["\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 hargaan Remi terpajang di dinding kantor. Mereka semua \u00a0bilang, dulu Remi dianggap\u00a0prodigy\u00a0dunia periklanan. \u201cTapi, ini memang pekerjaan yang selalu kamu inginkan? \u00a0Atau ada \u00a0passion\u00a0lainkah?\u201d tanya Kugy lagi. Remi menggeleng. \u201cIni dunia saya. Dari kecil saya tuh udah jago bikin dagangan orang laku, Gy. Orangtua saya, saudara-saudara saya, tiap mereka bikin apa saja, mereka suka iseng tanya sama saya, terus saya kasih ide-ide untuk\u00a0 \u00a0bisnis mereka, eh ... semuanya sukses. Waktu sekolah dan kuliah juga sama, saya sering bantu event sekolah atau kam- pus, semuanya berhasil. Dan saya puas banget mengerjakan- nya.\u201d \u201cWow,\u201d Kugy berdecak kagum, \u201ckamu orang yang sangat, sangat beruntung. Kamu mencintai pekerjaan kamu, dan kamu juga sukses di bidang yang kamu cintai. Pasti banyak\u00a0 \u00a0banget yang ngiri sama kamu.\u201d \u201cMungkin,\u201d Remi mengangkat bahu, \u201cyang jelas saya cuma ngiri sama satu.\u201d \u201cSiapa?\u201d \u201cPelukis.\u201d Kugy seperti tersentil mendengarnya. \u201cPelukis? Kok\u2014 \u00a0bisa?\u201d \u201cLukisan adalah hiburan saya yang paling menyenangkan,\u201d Remi menjelaskan, matanya berbinar, \u201cpara pelukis itu bisa melahirkan dunia baru lewat jiwa mereka ... berkata-kata dengan gambar ... warna ... komposisi ...,\u201d ia menghela napas panjang, \u201ckalau saya dilahirkan kembali, saya kepingin \u00a0jadi pelukis.\u201d Kugy terdiam. Semua yang diceritakan Remi mengingat- kannya pada seseorang. \u201cKalau kamu? Kalau dilahirkan lagi, mau jadi apa?\u201d Kugy menjawab mantap, \u201cIkan paus.\u201d 288 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 301\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 U b ud , D esem ber 200 2 ... Luhde terbangun lebih pagi dari biasanya. Entah kenapa. Tiba-tiba saja ia terlonjak dari tempat tidur. Perasaannya tak enak. Pelan-pelan, ia bangkit dari tempat tidur. Berjalan ke luar. Belum ada siapa-siapa yang terlihat. Namun, kupingnya mendengar sesuatu. Dari arah bale. Saat ia mendekat, barulah jelas suara apa itu. Dan ter- kejutlah Luhde ketika melihat apa yang terjadi. Keenan te- ngah berdiri ... menyobek lukisannya sendiri. Lukisan yang \u00a0baru dibuatnya beberapa hari lalu. \ue03b\ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030\ue000\ue03c \ue034\ue027\ue033\ue036 \ue018\ue036\ue02a\ue026\ue027 \ue034\ue023\ue02f\ue024\ue02b\ue02e \ue035\ue027\ue033\ue029\ue031\ue032\ue031\ue02a \ue024\ue027\ue033\ue02e\ue023\ue033\ue02b \ue030\ue023\ue02b\ue02d \ue02d\ue027 bale. \u201cKenapa kamu?\u201d Keenan tertegun melihat Luhde yang muncul tanpa di- duganya. Tangannya masih menggenggam kanvas yang su- dah tercabik menjadi dua. \u201cKe\u2014kenapa lukisannya disobek?\u201d Luhde bertanya, cemas dan takut. \u201cLukisan ini nggak bagus,\u201d jawab Keenan datar. \u201cTapi ... itu lukisan Keenan yang pertama lagi setelah se- kian lama ... dan menurutku, lukisan itu bagus ... apanya \u00a0yang salah?\u201d ratap Luhde kebingungan. \u201cDe, saya nggak bisa melukis seperti dulu lagi,\u201d kata Keenan lirih. \ue03b\ue017\ue023\ue035\ue023 \ue034\ue02b\ue023\ue032\ue023\ue00c \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue024\ue031\ue02e\ue027\ue02a \ue030\ue029\ue031\ue02f\ue031\ue030\ue029 \ue024\ue027\ue029\ue02b\ue035\ue036\ue000 \ue017\ue023\ue02f\ue036 \ue02a\ue023\ue033\ue036\ue034 \ue02d\ue023\ue034\ue02b\ue02a \ue02d\ue027\ue034\ue027\ue02f\ue032\ue023\ue035\ue023\ue030 \ue032\ue023\ue026\ue023 \ue026\ue02b\ue033\ue02b \ue02d\ue023\ue02f\ue036 \ue034\ue027\ue030\ue026\ue02b\ue033\ue02b\ue000 \ue017\ue027\ue030\ue023\ue032\ue023 \ue02e\ue036\ue003 kisannya harus dirusak?\u201d desak Luhde bercampur tangis. Direbutnya cabikan kanvas itu dari tangan Keenan. \u201cKenapa dirusak?\u201d tangisnya lagi. \u201cKarena ... lukisan itu ...,\u201d Keenan tergagap, tak bisa men- \u00a0hjealansckuarnk.aBnahgaatiimLaunhadbei?saBiaahmwaenluguknisgaknapitkuantankyamteamnpilaikmi neynag-- 289 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 302\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0wa dan kekuatan yang sama? Bahwa lukisan itu tak sanggup menggerakkan dan mewakili hatinya sebagaimana lukisan- lukisannya yang dulu? Dan Luhde pun tak bisa lagi berkata-kata. Ia sungguh tak\u00a0 mengerti, dan sebagian dirinya tidak terima. Pertama kalinya Keenan melukis ... untuknya. Dan lukisan itu berakhir de- ngan tercabik menjadi dua. \u201cMasih pagi sekali, De. Anginnya dingin. Kamu masuk ke kamar lagi saja.\u201d Cuma itu yang bisa Keenan bilang. Ia pun membalikkan punggungnya, menatap pekarangan yang sepi, \u00a0yang jauh lebih mudah dihadapi ketimbang wajah Luhde \u00a0yang pilu. \u201cSaya ingin di sini,\u201d bisik Luhde. Hati-hati, didekatinya sosok laki-laki yang amat dicintainya itu. Memeluknya per- lahan dari belakang. Membenamkan air matanya di sana. J a k a r t a , D e sem b er 2 0 0 2 ... Lena termenung di pinggir tempat tidur rumah sakit. Adri \u00a0baru melewati masa kritis selama dua hari, dan hari ini ia sudah mulai siuman. Sesekali terjaga dan membuka mata, meski tubuh itu tetap kaku seperti papan. \u00a0Stroke\u00a0yang kali ini menyerangnya jauh lebih kuat dibandingkan serangan \u00a0yang pertama. Dokter bahkan meragukan kondisinya akan kembali seratus persen seperti semula. Dibutuhkan ke- \ue023\ue02c\ue023\ue02b\ue024\ue023\ue030\ue002 \ue02f\ue027\ue033\ue027\ue02d\ue023 \ue024\ue02b\ue02e\ue023\ue030\ue029\ue004 \ue00e\ue027\ue033\ue024\ue036\ue02e\ue023\ue030\ue003\ue024\ue036\ue02e\ue023\ue030 \ue03e\ue034\ue02b\ue031\ue035\ue027\ue033\ue023\ue032\ue02b \ue032\ue036\ue030 \ue032\ue023\ue003 ling hanya akan mengembalikan tujuh puluh sampai delapan puluh persen kondisi suaminya. Bahkan, kenyataan bahwa \u00a0Adri masih hidup pun sudah harus dikategorikan sebagai keajaiban. Mudah-mudahan keajaiban ini berlanjut, kata mereka lagi. kemSabaatliskepeerrutiminaihlashakbiatrusesteeplaihitjuamtersaeskao. lJaehrnoyean ubsaarui naaknatni 290 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 303\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 siang. Di ruangan itu, hanya dirinya dan suaminya yang ter- \u00a0baring tak bersuara. Lena bangkit berdiri. Membelai-belai rambut suaminya. Dan ia putuskan untuk berbisik di telinga suaminya, meng- ajukan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini belum ter- \u00a0jawab: ada apa sebenarnya? Apa yang selama ini kamu sembunyikan? Apa yang bisa kubantu?\u00a0 Lama Lena berdiri seperti itu, terus membelai-belai halus, dan berbisik di telinga suaminya, sampai akhirnya ekor mata- nya menangkap sesuatu. Kelopak mata Adri kembali mem- \u00a0buka. Lena segera menatapnya, tersenyum, lantas menggenggam tangan yang terasa kaku bagai kawat itu. \u201cHai ...,\u201d sapanya lembut. Mata itu mengerjap. Bercerita. Memohon. Lena membelai wajah suaminya, \u201cAku di sini ... kamu akan sehat lagi ... kamu akan baik-baik lagi seperti dulu ...,\u201d Mata itu mengerjap lebih cepat. Semakin sarat dengan pesan. Tapi tak ada satu bunyi pun yang keluar. Lena mulai membaca sorot yang gelisah itu. \u201cApa yang \u00a0bisa aku bantu, Dri?\u201d Dengan segala daya yang entah dari mana, otot-otot muka Adri mulai bergerak. Sedikit demi sedikit. Mulut itu \u00a0bergetar, mengeluarkan bunyi kerongkongan yang ter- tahan. \u201cKkk ... kk ... kee ....\u201d Lena terkesiap. Tangannya langsung memencet tombol untuk memanggil perawat. \u201cIya, apa, Adri? Kamu mau bi- lang apa?\u201d Lena mendekatkan kupingnya ke depan mulut \u00a0Adri agar bisa mendengar lebih jelas. mu\ue010ng\ue027k\ue030i\ue029n\ue023k\ue030an\ue034n\ue036\ue023ya\ue033\ue023 u\ue035n\ue027\ue033tu\ue02b\ue02fk\ue032b\ue02b\ue035er\ue026b\ue023i\ue030ca\ue024ra\ue027,\ue02e\ue027A\ue030\ue029d\ue029ri\ue036 b\ue03ee\ue034r\ue02bu\ue02ds\ue039a\ue023h\ue030a\ue029s\ue035e\ue023t\ue02den\ue02fga\ue027h\ue003 291 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 304\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 mati untuk mengucapkan satu kata itu: \u201cKkk ... kee ... nan ...\u201d Begitu kata itu terucap, mata Adri kembali memejam. Otot-otot wajahnya kembali menegang. Lena pun terenyak di tempat duduknya. \u00a0Keenan? Itukah penyebabnya? Selama ini, Adri tidak menunjukkan ke- pedulian sama sekali tentang keberadaan Keenan, bahkan mengingatkannya berkali-kali untuk tidak pernah mencari Keenan, sampai anak itu yang menghubungi mereka duluan. Sejak Keenan pergi, tak satu kali pun Adri membahas ma- salah Keenan, bahkan menyebut namanya pun tidak. Seolah- olah memorinya sudah ia ringkus dan bekukan hingga satu hari nanti, saat Keenan yang kembali ke rumah dan me- mohon maaf. Sesuai dengan apa yang dimauinya. Mendadak, Lena diserang perasaan bersalah yang men- dalam. Dialah satu-satunya yang tahu ke mana Keenan pergi. Dialah satu-satunya yang tahu pasti bahwa anak itu \u00a0baik-baik saja. Sementara, suaminya bertahan dalam ketidak- tahuan, dalam sikap tak mau tahu dan tak mau peduli. Pada- hal, selama ini, mungkin saja Adri terus bertanya-tanya, dan akhirnya tergerogoti dari dalam oleh pertanyaan yang tak\u00a0 ada jawaban: di mana Keenan?\u00a0 Tak ada jalan lain, pikir Lena. Ia harus menjemput Keenan pulang. 292 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 305\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 33. KEKUATAN MENCINTA Sejak pernikahannya dengan Adri, Lena belum pernah meng- injakkan kakinya lagi di Pulau Bali. Dua puluh satu tahun \u00a0yang lalu adalah terakhir kalinya. Perasaan yang luar biasa asing meliputinya begitu pesawat yang ditumpanginya ber- sisian dengan laut, siap mendarat. Tibalah ia di Bandara Ngurah Rai, disambut alunan gending Bali yang sayup-sayup \u00a0berkumandang dari kotak-kotak pengeras suara. Lena tidak\u00a0 pernah tahu apakah dirinya siap kembali ke sini. Ada pe- rasaan ingin berbalik pulang ke Jakarta, perasaan menyesal, sekaligus rasa rindu yang hebat. Lena tak sanggup membayangkan apa rasanya di per- \u00a0jalanan nanti, melihat begitu banyak hal yang dapat mem- \u00a0bangkitkan kenangan-kenangan yang selama ini sudah ber- hasil ia kubur rapat-rapat. Kenangan saat ia masih tinggal di pulau ini, saat ia masih melukis, saat ia masih bersama \u00a0Wayan. Sebelum melangkahkan kaki ke gerbang luar, Lena duduk\u00a0 tneyralebuinhtudakhutilduauknttuerkbmeleennegnguangpkearansdaairni.-pMeeransgainangatykaanngdtiraik- \u00a0 293 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 306\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 menentu, yang hanya akan menjebaknya ke dalam perang- kap masa lalu. Mencamkan dalam hatinya bahwa ia datang kemari hanya untuk menjemput anaknya. Cukup itu yang perlu ia ingat. Nanti malam, ia sudah kembali pulang. Lepas dari tempat ini. Lepas dari kenangan ini. Menit demi menit. Meter demi meter. Perjalanan yang men- cabik-cabik hatinya sejak tadi akhirnya tiba di puncak. Sam- pailah ia di gerbang depan rumah itu. Lena tidak tahu ke- kuatan mana yang bisa menggiring dirinya kembali ke sana, untuk sekadar mampu berdiri tegak menunggu pintu itu ter- \u00a0buka. Penjaga rumah yang membukakan pintu meminta Lena untuk menunggu di teras depan. Tak lama, terdengar langkah-langkah yang mendekati. Bahkan dari tempo ber- \u00a0jalannya, Lena sudah tahu siapa gerangan yang datang meng- hampiri. \u201cHalo, Wayan,\u201d sapanya dengan senyum. Pak Wayan tertegun. Lama. \u201cSaya mau ketemu dengan Keenan,\u201d ucap Lena lagi. \u201cApa ada masalah?