["\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 kadar galeri. Dan orang-orang itu adalah kolektor lukisan \u00a0yang berpengalaman. Kamu atau Eko bisa aja bilang lukisan saya bagus karena kalian teman-teman saya. Tapi orang- orang itu lebih tahu.\u201d Kugy menggeleng lagi. \u201c\u00a0No. YOU wake up!\u00a0Nggak peduli galeri bilang apa, nggak peduli orang-orang itu punya penga- laman apa, harusnya kamu yakin sama diri kamu sendiri.\u201d \u201cBener banget,\u201d balas Keenan tegas. \u201cSaya harus bangun dan lihat kenyataan. Dan ini realitasnya. Lukisan saya cuma \u00a0jadi sarana seorang Wanda yang cuma mau pe-de-ka-te. Dan ketololan sayalah yang memungkinkan dia melakukan itu semua.\u201d \u201cKamu bilang ini bukan masalah Wanda, tapi dari tadi kamu bolak-balik selalu kembali mengungkit dia dan galeri- nya. Justru aku yang nggak melihat bahwa ini soal Wanda \ue023\ue035\ue023\ue036 \ue021\ue023\ue033\ue034\ue02b\ue035\ue023\ue004 \ue015\ue030\ue02b \ue023\ue026\ue023\ue02e\ue023\ue02a \ue034\ue031\ue023\ue02e \ue02d\ue023\ue02f\ue036 \ue026\ue023\ue030 \ue02d\ue027\ue039\ue023\ue02d\ue02b\ue030\ue023\ue030 \ue02d\ue023\ue02f\ue036\ue000\ue03c ujar Kugy setengah mengeluh. \u201cNan ... selama ini kamu yang menginspirasi aku untuk tetap yakin pada impian-impianku. Gara-gara kamu aku semangat bikin dongeng lagi. Aku nggak rela kamu menyerah gitu aja\u2014\u201d \ue03b\ue01e\ue023\ue039\ue023 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue032\ue027\ue033\ue030\ue023\ue02a \ue02f\ue02b\ue030\ue035\ue023 \ue02c\ue023\ue026\ue02b \ue032\ue023\ue030\ue036\ue035\ue023\ue030 \ue034\ue02b\ue023\ue032\ue023\ue003\ue034\ue02b\ue023\ue032\ue023\ue000 Nggak usah menambah beban saya dengan omongan seperti \ue02b\ue035\ue036\ue000\ue03c \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030 \ue02f\ue027\ue030\ue036\ue02d\ue023\ue034\ue004 \ue01e\ue027\ue035\ue027\ue030\ue029\ue023\ue02a \ue02f\ue027\ue02f\ue024\ue027\ue030\ue035\ue023\ue02d\ue004 Seketika Kugy bungkam. Dengan sedikit gemetar, tangan- nya membereskan sisa barangnya yang tercecer, lalu ia me- nyandangkan tasnya di bahu. Bersiap pergi dari sana. \u201cTer- nyata selama ini aku ketinggian menilai kamu ...,\u201d desisnya tanpa lagi menatap Keenan. Tak lama, langkah-langkahnya \u00a0yang besar membawa Kugy dengan cepat menghilang di \u00a0balik rimbunan bambu. Ia berjalan buru-buru tanpa me- noleh. meDnaittaepmi.pBaatnnyyaa,kKkeaetanaynandgudiauskedsaialimtadpai ntehlaannjyuar staernugcgaupp. 188 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 201\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Namun, untuk menahan Kugy, ia bahkan tak punya percaya diri yang cukup untuk itu. Angin dingin yang berembus me- nyentuh kulitnya seolah menembusi pori, memasuki nadi, dan meninggalkan perasaan kehilangan yang menjalar ke seluruh tubuh. Mendadak, Keenan menggigil. Tak hanya ke- hilangan, ia pun merasa ditinggalkan. 189 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 202\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 22. PULANG KE UBUD Sendirian di kamarnya, Kugy mulai menulis seperti orang kesetanan. Malam itu ia berniat menumpahkan semuanya dalam lembaran-lembaran kertas kosong. Dalam sekejap, \u00a0bidang petak putih itu terisi penuh oleh tulisan tangannya. Sambil menulis, tak jarang air matanya ikut terselinap, me- ninggalkan jejak-jejak tinta yang memecah di atas kertas. Kugy tak tahu itu air mata sedih atau marah, dan ia tak lagi peduli. Baru pada lembar ketiga, kecepatan menulisnya mulai melambat. Perasaan yang tadi campur aduk mulai menunjuk- kan wajah aslinya. Seharusnya ia bersukacita saat tahu hu- \u00a0bungan Keenan dan Wanda usai. Seharusnya ia lega ketika tahu Keenan tidak jadi pindah ke Jakarta dan meninggalkan dirinya gara-gara harus mempromosikan lukisan. Tapi ter- nyata tidak. Kugy pun tersadar, inilah patah hati yang se- sungguhnya. Hatinya pernah hancur ketika tahu Keenan harus bersama orang lain, tapi hatinya baru benar-benar lpaamtaahinkietiaikcaintatah.u bahwa Keenan bukanlah sosok yang se- 190 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 203\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Pada lembar ketiganya, Kugy mulai menangis sedih. Ti- dak banyak lagi yang ia tulis. Hanya beberapa baris penye- salan. Kugy menyadari, selama ini ia telah menciptakan sendiri ilusi tentang Keenan dan mencintai ilusi itu. Ke- nyataannya, Keenan rapuh dan lemah. Terdengar suara pintu di kamar sebelah membuka. Tak\u00a0 lama, terdengar langkah Noni di koridor. Mendengar suara- suara itu, Kugy menelan ludahnya yang terasa pahit. Tak\u00a0 hanya ia kehilangan cintanya, ia pun telah kehilangan Noni dan Ojos gara-gara cinta itu. Orang-orang yang ia cinta. Dilipatnya lembar-lembar kertas tadi, dibentuknya men- \u00a0jadi tiga perahu kertas. Di seberang kampus, ada sebuah permukiman yang dilewati kali. Itulah aliran air terdekat yang bisa Kugy temukan. Pagi itu, sebelum kuliah, Kugy menyempatkan diri mam- pir ke kali. Terdapat beberapa anak kecil yang sedang asyik\u00a0 menangkapi kecebong.\u00a0Kugy beringsut maju, menjauhi me- reka. Ia tak ingin misi pentingnya gagal secara prematur hanya karena anak-anak tadi tak jadi menangkapi kecebong, dan malah lebih tertarik pada barang yang ingin ia hanyut- kan. Setelah merasa berada di jarak aman, barulah Kugy ber- henti dan mendekat ke tepi kali. Dari dalam ranselnya, ia mengeluarkan tiga perahu kertas. Tak ada saluran lain, tak\u00a0 ada teman bicara lain ... hanya Neptunus,\u00a0batinnya. Satu demi satu, ia mengapungkan perahu-perahu kertas- nya ke kali. Sesuatu seperti lepas dari hatinya seiring dengan melaju- Sneykaiapneralahmu-apesruadhauhtarditi.uaKluginyi mteerrakusabulerb, ihdalnegadibbeurtnuahpkaasn. 191 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 204\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 sekian banyak peristiwa untuk membangkitkannya kembali. Kugy lupa betapa melegakannya perasaan ini, saat cerita dan \u00a0beban hatinya dihanyutkan air menuju lautan. Betapapun \u00a0jauhnya perjalanan itu. B a n d u n g , N o v em b er 2 0 0 0 ... Hari pertama di bulan November. Keenan dikagetkan oleh kedatangan Bimo yang muncul di tempat kosnya pagi-pagi. \u201cHai, Nan ... apa kab\u2014?\u201d Bimo sampai menghentikan kalimatnya ketika sepenuhnya menyadari apa yang ia lihat, \u201cgila, lu kurus banget, Nan.\u201d Keenan, yang berdiri di pintu, hanya tersenyum. Itu ada- lah komentar klasik yang selalu ia terima setiap kali bertemu dengan teman kampusnya. \u201cHai, Bim. Masuk, yuk,\u201d sapa Keenan seraya membuka pintu kamarnya lebih lebar, menyilakan Bimo masuk. \u201cGua mau ngasih ini,\u201d Bimo menyerahkan sepucuk\u00a0 amplop putih. Keenan menerima surat itu dan seketika mengenali tu- lisan tangan yang tertera. Alamat pengirim di sampul bela- \ue02d\ue023\ue030\ue029 \ue023\ue02f\ue032\ue02e\ue031\ue032 \ue02b\ue035\ue036 \ue02f\ue027\ue030\ue029\ue031\ue030\ue03e\ue033\ue02f\ue023\ue034\ue02b \ue026\ue036\ue029\ue023\ue023\ue030\ue030\ue039\ue023\ue004 \ue01e\ue036\ue033\ue023\ue035 \ue026\ue023\ue033\ue02b \ue01c\ue023\ue02d \u00a0Wayan di Ubud, dikirimkan ke alamat kosnya yang lama. \u201cSurat ini ... kapan sampai?\u201d tanya Keenan. \u201cSebetulnya udah cukup lama, Nan. Mungkin hampir dua minggu. Tapi baru sampai ke tangan gua semingguan yang lalu. Dan baru sekarang gua baru sempat ke sini. Sori, ya,\u201d \u00a0jelas Bimo. \u201cNggak apa-apa. Thanks, \u00a0 Bim. Harusnya gua aja yang ambil ke sana. Nggak perlu sampai lu ke sini ....\u201d ma\ue00ena\ue02b\ue02f? \ue031Te\ue035l\ue027e\ue033p\ue029a\ue027t\ue02ei\ue023?\ue02d\ue004H\ue03bP\ue018\ue02alu\ue023\ue000ka\ue018g\ue036ak\ue024\ue02bp\ue034\ue023un\ue035y\ue023a\ue02a,\ue036k\ue023o\ue026sa\ue023n\ue030\ue039i\ue023ni\ue034k\ue036a\ue033g\ue023\ue035ak\ue02b\ue030p\ue02bu\ue026n\ue023y\ue033a\ue02b 192 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 205\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \ue035\ue027\ue02e\ue027\ue032\ue031\ue030\ue000 \ue01a\ue023\ue030 \ue004\ue004\ue004 \ue030\ue023\ue030 \ue004\ue004\ue004 \ue02d\ue023\ue039\ue023\ue02d\ue030\ue039\ue023 \ue02e\ue036 \ue036\ue026\ue023\ue02a \ue02d\ue027\ue02d\ue036\ue033\ue036\ue034\ue023\ue030 \ue034\ue023\ue02f\ue032\ue023\ue02b otak lu agak ciut ...\u201d \u201cOh, iya. Bener juga ...\u201d Keenan ikut mesem-mesem. \u201cSarapan, yuk. Gua yang traktir. Kapan lu terakhir makan enak?\u201d Keenan berpikir, lalu menggelengkan kepala. \u201cKalau soal enak, kayaknya sih makanan gua enak-enak aja. Tapi kalau enak dan mahal ... hmm ... gua sampai udah nggak inget \ue035\ue027\ue033\ue023\ue02d\ue02a\ue02b\ue033 \ue02d\ue023\ue032\ue023\ue030\ue004 \ue01b\ue035\ue023\ue02d \ue036\ue026\ue023\ue02a \ue025\ue02b\ue036\ue035\ue000\ue03c \ue00e\ue02b\ue02f\ue031 \ue035\ue027\ue033\ue02d\ue027\ue02d\ue027\ue02a\ue004 \ue03b\ue01e\ue02b\ue023\ue032\ue000 \ue019\ue023\ue02a\ue023\ue02e \ue026\ue023\ue030 \ue027\ue030\ue023\ue02d it is then!\u201d\u00a0 \u00a0Acara sarapan bersama Bimo ternyata berlanjut hingga men- \u00a0jelang sore. Keenan kembali menjenguk kampus dan nong- krong seharian bersama teman-teman lamanya. Keenan ter- sadar betapa ia merindukan kebersamaan semacam itu. nSegjuarkuinngsiddierni bdaikrusemoarhanWg apnedrtaa,piaa.laKmedaamtaenngyaennBdiirmi odabnenmaer-- \u00a0benar terasa bagai angin segar di tengah atmosfer jiwanya \u00a0yang pengap. Keenan membuka jendela kamar kosnya lebar-lebar. Tem- pat ini pun butuh angin segar setelah seharian tertutup dan terpapar panas matahari siang. Ia menimang-nimang amplop itu, bertanya-tanya adakah surat itu menjadi angin segar \u00a0berikutnya. Keenan menggeleng sendirian, seolah menyesali pikirannya sendiri. Ia lelah berharap. Tanpa pikir panjang lagi, Keenan membuka surat itu. Terdapat dua lembar kertas surat bertulis tangan dan selem- \u00a0bar kertas tambahan. Seketika Keenan terenyak ketika me- nyadari apa kertas itu. Langsung ia membaca dengan ter- gesa-gesa. Setelah selesai, Keenan pun mematung. Lama. Keenan memandangi kertas-kertas di pangkuannya. Pikirannya masih berusaha mencerna dan hatinya berusaha 193 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 206\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0beradaptasi dengan berbagai lonjakan perasaan yang sontak\u00a0 muncul ketika membaca surat dari Pak Wayan. Untuk kedua kalinya, Keenan membaca surat tersebut. Kali ini dengan lebih lambat. Pak Wayan menceritakan betapa kagetnya dia ketika di- kirimi lukisan-lukisan Keenan yang seperti jatuh dari langit saking tak terduganya. Sekalipun di surat pengantarnya Keenan menuliskan sejelas-jelasnya bahwa itu semua adalah kenang-kenangan sekaligus tanda terima kasih untuk apa \u00a0yang didapatnya selama di Bali, Pak Wayan merasa ada se- suatu yang luar biasa yang telah terjadi dalam hidup Keenan. Namun, Pak Wayan tidak berhasil menghubungi Keenan untuk bertanya langsung. Salah satu lukisan Keenan yang paling disuka oleh Pak\u00a0 \u00a0Wayan lantas diberi rangka kayu dan dipajang begitu saja di studionya. Beberapa minggu kemudian, lukisan itu men- curi perhatian seorang kolektor lukisan dan ia tertarik ingin membeli. Pak Wayan sudah mengatakan bahwa lukisan itu tidak dijual, tapi orang itu benar-benar gigih dan bersikeras ingin membeli. Pak Wayan bilang, orang itu seperti terkena cinta buta. Jatuh hati habis-habisan pada lukisan Keenan. Pak Wayan lalu minta maaf jika dirinya lancang, tapi kata hatinya mengatakan untuk melepaskan lukisan Keenan pada orang tersebut. Dalam suratnya, Pak Wayan menulis: \u201c... seperti cinta yang satu hari bertalian tanpa bisa dijelas- kan, saya merasa lukisan itu menemukan jodohnya. Saya kenal baik dengan orang yang membeli lukisan kamu itu, makanya saya yakin lukisan itu berada di tangan yang tepat. Dia membelinya bukan semata-mata untuk investasi, tapi karena cinta.\u201d\u00a0 Keenan lanjut membaca: \u201cLukisan yang satu itu memang sinagnignatsebkaagliums ednaynimrpoahnnnyyaa,kusaayt.a Sjuekgaalitpiudnaksmayaau smenednigr-i 194 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 207\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 hambat rezeki kamu. Semoga uang ini bisa bermanfaat banyak. Kapan kamu pulang ke rumahmu di Ubud? Saya dan keluarga besar di sini selalu mengharapkan kamu pu- lang. Tolong beri kabar secepatnya setelah kamu menerima surat ini.\u201d\u00a0 Kembali Keenan memandangi selembar kertas yang di- selipkan di dalam dua lembar surat tadi. Selembar cek se- nilai tiga juta rupiah. Di sana dituliskan keterangan: \u00a0Pem- belian lukisan: \u201cJenderal Pilik dan Pasukan Alit.\u201d\u00a0 Sisa hari itu dihabiskan Keenan dalam perenungan. Sore \u00a0berganti malam. Langit jingga berganti hitam. Dan ia masih merenung. Banyak yang berkecamuk di benaknya. Hal-hal \u00a0yang tadinya tak terlintas dan tak digubris. Ada keraguan, trauma, dan gentar. Namun, kalimat satu itu terus mengiang-ngiang: \u00a0Kapan kamu pulang ke rumahmu di Ubud?\u00a0 J a k a r t a , N o v em b er 2 0 0 0 ... Perempuan itu tidak sanggup menahan aliran air matanya. Mereka berjanji bertemu pada jam tatkala ia hanya sendirian dan semua orang lain sedang berada di luar rumah. Hatinya seketika tersayat dan teriris melihat anaknya sendiri muncul sembunyi-sembunyi seperti narapidana kabur dan takut ter- tangkap. Keenan pun terpaksa membiarkan ibunya menghabiskan seperempat jam pertama pertemuan mereka untuk me- nangis. \u201cTapi ... kamu ... sehat-sehat kan, Nan?\u201d Lena kemudian \u00a0bertanya patah-patah. sak\u201ciSt,ekhoakt,,\u201dMjaawma.bBKiaerepnuannj,abdeirkuusrauhsagsianni,tasai.ya nggak pernah 195 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 208\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cKamu bisa pulang kapan pun kamu mau. Percaya sama Mama. Papa kamu pasti melunak. Di luarnya saja dia keras, tapi sebenarnya dia kehilangan sekali sama kamu ....\u201d Keenan tersenyum tipis. \u201cSaya ingin ketemu Mama hari ini bukan karena saya kepingin pulang ke rumah. Tapi ... saya justru ingin pamit.\u201d Lena langsung tersentak. \u201cPamit? Ke mana?\u201d Keenan tak segera menjawab. Ia mengeluarkan amplop \u00a0berisi surat dari Pak Wayan dan menyerahkannya pada ibu- nya. \u201cTolong baca ini, Ma.\u201d Lena pun mulai membaca. Napas panjangnya menghela ketika ia sampai pada akhir surat. Ia seketika tahu arti per- temuan ini. Perpisahan yang kedua kali akan segera terjadi. Namun, kali ini, ada semacam kelegaan karena ia tahu anak- nya akan terjaga dengan baik. \u201cSaya akan tinggal dengan Pak Wayan,\u201d ujar Keenan man- tap, \u201clusa saya berangkat.\u201d Lena menatap anak sulungnya dari matanya yang ter- saput air. Menyadari betapa bocah kecilnya telah tumbuh \u00a0besar menjadi seorang laki-laki dewasa yang memiliki jalan hidup sendiri. Sejenak lagi Keenan terbang dengan sayapnya, menuju tempat dan kehidupan yang ia pilih. Tidak dirinya, atau siapa pun, yang mampu membendung kepakan sayap- sayap itu. Suara Lena bergetar saat ia mengucap, \u201cBaik-baik di sana, ya? Jangan bikin susah Pak Wayan.\u201d Keenan menelan ludah. Sangat kentara ibunya berusaha kelihatan tegar demi dirinya. Mata Keenan mulai panas. Pan- dangannya mulai mengabur. Keenan terpaksa mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum bisa lanjut berkata-kata. \u201cSaya ada satu permintaan lagi, Ma ....\u201d \u201c\u201cAToplaonitgu?j\u201dangan bilang siapa-siapa saya ada di Ubud. 196 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 209\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Bahkan Jeroen nggak perlu tahu. Cukup Mama yang tahu.\u201d Lena merasa dadanya sesak. \u201cSaya benar-benar ingin memulai halaman baru. Dari nol lagi. Ini jalan hidup saya, Ma. Dan saya nggak mungkin kem- \u00a0bali ke penjara yang sama.\u201d Lama Lena tercenung, sampai akhirnya kepalanya meng- angguk. Berat. Perlahan, Keenan bangkit berdiri. Mengecup kening ibu- nya, dan mendekapnya erat. Setiap bulir detik bergulir pe- nuh arti. Hanya hening dan air mata yang jatuh sesekali dari mata keduanya. 197 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 210\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 23. MENANGKAP BINTANG U b u d , N o v em b er 2 0 0 0 . .. Dua puluh jam Keenan terduduk dalam bus yang mengantar- kannya dari Bandung hingga terminal Ubung. Selama dua puluh jam, matanya tetap membeliak terjaga. Sesuatu dalam perjalanan ini membuatnya gelisah sekaligus bersemangat. Keenan menyadari, ini adalah salah satu keputusan terbesar \u00a0yang pernah dibuatnya selama hidup. Dalam hati ia pun me- rasa, sesuatu yang besar akan menantinya di Ubud. Dari jendela bus, tampak Pak Wayan dan keponakannya, \u00a0Agung, menunggu di terminal. Keenan langsung mengenali dua sosok yang sama-sama tinggi besar itu hilir mudik me- makai setelan lengkap: sarung, kemeja, dan udeng.\u00a0Seperti habis baru selesai upacara. \u201cPoyan! \u00a0 \ue00d\ue029\ue036\ue030\ue029\ue000\ue03c \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030 \ue02f\ue027\ue02e\ue023\ue02f\ue024\ue023\ue02b\ue02d\ue023\ue030 \ue035\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue024\ue027\ue029\ue02b\ue035\ue036 menginjakkan kaki ke tanah. Serta-merta terbit tawa cerah di wajah Pak Wayan, semen- KtaereanaAngudnang mdeemngbaanntguemsitemlabnagwsauknagn btaesrnlayrai. menghampiri 198 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 211\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cAgung, rupanya ada yang harus cepat-cepat kita kasih makan sebelum dia dilirik sama anjing-anjing seluruh Bali karena disangka tulang berjalan,\u201d Pak Wayan terkekeh. Keenan ikut terkekeh, \u201cSetuju, \u00a0Poyan.\u00a0Saya nggak nolak\u00a0 dikasih makan, apalagi kalau dalam waktu dekat.\u201d Pak Wayan tergelak seraya merangkul Keenan erat-erat, \u201cSaya senang sekali kamu pulang ke sini. Keluarga di Ubud sudah menunggu.\u201d Hati Keenan berdesir mendengarnya. Haru. Ia pun ter- sadar betapa ia merindukan konsep itu: \u00a0pulang, \u00a0 dan ... keluarga. Mobil itu tiba di sebuah gerbang kayu tinggi yang diapit pohon-pohon rindang dan semak-semak tanaman rambat \u00a0yang tumbuh besar dan rapat. Di balik gerbang kayu itu langsung terlihat puncak pura yang mencuat hingga tampak\u00a0 dari jalan. Di lahan hektaran itulah tinggal keluarga besar Pak Wayan dalam beberapa rumah terpisah. Terdapat pula sekurang-kurangnya tiga studio kerja besar yang menampung segala macam aktivitas dan barang-barang seni yang digarap oleh keluarga seniman itu. Napas Keenan sontak tertahan melihat gerbang kayu itu lagi. Rumahnya yang baru. Ia tak bisa membendung senyum \u00a0yang menyungging otomatis di mulutnya. Pak Wayan tidak melebih-lebihkan ketika mengatakan \u00a0bahwa seluruh keluarganya telah menunggu. Lagi-lagi, Keenan harus terenyak haru ketika melihat keluarga Pak\u00a0 \u00a0Wayan berkumpul di teras saat mobil mereka tiba di ha- laman depan kompleks itu. 199 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 212\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cBeli2\u00a05\ue000 \ue00d\ue032\ue023 \ue02d\ue023\ue024\ue023\ue033\ue00c\ue03c \ue00e\ue023\ue030\ue039\ue036\ue002 \ue034\ue023\ue02e\ue023\ue02a \ue034\ue023\ue035\ue036 \ue02d\ue027\ue032\ue031\ue030\ue023\ue02d\ue023\ue030 \ue01c\ue023\ue02d \u00a0Wayan yang akrab dengan Keenan, langsung menyongsong dan merangkul Keenan dengan hangat. Disusul Pak Putu, ayah Banyu, lalu yang lainnya. Wajah-wajah yang tak\u00a0 asing. \u201cKamar kamu yang dulu sudah dibersihkan. Sekarang di- tambah lemari pakaian, karena katanya Keenan sudah mau tinggal terus di sini, ya?\u201d ujar Ibu Ayu berseri, adik ipar Pak\u00a0 \u00a0Wayan sekaligus ibu kandung dari Agung. \u201cIya, Bu. Rencananya begitu,\u201d jawab Keenan dengan tawa lebar. \u201cIni, saya bawakan oleh-oleh sedikit dari Bandung, Bu. Buat semua yang di sini,\u201d Keenan pun menyerahkan se- kantong besar aneka makanan yang ia sempatkan beli di toko oleh-oleh sebelum menaiki bus kemarin. \u201cMata kamu kelihatan capek sekali, Nan,\u201d celetuk Pak\u00a0 Nyoman, adik Pak Wayan yang juga sama-sama pelukis. \u201cDi jalan saya nggak bisa tidur, Pak. Saya belum tidur dari kemarin. Tapi rasanya masih oke, kok,\u201d sahut Keenan. \ue03b\ue021\ue023\ue02a\ue000 \ue017\ue023\ue02f\ue036 \ue02a\ue023\ue033\ue036\ue034 \ue025\ue027\ue032\ue023\ue035 \ue02b\ue034\ue035\ue02b\ue033\ue023\ue02a\ue023\ue035 \ue02d\ue023\ue02e\ue023\ue036 \ue029\ue02b\ue035\ue036\ue002\ue03c \ue034\ue023\ue02f\ue024\ue023\ue033 Ibu Ayu, \u201cTidur dulu saja. Nanti malam baru dibangunkan untuk makan sama-sama, ya?\u201d \u201cBoleh, Bu. Terima kasih banyak,\u201d Keenan menjawab de- ngan anggukan semangat. Ia sama sekali tidak keberatan dengan ide itu. Begitu kakinya kembali ke rumah ini, se- luruh sistemnya seolah melepas beban dan ketegangan yang menumpanginya sejak berangkat, hingga lelah tubuhnya pun akhirnya terasa. \ue03b\ue018\ue036\ue02a\ue026\ue027\ue000\ue03c \ue032\ue023\ue030\ue029\ue029\ue02b\ue02e \ue015\ue024\ue036 \ue00d\ue039\ue036\ue004 \ue03b\ue01f\ue031\ue02e\ue031\ue030\ue029 \ue02d\ue023\ue02f\ue036 \ue023\ue030\ue035\ue023\ue033 \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030 dulu, jangan lupa nanti siapkan minum.\u201d \u00a0Alis Keenan sedikit berkerut. Nama itu asing. Dan se- sosok asing yang sedari tadi berdiri malu di pojok, tertutup 25\u00a0Beli: Panggilan untuk laki-laki (saudara\/umum). 213\/457 200 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 orang-orang, menyeruak keluar. Menatap Keenan sambil se- tengah menunduk. \u201cKeenan, kenalkan, ini Luhde Laksmi. Keponakan saya dari keluarga di Kintamani,\u201d jelas Pak Wayan. \u201cLuhde juga akan tinggal di sini. Dia dititipkan oleh bapaknya, Pak Made Suwitna, yang datang berkunjung waktu tahun baru. Waktu kamu liburan terakhir kali kemari. Ingat?\u201d Keenan mengangguk. Ia ingat Pak Made, sepupu Pak\u00a0 \u00a0Wayan yang juga koreografer tari Bali yang sangat terkenal. Sejenak ia mengamati Luhde. Sekilas, Luhde seperti remaja perempuan pada umumnya. Tubuhnya mungil, dan sikap malu-malunya membuat ia tampak makin ringkih. Yang men- cuat adalah rambut panjangnya yang dibiarkan terurai me- lewati bahu hingga menyerupai selendang hitam yang meng- gantung hingga pinggul. Namun, meski tampak ringkih dan pemalu, kedua mata besar itu berbinar penuh rasa ingin tahu. Keenan tertegun. Ada sesuatu yang tak asing dari so- sok yang baru pertama kali ia temui itu. Entah apa. \u201cLagaknya saja pemalu. Padahal dia banyak tahu,\u201d sam- \u00a0bung Pak Wayan lagi sambil terkekeh. Muka Luhde langsung memerah. \u201cMari, \u00a0Beli.\u00a0Saya antar,\u201d ucap Luhde sambil cepat-cepat berjalan. Meski ia berkata dengan volume pelan, tapi terdengar jelas suara itu begitu \u00a0bening seperti embun. \u201cPanggilnya \u2018Keenan\u2019 saja,\u201d sahut Keenan. Dengan sungkan, Luhde mengangguk. \u201cIstirahat dulu, Nan. Nanti malam kita bicara-bicara lagi. Santai saja. Kamu tidak perlu ke mana-mana lagi,\u201d ujar Pak\u00a0 \u00a0Wayan sambil menepuk bahu Keenan. Keenan menatap wajah-wajah itu sekali lagi. Memastikan \u00a0bahwa ia tidak sedang bermimpi. Sudah terlalu lelah ia ber- mimpi. 201 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 214\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 B a n d u n g , N o v em b er 2 0 0 0 ... Eko memandangi Noni yang sedang membereskan isi lemari pakaiannya. Belakangan ini kegiatan mereka sudah banyak\u00a0 \u00a0bergeser. Ia dan Noni lebih banyak menghabiskan waktu \u00a0berdua. Masih ada beberapa kelompok teman yang sering \u00a0jalan bareng dengan mereka, tapi rasanya tidak pernah lagi sama. \u201cMau sampai kapan sih kalian diem-dieman begini?\u201d Tiba-tiba Eko berceletuk. Noni terpaku sejenak. Tapi dengan cepat, ia kembali me- neruskan kegiatannya melipat baju. \u201cMaksud kamu\u2014aku dan Kugy?\u201d \u201cIya,\u201d jawab Eko setengah melengos. \u201cMemangnya enak\u00a0 kayak begini? Padahal kalian satu kos. Aku kan jadi serba salah mau menempatkan diri. Kamu pacarku, Kugy sahabat- ku, tapi kalian nggak saling ngomong.\u201d Noni mengangkat bahu. \u201cHabis mau gimana? Apa kamu nggak lihat kayak apa dia sekarang? Negurnya aja males.\u201d Dagu Noni menunjuk ke arah jendela. Eko menengok sedikit ke luar, dilihatnya Kugy baru saja pulang. Mukanya yang lucu kini mengeras sehingga ke- lihatan judes. Matanya cekung seperti orang kelelahan. Ia lebih mirip rumah angker. Pendiam, muram, seakan-akan \u00a0beban dunia ada di pundaknya. \u201cMales nggak lu kalo dia tampangnya kayak gitu tiap hari,\u201d celetuk Noni lagi. \u201cUdah deh, Ko. Aku sih merasa percuma. Udah pasti kita nggak akan bisa balik lagi kayak\u00a0 dulu. Kugy tuh udah berubah banget.\u201d \u201cKenapa ya dia?\u201d \u201cSejak ngajar di Alit, terus putus sama Ojos, dia jadi \u00a0nbegrguabkamh abuantegrebt.ukAakusajmugaaaknug.gaYka,nugdearhti..\u201dDan dia kayaknya 202 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 215\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Eko menatap Noni lurus-lurus. \u201cKamu nggak kehilangan, apa? Kenapa sih kamu nggak coba ngedeketin dia, kek, ngajak ngobrol pelan-pelan, kek ....\u201d Noni balik menatap Eko. Tajam. \u201cHarusnya, dia yang coba ngedeketin aku, ngajak aku ngobrol pelan-pelan, minta \ue02f\ue023\ue023\ue028 \ue02d\ue023\ue033\ue027\ue030\ue023 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue026\ue023\ue035\ue023\ue030\ue029 \ue02d\ue027 \ue023\ue025\ue023\ue033\ue023\ue02d\ue036\ue004 \ue00e\ue036\ue02d\ue023\ue030 \ue034\ue027\ue024\ue023\ue02e\ue02b\ue02d\ue030\ue039\ue023\ue000\ue03c Eko terdiam. Dibiarkannya Noni kembali sibuk dengan mulutnya yang memberengut. \u201cNon ...,\u201d ucapnya pelan setelah sekian lama hening, \u201ckamu tahu nggak, kijang yang larinya cepat kayak kilat, \u00a0bisa beku kayak patung kalau ketemu singa ....\u201d \ue03b\ue017\ue023\ue02f\ue036 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue030\ue039\ue023\ue02f\ue024\ue036\ue030\ue029\ue000\ue03c \u201cMaksudku, saking ketakutannya kijang itu sama singa, dia malah kehilangan kemampuannya untuk lari. Dia malah nggak bisa gerak sama sekali.\u201d \u201cTerus ... hubungannya apa dengan aku?\u201d \u201cPernah nggak kamu kepikir, saking merasa bersalahnya Kugy sama kamu, dia jadi kayak kijang itu. Dia malah nggak\u00a0 \u00a0bisa ngapa-ngapain. Dia jadi kaku, diam, dan menutup diri, \u00a0\ue024\ue036\ue02d\ue023\ue030 \ue02d\ue023\ue033\ue027\ue030\ue023 \ue026\ue02b\ue023 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue02d\ue027\ue032\ue02b\ue030\ue029\ue02b\ue030\ue004 \ue01f\ue023\ue032\ue02b \ue02b\ue035\ue036 \ue033\ue027\ue03f\ue027\ue02d\ue034 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \u00a0bisa dia lawan, saking merasa salah sama kamu. Dia jadi takut ngedeketin kamu.\u201d Noni gantian terdiam lama. Lalu, sambil melipat bajunya \u00a0yang terakhir, ia pun bergumam, \u201cPlease \u00a0 deh, Ko. Nggak\u00a0 usah sok nganalisis kayak psikolog. Dari dulu kamu memang selalu ngebelain dia. Di mata kamu, Kugy memang nggak\u00a0 pernah salah.\u201d Dan usai berkata demikian, Noni bergegas pergi meninggalkan kamarnya. Meninggalkan Eko yang ter- \u00a0bengong-bengong sendiri. Bertanya-tanya, apa gerangan \u00a0yang ia lakukan hingga Noni jadi korslet begitu. 203 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 216\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 U b u d , N o v em b er 2 0 0 0 . .. Di bawah naungan bale26, Keenan diam mematung. Ini ada- lah minggu ketiga ia tinggal di Lodtunduh. Keenan mulai merasa tak ada bedanya dengan gerombolan ayam kampung \u00a0yang dipelihara Pak Wayan di halaman belakang. Disembelih tidak, dijual telurnya tidak, hanya dibiarkan saja berkeliaran \u00a0bebas sampai tua. Barangkali Pak Wayan cuma membutuh- kan kehadiran mereka, suara mereka, gerak-gerik mereka untuk menghidupkan suasana. Terkadang, Keenan merasa gerombolan ayam itu bahkan lebih berguna dari dirinya. Se- kalipun setiap hari ia berusaha membantu pekerjaan rumah apa pun sebisanya, tetap ia tidak merasa berguna. Keenan mulai merasa lelah dan frustrasi dengan semua ini. Kebaikan dan ketulusan Pak Wayan beserta seluruh keluarganya justru membuat ia semakin tidak enak hati. Selama tiga minggu, ia hanya menumpang tidur dan makan. Dan bukan untuk\u00a0 itu ia seharusnya di sini. Seharusnya ia ... berkarya. Di hadapannya sudah ada kanvas polos, di sampingnya \u00a0berserakan semua peralatan melukis. Tiap pagi ia menyiap- kan perangkat yang sama di tempat yang sama. Namun, \u00a0belum ada secercah pun dorongan di hatinya. Tiba-tiba, dari belakang punggungnya, terdengar sesuatu \u00a0bergesek dengan lantai kayu. Keenan otomatis menoleh ke \u00a0belakang. Kaget melihat Luhde sudah duduk bersimpuh di tangga bale. Luhde pun sama kagetnya. Tampangnya lang- sung pucat seperti maling tertangkap basah. \u201cHai, Tuan Putri. Kok bisa parkir di situ? Kapan muncul- nya?\u201d Keenan menyapa sambil tertawa. \u201cSudah\u2014dari tadi,\u201d jawab Luhde terbata. \u201cSaya mau lihat Keenan melukis.\u201d 26\u00a0 Balai. 204 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 217\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Keenan tergelak lagi. \u201cKamu nggak sayang waktu, apa? Karena dari tadi berarti kamu cuma melihat saya melamun, \u00a0bukan melukis.\u201d Luhde tersenyum. \u201cPelukis yang baik bisa mengungkapkan semuanya, termasuk kekosongan sekalipun,\u201d dengan suara- nya yang lembut dan lirih Luhde berkata. Sejenak, Keenan tertegun. \u201cKamu tuh ... pendiam, tapi sekalinya ngomong kok pintar banget, sih.\u201d Luhde pun beringsut, duduk di sebelah Keenan. \u201cKalau pelukis-pelukis di sini biasanya punya satu sumber inspirasi. Sepanjang hayatnya melukis, mereka akan melukis berdasar- kan sumber yang sama. Tapi justru dengan begitu, mereka \u00a0bisa mencapai tingkat penjiwaan paling tinggi. Mungkin hal seperti itu yang perlu Keenan cari.\u201d Kembali Keenan terpana mendengar kata-kata Luhde. Sama sekali tidak menyangka ucapan sedemikian bijak dan \u00a0bernas akan meluncur dari mulut gadis tujuh belas tahun di hadapannya. \u201cSeperti \u00a0Poman, inspirasinya adalah sesajen, akhirnya semua lukisannya adalah gambar sesajen. Kalau \u00a0Poyan, inspirasinya adalah upacara adat. \u00a0Beli\u00a0\u00a0 Banyu, sekalipun lukisannya abstrak, tapi sumber inspirasinya sebenarnya adalah corak kain Bali. Perhatikan saja semua lukisannya. Iya, kan?\u201d dengan asyik, Luhde berceloteh, \u201cKalau Keenan sudah dapat \u2018jodoh\u2019-nya, pasti tangannya langsung lancar. Dan lukisannya dari ke hari akan semakin bagus.\u201d Keenan melongo. \u00a0Jodoh?\u00a0 \u201cSetiap pelukis pasti memiliki \u2018jodoh\u2019-nya masing-masing. Kalau mereka mau bertekun sekaligus berserah, pasti me- reka akan menemukannya. Jadi, Keenan jangan cepat putus asa. Kadang-kadang kanvas kosong juga bersuara. Tanpa klaenkjoustoLnughadne, slaiagpi.a pun tidak akan bisa memulai sesuatu,\u201d 205 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 218\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kali ini Keenan tidak tahan lagi. Sesuatu menyesak di dadanya. Sudah lama ia ingin bicara dengan seseorang ten- tang kesulitan dan tekanan yang ia alami. Dan mendadak, hari ini Luhde muncul seperti malaikat penolong yang me- ngetuk pintu pertahanannya. \u201cLuhde ... saya benar-benar nggak tahu harus mulai dari mana ... saya ... bahkan nggak\u00a0 \u00a0yakin saya bisa melukis lagi ...,\u201d susah payah Keenan ber- kata. Luhde tak langsung merespons. Ia mendekati kanvas ko- song di hadapan Keenan. \u201cIni ... anggaplah ini langit ...,\u201d katanya seraya menyentuhkan jemarinya di kanvas, \u201csepertinya langit ini kosong. Tapi kita tahu, langit tidak\u00a0 pernah kosong. Ada banyak bintang. Bahkan tidak terhingga \u00a0banyaknya. Keenan harus percaya itu. Langit ini cuma tertutup awan. Kalau Keenan bisa menyibak awan-awan itu, Keenan akan menemukan banyak sekali bintang. Dan dari sekian banyak bintang, akan ada satu yang berjodoh dengan kita. \u201cSaya akan berdoa supaya Keenan cepat menemukan \u00a0bintangnya,\u201d ucap Luhde sambil menundukkan kepala dan menangkupkan tangannya di depan dada. Tak lama, ia \u00a0beringsut menuju tangga, meninggalkan Keenan sendirian lagi di bale. Sampai senja, Keenan tak beranjak dari sana. Berbaring telentang menghadap langit, dan mencoba melihat jauh ke \u00a0balik awan, mencari sesuatu di sana. 206 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 219\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 24. PEMBELI PERTAMA B a n d u n g , D esem b er 2 0 0 0 ... Pagi-pagi, sambil menyandang ransel besar yang gemuk ter- isi buku, Kugy berjalan cepat meninggalkan tempat kos yang sepi ditinggal para penghuninya untuk berlibur. Ia benar- \u00a0benar tidak buang waktu. Tidak ada lagi liburan di agenda- nya. Ia kembali mengambil mata kuliah sebanyak-banyaknya di semester pendek. Kini fokusnya hanya satu: cepat lulus. Hampir tidak ada lagi yang menahannya di Bandung, se- lain kampus dan Sakola Alit. Sebagian besar impiannya, masa-masa bahagia persahabatannya sudah tidak ada lagi. Hubungannya dengan Noni tidak mengalami perbaikan. Sa- habat yang dikenalnya sejak kecil sekarang telah menjadi orang asing. Kugy pun merasa sudah berada di puncak ketidak- nyamanan tinggal di tempat kosnya, dengan jarak hanya satu kamar dengan Noni yang sudah tak pernah bicara de- nNgoannintyida.akTitdaamk pmaukn. gIakitnersleallaumlaenlayha uianbtuekrlaitgua.kDsieaomla-hd-ioalmah, 207 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 220\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kugy mulai mencari tempat kos baru yang akan segera ia tempati begitu semester baru dimulai. Kugy pun nyaris berhenti menulis. Tak peduli lagi dengan ambisinya menjadi penulis dongeng. Daya khayalnya ter- gantikan oleh rangkaian pikiran logis yang bekerja mekanis \u00a0bagai robot untuk belajar, belajar, dan hanya belajar. Satu-satunya kegiatan menulis yang tersisa hanyalah perahu-perahu kertas yang diapungkannya di kali. Kugy bah- kan merasa surat-surat itulah yang membuat dirinya mampu \u00a0bertahan waras dan kuat. Cerita hatinya pada Neptunus \u00a0yang entah ada entah tidak. Tak jadi masalah. Setiap kali melihat perahu kertasnya bergerak terbawa arus kali, Kugy\u00a0 kembali bisa bernapas lega. Hatinya kembali lapang. Ia bercerita soal keluh-kesahnya, keresahan batinnya, dan kerinduannya pada semua yang dulu begitu indah. Termasuk\u00a0 kerinduannya pada Keenan. Satu perahu kertas terlipat di dalam kantongnya. Akan ia apungkan di kali nanti sebelum pergi ke kampus. Andai perahu itu dibuka, maka hanya akan terbaca satu paragraf\u00a0 pendek: \u00a0Neptunus, semua nelayan yang sedang mencari arah akan diberi petunjuk oleh bintang di langit. Semoga dia menemukan bintangnya dan kembali menemukan jalannya \u00a0pulang. U b ud , D esem ber 20 0 0 ... Setiap pagi, di bale\u00a0yang sama, kanvas demi kanvas mulai terisi. Jari dan kuas itu tak pernah berhenti menari-nari, menorehkan garis dan warna. nya\u00a0AKweaenn-aawn abneritteumaukhdirennygaanbelrahnagsiitl bteerrssiibhayka, ndgansisaeptidaipluhkaisrii-. 208 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 221\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Satu benda yang sama selalu menemaninya. Sebuah buku tulis lecek penuh tulisan tangan. Dulu, tangan mungil Kugy\u00a0 \u00a0yang menari-nari di tiap lembarnya. Kisah-kisah petualangan Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Dari teras rumah utama, Luhde diam mengamati bale itu. \u201cPoyan ...,\u201d \u00a0bisiknya pada Pak Wayan. \u201cDia luar biasa berbakat, ya. Lukanya juga mulai sembuh. Dia mulai kembali seperti Keenan yang dulu,\u201d komentar Pak\u00a0 \u00a0Wayan, seolah mengetahui arah pikiran Luhde. Luhde tersenyum menatap pamannya. Wajahnya berseri- seri. \u201cKeenan sudah menemukan bintangnya.\u201d \u00a0Akhir Desember tiba. Bali mulai dipenuhi oleh turis, ter- masuk Ubud. Hawa liburan pun ikut merasuk pada Keenan. Ia mulai merasa harus sejenak mengambil \u2018\u2018cuti\u2019\u2019 singkat dari aktivitas kreatifnya yang sangat menggebu-gebu selama sebulan terakhir. Belakangan, ia lebih sering tertidur di bale ketimbang melukis. Namun, sore itu, tidur siangnya ter- ganggu. Badannya tiba-tiba diguncang oleh Luhde. \ue03b\ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030 \ue004\ue004\ue004\ue002 \ue024\ue023\ue030\ue029\ue036\ue030\ue000 \ue010\ue02b \ue029\ue023\ue02e\ue027\ue033\ue02b \ue023\ue026\ue023 \ue035\ue023\ue02f\ue036 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue02f\ue023\ue036 \ue02d\ue027\ue035\ue027\ue02f\ue036 \ue02d\ue023\ue02f\ue036\ue004 \ue00d\ue039\ue031 \ue004\ue004\ue004 \ue024\ue023\ue030\ue029\ue036\ue030\ue000\ue03c Dengan berat, Keenan membuka matanya. Tanpa bisa mengurai apa gerangan yang terjadi, tangannya sudah di- tarik oleh Luhde, dan tampak Banyu sudah siap dengan se- peda motor untuk mengantarkannya ke galeri. \ue03b\ue01e\ue023\ue039\ue023 \ue030\ue023\ue030\ue035\ue02b \ue030\ue039\ue036\ue034\ue036\ue02e\ue000\ue03c \ue035\ue027\ue033\ue02b\ue023\ue02d \ue018\ue036\ue02a\ue026\ue027 \ue024\ue027\ue033\ue024\ue023\ue033\ue027\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue030 suara deruan motor Banyu yang segera melesat menuju ga- leri dengan Keenan terbonceng di belakang. mePnietr.jKaleaennaann bdaahrikarunmbealhumPaskemWpaaytamneknegugmalperuilkhaannnyyaatwigaa- 209 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 222\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 nya. Masih sambil agak terhuyung, dia memasuki galeri, menemui Pak Wayan. \u201cAda tamu siapa, \u00a0Poyan?\u201d\u00a0 tanyanya sembari menggosok-gosok mata. \ue03b\ue01a\ue023\ue02a\ue002 \ue02b\ue030\ue02b \ue026\ue02b\ue023 \ue032\ue027\ue02e\ue036\ue02d\ue02b\ue034\ue030\ue039\ue023\ue004 \ue00e\ue023\ue033\ue036 \ue024\ue023\ue030\ue029\ue036\ue030 \ue035\ue02b\ue026\ue036\ue033\ue000 \ue014\ue023\ue003\ue02a\ue023\ue003\ue02a\ue023 ...,\u201d Pak Wayan malah menertawainya keras-keras. Ada seorang laki-laki muda yang berdiri di sampingnya, ikut senyum-senyum. Necis meski hanya memakai kaus polos dan jins. Tubuhnya tegap dan terawat. Wajah itu bersih dan tampan. Dari pengamatan sekian detik, Keenan bisa menyimpulkan ia pasti datang dari kota besar di luar Bali, kemungkinan besar Jakarta. \u201cKeenan, ini penggemar fanatik lukisanmu, yang membeli lukisanmu pertama kali. Datang jauh-jauh dari Jakarta un- tuk menanyakan karyamu yang baru. Saya yang beri tahu kalau kamu sudah kembali tinggal di sini.\u201d Tergopoh-gopoh, Keenan langsung memperkenalkan diri. \u201cLukisan kamu makin matang sekarang,\u201d puji pria itu, \u201csaya terkagum-kagum sejak tadi. Luar biasa.\u201d \u201cTerima kasih,\u201d sahut Keenan sambil tersenyum lebar, tak mampu menyembunyikan rasa senang dan bangga yang seketika menyeruak di hatinya. Untuk pertama kalinya ia melihat ada orang yang menyukai lukisannya dengan tulus. \u201cLuPkriisaaintummanenaeybaanrgpaknirdaa-nkgiraanMnyaas, msueknay?a\u201dptuanluykainsayna-sluopkiasna.n Keenan yang terpajang mengitari tempat mereka berdiri. \u201cJujur, saya nggak bisa memilih. Kalau boleh saya tanya, sebenarnya semua lukisan ini rangkaian cerita, ya?\u201d Keenan mengangguk-anggukkan kepala bersemangat. \u201cBetul sekali. Tokoh-tokohnya sama, cuma petualangannya saanjaaky-aannagkbkedaray-abesdaah.aSbaaytasateyrai.nTspemiraasiluokleishanseyrai npgetsuaaylaanbguaant 210 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 223\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 disesuaikan dengan ceritanya. Lebih mirip ilustrasi, jadinya. Hanya saja dalam bentuk lukisan.\u201d \u201cItu dia masalahnya,\u201d pria itu tertawa ringan, \u201csaya jadi nggak bisa milih. Kalau bisa, saya kepingin beli semuanya. Jadi saya punya koleksi lengkap.\u201d \u201cKalau beli banyak, nanti dapat diskon menarik, Mas,\u201d canda Keenan sambil terkekeh, \u201ctapi, kalau boleh tanya \u00a0balik, sebetulnya apa sih yang membuat Mas tertarik dengan lukisan saya?\u201d Pria itu mengambil ancang-ancang bicara. Seolah meng- antisipasi pertanyaan yang sudah lama ia siapkan jawaban- nya. \u201cPertama, tema lukisan kamu unik. Tidak umum, tulus, dan tanpa pretensi. Kedua, menurut saya, gaya melukis kamu itu \u00a0fresh.\u00a0Orisinal. Rapi, ilustratif, tapi tidak terasa seperti ilustrasi. Rasanya tetap seperti monumen tersendiri, dan bu- kan pelengkap sesuatu. Ketiga, dan ini yang paling penting, lukisan kamu punya roh yang kuat. Saya sudah hobi koleksi lukisan sejak lama. Dan bagi saya, lukisan yang bagus adalah lukisan yang bisa membuat orang merenung. Tapi lukisan kamu bukan cuma membuat orang merenung, malah bisa mengundang orang untuk masuk ke dunia kamu. Itu peng- alaman apresasi yang luar biasa. Kamu perlu tahu, jarang sekali ada lukisan yang punya ketiga unsur tadi sekaligus.\u201d Keenan menelan ludah. Tidak tahu harus bagaimana me- nanggapi itu semua. \u201cDengan sangat terpaksa, saya harus mengambil dua lu- kisan saja hari ini. Tapi pastinya saya akan mengoleksi lebih \u00a0banyak lukisan kamu,\u201d sambung pria itu lagi, sambil ber- \u00a0jalan ke arah lukisan yang ia pilih, \u201cberapa harganya?\u201d Keenan menelan ludah lagi. Matanya melirik ke arah Pak\u00a0 \u00a0Wayan, meratap minta tolong. 211 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 224\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Selembar cek bertuliskan 10 juta tergeletak di atas meja. \u201cTidak terlalu susah kan menentukan harga karya sen- diri? Butuh pembiasaan, tapi makin lama nanti kamu makin pintar, kok,\u201d Pak Wayan tertawa kecil. Keenan geleng-geleng kepala, \u201cSaya masih nggak percaya, \u00a0Poyan. Ini pertama kalinya saya lihat langsung ada orang \u00a0yang beli lukisan saya.\u201d Tiba-tiba Keenan mengambil tangan Pak Wayan, menggenggamnya sambil menundukkan kepala, \u201cPoyan ... terima kasih sekali buat semuanya. Saya nggak\u00a0 tahu harus bilang apa, atau melakukan apa. Kalau \u00a0Poyan nggak keberatan, saya ingin membagi setengah dari pen- \u00a0jualan ini dengan galeri.\u201d Dengan cepat, Pak Wayan menggeleng. \u201cNggak, nggak\u00a0 ada itu. Kamu pelukis baru, dan kamu sudah seperti anak\u00a0 saya sendiri. Kamu butuh uang itu untuk bekalmu. Jangan pikirkan dulu soal keuntungan galeri. Saya bisa cari rezeki dari karya saya sendiri. Kalau memang saya benar-benar \u00a0butuh bantuanmu, saya akan bilang. Tapi tidak sekarang. Oke?\u201d ujarnya tegas. Keenan merasa tak punya pilihan selain mengangguk. \u201cLuhde, sini kamu. Kok malah ngintip dari situ,\u201d Pak\u00a0 \u00a0Wayan memanggil keponakannya yang sedari tadi hanya \u00a0berdiri mengamati dari balik partisi. Tampak Luhde keluar pelan-pelan sambil tersenyum malu. Berjalan menghampiri mereka. \u201cKenapa ngintip? Naksir sama tamu tadi, ya?\u201d goda Keenan. \ue03b\ue01a\ue029 \ue004\ue004\ue004 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d\ue000\ue03c \ue024\ue023\ue030\ue035\ue023\ue02a \ue018\ue036\ue02a\ue026\ue027\ue002 \ue032\ue023\ue030\ue02b\ue02d\ue004 \u201cEh, benar itu si Keenan. Nanti kalau kamu cari jodoh, cari yang seperti itu. Ganteng, sukses, masih muda ... cinta \ue034\ue027\ue030\ue02b \ue02e\ue023\ue029\ue02b\ue000\ue03c \ue025\ue027\ue02e\ue027\ue035\ue036\ue02d \ue01c\ue023\ue02d \ue021\ue023\ue039\ue023\ue030 \ue034\ue023\ue02f\ue024\ue02b\ue02e \ue035\ue027\ue033\ue024\ue023\ue02a\ue023\ue02d\ue004 \ue03b\ue016\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue02f\ue023\ue036 s\ue030a\ue039m\ue023 a\ue034\ue023y\ue035a\ue036n\ue003g\ue034\ue023k\ue035a\ue036y\ue000\ue03cak kita-kita ini. Kantongnya sakit asma, napas- 212 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 225\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0Wajah Luhde kian merah jambu. Dalam hatinya, ia sama sekali tidak sepakat dengan pamannya. Ubud, m alam tahu n bar u 200 1 ... \u00a0Akibat desakan semua orang, Keenan akhirnya setuju mem- \u00a0beli ponsel. Sambil duduk di tepi pantai Jimbaran, ia me- nimang-nimang benda kecil yang masih terasa asing di ta- ngannya. Tidak banyak data nomor telepon yang tersimpan di pon- selnya. Hanya keluarga di Bali dan beberapa nama yang ia pindahkan dari buku alamatnya yang lama. Keenan melirik jam di layar ponselnya. Lima menit se- \u00a0belum pergantian tahun. Suara di belakangnya makin ingar- \u00a0bingar, berlomba dengan suara ombak yang terdengar dari depan. Jempolnya bergerak, mencari satu nama itu. Dan \u00a0begitu nama itu muncul di layar, ia tertegun sendiri. Batin- nya menyapa spontan: \u00a0Apa kabar kamu, Kecil?\u00a0 Mendadak Keenan gelisah. Ia tidak yakin apakah nomor itu masih berlaku. Namun, entah mengapa, ada desakan kuat untuk ... ia memencet tombol hijau bergambar simbol telepon ... connecting. Keenan mengamati lekat satu kata itu \u00a0berkedip dan berpendar di layarnya. Bisakah ia berbicara? Sanggupkah ia ...? Tidak. Keenan memejamkan mata, jempol- nya memencet tombol merah. \u00a0Disconnecting. Jakar t a, m alam t ahun bar u 200 1 ... Sebagian besar keluarganya tengah berkumpul di depan \u00a0bteavreu. dSiebbaegrbiaangayiatnegmbpearta. cKauragysetderamngasauskyiykabnegrmbearlkaummtpauhludni 213 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 226\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 depan teve. Selain karena tidak ada undangan apa-apa untuk- nya, ia memang malas keluar. Rasanya tidak ada yang lebih menyenangkan selain selonjoran kaki di sofa, makan ce- milan, sambil mengomentari apa pun yang muncul di layar kaca lalu tertawa-tawa sendiri. Tiba-tiba Kugy terduduk tegak. \u201cHP aku bunyi, ya?\u201d \u201cBukan. Itu suara dari teve,\u201d komentar Kevin pendek. \u201cHP aku di mana, sih?\u201d Kugy mulai membongkari bantal- \u00a0bantal sofa. \u201cKev, ayo berdiri bentar,\u201d Kugy mendorong tu- \u00a0buh kakaknya, \u201ckayaknya didudukin sama kamu.\u201d \ue03b\ue01a\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue02f\ue036\ue030\ue029\ue02d\ue02b\ue030\ue000 \ue01c\ue023\ue030\ue035\ue023\ue035\ue02d\ue036 \ue034\ue027\ue030\ue034\ue02b\ue035\ue02b\ue028\ue004 \ue01c\ue023\ue034\ue035\ue02b \ue02d\ue027\ue033\ue023\ue034\ue023 \ue02d\ue023\ue02e\ue031 \ue023\ue026\ue023 \u00a0yang ganjal,\u201d cetus Kevin asal. Tapi Kugy tidak menyerah. Ia terus mendorong tubuh Kevin dan mencari-cari di sela-sela sofa. \ue03b\ue00d\ue026\ue036\ue02a\ue002 \ue013\ue039\ue000 \ue00d\ue032\ue023\ue023\ue030 \ue034\ue02b\ue02a\ue002 \ue030\ue02b\ue02a\ue000 \ue01a\ue039\ue031\ue026\ue031\ue02d\ue003\ue030\ue039\ue031\ue026\ue031\ue02d \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue02c\ue027\ue02e\ue023\ue034\ue000 \ue013\ue023\ue030\ue029\ue029\ue036\ue002 \ue035\ue023\ue036\ue02d\ue000\ue03c \ue031\ue02f\ue027\ue02e \ue017\ue027\ue037\ue02b\ue030\ue004 \ue03b\ue01a\ue02b\ue02a\ue002 \ue024\ue027\ue030\ue027\ue033\ue002 \ue02d\ue023\ue030\ue00c \ue014\ue036\ue036\ue036\ue02a\ue000 \u00a0So much for sensitivity!\u00a0Diet \ue023\ue02c\ue023 \ue026\ue036\ue02e\ue036 \ue024\ue02b\ue023\ue033 \ue032\ue023\ue030\ue035\ue023\ue035\ue030\ue039\ue023 \ue02d\ue027\ue025\ue02b\ue02e\ue023\ue030\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02e\ue023\ue030\ue029\ue034\ue036\ue030\ue029 \ue02f\ue027\ue030\ue029\ue027\ue025\ue027\ue02d ponselnya yang ditemukan persis di bawah Kevin. Kening Kugy berkerut. Nomor yang tak ia kenal. Namun, matanya tak lepas mengamati deretan angka itu. Rasanya ada sesuatu di sana. Kugy pun mengirim pesan: \u00a0Ini siapa?\u00a0 Satu jam berlalu. Pesan itu tidak dibalas. Lena membuka pintu kamarnya, mendapatkan suaminya masih terduduk di depan teve yang menyala. \u201cAdri, kamu belum mau tidur? Sudah jam dua pagi, lho,\u201d katanya sambil menguap. \u00a0berPkrimiaointuomdeenngdaonngmakuksaejemneankg, amnetunkd.ap\u201cSaetkbaenntiasrtrliangyia. sKuadmahu 214 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 227\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 duluan saja tidur. Acara tevenya bagus. Nanti saya nyusul kalau sudah selesai, oke?\u201d jawabnya lugas. Lena mengintip layar teve sekilas. Tidak yakin dengan arti \u2018\u2018bagus\u2019\u2019 yang dimaksud oleh suaminya. Tapi ia memilih untuk tidak mempermasalahkan dan kembali ke kamar. Sepeninggal istrinya, Adri kembali menatap teve dengan pandangan kosong, seperti yang ia lakukan sedari berjam- \u00a0jam yang lalu. Di dalam kepalanya ada program yang ber- \u00a0jalan sendiri. Kenangan, pertanyaan, lamunan tentang satu orang. Keenan. \u00a0Keenan ... di mana kamu sekarang, Nak? Bertahun baru di mana? Apakah kamu kesepian? Kelaparan? Kedinginan?\u00a0 Dan ia hanya bisa menyapa dan menanyakan itu semua da- lam hati. Dalam kesunyian. Dalam ketiadaan. Setengah mati, Adri berusaha menahan. Hingga pada satu titik rasanya tidak lagi tertahankan. Dan sebutir air mata pun bergulir di pipinya. 215 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 228\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 25. HADIAH DARI HATI Ban du ng, Jan uar i 200 1 ... Belum genap seminggu kepindahannya ke tempat kos baru. Kugy masih menyesuaikan diri dengan lingkungan dan suasana yang berbeda. Jarak tempat kosnya kini lebih dekat ke kampus, sehingga Kugy makin leluasa untuk bolak-balik. Pas dengan programnya yang ingin secepat-cepatnya lulus. Belum semua barang-barangnya tertata dengan rapi. Se- tiap sore, Kugy mencicil beres-beres sendirian. Dan, entah mengapa, ia mulai menikmati kesendirian ini. Sepi ini. \ue03b\ue01e\ue032\ue023\ue026\ue023\ue000 \ue022\ue036\ue003\ue02a\ue036\ue036\ue000 \u00a0Kulonuwun!\u201d Terdengar teriakan ma- nusia yang mengganggu gendang telinga. Kugy segera meletakkan buku-bukunya dan bergegas me- nuju pintu. \u00a0Eko?\u00a0 Benar saja. Begitu pintu dibuka, tampaklah Eko dengan \ue025\ue027\ue030\ue029\ue02b\ue033\ue023\ue030 \ue02e\ue027\ue024\ue023\ue033\ue030\ue039\ue023 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue02d\ue02a\ue023\ue034\ue004 \ue03b\ue014\ue023\ue02b\ue002 \ue019\ue031\ue035\ue02a\ue027\ue033 \ue00d\ue02e\ue02b\ue027\ue030\ue000\ue03c \u201cEKO?\u201d Kugy tercengang seperti betulan melihat alien. \u201cKok\u2014tahu gua di sini?\u201d \u201cTanya sama anak-anaklah,\u201d jawab Eko ringan, \u201cgua tadi tiba-tiba inget lu. Jadi kepingin nengok. Kangen gua.\u201d 216 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 229\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kugy menghela napas, dibarengi senyum cerah yang lang- sung mengembang. \u201cGua juga kangen sama elu,\u201d sahutnya sungguh-sungguh. \ue03b\ue01e\ue02b\ue030\ue02b \ue02e\ue036\ue002 \ue029\ue02b\ue02e\ue023\ue000\ue03c \ue010\ue027\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue029\ue027\ue033\ue023\ue02d\ue023\ue030 \ue025\ue027\ue032\ue023\ue035 \ue011\ue02d\ue031 \ue02f\ue027\ue033\ue023\ue030\ue029\ue02d\ue036\ue02e\ue02d\ue023\ue030 tangannya ke leher Kugy dan mengacak-acak rambutnya. Mereka berdua tertawa-tawa. \u201cAda yang perlu gua bantu, nggak, Gy? Lu pasti masih beres-beres, kan?\u201d \u201cBantuin beresin buku sambil bayarin gua makan nanti malam, yuk.\u201d Eko langsung memonyongkan mulut. \u201cMonyet,\u201d dumel- nya, \u201cyang begini nih yang bikin orang nyesel.\u201d Kugy terbahak keras. \u201cSelamat datang di jebakan \ue00e\ue023\ue035\ue02f\ue023\ue030\ue000\ue03c Tak lama kemudian, keduanya sudah berjongkok sambil membereskan sisa barang Kugy yang masih berserakan di lantai. \u201cNoni tahu lu ke sini, Ko?\u201d Tiba-tiba Kugy bertanya. \u201cNggak. Tapi nanti gua bilang ke dia,\u201d jawab Eko, \u201ckenapa?\u201d \u201cNggak pa-pa. Mmm ....\u201d Kugy menghentikan kegiatannya sejenak, menimbang-nimbang apakah akan meneruskan kalimatnya atau tidak. \u201cYes?\u201d\u00a0 tanya Eko lagi. \u201cSelama ini gua ngira, lu ikut ngejauhin gua. Walaupun gua sebetulnya pingin banget bisa ngobrol dan dekat sama lu kayak dulu, tapi yah, gua ngerti posisi lu yang serba sulit, karena lu pacarnya Noni, dan mau nggak mau harus mempertimbangkan perasaan dia,\u201d jelas Kugy lirih. \u201cTapi, \u00a0jujur, gua kehilangan banget sama kalian berdua.\u201d \u201cYou know what,\u00a0Gy?\u201d Eko menatapnya lurus-lurus, \u201cGua seneng dan lega lu akhirnya pindah kos. Karena setidaknya gluualapgui.nGyuaajabriaska ytaenmgelnuamnasyaamnanleut,ranlguunntjuukngbiinsaludeskeaktaslia-msea- 217 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 230\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \ue02d\ue023\ue02e\ue02b\ue002 \ue035\ue023\ue030\ue032\ue023 \ue029\ue036\ue023 \ue02a\ue023\ue033\ue036\ue034 \ue02d\ue027\ue034\ue027\ue033\ue027\ue035\ue003\ue034\ue027\ue033\ue027\ue035 \ue02d\ue031\ue030\ue03f\ue02b\ue02d \ue02e\ue036 \ue034\ue023\ue02f\ue023 \ue01a\ue031\ue030\ue02b\ue004 Gua juga kehilangan banget sama lu. \u201cSekarang ini Noni masih berproses menyembuhkan sakit hatinya. Gua nggak tahu sampai berapa lama. Dan walaupun dia pacar gua, dan gua temenan sama lu dari kita ABG, gua nggak mau mencampuri urusan kalian berdua. Gua percaya kalian akan punya jalan sendiri untuk menyelesaikan ma- salah kalian. Yang penting buat gua sekarang, gua bisa tetap dekat dengan kalian berdua, sesuai dengan apa yang selama ini kita semua jalankan. Noni pacar gua, dan lu sahabat baik\u00a0 gua. Apa pun yang terjadi di antara kalian berdua, nggak\u00a0 akan mengubah arti lu dan Noni buat gua,\u201d lanjut Eko tegas. Kugy terdiam. Kehilangan kata-kata. \u201cMakasih, Ko,\u201d ucap- nya setengah berbisik, \u201cseumur hidup, gua nggak pernah \u00a0bisa membayangkan jadi melankolis di depan lu, tapi ... ke- datangan lu hari ini, dan apa yang barusan lu bilang, adalah hal terindah dalam hidup gua sepanjang tahun ini.\u201d Eko tersenyum kecil. Namun, dalam hitungan detik, se- nyumannya sirna. \u201cSialan ... tahun ini kan baru jalan \ue034\ue027\ue032\ue036\ue02e\ue036\ue02a \ue02a\ue023\ue033\ue02b\ue000 \ue01f\ue027\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue023\ue02c\ue023 \ue029\ue036\ue023 \ue02c\ue023\ue026\ue02b \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue032\ue023\ue02e\ue02b\ue030\ue029 \ue02b\ue030\ue026\ue023\ue02a\ue002 \ue02f\ue031\ue030\ue039\ue031\ue030\ue029\ue000 \ue020\ue026\ue023\ue02a \ue029\ue036\ue023 \ue024\ue023\ue030\ue035\ue036\ue02b\ue030 \ue02e\ue036 \ue024\ue027\ue033\ue027\ue034\ue003\ue024\ue027\ue033\ue027\ue034\ue002 \ue026\ue02b\ue034\ue036\ue033\ue036\ue02a \ue035\ue033\ue023\ue02d\ue035\ue02b\ue033 \ue02e\ue036 \ue02f\ue023\ue02d\ue023\ue030\ue002 \ue02e\ue023\ue029\ue02b\ue000 \ue017\ue027\ue032\ue023\ue033\ue023\ue023\ue023\ue035\ue000\ue03c Tawa mereka berdua pecah seketika. \u201cTahun ini baru jalan sepuluh hari, dan lu udah berhasil \ue029\ue036\ue023 \ue02c\ue027\ue024\ue023\ue02d \ue026\ue036\ue023 \ue02d\ue023\ue02e\ue02b\ue000 \ue015\ue030\ue02b \ue032\ue027\ue033\ue035\ue023\ue030\ue026\ue023 \ue024\ue036\ue033\ue036\ue02d \ue024\ue036\ue023\ue035 \ue02a\ue02b\ue026\ue036\ue032 \ue02e\ue036\ue002 \ue017\ue031 ....\u201d Kugy tergelak-gelak di lantai. \u201cYup, dan mimpi buruk gua sudah akan dimulai sebentar \ue02e\ue023\ue029\ue02b\ue004 \ue018\ue023\ue032\ue023\ue033\ue002 \ue030\ue02b\ue02a\ue004 \ue019\ue023\ue02d\ue023\ue030\ue002 \ue039\ue036\ue02d\ue000\ue03c \ue011\ue02d\ue031 \ue024\ue023\ue030\ue029\ue02d\ue02b\ue035 \ue024\ue027\ue033\ue026\ue02b\ue033\ue02b\ue004 \u201cLho, kamar gua kan belum beres?\u201d protes Kugy. \u201cLu aja sama keluarga melankolis lu yang beresin,\u201d Eko terk\u201cLekuenhg. g\u201caEkh,baadwaarFeuceahda?n\u201d buat angkot, nggak?\u201d 218 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 231\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cAda. Tapi begitu nyampe di depan kos lu, dia langsung mogok gitu. Jadi, paling gua titip Fuad dulu di depan, nanti pas mau pulang, gua minta tolong lu buat dorongin dikit. \u00a0Ya?\u201d Kugy memandang Eko geram. \u201cKok, gua mulai merasa gua yang sial?\u201d U b u d , F eb r u a r i 2 0 0 1 ... Sebuah halaman baru resmi terbuka untuknya. Keenan men- \u00a0jalani hidup dengan ritme baru. Sepanjang hari kegiatannya tak pernah lepas dari berkesenian dan berupacara, layaknya anggota keluarga yang lain. Jika tak sibuk melukis, ia tak\u00a0 pernah luput membantu keluarga Pak Wayan, dari mulai upacara ngagah\u00a0hingga ngaben. Kini, dengan fasih Keenan memakai udeng\u00a0 dan sarung Bali ke mana-mana. Ia lebih banyak berteman dengan pemuda-pemuda asli, sesekali ikut nonton sabung ayam, membaur bersama mereka tanpa merasa risi dan cang- gung. Namun, dari semua orang, Pak Wayanlah yang paling \u00a0bahagia dengan kehadiran anggota keluarga baru ini. Keenan sudah dianggap putranya sendiri, seorang anak yang selalu ia dambakan dan bisa ia banggakan. Keenan, yang tak hanya \u00a0berbakat di seni lukis, ternyata bisa memahat dengan halus. Dengan cepat, ia mempelajari ukiran-ukiran dasar Bali se- perti \u00a0patra kuta mesir, taluh kakul, dan \u00a0pungelan. Bahkan kemampuannya melebihi seniman-seniman muda setempat \u00a0yang sering berlatih di studio keluarga Pak Wayan. Ketika lukisan Keenan dipuji-puji orang, Pak Wayanlah \u00a0dyaunlug, ima esrealsaalupmaleinnggentearlskaannjuKnege.nTanandpeangraangubedraknatap:er\u201cmNiiksii\u00a0 219 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 232\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0putran titiange ane lanang27, \u00a0 I Wayan Keenan.\u201d Alhasil, 233\/457 Keenan yang terbengong-bengong mendengar nama barunya itu. Jika tak sedang pergi ke mana-mana, Keenan hanya menghabiskan waktunya di bale. \u00a0 Melukis, atau sekadar mengobrol dengan Luhde yang selalu setia menemaninya. \u201cKeenan harus mulai belajar bahasa Bali.\u201d Dengan gaya- nya yang dewasa, Luhde mulai menasihati. \u201cBoleh. Ajarin, dong,\u201d tantang Keenan. \ue03b\ue00f\ue031\ue024\ue023 \ue02b\ue02d\ue036\ue035\ue02b \ue034\ue023\ue039\ue023\ue002 \ue039\ue023\ue000\ue03c \ue018\ue036\ue02a\ue026\ue027 \ue024\ue027\ue033\ue026\ue027\ue02a\ue027\ue02f\ue002 \u201cCang bojok28 ...\u201d\u00a0 \u201cCang bojok\u00a0...\u201d \u201c... care bojog.29\u201d\u00a0 Dengan patuh dan serius, Keenan mengikuti, \u201cCang bojok care bojog.\u201d\u00a0 \u201cPintar,\u201d Luhde manggut-manggut sambil menahan se- nyum. \u201cArtinya apa?\u201d tanya Keenan. Tawa Luhde menyembur. \u201cArtinya: saya jelek seperti mo- \ue030\ue039\ue027\ue035\ue000\ue03c \ue034\ue027\ue033\ue036\ue030\ue039\ue023\ue002 \ue02e\ue023\ue02e\ue036 \ue035\ue027\ue033\ue024\ue023\ue02a\ue023\ue02d\ue003\ue024\ue023\ue02a\ue023\ue02d \ue034\ue027\ue030\ue026\ue02b\ue033\ue02b\ue004 Keenan gantian manggut-manggut. \u201cOooh ... iya. Memang, sih.\u201d Tawa Luhde kontan berhenti. \u201cUdah deh, kamu tuh nggak pantes jahilin orang,\u201d Keenan terkekeh. \u201cMakanya, nulis aja. Kan katanya mau jadi penulis terkenal.\u201d Luhde tersenyum, \u201cIya. Nanti seperti Keenan dan teman- nya. Saya menulis cerita, lalu Keenan buatkan lukisan.\u201d Ucapan Luhde seperti membekukan udara. Keenan pun terpaku. 27\u00a0Ini anak laki-laki saya yang paling besar. 28\u00a0Saya jelek. 29\u00a0Seperti monyet. 220 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Luhde yang tidak menyadari perubahan itu, terus ber- celoteh, \u201cDi keluarga saya, semua orang bisa bikin macam- macam. \u00a0Beli\u00a0\u00a0 Banyu pandai memahat, \u00a0Beli\u00a0\u00a0 Agung pandai melukis, semua kakak kandung saya penari hebat. Cuma saya yang tidak seperti mereka. Tapi, menurut \u00a0Poyan, se- sungguhnya kata-kata juga bisa dilukis, diukir, bahkan di- tarikan. Jadi, saya tetap bisa melukis kata-kata seindah lu- kisan, mengukir kata-kata secantik ukiran, dan membuat kata-kata menari gemulai seperti tarian.\u201d \u201cSaya setuju dengan \u00a0Poyan.\u00a0Kamu punya bakat itu, tanpa harus banyak usaha. Saya sendiri sering terpesona dengan kata-kata kamu,\u201d puji Keenan tulus. \u201cDan ... kamu sering mengingatkan saya pada seseorang.\u201d \u201cKenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap \u00a0jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan.\u201d Keenan tersentak dengan ucapan Luhde yang sama sekali tidak ia duga. Begitu juga dengan Luhde, yang sepertinya pun tidak berencana untuk melontarkan kalimat itu. \u201cMaaf, ya. Saya bukan bermaksud lancang,\u201d ucap Luhde cepat, \u201ctapi ... kalau boleh tahu, siapa sih yang menulis buku itu?\u201d tanyanya sehati-hati mungkin. \u201cSoalnya, saya per- hatikan, Keenan nggak bisa melukis kalau buku itu nggak\u00a0 ada di dekat-dekat Keenan.\u201d \u201cDia sahabat saya waktu kuliah,\u201d jawab Keenan pendek. \u201cOrangnya pasti pintar dan jiwanya halus,\u201d komentar Luhde lagi. Keenan tidak menjawab. \u201cSahabat kamu itu perempuan, ya?\u201d \u201cIya.\u201d \u201cKalian pasti sangat dekat, ya?\u201d \u201c\u201cKDaupluans-ihkaipyaan.\u201d, boleh nggak saya dikenalkan sama dia?\u201d 221 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 234\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kali ini Keenan mendongak, mengadu matanya langsung dengan Luhde. \u201cUntuk soal yang satu itu, saya nggak bisa \u00a0janji,\u201d sahutnya ketus. \u201cKenapa?\u201d \u201cKarena saya nggak yakin akan ketemu dia lagi.\u201d Masih banyak pertanyaan yang terpendam dalam benak\u00a0 Luhde, pertanyaan yang sudah ia tumpuk dan simpan sejak\u00a0 lama. Namun, nada pahit yang terlontar dari kalimat terakhir Keenan tadi membuat ia urung mengungkapkannya. Mungkin memang tak perlu ia mengetahui. Hanya memahami. Karena tanpa perlu berkata-kata, Keenan telah \u00a0bercerita banyak dari lukisannya, dari kesehariannya, dari diamnya. Lebih dari yang Keenan sadari. J a k a r t a , Feb r u a r i 2 0 0 1 ... Sekeluarnya dari ruang itu, Lena membaca lagi lembaran hasil laboratorium yang baru saja dianalisis dokter beberapa menit yang lalu, yang membuat suaminya diolehi-olehi se- deret resep obat dan beraneka petuah ini-itu. \u201cKok, bisa begini, sih? Padahal kamu selalu dibawakan makan dari rumah. Kegiatan kamu juga nggak banyak ber- ubah. Aku nggak ngerti, deh,\u201d Lena geleng-geleng kepala sendiri. \u201cMemangnya ada sesuatu yang aku nggak tahu?\u201d \u00a0Adri menyalakan mesin mobil. \u201cMaksud kamu?\u201d \u201cTadi dokter bilang, bisa jadi karena faktor stres. Mung- kin nggak kamu stres tentang sesuatu, dan kamu belum cerita ke aku?\u201d tanya Lena lagi. \u201cAh, stres apa? Sekarang semua penyakit dibilangnya gara-gara stres,\u201d komentar suaminya sambil melengos. \u201cNggak ada apa-apa, kok.\u201d 222 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 235\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Sepanjang perjalanan, dalam kompartemen pikirannya, \u00a0Ardi menyadari sesuatu. Ia bisa memilih tidak terbuka pada dokter, bahkan istrinya, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Satu hal tidak pernah lepas dari pikirannya, menggerogotinya dari dalam secara pelan-pelan. Keenan. U b u d , M a r et 2 0 0 1 ... Luhde sedang menyeduhkan kopi kayu manis bagi seluruh keluarga. Kegiatan rutinnya setiap hari, setiap sore. Dan ia nyaris menumpahkan termos berisi air panas yang sedang ia pegang, karena tiba-tiba Keenan muncul dari belakang, memegang kedua bahunya. \u201cHei, minggu depan kamu ulang tahun, ya?\u201d tembak\u00a0 Keenan langsung. cerLahu.h\u201cdKeeemneamn bkaolkiktabhaud?anD. ibWeraijatahhnuyasisaepkao?n\u201dyong-konyong \u201cBanyu.\u201d Keenan pun tersenyum, \u201cMau delapan belas ta- hun, ya? Udah bukan anak kecil lagi, nih,\u201d godanya. \u201cKamu mau kado apa? Lipstik? Parfum?\u201d Luhde tersipu. \u201cNggak. Saya nggak mau yang seperti itu,\u201d ujarnya sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi. lai \u201ckLehpoin, gkienndapana?daKna.nAbtaiausamnayua pdeibreemliinpubaanjus?euNsaiantkiakmitua mcaur-i ke Kuta, yuk.\u201d Luhde tambah kuat menggelengkan kepala. \u201cNggak ... \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue02f\ue023\ue036\ue000\ue03c \ue01f\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030\ue030\ue039\ue023 \ue034\ue027\ue02d\ue023\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue034\ue036\ue026\ue023\ue02a \ue02f\ue027\ue030\ue036\ue035\ue036\ue032 \ue02f\ue036\ue02d\ue023\ue004 \u201cOke, oke. Jadi, maunya apa? Buku?\u201d Luhde terdiam sejenak. Berpikir. Pelan-pelan, ia menurun- kan kedua tangannya dari pipi. \u201cSaya sudah tahu,\u201d katanya pelan. Dan Luhde pun mengutas senyum. Satu senyum yang 223 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 236\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 mengubah wajah lucunya menjadi cantik dan ... dewasa. \u201cSaya ingin, satu karya Keenan yang dibuat dengan se- penuh hati,\u201d ucap Luhde. Jernih dan jelas. Keenan terenyak. Pertama, oleh kecantikan Luhde yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Dan kedua, oleh kalimat \u00a0yang meski ia pahami betul maksudnya, rasanya tak sanggup ia penuhi. Keenan menelan ludah. \u201cSemua lukisan saya di- \u00a0buat dengan sepenuh hati. Kalau kamu menginginkan salah satu di antaranya, kamu boleh pilih yang mana aja. Atau kalau kamu mau dibuatkan khusus, saya juga bersedia me- lukis untuk kamu.\u201d Luhde menggeleng lembut. \u201cSemua lukisan itu dibuat de- ngan cinta Keenan pada seni. Tapi ada satu yang berbeda. Begitu saya melihatnya, saya sampai menitikkan air mata. \u00a0Yang satu itu ... indah sekali. Dan dia menjadi indah karena Keenan membuatnya dengan cinta yang lebih dalam dari sekadar cinta Keenan pada seni.\u201d Kali ini Keenan kehilangan kemampuan untuk\u00a0 merespons. Dalam sekejap, Luhde berubah menjadi gadis remaja \u00a0yang pemalu. \u201cSaya cuma ingin menyimpannya. Tidak ada maksud lain. Kalau memang tidak mungkin, juga tidak apa- apa. Maaf ya kalau saya sering lancang sama Keenan,\u201d tutur- nya dengan nada sesal. Cepat, Luhde mengangkat baki berisi cangkir-cangkir kopi itu dan berlalu dari sana. Keenan tertegun di tempat. Satu dilema besar menyerang hatinya. Dilema yang sebelumnya tak pernah ada. 224 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 237\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 26. LEMBARAN BARU U b u d , M a r et 2 0 0 1 ... Malam menjelang petang, saat semua orang sudah terlelap, seseorang masih berada di luar kamarnya. Menatap langit malam yang jernih, yang memunculkan serakan bintang tak\u00a0 terhingga banyaknya. Keenan duduk sendirian dengan posisi menengadah. Ia ingin mengenang malam-malam seperti ini, saat ia berbaring di atap kamarnya di Bandung, menikmati jernih dan luasnya angkasa, memikirkan orang yang sama. Di tangannya tergenggam sebuah pahatan kayu sebesar genggaman tangan. Sesuatu yang ia buat setahun lebih yang lalu. Sesuatu yang tak pernah ia sempat berikan. Sesuatu \u00a0yang ia bersihkan hampir setiap hari, tapi cuma bisa di- nikmati sendiri. Pahatan itu berbentuk hati yang dipenuhi relief abstrak menyerupai gelombang air di seluruh per- mukaannya. Begitu rapi dan detail. Ketika membuatnya, le- sheenrdKireieannamn esnamginpgaai tsnaykait. selama satu minggu. Ia tersenyum 225 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 238\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Diamati dan dirabanya lagi relief itu. Di antara motif ge- lombang air tadi, tersembunyilah dua inisial yang kalau di- amati dengan saksama baru terbaca: \u00a0K & K.\u00a0 Mendadak, terdengar bunyi angin yang bertiup bagai seru- ling. Menggoyangkan kentungan-kentungan bambu yang tergantung di tepi atap, yang seketika melantunkan be- \u00a0bunyian merdu. Keenan bergidik kedinginan saat angin itu mengembusi kulitnya. Namun, ia masih belum ingin beran- \u00a0jak. Ia teringat bebunyian itu. Lebih dari setahun yang lalu, \u00a0bercampur dengan satu lagu yang dulu ia putar hampir tiap malam saat memahat sendirian di sini. Lagu yang selalu mengingatkannya pada orang yang sama. Pelan, hanya untuk\u00a0 didengar dirinya sendiri, Keenan mulai bersenandung: \u201cAnd my bitter pill to swallow is the silence that I keep\/ That poisons me, I can\u2019t swim free\/ The river is too deep\/ \u00a0I am no worse in love with your ghost\/ In love with your ghost ...\u201d\u00a0 Nada terakhirnya menggantung di udara. Menyisakan suara bambu dan suara-suara dalam kepalanya. Keenan ter- ingat kata-kata Luhde. Kenangan hanyalah hantu di sudut pikir. Dan selama ini, ia telah memelihara sebuah cinta pada kenangan, pada wujud yang tak lebih dari bayangan, sekali- pun Kugy adalah bayangan terindah yang pernah hidup da- lam hatinya. Keenan memejamkan mata. Meresapi perih yang me- rasuki seluruh sel tubuh. Namun, ia pun tahu, sudah saatnya ia melepaskan bayangan itu. Keenan mengecup pelan pa- hatannya. \u201cKecil ... mungkin ini memang bukan untuk\u00a0 kamu,\u201d bisiknya. Baru sekali itu Keenan merasakan perihnya perpisahan yang dilakukan sendirian. 226 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 239\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Hari hampir pagi. Kokok ayam sudah terdengar dari ber- \u00a0bagai jurusan. Semburat matahari mulai terlihat, perlahan menggeser jernih langit malam dan bintang-bintang. Keenan tahu kamar itu tidak dikunci. Dan ia pun tidak\u00a0 \u00a0berniat membangunkan si empunya kamar. Hati-hati, ia membuka pintu kayu itu. Melangkah sepelan mungkin. Tampak Luhde tertidur pulas dengan wajah damai, tubuh- nya terbungkus selimut sampai leher, dan rambutnya yang panjang tergerai bebas di atas bantal. Dengan gerakan serba lambat karena tak ingin menimbul- kan suara, Keenan meletakkan pahatan kayu tadi di sebelah Luhde, lalu berkata lirih, \u201cSelamat ulang tahun ....\u201d B an du ng , M ei 200 1 ... Eko kembali janjian dengan Kugy di Pemadam Kelaparan. Makan siang bersama, seperti yang biasa mereka lakukan setidaknya dua kali seminggu belakangan ini. Sebuah ritme \u00a0baru yang benar-benar menjadi oasis bagi Kugy setelah se- kian lama. Ekolah satu-satunya sahabat terdekat baginya sekarang. Siang itu, Kugy membahas rencana pengambilan SKS-nya dua semester ke depan. Apa yang ia rencanakan membuat Eko tercengang-cengang. \ue03b\ue00e\ue023\ue030\ue029\ue02d\ue03a \ue035\ue031\ue02d\ue027\ue02d\ue000 \ue016\ue023\ue026\ue02b \ue02e\ue036 \ue030\ue029\ue023\ue02c\ue036\ue02b\ue030 \ue034\ue027\ue02f\ue02b\ue030\ue023\ue033 \ue026\ue023\ue033\ue02b \ue034\ue027\ue02f\ue027\ue034\ue035\ue027\ue033 ini?\u201d Mata Eko seperti mau lompat keluar dari wadahnya. \u201cTerus ... semester depan lu udah bisa skripsi?\u201d Kugy mengangguk sambil tersenyum-senyum kecil. \u201cWah, Gy ... waaah ...\u201d Eko geleng-geleng kepala, \u201cIni \ue02d\ue036\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue023\ue02c\ue023\ue033 \ue030\ue023\ue02f\ue023\ue030\ue039\ue023\ue004 \ue01a\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue034\ue031\ue032\ue023\ue030\ue000 \ue010\ue023\ue030 \ue02b\ue030\ue02b \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue027\ue02e\ue036 \u00a0\ue024\ue023\ue030K\ue029u\ue027g\ue035\ue000y\ue03c memperlebar cengirannya. \u201cCoba tolong diperjelas, 227 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 240\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 maksudnya \u2018nggak elu banget\u2019 itu, apa?\u201d \u201cGua tahu, lu kalo udah terobsesi sama sesuatu memang kayak orang kesurupan jin Prambanan, suka rajin nggak\u00a0 \ue02d\ue02b\ue033\ue023\ue003\ue02d\ue02b\ue033\ue023\ue004 \ue01f\ue023\ue032\ue02b \ue004\ue004\ue004 \ue02b\ue030\ue02b \ue004\ue004\ue004 \ue024\ue02b\ue026\ue023\ue030\ue029 \ue023\ue02d\ue023\ue026\ue027\ue02f\ue02b\ue034 \ue028\ue031\ue033\ue02f\ue023\ue02e\ue002 \ue013\ue039\ue000 \ue019\ue023\ue030\ue023 pernah lu segila ini sama sekolah? Napsu banget sih pingin \ue025\ue027\ue032\ue027\ue035 \ue024\ue027\ue033\ue027\ue034\ue000 \ue015\ue030\ue02b \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue030\ue031\ue033\ue02f\ue023\ue02e\ue002 \ue035\ue023\ue036\ue036\ue036\ue02d\ue000\ue03c \ue031\ue02f\ue027\ue02e \ue011\ue02d\ue031 \ue032\ue023\ue030\ue02c\ue023\ue030\ue029 lebar. Kugy terbahak. \u201cBerarti, selama ini kita temenan sejak\u00a0 SMP masih belum cukup untuk lu memahami gua luar da- lam. Gua napsu pingin cepet lulus bukan karena gua cinta kuliah. Justru gua pingin cepat-cepat keluar, makanya gua ngebut gila-gilaan.\u201d Eko mengeluarkan \u2018\u2018ooh\u2019\u2019 panjang. Matanya mendelik pe- nuh arti. \u201cJadi ... ceritanya ada yang mau kabur dari sesuatu, nih?\u201d Kugy mengerutkan kening, \u201cKabur apaan, sih.\u201d Namun, sesuatu tersentil di dalam hatinya oleh ucapan Eko \u00a0barusan. \u00a0Air muka Eko berubah serius. \u201cGy, gua nggak pernah mau tanya macem-macem sama lu karena gua menghargai \u00a0privacy\u00a0 lu. Gua tahu lu bukan tipe orang yang dikit-dikit curhat. Jadi, selama ini gua lebih banyak nunggu bola. Kalo lu mau cerita, ya syukur. Kalo nggak, gua juga nggak akan maksa. Tapi, \u00a0please,\u00a0gua cuma mau tanya satu hal: ada apa dengan lu sejak setahun yang lalu? Lu berubah drastis, me- narik diri, dan kita nggak pernah tahu kenapa.\u201d Lama Kugy menatap Eko, tanpa bisa bersuara. Di teng- gorokannya sudah membuncah aneka cerita yang siap mun- tah keluar. Namun, lagi-lagi, ia merasa lumpuh. Kugy pun menggeleng sambil tersenyum tipis, \u201cSori, ya, Ko. Gua masih \u00a0belum bisa cerita.\u201d maEsakogemngenmghidenlaignhat\u00a0pkaitsapzaanmjaanngd. u\u201cLluu, napgag?a\u201dk kangen masa- 228 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 241\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cKangen,\u201d jawab Kugy pelan, \u201ctapi gua juga nggak ke- \u00a0beratan dengan kondisi sekarang. Kadang-kadang, rasanya lebih enak malah. Lebih lega.\u201d \u201cTerserah, deh,\u201d sahut Eko seraya mengangkat bahu. Keduanya terdiam. \u201cGua kangen Keenan,\u201d kata Eko tiba-tiba. \u201cDia ke mana, \u00a0ya?\u201d Hati Kugy seperti kena setrum di gardu listrik begitu mendengar nama itu disebut. Sebisa mungkin, ia berusaha tampak tenang dan tak terpengaruh. \u201cLu kan sepupunya, nggak bisa tanya keluarganya yang di Jakarta?\u201d \u201cKeluarganya aja nggak tahu dia di mana.\u201d \u201cOh,\u201d gumam Kugy pendek. Meski air mukanya tak ber- ubah, tapi timbul gelombang besar dalam hatinya. \ue03b\ue015\ue035\ue036 \ue023\ue030\ue023\ue02d \ue02d\ue023\ue039\ue023\ue02d \ue02a\ue02b\ue02e\ue023\ue030\ue029 \ue026\ue02b\ue025\ue036\ue02e\ue02b\ue02d \ue020\ue012\ue01b\ue004 \ue01a\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue023\ue026\ue023 \ue024\ue027\ue02d\ue023\ue034\ue000 Gila, ya. Kok bisa gitu, sih? Gua nggak ngerti ...\u201d tahu-tahu Eko mendongak menatap Kugy, \u201clu berdua tuh emang orang \ue023\ue030\ue027\ue02a\ue000 \ue022\ue023\ue030\ue029 \ue034\ue023\ue035\ue036 \ue036\ue026\ue023\ue02a \ue02f\ue02b\ue030\ue029\ue029\ue023\ue035\ue002 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue034\ue023\ue035\ue036 \ue030\ue02b\ue023\ue035 \ue02d\ue023\ue024\ue036\ue033\ue000 \ue017\ue027\ue030\ue023\ue032\ue023 sih lu pada?\u201d Kugy tak kuat menahan senyum melihat sewotnya Eko. \u201cMarah-marah kayak gitu pertanda sayang, tauk.\u201d \u201cSayang-sayang ... nyebelin lu, Gy,\u201d sahut Eko sambil ma- nyun. \u201cTapi gua masih berminat kok jadi temen lu lamaan dikit. Mungkin karena sayang, atau mungkin karena pada dasarnya gua hobi mengoleksi spesies langka dan jelek kayak\u00a0 lu.\u201d Kugy tertawa. \u201cI love you, too.\u201d\u00a0 \ue03b\ue010\ue02b\ue027\ue02f\ue000\ue03c U b ud , O kt ober 200 1 ... Tidak sampai setahun. Lukisan Keenan mulai ramai di- \u00a0bicarakan orang. Namanya mulai beredar di kalangan galeri 229 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 242\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 dan kolektor. Namun, Keenan belum berminat untuk masuk\u00a0 ke pasaran galeri Jakarta, ia bertahan di galeri Pak Wayan di Ubud. Beberapa kolektor yang pernah membeli karyanya dengan rajin menanyakan lukisannya yang terbaru, dan pe- minat baru yang tertarik pada karyanya juga terus ber- tambah. Namun, tidak ada yang segesit kolektor yang satu itu. Pembeli lukisannya yang pertama. Ia bahkan seolah-olah membaca siklus kreativitas Keenan. Jarang sekali ia ke- duluan oleh pembeli lain. Sepertinya ia terobsesi untuk me- ngumpulkan seri lengkap dari lukisan serial Keenan yang sekarang mulai digunjingkan di mana-mana. Keenan sendiri merasa lucu ketika tahu lukisannya men- \u00a0jadi perebutan dan perbincangan. Di hadapannya terbuka \u00a0buku tabungan yang baru dibukakan oleh Pak Wayan. Se- telah mengalami masa-masa tersulitnya di Bandung, ia tak\u00a0 pernah bermimpi akan punya uang sebanyak itu. Dan tiba- tiba Keenan tergerak untuk bertanya, \u201cPoyan ... apa jadinya kalau saya tahu-tahu mentok? Jenuh? Atau ... gimana kalau orang-orang itu yang bosan dengan lukisan saya?\u201d Pak Wayan terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu. Ia menarik kursi lalu duduk di hadapan Keenan. \u201cKita memang tidak pernah bisa menduga selera kolektor. Kita juga tidak\u00a0 pernah bisa mengendalikan pendapat kurator. Mereka itu musiman seperti buah,\u201d jawab Pak Wayan sambil tersenyum lebar, \u201ctapi, kekhawatiran kamu ada benarnya. Sebenarnya diri kita sendirilah yang paling susah diduga. \u201cAkan ada satu saat kamu akan bertanya: pergi ke mana semua inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam, tidak lagi berkarya. Kering. Tapi tidak\u00a0 selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber sinaslaphir,atsiidbakarbue. rSaarmti ahsaerpuesrctiarjoi dpoahc,arNbanar.uK, aklaaun?pTunapyai rmasaa- 230 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 243\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 cinta kamu yang harus diperbarui. Cinta bisa tumbuh sen- diri, tapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya, apalagi kalau tidak dipelihara. Mengerti kamu?\u201d Karena tidak yakin, Keenan memilih untuk menggeleng. Pak Wayan berpikir sejenak. \u201cBegini. Sekarang kamu se- dang menjalin cinta dengan Jenderal Pilik. Cerita-cerita itu menjadi sumber inspirasi kamu. Jodohmu. Supaya Jenderal Pilik bukan cuma hidup di buku tulis itu, melainkan di hati kamu, cinta itu harus dipelihara. Selama Jenderal Pilik be- lum benar-benar hidup dan mendarah daging bersama kamu, selama itu kamu harus selalu hati-hati. Mengerti?\u201d Kali ini Keenan mengangguk. Namun, ia tak menduga, \u00a0betapa dalam makna yang tersembunyi dari percakapan sore itu. Jakar t a, m alam t ahun bar u 2002 ... Saat semua orang rumahnya sudah tertidur. Kugy memilih tetap terjaga di teras depan. Bertemankan obat nyamuk\u00a0 \u00a0bakar dan Santai, anjing basset\u00a0 cokelatnya, yang sedari tadi tertidur santai di kakinya. Dua kali tahun baru ia lewatkan tanpa resolusi apa-apa. Berbeda dengan kebiasaannya yang gemar melakukan ritual menulis target dan khayalan di atas kertas lalu menyem- \u00a0bunyikannya di satu tempat untuk dibaca lagi pada malam tahun baru berikutnya. Persis seperti Santai yang gemar me- nyembunyikan tulang di satu tempat, untuk satu hari kem- \u00a0bali ia gali dan nikmati. Namun, di hadapannya terletak secarik kertas dan pulpen. Hanya saja bukan untuk resolusi. Setelah sekian lmamenaulmise: renung, Kugy pun menyambar pulpen dan mulai 231 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 244\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0Neptunus, kali ini saya benar-benar berharap surat ini betulan sampai ke laut. Kenapa begitu? Karena saya kepingin jujur: saya kangen sekali. Saya kehilangan sekali. \u00a0Dan, saya merasa, malam ini dia dekat sekali dengan laut. Titip salam, ya. Awas kalo nggak disampein. Saya mogok \u00a0jadi agen. Kugy melipat kertas itu menjadi perahu. Baru siang nanti ia bisa menghanyutkannya di kali dekat rumah. Khusus un- tuk malam ini, ia harus memikirkan cara lain. Kugy lalu mendekapkan surat itu di dadanya. Memejamkan mata. Mengkhayalkan bentangan laut luas dan suara ombak. Ia pernah bilang pada Keenan, suara ombak adalah lagu alam \u00a0yang paling merdu. Dan Kugy kini merasa mendengar ombak bersahutan. \u00a0Di mana pun kamu ... semoga pesan ini sampai, meski tanpa perahu ... aku sangat kehilangan kamu. Sa n u r , m a l a m t a h u n b a r u 2 0 0 2 ... Di tepi pantai, Keenan melamun menatap ombak laut. Me- nyadari bahwa akan selalu ada saat di mana ia merasa harus \u00a0berhenti, memikirkan sosok satu itu. \u00a0Kamu pasti senang sekali kalau bisa di sini ... dekat de- ngan laut ... kamu pernah bilang, suara ombak adalah lagu alam yang paling merdu. \u00a0 Napas Keenan menghela panjang. \u00a0Sedang apa kamu sekarang, Kecil?\u00a0 \ue03b\ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030\ue000\ue03c \ue01e\ue036\ue023\ue033\ue023 \ue034\ue027\ue031\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue032\ue033\ue02b\ue023 \ue02f\ue027\ue02f\ue023\ue030\ue029\ue029\ue02b\ue02e\ue030\ue039\ue023\ue004 \ue010\ue02b\ue02b\ue02d\ue036\ue035\ue02b \ue026\ue027\ue003 ngan suara perempuan yang juga memanggil namanya. Keenan kembali diingatkan, ia sedang berada di tengah-te- ngah pesta tahun baru di rumah milik teman baik Pak\u00a0 \u00a0Wmeamyaunn. gHkainlakmanannybaeluanktaunkg yseajnegnalakngmsuenngikmmeantighkaedluaapsapnanitnaii 232 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 245\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 tanpa perlu diusik kerumunan orang. \u201cNan, ayo, ke dalam sebentar. Kamu dicari Pak Wayan,\u201d ajak pria itu. Sementara Luhde langsung beringsut ke sisi Keenan dan merangkul lengannya. Ia begitu bersinar dan ceria malam ini. Untuk pertama kalinya, Luhde menghadiri sebuah pesta. Namun, yang paling membahagiakannya adalah semata-mata ia bisa melewatkan pengalaman pertama ini dengan Keenan. \u201cMaaf, ya. Saya sempat keluar sebentar dan ninggalin kamu. Nggak pa-pa, kan?\u201d kata Keenan seraya mengelus pe- lan punggung tangan Luhde. \u201cTidak apa-apa, dari tadi saya ditemani ngobrol,\u201d Luhde melirik pria di sebelahnya. Keenan tertawa kecil, \u201cTerima kasih udah mau dititipin Luhde, Mas. Semoga nggak kapok.\u201d \u201cNo problem. Seru kok ngobrol sama Luhde. Pintar, dan \u00a0banyak kejutan,\u201d sahut pria itu sambil melempar senyum. Hampir otomatis, Luhde langsung menunduk tersipu, se- \ue032\ue027\ue033\ue035\ue02b \ue033\ue027\ue03f\ue027\ue02d\ue034 \ue032\ue036\ue035\ue033\ue02b \ue02f\ue023\ue02e\ue036 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue02e\ue023\ue030\ue029\ue034\ue036\ue030\ue029 \ue02f\ue027\ue030\ue029\ue036\ue030\ue025\ue036\ue032 \ue02c\ue02b\ue02d\ue023 \ue035\ue027\ue033\ue003 senggol. Namun, dalam hatinya, ia senang bukan main. Luhde tahu, pria itu bukan orang sembarangan. Dialah pem- \u00a0beli lukisan Keenan yang pertama, dan kini pria itu dan Keenan tak ubahnya dua orang sahabat. Setiap kali datang ke Bali, pria itu selalu mampir ke galeri, menyempatkan \u00a0waktu untuk berjalan-jalan dan ngobrol bersama Keenan dan keluarganya. Dan malam ini, pria itu bahkan memilih \u00a0bertahun baru bersama mereka di Bali. Mereka bertiga lalu kembali ke rumah. Sambil berjalan, Keenan menyempatkan diri untuk menoleh ke arah laut untuk terakhir kalinya. Dari kejauhan, sisa tiupan terompet ktaehrutans bmarausitheltaehrddeinmgualra.i.KLeemmbbaaliramnebnagriungtaetlakhandniybaukbaa.hwa 233 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 246\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 27. JANJI ADALAH JANJI Kepalanya pun berputar. Menghadap ke depan. Mening- galkan pantai di belakangnya. J a k a r t a , J a n u a r i 2 0 0 2 ... Kugy telah lulus seminar dengan nilai A. Dan ia meraya- kannya dengan pulang ke Jakarta setelah berbulan-bulan ti- dak pernah pulang. Pada Minggu siang itu, seluruh anggota keluarganya komplet berkumpul di ruang teve. Keriuhan dan lemparan celetukan menjadi ciri khas setiap kali \u201cThe K\u00a0 Family\u201d berkumpul. \u201cJadi, semester depan kamu tinggal skripsi, Gy?\u201d tanya kakak perempuannya, Karin. \u201cYup!\u201d\u00a0 \u201cKeviiin ... kok lu lelet, siiih? D3 tapi udah mau empat tahun dan masih belum menunjukkan gejala kelulusan. Ka- lah sama Kugy yang S1,\u201d timpal Karin lagi sambil menjitak\u00a0 kepala Kevin, adik laki-lakinya. \ue03b\ue014\ue027\ue02a\ue000 \ue022\ue023\ue030\ue029 \ue032\ue027\ue030\ue035\ue02b\ue030\ue029 \ue02a\ue023\ue034\ue02b\ue02e \ue023\ue02d\ue02a\ue02b\ue033\ue000\ue03c \ue024\ue023\ue02e\ue023\ue034 \ue017\ue027\ue037\ue02b\ue030\ue004 \ue03b\ue018\ue036 \ue02e\ue02b\ue02a\ue023\ue035 dong, gue kan gaul, penuh prestasi, Kugy kan nerd.\u00a0Ya te- rang aja dia cepet kuliahnya. Nggak ada kegiatan lain.\u201d 234 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 247\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cKoleksi T-shirt\u00a0 \ue032\ue023\ue030\ue02b\ue035\ue02b\ue023 \ue023\ue02c\ue023 \ue02e\ue036 \ue024\ue02b\ue02e\ue023\ue030\ue029 \ue032\ue033\ue027\ue034\ue035\ue023\ue034\ue02b\ue000 \ue017\ue027\ue037 \ue004\ue004\ue004 \ue017\ue027\ue037 ...\u201d celetuk Kugy. \u201cKevin \u2013 Si Panitia Sejuta \u00a0Event,\u201d Karin menambahkan sambil terkekeh. \u201cNah, lu bikin kausnya, gih. Nanti acara apa pun lu cukup pakai satu kaus itu aja.\u201d \u201cIya, Kev. Kamu tuh kok jadi panitia terus toh? Bentar- \u00a0bentar minta izin nggak kuliah, bilangnya karena jadi panitia gerak jalanlah ... lomba caturlah ... pameran motor ... ke- \u00a0juaraan bulutangkis ...\u00a0fashion show\u00a0... kok, nggak ada habis- nya,\u201d komentar ayahnya sambil lalu. \ue03b\ue01f\ue027\ue033\ue036\ue034\ue002 \ue02d\ue023\ue034\ue035\ue023\ue030\ue039\ue023 \ue034\ue027\ue029\ue02b\ue035\ue036 \ue035\ue027\ue033\ue036\ue034\ue002 \ue01c\ue023\ue004 \ue01c\ue023\ue030\ue02b\ue035\ue02b\ue023\ue023\ue023 \ue004\ue004\ue004 \ue035\ue027\ue033\ue036\ue034\ue000\ue03c Kugy terpingkal-pingkal. \ue03b\ue018\ue036 \ue035\ue036\ue02a \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue023\ue030\ue027\ue02a\ue000 \ue01a\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue023\ue034\ue039\ue02b\ue02d \ue02c\ue023\ue026\ue02b \ue02f\ue023\ue030\ue036\ue034\ue02b\ue023\ue000 \ue00e\ue023\ue033\ue036 \ue02d\ue036\ue02e\ue02b\ue023\ue02a \ue035\ue02b\ue029\ue023 \ue035\ue023\ue02a\ue036\ue030 \ue036\ue026\ue023\ue02a \ue02f\ue023\ue036 \ue034\ue02d\ue033\ue02b\ue032\ue034\ue02b\ue000 \ue00d\ue032\ue023\ue023\ue030\ue002 \ue035\ue036\ue02a\ue00c\ue03c \ue032\ue033\ue031\ue035\ue027\ue034 Kevin. \u201cItu namanya nggak menikmati hidup ....\u201d \u201cMemangnya sesudah lulus nanti, kamu mau ngapain, Gy?\u201d tanya Karel, abangnya yang paling besar. \ue03b\ue017\ue027\ue033\ue02c\ue023\ue002 \ue026\ue031\ue030\ue029\ue000\ue03c \u201cKerja apa?\u201d Ibunya bertanya. \u201cJadi panitia,\u201d cetus adik bungsunya, Keshia, sambil ceki- kikan. \u201cGy ... Gy ...\u201d Kevin gantian geleng-geleng, \u201cemangnya enak cepet kerja? Kerja tuh capek, tauk. Enakan juga kuliah. Tuh, entar hasilnya kayak Karin, badannya tinggal tulang sama dosa doang.\u201d \ue03b\ue018\ue036 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue031\ue024\ue027\ue034\ue02b\ue035\ue023\ue034\ue000\ue03c \ue017\ue023\ue033\ue02b\ue030 \ue02f\ue027\ue030\ue026\ue027\ue02e\ue02b\ue02d \ue02d\ue027 \ue023\ue033\ue023\ue02a \ue017\ue027\ue037\ue02b\ue030\ue004 \u201cGue bukannya gemuk, kakakku sayang. Tapi kurang tinggi,\u201d Kevin membela diri. \u201cKamu berminat kerja di bidang apa, Gy?\u201d tanya Karel lagi. \u201cHmm ... yang pasti harus ada nulis-nulisnya, tapi kalau \u00a0bniaslaisbtiukk.\u201dan wartawan, karena aku nggak terlalu bakat di jur- 235 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 248\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cLu bukannya mau jadi ... apa dulu, tuh? Tukang ...,\u201d Kevin berusaha mengingat-ingat, \u201ctukang ....\u201d \u201cTukang ban,\u201d cetus Keshia lagi. \ue03b\ue01f\ue036\ue02d\ue023\ue030\ue029 \ue026\ue031\ue030\ue029\ue027\ue030\ue029\ue000\ue03c \ue017\ue027\ue037\ue02b\ue030 \ue02f\ue027\ue030\ue027\ue032\ue036\ue02d\ue02d\ue023\ue030 \ue035\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030\ue004 \ue03b\ue015\ue035\ue036 \ue026\ue02b\ue023\ue000\ue03c \u201cJuru dongeng,\u201d ralat Kugy sebal. \u201cEntar aja, kalo udah tua, udah pensiun. Kalo dikerjain sekarang, mana ada duit- nya.\u201d Karel mengangkat alis. \u201cTumben Kugy mikirin duit,\u201d ujar- nya. \u201cSekarang aku udah realistis,\u201d kata Kugy sambil ter- senyum sekilas. Ada rasa getir di mulutnya saat kalimat itu terucap. \u201cOke, aku akan bantu cariin, ya. Ada temanku yang lagi set-up\u00a0perusahaan advertising sendiri, siapa tahu dia butuh copy writer. Nanti aku tanyakan. Mungkin kamu bisa ma- gang dulu, sambil nunggu wisuda. Yang penting kamu se- lesaikan skripsi kamu dulu semester ini,\u201d kata Karel. \ue03b\ue019\ue023\ue036\ue000 \ue019\ue023\ue036\ue000 \ue01a\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue026\ue02b\ue029\ue023\ue02c\ue02b \ue026\ue036\ue02e\ue036 \ue02c\ue036\ue029\ue023 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue023\ue032\ue023\ue003\ue023\ue032\ue023\ue000\ue03c \ue034\ue023\ue003 hut Kugy bersemangat. \u201cBaru semenit yang lalu ngaku-ngaku realistis, sekarang udah ngomong nggak usah digaji. Dasar lu mental relawan, \ue013\ue039\ue000 \ue019\ue023\ue030\ue023 \ue024\ue02b\ue034\ue023 \ue02d\ue023\ue039\ue023\ue00c\ue03c \ue02d\ue031\ue02f\ue027\ue030\ue035\ue023\ue033 \ue017\ue027\ue037\ue02b\ue030 \ue034\ue023\ue02f\ue024\ue02b\ue02e \ue035\ue027\ue033\ue035\ue023\ue038\ue023\ue003 tawa. \ue03b\ue018\ue023\ue029\ue023\ue02d \ue02e\ue036 \ue004\ue004\ue004 \ue02d\ue023\ue039\ue023\ue02d \ue032\ue023\ue030\ue02b\ue035\ue02b\ue023 \ue023\ue026\ue023 \ue036\ue023\ue030\ue029\ue030\ue039\ue023 \ue023\ue02c\ue023\ue000 \ue017\ue023\ue02e\ue031 \ue026\ue023\ue033\ue02b \ue02d\ue027\ue003 panitiaan lu yang seabrek itu ada duitnya, seratus ribu aja sekali, sekarang lu udah punya rumah sendiri kaliii ...\u201d Karin tertawa lebih keras lagi. Namun, pikiran Kugy sudah terbang jauh, menuju ke- lulusannya, menuju hari pertamanya bekerja. Apa pun ... di mana pun itu ... yang penting ia bisa keluar dan membuka halaman baru. 236 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 249\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 U b u d , M a r et 2 0 0 2 ... Pak Wayan memandangi keponakan perempuannya yang tengah tekun menulis di bale. \u00a0 Tangan mungil itu tampak\u00a0 asyik mencorat-coret di atas notes tebal yang selalu dibawa- nya ke mana-mana. Meskipun sudah dibelikan satu set kom- puter, Luhde tetap lebih suka menuliskan cerita dengan ta- ngan. \u201cDe, sedang nulis cerita apa kamu?\u201d tanya Pak Wayan lembut, seraya duduk depan Luhde. \u201cCerita anak-anak, \u00a0Poyan,\u201d kata Luhde, dan tangannya terus menulis. \u201cKamu masih serius ingin jadi penulis, ya?\u201d \u201cIya, \u00a0Poyan.\u00a0 Saya mau menulis cerita anak-anak, nanti Keenan yang buatkan gambarnya.\u201d Pak Wayan tertegun. Dipandanginya lagi Luhde dengan matanya yang berbinar penuh semangat, keseriusan dalam nadanya, seolah-olah ia tengah mencurahkan seluruh hidup dan jiwanya ke dalam kertas. \u201cDe ... \u00a0Poyan ka ngomong kejep.30\u201d Luhde langsung meletakkan pulpennya, menutup buku- nya. Jika Pak Wayan sudah mulai bicara dalam bahasa Bali padanya, berarti pamannya itu sedang ingin membicarakan sesuatu yang serius. Kedua orang itu lantas duduk berha- dapan. \u201c\u00a0Poyan\u00a0mengerti, kamu sudah mulai dewasa. Hatimu su- dah ingin pergi ke satu tempat, berlabuh, dan menetap. Tapi, perjalanan hati itu bukannya tanpa risiko.\u201d \u00a0\ue021\ue023\ue02c\ue023\ue02a \ue018\ue036\ue02a\ue026\ue027 \ue034\ue027\ue02d\ue027\ue035\ue02b\ue02d\ue023 \ue024\ue027\ue033\ue034\ue027\ue02f\ue024\ue036\ue033\ue023\ue035 \ue02f\ue027\ue033\ue023\ue02a\ue004 \ue01d\ue027\ue03f\ue027\ue02d\ue034 \ue039\ue023\ue030\ue029 selalu terjadi ketika ia malu atau risi. \u201cMaksud \u00a0Poyan apa?\u201d 30\u00a0Poyan ingin bicara sebentar. 250\/457 237 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4"]
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184
- 185
- 186
- 187
- 188
- 189
- 190
- 191
- 192
- 193
- 194
- 195
- 196
- 197
- 198
- 199
- 200
- 201
- 202
- 203
- 204
- 205
- 206
- 207
- 208
- 209
- 210
- 211
- 212
- 213
- 214
- 215
- 216
- 217
- 218
- 219
- 220
- 221
- 222
- 223
- 224
- 225
- 226
- 227
- 228
- 229
- 230
- 231
- 232
- 233
- 234
- 235
- 236
- 237
- 238
- 239
- 240
- 241
- 242
- 243
- 244
- 245
- 246
- 247
- 248
- 249
- 250
- 251
- 252
- 253
- 254
- 255
- 256
- 257
- 258
- 259
- 260
- 261
- 262
- 263
- 264
- 265
- 266
- 267
- 268
- 269
- 270
- 271
- 272
- 273
- 274
- 275
- 276
- 277
- 278
- 279
- 280
- 281
- 282
- 283
- 284
- 285
- 286
- 287
- 288
- 289
- 290
- 291
- 292
- 293
- 294
- 295
- 296
- 297
- 298
- 299
- 300
- 301
- 302
- 303
- 304
- 305
- 306
- 307
- 308
- 309
- 310
- 311
- 312
- 313
- 314
- 315
- 316
- 317
- 318
- 319
- 320
- 321
- 322
- 323
- 324
- 325
- 326
- 327
- 328
- 329
- 330
- 331
- 332
- 333
- 334
- 335
- 336
- 337
- 338
- 339
- 340
- 341
- 342
- 343
- 344
- 345
- 346
- 347
- 348
- 349
- 350
- 351
- 352
- 353
- 354
- 355
- 356
- 357
- 358
- 359
- 360
- 361
- 362
- 363
- 364
- 365
- 366
- 367
- 368
- 369
- 370
- 371
- 372
- 373
- 374
- 375
- 376
- 377
- 378
- 379
- 380
- 381
- 382
- 383
- 384
- 385
- 386
- 387
- 388
- 389
- 390
- 391
- 392
- 393
- 394
- 395
- 396
- 397
- 398
- 399
- 400
- 401
- 402
- 403
- 404
- 405
- 406
- 407
- 408
- 409
- 410
- 411
- 412
- 413
- 414
- 415
- 416
- 417
- 418
- 419
- 420
- 421
- 422
- 423
- 424
- 425
- 426
- 427
- 428
- 429
- 430
- 431
- 432
- 433
- 434
- 435
- 436
- 437
- 438
- 439
- 440
- 441
- 442
- 443
- 444
- 445
- 446
- 447
- 448
- 449
- 450
- 451
- 452
- 453
- 454
- 455
- 456
- 457