Mindfulness dan Multitasking Time Magazine, salah satu media terkemuka dunia menyatakan tahun 2014 sebagai tahun mindfulness. Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Mindfulness menjadi sebuah pendekatan yang paling sering diaplikasikan selain Cognitive Behavior Therapy oleh para praktisi psikologi. Penelitian-penelitian mindfulness berkembang sangat pesat sejak awal tahun 1980. Fakta mengejutkan lainnya, 25% dari seluruh pegawai perusahaan di Amerika Serikat pernah mendapatkan pelatihan mindfulness. Lalu apa sebenarnya mindfulness? Germer, Siegel, dan Fulton (2005) menyebutkan mindfulness adalah suatu kondisi kesadaran pada saat ini dengan penuh penerimaan. Mindfulness menekankan pada kesadaran, menjadi sadar sepenuhnya pada hal yang terjadi saat ini dengan mengalihkan pengalaman yang lain, diterima sepenuhnya tanpa penilaian (Mace, 2008). Mindfulness merupakan suatu keterampilan dalam memberikan perhatian dengan berfokus pada satu tujuan, saat ini, dan tidak menilai (Kabat-Zinn, 1990). Sederhananya mindfulness merupakan suatu kondisi di mana pikiran, perasaan, dan tubuh kita berada pada saat ini, tidak mengembara ke masa lalu maupun masa depan. Mindfulness sangat berorientasi pada hidup saat ini. Konsep hidup saat ini (living in the present) berbeda dengan hidup untuk saat ini (living for the present). Hidup untuk saat (living for the present) ini dapat membuat seorang individu berperilaku dengan tidak mempertimbangkan konsekuensi yang terjadi di masa depan. Sementara hidup pada saat ini (living in the present) mengembangkan perilaku berdasarkan kontrol diri dan pencapaian tujuan yang lebih efektif (Brown, Ryan, & Creswell, 2007). Orang yang sehat dan bahagia mengembangkan kehidupan yang mindful. Pikirannya tidak mengembara kemana-mana, baik ke masa lalu maupun masa depan. Biasanya orang yang hidup di masa lalu masih memendam kekecewaan, kemarahan, kekesalan, dendam, Membedah Anatomi Peradaban Digital — 451
dan perasaan bersalah. Sedangkan orang yang hidup di masa depan merupakan tipe orang yang cemas dan khawatir berlebihan, selain itu hidupnya juga cenderung terburu-buru dan tidak tenang. Kehidupan di era digital yang serba cepat dan terburu-buru memiliki potensi berkembangnya perilaku yang tidak mindful (mindless). Bahkan karena terburu-buru individu (digital natives) sering melakukan suatu aktivitas yang dibarengi aktivitas lain. Dengan adanya alat-alat teknologi yang canggih di jaman digital memungkinkan individu untuk multitasking atau task switching—istilah yang dipopulerkan Guy Winch, Ph.D. Setiap orang bisa mengerjakan tugas atau pekerjaan di laptop sambil mendengarkan musik favorit ditambah makan keripik kentang. Bahkan sesekali menelepon atau menerima telepon dari klien atau atasan. Contoh lainnya yang ditemui penulis ketika mengajar mindfulness, yaitu seorang peserta bercerita bahwa ia mandi sambil streaming video di Youtube. Sesuai prediksi Moore, bahwa dunia komputasi akan meningkat baik secara kecepatan dan kinerja dengan ditandai semakin murahnya biaya komponen di dalamnya. Artinya, komputer akan semakin mudah dimiliki oleh siapapun. Dan dengan adanya komputer akan terjadi pergeseran atau perubahan aktivitas manusia, salah satunya dari unitask ke multitask. (Gambar 2: Aktivitas multitasking) 452 — G.E.N.C.E.
Pada era informasi digital, multitasking menjadi sebuah kebutuhan bahkkan life style (gaya hidup), khususnya bagi kalangan usia produktif. Banyak manfaat dari multitasking seperti mengatasi kebosanan dan agar berbagai pekerjaan dapat selesai dalam satu waktu dan secepat mungkin. Namun sayangnya kadang aktivitas multitasking menjadi tidak produktif, menurunkan tingkat fokus, menjadi lebih lupa, dan malah membuat stres jika tidak dikelola dengan baik. Selain itu multitasking dapat membahayakan keselamatan individu itu sendiri, terutama jika dilakukan saat mengendarai kendaraan. Tidak jarang kita menjumpai orang mengendarai kendaraan sambil berinteraksi dengan orang lain melalui smartphone, atau sambil makan sepotong burger dan mendengarkan musik. Di jalan pun masih terlihat para pengendara motor yang mengobrol dengan rekannya sesama pengendara motor. Atau pengendara motor yang merekam video perjalanan melalui teman yang duduk dibelakangnya. Hal ini bukan hanya membahayakan keselamatan diri mereka tapi juga orang lain. Karena terdapat lebih dari satu aktivitas yang dilakukan, maka atensi (perhatian) pun terbagi. Perhatian tidak sepenuhnya pada aktivitas mengendarai kendaraan, tapi terpecah pada aktivitas makan, menelepon, mendengarkan musik, dan sebagainya. Hal ini tidak hanya berlaku saat mengendarai kendaraan bermotor, tapi juga bersepeda, seperti yang dilakukan Nicky Hayden, juara MotoGP tahun 2006 yang meninggal karena kecelakaan. Ia tertabrak sebuah mobil saat bersepeda sambil mendengarkan musik melalui ipodnya. Sang pembalap diduga atensinya terbagi antara mendengarkan musik melalui ipodnya dengan aktivitas bersepeda sehingga tidak melihat lampu lalu lintas. Maka mengembangkan hidup mindful sesungguhnya meminimalisir multitasking. Namun bagaimana jika aktivitas kita mengharuskan kita harus melakukan aktivitas multitasking? Inspirasi yang bagus datang dari sebuah penelitian ciamik yang dilakukan David M. Levy dan beberapa koleganya (2012) yang berjudul The Effects of Mindfulness Meditation Training on Multitasking in a High-Stress Information. Penelitian ini memaparkan kelompok yang berlatih meditasi mindfulness lebih bisa meng-handle dengan Membedah Anatomi Peradaban Digital — 453
konsentrasi yang lebih baik dan stres yang lebih rendah saat melakukan aktivitas multitasking yang dilakukan di lingkungan kantor seperti mengecek dan menjawab email serta pesan-pesan instan lainya, mengusulkan agenda rapat, dan aktivitas lainnya sambil menerima telepon dibandingkan kelompok yang hanya mendapat intervensi relaksasi tubuh dan kelompok kontrol (tidak mendapat perlakuan meditasi mindfulness). Tantangan Kesehatan Mental Aktivitas fisik akan semakin berkurang di era digital. Membeli barang, memesan tiket, dan mendatangkan makanan yang kita inginkan bisa dilakukan sambil tiduran atau bersantai ria di rumah. Kebalikan dari aktivitas fisik yang semakin menurun, aktivitas mental justru semakin tinggi akibat multitasking. Karena seringnya multitasking otak kita menjadi lelah yang kemudian diiringi dengan kemampuan memori dan atensi yang rendah. Contohnya saja, seorang calon dokter yang penulis temui beberapa kali gagal dalam ujian profesi (UKMPPD). Ia berkata bahwa ia sulit fokus dan apa yang dipelajarinya semalam lupa begitu saja keesokannya harinya. Calon dokter ini ternyata belajar untuk menghadapi ujian profesi sambil melihat instagram. Fakta tersebut juga sejalan dengan temuan penulis ketika mengisi sebuah seminar di sebuah kampus. Penulis meminta seluruh peserta untuk menjawab pernyataan sesuai dengan kondisi mereka, berdasarkan skala likert dari rentang 1 = sangat tidak sesuai, 2 = tidak sesuai, 3 = ragu-ragu, 4 = sesuai, dan 5 = sangat sesuai. Pernyataannya: “Smartphone saya telah atau akan mengalihkan perhatian saya dari tugas-tugas saya”. Hampir 70% dari seluruh peserta menjawab 4, yaitu pernyataan tersebut sesuai dengan kondisi mereka. Maka bisa dibayangkan, orang-orang dengan usia produktif di masa sekarang dan masa yang akan datang akan lebih sering lupa, sulit fokus, dan mudah stres. Aktivitas yang dikerjakan tidak produktif dan 454 — G.E.N.C.E.
“membuang-buang” waktu, tenaga, dan biaya. Kerugian berdampak bukan hanya pada individu saja melainkan institusi, masyarakat, dan negara. (Gambar 3: Living mindfully) Kerugian atau dampak terburuk bagi kesehatan mental atas kebiasaan multitasking yaitu penurunan fungsi kognitif yang ditandai dengan kerusakan sel-sel otak lebih dini yang dapat meningkatkan resiko demensia maupun alzheimer. Maka tantangan kesehatan mental di era digital adalah bagaimana individu dapat engaged dengan aktivitas yang dilakukannya. Engagement terjadi dengan hadirnya pikiran, perasaan dan segala sensasi ketika melakukan aktivitas tersebut. Atau dengan kata lain living mindfully. Semakin multitasking dunia ini, maka kita semakin perlu mengembangkan kehidupan yang mindful. Berlatih mindfulness dapat dilakukan dengan meditasi maupun non-meditasi. Praktik meditasi dalam konteks ini tidak bertujuan sebagai suatu ritual dalam sebuah agama tertentu, namun merupakan bentuk metode dalam psikologi untuk mengelola pikiran dan perasaan. Sementara praktik non-meditasi Membedah Anatomi Peradaban Digital — 455
yaitu dengan mempraktikkan mindfulness dalam aktivitas keseharian, seperti makan, minum, mengendarai mobil, dan sebagainya.Latihan- latihan ini membawa kita untuk sadar sepenuhnya terhadap kehidupan yang kita jalani. Sadar sepenuhnya tentang diri kita, dan sadar akan arah tujuan kehidupan kita. Referensi: Becker, S. (2015). This is your brain online: The impact of technology on mental health [Pdf]. Diunduh pada 2 November 2017 dari http://spartanyouth.msu.edu/precollege/documents/ ThisisyourbrainonlineforPre-CollegeFacultyandStaffMarch2015. pdf Brown,K.W.,Ryan,R.M.,&Creswell,J.D.(2007).Mindfulness:Theoretical foundations and evidence for its salutary effects. Psychological Inquiry, 18(4), 211-237, doi: 10.1080/10478400701598298 Germer, C. K., Siegel, R. D., & Fulton P. R. (Eds.). (2005). Mindfulness and psychotherapy. New York: Guilford Press. Kabat-Zinn, J. (1990). Full catastrophe living: Using the wisdom of your body and mind to face stress, pain, and illness. New York: Bantam Dell. Levy, D. M., Wobbrock, J. O., Kaszniak, A. W., & Ostergen, M. (2012). The effects of mindfulness meditation training on multitasking in a high stress information environtment. Graphic Interface. Mace, C. (2008). Mindfulness and mental health: Therapy, theory, and science. New York: Routledge. Sumber gambar: Gambar 1: https://www.thinglink.com/scene/766699406505279489 Gambar 2: https://www.kompasiana.com/idrisapandi/multitasking- di-tengah pekerjaan_58b6a4876c7a619b06eaf9d3 Gambar 3: http://positivemindfulleader.com/the-most-impactful- minute-of-your-day-the-mindful-minute/ 456 — G.E.N.C.E.
MANUSIA X.0 Oleh Tauhid Nur Azhar dan Diana Hasansulama Kemajuan bioteknologi di era disrupsi digital yang saling berkelindan dalam jejaring sinergi menghasilkan hasil-hasil riset yang memiliki banyak makna. Di satu sisi hasil riset kekinian mulai menguak banyak tabir misteri tentang alam semesta dan komponen makhluk hayati di dalamnya, termasuk manusia. Motif biologis yang dahulu tergambar dari berbagai penafsiran paleo arkeologis dari berbagai artefak seperti lukisan gua di Altamira, Lascaux, dan Leang-Leang serta berbagai benda dengan fungsi keseharian seperti yang terdapat di gua Pawon menunjukkan terjadinya revolusi peradaban seiring dengan semakin majunya cara berpikir manusia. Revolusi otak yang antara lain diprakarsai oleh tuntutan kebutuhan yang mewajibkan lahirnya berbagai inovasi untuk menghasilkan solusi telah melahirkan budaya agraris dan peternak yang mengubah pola pencarian bahan pangan di era pemulung dan pemburu. Hewan buruan dan tanaman sumber pangan yang semakin sulit diperoleh seiring dengan peningkatan jumlah populasi manusia dalam satu bioma, yang tentu saja meningkatkan juga kuantitas konsumsi pangannya, melahirkan inovasi budidaya hewan ternak dan tanaman pangan serta semakin canggihnya alat tangkap. Seiring dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang semakin membaik dan mungkin juga disertai penemuan api dan metoda memasak dengan panas, maka terjadi pula optimasi perkembangan otak dan jaringan syaraf secara organik. Otak yang makin berkembang dan kompetisi yang semakin ketat selain meningkatkan tekanan (stressor) juga melatih kekuatan “otot” otak untuk terus mengembangkan sinaps-sinaps baru yang diikuti dengan peningkatan kapasitas prosesingnya juga. Walhasil terjadilah lompatan peradaban sekaligus berbarengan dengan bermunculannya dampak ikutan yang tidak diharapkan. Lahan semakin terbatas karena pertumbuhan populasi mendorong terjadinya eksploitasi fungsi lahan Membedah Anatomi Peradaban Digital — 457
secara berlebihan dan monofungsi. Tetapi makhluk cerdas bernama manusia berhasil menemukan jawaban, teknologi. Konsep pupuk berisi unsur hara anorganik diperkenalkan, maka habislah satu pulau di lepas pantai Chile yang terbangun dari Guano Camar laut serta kaya fosfat dikeruk untuk dijadikan pupuk. Setelah sumber alamiah habis manusia tak habis akal. Haber-Bosch, dua ilmuwan Jerman menemukan cara untuk memanen nitrogen dari udara. Alih-alih menunggu urea dari kotoran hewan, kini manusia dapat memperoleh zat-zat yang dibutuhkannya sesukanya saja. Tetapi masalah tidak akan pernah berhenti, karena pada hakikatnya masalah adalah pembentuk kehidupan itu sendiri. Masalah adalah tekanan berkesinambungan yang ditujukan untuk menghasilkan bentuk-bentuk akumulatif adaptif hingga mendekati titik kesetimbangan optimal. Dalam konteks energi, ini adalah titik equilibrium saat nilai entropi mendekati entalpi. Sistem biologis pun berkembang sedemikian rupa dengan prinsip yang juga hampir sama. Adaptasi sel-sel eukariota yang “mengakuisisi” sel prokariota untuk menjadi “generator” energi di dalam tubuhnya adalah salah satu contoh nyata adanya simbiosa mutualisma tingkat dewa. Mitokondria sebagai salah satu alat kelengkapan di sel mamalia misalnya, adalah contoh nyata betapa sistem interkoneksi pembangkit energi berlaku juga di tingkat sel-sel eukariota. Pemanfaatan potensi bersama dapat dilihat pada fenomena perubahan revolusioner dari spesies Elysia Chlorotica sp yang kemungkinan besar menginsersikan (menyelipkan) dengan sengaja gen-gen klorofil yang berasal dari algae yang dikonsumsinya. Maka ia menjadi “hijau” dan mampu berfotosintesa untuk menghasilkan mekanisme catudaya mandiri. Kemampuan adaptasi tingkat lanjut terlihat dari mekanisme epigenetik di tingkat DNA yang mampu menyesuaikan struktur yang menunjang proses ekspresi gen agar sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Penemuan dari serangkaian riset berkelanjutan menunjukkan adanya fungsi- fungsi protein khusus yang terlibat dalam proses pemilihan gen yang akan diekspresikan. Protein dan gen terkait mekanisme epigenetik ini antara lain Xist di kromosom X dan CENP-A yang terletak di kromosom-kromosom dan proteinnya berfungsi mengatur proses mitosis melalui peran centromer dan histon. Keberadaan gugus metil dan proses metilasi juga menjadi kunci on off nya gen-gen tertentu dalam proses epigenetik. Artinya manusia sebagai makhluk hayati terus menerus melakukan proses perbaikan yang berkesinambungan sampai di tingkat molekuler 458 — G.E.N.C.E.
untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan. Maka pengetahuan ini membawa kita pada perspektif baru mengenai proses adaptasi. Selama ini dengan kemampuan berinovasi yang didorong oleh upaya pemenuhan kebutuhan, manusia telah melakukan rekayasa genetika hingga rekayasa cuaca dan membangun jejaring industri manufaktur yang mampu mereduksi berbagai kekurangan yang melekat pada dirinya. Bahkan hari-hari ini manusia mulai membangun “otak” super yang mampu mengolah milyaran data yang dijaring dari samudera informasi untuk menghasilkan berbagai jawaban dan solusi bagi berbagai masalah kehidupan. Era big data, machine learning, artificial intelligence, deep learning sampai terbukanya kemungkinan hadirnya artificial biology adalah keniscayaan yang tak dapat dipungkiri. Saat teknologi block chain dan LiVi menjadi hal rutin dalam keseharian di masa depan dan bergandengan tangan dengan surveilans berbasis 5G, berbagai sensor dalam konteks kendali smart mobility seperti anisotropic magneto resistive, inductive sensor dll, maka akan terciptalah manusia virtual. Manusia masa depan yang melampaui terminologi 4.0, lebih tepat sebagaimana yang dinamakan Prof. Suhono Harso Supangkat dengan manusia X.0. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 459
Manusia dengan daya dukung otak mesin pengolah data raksasa nyaris tanpa batas, dengan indera yang telah dianugerahi/diperluas melalui penggunaan beragam sensor yang mampu mengakuisisi data terkini dari lingkungan yang jika diolah oleh sistem berlevel ubiquitos computing maka akan dapat menghasilkan tidak saja paparan dan visualisasi data sebagai produk akhir, melainkan juga prediksi/ forecasting, trend atau pola, dan pada akhirnya menyajikan juga alternatif solusi. Pada tahun 2012 tim Brainstat Telkom University telah mempresentasikan di Microsoft Imagine cup New York sebuah terobosan masa depan tentang konsep sensor baru berbasis pola interferensi dari pajanan EMF (electromagnetic field) tubuh manusia pada gelombang EM yang diterima atau dipancarkan piranti seluler. Jika konsep ini bisa diterapkan dalam lingkungan yang lebih luas dan mencakup banyak aspek, maka dapat dibayangkan lingkungan kita akan berevolusi menjadi jejaring multisensory environment yang dapat dipantau dan memantau untuk kemudian diolah hingga menjadi bagian dari proses menghasilkan solusi. Berbagai perkembangan piranti berbasis teknologi ICT yang masuk dalam kategori interoperability dan IoT (Internet of Things) telah menghadirkan banyak kemudahan sebagai solusi yang mampu mereduksi proses berbelit dan meningkatkan akurasi, yang pada gilirannya akan mereduksi konsumsi energi dan penggunaan waktu. Berkembangnya industri perangkat wearable seperti smartwatch dan banyak alat kesehatan dengan sensor non invasif yang mampu mendeteksi dan mengevaluasi kondisi fisiologi manusia (denyut nadi, tekanan darah, kadar gula darah, sampai tingkat stress seseorang) serta terintegrasi dengan sistem layanan medik yang secara berkesinambungan melakukan evaluasi dan memberikan solusi sesuai dengan kebutuhan akan meningkatkan kualitas kesehatan secara revolusioner. Di sisi lain kemajuan teknologi digital di ranah ilmu hayati seperti pemetaan gen dan teknik pencitraan yang semakin presisi, akurat, dan beresolusi sangat tinggi amat memudahkan peneliti untuk melakukan proses rancang bangun konstruksi hayati yang produknya antara lain obat-obatan dan metoda terapi yang mampu menembus batas ketidakmungkinan saat ini. Lalu bagaimana rupa manusia di masa yang akan datang ? Seperti apa gambaran manusia X.0 itu? Apakah fisik akan terudimentasi dan mengisut karena tak pernah dipergunakan lagi? Apakah mobilitas justru akan sangat berkurang karena manusia tidak lagi perlu bergerak, alam nyata berpindah nyaris 460 — G.E.N.C.E.
sempurna ke alam digital/virtual. Apakah alih guna fungsi lahan akan berhenti karena manusia tak perlu lagi sapi, ayam, domba, padi, gandum, dan sayur mayur, juga ikan, kerang, dan cumi? Manusia dengan teknologi rekayasa gen seperti yang hari ini sudah terjadi dengan metoda CRISPR dan didahului beberapa windu lalu dengan teknik cloning dan cloning ekspresi, dapat mengubahsuai fungsi fisiologinya, termasuk metabolisme, untuk mengefisienkan asupan dan mengoptimalkan energi. Bisa saja meneladani Elysia Chlorotica yang berlaku pandai dengan menyisipkan gen fotosintesa dalam tubuhnya. Yang jelas saat ini molecular gastrocnomy telah berhasil meramu ringkas rasa dalam butir-butir nutrisi tinggi energi yang kaya akan cita dan aroma. Saripati Ibu Bumi Negeri Gunung Api demikian mungkin nanti judul ransum nutrisi kita. Dan bersamaan dengan itu hutan-hutan akan menghijau kembali, laut dan samudera kembali biru dan dipenuhi kecipak biota yang semula nyaris tiada. Sampah dan limbah, plastik dan mikroplastik, lubang ozon dan hujan asam akan menjadi masa lalu. Dan manusia akan “tinggal” dalam dunia hiruk pikuk virtual tanpa relasi dan interaksi fisikal. Apa mungkin ya ? Semua kemungkinan terbuka, maka yang perlu dipersiapkan adalah kapasitas mental kita agar mampu beradaptasi secara optimal. Lebih afdholnya silahkan simak highlight soal optimasi kapasitas mental manusia yang ditulis oleh kawan saya, seorang psikolog olahraga terkemuka, Ibu Diana Hasansulama, dan sedikit tulisan saya tentang Mind Control yang menyajikan beberapa fakta aneh tentang upaya berbagai spesies untuk mengendalikan perilaku berbasis pemenuhan kebutuhan. Optimasi Kapasitas Mental Salah satu ranah aktivitas mental adalah kognisi, sehingga untuk dapat mengoptimalkan kapasitas fungsi kognisi, khususnya dalam beradaptasi dengan perubahan, sebaiknya lebih berfokus pada segala hal yang berhubungan dengan cara berpikir. Bagaimana ia memandang suatu kejadian atau permasalahan, bagaimana ia mengintepretasikan kejadian tersebut, dan apa yang menjadi fokus perhatiannya. Apakah berfokus pada solusi permasalahan atau malah terjebak pada cara pandangnya akan kekurangan yang ia miliki serta permasalahan itu sendiri sehingga abai pada solusi. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 461
Oleh karenanya, upaya yang pertama kali dilakukan dalam mengoptimasi kapasitas mental yang dimiliki, adalah keinginan untuk mau bertanggungjawab pada keadaan yang dihadapi. Tanggung jawab yang dimaksudkan disini, adalah menerima bahwa kejadian tersebut adalah ‘masalah’ yang harus ia hadapi sebagai akibat dari perilakunya, tanpa menyalahkan orang lain maupun keadaan. Dengan mengambil tanggung jawab akan masalah/ kejadian yang ia hadapi, membuat ia menyadari celah kekurangan yang ia miliki yang harus ia perbaiki, sehingga dikemudian hari ia tidak menemui permasalahan yang sama, maka ia harus berupaya melakukan suatu tindakan yang bersifat proaktif. Mencegah timbulnya permasalahan yang sama dengan mengantisipasi berbagai kemungkinan yang muncul dengan perencanaan yang lebih matang, dan detail. Melalui proses bertanggungjawab, maka secara tidak langsung ia menyadari kekurangan serta permasalahan yang sesungguhnya ia hadapi. Dan dengan mengetahui kekurangan yang ia miliki, maka sesungguhnya ia telah menyelesaikan sebagian dari permasalahan yang ia hadapi. Memudahkannya untuk lebih fokus akan kemampuannya saat ini yang perlu dikembangkan, sehingga ke depan pengembangannya akan menjadi lebih terarah. Cara pandang yang berubah juga membuat perubahan cara berpikir seseorang. Manakala ia melihat suatu kejadian dari sudut pandang baru, membuat pemaknaan yang diberikan terhadap kejadian tersebut menjadi berbeda. Diri yang menyadari kekurangan, akan memunculkan kebutuhan untuk pengembangan dan perbaikan. Sehingga upaya yang akan dilakukan kemudian, dikarenakan diri yang membutuhkan perubahan dan pengembangan, bukan karena suruhan ataupun semata saran dari orang lain/luar diri. Oleh karenanya ia telah siap untuk melangkah lebih jauh untuk mengembangkan diri dengan mempersiapkan cara berpikir yang berbeda. Dengan memproses stimulus yang baru dan berbeda, maka secara tidak sadar ia mempelajari hal yang baru, membuat penilaian baru, meningkatkan kemampuan berbahasanya serta membuat memori baru serta meningkatkan kemampuan berbahasanya. Dengan cara berpikir yang berbeda, sehingga membuat kemampuan otak akan meningkat, karena otak ‘dipaksa’ untuk berpikir secara optimal guna melihat berbagai alternatif serta sudut pandang baru yang ia dapatkan. Dengan wawasan yang lebih luas, ia akan memiliki berbagai alternatif 462 — G.E.N.C.E.
solusi yang dapat ia pilih untuk menyelesaikan permasalahan (fokus terhadap solusi), tidak melulu terjebak dalam lingkaran permasalahan akibat sudut pandang yang sempit. Belief The Oxford English Dictionary, mendefinisikan belief sebagai berikut: Suatu perasaan bahwa sesuatu itu ada atau benar, terutama hal- hal yang tidak memiliki bukti. Pendapat yang dipegang teguh yang dipercayai sebagai keimanan. Sistem keyakinan yang akan dianut oleh seseorang adalah yang paling membuat nyaman dan paling masuk akal baginya.Apa hubungan aktivitas mental dan belief? Secara biologis dan neuropsikologis, keyakinan dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari pengalaman perseptual (persepsi), evaluasi emosi, dan abstraksi kognitif yang bercampur dengan fantasi, imajinasi, dan spekulasi intuitif. Kata ‘persepsi’ merujuk pada informasi yang kita terima tentang diri sendiri dan dunia sekitar melalui indera-indera kita. Konsep kognisi mewakili tingkatan proses yang berbeda di dalam otak, termasuk semua proses konseptual abstrak yang digunakan otak kita untuk mengatur dan membuat persepsi itu masuk akal, dimana dalam aktivitas tersebut terlibat juga memori. Membuka wawasan yang berujung pada mau menerima informasi dari luar, menyaring serta mencari pembuktian akan kebenaran, secara tidak langsung hal ini menstimulasi suatu keyakinan untuk tumbuh dan berubah ketika kita berinteraksi dengan dunia luar. Jika sebuah konsep atau pengalaman tidak menghasilkan respon emosi, maka kemungkinan ia tidak akan mencapai level kesadaran. Contoh gambaran bagaimana anatomi keyakinan dibentuk ketika ia melewati berbagai pusat pengolahan di otak, yaitu : kebanyakan orang Amerika dewasa percaya akan Tuhan, tetapi tidak percaya akan adanya laki- laki tua gendut periang yang mengendap-endap masuk cerobong asap pada malam Natal. Sedangkan pada anak-anak, mereka biasanya mempercayai keduanya, percaya akan adanya peri, goblin. Namun seiring bertambahnya usia, hal itu hanya diyakini sebagai mitos. Emosi yang kuat menghasilkan memori yang kuat; dan memori saat disertai bahasa adalah landasan bagi terbentuknya keyakinan sadar. Tingkat keyakinan seperti inilah yang sering disebut “pengetahuan’, tetapi jika ia tidak memiliki daya rekat emosi, keyakinan tidak akan kukuh tertanam dalam pikiran kita. Dengan memiliki keyakinan Membedah Anatomi Peradaban Digital — 463
maka akan memudahkan seseorang untuk melakukan berbagai hal, mengoptimalkan potensi yang ia miliki, termasuk melakukan yang sebelumnya tidak terpikirkan dapat ia lakukan. Belief akan membuat seseorang bertindak dengan kesungguhan hati, bertindak secara maksimal, karena ia yakin mampu melakukannya. Faktor Pendukung Optimasi Mental Otak terdiri dari dua bagian: otak besar (cerebrum) dan otak kecil (cerebellum) yang masing-masing berfungsi untuk memproses stimulus. Otak akan benar-benar bekerja dan mengalami peningkatan fungsi apabila semua bagian otak ikut memproses stimulus. Hal ini terjadi saat kita melakukan kegiatan yang mendorong untuk aktif bergerak, mencari, mempelajari dan memahami hal baru secara tiga dimensi di dunia nyata. Memainkan game di depan layar untuk ‘mengasah otak” mungkin akan memberikan efek positif, namun belum optimal untuk meningkatkan fungsi otak jika tidak disertai berbagai pendekatan pro-otak yang holistik. Oleh karenanya aktivitas kognisi akan optimal jika dipelihara dengan baik melalui pendekatan spiritual yang baik, asupan gizi yang tepat, serta kebugaran fisik dengan melakukan aktivitas fisik yang teratur dan terukur. 464 — G.E.N.C.E.
Pemuka Agama Marthin Luther pernah mengatakan, “Ada banyak hal yang harus saya kerjakan hari ini sehingga saya perlu menyisihkan satu jam lagi untuk berdoa.” Baginya doa bukanlah tugas mekanis, melainkan merupakan sumber kekuatan dalam melepaskan dan melipatgandakan energinya. Pada orang-orang yang memiliki kesadaran spiritual yang baik, mereka memiliki keyakinan bahwa segala yang dihadapi merupakan kebaikan bagi diri. Kemudahan dan kesulitan hanyalah merupakan suatu fase yang tidak abadi, dimana semuanya saat dihadapi akan dapat menghantar diri mencapai level yang lebih baik. Oleh karenanya, mereka memahami bahwa bagian yang dapat dikontrol penuh adalah usaha dan upaya keras dalam melakukan sesuatu, sementara hasil dari upaya tersebut merupakan kewenangan Pencipta. Cara berpikir tersebut menyebabkan turunnya denyut jantung, berkurangnya nyeri kronis, dan menghapus pemikiran negatif. Hal itu dapat mendorong stabilitas emosi. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Dr. Johnstone melalui pengamatan SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography), dengan para yogi Buddhis, dan biarawati Franciscan sebagai probandusnya didapatkan hasil yang menunjukkan bagian- bagian otak apa yang mendapatkan aliran darah saat berada dalam fase kesadaran tinggi. Saat biarawan Buddhis ini berada di kesadaran yang paling tinggi, mereka menekan sebuah tombol dan pada saat itu gambaran aliran darah di otak dipetakan. Apa yang terjadi? Bagian- bagian lobus frontal menjadi sangat aktif. Pada otak seseorang yang memiliki level spiritualitas yang baik, tampak volume hippocampus kanan lebih besar secara signifikan dan grey matter (substansi kelabu) di talamus kanan juga meningkat. Demikian pula aktivitas girus temporal inferior kiri, dan korteks orbito-frontal kanan tampak meningkat jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Mind Control Ini bukan seperti yang anda bayangkan. Bukan kisah dari sudut pandang psikologi ataupun parapsikologi. Ini soal mikrobiologi. Dan mengapa sore/malam ini saya menulis soal ini? Sederhana sekali alasannya, saya baru saja ketinggalan sebuah buku yang baru Membedah Anatomi Peradaban Digital — 465
separuh saya baca. Buku keren hasil berburu di Big Bad Wolf kemaren. Judulnya 10% Human, yang nulis Alana Collen. Biasalah buku itu saya baca di mana saja dan saya taruh di mana saja juga, lalu lupa. Maka saya wajib nulis ini, karena saya tidak mau hasil separuh membaca juga raib seperti bukunya. Intinya di bab yg paling lecek karena saya bolak balik dan curat coret, Mind Control, saya mendapatkan beberapa fakta yang amat menarik. Beberapa sebenarnya saya sudah pernah baca dan pernah menuliskannya juga. Intinya Alana ingin menunjang hipotesisnya soal peran mikroba dalam hidup manusia, lebih spesifik lagi dalam tubuh manusia. What? Lalu konstruksi argumentasinya itu dibangun dengan menyodorkan beberapa fakta yang membuat kita ikut yakin dan percaya dengan pendapatnya. Fakta yang disodorkan Alana adalah seputar telaah kasus dimana mikroba berhasil memperdaya “host” atau tuan rumah yang menjadi induk semangnya. Memperbudak sih lebih tepatnya. Contoh paling awal di bab Mind Control adalah kisah tentang kodok-kodok malang di Amerika Utara yang “cacat” bawaan karena kakinya saat bermetamorfosa dari kecebong ke percil (anak kodok) jumlahnya berlebih atau jika tidak berlebih tidak tumbuh sempurna. Akibatnya kodok cacat itu jadi amat mudah dimangsa burung Heron, predatornya. Dan ternyata itu adalah sebuah skenario saudara-saudara...skenario cerdas yang agak , tricky dari sejenis makhluk mungil tak kasat mata. Bangsa Trematoda. Menginfeksi kodok adalah upayanya untuk dapat mencapai Heron. Host ideal bagi spesiesnya untuk berkembang dan bertumbuh secara optimal. Ada pertanyaan? Kok tidak langsung ke Heron? Kayaknya ada yang nanya gitu deh. Persoalannya adalah telur atau larva Trematoda keluar lewat kotoran Heron dan Heron hampir sama dengan kita, agak kurang doyan makan kotorannya sendiri... Dengan kata lain para amfibian yang lahir cacat itu dikondisikan agar cacat, agar memiliki kelainan alat gerak hingga menjadikan dirinya sasaran empuk bagi Heron. Heron sasaran akhirnya. Medium paling ideal utk menggandakan diri dan berketurunan. Maka tampilan fisik atau fenotip dari kodok yang terinfeksi “diatur” dan “direncanakan” oleh Trematoda. Dimana Trematoda membutuhkan “kendaraan” untuk mengevakuasinya ke “rumah bersalin” alias tubuh burung Heron. Burung apaan sih Heron? Tidak lain dan tidak bukan 466 — G.E.N.C.E.
adalah burung Cangak atau Kuntul yang masuk dalam keluarga Ardeidae. Hipotesa Collen juga didukung oleh fakta yang berhasil diekstraksi dari peran jamur cordyceps yang berhasil “membajak” otak semut api hingga para semut berubah menjadi “zombie” yang tetiba tidak lagi menurut pada aturan kerja kelompok dan tidak bersikap sebagaimana layaknya anggota komunitas/suku. Semut ini tiba-tiba membelot dari jalur kerja kelompoknya dan bahkan menaiki pohon sampai ketinggian 150 Cm yang tidak pernah dilakukan kelompoknya. Ternyata di atas pohon ia menyedot saripati nutrisi tumbuhan dari pembuluh kayu sedemikian keras dan banyaknya hingga ia terjatuh ke permukaan tanah dan mati. Spora-spora cordiceps segera bermunculan dan melakukan proses regenerasi. Tanpa kita sadari cordiceps telah memperalat semut untuk membantu mengambilkannya faktor-faktor nutrisi penting di pohon yang dibutuhkan, dan tidak mungkin sebagai organisme berseltunggal dapat melakukannya sendiri. Pinter. Laku bijak laku cerdas...meski tak dapat dipungkiri terkesan kejam. Contoh lain yang tidak kalah serem adalah bagaimana toksoplasma yang mampu menjadikan tikus menjadi pelacak ulung air kencing kucing. Dan tidak hanya itu saja, tikus nekat ini tidak berhenti sampai tingkat mengendus saja, melainkan mengikuti bau itu dan mendekati kucing. Lalu lanjutan ceritanya so pasti tragis kan ? Hap...kucing dengan riang mendapati dirinya mendapatkan makan siang gratis. Weird...ga juga sih. Toksoplasma mempengaruhi otak dan indera tikus karena butuh tikus untuk ditelan kucing agar toksoplasma dapat berkembang optimal, dan beranak pinak. Serta antara lain dapat mencapai host terindah mereka, manusia. Jarang kan orang memelihara tikus rumahan ? Yang ada jika tikus lewat banyak di antara kita menjerit-jerit histeris dan mencari gagang sapu untuk menggebuknya. Poor little cute mouse... Tapi ketahuilah, bahwa bagi toksoplasma, untuk mempertahankan eksistensi ia memerlukan lingkungan paling ideal yang harus mampu menyediakan semua kebutuhan dasar yang diperlukan. Dan manusia adalah surga toksoplasma. Meski tentu saja ada konsekuensi serius bagi salah satu pihak yg terlibat dalam hubungan non mutualis ini. Lalu apa yang terjadi pada manusia yang terinfeksi dari kucing? Ada perbedaan mencolok pada perilaku berdasar gender. Jika pria yang terinfeksi maka ia akan menjadi lebih agresif dalam konteks hubungan sosial, semakin longgar dalam persoalan etika dan norma yang dipercaya, dan berkurangnya rasa takut. Sebaliknya pada wanita terjadi perubahan yang meningkatkan ambang batas toleransi kepatutan Membedah Anatomi Peradaban Digital — 467
(permisiveness), lebih atraktif, memikat, dan genit. Hayo yang genit- genit jangan-jangan kena toxo loh. Yang gahar-gajar juga kena toxo kali. Apa yang sedang dilakukan toxo? Ia sedang merancang sebuah konspirasi licik untuk meningkatkan mating rate manusia... supaya pada kawin mawin begitu. Ini menjadi renungan bagi kita semua...apakah kita menikah itu dikendalikan bakteri yang ingin menjadikan bayi kita kelak sebagai kapal angkasanya? A smart little bustard alien yang sedang membangun spaceship nya di tubuh kita? Gawat ini...sungguh gawat. Apakah ini berarti jodoh kita disetir bakteri? Apakah ini juga jawaban mengapa Elly Sugigi selalu tampak menarik bagi para bujang muda yang sedang mencari eksistensi? Apakah hanya toxo yang mampu menyetir kita? Atau jangan-jangan ada bangsa Arkea atau protozoa yang juga mendorong kita berumah tangga, makan sambel pedes ,minum miras oplosan made in Cicalengka dan lain lain sebagai bagian dari konstruksi pemenuhan kepentingan dan kebutuhan mereka? Sungguh dunia ghoib yang semakin menarik untuk diselami. Menjadi wajar akhirnya jika agama mempersyaratkan faktor-faktor tertentu saat memilih pasangan dan menikah, rupanya ditujukan antara lain untuk mengurangi resiko “pembajakan” oleh para alien tak kasat mata alias faktor ghoib yang dekat sekali dengan kita. Pada kasus yang lebih serius, seorang ibu pejuang yang bernama Ellen Bolte merasa tidak puas dengan diagnosis dokter anak yang memvonis anaknya, Andrew, terkena sindroma autism. Mengapa? Karena Ellen merasa ada kejanggalan sehubungan dengan munculnya gangguan kognitif pada Andrew. Bermula dari infeksi telinga yang membuat Andrew bayi harus terus menerus mendapatkan terapi antibiotika dalam jangka panjang. Setelah infeksi telinganya sembuh mulailah didapati gejala autism yang juga diikuti gangguan saluran cerna seperti diare dan muntah. Ellen yang ulet berjuang dan terus mencari dokter yang mau mempelajari kasus Andrew. Hingga pada akhirnya ia menemukan artikel ilmiah tentang peran ekosistem dan populasi microbiota usus dengan beberapa sistem transmisi otak. Setelah serangkaian studi literatur yang amat rumit, Ellen yang bukan dokter juga bukan ahli ilmu hayati, berani berkesimpulan bahwa penyebab gejala autisme pada Andrew adalah keberadaan bakteri clostridium di usus. Lebih lanjut setelah bekerjasama dengan Dr. Richard Sandler dan Prof Finegold yang ahli mikrobiologi dengan kekhususan pada bakteri anaerob usus, didapati fakta-fakta yang cukup mengejutkan. Dugaan Ellen Bolte ada benarnya. 468 — G.E.N.C.E.
Maka meski upaya pemberian antibiotik spesifik bagi clostridium dapat menghasilkan perubahan perilaku dan parameter psikometrik pada Andrew tapi sifatnya sebagian besar tidak permanen. Setidaknya terobosan besar yang dicapai dalam hal ini adalah adanya pengetahuan baru tentang korelasi antara keberadaan bakteri di saluran cerna dengan kondisi dan kinerja otak beserta perangkatnya. Padahal jika kita rujuk lebih mendalam beberapa artikel tentang keberadaan populasi spesies mikroba tertentu di usus, tentulah tak terlepas dari faktor “pupuk” dan makanannya. Prebiotik istilah kerennya. Darimana ? Ya dari apa yang kita makan. Maka kajian ini akan menjadi sangat luas dan berspektrum pelangi, karena soal makan pasti terkait dengan kondisi geografi dan potensi sumber daya alam serta tak terlepas dari mekanisme mempertahankan diri dan adaptasi lingkungan. Seperti gurita yang pandai mimikri dan Elysia Chlorotica yang berhasil menginsersikan (menyelipkan) gen alga berhijau daun sebagai bagian dari “generator” energinya. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 469
Maka dari kajian ini dapat dikembangkan lagi konsep-konsep ketahanan nasional dan ketahanan pangan yang dibahas sampai level genom (nutrigenomic). Kalau berbicara warfare tentu saja kita bisa mulai mendesain “Kopassus” mikroba yang diarahkan untuk mengubah sifat, perilaku, dan perangai bangsa. Menjadi saling benci dan mengumbar angkara. Persis Rahwana yang meminta umur sepanjang dunia dan berakhir tragis dengan dijepit oleh 2 gunung yang berasal dari kepala anak kembarnya yang dipancungnya sendiri, Sondara-Sondari. Dari mulutnya terus keluar gelembung-gelembung mikro berisi “bibit” kejahatan. Kira-kira begitu gambarannya perang bioteknologi ke depannya. Tak hanya mikroba, mind control berarti dapat dimanipulasi melalui bahan dan jenis makanan serta ketersediaan. Populasi bakteri kan menuruti ketersediaan sumber nutrisi. Belum lagi jika manipulasi hayati ini sudah memasukkan aspek kimia fisika seperti hubungan sebab akibat antara interferensi gelombang dengan aktivitas biologis manusia. Radiasi elektromagnetik dan sifat dasar gelombang yang dapat saling berinteraksi dalam pola interferensi saling meniadakan, melemahkan, atau menguatkan bisa jadi jalan masuk. Mekanisme epigenomik dan junk DNA bisa jadi medan perang barunya. Aktivasi sifat buruk melalui manipulasi histon dan metilasi akan jadi gerbang Kurusetra. Maka pertempuran semesta di masa depan adalah pertempuran siapa yang bisa memenangkan mind control. Toksoplasma sudah lama menerapkannya... 470 — G.E.N.C.E.
Bagaimana Infrastruktur dan Sistem Transportasi Cerdas dapat Merubah Perilaku Masyarakat ? D r . d r . T a u h i d N u r Jika kita mengacu pada pernyataan Enrique Azhar, S.Ked.,M.Kes Penalosa, Walikota Bogota Kolombia periode 1998-2001, kemajuan suatu bangsa dapat dan alami sendiri di tanah air membuat kita dapat menerima dan mengerti saat Walikota Bandung Ridwan Kamil, yg lebih dikenal sebagai Kang Emil, tercermin dari pola dan perilakunya dalam tokoh populer dengan popularitas tinggi di media memanfaatkan transportasi publik. Bukan dari sosial, menempatkan indeks kebehagiaan atau jumlah banyaknya mobil pribadi di jalanan (e- happiness index sebagai indikator perubahan yang ticketing, KCJ 2016). Kasus di beberapa kota besar di perlu menjadi titik fokus pada proses perbaikan Indonesia saat ini semakin kompleks dengan kotanya, dalam hal ini Bandung. Perubahan perilaku hadirnya \"jutaan\" sepeda motor. Meski tak dapat menjadi kunci, tapi juga sekaligus membutuhkan dipungkiri kehadiran inovasi layanan transportasi prasyarat penunjang yang kehadirannya adalah online khas Indonesia seperti GoJek telah mampu bagian dari keniscayaan untuk mewujudkan meningkatkan utilitas dari sepeda motor yang perubahan yang diimpikan. Cuplikan success story semula hanya berfungsi tunggal, menjadi multi kecil dapat menjadi guidelines atau garis pemandu fungsi dengan penekanan pada fungsi ekonomi. arah perubahan yang dapat menjadi semangat Harus diakui inovasi ini adalah terobosan kreatif bersama, dengan harapan dapat direplikasi dan sekaligus solutif bagi masalah permutasi dan diimplementasikan di banyak level atau tingkatan. ledakan populasi baik di domain demogra i maupun Ilustrasi menarik yang dapat kita renungkan antara otomotif. Tapi tentu saja kapasitas jalan raya dan lain adalah kisah inspiratif tentang Kepala Polisi resiko ikutannya seperti kecelakaan dan emisi gas Kereta Api bawah tanah New York yang lebih dikenal buang tidak terpecahkan. Perlu dipertimbangkan sebagai subway di era 1980an, William Bratton. juga peningkatan pengguna jalan raya seiring dengan Bratton berhadapan dengan realita kemasyarakatan peningkatan mobilitas dan daya beli. Semua ekses ini urban yang sarat dengan kepentingan dan sudah terlihat nyata di beberapa kota seperti Jakarta p ra g m a t i s m e ya n g d iwa r n a i ra s a f r u s t a s i dan Bamdung. Kerugian inansial akibat kemacetan berkepanjangan dari sebagian warga kota yang di Ibukota dalam satu tahun telah menembus angka termarjinalkan. triliunan rupiah. Menurut prakiraan Pemprov DKI Mungkin apa yang dilakukan Bratton bagi Jakarta nilainya bahkan mendekati 67 triliun rupiah. sebagian kalangan tidak cukup signi ikan dan berarti Itu baru dari perhitungan nilai yang terukur secara karena hanya berfokus pada sekelompok kecil nominal, sementara kerugian dalam berbagai hal yg masyarakat, juga di satu sektor saja. Tapi perubahan bersifat intangible seperti tingginya tingkat stress besar, bahkan revolusi selalu terlahir dari perubahan dan kerentanan terhadap berbagai penyakit sebagai kecil yang berkesinambungan. Apakah gerakan dampak ikutannya. Belum lagi ongkos sosial yang Boedi Oetomo yang digagas segelintir mahasiswa harus dikeluarkan akibat letupan emosi yang S t o v i a ya n g t e r i n s p i ra s i p i d a t o D r. C i p t o terkadang berbuntut kekerasan di ruang publik. M a n g u n k u s u m o j a u h s e b e l u m p ro k l a m a s i Sungguh suatu permasalahan rumit dengan tingkat kemerdekaan tidak berarti ? Tanpa gerakan keacakan dan kompleksitas yang tinggi. Perlu perlawanan intelektual yang digagas Dr. Soetomo berbagai terobosan strategis yang sistematik agar dkk itu bukan tak mungkin jika sampai hari ini kita problematik kronik ini dapat diselesaikan dengan belum merdeka. Upaya William Bratton dalam pendekatan dinamik. Kenyataan yang kita cermati mendidik pengguna subway relatif sederhana, ia Membedah Anatomi Peradaban Digital — 471
hanya menghukum para pelanggar tak bertiket, Walikota New York pun menghargai dan mengakui pelaku vandal, dan tukang kencing sembarangan gagasan William Bratton itu sebagai salah satu upaya dengan \"disetrap\" alias dihukum berdiri di peron konstruktif dalam mengubah perilaku warga kota. agar terlihat oleh semua calon penumpang yang Untuk itu kelak William Bratton diangkat sebagai menunggu kereta api. Meski sederhana dan terkesan kepala polisi New York, atau Chief of NYPD. barbar, hukuman sosial ala Bratton efektif juga. Pertanyaan mendasar dari kasus-kasus perubahan Te r j a d i p e n u r u n a n j u m l a h p e l a n g g a r a n perilaku ini berkisar di soal manakah pendekatan perkeretapian cukup signi ikan. Keteraturan mulai yang harus dikedepankan ? Apakah rekayasa sosial ? dirasakan sebagai kebutuhan. Meluangkan waktu Ataukah rekayasa teknikal ? Bicara soal manusia dan untuk antre dan membeli tiket telah menjadi perilakunya tentu tak terlepas dari kompleksitas kebutuhan yang dianggap sebagai investasi sosial individual yang kemudian berkembang menjadi untuk menjamin keteraturan dan ketenangan serta kompleksitas komunal. Mengatur satu orang saja keyakinan bahwa hak-hak pengguna tidak akan sulit, apalagi mengatur sekelompok orang. Ada terabaikan atau bahkan terzalimi oleh mereka- pepatah kuno yang menyatakan bahwa satu orang mereka yang tidak berhak. Kita mengantre karena yang tengah sendirian akan menulis buku, puisi, punya pengetahuan dan kesadaran, bahkan ataupun lagu (melukis, memasak, berenang, dan kesadaran kolektif bahwa antrean adalah upaya melamun juga bisa), dua orang bertemu akan untuk mendistribusikan keadilan dalam bentuk hak mengobrol, berdiskusi, main catur, ataupun ngopi individual dengan mengatur cara serta waktu untuk bersama, tiga orang bertemu akan berserikat dan mendapatkannya. Maka upaya kecil William Bratton bersekutu, lebih dari itu bisa membuat partai politik, diapresiasi tinggi oleh penulis yang merupakan New ke l o m p o k a r i s a n , p e n g a j i a n , a t a u b a h k a n membangun perusahaan. Negara dibentuk oleh kesamaan nasib dan kepentingan yang didukung kesamaan bioantropologi termasuk bahasa dan habitat. Kita semestinya menyisakan sedikit ucapan terimakasih pada beberapa bangsa penjajah kita seperti Belanda, Portugis, Inggris, Perancis, dan Jepang yang karena kehadiran merekalah kita bisa merasakan kesamaan nasib sebagai bangsa yang ternistakan dalam belenggu penjajahan. Maka merubah perilaku sebenarnya memiliki prinsip dasar yang sama, kesamaan nasib dan kebutuhan Sistem e-ticketing yang bersifat non tunai juga membawa adalah pendorong perubahan yang paling kuat. budaya baru dalam antre dan menghargai hak-hak orang lain Bahkan dalam terminologi agama secara eksplisit agar tercipta keadilan bagi semua. disampaikan bahwa tidak akan berubah nasib suatu Yorker asli, Malcolm Galdwell, yang memasukkannya kaum jika mereka tidak mengusahakannya. Dalam secara khusus di bab IV buku best seller yang tulisan ini saya akan berfokus pada perubahan ditulisnya, Tipping Point(e-ticketing, PT. KCJ, 2016). perilaku masyarakat perkotaan, khususnya di 472 — G.E.N.C.E.
Sebagai studi kasus yang menarik, penerapan e-ticketing di jalur KCJ ternyata merupakan gerakan revolusioner yang berdampak konstruktif luar dalam. Penerapan teknologi terapan terintegrasi dalam hal tiketing kereta komuter mengubah manajemen perusahaan menjadi transparan, akuntabel, dan objektif. Laporan keuangan dan penjualan bersifat sewaktu (realtime) serta dapat membantu menjaga integritas dan kejujuran pegawai. E isiensi dapat diterapkan berdasar sistem ERP yang terintegrasi dengan sistem distribusi tiket. Salah satu commuter line yang memiliki tujuan jakarta kota. Bukan hanya itu saja, sistem e-ticketing menuntut Memiliki beberapa relasi, berawal dari stasiun Bogor.-Jakarta perubahan pada desain dan ketertiban stasiun. Untuk itu dilakukan penertiban besar-besaran Kota. wilayah Jabodetabek pada khususnya dan Jawa pada stasiun di wilayah Jabodetabek. Bukan perkara umumnya yang terjadi karena adanya rekayasa gampang, karena negara ini tanpa disadari menganut teknososial melalui layanan jasa dan sistem budaya hegemoni dominan dan mengalami perkeretapian. Sebagai penumpang KA dan degenerasi hukum akibat lemahnya law of commuter line/CL yang merasa amat tertolong enforcement yang digerus oleh mekanisme dengan sarana dan prasarana perkeretapian yang transaksional dalam konteks pelacuran kekuasaan. semakin aman, nyaman, dan menjanjikan kepastian Siapa yang berkuasa dan punya kewenangan dapat dalam hal waktu dan keselamatan perjalanan. membarternya dengan keuntungan pribadi. Maka Sebagai pemegang kartu elektronik multitrip yang tak heran jika stasiun-stasiun yang merupakan asset juga sudah terintegrasi dengan teknologi POS (point negara atau milik rakyat banyak, dikuasai oleh of sales) dan penyelenggara e-money lainnya, pedagang dan preman serta kelompok preman yang kenyamanan dalam mengakses fasilitas KCJ tidak berhak atas penguasaan lahan. Ironisnya tak (Keretapi Commuter Jakarta) sudah maujud sebagai j a ra n g p ra k t i k- p ra k t i k t e r s e b u t d i s o ko n g sebuah keniscayaan yang menyejukkan di ibukota. sepenuhnya oleh para pejabat yang berwenang, Tapi tak hanya itu saja, penerapan konsep e-ticketing seperti kepala stasiun setempat. Tentu dengan di semua stasiun CL Jabodetabek telah berperan imbalan keuntungan yang berlipat dari jumlah wajar signi ikan dalam merubah perilaku konsumen yang penghasilan sebagai karyawan. Budaya permisif dan dalam hal ini adalah warga DKI dan sekitarnya, dalam toleransi yang tidak tepat sasaran mengakibatkan konteks positif untuk mau berproses mengantre dan lahirnya budaya jual-beli kekuasaan yang sangat tertib dalam memanfaatkan fasilitas transportasi. pragmatik. Cara berpikir menjadi pendek dan Sebenarnya bukan hanya masyarakat Jabodetabek sempit, nilai moral dan etika termarjinalkan secara saja, melainkan mengintrusi pula warga daerah sempurna. Maka penertiban untuk membuat stasiun penunjang atau sub urban seperti penduduk steril dengan penerapan tiket elektronik yang Rangkas Bitung dan Maja yang notabene berbeda membutuhkan gate turn stiles menutup potensi propinsi dan budaya. orang yang tidak berkepentingan keluar masuk area Membedah Anatomi Peradaban Digital — 473
peron. Tapi persoalan tidak sesederhana resistensi aparat yang terbiasa menjadi \"pelindung\" bisnis penertiban belaka,, e-ticketing membutuhkan itur- itur kompleks terkait dengan fungsi yang melekat Selain Commuter Line, Transjakarta merupakan transportasi dan karakter masyarakat. Bagaimana masyarakat umum yang memiliki integrasi dengan e-ticketing dan e money, tidak menghilangkan kartu, mau tap in dan tap out di sehingga memudahkan para pelaku urban dari daerah periperi stasiun awal dan tujuan. Bagaimana jika saldo kartu kurang atau kartu hilang ? Belakangan juga muncul haram yang marak di negeri ini. Edo terinspirasi masalah sekaligus potensi bisnis, park and ride. nasihat Pak Jonan yang bertanya setengah retoris, Bagaimana komuter menyediakan parkir kendaraan Mau menjadi bagian dari sejarah atau hanya menjadi yang digunakan sebagai feeder dari permukiman ke pembaca sejarah ? Kesulitan tentu sudah diprediksi, stasiun ? Parkir mobil, motor, dan sepeda harus meski ternyata dalam merubah peradaban kesulitan tersedia. Lebih ideal jika ada angkutan massal skala yang dihadapi terkadang jauh lebih \"mengerikan\" kecil sebagai pengumpan dari kawasan permukiman dibandingkan prakiraan. Mungkin kondisi semacam dll. Penertiban stasiun mengajarkan kita pada inilah yang dihadapi Rasulullah Saw di masa awal budaya menghargai hak dan kepemilikan yang sah syiar pasca menerima wahyu yang pertama. Siapa secara hukum. Saat hukum bisa ditegakkan maka yang bisa menduga bahwa sekitar 13 abad kemudian hak-hak individual dan komunal dapat terlindungi ajaran yang beliau sampaikan diakui dunia sebagai dan tidak saling beririsan atau berhadapan secara pengubah utama peradaban manusia ? Demikianlah diametral dalam kon lik kepentingan. Semua ini perjuangan dimulai. Orang-orang gila seperti Tri memerlukan visi perubahan berdurasi jangka Handoyo dan Tri Setyo dari PT. KCJ dan Telkomsigma, panjang yang menjangkau jauh ke masa depan. Ini s e r t a M a s R i a t ya n g m e n j a d i G M I T ya n g adalah buah kepemimpinan visioner yang sangat bertanggungjawab pada proses reformasi sistem kuat dari seorang Ignasius Jonan dan Kuncoro komutasi terkomputasi (smart system) adalah para Wibowo duet maut direksi kereta api yang justru \"pahlawan\" garda depan yang punya keyakinan s a m a s e k a l i t i d a k p u n y a p e n g a l a m a n d i bahwa mimpi bisa dan bahkan wajib diwujudkan. perkeretapian. Bankers dan eksekutif teleko ini bersama Mas Wimbo yang juga berlatar teleko menakhodai PT. Kereta Api Indonesia dan membumikan cita-cita mereka tentang Indonesia yang lebih baik melalui program kongkret yang terencana meski agak \"gila\" dan dianggap utopia. Kehebatan duet Jonan dan Kuncoro ini antara lain tampak dari kemampuan mereka mempengaruhi dan menginspirasi tim mereka hingga semua punya tujuan mulia yang sama. Dwiyana SR alias Bang Edo, Wa k a d a o p s I J a k a r t a p u n y a t u g a s b e r a t membersihkan dan menegakkan hukum di stasiun yang diperuntukkan bagi layanan komuter. Yang dihadapi bukan hanya preman tapi kadang juga 474 — G.E.N.C.E.
Kesulitan demi kesulitan datang silih berganti terupdate secara otomatis. Bahkan pengguna dan seperti membanjir tiada henti. Tapi bukankah aplikasi mobile resmi dari kereta api kini sudah dapat setelah kesulitan akan datang kemudahan ? Dan menggunakan e-boardingpass langsung di gate kesulitan itu ibarat badai yang menempatkan keberangkatan dengan menunjukkan display gawai seorang nakhoda di samudera, menguatkan dan pintar. Tak lama kemudian semangat inovasi ini mencerdaskannya untuk bijak dalam bersikap dan menular pada moda-moda transportasi lainnya mengambil tindakan. Sungguh luar biasa upaya tim seperti penerbangan dan bus malam. Perubahan kereta api dalam mengembalikan marwah bangsa terjadi secara bertahap dan perlahan menjadi bagian yang tercermin dari ketertiban dan kepedulian yang dari gaya hidup berkeadaban. menjadi indikator kecerdasan sosial yang bersifat Lalu pertanyaan paling fundamental yang empatik sekaligus mendidik untuk peduli pada orang bisa menjadi bagian dari kurikulum revolusi mental lain dan kelak pada gilirannya pada bangsa dan adalah, apakah yang menjadi dasar manusia mau negara serta kemanusiaan secara universal. Inilah b e r u b a h ? K a j i a n d a r i a s p e k n e u r o s a i n s bibit utama dari konsep rahmatan lil alamin. menunjukkan bahwa manusia punya kecenderungan Perubahan kecil pada akhirnya menjadi gelombang untuk terpolarisasi dalam gaya tarik menarik antara pendidikan massa yang luar biasa. Kedisiplinan kenyamanan dan kesengsaraan. Teori ini diusung tercipta, kebersihan terjaga, dan pada akhirnya oleh Millon. Sederhananya seorang manusia kenyamanan terbangun tanpa disadari melalui cenderung akan bertahan di zona nyaman seiring bangunan kesadaran bersama. Stasiun-stasiun dengan semakin kuatnya keyakinan bahwa stagnansi menjadi cantik dan nyaman. Keamanan relatif sangat adalah kontraversi dari perubahan. Ketidak pastian terjamin. Peron sangat kondusif bagi gerakan atau uncertainty dalam proses perubahan adalah penumpang naik dan turun. Permutasi manusia di momok bagi mereka-mereka yang sudah terbenam lingkungan seputar stasiun tertata dan angkutan dalam lautan kenyamanan (comfort zone). Dalam publik lainnya mau tidak mau tergerak untuk pendekatan senada Skinner memperlihatkan suatu mengikuti arus dan irama perubahan menuju kondisi penelitian perubahan perilaku berdasar stimulus lebih tertata. yang diterima. Konsep ini terintegrasi meski dengan sistem yang terpisah dengan sistem ticketing jarak jauh di Stimulus yang diberikan harus mencakup lima aspek sehingga perusahaan induk kereta api. Kedua model ticketing dapat merubah perilaku seseorang. kereta ini berhasil merubah perilaku pelanggan keretapi. Pemanfaatan teknologi informasi membuat pelanggan dapat merencanakan perjalanannya lebih baik dan memiliki kemudahan dalam proses booking dan transaksi. Bahkan pembelian tiket dapat bersifat multi channel serta pembayaran pun dapat dilakukan melalui berbagai model. Perkembangan terakhir, pembelian di stasiun sudah lebih memanfaatkan vending machine dan diberlakukannya proses check in yang membuat aktualisasi data penumpang dapat Membedah Anatomi Peradaban Digital — 475
Seekor tikus yang terkurung di kandang dan University of Southern California/USC's memberi secara tidak sengaja menyentuh tombol rahasia, gambaran objektif tentang area otak yang terlibat akan mendapati dirinya dihujani pakan yang dalam proses \"penolakan\" untuk merubah keyakinan mengenyangkan. Sekali dua kali tikus itu belum dan kebiasaan. Meski sebenarnya riset Kaplan lebih menyadari pola dan masih menduga itu adalah ditunjukkan untuk menilai perilaku dan pilihan insidensi. Tetapi setelah beberapa kali, muncul pola politik seseorang. Berikut kutipan dari hasil habituasi dan pemahaman terhadap korelasi arti wawancara Kaplan di salah satu situs sains populer; tombol dan hadirnya pakan. Demikianlah pada “After reading each statement, each participant was akhirnya tikus tersebut menjadi bertambah cerdas shown evidence challenging the statement. While they dan dengan kesengajaan mendatangi tombol jika ia were reading the statements and counter-evidence, lapar. Pada percobaan kedua dengan setting yang their brains were scanned in a functional MRI sama, tombol bukan berfungsi menghadirkan pakan machine. melainkan penderitaan. Dimana penderitaan itu Then, the participants completed questionnaires berupa sengatan listrik yang dialirkan melalui lantai intended to gauge just how strongly they agreed with kandang. Semula pola ketidaksengajaan diyakini each statement they had seen. After examining the sebagai bagian dari fenomena. Tetapi lambat laun brain scans, the researchers found that when the muncul kesadaran, bahwa ada pola terkait antara participants were presented with evidence that tombol dan setrum di lantai. Maka tikuspun menjadi challenged the political statements they agreed with, pandai menghindari. Percobaan ketiga, si tombol increased activity occurred in the dorsomedial tidak berfungsi apa2. Disentuh, disenggol, atau prefrontal cortex and decreased activity in the diinjak pun tidak ada reaksi apa-apa. Maka tikus pun orbitofrontal cortex.” tidak memberi makna apapun pada kehadiran -The dorsomedial prefrontal cortex is associated tombol. Skinner menamakan pola pertama dan kedua with emotion regulation and the orbitofrontal sebagai positive dan negative reinforcement . Penting cortex with cognitive lexibility, Kaplan sekali kita memahami ini dalam konsep perubahan. (sciencedaily.com Dec, 2016). Seseorang cenderung mau untuk berubah jika mampu memetakan dan melihat bene it yang akan dapat dinikmati. Dalam konteks neurosains Sebagaimana padai tpendapat Kapla, fungsi OFC atau mekanisme ini disebut sebagai reward anticipation orbitofrontal cortex itu lebih pada pertimbangan dan yang antara lain diperankan oleh ventral tegmental mendeteksi error sebelum sebuah keputusan diambil sehingga area/VTA, salah satu struktur sub kortikal yang sering dikaitkan dengan leksibilitas kognitif. Fleksibel dalam memiliki hubungan fungsional dengan sistem limbik menilai situasi. Sedangkan dorsolateral PFC lebih berperan dan area prefrontal cortex sebagai pengelola fungsi eksekutif (executive function). sebagai regulator emosi. Salah satu penelitian yang amat menarik tentang reaksi otak manusia terhadap \"tantangan\" terhadap apa yang sudah diyakini tergambar dari pencitraan fungsional MRI. Penelitian yang dipimpin oleh Jonas Kaplan dari Brain and Creativity Institute , 476 — G.E.N.C.E.
S a a t m a n u s i a \" d i t a n t a n g \" a t a u -TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA- digiring/dikondisikan untuk berubah, maka timbul reaksi otak yang ditandai dengan peningkatan aktivitas emosi dan penurunan leksibilitas kognitif. Marah dan mengeluh adalah respon normal di awal perubahan. Penolakan adalah hal wajar saat zona nyaman terusik di saat asyik. Tetapi upaya konstruktif untuk memberikan kesadaran melalui pengalaman personal akan membawa pengertian baru tentang reward yang menjadi bene it komunal. Maka upaya tegas dan tak kenal lelah jajaran PT. KCJ (penyelenggara komuter Indonesia) dan manajemen PT. Kereta Api dalam mendidik masyarakat melalui sistem dan peraturan mungkin dapat menjadi model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengakselerasi perbaikan peradaban. Tampak keras dan kejam di awal, tapi sangat logis dan rasional mengingat dampak yang ditimbulkan adalah bagian tak terpisahkan dari upaya untuk membangun karakter bangsa. Bahkan karena semula sulit dimengerti dan dianggap tidak berempati pada lapisan masyarakat tertentu yang mengais rezeki dari sektor informal, mahasiswa sebuah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia pun turut berperan aktif mendemo PT. KAI dan KCJ. Belakangan sebagian besar mahasiswa kampus tersebutlah penikmat utama layanan kereta komuter yang semakin nyaman. Demikianlah sekelumit tulisan singkat tentang upaya konstruktif merubah Indonesia secara sistematis melalui berbagai penerapan sistem cerdas (smart system') yang dalam artikel pendek ini dicontohkan dengan kajian pada pengembangan sistem transportasi cerdas di layanan komuter Ibukota. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 477
Mengelola Sampah dan Limbah Secara Berkesinambungan “Sampah adalah sesuatu yang berharga, karenanya kita harus membuang sampah pada tempatnya. Jika tidak akibat yang kita tidak akan pernah terduga.” -Dr. dr. Tauhid Nur Azhar, S.Ked.,M.Kes, P3K (Penulis Pengajar Petualang Kesehatan) Supported Design by : 478 — G.E.N.C.E.
Manusia dalam menjalani proses hidupnya senantiasa harinya yang diproduksi masyarakat Indonesia. Jumlah ini naik satu memproduksi limbah yang terbagi dalam banyak kategori. ton dibandingkan produksi 2015 sekitar 64 juta ton sampah perhari.\" Ada limbah atau sampah konsumsi, padat, cair, Sebagai ibukota yang padat penduduk dan penglaju (komuter), Jakarta biodegradable , recycleable atau juga toksik dan berbahaya. Bahkan memproduksi 70 ribu ton/hari. Sebagian berakhir di TPA Bantar bentuknya bisa beraneka dan terkadang bahkan tak kasat mata. Misal Gebang, sebagian lagi masuk ke aliran sungai Ciliwung dan emisi gas buang, polusi udara, dan radiasi radioaktif serta medan bersemayam di Teluk Jakarta. Tak heran jika ada beberapa penelitian elektromagnetik. Baru dari kategori organik dan anorganik saja kita PhD ilmu kelautan dari berbagai institusi dan negara yang menilai sudah kebingungan mengelolanya. Daerah aliran sungai di pulau Jawa kandungan berbagai polutan seperti logam berat dan merkuri (Hg) di dan Sumatera seperti Citarum, Ciliwung, atau Brantas, dan Musi di Teluk Jakarta sudah memasuki tahap gawat alias kritis. Baru saja Sumatera adalah contoh betapa sungai adalah pilihan paling ekonomis dipublikasi oleh media, baik daring maupun konvensional, hasil survey sebagai tempat pembuangan sampah. Ideal sekali. Sampah dilempar awal dari tim Kodam III Siliwangi yang dirilis oleh Kapendam, dan segera hanyut menjauh. Kalaupun disadari akan ada dampak, dinyatakan sekurangnya ada 31 entitas bisnis yang dengan sengaja itupun terukur karena diketahui bersifat tidak langsung dan yang membuang limbahnya ke sungai Citarum dan anak2 sungainya. terkena ekses pun bukan kita. Pola berpikir yang memarjinalkan nilai Ironisnya semakin maju peradaban manusia yang ditandai semakin konektivitas dan hukum sebab akibat ini teramat naif. Multiplier effect pesatnya pemanfaatan ilmu pengetahuan dalam pengembangan yang dapat terjadi langsung ataupun tidak langsung pasti akan teknologi berdampak pula pada meningkatnya kualitas kesehatan dan berdampak pada kita semua. Sungai yang tercemar, angka kesakitan perbaikan daya beli. Konsekuensi wajar yang dapat terjadi adalah meningkat, bencana alam antropogenik dll, selain menimbulkan ledakan populasi (population overgrowth) dan ledakan limbah baik kerugian material juga akan berdampak pada alokasi anggaran negara rumah tangga maupun industri yang menyertainya. Sebagai contoh yang secara tidak langsung akan menimbulkan pengurangan Indonesia di tahun 2019 saja, masih menurut Dirjen Pengelolan pembiayaan di sektor lain seperti pendidikan. Lalu kerusakan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK, total jumlah sampah akan mencapai lingkungan yang tidak dapat diperbaiki akan menghadirkan krisis 68 juta ton, dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta daya dukung. Tentu saja kompleksitas permasalahan ini bukan tanpa ton atau 14 persen dari total sampah yang ada. Parah sekali bukan. harapan untuk dicarikan jalan keluar. Berbicara data, berapa produksi Apalagi sampah plastik itu memerlukan waktu untuk terurai ratusan sampah di Indonesia setiap harinya? Direktur Jendral Pengelolaan tahun. Padahal menurut Menko Maritim, Jenderal (Pur) Luhut Binsar Sampah, Limbah dan Bahan Beracun (Dirjen PSLB3) Kementerian Panjaitan, produksi sampah plastik kita di lautan mencapai 0,48 Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Tuti Hendrawati Mintarsih sampai dengan 1,29 juta ton pertahun. Dengan pertimbangan waktu memberi jawabannya. “Tahun 2016 ada sekitar 65 juta ton sampah per endap dan urai yang lambat, maka kemungkinan besar gangguan Supported Design by : Membedah Anatomi Peradaban Digital — 479
Proses pirolisis sampah plastik merupakan proses dekomposisi senyawa organik yang terdapat dalam plastik melalui proses pemanasan dengan sedikit atau tanpa melibatkan oksigen. Pada proses pirolisis senyawa hidrokarbon rantai panjang yang terdapat pada plastik diharapkan dapat diubah menjadi senyawa hidrokarbon yang lebih pendek dan dapat dijadikan sebagai bahan bakar alternatif. Pengolahan Sampah Plastik dengan Metoda Pirolisis menjadi Bahan Bakar Minyak (Endang K, dkk ) Masalah ini diperberat pula dengan terdegradasinya daya limbah organik dari pasar dan rumah tangga mengacaukan dukung lingkungan akibat eksploitasi lingkungan yang berlebih. kondusivitas perairan yang ditandai antara lain dengan berubahnya Kebutuhan konsumtif dalam ranah pangan membuat konversi lahan biological oxygen demand atau BOD. Tapi manusia memang makhluk tidak terkendali. Daerah tutupan tanaman keras di DAS Citarum unik, di saat sebagian dari kita berkutat dan terbenam dalam menurut pusat layanan penginderaan jauh Lapan hanya berkisar pragmatisme kronis yang melahirkan kondisi hedonis praksis, maka sekitar 8,9% saja. Selebihnya termasuk di tebing dengan sudut curam ada sebagain lain sibuk berkutat mencari solusi melalui berbagai rawan erosi ditanami tanaman semusim yang homogen hingga inovasi. Salah satunya tentu Pak Muryani di Blitar dan Pak Hamidi di menghilangkan potensi untuk menjadi bagian konservasi tanah dan Tangerang Banten. Pak Muryani yang kini kondang karena diliput air. Apa yang terjadi ? Sedimentasi meningkat tajam, diprakirakan di media (sampai Hitam-Putih Trans7 nya Mas Deddy Corbuzier pun DAS Citarum saat ini laju endapan berkisar sekitar 8650 ton/ tahun. meliput dan mengundang beliau) dan memenangkan lomba inovasi Sungai mendangkal, limbah kimia seperti logam berat mengendap, dan lingkungan tingkat Propinsi. Inovasi beliau adalah mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar minyak seperti bensin, solar, dan kerosene. Dalam bahasa kimia, proses yang dilakukan dengan bantuan pemanasan untuk mengubahsuai rantai polimer hidrokarbon hingga dapat menjadi bahan bakar ini dinamakan pirolisis. Dr. Madhukar dari IIP (Indian Institute of Petroleum) memperkenalkan konsep pirolisis dengan menggunakan suhu tinggi dan konversi katalitik yang diikuti dengan proses kondensasi untuk mencairkan kembali fraksi gas yang terbentuk. Gugus atau rantai poliolen seperti polietilen dan polipropilen adalah struktur terbanyak dalam limbah plastik komersial/konsumtif. Catatan Kementerian LHK, dari anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) saja dalam 1 tahun dihasilkan 10,95 juta lembar kantong plastik yang jika dihamparkan kira2 setara dengan 65,7 hektar atau seluas 60x lapang bola. Bayangkan ! Tapi dengan pirolisis 1 Kg plastik poliolen dapat menghasilkan 650-700 ml bensin atau 850 ml solar, atau 450-500 ml produk aromatik. Sedangkan low density polyethylene/LDPE yang banyak terdapat di kemasan makanan, botol Aqua/ air mineral, keresek Supported Design by : 480 — G.E.N.C.E.
4 R Reduce RReecUyscele ReCreate yang banyak mengandung monomer etilen dapat diubah menjadi bermikrokontrol (smart farming) di struktur atap halte busway sebagai polimer bahan bakar cair dengan pemanasan sekitar 400-�00� C upaya mereduksi emisi gas buang secara biologi (dengan tanaman dengan menggunakan katalis Kaolin. Persoalannya bukan hanya pengonsumsi CO/CO2 tinggi), dan dapat dikonsumsi serta tentu terletak pada desain tanur atau reaktornya saja, melainkan efektivitas memiliki fungsi estetika. Untuk catudaya sistem pompa air bahan bakar untuk pemanasnya. sprayer/penyemprot lahan hidro/aeroponik itu kami berencana menggunakan teknologi coating atap dengan lapisan nano partikel Pada tahun 2013/2014 saya dan tim elektro FTUI pernah penyerap cahaya yang dikembangkan oleh Prof Mikrajuddin Abdullah mengajukan usul inovatif dalam upaya mengoptimalkan \"panen\" air, dari Fisika ITB. Atap halte yang dicoating partikel nano (antara lain dimana saat musim penghujan di kota-kota besar seperti Jakarta, air TiO2) yang peka cahaya akan hasilkan listrik tidak hanya untuk berlimpah bahkan dianggap sebagai musibah karena memicu catudaya mikrokontrol dan pompa, tapi juga dapat menjadi sumber terjadinya banjir. Padahal air melimpah karena berkurangnya daya energi penerangan dan fasilitas WiFi. serap lahan hijau, volume badan sungai yang mengisut, dan subsidiens permukaan air tanah yang terus berlanjut dengan penurunan Saya juga pernah belajar banyak dari salah seorang walikota permukaan tanah, seperti yang teridentikasi di gedung2 pencakar inspiratif Malang yang mengelola limbah kotoran manusia di langit sepanjang Jl. Thamrin. Ketiadaan kolam retensi baik yang alami sepanjang DAS Brantas yang melintas di kotanya dengan membangun maupun buatan mendorong air secepatnya mencari jalan pintas ke laut. septic tank massal yang menampung limbah warga agar tidak Jika jalan pintasnya itu sungai yang bantarannya menyempit dan dangkal, lalu lautnya tengah mengalami pasang naik (rob) maka yang terjadi tentu banjir. Dan karena minim jumlah air yang bisa diserap lingkungan, terutama di daerah yang disebut area tangkapan air (catchment area), maka pada saat musim kemarau terjadilah kekeringan yang mengenaskan. Maka tim Merapi dulu punya Inovasi Storm untuk memanen air hujan dan mengurangi jumlah gelontoran permukaan (run off) saat hujan melanda dengan membuat kolam2 tampung bawah tanah di bawah halte busway. Pertimbangannya adalah halte busway itu masif dan tersebar di semua wilayah serta tidak akan ada masalah pembebasan lahan karena itu ada di tanah Pemda atau di sempadan jalan yang merupakan garis hijau. Konsep bak tampung air ini kami integrasikan dengan vertikultur hidroponik Supported Design by : Membedah Anatomi Peradaban Digital — 481
Protecting OWuirthPlYaonuet Starts angsung dibuang ke sungai. Konsep ini berhasil, dan selain dapat pemanfaatan bioteknologi yang tepat. Saat ini banyak hasil riset tentang menghasilkan air limbah dengan baku mutu yang aman untuk mikroba dan proses enzimatik yang dapat digunakan untuk dikembalikan ke sungai, juga bisa menjadi energi untuk keperluan mempercepat reaksi pembentukan gas. Bahkan dengan bercermin pada sehari-hari. Bagaimana jika ada kota di Indonesia yang mau dan konsep yang digagas Lovelock, kita dapat menangkap karbon dioksida mampu membuat Giant Sewage Water Treatment yang menjadi septic dan monoksida hasil emisi gas buang perkotaan dari sektor transportasi tank raksasa yang menampung tinja orang sekota, ini bakal dahsyat dan industri dan berbagai gas dari limbah organik (khususnya yang banget. Terlebih jika diintegrasikan secara holistik dengan pusat memiliki gugus H dan -OH) lalu mengubahnya menjadi metana dan insinerasi, pengolahan limbah domestik organik, dan proses konversi hidrogen untuk fuelcell , maka kita akan punya sumber energi alternatif limbah plastik menjadi bahan bakar dan aspal (saat ini Pusat Penelitian yang sangat besar dan terbaharukan. dan Pengembangan Teknologi Jalan dan Jembatan KemenPUPR telah menguji coba aspal bersumber dari limbah plastik). Betapa besar energi Akhirul kata, jika kita mampu berpikir dan mengembangkan metana yang dapat dihasilkan, terlebih jika dibantu dengan konsep berteknologi secara holistik dan multi perspektif kita dapat mengelola limbah kita sendiri secara bijaksana dan bahkan mendapatkan multi manfaat. Sehat salah satunya. Multiplier effect secara ekonomi juga Insya Allah akan terjadi, perbaikan lingkungan hampir pasti, dan jelas kebutuhan energi yang semakin mendekati krisis ini akan sedikit teratasi. Di Tempat Yang Dirindukan, 29 Januari 2018 Penulis Supported Design by : 482 — G.E.N.C.E.
EPILOG D’où Venons-Nous? Que Sommes-Nous? Où Allons-Nous? oleh TAUHID NUR AZHAR Frasa di atas jika diterjemahkan secara bebas dapat diartikan sebagai dari mana kita, siapa kita, mau ke mana kita. Kalimat aslinya ditulis oleh Paul Gaugin (1897) di pojok kanan salah satu lukisan legendarisnya sekaligus menjadi judul lukisannya. Pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Nabi Ibrahim as., “Min aina, ila aina?” Dari mana dan hendak ke manakah gerangan kita ini? Kondisi inilah yang saat ini tengah kita hadapi, badai teknologi yang mendorong turbulensi peradaban dan jungkir baliknya tata nilai yang selama ini diyakini. Revolusi peradaban yang dimulai semenjak ditemukannya api lalu diikuti dengan penemuan bahasa tulis dan metoda komunikasi multikanal, mendapat energi baru hingga terakselerasi dengan kecepatan ultratinggi yang bahkan kita tak tahu serta tak punya mekanisme pengereman untuk menghentikannya. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 483
Pesatnya perkembangan otak manusia telah menghantarkan aneka perubahan mendasar dalam upaya meningkatkan kualitas hidup seiring dengan lahirnya berbagai penemuan yang merupakan bagian dari sifat prokreasi manusia. Beberapa hipotesa tentang kemajuan pesat otak manusia menempatkan revolusi nutrisi sebagai salah satu penyebab utama karena setelah ditemukannya teknik memasak, diduga kandungan nutrisi dari berbagai bahan alam dapat diserap dan digunakan lebih optimal oleh sistem tubuh manusia. Sebagai contoh, keberadaan asam amino prekursor nitrik oksida (NO) dan glutamat dari berbagai jenis protein yang menjadi lebih mudah diserap akan meningkatkan kualitas kinerja sel-sel neuron baik dalam hal transmisi sinaptik maupun pembentukan jaringan baru atau neurogenesis. Peningkatan kinerja neurofisiologi dari otak manusia tentu punya kontribusi signifikan dalam proses prokreasi. Manusia membutuhkan inovasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pencarian solusi masalah kehidupan. Teori psikologi Millon menempatkan manusia sebagai makhluk 484 — G.E.N.C.E.
yang terpolarisasi antara kondisi menghindari kesakitan atau ketidaknyamanan dengan kondisi kenikmatan nan bergelimang kesenangan. Tentu manusia berkecenderungan untuk mempertahankan kesenangan yang menjadi bagian dari mekanisme reward sekaligus juga pencetus munculnya kondisi adiksi. Kecanduan pada kemudahan dan kenikmatan. Perkembangan aspek kognitif manusia membawanya sebagai makhluk yang bersifat substitutif alias mampu mencari dan menjadi pengganti dari suatu fungsi alam yang bisa didapatkan dengan melakukan alih fungsi (misal lahan) atau juga memanfaatkan potensi yang iddle. Tidak berhenti hanya di situ saja, manusia pun berkembang sebagai makhluk komplementatif, saling melengkapi dan berkolaborasi. Untuk itu diperlukan pola-pola interaksi dan model- model komunikasi yang dapat mewadahi kebutuhan tersebut. Jika kedua fungsi tersebut telah berhasil terpenuhi, maka akan muncul fungsi augmentasi atau memperkaya fungsi dan memberi nilai tambah. Ilmu dan teknologi telah menghantarkan manusia untuk Membedah Anatomi Peradaban Digital — 485
memberi nilai tambah pada gelombang elektromagnetik sebagai media data dalam proses komunikasi, tentu nilai tambahnya bagi manusia (antroposentrik) bukan bagi gelombang elektromagnetiknya. *** Dengan segenap keunggulan tersebut terjadilah ledakan populasi yang dibalas oleh manusia dengan melahirkan revolusi industri. The reign of machine dimulai. Manusia-manusia nan cerdas mulai berpikir bahwa kekuatan magis imajinasi yang berpadu dengan intelegensi dan daya ungkit lainnya mengerucut pada pola solutif cepat dan cenderung impulsif tanpa disertai banyak pertimbangan tentang dampak yang mungkin ditimbulkan. Padahal manusia telah dikaruniai piranti canggih untuk mengevaluasi dan memfiltrasi keputusannya agar bersifat solutif sekaligus meminimalisasi dampak yang tidak diharapkan dalam jangka panjang. Prosesor pengambilan keputusan yang melekat sebagai bagian dari keistimewaan manusia terletak di daerah frontalis otaknya, tepatnya di area prefrontalis yang antara lain terdiri dari orbitofrontal cortex yang bersama- sama ventromedial prefrontal cortex melakukan evaluasi nilai berdasar asupan dari reward mechanism yang diperankan oleh struktur sub kortikalis; ventral tegmental area dan nukleus akumben. Keinginan adalah versi kebutuhan yang diekstensi atau diamplifikasi sehingga menjadi prasyarat kesenangan. Contoh ketika seseorang lapar itu adalah serangkaian pesan yang disampaikan oleh sel-sel tubuh yang memerlukan asupan energi melalui serangkaian proses hormonal dan enzimatis yang berakhir di jaringan syaraf, dan muncul sebagai sebuah sensasi sekaligus motivasi yang lahir dari eksplorasi memori untuk mencari solusi berupa tentu saja proses asupan nutrisi. Akan tetapi, proses tidak berjalan secara linier seperti yang kita duga, adanya memori dan kesan mendalam terhadap rasa dan bentuk terkait rasa tersebut membuat kita tak hanya lapar dan butuh makan, melainkan secara spesifik kita dapat menginginkan suatu jenis makanan yang kita anggap sesuai selera. Jadi bisa saja antara kebutuhan dan 486 — G.E.N.C.E.
keinginan pemenuhannya sama, atau bisa jadi sama sekali berbeda. Semakin lebar perbedaan ini semakin lebar pula jurang kufur yang akan melahirkan keluh kesah, kekecewaan, serta kesedihan. Jejaring indera sensoris yang menghasilkan proses belajar dan menginginkan melibatkan batang otak, sistem limbik, sampai area ventromedial prefrontal cortex yang maujud dalam emosi. Sementara itu, di sisi lain secara paralel daerah otak yang dikenal sebagai girus frontalis inferior mendorong area yang sama (ventromedial prefrontal cortex) dan dorsolateral prefrontal cortex untuk melakukan kendali diri. Untuk dapat mengevaluasi dan mengendalikan diri (keinginan) tentu diperlukan referensi dan preferensi yang antara lain dihasilkan oleh kerja daerah dorsolateral prefrontal cortex dan korteks singulata anterior yang bertanggungjawab mengelola aspek kognisi. Maka, keputusan cerdas seorang manusia semestinya bersifat solutif, seimbang, penuh kepedulian, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam jangka panjang. Kelemahan pola pikir yang manusiawi dapat terjadi karena ketidakseimbangan sistem rasional dalam menentukan proporsionalitas dominasi jalur “pengaruh” pada sistem pengambilan keputusan. Kecemasan dan ketakutan akan mendorong sistem pengambilan keputusan cenderung memperturutkan desakan emosi untuk mencari cara tercepat dan termudah untuk menghilangkan kesakitan dan mendapatkan kesenangan. Pada titik ini, fungsi kognisi yang menghasilkan intelektualitas kalah suara dengan desakan untuk memilih solusi instan yang bersifat impulsif. Apakah aspek kecepatan dalam mengambil keputusan memang kurang penting? Tentu saja tidak, bahkan dalam banyak hal kecepatan dalam mengambil keputusan dapat menyelamatkan banyak kepentingan, bahkan kehidupan. Tentu saja, akan sangat ideal apabila kecepatan itu diimbangi dengan komprehensifitas pertimbangan yang dilakukan sehingga mampu mengelimininasi dampak yang tidak diharapkan. *** Sebagai gambaran algoritma pengambilan keputusan yang baik perlu mempertimbangkan sejumlah pertanyaan eksekutif sebagai berikut: Apa yang terjadi jika saya melakukan X? Membedah Anatomi Peradaban Digital — 487
Apa yang terjadi jika saya tidak melakukan X? Apa yang tidak terjadi jika saya melakukan X? Apa yang tidak terjadi jika saya tidak melakukan X? Terasa aneh dan lucu ya? Sebenarnya tidak juga. Jika kita memperhatikan cara kerja otak, khususnya area prefrontal cortex dalam menjalankan fungsinya untuk mencapai tujuan (fungsi eksekutif) maka secara paralel akan terlihat bahwa ada tiga fungsi dengan sifat khusus yang berjalan secara bersamaan. Sifat pertama adalah reward driven approach –yang dipengaruhi oleh motif dasar untuk mendapatkan kesenangan/pleasure yang antara lain diperankan oleh nukleus akumben dan ventral tegmental area dan tentu terhubung dengan sistem kendali emosi serta survival tools yang bersifat primordial (basic instinct). Sifat dari fungsi kedua yang berjalan paralel adalah value based decision yang dikelola secara berkesinambungan oleh orbitofrontal cortex dan ventromedial prefrontal cortex. Sedangkan fungsi ketiga yang paralel dan terintegrasi adalah goal/achievement, objective aims yang diperankan antara lain oleh kerja dari dorsolateral prefrontal cortex dan korteks singulata anterior. Keputusan kita dapat menjadi keputusan bijak ataupun keputusan picik bergantung pada posisi tawar setiap komponen dalam “koalisi” keputusan. Apakah “reward” yang mendominasi atau mungkin “tujuan” yang menghegemoni? Apapun yang menjadi faktor penentu akan selalu ada nilai di dalamnya. Di titik inilah nilai menjadi krusial. Karena nilai dibangun oleh serangkaian mekanisme cerdas yang diarahkan untuk mengekstraksi makna dari setiap aktivitas biologis. Mengacu pada hipotesis dissipating driven adaptive organization yang digagas Prof. Jeremy England dari MIT, pada prinsipnya setiap aktivitas makhluk atau elemen semesta adalah bentuk menghilangkan hambatan entropis agar energi dapat terus menerus tersirkulasi. Contoh adalah terbentuknya model tornado saat ada daerah bertekanan tinggi yang stagnan, maka tekanan diubah menjadi gerak rotasi yang bersifat kinetik. Keping-keping salju membentuk struktur geometris heksagonal agar dapat memantulkan cahaya matahari ke segala arah secara multifaset. Hipotesis Prof. England bahkan mulai diujikan juga pada pola- pola pembentukan makro molekul organik seperti asam amino dan 488 — G.E.N.C.E.
asam nukleat. Dimana struktur-struktur tersebut pada gilirannya akan menghasilkan mesin-mesin biologi yang dapat mengolah energi rantai elektron menjadi panas/kalor yang secara akumulatif dapat terkonveksi dan menyebar kembali ke semesta sebagai bagian dari proses entropi. Pendekatan lain dalam kerangka yang sama adalah teori self organizing critically yang digagas Per Bak dan timnya. Teori ini menunjukkan bahwa elemen-elemen di semesta memiliki kecenderungan untuk membentuk organisasi yang paling efektif. Contohnya adalah gugus pasir yang meski terhembus angin atau terhempas ombak akan selalu membangun struktur yang adaptif terhadap faktor pengubahnya. Demikian pula dalam konsep geometri fraktal yang digagas oleh Mandelbrot, di dalam ketidakteraturan terdapat keteraturan yang teramat proporsional dan presisi. Setiap unsur seolah selalu memiliki ukuran dan peran sehingga dapat saling mengisi dan melengkapi. Bahkan, di tingkat atomik dapat diamati pola-pola orbital dan keteraturan bersyarat yang mencerminkan stabilitas dan keseimbangan. *** Mengacu pada teori-teori tersebut muncul pertanyaan sangat mendasar, bagaimana masa depan manusia dan semesta? Apakah setiap proses dan perubahan yang terjadi di dalamnya adalah upaya mencari konstelasi keseimbangan baru? Perubahan pola dan gaya hidup akibat penetrasi teknologi yang sedemikian masif dalam kehidupan tentulah akan mempengaruhi laju perubahan evolutif peradaban manusia. Kurva dan siklus silih berganti terjadi dan keseimbangan baru selalu terbentuk dengan tiga sifat dasar yang menjadi hipotesis saya: substitutif, komplementatif, dan augmentasi. Sifat prokreasi manusia yang semula didominasi dorongan eksploitatif yang kerap berakhir dengan bencana antropogenik (disebabkan oleh ulah manusia sendiri) perlahan tapi pasti mulai tersubstitusi oleh teknologi yang bersifat ramah lingkungan. Ledakan minyak bumi yang melahirkan berbagai moda transportasi beserta bencana teknologinya, polusi dari emisi gas buang, insiden dan accident , serta berbagai dampak akibat tingginya laju permutasi manusia seperti pembukaan lahan untuk permukiman, bandara area industri dan bisnis, serta fasilitas publik lainnya pada gilirannya akan membebani alam melebihi rasio dayagunanya. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 489
Kecerdasan dan kemampuan eksploitatif ini secara tidak langsung terus meningkatkan jumlah manusia dan merubah keseimbangan demografis. Kebutuhan primer seperti pangan dan perumahan mendorong dieksploitasinya lahan-lahan yang semula diperuntukkan sebagai hutan penghasil oksigen dan penjaga cadangan air serta habitat bagi berbagai spesies yang berbagi ruang hidup bersama. Kebutuhan pangan dan krisis energi yang mulai menjadi kekhawatiran bersama merebak karena cepatnya informasi terdistribusi. Era energi berbasis hidrokarbon sebentar lagi akan memasuki masa senja, dan tak lama pula akan terbenam bersama malam. Maka manusia mengerahkan segenap daya dengan prinsip kerja bersama mengoptimalkan sumber daya yang ada (crowd sourcing) berupaya keras melahirkan genre baru energi baru dan terbaharukan. Mulai dari memanen hidrogen, cahaya matahari, air, sampai menangkap energi gelombang telah dilakukan. Demikian pula masalah degradasi kualitas bumi sebagai wahana hidup bersama, mulai diperbaiki juga dengan bantuan teknologi. Efisiensi lahan pertanian dilakukan dengan berbagai cara seperti intensifikasi memanfaatkan konsep knowledge management yang pada gilirannya melahirkan banyak inovasi seperti vertikultur, hidroponik, aeroponik, digitalisasi pertanian dan produk pertanian, rekayasa genetika bibit, sampai mulai diproduksinya berbagai produk pangan dan peternakan berbasis pada pengembangan sel tunas. Baru-baru saja dipublikasikan bahwa saat ini manusia sudah berhasil memproduksi beberapa jenis daging tertentu di laboratorium. Ini dapat dibayangkan seperti keajaiban printer 3D yang mampu mencetak model 3D dengan konsep additive layer manufacturing dengan menggunakan bahan dasar resin. Chuck Hull membuka mata kita bahwa model 3D di komputer dapat maujud dalam bentuk nyata. Konsep additive layer manufacturing bahkan membuka kemungkinan manusia akan dapat mencetak organ tubuh 3D dengan bahan dasar sel-sel punca yang disesuaikan dengan fungsi dan lokasi sehingga terdiferensiasi dan mampu menjalankan fungsi-fungsi fisiologinya. Revolusi digital yang telah terprediksi semenjak matematika, fisika, dan kimia menjadi alat bedah potensi elemen-elemen kesemestaan, menjadi keniscayaan sebagai bibit revolusioner saat bersinergi dengan lahirnya kemampuan mengodifikasi arti melalui simbol (semiotika) 490 — G.E.N.C.E.
yang melahirkan bahasa lisan dan tulisan. Pada gilirannya kemampuan mengomunikasikan pesan ini melahirkan interaksi kecerdasan yang membidani hadirnya kecerdasan akumulatif. Hadirnya kecerdasan akumulatif dan kolaboratif yang terstruktur ini mendorong terciptanya banyak teknologi yang kemudian menjadi faktor pengubah peradaban. Ditemukannya alat cetak (Guttenberg), mesin uap, radio, telepon, sampai akhirnya lahir teknologi ICT yang dapat mengerjakan hampir semua tugas manusia, membawa kita ke dimensi baru peradaban (neo civilization). Jika dulu beberapa abad manusia terjebak dalam perang fisik untuk memperebutkan sumber daya yang dianggap menjadi sumber keamanan dan kenyamanan (energi, pangan, dan komoditas bernilai tukar yang bersifat delusif karena sistemnya diciptakan manusia sendiri), maka kini pertempuran bergeser ke arah hibrid, asimetrik, dan melalui proksi. Dimana semuanya terjadi dan berlangsung di dimensi virtual, alias bersifat maya tapi dirasakan secara nyata. Banjir dan tumpah ruahnya informasi tidak hanya mendorong terciptanya potensi pengembangan teknologi secara eksponensial, melainkan juga melahirkan bencana katastropik yang bersifat destruktif. Bahkan bencana digital ini mungkin dapat menjadi salah satu bentuk kiamat alternatif. Sementara bencana katastropik yang terjadi akibat interaksi alam dengan manusia (kita sebut bencana karena sebenarnya ada fenomena alam yang berdampak pada manusia) pada hakikatnya adalah mekanisme normal yang sudah seharusnya terjadi sebagai bagian dari berprosesnya alam (sunnatullah). Letusan Toba Purba sekitar 76 ribu tahun lalu menghasilkan keseimbangan baru berbagai unsur dan elemen alam, termasuk berkurangnya populasimanusiadanterbentuknya komunitaspenyintas yang punya kapasitas serta kualitas daya tahan di atas rata-rata. Seleksi alam mungkin bahasa kerennya. Gempa dan tsunami terjadi karena pada dasarnya lempeng bumi seperti lempeng Indo-Australia dan Eurasia memang masih terus bergerak sebagai bagian dari dinamika geologis. Maka saat terjadi tumbukan dan adanya patahan naik, tidak dapat dielakkan akan terjadi gempa dan juga tsunami. *** Kembali ke konsep dan dampak revolusi digital, kemajuan ilmu materi yang ditandai dengan semakin kompres dan kecilnya ukuran prosesor Membedah Anatomi Peradaban Digital — 491
ataupun integrated circuit/IC melahirkan banyak terobosan yang kemudian dicirikan memiliki performansi fungsi berdaya guna tinggi, berdaya tampung besar, berkecepatan tinggi, dan hemat catu daya. Tak pelak prediksi Gordon Moore menjadi kenyataan dalam waktu yang relatif sangat singkat. Kini kita melihat wearable device dan piranti cerdas berbasis sistem otonom/autonomous system sudah menjadi bagian keseharian kita. Internet of things dan M2M atau machine to machine communication, telah menghadirkan peradaban baru dimana peran strategis manusia mulai bergeser. Adanya akumulasi data yang luar biasa besar yang terkumpul melalui search engine ataupun penggunaan aplikasi yang dilengkapi sistem penganalisis pola dan pattern pengguna hingga dapat memberikan gambaran psikografi yang spesifik dan sangat mendekati kenyataan, adalah fakta yang tak dapat begitu saja kita nafikan. Mesin dan sistem tidak hanya mampu ditanamkan kecerdasan kognitif, melainkan mampu mengembangkan diri melalui mekanisme knowledge growing system, telah lahir genre learning machine yang mampu menjalankan fungsi eksekutif untuk memprediksi dan mengambil keputusan berdasar analisis data yang sangat akurat. Bahkan dengan pola dan model matematika yang tepat (contoh pengembangan pendekatan Bayesian) serta serial data yang memenuhi syarat cuplikan, mesin dapat memprediksi dengan tepat hal-hal apa yang akan terjadi. Kita akan berhadapan dengan mesin cenayang atau mesin waktu yang seolah sudah dapat melihat apa yang terjadi di kemudian hari. Kebanggaan kita sebagai manusia yang membangun sistem melenakan kita dalam keyakinan bahwa mesin tidak akan pernah menyamai keistimewaan manusia dalam hal mengembangkan nilai, keyakinan, kecenderungan, atau perasaan. Sebenarnya keyakinan tersebut perlu dievaluasi kembali, karena semua fungsi eksekutif yang diperankan oleh area prefrontal cortex di otak manusia akan dapat dikerjakan mesin, bahkan dengan kinerja yang lebih baik karena adanya privilege berupa kondisi bebas distorsi. Kekuatan sekaligus kelemahan manusia adalah emosi. Apakah mesin kelak dapat memiliki emosi? Emosi mungkin sekali bisa diciptakan melalui serangkaian model kompilasi data dengan pembobotan peran peran perdata set hingga melahirkan kecenderungan, keinginan, dan keberpihakan. Emosi bisa diciptakan 492 — G.E.N.C.E.
dengan catatan semua prasyaratnya terpenuhi. Yang masih menjadi pertanyaan besar, juga ditanyakan pada saya oleh Dr. Richard Mengko dari STEI-ITB, apakah mungkin komputer membangun kesadaran. Sadar bahwa dia adalah makhluk atau entitas yang hidup dan memiliki makna dalam hidupnya. Saya tidak yakin dalam hal ini, karena semua kemungkinan terbuka. Karena saya juga belum mengenal benar struktur anatomi kesadaran, apakah dia lahir dari akumulasi pengetahuan, ataukah dia hadir sebagai konsekuensi kita lahir sebagai makhluk yang diciptakan? Fungsi analisis dan eksekutif mesin dapat melihat pola secara cermat dan tidak bercela. Gabungan data dan pengetahuan yang dipelajari serta dilatihkan dalam proses data training dengan lapis-lapis pembelajaran yang berkesinambungan akan melahirkan kemampuan prediktif berakurasi tinggi karena kehandalan sistem memori dan ketepatan mendeduksi informasi. Contoh, kulkas pintar masa depan tidak hanya bisa berbelanja online sendiri, melainkan juga dapat menjadi dokter pribadi yang mampu mendiagnosa penyakit tuannya bahkan jauh hari sebelum terjadi dengan melihat pola konsumsi dan gaya hidup yang tercermin dari “isi” kulkas. Itu baru dari satu aspek saja. Bagaimana kalau si kulkas terintegrasi dengan sofa cerdas, tempat tidur, mobil, akun fintech, sensor di rumah cerdas dll, maka user akan terpetakan dengan sangat detil dan model matematika prediktif dengan berbagai pembobotan dan perhitungan simpangan akan segera bisa dikerjakan. Walhasil peta jalan hidup kita akan “terbaca” oleh sistem. Maka ada kemungkinan hidup kita di masa yang akan datang akan ditentukan dan diselamatkan oleh kecerdasan mesin, yang ironisnya kita ciptakan sendiri. Deep Learning yang mungkin ke depan akan segera berevolusi menjadi Ultimate Learning dapat digambarkan sebagai suatu mekanisme nyaris sempurna dalam menyadur kinerja otak manusia, bahkan kedahsyatan powernya dapat dilipatgandakan karena kapasitas mesin tentu saja bisa diamplifikasi dengan pendekatan hardware. Ini bukan khayalan, pemecahan persoalan sistem kompleks yang rumit kini dapat dikerjakan cepat dengan mengoptimalkan resources di berbagai tempat untuk melakukan proses computing. Soal-soal logika yang membuat kening manusia berkerut seperti pertanyaan seperti berikut. Ada tiga orang penduduk sebuah kota bertemu di rumah makan. Sebut saja nama ketiga orang tersebut: Membedah Anatomi Peradaban Digital — 493
Aceng, Budi, dan Cecep. Kita ingin tahu apa profesi mereka mereka masing-masing. Tetapi data yang tersedia hanyalah penjelasan terkait profesi dan pernyataan dari ketiga orang tersebut. Profesi ketiga orang itu teridentifikasi sebagai Ustadz dengan ciri tidak pernah berbohong. Lalu ada yang menjadi pedagang dengan ciri pernyataannya bisa jujur bisa bohong. Dan profesi ketiga adalah penipu sehingga tentu saja setiap pernyataannya dapat diasumsikan sebagai kebohongan. Lalu pernyataan mereka masing-masing dapat disimak di sini: Budi: menurut saya Aceng adalah Ustadz. Lalu Cecep berkata: saya adalah pedagang. Dan Aceng mengatakan bahwa Cecep adalah penipu. Mesin akan dengan cepat membangun model logika yang mampu mengeliminir Budi dan Cecep dari profesi Ustadz dari struktur pernyataannya sendiri. Cecep mendeclare bahwa dirinya pedagang, dan itu berarti dia bukanlah Ustadz. Karena prasyarat yang melekat pada Ustadz adalah jujur. Jika Cecep Ustadz maka dia akan berkata saya adalah Ustadz, dan jika dia mengatakan bahwa dia pedagang jelaslah dia bukan Ustadz. Sedangkan pernyataan Budi bahwa Aceng adalah Ustadz, bisa salah sekaligus benar, tapi yang jelas dia bukan Ustadz karena dia berkata Aceng adalah Ustadz terlepas dia bohong atau jujur yang jelas pernyataan itu menegasikan bahwa Budi bukanlah Ustadz. Jika Cecep dan Budi bukanlah Ustadz, profesi Ustadz pastilah dijalani oleh Aceng. Lalu bagaimana dengan dua profesi lainnya? Mudah saja! Mesin akan segera menggunakan pernyataan Aceng yang jujur sebagai petunjuk profesi selanjutnya. Karena Aceng yang Ustadz mengatakan bahwa Cecep adalah penipu, maka itulah kenyataannya. Dan tentu saja, Budi adalah pedagang, bukan hanya karena Cecep telah terbukti sebagai penipu, tapi diperkuat juga dengan pernyataan sang penipu bahwa dia adalah pedagang yang notabene bohong. Demikianlah cara memecahkan masalah kompleks kompleks yang dengan amat mudah dapat diolah mesin dalam waktu yang super cepat. Bahkan dalam prinsip-prinsip dasar quantum computing yang antara lain mengadopsi teori dan mekanisme quantum electro dynamic/ QED, prosesing data yang terjadi bukan saja mampu meniru otak manusia dengan teori lateralisasi yang menghasilkan kinerja paralel dua belahan otak, melainkan dapat membuat sistem augmentasi yang memproses data secara paralel dalam waktu bersamaan 494 — G.E.N.C.E.
dengan menggunakan banyak pola dan model matematika. Silahkan bayangkan kedahsyatannya. *** Berdasarkan hal ini, saya membayangkan akan hadirnya spesies hibrid antara manusia dan mesin. Tapi bisa jadi saya juga boleh mendapuk diri sebagai Nostradamus baru jika sebagian saja prediksi soal spesies baru ini benar. Mengapa? Karena saat ini saja wearable device, surveilance system, algoritma motion magnification system yang teramat peka dalam menganalisis perubahan, sampai dengan sensor yang mampu memindai tidak hanya tanda dan gejala perubahan lingkungan, tetapi juga tanda-tanda penting fisiologis manusia sudah jamak ditemui dan digunakan dalam berbagai penelitian. Jika kita asumsikan perkembangan ilmu material yang saat ini sudah sampai pada tingkatan nano yang dapat dilihat antara lain di carbon nano tube dan smart material yang tidak hanya sekedar kecil melainkan juga punya sifat cerdas yang ditandai dengan kemampuannya menyerap informasi, akan berkembang jauh lebih pesat karena daya dukung informasi dan proses kolaborasi. Maka dalam waktu dekat pula akan lahir berbagai sensor dan device baru yang mungkin saja dapat langsung diimplankan di tubuh manusia. Dulu saat konsep pace maker atau alat pacu jantung diperkenalkan, mungkin tak banyak yang yakin bahwa teknologi itu dapat berjalan. Akan tetapi, saat ini alat pacu jantung yang diimplan langsung di area jantung adalah suatu keniscayaan. Saya berkhayal akan datang suatu masa di mana teknologi komunikasi tak memerlukan lagi piranti seluler seperti yang kita kenal saat ini. Karena secara fisiologis semua data yang diterima indera sesungguhnya adalah gelombang elektromagnetik dan mekanik yang diubah menjadi biolistrik, maka jika ada nano device yang dapat diimplankan langsung seperti susuk KB ke berbagai bagian tubuh, manusia akan dapat mentransmisikan pesan dan data langsung dari tubuhnya sendiri. Catudaya bisa didapatkan dari optimasi potensial aksi dan memanfaatkan energi kinetik serta hasil respirasi aerobik. Proses amplifikasi sinyal dapat dilakukan dengan beacon-beacon khusus di lingkungan yang secara selektif berdasar prinsip Fourier bisa memfiltrasi dan memisahkan data dari berbagai sumber yang memiliki Membedah Anatomi Peradaban Digital — 495
“tag” atau karakter yang berbeda-beda. Konektivitas nirkabel yang sudah merata dan menjamin kecepatan transmisi data saat inipun sudah jadi kenyataan. Untuk melegitimasi otentisitas sumber transmisi hingga dapat dipastikan berasal dari individu yang benar, kita bisa menggunakan potensi DNA yang memiliki perbedaan spesifik di rangkaian kode, khususnya di segmen-segmen short tandem repeated. Mari kita bayangkan lahirnya suatu genre baru pola komunikasi dan interaksi yang mungkin akan dinamakan human to machine communication dan sebaliknya. Di mana konsep ini pada gilirannya akan menghasilkan eliminasi dan reduksi berbagai device, siatem, serta berbagai mekanisme ikutan yang dulu perlu dibangun infrastrukturnya. Manusia akan mengoptimalkan utilitas mesin dan mesin didesain untuk memahami manusia dan dinamikanya. Bayangkan juga jika kolaborasi antara mesin dan manusia pada saatnya akan menemukan solusi-solusi inovatif dalam memenuhi kebutuhan bersama. Akan tercipta kolaborasi dan ko-kreasi berupa terobosan inovatif hasil mengelaborasi super kognisi mesin dan kebijaksanaan manusia. Mungkin akan tercipta sumber energi hayati berskala elementer yang bisa dimurnikan dan disaring atau bahkan disintesis tanpa mengeksploitasi alam sebagai sumber makanan manusia. Soal nutrisi dan rasa terjaga, bahkan lebih optimal dari yang bisa kita bayangkan. Demikian pula akan ditemukan sumber energi baru dari pemanfaatan dark energy, perpetual motion, dan juga anti matter melalui proses anihilasi dan banyak posibilitas lainnya. Demikian pula kualitas hidup bisa ditingkatkan dengan DNA dan brain re-programming yang langsung bekerja di tingkat metilasi dan sinaptogenesis misalnya. Menyikapi kemungkinan prediksi futuristik tersebut dapat terjadi di masa depan ada baiknya jika kita juga harus siap untuk berevolusi. Membangun sistem dengan batas-batas yang memastikan bahwa engine adalah tools untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesadaran. Mengapa kesadaran? Karena kita akan punya capaian intelektualitas luar biasa saat teknologi membantu kita mengatasi masalah domestik dan kita punya waktu untuk berpikir dan mencari makna hidup. Bahkan, dengan teknologi pula kita memiliki referensi dan refferal system dari komunitas bahkan kosmis yang dapat digunakan untuk mempelajari tujuan hidup. *** 496 — G.E.N.C.E.
DAFTAR PUSTAKA Alfred Boediman. Artificial Intelligence Series: Fear Detected (AI Series). Avi Peled, MD. 2008. Neuro Analysis. Routledge London. Bozzi et al. Neuroprotective Role of Dopamine against Hippocampal Cell Death. Neuroscience 20, 8643-49, 2000 Brenda Kay Wiederhold. Cyber Psychology, Behavior and Social Networking. Journal: Specila Issue on VR and Pain. June 2014. CB Insights. Tech Investing in Southeast Asia. September 7, 2017. Charles Schmitt, Perennial Philosophy: From Agostino Steuco to Leibniz, Journal of the History of Ideas. P. 507, Vol. 27, No. 1, (Oct. – Dec. 1966) CSIS. Ada Apa dengan Milenial? Orientasi Sosial, Ekonomi, dan Politik. Rilis dan Konferensi Pers “Survey Nasional CSIS 2017”. Jakarta, 2 November 2017. Daniel Geschwind and Jeffrey P. Gregg. Microarrays for the Neurosciences: An Essential Guide. A Bradford Book, The MIT Press. David Niewolny. How the Internet of Things is Revolutionizing Healthcare. (White Paper). freescale.com/healthcare. Evian Gordon. Integrative Neuroscience: Bringing Together Biological Psychological and Clinical Models of the Human Brain. Harwood Academic Publishers. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 497
Genes, Environment and Human Behavior (Biological Science Curriculum Study/BSCS). Colorado Springs. Harada, T., Itakura, S., Xu, F., Lee, K., Nakashita, S., Saito, D. N., and Sadato, N. (2009). Neural Correlates of the Judgment of Lying: A Functional Magnetic Resonance Imaging Study. Neuroscience. Res. 63, 24–34. doi: 10.1016/j.neures.2008.09.010 Harenski, CL. Shane Antonenko, and K. Kiehl. 2008. Gender Differences in Neural Mechanisms Underlying Moral Sensitivity. Soc. Cogn. Affect. Neurosci. 3, 313–321. doi: 10.1093/scan/nsn026 Harenski, CL. and Hamaan, S. 2006. Neural Correlates of Regulating Negative Emotions Related to Moral Violations. Neuroimage 30, 313–324. doi: 10.1016/j.neuroimage.2005.09.034 Hauser, MD. 2006. Moral Minds: How Nature Designed Our Universal Sense of Right and Wrong. New York, NY: Ecco/HarperCollins Publishers. Haushofer, J., and Fehr, E. (2008). You shouldn’t have: your brain on others’ crimes. Neuron 60, 738–740. doi: 10.1016/j. neuron.2008.11.019. Hamer, Dean. 2014. How Faith is Hardwired into Our Genes. Random House. London UK. John E. Kelly. Computing, Cognition and the Failure of Knowing. IBM. Kathleen Taylor. 2004. Brainwashing: The Science of Thought Control. Oxford University Press. Keith D. Markman, et.al. (Ed.) 2013. The Psychology of Meaning. American Psychology Association. Wahington DC. Kenneth M. Heilman, et.al. Creative Innovation: Posible Brain Mechanism. Neurocase. 29 April 2010. KM. Woodbury-Harris and BM Coull (Ed.). 2009. Clinical Trials in the Neuroscience. Karger. Lesley K. Fellows. The Cognitive Neuroscience of Human Decision Making: A Review and Conceptual Framework. Behavioral and Cognitive Neuroscience Review. Matthew D. Lieberman. The Brain’s Braking System. University of California, LA. 498 — G.E.N.C.E.
Natasa Jikic-Begic. Cognitive-Bahvioral Theraphy and Neuroscience: Towards Closer Integration. University of Zagreb, Croatia. Nelson B. Inside Your Mind. Knowledge. Vol. 4 Issue 2, 2012. Pascual L. et.al. How Does Morality Work in the Brain? A Functional and Structural Perspective of Moral Behavior. J Integrative Neuroscience. September 2012. Philipe Taupin. 2007. The Hippocampus: Neurotransmission and Plasticity in the Nervous System. Nova Biomedical Books, New York. Richard H. Thaler & Cass R. Sunstein. Nudge: Improving Decisions About Health, Wealth, and Happiness. Yale University Press. New Haven & London. Ronald Britton. 2015. Between Mind and Brain: Models of the Mind and Models in the Mind. Karnac Books Ltd. Sissela Bok. 2010. Exploring Happiness: From Aristotle to Brain Science. Yale University Press. New Haven and London. Suhono Harso Supangkat. Cyber to Physical System and Artificial Intelligence for City (PPT). Smart City Living Lab. Institut Teknologi Bandung. Tauhid Nur Azhar. 2014. Your Brain in Bandung. Rumah Ilmu Publisher. Bandung. Tauhid Nur Azhar. 2004. Manusia Taqwim. Kampung DNA. Bandung. Tauhid Nur Azhar. 2014. The Truth. Rumah Ilmu Publisher. Bandung. Thalamocertical Pathways. Virtual Neuroanatomy. October 2nd, 2014. The Nielsen Company. The New Trend Among Indonesia’n Netizen: How and Where Digital Consumer are Watching Content Online. 26 July 2017. The Nielsen Company. 2017. Indonesia Macroeconomy & FMCG Update: “A Weakening of Consumer Purchase or Shifting Priority?” The Omidyar Group. Is Social Media a Threat to Democracy? October 1, 2017. Tim Wheelock. An Introduction to Human Neuroanatomy. Harvard Brain Tissue Resource Center. Membedah Anatomi Peradaban Digital — 499
500 — G.E.N.C.E.
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184
- 185
- 186
- 187
- 188
- 189
- 190
- 191
- 192
- 193
- 194
- 195
- 196
- 197
- 198
- 199
- 200
- 201
- 202
- 203
- 204
- 205
- 206
- 207
- 208
- 209
- 210
- 211
- 212
- 213
- 214
- 215
- 216
- 217
- 218
- 219
- 220
- 221
- 222
- 223
- 224
- 225
- 226
- 227
- 228
- 229
- 230
- 231
- 232
- 233
- 234
- 235
- 236
- 237
- 238
- 239
- 240
- 241
- 242
- 243
- 244
- 245
- 246
- 247
- 248
- 249
- 250
- 251
- 252
- 253
- 254
- 255
- 256
- 257
- 258
- 259
- 260
- 261
- 262
- 263
- 264
- 265
- 266
- 267
- 268
- 269
- 270
- 271
- 272
- 273
- 274
- 275
- 276
- 277
- 278
- 279
- 280
- 281
- 282
- 283
- 284
- 285
- 286
- 287
- 288
- 289
- 290
- 291
- 292
- 293
- 294
- 295
- 296
- 297
- 298
- 299
- 300
- 301
- 302
- 303
- 304
- 305
- 306
- 307
- 308
- 309
- 310
- 311
- 312
- 313
- 314
- 315
- 316
- 317
- 318
- 319
- 320
- 321
- 322
- 323
- 324
- 325
- 326
- 327
- 328
- 329
- 330
- 331
- 332
- 333
- 334
- 335
- 336
- 337
- 338
- 339
- 340
- 341
- 342
- 343
- 344
- 345
- 346
- 347
- 348
- 349
- 350
- 351
- 352
- 353
- 354
- 355
- 356
- 357
- 358
- 359
- 360
- 361
- 362
- 363
- 364
- 365
- 366
- 367
- 368
- 369
- 370
- 371
- 372
- 373
- 374
- 375
- 376
- 377
- 378
- 379
- 380
- 381
- 382
- 383
- 384
- 385
- 386
- 387
- 388
- 389
- 390
- 391
- 392
- 393
- 394
- 395
- 396
- 397
- 398
- 399
- 400
- 401
- 402
- 403
- 404
- 405
- 406
- 407
- 408
- 409
- 410
- 411
- 412
- 413
- 414
- 415
- 416
- 417
- 418
- 419
- 420
- 421
- 422
- 423
- 424
- 425
- 426
- 427
- 428
- 429
- 430
- 431
- 432
- 433
- 434
- 435
- 436
- 437
- 438
- 439
- 440
- 441
- 442
- 443
- 444
- 445
- 446
- 447
- 448
- 449
- 450
- 451
- 452
- 453
- 454
- 455
- 456
- 457
- 458
- 459
- 460
- 461
- 462
- 463
- 464
- 465
- 466
- 467
- 468
- 469
- 470
- 471
- 472
- 473
- 474
- 475
- 476
- 477
- 478
- 479
- 480
- 481
- 482
- 483
- 484
- 485
- 486
- 487
- 488
- 489
- 490
- 491
- 492
- 493
- 494
- 495
- 496
- 497
- 498
- 499
- 500
- 501
- 502
- 503
- 504
- 505
- 506
- 507
- 508
- 509
- 510
- 511
- 512
- 513
- 514
- 515
- 516
- 1 - 50
- 51 - 100
- 101 - 150
- 151 - 200
- 201 - 250
- 251 - 300
- 301 - 350
- 351 - 400
- 401 - 450
- 451 - 500
- 501 - 516
Pages: