["\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 11. SAKOLA ALIT \u00a0Angkutan kota Colt L-300 yang sudah tua dan kepayahan nanjak itu hanya mengantarkan mereka bertiga sampai di mulut sebuah jalan setapak. Matahari pagi terasa hangat menyentuh kulit muka setelah sekian lama mereka ter- perangkap dalam mobil. Kugy, Ami, dan Ical sejenak saling berpandangan sebelum mereka menuruni jalan tanah itu. Ini adalah hari pertama mereka resmi mengajar di Sakola Alit. Tidak ada yang bisa membayangkan apa yang akan mereka hadapi. Sambil me- nenteng masing-masing sebuah papan tulis kecil dan me- nyandang ransel yang penuh sesak dengan alat tulis dan \u00a0buku-buku, ketiga orang itu mulai melangkah memasuki ja- lan menurun yang dinaungi rimbunan pohon bambu di kiri- kanan. Setelah kurang lebih setengah jam berjalan kaki, sampai- lah mereka di sebuah masjid. Banyak anak kecil berlarian di sekitarnya. Seorang bapak berpeci yang sedang duduk sambil rmeekrao. kok, cepat-cepat bangkit berdiri dan menyambut me- 88 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 101\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cNeng Ami ... kumaha10, \u00a0 Neng? \u00a0Damang11?\u201d\u00a0 Bapak itu menjulurkan ujung tangannya untuk menyalami Ami. \u201cPak Somad, kenalkan, ini teman-teman saya yang nanti ikut ngajar,\u201d Ami memperkenalkan ketiga temannya satu per satu, \u201cPak Somad ini yang membantu mengumpulkan anak- anak dari kampung sini,\u201d Ami lalu gantian mengenalkan. \u201c\u00a0Muhun12,\u201d sahut Pak Somad, \u201chari ini baru ada lima be- las anak, Neng. Sisanya mungkin baru besok atau lusa. Mak- lum, banyak yang sambil kerja juga.\u201d \u201cNggak apa-apa, Pak. Kita mulai sekarang aja. Saungnya di sebelah mana, ya?\u201d \u201cOh, mangga, mangga.13 Diantar ku Bapa14,\u201d buru-buru Pak Somad mematikan rokok kreteknya lalu mulai me- manggili anak-anak yang tercerai-berai di sekitar masjid. Tak lama, mereka pun berjalan beramai-ramai menuju se- \u00a0buah saung yang berukuran cukup besar di pinggir ladang cabai. Sekumpulan anak itu akhirnya dibagi dalam tiga kelas. \u00a0Ami kebagian di saung besar, Ical mendapat tempat di se- \u00a0buah saung agak kecil yang terpisah sekitar seratus meter, dan Kugy kebagian di bawah pohon. Kugy pun bergegas menyiapkan \u2018\u2018ruang kelas\u2019\u2019-nya. Meng- gelar tikar plastik untuk mereka semua duduk, menyandar- kan papan tulisnya di pohon, dan membagikan buku serta alat tulis. Di hadapannya kini sudah ada lima anak dari mu- lai umur empat sampai sembilan tahun. Semuanya mengaku tidak bisa membaca dan menulis. Sejenak Kugy menghela napas, mereka-reka harus memulai dari mana. 10\u00a0 Bagaimana. 89 11\u00a0 Sehat. 12\u00a0 Betul. 102\/457 13\u00a0 Silakan, silakan. 14\u00a0 Oleh Bapak. http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSelamat pagi,\u201d sapa Kugy semanis mungkin. Tak ada \u00a0yang menjawab. Ada yang asyik mencari kutu di kepala te- mannya, ada yang langsung merobek kertas dari bukunya dan bikin kapal-kapalan, ada yang kerjanya teriak-teriak te- rus memanggili temannya di saung sebelah, dan ada juga \u00a0yang menatapnya bergeming seperti melihat hantu. Keringat dingin Kugy menetes. Laki-laki setengah baya itu berjalan menuju ruang kantornya \u00a0yang terletak di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Ia hanya mengenakan kemeja linen dan celana kain, dan begitulah ia \u00a0biasa berkantor sehari-hari. Kantornya hanya satu ruangan dari keseluruhan galeri yang luas itu. Galeri miliknya me- mang galeri terbesar di Jakarta. Ia menjalankannya hanya \u00a0berdua dengan sahabatnya, Syahrani, yang juga sudah pu- luhan tahun menjadi kolektor karya seni, dan akhirnya me- nikah dengan seorang perupa terkenal yang karya patungnya pun menghiasi berbagai sudut galeri itu. \u201cSelamat pagi, Pak Hans,\u201d sekretarisnya menyapa. \u201cPagi, Mia. Wanda sudah di dalam?\u201d \u201cSudah, Pak. Dari setengah jam yang lalu.\u201d Laki-laki itu melirik jam tangannya, \u201cWah, rajin banget dia. Pantas tadi langsung hilang dari rumah sehabis sa- rapan.\u201d \u201cMorning, Hans.\u00a0Morning, Mia,\u201d seorang ibu berkacamata menghampiri mereka. Meski nyaris polos tanpa riasan, wa- \u00a0jahnya tampak cerah. Hanya seoles tipis lipstik merah tua mewarnai bibirnya. Selendang batik membungkus lehernya seperti syal. ma\u201cnM? eStupksaegsi,?\u201dRHana.nGs immeannyaappaammeitrraannypaa.tung Teguh di Jer- 90 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 103\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cWonderful. They love it, those strange \u00a0bules,\u201d Syahrani tertawa ringan, \u201cso, how\u2019s our young and beautiful curator?\u00a0 Dia nelepon aku semalam. Sepertinya dia semangat banget, tuh. Katanya banyak dapat lukisan bagus di Bandung.\u201d \u201cTapi kali ini dia agak aneh,\u201d Hans geleng-geleng kepala, \u201cdia bahkan nggak mau kasih aku sneak preview. Tadi pagi kami sarapan bareng di rumah, lalu dia langsung meng- hilang. Ternyata sudah duluan kemari, dari setengah jam \u00a0yang lalu malah.\u201d \u201cOh, ya?\u00a0 Let\u2019s see what she got, then.\u201d\u00a0\u00a0 Syahrani ter- senyum dan menggosokkan kedua telapak tangannya seolah hendak mengantisipasi sebuah kejutan. Hans pun membuka pintu kantornya yang sedari tadi tertutup, melangkah masuk bersama mitranya. \u00a0Wanda menyambut keduanya dengan senyum merekah. Semuanya tampak sudah rapi ia persiapkan, termasuk pro- \u00a0yektor yang sudah menyala dan terhubung ke laptop-nya. \u00a0Wanda langsung menghampiri Syahrani dan memeluknya, \u201cTante Rani, \u00a0I miss you so much ....\u201d\u00a0 \u201cMiss you too, dear.\u00a0Papimu cerita, kamu semangat ba- nget mau presentasi pagi ini,\u201d kata Syahrani sambil menjawil pipi Wanda. \u00a0Wanda mengangguk mantap, lalu tanpa banyak bicara ia \u00a0ylaannggsusnugdamhemiaulpaeirmsieampkparne.seWntaansidkaanmselimdeu-lsaliiddee\u00a0fnogtaonlukkaisrayna pelukis paling senior terlebih dahulu, hingga foto demi foto \u00a0berlalu, dan Wanda tiba pada koleksi terakhirnya. Napasnya sejenak dihela sebelum mulai memberikan ulasan. Wanda tampak sedikit tegang. \u201cYang ini adalah karya pelukis muda. Menurut saya dia sangat gifted.\u00a0 Karyanya segar, otentik. De- pnrgoasnpemkalnuaajrebmiaesna.y\u201dang baik, menurut saya dia bisa punya 91 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 104\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSiapa namanya? Keenan?\u201d tanya Syahrani sambil mem- \u00a0baca-baca arsip yang sudah dipersiapkan Wanda di meja. \u201cIya. Dia yang temannya Noni di Bandung itu, Papi.\u201d \u00a0Wanda berkata sambil melirik ayahnya. \u201cSudah pernah pameran?\u201d tanya ayahnya. \u00a0Wanda menghela napas. Ia sudah menduga pertanyaan itu pasti muncul. \u201cBelum,\u201d jawabnya. \u201cPernah masuk di galeri mana?\u201d Syahrani ikut bertanya. Pertanyaan kedua yang pasti muncul. \u201cBelum pernah,\u201d \u00a0jawab Wanda lagi. Syahrani dan Hans berpandang-pandangan. \u201cWell,\u201d Hans \u00a0berdehem, \u201ckalau soal dia berbakat, saya setuju. Otentik? Bisa jadi. Tapi, anak ini kelihatannya masih berproses dan \u00a0belum mencapai titik kematangannya sebagai pelukis. Saya lihat dia seperti masih mencari identitas. Kasih satu-dua ta- hun lagi, mungkin dia baru layak masuk ke Warsita.\u201d Ekspresi Wanda seketika berubah. Mulutnya mengerut. \u201cPapi, tapi saya yakin dia punya sesuatu. \u00a0He\u2019s like a raw diamond ....\u201d\u00a0 \u201cPersis,\u201d sahut ayahnya santai, \u201craw\u2014mentah. Dia bagus, tapi mentah.\u201d \u201cSaya setuju dengan semua poin kamu, Hans,\u201d Syahrani angkat bicara, \u201ctapi ada faktor lain yang bisa jadi pertim- \u00a0bangan, yaitu kejelian Wanda melihat talenta baru. Warsita memang terkenal dengan koleksi karya-karya pelukis mapan, tapi nggak ada salahnya galeri ini juga memulai membuka peluang untuk pelukis baru. Ini bisa jadi kredit buat kita \u00a0jika kelak pelukis ini berkembang bagus.\u201d Hans tersenyum kecil, \u201cSudah ada berapa puluh pelukis \u00a0baru yang antre ingin masuk sini dan kita tolak, lalu kenapa \u00a0yang satu ini bisa mendapat perkecualian?\u201d \u201cSKyaahrerannaidsieakbilearsbmedeam, ePraikpsi,a\u201d aWrsainpdKaemeneannyasemkbaalirlateggi.aAs.da 92 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 105\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 selembar foto Keenan di samping lukisannya yang ikut di- lampirkan di sana. \u201cKarena ... \u00a0I think our \u00a0 Wanda likes him.\u201d\u00a0 Muka Wanda langsung merah padam. Mulutnya siap membuka, tapi ia kehilangan kemampuannya berkata-kata. \u201cBercanda, Sayang,\u201d cepat Syahrani menambahkan sambil tertawa halus. \u201cAnak ini memang berbakat. Dan saya pikir dia layak diberi kesempatan.\u201d Hans mengangkat bahunya ringan. \u201cOke. Kita lihat saja nanti perkembangannya.\u201d Napas Wanda melega. Meski ia masih terusik dengan apa \u00a0yang dilontarkan padanya barusan, senyum puas yang me- nyembul di wajahnya sungguh tak bisa ia tahan. B a n d u n g , Feb r u a r i , 20 0 0 ... Rasa pegal yang mulai menyerang kakinya menunjukkan \u00a0bahwa sudah cukup lama ia berdiri di sana. Keenan mulai \u00a0berpikir barangkali sudah saatnya ia menyerah dan pulang. Namun, ia mengedarkan pandangannya sekali lagi, meneliti \u00a0wajah-wajah yang lalu-lalang di sekitarnya. Akhirnya, tam- pak sekelebat siluet yang ia cari. Rambut sebahu yang ter- gerai, jaket jins yang hampir setiap hari dipakai, ransel yang tampak tidak proporsional karena ukurannya terlalu besar \ue036\ue030\ue035\ue036\ue02d \ue035\ue036\ue024\ue036\ue02a \ue032\ue027\ue02f\ue023\ue02d\ue023\ue02b\ue030\ue039\ue023 \ue004\ue004\ue004\ue004 \ue03b\ue017\ue036\ue029\ue039\ue000\ue03c \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030 \ue024\ue027\ue033\ue034\ue027\ue033\ue036\ue004 \u00a0Yang dipanggil malah terus berjalan. Terpaksa Keenan mengejar dan menarik tangannya. Kugy memejamkan mata sebelum berbalik dan menyetel \ue02f\ue036\ue02d\ue023 \ue032\ue031\ue02e\ue031\ue034\ue002 \ue03b\ue014\ue027\ue02e\ue031\ue031\ue031\ue031\ue000 \ue01d\ue027\ue02d\ue023\ue030 \ue023\ue029\ue027\ue030\ue000 \ue00d\ue032\ue023 \ue02d\ue023\ue024\ue023\ue033\ue00c\ue03c Keenan menatapnya tak percaya. \u201cKamu ke mana aja?\u201d \u201c\u201cGAdy,as.a..y,\u201da jtauwhanbgKgaukgypberenrgahumbeatmah. lama-lama di kampus. 93 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 106\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Tapi gara-gara nyariin kamu, hampir setiap hari saya nong- krong di sini, nunggu di tempat yang sama, dan kamu nggak\u00a0 pernah nongol,\u201d ujar Keenan. \u201cKamu sibuk banget, ya?\u201d Baru pertama kali itu Kugy mendengar nada bicara Keenan terdengar agak emosional, tidak lagi kalem seperti \u00a0biasa. Dia seperti orang yang sungguh-sungguh kehilangan. \u201cYah, lumayan sibuk ...,\u201d Kugy kembali menjawab dengan suara berkumur. \u201cUlang tahun kamu udah lewat,\u201d kata Keenan dengan nada menyesal. \u201cUlang tahun kamu juga,\u201d balas Kugy pelan. \u201cMaaf ya, nggak sempat kasih selamat. Tapi waktu itu aku udah titip pesan ke Eko.\u201d \u201cNggak bisa ngomong sendiri?\u201d Kugy menelan ludah. Pertanyaan itu dilontarkan dengan halus, tapi sorot mata Keenan begitu menusuk, dan Kugy\u00a0 merasa seperti tertuduh. \u201cWaktu itu kan pas Wanda lagi da- tang ke Bandung, dan aku nggak mau ganggu. Kalian ber- empat kan ada acara sendiri\u2014\u201d \u201cDan saya ngundang kamu juga,\u201d potong Keenan, \u201csaya nggak pernah bikin acara itu untuk eksklusif berempat, kok. Gy, kamu sahabat saya, nggak mungkin saya\u2014\u201d \u201cNan, kadang-kadang sahabat yang baik itu justru harus tahu diri,\u201d Kugy gantian menyambar, \u201caku kan udah bilang, karena justru nggak mau ganggu makanya aku\u2014\u201d \u201cKamu sebetulnya kesal sama saya, ya?\u201d \u201cKesal\u2014soal apa?\u201d tanya Kugy tegang. Keenan mengangkat bahu, \u201cNggak tahu. Yang jelas alasan \u2018nggak mau ganggu\u2019 itu kok kedengarannya agak basi, ya.\u201d Kugy terdiam. Mana mungkin bisa jujur, batinnya. Justru alasan jujurnya yang bakal jadi juara basi. ma\u201cuSkayaasisheubenttuulknyhaadpiuanhyualsaensguatatuhubnuaktakmaumu.....\u201dTadinya saya 94 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 107\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cIt\u2019s okay,\u00a0Nan. Kapan-kapan aja,\u201d sahut Kugy cepat, sam- \u00a0bil mengusahakan senyum lebar di mulutnya. \u201cMalam minggu ini kita mau nonton midnight\u00a0\u00a0 kayak\u00a0 \u00a0biasa. Ikut, yuk. Kamu selalu ditanyain sama Mas Itok, tuh.\u201d \u201cKita\u2014berempat?\u201d Kugy bertanya hati-hati. \u201cMungkin berlima. Katanya weekend\u00a0 ini Wanda mau da- tang lagi ke Bandung.\u201d \u201cLihat nanti, ya. Aku usahain,\u201d ucap Kugy dengan nada \u00a0yang dibuat serileks mungkin.\u00a0Dua ratus persen pasti nggak bakalan ikut,\u00a0sambungnya dalam hati. \u201cLukisan saya bakal masuk ke Galeri Warsita,\u201d Keenan menambahkan, \u201cgara-gara itu Wanda bolak-balik terus ke Bandung.\u201d \ue019\ue023\ue035\ue023 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02f\ue027\ue02f\ue024\ue027\ue02e\ue02b\ue023\ue02d\ue002 \ue03b\ue021\ue023\ue02a\ue000 \ue01e\ue027\ue02e\ue023\ue02f\ue023\ue035\ue002 \ue039\ue023\ue000\ue03c \ue02d\ue023\ue02e\ue02b \ue02b\ue030\ue02b \ue02b\ue023 sungguhan tulus mengatakannya. \u201cKeenan Aquaneptunia- mania ... jadi pelukis beneran. Hebat.\u201d Keenan tergelak. \u201cSejak kapan nama saya jadi Keenan\u2014 apa tadi? Kleptomania?\u201d \u201cAquaneptumania. Resmi ditahbiskan barusan,\u201d Kugy nye- ngir. \u201cBeneran ... aku ikut senang. Kamu memang pantas kok masuk galeri seperti Warsita. Cuma masalah waktu.\u201d \u201cMakan bareng, yuk. Saya traktir. Pemadam Kelaparan?\u201d Kugy menghela napas. Perutnya sudah keroncongan sejak\u00a0 tadi. Dan tidak ada manusia lain yang paling ideal untuk\u00a0 menemaninya makan siang selain Keenan. \u201cHmm ... sori. \u00a0Aku harus cabut, ada janji dengan Ami dari Klub Kakak\u00a0 \u00a0Asuh. Kapan-kapan, ya?\u201d Keenan sejenak terdiam mendengar respons Kugy. \u201cUdah dua kali kamu ngomong \u2018kapan-kapan\u2019 ke saya hari ini. Moga-moga nggak ada yang ketiga kali,\u201d ucapnya pelan. perKtiugteyrttaukdubheraitnui mkeemnabtaalpi Kmeeennyaenralannggnsyuan. g\u201c. DPuerluaasana,nysae,\u201d- 95 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 108\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 kembali setengah berkumur Kugy berkata, dan cepat-cepat ia berlalu dari sana. Kakinya melangkah besar-besar, mata- nya terus menekuni aspal. \u00a0Kalau nggak begini, kamu akan terjebak terus, Kugy. Seperti merapal mantra, Kugy meng- ulang-ulang kalimat itu dalam hatinya. 96 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 109\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 12. JENDERAL PILIK & PASUKAN ALIT B a n d u n g , M a r et 2 0 0 0 ... Pria berkacamata itu sudah siaga berdiri dengan empat tiket \u00a0bioskop di tangan. Ada beberapa helai tiket lagi tersimpan di kantong belakang kiri dan kanan. Ini sudah menjadi pe- kerjaan tetapnya hampir setiap malam Minggu. Sejak Eko sering menitip beli tiket midnight\u00a0, banyak teman-teman Eko lainnya yang juga ikut memakai jasanya, sampai-sampai dia harus mulai mengerahkan beberapa teman untuk ikut mem- \u00a0bantu. \ue03b\ue019\ue023\ue034 \ue015\ue035\ue031\ue02d\ue000\ue03c Pria itu menoleh. Tampak rombongan Eko muncul di tangga eskalator. \u201cNah, ini buat Mas Eko dan Mbak Noni, ini buat Mas Keenan dan ... Mbak Pacar Baru.\u201d Tanpa beban, Itok me- nyerahkan tiket itu masing-masing dua lembar ke tangan Eko dan Keenan. M\u201cNearmekaa sbaeyraemWpaantdsap,oMntaasn. tTeartpaiwnag.gak pa-pa juga kalau 97 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 110\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 disebut \u2018Mbak Pacar Baru\u2019,\u201d celetuk Wanda sambil menger- ling ke arah Keenan yang berdiri di sebelahnya dengan muka memerah. \u201cMbak Kugy nggak pernah ikut lagi, ya, Mas Keenan? Resmi putus nih ceritanya?\u201d Itok mesem-mesem dengan ta- tapan haus gosip. \u201cMas Itok, jangan aneh-aneh, deh. Beliin tiket bioskop aja,\u201d Eko mulai protes. \u201cHebat Mas Keenan, ya. Mentang-mentang ganteng, pa- carnya ganti-ganti, cantik-cantik lagi,\u201d Itok masih terus ber- komentar. Transaksi pun berjalan seperti biasa, dan cepat-cepat me- reka berlalu dari hadapan Mas Itok sebelum manusia itu terus mengorek-ngorek info tidak penting. \u201cMemangnya\u2014kamu pernah pacaran sama Kugy?\u201d tanya \u00a0Wanda pelan. Keenan hanya menggeleng. Entah kenapa, ia tidak ber- selera untuk panjang lebar menjelaskan. \u201cKugy dan Keenan pacaran itu selamanya hanya akan ada di otak Mas Itok seorang,\u201d Eko menambahkan sambil ter- kekeh. Dalam hatinya, Keenan merasa tersentil dengan ucapan Eko, sekalipun tahu bahwa temannya hanya ber- canda. \u201cTauk tuh Kugy. Sibuk banget sekarang. Dia jadi guru relawan buat sekolah darurat gitu, hampir tiap hari ngajar. Pulangnya sore terus, habis itu nggak pernah keluar kamar,\u201d Noni bercerita. \u201cAneh. Emangnya dia ngajar sampai malam? Memangnya ada layar tancap midnight\u00a0 di Bojong Koneng? Kalo kata gua, ada faktor sibuk dan sok sibuk,\u201d Eko menimpali lagi. \u201cNan, are you okay?\u201d\u00a0 tibaK,edeannaniatpeursnentetarskaddaerngbaanhwpaerWtaannydaaanmWemanpdearhyaatnikgantinbyaa- 98 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 111\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 saksama sejak tadi. Sebagai jawaban, Keenan tersenyum se- kilas. \u201cBeli\u00a0popcorn, yuk,\u201d Wanda tahu-tahu menggamit tangan- nya, dan mereka berdua berjalan menuju mesin \u00a0popcorn\u00a0di dekat sana. Keenan seolah terempas ke lorong waktu. Semua ini terasa seperti dejavu. Ia mengenal adegan ini. Malam Ming- gu, tempat yang sama, mesin \u00a0popcorn\u00a0yang sama. Bedanya, orang yang bergandengan dengan tangannya waktu itu ada- lah Kugy. Bandu ng, Apr il 2000 ... Sambil rebahan di atas karpet, Ojos mengamati wajah pacar- nya sejak tadi. Rambutnya yang semakin panjang, kaus \u201cLake Toba\u201d\u2014seragam tidur favoritnya\u2014sudah semakin lu- suh, celana pendek batiknya yang berkeriut-keriut, mata \u00a0bundarnya tampak serius menekuni buku J.R.R. Tolkien \u00a0yang tebalnya minta ampun. Ojos pernah bercanda, buku setebal itu lebih cocok buat senjata melawan anjing galak\u00a0 ketimbang buat bacaan. Seumur hidupnya, Ojos tak mem- \u00a0bayangkan akan bisa membaca sepuluh persen saja dari \u00a0jumlah buku yang dibaca Kugy. Mulai merasa diamati, Kugy pun mengangkat mukanya. \u201cMau baca juga, Jos? Aku ada Donal Bebek ....\u201d Ojos menggeleng. Kugy pun kembali pada bacaannya. Ojos kembali mengamati. Ruangan itu kembali hening. Lama. \u201cGy ....\u201d \u201cHmm?\u201d K\u201cAurgeyymouenoaktaapy?O\u201d\u00a0jos, \u201cI\u2019m okay.\u00a0Kenapa, Jos?\u201d 99 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 112\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cKamu jadi lebih diam akhir-akhir ini. Ada yang kamu pikirin?\u201d Kugy seperti terusik mendengar pertanyaan itu, tapi cepat ia tersenyum. \u201cNggak ada. Paling-paling soal Sakola Alit. Murid kita tambah banyak sekarang.\u201d \u201cKamu sibuk banget ngurusin sekolah itu.\u201d \u201cAku betah ngajar di sana. Anak-anak itu ....\u201d Kugy ber- decak, \u201ckadang-kadang aku yang merasa banyak belajar dari mereka.\u201d \u201cTapi kamu sekali-sekali harus memperhatikan diri kamu \u00a0juga, dong. Kamu tambah kurus.\u201d \u201cMakanku tetap sadis, kok.\u201d \u201cIya, tapi aktivitas kamu juga gila-gilaan. Kamu harus istirahat. Badan kamu sampai habis, gitu.\u201d \u201cBukan. Itu karena anakonda di perutku juga tambah be- sar ....\u201d \u201cGy, aku serius.\u201d \u201cJos, \u00a0I\u2019m okay,\u201d tandas Kugy, \u201c...\u00a0oke?\u201d Tak lama, Kugy\u00a0 kembali tenggelam dalam bacaannya, dan ruangan itu kem- \u00a0bali hening. \u201cGy ....\u201d \u201cHmm?\u201d \u201cKamu butuh liburan.\u201d \u201c\u201cLKiibtaurkaen aSpinag?a\u201dpur, yuk. Weekend\u00a0\u00a0 aja. Omku baru beli apartemen di daerah Orchard. Kita bisa stay\u00a0di sana.\u201d \u201cNggak punya uang.\u201d \u201cAku bayarin.\u201d \u201cNggak mau.\u201d \u201cWaktu kamu dari Senin sampai Jumat dihabiskan buat asinhakk-aamnuaknigtgua.kAbkiusacukmasaihm?\u201dinta satu weekend\u00a0doang. Masa 100 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 113\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cJos, hari ini malam Minggu, dan aku bareng sama kamu. Apa bedanya?\u201d \u201cKamu nggak bareng sama aku,\u201d Ojos berkata pedas, \ue03b\ue02d\ue023\ue02f\ue036 \ue024\ue023\ue033\ue027\ue030\ue029 \ue034\ue023\ue02f\ue023 \ue01f\ue031\ue02e\ue02d\ue02b\ue027\ue030\ue000\ue03c \ue010\ue023\ue030 \ue02b\ue023 \ue032\ue036\ue030 \ue024\ue023\ue030\ue029\ue02d\ue02b\ue035 \ue024\ue027\ue033\ue026\ue02b\ue033\ue02b\ue002 meninggalkan ruang itu dan Kugy yang termangu. Hari Minggu pagi. Tidak biasanya Ojos bangun sepagi itu. Tapi karena dia janji menemui Noni yang rutin lari pagi di Gasibu, Ojos pun dengan terpaksa menyeret badannya untuk\u00a0 menyetir ke daerah Gedung Sate. Nongkrong di dekat pen- \u00a0jual minuman sambil menunggu Noni menyelesaikan pu- taran terakhirnya. Tak lama, Noni datang menghampiri, langsung meneng- gak air mineral botol yang sudah disediakan Ojos. \u201cHebat banget sih lu, Non. Baru malamnya nonton mid- night,\u00a0kok bisa paginya udah \u00a0jogging\u00a0lagi,\u201d komentar Ojos. \u201cMasih kurang kurus nih, Jos. Dua kilo lagi, deh. Lagi kejar target.\u201d Ojos melengos. \u201cApa lagi sih yang mau dikurusin? Dasar cewek-cewek. Nggak ngerti gue. Temen lu tuh yang jadi ku- rus padahal nggak\u00a0\u00a0jogging.\u201d \u201c\u201cMItuakdsiuadyalun\u2014g Kpiunggyi?n\u201dgue tanya sama lu, sampai gue bela- \u00a0belain bangun nyubuh begini,\u201d air muka Ojos berangsur se- rius. \u201cDia kenapa sih, Non?\u201d \u201cKenapa memangnya?\u201d \u201cLu kan tiap hari ketemu dia. Merasa ada yang aneh nggak, sih?\u201d samNaonkiitbaearpkihkiirr-askejheinraikn.i.\u201cMSimbumk. sDaima amAemmai ndgi jSaarkaonlga jAallaitn. 101 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 114\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Tiap hari kayaknya dia kecapean kali, ya. Sama gua aja jadi \u00a0jarang ngobrol. Kalo ada yang penting-penting doang.\u201d \u201cSelain Sakola Alit, kira-kira ada faktor lain nggak?\u201d Noni berpikir lagi, lalu mengangkat bahu. \u201cDia ...,\u201d Ojos seperti berat mengatakannya, \u201cnggak lagi dekat sama cowok lain, kan?\u201d Kening Noni kontan berkerut. \u201cCowok lain? Setahu gua nggak ada.\u201d Ojos kelihatan menimbang-nimbang, seperti ingin meng- ungkapkan sesuatu yang lebih berat lagi. \u201cKalo dengan Keenan ... dia nggak\u2014\u201d Spontan, Noni tergelak, sampai hampir tersedak. \u201cAduuuh ... lu kena sindrom Mas Itok juga ternyata.\u201d \u201cSiapa tuh Mas Itok?\u201d \u201cNever mind,\u201d\u00a0Noni mengibaskan tangannya, \u201csetahu gua, mereka berdua memang dekat, nyambung, tapi nggak ada apa-apa. Keenan malah lagi naksir-naksiran sama sepupu gua yang dari Melbourne itu.\u201d \u201cOh, ya? Mereka udah jadian?\u201d \u201cBelum, sih. Paling bentar lagi,\u201d Noni terkekeh, \u201cgua lho Mak Comblang-nya.\u201d Tak lupa ia menambahkan dengan nada bangga. Informasi Noni terasa membawa sedikit ketenangan bagi Ojos, tapi kecemasan itu tak sepenuhnya hilang. \u201cGue titip Kugy, ya, Non. Kalau ada ada apa-apa, tolong kabarin gue.\u201d \u201cLu tenang aja, Jos. Mungkin Kugy memang lagi fokus \u00a0banget ke kegiatan barunya itu. Kan dia memang gitu anak- nya. Kalo udah suka sesuatu, suka jadi asyik sendiri.\u201d Namun, ingatan Ojos kembali ke adegan di Stasiun Gam- \u00a0bir malam hari itu. Sorot mata Kugy, sorot mata Keenan, dan gaya antena yang seolah-olah merupakan bahasa sandi annatharsaalmahe.reRkaadbarenrdyuaat.aDkaplaemrnahhatsinalyaah,.Ojos yakin ia tak per- 102 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 115\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Dibutuhkan waktu delapan kali pertemuan untuk meluluh- kan hati mereka, murid-murid Kugy yang kini berjumlah sebelas orang itu. Sedikit di antara mereka yang lancar ber- \u00a0bahasa Indonesia. Hampir semuanya terus-terusan meng- gunakan bahasa Sunda. Sementara Kugy sama sekali tidak\u00a0 \u00a0bisa berbahasa Sunda. Setelah dua minggu, masing-masing pihak mulai saling mempelajari. Kini, anak-anak itu mau lebih banyak memakai bahasa Indonesia, dan Kugy pun di- ajari secara tidak langsung istilah-istilah Sunda oleh anak- anak itu. Alhasil, bahasa Sunda Kugy yang centang perenang menjadi salah satu hiburan favorit mereka. Selain menjadikan dirinya sendiri dagelan, Kugy akhirnya menemukan cara lain untuk memotivasi mereka belajar membaca. Awalnya, Kugy membawa setumpuk buku-buku dongeng klasik, termasuk koleksi Donal Bebeknya yang ber- \u00a0jubel. Terkaget-kagetlah Kugy ketika mengetahui bahwa anak-anak itu tidak mengetahui sama sekali keberadaan Thumbelina, Putri Salju, Cinderella, Prajurit Timah, dan tokoh-tokoh dongeng klasik lainnya. Donal Bebek dan Mickey Mouse pun hanya sebatas tahu gambar di kaus saja. Dan tersadarlah ia, bahwa dunia kanak-kanaknya dan dunia anak-anak di Sakola Alit sangat jauh berbeda. Kugy akhirnya membuat perjanjian dengan anak-anak itu, setiap kali mereka berhasil naik tingkat membaca, maka Kugy\u00a0 membuatkan dongeng tentang mereka. Seluruh tokohnya di- ambil dari masing-masing anak, lengkap dengan ornamen- ornamen pendukung yang ada dalam kehidupan mereka. \ue03b\ue00e\ue036 \ue017\ue036\ue029\ue039\ue000 \ue01e\ue023\ue039\ue023 \ue02f\ue023\ue036 \ue02c\ue023\ue026\ue02b \ue016\ue027\ue030\ue026\ue027\ue033\ue023\ue02e\ue000\ue03c \ue01e\ue027\ue031\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue023\ue030\ue023\ue02d \ue02f\ue027\ue030\ue029\ue003 acungkan tangannya sambil membusungkan dada ketika Kkeulagsy. pertama kali menceritakan rencananya itu di depan 103 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 116\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Dalam hatinya, Kugy bersorak gembira. Anak itu, Pilik, adalah anak yang paling tua dan disegani di antara murid- murid lain. Usianya sembilan tahun, dan belum bisa baca tulis. Seminggu pertama, Kugy habis dipelonco oleh Pilik. Ia tak berhenti-henti berceletuk, tertawa keras-keras, mengo- mentari Kugy dengan bahasa Sunda yang tak dimengertinya, dan Kugy sadar sedang diperolok-olok. \u00a0Walau sempat mangkel luar biasa, Kugy tahu anak itu sesungguhnya cerdas dan berjiwa pemimpin. Tak heran, Piliklah yang paling bersemangat menyambut ide dongeng Kugy, dengan catatan: ia harus jadi tokoh utama, alias jadi Jenderal. \ue03b\ue01e\ue027\ue035\ue036\ue02c\ue036\ue000 \ue016\ue027\ue030\ue026\ue027\ue033\ue023\ue02e \ue01c\ue02b\ue02e\ue02b\ue02d\ue000 \ue01e\ue02b\ue023\ue032\ue023 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue02f\ue023\ue036 \ue02b\ue02d\ue036\ue035\ue023\ue030 \ue02e\ue023\ue029\ue02b\ue00c\ue03c \ue035\ue023\ue003 nya Kugy pada semua. Melihat Pilik begitu antusias, yang lain pun langsung ikut mengajukan diri. Maka hari itu, terbentuklah: Jenderal Pilik\u00a0 dan Pasukan Alit. Ada juga Hogi si Ayam Pelung Keramat, Palmo si Kambing Nekat, Gogog si Anjing Jago Renang, dan tokoh-tokoh hewan yang diadopsi dari peliharaan mereka di rumah. Setiap hari sepulang sekolah, Kugy menyempatkan diri bermain bersama mereka di kampung. Dan setiap hari pula, ia menuliskan petualangan mereka dalam sebuah buku tulis. Kendati dengan kemampuan baca yang terbata-bata, anak-anak itu selalu riuh bersorak-sorai dan bertepuk ta- ngan menyemangati satu sama lain ketika mereka bergiliran membaca dongeng mereka sendiri. Sejak hari itu, Pilik men- \u00a0jadi sahabat setianya. Dan Kugy menjadi idola mereka se- mua. Sore itu, setelah semua muridnya pulang, kembali Kugy\u00a0 duduk di saung kecilnya, menuliskan kisah petualangan Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Dari kejauhan terdengar kguomkoakmayKamugpy.eluDnagn yatanngglaannntyaangsdpaonntpaannjmanegn.c\u201coHreotg-ico..r.e,\u201dt 104 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 117\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 gambar ayam jantan dengan bulu-bulu hitam berkilau yang mekar sempurna. Tiba-tiba tangannya berhenti. \u201cLho ... kok\u00a0 \u00a0jadi kayak Stegosaurus ...,\u201d gumamnya sendirian. \u201cNgapain, Gy?\u201d Kugy terlonjak kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul dari belakang. \u201cEh, si Ical. Gua pikir Pak Somad lagi razia saung,\u201d Kugy\u00a0 terkekeh, \u201cgua lagi iseng-iseng bikin ilustrasi. Tapi gagal total.\u201d \u201cYa, kata Ami, metode dongeng lu sukses berat,\u201d puji Ical, lalu matanya melirik coretan tangan Kugy, \u201ctapi jangan dipaksain pakai gambar, deh.\u201d Kugy tergelak. \u201cUntuk soal satu itu, gua tahu diri, kok. Gambar ayam purbakala ini cukup gua, lu, dan Tuhan aja \u00a0yang tahu.\u201d \u201cGua punya teman, jago banget ngegambar. Mungkin dia \u00a0bisa sekali-sekali kita undang jadi guru gambar di sini.\u201d \u201cAnak Seni Rupa? ITB?\u201d \u201cBukan. Anak kampus kita, kuliah di Manajemen. Dia satu kos sama Bimo, sobat gua.\u201d Jantung Kugy seketika seperti ditusuk. \u201cNanti gua coba hubungi lewat Bimo, deh. Siapa juga \u00a0yang nggak terketuk hatinya lihat gambar lu itu, Gy,\u201d ujar Ical geli. Kugy ikut tersenyum, tapi senyuman itu sudah berubah masam. Sepertinya ia tahu siapa yang Ical maksud. Susah payah ia berlari, menghindar, dan menenggelamkan diri da- lam dunia baru ini. Tiba-tiba saja, orang itu akan diundang lagi untuk bergabung. Kalau sampai itu terjadi, Kugy tak\u00a0 tahu harus lari ke mana lagi. 105 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 118\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 13. RENCANA BESAR WANDA J a k a r t a , M ei 2 0 0 0 . .. Kugy tidak bisa lari kali ini. Gara-gara pulang ke Jakarta nebeng Fuad yang kini sudah bisa menempuh perjalanan luar kota, Kugy tak bisa menghindar ketika Noni mengajak- nya mampir ke Galeri Warsita. \u201cApa maksud dan tujuan kita ke sana, sih?\u201d Kugy ber- tanya setengah protes, \u201cBeli lukisan? Kagak mampu. Lihat lukisan Keenan? Udah sering. Jadi, apa?\u201d \u201cIni namanya: support,\u00a0Sayang. Kita harus menunjukkan dukungan kita pada Keenan. Ini hari bersejarah buat dia,\u201d Noni berpidato, \u201cbayangin, pertama kali lukisannya masuk\u00a0 galeri, eeh ... langsung ke galeri besar kayak gitu. Nggak se- mua pelukis muda bisa punya kesempatan kayak Keenan. Masa kita nggak bangga sebagai sahabat-sahabatnya?\u201d Meski mukanya kurang rela, dalam hati Kugy setuju de- ngan semua yang diucapkan Noni. Ia hanya malas meng- hadapi adegan-adegan yang sekiranya bakal pedas di mata. paj\u201caKnigtatecruums akimtaapmuplairngb?e\u201dntKaur,gykamn?emNagsetliikhaant lsuekkiaslainlnagyia. di- 106 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 119\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Eko sedikit terbatuk, \u201cJadi gini, Gy. Sore ini akan ada acara high tea\u00a0di galeri untuk memperkenalkan koleksi baru- nya Warsita, salah satunya lukisan Keenan. Nanti bakal ada pelukis-pelukis, wartawan, kolektor, kurator ....\u201d \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02e\ue023\ue030\ue029\ue034\ue036\ue030\ue029 \ue032\ue036\ue025\ue023\ue035 \ue032\ue023\ue034\ue02b\ue004 \ue03b\ue017\ue023\ue02e\ue02b\ue023\ue030 \ue02d\ue031\ue02d \ue035\ue027\ue029\ue023\ue002 \ue034\ue02b\ue02a\ue000 \ue00e\ue02b\ue02e\ue023\ue030\ue029\ue003 \u00a0\ue024\ue02b\ue02e\ue023\ue030\ue029\ue002 \ue026\ue031\ue030\ue029\ue000 \ue013\ue036\ue023 \ue02d\ue023\ue039\ue023\ue02d \ue030\ue023\ue032\ue02b \ue024\ue036\ue033\ue031\ue030 \ue024\ue027\ue029\ue02b\ue030\ue02b \ue004\ue004\ue004\ue004\ue03c Kepala Eko langsung menoleh ke belakang. \u201cLu adalah manusia paling cuek dan pe-de yang gua tahu. Masa gentar sama acara gitu doang? Bukan acara besar, kok. Kata \u00a0Wanda, cuma sekitar lima puluh orang yang diundang ....\u201d \u201cLima puluh?\u201d Kugy setengah berteriak. \u201cGua pokoknya \ue035\ue036\ue030\ue029\ue029\ue036 \ue026\ue02b \ue02f\ue031\ue024\ue02b\ue02e\ue000\ue03c \u201cYah ... jangan gitu, dong, Gy. Lu kelihatan oke, kok\u00a0 ....\u201d \ue03b\ue017\ue023\ue029\ue023\ue02d \ue023\ue026\ue023\ue000\ue03c \ue035\ue036\ue02d\ue023\ue034 \ue017\ue036\ue029\ue039\ue004 \ue03b\ue017\ue023\ue02e\ue02b\ue023\ue030 \ue023\ue02c\ue023 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue035\ue036\ue033\ue036\ue030\ue002 \ue029\ue036\ue023 \ue035\ue036\ue030\ue029\ue029\ue036 \ue026\ue02b \ue02f\ue031\ue024\ue02b\ue02e\ue004 \ue01f\ue02b\ue035\ue02b\ue02d\ue000\ue03c Namun, bukan jatahnya Kugy untuk bisa kabur hari ini. Saat Fuad tiba di pelataran parkir galeri, mereka bertiga langsung disambut oleh Wanda dan Keenan yang datang semobil dan juga baru parkir. \u201cHi, guys. Thanks \u00a0 ya udah mampir,\u201d Wanda menyapa mereka. Kali ini baju Wanda serba silver, serasi dengan tas, sepatu, dan kuku-kuku. Riasan wajahnya lengkap seperti penyanyi mau pentas. hatKinuygay. mKaellairuiksbajaajuinaytaahseunadkirain. AddibaaswebaekresitGpaelenryieWsaalarnsitdai dulu, ia pasti akan lebih membenahi dandanannya. Namun, \u00a0bukan jatahnya untuk tampil siap hari ini. Ia harus pasrah dengan kaus eks-panitia Fun Bike yang sablonannya sudah memudar dan resmi tercantum dalam daftar \u201ccalon lap mobil\u201d Ojos yang siap diculik dari lemari pakaiannya setiap saat. Keenan langsung menghampiri Kugy dengan sumringah, \u201cHai, Gy. Saya nggak nyangka kamu ikut.\u201d 107 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 120\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cAku juga nggak,\u201d Kugy tersenyum masam. Rasanya ingin ia menciut jadi semut lalu minggat dari situ. Minggat dari \u00a0Wanda yang seperti artis Ibu Kota siap naik panggung, dari Keenan yang berkemeja rapi dan terlihat sangat tampan, dari pemandangan jemari Wanda yang melingkar di lengan Keenan, dari Noni dan Eko yang tampaknya sangat bangga dengan keberhasilan proyek perjodohan mereka. Namun, \u00a0bukan jatahnya untuk bisa minggat hari ini. Di pojokan itu, terdapat meja besar tempat berbagai aneka teh dan minuman dihidangkan, lengkap dengan penganan kecil yang ditata apik di nampan-nampan perak. Di sanalah Kugy bercokol, meminum bercangkir-cangkir teh dan menge- nyangkan perutnya dengan kue-kue yang tinggal comot dari tempat ia berdiri. \u201cMemang kamu nggak boleh dikasih makan gratis, bikin rugi panitia.\u201d Kugy menoleh, mendapatkan Keenan yang sudah berdiri di sampingnya. \u201cIni modus operasi standar mahasiswa ku- rang gizi ...,\u201d Kugy menyahut susah payah, mulutnya masih penuh dengan kue. tanKg.e\u201denan menatapnya hangat, \u201cSaya senang kamu bisa da- Kugy mau tak mau tersenyum. Selalu ada kesejukan yang mengaliri tubuhnya tiap kali melihat tatapan itu. \u201cAku ter- haru lihat lukisan kamu dipajang tadi. Buatku, lukisan kamu \u00a0yang paling bagus dari semua yang ada di galeri ini,\u201d ucap Kugy polos, \u201cmmm ... tapi aku nggak ngerti apa-apa soal lkuakmisuans.ahIanbiatskihu,\u201dcutammabashenleyraa,sadmanbilmmuensgekmin-m, eysaehm, .karena 108 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 121\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Keenan balik tersenyum, \u201cKamu nggak perlu ngerti lu- kisan untuk suka lukisan. Cukup pakai hati aja.\u201d Mendengar kalimat Keenan, napas Kugy langsung meng- hela. \u201cSetuju. Pakai hati saja,\u201d ia pun menimpali pelan. \u201cMas Itok nyangka kita putus.\u201d Teh yang baru diseruput Kugy nyaris tersembur lagi ke- luar dari mulutnya. \u201cHa-ha-ha ... di jagat raya ini mungkin cuma Mas Itok yang tahu kapan kita jadian. Kita berdua aja nggak tuh ....\u201d \u201cSekarang, dia nyangka saya pacaran sama Wanda.\u201d Tawa Kugy masih berlanjut, tapi berangsur hambar, hing- ga akhirnya surut sama sekali. \u201cSiapa tahu Mas Itok itu se- \u00a0benarnya cenayang. Dia bisa melihat apa yang terjadi di masa depan ...\u201d Kugy menelan ludah, \u201cKamu\u2014nggak tertarik\u00a0 pacaran sama Wanda?\u201d Keenan tak langsung menjawab. Matanya beralih pada \u00a0Wanda yang berdiri di ujung ruangan dan tampak sibuk ber- \u00a0bicara dengan orang-orang. Kugy mengikuti arah mata Keenan. Dan kini mereka berdua menatap objek yang sama. \u201cKalo aku jadi cowok ..., bego banget kalo nggak suka sama Wanda ...\u201d gumam Kugy. \u201cMungkin aja cowok sebego itu ada,\u201d gumam Keenan ba- lik. Darah Kugy terasa berdesir. Ada yang melonjak dalam hatinya. \u201cJadi ... kamu\u2014\u201d Namun, arah mata Keenan mendadak berubah. \u201cKeluarga saya datang. Sori, saya tinggal dulu, ya, Gy ....\u201d Kugy terpaksa mengangguk, menelan apa yang ingin ia ucapkan, dan membiarkan Keenan melesat ke arah pintu depan. Matanya ikut mengamati. Kugy sudah pernah melihat klaenlugsaurgnag.KIebeunnayna dyaarnigfootroa,ntgapBieblaanrduaktaalmi ipnailkahleibaihmcealnihtaikt\u00a0 109 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 122\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 dari foto, berbaju serba putih, dengan rambut panjang yang digelung ke atas. Ayahnya menjulang tinggi seperti Keenan, \u00a0juga tampak gagah dengan jas biru tua yang dipadu dengan \u00a0jins. Ada seorang anak remaja laki-laki berambut ikal yang ikut bersama mereka, mukanya mirip Keenan tapi dengan kulit lebih gelap. \u201cJeroen ...,\u201d desis Kugy sendirian. Bersamaan dengan itu, tampak seseorang yang ikut ber- gabung, menyalami mereka satu-satu dengan senyuman cantik. Wanda.\u00a0Mulut Kugy langsung manyun. Tahu-tahu tangan Kugy ada yang menarik. \u201cItu ortunya Keenan. Sini, gua kenalin,\u201d kata Eko yang muncul di sam- pingnya bersama Noni. \u201cTante Lena, Om Adri, Jeroen, apa kabar?\u201d Eko menyapa ketiganya. \u201cHai, Eko,\u201d sapa Lena sambil memeluk keponakannya, \u201chai, Noni ....\u201d \u201cIni Kugy, Tante. Sahabatnya Noni,\u201d Eko memperkenalkan Kugy yang berdiri di belakangnya. Lena langsung menoleh ke arah Keenan, \u201cOoh ... ini yang namanya Kugy?\u201d Ketiga anak itu, plus Wanda, langsung berpandang-pan- dangan mendengar nada mencurigakan yang terlontar dari ibunya Keenan. \u201cKeenan cerita banyak tentang kamu, Kugy. Katanya kamu suka menulis cerita, ya? Kugy nyengir lebar, antara gugup dan senang, \u201cIya, Tante ....\u201d \u201cKeenan kagum sekali dengan cerita-cerita buatan kamu.\u201d Kugy pun kontan berdehem. \u201cEhm. Dia memang fans saya, Tante. Tapi sayangnya sampai sekarang cuma dia doang yang nge-fans, yang lain nggak ... ha-ha ....\u201d OmS,emmaurai osraaynagadnitasirtukeikliulitntge,r\u201dtaawjaak,nkyeacusaalmi Wbilanmdean. a\u201cTriaknltee-, 110 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 123\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 ngan Keenan hingga semua orang terpaksa ikut bergerak. Mata Kugy tak bisa lepas dari kuku-kuku bercat perak yang melingkar erat di lengan Keenan bagaikan rantai besi. Tibalah mereka di depan empat lukisan Keenan yang su- dah terbingkai indah dan tergantung rapi di panel. Keempat- nya tampak berkilau disorot oleh lampu halogen. Terdengar suara Lena yang tercekat, dan mata itu berkaca-kaca. Semen- tara suaminya hanya berdiri bergeming. Seketika Lena me- rangkul Keenan dan berbisik, \u201cIk ben erg trots op jou.15 Mama bangga sekali, vent.\u201d \u201cAda agenda apa lagi, ya? Kita harus ke mana lagi seka- rang?\u201d tanya ayah Keenan pada Wanda. \u00a0Wanda menatapnya bingung. \u201cMmm ... nggak ada apa- apa lagi, Om. Silakan saja lihat-lihat. Mungkin Om dan Tante mau minum? Kita ada teh, wine\u00a0....\u201d \u201cMaaf, saya nggak bisa terlalu lama,\u201d ujar ayah Keenan lagi, \u201cLena, lima belas menit lagi kita jalan, ya?\u201d \u201cMama bisa pulang dengan saya. Kalau Papa mau duluan, silakan saja,\u201d sambar Keenan. \u00a0Ada ketegangan yang seketika merembet dan menginfeksi semua. \u201cJeroen, kamu nanti ikut saya?\u201d tanya ayahnya. Jeroen tampak gelagapan, \u201cMmm ... aku mau jalan-jalan sama Mas Eko dulu, Pa.\u201d Suasana tak nyaman itu diselamatkan oleh seorang pe- layan yang hadir di antara mereka dan menawarkan ma- kanan dan minuman. Eko, Noni, Kugy, dan Jeroen langsung menyibukkan diri dengan kegiatan mengunyah. \u201cKamu duluan saja, Dri. Aku nanti ikut Keenan,\u201d Lena \u00a0berkata pada suaminya, \u201caku mau lihat-lihat lebih lama di sini.\u201d 15\u00a0 Saya selalu bangga padamu 124\/457 111 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cNaik apa kalian nanti? Memangnya Keenan ada ken- daraan?\u201d \u201cNanti pakai mobil saya, Om,\u201d Wanda cepat menimpali. Kunyahan Kugy langsung berhenti mendengar itu. \u201cOke. Terserah kalian,\u201d kata ayahnya singkat. Tak lama, ia benar-benar berlalu dari tempat itu. Meski Keenan berusaha bersikap wajar, semua yang di sana merasakan perubahan sikapnya. Seolah ada awan men- dung yang menggantungi Keenan dan tak kunjung-kunjung pergi, bahkan hingga acara sore hari itu selesai. \u00a0Wanda tak langsung beranjak sesudah mengantar ibu dan adik Keenan pulang. Ia dan Keenan duduk di beranda de- pan, di bawah pergola yang beratapkan tanaman merambat Mandevilla dengan bunga-bunga putih yang menjuntai, ber- temankan dua gelas air yang sedari tadi tak mereka sen- tuh. \u201cPapa kamu nggak setuju kamu melukis, ya?\u201d tanya \u00a0Wanda memecah keheningan. Keenan menggeleng. \u201cDari kecil, yang saya suka cuma melukis. Tapi, nggak tahu kenapa, Papa kayak alergi sama segala sesuatu yang ada hubungannya dengan lukisan. Mama juga dulu pelukis, tapi sejak menikah Mama berhenti. Papa nggak kepingin saya tinggal terus di Amsterdam karena takut saya jadi seniman. Papa pikir dengan saya kuliah Manajemen, hobi melukis bisa hilang dengan sendirinya. Tahunya ....\u201d \u201cKamu malah ketemu aku,\u201d Wanda menyambung. Keenan menghela napas. Getir. \u201cDan ketika lukisan saya \u00a0bMisuanmgkaisnudkiakemgearlaesrai steepraenrtciaWma.\u201drsita, saya yakin Papa shock. 112 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 125\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cPapa kamu pasti punya bisnis sendiri, ya?\u201d \u201cIya, dia punya perusahaan trading, ekspor-impor. Dia \u00a0bangun semuanya sendiri dari nol. Kok, kamu tahu?\u201d \u201cPapiku juga sama. Dan aku anak tunggal. \u00a0I know the \u00a0pressure,\u201d\u00a0 Wanda tersenyum, \u201cuntungnya, aku suka dengan \u00a0bisnisnya Papi. Dan aku pingin banget serius di bisnis seni. Tapi tetap saja, aku juga harus kerja keras membuktikan sama Papi dan Tante Rani kalau aku sanggup ikut menjalan- kan Warsita.\u201d Perlahan, Wanda meletakkan tangannya di atas tangan Keenan, \u201cKita sebetulnya senasib,\u201d ucapnya se- tengah berbisik. \u201cNan, kalau boleh aku tahu, apa yang se- \u00a0benarnya paling kamu inginkan?\u201d Keenan menoleh, menatap Wanda lekat-lekat. \u201cMenjadi diri saya sendiri,\u201d jawabnya tegas. \u201cBegitu ada kesempatan, saya nggak takut ninggalin ini semua. Satu-satunya yang bi- kin saya bertahan cuma karena saya masih bergantung pada Papa. Saya belum mandiri.\u201d \u201cDengan melukis, kamu bisa mandiri. Aku yakin sama kemampuan kamu. Cuma masalah waktu.\u201d Keenan tersenyum sekilas. \u201cYah, berarti tinggal tunggu siapa yang mau beli lukisan-lukisan itu, kan?\u201d \u201cYou\u2019re absolutely right,\u201d\u00a0 Wanda mengangguk. Ia lantas terdiam dan matanya menerawang, tapi otaknya berputar keras memikirkan sesuatu. Sekembalinya dari rumah Keenan, semalaman Wanda terbaring di tempat tidurnya. Berpikir dan berpikir. Ter- susunlah sebuah rencana yang akan ia jalankan secepatnya. \u00a0Wanda tak sabar menunggu pagi tiba. lDearir.i Mpueknuellusestuerni gdaahftsaerppualunhjapnaggij,aWrinagnadna ksuoldeakhtotribdaadni pgae-- 113 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 126\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 langgan Warsita, menandai sederet nama. Jemarinya yang lentik mulai menari-nari di atas tuts telepon, menghubungi nama-nama itu satu per satu. \u201cOm Halim? Ini Wanda, Om. Katalog Warsita yang baru sudah diterima? Di bagian belakang ada koleksi dari pelukis \u00a0baru, namanya Keenan, sudah sempat dilihat? Iya, dia me- mang masih baru, Om. Tapi prospeknya bagus, kok ....\u201d \u201cApa kabar, Tante Lien? Ini Wanda dari Warsita. Dari katalog baru kita, kira-kira sreg sama yang mana, Tante? Kalau aku sih rekomen pelukis baru, yang namanya Keenan, ada di bagian belakang. Mmm. Belum, Tante, dia belum pa- meran, tapi ....\u201d Seharian, Wanda dengan tekun meneleponi satu-satu orang yang ada dalam daftarnya, hingga akhirnya ia menye- rah. Tak satu pun dari mereka yang tertarik untuk ber- investasi pada lukisan Keenan. Alasannya semua sama, Keenan masih terlalu muda dan belum punya rekor yang meyakinkan. \u00a0Wanda menelaah daftarnya sekali lagi. Semua orang yang ia kontak adalah pemain-pemain lama yang sudah terbiasa mengoleksi lukisan pelukis ternama. Barulah Wanda me- nyadari tantangan yang dimaksud ayahnya. Ayahnya benar. Galeri Warsita bukanlah tempat yang cocok untuk lukisan Keenan, setidaknya untuk masa sekarang ini. Wanda meng- gigiti bibirnya, otaknya pun berputar lagi. Ia harus mengu- \u00a0bah strateginya. Jemarinya kembali menari di atas tuts telepon, tapi kali ini ia tak lagi melihat daftar yang sudah disusunnya. Ia me- neleponi teman-temannya sendiri. \u201cPasha, ini gue, Wanda. Gue minta tolong, ya? Gue cuma \u00a0butuh data lo doang buat customer list\u00a0\u00a0 gue. Nggak ... lo Bngogleahk, ypae,rlSuayb?elTihlaunkkissa.n...\u201d.\u00a0.. tapi ceritanya elo yang beli. 114 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 127\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cVirna? \u00a0Dear, would like to ask you for a favor. Gue mau beli lukisan, tapi gue nggak bisa pakai data gue sendiri. Jadi, atas nama lo boleh, ya? Gue cuma pinjam data doang, kok ....\u201d Dalam waktu singkat, empat lukisan Keenan terjual su- dah. Dibeli oleh empat orang yang berbeda. Namun, kesemuanya dibayar oleh satu orang yang sama: Wanda. 115 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 128\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 14. BUKU HARTA KARUN B a n d u n g , J u n i 2 0 0 0 . .. Jip CJ-8 yang dikendarai Bimo dan Keenan berhenti di se- \u00a0buah puskesmas kecil yang punya parkiran cukup untuk satu mobil. \u201cGila, ini sih tempat gua biasa pergi off-road sama anak- anak klub,\u201d celetuk Bimo sambil mengedarkan pandangan. Matanya berhenti di satu bukaan jalan. Sempit dan curam. \u201cKata Ical, kita ikutin jalan ini, kira-kira setengah jam, terus nanti ada masjid. Ical nunggu kita di sana,\u201d ujarnya seraya sesekali menyibak dedaunan bambu yang menggempur me- reka dari kiri-kanan. Di kepalanya, Keenan membayangkan si kecil Kugy yang menempuh jalan ini setiap harinya demi mengajar. Hatinya mendadak terenyuh. Di masjid yang dimaksud, Ical sudah menunggu mereka. Dan mereka berjalan kaki lagi menuju ladang cabai tempat saung mereka mengajar. Tak lama, mereka tiba di sebuah saung bambu. Ada Ami yang langsung menyambut Keenan dan Bimo. 116 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 129\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cItu tempat gua ngajar,\u201d Ical menunjuk saung kecil yang terletak di tengah bukit. \u201cKugy ngajar di sana,\u201d tangan Ical lalu menunjuk pohon beringin besar yang di bawahnya ter- dapat sepuluhan anak lesehan di atas tikar. Dari kejauhan, Keenan bisa melihat siluet Kugy yang me- munggunginya. Tangan kecilnya bergerak-gerak lincah se- perti sedang memperagakan sesuatu. \u201cKita nggak ada ikatan apa-apa, lho, Nan. Karena cerita- nya kamu pengajar tamu, kapan pun kamu mau ngajar, kamu bisa datang. Tidak ada keharusan waktu atau apa pun,\u201d Ami menjelaskan. \u201cAnak-anak ini semangat banget pingin belajar gambar, tapi kita satu pun nggak ada yang bisa. Asal lu muncul sekali- sekali aja, mereka pasti udah senang,\u201d Ical menambahkan. \u201cSaya ngajar di kelas siapa dulu, nih?\u201d tanya Keenan se- raya menyandangkan ransel berisi peralatan gambar yang sudah ia bawa. Ical dan Ami saling berpandangan. \u201cBebas. Terserah kamu aja,\u201d jawab Ami. \u201cSaya ke sana dulu, ya,\u201d Keenan menunjuk ke arah pohon \u00a0beringin. Tempat yang paling ingin ia datangi sejak tadi. Keenan muncul tepat saat Kugy sedang beraksi sebagai dom- \u00a0ba Garut siap ngamuk yang ceritanya akan dikalahkan oleh Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Masih dalam posisi menung- ging dengan kedua tangan membentuk tanduk, Kugy terpaku saat mengenali ransel marun berinisial \u201cK\u201d yang tahu-tahu muncul di depan mukanya. Sepasang sepatu yang ia kenal. Kedua tungkai kaki yang rasanya tak asing. Cepat-cepat, Ksaumgybibl emrdeimrib, umaetntdanapdaatkananteKnaeedneanngaynankgedteurasejnaryiunmya.simpul 117 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 130\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cAgen Keenan Klappertaartmania siap beroperasi,\u201d sapa Keenan dengan posisi tegap seperti perwira. \u201cKata sandi?\u201d tanya Kugy. Mukanya serius. \u201cPisang susu.\u201d Kugy tampak berpikir keras. \u201cHmm. Baiklah. Silakan ber- gabung.\u201d Mukanya berubah cerah seperti biasa, \u201cAnak- \u00a0\ue00d\ue030\ue023\ue023\ue023\ue02d\ue000 \ue017\ue02b\ue035\ue023 \ue02d\ue027\ue026\ue023\ue035\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue029\ue036\ue033\ue036 \ue035\ue023\ue02f\ue036\ue004 \ue01a\ue023\ue02f\ue023\ue030\ue039\ue023 \ue004\ue004\ue004 \ue017\ue023\ue030\ue029 \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030\ue000\ue03c Keenan mengernyit. Nama itu terdengar aneh di kuping- nya. \u201cRangginang16?\u201d\u00a0Seorang anak berceletuk, disambut pekik\u00a0 tawa yang lain. \u201cEh, Pilik. Kamu belum tahu Kang Keenan ini bisa apa. Dia bisa gambar apa saja yang kalian mau\u2014dalam waktu ti- \ue026\ue023\ue02d \ue02e\ue027\ue024\ue02b\ue02a \ue026\ue023\ue033\ue02b \ue034\ue023\ue035\ue036 \ue02f\ue027\ue030\ue02b\ue035\ue000\ue03c Keenan mengernyit lagi. \u201cSatu menit teh sakumaha17?\u00a0 \u201d\u00a0 Pilik bertanya kembali. \u201cSatu menit itu enam puluh detik. Jadi kalian harus ber- hitung satu sampai enam puluh, bareng-bareng semuanya. \u00a0Yang belum bisa, ikuti saya. Tapi semua harus ikut meng- hitung. Siaaap?\u201d \ue03b\ue01e\ue015\ue00d\ue00d\ue00d\ue01c\ue000\ue03c \ue00d\ue030\ue023\ue02d\ue003\ue023\ue030\ue023\ue02d \ue02b\ue035\ue036 \ue02f\ue027\ue030\ue02c\ue023\ue038\ue023\ue024 \ue034\ue027\ue033\ue027\ue02f\ue032\ue023\ue02d\ue004 \u201cKalian mau dibuatkan gambar apa, ayo?\u201d Keenan ber- tanya seraya bersiaga di samping kertas besar dan spidol \u00a0yang sudah berdiri tegak di atas sandaran kayu yang ia \u00a0bawa. \ue03b\ue013\ue023\ue02f\ue024\ue023\ue033 \ue034\ue02b \ue014\ue031\ue029\ue02b\ue000\ue03c \ue034\ue027\ue031\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue023\ue030\ue023\ue02d \ue024\ue027\ue033\ue035\ue027\ue033\ue02b\ue023\ue02d\ue004 Keenan mengernyit untuk yang ketiga kali. \u201cApa tuh \u2018Hogi\u2019?\u201d bisiknya pada Kugy. \u201cAyam jago, besar, hitam, pokoknya ganteng. Oke?\u201d Kugy\u00a0 16\u00a0 Sejenis makanan ringan khas Jawa Barat terbuat dari beras. 131\/457 17\u00a0 Seberapa. 118 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 lalu beralih lagi pada murid-muridnya, \u201cSiap berhitung, 132\/457 barudak18\ue000 \ue01e\ue023\ue035\ue036 \ue004\ue004\ue004 \ue026\ue036\ue023 \ue004\ue004\ue004 \ue035\ue02b\ue029\ue023 \ue004\ue004\ue004 \ue027\ue02f\ue032\ue023\ue035 \ue004\ue004\ue004 \ue02e\ue02b\ue02f\ue023 \ue004\ue004\ue004\ue03c Beramai-ramai mereka menghitung sampai enam puluh. Di hitungan keempat puluhan, Keenan sudah ongkang- ongkang kaki. Gambar ayam pesanan mereka sudah siap. Tercenganglah anak-anak itu melihat gambar ayam yang tampak hidup muncul di hadapan mereka dalam waktu sing- kat. Mereka bersorak-sorai kesenangan. Langsung terlontar- lah bertubi-tubi permintaan berikutnya untuk Keenan. \ue03b\ue013\ue023\ue02f\ue024\ue023\ue033 \ue033\ue031\ue024\ue031\ue035\ue000\ue03c \ue03b\ue013\ue023\ue02f\ue024\ue023\ue033 \ue032\ue027\ue034\ue023\ue038\ue023\ue035\ue000\ue03c \ue03b\ue013\ue023\ue02f\ue024\ue023\ue033 \ue01c\ue023\ue02d \ue01e\ue031\ue02f\ue023\ue026\ue000\ue03c Seharian itu Keenan meladeni permintaan mereka. Tiap gambar selalu disambut cengangan kagum dan sorak-sorai. Hari itu, kehadiran Keenan di tengah mereka bak seorang superstar\u00a0di antara para pemuja. \u00a0Gambar-gambar yang ia \u00a0buat terpaksa dibagi-bagikan untuk mereka bawa pulang. Dan mereka menerimanya dengan bangga seolah baru men- \ue026\ue023\ue032\ue023\ue035 \ue035\ue023\ue030\ue026\ue023 \ue035\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue026\ue023\ue033\ue02b \ue024\ue02b\ue030\ue035\ue023\ue030\ue029 \ue03e\ue02e\ue02f \ue035\ue027\ue033\ue02d\ue027\ue030\ue023\ue02e\ue004 \u201cKang Keenan sering-sering datang, ya?\u201d pinta Pilik sam- \u00a0bil memasukkan gulungan gambar dari Keenan ke dalam tasnya yang terbuat dari karung bekas tepung terigu. \u201cNanti \u00a0bikinin gambar saya sama Pasukan Alit.\u201d Keenan tak sepenuhnya paham apa yang dimaksud Pilik, tapi tak urung ia mengangguk. \u201cOh, ya. Saya Jenderal Pilik. Tong hilap19!\u201d\u00a0\u00a0 Pilik mem- \u00a0busungkan dadanya lalu menjabat tangan Keenan dengan mantap. Ia lantas berlari-lari kecil menyusul teman-teman- nya. \u201cPasukaaan ... dagoan euy!20\u201d\u00a0 Keenan menoleh ke arah Kugy. \u201cSaya nggak ngerti, entah 18\u00a0 Anak-anak. 19\u00a0 Jangan lupa. 20\u00a0Tunggu, dong. 119 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 kamu yang selalu berhasil membuat orang-orang jadi ke- \u00a0bawa aneh, atau memang kamu selalu berjodoh dengan orang-orang aneh.\u201d Kugy terkikik. \u201cAnak itu memang \u2018ajaib\u2019. Dulu kami sem- pat jadi musuh bebuyutan. Tapi begitu berhasil kutaklukkan, sekarang malah jadi kompak banget sama aku. Satu kelas \u00a0juga ikutan kompak, karena mereka semua nurut sama Pilik.\u201d \u201cApa rahasianya, Agen Karmachameleon?\u201d Keenan ber- tanya dengan tampang serius. Dengan tak kalah serius, Kugy menyambar sesuatu dari dalam tasnya bagaikan menghunus pedang. \u201cIni rahasianya, \u00a0\ue00d\ue029\ue027\ue030 \ue01c\ue031\ue028\ue028\ue027\ue033\ue035\ue02c\ue027\ue034\ue02f\ue023\ue030\ue02b\ue023\ue000\ue03c \ue034\ue027\ue033\ue036 \ue017\ue036\ue029\ue039\ue002 \ue026\ue02b \ue035\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030\ue030\ue039\ue023 \ue035\ue027\ue033\ue029\ue027\ue030\ue029\ue029\ue023\ue02f sebuah buku tulis lecek. \u201cApa itu? Manual Manusia Aneh?\u201d Kugy langsung duduk di samping Keenan. Matanya ber- kilat-kilat pertanda semangatnya menyala-nyala. \u201cLihat, Nan. Ini adalah seri petualangan yang kubuat selama aku menga- \u00a0jar di sini. Tokohnya adalah murid-muridku sendiri. Dulu mereka males banget belajar baca, terus aku bikin perjanjian dengan mereka. Aku janji akan membuatkan dongeng ten- tang mereka, tapi mereka harus mau belajar baca, supaya nanti mereka bisa baca kisah petualangan mereka sendiri. Dan jadilah ide ini: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Semua tokoh dalam serial ini aku ambil dari kehidupan mereka sendiri. Nih, ada Hogi si Ayam Pelung Keramat ... Palmo si Kambing Nekat ... Gogog si Anjing Jago Renang ... Somad Sang Pendekar Tanpa Tanda-Tanda ....\u201d Kugy \u00a0 memperlihatkan halaman demi halaman dengan semangat, \u201canak-anak ini nggak kenal yang namanya Teddy Bear, Barney, atau Elmo. Dan mereka cuma bengong waktu aku tkaapsiih, bteaghiutusoaakluSnboiswa Wmhemiteb,uPaettesresPuaant,uRdeadriRdiduinniga Hmoeordek..a. 120 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 133\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 sendiri, sesuatu yang mereka kenal, mendadak kayak ada sesuatu yang dihidupkan dalam diri mereka. Seperti ada kebanggaan, harapan, semangat ...,\u201d Kugy sampai berhenti mengatur napasnya, \u201cseperti ada keajaiban.\u201d Keenan pun menghela napas panjang. Tersadar bahwa napasnya sedari tadi ikut tertahan karena terhanyut cerita Kugy. \u201cKamu hebat,\u201d decaknya, \u201citu memang keajaiban. Saya \u00a0bisa merasakan, anak-anak tadi nyaman banget dengan diri mereka sendiri. Kamu berhasil memancing karakter mereka keluar. Mereka jadi percaya diri, punya harga diri. Punya kebanggaan.\u201d Kugy menggeleng, \u201cMereka yang hebat. Aku cuma saksi mata yang kebetulan numpang lewat. Nggak tahu Sakola Alit \u00a0bisa bertahan di sini sampai kapan. Tapi aku merasa ber- syukur banget punya kesempatan ini.\u201d Keenan menatap kilauan di bola mata Kugy. Dan Kugy\u00a0 menatap balik kedua mata jernih itu tanpa ada rasa jengah. Lama mereka terdiam. Hanya angin yang berbunyi lewat gemerisik daun. Hanya serangga-serangga pohon yang ter- dengar bersahut-sahutan. Mereka berdua hanya saling me- natap tanpa suara. \u201cSaya kehilangan kamu,\u201d ucap Keenan akhirnya, nyaris \u00a0berbisik. Kugy merasa matanya akan berkaca-kaca, seiring dengan arus perasaan yang begitu kuat, yang seolah hendak men- \u00a0jebol dadanya. Dan, sungguh, ia tidak tahu harus merespons apa. Sorot mata Keenan seperti merenggut semua perbenda- haraan kata di benaknya. Akhirnya, Kugy memilih untuk\u00a0 menunduk. \u201cSesama agen harus saling mendukung. Sebentar lagi kamu bakal jadi pelukis profesional. Waktu aku di Warsita, makaunsgeminpgaint dseenrgiuars Wjaadnidpaecleurkitisa,. Dkiaambuilahnagr,uksalmo kelaumanugmkaen- 121 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 134\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0waktu banyak untuk nambah koleksi lukisan kamu. Terus, kamu harus pameran, keliling-keliling. Kamu nggak akan sempat lagi gambar di bawah pohon seperti begini,\u201d tutur Kugy dengan nada yang dibuat setenang mungkin, \u201cper- \u00a0jalananku masih panjang dibanding kamu. Kamu sudah ke- temu orang yang bisa mendukung impian kamu,\u201d Kugy mu- lai merasa kata-kata itu membebani mulut, tapi ia harus tetap mengucapkannya, \u201ccita-cita hidup kamu lebih penting dari apa pun. Kita ini punya misi, Nan. Makanya kita di- kirim ke sini oleh Neptunus. Dan sebentar lagi kamu ber- hasil. Jangan sampai rusak di tengah jalan hanya gara-gara kita cuma menuruti keinginan sendiri doang,\u201d Kugy menelan ludah, tak tahu harus bilang apa lagi, \u201cyang namanya bus satu perusahaan itu tidak boleh saling menyalip.\u201d Tiba-tiba Kugy merasa dagunya diangkat. Kembali me- nemukan tatapan Keenan yang menembus jantung. \u201cGy, saya nggak ngerti kamu ngomong apa,\u201d ucap Keenan lembut, \u201cmakasih kamu udah mau ngertiin soal impian saya, cita-cita saya, dan kesempatan yang sekarang ini sedang da- tang untuk saya. Tapi di luar itu semua, saya kehilangan kamu. Kamu menghilang akhir-akhir ini.\u201d Halus, Kugy menjauhkan wajahnya, hingga genggaman \u00a0jari Keenan di dagunya lepas. \u201cAku nggak ke mana-mana, knoyuk,m\u201d ,ja\u201csweakbarKanuggykalimriuh tsaehmubdairmi maneanmguasrakhaaskkuan. Tsienbgugaahl csaer-i aku di bawah pohon ini.\u201d Terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Ami muncul dari arah belakang. \u201cGy, Nan, pulang, yuk? Mum- pung Bimo masih nungguin di depan. Kita sesak-sesakan aja \u00a0berlima kayak pindang,\u201d ajak Ami sambil terkekeh. T\ue03b\ue022a\ue036h\ue02du\ue000-\ue03cta\ue017h\ue036u\ue029\ue039ta\ue024n\ue023g\ue030a\ue029n\ue02dK\ue02b\ue035e\ue024e\ue027n\ue033a\ue026n\ue02b\ue033m\ue02b\ue004 enahannya. \u201cSaya dan Kugy\u00a0 122 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 135\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 pulang naik angkot, Mi. Kalian duluan aja pakai mobil Bimo. Jadi nggak perlu kayak pindang. Oke?\u201d \u201cYakin?\u201d tanya Ami lagi. Dilihatnya kontras antara Keenan yang tampak yakin dan Kugy yang ragu. Sebetulnya Kugy sudah ingin protes, tapi genggaman tangan Keenan \u00a0yang mencengkeram kuat di pergelangannya seperti meng- isyaratkan dia untuk diam di tempat. \u201cYakin. Kita naik angkot aja,\u201d Kugy akhirnya bersuara. \ue03b\ue010\ue023\ue02a\ue002 \ue00d\ue02f\ue02b\ue000\ue03c Setelah bayangan Ami menjauh, Keenan melepaskan geng- gamannya. \u201cSebagai upah kamu ngilang, hari ini saya mau seharian booking\u00a0kamu.\u201d \u201cCoba kontak ke manajer saya dulu, namanya Mami Noni. Mumpung sekarang lagi\u00a0 low-season, jadi bisa dapat harga murah,\u201d Kugy nyengir sambil mendorong bahu Keenan pelan. Sisa hari itu mereka habiskan di jalan, bersama-sama. Mereka berjalan-jalan ke toko buku, iseng-iseng ke Kebun Binatang di Taman Sari, ngopi sore di Jalan Dago, hingga akhirnya Keenan mengantar Kugy pulang ke kosannya. Di depan gerbang besi bercat putih itu mereka berdua \u00a0berdiri. Langit mulai gelap dan lampu-lampu di taman de- pan mulai menyala. Sahut-sahutan serangga malam lamat- lam\u201caKtetceirl,dseanygaarp.ulang dulu, ya. Hari ini sangat, sangat me- nyenangkan. Makasih untuk semuanya,\u201d ucap Keenan. Nada- nya terasa berat. Kakinya terasa berat untuk bergerak. \u201cSebagai bonus sudah booking\u00a0aku seharian ini, aku ada kenang-kenangan untuk kamu,\u201d Kugy menyerahkan buku lecek berisikan kisah petualangan Pilik. harKtaeeknaarnuntakmampauk...t.e\u201drkejut menerimanya. \u201cGy ... tapi ini 123 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 136\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cNggak pa-pa. Buku itu udah habis. Aku lagi nulis di \u00a0buku baru.\u201d \u201cTapi ... masa buku yang lama ini dikasih ke saya?\u201d Keenan masih tak percaya. \u201cCuma itu yang bisa aku kasih. Aku juga seneng banget hari ini,\u201d ucap Kugy berseri-seri. Serta-merta lengan Keenan terentang, dan Kugy terpana ketika ia sudah ada dalam rengkuhan Keenan. Sejenak se- kujur tubuh Kugy kaku bagai papan. Matanya pun masih membelalak. Pikirannya bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi? Hingga perlahan panas tubuh Keenan mulai meram- \u00a0bat, mencairkan otot-otot Kugy yang tadi terkunci, memejam- kan kelopak matanya yang tadi terbuka, dan dengan segenap hati ia mulai meresapi bahwa dirinya sedang dipeluk. Beberapa detik kemudian, pelukan itu melonggar, lalu lepas. Keenan tersenyum samar dan mengacak rambut Kugy\u00a0 sekilas. Mulai salah tingkah. \u201cKamu baik-baik, ya, Kecil,\u201d gu- mam Keenan. Cepat, ia membalikkan punggung dan pergi. \u201cKamu juga,\u201d Kugy menggumam balik. Tidak yakin Keenan mendengar suaranya atau tidak. Namun, ia yakin degup jantungnya terdengar saat tubuhnya direngkuh oleh Keenan tadi, sebagaimana ia juga mendengar degup jantung Keenan. Di bawah sinar lampu mejanya, Keenan membuka buku tulis pemberian Kugy. Berderetlah tulisan tangan kecil-kecil dan rapi seperti dicetak. Ia membaca kisah demi kisah. Tergelak- gelak sendiri. Tulisan Kugy mampu menghadirkan pertun- \u00a0jukan sinema di otaknya, yang memutar alur cerita dan \u00a0mwuejnugdhindyuaptak.anKeteonkaonh-ttaokkobhisnayabesrehoelnathi mmeemrebkaacas.emua me- 124 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 137\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Perhatiannya tahu-tahu tertumbuk pada coretan tangan Kugy. Keenan tak bisa menebak makhluk apa itu yang ber- usaha digambar Kugy kalau saja ia tak melihat tulisan \u201cHogi\u201d di bawahnya. Di beberapa halaman berikutnya, tam- pak Kugy mencoba lagi. Menggambar manusia berpeci de- ngan struktur tak proporsional, dan di bawahnya tercantum keterangan \u201cSomad Sang Pendekar\u201d. Dari guratannya, Keenan bisa membayangkan betapa Kugy berusaha keras untuk menggambar. Ia bisa membayangkan air muka Kugy\u00a0 \u00a0yang serius, seolah sedang mencipta lukisan mahakarya. Rasa haru tahu-tahu merembesi hati Keenan. Buku itu pun ditutup. Lalu Keenan menggeser kursinya ke depan kanvas kosong yang stand by di sebelah meja. Su- dah lama kanvas itu kosong. Sejak ia pulang ke Indonesia, \u00a0belum pernah lagi Keenan tergerak untuk membuat lukisan \u00a0baru. Namun, malam ini ia merasakan dorongan itu. Seolah ada sesuatu yang meminta dijemput olehnya. Apa itu, Keenan tak tahu pasti. Ia hanya memasrahkan tangan-ta- ngannya bergerak, menari dan menoreh di atas kekosongan, hingga sesuatu itu mewujud perlahan di atas kanvasnya. Keenan melukis dan melukis, hingga pagi tiba. 125 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 138\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 15. MENCARI KETULUSAN Pukul dua siang. Lazimnya, kos-kosan baru kembali ber- penghuni setelah sore. Eko tidak kaget melihat betapa sepi- nya tempat kos itu, apalagi penghuninya memang cuma lima orang. Yang aneh justru ketika salah satu penghuni di kosan itu malah ada di tempat. Bahkan sudah berhari-hari tidak\u00a0 muncul di kampus sama sekali. Pintu kamar itu dibukakan dari dalam. Keenan berdiri di hadapannya, masih dengan rambut acak-acakan dan mata setengah terbuka. \u201cGile. Baru bangun lu?\u201d \u201cHmm,\u201d Keenan menggumam, lalu kembali mengempas- kan tubuhnya ke tempat tidur. \u201cKata Bimo udah beberapa hari ini lu nggak kuliah. Kenapa bisa gitu, Bos?\u201d Tangan Keenan menunjuk ke arah kanvas. \u201cWow. Lukisan baru? Ck-ck-ck ... sadis. Lukisan keren gila,\u201d Eko berdecak kagum. \u201c\u201cWYaanhg. iLtuukbisealunmbesleulmesasei l.e..s.a\u201di yang keren gila,\u201d Eko cenge- 126 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 139\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 ngesan. \u201cAnyway, \u00a0 gua datang ke sini sebetulnya sebagai pengantar pesan dari Wanda yang udah beberapa hari ini nyariin elu. Dia bilang, dia punya kabar superpenting buat lu, tapi lu nggak bisa dihubungi. Dia juga bilang, udah saat- nya lu punya HP. Dan, sore ini Wanda bakal datang ke Ban- dung khusus buat nemuin lu.\u201d \u201cAda apa, ya?\u201d Eko mengangkat bahu. \u201cMana gua tahu. Tapi kayaknya penting banget. Jadi, siang ini gua nganterin lu ke toko HP, oke?\u201d \u201cOgah,\u201d Keenan menjawab dengan suara berkumur ka- rena mulutnya masih membenam di bantal. \u201cDasar seniman gaptek. Di era milenium ini, sungguh absurd adanya kalo lu nggak punya HP.\u201d \u201cMales. Belum butuh.\u201d \u201c\u00a0Anyway\u00a0 yang kedua: lu sebetulnya udah jadian belum sama Wanda?\u201d Kali ini Keenan melepaskan mukanya dari bantal. Per- lahan, ia duduk tegak di atas tempat tidur. \u201cOke, oke. Gua ralat pertanyaan gua. Sebetulnya, lu suka nggak sih sama dia?\u201d Eko bertanya lagi. \u201cGua sebetulnya lebih tertarik dengan ... kenapa lu bisa tahu-tahu nanya gitu?\u201d Keenan bertanya balik. \u201cWell, \u00a0 udah hampir lima bulan kalian kenal dan jalan \u00a0bareng. Jelas-jelas kalian nyambung. Jelas-jelas dia selalu \u00a0bela-belain nemuin lu, bahkan dialah orang yang paling ber- \u00a0\ue02c\ue023\ue034\ue023 \ue024\ue036\ue023\ue035 \ue02d\ue023\ue033\ue02b\ue027\ue033 \ue02e\ue036\ue004 \ue010\ue023\ue030 \ue02c\ue027\ue02e\ue023\ue034\ue003\ue02c\ue027\ue02e\ue023\ue034 \ue004\ue004\ue004 \ue026\ue02b\ue023 \ue004\ue004\ue004 \ue021\ue023\ue030\ue026\ue023\ue002 \ue029\ue02b\ue035\ue036\ue000 Kurang apa lagi sih cewek satu itu? Cowok sehat mana yang nggak ngiler ngacak-ngacak tanah lihat dia?\u201d tutur Eko ber- api-api. \u201cSooo?\u201d\u00a0 \u201cSo\u2014what?\u201d\u00a0 Keenan menyahut polos. samKaengiunag. \u00a0EAkroe kyoonutastnrabiegrhkte?r\u201du\u00a0 t. \u201cNan, udah saatnya lu jujur 127 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 140\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Keenan tergelak pelan, \u201cTerakhir gua cek sih iya.\u201d \u201cHarus ada sesuatu yang nggak beres kalo lu sampe nggak suka sama Wanda.\u201d \u201cGua bukannya nggak suka. Sama sekali gua nggak ada masalah dengan Wanda. Dia baik, pintar, dewasa, dan lu \u00a0bener, untuk urusan seni, gua ngerasa nyambung banget. Dia juga banyak bantu gua. Gua sadar itu. Urusan cantik? Nggak usah diperdebatkan. Orang buta juga mungkin tahu kalo dia cantik. Tapi ... untuk jadian ...,\u201d Keenan menghela napas, \u201cnggak tahu, ya. Ada sesuatu tentang dia yang gua \u00a0belum yakin.\u201d Eko menatapnya tak percaya. \u201cMan!\u00a0Kalo ternyata lu bu- kan gay, \u00a0 lu adalah cowok hetero yang sangat nggak tahu \ue026\ue02b\ue033\ue02b\ue000 \ue01a\ue023\ue030\ue002 \ue036\ue026\ue023\ue02a \ue024\ue027\ue033\ue023\ue032\ue023 \ue02f\ue023\ue02e\ue023\ue02f \ue019\ue02b\ue030\ue029\ue029\ue036 \ue026\ue02b\ue023 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue026\ue023\ue035\ue023\ue030\ue029 \ue02d\ue027 Bandung ngapelin lu? Lu bertapa di gua beruang berapa hari doang aja, dia yang bela-belain nyusulin. Apa yang \u00a0bikin lu nggak yakin, sih?\u201d Keenan menggeleng, \u201cNggak tahu. Pokoknya ada sesuatu \u00a0yang rasanya belum ... pas.\u201d Eko mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. \u201cNyerah, \ue026\ue027\ue02a\ue004 \ue01a\ue039\ue027\ue033\ue023\ue02a\ue000\ue03c \ue02b\ue023 \ue032\ue036\ue030 \ue024\ue023\ue030\ue029\ue02d\ue02b\ue035 \ue024\ue027\ue033\ue026\ue02b\ue033\ue02b\ue002 \ue03b\ue022\ue023\ue030\ue029 \ue02c\ue027\ue02e\ue023\ue034\ue002 \ue02d\ue023\ue02e\ue031 \ue02e\ue036 ternyata nggak punya \u00a0feeling\u00a0sama dia, jangan juga lu nge- gantungin, apalagi ngasih harapan. Nggak\u00a0 \u00a0fair \u00a0 buat \u00a0Wanda.\u201d Siang itu, akhirnya Keenan pergi makan ditemani sepupu- nya. Mereka tak lagi membahas masalah tadi. Namun, se- pulangnya Eko, barulah Keenan termenung di kamarnya. \u00a0Akibat pembicaraan itu, ia jadi terpicu untuk merenungkan lebih dalam perihal hubungannya dengan Wanda. Untuk\u00a0 pertama kalinya Keenan dipaksa berhadapan dengan pe- rasaannya. 128 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 141\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Malam itu, Wanda memberanikan diri untuk pergi ke tem- pat Keenan sendirian tanpa dipandu Eko dan Noni. Se- panjang jalan, ia berharap-harap cemas tidak tersasar. Dan akhirnya ia berhasil. Wanda tersenyum sendiri saat tiba di depan pintu gerbang tempat kos Keenan. Tak sabar rasanya ia mengumumkan kabar baik itu. Tak lupa, Wanda mengecek bayangannya di kaca sebelum masuk. Bajunya kali ini serba merah, dengan rok jins mini \u00a0yang memamerkan tungkainya yang jenjang. Riasannya ma- sih sempurna. Semuanya tampak beres. Diketuknya pintu itu hati-hati. \u201cKeenan? \u00a0It\u2019s me.\u00a0Wanda,\u201d panggilnya merdu. Beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka. Keenan, \u00a0yang mengenakan kemeja putih dengan wajah bersih sehabis mandi, menyambutnya dengan senyum lebar. Napas Wanda sontak tertahan. \u201cHai, Wanda. Kamu cantik banget,\u201d puji Keenan tulus. \u00a0Wanda tersipu, senyum senangnya tak bisa dibendung. \u201cYou look very handsome as well,\u201d\u00a0 ucapnya malu-malu. \u201cDan kalo digabung, kita berdua kayak bendera. Siap di- kerek,\u201d Keenan tertawa renyah, \u201cmasuk, yuk. Saya ada ke- \u00a0jutan buat kamu.\u201d \u00a0Wanda memekik kecil, \u201cKejutan buatku?\u201d Keenan tak menjawab. Ia hanya menangkupkan kedua tangannya di atas mata Wanda, lalu mengarahkan langkah gadis itu ke hadapan kanvas. Setelah itu, barulah Keenan melepaskan tangannya. Lama Wanda mematung. Menatap lukisan di hadapannya tanpa berkedip. \u201cKamu suka? Baru banget saya selesaikan.\u201d \u201cNan ... this is it,\u201d \u00a0bisik Wanda, \u201cthis is the real YOU.\u201d\u00a0 \u00a0W\u201cMaankdsaudmkemamegua?n\u201dgi dadanya yang sesak oleh rasa kagum, 129 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 142\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cOh, gosh. Papi pasti akan berkomentar lain kalau lihat lu- kisan kamu yang ini ....\u201d \u201cMemangnya Papi kamu sempat berkomentar apa soal lukisan saya?\u201d \u201cOh, nggak, Papi suka lukisan kamu, tapi Papi bilang kamu masih harus menggali potensi kamu lagi untuk me- nemukan ... apa, ya?\u201d Wanda langsung kelihatan gelisah, \u201cMmm ...\u00a0 your signature. Your \u2018X\u2019 factor. \u00a0 Sesuatu yang \u00a0benar-benar menjadi kekuatan kamu. Dan menurutku, kamu menemukannya di lukisan ini.\u201d \u201cKamu kok nggak pernah cerita soal itu?\u201d Cepat Wanda mengutas sebuah senyum lalu menggeng- gam tangan Keenan, \u201cWell,\u00a0aku punya kabar yang lebih pen- ting lagi buat kamu. \u00a0Ready?\u201d\u00a0 Keenan mengangguk. Kaki Wanda pun berjinjit, dan ia berbisik tepat di kuping Keenan, \u201cLukisan kamu di Warsita ... laku terjual. Empat- empatnya.\u201d Di tangan Keenan, Wanda menyelipkan selembar cek atas nama Galeri Warsita. Kali ini Keenan yang mematung lama. Berusaha men- cerna kata-kata Wanda yang rasanya sangat sulit dipercaya. Keenan mengulang-ulang kalimat itu dalam hatinya.\u00a0Lukisan- nya ... empat-empatnya ... laku terjual. Ia tahu betul apa artinya itu. Tak ada yang bisa mengukur kebahagiaan yang ia rasakan. Langkah terakhir menuju impiannya terwujud sudah. Perlahan, Keenan melepaskan jemarinya yang digenggam \u00a0Wanda. Sebagai ganti, ia mendekap Wanda sepenuh hati. \u201cMakasih untuk kesempatan yang kamu kasih,\u201d desisnya, \u201csaya nggak bisa bilang apa-apa lagi.\u201d \u00a0Wanda merapatkan tubuhnya, tenggelam lebih dalam ke \u00a0pbueltu. kan Keenan. \u201cIni sudah lebih dari cukup,\u201d bisiknya lem- 130 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 143\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Keenan dan Wanda memilih makan malam di salah satu restoran di puncak Kota Bandung, di daerah pegunungan \u00a0yang berpemandangan lampu kota. Meski duduk di bagian dalam restoran, angin dingin tetap terasa menusuk saat semilirnya menyentuh kulit. \u201cKamu kedinginan?\u201d tanya Keenan khawatir. Sedari tadi dilihatnya Wanda mengusap-usap lututnya yang terbuka. \u201cLumayan,\u201d Wanda mengangguk, \u201caku boleh pindah du- duk di dekat kamu, ya.\u201d Sebelum diiyakan, Wanda sudah duluan beranjak ke se- \u00a0belah Keenan. Di bangku panjang itu, Wanda leluasa me- numpangkan setengah tubuhnya, dan tanpa ragu lengannya langsung melingkar memeluk pinggang Keenan. Saat itu juga Keenan langsung merasa tubuhnya berubah kaku. Risi dengan posisi Wanda yang tahu-tahu menempel seperti anak kanguru. \u201cEhm. Maksud saya, kalau memang kamu kedinginan, kamu bisa pakai jaket saya,\u201d ujar Keenan kikuk. \u201cNever mind. Begini lebih hangat,\u201d sahut Wanda seraya mempererat pelukannya. Keenan kehilangan argumen. Namun, poros tubuhnya tetap tegang pertanda tak nyaman. \u00a0Wanda mulai merasakan sinyal itu. Pelukannya pun me- longgar. \u201cAre you okay? Kamu risi ya kalo pacaran di depan umum?\u201d Seketika Keenan melepaskan lengan-lengan Wanda yang membelit tubuhnya. \u201cWanda, sori banget. Saya nggak mau kamu salah paham. Tapi ... rasanya, kita belum pernah se- pakat untuk pacaran,\u201d ucapnya hati-hati. me\u00a0Anjiarumh.uk\u201cWa Wella.n..danglagnakgssuenmgubaerpuabcaahr.anTuhbaurhunsydaimbeurlianigdsue-t 131 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 144\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 ngan proses nyatain, kan? Aku pikir, selama ini kita berdua ... memang ....\u201d Kalimat Wanda mulai tersendat, matanya \u00a0berkaca-kaca. \u201cHave I been embarassing myself?\u00a0\u00a0 Jadi ... kamu ... nggak suka sama aku?\u201d \u201cBukan gitu,\u201d sergah Keenan cepat, \u201cgimana mungkin saya nggak suka sama kamu? Kamu baik, kamu perhatian, kamu banyak banget bantuin saya ... tapi, memangnya kita harus langsung pacaran?\u201d Bibir Wanda kontan mengatup, rahangnya tampak me- ngeras. \u201cNan, aku udah kerja keras untuk kamu dan lukisan kamu. Semua ucapan kamu barusan bikin hati aku sakit.\u201d Mendengar itu, serta-merta Keenan merangsak mendekat. \u00a0Wanda sampai terlonjak kaget. Tak siap mengantisipasi. Di- tatapnya mata Wanda dalam-dalam sambil bertanya, \u201cSe- lama ini kamu bantu saya karena lukisan saya\u2014atau karena saya?\u201d\u00a0 \u00a0Wanda menelan ludah, gugup. Namun, ia berusaha keras mengendalikan kegentarannya. \u201cKeenan,\u00a0I\u2019m a professional,\u201d\u00a0 desisnya. \u201cLukisan kamu sangat bagus, prospek kamu luar \u00a0biasa, bahkan lebih dari yang kamu sadari. Tapi itu semua nggak ada hubungannya dengan perasaan aku.\u201d Tatapan Keenan yang menghunjam sama sekali tidak ber- kurang intensitasnya. \u201cTerus, perasaan kamu sendiri gi- mana?\u201d tanyanya. Tenang dan tajam. \u00a0Wanda pun memberanikan diri menentang sorot mata Keenan. Sudah tak bisa mundur, pikirnya. \u201cI\u2019m in love with you,\u201d\u00a0ia akhirnya berkata. Jelas dan tegas. Sesuatu terasa bergetar dalam hati Keenan. Tatapan mata- nya melunak. Lama sudah Keenan berusaha menyelami dua \u00a0bola mata yang selalu dilapisi lensa kontak berwarna-warni itu, mencari sesuatu yang selama ini belum ia temukan. Ke- \u00a0tyualnugsabna.rSueskaanlipmuunnmcualsdihalsaammadri,rKi eWenanandam. eSreassuaaatudayasensguabteu- 132 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 145\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 lum pernah ia temui sebelumnya. Barangkali, itulah ke- tulusan yang dicarinya. \u201cTerus, perasaan kamu sendiri gimana?\u201d Wanda meng- ulang pertanyaan persis sama yang diajukan Keenan tadi. Bedanya, ia mengutarakannya dengan lebih tenang dan per- caya diri. Giliran Keenan yang menelan ludah. Cahaya lilin yang kekuningan menerpa wajah Kugy. Kom- \u00a0binasi antara langit malam, remang kafe tenda itu, dan ca- haya lilin, membuat ia tampak sangat cantik di mata Ojos \u00a0yang tak lepas mengamati sejak tadi. Wajah pacarnya itu \u00a0juga kelihatan sendu. Sorot matanya melayang jauh entah ke mana. \u201cMikirin apa, sih?\u201d Kugy sedikit tersentak. Namun, senyumnya berangsur terbit melihat tampang Ojos yang cemberut. \u201cKenapa? Aku sering ngelamun, ya? Maaf, ya, Jos. Akhir-akhir ini aku me- mang lagi agak tulalit.\u201d \u201cKamu ada masalah?\u201d \u201cNggak,\u201d Kugy menggeleng, \u201ctepatnya, nggak tahu. Pe- rasaanku suka agak aneh aja belakangan ini.\u201d \u201cAda hubungannya dengan aku?\u201d Kugy lama menatap Ojos sebelum akhirnya menjawab, \u201cNggak.\u201d \u201cGy, aku merasa kita kurang banget quality time\u00a0berdua. Pingin banget deh kita jalan bareng ke mana, liburan kek\u00a0 ....\u201d \u201cMaksud kamu ke Singapur?\u201d Kugy melengos, \u201cAku kan uda\u201chNbggilaakng.,..a, knuggnagkgahkarmuasuS.\u201dingapur. Kalo ke Bali aja, gi- 133 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 146\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 mana?\u201d \u201cBerdua?\u201d \u201cKita bisa pergi rame-rame. Anak-anak di Jakarta pada pingin cabut, kok. Yang jelas, di sana kita berdua bisa \u00a0bener-bener rileks, have fun\u2014\u201d \u201cAku nggak punya uang,\u201d potong Kugy, \u201ctabunganku sih ada, tapi bukan buat liburan. Aku mau nabung beli laptop.\u201d Tiba-tiba, Ojos meletakkan sesuatu di atas meja. Mata Kugy memicing. Dua lembar tiket pesawat. \u201cJos ... kamu beliin aku tiket?\u201d \u201cNggak ada lagi alasan untuk kamu ngomong nggak. Oke?\u201d tegas Ojos dengan senyum mengembang. \u201cMemangnya\u2014mau berangkat kapan?\u201d \u201cKita berangkat awal bulan depan. Cabut hari Jumat, pu- lang Minggu. Nanti aku langsung antar kamu ke Bandung pakai mobil. Pokoknya semua beres, aku yang arrange. Kamu tinggal bawa tas sama badan doang.\u201d Kugy menghela napas. Dilihatnya ekspresi Ojos yang sangat berharap. Tak habis akal, Ojos lantas mengambil tiket itu dari meja lalu menempelkannya di jidat. Memasang muka memelas seperti anak anjing hilang induk. \u201cPlease, Gy? Wuf ... wuf ... wuf ....\u201d Kugy pun tertawa, dan mengangguk. Hampir tengah malam saat sedan hitam itu kembali me- masuki halaman parkir hotel di daerah Ciumbuleuit tempat \u00a0Wanda menginap. Keenan menemaninya berjalan hingga ke lobi. Perapian yang menyala di sana tampak mulai menyurut apinya. Sofa-sofa kosong tanpa tamu. Piano grand\u00a0\u00a0 hitam \u00a0yan\u201cgKsaemmualkaemkaanmtaardai jbaedrduelunatinn.gSpayuan tsuundgaghutdeirksuinnic. iB. entar 134 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 147\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 lagi taksi saya juga datang,\u201d kata Keenan. \u00a0Wanda menggeleng. \u201cAku mendingan kedinginan di sini, daripada kehilangan momen sama kamu,\u201d ujarnya pelan. \u201cLain kali, ingat-ingat kalo ini Kota Bandung. Pakai rok\u00a0 mini malam-malam gini hanya disarankan bagi yang udah kebal dan terlatih nahan angin kayak bencong di Jalan \u00a0Veteran.\u201d \u201cKamu tuh, kok nggak romantis banget sih sama aku,\u201d rajuk Wanda manja, \u201cmasa aku malah disamain sama ben- cong?\u201d \u201cLho, siapa yang nyamain?\u201d Keenan tergelak pelan, \u201cCuma ngingetin aja, lain kali kamu lebih baik pakai celana panjang, bawa jaket atau sweater.\u201d \u201cLain kali itu kapan?\u201d pancing Wanda lagi. Keenan pura-pura berpikir dengan muka jahil. \u201cMmm. Malam Minggu depan?\u201d \u00a0Wanda langsung berseri-seri. Kakinya berangsur maju, kedua tangannya lantas digantungkan di leher Keenan, \u201cSo, kita\u2014pacaran?\u201d Keenan tersenyum simpul. Lembut, ia menarik lepas ta- ngan Wanda, mengecup jemarinya pelan. \u201cKita jalani pelan- pelan, ya.\u201d Meski api perapian berada beberapa meter di belakang, tampak jelas mata Wanda berbinar benderang. Dinginnya malam bahkan sirna. Seluruh tubuhnya dijalari hawa ba- hagia yang terasa begitu hangat. Terdengar suara mobil memasuki pelataran lobi. Taksi \u00a0yang dipesan Keenan sudah datang. Baru saja ia mau ber- \u00a0balik melangkah, tahu-tahu tangannya ditahan. \u201cYou know what?\u201d \u00a0Wanda berkata lirih, \u201cKamu nggak\u00a0 perlu pulang malam ini ke kos. Kamu bisa di sini sama akuK.\u201deenan hanya tersenyum lalu mengecup halus keningnya, 135 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 148\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cPelan-pelan, Wanda.\u201d Tak lama, taksi itu melaju pergi meninggalkan hotel. \u00a0Wanda masih terpaku di tempatnya. Rasanya ingin ia me- lesat menembus atap saking gembiranya. Tiba-tiba ia ter- ingat seseorang. Noni. Ia harus menelepon Noni. Malam ini \u00a0juga. 136 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 149\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 16. SALAH BERHARAP Kugy merogoh kantongnya dan mengambil anak kunci kecil itu, membuka sendiri gembok pagar tempat kosnya. Ia su- dah mengantisipasi kepulangannya yang larut malam dan sudah mengajukan dirinya sebagai juru kunci malam ini. Deretan kamar di koridor itu sudah gelap, tirai-tirai su- dah tertutup. Namun, dilihatnya lampu kamar Noni masih menyala, bahkan terdengar suara bernada tinggi khas Noni \u00a0yang sedang mengobrol dengan terpekik-pekik. Baru saja tangannya mau mendarat di handel pintu ka- marnya, pintu Noni terbuka. Mata sahabatnya itu membela- \ue02e\ue023\ue02d \ue034\ue027\ue029\ue023\ue033 \ue034\ue027\ue032\ue027\ue033\ue035\ue02b \ue024\ue023\ue033\ue036 \ue02f\ue023\ue02d\ue023\ue030 \ue033\ue036\ue02c\ue023\ue02d \ue025\ue023\ue024\ue027\ue004 \ue03b\ue013\ue039\ue000 \ue01f\ue027\ue024\ue023\ue02d \ue023\ue032\ue023 \u00a0\ue039\ue023\ue030\ue029 \ue024\ue023\ue033\ue036 \ue034\ue023\ue02c\ue023 \ue035\ue027\ue033\ue02c\ue023\ue026\ue02b\ue000 \ue01f\ue023\ue026\ue02b\ue02b\ue02b \ue004\ue004\ue004 \ue024\ue023\ue033\ue036\ue034\ue023\ue023\ue023\ue030 \ue004\ue004\ue004 \ue02f\ue023\ue02e\ue023\ue02f \ue02b\ue030\ue02b\ue02b\ue02b \ue004\ue004\ue004 aduh, nggak boleh berisik, ya? Nggak kuat niiih ...\u201d \u201cLu kebelet pipis?\u201d tanya Kugy, melihat Noni yang sam- pai membungkuk-bungkuk seperti menahan sesuatu. \u201cBukan, gila. Gua baru ditelepon sama Wanda. Aduuuh ... seneng banget gua ....\u201d Noni terkikik-kikik sendiri, \u201cTadi \u00a0Wgimanadnaa,sapmokaoKkeneynaanWkaenndcaanakbherirdnuyaa, gniteum. bTaekruss,i nKgegeankatnah.u.. 137 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 150\/457"]
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184
- 185
- 186
- 187
- 188
- 189
- 190
- 191
- 192
- 193
- 194
- 195
- 196
- 197
- 198
- 199
- 200
- 201
- 202
- 203
- 204
- 205
- 206
- 207
- 208
- 209
- 210
- 211
- 212
- 213
- 214
- 215
- 216
- 217
- 218
- 219
- 220
- 221
- 222
- 223
- 224
- 225
- 226
- 227
- 228
- 229
- 230
- 231
- 232
- 233
- 234
- 235
- 236
- 237
- 238
- 239
- 240
- 241
- 242
- 243
- 244
- 245
- 246
- 247
- 248
- 249
- 250
- 251
- 252
- 253
- 254
- 255
- 256
- 257
- 258
- 259
- 260
- 261
- 262
- 263
- 264
- 265
- 266
- 267
- 268
- 269
- 270
- 271
- 272
- 273
- 274
- 275
- 276
- 277
- 278
- 279
- 280
- 281
- 282
- 283
- 284
- 285
- 286
- 287
- 288
- 289
- 290
- 291
- 292
- 293
- 294
- 295
- 296
- 297
- 298
- 299
- 300
- 301
- 302
- 303
- 304
- 305
- 306
- 307
- 308
- 309
- 310
- 311
- 312
- 313
- 314
- 315
- 316
- 317
- 318
- 319
- 320
- 321
- 322
- 323
- 324
- 325
- 326
- 327
- 328
- 329
- 330
- 331
- 332
- 333
- 334
- 335
- 336
- 337
- 338
- 339
- 340
- 341
- 342
- 343
- 344
- 345
- 346
- 347
- 348
- 349
- 350
- 351
- 352
- 353
- 354
- 355
- 356
- 357
- 358
- 359
- 360
- 361
- 362
- 363
- 364
- 365
- 366
- 367
- 368
- 369
- 370
- 371
- 372
- 373
- 374
- 375
- 376
- 377
- 378
- 379
- 380
- 381
- 382
- 383
- 384
- 385
- 386
- 387
- 388
- 389
- 390
- 391
- 392
- 393
- 394
- 395
- 396
- 397
- 398
- 399
- 400
- 401
- 402
- 403
- 404
- 405
- 406
- 407
- 408
- 409
- 410
- 411
- 412
- 413
- 414
- 415
- 416
- 417
- 418
- 419
- 420
- 421
- 422
- 423
- 424
- 425
- 426
- 427
- 428
- 429
- 430
- 431
- 432
- 433
- 434
- 435
- 436
- 437
- 438
- 439
- 440
- 441
- 442
- 443
- 444
- 445
- 446
- 447
- 448
- 449
- 450
- 451
- 452
- 453
- 454
- 455
- 456
- 457