\u201d tanya Pak Wayan dengan suara ter- tahan. \u201cAdri masuk rumah sakit. Kena stroke,\u201d\u00a0 jelas Lena pen- dek. Pak Wayan tertegun sejenak. \u201cSebentar, saya panggilkan Keenan,\u201d desisnya. Pijakan kakinya seolah ingin membelesak\u00a0 menembus lantai. Sesaat, ia bahkan merasa sedang bermim- pi. Segalanya meluruh di hadapan perempuan itu. Kekuatan- nya, pertahanannya, bahkan dirinya tak lagi sama jika Lena aPdaak. WIaamyaenrabseartjearlasensakte dbierlaukmaanhgn, ymaesmenadnigrig.ilMKeesekni alinm. bung, 294 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 307\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Tak pernah terlintas di benak Keenan, ibunya akan duduk\u00a0 \u00a0bersama dia di bale, bertemankan angin dan suara kentungan bambu. Kangen dan pilu bercampur jadi satu. \u201cMama ingat, kamu pernah bilang, kamu tidak mau pu- lang ke penjara yang sama. Mama juga ngerti, inilah rumah- mu sekarang. Tapi, Mama nggak mungkin pulang ke Jakarta tanpa kamu,\u201d Lena berkata. Keenan mengangguk, berat. \u201cSaya pasti pulang, Ma. Nggak mungkin saya membiarkan Papa, Mama, dan Jeroen,\u201d ujarnya pelan, \u201csaya hanya nggak kebayang apa yang saya kerjakan nanti di Jakarta. Saya udah nggak kuliah. Di sini pun saya nggak bisa melukis lagi. Saya nggak bisa apa-apa untuk bantu Mama.\u201d \u201cMama cuma butuh kamu ada. Itu saja,\u201d tegas Lena, \u201cdan itu juga yang dibutuhkan papamu. Cuma nama kamu yang dia sebut, Nan. Seluruh badannya lumpuh, tapi dia bisa mengucapkan nama kamu. Cuma kamu yang dia tunggu.\u201d Hati Keenan remuk redam mendengarnya. \u201cApa pun, Ma. \u00a0Apa pun yang Papa minta, yang Papa butuhkan dari saya, akan saya penuhi sebisa saya.\u201d \u201cKita berangkat malam ini pakai pesawat terakhir, ya? Mama nggak bisa tinggal lebih lama lagi,\u201d Lena menggeng- gam tangan anaknya. Keenan bangkit dan merangkul ibunya. \u201cSaya beres-beres sekarang juga,\u201d bisiknya. Perpisahan yang terjadi begitu cepat tak diduga-duga ter- nDyeantgaansatneggagrupdanmteemnbanuga,t iasemoreamnbganLtuuhKdeeenbaenrtrbaenrssfioaprm. Taaski.\u00a0 295 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 308\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 ada rengekan, atau rajukan, bahkan pertanyaan. Seolah ia sudah bersiap untuk hari itu tiba. Hari itu Luhde menjelma menjadi perempuan dewasa pada usianya yang baru sem- \u00a0bilan belas tahun. Ia menyerahkan setumpuk baju yang sudah dilipat rapi pada Keenan, \u201cIni yang terakhir dari lemari. Kalau memang masih ada yang ketinggalan, nanti saya kirim ke Jakarta.\u201d Keenan menerimanya dengan pilu. Sikap Luhde yang demikian justru membuat hatinya tambah hancur. \u201cSemua barang Keenan yang ada di studio sudah diberes- kan oleh\u00a0Beli\u00a0Agung. Kalau memang tidak terlalu berat, bisa Keenan bawa malam ini juga. Kalau tidak, nanti bisa me- nyusul, sekalian dengan barang-barang yang lain,\u201d Luhde menebarkan pandangannya, mengecek kamar itu sekali lagi, mencari barang-barang yang masih terlupa. \u201cSemuanya su- dah siap,\u201d ia mengangguk mantap, \u201cmari, saya bantu bawa sebagian.\u201d Keenan tak tahan lagi. Diletakkannya kembali tas yang sudah diangkat Luhde. \u201cSaya akan kembali ke sini, De. Saya janji. Begitu ayah saya sembuh, dan keluarga saya sudah kembali baik-baik, saya janji akan pulang kemari. Saya akan kembali untuk\u00a0 kamu,\u201d ucap Keenan sungguh-sungguh. \u201cMaaf, saya nggak\u00a0 \u00a0dbiasha kkaamsihu akpasai-hapsael.a..mdaibsaanydaindgi ksainni d..e..n\u201dgan semua yang su- \u201cKamu sudah pernah ada juga sudah cukup,\u201d potong Luhde. \u201cSaya akan kembali,\u201d ulang Keenan lagi. Luhde menatap Keenan, matanya mulai berkaca-kaca, suaranya mulai gemetar, \u201cIkuti saja kata hati kamu. Ke mmaenmaapnugnkaitmu.uHtiadtiaktidkaekmbbiaslai,bsoahyoanmg,e\u201dnugcearptin.\u201dya lirih, \u201ckalau 296 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 309\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cLuhde, tolong, jangan bicara seperti itu. Titiang me \u00a0janji3\u00a02,\u201d ucap Keenan sungguh-sungguh. Seutas senyum haru muncul di wajah Luhde. \u201cKeenan nggak percaya, ya? Mendengar Keenan punya niat begitu, \u00a0benar-benar sudah lebih dari cukup untuk saya. Tanpa perlu dibuktikan. Sebentar saja Keenan ada di sini, sudah mem- \u00a0buat diri saya lebih berarti.\u201d Keenan mendekap Luhde. Lembut seolah mendekap ka- pas putih yang halus, sekaligus erat seolah ia tak ingin me- lepas. \u201cTunggu saya, ya,\u201d bisik Keenan tepat di kupingnya. Perlahan, Luhde melepaskan pelukan Keenan. Ia meraih sesuatu yang sejak tadi dibawanya dalam bungkusan kain. \u201cIni ... kamu bisa bawa lagi,\u201d Luhde menyerahkan benda itu ke genggaman tangan Keenan. Seketika Keenan mengenali benda yang diberikan Luhde. Ia pun terperanjat. \u201cKenapa dikembalikan ke saya? Ini kan untuk kamu.\u201d Luhde menunduk. Perih sekali rasanya harus jujur. \u201cSaya tahu. Biarpun Keenan sudah lama kasih ini untuk saya, se- lalu saya merasa benda ini bukan milik saya. Entah kenapa.\u201d \u201cLuhde Laksmi, lihat ini baik-baik,\u201d Keenan mengangkat dagu Luhde, menatapnya lurus-lurus. Dibukanya bungkusan kain yang menutupi ukiran itu, dibukanya telapak tangan Luhde, kemudian ia letakkan ukiran itu di atasnya. \u201cIni. Saya berikan pada kamu untuk yang kedua kalinya. Tidak\u00a0 akan ada yang ketiga kali,\u201d Keenan pun tersenyum. Luhde ikut tersenyum. Sebulir air mata mengalir di pipi- nya. \u201cSaya pergi, ya,\u201d ucap Keenan seraya mengelus rambut Luhde. Mengecup bibirnya, dan mendekapnya sekali lagi. 32\u00a0Saya sudah berjanji. 297 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 310\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Dalam dekapan Keenan, Luhde mendekap ukiran itu di dadanya. Erat, seolah tak mau berpisah, karena ia tahu, hati tidak pernah bisa berbohong. Ia tahu waktunya tak banyak. Dalam beberapa jam, perem- puan itu akan kembali hilang dari hidupnya. Meski seluruh sel tubuhnya tergetarkan oleh perasaan gentar, Wayan sadar ia tak punya kesempatan lain selain saat ini. Keenan masih membereskan barang-barangnya di kamar, dan Lena tengah menunggu sendirian di serambi rumah utama. Wayan berjalan menghampirinya. Lena, yang men- dengar suara langkah kaki, langsung menoleh ke belakang. Dan ia lebih kaget lagi ketika mendapatkan Wayan sedang \u00a0berjalan mendekatinya, menggeser kursi, dan duduk di ha- dapannya. \u201cKamu tidak perlu bicara apa-apa, Lena,\u201d kata Wayan segera, \u201ckamu hanya perlu mendengar. Dan apa yang ingin kusampaikan tidak banyak.\u201d Wayan memberanikan diri me- natap ke dalam mata Lena, terlepas dari darahnya yang se- perti berhenti mengalir hanya dengan duduk sedekat ini dengan perempuan yang begitu dicintainya. \u201cDua puluh tahun aku habiskan cuma untuk melupakan kamu. Tapi tidak sedetik pun aku menyesal. Keenan, adalah cinta kedua terindah yang pernah kualami setelah kamu. \u00a0Aku menyayangi dia seperti anakku sendiri. Aku berterima kasih untuk kesempatan yang kamu dan Adri berikan, se- hingga dia bisa menjadi bagian hidupku seperti sekarang. Lewat kehadiran Keenan, aku belajar memaafkan diriku, kamu, Adri, dan semua yang dulu kita lalui.\u201d Seiring dengan \u00a0aWliaryaann kmaelirmasaat hyaatningyatemlaehlegdai.pendamnya puluhan tahun, 298 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 311\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cJangan pernah beri tahu Keenan kalau aku sangat men- cintai ibunya. Biar saja dia memandang aku tak lebih dari sekadar sahabat lama orang tuanya,\u201d Wayan pun beranjak\u00a0 \u00a0berdiri, \u201csemoga Adri cepat sembuh.\u201d \u201cWayan ...,\u201d sergah Lena, \u201caku ... minta maaf.\u201d \u201cKamu nggak perlu minta apa-apa, Lena. Semuanya aku lepaskan untuk kamu.\u201d Wayan tersenyum tipis. Sesuatu seolah membuncah ingin keluar dari dadanya, Lena nyaris tak bisa berdiri dan berucap, tapi ia pun tahu kesempatan ini mungkin tak akan ada lagi. Ia harus bicara. \u201cAku harus meninggalkan kamu waktu itu. Aku tidak mung- kin mengorbankan Keenan dalam perutku. Dan keputusanku \u00a0bukan karena Adri ... bukan karena hatiku yang memilih dia ... tapi karena kandunganku ....\u201d \u201cLena ... sudah. Aku tahu. Aku mengerti. Dan aku \u00a0bahagia kamu memilih untuk mempertahankan Keenan.\u201d \u201cAntara aku dan Adri waktu itu\u2014\u201d \u201cApa pun yang terjadi antara kalian berdua, tidak lagi penting buatku sekarang. Kalian sudah membuktikannya dengan bertahan bersama sekian lama. Aku senang dia mam- pu menyayangi dan mengurusmu dengan baik,\u201d Wayan mengatur napasnya yang menyesak, \u201chati kamu mungkin memilihku, seperti juga hatiku selalu memilihmu. Tapi hati \u00a0bisa bertumbuh dan bertahan dengan pilihan lain. Kadang, \u00a0begitu saja sudah cukup. Sekarang aku pun merasa cu- kup.\u201d Lena merasakan kedua matanya panas, tapi tak ada air mata yang keluar. \u201cKami semua mendoakan kalian dari sini,\u201d kata Pak\u00a0 \u00a0Wayan. Ia mengelus sekilas punggung tangan Lena di atas meja, lalu berbalik pergi. air Lmenataakyeamnbgaklielduuadru, kmseesnkdi ihriaatnindyiaskeerammbbalii. Tmeetnapantgaikskaadna 299 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 312\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 tangisan panjang yang telah menghantuinya puluhan tahun. Tangisan yang selamanya harus terkurung dalam kesunyian. Tangisan yang harus kembali dikuburnya dalam-dalam. Suasana di rumah itu tak lagi sama. Sesuatu telah hilang. Semua orang bisa merasakannya. Selepas kepergian Keenan dan Lena, tinggallah Luhde dan Pak Wayan, duduk di bale. Berselimutkan kabut tebal perasaan mereka masing-masing. \u201cJadi ... itu meme-nya Keenan,\u201d ujar Luhde, menyesah kabut yang bergantung sejak mereka pertama kali duduk di sana. \u201cCantik, ya. Sama cantiknya dengan yang di lukisan \u00a0Poyan,\u201d lanjut Luhde sambil membayangkan wajah di lukisan pamannya. Lena puluhan tahun yang lalu. Satu-satunya lu- kisan potret Lena yang masih disimpan oleh pamannya. \u201cKenapa \u00a0Poyan tidak kasih lihat lukisan itu ke meme-nya Keenan? Kapan lagi dia datang kemari? Bagaimana kalau dia tidak pernah ke sini lagi ....\u201d \u201cSudahlah, De,\u201d sela Pak Wayan, \u201ctidak ada gunanya lagi.\u201d Laki-laki itu pun berdiri dan berjalan menjauh. Luhde memandangi punggung pamannya dengan pe- rasaan sesal. Ia tidak bermaksud membuat pamannya ber- tambah sedih. Kedatangan Lena tadi pastinya sudah me- morak-porandakan hati pamannya, menguak luka-luka \u00a0berumur puluhan tahun. Ia menyesal telah menambahkan duka yang tak perlu, hanya karena tak sanggup menahan diri untuk bertanya. Semenjak pamannya berpisah dengan Lena, pria itu tidak\u00a0 pernah jatuh cinta lagi. Ia memilih hidup sendiri dan tidak\u00a0 madeanlaikhahyandgentegraankhpirerdeamnptuakantermgaanntaikapnu.nL. eBbiahgibnayiak, hLideunpa 300 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 313\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 sendiri daripada hidup dalam kebohongan, begitu kata pa- mannya selalu. \u00a0Poyan\u00a0terkenal dengan lukisan-lukisan upacara Balinya, tapi orang-orang terdekatnya tahu, objek itu hanyalah pe- larian belaka. Lukisan \u00a0Poyan \u00a0 yang dulu jauh lebih bagus, \u00a0begitu kata mereka yang tahu. Dulu, \u00a0Poyan\u00a0hanya melukis perempuan. Satu perempuan yang sama. Entah ke mana lukisan-lukisan itu sekarang. Tersebar di kolektor atau ter- simpan entah di mana. Yang jelas, pamannya tidak pernah lagi melukis seperti dulu. Ia bahkan sempat berhenti ber- tahun-tahun. Dari semua lukisan yang dulu ia buat, hanya satu yang masih disimpannya. Dan dari satu lukisan yang tersisa itulah Luhde mengenalnya. Lena. Perempuan yang \u00a0begitu dicintai \u00a0Poyan\u00a0dan tak pernah bisa dimilikinya. Bintang jatuh yang menggelincir pergi dari tangannya \ue026\ue023\ue030 \ue035\ue023\ue02d \ue032\ue027\ue033\ue030\ue023\ue02a \ue02e\ue023\ue029\ue02b \ue024\ue02b\ue034\ue023 \ue02b\ue023 \ue035\ue023\ue030\ue029\ue02d\ue023\ue032\ue002 \ue024\ue027\ue029\ue02b\ue035\ue036\ue02e\ue023\ue02a \ue026\ue027\ue03e\ue030\ue02b\ue034\ue02b \u00a0Poyan atas kisah cintanya dengan Lena. Dan sepanjang hidupnya, \u00a0Poyan\u00a0berdiam dalam kesendirian dan kenangan. Cintanya pada Lena cukup untuk menemaninya sekali dan selamanya, pamannya pernah berkata. Bahkan cukup bagi \u00a0Poyan\u00a0untuk\u00a0 mencintai Keenan seperti anaknya sendiri, meski karena ke- hadiran Keenanlah ia harus berpisah dengan Lena. Lekat, Luhde memandangi punggung pamannya yang kian menghilang di gelap malam dan bersatu dengan ba- \u00a0yangan pepohonan. Dari pria itulah ia belajar tentang ke- kuatan hati, kekuatan mencinta. Dan hari ini, hatinya ikut diuji. J a k a r t a , D e sem b er 2 0 0 2 ... Knuunggygtuertapkaskisapepsaunlaanngnylaa,ruiat nlaygairisdatirdi ukradnutodru.kSdaimsobfial lmobe-i 301 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 314\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 saking letihnya. Tiba-tiba pintu terbuka, empat orang masuk\u00a0 dengan suara gaduh. Mereka membawa lukisan besar yang terbungkus karton. Tampak satpam kantor mengarahkan empat orang itu untuk mencopot lukisan besar di dinding belakang meja resepsionis, lalu memasangkan lukisan yang baru di sana. Kegaduhan pun berlanjut, Pak Satpam dengan semangat \ue02f\ue027\ue02f\ue024\ue027\ue033\ue02b \ue02d\ue031\ue02f\ue023\ue030\ue026\ue031\ue002 \ue03b\ue022\ue023\ue000 \ue022\ue023\ue000 \ue013\ue027\ue034\ue027\ue033 \ue02d\ue02b\ue033\ue02b \ue034\ue027\ue026\ue02b\ue02d\ue02b\ue035 \ue004\ue004\ue004 \ue02d\ue027\ue024\ue023\ue030\ue039\ue023\ue02d\ue023\ue030 \ue004\ue004\ue004 \ue039\ue023\ue000 \ue022\ue023\ue000 \ue017\ue023\ue034\ue02b\ue02a \ue02d\ue023\ue030\ue023\ue030 \ue024\ue023\ue038\ue023\ue02a \ue004\ue004\ue004 \ue034\ue035\ue031\ue032\ue000 \ue00f\ue036\ue02d\ue036\ue032\ue000 \ue019\ue023\ue030\ue035\ue023\ue032\ue000\ue03c \u201cWuih ... cakepan gambar yang baru, nih,\u201d satpam itu lantas berkomentar diiringi decak kagum. Kugy tergerak untuk berdiri dan ikut melihat. Mulutnya pun menganga. \u201cIni\u2014ini lukisan dari mana, Pak?\u201d tanyanya tergagap. \u201cDari rumah Pak Remi, Bu. Disuruh dipindahin ke sini. Sengaja malam-malam supaya nggak ganggu orang kerja, katanya,\u201d satpam itu menjelaskan. Tak lama, rombongan pengangkut tersebut pergi. Dalam hati, Kugy bersyukur semua orang itu cepat ber- lalu dan ia bisa berdiri sendirian di sana. Menatap lukisan \u00a0yang diterangi lampu spot itu sepuasnya. Seumur hidupnya, \u00a0belum pernah ia terpana seperti ini. Seolah hatinya di- renggut oleh lukisan itu, dan terperangkaplah ia dalam ma- gis sebuah kehidupan lain. Sesuatu dalam lukisan itu terasa tak asing. Kawanan anak\u00a0 kecil, bermain bersama hewan-hewan. Sederhana, tapi begitu \u00a0bernyawa dan bersuara. Seakan-akan dirinya ada di sana, \u00a0bermain bersama, merasakan kebahagiaan dan cerahnya du- nia mereka. \u201cAduh,\u201d Kugy terkaget sendiri, \u201ckok jadi nangis, sih ...,\u201d omelnya pelan seraya menyeka matanya yang tahu-tahu \u00a0bdaaslaamh.. DIaantertiinbga-attibSaakhoaltainAylait.dMilaunrdida-mrinudriudnyyaan.gPliuliakr. biasa 302 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 315\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Mata Kugy lalu mencari-cari nama pelukis di bidang \u00a0besar indah itu. Tidak ada nama tertulis. Hanya inisial kecil di ujung kanan bawah: KK. 303 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 316\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 34. MALAM TERAKHIR DI UJUNG TAHUN J a k a r t a , D e sem b er 2 0 0 2 ... Baru sehari Keenan tiba di Jakarta dan langsung menunggui di rumah sakit terus-menerus, semua orang seketika melihat perbaikan yang pesat dari kondisi ayahnya. Meski Adri be- lum bisa bicara dan bergerak banyak, kehadiran Keenan se- olah menyulut api semangat hidupnya. Air mukanya tampak\u00a0 mulai segar, dan hampir selalu ada perkembangan baru da- lam hitungan jam. Lena sedang mengurus izin agar suaminya bisa dibawa pulang ke rumah. Ia yakin, keajaiban yang dulu disebut- sebut oleh dokter, telah hadir. Ia telah menjemputnya pu- lang. Keluarganya kembali utuh. Di tepi tempat tidur ayahnya berbaring, Keenan duduk\u00a0 sejak kemarin malam. Tak lepas mengamati dan mengawasi. Tak pernah ia bayangkan, pria yang begitu gagah, energik, dan gesit, bisa terbaring tak berdaya seperti itu. Keenan imnagtina dmaenmmasetmikaannggdiilridneynagaadnasuseatriaaplekmaalihayyaanhgnyleabmihebmebruupkaa 304 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 317\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 erangan. Namun, Keenan tahu namanyalah yang selalu di- sebut. Pintu membuka pelan, Lena masuk dengan hati-hati. \u201cNan, besok Papa boleh kita bawa pulang,\u201d katanya berseri- seri. Keenan mengembuskan napas lega. \u201cMama sudah dapat rekomendasi suster yang bisa bantu merawat Papa di rumah. Fisioterapinya juga sudah bisa di- mulai pelan-pelan.\u201d \u201cMa ...,\u201d Keenan ingin bertanya sesuatu, ragu, \u201ckantornya Papa siapa yang ngurus?\u201d Itulah satu pertanyaan yang paling enggan ia tanyakan, tapi cepat atau lambat pasti akan ter- ungkap. Keenan tahu persis bagaimana kantor itu bergan- tung pada ayahnya. Usaha trading\u00a0yang dijalankan ayahnya itu murni miliknya seorang. Dialah orang nomor satu dan penentu di kantor tersebut. Tak ada yang bisa menggantikan posisinya. Entah berapa lama kantor itu bisa bertahan tanpa kehadiran ayahnya. Ekspresi Lena kontan berubah drastis. Sama seperti Keenan, ia pun menghindari pembahasan mengenai hal satu itu, meski tahu bahwa cepat atau lambat mereka berdua ha- rus membicarakannya. Lena lalu menggeser kursi, duduk di hadapan Keenan, menggenggam tangan anaknya. unt\u201cuNkanse.k..aMraanmg,aletabhihu bkiatiaktkiditaak fpouknuysasbaajanypaakdapikliehsaenh,attaapni Papa. Kamu nggak perlu terlalu memikirkan soal kantor\u2014\u201d \u201cPapa sudah satu minggu lebih di sini, Ma,\u201d potong Keenan. \u201cWaktu berjalan terus tanpa mau tahu. Harus ada \u00a0yang mau mengambil alih, kalau nggak ... semuanya beran- takan. Termasuk kita.\u201d ucaLpeknaan psautnu mpeernmuinndtauakn. iBtue.rhSaartuaphadliryiannyga stealkampaerilnui mmeenngg-- 305 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 318\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 ganjal dan sudah menyesak ingin keluar, tapi ia tak pernah tega memintanya pada Keenan. \u201cSaya akan menggantikan Papa,\u201d Keenan tiba-tiba berujar lirih. Lena mendongak. Terperangah. \u201cSaya nggak tahu harus mulai dari mana, Ma. Tapi saya akan coba sebisa saya,\u201d lanjut Keenan. Lena mempererat genggaman tangannya, \u201cDari semua orang di dunia ini yang bisa Papamu percaya untuk meng- gantikan dirinya, hanya kamu orangnya. Kamu pasti bisa, Nan.\u201d Namun, bersamaan dengan mengucapkan kalimat itu, hati Lena pun tersayat. Ia tahu betapa mahal pengorbanan \u00a0yang diberikan anaknya. Keenan lagi-lagi terpaksa mem- \u00a0bunuh semua mimpinya, cita-citanya. Menanggalkan kuas, kanvas, dan cintanya. Jakar ta, m alam tahun bar u 2003 ... Semilir angin pantai mengembus halus, terasa hangat di kulit, walaupun waktu sudah bergerak lebih sejam dari te- ngah malam. Dengan kaki telanjang, Kugy duduk di ayunan. Kakinya mengayuh setengah menyeret, memainkan pasir den\u201cgKaanmjeumjaadriinkyae.lihatan kayak anak kecil kalau duduk di ayunan,\u201d cetus Remi yang berdiri di belakangnya. \u201cHei, kok nggak di dalam?\u201d Kugy membalikkan badan, menunjuk\u00a0cottage \u00a0yang ingar-bingar oleh anak-anak kantor. Berdasarkan inisiatif beberapa orang, yang disambut oleh sebagian besar lainnya yang kebetulan tidak punya acara skahtuusucos,ttmageere\u00a0bkeasabrerdtaanhumnebmabruuabtearscaamraasedni dAinric.ol. Menyewa 306 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 319\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSumpek,\u201d jawab Remi pendek, lalu berjalan menghampiri Kugy, mendorong ayunannya pelan. \u201cIya, enak di sini, dengar suara laut. Lagu alam paling merdu.\u201d \u201cSetuju. Tahun lalu saya juga tahun baruan di pantai. Ombaknya jauh lebih merdu dari ini.\u201d \u201cOh, ya? Di mana?\u201d \u201cDi Sanur.\u201d \u201cTahun lalu, aku mengkhayal kepingin tahun baruan di pantai\u2014dari teras rumah,\u201d Kugy terkekeh. \u201cTahun ini kesampaian, dong. Akhirnya bisa ke pantai \u00a0juga.\u201d Kugy mengangguk lucu, \u201cYup. \u00a0 Ancol dulu. Mudah- mudahan tahun depan bisa upgrade\u00a0jadi Sanur.\u201d \u201cNggak usah nunggu tahun depan kalo cuma mau ke Sanur. Mau kapan? Yuk, saya temenin,\u201d kata Remi sambil tersenyum. \u201cMinggu depan?\u201d \u201cAyo.\u201d \u201cMmm ... bulan depan?\u201d \u201cAyo.\u201d \u201cTengah tahun?\u201d \u201cAyo.\u201d \u201cKok \u2018ayo\u2019 terus, sih? Kamu nih, nggak ada perlawanan \u00a0banget,\u201d Kugy tergelak. Dan tiba-tiba kursi ayunannya ber- putar. Remi telah memutarnya hingga mereka berdua kini \u00a0berhadapan. Remi lalu membungkukkan badannya, mendekatkan wa- \u00a0jahnya pada wajah Kugy. \u201cKe mana pun itu, dari mulai wa- rung nasi goreng sampai Pantai Sanur ... kapan pun itu, dari mulai hari ini sampai nggak tahu kapan, selama bisa bareng samKaugkyamteur,kseasyiaapm. Paiuk.i\u201drannya berusaha mengejar apa yang 307 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 320\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 dikatakan Remi, sekalipun hatinya sudah tahu. Sudah lama tahu. \u201cRemi ... kamu itu ... atasanku ...,\u201d ujarnya terbata. Remi mengangguk. \u201cIya, saya tahu ini semua menyalahi etika perkantoran mana pun. Saya mempersulit posisi kamu. Juga mempersulit diri saya sendiri. Tapi, kalau cuma karena itu saya jadi nggak jujur pada hati saya sendiri, buat saya itu lebih nggak masuk akal.\u201d Kugy menelan ludah, \u201cTapi ... kamu ... temannya Karel ....\u201d \u201cKamu ada masalah kalau pacaran sama cowok yang le- \u00a0bih tua? Pacaran sama teman abang kamu?\u201d Remi terse- nyum simpul. Mendengar kata \u201cpacaran\u201d, jantung Kugy berdegup lebih kencang dan tubuhnya mengunci. Tegang. Kugy berusaha menenangkan hatinya, mengatur napasnya. Berusaha sebisa mungkin menatap Remi dengan tenang dan berkata tanpa gemetar, \u201cAku ada masalah pacaran dengan siapa pun kalau aku belum benar-benar tahu apa yang sebenarnya dia rasa- kan.\u201d Tampak air muka Remi berubah. Manusia yang biasanya selalu tampil rileks dan luwes itu kini terlihat gelisah. Mulut- nya setengah membuka, tapi tak ada kata-kata yang terlon- tar. Dengan gugup, ia membuang pandangannya sebentar ke arah lain, seolah mengumpulkan kekuatan untuk bicara. \u201cKamu ...,\u201d suara itu bergetar, \u201c\u2026 kamu adalah alasan \u00a0baru saya ke kantor setiap hari. Kamu bikin saya semangat ... bikin saya ketawa ... bikin saya kepingin melakukan \u00a0banyak hal ... bikin saya nyaman ...,\u201d Remi berhenti sejenak, menenangkan jantungnya yang juga berdebar tak keruan, \u201ckamu ... bukan cuma bikin saya kagum, tapi juga jatuh cinta.\u201d maGmipliuraann Kuungtuykyabnegrpkuerhai-lapnugraantepneartnagh.aDnaalna,mkehhailtainnygaa,ntkeer-- 308 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 321\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0jadi perseteruan hebat. Untuk pertama kalinya ia ber- hadapan dengan sebuah dilema yang sebelumnya tak pernah ada. Sebelum ini, ia tahu persis siapa yang ia idamkan, impi- kan, dan harapkan. Namun, kini semuanya tak jelas lagi. \u00a0Yang ia tahu, Remi begitu dekat, nyata, dan terjangkau. Remi hadir dalam hari-harinya, bukan mimpinya. \u201cKamu sadar nggak, sih? Saya tergila-gila sama kamu,\u201d \u00a0bisik Remi halus. Kugy tidak yakin dirinya bisa berkata-kata. Namun, untuk pertama kalinya, Kugy melihat sosok di hadapannya itu dalam makna yang berbeda. Ia hanya berharap Remi \u00a0bisa melihat itu. Membaca dari matanya. Dilema hatinya telah usai. Hatinya telah memilih. Seakan mendengar apa yang tak terucap, Remi pun ter- senyum lembut. Ia bergerak mendekat, menghampiri wajah Kugy, mendaratkan bibirnya di atas bibir Kugy. Menciumnya dengan segala perasaan yang selama ini ia pendam. Suara ombak yang menyapu dari belakang menyelimuti mereka berdua dalam alunan merdu yang tak berkesudahan. Namun, suara yang sama seolah mengingatkan Kugy akan sesuatu. Dalam hati, ia mengucapkan selamat tinggal pada satu nama yang begitu lama melekat di hatinya. Melepaskan- nya pada angin dan ombak. Menghanyutkannya di air laut. Merelakannya lepas bersama malam terakhir di ujung tahun. Di teras rumahnya, Keenan berdiam sendirian. Menimang- nimang telepon selulernya di genggaman. Melihat sederet nomor yang sedari tadi terpampang di layar ponselnya dan ttaaknpkaunpjeurnngaiha thauhbuunagpia.kNaohmnoormsaotruiittuu msealasliuh dbiesrimlapkaunantyaau, 309 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 322\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 tidak. Ia hanya ingin menyimpannya, melihatnya sesekali. Seperti malam ini. Meski kini jarak mereka mendekat, tidak lagi terpisah lautan, Keenan malah merasa mereka menjauh. Entah kenapa. \u00a0Kecil, kamu jauh sekali rasanya. Semoga kamu masih mengingat saya. B a n d u n g , J a n u a r i 2 0 0 3 ... Hari pertama perkuliahan setelah liburan selesai. Hari per- tama dari semester terakhir bagi Noni, dan juga Eko. Noni mulai menyortir dan mengepak buku-buku per- kuliahan awal yang sudah tidak dibutuhkannya lagi. Kamar- nya sudah seperti gudang yang sesak dengan barang-barang \u00a0yang bertahun-tahun tak terpakai tapi dibiarkan bertahan hanya karena ia selalu sayang membuang barang. Penyakit \u00a0yang selalu diprotes Eko dan memberinya predikat tam- \u00a0bahan, yakni: \u201cTukang Pulung\u201d. Sudah hampir setengah jalan ia menyortir, tiba-tiba mata- nya terbentur pada satu barang yang ia jebloskan di laci \u00a0berbulan-bulan yang lalu tanpa pernah dilirik lagi. Sebuah \u00a0bingkisan berwarna biru yang tertinggal di kamar Kugy lalu dititipkan padanya. Noni mengambil benda itu dan meletakkannya di pang- kuan. Pasti ini kado dari Ojos, yang tertinggal atau sengaja ditinggal oleh Kugy, duganya dalam hati. Tangannya ber- gerak ingin membuka, tapi Noni mengurungkan niat itu. Biarpun barang ini tercecer bahkan gelagatnya seperti di- \u00a0buang, tetap ini urusan pribadi Kugy, pikir Noni. Tapi ... pmaansjaanagk,uNmonaiumseimmpbaunkatneyrua.s di sini?\u00a0\u00a0Akhirnya, tanpa pikir 310 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 323\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Sebuah scrapbook. Tanpa judul. Di dalamnya direkatkan 324\/457 potongan-potongan gambar. Setiap gambar bersebelahan dengan cerita yang ditulis tangan. Noni seketika mengenali tulisan itu. Tulisan tangan Kugy. Noni pun mengenali cerita- cerita yang ditulis di sana. Kumpulan cerita yang dibuat Kugy bertahun-tahun tanpa pernah ia publikasikan, hanya dipamerkannya ke beberapa orang, termasuk dirinya. Di halaman pertama, terlekatlah fotokopi tulisan tangan Kugy sewaktu kecil. Noni pun hafal tulisan itu. Kugy sering menuliskannya di buku-buku dongeng koleksinya, terutama pada buku-buku yang ia anggap spesial. Sebuah kutipan dari \u00a0W.B Yeats: \ue03b\ue019\ue023\ue033\ue02b \ue035\ue027\ue033\ue036\ue034 \ue02f\ue023\ue02c\ue036\ue002 \ue02a\ue023\ue02b \ue016\ue036\ue033\ue036\ue003\ue02c\ue036\ue033\ue036 \ue010\ue031\ue030\ue029\ue027\ue030\ue029\ue000 Tangkaplah setiap sasaran tujuan hati. Dan jangan takut. Segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar, Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.\u201d Noni ingat, Kugy kecil amat bangga dengan kutipan itu. \u00a0Waktu itu Kugy bilang padanya, \u201cNon, aku ingin jadi Juru Dongeng.\u201d Sementara Noni sendiri belum mengerti maksud tulisan itu apa. Tapi Kugy sudah. Di sampul paling belakang, terdapat selipan yang bisa dipakai untuk menyimpan sesuatu. Noni tidak akan menge- ceknya jika saja ujung kertas putih yang diselisipkan di sana tidak menyembul keluar. Diambilnya kertas itu. Sebuah amplop putih, berisi sehelai kartu. \u201cHappy Birthday?\u201d\u00a0 gu- mam Noni sendirian. \u00a0Siapa yang ulang tahun?\u00a0 Noni lantas membuka kartu itu dan membaca tulisan Kugy: \u00a0Hari ini aku bermimpi. \u00a0Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertama- ku. 311 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0Sejak kamu membuatkanku ilustrasi-ilustrasi ini, aku merasa mimpiku semakin dekat. \u00a0Belum pernah sedekat ini. \u00a0Hari ini aku juga bermimpi. \u00a0Aku bermimpi bisa selamanya menulis dongeng. \u00a0Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersama kamu dan ilustrasimu. \u00a0Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pe- mimpi. \u00a0Bersama kamu, aku ingin memberi judul bagi buku ini. \u00a0Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita. \u00a0Selamat Ulang Tahun. \u00a0Keenan!\u00a0Noni langsung menduganya. Tak mungkin salah lagi. Buku ini pasti diperuntukkan bagi Keenan. Noni me- lihat tanggal yang tertera di sudut kanan atas: \u00a031 Januari 2000. Tangannya yang memegang kartu itu mendadak melemas. Noni cukup mengenal Kugy untuk mengetahui kedalaman kata-kata yang ditulisnya, perasaan sedahsyat apa yang men- dorongnya. Pelan-pelan, Noni merangkaikan semuanya. Pelan-pelan, Noni tahu, mengapa dulu Kugy selalu meng- hindar, mengapa Kugy tidak datang ke pestanya, mengapa Kugy akhirnya memilih pisah dengan Ojos, mengapa Kugy\u00a0 seperti orang tertekan. Pelan-pelan, ia paham. Semuanya. Diselipkannya lagi kartu itu dengan hati-hati. Noni sam- pai ingin menangis karena miris. Tiga tahun bukanlah waktu \u00a0yang singkat untuk memendam dan diam. 312 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 325\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Eko berlari tergopoh-gopoh menuju kamar Noni seusai me- makirkan Fuad di halaman depan. \u201cNoon ... Nooon ...,\u201d panggilnya sambil berlari. Noni segera keluar kamar. \u201cKenapa, Ko?\u201d \ue03b\ue00e\ue023\ue033\ue036\ue034\ue023\ue030 \ue01a\ue039\ue031\ue02d\ue023\ue032 \ue02d\ue023\ue034\ue02b\ue02a \ue035\ue023\ue02a\ue036\ue002 \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030 \ue036\ue026\ue023\ue02a \ue026\ue02b \ue016\ue023\ue02d\ue023\ue033\ue035\ue023\ue000\ue03c Noni terenyak. \u201cDia\u2014di Jakarta? Pulang ke rumahnya?\u201d \u201cIya. Dia pulang karena Oom Adri kan sakit parah. Kata Nyokap, selama ini ternyata dia di Bali,\u201d Eko menjelaskan dengan semangat, \u201caku pokoknya harus ketemu manusia itu. \u00a0\ue00d\ue034\ue02e\ue02b\ue002 \ue032\ue031\ue02d\ue031\ue02d\ue030\ue039\ue023 \ue023\ue02d\ue036 \ue023\ue025\ue023\ue02d\ue003\ue023\ue025\ue023\ue02d \ue035\ue036\ue02a \ue023\ue030\ue023\ue02d\ue000\ue03c \ue011\ue02d\ue031 \ue024\ue027\ue033\ue035\ue027\ue033\ue02b\ue023\ue02d \ue02d\ue027\ue003 girangan, \u201cPas banget ya dia pulang? Jadi, dia bisa dateng ke acara kita bulan depan.\u201d \u201cKo ... aku juga mau ke Jakarta,\u201d Noni berkata lirih. \u201cKamu mau ikut ketemu Keenan?\u201d \u201cAku mau ketemu Kugy.\u201d Giliran Eko yang terenyak. \u201cKamu ... yakin? Kamu udah siap?\u201d Noni mengangguk. \u201cAku mau minta maaf.\u201d J a k a r t a , J a n u a r i 2 0 0 3 ... Keenan memandangi bayangannya sendiri dalam cermin \u00a0yang tergantung di tembok kamarnya. Sudah seminggu ini ia menjalani rutinitas yang sama. Menatap bayangannya \u00a0yang terbungkus dalam kostum yang terasa asing. Celana kain, kemeja rapi, sepatu loafer, ia bahkan mengantongi se- helai dasi yang kadang-kadang dibutuhkan. kenIdaabraanbguernsasemtiaapjuptaagaindamnabneukseiarjaJdaki akratnatolraianyayhannyga.pBeergr-i 313 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 326\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0bekerja dan pulang pada waktu yang sama. Tak jarang ia pulang setelah makan malam. Selain untuk menyiasati ma- cet, begitu banyak yang harus ia pelajari. Betapa waktu berjalan cepat di sini. Berlari dan mem- \u00a0banjir. Jauh berbeda dengan hari-harinya di Ubud di mana \u00a0waktu terasa hanya berjalan, bahkan menetes. Keputusannya untuk segera mengambil alih tugas ayahnya telah menyita semua energi dan fokusnya. Ia bahkan belum merasa me- luangkan waktu yang cukup untuk hidup di rumah, bersama orangtua dan adiknya. Satu-satunya hiburan yang membuat hatinya sejuk hanya- lah pemandangan ayahnya yang kian membaik dari hari ke hari. Setiap pagi, di kursi roda, ia melepas Keenan pergi de- ngan senyum. Dan jika ia pulang, Jeroen selalu menyempat- kan diri untuk menungguinya, demi mengobrol sebentar se- \u00a0belum tidur. Dan mamanya yang selalu memastikan segalanya baik, segalanya cukup. Selain keluarganya, tak satu pun teman dan saudaranya \u00a0yang sempat ia temui. Ia bahkan belum mengontak siapa pun. Terlalu lama ia hilang hingga Keenan tidak tahu harus memulai dari mana. Napasnya mendadak menghela. \u00a0Eko. Ia teringat sepupunya satu itu. Dan betapa ia merindukannya. \u00a0Kugy ... Keenan pun terduduk di tempat tidur. Begitu keluar dari Pulau Bali, ia sudah merasa dihadapkan lagi de- ngan segala kenangan tentang Kugy. Di angkasa ... di awan ... di jalanan ... semua memori dan perasaan seolah \u00a0berlomba-lomba untuk bangkit. Walaupun kini kemungkinan untuk bertemu Kugy jauh lebih besar, tetap Keenan tidak\u00a0 menginginkannya. Sedapat mungkin tidak\u00a0 menginginkannya. Keenan meraupkan tangannya ke muka. Berharap andai aodtaaksnaytau cdaarrai, skaetnuapnegnagnhaitpuu,ssbeebsearrsyitanpgerbaissaaamnemyabnegrssiheklaalnu 314 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 327\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0bercokol dan mengusiknya dari waktu ke waktu, yang mem- \u00a0buatnya terkadang merasa bersalah pada Luhde. Mendadak, Keenan gemas sendiri. \u00a0Mengapa manusia satu itu begitu susah dilupakan?\u00a0 Ia lalu bangkit berdiri. Mengecek bayangannya sekali lagi. Kemudian berangkat pergi. Masuk ke pusaran waktu Jakarta \u00a0yang cepat. Berharap dengan demikian, bayangan Kugy ter- enyahkan jauh-jauh. 315 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 328\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 35. PANGERAN SEJATI Hari Minggu. Hari kemerdekaan bagi Kugy. Dalam arti, ia \u00a0bisa tidur semerdeka-merdekanya. Namun, tiba-tiba, bahu- nya diguncang-guncang seseorang. Dan mengukur dari mata- nya yang masih sangat berat, Kugy tahu bahwa hari masih terlalu pagi untuk bangun. \ue03b\ue013\ue039\ue039\ue039 \ue004\ue004\ue004 \ue024\ue023\ue030\ue029\ue036\ue036\ue036\ue030\ue000 \ue00e\ue023\ue030\ue029\ue036\ue036\ue036\ue030\ue000 \ue021\ue031\ue031\ue02b\ue02b\ue02b\ue000\ue03c Kugy seketika curiga dirinya masih mimpi. Ia hafal betul teriakan-teriakan barbar itu, tapi ... mana mungkin! Kugy\u00a0 lantas menarik selimutnya lebih tinggi. \ue03b\ue013\ue039\ue039\ue039\ue000\ue03c \ue01e\ue036\ue023\ue033\ue023 \ue02b\ue035\ue036 \ue02d\ue02b\ue023\ue030 \ue02f\ue027\ue02e\ue027\ue030\ue029\ue02d\ue02b\ue030\ue029\ue004 \ue03b\ue00e\ue023\ue030\ue029\ue036\ue030\ue002 \ue026\ue031\ue031\ue031\ue030\ue029\ue000 \ue01f\ue027\ue029\ue023 \ue024\ue023\ue030\ue029\ue027\ue035 \ue034\ue02b\ue02a\ue002 \ue029\ue036\ue023 \ue036\ue026\ue023\ue02a \ue02c\ue023\ue036\ue02a\ue003\ue02c\ue023\ue036\ue02a \ue026\ue023\ue035\ue027\ue030\ue029\ue002 \ue030\ue02b\ue02a\ue000\ue03c Kugy memaksakan kelopak matanya membuka. \u201cNon?\u201d gumamnya tak percaya. Ia terduduk langsung. Dan serta- merta, Noni mendekapnya. Lengkaplah mimpi aneh ini, pi- kir Kugy. Masih linglung. \ue03b\ue013\ue039 \ue004\ue004\ue004 \ue02f\ue023\ue023\ue03e\ue030 \ue029\ue036\ue023\ue002 \ue039\ue023\ue004 \ue01e\ue031\ue033\ue02b \ue024\ue023\ue030\ue029\ue027\ue035 \ue036\ue030\ue035\ue036\ue02d \ue034\ue027\ue02f\ue036\ue023\ue030\ue039\ue023\ue002\ue03c \u00a0bisik Noni di kupingnya. Dan tak lama, Noni mulai ters\u201ceNnogng,uekl-useknegngaupka.?\u201d Kugy bertanya bingung. 316 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 329\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cGua baru ngerti sekarang. Tiga tahun, Gy. Dan gua baru ngerti ... sori, ya ...\u201d kata Noni di sela isakannya. \u201cTiga tahun\u2014apaan?\u201d Kugy tambah bingung. Perlahan, Noni melepaskan rangkulannya, lalu meraih tasnya, menyerahkan sebuah bungkusan pada Kugy. \u201cMaaf, Gy. Ini gua bungkus ulang. Gua kepaksa buka. Barang ini ketinggalan di kamar kos lu yang lama.\u201d Kugy tercengang melihat benda itu kembali ke hadapan- nya. Badai besar seketika menyapu hatinya. Kepala Kugy\u00a0 pelan menggeleng. \u201cNggak semestinya buku ini kembali ke gua, kok, Non. Lu ambil lagi aja, disimpan, atau diapain kek, terserah,\u201d katanya getir. Noni menggeleng. Siap meledakkan tangis berikut. \u201cKenapa lu nggak pernah ngomong, Gy? Kalau dulu gua tahu tentang perasaan lu, pasti nggak begini ....\u201d \u201cSebetulnya gua selalu pingin kasih tahu, Non ... tapi gua ngerasa nggak bisa apa-apa ketika lu dan Eko berencana untuk mengenalkan Wanda ke Keenan ... dan gua lihat misi kalian berhasil ... sementara gua sendiri masih pacaran sama Ojos ... gua bingung mau bilang apa, mau bersikap apa ... lebih baik gua jauh sekalian dari kalian semua ....\u201d Mata Kugy mulai berkaca-kaca. \u201cDan soal Eko ....\u201d Tangis Noni meledak tak tertahan. \u201cGy ... gua yang harus minta maaf soal itu. Sebegini lama kita sahabatan, gua nggak\u00a0 pernah mau mengakui kalau gua selalu cemburu sama lu, gua selalu merasa ada di bawah bayang-bayang lu ... makanya, \u00a0begitu Eko kelihatannya masih merhatiin dan dekat sama lu, reaksi gua jadi berlebihan ... padahal dia nggak ada maksud apa-apa. Gua cemburu ngelihat persahabatan kalian, ngelihat kalian tetap deket. Sementara gua sama lu malah jauh,\u201d Noni menerangkan sambil berurai air mata. meKnguugsyatpa-kussaapngpguunpggbuicnagrasalhagaib.aHtnaynay.a memeluk Noni dan 317 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 330\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \ue03b\ue018\ue036 \ue02f\ue023\ue023\ue03e\ue030 \ue029\ue036\ue023 \ue02d\ue023\ue030\ue002 \ue013\ue039\ue00c\ue03c \ue03b\ue00d\ue034\ue023\ue02e \ue02e\ue036 \ue02c\ue036\ue029\ue023 \ue02f\ue023\ue023\ue03e\ue030 \ue029\ue036\ue023\ue002 \ue01a\ue031\ue030\ue002\ue03c \ue02d\ue023\ue035\ue023 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02e\ue02b\ue033\ue02b\ue02a\ue004 Keduanya berpelukan lama. Mencairkan apa yang sudah membeku selama hampir tiga tahun. \u201cGua juga mau kasih tahu sesuatu ...\u201d bisik Noni. \u201cBahwa lu sebenarnya Batman?\u201d Noni nyaris tersedak karena ledakan tawa yang bentrok\u00a0 \ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue02b\ue034\ue023\ue02d \ue035\ue023\ue030\ue029\ue02b\ue034\ue004 \ue03b\ue019\ue031\ue030\ue039\ue031\ue030\ue029\ue000\ue03c \ue02f\ue023\ue02d\ue02b\ue030\ue039\ue023 \ue032\ue027\ue02e\ue023\ue030\ue002 \ue03b\ue00e\ue027\ue033\ue02b\ue035\ue023 \ue034\ue027\ue003 rius, nih ...\u201d \u201cOke, oke. Apa?\u201d Kugy melipat tangannya, siap mende- ngar. \u201cBerhubung ortu-ortu udah mendesak, yah, you know lah, jadi ...,\u201d Noni berdehem, \u201cbulan Februari depan, tepat pada hari Valentine, gua dan Eko tunangan.\u201d Kugy melongo. \u201cGua ... kok ... kayaknya lebih siap dengar kalo lu sebenarnya Batman.\u201d Noni terpingkal-pingkal sambil menghapusi air matanya, \ue03b\ue010\ue023\ue034\ue023\ue033 \ue031\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue029\ue02b\ue02e\ue023 \ue004\ue004\ue004 \ue029\ue036\ue023 \ue02d\ue023\ue030\ue029\ue027\ue030 \ue024\ue023\ue030\ue029\ue027\ue035 \ue034\ue023\ue02f\ue023 \ue02e\ue036\ue000\ue03c Kugy tersenyum. Tergerak sekali lagi untuk memeluk\u00a0 Noni. \u201cSelamat ya, Non. \u00a0So happy for you. Emang udah ja- tah kalian berdua untuk saling menghancurkan hidup satu sama lain,\u201d selorohnya, \u201ckalian memang pasangan paling serasi. Gua bahagia, dua sahabat gua bisa jalan bareng se- \u00a0jauh ini. You guys truly deserve it.\u201d\u00a0 \u201cMakasih, Gy,\u201d sahut Noni, \u201cbut, you know what?\u00a0\u00a0 Se- \u00a0betulnya, dari dulu, gua dan Eko merasa lu dan Keenan adalah pasangan paling serasi. Kalian tuh sama-sama aneh ... ancur ... nggak jelas\u2014\u201d \ue03b\ue018\ue036 \ue02f\ue027\ue02f\ue036\ue02c\ue02b \ue023\ue035\ue023\ue036 \ue02f\ue027\ue030\ue029\ue02a\ue02b\ue030\ue023 \ue034\ue02b\ue02a\ue002 \ue01a\ue031\ue030\ue00c \ue022\ue023\ue030\ue029 \ue02c\ue027\ue02e\ue023\ue034\ue002 \ue026\ue031\ue030\ue029\ue000 \ue016\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue034\ue027\ue035\ue027\ue030\ue029\ue023\ue02a\ue003\ue034\ue027\ue035\ue027\ue030\ue029\ue023\ue02a \ue029\ue02b\ue035\ue036\ue000\ue03c \ue035\ue036\ue02d\ue023\ue034 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue034\ue031\ue02d \ue029\ue023\ue02e\ue023\ue02d\ue004 Noni nyengir, \u201cJadi, kalau satu saat kesempatannya ada, lu akan kasih buku itu ke Keenan?\u201d 318 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 331\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0Wajah Kugy berubah serius. Ia lalu menggeleng. \u201cBuku itu hanya bisa gua kasih ke seseorang yang bakal mengisi hati gua selamanya. Dan, sepertinya orang itu bukan dia.\u201d Noni terdiam. Ingin rasanya mengatakan pada Kugy, bah- \u00a0wa Keenan telah pulang, bahwa Kugy kini berada satu kota dengannya. Namun, lidahnya kelu. Biarlah Kugy tahu sendiri satu saat nanti, batinnya. \u201cSekarang, giliran gua mau kasih tahu sesuatu,\u201d Kugy ter- senyum cerah. Ia kelihatan berbunga-bunga. Noni menyadari perubahan air muka sahabatnya. \u201cLu\u2014 \ue02e\ue023\ue029\ue02b \ue02c\ue023\ue035\ue036\ue02a \ue025\ue02b\ue030\ue035\ue023\ue002 \ue039\ue023\ue00c \ue01e\ue02b\ue023\ue02e\ue023\ue030\ue004 \ue01e\ue023\ue02f\ue023 \ue034\ue02b\ue023\ue032\ue023\ue002 \ue02a\ue023\ue039\ue031\ue00c \ue00e\ue02b\ue02e\ue023\ue030\ue029\ue000\ue03c \ue03b\ue01a\ue031\ue030 \ue004\ue004\ue004 \ue029\ue036\ue023 \ue032\ue036\ue030\ue039\ue023 \ue032\ue023\ue025\ue023\ue033\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02e\ue023\ue02e\ue036 \ue02c\ue02b\ue030\ue029\ue02d\ue033\ue023\ue02d\ue003\ue02c\ue02b\ue030\ue029\ue02d\ue033\ue023\ue02d sendiri, kegirangan. Noni menjerit histeris. \u201cSiapaaaa?\u201d \ue03b\ue00e\ue031\ue034 \ue029\ue036\ue023 \ue034\ue027\ue030\ue026\ue02b\ue033\ue02b\ue000 \ue014\ue023\ue003\ue02a\ue023\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue035\ue027\ue033\ue035\ue023\ue038\ue023\ue003\ue035\ue023\ue038\ue023\ue004 Noni mengernyit. \u201cKalo gua Batman, lu Inem Pelayan \ue01e\ue02e\ue036\ue027\ue000\ue02d\ue03c\ue034\ue02b\ue01f\ue000\ue023\ue00e\ue032\ue02b\ue02b\ue034\ue023\ue035\ue023\ue003\ue02d\ue024\ue02b\ue034\ue02e\ue023\ue023\ue02f\ue030\ue039\ue023\ue023 \ue01a\ue02c\ue023\ue031\ue026\ue030\ue02b\ue02b\ue023\ue030\ue02b\ue02d\ue034\ue036\ue023\ue035\ue02f\ue035\ue027\ue023\ue033\ue035\ue024\ue023\ue031\ue038\ue034\ue023\ue034\ue002 \ue027\u201c\ue030I\ue026\u2019m\ue02b\ue033\ue02bh\ue004 \u00a0aNpgpeyhefo\u00a0ermyaonug, too.\u00a0Kenalin, dong.\u201d \u201cPastilah. Nanti pas acara tunangan lu, gua ajak dia, \u00a0ya?\u201d \ue03b\ue00d\ue034\ue039\ue02b\ue02b\ue02b\ue02d\ue000\ue03c \ue01a\ue031\ue030\ue02b \ue024\ue027\ue033\ue035\ue027\ue032\ue036\ue02d \ue035\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030\ue004 \ue01f\ue02b\ue024\ue023\ue003\ue035\ue02b\ue024\ue023\ue002 \ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue029\ue027\ue003 rakan gesit ia mengalungkan sesuatu di leher Kugy. asin\u201cEg hy,anegh,taehhu.-.t.aahpuataenrg, annithu?n\u201dgKduigleyhkearngeyta.dengan benda \u201cSelamat. Kamu berhasil jadi juara satu. Tidak ada yang menggeser posisi lu buat gua, Gy,\u201d ucap Noni sambil ter- senyum ceria. Kugy membaca tulisan di medali emas itu. \u00a0Sahabat Ter- baik dan Terawet. Napasnya langsung tertarik ulur panjang- panjang. Setengah mati menahan haru. \u201cSerius, Non ... gua tetap lebih siap kalo lu sebenarnya Batman ...,\u201d desis Kugy. 319 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 332\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Sesampainya di depan pagar rumah itu, Eko langsung ber- temu muka dengan tantenya yang sedang menyirami ta- naman pot di sekitar gazebo taman. \ue03b\ue01f\ue023\ue030\ue035\ue027 \ue018\ue027\ue030\ue023\ue000\ue03c \ue032\ue023\ue030\ue029\ue029\ue02b\ue02e\ue030\ue039\ue023\ue004 Lena segera meletakkan penyemprot di tangannya, dan menghampiri Eko dengan tangan membentang. \u201cEkooo ... \u00a0ya, ampun. Apa kabar kamu?\u201d \u201cBaik, Tante,\u201d Eko balas merangkul tantenya. \u201cMama kasih tahu aku, katanya Keenan\u2014\u201d \ue03b\ue01e\ue011\ue01f\ue00d\ue01a \ue00d\ue018\ue00d\ue01e \ue017\ue011\ue01c\ue00d\ue01d\ue00d\ue01f\ue000\ue03c \ue01f\ue023\ue02a\ue036\ue003\ue035\ue023\ue02a\ue036 \ue023\ue026\ue023 \ue034\ue036\ue023\ue033\ue023 \ue02d\ue027\ue033\ue023\ue034 \u00a0yang berteriak dari arah rumah. \ue03b\ue01f\ue01b\ue017\ue00d\ue015 \ue00e\ue011\ue01d\ue00d\ue01a\ue01f\ue00d\ue017\ue00d\ue01a\ue000\ue03c \ue01e\ue032\ue031\ue030\ue035\ue023\ue030\ue002 \ue011\ue02d\ue031 \ue02f\ue027\ue02f\ue024\ue023\ue02e\ue023\ue034\ue004 \ue01d\ue027\ue03f\ue027\ue02d\ue034 \ue024\ue027\ue033\ue02b\ue02d\ue036\ue035\ue030\ue039\ue023 \ue023\ue026\ue023\ue02e\ue023\ue02a \ue02f\ue027\ue02f\ue02b\ue030\ue035\ue023 \ue02f\ue023\ue023\ue028 \ue032\ue023\ue026\ue023 \ue035\ue023\ue030\ue035\ue027\ue030\ue039\ue023\ue002 \u201cMaap, maap, Tante ... itu bukan memaki, tapi ungkapan sayang\u2014\u201d Sebelum kalimatnya selesai, Eko sudah keburu ditubruk dan dirangkul. Keenan dan Eko, berpelukan, tertawa-tawa, dan tak\u00a0 henti-hentinya saling mengumpat. Lena meringis-ringis sen- diri mendengar pertukaran makian antara kedua anak itu. Tak lama kemudian, mereka masuk ke rumah, ke kamar Keenan. nyaSbeteerltauhkakrencyearintga.bSearltiunkgatremrcaeknigaann, gsedpaannjtaankgjusbiaantgaskecedruiata- masing-masing. \u201cJadi, lu skripsi semester ini? Tengah tahun lulus? Yeah! Welcome to the real world!\u201d\u00a0 Keenan menepuk bahu Eko. \u201cBiasa aja kali. Tepat waktu, sih, tapi standarlah. Masih ada yang lebih gila daripada gua. Rekan alien lu, tuh. Kugy\u00a0 uEdkaoh. lulus dari tahun lalu. Udah kerja. Sukses pula,\u201d tutur 320 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 333\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0Ada sentakan dalam hatinya begitu mendengar nama itu disebut. \u201cKugy? Kerja di mana dia?\u201d tanya Keenan. \u201cDi perusahaan advertising, gitu. Jadi copywriter. Sesuai- lah dengan bidangnya.\u201d Keenan mengangkat alis, \u201cGua pikir bidang dia adalah nulis dongeng.\u201d \u201cNan? \u00a0Hello? Please, deh.\u00a0 \ue014\ue023\ue033\ue02b \ue029\ue02b\ue030\ue02b \ue030\ue036\ue02e\ue02b\ue034 \ue026\ue031\ue030\ue029\ue027\ue030\ue029\ue000 \ue018\ue036 kata kita hidup di negeri peri?\u201d Eko terbahak. \u201cLha elu ... siapa yang bakal nyangka seorang Keenan bisa jadi businessman\u00a0di Ibu Kota?\u201d Sentakan kedua dalam hatinya. \u201cWell,\u00a0gua sih berharap ini cuma sementara. Yang jelas, untuk sekarang ini, gua nggak ada pilihan, Ko. Keluarga gua nggak punya pilihan,\u201d Keenan berkata, berat. Eko gantian menepuk bahu sepupunya. \u201cGua ngerti, man. \u00a0Apa pun yang bisa gua bantu, let me know,\u00a0oke?\u201d Keenan tersenyum, \u201cJangan ge-er, ya. Tapi ngelihat lu doang, tanpa lu perlu ngapa-ngapain, rasanya hidup gua kembali normal.\u201d \u201cGombal gila,\u201d Eko memonyongkan mulut, \u201csejak kapan \u00a0juga hidup lu normal?\u201d \u201cGood point,\u201d\u00a0\u00a0 Keenan mengangguk sepakat. \u201cKapan ya gua bisa ketemuan sama lu dan Noni? Kita jalan ke mana kek ....\u201d \ue03b\ue01e\ue02b\ue023\ue032\ue000 \ue00d\ue032\ue023\ue02e\ue023\ue029\ue02b \ue01a\ue031\ue030\ue02b \ue026\ue023\ue030 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue024\ue023\ue033\ue036 \ue033\ue036\ue02c\ue036\ue02d\ue023\ue030\ue004 \ue017\ue023\ue030 \ue032\ue023\ue034\ue002 tuh.\u201d \u201cRujukan? Memangnya mereka kenapa?\u201d tanya Keenan. Badannya langsung menegak. \u201cLu nggak tahu? Sejak pesta ultahnya Noni mereka nggak\u00a0 \ue032\ue027\ue033\ue030\ue023\ue02a \ue030\ue029\ue031\ue02f\ue031\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue02e\ue023\ue029\ue02b\ue004 \ue01a\ue039\ue023\ue033\ue02b\ue034 \ue035\ue02b\ue029\ue023 \ue035\ue023\ue02a\ue036\ue030\ue000 \ue00e\ue023\ue039\ue023\ue030\ue029\ue02b\ue030 \ue023\ue02c\ue023\ue004 \u00a0Ajaib nggak, tuh.\u201d Sentakan yang ketiga kali. Keenan masih belum bisa \u00a0bereaksi netral dengan memori malam satu itu. \u201cKenapa Noni dan Kugy bisa sampai gitu, ya?\u201d gumamnya. 321 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 334\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Eko tak menjawab, hanya mengangkat bahu. Ia ingin bi- lang bahwa Noni telah bercerita padanya soal kado ulang tahun yang tak pernah sempat Kugy berikan, tentang pe- rasaan yang Kugy pendam bertahun-tahun, dan bagaimana perasaan tersebut menjadi alasan utamanya untuk menying- kir dari pertemanan mereka waktu itu. Namun, Eko juga ragu, apakah hal itu ada gunanya. Keenan sudah punya ke- kasih di Ubud. Kugy sudah punya kehidupan sendiri. Jika ada satu hal yang ia dambakan, hanyalah mereka berempat \u00a0bisa bersahabat lagi. Itu saja sudah cukup. Kalaupun Keenan harus tahu, biarlah ia tahu sendiri, batin Eko. \u201cAnyway, good luck\u00a0buat Februari, ya. Gua pasti hadir,\u201d ujar Keenan seraya merangkul bahu Eko. \u201cHadir? Setelah ngilang segitu lama, gua bakal membiar- kan lu CUMA hadir?\u201d Eko melengos. \u201cAbis ngapain, dong?\u201d \u201cLu bakal jadi best man\u00a0gua di sana. Alias ... tukang cin- cin.\u201d Tawa Keenan menyembur. \u201cSatu kehormatan buat gua. Tapi, asal lu tahu, \u2018best man\u2019\u00a0 dan \u2018tukang cincin\u2019 itu adalah dua hal yang nggak nyambung.\u201d Eko berpikir sejenak. \u201cJadi, harusnya ... \u2018ring man\u2019?\u201d\u00a0 Setelah berminggu-minggu kerja lembur, tubuh Kugy me- nyerah kalah. Pada hari ulang tahunnya, Kugy terpaksa me- \ue033\ue02b\ue030\ue029\ue02d\ue036\ue02d \ue026\ue02b \ue035\ue027\ue02f\ue032\ue023\ue035 \ue035\ue02b\ue026\ue036\ue033 \ue02d\ue023\ue033\ue027\ue030\ue023 \ue034\ue023\ue02d\ue02b\ue035 \ue03f\ue036\ue004 \ue010\ue023\ue02e\ue023\ue02f \ue02a\ue023\ue035\ue02b\ue002 \ue017\ue036\ue029\ue039 \u00a0bersyukur. Ia sudah mendengar desas-desus bahwa satu kan- tor bermaksud mengerjainya habis-habisan hari ini, dan isu utamanya justru bukan dalam rangka perayaan ulang tahun, mUlealnagintkaahnunganryaa-ghaarnayiaalakhinailaret stmumi mpaenngjaandisptraactaergBisodsiBmesaanra. 322 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 335\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 semua kawannya punya kesempatan untuk meluapkan emosi dan ekspresi apa pun atas hubungan barunya dengan Remi. Entah itu sekadar mengucapkan selamat, menimpuk pakai telur, membanjur air, dan seterusnya. Seharian penuh ia hanya teronggok di tempat tidur, ber- timbunkan bantal dan guling. Kugy menikmati betul istirahat ini. Tiba-tiba terdengar suara ketokan di pintu. Kugy melirik jam. Bahkan belum pukul tujuh malam. \ue03b\ue019\ue023\ue034\ue02b\ue02a \ue02d\ue027\ue030\ue039\ue023\ue030\ue029\ue000 \ue00d\ue02d\ue036 \ue02f\ue023\ue02d\ue023\ue030 \ue02f\ue023\ue02e\ue023\ue02f\ue030\ue039\ue023 \ue030\ue023\ue030\ue035\ue02b \ue023\ue02c\ue023\ue000\ue03c \ue034\ue027\ue033\ue036 Kugy tanpa beranjak dari kasur. Namun, pintu itu tetap membuka. Dan muncullah Remi, dengan wajah bersinar diterangi lilin kecil. Kugy mengangkat \u00a0badannya sedikit. \u00a0Remi? Kue tar?\u00a0 Remi masuk hati-hati, membawa kue tar cokelat kecil dengan satu lilin yang menyala, seikat bunga aster segar, \u00a0bernyanyi pelan, \u201cHappy birthday to you ... happy birthday to you ....\u201d\u00a0 Kugy langsung terduduk tegak. Antara kaget dan ingin tertawa. Namun, ia terpaksa menunggu Remi menyelesaikan dulu lagunya, dan kemudian meniup lilin yang disorongkan ke mukanya. Usai lilin itu padam, tawa Kugy langsung lepas, \ue03b\ue017\ue023\ue02f\ue036\ue002 \ue035\ue036\ue02a\ue000 \ue00d\ue032\ue023\ue003\ue023\ue032\ue023\ue023\ue030 \ue034\ue02b\ue02a\ue002 \ue032\ue023\ue02d\ue023\ue02b \ue032\ue033\ue031\ue034\ue027\ue034\ue02b \ue029\ue02b\ue030\ue02b\ue023\ue030 \ue034\ue027\ue029\ue023\ue02e\ue023\ue00c\ue03c \u201cKenapa memangnya? Ada masalah?\u201d Kugy menggeleng cepat, pipinya merah padam. \u201cAku malu. Kikuk kalo diperlakukan kayak gini,\u201d ujarnya pelan. \u201cAneh,\u201d balas Remi geli, \u201ctukang khayal tapi kena jurus cemen gini aja kikuk. Kelamaan jomblo, ya?\u201d ia lantas me- ngecup kening Kugy, \u201cSelamat ulang tahun ya, Kugy-ku. Badan kamu masih hangat.\u201d Kugy menempelkan telapak tangannya di keningnya sen- diri, \u201cIya, ternyata masih. Tapi rasanya aku udah baikan, \u00a0kbaorku. sAanp.aLlaugmi asyetaenlaahdakabmahuanmluendecukal nb,\u201dawKaugkyuteerdkaenkehb.unga 323 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 336\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSaya punya sesuatu yang bisa bikin kamu sejukan,\u201d lantas Remi mengeluarkan kotak hitam ramping dari kan- tong celananya, \u201cini ... hadiah ulang tahun untuk kamu.\u201d Kugy terbengong-bengong melihat kotak yang terbuka di hadapannya. Seuntai gelang yang terdiri dari batu-batu mu- ngil berwarna biru cemerlang. \u201cBenda ini barangkali nggak akan matching\u00a0dengan jam Kura-kura Ninja kamu. Tapi, tolong dipakai, ya?\u201d Remi lalu memasangkan gelang itu di pergelangan kiri Kugy. \u201cIni namanya batu lapis lazuli,\u201d ia menerangkan, \u201cwarna birunya paling menyerupai biru laut. Jadi, kalau kamu kangen pantai, kangen laut, kamu bisa lihat warna birunya di gelang ini.\u201d Kali ini Kugy hanya dimampukan untuk diam dan me- nelan ludah. \u201cKenapa lagi sekarang?\u201d Remi tersenyum seraya mengelus pipi Kugy. \u201cAku nggak tahu kamu sedang pakai jurus apa, tapi ... aku belum pernah dapat hadiah seindah ini,\u201d bisik Kugy. Ia lalu menggerakkan tubuhnya yang masih lemah untuk\u00a0 mendekap Remi seerat mungkin, \u201cMakasih, ya. Aku akan pakai tiap hari.\u201d \u201cSaya nggak pakai jurus apa-apa, Gy,\u201d Remi balas ber- \u00a0bisik, \u201c\u00a0I just love you.\u00a0Sesederhana itu.\u201d Dalam dekapan Remi, Kugy menyadari sesuatu. Keenan mungkin adalah Pangerannya saat ia masih berumur 18 ta- hun. Sebuah dongeng indah. Namun, inilah kenyataan seder- hana yang membangunkannya dari tidur panjang dalam alam dongeng. Remilah Pangeran Sejatinya. Remi nyata, ada, dan mencintainya. 324 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 337\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 36. REUNI KELOMPENCAPIR J a k a r t a , Feb r u a r i 2 0 0 3 ... Jumat sore. Acara pertunangan Noni dan Eko dimulai dua \u00a0jam dari sekarang. Berhubung tak sempat lagi pulang ke ru- mah, Kugy sudah membawa semua perlengkapannya ke kantor. Dan ia baru saja keluar dari toilet untuk berganti \u00a0baju dan berdandan sebisanya. Kugy mematut diri di kaca, mengecek penampilannya sekali lagi. Ia mengenakan gaun \u00a0beledu selutut warna biru tua. Gaun pertama yang dibelinya lagi setelah bertahun-tahun. Kugy jatuh cinta pada gaun itu karena potongannya yang sederhana hingga ia tak canggung untuk berangkat dari kantor dengan gaun itu, sekaligus cu- kup mewah hingga ia tidak perlu merasa minder untuk\u00a0 menghadiri resepsi pertunangan sekalipun. Terakhir, ia me- ngenakan gelang lapis lazuli yang dihadiahkan Remi. Kugy\u00a0 pun tersenyum puas. Cukup satu benda mungil itu saja me- slienmgkpaurrndai. pergelangannya, ia langsung merasa segalanya 325 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 338\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kugy lalu menghampiri Remi ke ruangannya. \u201cRemi, yuk, udah jam lima, nih. Macet lho di jalan. Acaranya kan mulai setengah tujuh.\u201d Remi, yang sedang berbicara di ponsel, langsung me- nyudahi pembicaraannya cepat-cepat, lalu menatap Kugy\u00a0 sambil tercekat. \u201cYuk?\u201d Kugy mengajak sekali lagi sambil tersenyum lebar, \u201cKok bengong?\u201d Napas panjangnya menghela, dan Remi menggigit bibir- nya gelisah. \u201cOke, saya bengong karena dua hal. Pertama, kamSeun.y..usmumKpuaghy,tcaamnbtiakhbsaunmgertin.g..a.\u201dh, \u201cDan yang kedua?\u201d \u201cSaya nggak bisa ikut.\u201d \u201cHa?\u201d Kugy berseru kaget. \u201cTapi\u2014tapi kan kamu udah \u00a0\ue02c\ue023\ue030\ue02c\ue02b \ue02f\ue023\ue036 \ue030\ue027\ue02f\ue027\ue030\ue02b\ue030 \ue023\ue02d\ue036\ue000 \ue017\ue02b\ue035\ue023 \ue02d\ue023\ue030 \ue02c\ue023\ue030\ue02c\ue02b\ue023\ue030 \ue026\ue023\ue033\ue02b \ue026\ue036\ue023 \ue02f\ue02b\ue030\ue029\ue029\ue036 \u00a0\ue039\ue023\ue030\ue029 \ue02e\ue023\ue02e\ue036\ue000\ue03c Remi menghampiri Kugy, meremas kedua bahunya. \u201cGy, sori, barusan banget agency\u00a0dari Vector Point telepon, me- \ue033\ue027\ue02d\ue023 \ue02b\ue030\ue029\ue02b\ue030 \ue034\ue023\ue039\ue023 \ue032\ue033\ue027\ue034\ue027\ue030\ue035\ue023\ue034\ue02b \ue03e\ue030\ue023\ue02e \ue02d\ue027 \ue02d\ue02e\ue02b\ue027\ue030 \ue02d\ue02b\ue035\ue023 \ue02a\ue023\ue033\ue02b \ue02b\ue030\ue02b\ue004 \ue00e\ue031\ue034 mereka harus ke luar negeri besok pagi. Jadi nggak ada \u00a0waktu lagi.\u201d Kugy sudah mau nangis rasanya. \u201cRemi ... tapi ini sobat- sobatku dari kecil ... aku kepingin banget ngenalin kamu ke mereka ... dan acara ini penting buatku ....\u201d \u201cGy, kalau memang saya bisa, saya pasti pergi. Tapi saya \u00a0ben\ue017a\ue036r-\ue029b\ue039e\ue02fna\ue027r\ue033\ue023n\ue034g\ue023g\ue02da\ue027k\ue032b\ue036i\ue035s\ue036a\ue034.\ue023\u00a0I\ue030\u2019ll\ue02b\ue035m\ue036 a\ue034\ue036k\ue026e\ue023i\ue02at u\ue03ep\ue030\ue023t\ue02eo\ue026y\ue023o\ue030u\ue035.\ue023\u00a0\ue02dSa\ue023y\ue026a\ue023ja\ue029n\ue036j\ue030i\ue023.\u201d\ue003 nya lagi dia merengek dan berkeluh kesah. Remi tidak bisa ikut dan dirinya harus mencoba realistis. Perlahan, Kugy\u00a0 mengangguk. Remi mengambil tangan Kugy dan menciumnya, \u201cMalam ini saya diwakili oleh si biru ini aja, ya,\u201d ujarnya sambil mengusap gelang yang melingkar di pergelangan Kugy. 326 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 339\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Keenan tergopoh-gopoh keluar dari mobil, dan langsung me- lesat memasuki rumah Eko. Tante Erni\u2014ibunya Eko\u2014sudah \ue02f\ue027\ue030\ue036\ue030\ue029\ue029\ue036\ue030\ue039\ue023 \ue026\ue02b \ue032\ue02b\ue030\ue035\ue036 \ue024\ue027\ue02e\ue023\ue02d\ue023\ue030\ue029\ue004 \ue03b\ue01a\ue023\ue030\ue000 \ue01b\ue023\ue02e\ue023\ue02a\ue000 \ue017\ue027\ue030\ue023 \ue02f\ue023\ue025\ue027\ue035\ue002 \u00a0ya? Untung masih keburu. Ayo, masuk dari sini. Acaranya sudah mulai. Ini, kotak cincinnya, kamu pegang,\u201d seru Tante Erni seraya menyerahkan kotak kecil ke tangan Keenan. Keenan menyusup dan menyisip di sela-sela punggung orang-orang hingga akhirnya tiba di sebelah Eko dan Noni. Seluruh otot muka Eko langsung melonggar ketika me- lihat Keenan akhirnya hadir tepat waktu. Tapi mereka sudah tak sempat lagi mengobrol, hanya saling lempar senyum dan kode-kode jarak jauh. Dari pintu depan, Kugy, yang juga baru datang, berjuang untuk bisa menembus kerumunan tamu. Apalagi kerumunan sanak saudara yang berbaris di paling depan adalah lapisan \u00a0yang paling alot untuk ditembus. Namun, Kugy tak mau ke- hilangan momen. Ia ingin melihat pertukaran cincin itu dari dekat. Giliran otot muka Noni yang melonggar ketika melihat Kugy tahu-tahu menyeruak muncul dari kerumunan orang, melambai-lambai kecil. Manusia satu itu muncul juga, pikir- nya lega. Tak terbayang jika Kugy kembali menghilang dan melewatkan pertunangannya. Kugy menarik napas haru. Noni terlihat begitu cantik da- lam kebaya merah jambu, dan Eko terlihat gagah dengan setelan jasnya. Pertukaran cincin pun akan segera dimulai. Semua orang menanti keluarnya kotak kecil yang akan di- \u00a0buka oleh Eko. Dan seketika ... napasnya tertahan. Kugy\u00a0 mengerjapkan mata, meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang \u00a0bsaenrhgaaltumsinenasgieantaalui okreannag tyipaunagnbeorpdtiikri. dDiesmebi ealpaah pEukno,, Kyaunggy\u00a0 327 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 340\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 menyerahkan kotak cincin padanya, dan bagaimana orang itu tertawa ... cara ia menatap Eko dan Noni ... matanya \u00a0yang bersinar hangat ... Kugy menggelengkan kepala sendirian. \u00a0Ini nggak mungkin. Pada saat yang bersamaan, sebuah intuisi menggiring mata Keenan memandang ke arah tempat Kugy berdiri. Ia tertegun. Juga tidak yakin dengan penglihatannya. Seluruh rongga tubuhnya seketika teraliri oleh hawa hangat. Rasanya utuh dan damai. Cuma satu orang yang mampu membuatnya seperti itu. Dan orang itu tak perlu melakukan apa-apa lagi selain hadir dan ada. Namun, Keenan masih terlalu sukar memercayai matanya. Apa yang ia lihat terlalu indah untuk\u00a0 dipercaya. Ketika kedua mata mereka akhirnya saling menemukan, \u00a0barulah keduanya yakin bahwa mereka tidak berhalusinasi. Detik itu juga Kugy rasanya ingin lari, secepat-cepatnya dan sejauh-jauhnya. Namun, pada saat yang bersamaan, ke- dua kakinya seperti beku. Tertancap kaku di lantai tempat ia berdiri. Dan Kugy tetap mematung seperti itu ketika Keenan akhirnya bergerak mendekat. Keenan bagai melangkah di lautan kala badai. Namun, seperti terhipnotis, kakinya terus digerakkan untuk men- dekat. \u201cKugy?\u201d panggilnya pelan, \u201cApa kabar?\u201d Hanya itu \u00a0yang sanggup ia katakan. \u201cBaik,\u201d jawab Kugy pendek. Hanya itu yang sanggup ia \u00a0jawab. Tiba-tiba, kerumunan orang mendesak mereka. Para tamu mulai bergerak menyalami Eko dan Noni. Pandangan keduanya terhalangi orang-orang yang lalu lalang di antara mereka berdua. Keenan terperanjat dengan kehilangan tiba-tiba itu. sPearnuikk,aigaeltaknatarsenmaetriabiah-ttiabnagbanadKaungnyy,amteermtabruikatmaanjauk. itu ber- 328 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 341\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSori, Gy. Kamu kaget, ya?\u201d Buru-buru, Keenan meminta maaf. Kebingungan sendiri atas reaksinya tadi. Sebuah pe- rasaan kehilangan yang rasanya tak siap dialaminya lagi. \u201cNggak pa-pa, Nan,\u201d Kugy mencoba tersenyum. Keenan ikut tersenyum. Senyuman mereka pertama kali lagi setelah sekian lama. \u201cKita salamin mereka, yuk,\u201d ajak\u00a0 Keenan sambil terus menggandeng tangan Kugy. Eko dan Noni sudah melambai-lambai melihat Kugy dan Keenan yang berjalan menghampiri. Muka keduanya cerah \u00a0bukan main. \ue03b\ue021\ue031\ue02b\ue000 \u00a0My Ring Man!\u00a0Dan lu ...,\u201d Eko merangkul Kugy, \u201cmy ring worm.\u201d\u00a0 \ue03b\ue00d\ue026\ue036\ue02a\ue000 \ue01e\ue027\ue030\ue023\ue030\ue029\ue002 \ue039\ue023\ue000 \ue017\ue02b\ue035\ue023 \ue030\ue029\ue036\ue02f\ue032\ue036\ue02e \ue02e\ue023\ue029\ue02b \ue024\ue027\ue033\ue027\ue02f\ue032\ue023\ue035\ue000\ue03c \ue01a\ue031\ue030\ue02b \u00a0berseru gembira. Kugy memandangi keduanya dengan tawa lebar sekaligus \ue035\ue023\ue035\ue023\ue032\ue023\ue030 \ue032\ue027\ue030\ue036\ue02a \ue035\ue023\ue030\ue039\ue023\ue002 \ue03b\ue015\ue039\ue023\ue002 \ue039\ue023\ue00c \ue01a\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue030\ue039\ue023\ue030\ue029\ue02d\ue023\ue000 \ue01a\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue023\ue026\ue023 pertanda nggak ada berita, tahu-tahu kita berempat lagi.\u201d \u201cIya, setuju,\u201d Keenan mendelik penuh arti ke arah Eko dan Noni, \u201cpanitia reuninya canggih, nih.\u201d Eko langsung menggamit tangan Noni. \u201cOke, kita berdua keliling-keliling dulu, bersosialisasi dululah, biasaaa ...,\u201d ujar Eko sambil cengengesan, \u201ckalian makan dulu kek, ngobrol kek, nanti kalo udah agak sepi kita ngumpul berempat, ya?\u201d Dan cepat-cepat, Eko dan Noni berlalu dari hadapan Kugy\u00a0 dan Keenan. Meninggalkan mereka berdua dengan segala kecanggungan yang ada. \u201cMakan, Gy?\u201d Keenan menawarkan, basa-basi. Rasa lapar- nya sudah mencelat hilang begitu ia melihat Kugy tadi. Kugy menggeleng, enggan. Dalam ruang batinnya yang kini berkecamuk, tak ada ruang lagi untuk memikirkan ma- kanan. \u201cBentar lagi, deh. Kamu lapar, ya?\u201d \u00a0juju\u201crN.ggak. Saya juga nggak kepingin makan,\u201d jawab Keenan 329 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 342\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0Akhirnya mereka berdua duduk di taman belakang rumah Eko, berbekalkan dua gelas es buah yang juga tak kunjung disentuh. \u201cAku nggak nyangka,\u201d Kugy membuka suara, memecah kecanggungan yang sudah mulai terasa melumpuhkan, \u201cakan ketemu kamu dengan format kayak begini,\u201d ia tersenyum lalu mengerling pada Keenan yang mengenakan jas tiga kan- cing warna hitam dengan dasi berwarna perak tua. Rambut Keenan, yang dulu dibiarkan tumbuh panjang, kini pendek\u00a0 dan rapi. \u201cNggak pantes, ya?\u201d sahut Keenan diikuti tawanya yang renyah. Kugy tak menjawab, karena ia tak mungkin mengatakan \u00a0jawaban yang jujur: bahwa Keenan kelihatan begitu lain, \u00a0bahwa Keenan tak pernah berhenti membuatnya terpukau. \u201cSaya juga nggak nyangka ketemu kamu dalam ... gaun,\u201d Keenan berkomentar ragu-ragu. \u00a0Kamu makin cantik, sam- \u00a0bungnya dalam hati. \u201cKamu membuat saya yakin bahwa Charles Darwin memang benar. Evolusi itu memang bisa terjadi.\u201d \ue03b\ue019\ue031\ue030\ue039\ue027\ue035\ue000\ue03c \ue034\ue027\ue02f\ue032\ue033\ue031\ue035 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue034\ue023\ue02f\ue024\ue02b\ue02e \ue035\ue027\ue033\ue035\ue023\ue038\ue023\ue004 \u201cYa, persis. Itu dia. Dari monyet berantakan sampai jadi manusia cantik bergaun velvet,\u00a0\u201d seloroh Keenan diikuti ge- lakan tawa. Namun, dengan cepat, mereka kembali terdiam. Suara- suara yang menderu dalam batin masing-masing masih ter- lampau bising, tapi begitu susah untuk diungkap. \u201cKamu ke mana aja?\u201d tanya Kugy akhirnya, setelah sekian lama pertanyaan itu menggantung di benaknya. \u201cKe Bali,\u201d jawab Keenan lugas. Terlalu banyak kisah yang tertunda. Ia tak tahu lagi harus mengawali dari mana. BegKituugysatjear?seSneymumudpaahhiittumkeanmduennggairlajnawg,anbgagnaiktua.d\u201caKekaBbaalri., 330 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 343\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 terus kamu tinggal ngomong \u2018ke Bali\u2019 kayak orang baru pu- lang liburan,\u201d Kugy menimpali datar, tapi sesuatu dalam nada suaranya terasa tajam menukik. \u201cNggak semudah itu, Gy. Saya nggak sekadar pergi, ngi- lang dan liburan,\u201d Keenan menatap Kugy balik, getir. \u201cSaya pergi untuk memulai sesuatu yang baru. Saya pergi ke mana suara hati saya memilih. Dan gimana pun cara saya pergi dulu, itu adalah pilihan yang terbaik waktu itu. Saya nggak\u00a0 menyesal sedikit pun,\u201d lanjutnya tegas. Kugy rasanya tak sanggup untuk lanjut bertanya. Keenan telah memilih untuk meninggalkan mereka semua, mening- galkan dirinya, tanpa kabar. Itu adalah pilihannya, bukan kesalahannya. Tidak ada yang salah, batin Kugy. \u00a0Mungkin aku yang memang terlalu berharap. \u201cTerus ... kenapa kamu kembali lagi ke sini? Apa karena pilihan hati kamu juga?\u201d tanya Kugy pelan. \u201cBukan,\u201d Keenan menjawab. Apa adanya. \u201cKalau gitu, buat apa kembali ke sini?\u201d Suara Kugy kini terdengar perih. \u201cKenapa malah ninggalin pilihan hati kamu?\u201d \u201cSaya pulang untuk keluarga saya. Papa saya sakit, Gy. Lumpuh gara-gara stroke. \u00a0 Kalau bukan karena itu, jujur, saya mungkin nggak akan pernah kembali ke sini lagi,\u201d ja- \u00a0wab Keenan pahit, \u201csaya sekarang kerja di kantor papa saya. Papa sedang terapi terus. Kondisinya udah jauh lebih baik. Kalaupun saya sekarang harus mengambil alih posisinya, mudah-mudahan nggak untuk selamanya.\u201d \u201cAku turut prihatin, ya, Nan. Aku benar-benar nggak\u00a0 tahu kalau papa kamu sakit,\u201d kata Kugy sungguh-sungguh, perlahan ia menatap Keenan, \u201ctapi, kalau papa kamu baikan, slaegsiu?d\u201d ah itu kamu akan pergi lagi? Ikut suara hati kamu 331 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 344\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Keenan terdiam. Tatapan Kugy menyadarkannya bahwa hatinya ingin berada di dua tempat. Dan meski hatinya telah ia jaga rapi untuk seseorang yang menantinya nun jauh di sana, pertemuan singkat dengan Kugy langsung menjungkir- \u00a0balikkan apa yang selama ini ia bangun dengan hati-hati dan susah payah. Melihat Keenan yang membisu, Kugy menghela napas. Batinnya berteriak semakin menjadi-jadi. \u00a0Buat apa dia kem- bali? Buat apa muncul sejenak lalu menghilang lagi nanti? Sementara sejenak saja kehadiran Keenan mampu meng- obrak-abrik seluruh tatanan hatinya. Jemari Kugy bergerak, menggenggam untaian batu kecil yang melingkar di per- gelangan tangan kirinya, berusaha mencari kekuatan di sana. \u201cGelang kamu bagus. Lapis lazuli?\u201d Kugy tersentak mendengar komentar Keenan yang tak\u00a0 terduga. Ia cuma mengangguk, dan tak bisa menolak ketika Keenan meraih pergelangannya, mengamati gelangnya lebih saksama. \u201cIni gelang yang paling cocok buat agen rahasia Neptu- nus,\u201d ucap Keenan sambil tersenyum kecil, ia melirik Kugy, \u201cbukan Neptunus yang kasih, kan?\u201d Kugy menggeleng. \u201cPacarku yang kasih,\u201d jawabnya spon- tan. \u00a0Lebih cepat dia tahu, lebih baik. \u201cOh,\u201d sahut Keenan pendek, berusaha menyamarkan ge- taran dalam suaranya, \u201cberarti dia memang memahami kamu dengan baik. Teman kerja?\u201d \u201cIya.\u201d \u201cCopy writer \u00a0juga?\u201d \u201cDia atasanku.\u201d \u00a0bihKteuean, adnonmge?m\u201d bunyikan \u201coh\u201d pendek yang kedua kali. \u201cLe- 332 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 345\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cIya.\u201d \u201cDia serius sama kamu?\u201d Kugy mengangkat bahu, \u201cYang jelas, aku nggak pernah main-main.\u201d Kali ini Keenan bahkan tak tergerak untuk menyahuti apa pun. Kugy menghela napas. Gilirannya. Ia menimang-nimang dari celah mana pertanyaan ini bisa dilontarkan. \u201cPerem- puan Bali kan ayu-ayu, ada yang nyantol, nggak?\u201d tanyanya dengan nada yang diupayakan terdengar ringan. Keenan mengangguk. \u201cPacar saya sekarang memang orang Bali asli. Keponakannya Pak Wayan,\u201d ujarnya langsung. \u201cDia masih muda, tapi kepribadiannya sangat dewasa.\u201d \u201cPelukis juga?\u201d timpal Kugy, berusaha antusias. Keenan menatap Kugy sejenak. \u201cBukan. Dia suka me- nulis. Seperti kamu.\u201d Kugy merasa mulutnya mendadak pahit. \u201cOh, ya? Dia suka nulis apa?\u201d \u201cDia ...,\u201d Keenan menerawang, \u201cdia sastrawati yang sangat alami, secara tulisan dan lisan. Ngobrol dengan dia ... rasanya kayak lagi baca buku petuah-petuah bijak. Dia \u00a0bisa menulis apa saja. Tapi sekarang ini dia kepingin menulis cerita anak-anak.\u201d Ingin rasanya Kugy berkomentar, sekadar untuk memberi- kan kesan wajar, tapi ia tidak sanggup. Ada sayatan di hati- nya. Pedih. Tanpa sepenuhnya ia sadari, jemarinya kembali \u00a0bergerak, menggenggam gelang birunya. \u201cAku senang kamu pulang. Setengah mati cari mitra kerja, nih. Kehidupan agen \ue033\ue023\ue02a\ue023\ue034\ue02b\ue023 \ue035\ue02b\ue026\ue023\ue02d \ue02e\ue023\ue029\ue02b \ue034\ue027\ue033\ue036 \ue035\ue023\ue030\ue032\ue023 \ue02d\ue027\ue02a\ue023\ue026\ue02b\ue033\ue023\ue030\ue02f\ue036\ue000\ue03c \ue019\ue027\ue030\ue026\ue023\ue026\ue023\ue02d\ue002 Kugy berkata riang. \u201cNah, sekarang kamu pikir. Gimana caranya saya bisa \u00a0yekansigs tmereunsgjaandgigaagpens,asyeamaegnetnararashaatusi-asaNtuenpytaunourasn, gyad,i dcuunmiaa 333 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 346\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 kamu doang? Tanpa kamu, status agen rahasia saya nggak\u00a0 347\/457 \u00a0berlaku.\u201d Keenan menjawil ujung hidung Kugy. Kugy tersenyum lebar. Akhirnya, semua kembali normal. Selama mereka tidak lagi menyentuh urusan hati mereka \u00a0yang paling dalam, semua baik-baik saja. Dan kini mereka \u00a0bebas berbicara apa pun, tentang perjalanan dan kehidupan Keenan di Lodtunduh, cerita pekerjaan Kugy di kantor ... dan pembicaraan mereka seakan tak ada habisnya. Tak\u00a0 terasa, tamu di rumah Eko sudah menyusut setengah. Suasana menjadi lengang. \ue03b\ue021\ue031\ue02b\ue002 \ue01c\ue027\ue033\ue02d\ue036\ue02f\ue032\ue036\ue02e\ue023\ue030 \ue01b\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue00d\ue030\ue027\ue02a\ue000 \ue020\ue026\ue023\ue02a \ue030\ue029\ue023\ue024\ue02b\ue034\ue02b\ue030 \ue030\ue023\ue034\ue02b \u00a0berapa piring?\u201d Eko tiba-tiba menepak punggung keduanya dari belakang. Tampak Noni datang menyusul. Mereka ber- empat kini duduk bersama di atas ubin. \u201cGerah ya pake baju begini? Coba bisa pake kaus oblong sama sarung,\u201d Eko mengeluh sambil membuka jasnya. \u201cTerus minum kopi tubruk sama singkong goreng, de- ngerin radio AM, bahas harga sayur-mayur dan jadwal pa- nen ladang ...,\u201d Keenan melanjutkan. \ue03b\ue013\ue027\ue030\ue02b\ue036\ue034\ue000\ue03c \ue034\ue027\ue033\ue036 \ue017\ue036\ue029\ue039\ue004 \ue03b\ue013\ue02b\ue02f\ue023\ue030\ue023 \ue02d\ue023\ue02e\ue031 \ue033\ue027\ue036\ue030\ue02b \ue02b\ue030\ue02b \ue02d\ue02b\ue035\ue023 \ue024\ue036\ue023\ue035 dengan tema ... Kelompencapir33?\u201d Eko mengernyit melihat keduanya, \u201cGua kok lebih setuju memakai tema \u2018Alien Ressurection\u2019, ya?\u201d \ue035\ue036\ue02f\ue03b\ue00d\ue02d\ue02d\ue027\ue036\ue019\ue034\ue027\ue023\ue035\ue02f\ue036\ue02c\ue023\ue036\ue02d\ue026\ue023\ue027\ue02f\ue030\ue029\ue036\ue023\ue002 \ue030\ue039\ue023\ue02b\ue000\ue026\ue03c\ue027\ue01a\ue017\ue031\ue027\ue030\ue02e\ue031\ue02b \ue02f\ue024\ue027\ue032\ue033\ue027\ue02d\ue030\ue023\ue025\ue035\ue023\ue023\ue032\ue032\ue02b\ue033\ue023\ue000\ue026\ue00d\ue023 \ue02d\ue011\ue036\ue02d\ue031\ue032\ue002\ue02b\ue030\ue026\ue02c\ue023\ue023\ue030\ue02f\ue02e\ue023\ue02d\ue030\ue031\ue029\ue034\ue003\ue003 sung lari ke dalam rumah. Kembali lagi membawa empat kaus dan empat sarung. Tak lama, semua pakaian mereka berganti. Empat cangkir minuman panas. Sepiring makanan kecil. Malam berlalu 33 \u00a0 iSninfogrkmaatasni bdaagrii: pKeetlaonmi pdoaknPneneldaeynagnard,iPIenmdboanceasidaanyaPnigrssaewmapna. tSiraurtainn ditayangkan di TVRI pada masa pemerintahan Presiden Suharto. 334 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 terlalu cepat. Terlalu singkat untuk mengiringi obrolan me- reka dan kerinduan mereka akan satu sama lain. Tanpa te- rasa, ayam jantan berkokok dari kejauhan, membuktikan \u00a0bergulirnya malam yang terlalu cepat untuk mereka ber- empat. 335 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 348\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 37. TABIR YANG TAK BISA DITEMBUS J a k a r t a , M a r et 2 0 0 3 ... Kegiatan Noni dan Eko di kampus yang mulai melonggar memungkinkan mereka berempat cukup sering berkumpul. Setidaknya dua minggu sekali mereka menyempatkan untuk\u00a0 \u00a0bertemu. Dan minggu ini, rumah Keenan yang mendapat giliran. Lena sangat gembira menyambut mereka semua. Sudah lama ia tidak melihat Keenan bergaul dengan teman-teman lamanya. Dan baginya itu pertanda bahwa Keenan mulai kerasan hidup di Jakarta. Saking senangnya, Lena rela mem- \u00a0bikinkan begitu banyak makanan sampai-sampai meja makannya nyaris tak muat lagi. Empat-empatnya bengong melihat meja makan yang pe- nuh sesak itu. \u201cMa, kita kan cuma berempat?\u201d tanya Keenan, \u201cIni sih \ue02f\ue023\ue02d\ue023\ue030\ue023\ue030 \ue024\ue036\ue023\ue035 \ue034\ue02d\ue023\ue02e\ue023 \ue02d\ue027\ue030\ue026\ue036\ue033\ue02b\ue023\ue030\ue000\ue03c Tan\u201ctKee,\u201densaamn bluarpaEkmoe, m\u201cKpuegryhiptuelnihgakraanapnealkihoanrdaaa,nsakyiatapseelimhauraa, 336 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 349\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 ular naga, Noni punya keluarga singa, Keenan ngasuh rom- \u00a0bongan tunawisma\u2014\u201d \ue03b\ue019\ue023\ue034 \ue011\ue02d\ue031\ue000\ue03c \ue016\ue027\ue033\ue031\ue027\ue030 \ue02d\ue027\ue02e\ue036\ue023\ue033 \ue026\ue023\ue033\ue02b \ue02d\ue023\ue02f\ue023\ue033\ue030\ue039\ue023\ue004 \u201cJeroen?\u201d Eko benar-benar pangling. Anak SMP yang ke- cil itu kini sudah menjulang tinggi, hampir menyamai tinggi \u00a0badannya. Jeroen sudah masuk SMA sekarang. \u201cKamu\u2014 pelihara apaan bisa jadi segede gini?\u201d Jeroen terkekeh, \u201cPelihara grup ronggeng.\u201d Lena mendelik, \u201cMemang nih anak satu. Pacarnya banyak\u00a0 \u00a0bener. Pusing deh, Tante di rumah merangkap resepsionis. Telepon krang-kring terus nyariin Jeroen. Dan orangnya \u00a0beda-beda semua.\u201d \u201cLho, nggak pa-pa, Tante. Itu untuk mengimbangi abang- nya yang nasibnya agak lain,\u201d timpal Eko lagi. Tiba-tiba terdengar suara roda berputar. Ayah Keenan keluar dari kamarnya. Tangannya sudah bergerak lancar me- mutar roda. Ia tersenyum ramah menyapa semuanya. Walau- pun bicaranya agak pelan, artikulasinya sudah jelas dan mendekati normal. Sesampainya di dekat meja, Adri pun minta dibantu berdiri. Ia berjalan hati-hati menuju kursi. \u201cAyahnya Keenan sekarang sudah bisa jalan lagi, hampir semua sudah bisa kembali seperti dulu, tapi masih pelan-pe- lan,\u201d Lena menerangkan dengan bangga. Kugy mengamati semua itu dengan saksama. \u00a0Ini rupanya \u00a0pengorbanan Keenan. Mudah-mudahan memang tidak un- tuk selamanya\u2014sekalipun itu berarti Keenan mungkin akan pergi lagi entah ke mana. Mendadak muncul sayatan pedih lagi di hatinya. Namun, Kugy memilih untuk tidak meng- indahkan. Malam seperti ini terlalu berharga untuk dilewat- kan dengan kepedihan. 337 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 350\/457"]
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184
- 185
- 186
- 187
- 188
- 189
- 190
- 191
- 192
- 193
- 194
- 195
- 196
- 197
- 198
- 199
- 200
- 201
- 202
- 203
- 204
- 205
- 206
- 207
- 208
- 209
- 210
- 211
- 212
- 213
- 214
- 215
- 216
- 217
- 218
- 219
- 220
- 221
- 222
- 223
- 224
- 225
- 226
- 227
- 228
- 229
- 230
- 231
- 232
- 233
- 234
- 235
- 236
- 237
- 238
- 239
- 240
- 241
- 242
- 243
- 244
- 245
- 246
- 247
- 248
- 249
- 250
- 251
- 252
- 253
- 254
- 255
- 256
- 257
- 258
- 259
- 260
- 261
- 262
- 263
- 264
- 265
- 266
- 267
- 268
- 269
- 270
- 271
- 272
- 273
- 274
- 275
- 276
- 277
- 278
- 279
- 280
- 281
- 282
- 283
- 284
- 285
- 286
- 287
- 288
- 289
- 290
- 291
- 292
- 293
- 294
- 295
- 296
- 297
- 298
- 299
- 300
- 301
- 302
- 303
- 304
- 305
- 306
- 307
- 308
- 309
- 310
- 311
- 312
- 313
- 314
- 315
- 316
- 317
- 318
- 319
- 320
- 321
- 322
- 323
- 324
- 325
- 326
- 327
- 328
- 329
- 330
- 331
- 332
- 333
- 334
- 335
- 336
- 337
- 338
- 339
- 340
- 341
- 342
- 343
- 344
- 345
- 346
- 347
- 348
- 349
- 350
- 351
- 352
- 353
- 354
- 355
- 356
- 357
- 358
- 359
- 360
- 361
- 362
- 363
- 364
- 365
- 366
- 367
- 368
- 369
- 370
- 371
- 372
- 373
- 374
- 375
- 376
- 377
- 378
- 379
- 380
- 381
- 382
- 383
- 384
- 385
- 386
- 387
- 388
- 389
- 390
- 391
- 392
- 393
- 394
- 395
- 396
- 397
- 398
- 399
- 400
- 401
- 402
- 403
- 404
- 405
- 406
- 407
- 408
- 409
- 410
- 411
- 412
- 413
- 414
- 415
- 416
- 417
- 418
- 419
- 420
- 421
- 422
- 423
- 424
- 425
- 426
- 427
- 428
- 429
- 430
- 431
- 432
- 433
- 434
- 435
- 436
- 437
- 438
- 439
- 440
- 441
- 442
- 443
- 444
- 445
- 446
- 447
- 448
- 449
- 450
- 451
- 452
- 453
- 454
- 455
- 456
- 457