Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Perahu Kertas

Perahu Kertas

Published by SPEGASALIBRARY, 2023-07-23 01:02:01

Description: Novel Perahu kertas ini bertemakan persahabatan dengan konflik-konflik pembaca meresapi cerita

Search

Read the Text Version

["\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cKalian duluan, deh. Besok pagi kan kalian masih harus ke Bandung. Biar gua yang nganterin Kugy,\u201d ujar Keenan di \u00a0beranda depan. \u201cYakin?\u201d tanya Noni dan Eko hampir berbarengan. \u201cNggak ngerepotin?\u201d Kugy menyusul bertanya. Keenan menggeleng mantap, lalu melepas keduanya pu- lang. Tinggal ia, Kugy, dan bebunyian serangga malam. \u201cGy, saya sebenarnya pingin ngomong sesuatu. Bagi saya, hal ini sangat pribadi, dan hanya menyangkut kita berdua. Makanya saya nggak pingin ngomong di depan Noni dan Eko.\u201d Meski tetap tampil tenang, Kugy kontan tidak keruan. Jantungnya berdegup kencang. Keenan menatap Kugy dalam-dalam. \u201cGy, saya harus ber- terima kasih sama kamu.\u201d \u201cUntuk?\u201d Dan Kugy melihat Keenan mengeluarkan se- suatu dari balik punggungnya. Benda yang ia bawa sejak\u00a0 mereka beranjak ke serambi tadi. \u201cKamu sudah meminjamkan sesuatu yang sangat ber- harga buat saya. Tapi barang ini harus saya kembalikan lagi, karena ini memang milik kamu.\u201d Keenan lalu menyerahkan sebuah buku tulis yang kini sudah kumal. Kugy tercengang, tak percaya ia akan melihat buku itu lagi\u201c.B\u201cuJkeundineiraplePrnilaikh?m\u201d teannjyaadni ybaagbiearngteetrapr.enting dalam hidup saya,\u201d Keenan berkata lembut, \u201cdan kamu akan tahu kenapa. Tapi saya nggak mau ngasih tahu dengan cara yang biasa- \u00a0biasa aja.\u201d Kugy tambah bingung. Buku kumal itu diterimanya de- ngan perasaan campur aduk, \u201cJadi ... selama ini, kamu me- nyi\u201cmDpaannsabyuakubaicnai htearmusp?irWtiaapkthuakria,\u201dmKuedeni aBnalmi jeungaam?\u201dbahkan. 338 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 351\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Ia tersenyum. \u201cKamu sadar nggak? Kamu akan jadi penulis dongeng yang luar biasa.\u201d Kerongkongan Kugy tercekat. Sudah lama sekali tidak\u00a0 ada yang mengatakan hal itu padanya, bahkan menyinggung secuil pun tentang dunia satu itu. Termasuk dirinya sen- diri. \u201cKali ini, saya ingin meminta satu hal lagi dari kamu,\u201d ucap Keenan separuh berbisik. \u201cSaya ingin minta satu hari saja. Saya ingin mengajak kamu ke satu tempat. Kapan kamu bisa, kasih tahu saya. Nanti kamu akan ngerti kenapa \u00a0buku itu begitu penting buat hidup saya.\u201d Kugy tak paham apa yang Keenan maksud, tapi tak\u00a0 urung kepalanya mengangguk. Hari Sabtu pagi. Pukul tujuh kurang lima, Keenan sudah nongkrong di ruang tamu Kugy. Tak lama kemudian, Kugy\u00a0 keluar. Masih dengan rambut basah dan mata yang melek\u00a0 terpaksa. \u201cTernyata kamu memang serius gilanya. Bener-bener ha- rus jam tujuh, ya?\u201d sapa Kugy dengan jalan yang masih se- dikit sempoyongan. \u201cHari ini cuma ada satu aturan yang berlaku,\u201d ujar Keenan sok tegas, \u201caturan saya.\u201d \u201cAku mau diperbudak seperti Eko dan Fuad memper- \u00a0budakku bertahun-tahun, ya?\u201d tanya Kugy lunglai. \u201cPokoknya hari ini tugas kamu cuma satu, Gy: percaya sama saya. Oke. Aturan pertama, membawa beberapa baju cadangan. Udah?\u201d Keenan mengecek. \u201cUdah.\u201d ini,\u201cBsaamgupsa.iAntaunrtainkakmeduuak:emHPbamli alatig.iDkaersi imniu.\u201dlai ruang tamu 339 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 352\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSiap.\u201d Beberapa menit kemudian, mereka berangkat dari rumah Kugy. Sepanjang jalan, Kugy keasyikan mengobrol sampai- sampai tak sadar mobil itu sudah sampai di mulut tol Cikam- pek. \u201cNan,\u201d gumamnya, setelah mendeteksi keanehan yang terjadi, \u201cngomong-ngomong, kita mau ke mana, sih?\u201d Keenan nyengir. \u201cTujuan pertama pagi ini: Bandung. Kita \u00a0jenguk Pilik.\u201d \ue03b\ue017\ue027 \ue00e\ue023\ue030\ue026\ue036\ue030\ue029\ue00c \ue01c\ue02b\ue02e\ue02b\ue02d\ue00c\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue035\ue027\ue033\ue032\ue027\ue033\ue023\ue030\ue029\ue023\ue02a\ue004 \ue03b\ue014\ue031\ue033\ue027\ue027\ue027\ue000\ue03c \ue035\ue027\ue033\ue02b\ue023\ue02d\ue003 nya sambil melompat-lompat di tempat duduknya. Satu mobil terguncang-guncang. Sudah tiga jam mereka menempuh perjalanan, menembusi \u00a0jantung Kota Bandung, terus ke arah utara. \u201cNan, aku nggak ngerti,\u201d kata Kugy, \u201ckok, kamu kepikir \u00a0buat jenguk Pilik segala, sih? Padahal kamu cuma dua kali ketemu mereka. Harusnya ide menjenguk ini munculnya dari aku, guru mereka, yang hampir ketemu tiap hari selama dua tahun.\u201d \u201cUdah, deh. Nggak usah tanya-tanya,\u201d Keenan menyahut santai, \u201citu juga bagian dari kejutan hari ini.\u201d Mobil Keenan mendekati lokasi kampung Pilik. Jalan se- tapak menuju Sakola Alit sudah kelihatan. \u201cSaya harus parkir di sini kan, ya?\u201d tanya Keenan ketika melihat plang puskesmas yang dulu menjadi patokannya. \u201cIya ... tapi, biasanya ada pos jaga Mang Sukri di sini ... ke mana, ya?\u201d Kugy celingukan. Mereka berdua keluar dari mobil. Dulu, di sebelah puskesmas itu ada saung dari kayu \u00a0yang merangkap pos ronda. Saung kayu yang biasanya di- gawangi oleh Mang Sukri kini sudah tak ada. Puskesmas 340 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 353\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 kecil itu pun tampak sepi, tak terawat. Seperti sudah tak\u00a0 terpakai berbulan-bulan. \u201cGy, daerah ini kayaknya berubah,\u201d gumam Keenan sam- \u00a0bil melihat sekeliling. Kugy ikut menebarkan pandangan. Keenan benar. Daerah itu sudah berubah. Jalan setapak menuju Sakola Alit men- \u00a0jadi lebih besar, rumput-rumput pun sudah gundul, seperti sering dilalui kendaraan. Sekumpulan pohon bambu rimbun \u00a0yang biasanya meneduhi mobil yang parkir di tempat itu sudah tidak ada lagi. Sinar matahari menerpa langsung, membuat semuanya kelihatan lebih gersang. Mereka mulai menapaki jalan. Pemandangan yang me- reka temui kian asing saja. Mereka berpapasan dengan ba- nyak pekerja yang mengangkuti pasir, semen, batu-batu. Dan terkejutlah mereka ketika setengah kampung tempat Pilik bermukim sudah rata dengan tanah. Hamparan tanah merah terbentang luas. Tak ada rumah penduduk. Tak ada ladang. Hanya truk-truk besar, mesin backhoe, \u00a0 mesin pengaduk semen, dan para pekerja yang hilir mudik di lahan \u00a0besar itu. Kugy dan Keenan melongo melihat itu semua. Sakola Alit hilang tanpa bekas. Tanpa buang waktu, mereka mencari penduduk yang ma- sih tersisa, dan bertanya sana-sini. \u201cBade didamel janten perumahan34,\u201d\u00a0\u00a0 jawab salah satu orang yang berhasil Kugy cegat. Seorang pengangkut kayu \u00a0bakar. \u201cRumah-rumah di sini pada ke mana, Pak?\u201d tanya Keenan. \u201cAtos ngaralih. Sadayana atos digusur35,\u201d Bapak itu men- \u00a0jawab seraya merentangkan tangannya. \u201cKe mana?\u201d desak Kugy lagi. 34 Akan dijadikan perumahan. 354\/457 35 Sudah pindah. Semuanya sudah digusur. 341 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cDuka atuh, Neng. Da paburencay ....36\u201d\u00a0 Ia mengangkat \u00a0bahu. \u201cUpami Bapa terang teu Pak Usep\u00a0 ayeuna di mana37?\u201d\u00a0 Dengan agak terbata-bata, Kugy berusaha berkomunikasi dalam bahasa Sunda. \u201cOh. Pak Usep anu gaduh kebon sampeu38?\u201d\u00a0 \u201cMuhun, muhun. Anu putrana namina \u00a0 Pilik3\u00a09,\u201d Kugy\u00a0 mengangguk-angguk antusias. \u201cPak Usep mah kagusur ka caket susukan40, Neng.\u201d\u00a0 De- ngan prihatin, bapak itu berkata. Kugy tahu benar \u201csusukan\u201d yang dimaksud. Sebuah kali kecil yang nyaris kering dan kotor. Tempat itu tidak terlalu \u00a0jauh dari pembuangan sampah. \u201cKamu tahu tempatnya, Gy?\u201d tanya Keenan. Kugy mengangguk. \u201cKita susul ke sana, yuk,\u201d gumamnya. Ia sudah bisa membayangkan kondisi seperti apa yang di- hadapi Pilik dan keluarganya. Setelah mengucapkan terima kasih, keduanya bergegas pergi. Dan bayangan Kugy tidak salah. Malah lebih buruk. Ada \u00a0beberapa gubuk yang berdiri di pinggir kali tersebut. Gubuk- gubuk reyot yang tak layak disebut rumah. Satu-dua orang tampak lalu lalang di sekitar gubuk. \ue03b\ue015\ue035\ue036 \ue01c\ue023\ue02d \ue020\ue034\ue027\ue032\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue024\ue027\ue033\ue034\ue027\ue033\ue036\ue004 \ue03b\ue01a\ue027\ue030\ue029 \ue020\ue029\ue02b\ue000\ue03c \ue01c\ue023\ue02d \ue020\ue034\ue027\ue032 \ue035\ue023\ue02d \ue02d\ue023\ue02e\ue023\ue02a \ue035\ue027\ue033\ue02d\ue027\ue02c\ue036\ue035\ue004 \ue015\ue023 \ue02e\ue023\ue030\ue029\ue034\ue036\ue030\ue029 \ue02f\ue027\ue003 longok ke dalam gubuknya, \u201cBu ... bu ... kadieu, enggal! Ieu, aya guru-guruna Pilik4\u00a01\ue000\ue03c Seorang ibu berdaster lusuh keluar dari situ. Seolah me- 36\u00a0Tidak tahu, Non. Soalnya berpencar. 355\/457 37\u00a0Kalau Bapak tahu nggak Pak Usep sekarang ada di mana?. 38\u00a0Yang punya kebon singkong. 39\u00a0Betul, betul. Yang anaknya bernama Pilik. 40\u00a0Pak Usep tergusur ke dekat kali. 41\u00a0 \ue017\ue027\ue02f\ue023\ue033\ue02b\ue002 \ue025\ue027\ue032\ue023\ue035\ue000 \ue015\ue030\ue02b \ue023\ue026\ue023 \ue029\ue036\ue033\ue036\ue003\ue029\ue036\ue033\ue036\ue030\ue039\ue023 \ue01c\ue02b\ue02e\ue02b\ue02d\ue000\ue004 342 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 lihat malaikat, ia menghambur ke arah Kugy, memeluknya erat. \u201cBu Ugi ... si Pilik, Bu ...,\u201d tangisnya serta-merta. Tubuhnya berguncang. Pak Usep hanya bisa diam dan tertunduk sedih. Seketika itu juga, Kugy dan Keenan tahu, ada sesuatu \u00a0yang tidak beres. Kembali hanya mereka berdua ditemani embusan angin dan gemeresik bambu. Dari tempat mereka berdiri, kebisingan pembangunan real estate itu hanya terdengar sayup-sayup. Sesekali burung berseliweran, berkicau, lalu hinggap di atas nisan kayu yang terpancang di hadapan mereka berdua. Pilik beristirahat di sana. Sebuah makam seadanya. Yang tersisa hanya kenangan suaranya yang gaduh, larinya yang gesit, rambutnya yang gundul, dan sinar matanya yang cer- \ue026\ue023\ue034\ue004 \ue01e\ue027\ue02f\ue036\ue023\ue030\ue039\ue023 \ue024\ue027\ue033\ue032\ue036\ue035\ue023\ue033 \ue024\ue023\ue029\ue023\ue02b\ue02d\ue023\ue030 \ue03e\ue02e\ue02f \ue026\ue023\ue02e\ue023\ue02f \ue02d\ue027\ue032\ue023\ue02e\ue023 \ue017\ue036\ue029\ue039\ue004 Sementara seribu satu penyesalan muncul di benak\u00a0 Keenan. Di tangannya, Keenan menggenggam sebuah buku ta- \u00a0bungan, yang akan dihadiahkan bagi Pilik dan Sakola Alit. Uang yang ia sisihkan dari hasil penjualan lukisannya se- lama ini. Dengan getir ia memandangi nisan itu, menyadari \u00a0betapa ironisnya realitas saat harus bersanding dengan du- nia dongeng. Keindahan dunia Jenderal Pilik dan Pasukan \u00a0Alit yang terwujudkan dalam semua karyanya, serta ke- nyataan hidup seorang anak bernama Pilik bin Usep yang harus tergusur karena keluarganya tak punya bukti ke- pemilikan tanah, harus tinggal dalam sebuah gubuk di ping- gir pembuangan sampah, dan menderita tifus tiga bulan \u00a0ymaansg slualduathanlapma amdaimtuptuupm. ePnackarUi pseeprtobliolanngagn, tmakedsiasm. Ppuasiksees-- 343 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 356\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 minggu, kondisi Pilik turun drastis, dan akhirnya tubuh kecilnya menyerah. Pilik pergi membawa mimpinya untuk\u00a0 \u00a0bisa masuk SMP. \u201cCoba kalau aku sempat nengokin dia ... aku beneran nggak tahu, Nan ... aku juga hilang kontak dengan Ami ... padahal ... Pilik ... mestinya dia punya kesempatan ... anak\u00a0 itu pintar ...,\u201d Kugy berkata tersendat-sendat. \u00a0Harusnya kesempatan itu ada. \u00a0 Keenan terduduk pilu, merangkul Kugy yang bersimpuh sambil terisak. \u201cAku sering kangen sama Pilik ... sama anak-anak ... tapi aku udah nggak pernah sempat lagi nengok mereka ... aku masih punya satu buku tulis petualangan Pasukan Alit yang \u00a0bahkan mereka belum sempat baca ...,\u201d tangis Kugy lagi, lalu membenamkan kepalanya dalam rengkuhan Keenan. Mena- ngiskan semua penyesalan yang tersisa dalam hatinya. \u201cSuatu saat mereka pasti baca, Gy,\u201d sahut Keenan lirih, \u201ckamu jangan berhenti menulis.\u201d Sesaat, Keenan merasa terempas kembali ke masa lalu. Kala ia dan Kugy masih berbagi mimpi yang sama. Saat \u00a0yang mereka butuhkan hanyalah alam dan satu sama lain. Saat sebuah momen sederhana bersama Kugy dapat meng- kristal dan hidup lestari dalam hatinya. Namun, waktu ber- \u00a0jalan dan Bumi berputar, membawa mereka begitu jauh. Realitas dan dongeng terpisahkan tabir yang rasanya tak\u00a0 akan pernah bisa ia tembus. 344 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 357\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 38. PENCULIKAN PALING INDAH Kugy termenung melihat buku tabungan yang dibawa Keenan. Beraneka ragam perasaan melanda hatinya. Antara haru, terkejut, dan getir. Kugy tak menyangka betapa kisah \u00a0yang ia tulis telah berperan begitu besar dalam hidup Keenan. Ia terharu dengan kesungguhan Keenan untuk ber- terima kasih padanya, pada Sakola Alit, dan Pasukan Alit. Namun, ia juga getir melihat kenyataan bahwa niat baik me- reka semua tak sanggup menolong Jenderal Pilik. \u201cKamu akan kasih uang ini ke mereka, Nan?\u201d tanya Kugy. \u201cYa. Ke Pak Usep, Pak Somad, dan semua keluarga Pa- sukan Alit yang kena gusur,\u201d jawab Keenan tegas, \u201csaya nggak mungkin menyimpannya lagi. Uang ini sudah saya anggap menjadi hak mereka.\u201d \u201cLalu ... kita mau ngapain lagi sekarang?\u201d Kugy mengusap \u00a0wajahnya. Penat. \u201cSaya masih mau mengajak kamu ke suatu tempat. \u00a0sAatmurbainl mheanriguisnaip mpealsainh tabnegrlaankuK,ugGyy.,\u201d Keenan tersenyum 345 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 358\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kugy mengangguk pasrah. Ia tak punya cukup tenaga un- tuk protes. Tak cukup kemauan. Apa pun rencana Keenan, ia hanya ingin diam di mobil dan mengikuti ke mana arah nasib membawanya. Tak lama, mobil SUV itu pergi meninggalkan daerah Bojong Koneng, lalu keluar dari Kota Bandung. Kugy tertidur separuh terakhir perjalanan entah ke mana itu. Ia hanya tahu bahwa mobil mereka pergi mengarah Kota Garut, lalu terus ke Selatan menuju Pameungpeuk. Sisanya ia tak sadarkan diri. Tertidur pulas dengan sandaran \u00a0jok merebah ke belakang. Matanya terbuka ketika mobil Keenan akhirnya berhenti. Pertama-tama, Kugy melihat angkasa luas yang terbentang dari kaca mobil. Langit berwarna kemerahan. Menyala bagai disulut api. Arakan-arakan awan tampak merona jingga di- telan ufuk Barat. Hal kedua yang disadarinya adalah deburan ombak yang dahsyat dari arah bawah. Hal ketiga, Kugy menyadari bahwa Keenan tidak ada di sampingnya. Sontak, Kugy terduduk. Tersadarlah ia bahwa mobil itu tengah terparkir di atas tebing berumput hijau. Di hadapan- nya terhampar laut luas. Dan di bawah sana, tampak ombak\u00a0 \u00a0berputar dan berpusar, saling memecah dan mengempas, menyapu hamparan karang dengan buih putih. Cepat-cepat, Kugy keluar dari mobil. Belum tuntas rasa kagetnya, Kugy masih harus terpana melihat ratusan kelelawar yang tiba-tiba mengepak ber- samaan dari bawah tebing, membentuk segomplok awan hi- tam yang sejenak memenuhi langit. Terkesiap dengan semua kheainnydaabhiasna tyearndgudmueknddiaadtaaks hruamdipr udti. depan matanya, Kugy\u00a0 346 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 359\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \ue03b\ue017\ue027\ue025\ue02b\ue02e\ue000\ue03c \ue01e\ue036\ue023\ue033\ue023 \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030 \ue024\ue027\ue033\ue035\ue027\ue033\ue02b\ue023\ue02d \ue02f\ue027\ue02f\ue023\ue030\ue029\ue029\ue02b\ue02e\ue030\ue039\ue023\ue004 Kugy menoleh ke samping. Tampak Keenan melambaikan tangan dari sebuah saung beratapkan ilalang. Kugy langsung \u00a0berlari-lari menghampirinya. \u201cNan? Kita sebenarnya di mana, sih?\u201d Kugy bertanya keras. \u201cSelamat datang di Ranca Buaya,\u201d Keenan tersenyum lebar, \u201cini bagian dari peraturan saya hari ini, yaitu kamu harus rela diculik ke mana pun. Saya pernah ke pantai ini nggak sengaja, bareng Bimo dan anak-anak kampus. Saya langsung jatuh cinta. Bertahun-tahun pingin ke sini lagi, tapi nggak pernah sempat. Baru sekarang bisa kembali lagi. Sama kamu. \u00a0So, enjoy.\u201d\u00a0Ia lalu menyorongkan minuman di- ngin yang dibawanya dalam cool box. Kugy mengambil minuman yang disodorkan Keenan. Muka protesnya perlahan berubah. \u201cWell, \u00a0 Agen Keenan Simalakamania, aku harus mengakui, ini adalah penculikan \u00a0yang sangat menyenangkan,\u201d Kugy terkekeh, \u201ccheers.\u201d \u201cCheers.\u201d\u00a0 Keduanya lalu duduk di pinggir tebing, beralaskan rum- put dan bertemankan dua minuman kaleng dingin, me- nikmati matahari terbenam hingga pupus ditelan malam. Menghayati keluasan Samudra India yang membentang dari tempat mereka duduk. Menjelang gelap, SUV itu turun dari tebing, menuju \u00a0bagian pantai landai tempat beberapa pedagang makanan \u00a0berjualan. Malam yang masih muda terlihat jernih. Taburan \u00a0bintang muncul tanpa perlawanan awan. Dan bulan bersinar megah dalam masa purnamanya. \u201cIni ... adalah mi instan paling enak yang pernah aku coba seumur hidup,\u201d komentar Kugy seraya melahap mi kreebduusa.yang dipesannya. Ia sudah memasuki mangkuk yang 347 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 360\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Keenan melirik bungkusan bekas mi instan yang masih tergeletak di meja. \u201cEmang, ada bedanya, ya?\u201d \u201cJelas ada,\u201d kata Kugy yakin, \u201cfaktor pertama adalah nggak makan dari siang, faktor kedua adalah ... ini warung dengan pemandangan terindah yang pernah aku kunjungi. Restoran paling mahal di Jakarta aja kalah sama warung ini. Iya, nggak?\u201d \u201cSetuju,\u201d Keenan pun bergerak ke mangkoknya yang ke- dua, \u201cjadi, nggak nyesel kan diculik?\u201d Kugy berhenti mengunyah. \u201cKalo boleh tahu, maksud kamu hari ini sebetulnya apa sih, Nan?\u201d Keenan ikut berhenti, sejenak menatap Kugy. \u201cBeresin dulu makannya. Nanti saya kasih tahu. Tapi nggak sekarang, dan nggak di sini.\u201d Mata Kugy langsung membeliak. \u201cJadi ... kita masih pindah tempat lagi?\u201d Keenan mengangguk, \u201cDua puluh meter ke depan.\u201d Pantai Ranca Buaya hampir seluruhnya dibingkai oleh ham- paran karang, kecuali satu cerukan yang dipakai sebagai pelabuhan kapal nelayan, yang letaknya persis di depan \u00a0warung-warung makanan. Dekat dari sana, masih tersisa sebagian kecil pantai kosong yang tidak diparkiri perahu. Di bagian itu, Kugy dan Keenan akhirnya berkesempatan untuk merendam kaki mereka dalam air laut, di atas pasir pecahan kerang berwarna krim kekuningan. Ratusan anak\u00a0 ombak berkilau perak ditimpa sinar bulan. Karang-karang kecil bermunculan, tampak mengilap disepuh buih ombak. Selain mereka berdua, tak ada lagi orang di sana. 348 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 361\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Setelah kenyang bermain ombak, Kugy mendamparkan tubuhnya di atas pasir. \u201cKenyang begini ... paling enak\u00a0 tidur,\u201d celetuknya. \u201cMau dibikinin tempat tidur nggak?\u201d Keenan bertanya. \u201cGimana caranya?\u201d Keenan melesat ke mobilnya, kembali membawa ember kecil dan sekop. \ue03b\ue022\ue023\ue002 \ue023\ue02f\ue032\ue036\ue030\ue000 \ue017\ue023\ue02f\ue036 \ue02f\ue023\ue036 \ue024\ue027\ue033\ue035\ue023\ue030\ue02b\ue00c \ue017\ue031\ue02d\ue002 \ue024\ue023\ue038\ue023 \ue034\ue027\ue02d\ue031\ue032 \ue034\ue027\ue003 gala?\u201d Kugy tergelak. \u201cNggak usah banyak tanya adalah salah satu aturan yang \u00a0berlaku hari ini,\u201d Keenan menjawab santai, lalu sibuk me- ngerjakan sesuatu. \u201cKamu ngapain, sih?\u201d Masih dalam posisi telentang meng- hadap langit, Kugy bertanya. Mendadak, tubuhnya terangkat. Keenan menggendongnya tanpa disangka-sangka. \ue03b\ue01a\ue023\ue023\ue023\ue030\ue000 \ue017\ue023\ue02f\ue036 \ue030\ue029\ue023\ue032\ue023\ue02b\ue02b\ue02b\ue030\ue00c\ue03c \ue035\ue027\ue033\ue02b\ue023\ue02d \ue017\ue036\ue029\ue039\ue002 \ue034\ue032\ue031\ue030\ue035\ue023\ue030\ue004 Beberapa detik kemudian, tubuhnya mengempas kembali ke pasir, ke dalam sebuah lubang dangkal. \u201cIni tempat tidur yang nggak bisa didapatkan di hotel termahal sekalipun. Tempat tidur pasir. Alamiah dan juga \ue035\ue027\ue033\ue023\ue032\ue027\ue036\ue035\ue02b\ue02d \ue02d\ue023\ue033\ue027\ue030\ue023 \ue032\ue036\ue030\ue039\ue023 \ue027\ue028\ue027\ue02d \ue033\ue027\ue03f\ue027\ue02d\ue034\ue02b\ue031\ue02e\ue031\ue029\ue02b\ue034\ue002\ue03c \ue034\ue027\ue032\ue027\ue033\ue035\ue02b \ue035\ue036\ue02d\ue023\ue030\ue029 obat Keenan menerangkan, sambil terus menimbuni Kugy\u00a0 dengan pasir yang disendoknya dengan ember. \u00a0Yang dikubur tidak protes, malah terkikik-kikik geli. Bu- tiran pasir yang menghambur menggelitik saraf-saraf kulit- nya. \u201cGimana tempat tidurnya, Kecil? Asyik, kan?\u201d Keenan tersenyum penuh kemenangan. \u201cHotel bintang lima lewaaat ...,\u201d desah Kugy seraya me- mejamkan mata. Setelah tubuhnya tertimbun pasir, Keenan lalu ikut berbaring di sebelahnya. 349 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 362\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cJelas lewatlah. Ini namanya hotel bintang sejuta,\u201d sahut Keenan, \u201croom service-nya Indomie rebus sama teh tawar, \ue02e\ue036\ue023\ue034 \ue02d\ue023\ue02f\ue023\ue033 \ue034\ue027\ue02e\ue036\ue023\ue034\ue003\ue02e\ue036\ue023\ue034\ue030\ue039\ue023\ue002 \ue035\ue027\ue02f\ue032\ue023\ue035 \ue035\ue02b\ue026\ue036\ue033 \ue033\ue027\ue03f\ue027\ue02d\ue034\ue02b\ue002 \ue026\ue023\ue030 live music\u00a0nonstop ... suara ombak. Lagu alam paling merdu.\u201d Mendengar kalimat Keenan yang terakhir, Kugy sontak\u00a0 menoleh. \u201cKamu kok\u2014?\u201d \u201cKamu boleh menganggap ini hadiah ulang tahun ter- tunda, kamu boleh menganggap ini perayaan kecil reuni kita \u00a0berdua, kamu boleh menganggap ini apa pun ...,\u201d Keenan \u00a0beringsut mendekat, menatap lekat Kugy yang telentang ter- tutup pasir, \u201cyang jelas, ini ungkapan terima kasih untuk\u00a0 semua inspirasi berharga yang sudah kamu kasih untuk\u00a0 saya.\u201d Kugy merasa sekujur tubuhnya kaku. Dan timbunan pasir \u00a0yang mengurungnya semakin membuat ia merasa tak ber- daya. Tak bisa bergerak, tak juga bicara, hanya menatap \u00a0balik wajah Keenan yang memayunginya dengan jarak yang \u00a0begitu dekat. \u201cKecil ... saya selalu ingat kata-kata kamu. Kamu paling suka sama suara ombak. Moga-moga kamu senang, ya, di sini,\u201d lanjut Keenan lagi. \u201cIni\u2014\u201d Kugy hampir tak sanggup melanjutkan, \u201cini ha- diah paling indah yang pernah aku terima seumur-umur. Makasih, ya.\u201d Keenan menggeleng, \u201cSaya yang berterima kasih, Gy. Dan saya masih punya satu hadiah lagi. Aturannya juga sama, kamu harus nurut apa pun yang saya suruh. Oke? Sekarang, tutup mata.\u201d Kugy menurut meski gugup bukan main. Dalam kondisi mata terpejam, ia dapat jelas merasakan wajah Keenan men- dekat. Napasnya yang terasa hangat meniupi kulit mukanya. 350 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 363\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Jantungnya berdebar kencang dan rasanya ia ingin mencelat keluar dari tempat tidur pasirnya, tapi Kugy sungguhan ti- dak sanggup bergerak. \u201cBuka mulut kamu ....\u201d Dengan lembut, Keenan meminta. Ragu, Kugy membuka mulutnya perlahan. Sesuatu me- nyentuh bibirnya, dan memasuki rongga mulutnya. Kugy\u00a0 hafal bau itu. Napasnya yang tadi tertahan seketika melega. Tapi ia tak bisa bicara lagi karena mulutnya sudah penuh terjejal. \u201cPisang susu kesukaanmu,\u201d Keenan tertawa kecil. \u201cSaya \u00a0bawa sesisir, tuh.\u201d Sambil mengunyah, Kugy berkomentar, \u201cPanitianya cang- gih, nih. Kamu kok ingat semuanya sih, Nan?\u201d Keenan menempelkan kedua telunjuknya di ubun-ubun menyerupai antena. \u201cRadar Neptunus,\u201d celetuknya ringan. \u201cOke, rekan agenku.\u00a0Main course\u00a0udah, sekarang dessert,\u00a0 terus apa lagi sesudah ini?\u201d tanya Kugy. \u00a0Air muka Keenan berubah serius. \u201cGy, perjalanan ke sini kan butuh enam jam dari Bandung. Tiga jam lagi ke Jakarta- nya. Kalau kita paksakan pulang malam ini pasti capek ba- nget. Gimana kalau kita pulang besok subuh menjelang sunrise?\u201d\u00a0 \u201cTerus, kita tidur di mana? Nggak beneran di \u2018tempat ti- dur\u2019 ini, kan?\u201d \u201cTenang. Saya penculik bertanggung jawab, kok,\u201d Keenan pergi lagi ke mobilnya, kembali membawa dua sleeping bag. \u201cKita bisa gelar ini di saung belakang, atau di pantai juga \u00a0boleh. Terserah kamu, Nona Kecil.\u201d \u201cHmm ... hmmm ...,\u201d Kugy berpikir-pikir, \u201ckalau aku sih pinginnya di sini, tapi, aman nggak, ya?\u201d sud\u201caAhmmanen,\u201dgjaanwtiasbipKaseiensoaanl mkeaanmtaapn,a\u201cnp.a\u201dnitia penculikan juga 351 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 364\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cOh, ya? Gimana caranya?\u201d \u201cBerdoa.\u201d Noni mengerutkan kening saat melihat nomor tak dikenal menghubungi ponselnya. Namun, ia memutuskan untuk\u00a0 mengangkatnya. \u201cHalo?\u201d \u201cHai. Ini dengan Noni?\u201d Suara cowok yang tidak ia kenal. \u201cIya, betul,\u201d kata Noni, \u201cini dengan siapa?\u201d \u201cIni Remi ....\u201d Remi berpikir sejenak, \u201cmmm ... pacarnya Kugy.\u201d \ue03b\ue01b\ue02a\ue000\ue03c \ue01a\ue031\ue030\ue02b \ue02d\ue023\ue029\ue027\ue035 \ue034\ue027\ue030\ue026\ue02b\ue033\ue02b\ue004 \ue01a\ue023\ue02f\ue023 \ue02b\ue035\ue036 \ue035\ue02b\ue026\ue023\ue02d \ue023\ue034\ue02b\ue030\ue029\ue004 \ue017\ue036\ue029\ue039 sudah menyebutkannya berkali-kali. Yang ia tidak sangka- sangka adalah Remi meneleponnya tanpa hujan tanpa angin. Pukul sebelas malam. \u201cMaaf, ya, ganggu malam-malam, saya tadi dapat nomor telepon kamu dari adiknya Kugy. Mau tanya, kira-kira kamu tahu nggak Kugy di mana? Seharian ini HP-nya nggak aktif, dan orang rumahnya nggak ada yang tahu dia pergi ke mana.\u201d \u201cWah, saya juga nggak tahu,\u201d kata Noni jujur. \u201cKata adiknya, Kugy lagi sering ngumpul sama teman- teman kampusnya. Barangkali Noni tahu sesuatu?\u201d \u201cSebetulnya yang dimaksud Keshia dengan \u2018teman kam- pus\u2019 itu ya termasuk saya juga, sih,\u201d sahut Noni sambil nye- ngir, \u201ckita dulu punya geng berempat gitu, Mas Remi. Bela- kangan memang lumayan sering main bareng lagi. Tapi hari ini setahu saya nggak ada jadwal ngumpul, tuh.\u201d \u201cKe mana ya dia? Kok sampai ngilang tanpa kabar?\u201d ta- nya\u201cMReams Ri ceemmi,ask.alo kata aku, Kugy pasti baik-baik aja. Dia 352 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 365\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 kan memang suka aneh. Besok paling juga udah muncul lagi,\u201d Noni terkekeh. Entah mengapa, omongan Noni tidak membuat Remi ber- tambah tenang. Sebaliknya, kepalanya justru makin pu- sing. Tak ada yang membangunkannya. Kugy membuka mata dan menemukan langit yang sudah semu kemerahan. Cepat- cepat ia mengeluarkan diri dari sleeping bag. Saat ia me- noleh ke samping, sleeping bag Keenan sudah tergulung rapi, dan penghuninya entah ada di mana. Tinggal ia sen- dirian di saung itu. Kugy pun berjalan mendekati pantai. Angkasa seperti ter- \u00a0belah dua. Semu kemerahan di ufuk timur, dan sebagian lagi masih biru tua, menyisakan jejak malam dan kawanan \u00a0bintang. Sementara bulan masih menyala perak, bundar ba- gaikan sebutir mutiara yang bertengger di tepi langit, siap \u00a0jatuh ditelan mulut fajar. Tak jauh darinya, tampak siluet Keenan tengah berdiri menghadap pantai. Menyadari Kugy yang ada di dekatnya, Keenan pun me- noleh. Mendapatkan Kugy yang samar diterangi cahaya la- ngit, tersenyum padanya. Rambutnya yang halus berkibar ditiup angin. Di matanya, keindahan pagi yang sejak tadi ia nikmati tiba-tiba memperoleh saingan. \u201cSelamat pagi, Nona Kecil.\u201d \u201cPagi, \u00a0Meneer\u00a0Penculik,\u201d Kugy menyapa balik seraya ber- \u00a0jalan ke sisi Keenan. \u201cSini, deh,\u201d Keenan menarik tangan Kugy lembut, \u201caturan terakhir yang nggak boleh kamu protes. Izinkan saya seperti \u00a0bineilaskebanengtaprunajgag,\u201dunbgisiKknuygay,, lmaleurpanerglkauhlaknanKekeendauna btearnggearnaknykae, 353 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 366\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 memeluk Kugy dari belakang. Di kupingnya, Keenan berkata, \u201cKe mana pun hidup membawa kita berdua, saya harus ju- \u00a0jur, karya kamu menjadi inspirasi terbesar saya. Kalau bo- leh, saya ingin terus berbagi karya dengan kamu. Kugy, Ke- cil, mau nggak kamu nulis dongeng lagi?\u201d Kugy menelan ludah. \u201cAku mau, asal kamu mau melukis lagi.\u201d \u201cAku mau. Demi Pilik,\u201d bisik Keenan. \u00a0Demi kamu. \u201cDemi Pilik,\u201d Kugy balas berbisik. \u00a0Dan demi kamu. Keheningan seakan memiliki jantung. Denyutnya terasa satu-satu, membawa apa yang tak terucap. Sejenak berayun di udara, lalu bagaikan gelombang air bisikan itu mengalir, sampai akhirnya berlabuh di hati. Tanpa disadari, Keenan mempererat pelukannya. Menik- mati denyutan hening. Karena hanya saat mereka bersama, ia bisa mencicipi keabadian. Meski hanya sesaat. 354 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 367\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 39. KARYA BERSAMA Sesampainya di rumah, yang pertama kali Kugy lakukan ada- lah menelepon Remi. Dan reaksi pertama yang ia terima adalah dimarahi. \u201cKamu sadar apa yang kamu perbuat pada saya?\u201d tanya Remi dengan suara tertahan. Jelas ia berusaha meredam emosinya, yang andai saja bisa dilepas, barangkali ia sudah \u00a0berkata-kata dengan nada tinggi. \u201cKamu udah nyiksa saya, \u00a0bikin saya stres, nggak bisa ngapa-ngapain selain nyariin kamu ke siapa pun yang saya bisa, selain nunggu kabar dari kamu yang saya tungguin sampai subuh dan nggak ada \u00a0juga.\u201d Kugy terkesiap. \u201cRemi ... sori ....\u201d \u201cKamu sadar, nggak? Satu menit telepon dari kamu, bah- kan tiga puluh detik aja, akan membuat keadaan ini jauh \u00a0berbeda.\u201d \u201cIya ... aku tahu ... tapi ....\u201d nus\u201cuKka.mu keterlaluan, Gy.\u201d Remi berkata dingin, tapi me- 355 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 368\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSemuanya mendadak, Remi. Aku ke Bandung ... dan tahu-tahu bekas muridku meninggal ... jadi aku ....\u201d \u201cOke, Gy, apa pun alasan kamu, saya terima. Tapi bukan itu yang jadi masalah. Apa yang bikin kamu sampai nggak\u00a0 kasih kabar sama sekali? Apa yang terjadi sampai HP kamu nggak aktif sehari semalam?\u201d \u201cSoalnya ...,\u201d Kugy memejamkan mata kuat-kuat. \u00a0Aku nggak mungkin bilang. \u201cSoalnya HP-ku ketinggalan di ka- mar,\u201d kata-kata itu akhirnya meluncur, \u201cdalam keadaan mati. Sori. Aku memang teledor.\u201d Terdengar sunyi dari ujung sana, lalu helaan napas pan- \u00a0jang. \u201cSekali lagi kamu ngilang begitu, Gy, dan ada apa-apa dengan kamu, saya nggak yakin bisa memaafkan diri saya sendiri.\u201d \u201cRemi ... aku nggak kenapa-napa kok ....\u201d \u201cDan gimana caranya saya tahu itu kalau kamu nggak\u00a0 \u00a0bisa dihubungi? Percuma, Gy.\u201d Kugy tak bisa berkata apa-apa lagi. \u201cGy, satu hari kamu akan sadar kalau saya nggak bisa kehilangan kamu. Kamu ... terlalu berharga buat saya. Kamu nggak bisa membayangkan betapa kesiksanya saya kemarin. Tolong, jangan pernah lagi kamu ngilang kayak gitu.\u201d Tanpa bisa Kugy kendalikan, air mata tahu-tahu saja me- rembesi pipinya. Ucapan Remi menyadarkannya akan se- suatu. \u201cYa, udah. Yang penting kamu udah pulang. Nggak ada \u00a0yang lebih penting dari itu,\u201d Remi berkata, seolah menasihati dirinya sendiri, \u201ckamu sehat, Sayang? Capek? Masih se- dih?\u201d \u201cAku baik-baik,\u201d Kugy berkata dengan nada tertekan, ber- usaha meredam jejak tangisnya. \u201c\u201cINyaan. tAi kmuatluamnggsauy, ayak,e\u201d rKuumgyahm, yean.y\u201dahut. Dan begitu tele- 356 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 369\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 pon dari Remi berakhir, ia terduduk lama, mengusapi air matanya yang turun satu-satu dan seperti tak mau berhenti. Ia menyadari, semalam ia telah berkesempatan untuk pulang ke negeri dongengnya. Sebuah dunia yang sempurna dan perasaan cinta yang rasanya abadi. Namun, inilah kenyataan \u00a0yang sesungguhnya. Inilah hidup yang ia jalani. Meski tak\u00a0 seindah negeri dongeng, tapi dirinya sudah memilih. Pahit, Kugy kembali menyadari bahwa Keenan hanyalah pangeran negeri dongengnya. Kisah mereka berdua hidup dalam khayalan indah yang tak mungkin terwujud. Remi adalah kenyataannya. Dekat, terjangkau, dan jelas-jelas men- cintainya. Kugy pun tidak yakin bisa memaafkan dirinya sendiri jika ia harus menyakiti Remi. Ketidakjujurannya kali ini sudah lebih dari cukup. Hari Senin. Menjelang pulang kantor, Keenan tidak tahan lagi. Setelah menahan berjam-jam tidak menghubungi anak\u00a0 satu itu, sistem tubuhnya seolah mengisyaratkan kehausan \u00a0yang amat sangat. Sekadar untuk mendengar suaranya, tawa- nya, cekikiknya. Ia lantas menghubungi ponselnya. \u201cHai, Nona Kecil. Lagi ngapain?\u201d \u201c\u00a0Meneer \u00a0 \ue01c\ue027\ue030\ue025\ue036\ue02e\ue02b\ue02d\ue000\ue03c \ue01e\ue036\ue023\ue033\ue023 \ue02b\ue035\ue036 \ue035\ue027\ue033\ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue033 \ue024\ue027\ue029\ue02b\ue035\ue036 \ue033\ue02b\ue023\ue030\ue029\ue004 \u201cAku masih di kantor. Dan baru mikirin kamu. Tadinya aku mau SMS.\u201d \u201cOh, ya?\u201d Gantian suara Keenan yang menjadi riang. \u201cAda apa, Gy?\u201d \u201cSiap-siap, ya,\u201d Kugy berdehem, \u201chari ini ... aku nulis \ue02e\ue023\ue029\ue02b\ue000 \ue01e\ue027\ue033\ue02b\ue023\ue02e \ue016\ue027\ue030\ue026\ue027\ue033\ue023\ue02e \ue01c\ue02b\ue02e\ue02b\ue02d is baaack!\u201d\u00a0teriaknya. Bola mata Keenan seketika berbinar-binar. Sesuatu ter- ssuayluatpduanlayma ihdae,tidneynagbaergbitauikm-beanidkeynag,anratnetriiakkaasnihKtuaghyu. p\u201cGeny-, 357 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 370\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 dapat kamu, sejujur-jujurnya ...,\u201d kata Keenan serius. \u201cSetiap kamu selesai menulis satu kisah, saya akan membuatkan ilustrasinya dalam bentuk lukisan. Saya nggak tahu persis gimana bentuk akhirnya, entah jadi buku atau pameran, atau keduanya, yang jelas kita kerja bareng. Selama ini Jen- deral Pilik cuma dikenal lewat lukisan saya aja, tapi orang- orang nggak tahu ide pelopornya apa. Menurut saya, sudah saatnya kamu juga tampil keluar, sebagai pencipta serial ce- rita Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.\u201d Kugy terenyak. \u201cJadi\u2014kita\u2014punya karya bersama?\u201d ucap- nya tak percaya. \u201cKecil, sebelum kamu tahu pun, bagi saya, kita sudah \u00a0berkarya bersama. Bedanya, kali ini kita melangkah bareng- \u00a0bareng. Itu pun kalau kamu memang bersedia, Gy. Akan jadi satu kehormatan besar buat saya.\u201d Dengan penuh kesung- guhan, Keenan berkata. Lama Kugy tidak menyahut. Ia butuh waktu untuk men- cerna semua itu. Mendadak, impiannya terasa mendekat, terasa mungkin. Sesuatu yang tadinya ia pikir terlalu tinggi dan muluk, tiba-tiba membumi. Berada tepat di hadapan. Dan yang ia butuhkan hanya keberanian untuk melangkah. \u201cOke. Kapan kita mulai?\u201d Mantap, Kugy akhirnya ber- suara. J a k a r t a , A p r i l 2 0 0 3 ... Dibutuhkan seminggu untuk Kugy menyelesaikan setiap seri Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Dan itu mengharuskan Keenan untuk menjemput naskah baru setiap minggunya. Khusus untuk serial satu ini, Kugy menulis dengan tangan \u00a0dAaliltamdubluu.kBuatruulisse, tseelbaahgiatium, aKneaenyaanngmdeilnaykuurkuahnnseykardetiaSraisknoylaa 358 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 371\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 untuk mentranskrip naskah Kugy ke dalam dokumen kom- puter. Banyak jam kantor yang Kugy bajak untuk berkhayal dan menulis serialnya. Omongan-omongan sumbang mulai mun- cul dari sana sini. Sindiran-sindiran halus menjadi rutinitas \u00a0baru yang ia terima setiap hari. \u201cYah, gitu deh, fenomena anak bau kencur, semangatnya \u00a0juga tai-tai ayam.\u201d \u201cOtak brilian tapi nggak didukung profesionalisme sama aja bo\u2019ong.\u201d \u201c\u00a0Prodigy\u00a0ternyata punya jadwal kedaluwarsa juga, ya.\u201d Dan kuping Remilah yang paling panas mendengar se- mua itu. Ia tahu persis kemampuan Kugy. Kalau saja anak\u00a0 itu sedikit berusaha, semua pekerjaannya akan kelar dalam sekejap mata. Masalahnya, fokus Kugy tersedot tanpa sisa untuk sesuatu yang ia tidak tahu. Jika di kantor, Kugy selalu kedapatan bekerja di mejanya dengan sungguh-sungguh, tapi tugasnya tidak ada yang selesai. Hari ini Remi terpaksa menegur Kugy. \u201cGy, saya udah nggak bisa minta waktu tambahan lagi ke klien. Mereka udah harus syuting seminggu lagi. Nggak bisa nggak. Tapi sampai sekarang, storyboard\u00a0 belum ada, kon- sepnya juga masih gonta-ganti melulu. Kamu kan \u00a0project\u00a0 leader. Keputusan harus datang dari kamu. Kalo kamu nggak bisa fokus, satu tim kamu berantakan.\u201d Kugy bergeming menatap Remi. Entah bagaimana harus mengatakannya, bahwa ia memang belum mengerjakan apa pun sampai detik ini. Entah bagaimana bisa mengungkapkan \u00a0bahwa Remi sudah saatnya untuk tidak terlalu bergantung padanya, tidak terus-terusan menjadikannya \u00a0project leader, karena Kugy sendiri tidak bisa mengendalikan energi dan pJeenrhdaetriaalnPniyliak.yRanagsatneyraisiaapskeepedratila\u00a0zmompbuiseadrai nkaknutoatr.dTimubeunhs-i 359 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 372\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 nya ada di sana tapi hanya cangkang kosong belaka. Semen- tara isinya berada di tempat lain, mengerjakan hal lain. \u201cKamu ada masalah apa, sih?\u201d tanya Remi lagi. Mata Kugy mulai berkedip-kedip, tanda ia berpikir keras. \u201cAku sedang ada proyek baru ...,\u201d katanya pelan. \u201cProyek?\u201d Remi mengerutkan alis. \u201cAku sedang bikin serial dongeng.\u201d Remi seketika mengembuskan napas panjang, mengusap- usap wajahnya. \u201cGy, kayaknya saya nggak perlu mengingat- kan kamu soal prioritas. Kamu udah cukup gede untuk bisa menyusun skala prioritas kamu sendiri. Yang saya khawatir- kan, kamu nggak bisa memilah antara profesi dan ... hobi,\u201d ujarnya tajam, \u201csaya nggak kepingin ngomong begini. Tapi kamu digaji di sini untuk menciptakan konsep iklan, bukan \u00a0jadi penulis dongeng. Terserah kalau di rumah kamu mau menghabiskan semalam suntuk untuk bikin dongeng. Tapi \u00a0bukan di sini. Tugas kamu di sini adalah memenuhi target dan deadline\u00a0kamu ... tepat waktu.\u201d Kugy hanya bisa diam. Ia sadar diri, posisinya sangat le- mah. Tidak ada gunanya membela diri. Dari kacamata apa pun, ia jelas bersalah karena mengesampingkan pekerjaan- nya. \u201cJadi kapan storyboard\u00a0bisa beres?\u201d \u201cSecepatnya.\u201d \u201cSore ini. Sebelum jam enam.\u201d Tegas, Remi menutup pembicaraan mereka. Pukul setengah enam sore, Kugy menyerahkan hasil pe- kerjaannya. Remi membolak-balik sketsa-sketsa itu. kat\u201caTneyransyaamtab.i.l. ktearlsaeunmyuemmaknegcilk.amu mau, kamu bisa, kan?\u201d 360 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 373\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kugy balas tersenyum. Tawar. \u201cMalam ini kita dinner,\u00a0yuk? \u00a0Seafood?\u201d\u00a0 Kugy mengangguk. Samar. Malam itu, di restoran seafood langganan mereka, Remi memutuskan untuk mendesak Kugy agar bicara sejujur-jujur- nya. Digenggamnya kedua tangan Kugy erat-erat, \u201cKali ini, kamu harus terbuka, ya,\u201d ucapnya sungguh-sungguh, \u201cse- \u00a0betulnya kamu punya masalah apa?\u201d Kugy menatap Remi, kembali dengan tatapan yang sama. Begitu banyak yang ingin terucap, tapi tidak bisa diungkap. Ia tidak yakin Remi akan mengerti. \u201cNggak ada masalah. Aku cuma keasyikan nulis dongeng. Kamu benar, kok. Masalahku barangkali hanya nggak bisa memilah mana hobi dan mana profesi.\u201d \u201cGy, sebenarnya kamu masalah nggak dengan kondisi kita yang sekantor?\u201d Kugy menggeleng perlahan. \u201cSekantor dengan kamu me- mang mengundang banyak tantangan, tapi nggak pernah \u00a0jadi masalah buatku,\u201d gumamnya. \u201cKamu nggak ada masalah dengan siapa pun di kan- tor?\u201d \u201cNggak, sama sekali,\u201d jawab Kugy lagi. \u201cKamu udah nggak betah kerja?\u201d Kali ini Kugy tertohok. Ia merasakan kebenaran dalam kalimat Remi. \u201cDari kecil, satu-satunya yang aku kepingin hanyalah jadi penulis dongeng,\u201d akhirnya Kugy berusaha menguraikan kejujuran yang selama ini begitu sukar ia bagi, \u201caku tahu, kedengarannya pasti konyol, bego, infantil. Mana ada orang sampai umur segini masih punya cita-cita kayak\u00a0 gitu. Mungkin aku juga kedengaran nggak tahu diri. Aku punya kerjaan sebagus ini, tapi malah disia-siakan. Masalah- \u00a0nbiysaa ..m. baeklsaakinandgairni imnie,naykuukami eanpyaadyaarni gsesseubaetutu.lAnykau nbuggkaakn\u00a0 361 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 374\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 minatku, walaupun aku mampu. Aku juga nggak bisa pura- pura lupa dengan cita-citaku, impianku. Biarpun satu dunia ngegoblok-goblokin aku, tapi memang ini yang aku mau. \u00a0Aku pingin jadi penulis dongeng. Dari dulu sampai sekarang ... nggak berubah.\u201d \u201cJadi, demi cita-cita itu, kamu mau mengorbankan karier kamu?\u201d Remi bertanya hati-hati. \u201cKalau memang perlu, iya, aku mau,\u201d Kugy mengangguk\u00a0 pasti. \u201cKalau ada satu celah kecil untuk aku bisa mewujud- kan impianku, pasti aku akan kejar. Dan aku rela ninggalin pekerjaanku sekarang ...,\u201d sejenak Kugy berhenti, \u201cRemi, celah itu akhirnya ada ...,\u201d ia berkata nyaris berbisik. \u201cAku memang belum bisa cerita banyak. Tapi, yang jelas, aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.\u201d \u201cKamu yakin?\u201d desak Remi lagi. \u201cAku yakin, suatu saat, apa yang sekarang kamu bilang hobi, akhirnya bisa jadi profesiku yang baru. Barangkali uangnya nggak banyak, tapi aku nggak peduli,\u201d Kugy meng- hela napas, \u201cmungkin kamu nggak bakalan pernah ngerti\u2014\u201d \u201cSaya ngerti,\u201d sergah Remi. \u201cSaya justru sangat mengerti,\u201d ulangnya penuh penekanan. \u201cKamu mau resign,\u00a0Gy?\u201d Tatapan Kugy berubah nanar. Dalam sekejap, semua yang telah ia lewati terkilas balik dalam benaknya. Setahun ter- akhir kariernya di AdVocaDo, pertemuannya dengan Remi, semua konsep yang berhasil ia cetuskan, semua proyek yang \u00a0berhasil ia pimpin, begadang bermalam-malam, hari-hari kurang tidur, Arisan Toilet, perahu kertas yang dititipkan Remi padanya, malam bersejarah di pinggir Pantai Ancol, dan kini ia harus kembali berhadapan dengan Remi untuk\u00a0 satu keputusan besar. Meninggalkan AdVocaDo. Tempat ia \u00a0bersuaka saat ingin meninggalkan kehidupan lamanya di Bandung. 362 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 375\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Dengan berat, Kugy mengangguk. \u201cAku merasa lebih baik\u00a0 tidak bertahan. Rasanya ini lebih baik buat kamu, buat tim \u00a0yang lain, dan yang pasti ... lebih baik juga buatku.\u201d \u201cSaya nggak akan menghalangi kamu.\u201d Seketika, ada beban raksasa yang terangkat dari hatinya. Kugy sendiri tidak menyangka sedemikian besar arti ke- putusannya itu. Senyum cerah terbit alamiah di wajahnya. Ia menggenggam balik tangan Remi, mengecupnya. \u201cRemi ... makasih kamu udah mengerti. Aku nggak tahu lagi harus \u00a0bila\u201cnKgamapua.\u201dmemang nggak perlu bilang apa-apa. Sebagai atasan, saya sedih karena kehilangan salah satu anak buah terbaik. Tapi sebagai orang yang mencintai kamu, saya ba- hagia karena kamu berhasil memilih yang terbaik untuk hi- dup kamu,\u201d Remi tersenyum lembut. \u201cAku akan menyelesaikan semua proyek yang udah se- dteinrig. ahKajlaolagni.tuBagriumsaensau, dSahayaitnug?a\u201dkuKuregsymbi emrtaennygaunddeunrkgaann ekspresi jenaka. Remi menggeleng. \u201cKalo cuma itu patokannya, seminggu lagi juga kamu udah bisa kelarin semuanya. Kamu akan aku tahan sampai ... hmm,\u201d Remi senyum-senyum kecil, \u201csampai outing\u00a0kantor ke Bali. Bulan Mei ini.\u201d \u201cOho-ho, kalo urusan outing sih, udah nggak jadi pegawai pun aku dengan nggak tahu malunya bakal tetap ikutan,\u201d Kugy terbahak. Sisa malam pun mengalir dengan indah. Remi sendiri tersadar akan sesuatu malam ini. Keputusan Kugy untuk\u00a0 keluar dari AdVocaDo ternyata melegakan hatinya, tanpa ia duga-duga. Untuk pertama kalinya, Remi merasa bebas un- tuk mencintai Kugy tanpa ada beban apa-apa. Untuk per- tama kalinya, ia terbebas dari keterikatan profesional yang 363 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 376\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 selama ini membayangi hubungan mereka. Dan malam itu, tekadnya semakin bulat untuk membahagiakan dan men- dukung Kugy, ke mana pun kekasihnya ingin melangkah dan menggapai impiannya. Dari sekian bulan mereka resmi ber- pacaran, Remi belum pernah sebahagia dan seringan ini melangkah. U b u d , A p r i l 2 0 0 3 ... \u201c\u00a0Poyan ...\u201d Luhde memanggil pamannya hati-hati. \u201cAda apa, De?\u201d Luhde sejenak ragu untuk meneruskan atau tidak. Sudah \u00a0berbulan-bulan ia tidak melihat Keenan. Sementara, selama setahun kemarin mereka bertemu setiap hari tanpa kecuali. Hatinya tersiksa bukan main. Rindunya seolah tak terperi. Dan ia menyadari segala keterbatasan kondisi mereka. Namun, rasanya Luhde tak mampu bertahan sebegini lama tanpa bertemu Keenan. \u201cJakarta itu seberapa jauh dari sini, \u00a0Poyan?\u201d\u00a0 \u201cKalau naik pesawat hanya satu setengah jam,\u201d kata pa- mannya sambil terus melukis. Luhde teringat tabungannya yang tak seberapa. \u201cKalau dengan bus?\u201d \u201cSehari semalam,\u201d kata Wayan lagi. Ia lantas melirik ke- ponakannya. \u201cKamu mau ke Jakarta? Buat apa? Nggak ada gunanya. Lebih baik di sini, menunggu Keenan yang da- tang,\u201d katanya langsung. Dalam hati, Luhde terperanjat mendengar omongan yang tak disangka-sangka itu. Cepat-cepat, ia menyelinap keluar dari studio pamannya. 364 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 377\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 40. MENEMUKAN OASIS Selat Su n da , M ei 20 0 3 ... Tekad hatinya bulat sudah. Dengan mengandalkan semua tabungannya, Luhde berangkat naik bus ke Jakarta. \u00a0Poyan sedang pergi ke Lombok selama seminggu, dan itulah ke- sempatannya untuk melaksanakan perjalanan nekat ini. Dini hari, sambil memandangi lautan dari atas feri yang menyeberangkannya ke Pulau Jawa, Luhde meringkuk\u00a0 sendirian di atas kursi kayu di dek kapal. Menutupi kakinya \u00a0yang kedinginan dengan jaket. Seumur hidupnya, belum per- nah ia menginjakkan kaki di luar Pulau Bali. Ia tidak punya secercah bayangan pun tentang kondisi Kota Jakarta selain apa yang dilihatnya di teve. Hanya satu carik kertas bertulis- kan alamat rumah Keenanlah yang menjadi patokannya. Luhde hanya bisa berdoa ia terlindungi selama perjalanan ini. Matanya dipejamkan kuat-kuat. Berusaha tidak memikir- nkaanntih. al-hal lain kecuali berada di rumah Keenan sore 365 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 378\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 J a k a r t a , M ei 2 0 0 3 ... Uangnya hanya tersisa seratus ribu rupiah. Luhde tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat jika ia sampai tidak menemu- kan alamat rumah Keenan. Dengan segala keletihan akibat perjalanan panjang dan jantung yang berdebar-debar tegang, Luhde memencet bel rumah serba putih itu. Seorang perempuan membuka pintu. Luhde kenal betul \u00a0wajah itu. \u201cSelamat sore, Ibu Lena,\u201d sapanya sopan. Satu tangannya menenteng tas berisi baju, satu tangannya lagi menenteng kantong plastik berisi oleh-oleh. Lena menatap gadis di hadapannya. Nyaris tak percaya. \u201cKamu\u2014keponakannya Wayan, kan? Luhde?\u201d \u201cBetul, Bu,\u201d Luhde menjawab. Lega bukan main. Nasib- nya terselamatkan sudah. Keenan seperti melihat hantu ketika mendapatkan Luhde \u00a0berdiri di teras depan rumahnya, berdiri santun menyambut kedatangannya. Sementara Keenan hampir saja menabrak\u00a0 tembok garasi saking kagetnya. Tergopoh-gopoh, ia turun dari mobil. \u201cLuhde?\u201d desis Keenan. Melihat Keenan kembali di hadapannya, Luhde bahkan tak mampu bergerak. Hanya bola matanya saja yang kian \u00a0bersinar mengikuti setiap gerak Keenan yang melangkah mendekatinya. \u201cKamu\u2014kenapa bisa ada di sini?\u201d tanya Keenan takjub. Perlahan, mengelus pipi Luhde, seolah-olah ingin meyakin- kanGsaedkiasliitluagtei rbsaehnwyuamL,ulhadlue mmeenmgaanmgbaildata.s komputer yang 366 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 379\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 tersampir di bahu Keenan. \u201cMari, biar saya yang bawa- kan.\u201d Detik itu juga Keenan langsung mendekap Luhde. Minggu malam. Hari ini telah menjadi hari penjemputan naskah. Sebuah ritual yang ditunggu-tunggu Kugy setiap minggunya. Keenan akan muncul di depan pintu, dan Keshia, adiknya, langsung mengeluarkan sejuta gaya demi menarik perhatian Keenan yang ditaksirnya diam-diam, dan Kugy akan punya sejuta bahan ejekan baru yang bisa di- pakainya untuk mengerjai Keshia. Kugy sendiri diam-diam punya kesempatan mengisi baterai hati untuk seminggu ke depan. Tak sabar rasanya menunggu Minggu malam tiba. Namun, Kugy merasa ada yang aneh dengan hari Minggu ini. Sejak pagi hingga petang, ia belum mendapat kabar apa- apa dari Keenan. Akhirnya Kugy memutuskan untuk menele- pon duluan. \u201cHalo, rekan agen. Udah siap bertugas belum?\u201d Kugy me- nyapa ceria. \u201cHai, Gy.\u201d Suara Keenan terdengar kaku. \u201cJam berapa mau ke sini, Nan?\u201d tanya Kugy lagi. \u201cMmm ...,\u201d Keenan mengembuskan napas berat dan pan- \u00a0jang. \u201cMalam ini saya nggak bisa, Gy. Mungkin baru minggu depan. Maaf, ya.\u201d Kugy tiba-tiba merasa dadanya sesak. Suara Keenan ter- dengar begitu jauh sekarang, seolah terpisahkan banyak se- kat. \u201cOke, minggu depan juga nggak apa-apa. Tapi, kalau \u00a0boleh tahu, kenapa kamu nggak bisa datang malam ini? Ada urusan?\u201d \u201cpa\u201ccSaarysaayaadayatnagmduardi aUribuBda.l\u201di,\u201d Keenan berkata, canggung, 367 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 380\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cOooh ...,\u201d gumam Kugy panjang. Sama sekali tidak me- nyangka. Matanya terpejam sebentar, mencari kekuatan. \u201cNo \u00a0problemo!\u201d\u00a0 dalam hati Kugy bangga dengan nada suaranya \u00a0yang terdengar wajar, \u201ctapi, berarti kita agak mulur, ya. Soal- nya, minggu depan malah aku yang pergi.\u201d \u201cOh, ya? Ke mana?\u201d \u201cAda acara outing\u00a0bareng kantor, ke Bali.\u201d \u00a0Bali?\u00a0Keenan menelan ludah. \u201cNggak masalah, Gy,\u201d kata Keenan dengan nada serileks mungkin, \u201cmungkin sesudah kamu pulang, saya bisa kasih kamu kabar baik.\u201d Otot Kugy menegang. \u00a0Kabar baik, katanya? Kugy men- \u00a0jerit dalam hati. \u00a0Jangan-jangan .... \u201cSaya berhasil menghubungi salah satu kolektor lukisan saya yang punya penerbitan buku. Dia sangat tertarik waktu saya kasih tahu soal proyek kita. Dan dia fans berat Jenderal Pilik sejak lama. Kalau memang ternyata dia tertarik me- nerbitkan, berarti kita makin dekat lagi dengan impian kita punya karya bareng,\u201d Keenan menerangkan dengan sema- ngat. Senyum lebar seketika menghiasi wajah Kugy. \u201cNan, andaikan aku mercon, sekarang aku udah meledak, nih.\u201d \u201cUntung bukan,\u201d Keenan terkekeh, \u201ckalo kamu hancur \u00a0berantakan, proyek ini juga bubar jalan.\u201d Kugy ikut tertawa. \u201cYa udah, deh. Sampai ketemu dua minggu lagi, berarti. Salam buat ...?\u201d \u201cLuhde.\u201d \u201cYa. Salam buat Luhde,\u201d Kugy mengulang. \u201cOke. Dah, Kecil.\u201d \u201cDah.\u201d Kugy menutup telepon rumahnya pelan-pelan. Ia tahu, ia bahagia bukan main mendengar kabar dari Keenan tentang kemungkinan serialnya diterbitkan menjadi buku. Nmaemmubnu,atpnaydaasseadaiht .yLaanggi-blaegris,aKmuagayn,mpeerracsaaktaepratanmtpadari joulegha 368 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 381\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 kenyataan. Seakan hidup terus-terusan ingin mengingatkan- nya bahwa ada sekat antara mereka berdua yang tak di- tembus. Dan ia hanya bisa menerima dan mengikhlaskannya. Hati mereka telah memilih. Di gazebo taman rumah Keenan, mereka duduk berdua. Me- nikmati tiupan angin malam Jakarta yang hawanya sedang suam-suam. \u201cKamu kepanasan, ya,\u201d ujar Keenan sambil menyeka bu- tir keringat di pelipis Luhde. \u201cAngin di sini nggak seperti di Ubud.\u201d \u201cMemang nggak. Tapi rasanya malah lebih enak,\u201d ucap- nya sambil melirik Keenan malu-malu, \u201csoalnya bisa dekat dengan kamu.\u201d \u201cSaya merasa bersalah sama kamu.\u201d \u201cKenapa?\u201d Luhde bertanya heran. \u201cDe, saya di sini ngantor, bahkan sampai hari Sabtu. Nggak seperti di Ubud. Kita bisa bareng terus seharian. Kamu udah hampir tiga hari di Jakarta, belum satu kali pun saya sempat ngajak kamu jalan-jalan. Kamu cuma nungguin saya pulang kantor setiap hari.\u201d sen\u201caSnagmdai sseinkia.liBsisaayabanngtguakmkeembee-rnaytaanK,\u201deesnelaan.LJuehrdoee,n\u201csjuagyaa \u00a0baik. Saya sering diajak jalan-jalan di sekitar sini. Dan, biar hanya tiga-empat jam sehari saya bisa ketemu Keenan, su- dah lebih dari cukup. Keenan jangan merasa bersalah. Saya \u00a0yang datang mendadak, di hari kerja, jadi memang sudah risiko saya.\u201d me\u201cnLguelhudse-e, lLuushrdaem.b...u\u201dt KLeuehndaen gyealnegngt-egregleernagi. k\u201ceSpaaylaa smeraasyiha 369 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 382\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 nggak habis pikir, kamu kok bisa nekat ke Jakarta sendirian. Gimana kalau \u00a0Poyan\u00a0tahu?\u201d \u201cSaya akan pulang sebelum\u00a0Poyan kembali dari Lombok,\u201d sahut Luhde cepat. \u201cKapan \u00a0Poyan\u00a0pulang?\u201d \u201cTiga hari lagi. Lusa saya pulang, pakai bus, jadi sebelum \u00a0Poyan\u00a0sampai\u2014\u201d \u201cLusa kamu pulang. Tapi tidak boleh lagi pakai bus,\u201d po- tong Keenan tegas. Luhde menatap cemas. Bagaimana mungkin, uangnya \u00a0bahkan tak cukup untuk naik bus yang nyaman. \u201cKamu akan saya antar. Kita ke Bali pakai pesawat,\u201d Keenan melanjutkan. Mata Luhde membundar. \u201cKeenan\u2014akan ikut ke Bali?\u201d Keenan tertawa kecil sambil mengangkat bahu. \u201cDaripada kita di Jakarta berhari-hari dan cuma punya waktu bareng tiga-empat jam, lebih baik saya yang ke Bali. Biar saya di sana cuma sebentar, tapi kita akan punya waktu seharian. Saya janji, nggak akan membocorkan rahasia ini pada\u00a0Poyan. \u00a0Asal kamu mengizinkan saya mengantar ke Lodtunduh.\u201d \u201cKalau saya petasan, sekarang ini saya sudah meledak\u00a0 saking bahagianya,\u201d cetus Luhde. Pipinya bersemu merah. Keenan terkesiap. Baru semalam, ia mendengar kalimat serupa terlontar dari mulut Kugy. Entah apa artinya ini. Sa n u r , M ei 2 0 0 3 ... Matahari yang terik membuat pipi Kugy seperti tomat ra- num. Sudah seharian ia dijemur, tapi anak itu tidak ter- ganggu. Ia tetap lincah ke sana kemari mencoba segala ma- \u00a0pcaamrapsaeirlminagi,n\u00a0iaanm. Seenhcaebmispmluenlgaykaenlga-ulatydaennggdani ubdaanraandaenbgoaant 370 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 383\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0yang terguling dua kali, mencoba \u00a0jet ski, dan apa saja yang tersedia. Kugy dengan semangat mencoba semuanya. \u201cPerhatian, teman-teman semua,\u201d Dani, panitia rom- \u00a0bongan, kembali berbicara melalui pengeras suara, \u201csehabis dari sini, acara kita adalah shopping \u00a0 di Kuta, \u00a0dilanjutkan dengan makan malam di Jimbaran.\u201d Pengumuman itu langsung disambut dengan riuh ren- dah. \u201cMales belanja, ah,\u201d Kugy berbisik pada Remi. \u201cPinginnya ngapain, dong?\u201d \u201cAku pingin motret. Udah berat-berat pinjam kamera dari Karel, tapi dari tadi belum sempat hunting\u00a0objek foto. Di Kuta sih mau motret apa? Toko?\u201d Bola mata Remi berkilat, seperti mendapat ide. \u201cKita ka- \u00a0bur aja, yuk,\u201d ia berbisik balik. \ue03b\ue00d\ue034\ue039\ue02b\ue02d\ue000\ue03c \ue015\ue026\ue027 \ue02b\ue035\ue036 \ue02e\ue023\ue030\ue029\ue034\ue036\ue030\ue029 \ue026\ue02b\ue034\ue023\ue02f\ue024\ue036\ue035 \ue029\ue027\ue02f\ue024\ue02b\ue033\ue023 \ue031\ue02e\ue027\ue02a \ue017\ue036\ue029\ue039\ue004 \u201cGimana caranya?\u201d \u201cGampang. Kita cari transport\u00a0\u00a0 di pinggir jalan, terus cabut. Nanti malam tinggal nyusul mereka ke Jimbaran. Gi- mana?\u201d \ue03b\ue018\ue023\ue02d\ue034\ue023\ue030\ue023\ue02d\ue023\ue030\ue000\ue03c \ue034\ue027\ue033\ue036 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue024\ue027\ue033\ue023\ue032\ue02b\ue003\ue023\ue032\ue02b\ue004 \ue03b\ue01f\ue023\ue032\ue02b \ue004\ue004\ue004 \ue02d\ue02b\ue035\ue023 \ue032\ue027\ue033\ue029\ue02b ke mana?\u201d Remi hanya tersenyum tanpa menjawab. U b u d , M ei 2 0 0 3 ... Beberapa hari ini tampak perubahan besar pada Pak Wayan. Ia kelihatan bergembira, riang, dan bersemangat. Semua orang tahu penyebabnya: Keenan. Semenjak Keenan menginjakkan kaki lagi ke Lodtunduh, nhagrain-hKaerienbaenrspanutnaikedmi bbaallie \u00a0lasagmi. bTialkmheanngyoabLroulhsdeehyaarinagnmdee-- 371 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 384\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 rasa bahagia dengan kepulangan Keenan, Wayan pun me- nemukan oasis yang selama ini ia rindukan. Meski ia sadar semua itu hanya akan berlangsung dalam hitungan hari saja. Siang itu, Keenan dan Banyu sedang pergi ke Denpasar, mengurus tiket pulangnya ke Jakarta yang mengalami penun- daan. Sementara Luhde sedang pergi ke pura. Sendirian, Pak\u00a0 \u00a0Wayan menikmati sore harinya di galeri. Sebuah mobil Kijang yang tidak ia kenal tahu-tahu me- nepi di depan galeri. Pak Wayan keluar menghampiri. Dan \u00a0betapa kagetnya ia ketika mengenali sosok yang keluar dari pintu depan. \u201cRemi? Apa kabar? Kapan sampai di Bali? Kok nggak ka- sih kabar sebelumnya?\u201d tanyanya langsung memberon- dong. \u201cMemang rencananya mau kasih kejutan untuk Pak\u00a0 \u00a0Wayan,\u201d Remi tertawa. Kedua pria itu saling berangkulan, akrab. \u201cKe mana saja? Lama sekali nggak muncul,\u201d kata Pak\u00a0 \u00a0Wayan lagi. \u201cTahun ini pekerjaan di kantor banyak sekali, Pak. Ke- \u00a0betulan aja kantor saya lagi outing\u00a0ke Bali, jadi saya bisa kabur sebentar mampir ke Ubud, sekalian lihat-lihat.\u201d \u201cMari, mari. Masuk dulu,\u201d ajak Pak Wayan segera. \u201cEh, kamu sendirian kemari?\u201d \u201cBerdua, Pak. Tapi teman saya mau jalan-jalan sendiri sambil foto-foto. Kalau rombongan yang lain sekarang se- dang di Kuta,\u201d jelas Remi seraya melangkah masuk ke dalam galeri. Mereka lalu berjalan bersama mengitari galeri itu, sem- \u00a0bari Pak Wayan menerangkan satu demi satu lukisan yang tkeisrpanamKpeaennga.nUbsealui mmealidhaaltasgeim, Puaak,?R\u201demi pun bertanya, \u201cLu- 372 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 385\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Pak Wayan menghela napas.\u00a0Remi belum menyerah juga, pikirnya. \u201cBelum ada,\u201d jawabnya singkat. \u201cSebenarnya dia menghilang ke mana sih, Pak?\u201d \u201cKeenan ... hmmm ... dia ...,\u201d Pak Wayan tampak ragu- ragu, \u201cdia ada urusan keluarga yang sangat mendesak akhir tahun kemarin, dan harus kembali ke rumahnya. Dulu dia pernah berpesan agar saya tidak memberi tahu siapa pun tentang kepergiannya. Jadi, saya minta maaf, Remi. Ini masalah janji.\u201d Remi menatap lelaki itu lekat. \u201cPak, saya menghargai \u00a0janji Bapak. Tapi, bagi saya, Keenan bukan sekadar pelukis \u00a0yang lukisannya saya beli, dia sudah saya anggap adik saya sendiri. Saya heran, kok dia menghilang begitu saja, dan \u00a0berhenti berkarya. Sudah lama sekali sejak terakhir karya dia dijual di sini. Hampir setahun dia berhenti melukis.\u201d \u201cYa, sudah. Begini saja. Saya akan minta izin dulu untuk\u00a0 memberi tahu nomor kontaknya ke kamu. Kalau dia setuju, saya akan menghubungi kamu secepatnya,\u201d akhirnya Pak\u00a0 \u00a0Wayan berkata. Tergugah melihat kesungguhan Remi. \u201cTerima kasih, Pak. Saya sangat menunggu kabar tentang Keenan,\u201d kata Remi lagi. Sudah berbulan-bulan Wayan menutupi kabar tentang Keenan dari semua kolektor yang menghubunginya. Namun, Remigius memang berbeda. Dalam hatinya, Wayan tidak\u00a0 nyaman dengan semua ini, ditambah dengan kenyataan bah- \u00a0wa sekarang Keenan juga ada di Bali. Ia berharap Remi dan Keenan dapat bertemu kembali, entah bagaimana caranya. 373 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 386\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 41. BUKU DAN PAMERAN U b u d , M ei 2 0 0 3 ... Entah mengapa, intuisinya terusik ketika melihat pura ini di perjalanan tadi. Sebuah pura yang kecil dan sepi, terletak\u00a0 persis di tepi jalan. Tidak ada yang istimewa jika diamati sekilas pintas. Namun, Kugy merasa harus berhenti di sana, membiarkan Remi pergi ke galeri langganannya sendirian. Dengan kamera pinjaman yang bergantung di leher, Kugy\u00a0 mulai mencari-cari sudut-sudut menarik yang bisa menjadi objeknya. Gayanya sudah seperti fotografer profesional. Me- nyadari kemampuannya yang minus dalam menggambar, \u00a0belakangan ini Kugy mulai terpikir untuk mengompensasinya \ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue024\ue027\ue030\ue035\ue036\ue02d \ue02e\ue023\ue02b\ue030\ue002 \ue039\ue023\ue02d\ue030\ue02b \ue028\ue031\ue035\ue031\ue029\ue033\ue023\ue03e\ue004 Tiba-tiba lensanya berhenti pada satu objek. Saking indah- nya, sejenak Kugy tak bisa bereaksi apa-apa selain melongo. Seorang gadis Bali tengah bersimpuh sambil menata sesajen \u00a0yang dibawanya. Gadis itu lalu menyalakan dupa, mengambil speepnuuchukpebruansgaaa,nd. aSnepmeertnigsaeyournaknagnpneynaaprei.laMnadtiaundyaartaerdkeantguapn, 374 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 387\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 mulutnya merapalkan sesuatu. Ia tengah berdoa. Ada pe- rasaan haru yang menyerbunya ketika melihat pemandangan itu. Wajah ayu gadis itu tampak begitu tulus. Bagaikan se- \u00a0buah simbol hidup pengorbanan dan pengabdian. Kugy be- lum pernah melihat sesuatu yang sebegitu menggugah. Ia baru tersadar ketika gadis itu mulai membuka mata. Cepat-cepat Kugy membidik kameranya, memotretnya, ber- kali-kali, tak mau kehilangan satu momen pun. Seperti tahu sedang diamati, gadis itu menoleh. Men- dapatkan Kugy yang sedang berlutut tak jauh dari situ. Buru-buru ia berdiri, bergegas pergi. \ue03b\ue014\ue027\ue02b\ue002 \ue019\ue024\ue023\ue02d\ue000 \ue016\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue032\ue027\ue033\ue029\ue02b \ue026\ue036\ue02e\ue036\ue000\ue03c \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue034\ue027\ue029\ue027\ue033\ue023 \ue02f\ue027\ue030\ue029\ue027\ue02c\ue023\ue033\ue003 nya. Langkah gadis itu menyurut. \u201cMaaf ya, saya nggak per- misi dulu. Cuma iseng, kok. Saya lagi belajar motret. Maaf\u00a0 sekali lagi, ya,\u201d ucap Kugy sungguh-sungguh. Ia lantas meng- ulurkan tangannya dan tersenyum ramah. \u201cKenalkan, saya Kugy, dari Jakarta.\u201d Gadis itu ikut tersenyum seraya menyambut uluran tangan Kugy. Malu-malu. \u201cNama saya Luhde,\u201d ucapnya pelan. Hati Kugy terlonjak mendengar nama itu. \u201cLuhde? Ke- \u00a0betulan, saya punya teman yang nama pacarnya Luhde lho,\u201d kelakarnya. \u201cOrang Bali yang namanya Luhde kan banyak. Bukan saya saja,\u201d sahut Luhde sambil tertawa kecil. \u201cOh, gitu, ya,\u201d timpal Kugy polos, \u201ckamu tinggal di desa ini?\u201d Luhde mengangguk. \u201cSaya tinggal dengan keluarga pa- man saya. Aslinya saya dari Kintamani. Kalau Mbaknya menginap di Ubud, atau singgah saja?\u201d \u201cSaya menginap di Sanur. Ramai-ramai dengan satu kan- tor. Sekarang sih hanya singgah sebentar saja. Nanti malam \u2018aMdabaakca\u2019,rdaolnaggi. dKiuJgiymabjaar.\u201dan,\u201d jelas Kugy, \u201ctapi, jangan panggil 375 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 388\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cKugy?\u201d Dengan canggung, Luhde mencoba. \u201cNah, gitu,\u201d Kugy tergelak, \u201ckamu lucu banget, sih.\u201d Luhde ikut tertawa. Tak lama, kedua perempuan itu du- duk bersama di pelataran pura. Mengobrol ini-itu dengan luwesnya, seperti dua teman lama. Luhde terkesan dengan Kugy yang begitu ceria, menyenangkan, pintar, dan mandiri. Semua kualitas yang ia dambakan. Sebaliknya, Kugy tersen- tuh dengan kehalusan, kecerdasan, dan kedewasaan Luhde. Ia tak menyangka gadis yang terlihat lugu itu mempunyai pemikiran yang bijak dan mendalam, perasaannya halus se- kaligus tajam, dan Luhde punya banyak keinginan untuk\u00a0 maju. Keduanya makin antusias ketika tahu bahwa mereka ber- \u00a0bagi hobi yang sama, yakni menulis. \u201cKugy sedang membuat buku cerita? Wah, hebat sekali,\u201d mata Luhde berbinar-binar, \u201ckapan diterbitkan?\u201d \u201cMasih belum tahu kapan. Tapi mudah-mudahan sudah ada kabar minggu depan. Yah, semoga aja gol. Ini cita-cita saya dari kecil,\u201d jawab Kugy bersemangat. \u201cSaya juga punya cita-cita sama dari kecil. Tapi saya tidak tahu karya saya mau diapakan, mau dikemanakan, mungkin hanya akan saya simpan sendiri,\u201d sahut Luhde lirih. \u201cKamu menulis apa? Fiksi juga?\u201d \u201cSaya juga lagi senang bikin cerita anak-anak. Saya ingin mengangkat hikayat kuno Bali, tapi dikemas lagi dalam kisah kanak-kanak. Banyak hal baik dari kebudayaan Bali \u00a0yang bisa diangkat. Bukan cuma melayani turis. Tapi seperti- nya orang-orang tidak tertarik untuk tahu,\u201d Luhde menjelas- kan. Kugy menggeleng. \u201cKita nggak pernah tahu kalau nggak\u00a0 rdaicnosbealn. yKaa, mmuenjgaenlguaanrkbaenrhpeunlptiennudlaisn,\u201dselaclauriKk ukgeyrtamse. rKougoghy\u00a0 376 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 389\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 lantas menuliskan alamat lengkap, nomor telepon, dan e- mail\u00a0. \u201cLuhde, kalau ada sesuatu yang ingin kamu kirimkan, cerita-cerita kamu atau apa saja, tolong jangan segan-segan untuk mengirimkannya ke saya. Atau kalau kamu suatu hari \u00a0berencana ke Jakarta, jangan lupa mampir. Ini, supaya kamu nggak nyasar, saya juga tuliskan patokan jalannya se- kalian, ya,\u201d dengan serius Kugy menuliskan semuanya de- ngan lengkap. Luhde terpana melihat tangan Kugy yang menari-nari di atas kertas. Ia menahan napas melihat tulisan itu. \u201cLengkap sekali. Kugy sangat baik. Terima kasih banyak,\u201d katanya de- ngan suara bergetar. \u201cNanti, kalau buku saya benar-benar jadi terbit, kamu akan saya kirimkan satu kopi. Mau?\u201d \ue03b\ue019\ue023\ue036\ue000 \ue00e\ue027\ue035\ue036\ue02e\ue002 \ue039\ue023\ue004 \ue016\ue023\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue034\ue023\ue02f\ue032\ue023\ue02b \ue02e\ue036\ue032\ue023\ue002\ue03c \ue032\ue02b\ue030\ue035\ue023 \ue018\ue036\ue02a\ue026\ue027 \ue032\ue027\ue030\ue036\ue02a harap. Ia lalu gantian menuliskan alamatnya. \u201cLuhde Laksmi,\u201d gumam Kugy membaca kertas yang di- \u00a0berikan Luhde. \u201cNama kamu cantik sekali. Pas dengan orang- nya.\u201d \u201cKugy perempuan tercantik yang pernah saya lihat,\u201d balas Luhde, tulus. \u201cMakasiiih ...,\u201d Kugy tertawa lepas, \u201cngomong-ngomong, mata kamu normal, kan?\u201d Luhde hanya tersenyum dan mengangguk, perlahan men- dekapkan carikan kertas dari Kugy ke dadanya. Tiba-tiba tampak sebuah mobil berhenti di seberang jalan. Suara klakson berbunyi pendek satu kali. Kugy segera bang- kit berdiri, mengemasi ransel dan kameranya. \u201cSaya udah dijemput. Kamu di sini aja. Biar saya nyeberang ke depan. Sampai ketemu lagi, ya. Jangan lupa hubungi saya kalau ada aKpuag-yaplaal.uSmayearasnengaknugl Lseukhadlei .kenalan dengan kamu hari ini,\u201d 377 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 390\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSaya juga sangat senang. Sampai ketemu lagi,\u201d ucap Luhde. Tubuhnya kaku. \u201cTerima kasih, ya, Kugy.\u201d Kugy tertawa kecil. \u201cTerima kasih apa? Saya belum kasih apa-apa sama kamu. Justru saya yang harus terima kasih sama kamu. Udah mau saya foto.\u201d Luhde tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya tangannya kian erat menggenggam carikan kertas itu. Tanpa berkedip, dipandanginya dari jauh Kugy yang melambaikan tangan, menyeberangi jalan, lalu masuk ke dalam mobil yang lang- sung melaju itu. Luhde lalu berjalan ke depan. Memandangi punggung mobil itu hingga menghilang. Dan tetap ia berdiri di tempat- nya, menatap ke arah yang sama, walau yang dilihatnya kini tinggal debu jalanan saja. Luhde ingin berlari rasanya, entah ke mana. Begitu melihat tulisan tangan tadi, Luhde langsung tahu siapa yang ia hadapi. Tak mungkin salah lagi. Bagaimana \u00a0bisa ia tidak hafal tulisan tangan itu, bertahun-tahun ia membacanya, meresapi berlembar-lembar cerita yang ditulis- kan oleh tangan yang sama dalam sebuah buku tulis usang. Bagaimana bisa ia tidak hafal. Keenan selalu membawa buku itu ke mana-mana, menjadikannya bintang inspirasi selama karier melukisnya yang cemerlang di Ubud. Keenan melukis dengan penuh cinta, dengan hati dan nyawa. Kugy tidak akan menyangka betapa dalam rasa terima kasihnya tadi. Luhde berterima kasih atas pertemuan mereka, \u00a0berterima kasih atas kesempatan melihat sosok itu secara langsung. Luhde bersyukur karena kini ia tahu apa yang menjadi alasan Keenan bisa menjangkarkan hatinya begitu dalam. Dan, meski dengan susah payah, Luhde berusaha mensyukuri kepedihan yang menyayat hatinya sekarang. Detik ini. 378 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 391\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Luhde berbalik. Kembali ke pura. Kembali bersembah- \u00a0yang. Dan kali ini ia tak menahan apa-apa. Kekuatannya le- nyap. Tak sebutir air mata pun sanggup ia bendung. Dan Luhde memutuskan untuk membiarkan segalanya mengalir. \u00a0Apa adanya. Hari terakhirnya di Ubud. Sore nanti, Keenan sudah harus terbang kembali ke Jakarta. Begitu selesai berkemas, ia keliling-keliling mencari Luhde. Di mana-mana Luhde tidak\u00a0 kelihatan. Keenan bisa merasakan, Luhde menghindarinya sejak ke- marin. Ia kelihatan lebih pendiam, seperti memendam se- suatu. Setelah mencari ke sana kemari, Keenan menemukan- nya mengurung diri di kamar. Lama Keenan mengetuk-ngetuk\u00a0 pintu, hingga akhirnya pintu itu dibukakan. L\u201cDueh,dkeammeunkgegnelaepnag?. Sakit?\u201d \u201cJadi?\u201d Luhde cuma diam. \u201cBeberapa jam lagi saya udah harus ke airport. \u00a0 Kalau kamu punya unek-unek, sampaikan sekarang. Jangan malah aksi bisu gitu. Saya nggak tenang pergi dari sini. Nanti ... kamu ikut ke airport,\u00a0kan?\u201d Luhde menggeleng lagi. \u201cLebih baik saya nggak ikut mengantar,\u201d gumamnya. \u201cKamu kenapa, sih? Kamu marah? Kesal sama saya? Bi- lang, dong,\u201d bujuk Keenan. Namun, Luhde malah tersenyum padanya. Senyuman yang asing. Keenan belum pernah me- lihat ekspresi semacam itu di wajah Luhde. Begitu berjarak. \u201cSaya nggak mungkin begini terus,\u201d ucap Luhde separuh \u00a0berbisik, \u201cmelepas kepergian kamu, tanpa tahu kapan kamu akan kembali, dan apakah kamu mau kembali ....,\u201d 379 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 392\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cLuhde, ngomong apa sih kamu?\u201d protes Keenan. \u201cKeenan tidak harus kembali lagi kalau memang tidak\u00a0 mau. Jangan terbeban oleh janji Keenan pada saya.\u201d \u201cDe, selama ini kita bertahan karena kita saling percaya. \u00a0Apa jadinya kalau kamu sendiri mulai ragu-ragu seperti ini. Kamu nggak percaya lagi sama saya?\u201d tanya Keenan, mulai gusar. Luhde tergagap. \u201cSaya percaya kamu akan selalu ber- usaha menepati janji kamu ... tapi, sampai kapan Keenan \u00a0bisa bertahan begitu terus?\u201d \u201cKamu kayak nggak kenal saya,\u201d Keenan berkata putus asa, \u201ckalau kamu percaya sama saya, berarti kamu juga ha- rus percaya bahwa janji itu bisa bertahan. Tolong, bantu saya. Saya nggak akan kuat kalau hanya berusaha sendirian,\u201d pinta Keenan lagi. Luhde tampak tercekat. Badannya gemetar halus, me- nahan sesuatu. \u00a0Justru aku ingin membantumu. \u201cDe, jangan nangis,\u201d bisik Keenan lembut. Tiba-tiba gadis itu menghambur, memeluk Keenan erat. \u201cSaya memang egois, saya tidak mau kehilangan kamu. Ti- dak mau ...,\u201d tangisnya pilu. Keenan tetap tidak mengerti apa yang membuat Luhde \u00a0begitu galau. Namun, ia tak ingin mempersoalkannya lagi. Ia hanya ingin menghibur dan menenangkan Luhde. Sementara kata-kata yang sama terus berulang dari mulut Luhde, mengisi segala ruang yang ada di antara mereka, di kamar itu: \u201cSaya tidak mau kehilangan kamu ....\u201d J a k a r t a , M ei 2 0 0 3 ... PMiliinkggyuanMgasleammp. aStaatetnrtyuanKdeae. nNaanmmuenn,jmemalpaumt ninasi,kiaahsJeeknadliegruasl 380 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 393\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 menjemput Kugy untuk pergi makan malam. \u201cDari baju kamu, kok, mencurigakan, sih? Memangnya kita mau makan di mana?\u201d tanya Kugy melihat Keenan yang muncul dengan sweater turtle neck hitam. Rambut Keenan \u00a0yang sudah agak panjang masih terlihat basah. Ia tampak\u00a0 \u00a0begitu segar dan ... tampan. Terdengar sayup-sayup Keshia \u00a0yang menjerit histeris. Sedari tadi anak satu itu sudah nong- krong untuk mengintip kedatangan Keenan. \u201cYang jelas bukan di warung Indomie,\u201d kata Keenan ka- lem. \u201cGanti baju bentar, ya. Jangan sampai salah kostum, nih,\u201d Kugy menatap dirinya sendiri yang hanya memakai kaus oblong dan jins. \ue03b\ue014\ue02b\ue026\ue036\ue032 \ue010\ue023\ue033\ue038\ue02b\ue030\ue000 \ue01e\ue027\ue02d\ue023\ue02e\ue02b \ue02e\ue023\ue029\ue02b\ue002 \ue035\ue027\ue033\ue030\ue039\ue023\ue035\ue023 \ue027\ue037\ue031\ue02e\ue036\ue034\ue02b \ue02b\ue035\ue036 \ue02f\ue027\ue02f\ue023\ue030\ue029 \ue023\ue026\ue023\ue000 \ue01f\ue036\ue02f\ue024\ue027\ue030\ue003\ue035\ue036\ue02f\ue024\ue027\ue030 \ue034\ue027\ue031\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue017\ue023\ue033\ue02f\ue023\ue025\ue02a\ue023\ue02f\ue027\ue02e\ue027\ue031\ue030 \ue02f\ue027\ue003 ngenal konsep \u2018salah kostum\u2019,\u201d komentar Keenan geli. Kugy langsung manyun. \u201cSayang Karel udah tinggal di rumahnya sendiri sekarang. Jadi jaketnya nggak ada yang \u00a0bisa dibajak,\u201d ujarnya sambil ngeloyor pergi, \u201ckasih tahu tuh sama Darwin, sementok itulah evolusiku, tauk.\u201d Keenan memilih sebuah restoran Jepang terkenal di Hotel \ue019\ue036\ue02e\ue02b\ue023\ue004 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02e\ue023\ue030\ue029\ue034\ue036\ue030\ue029 \ue032\ue036\ue025\ue023\ue035\ue004 \ue03b\ue01a\ue023\ue030\ue002 \ue02d\ue023\ue02f\ue036 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue024\ue027\ue030\ue027\ue033 \ue023\ue02c\ue023\ue000 \ue015\ue030\ue02b \ue034\ue02b\ue02a \ue02e\ue023\ue030\ue029\ue02b\ue035 \ue034\ue023\ue02f\ue023 \ue034\ue036\ue02f\ue036\ue033 \ue024\ue027\ue026\ue023\ue030\ue039\ue023 \ue026\ue027\ue030\ue029\ue023\ue030 \ue038\ue023\ue033\ue036\ue030\ue029 \ue015\ue030\ue026\ue031\ue02f\ue02b\ue027\ue000\ue03c omelnya. \u201cKamu, tuh. Udah pernah mengunjungi hotel bintang se- \u00a0juta, tapi masih minder ngelihat tempat beginian doang,\u201d sahut Keenan ringan. \u201cAwas kalo nggak bawa duit cukupan, ya,\u201d kata Kugy was- \u00a0was\u201c.Dasar mental Pemadam Kelaparan.\u201d 381 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 394\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Mereka berdua mendapat tempat duduk di dekat jendela. 395\/457 Dari balik buku menu Keenan melirik dan bertanya, \u201cGy, ngerti nggak mau pesan apa? Atau mau saya yang\u2014\u201d Mulut- nya tiba-tiba terkunci. Apa yang ia lihat membekukan segala- nya. Kugy, tengah asyik membaca menu, setengah menun- duk, dan bagaimana penerangan di restoran itu menyentuh \u00a0wajahnya membuat ia kelihatan amat cantik. Bibirnya merah tanpa pulasan lipstik, alisnya hitam seperti arang, matanya \u00a0berkilau, dan semuanya itu seperti dilukis di atas kulit pucat- nya yang jernih dalam remang sinar lampu. Sementara \u00a0jemarinya yang mungil asyik bermain-main dengan ujung rambutnya yang sehalus rambut bayi itu. Kugy memang tak pernah berubah. Bahkan sejak pertama kali mereka bertemu, saat ia dijemput di stasiun kereta. Lima tahun silam. Keenan tak pernah lupa saat itu. Setelah sekian lama, ia menyadari bahwa ia sudah menyukai Kugy\u00a0 sejak perjumpaan mereka yang pertama. Kugy yang unik. Ia seolah-olah mencuat dari lautan banyak orang, di mana pun ia berada. \u201cAku pesan ...\u201d Kugy berpikir keras, lama, \u201chmm. Gini, deh. Apa pun yang kamu pesan, kalikan dua.\u201d \u201cStrategi bagus,\u201d Keenan nyengir. Seusai memesan, Keenan lantas memberikan cangkir ber- isi ocha panas ke tangan Kugy. \u201cSaya sengaja bawa kamu ke sini, karena rasanya kita layak merayakan sesuatu.\u201d \u201cDan ... apakah itu?\u201d Kugy menggosokkan kedua tangan- nya, bersemangat. \u201cKita sudah punya penerbit ... dan pameran sekaligus.\u201d Kugy terlonjak dari tempat duduknya. \u201cKamu ... kamu nggak bo\u2019ongin aku, kan?\u201d Keenan menebarkan pandangannya ke sekeliling restoran, \u201cSaya ngajak ke sini cuma buat ngebo\u2019ongin kamu doang? Come on.\u201d 382 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kugy menutupkan tangannya ke muka, menjerit dalam \u00a0\ue024\ue027\ue02d\ue023\ue032\ue023\ue030 \ue035\ue027\ue02e\ue023\ue032\ue023\ue02d\ue030\ue039\ue023\ue004 \ue03b\ue013\ue02b\ue02e\ue023\ue023\ue023\ue023 \ue004\ue004\ue004 \ue023\ue02d\ue036 \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue032\ue027\ue033\ue025\ue023\ue039\ue023\ue000 \ue01a\ue023\ue023\ue023\ue030\ue000 This is a dream come true!\u201d\u00a0 \u201cIt is, Gy. \u00a0 Mimpi kita berdua jadi kenyataan.\u201d Keenan tersenyum sambil menghela napasnya. \u201cOrang yang saya temui namanya Pak Ginanjar, dia salah satu pembeli awal lukisan saya. Selain punya penerbitan, dia juga kolektor lu- kisan, bahkan punya saham di beberapa galeri. Pak Ginanjar tertarik banget waktu tahu saya melukis serial Jenderal Pilik\u00a0 lagi, tapi ... yang membuat dia mati-matian tertarik dengan proyek ini adalah ketika tahu bahwa kamu, pencipta dan penulis serial Jenderal Pilik dan Pasukan Alit, akan ber- kolaborasi langsung dengan saya. Saya sempat kasih lihat \u00a0juga foto-foto lukisan Jenderal Pilik yang baru dan sebagian naskah kamu. Pak Ginanjar punya ide untuk bikin dua ma- cam buku. Yang satu untuk konsumsi umum, formatnya se- perti buku cerita biasa, ilustrasinya akan dibuat lebih ri- ngan\u2014mungkin saya akan coba pakai cat air. Nah, yang satu lagi formatnya buku seni, bentuknya coffee table book, yang isinya adalah cerita kamu plus lukisan saya dari awal sampai \u00a0yang terbaru. Rangkaian pameran bakal dibuat untuk mem- promosikan buku ini. Dan, Gy, ini akan menjadi pameran tunggal saya yang pertama ....\u201d terc\u201ceDkaant. peluncuran bukuku yang pertama,\u201d Kugy berkata, \u201cNo,\u201d\u00a0 Keenan menggeleng, \u201cdua buku sekaligus, remem- ber?\u00a0Dua buku kamu akan diluncurkan berbarengan.\u201d Kugy gantian menghela napas panjang. Semua ini rasanya sukar dipercaya. Terlalu indah untuk dipercaya. \u201cMinggu depan, Pak Ginanjar ingin ketemu kamu. Kita oncahnati-npyear,gi\u201ccbhaereernsg,\u00a0aGny, .yUa?n\u201dtulakluPiKlieke.n\u201d an mengangkat cangkir 383 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 396\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cUntuk Pilik,\u201d Kugy tersenyum hangat, \u201cdan ... untuk\u00a0 kita.\u201d \u201cUntuk kita.\u201d 384 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 397\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 42. KASTIL YANG MASIH BERDIRI TEGAK Remi melirik jam tangannya. Sudah lewat lima menit dari \u00a0janji pertemuannya. Tak biasanya ia terlambat. Apalagi ini hari Minggu. Ia tidak punya alasan kuat untuk muncul tidak\u00a0 tepat waktu. Namun, perjalanannya menuju hotel ini sempat terhambat karena ada keramaian lalu lintas tak terduga aki- \u00a0bat parkiran mobil yang berbondong-bondong ke pameran \u00a0besar dekat sana. Ia membuka pesan di ponselnya, memastikan sekali lagi lokasi meeting-nya. \u201cOke ... coffee shop\u00a0...,\u201d gumamnya sen- dirian. Dan pintu lift membuka. Remi bergegas melangkah keluar. Bertubrukan dengan seseorang yang mau masuk ke lift. \u201cSori ...,\u201d katanya cepat, nyaris berbarengan dengan pria \u00a0yang ditubruknya, yang sama-sama juga mengucap maaf. \u201cMas Remi?\u201d Remi yang sedari tadi menunduk, sontak mendongak\u00a0 mendengar namanya dipanggil. Terkesiap bukan kepalang rkaegtiuk.a mengenali pria di hadapannya. \u201cKeenan?\u201d Ia bertanya, 385 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 398\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cApa kabar, Mas? Saya benar-benar nggak nyangka bisa ketemu di sini ...,\u201d Keenan menjabat tangan Remi erat- erat. Remi masih bengong. Tak lama, ia merangkul Keenan. \u201cSaya yang lebih nggak nyangka lagi ... hampir setahun saya cari kamu. Kamu\u2014kok, bisa di sini?\u201d \u201cSaya sekarang tinggal di Jakarta, Mas. Sejak akhir tahun kemarin.\u201d \u201cMasih melukis?\u201d Keenan tertawa lebar. \u201cBaru mulai lagi,\u201d jawabnya sum- ringah. \ue01d\ue027\ue02f\ue02b \ue02e\ue023\ue030\ue029\ue034\ue036\ue030\ue029 \ue02f\ue027\ue030\ue027\ue032\ue036\ue02d \ue024\ue023\ue02a\ue036\ue030\ue039\ue023\ue004 \ue03b\ue00e\ue023\ue029\ue036\ue034\ue000 \ue00e\ue023\ue029\ue036\ue034\ue000 \ue015\ue035\ue036 \u00a0yang saya tunggu-tunggu. Saya mau lihat-lihat, dong.\u201d \u201cBoleh, Mas. Sekarang ini saya malah mau mempersiap- kan pameran, dibantu oleh Pak Ginanjar.\u201d \u201cWah, curang kamu. Kok, Pak Ginanjar duluan yang di- kontak. Lupa ya sama pembeli pertama?\u201d seloroh Remi. \u201cNggak mungkin lupalah, Mas,\u201d Keenan terkekeh, \u201ctapi saya harus cari waktu yang tepat untuk ketemu Mas Remi. Sebetulnya, sejak minggu lalu, waktu Pak Wayan kasih tahu kalau Mas Remi datang ke galeri, saya sudah kepingin sekali mengontak. Tapi begitu sampai di Jakarta, masih banyak\u00a0 \u00a0banget kerjaan, jadi saya tunda.\u201d \u201cKamu kerja apa di sini?\u201d \u201cSaya sedang bantu ayah saya, Mas. Beliau lagi sakit. Dan sekarang saya menjalankan perusahaannya. Trading com- \u00a0pany.\u201d Remi melongo untuk yang kedua kali. \u201cKamu ... di perusa- haan trading?\u201d \u201cNggak ada pantes-pantesnya, ya, Mas?\u201d Keenan nyengir. \u201cYah, mudah-mudahan cuma sementara. Ayah saya sudah mlaguilasiaymaehmabruasikt,ekruosk.kTerajpaidmi kasainhtobre,\u201dlujmelatsahKueebnearnaplaaglia. ma 386 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 399\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cKeenan, kita harus janji ketemuan, nggak bisa nggak,\u201d kata Remi tegas. \u201cSetelah berbulan-bulan nungguin kabar kamu, setidaknya saya berhak untuk satu kali ngopi ba- reng.\u201d \u201cPasti, Mas,\u201d kata Keenan, \u201ctapi kartu nama saya ke- tinggalan. Bareng dompetnya. Makanya sekarang saya mau ke mobil dulu untuk ngambil. Dicatat di HP aja, ya.\u201d Keenan lantas mengejakan nomor telepon selulernya. \u201cNo problem, kartu nama saya juga habis, ini nomor saya, ya.\u201d Remi gantian menyebutkan nomornya. \u201cLagi ada acara di sini, Mas?\u201d \u201cSaya ada meeting di coffee shop.\u00a0Kamu?\u201d \u201cSaya sedang dinner\u00a0dengan teman saya.\u201d \u201cOke. Saya tunggu kabar dari kamu, ya? Minggu ini?\u201d \u201cBoleh. Dalam minggu ini.\u201d Keenan mengangguk man- tap. Lift itu lalu kembali menutup. Di dalamnya, Keenan geleng-geleng kepala. Takjub sendiri. Sekian lama berusaha menutupi jejak, malam ini ia harus bertemu dengan Remi dengan cara yang sama sekali tidak diduga. Barangkali me- mang sudah waktunya, pikir Keenan. Sementara itu, dalam perjalanannya menuju coffee shop, pikiran Remi masih terpaku pada pertemuannya dengan Keenan tadi. Masih sulit memercayai apa yang terjadi. Hidup dengan tak tertebaknya mengantarkan Keenan begitu saja di depan mukanya pada suatu malam, padahal sekian lama su- dah ia mencari Keenan dengan segala macam cara. Tidak ada \u00a0yang kebetulan, pikir Remi, terlepas dari kesanggupan dirinya memahami makna besar di balik pertemuan itu. 387 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 400\/457"]


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook