dan malamnya kami lakukan Tahlilan atau sholawat bahasa kitanya. Dikatakan pesta ini tidak mengundang warga kampung yang biasanya kami undang. Namun rumah tetap dihiasi dengan pelaminan adat Minang, kedua pasangan pengantin dipasangkan suntiang, tetangga banyak yang heran kenapa keluarga kami pesta tidak mengundang? Padahal ini hanya bukti rasa syukur kami bahwa keluarga besar kami bisa berkumpul bersama. Hal ini kami lakukan karena masih dibalut rasa khawatir, jangan-jangan antara keramaian nanti dibubarkan oleh aparat itulah yang menjadi alasan terutama buat kami. Jadi yang berkumpul di sini hanyalah keluarga besar Datuk Manan. Dengan demikian kedua pengantin bebas berfoto untuk mengambil dokumentasi tanpa tamu undangan yang biasanya banyak sekali. Kedua pengantin bisa berfoto di sawah dekat rumah. Keesokan harinya Kami pergi berjalan-jalan ke lembah Harau mengajak sanak saudara para ipar, besan yang datang dari rantau. Sumatera Barat ini memang surganya dunia banyak sekali alam yang indah terhampar di hadapan kita. Banyak sekali objek wisata yang bisa kita kunjungi. Alamnya yang sejuk bumi yang indah air terjun yang mengalir bening bak cermin. Kita bisa mandi-mandi, bersepeda, berkuda, paralayang, outbound, berenang, cottages untuk penginapan juga tersedia. Spot berfoto yang indah 201
banyak sekali, bahkan di sini juga sudah didirikan yang namanya kampung Eropa harga tiket masuk Rp.30.000,- di dalamnya kita juga bisa berfoto ala-ala Eropa, China, Jepang dan banyak sekali. Pakaiannya pun disediakan untuk sewa pakaian Rp.20.000,- kita sudah bisa puas berfoto ala Eropa. Objek wisata selanjutnya air terjun (air terjun Donat, Sarasah Bunta, Air Terjun Aka Barayun dan lain sebagainya) apalagi kalau musim hujan kita akan melihat indahnya perbukitan yang dikelilingi oleh batu-batu cadas berwarna putih, coklat abu-abu pelangi merah, yang dihiasi lumut hijau, perjalanan dari gerbang untuk sampai ke air terjun, kita disambut oleh hamparan sawah bak permadani hijau yang membentang menyambut dengan selamat datang. Sumatera Barat memang gudangnya tempat wisata, kabupaten 50 kota saja memiliki 33 objek wisata alam 9 objek wisata sejarah 6 objek wisata budaya dan objek wisata arkeologi. Di sekian banyak objek wisata yang ada di Sumbar salah satu yang menjadi maskot buat saya liburan hari ini adalah Lembah Harau yang tepatnya di kecamatan Harau Kabupaten Lima puluh Kota. Disebut lembah karena objek wisata ini merupakan hamparan tanah luas yang diapit oleh tebing tebing tinggi dengan posisi tegak lurus dari permukaan tanah seperti ditanam indah bak surga yang terdampar. 202
Lembah Harau (Dokpri) Lembah Harau ini sudah mulai dikenal mulai dari Sumatera Utara, Aceh, Riau, Bengkulu, Lampung, bahkan sampai ke pulau Jawa. Karena tempat inilah yang menjadi destinasi favorit bagi wisatawan saat menghabiskan liburan mereka, bahkan banyak traveller di Indonesia berkunjung ke lembah Harau. Lembah Harau sudah masuk ke dalam daftar kunjungan destinasi terfavorit karena pesona yang disuguhkan memang sangat luar bisa. Di sini juga banyak penduduk desa yang berjualan bunga Anggrek dengan bermacam-macam warna dan berbagai jenis paku, yang bisa kita beli dengan harga terjangkau. Lembah subur yang ditutupi batu-batu pasir terjal berwarna-warni setinggi 100-500 m diatas permukaan tanah. Bukit-bukit indah yang terdapat di lembah ini di antaranya bernama bukit Jambu bukit Tarantang bukit Singkarak dan bukit air putih. Dari atas perbukitan inilah turunnya air terjun yang kita bisa 203
nikmati. keindahan Lembah Harau ini sudah dikenal semenjak zaman Hindia Belanda begitu megah dan sangat menakjubkan ini. Lembah Harau adalah sebuah ngarai dekat Kota Payakumbuh di Kabupaten Limapuluh Kota, jika dari bandara Internasional Minang Kabau (BIM) kira 4 jam perjalanan dengan Bus dan 30menit dari pusat Kota Payakumbuh Provinsi Sumatra Barat. Lembah Harau diapit dua bukit cadas terjal dengan ketinggian mencapai 150 meter berupa batu pasir yang terjal berwarna-warni, dengan ketinggian 100 sampai 500 meter. Topografi Cagar Alam Harau adalah berbukit-bukit dan bergelombang, yang akan memanjakan mata kita. Tinggi dari permukaan laut adalah 500 sampai 850 meter, bukit tersebut antara lain adalah Bukit Air Putih, Bukit Jambu, Bukit Singkarak, dan Bukit Tarantang. Berjalan menuju Lembah Harau amat menyenangkan. Dengan udara yang masih segar, anda bisa melihat keindahan alam sekitarnya. Tebing-tebing granit yang menjulang tinggi yang sangat bagus sekali untuk melakukan olah raga panjat tebing, dengan bentuknya yang unik mengelilingi lembah. Tebing-tebing granit yang terjal ini mempunyai ketinggian 80 meter hingga 300 meter. Sangat bagus untuk memacu adrenalin. 204
Air Terjun Bertingkat Air terjun yang bertingkat -tingkat di sini juga terdapat sebuah monument peninggalan Belanda yang terletak di kaki air terjun Sarasah Bunta, yang merupakan bukti bawah Lembah Harau sudah sering di kunjungi orang sejak tahun 1926. Apa lagi kalau kita berkunjung di musim hujan kita akan di suguhkan pemandangan air terjun nan indah, tambah lagi jika kena pantulan cahaya matahari kita bisa melihat pelangi di sekelilingnya, karena percikan air yang mengudara. Airnya yang jernih bisa untuk bercermin diri dan sejuk, sedingin salju membuat kita tergoda untuk berenang menceburkan diri ke dalamnya menghilangkan segala kepenatan dunia. Sungguh sangat menakjubkan, akan sangat merasa rugi kalau kita berkunjung ke Sumatra Barat tanpa singgah ke Lembah Harau. 205
Hamparan sawah di sekitar Lembah Harau Menyaksikan hamparan sawah nan indah itu sudah biasa, namun jika hamparan sawah itu diapit oleh tebing tegak lurus yang menjulang ke langit tinggi, orang pasti akan berdecak kagum. Sepanjang mata memandang kita melihat sawah yang luas membentang menunggu dengan selamat datang, bak permadani hijau yang sedang terbentang. Pemandangan nan eksotis itu bisa kita lihat di Lembah Harau, keindahan masih bertebaran di dataran tingginya. Di sana ada cagar alam margasatwa. Lembah Harau yang seluas 270,5 hektar/2. 705km². tempat ini ditetapkan sebagai cagar alam sejak 10 Januari 1993. 206
PROFIL PENULIS Penulis berdarah Minang asli, tepatnya lahir di Barulak Kabupaten Tanah Datar pada tanggal 26 Desember 1973. Baru menggeluti dunia menulis mulai dari akhir September 2018. Berawal dari bimbingan sang guru dengan tabah dan yakin serta kepiawaian beliau, Bunda Sri Sugiastuti yang selalu mensupport penulis. Berkat tangan dingin beliaulah penulis sudah menyelesaikan, 3 buku tunggal (“Guru yang di Rindu” Karya pertama, disusul dengan buku “Role Play Tingkatkan Keterampilan Siswa” serta sebuah buku kumpulan puisi dengan judul “Goresan Aksara Jiwa”) dan menjadi kurator 3 buku Antologi di group Pegiat Literasi Digital. Selanjutnya juga telah berhasil mengajak para peserta didik di SMK Negeri 1 Sungai Rumbai untuk berkarya, yang telah menelurkan 2 buku Antologi Puisi yang ber judul “Aksara Penuh Makna” dan “Tentang Mimpi Kita”. Yang bekerja sama dengan GMB (Gerakan Menulis Buku)-Indonesia. Semoga literasi di Nusantara makin maju dan berkembang bak jamur tumbuh. Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin. 207
208
WISATA RELIGI DI BALI PURA PUCAK SINUNGGAL Kadek Widiadnyani 1. Pura Pucak Sinunggal Pura Pucak Bukit Sinunggal merupakan salah satu Pura Dang Kahyangan yang ada di Bali Utara. Pura ini terletak di Desa Tajun, Kubutambahan. Menurut sejarahnya yang dalam buku “Pura Bukit Tunggal Dalam Prasasti” disusun Ketut Ginarsa, Balai Penelitian Bahasa, Singaraja, 1979, sebelum tahun 914 Masehi pura ini menjadi milik raja yang dipuja masyarakat Bali Utara pada zaman itu. Secara administratif Pura Bukit Sununggal terletak di Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kebupaten Buleleng. Seperti namanya, Pura ini terletak di sebuah bukit dengan pemandangan yang asri yang dikenal dengan Bukit Sinunggal. Berdasarkan prasasti Raja Sri Kesari Warmadewa pada tanggal 19 Agustus 914, Pura Gunung Sinunggal yang dahulu disebut Hyang Bukit Tunggal terdapat di Desa Air Tabar, daerah Indrapura. Desa Indrapura kini disebut Desa Depeha. Sedangkan yang memelihara Pura Bukit Tunggal itu adalah Desa Air Tabar. Di desa itu terdapat tokoh- tokoh masing-masing Mpu Dahyang Agenisarma, Sri Naga, Bajara dan Tri. 209
Gambar 01.Pura Bukit Pucak Sinunggal Keempat tokoh masyarakat itu Berpangkat Ser Tunggalan, Lampuran. Mereka bertugas mempersatukan masyarakat desa serta melaporkan keadaan dan peristiwa yang terdapat di Desa Air Tabar dan sekitaran Pura Bukit Tunggal kepada Sri Paduka Raja Kesari Warmadewa di Istana Singhamandewa. Padda saat itu Istana Singhamandewa terletak di antara Desa Bedulu dan Desa Pejeng sekarang. Sementara di Jeroan terdapat Pelinggih Utama Meru Tumpang Pitu lingih Ratu Batara Lingsir Pucak Bukit Sinunggal Ratu Manik Astagina. Di meru itu terdapat pula Patung Batara Ganesa, dan Pelinggih Ida Sang Hyang Pasupati. Di sebelah barat meru ini terdapat Linggih Ratu Ayu Melanting dan Ratu Gede Dalem Ped (Ratu Bagus Macaling). Di sebelah timur terdapat jejeran tujuh pelinggih yang merupakan pengayatan Sapta Dewata, terdiri atas Ratu Lempuyang, Besakih, Danu Batur, 210
Andakasa, Batukaru, Manik Gumawang dan Ratu Puncak Mangu dan terdapat pula patung ke jurusan Segara Majapahit. Menurut sejarah, Ratu Batara Lingsir Pucak Bukit Sinunggal Ratu Manik Astagina sudah ada sejak abad ke- 5. Beliau datang dari Gunung Himalaya, India diiringi Batara Ganesa. Karena itu Ganesa terdapat di dalam pelinggih utama di Meru Tumpang Pitu (7) itu. Selain itu, Pura Bukit Sinunggal juga sering disebut “Besakih”-nya Buleleng lantaran semua pelinggih yang ada di Besakih terdapat pula di pura ini. Menurut Jero Mangku, hal tersebut dikarenakan alasan teknis. Pada zaman dulu karena kesulitan kendaraan, masyarakat Bali Utara menemui hambatan bila hendak menuju Pura Besakih. Padahal mereka harus melaksanakan upacara meajar-ajar usai upacara ngaben ke Pura Besakih, Karangasem. Untuk mengatasi kesulitan perjalanan itu, dibuatkanlah pelinggih seperti di Besakih agar warga Bali Utara bisa menuntaskan upacaranya di Tajun saja. Dalam sejarahnya disebutkan bahwa pada abad ke 5 Ida Bhatara sudah melingga di pura ini yang konon hadir dari Gunung Himalaya, India diiringi Batara Ganesa. Karena itu Ganesa terdapat di dalam pelinggih utama di Meru Tumpang Pitu. Didalam Prasasti Hyang Bukit Tunggal juga disebutkan bahwa Pura Bukit Sinunggal dulunya disungsung oleh raja raja dari seluruh bali. Pura Bukit Sinunggal terletak di sebuah bukit, dengan 211
ketinggan kurang lebih 600 m diatas permukaan laut. Untuk sampai di utama mandala pura, kita harus menaiki 113 anak tangga sepanjang kurang 300 meter. Menurut penuturan Pemangku Pura, para pemedek yang ingin tangkil ke pura ini harus terlebih dahulu membersihkan diri di Beji Pura Air Tabar, kemudian ke Pura Dasar Bhuwana, tempat melinggih-nya Batara Siwa Budha, barulah ke Pura Bukit Sinunggal. Sebelum sampai di utama mandala, di areal paling bawah, terdapat sebuah candi bentar dengan dua buah apit lawang di kanan kirinya.Di pelataran ini terdapat sebuah pelinggih yang disebut dengan Pelinggih Empulawang sebagai Stana Bhtara Ratu Bagus Manik Ulap. Sebelum menuju pura utama, hendaknya kita terlebih dahulu menghaturkan sembah di pelinggih ini. Secara sekala, pelinggih ini merupakan penjaga, sebelum memasuki areal tersuci pura. Dari areal ini kita dapat menaiki beberapa buah anak tangga yang akan mengantarakan kita menuju utama mandala. Di tengah perjanan, berdiri sebuah pelinggih yang disebut dengan Pelinggih Lebuh. Fungsi pelinggih ini adalah pengayatan ke Bhatara Segara. Kesucian hati dan fikiran merupakan syarat mutlak untuk memuja beliau disini. Disebelah meru, berdiri sebuah Padma yang merupakan Lingga Stana Ida Hyang Pasupati. Tepat di depan Padma, berdiri sebuah pohon beringin besar dengan pelinggih yang ada dibawahnya 212
sebagai Stana Ratu Ayu Mas Melanting. Di sebelah pohon beringin, berdiri sebuah pelinggih sebagai pengayatan Ratu Gede Dalem Ped, dan Pelinggih Ratu Ngurah Tangkeb Langit atau Ratu Wayan Tebeng. Di sisi kanan meru berdiri beberapa pelinggih sebagai pengayatan Sapta Dewata yaitu pura Lempuyang, Besakih, Batur, Batukaru, Andakasa, Pucak Mangu, Dan Beratan. 2. Pura Goa Raja Pura ini berada di tengah goa di sebelah air terjun. Di dalam goa yang memiliki tinggi sekitar 3 meter ini, terdapat sebuah pelinggih yang dijaga oleh 3 ekor patung naga yaitu Naga Taksaka (Iswara), Naga Anantaboga (Brahma) dan Naga Basuki (Wisnu). Sedangkan palinggihnya itu adalah melambangkan dari Stana Dewa Siwa. Pura Goa Raja Tajun berada di Desa Tajun, Kubutambahan, Buleleng. Pura ini ada kaitannya dengan kisah Naga Gombang yang dihukum karena tak bisa menelan Puncak Bukit Sinunggal. Pura Goa Raja berada di kedalaman 177 meter di dasar jurang di Desa Tajun, Kubutambahan. 213
Gambar 02. Area dalam dan luar Pura Goa Raja “Sumber mata air ini tidak berasal dari kelebutan ataupun pancuran. Namun anehnya gentong yang di dalam goa tersebut selalu terisi. Ini yang cukup unik. Air inilah yang diyakini mampu melebur Dasa Mala serta Papa, Klesa, Lara Roga. Banyak yang telah membuktikan,” kata Jero Nyoman Sukrai. Keberadaan Pura Goa Raja disebutkan Jero Nyoman Sukrai tidak lepas dari kisah Naga Gombang yang menjalani hukuman akibat tak mampu menelan Puncak Bukit Sinunggal. Ia pun menuturkan berdasarkan cerita dari para leluhurnya, jika Naga Gombang melihat keberadaan Pura Bukit Sinunggal dari Pulau Jawa sangatlah kecil. Karena terlihat kecil, Naga Gombang dengan sombongnya ingin menyantap habis bukit Sinunggal. Namun setelah ia datang ke Bali dan melihat dari jarak dekat ternyata Pura Bukit Sinunggal sangatlah besar. 214
“Naga Gombang berusaha sekuat tenaga untuk menyantapnya, dililitnya Puncak Bukit Sinunggal, namun gagal. Hingga akhirnya Naga Gombang dihukum oleh Dewa yang beristana di Pura Bukit Sinunggal. Kepalanya itulah yang berada di dasar jurang di pura Goa Raja. Sedangkan darah yang tercecer itu menjadi wilayah tanah barak (daerah di Tajun) dan otaknya juga tercecer menjadi wilayah tanah putih dan ekornya berada di Desa Bila.” 215
PROFIL PENULIS Terlahir dengan nama Kadek Widiadnyani, Lahir di Desa Tajun pada Tanggal 15 Agustus 2000. Lulus SD tahun 2012. Lulus SMP tahun 2015. Lulus SMA tahun 2018. Mulai Kuliah di Universitas Pendidikan Ganesha (Singaraja,Bali) pada tahun 2018, dengan mengambil Jurusan Ilmu Pendidikan Psikologi Dan Bimbingan / Bimbingan Konseling (saat ini duduk di semester 6). Aktif diberbagai perlombaan bidang literasi tingkat nasional dan internasional. Penulis bisa dihubungi melalui: [email protected] atau WA 083117261495. dan IG kadekwidiadnyani15, FB Kadek Widiadnyani Alamat Youtube: https://www.youtube.com/channel/ UCLj2spcNB-rfJuUbLwvQcXQ Wattpad: https://my.w.tt/UCISENxvobb 216
WISATA PANTAI PASIR PUTIH KRUENG RAYA ACEH BESAR Elvida Pantai Pasir Putih di Kab. Aceh Besar (Dokpri) Liburan selalu dinanti oleh setiap anak-anak pada akhir tahun. Tidak ada alasan untuk tidak mengajak mereka untuk berlibur walaupun tidak jauh meski masih di dalam daerah sendiri. Liburan kali ini pun tidak dapat pergi jauh di karenakan pandemi Covid-19. Tapi mengingat anak-anak selalu bertanya kapan kita pergi liburan, saya pun tidak tega mendengar ocehan mereka dan saya juga tidak bisa melihat anak anak bersedih. Sebelum pandemi Covid-19 ini saya dan keluarga selalu melakukan perjalanan kemanapun sehingga anak-anak merasa puas dan menikmati wisatanya dengan baik dan menyenangkan. Sabtu, tanggal 26 Desember 2020 tepatnya jam 09.00 WIB pagi, saya beserta keluarga pergi berlibur ke 217
Pantai Pasir Putih yang berlokasi di Kabupaten Aceh Besar. Selama perjalanan saya sangat terkesan dengan keindahan alamnya. Jalannya berkelok-kelok seperti gelombang dengan suasana pegunungan yang sangat indah. Begitu besar anugerah Tuhan yang maha kuasa. Sesampainya di pantai saya dan keluarga segera mencari tempat yang teduh untuk duduk sambil menikmati suasana indahnya pantai. Di daerah tersebut saya sekeluarga menghabiskna waktu untuk berwisata. Anak- anak begitu senang dalam bermain dan mandi di pantai yang sangat bersih dari sampah. Kami sekeluarga menghabiskan waktu hingga menjelang sore hari. Setelah mereka puas dengan aktivitas mandinya akan tetapi mereka enggan meninggalkan tempat tersebut karena masih ingin main dan bersantai di tepi laut sampai menunggu sunset atau matahari terbenam. Sambil menunggu matahari terbenam kami menikmati pemandangan di alam sekitar yang sangat indah. Suasana menjelang sore hari di tepi pantai yang sangat indah dengan air lautnya yang sudah mulai pasang dan deburan ombak yang sangat riuh dan semirir angin yang begitu membuat hati dan perasaan. Semua orang pasti sudah mengetahui ,merasakan dan menikmati indahnya sunrise atau pun sunset. 218
Saya bukan lah pemburu sunrise atau sunset tapi sekali kali kalo saya ke pantai pasti saya tunggu sampai matahari terbenam karena dengan melihat keindahannya maka kita dan saya khususnya lebih bisa melihat betapa Suasana senja di Pantai Pasir Putih besarnya dan indahnya ciptaan Tuhan sehingga kita akan lebih banyak bersyukur akan nikmat yang diberikan-Nya. 219
Dibalik dari keindahan ini tersimpan banyak makna mengenai realita kehidupan yang mana apapun yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi maka tika tidak boleh menyombongkan diri karena itu semua tidak kekal. Seperti matahari terbit di timur terbenam di barat begitulah realita kehidupan kita sekarang ini. Ada waktu kita senang dan berjaya ada waktu kita susah itulah kehudupan. Semua keindahan dan kepuasan bermain sudah kami dapat dan sebelum saya dan keluarga pulang meninggalkan pantai sekali lagi saya mengambil gambar yang tidak kalah indahnya suasananya menjelang magrib tiba. Pantai sudah sepi dari aktivitas dan suasananya sangat tenang hanya suara deburan ombak yang masih terdengar. Saya dan keluarga meninggalkan pantai untuk pulang kerumah dengan hati yang senang riang gembira. 220
PROFIL PENULIS Elvida,S.Si Lahir di Bireun, 11 November 1977. Pendidikan terakhir di Universitas Syiah Kuala FMIPA Jurusan KIMIA lulus tahun 2002. Saat ini berprofesi sebagai Guru KIMIA di SMA N 1 Dewantara. Alamat Rumah: Jln. Kenanga no 4, Perumnas ABRI Tambon Tunong, Kec. Dewantara Aceh Utara. Penulis dapat dihubungi 085261843838 atau 085278387604 Email : [email protected] 221
Spring is nature’s way of saying, ‘Let’s party!’ —Robin Williams 222
WISATA RELIGI PANTAI NGOBARAN Burhanudin Tsani Patung burung di tebing laut lepas Pantai Ngobaran terletak di pesisir selatan yaitu di gugusan lautan pantai selatan Jawa khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta yang tepatnya di Desa Kanigoro Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul. Terpaut 2 km dari Pantai Ngrenehan di sebelah timurnya yang menjadi tempat penambatan perahu nelayan dan tempat jual beli ikan. Sebelah baratnya dengan berjalan sekitar 3 menit sudah sampai ke Pantai Nguyahan yang lebih luas dan berpasir putih. Wisata alam yang satu ini pantainya berbatu karang dan sebagian pantai yang landai dan berpasir putih cocok untuk bersantai dan bermain air bersama keluarga. 223
Pantai Ngobaran sudah terlihat kesakralannya dan religiusnya saat wisatawan memasuki wilayah pantai dengan terlihat Pura umat Hindu yang cukup megah menjulang serta terlihat musola yang menghadap ke lautan dan Pura Prasasti yang berada di atas bukit serta Masjid yang berada di bawahnya. Lokasi pantai ini tidak begitu jauh dari Kota Yogyakarta sekitar 60 km atau 1,5 sampai 2 jam perjalanan dan 25 km dari Kota Wonosari. Tiket TPR (Tempat Pemungutan Retribusi) di kawasan wisata pantai ini juga cukup murah hanya Rp 5.000 per orang dan untuk parkir motor Rp 3.000 serta parkir mobil Rp 5.000. Terdapat warung di sekitar parkir dengan aneka jajanan dan makanan khas gunungkidul serta pernak pernik cinderamatanya serta spot-spot foto selfi juga tersedia sangat bagus dan alami. Riwayat Pantai Ngobaran Tahun 1400 - an sang Raja kerajaan Majapahit Sinuhun Kertabumi atau Raja Brawijaya V yang berkeyakinan Hindu atau Syiwa Kabudhan atau Budha Kasyiwan berputerakan Raden Patah. Sekembalinya dari menuntut ilmu di Palembang sang putra Raden Patah sudah memeluk agama Islam dan sesampai di kerajaan meminta sang raja Brawijaya V untuk memeluk Islam dan meminta tahta kerajaan. Karena sebuah Sabda Pandhita Ratu Tankena Wolawali atau sebuah sabda raja tidak bisa berbolak balik maka sang raja dengan sangat bijak dan menghindari segala perselisihan maka mengasingkan diri 224
kearah barat sampai ke kawasan Hutan Sawar yang lebat dan sekarang sekarang dikenal dengan namanya Gunungkidul. Dalam pengasingannya di Hutan Sawar, Sang Raja Kertabumi bersama istri-istriya dijaga para Punggawa kerajaan yang ditempatkan dibeberapa titik di sisi hutan. Raja juga melakukan semadi dan pertapaan di Gua Sentono atau pertapan Sentono yang berada di tebing pantai. Untuk pemandian sang Raja dan para istri berupa sendang Sentono yang berada di dekat pantai tetapi berair tawar dan hanya bisa dimasuki satu orang saja. Setelah beberapa lama dalam pegasingannya sang Raja yang disertai kedua istrinya yaitu Dewi Anorowati dan Dewi Lowati terlacak oleh pasukan Kerajaan Demak. Sang raja bertanya kepada istri Dewi Anorowati “Sebesar apakah cintamu kepadaku wahai istriku?“ “Cintaku kepada Paduka Raja sebesar Gunung Anakan.“ Jawab sang istri Dewi Anorowati. Begitupun kepada istri Dewi Lowati dengan pertanyaan yang sama. “Sebesar apakah cintamu kepadaku wahai istriku?“ “Cinta hamba kepada Paduka Raja seperti kuku hitam yang akan terus tumbuh walaupun dipotong“. Kemudian Sang Raja bersabda setelah pasukan Demak semakin dekat. 225
“Hai terbakarlah Hutan Sawar ini sampai berkobar- kobar“. Sang raja melompati kobaran api dari hutan yang terbakar hebat dan bisa melewatinya kemudian istrinya Dewi Lowati pun bisa melompati dan diikuti anjing setianya yang berjuluk Belang Yuyang. Sang istri Dewi Anorowati tidak ikut serta karena jawaban cintanya kepada sang Raja hanya sebesar Gunung Anakan. Pasukan Demak mencium bau menyengat daging yang terbakar yang sebenarnya adalah sang Belang Yuyang atau anjing setianya yang tidak bisa melewati kobaran api dari hutan yang terbakar. Dari api yang berkobar-kobar itulah asal mula istilah nama Pantai Ngobaran yang mempunyai makna api yang berkobar-kobar atau semangat yang menyala-nyala. Napak Tilas Dan Ritual Religius Tiga pintu masuk ke Pura 226
Tahun 1970 hutan belantara Sawar mulai dibuka dan ditebangi oleh Eyang Kerto Sentono atau Mbah Kruduk atas perintah Dorodjatun atau Sultan Hamengkubuwono IX karena hanya Sinuhun lah yang berhak dan bisa membuka Hutan Sawar. Setelah Hutan Sawar dibuka kemudian banyak para keturunan Raja Majapahit Brawijoyo V melakukan napak tilas di pantai Ngobaran yang sakral. Pada tahun 1980 didirikan Pelinggih Catur Muka Lingga Yoni berupa Candi Kecut yang menandakan bahwa Raja Brawijaya V pernah muksa di daerah tersebut. Pura yang berisi Prasasti Kejawen juga didirikan pada tahun 2004 oleh bapak Agung Riyadi Trah Bondan Kejawen dari Keturunan Brawijaya V dengan maksud untuk menandai dan memperingati serta mengingat keberadaan leluhurnya. Di atas pantai juga dibangun Musola yang menghadap ke selatan yang sekarang dipakai sembahyangan oleh umat Kejawen. Untuk umat Islam juga telah didirikan Masjid di bawah Pura Prasasti Kejawen dan pembangunan selanjutnya akan didirikan Gereja untuk umat Kristen. Aktivitas ritual umat Hindu terus berlangsung dari sembahyangan bulan Purnama dan sembahyangan nulan Mati serta perayaan Melasti. Pura Ngobaran mulai dibangun pada tahun 2005 untuk menampung umat Hindu di daerah Gunungkidul dan sekitarnya. Terlebih disaat perayaan hari raya Melasti yang bisa dihadiri oleh 227
tiga ribu umat Hindu dari berbagai daerah. Acara perayaan keagamaan Melasti di Pantai Ngobaran adalah yang terbesar yang dilaksanakan 10 hari menjelang perayaan Hari Raya Nyepi. Rangkaian tersebut sebelumnya dilakukan Melasti di pantai Parangkusumo Bantul dan puncak acara perayaannya adalah pada Perayaan Tawur Agung di Candi Prambanan. Dari kebhinekaan tempat ibadah dan ritual keagamaan inilah kesakralan dan kerelegiusan kawasan Pantai Ngobaran menunjukkan diri untuk pantas dan layak dikunjungi para wisatawan baik lokal maupun nasional. Serasa di pulau Dewata ketika kita mengabadikan segala aktivitas ritual sembahyangan agama Hindu ataupun hanya sekedar mempergunakan busana Bali yang sudah disediakan pengelola wisata untuk mengabadikan foto dan video di kawasan wisata tersebut. Selamat menikmati wisata alam yang sakral dan religius ini. ( Naskah disarikan dari wawancara dengan Surakso Kadar seorang Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat yang dipercaya dan ditugaskan di pantai Ngobaran. Sebelumnya adalah Surakso Sentono yaitu ayahnya yang juga Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat serta kakeknya yaitu Mbah Parjan atau Marjo Sentono ). 228
PROFIL PENULIS Burhanudin Tsani dalam banyak tulisannya biasa menggunakan nama pena B. Tsany . Lahir di Bantul DIY 16 Mei 1969. Suka menulis ketika SMA dengan tema tulisan cerpen remaja dan puisi. Semasa mahasiswa Jurusan Kesehatan dan Rekreasi FPOK IKIP Yogyakarta sudah mulai terbiasa menulis dan dimuat di berbagai surat kabar dan majalah kesehatan. Pernah 10 tahun menjadi Sport Therapist di Rumah Sakit swasta dan sekarang mengabdi menjadi ASN di Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul. 229
230
WISATA ALAM DAN SEJARAH DI KABUPATEN NGAWI Rita Wati Saya berkesempatan berkunjung di Kabupaten Ngawi awal mulanya pada tahun 2007. Ketika itu karena saya mendapatkan suami yang berasal dari sana. Mertua saya tingal di lereng Gunung Lawu hawa yang sangat dingin dengan pemandangan alam yang sangat indah. Rutinitas pulang kampung ketika liburan sekolah dan ketika hari raya Idul Fitri membuat saya memiliki kesempatan berkunjung di beberapa objek wisata alam maupun wisata sejarah yang terkenal di Kabupaten Ngawi. Berikut beberapa objek wisata yang patut dikunjungi ketika berada di Ngawi. 1. Benteng Van Den Bosch Kali ini saya akan berbagi kisah tentang kunjungan ke Benteng Van Den Bosch yang berada di Kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur. Berkunjung ke wisata 231
peninggalan sejarah selain membuat decak kagum kita juga di ajak berpikir bagaimana di masa penjajahan Belanda negara kita benar-benar di kuasai oleh mereka. Salah satu bentuk kekuasaan mereka terhadap bangsa kita mereka membangun benteng untuk pertahanan tentara mereka, salah satunya Benteng Van Den Bosch yang berada di Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Megutip dari sumber Wikipedia. Pada abad 19 Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pelayaran di Jawa Timur dan dijadikan pusat pertahanan Belanda di wilayah Madiun dan sekitarnya dalam Perang Diponegoro (1825-1830). Perlawanan melawan Belanda yang berkobar di daerah dipimpin oleh kepala daerah setempat seperti di Madiun dipimpin oleh Bupati Kerto Dirjo dan di Ngawi dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut Pangeran Diponegoro bernama Wirotani. Pada tahun 1825 Ngawi berhasil direbut dan diduduki oleh Belanda. Untuk mempertahankan kedudukan dan fungsi strategis Ngawi serta menguasai jalur perdagangan, Pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah benteng yang selesai pada tahun 1845 yaitu Benteng Van Den Bosch. Benteng ini dihuni tentara Belanda 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri dipimpin oleh Johannes Van Den Bosch. 232
Benteng Van Den Bosch, lebih dikenal sebagai Benteng Pendem adalah sebuah benteng yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Benteng ini memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m dengan luas tanah 15 Ha. Lokasinya mudah dijangkau yakni dari Kantor Pemerintah Kabupaten Ngawi kurang lebih 1 Km arah timur laut. Letak benteng ini sangat strategis karena berada di sudut pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Benteng ini dulu sengaja dibuat lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi sehingga terlihat dari luar terpendam. Bisa berkunjung di benteng ini membuat kita semakin sadar betapa beratnya kehidupan bangsa kita di zaman penjajahan. Mereka benar-benar menguasai tempat-tempat strategis yang ada di wilayah NKRI. Ketika tiba pertama kali di benteng ini kita akan melihat bangunan bergaya eropa. Selain itu di dalam benteng ini terdapat makam K.H Muhammad Nursalim, yaitu salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke Benteng ini, konon K.H. Muhammad Nursalim adalah orang yang menyebarkan agama Islam pertama di Ngawi. Harga tiket masuk ke lokasi ini cukup murah hanya Rp.5.000,- dan jam buka dari pukul 08.00 -17.00 WIB. Jika berkunjung ke Ngawi jangan lupa mampir ke Benteng Van Den Bosch ini untuk menambah wawasan dan kecintaan 233
kita terhadap tanah air untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang berjuang begitu berat melawan penjajah yang menguasai negara Indonesia berabad-abad lamanya. 2. Museum Trinil Museum Trinil (Dokpri) Objek wisata kedua yang patut dikunjungi bersama keluarga ketika liburan adalah ke Museum Trinil. Museum Trinil adalah situs paleoantropologi yang terletak di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, atau 15 km dari pusat Kota Ngawi. Museum ini merupakan tempat penyimpanan fosil manusia kera berjalan tegak atau yang dikenal dengan Phitecantropus Erectus yang ditemukan oleh Dubois pada tahun 1981 sampai dengan tahun 1892. Tidak menyangka sebelumnya pelajaran Sejarah ketika duduk dibangku SMP yang ketika itu hanya bisa dilihat dan dibaca di buku pelajaran sekarang dapat saya 234
lihat lebih dekat. Selain fosil manusia kera kita juga dapat melihat fosil banteng dan gajah purba yang sangat besar. Terbayangkan dengan fosil sebesar itu, bagaimana wujud aslinya pasti lebih besar lagi. Jika berkunjung di Kabupaten Ngawi, jangan lupa untuk study tour ke sini ya! Belajar sejarah sambil berwisata berbagai fosil beserta identitasnya yang dapat menambah ilmu pengetahuan. Selain itu di area ini juga tersedia arena permainan anak dan bumi perkemahan. Untuk ke lokasi ini tidak sulit, bisa menggunakan bantuan digital map. Untuk harga tiket masuk relatif murah, dewasa hanya Rp.3.000,- dan anak-anak cukup membayar Rp.1000,- 3. Srambang Park Srambang Park Ngawi (Dokpri) Objek wisata ketiga yang patut dikunjungi ketika berada di Ngawi yaitu wisata air terjun/ Srambang Park yang berlokasi Desa Girimulyo Kecamatan Jogorogo Kabupaten Ngawi. Srambang park untuk 235
saat ini merupakan salah satu objek wisata yang terkenal di Kabupaten Ngawi. Pengunjung dari luar kota mulai berbondong-bondong ke objek wisata yang satu ini terkhusus di hari libur. Pada mulanya wisata ini hanya merupakan wisata air terjun yang cukup deras dengan ketinggian 40 meter dengan kisah legenda Jaka Tarub dan Sang Bidadari. Dalam perkembangannya wisata ini terus dikembangkan sehingga di bangunlah Srambang Park yang diresmikan pada tahun 2017. Keindahaan alam dengan konsep taman buatan membuat pengunjung dimanjakan untuk berswa foto di sini. Untuk harga tiket masuk cukup terjangkau yaitu Rp. 15.000,- per orang. Jika berkunjung di sini hindari di sore hari karena khawatir hujan yang bisa menyebabkan longsor terkhusus di area air terjun. 4. Kebun Teh Jamus Agrowisata Kebun The Jamus (sumber.www.sakerapedia.com) 236
Keelokan Ngawi yang berada di lereng Gunung Lawu membuat tanaman tumbuh subur. Ngawi merupakan salah satu Kabupaten yang menghasilkan teh. Perkebunan teh yang terkenal di sini yaitu Kebun Teh Jamus yang berada di ketinggian 800-1200 mdpl. Udara di sekitar perkebunan ini sangat sejuk dan sering berkabut jika menjelag sore hari. Hamparan kebun teh nan elok membuat pengunjung merasakan ketenangan dan kedamaian memandang hamparan teh yang berwarna hijau. Selain melihat perkebunan teh kita juga bisa berkunjung ke pabrik pembuatan teh di Jamus. Kita bisa melihat bagaimana proses pembuatan teh salah satunya ada yang melalui proses di panggang. Teh hasil dipanggang ini berwarna kehitaman ketika kita seduh maka aroma dan rasanya seperti kopi. Itulah beberapa objek wisata yang patut dikunjungi ketika berada di Ngawi. Selain objek wisata yang disebutkan di atas masih ada beberapa objek wisata lainnya seperti Air Terjun Pengantin yang memiliki debit air kecil dan tidak tinggi hanya sekitar 5 meter, Agro Techno Park dan masih banyak lagi yang lainnya. 237
PROFIL PENULIS Terlahir dengan nama Rita Wati di Tanjung Pinang 24 September 1982. Ibu dari seorang anak ini memiliki hobi membaca terkhusus buku-buku cerita sejak kecil. Penulis berprofesi sebagai Guru, Operator, Writer dan Blogger dan Kurator. Motto hidup penulis adalah Setelah kesulitan pasti ada kemudahan dan Belajar sepanjang hayat. Saat ini Penulis menekuni dunia literasi dan blog dengan bergabung di Komunitas Belajar Menulis bersama Om Jay, AISEI Writing Club bersama Dr. Capri Anjaya, Komunitas Sejuta Guru Ngeblog dan Komunitas Cakrawala Guru Blogger Nasional. Penulis dapat dihubungi melalui : www.teruslahmenulis.blogspot.com www.catatangurumilenial.wordpress.com https://www.kompasiana.com/ritapinang www.sparepartlaptopmurah.com Facebook : Rita Wati. Instagram: @rita_pinang Email : [email protected] HP : 085219585451 238
PESONA GUNUNG NONA Etisahra Enrekang merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan. Jaraknya 281 kilometer dari kota Makassar. Waktu tempuh dari Kota Makassar sekitar enam jam dengan menggunakan jalur darat. Enrekang merupakan akses utama menuju Tana Toraja. Enrekang memiliki topografi pegunungan sehingga menyimpan sejumlah keindahan dengan berbagai objek wisata. Pesona alam enrekang tidak kalah dari Tanah Toraja. Enrekang dikenal dengan sebutan “Negeri Seribu Gunung” karena daerahnya dikelilingi oleh gunung. Salah satu diantaranya adalah Gunung Nona. Gunung Nona terletak di Desa Bambapuang Kecamatan Anggeraja Sekitar 1 kilo meter dari Kota Enrekang. Lokasinya tepat berada dijalur utama menuju toraja sehingga mudah dijangkau. Gunung Nona dijadikan sebagai ikon Kabupaten Enrekang karena gunung Nona memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan gunung-gunung yang lain yang ada diwilayah tersebut. Gunung Nona bentuknya menyerupai alat kelamin perempuan sehingga warga sekitar biasa menyebut dengan istilah “Buntu Kabobong”. Kabobong dalam bahasa Enrekang bisa dimaknai sebagai alat kelamin wanita atau Miss V. Penampakan gunung yang 239
menyerupai Miss V itu akan terlihat dengan jelas apabila dilihat secara langsung. Gunung Nona (sumber:www.kompasiana.com) Panorama alam yang begitu indah tampak di sekitar Gunung Nona. Pegunungan yang berbaris-baris, deretan bukit yang hijau, sungai yang berkelok-kelok memanjakan mata dan memberikan kesan kesejukan dan kedamaian. Pada malam hari pun keindahannya terpancar karena dihiasi oleh sinar lampu petani bawang yang bercocok tanam di kaki Gunung Nona. Sehingga tampak seperti kota metropolitan. Sungguh sangat menakjubkan. Selain itu, di hadapan gunung Nona berdiri tegak gunung Bambapuang yang menambah keindahan Gunung Nona. Untuk merasakan keindahan alam Gunung Nona akan terasa lebih lengkap apabila dinikmati sambil mencicipi makanan dan minuman khas Enrekang yang tersedia di 240
warung- warung yang berada di sepanjang jalan tepatnya di depan Gunung Nona. Dataran di bawah kaki Gunung Nona (Dokpri) lokasi wisata yang lain yang berada di sekitar gunung Nona adalah “ Kampong Buntu Macca”. Namun untuk mencapai lokasi ini pengunjung harus mendaki beberapa bukit yang sangat menguras tenaga. akan tetapi, seketika lelah dan keringat terbayarkan dengan Semilir angin dan panorama alam yang mulai memanjakan indera saat berada di atas Kampong Buntu Macca. Lokasi wisata ini dikelola oleh sekelompok pemuda yang tergabung dalam Kelompok Pencinta Alam (KPA) Laskar Bambampuang. \"Lokasi wisata ini buka dari pukul 08.00 WITA hingga pukul 17.00 WITA. Beroperasi sejak dua tahun lalu. Sengaja tidak buka pada malam hari 241
untuk menghindari human error. Pengunjungnya per hari sekitar 50 orang di hari biasa. Jumlah pengunjung meningkat jika tiba akhir pekan. Rata-rata pengunjung selain warga Kabupaten Enrekang sendiri, ada juga yang datang dari Kota Makassar. Pintu masuk Wisata Kampong Buttu macca (Sumber:Celebes.com) 242
Untuk lebih mengeksplor lagi kawasan wisata Buntu Macca, Pengelola menyediakan berbagai macam wahana permainan yang ekstrem dan memacu adrenalin seperti ayunan ketapel dan flying fox. Namun, Pengelola tidak melepaskan begitu saja apabila ada pengunjung yang ingin menikmati wahana tersebut tetapi setidaknya ada delapan orang yang mendampingi dan memastikan semua alat terpasang dengan sempurna. Mengingat lokasi permainan tersebut yang berada di atas bukit dan tebing yang tinggi. Selain itu pengunjung juga dihibur dengan tersedianya lokasi yang instagramable. Di mana pengunjung juga dapat berswafoto di sarang telur naga, perahu, vigura, ruang tamu lengkap dengan sofa,ranjang pengantin, jalan setapak,bintang,alat musik piano hingga gerbang cinta. 243
Wahana flying fox (Sumber: dakatour.com) Akhir-akhir ini, destinasi wisata Kampong Buntu Macca sangat hangat diperbincangkan di media sosial karena menawarkan sejuta pesona unik dan tentunya eksotis, yang jarang ditemukan diberbagai destinasi wisata lainnya. Konsep pengelola yang memadukan antara panorama alam dengan wahana spot foto kekinian menjadi keunikan tersendiri. Oleh karena itu tak heran jika wisata ini sangat diminati oleh masyrakat. 244
PROFIL PENULIS Etisahra, lahir di Pare-pare pada tanggal 12 Juli 1982. Anak ketiga dari enam bersaudara. Putei dari Bapak Syamsuddin dan Ibu Nursia. Pasangan Imran dan telah dikaruniai dua orang bernama Afifah Nahda Rafanda dan Ahnaf Awwab. Pendidikan terakhir penulis adalah S1 Jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Muhammadiyah Sidrap. Saat ini mengabdi sebagai guru PNS pada SMA Muhammadiyah Kalosi. Hobi penulis adalah bermain Badminton dan bernyanyi. Bergabung dengan group belajar menulis di bawah bimbingan Om Jay sebagai langkah awal penulis untuk menghasilkan sebuah karya. Tulisan Ini merupakan karya pertama,semoga kedepannya penulis semakin termotivasi untuk menghasilkan karya-karya yang lain dengan memegang teguh prinsip dan keyakinan bahwa “Tidak ada hasil yang menghianati usaha”. 245
One touch of nature makes the whole world kin. —William Shakespeare 246
THE ATTRACTION OF PAMIJAHAN BOGOR Wawat Srinawati Life is about the journey, not the destination No Trip, No Story.... Some people may ask regarding the types of activities that they can do in Bogor, which is known as a city of rain due to the high rainfall in the area, has several tourist attractions such as the Bogor Botanical Gardens, Bogor Palace, and the Batutulis Inscription. In addition, Bogor also has Kencana Park, Sempur Field, Rancamaya, Situ Gede, Setu Gunung, and several mountains as alternative tourist attractions. A tourist attraction that has been viral in Bogor recently is located in the Pamijahan sub-district. This tourist spot has many places to enjoy, from mountain views, waterfalls, tea plantations, culinary tours, accommodation / villas, all available in Pamijahan sub-district. Several tourist attractions in the Pamijahan sub-district that must be visited by local and foreign tourists are Kebun Teh Cianten, Curug Cikuluwung, Kopi tubing, Camping ground and much more. Here are some explanations; 247
1. Kopi Tubing Recently the city of Bogor has provided a hangout place that makes anyone curious to visit it. This place is called Kopi Tubing, a cafe that is suitable for Quality Time with your beloved friends, relatives and family. There, visitors will feel a different nuance, because the place is Instagram able and has a charming natural charm. Kopi Tubing Cafe and Resto is one of the culinary attractions in Bogor that has just gone viral on social media. This cafe is still very new, because it just opened on Friday, 18 December 2020. Although it is relatively new, this Coffee Tubing in Pamijahan has been visited by many visitors. Coffee Tubing is an object with Cikuluwung River Tubing tourism. So for those who want to enjoy tubing and continue drinking coffee, you can visit this tourist spot. This cafe carries a unique concept by providing a variety of food and beverage menus. 248
2. Camping Ground at Pasir Luhur Pamijahan Bogor Mount Bunder campsite is one of the many tourist attractions in the Mount Salak Endah (GSE) open-air tourism area. This camping ground is located in the coolness / freshness of the Halimun Salak mountain air and lower mountain forest (sub-montane) with the diversity and uniqueness of waterfalls which is one of the attractions in the natural tourist area of Mount Salak Endah. Camping in the shade of the canopy of merkusii pine (pine sp.), Rasamala (altingia excelsa) and mixed vegetation of lower montane forest (sub-montana) is a pro-educational and environmental alternative tourism solution in filling holidays on Mount Bunder besides waterfall tours. The campground of Mount Bunder has the same nuance as the Highland Camp camping ground in Curug Panjang, which is located in the natural tourist 249
area of Curug Panjang on the west ridge of Mount Paseban Puncak Bogor. The similarities lie in the forest element and the wealth contained therein, the feel of the mountains and the element of a waterfall. Or, with the Ciputri waterfall camping ground which is to the east of the Mount Bunder campground, these three camping spots are in a paradise for waterfalls in Bogor district and the charm of the beauty of the landscape. The proximity of the waterfall from the camping site is the difference between the Mount Bunder campground, the Curug Ciputri camping ground and the Highland Camp. The 5 waterfalls that are in the natural tourism area of Curug Panjang can be reached by walking / trekking for about 10-15 minutes, and one waterfall is at the camping location. The natural beauty of Mount Bunder in the tourist area of Mount Salak Endah has attracted the interest of some people to make tourist visits around Mount Bunder, this has made Mount Bunder's natural tourism a tourism potential in the Mount Halimun Salak National Park area. It was started in 1988. Perum Perhutani as the owner of forest management rights in RPH Gunung Bunder, BKPH Lewiliang KPH Bogor, carried out the development and management of natural tourism which was marked by the opening of a camp site known as Wana Wisata Gunung Bunder. And, in 2003 the Mount Salak area was included in the expansion area of the Mount 250
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184
- 185
- 186
- 187
- 188
- 189
- 190
- 191
- 192
- 193
- 194
- 195
- 196
- 197
- 198
- 199
- 200
- 201
- 202
- 203
- 204
- 205
- 206
- 207
- 208
- 209
- 210
- 211
- 212
- 213
- 214
- 215
- 216
- 217
- 218
- 219
- 220
- 221
- 222
- 223
- 224
- 225
- 226
- 227
- 228
- 229
- 230
- 231
- 232
- 233
- 234
- 235
- 236
- 237
- 238
- 239
- 240
- 241
- 242
- 243
- 244
- 245
- 246
- 247
- 248
- 249
- 250
- 251
- 252
- 253
- 254
- 255
- 256
- 257
- 258
- 259
- 260
- 261
- 262
- 263
- 264
- 265
- 266
- 267
- 268
- 269
- 270
- 271
- 272
- 273
- 274
- 275
- 276
- 277
- 278
- 279
- 280
- 281
- 282
- 283
- 284
- 285
- 286
- 287
- 288
- 289
- 290
- 291
- 292
- 293
- 294
- 295
- 296
- 297
- 298
- 299
- 300
- 301
- 302
- 303
- 304
- 305
- 306
- 307
- 308
- 309
- 310
- 311
- 312
- 313
- 314
- 315
- 316
- 317
- 318
- 319
- 320
- 321
- 322
- 323
- 324
- 325
- 326
- 327