Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Sejuta Pesona Nusantara 2021

Sejuta Pesona Nusantara 2021

Published by rita wati, 2022-02-19 06:47:06

Description: Sejuta Pesona Nusantara 2021

Search

Read the Text Version

1

Sejuta Pesona Nusantara (Antologi Kisah Travelling Yang Memesona) Copyright © 2021 327 hlm ; 14 cm x 21cm Penulis: Rita Wati, dkk Desain Cover: Ari Sulistyo Penyunting Naskah: Sri Sugiastuti Penata Letak: Yassin Cahyo Ramadhan Redaksi: CV Oase Pustaka Palur Wetan Mojolaban Sukoharjo 0271-8205349 0857-3228-8767 Perpustakaan Nasional RI Data Katalog dalam Terbitan (KDT) Sejuta Pesona Nusantara /penulis naskah, Rita Wati, dkk – Sukoharjo: Oase Pustaka, Februari 2021. 327 hlm.; 14 cm x 21 cm 1. Non Fiksi I. Judul II. Sugiastuti, Sri. Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit. Isi di luar tanggung jawab Penerbit Oase Pustaka 2

HALAMAN PERSEMBAHAN Buku ini kami persembahan kepada: Para Pembaca Pecinta Literasi Nusantara Traveler dan seluruh masyarakat Indonesia 3

“Lihatlah jauh ke alam, lalu kamu akan memahami segalanya lebih baik.” - Albert Einstein 4

KATA SAMBUTAN Kata Sambutan untuk Buku Sejuta Pesona Nusantara (Antologi Kisah Travelling yang Memesona) Buku ini merupakan lanjutan dari Buku Pesona Nusantara yang telah terbit terlebih dahulu dan melengkapi jejak jelajah Nusantara dari para guru dan pendidik yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Sungguh saya mengapresiasi semangat dan dedikasi teman-teman guru dan pendidik dari berbagai wilayah di Indonesia ini pada dunia Literasi. Pada saat kondisi keterbatasan terjadi akibat pandemi, tidak menyurutkan kreativitas dalam karya bahkan menjadi lebih bersemangat untuk mencipta. Semangat dalam berkarya ini juga mendorong saya untuk ikut serta 5

mempersembahkan sebuah tulisan tentang “Sumur Sanga yang ‘bertuah’ di Museum Karaton Surakarta Hadiningrat” di buku jilid 2 ini. Keindahan Pesona Nusantara yang tertuang dalam ragam tulisan di buku ini mampu memberikan rasa bangga pada diri kita akan kekayaan Nusantara kita. Maka dengan penuh rasa syukur saya selaku Immediate Past District Governor Rotary District 3420 Indonesia mendukung sepenuhnya setiap karya yang dihasilkan. Melalui tulisan dalam buku ini kita seakan diajak berkeliling langsung sambil menikmati setiap detail pesona destinasi wisata yang ditulis. Pengalaman berwisata melalui Literasi seperti ini sangat sesuai dengan keadaan saat ini yang tidak memberikan keleluasaan ruang gerak untuk kita bisa berwisata secara langsung ke lokasi destinasi yang diinginkan. Melalui wisata literasi ini seakan tidak mengurangi nilai ‘pesona-nya’ yang luar biasa. Bahkan melalui karya tulisan ini, kita justru akan lebih paham dan mengetahui sejarah, cerita dibalik destinasi bahkan mungkin kisah yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Biasanya ketika kita berwisata mengunjungi lokasi-lokasi wisata, kita hanya tertarik dengan keindahan tempatnya atau spot menarik yang saat ini disebut spot ‘instagramable’ tanpa pernah tahu kisah dan mungkin sejarahnya. Sungguh sebuah kombinasi yang luar biasa ketika kita telah mengerti kisah dibalik setiap destinasi wisata di Nusantara ini sebelum akhirnya kita memiliki kesempatan untuk datang langsung 6

kesana. Rasa penasaran dan keingintahuan yang lebih akan mampu menimbulkan gairah berwisata yang lebih dari biasanya. Energi besar ini yang saya rasakan ketika membaca satu persatu tulisan teman-teman dalam buku ini, termasuk tulisan yang saya sertakan di dalamnya. Mungkin tidak banyak orang tahu tentang kisah dibalik sebuah sumur yang ada di lokasi destinasi wisata. Bisa jadi ketika orang tahu kisah bersejarah yang ada ratusan tahun lamanya dan masih abadi hingga kini akan menimbulkan rasa ingin tahu secara langsung untuk datang dan melihatnya. Inilah sinergi dalam sebuah kolaborasi kedepan yang patut diteruskan untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi destinasi wisata di wilayah nusantara ini yang sangat memesona. Gerakan ini diharapkan ke depan akan mampu menghidupkan kembali sektor pariwisata Indonesia dan menggeliatkan perekonomian negeri ini, karena dalam berwisata akan memberikan dampak pada sektor ekonomi penyertanya seperti sarana transportasi, akomodasi juga kuliner. Menanggapi hal ini, Rotary International selain fokus untuk memberi dukungan pada bidang Literasi, juga memberikan pengabdian pada bidang ‘Community Economic Development’ yang ikut serta memberikan dukungan pada pembinaan dan pemberdayaan UMKM dan Ekonomi Kreatif. Maka dengan terbitnya buku semacam ini, saya yakin akan memberikan inspirasi pada kelompok 7

pelaku UMKM dan Ekonomi Kreatif untuk ikut dalam mempromosikan setiap destinasi wisata yang diangkat dalam buku ini. Semoga kehadiran buku ini akan memberikan peluang pada banyak pihak untuk terus optimis mencari solusi dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada meski dalam keterbatasan kondisi. Era kebangkitan dalam karya Literasi adalah sebuah jawaban awal pada era kebangkitan perekonomian bahkan sebuah peradaban, karena ‘Buku adalah Jendela Dunia’. Dari sebuah buku kita mampu menembus batasan ruang dan waktu, mampu menjelajah kemanapun tujuan yang kita inginkan. Kedepan kita tinggal mengkombinasikan tulisan dalam manual buku seperti ini dengan kecanggihan teknologi dan alih bahasa ke bahasa internasional, agar Indahnya Pesona Nusantara dapat dinikmati masyarakat dunia. Selamat kepada Ibu Sri Sugiastuti yang kerap dipanggil Bu Kanjeng sebagai sosok yang mampu menggerakkan para guru dan pendidik dari berbagai wilayah di Indonesia untuk menuangkan karya dalam tulisan di buku ini, juga selamat kepada Ibu Rita Wati selaku Kurator yang dengan teliti dan tiada lelah untuk membaca semua tulisan satu per satu. Akhir kata, penghargaan setinggi-tingginya kepada para guru dan pendidik yang berkenan bersama-sama menuangkan pengalamannya dalam sebuah karya yang terekam indah pada buku ini. Semoga karya ini mampu menjadikan warisan berharga 8

untuk membuat anak keturunan kita ke depan dapat meneruskan jejal langkah kita menelusuri keindahan Pesona Nusantara. “Salam Literasi & Salam Pesona Nusantara” IPDG Febri Hapsari Dipokusumo Immediate Past Governor Rotary Indonesia District 3420 tahun 2019-2020 9

KATA PENGANTAR Menjelajah Moleknya Nusantara Menakjubkan. Hanya ini yang bisa saya ucapkan ketika membaca buku antologi tulisan para guru dari berbagai tempat di Nusantara yang berkisah tentang keindahan berbagai tempat wisata di sekitar tempat tinggalnya. Membaca buku ini kita seakan-akan ikut berwisata bersama para penulis mengunjungi Blooms Garden di Bali, Kebun Raya Jompie di Pare-Pare, Negeri di Atas Awan Dieng, Wisata Air Panas di Curup, Lembah nan Indah di Malang, Wisata Bukit Karst di Maros, Danau Kembar di Solok, Air Terjun Timponan di NTB, Goa Selarong Bantul, Danau Toba di Sumatera Utara. Tidak hanya taman, telaga, bukit, air terjun maupun danau pembaca juga akan disuguhi kisah tentang Pesona Budaya Kampung Bena yang merupakan Desa Adat tertua di Flores. Di sini kita akan berkenalan dengan wisata budaya yang masih menjaga kelestarian alam dan kearifan lokalnya. Bagi yang suka menyusuri pesona bawah tanah, bisa juga mampir ke Goa Selarong di Kabupaten Bantul Provinsi Yogyakarta dan sedikit berwisata sejarah tentang perjuangan Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro sebagai tempat persembunyian dan peristirahat dalam melawan Belanda di masa penjajahan. Buku Antologi ini benar-benar mengajak kita berwisata ke seluruh nusantara tidak hanya dari NTT, NTB , 10

Bali, Jawa kita juga di ajak berjalan-jalan ke ujung Pulau Suamatera menikmati Pantai pasir Putih yang berada di Aceh Besar dan Air terjun Rerebe dan memesona di Gayo Lues. Pembaca terus diajak berpetualang selanjutnya wisata religi umat Hindu yaitu Pura Puncak Sinunggal di Bali Utara dan Pantai Ngobaran di Kabupaten Gunung Kidul. Buku ini memang bukan buku wisata yang biasa. Bersama buku ini, kita bisa menjelajah ke berbagai tempat di Nusantara yang tidak habis-habisnya memancarkan pesona. Mari kunjungi dan kenali pesona negeri nan molek bernama Indonesia ini. Taufik Hidayat Penulis Buku Travelling 11

PRAKATA Puji syukur kehadirat Allah SWT (Tuhan yang Maha Esa) atas segala rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah- Nya, kita dapat berkumpul dalam satu komunitas yang bernama Pegiat Literasi Nusantara. Penulis yang tergabung dalam komunitas ini berbagi pengalaman, informasi tentang wisata alam dan wisata sejarah yang pernah mereka kunjungi di nusantara ini. Indonesia terdiri dari 34 provinsi, 514 kabupaten/kota serta memiliki lebih dari 17.000 pulau membuat Indonesia kaya akan wisata alam dan wisata sejarah yang sayang sekali jika sebagai Warga Negara Indonesia kita belum mengeksplore keindahan alam yang pantastis ini. Buku antologi Sejuta Pesona Nusantara ini adalah buah karya dari Bapak/ibu guru mulai dari Aceh hingga NTT yang ingin memberikan informasi tentang wisata alam dan wisata sejarah yang pernah mereka kunjungi seperti gunung, pantai, gua, sungai, danau, hutan, lembah, tebing serta tempat-tempat bersejarah peninggalan kerajaan sebagai salah satu referensi jika memiliki rencana untuk berwisata ke daerah-daerah Indonesia. 12

Alhamdulillah para penulis sangat kooperatif di dalam penyusunan naskah ini, terutama dalam menentukan judul buku berdasarkan hasil voting sehingga disepakati hasil judul buku antologi ini adalah Sejuta Pesona Nusantara (Antologi Kisah Travelling yang Memesona). Di dalam buku ina ada 2 tulisan yang berbahasa Inggris yang menambah keunikan buku antologi ini. Pengalaman penulis mengunjungi tempat wisata membuat pembaca ikut kagum akan keindahan alam Indonesia baik yang sudah populer maupun yang belum terekspos. Ayo! kita jaga kelestarian alam Indonesia bersama, agar kelak, anak-cucu kita tetap dapat menikmati keindahan alam dan sejarahnya. Kami berharap buku antologi Sejuta Pesona Nusatara (Antologi Kisah Travelling yang Memesona) ini dapat bermanfaat bagi pembaca di Indonesia khususnya dan seluruh dunia pada umumnya. Kami menyadari buku ini belum sempurna, bila ada kritik dan saran demi perbaikan ke depan bisa disampaikan kepada kami. Terima kasih. Jembrana, Desember 2020 Rita Wati, Dkk 13

DAFTAR ISI Persembahan ....................................................... 3 Kata Sambutan .................................................... 5 Kata Pengantar .................................................... 10 Prakata ................................................................. 12 Daftar Isi ............................................................... 14 Sumur Sanga yang ‘Bertuah’ di Museum Karaton Surakarta Hadiningrat (Ray Febri Hapsari Dipokusumo) ....................... 17 Explore Tabanan (Komang Elik Mahayani).......... 33 Kebun Raya Jompie, Satu Destinasi Beragam Fungsi (Sri Mulianah)............................................ 41 Wisata Alam Di Negeri Atas Awan (Agus Yuwantoro)............................................... 53 Wisata Suban Air Panas Di Tanah Rejang (Afriani Fitriana)................................................... 65 Lembah Indah Malang Lereng Gunung Kawi Jawa Timur (Dian Riasari).................................... 75 Paseban Menawan, Bogor Ka Sohor (Supriyati) 87 Pesona Wisata Alam Dan Sejarah Bukit Karst Maros (Ratip )............................................. 97 Hidden Valley Hills Purwakarta (Min Hermina)... 107 Candi Dermo Sidoarjo (Ely Suryani)..................... 117 Danau Kembar Yang Unik (Rosinah) .................. 125 Air Terjun Timponan (Meike Widia Azmi) .......... 129 14

Berwisata Sambil Belajar Di Kota Kediri (Nani Kusmiyati) ............................................. 141 Wisata Sejarah Goa Selarong Bantul (Nani Istini).. 149 Wisata Danau Toba Sumatera Utara (Nurdiana)... 159 Wisata Kaliurang Sleman (Sri Hastuti)................... 167 Wisata Alam Curug Badak, Tasikmalaya Jawa Barat (Iis Siti Mutmainah) ............................................... 175 Pesona Air Terjun Dan Kolam Biru Rerebe (Fitria Ratnawati) .................................................. 183 Pesona Budaya Kampung Bena (Erry Yulia Siahaan)............................................... 191 Lembah Harau (Yudesra) ..................................... 199 Wisata Religi Di Bali Pura Pucak Sinunggal (Kadek Widiadnyani) ............................................ 209 Wisata Pantai Pasir Putih Di Krueng Raya Aceh Besar(Elvida) ............................................... 217 Wisata Religi Pantai Ngobaran (Burhanudin Tsani)223 Wisata Alam dan Sejarah Di Kabupaten Ngawi (Rita Wati) ............................................................ 231 Pesona Gunung Nona (Etisahra) ......................... 239 The Attraction Of Pamijahan Bogor (Wawat Srinawati) ............................................... 247 Pantai Pandawa, Bali (Nur Faridatul Khasanah) .. 259 Tracking Around Jatinangor Sumedang In Freshy Air Playgrounds (Diah Trisnamayanti) ................. 269 Pantai Jatimalang (Ismanto)................................. 281 15

Kecantikan Gunung Kelut Penuh Pesona dan Bahaya Ni’matul Hasanah ...................................... 289 Pesona Surga Tersembunyi Kalimantan Timur (Nur Wijayati) ........................................................ 295 Embung Kledung (Sri Sugiastuti) ......................... 305 Ngangenin (Jazilah) .............................................. 315 16

SUMUR SANGA YANG ‘BERTUAH’ DI MUSEUM KARATON SURAKARTA HADININGRAT RAy Febri Hapsari Dipokusumo Photo Taken from Google Mengunjungi Museum Karaton Surakarta Hadiningrat bagaikan berada pada mesin waktu masa lalu yang membawa kita dalam kejayaan lampau yang tidak saja memancarkan kejayaan dan keagunganya, namun sarat akan makna filosofi Jawa yang sampai saat ini masih diyakini oleh masyarakat Jawa bahkan sebagian meyakini kekuatan energi spiritual yang terkandung didalamnya. Seperti keberdaaan “Sumur Sanga” yang ada di bagian belakang halaman Museum Karaton Surakarta Hadiningrat. Nama Sumur Sanga diambil dari 17

nama Raja Paku Buwono IX yang saat sebelum menjadi Raja bertempat tinggal di area yang sebelum menjadi Museum dahulu merupakan Ndalem Kadipaten sebagai tempat tinggal Calon Raja atau Putra Mahkota pada tahun 1857-1861. Nama sumur “Sanga” tidak sekadar karena sumur tersebut berada di area tempat tinggal Sang Calon Raja Paku Buwono IX , namun lebih dari itu bahwa sumur ini digunakan beliau saat itu untuk bersemedi dan melakukan laku spiritual. Salah satu cara yang dilakukan beliau adalah duduk bersila pada sebilah papan yang diletakkan di atas sumur di saat-saat tertentu. Secara tidak langsung laku spiritual ini menjadi bagian dari membangun kesadaran diri untuk tetap waspada meski dalam keadaan meditasi di atas sebuah sumur, karena tidak terbayang bila kesadaran itu hilang maka serta merta beliau akan jatuh ke dalam sumur tersebut. Rutinnya Sang Putra Mahkota menggunakan lokasi Sumur ini untuk menjalani proses spiritual dan bermeditasi, memberikan daya energi pada air yang terkandung di dalamnya. Sumur yang berada di antara pohon gayam dan pohon beringin ini sampai saat ini tidak pernah kering dan berkurang airnya. Sang Putra Mahkota yang dengan konsisten mengajarkan laku tirakat dengan bertapa ini seakan melanjutkan tradisi dan ajaran ayahandanya Raja Paku Buwono VI yang dikenal sebagai “Sinuhun bangun tapa”. 18

Begitu besar keyakinan keluarga Karaton Surakarta dan masyarakat Jawa terhadap energi besar yang dirasakan dari Sumur Sanga ini karena hasil dari laku tirakat Paku Buwono IX ini memberikan beliau Putra Mahkota yang kemudian bergelar Paku Buwono X yang pada zamannya dikenal sebagai sosok raja yang termashur, dikenal luas hingga mancanegara dan berjaya pada masanya hingga bergelar Sinuhun ingkang Minulya saha ingkang Wicaksono. Paku Buwono X Sang Putra Mahkota saat itu dinobatkan oleh ayahandanya yakni Paku Buwono IX sejak usia 3 tahun dan memberikan sinar serta kekuatan besar untuk Karaton Surakarta Hadiningrat dan Nusantara. Sejarah panjang dari sebuah proses perjalanan seorang Pangeran Adipati Anom yakni Paku Buwono IX sebelum menjadi Raja dan akhirnya memiliki Putra Mahkota yang akhirnya bergelar Paku Buwono X, memberikan keyakinan pada kerabat Karaton dan masyarakat Jawa bahwa sebuah pencapaian dari keinginan yang besar harus diniatkan sungguh-sungguh dan dimohonkan pada Sang Maha Kuasa melalui sebuah tirakat dan laku spiritual yang dilakukan secara konsisten dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan hingga akhirnya berkah yang dimohonkan itu datang. Kekuatan dari sebuah proses panjang ini bergulir dari masa ke masa hingga sampai saat ini daya dari air pada sumur sanga ini diyakini begitu besar karena pada 19

air dalam Sumur Sanga tersebut diyakini telah dipenuhi oleh doa Sang Putra Mahkota hingga hajatnya terkabul menjadi seorang Raja yang melahirkan Raja berikutnya yang sangat berjaya. Proses pencapaian ini memberikan keyakinan masyarakat bahwa air tersebut memiliki khasiat dan energi tersendiri. Air sebagai sumber kehidupan Air diyakini sebagai sumber kehidupan, maka dimana ada air megalir disitulah kehidupan berada. Energi air yang terus mengalir memberikan energi kesegaran, kesejukan dan kadamaian di hati. Banyak orang mengambil air dari sebuah sumur atau sumber mata air untuk berwudlu bahkan diminum atau bahkan sekedar membasuh wajah. Maka tak heran banyak orang yang menyakini dan pernah merasakan khasiatnya akan terus kembali dan merasakan kenikmatannya. Sama halnya dengan air di Sumur Sanga ini. Sumur yang berusia cukup tua sekitar 1,5 abad ini tidak pernah kering. Sumur dengan kedalaman sekitar kurang lebih 6 meter memiliki air yang sangat bening dan segar bahkan untuk diminum. Air pada sumur Sanga inipun sering dipakai untuk prosesi siraman pada upaca pernikahan Jawa atau pada prosesi siraman “mitoni” (upacara 7 bulanan pada kehamilan pertama) juga pada prosesi siraman seorang anak pada upacara “tedhak siten” 20

(prosesi turun tanah atau seorang anak menapakkan kaki pertama di bumi). Semua prosesi tersebut merupakan sebuah simbol dimana sebuah kehidupan baru dimulai, maka “air” dari sumber yang diyakini memiliki khasiat dan energi kebaikan dipakai untuk dapat memberi kesegaran dan pancaran aura yang menyinari kehidupannya. Air untuk segala umat Bagi siapapun yang ingin merasakan kesegaran dan kenikmatannya bisa datang ke Sumur Sanga ini melalui pintu masuk Museum Karaton Surakarta Hadiningrat yang berada di sisi sebelah timur Karaton. Tiket untuk masuk museum dibandrol Rp15.000,- per orang untuk wisatawan domestik dan Rp20.000,- untuk wisatawan mancanegara. Museum ini terbuka untuk umum dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB hari Senin sampai Minggu kecuali pada hari Jumat museum tutup. 21

Photo by Romano Adicandra Haryanto Putra Untuk sampai pada sumur Sanga yang asri dan teduh ini, anda bisa menyusuri koridor museum terlebih dahulu dan menikmati sejarah dan kejayaan masa lalu dari setiap ruang yang ada. Menyusuri setiap ruangnya maka seakan membawa kita pada kisah masa lalu sehingga membuat kita kagum dan bisa serta mampu menghargai perjuangan para leluhur yang membuat kita sampai pada hari ini. Ndalem Kadipaten yang telah dialih fungsikan menjadi sebuah Museum Karaton Surakarta Hadiningrat diresmikan pada tahun 1963 oleh Ibu Hartini Soekarno saat rangkaian Konferensi PATA pertama (Pacific Area Travel Assosiatation) dimana Menteri Pariwisata, Perhubungan, Pos & Telekomunikasi saat itu dijabat oleh Letnan Jenderal AD GPH 22

Djatikusumo yang tidak lain adalah putra dalem Paku Buwono X. Sungguh sebuah benang merah indah yang menghubungkan antara satu generasi ke generasi berikutnya, karena pada tahun 2003 saya yang juga menantu dalem Paku Buwono XII karena menikah dengan salahsatu putra beliau KGPH Adp Dipokusumo, mendapat kepercayaan dari Sinuhun (sebutan untuk Raja Paku Buwono) untuk menjadi Ketua dalam penggalangan dana untuk revitalisasi museum yang dikemas dalam perhelatan seni budaya bertajuk “Untukmu Indonesiaku” dan digelar di halaman Museum Karaton Surakarta Hadiningrat, membuat saya merasa memiliki ‘hubungan batin’ yang khusus dengan Museum dan sumur sanga ini. Air awet muda karena “bertuah” Bicara awet muda pasti siapapun akan langsung antusias dan ikut larut di dalamnya khususnya kaum perempuan. Air sumur sanga ini diyakini juga bisa memberikan energi awet muda bagi siapapun yang sering membasuh wajahnya dengan air ini. Konon tak heran bila melihat para putra putri Raja hampir kesemuanya memiliki wajah yang tampak jauh lebih muda dari usia sesungguhnya. Percaya tidak percaya, 23

tapi bagi saya yang mengalami prosesnya bahwa air dari sumber mata air yang energinya selalu dihidupkan dengan doa yang dimohonkan pada Sang Maha Kuasa dan pernah digunakan oleh para leluhur untuk laku tirakat di masa sebelumnya, memiliki energi besar seakan mampu memberikan kesegaran dan rasa damai di hati. Photo by Romano Adicandra Haryanto Putra Menjadi awet muda mungkin karena air di sumur sanga ini telah berusia hampir 1,5 abad lamanya dan masih terus mengalir dari masa ke masa dan dinikmati dari generasi ke generasi. Setiap generasi selalu menghidupkan energi air tersebut dengan doa syukur dan permohonan, maka air itu akan “bertuah”. Kisah dan cerita ini terus menyambung secara turun temurun, maka makna filosofi yang saya pelajari bahwa 24

bila kita merawat, menjaga dan melestarikan apa yang dimiliki para pendahulu kita maka di situlah “tuah” atau kekuatan energi itu akan tumbuh subur. Ilustrasi singkatnya karena selalu ada doa dan laku tirakat yang dilakukan maka akan terus awet muda hingga tidak terasa usianya sudah 1,5 abad. Maka bila mengambil air di sumur sanga ini, disarankan selalu berdoa sejenak dan memohon pada Sang Maha Kuasa sebelum kita menikmatinya. Seorang penjaga atau disebut abdi dalem akan siap membantu kita di sekitar sumur yang berada di bawah dua pohon besar yang rindang. Sajadah, tikar, bungan setaman atau peralatan semedi pun terlihat ada disana hingga menunjukkan bahwa di tempat ini orang bebas mengekspresikan diri sesuai yang diyakininya. Juga sebuah kotak sumbangan sukarela tersedia untuk siapapun yang ingin berdonasi dengan ikhlas untuk para petugas / abdi dalem yang setiap hari membersihkan dan menjaga keasrian sumur sanga dan sekitarnya. Bahkan banyak juga orang meminta air dari sumur sanga tersebut dalam wadah botol yang dibawanya untuk keperluan masing-masing sesuai yang diyakininya. Semua ini memberikan pembelajaran bagi saya bahwa merawat sebuah tradisi dan peninggalan para leluhur / pendahulu merupakan bagian dari “caos bekti” (rasa bakti) kita dan energi rasa bakti itulah yang 25

akan kembali lagi pada diri kita yang datangnya berupa keberkahan dalam segala bidang kehidupan kita. Pandemi dan Air “bertuah” Kondisi pandemi Covid-19 yang melanda dihampir semua negeri saat ini menghantui semua warga penghuni bumi. Maka salahsatu langkah pencegahan yang dilakukan adalah menerapkan konsep 3 M yaitu Mencuci tangan, Memakai masker dan Menjaga jarak. Hal inipun telah diterapkan di lingkungan Museum Karaton Surakarta Hadiningrat. Bila anda pernah menyaksikan film sejarah bertajuk “Sultan Agung”, maka akan ditampilkan kisah ketika terjadi penyerbuan pihak asing ke Batavia, saat itu warga masyarakat mengelabui pihak lawan dengan menyebarkan kotoran melalui air sungai yang menyebabkan air tercemar dan membuat pihak lawan berjatuhan sakit karenanya. Juga banyak kisah dimana orang masa lalu sering menggunakan media air yang sudah dihidupkan dengan doa untuk menyembuhkan penyakit. Bahkan ketika lebih 40 tahun lalu hadir air mineral dipasaran membuat orang heran bahkan ragu saat itu. Tapi kini beragam merek air mineral hadir di pasaran dari yang berharga murah hingga berharga sangat mahal untuk satu botolnya. Bagi teman atau 26

kerabat yang pulang dari tanah suci selalu juga membawa air Zam-zam yang diyakini berkhasiat. Maka air sebagai sumber kehidupan ini akan menjadi besar “maknanya’ bila dihidupkan dengan doa. Di masa pandemi ini kita harus berulang kali mencuci tangan dan membersihkan diri dengan air, maka mungkin kita bisa terinspirasi untuk mengikuti jejak para leluhur / pendahulu kita yang tidak sekedar mengambil air untuk membasuh wajah atau membersihkan diri tapi menghidupkan energi air itu dengan sebuah doa bahkan menggunakan tempat sumber air itu sebagai tempat meditasi dan bersemadi. Seperti yang dilakukan oleh Sang Raja Paku Buwono IX saat menjadi putra mahkota dengan rutin melakukan proses laku tirakat di sumur sanga hingga kita masih bisa menikmati kejernihan airnya hingga saat ini. Bisa jadi air dari sumber mata air yang diyakini “bertuah” ini merupakan bagian dari sarana ikhtiar kita di masa pandemi ini. Bertuah lebih karena air dalam sumur ini selalu dipenuhi dengan energi doa dan harapan kebaikan. Bila dilihat dari sudut pandang spiritual, mencuci tangan atau membersihkan diri dengan air bukan sekedar membasuhnya saja agar terlihat atau terasa bersih, namun lebih dari itu air ‘bertuah’ diharapkan tidak sekedar membersihkan secara fisik namun juga batin kita yang mungkin penuh dengan 27

segala pikiran, perkataan dan perbuatan khilaf yang negatif. Sehingga orang Jawa sering menyebutnya dengan istilah “resik-resik”atau “reresik”. Bila mempelajari alur ini dan meresapinya secara mendalam maka ada makna spiritual yang terkandung di dalamnya bahwa alam semesta ini mengingatkan kita warga bumi saat ini untuk selalu introspeksi dan bermuhasabah bahwa segala hal yang kasat mata tidak bisa mengelabui yang terkandung dibaliknya. Hingga tiba saatnya kita harus kembali pada titik awal dimana kehidupan itu seakan baru dimulai dan memperbaharui diri. Sebuah siklus kehidupan yang menarik untuk dikaji lebih jauh dan direnungkan kembali agar membuat kita tak henti-hentinya untuk selalu bersyukur pada Ilahi. Maka bagi yang bisa mengerti bahwa sejarah asal usul sumur sanga ini sangat bermakna dan bisa merasakan energi besar yang ada disana, mereka akan duduk bersila dan hening sejenak atau berdoa terlebih dahulu sebelum mengambil airnya. Suasana damai dan tenang seketika merasuk bagi siapapun yang bisa merasakannya dengan hati. Hingga memberi pemahaman pada saya bukan kita mengkultuskan air sumur sanga ini tapi lebih karena proses panjang masa lalu yang dibangun dan dihidupkan di area sumur ini sebagai bentuk penghargaan kepada leluhur/pendahulu yang pernah ada jauh sebelum kita ada. Penuh doa dan 28

penuh makna spiritual maka mungkin inilah yang menyebabkan air di sumur sanga ini dianggap ‘air bertuah’. ‘Nek kowe ora percoyo kena ning aja dipaidu’ Photo by Siani Hadiprajitno Kalimat ini selalu disampaikan ayahanda mertua saya Raja Paku Buwono XII setiap kami ingin belajar tentang sejarah masa lampau atau sekadar bertanya tentang mengapa begini mengapa begitu. “Nek kowe ora percoyo kena , ning aja dipaidu” yang artinya “Kamu boleh tidak percaya tapi kamu tidak perlu 29

menyangsikannya”. Disini mengandung makna bahwa kita boleh tidak percaya pada cerita dan kisah masa lalu karena kita tidak hidup dizamannya, namun kita tidak bisa menyangsikannya karena banyak orang mengalaminya, merasakannya bahkan mungkin menikmati hasilnya. Setiap individu memiliki kebebasan dalam menyakini sesuatu dan menerimanya, maka itu yang selalu saya ingat dari ajaran beliau Raja Paku Buwono XI Inilah yang membuat saya ingin membagikan cerita tentang salah satu Pesona Nusantara dimana ada Sumur Sanga di dalam Museum Karaton Surakarta Hadiningrat yang mungkin selama ini belum diketahui oleh banyak orang. Bagi penggemar swa-foto yang instagramable, tempat ini juga menarik untuk disinggahi sebagai bagian dari salahsatu destinasi wisata di Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan Kota Solo. Banyak juga orang datang hanya ingin menikmati suasana teduh di bawah pohon rindang yang meneduhi sumur Sanga ini atau sekadar berfoto di antara pohon- pohon rindang ini. Sungguh sebuah proses indah untuk menjadi bagian dari bagian rasa bakti kita pada para leluhur / pendahulu bila kita mau membaca kisah atau sejarah masa lalu, hingga sebuah museum dan buku-buku sejarah tidak sekedar menjadi kumpulan koleksi pada rak- rak usang yang terlihat sebagai sebuah “gudang masa 30

lalu”. Bagaimanapun adanya kita hari ini karena adanya masa lalu dan adanya penghuni bumi sebelum kita hadir di bumi ini. Silakan nikmati keteduhan dan kedamaian area Sumur Sanga di Museum Karaton Surakarta Hadiningrat dan rasakan seteguk kesegaran airnya yang bening untuk menetralisir energi dirimu dari segala sakit penyakit dan segala rasa galau dalam batinmu hingga membuat tampak awet muda dan selalu memancarkan sinar / aura kebaikan, kasih sayang dan kau selalu dihormati dan dihargai oleh siapapun yang melihatmu. Tentu saja baru bisa kau buktikan setelah kau datang, menyaksikan dan merasakannya.... Indahnya Pesona Nusantaraku. 31

PROFIL PENULIS RAy Febri Hapsari Dipokusumo, S.Sos lahir di kota Surabaya pada tanggal 2 Februari 1972 tinggal di Kompleks Karaton Surakarta Hadiningrat , merupakan Ibu dari 4 orang anak yang berprofesi sebagai seorang Motivator, Public Speaker & PR Consultant. Beragam pelatihan dan forum seminar baik di dalam maupun luar negeri menjadikan sosoknya sebagai figur yang berjiwa pembelajar. Maka dunia pendidikan, literasi, komunikasi dan kepemudaan menjadi bagian dari fokus minatnya untuk memberikan sumbangsihnya pada bangsa & negara. Lulusan Sarjana S1 FISIP Komunikasi Universita Airlangga ini juga menjadi dosen di STP Sahid Surakarta, pembina dari beberapa organisasi kepemudaan juga aktif berorganisasi hingga di tahun 2019-2020 menjadi District GovernorRotary District 3420 Indonesia & mengibarkan bendera FHD Motivation & Personal Development Program yang fokus pada pembinaan karakter. Ia bisa di akses melalui akun IG @febri.dipokusumo untuk mengikuti karya dan kiprahnya. 32

EXPLORE TABANAN Komang Elik Mahayani Cari lokasi, datangi, nikmati dan sesuaikan dengan kondisi. Itu filosofi saya untuk menikmati liburan. Jangan terlalu memaksa jika akan menjadi beban, nanti sayang suasana yang indah tidak akan sesuai dengan mood kita. Selamat liburan, selalu jaga kesehatan, hibur pikiran dan jiwa agar tetap selalu waras ingatan Libur tlah tiba….libur tlah tiba hatiku gembira. Bagaikan lirik lagu itulah yang saya rasakan. Saatnya menghilangkan penat dan sumpek pikiran selama bekerja. Otak juga perlu refreshing, memberikan kesegaran agar nanti otak bisa diajak bekerja dengan optimal. Namun sayang, pandemi membuat kita tidak leluasa menentukan tujuan wisata untuk berlibur. Travelling keluar pulau mengharuskan wisatawan mengeluarkan biaya ekstra untuk meyakinkan diri bahwa kita sehat terbebas dari Virus Covid-19. Tapi tidak perlu bersedih, masih banyak tempat wisata di sekitar kita yang bisa diexplore. Jadi jangan buang waktu, segeralah kunjungi tempat wisata tersebut. Awal liburan saya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman di Kota Singaraja. Waktu tempuh dari 33

tempat saya tinggal sekarang di Jembrana memakan waktu 2.5 jam. Setelah puas menikmati kampung halaman, saya melakukan wisata yang dekat-dekat saja yakni di Kabupaten Tabanan. Kabupaten Tabanan terletak dibagian selatan Pulau Bali. Waktu tempuh dari Kota Singaraja sekitar 2 jam perjalanan. Banyak tempat wisata yang bisa kita kunjungi di Kabupaten Tabanan. Kali ini saya mengexplore 3 tempat wisata dalam waktu 2 hari. The Blooms Garden The Bloom Garde (Dokpri) The Blooms Garden terletak di Banjar Batusesa, desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Lokasi di kaki pegunungan menambah kesejukan. Hamparan taman dengan warna-warni bunga cantik yang bisa dilihat dari luar area wisata membuat mata pengunjung berbinar-binar ingin segera menuju kesana. Untuk masuk ke The Blooms Garden tidak perlu merogoh kocek yang banyak. Untuk dewasa cukup Rp. 34

20,000,- dan anak-anak Rp. 15.000,-. Sebelum masuk ke area pastikan pengunjung telah mengisi baterai gawai, tongsis ataupun tripod untuk mendukung mengambil gambar, baik swafoto ataupun foto bersama. Banyak spot foto yang ditawarkan di The Blooms Garden. Dikutip dari situs tempatwisatadibali.info, Taman The Blooms Garden dibuat dengan mengadopsi gaya taman bunga di Dubai Miracle Garden yang dipenuhi dengan berbagai jenis tanaman bunga cantik. Jadi bagi para Instagramable, wajib mengunjungi The Blooms Garden untuk menambah koleksi fotonya. Selain hamparan taman dengan aneka warna- warni bunga, The Blooms Garden menghadirkan spot foto dari bangunan yang ada disana seperti kincir angin, rumah hobbit, patung burung yang dibuat dari tanaman dan bunga-bunga, balon terbang, dan juga villa tempat menginap disediakan di The Blooms Garden. 35

Wisatawan di The Blooms Garden juga dapat menikmati wisata adventure (petualangan) menjelajahi kawasan ini dengan cara naik kendaraan seperti mobil beroda empat ATV. Ayunan besar bagi yang memiliki nyali yang tinggi dengan langsung melihat hamparan hijau dari atas ayunan. Wahhh sungguh asyik bukan. Dan diakhir setelah lelah berjalan dan menikmati pemandangan kita bisa menikmati masakan di resto yang ada disana. Rumah Gemuk Bali Tak jauh dari The Blooms Garden, akhirnya rasa penasaran saya terobati. Tempat ngehitz bagi kaula muda untuk menikmati makanan sambil mencuci mata melihat keindahan yang ditawarkan. Nama Tempat Wisatanya adalah Rumah Gemuk Bali, bagi yang doyan swafoto atau foto bersama sungguh tempat ini sebagai surganya berfoto. Banyak spot foto yang ada. Pengunjung ditawarkan beberapa pilihan untuk menikmati makanan disana, versi piknik atau versi duduk dengan meja dan kursi seperti resto biasanya. Karena saya kesana ketika makan siang, area piknik penuh dan dengan terpaksa saya harus menikmati makanan di lantai atas. Sambil menunggu pesanan makanan, saya memanfaatkan waktu untuk berfoto-foto. Tak jarang ada pengunjung yang datang ke Rumah Gemuk Bali untuk membuat foto prawed, uuhhh romatis banget. 36

Pemandangan di sekitar Rumah Gemuk Bali (Dokpri) Makanan dan minuman disini enak-enak, pegawainya ramah-ramah sesekali meminta mereka untuk mengambil foto saya. Para pengunjung diberikan waktu maksimal 2 jam untuk menikmati hidangan dan juga makanan disana. Ayoo… segera mampir ke Rumah Gemuk Bali dijamin perut kenyang, hati senang. Jatiluwih Destinasi terakhir berlabuh di Jatiluwih. Desa yang berada di kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, provinsi Bali. Begitu masuk daerah ini pengunjung sudah ditawarkan hamparan sawah dengan teras seringnya. Warna padi menguning membuat suasana liburan semakin lengkap. Sekilas informasi tentang desa Jatiluwih. Daerah Jatiluwih dikenal sebagai salah satu daerah di Bali yang menghasilkan beras berkualitas. Karena Keunikan sawah 37

berteras yang membuat Jatiluwih dinominasikan masuk daftar UNESCO World Heritage sebagai warisan budaya dunia. Bagi para wisatawan yang ingin ke Jatiluwih cukup membayar tiket masuk untuk Desawa Rp. 20,000,- dan anak-anak Rp. 10.000,-. Tidak hanya memiliki pesona pada area persawahan, ada beberapa aktivitas yang bisa pengunjung coba seperti tracking, bersepeda menikmati hawa sejuk. Bagi pengunjung yang suka kuliner, banyak resto yang ada di Jatiluwih. Kali ini saya mencoba menikmati makanan di Gong Jatiluwih. Tempatnya sungguh indah, sambil menikmati makanan, hamparan sawah dan perbukitan bisa kita lihat secara leluasa. Gong Jatiluwih (Dokpri) Liburan singkat namun berkesan. Back to nature, cocok juga untuk menghilangkan kepenatan kita selama ini dengan kembali ke alam. 38

PROFIL PENULIS Komang Elik Mahayani,S.T, lahir di Singaraja 20 Mei 1987. Anak bungsu dari tiga bersaudara. Penulis menempuh Pendidikan terakhir di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta tahun 2008 mengambil Jurusan Teknik Informatika. Saat ini mengajar di SMP Negeri 1 Negara, mengampu mata pelajaran Informatika dan Bimbingan TIK. Penulis aktif menulis di beberapa karya antologi. Alamat blog : https://cening-mai-melajah.blogspot.com/ ; https://komangelimahayani20.wordpress.com/ Fb: Elle Mahayani, WA : 081339336375 39

40

KEBUN RAYA JOMPIE, SATU DESTINASI BERAGAM FUNGSI Sri Mulianah “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya.. (Q.S 67:15) Kebun Raya Jompie (sumber: kebunrayadaera.krbogor.lipi.id) Bumi dengan segala isinya diciptakan untuk manusia dan semua makhluk yang ada di dalamnya. Bentangannya demikian luas memberikan ruang pada manusia untuk menjelajah dan mengeksplorasinya. Dari timur ke barat, utara ke selatan. Dari segala penjuru dengan menjelajah untuk berbagai tujuan dan kepentingan, seperti ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, hingga politik dan pertahanan keamanan. 41

Walaupun yang lebih populer dan lebih banyak dilakukan manusia dengan menjelajah untuk menikmati keindahan karya alam Sang Pencipta. Karya alam Sang Pencipta beberapa terdapat di Kota Parepare. Memiliki luas wilayah 99,33 km persegi menjadikan Kota Parepare sebagai kota terkecil atau hanya 0,21 persen dari luas wilayah keseluruhan di provinsi Sulawesi Selatan. Jumlah penduduk tahun 2019 tercatat 145.178 jiwa. Kontur wilayah yang sebagian besar berbukit- bukit dan berada di sebuah teluk yang menghadap ke selat Makassar, menjadi surga tumbuhan pesisir kawasan Wallacea. Apa itu Wallacea? Wallacea menurut wikipedia adalah kawasan biogeografis yang mencakup sekelompok pulau-pulau dan kepulauan di wilayah Indonesia bagian tengah, terpisah dari paparan benua- benua Asia dan Australia oleh selat-selat yang dalam. Nama Wallacea diambil dari seorang naturalis Alfred Russel Wallace 1823 – 1913 yang telah mendeskripsikan batas-batas biologis kawasan zoogeografis yang dikenal sebagai garis Wallace. Tumbuhan kawasan pesisir Wallacea dapat diidentifikasi dengan ciri khas keanekaragaman tumbuhan obat, tumbuhan adat, dan tumbuhan etnobotani Sulawesi Selatan. Etnobotani dapat dipahami sebagai suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dan tumbuhan. Para ahli botani meneliti 42

dengan memfokuskan pada persepsi ekonomi pada dari suatu tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat lokal. Bersinergi dalam konsep tumbuhan tanaman hias dan tanaman sukulen (varian kaktus) yang mampu hidup dan tumbuh di daerah panas, semakin melengkapi koleksi tumbuhan di antara hutan heterogen dan bangunan fisik di dalam kompleks kawasan Kebun Raya Jompie. Pintu masuk Kebun Raya Jompie (Dok Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyatpu.go.id) Cikal bakal keberadaan Kebun Raya Jompie Parepare (KRJP) menurut sebuah catatan telah dimulai pada tahun 1920 merupakan bagian dari kompleks hutan Alitta. Masyarakat Kota Parepare mengenalnya sebagai “Hutan Jompie” kemudian menjadi “Hutan Kota Jompie”. Inisiasi pembangunan KRJP sejak tahun 2009 dan pengkajian ulang tahun 2015. Dibuka untuk umum secara 43

resmi 28 Nopember 2017 dan telah lulus kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) tahun 2016. Berada dalam kewenangan pemerintah Kota Parepare, yaitu Dinas Lingkungan Hidup terus melakukan pembenahan, pengelolaan dan pemeliharaan untuk menjadikan KRJP sejajar dengan kebun raya yang sudah lebih dahulu hadir di Sulawesi Selatan, yaitu Kebun Raya Puncak di Kabupaten Maros dan Kebun Raya Massenrengpulu di Kabupaten Enrekang. Walaupun luas areal KRJP hanya sekitar 13,5 hektar, dibandingkan dengan Kebun Raya Puncak Maros memiliki luas 120 hektar dan Kebun Raya Massenrengpulu Enrekang memiliki luas 300 hektar. Namun tidak mengurangi bahkan melecut semangat pemerintah kota Parepare untuk terus melakukan pembenahan KRJP. Terletak di Jalan Industri Kecil Kelurahan Bukit Harapan Kecamatan Soreang Kota Parepare. Dapat ditemukan di google map atau google earth berada di titik koordinat lokasi 1190 38’ 29.62’’ BT dan 030 59’ 49.05’’ LS. Dari kota Makassar berjarak sekitar 150 kilometer ke arah utara dengan jarak tempuh 2 – 3 jam perjalanan darat. Dari pusat Kota Parepare sekitar 2,5 kilometer dengan semua jenis kendaraan. Mengusung tema “Tumbuhan Pesisir Kawasan” sejak tahun 2017. KRJP berada dalam pengawasan Bidang Pengembangan Kawasan Konservasi Tumbuhan Ex Situ Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya – Lembaga Ilmu 44

Pengetahuan Indonesia (LIPI). KRJP memiliki dua tujuan, yaitu 1) salah satu acara agar masa depan manusia dan lingkungan dapat hidup beriringan tanpa merugikan satu sama lain, 2) Salah satu solusi terbaik untuk mengatasi kerusakan lingkungan dan kelangkaan tumbuh-tumbuhan yang terancam. Selain dipenuhi tumbuhan dan pepohonan juga bangunan fisik, greenhouse, rumah paranet pembibitan, view dek atau menara untuk melihat pemandangan pesisir Kota Parepare, jalan, dan taman tematik yaitu taman kering dan taman hias, taman palm, taman nursery. Taman kering dengan konsep tanaman sukulen dan taman hias yang memiliki konsep untuk koleksi tanaman-tanaman hias yang menarik dan mampu hidup dan tumbuh di daerah panas.. Di dalam kawasan KRJP terdapat kolam renang bagi pengunjung yang ingin menikmati sejuknya air sambil berenang. Juga terdapat kolam habitat air tawar. Lelah menyusuri tapak dapat sejenak berhenti melepas penat tersedia empat belas unit tempat istirahat. Jika berminat menikmati sensasi bermalam di alam terbuka, pengunjung dapat mencoba area perkemahan, Untuk menjangkau setiap sudut kawasan dengan menyusuri jalan setapak. Secara keseluruhan keberadaan kawasan KRJP dapat memenuhi beberapa fungsi bagi manusia maupun alam, yaitu fungsi konservasi, penelitian, pendidikan 45

lingkungan, ekowisata dan jasa lingkungan dan rekreasi, restorasi (membantu untuk menjaga ketahanan pangan dan air), ruang terbuka hijau (RTH) memberi manfaat bagi keberlangsungan ekologis, pemberi oksigen, penghijau kota dan fungsi sosial masyarakat perkotaan. Fungsi sebagai area penyerap karbon yang berperan penting dalam mitigasi iklim. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2011 ditetapkan lima fungsi kebun raya termasuk KRJP yaitu fungsi konservasi, penelitian, pendidikan, wisata dan jasa lingkungan. Fungsi Konservasi KRJ sebagai pusat koleksi dan konservasi tumbuhan kawasan pesisir Wallacea, telah diidentifikasi oleh tim analisis vegetasi Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya (PKT-KR – LIPI). Terdapat sembilan puluh jenis tanaman tropis yang sudah langka berasal dari delapan puluh satu marga tanaman, tujuh jenis tumbuhan yang sudah diidentifikasi secara detail, ada sepuluh jenis lainnya baru diketahui jenis marga tumbuhannya. Selain itu masih terdapat tiga jenis baru yang baru diidentifikasi dalam tahapan suku saja. Bahkan beberapa diantaranya diidentifikasi sebagai tumbuhan langka. Sebagai perbandingan, sebelum pembangunan. Saat ini jumlah koleksi mengalami peningkatan mencakup empat puluh delapan suku, seratus empat puluh marga, seratus lima puluh sembilan jenis dan tujuh ratus dua spesimen dan 46

koleksi tumbuhan anggrek sebanyak tiga puluh delapan marga, tiga puluh tujuh jenis dan dua ratus dua puluh empat spesimen. Fungsi Penelitian KRJP telah menjadi pusat penelitian tumbuhan tropis terutama tanaman endemik. Berada di bawah pengawasan bidang pengembangan kawasan konservasi tumbuhan ex situ pusat konservasi tumbuhan kebun raya - LIPI. Peneliti PKT – KR LIPI, Danang Wahyu Purnomo aktif meneliti kandungan karbon di KRJP ini. Penelitian: KRJP memiliki memiliki daya serap karbon (sekuastrasi) karbon sejumlah 1,2 ribu ton C atau jika dirata-ratakan memiliki kemampuan penyerapan 88,8 ton C/ha. Jumlah serapan ini cukup baik untuk ukuran kebun raya yang masih dalam tahap pembangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara keberadaan kebun raya dengan luasan RTH dan kualitas lingkungan. Peneliti PKT -KR LIPI lainnya yaitu Eka Martha Della Rahayu dan Siti Rosita Ariati tentang lima fungsi KRJP yaitu fungsi konservasi, penelitian, pendidikan, wisata dan jasa lingkungan. Tim peneliti dari Universitas Hasanuddin Makassar turut melakukan penelitian tentang KRJP adalah Muhammad Ichwan Kadir, Anwar Umar, Supratman dengan judul Nilai Ekonomi Kayu KRJ Kota Parepare. Hasil penelitian menunjukkan tingkat ketergantungan 47

masyarakat pada areal KRJP sangat tinggi baik secara langsung maupun tidak langsung. Nilai manfaat kayu yang diperoleh adalah 47, 28 m3 /ha/tahun dengan nilai ekonomi kayu Rp. 218,112,927 m3/tahun. Daya tarik penelitian tentang KRJP menarik minat seorang mahasiswa IAIN Parepare, perguruan tinggi yang berjarak hanya sekitar satu kilometer dari KRJP. Skripsi Muh. Saenal S, berjudul Revitalisasi Kebun Raya Jompie dalam Meningkatkan Minat Wisata Masyarakat Kota Parepare (Analisis Ekonomi Islam). Fungsi Pendidikan Sejak dibuka secara resmi tanggal 28 November 2017, fungsi pendidikan telah berjalan dengan baik. Dapat dilihat dari bertambahnya jumlah pengunjung yang berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa. Sejak dari satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak- Kanak (TK/RA), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK/MA) hingga Perguruan Tinggi. Mereka belajar tentang pendidikan lingkungan, pentingnya menjaga kelestarian tumbuhan dan lingkungan hidup. Menjadi daya tarik tersendiri bahwa di KRJP terdapat Rumah Kompos yang menjadi tempat belajar membuat pupuk tanaman, pupuk basah dan pupuk kering. Fungsi Wisata Minat berkunjung masyarakat yang berasal dari kota Parepare dan daerah sekitar ke KRJP terus 48

mengalami peningkatan setiap tahunnya, data terakhir 2018 sebanyak 5010 dan akan terus bertambah. Tujuannya berwisata menikmati keindahan alam dan kesegaran udara bersih, serta fasilitas-fasilitas yang disediakan pengelola KRJP. Bagi pengunjung yang hobi fotografi bertema alam sangat cocok. Terdapat spot-spot menarik sebagai latar belakang foto untuk dipajang di media sosial. Biaya retribusi masuk yang terhitung murah. Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 tahun 2016 tentang perubahan atas Perda Nomor 3 Tahun 2012 tentang Jasa Usaha. Perda ini berlaku bagi Kebun Raya secara nasional. Termasuk KRJP. Untuk dewasa Rp. 3000, anak-anak Rp. 2000. Retribusi masuk kolam renang untuk dewasa Rp. 3000, anak-anak Rp. 2000. Untuk pemakaian gedung atau aula di dalam komplek KRJP berdasarkan Perda senilai Rp. 350. 000,- per hari. Fungsi Jasa Lingkungan Menurut hasil penelitian dari tim peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya-LIPI) 2019 tentang fungsi jasa lingkungan yakni terkait produksi oksigen dan stok karbon. Dengan membandingkan jumlah oksigen yang dihasilkan dari jumlah pohon sebanyak 684 yang terdapat di KRJP sebanyak 22.096.8 ton oksigen per tahun, dengan jumlah penduduk kota Parepare tahun 2017 yakni 142. 097 jiwa. Kebutuhan oksigen per jiwa per tahun adalah 43.566.9 ton oksigen pertahun. Dengan 49

demikian KRJP telah memberikan kontribusi oksigen sebesar 50,72 persen bagi penduduk kota Parepare dan berlangsung terus menerus sepanjang tahun. Ayo menjelajah di KRJP, meski satu destinasi namun beragam fungsi yang dapat diperoleh. Bumi ini sangat indah maka jelajahilah. Daftar Pustaka http://kebunrayadaerah.krbogor.lipi.go.id/kebun-raya- jompie-parepare.html http://www.krbogor.lipi.go.id/id/isirow/isi_statis/45 https://www.celebes.co/kebun-raya-jompie-parepare https://blog.reservasi.com/kebun-raya-jompie/ https://disporapar.pareparekota.go.id/kebun-raya- jompie/ 50


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook