisha nyaris setiap kali aku nungguin Mama di rumah sakit. Karena dia juga pasien rumah sakit itu sejak umurnya lima belas tahun. Kadang dalam setahun hidupnya lebih banyak tinggal di rumah sakit daripada di rumah.” Shera tertegun. ”Sejak kecil ada masalah dengan paru-paru Keisha. Semakin lama semakin parah dan setahun lalu dia sudah jadi penghuni tetap rumah sakit. Paru-parunya nggak bisa lagi menoleransi udara yang berpolusi. Enam bulan yang lalu, dia koma. Dia masih bernapas... tapi sebetulnya Keisha... sudah nggak ada. Semua cuma karena alat-alat itu. Yang menempel di badannya. Dokter sudah angkat tangan.” Alva terdiam sejenak. ”Dua bulan sebelum koma, dia yang meminta kami membatalkan pertunangan karena merasa hubungan kami nggak punya masa depan. Waktu itu aku masih bertahan. Tapi setelah tiga bulan Keisha koma, keluarga besar ikut memutuskan bahwa aku harus melepas Keisha sebagai calon istri dan melanjutkan hidupku.” Shera menahan napas. Mata Alva yang menerawang, suaranya yang dalam dan tenang, serta senyum samar saat dia membicarakan Keisha tadi, jelas tanda bahwa Keisha istimewa untuk Alva. ”Kamu beneran, sayang sama dia?” ”Keisha itu gadis baik, sabar, tabah, dan pengertian. Sangat mudah untuk sayang sama dia.” ”Kalau kamu sesayang itu sama dia, kenapa kamu bisa 194 pustaka-indo.blogspot.com
begitu aja mencium perempuan lain dalam waktu sebulan? Itu karena kamu anggap aku pelarian, kan?” ”Bukan, Sher, bukan begitu. Aku kan sudah jelasin semuanya tadi. Perasaanku buat Keisha dan buat kamu itu dua hal berbeda. Nggak ada hubunganya—” ”Nggak ada hubungannya gimana?!” Shera menyela, mendadak panik. Sosok Alva di benaknya mendadak tercoreng. ”Apa yang aku lihat udah cukup ya, Al. Sekali lagi aku tegasin, aku bukan tempat pelampiasan. Aku rasa udah cukup aku kasih kamu waktu buat jelasin. Dan aku semakin nggak respect sama kamu!” Alva mencoba menggenggam tangan Shera lagi, tapi Shera langsung menepisnya dengan cepat. ”Sher, penjelas- anku belum selesai. Kalau cuma segini yang kamu dengar, kesalahpahaman ini nggak bakal selesai. Semua tuduhan kamu itu nggak benar.” Shera sama sekali nggak bisa berpikir jernih. Dia panik karena merasa dibohongi. Dia sadar dia sudah main api dan sekarang terbakar. Dia memang masih mencintai Alva. Dan sekarang dia kecewa. Jadi pelampiasan betul-betul menyakitkan. ”Aku nggak mau dengar apa-apa lagi, Al. Mendingan kamu minggir atau aku nggak peduli kaki kamu digilas ban taksi!” Melihat ekspresi aneh Shera, entah kenapa Alva yakin Shera nggak main-main. Alva memutuskan mundur. Dan taksi itu melesat membawa Shera pergi. 195 pustaka-indo.blogspot.com
Alva mengepalkan tangan. Sudah telanjur. Dia sudah telanjur mencium bibir Shera. Telanjur mengungkapkan perasaannya. Dulu Alva gagal memberanikan diri untuk mendapatkan Shera dan terpaksa menelan bulat-bulat perasaannya. Kalau kali ini mereka tetap nggak bisa sama- sama, Alva nggak mau Shera memandangnya sebagai pria jahat dan nggak setia. Shera harus percaya bahwa perja- lanan bulan madu yang selama ini dia rancang dengan menggunakan jasa Honeymoon Express itu bukan sekadar akal-akalan Alva. Itu semua memang untuk Keisha. 19 pustaka-indo.blogspot.com
Mungkin Bisa Dibilang Patah Hati... Sebetulnya kalau bisa, hari ini Shera pengin memilih untuk nggak masuk kerja. Setelah semalam menangis diam-diam sambil tidur rasanya seluruh bagian wajahnya membengkak dua kali dari ukuran normal ketika bangun pagi tadi. Ternyata dia sesedih itu gara-gara Alva. ”Fer, kemarin saya minta kamu telepon Pak Alva untuk membatalkan kerja sama. Udah kamu kerjakan?” tanya Shera begitu sampai ke meja Ferdi. Stafnya itu bukannya langsung menjawab, malah ter- pana menatap Shera. 19 pustaka-indo.blogspot.com
”Saya sakit mata.” Shera menunjuk kacamata hitamnya karena yakin itu penyebab Ferdi bengong. ”Sudah telepon Pak Alva?” Shera mengulang pertanyaanya. Ferdi gelagapan. ”E-eh, sudah, Bu. T-tapi—” ”Ke ruangan saya deh,” potong Shera. Entah kenapa dia nggak mau membahas masalah Alva ini di depan pe- gawai lain. Ferdi mengangguk dan mengikuti langkah Shera ke ruangannya. Shera duduk di kursinya tanpa melepas kacamata. ”Tutup pintunya, Fer.” Ferdi mengangguk lalu menutup pintu sebelum berjalan ke arah Shera dan duduk di hadapan bosnya yang sering panikan itu. ”Tapi apa tadi, Fer?” ”Itu Bu, tadi kan saya sudah hubungi Pak Alva, menje- laskan soal... hmm... mengakhiri kerja sama. Tapi Bu, Pak Alva menolak.” Duduk Shera langsung tegak. ”Maksudnya menolak? Saya kan udah bilang supaya kamu kasih tahu Pak Alva, kita siap kalau memang harus kena penalti.” ”Tapi, Pak Alva pengin meneruskan kerja samanya, Bu. Pak Alva mau meneruskan sampai paketnya selesai. Begitu katanya, Bu.” ”Kamu sudah bilang itu keputusan saya untuk meng- akhiri kerja sama?” Kepala Ferdi mengangguk pelan. ”Sudah, Bu, tapi Pak Alva bilang nanti dia mau ngomong langsung sama Ibu.” 19 pustaka-indo.blogspot.com
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184
- 185
- 186
- 187
- 188
- 189
- 190
- 191
- 192
- 193
- 194
- 195
- 196
- 197
- 198
- 199
- 200
- 201
- 202
- 203
- 204
- 205
- 206
- 207
- 208
- 209
- 210
- 211
- 212
- 213
- 214
- 215
- 216
- 217
- 218
- 219
- 220
- 221
- 222
- 223
- 224
- 225
- 226
- 227
- 228
- 229
- 230
- 231
- 232
- 233
- 234
- 235
- 236
- 237
- 238
- 239
- 240
- 241
- 242
- 243
- 244
- 245
- 246
- 247
- 248
- 249
- 250
- 251
- 252
- 253
- 254
- 255
- 256
- 257
- 258
- 259
- 260
- 261
- 262
- 263
- 264
- 265
- 266
- 267
- 268
- 269
- 270
- 271
- 272
- 273
- 274
- 275
- 276
- 277
- 278
- 279
- 280
- 281
- 282
- 283
- 284
- 285
- 286
- 287
- 288
- 289
- 290
- 291
- 292
- 293
- 294
- 295
- 296
- 297
- 298
- 299
- 300
- 301
- 302
- 303
- 304
- 305
- 306
- 307
- 308
- 309
- 310
- 311
- 312
- 313
- 314
- 315
- 316