Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Sejuta Pesona Nusantara 2021

Sejuta Pesona Nusantara 2021

Published by rita wati, 2022-02-19 06:47:06

Description: Sejuta Pesona Nusantara 2021

Search

Read the Text Version

banyak gua yang memiliki peninggalan arkeologis yang sangat unik dan menarik. Pada tahun 1950, Van Heekeren dan Miss Heeren Palm menemukan gambar gua prasejarah (rock painting) yang berwarna merah di Gua Pettae danPetta Kere. Van Heekeren menemukan gambar babi rusa yang sedang meloncat yang di bagian dadanya tertancap mata anak panah, sedangkan Miss Heeren Palm menemukan gambar telapak tangan wanita dengan cat warna merah. Menurut para ahli arkeologi, gambar atau lukisan prasejarah tersebut sudah berumur sekitar 5000 tahun silam. Dari hasil penemuan itu, mereka menduga bahwa gua tersebut telah dihuni sekitar tahun 8000-3000 sebelum Masehi. Goa leang-leang yang diperkirakan sebagai tempat tinggalnya manusia purbakala sekitar 5000 tahu sebelum masehi. Adapun dua gua tersebut adalah: Leang Pettae, terletak pada posisi dengan ketinggian 50 m dpl. Arah mulut gua menghadap ke sebelah barat dengan ukuran tinggi 8m dan lebar 12m.. Peninggalan-peninggalan yang ditemukan pada gua ini adalah berupa 5 gambar telapak tangan, satu gambar babi rusa, artefak serpih bilah serta kulit kerang yang terdeposit pada mulut gua. Gua ini diperkirakan menjadi tempat kediaman manusia purba yang hidup di daerah ini pada masa 8000 hingga 30.000 tahun yang lalu. Di dalam gua terdapat lukisan tua yang dilukis pada dinding gua yang diperkirakan berusia 5000 tahun SM. Di wilayah ini terdapat sedikitnya 60 gua. 101

Peninggalan yang ditemukan pada leang ini berupa 2 gambar babi rusa dan 27 gambar telapak tangan, alat serpih bilah dan mata panah. Yang ada di dalam gua leang –leang adalah : - Telapak tangan - Gambar babi rusa yang didadanya terdapat tancapan panah - Gambar babi - Alat-alat mata panah - Kapak dari batu - Oker untuk pewarna merah - Fosil-fosil sisa makanan berupa kulit kerang. 3. Wisata Ramang Ramang Salenrang Maros Berwisata di alam bebas jadi favorit bagi sebagian masyarakat. Mengunjungi gunung, hutan, pantai, destinasi lain dipilih sebagai pelarian dari segala hiruk pikuk di perkotaan. Salah satunya Ramang- ramang. Ramang-ramang adalah sebuah gunung kapur atau 102

disebut karst yang terbesar kedua di dunia, yang terbesar pertamanya yaitu South China Karst, Yunan, China. luar biasa kan. Patut bangga banget Indonesia punya seperti ini. Dan yang terpenting kita harus menjaganya agar anak cucu kita nanti masih bisa melihat keindahan alam ini. Ramang-ramang terletak di desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasinya tidak jauh dari Kota Makassar, jaraknya sekitar 40 km. Mulai dari dermaga 1 yaitu Sanlerang kamu akan diajak menyusuri Sungai Pute. Sepanjang jalan kamu akan disuguhi pemandangan yang sangat mempesona. Melihat indahnya Gunung Karst yang sangat khas. Setelah itu kamu akan diantar menuju dermaga 2, Desa Berua. Di sini kamu bisa mengunjungi berbagai tempat yaitu Goa Kingkong, Batu Berlian, dan Padang Ammarung. Mata berasa dicolok sama pemandangannya kampung di tengah-tengah Bukit Karst. Ketika sampai di 103

kampung Berua, rasanya mata baru melek dan pengin bilang “kemarin ke mana aja baru melihat seperti ini? Selain itu kita akan disuguhi Goa Berlian jika kena sinar dinding gua berkilau seperti berlian, Goa Kingkong gua yang batunya menyerupai kingkong, Padang Ammarung Konon katanya kalau malam hari, di sini banyak sekali kunang-kunang berterbangan menghiasi area ini betapa indahnya suasana hening dan kilau cahaya alami tubuh kunang – kunang. dan Hutan Batu, Hutan ini merupakan salah satu tempat yang tercatat dalam kategori UNESCO Natural World Heritage atau kekayaan alam warisan dunia. Batuan di hutan Batu Ramang-ramang Maros ini terbentuk sejak jutaan ribu tahun yang lalu. Penelitian yang dilakukan oleh para geologiwan mengungkapkan bahwa batuan karst ini telah berumur Eosen sampai Miosen akhir. Eosen merupakan tanda-tanda muncul mamalia modern pertama. Eosen sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu eos “fajar” dan ceno “baru”, dengan kata lain menjadi kebangkitan mamalia baru. Sedangkan Miosen sendiri sama dari Bahasa Yunani yaitu meioon “kurang“ dan kainos “baru” yang merujuk pada kata “kurang baru” dikarenakan hanya mempunyai 18% invertebrate laut modern. Batuan ini terbentuk karena akibat adanya aktivitas air di kawasan batu gamping, dan menyebabkan pelarutan. Hasilnya adalah terjadi pembentukan alam 104

karst yang sangat khas. Batuan di sini membentuk seperti menara yang menjulang tinggi akibat adanya aktivitas tersebut. Dan memang batu-batu di sini sangat tinggi. Bisa di naikin lho, tapi jangan sampai merusak. Setelah puas explore hutan Batu Ramang-ramang Maros ini, saatnya kembali pulang ke dermaga 1. Bagi yang mau menginap ada penginapan rumah di atas empang dan bisa melihat ikan di bawahnya. Selamat datang di Kota Maros tempat ini sebagai liburan sekaligus belajar banyak hal. Penginapan Ramang-Ramang (Dok:Ramona) Referensi : 1. Buletin Paket Wisata TN Bantimurung Bulusarung, terbitan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tahun 2013. 2. sulsel.idntimes.com/news/sulsel/aanpranata/yuk- jelajahi-7-objek-wisata-di-taman-nasional- bantimurung-bulusaraung 3. Daisyjuliaaa.blogspot.com/2017/04/leang-leang- taman-purbakala-di-maros. 105

4. Agafur.blogspot.com/2008/11/contoh-laporan- hasil-penelitian. 5. Yukkuy.com/ramang-ramang-maros/ PROFIL PENULIS Terlahir dengan nama Ratip, di Sleman , 01 Desember 1971. Memiliki hobi membaca. Penulis berprofesi sebagai guru. Motto penulis adalah hidup sederhana bermanfaat bagi sesama. Saat ini penulis menekuni dunia literasi dan menulis buku, bergabung di komunitas belajar menulis Om Jay. 106

HIDDEN VALLEY HILLS PURWAKARTA Min Hermina Liburan kali ini, saya ingin mengisinya dengan acara rekreasi keluarga. Saya dan keluarga kakak dari Bandung hendak mencari tempat wisata yang indah dan menarik tapi tidak terlalu menguras dompet. Akhirnya kami sepakat untuk mencari tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal masing-masing. Kami berkumpul di rumah keponakan yang tinggal di daerah Kabupaten Purwakarta. Mengingat domisili saya di Cikampek Kabupaten Karawang sementara kakak saya di Bandung, jadilah Purwakarta sebagai pertengahan yang dirasa cocok untuk menjadi titik kumpul. Kami sudah siap berangkat pada pukul 07.00 WIB, setelah semua perlengkapan masuk dalam bagasi mobil termasuk perbekalan makanan dan baju ganti karena anak-anak akan berenang. Destinasi wisata kali ini adalah Hidden Valley Hills yang terletak di Desa Cibodas Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta Jawa Barat. Lokasi wisata ini sangat mudah ditemukan karena letaknya yang strategis berada di dekat jalan raya Cilalawi. Dengan dua mobil kami menyusuri jalanan Purwakarta yang aspalnya mulus dan teduh karena sepanjang jalan ditumbuhi pohon rindang. Tiba di daerah Cianting, mobil belok kiri masuk gang untuk menuju lokasi wisata alam nan indah permai. 107

Ternyata setelah melewati jalanan aspal mulus itu, kini kami harus melewati jalan yang agak sempit dan naik turun. Setelah 30 menit menyusuri jalan ini, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Betapa senangnya anak-anak setelah mengetahui kami telah sampai tujuan. Semua perbekalan dibongkar dari bagasi mobil, termasuk balon angsa yang sengaja dibawa oleh anak-anak. Betapa riangnya hati mereka ketika akan berenang, karena mereka akan asyik bermain air sepuasnya di kolam renang yang bersih. Di kolam renang Hidden Valley Hills (Dokpri) Saya yang berasal dari daerah Karawang yang merupakan kabupaten tetangga, melihat bahwa Pemerintah Daerah Purwakarta kini sedang gencar mempromosikan destinasi wisatanya. Apalagi udara di sini lebih sejuk dibanding dengan kabupaten tetangganya yaitu Karawang yang memiliki suhu udara panas. 108

Purwakarta memang sejak lama dikenal sebagai salah satu kabupaten di Jawa Barat yang memiliki kawasan perbukitan yang selalu menarik para wisatawan. Suasana khas perbukitan langsung bisa saya rasakan setelah tiba di tempat ini, ditambah dengan pemandangan alam yang memesona dan sangat memanjakan mata. Tak lupa langsung saya abadikan momen indah ini melalui kamera di handphone. Panorama alam Hidden Valley Hills Purwakarta ini benar- benar memikat, karena dari kawasan wisata ini saya bisa melihat pemandangan alam sekitar yang berupa pegunungan, pepohonan dan hamparan perbukitan yang menawan. Udaranya sangat sejuk karena angin berembus tidak terlalu kencang sehingga membuat saya betah berlama-lama berada di sini. Untuk memasuki kawasan wisata ini, pengunjung harus membeli tiket masuk dengan harga terjangkau. Ketika memasuki gerbang utama, kami membayar parkir mobil sebesar Rp.5000.- Setelah itu kami membeli karcis masuk lokasi Rp.35.000 untuk dewasa dan Rp.25.000.- untuk anak-anak. Tiket masuk ini belum termasuk tiket untuk berenang. Karena jika ingin berenang harus bayar lagi sesuai harga yang tercantum pada pintu masuk kolam renang. Yakni tiket kolam renang sebesar Rp.25.000 untuk dewasa dan Rp.15.000.- untuk anak-anak. Setelah itu Pengunjung yang akan berenang diberi tanda 109

pengenal berupa gelang kertas setelah membayar tiket berenang. Prasasti kaki kuda terbang (dok pribadi) Fasilitas kolam renangnya juga sangat bagus dan bersih. Oleh karena itu para pengunjung sangat tertarik untuk berenang di kolam renang ini. Nampak kolam renang dewasa dan anak-anak tersedia di sini dengan airnya yang terlihat biru bening. Saya melihat mereka sangat menikmati air dingin sambil berenang atau berendam sembari menikmati sajian panorama alam yang indah karena konsep kolam renang ini memang berada di luar ruangan. Saya sendiri tidak ikut berenang karena saya ingin berjalan-jalan menikmati pemandangan indah yang ada di sana. Saya ingin mempelajari sejarah destinasi wisata ini yang penuh makna. 110

Benar saja, ketika masuk lokasi saya sudah disuguhi pemandangan alam yang luar biasa indah karena lokasi ini berada di atas ketinggian 362dpl. Hidden Valley Hills ibarat negeri dongeng di atas awan yang terangkum indah sebagai serpihan surga di Purwakarta. Terlahir dari tugu peninggalan zaman Belanda kuno pada tahun 1898M. Dengan pemandangan dan legenda tanah pasundan yang memesona, juga di sini terdapat banyak bebatuan dan dijumpai jejak manusia purba. Di tempat ini juga ditemukan prasasti kaki kuda terbang tunggangan para dewa di puncak G. Cupu yang anting-antingnya terlepas dan jatuh di lembah tersembunyi sekitar lokasi ini. Oleh karena itu, desa ini dinamakan Desa Cianting dan lokasi lembah jatuhnya disebut Hidden Valley Hills. Di sini dapat dinikmati pemandangan gunung-gunung yang begitu memesona diantaranya ada Gunung Bongkok, Gunung Parang dan Gunung Lembu. Sungai Citarum adalah batas abadi dari Kerajaan Sunda dan Galuh Purba sejak tahun 670M. Semua keterangan ini dapat dilihat pada prasasti yang ditulis oleh Hendry Chandrawinata yang merupakan Creator Hidden Valley Hills pada tanggal 17 Desember 2017. Jika melihat ke bawah dengan rerumputan yang hijau terhampar luas, akan terlihat pilar yang berjumlah tujuh buah. Pilar ini dibangun oleh Hendry Chandrawinata karena kecintaannya pada budaya dan sejarah. Pada setiap pilar menceritakan alur berdiri sekaligus runtuhnya 111

7 kerajaan Hindu purba di tanah Jawa, khususnya kerajaan dari tanah Pasundan, termasuk di dalamnya kisah Prabu Siliwangi. Pada masing-masing pilar juga tertulis silsilah keturunan kerajaan di nusantara, mulai dari kerajaan Pajajaran sampai kerajaan Hindu Purba. Selain itu juga terdapat patung Prabu Siliwangi, Ken Dedes, patung Ganesha dan lain-lain. Tujuh Pilar di Hidden Valley Hills (dok pribadi) Memasuki kawasan wisata alam yang sejuk ini ada suatu bangunan berbentuk kubah yang bernama Ciung Wanara Pallazo. Di sini para pengunjung bisa mengambil foto dengan latar belakang pemandangan yang indah. 112

Ciung Wanara Pallazo (dok pribadi) Setelah puas melihat patung dan pemandangan alam nan indah, perut terasa lapar. Tidak usah risau sebab di tempat ini juga disediakan restoran yang siap melayani pengunjung dengan aneka makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Di sini juga tersedia café dengan konsep outdoor yang bisa dinikmati bersama teman-teman atau keluarga. Tentu akan terasa mengasyikkan bisa ngobrol dan bercanda ria di tempat yang nyaman dan panorama indah dengan desir angin sepoi-sepoi yang membelai wajah sambil menikmati hidangan istimewa. Selain itu tempat ini juga menyediakan penginapan yang cukup representatif. Jika wisatawan ingin berada di sini seharian dengan menginap disediakan fasilitas yang sangat nyaman dengan tarif yang sesuai. Keuntungannya bila menginap, tentu bisa merasakan keindahan alam di malam hari. Suasana negeri di atas awan sangat terasa, karena di atas ketinggian lokasi 113

wisata ini terlihat hamparan kelap-kelip lampu bila kita melihat ke bawah. Udara malam yang sejuk menambah romantik suasana alam dari Hidden Valley Hills ini. Belum lagi jika ingin menikmati matahari terbit di pagi hari akan terasa sangat asyik. Sungguh panorama sunrise sangat eksotis, apalagi ditambah suasana pagi nan syahdu menambah rasa syukur pada Tuhan pencipta alam semesta. Jika melihat bagian lain, akan ditemui juga tempat pertemuan atau rapat yang cukup nyaman. Dengan penataan ruangan yang cukup apik ditunjang furniture masa kini, akan bertambah lancar ide-ide yang keluar dari kepala ini. Setelah suntuk mengikuti agenda rapat, bisa disegarkan dengan menikmati olahraga ringan melalui permainan flying fox yang dapat meningkatkan adrenalin karena kita bergelantungan dengan ketinggian yang cukup membuat sport jantung. Jadi, wisata hari ini sungguh sangat berkesan karena selain badan sehat karena berolah raga renang dan turun naik tangga yang menyehatkan. Perut pun terasa kenyang karena disuguhi makanan yang lezat. Namun, satu hal yang penting adalah dapat belajar sejarah kerajaan nusantara melalui destinasi wisata ini. 114

PROFIL PENULIS Min Hermina, M.Pd, lahir di Bandung 24 September 1967. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cikampek sejak tahun 1989- sekarang. Tahun 2011 mengikuti Exchange of Experience Teacher Professional Development di Penang, Malaysia. Mengikuti WJTAP Tahun 2013 di Adelaide South Australia. Saat ini sebagai Guru Penggerak Literasi KACAGELIS Karawang dan Guru Inti PBG Karawang. Menjadi Finalis Inobel 2015 dan 2016. Finalis Semnas 2019. Gupres tingkat Kab Karawang peringkat 2 tahun 2012 dan 2017. Juara 1 OGN Bahasa Inggris 2020 tingkat Kabupaten Karawang. Sudah menerbitkan 1 buku tunggal dan 11 antologi. Bisa dihubungi di no WA 08159842959 dan email [email protected] 115

If you truly love nature, you will find beauty everywhere. —Laura Ingalls Wilder 116

CANDI DERMO SIDOARJO Ely Suryani Gambar 1. Candi Dermo setelah dipugar Sebelum bercerita tentang candi Dermo, akan saya jelaskan alasan mengapa saya ingin mengupas tentang candi Dermo. Bagi saya candi ini memiliki keunikan…ya…keunikan tersendiri. Saya pribadi berasal dari Surabaya dan awalnya tidak kenal bahkan tidak tahu jika di daerah Sidoarjo tepatnya di Desa Candinegoro ada sebuah candi peninggalan kerajaan Majapahit. Ya….karena lokasi candi ini tersembunyi. Jika di Surabaya ada gunung Anyar, maka di Sidoarjo ada Candi Dermo. Sama halnya Gunung Anyar, lokasi Candi Dermo berada di tengah-tengah pemukiman warga. Hal ini yang membuat 117

candi ini tidak tampak dari depan ataupun bagi orang awam dan bukan warga sekitar jelas tidak akan tahu akan adanya candi ini, meski pernah melewatinya berkali-kali. Contohnya saya sendiri he...he.... Dulu sewaktu masih kuliah, saya beberapa kali melewati jalan raya ke candi tersebut, toh saya tidak pernah melihat akan adanya tanda-tanda ada bangunan bersejarah di daerah tersebut. Sampai akhirnya saya menikah dengan warga sekitar dan menjadi tahu karena dikenalkan oleh suami akan adanya candi ini. Begitupun melalui buku ini saya juga akan mengenalkannya kepada Anda semua. Candi Dermo adalah salah satu candi yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Menuju Candi Dermo cukup mudah karena dekat dengan jalan raya, cuma letaknya tidak di depan jalan. Candi ini ada di belakang satu rumah warga, namun dari jalan raya sudah terlihat bagian atasnya saja. Saran saya jika anda sudah ada di Desa Candinegoro, pelan-pelan saja agar tidak terlewat. Lokasinya dekat dengan jembatan Candinegoro, lurus ke arah timur. Beberapa rumah setelahnya, tepatnya di belakang SD Candinegoro bagian atas candi ini terlihat jelas. Ya….hanya bagian atas saja, kan letaknya di tengah rumah warga. Anda dapat melewati jembatan kecil…saya sebut kecil karena hanya satu mobil yang dapat melewatinya dan dapat memakirkannya di depan SD Candinegoro tersebut. 118

Jika mengendarai sepeda motor maka dengan mudah Anda dapat lewat jalan raya candinegoro dan langsung memarkir motor Anda tepat di depan candi karena tidak ada area khusus parkir kendaraan. Gambar 2. Penampakan Candi Dermo dari jalan utama Menurut Pak Hadi satu-satunya juru pelihara Candi Dermo, menceritakan bahwa Candi Dermo merupakan bagian dari wilayah kerajaan Majapahit yang berada di Trowulan Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Budha terakhir yang menguasai nusantara dan dianggap sebagai kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia. Candi Dermo sendiri berlokasi di dusun Candidermo, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Candi Dermo sebenarnya merupakan gapura atau sejenis pintu masuk yang dibangun oleh Adipati Terung sebagai pintu untuk menuju tempat pemujaan waktu itu. 119

Setelah perubahan peradaban, dimana Islam masuk ke Indonesia maka sang Adipati Terung memeluk agama Islam maka pembangunan tempat pemujaan tidak jadi dilakukan dan tidak pernah ada bangunan lain yang ada di sekitar Candi Dermo tersebut, hanya gapura ini yang ada. Adapun bukti bahwa akan dibangunnya tempat pemujaan adalah dengan ditemukannya “matras linggayoni” sejenis batu andesit besar yang berlubang di tengah dan pola aliran air dari lubang tersebut akan mengalir di sisi bagian samping tengahnya seperti kran air. Menurut penuturan Pak Hadi, matras linggayoni biasanya akan diletakkan di tempat pemujaan di tengah candi. Gambar 3. Matras Linggayoni Pada masa penjajahan Belanda, sempat terjadi “penyelamatan candi”. Belanda membenahi atau menyangga Candi Dermo agar tidak ambruk karena usia. Hal ini terlihat dari ukuran pintu candi yang menjadi lebih 120

kecil…. ya hanya berukuran satu badan manusia saja. Pada saat itu Belanda membuat kaki-kaki penyangga di pintu Candi Dermo sehingga pintu candi menjadi lebih kecil dari ukuran awalnya. Jika dilihat dari strukturnya memang perlu adanya penyangga agar langit-langit atap candi yang menjulang tinggi sampai puncak candi tidak ambruk. Gambar 4. Pintu masuk candi Dermo hasil penyelamatan masa penjajahan Belanda Mulai tahun 2014-2020 Candi Dermo mengalami “pemugaran”. Saat saya berkunjung, baru genap satu bulan Candi Dermo selesai dipugar. Bangunan candi Dermo sendiri terdiri atas 2 jenis batu penyusun yaitu batu andesit dan batu bata merah. Batu andesit berada di pondasi atau lantai, sedangkan batu mata merah sebagai 121

penyusun dinding-dinding sampai puncak candi. Candi Dermo memiliki 4 arca, yaitu 1 arca manusia bersayap, 2 arca kalamakara dan 1 arca kepala garuda. Sayang sungguh sayang arca kepala garuda hilang, maka 3 arca lain yang masih ada diamankan di museum tim pusat informasi Majapahit Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Arca tersebut tidak diletakkan di Candi Dermo karena dulunya arca ini sudah dalam kondisi lepas tidak tahu letak aslinya di mana dan tidak ada tempat. Gambar 5.candi Dermo sebelum dipuga Sumber gambar: http://idsejarah.net/2017/05/candi-dermo.html 122

Gambar 6. Proses pemugaran candi Dermo Sumber gambar: youtube Semoga dengan banyaknya penulis, youtuber, dan lainnya yang turut serta rajin mengulas tempat-tempat bersejarah mampu melestarikan dan menjaga khazanah cagar budaya Indonesia. Negeri yang kaya akan budaya. Ya…belajar dari sejarah….negeri kita dari dahulu berjaya dan jayalah terus Indonesia. Lambungkan nama Indonesia dengan bijak. Mulailah dari tempat yang terdekat dari kita. Gali dan explore budayanya……semangat berkarya semua. 123

PROFIL PENULIS Terlahir di Surabaya, 30 Mei 1983 dengan nama Ely Suryani. Telah lebih dari 14 tahun mendalami dan menekuni profesi sebagai guru. Penulis belajar dan ingin mengembangkan tingkat keprofesiannya salah satunya dengan menulis. Penulis belajar dan tersemangati oleh rekan- rekan guru yang ada di group Om Jay. Terima kasih telah membawa atmosfir segar bagi kami. Penulis dapat dihubungi melalui: Blogspot: www.elysuryani8386.blogspot.com Email: [email protected] 124

DANAU KEMBAR YANG UNIK Rosinah Saya paling hobby jalan-jalan alias travelling. Alhamdulillah saya sudah menjelajahi setengah pulau Indonesia, di antaranya seluruh kabupaten di Aceh, Pulau Sumatera, Pulau Jawa hingga Papua. Saya berasal dari Aceh, Aceh juga memiliki panorama alam yang indah-indah, menakjubkan dan luar bisa keunikannya. Sungguh ciptaan Allah maha sempurna tidak ada satu pun yang bisa meniru kebesaran-Nya. Pada tahun 1993, saya baru akan selesai kuliah S1 di Unsyiah yaitu satu-satu nya Universitas negeri di sana. Sambil menunggu wisuda, saya niat mengunjungi paman di Solok Sumatera Barat. Saya ke Solok sendiri naik bus. Tujuan saya naik bus supaya saya bisa melihat pemandangan-pemandangan yang di lalui oleh bus tersebut. Perjalanan dari Aceh ke Solok saat itu menghabiskan 4 hari 3 malam. Kesokan harinya paman mengajak saya bermain ke danau Kembar dan danau atas danau Bawah. Kami ke sana naik motor berdua paman, subhanallah, danaunya panjang, lebar, permukaannya jauh ke bawah jika dilihat dari jalan dan juga sangat sejuk, dingin dan adem. Menariknya lagi sepanjang jalan yang dilalui penuh dengan bunga warna-warni , baik di depan rumah warga sepanjang danau tersebut ataupun di pinggir jalannya. 125

Jika kamu sudah berada di Solok jangan lupa untuk mampir ke danau kembar tersebut, bakalan nyesal kalau tidak mampir ke sana. Saya saja selama berada di rumah paman setiap hari ngajak beliau ke sana luar biasa panorama dan pemandangannya. Danau ini terletaķ di Kabupaten Solok, Kecamatan Lembang Jaya, di Nagari Bukit Sileh Panjang. Sedangkan Danau Atas berada di pingir jalan Padang Muara Labuh di Alahan Panjang. Kenapa dua danau tersebut disebut kembar? Alasannya karena letaknya berdampingan sekitar 300 meter. Pasti bingung ya? Mengapa danau atas ada di pinggiran jalan, sedangkan danau bawah ada di daerah bukit? Jawabannya adalah karena disebabkan ketinggian air di danau Bawah sama tingginya dengan danau di atas. Tapi beberapa kali saya melintasi danau Atas dan danau Bawah tersebut. Saya tidak pernah melihat ada aktivitas di sekitar danau itu sendiri. Saya sempat bertanya dalam hati apa danau itu tidak boleh digunakan untuk kegiatan sehari-hari seperti mandi, bermain di pinggir danau atau memancing ikan di sana. Sepanjang jalan sepi tidak ada keramaian kecuali di rumah-rumah penduduk sepanjang jalan yang di lalui, walau pun demikian danau Kembar itu tetap kelihatan indah, menawan dan bahkan unik menurut saya. Bagaimana ada yang berminat untuk mengunjungi tempat wisata unik tersebut. 126

Di sini tidak saja keindahan alam danaunya saja yang dilihat, di Kecamatan Lembang Jaya ini juga di setiap depan rumah-rumah warga banyak di tanami bunga warna warni dan pohon bernuansa hijau ada di sepanjang jalan yang dilalui. Coba deh main-main ke sana, pasti teman-teman pembaca jika ke sana bakalan tidak mau cepat-cepat beranjak meninggalkan 2 danau tersebut. Di bawah ini ada beberap model pemandangan yang saya lihat saat saya melintasi danau kembar tersebut. Danau Kembar Solo (Sumber:poskata.com) 127

Danau Kembar Solok (Sumber:hipwee.com) PROFIL PENULIS Rosinah, S.Pd.MM. Lahir di Banda Aceh, 21 Juni 1966. Anak ke dua dari delapan bersaudara. Penulis menempuh pendidikan terakhir di STIE / Alhamra / Sumber Daya Manusia , Rawamangun Jakarta tahun 2005. Saat ini mengajar di SMAN 10 KOTA BEKASI, mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris. Pertama kali menulis karya tulis yang di bantu oleh Bu Nora, Bu Umi, Pak Jay dan Pak Mukminin. Penulis dapat dihubungi WA : 089636251687 dan 081383553880 128

AIR TERJUN TIMPONAN Meike Widia Azmi “Nge-trip yuk, Mbak! Mumpung libur panjang. Lombok kan punya banyak objek wisata yang bisa dikunjungi” ajakan Trisna sambil berjalan dari kamarnya menghampiriku. Aku sibuk mendengarkan celotehnya sambil menggoreng beberapa buah kentang untuk dijadikan camilan. Aku adalah sulung dari 5 bersaudara. Trisna menempati urutan ke-3 dari kami berlima. Usianya lumayan jauh berbeda dariku. Terpaut jarak 8 tahun dengan usiaku yang sekarang yaitu 27 tahun. Walaupun lumayan jauh, kami selalu kompak dalam hal apapun. Terutama Travelling. Perkenanlkan, namaku Meike. Namaku sudah terukir di rapot kelas 3 Sekolah Dasar Negeri 1 Dasan Tereng semenjak 7 tahun yang lalu. Sekolah ini berada di desa Dasan Tereng, sekitar 2 km ke arah barat dari pusat kota air, Narmada, Lombok Barat, Nusa Tengga Barat ( NTB ). *** “Iya, mbak ngerti Dek. Tapi kan tau sendiri, sekarang ini pemerintah sedang membatasi yang namanya berkerumunan. Nah, kalo kita mengunjungi tempat wisata, tentunya bukan kita saja yang ada di sana. Tapi sekumpulan orang dari berbagai tempat. Kita harus mentatati protokol pemerintah, Dek. Ini semua demi kita, 129

keluarga, masyarakat Lombok, NTB, bahkan seluruh pelosok daerah yang ada di Indonesia.” Memang. Semenjak pandemic Corona Virus Disease (Covid-19) atau yang dikenal dengan sebutan Virus Corona menyerang negara tercinta kita Indonesia, segala peraturan mulai diberlakukan. Terutama 3M ( Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak ). Selain 3M, aturan lainnya ialah menghindari kerumunan ( Social Distancing ), karenanya aturan yang satu ini berdampak pada objek wisata di segala tempat. Terutama di daerah asalku, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pulau yang berdampingan dengan Pulau Dewata ini sangat digemari oleh wisatawan dari berbagai tempat. Baik dari lokal, nasional, maupun internasional. Meskipun pulau ini tampak begitu kecil jika dilihat melalui peta ataupun miniatur dunia (Globe), tetapi kekayaan alam yang dimilikinya begitu melimpah melanglang buana. Bagiamana tidak, hampir disetiap daerah di kawasan di Pulau Lombok memiliki daya tarik tersendiri. Baik di dalam maupun di luar air. Tidak heran jika Pulau Lombok menjadi salah satu tujuan paling popular di Nusa Tenggara Barat (NTB). Jika disurvey, mulai dari wilayah Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, bahkan Lombok bagian selatan memiliki daya tarik objek wisata masing-masing. 130

Contohnya perbukitan, pegunungan, spot air terjun, pantai-pantai yang mengelilingi pulau, hutan liar dengan ribuan kera, panorama indahnya pulau-pulau kecil seperti Gili Air, Gili Kedis, Gili Meno, Gili Terawangan, dan Gili kecil lainnya yang cocok menjadi tempat pelepas penat, pelipur hati, dan penyejuk pandangan baik bagi pribadi maupun keluarga. Masih banyak lagi objek wisata spektakuler yang harus dikunjungi terutama bagi Traveller yang hobi travelling atau berlibur. Pulau yang dikenal dengan julukan Pulau Seribu Masjid ini juga sangatlah mudah untuk diakses. Bisa melalui jalur udara maupun jalur air. Untuk berkelilingpun, bisa menyewa sepeda motor atau mobil dari penyedia yang terpercaya. Nah, mudah sekali kan bagi teman - teman yang ingin menghabiskan waktu liburan di Pulau Lombok. *** “Iya sih mbak. Tapi apa iya, kita libur tanpa liburan? Gak asyik dong! Biasanya kan kita kalo hari libur, selalu nge-trip gitu. Sambung Trisna sambil menarik saus di meja dapur. Dahinya tampak kerut dengan ekspresi wajah yang tampak cemberut. Sementara aku, hanya sibuk menggoreng sisa kentang yang belum digoreng. Trisna memalingkan wajahnya dariku. Dahinya semakin berkerut. Alisnya tampak mulai naik dengan mata sedikit ditajamkan. Aku hanya melihatnya sejenak dan meminta 131

Trisna untuk mengambil beberapa tisu makan yang ada didekatnya. “ Mbaaaaakkkkkk, mbak ini ….” “Assalamualaikum, lagi pada ngapain?” Salam April, teman dekat Trisna sekaligus tetangga rumah. Kedatangan April mencairkan suasana. Trisna menjawab salam April dan menghampirinya. “Eh, kita kan libur nih, bagaimana kalau kita pergi liburan? Yah, jangan yang jauh -jauh. Deket aja. Kampung kita kan punya objek wisata yang gak kalah keren dengan tempat yang lain.” Namun, Trisna masih belum tahu objek wisata yang dimaksud teman dekatnya itu. Dari jarak 10 meter, aku mendengar obrolan mereka dan mematikan kompor yang aku gunakan. “Air Terjun Timponan,“ sahutku tegas sambil membawa kentang goreng dan saus sambal ke arah mereka. April mengiyakan dengan seksama bahwa itulah objek wisata yang dimaksud. Akhirnya Trisna mengangguk- anggukan kepalanya berkali -kali dibarengi dengan kata “ Oh, iya, iya, iya. Aku tahu. Tapi kan jauh banget!” sambungnya. Air Terjun Timponan ini dapat ditemui di dusun Punikan, desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Punikan ialah salah satu kampung dengan adat istiadat 132

yang masih melekat membudaya dengan mata pencaharian sebagian besar penduduknya ialah petani dan peternak. Letaknya sangat dekat dengan pegunungan, persawahan, dan perkebunan. Di kampung inilah aku dan keluargaku berasal. Kampung dengan udara yang masih segar dengan pasar yang masih sangat tradisional dibarengi dengan suara “ tuk tik tak tik tuk,” sepatu kuda setiap paginya. Kampung yang biasa dikenal kaya akan hasil bumi ini menjadi tujuan favorit bagi mereka yang ingin mencari buah ataupun rempah. Tidak hanya itu, objek wisata air Terjun Timponan inilah yang menjadi tambahan daya tarik para pendaki dan wisatawan. Untuk para pendaki, biasanya mereka melepas kendaraan di kampung, kemudian berjalan kaki menapaki dan menanjaki gundukan tanah yang tak rata ± 10 km. Jalan setapak yang sepanjang jalan ini, diiringi oleh pohon besar dan tanaman menjalar sebagai penanda batas perkebunan yang dimiliki oleh setiap warga. Untuk para wisatawan yang menggunakan motor, tentunya masih bisa. Karena akses ke Air Terjun Timponan ini juga tidak memungkiri pengendara untuk mengendarai kendaraannya. Walaupun jalan tersebut berupa tanah dan setapak, tetapi tentunya aman dan cukup untuk kendaraan roda dua berlalu lalang. Semakin majunya zaman, membuat akses jalur masuk ke air terjun ini 133

semakin mudah. Sangat berbeda dengan ketika aku masih berada di Sekolah Dasar dulu (tahun 90-an). Yah, begitulah perubahan dunia. *** “Oke, aku setuju untuk pergi ke Air Terjun Timponan.” Sahutku meyakinkan Trisna dan April. Keesokan harinya, aku, Trisna, dan April beserta teman- teman yang lain mengadakan perjalanan ke Air Terjun Timponan. Kami memberanikan diri, karena kami tahu bahwa air terjun ini masih sangat asri dan jauh dari kerumunan. Ditambah pandemi, hanya beberapa orang dari daerah luar yang berdatangan. Lebih dominan warga sekitar. Kami mempersiapkan bekal masing-masing, mulai dari nasi, air mineral, dan makanan ringan lainnya. Kami bertiga menunggu kedatangan teman- teman yang lain mulai pukul 07.00 WITA, karena perjalanan sudah kami rencanakan pada pukul 08.00 WITA. “Tik Tok Tik Tok,” waktu berjalan dan berlalu. Akhirnya, jumlah kami bertambah menjadi 10 orang. Wah, seru banget dan terbayang akan sangat meng-asyik-an jika perjalanan mendaki beramai -ramai. “ Oke, Lets, Go !!!” Ajakku kepada teman -teman. Kata yang keluar setelah kami membuat kesepakatan atas beberapa hal yang harus dipatuhi selama perjalanan. Mulai dari spot dimana kami harus istirahat sampai bagaimana menjaga sikap dan tutur kata sepanjang perjalanan hingga sampai di air terjun. Hal ini kami lakukan 134

demi kenyamanan dan keamanan bersama. Dalam perjalanan, banyak para Inak (Ibu) dan Amak (Bapak) yang kami temukan. Kami saling menyapa satu sama lain saat berpapasan atau menuju jalur bahkan tujuan yang sama. Ada yang berjalan kaki sambil memikul tumpukan kayu bakar, membawa bakul berisi hasil alam (buah dan rempah) sampai kayu berukuran besar. Wah, sangat menyenangkan memang tinggal di pedesaan yang masih jauh dari kerumunan kota. Akhirnya, setapak demi setapak kami lewati. Gundukan demi gundukan kami jajaki. Spot demi spot kami singgahi sampai akhirnya tiba di spot terakhir. Spot terakhir dari 5 spot ini adalah spot yang tepat berada di bawah bukit tempat air terjun berada. Di tempat ini biasanya para pendaki atau wisatawan berkumpul untuk mengecek keanggotaan masing -masing anggota. Para pedagang juga dapat ditemui di tempat ini. Mulai dari penjual nasi, makanan ringan ( snacks/meals ), sampai warung kopi ( warkop ). Karenanya, tempat ini selalu ramai dipenuhi hingar bingar suara mereka. Mereka yang bersama keluarga, kerabat, kelompok, organisasi, bahkan pasangan muda mudi. “SELAMAT DATANG DI KAWASAN WISATA AIR TERJUN TIMPONAN. Yeay!!! Kita sudah sampai….” Teriak Trisna setelah membaca tulisan yang ada pada gapura. 135

Yah, ada pemberitahuan bertuliskan di gapura yang menandakan bahwa kami sudah sampai di tujuan. “Eitssss, belum sampai. Kita masih ada satu tantangan lagi. Istirahat dulu. Pulihkan tenaga. Setelah ini, kita akan menanjaki perbukitan yang di atas.” Kalimatku sambil menunjuk perbukitan yang akan di jajaki. Memang banyak perubahan yang terjadi. Dimana dulu masih penuh dengan semak-semak belukar, kini hanya rerumputan liar yang terinjak-injak oleh kaki-kaki para pecinta alam. Kami pun melanjutkan perjalanan. Kuambil tongkat panjang yang akan aku gunakan untuk membantu menanjak. Tidaklah tinggi dan terjang. Hanya saja dapat membuat nafas berbalapan dengan dekat jantung. Keringat di wajah mengalir menetesi dedaunan yang terinjak. Tapak kaki para pecinta alam mulai membekas di gundukan tanah. Setelah sampai setengah perjalanan, aku menoleh ke belakang. Luar biasa. Tampak seperti deretan semut yang berbaris rapi. Aku dan teman- 136

teman semakin semangat, karena kami tahu bahwa lelah kami akan terbayarkan ketika sampai di lokasi. Lima belas menit berlalu, kami pun sampai di penghujung tanjakan. Sudah mulai tampak kerumunan orang-orang yang sedang menikmati sejuknya pemandangan dan segarnya air terjun. Aku tak sabar pula untuk menikmati indahnya alam itu. Aku membuang tongkat yang menemani sepanjang tanjakan. Aku mulai turun perlahan dan blusukan di setapak rerumputan. Perjalanan menuruni bukit memakan waktu setengah dari perjalanan mendaki. Semakin menurun terasa angin semakin sejuk. Udara terasa segar dan dingin. Percikan air dari air terjun mulai menyapa. Semakin kami percepat langkah dan mulai terlihat orang -orang yang menatap ke arah kami. Kami langsung mencari tempat yang nyaman untuk melepas penat. Tempat yang beralaskan daun sangatlah sempurna bagi kami. 137

Trisna, April, dan sebagian teman langsung berlari menuju air terjun melewati dan melompati bebatuan besar dan kecil yang tak beraturan. Mereka sangat menikmati pesona indahnya alam dan segarnya air terjun pegunungan yang masih sangat alami. Sementara aku, sibuk menyiapkan santapan dengan piring dari dedaunan pula. Simple but enjoying (Sederhana tapi nikmat). Itulah serunya. Tidak hanya kami, para penikmat pesona air terjun pun terlihat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Mereka punya cara sendiri dalam menikmati terjunnya air, susunan bebatuan, hingga suara burung yang bernyanyi mengiringi pepohonan yang berdesir. Tidak jarang bagai mereka yang hobi swafoto/selfie untuk mengabadikan moment- moment seperti ini. Begitupun kami. Lepas santap, kami berburu foto. “ Cekrek, Cekrek, Cekrek.” Begitu bunyi kamera yang tak henti-hentinya berbunyi sampai tak terasa 138

matahari perlahan mulai tergelincir ke arah barat. Kami mempersiapkan diri untuk bergegas pulang pada pukul 16.00 WITA. Sebelum pulang, kami tak lupa diri. Menjaga kebersihan, kelestarian, dan keindahan alam tetaplah kami laksanakan. Kami beramai-ramai membersihkan lokasi sekitar air terjun hingga tak tampak lagi sampah yang berserakan. Ahirnya, saat pulang, jumlah kami bertambah lebih dari semula dikarenakan jumlah para pendaki yang lain. Sepanjang jalan kami bernyanyi bersahutan antara lagu satu dengan lainnya dengan kelompok lain. Tak sadar, kami sampai di persimpangan kampung. Tangan mulai melambai-lambai mengucapkan salam dan harapan untuk bertemu di kesempatan lain. Senang sekali rasanya bisa berlibur dan menikmati indahnya alam pegunungan serta pesona air terjun di masa pandemi seperti ini. Aman dan jauh dari kerumunan, tapi sangat populer bagi kaula muda. Teman semakin banyak dan tentu pengalaman yang mengasyikkan bisa bebaur dan berbagi bersama alam. 139

PROFIL PENULIS Meike Widia Azmi, S,Pd. Berprofesi sebagai guru di SDN 1 Dasan Tereng, Lombok Barat, NTB. S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar ( PGSD ) Universitas Terbuka Mataram (2019). Penulis berkontribusi dalam penulisan buku Bunga Rampai Feature Pendidikan Karakter Walau Digetar Sampai Terkapar, LPMP NTB, Kemendikbud 2019. Bunga Rampai Pembelajaran Berkarakter di Era Perubahan, APLN 2020. Komunitas Pendidik Kreatif 2020. Pandemi Melejitkan Literasi, APLN 2020. Penulis dapat disapa melalui HP/WA 087701007776 dan email [email protected] 140

BERWISATA SAMBIL BELAJAR DI KOTA KEDIRI Nani Kusmiyati Rekreasi di tempat yang indah dengan lautan luas dan hamparan pasir putih atau mendaki gunung dengan rimbunnya pepohonan banyak menjadi incaran wisata lokal maupun internasional. Terlebih jika obyek wisata itu ditawarkan dengan berbagai makanan khas daerah dan keramahtamahan masyarakatnya, maka para wisatawan akan berlama-lama tinggal di sana. Mereka benar-benar menikmati kehidupan tenang jauh dari hiruk pikuk kota juga polusi udara. Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan tersendiri dengan tampilan wajah kota atau daerah wisata yang berbeda-beda. Pemerintahnya juga berusaha sedemikian rupa untuk membuat wisatawan lokal maupun internasional datang. Demikian juga dengan Kota Kediri kota kelahiranku yang berudara sejuk. Kota Kediri bukanlah kota besar namun banyak memiliki nilai sejarah di dalamnya. Jika pendatang turun dari bus jurusan Surabaya Trenggalek pasti akan melintasi Kota Kediri. Saya biasanya turun di depan Kantor Pos Kediri kemudian naik becak menuju rumah orang tua saya di daerah Mejenan di belakang Pengadilan Negeri. Saya tinggal di Kotamadya Kediri bukan di Kabupaten Kediri yang tidak jauh lokasinya 141

dari Kotamadya Kediri, tergantung transportasi apa yang digunakan jika ingin berkeliling di kotamadya dan di kabupaten. Jika saya sampai di kantor pos sekitar pukul 10 di pagi hari, berarti saya berangkat dari Terminal Bungur Asih Surabaya sekitar pukul 07.30. Perjalanan dengan bus ekspres kurang lebih 2,5 jam. Jika naik bus non ekspres sekitar 3 jam atau lebih tergantung kemacetan di jalan juga karena bus non ekspres pada setiap terminal bus berhenti. Ketika naik becak saya bisa menikmati udara segar, beberapa orang bersepeda, juga motor dan mobil yang tidak terlalu ramai. Pemandangan jauh di depan saya tampak seorang putri yang sedang tidur dengan hidung mancung dan mata terlelap. Itu adalah Gunung Klothok yang terlihat dari jauh. Tidak semua orang dapat menggambarkan wajah putri itu. Bukit-bukit disamping gunung dikelilingi pepohonan hijau nampak seperti rambut ikal putri yang terurai. 142

Sambil menikmati angin sepoi-sepoi becak melintasi jembatan lama yang membentang di sungai Brantas. Sungai dengan airnya yang tenang namun kadang-kadang menghanyutkan. Banyak cerita tentang sungai Brantas di jaman dahulu juga adanya buaya putih yang kadang-kadang muncul. Jika kita lahir di Kota Kediri biasanya kita banyak dilindungi oleh penunggu Sungai Brantas, entah itu benar atau mitos yang jelas selama saya lahir dan besar di Kediri keluarga kami aman dan tentram. Tentu saja itu juga karena perlindungan dari Tuhan YME. Saya teringat ketika masih duduk di kelas dua SD. Saat itu musim hujan dan banjir meluap dari Sungai Brantas karena tanggul yang jebol. Ibu saya bercerita kepada anak-anaknya sebelum tanggul Sungai Brantas jebol, pada saat ibu terlelap tidur. Pada saat dini hari sekitar pukul tiga ada nenek-nenek membangunkannya. Ketika terbangun ibu melihat air sudah mulai memasuki 143

rumah. Alhamdulillah ibu dapat membangunkan anak- anaknya termasuk saya. Kami segera keluar rumah untuk mencari tempat yang lebih tinggi. Bapak RT segera membunyikan kentongan mengingatkan warganya untuk menuju tempat yang lebih tinggi. Akhirnya Kami semua selamat. Pengalaman banjir itu beberapa puluh tahun yang lalu. Sekarang tidak ada lagi banjir. Tanggul dan jembatan sudah bagus. Riak air juga tenang dan bersih. Disepanjang tanggul dibangun beberapa kedai makanan dan minuman penghangat seperti kopi dan jahe. Masyarakat di sekitar Sungai Brantas terutama di daerah Mejenan dan Mojoroto dapat menikmati makanan tradisional jika sedang malas masak. Pecel tumpang khas Kediri, rujak Cingur dan Gado-gado yang lezat. Makanan-makanan itu dapat juga dijumpai di sepanjang jalan Dhoho. Biasanya buka di sore hari hingga malam hari. Makanan khas lainnya seperti keripik dan sate bekicot, tahu kuning yang bantat (padat) gurih dan lezat juga dapat ditemui di mana-mana terutama di Klenteng di Timur Sungai Brantas. Tahu Poo juga sangat populer mirip seperti tahu sumedang yang renyah. Tahu dapat dijumpai dalam bentuk keripik atau digoreng. Getuk pisang juga makanan favorit yang dapat dijumpai di toko -toko di Timur sungai juga. Getuk pisang terbuat dari pisang raja nangka yang sudah ditumbuk dan dibungkus daun pisang 144

mirip lontong. Jika makan tinggal diiris-iris seperti lontong namun berwarna merah. Kota Kediri juga disebut kota pelajar karena mayoritas sekolahan dari TK hingga Universitas berlokasi di Barat sungai Brantas. TK tempat saya pertama mengenal pendidikan adalah TK Kartika Chandra Kirana yang berlokasi di depan gang tempat tinggal saya. Jika berangkat ke sekolah pada saat TK saya hanya berjalan kaki bersama teman-teman. Demikian juga dengan SD saya yaitu SD Mojoroto I yang berlokasi di sebelah kanan gang. Saya sangat bersyukur karena dikelilingi sekolah- sekolah negeri maupun swasta. Saya lulusan SMP 4 Kediri salah satu SMP favorit di Kediri. Demikian juga dengan SMA ditempat saya belajar, SMA 2 Kediri yang lebih populer dengan SMADA merupakan salah satu SMA favorit juga. Semasa SMA saya paling suka belajar di Taman Sekartaji di depan kantor Gubernuran. Di dalam taman terdapat berbagai bunga dan tumbuhan juga ada kolam ikan. Udara segar dan pemandangan indah di dalam taman memberi energi tersendiri untuk belajar. Saat ini telah dibangun beberapa café di dalam Taman Sekartaji. Kota Kediri tampak hidup di malam hari dengan berbagai kedai makanan yang buka baik di depan Kantor Kejaksaan maupun Kantor Gubernur. 145

Beberapa pembeli baik tua, muda dan anak-anak menikmati malam dengan udara yang semakin dingin. Di siang hari suasana Kota Kediri sedikit hening karena banyak anak-anak maupun para remaja sekolah sedangkan orang dewasa banyak bekerja di rumah atau di pabrik Gudang Garam. Pada saat subuh Kota Kediri ramai dengan para pekerja Gudang Garam berangkat dengan bersepeda walau sekarang sudah banyak yang bersepeda motor. Berwisata di Kota Kediri tidak hanya menikmati suasana keseharian, pemandangan dan menikmati makanan namun dapat juga belajar Bahasa Inggris. Daerah yang terkenal dengan lingkungan masyarakat yang berbahasa Inggris adalah “Kampoeng Inggris”, yang berlokasi di daerah Pare Kediri. Banyak pendatang dari luar Kota Kediri belajar Bahasa Inggris di sana. Mereka dapat menginap di kampung itu di sekitar tempat 146

Kursusan Bahasa Inggris. Tempat tersebut dinamai Kampoeng Inggris karena di dalam kampung banyak terdapat kursusan Bahasa Inggris mulai level elementary hingga advanced, TOEFL, TOEIC dan IELTS. Masyarakat di kampung itu dapat berbahasa Inggris. Bahasa Inggris yang digunakan adalah bahasa percakapan sehari-hari. Kampoeng Inggris semakin terkenal dan banyak dicari para orang tua yang ingin mengkursuskan anaknya di sana pada saat liburan. Selain menikmati pemandangan dengan udara sejuk mereka dapat belajar dengan biaya terjangkau. Harga makanan di lokasi kursusan juga murah. Masyarakat di sana sangat sederhana dan ramah. Nah jika ingin membuktikannya silakan berkunjung di Kota Kediri. Masih banyak lokasi wisata yang belum saya tulis di sini agar pembaca semakin penasaran untuk datang ke kota kelahiran saya, Kediri. Jonggol, 17 Januari 2021 147

PROFIL PENULIS Seorang Pengajar Bahasa Inggris, di TNI AL. Menjabat sebagai Kasubsi Pengendalian Pengajaran Bahasa dan Labsa di Disdikal (Dinas Pendidikan TNI AL). Berkeluarga, memiliki satu orang putra yang sedang kuliah S1 di Universitas Indraprasta. Beberapa negara yang telah dikunjungi untuk belajar dan penugasan: Saudi Arabia, America, Australia, Cambodia, Thailand, Malaysia, Singapore dan tugas misi PBB di Lebanon selama satu tahun. Hobi: teaching, dancing, listening music and traveling. Beberapa buku Antologi yang sudah terbit,”Rona Korona Duka dan Ria”, “Moment Spesial Sang Guru”, “The Meaningful True Stories“, “Kobaran Semangat Ngeblog”, Surat Untuk Ibu”, “Oktober Bermakna Jilid 1”, “Semesta Merestui,”“Kulminasi”, “Simpang Maya 1”, “Kisah Inspiratif Sang Guru”, “All About Teachers”, “Di Celah Senja”, Menulis Membangun Masa Depan”, “I’m jealous of the Rain”, “Sepanjang Tapak Kaki.”, “Pahlawan hidupku.”, “Kota Kenangan”, dan “ Monolog Cinta. Hp 081398870636/Fb: NaniKusmiyati/IG: nani_kusmiyati/ Email : [email protected], http://nani2teacher1navy.wordpress.com/ https://naniku2020.blogspot.com. 148

WISATA SEJARAH GOA SELARONG BANTUL Nani Istini Sumber foto: www.kompasiana.com Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki empat kabupaten dan satu kota manya. Masing-masing kabupaten/kota madya menyimpan banyak destinasi wisata yang menarik dan indah, salah satunya yaitu Kabupaten Bantul. Terdapat berbagai macam goa di daerah Bantul yang dapat wisatawan nikmati pesona keindahannya. Salah satu obyek wisata alam dan sejarah tersebut adalah Goa Selarong. Goa Selarong Bantul merupakan goa yang terkenal karena goa ini memiliki nilai historis yang tinggi. Goa ini merupakan bekas benteng pertahanan Pangeran Diponegoro, oleh sebab itu goa ini juga biasa disebut dengan Goa Diponegoro. Di goa ini pula Pangeran Diponegoro beserta pasukannya menyusun dan menyiapkan siasat perangnya untuk melawan penjajah. 149

Pangeran Diponegoro adalah salah satu pahlawan nasional yang berjuang untuk mewujudkan Indonesia merdeka. Lokasi Goa Selarong berjarak 14 km dari pusat kota Yogyakarta, tepatnya di Dusun Kembangputihan, Pajangan, Bantul. Secara geografi, Goa Selarong berada di kaki bukit, tersusun dari batu kapur yang digelayuti oleh akar-akar pepohonan berusia ratusan tahun. Untuk memasuki objek wisata ini, setiap pengunjung dikenakan retribusi masuk yang cukup murah, yaitu sebesar Rp 6000,-. Retribusi parkir motor Rp 2000,- sedangkan untuk mobil/bus Rp 5000, – Rp 10.000,-. Untuk menuju Goa Selarong ini pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi/ carteran karena tidak ada angkutan umum yang melintasi objek wisata sejarah ini. Namun demikian jangan khawatir, karena jalan menuju ke tempat wisata ini berupa jalan aspal yang mulus. Obyek wisata ini juga dapat dicari dengan mudah karena ketika sudah mau sampai di lokasi, di wilayah Desa Guwosari akan ada tanda gerbang masuk Goa Selarong berdampingan dengan patung Pangeran Diponegoro menaiki kuda, juga peta Goa Selarong. Kemudian wisatawan harus berjalan sejauh 200 m dan menaiki barisan tangga yang cukup tinggi menuju bukit kapur yang dikelilingi rimbunnya pepohonan. Fasilitas yang ada pada obyek wisata ini cukup banyak, yaitu mushola, pendopo, warung, taman 150


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook