Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Perahu Kertas

Perahu Kertas

Published by SPEGASALIBRARY, 2023-07-23 01:02:01

Description: Novel Perahu kertas ini bertemakan persahabatan dengan konflik-konflik pembaca meresapi cerita

Search

Read the Text Version

["\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Remi tidak main-main dengan niatnya. Ia menelepon 401\/457 Keenan, antusias ingin bertemu. \u201cNanti sore kebetulan saya akan pergi ke daerah kantor kamu, kalau kamu ada waktu kosong, saya ingin mampir sekitar sejam, bisa?\u201d \u201cOke, Mas. Nanti kalau udah dekat kantor, telepon aja. Saya nggak ke mana-mana, kok,\u201d jawab Keenan. Dan Remi memang menepati janjinya. Ia tiba tepat waktu. Terlongo-longo, ia memasuki ruangan kerja Keenan. \u201cTer- nyata, kamu benar-benar direktur,\u201d celetuknya terkesima. \u201cMemang Mas sangka apa? Satpam?\u201d Keenan tertawa ke- cil. \u201cSaya masih nggak habis pikir. Bukannya dulu kamu per- nah bilang, kamu nggak suka dan nggak bakat bisnis?\u201d \u201cWell, sampai sekarang sebetulnya juga masih gitu, kok,\u201d Keenan tersenyum kecut, \u201cah, udah deh, ceritanya pan- \u00a0jang.\u201d \u201cWaktu saya juga masih sejam. Ayolah,\u201d bujuk Remi. \u00a0Akhirnya Keenan menyerah, menceritakan semua. Dari mulai kisah Galeri Warsita sampai ayahnya yang jatuh sakit. \u00a0Alhasil, Remi tambah terlongo-longo. \u201cItu ... cerita yang luar biasa. Saya sama sekali nggak\u00a0 nyangka,\u201d Remi geleng-geleng, \u201cselama di Bali, kamu ke- sliahyaatasnelnaylua nmgegraaksapaudnayasemsuaastaulayhanagpais-atipmae. wTaapdiaslaemjujpurronsyeas, hidup kamu. Termasuk waktu kamu tahu-tahu lenyap dari peredaran. Saya yakin, sesuatu yang besar pasti terjadi.\u201d Lagi-lagi, Keenan tersenyum kecut. \u201cUdah, deh. Ngo- mongin yang lain aja,\u201d katanya sambil mengibaskan tangan, \u201clebih baik sekarang dengar cerita Mas Remi.\u201d Remi mengangkat bahu. \u201cHmm ... nggak banyak yang \u00a0bisa saya ceritakan, plus, sebentar lagi saya juga udah harus \u00a0jalan.\u201d 388 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cTentang pekerjaan, mungkin? \u00a0Love life?\u201d\u00a0\u00a0 Keenan nye- ngir. Mendadak, air muka Remi berubah. Berseri-seri. \u201cHmm, untuk yang terakhir kamu sebut barusan, sebetulnya saya punya cerita. Tepatnya, sebuah rencana. Dan saya belum pernah kasih tahu siapa-siapa soal ini. Termasuk yang ber- sangkutannya sendiri.\u201d \u201cWah, seru, nih,\u201d Keenan terkekeh. \u201cSaya ... lagi terpikir untuk tunangan. Atau, yah, melamar dulu.\u201d \u00a0\ue00d\ue02e\ue02b\ue034 \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030 \ue02f\ue027\ue030\ue029\ue023\ue030\ue029\ue02d\ue023\ue035\ue004 \ue03b\ue021\ue031\ue038\ue000 \ue01e\ue027\ue02e\ue023\ue02f\ue023\ue035 \ue039\ue023\ue002 \ue019\ue023\ue034\ue004 \ue00e\ue02b\ue023\ue033\ue003 pun saya belum kenal orangnya. Yang pasti, dia cewek yang sangat beruntung. Kapan-kapan, kenalin, ya.\u201d \u201cSebetulnya, waktu saya ke Bali menemui Pak Wayan ke- marin, dia ikut dengan saya ke Ubud. Tapi sayangnya nggak\u00a0 ikut mampir ke galeri gara-gara dia mau memotret di pura. Kamu ... wah ... kamu juga pasti cocok sama dia. Dia sangat menyenangkan, cerdas, pokoknya ...,\u201d Remi sampai harus mengatur napasnya, \u201cdia sangat istimewa buat saya.\u201d Keenan tersenyum lebar. \u201cSaya percaya, Mas. You must be so in love.\u201d\u00a0 \u201cI am,\u201d\u00a0\u00a0 Remi tersenyum lebar, \u201cbelum pernah merasa seperti ini. Seumur hidup saya.\u201d \u201cDan, sepanjang hidup saya, nggak akan saya lupakan \u00a0bantuan Mas Remi dulu. Kalau bukan karena Mas Remi ter- tarik sama lukisan Jenderal Pilik saya yang pertama, mung- kin saya sudah berhenti melukis. Jadi, kalau Mas Remi bu- tuh bantuan apa pun, soal rencana besar itu, atau apa pun, kasih tahu, ya. Siapa tahu saya bisa bantu,\u201d ucap Keenan sungguh-sungguh. \u201cKeenan, kamu nggak berutang apa pun. Justru satu ke- rhaoyrammatearnanbgiskaulphuannygaaktabrayhaupKereteanmaan.kTamakul,a\u201dmujaarkeRmemudiiasen-, 389 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 402\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 dua orang itu berpisah. Tanpa tahu betapa besar persamaan di antara mereka berdua. U b u d , M ei 2 0 0 3 ... Luhde menyandarkan kepalanya di dinding, memandangi pamannya yang duduk memunggunginya. Sudah beberapa hari ini pamannya giat melukis. Mungkin karena baterainya sempat terisi dengan kedatangan Keenan beberapa waktu lalu. Sudah beberapa hari ini, Luhde malah tidak bisa tidur. Hatinya resah. Nyaris tidak pernah tenang. Dan, sama se- perti pamannya, itu pun disebabkan kedatangan Keenan. \u201cPoyan ....\u201d\u00a0 \u201cAda apa, De?\u201d \u201cBagaimana kita bisa tahu kapan waktunya untuk me- nyerah, dan kapan waktunya untuk bertahan?\u201d Mendengar pertanyaan Luhde, Pak Wayan berbalik. \u201cPoyan\u00a0juga tidak pernah tahu,\u201d jawabnya lugas. \u201cDulu,\u00a0Poyan memutuskan untuk menyerah. Membiarkan meme-nya Keenan memilih orang lain. Kapan\u00a0Poyan\u00a0merasa \u00a0bahwa itulah keputusan yang tepat?\u201d \u201cDe, sejujurnya, apakah itu menyerah, atau justru ber- tahan ... \u00a0Poyan\u00a0tidak pernah tahu. Bahkan sampai hari ini. \u00a0Apakah ini menyerah namanya? Barangkali betul begitu. Tapi dalam apa yang disebut menyerah, \u00a0Poyan\u00a0 terus ber- tahan. \u00a0Poyan\u00a0tidak tahu. Tapi hidup yang tahu.\u201d Luhde menggigit bibirnya. Ia ingin mengucapkan sesuatu, sekaligus gentar dengan reaksi pamannya nanti. Namun, de- sakan itu sangat kuat. \u201cPoyan ... \u00a0jangan marah kalau saya ngomong begini, tapi ... saya nggak mau jadi seperti \u00a0Poyan. \u00a0Atau seperti meme-nya Keenan. Sepuluh, dua puluh tahun \u00a0dyaanrig hsaamri ai.nBi,insagyuangmdaisaihnttaerraups-etneyreussaalnanmdeamn ipkeirnkearnimoaraann.g\u201d 390 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 403\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0Wayan terdiam mendengar luncuran kalimat dari mulut keponakannya. Ia seperti dicekoki segenggam pil pahit sekali- gus. Getir, pedih, tapi ia merasakan kebenaran dalam kata- kata Luhde. \u201cKamu benar. Jangan jadi seperti \u00a0Poyan,\u201d ujar- nya lirih. \u201cTapi, bagaimana saya bisa memutuskan itu?\u201d ratap Luhde. \u201cDe, \u00a0Poyan\u00a0percaya hidup ini sudah diatur. Kita tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apa pun, semua sudah disiapkan bagi kita. Kamu tinggal merasakan saja,\u201d Wayan \u00a0berkata lembut, \u201crasakan saja, De. Kamu pasti tahu jawaban- nya. Begitu juga dengan dia. Tidak ada yang bisa me- maksakan, apakah Keenan memang untuk kamu atau ... untuk orang lain.\u201d Jantung Luhde serasa berhenti berdegup. \u00a0Poyan sudah tahu. \u201cPada akhirnya, tidak ada yang bisa memaksa. Tidak juga \u00a0janji, atau kesetiaan. Tidak ada. Sekalipun akhirnya dia me- milih untuk tetap bersamamu, hatinya tidak bisa dipaksa oleh apa pun, oleh siapa pun.\u201d Luhde menunduk. Menyembunyikan matanya yang ber- kaca-kaca. Ia memahami apa yang diucapkan pamannya. \u00a0Yang belum ia pahami adalah, mengapa harus sesakit ini rasanya? J a k a r t a , M ei 2 0 0 3 ... Seperti biasanya, hampir setiap malam Minggu, ia meng- injakkan kaki di teras rumah ini. Namun, malam ini terasa lain. Remi menyempatkan diri untuk sejenak menatap Klaanrgeint-alamngailta,mkuirnsii,mmuenjgak, iunbaink,asnemmuenajyaadni gmaadlaamdiytaenragsbietur-. 391 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 404\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 sejarah, dan teras ini menjadi saksinya. Badannya tiba-tiba menggigil sejenak. Dan saat Kugy keluar dengan tawa ceria- nya, mendadak perut Remi terasa mulas. \u201cHai, Sayang,\u201d sapa Kugy, tangannya menggenggam se- tumpuk foto, \u201ckita mau jalan-jalan ke mana malam ini?\u201d \u201cBelum tahu,\u201d kata Remi, setelah menelan ludah berkali- kali, \u201crasanya sih, saya lagi agak malas ke mana-mana. Tapi, kita lihat nanti ya. Kalau cuma di sini, nggak pa-pa juga, kan?\u201d \u201cNggak masalah,\u201d sahut Kugy ringan. \u201cAku mau kasih lihat foto-fotoku di Bali. Lumayan lho hasilnya,\u201d lanjutnya sambil cengengesan. Dengan semangat, Kugy memperlihatkan hasil karyanya satu per satu. Remi mengamati sambil mengomentari, \u201cOh, iya ... bagus, hmm, yang ini juga bagus ....\u201d Namun, pikirannya tidak melekat pada foto Kugy barang satu pun. Remi sibuk bertanya-tanya dalam hati. \u00a0Apakah sekarang saat yang tepat? Ya. Harus sekarang. Atau minggu depan? \u00a0Jangan. Tapi, siapa tahu lebih baik. Mungkin bukan di rumahnya. Di tempat lain. Di mana? Kapan? Malam ini?\u00a0 \ue03b\ue01a\ue023\ue02a\ue000 \ue022\ue023\ue030\ue029 \ue02b\ue030\ue02b masterpiece-\ue030\ue039\ue023\ue000\ue03c \ue01f\ue02b\ue024\ue023\ue003\ue035\ue02b\ue024\ue023 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02f\ue027\ue003 nahan sejumlah foto. Remi terkagetkan dari lamunannya. \u201cEng-ing-eng ....\u201d Kugy menjajarkan foto-foto itu. Rem\u201cWi boewrk.e..ruyta,,dyiaam, yaatningyainliagmi eombjaenkgfo.t.o. -sfeobtoenittuarl,e\u201dbkihensainkg- sama, \u201csaya kenal sama perempuan ini,\u201d gumamnya. \u201cLuhde?\u201d sebut Kugy ragu-ragu. \u201cKamu kenal Luhde?\u201d \ue03b\ue022\ue023\ue000 \ue018\ue036\ue02a\ue026\ue027\ue000 \ue010\ue02b\ue023 \ue02b\ue035\ue036 \ue02d\ue027\ue032\ue031\ue030\ue023\ue02d\ue023\ue030\ue030\ue039\ue023 \ue01c\ue023\ue02d \ue021\ue023\ue039\ue023\ue030 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue029\ue023\ue02e\ue027\ue033\ue02b\ue003 nya saya datangi waktu di Ubud,\u201d Remi tertawa sendiri, \u201cjadi, saya ketemu pamannya, kamu malah ketemu ke- ponakannya. Lucu.\u201d \u201cJadi ... kamu kenal Luhde ini?\u201d Kugy masih tak per- caya. 392 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 405\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cSaya udah kenal keluarga itu lumayan lama. Waktu itu saya malah sempat tahun baruan dengan Luhde dan ke- luarganya, tahun ....\u201d Remi mengingat-ingat, \u201ctahun 2000. \u00a0Waktu itu dia masih ABG,\u201d Remi terkekeh, \u201cdia pacaran sama pelukis favoritku, itu lho, yang lukisannya saya pajang di \u00a0foyer\u00a0kantor.\u201d Tiba-tiba sesuatu menusuk hati Kugy.\u00a0Lukisan itu. \u201cRemi, kalau boleh tahu, siapa sih pelukisnya?\u201d tanya Kugy tegang, \u201cseingatku, cuma ada inisial KK di lukisan itu.\u201d \u201cNamanya Keenan. Lukisannya semua tentang anak-anak. \u00a0jBealaksaktnayna, lluanarcabri,astaa.nSpaayabepbeanng.ge\u201cmLuakr ifsaannatdikianysae,\u201dmRpeamt immeneng-- hilang dari peredaran hampir setahun. Orangnya juga nggak\u00a0 tahu di mana. Padahal dulu kami cukup sering ketemu. Tiba-tiba, minggu lalu saya ketemu dia, benar-benar nggak\u00a0 \ue034\ue027\ue030\ue029\ue023\ue02c\ue023\ue000 \ue01f\ue027\ue033\ue030\ue039\ue023\ue035\ue023 \ue026\ue02b\ue023 \ue034\ue036\ue026\ue023\ue02a \ue032\ue02b\ue030\ue026\ue023\ue02a \ue02d\ue027 \ue016\ue023\ue02d\ue023\ue033\ue035\ue023\ue004 \ue01e\ue023\ue039\ue023 \ue034\ue027\ue02f\ue032\ue023\ue035 main ke kantornya sebentar. Dia bilang, baru-baru ini dia me\u00a0Aludkaisglaegmi.pBaayhaknagn kmaetanngygaunmcaanugpahmateinrayna.\u201dseketika. Pan- dangan Kugy berubah nanar. Rasanya dia hafal kisah itu. Lebih dari sekadar hafal ... aku mengenalnya. Keenan. \u00a0Luhde. Keenan dan Luhde. Selama ini .... Remi mengamati perubahan air muka Kugy dan bingung sendiri. Kugy kelihatan tegang. \u201cGy, sebetulnya, malam ini ada yang ingin saya sampai- kan ke kamu.\u201d Dengan hati-hati sekali, Remi berkata. Otot- otot muka Kugy masih tampak kaku, memelototinya tanpa suara. \u201cGy?\u201d panggil Remi lembut, \u201ckamu nggak pa-pa?\u201d Kugy menatap Remi, miris. Ia ingin berusaha mengatakan \u201ctidak apa-apa\u201d dengan nada sewajar mungkin. Ia ingin ber- usaha agar apa yang baru saja didengarnya dapat lewat tanpa bekas bagai semilir angin. Ia ingin berusaha malam ini kembali normal. Ia ingin itu semua. Namun, ia tidak\u00a0 sanggup. 393 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 406\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kugy ingat perasaan ini. Sama seperti ketika ia tahu soal \u00a0Wanda dulu. Bedanya, kali ini ia begitu menyukai Luhde. Bahkan, jatuh sayang. Dan meski selama ini ia yakin bahwa hatinya sudah berubah, lagi-lagi ia harus menyadari dengan cara yang getir, bahwa hatinya belum berubah. Di hatinya, ternyata Keenan masih menjadi Pangeran, bertakhta dalam sebuah kastil impian yang masih berdiri tegak hingga detik\u00a0 ini. Namun, kehadiran Luhde meruntuhkan segalanya bagi Kugy. Kastilnya hancur rata dengan bumi. Dan Kugy tak\u00a0 punya pilihan lagi. \u00a0Mereka pasti sangat mencintai. Mereka \u00a0pasti akan sangat bahagia berdua. Luhde seperti seorang malaikat. \u201cSayang, kamu kenapa?\u201d Suara Remi menggugahnya. Dengan berat, Kugy terpaksa berkata, \u201cRemi ... maaf ya, aku ingin sendirian dulu malam ini. Aku nggak marah sama kamu, atau apa pun. Tapi, aku benar-benar butuh waktu sendiri dulu. Maaf sekali lagi, ya.\u201d Remi lama menatap Kugy. \u201cOke, kalau memang itu yang kamu butuhkan,\u201d sahutnya lirih. Tak lama kemudian, Remi pulang, berusaha berbesar hati. Pasti akan ada saatnya, ia membatin. \u00a0Mungkin minggu besok ... mungkin minggu depan ... pasti ada saatnya. 394 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 407\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 43. CINCIN DALAM KOTAK PERAK J a k a r t a , Ju n i 2 0 0 3 ... Keenan muncul di ruang tamu rumah Kugy lebih awal. Se- perti biasa, Keshia yang mengkhususkan diri untuk mem- \u00a0buka pintu. Sore itu, Keenan memakai kemeja linen putih lengan pendek dan jins biru. Cukupan untuk membuat Keshia kabur ke kamarnya dengan muka merah padam, dan di dalam sana ia jingkrak-jingkrak kegirangan sendirian. Keenan tampak rileks sekaligus bersemangat. Hari ini ia \u00a0janji membawa Kugy untuk menemui Pak Ginanjar, yang \u00a0juga sama-sama sudah tidak sabar ingin bertemu Kugy. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, dalam minggu ini mereka \u00a0bahkan sudah bisa menandatangani kontrak kerja sama untuk penerbitan dongeng serial Jenderal Pilik dan Pasukan \u00a0Alit. Tak lama, Kugy keluar menemui Keenan. Wajahnya agak\u00a0 lebih pucat dari biasa. 395 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 408\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cHai, Nan,\u201d sapanya, \u201ckok, cepat amat datangnya? Bukan- nya baru jam tujuh kita janji sama Pak Ginanjar?\u201d \u201cSaya pingin ngajak kamu makan es krim dulu,\u201d cetus Keenan berseri-seri. Kugy tersenyum samar, lalu mengangguk. \u201cKamu baik-baik aja?\u201d Kugy kembali mengangguk, kembali melempar senyum. \u00a0Segalanya harus terkendali,\u00a0ia mencamkan dalam hati. Sepanjang jalan, Kugy lebih banyak diam. Hanya Keenan \u00a0myaennganagkgtiafpmi seelkemenpaanryab.eSrbesaagmaiptaoinpyika odbi rpoalrakni,radnanresiatorhaannyeas krim favorit mereka di Kemang, beban di hatinya terasa kian menyesak. Ketika mereka melangkah keluar mobil, Kugy juga merasa langkah kakinya bertambah berat. Mereka berdua lantas memasuki restoran, duduk di tepi \u00a0jendela. Gerimis kecil turun di luar sana. Kugy membuang panKdeaenngaannnmyeankgaemjeantdi eKlua,gymdeinagma-mdaiatmi h. uSjianna.r mata itu tam- pak sedang berlari dari sesuatu. Keenan menyadari sepenuh- nya keganjilan yang berlangsung sejak tadi. \u201cKugy, kamu \u00a0beneran nggak pa-pa?\u201d tanyanya, memastikan sekali lagi. \u201cBeneran,\u201d Kugy tersenyum cepat. Untungnya, ia tersela- matkan oleh buku menu yang datang ke meja mereka. \u201cPesanan seperti biasa?\u201d tanya Keenan, yang dibalas ang- gukan bisu dari Kugy. Ia lalu memesan menu reguler me- reka berdua. Sepiring besar\u00a0\ue01f\ue00b\ue010\ue025\ue00f\u00a0dengan empat macam es krim dan saus cokelat. Sepuluh menit kemudian, piring itu datang bersama dua sendok kecil dan dua gelas air putih. Kugy mengambil sendok kecilnya dengan sedikit enggan. Perutnya mendadak kehilangan sensor lapar. \u201cGy, ada apa, sih?\u201d Keenan bertanya setelah hening me- liputi mereka sekian lama. 396 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 409\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cKamu yang kenapa. Kok, nanya itu melulu dari tadi,\u201d Kugy berusaha santai. Keenan menatap kedua mata Kugy. \u201cKecil, kamu nggak\u00a0 pernah pintar bersandiwara.\u201d Kugy tersentak mendengar ucapan Keenan. Perlahan, ia meletakkan sendoknya. Lama Kugy menunduk. Berusaha menerjemahkan badai di batinnya ke dalam kata-kata. \u201cNan ... boleh nggak aku minta istirahat menulis dulu?\u201d akhirnya Kugy berkata. \u201cMenulis Jenderal Pilik maksud kamu?\u201d sahut Keenan, \u201cBoleh aja, Gy. Ini kan proyek kamu juga. Kamu sesuaikan saja dengan kenyamanan kamu. Saya bisa minta waktu yang lebih mundur ke Pak Ginanjar. Nggak masalah,\u201d lanjut Keenan, \u201ckamu butuh waktu berapa lama kira-kira? Se- minggu?\u201d Kugy menatap Keenan, gelisah. \u201cSebulan?\u201d pintanya. Kening Keenan kontan berkerut. \u201cSebulan? Kamu ya- kin?\u201d Kugy menggeleng. \u201cMungkin lebih,\u201d sahutnya lirih, \u201caku nggak tahu pasti.\u201d Keenan ikut meletakkan sendoknya. \u201cKugy Karmacha- meleon, kali ini kamu harus jujur. Ada masalah apa sebenar- nya?\u201d Kerongkongan Kugy tercekat, seperti ada sebongkah durian menyumbat lehernya. \u201cAku ...,\u201d susah payah Kugy\u00a0 \u00a0berkata, \u201caku ... nggak mau ketemu kamu dulu untuk\u00a0 \u00a0beberapa waktu. Ada beberapa hal yang harus aku bereskan ...,\u201d napasnya tertahan, \u201cdengan diriku sendiri. Nanti kalau udah waktunya, kita pasti ketemu lagi.\u201d \u201cBoleh tahu apa yang harus kamu bereskan?\u201d tanya Keenan lembut. Kugy menggeleng. \u201cNggak sekarang. Sekarang ... aku cuma mau pulang.\u201d 397 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 410\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Keenan menatap sepiring penuh es krim di hadapannya, mengingat janji dengan Pak Ginanjar dalam dua jam lagi, ia lalu mengembuskan napas berat. \u201cOke. Saya antar kamu pu- lang.\u201d Kugy menggeleng lagi. \u201cNggak usah, Nan. Aku mau pu- lang sendiri pakai taksi. Maaf ya aku udah bikin kamu repot. \u00a0Aku juga nggak bermaksud bikin kamu bingung. Tapi ....\u201d \u201cKugy, saya antar kamu pulang. Sekarang,\u201d Keenan me- nyela dengan nada yang mulai mengeras. Gelengan kepala Kugy tambah kuat. Ia bahkan bangkit \u00a0berdiri. \u201cNggak. Aku mau pulang sendiri, Nan. Kamu boleh marah sama aku. Tapi aku benar-benar harus pergi. Maaf\u00a0 \u00a0ya ....\u201d Kugy langsung balik badan, setengah berlari menuju pintu restoran, melesat pergi ke tepi jalan, mencegat taksi, sebelum Keenan sempat mengejarnya. Begitu duduk di dalam taksi, impitan di dadanya seketika melonggar. Kugy kembali bisa bernapas. Sigap, disambarnya HP dari dalam tas, langsung mematikannya. Ia hanya ingin sendiri. Ia hanya ingin sepi. Ternyata aku tidak kuat ... aku tidak kuat ... \u00a0berulang- ulang, Kugy meratap dalam hati. Langit sudah menggelap ketika taksi itu memasuki pe- rumahan tempat Kugy tinggal. \u201cMbak ... Mbak ... ini udah sampai di kompleksnya, rumahnya sebelah mana, Mbak?\u201d Sopir taksi itu memanggil-manggil Kugy yang tertidur di jok\u00a0 \u00a0belakang. Kugy terbangun dengan kaget. \u201cOh, sori ... sori ... belokan pertama langsung kanan, Pak. Rumah kedua sebelah kiri.\u201d tanSyoanpyira itsuermayeanumreunt.u\u201cnYjuakngseabduaashedmaonbhilithaimtamituy, aMngbatke?r\u201d- 398 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 411\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 parkir di depan rumah Kugy. \u00a0Sedan hitam? Tubuh Kugy sontak lemas lunglai. \u00a0Remi?\u00a0 \u201cYa. Di sini aja, Pak.\u201d Kugy keluar dari taksi dengan eng- gan. Rasanya ingin meloncat masuk lagi dan pergi entah ke mana. Tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa. Tapi sudah terlambat. Remi, yang menunggu di teras depan, sudah me- lihat kedatangan Kugy. \u201cSayang, kok HP kamu mati?\u201d tanyanya langsung. \u201cTadi, akhirnya saya mengandalkan \u00a0feeling aja. Langsung mampir ke sini. Untung kamu cepat pulang.\u201d Remi memeluk Kugy. Tubuh itu kaku. \u201cKamu\u2014nggak pa-pa?\u201d tanyanya. Kugy rasanya ingin meledak mendengar pertanyaan itu lagi. \u201cNggak apa-apa,\u201d jawabnya singkat. \u201cKamu mau ganti baju dulu?\u201d Remi bertanya lagi. \u201cNggak usah,\u201d Kugy tersenyum, lalu duduk di kursi. \u201cAda apa, Remi?\u201d Remi agak terkejut dengan reaksi yang tidak biasanya itu. Ia mengamati ekspresi Kugy, berusaha mencari perbedaan, tapi tidak menemukan apa-apa. Sejenak Remi mengatur napas. \u00a0Ini saatnya. Kalau ingin jadi kejutan, ini saatnya. \u201cSebetulnya ada yang ingin saya sampaikan ke kamu malam ini,\u201d dengan hati-hati sekali Remi berkata. \u201cSaya nggak tahu apakah malam ini saat yang tepat atau bukan. Dan kapan pun saat yang disebut \u2018tepat\u2019 itu, pada akhirnya saya pasti harus bicara sama kamu. Cepat atau lambat. Hari ini atau minggu depan, atau bulan depan, atau tahun depan. Sama aja, Gy. Jadi, tolong dengar kata-kata saya ...,\u201d Remi tahu-tahu berlutut di hadapan Kugy. Kerongkongan Kugy tercekat. Rasa keselak itu datang lagi. Gempa itu terulang kembali. Tanpa disadari, punggung- nya mundur, menempel pada sandaran kursi. takDbaerriwkaarnntaonpgercaekla. n\u201cKanuygay, ARleismaiNmuegnrgoehlou,asrkayaan nsegbguakahtakhou- 399 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 412\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 apakah cincin ini pas dengan jari kamu atau nggak, saya 413\/457 nggak sempat ngukur, cuma ngira-ngira. Tapi yang saya tahu, cinta kitalah yang paling pas untuk hidup saya. Cincin ini saya tawarkan untuk kamu terima, untuk kamu pakai. Tapi sebetulnya, yang saya tawarkan adalah hati saya, hidup saya. Kalau kamu mau berbagi itu semua, tolong terima cin- cin ini.\u201d Cincin itu telah Remi sodorkan, begitu dekat dengan \u00a0jemari Kugy. Namun, Kugy tak bereaksi. Remi mendongak, mendapatkan Kugy yang tampak terkesiap. \u00a0Dia sungguhan kaget\u00a0. Hati-hati, Remi mengambil tangan kiri Kugy. Meraih \u00a0jari manisnya, lalu memasukkan cincin itu perlahan-lahan. \u201cGy ... cincinnya pas,\u201d bisik Remi tertahan. Lembut, ia mengecup jari Kugy yang kini dilingkari sebuah cincin ber- matakan berlian rose cut\u00a0. Dada Kugy menyesak. Napasnya mulai satu-satu. Setiap kata yang diucapkan Remi seperti balok beton yang mengim- pit dadanya. Dan cincin berkilau yang tersemat di jarinya itu bagaikan hantaman godam yang menjadi gong dari rang- kaian balok beton yang menghunjaminya. Kugy memejamkan mata. Semua yang ia alami dan ia dengar hari ini berada di luar kesiapannya, kekuatannya. Bibirnya mengunci. Pung- gungnya terus menjauh hingga melekat erat pada sandaran kursi. panRikem. Gi emlagualapianm.e\u201cmGbya.c..asogreil,asgaaytaanngeghakitube. rMmualkasiudmberikaisna kamu shock,\u201d ujarnya gugup. \u201c\u00a0Look, kamu nggak perlu jawab apa-apa sekarang. Saya ngerti. Kamu mungkin butuh waktu. \u00a0Apa pun yang kamu butuhkan,\u00a0please let me know. Oke?\u201d Kugy masih tidak bereaksi. Masih menatap Remi dengan nanar dan tubuh kaku. \u201cKamu butuh waktu sendiri dulu? Saya bisa pergi se- \u00a0bentar. Kalau nanti kamu sudah siap, kasih tahu aja. Nanti saya akan ke sini lagi,\u201d tanya Remi sehalus mungkin. 400 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kugy mengangguk pelan. Masih tanpa suara. \u201cOke. Saya tinggal dulu, ya? \u00a0Please call me.\u201d\u00a0 Remi lalu \u00a0berdiri, mengecup kening Kugy, dan beranjak dari sana. Begitu mobil Remi menghilang dari depan rumahnya. Kugy langsung menghambur masuk ke rumah, mengunci diri di kamar. Tidak keluar lagi. Pukul sebelas malam. Tahu-tahu bel rumahnya berbunyi. Kruamrealhbbeargruegnaysa kiteulu. aBrelkuammbara.nByaakruyatingga tbauhluanalaiampaitntdeamhpkaet tinggalnya yang sekarang. Tamu yang berkunjung selarut ini, tanpa pemberitahuan, patut diwaspadai. Karel mengintip sekilas dari tirai. Tidak ada mobil. Ke- palanya melongok untuk mengintip lebih jauh. Matanya memicing, berusaha mengenali sosok yang tengah berdiri di dep\u201caKnugpyin?\u201dtuK,amreelmtebrapweraansajatut. Ctaesp. at-cepat ia membuka pintu. \u201cKugy ... ngapain? Kamu sama siapa?\u201d Kugy, dengan muka kusut, menghadap abangnya dengan mengiba. \u201cKarel ... aku mau jadi parasit dulu di sini. Boleh, \u00a0ya?\u201d Sudah tiga hari sejak kejadian di restoran es krim itu. Kugy\u00a0 masih belum bisa dihubungi. Keenan tidak tahu lagi siapa \u00a0yang bisa ia mintai keterangan. Noni adalah upaya terakhir- nya. \u201cNon ... kapan ke Jakarta?\u201d Pertanyaan pertama Keenan \u00a0begitu telepon itu diangkat. \u201cMmm ... lusa. Kenapa, Nan? Kok, suara lu tegang ba- nget?\u201d tanya Noni curiga. 401 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 414\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cGua mau ketemuan sama lu, ya. Ada yang pingin gua tanya.\u201d \u201cSoal?\u201d \u201cKugy.\u201d \u201cKenapa Kugy?\u201d \u201cDia ngilang. Lu tahu dia di mana?\u201d \u201cNggak. Kenapa sih tuh anak? Kayaknya lagi hobi ngi- lang, ya?\u201d Noni tertawa kecil, teringat kejadian Remi yang \u00a0juga pernah meneleponnya, melaporkan hal serupa. \u201cLu udah tanya orang rumahnya?\u201d \u201cUdah. Kayaknya mereka kompakan untuk nggak kasih tahu. Mungkin Kugy yang sengaja nggak kepingin dicari.\u201d \u201cYah, kalo gitu, biarin ajalah. Lagi nyepi kali. Entar juga pulang lagi,\u201d timpal Noni santai. \u201cKalo cuma soal pulang lagi sih, gua juga yakin dia bakal pulang sendiri. Tapi bukan cuma itu masalahnya. Gua tetap pingin ketemu lu. Kayaknya ada sesuatu yang perlu kita obrolin soal Kugy. Oke? Lusa, ya?\u201d desak Keenan lagi. Noni menelan ludah. Belum pernah ia mendengar Keenan \u00a0begitu bersikukuh. Rumah dengan model townhouse\u00a0itu hanya punya dua ka- mar, luas bangunannya pun tidak terlalu besar, tapi lebih dari cukup untuk Karel huni sendirian. Kehadiran satu orang tambahan saja seharusnya menjadikan rumah itu se- marak, apalagi kalau manusianya adalah Kugy. Namun, ke- hadiran adiknya selama tiga hari di sana malah membuat suasana jadi mendung. Kugy benar-benar berbeda dari biasa- nya. Anak itu jadi pendiam, murung, dan lebih banyak me- ngurung diri. Tempat kesukaannya adalah balkon kecil di \u00a0bagian belakang rumah, tempat menjemur pakaian. Kugy\u00a0 402 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 415\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0bisa berjam-jam nongkrong di sana. Entah melamunkan apa. Terdengar suara langkah kaki beradu dengan anak tangga \u00a0besi. Adiknya baru turun dari balkon belakang. \u201cGy, makan malam dulu, yuk. Aku bawain nasi goreng, nih,\u201d ajak Karel. \u201cBelum lapar,\u201d kata Kugy pendek. \u201cNggak mungkin banget kamu belum lapar. Ayo, makan,\u201d Karel menaruh bungkusan itu langsung ke atas piring Kugy, kemudian mengambilkan piring dan sendok. Setelah itu, Karel mulai makan duluan. \u201cMakan, Gy,\u201d ajaknya lagi. Dengan lunglai, Kugy membuka bungkusannya, menyuap \u00a0beberapa sendok. Ogah-ogahan. Kugy hanya menghabiskan setengah, lalu berhenti, membungkus kembali sisa nasi go- rengnya. Kembali diam. Karel mengamatinya tanpa berkomentar. Setelah meng- habiskan nasinya, barulah Karel angkat bicara. \u201cKamu mau sampai berapa lama di sini?\u201d tanyanya kalem. Kugy mengangkat bahu. \u201cBelum tahu. Kenapa? Kamu mulai sebel ya lihat aku di sini?\u201d Karel tertawa kecil, \u201cNggak. Bukan itu masalahnya. Tapi aku mulai sebel karena kamu nggak ngomong-ngomong.\u201d Ia lantas melipat tangannya di dada, \u201cAku nggak akan sebel lagi kalau kamu mau cerita. Jadi, cepetan cerita. Seka- rang.\u201d Kugy menatap abangnya. Tatapan orang meratap minta tolong. Begitu banyak yang ingin ia muntahkan keluar. Kugy\u00a0 pun sudah lelah menyimpan semuanya sendirian. \u201cKamu harus tanya aku sesuatu dulu ...,\u201d kata Kugy setengah ber- \u00a0bisik. Dalam kepala Karel, berseliweran begitu banyak per- tanyaan. Tahu-tahu, matanya menangkap kilauan cincin 403 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 416\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0yang terterpa sinar lampu. Benda mungil yang melingkar di \u00a0jari manis kiri adiknya itu serta-merta mencuri perhatian Karel. \u201cCincin itu dari Remi?\u201d ia pun bertanya spontan. Kugy memang hanya butuh satu pertanyaan. Pertanyaan apa saja. Tidak jadi masalah. Ia hanya ingin dibantu untuk\u00a0 membuka pintu bendungan yang sudah ingin jebol. Dari mulutnya, mengalirlah lancar semua cerita. Kisah yang su- dah berusia empat tahun lamanya, dari mulai Keenan, Ojos, Remi, Luhde, hingga cincin di jarinya. \u00a0Aku\u201cKnagrgeal k...nagkeurtbi inkegnuanpga. Aakkuu bbienrgeuankgsisbamegaindiirkiektuiksaenRdeimrii. kasih cincin ini. Apa yang salah dengan dia?\u201d kata Kugy pu- tus asa, \u201caku juga nggak ngerti kenapa aku sampai kayak\u00a0 \u00a0begini waktu tahu soal Luhde. Padahal kan, harusnya ... harusnya ....\u201d \u201cMenurut kamu, yang harusnya terjadi gimana?\u201d tanya Kar\u201ceHl alermusbnuyta. ... aku senang. Harusnya aku bahagia untuk\u00a0 Keenan karena dia punya seseorang kayak Luhde. Harusnya aku juga bahagia karena punya seseorang kayak Remi. Ha- rusnya ... aku senang dapat cincin ini. Tapi ....\u201d \u201cTapi?\u201d \u201cTapi ... kok, aku malah di sini?\u201d ratap Kugy, \u201cKok, aku malah kabur?\u201d \u201cKugy, kepala kamu akan selalu berpikir menggunakan pola \u2018harusnya\u2019, tapi yang namanya hati selalu punya aturan sendiri,\u201d kata Karel sambil tersenyum. \u201cIni urusan hati, Gy. Berhenti berpikir pakai kepala. Secerdas-cerdasnya otak\u00a0 kamu, nggak mungkin bisa dipakai untuk mengerti hati. De- ngerin aja hati kamu.\u201d Tertegun Kugy mendengar kalimat Karel. Perlahan, ke- palanya menggeleng. \u201cKarel, aku bingung banget. Aku nggak\u00a0 404 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 417\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 tahu lagi hatiku bilang apa,\u201d ucapnya tertahan, \u201cpokoknya ... pokoknya ....\u201d \u201cPokoknya apa?\u201d \u201cPokoknya ... nggak mungkin aku nyakitin Remi. Dan aku nggak akan pernah rela kalau Keenan sampai nyakitin Luhde.\u201d Karel mengangguk. \u201cOke. Kalau itu memang betul kata hati kamu, ikuti saja. Nggak akan pernah mungkin salah.\u201d Ia lalu berdiri, menepuk pipi adiknya. Kugy memandangi abangnya yang mengambili piring-pi- ring kotor dari meja. \u201cKarel ...,\u201d panggilnya. \u201cKenapa, Gy?\u201d Kugy tak tahu harus bilang apa. Kembali hanya meman- dangi abangnya dengan sorot meratap yang penuh makna dan tanya. Karel menghampiri adiknya. \u201cDi belakang kompleks ini ada sungai kecil. Kamu bikin perahu kertas, gih. Curhat ke Neptunus. Siapa tahu ada jawaban.\u201d Ia tersenyum kecil, lalu \u00a0beranjak masuk ke kamarnya. Meninggalkan Kugy sendirian di meja makan. Sebaris kalimat Karel terus mengiang. \u00a0Kalau memang betul itu kata hati kamu, ikuti saja. 405 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 418\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 44. CINTA TAK BERUJUNG Noni sudah sampai duluan di restoran es krim di bilangan Kemang, tempat ia janjian dengan Keenan. Tak sampai lima menit menunggu, mobil SUV Keenan memasuki parkiran. Tampak Keenan keluar dari mobil, masih memakai setelan kantor. \u201cHai, Pak Direktur Muda. Ganteng amat,\u201d sapa Noni. \u201cNggak sempet ganti baju, Non. Tadi ada meeting, terus langsung ke sini,\u201d kata Keenan seraya mengempaskan tubuh- nya ke sofa. Noni geleng-geleng kepala. \u201cGua masih harus menyesuai- kan diri dengan Keenan yang Direktur. Aneh banget rasanya denger lu baru meeting, \u00a0 nggak Keenan banget,\u201d ia terge- lak. \u201cYang gua banget apa, dong?\u201d tanya Keenan sambil nye- ngir. \u201cMisalnya, Non, sori, gua baru begadang semaleman gara-gara ngelukis\u2019 atau \u2018Non, sori, gua baru selesai pameran \u2018dNi ogna,lesroirai,nguu\u2019 aatbaaurukaslealuespauinmheaertuinsgp\u00a0asakmaiaisKtiulaghy u\u2018mnteuektinpge\u2019-\u00a0: 406 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 419\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 ngembangan alien nation \u00a0 cabang Jakarta Timur.\u201d Lantas, 420\/457 Noni terkikik-kikik sendiri. Ekspresi Keenan langsung berubah begitu nama satu itu disebut. \u201cNon, ada apa dengan Kugy sebenarnya? Lu tahu sesuatu?\u201d \u201cSeminggu ini gua belum teleponan lagi sama dia,\u201d sahut Noni. \u201cBukan cuma soal seminggu ini, Non. \u00a0Feeling\u00a0gua, kayak- nya ada sesuatu yang lebih lama dari itu,\u201d Keenan mem- \u00a0buang pandangannya ke jendela, ingatannya kembali ke sore itu, di tempat dan meja yang sama, saat Kugy tahu-tahu me- ninggalkannya, berlari mencegat taksi, dan tak pernah ada kabar lagi sesudah itu. \u201cEko pernah cerita, lu dan Kugy sem- pat nggak saling ngomong selama hampir tiga tahun. Boleh tahu ada apa antara kalian waktu itu?\u201d Noni terkesiap mendengar permintaan Keenan. Teringat kado bersampul biru yang tertinggal di kamar kos Kugy. Kartu ucapan itu. \u201cMemangnya ... lu ngerasa ada hubungan- nya dengan Kugy ngilang?\u201d tanya Noni, sedikit enggan. Keenan mengangkat bahu. \u201cNggak tahu. Tapi gua merasa akan sangat terbantu kalau lu bisa cerita soal itu. Nggak\u00a0 tahu kenapa.\u201d Lama Noni terdiam. Akhirnya, ia memutuskan. \u201cCerita \u00a0gyaunagdabnerKhuugbyunbgisaanmdeennyguasnulibtue,ladkaannga..n. .uTdaaphi, saadaatnsyaatu ghuaal harus jujur,\u201d Noni berhenti sebentar, \u201cNan, ini nggak\u00a0 gampang gua omongin, jadi, mendingan gua tembak\u00a0 langsung aja: Kugy cinta sama lu.\u201d Tampak ia tertegun sendiri sesudahnya, lantas menggelengkan kepala, \u201cEh, salah, salah,\u201d Noni meralat, \u201cKugy cinta mati sama lu.\u201d Napas Keenan langsung tersendat. \u201cDari waktu dia masih pacaran sama Ojos. Dari sebelum 407 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 lu ketemu Wanda. Dan gua yakin, perasaan dia masih nggak\u00a0 \u00a0berubah, sampai hari ini.\u201d Gantian, Keenan membisu. Lama. \u201cGua nggak tahu persis apa yang terjadi sampai dia ngi- lang. Tapi lu bener. Kemungkinan besar ada hubungannya dengan itu semua,\u201d lanjut Noni lagi. \u201cHubungan dia dengan cowoknya gimana?\u201d tanya Keenan. Noni kembali menggeleng. \u201cNggak tahu persis, Nan. \u00a0Waktu gua datang ke rumahnya lagi sejak kita diem-dieman, she seemed to be so in love. But who knows? Segala sesuatu- nya bisa berubah,\u201d Noni terdiam sebentar, \u201cdan mungkin \u00a0justru karena ada beberapa hal langka di dunia ini yang su- sah berubah,\u201d sambungnya pelan. \u201cDia di mana, ya, Non?\u201d tanya Keenan. Pandangannya kembali menerawang ke jendela. Noni ikut terdiam. Tampak berpikir keras. Mendadak, alisnya terangkat. \u201cNan ... kita kok bego banget. Tanya \ue025\ue031\ue038\ue031\ue02d\ue030\ue039\ue023 \ue023\ue02c\ue023\ue000\ue03c \u201cLu kenal?\u201d \u201cKenal. Gua ada nomor teleponnya.\u201d \ue03b\ue022\ue023 \ue036\ue026\ue023\ue02a\ue000 \ue01f\ue027\ue02e\ue027\ue032\ue031\ue030\ue002 \ue029\ue02b\ue02a\ue000\ue03c \u201cNah, masalahnya ...,\u201d Noni berdehem, \u201cpulsa gua yang nggak ada.\u201d ataKu enegngaank bmeegnog. hIneliamnaaspalaash. k\u201ceInsei jabhetrearratianbsuoksainal.sPoaanl tbeseagno dari tadi lu cuma missed call\u00a0 doang bisanya.\u201d \u201cPakai HP lu aja. Tapi, nanti gua yang ngomong, oke?\u201d Noni lalu membuka buku alamat di ponselnya, \u201cNih, gua dikte, ya. Kosong ... delapan ... satu ....\u201d Keenan memencet nomor yang Noni sebutkan. Jempolnya nlaalumamdeinleakyaanrntyoam: \u00a0Rboeml \u201cigcaiulls\u201d.ATdiibtyaa-t.iba, muncullah sebaris 408 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 421\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cRemi?\u201d gumamnya tak percaya. \u201cLho. Lu kenal?\u201d Noni ikut bertanya. Nada itu tersambung. Tak lama, terdengar ucapan \u2018halo\u2019 \ue026\ue02b \ue036\ue02c\ue036\ue030\ue029 \ue034\ue023\ue030\ue023\ue004 \ue01d\ue027\ue03f\ue027\ue02d\ue034\ue002 \ue017\ue027\ue027\ue030\ue023\ue030 \ue02f\ue027\ue030\ue039\ue027\ue033\ue023\ue02a\ue02d\ue023\ue030 \ue032\ue031\ue030\ue034\ue027\ue02e\ue030\ue039\ue023 \ue032\ue023\ue026\ue023 Noni. \u201cHalooo? Mas Remi? Hai, ini Noni, Mas. Temannya Kugy. Iya ... ini memang pakai HP-nya Keenan. Aku juga \u00a0baru tahu kalau Mas Remi ternyata kenal sama Keenan. Lha, kita semua memang teman-teman kuliahnya Kugy, \ue019\ue023\ue034\ue004 \ue015\ue02a\ue002 \ue024\ue023\ue033\ue036 \ue032\ue023\ue026\ue023 \ue035\ue023\ue02a\ue036\ue002 \ue039\ue023\ue000 \ue00d\ue02f\ue032\ue036\ue036\ue036\ue030 \ue004\ue004\ue004\ue03c \ue01a\ue031\ue030\ue02b \ue035\ue027\ue033\ue035\ue023\ue038\ue023\ue003 tawa. \u201cNaaah, itu dia. Kita juga lagi nyariin Kugy, Mas. Kirain Mas Remi tahu dia di mana ...\u201d Keenan termenung. Celotehan bernada tinggi khas Noni seolah memantul ke ruang hampa. Ia tak lagi peduli apa yang dibicarakan Noni di telepon. Hanya ia sendirian di dalam ruang hampa itu, berpusar dalam kenangan dan potongan ingatan. Rekaman kalimat-kalimat Remi saat mampir ke kan- tornya kembali menggaung di benak Keenan ... kamu juga \u00a0pasti cocok sama dia ... dia sangat istimewa buat saya ... belum pernah merasa seperti ini, seumur hidup saya ... Keenan menunduk, memejamkan matanya. Remi, orang yang sangat ia hormati, ternyata adalah kekasih Kugy. Keenan lalu teringat rencana besar yang dibicarakan Remi. Ludah di mulutnya terasa getir. Pembicaraan mereka kembali berulang, termasuk kalimat yang ia lontarkan pada Remi ... kalau Mas Remi butuh bantuan apa pun, kasih tahu, ya. Siapa tahu saya bisa bantu. Noni tahu-tahu mengembalikan ponselnya. Menyadarkan Keenan dari lamunan dalam ruang hampanya. \u201cMas Remi \u00a0juga kelimpungan nyariin dia. Nggak tahu dia ada di mana. Gawat nih, Kugy.\u201d Noni berdecak. \u201cBy the way, gimana cara- nyaKkeoeknalun bteisraseknetnaakl. sTaemriangMaat sseRseumatiu?\u201d. \u201cNon ... gua harus 409 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 422\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 cabut. Nanti gua telepon dan ceritain semua. Oke?\u201d \u201cLu mau ke mana?\u201d \u201cKalo orang rumahnya nggak mau bilang Kugy ada di mana, nggak jadi masalah. Yang perlu gua cari tahu sebetul- nya adalah alamat rumah barunya Karel. Dan itu pasti \ue030\ue029\ue029\ue023\ue02d \ue023\ue02d\ue023\ue030 \ue035\ue027\ue033\ue02e\ue023\ue02e\ue036 \ue034\ue036\ue034\ue023\ue02a\ue004 \ue010\ue023\ue02a\ue000\ue03c \u00a0Secepat kilat, Keenan me- lesat pergi dari sana. \u201cKumpeni gila.\u201d Noni menyadari sepiring besar es krim akan menuju meja itu, dan harus ia habiskan sendirian. Sudah hampir gelap ketika Keenan sampai di rumah itu. Karel sendiri yang membukakan pintu. Ia tampak terkejut melihat kedatangan Keenan. \u201cMas Karel, Kugy-nya ada?\u201d tanya Keenan sopan. \u00a0Pasti\u00a0 ada. Karel tak langsung menjawab. Ia kelihatan sedang ber- pikir. \u201cKamu aja yang nyusulin dia, ya,\u201d akhirnya ia berkata sambil membalik badan, menunjuk satu pintu, \u201cdia lagi di tempat jemuran belakang. Kamu ke pintu itu. Ada tangga \u00a0besi di dekat sana. Kamu naik aja. Kugy ada di atas.\u201d Keenan mengangguk. Langsung menuju tangga yang di- maksud Karel, menaikinya hati-hati. Balkon belakang itu hanya berbentuk dak beton. Sebuah kursi dan meja plastik terparkir di sana. Tampak siluet Kugy\u00a0 duduk memunggunginya. Kepalanya menengadah, menatap langit senja. Rambutnya tergerai di sandaran kursi, berkibar halus ditiup angin. Keenan menahan napas. \u201cKecil ....\u201d Siluet itu terduduk tegak seketika. Kugy menoleh, men- dkoakpa.t..kbainsaKaedeanadni ssiundi?a\u201dhiabebredritraindyia,htaedrabpaatan.nya. \u201cKamu ... 410 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 423\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cRadar Neptunus,\u201d jawab Keenan ringkas seraya terse- nyum sekilas. Ia lalu berjalan mendekati Kugy. Berjongkok\u00a0 di depannya. \u201cKenapa harus ngilang, Gy?\u201d tanyanya halus. \u201cAku juga nggak tahu kenapa,\u201d Kugy menggelengkan ke- pala, \u201ctiap hari aku di sini, cuma untuk cari tahu kenapa. Dan masih belum tahu jawabannya.\u201d \u201cSaya mau bantu kamu. Boleh?\u201d Keenan lantas meraih tangan Kugy. \u201cEmpat tahun saya kepingin bilang ini: Kugy\u00a0 Karmachameleon, saya cinta sama kamu. Dari pertama kali kita ketemu, sampai hari ini, saya selalu mencintai kamu. Sampai kapan pun itu, saya nggak tahu. Saya nggak melihat cinta ini ada ujungnya.\u201d Kugy terenyak. Pandangannya mulai mengabur. Matanya terasa panas oleh air mata yang ingin bergulir turun tapi masih ia tahan. \u201cItu satu hal. Masih ada lagi yang harus saya bilang,\u201d Keenan mengatur napasnya, \u201csaya sudah tahu soal Remi, Gy. Kalau saya harus merelakan kamu untuk seseorang, cuma dialah orangnya. Nggak ada lagi. Dia orang yang sa- ngat, sangat baik. Kamu beruntung.\u201d \u201cKamu juga,\u201d desis Kugy, \u201caku nggak sengaja ketemu Luhde di Ubud. Kami sempat mengobrol di pura. Dia ... dia seperti malaikat turun dari langit. Kamu beruntung, Nan. Jangan pernah melepaskan dia.\u201d Keenan terkesiap mendengar Kugy menyebut nama Luhde. Namun, pembicaraan Remi di kantornya kembali \u00a0berulang ... waktu saya ke Bali menemui Pak Wayan kemarin, dia ikut dengan saya ke Ubud, tapi sayangnya nggak ikut mampir ke galeri gara-gara dia mau memotret di pura. Kali ini, Keenan akhirnya mengerti. Sikap Luhde \u00a0yang berubah drastis setelah pulang dari pura. Sikap Kugy\u00a0 \u00a0ymaenmg ajhuagma ib. erubah setelah kembali dari Bali. Akhirnya ia 411 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 424\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cLuhde nggak layak disakiti,\u201d desis Kugy lagi. \u201cRemi juga,\u201d timpal Keenan lirih. Kugy menunduk, mengerjapkan mata. Ia hampir tidak\u00a0 \u00a0bisa melihat apa-apa lagi dari matanya yang kian mengabur. Hari semakin gelap. Angin semakin halus. Hatinya semakin perih. \u201cBanyak sekali yang ingin saya lakukan bareng kamu, Gy,\u201d bisik Keenan. Kugy mendongak. Tersenyum sebisanya. \u201cBisa. Pasti bisa. Kita tetap bisa bikin buku bareng, kan? Dan aku tetap bisa \u00a0jadi sahabatmu.\u201d Kugy nyaris tersedak mengucapkan kata terakhir barusan. Menyadari bahwa persahabatan barangkali adalah muara terakhir yang harus ia paksakan untuk menam- pung seluruh perasaannya pada Keenan. Tak bisa lebih dari itu. Begitu luas laut yang membentang dalam hatinya. Namun, lagi-lagi, harus ia tahan. \u201cIya. Kita tetap bisa bikin karya bersama. Dan kita selalu menjadi sahabat terbaik,\u201d Keenan menelan ludah. Kalimat itu begitu susah diucapkan. Apalagi ketika segenap hatinya \u00a0berontak, menolak. Namun, ia teringat janjinya, pada Luhde, pada Remi. Jika ini memang bantuan yang Remi butuhkan, sama seperti ketika Remi menolongnya dulu, maka ia akan menggenapkannya. \u201cNan ...,\u201d Kugy menggenggam balik tangan Keenan, suara- nya makin lirih, \u201cbanyak yang aku ingin bilang ke kamu. Banyak yang ingin aku kasih. Tapi, nggak apa-apa, nggak\u00a0 usah. Mungkin memang bukan jatahku. Bukan jatah kita. Kamu turun, ya, Nan. Pulang.\u201d Keenan mengangguk. Memang tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hanya akan membuat hatinya makin terluka. \u201cKKeaemnaun jumgeanyjaenngtuahn pkieplai mKauagny dsieksiilnais,. GPye.rlUahdaanh, mbearljaamla.n\u201d 412 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 425\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 pergi. \u00a0Air mata Kugy akhirnya jatuh bergulir, membuat pan- dangannya kembali terang, meski langit sudah gelap, dan Keenan tinggal bayangan hitam yang berjalan menjauh. \u201cNan ...,\u201d panggilnya. \u201cYa?\u201d Keenan berbalik. \u201cAku nggak kepingin, sepuluh ... dua puluh tahun lagi dari sekarang, aku masih merasa sakit di sini tiap kali ingat kamu.\u201d Kugy merapatkan tangannya di dada. Keenan tercekat mendengarnya. \u201cNggak, Gy. Nggak akan. Kal\u201caDuasnaykaambiusay,akkainmbuisjuag?\u201da tbainsag.i\u201ds Kugy. \u201cPasti ....\u201d Suara Keenan bergetar. Penuh keraguan, ke- \u00a0bimbangan, dan kegentaran. Namun, ia tak mungkin lagi mundur. Satu-satu, dituruninya tangga besi itu. Lenyap dari pandangan Kugy. \u00a0Harus ada yang bisa, \u00a0 batinnya, kalau tidak\u00a0.... Keenan menggosok matanya yang berkaca-kaca. Ia tak bisa mengingat, kapan hatinya pernah sepilu ini. Di tempat yang sama, Kugy menangis bisu. Ia berjanji, inilah tangisan terakhirnya untuk Keenan, sekaligus tangisan \u00a0yang paling menyakitkan. Ia bahagia sekaligus patah hati pada saat yang bersamaan. Saat ia tahu dan diyakinkan bah- \u00a0wa mereka saling mencintai, dan selamanya pula mereka ti- dak mungkin bersama. 413 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 426\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 45. BAYANGAN ITU PUNYA NAMA Keesokan harinya, Kugy memutuskan keluar dari tempat persembunyiannya. Berhenti menjadi parasit di rumah Karel. Kembali pulang ke rumah. Dan orang paling pertama yang ia hubungi adalah Remi. Hanya dibutuhkan satu telepon untuk mendaratkan Remi ke rumahnya. Pria itu tak menunggu lebih lama lagi. Begitu Kugy menghubunginya, Remi langsung berangkat malam itu \u00a0juga menemui Kugy. Remi datang membawa seberondong pertanyaan yang sudah siap ia gencarkan. Namun, semuanya buyar pada detik pertama ia melihat Kugy. Sebagai ganti, ia hanya mendekap Kugy. Lama. Ribuan pertanyaannya mengkristal menjadi satu tanya, \u201cKamu kenapa, Gy?\u201d Segala sesuatu yang dipersiapkan Kugy ikut buyar. Me- leleh dan meluruh dalam dekapan Remi. Segalanya meng- kristal menjadi satu pernyataan, \u201cMaafkan aku, ya.\u201d CinRcienmiitummeloasnighgadriksaannad.eIkaapmaennngyeam, mbeursakiahntannagpaans kleirgiaK. ugy. 414 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 427\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cRemi, sekarang aku siap,\u201d kata Kugy, tegas. \u201cWaktu itu, 428\/457 aku memang kaget. Nggak siap. Tapi sekarang, aku siap \u00a0buat ngejalanin apa saja sama kamu. Buatku, ini adalah ba- \u00a0bak baru.\u201d Remi menatap Kugy lurus-lurus. Mengadu bola matanya. Mencari keyakinan di sana. \u201cKamu yakin, Gy?\u201d tanyanya memastikan. Kugy menghela napasnya. \u201cYakin,\u201d jawabnya mantap. Remi terus mengejar sesuatu dalam kedua bola mata \ue017\ue036\ue029\ue039\ue004 \ue03b\ue013\ue039\ue002 \ue034\ue023\ue039\ue023 \ue02f\ue027\ue030\ue029\ue02a\ue023\ue033\ue029\ue023\ue02b \ue02d\ue031\ue030\ue03e\ue033\ue02f\ue023\ue034\ue02b \ue02d\ue023\ue02f\ue036\ue004 \ue01f\ue023\ue032\ue02b \ue004\ue004\ue004 \ue034\ue023\ue039\ue023 nggak mungkin bohong sama kamu. Saya masih perlu kamu \u00a0yakinkan. Saya juga nggak tahu gimana caranya,\u201d dengan \u00a0berat Remi berkata, \u201ckeputusan kamu untuk tahu-tahu le- nyap bikin saya kaget banget. Dan, jujur, saya masih bi- ngung sampai sekarang. Tapi saya juga janji sama diri saya sendiri untuk menghargai proses kamu. Saya nggak akan maksa kamu untuk bicara atau cerita. Hanya kalau kamu siap. Tapi, sekali lagi, saya butuh diyakinkan. Saya nggak\u00a0 \u00a0yakin sanggup menghadapi situasi seperti kemarin lagi. Ti- dak untuk kedua kalinya, Gy.\u201d Kugy menelan ludah. Ia paham pembuktian apa yang di- maksud Remi. Namun, ia juga tidak tahu harus memulai dari mana. \u201cKalau gitu, apa yang bisa aku lakukan? Apa \u00a0yang perlu kamu dengar supaya kali ini kamu bisa yakin?\u201d tanya Kugy setengah memohon. Remi menggeleng. \u201cSaya juga nggak tahu, Gy,\u201d sahutnya pelan. \u201cMungkin cuma kamu yang bisa tahu.\u201d Mendengar kalimat Remi, seketika sesuatu berkecamuk\u00a0 dalam hati dan benak Kugy. Namun, Kugy sadar, pada \u00a0babak baru ini, ia tak punya banyak pilihan. Ia tahu apa \u00a0yang akan ia putuskan pada akhirnya. Sejernih berlian yang \u00a0berkilau di jarinya. Dan Kugy tak mau buang waktu lagi. 415 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cAku ingin kasih kamu sesuatu,\u201d ucap Kugy. Jantungnya terasa berdegup lebih kuat. Remi mengernyitkan kening. \u201cSesuatu\u2014?\u201d \u201cTunggu sebentar, ya.\u201d Kugy pergi beranjak dari sana. Masuk ke kamar tidurnya. Di sebelah tempat tidurnya, ada sebuah meja kecil. Kugy membuka laci paling atas. Sesuatu \u00a0yang belum lama kembali padanya, setelah bertahun-tahun menghilang, dan kini akan meninggalkannya lagi. \u00a0Dan semoga ia berada di tangan yang tepat,\u00a0Kugy berdoa dalam hati. Kugy lalu kembali menemui Remi. Menyerahkan benda itu ke tangannya. Sejenak Kugy memejamkan mata. \u00a0Inilah saatnya. \u201cRemi, dongeng adalah segalanya buat aku. Impian- ku yang paling tinggi. Dan ... ini adalah sesuatu yang paling mendekati impian itu. Sekarang, aku masih membuatnya pakai tangan. Entah kapan, tapi mudah-mudahan, satu saat nanti aku bisa berbagi sebuah buku dongeng betulan dengan kamu. Tapi, sebelum buku itu ada, inilah benda paling ber- harga buatku. Belum pernah berpindah tangan satu kali pun.\u201d Kugy menelan ludah lagi. \u201cHari ini, aku ingin mem- \u00a0baginya dengan kamu. Karena, aku juga berharap bisa ber- \u00a0bagi hidupku dengan\u2014\u201d Kugy rasanya tak bisa melanjutkan. Dadanya makin sesak. \u201cHanya dengan kamu,\u201d akhirnya Kugy\u00a0 \u00a0berkata. Remi terkesiap. Lama. Sepanjang ingatannya, tak pernah ada yang mengatakan hal seindah itu padanya. Ia baru ter- sadar ketika melihat Kugy menangis. Remi langsung mereng- kuh tubuh mungil itu lagi, \u201cKenapa nangis, Gy? Saya paling nggak bisa lihat kamu nangis ....\u201d Dalam isakannya, Kugy membisik, \u201cAku nangis bukan karena sedih ....\u201d Dengan lembut, Remi membelai-belai rambut Kugy, \u201cApa 416 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 429\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 pun alasannya, saya di sini untuk kamu. Makasih untuk\u00a0 \u00a0buku ini. Makasih kamu sudah membagi milik kamu yang paling berharga. Makasih sudah meyakinkan saya.\u201d Saat itu Kugy memang bukan menangis karena sedih, tapi bukan juga karena bahagia. Sejujurnya, Kugy sendiri tidak tahu kenapa. Enam bulan sudah semenjak kedatangannya kembali ke Jakarta. Ayahnya telah berubah drastis. Manusia itu telah menjadi bukti hidup bahwa mukjizat itu ada. Seseorang yang terkapar lumpuh sama sekali, dengan prediksi kerusakan fatal di sana sini, berhasil sembuh dan berfungsi seperti sedia kala. Ia telah lama meninggalkan kursi roda dan alat \u00a0bantu apa pun. Setiap pagi, ia bahkan sudah melakukan ak- tivitas senam ringan, sesuatu yang dilakukannya setiap hari saat ia masih sehat dulu. Segala sesuatunya memang sudah hampir seperti dulu, kecuali satu. Kembali ke kantor. Itulah satu-satunya hal yang masih belum disarankan dokter. Semua orang tahu, Keenanlah penyebab sekaligus pe- nawar yang kemudian mendatangkan keajaiban tersebut. Tak hanya mendampingi ayahnya kapan pun ia bisa, Keenan \u00a0bahkan menggantikan fungsi operasional ayahnya setiap hari di kantor. Memastikan perekonomian keluarga mereka ma- sih bisa berjalan seperti biasa. Namun, Keenan pun tahu, saat ini pasti tiba. Keajaiban \u00a0yang satu hari harus berhadapan dengan kejujuran. Dan tak\u00a0 ada yang tahu pasti, mana yang akan keluar sebagai peme- nang. Hati-hati, Keenan membuka pintu kamar orangtuanya. Tampak ayahnya sedang duduk sendirian di tempat tidur, membaca buku. 417 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 430\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cPa ...,\u201d panggilnya pelan. \u201cMasuk, Nan. Ada apa?\u201d Adri meletakkan buku yang ia pegang, sekaligus menanggalkan kacamata bacanya. Keenan lantas duduk di samping ayahnya. \u201cPa, saya ha- rus bicara tentang sesuatu. Tentang pekerjaan.\u201d \u201cAda masalah apa di kantor?\u201d tanya Adri langsung. Keenan menelan ludah, lalu menggeleng. \u201cNggak ada ma- salah, Pa.\u201d \u201cJadi?\u201d \u201cSaya yang punya masalah,\u201d Keenan berkata lirih, \u201csaya nggak tahu sampai kapan bisa bertahan\u2014\u201d Keenan berhenti sejenak. Dan akhirnya, ia mengatakan sesuatu yang selama ini sudah mengganjal lama di tenggorokannya, yang setiap harinya ia tahan, yang setiap harinya ia tunda, dan sekarang tak bisa ia membendungnya lagi: \u201cPa, saya ingin kembali melukis.\u201d \u00a0Adri berusaha mencerna kalimat anaknya. Berusaha mem- \u00a0baca ekspresi di wajahnya. Berusaha mengerti konsekuensi apa yang mengikuti pernyataan Keenan. \u201cKamu ingin ber- henti dari kantor?\u201d tanya Adri dengan nada ragu. Berat, Keenan mengangguk. \u201cTapi ... kalau bukan kamu, siapa lagi yang bisa menjalan- kan\u2014\u201d \u201cSaya akan tetap menjalankan tugas saya sampai Papa \u00a0benar-benar pulih. Atau sampai ada orang lain yang bisa menggantikan saya. Tapi, intinya ...,\u201d Keenan menelan ludah untuk yang kesekian kali, \u201csaya nggak mungkin selamanya \u00a0bertahan di kantor. Saya mau melukis lagi.\u201d \u201cKenapa? Apa masalahnya?\u201d desak Adri lagi. Keenan menatap ayahnya, tak berkedip. \u201cPapa masih per- lu tahu alasannya?\u201d selaPleurlianhgainn, mAderlui kmise.ngCguemleangP. a\u201cpPaapyaantaghus.elKalaumsuumsaehmmaneg- 418 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 431\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 nerima.\u201d Keenan gantian bertanya, pertanyaan yang tahunan ia tunda, ia tahan, dan sekarang tak bisa ia membendungnya lagi. \u201cKenapa, Pa? Apa masalahnya? Sejak kecil saya selalu \u00a0berusaha membuktikan sama Papa, bahwa melukis adalah dunia saya. Tapi Papa selalu menanggapi seperti tembok. Papa menutup mata, menutup telinga, dan benar-benar nggak mau tahu. Saya nggak pernah mengerti kenapa. Kenapa?\u201d \u00a0Adri tak tahu dari mana harus menjelaskan. Cerita yang sudah berkarat tapi menghantuinya selama puluhan tahun. Dunia lukisan adalah penghubung Lena dengan cinta lama \u00a0yang seperti tak mengenal kata mati. Dunia lukisan kembali menjadi penghubung anaknya dengan seseorang yang selalu ingin ia hindari entah karena perasaan bersalah, atau justru karena perasaan tersaingi. Dan semua itu pernah begitu membutakannya hingga ia ingin membunuh potensi Keenan dengan cara apa pun. Namun, Adri tidak punya kesanggupan untuk menceritakannya. \u201cSemua salah Papa, Nan,\u201d Adri mengucap lirih, \u201cPapa \u00a0yang nggak berusaha memahami kamu, berusaha mengurung kamu, dan nggak pernah memberi kamu kebebasan menjadi diri kamu sendiri. Sementara kamu ... kamu sudah berani mengorbankan impian kamu, demi bisa kembali ke sini, mengurus keluarga ini.\u201d \u201cSelamanya, saya akan tetap melakukan hal yang sama. Dengan situasi Papa waktu itu, pulang ke sini bukanlah pi- lihan bagi saya, bukan juga pengorbanan,\u201d sergah Keenan, \u201ctapi sekarang, saya ingin kembali memilih.\u201d \u00a0Adri tersenyum. \u201cDi mata Papa, semua itu terbalik, Nan. Kamu nggak perlu memilih untuk melukis. Itulah diri kamu. SelaMmaatanyKae.e\u201dnan mengerjap. Napasnya tercekat. \u201cJadi ... saya 419 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 432\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u00a0boleh\u2014?\u201d \u201cKapan pun kamu siap, kamu bisa berhenti,\u201d Adri berkata lembut, \u201cjangan khawatir tentang apa-apa. Papa pasti bisa cari jalan lain. Papa yakin,\u201d napas Adri mengembus panjang, tak pernah terbayangkan ia akan mengucapkan hal yang satu ini, \u201ckamu bahkan bisa kembali ke Bali, kalau itu yang kamu mau.\u201d Darah Keenan berdesir mendengarnya. Hatinya bergun- cang hebat. Bahkan dalam mimpi sekalipun, ia tak pernah \u00a0berani membayangkan ayahnya akan sampai pada kerelaan seperti itu. Tubuh Keenan pun bergerak maju, lengannya membuka, merengkuh ayahnya. Untuk pertama kalinya da- lam belasan tahun, ia merasa dipahami. Dan memahami. Bahwa apa yang tak terucap terkadang tak lagi penting. Keenan tidak ingin menuntut penjelasan lebih lanjut. Semua- nya sudah cukup. Akhirnya Keenan bisa merasakan cinta itu, kasih sayang itu, dan kebebasan yang akhirnya lahir da- lam hubungan mereka berdua. Sehari sebelum akhir pekan. Keenan sudah tuntas mengepak\u00a0 \u00a0barang-barangnya. Memastikan kembali tiket pesawat yang tersimpan di kantong depan ranselnya. Tekadnya bulat sudah. Ia akan ke Bali, ke Ubud, kembali ke Lodtunduh. Entah untuk berapa lama. Yang jelas, sesuatu \u00a0yang baru akan berawal di sana. Tak ada lagi yang bisa mengikatnya kembali ke sini. Keenan menoleh ke belakang sebelum memasuki taksi. \u00a0Ayahnya, ibunya, dan Jeroen, berdiri melepas kepergiannya. Dan kali ini, mereka semua tersenyum. Mereka semua meng- ikhlaskan. Tanpa kecuali. 420 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 433\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Sayap-sayapnya membentang tanpa penghalang. Ia bebas sudah. Malam ini, Remi menyusun tempat-tempat yang ingin ia kunjungi dengan Kugy esok hari. Ada pameran wedding, dan beberapa\u00a0 venue\u00a0yang kata orang-orang bagus dan unik. Entah kapan rencana besar itu terwujud, ia masih belum \u00a0berani mendesak Kugy, tapi tak ada salahnya melihat-lihat dan mempelajari. Dari SMS terakhir yang ia terima, Kugy\u00a0 \u00a0bahkan sudah setuju dengan rencananya besok. Remi ter- senyum puas. Menjelang tengah malam, masuk lagi sebuah pesan dari Kugy: \u00a0Kata Rhoma Irama, begadang jangan begadang. \u00a0Apalagi kalo cuma gara-gara keasyikan browsing. Kata \u00a0Kugy Nugroho, tidur yuk cepat tidur. Jangan lupa baca buku dongeng dulu. Dikasih buat dibaca, tauk! Met bobo, \u00a0Sayang. See you tomorrow. Remi tertawa kecil membacanya. Mematikan laptop\u00a0yang sedari tadi memang dipakainya untuk\u00a0 browsing. \u00a0Iseng, ia mengambil buku dongeng buatan Kugy. Satu-satunya buku dongeng yang ia punya. Halaman demi halaman, Remi pun berdecak kagum. Tre- nyuh. Ilustrasi yang indah. Cerita yang hidup. Dan betapa Kugy membuat setiap jengkal dari buku itu dengan cinta. Remi bisa merasakannya. Tibalah ia pada halaman terakhir. Sampul tebal yang tam- pak polos. Namun, ada sesuatu yang kelihatan menyembul keluar. Selapis kertas putih yang hanya terlihat ujungnya saja. Tanpa beban, Remi menarik kertas itu keluar. Sebuah amplop. Mendadak, ada keraguan yang muncul dalam hati- nya. Entah kenapa. Remi merasa tidak yakin benda itu se- ngaja diletakkan di sana untuk ia temukan. 421 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 434\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Namun, pada saat yang sama, ia juga merasa tergerak\u00a0 untuk membuka amplop itu, mengambil kartu di dalamnya. Keningnya seketika mengerut. \u00a0Happy Birthday? \u00a0batinnya. Sekali lagi, Remi membalik amplop itu, mencari sebuah nama. Tidak ada. Perasaan Remi semakin tidak enak. Ia ti- dak bisa lupa, Kugy pernah berkata, benda itu belum ber- pindah tangan sebelumnya. Tapi mengapa ia menemukan sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun? Remi lalu membaca, baris demi baris tulisan Kugy yang \u00a0berjejer rapi seperti pasukan semut. Pikirannya tersangkut dan terantuk pada beberapa kata ... ilustrasi ... berbagi ... hanya bersama kamu ... dan terakhir, ia tertumbuk pada satu tanggal. 31 Januari 2000. Tanggal itu. Tahun itu. Pem- \u00a0bicaraan terakhirnya dengan Noni dari satu nomor telepon \ue034\ue027\ue031\ue02e\ue023\ue02a \ue02f\ue027\ue030\ue029\ue031\ue030\ue03e\ue033\ue02f\ue023\ue034\ue02b \ue02d\ue027\ue025\ue036\ue033\ue02b\ue029\ue023\ue023\ue030\ue030\ue039\ue023 \ue034\ue027\ue02c\ue023\ue02d \ue035\ue023\ue026\ue02b\ue004 \ue010\ue023\ue030 \ue02b\ue023 \ue039\ue023\ue02d\ue02b\ue030 kini. Semuanya mendadak jelas. Reaksi dramatis Kugy ketika melihat foto Luhde. Kebimbangannya selama ini. Kepala Remi jatuh menunduk. Semua ini terlalu pahit dan sakit. Namun, ia akhirnya bisa memahami sesuatu yang mem- \u00a0bayangi hubungan mereka tanpa pernah bisa ia sentuh. Tan- pa pernah ia bisa beri nama. Sekarang, semuanya jelas. Bayangan itu sudah punya nama. \u00a0Keenan. 422 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 435\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 46. HATI TAK PERLU MEMILIH Semua anggota keluarganya berkelakuan aneh sejak tadi pagi. Ada yang mesem-mesem, ada yang cekikik-cekikik, ada \u00a0yang bersiul-siul tanpa sebab. Kugy menyadari itu semua tanpa tahu harus merespons apa. Sejam sebelum ia dijemput, barulah Karin bersuara. \u201cDenger-denger, ada yang mau ke wedding exhibition, \u00a0ya?\u201d Kakak perempuannya itu berceletuk. \u201cJangan yang mewah-mewah, ya, Nak. Sederhana saja, \u00a0yang penting bermakna.\u201d Tahu-tahu ayahnya ikut berkomen- tar sambil berjalan lalu. \u201cPapa apaan, sih?\u201d protes Kugy segera. \u201cGy, EO-nya in-house\u00a0aja,\u201d tiba-tiba Kevin menyambar, \u201cgue sanggup, kok. Gue udah punya tim sendiri, nih. Oke? Oke? Oke?\u201d Mata Kugy langsung mencari Keshia. Tinggal si bungsu satu itu yang belum ikut berkomentar. \u00a0Kalau sampai dia ikutan juga ...\u00a0Keshia duduk di ujung sofa, menatapnya de- anngaakn intuakrainl.g\u201caKna. lo gitu Keenan boleh buatku, dong,\u201d cetus 423 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 436\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \ue019\ue036\ue02d\ue023 \ue017\ue036\ue029\ue039 \ue02e\ue023\ue030\ue029\ue034\ue036\ue030\ue029 \ue02f\ue027\ue033\ue023\ue02a \ue032\ue023\ue026\ue023\ue02f\ue004 \ue03b\ue019\ue023\ue000\ue03c \ue02b\ue023 \ue02f\ue027\ue02f\ue023\ue030\ue029\ue029\ue02b\ue02e ibunya, siap memuntahkan protes, \u201cLagi pada kenapa sih \ue031\ue033\ue023\ue030\ue029\ue003\ue031\ue033\ue023\ue030\ue029 \ue026\ue02b \ue033\ue036\ue02f\ue023\ue02a \ue02b\ue030\ue02b\ue00c \ue01a\ue031\ue033\ue023\ue02d\ue000\ue03c \u201cGy, kamu mau pakai kebaya atau gaun? Kalau kebaya, ke temannya Mama aja, Bu Sugianto. Bagus deh buatannya, murah lagi ....\u201d Mulut Kugy menganga. \u201cMama kok ikut terlibat juga, sih?\u201d tukasnya. \ue03b\ue018\ue02a\ue031 \ue004\ue004\ue004 \ue02d\ue02b\ue035\ue023 \ue034\ue027\ue02f\ue036\ue023 \ue02d\ue023\ue030 \ue02b\ue030\ue029\ue02b\ue030 \ue02f\ue027\ue030\ue026\ue036\ue02d\ue036\ue030\ue029\ue000\ue03c \ue034\ue023\ue02a\ue036\ue035 \ue02b\ue024\ue036\ue003 nya. \u201cMendukung apa?\u201d tanya Kugy lagi. \u201cBooo ... \u00a0please, deh!\u201d\u00a0\u00a0 sambar Karin, \u201cLu sangka siapa \u00a0yang paling panik di rumah ini begitu tahu adik gue beren- \ue025\ue023\ue030\ue023 \ue036\ue030\ue035\ue036\ue02d \ue02f\ue027\ue02e\ue023\ue030\ue029\ue02d\ue023\ue02a\ue02b \ue029\ue036\ue027\ue000\ue03c \ue03b\ue016\ue027\ue02e\ue023\ue034 \ue032\ue023\ue030\ue02b\ue02d\ue02e\ue023\ue02a\ue000 \ue010\ue02b\ue023 \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue030\ue029\ue027\ue02e\ue036\ue023\ue033\ue02b\ue030 \ue02f\ue031\ue026\ue023\ue02e \ue032\ue023\ue02e\ue02b\ue030\ue029 \ue024\ue027\ue034\ue023\ue033 \u00a0buat kecantikan di rumah ini, tapi justru yang paling beran- takan yang dapat jodoh duluan,\u201d ledek Kevin, lalu dia ter- pingkal-pingkal sendiri. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Remi. Kugy mengembuskan napas lega. Tepat pada saat bola panas sedang berpindah ke Karin. Cepat-cepat ia angkat kaki dari ruang keluarga, pin- dah ke ruang tamu. \u201cHai. Udah dekat rumah, ya?\u201d tanya Kugy. \u201cBelum. Gy, sori, saya nggak bisa jemput. Kalau kita jan- \u00a0jian langsung ketemu aja gimana?\u201d Remi menyahut di ujung sana. \u201cNggak pa-pa. Aku bisa bawa mobil. Kita ketemu di pa- meran?\u201d \u201cKalau hari ini nggak jadi ke pameran, nggak pa-pa?\u201d Remi balas bertanya. Kugy tertegun. \u201cJadi ... ketemu di mana?\u201d 424 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 437\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Ia tak akan lupa tempat itu. Ayunan itu. Malam pergantian tahun. Di sanalah segalanya bermula. Kugy menanggalkan kedua sandalnya, membiarkan telapak kakinya menyentuh pasir. Angin pantai yang hangat berembus meniup kulit, me- ngibarkan rok panjang yang ia kenakan. Langit tampak di- gantungi tumpukan awan mendung, sore ini sepertinya akan ditutup oleh hujan. \u201cGy ....\u201d Kugy berbalik badan. Remi berjalan ke arahnya dengan senyum samar, tangan kanannya menjinjing satu kantong kertas. Ada sesuatu yang ganjil dengan ini semua. Namun, ia tidak tahu apa. \u201cKenapa harus ketemu di sini?\u201d tembak Kugy langsung. Remi tak menjawab. Ia menggandeng tangan Kugy, per- lahan mendudukkannya di atas ayunan. Dengan lembut, ta- ngannya mulai mendorong. Mengayun Kugy ke depan dan ke belakang tanpa suara. Hanya bunyi derit engsel besi ayunan dan bunyi ombak-ombak kecil yang beradu dengan \u00a0benteng tembok dekat kaki mereka. \u201cHampir setahun saya kenal kamu, ya, Gy.\u201d Remi akhir- nya bicara. Kaki Kugy yang tadinya menggantung tahu-tahu me- nancap kukuh di pasir. Ayunan itu berhenti mengayun. Kem- \u00a0bali, Kugy membalik badan. \u201cRemi ... \u00a0please, tell me.\u00a0Kok, kamu tiba-tiba aja pingin ke sini?\u201d Remi melepaskan pegangannya pada tali ayunan, berlutut di depan Kugy. Wajahnya setengah menunduk. Dan ia mem- \u00a0bisu. Cukup lama untuk membuat Kugy tambah curiga de- ngan semua ini. \u201cRemi ... ada apa?\u201d tanya Kugy sekali lagi. \u201cSaya ...,\u201d Remi susah payah berbicara, \u201csaya ... mau me- ntagsemyabnaglidkiasnansdesaurkataun.\u201ddTi atinagnagnanyyuanlaanlu. meraih kantong ker- 425 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 438\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Kugy menerimanya dengan ragu. Sekilas, ia mengintip isinya. Tercenganglah Kugy saat mengenali buku dongeng pemberiannya. \u201cKenapa dikembalikan?\u201d tanyanya bingung. \u201cKarena ... ini.\u201d Remi menyerahkan selembar amplop pu- tih berisi kartu. Segala sesuatu terasa berhenti bagi Kugy. Detik, detak, gerik dan gerak. Ia hanya bisa menatap benda satu itu. Se- suatu yang hampir ia lupa, tapi ternyata tidak. Cukup se- detik yang ia butuhkan untuk kembali mengenalinya. Meng- ingat apa yang ia tulis, dan kepada siapa tulisan itu ditujukan. \u201cBuku ini harusnya untuk Keenan, kan?\u201d tanya Remi lem- \u00a0but. \u201cKugy ... Kugy ... kenapa harus sampai kabur segala?\u201d Segala sesuatu terasa berhenti bersuara bagi Kugy. Ke- cuali suara Remi yang berbicara padanya sehalus angin. \u201cSaya ingin tanya sama kamu, Gy,\u201d ucap Remi. \u201cApakah Keenan pernah meminta buku ini dari kamu?\u201d Kugy bahkan tak bisa menemukan suaranya sendiri. Ia hanya bisa menggeleng. \u201cLalu ... kenapa saya harus meminta untuk bisa kamu kasih?\u201d Sesuatu berhasil bergerak. Menembus kebisuan dan ke- \u00a0bekuan yang mengunci Kugy. Sebutir air mata. Seolah menyentuh boneka porselen, dengan teramat ha- lus Remi menggenggam telapak kiri Kugy, tempat cincin pemberiannya melingkar. \u201cApakah kamu pernah minta cin- cin ini dari saya?\u201d Butir kedua. Dan Kugy kembali menggeleng. \u201cLalu ... kenapa saya yang harus minta supaya kamu mau pakai?\u201d Kugy hampir tak bisa bernapas. Berusaha menekan isak- \u00a0bneyrahsaeskilumatetneenmagbau.sNkaembiusnu,aina dtiadnakkebbeerkhuaasinl.. Isak pelan kini 426 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 439\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Masih dengan kehalusan yang sama, kali ini Remi me- narik lepas cincin di jari Kugy. Hati-hati. \u201cKalau nggak\u00a0 \u00a0begini, saya akan selalu meminta kamu untuk mencintai saya, Gy. Semua yang kamu lakukan adalah karena saya me- minta. Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-segalanya.\u201d Bahu Kugy berguncang tanpa bisa lagi ia tahan. \u201cTapi ... orang itu kan kamu ... aku ... aku nggak pernah minta apa- apa ... tapi ... tapi, kamu kasih semuanya ...,\u201d Kugy berkata terengah, di sela isakan dan desakan yang begitu kuat me- nyesak di dadanya. \u201cIya, Gy,\u201d Remi mengangguk sambil mengusap air mata di pipi Kugy, \u201ckamu mungkin sudah ketemu. Saya yang be- lum,\u201d suara Remi mulai bergetar. \u201cSaya yang belum ...,\u201d ucapnya lagi, separuh berbisik. Seolah ia sedang memberi tahu dirinya sendiri. Remi lalu bangkit, sejenak mendekap Kugy yang masih terisak, dan ia melangkah pergi. Kebekuan dan kebisuan runtuh sudah. Meski segalanya tampak mendung dan murung, sesuatu berhasil mencair di antara mereka. Kejujuran. Dan seolah bergerak bersama- sama, langit pun mulai merintikkan hujan. Apa yang lama tak terungkap akhirnya pecah, meretas, dan Bumi melebur \u00a0bersamanya. U b u d , J u n i 2 0 0 3 ... Sudah dua malam Keenan tiba di rumah Pak Wayan. Dan \u00a0baru sore inilah Luhde kembali dari Kintamani. Luhde tam- pak terkejut melihat kehadiran Keenan yang sudah me- nunggunya di bale. 427 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 440\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Keenan sontak berdiri melihat Luhde. Wajahnya berseri. Tangannya merentang, siap mendekap. Namun, Luhde hanya berdiri di tempatnya. Tersenyum dan mengangguk\u00a0 sopan. \u201cDe, saya akan kembali di sini. Saya akan tinggal lagi di Ubud,\u201d dengan sumringah Keenan berkata. \u201cSaya akan mengurus kepindahan saya pelan-pelan. Malam ini saya akan pulang dulu ke Jakarta dengan pesawat terakhir. Tapi mulai minggu depan, saya akan tinggal lebih lama lagi, sam- pai akhirnya ...,\u201d Keenan menangkupkan kedua tangannya di pipi Luhde, \u201csaya nggak perlu jauh lagi dari kamu.\u201d Senyum Luhde melebar. \u201cSaya ikut berbahagia,\u201d katanya lugas. Keenan mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. \u201cKamu kenapa, De?\u201d Luhde menunduk sebentar, seperti mengumpulkan ke- kuatan. Saat ia mendongak, sorot mata itu berubah total. \u201cSaya perlu tahu sesuatu. Kenapa Keenan ingin bersama saya?\u201d Keenan tergagap mendengar pertanyaan yang sama sekali tak diduganya. Lama akhirnya ia baru bisa menjawab. \u201cKa- rena ... saya sudah memilih kamu.\u201d Sekujur tubuh Luhde terasa melunglai, dan setengah mati ia berusaha tetap tegak berdiri. Namun, jauh di dalam hati- nya, Luhde sudah siap mendengar jawaban itu. \u201cKeenan tunggu di sini sebentar, ya. Ada yang perlu saya ambil di kamar,\u201d ucapnya lirih. Dan ia bergegas pergi. Tak lama, Luhde kembali. Dalam kebingungannya, Keenan pun melanjutkan apa \u00a0yang tak sempat ia ucapkan karena keburu buyar oleh per- tanyaan Luhde barusan. \u201cDe, saya ingin kamu ikut ke Ja- karta. Temani saya dulu di sana. Nanti kita kembali ke sini \u00a0bareng-bareng. Kamu mau?\u201d 428 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 441\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Lagi, Luhde hanya tersenyum. Dan perlahan kepalanya menggeleng. \u201cSaya tidak siap ikut Keenan,\u201d jawabnya lem- \u00a0but, tapi tegas. \u201cMalam ini saya mau kembali ke Kinta- mani.\u201d \u201cOke. Kalau gitu, kapan kamu siap? Saya akan nunggu kamu,\u201d kata Keenan lagi. Senyum itu tak surut dari wajah Luhde. \u201cKeenan cuma \u00a0buang-buang waktu,\u201d sahutnya. Dan nada itu menegas. \u201cDe, semua waktu saya sekarang untuk kamu. Mau di- \u00a0buang ke mana lagi? Konsep \u2018buang-buang waktu\u2019 nggak\u00a0 \u00a0berlaku lagi sekarang. Semuanya buat kamu,\u201d ujar Keenan putus asa. \u201cKeenan lebih baik pulang ke Jakarta. Itu jauh lebih ber- guna. Apa yang Keenan cari bukan di sini.\u201d Keenan menatap Luhde, berusaha mengerti apa yang di- pancarkan di sana, karena ia sungguhan tak mengerti. \u201cDe ... maksud kamu apa? Kamu nggak mau saya di sini?\u201d Dengan runut dan seperti mengurut, Luhde berkata, \u201cSaya, ingin melepas Keenan pergi. Sebelum kita berdua \u00a0berontak, dan jadi saling benci. Atau bersama-sama cuma karena menghargai. Keenan mengerti?\u201d Kali ini Keenan benar-benar terenyak. Belum pernah ia melihat Luhde begitu tegas. Begitu tegar. \u201cDe ... tolong ...,\u201d \u201cKeenan yang tolong saya, ya,\u201d sela Luhde, \u201ctolong ambil ini lagi.\u201d Sebuah pahatan kayu sebesar genggaman tangan ia selipkan kembali ke genggaman sang pembuatnya. Pahatan \u00a0berbentuk hati dengan relief gelombang air. Sesuatu yang pernah ia begitu dambakan, sesuatu yang pernah ia minta dan akhirnya diberikan. Namun, Luhde sadar kini, yang bisa ia miliki hanyalah pahatan kayu berbentuk hati. Bukan hati \u00a0yang sebenarnya. Sementara yang sesungguhnya ia damba \u00a0bukanlah pahatan itu, melainkan sesuatu yang tidak pernah \u00a0bisa ia miliki seutuhnya. 429 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 442\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Pahit, Keenan menggeleng, menolak. \u201cDe, saya sudah ka- 443\/457 sih ini untuk kamu. Setidaknya kamu sudi untuk sekadar menyimpan barang ini. Tolong.\u201d Kembali senyuman yang sama menghiasi wajah Luhde. \u201cBahkan bukan nama saya yang kamu ukir,\u201d desisnya, \u201ctapi ... Keenan baik sekali sudah pernah mau meminjamkan. Terima kasih.\u201d Keenan tak tahu lagi harus berkata apa. Segalanya seperti \u00a0jalan buntu. \u201cDe ... kalau memang saya harus pergi, saya rela. Tapi, tolong kasih tahu saya sekali lagi ... kenapa?\u201d des\u201caSkanyyaab, emlaejarartdaapr.i kisah hidup seseorang. Hati tidak pernah memilih. Hati dipilih. Jadi, kalau Keenan bilang, Keenan telah memilih saya, selamanya Keenan tidak akan pernah tulus mencintai saya. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh,\u201d Luhde menggenggam tangan Keenan sejenak, \u201cyang Keenan cari bukan di sini.\u201d Keenan terdiam. Seiring angin yang bertiup serupa tiupan seruling, mendadak benaknya terisap ke masa lalu. Kembali ke malam saat ia mendengar angin berbunyi serupa, meng- goyangkan kentungan bambu yang tergantung di tepi atap bale. Malam di mana ia membuat pilihan. Ucapan Luhde menyadarkannya. Ia hanya memilih untuk memberikan se- onggok kayu berukir, sementara apa yang mendorongnya untuk mengukir tak pernah bisa ia berikan. Keenan me- ngatupkan matanya erat-erat. Semua ini terlalu getir untuk ia telan. Namun, inilah kejujuran. \u201cDe ... maafkan saya ...,\u201d bisik Keenan. Tubuhnya gemetar halus. Bola matanya berkaca-kaca. Luhde tak menjawab. Hanya seutas senyum hangat yang terus mengembang. Sorot matanya jernih bagai mata air. Tak\u00a0 ada dendam. Tak ada kesedihan. Tak ada yang dimaafkan. Ia lalu berbalik pergi. Hanya geraian rambut hitamnya yang melambaikan perpisahan. 430 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Keenan berdiri termangu menatap itu semua. Sebutir air matanya mengalir. Diusapnya pelan. Dan ia pun beranjak dari sana. Dari kejauhan, seseorang memandangi mereka berdua. Pak Wayan merasa dirinya terpecah menjadi dua. Sebagian dirinya hancur bersama Luhde. Dan sebagian lagi bahagia tak terhingga untuk Keenan. Akhirnya, Keenan mendapat kesempatan yang tak pernah ia miliki dua puluh tahun yang lalu. Kesempatan untuk dipilih cinta, dan berserah pada aliran yang membawanya. Ke mana pun itu. Hati selalu tahu. J a k a r t a , J u l i 2 0 0 3 ... Keenan menyiapkan ranselnya. Ransel marun berinisial \u201cK\u201d \u00a0yang ia pakai sejak kuliah. Mendudukkannya di jok depan. Sementara ia duduk di belakang kemudi. Sejenak Keenan menengadah melihat langit pagi yang cerah. Tak ada lagi yang mengikatnya di mana pun. Tidak di sini. Tidak di Bali. Untuk pertama kalinya, Keenan mencicipi penuh arti kebebasan. Dan hari ini, ia memutuskan untuk\u00a0 pergi bersama angin. Bebas, seolah tanpa tujuan. Namun, angin selalu bergerak ke satu tempat. J a w a B a r a t , J u l i 2 0 0 3 ... Hari sudah sore saat ia tiba ke tempat ini. Kembali untuk\u00a0 \u00a0yang ketiga kalinya. Tak ada lagi tempat yang lebih tepat untuk ia kunjungi. Keenan langsung memarkirkan mobilnya 431 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 444\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 di tebing, bersiap menyambut gua kelelawar di bawah sana memuntahkan isi perutnya sejenak lagi. Deburan ombak yang berderu dan bertempur di bawah sana menggetarkan sekaligus mendamaikan. Keenan telen- tang menghadap angkasa hingga warnanya mulai berubah \u00a0jingga. Rasanya, ia bisa di sana selamanya. Tempat ini \u00a0begitu sepi. Hanya alam dan dirinya yang berbaring hingga entah kapan. Keenan tak lagi berencana. Tiba-tiba saja, pandangannya menggelap. Sebuah ransel \u00a0jatuh tepat di samping kepalanya. Mata Keenan memicing. Mencoba mengenali sosok yang berdiri di atasnya. \u201cKata sandi?\u201d Orang itu bertanya pelan. Keenan tersenyum. \u201cKlapertaart.\u201d \u201cHah? Keparat?\u201d \u201cPisang susu.\u201d \u201cOke. Lolos.\u201d \u201cKok, kamu bisa sampai di sini?\u201d tanya Keenan. \u201cAku juga mau tanya hal yang sama. Tapi kayaknya kita \u00a0berdua sudah tahu jawabannya.\u201d \u201cRadar Neptunus,\u201d Keenan tersenyum lebar. Secerah hati- nya yang mendadak merekah, dan terus-menerus mengem- \u00a0bang seolah tiada tepi. Pandangannya kembali tak terhalang. Orang itu kini ikut \u00a0berbaring di sebelahnya. Kugy. Dan sepanjang ingatan Keenan, langit tak pernah seindah itu. 432 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 445\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 EPILOG H ar i ini ... Di tengah laut biru yang beriak tenang, segugus tangan mu- ngil meluncur keluar dari bibir kapal nelayan. Ia sengaja ikut menumpang demi menghanyutkan perahu kertasnya. Tidak dari empang. Tidak dari kali. Tidak dari sungai kecil. Kali ini ia ingin melepaskannya di tengah laut. Suratnya ter- akhir untuk Neptunus. \u00a0Neptunus, Tahunan nggak nulis surat ke markas. Jangan marah, ya. Tapi kami memang mau berhenti jadi agen. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi mimpi. \u00a0Karena mimpi itu sudah kami jalani. Sekarang. \u00a0Selama-lamanya. \u00a0K(d&aKn.satu lagi K kecil ... masih di perut) 433 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 446\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Perahu kertas bergoyang sendirian. Perlahan ditinggalkan perahu kayu yang bertolak kembali ke bibir pantai, mengan- tarkan Kugy yang segera berlari turun memecah air. Sese- orang sudah berdiri menunggunya dengan tangan terentang, siap merengkuh lalu mengangkat tubuh mungilnya ke udara. Keenan. ... Perahu kertas bergoyang sendirian. 434 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 447\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 \u201cMelajulah Perahu Kertasku ...\u201d \u00a0Apakah kira-kira hubungan antara Katyusha, \u00a0Popcorn, Indigo Girls, dan \u00a0Reality Bites?\u00a0\u00a0 Dalam pengertian umum mungkin tak ada. Tapi dalam hidup saya, keempatnya \u00a0bermakna luar biasa. \u00a0Yang pertama adalah penulis tahun \u201980-an yang pernah terkenal dengan karya-karyanya di majalah remaja, salah satunya majalah \u00a0HAI.\u00a0 Yang kedua adalah judul komik\u00a0 Jepang sepanjang 26 seri yang ditulis oleh Yoko Shoji. Yang ketiga adalah duo penyanyi\/gitaris perempuan asal Amerika, terdiri dari Emily Saliers dan Amy Ray, yang dikenal luas dengan lagu-lagu berlirik cerdas sekaligus puitis. Yang ke- \ue027\ue02f\ue032\ue023\ue035 \ue023\ue026\ue023\ue02e\ue023\ue02a \ue02c\ue036\ue026\ue036\ue02e \ue03e\ue02e\ue02f \ue032\ue033\ue031\ue026\ue036\ue02d\ue034\ue02b \ue035\ue023\ue02a\ue036\ue030 \ue005\ue00a\ue00a\ue008\ue002 \ue026\ue02b\ue024\ue02b\ue030\ue035\ue023\ue030\ue029\ue02b oleh Winona Ryder dan Ethan Hawke. Keempat-empatnya jelas berbeda satu sama lain dan ter- sebar dalam rentang waktu yang cukup panjang. Namun, keempat-empatnya sama-sama \u201cbertanggung jawab\u201d dalam menghadirkan novel ini ke tangan Anda. Saya masih SD saat membaca cerbung \u201cKe Gunung Lagi\u201d karya Katyusha di majalah \u00a0HAI.\u00a0 Saya, yang saat itu sudah hobi menulis, sebetulnya masih terlalu kecil untuk bisa mengapresiasi isi ceritanya. Namun, ada magnet yang me- narik saya untuk membacanya, mengikuti dengan setia se- tiap minggu, dan ikut jingkrak kegirangan ketika kakak saya \u00a0berhasil mengoleksi lengkap cerbung tersebut dan mem- \u00a0bundelnya jadi satu. Kelincahan dan keluwesan Katyusha menjadi daya tarik utama dari cerbung \u201cKe Gunung Lagi\u201d. Namun, ada satu faktor lagi yang menjadi candu terkuat \u00a0bagi saya: \u00a0formatnya. \u00a0 Cerita bersambung, ataupun serial, \u00a0jika memang isinya mengikat dan menarik, akan menjerat 435 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 448\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 pembacanya dalam sebuah pengalaman adiksi yang menyenangkan; bagaimana kita secara bertahap ikut tumbuh \u00a0bersama para tokoh dan berempati pada kisah mereka, sensasi yang ditimbulkan oleh rasa penasaran dan menunggu, plus rasa puas saat penantian panjang kita \u00a0berakhir, ditutup dengan helaan napas panjang saat baris terakhir usai kita baca. Dari pengalaman membaca \u201cKe Gunung Lagi\u201d, saya bertekad dalam hati: satu saat, saya akan menulis kisah dengan format cerbung. \u00a0Waktu SMA, teman sebangku saya, Yasep (a.k.a\u00a0Joshep), meyakinkan saya berulang-ulang bahwa komik\u00a0 \u00a0Popcorn sangat seru dan wajib dibaca. Termakan bujuk rayunya, saya lalu mulai mengikuti satu demi satu dari ke-26 buku karya \u00a0Yoko Shoji itu. Dan hasilnya? Sebuah adiksi baru. Sebagai- mana yang ditimbulkan oleh komik-komik Jepang berkuali- tas dan bergenre sejenis, bersama \u00a0Popcorn \u00a0 saya hanyut dalam perjalanan bak\u00a0 rollercoaster\u00a0 di mana saya tertawa, menangis, bahagia, haru, jatuh cinta, patah hati, seiring de- ngan perjalanan para tokohnya. Belum lagi debat dan dis- kusi berjam-jam yang saya habiskan bersama Joshep demi mendiskusikan dan bertukar pengalaman masing-masing saat membaca \u00a0Popcorn.\u00a0Gaya penuturan, penyusunan plot, serta pengembangan drama dalam komik tersebut sangat memukau saya. Dan, lagi-lagi, sebuah kisah berseri. Dari \u00a0Popcorn,\u00a0saya bertekad lagi: suatu saat, saya ingin menulis kisah dengan spirit yang serupa, yang bersamanya saya bisa ikut tumbuh bersama tokoh-tokoh saya, menyaksikan me- reka bertransformasi dari remaja ingusan sampai menjadi manusia-manusia dewasa. Saya baru memulai kuliah di Unpar saat saya men- dengarkan kaset Indigo Girls untuk pertama kali. Album \u00a0lyaagnug sIanydaigboeliGbirelsrj\u2014ukdhuul \u00a0sSuwsnaymap lOagpuh-elaligau.\u00a0 Kyeadnaghsdyaictiapntalkiraink\u00a0 436 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 449\/457","\u00a0 Nove l Pe ra hu Ke r ta s - slide pdf.c om 5\/26\/2018 Emily Saliers\u2014berefek kuat bagi saya, yang waktu itu baru mulai serius mencipta lagu sembari berkarier musik bersama trio Rida, Sita, Dewi. Lirik Indigo Girls adalah jenis lirik\u00a0 \u00a0yang setiap kali kita simak ulang selalu memunculkan la- pisan dan makna baru. Tipe lirik yang memang saya gemari. \u00a0Ada banyak lagu mereka yang saya kagumi, tapi entah mengapa, ada satu lagu berjudul \u201cMystery\u201d yang dengan misteriusnya mampu menginspirasi saya untuk menulis. \ue01f\ue027\ue032\ue023\ue035\ue030\ue039\ue023\ue002 \ue026\ue036\ue023 \ue024\ue023\ue033\ue02b\ue034 \ue02d\ue023\ue02e\ue02b\ue02f\ue023\ue035\ue004 \ue018\ue027\ue024\ue02b\ue02a \ue034\ue032\ue027\ue034\ue02b\ue03e\ue02d \ue02e\ue023\ue029\ue02b\ue002 \ue006\ue007 \ue032\ue031\ue035\ue031\ue030\ue029 kata. Dan dari sana, saya menulis kisah panjang berjudul \u00a0Perahu Kertas\u00a0yang terdiri dari sekurang-kurangnya 86.500 kata. Berikut potongan liriknya: \u201cMaybe that\u2019s all that we need is to meet\u00a0 in the middle of impossibilities. \u00a0Standing at opposite poles, equal partners in a mystery.\u201d\u00a0 Melalui baris-baris itu, saya pun menciptakan kedua to- koh utama saya, Kugy dan Keenan, yang berdiri di dua ku- tub berlawanan dan pada akhirnya harus bertemu di tengah segala kemustahilan. \ue019\ue023\ue034\ue02b\ue02a \ue026\ue023\ue033\ue02b \ue024\ue023\ue030\ue029\ue02d\ue036 \ue02d\ue036\ue02e\ue02b\ue023\ue02a\ue002 \ue034\ue023\ue023\ue035 \ue02b\ue035\ue036 \ue02a\ue023\ue026\ue02b\ue033\ue02e\ue023\ue02a \ue03e\ue02e\ue02f \ue039\ue023\ue030\ue029 \ue025\ue036\ue003 kup jadi perbincangan. Di Indonesia, sebetulnya yang lebih terkenal adalah soundtrack-nya, dan di album itulah Lisa Loeb muncul perdana dengan lagunya \u201cStay\u201d. Sebagai peng- gemar Winona Ryder, saya merasa cukup terpanggil untuk\u00a0 \ue02f\ue027\ue030\ue031\ue030\ue035\ue031\ue030 \ue03e\ue02e\ue02f\ue030\ue039\ue023\ue004 \u00a0Reality Bites\u00a0mengisahkan tentang per- gelutan sarjana-sarjana kemarin sore yang harus menghadapi realitas hidup antara mencari kerja demi eksistensi dan mempertahankan mimpi demi idealisme. Barangkali timing \u00a0\ue034y\ue02ba\ue034n\ue038g\ue023\ue004te\ue01ep\ue023a\ue039t\ue023k\ue02far\ue027e\ue033n\ue023a\ue034\ue023pa\ue035\ue027d\ue033a\ue02ds\ue027a\ue035\ue036a\ue02dt i\ue026tu\ue027\ue030p\ue029u\ue023n\ue030 s\ue02ba\ue034\ue02bya\ue03e\ue02es\ue02fed\ue02ba\ue035n\ue036g\ue004 \ue01eja\ue027d\ue035\ue02bi\ue023m\ue032 a\ue026h\ue023a\ue033\ue02b- 437 http:\/\/slide pdf.c om\/re a de r\/full\/nove l-pe ra hu-ke r ta s-56207389969f4 450\/457"]


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook