["\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cAku harus bisa mandiri, punya penghasilan yang jelas, \u00a0baru setelah itu ... TER-SE-RAH,\u201d nada suara Kugy mulai tinggi, \u201caku nggak tahu kamu selama ini ada di planet mana, tapi di planet bernama Realitas ini, aturan mainnya ya \u00a0begitu.\u201d Keenan terdiam. Di kepalanya melintas gulungan-gu- lungan kanvas bertorehkan lukisan yang ia tinggalkan di \u00a0Amsterdam. \u201cBetul. Memang begitu aturan mainnya,\u201d gu- mamnya. Keduanya membisu, cukup lama hingga suasana di kamar itu terasa menjengahkan. \u201cSaya tunggu di luar, ya. Siapa tahu Eko bentar lagi mau pulang.\u201d Keenan pun berjalan ke arah pintu. \u201cSebentar,\u201d sergah Kugy, \u201caku mau kasih pinjam kamu sesuatu.\u201d Ia lalu membuka lemari kecil di bagian bawah meja belajarnya dan mengeluarkan bundel tebal berukuran \u00a0A-4 yang dijilid ring logam. Keenan menerima bundel yang disodorkan padanya. Di sampul depannya tertulis: \u201cKumpulan Dongeng Dari Peti \u00a0Ajaib\u2014Oleh: Kugy Karmachameleon\u201d. \u201cAku punya peti kuno, dikasih sama Karel, abangku. Ben- tuknya kayak peti harta karun yang ada di komik-komik. Karel bilang, peti itu diambil dari perahu karam, dan isinya gulungan-gulungan naskah sejarah yang jadi hancur karena terendam air laut. Aku senang sekali dapat peti itu, dan aku \u00a0bertekad untuk mengisinya ulang dengan naskah-naskah do- ngeng buatanku, supaya peti itu kembali berisikan sesuatu. \u00a0Aku menulis dengan super semangat. Bertahun-tahun. Dan \u00a0jadilah bundel itu. Silakan kamu baca-baca. Kamu bisa kem- \u00a0balikan kapan pun kamu mau.\u201d Keenan menatap Kugy, kehilangan kata-kata. Diusapnya sam\u201cBpaurladnegpiatnu bbuelnudmelpieturndaehnbgearnphinadtia-hhatatin. gan sebelumnya. 38 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 51\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0Aku juga nggak tahu kenapa bisa tergerak meminjamkannya sama orang yang baru aku kenal tadi sore,\u201d ucap Kugy\u00a0 pelan. \u201cMakasih. Dan maaf kalau tadi saya ....\u201d \u201cBaru beberapa tahun yang lalu aku tahu kalau peti itu dibeli Karel dan ayahku di toko barang antik, di Jalan Surabaya, di Jakarta. Peti itu bukan peti harta karun. Bukan \u00a0juga dari kapal karam. Sama seperti Neptunus yang tidak\u00a0 ada, dan surat-suratku yang mungkin cuma jadi mainan ikan, atau jadi sampah yang bikin sungai banjir,\u201d Kugy me- natap Keenan tajam, \u201cdan itulah kenyataan di planet ber- nama Realitas ini.\u201d Keenan kembali kehilangan kata-kata. Keheningan kem- \u00a0bali membungkus ruangan itu. Namun, ada satu hal yang mengusik Keenan, dan ia me- mutuskan untuk bertanya. \u201cNama lengkap kamu Kugy\u00a0 Karmachameleon?\u201d \u201cBukan. Kugy Alisa Nugroho.\u201d \u201cJauh, ya?\u201d Malam itu, Keenan terjaga hingga larut. Ia tenggelam dalam dunia khayal Kugy yang membawanya jauh ke Negeri Anti- gravitia yang menggantung di selapis langit sebelum bulan, ke bawah tanah tempatnya Joni Gorong si undur-undur penggali, ke dunia sayur-mayur tempat Wortelina menjadi penari balet yang ternama. Keenan menyadari betapa berharganya bundel yang ada di tangannya itu. Setiap helai bernapaskan semangat dan rasa percaya yang begitu kuat. Sebagian besar naskah itu \u00a0dyaitnuglisiaKtuugliys mdeennggagnutnaankgaann.kBomahpkuatnerb,etbaepriaapdaakbaalinKyaukgyjukgea- 39 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 52\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 dapatan mencoba menggambar, membuat ilustrasi atas tokoh-tokohnya sendiri. \u00a0Ada rasa haru yang spontan membersit ketika Keenan melihat usaha Kugy itu. Anak ini adalah penulis yang luar \u00a0biasa, tapi dia sama sekali tidak bisa menggambar, komentar- nya dalam hati. Keenan lalu meraih buku sketsanya yang masih baru, meraih peralatannya yang masih tersimpan di dalam tas, dan ia mulai menggambar dengan tekun. Sepan- \u00a0jang malam, Keenan membuat puluhan sketsa sekaligus. Saat ayam berkokok dari kejauhan, Keenan baru berhenti. Tersadar bahwa baru kali itulah ia menggambar begitu ba- nyak untuk seseorang yang baru dikenalnya tadi sore. 40 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 53\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 5. SEBATANG PISANG SUSU B a n d u n g , Sep t em b er 19 9 9 . .. Dari kejauhan Kugy seketika bisa mengenali sosok itu. Tu- \u00a0buh yang menjulang tinggi dengan rambut melewati bahu \u00a0yang diikat satu. Di punggungnya tergandul ransel merah marun dengan emblem huruf \u201cK\u201d warna hitam yang dijahit di tengah-tengah. Dia satu-satunya yang berambut gondrong di tengah anak-anak angkatan baru yang dipotong cepak\u00a0 gara-gara ikut opspek. Dia memilih tidak ikut opspek dari- pada kehilangan kuncirnya itu\u2014satu-satunya peninggalan otentik dari Amsterdam yang terbawa sampai ke Bandung, katanya begitu. \u201cHey, Kay ....\u201d\u00a0 \u201cHey ... another Kay.\u201d Keenan tertawa lebar sambil sekilas mengacak rambut Kugy. \u201cBaru mandi, ya?\u201d Kugy langsung manyun. \u201cSegitu kelihatannyakah?\u201d \u201cOh, jelas sekali. Rambut kamu masih basah, dan kamu keliKhuagtaynmaagnaykucnemlaegril.a\u201cnTgudmabrienbiaaskau.\u201dketemu kamu di kam- 41 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 54\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 pus. Kalau bukan kita berempat punya ritual nonton mid- night\u00a0setiap Sabtu, kayaknya aku nggak akan ketemu kamu di mana-mana lagi. Sibuk, ya?\u201d Keenan menebarkan pandangannya ke sekitar, mengang- kat bahu sekilas. \u201cSaya di kampus hanya seperlunya aja. Nggak terlalu suka nongkrong-nongkrong.\u201d Kugy ingin berceletuk: pantas saja. Hampir setiap hari ia melewati Fakultas Ekonomi, tempat Keenan berkuliah. Dan hampir setiap hari ia melongok untuk melihat keberadaan ransel merah marun bertuliskan huruf \u201cK\u201d itu. Kugy bahkan sempat curiga jangan-jangan Keenan sebetulnya kuliah lewat \u00a0jalur Universitas Terbuka. \u201cKalau makan siang di kampus\u2014masih berminat?\u201d tanya Kugy. \u201cTergantung siapa yang ngajak.\u201d Kugy menggelengkan kepala, \u201cJawaban yang salah. Harus- nya: tergantung siapa yang bayar.\u201d \u201cJadi, saya bakal ditraktir, nih?\u201d \u201cAda satu tempat makan yang wajib dijajal. Jangan ngaku anak kampus deh kalau belum pernah ke sana ....\u201d \u201cEnak banget, ya?\u201d \u201cBukan. Murah banget.\u201d \u201cOh. Pantesan nraktir ...,\u201d gumam Keenan sambil menge- keh pelan. \u00a0Warung nasi dengan dinding bambu itu tampak padat. Orang-orang berderet memilih makanan yang disajikan pras- manan. Keenan berhenti sejenak untuk membaca plang yang tergantung di pintu: \u201cWarteg Pemadam Kelaparan\u201d. denMgaenrepkiasalanlgusduusduuykandgi pdoigjoakntduenkgabt ejerntudmelpau, kb.ersebelahan 42 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 55\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Keenan sungguhan terpana melihat nasi yang meng- gunung sampai nyaris tumpah dari pinggiran piring Kugy. \u201cKecil-kecil makannya banyak juga, ya,\u201d komentarnya. \u201cMenurut survei: selain narik becak dan gali kubur, pe- kerjaan mengkhayal dan menulis ternyata juga butuh asupan kalori tinggi,\u201d sahut Kugy, lalu mencabut dua pisang susu \u00a0yang bergantung di sebelah kepalanya. Keenan menatap adegan itu dengan decak kagum. \u201cKamu memang makhluk penuh kejutan.\u201d \ue03b\ue01b\ue02a\ue000 \ue00d\ue02d\ue036 \ue02f\ue023\ue034\ue02b\ue02a \ue032\ue036\ue030\ue039\ue023 \ue02d\ue027\ue02c\ue036\ue035\ue023\ue030 \ue02e\ue023\ue02b\ue030\ue004 \ue01e\ue027\ue024\ue027\ue030\ue035\ue023\ue033 \ue004\ue004\ue004\ue002\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02f\ue027\ue033\ue031\ue029\ue031\ue02a \ue02d\ue023\ue030\ue035\ue031\ue030\ue029 \ue026\ue027\ue032\ue023\ue030 \ue033\ue023\ue030\ue034\ue027\ue02e\ue030\ue039\ue023\ue002 \ue03b \ue004\ue004\ue004 \ue035\ue023\ue003\ue026\ue023\ue023\ue023\ue000\ue03c \u201cHandphone?\u201d\u00a0 Keenan memicingkan mata. \ue03b\ue00e\ue023\ue033\ue036\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue035\ue027\ue033\ue035\ue023\ue038\ue023 \ue02e\ue027\ue024\ue023\ue033\ue002 \ue03b\ue014\ue023\ue034\ue02b\ue02e \ue02d\ue027\ue033\ue02b\ue030\ue029\ue023\ue035 \ue034\ue027\ue030\ue026\ue02b\ue033\ue02b\ue000 \ue00f\ue027\ue033\ue003 penku dimuat. Honornya cukup buat beli HP baru dan trak- tir kamu makan siang sekarang.\u201d \u201cWah, kejutan baru lagi. Selamat, ya,\u201d Keenan menyalami Kugy, \u201cmau baca cerpennya, dong.\u201d Kugy tampak gelagapan. Mendadak ia merasa gugup. Se- sungguhnya, salah satu alasan ia sering lewat-lewat fakultas Keenan adalah untuk memberikan majalah yang memuat cerpennya, yang sudah ia siapkan di dalam ranselnya dan ia \u00a0bawa setiap hari. Kugy lalu membongkar tasnya dan me- nyerahkan majalah yang sudah agak ringsek itu. \u201cIni, aku sudah siapkan satu untuk kamu.\u201d Keenan menerimanya dengan mata berbinar. \u201cKugy\u00a0 Karmachameleon ... jadi penulis betulan. Hebat.\u201d Kugy tergelak, \u201cAku memang sudah mengusulkan ke mamaku untuk ganti nama jadi Karma. Tapi belum ada tang- gapan.\u201d \u201cSaya boleh kasih tahu kamu sesuatu? Menurut saya, kamu penulis yang sangat bagus.\u201d \u00a0bagMusuk..a..\u201dKugy memerah. \u201cBaca aja belum, kok bisa bilang 43 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 56\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSaya bukan ngomongin cerpen kamu, tapi dongeng- dongeng kamu.\u201d Mendadak Kugy merasa mati gaya. Mati langkah. Ia ter- sadar, satu hal langka telah terjadi: dirinya salah tingkah. Benar-benar tidak tahu harus merespons apa. Akhirnya Kugy\u00a0 mencomot satu lagi pisang susu. Mengunyahnya lahap. \u201cKamu terakhir makan kapan, sih? Lapar berat, ya?\u201d \u201cAku suka lukisan-lukisan kamu.\u201d \u201cMemangnya kamu udah lihat?\u201d \u201cBelum. Justru itu. Belum lihat aja suka, apalagi kalau udah lihat,\u201d Kugy terkekeh sendiri. Ia merasa wajahnya se- makin panas, dan omongannya semakin ngaco. \u201cKalau gitu, habis makan siang, kita ke tempat saya, yuk. Saya mau kasih lihat lukisan-lukisan saya.\u201d Kugy mengangguk. Ada senyum spontan yang tak bisa ia tahan. Mendadak ia mensyukuri celetukan asalnya tadi. Men- dadak ia ingin cepat-cepat menuntaskan makan siang ini. Tempat kos Keenan terletak agak jauh dari kampus mereka. Sebuah rumah peninggalan zaman Belanda yang dikelilingi pepohonan rindang. Berbeda dengan tempat kos Kugy dan Noni yang padat, tempat kos Keenan hanya diisi oleh be- \u00a0berapa orang saja. Kamar-kamarnya berukuran luas dengan langit-langit yang tinggi. Napas Kugy seketika tertahan ketika pintu besar itu ter- \u00a0buka dan Keenan menyalakan sakelar lampu. Rel-rel kawat \u00a0bersaling silang di bawah plafon dengan lampu-lampu halo- gen kecil yang bergantungan menerangi beberapa spot tem- pat lukisan-lukisan Keenan yang terpaku di dinding atau adbiduiriitkuatnambepgaiktulesnajgaandgi aktaarselnaanttiadi.aKk abmanayradkepnegraanboutb.iHn aanbyua- 44 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 57\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 satu tempat tidur, lemari pakaian kecil yang di atasnya di- letakkan sebuah mini compo, dan meja belajar besar tempat alat-alat gambar Keenan berjajar rapi. \u201cNan ..., harusnya kamu bukan kuliah Manajemen, tapi Seni Rupa ...,\u201d gumam Kugy sambil pelan-pelan melangkah masuk, \u201cdan ini lebih pantas disebut galeri ketimbang kamar kos ....\u201d Keenan membawa Kugy berkeliling melihat lukisan-lukisan- nya, seperti orang pameran. \u201cIni judulnya: \u00a0Sunset from the \u00a0Rooftop\u00a0... ini judulnya:\u00a0Heart of Bliss ...\u00a0yang ini: The Shady \u00a0Morning ...\u00a0yang ini:\u00a0Silent Confession\u00a0... dan ini ....\u201d \u201cYang ini yang paling aneh,\u201d potong Kugy, menunjuk lu- kisan yang hanya seperti gradasi warna dan garis-garis halus seperti larik-larik kapas. \u201cYang lain ada gambar orangnya semua. Cuma ini yang nggak ada.\u201d \u201cTebak judulnya apa.\u201d \u201cGila, itu sih mission impossible, namanya. Mana mung- kin ketebak.\u201d \u201cLukisan yang satu ini jangan dipikir, tapi harus dirasa. \u00a0Apa perasaan yang muncul ketika kamu lihat lukisan ini? Itulah judulnya.\u201d Kugy menatap lukisan itu lekat-lekat. Lalu ia memejam- kan mata. Lama. Lantas terdengar napasnya mengembus, dan setengah berbisik ia mengucap, \u201cBebas.\u201d Giliran Keenan yang terpaku. Perlahan, ia membalik lu- kisan yang berdiri di lantai itu, dan menunjuk judul yang tertera di baliknya. Kugy melongo. \u201cFreedom?\u201d\u00a0 \u201cSumpah ... saya sama sekali nggak sangka kamu bisa menebak setepat itu,\u201d Keenan garuk-garuk kepala, \u201cini ke- \u00a0betulan yang aneh.\u201d pasKtiukgayremnaenkigtgaedleunlugn, y\u201caAskauman-gsgaamka pueturcsaaynaNkepebtuentuulsa.nW. aIkn-i 45 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 58\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 tu itu, kita dibekali telepati. Cuma, sebelum dikirim ke Bumi, kita dibikin amnesia. Supaya seru,\u201d katanya mantap. Keenan manggut-manggut. \u201cBisa jadi. Boleh juga teori- nya.\u201d \u201cEhm, tapi untuk pertanyaan yang satu ini aku nggak\u00a0 mau menggunakan kemampuan telepati,\u201d Kugy nyengir, \u201cse- \u00a0betulnya ini gambar apa, ya?\u201d \u201cLukisan ini menggambarkan sudut pandang seekor bu- rung di angkasa saat terbang. Dia tidak melihat batas apa- apa, tidak melihat perintang apa-apa, tidak terikat oleh Bumi. Bebas. Total.\u201d Pandangan Kugy yang tadi melekat pada lukisan perlahan \u00a0beralih pada Keenan, ia seperti tergerak untuk menanyakan sesuatu. \u201cBoleh tahu kapan kamu melukisnya?\u201d \u201cWaktu tahu saya lolos UMPTN.\u201d \u201cKamu ... sebetulnya ... terpaksa kuliah di sini, ya?\u201d ucap Kugy hati-hati. Tidak yakin apakah pertanyaan itu pantas diajukan, tapi mulutnya seperti tak bisa ditahan. Keenan menatap Kugy balik, tebersit senyum getir di \u00a0wajahnya. \u201cNggak\u00a0matching,\u201d ujarnya pendek, \u201cantara minat, cita-cita, dan keinginan orangtua. Harus membuktikan bah- \u00a0wa saya bisa mandiri lewat melukis, sementara kesempatan- nya tidak pernah dikasih.\u201d Ia lalu mengangkat bahu, \u201cMung- kin harus dengan cara yang kamu bilang dulu. Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.\u201d Ingatan Kugy kembali ke momen di kamar kosnya dulu. Barulah ia mengerti, sesungguhnya waktu itu Keenan mem- \u00a0bicarakan dirinya sendiri. Dan kesunyian yang sama kembali hadir di antara mereka. \u201cDan ... karena kamu sudah berhasil menebak judul lu- mkiseannghinain, gsaaty.a mau kasih hadiah.\u201d Air muka Keenan kembali 46 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 59\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cNggak percaya kalau kita bisa telepati, ya? Aku tuh bu- kan nebak, tauk ... tapi ...\u201d celotehan Kugy tahu-tahu \u00a0berhenti. Di hadapannya terbentang lembar pertama buku sketsa yang dibuka Keenan. Perlahan, Kugy meraih buku itu. Membuka lembar demi lembar. \u201cIni ...?\u201d Keenan menunjuk satu per satu sketsa tersebut. \u201cPa- ngeran Lobak ... Peri Seledri ... Wortelina ... Nyi Kunyit ... Joni Gorong ... Hopa-Hopi ... dan ini lembah tempat mereka tinggal ...\u201d dengan asyik Keenan menjelaskan. Setetes air tiba-tiba jatuh di lembar sketsanya. Keenan kontan terdiam dan mendongak, mendapatkan Kugy yang sudah berlinangan air mata. \u201cAduh. Maaf. Gambarnya kena, ya? Sori ...,\u201d Kugy sibuk\u00a0 menyeka air mata di pipinya. \u201cNggak pa-pa, nggak masalah, kok. Justru ... kamu nggak\u00a0 pa-pa?\u201d tanya Keenan khawatir. Kugy terisak, antara tertawa dan menangis. \u201cHi-hi. Aku cengeng, ya? Tapi ... seumur hidup belum pernah ada yang membuatkan ilustrasi buat dongengku ... bagus banget lagi ... aku ... nggak tahu harus ngomong apa ....\u201d Keenan tersenyum. \u201cCerita kamu yang bagus. Inspiratif. Makanya saya tergerak untuk bikin sketsa.\u201d \u201cIni ... boleh aku pinjam dulu?\u201d Kugy mendekap buku itu di dadanya dengan penuh harap. \u201cBuku itu buat kamu, Gy. Ambil aja.\u201d Tak ada yang bisa menahan Kugy untuk memeluk\u00a0 Keenan, tidak juga dirinya sendiri. Pelukan spontan itu ha- nya berlangsung dua detik karena Kugy langsung beringsut mundur dengan muka merah padam. \u201cMakasih ...,\u201d bisiknya nyaris tak terdengar. Keduanya diam bergeming, antara rikuh dan tak tahu hkaakruusanbietrubudaetngaapna.mSeraomgpoahi saakkhuircneylaanaKnuygay. memecah ke- 47 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 60\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cUntuk sementara ... aku cuma bisa kasih kamu ini.\u201d Keenan menerima benda yang disodorkan Kugy. Sebatang pisang susu yang dibawa dari Pemadam Kelaparan. \u201cOke. Saya anggap kita impas,\u201d ucapnya sambil tersenyum kecil. 48 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 61\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 6. HUNUSAN PEDANG ES Fiat kuning itu berdesakan dengan mobil-mobil lain yang menyusuri Jalan Dago pada malam Minggu. Kugy dan Keenan di bangku belakang. Eko mengemudi, di sampingnya ada Noni yang tengah bertelepon dengan seseorang. Noni mematikan ponselnya dengan lega. \u201cGuys,\u00a0Mas Itok\u00a0 \u00a0berhasil dapat empat tiket, barisan agak depan, sih. Tapi lumayan daripada lu manyun.\u201d \u201cSebagai geng midnight\u00a0 yang profesional, kita memang \ue02a\ue023\ue033\ue036\ue034 \ue032\ue036\ue030\ue039\ue023 \ue02d\ue031\ue030\ue027\ue02d\ue034\ue02b \ue02d\ue023\ue039\ue023\ue02d \ue019\ue023\ue034 \ue015\ue035\ue031\ue02d\ue004 \ue014\ue02b\ue026\ue036\ue032 \ue019\ue023\ue034 \ue015\ue035\ue031\ue02d\ue000\ue03c \ue034\ue027\ue033\ue036 Eko. \ue03b\ue014\ue02b\ue026\ue036\ue036\ue036\ue032\ue000\ue03c \ue01f\ue027\ue033\ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue033 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02f\ue027\ue030\ue039\ue023\ue02a\ue036\ue035 \ue032\ue023\ue035\ue033\ue02b\ue031\ue035\ue02b\ue02d \ue026\ue023\ue033\ue02b \ue024\ue027\ue02e\ue023\ue003 kang. Sepuluh menit kemudian, mobil itu memasuki parkiran Bandung Indah Plaza. Dan keempatnya pun langsung ber- gegas ke lantai paling atas. Seorang pria kurus berkacamata menyambut mereka, Mas Itok, penjaga toko kaset langganan Eko yang suka me- nyambi menjadi pengantre tiket bioskop buat mereka. \u201cIni \u00a0buat Mas Eko sama Mbak Noni,\u201d ia menyerahkan dua tiket, \u201cnah, ini buat Mas Keenan dan pacarnya ....\u201d 49 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 62\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Keempatnya saling berpandangan, lalu tertawa bersama. Mas Itok menerima honornya lalu berlalu dari sana, tanpa tahu apa yang membuat keempat anak itu tertawa. \u201cGawat,\u201d komentar Eko geli. \u201cGara-gara keseringan non- ton midnight\u00a0 bareng, kita berempat nanti bisa jadi double date\u00a0beneran.\u201d \ue03b\ue00d\ue02f\ue02b\ue02b\ue02b\ue030\ue000\ue03c \ue01f\ue027\ue033\ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue033 \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030 \ue02f\ue027\ue030\ue039\ue023\ue02a\ue036\ue035 \ue026\ue023\ue033\ue02b \ue024\ue027\ue02e\ue023\ue02d\ue023\ue030\ue029\ue004 Empat-empatnya tertawa lagi. Tapi Kugy sedikit merasa terusik dengan celetukan itu. Diam-diam, ia melirik Keenan \u00a0yang berjalan di sampingnya. Mencari sesuatu, mencari se- macam petunjuk entah apa. Ia sendiri tak mengerti. Tahu- tahu Keenan meliriknya balik. Cepat-cepat Kugy membuang muka ke sembarang arah, menemukan mesin \u00a0popcorn\u00a0 se- \u00a0bagai objek perhatian baru yang lebih aman. \u201cMau \u00a0popcorn, Gy?\u201d Keenan bertanya. Kugy merasa tak punya pilihan selain mengangguk. \u201cKo, lu duluan aja. Gua beli \u00a0popcorn\u00a0dulu bareng Kugy,\u201d kata Keenan pada Eko yang berjalan di depannya. \ue03b\ue01e\ue02b\ue032\ue000\ue03c \ue02c\ue023\ue038\ue023\ue024 \ue011\ue02d\ue031\ue002 \ue02b\ue023 \ue032\ue036\ue030 \ue02f\ue027\ue02e\ue027\ue030\ue029\ue029\ue023\ue030\ue029 \ue02f\ue027\ue030\ue036\ue02c\ue036 \ue033\ue036\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030 teater bersama Noni. \u201cYuk,\u201d Keenan berujar ringan pada Kugy, lalu menggan- deng tangannya. Kugy tak yakin apakah Keenan menyadari perubahan \u00a0yang terjadi. Dalam hati, sungguh Kugy berharap langkahnya \u00a0yang berubah tersendat dan otot tangannya yang berubah tegang tidak terdeteksi. J a k a r t a , O k t o b er 19 9 9 . .. Sudah cukup lama perempuan itu berdiri dekat pesawat tele- \u00a0pbounkuditerlueapnogntyaamnugntyearbsuenkda,irjie. mTaanrignaynanbyaermgeermake-ggaenrgaksetbaunadha 50 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 63\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 gelisah. \u00a0Kalau bukan demi sopan santun, sebetulnya aku tidak harus melakukan ini, pikirnya. Puluhan tahun telah \u00a0berlalu, tapi tetap ia merasa hal ini tidak mudah. Sambil menelan ludah, akhirnya ia membulatkan tekad dan me- mencet tombol-tombol itu: 0-3-6-1 .... \u201cHalo, selamat sore.\u201d Terdengar suara laki-laki remaja di ujung sana. \u201cSelamat sore. Bisa bicara dengan Pak Wayan? Ini dari Ibu Lena, Jakarta.\u201d Tak lama terdengar sayup suara itu memanggil, \u201c\u00a0Po- yaaan ...9 ada telepon dari Jakartaaa ....\u201d Telepon itu kembali diangkat dan kali ini terdengar suara lelaki menyapa. \u201cWayan?\u201d panggilnya hati-hati. Sejenak sunyi. \u201cLena?\u201d Suara lelaki itu terdengar tak ya- kin. \u201cIya, ini Lena. Apa kabar?\u201d \u201cKabar baik. Tumben sekali kamu telepon.\u201d Setiap kata dilontarkan dengan kaku. \u201cAku mau bicara soal Keenan. Di liburan semesternya nanti, dia kepingin sekali pergi ke tempatmu di Ubud ....\u201d \u201cKeenan sudah lama bilang. Sejak dia masih di \u00a0Amsterdam, dia juga pernah meneleponku soal itu,\u201d potong \u00a0Wayan. \u201cTapi aku tidak enak kalau tidak langsung minta izin sama kamu.\u201d \u201cKeenan sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Ini rumahnya juga. Kapan pun dia ingin kemari, sudah pasti kuterima.\u201d Nada itu berubah tegas. \u201cMudah-mudahan dia tidak akan merepotkan ....\u201d \u201cKeenan tidak pernah merepotkan. Seluruh keluargaku di 9\u00a0 Poyan: Panggilan singkat untuk paman yang bernama Wayan. 64\/457 51 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 sini malah senang kalau dia datang.\u201d Lagi-lagi nada itu tegas memotong, seolah Wayan ingin percakapan itu cepat usai. Lena menghela napas. \u201cTerima kasih kalau begitu.\u201d \u201cCuma satu yang ingin aku pastikan. Ayahnya memberi izin Keenan kemari, kan?\u201d \u201cSudah. Adri sudah kasih izin ...\u201d \u201cOke. Tidak ada masalah lagi kalau begitu.\u201d Sunyi lagi. Lena pun tahu sudah saatnya pembicaraan itu disudahi. B a n d u n g , O k t o b er 19 9 9 . .. Keenan menaiki anak tangga eskalator sekaligus dua-dua, menyusuli orang-orang yang berdiri diam di kanan-kiri, ber- usaha tiba di lantai paling atas secepat-cepatnya. Saat ia sampai, sudah ada Eko dan Noni berdiri sambil mengacung- kan tiga lembar tiket bioskop. \u201c\u00a0My man. Right on time.\u00a0Pintu bioskopnya udah dibuka, \ue035\ue023\ue032\ue02b \ue03e\ue02e\ue02f\ue030\ue039\ue023 \ue024\ue027\ue02e\ue036\ue02f \ue02f\ue036\ue02e\ue023\ue02b\ue002 \ue02d\ue031\ue02d\ue002\ue03c \ue034\ue023\ue02f\ue024\ue036\ue035 \ue011\ue02d\ue031\ue004 \u201cTenang. Minuman buat lu udah gua beliin,\u201d kata Noni, menunjukkan sekantong plastik berisi minuman kotak dan makanan ringan. \u201cSori banget telat, ya. Tadi gua ketiduran,\u201d ujar Keenan dengan napas yang masih terengah. Tiba-tiba ia tersadar sesuatu. Ada yang kurang di situ. \u201cSi Kecil mana?\u201d \u201cKugy kedatangan tamu agung dari Jakarta. Biasaaa ...,\u201d seloroh Noni. Kening Keenan berkerut. \u201cTamu agung? Maksudnya?\u201d \u201cCowoknya dia, si Ojos, lagi ngapelin dia ke Bandung. Jadi nggak mungkinlah gabung sama geng midnight\u00a0\u00a0 kita ini,\u201c\u201dKtaimlapuaOl Ejoksos.ih pasti candle light dinner\u00a0gitu, deh ....\u201d 52 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 65\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cIya. Satu-satunya kesempatan Kugy naik kasta dari Pe- madam Kelaparan,\u201d Eko terkekeh. Keenan terdiam sejenak. \u201cGua baru tahu Kugy punya pa- car. Di Jakarta?\u201d Noni mengangguk, \u201cPacarnya dari SMA.\u201d \u201cGalak,\u201d Eko menambahkan. \u201cNggak, ah ...,\u201d sanggah Noni. \u201cKe semua teman ceweknya nggak. Ke semua teman cowoknya? Wuiiih ... galakan Ojos daripada menwa kam- pus.\u201d \u201cPengalaman pribadi, ya? Itu karena Ojos bisa men- deteksi, cowok-cowok mana yang diam-diam naksir Kugy, tauk,\u201d ledek Noni sambil menoyor bahu Eko. \ue03b\ue020\ue030\ue029\ue02d\ue02b\ue035 \ue035\ue027\ue033\ue036\ue036\ue036\ue036\ue034\ue000\ue03c \ue011\ue02d\ue031 \ue035\ue027\ue033\ue029\ue027\ue02e\ue023\ue02d\ue004 \ue03b\ue00e\ue027\ue033\ue023\ue033\ue035\ue02b \ue01b\ue02c\ue031\ue034 \ue024\ue036\ue02d\ue023\ue030 cuma galak kayak menwa, tapi juga sensi kayak herdernya polisi ....\u201d Percakapan itu berlanjut terus hingga keduanya me- masuki ruangan bioskop, dan Keenan hanya mengikuti dari \u00a0belakang dengan mulut terkunci. \ue03b\ue017\ue011\ue011\ue01a\ue00d\ue01a\ue000\ue03c Suara yang ia kenal. Nada ceria yang ia hafal. Derap lang- kah setengah berlari yang khas. Namun, entah kenapa, kali ini Keenan agak enggan menoleh ke belakang. Ditariknya napas dalam-dalam sebelum ia akhirnya membalikkan pung- gung. \u201cHai, Gy.\u201d \ue03b\ue014\ue023\ue02b\ue002 \ue02a\ue023\ue02b\ue004 \ue013\ue02b\ue02f\ue023\ue030\ue023 \ue02f\ue023\ue02e\ue023\ue02f \ue019\ue02b\ue030\ue029\ue029\ue036 \ue02d\ue027\ue02f\ue023\ue033\ue02b\ue030\ue00c \ue01e\ue027\ue033\ue036 \ue039\ue023\ue002 \ue03e\ue02e\ue02f\ue003 nya? Noni sampai kemimpi-mimpi gitu. Sori ya, aku nggak\u00a0 \u00a0gyuabku.n..,g\u201d. dUednaghanmsaekmaannmgaatlatimngbgei lKuumg?y PmeemnayderaomcoKs.elaparan 53 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 66\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSaya masih kenyang, dan harus cepat pulang. Banyak\u00a0 tugas. Nggak pa-pa, ya?\u201d Keenan menimpali ringkas. \u201cNo problemo,\u201d\u00a0\u00a0 Kugy tersenyum lebar, \u201csebetulnya sih aku kepingin ngobrol, tapi ya udah, nanti-nanti aja.\u201d \u201cTentang?\u201d \u201cMmm ...,\u201d Kugy berpikir sejenak, \u201cudah hampir dua minggu aku kasih majalah yang ada cerpenku itu, tapi ... he-he ... kok, kamu belum komentar,\u201d Kugy mesem-mesem, \u201cnggak maksa, sih ... cuma penasaran aja.\u201d Keenan menarik napas panjang untuk kedua kali. \u201cBoleh \u00a0jujur?\u201d tanyanya. \ue03b\ue014\ue023\ue033\ue036\ue034\ue002 \ue026\ue031\ue030\ue029\ue000\ue03c \ue034\ue027\ue033\ue036 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02f\ue023\ue030\ue035\ue023\ue032\ue004 \u201cSaya nggak suka.\u201d Letupan dalam hati Kugy mendadak seperti dibanjur air dingin. Padam. Air mukanya seketika berubah, meski ia ber- usaha tampil tenang. \u201cBuat orang yang nggak tahu kamu, cerpen itu mungkin \u00a0bagus. Tapi saya merasa dongeng-dongeng kamu jauh lebih otentik, lebih orisinal, dan lebih mencerminkan kamu yang sebenarnya. Dalam cerpen itu, saya tidak menemukan diri kamu. Yang saya temukan adalah penulis yang pintar me- rangkai kata-kata, tapi nggak ada nyawa,\u201d sambung Keenan lagi. Seluruh persendian tubuh Kugy serasa dikunci. Kata-kata Keenan seolah menyulapnya menjadi patung. Ia cuma bisa merasakan air ludahnya tertelan seperti bola bakso yang tak\u00a0 sempat terkunyah. \u201cMaaf ya, Gy. Kalau memang kamu kepingin saya jujur, \u00a0ya itulah opini saya. Nggak kurang, nggak lebih.\u201d Kugy mengangguk kecil. \u201cMakasih udah jujur,\u201d ucapnya pelan. tapTbaekrldaimriadki etmemudpiaatnn,yKa.eeMnearnenpuamngiit pkautlaandge,mdai nkaKtuagyyatneg- 54 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 67\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 menusuknya bagai hunusan pedang es. Menyakitkan sekali- gus membekukan. Membuatnya bungkam tanpa bisa me- lawan. Malam itu Kugy terjaga lama di tempat tidur. Telentang menghadap langit-langit kamar kosnya dengan pikiran yang terus berputar dan hati yang teraduk-aduk. Ia tak mengerti mengapa komentar Keenan meninggalkan dampak yang \u00a0begitu dalam. Ia juga tak mengerti mengapa ia begitu me- nunggu-nunggu pendapat Keenan, seolah pendapat manusia satu itulah yang terpenting. Ironisnya, semua orang terdekat- nya, termasuk Ojos, menyukai dan memuji-muji cerpennya. Hanya Keenan yang begitu tegas dan tanpa tedeng aling- aling menyatakan tidak suka. Seharian Kugy bertanya dan bertanya: apa yang salah? Bagaimana mungkin Keenan menyebutnya penulis yang cuma pintar merangkai kata tapi tak bernyawa? Padahal ia setengah mati mengerjakan cerita pendek itu. Setiap kata dipilihnya dengan cermat dan teliti. Ia menulis dengan plot \u00a0\ue039\ue023\ue030\ue029 \ue034\ue036\ue026\ue023\ue02a \ue026\ue02b\ue023\ue035\ue036\ue033 \ue023\ue032\ue02b\ue02d\ue004 \ue01e\ue027\ue035\ue02b\ue023\ue032 \ue02d\ue031\ue030\ue03f\ue02b\ue02d \ue026\ue02b\ue02f\ue036\ue030\ue025\ue036\ue02e\ue02d\ue023\ue030 \ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue030 momen yang sudah diperhitungkan. Ia hafal mati formula dan teori dari pedoman membuat cerita yang baik dan be- nar. Mungkinkah selera Keenan yang \u2018\u2018salah\u2019\u2019? Kugy terduduk tegak. Membuka majalah yang memuat cerpennya, dan mulai membaca dari awal hingga akhir. Lalu ia menyalakan komputer, membuka salah satu\u00a0\ue024\ue015\ue00f dongeng- nya, dan juga membacanya saksama. Kugy mulai menyadari sesuatu. Dalam dongengnya, ia seolah berlari bebas, sesuka hati. Dalam cerpen itu, ia seperti berjalan meniti tali, ber- hkiantii-mhaetnijdadainspanengauthjekleansdbaalgi.inDyaan: daadlaamsadtuonpgeernbgendyaaaniaybaenrg- 55 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 68\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 cerita untuk memuaskan dirinya sendiri, sementara dalam cerpennya ia bercerita untuk memuaskan orang lain. Ingatannya pun kembali mundur ke siang tadi, dan kem- \u00a0bali ia rasakan perih sayatan kata-kata Keenan. Namun, kali ini Kugy ikut merasakan kebenarannya. 56 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 69\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 7. BULAN, PERJALANAN, KITA B a n d u n g , D esem b er 19 9 9 . . . Tempat kos yang lengang itu semakin terasa sepi karena hampir semua penghuninya sudah kembali ke kota masing- masing untuk menikmati liburan semester. Hanya segelintir \u00a0yang tersisa. Keenan memasukkan barang-barang terakhirnya sebelum tas itu resmi diamankan dengan gembok kecil. Pintu kamarnya yang setengah terbuka tahu-tahu terbuka lebar. Bimo, teman kosnya, muncul sambil menenteng travel bag.\u00a0\u201cHai, Nan. Jadi mau ikut ke Jakarta pakai mobil gua, nggak? Masih ada tempat untuk satu lagi.\u201d Keenan menggeleng. \u201cNggak, Bim. Gua pakai kereta api nanti sore. Udah beli tiket. Salam buat anak-anak, deh.\u201d Bimo yang sudah mau beranjak pergi mendadak menahan langkahnya, seperti teringat sesuatu. \u201cOh, ya ... selamat, \u00a0ya.\u201d \u201c\u201cUKanttauka?n\u201dak-anak, IP lu tertinggi satu angkatan. Nggak\u00a0 57 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 70\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 percuma lu disebut Siluman Kampus, kerjanya pulang me- lulu, ngerem di kamar kayak beruang,\u201d Bimo terkekeh. Keenan hanya tersenyum sekilas, entah harus merasa \u00a0bangga atau tersindir. Tapi ia cukup suka sebutan itu. \u00a0Si- luman Kampus. Begitu Fiat kuning itu menepi, Keenan yang sudah me- nunggu di teras depan langsung menghampiri bagasi mobil dan memasukkan tasnya. Baru setelah membuka pintu, ia tersadar akan satu sosok yang tidak ia duga kehadirannya. \u201cKugy? Kamu ke Jakarta hari ini juga?\u201d tanya Keenan heran. \u201cHai, Nan. Aku tukeran tiket sama Eko,\u201d jawab Kugy ber- seri-seri. Keenan ganti menatap Eko, \u201cGua pikir, Fuad dititip ke Noni dan lu pulang ke Jakarta hari ini sama gua.\u201d \u201cTernyata gua baru bisa ke Subang lusa, Nan. Jadi Eko nemenin gua dulu di Bandung,\u201d Noni menjelaskan. \u201cOh. Oke.\u201d Keenan berkata pendek. Sebersit perasaan aneh menyusupi hati Kugy, yang me- lengkapi kecurigaannya selama ini. Tadinya Kugy berasumsi \u00a0bahwa sebulan ini Keenan banyak menyendiri karena belajar mati-matian, dan itu memang dibuktikan oleh IP tertinggi \u00a0yang diraihnya. Tapi baru sore ini Kugy merasakan adanya alasan lain. Ia merasa dihindari oleh Keenan. Tanpa banyak bicara, Keenan mengempaskan tubuhnya di jok belakang. Tungkai kakinya yang panjang membuat lututnya selalu nyaris beradu dengan jok depan. Dengan ekor matanya, Kugy mengamati. Sebagaimana ia mengamati \u00a0sbeapgaatimu aKneaeniaantayhaungKekeanliainnisetdamanpgamk ebnagruendaikcauncikbeemrseijha,jsine-s 58 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 71\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 lengan panjang yang dulu dipakai saat menggandeng ta- ngannya di bioskop, sebagaimana ia hafal aroma sampo \u00a0yang meruap dari rambut Keenan yang tergerai. Kugy meng- amati dan mengingat itu semua. Untuk apa, ia pun tak me- ngerti. Namun, semua itu melekat dalam memorinya, telah lama menghantuinya, tanpa bisa ia kendalikan. Keenan memejamkan matanya sejak sepuluh menit pertama kereta api itu bertolak dari Stasiun Bandung. Ia terbangun oleh karena haus yang menggigit dan hening yang dirasakan terlalu lama dari seharusnya. Saat matanya membuka, kereta itu memang sedang berhenti di sebuah stasiun kecil. Dan Kugy tidak ada di sebelahnya. Dari kasak-kusuk orang di sekeliling, Keenan menyimpul- kan bahwa kereta itu sudah berhenti lama di sana, dan keter- lambatan ini mulai menggelisahkan banyak penumpang. Penasaran, Keenan pun memutuskan untuk keluar dan \u00a0bertanya langsung pada petugas. \u201c\u00a0Muhun.\u00a0Ada kereta yang anjlok, Cep.\u00a0Jadi kita tertahan di sini, mungkin setengah jam sampai sejam. Belum ada pemberitahuan.\u201d Petugas stasiun itu menjelaskan. Di atas kepalanya tergantung plang: Stasiun Citatah. Kereta itu bah- kan belum menempuh separuh perjalanan. Langit mulai remang, pertanda sore mulai menua. Awan mendung yang sejak tadi bergelantungan mulai merintikkan selapis gerimis tipis. Meski dianjurkan menunggu di dalam kereta, Keenan merasa tak ingin kembali ke sana cepat- cepat. Ia mengedarkan pandangan, mencari sesuatu yang sekiranya membuat perasaannya tertarik. Dan matanya ter- tum\u201cCbeupk!\u00a0p\ue016a\ue023d\ue030a\ue029\ue023p\ue030ela\ue02c\ue023t\ue036ar\ue02aa\ue003n\ue02c\ue023\ue036d\ue02aep\ue000\ue03can stasiun. 59 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 72\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Sayup, Keenan mendengar petugas tadi memperingatkan- 73\/457 nya. Namun, ia merasa kakinya terundang untuk keluar, menuju jalanan pedesaan yang setengah becek, berhiaskan satu-dua warung kopi yang mulai menyalakan lampu petro- maksnya untuk menyambut gelap malam. Di sebuah warung, Keenan berhenti. Aneka gorengan \u00a0yang terpajang di sana tampak menarik, belum lagi bersisir- sisir pisang susu yang kuning masak tampak bergelantung di kayu penyangga tendanya. \u201cMangga,\u00a0ngopi dulu, \u00a0Den.\u201d\u00a0Ibu tua pemilik warung me- nyapa ramah. Baru saja Keenan hendak duduk di bangku kayu itu, tiba- tiba dari sisi seberangnya muncul kepala dan kedua tangan mungil yang sedang meraih pisang susu. \u201cKugy?\u201d \ue03b\ue014\ue027\ue02b\ue000 \ue020\ue026\ue023\ue02a \ue024\ue023\ue030\ue029\ue036\ue030\ue00c \ue017\ue031\ue02d \ue024\ue02b\ue034\ue023 \ue030\ue039\ue023\ue02f\ue032\ue027 \ue034\ue02b\ue030\ue02b \ue02c\ue036\ue029\ue023\ue00c\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 heran bukan main. \u201cHmm. Radar Neptunus\u2014mungkin?\u201d cetus Keenan, antara geli dan takjub. Ia pun duduk di sebelah Kugy dan memesan secangkir kopi panas. Keduanya langsung mengobrol dan tertawa-tawa, tak habis pikir bagaimana me- reka bisa berakhir di tempat yang sama tanpa janjian. \u201cSebentar ... sebentar ...\u201d tiba-tiba Kugy memotong pem- \u00a0mbiceanryaearnu.aWk amjauhnncyual.tampak siaga seolah-seolah sesuatu akan \u201cAda apa?\u201d Keenan ikut melihat ke sekeliling. \u201cBau ini ... kamu cium, nggak?\u201d Kugy mengendus- endus. \u201cKamu kentut?\u201d \ue03b\ue00e\ue036\ue02d\ue023\ue030\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02f\ue027\ue02f\ue024\ue027\ue033\ue027\ue030\ue029\ue036\ue035\ue002 \ue03b\ue015\ue030\ue02b \ue024\ue023\ue036 \ue035\ue023\ue030\ue023\ue02a \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue024\ue023\ue033\ue036 kena hujan ... kecium, nggak?\u201d Kugy lantas menghirup napas dalam-dalam, berkali-kali, dan mukanya seperti orang ekstase. \u201cSedaaaaap ...,\u201d gumamnya. 60 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Keenan ikut mengendus, dan mulai ikut menghirup. \u201cGy\u00a0 ... tambah lagi wangi kopi, nih ... hmmm ... enaaak ....\u201d Kugy mencomot kulit pisang, \u201cTambah lagi nih wangi pisang ... asoooy ....\u201d Keduanya sibuk membaui ini-itu, tanpa menyadari ibu pemilik warung sudah mulai waswas melihat kelakuan me- reka. \u201cGerimis, wangi tanah kena hujan, kopi, dan pisang ... dahsyat. Aku nggak bakal lupa kombinasi ini.\u201d Kugy ter- senyum lebar, kilau di matanya kian bersinar tertimpa sinar lampu. \u201cStasiun Citatah, warung, lampu templok, dan ... kamu. Saya juga nggak bakal lupa.\u201d Mendengar itu, Kugy termangu. Ia merasa tergerak untuk\u00a0 mengatakan sesuatu, tapi lidahnya kelu. Ia ingin bertanya, apakah intuisinya benar? Bahwa Keenan dengan halus telah menghindarinya. Bahwa ada keanehan yang terjadi antara mereka berdua, tapi entah apa. Namun, Kugy tak tahu harus memulai dari mana. Kembali dalam keheningan, mereka duduk diam. Keenan menyeruput kopinya perlahan. Begitu juga Kugy dengan teh panasnya. Namun, kali ini hening itu tidak menjengahkan. Setiap detik bergulir sejuk dan khidmat, seperti tetes hujan \u00a0yang kini turun satu-satu. \u201cNan ... kamu benar soal cerpenku itu,\u201d tiba-tiba Kugy\u00a0 memecah sunyi, \u201caku nggak menjadi diriku sendiri. Aku \u00a0bikin cerita itu untuk cari duit, untuk cari pengakuan doang ....\u201d Keenan mengangkat kepalanya, menatap balik pada Kugy\u00a0 \u00a0yang tengah menatapnya lekat-lekat. \u201cMakasih, ya. Kalau bukan karena kamu berani jujur Nsagmgaakabkeur,amrtui nagkkuinbaakkaul bnegrghaeknatiknanulmis ecneyrpaednarsiaimtuasseemkaulai,. 61 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 74\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 sih. Tapi sekarang aku bisa melihat diriku apa adanya, di mana kelemahanku, dan di mana kekuatanku.\u201d Senyum mengembang di wajah Keenan. Hangat. \u201cGy, \u00a0jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Satu saat, kamu akan jadi penulis dongeng yang hebat. Saya yakin.\u201d Kugy menghela napas, pandangan matanya mengembara. \u201cGerimis, melukis, menulis ... satu saat nanti, kita jadi diri kita sendiri,\u201d gumamnya lambat, seperti mengeja. Seperti mengucap doa. Dari jauh terdengar pengumuman bahwa kereta api akan segera diberangkatkan. Mereka berdua pun beranjak dari sana. Tanpa terburu-buru. Menapaki tanah becek dengan hati-hati. Tepat sebelum kereta berjalan, kaki mereka men- \u00a0jejak gerbong. Di gang antargerbong yang sempit dan berguncang keras, keduanya berdiri sejenak. Kugy bisa merasakan jarak Keenan \u00a0yang begitu dekat di punggungnya, membaui aroma minyak\u00a0 \u00a0wangi yang samar tercium dari kemejanya, dan terasa se- sekali wajah Keenan menyentuh rambutnya. Meski tempat mereka berdiri sangat berisik, Kugy dapat mendengar Keenan berbisik di sela-sela rambutnya yang \u00a0berkibar ditiup angin. Entah Keenan berbisik untuknya, un- tuk dirinya sendiri, atau untuk mereka berdua. Namun, de- ngan jelas Kugy menangkap tiga kata yang dibisikkan Keenan: \u201cBulan, perjalanan, kita ....\u201d Baru ketika duduk di bangkunya yang bersebelahan de- ngan jendela, Kugy menyadari bahwa bulan bersinar ben- derang di angkasa. Tanpa bisa ditahan, Kugy merasa pelupuk\u00a0 matanya menghangat, dan pandangannya berkaca-kaca. Ingin rasanya ia membungkus bisikan Keenan tadi, menyimpannya diai ahlaatmi. iTsiagaatkiantia. Byuanlagnt.aPkesrejapleannuanh.nMyaeiraekpaahbaemrdiu, ata. pi nyata 62 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 75\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Sudah sejam Ojos menunggu di kafe itu, segala macam mi- numan dan donat aneka rasa sudah ia pesan sampai perut- nya penuh sesak. Dan akhirnya bergaunglah pengumuman \u00a0bahwa kereta api Parahyangan yang ditumpangi Kugy telah tiba. Segera ia beranjak dari sana dan menunggu di mulut pintu keluar. Dari jauh Ojos sudah bisa mengenali sosok mungil itu. Rambut sebahunya yang tergerai beradu dengan ransel besar \u00a0yang seolah menenggelamkan tubuh kecilnya, belum lagi \u00a0jaket jins yang sudah bisa dipastikan hasil minjam saking kebesarannya. Namun, sesuatu di balik kekacauan berbusana itulah yang membuat sosok itu mencuat di mana pun ia ber- ada. Dari jarak seperti ini pun Ojos bahkan sudah bisa me- lihat hidupnya binar kedua mata itu, merasakan hangat ke- hadirannya, tawanya yang lepas tanpa beban ... kening Ojos tahu-tahu berkerut. Matanya memicing. Ada seseorang yang \u00a0berjalan di sebelah Kugy. Orang yang tidak ia kenal. Sak- sama, Ojos mengamati, seperti menjalankan scanning.\u00a0Ke- ningnya semakin berkeriut. \ue03b\ue01b\ue02c\ue031\ue034\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02f\ue027\ue02e\ue023\ue02f\ue024\ue023\ue02b\ue02d\ue023\ue030 \ue035\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030\ue002 \ue02e\ue023\ue02e\ue036 \ue02f\ue027\ue030\ue029\ue02a\ue023\ue02f\ue032\ue02b\ue033\ue02b\ue030\ue039\ue023 setengah berlari. \u201cHi, Babe,\u201d\u00a0 Ojos meraih pinggang Kugy, dan mengecup- nya di pipi. Sigap, ia melepaskan ransel dari bahu Kugy lalu menyampirkan barang besar itu di bahunya. \u201cJos, kenalin. Ini sepupunya Eko ....\u201d \u201cKeenan.\u201d Keenan langsung mengulurkan tangan dan ter- senyum ramah. \u201cHai. Joshua.\u201d Ojos menyambut tangan itu. Sebelah ta- ngannya tak lepas merangkul Kugy. nul\u201cisS.a\u201dmpai ketemu semester depan, ya, Gy. Selamat me- 63 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 76\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSelamat melukis. Jangan lupa ....\u201d Kugy menempelkan kedua telunjuknya di ubun-ubun seperti antena. Seketika Keenan tertawa renyah. \u201cRadar Neptunus ...,\u201d ia lalu ikut menempelkan kedua telunjuk di ubun-ubun. Mata Ojos tak lepas mengamati itu semua, bahkan ketika Keenan sudah pamit pulang dan membalik pergi. Ada gelom- \u00a0bang yang tertangkap oleh radarnya. Gelombang yang meng- isyaratkan ketidakberesan, situasi yang tidak aman. Dan Ojos tidak merasa nyaman. 64 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 77\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 8. MEMULAI DARI YANG KECIL Meja makan dengan empat kursi itu baru diisi tiga orang, satu kursi masih kosong. Meski hanya bertiga, suasana di meja makan itu terasa semarak. Dua bersaudara laki-laki itu mengobrol tanpa henti seolah sudah tahunan tak bertemu. Ibu mereka sesekali menimpali, atau ikut tertawa bersama. Terdengar suara pintu depan terbuka, dan seseorang me- masuki ruang makan, duduk di kursi keempat. \u201cHai, Pa ...,\u201d Jeroen dan Keenan menyapa. \u201cMaaf ya, kalian jadi menunggu. Tamu itu sudah Papa suruh datang ke kantor saja, tapi dia maksa datang ke sini karena udah nggak ada waktu lagi, katanya.\u201d \u201cIt\u2019s okay.\u201d Lena tersenyum sambil menuangkan teh pa- nas ke cangkir suaminya. \u201cKeenan punya pengumuman buat kamu, tuh.\u201d \u201cOh, ya? Apa, Nan?\u201d tanya ayahnya sambil meminum teh itu sedikit demi sedikit. Keenan melirik ibunya, seperti ragu untuk bicara. \u201cMmm ... IP saya 3,7 semester ini.\u201d \u201cTertinggi di angkatannya,\u201d Lena menambahkan dengan senyum berseri. 65 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 78\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cBagus,\u201d sahut ayahnya datar, ditambah sedikit manggut- manggut. Namun, ada kepuasan yang tak bisa disembunyikan membersit di wajahnya. \u201cSudah kubilang kamu memang co- cok kuliah di Ekonomi. 0,3 lagi untuk IP sempurna, semes- ter depan kira-kira bisa?\u201d \u201cMungkin,\u201d jawab Keenan pendek. \u201cApa pun yang kamu butuh, komputer baru, buku-buku referensi ... bilang saja. Nanti Papa siapkan.\u201d \u201cSaya mau minta waktu.\u201d Cangkir teh itu segera diletakkan di meja. \u201cMaksud kamu?\u201d \u201cSaya minta ekstra seminggu dari jatah liburan kuliah.\u201d \u201cDia minta waktu lebih lama di Ubud ...\u201d Lena berusaha menjelaskan. \u201cAku ngerti maksudnya,\u201d potong ayahnya tajam. \u201cKamu minta izin seminggu bolos kuliah, gitu?\u201d Keenan mengangguk. \u201cBuat Papa, kuliah kamu harus jadi prioritas. Dan kamu sudah membuktikan itu di semester ini. Lalu ... kamu malah minta hadiah berupa ... bolos kuliah?\u201d Keenan mengangguk lagi. \u201cAneh. Nggak ngerti,\u201d ayahnya geleng-geleng kepala, \u201clalu, barusan kamu bilang mau meningkatkan IP kamu sam- pai 4, gimana itu bisa terjadi kalau belum apa-apa langsung \u00a0bolos seminggu?\u201d \u201cSaya kan nggak janji, Pa. Saya cuma bilang: mungkin.\u201d \u201cNan, jangan mulai sok pintar, ya ....\u201d \u201cPa, saya nggak minta macam-macam. Saya nggak minta kendaraan. Saya nggak minta komputer baru. Saya nggak\u00a0 minta buku apa-apa. Saya cuma minta waktu tambahan satu minggu di tempat Pak Wayan.\u201d Nada bicara Keenan mulai me\u201cnTgaeprai s.minta bolos itu namanya \u2018macam-macam\u2019. Se- 66 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 79\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \ue02f\ue02b\ue030\ue029\ue029\ue036 \ue02e\ue023\ue029\ue02b\ue000 \ue00e\ue036\ue023\ue035 \ue023\ue032\ue023 \ue034\ue02b\ue02a \ue02d\ue023\ue02f\ue036 \ue02e\ue023\ue02f\ue023\ue003\ue02e\ue023\ue02f\ue023 \ue023\ue02f\ue023\ue035 \ue026\ue02b Ubud?\u201d \u201cSaya udah kasih enam bulan buat Papa. Dan sekarang saya cuma minta satu minggu ....\u201d \u201cMemangnya kamu kuliah buat saya?\u201d sergah ayahnya. Keenan tak menjawab, hanya menghela napas, seolah menghadapi pertanyaan retoris yang semua orang di situ tahu jawabnya. Tawa canda yang tadi semarak seperti menguap tanpa \u00a0bekas, berganti dengan ketegangan yang sunyi. Empat orang duduk kaku tanpa suara. \u201cAku yakin Keenan nanti bisa mengejar ketinggalan satu minggunya,\u201d akhirnya Lena berkata. \u201cTerserah,\u201d sahut suaminya setengah menggumam, lalu \u00a0berdiri dan pergi. Semua perlengkapannya sudah terkemas rapi. Begitu juga dengan Jeroen yang bahkan sudah siap \u00a0packing\u00a0sejak dua hari yang lalu. Dia akan menemani abangnya beberapa hari di Ubud, sebelum menyusul teman-temannya yang study tour\u00a0di Kuta. Jeroen mengaku bisa mati bosan di Ubud yang sepi, tapi ia rela mengorbankan beberapa hari liburannya demi menghabiskan waktu bersama Keenan. Hanya ada satu hal yang Keenan ingin lakukan sebelum dia pergi ke bandara sebentar lagi. Dibukanya buku kecil \u00a0berisikan daftar nomor telepon teman-temannya, mencari satu nama. \u201cHalo ....\u201d Suara remaja cewek menyambutnya. \u201cSelamat pagi, bisa bicara dengan Kugy?\u201d \ue034\ue027\ue02dS\ue02b\ue023u\ue030ar\ue024a\ue023\ue030d\ue039a\ue023ri\ue02du\ue031j\ue033u\ue023n\ue030g\ue029s\ue039a\ue023n\ue030a\ue029t\ue024er\ue027d\ue033\ue024en\ue02b\ue025g\ue023a\ue033r\ue023\ue004r\ue03biu\ue017h\ue036,\ue029b\ue039e\ue039r\ue039l\ue000a\ue01fta\ue027r\ue02e\ue027b\ue032e\ue031l\ue031ak\ue031a\ue030n\ue000\ue03cg 67 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 80\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \ue03b\ue010\ue02b \ue02d\ue023\ue02f\ue023\ue033 \ue02f\ue023\ue030\ue026\ue02b \ue02d\ue023\ue039\ue023\ue02d\ue030\ue039\ue023\ue000\ue03c \ue01f\ue027\ue033\ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue033 \ue023\ue026\ue023 \ue034\ue036\ue023\ue033\ue023 \ue032\ue027\ue033\ue027\ue02f\ue003 puan yang menyahut. \ue03b\ue013\ue039\ue000 \ue018\ue023\ue02f\ue023 \ue023\ue02f\ue023\ue035 \ue034\ue02b\ue02a\ue00c \ue00e\ue027\ue033\ue023\ue02d\ue002 \ue039\ue023\ue00c \ue01f\ue027\ue02e\ue027\ue032\ue031\ue030\ue002 \ue035\ue036\ue02a\ue000\ue03c \ue00d\ue026\ue023 \ue034\ue036\ue023\ue033\ue023 laki-laki menimpali. Lalu terdengar langkah kaki berderap menuruni tangga. \ue03b\ue011\ue030\ue023\ue02d \ue023\ue02c\ue023\ue002 \ue02e\ue023\ue029\ue02b \ue026\ue02b \ue023\ue035\ue023\ue034\ue002 \ue035\ue023\ue036\ue02d\ue000 \ue00e\ue027\ue030\ue035\ue023\ue023\ue023\ue033\ue000\ue03c \ue03b\ue00e\ue027\ue033\ue023\ue033\ue035\ue02b \ue034\ue02b\ue023\ue032\ue023 \ue035\ue036\ue02a \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue026\ue02b \ue02d\ue023\ue02f\ue023\ue033 \ue02f\ue023\ue030\ue026\ue02b\ue00c \ue017\ue031\ue02d \ue024\ue023\ue036\ue00c \ue021\ue031\ue02b\ue000 \u00a0\ue00d\ue026\ue023 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue02d\ue027\ue030\ue035\ue036\ue035\ue002 \ue039\ue023\ue00c \ue01a\ue029\ue023\ue02d\ue036\ue000\ue03c \u201cHalo,\u201d akhirnya terdengar suara Kugy menyapa. \u201cHai, Gy.\u201d Mata Kugy membundar seketika. \u201cKeenan?\u201d \u201cIya. Rame banget di rumah kamu. Lagi ada acara?\u201d \u201cOh, nggak. Tiap hari memang begini,\u201d Kugy tertawa kecil, \u201ckamu ... apa kabar? Kok, tumben telepon? He-he, bu- kannya nggak boleh, lho. Cuma aneh aja. Bukan aneh gimana, sih. Cuma ... yah ....\u201d Kugy mulai salah tingkah. \u201cSaya mau ke Bali, mungkin sampai sebulan. Mau pa- mitan.\u201d \u201cOh ....\u201d \u201cHabis ini saya juga mau telepon Eko atau Noni. Pamitan \u00a0juga,\u201d gugup Keenan menambahkan. \u201cMau oleh-oleh apa?\u201d \u201cHmm. Apa, ya?\u201d Kugy berpikir-pikir, \u201cKaus barong udah punya lima, sarung pantai ada tiga, miniatur papan\u00a0\ue01b\ue01d\ue01a\ue024\ue017\ue011 ada satu ....\u201d \u201cKacang asin?\u201d \ue03b\ue00d\ue02d\ue036 \ue035\ue023\ue02a\ue036\ue000\ue03c \ue034\ue027\ue033\ue036 \ue017\ue036\ue029\ue039\ue002 \ue03b\ue01e\ue027\ue034\ue036\ue023\ue035\ue036 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue024\ue031\ue02e\ue027\ue02a \ue026\ue02b\ue003 \u00a0beli.\u201d \u201cJadi dicuri?\u201d Kugy tergelak, \u201cBukan. Sesuatu yang harus dibikin.\u201d \u201cOke,\u201d Keenan tersenyum, \u201csaya janji.\u201d Terasa ada sesuatu yang mengaliri darahnya. Kugy me- \u00a0braibsairnhyaan.gKatu. gTyermasearaasdaainsegsinuatteuruysantegrmseennyaurmik.i SkeekdiulaasuKjuunggy\u00a0 68 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 81\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 melihat bayangannya di lemari kaca, dan merasa tolol sen- diri. \u201cGy ... udah harus cabut, nih. Sori nggak bisa telepon lama-lama. Baik-baik, ya. Sampai ketemu semester depan.\u201d \u201cSip. Sampai ketemu semester depan.\u201d Dan telepon itu ditutup dari ujung sana. Kugy meletakkan gagang telepon dengan hati-hati, lalu terduduk lama. Percakapan telepon \u00a0barusan tak sampai dua menit, tapi serasa waktu telah me- lemparkan jangkarnya dan berhenti di sana. Dan kini per- lahan Kugy mencabut jangkar tadi, kembali ke ruang ke- luarga rumahnya, kembali bersama kegaduhan yang rutin \u00a0berlangsung di sana. U b u d , D e sem b e r 19 9 9 . .. Meski terletak di Desa Lodtunduh yang agak jauh dari pusat kota, semua orang di Ubud tahu keberadaan kompleks ke- luarga satu itu. Di sana tinggallah Pak Wayan dan keluarga \u00a0besarnya, di sebuah tanah berbukit-lembah yang dilewati sungai dengan luas hampir lima hektar. Semua anggota ke- luarga itu menjadi seniman-seniman besar. Ada yang men- dalami lukis, ukir, patung, tari, bahkan perajin perhiasan. Seolah-olah semua ragam seni di Bali memiliki wakilnya masing-masing di keluarga tersebut. Satu bulan di tempat keluarga Pak Wayan membayar seluruh kerinduan Keenan terhadap seni, sekaligus mengisi baterainya untuk berbulan- \u00a0bulan ke depan. Ibunya adalah sahabat lama Pak Wayan, dan Keenan me- ngenal sosok pria itu sejak kecil. Pertemuannya dengan Pak\u00a0 \u00a0Wayan terbilang jarang, tapi amat membekas di hati. Ia ber- tmemeruandleunkgiasannpPriaakiWtuahyaannydai jgikaaleribi udni yJaakmaretnag. uInnjiulanhgikupna-- 69 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 82\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0jungan pertamanya ke Desa Lodtunduh, tempat yang selama ini cuma ia lihat dari foto-foto yang dikirimi Pak Wayan. Keenan langsung jatuh cinta pada tempat itu. Ia merasa bisa tinggal selamanya di sana. Sejak pindah ke Amsterdam, baru kali inilah Keenan ber- temu langsung dengan Pak Wayan lagi. Keduanya tak ber- henti berkorespondensi. Keenan selalu mengirimkan foto- foto lukisannya, begitu juga dengan Pak Wayan. Keenan \u00a0bahkan berkorespondensi dengan beberapa keponakan Pak\u00a0 \u00a0Wayan yang seumur dengannya, dan mereka akrab seperti saudara meski belum pernah bertemu langsung. Kedatangan- nya kali ini memang lebih terasa seperti mengunjungi ke- luarga di kampung halaman. Tidak setiap hari Keenan menghabiskan waktunya untuk\u00a0 melukis, terkadang ia merasa cukup puas hanya menontoni aneka kegiatan seni yang dilakukan sanak-saudara itu. Se- harian ini ia cuma menguntit Banyu, salah satu keponakan Pak Wayan, yang sedang mengerjakan pesanan patung. Pak Wayan berdiri tak jauh dari sana, tempat Keenan \u00a0jongkok di sebelah Banyu dengan mata nyaris tak ber- kedip. \u201cTertarik belajar mahat, Nan? Serius sekali.\u201d Keenan tertawa ringan. \u201cCuma mengagumi, \u00a0Poyan.\u00a0Saya \u00a0belum pernah coba. \u00a0Poyan\u00a0sendiri\u2014bisa memahat?\u201d Pak Wayan gantian tertawa sambil memampangkan ke- dua telapaknya, \u201cIni jari kuas. Bukan jari perkakas. Biar sajalah itu jadi jatahnya Banyu dan bapaknya.\u201d \u201cDicoba saja, Nan. Siapa tahu cocok ...,\u201d Banyu ikut menimpali. Keenan melihat sekelilingnya. Bonggol-bonggol kayu dan perkakas pahat yang berserakan. Air mukanya mulai me- nun\u201cjSuukdkaahn, ktuetnegrgtauriakpaan.lagi? Mumpung bapaknya si Banyu 70 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 83\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0juga lagi di sini. Jadi kamu bisa tanya-tanya. Karya mereka ini bahkan disegani di Desa Mas, pusatnya seni patung,\u201d Pak\u00a0 \u00a0Wayan ikut memanas-manasi. \u201cOke, oke. Hari ini saya nonton dulu aja, \u00a0Poyan,\u201d sambil mesem-mesem Keenan berkata. Ia pun kembali menontoni Banyu dengan setia. Menjelang petang, Keenan kembali masuk ke studio patung keluarga Pak Putu. Kali ini ia cuma sendirian di sana. Di studio itulah Pak Putu dan anaknya, Banyu, biasa bekerja. Hanya terpisahkan sepetak taman dengan studio lukis Pak\u00a0 \u00a0Wayan. \u00a0Ada banyak bahan mentah berbagai ukuran yang terong- gok di sana. Keenan mengenali beberapa. Ada kayu sono- keling, kayu kamboja, kayu suar, kayu belalu, kayu ketapang, dan beberapa elemen tambahan seperti akar, serat, serta ranting-ranting. Setelah membolak-balik beberapa bahan, Keenan akhirnya mengambil sepotong kayu yang berukuran agak kecil. Memulai dari yang kecil, pikirnya. Tak lama kemudian, Keenan mengambil posisi, menyiapkan perkakas yang ia \u00a0butuhkan, dan mulai memahat. Sampai larut malam ia tak\u00a0 keluar-keluar dari sana. 71 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 84\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 9. PROYEK PERCOMBLANGAN J a k a r t a , D esem b er 19 9 9 . .. Kugy punya kesibukan baru sekarang. Ia kembali seperti anak sekolah yang punya tugas prakarya. Ia memfotokopi semua sketsa dari Keenan, lalu memotongnya menjadi kotak-kotak. \u00a0Printer\u00a0kecil di kamarnya tak henti-henti ber- \u00a0bunyi, mencetak seluruh dokumen dongengnya. Setelah se- mua siap, Kugy mulai menggabungkan teks-teks dongengnya dengan sketsa-sketsa Keenan, membuat semacam buku \u00a0buatan tangan. Dan ia mengerjakan setiap detail dengan se- penuh hati. \u00a0Ada satu tanggal yang menginspirasinya untuk membuat \u00a0buku itu. Tanggal itu jugalah yang mendorongnya untuk\u00a0 \u00a0bekerja dengan semangat penuh. Kugy sudah melingkari tanggal itu di kalendernya. Tanggal yang hanya terpaut se- hari dari ulang tahunnya sendiri. 72 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 85\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 K u t a , m a l am t a h u n b a r u 2 0 0 0 ... Keenan memutuskan keluar dari \u2018\u2018gua beruang\u2019\u2019-nya, turun gunung dari Ubud. Malam ini ia ikut dengan Banyu dan \u00a0Agung ke Kuta untuk bertahun baru. Jalan Legian penuh sesak dengan orang-orang, mobil-mobil bahkan nyaris tak\u00a0 \u00a0bergerak. Hampir setiap kafe dipadati pengunjung yang sam- pai tumpah ruah ke trotoar jalan. Mereka bertiga bahkan harus bicara dengan berteriak-teriak. \u201cJadi, kita mau ke mana?\u201d seru Banyu pada keduanya. Mobil mereka sudah diparkir di sebuah rumah dan mereka memutuskan untuk jalan kaki. Keenan mengangkat bahu, berdiri di pinggir jalan saja sudah terasa sedang berpesta saking ramainya. Sejujurnya, ia malah ingin cepat pulang ke Lodtunduh. \u00a0Agung menunjuk satu kafe di pojokan jalan. \u201cKe situ \ue034\ue023\ue02c\ue023\ue000 \ue015\ue035\ue036 \ue035\ue027\ue02f\ue032\ue023\ue035\ue030\ue039\ue023 \ue01c\ue023\ue033\ue035\ue023\ue002 \ue035\ue027\ue02f\ue023\ue030 \ue034\ue023\ue039\ue023\ue002 \ue02d\ue02b\ue035\ue023 \ue032\ue023\ue034\ue035\ue02b \ue024\ue02b\ue034\ue023 \ue026\ue023\ue032\ue023\ue035 \ue02f\ue027\ue02c\ue023\ue000\ue03c Mereka bertiga akhirnya bergerak menuju kafe temaram \u00a0berhiaskan ornamen-ornamen Buddha yang hanya beberapa puluh meter dari tempat mereka berdiri tadi. Namun, lang- kah Keenan sempat tersendat ketika ia melihat wartel kecil \u00a0yang menyempil di antara toko-toko. \ue03b\ue00d\ue029\ue036\ue030\ue029\ue002 \ue00e\ue023\ue030\ue039\ue036\ue002 \ue034\ue027\ue024\ue027\ue030\ue035\ue023\ue033 \ue039\ue023\ue004 \ue01a\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue034\ue023\ue02f\ue032\ue023\ue02b \ue02e\ue02b\ue02f\ue023 \ue02f\ue027\ue030\ue02b\ue035\ue000\ue03c seru Keenan sambil memasuki wartel itu. Ada satu bilik\u00a0 \u00a0yang kosong. Keenan segera merogoh dompetnya, mencari catatan kecil yang ia selipkan. Nomor telepon seluler yang ia hubungi tersambung ke kotak suara. Ia mencoba satu nomor lagi. \u201cHalo ....\u201d Keenan masih ingat suara itu. Suara yang juga mengang- kat\u201ctHelaelpoo, nbidsaarbinicyaaratedreankghairnkKaulig. y?\u201d 73 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 86\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSebentar, ya,\u201d suara itu menyahut manis. Dan saat kop telepon dijauhkan, suara manis itu berubah menjadi teriakan \ue02e\ue023\ue030\ue035\ue023\ue030\ue029\ue002 \ue03b\ue017\ue036\ue029\ue039\ue039\ue039\ue000 \ue00e\ue036\ue023\ue035 \ue02d\ue023\ue02f\ue036 \ue02e\ue023\ue029\ue02b\ue002 \ue030\ue02b\ue02a\ue000 \ue00f\ue023\ue032\ue027\ue02d \ue026\ue027\ue02a \ue030\ue029\ue023\ue030\ue029\ue003 \ue02d\ue023\ue035\ue02b\ue030 \ue035\ue027\ue02e\ue027\ue032\ue031\ue030 \ue024\ue036\ue023\ue035 \ue031\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue02e\ue023\ue02b\ue030 \ue035\ue027\ue033\ue036\ue034\ue000 \ue017\ue031\ue02d \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue023\ue026\ue023 \ue039\ue023\ue030\ue029 telepon aku sih dari tadi?\u201d \ue03b\ue020\ue026\ue023\ue02a\ue002 \ue035\ue027\ue033\ue02b\ue02f\ue023 \ue030\ue023\ue034\ue02b\ue024 \ue023\ue02c\ue023\ue000\ue03c \ue00d\ue026\ue023 \ue034\ue023\ue035\ue036 \ue031\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue035\ue027\ue033\ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue033 \ue02f\ue027\ue003 nyahut. \u201cDasar ABG. Entar tuaan dikit kamu bakal males terima telepon, tauk.\u201d \u201cKalo teleponnya buat orang lain melulu, nggak usah nunggu tua, sekarang juga udah males.\u201d Lalu terdengar suara derap kaki menuruni tangga. Se- \u00a0jenak kemudian telepon itu berpindah tangan. \u201cHalo?\u201d Keenan spontan tersenyum. Sepotong \u2018\u2018halo\u2019\u2019 yang baru saja ia dengar sudah cukup membuat suasana hatinya kem- \u00a0bali cerah. \u201cKamar kamu di lantai atas, ya? Saya selalu dengar kamu lari-lari turun tangga.\u201d \u201cKeenan?\u201d Kugy hampir melonjak dari tempat duduknya. \ue03b\ue014\ue023\ue02b\ue000 \ue00d\ue032\ue023 \ue02d\ue023\ue024\ue023\ue033\ue00c\ue03c \u201cKabar baik. Saya lagi di Kuta, mau tahun baruan dengan keponakan-keponakannya Pak Wayan. Tadi tiba-tiba inget kamu, dan kepingin nelepon. Saya pikir kamu nggak bakal ada di rumah. Nggak ada acara?\u201d \u201cTawaran banyak, tapi aku tolak semua,\u201d Kugy terke- keh. \u201cAda acara di rumah?\u201d \u201cNggak juga. Aku lagi ada kerjaan.\u201d Mata Keenan membesar, \u201cSebegitu pentingnya sampai melewatkan tahun baruan segala?\u201d \u201cHmm ... begitulah,\u201d jawab Kugy sambil melirik\u00a0 \u00a0jteemmapreilnmyaenyaenmgpmelnasyiahsbeejarksabpeubtkearanpsaishaarleimteraakkihbiart. kegiatan 74 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 87\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cDi sini kan lebih awal sejam, dan sebentar lagi udah mau jam 12. Jadi ... selamat tahun baru, ya, Kecil. Jangan cepat gede, nanti nggak seru lagi.\u201d Entah mengapa, omongan Keenan yang setengah ber- canda itu malah membuat Kugy terharu. \u201cMakasih. Selamat tahun baru juga,\u201d ucapnya setelah menelan ludah terlebih dulu. \u201cSaya sebetulnya pingin cerita banyak. Tapi begitu nele- pon, malah bingung. Mungkin nanti aja kalau kita ketemu di Bandung lagi, ya.\u201d Dalam hati, Kugy merasakan sebersit kecewa. Agaknya percakapan telepon ini tidak akan lebih dari dua menit lagi. \u201cOleh-oleh buatku\u2014nggak lupa, kan?\u201d \u201cKaus barong?\u201d gurau Keenan, yang langsung disahut ge- lak tawa di ujung sana. Sementara itu pikirannya melayang pada satu benda yang hampir tak lepas dari tangannya be- \u00a0berapa hari terakhir ini, yang membuat Pak Wayan dan Banyu geleng-geleng kepala saking seriusnya Keenan mengu- lik benda satu itu, bolak-balik dihaluskan dan disempurnakan setiap hari. \u201cPokoknya kamu utang Pemadam Kelaparan kalau sampai nanti cuma bawain kaus barong, atau sarung pantai, atau miniatur papan\u00a0\ue01b\ue01d\ue01a\ue024\ue017\ue011\u00a0....\u201d \u201cKacang asin?\u201d \u201cSeneng amat sih sama kacang asin.\u201d \u201cSaya bakal bawain itu semua, plus sesuatu yang saya \u00a0bikin. Jadi, kita tetap nge-date ke Pemadam Kelaparan. Gi- mana?\u201d \u201cSetuju,\u201d ujar Kugy berseri-seri. Tak lama kemudian, telepon itu disudahi. Kembali Kugy\u00a0 melirik jam. Dugaannya benar. Telepon dua menit itu kem- \u00a0\u00a0bbearlihteenrtjiaddii. sDaanna.kDemanbaklei mSabnagli WKuakgtyummeenmdabpuaatnkgansaduihrinnyyaa, 75 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 88\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 tertambat dalam ruang dan waktu yang membeku, tempat segala kenangan tentang mereka dikristalkan. Bandu ng, Janu ar i 200 0 ... Tiga orang itu menduduki meja kebangsaan mereka dengan membawa piring masing-masing. Ketiganya juga membawa kisah masing-masing seputar kegiatan mereka selama li- \u00a0buran semester. Eko memulai dengan menceritakan program penyem- \u00a0buhan yang telah dijalani Fuad. \u201cFuad udah ganti mesin, ibarat orang nyawanya diganti baru. Sekarang Fuad bodinya \ue026\ue031\ue023\ue030\ue029 \ue005\ue006\ue008\ue002 \ue035\ue023\ue032\ue02b \ue02b\ue034\ue02b\ue030\ue039\ue023 \ue036\ue026\ue023\ue02a \ue019\ue02b\ue033\ue023\ue03e\ue031\ue033\ue02b\ue004\ue03c \u201cYang dalam bahasa Indonesia artinya adalah ...?\u201d \u201cStatistik mogok Fuad akan menurun dan hidup kalian lebih tenteram,\u201d demikian penutup dari Eko. \ue03b\ue014\ue031\ue033\ue027\ue027\ue027\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue026\ue023\ue030 \ue01a\ue031\ue030\ue02b \ue024\ue027\ue033\ue034\ue031\ue033\ue023\ue02d\ue004 \u201cLu ngapain aja, Gy?\u201d tanya Noni. \u201cGua banyak di rumah. Merenungi nasib.\u201d \u201cNggak ada yang lebih menarik?\u201d Eko melengos. \u201cGua juga lagi bikin ....\u201d Kugy terdiam sejenak, merasa tidak perlu melanjutkan. \u201cGantung amat,\u201d celetuk Noni. \u201cLu ngapain aja, Non?\u201d Kugy balas bertanya, cepat-cepat mengalihkan bola panas itu. \u00a0Wajah Noni seketika cerah seperti disorot lampu, seperti hendak menyampaikan berita spektakuler yang disimpannya sejak tadi. \u201cGua udah cerita dikit ke Eko soal ini, dan dia \u00a0juga setuju kalo rencana ini sangat brilian.\u201d Mata Kugy ikut berbinar. Duduknya menegak. \u201cKayaknya ser\u201cuD, nimihu.l.a.,i\u201dddeensgiasnnyLaaptaernaBsealraakna.ng Masalah,\u201d celetuk Eko. 76 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 89\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cOke. Latar Belakang Masalah. Ehm. Jadi begini,\u201d Noni mulai memaparkan, \u201cselama ini ada ketimpangan di geng kita. Lu punya pacar, gua punya pacar, cuma Keenan doang \u00a0yang jomblo. Dan anak itu kayaknya terlalu antisosial untuk\u00a0 cari pacar sendiri. Jadi ....\u201d Napas Kugy mendadak tertahan. \u201cJadi ... Neng satu ini mau mencoba peruntungannya jadi Mak Comblang,\u201d timpal Eko seraya menyentuh sekilas ujung hidung Noni. \u201cGua punya saudara, sepupu nggak langsung sih, tapi hu- \u00a0bungan kita lumayan deket. Dia lama tinggal di Melbourne. Sekarang ini dia lagi cuti kuliah, pulang ke Indonesia buat magang di perusahaan bokapnya. Dia mau main ke Bandung minggu depan. Pas banget momennya dengan Keenan pu- lang dari Bali,\u201d Noni melanjutkan. Badan Kugy rasanya semakin tidak rileks. \u201cTerus?\u201d tanya- nya. \u201cTerus ... ya, mereka berdua mau dipertemukan, gitu lho, Jeng Kugy,\u201d Eko menyambar. \u201cMemangnya Keenan mau dicomblangin gitu? Kok gua nggak yakin,\u201d kata Kugy. Ia sungguh tidak bisa memaksakan diri untuk tampak antusias dengan proyek Noni. \u201cJangan ketahuan, dong. Semuanya harus na-tu-ral,\u201d Noni mengeja, \u201cyang tahu percomblangan ini cukup kita ber- tiga doang.\u201d \u201cKalian berdua aja, deh. Gua nggak bakat nyomblangin orang. Statistik kegagalan gua seratus persen,\u201d sahut Kugy\u00a0 malas. Tubuhnya yang tadi tegak kini kembali bersandar ke kursi. \u201cLu kok pesimis gitu, Gy,\u201d tukas Eko. \u201cBayangkan, nanti kita bisa triple-date. Gua dan Noni, lu dan Ojos, Keenan dan\u201c\u2014Wsainapdaa.n\u201d amanya?\u201d 77 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 90\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201c\u2026 dan Wanda. Seru, kan?\u201d \u201cYah, gua hargai optimisme lu. Tapi udahlah, mereka ber- dua ketemu aja belum. Belum tentu nyantol. Nggak usah mengkhayal triple-date\u00a0 dulu,\u201d kata Kugy, hampir tak bisa menutupi nada suaranya yang berubah ketus. \u201cBukannya lu yang selama ini seorang pengkhayal profe- sional? Aneh,\u201d komentar Eko. Noni terkekeh, \u201cKalo cuma soal nyantol, gua yakin me- reka bakal nyantol.\u201d \u201cOh, ya?\u201d Kugy menyahut sangsi. \u201cLihat aja nanti,\u201d Noni tersenyum simpul. Bukan hanya karena pembicaraan di Pemadam Kelaparan tadi siang, sudah beberapa minggu belakangan ini Kugy me- rasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Meski rasanya sudah di ujung lidah, Kugy belum bisa menguraikan apa \u00a0yang sesungguhnya terjadi. Tidak juga pada dirinya sendiri. Ia merasa sudah saatnya bicara dengan seseorang. Kugy ber- harap bisa memperoleh kejelasan dengan setidaknya mem- \u00a0beranikan diri untuk bercerita. Diketuknya pintu Noni yang setengah terbuka, \u201cNon ... lagi sibuk?\u201d Noni tengah berbicara dengan seseorang di ponselnya. Namun, isyarat tangannya menyuruh Kugy untuk masuk. Kugy pun duduk menunggu di sudut tempat tidur. \u201cOke ... weekend\u00a0 depan udah pasti, ya? Perlu dijemput? \u00a0Ya. Nanti aku sama Eko jemput kamu ke hotelmu aja, baru kita jalan bareng. Iya ... nanti ada teman-temanku juga. Oke. \ue01e\ue023\ue02f\ue032\ue023\ue02b \ue02d\ue027\ue035\ue027\ue02f\ue036\ue002 \ue039\ue023\ue000 Take care ... bye!\u201d\u00a0\u00a0 Noni meletakkan pWohnaste\u2019lsnuyap,?\u201d\u201c\u00a0 Sori, Gy. Gua baru teleponan sama Wanda. 78 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 91\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Mendengar nama itu, kembali rasa tidak nyaman me- rambati tubuh Kugy. Ia merasa makin tidak beres. Ditatap- nya Noni yang juga menatapnya dengan tatapan menunggu. Entah kenapa, tiba-tiba Kugy merasa Noni bukanlah orang \u00a0yang tepat untuk diajak bicara masalah ini, tidak dengan adanya proyek percomblangan yang sepertinya betul-betul diseriusi sahabatnya itu. \u201cKenapa, Gy?\u201d Noni bertanya lagi. \u201cNggak. Nggak jadi. Gua lupa mau ngomong apa. He-he. Sori,\u201d Kugy pun bangkit berdiri. \u201cYakin?\u201d Noni mengamati air muka sahabatnya. \u201cHari ini lu banyak gantung, deh.\u201d \u201cMungkin udah saatnya gua bertobat dan banyak berbuat \u00a0baik,\u201d cetus Kugy asal sambil ngeloyor pergi. \u201cDasar gila,\u201d Noni nyengir, lalu menutup pintu kamar- nya. 79 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 92\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 10. KURATOR MUDA Lewat pukul lima, Kugy baru sampai ke tempat kosnya. Ia \u00a0baru saja kembali dari pertemuan Klub Kakak Asuh yang mengundangnya untuk menjadi pengajar sukarela di sebuah sekolah dasar darurat. Sekolah itu akan dinamai \u201cSakola \u00a0Alit\u201d dan akan mengambil tempat di alam terbuka di daerah perbukitan Bojong Koneng. Tepatnya, mereka tak punya dana cukup untuk menyewa bangunan dan terpaksa melak- sanakan kegiatan belajar mengajar di saung-saung ladang atau di bawah pohon. \u201cKamu nggak percaya kan di kota secanggih Bandung ini masih ada anak-anak yang nggak bisa baca tulis, padahal umur mereka sudah sembilan-sepuluh tahun?\u201d kata Ami pada Kugy di pertemuan tadi. \u201cJadi, kita harus mulai dari mana?\u201d Kugy bertanya. \u201cKita akan bagi tiap kelas sesuai kemampuan mereka masing-masing. Kelas paling dasar hanya akan belajar mem- \u00a0baca, menghitung, dan menggambar. Persis pelajaran anak\u00a0 lTaKi .eTmappaitdtaalhamunssaatumkpealiasseupmuluurhnytaahbuinsa.\u201dbervariasi, dari mu- 80 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 93\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kugy terdiam mendengar penjelasan itu. Matanya tak le- pas mengamati foto-foto anak-anak yang akan dibina oleh \u00a0Ami dan teman-temannya. \u201cKamu pikirkan dulu aja, Gy. Kita berkomitmen mengajar mereka empat hari seminggu. Jadi lumayan menyita wak- tu.\u201d \u201cBerapa sukarelawan yang sudah terkumpul sekarang?\u201d \u201cDua orang, termasuk aku.\u201d \u201cAnak yang harus diajar?\u201d \u201cDua puluh dua.\u201d Kugy terdiam lagi. \u201cOke, aku kabari dalam minggu ini, \u00a0ya.\u201d Sepanjang perjalanan pulang, Kugy tak bisa menanggalkan \u00a0wajah anak-anak itu dari ingatannya. Perhatiannya baru ter- alih saat ia membuka pintu kamar dan melihat ada setum- puk benda asing di tempat tidur. Kugy menyalakan lampu. \ue019\ue023\ue035\ue023\ue030\ue039\ue023 \ue032\ue036\ue030 \ue035\ue027\ue033\ue024\ue027\ue02e\ue023\ue02e\ue023\ue02d\ue004 \ue03b\ue01a\ue031\ue031\ue031\ue030\ue000\ue03c \ue02d\ue031\ue030\ue035\ue023\ue030 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue024\ue027\ue033\ue035\ue027\ue033\ue02b\ue023\ue02d\ue004 Terdengar ada suara yang menyahut dari kamar sebelah. Tak lama, Noni muncul di pintu. \u201cKeenan ke sini?\u201d tanya Kugy segera. \u201cIya, tadi dia mampir sama Eko, cari lu, tapi nggak ada. Dia titip oleh-oleh, tuh. Udah lihat, ya?\u201d Kugy mengangguk, menatap kaus putih bergambar barong dan sarung hitam bercorak yang terlipat rapi. Di atasnya tergeletak papan\u00a0\ue01b\ue01d\ue01a\ue024\ue017\ue011 mini dan sekotak kacang asin. \u201cNanti malam gua sama Eko janjian mau ke tempat kos- nya. Mau ikut, nggak?\u201d \ue03b\ue019\ue023\ue036\ue000 \ue019\ue023\ue036\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02f\ue027\ue030\ue02c\ue023\ue038\ue023\ue024 \ue034\ue027\ue035\ue027\ue030\ue029\ue023\ue02a \ue024\ue027\ue033\ue034\ue027\ue033\ue036\ue004 \ue01f\ue023\ue02d \ue034\ue023\ue030\ue029\ue003 gup menyembunyikan kegembiraan yang membeludak. Ketika Noni sudah keluar, Kugy membuka laci meja \u00a0belajarnya. Sekadar mengecek buku buatan tangannya yang ksainbiasrurdaashanryaammpuennga.nStiesmuaaltaumsedraastaanmg.erekah di hatinya. Tak\u00a0 81 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 94\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cUdah siap, Gy?\u201d Noni melongok ke kamar Kugy dan sedikit terperanjat, \u201ctumben lu agak cakepan.\u201d \u201cNggak ... biasa aja, kok.\u201d Gugup, Kugy merapikan baju terusan hitam selututnya. Baju terbaik yang pernah ia miliki dan tak pernah keluar lemari saking istimewanya. Tahu- tahu, Kugy menyambar jaket jins Karel dan buru-buru me- ngenakannya. \u201cYaaah ... rusak lagi, deh,\u201d Eko tertawa, \u201ctapi lebih sesuai \ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue03e\ue035\ue033\ue023\ue02a \ue02e\ue036\ue002 \ue013\ue039\ue004\ue03c Tiba-tiba sesosok perempuan tak dikenal muncul di balik\u00a0 punggung Eko dan Noni. Tubuh semampai itu melangkah anggun dalam jins ketat dan tank-top. Sepatu wedge\u00a0yang tebal dan trendi tampak serasi dengan tas kecil yang ia pe- gang. Rambut panjang itu tampak tertata rapi seperti baru keluar dari salon. Semilir parfum \u00a0 \ue025\ue018\ue01a\ue00b\ue015\u00a0\u00a0 tercium di udara tiap kali perempuan itu bergerak. Dan semua itu membuat Kugy terpaku. \u201cGy, kenalin. Ini sepupu gua, Wanda,\u201d Noni berkata. \u201cWanda,\u201d ia mengulang namanya dengan nada merdu \u00a0bak resepsionis kantor. Kugy menerima uluran tangan Wanda. Tampak barisan kuku terlapis cat biru metalik yang berkilau tertimpa sinar lampu. Kugy pun menyadari, bola mata Wanda dilapisi lensa kontak biru yang serasi dengan warna kukunya. Setiap inci penampilan Wanda seperti direncanakan dengan matang. Satu hal yang rasanya mustahil dilakukan Kugy. \u201cNon, shall we?\u201d\u00a0 Wanda memutar tubuhnya menghadap Noni. \u201cGua nyusul bentar lagi. Kalian duluan aja ke depan,\u201d kuajanr tKuubguyh. nDyaankkeettiekma ptiagta toirdaunrg. Piteurpaesargain, nKyuagycammepnugremadpuaks-. 82 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 95\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0Ada kegelisahan yang nyaris tak bisa ia tahankan. Segala sesuatu tentang Wanda, rencana Noni, dan aneka kemung- kinan yang bisa terjadi malam ini, seperti melumpuhkan sistemnya. Dan Kugy akhirnya memutuskan sesuatu. Ia berlari ke depan, menemui teman-temannya yang su- dah menunggu di mobil, membuat alasan palsu yang mem- \u00a0batalkan kepergiannya ke tempat kos Keenan. Sebagai ganti, Kugy meringkuk di tempat tidurnya semalaman. Dari dalam kamar, Keenan sudah bisa mendengar Fuad me- nepi. Tak lama, ia mendengar langkah-langkah kaki men- dekati kamarnya. Keenan pun segera berdiri, membuka pintu. Sejenak ia menyadari detak jantungnya yang sedikit \u00a0bertambah cepat, seolah mengantisipasi sesuatu. Pintu terbuka. Tampak Noni dan Eko nyengir selebar- lebarnya. \u201cSi Kecil mana?\u201d tanya Keenan langsung. Terdengar suara hak sepatu beradu dengan ubin dari ke- \u00a0jauhan, menuju arah mereka. \u201cSorry, guys. I just dropped my contact.\u00a0Untung ketemu lagi ....\u201d Keenan terheran-heran melihat seorang cewek tinggi tak\u00a0 dikenal berjalan ke arah mereka dengan mata berkedip- kedip seperti orang kelilipan. Ia ganti menatap Noni dan Eko, meminta penjelasan. \u201cNan, ini Wanda. Sepupu gua dari Melbourne. Kamu per- nah dengar Galeri Warsita di Menteng, nggak? Nah, ayah \u00a0Wanda itu pemiliknya. Wanda senang lukisan juga. Dia po- koknya ngerti banget soal yang seni-seni gitu. Gua bilang \u00a0juga ke dia kalo lu hobi melukis. Wanda ceritanya lagi thuuknatninggo\u00a0lbuaktissaendadnigBparnodmuonsgi,. lho,\u201d Noni menyerocos seperti 83 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 96\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Dengan gestur agak kaku, Keenan berkenalan dengan \u00a0Wanda. Sementara di belakang punggung Wanda, Eko men- delik-delik penuh maksud, meminta diundang masuk. \u201cOh, sori. Masuk, yuk ...,\u201d gelagapan Keenan menyilakan sambil membuka pintunya lebar. \u201cMaaf agak berantakan, ya. Belum sempat beres-beres setelah pulang dari Bali ....\u201d Tanpa menunggu penjelasan Keenan selesai, Wanda lang- sung menerobos masuk. Matanya sudah terkunci pada lukisan-lukisan yang menyebar di seluruh penjuru ruangan itu. Bak seorang kurator profesional, ia menelaah lukisan demi lukisan dengan teliti. Perhatiannya begitu terpusat seolah yang lain sudah melesak ke perut Bumi dan tinggal ia sendiri bersama lukisan-lukisan Keenan. Dengan bingung Keenan memandangi kegiatan Wanda \u00a0yang menekuni lukisannya seperti hendak menelanjangi. Se- mentara dilihatnya Eko dan Noni mesem-mesem di pojok\u00a0 kamar. Keenan merasakan banyak tanda tanya di udara ma- lam ini. \u201cKamu sudah pernah pameran?\u201d tanya Wanda pada Keenan, sementara matanya terus terpaku pada lukisan. \u201cBelum ....\u201d \u201cLukisan kamu sudah pernah masuk galeri?\u201d \u201cBelum ....\u201d Keenan menggeleng lagi. \u201cSaya melukis hanya karena hobi aja, masih iseng-iseng.\u201d \u201cAh. Such a shame,\u201d\u00a0 Wanda tersenyum tipis, \u201ckamu sa- ngat, sangat berbakat.\u201d \u201cOh, ya?\u201d Alis Keenan mengangkat. \u201cMenurut kamu\u2014 lukisan-lukisan ini cukup layak masuk galeri?\u201d \u201cLayak?\u201d kali ini Wanda mendongak menatap Keenan, tergelak halus, \u201charusnya kamu cari nafkah dari melukis.\u201d \u00a0Air muka Keenan berubah seketika. Ia mulai melangkah gmuehn.dekati Wanda dan menyimak ucapannya sungguh-sung- 84 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 97\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cKamu pelukis potret yang sangat bagus. Semua objek\u00a0 kamu hidup, mendetail, guratan dan garis kamu tegas, akurat. Dan uniknya, kamu menggabungkan lukisan potret dengan abstrak dalam satu\u00a0frame.\u00a0Abstrak kamu juga sangat kuat. Biasanya, pelukis hanya kuat di salah satu, tapi kamu kuat di keduanya. \u00a0Impressive,\u201d tutur Wanda dengan decak\u00a0 kagum. Keenan menelan ludah. Baru kali itu seseorang mengo- mentari lukisannya dengan sangat serius. Kunjungan ini mendadak menjadi menarik. Malam itu, Noni dan Eko terpaksa menggantungkan na- sib perut mereka pada Mas-Mas pengantar pizza. Wanda dan Keenan mengobrol soal dunia lukisan dengan asyiknya hingga tak menggubris desakan Noni dan Eko untuk makan malam di luar. Sambil menyuap potongan pizza ke mulut, Noni men- \u00a0julurkan sebelah tangannya diam-diam, mengajak Eko ber- salaman. Misi mereka berhasil. Sejak tadi, Kugy tetap terjaga di kamar. Berbagai kegiatan sudah ia lakukan untuk mendistraksi, tapi pikirannya tetap terikut dengan Fuad, menuju tempat kos Keenan, dan men- ciptakan seribu satu skenario tentang apa gerangan yang terjadi malam ini. Tidak mungkin ada cowok normal yang tidak tertarik dengan Wanda ... tapi Keenan mungkin beda, dia melihat kualitas yang lain ... tapi cowok tetap saja co- wok ... tapi mungkin Wanda membosankan, nggak seru, dan nggak nyambung ... tapi kalau secantik itu, siapa lagi yang peduli soal seru dan nyambung ... \u00a0dan benak Kugy\u00a0 punSataakt pbienrthueknatimbaerrcseelboetleahh.nya kedengaran membuka, me- 85 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 98\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 lonjaklah Kugy dari tempat tidur. Berdiri di dekat pintu ka- marnya dengan lagak malas-malasan. \u201cBelum tidur, Gy? Tadi katanya banyak kerjaan, terus sakit perut, terus mau tidur cepat,\u201d kata Noni sambil melirik\u00a0 Kugy yang bersandar di dinding sambil menguap-nguap dan garuk-garuk kepala. \u201cBaru mau tidur, nih. Tadi nulis dulu,\u201d Kugy menguap lagi, \u201cgimana debut Mak Comblang kita? Sukses?\u201d \u201cDari skala 1-100, nilai gua 95. Yang 5 sisanya hanya un- tuk jaga-jaga siapa tahu Keenan atau Wanda mendadak\u00a0 amnesia,\u201d cetus Noni mantap. Kugy terkekeh, \u201cOptimis banget sih ente. Emangnya Keenan mau sama tipe cewek Barbie kayak Wanda gitu?\u201d \u201cKugy\u00a0 darling, Wanda itu kurator muda. Bokapnya yang punya Galeri Warsita di Menteng,\u201d jelas Noni dengan senyum kemenangan, \u201cawalnya memang si Keenan kayak sedikit alergi, tapi begitu Wanda mulai ngomentarin lukisannya ... \ue026\ue02b\ue023 \ue024\ue027\ue033\ue036\ue024\ue023\ue02a \ue02d\ue023\ue039\ue023\ue02d \ue031\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue026\ue02b\ue034\ue02b\ue033\ue027\ue032\ue000 \ue01e\ue023\ue02d\ue02b\ue030\ue029 \ue02e\ue036\ue032\ue023\ue026\ue023\ue033\ue023\ue035\ue023\ue030\ue030\ue039\ue023 \ue02f\ue027\ue003 reka berdua ngobrol, yang ada kita batal makan ke luar, cuma order pizza, dan gua sama Eko akhirnya minggat ke \u00a0warnet. Gila, kita dianggurin kayak tembok.\u201d Kugy ikut tertawa. Namun, terasa tawar dan sumbang. Lidahnya seperti kelu untuk memberikan tanggapan apa pun. Akhirnya ia memilih permisi tidur. \u00a0Ada sesuatu yang remuk di hati Kugy, dan pecahan-pe- cahannya seolah menyebar ke seluruh tubuh, membuatnya meringkuk memeluk guling menahan pedih. Dan segala ke- resahan dan kebingungannya selama ini juga ikut memun- cak, meledak, hingga kesedihan itu tak tertanggungkan lagi. Butir demi butir air mata pun mulai melelehi pipinya. Sejenak Kugy mengangkat mukanya, melirik buku do- nmgeennggerbnuyaitta. nMneynadyaadnagkkiianmi teerragsealebtaokdodhi .mBeujkau. Iiatulatnagmsupnakg\u00a0 86 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 99\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0buruk. Dan Kugy pun membenamkan mukanya kembali ke dalam guling. Jengah melihat hasil karyanya sendiri. Dalam benaman guling itu, untuk pertama kalinya Kugy\u00a0 menyadari ... ia telah jatuh cinta pada Keenan. Pagi itu, Kugy bangun dengan mata sembap. Terpaksa ia membungkus es batu dalam sapu tangan lalu mengompres- kannya ke mata. Dengan satu mata yang terbuka, ia mem- \u00a0buka catatannya lalu memencet sederet nomor di ponsel- nya. \u201cAmi? Hai, ini Kugy. Aku udah memutuskan ... iya ... aku mau jadi pengajar di Sakola Alit. Mulai secepatnya bisa? Iya ... aku siap, kok.\u201d Setelah pembicaraan itu selesai, Kugy mengembuskan napas lega. Ia harus berbuat sesuatu. Ia harus mencari ke- sibukan. Ia ingin melupakan pedih itu, apa pun caranya. Dan tawaran Ami mendadak menjadi tiket keluar yang pa- ling baik. Ia lalu teringat sesuatu. Sebuah benda buatannya yang sudah terbungkus rapi dengan kertas kado. Kugy mengam- \u00a0bilnya dari dalam laci. Membuka lemari pakaiannya yang \u00a0bergabung dengan beberapa dus kecil berisi barang-barang \u00a0bekas. Kugy membuka salah satu dus lalu menjebloskan ben- da itu di sana. Belum cukup puas, dibenamkannya lagi dus kecil itu di dalam tumpukan benda lain. Sementara ini, Kugy\u00a0 ingin sekali melupakan benda itu. Perasaan itu. 87 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 100\/457"]
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184
- 185
- 186
- 187
- 188
- 189
- 190
- 191
- 192
- 193
- 194
- 195
- 196
- 197
- 198
- 199
- 200
- 201
- 202
- 203
- 204
- 205
- 206
- 207
- 208
- 209
- 210
- 211
- 212
- 213
- 214
- 215
- 216
- 217
- 218
- 219
- 220
- 221
- 222
- 223
- 224
- 225
- 226
- 227
- 228
- 229
- 230
- 231
- 232
- 233
- 234
- 235
- 236
- 237
- 238
- 239
- 240
- 241
- 242
- 243
- 244
- 245
- 246
- 247
- 248
- 249
- 250
- 251
- 252
- 253
- 254
- 255
- 256
- 257
- 258
- 259
- 260
- 261
- 262
- 263
- 264
- 265
- 266
- 267
- 268
- 269
- 270
- 271
- 272
- 273
- 274
- 275
- 276
- 277
- 278
- 279
- 280
- 281
- 282
- 283
- 284
- 285
- 286
- 287
- 288
- 289
- 290
- 291
- 292
- 293
- 294
- 295
- 296
- 297
- 298
- 299
- 300
- 301
- 302
- 303
- 304
- 305
- 306
- 307
- 308
- 309
- 310
- 311
- 312
- 313
- 314
- 315
- 316
- 317
- 318
- 319
- 320
- 321
- 322
- 323
- 324
- 325
- 326
- 327
- 328
- 329
- 330
- 331
- 332
- 333
- 334
- 335
- 336
- 337
- 338
- 339
- 340
- 341
- 342
- 343
- 344
- 345
- 346
- 347
- 348
- 349
- 350
- 351
- 352
- 353
- 354
- 355
- 356
- 357
- 358
- 359
- 360
- 361
- 362
- 363
- 364
- 365
- 366
- 367
- 368
- 369
- 370
- 371
- 372
- 373
- 374
- 375
- 376
- 377
- 378
- 379
- 380
- 381
- 382
- 383
- 384
- 385
- 386
- 387
- 388
- 389
- 390
- 391
- 392
- 393
- 394
- 395
- 396
- 397
- 398
- 399
- 400
- 401
- 402
- 403
- 404
- 405
- 406
- 407
- 408
- 409
- 410
- 411
- 412
- 413
- 414
- 415
- 416
- 417
- 418
- 419
- 420
- 421
- 422
- 423
- 424
- 425
- 426
- 427
- 428
- 429
- 430
- 431
- 432
- 433
- 434
- 435
- 436
- 437
- 438
- 439
- 440
- 441
- 442
- 443
- 444
- 445
- 446
- 447
- 448
- 449
- 450
- 451
- 452
- 453
- 454
- 455
- 456
- 457