["\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 monyong, ya? Dasar cowok-cowok sekarang. Bikin susah aja. Kok bukan si Keenan yang nembak duluan, coba? Emang dia makhluk aneh sih, kayak elu. Nggak bisa ditebak maunya apa. Terus ....\u201d Noni mengambil napas, mengatur antara tawa dan kata-kata yang berbalapan di mulutnya. Sementara itu mulut Kugy seperti memahit. Jantungnya terasa berdebar lebih kencang menunggu kelanjutan cerita Noni. \u201cTerus, habis ditembak gitu, Keenan ngomong gini ke \u00a0Wanda: \u2018nggak mungkin saya nggak suka sama kamu.\u2019 Ya \ue02b\ue039\ue023\ue02e\ue023\ue023\ue02a\ue000 \ue018\ue036\ue025\ue036 \ue024\ue023\ue030\ue029\ue027\ue035 \ue026\ue027\ue02a \ue034\ue02b \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030\ue004 \ue013\ue027\ue02e\ue02b \ue029\ue036\ue023 \ue026\ue027\ue030\ue029\ue027\ue033\ue030\ue039\ue023\ue004 Terus, mereka pulang ke hotelnya Wanda. Oh my God\u00a0\u00a0 ... gila, ini romantis banget ....\u201d Noni menempelkan kedua ta- ngannya di pipi, \u201cDi dekat perapian, Gy ... nggak ada siapa- \ue034\ue02b\ue023\ue032\ue023 \ue02e\ue023\ue029\ue02b \ue004\ue004\ue004 \ue025\ue036\ue02f\ue023 \ue02f\ue027\ue033\ue027\ue02d\ue023 \ue024\ue027\ue033\ue026\ue036\ue023 \ue004\ue004\ue004 \ue026\ue036\ue02a\ue002 \ue011\ue02d\ue031 \ue032\ue023\ue039\ue023\ue02a\ue002 \ue030\ue02b\ue02a\ue000 Nggak pernah ngajak gua ke tempat kayak gitu. Yang ada \ue01c\ue027\ue02f\ue023\ue026\ue023\ue02f \ue017\ue027\ue02e\ue023\ue032\ue023\ue033\ue023\ue023\ue023\ue030 \ue03d\ue02f\ue036\ue02e\ue036\ue000\ue03c \u201cTerus, Non?\u201d desak Kugy, mulai tak sabar. \ue03b\ue019\ue027\ue033\ue027\ue02d\ue023 \ue02c\ue023\ue026\ue02b\ue023\ue030\ue002\ue03c \ue02d\ue023\ue035\ue023 \ue01a\ue031\ue030\ue02b \ue024\ue027\ue033\ue034\ue027\ue033\ue02b\ue003\ue034\ue027\ue033\ue02b\ue004 \ue03b\ue01f\ue023\ue003\ue026\ue023\ue023\ue023\ue023\ue000 \ue01c\ue033\ue031\ue003 \u00a0\ue039\ue027\ue02d \ue024\ue027\ue033\ue02a\ue023\ue034\ue02b\ue02e\ue000 \ue00f\ue023\ue030\ue029\ue029\ue02b\ue02a \ue024\ue023\ue030\ue029\ue027\ue035 \ue029\ue036\ue023 \ue02c\ue023\ue026\ue02b \ue019\ue023\ue02d \ue00f\ue031\ue02f\ue024\ue02e\ue023\ue030\ue029\ue000\ue03c \ue02b\ue023 lalu menari-nari kecil. Kugy merasa sebagian dari dirinya menguap. Hampa. \u201cTerus?\u201d tanyanya lagi. \u201cGy, lu kok nggak kasih selamat atau apa gitu ke gua?\u201d Noni bertanya heran melihat reaksi Kugy yang dingin. \u201cCongrats, \u00a0 Mak Comblang Milenium. Terus, apa lagi ceritanya?\u201d \u201cLu bayangin aja sendiri. Di tempat yang segitu romantis, pakai perapian segala, cuma berdua, lagi jatuh cinta. Nga- pain lagi gua tanya-tanya?\u201d ujar Noni sewot. \u201cLu kok nggak\u00a0 antusias, sih? Ini kan proyek kita bersama.\u201d EkoK.uTgaypmi aepnaggpeulennygankegctiel.rj\u201caSdeiingguaat igkuuat,sietunapnrgo,y\u201detkutluurdnayna 138 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 151\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 ringkas. \u201cGua masuk duluan, ya. Capek banget. \u00a0Nite, nite.\u201d\u00a0 Tanpa menunggu reaksi lebih panjang lagi dari Noni, Kugy\u00a0 langsung melangkah masuk ke kamarnya. Menutup pintu. Bahkan untuk menyalakan lampu saja, Kugy tak punya daya. Dalam gelap, ia berdiri mematung. Terlintas jelas di kepalanya sore hari di Galeri Warsita, saat Keenan dan ia sama-sama memandangi Wanda dari kejauhan, dan ter- dengar jelas di kupingnya waktu itu, apa yang diucapkan Keenan .... Kugy menggeleng, barangkali waktu itu ia salah menangkap, atau ia salah berharap ... melintas jelas di kepalanya siang hari di bawah pohon beringin dekat ladang cabe, saat Keenan berkata bahwa ia kehilangan dirinya, Kugy takkan lupa cara Keenan menatapnya .... Kugy pun menggeleng, barangkali waktu itu ia salah melihat, atau lagi- lagi salah berharap. Dan terlintaslah petang di pintu gerbang, saat ia mendapatkan dirinya dipeluk, degup jantung \u00a0yang terasa berdenyut bersama .... Kugy pun menggeleng, \u00a0barangkali waktu itu ia salah. Selama ini ia salah. Terakhir, ingatannya berlabuh pada bisikan Keenan yang ia simpan, yang ia kenang hampir setiap malam. Tiga kata \u00a0yang selalu menjadi penyejuk bagi hatinya. \u00a0Bulan, per- \u00a0jalanan, kita. Kugy menggeleng lagi. Bulan yang sama ada di angkasa malam ini. Namun, rasanya lain sekali. Mem- \u00a0bayangkannya saja terasa begitu pedih di mata. Kugy meng- usap matanya yang basah. Sekali. Dua kali. Dan berapa kali pun ia mengusap, air mata itu tak kunjung berhenti menga- lir. Jakar ta, Juli 200 0 ... \u00a0LWaaynadr apsoenksoenlnyyoangy-aknognyboenrgwcaernraahtbibaag-atiibma amtaehnayrai lsai.anWgabjaoh- 139 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 152\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 long. Sigap, ditutupnya pintu kamarnya yang tadi setengah membuka. Ia ingin menikmati telepon itu tanpa diganggu. \u201cHai, Sayang. Kamu lagi ngapain?\u00a0 I miss you already. \u00a0Aku lagi bengong di kamar. Kamu ke sini, dong,\u201d Wanda tertawa ringan, \u201c\u00a0just kidding, Sweetie. \u00a0 Kamu harus rajin melukis di Bandung. Karena, bentar lagi aku mau atur su- paya kamu bisa pameran.\u201d Di ujung sana, Keenan pun tertawa. \u201cJustru karena itu saya telepon kamu sekarang.\u201d Tawa Wanda pudar. \u201cJadi, kamu telepon aku untuk\u00a0 urusan bisnis doang?\u201d Keenan kontan nyengir. \u201cJangan sensitif gitu, dong. Kata- nya profesional.\u201d \u201cYa, udah. Mau ngomongin apa?\u201d tanya Wanda ketus. \u201cSaya kepikir apa yang pernah kamu bilang, bahwa di lukisan saya yang terbaru ada karakter yang berbeda dengan lukisan saya yang lain. Saya juga ngerasa gitu. Saya cuma mau minta pendapat kamu aja, kalau saya bikin lukisan serial dengan tema yang sama, gimana?\u201d \u201cIde bagus,\u201d komentar Wanda pendek. \u201cSejak tahu lukisan saya laku, perspektif saya benar- \u00a0benar berubah. Saya merasa makin yakin untuk mengambil \u00a0jalan ini.\u201d Duduk Wanda menegak, \u201cJalan apa maksud kamu?\u201d \u201cSaya cuma mau melukis. Mungkin sudah saatnya saya mempertimbangkan untuk benar-benar mandiri. Selesai se- mester ini saya akan coba bicara sama Papa untuk nggak\u00a0 usah meneruskan kuliah.\u201d \u201cKamu tahu apa artinya itu, kan, Nan?\u201d ujar Wanda de- ngan penekanan, \u201cKamu akan menggantungkan diri se- penuhnya ke penjualan lukisan kamu. Kamu nggak bisa ma\u201cinS-amyaaimn.e\u201dmang nggak main-main,\u201d tegas Keenan. 140 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 153\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cDan aku juga nggak main-main soal pameran. Kamu harus siapkan dua puluhan lukisan, tiga puluh lebih bagus,\u201d sambung Wanda. Bayangan akan pameran membuat darah Keenan ter- pompa adrenalin. Semangatnya memuncak. \u201cOke, siap,\u201d \u00a0jawabnya mantap. \u201cAku kasih kamu waktu enam bulan. Demi kamu, aku mau panjangin cuti kuliahku satu semester lagi.\u201d Terdengar napas panjang Keenan mengembus. \u201cWanda, kamu udah banyak banget bantuin saya ... kadang-kadang, saya ngerasa nggak enak ....\u201d \u201cNan, this is how I am,\u201d\u00a0 potong Wanda, \u201ckalo aku sayang dan yakin sama seseorang, aku nggak akan tanggung-tang- gung. Kamu nggak perlu merasa nggak enak. Aku nggak\u00a0 minta apa-apa, \u00a0just ... love me. Okay?\u201d\u00a0 Terdengar sunyi di ujung sana. \u201cNan?\u201d panggil Wanda. \u201cKamu mau ngomong sesuatu ... atau ... speechless?\u201d\u00a0 \u201cSori, saya beneran nggak tahu mau ngomong apa,\u201d ja- \u00a0wab Keenan akhirnya. \u201cNggak pa-pa. Lama-lama aku biasa, kok. Mungkin kamu ekspresifnya hanya di depan kanvas. Tapi nggak di depan aku,\u201d Wanda berkata, separuh menyindir. Sunyi lagi di ujung sana. \u00a0Wanda melengos. \u201cYa udah, kayaknya aku malah bikin kamu nggak nyaman. Kita ngomongin yang lain aja kalo gitu.\u201d Tanpa menunggu terlalu lama, pembicaraan mereka lan- car lagi seperti aliran sungai. Dan walau akhirnya per- cakapan telepon itu ditutup dengan manis, Wanda sedikit gondok. Ia mulai terganggu dengan sikap Keenan yang se- olah jengah setiap kali percakapan mereka mulai menying- agduangdsaolaaml pderaaftsaaranta. bSueoKlaehe-noalnah. Dkaatrai p\u2018\u2018ceirntatam\u2019\u2019adaknali\u2018\u2018smayearnekga\u2019\u2019 141 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 154\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 dekat hingga resmi jadian pun, belum pernah satu kali pun Keenan mengungkapkan perasaannya secara terbuka. Ponsel Wanda berdering lagi. \u201cYa, Virna? What\u2019s up? Hmm. Sori, gue emang lagi bete. What?\u00a0 Duh, lo bikin gue tambah bete, deh ....\u201d \u201cSori banget, ya,\u201d sahut Virna, \u201cgue bener-bener nggak\u00a0 ada tempat buat nyimpan lukisan itu. Sebetulnya Pasha juga sama. Dia nggak enak aja sama lo. Jadi kita berdua sama- sama nggak bisa nampung, Say.\u201d \u00a0Wanda berdecak kesal. \u201cCuma nitip gitu aja masa nggak\u00a0 \u00a0bisa, sih? Lo taro di kamar tidur lo, kek. Gantung di kamar mandi, kek.\u201d \u201cLo pikir itu poster ukuran A3? Lagian dinding rumah gue itu dikuasai nyokap gue. Dia nggak demen lukisan mo- dern. Tahu sendiri seleranya kayak apa, lukisan kudalah ... ikan koi ... nenek-kakek gue ...,\u201d Virna membela diri, \u201cdi tempat lo masa nggak ada space? Rumah lo kan segede-gede apaan tauk.\u201d \u201cBukan gitu. Masalahnya\u2014\u201d Wanda cepat-cepat menelan kembali kata-katanya. Perihal ini cukup dia sendiri yang tahu. \u201cYa udah. \u00a0It\u2019s okay. \u00a0 Besok gue suruh orang untuk\u00a0 ambil lagi, deh. Sekalian lukisan yang ada di Pasha.\u201d Selepas telepon dari Virna usai, Wanda berkeliling rumah- Dnyaan speenndciarri.iaMnneynacapruin\u2018\u2018tbeemrapkahtirpedriskeammbaurnnyyiaanse\u2019\u2019nydairnig: kaomloanng. tempat tidur. Di saung tempat Ami mengajar, ketiganya berkumpul. Ami \u00a0bkaabhkaarnyasnepgesrutidianhgiina msimenpaanngissekjaektiktaadhie. ndak menyampaikan 142 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 155\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cKugy, Ical ... Sakola Alit akhirnya diloloskan untuk ikut perlombaan antar-SD se-Kecamatan.\u201d Kugy dan Ical langsung melonjak kegirangan. Ical bahkan sampai berlari mengelilingi saung sambil bersorak-sorai. Kugy pun tak kalah, ikutan di belakangnya. \u201cAku tahu, kita diizinkan ikut karena mereka simpati, atau kasihan, atau karena mereka juga yakin kita nggak ba- kal menang,\u201d Ami terkekeh, \u201caku nggak ambil pusing. Ini \u00a0bukan soal kalah dan menang. Tapi ketika anak-anak Alit \u00a0bisa partisipasi dan ketemu dengan peserta dari sekolah lain, pasti semangat mereka terpacu lagi untuk serius se- kolah. Ini akan menjadi pengalaman yang baru buat mereka. Jadi, kita akan ikut lomba baca puisi, lomba menyanyi pu- puh Sunda, dan lomba mengarang. Hari ini kita tentukan siapa-siapa yang ikutan, ya,\u201d lanjut Ami lagi. \ue03b\ue01e\ue02b\ue023\ue032 \ue035\ue027\ue02f\ue032\ue036\ue033\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue024\ue027\ue033\ue034\ue027\ue033\ue036\ue004 \ue03b\ue018\ue031\ue02f\ue024\ue023\ue030\ue039\ue023 \ue02d\ue023\ue032\ue023\ue030 \ue026\ue023\ue030 \ue026\ue02b mana, Mi?\u201d \u201cHari Sabtu minggu depan. Di Taman Lalu Lintas.\u201d \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue024\ue027\ue033\ue035\ue027\ue032\ue036\ue02d\ue003\ue035\ue027\ue032\ue036\ue02d \ue035\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue034\ue023\ue02d\ue02b\ue030\ue029 \ue029\ue027\ue02f\ue024\ue02b\ue033\ue023\ue030\ue039\ue023\ue002 \ue03b\ue00d\ue034\ue039\ue02b\ue02b\ue02b\ue02d\ue000 Mereka semua pasti senang banget bisa sekalian main di sana.\u201d Beberapa saat kemudian, ekspresi mukanya berubah. Kugy teringat sesuatu. \u201cSebentar ... Sabtu depan?\u201d \u201cIya, Gy. Kenapa?\u201d \u201cAku\u2014ada janji mau ke luar kota.\u201d \u00a0Ami menggigit bibirnya. \u201cWah. Kalau tanpa kamu, kita \u00a0berdua pasti kerepotan. Bukan cuma soal menemani, tapi kalau anak-anak tahu kamu nggak akan ikut, mereka pasti nggak semangat. Kamu tuh panutan mereka, Gy.\u201d Kugy berpikir keras. \u201cKasih waktu sampai Senin, ya. Tapi aku usahakan banget untuk ikut.\u201d \u201cPlease, ya, Gy. Karena hari Senin kita udah harus mulai nyiKapuignyamnaekli-rainkakja,\u201dmkattaanAgamninpyae.nuOhjohsarsaepd.ang dalam per- 143 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 156\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0jalanan ke Bandung. Jika ia memutuskan untuk membatal- kan kepergiannya ke Bali, entah apa yang akan terjadi malam ini. Keenan berdiri memandangi lukisannya sendiri. Lukisan de- ngan objek sebelas anak kecil. Sepuluh sedang berbaris me- lingkar, dan seorang anak dengan topi caping hadir di depan \u00a0barisan sebagai pemimpin. Di bagian belakang kanvas, Keenan menuliskan judul: \u201cJenderal Pilik dan Pasukan \u00a0Alit\u201d. Keenan memperhatikan guratan kuasnya sendiri. Ini bu- kan masalah teknik, pikirnya. Ada sesuatu dalam objek- objek itu yang membuat lukisan yang satu ini mencuat di- \u00a0bandingkan lukisan-lukisannya yang lain. Sesuatu yang meremangkan bulu kuduk. Sesuatu yang membangkitkan gejolak dalam batin siapa pun yang melihatnya. Ia melangkah mundur, mengamati sekali lagi. \u00a0Kehidupan. Keenan akhirnya menyimpulkan dalam hati. Lukisan ini \u00a0begitu berenergi. Ada kehidupan yang dipancarkan dengan sangat kuat dan menyentuh. Matanya lantas tertumbuk pada satu benda di meja \u00a0belajarnya. Buku tulis kumal yang diberikan Kugy beberapa \u00a0bulan yang lalu. Keenan teringat apa yang pernah ia ucap- kan, bahwa buku tulis itu merupakan harta yang harusnya disimpan Kugy sendiri. Tak pernah ia sangka, dirinyalah \u00a0yang menjadi penemu harta karun itu. Kugy telah mewaris- kan sesuatu yang sangat berharga, melebihi perkiraan me- reka berdua. 144 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 157\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 17. TIGA KATA SAJA Film komedi yang ditonton mereka barusan bahkan tak sang- gup membuat tawanya lepas seperti biasa. Sepanjang malam, dari mulai saat perjalanan, makan malam, sampai bubaran \u00a0bioskop, Kugy berada dalam status siaga. Terus meraba-raba momen yang kira-kira tepat untuk menjadi celahnya bicara pada Ojos. \ue03b\ue019\ue024\ue023\ue02d \ue017\ue036\ue029\ue039\ue000\ue03c \ue01f\ue02b\ue024\ue023\ue003\ue035\ue02b\ue024\ue023 \ue035\ue027\ue033\ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue033 \ue034\ue027\ue034\ue027\ue031\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue02f\ue027\ue02f\ue023\ue030\ue029\ue029\ue02b\ue02e\ue003 nya. Kugy menoleh. Mas Itok, agen pengantre tiket langganan- nya Eko, melambaikan tangan dengan tawa lebar. Kugy pun \u00a0balas melambai. \u201cKe mana aja, Mbak? Kok udah nggak pernah nonton midnight\u00a0 rame-rame lagi? Mas Eko seringnya berdua doang sama Mbak Noni.\u201d \u201cKita udah ganti aktivitas, Mas. Sekarang seringnya main gapleh rame-rame,\u201d jawab Kugy asal. \ue03b\ue01e\ue023\ue039\ue023 \ue026\ue02b\ue023\ue02c\ue023\ue02d \ue026\ue031\ue030\ue029\ue002 \ue019\ue024\ue023\ue02d\ue000\ue03c \ue019\ue023\ue034 \ue015\ue035\ue031\ue02d \ue035\ue027\ue033\ue024\ue023\ue02a\ue023\ue02d\ue002 \ue03b\ue017\ue02b\ue033\ue023\ue02b\ue030 gara-gara Mbak Kugy sama Mas Keenan putus, terus pada punya pacar baru, kelompoknya jadi pecah. Ini pacar baru- nya, Mbak?\u201d 145 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 158\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Ojos dan Kugy serentak membeku kaku mendengar omongan Mas Itok yang tanpa tedeng aling-aling itu. \u201cBu- \ue02d\ue023\ue030\ue002 \ue019\ue023\ue034\ue004 \ue015\ue030\ue02b \ue027\ue026\ue02b\ue034\ue02b \ue02e\ue023\ue02f\ue023\ue004 \ue010\ue036\ue02e\ue036\ue023\ue030\ue002 \ue039\ue023\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue024\ue036\ue033\ue036\ue003\ue024\ue036\ue033\ue036 \ue02f\ue027\ue003 nyudahi, lalu menggandeng tangan Ojos pergi dari situ. Sepanjang perjalanan, Ojos memasang muka cemberut. Bungkam seribu bahasa. Saat mobilnya sampai di depan tempat kos Kugy, barulah Ojos bersuara. \u201cAda sesuatu yang \u00a0belum pernah kamu bilang ke aku, dan aku perlu tahu?\u201d tanyanya. \u201cTentang apa?\u201d balas Kugy pelan. Perasaannya mulai ti- dak enak. \u201cGy, Mas Itok itu mungkin orang paling sok tahu se- dunia, tapi aku yakin dia punya alasan sampai bisa bilang \u00a0begitu. Memangnya ada apa antara kamu dan Keenan?\u201d Kugy diam sejenak. \u201cNggak ada apa-apa,\u201d jawabnya pen- dek. Ojos menggeleng. \u201cGue mungkin orang paling cemburuan di dunia, tapi radar gue nggak pernah salah. Udah, deh. Ju- \u00a0jur aja. Lo suka sama dia, kan? Dia juga suka sama lo?\u201d Hati Kugy terasa menciut. Kalau Ojos sudah mulai me- makai \u2018gue-lo\u2019 padanya, berarti anak itu marah betulan. \u201cJos, Keenan udah punya pacar. Aku juga udah punya pacar. Kami berdua cuma sahabatan. Nggak lebih, nggak kurang.\u201d \u201cSuka ya suka aja. Nggak ada urusan punya pacar atau nggak,\u201d tandas Ojos lagi. \u201cAku nggak bisa ikut ke Bali,\u201d tiba-tiba Kugy menceplos. Ia bahkan kaget sendiri begitu kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. \u201cWhat?\u201d\u00a0 Ojos tersentak. \u201cSakola Alit ikut perlombaan antar-SD hari Sabtu depan. Nggak mungkin kalau aku sampai nggak ikut. Aku tahu kamu \u00a0ubednaahrbneglgi atikkebtisdaa. nKiutadalihbusiraapninnysaekmaupaanny-kaa. pTaanpiajaakuyab\u2014e\u201dnar- 146 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 159\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cGue kok nggak yakin yang namanya \u2018kapan-kapan\u2019 itu \u00a0bakal ada,\u201d potong Ojos dengan nada tinggi. Kugy terdiam. Banyak hal berkecamuk di benaknya, tapi lidahnya seperti kelu. Tidak tahu harus bereaksi apa. Terdengar Ojos menghela napas berat. \u201cGue capek jadi nomor kesekian dalam hidup lo. Sejak lo di Bandung, gue ngerasa makin terpinggir. Lo kayak punya dunia sendiri. Kayaknya cuma gue yang usaha buat ngertiin lo, Gy. Cuma gue yang usaha buat kita berdua.\u201d Mata Kugy mulai terasa panas. Dadanya mulai terasa se- sak. \u201cDari pertama kita jadian, gue selalu berusaha ngejar du- nia lo. Tapi lo bukan cuma lari, lo tuh terbang. Dan lo suka lupa, gue masih di Bumi. Kaki gue masih di tanah. Gimana kita bisa terus jalan kalo tempat kita berpijak aja beda,\u201d tu- tur Ojos getir. \u00a0Air mata Kugy mulai merembesi pipi. Satu demi satu. Namun, mulutnya masih belum bisa berkata-kata. \u201cLo suka sama Keenan, Gy? Lo jatuh cinta sama dia?\u201d Linangan air mata di pipi Kugy makin deras. Perlahan, ia menggeleng, \u201cApa pun perasaanku sama Keenan, aku sa- \u00a0yang banget sama kamu ....\u201d \u201cIni memang bukan cuma soal Keenan, tapi prioritas \u00a0hbuanatagaujae,dGi yh.idBuepraenlog.kaStekhaarrainJgu, mkiatat dbeikpiannsesmamuaangyuaes,eadtearu- lo tetap di Bandung. Pilih yang mana?\u201d Ojos bertanya lugas. Namun, nada itu terdengar perih, suara itu bergetar. \u201cTapi ... tapi aku bener-bener nggak bisa berangkat. Sabtunya kan aku harus ... apa kita nggak bisa pergi hari lain\u2014\u201d \u00a0ban\u201c,S\u201degduemrhaamnaO, jkoasnp, aGhyit?. Lagi-lagi gue yang harus berkor- 147 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 160\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kugy terdiam lagi. Hanya terdengar isakan pelan. \u201cPergi dengan gue hari Jumat, atau semuanya selesai sampai di sini,\u201d Ojos menandaskan ulang. \u201cKenapa harus pakai ultimatum begini, sih? Kenapa nggak bisa diundur aja? Ini bukan pilihan, Jos. Ini namanya \ue02f\ue027\ue02f\ue031\ue02c\ue031\ue02d\ue02d\ue023\ue030\ue000\ue03c \ue034\ue027\ue033\ue036 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue032\ue036\ue035\ue036\ue034 \ue023\ue034\ue023\ue004 Ojos menatap pacarnya dalam-dalam, lalu berkata pelan, \u201cKarena kalo lo emang sayang sama gue, sekarang juga lo \u00a0bisa tahu jawabannya. Bahkan dari tadi harusnya lo udah tahu. Pembicaraan ini nggak perlu ada, Gy.\u201d Meski keduanya sama-sama membisu, suasana di dalam mobil itu pengap oleh berbagai macam emosi dan pe- rasaan. \u00a0Akhirnya, Ojos membukakan pintu Kugy. \u201cGue tunggu lo di airport\u00a0 hari Jumat siang. Pesawat kita take-off\u00a0jam tiga. Kalo lo nggak datang, berarti semuanya selesai,\u201d ucapnya lirih. Sebelum keluar dari mobil, Kugy menatap Ojos sekali lagi dengan matanya yang basah. Dalam waktu yang sedemikian singkat, semua kenangan mereka selama hampir tiga tahun terkilas balik. Kugy pun berlari masuk, menerobos kamar- nya. Sesak di dadanya tak tertahankan lagi, dan Kugy me- nangis sepuasnya. Ia sudah tahu apa yang akan ia putuskan. Dan ia menangis untuk perpisahan yang belum terjadi. Namun, akan terjadi. Kedua pasangan itu akhirnya memutuskan untuk meng- habiskan malam Minggu mereka dengan berkumpul bersama di tempat kos Keenan. Dua kotak martabak asin dan manis \u00a0yliannggkasuradnahmhearmekpairdluuddeuski.sNinoynaimdeanngaWmabnildtaemtapmatpadki tseenrgiauhs 148 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 161\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0berdiskusi. Noni berencana untuk merayakan ulang tahun- nya yang ke-20 bulan September depan di rumah Wanda. Rumah di daerah Kebayoran Baru itu punya taman yang luas, cocok dengan konsep garden party\u00a0yang ingin dibuat Noni. Karena acara itu cukup besar, Noni mempersiapkan dari jauh-jauh hari, dibantu oleh Wanda yang terkenal se- \u00a0bagai \u00a0party maker andal. \u00a0Wanda sibuk mencatat ini-itu, lalu menyerahkan catatan- nya pada Noni. \u201cBuset ... lu gape banget, sih,\u201d Noni terkagum-kagum membaca catatan Wanda. \u201cBikin acara beginian doang sih makanan gue sehari-hari. Hampir semua acara di Warsita gue yang koordinasi. Nggak\u00a0 perlu sewa EO,\u201d Wanda tersenyum bangga. \u201cPokoknya kalo lo ada detail tambahan lagi, kabarin aja, nanti gue yang atur.\u201d Sambil memetik gitar dan berselonjor santai, Eko pun ikut berceletuk, \u201cDiam-diam ternyata Wanda punya bakat mandor. Penampilannya juga makin lama makin kayak man- dor.\u201d \u201cExcuse me?\u201d\u00a0 Wanda mendelik, \u201cCoba perjelas, apa yang dimaksud dengan \u2018penampilan mandor\u2019?\u201d Permainan gitar Eko langsung memelan. Tersadar bahwa dirinya baru saja menyenggol dawai Wanda yang paling sen- sitif, yakni masalah penampilan. Namun, mulut jahil Eko tak\u00a0 sanggup diberangus. \u201cMmm ... gua perhatiin, makin hari dandanan lu makin santai, sementara dulu kan lu Miss Matching abis,\u201d Eko cengengesan, \u201ckuku lu udah nggak\u00a0 \u00a0warna-warni, terus sekarang baju lu kayaknya kegedean se- mua\u2014kalo dulu kekecilan, he-he. Kaus gede banget itu lu dapet dari mana, coba?\u201d \u201c\u201cPJaukneytayKaneegntaand.i\u201dlu pake punya siapa?\u201d 149 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 162\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cPunya Keenan.\u201d 163\/457 Noni pun tak dapat menahan tawa kecilnya. \u201cHi-hi ... \u00a0bener banget kata Eko, sebetulnya gua juga udah pingin ko- mentar. Dandanan lu makin mirip Kugy, Wan. Pantes aja, \ue028\ue031\ue033\ue02f\ue036\ue02e\ue023\ue030\ue039\ue023 \ue036\ue026\ue023\ue02a \ue034\ue023\ue02f\ue023\ue004 \ue00e\ue023\ue02c\ue036\ue003\ue024\ue023\ue02c\ue036 \ue026\ue023\ue032\ue027\ue035 \ue02f\ue02b\ue030\ue02c\ue027\ue02f\ue000\ue03c Ekspresi Wanda berubah drastis. Apalagi melihat Eko \u00a0yang langsung terbahak-bahak mendengar celetukan Noni. Melihat itu, Keenan cepat-cepat berusaha menetralisasi, \u201cSe- \u00a0betulnya gua yang minta ke Wanda, kalau di Bandung men- dingan pakai baju yang praktis-praktis aja, kan dingin ....\u201d \ue03b\ue021\ue031\ue02b\ue000 \ue00d\ue026\ue023 \ue032\ue027\ue033\ue024\ue027\ue026\ue023\ue023\ue030 \ue024\ue027\ue034\ue023\ue033 \ue023\ue030\ue035\ue023\ue033\ue023 \ue024\ue027\ue033\ue026\ue023\ue030\ue026\ue023\ue030 \ue032\ue033\ue023\ue02d\ue035\ue02b\ue034 \ue026\ue023\ue030 \u00a0berdandan a la Kugy. Kalo kata gua, dia lebih cocok di kate- gori yang kedua,\u201d Eko ngakak-ngakak lagi. Muka Wanda kontan memerah. Meski ia berusaha ikut tertawa, suasana hatinya rusak berantakan sudah. Sepanjang sisa malam itu, tinggal Keenan yang kena getahnya, semen- tara Eko dan Noni pamit pulang duluan. \ue03b\ue01a\ue039\ue027\ue024\ue027\ue02e\ue02b\ue030 \ue024\ue023\ue030\ue029\ue027\ue035 \ue034\ue02b\ue02a \ue011\ue02d\ue031\ue000 \ue01e\ue031\ue02d \ue030\ue029\ue027\ue033\ue035\ue02b \u00a0fashion.\u00a0Kayak dia aja yang paling bener pakai baju. Noni juga, nyama-nyamain aku sama Kugy. Memangnya aku separah itu?\u201d gerutu \u00a0Wanda panjang lebar. Keenan tak berkomentar dan membiarkan Wanda me- lampiaskan kekesalannya. Ia memilih membuka buku sketsa lalu asyik mencorat-coret. Menjadi pendengar sekaligus tem- pat sampah yang baik. Namun, Wanda seperti tak mau berhenti. \u201cAku cuma se- kali-sekali doang pakai baju kamu. Itu juga kalo memang kepepet. Sementara kalo Kugy itu udah jadi style,\u00a0jadi trade- mark!\u201d cibirnya sewot. \u201cInget nggak waktu Kugy datang ke \u00a0Warsita? Emangnya mungkin aku pakai baju kayak gitu? Idih. Gila aja ....\u201d \u201cNgapain sih masalah gitu doang diributin?\u201d Keenan men- dongak, mukanya menunjukkan bahwa ia mulai terganggu. Sudah hampir sejam topik omelan Wanda tidak berubah. 150 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0Wanda terdiam. Merajuk. \u201cAku cuma sebel aja. Kok, di- \u00a0bandinginnya sama Kugy. Kugy kan ancur banget\u2014\u201d \u201cBuat saya, dia baik-baik aja,\u201d potong Keenan tegas. \u201cBuat saya, kamu juga baik-baik aja. Mau Miss Matching, mau nggak, saya nggak ambil pusing.\u201d \u201cTapi Kugy kan\u2014\u201d \u201cSebenarnya kamu ada apa sih sama Kugy?\u201d Keenan ber- tanya agak keras. \u201cKamu ada apa sama Kugy?\u201d Wanda malah bertanya \u00a0balik. Keenan mengerutkan kening. \u201cAku udah lihat judul lukisan kamu yang baru. \u2018Alit\u2019 itu nama sekolah tempat Kugy ngajar, kan? Kamu terinspirasi gara-gara dia? Hebat banget itu anak sampai dibikinkan lu- kisan segala,\u201d ujar Wanda sinis. Keenan menghela napas, dongkol. \u201cIya, memang saya \u00a0buat lukisan itu dari cerita yang Kugy buat tentang anak- anak di sekolahnya. Terus?\u201d \u201cNan, aku mungkin kolokan, but I\u2019m not stupid\u00a0. \u00a0I\u2019m not blind.\u00a0Aku lihat gimana cara kamu melihat dia. Baju-baju \u00a0yang kamu suruh aku pakai ... dan sekarang lukisan itu. You have feelings for her, don\u2019t you?\u201d \u00a0Wanda bertanya tajam. Kali ini Keenan terdiam. \u201cDon\u2019t you?\u201d cecar Wanda lagi. \u201cWanda, ini mulai konyol. Kamu cuma cemburu ber- lebihan\u2014\u201d \u201cYou\u2019re damn right I am!\u00a0Dan udah selayaknya aku cem- \u00a0buru. Memangnya kamu pikir aku nggak tahu kalo kamu sebenarnya sedang berusaha mengubah aku jadi dia? Well, \u00a0I tell you this: you will fail! \u00a0 Karena aku bukan dia, dan \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue023\ue02d\ue023\ue030 \ue032\ue027\ue033\ue030\ue023\ue02a \ue02f\ue023\ue036 \ue02c\ue023\ue026\ue02b \ue026\ue02b\ue023\ue000\ue03c \ue021\ue023\ue030\ue026\ue023 \ue02f\ue027\ue030\ue023\ue030\ue026\ue023\ue034\ue02d\ue023\ue030\ue004 DadKaeneynaantumruennantaaipk Wsaaknindga elammoas.in\u201cWyaa. nda, kamu bebas per- 151 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 164\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 caya apa pun yang kamu mau. Saya nggak bisa mengubah anggapan kamu. Hanya kamu sendiri yang bisa. Kalau kamu merasa begitu soal saya dan Kugy, saya terima. Saya nggak\u00a0 \u00a0bisa bikin kamu yakin sama saya. Hanya kamu sendiri yang \u00a0bisa,\u201d ucapnya datar. \u201cBullshit,\u201d\u00a0desis Wanda. \u201cMau saya antar pulang?\u201d Keenan bangkit berdiri. \u00a0Wanda menepis tangan Keenan yang mencoba menggamit \u00a0bahunya. \u201cAda yang bisa kamu lakukan supaya aku yakin,\u201d \u00a0Wanda lantas menentang mata Keenan lurus-lurus, \u201clihat ke mataku, and say that you love me.\u201d\u00a0 Keenan tampak terkejut mendengar tantangan Wanda. Namun, kedua mata mereka telanjur beradu, dan tak bisa lagi Keenan menghindar. \u201cIt\u2019s so simple, Nan.\u00a0Aku hanya mau dengar kamu bilang tiga kata itu,\u201d bisik Wanda. Jarak mereka hanya terpaut se- kian senti. Sorot matanya memburu Keenan ke dasar hatinya \u00a0yang terdalam. Mulut Keenan tampak setengah membuka, otot-otot mukanya tegang seperti bersiap mengatakan sesuatu. Namun, setelah sekian lama, tetap tak ada sepatah kata keluar. Hanya embusan udara kosong yang terbata-bata. \u00a0Wanda menggigit bibirnya yang bergetar menahan tangis. \u00a0Air matanya pun tak terbendung lagi. Dalam sekejap, isakan- nya meledak. Wanda langsung menyambar tasnya dan ber- lari menuju pintu. Secepat kilat, Keenan menahan tangannya. \u201cWanda ... \ue034\ue023\ue039\ue023 \ue02f\ue031\ue02a\ue031\ue030\ue002 \ue02c\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue032\ue027\ue033\ue029\ue02b \ue004\ue004\ue004 \ue02f\ue023\ue023\ue03e\ue030 \ue034\ue023\ue039\ue023 \ue004\ue004\ue004\ue03c Bercampur dengan senggukan, Wanda berteriak, \u201cMaaf? \u00a0Damn it,\u00a0\ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030\ue000 \ue00d\ue02d\ue036 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue024\ue036\ue035\ue036\ue02a \ue02f\ue023\ue023\ue028 \ue02d\ue023\ue02f\ue036\ue004 \u00a0I just want you to love me. Why can\u2019t you just love me?\u201d\u00a0 \u00a0WaLnadgai, kKe eaernaahnnytaa,kbebriusasahmaenmjaewmaeblu. kIaWahnadnayayamngenmareik-\u00a0 152 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 165\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 ronta, menghiraukan kepalan-kepalan tinju lemah yang di- lancarkan Wanda dengan frustrasi, hingga akhirnya Wanda menyerah. Menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Keenan. Baru kali itu Keenan merasa sedemikian pilu. Rasa ber- salah yang sangat kuat terasa memenuhi seluruh rongga tubuhnya sampai ke tulang, dan ia merasa sesak luar biasa. Dan yang membuat hatinya lebih pedih lagi, meski desakan itu begitu kuat, tetap Keenan tak bisa memaksakan mulut- nya mengatakan apa-apa. Hanya lengannya yang semakin erat mendekap, jemarinya tak henti membelai rambut \u00a0Wanda, berusaha menenangkan isakannya yang terus men- \u00a0jadi. Keenan terus berharap dalam hati, semoga itu cukup. 153 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 166\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 18. KEPERGIAN DAN KEHILANGAN Ban du ng, Agustu s 200 0 ... Terdengar langkah kaki berlari di koridor, semakin lama se- makin dekat, dan ternyata langkah itu berhenti di depan pintu kamarnya. Menyusul ketukan bertubi di pintu. \u201cMasuk ...,\u201d kata Kugy, matanya tak lepas dari layar kom- puter. \ue03b\ue013\ue039\ue000\ue03c \ue01a\ue031\ue030\ue02b \ue02f\ue027\ue030\ue027\ue033\ue031\ue024\ue031\ue034 \ue02f\ue023\ue034\ue036\ue02d\ue002 \ue02f\ue036\ue02d\ue023\ue030\ue039\ue023 \ue032\ue023\ue030\ue02b\ue02d\ue004 \ue03b\ue018\ue036 \ue032\ue036\ue035\ue036\ue034 sama Ojos?\u201d tembaknya tanpa basa-basi. Kugy menatap Noni tanpa bersuara, lalu mengangguk\u00a0 kecil. \u201cYa, ampun. Kenapa? Kok bisa? Gua baru teleponan sama Ojos. Dia sedih banget. Kok lu nggak langsung bilang sama gua? Sebetulnya kalian ada apa, sih? Lu kenapa?\u201d Per- tanyaan Noni berentet seperti peluru senapan otomatis. Kugy benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangkat bahu. \u201cMemang udah saatnya kali, Non,\u201d sahut- nya\u201cKpoenkdjaewk.aban lu gitu sih, Gy? Kok lu nggak terbuka sama 154 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 167\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 gua? Gua kan sayang banget sama kalian berdua. Gua ikut sedih, tauk,\u201d kata Noni kecewa. \u201cKalian kan pasangan legen- daris, bikin orang-orang ngiri, kalian tuh cocok banget ...\u201d Kugy tersenyum getir. \u201c\u00a0Please,\u00a0deh, Non. Gua sama Ojos itu bedanya kayak langit dan sumur. Semua ini kayak bom \u00a0waktu yang tinggal tunggu meledak.\u201d Tampang Noni langsung berubah serius. \u201cGy, lu sahabat gua. Gua pasti belain elu. Tapi terus terang, kali ini gua nge- lihat lu memang jadi berubah. Lu kayak sengaja menarik\u00a0 diri. Ojos juga ngerasa gitu, dan dia udah lama ngomong ke gua. Dia ngerasa ada sesuatu yang aneh. Gua dan Eko juga ngerasa kehilangan lu,\u201d Noni terdiam sejenak, \u201cgua nggak\u00a0 enak ngomong gini. Tapi sebagai sahabat, gua harus jujur sama lu. Kita semua kehilangan Kugy yang dulu.\u201d Lama Kugy membisu. Dalam benaknya ia berusaha keras untuk merangkai penjelasan demi penjelasan, tapi yang ia temukan hanya sebongkah benang kusut. Ia tak tahu lagi harus memulai dari mana. Semua sudah bercampur aduk. \u201cThanks for your concern,\u00a0Non,\u201d kata Kugy akhirnya, \u201ctapi gua baik-baik aja, kok. Gua nggak tahu Kugy yang dulu itu \u00a0yang mana. Tapi inilah gua. Kalau memang ternyata ber- ubah, ya terimalah gua apa adanya. Sama seperti gua me- nerima lu, Eko, Ojos, Keenan ... apa adanya. Menurut gua, itu yang bisa kita lakukan sebagai sahabat.\u201d Jelas terlihat ekspresi protes di muka Noni, tapi kata-kata Kugy seperti membungkam mulutnya. Noni pun bangkit ber- diri. \u201cWhatever,\u00a0Gy. Terserah,\u201d ujarnya dingin. Pintu kamar itu kembali menutup. Kugy termenung di kursi komputernya. Sekilas ia melihat bayangannya di cer- min. Ia mengerti kehilangan yang dimaksud Noni. Sama se- perti sahabatnya, ia pun merasakan kehilangan itu. Namun, \u00a0Kbauggiynytaa.k tahu harus ke mana mencari. Semua terlalu kusut 155 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 168\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 J a k a r t a , A g u st u s 2 0 0 0 ... \u00a0Atmosfer di ruangan itu terasa mengimpit. Di meja makan segi empat yang kosong tanpa makanan itu, Keenan dan ayahnya duduk berhadap-hadapan. Ibunya duduk di tengah- tengah seumpama wasit tinju yang mengamati pertarungan dengan tegang. Sementara Jeroen mengurung diri di kamar, ia paling tidak tahan mendengar orang bertengkar. \u201cInilah yang membuat saya nggak pernah setuju dia pergi \ue02d\ue027 \ue00d\ue02f\ue034\ue035\ue027\ue033\ue026\ue023\ue02f\ue000 \ue015\ue030\ue02b\ue000\ue03c \ue023\ue039\ue023\ue02a \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030 \ue024\ue027\ue033\ue02d\ue023\ue035\ue023 \ue02e\ue023\ue030\ue035\ue023\ue030\ue029\ue002 \ue03b\ue018\ue027\ue030\ue023 \ue004\ue004\ue004 lihat anak kamu, dia pikir dia siapa? Berani-berani minta \u00a0berhenti kuliah hanya gara-gara lukisannya laku segelintir. Dia nggak mikir bahwa saya, bapaknya, sudah setengah mati \u00a0banting tulang buat bayar seluruh biaya sekolahnya dari dia kecil sampai sekarang,\u201d ayahnya lalu menoleh pada Keenan, \ue03b\ue024\ue023\ue038\ue023 \ue034\ue02b\ue030\ue02b \ue02d\ue023\ue02e\ue02d\ue036\ue02e\ue023\ue035\ue031\ue033\ue000 \ue017\ue02b\ue035\ue023 \ue02a\ue02b\ue035\ue036\ue030\ue029\ue003\ue02a\ue02b\ue035\ue036\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue034\ue02b\ue023\ue032\ue023 \ue039\ue023\ue030\ue029 keluar biaya paling besar. Bisa nggak kamu bayar Papa un- tuk menggantikan uang sekolah kamu dari cek yang kamu \ue035\ue027\ue033\ue02b\ue02f\ue023 \ue026\ue023\ue033\ue02b \ue021\ue023\ue033\ue034\ue02b\ue035\ue023\ue00c \ue00d\ue039\ue031\ue000 \ue017\ue02b\ue035\ue023 \ue02a\ue02b\ue035\ue036\ue030\ue029\ue000\ue03c Dari wajahnya, Keenan tampak sudah mau meletus, tapi ia menahan diri, mengeraskan rahangnya kuat-kuat. \u201cIni \u00a0bukan soal uang, Pa,\u201d ujarnya tertahan. \u201cSampai kapan pun saya nggak bisa menggantikan semua yang sudah Papa ka- \u00a0bsieht.aThapkui lsiaayha. bSeanyaar-nbgegnaakr nkgugaatkmkuenaterluagski aunntuseksupautrua-pyaunrag saya nggak suka. Sementara hati saya ada di tempat lain.\u201d \u201cApa sih masalah kamu? Tanpa banyak usaha saja kamu \u00a0\ue024\ue02b\ue034\ue023 \ue026\ue023\ue032\ue023\ue035 \ue015\ue01c \ue032\ue023\ue02e\ue02b\ue030\ue029 \ue035\ue02b\ue030\ue029\ue029\ue02b\ue000 \ue00d\ue032\ue023 \ue034\ue036\ue034\ue023\ue02a\ue030\ue039\ue023 \ue02d\ue023\ue02f\ue036 \ue035\ue027\ue033\ue036\ue034\ue02d\ue023\ue030 kuliah?\u201d tanya ayahnya gemas. \u201cItu bukan dunia saya, Pa,\u201d Keenan menyahut pelan, \u201cbu- kan\u00a0Aidtrui jatlearntahwiadupkeycailn, gmsaeynaggmealeun.\u201dg-gelengkan kepalanya. 156 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 169\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cKamu tahu apa tentang hidup? Kamu masih dua puluh ta- 170\/457 \ue02a\ue036\ue030\ue004 \ue017\ue023\ue02f\ue036 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue035\ue023\ue02a\ue036 \ue023\ue032\ue023\ue003\ue023\ue032\ue023\ue000\ue03c \u201cSaya cukup tahu bahwa hidup yang sekarang ini saya \u00a0jalankan adalah hidup yang Papa mau, bukan yang saya mau,\u201d kata Keenan getir. \u201cSaya ingin berhenti kuliah mulai dari semester depan. Dan saya tidak akan membebani Papa lagi. Saya akan cari uang dan membiayai hidup saya sen- diri.\u201d \ue03b\ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030\ue000 \u00a0Let op je woorden!21\u201d\u00a0\u00a0 Lena menyambar se- ketika, \u201cga niet al te ver.22 Jangan asal ngomong kamu ....\u201d \u00a0Adri pun sontak bangkit berdiri, menatap anaknya tak\u00a0 percaya. \u201cKamu\u2014kamu belum tahu seujung kuku pun ten- \ue035\ue023\ue030\ue029 \ue02a\ue02b\ue026\ue036\ue032\ue000 \ue016\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue032\ue02b\ue02d\ue02b\ue033 \ue034\ue023\ue039\ue023 \ue035\ue027\ue033\ue02d\ue027\ue034\ue023\ue030 \ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue036\ue034\ue023\ue02a\ue023 \ue02d\ue023\ue02f\ue036 \u00a0yang sok kepingin mandiri itu. Kamu nggak tahu apa yang kamu hadapi di luar sana\u2014\u201d \u201cMaaf, saya bukannya mau menyakiti kalian berdua de- ngan keputusan saya ini, tapi saya betul-betul nggak bisa maksain diri lagi,\u201d sela Keenan tegas. Lena sudah ingin berbicara, tapi tangan suaminya ter- angkat menahannya, \u201cOke. Kalau memang itu yang kamu mau, silakan.\u201d Suara Adri terdengar tegas dan garang. \u201cMu- lai detik ini, saya berhenti membiayai kamu. Mandirilah sana. Silakan kamu rasakan sendiri hidup yang sebenarnya. Kamu urus diri kamu sendiri. Saya tidak mau tahu lagi.\u201d \ue018\ue027\ue030\ue023 \ue032\ue036\ue030 \ue035\ue023\ue02d \ue024\ue02b\ue034\ue023 \ue02f\ue027\ue030\ue023\ue02a\ue023\ue030 \ue026\ue02b\ue033\ue02b \ue02e\ue023\ue029\ue02b\ue002 \ue03b\ue00d\ue026\ue033\ue02b\ue000 \ue017\ue023\ue02f\ue036 \ue02c\ue036\ue029\ue023 \u00a0jangan ikutan ngawur. Kita bicarakan lagi semua ini baik- \u00a0baik ....\u201d Keenan malah ikut bangkit berdiri. \u201cSudah, Ma. \u00a0Het is goed zo23. Memang itu yang saya inginkan. Saya mau beres- \u00a0beres sekarang, lalu pulang ke Bandung,\u201d ujarnya tenang. 21\u00a0 Berhenti bicara. 22\u00a0Jangan kelewatan. 23\u00a0Kalau memang begitu, tidak apa-apa. 157 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cYa. Biarkan dia pergi,\u201d Adri menyahut, \u201cjangan ditahan- tahan.\u201d \ue03b\ue00d\ue026\ue033\ue02b\ue000 \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030\ue000 \ue017\ue023\ue02e\ue02b\ue023\ue030 \ue024\ue027\ue033\ue026\ue036\ue023 \ue034\ue023\ue02f\ue023 \ue034\ue023\ue02c\ue023\ue002 \ue02d\ue027\ue033\ue023\ue034 \ue02d\ue027\ue032\ue023\ue02e\ue023 \ue026\ue023\ue030 \ue029\ue027\ue030\ue029\ue034\ue02b \ue035\ue02b\ue030\ue029\ue029\ue02b\ue000\ue03c \ue032\ue033\ue031\ue035\ue027\ue034 \ue018\ue027\ue030\ue023\ue004 \ue03b\ue00d\ue039\ue031\ue002 \ue026\ue036\ue026\ue036\ue02d \ue02e\ue023\ue029\ue02b\ue002 \ue024\ue036\ue02d\ue023\ue030 \u00a0begitu cara menyelesaikan masalah ini. Pasti ada jalan ke- luar yang lebih baik.\u201d Namun, baik Keenan maupun ayahnya tidak tertarik un- tuk duduk kembali. Keduanya tetap berdiri di tempat masing-masing dengan sorot mata beradu. \u201cLaat maar zitten24, \u00a0 Lena. Kita lihat saja nanti, siapa \u00a0yang akan kembali ke pintu rumah ini, merengek minta maaf, dan menelan kembali semua ucapannya,\u201d ucap Adri dingin. Keenan tersenyum samar. \u201cYa, kita lihat saja nanti.\u201d Ban du ng, Agustu s 200 0 ... Sekembalinya ke Bandung, Keenan tak menunda-nunda lagi rencananya. Ia sadar bahwa ia tengah melakukan perom- \u00a0bakan hidup besar-besaran. Perasaannya bercampur antara semangat sekaligus gentar. Namun, Keenan tahu ia tak bisa mundur lagi. Selama libur jeda semester ini, bolak-balik Keenan mengurus surat pengunduran dirinya ke bagian administrasi kampus. Dibantu Bimo, Keenan pun pindah dari tempat kos- nya dulu ke tempat kos yang jauh lebih kecil, di dalam se- \u00a0buah gang di daerah Sekeloa, yang ongkos sewanya berkali lipat lebih murah dibandingkan tempat kosnya yang dulu. Keenan mulai menata ulang hidupnya di Bandung. Cek\u00a0 dari Warsita tak disentuhnya sama sekali. Ia hanya berniat 24\u00a0Biarlah kita tunggu dulu 158 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 171\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 mencairkannya jika kelak kondisinya sudah sangat kepepet. Keenan hanya mengandalkan sisa tabungan pribadi yang ia miliki. Sebagai konsekuensinya, ia tahu dirinya tidak bisa lagi bergaya hidup seperti dulu. Segalanya berubah seka- rang. Bimo meletakkan dus yang terakhir ke lantai. Kamar kos kecil itu bahkan terlalu sesak rasanya menampung mereka \u00a0berdua. Buru-buru Bimo membuka pintu agar udara segar masuk. \u201cLu adalah orang paling gila yang pernah gua tahu,\u201d Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya, \u201centah itu karena lu nekat atau bloon, tapi gua salut sama keberanian lu.\u201d Keenan hanya nyengir sambil mengusap-usap kepalanya sendiri, \u201cGua juga nggak ngerti ini gila atau malah waras. \u00a0Yang jelas, inilah rasanya hal paling benar yang pernah gua lakukan.\u201d \u201cLu emang sinting nggak kepalang. IP terbaik dua semes- \ue035\ue027\ue033 \ue024\ue027\ue033\ue035\ue036\ue033\ue036\ue035\ue003\ue035\ue036\ue033\ue036\ue035\ue002 \ue027\ue027 \ue004\ue004\ue004 \ue02f\ue023\ue02e\ue023\ue02a \ue025\ue023\ue024\ue036\ue035\ue000 \ue01f\ue033\ue023\ue030\ue034\ue028\ue027\ue033 \ue02b\ue02e\ue02f\ue036 \ue026\ue036\ue02e\ue036\ue002 kek. Kasihani orang-orang kayak gua yang IP-nya satu koma gini,\u201d Bimo tergelak. \u201cTenang. Selama gua masih di Bandung, gua pasti bisa \u00a0bantuin lu. Udah tahu harus cari gua ke mana, kan?\u201d Keenan tersenyum. \u201cSiapa aja yang udah tahu lu di sini?\u201d \u201cBelum ada siapa-siapa lagi.\u201d \u201cEko?\u201d Keenan menggeleng. Bagi Bimo, itu menjadi petunjuknya untuk tidak perlu \u00a0bilang pada siapa-siapa soal kepindahan Keenan. Banyak\u00a0 pertanyaan yang muncul di kepalanya, tapi Bimo merasa lebih baik menunda hingga saat yang tepat. \u201cAngkatan kita amkeannepkeuhkilbaanhguanKseielunmana.nnya,\u201d Bimo menghela napas seraya 159 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 172\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSiapa tahu setelah nggak jadi mahasiswa, gua malah jadi macan kampus.\u201d \u201cGua mohon jangan, Nan. Bentar lagi ada cewek-cewek\u00a0 \ue023\ue030\ue029\ue02d\ue023\ue035\ue023\ue030 \ue024\ue023\ue033\ue036\ue002 \ue026\ue023\ue030 \ue029\ue036\ue023 \ue031\ue029\ue023\ue02a \ue024\ue027\ue033\ue034\ue023\ue02b\ue030\ue029 \ue034\ue023\ue02f\ue023 \ue02e\ue036\ue002 \ue02f\ue031\ue030\ue039\ue031\ue030\ue029\ue000\ue03c Bimo tergelak lagi, dan tak lama kemudian ia pamit pulang. Sepeninggal Bimo, Keenan termenung di kamar barunya \u00a0yang terletak sendirian di loteng. Juntaian tali jemuran yang saling silang di depan jendelanya akan menjadi peman- dangan rutin setiap hari. Kucing-kucing yang berjemur santai di atap tetangga akan menjadi teman setianya. Udara panas ini akan ia hirup sampai entah berapa lama. Barang- \u00a0barangnya yang padahal tak banyak itu bahkan terasa me- nyesaki saking kecilnya kamar itu. Namun, untuk pertama kalinya setelah pulang ke Indonesia, Keenan merasakan ke- \u00a0bebasan. Kugy memutuskan mengambil semester pendek bulan ini. Terkadang, ia merasa keputusannya itu adalah usaha pelarian dari suasana tidak enak yang mengungkungnya ketimbang melulu keputusan akademis. Lebih baik membenamkan diri dalam pelajaran dan tugas menumpuk ketimbang berhadapan dengan Noni yang menjaga jarak, Eko yang juga ikut meng- hilang, Keenan yang lebih tak tentu rimbanya, dan perasaan \u00a0bersalahnya pada Ojos yang belum surut-surut juga. Sepulang dari kampus dan mengajar di Alit siang itu, Kugy benar-benar penat dan ingin langsung cepat mendarat di kasur. Namun, langkahnya yang gegap gempita berangsur menjadi pelan dan berjingkat ketika ia melihat si Fuad ter- parkir di halaman tempat kosnya. Sehati-hati mungkin, Kugy\u00a0 me\ue03bn\ue013ye\ue039l\ue000i\ue03cn\ue011ap\ue02d\ue031m\ue02fas\ue036u\ue030k\ue025\ue036m\ue02e e\ue026n\ue02bu\ue02aj\ue023u\ue026k\ue023a\ue032m\ue023\ue030a\ue030rn\ue039\ue023ya\ue026.\ue023\ue033\ue02b \ue024\ue023\ue02e\ue02b\ue02d \ue032\ue02b\ue030\ue035\ue036 \ue02d\ue023\ue02f\ue023\ue033 160 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 173\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Noni. Bertepatan dengan Kugy yang sudah membuka handel pintu kamar. \u201cManusia satu ini ... lama ngilang,\u201d sambung Eko lagi. Mau tak mau Kugy melayani dulu basa-basi itu. \u201cLu kali \u00a0yang ngilang. Gua kan di sini terus,\u201d katanya sambil nyengir lebar. \u201cMasa? Kok, tiap kali gua ke sini lu juga nggak pernah ada. Tiap gua ajak pergi lu nggak pernah mau. Kata anak- anak, lu ambil SP, ya? Pingin cepat lulus terus ninggalin kita, ya?\u201d Eko menoyor jidat Kugy pelan, \u201cHuuuh ... curang. Ke mana aja, sih? Kangen tauk.\u201d \u201cIya, gua juga kangen. Tapi gua sibuk banget belakangan ini, Ko,\u201d jawab Kugy jujur. Jangankan untuk main dengan Eko dan teman-temannya yang lain, tidur siang pun sudah \u00a0jadi kesempatan langka baginya. \u201cSibuk boleh sibuk, tapi minggu depan sempatkan datang, \u00a0ya?\u201d \u201cDatang ke mana?\u201d tanya Kugy. \u201cUltah Noni. Masa lu belum tahu, sih?\u201d Eko berdecak ge- mas, \u201cDia kan mau bikin acara di Jakarta, gede-gedean. Kita \u00a0justru mau berangkat ke Jakarta sore ini, dia mau siap- siapin acaranya ....\u201d Mendengar Eko berbicara dengan seseorang, Noni ikut menongolkan diri. Mukanya tampak berubah ketika tahu orang yang ngobrol dengan Eko ternyata Kugy. \u201cHei, Gy. Baru pulang?\u201d sapanya enggan. \u201cHai, Non,\u201d jawab Kugy setengah bergumam. Eko melihat Noni dan Kugy bergantian. \u201cKayaknya kalian \u00a0berdua perlu bicara, deh. Gua tunggu di depan aja, ya.\u201d Ia pun langsung melenggang dari sana, tanpa memedulikan pelototan dari kedua perempuan itu. don\u201cgK,a\u201dtKanuygay mmeinncgogbua dmeepmanbumkaaupembibkiicnaraaacanr.aK, aykau?. Seru, 161 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 174\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cIya. Mudah-mudahan. Semua teman gua udah pada tahu, kok. Anak-anak yang dari Jakarta udah mau datang. Sebagian anak-anak dari Bandung juga pada ikut,\u201d sahut Noni dengan penekanan, seolah-olah menunjukkan fakta \u00a0bahwa Kugy secara ironis malah menjadi orang yang bela- kangan tahu. Kugy menyadari betul maksud yang tersimpan di balik\u00a0 intonasi Noni. \u201cSori ya, gua tahu pembicaraan kita terakhir agak kurang enak. Jujur, gua juga nggak nyaman jadi dingin-dinginan sama lu begini. Sekali lagi maaf ya, Non. Kayaknya memang gua yang nggak sensitif dan jadi terlalu cuek sama lu, sama kalian.\u201d Noni mengangkat mukanya dan menatap Kugy. Ia pun menyadari dirinya terlalu sayang pada makhluk aneh di ha- dapannya itu, dan tak mungkin ia marah berlama-lama. \u201cIt\u2019s okay,\u00a0Gy. Gua juga minta maaf kalo terlalu nyam- purin urusan lu sama Ojos. Gua yakin lu pasti punya alasan lu sendiri, dan gua nggak berhak ngutak-ngatik. Gimanapun \u00a0juga, lu tetap sahabat gua,\u201d kata Noni. Seulas senyum mulai terbit di wajahnya. \u201cTapi, gua boleh request\u00a0\u00a0 sesuatu, nggak?\u201d \u201cAnything,\u201d\u00a0 Kugy membalas tersenyum. \u201cGua minta lu datang ke pesta ultah gua minggu depan, \u00a0ya. Lu adalah sobat gua terlama, Gy. Lu tahu gua dari kecil sampai umur kepala dua begini. Sangat berarti buat gua kalo lu bisa hadir. \u00a0Please?\u201d\u00a0 Noni memohon. \u201cGua pasti datang,\u201d jawab Kugy mantap. Noni langsung menghambur memeluk Kugy. \u201cJangan ngi- lang lagi ya, \u2018Nyet,\u201d bisiknya. \u201cKecuali kalo lagi berburu pisang,\u201d bisik Kugy lagi. Noni tertawa. \u201cGua cabut ke Jakarta dulu. Gua tunggu \ue02f\ue02b\ue030K\ue029u\ue029g\ue036y\ue026m\ue027\ue032e\ue023n\ue030el\ue026a\ue02bn\ue033l\ue036u\ue02fda\ue023h\ue02a. \ue021Ja\ue023n\ue030t\ue026u\ue023n\ue002g\ue039n\ue023y\ue000\ue03ca terasa mengkeret se- 162 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 175\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 kian senti. \u201cRumah Wanda?\u201d ia berusaha meyakinkan pen- dengarannya. \u201cYup.\u00a0Gua bikin garden party,\u00a0minjem halaman rumah- nya Wanda yang segede setan. Pokoknya bakal mantap ba- nget. Wanda yang jadi EO-nya. Tugas lu tinggal datang dan have fun,\u00a0 \ue031\ue02d\ue027\ue00c\ue03c \ue02d\ue023\ue035\ue023 \ue01a\ue031\ue030\ue02b \ue025\ue027\ue033\ue02b\ue023\ue004 \ue03b\ue010\ue023\ue02a\ue002 \ue013\ue039\ue000 \u00a0See you next week!\u201d\u00a0 Kugy balas melambai. Lama memandangi Noni yang ber- lari-lari kecil dengan riang gembira sampai bayangan sa- habatnya itu menghilang di balik pintu gerbang. Terasa ada \u00a0beban baru yang menghunjam pundak Kugy begitu tahu di mana pesta itu diadakan. Benaknya seketika bergerak maju, membayangkan suasana pesta itu nanti, dan aneka peman- dangan yang sekiranya akan menusuk mata. Kugy masuk ke kamarnya dengan langkah terseret. Sore ini terasa semakin penat. 163 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 176\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 19. TRAGEDI PESTA NONI \u00a0Wanda nyaris pingsan ketika dibawa masuk ke tempat kos Keenan yang baru. Untung saja ia masih sanggup mengum- pulkan kekuatan untuk bertahan duduk di atas kasur tipis di situ. \u201cNan, kamu ngapain sampai harus tinggal di tempat ka- \u00a0yak gini? Aku hargai banget keberanian kamu untuk ber- henti kuliah demi serius melukis, tapi ... ini ... ekstrem \ue030\ue023\ue02f\ue023\ue030\ue039\ue023\ue000 \ue017\ue023\ue02f\ue036 \ue02d\ue027 \ue016\ue023\ue02d\ue023\ue033\ue035\ue023 \ue023\ue02c\ue023\ue004 \ue01a\ue023\ue030\ue035\ue02b \ue023\ue02d\ue036 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue025\ue023\ue033\ue02b\ue02d\ue023\ue030 tempat,\u201d bujuk Wanda sambil sesekali mengelap wajahnya sendiri dengan tisu. Bandung memang lebih sejuk\u00a0 dibandingkan Jakarta, tapi kamar Keenan yang berada di loteng dan beratapkan asbes itu terpanggang sinar matahari siang hingga terasa panas dan pengap. \u201cSaya lebih baik di Bandung, Wan. Biaya hidup di sini lebih murah. Dan saya bisa mempersiapkan diri untuk me- lukis tanpa banyak diganggu,\u201d ujar Keenan sambil membuka \u00a0jendela dan pintu lebar-lebar agar ada angin yang berembus ma\u201csGukim. ana mungkin kamu melukis di tempat busuk\u00a0 164 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 177\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0begini?\u201d tukas Wanda, tangannya tak henti-henti mengipas- ngipas muka. \u201cKeluargaku punya villa di Puncak. Nanti aku \u00a0bisa bilang Papi kalo kamu mau tinggal di situ dulu buat melukis. Aku yakin Papi bakal kasih izin. Gimana?\u201d \u201cNggak usah. Di sini enak juga kok kalo sudah malam. Bisa lihat langit luas, tinggal selonjoran aja di luar,\u201d Keenan tersenyum, \u201cmau coba?\u201d \u00a0Wanda melengos. \u201cMau berapa lama kamu tinggal di sini?\u201d Keenan mengangkat bahu, \u201cNggak tahu. Yang pasti, \u00a0begitu saya sudah punya cukup modal dari hasil penjualan lukisan, saya pasti cari tempat tinggal yang lebih baik. Tapi saya nggak mikirin itu dulu sekarang. Yang penting saya mempersiapkan diri untuk pameran, melukis sebanyak- \u00a0banyaknya.\u201d \u201cMentang-mentang objek lukisan kamu anak-anak me- larat, jadi kamu harus ikut-ikutan melarat, ya?\u201d kata Wanda ketus seraya melipat tangannya di dada. Keenan mengeraskan rahangnya, mengumpulkan ke- sabaran. \u201cSaya bisa antar kamu pulang ke hotel kalau me- mang kamu udah nggak betah di sini. Kita ketemu besok\u00a0 untuk bareng ke Jakarta. Oke?\u201d \u201cKamu nanti nginap di mana kalau di Jakarta? Kamu kan nggak bisa pulang ke rumahmu. Aku bukain kamar di hotel, \u00a0ya? Aku nanti temenin kamu.\u201d \u201cNggak usah. Saya tinggal di tempat Bimo.\u201d Mendengar jawaban Keenan, Wanda pun bangkit berdiri. \u201cYa udah, terserah. Aku mau pulang sendiri aja. Kita ketemu \u00a0besok,\u201d katanya pendek. Keenan tahu Wanda sedang merajuk. Namun, ia memilih untuk tidak menahannya dan membiarkan Wanda pergi. rahDpiaddeapman. Apninttaur,atakheup-atnaahsuanWdaanndakbesearbl.a\u201cliYko.uMkunkoawnyawmhaet-, 165 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 178\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Nan? Aku udah nggak bisa ngitung berapa cowok yang se- tengah mati berjuang ngedeketin aku hanya untuk dapat sepuluh persen perhatian yang aku kasih ke kamu. Mungkin \ue011\ue02d\ue031 \ue026\ue023\ue030 \ue01a\ue031\ue030\ue02b \ue02f\ue027\ue02f\ue023\ue030\ue029 \ue024\ue027\ue030\ue023\ue033\ue004 \ue017\ue023\ue02f\ue036 \ue02f\ue027\ue02f\ue023\ue030\ue029 \ue004\ue004\ue004 \ue023\ue030\ue027\ue02a\ue000\ue03c Punggung itu lantas berbalik sekaligus, bergegas pergi. \u201cWan ... hati-hati \u2026.\u201d Terdengarlah suara batok kepala beradu dengan kayu. Keenan kontan meringis. \u201cAtap di atas tangga itu rendah \u00a0banget. Kamu harus nunduk\u2014\u201d Namun, Wanda sudah tak mau dengar apa-apa. Suara hak sepatunya terdengar beradu buru-buru dengan tangga. Kekesalannya dengan tempat itu lengkap sudah. Kesempatan untuknya libur akhirnya tiba. Walaupun cuma sehari, Kugy memanfaatkan waktu luang itu sebaik-baiknya. Setelah seharian bermalas-malasan dan main ke warnet, Kugy pergi ke supermarket sendirian untuk mengisi lemari makanannya yang sudah kosong. Sambil bersenandung, Kugy menenteng keranjang belanjanya ke bagian minuman untuk memborong jus buah kesukaannya. Terperanjatlah ia melihat Wanda sedang berbelanja, mengambil minuman yang sama. Kugy cepat-cepat kabur ke area lain. Namun, perasaannya mengatakan bahwa Wanda \u00a0juga berjalan ke arah yang sama. Tepat di belakangnya. Kugy sibuk berdoa supaya Wanda tidak mengenali sosok- nya. Di area perabot rumah tangga, Kugy pun terpojok. Tak\u00a0 \u00a0bisa menghindar lagi. Wanda sedang berjalan lurus ke arah- nya. Spontan, Kugy mencomot segagang sapu. Melindungi dmeukkaatn. Kyaugdyi bbaelrikusiajuhka hmiteanmg.inLgaantg-kinaghaittumtiemrdpei nsgiaalraspeamyaakning 166 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 179\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 dialaminya tadi malam hingga hari ini bisa berbelanja di supermarket yang sama dengan Wanda, dengan jalur belanja \u00a0yang sama pula. \u201cKugy?\u201d Suara itu menyapa sekaligus bertanya. Terpaksa, Kugy menurunkan gagang sapu itu. Meng- \ue02a\ue023\ue026\ue023\ue032\ue02b \ue021\ue023\ue030\ue026\ue023 \ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue035\ue023\ue038\ue023 \ue034\ue027\ue02e\ue027\ue024\ue023\ue033 \ue02f\ue036\ue030\ue029\ue02d\ue02b\ue030\ue004 \ue03b\ue014\ue023\ue02b\ue002 \ue021\ue023\ue030\ue026\ue023\ue000 Belanja sapu juga?\u201d \u201cNggak. Aku cuma lewat aja,\u201d Wanda tersenyum manis, \u201csapunya gede banget, Gy. Buat nyapu jalan?\u201d \u201cBuat terbang,\u201d Kugy membalas dengan senyum yang le- \u00a0bih manis. \u201cSampai kapan di Bandung?\u201d \u201cNanti juga udah pulang ke Jakarta. Bareng Keenan. Aku lagi belanja buat dia, nih. Kasihan, dia kan suka kerja sam- pai malam, suka nggak ada makanan,\u201d Wanda lantas me- nunjukkan keranjangnya yang sudah penuh sesak. \u201cKalo sebanyak itu sih dia pasti butuh bantuan. Nanti aku bantu ngabisin deh,\u201d Kugy terkekeh. Kening Wanda berkerut. \u201cMemangnya kamu tahu tempat tinggal dia yang baru?\u201d \u201cMemangnya dia pindah dari tempat kosnya?\u201d Kugy gan- tian terheran-heran. Senyum manis kembali menghiasi muka Wanda. \u201cKamu nggak tahu, ya? Keenan udah berhenti kuliah. Dia mau total melukis. Dan dia pindah kos.\u201d Mulut Kugy otomatis menganga. \u201cKeenan berhenti ku- liah? Kok\u2014dia\u2014nggak kasih tahu, ya?\u201d ucapnya terbata. \u201cKayaknya dia cuma kasih tahu orang-orang dekat aja,\u201d ujar Wanda sambil mengangkat bahu. \u201c\u00a0Anyway,\u00a0dia lagi si- \u00a0buk mempersiapkan diri buat pameran. Sesudah itu dia akan pindah ke Jakarta, bareng sama aku. Karena sesudah itu kami berdua harus keliling bareng untuk promosi lukisan- ngayraa,\u201d-gtaurtaurnkeypaurtiunsgaannn, y\u201cadiabemrhaesinhtirikbuultiasham. aMkaeklaunayragan\u2026y,a\u201d 167 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 180\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0Wanda mengembuskan napas panjang, mukanya tampak\u00a0 prihatin, \u201cselain aku, dia nggak punya siapa-siapa lagi sekarang.\u201d Kugy lama terdiam. Berusaha mencerna keterangan \u00a0Wanda satu per satu. \u201cSalam buat Keenan, ya.\u201d Kugy akhir- nya berkata pelan. \u00a0Wanda mengangguk. \u201cKamu datang ke acaranya Noni, kan?\u00a0It\u2019s going to be fun. Noni, Eko, aku, dan Keenan, akan \u00a0jadi host-\u00a0 nya.\u201d \u201cAku usahakan,\u201d jawab Kugy ringkas. Ia pun pamit pergi dari situ. Kugy berjalan pulang untuk menenangkan hatinya \u00a0\ue039\ue023\ue030\ue029 \ue024\ue027\ue033\ue029\ue027\ue02c\ue031\ue02e\ue023\ue02d\ue004 \ue015\ue023 \ue035\ue023\ue02d \ue024\ue02b\ue034\ue023 \ue02f\ue027\ue030\ue026\ue027\ue03e\ue030\ue02b\ue034\ue02b\ue02d\ue023\ue030 \ue032\ue027\ue033\ue023\ue034\ue023\ue023\ue030\ue030\ue039\ue023\ue004 Benang kusut itu terasa tambah kusut. Kugy sungguhan kaget dengan keputusan Keenan, sekaligus kecewa karena tak diberi tahu langsung. Ia pun patah hati mengetahui ke- dekatan Wanda dan Keenan yang sedemikian dalam. Men- dadak, Kugy merasa bodoh. Selama ini ia menyangka punya tempat spesial dalam hidup Keenan. Ternyata ia salah. Diri- \ue030\ue039\ue023 \ue02d\ue02b\ue030\ue02b \ue035\ue023\ue02d \ue02e\ue027\ue024\ue02b\ue02a \ue026\ue023\ue033\ue02b \ue03e\ue029\ue036\ue033\ue023\ue030 \ue035\ue023\ue02d \ue024\ue027\ue033\ue023\ue033\ue035\ue02b\ue004 J a k a r t a , Sep t em b er 2 0 0 0 ... Halaman luas dengan kolam renang itu mulai dipenuhi orang-orang yang berseliweran. Obor-obor mulai dipancang- kan di taman, dan meja-meja berisi makanan mulai meng- ambil posisi. Wanda tampak yang paling sibuk hilir mudik\u00a0 mengatur ini-itu. Noni menyaksikan persiapan acaranya sendiri dengan muka tegang. Di kelompok perkawanan mereka, selain \u00a0Wanda yang dijuluki \u201cMiss Matching\u201d, dan Kugy yang dikenal s\u201cMebaadgaami \u201cPMeroftehcetr\u201d. BAaligeinN\u201d,onNio, sneigamlaenseysaunadtaunhgargueslasremsepbuargnaai 168 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 181\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 dan bebas error.\u00a0Tahu-tahu sikutnya disenggol oleh Eko. \u201cKamu tuh, rileks dong, Sayang. Jangan segalanya di- pikirin. Kan udah banyak yang bantuin. Ada aku, Wanda, Keenan \u2026,\u201d celetuk Eko. \u201cAnak-anak pasti datang nggak, ya? Kalo tahu-tahu nanti sepi gimana, Ko? Kok, sampai jam segini masih belum ada \u00a0yang nelepon atau kasih kabar. Yang dari Bandung kalo tahu-tahu pada ngebatalin pergi gimana, ya?\u201d rentet Noni gelisah. \u201cYa udah, kita pesta sendiri aja. Makan sampai bego,\u201d Eko tertawa. \ue03b\ue017\ue023\ue02f\ue036 \ue02c\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue024\ue02b\ue02d\ue02b\ue030 \ue035\ue023\ue02f\ue024\ue023\ue02a \ue035\ue027\ue029\ue023\ue030\ue029\ue002 \ue026\ue031\ue030\ue029\ue000\ue03c \ue01a\ue031\ue030\ue02b \ue025\ue027\ue02f\ue003 \u00a0berut. \ue03b\ue01e\ue031\ue023\ue02e\ue030\ue039\ue023\ue002 \ue023\ue02d\ue036 \ue036\ue026\ue023\ue02a \ue035\ue023\ue02a\ue036 \ue02d\ue023\ue02f\ue036\ue000 \ue010\ue02b\ue035\ue023\ue030\ue029\ue029\ue023\ue032\ue02b\ue030 \ue02d\ue023\ue02f\ue036 \ue035\ue027\ue035\ue023\ue032 stres, dibercandain kamu stres juga, ya mendingan bercanda- lah. Minimal aku yang hepi.\u201d \u201cKugy datang kan, ya?\u201d kata Noni sambil menggigit kuku- nya. \u201cPastilah. Gila aja kalo sampai dia nggak muncul.\u201d \u201cMedalinya udah siap, kan, Ko?\u201d \ue03b\ue00e\ue027\ue033\ue027\ue034\ue000\ue03c B a n d u n g , Sep t em b er 2 0 0 0 ... Sudah setengah jam lebih Kugy memandangi ransel besarnya \u00a0yang tergeletak di lantai dalam keadaan kosong. Sudah se- dari tadi seharusnya ransel itu terisi. Sudah sedari tadi pula dirinya harus bersiap dan berangkat ke stasiun kereta api. Namun, sedari tadi Kugy diam di tempat duduknya. Mem- \u00a0bayangkan apa yang terjadi jika ia tidak datang, sekaligus apaJiykaangiatteirdjaadkidiaatjainkag,hNaodniri dpiapsteisktaeciteuw.a. Dan makin ge- 169 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 182\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 naplah kesimpulan sahabatnya itu bahwa ia memang ber- ubah, menghindar, dan menjauh. Jika ia datang, hatinyalah \u00a0yang remuk. Kugy membuka jaketnya, melemparkannya ke lantai, lalu mengempaskan tubuhnya ke kasur. Setengah dari dirinya kesal sendiri, menyadari betapa manusia satu itu telah me- ngacaukan hidupnya, membuat ia kehilangan kemampuannya untuk cuek dan berlagak tak peduli. Keenan telah membuat- nya seperti orang lumpuh. Setengah dari dirinya pun takjub dan terpana. Baru kali itu ia menyadari betapa dalam perasaannya untuk Keenan dan betapa jauh hatinya telah jatuh. Dan sebagai kesim- pulan, Kugy tahu bahwa ia akhirnya memilih tidak pergi. \u201cMaaf ya, Non \u2026\u201d bisiknya sendirian. J a k a r t a , Sep t em b er 2 0 0 0 ... Halaman itu kini dipadati manusia. Lilin dan obor menyala di segala sudut. Musik berdegup dari pengeras suara. Semua orang tampak menikmati suasana. Namun, muka Noni masih seperti baju tak disetrika. Untuk kesekian kalinya, Noni mendatangi Eko. \u201cUdah telepon ke rumahnya? Dia udah sampai?\u201d tanyanya resah. \u201cKata orang rumahnya, dia nggak jadi ke Jakarta. Kalau- pun iya, pasti langsung ke sini, dan nggak pulang dulu,\u201d \u00a0jawab Eko, berusaha setenang mungkin. \u201cNggak jadi ke Jakarta?\u201d Mata Noni membelalak. \u201cMUNGKIN, Noni. Mungkin nggak jadi. Nggak ada yang tahu pasti, oke?\u201d Eko berusaha meredam kegelisahan pacar- nya, \u201cHP-nya mati dari tadi. Telepon di tempat kos juga ngg\u201caKkeatdearlyaalunagnandgkeaht.\u201dKugy \u2026,\u201d Noni berkata lirih. 170 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 183\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kekecewaan tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Terdengar suara seseorang memanggil mereka dari ke- \u00a0\ue02c\ue023\ue036\ue02a\ue023\ue030\ue004 \ue03b\ue01a\ue031\ue030\ue02b\ue000 \ue011\ue02d\ue031\ue000 \ue00e\ue027\ue030\ue035\ue023\ue033 \ue02e\ue023\ue029\ue02b \ue035\ue02b\ue036\ue032 \ue02e\ue02b\ue02e\ue02b\ue030\ue000 \ue01e\ue02b\ue023\ue032\ue003\ue034\ue02b\ue023\ue032 \ue026\ue02b \ue026\ue027\ue02d\ue023\ue035 \ue034\ue02b\ue030\ue02b\ue002 \ue039\ue036\ue02d\ue000\ue03c \ue034\ue027\ue033\ue036 \ue021\ue023\ue030\ue026\ue023\ue004 Lunglai, Noni berjalan ke dekat meja tempat kuenya nanti dipajang. Wanda berdiri di sana sambil senyum- senyum.\u201cHi, guys. \u00a0 Aku punya bonus buat kalian,\u201d Wanda menyambut mereka dengan dua gelas berisi champagne. \u201cDom Perignon. Aku ambil satu botol dari lemarinya Papi. Ssst, diam-diam ya, ini khusus buat kita doang, lho,\u201d Wanda cekikikan sendiri. Eko mengambil satu gelas. Sementara Noni menggeleng, \u201cBuat lu aja, Wan,\u201d katanya dengan muka enggan. \u201cOh, come on, girl! Have fun!\u00a0Kenapa sih muka lo kusut \u00a0banget?\u201d tanya Wanda seraya menenggak isi gelas yang di- tolak Noni. \u201cKita mulai aja tiup lilinnya, yuk?\u201d ajak Noni langsung. \u201cOke. Semuanya udah siap, kan?\u201d Wanda pun meletakkan gelasnya yang sudah kosong dalam sekejap itu. \u201cMedali yang mau dikasih ke Kugy udah ada, Ko?\u201d Tangan Eko spontan merogoh ke kantong belakangnya. Memastikan barang itu ada. Noni punya ide sejak lama ingin mengalungkan medali-medalian untuk Kugy pada pesta ulang tahunnya yang ke-20 ini sebagai tanda persahabatan mereka. Sebuah medali emas yang mereka berdua pesan di toko olahraga, bertuliskan: \u00a0Sahabat Terbaik dan Terawet. Eko menelan ludah. Meski medali itu telah terparkir dengan \u00a0baik di kantongnya, ia tidak yakin benda satu itu akan pu- nya manfaat malam ini. \u201cPakai aja medalinya buat ganjal meja,\u201d gumam Noni se- raya ngeloyor pergi. 171 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 184\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 20. KEBOHONGAN GIGANTIS Tidak ada yang tahu bahwa sebetulnya pesta ulang tahun Noni itu sudah rusak berantakan. Sebagian besar tamu yang diundang dari luar Jakarta tidak datang. Dan yang paling fatal adalah ketidakhadiran Kugy. Prosesi penyerahan medali \u201cSahabat Terbaik dan Terawet\u201d yang telah disiapkan matang oleh Noni tidak terjadi. Namun, keempat sekawan itu mam- pu bersandiwara dengan baik, hingga tamu-tamu yang hadir merasa pesta itu berjalan baik-baik saja. Yang ganjil hanya- lah Noni yang menghilang dengan cepat, mengakibatkan acara usai lebih dini dari yang diperkirakan. Pukul sepuluh, hampir semua tamu sudah pulang. Segelintir orang saja \u00a0yang tersisa, dan sebagian besar adalah pegawai-pegawai dari rumah Wanda sendiri. Keenan mendatangi Eko yang sedang ikut gotong-royong membereskan kursi. \u201cKo, Noni mana, sih?\u201d tanyanya. \u201cMigraine,\u201d\u00a0 Eko melengos, \u201cbiasalah, si Madam Perfect satu itu. Nggak tahan stres. Masih untung larinya cuma ti- dur\u201caLnu, nyagkgiankNnognadi un-gnggaakdaupina-kaeppaa?l\u201da ke tembok.\u201d 172 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 185\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Eko mengangguk, \u201cTadi udah tidur, kok. Dan ada kakak- nya yang nemenin juga,\u201d jawabnya, \u201ckayaknya justru elu \u00a0yang harus ngejagain seseorang.\u201d \u201cSiapa?\u201d Eko tak langsung menjawab. Dari bawah kolong meja, ia mengeluarkan sebotol Dom Perignon yang sudah tiga per- empat kosong. \u201cKalo tadi nggak gua sita, udah pasti botol ini kering sampai tetes terakhir. Tinggal jadi vas bunga.\u201d \u201cWanda ...?\u201d Keenan terenyak. \u201cDia di mana?\u201d Eko mengangkat bahu. \u201cMendingan lu cari dia sekarang dan langsung antar ke kamarnya. Kalau sampai Om Hans lihat anaknya mabok\u00a0 champagne\u00a0hasil curian, wah ... kita semua pasti kena.\u201d Keenan cepat mengedarkan pandangannya. \u201cOke, gua cari dia.\u201d Tampak siluet dua orang sedang berjoget di pojokan dekat kolam renang, diiringi alunan musik dari plat yang masih aktif berputar. Keenan seketika mengenali keduanya: Wanda dan Ivan, DJ pesta malam itu. \u201cHi, babe\u00a0... kamu ke mana aja?\u201d Berseri-seri, Wanda me- nyapa Keenan. Gerakannya tampak terhuyung-huyung. Justru Ivan yang kelihatan tersentak, dan langsung buru- \u00a0buru melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang \u00a0Wanda. \u201cHai, Nan.\u00a0 Whassup\u00a0...,\u201d sapanya, berusaha santai. Keenan tak menjawab. Tangannya langsung merentang, mengajak Wanda pergi. \u201cWanda, kamu mabok,\u201d tandasnya langsung. \u201cSaya antar kamu ke kamar. Sekarang.\u201d \u00a0Wanda menyambut tangan Keenan sambil sempoyongan. Bcaenra\u2019ttwtuablkuh..n.,y\u201d\u00a0absiseikkentyikaaddi ikjautpuihnkgaKnekeenadne.kapan Keenan. \u201cI\u00a0 173 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 186\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cKalau kamu masih bisa joget, kamu pasti masih bisa \u00a0jalan. Ayo,\u201d dengan nada tegas, Keenan melepaskan rang- kulan Wanda lalu menggandengnya. Susah payah, Wanda pun berusaha mengikuti langkah Keenan. \u201cNan ... jangan cepat-cepat dong,\u201d rajuknya. Namun, Keenan tak menghiraukan, ia terus berjalan dengan irama yang sama, dan tangannya tak lepas menggiring \u00a0Wanda. Sesampainya di depan kamar Wanda, Keenan baru meng- hentikan langkahnya. \u201cKamu nggak seharusnya minum se- \u00a0banyak itu. Kontrol sedikit, kenapa sih?\u201d tegurnya pedas. \u00a0Wanda menatap lurus-lurus mata Keenan, dan malah ter- senyum. \u201cKamu marah karena aku minum, atau karena\u2014 Ivan?\u201d tanya Wanda, dan senyumnya terus melebar, \u201cAre you jealous?\u201d\u00a0 \u201cDari yang saya lihat, Ivan cuma efek samping. Penyebab utamanya karena kamu kebanyakan minum. Kamu ber- untung ayah kamu belum pulang,\u201d tandas Keenan lagi. \u00a0Wanda tertawa ringan, \u201cAh, he wouldn\u2019t know the difference. Papi lebih jago membaca lukisan daripada anak- nya sendiri ....\u201d \u201cKamu harus istirahat, Wanda. Minum air putih yang ba- nyak. Mandi air panas dulu kalau perlu,\u201d ujar Keenan seraya membukakan pintu kamar itu. \u201cSaya pulang dulu, ya.\u201d \u201cWhat?\u201d\u00a0\u00a0 Wanda langsung menarik Keenan masuk, lalu \ue02f\ue027\ue030\ue036\ue035\ue036\ue032 \ue032\ue02b\ue030\ue035\ue036 \ue02d\ue023\ue02f\ue023\ue033\ue030\ue039\ue023\ue004 \ue03b\ue017\ue023\ue02f\ue036 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue024\ue031\ue02e\ue027\ue02a \ue032\ue036\ue02e\ue023\ue030\ue029\ue000\ue03c Sejenak Keenan melirik pintu yang sudah tertutup di ba- lik punggungnya. Dan seperti membaca gerak mata Keenan, \u00a0Wanda cepat menyelinap dan bersandar menghalangi pintu. \u201cWanda ... \u00a0please \u00a0 ... jangan kayak anak kecil ... saya har\u201cuWs hpye?r\u00a0gKi,e\u201dnuajpaar Khaereunsapnesregtie?nAgkauh mmaeungkealmuhu. temenin aku. 174 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 187\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Dan kamu kan pacarku. \u00a0I want you to stay.\u201d\u00a0 \u201cKarena kamu lagi nggak\u00a0 sober, that\u2019s why,\u201d Keenan ber- kata lagi, \u201cdan saya nggak mau kita melakukan hal yang \u00a0bodoh hanya karena kamu mabok.\u201d Mendengar perkataan Keenan, Wanda tertawa lepas. \ue03b\ue00d\ue02d\ue036 \ue035\ue036\ue02a \ue02d\ue023\ue039\ue023\ue02d \ue032\ue023\ue025\ue023\ue033\ue023\ue030 \ue034\ue023\ue02f\ue023 \ue02a\ue031\ue02f\ue031\ue002 \ue035\ue023\ue02a\ue036 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d\ue000\ue03c \ue02d\ue023\ue035\ue023\ue030\ue039\ue023 lantang. Dengan gerakan sekaligus, Wanda merangkul leher Keenan, \u201cKamu bisa bayangin apa yang dilakukan cowok\u00a0 kayak Ivan kalau dia punya kesempatan ini? Di kamar ini, \u00a0berdua sama aku?\u201d bisiknya dengan bibir yang ditempelkan di atas bibir Keenan. Sontak, Keenan menahan napas, menarik jauh lehernya. \u201cWanda, tolong dengar baik-baik. Bukannya saya nggak\u00a0 mau, dan bukannya saya nggak ngerti kesempatan apa yang saya punya. \u00a0But you\u2019re drunk. This is not right.\u201d\u00a0 \ue03b\ue01f\ue023\ue02b\ue02d\ue000 You\u2019re such a hypocrite!\u201d\u00a0 teriak Wanda kesal. \u201cGue \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue02f\ue023\ue024\ue031\ue02d \ue023\ue02c\ue023 \ue02e\ue031 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue032\ue027\ue033\ue030\ue023\ue02a \ue02f\ue023\ue036\ue000 \ue01a\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue036\ue034\ue023\ue02a \ue032\ue023\ue02d\ue023\ue02b alasan sober\u00a0atau nggak. You never wanted me. You never loved me. You never did! \u00a0 Padahal gue udah mati-matian \ue02f\ue027\ue030\ue029\ue036\ue034\ue023\ue02a\ue023\ue02d\ue023\ue030 \ue034\ue027\ue029\ue023\ue02e\ue023\ue030\ue039\ue023 \ue024\ue036\ue023\ue035 \ue027\ue02e\ue031\ue000 \ue013\ue036\ue027 \ue036\ue026\ue023\ue02a \ue02f\ue023\ue036 \ue02d\ue023\ue034\ue02b\ue02a \ue034\ue027\ue02f\ue036\ue023\ue030\ue039\ue023 \ue024\ue036\ue023\ue035 \ue027\ue02e\ue031\ue000\ue03c Keenan terdiam. Walaupun ia tahu Wanda tidak sedang dalam keadaan sepenuhnya sadar, tak urung kata-kata itu kembali mengusik rasa bersalahnya. Lembut, ia berusaha menarik Wanda dan mendekapnya. Namun, Wanda sudah terlalu emosional. Ditepiskannya tangan Keenan dengan ka- sar. \ue03b\ue013\ue036\ue027 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue024\ue036\ue035\ue036\ue02a \ue026\ue02b\ue02a\ue02b\ue024\ue036\ue033\ue000 \ue013\ue036\ue027 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue024\ue036\ue035\ue036\ue02a \ue026\ue02b\ue02d\ue023\ue034\ue02b\ue02a\ue023\ue030\ue02b\ue000 Gue ogah terus ngemis-ngemis perhatian sama lo kayak orang \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue032\ue036\ue030\ue039\ue023 \ue02a\ue023\ue033\ue029\ue023 \ue026\ue02b\ue033\ue02b\ue000 \ue01c\ue027\ue033\ue029\ue02b\ue002 \ue034\ue023\ue030\ue023\ue000\ue03c \ue021\ue023\ue030\ue026\ue023 \ue024\ue027\ue033\ue035\ue027\ue033\ue02b\ue023\ue02d \ue02f\ue023\ue033\ue023\ue02a\ue002 tangannya mengacung tegas menunjuk ke arah pintu. \u201cPulang \ue023\ue02c\ue023K\ue02de\ue027e\ue00en\ue023a\ue030n\ue026b\ue036e\ue030ru\ue029\ue002sa\ue024h\ue023a\ue02e\ue02b\ue02dm\ue02de\ue027nc\ue02da\ue031m\ue035\ue023k\ue02da\ue034n\ue023p\ue024a\ue036d\ue030a\ue024d\ue036i\ue034r\ue036in\ue02dy\ue02ba\ue035\ue036s\ue000en\ue01cd\ue027i\ue033r\ue029i\ue02bb\ue000\ue03cahwa 175 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 188\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0Wanda sedang dipengaruhi alkohol, bahwa ia tidak sungguh- sungguh mengucapkan itu semua. Dengan nada sewajar mungkin, Keenan mencoba pamit dengan sopan, \u201cYa, udah. Kamu istirahat malam ini, ya. Saya akan mampir ke sini lagi \u00a0besok ....\u201d \u201cApa bedanya besok sama malam ini? Memangnya kalau \u00a0besok lo jadi mau sama gue?\u201d sambar Wanda dengan nada \u00a0yang semakin tinggi,\u00a0 \u201cForget it,\u00a0 \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030\ue000 There will be no tomorrow for you!\u201d\u00a0 Dengan gerakan sempoyongan, Wanda lantas membung- kuk, menyibak\u00a0 bed cover \u00a0tempat tidurnya yang menjuntai menyentuh lantai, lalu menarik keluar gulungan-gulungan \ue02d\ue023\ue033\ue035\ue031\ue030 \ue024\ue027\ue034\ue023\ue033\ue004 \ue03b\ue00d\ue02f\ue024\ue02b\ue02e \ue02b\ue030\ue02b\ue000 \ue00e\ue023\ue038\ue023 \ue032\ue036\ue02e\ue023\ue030\ue029 \ue02e\ue023\ue029\ue02b\ue000\ue03c \ue021\ue023\ue030\ue026\ue023 \ue02f\ue027\ue030\ue029\ue027\ue02f\ue003 paskan benda-benda itu. Kerongkongan Keenan seperti tercekat. Perasaannya lang- sung tak enak. Diambilnya satu gulungan itu, membuka se- dikit lapisan karton pembungkusnya. Begitu Keenan tahu \u00a0bahwa gulungan itu adalah kain kanvas, seketika lututnya terasa lemas. Jantungnya berdegup kencang. Keenan me- nyadari jumlah gulungan karton itu pun persis sama ... empat.\u00a0Jumlah lukisannya yang dipajang di Galeri Warsita dan dilaporkan telah laku terjual. Dengan sedikit gemetar, Keenan menghampiri Wanda. \u201cTolong jelaskan sebisa kamu, kenapa lukisan saya bisa ada di s\ue03bi\ue017n\ue023i?\ue033\u201d\ue027\ue030ta\ue023n\ue004y\ue004\ue004a\ue02en\ue036y\ue02da\ue02b\ue034d\ue023e\ue030n\ue02eg\ue031an\ue026\ue02bs\ue024u\ue027a\ue02e\ue02bra\ue034\ue023t\ue02fer\ue023ta\ue013h\ue020an\ue011.\ue000 \ue01c\ue036\ue023\ue034\ue00c\ue03c Keenan mematung. Berusaha mencerna kalimat Wanda. Berusaha memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Pikiran- nya merangkaikan semua kejadian selama ini, menghubung- kannya dengan intuisi yang selama ini tak pernah bisa ia \u00a0jelaskan. Peristiwa demi peristiwa terhubung, dan ia seolah menyaksikan sebuah kebohongan menggelembung, merekah kian besar, dan kini berdiri lurus-lurus di hadapan. Keenan serta-merta memalingkan muka, tak kuat melihat Wanda. 176 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 189\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Saat menyaksikan perubahan air muka Keenan, mulai timbul rasa panik di hati Wanda. \u201cNan ..., aku nggak ber- maksud jahat. Aku cuma ingin nolong kamu ...,\u201d katanya terbata. Keenan merasa kebohongan ini terlalu gigantis untuk ia cerna. Kepalanya berputar. Hatinya teraduk-aduk. Galeri \u00a0Warsita, cek itu, rasa percaya dirinya, keyakinannya untuk\u00a0 melukis ... impiannya musnah satu demi satu dalam hitungan detik. Seiring dengan kedoknya yang ikut meluruh, air mata pun mulai membasahi mata Wanda. Kemarahannya yang tadi meledak-ledak berganti dengan esktrem menjadi tangis tersengguk-sengguk. \u201cNan ... \u00a0I\u2019m sorry\u00a0... aku tahu itu salah. \u00a0Please understand,\u00a0aku sayang banget sama kamu ... don\u2019t\u00a0 leave ... please ....\u201d Wanda tahu-tahu melorot, bersimpuh di atas kedua lututnya, memeluk kaki Keenan. Kembali Keenan hanya mematung. Matanya melirik\u00a0 \u00a0Wanda yang menangis menjadi-jadi sambil merangkul erat pahanya. Terasa celana panjangnya melembap karena air mata. Namun, Keenan tak mampu bereaksi apa-apa, ingin \u00a0bicara pun tidak. Kegalauan yang ia rasakan ternyata me- lampaui amarah, melampaui segala reaksi emosi yang ia kenal. meLraatmapakKaneesneagnalampemenbyieasraklaannnWyaa,nhdiangtegrasepdeurl-asheadna,nKseaemnbainl melepaskan rangkulan tangan Wanda di kakinya, lalu me- nariknya lagi untuk kembali berdiri. \u201cKeenan ... \u00a0please, say something, anything ... \u00a0 kamu \u00a0boleh marah-marah kayak apa aja, aku rela, aku siap terima, tapi jangan pergi ....\u201d remKuekenraendamme.m\u201cUunagnugt kgaumluungaakna-nguslauynagaknemitbualdikeanng.anUthuaht.i 177 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 190\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Dan saya akan bawa pulang lagi semua lukisan ini,\u201d katanya lirih. \u00a0Wanda menatapnya pilu. \u201cNan ... jangan pergi ...\u201d \u201cKamu bisa beli lukisan-lukisan ini, Wanda,\u201d desis Keenan sambil membuka pintu, \u201ctapi kamu nggak akan per- nah bisa membeli saya.\u201d Dipanggulnya keempat lukisan itu, \u00a0berjalan pergi dan tak menoleh lagi. B a n d u n g , Sep t em b er 2 0 0 0 ... \u00a0Ada lima silinder karton yang sudah dibawanya ke kantor ekspedisi itu: empat lukisan yang ia bawa dari rumah \u00a0Wanda, dan satu ikut ditambahkannya: lukisan \u201cJenderal Pilik dan Pasukan Alit\u201d. \u201cFormulirnya sudah selesai?\u201d Petugas itu bertanya sambil melirik formulir yang sedari tadi diberikannya pada Keenan tapi tak kunjung diisi. \u201cSebentar, Pak ...\u201d jawab Keenan. Dilihatnya sekali lagi kelima silinder yang sudah tergulung dan terikat rapi itu. Dengan berat, akhirnya ia melengkapi formulir pengiriman paket tersebut. Setelah formulir dikembalikan, petugas tadi mengecek\u00a0 esemkpalait khealreinsgukdaaphansaimsipanai,\u201dKgeeunmanam. n\u201cUyab.u\u201cdA\u2014dBaaylia,nygab?isTaigdai-- \u00a0bantu lagi?\u201d Keenan menggeleng. Petugas lain pun datang untuk mengambil gulungan- gulungan itu. \u201cPak ... tolong hati-hati,\u201d sela Keenan cemas, \u201cbisa tolong \u00a0ydait,ePmapke.lMstaikkearsi\u2018hfr.a\u201dgile\u2019? Dan jangan sampai kena air. Tolong 178 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 191\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Sambil tersenyum maklum, petugas itu menyiapkan stiker-stiker petunjuk yang diminta Keenan. Sampai kelima benda itu dimasukkan ke gudang, mata Keenan tak lepas mengawasi. Sejenak lagi, kelima lukisannya akan berlayar ke Pulau Dewata, dan Keenan merasa benar- \u00a0benar seperti hendak melepaskan mereka ke khayangan. Entah kapan bisa melihatnya lagi. Dalam hati, ia telah mengucapkan selamat tinggal pada impiannya, pada lukisannya. Namun, apakah ia sungguhan siap, Keenan tak berani lagi memeriksa. Yang ia tahu dan \u00a0yakini, lukisan-lukisan itu akan berada di tangan yang baik. Saat ini, itulah yang lebih penting. 179 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 192\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 21. HAMPA YANG MENYAKITKAN Setengah jam yang lalu, kamar itu masih gelap. Sekarang cahaya lampu sudah membayang dari tirai jendela, dan papan berhuruf warna-warni yang tergantung di pintu sudah \u00a0bertuliskan: NONI ADA. Kugy memandangi kamar itu de- ngan hati kecut. Sudah tiga hari sejak pesta ulang tahun itu, dan baru ma- lam ini Noni kembali dari Jakarta. Mereka belum bicara lagi sejak itu. Tepatnya, Kugy tak punya cukup keberanian untuk\u00a0 menghubungi Noni. Sampai hari ini pun lidahnya masih kelu, tak tahu harus bilang apa. Pintu itu membuka. Noni keluar dari dalam membawa kantong sampah yang siap dibuang. Kugy pun tersentak. Namun, sudah terlambat untuk bergerak ke mana-mana. Noni mengangkat mukanya sedikit, menyadari bahwa ada Kugy sedang berdiri di koridor. Cepat, mata Noni berpaling ke arah lain. \u201cHai, Non ...,\u201d Dengan suara pelan dan sedikit bergetar, Kugy menyapa. Noni tak menjawab, melirik pun tidak. Ia berjalan keluar seolah Kugy tak punya wujud. 180 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 193\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Sempat melintas di pikiran Kugy untuk mengejar Noni dan berbicara lebih panjang, tapi kakinya terasa kaku. Ia tak\u00a0 punya cukup nyali. Akhirnya Kugy masuk ke kamarnya. Ia sadar, sebuah perang dingin resmi dimulai. Dan entah kapan akan berakhir. Pukul sepuluh malam. Lambungnya riuh rendah seolah te- ngah berlangsung pertandingan bola. Terakhir dia makan adalah tadi siang, dan tampaknya lambungnya tak akan men- dapat olahan baru sampai besok siang lagi. Keenan menepuk-nepuk pelan perutnya, berbisik sen- dirian, \u201cSabar, ya. Jangan masuk angin dulu, karena saya harus lihat langit.\u201d Terduduklah Keenan di dekat jemuran yang bisa ia da- tangi dengan cuma membuka jendela kamar. Di sana ia bisa memandang hamparan atap rumah lain beserta pendar- pendar lampu di rimba gang yang padat ini. Keenan menengadah. Dari tempat ia duduk, langit tam- pak berhiaskan saling-silang tali jemuran, beberapa kolor dan jins tidak kering yang tampak masih diangin-anginkan. Tidak apa-apa, pikirnya. Memandang angkasa malam ada- lah pelipur sederhana yang membantunya sedikit merasa lebih baik. Sesungguhnya, Keenan tak keberatan dengan rasa lapar ini. Baginya, itulah bagian dari konsekuensi yang harus di- tanggungnya dengan mengirit setiap rupiah dari sisa uang- nya yang tak seberapa lagi. Namun, tak ada yang bisa meng- obati kekosongan jiwanya. Dan rasa kosong ini lebih menyakitkan dari apa pun. ini Ntiadsaikbcisuakduipbemlie, mtabpielriansyaap, eprickairyaK?eSeenlaunrughetuiar.nUg adni gdumneia- 181 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 194\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 mang tidak akan pernah bisa jadi ukuran. Rasa percaya dan uang ada di dimensi yang sama sekali lain. Kini ia yakin itu. Ludahnya terasa memahit. Baru kali ini ia merasa pri- hatin pada dirinya sendiri. Kalau bisa, ia ingin mengirim kembang tanda dukacita. Tak punya rasa percaya ... tak ada kebanggaan ... hampa. Dan kembali Keenan merenung: \u00a0bagaimana hampa bisa menyakitkan? Hampa harusnya ber- arti tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa harusnya berarti tidak ada masalah. Termasuk rasa sakit. Sayup-sayup terdengar lagu dari kaset yang diputar di kamarnya: \u201cFare thee well my bright star \u00a0It was a brief, brilliant miracle dive that which I looked up to and I clung to for dear life \u00a0 ... your last dramatic scene against a night sky stage.\u201d\u00a0 Mendadak sesuatu menyusupi hampanya. Rasa sedih. Masa gemilang itu datang, sekejap, dan tak lebih dari se- \u00a0buah drama besar. Dan Keenan merasa seperti aktor malang \u00a0yang bermimpi melampaui skenarionya. Tiba-tiba wajah neneknya di Amsterdam melintas. Keenan teringat hari terakhir mereka bersama, saat Oma memasakkannya sup kacang merah yang mereka nikmati dalam hening. Kesedihan yang mereka berdua simpan dan tak tuntas terungkapkan. Keenan mengkhayalkan bisa kem- \u00a0bali ke sana malam ini, meninggalkan semuanya tanpa ke- cuali. Namun, kedua kakinya hanya sanggup mengantarkan- nya ke atap itu. Tak bisa lebih jauh lagi. Ingatan akan Oma dan langit malam berbaur. Semuanya lebur dan tampak\u00a0 kabur dari mata yang basah oleh air mata. 182 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 195\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 B a n d u n g , O k t o b er 2 0 0 0 . .. Kugy tak bisa melupakan pagi ini. Untuk pertama kalinya ia pindah mengajar ke saung baru yang dibangun oleh orang- orang kampung. Keberadaan Sakola Alit serta konsistensi \u00a0Ami dan kawan-kawan akhirnya menarik simpati penduduk\u00a0 sekitar. Berkat gotong-royong warga, satu saung baru di- dirikan. Mereka khawatir kegiatan belajar mengajar di Sakola Alit terganggu karena musim hujan sudah tiba, se- mentara mereka tahu bahwa ada kelas yang selama ini di- \u00a0jalankan di bawah pohon. Meski semua anak senang dan bersemangat dengan tem- pat baru mereka, tak urung muka anak-anak pagi itu kusut karena hari ini mereka belajar perkalian dan pembagian. Kugy mengamati anak didiknya yang tampak mutung dan tak bergairah. Ia sendiri mulai ikut putus asa. Belum ber- hasil mendapatkan cara yang lebih kreatif untuk mengajar. Tiba-tiba seorang muridnya, Dadi, berlari ke arah saung dengan tergesa. Wajahnya berseri-seri, tangannya menunjuk\u00a0 ke arah belakang. Tawanya merekah, memampangkan gigi serinya yang ompong. \u201cBu Ugiiii ... ada Pak Guru Rang- ginang ...,\u201d serunya lantang. \u00a0Rangginang?\u00a0\u00a0 Kugy bertanya dalam hati. Saat ia me- longok ke arah yang ditunjuk Dadi, sadarlah ia siapa yang dimaksud anak itu. Dan sungguhan Kugy tak siap. \u201cKeenan \u2026,\u201d desisnya. Sejenak Kugy menunduk, memejamkan mata, berusaha mengumpulkan tenaga dan kekuatan. Dalam sekejap, tawa segar muncul di wajahnya, dan ia pun menyapa dengan ceria, \ue03b\ue014\ue023\ue02e\ue031\ue002 \ue01c\ue023\ue02d \ue013\ue036\ue033\ue036\ue000 \ue01e\ue027\ue02e\ue023\ue02f\ue023\ue035 \ue026\ue023\ue035\ue023\ue030\ue029 \ue026\ue02b \ue02d\ue027\ue02e\ue023\ue034\ue02d\ue036 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue024\ue023\ue033\ue036\ue000\ue03c Keenan tersenyum. Ada kehangatan yang seketika me- mKeeennuahni mroenngagmaahkaatninnyyaa m\u201ctaewlihaaptetnagwaamlpeubnar\u201d,Kkuagreynyaalnagyakkhnaysa. 183 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 196\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 matahari yang tak menyimpan memori ataupun dendam dan senantiasa memandikan Bumi dengan sinarnya, tawa itu pun membawa efek yang sama bagi dirinya. Kehangatan yang lahir tanpa pretensi. Tanpa perlu usaha. Pengampunan mur- ni. Setelah Keenan mendekat, barulah Kugy menyadari perubahan yang terjadi. Keenan tampak lebih kurus. Dan kedua matanya menunjukkan bahwa ia lelah. Kugy pun me- nyadari, perubahan yang sama juga terjadi pada dirinya sendiri. \u201cApa kabar, Kecil?\u201d sapa Keenan. \u201cKamu kok tambah ke- cil ....\u201d \u201cPemadam Kelaparan baru naikin harga soalnya, jadi asupan makanan ke badanku agak berkurang,\u201d Kugy ter- kekeh. \u201cKamu juga kurusan. Kamu baik-baik?\u201d Keenan mengangkat bahu sambil nyengir. \u201cLumayan,\u201d \u00a0jawabnya singkat. Kehadiran Keenan seketika membawa suasana berbeda. Semua anak merasa Keenan adalah penyelamat yang akan membebaskan mereka dari pelajaran yang memusingkan pagi itu. Pilik langsung menandak-nandak kegirangan sambil \u00a0\ue024\ue027\ue033\ue035\ue027\ue033\ue02b\ue023\ue02d\ue002 \ue03b\ue013\ue023\ue02f\ue024\ue023\ue033\ue000 \ue013\ue023\ue02f\ue024\ue023\ue033\ue000 \ue013\ue023\ue02f\ue024\ue023\ue033\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02f\ue027\ue030\ue029\ue029\ue027\ue02e\ue027\ue030\ue029\ue003\ue029\ue027\ue02e\ue027\ue030\ue029\ue02d\ue023\ue030 \ue02d\ue027\ue032\ue023\ue02e\ue023\ue002 \ue03b\ue01a\ue029\ue029\ue023\ue02d\ue002 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d\ue000 \ue017\ue023\ue003 lian tetap harus belajar Matematika ....\u201d Ucapan Kugy disambut riuh protes. Keenan mengambil sepotong kapur dan mulai menggam- \u00a0bar. Dengan cepat, ia menggambar enam layang-layang. \u201cAyo, dihitung, layang-layangnya ada berapa?\u201d \u00a0Anak-anak itu berhitung dari satu sampai enam. \u201cSekarang ... Pilik ceritanya harus bagi dua layang-layang ini dengan Dadi,\u201d Keenan menarik garis, \u201cJadi, Pilik punya \u00a0ber\ue03ba\ue01fp\ue02ba\ue029,\ue023d\ue000\ue03can\ue019\ue027D\ue033a\ue027d\ue02di\ue023p\ue02fun\ue027\ue030ya\ue02c\ue023\ue038be\ue023r\ue024ap\ue034\ue027a\ue033?\ue027\u201d\ue02f\ue032\ue023\ue02d\ue004 184 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 197\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Di sudut saung Kugy tersenyum. Tampaknya hari itu ia harus membiarkan kelasnya diambil alih oleh Keenan. Kelas Kugy bubar agak lebih siang dari biasanya. Persis se- perti kunjungan Keenan sebelumnya, layaknya penggemar \u00a0bertemu idola, dengan berbagai cara anak-anak itu menahan Keenan lebih lama agar lebih banyak menggambar. Sebubarnya anak-anak, Kugy dan Keenan gotong royong membereskan saung. \u201cKadang-kadang aku berharap kamu jadi pengajar tetap di sini,\u201d kata Kugy. \u201cSupaya?\u201d \u201cYa, supaya anak-anak ada yang mengajarkan menggam- \u00a0bar, dan sepertinya lewat gambar banyak sekali cara penga- \u00a0jaran kreatif yang bisa kamu lakukan, yang aku sendiri nggak sanggup ....\u201d \u201cOh. Kirain biar kita tiap hari ketemu,\u201d celetuk Keenan \u00a0jahil. Kugy tergelak. \u201cYa, itu boleh juga jadi bonus. Aku nggak\u00a0 keberatan ketemu kamu tiap hari.\u201d \u201cSaya juga nggak.\u201d Keduanya terdiam sejenak. Kugy tahu-tahu meletakkan ransel yang tadinya sudah siap disandangkan di bahu. \u201cKamu ke mana aja sih, Nan?\u201d \u201cAda,\u201d sahut Keenan setengah menggumam. \u201cKok nggak bilang-bilang kamu pindah tempat kos?\u201d \u201cCeritanya panjang, Gy.\u201d \u201cKamu bisa mulai cerita sekarang,\u201d tegas Kugy sambil duduk bersila. me\u201cnSgauynaduurdkaahn ndgirgia,\u201dkKkeuelniaahn lbaegritudtaurri saewkaelnasenmyae.ster. Saya 185 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 198\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cYa, aku tahu. Dari Wanda ...\u201d Kugy menyahut lirih. \u201cKe- luarga kamu gimana? Mereka setuju?\u201d \u201cSaya belum ketemu mereka lagi. Ayah saya sangat tidak\u00a0 setuju pastinya.\u201d Lama Kugy termenung. Segaris senyum lalu membersit di wajahnya. \u201cKamu berani banget, Nan. Aku salut. \u00a0Akhirnya, demi melukis kamu mengambil keputusan sebesar itu,\u201d ucapnya tulus. \u201cSaya nggak melukis lagi.\u201d Kugy nyaris mencelat dari lantai. \u201cKe\u2014kenapa?\u201d tanyanya terbata. \u201cSaya salah selama ini, saya pikir melukis adalah jalan hidup saya, tapi ternyata bukan,\u201d jelas Keenan dengan da- tar. \u201cTapi ... bukannya kamu mau pameran? Aku sempat ke- temu Wanda, dan dia cerita kalau kamu lagi konsentrasi melukis, terus kamu bakal keliling-keliling, pindah ke Jakarta ...\u201d Keenan tersenyum samar. \u201cDia cuma bercanda. Pameran, galeri, keliling-keliling ... semuanya cuma bercanda.\u201d \u201cAku nggak ngerti ...,\u201d Kugy menggelengkan kepala, \u201cmak- sud kamu ... rencana pameran itu nggak pernah ada?\u201d \u201cOm Hans sejak awal sebetulnya nggak setuju lukisan saya masuk ke Warsita, karena menurutnya karya saya be- lum matang. Tapi karena Wanda yang minta, lukisan saya \u00a0bisa lolos.\u201d \u201cIya ... tapi kan ... lukisan kamu pada akhirnya laku. \ue011\ue02f\ue032\ue023\ue035\ue003\ue027\ue02f\ue032\ue023\ue035\ue030\ue039\ue023 \ue026\ue02b\ue024\ue027\ue02e\ue02b \ue031\ue033\ue023\ue030\ue029\ue000 \ue015\ue035\ue036 \ue02d\ue023\ue030 \ue024\ue027\ue033\ue023\ue033\ue035\ue02b \ue024\ue036\ue02d\ue035\ue02b \ue02d\ue023\ue02e\ue023\ue036 \ue02e\ue036\ue02d\ue02b\ue034\ue023\ue030 \ue02d\ue023\ue02f\ue036 \ue02f\ue027\ue02f\ue023\ue030\ue029 \ue026\ue02b\ue02f\ue02b\ue030\ue023\ue035\ue02b\ue000\ue03c \u201cOleh satu orang tepatnya,\u201d Keenan berkata getir, \u201cWanda. Dia yang ternyata membeli semua lukisan saya, dan di- \u00a0syeamngbkuenlyeipkaasnandigarruam-gaahrnayma.abSoakyawnagkgtuakulsaennggtaajhautnahNuo. nDi.i\u201da 186 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 199\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kugy menatapnya tak percaya, \u201cJadi ... selama ini ...\u201d \u201cSelama ini semuanya nggak lebih dari cerita cewek kaya \u00a0yang jatuh hati sama seorang pemimpi. Tapi ini bukan salah siapa-siapa kok, Gy,\u201d Keenan tersenyum samar, \u201csaya nggak\u00a0 menyalahkan Wanda, apalagi Om Hans. Saya yang terlalu \u00a0bego.\u201d \u201cBukan berarti kamu harus mengorbankan impian kamu gitu aja dong, Nan. Masa cuma gara-gara seorang Wanda kamu jadi berhenti melukis ...,\u201d protes Kugy tak tertahan- kan. \u201cIni bukan masalah Wanda,\u201d potong Keenan keras, \u201ckamu \u00a0bisa bayangin? Saya sudah mengundurkan diri dari sekolah, saya sudah keluar dari rumah. Dengan naif dan yakinnya saya merasa bisa membuktikan sama keluarga saya, sama orang-orang, kalau saya mampu mandiri dari melukis\u2014\u201d \ue03b\ue022\ue023 \ue02d\ue023\ue02e\ue031 \ue029\ue02b\ue035\ue036 \ue024\ue036\ue02d\ue035\ue02b\ue02d\ue023\ue030\ue002 \ue026\ue031\ue030\ue029\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue024\ue023\ue02e\ue023\ue034 \ue02f\ue027\ue02f\ue031\ue035\ue031\ue030\ue029\ue002 \u201cKenapa malah berhenti?\u201d Kugy menatap Keenan tak me- ngerti, \u201cNan, kamu adalah pelukis paling hebat yang aku tahu. Terserah Om Hans mau ngomong apa, Wanda punya motivasi apa, kolektor-kolektor itu punya penilaian apa ... \u00a0buatku, kamu melukis dengan seluruh jiwa kamu, dan itu \u00a0\ue039\ue023\ue030\ue029 \ue032\ue027\ue030\ue035\ue02b\ue030\ue029\ue000\ue03c \u201cGy ... kalau saya memang pelukis yang sehebat yang kamu kira, udah dari dulu-dulu Om Hans langsung melolos- kan lukisan saya. Nggak usah pakai dibujuk-bujuk sama \u00a0Wanda segala. Dan kalau memang saya pelukis yang sebagus \u00a0yang kamu kira, waktu pameran katalog barunya Warsita sudah pasti ada yang membeli lukisan saya. Nggak perlu \u00a0Wanda yang sampai pura-pura beli.\u201d \u201cJadi, cuma gara-gara penilaian satu galeri, dan sekelom- pok orang yang entah siapa, kamu mengorbankan semua mim\u201cWpiakkaemuup., \u00a0GGityu,\u201d?\u201dKNeaendaanbimcaerlaenKguogsy, k\u201cWianarmsitearubnuckinagn. se- 187 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 200\/457"]
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184
- 185
- 186
- 187
- 188
- 189
- 190
- 191
- 192
- 193
- 194
- 195
- 196
- 197
- 198
- 199
- 200
- 201
- 202
- 203
- 204
- 205
- 206
- 207
- 208
- 209
- 210
- 211
- 212
- 213
- 214
- 215
- 216
- 217
- 218
- 219
- 220
- 221
- 222
- 223
- 224
- 225
- 226
- 227
- 228
- 229
- 230
- 231
- 232
- 233
- 234
- 235
- 236
- 237
- 238
- 239
- 240
- 241
- 242
- 243
- 244
- 245
- 246
- 247
- 248
- 249
- 250
- 251
- 252
- 253
- 254
- 255
- 256
- 257
- 258
- 259
- 260
- 261
- 262
- 263
- 264
- 265
- 266
- 267
- 268
- 269
- 270
- 271
- 272
- 273
- 274
- 275
- 276
- 277
- 278
- 279
- 280
- 281
- 282
- 283
- 284
- 285
- 286
- 287
- 288
- 289
- 290
- 291
- 292
- 293
- 294
- 295
- 296
- 297
- 298
- 299
- 300
- 301
- 302
- 303
- 304
- 305
- 306
- 307
- 308
- 309
- 310
- 311
- 312
- 313
- 314
- 315
- 316
- 317
- 318
- 319
- 320
- 321
- 322
- 323
- 324
- 325
- 326
- 327
- 328
- 329
- 330
- 331
- 332
- 333
- 334
- 335
- 336
- 337
- 338
- 339
- 340
- 341
- 342
- 343
- 344
- 345
- 346
- 347
- 348
- 349
- 350
- 351
- 352
- 353
- 354
- 355
- 356
- 357
- 358
- 359
- 360
- 361
- 362
- 363
- 364
- 365
- 366
- 367
- 368
- 369
- 370
- 371
- 372
- 373
- 374
- 375
- 376
- 377
- 378
- 379
- 380
- 381
- 382
- 383
- 384
- 385
- 386
- 387
- 388
- 389
- 390
- 391
- 392
- 393
- 394
- 395
- 396
- 397
- 398
- 399
- 400
- 401
- 402
- 403
- 404
- 405
- 406
- 407
- 408
- 409
- 410
- 411
- 412
- 413
- 414
- 415
- 416
- 417
- 418
- 419
- 420
- 421
- 422
- 423
- 424
- 425
- 426
- 427
- 428
- 429
- 430
- 431
- 432
- 433
- 434
- 435
- 436
- 437
- 438
- 439
- 440
- 441
- 442
- 443
- 444
- 445
- 446
- 447
- 448
- 449
- 450
- 451
- 452
- 453
- 454
- 455
- 456
- 457