Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Gence Membedah Anatomi Peradaban Digital

Gence Membedah Anatomi Peradaban Digital

Published by seputarfib, 2022-01-23 17:02:57

Description: Gence Membedah Anatomi Peradaban Digital

Search

Read the Text Version

BAGIAN 2 Manusia dan Pilihan Hidupnya: Tinjauan Neurobiologi (1) Merenungi Makhluk Dua Kutub Bernama Manusia Oleh Tauhid Nur Azhar Menarik untuk dicermati dari teori GONE pada kasus korupsi, dimana greed atau keserakahan ternyata berkelindan erat dengan kendali diri secara biologis. Eh ndak tahunya opportunity dan juga needs, by the way saya kok lebih sreg jika istilahnya wants atawa keinginan. Memang manusia itu makhluk kutub, sejenis beruang. Kerennya sih polarisasi kalo kata Millon, antara nikmat dan sengsara adalah dua kutub yang berbeda. Kita pun selalu berusaha menggapai nikmat sembari memadamkan perih panas derita. Maka, rasa serakah dan kejelian melihat peluang (opportunity) adalah naluri atau bagian dari insting manusia untuk mempertahankan kehidupan. Bukankah semua itu konotasinya baik kan ya? Menghindari susah lalu mencari enak, dan meminjam istilah Pak Busyro, membangun konstruksi korupsi antara lain dengan mengarahkan regulasi, aturan perundangan, Membedah Anatomi Peradaban Digital — 101

peraturan pemerintah dan sebagainya sebagai legal standing bagi bergeraknya upaya sistematis menggangsir sumber kenikmatan yang semestinya masuk katagori haram. *** Pendekatan biologis, dengan demikian, menjadi strategis dan penting. Karena walau bagaimanapun kan manusia itu makhluk biologis ya? Pendekatan biologis menghantarkan kita pada pendekatan karakteristik biologis yang dapat maujud pada perbedaan gender. Tentu cara berpikir dan mengambil keputusan sebagai respons dari diterimanya suatu stimulus di sebuah situasi. Banyak peneliti terdahulu berpendapat bahwa pria itu makhluk rasional sementara wanita emosional. Fakta terkini menunjukkan bahwa hipotesis tersebut sudah tidak terlalu relevan dengan hasil-hasil riset yang menunjukkan bahwa ada perbedaan-perbedaan yang justru menempatkan setiap gender memiliki karakter khas yang justru menjadi indah jika saling mensubstitusi. 102 — G.E.N.C.E.

Penggunaan area prefrontal cortex dan amigdala yang dominansinya berbeda, misalnya. Atau, ketebalan lapisan neocortex (substansia grisea) dan hasil pemindaian fungsi otak dengan fMRI, menunjukkan bahwa wanita memiliki kompleksitas pikiran terkait denganperanneuroendokrinsepertioksitosin(attachment),vassopressin, dan serotonin yang memunculkan sifat khas. Pengambilan keputusan yang dilandasi analisis baseline data yang kuat yang dihasilkan dari hasil observasi mendalam adalah ciri decission making wanita. Maka, ini bukan persoalan emosi, akan tetapi rasionalitas dalam spektrum pita lebar. Maka, saat saya dengan penyampaian berbalut canda memberi contoh tentang bagaimana seorang ibu berbelanja dan melakukan survei harga di setiap lantai sebuah mall untuk kemudian memutuskan membeli di toko yang pertama didatangi adalah analogi yang tepat dari keistimewaan sifat attention to detail yang merupakan potensi awas dan teliti. Peran oksitosin dan vassopressin terkait ikatan dalam bentuk pengasuhan dan curahan kasih sayang adalah modal utama untuk menanamkan nilai yang kelak membentuk karakter anak. Dalam proses perencanaan dengan bingkai waktu yang memerlukan proyeksi maka kemampuan prediktif dan protektif terhadap tujuan merupakan aset yang sangat berharga. Tetapi uniknya manusia, tidak pernah ada model yang sama yang dapat direplikasi sedemikian rupa. Bisa saja pria punya sisi femme, atau arketipe yang menyerupai. Sedangkan ciri gender otak pria adalah kecenderungan munculnya sifat impulsif atau blink yang dalam ranah bingkai waktu dapat menjadi keunggulan dalam kecepatan pengambilan keputusan. Pola kompleks dan simpel bila berhasil dijadikan resultante tentu akan menghasilkan vektor baru yang dengan arah dan kekuatan yang konstruktif. Sifat baik dapat pula menjadi titik lemah, sifat protektif misalnya menjadikan orang tua (ibu) menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang menurutnya terbaik bagi buah hati. Efeknya adalah anak meneladani perilaku tersebut dan menjadikannya bagian dari memori implisitnya. Adapun sifat kompetitif ayah hasil pengaruh dari testosteron dan sirkuit implisitnya yang condong protektif secara Membedah Anatomi Peradaban Digital — 103

fisik, jika disalah terapkan akan menjadi trigger untuk melakukan berbagai upaya menjadi unggul tanpa melalui proses yang proper. Korupsi lahir dari sini. *** Perilaku instan itu sejalan dengan teori behaviorismenya Skinner. Ada reinforcement, baik negatif maupun positif. Ibarat tikus yang dikurung dalam Skinner box, jika menemukan tuas/tombol yang mengaktifkan mesin pakan, dan itu terobservasi terjadi berulang kali, simpulan sementara si tikus --> tombol itu adalah tombol surga yang “wajib” diinjaknya. Kalau tombol itu bukan mengaktifkan mesin pakan melainkan listrik yang nyetrum, maka setelah terulang beberapa kali tak pelak si tikus akan mengasosiasikan tombol tersebut sebagai tombol neraka! Perilaku instan yang menjanjikan hasil lewat kemudahan yang flawless menjadikannya “tombol surga”, dan believe it or not, itu dilatih dan dihabituasi loh. Buang sampah di jalan itu enak loh, ga cape, mobil bersih, dan masalahnya (secara resiprocity) minim, toh tidak langsung jadi banjir dan tha’un alias wabah penyakit (epidemi atau bahkan pandemi). Kutipan 2000 perak itu kan kecil dan tidak signifikan. Menerima pasien jam 09.30 dengan jam kerja mulai pukul 08.30 di faskes primer sebagai layanan publik garda depan kan wajar-wajar saja. Yang penting pada gilirannya kan semua terlayani. Kita lupa ada kerugian yang bersifat intangible serupa waktu produktif dan derita perasaan yang didera ketidakpastian. *** (2) Bagaimana Manusia Mengambil Keputusan dalam Hidupnya? Oleh Tauhid Nur Azhar Hidup itu pilihan. Begitu berulangkali yang kita dengar sebagaj bagian dari nasehat dari orang-orang yang kita hormati. Baik itu orangtua, guru, maupun pasangan hidup. Namun, apa sebenarnya 104 — G.E.N.C.E.

yang melandasi pernyataan tersebut? Benarkah manusia harus selalu memilih dalam menjalani hidupnya? Bagaimana jika kita menolak untuk memilih? Eh, tapi bukankah menolak untuk memilih juga adalah pilihan? Seperti negara-negara yang bergabung dalam non blok karena tidak mau larut dalam polarisasi antara NATO dan Pakta Warsawa. Bukankah non blok sebenarnya juga blok? Juga pilihan? Sebagai seorang Muslim yang berusaha untuk istiqamah dan kaffah, saya kerap bertanya tentang makna “jalan lurus” yang termaktub dalam surat Al-Fatihah, yang dibaca di setiap shalat. Apa arti penting surat ini sehingga “wajib” hadir di setiap shalat, baik fardhu maupun sunnat? Bukankah sebenarnya jalan lurus ini juga pilihan? Sebab, dengan adanya istilah jalan lurus, itu berarti pula tersedia jalan yang tidak lurus alias menyimpang. Dan, yang namanya menyimpang tentu bisa ke kiri atau ke kanan. Dalam konteks ilmu sosiologi dan kriminologi, penyimpangan (deviasi) baik ke kanan ataupun ke kiri bisa melahirkan anomali atau kerap disebut kondisi ekstrem. Dengan demikian, menjadi mainstream ataupun ekstrem juga sebuah pilihan. Sampai sejauh mana kita mau menyimpang? Salah satu pokok pikiran dan pesan yang ingin disampaikan Luqman Al-Hakim pada anaknya adalah jangan menjadi fakir pikir alias bodoh dalam mengantisipasi dan merespons situasi. Akan tetapi, jangan pula ekstrem menjadi sombong karena merasa lebih cerdas dari yang lain. Jangan sampai “kecerdasan” itu melahirkan pilihan untuk melahirkan kekufuran dan kekafiran yang menjadi representasi kefakiran iman. Dalam sebuah masyarakat yang majemuk dan terdiri dari beragam pikiran yang lahir sebagai bagian dari berbagai interaksi yang menjadi “pengalaman” komunal akan melahirkan berbagai sistem yang merupakan pilihan bersama. Dalam teori Luhman (Ritzer, 2014) dikatakan terbangun sistem autopoietik yang bersifat tertutup, memiliki referensi sendiri (self refferential), dan mengordinasi elemen-elemen di dalamnya secara mandiri, swaorganisasi. Sistem kemasyarakatan semacam inilah yang melahirkan produk-produk berupa norma dan tata kelola sosial untuk menjamin keberlangsungan sistem itu sendiri (Tauhid, 2015). *** Membedah Anatomi Peradaban Digital — 105

Pertanyaan mendasar yang kemudian mengikuti adalah bagaimana asosiasi, korelasi, dan pembentukan persepsi yang berangkat dari interaksi fungsi inderawi dengan kemampuan memberi arti dapat berkembang menjadi potensi kognisi yang menjadi ciri manusia sejati? Lalu bagaimana manusia itu kemudian mempelajari dan mengenal dirinya sendiri, keinginannya, dan memetakan tujuan hidupnya secara personal dan komunal secara bermetodologi? Untuk itu, kita perlu mengkaji lebih mendalam hal-hal yang terkait dengan proses pengambilan keputusan. Bukahkah kelak kita akan dihisab berdasarkan akumulasi keputusan yang kita ambil selama kehidupan? Shalat, sedekah, zakat, shaum, haji, bahkan syahadat adalah sebuah wahana pilihan. Mau dilakukan atau tidak? Niatnya apa? Motifnya apa? Nah, semua itu bermuara pada suatu sistem yang menjadi ciri superioritas sekaligus ujian terberat bagi manusia. Sistem saraf dengan otak sebagai prosesor utamanya. Kalau seorang pemimpin negara menggaungkan perlunya sebuah tindakan konstruktif sistematis dan nyata untuk merevolusi mental bangsa, hal yang harus menjadi fokus utama adalah otak dan sistem pengambilan keputusannya. Bahasa kerennya decission making. Faktor- faktor yang terlibat tidak kalah keren. Ada motif, ada perilaku atau behaviour, ada pula pajanan atau exposure lingkungan sosial. Bahkan, tentu saja tidak bisa lepas dari yang namanya budaya, belief system, pola pengasuhan, role model atau keteladanan, serta pola respons terhadap stimulus yang merupakan produk akumulatif dari memori dan pengalaman. Kita dapat melihat betapa susah payahnya seorang Kang Emil (Ridwan Kamil), walikota van Bandung yang juga arsitek top itu, membudayakan pola hidup bersih dengan tidak membuang sampah sembarangan dan proaktif membersihkan lingkungan. Saat Kang Emil mencontohkan memungut sampah di alun-alun yang kini bersolek dan tampil cantik, yang terjadi bukanlah ditiru dan diteladani warganya untuk turut memunguti sampah. Yang ada warga berebut selfie dan mengunggah foto Kang Walikota dengan komen, “Keren euy walikotaku”. Artinya, motif untuk terlibat, berempati, dan tergerak dalam sebuah mekanisme aksi belum sejalan atau justru tidak berada 106 — G.E.N.C.E.

dalam satu garis algoritma. Kebersihan belum menjadi budaya, bahkan pada beberapa kasus justru menjadi semacam obligasi atau kewajiban pihak tertentu yang “wajib” dituntut pelayanannya. Bukan sikap partisipatif proaktif yang muncul, akan tetapi tuntutan untuk dilayani karena merasa bersih itu bagian dari hak dan bukan kewajiban bersama. Miris rasanya melihat dengan mata kepala sendiri sebuah mobil SUV berlogo perguruan tinggi dengan seenak hati pengemudi dan penumpangnya silih berganti seolah berlomba, melontar sampah ke jalanan kota. Demikian pula, tidak kalah sedih ketika mata bersirobok pandang dengan anak kecil nan lugu berseragam putih merah, mungkin melihat dari posturnya masih kelas 1, dengan santainya melempar bungkus es bekas jajannya ke got di depan sekolah. Anak ini tentu tidak terlahir sebagai juara lontar sampah ataupun tolak limbah bukan? Dia adalah hasil dari sebuah proses percontohan dan pendidikan yang terpajan sepanjang usia hidupnya yang belum ada seperempat jalan. Dia, dan banyak orang lain yang lebih dewasa di Indonesia, mungkin tidak sadar karena tidak tahu, bahwa di Samudera Pasifik sana sudah ada pulau limbah yang didominasi produk plastik yang luasnya bahkan sudah melebihi pulau Jawa. Dia dan banyak orang lain di negeri ini mungkin tak tahu dan tak mau tahu bahwa masalah “kecil” ini secara eksponensial akumulatif akan menjadi masalah super besar yang bahkan mungkin saja akan mengkaramkan dunia. Di mana sikap itu terbentuk? Di mana dan apa sesungguhnya motif itu? Karena kini banyak orang bertanya, apa yang menjadi motif tindakannya? Jika melihat ada seseorang melakukan sesuatu. *** Kita pun dapat bertanya, mengapa seorang nabi dan rasul terbesar sepanjang sejarah agama-agama Samawi yang sekaligus menjadi jembatan pontifis terakhir di penghujung zaman diamanahi misi untuk memuliakan akhlak manusia? Apakah akhlak manusia itu terkait dengan sistem pengambilan keputusan yang dilandasi motif dan fondasi keimanan? Retoris ini pertanyaan. Tetapi jawabannya reformis. Akhlak adalah hasil dari keselarasan proses zikir, pikir, dan ikhtiar. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 107

Akhlak adalah cerminan dasar dari seluruh kerja otak, orkestrasi dari semua fungsi yang mewakili kaidah-kidah faali atau fisiologi. Dalam akhlak, ada variabel kebutuhan dasar insani dan cara agar itu terpenuhi. Dalam akhlak juga terdapat pertimbangan moral dan sosial seperti adanya empati dan juga sakit hati. Akhlak tidaklah berdiri sendiri dengan single value. Akhlak adalah sekumpulan tata nilai yang terangkum sebagai konsekuensi logis, selogis hukum mekanika Newtonian yang menggambarkan kelembaman sebuah benda untuk terus bergerak selama tidak ada faktor lain yang menghambat. Friksi dan inersi adalah stimulasi bagi proses produksi akhlak. Akhlak juga dapat didekati dengan logika termodinamika, di mana besar tekanan dipengaruhi oleh suhu dan kerapatan ruang untuk hasilkan energi yang menggerakkan. Perlu reaksi kimia untuk menghasilkan dinamika akhlak yang berkesinambungan sesuai dengan vektor yang diharapkan. Maka, pertanyaan kita, saya dan mungkin juga Anda, bagaimana motif dan pertimbangan moral dapat menghasilkan sikap berakhlakul kharimah? Bagaimana akhlak itu termuliakan? Bagaimana manusia itu menjalani hidup yang sesungguhnya dapat dibayangkan sebagai suatu perjalanan menelusuri algoritma dengan multiple bifurcatio of choices; lintas umur dengan cabang pilihan yang nyaris tidak berbatas, ad infinitum? *** Mari sejenak kita simak sekelumit ilustrasi tentang bagaimana pilihan itu ditetapkan. Ada pendekatan dengan model pilihan hidup yang menarik dilansir oleh Thomson (1985) yang dikenal sebagai “Trolley Paradigm” dan dikembangkan oleh Navarete et.al. (2012) dalam teori Foot Bridge Dillema. Keduanya menyajikan sebuah situasi di mana pertimbangan moral harus dilakukan dengan mengerahkan segenap potensi neurosains yang dimiliki manusia. Namun, sebelum itu saya ingin berbagi, apa sih sebenarnya konsep moral dan moralitas bagi teman-teman peneliti di bidang ilmu psikologi, sosiologi, ataupun ilmu filsafat? Dari definisi 108 — G.E.N.C.E.

yang saya dapat cukup beragam pula pengertiannya. Menurut Rand (1964) moralitas digambarkan sebagai “code of values guiding the choices and action.” Sedangkan menurut Bert (2012) moralitas atau nilai moral adalah “code of conduct that given specified conditioning.” Dalam prosesnya, menurut De Nays & Glumicic (2008) terdapat dua jalur utama terkait dengan sifat moralitas itu sendiri. Pertama, proses moral itu “rational, effortful, explicit”. Sedangkan ada lagi yang bersifat “emotional, quick, intuitif”. Tentu saja, dalam kenyataan hidup, tidak ada keputusan moral yang bersifat hitam putih dan hanya terpolarisasi ke satu kutub sifat saja. Kita ini manusia dengan sistem pengambilan keputusan yang sangat kompleks. Justru sikap moral yang merupakan produk dari “tarik-ulur” rasionalitas dan emosi inilah yang menjadikan hidup kita itu dinamis. Dari perspektif yang sedikit berbeda, Prof. Sarlito Wirawan (2015) mencoba memberikan gambaran tentang cara berpikir “manusia Indonesia”. Yang dalam teori “locus of control” ditengarai dikendalikan oleh PKE alias pusat kendali eksternal. Apa yang dimaksud dengan PKE? Sederhananya, kita kerap menyalahkan segala hal tidak menyenangkan yang terjadi pada diri kita kepada faktor-faktor eksternal atau di luar diri kita. Bahasa lainnya, tidak mau introspeksi dan mengevaluasi kesalahan diri sendiri. Adapun PKI atau pusat kendali internal dalam teori yang sama adalah kecenderungan manusia untuk mencari ke dalam dan bisa saja melahirkan fenomena menyalahkan diri sendiri. Mana yang lebih baik antara PKE dan PKI? Tentu saja yang terbaik adalah di titik equilibrium. Keduanya harus seimbang. Kita jangan terus menyalahkan keadaan dan sebaliknya jangan terus menyalahkan diri sendiri. Kedua faktor itu pasti saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Kembali ke soal Trolley Problem atau Paradigm, apa pilihan moral yang sulit dalam menghasilkan keputusan yang berakhlak? Mudahnya silahkan jawab persoalan berikut. Jika Anda berada di dekat sebuah wesel (tuas pengubah arah lintasan rel kereta api), kemudian pada saat itu dari atas bukit meluncur sebuah gerbong yang terlepas dari rangkaian dan tidak bisa lagi dikendalikan atau dihentikan Membedah Anatomi Peradaban Digital — 109

(rem darurat blong). Gerbong tersebut berada dalam jalur yang tepat menuju pelataran stasiun dengan lima orang yang tidak menyadari bahaya tengah datang menghampiri. Tanpa tindakan yang berarti sudah hampir dapat dipastikan bahwa mereka akan mati. Namun, jika Anda bertindak cepat dengan memindahkan tuas ke jalur lainnya, ke-5 orang tersebut dapat diselamatkan. Akan tetapi, pada jalur kedua terdapat 1 orang yang pasti akan menjadi korban. Dalam posisi ini hanya keputusan Anda sajalah yang bisa menentukan nasib ke enam orang tersebut. Jika mengedepankan pertimbangan rasional, keputusan yang akan diambil tentu saja menjadi sangat mudah dan sudah dapat ditebak. Kita akan segera menarik tuas dan memilih untuk menyelamatkan lima orang dengan mengorbankan yang satu orang. Dalam kondisi ini tidak ada lagi opsi lain yang tersedia. Namun, bagaimana jika yang satu orang yang berada di jalur lain itu adalah orang yang paling Anda cintai? Ayah, ibu, suami, istri, atau anak. Apakah Anda tetap memilih untuk mengalihkan gerbong ke jalur yang berisi satu orang ini? Hampir semua responden dalam penelitian ini memilih untuk menyelamatkan orang yang memiliki hubungan emosional kuat dengan diri kita. Tidak peduli berapa banyak korban yang dapat timbul sebagai akibat pilihan kita itu. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa kita, manusia, adalah makhluk emosional yang lebih mengedepankan “rasa” dibanding “logika”. Rasa ini sifatnya personal dan dampak-dampak terkait rasa akan ditanggung secara personal pula. Maka, saya agak tertegun saat menyadari kecerdasan psikologi Kang Emil yang menggaungkan idiom bahwa Bandung bukanlah sekedar kota, dia adalah “rasa”. Dengan mengedepankan Bandung sebagai sebuah rasa—yang dalam hal ini berkonotasi dengan cinta— maka akan tercipta hubungan emosional antara warga dengan kotanya. Dan, modifikasi teori Trolley paradigm (Tauhid, 2015) telah menunjukkan bahwa ikatan emosional yang kuat akan lebih mampu mengarahkan proses pengambilan keputusan di benak kita. Sebaliknya, hubungan emosional yang kuat dapat pula mencegah kita untuk melakukan sebuah keputusan yang “dibenarkan” secara logika. 110 — G.E.N.C.E.

Inilah pesan yang termaktub dalam penelitian Navarete et.al. (2012) soal Foot Bridge Dillema. Kondisinya mirip dengan kasus Trolley, hanya saja kini kita berada di atas jembatan penyeberangan yang melintasi rel kereta api. Gerbong meluncur tepat ke arah kerumunan lima orang yang tidak tahu bahaya maut tengah mengintipnya. Singkat cerita sesuai dengan skenario sang sutradara, tindakan yang dapat dilakukan untuk menghentikan kereta adalah dengan mengganjalnya. Nah, di jembatan itu ada kita dan seorang lain yang ideal untuk menjadi ganjal. Karena menurut sang empu hikayat ini tubuh kita dianggap terlalu kurus untuk bisa menghentikan laju sebuah gerbong kereta. Sementara orang kedua di atas jembatan itu ideal sekali untuk menahan laju kereta. Intinya untuk menyelamatkan kelima orang yang tidak tahu apa-apa di bawah sana, kita harus mendorong orang yang bersama kita di atas jembatan ini untuk menghentikan kereta. Boleh jadi, muncul pertanyaan lainnya, apakah kita mengenal dan mempunyai ikatan emosional dengan orang itu? Saya jawab tidak! Namun ternyata, meskipun kita tidak mengenal secara pribadi orang tersebut, dan tentu juga tidak punya ikatan emosional khusus, keputusan untuk mendorongnya itu sangat berat. Sekitar 50 persen responden yang ditanya soal keputusannya dalam hal ini justru Membedah Anatomi Peradaban Digital — 111

memilih untuk membiarkan gerbong menabrak lima orang di bawah sana. Saat ditanya, alasannya sederhana. Lima orang yang dikorbankan tersebut tidak secara langsung disebabkan oleh kita. Adapun yang satu orang yang kita dorong, kematiannya jelas disebabkan oleh kita, bahkan dengan tangan kita sendiri. Artinya, kedekatan hubungan emosional itu sifatnya multisensorik. Dalam kasus lain yang tidak terkait secara langsung dengan pertimbangan moral pun tekanan emosi sangat mempengaruhi sistem pengambilan keputusan. Misalnya, ada seseorang berada di Pasar Baru dalam rangka mengantarkan teman dari luar kota. Kemudian, secara tidak sengaja, dia melihat pakaian sangat bagus yang begitu menggoda. Meski yang bersangkutan baru dua hari lalu membeli baju yang belum sempat dikenakan, godaan indra yang sangat kuat melahirkan aneka pembenaran yang membuat rasionalitas dipaksakan atau diperbudak untuk melegitimasi keputusan. Alasan- alasan untuk kebutuhan mendadak diadakan, kekhawatiran dan kecemasan bahwa tidak akan ada lagi kesempatan untuk memiliki baju itu menjadi penguat proses pengambilan keputusan. Maka, jangan heran apabila desakan emosional-lah yang justru menjadi dasar sebuah keputusan dan tindakan. 112 — G.E.N.C.E.

Coba bayangkan jika dalam sebuah pesawat berpenumpang 200 orang turut serta anak dari pilot yang hari itu bertugas. Ternyata, penerbangan hari itu naas sehingga harus mendarat darurat. Apa yang terjadi jika seorang pilot yang bertanggung jawab mengevakuasi 200 orang penumpang justru sibuk mencari dan berusaha menyelamatkan anaknya terlebih dahulu. Kasus seperti ini dapat dilihat di film Bolgen atau Wave yang berkisah tentang musibah longsoran di sebuah fjord (danau gletser) di Norwegia yang menimbulkan tsunami dahsyat. Seorang ibu yang bekerja di hotel, dalam proses evakuasi para tamu hotel yang menjadi tanggung jawabnya, harus terdistraksi karena pada saat yang bersamaan ada anak lelakinya yang menginap di hotel itu. *** Membedah Anatomi Peradaban Digital — 113

Sekarang, mari kita kaji dari aspek neurosainsnya. Apa saja yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan? Di mana sesungguhnya batasan dan panduan moral itu diproduksi? Apa sajakah bagian otak manusia yang terlibat dalam persoalan akhlak? Berbagai riset berbasis neuroimaging seperti functional MRI menunjukkan adanya peran penting dari bagian-bagian otak berikut: prefrontal cortex (PFC), lobus parietal, lobus temporal, dan struktur subkortikal seperti sistem limbik. Jika kita berbicara soal pertimbangan moral dan kaitannya dengan aspek emosi dan rasionalitas, locus of delicti-nya adalah bagian ventro medial prefrontal cortex (vmPFC). Bagian ini aktif saat seseorang memediasi pertimbangan emosional dalam mengambil sebuah keputusan (Harada et.al., 2009). vmPFC kiri tampak lebih aktif pada orang-orang yang kurang mengedepankan pertimbangan moral dalam membuat sebuah keputusan (Prehn, et.al., 2008). Sedangkan bagian orbito frontal cortex (OFC) terlibat dalam proses pengambilan keputusan, khususnya yang terkait dengan ‘reward’ dan ‘punishment’. Atau, jika vm PFC kiri terkait masalah etika dan norma, OFC terkait dengan benefit yang menjadi motif diambilnya sebuah keputusan. (Shenhav& Green, 2010). Sisi kanan medial OFC akan teraktivasi saat putusan yang diambil terkait dengan persoalan yang bersifat moral sebagai stimulus, dibandingkan yang non moral (Hanenski & Hamaan, 2006). Adapun sisi kiri OFC akan aktif saat mendapat stimulus berupa nilai-nilai moral luhur yang harus menjadi pertimbangan (Moll, 2002). Sementara bagian dorso lateral PFC (dlPFC) berperan untuk melakukan proses mitigasi respons agar keputusan yang diambil rasional dan proporsional. Area ini diduga juga menjalankan fungsi problem solving dan cognitive control. Pada kasus berupa kerusakan struktur neuron di area ini menghasilkan kecenderungan pengambilan keputusan yang condong bersifat utilitarian (bermanfaat bagi orang banyak) akan tetapi tidak disertai kemampuan untuk memperhitungkan berbagai dampak yang dapat terjadi sebagai bagian dari konsekuensi. Hal ini menunjukkan adanya kegagalan proses mitigasi dalam mengevaluasi akibat dari respons mental yang dilakukan. Dalam menjalankan proses mitigasi dampak terkait 114 — G.E.N.C.E.

keputusan ini, dlPFC dibantu oleh anterior cingulate cortex (ACC) yang berfungsi untuk mendeteksi error (kesalahan dalam pengambilan keputusan) (Shackman, et.al., 2011). Sementara itu, untuk membangun sebuah jalur pengambilan keputusan yang melibatkan aspek emosi dan rasionalitas, tentu saja diperlukan panduan data dari working memory yang juga berperan sebagai kendali kognitif. Dalam hal ini, fungsi tersebut diproduksi di lobus temporalis, tepatnya di sulcus temporalis superior (STS) yang melakukan surveilance atau review terhadap asupan indra dalam bentuk informasi sosial. Sementara secara paralel di daerah temporo parietal junction (TPJ), perbatasan antara lobus temporalis dengan lobus parietalis, berlangsung proses yang menghasilkan konsep belief attribution. Sistem tata nilai yang diyakini, biasanya terkait dengan nilai-nilai spiritual. Sistem tata nilai yang diyakini, biasanya terkait dengan nilai-nilai spiritual (Moore et.al., 2011). Sementara bagian posterior (belakang kiri) sulkus temporalis superior diketahui menjalankan fungsi mengolah data dari lingkungan eksternal. Adapun girus angularis di lobus parietalis aktif saat otak melakukan penilaian (judgement) moral. Rumitnya akhlak dan nilai moral diolah di otak ini dapat dilihat dari begitu banyak dan detailnya bagian-bagian otak yang terlibat. Sebuah keputusan yang tampak sederhana ternyata memiliki jalur algoritma yang rumit dan berbelit. Ada jalur linier dan ada pula yang bekerja secara paralel, akan tetapi tetap dalam sebuah sinergi yang berkesinambungan. Di titik-titik persimpangan dan pertemuan inilah perbedaan individu terjadi. Mengapa A bersikap X dan dalam kondisi yang sama B bersikap Y. Sebagai contoh, area korteks singulata posterior mengolah tarik ulur antara personal dillema dan impersonal yang variabelnya melibatkan keterlibatan emosi dan ego dengan masalah “di luar” diri kita. Dalam proses itu diakuisisi data memori personal dan konsep self awareness. Sementara di korteks insula dihasilkan sikap moral untuk meyakini suatu nilai atau menyangkalnya. Masih pada bagian yang sama, insula, hanya di bagian anterior (depan) masuk data somatosensoris dari organ visceral (gut brain). Terkait erat dengan konsep emotional feeling dan juga empati. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 115

Bagian sub kortikal yang masuk dalam sistem limbik seperti hipokampus dan amigdala punya peran yang tidak kalah pentingnya. Hipokampus mengolah data kecemasan, ketakutan, kekecewaan, kesedihan, dan reaksi emosi negatif lainnya serta “menangkap” ekspresi” wajah terkait emosi. Sedangkan amigdala aktif dalam proses “belajar” soal nilai moral (Mendez, 2006) dan mengelola kesedihan empatif (sosial). Thalamus tidak kalah pentingnya, sebagai “transmitter” data sensoris dari semua indera kecuali penghiduan, thalamus memiliki otoritas untuk merangking (memberi rating) kesedihan empatif, personal desire, dan aturan moral yang kelak menjadi bagian dari pemandu sikap (Sommer, et.al., 2010). Bagian sub kortikal lain seperti septum dan nukleus kaudatus ditengarai berperan dalam pembentukan sikap dan pengambilan keputusan filantropik (charitable) (Moll et.al., 2006), dan munculnya rasa bersalah jika kita tidak bersikap sesuai dengan “code of conduct” yang disepakati sebagai aturan moral. Dalam konteks fikih dan syariah, rasa berdosa di nukleus kaudatus inilah yang kemudian menjadi bagian dari norma dan etika antara lain dalam aspek muamalah atau hubungan antarmanusia. Walaupun segenap aturan adalah konsensus yang lahir dari kesepakatan dengan panduan dalil dan teladan dari kitab suci dan nabi, akan tetapi sikap moral untuk meyakini atau tidak diperankan oleh korteks insula. Secara hipotetikal insula bisa dikaitkan dengan konsep iman (belief) yang akan melahirkan core value yang selanjutnya menjadi moral guidance dalam menentukan sikap yang akan menghasilkan akumulasi produk berupa keputusan hidup. Tetapi thalamus memberi warna keyakinan dengan interest berupa personal desire yang sangat indrawi. Boleh jadi, inilah bisikan setan sebagaimana dimaksud dalam tafsir surat An-Naas, lust dan dorongan nafsiyah yang dapat mendistorsi sifat istiqamah. Sebuah keputusan yang maujud dalam bentuk sikap dan tindakan manusia terbukti sangat tidak sederhana. Ada banyak faktor dan variabel yang terlibat. Semua memiliki kontribusi yang saling bersinergi dan kehadiran ataupun ketidakhadirannya akan memberi dampak secara keseluruhan. Kini berkembang kajian epigenetik 116 — G.E.N.C.E.

tentang mekanisme memodulasi gen dan DNA. Berkembang pula kajian lingkungan mikro traktus digestivus dengan diversitas flora normalnya. Ada pula pendekatan nutrigenomik dan akan lahir lebih banyak lagi produk ilmu dan teknologi yang dapat mengoptimalkan fungsi fisiologis manusia. Tetapi semua itu, baik neurotransmiter, neuropeptida dari saluran cerna, ekspresi gen dari utas DNA, mikro elemen nutrisi, sampai pendekatan psikoterapi terkini akan kembali pada sosok atau pribadi yang akan menjalani hidup ini. Kita. Manusia. Maka, pada hakikatnya upaya memuliakan dan mengoptimasi potensi serta sumber daya yang melekat pada manusia semestinya diawali dengan “mengenali” dan mengidentifikasi manusia itu sendiri. Bukankah Robb yang menciptakan kita telah menetapkan indikator kinerja untuk menjadi mulia adalah dengan mengenal diri sendiri? Maka, mata air keikhlasan sudah semestinya diawali dengan mengenal wujud dan hakikat diri lalu menjadikannya referensi untuk berinteraksi dengan sesama dalam konteks ukhuwah, tarbiyah, muamalah. Selanjutnya segenap nilai dan potensi itu akan bermuara ke dalam samudera kebajikan yang menampung segenap kebaikan secara berkesinambungan. *** Membedah Anatomi Peradaban Digital — 117

(3) Dusta dan Pengingkaran: Kajian Neurobiologi Perilaku Korupsi Oleh Tauhid Nur Azhar Kerap kita bertanya pada diri sendiri, mengapa di dunia ini begitu banyak kejahatan yang bersimaharajalela? Mengapa pengingkaran dan dusta seolah telah menjelma menjadi menu harian yang melekat dalam kehidupan? Benarkah otak manusia yang cerdas adalah potensi untuk berdusta dan berbuat nista? Mengapa dalam surah Al-‘Alaq dinyatakan bahwa “tercerabut”- nya kemampuan luhur otak terkait dengan sifat pendusta dan pendurhaka? Nâsiyatin khâdzibatin khâthi’ah. Di manakah gerangan dorongan naluriah instingtual berpadu dengan keluhuran budi dan kepentingan bersama dalam bingkai sesama hamba Allah atau Abdullah? Dusta dan ingkar terjadi ketika ada kepentingan dan rasa nyaman yang terusik. Orang memilih berbohong saat bohong menghadirkan “keuntungan” dan bisa membebaskan dari suatu kondisi yang sulit. Riset Abe N. (2009) yang dipublikasi di Current Opinion Neurology Dec 22, 2009 dengan judul The Neurobiologi of Deception: Evidence from Neuroimaging and Loss of Function Studies, menunjukkan bahwa area prefrontal cortex bertanggung jawab pada proses “deception”. Pencitraan dengan fMRI dan transcranial stimulation menunjukkan bukti objektif bahwa area PFC terlibat secara aktif dalam mekanisme pengingkaran atau secara cerdas menyusun skenario dan alasan untuk berdusta. Skenario berlapis juga biasanya diikuti dengan multilayer of reasons. Dalam konteks pengambilan keputusan atau decission making, deception, dusta, pengingkaran, pendurhakaan nilai masuk dalam domain strategis yang melibatkan fungsi area sub kortikal dan kortikal. Dari area sub kortikal terlibat di dalamnya ventral tegmental area, nukleus akumben, dan tentu saja amigdala serta hipokampus. 118 — G.E.N.C.E.

Sementara dari area kortikal terdapat korteks di mana area sensori terletak, orbitofrontal cortex, ventro medial PFC, dorso lateral PFC, dan interior cingulatum cortex/ACC. Flow atau aliran data dari batang otak melalui sistem aktivasi retikuler yang antara lain membawa paket data dari traktus spinothalamicus yang berasal dari berbagai organ viscera, berpadu dengan paket memori, emosi, dan hasil belajar dari sistem limbik. Penelitian Avery et.al. dan juga sahabat kita Prof. Taruna Ikrar et.al. yang berfokus pada bed nukleus stria terminalis regio (BNST), artikelnya Avery cs, The Human BNST: Functional Role in Anxiety and Addiction dapat dilihat di Jurnal Neuropsychopharmacology Edisi Januari 2016. Sekumpulan data yang diolah dan menghadirkan stres serta kecemasan dapat menjadi acuan dalam pembentukan sirkuit pengambilan keputusan. Jika selama ini peran reward pathway dominan (VTA dan NAcc), faktor kecemasan juga punya kontribusi penting sehingga orang berdusta, bahkan mendustai kesadarannya sendiri. Preferensi dasar manusia dalam kajian agama adalah “hanif”, suatu sifat mulia yang dicirikan dengan berkecenderungan konstruktif dan berkonotasi baik secara umum. Fitrah manusia dan tugasnya seiring sejalan, rahmatan lil ‘alamin. Bukan untuk saling menyakiti dan menzalimi, meski itu pun ternyata bagian dari motif berkompetisi dalam mempertahankan kehidupan dan sumber-sumber kehidupan. Dalam kajian arkeo- antropologi, dikenal istilah baru yaitu psikologi evolusi. Bahwa ada sebagian sikap dan perilaku dasar manusia dan juga higher order primate seperti Bonobo yang mempreservasi kemampuan untuk survive dalam bentuk sifat yang diwariskan dan menjadi integrated tools bagi keturunannya. Kompleksitas pengambilan keputusan sampai outcome-nya adalah deception tentu tak terlepas dari anatomi dan fungsi memori. Ada implisit dan eksplisit memori yang terlibat. Ada respons terlatih yang dihasilkan oleh pembiasaan dan pelatihan sebagaimana teramati pada perubahan karakteristik respons biokimiawi di sinaps Aplysia Californica sp. Maka secara garis besar atau jalur mainstream, dusta berasal dari data biologis-fisiologis dan hasil belajar dari pengalaman dan pajanan pengetahuan dengan jalur utama dari batang otak ke sistem limbik (amigdala dan hipokampus). Membedah Anatomi Peradaban Digital — 119

Peran VTA dan NAcc sangat kuat karena alasan orang berdusta adalah kenyamanan dan kesenangan (keselamatan) yang menjadi domain utama reward and pleasure center. Intensitas alir data yang kuat dari area sensorik dan diamplifikasi oleh amigdala akan menyatu dengan arus survival dari batang otak (respons defensif) dan memasuki serta mendesak go or no go area, GFI atau IFG, inferior frontal girus yang dikategorikan sebagai Area Broadmann 44. Diseleksi untuk diteruskan atau ditahan (hold) atau diteruskan dengan dimoderasi agar lebih sesuai. Laju data kuat dari batang otak melalui nukleus akumben (diaugmentasi) akan diterima oleh ventro medial PFC. Emosi terguncang, pilihan lebih didasari kenikmatan dan keselamatan, meski sesaat. Bohong adalah pilihan wajar di kondisi ini. Kriminalitas berbasis emosi pun diolah di sini, menghilangkan atau mengeliminasi faktor penyebab ketidaknyamanan dapat melebar sampai tindakan pembunuhan/suicide. Sementara arus data yang sama tetapi melalui IFG/GFI akan diterima oleh dua regio sekaligus, yaitu dorso lateral PFC dan vmPFC, muncul kendali diri atau self control dengan mendapatkan pengayaan situasi oleh ACC yang memproses segenap potensi kognisi. Pikir adalah pelita hati, demikian pepatah nenek moyang kita yang berbudi luhur. Di sinilah lokasi Kurusetra atau the battlefield of decission. Entah siapa yang akan menang, pihak kegelapan yang diwakili Kurawa, ataukah pihak jalan cahaya yang diwakili para Ksatria Pandawa? Penentu dari kemenangan ini adalah area para “guru”, orbitofrontal frontal cortex yang punya hubungan struktural fungsional langsung dengan vmPFC. Arus data kolateral melalui VTA ke OFC digunakan sebagai bagian dari proses asessment, khususnya value asessment. Feeding dari proses asessment inilah yang turut mengendalikan keputusan emosional dari vmPFC. Keseimbangan dan pola fungsional dari regio-regio inilah yang kelak menentukan habit atau bahkan perilaku seseorang, apakah dia seorang pendusta dan pendurhaka? Apakah Qabil atau Cain dalam bahasa Al-Kitab secara epigenetika mewariskan sifat buruk itu pada kita? Karena si baik hati Habil wafat dan terkubur sebagaimana dicontohkan si burung gagak. Kita adalah turunan Qabil, dan 120 — G.E.N.C.E.

sewajarnya memang pada manusia konfigurasi genom adalah nyaris sama, baik dengan Qabil maupun Habil sebagai sesama anak Adam. Manakah gen yang hendak kita ekspresikan? Manakah sirkuit yang hendak kita aktifkan dan preservasi? Inilah ujian menjadi seorang manusia yang mengenal terminologi pahala dan dosa. *** Akankah Indonesia Terus Seperti Ini? Mengoptimasi waktu di pagi hari dengan prinsip verba volant scripta manent, kata-kata akan menguap sedang tulisan menetap. Sedikit catatan tentang perilaku unik manusia yang cenderung mencari jalan instan dan berpikir secara impulsif. Quick win dengan less effort, jalan pintas. Menyimak dan menelaah tumbuh suburnya perilaku koruptif, manipulatif yang berangkat dari premis yang sama; cari enaknya, cari gampangnya. Ga usah mikir kepanjangan soal dampak atau akibat multidimensional. Gimana Entar, Entarnya Gimana. Kumaha engke we lah, ceuk urang Sunda mah. Dan, kalau sudah menjadi akar perilaku yang mengejawantah dalam aktivitas keseharian, orang Jawa mengatakan, “Piye meneh? Wis kadung penak”. Hal-hal seperti ini domainnya sangat luas, mulai di tingkat interaksi keluarga, lingkungan sosial, pendidikan, sampai penyelenggara negara. Padahal dalam aturan konstitusional penyelenggaraan negara sebagaimana termaktub dalam UU no 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas KKN telah diatur dalam pasal-pasal di Bab 1 soal kriteria penyelenggara negara yang selanjutnya dijabarkan dalam bab dan pasal- pasal berikut tentang hak dan kewajibannya. Siapa itu Penyelenggara negara? Belum tentu harus ASN kan. Jika mengacu pada UU tersebut, penyelenggara negara adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif, legislatif, atau yudikatif, dan pejabat lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dan definisi soal “kebersihan” penyelenggara negara dirumuskan sebagai berikut (pasal 2 di Bab 1 UU no 28 tahun 1999): Penyelenggara Negara yang bersih adalah Penyelenggara Negara yang menaati asas-asas umum penyelenggaraan negara dan bebas dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta perbuatan tercela lainnya. Perbuatan tercela ini yang bisa dielaborasi dan dieksplorasi lebih mendalam. Konsep korupsi yang menjadi bagian sikap mental “instanologi” dan GEEG (gimana entar-entarnya gimana/kumaha engke-engkena kumaha) maujud sampai sendi keseharian yang bahkan sampai tidak dirasa sebagai bagian atau cikal bakal korupsi atau KKN. Kebiasaan membuang sampah di sungai dan jalanan misalnya, jelas ini perilaku koruptif yang merugikan orang lain dalam time frame dan time line, dimana pelaku mengambil keuntungan saat ini dan melahirkan bencana di masa yang akan datang. Diawali dari ketidak pedulian asalkan terbayarkan dengan kesenangan kongkret saat ini maka itu worthed untuk dilakukan. Demikian sikap mentalnya telah membentengi pelaku-pelaku Membedah Anatomi Peradaban Digital — 121

yang bukan mustahil akan tumbuh dan berkembang dalam magnitude sikap di tindakan yang bereskalasi jauh lebih besar. Dalam ranah layanan publik misalnya, bukan saja persoalan pungutan liar atas jasa penyelenggara negara yang telah didapuk, didaulat dengan sumpah untuk menjadi civil servant yang berintegritas, tapi juga sistem dan kinerja yang didelivery rawan dikorupsi. Pengalaman pribadi saya, kemarin mengantar istri mengurus suatu surat izin di suatu institusi di kota kami. Saya mencatat beberapa kejanggalan yang meski kecil dan diamini saja oleh publik sebagai sebuah permakluman dengan lontaran frasa eufimis, “ah ini mah sudah jauh lebih baik dari yang dulu-dulu...” Okay tapi bagi saya ini tetap bibit persoalan. Jumlah pengguna jasa layanan publik itu banyak dan sistem tidak support dengan informasi flow proses pengurusan yang jelas dan sistematik. Tidak dilengkapi pula dengan sistem antrian, maka saling serobot dan chaos pun tidak perlu pandangan pakar, awam saja yakin bakal terjadi. Dan betul, insting hutan rimba berlaku, siapa kuat dia dapat. Lalu jasa yang dapat diinformasikan di awal dan dapat dikerjakan di berbagai penyedia lain yang sertified (dalam hal pemeriksaan kesehatan) disentralisasi dan dipungut biaya dengan pemeriksaan yang disebut sendiri, “ini mah formalitas saja.” Tidak hanya itu, ada bisnis tambahan dengan asuransi yang disebut tidak wajib tapi komponen biaya sudah termaktub dalam biaya total yang harus dibayarkan. Dan sudah dapat diduga, penyelenggara asuransi berafiliasi dengan institusi penyelenggara layanan publik terkait, misal lewat badan hukum koperasi karyawannya. Hmm ... soal antre dan info layanan yang sudah bisa dipermudah misal dengan IT, disanggah dengan menyatakan itu bukan korupsi dan tidak ada pihak yang dirugikan. Wooow ... ditambah jam buka layanan yang di luar standar layanan publik pemerintah (baru buka pukul 09.00 lebih), antrean dan flow proses yang tidak jelas, betapa banyak waktu produktif bangsa ini terbuang? Tidak adanya kepastian waktu, lama proses serba relatif, plus edukasi negatif yang melekat sebagai karakter masyarakat untuk membudayakan saling serobot dan main sikat siapa cepat dia dapat bukankah akan maujud dalam proses kehidupan lain dalam skala yang lebih besar? Serobot sikat tanpa aturan, tak mau antri tunggu giliran adalah dasar sikap manipulatif yang didorong impulsi untuk mendapatkan kenyamanan secara instan. Hati- hati ini akan jadi core value dalam believe system bangsa. Ini akan menghijack amigdala dan membekap PFC/prefrontal cortex dalam bijak mengambil keputusan yang berwawasan perspektif masa depan. Bagaimana bangsa ini dapat meningkat level of thinking-nya yang mampu menembus berbagai persoalan di masa depan jika hal-hal kecil seperti ini terus dibiarkan? Itu bagian dari pendidikan publik kita loh. Karena tidak mengoreksi atau malah menikmati itu menyalahi kewajiban sosial kita untuk beramar makruf nahi mungkar. Bukankah qui tacet consentire videtur? Diam itu menyetujui loh. Setidaknya melius est acciepere quam facere injuriam duku deh, lebih baik mengalami ketidakadilan daripada melakukan ketidakadilan. Tapi dari korban kita harus bangkit menjadi pahlawan. Lawan dan perbaiki keadaan. 122 — G.E.N.C.E.

(4) Hidup Itu Keputusan, “Should I Have Another Sate Buntel?” Oleh Tauhid Nur Azhar Biarkan Microsoft dan Excel-nya asyik masyuk dengan “beer decision algorithm” yang mereka garap menjadi model optimasi keputusan. Saya tidak minum bir sehingga jelas tidak bakalan menambah another beer. Akan tetapi, masalah saya sebagai orang Jawa berusia kepala empat, jika pulang kampung ke Solo, tepatnya jika ‘transit’ secara terencana, khususnya lagi ke daerah “rawan” kolesterol seperti Loji Wetan, adalah mengelola “godaan”. Ini bukan sekedar “teaser” enteng- entengan. Ini kelas berat. Kalauy dalam khazanah jinologi, ini masuk kategori jin ngiprit. Locus delicti alias TKP godaan tidak lain dan tidak bukan adalah syahwat 2i atawa “irung lan ilat”. Karena rasa adalah hasil kerjasama. Antara aroma dan belai kimia pada papila (bukan mammae ya) di permukaan lidah kita. Godaan itu bernama sate kambing Bu Hajjah Bejo. Sepeninggal almarhum Pak Haji Bejo, Bunda melanjutkan torehan sejarah kuliner Surakarta dengan tetap bertahan membuka warung tenda. Sate Pak Bejo dan Tambak Segaran memang legenda. Dia tidak kalah dengan soto ngGading dan Triwindu yang selalu berhasil hadir dalam mimpi berbuah rindu. Tapi bukan itu inti persoalannya. Mau mampir dan makan saja sudah buah dari keputusan. Eh ndilalah berikutnya kok ya malah muncul masalah. Padahal sesuai rencana dan cita-cita sudah dicheck list dan terpenuhi semua. Sepuluh tusuk sate kambing campur, otak goreng, nasgorkam, dan gule balungan licin tandas. Pertanda mission accomplished. But, What? Terjadi hujan interupsi. Perdebatan sengit tidak dapat dihindari. Partai oposisi penguasa parlemen yang tergabung dalam KMP, koalisi mangan pas berseteru dan bertikai dahsyat dengan KIH, koalisi ingin hedon. Akibatnya terjadi kebingungan sistemik yang membuat saya berada di bawah kendali auto pilot. Sejenak tidak sadar tentang apa yang tengah terjadi. Meski Membedah Anatomi Peradaban Digital — 123

pons sepenuhnya aktif dan medula oblongata memastikan bahwa jantung dan napas tidak ada masalah, tapi prahara di tingkat legislatif berimbas hebat pada eksekutif yang bersemayam di mbun mbunan alias jidat alias dahi. Triumvirat OFC, PFC, dan OMG ... eh salah limbik plus struktur sub kortikal ... sedang dilobby dan diintimidasi. Suara akar rumput yang diwakili tripsin, lipase, dan juga grelin hanya terdengar sayup sampai karena mereka hanya bisa demo dari balik pagar. Issu nasional yang mencuat cuma satu, “Papa minta Tambah.” Bini? Bukan, buntel. Nah ini gawat. Karena buntel ini full of lust ... super delicious. Hampir setiap orang yang semula beriman pada ahli gizi dan internistnya akan melting dan timbulkan gejala salting tingkat dewa jika sudah berhadapan dengan buntel. Apalagi buntel Bu Hajjah Bejo. Buntel Bejo. Bejo buat yang jual dan SpJP yang bakal kebagian pasien. Di sinilah berbagai informasi didistorsi, diframing, dan persepsi publik dibangun. Tokoh antagonis, dalam hal ini buntel, dicitrakan sebagai korban untuk mendulang Simpati. Ini tentu strategi prabayar, karena kalau pasca bayar tentu yang akan didulang adalah Halo. Betapa malang buntel yang jika tidak diemplok akan berakhir dengan esterifikasi dan teronggok basi. Lalu berakhir bersama ongok dan sisa sambel terasi. Sayang sekali. Demikian opini terkini yang wajib diyakini. Feeding seperti ini kata Robert Zimmer jadi bagian tidak terpisahkan faktor-faktor pertimbangan yang semestinya secara rasional akan menjadi kalimat deklaratif sebagai berikut: Pengen buntel punya duit berapa? Berapa harga sepaket buntel yang biasanya sarimbit alias berpasangan. Mungkin buntel lanang dan buntel wedhok. Lha membedakannya gimana? Yo ndak bisa, kan dibuntel. Lalu eh sewareg apa saya? Piye kabare trio mas ketek, eh musketeer? Kolesterol total, Trigliserida, dan LDL? Pigimana jika masih harus makan di rumah Eyang, yang sudah masak cabuk rambak pake wijen dan sayur mayur segar van Tawangmangu? Kalo ndak ikut makan di ndalem Eyang pigimana perasaan keluarga besar? Apa kata dunia? Demikian hal-hal yang berkecamuk dalam sidang paripurna kali ini. Semua gara-gara buntel. Tetapi otak memang dahsyat, jika hedonia dan anhedonia diduga diproduksi oleh sinergi antara medial PFC, OFC, dan ventral striatum serta parts of reward system spt ACC, nukleus 124 — G.E.N.C.E.

akumbah-kumbah eh akumbens dengan neuron dopaminergiknya, maka mental model harus dibangun agar kewaskitaan hipokampus (CA1 dan 2) serta dlPFC dan vmPFC dapat jernih dan objektif dalam mengambil keputusan. Empati, emosi, dan akumulasi memori dari pengalaman dan proses belajar mulai mengonstruksi dan membentuk struktur-struktur perancah yang akan digunakan membangun “monumen” keputusan. Maka, modeling keputusan itu sederhana meski non linier karena akan selalu ada variabel tidak terduga. Rumusnya ya Y = (X1, X2 ... Xn) di mana Y variabel tergantung dan Xi adalah variabel bebas yang seperti merpati, dinamis dan dapat terbang serta hinggap ke sana kemari. Lalu kan ada fungsi, ada operasi, ada f(.) yaitu hubungan Xi dan Y kan. Hubungannya bagaimana? Kata Raffi Ahmad dan grup BBB-nya sih, putus nyambung putus nyambung putus nyambung. Artinya, hal itu amat bergantung pada kondisi. Pada bobot pengaruh. Pada bobot sinaptik. Pada bobot pengaruh neurotransmiter. Pada bobot akumulasi pengalaman, pelajaran, dan keterampilan yang didapatkan (acquired). Kalau linier dan bobot setiap variabel bebas tetap/konstan, ya namanya konstanta bukan variabel yang varian. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 125

Variabel terikat juga dinamis dan terus berubah, akan tetapi perubahannya bergantung pada dinamika variabel bebas dan fungsi yang terjadi pada interaksi atau operasi. Sederhananya sih algoritmanya kira-kira pake 7 step modeling process --> problem definition, data collection (sensory, inderawi, somato sensori), model development, verification, optimation and decision making, lalu putusannya dieksekusi atau diimplementasikan jika stakeholder tidak keberatan. Mengapa bisa gak linier? Kan ribet pake non linier equation plus ada variable changenya? Andai ... hanya andai ya! Ternyata, si buntel itu adalah the most expensive buntel in the world tapi sekaligus juga most precious cullinary things, what I supposed to do? Layakkah kelezatan itu menorehkan sakit akibat kehilangan duit? Seberapa sakit yang masih layak ditanggung untuk merasakan nikmat buntel Bejo? Belum variabel lain seperti jadwal ke Solo yang tidak pasti, status kesehatan yang berfluktuasi, kemampuan finansial yang ber-uncertainty tinggi Maka, otak cerdas akan membuat skenario optimasi. Akan terjadi penguatan sinaptik dan pergeseran sirkuit neuronal (bifurcatio) atau kayak wesel di rel kereta. Sebenarnya, pertimbangan dan pengambilan keputusan ini bisa dipelajari dari spike yang terjadi karena adanya “firing” yang dipicu impuls listrik hasil potensial aksi. Train spike dan 126 — G.E.N.C.E.

pola-pola sinaptiknya bisa dimodeling sebagai bekal database untuk melakukan intervensi, misalnya lewat strategi pendidikan, dan lainnya. Ah cape pisan...kok masalah buntel jadi tereskalasi lintas institusi dan kayak mikir negara sih? Kata Gus Dur, “Gitu aja kok repot? Emplok ae buntele, rapopo kok, kan mung ngimpi yo?” Ngemeng-ngemeng model pengambilan keputusan teroptimasi seperti ini sudah bikin korporasi seperti Jan de Wit Co di Brazil bisa meningkatkan revenue tahunannya sebesar 26 persen. Mereka perusahaan agribisnis dengan produk utama anthurium lily, bunga dengan 50 varian/varietas. Setiap tahunnya mereka menanam 3,5 juta bonggol umbi, 420 ribu pot, dan 220 ribu gerumbul bunga lily. Pilihannya pun menjadi sangat volatil dan hipervariabilitas. Kapan pasar mau bunga berwarna cerah, bertangkai panjang, harum, dan lainnya. Kapan sebaliknya. Hal ini kemudian akan berpengaruh pada kapan x ditanam dan berapa jumlahnya, sehingga hasil panen menjadi sangat pas dengan kebutuhan pasar. Padahal, kita tahu kalau pasar pun based on selera. Ada kaitan dengan iklim, cuaca, dan trend yang tidak terduga. Sesungguhnya, dengan matematika Jan de Wit berhasil meraba “rencana” Tuhan. Nasib suatu kaum memang tidak akan berubah tanpa usaha bukan? Terbayang oleh kita bagaimana seandainya konsep ini dipakai di Indonesia. Petani bawang merah Brebes tidak perlu melampiaskan kekecewaannya membuang bawang ke jalan raya, karena harga saat panen raya bahkan tidak bisa menutupi biaya untuk memelihara, demikian juga petani tomat di Lembang atau Garut. Sekali lagi andai. *** Membedah Anatomi Peradaban Digital — 127

(5) Anarki Otak Oleh Tauhid Nur Azhar Ada pertanyaan dan pernyataan yang menarik di salah satu grup WA yang saya ikuti, Neuronesia/Neurosains Indonesia. Ini soal PFC (prefrontal cortex atau bagian depan otak yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan terkait dengan sikap serta perilaku seseorang), dopamin, dan ada apa di antara keduanya? Apakah perilaku dan kebiasaan melanggar aturan akan berdampak serius pada munculnya perubahan pola, baik itu terbentuknya sirkuit neuronal baru, degenerasi bagian otak tertentu, menyusutnya jumlah sel neuron sebagaimana didapati di daerah hipokampus penderita depresi, dan lain-lain? Hmm ... menarik sekali! Tidak hanya menarik, tetapi juga sangat pas, bukan kebetulan atau ko-insidensi karena kita yakin jika alam ini sudah ada yang mengaturnya. Mata saya bersirobok dengan sebuah artikel ilmiah semi populer yang menyoal makna dan arti kata serapan asing yang belakangan kerap terdengar di ruang publik. Perilaku anarkis. Dari kata anarki. Apa itu anarki? Menurut Pak Samsudin Berlian, seorang pemerhati dan peminat bahasa, “an” dalam terminologi Yunani adalah tidak, dan arkhos adalah penguasa atau pemimpin (leader). Jadi, secara mudahnya anarki dapat diartikan sebagai suatu keadaan di mana masyarakat ataupun komunitas apapun yang menurut teori Luhman ber-self atau auto poietik dan membangun aturannya sendiri, tidak ada yang memimpin atau ada pemimpin tapi mengalami gagal fungsi. Di sini saya tertarik untuk melantik PFC sebagai pejabat lembaga tertinggi dalam ranah eksekutif (dalam Trias politica-nya Montesquieu), di mana tugasnya adalah mengambil keputusan. Bukankah menurut Karl Schmidt dalam History of Education-nya Levi Seeley (1899) sejarah dunia adalah sejarah perkembangan jiwa (baca otak) manusia? 128 — G.E.N.C.E.

Bukankah otak dalam keyakinan Zoroaster selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dualisme prinsipal alam raya, Ormudz dan Ahriman? Bukankah otak itu jembatan antara hati, pikir, dan rasa yang hadirkan tak hanya makna tapi juga cinta dalam hidup manusia? Bukankah kehadiran vassopressin di ventral palidum dan oksitosin di nukleus akumben dalam rangka tarian dopamin di ventral tegmental area melalui jejalur mesolimbik dopaminergik, tidak hanya mendorong kita mencari sigaraning nyowo, soulmate kekiniannya, serta ingin berbagi rasa (sex drive) lalu melekat kayak ulat seumur hidup? Lalu apa? Tarian neurokimia itu juga meruyak Bapak/Ibu Presiden PFC, melalui intra parietal sulcus dan dibantu amigdala (yang takut kehilangan rasa) menggodanya vmPFC hingga mempengaruhi penilaian sang Presiden Otak (value assesment). Maka, Zat Yang Mahakuasa memberikan kita DNA yang gen- nya dapat mengekspresikan reseptor N-Methyl d-Aspartat untuk menerima glutamat. Dan, pada akhirnya, sel-sel syaraf kita pun akan bereaksi terhadap aksi prokreasi yang tentu akan disukai. Pola suka kemudian menjadi rasa yang selalu didambakan. Kita menjadi highly motivated people yang tertaut secara emosi melalui nukleus kaudatus, insula, dan girus fusiformis yang bisa “melihat” peluang untuk senang dan bahagia. Apakah kita salah jika ingin bahagia? Bahkan banyak meme di sosmed sana dengan quote, “Jangan lupa bahagia”. Tentu hal itu baik. Namun, salah besar jika bahagia itu membuat orang lain dan semesta menderita. Maka, girus frontalis superior lewat vmPFC dan dlPFC dilengkapi mekanisme penapisan dan pengujian nilai (value asessment) serta berkecenderungan (preferensi) baik (hanif). Untuk bisa menjalankan fungsi itu dan terbebas dari distorsi rasa yang membuat terlena, hadirnya memori pun menjadi amat penting. Maka, anarki dengan kata dasar arkhon atau pimpin punya arkhe atau coro londo-nya archief alias arsip yang disimpan dalam arkheion (rumah arsip). Memori dan keputusan dihubungkan melalui jembatan belajar. Dan belajarlah yang menghasilkan “nomos”. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 129

Nomos adalah hukum, aturan yang disepakati sebagai bagian dari proses adaptasi dan kompromi untuk melahirkan harmoni dan sinergi dalam tatanan bermasyarakat. Kegagalan fungsi PFC, yang antara lain dapat terjadi karena “amigdala hijack” akan hadirkan Anomi, hukum yang dilanggar. Anarki otak di PFC pun akan melahirkan anomi sebagai model kerja otak yang diyakini. Maka, kerja otak dengan dirijen PFC selalu bersifat “hierarki”. Maknanya adalah berjenjang menuju yang suci. PFC bisa memimpin kita menemukan makna sakral kehidupan yang melampaui insentif sederhana seperti kenikmatan saat bercinta. *** Korupsi Pikiran Pagi ini buka-buka koran dan pandangan bersirobok dengan kepala berita di laman depan tengah bawah, Youth Camp di Sabang, dan masih adanya secercah harapan utk membangun kesadaran. Belum lama semangat Sumpah Pemuda yang digagas Dr. Sugondo, dkk. untuk mengubah mindset bangsa kita peringati dan semestinya kita hayati. Berangkat dari kondisi itu saya sempat terlambung dalam mimpi dan berharap mimpi itu bukan sekedar utopi. Tapi memang terbangun dari mimpi itu keniscayaan, dan juga niscaya berat untuk menerima fakta di dunia nyata. Berangkat kerja dan lewat jalan mulus yang baru saja dihotmix tiga minggu lalu dan harus menerima kenyataan bahwa kini di beberapa bagian terkelupas dengan sempurna dan wajah mulus kemarin siang sudah terganti bopeng-bopeng yang bermunculan. Product life cycle sebuah proyek yang saya taksir bernilai milyaran (berdasar panjang dan lebar ruas penebalan, metoda dan teknik yang digunakan, serta pemilihan bahan) hanya tiga minggu? Apa yang salah dengan negeri ini? Saya ingat quote tua, “Salah merencanakan sama dengan merencanakan salah.” Tetapi bagaimana jika sesungguhnya yang terjadi adalah “memang direncanakan untuk salah?” Proyek yang digulirkan tanpa mempertimbangkan dinamika iklim dan cuaca yang datanya secara terbuka dapat diakses di BMKG, drainase yang diabaikan, dan mungkin juga proses pengerjaan yang tidak sesuai dengan kriteria teknis yang ditetapkan. Komplikasi serius datang dari perilaku masyarakat yang sudah mulai terdiagnosa mengalami kasus patologi sosial yang ditandai dengan rendahnya tingkat kepedulian pada sesama dan lingkungan serta berorientasi instan. Padahal dalam konsep level of thinking, kemampuan memetakan jalan ke depan lewat future and predictive thinking-lah yang menjadi indikator pembeda antara level rendah dan tinggi. Sampah dan limbah domestik berbagai bentuk dan ukuran dibuang dengan santainya dan bahkan sudah dianggap sebagai ritual harian yang wajib untuk dilaksanakan. Di sisi lain dalam konteks administrasi pembangunan pun dengan mudah ditemukan kejanggalan 130 — G.E.N.C.E.

berupa fenomena pemenggalan-pemenggalan bagian proyek yang secara hipotetikal tampak ditujukan untuk menyiasati kemungkinan terpenuhinya syarat penunjukan langsung. Saya jadi berpikir, bahwa sejak mikir saja proyek seperti ini sudah didesain untuk dimanipulasi. Waktu dipilih dengan cerdas, sehingga jika hasil pekerjaan cacat karena spec yang tidak terpenuhi, maka faktor alam dan force majeur dapat menjadi alasan yang sangat objektif. Data meteorologi kemarin memang mendukung sekali, curah hujan dalam 15 menit awal saja mencapai 77,5 ml3. Dan ada apa ya dengan bangsa ini yang sulit sekali peduli pada kepentingan sesama dengan skala dan lini masa yang sedikit saja lebih luas dari sekedar lapang pandang pada dirinya semata? Maka kita terima sajalah dulu got-got yang dipenuhi limbah domestik, drainase yang dibiarkan meluapkan air agar menggerus aspal jalan, agar tiap triwulan bisa dimasukkan dalam pagu anggaran darurat rutin yang tiada berkesudahan. Kita seolah solipsistik membodohi diri sendiri dengan menutup mata bahwa semua anggaran dan mahalnya biaya infrastruktur dan harga sosial yang harus dibayar berasal dari milyaran bulir keringat dan air mata kita sendiri. Apakah gen korupsi itu memang ada dan berekspresi lewat sistem yang menstimulasi dan berbagai mekanisme yang memfasilitasi? Ironisnya yang pertama kali kita korupsi adalah pikiran kita sendiri! Membedah Anatomi Peradaban Digital — 131

(6) Sekilas tentang Inferior Frontalis Gyrus Oleh Tauhid Nur Azhar Manusia (baca: kita), adalah makhluk yang paling rumit. Kompleks dan memiliki kemampuan abstraktif luar biasa. Persepsi dibangun berdasar asumsi dan nilai-nilai yang didapati dan diyakini dari serangkaian proses belajar dan pengalaman. Persepsi terhadap kenangan dan pengalaman inderawi yang terpajankan. Tidak hanya itu, manusia lalu membangun penafsiran dengan kecenderungan atau preferensi yang tidak terlepas dari referensi dan pola reward yang menjadi motivasi. Ada stress activity, dan ada reinforcement yang tidak sederhana. Melibatkan arsitektur mikroanatomi dari berbagai struktur otak yang membangun sirkuit atau trajectory pathway seperti mesolimbik dan mesokortikal (mesokortikolimbik) dari neuron dopaminergik lengkap dengan molekul transporter (DAT/ SLC6A3) dan juga reseptor D1-5. Itu baru syaraf dan jaringan syaraf yang terkait dengan neurotransmiter atau neuromodulator spesifik seperti dopamin. Padahal neurotransmiter jenis dan jumlahnya cukup banyak. Pemahaman dan pengembangan perilaku, karakter, dan respons yang maujud dalam pola pengambilan keputusan, pada akhirnya melahirkan bahasa dalam bentuk literal dan verbal. Sejak era pedagang Funisia, orang Akadia, sampai Tiongkok mensimbolisasi arti dan makna dalam bentuk lambang. Bisa berupa gambar/hieroglif ataupun huruf-huruf yang dapat dirangkai menjadi representasi makna. Kompleksitas ini maujud sampai dalam pengolahan bunyi, asosiasi bunyi dengan kata dan makna, juga dalam nada dan harmonisasi. Dari sini lahirlah pendekatan semantik (simbol dan maknanya), pragmatika (makna/arti di ranah publik), dan juga fonologi yang mempelajari produksi bunyi berkonotasi bahasa. *** 132 — G.E.N.C.E.

Lalu, di manakah semua proses itu terjadi? Ada area Broca di otak manusia yang berperan dalam berbagai proses tersebut. Ada daerah penting di dekat dahi yang disebut girus frontalis inferior atau inferior frontalis gyrus/IFG yang terdiri dari pars opercularis (area Broadmann 44), pars triangularis (Broadmann 45), dan pars orbitalis (Broadmann 47). Batas superiornya adalah sulkus frontalis inferior yang membatasi dengan girus frontalis medius, dan batas posteriornya adalah sulkus presentralis inferior, serta batas inferiornya adalah fisura lateralis. Fungsi dari IFG yang termaktub dalam struktur sitoarsitektur area Broadmann 44 dan 45 (khususnya hemisferium kiri) terkait dengan kemampuan produksi bahasa dan makna. Area 44 bertanggung jawab pada proses fonologi yang terkait dengan perencanaan motorik (rongga mulut dan lidah) sedangkan area 45 terkait dengan kemampuan semantik untuk membangun makna dan mengorelasikan antara simbol dan makna. Maka, area 45 punya peran penting dalam membangun konsep persepsi dan pemahaman terhadap stimulus yang diterima indera. IFG sisi kiri juga punya peran dalam menginhibisi atau menghambat proses belajar dari sumber informasi atau pembelajaran yang bersifat undesirable. Sedangkan IFG di sisi kanan hemisferium, khususnya area 44 memiliki peran dalam proses atau mekanisme “go or no go” dan keengganan untuk mengambil risiko yang sudah diketahui atau terukur. Eksperimental dengan TMS (transcranial magnetic stimulation) dan DVD (direct current stimulation) dengan menunjukkan peningkatan aktivitas inhibisi proses belajar dari info yang tidak menyenangkan di hemisferium kiri dan keengganan mengambil resiko di IFG kanan. Konfirmasi dilakukan secara neuroimaging. Konsep go or no go serta risk aversion ini menjadi menarik dalam kaitannya dengan mekanisme pengambilan keputusan yang melibatkan ventromedial prefrontal cortex dan dorsolateral prefrontal cortex. Proyeksi trajektori atau lintasan neuronal dari area subkortikal ventral tegmental area dan nukleus akumben yang menjadi bagian dari reward pathway dan motivasi untuk mengeksekusi sebuah keputusan (executive function) ternyata melalui penapisan di IFG. Hingga keputusan akhir yang akan dikeluarkan sebagai bagian dari respons tak luput dari proses pemaknaan dan “seleksi” serta filtrasi di IFG. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 133

Maka, peran musik, fungsi kalkulasi matematik (salah satu peran IFG yang sudah diteliti), serta kemampuan fonologi untuk menyusun rangkaian kata bergramatika sekaligus memiliki fungsi pragmatika adalah upaya konstruktif untuk membangun kemampuan IFG dalam rangka menjadikan hidup kita lebih bermakna. *** 134 — G.E.N.C.E.

(7) OTAK MANUSIA INDONESIA: Membangun Peradaban Bangsa Melalui Optimasi Potensi Genetika, Pikiran dan Lingkungan oleh Insan Firdaus Genetik Genetik atau gen adalah suatu organisme molekular yang diturunkan kepada sesama makhluk hidup secara turun menurun. Bahan dasar dari gen adalah DNA (deoxyribonucleic acid) atau untaian asam nukleat (Hershey dan Chase, 1953). Semua bentuk makhluk hidup di dunia memiliki bagian bernama DNA. DNA merupakan “blue print” dari manusia yang mengandung kode-kode rahasia, cikal bakal, atau bahan dasar yang menentukan bentuk tubuh, warna kulit, bentuk wajah hingga sifat biologis. Sifat dasar biologis diturunkan melalui DNA dan struktur gabungannya yang bernama kromosom. Lalu apakah ini berarti apa yang diturunkan oleh para leluhur melalui DNA adalah sesuatu yang absolut? Misalnya saja jika seseorang diturunkan sifat pemarah oleh orang tuanya dan secara otomatis akan menjadi pemarah sepanjang hidupnya? Mungkin jika memang demikian adanya, apa gunanya ada lembaga pemasyarakatan? Atau apa gunanya jika ada konsep memperbaiki diri seperti dalam agama islam berpuasa di bulan ramadan dan kembali menjadi fitrah? Hal ini berkaitan dengan perdebatan antara ilmuwan tentang “nature vs nurture”. Pertanyaan dasarnya adalah apakah perilaku manusia hanya dipengaruh oleh faktor tunggal seperti gen (nature) yang diturunkan atau faktor lingkungan (nurture) seperti pola asuh. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 135

Nature vs nurture Seorang psikiater, psikoanalis dan sekaligus neurosaintis bernama Eric Richard Kandel dari Universitas Columbia, mengemukakan bahwa genetik merupakan sebuah template dan fungsi transkripsi (Kandel, 1998). Sebagai template, gen mengorganisasi struktur otak dimana secara general tidak terpengaruh oleh faktor lingkungan terkecuaIi jika ada kelainan genetik pada masa sebelum kelahiran. Struktur dan fungsi otak seperti bentuk dasar sistem saraf diwariskan melalui DNA kepada keturunan di setiap organisme makhluk hidup. Hal ini disebut sebagai “Nature”. Di sisi lain ekspresi dari genetik tergantung dari pengalaman yang dapat memicu gen tersebut untuk dapat bertranskripsi (Black, 1998). Transkripsi genetik mengontrol bagian terkecil dari pengorganisasian otak seperti level dari neurotransmitter terhadap sistem otak yang berbeda. Bahkan sebagian besar dari cortex kita berkembang setelah melahirkan tergantung dengan pengalaman yang disimpan di dalam memori melalui proses transkripsi. Oleh karena itu, nurture memengaruhi perkembangan otak melalui pengaktivasian gen tertentu akibat terstimulus oleh lingkungan (diambil dari Cozolino 2010 “The Neuroscience of Psychotherapy”). Penelitian yang dilakukan oleh Caspi et al 2002 menunjukan bahwa polimorfisme pada metebolyzing-enzyme, monoamine oxidase A MAOA pada anak-anak akan membentuk perilaku kekerasan pada saat dewasa. Anak-anak yang memiliki ekspresi gen MAOA dalam level yang rendah ketika mendapatkan perlakuan yang salah dari orang tuanya akan membentuk kepribadian anti sosial dan terlibat dalam perbuatan kriminal ketika dewasa dibandingkan dengan anak- anak yang memiliki level MAOA yang tinggi. Penelitian Caspi yang lainnya menunjukan polimorfisme pada gen serotonin transporter (5-HTT) akan memodulasi gejala depresi ketika berinteraksi dengan stressor dari lingkungan. Individu yang memiliki ekspresi gen 5-HTT 1 atau 2 copy short allela akan menunjukan gejala depresi pada saat menghadapi stres dari lingkungan dibandingkan dengan individu yang memiliki ekspresi gen dengan 2 copy long allela (caspi et al, 2003). Bahkan penelitian Caspi et.al. 2005 menjelaskan 136 — G.E.N.C.E.

polimorfisme pada gen cathecol O methyltransferase (COMT) akan memodulasi pemakaian cannabis dan resiko pembentukan gangguan psikosis pada usia dewasa. Interaksi cannabis (faktor lingkungan) dan individu (genetik) menunjukan bahwa individu yang memiliki gen pembawa COMT valine allela akan memunculkan gejala psikotik dan membangun gejala skizofrenia tetapi tidak berlaku pada pembawa gen dengan 2 copy COMT methionine allela (Caspi et al, 2005). Pengalaman yang diberikan oleh lingkungan menghasilkan pengekspresian dari gen tertentu yang menstimulasi terjadinya sintesis dari protein yang membentuk struktur saraf. Melalui transkripsi genetik, neuron yang telah ada berkembang menciptakan berbagai reseptor, memperluas struktur dendrit dan terjadi penyesuaian kimia dalam otak (biochemistry). Hal ini menunjukan bahwa gen pembawa yang kita turunkan dapat berubah menjadi suatu gangguan pada saat berinteraksi dengan lingkungan. Hasil dari perubahan tersebut dapat terlihat dalam bentuk gangguan psikologis, pikiran dan perilaku seperti depresi, skizofrenia bahkan gangguan kepribadian. Apakah dengan gen pembawa yang sama dan lingkungan yang sama akan terjadi polimorfisme? Sebagai contoh jika dua orang anak kembar identik yang bisa saja menurunkan gen dari skizofrenia dibesarkan di atap yang sama, tetapi ternyata hanya satu saja yang dapat menjadi skizofrenia. Hal ini dipercaya ada perubahan ekspresi gen yang berbeda antar keduanya hasil dari plastisitas penyerapan informasi yang berbeda terhadap lingkungan. Hubungan antara nature dan nurture dapat dikatakan merupakan hubungan reciprocal atau timbal balik. Nature dapat mempengaruhi individu pada saat berhubungan dengan lingkungan (nurture) dan lingkungan dapat mempengaruhi invidu sampai ke tingkat biologis (nature). Bisa dikatakan bahwa perilaku manusia adalah hasil dari interaksi antara nature (internal) dan nurture (eksternal). Oleh karena itu jika kita ingin membentuk perilaku manusia yang berakhlak mulia diperlukan rekayasa dari internal dan eksternal agar perubahan yang terjadi tidak hanya dalam tingkat perilaku saja tingkat neuronal sampai dengan genetik. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 137

Genetik dan pengaruh lingkungan Penelitian yang dilakukan oleh Collin et.al. 2009 terhadap dua ekor tikus yang diberikan perlakuan renang dan yang tidak diberikan perlakuan apapun. Eksperimen dilakukan selama 4 minggu. Hasil dari penelitian tersebut adalah meningkatnya neuron pada bagian girus dentata yaitu bagian yang terlibat dalam memori formasi pada situasi stres. Hal ini meningkatkan kemampuan kognitif dalam menghadapi situasi stres dibandingkan tikus yang tidak diberi perlakuan. Selain itu terjadi perubahan perilaku yaitu tikus yang diberikan perlakuan memiliki imobilitas dan daya berjuang yang lebih tinggi dibandingkan dengan tikus yang tidak diberikan perlakuan. Terjadi transkripsi genetik yang menyebabkan munculnya gen c-fos pada girus dentate. Penelitian ini menunjukan bahwa memungkinkan untuk merekayasa lingkungan jika ingin merubah perilaku seseorang hingga ke tingkat genetik. Contohnya dapat di rancang sedemikian rupa jarak dari parkiran kendaraan sampai dengan ke tempat tujuan (kantor, sekolah, ataupun pusat perbelanjaan). Atau membangun sistem transportasi yang mengharuskan penggunanya untuk berjalan kaki ke tempat pemberhentian terdekat. Dapat juga mereplikasi rancangan pada negara lain yang tentu saja melalui adaptasi terlebih dahulu. Seperti di negara Singapura yang memiliki sistem transportasi dan hukum yang jelas tentang pejalan kaki dan transportasi umum. Para pejalan kaki dapat berjalan menuju pemberhentian transportasi melalui trotoar yang nyaman dan armada transportasi dilarang mengambil penumpang selain di tempat pemberhentian. Hal ini bertujuan untuk dapat memberikan stimulasi kepada masyarakat untuk dapat melakukan olahraga yang diharapkan akan meningkatkan kapasitas mental dalam menghadapi situasi stres. Sebenarnya hal ini sudah dilakukan pada saat pendidikan SD, SMP, SMA. Ada pelajaran wajib untuk berolahraga seminggu sekali secara bersama-sama di lingkungan sekolah. Hanya saja hal ini tidak menjadi budaya karena pelaksanannya tidak konsisten sampai pada lingkungan keluarga dan lingkungan universitas serta perkantoran. Karena diperlukan penguatan dan konsistensi untuk dapat membentuk sebuah perilaku baru sehingga pembentukan sirkuit neuronal dapat terjadi dan bersifat permanen. 138 — G.E.N.C.E.

Genetik, pikiran dan perilaku Lalu apakah hal ini cukup untuk dapat membentuk sebuah perilaku dengan cara merekayasa lingkungan yang bertujuan untuk merangsang gen untuk dapat diekspresikan dengan baik? Melihat perilaku masyarakat Indonesia sehari-sehari, seperti menyebrang jalan di bawah jembatan penyebrangan sampai melewati trotoar seperti pada rekaman gambar di media sosial yang sempat menjadi viral. Terlihat pada rekaman tersebut seorang pria yang melewati trotoar dengan menggunakan motor berkata kasar dan membanting helmnya karena diingatkan oleh pejalan kaki. Dengan adanya trotoar menunjukan sudah adanya rekayasa lingkungan untuk dapat mengatur perilaku masyarakat. Tetapi kenapa masih ada yang tidak berkenan untuk mengikuti hal tersebut. Perilaku dari supir ojek tersebut mencerminkan hasil interaksi yang dia dapatkan selama ini antara genetik dan lingkungan yang pada akhirnya membentuk sebuah sirkuit neural di otak sebagai wujud dari perubahan gen yang terjadi. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 139

Otak bukanlah sebuah organ yang bersifat statis. Otak selalu berubah sebagai respons dari lingkungan. Karena hal ini struktur dari neural tersebut terus berubah sesuai dari pengalaman yang diserap oleh individu. Pada saat dilahirkan manusia memiliki 100 triliun neuron yang siap untuk dipakai. Pada saat seseorang belajar sesuatu dari lingkungannya, neuron akan berkomunikasi dengan neuron yang lainnya. Satu neuron dapat berkomunikasi hingga 50.000 komunikasi dengan neuron lainnya melalui sinaps. Jaringan-jaringan neuron ini akan terus berubah dan menjadi dasar dari pemaknaan terhadap lingkungan sekitarnya. Jaringan neuron ini disebut connectome. Connectome adalah keseluruhan koneksi antar neuron di dalam nervous system. Berbeda connectome akan berbeda pula reaksi seseorang dalam menghadapi situasi yang sama. Hal ini juga yang terjadi pada pengendara ojek online yang marah ketika diingatkan oleh pejalan kaki akibat melanggar peraturan. Dengan alasan macet dan ingin cepat sampai tujuan dengan cara melanggar peraturan. Tidak terbentuknya kesabaran untuk dapat melewati proses, hal ini tentu saja terbentuk karena sudah terbiasa untuk menjalani permasalahan dengan jalan pintas atau bisa juga tidak tahan banting. Pada saat otaknya memaknai kondisi yang macet, secara otomatis akan terbayang sulitnya untuk menjalani kemacetan dan muncul pikiran “harus dapat melalui kemacetan dengan cepat atau dia akan merasa tersiksa”. Hal ini dapat mengaktifkan HPA axis dalam sistem limbik dan menghasilkan peningkatan hormon cortisol/ hormon stres. Karena terbiasa menghindari stres dengan cara instan, otomatis otak akan merespon mencari jalan keluar yang cepat tidak perduli apakah itu melanggar hak orang lain atau tidak. Pengambilan keputusan dilakukan secara otomatis di bawah kendali otak emosi. Pada saat diingatkan oleh pejalan kaki, sistem fight, flight atau freeze aktif secara otomatis. Sistem ini muncul karena seseorang memaknai bahwa dirinya sedang dalam bahaya, karena itu dia memilih respon melawan, diam saja atau pergi. Dalam hal ini supir ojek daring memilih untuk melawan. Dasar pengambil keputusan tentu saja emosional, terlebih muncul pikiran dipermalukan, dia merasa tidak pantas diingatkan karena merupakan warga asli skitar dll. Pada akhirnya memperlihatkan perilaku anti sosial yaitu melanggar 140 — G.E.N.C.E.

peraturan, tidak ada penyesalan dalam melanggar peraturan. Jika ini terus dibiarkan tidak ada intervensi dari lingkungan, akan semakin terbentuk sirkuit neuronal gangguan kepribadian anti sosial apalagi jika memiliki ekspresi gen MAOA seperti yang dijelaskan oleh penelitian Caspi et al, 2002. Munculnya pemaknaan atau pikiran atas suatu situasi terjadi karena manusia memiliki pembelajaran dan disimpan ke dalam memori. Karena sifat memori itu adalah asosiatif, memori tidak semata-mata disimpan secara tunggal tetapi dismpan bertautan dengan memori lainnya lengkap dengan muatan emosi. Sama hal nya ketika dua orang yang berada di atap sebuah gedung bertingkat 30 dan merasakan hal yang berbeda. Si A merasakan perasaan cemas yang sangat tinggi sampai dengan mengeluarkan keringat bercucuran, sedangkan si B merasakan perasaan yang menyenangkan dan bahagia. Apa yang membedakan antara A dan B? padahal meraka berada di situasi yang sama. Jika kita telaah lebih jauh ternyata A membayangkan bahwa dirinya akan jatuh dari atap gedung tinggi tersebut dan mengingat bahwa A banyak kesalahan di masa lalu sehingga ada ketakutan jika Membedah Anatomi Peradaban Digital — 141

jatuh dan meninggal akan masuk neraka. Sedangkan B membayangkan pemandangan yang indah dan berpikir bahwa dunia ini sangat indah dilihat dari atap gedung tersebut serta minggu depan dia akan mengajak kekasih hatinya untuk bersama- sama melihat pemandangan dari atap gedung bertingkat tersebut. Filsuf Yunani kuno bernama Epictetus mengatakan “manusia tidak terganggu akibat situasi yang terjadi tetapi karena pemaknaan terhadap situasi tersebut”. A dan B melihat situasi secara berbeda sesuai dengan pembelajaran dalam memori mereka masing-masing. Secara otomatis memori yang terkait dengan situasi tersebut muncul berikut dengan emosinya. Pada akhirnya apa yang kita alami di sepanjang hidup kita membentuk system yang berbeda berdasarkan memori yang telah tertanam di dalam otak. Pikiran atau bayangan yang muncul pada situasi tersebut merupakan respon dari memori yang terpanggil secara otomatis, berpengaruh kepada system otak akan memunculkan proses untuk menjadi bahagia atau tidak. Proses perasaan seperti bahagia atau sedih adalah merupakan proses biologis dalam otak kita yang terbentuk akibat genetik serta pengalaman. Dapat disimpulkan bahwa pikiran dapat membentuk dan mengatur perubahan dalam genetik serta perubahan conectome. Sebastian seung dalam bukunya yang berjudul “Connectome How The Brain Wiring Makes Us Who We Are” menyederhanakan teori ini dengan statement “You are more than your genes. You are your connectome”. Ini berarti penanaman pikiran ditanamkan melalui koneksi antar neuron yang terjadi sepanjang hidup manusia semenjak lahir. Pada saat dilahirkan genetik yang diturunkan akan berhadapan pertama kali dengan lingkungan terdekat yaitu orang tua. Perlakuan dari orang tua yang akan menentukan penanaman informasi-informasi yang selanjutnya akan menjadi dasar pikiran atau pondasi dan didistribusikan oleh memori yang akan dipanggil sewaktu-waktu (retrieve) jika dibutuhkan. Teori kognitif yang dikemukanan oleh Aron T. Beck pendiri lahirnya terapi kognitif mengemukakan teori A(activated event), B (belief system), C (consequences; feeling dan behavior). A sebagai situasi yang menghasilkan B sebagai pemaknaan atau pikiran yang mengakibatkan konsekuensi berbentuk emosi dan perilaku. Dapat diakatakan bahwa pada saat kita dapat merubah pemaknaan 142 — G.E.N.C.E.

seseorang secara otomatis emosi dan perilaku akan berubah. Atau dapat dikatakan pada saat kita merubah connectome akan memodulasi perubahan perilaku. Tentunya selain daripada faktor lingkungan, pembentukan pikiran sangatlah penting dalam rangka membentuk perilaku adaptif dalam masyarakat Indonesia. Pembentukan pikiran sedari dini dapat dilakukan dengan cara edukasi berkesinambungan terhadap orang tua mengenai pola asuh, yang bertujuan untuk dapat melakukan pola yang dapat membentuk genetik dan connectome yang tangguh, adaptif terhadap perubahan lingkungan. Tentunya rekayasa lingkungan harus mempertimbangkan pemaknaan dari masyarakat Indonesia sesuai dengan connectome nya. Lebih kongkrit dapat mempertimbangkan budaya yang terbentuk pada suatu daerah yang merupakan pemaknaan atau pikiran yang harus dipertimbangkan pada saat ingin merekayasa lingkungan yang bertujuan dengan pembentukan perilaku. Pada saat rekayasa lingkungan dan pikiran tepat sasaran tentu saja memungkinkan untuk dapat merubah persepsi, perasaan, perilaku melalui mekanisme plastisitas otak dan epigenetik. Nur Azhar 2011, Misteri DNA Membedah Anatomi Peradaban Digital — 143

DAFTAR REFERENSI Azhar, T. N. (2011). Misteri DNA Anak Saleh – Anak Cerdas. Solo: Tinta Medina. Black, J. E. (1998). How a child builds its brain: Some lessons from animal studies of neural plasticity. Preventive Medicine, 27, 168-171. Caspi, A., McClay, J., Moffitt, T. E., Mill, J., Martin, J., Craig, I. W., Taylor, A., & Poulton, R. (2002). Role of genotype in the cycle of violence in maltreated children. Science, 297(5582), 851-854. Caspi, A., Roberts, B. W., & Shiner, R. L. (2005). Personality development: stability and change. Annu Rev Psychol, 56, 453-84. Caspi, A., Sugden, K., Moffitt, T. E., Taylor, A., Craig, I. W., Harrington, H., McClay, J., Mill, J., Martin, J., Braithe, A., & Poulton, R. (2003). Influence of life stress on depression: moderation by a polymorphism in the 5-HTT gene. Science, 301(5631): 386-389. Collins, A., Hill, L. E., Chandramohan, Y., Whitcomb, D., Droste, S. K., & Reul, J. M. H. M. (2009). Exercise improves cognitive responses to psychological stress through enhancement of epigenetic mechanisms and gene expression in the dentate gyrus. Plos One, 4(1): e4330. Cozolino, L. (2010). The neuroscience of psychotherapy: Healing the social brain (2nd ed.). New York, NY: W. W. Norton & Company Inc. Kandel, E. R. (1998). A new intellectual framework for psychiatry. Am J Psychiatry, 155, 457-469. 144 — G.E.N.C.E.

(8) Perilaku Manusia dan “Daya Lentur” Self di Era Digital Oleh Andhita Nurul Khasanah Berdasarkan riset yang dipublikasikan oleh www.kominfo.go.id, Pada 2017 ini diperkirakan bahwa netter Indonesia akan mencapai 112 juta orang. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan pula, dikatakan bahwa jumlah pengguna internet di seluruh dunia pada 2018 akan mencapai angka 3,6 miliar manusia. Dimana, di dunia ini, akan ada sejumlah angka tersebut yang akan mengakses internet setidaknya sekali tiap satu bulan. Jumlah yang sangat fantastis! Artinya, lebih dari setetngah total manusia di dunia telah berselancar dalam dunia tanpa batas ini. Pada tahun 90an, angkanya tidak akan menjulang sefantastis ini. Pada tahun tersebut, mungkin tidak semua orang memerlukan surat elektronik dalam berkomunikasi atau bekerja, tidak memerlukan aplikasi skype untuk berkomunikasi, atau menggunakan jenis aplikasi dan media elektronik lainnya. Sebab, dulu, pertemuan tatap muka masih tetap menjadi pilihan yang paling representatif untuk dapat mengkomunikasikan sesuatu. Tetapi kemudian zaman berganti gaya dan kebiasaan. Membawa kita pada sebuah peradaban baru yang sangat high-tech. Oleh sebab itu, perlu upaya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, agar kita tidak tergerus oleh dfluktuasi kehidupan itu sendiri. Dalam dunia modern saat ini, kehidupan manusia bergulir begitu cepat dan dinamis. Hal ini dipengaruhi oleh bagaimana kebutuhan manusia yang semakin besar, cara pemenuhan kebutuhan yang semakin beragam, tuntutan lingkungan maupun pekerjaan yang semakin tinggi, namun, waktu tetap hanya 24 jam dalam satu hari. Untuk bisa menyeleraskan segala kebutuhan dan tuntutan yang ada, Membedah Anatomi Peradaban Digital — 145

saat ini kita begitu banyak terbantu dengan alat elektronik di sekitar dan berbagai macam aplikasi serta saluran yang dapat dimanfaatkan. Secara psikologis, konsep conditioning, manusia dapat belajar untuk berespon pada stimulus lingkungannya. Kita tidak selalu dapat mengendalikan stimulus untuk muncul atau tidak muncul, sering atau jarang, intens atau tidak. Adakalanya, kita sebagai manusia yang perlu terus menyesuaikan diri dengan dinamisnya perubahan lingkungan atau stimulus yang muncul di sekitar kita. Melalui proses belajar, kita akan melihat bagaimana stimulus datang dan dampaknya pada diri kita, baik secara fisik maupun emosi. Dari sana, kita akan belajar bagaimana merespon stimulus tersebut dan kemudian merasakan efek dari respon yang kita munculkan. Jika stimulus datang berulang, kita memiliki kecenderungan memberikan respon yang kurang lebih sama. Hal ini juga disertai dengan adanya konsekuensi positif atau negatif yang mempengaruhi menetap atau tidaknya respon, maka proses belajar pun terjadi. Selain itu, perubahan pada dasarnya adalah salah satu hakikat dari diciptakannya manusia. Kita diberikan kemampuan penyesuaian diri dalam kehidupan ini agar dapat bertahan hidup. Prinsipnya, agar kita selalu dalam kondisi yang nyaman dan menyenangkan bagi diri kita. Oleh sebab itu, ketika ada tuntutan yang berubah dari lingkungan, kita bisa saja memilih untuk tidak meresponnya. Tetapi, apabila kita tidak dapat merespon lingkungan dengan tepat, maka kita akan sulit untuk diterima di dalam tatanan sosial masyarakat. MANUSIA DALAM INTERNET VS INTERNET DALAM MANUSIA Internet, seperti dua sisi mata uang. Dia amat membantu kehidupan kita agar lebih menyesuai, di satu sisi, dia membawa kita ke dalam perubahan perilaku yang mengarah pada kemampuan menyesuaikan diri dan pola komunikasi yang lebih bervariasi. Internet dan berbagai macam media sosial juga memandu kita untuk dapat menjelajah dunia lebih luas dan memperoleh wawasan lebih dalam dari berbagai sudut pandang. Di sisi lain, dia juga dapat membawa kita 146 — G.E.N.C.E.

pada kecenderungan ‘tenggelam’ dalam dunia tak nyata. Muncullah pernyataan “menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh”. Banyak riset yang kemudian juga mengemukakan tentang dampak buruk dari berinternet. Namun, dalam hakikat kehidupan, tidak ada sesuatu yang diciptakan atau tercipta dalam bentuk benar- benar buruk atau sangat baik. Karena, selalu saja ada hitam dan putih yang menyertai sebuah fenomena. Mengaitkan dengan fenomena perilaku berinternet, dalam sebuah riset dikatakan bahwa masalah dalam dunia siber disebabkan oleh buruknya kontrol dalam sebuah sistem di masyarakat. Adapula yang mengatakan bahwa masalah muncul karena kurangnya kontrol diri pada pengguna internet itu sendiri. (Bianchi & Philips, 2005). Hal ini benar adanya dan sangat erat dengan konsep hakikat manusia. Manusia tercipta dalam kapasitas untuk bisa ‘memilih’ untuk bisa menjadi ‘hitam’ atau ‘putih’. Hal yang dapat mengantarkan kita kepada warna yang mana, adalah kapasitas yang kita miliki dan bagaimana serta sejauh mana kita dapat menempa diri kita untuk dapat melampaui batasan yang kita buat sendiri. Fenomena dalam berinternet sekarang kemudian mengkondisikan individu untuk memunculkan kebutuhan memiliki akun dalam media sosial, berkomunikasi dalam media elektronik, hingga kebutuhan untuk memiliki alat elektronik tercanggih, menjadi sesuatu yang lazim. Tetapi apakah kita betul-betul memerlukannya atau hanya karena kebutuhan untuk dapat menyeleraskan dengan kebiasaan di masyarakat? Karena, ketika kita mampu menyesuaikan diri dengan kebiasaan umum yang terbentuk di lingkungan maka kita dapat diterima dalam kelompok tersebut. Bayangkan, jika kita tidak memiliki aplikasi Whatsapp di masa sekarang. Sementara aplikasi tersebut adalah sesuatu yang lumrah dimiliki saat ini. Sebagian telah sangat terbiasa bahkan tergantung pada aplikasi ini. Jadi, ketika ada yang tidak menggunakan aplikasi tersebut, akan sulit berkomunikasi dengan ringkas dan cepat. Bagi mereka yang memilih untuk tidak memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dan berselancar, mungkin dapat dinilai ‘berbeda’. Karena pilihannya tidak sama dengan kebanyakan orang. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 147

Budaya Indonesia yang guyub dan bernuansa kolektif, menciptakan sebuah pola perilaku yang mengakar dan menyebar pada masyarakat. Pola kebiasaan dalam berpikir dan berperilaku cenderung didasarkan atas bagaimana umumnya masyarakat pada kelompok tertentu melakukannya. Kita terbiasa bersama-sama dan terbiasa ‘seragam’ dalam suatu kelompok. Apabila terdapat perbedaan perilaku yang ditunjukan, maka dia dinilai ‘bukan bagian dari kelompok’ atau melanggar aturan. Meski pada kenyataanya, untuk dapat memberikan penilaian tersebut, tidak melalui proses yang sederhana. Aturan atau kesepakatan kelompok biasanya sering bertentangan dengan proses internal dalam diri seseorang. Karena kita memiliki kebutuhan, ikeinginan, persepsi, dan dorongan yang berbeda-beda. Tetapi kita akan tetap berupaya untuk menyesuaikan diri karena konformitas adalah upaya untuk dapat menemukan satu titik temu dan keselarasan dengan orang lain agar kita dapat mengurangi tendensi munculnya konflik atau memunculkan ketidakseimbangan dalam sebuah sistem. Artinya, manusia selalu memiliki fleksibilitas untuk berkompromi dengan dirinya sendiri berdasarkan bagaimana pemaknaannya terhadap situasi di lingkungan. Artinya pula, selalu ada bagian dari diri yang ‘tidak dapat dimunculkan’ ke tengah kelompok, demi terciptanya sebuah keselarasan dan stabilitas lingkungan. Upaya untuk selaras dengan harapan lingkungan ini yang kemudian menciptakan sebuah persona yang dapat dia ubah sewaktu- waktu dan sangat fleksibel, sesuai dengan bagaimana kondisi lingkungan yang tengah dia hadapi. Persona adalah sebuah ‘topeng’ yang selalu digunakan manusia dan berwujud berbagai macam karakter atau perilaku, di mana dia adalah perwujudan dari seseorang untuk dapat diterima dalam lingkungannya. Dia adalah bagian dari SELF manusia. Bentuknya disadari dan sangat beragam. Kembali pada fenomena perubahan kebiasaan dalam berinternet, bayangkan jika kelompok usia middle up age di Indonesia saat ini atau yang berada pada usia tidak produktif, yang tumbuh dan besar tanpa banyak terpapar aktivitas berinternet, saat ini harus belajar menyesuaikan diri. Seolah ada tuntutan bahwa jika mereka tidak mencoba mencicipi atau bahkan menyelam dalam lautan pola interaksi 148 — G.E.N.C.E.

berbasis internet, mereka semakin tergerus dengan zaman dan kesulitan menjangkau interaksi yang lebih dinamis. Sebab, anak dan cucu mereka telah tenggelam dalam pemnafaatan internet lebih banyak dibanding mereka sendiri. Kemudian hal ini bisa memunculkan generation gap karena ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan kebiasaan saat ini. Generasi usia produktif saat ini begitu dinamis dan memiliki akses tak terbatas merangkul dunia. Mereka bisa tenggelam dalam asyiknya fasilitas yang telah mereka temui dalam internet. Semakin mereka mendapatkan kepuasan, maka itu akan terus diulang. Pola belajar ini yang kemudian menetap pada generasi muda maupun usia produktif. Sementara, pada generasi non produktif, orientasi untuk terus berkembang dan berubah mengikuti zaman sudah tidak sebesar dan sefleksibel dulu. Itulah yang kemudian membuat adanya kelompok usia yang perlu mencoba menyeleraskannya demi tetap terjaganya pola interaksi yang lebih guyub. Kemudian, inilah yang menjadi representasi dari kemampuan belajar dan ruang plastis dalam diri manusia yang sangat luar biasa membantu kita untuk bisa terus menyesuai dengan fluktuasi perubahan zaman. Daya lentur pada otak untuk menerima input informasi yang baru dan memperkaya diri akan terus terjadi hingga akhir hayat. Namun, akses tak berbatas dalam internet di zaman sekarang pun memunculkan ruang untuk kita berselancar terlalu jauh. Ibarat samudera, kita bisa memilih bermain di pinggir pantai saja untuk menikmati lautan. Kita juga bisa bermain agak tengah untuk mencoba berenang atau menggunakan papan selancar. Di waktu lain, kita bisa semakin ke dalam untuk mencoba diving melihat kehidupan dalam laut yang beragam. Jika kita terbuai dengan keindahan di dalamnya, maka kita akan terbawa arus, tenggelam, dan sulit untuk kembali lagi. Menurut Young (Mardiawan, Mubarak, & Utami, 2017), fenomena tenggelam dalam arus internet ini kemudian dikenal sebagai adiksi berinternet. Seseorang dikatakan mengalami internet addiction, apabila dia lebih sering menggunakan internet untuk melarikan diri dari permasalahan dikehidupan nyata dengan membangkitkan fantasi di dunia virtual. Seseorang rentan menjadi adiksi ketika merasa kurang Membedah Anatomi Peradaban Digital — 149

puas dengan hidupnya, kehilangan kedekatan atau koneksi yang kuat dengan orang lain, kurang percaya diri dan pesimis (Peele, 1985 dalam Young, 2010) Kembali lagi pada fenomena konformitas dalam kelompok dan mekanisme kemunculan persona dalam kehidupan kita. Bagi mereka yang menunjukan indikasi adiksi terhadap internet, seseorang menjadi semakin terhanyut dengan pola ‘lari dari kenyataan’ dan masuk ke zona nyamannya. Intensitas dalam membentuk dunia yang dia harapkan menjadi lebih intens. Dunia yang dia harapkan adalah yang bisa memuaskan dirinya dan menyamankan kondisi psikisnya melalui penciptaan pola perilaku yang berlawanan dengan ketidakmampuannya. Misalnya, karena dia sering gagal dalam seluruh usaha di hidupnya dan merasa tidak berharga, maka dia ingin menciptakan diri yang lebih tangguh dan bisa dihargai oleh lingkungan. Tetapi karena dia tidak memiliki kemampuan dan keterampilan untuk melakukannya di lingkungan sosial, maka hal tersebut diwujudkan dalam bentuk fantasi mengenai dirinya. Fantasi ini kemudian Ia tuangkan dalam sbeuah ruang virtual yang seolah Ia ada di dalamnya. Itulah yang kemudian menjadikan internet, dunia dan ruang maya, sebagai wujud kompensasi bagi fantasinya dan ruang virtual itu akan terus menerus Ia ‘tinggali’ demi terbentuknya kenyamanan dalam diri. Seperti yang dikatakan Young, seseorang akan terhanyut dalam frekuensi penggunaan internet karena ada unsur ketidakpuasan dalam kehidupan nyata tidak begitu saja muncul. Dia merupakan akumulasi dari berbagai macam kekecewaan, kegagalan, ketidakpuasan, dan bentuk perasaan negative lainnya dari apa yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Mereka merasa bahwa apa yang telah mereka tampilkan dan lakukan di lingkungan nyata, tidak mendapatkan respon yang menyenangkan sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Menurut riset yang disampaikan oleh Peggy J. Parks (Mardiawan, Mubarak, & Utami, 2017), seseorang memiliki tendensi menjadi adiksi pada internet disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya, self esteem yang rendah, kemampuan interpersonal yang kurang dan kematangan emosi yang buruk. Kelompok individy yang memiliki salah satu atau lebih masalah tersebut biasanya akan merasa lebih 150 — G.E.N.C.E.


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook